Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 19. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 19. Tampilkan semua postingan

gereja vatikan 19


  BUAH-BUAH BUSUK DAN 

SKANDAL-SKANDAL TANPA AKHIR 

DARI SEKTE VATIKAN II 

MEMBUKTIKAN BAHWA VATIKAN II 

BUKANLAH GEREJA KATOLIK DAN 

BAHWA KITA BERADA DI DALAM 

KEMURTADAN BESAR


‘Kardinal’ Bernard Law, sebelumnya dari Boston, yang memimpin skandal seksual besar Vatikan II di sana 

CBS News – “Anggota-anggota imamat dan yang lainnya di Keuskupan Agung 

Boston kemungkinan besar melakukan pelecehan seksual terhadap lebih dari 

1.000 orang selama periode enam dekade, ujar Jaksa Agung Massachusetts pada 

hari Rabu, yang menyebut skandal ini  begitu besar sampai hal ini  

‘hampir mustahil’.”1 

Hampir semua orang yang membaca buku ini kemungkinan sudah akrab dengan skandal seksual besar di 

antara para ‘Imam’ Novus Ordo/Vatikan II yang dipaparkan tanpa henti oleh media-media utama kurang 

lebih dari tahun 2002-2004. Kebejatan seksual para ‘Imam’ Novus Ordo/Vatikan II sudah menjalar ke 

mana-mana sampai seluruh dioses sekte Vatikan II telah menjadi bangkrut untuk membayar pemberesan 

hukum kepada para korban pelecehannya. Dioses Davenport memberi  contoh yang terkini. 

Para Katolik Tradisional perlu mempertimbangkan dengan serius betapa parahnya kerusakan dari 

skandal ini bagi Gereja Katolik di mata dunia. Walaupun kami dapat membuktikan bahwa sekte Vatikan II 

bukanlah Gereja Katolik dan para pria yang terlibat secara intim di dalam skandal ini menganut suatu 

agama yang berbeda, bukan agama Katolik – seperti yang kami akan terus lakukan di dalam buku ini – 

untuk mereka yang dari luar, skandal ini terlihat berasal dari ‘imam-imam Katolik’. Para non-Katolik 

memakai  skandal seksual imamat ini sebagai cara yang mudah untuk menyerang Gereja sejati dan 

menghalangi kemungkinan untuk konversi. Hal ini memang yaitu  salah satu skandal terburuk di dalam 

sejarah manusia sewaktu kita mempertimbangkan kenyataan akan imamat kudus dan Iman Katolik. 

Kami telah berbicara dengan banyak sekali orang-orang non-Katolik yang, sewaktu dibujuk untuk 

menerima kenyataan tentang Iman Katolik, langsung membalas dengan fakta tentang para imam sekte 

Vatikan II yang bejat. “Mengapa saya mau mengikuti Gereja yang para imamnya memerkosa anak-anak?”, 

kata mereka (atau kata-kata yang memiliki arti yang sama). Kami telah ditolak lusinan kali sebab  alasan 

ini sewaktu kami mencoba mengonversikan orang-orang. Orang-orang perlu menyadari bahwa fakta 


441 

 

bahwa Allah membiarkan skandal besar ini terjadi, yang tentunya telah menghalangi jutaan orang dan 

akan terus membuat jutaan orang untuk tidak menelaah atau melihat Iman Katolik sebagai benar, 

menunjukkan bahwa kita berada di dalam Kemurtadan Besar dan penipuan rohani yang besar. Hanya 

orang-orang Katolik yang benar-benar sadar akan kebenaranlah yang dapat menerima kenyataan bahwa 

para imam ini bukanlah pengikut Iman Katolik sama sekali, namun  yaitu  pengikut sekte palsu non-

Katolik. Perwujudan dari kebejatan ini hanyalah kenyataan yang tersembunyi dari kemurtadan 

pasca-Vatikan II yang menunjukkan dirinya sendiri. 

Pada masa jabaran ‘Kardinal’ Law di Boston, Paul Shanley dan John Geoghan dipindahkan dari paroki ke 

paroki di dalam dioses ini , kendati tuduhan-tuduhan berulang-ulang akan pemerkosaan anak-anak. 

lalu , tersingkaplah bahwa Romo Shanley mendukung North American Man-Boy Love Association 

{Asosiasi yang mendukung pedofilia, khususnya hubungan badan antara orang dewasa dan anak-anak 

laki-laki; serta perjantanan – hubungan badan antara orang dewasa dan remaja laki-laki}. 

BOSTON MENIMBANG KEBANGKRUTAN – Keuskupan Agung Boston dilaporkan 

menimbang untuk mengajukan tuntutan di dalam Pengadilan Kebangkrutan AS jika tidak 

ada  prospek yang lebih baik untuk pembayaran yang dimediasikan, laporan Boston Globe 

pada tanggal 1 Desember... Seorang wanita juru bicara mengatakan bahwa Keuskupan Agung 

harus mempertimbangkan semua pilihannya namun  berkata bahwa tidak ada  jadwal waktu 

untuk memutuskan untuk mengajukan kebangkrutan. (National Catholic Register, 8-14 Des. 

2002, hal. 1) 

KEUSKUPAN AGUNG BOSTON MENJUAL ATAU MENGGADAIKAN PROPERTI YANG 

DULUNYA TIDAK TERSENTUH UNTUK MEMBAYAR PEMBERESAN SKANDAL SEKSUAL 

The Associated Press- 

BOSTON (AP) – SKANDAL SEKSUAL DI KEUSKUPAN AGUNG BOSTON TELAH 

MENGGOYAHKAN GEREJA HAMPIR SAMPAI KE FONDASINYA. 

Untuk membantu membayar penyelesaian senilai $85 juta dengan para korban yang 

berjumlah lebih dari 500 orang dari para imam yang memerkosa anak-anak, Keuskupan 

Agung telah menggadaikan takhta kekuatannya – Catedral of the Holy Cross – dan menjual 

tempat tinggal sang Uskup Agung, sebuah rumah megah bergaya Renaisans Italia yang 

sebelumnya merupakan simbol dari kemegahan dan otoritas Gereja. Lusinan gereja juga 

dinantikan untuk ditutup akibat skandal ini . (18 Des. 2003) 

“Aku akan melampiaskan murka-Ku kepada mereka, sehingga hati-Ku yang panas tenang 

kembali dan Aku merasa puas; dan mereka akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN yang 

mengatakannya di dalam cemburu-Ku, tatkala Aku melampiaskan amarah-Ku kepada 

mereka.  

Aku akan membuat engkau menjadi reruntuhan dan buah celaan di antara bangsa-bangsa 

yang di sekitarmu di hadapan semua orang yang lintas dari padamu. Engkau akan menjadi 

buah celaan dan cercaan, menjadi peringatan dan suatu kengerian bagi bangsa-bangsa 

yang di sekitarmu, tatkala Aku menjatuhkan hukuman kepadamu di dalam kemurkaan 

dan kemarahan dan di dalam penghajaran-penghajaran kemarahan--Aku, TUHAN, yang 

mengatakannya...” (Yehezkiel 5:13-15) 


442 

 

CBS News – “Anggota-anggota imamat dan yang lainnya di Keuskupan Agung Boston 

kemungkinan besar melakukan pelecehan seksual terhadap lebih dari 1.000 orang selama 

periode enam dekade, ujar Jaksa Agung Massachusetts pada hari Rabu, yang menyebut skandal 

ini  begitu besar sampai hal ini  ‘hampir mustahil’. ”...Jumlah tuduhan pelecehan yang 

sangat besar yang didokumentasikan oleh para penyelidik di Boston kelihatannya tidak 

tertandingi, bahkan di tengah suatu skandal yang telah berlangsung di dalam dioses-

dioses di seluruh negara bagian dan telah mendorong sekitar 1.000 orang untuk 

mengedepankan tuduhan-tuduhan secara nasional pada tahun yang lalu (CBSNews.com, 23 Juli 

2003) 

ABC NEWS, 9 September – Keuskupan Agung Boston dan para pengacara untuk para korban 

pelecehan seksual oleh para imam mengumumkan pada hari ini bahwa mereka telah mencapai 

suatu pemberesan senilai $85 juta, pembayaran terbesar yang diketahui di dalam skandal 

pemerkosaan anak yang telah menggoyahkan Gereja Katolik Roma. (ABCNews.com 9 

September 2003) 

namun  skandal ini sama sekali tidak terbatas di Boston. 

Pada tanggal 3 Mei 2003, Uskup dari Phoenix, Thomas J. O’Brien mengakui bahwa ia menyembunyikan 

tuduhan-tuduhan pelecehan seksual oleh para imam. Ia lalu menyerahkan bagian dari kekuasaannya.2 

28 Juni 2003 – “Di dalam salah satu pemberesan di luar pengadilan yang terbesar kepada para 

korban pelecehan di dalam skandal seksual Katolik, Keuskupan Agung Louisville di Kentucky 

mengumumkan bahwa ia akan membayar jumlah yang hampir mencapai $25.7 juta kepada 

orang-orang yang berkata bahwa mereka telah diperkosa oleh para imam dan pegawai-pegawai 

lain di Gereja... William McMurry, yang mewakili banyak dari penggugat, berkata bahwa 

keuskupan agung memakai  lebih dari setengah dari aset lancarnya untuk membayar 

pemberesan ini .3 

Pada tanggal 6 Juli 2004,“Di hadapan lusinan gugatan hukum yang tertunda yang menuduh imam 

akan pelecehan seksual, Keuskupan Agung Portland, Oregon, mengajukan kebangkrutan. Gereja 

Portland telah membayar lebih dari $53 juta untuk membereskan lebih dari 130 gugatan 

pelecehan, dan sang Uskup Agung berkata, ‘Pundi emas benar-benar kosong sekarang.’”4 

Pada tanggal 20 September 2004, “Dioses Katolik Roma di Tucson, Arizona, yaitu  yang negara 

bagian kedua yang mencari perlindungan kebangkrutan, akibat tindakan hukum yang begitu 

besar dan berkelanjutan yang berakar di dalam pelecehan seksual kepada anak-anak oleh para 

imam paroki.”5 

Pada tanggal 24 September 2004, “Uskup Thomas Dupre didakwa atas tuduhan pemerkosaan 

anak, menjadi uskup pertama yang menghadapi tuduhan di dalam skandal pelecehan seksual 

Gereja. Dupre yaitu  kepala dari dioses Springfield, Massachusets, namun  mengundurkan diri 

pada bulan Februari sesudah  tuduhan-tuduhannya terbuka.”6 

Pada tanggal 2 Desember 2004, “Dioses Kabupaten Orange telah mencapai sebuah pemberesan 

dengan 87 korban pelecehan oleh imam. Ketentuan perjanjian ini  tidak diberitahukan, 

namun  sebuah narasumber memberitahukan Associated Press bahwa pembayaran ini  akan 

berjumlah lebih dari $85 juta, yang merupakan rekor Keuskupan Agung Boston. Gugatan-gugatan 

hukum ini  menduga terjadinya pelecehan seksual oleh 30 imam, 11 karyawan awam dan 

dua biarawati.”7 


443 

 

Dioses Spokane, WA mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11 pada bulan Desember 

2004, mencatat gugatan-gugatan yang bernilai lebih dari $81 juta. Dioses ini  mencari 

perlindungan kebangkrutan sebelum menghadapi pengadilan atas gugatan-gugatan akan 

pelecehan seksual oleh imam.”8 Pada tahun 2006, Dioses Spokane melelangkan tempat 

kanselirnya untuk membayar gugatan-gugatan pelecehan seksual.”9 

“Skandal pelecehan seksual anak-anak di dioses Katolik Roma di Long Island menyebabkan 

pemecatan delapan imam dan penskorsan permanen sembilan imam [untuk tuduhan pelecehan 

seksual], sedangkan tiga {imam} menantikan pengadilan kanonik, ujar uskup dioses ini .”10 

“Pada tanggal 12 Oktober 2005, “Catatan yang baru diumumkan tentang gugatan pelecehan 

seksual terhadap 126 imam merupakan ratusan gugatan utama terhadap Keuskupan Agung Los 

Angeles, yang menunjukkan bahwa para pejabat Gereja selama berdekade-dekade memindahkan 

para imam yang tertuduh antara konseling dan tugas baru.”11 

Pada tahun 2006, “Dioses Davenport Katolik Roma mengajukan perlindungan kebangkrutan 

Bab 11 pada hari ini, kurang dari dua minggu sebelum ia melindungi dirinya sendiri pada sebuah 

pengadilan bersangkutan dengan seorang mantan imam yang tertuduh telah melakukan 

pelecehan seksual terhadap seorang anak sekolah menengah. Uskup William Franklin berkata 

bahwa ia menyesali keputusan ini , namun  tekanan finansial serta tuntutan-tuntuan untuk 

membereskan 25 gugatan pelecehan seksual oleh para imamnya terlalu besar.”12 (IOWA CITY, 

Iowa) 

Contoh-contoh dari korupsi di antara para imam Vatikan II dapat dituliskan dalam banyak sekali 

halaman, namun  sang pembaca haruslah mengerti maknanya: skandal yang mencengangkan ini berada di 

antara sekte Vatikan II hanyalah sebab  ia bukanlah Gereja Katolik yang kudus. Siapa yang berani 

mengatakannya? Skandal yang kami bicarakan sangatlah memalukan – memang salah satu skandal 

terburuk di dalam sejarah – sampai hal ini  hanya bisa merupakan suatu tanda akhir zaman dan 

gereja palsu yang akan mempertandakan hari-hari terakhir. Anda tahu bahwa situasi sudahlah 

menjadi buruk ketika hal yang paling menonjol di atas situs untuk Dioses Pittsburgh yaitu  

nomor telepon bebas pulsa untuk tanggapan kepada pelechan seksual.13 

 

Situs Keuskupan Agung Philadelphia memiliki suatu bagian sebagai opsi kelima tentang “Children and 

Youth Protection {Perlindungan Anak-anak dan Muda-mudi}”14 – perlindungan, yaitu, dari para ‘Imam’-

nya yang bejat. Hal ini  merupakan suatu masalah yang sangat besar sehingga setiap situs dioses 

yang kami lihat memiliki suatu tempat yang menonjol untuk masalah pelecehan ini . Berikut 

hanyalah beberapa contoh dari situs dioses Miami15 dan Milwaukee.16 Perhatikan bahwa masalah 


444 

 

pelecehan seksual yaitu  salah satu hal yang paling menonjol yang disebutkan di dalam situs-situs 

ini  (kami menggarisbawahi dan memberi tanda kurung). 

 

 

Skandal seksual sekte Vatikan II itu pun tidak terbatas di AS. Skandal seksual ini  yang telah 

menenggelamkan sekte Vatikan II memang telah tersebar di seluruh dunia. Pada tanggal 8 Juli 2002, 

“Konferensi Uskup-uskup Katolik Filipina memohon maaf untuk ‘pelecehan seksual yang parah’ oleh 

para imam Filipina, dan menjanjikan sebuah protokol untuk mengatasi kasus-kasus pelecehan di masa 

depan.”17 

Di Keuskupan Agung Wina {Austria} pada tahun 2004, contohnya, 10.000 orang meninggalkan gereja 

Novus Ordo beberapa bulan sesudah  dua skandal seksual besar yang melibatkan para imam, pornografi 

anak-anak dan tuduhan pemerkosaan.18 

  



 

23. Seminari-Seminari Sekte Vatikan II 

yaitu  Kubangan Homoseksualitas dan 

Bidah yang Menjijikkan 

 

Paus Pius XI, Ad catholici sacerdotii (#66), 20 Desember 1935: 

“Berikan imam terbaik anda kepada seminari-seminari anda; janganlah takut untuk 

memindahkan mereka dari posisi lain. Posisi-posisi [lain] ini mungkin terlihat lebih 

penting, namun  kenyataannya, kepentingan mereka tidak bisa dibandingkan dengan 

kepentingan seminari-seminari, yang sangat besar dan tidak tergantikan. Carilah pula 

dari berbagai tempat, di mana anda dapat menemukan mereka, pria-pria yang benar-

benar pantas untuk tugas mulia ini. Hendaknya mereka mengajarkan kebajikan-

kebajikan imamat, lebih banyak lewat contoh dibandingkan  lewat perkataan, pria-pria yang 

sanggup menanamkan, di samping pengetahuan, roh yang kuat, jantan, dan 

apostolik.”1 

Pada tahun 2002, buku Goodbye, Good Men {Selamat Tinggal Pria-pria yang Baik} oleh Michael Rose 

diterbitkan. Buku ini mendokumentasikan kebejatan dan penyelewengan yang bukan kepalang di dalam 

seminari-seminari ‘Gereja’ Vatikan II / Novus Ordo. Seminari-seminari yang korup ini  

menghasilkan ‘imam-imam’, yang sesudah nya, menghasilkan skandal seksual yang terkenal buruknya. 

Penulis buku ini  (Rose) yaitu  pembela sekte Vatikan II, maka, paparannya (yang bersumber dari 

seseorang yang cenderung membela imamat Vatikan II) menyingkap betapa buruknya situasi yang 

benar-benar terjadi. 

Beberapa anekdot-anekdot {cerita-cerita pribadi dari narasumber} tentang kehidupan seminari begitu 

mengerikan sampai hanya satu kesimpulan dapat ditarik dari hal-hal ini : ‘Gereja’ yang menyajikan 

tempat-tempat ini  sebagai ‘seminari-seminari untuk pembentukan imam-imam Katolik’ hanyalah 

merupakan Pelacur Babel dari Kitab Wahyu yang dinubuatkan Kitab Suci, yang akan muncul pada akhir 

zaman untuk menipu para Katolik. Beberapa petikan dari Goodbye, Good Men diperlukan untuk 

menetapkan poin ini : 

  

Seminari-Seminari, Kubangan Homoseksualitas dan Bidah 

447 

 

Michael Rose, Goodbye, Good Men {Selamat Tinggal Pria-pria yang Baik}, hal 56-57: 

“Menurut mantan-mantan seminaris dan imam-imam yang baru ditahbiskan, ‘cabang budaya 

{sub-culture} gay’ ini begitu menonjol di seminari-seminari tertentu sampai institusi-

institusi ini  mendapat  julukan-juluan seperti Notre Flame (untuk Notre Dame 

Seminary di New Orleans) {Flame – api - di sini merujuk kepada sikap pria homoseksual 

yang cenderung seperti banci, ‘berkobar-kobar’}. dan Theological Closet (untuk Theological 

College dari Catholic University of America di Washington D.C.) {Closet - lemari di sini yaitu  

istilah untuk fase di mana seorang pria menyembunyikan ketertarikannya kepada sesama jenis 

‘bersembunyi di balik lemari’}. St. Mary’s Seminary di Baltimore telah mendapat  julukan 

‘Pink Palace’ {‘Istana Merah Jambu’}.2 

Para Anti-Paus dan ‘Uskup’ sekte Vatikan II tidak melakukan hal apa pun mengenai seminari-

seminari ini  ataupun masalah homoseksual yang besar, tentunya! namun  sewaktu seseorang 

di bawah otoritas mereka melawan Agama Baru ini , mereka bertindak secepat kilat. Contohnya: 

sewaktu kepala dari Fraternity of St. Peter Seminary, Romo Bisig, menunjukkan bahwa ia tidak 

ingin untuk menerima di dalam kelompoknya pria-pria yang ingin mengadakan Misa Baru, 

Vatikan langsung memecatnya dan menunjuk Romo Arnaud Devillers untuk menggantikannya. 

Betapa cepatnya Vatikan bertindak sewaktu Agama Baru dilawan! Ingatlah pula bahwa, pada tahun 1988, 

seorang uskup langsung diekskomunikasikan sesudah  ia bertindak untuk menyebarkan Misa Latin 

Tradisional. namun , Vatikan pasca-Vatikan II tidak melakukan apa pun berkenaan dengan seminari-

seminari yang bejat di seluruh dunia. Hal ini yaitu  sebab  ia yaitu  Kontra-Gereja dari sang Iblis. 

Sebelum Vatikan II, yaitu  suatu kebijakan bahwa mereka yang memiliki kecenderungan homoseksual 

(yang merupakan hasil dari kuasa iblis akibat suatu bentuk dari penyembahan berhala, seperti yang 

diajarkan di Roma 1) dilarang untuk menjadi imam. 

“Romo Andrew Walter, ditahbiskan untuk Dioses Bridgeport, Connecticut, pada tahun 2000, 

melewatkan beberapa semester di sekolah Baltimore sebagai seorang seminaris untuk Dioses 

Paterson, New Jersey. Masalah [homoseksual] ini  begitu buruknya sampai sewaktu ia 

berada di sana, ia menjelaskan, bahwa ‘beberapa murid dan pengajar mengenakan 

pakaian kulit untuk bepergian ke ‘the block’ {tempat hiburan orang dewasa di mana ada  

klub striptis dan berbagai kebejatan lain}, tempat di Baltimore yang mirip 42nd Street di 

Manhattan {distrik lampu merah}.’”3 

Michael Rose, Goodbye, Good Men {Selamat Tinggal Pria-pria yang Baik}, hal 57: 

“Romo John Trigilio dari Harrisburg, Pennsylvania, mengingat bahwa ia mengunjungi St. Mary’s 

di Baltimore sewaktu ia menjadi seorang seminaris di Pennsylvania. ‘Sama sekali tidak 

disembunyikan,’ katanya tentang cabang budaya gay di sana. “Beberapa kali saya berada di sana, 

beberapa seminaris benar-benar berdandan seperti para gay dari the Village {lingkungan 

gay di New York}. Mereka bahkan sampai mengenakan sutra merah jambu; saya merasa 

seperti pergi untuk menonton La Cage aux Folles {film musikal homoseksual}.’ 

‘Hari-hari saya di St. Mary’s,’ kata Romo John Despard, yang sekarang yaitu  seorang imam ordo 

religius dari {Amerika} Tenggara, ‘di aula di sana, dua lelaki mandi bersama di sana dan 

semua orang mengetahuinya.’ 

“Ada Mason, seorang profesor filsafat di sebuah universitas Katolik yang terkenal, pernah sekali 

bertugas sebagai dewan sebuah seminari di Amerika Tengah menuju utara. Di posisi ini , ia 

begitu terkejut untuk menemukan sebuah cabang budaya gay yang sungguh aktif di sana. 

Seminari-Seminari, Kubangan Homoseksualitas dan Bidah 

448 

 

‘Perilaku homoseksual yang terbuka lebih dari ditolerir’, ia mengakui. ‘Saya bahkan diberitahu 

oleh salah satu dari pengajar seminari bahwa setiap hari Jumat, sebuah van menjemput para 

murid imamat ke sebuah kota yang dekat untuk menjelajahi bar-bar gay.’”4 

Walaupun hal ini terdengar begitu buruk, ini hanyalah puncak gunung es dari kebejatan dan 

homoseksualitas yang merajalela dari sekte Vatikan II. Goodbye, Good Men juga mendokumentasikan 

bahwa seminari-seminari sekte Novus Ordo mendukung dan menerima penolakan ajaran-ajaran yang 

paling mendasar dari Iman Katolik. 

“’Banyak dari para seminaris kehilangan iman mereka di sana [di seminari ini ],’ sesalnya. 

‘Saya ingat seorang lelaki secara khusus’, ceritanya. ‘Ia kehilangan imannya sebab  pelajaran 

Kristologi yang diwajibkan untuk kami ambil.’ Di dalam pelajaran ini , jelas Perrone, 

para seminaris diajarkan penafsiran Kitab Suci ala Protestan dari German yang dipopulerkan oleh 

Rudolph Bultmann, seorang Lutheran dari Jerman, dan buku pertama yang mereka baca 

yaitu  Quest for the Historical Jesus {Pencarian Yesus di dalam Sejarah} oleh Albert 

Schweitzer, yang disebut Perrone ‘sebuah buku yang sangat merusak’ yang menolak 

seluruh ajaran Gereja sebagai mitos-mitos yang tidak dapat diandalkan. ‘Dan kami memiliki 

buku-buku yang mirip tentang hal-hal yang seumpama.’”5 

Buku pertama yang mereka baca di seminari menyerang kenyataan sejarah Tuhan kita dan menolak 

semua ajaran-ajaran Gereja sebagai mitos-mitos. Kembali lagi, ini hanyalah suatu sampel kecil dari apa 

yang terjadi dan yang diajarkan di ‘seminari-seminari’ sekte Vatikan II. Buku Rose juga 

mendokumentasikan bahwa para pria yang melawan penahbisan wanita dihalang-halangi agar tidak 

meneruskan panggilan mereka. Buku ini  juga mendokumentasikan bagaimana Keutamaan Paus, 

kesempurnaan Kitab Suci, dst. secara umum ditolak di dalam seminari-seminari ini. Buku ini juga 

mendokumentasikan bagaimana seorang penyihir menghadiri satu seminari (hal. 180), dan bagaimana 

para kandidat seminari ini  diwawancarai dan disaring oleh seorang Freemason: 

“Langkah selanjutnya di dalam proses penerimaan [seminaris] yaitu  evaluasi psikologis. 

Carrigee dikirim ke suatu klinik psikologis independen, di mana ia melewatkan dua hari 

dengan mengambil tes dan ‘diwawancarai seorang stoik berwajah batu yang mengenakan 

sebuah cincin Masonik’.”6 

Begitu buruknya keadaan di dalam ‘seminari-seminari’ ini  sehingga seorang ‘Imam’ terkemuka dari 

sekte Vatikan II, ‘Romo’ John Trigilio harus mengatakan hal berikut tentang hari-harinya di seminari: 

“Trigilio menyesali, menunjukkan cabang budaya banci yang merajalela di dalam suasana 

seminari. ‘Kami dulu berkata, jika kamu mengenakan jubah, kamu yaitu  seorang ‘putri 

Trente’ yang reaksioner. Jika kamu mengenakan pakaian dalam wanita, mereka 

menghargaimu sebagai seminaris tahun ini. Kami juga melihat beberapa pria yang 

kadangkala mengenakan pakaian wanita, pakaian dalam wanita, makeup, dst., dan 

beberapa benar-benar kemayu... Yang banci di MIS (Mary Immaculate Seminary, 

Northampton, P.A] menyebut satu sama lain dengan nama perempuan mereka...’”7 

“Saya dapat mengatakan hal ini’, jelasnya, ‘namun  hal ini tidak mutlak: Jika seorang pria di dalam 

karirnya di seminari MIS tidak pernah mendapat  tentangan dari pengajar, ada sesuatu 

yang salah dengan dirinya. Jika anda sedikit pun ortodoks, anda harus berjuang begitu keras 

untuk menjaga kewarasan dan iman anda. Tim pembentukan akan mengatakan kepada uskup 

saya bahwa ‘Ia memiliki kesulitan untuk menyesuaikan diri kepada teologi kontemporer; ia tetap 

Seminari-Seminari, Kubangan Homoseksualitas dan Bidah 

449 

 

bersikukuh.’ namun  untuk mereka yang terang-terangan homoseksual, para uskup mereka 

tidak diberitahukan...’”8 

Hal-hal ini  yaitu  kata-kata seorang ‘Imam’ Novus Ordo yang sekarang tampil di EWTN {saluran 

televisi Novus Ordo di Amerika Serikat}. ‘Imam’ ini yaitu  seorang pemuka ekumenisme sesat, 

keselamatan di luar Gereja, dan berbagai bidah pasca-Vatikan II yang lain. Poinnya yaitu  ia sama sekali 

bukan seorang Katolik tradisional. Ia begitu jauh dari Iman Katolik Tradisional, namun  ia dianggap 

seorang konservatif di seminarinya hanya sebab  ia tidak terbuka kepada hal-hal seperti 

homoseksualitas dan penahbisan wanita. Hal ini menunjukkan kita betapa jahatnya sekte Vatikan II, dan 

betapa jauhnya tidak Katolik sekte ini . 

CERITA YANG MENCENGANGKAN TENTANG KEADAAN SEMINARI-SEMINARI DARI SESEORANG 

YANG MELEWATKAN WAKTU DI SEBUAH SEMINARI NOVUS ORDO YANG TERKENAL 

Di dalam terbitan tahun 1995 dari The Homiletic and Pastoral Review (yang selanjutnya diterbitkan di 

internet), sebuah artikel muncul, yang ditulis oleh seorang individu yang menghadiri salah satu seminari 

Novus Ordo yang paling terkenal di seluruh negeri. Ia begitu dikejutkan oleh apa yang ia lihat. Beberapa 

hal yang ia katakan termasuk: 

“sesudah  menghadiri seminari Katolik Roma Neo-Modernis selama empat tahun, saya menjadi 

percaya dengan kuat bahwa sumber dari krisis masa kini di dalam Gereja di Amerika Serikat 

dapat ditelusuri secara langsung ke dalam seminari-seminari. Seminari secara harfiah merupakan 

persemaian iman... Seorang pria pada akhirnya akan menemukan masalah [di dalam 

seminari], bagaimanapun, jika ia memakai  bahasa seperti ‘Kurban Kudus Misa’. Ia 

akan dicontreng dua kali jika ia melawan konsep ‘iman perempuan’ di dalam Gereja Katolik 

Roma. 

“Rosario dipandang sebagai cocok untuk mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk 

mendekati Allah secara intelektual, dan di bawah kemajuan teologis...” 

Pertama-tama, kami diinstruksikan sewaktu memasuki seminari bahwa kami tidak dapat 

berlutut pada saat konsekrasi di Misa, tidak pun kami boleh berlutut sesudah  menerima 

komuni. Hal ini akan ‘memecahkan persekutuan’.... 

“Pada saat Misa, imam sering dirujuk sebagai ‘pemimpin Misa’ {‘presider’}. Ialah yang memimpin 

kami di dalam doa, ‘menggerakkan’ persekutuan. Banyak ‘pemimpin Misa’ berimprovisasi pada 

saat Misa, menambahkan sentuhan pribadi mereka di dalam doa-doa ekaristi. Bahwa bacaan-

bacaan harus dipastikan untuk menjadi inklusif yaitu  tanggung jawab pembaca untuk hari itu... 

“Kami, sebagai seminaris Katolik Roma, tidak diperbolehkan untuk mengenakan pakaian 

imamat. Hal ini yaitu  sebab  kerah imam yaitu  tanda ‘klerikalisme’. Walaupun orang-orang 

mengetahui bahwa sang rektor berkata kepada para uskup bahwa ia tidak ingin 

’mencampuradukkan pelayanan dengan imamat,’ larangan untuk mengenakan kerah di seminari 

kami yaitu  sebab  hal ini  menggelisahkan para feminis... 

“Kami diberi tahu sejak awal bahwa para seminaris tidak boleh memanggil para pengajar sebagai 

‘Romo’ atau ‘Suster’. Kami tidak boleh terperangkap oleh ‘gelar’, sebab  ini merupakan simbol 

dari ‘klerikalisme’. Hal-hal ini juga dianggap menyinggung misi ‘ekumenis’ yang dijalankan 

seminari ini . Dalam soal ‘kebingungan pelayanan’, seseorang mungkin mempertanyakan 

praktik yang diajarkan di seminari... 

Seminari-Seminari, Kubangan Homoseksualitas dan Bidah 

450 

 

“Pada suatu konferensi di dalam kelas, pertanyaan diajukan tentang tingkah laku yang 

seperti banci dan memalukan dari beberapa seminaris, reputasi negatif yang didapatkan 

oleh seminari dari gambaran yang berkelanjutan ini , dan panutan macam apa yang 

diam-diam disetujui oleh seminari sewaktu seminari itu merekomendasikan pria-pria 

ini  untuk tahbisan. Wakil Rektor menjawab bahwa seminari ini  menerima 

pria-pria dari kedua orientasi {seksual – heteroseksual dan homoseksual}, namun  kebijakannya 

yaitu  semuanya haruslah selibat... 

“Di tahun akademik pertama kami, kami harus mempelajari {buku berjudul} Katolisisme 

oleh Richard P. McBrien. Buku ini meletakkan fondasi yang paling subur untuk keraguan dan 

penyimpangan intelektual dari Iman Katolik yang sejati. Lewat penipuan yang halus dan cerdik, 

di bawah kerudung bahasa yang ambigu, buku McBrien sangatlah efektif. Buku ini  menjadi 

dasar dari kewajaran untuk perbedaan pendapat. Beberapa dari ide-idenya yang paling 

menonjol, membisikkan dan dengan cerdik menunjukkan secara tersembunyi di 

sepanjang buku ini , bahwa kami tidak harus percaya akan keperawanan Bunda yang 

Terberkati, bahwa kita tidak perlu percaya atau setuju untuk mengikuti ajaran Gereja kecuali hal 

ini  disebut secara terang-terangan sebagai dogma; dan bahwa kami harus mengakui bahwa 

Yesus pernah membuat kesalahan sebab  ketidaktahuan. McBrien secara ahli memakai  

bahasanya agar tetap berada di dalam kaidah yang ‘legal’, dan membuat saran-saran yang 

memalukan yang terlihat menarik bagi beberapa orang. Saya ingat pernah melihat hasil langsung 

dari penggunaan buku ini di dalam sebuah diskusi yang saya lakukan dengan seorang seminaris 

lain – ia benar-benar yakin bahwa ‘sangatlah naif jika seseorang berpikir bahwa Maria tidak 

melakukan hubungan badan.’ 

“Kami sering mempelajari teolog Protestan di samping Rahner, Schillebeeckx, Kung, Boff (dan 

bahkan kadangkala Matthew Fox) dan seterusnya. sebab  kami tidak bersandar kepada 

Magisterium untuk panduan atau rujukan di dalam kebanyakan diskusi teologis, kami para 

seminaris terombang-ambingkan di dalam lautan pendapat dan penafsiran, Protestan maupun 

Katolik. 

“Di dalam bidang kerohanian, kami melakukan loka karya tentang ‘kerohanian wanita’, atau 

sesuatu yang berkenaan dengan ‘pelayanan kolaboratif’ dan ‘keadilan sosial’, sebab  hal ini dikira 

sebagai ‘tempat Roh Kudus berada’ di dunia masa kini. Devosi kepada Maria sebagai “Bunda yang 

Terberkati” diperbolehkan, namun  secara umum tidak disarankan... Rosario, yang didoakan di 

kapel utama oleh sekelompok seminaris, ditolerir untuk suatu waktu. namun  alhasil, 

ketegangan yang diciptakan di dalam seminari berkenaan dengan kelompok ini 

mengakhirinya. namun , untuk menyenangkan para uskup, dan sebagai sebuah tingkah laku yang 

menyarankan suatu elemen konservatif di dalam seminari, Rosario tiba-tiba diperbolehkan 

kembali – dengan persetujuan resmi oleh seminari –lalu namun  hanya di dalam kapel aula kecil di 

mana tidak ada  Sakramen Kudus, satu hari dalam seminggu, antara makan pagi dan kelas. 

Alasan Rosari tidak diperbolehkan di kapel utama yaitu  bahwa ‘kapel yaitu  untuk 

penyelenggaran liturgis – dan bukan devosi.’ Walaupun demikian kapel ini  digunakan untuk 

beberapa fungsi lain selain ibadat Katolik, termasuk kadangkala latihan-latihan orkes simfoni 

setempat. 

“Cobaan rohani terbesar datang pada tahun keempat saya, di dalam suatu pelajaran yang 

dinamakan ‘Konseling Pastoral’. Seorang wanita awam yang sangat vokal akan rencananya 

mengajar kelas ini . Tidak hanya ia memberi tahu kami dengan bangga bahwa ia akan 

membolos suatu kelas untuk menghadiri {acara} seminar-seminar Panggilan untuk Bertindak di 

Seminari-Seminari, Kubangan Homoseksualitas dan Bidah 

451 

 

Chicago (di mana semua orang menghadiri doa-doa Ekaristi sewaktu seorang wanita yang 

mengenakan stola ‘memimpin acara’ – dan bersama seorang Uskup Katolik di dalam kongregasi) 

namun  ia juga secara terang-terangan mendukung hak-hak gay dan lesbian, feminisme radikal, dan 

bahkan aborsi. sebab  saya terang-terangan mempertanyakan argumen-argumen wanita ini, saya 

diberikan pinalti... 

“Lewat suatu dilema yang mengecilkan hati, saya tahu bahwa apa yang diajarkan menentang 

secara langsung apa yang Gereja ajarkan, dan saya tahu bahwa sang uskup di dioses tempat 

tinggil saya mendukung saya... sesudah  empat tahun di seminari, berjuang untuk 

mempertahankan apa yang benar, saya akhirnya dihukum dengan pengeluaran. Saya 

diminta untuk keluar pada akhir tahun akademik dan tidak kembali. Walaupun saya 

menunjukkan kasus-kasus secara langsung di mana seminari ini  menentang Katolisisme di 

dalam iklim rohaninya, para anggota staf pengajar melindungi diri mereka sendiri dan institusi 

ini  dengan membuat tampak seperti sayalah yang menentang Gereja, otoritasnya, dan 

pembentukan seminari... sebab  akibat-akibat dari murka sang rektor, dan saya terkejut pula 

akan hal ini, sang uskup lalu  juga ‘melepas’ saya, sebab  hal ini  menjadi sangat politis 

untuknya. 

“Saya ingin tahu jika, di dalam seminari-seminari seperti yang saya hadiri, para pria seolah-olah 

masih ditempatkan di depam gambar-gambar dewa-dewa dan disuruh untuk membuat suatu 

pilihan.”9 

Perhatikan bahwa seminaris yang berpikiran konservatif ini mengira bahwa sang ‘Uskup’ Novus Ordonya 

akan mendukungnya. sesudah  ia didepak, ia mengetahui bahwa sang ‘Uskup’ berdiri bersama para orang 

yang murtad di seminari ini  melawannya. 


 

24. Penyembahan Berhala dari Sekte Vatikan II 

dan Pembentukan dari Para ‘Imam’ untuk 

Kemusyrikannya di dalam Seminari-

Seminari Vatikan II, Memiliki Hubungan 

dengan Homoseksualitasnya yang 

Merajalela 

 

 

 

Kitab Suci mengajarkan bahwa homoseksualitas yaitu  akibat dari penyembahan berhala 

Roma 1:21, 25-27, 32 - Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak 

memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya 

pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap...Sebab 

mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan 

menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-

lamanya, amin. sebab  itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang 

memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar 

dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan 

yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang 

terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan 

laki-laki, dan sebab  itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang 

setimpal untuk kesesatan mereka... Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-

tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal 

demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, namun  

mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya. 

Homoseksualitas yang Merajalela Berkaitan dengan Kemusyrikan Sekte Vatikan II 

453 

 

Sekte Vatikan II menentang ajaran Kitab Suci ini dengan menyatakan bahwa sebab homoseksualitas tidak 

diketahui, dan bahwa ketertarikan sesama jenis tidaklah salah. 

Yohanes Paulus II, Katekismus Baru, #2357: 

“Homoseksualitas... Sebagian besar dari permulaan psikologisnya tetap tidak diketahui.”1 

namun  Roma 1 jelas-jelas mengajarkan bahwa homoseksualitas ‘tidak wajar’, yang berarti bahwa 

ketertarikan ini yaitu  sesuatu yang asing kepada kodrat manusia; yaitu, TIDAK DITANAMKAN 

OLEH ALLAH. Akibat penyembahan berhala, kadangkala Allah mengizinkan iblis untuk menguasai orang-

orang, merasuki mereka, dan mengubah ketertarika mereka, seperti yang digambarkan St. Paulus. 

Pria dan wanita diserahkan kepada homoseksualitas sebab  mereka membanjiri diri mereka sendiri 

dengan dosa-dosa kenajisan – yang oleh sebab nya, menyembah daging dan bukan Allah. Akibat dosa ini, 

mereka dapat dirasuki roh hawa nafsu, yang lalu  menguasai mereka dan membejatkan 

ketertarikan mereka seutuhnya. (Dan mereka dapat disembuhkan dari hal ini.) Orang-orang juga menjadi 

homoseksual sebab  mereka mengambil bagian di dalam penyembaan berhala dengan menyimpan 

ketertarikan yang bejat akan manusia di atas Allah – yang sebab  itu menyembah ciptaan dan bukan sang 

Pencipta – atau dengan menyembah sesuatu yang yaitu  ciptaan dari tangan seseorang. Fakta bahwa 

semua homoseksual dirasuki iblis didukung oleh fakta bahwa kebanyakan laki-laki homoseksual dapat 

dikenali lewat tingkah laku eksternal mereka yang sangat feminin. Apa yang menjelaskan hal ini? Jelaslah 

bahwa kehadiran iblis di dalam orang ini  menunjukkan dirinya lewat tampak luarnya – tingkah 

laku eksternal yang tidak alamiah yang menyingkapkan kenajisan dalam jiwanya. 

Yesaya 3:9 – “Air muka mereka menyatakan kejahatan mereka, dan seperti orang Sodom, 

mereka dengan terang-terangan menyebut-nyebut dosanya, tidak lagi disembunyikannya. 

Celakalah orang-orang itu! Sebab mereka mendatangkan malapetaka kepada dirinya sendiri.“ 

Perhatikan bahwa nabi Yesaya, saat ia berbicara tentang para homoseksual, berkata bawa “mereka 

mendatangkan malapetaka kepada dirinya sendiri.” Ini sangatlah mirip dengan Roma 1 di atas, di mana St. 

Paulus berkata bahwa para homoseksual telah ‘menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk 

kesesatan mereka’. 

Penelitian akan budaya-budaya yang paling jahat di dalam sejarah mendukung ajaran Kitab Suci akan 

hubungan antara penyembahan berhala dengan homoseksualitas. Semua hal ini relevan sebab  

homoseksualitas merajalela di antara para imam Vatikan II. 

Budaya Aztek di Meksiko pada abad-abad ke-15 dan ke-16, yang digulingkan secara jasmani oleh para 

conquistador {angkatan bersenjata kerajaan Spanyol} Katolik – dan yang diremukkan secara rohani oleh 

penampakan Bunda Maria dari Guadalupe (1531) – merupakan salah satu budaya terjahat di dalam 

sejarah manusia. 

Warren H. Caroll, Our Lady of Guadalupe and the Conquest of Darkness {Bunda Maria dari 

Guadalupe dan Ditaklukannya Kegelapan}, hal. 8-11: 

“Banyak dari orang-orang purbakala kadangkala mempraktikkan pengorbanan manusia 

dan kanibalisme. Tidak satu budaya pun menandingi jumlah {pengorbanan manusia dan 

kanibalisme} yang bahkan hampir mencapai budaya Aztek. Tidak seorang pun akan pernah 

tahu berapa banyak orang yang mereka korbankan; namun  hukum kerajaan mewajibkan seribu 

korban kepada dewa suku Aztek Huitzilopochtli di setiap kota dengan sebuah kuil, setiap tahun; 

dan ada  371 kota yang tunduk di bawah kerajaan Aztek... 

Homoseksualitas yang Merajalela Berkaitan dengan Kemusyrikan Sekte Vatikan II 


 

“Setiap kota dan kota besar Aztek memiliki lapangan pusat, di mana sebuah kuil 

berbentuk piramida menjulang, dan empat gapura menyambut empat jalan yang menuju kota 

di dalam garis lurus yang panjangnya setidaknya lima mil, tiap-tiap jalan ini  berakhir di satu 

sisi dari kuil piramida ini ... Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, di dalam tiap-

tiap kuil, korban ritual berjalan menuju anak tangga {kuil}, menapaki anak tangga menuju 

mimbar di atas, dan di sana {mereka} berbaring ke belakang di atas lempengan batu 

cembung yang dipelitur. Sebuah kail diikatkan di leher mereka oleh seorang imam yang kepala 

dan lengannya berwarna hitam, dengan rambutnya yang hitam yang tidak pernah dipotong, yang 

berkerak dan diselimuti darah yang sudah mengering; ia mengenakan pakaian yang tadinya 

putih, yang dilumuri dan dinodai tetesan merah menyala. Sebuah pisau yang besar yang 

matanya terbuat dari kaca vulkanik berwarna hitam legam membumbung dan jatuh, 

membuka badan sang korban. Jantungnya disobekkan selagi masih berdebar dan 

digenggam untuk dilihat semua orang, sedangkan badannya yang porak-poranda 

ditendang ke ujung mimbar kuil di mana ia membal dan menjalar, meliuk-liuk dengan 

menjijikkan ke bawah anak tangga beberapa ratus kaki di bawah. lalu , anggota 

badannya dimakan...  

“Sejarahwan awal dari Meksiko, Ixtlilxochitl, memperkirakan bahwa satu dari lima anak-anak di 

Meksiko dikorbankan... Satu simbol yang hampir universal di dalam agama Meksiko yaitu  

ular. Pengorbanan diwartakan dengan tabuhan berkepanjangan suatu gendang besar yang 

terbuat dari kulit ular-ular besar, yang dapat terdengar dari kejauhan dua mil. Tidak ada tempat 

lain di dalam sejarah manusia di mana Setan telah mengesahkan dan mendirikan 

penyembahannya dengan begitu banyaknya gelar-gelar dan simbol-simbol untuk dirinya 

sendiri.”2 

Berikut yaitu  gambaran dari tahun 1487 pembaktian Aztek akan suatu kuil piramida baru untuk 

berhala mereka Huitzilopochtli: 

“Tlacaellell memutuskan bahwa kuil pusat ini harus dibaktikan dengan pengorbanan 

massal yang paling besar di dalam lima puluh delapan tahun kepemimpinannya di dalam 

kerajaan Aztek. Seperti biasa, ia mendapat  apa yang ia mau. Di dalam gambaran R.C Padden 

yang mengesankan: “Jauh sebelum subuh, anggota legiun menyiapkan para korban, yang 

ditempatkan di dalam satu antrian tertutup di bawah anak tangga piramida besar, yang 

memotong kota, di jalan lintas, sejauh mata memandang. Untuk orang biasa yang memandang 

peristiwa ini dari atap rumah, akan terlihat bahwa para korban berentetan di dalam garis 

menuju ujung bumi. Kebanyakan dari orang-orang malang ini  berasal dari provinsi-

provinsi yang berseteru dan dari kalangan budak. Di puncak piramida, empat lempengan 

telah dipersiapkan, satu di atas setiap tangga, untuk Tlacaellel dan ketiga raja dari Tiga 

Persekutuan, yang semuanya memulai hal ini  sebagai imam-imam yang menjalankan 

korban. Semuanya sudah siap; rentetan korban panjangnya bermil-mil, dengan tampungan besar 

di ujungnya, ribuan dari manusia-manusia yang terperangkap bergerak hiruk-pikuk 

bagaikan ternak, menunggu giliran mereka di dalam rentetan yang akan maju. Tiba-tiba, 

para raja yang pakaiannya begitu brilian mendekati kapel Huitzilopochtli [sang berhala] dan 

membuat suatu penghormatan yang khidmat. Selagi mereka beralih untuk mendekati para 

ajudan mereka di dekat keempat lempengan, gendang kulit ular besar itu mulai ditabuhkan, 

mengumumkan bahwa antrian-antrian {korban} sekarang boleh mulai maju. 

“Para imam bergantian memberangkatkan para korban. Selagi tiap kelompok menjadi 

lelah [akibat pembunuhan ini ], ribuan korban yang lain yang masih hidup di bawah 

Homoseksualitas yang Merajalela Berkaitan dengan Kemusyrikan Sekte Vatikan II 

 

 

kuil yang baru maju untuk membantu mereka dan untuk menjaga irama. Praktik bertahun-

tahun ini telah memberi  mereka kemampuan dan kecepatan yang hampir tidak bisa 

dipercaya. Bukti yang dapat diandalkan menunjukkan bahwa hanya diperlukan lima belas detik 

untuk membunuh tiap korban. Darah dan badan-badan jatuh di dalam aliran tiada henti ke 

bawah anak tangga kuil. Jantung-jantung dikumpulkan di dalam tumpukan dan 

tengkorak-tengkorak di dalam rak-rak yang begitu banyak. 

“Kejadian itu berlangsung empat hari dan empat malam. Lebih dari delapan puluh ribu manusia 

dibunuh. Tlacaellel telah memerintahkan seluruh bangsawan tinggi Meksiko untuk hadir, 

menonton dari panggung yang dilumuri wewangian, yang diberi warna merah; namun  pada 

akhirnya, kebiasaan adat dan bahkan oleh ketakutan meledak akibat kengerian yang luar biasa, 

dan kebanyakan dari para penonton kabur, bersama banyak orang kota. Bahkan mereka yang 

dapat bersembunyi dari pemandangan ini  tidak dapat lagi menahan baunya. namun  

Tlacaellel [pemimpin Kerajaan] yang berumur delapan puluh sembilan tahun menetap 

sampai akhir perayaan ini , melihat para korban dibunuh dalam waktu lima belas 

detik per orang, sampai orang terakhir dari kedelapan puluh ribu korban ini  

dirobek jantungnya di depan mata kepalanya.”3 

Mungkin kupasan sejarah ini, lebih dari yang lain, menggambarkan kenyataan dari ajaran Kitab Suci 

bahwa allah-allah bangsa-bangsa sebenarnya yaitu  setan. 

Mazmur 96:5- “Sebab segala allah bangsa-bangsa yaitu  hampa {lyla ‘eliyl – dewa-dewa sesat; 

devils - setan dalam terjemahan Katolik Douay-Rheims}... 

1 Korintus 10:20- “Apa yang kumaksudkan ialah, bahwa persembahan mereka {penyembah 

berhala} yaitu  persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah. Dan aku tidak mau, 

bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat.” 

Hal ini juga menunjukkan hubungan antara penyembahan berhala dengan homoseksualitas, sebab  para 

conquistador Katolik, “sesudah  menangkis serangan [para Aztek], melihat kuil-kuil kecil pertama mereka. 

‘ada  berhala tanah liat yang terbuat dari tembikar,’ cerita Bernal Diaz, ‘dengan wajah iblis 

atau wanita atau tokoh-tokoh jahat lain yang menunjukkan para Indian yang melakukan 

tindakan sodomi satu sama lain.’”4 

Hal ini  merupakan masalah yang begitu besar sampai Cortes {salah satu pemimpin conquistador} 

berkata kepada para Aztek: “Saya ingin kalian tahu bahwa kami telah datang dari jauh... Berhentilah 

melakukan sodomi dan segala praktik kalian yang jahat, sebab  itulah yang diperintahkan Tuhan Allah 

kami, Yang kami percayai dan Yang kami sembah...”5 

St. Fransiskus Xaverius (abad ke-16) menyaksikan hal yang sama sewaktu ia mengkhotbahkan iman di 

Jepang kafir. “Fucarandono lalu berbicara tentang hal-hal umum, dan sesudah  itu bertanya kepada 

Fransiskus Xaverius mengapa ia melarang nafsu yang tidak wajar yang begitu umum di Jepang.”6 

Nafsu yang tidak wajar itu begitu umum sebab  mereka menyembah sekitar 33.000 berhala di kuil di 

Kioto.7 Seperti yang diajarkan Roma 1, hawa nafsu yang tidak wajar memiliki hubungan dengan 

penyembahan berhala. 

Itulah mengapa hawa nafsu yang tidak wajar begitu umum di kalangan imamat sekte Vatikan II: mereka 

terjerumus di dalam penyembahan berhala. 

  

Homoseksualitas yang Merajalela Berkaitan dengan Kemusyrikan Sekte Vatikan II 


25. Sekte Vatikan II Mempromosikan 

Penyembahan Berhala dengan Menyembah 

Manusia Secara Umum, dan Secara Khusus 

Menyembah Manusia di dalam Misa Barunya, 

serta Penerimaan Agama-Agama Sesat 

 

“Mereka yang menempuh usaha yang begitu keras untuk menghindari bahkan sekelumit 

dari propaganda yang ada  di dalam Misa Baru di negara Barat mana pun tentunya 

akan setuju dengan hampir serempak bahwa arti dari Misa ditemukan di dalam 

perkumpulan umat, bukan di dalam kurban untuk mana, paling tidak di dalam teorinya, 

umat berkumpul... Profesor Salleron mencatat suatu kali [pada tahun 1970] bahwa Misa 

Baru melambangkan ungkapan liturgis akan Penyembahan Manusia...”1 

 

Kami telah membahas secara sangat rinci tentang penerimaan sekte Vatikan II akan agama-agama sesat. 

Sekarang kita harus melihat bagaimana manusia telah menggantikan Allah di dalam Misa Baru dan 

bagaimana hal ini tercermin di dalam seminari-seminari. 

Lex Orandi, lex credendi – Hukum Novus Ordo tentang Doa berkaitan dengan Hukum Iman 

Novus Ordo: bahwa Manusia yaitu  Allah 

Lex Orandi, lex credendi yaitu  suatu prinsip di dalam ajaran Katolik. Secara sederhana hal ini berarti 

bahwa cara Gereja berdoa atau beribadat mencerminkan apa yang dipercayai Gereja. Hal ini terlihat 

sangat jelas sewaktu para bidah Protestan memisahkan diri dari Gereja, mereka mengindoktrinasikan 

orang-orang secara efektif dengan ajaran-ajaran sesat Protestan (yang menentang Kehadiran Nyata 

Kristus di dalam Ekaristi, menolak bahwa Misa yaitu  suatu kurban, dst.) dengan mengubah Misa di 

Berbagai Cara Sekte Vatikan II Mempromosikan Penyembahan Berhala dan Manusia 

 

dalam cara-cara yang mencerminkan kepercayaan-kepercayaan mereka yang baru (misalnya, 

memperlakukan Ekaristi bagaikan sebuah roti biasa, menghapuskan rujukan kepada kurban, dst.) 

Kita melihat hal yang sama di dalam Misa Novus Ordo (Misa Baru). Marilah berfokus secara singkat akan 

bagaimana hukum doa Novus Ordo mencerminkan ajaran pasca-Vatikan II (yang diucapkan Yohanes 

Paulus II) bahwa manusia yaitu  Allah. Bahkan mendiang Michael Davies, yang membela keabsahan Misa 

Baru, jelas-jelas mengakui bahwa penyembahan Misa Baru yaitu  Penyembahan kepada Manusia. 

Michael Davies, Pope Paul’s New Mass {Misa Baru Paus Paulus}, hal. 149: 

“Mungkin simbol yang paling dramatis dari sifat yang berpusat kepada manusia di dalam 

liturgi baru yaitu  bahwa dibalikkannya altar, atau, penggantiannya dengan sebuah 

meja… Manusia telah berbalik badan dari Allah untuk menghadap manusia lain. Tidak 

semua ahli liturgi akan menyatakan secara resmi bahwa mereka menggantikan Penyembahan 

Allah dengan Penyembahan Manusia. Untuk beberapa orang, hal ini  yaitu  suatu proses 

bawah sadar. namun  semua ini yaitu  bagian dari suatu tren yang, meskipun tidak dikatakan 

secara formal, yaitu  suatu hal yang jelas.”2 

 

Diputarbalikkannya altar, dan penggantiannya dengan sebuah meja, yang menghadap manusia, 

menggantikan penyembahan Allah dengan penyembahan manusia. 

Michael Davies, Pope Paul’s New Mass {Misa Baru Paus Paulus}, hal. 141: 

“Almarhum T.S. Gregory… sangatlah terganggu oleh reform liturgis sesudah  konsili… ia 

mengingatkan: ‘…namun  walaupun kita tidak dapat mengubah Misa Katolik lebih dibandingkan  kita 

dapat mengubah sifat Allah… Kita bahkan dapat berpikir bahwa inti dari hal ini bukanlah Putra 

Allah yang dikurbankan namun  para perkumpulan umat.’ Ini yaitu  suatu peringatan yang 

bernubuat akan sifat Misa Baru yang didefinisikan oleh para penyusunnya di dalam Artikel 7-nya 

yang terkenal, yaitu, esensi dari Misa yaitu  berkumpulnya para umat. Mereka yang menempuh 

usaha yang begitu keras untuk menghindari bahkan sekelumit dari propaganda yang 

ada  di dalam Misa Baru di negara Barat mana pun tentunya akan setuju dengan 

hampir serempak bahwa arti dari Misa ditemukan di dalam perkumpulan umat, bukan di 

dalam kurban untuk mana, paling tidak di dalam teorinya, umat berkumpul... Profesor 

Salleron mencatat suatu kali [pada tahun 1970] bahwa Misa Baru melambangkan 

ungkapan liturgis akan Penyembahan Manusia...”3 

Perhatikan poin yang penting ini: arti dari Misa Baru ada  di dalam perkumpulan umat, menurut 

sekte Vatikan II, sebab  dipercayai bahwa perkumpulan ini  – manusia – sekarang yaitu  Kristus. 

Yohanes Paulus II, Homilinya yang Pertama, Selamanya Menandai Permulaan Pelayanan 

Penggembalaannya, Minggu, 22 Oktober 1978:  

Berbagai Cara Sekte Vatikan II Mempromosikan Penyembahan Berhala dan Manusia 

 

 

“’Anda semua yang masih mencari Allah, anda semua yang sudah sangat beruntung untuk 

percaya, dan juga anda yang tersiksa oleh keraguan: mohon mendengarkan sekali lagi, hari ini, di 

tempat suci ini, kata-kata yang diucapkan oleh Simon Petrus [Matius 16:16]. Di dalam kata-kata 

itu ada  iman Gereja. Di dalam kata-kata yang sama ini  memang, ada  kebenaran 

yang baru, kebenaran yang pokok dan pasti tentang manusia: Putra Allah yang hidup –

Engkau yaitu  Kristus, Putra Allah yang hidup.’”4 

Digantikannya Allah oleh manusia di dalam Misa (Baru) juga diajarkan di dalam dokumen resmi Vatikan 

II tentang liturgi (Sacrosanctum Concilium). 

Konstitusi Vatikan II tentang Liturgi Kudus, Sacrosanctum Concilium #14: 

“Di dalam pemulihan dan promosi liturgi kudus, partisipasi yang penuh dan aktif oleh semua 

orang ini [di dalam liturgi] merupakan tujuan yang harus dipertimbangkan sebelum hal-

hal yang lain; sebab  hal ini  yaitu  sumber utama dan yang tidak tergantikan dari mana 

para umat beriman mendapat  roh Kristiani yang sejati.”5 

Tentang ajaran ini, Michael Davies berkomentar: 

Michael Davies, Pope Paul’s New Mass {Misa Baru Paus Paulus}, hal. 142-143: 

“Hal yang paling penting di dalam Misa Tridentin yaitu  penghormatan yang pantas yang 

diberikan kepada Allah, sehingga kurban harus diselenggarakan di dalam suatu cara yang pantas 

untuk keagungan Allah kepada siapa hal ini  dipersembahkan. Artikel 14 dari Konstitusi 

tentang Liturgi Kudus sangat jelas, perhatian harus dipusatkan kepada kongregasi dan 

bukan kepada Allah.”6 

Maka, Vatikan II secara resmi mengajarkan bahwa perhatian di dalam Misa haruslah diberikan kepada 

manusia dan bukan Allah. 

 

Itulah mengapa kita mendengar tentang berbagai kekejian di Misa Baru, termasuk Misa Badut, Misa 

kanak-kanak, Misa Polka, dst., dst., dst., dst., yang seluruhnya ditujukan untuk membuat ibadat sesuai 

dengan perkumpulan umat – sesuai dengan manusia, yang sebenarnya yaitu  objek dari ibadatnya. 

Berbagai Cara Sekte Vatikan II Mempromosikan Penyembahan Berhala dan Manusia 

460 

 

 

Body Surfing di Misa Baru 

Michael Davies, Pope Paul’s New Mass {Misa Baru Paus Paulus}, hal. 170: 

”...ciri yang paling jelas dari liturgi yang baru yaitu  bahwa hal ini  merupakan 

Penyembahan Manusia dan bukan Penyembahan Manusia dan bukan Penyembahan Allah. 

Hal terakhir yang Misa Baru hendak sampaikan yaitu  bahwa kita berada di dalam dunia, namun  

bukan milik dunia; hal terakhir yang ia maksudkan yaitu  kita harus menarik diri dari kehidupan 

sehari-hari kita. Tema utama tulisan kontemporer tentang liturgi [baru] yaitu  bahwa kongregasi 

harus dibuat agar merasa di rumah sendiri pada saat Misa dan hal ini dilakukan paling baik lewat 

dengan memastikan bahwa liturgi ini  mencerminkan lingkungan ini ... Hal ini benar 

terutama di dalam kasus anak-anak... Petunjuk Misa Anak-anak...”7 

Penyembahan manusia di dalam Misa Baru tertangkap secara menonjol di dalam paparan bertanggal 3 

April 1978 oleh The Boston Globe. 

 

Misa Badut yang berlangsung di Boston pada tanggal 2 April 1978 

  

Berbagai Cara Sekte Vatikan II Mempromosikan Penyembahan Berhala dan Manusia 

 

 

Berikut yaitu  doa Ekaristi dari “Misa” Badut Novus Ordo ini , yang diselenggarakan oleh Romo 

Joachim Lally: 

“Utuslah Roh-Mu atas persembahan roti dan anggur ini dan di atas kami semua agar bersama-

sama kami dapat menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus yang hidup, bernapas, dan 

bergerak, Putra-Mu dan Saudara kami.”8 

Di dalam doa Ekaristi dari Misa Badut Novus Ordo ini, kita melihat ajaran yang sangat jelas bahwa 

manusia yaitu  Kristus. Doa ini  menyatakan bahwa “kami dapat menjadi Tubuh dan Darah Yesus 

Kristus...”! Ini yaitu  doktrin dari Antikristus, melarutkan Yesus menjadi semua orang (1 Yohanes 4:2-3). 

Penyembahan manusia sebagai Kristus juga diajarkan di dalam sebuah aturan yang dijelaskan tentang 

bagaimana ‘Komuni’ Novus Ordo tidak boleh dibagikan. 

Michael Davies, Pope Paul’s New Mass {Misa Baru Paus Paulus}, hal. 340: 

“Banyak pembaca akan terkejut saat mengetahui bahwa hierarki Amerika sebenarnya sedang 

mempersiapkan penerimaan Katolik akan konsep bahwa kurban di dalam Misa yaitu  Kristus 

yang dipersembahkan atas dasar kehadiran-Nya di dalam kongregasi yang 

mempersembahkan diri mereka sendiri. Di dalam buletin Komite Para Uskup tentang 

Liturgi, telah dibuat suatu aturan bahwa sewaktu membagikan Komuni Kudus, seorang 

imam tidak boleh berkata: ‘Terimalah Tubuh Kristus’ atau ‘Inilah Tubuh Kristus.’ Alasan 

yang diberikannya yaitu  bahwa kongregasi sendiri yaitu  Tubuh Kristus. 

“[Pernyataan para Uskup]: ‘Penggunaan kata Tubuh Kristus. Amin, di dalam ritus Komuni 

menyatakan dengan cara yang sangat tegas akan kehadiran dan peran dari komunitas... 

Perubahannya yang terjadi berkenaan dengan penggunaan kata Tubuh Kristus dan bukan 

rumusan panjang yang sebelumnya dikatakan oleh sang imam memiliki beberapa dampak 

di dalam pembaruan liturgi. Pertama, hal ini  bertujuan untuk menonjolkan konsep 

yang penting tentang komunitas sebagai tubuh Kristus...’”9 

Perhatikan: pernyataan resmi dari para uskup Novus Ordo menyatakan bahwa seorang imam tidak boleh 

mengatakan “Terimalah Tubuh Kristus” atau “Inilah Tubuh Kristus” sewaktu membagikan Komuni, namun  

“Tubuh Kristus” untuk menonjolkan bahwa “Tubuh Kristus” hadir di dalam komunitas! Ini yaitu  

penyembahan manusia! 

Kemusyrikan ini tercermin di dalam seminari-seminari Novus Ordo. Di berbagai seminari ini, devosi 

kepada apa yang mereka kira yaitu  Sakramen Kudus [ingat, Kehadiran Nyata Kristus tidak ada  

di dalam Misa Baru, seperti yang kami telah bahas] dihalang-halangi sebab  hal ini  tidak 

mengakui kehadiran Kristus di dalam semua orang! 

Michael Rose, Goodbye, Good Men {Selamat Tinggal Pria-pria yang Baik}, hal. 121, sebuah paparan 

tentang Seminari-seminari Novus Ordo: 

“[Seminaris] Novus Ordo yang berlutut dan menerima Komuni di lidah bersalah akan tiga 

hal: hormat, penghargaan, dan kekhidmatan, yang merupakan petunjuk bahwa sang 

seminaris memiliki pengertian yang ‘ketinggalan zaman’ akan Kehadiran Nyata Kristus di 

dalam Ekaristi.”10 

Beberapa orang yang bahkan berlutut di depan apa yang mereka anggap sebagai Sakramen Kudus 

dimarahi akibat pengertian mereka yang ‘ketinggalan zaman’ akan Kehadiran Nyata Kristus, yaitu, ‘gagal’ 

untuk ‘mengerti’ bahwa Kristus hadir di dalam semua orang! Ini yaitu  doktrin Antikristus, yang diteguk 

oleh sekte Vatikan II. Dan kami mengetahui hal ini secara langsung. Beberapa tahun lalu salah satu dari 

Berbagai Cara Sekte Vatikan II Mempromosikan Penyembahan Berhala dan Manusia 

462 

 

kami mengunjungi sebuah seminari Novus Ordo di daerah Philadelphia. ‘Misa’ Baru di sana begitu tidak 

khusyuk dan menghadirkan para seminaris yang memainkan gitar mereka bagaikan di dalam suatu 

konser musik rakyat dan bukan di Misa. Sewaktu salah satu dari kami mengeluh kepada seorang kepala 

seminari bahwa ‘Misa’ ini  tidaklah sopan kepada Kristus yang hadir di dalam Sakramen Kudus 

(yang salah satu dari kami salah kaprah pada waktu itu, saat kami tidak mengetahui bahwa Misa Baru 

tidaklah valid), kepala seminari ini  m