elokkan perhatian orang dari dirinya sendiri; dan ia berhasil dalam hal ini. namun , yang paling
menakutkan yaitu pernyataan Paulus VI yang terkenal ini pada dasarnya yaitu rujukan langsung
kepada Wahyu 9:1-2.
Wahyu 9:1-2: ”...dan kepadanya diberikan anak kunci lobang jurang maut. Maka dibukanyalah
pintu lobang jurang maut itu, lalu naiklah asap dari lobang itu bagaikan asap tanur besar...”
Di dalam Wahyu 9, kita melihat sebuah rujukan langsung kepada asap Setan, dan orang yang diberikan
kunci untuk melepaskannya. Anti-Paus Paulus VI tidak memiliki kunci Petrus, namun ia diberikan kunci
pintu lubang jurang maut. Ialah yang membawa masuk asap Setan dari tanur besar; seperti yang ia
katakan, lewat beberapa celah.
Jean Guitton, teman karib Paulus VI, mengenai apa yang Paulus VI katakan pada sesi akhir
Vatikan II:
“Pada saat sesi terakhir Konsili ini ,” Guitton menulis, “sesi terpenting di mana Paulus VI
akan melimpahkan kepada umat manusia ajaran-ajaran Konsili ini . Ia mengumumkan hal
ini kepada saya pada hari ini dalam kata-kata berikut. ‘Sebentar lagi aku akan meniup
ketujuh sangkakala dari Kitab Wahyu.’”118
Paulus VI, Pidato kepada Seminari Lombard, 7 Desember 1968:
“Gereja sedang berada di dalam saat kegelisahan, saat di mana ia mengkritik dirinya sendiri,
dapat dikatakan bahwa ia sedang menghancurkan dirinya sendiri... Gereja melukai dirinya
sendiri.”119
Di sini Paulus VI sekali lagi mengolok-olok umat. Ia berkata bahwa Gereja ‘sedang menghancurkan
dirinya sendiri’ dan ‘melukai dirinya sendiri’. Ia merujuk kepada dirinya sendiri lagi, sebab ialah yang
mencoba menghancurkan Gereja dan melukainya di setiap saat!
PAULUS VI TENTANG ‘ILMU GAIB’
The Oxford Illustrated Dictionary mendefinisikan magic {‘ilmu gaib’} sebagai “sebuah ilmu yang dianggap
dapat memengaruhi kejadian-kejadian lewat kekuasaan rahasia atas alam atau roh, sihir...”120
Orang-orang Katolik dilarang untuk mempraktikkan ilmu gaib. namun Paulus VI sering berbicara tentang
ilmu gaib.
Paulus VI, Homili, 12 November 1972:
“Dari manakah datangnya ilmu gaib dalam ini yang mengenyahkan rasa takut...”121
Paulus VI, Audiens Umum, 30 Desember 1970:
”...ilmu gaib yang tidak kelihatan namun terlalu kuat dari opini publik yang sangat banyak...”122
Paulus VI, Pesan, 1 Januari 1975:
“Rekonsiliasi!...Tidakkah kata gaib ini dapat menemukan tempat di dalam kamus harapan-
harapan anda...”123
Paulus VI, Homili, 11 Mei 1975:
“Kalian, para artis teater dan layar lebar...yang memiliki ilmu gaib untuk persembahan lewat
suara dan musik...adegan sungguhan dari suatu kejadian...”124
202
Paulus VI, Pidato, 18 Mei 1969:
“Segala hal ditransformasikan di bawah pengaruh gaib dari ilmu pengetahuan...”125
Paulus VI, Pesan kepada Orang-orang Brazil, Februari 1972:
“Pelayanan: sebuah kata gaib yang menyemangati untuk melakukan sebuah tindakan...”126
Paulus VI, Sambutan, 23 Juni 1973:
”...akar rohani ini kelihatannya telah kehilangan banyak dari kekuatan gaib dari
ilhamnya?”127
Mengapa Paulus VI berbicara banyak kali tentang ilmu gaib? Menurut pendapat kami, tepatnya ini yaitu
sebab ia mengetahui bahwa Ilmu Hitamlah yang memungkinkannya, seorang penyusup satanik, untuk
mengelabui seluruh dunia untuk berpikir bahwa ia yaitu seorang Paus agar ia dapat menghancurkan
Misa dan hampir seluruh Gereja Katolik. Ia tahu bahwa Ilmu Hitamnyalah yang memperkenankannya
untuk mengubah ritus dari setiap sakramen dan menipu dunia dengan agama Vatikan II-nya.
PAULUS VI MENGAKUI BAHWA GEREJANYA yaitu PELACUR BABEL
Di dalam Kitab Wahyu bab 17 dan 18, dinubuatkan bahwa seorang pelacur akan muncul pada akhir
zaman dari kota bertujuh gunung, yakni Roma. Pelacur ini akan menginjak-injak darah para martir dan
santo-santa. Pelacur ini jelas-jelas dikontraskan dengan mempelai tak bernoda Kristus, yaitu Gereja
Katolik. Dalam kata lain, pelacur Babel ini yaitu sebuah gereja palsu dari Roma yang akan muncul pada
akhir zaman. Mendekati akhir buku ini, kami akan menunjukkan bukti bahwa Pelacur Babel ini
yaitu sekte Vatikan II, yaitu mempelai palsu yang muncul di Roma pada akhir zaman untuk menipu
Umat Katolik.
Sewaktu ia muncul di La Salette, Prancis, 19 September 1846, Bunda yang terberkati bernubuat:
“Roma akan kehilangan Iman dan menjadi takhta sang Antikristus...Gereja akan berada dalam
gerhana.”
Di dalam kutipan berikut, Anti-Paus Paulus VI pada dasarnya mengakui bahwa Gerejanya yang baru
yaitu Gereja yang palsu dengan mengakui bahwa ‘Gereja’-nya telah menanggalkan ketidaksukaannya
akan dunia, suatu hal yang khas dari Gereja sejati.
Paulus VI, Audiens Umum, 1 Oktober 1969:
“Pada sisi lain, Ia [Gereja] juga mencoba menyesuaikan dirinya sendiri dan mengasimilasikan
dirinya ke dalam cara-cara dunia; Ia menanggalkan pakaian sucinya yang khas, sebab Ia ingin
merasa lebih manusiawi dan duniawi. Ia cenderung membiarkan dirinya sendiri diserap oleh
lingkungan sosial dan temporal. Ia hampir telah dikuasai oleh rasa hormat kepada manusia
sewaktu Ia berpikir bahwa Ia berbeda dan wajib untuk memiliki cara berpikir dan hidup yang
bukan berasal dari dunia. Ia sedang melalui perubahan-perubahan dan degradasi dunia
dengan semangat yang konformis dan tidak biasa.”128
Di sini Paulus VI mengakui bahwa Gereja sesudah Vatikan II yaitu Gereja palsu yang telah menyesuaikan
dirinya kepada dunia dan mengikuti cara-cara dunia dengan penuh semangat. Ini yaitu sebuah
pengakuan Paulus VI yang mengejutkan. Ia mengakui dalam banyak kata bahwa Gereja sesudah Vatikan II
yaitu Pelacur Babel.
203
Sewaktu seseorang menggabungkan fakta bahwa Paulus VI sering mengenakan efod Yahudi
dengan seluruh upayanya untuk menghancurkan seluruh Tradisi Katolik, buktinya kuat bahwa ia
yaitu seorang penyusup Yahudi satanis.
Bahkan, nenek moyang Paulus VI memiliki asal-usul Yahudi. Nama aslinya yaitu Giovanni Montini.
Keluarga Montini terdaftar di dalam Golden Book of Noble Italian Heritage {Buku Emas Keturunan
Bangsawan Italia} (1962-1964, hal. 994): “Cabang dari...keluarga bangsawan dari Brescia...asal dari
emblem bangsawan keluarga mereka dan yang memastikan peti dan pendirinya, yakni Bartholomew
(Bartolino) de Benedictis, Montini yaitu keturunan Yahudi”.129
SEBUAH FOTO LAIN DI MANA ANTI-PAUS VI MENGENAKAN TUTUP DADA PEMBUATAN
KEPUTUSAN IMAM AGUNG YAHUDI
Kami telah membuktikan bahwa Paulus VI yaitu seseorang yang sama sekali murtad yang percaya
bahwa agama-agama sesat yaitu benar, dan bahwa bidah dan skisma itu baik adanya, dan bahwa para
skismatis seharusnya tidak dikonversikan – beberapa dari ajaran sesatnya.
Jika anda menerima Vatikan II atau Misa Baru atau ritus-ritus sakramen yang baru – singkatnya, jika
anda menerima agama Vatikan II – inilah sang pria yang agamanya anda ikuti, seorang penyusup bidah
terang-terangan, yang seluruh misinya yaitu untuk mengupayakan kehancuran Gereja Katolik sebesar
mungkin.
Orang-orang Katolik tidak boleh sama sekali menghadiri Misa Baru Anti-Paus Paulus VI (Novus Ordo)
dan harus menolak sama sekali Vatikan II dan ritus-ritus sakramen baru. Orang-orang Katolik harus
menolak sama sekali Anti-Paus Paulus VI sebab ia yaitu seorang Anti-Paus. Orang-orang Katolik harus
menolak dan tidak boleh mendukung sama sekali kelompok apa pun yang menerima orang yang murtad
204
ini sebagai Paus yang valid, atau yang menerima Misa Baru ataupun Vatikan II ataupun ritus-ritus
sakramen Baru Paulus VI.
TANDA TANGAN PAULUS VI MEMUAT TIGA ANGKA 6
Ini yaitu gambar dari tanda tangan Anti-Paus Paulus VI. Jika anda membalikkannya, anda akan melihat
dengan jelas bahwa ada tiga angka 6. Foto yang di bawah yaitu namanya yang terbalik jika
diperbesar. Ketiga angka 6 di sini sangat jelas. Setahu kami, ini yaitu bagaimana tanda tangan Paulus VI
selalu tampak.
15. Skandal-Skandal dan Bidah-Bidah
Yohanes Paulus I
“Ia dapat dan memang menerima orang-orang yang bercerai. Ia juga dengan mudah
menerima orang-orang yang tinggal di dalam hal yang disebut Gereja ‘dosa.’”1 (Romo
Mario Senigaglia, sekretaris Yohanes Paulus I sewaktu ia menjabat sebagai ‘Patriark’
Venesia)
Yohanes Paulus I (Albino Luciani)
Pria yang mengaku sebagai Paus antara Paulus VI dan Yohanes Paulus VI selama 33 hari di tahun 1978...
Albino Luciani (Yohanes Paulus I) terlahir sebagai putra seorang aktivis Sosialis.2 Yohanes XXIII secara
pribadi mengonsekrasikan Luciani sebagai seorang uskup pada tanggal 27 Desember 1958.3 Luciani
dijadikan sebagai seorang ‘Kardinal’ oleh Paulus VI.4
Luciani menjalin persahabatan dengan banyak orang non-Katolik. Phillip Potter, Sekretaris Konsili
Gereja-Gereja Sedunia , pernah menjadi tamu di rumahnya. Tamu-tamu lainnya termasuk para Yahudi,
Anglikan dan orang-orang ‘Kristen’ Pentakosta. Ia telah melakukan tukar-menukar buku dan surat-
menyurat bersama Hans Kung.5
Luciani (Yohanes Paulus I) telah beberapa kali mengutip Hans Kung secara positif di dalam khotbah-
khotbahnya.6 (Untuk orang-orang yang tidak tahu, Hans Kung menolak Keilahian Kristus.) Luciani “sadar
bahwa jumlah orang awam Katolik yang ia kenal yaitu anggota dari berbagai loji-loji (Masonik) –
sebagaimana ia memiliki teman-teman Komunis.”7
Luciani membuat sebuah studi yang menyeluruh tentang ‘orang tua yang bertanggung jawab’ dan
berkonsultasi dengan berbagai dokter dan teolog. Seperti Yohanes XXIII dan Paulus VI, Luciani telah
mempelajari kemungkinan digunaannya ‘pil’ sebagai metode ‘alamiah’ untuk mengatur kelahiran.8
Mereka yang telah terjerumus kepada penggunaan kontrasepsi artifisial dan lalu pergi mengakui dosa
berpendapat bahwa Luciani ‘sangat penuh kasih sayang’.9
211
Di bulan April 1968, Albino Luciani menuliskan dan menyerahkan sebuah laporan kepada Paulus VI yang
menyarankan agar Gereja Katolik menyetujui penggunaan pil anovulan {yang mencegah indung untuk
melepaskan sel telur agar dapat dibuahi sperma} yang dikembangkan oleh Profesor Pincus. Luciani
menyarankan agar pil ini menjadi pil pengendalian kelahiran Katolik.10 United Press International (UPI)
menemukan bahwa Luciani telah mengedepankan sebuah peraturan Vatikan yang menyetujui
pengendalian kelahiran artifisial. Surat-surat kabar Italia juga membawa cerita-cerita. Untuk mendukung
cerita ini , surat-surat kabar ini merujuk kepada dokumen Luciani yang dikirimkan kepada
Paulus VI oleh ’Kardinal’ Urbani dari Venesia, di mana telah dimuat sebuah saran yang kuat untuk
menyetujui pil kontrasepsi.11
Lalu di masa ‘kepausannya’ – sewaktu ia menjadi ‘Yohanes Paulus I’ – Luciani sering mengutip dari
pernyataan-pernyataan serta ensiklik-ensiklik Paulus VI. Yohanes Paulus I tidak pernah merujuk kepada
Humanae Vitae, suatu hal yang mencolok.12
Pada tanggal 13 April 1968, Luciani berbicara kepada orang-orang dari kota Vittorio Veneto tentang isu
pengendalian kelahiran.13 Luciani membuat pernyataan-pernyataan berikut:
“Lebih mudah di masa kini, akibat kekacauan yang disebabkan oleh pers, untuk menemukan
orang-orang yang menikah yang tidak percaya bahwa mereka berdosa. Jika hal ini terjadi,
mungkin baik halnya, di bawah keadaan-keadaan yang biasa, agar mereka tidak diganggu...
“Mari berdoa agar Tuhan dapat membantu Paus untuk mengatasi pertanyaan ini [apakah orang-
orang Katolik seharusnya dapat melakukan pengendalian kelahiran artifisial]. Mungkin tidak
pernah sebelumnya ada pertanyaan yang benar-benar sesulit ini untuk Gereja – akibat
kesulitan-kesulitan intrinsiknya maupun untuk dampak-dampaknya yang banyak yang
memengaruhi masalah-masalah lain, dan sebab hal ini sangat dirasakan oleh banyak
orang.”14
Sewaktu Albino Luciani menjadi ‘Patriark’ Venesia, sekretaris pribadinya yaitu Romo Mario Senigaglia.
Senigaglia berdiskusi bersama Luciani (keduanya memiliki hubungan yang menyerupai ayah dan anak)
tentang berbagai kasus moral yang menyangkut anggota-anggota Gereja. Luciani selalu menyetujui
pandangan liberal Senigaglia. Senigaglia berkata: “Ia yaitu seorang pria yang sangat pengertian. Banyak
kali saya ingin mendengarnya berkata kepada pasangan-pasangan, ‘Kita membuat seks satu-satunya
dosa, padahal hal ini bersangkutan dengan kelemahan dan keringkihan manusiawi dan maka
mungkin yaitu yang terkecil dari dosa-dosa.’”15
Senigaglia menegaskan bahwa pandangan pribadi Luciani tentang perceraian akan mengagetkan para
kritiknya: “Ia dapat dan memang menerima orang-orang yang bercerai. Ia juga dengan mudah
menerima orang-orang yang tinggal di dalam hal yang disebut Gereja ‘dosa’.”16
Ia juga mempromosikan ekumenisme sesat. “Pada masa sembilan tahunnya [sebagai “Patriark”
Venesia] ia menyelenggarakan lima konferensi ekumenis, termasuk pertemuan Komisi
Internasional Anglikan-Katolik Roma yang mengeluarkan sebuah pernyataan akan persetujuan
bersama atas otoritas di tahun 1976...”17
212
LUCIANI TENTANG ORGANISASI INTERNASIONAL BARU
Luciani: “Sebuah perlucutan senjata yang bertahap, dikontrol, dan universal mungkin terjadi
hanya jika muncul sebuah organisasi internasional dengan kekuatan dan kemampuan untuk
mengeluarkan sanksi yang lebih efesien dibandingkan Perserikatan Bangsa-Bangsa...”18
LUCIANI TENTANG UMAT KRISTIANI
Mengutip Gandhi, Luciani berkata: “Saya mengagumi Kristus namun tidak orang-orang Kristiani.”19 Pada
sebuah khotbah Paskah pada tahun 1976, Luciani mengeluarkan pernyataan berikut:
“Jika moralitas Kristiani mengadopsikan teori perang yang benar {bahwa perang yaitu benar secara
moral jika memenuhi kriteria tertentu}, maka Gereja mengizinkan legalisasi dari pelacuran (bahkan di
dalam Negara-negara Kepausan), walaupun tentunya tidak diizinkan pada tingkat moral.”20
yaitu sebuah penistaan untuk menyatakan bahwa Gereja Katolik mengizinkan legalisasi pelacuran.
Sebagai Patriark Venesia, pada tanggal 24 Desember 1977, Albino Luciani menyatakan hal berikut
tentang Revolusi Prancis: ”...intensi-intensi mereka yang telah menyemangati pemberontakan dan
revolusi pada awalnya yaitu sangat baik, dan semboyan yang diproklamasikannya yaitu ‘Kebebasan,
Persaudaraan, dan Keadilan.’”21
Tidak lama sebelum konklaf tahun 1978, Luciani diberi pertanyaan atas opininya akan bayi tabung
pertama, Louise Brown. Sewaktu berbicara tentang bayi tabung ini dan orang tuanya, Luciani
berkata: “Dengan mengikuti contoh dari Allah, yang menginginkan dan mencintai hidup manusia, saya
juga memberi harapan terbaik saya untuk sang bayi. Sedangkan untuk orang tuanya, saya tidak
mempunyai hak untuk menghakimi mereka; secara subjektif, jika mereka berlaku dengan intensi-intensi
baik dan di dalam itikad baik, mereka mungkin memiliki pahala besar dari Allah untuk apa yang
mereka telah putuskan dan mintakan agar sang dokter lakukan.”22
Luciani telah melaksanakan lebih dari ‘Kardinal’ lain semangat dari Konsili Vatikan Kedua Yohanes
XXIII.23 Yohanes Paulus I menolak tiara kepausan dan menggantikan upacara pemahkotaan dengan
sebuah perayaan yang sederhana.24 Tiara yang telah dijual Paulus VI sekarang digantikan dengan sebuah
pallium, sebuah stola putih dari wol yang ia pakai di sekeliling bahunya.25
Yohanes Paulus I mengatakan hal-hal berikut di dalam pidato pertamanya untuk mengumumkan
program ‘kepausannya’:
1) “Gema dari kehidupan sehari-harinya memberi kesaksian bahwa, walaupun ada banyak
rintangan, ia (Gereja) tinggal di dalam hati para manusia, bahkan mereka yang tidak membagikan
kebenarannya atau menerima pesannya.”26
2) ”...Konsili Vatikan Kedua (yang ajaran-ajarannya hendak kami kerjakan di dalam seluruh
pelayanan kami)...”27
3) “Kami berharap melanjutkan keberlangsungan warisan dari Konsili Vatikan Kedua. Norma-
normanya yang bijaksana harus diikuti dan disempurnakan.”28
4) ”...kami memprioritaskan revisi kedua Hukum Kanonik: yaitu dari tradisi timur dan dari tradisi
barat...”29
5) “Kami berharap dapat melanjutkan dorongan ekumenis, yang kami anggap sebagai perintah
dari para Pendahulu kami secara langsung.”30
213
Pada saat Pelantikan Yohanes Paulus I, ia berkata: “Kami juga menyambut dengan hormat dan kasih
seluruh manusia di dunia. Kami memandang mereka dan mencintai mereka sebagai saudara-saudara
kami, sebab mereka yaitu anak-anak dari Bapa surgawi yang sama dan saudara-saudara dalam Kristus
Yesus.”31
Sewaktu berbicara kepada seorang teman tentang Patriark skismatis dari Moskwa, Nikodem,
Yohanes Paulus I menyebutnya ‘sungguh-sungguh seorang santo’.32
Di dalam sebuah surat kepada patriak skismatis dari Moskwa yang baru tentang patriark skismatis
Moskwa yang baru saja meninggal, Yohanes Paulus I berkata:
”...kami mengungkapkan kepada Yang Mulia dan kepada Sinode Suci Gereja Ortodoks Russia
belasungkawa kami yang tulus. Kami berjanji kepada anda untuk mendoakan agar jiwa dari
pelayan yang berbakti kepada Gerejanya serta pembangun hubungan yang semakin
mendalam antara Gereja kami ini mendapat istirahat. Semoga Allah menerimanya kedalam
sukacita-Nya serta damai-Nya.”33
Yohanes Paulus I menyebut sang skismatis Russia yang meninggal, yang menolak Infalibilitas Kepausan
dan ketiga belas konsili-konsili dogmatis terakhir (termasuk ajaran-ajaran Katolik lain), ‘pelayan yang
berbakti kepada Gerejanya’.
Yohanes Paulus I ‘percaya akan pembagian kekuasaan yang lebih besar dengan para uskup di seluruh
dunia dan berrencana untuk mendesentralisasikan struktur Vatikan’.34
Yohanes Paulus I berkata, “Gereja tidak seharusnya memiliki kekuatan ataupun kekayaan... Betapa
indahnya jika Paus sendiri menanggalkan semua kekuatan temporalnya!”35 Yohanes Paulus I
berkata kepada badan diplomatis bahwa Vatikan menanggalkan semua klaimnya atas kekuatan
temporal.36
Paus Pius IX, Nullis Certe Verbis (#1), 19 Januari 1860:
”...di dalam surat-surat yang baik yang dikirimkan kepada Kami dan lewat surat-surat
penggembalaan dari tulisan-tulisan rohani dan terdidik yang lain, anda dengan keras mencela
serangan-serangan yang nista yang ditujukan kepada kekuatan sipil Gereja Roma. Dan dalam
melindungi kekuasaan ini, anda menyatakan dan mengajarkan bahwa Allah memberi
kekuatan sipil kepada Paus Roma, agar ia, yang tidak pernah tunduk kepada kekuatan mana
pun, dapat melaksanakan dalam kebebasan penuh dan tanpa hambatan tugas tertinggi dari
penggembalaan apostolik ilahi yang dilimpahkan kepadanya oleh Kristus Tuhan Kami.”37
Yohanes Paulus I sering berbicara tentang Paulus VI dengan kekaguman dan kasih sayang: ”Ia yaitu
seorang Paus yang agung dan banyak menderita. Ia tidak dimengerti...”38
Yohanes Paulus I juga berbicara tentang Allah sebagai ‘ibu’.
Yohanes Paulus I, Pesan Angelus, 10 September 1978:
“Ia (Allah) yaitu bapa kita; terlebih lagi Ia yaitu ibu kita.”39
Di dalam Audiens Umum-nya pada tanggal 13 September 1978, Yohanes Paulus I berbicara tentang
kebenaran-kebenaran yang tidak dapat berubah dan berkata:
214
“Hal ini yaitu kebenaran-kebenaran: kita harus berjalan di jalan kebenaran-kebenaran
ini , dengan semakin memahami mereka, membarui pengetahuan kita sendiri, dan
mengusulkan mereka {kebenaran-kebenaran itu} di dalam bentuk yang sesuai dengan waktu.
Paus Paulus juga memiliki pikiran yang sama.”40
Pada bulan September 1978, Luciani didengar di dalam apartemen Paus berbicara dengan Sekretaris
Negaranya, ‘Kardinal’ Villot: “Saya akan senang berbicara tentang perwakilan Amerika Serikat ini tentang
isu ini . Di dalam pikiran saya kita tidak boleh meninggalkan keadaan ini seperti yang ada
sekarang.” ‘Isu’ ini yaitu populasi dunia. ‘Keadaan’ ini yaitu Humanae Vitae.41
Perubahan utama yang ia prioritaskan yaitu untuk mengubah seara radikal hubungan Vatikan dengan
kapitalisme dan meringankan apa yang ia pandang sebagai penderitaan yang berakar secara langsung
dari Humanae Vitae.42 [Kami ingin memperjelas bahwa kami tidak mengatakan bahwa Humanae Vitae
yaitu sebuah dokumen yang baik. Tidak sama sekali. Humanae Vitae mengajarkan bahwa pasangan-
pasangan dapat memakai pengendalian kelahiran ‘alamiah’ dan tidak memiliki anak sama sekali,
seperti yang dibahas di dalam buku ini. Poinnya yaitu bahwa Humanae Vitae memang mengecam
pengendalian kelahiran artifisial, dan Yohanes Paulus I sangat menentang Humanae Vitae sebab alasan
ini .]
Pada bulan Mei 1978, Luciani telah diundang untuk menghadiri dan berbicara pada sebuah kongres
internasional yang diadakan di Milan pada tanggal 21-22 Juni. Tujuan utama dari kongres ini
yaitu untuk merayakan ulang tahun ensiklik Humanae Vitae. Luciani mengumumkan bahwa ia tidak
akan berbicara pada kongres ini dan ia tidak akan menghadirinya.43
Pada tanggal 19 September 1978, Yohanes Paulus I menghadiri pertemuan dengan Sekretaris Negaranya
‘Kardinal’ Villot. Yohanes Paulus I berkata:
“Yang Mulia, kami telah mendiskusikan pengendalian kelahiran selama empat puluh lima menit.
Jika informasi yang telah diberikan kepada saya, berbagai statistik, jika informasi ini akurat,
maka dalam kurun waktu di mana kita berbicara ini, lebih dari seribu anak di bawah lima tahun
telah mati akibat kekurangan gizi. Selama empat puluh lima menit berikut sewaktu anda dan saya
melihat ke depan untuk mengantisipasi makanan kita selanjutnya, seribu anak yang lain akan
mati akibat kekurangan gizi. Pada jam ini besok, tiga puluh ribu anak yang pada hari ini masih
hidup, akan mati – sebab kekurangan gizi. Allah tidak selalu menyediakan.”44
Vatikan mengaku bahwa Yohanes Paulus I meninggal akibat sebuah serangan jantung yang besar sekitar
pukul 11 malam pada tanggal 28 September 1978.45
Kami telah membuktikan bahwa Yohanes Paulus I yaitu seorang bidah terang-terangan yang, antara
lain, menyetujui secara penuh indiferentisme keagamaan dan ekumenisme sesat dari Konsili Vatikan
Kedua. sebab ia yaitu seorang bidah, ia tidak dapat dipilih secara valid sebagai Paus. Ia yaitu seorang
Anti-Paus non-Katolik.
16. (1978-
2005) – Pria yang Paling Sering Menjelajah
Dunia dan Kemungkinan Bidah Terbesar di
dalam Sejarah
Maestro Yahudi Gilbert Levine bercerita kepada Larry King dari CNN tentang Yohanes
Paulus II:
“KING: Sri Paus mengucapkan selamat untuk bar mitzvah [upacara agama Yahudi
untuk anak laki-laki yang menginjak masa remaja] anak-anak anda?
“LEVINE: Ia bukan hanya menyelamati kami, ia juga mengirimkan sebuah menorah
kepada kami.
“KING: Ia mengirimkan kalian sebuah menorah?
“LEVINE: Sebenarnya, ia memberi nya kepada kami, ia tidak mengirimkannya. Ia
benar-benar memberi kami sebuah menorah. Ia mengirimkan sepucuk surat
untuk menandai acara bar mitzvah dari masing-masing putra saya. Ia juga
memerintahkan kardinal yang bertugas atas hubungan Katolik/Yahudi untuk
mengirimkan sepucuk surat yang dibaca keras-keras di depan sinagoga Ortodoks
saya pada acara bar mitzvah putra saya baru-baru ini, dan bapak rabi
membacakannya seakan-akan surat ini datang dari seorang rabi.”1
Karol Wojtyla (Yohanes Paulus II) mengaku diri sebagai Paus dari
tahun 1978-2005
218
Yohanes Paulus II mengajarkan keselamatan universal, gagasan bahwa
semua manusia akan diselamatkan
Yohanes Paulus II dikelilingi orang-orang muda
Satu-satunya kesulitan dalam hal membahas yaitu memutuskan dari
mana kita harus membahasnya. begitu banyaknya sehingga orang hampir
kewalahan untuk memutuskan di mana diskusi ini harus bermula. Gagasan bahwa semua manusia
diselamatkan bertentangan dengan perkataan Injil yang jelas serta dogma-dogma Katolik yang banyak
jumlahnya, terutama dogma-dogma yang menyatakan bahwa Di Luar Gereja Katolik tidak ada
keselamatan dan bahwa semua orang yang meninggal dalam dosa asal atau dosa berat tidak dapat
diselamatkan.
Paus Gregorius X, Konsili Lyon II. 1274, ex cathedra:
“Jiwa-jiwa dari orang-orang yang meninggal dalam dosa berat atau hanya di dalam dosa asal ...
langsung turun ke dalam Neraka, bagaimanapun, mereka akan dihukum dengan hukuman yang
berbeda-beda.”2
namun , Yohanes Paulus II percaya dan mengajarkan bahwa dalam Penjelmaan, Putra Allah menyatukan
diri-Nya sendiri dengan setiap manusia di dalam suatu persatuan yang tidak terpecahkan, yang, menurut
Yohanes Paulus II memustahilkan orang untuk masuk Neraka. Yohanes Paulus II secara terang-terangan
mengajarkan bahwa persatuan antara Kristus dan setiap manusia berlangsung untuk selamanya.
Yohanes Paulus II, Redemptor Hominis (#13), 4 Maret 1979:
“Kami sedang membahas setiap manusia, sebab setiap orang diikutsertakan di dalam misteri
Penebusan dan dengan setiap orang Kristus telah menyatukan diri-Nya sendiri untuk selamanya
melalui misteri ini.”3
Yohanes Paulus II, Redemptoris Missio (#4), 7 Desember 1990:
“Peristiwa Penebusan membawa keselamatan kepada semua orang, ‘sebab setiap orang
219
diikutsertakan dalam misteri Penebusan dan dengan setiap orang Kristus telah menyatukan diri-
Nya sendiri untuk selamanya melalui misteri ini.’”4
Yohanes Paulus II, Centesimus Annus (#53):
“Di sini Kami tidak sedang berbicara tentang manusia dalam ‘keabstrakan’, melainkan tentang
manusia yang nyata, ‘konkret’, ‘bersejarah’. Kami sedang berbicara tentang setiap individu, sebab
setiap individu diikutsertakan di dalam misteri Penebusan dan melalui misteri ini Kristus telah
menyatukan diri-Nya sendiri dengan setiap orang untuk selamanya.”5
Perhatikan kata-kata “untuk selamanya” di dalam ketiga kutipan ini. Ya, di dalam tiga surat ensiklik yang
berbeda, Yohanes Paulus II menyatakan secara terang-terangan bahwa setiap manusia bersatu dengan
Kristus untuk selamanya. Pernyataan ini berarti bahwa semua manusia diselamatkan. Neraka yaitu
perpisahan kekal dari Allah, namun tidak seorang pun terpisah dari Allah menurut Yohanes Paulus II.
Semua orang disatukan dengan Allah untuk selamanya. Inilah keselamatan universal.
ada banyak kutipan lain yang dapat kami ajukan untuk membuktikan bahwa Yohanes Paulus II
mengajarkan bahwa semua manusia diselamatkan. Contohnya, pada tahun 1985, Yohanes Paulus II
mengajarkan bagaimana Darah Kristus yang menyelamatkan bukan semata-mata tersedia untuk semua
orang (hal ini benar), namun bahwa Darah Kristus sungguh mencapai semua orang dan menyelamatkan
semua orang.
Yohanes Paulus II, Homili, 6 Juni 1985:
“Ekaristi yaitu sakramen dari perjanjian Tubuh dan Darah Kristus, dari perjanjian yang kekal.
Perjanjian ini merangkul semua orang. Darah ini mencapai semua orang dan menyelamatkan
semua orang.”6
Ajaran dogmatis Gereja Katolik berkontras dengan ajaran Yohanes Paulus II ini. Gereja Katolik
menegaskan bahwa Darah Kristus tidak mencapai semua orang ataupun menyelamatkan semua orang.
Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 6, ex cathedra:
“namun walaupun Kristus wafat untuk semua orang, tidak semua orang menerima jasa dari
kematian-Nya, melainkan hanya mereka yang telah disampaikan jasa dari Sengsara-Nya.”7
Orang-orang yang menerima manfaat jasa kematian Kristus hanyalah orang-orang yang terbebas dari
dosa asal melalui Pembaptisan, dan bersatu dengan-Nya melalui sakramen-sakramen dan iman yang
sejati.
Yohanes Paulus II, Homili, 27 April 1980:
” ... di dalam diri-Nya, Yesus membuat kita kembali menjadi anak-anak dari Bapa-Nya yang Kekal.
Ia memperolehkan, sekali untuk selama-lamanya, keselamatan bagi manusia: bagi setiap
manusia dan semua manusia ....”8
Yohanes Paulus II, Audiensi Umum, 27 Desember 1978:
”Yesus yaitu Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus yang menjadi
manusia; dan oleh sebab itu, di dalam Yesus, kodrat manusia dan dengan
demikian segenap kemanusiaan ditebus, diselamatkan, dipermuliakan
220
sampai mengambil bagian dalam ‘kehidupan ilahi’ melalui sarana
Rahmat.”9
Di sini Yohanes Paulus II menjelaskan bahwa segenap kemanusiaan telah diselamatkan dan
pada saat ini mengambil bagian dalam kehidupan ilahi. Frase “mengambil bagian dalam
kehidupan ilahi” mengacu kepada keadaan pembenaran atau keadaan rahmat pengudusan.
Dengan berkata bahwa segenap kemanusiaan mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi,
Yohanes Paulus II berkata bahwa semua umat manusia berada di dalam keadaan rahmat!
Pernyataan itu berarti bahwa tidak seorang pun berada dalam dosa berat ataupun dosa
asal.
Dengan doktrin semacam ini, siapakah yang tidak akan dicintai dunia? Yohanes Paulus II dicintai dan
disukai oleh banyak orang, sebab ia menerima agama semua orang dan mengajarkan bahwa semua
orang disatukan dengan Kristus tidak peduli apa kepercayaan atau perbuatan mereka. Indiferentisme
keagamaan ini merupakan ciri khas keantipausannya.
Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa Roh Kudus yaitu sumber Agama-
Agama Non-Kristiani
Di samping doktrin keselamatan universalnya serta pembenaran universalnya yang mencengangkan,
ada banyak bidah lain dari Yohanes Paulus II yang perlu kita cermati. Bidah yang terutama
diajarkannya yaitu ajarannya tentang Pribadi Ketiga dari Allah Tritunggal Mahakudus, yakni Roh
Kudus. Apa yang diajarkan oleh Yohanes Paulus II tentang Roh Kudus merupakan penghujatan dan bidah
yang sedemikian besarnya sehingga ajaran ini kemungkinan merupakan bidahnya yang terburuk.
Yohanes Paulus II, Redemptor Hominis (#6), 4 Maret 1979:
“Tidakkah hal ini kadang kala terjadi, bahwa keyakinan yang teguh dari
para pengikut agama-agama non-Kristiani – keyakinan yang juga
merupakan hasil dari Roh Kebenaran yang bekerja di luar batasan-
batasan Tubuh Mistis yang kelihatan ....”10
Yohanes Paulus II berkata bahwa keyakinan yang teguh dari para pengikut agama-agama non-Kristiani
berasal dari Roh Kudus, Roh Kebenaran. sebab kita mengetahui atas dasar Kitab Suci dan ajaran Katolik
221
bahwa Setan yaitu sumber segala agama non-Kristiani, apa yang sedang dikatakan oleh Yohanes Paulus
II ini yaitu bahwa Roh Kudus, Roh Kebenaran, sesungguhnya yaitu roh kebohongan: Setan.
Pernyataannya ini yaitu suatu penghujatan yang luar biasa terhadap Allah.
Kitab Suci dan Tradisi mengajarkan kita bahwa semua agama non-Kristiani yaitu milik iblis, dan “ilah-
ilah” yang mereka sembah sesungguhnya yaitu roh-roh jahat.
Mazmur 96:5- ““Segala ilah orang-orang pagan yaitu roh-roh jahat ….”
1 Korintus 10:20- “namun hal-hal yang dipersembahkan oleh para penyembah berhala yaitu
persembahan kepada roh-roh jahat dan bukan kepada Allah. Dan aku tidak ingin kalian menjadi
sekutu roh-roh jahat.”
Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa keyakinan dalam agama-agama ini merupakan hasil dari Roh
Kebenaran, dan itulah mengapa ia berulang kali memuji, mempromosikan, dan bahkan berdoa bersama
para anggota dan pemimipin agama-agama non-Kristiani.
Yohanes Paulus II dengan para Animis dari Afrika (dukun-dukun)
Hal ini akan dibahas secara lebih rinci lalu
Yohanes Paulus II, Redemptoris Missio (#29), 7 Desember 1990:
“Hubungan Gereja dengan agama-agama lain didiktekan oleh rasa hormat yang berganda:
‘Rasa hormat terhadap manusia dalam pencariannya untuk jawaban-jawaban yang terdalam di
dalam kehidupnya, dan rasa hormat terhadap perbuatan Roh di dalam diri manusia.’”11
Di sini Yohanes Paulus II berkata bahwa rasa hormat terhadap agama-agama non-Kristiani didiktekan
oleh rasa hormat terhadap perbuatan Roh di dalam diri manusia. Pernyataan ini jelas berarti bahwa Roh
merupakan sumber agama-agama non-Kristiani ini, yang sekali lagi berarti bahwa Roh Kudus harus
dianggap sebagai roh kebohongan: Setan.
Yohanes Paulus II, Redemptoris Missio (#56), 7 Desember 1990:
“Agama-agama lain tergolong tantangan yang positif bagi Gereja: mereka mendorong
Gereja untuk menemukan dan mengakui tanda-tanda kehadiran Kristus dan karya yang
dikerjakan Roh.”12
222
Yohanes Paulus II berkata bahwa agama-agama lain mendorong kita untuk menemukan kehadiran dan
karya yang dikerjakan Roh. Pernyataan ini berarti bahwa agama-agama non-Kristiani yaitu hasil karya
Roh – Roh Kudus – yang sekali lagi menyetarakan Roh Kebenaran dengan roh kebohongan: Setan.
Yohanes Paulus II mengajarkan dan mempraktikkan Indiferentisme
Keagamaan secara penuh
Paus Pius IX, Qui Pluribus (#15), 9 November 1846:
“Demikianlah pula tujuan dari sistem yang mengerikan itu, yakni indiferentisme terhadap
segala agama, yang secara mutlak bertentangan dengan terang dari akal budi sendiri. Di
dalam sistem yang menakutkan ini, para rasul kesesatan menghapuskan segala perbedaan antara
kebajikan dan kefasikan, kebenaran dan kesalahan, kelurusan dan kebejatan, dan mengemukakan
bahwa manusia dapat memperoleh keselamatan abadi di dalam agama apa pun, seolah-olah
mungkin terjadi persetujuan antara keadilan dan kefasikan, antara terang dan kegelapan,
antara Kristus dan Belial.”13
Indiferentisme keagamaan Yohanes Paulus II kemungkinan merupakan ciri yang paling umum dari karya
tulis dan pidato-pidatonya yang begitu banyak. Ia terus-menerus memuji dan menghormati agama-
agama non-Kristiani, dan dengan demikianm ia menolak Allah Tritunggal Mahakudus serta perlunya
kepercayaan akan agama Katolik yang satu dan sejati, sembari mengolok-olok kematian para martir.
Yohanes Paulus II, Sambutan di Bandara Korea, 3 Mei 1984:
“Bangsa anda yaitu bangsa yang bangga dan kukuh ... yang menghasilkan buah-buah yang
sangat baik dalam bidang seni, agama, dan kehidupan manusia. Leluhur anda merangkul
realitas-realitas kerohanian yang sangat banyak seperti Konfusianisme dan Buddhisme,
namun demikian, mereka menjadikan realitas-realitas itu sebagai milik diri mereka
sendiri, yang mereka perdalam, jalankan, dan bahkan sebarkan kepada orang-orang lain.
Wonhyo dan Sosan ... dengan fasih mengutarakan prestasi ini.”14
Kata “prestasi” berarti suatu pencapaian. Maka Yohanes Paulus II berkata bahwa agama-agama sesat
Buddhisme dan Konfusianisme ini merupakan buah-buah yang sangat baik dalam hal agama dan
kenyataan bahwa orang-orang Korea menyebarkan agama-agama milik Setan ini kepada orang-orang
lain yaitu suatu pencapaian!
Paus Gregorius XVI, Probe Nostis (#6), 18 September 1840:
“Kami bersyukur atas keberhasilan misi-misi apostolik di Amerika, di Hindia, dan berbagai tanah
kafir lainnya ... Mereka mencari orang-orang yang duduk di dalam kegelapan dan bayangan
maut demi memanggil mereka kepada terang dan kehidupan agama Katolik ... Pada akhirnya
mereka merenggut orang-orang itu dari pimpinan Iblis, dengan permandian regenerasi dan
mengangkat mereka sampai kepada kebebasan yang dimiliki oleh anak-anak angkat Allah.”15
223
Yohanes Paulus II di Kuil Buddhis
Pada perjalanannya yang kedua ke benua Asia pada tahun 1984, Yohanes Paulus II mengunjungi Kuil
Buddhis. Sebelum sampai ke Kuil ini , ia mengutarakan betapa rindunya dirinya untuk bertemu
‘‘Paduka Suci, Patriark Buddhis yang tertinggi dalam Kuil”. Beberapa hari sebelum pergi ke Kuil Buddhis
itu, Yohanes Paulus II berkata pula:
Yohanes Paulus II, 6 Mei 1984:
” ... dunia memandang Korea dengan suatu ketertarikan tertentu. Sebab bangsa Korea di
sepanjang sejarah telah mencari, dalam visi-visi etika dan keagamaan yang agung dari Buddhisme
dan Konfusianisme, jalan untuk memperbarui diri … Bolehkah saya menyampaikan salam
yang istimewa kepada para anggota tradisi Buddhis sewaktu mereka bersiap diri
merayakan pesta Kedatangan Tuan Buddha? Semoga kegembiraan anda menjadi genap dan
semoga sukacita anda menjadi penuh.”16
Yohanes Paulus II lalu masuk ke dalam kuil kemusyrikan itu dan menundukkan kepalanya kepada
Patriark Buddhis yang berdiri di depan patung Buddha raksasa. Perbuatannya ini tergolong suatu tindak
kemurtadan.
Yohanes Paulus II di dalam sebuah Kuil Buddhis
Yohanes Paulus II, Audiens Umum, 11 Januari 1995:
“Saya dengan gembira memakai kesempatan ini untuk meyakinkan mereka yang
mengikuti agama Buddhis akan rasa hormat saya yang mendalam dan ketakziman saya
yang tulus.”17
-Paus Leo XIII, 8 Desember 1892:
“Semua orang harus menghindari kedekatan atau persahabatan dengan setiap orang yang diduga
merupakan bagian dari perkumpulan Masonik atau kelompok-kelompok yang berkaitan.
Kenalilah mereka lewat buah-buah mereka dan hindari mereka. Setiap keakraban harus
dihindari, bukan hanya dengan para penjangak fasik yang secara terbuka
mempromosikan ciri khas dari sekte ini , namun juga dengan mereka yang
bersembunyi di balik topeng toleransi universal, rasa hormat terhadap semua agama ….”18
224
Yohanes Paulus II, Homili, 12 April 1997:
” ... Gereja, yang hanya mencari kemampuan untuk dapat berkhotbah secara bebas ... dengan rasa
hormat terhadap ... setiap agama.”19
225
Yohanes Paulus II menerima tanda dari para penyembah Siwa
Pada tanggal 2 Februari 1986, Yohanes Paulus II menerima Tilaka di dahinya. Ini yaitu adonan
berbubuk yang berwarna merah, yang digunakan oleh orang-orang Hindu, tanda penghormatan bagi
para penyembah Siwa. Ini yaitu penyembahan berhala dan kemurtadan total.
226
Yohanes Paulus II menghormati Gandhi, seorang Hindu
Pada bulan Maret 1986, Yohanes Paulus II mengunjungi New Delhi, India, tempat di mana Mahatma
Gandi, seorang Hindu, dikremasikan. Mahatma Gandhi yaitu seorang kafir dan penyembah berhala yang
menyembah ilah-ilah sesat.
Yohanes Paulus II melepaskan sepatunya di depan monumen Gandhi dan menyatakan: “Pada hari ini,
sebagai ziarah perdamaian, saya telah datang ke sini untuk menghormati Mahatma Gandhi, pahlawan
kemanusiaan.”20
Menurut Yohanes Paulus II, seorang penyembah berhala dan kafir yaitu seorang “pahlawan
kemanusiaan”.
Seperti yang kita lihat di sini, Yohanes Paulus II juga menebarkan bunga-bunga di atas makam Gandhi
untuk menghormati dan memperingati orang kafir itu. St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa
sebagaimana pernyataan-pernyataan sesat dapat dibuat, demikian pula ada perbuatan-perbuatan
yang sesat dan murtad dapat dilakukan.
St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. I-II Pertanyaan 103, Artikel 4:
“Saya menjawab, bahwa segala upacara yaitu semacam perwujudan iman, yang merupakan
bagian yang terutama dari penyembahan Allah secara batiniah. namun , manusia dapat
227
mewujudkan iman batiniahnya, baik melalui perbuatan maupun perkataan; dan di dalam
salah satu pun dari kedua perwujudan ini , jikalau seorang manusia mewujudkan sesuatu
yang sesat, ia berdosa berat.”21
St. Thomas bahkan memberi kita suatu contoh:
St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. II-II Pertanyaan 12, Artikel 1, Penolakan 2:
” ... seandainya seseorang ... menghormati kubur Muhammad, ia akan dianggap sebagai seorang
pemurtad.”22
Seseorang dapat mewujudkan kemurtadannya melalui kata-kata atau melalui perbuatan. Melalui apa
yang diperbuatnya, di samping apa yang dikatakannya, Yohanes Paulus II mewujudkan suatu hal yang
setara dengan menghormati kubur Muhammad. Ia menghormati seorang Hindu.
Kemurtadan Yohanes Paulus II di Assisi
Pada tanggal 27 Oktober 1986, Yohanes Paulus II mengundang para pemimpin yang terkemuka dari
agama-agama sesat dunia untuk datang ke Assisi, di Italia untuk Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian.
Yohanes Paulus II berdoa bersama lebih dari 100 pemimpin agama sesat, dan dengan demikian, ia
menolak ajaran Kitab Suci serta ajaran Gereja Katolik selama 2000 tahun yang melarang doa semacam itu
dengan agama-agama sesat.
Doa sepanjang hari yang dilangsungkan bersama orang-orang pagan, orang-orang kafir, dan para bidah
itu yaitu gagasan Yohanes Paulus II. Pada saat pertemuan ini, Dalai Lama menempatkan sebuah patung
Buddhis di atas tabernakel di gereja St. Fransiskus.
228
Patung Buddha di atas Tabernakel di Assisi
Dari antara berbagai pemimpin agama sesat yang berhimpun di Assisi itu, ada rabi, mufti Islam,
biarawan Buddhis, Shintois, berbagai pelayan Protestan, Animis, Jainis, dan sebagainya.
Di dalam pertemuan ini, setiap anggota dari agama-agama sesat itu maju dan memanjatkan doa untuk
perdamaian – doa-doa yang penuh hujat, misalnya, doa Hindu di sana berkata “Damai kepada semua
dewa-dewi.” (Pemimpin agama Animis berdoa kepada “Ibu Jari Besar.”) namun dewa-dewi mereka
yaitu roh-roh jahat seperti yang kita lihat di atas, maka mereka berdoa untuk kepada semua roh
jahat (yang menciptakan agama-agama sesat ini) pada Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian yang
disponsori Vatikan! Agama Vatikan II ingin agar anda bersekutu dengan roh-roh jahat.
Pada tahun 1928, Paus Pius XI secara otoritatif mengutuk akivitas antaragama ini dan mencelanya
sebagai suatu kemurtadan yang menyangkal Iman sejati.
Paus Pius XI, Mortalium Animos (#2), 6 Januari 1928:
“Oleh sebab itu, mereka mengadakan rapat-rapat, pertemuan-pertemuan, konferensi-konferensi yang
dihadiri oleh para hadirin yang cukup banyak jumlahnya; orang-orang ini mengundang untuk
berdiskusi semua orang tanpa pandang bulu, orang-orang kafir dari segala kalangan, orang-orang
Kristiani, dan bahkan mereka yang celaka akibat memisahkan diri dari Kristus atau yang dengan getir
bersikeras menyangkal keilahian dari kodrat-Nya serta misi-Nya. Upaya-upaya semacam itu sama
sekali tidak boleh disetujui oleh orang-orang Katolik, sebab upaya-upaya ini berlandaskan
pendapat yang sesat bahwa semua agama kurang lebih baik dan terpuji, dan dalam arti bahwa
semua agama menyingkapkan dan mengungkapkan, walaupun dengan cara yang berbeda-beda, nalar
bawaan yang kodrati yang membawa kita kepada Allah dan yang membuat kita bertekuk lutut dengan
penuh hormat di hadapan kuasa-Nya. Orang-orang ini bukan hanya sepenuhnya tersesat di
dalam kesalahan, namun orang-orang yang menganut opini semacam itu juga menolak agama yang
sejati; mereka menyesatkan gagasan tentang agama sejati dan sedikit demi sedikit jatuh ke dalam
naturalisme dan ateisme. Jelas sekali, oleh sebab itu, bahwa dengan bergabung bersama para
pendukung dan penyebar doktrin-doktrin semacam itu, seseorang sepenuhnya meninggalkan
agama yang diwahyukan secara ilahi.”
Paus Pius XI, Mortalium Animos (#10):
“Maka, Saudara-Saudara yang Terhormat, jelaslah mengapa Takhta Apostolik ini tidak pernah
mengizinkan umat-umatnya untuk mengambil bagian di dalam perkumpulan-
perkumpulan orang-orang non-Katolik ....”23
229
Yohanes Paulus II, Sambutan Angelus, 12 Oktober 1986:
“Dalam kurun waktu beberapa hari kita akan bepergian ke Assisi, para perwakilan dari Gereja
Katolik, dari Gereja-Gereja Kristiani lainnya dan komunitas-komunitas gerejani, dan dari seluruh
agama besar dunia ... Saya menyampaikan undangan ini kepada ‘seluruh umat beriman dari
semua agama’.”24
Yohanes Paulus II, Redemptoris Missio (#55), 7 Desember 1990:
“Allah ... tidak gagal untuk membuat diri-Nya sendiri hadir di dalam berbagai cara, bukan
hanya kepada individu-individu namun juga kepada semua bangsa melalui kekayaan rohani
mereka, di mana agama-agama mereka merupakan ungkapan yang terutama dan
terhakiki ....”25
Di sini kita kembali menemukan perwujudan yang jelas dari kemurtadan Yohanes Paulus II. Ia berkata
bahwa Allah membuat diri-Nya sendiri hadir melalui kekayaan-kekayaan semua bangsa, yang
terutama diungkapkan oleh agama-agama mereka. Maknanya yaitu Allah membuat diri-Nya sendiri
hadir kepada bangsa-bangsa melalui agama-agama non-Kristiani, yang berarti bahwa agama-agama non-
Kristiani merupakan agama-agama sejati dan diilhami oleh Allah.
Paus Pius VIII, 24 Mei 1829:
“Untuk melawan para sofis yang berpengalaman ini orang-orang harus diajarkan bahwa
pengakuan iman Katolik yaitu satu-satunya yang benar, seperti yang dinyatakan oleh sang
rasul: satu Tuhan, satu iman, satu pembaptisan.”26
Yohanes Paulus II, Sambutan, 22 Mei 2002:
“Terpujilah kalian, para pengikut Islam ... Terpujilah kalian, orang-orang Yahudi ... Terpujilah
kalian, terutama, Gereja Ortodoks ....”27
Paus Gregorius XVI, Mirari Vos (#13), 15 Agustus 1832:
“Hendaknya mereka sungguh-sungguh merenungkan kesaksian sang Juru Selamat sendiri, bahwa
‘barang siapa tidak bersama Kristus, ia melawan Kristus’ (Lukas 11:23) dan barang siapa tidak
memanen bersama-Nya akan tercerai-berai dengan tidak bahagia. Dan itulah sebabnya, ‘jikalau
mereka tidak menjaga iman Katolik utuh dan murni, tidak diragukan bahwa mereka akan
binasa selamanya’”28
Yohanes Paulus II, Redemptoris Missio (#10), 7 Desember 1990:
“Universalitas keselamatan berarti bahwa keselamatan bukan hanya dianugerahkan kepada
orang-orang yang secara eksplisit percaya akan Kristus dan telah masuk ke dalam Gereja.”29
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, Syahadat Atanasius yang dogmatis, 1439:
“Barang siapa hendak diselamatkan harus di atas segala hal menganut iman Katolik. Jikalau
seseorang tidak menjaga iman ini utuh dan murni, tidak diragukan bahwa ia akan binasa
selamanya ... namun , yaitu suatu hal yang juga diperlukan untuk keselamatan kekal, bahwa ia
dengan setia percaya akan Penjelmaan Tuhan kita Yesus Kristus ....”30
Pertemuan-pertemuan ekumenis lainnya dari Yohanes Paulus II
Yohanes Paulus II melanjutkan program kemurtadannya yang liar, yang sepenuhnya dikutuk oleh ajaran
Gereja Katolik, sesudah acara Assisi. Yohanes Paulus II mensponsori pertemuan-pertemuan doa pagan di
230
Kyoto (1987), Roma (1988), Warsawa (1989), Bari (1990), dan Malta (1991), juga berbagai pertemuan
sesudah 1991.
Yohanes Paulus II sedang “diberkati” pada suatu ritus pagan oleh seorang dukun Indian pada tahun
198731
Ada suatu pertemuan doa pagan pada tahun 1999 yang sungguh durjana, yang secara resmi dijuluki
“Pertemuan Pan-Kristiani”, di mana perhimpunan dari agama-agama sesat yang besar jumlahnya datang
ke Vatikan atas undangan Yohanes Paulus II (kami akan membahas hal ini lebih lanjut tidak lama lagi).
Yohanes Paulus II berdoa dengan Orang-Orang Animis dari Afrika
Pada tanggal 8 Agustus 1985, Yohanes Paulus II berdoa dengan orang-orang Animis dari Afrika (dukun-
dukun). Yohanes Paulus II mengenang pertemuan ini :
“Acara yang terutama patut dicatat yaitu pertemuan doa di sanctuarium
Notre-Dame de la Miséricorde di Danau Togo di mana, untuk pertama
kalinya, saya juga berdoa dengan sekelompok Animis.”32
Telah dinyatakan bahwa sewaktu Yohanes Paulus II berada di Togo, ia benar-benar menghormati ular-
ular suci.
231
Di Cotonou, di Afrika pada tanggal 4 Februari 1993, anak-anak perempuan yang menyanyikan lagu
keagamaan mengundang Yohanes Paulus II untuk menghadiri tarian voodoo yang “menyebabkan
keadaan trans”.
Yohanes Paulus II juga telah mengambil bagian dalam banyak acara, baik di Roma maupun di luar
negeri, yang menyertakan suatu ritus pagan pribumi. Ritus-ritus ini berasal dari budaya-budaya yang
sama sekali satanik dan durjana dalam segala segi praktik keagamaannya, dan walau bagaimanapun,
ritus-ritus ini menyertai banyak dari acara-acara liturgis Yohanes Paulus II.
Di atas: “Misa” Yohanes Paulus II pada tahun 2002 di Kota Meksiko, yang menyertakan adat budaya Aztek
yang satanik. Orang-orang Indian menari di hadapan altar sambil mengenakan perhiasan kepala dan
tutup dada dan beberapa dari antara mereka membiarkan tengah badan mereka kelihatan. Selagi mereka
melakukan pertunjukan itu, Yohanes Paulus II sendiri menerima suatu ritus “pemurnian” pagan yang
dilakukan oleh seorang wanita.
232
Pertemuan ‘Pan-Kristiani’: Pertemuan Doa Kemurtadan Yohanes
Paulus II pada tahun 1999
Gambar di atas memperlihatkan Yohanes Paulus II, yang dikelilingi berbagai kelompok pagan dan
penyembah berhala termasuk seorang pria yang telanjang dada, pada tanggal 7 November 1999 – pada
salah satu dari pertemuan-pertemuan doa antaragamanya yang murtad. Perhatikan orang pagan yang
bermasker persis di belakang Yohanes Paulus II di sisi kiri dari sudut pandang kita dan di sisi kanannya.
Yohanes Paulus II memuji mereka dan menghormati agama-agama sesat mereka yang berasal dari Iblis.
Perbuatannya ini tiada berbeda dari okultisme secara umum.
Pertemuan ini dijuluki “orang-orang Pan-Kristiani ini ….” Hal ini menarik mengingat di dalam surat
ensiklik Mortalium Animos, Paus Pius XI mendeskripsikan para bidah yang memajukan indiferentisme
keagamaan sebagai “kaum Pan-Kristiani ....”33 Beberapa hal yang terjadi pada pertemuan pan-religius
Yohanes II di bulan Oktober 1999 termasuk: seorang Indian Amerika yang berputar badan di tengah-
tengah Lapangan St. Petrus pada waktu matahari terbenam dan ‘memberkati keempat penjuru Bumi’,
dan para Muslim yang membentangkan surat-surat kabar di Vatikan untuk berlutut ke arah Mekkah dan
berdoa.34
233
Paus Leo X, Konsili Lateran V, Sesi 9, 5 Mei 1514:
“Ilmu sihir, yang dilakukan melalui tenung, ramalan, takhayul, dan pemanggilan setan, dilarang
oleh hukum-hukum sipil dan sanksi-sanksi dari kanon-kanon suci.”35
Pertemuan Doa Yohanes Paulus II bersama Agama-Agama sesat –
Suatu Pertemuan Doa Kemurtadan Lainnya di tahun 2002
Baru-baru ini, ada pula peristiwa Assisi pada tahun 2002. Di tanggal 24 Januari 2002, Yohanes Paulus II
mengadakan suatu pertemuan doa pagan lainnya di kota Assisi di Italia. Pertemuan ini mengulangi acara
kekejian yang berlangsung pada tahun 1986. namun , pertemuan Assisi yang satu ini mungkin bahkan
lebih buruk.
234
Pada pertemuan doa Assisi II, para perwakilan dari setiap agama sesat yang terlibat diperkenankan
untuk datang ke mimbar dan memberi ceramah tentang perdamaian sedunia. Di hadirat Yohanes Paulus
II, seorang imam agung dari agama voodoo datang ke mimbar di luar Basilika St. Fransiskus dan
memberi pedoman voodoo untuk perdamaian sedunia. (Ingatlah, bahwa kaum voodoo yaitu dukun-
dukun). Maka, dengan pengaturan Yohanes Paulus II, seorang dukun diizinkan untuk berceramah dan
memberi pedomannya untuk perdamaian sedunia dari sebuah mimbar di luar Basilika St. Fransiskus
yang bersejarah! Pedomannya itu termasuk menggorok leher kambing, ayam, burung dara dan merpati,
dan meniriskan darah binatang-binatang itu dari urat nadi mereka.
Ada seorang wanita Hindu yang berkata kepada seluruh khalayak bahwa setiap orang yaitu Allah, selagi
Yohanes Paulus II memandangnya. sesudah orang-orang Yahudi, Buddhis, Muslim, Hindu, dukun, dan
lainnya selesai berkhotbah, para pemimpin agama sesat yang berbagai macam itu berpisah dan masuk ke
dalam ruangan yang berbeda-beda untuk berdoa kepada ilah-ilah sesat mereka.
Yohanes Paulus II telah mengatur terlebih dahulu agar setiap agama sesat ini diberikan ruangan
yang terpisah untuk menyembah Iblis.
Semua salib ditiadakan, dan salib-salib yang tidak dapat dicabut lalu ditutupi. Yohanes Paulus II
memastikan agar semua orang kafir, dukun serta orang-orang pagan tidak melihat tanda Yesus Kristus.
Orang-orang Muslim perlu sebuah ruangan yang menghadap penjuru Timur menuju Mekkah, dan
ruangan itu diberikan kepada mereka. Kaum Zoroastrian memerlukan sebuah ruangan yang berjendela,
supaya asap dari serpihan kayu yang mereka bakar kepada Iblis dapat keluar dari ruangan itu – dan
ruangan itu diberikan kepada mereka. Orang-orang Yahudi menginginkan sebuah ruangan yang belum
pernah diberkati sebelumnya; dalam kata lain, sebuah ruangan yang belum pernah diberkati sebelumnya
dalam nama Yesus Kristus, dan Yohanes Paulus II menyediakan ruangan semacam itu kepada mereka.
235
Hampir tidak ada kekejian, penghujatan, dan penolakan terhadap Allah yang sejati yang dapat
dibayangkan.
Konsili Elvira, 305 Masehi:
“Telah didekretkan bahwa orang-orang yang berusia dewasa, yang sesudah menerima
Pembaptisan, pergi ke kuil-kuil pagan untuk menyembah berhala, yang merupakan suatu
kejahatan yang mematikan dan puncak kefasikan, tidak diizinkan menyambut komuni
bahkan pada saat kematian.”36
Seperti yang dapat kita lihat dari konsili regional ini, pada Gereja perdana, pergi ke sebuah kuil pagan
(yang dilakukan oleh Yohanes Paulus II di Thailand) untuk menyembah berhala dianggap sebagai puncak
kefasikan. Perbuatan semacam itu melambangkan kemurtadan dari Iman yang sedemikian rupa besarnya
sehingga mereka yang bertobat pun dari perbuatan semacam itu hanya diperkenankan mengaku dosa
(dan tidak diizinkan menyambut Komuni). Jika pada waktu itu pergi ke kuil pagan dianggap sebagai
kemurtadan yang begitu parahnya, apakah yang akan mereka katakan tentang seseorang yang
dianggap-anggap sebagai pemimpin Gereja yang mengubah gereja-gereja Katolik sendiri menjadi
kuil-kuil pagan sehingga orang-orang pagan dapat menyembah ilah-ilah sesat mereka di dalam
kuil-kuil itu? Mereka tentunya akan menganggap perbuatan semacam itu sebagai puncak kemurtadan.
Paus Pius XI, Ad Salutem (#27), 20 April 1930:
“ ... segala pemaksaan dan kegilaan, segala ketercelaan dan hawa nafsu, masuk ke dalam hidup
manusia melalui penyembahan ilah-ilah sesat.”37
Kemurtadan Yohanes Paulus II dengan para Muslim
Pada tanggal 14 Mei 1999, Yohanes Paulus II menundukkan kepala kepada dan mencium Alquran.
Alquran yaitu kitab “suci” Muslim yang menghujat Allah Tritunggal Mahakudus dan menolak Keilahian
Yesus Kristus. Menghormati kitab “suci” agama sesat telah selalu dianggap sebagai tindak kemurtadan –
236
suatu penolakan total terhadap agama yang sejati. Perbuatan ini sendiri menjadikan Yohanes Paulus II
sebagai seorang pemurtad, sebab perbuatan itu setara dengan menghormati kubur Muhammad, suatu
perbuatan yang, ujar St. Thomas, menjadikan orang sebagai pemurtad.
St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. II Pertanyaan 12, Artikel 1, Penolakan 2:
” ... seandainya seseorang ... menghormati kubur Muhammad, ia akan dianggap sebagai seorang
pemurtad.”
Pada kunjungannya ke Jerman di tanggal 17 November 1980, Yohanes Paulus II mendorong para Muslim
agar mereka “juga mengamalkan iman kalian di negeri asing ….”38
Pada bulan Februari 2000, Yohanes Paulus II bertemu dengan “Sheikh Agung” Muslim, Muhammad.
Yohanes Paulus II kembali melakukan tindak kemurtadan pada pidatonya kepada orang-orang Muslim.
Yohanes Paulus II, Pesan kepada ‘Sheikh Agung Muhammad’, 24 Februari 2000:
“Islam yaitu suatu agama, Kekristenan yaitu suatu agama. Islam telah menjadi suatu
kebudayaan. Kekristenan juga telah menjadi suatu kebudayaan ... Saya berterima kasih kepada
universitas anda, pusat kebudayaan Islam yang terbesar. Saya berterima kasih kepada mereka
yang sedang mengembangkan kebudayaan Islam ....”39
Yohanes Paulus II berterima kasih kepada mereka yang mengembangkan budaya Islam! Ia berterima
kasih kepada para orang-orang kafir sebab mereka mengembangkan suatu kebudayaan yang
menyangkal Yesus Kristus, Allah Tritunggal Mahakudus, dan Iman Katolik dalam skala yang amat besar,
dan mengurung ratusan juta orang dalam kegelapan Iblis. Dari antara segala kejahatan di dunia yang
pernah dapat dibayangkan, kebudayaan Islam kemungkinan merupakan salah satu dari kelima hal











