Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 7. Tampilkan semua postingan

gereja vatikan 7

 


hkan 

kurban propisiasi untuk dosa-dosa para umat kepada Allah yang Mahakuasa.” 

 

Berkat ini telah dihapuskan. 

 

Kesimpulan: Sangatlah jelas dari fakta-fakta ini  bahwa sama sekali tidak ada  intensi di 

dalam Ritus Baru untuk menahbiskan imam sejati yang melaksanakan kurban. Setiap rujukan 

wajib kepada imamat yang melaksanakan kurban telah secara disengaja dihapuskan, 

sama seperti di dalam Ritus Anglikan – yang telah dinyatakan tidak valid untuk alasan ini  

oleh Paus Leo XIII.  

 

Maka, kata-kata yang dinyatakan oleh Paus Leo XIII berikut dapat diterapkan secara persis kepada Ritus 

Baru Paulus VI. 

 

Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:  

“Oleh sebab itulah di seluruh Ordinalnya, tidak disebutkan secara jelas tentang kurban, 

tentang konsekrasi, tentang imamat (sacerdotium) [imamat yang melaksanakan kurban] dan 

tentang kuasa mengonsekrasikan serta mempersembahkan kurban, namun juga, seperti 

yang sudah Kami sebutkan, tiap-tiap bekas dari hal-hal ini, yang dahulunya termuat dalam 

doa-doa tertentu dari ritus Katolik yang sebelumnya tidak mereka tolak seutuhnya, telah 

ditiadakan dan dihapus secara sengaja. Dengan demikian, terwujudlah dengan jelas sifat asli – 

atau semangat asli, demikianlah sebutannya – dari Ordinal ini . Maka dari itu, kalau sudah 

rusak dari asalnya, dan sebab  itu sama sekali tidak memadai untuk menganugerahkan Tahbisan, 

lantas mustahil Ordinal itu menjadi memadai seiring dengan berjalannya waktu, sebab  sama 

sekali belum ada perubahan yang terjadi.”12 

 

Deskripsi ini menggambarkan persis Ritus Imamat Baru. Adakah orang yang bisa menyangkal fakta ini? 

Tidak, melakukannya, orang akan harus bersaksi dusta. secara spesifik menghapu 

imamat pelaksana kurban. Maka intensi yang diwujudkan oleh berlawanan dengan 

intesi Gereja dan tidak memadai untuk validitasnya. 

 

Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:  

“Sebab, agar kita dapat mengesampingkan alasan-alasan lain yang menunjukkan betapa tidak 

memadainya formula-formula ritus Anglikan untuk tujuan yang hendak dicapai, hendaknya 

semua orang menjadi puas dengan argumen yang satu ini: segala sesuatu dalam ritus Katolik 


153 

 

yang jelas mengutarakan jabatan dan tugas-tugas imamat, telah dihapus secara sengaja 

dari formula-formula ritus Anglikan. Dengan demikian, formula itu tidak dapat dianggap 

layak maupun memadai untuk sakramen ini , sebab  formula itu mengabaikan hal 

esensial yang harus ditandakannya.”13 

 

Michael Davies membuktikan bahwa Ritus Baru tidak valid 

 

Di dalam bukunya, The Order of Melchisedech {Ordo Melkisedek}, Michael Davies (seorang pria yang 

sebetulnya membela validitas Ritus Imamat Baru) terpaksa membuat berbagai pernyataan, di depan 

bukti yang tidak terpungkiri, yang membuktikan bahwa harus dianggap tidak valid, 

sama seperti Ritus Anglikan. Berikut beberapa kutipannya: 

 

Michael Davies, The Order of Melchisedech {Ordo Melkisedek}, hal. 97: 

“Jika ritus Katolik yang baru dianggap memuaskan, maka seluruh perkara yang diajukan 

oleh Apostolicae Curae [Paus Leo XIII] pun diperlemah ... Kalau ritus Katolik baru, yang 

darinya tercukur setiap doa wajib penanda kuasa-kuasa pokok imamat, itu valid, lantas 

tampak tidak ada alasan sama sekali ritus Anglikan tahun 1662 juga tidak valid, jangankan 

bisa ada penolakan terhadap Ordinal Anglikan Seri III tahun 1977 (1977 Anglican Series III 

Ordinal).” 

 

Michael Davies, The Order of Melchisedech {Ordo Melkisedek}, hal. 99: 

“Sebagai komentar terakhir tentang ordinal Katolik yang baru, ingin saya kutip sebuah perikop 

dari Apostolicae Curae dan meminta pembaca untuk membuktikan kepada saya, 

bagaimanakah kata-kata yang ditulis oleh Paus Leo XIII tidak bisa dikatakan berlaku 

kepada Ordinal Katolik yang baru, setidak-tidaknya yang berkenaan dengan doa-doa 

wajib.”  

 

Michael Davies, The Order of Melchisedech {Ordo Melkisedek}, hal. 109: 

“ ... perbedaan antara ritus Katolik tahun 1968 dan Ordinal Anglikan yang baru sebegitu 

minim, sehingga sulit dipercayai bahwa kedua-duanya tidak dimaksudkan untuk tujuan 

yang sama ... Akan ditemukan bahwa setiap formula wajib yang dapat ditafsirkan 

menganugerahkan suatu kuasa imamat spesifik tak diberikan kepada umat beriman 

secara umum, telah secara berhati-hati ditiadakan dari ritus baru.” 

 

Michael Davies, The Order of Melchisedech {Ordo Melkisedek}, hal. 94-95: 

“Ketika perubahan-perubahannya [perubahan-perubahan pada Ritus Imamat] 

dipertimbangkan secara keseluruhan, tampak mustahil untuk dipercaya bahwa seorang 

Katolik berintegritas bisa menyangkal bahwa kesamaan dengan pembaruan Cranmer 

[pembaruan Anglikan] itu jelas dan gawat. Sungguh jelas bahwa ada daya-daya penuh kuasa 

dalam Gareja Katolik dan berbagai denominasi Protestan yang bertekad mencapai sebuah Ordinal 

bersama dengan segala cara ... Kaum Protestan dari abad XVI mengubah Pontifikal tradisional, 

sebab  mereka menolak doktrin Katolik tentang imamat. Uskup Agung Bugnini dan 

Konsiliumnya mengubah Pontifikal Romawi sedemikian rupa sehingga tampak terlihat 

sedikit atau tidak ada perbedaan antara kepercayaan Katolik dan Protestan, dan sebab  

itu memperlemah Apostolicae Curae [dari Paus Leo XIII].”14 

 


154 

 

St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bagian III, Pertanyaan 60, Artikel 8:  

” ... intensi bersifat esensial bagi sakramen ini , seperti yang akan dijelaskan lebih lanjut. 

Oleh sebab itu, jika dengan penambahan atau penghapusan itu, ia bermaksud 

melaksanakan suatu ritus yang berbeda dari ritus yang diakui oleh Gereja, tampaknya 

sakramennya tidak valid; sebab  ia tampaknya tidak berintensi melakukan yang dilakukan 

Gereja.” 

 

Patut dicatat bahwa dalam menciptakan Ritus Anglikan yang tidak valid, Cranmer menghapuskan 

subdiakonat dan ordo-ordo minor dan menggantikan mereka dengan pelayanan tiga derajat – uskup, 

imam, dan diakon. Ini persis dilakukan Paulus VI dalam mengubah ritus-ritus Katolik. 

 

Ritus Baru memang menyebutkan bahwa para kandidat penahbisan harus diangkat ke dalam “imamat” – 

namun ritus Anglikan yang tidak valid juga berkata demikian. Kenyataannya, Paus Leo XIII menjelaskan 

dalam Apostolicae Curae, bahwa kalau ritus imamat menyiratkan tiadanya kuasa untuk 

mempersembahkan kurban propisiasi, lantas ritus itu niscaya tidak valid, meskipun mungkin 

mengungkapkan atau menyebutkan kata “imam”. 

 

Kongregasi Ibadah Ilahi dan Tata-tertib Sakramen mengakui bahwa teologi Katolik soal imamat tidak 

dibuat eksplisit dalam ritus 1968.15 

 

Faktanya yaitu  Ritus Baru Paulus VI merupakan ritus yang seutuhnya baru. Ritus ini  menolak 

yang dilakukan Gereja, dengan menolak hal yang tergolong hakikat sakramen seturut institusi Kristus 

[imamat pelaksana kurban], sehingga jelas bahwa intensi yang diperlukan, yang tewujud oleh ritus ini 

tidak memadai, dan bahkan merusak Sakramen Imamat dan berlawanan dengannya (Leo XIII). Fakta-fakta 

ini membuktikan bahwa Ritus Imamat Paulus II tidak bisa dianggap valid, namun harus dianggap tidak 

valid. 

 

Kesimpulan: Ini berarti bahwa semua pengakuan dosa untuk dosa-dosa berat dalam Sakramen 

Tobat kepada para “imam’ yang ditahbiskan dalam Ritus Baru harus dibuat kembali kepada 

imam yang ditahbiskan secara valid, yang ditahbiskan dalam Ritus Imamat Tradisional oleh 

seorang uskup yang dikonsekrasi dalam Ritus Konsekrasi Uskup Tradisional. Jika seseorang 

tidak dapat mengingat dosa-dosa mana yang sudah diakui kepada “imam-imam” Ritus Baru dan 

yang telah diampuni oleh seorang imam yang ditahbiskan dalam Ritus Tradisional, seorang 

Katolik harus membuat pengakuan dosa umum yang menyebutkan semua dosa berat (jika ada) 

yang mungkin telah diakui kepada seorang “imam” yang ditahbiskan dalam ritus Paulus VI 

(Ritus Baru). 

 

Tentunya, tidak ada orang Katolik pun boleh mendatangi para “imam” yang ditahbiskan dalam Ritus Baru 

Paulus VI untuk “Komuni” atau pengakuan dosa ataupun sakramen lain yang mewajibkan validnya imam 

dengan ancaman dosa berat, sebab mereka itu bukanlah imam yang valid. 

 

Seperti yang telah disebutkan lebih awal, Paus Inosensius XI, Dekret Kementerian Suci, 4 Maret 1679,16 

mengecam ide bahwa orang-orang Katolik dapat menerima sakramen-sakramen yang “kemungkinan” 

valid. Dalam kata lain, meskipun seseorang percaya bahwa kemungkinan valid (yang 

jelas-jelas salah, sebab  ritus itu jelas-jelas tidak valid), orang itu tetap dilarang menerima sakramen-


155 

 

sakramen dari para “imam” yang “ditahbiskan” di dalam ritus itu dengan ancaman dosa berat. Sakramen-

sakramen hanya dapat diterima sewaktu materi dan formulanya jelas valid. 

 

Fakta-fakta ini berarti semua Misa indult yang diselenggarakan oleh para “imam” yang 

ditahbiskan dalam Ritus Baru Paulus VI (Ritus 1968) tidaklah valid dan tidak boleh dihadiri. 

 

Serikat Santo Pius X terkadang memasukkan para pria ke dalam kelompok mereka yang “ditahbiskan”  

dalam Ritus Imamat Baru, dan mereka tidak selalu disuruh agar ditahbis ulang secara bersyarat– atau 

setidak-tidaknya, mereka tidak mengakuinya secara publik. “Misa” yang dipersembahkan para “imam” 

ini  tidak valid. 

 

Para imam tahbisan Ritus Baru Paulus VI yang terbuka kepada kebenaran, harus ditahbiskan ulang oleh 

seorang uskup yang dikonsekrasi secara valid dalam Ritus Tradisional. Hal ini juga berarti bahwa Novus 

Ordo Missae (Misa Baru), tanpa mempertimbangkan masalah-masalah yang membuatnya tidak valid 

sekalipun, tentunya tidak valid jika diselenggarakan oleh “imam” mana pun tahbisan Ritus Imamat Baru. 


Ritus Konsekrasi Uskup Baru 


 

11. Ritus Konsekrasi Uskup Baru 

Paulus VI juga telah mengubah ritus untuk mengonsekrasikan para uskup. Hal ini sangatlah penting 

sebab  kelompok-kelompok seperti Fraternity of St. Peter dan Institute of Christ the King (kelompok 

indult yang mempersembahkan Misa Latin Tradisional) menahbiskan anggota mereka di dalam Ritus 

Penahbisan Tradisional, namun  penahbisan mereka dilakukan oleh para ‘Uskup’ yang dijadikan ‘Uskup’ di 

dalam Ritus Konsekrasi Uskup yang Baru. 

 

Masalah ini sangat besar, sebab  Benediktus XVI {Joseph Ratzinger}, ‘dikonsekrasikan’ di dalam Ritus 

Konsekrasi Uskup Baru pada tanggal 28 Mei 1977.1 Jika ia bukanlah seorang uskup yang dikonsekrasikan 

secara valid, ia tidak bisa menjadi uskup Roma. 

 

Di dalam Sacramentum Ordinis, 30 November 1947, Paus Pius XII menyatakan formula yang pokok untuk 

Konsekrasi para Uskup: 

 

FORMULA TRADISIONAL UNTUK KONSEKRASI PARA USKUP 

 

Paus Pius XII, Sacramentum Ordinis, 30 November 1947:  

“namun  mengenai materi dan formula untuk menjadikan setiap ordo, dengan otoritas apostolik 

Kami yang tertinggi, Kami mendekretkan dan menetapkan hal-hal berikut:... di dalam 

penahbisan atau konsekrasi Uskup... formula {penahbisan} ini  terdiri dari kata-kata dari 

“Prefasi”, di dalam mana hal-hal berikut diperlukan dan maka diwajibkan untuk validitas: 

 

”Lengkapilah di dalam imam-Mu kepenuhan untuk pelayanan-Mu, hiasilah ia 

dengan jubah segala kemulian dan kuduskanlah ia dengan embun urapan 

surgawi.”2 

 

Dengan menyebutkan “kepenuhan untuk pelayanan-Mu... jubah segala kemuliaan” formula tradisional 

ini menandakan secara jelas kekuatan keuskupan, yakni ‘kepenuhan imamat’. Formula baru Paulus VI 

pada ritusnya tahun 1968 yaitu  sebagai berikut. Kedua formula ini hanya memiliki satu hal yang sama, 

yaitu kata ‘et’, yang berarti ‘dan’. 

 

FORMULA BARU PAULUS VI UNTUK KONSEKRASI PARA USKUP 

 

“Curahkanlah ini kepada orang pilihan-Mu ini, kekuatan yang berasal dari pada-Mu, yaitu Roh pangkal 

segala rahmat yang telah Kaucurahkan kepada Putra-Mu terkasih, Yesus Kristus, dan yang oleh-Nya 

dianugerahkan kepada para Rasul. Mereka telah membangun jemaat di tempat masing-masing sebagai 

kediaman-Mu yang kudus, demi keagungan dan kemuliaan nama-Mu sepanjang masa.”3, 3a 

 

Formula baru ini tidak menandakan secara jelas kekuatan keuskupan. Kata-kata ‘Roh pangkal segala 

rahmat {spiritum principalem}’ yang digunakan untuk merujuk kepada banyak hal di dalam Kitab Suci 

ataupun Tradisi (misal. Mazmur 51:14), namun  tidak secara jelas menandakan kekuatan keuskupan. 

Maka, formula baru ini  memiliki validitas yang sangat diragukan. 

 

Ritus Konsekrasi Uskup Baru 

157 

 

Di samping perubahan yang menghancurkan formula pokok ini , ada  banyak hal-hal lain yang 

telah dihapuskan. Bahkan tidak ada  satu pun pernyataan yang jelas tentang hasil yang dimaksudkan 

dari Sakramen Penahbisan Uskup. Di dalam Ritus Penahbisan Tradisional, sang konsekrator menasihati 

sang calon uskup di dalam panduan-panduan berikut: 

 

”Seorang uskup menghakimi, menginterpretasikan, mengonsekrasikan, menahbiskan, 

mempersembahkan, membaptis dan menguatkan.” 

 

Ini telah dihapuskan. 

 

Di dalam Ritus Tradisional, sang calon uskup diminta untuk mengonfirmasikan 

kepercayaannya akan setiap artikel Syahadat 

 

Ini telah dihapuskan. 

 

Di dalam Ritus Tradisional, sang calon uskup diminta agar ia ‘menganatemakan setiap bidah 

yang akan muncul melawan Gereja Katolik yang Kudus’. 

 

Ini telah dihapuskan. Penghapuskan kewajiban untuk menganatemakan bidah yaitu  hal yang penting, 

sebab  ini memang salah satu fungsi seorang uskup. 

 

Di dalam Ritus Tradisional, sesudah  doa konsekrasi, fungsi-fungsi seorang uskup sekali lagi disebutkan 

secara khusus di dalam kata-kata ini: 

 

”Berikanlah kepadanya, ya Tuhan, kunci Kerajaan Surga... Apa yang ia ikat di dunia ini 

hendaklah terikat di Surga dan apa yang ia lepaskan di dunia ini hendaknya pula terlepas di 

Surga. Jikalau ia menyatakan dosa seseorang tetap ada, hendaknya dosanya tetap ada, dan sudilah 

Engkau mengampuni dosa-dosa orang yang ia ampuni... Berikanlah kepadanya, ya Tuhan, sebuah 

takhta Keuskupan...” 

 

Seluruh doa ini telah dihapuskan di dalam Ritus Baru. 

 

Kesimpulan: Ritus Penahbisan Uskup Baru Paulus VI memiliki sebuah formula yang berbeda secara 

radikal dari yang dinyatakan oleh Pius XII sebagai diwajibkan untuk validitas. Formula yang baru 

tidak dengan secara jelas menandakan kekuatan keuskupan. Ritus Konsekrasi Uskup Baru tidak 

dapat dianggap valid, sebab  materi atau formula yang diragukan dianggap tidak valid. 

 

Semua ‘Imam’ yang ditahbiskan oleh ‘uskup-uskup’ yang dikonsekrasikan di dalam ritus ini, walaupun 

dengan memakai  Ritus Penahbisan Tradisional, seperti kebanyakan imam Fraternity of St. Peter, 

Institute of Christ the King, dsb. tidak dapat dianggap imam yang valid. ‘Misa-misa’ mereka harus 

dihindari.  

Ritus Konsekrasi Uskup Baru 


12. Sakramen-Sakramen Baru: Perubahan-

Perubahan kepada Sakramen-Sakramen Lain 

 

“Musuh-musuh yang paling lihai ini telah memenuhi dan meracuni, dengan kemarahan 

dan kepahitan, Gereja, mempelai Anak Domba yang tak bernoda, dan telah meletakkan 

tangannya yang jahat pada kepunyaannya yang terkudus. Di Tempat Kudus itu sendiri, di 

mana telah ditetapkan takhta bagi Petrus yang Terberkati dan Tempat Duduk Kebenaran bagi 

cahaya dunia, mereka telah mengangkat takhta kekejian mereka yang jahat, dengan rancangan 

kejahatan agar ketika sang gembala diserang, domba-domba akan tercerai berai.” (Nubuat Paus 

Leo XIII tentang sebuah kemurtadan di masa depan, 1888) 

Di samping membuat perubahan-perubahan yang menjadikan Misa, Ritus Imamat dan Konsekrasi Uskup 

tidak valid, seperti yang kita telah bahas, Paulus VI mengubah seluruh ritus dari kelima sakramen lain. 

 

PEMBAPTISAN 

 

Orde Baru Pembaptisan dipermaklumkan pada tanggal 15 Mei 1969. Pertanyaan-pertanyaan “Apakah 

engkau menolak Setan?” dan “Apakah engkau percaya...?” sekarang ditanyakan kepada ‘orang tua dan 

orang tua baptis’; pertanyaan-pertanyaan ini  tidak lagi ditanyakan kepada calon baptis. Di dalam 

ritus baru, calon baptis bahkan tidak ditanyakan apakah ia percaya. 

 

Di dalam ritus baru, sang anak yang baru dibaptis tidak diberikan lilin yang menyala – lilin ini  

diberikan kepada sang orang tua atau orang tua baptis. Juga, sang anak yang baru dibaptis tidak lagi 

menerima pakaian putih – hal ini  hanya disebutkan secara simbolis. Calon baptis tidak lagi 

diwajibkan untuk membuat janji baptis. 

 

Di samping itu, seluruh eksorsisme {pengusiran roh jahat} telah dihapuskan oleh Paulus VI di dalam ritus 

baru Pembaptisan! Mengapa seseorang menghapuskan doa-doa pengusiran roh jahat? Walaupun Setan 

tidak disebutkan di dalam naskah ini , ia tidak diusirkan. 

 

Kesimpulan: Selama seseorang yang membaptis di dalam Gereja Novus Ordo menuangkan air dan 

memakai  formula pokok – “Aku membaptis engkau, dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus” 

dengan intensi untuk melakukan apa yang Gereja lakukan, pembaptisan ini  valid, walaupun 

ada  masalah-masalah lain ini  di dalam ritus-ritus yang mengelilinginya. namun  perubahan-

perubahan kepada ritus Pembaptisan ini, walaupun bukanlah hal yang pokok untuk validitas, 

menunjukkan karakter dan intensi para pria yang telah mengimplementasikan revolusi Vatikan II. 

 

KRISMA 

 

Orde Baru Krisma dipermaklumkan pada tanggal 15 Agustus 1971. Formula dan materi sakramen 

ini  telah diubah. 

 

 

 

 

Sakramen-Sakramen Baru yang Lain 

160 

 

 

Formula tradisional Sakramen Krisma yaitu : 

 

”Ketika mengurapi orang yang ia Krismakan, uskup mengucapkan: "Aku menandaimu 

dengan tanda salib, dan aku memeteraikanmu dengan Krisma Keselamatan, dalam nama 

Bapa, dan Putra dan Roh Kudus. Amin” 

 

Formula Ritus Baru untuk Sakramen Krisma: 

 

”{Nama}, Terimalah meterai Roh Kudus, karunia Allah” 

 

Seperti yang kita bisa lihat, formula tradisional Krisma telah diubah secara mendasar. Formula yang baru 

yaitu  formula yang digunakan di dalam Ritus Timur. Mengapa Paulus VI menggantikan formula 

tradisional di dalam Ritus Roma dengan formula Ritus Timur? Kita akan melihat besarnya perubahan ini 

sewaktu kita melihat materi Krisma yang juga telah diubah. Kebanyakan teolog secara tradisional 

melihat penumpangan tangan dan penandaan serta pengurapan dahi sebagai materi terdekat {proximate 

matter} dari Krisma, dan minyak zaitun serta balsem yang telah dikonsekrasikan oleh uskup sebagai 

materi terjauh {remote matter}. Di dalam Ritus Krisma yang Baru dari Paulus VI, penumpangan tangan 

telah dihapuskan, dan minyak-minyak sayur lain dapat menggantikan minyak zaitun, dan 

rempah-rempah lain dapat digunakan sebagai pengganti balsem! 

 

Di dalam Perjanjian Baru, penumpangan tangan selalu hadir di dalam krisma (lihat juga Kisah Para Rasul 

8:17, Kisah Para Rasul 19:6). namun  tidak ada penumpangan tangan di dalam Ritus Krisma yang Baru. Hal 

ini telah dihapuskan. Hal ini sendiri membuat Ritus Krisma Baru Paulus VI sangat diragukan. Terlebih 

lagi, di dalam Ritus Krisma Timur, sewaktu formula ini diucapkan oleh sang uskup, ia menumpangkan 

tangannya; suatu tindakan yang melengkapi kata-kata formula ini . namun  di dalam ritus baru, 

walaupun formula Ritus Timur digunakan, kata-katanya tidak dilengkapi dengan tindakan penumpangan 

tangan di dalam Ritus Timur, yang menjadikannya sangat diragukan. 

 

Kesimpulan: Validitas Sakramen Krisma yang baru sangat diragukan, dengan mempertimbangkan 

seluruh perubahan yang terjadi. 

 

PENGAKUAN DOSA 

 

Sakramen Tobat telah diubah menjadi ‘Perayaan Rekonsiliasi’. Orde Baru Tobat atau Pengakuan Dosa 

telah dipermaklumkan oleh Paulus VI pada tanggal 2 Desember 1973. Formula pokok yang diperlukan 

agar seorang imam yang ditahbiskan secara valid untuk melepaskan seseorang dari dosanya yaitu  

dengan kata-kata berikut: 

 

“Saya melepaskanmu dari dosa-dosamu dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.” (Konsili Florence, 

“Exultate Deo”, Denzinger 696.) 

 

Hal ini mungkin mengejutkan, namun  formula pokok ini tidak diubah di dalam Ritus Baru Pengakuan 

Dosa. Ada beberapa imam Novus Ordo yang tidak mengucapkan “Saya melepaskanmu dari dosa-dosamu 

dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus”, namun  memakai  formula-formula baru seperti: “Saya 

Sakramen-Sakramen Baru yang Lain 

161 

 

membebaskanmu dari segala ikatan dosamu.” Jika salah satu dari formula ini  digunakan, maka 

pengakuan dosa ini  diragukan. 

 

Seperti yang kami telah tunjukkan, bagaimanapun, para ‘Imam’ di Gereja-gereja Novus Ordo / Vatikan II 

yang telah ditahbiskan di dalam (yang dipermaklumkan pada tanggal 18 Juni 1968) 

tidaklah ditahbiskan secara valid. Hal ini berarti bahwa bahkan jika para ‘Imam’ Novus Ordo 

memakai  formula pokok, “Saya melepaskanmu dari dosa-dosamu dalam nama Bapa, dan Putra, dan 

Roh Kudus”, jika mereka ditahbiskan di Ritus Baru, mereka bukanlah imam yang valid dan tidak membuat 

perbedan. 

 

Kesimpulan: Ritus Baru Pengampunan Dosa valid, hanya jika imamnya ditahbiskan di dalam Ritus 

Tradisional oleh uskup yang dikonsekrasikan di dalam Ritus Tradisional – dan jika ia mengucapkan kata-

kata “Saya melepaskanmu dari dosa-dosamu dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.” 

 

PENGURAPAN TERAKHIR 

 

Ritus Pengurapan Terakhir yang Baru dipermaklumkan pada tanggal 30 November 1972. Ritus 

Pengurapan Terakhir yang baru sekarang dinamakan ‘Pengurapan Orang Sakit’, yang diberikan kepada 

orang-orang yang sakit berat. Istilah ‘di dalam bahaya maut’ dihindari. Ritus baru ini ditujukan lebih 

kepada penyembuhan penyakit dibandingkan  persiapan untuk waktu kematian. Konsekrasi minyak dan 

syukur atas minyak ini  mengandung banyak kata-kata tentang pulihnya kesehatan. Doa untuk 

pengusiran Setan telah dihapuskan. Dan nama para malaikat, Malaikat Penjaga, Bunda Allah, dan 

St. Yosef tidak lagi disebutkan dalam doa. 

 

FORMULA TRADISIONAL SAKRAMEN PENGURAPAN TERAKHIR 

 

Formula tradisional Pengurapan Terakhir yaitu  

Semoga lewat pengurapan kudus ini dan kerahiman-Nya yang penuh kasih, Tuhan 

mengampunimu dan segala dosa-dosa yang telah engkau perbuat lewat indramu (penglihatan, 

penciuman, perasaan, perkataan, perabaan, kekuatan untuk berjalan). 

 

FORMULA BARU ‘PENGURAPAN ORANG SAKIT’ (DISEBUT PENGURAPAN TERAKHIR DI 

DALAM GEREJA KATOLIK) 

Dengan pengurapan kudus dan kerahiman-Nya yang penuh kasih, semoga Tuhan 

membantumu lewat rahmat Roh Kudus (Peniten: Amin) agar sewaktu engkau telah dibebaskan 

dari dosa-dosamu, Ia sudi menyelamatkan-Mu dan membangkitkanmu di dalam kebaikan-Nya. 

 

Orang dapat melihat bahwa perubahan formula baru ini menekankan hal yang sangat berbeda. 

Penekanannya sekarang yaitu  pada kesembuhan dari penyakit. Fakta bahwa ritus baru ini hanya 

disebut ‘Pengurapan Orang Sakit’ menunjukkan seseorang untuk berpikir tentang kepulihan jasmani. 

Maka dari itu, ritus baru ini diberikan banyak kali kepada orang sakit dan orang tua yang tidak berada 

dalam bahaya maut. 

 

Formula ini juga ambigu tentang kapan pengampunan dosa diberikan. Formula yang lama menunjukkan 

secara jelas bahwa Tuhan mengampuni dosa dengan pengurapan ini. Formula baru ini  

Sakramen-Sakramen Baru yang Lain 

162 

 

menyebutkan ‘sewaktu engkau telah dibebaskan dari dosa-dosamu’, yang dapat berarti suatu waktu di 

masa depan. 

 

Materi dari ritus baru ini juga telah diubah. Sepanjang sejarah Gereja, minyak zaitun yaitu  materi dari 

Sakramen Pengurapan Terakhir. namun  di dalam ritus baru ini, minyak sayur apa pun dapat digunakan 

untuk menggantikan minyak zaitun. Tidak ada  enam pengurapan yang diwajibkan, namun  hanya dua. 

 

Menurut kebanyakan teolog, penggunaan minyak sayur apa pun membuat sakramen ini  tidak valid. 

Tidak diketahuinya jika materi yang digunakan di dalam Ritus Baru yaitu  minyak zaitun cukup untuk 

menghasilkan sebuah keraguan. 

 

Kesimpulan: Validitas Ritus Pengurapan Terakhir yang Baru diragukan. 

 

PERNIKAHAN 

 

Orde baru pernikahan dipermaklumkan pada tanggal 19 Maret 1969. Dengan perayaan pernikahan yang 

baru, hampir semua doa-doanya diubah. Di dalam ritus tradisional pernikahan, sebuah bacaan dari 

Efesus (5:22-23) diwajibkan, yang berkaitan tentang tunduknya istri kepada sang suami. Di dalam ritus 

baru, salah satu dari sepuluh bacaan-bacaan yang berbeda dapat dipilih, salah satu darinya yaitu  ayat 

dari Efesus, namun  bacaan ini  secara khusus menghapuskan ayat yang berkenaan tentang 

tunduknya istri pada sang suami! Sewaktu mempelai wanita dan pria ditanyakan akan komitmen 

mereka untuk menjalankan sebuah pernikahan Kristiani, mereka tidak ditanyakan secara terpisah, namun  

bersamaan. 

 

Berkat pernikahan telah diubah; kata-katanya telah diubah. Pernikahan campur juga sering terjadi 

dewasa ini, banyak di antaranya tidak valid. 

 

Walaupun ada  masalah-masalah ini, formula dan materi Sakramen Pernikahan tidak dapat diubah 

sebab  materi ini  terdiri dari orang-orang yang menikah, dan formulanya yaitu  persetujuan 

bersama mereka. namun , perubahan-perubahan Sakramen Pernikahan menunjukkan sekali lagi karakter 

dan intensi dari mereka yang telah mengimplementasikan revolusi Vatikan II. 

 

Kesimpulan: Ritus pernikahan baru valid, namun  seorang Katolik tradisional tidak boleh menikah 

menurut ritus yang baru. Banyak dari pernikahan campur yang diizinkan tidak valid. Ritus pernikahan 

baru tidak menyebutkan Allah di dalamnya. Ritus pernikahan baru digunakan untuk mencemari ajaran-

ajaran Katolik dan menekankan pengeritan yang salah kepada pasangan yang menikah. sebab  sang 

imam yaitu  saksi gereja di dalam pernikahan, seorang Katolik hendaknya tidak menikah di depan imam 

mana pun, bahkan yang ditahbiskan secara valid, yang bukan 100% Katolik. 

  

Sakramen-Sakramen Baru yang Lain 

163 

 

 

RINGKASAN RITUS-RITUS SAKRAMEN YANG DICIPTAKAN PAULUS VI UNTUK 

KONTRA-GEREJA 

 

Misa Baru – tidak valid 

– tidak valid 

Ritus Konsekrasi Uskup Baru – sangat diragukan 

Ritus Pembaptisan Baru – valid 

Ritus Pengakuan Dosa Baru – valid, jika memakai  kata-kata yang diperlukan dan digunakan oleh 

imam yang ditahbiskan secara valid 

Ritus Krisma Baru – sangat diragukan 

Ritus Pengurapan Terakhir Baru – diragukan 

Ritus Pernikahan Baru - valid 


 

164 

 

13. Skandal-Skandal serta Bidah-Bidah 

Yohanes XXIII 

 

Yves Marsaudon, freemason derajat ke-33 dari Ritus Skotlandia: 

“Sentimen universalisme yang menutupi Roma pada masa ini 

sangatlah dekat dengan keberadaan kami... Dengan segenap hati kami, 

kami mendukung revolusi Yohanes XXIII.”1 

 

 

 

Yohanes XXIII (Angelo Roncalli) – Pria yang memulai Vatikan II dan 

mengaku sebagai Paus dari tahun 1958 – 1963 

Mari mengamati beberapa fakta tentang Angelo Roncalli (Yohanes XXIII). Angelo Roncalli lahir pada 

tahun 1881 dan memegang jabatan diplomatis di Bulgaria, Turki dan Prancis. Roncalli juga yaitu  

seorang ‘Patriark’ Venesia. 

BEBERAPA AKTIVITAS YOHANES XXIII SEBELUM ‘PEMILIHANNYA’ 

SEBAGAI ‘PAUS’ PADA TAHUN 1958 

Bertahun-tahun, Kementerian Suci telah menyimpan dokumen tentang Angelo Roncalli (Yohanes XXIII) 

yang dapat diartikan ‘tersangka Modernisme’. Dokumen ini  bertanggal kembali kepada tahun 1925, 

sewaktu Roncalli, yang dikenal akan ajaran-ajarannya yang tidak ortodoks, dicabut dari jabatannya 

sebagai Profesor di Seminari Lateran pada pertengahan semester (ia menjadi tersangka modernisme) 

dan dikirim ke Bulgaria. Transfer ke Bulgaria ini yaitu  awal dari karir diplomatisnya. Kekhawatiran 

Roma khususnya yaitu  hubungan Roncalli yang dekat dan terus-menerus dengan seorang imam yang 

telah dipecat dari imamatnya, Ernesto Buonaiuti, yang diekskomunikasikan akibat bidah pada tahun 

1926.2 


 

165 

 

Pada tahun 1926, Angelo Roncalli (Yohanes XXIII menulis kepada seorang Skismatis Ortodoks: 

“Katolik dan Ortodoks bukanlah musuh, melainkan saudara. Kita memiliki iman yang sama; 

kita memiliki sakramen-sakramen yang sama, terutama Ekaristi. Kita terpisah akibat beberapa 

pertentangan mengenai konstitusi ilahi Gereja Yesus Kristus. Orang-orang yang merupakan sebab 

pertentangan ini  telah meninggal beberapa abad lamanya. Marilah kita meninggalkan 

permusuhan lama itu dan, masing-masing di dalam wewenangnya, bekerja sama untuk 

menjadikan saudara-saudara kita baik, dengan menunjukkan contoh yang baik kepada mereka. 

Kelak, sesudah  melewati jalan-jalan yang berbeda, kita akan mencapai sebuah persatuan 

antara gereja-gereja untuk membentuk bersama Gereja yang sejati dan satu dari Tuhan 

kita Yesus Kristus.”3 

Pernyataan ini berarti Gereja yang satu dan sejati belum terbentuk. 

Pada tahun 1935, Angelo Roncalli sampai di Turki dan menjadi teman dengan Sub-Sekretariat 

Kementerian Asing, Naman Rifat Menemengioglu.4 Menemengioglu berkata kepada Roncalli: 

“Sekularitas Negara yaitu  sebuah prinsip mendasar dan jaminan dari kebebasan kami.” Roncalli 

menjawab: “Gereja akan berhati-hati untuk tidak melanggar kebebasanmu.”5 

Pada saat ia berada di Turki, Roncalli juga berkata: “Kalian, orang-orang Irlandia, kalian sangat 

keterlaluan. Mulai dari waktu kalian lahir, bahkan sebelum kalian dibaptis, kalian mulai mengutuk 

orang-orang yang bukan anggota Gereja, terutama para Protestan!”6 

Ini merupakan salah satu kutipan lain yang menunjukkan pandangan sesat Roncalli: “Fraksi Gereja 

Ortodoks Yunani yang sangat anti-Katolik dengan gembira mengumumkan sebuah persetujuan dengan 

Gereja Inggris di mana masing-masing mengakui validitas Imamat satu sama lain. namun  Roncalli benar-

benar puas akan hal ini . Kepada para orang-orang Yunani yang bertanya kepadanya dengan nakal 

tentang opininya tentang hal ini , ia berkata dengan jujur, ‘Saya tidak dapat mengatakan apa pun 

selain pujian bagi saudara-saudara kita yang terpisah untuk semangat mereka menuju persatuan seluruh 

umat Kristiani.’”7 

Desmond O’Grady, mantan koresponden Vatikan untuk Washington Post, melaporkan bahwa sewaktu 

Roncalli ditempatkan di Istanbul pada tahun 1944, Roncalli “memberi sebuah khotbah di dalam sebuah 

konsili yang akan berlangsung pada periode sesudah  perang.”8 Sewaktu Roncalli ditugaskan sebagai 

Nuncio {Duta Besar Kepausan} di Prancis, ia ditunjuk sebagai Pengamat bagi Takhta Suci untuk agen 

kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNESCO. Pada bulan Juli 1951, ia memberi sebuah khotbah 

“yang memuji-muji UNESCO...”9 Roncalli menyebut UNESCO “organisasi internasional yang hebat ini...”10 

Sewaktu Angelo Roncalli menjabat sebagai nuncio di Prancis, ia menunjuk teman dekatnya, seorang 

Freemason derajat tiga puluh tiga, Baron Yves Marsaudon, sebagai kepala cabang Prancis dari 

Knights of Malta, sebuah orde awam Katolik.11 

YOHANES XXIII DILAPORKAN SEBAGAI SEORANG FREEMASON 

Yves Marsaudon, Freemason Prancis yang disebut di atas, yang juga yaitu  seorang penulis buku, juga 

menyatakan bahwa Roncalli [Yohanes XXIII] menjadi seorang Mason derajat tiga puluh tiga 

sewaktu ia menjabat sebagai nuncio di Prancis. Mary Ball Martinez menulis bahwa para Pengawal 

Republik Prancis mengamati dari pos penjagaan mereka bahwa: ”...sang Nuncio [Roncalli] 

berpakaian seperti warga negara biasa meninggalkan tempat tinggalnya untuk menghadiri 


 

166 

 

pertemuan-pertemuan Kamis sore dari [Loji Masonik] Prancis Timur Agung. Melihat konflik 

kesetiaan ini  membuat orang biasa ngeri, Katolik ataupun Freemason, namun  Angelo Roncalli 

kelihatannya telah terbiasa.”12 

Majalah 30 Days juga mengadakan sebuah wawancara beberapa tahun lalu dengan kepala Freemason 

Italia. Sang Grand Master dari Loji Timur Agung di Italia menyatakan: “Tentang hal ini , 

kelihatannya Yohanes XXIII telah diinisiasikan (ke dalam Loji Masonik) di Paris dan mengambil 

bagian di dalam karya di Loka Karya Istanbul.”13 

Pada suatu waktu di Paris, ‘Monsinyur’ Roncalli menghadiri sebuah perjamuan dan duduk di samping 

seorang wanita yang mengenakan sebuah gaun yang sangat tidak senonoh. Rombongan yang menyertai 

Roncalli merasa agak tidak nyaman. Para tamu memandang sang ‘Nuncio Paus’. Roncalli menyudahi 

keheningan ini  dengan bercanda: 

“Saya tidak dapat membayangkan mengapa para tamu menatap saya, seorang pendosa 

yang malang, sewaktu nyonya rumah kita yang menawan, jauh lebih muda dan menarik 

rupanya.”14 

Sewaktu Yohanes XXIII lalu ‘diangkat’ kepada Dewan Kardinal, ia bersikeras untuk menerima topi merah 

dari sang ateis dan sosialis yang dikenal sebagai anti-Gereja Katolik, Vincent Auriol, Presiden Prancis, 

yang ia sebut sebagai ‘seorang sosialis yang jujur’.15 

 

 

Yohanes XXIII, sebagai seorang kardinal, memilih untuk menerima topi kardinalnya dari Vincent Auriol 

yang dikenal akan ke-Anti-Katolikkannya 

Roncalli berlutut di depan Auriol, dan Auriol meletakkan biretta kardinal di atas kepala Roncalli. Auriol 

lalu menggantungkan ‘pita merah lebar di sekeliling leher kardinal ini , dan menciumnya di pipinya 

dengan pelukan yang memberi  kehangatan pribadi di dalam protokol formal’.16 Auriol lalu menyeka 

air matanya dengan sebuah saputangan sewaktu Roncalli pergi untuk melanjutkan tugas barunya sebagai 

‘kardinal’.17 


 

167 

 

Di dalam berbagai fungsi sosial di Paris, Roncalli (Yohanes XXIII) juga sering terlihat bersosialisasi 

dengan duta Soviet, M. Bogomolov, walaupun pemerintahan Bogomolov telah melanjutkan politik 

sebelum perangnya yaitu pemusnahan para Katolik secara brutal di Russia. 

 

Angelo Roncalli (Yohanes XXIII) bersosialisasi dengan pembunuh orang-orang Katolik 

Yohanes XXIII juga dikenal sebagai ‘teman baik dan yang dipercaya’ dari Edouard Herriot, Sekretaris 

Sosialis Radikal Anti-Katolik (Prancis).18 “Teman terdekat dari Roncalli mungkin yaitu  sang sosialis 

yang lama dan besar serta anti-Katolik, Edouard Herriot.”19 

 

Yohanes XXIII bersama Edouard Herriot dan para radikal yang lain 

Sebelum Roncalli meninggalkan Paris, ia mengadakan sebuah perjamuan makan malam perpisahan 

untuk teman-temannya. “Para tamu termasuk para politikus dari sayap Kanan, Kiri, dan Tengah, yang 

bersatu di dalam kehangatan mereka untuk pengisi acara mereka yang ramah.”20 Sewaktu Roncalli 

menjabat sebagai ‘Kardinal’ Venesia, “Para Komunis sama sekali tidak memiliki alasan untuk 

mengkritiknya. Tidak ada  olok-olok anti-Katolik, hanya ada  keheningan yang hormat.”21 

Sewaktu ia berada di Venesia, ‘Kardinal’ Roncalli ‘menasihati para umat untuk menyambut para 

Sosialis di seluruh Italia yang melangsungkan partai mereka selama tiga puluh detik’ di Venesia.22 

“Patriark (Yohanes XXIII) menyuruh agar pengumuman ditempelkan di dinding seluruh Venesia untuk 

pembukaan selama tiga puluh detik dari Kongres Partai Sosialis Italia (PSI) pada bulan Februari 1957. 

Berikut pesannya: ‘Saya menyambut acara ini yang luar biasa sangat berarti, yang sangat penting untuk 

masa depan negara kita.’”23 


 

168 

 

Paus Pius XI, Quadragesimo Anno (#120), 15 Mei 1931:  

“Tidak seorang pun dapat dalam waktu yang bersamaan menjadi seorang Katolik yang 

baik dan seorang sosialis sejati.”24 

Roncalli pernah sekali berbicara pada balai kota Venesia. Ia berkata: 

”...Saya gembira bisa berada di sini, walaupun hadir di sini orang-orang yang tidak menyebut diri 

mereka Kristiani, namun  dapat diakui seperti itu {sebagai Kristiani} sebab  perbuatan baik 

mereka.”25 

Pernyataan ini jelas-jelas sesat. 

AKTIVITAS YOHANES XXIII DAN PERNYATAAN-PERNYATAANNYA sesudah  

‘PEMILIHANNYA’ SEBAGAI ‘PAUS’ PADA TAHUN 1958 

Segera sesudah  ‘terpilih’ dan berpindah ke dalam Vatikan, “Yohanes XXIII menemukan sebuah patung 

kuni Hippolitus, seorang Anti-Paus dari Abad Ketiga. Ia memerintahkan agar patung ini  dipugar dan 

ditempatkan pada pintu masuk Perpustakaan Vatikan.”26 “Kita melihat muka orang-orang yang kecewa di 

mana-mana di Lapangan St. Petrus sewaktu Yohanes XXIII memulai berkat kepausannya, sebab  ia 

hampir tidak mengangkat tangannya. Tanda salibnya terlihat kepada orang-orang di Roma sebagai 

gerakan tangan yang menyedihkan, sebab  ia terlihat menggerakan pergelangan tangannya setinggi 

pinggulnya.”27 

“Yohanes XXIII menyatakan bahwa ia malu sewaktu disapa sebagai ‘Yang Mulia’ [atau] ‘Bapa 

Suci’...”28 “Sejak lama, Yohanes XXIII memakai  ‘saya’ dan bukan ‘kami’ di dalam percakapan 

resminya. Para Paus diharapkan untuk memakai  ‘kami’ paling tidak di dalam acara-acara 

resmi.”29 

Sewaktu Yohanes XXIII menerbitkan sebuah ensiklik tentang pertobatan, ensiklik ini  sama sekali 

tidak menyebutkan puasa ataupun hari raya wajib untuk pantang dari makanan atau kenikmatan 

duniawi.30 Yohanes XXIII berkata tentang dirinya sendiri: “Saya yaitu  seorang Paus yang selalu 

menginjak gas.”31 

Ayah dari Yohanes XXIII yaitu  seorang petani anggur. Tentang ayahnya, Yohanes XXIII berkata: 

“Hanya ada  tiga cara di mana seorang pria dapat menjadi hancur: wanita, perjudian, dan... 

pertanian. Ayah saya memilih hal yang paling membosankan dari antara ketiganya.”32 

YOHANES XXIII TENTANG BIDAH, SKISMATIS, DAN NON-KATOLIK 

Yohanes XXIII menggambarkan sikap yang harus dimiliki Vatikan II kepada sekte-sekte non-Katolik 

dalam kata-kata berikut: “Kami tidak bermaksud untuk melakukan pengadilan akan hal-hal di masa lalu. 

Kami tidak ingin membuktikan kepada anda siapa yang benar atau siapa yang salah. Yang kami 

ingin katakan yaitu , ‘Mari berkumpul, mari mengakhiri perpecahan kita.’”33 Instruksinya kepada 

‘Kardinal’ Bea, kepala Konsili untuk Sekretariat Persatuan Kristiani, yaitu , “Kita harus meninggalkan, 

untuk saat ini, elemen-elemen ini  di mana kita memiliki perbedaan.”34 

Suatu ketika, “seorang anggota kongres tiba-tiba mengatakan: ‘Saya seorang Baptis.’ Tersenyum, Yohanes 

XXIII berkata, ‘Saya Yohanes.’”35 Yohanes XXIII berkata kepada sang non-Katolik Roger Schutz, 

pendiri komunitas ekumenis di Taize (sebuah biara ekumenis non-Katolik): “Anda berada di 


 

169 

 

dalam Gereja, jadilah anda damai.” Schutz berseru: “namun  jika itu benar, berarti kita Katolik!” 

Yohanes XXIII berkata: “Ya, kita tidak lagi terpisahkan.”36 

Ini benar-benar sesat. 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate Domino”, 1441:  

“Maka ia [Gereja] mengecam, menolak, mengutuk dan menyatakan di luar Tubuh Kristus, yang 

yaitu  Gereja, siapa pun yang berpegang pada pandangan-pandangan yang berlawanan atau 

bertentangan.”37 

Yohanes XXIII menyambut di Vatikan, ‘Uskup Agung’ pertama dari Canterbury, ‘wali gereja’ pertama dari 

Gereja Episkopal Amerika Serikat, dan imam agung pertama Shinto.38 Yohanes XXIII suatu kali 

menyatakan: “Jika saya dilahirkan Muslim, saya percaya bahwa saya akan selalu menjadi seorang 

Muslim yang baik, setia kepada agama saya.”39 

Salah satu perbuatan pertama Yohanes XXIII yaitu  untuk menyambut Shah Muslim dari Iran untuk 

audiens. Sewaktu sang Shah dari Iran akan pergi, “Yohanes XXIII memberi  kepadanya berkatnya 

yang ia telah ubah bentuknya dengan hati-hati agar tidak menyinggung prinsip agama 

Muhammad: ‘Semoga berkat Allah Yang Mahakuasa yang paling besar bersama anda.’”40 

Dengan mengubah bentuk pemberkatan ini, Yohanes XXIII: 1) menghapuskan Allah Tritunggal 

Mahakudus yang disebut di dalam pemberkatan ini , agar ia tidak menyinggung sang kafir, dan 2) ia 

memberi  pemberkatan kepada seorang anggota dari sebuah agama sesat. Ini bertentangan dengan 

ajaran Kitab Suci yang melarang untuk memberi  berkat kepada para orang-orang kafir, seperti yang 

diulangi oleh Paus Pius XI. 

Paus Pius XI, Mortalium Animos (#9), 6 Jan. 1928: 

“Tidak seorang pun tentunya mengabaikan bahwa Santo Yohanes sendiri, Rasul Cinta Kasih, yang 

di dalam Injil-Nya menyingkapkan dengan suatu cara tertentu rahasia dari Hati Kudus Yesus, 

Rasul yang tidak henti-hentinya mengingatkan para umatnya akan perintah baru, yakni Kasihilah 

sesamamu manusia, melarang secara mutlak segala hubungan dengan orang-orang yang 

tidak mengakui doktrin Kristus secara utuh dan murni: Jikalau seseorang datang 

kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam 

rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. (II Yohanes 1:10)”41 

Pada tanggal 18 Juli 1959, Yohanes XXIII mengapus doa berikut: “Jadilah Engkau Raja dari semua yang 

masih berada di dalam kegelapan penyembahan berhala ataupun Islam.”42 Di dalam surat 

apostoliknya pada tanggal 17 Oktober 1925, Paus Pius XI memerintahkan agar doa ini dibacakan secara 

publik pada perayaan Kristus Raja.43 Yohanes XXIII mencabut dari Kalender Santo-Santa Empat belas 

Penolong Kudus dan berbagai santo-santa lain, termasuk St. Filomena. 


 

170 

 

 

St. Filomena, salah satu dari santo-santa yang dihapuskan dari Kalender Santo-Santa oleh Yohanes XXIII 

dan Paulus VI 

Di bawah Paus Gregorius XVI, Kongregasi Ritus Kudus memberi  keputusan yang penuh dan 

menyetujui penghormatan kepada St. Filomena; terlebih lagi, Paus Gregorius XVI memberi  kepada 

Santa Filomena gelar “Pembuat Mukjizat yang Agung di abad ke-19” dan “Pelindung Rosario yang 

Hidup.”44 Ia dikanonisasikan oleh Paus yang sama pada tahun 1837. Kanonisasi seorang santa yaitu  

“sebuah pernyataan umum dan resmi akan kebajikan mulia dari seseorang dan diikutsertakannya 

namanya di dalam kanon (daftar) santo-santa... Penghakiman Gereja ini infalibel dan tidak dapat 

diubah.”45 

Yohanes XXIII berkata: ”...barangsiapa berseru, ia salah! Kita harus selalu menghormati martabat 

manusia yang berdiri di depan kita, dan di atas segalanya kebebasan dari setiap orang.”46 

Berikut yaitu  gambar Yohanes XXIII di dalam pertemuannya dengan para Skismatis Timur di Vatikan II. 

Yohanes XXIII menginginkan agar para imam Gereja ‘Ortodoks’ Russia (banyak dari antara mereka 

yaitu  agen KGB {komunis}) untuk berpartisipasi di Vatikan II. Para ‘Ortodoks’ berkata bahwa beberapa 

imam mereka akan hadir, jika tidak akan ada  kutukan atas Komunisme di Vatikan II. Maka, Yohanes 

XXIII – perintis kemurtadan Vatikan II – menawarkan ‘tawaran yang menguntungkan’ di dalam 

Persetujuan Vatikan-Moskwa. Vatikan setuju untuk tidak mengutuk Komunisme di Vatikan II, agar, 

perhatikan hal berikut, para Skismatis Timur dapat hadir di dalam acara-acara Vatikan II!47 Benar-benar 

sebuah tawaran! Yohanes XXIII jelas-jelas yaitu  seorang Freemason dan kemungkinan seorang 

Komunis; ia yaitu  sang pria yang memulai konspirasi dan kemurtadan besar yaitu sekte Vatikan II. 

 

Yohanes XXIII bersama para Skismatis Timur 


 

171 

 

Yohanes XXIII melihat di mana para pengamat non-Katolik di Vatikan II akan dipersilakan duduk dan 

berkata: “Tidak bisa! Persilakan para saudara saya yang terpisah untuk duduk dekat saya.” Seperti 

yang dikatakan seorang Anglikan yang senang: “Di situlah kita duduk – di barisan depan.”48 

Pada tanggal Oktober 11 1962, Yohanes XXIII memberi  khotbah pembukaannya kepada Konsili 

ini : 

“Mereka berkata bahwa era kita ini, jika dibandingkan dengan era-era sebelumnya, memburuk, 

dan mereka berlaku bagaikan waktu konsili-konsili sebelumnya, semua hal yaitu  

kemenangan penuh untuk ide dan kehidupan Kristiani dan untuk kebebasan beragama 

yang benar. Kami merasa bahwa kami harus tidak setuju dengan para nabi kemalangan 

ini , yang selalu memperkirakan bencana, bagaikan akhir dunia sudah dekat. Di dalam orde 

hal-hal masa kini, Penyelenggaraan Ilahi memimpin kita menuju kepada sebuah orde baru dari 

hubungan umat manusia...” 

”...kesalahan-kesalahan hilang segera sesudah  mereka muncul, bagaikan kabut di depan matahari. 

Gereja selalu melawan kesalahan-kesalahan ini. Ia telah sering mengutuk mereka dengan 

kekejaman yang sangat besar. namun , pada masa kini, Mempelai Kristus lebih menyukai 

untuk memakai  obat belas kasihan dibandingkan  kekejaman. Ia (Gereja) 

mempertimbangkan bahwa ia pantas untuk pada hari ini menunjukkan validitas ajarannya bukan 

lewat kutukan. ...Sayangnya, seluruh keluarga Kristiani belum mencapai kesatuan yang 

kelihatan ini di dalam kebenaran.”49 

Seperti yang kita lihat di atas, di dalam khotbah pembukaannya di Vatikan II, Yohanes XXIII berkata 

bahwa Gereja di masa lalu telah melawan dan mengutuk kesalahan-kesalahan, namun  hari ini, ia tidak 

akan mengeluarkan kutukan apa pun. Ia juga menyatakan sebuah bidah bahwa ‘seluruh seluruh keluarga 

Kristiani beluh mencapai kesatuan yang kelihatan ini di dalam kebenaran’. Pertama-tama, ‘seluruh 

keluarga Kristiani’ hanya terdiri dari para Katolik. Untuk berkata bahwa ‘seluruh keluarga Kristiani’ 

mengikutsertakan para non-Katolik, seperti yang dilakukan Yohanes XXIII, yaitu  sebuah kesesatan. 

Kedua, Yohanes XXIII berkata bahwa keluarga Kristiani (yang yaitu  Gereja Katolik) ‘belum mencapai 

kesatuan yang kelihatan ini di dalam kebenaran’. Ini yaitu  bidah. Ini yaitu  penolakan kesatuan Gereja 

Kristus, Gereja Katolik. Gereja sejati (Gereja Katolik) yaitu  satu di dalam iman. Gereja Katolik telah 

mencapai dan akan selalu memiliki ‘kesatuan yang kelihatan di dalam kebenaran’. 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#4), 29 Juni 1896: 

“Gereja, sehubungan dengan kesatuannya tergolong kategori hal-hal yang tidak bisa terbagi-bagi 

secara kodrati, walaupun para bidah mencoba untuk membagi-baginya menjadi berbagai 

bagian.”50 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#5): 

“ … hanya ada  satu Allah, satu Kristus, satu Gereja Kristus, satu iman, satu bangsa, yang oleh 

ikatan keharmonisan dibangun di dalam kesatuan yang kokoh dari tubuh yang sama. Kesatuan 

ini tidak dapat dipecahkan: tubuh yang tetap satu tidak dapat terbagi-bagi oleh pemecah-

belahan anggota-anggota yang menyusunnya.”51 

Yohanes XXIII juga menggantikan rubrik untuk Breviarium dan Missal. Ia memerintahkan agar Doa-doa 

Paus Leo dihapuskan, doa-doa yang diperintahkan oleh Paus Leo XIII agar diucapkan sesudah  Misa. Doa-

doa ini juga diwajibkan oleh Paus St. Pius X dan Paus Pius XI.52 Doa-doa ini mengikutsertakan Doa kepada 

St. Mikhael Malaikat Agung, sebuah doa yang menyebutkan secara spesifik sebuah peperangan yang akan 

dilakukan Gereja melawan Setan. Yohanes XXIII menghapuskan Mazmur Judica me dari Misa. Yohanes 


 

172 

 

XXIII lalu menghapuskan Injil Terakhir, Injil dari St. Yohanes. Injil ini juga digunakan dalam pengusiran 

roh jahat.53 

Selanjutnya, Yohanes XXIII menghapuskan Confiteor {Doa Pengakuan Dosa} kedua di dalam Misa. Hanya 

sesudah  membuat semua perubahan ini, ia membuat sebuah perubahan di dalam Kanon Misa dengan 

memasukkan nama St. Yosef.54 Permohonan untuk menempatkan nama St. Yosef di dalam kanon telah 

ditolak secara resmi oleh Paus Pius VII pada tanggal 16 September 181555 dan Paus Leo XIII pada tanggal 

15 Agustus 1892.56 Perubahan-perubahan besar tentang Kurban Suci Misa (sebelum Misa Baru Paulus VI 

pada tahun 1969) ditempatkan pada Minggu pertama Adven, tahun 1964. 

YOHANES XXIII TENTANG SOSIALISME DAN KOMUNISME 

Yohanes XXIII menulis sebuah surat yang memuji Marc Sangnier, pendiri Sillon. Sillon yaitu  sebuah 

organisasi yang dikecam oleh Paus Pius X. Yohanes XXIII menulis tentang Sangnier: “Ketertarikan yang 

kuat akan kata-katanya (Sangnier), jiwanya, membuat saya semangat, dan semua memori-memori saya 

yang paling hidup sewaktu saya menjadi seorang imam muda yaitu  sebab  pribadinya dan aktivitas 

politis dan sosialnya...”57 

Di dalam ensiklik Yohanes XXIII Mater et Magistra (tentang Kekristenan dan perkembangan sosial), ia 

mempromosikan ide-ide sosialis dan tidak mengecam kontrasepsi ataupun Komunisme, bahkan 

sekalipun. Sewaktu ia ditanya mengapa ia menjawab sambutan seorang diktator Komunis, Yohanes XXIII, 

Yohanes XXIII menjawab: “Saya yaitu  Paus Yohanes bukan sebab kebaikan pribadi saya, namun  sebab  

perbuatan Allah, dan Allah ada di dalam setiap diri kita.”58 “Yohanes sangat menikmati dirinya sewaktu 

bersama para Komunis, seseorang mungkin berpikir bahwa mereka yaitu  saudaranya sendiri.”59 

Komunisme telah dikecam 35 kali oleh Paus Pius XI dan 123 kali oleh Paus Pius XII.60 

Pada tanggal 6 Maret 1963, Yohanes XXIII menyambut Aleksei Adzhubei dan istrinya, Rada di dalam 

sebuah audiens khusus. Rada yaitu  putri Kepala Pemerintahan Uni Soviet Khrushchev. Rada (putri 

Khrushchev) berbicara tentang pertemuannya dengan Yohanes XXIII: ”...Ia memberi  kepada Aleksei 

dan saya dua hadiah simbolis yang diperuntukan bagi bapak saya, juga dan ia berkata: ‘...Itu yaitu  

untuk Papamu.’”61 

Pada ulang tahunnya yang kedelapan puluh (25 November 1961), Yohanes XXIII menerima sebuah 

telegram dari Khrushchev yang mengucapkan “selamat dan permohonan yang tulus akan kesehatan dan 

kesuksesannya di dalam aspirasinya yang mulia dalam berkontribusi kepada... damai di dunia.”62 

Sekretaris Jenderal Partai Komunis Inggris, John Gollan, di depan kamera televisi pada tanggal 21 

April 1963, berkata bahwa “ensiklik (Pacem in Terris) [dari Yohanes XXIII] mengejutkan dan 

menyenangkannya” dan, maka, ia harus mengucapkan ‘kepuasannya yang paling tulus pada Kongres 

terbaru Partai ke-28’.63 

Salah satu teman-teman karib Yohanes XXIII yaitu  sang Komunis dan pemenang Hadiah Perdamaian 

Lenin Giacomo Manzu.64 Yohanes XXIII berkata: ”Saya tidak melihat alasan mengapa seorang Kristiani 

tidak boleh memilih untuk seorang Marxis jika ia melihat bahwa ia [sang Marxis] ini  lebih pantas 

untuk mengikuti politik dan takdir sejarah.”65 

Gereja Katolik telah mengecam Komunisme lebih dari 200 kali.66 

  


 

173 

 

YOHANES XXIII DIPUJI OLEH PARA FREEMASON DAN KOMUNIS PADA 

PERIODE ‘KEPAUSANNYA’ 

Yohanes XXIII, Pacem in Terris #14, 11 April 1963:  

“Juga termasuk hak-hak manusia yaitu  bahwa ia dapat menyembah Allah sesuai dengan hati 

nuraninya, dan untuk dapat mengakui agamanya secara pribadi dan di dalam publik.” 

Ini yaitu  bidah. Seorang manusia tidak memiliki hak untuk menyembah allah-allah sesat di dalam 

publik. Hal ini telah dikecam oleh banyak Paus, seperti yang kita telah bahas di dalam bagian tentang 

Vatikan II. Sewaktu seorang teolog Kementerian Suci, Romo Ciappi, berkata kepada Yohanes XXIII bahwa 

ensikliknya Pacem in Terris bertentangan dengan ajaran Paus Gregorius XVI dan Pius IX tentang 

kebebasan beragama, Yohanes XXIII menjawab: “Saya tidak akan tersinggung akan beberapa noda 

jika keseluruhannya berkilau.”67 

Ensiklik Pacem in Terris Yohanes XXIII dipuji oleh para pemimpin Masonik sendiri sebagai sebuah 

dokumen Masonik. Berikut yaitu  beberapa contoh: 

Ini yaitu  sebuah kutipan dari Bulletin Masonik, organ resmi dari Konsili Agung dari Derajat ke-33 dari 

Ritus Skotlandia yang Resmi dari para Mason, untuk Distrik Masonik dari Meksiko Serikat, yang 

bertempat di 56 Lucerna St., Meksiko, D.F. (Tahun 18, No. 220, Mei 1963): 

“TERANG DARI 

SANG ARSITEK AGUNG ALAM SEMESTA 

MENERANGI VATIKAN 

“Berbicara secara umum, ensiklik Pacem in Terris, yang ditujukan kepada semua manusia yang 

berkeinginan baik, telah mengilhami kenyamanan dan harapan. Di negara-negara demokratik dan 

Komunis, {ensiklik} ini telah dipuji secara serempak. Hanya para diktator Katoliklah yang tidak 

menyukainya dan memutarbalikkan semangatnya. 

“Kami sangat akrab dengan banyak dari konsep-konsep dan doktrin-doktrinnya. Kami telah 

mendengarkannya dari saudara-saudara rasionalis, liberal, dan sosialis yang terkemuka. sesudah  

kami telah mempertimbangkan baik-baik arti dari setiap katanya, kami dapat berkata bahwa, jika 

kami mengecualikan kesusastraan Vatikan yang omong kosong yang khas {di dalamnya}, ensiklik 

Pacem in Terris yaitu  sebuah pernyataan yang kuat berisi doktrin Masonik... kami tidak 

ragu-ragu untuk menyarankan {orang-orang} untuk membacanya dengan saksama.”68 

Di dalam buku Résurgence du Temple, yang diterbitkan dan disunting oleh Knights Templar (Freemason), 

1975:149, kutipan berikut dapat dipertimbangkan: “Tujuan dari tindakan kami: Melanjutkan Karya 

Yohanes XXIII dan mereka yang telah mengikutinya di dalam jalan menuju Universalisme 

Templar.”69 

YOHANES XXIII DAN PARA YAHUDI 

Yohanes XXIII juga melakukan hal-hal seperti memberhentikan mobilnya agar ia dapat memberkati para 

Yahudi yang pergi meninggalkan pemujaan ‘Sabat’ mereka.70 

  


 

174 

 

APAKAH YOHANES XXIII MENUNJUKKAN BAHWA IA SEORANG YAHUDI? 

Yohanes XXIII juga pernah sekali menyapa beberapa pengunjung Yahudi dengan kata-kata, “Saya 

ini Yusuf, saudara kalian.”71 Walaupun pernyataan misterius Yohanes XXIII kepada orang-orang Yahudi 

ini sering dikutip, maknanya belum pernah dijelaskan. Kami percaya bahwa ada  penjelasan yang 

baik akan maknanya: Pernyataan Yohanes XXIII, “Saya ini Yusuf, saudara kalian”, yaitu  sebuah 

kutipan dari Kejadian 45:4. Pernyataan ini dibuat oleh sang patriark Yusuf, putra Yakub, kepada para 

saudaranya sewaktu mereka datang ke Mesir pada waktu bencana kelaparan. Orang-orang yang 

mengenal cerita Kitab Suci ini mengetahui bahwa Yusuf telah dijual sebagai budak oleh para saudara-

saudaranya bertahun-tahun sebelumnya, namun  ia telah naik ke jabatan tertinggi di dalam kerajaan 

Mesir (walaupun ia bukanlah salah satu dari mereka) sebab  ia telah berhasil mengartikan mimpi 

Firaun. sebab  ia telah naik ke jabatan tertinggi di dalam kerajaan Mesir, ia bebas untuk memakai  

harta karun kerajaan sebagaimana yang ia kehendaki – yaitu untuk saudara-saudaranya. Ia memberi  

banyak harta ini  kepada saudara-saudaranya secara gratis. 

Sewaktu kita mempertimbangkan bukti bahwa Yohanes XXIII yaitu  seorang Freemason, bahwa ia 

memulai proses revolusi melawan Gereja Katolik pada Vatikan II, dan bahwa ‘kepausan’ Yohanes XXIII 

memulai sebuah sikap revolusioner yang baru kepada para Yahudi, dari antara hal-hal yang lain, arti dari 

pernyataannya kepada para Yahudi menjadi jelas. Seperti Yusuf, yang bukanlah salah satu dari orang-

orang Mesir, melihat dirinya di puncak hierarki para orang Mesir dan menunjukkan hal ini kepada 

para saudara-saudaranya bahwa ia yaitu  ‘Yusuf, saudara kalian’, Yohanes XXIII berkata kepada para 

Yahudi bahwa ia yaitu  ‘Yusuf, saudara kalian’ sebab  sesungguhnya ia yaitu  seorang penyusup 

Yahudi yang ada  di dalam jabatan tertinggi di dalam hierarki Kristiani (atau sebagaimana 

yang terlihat). Ini yaitu  cara tersembunyi Yohanes XXIII untuk menunjukkan siapa ia sesungguhnya: 

seorang Anti-Paus konspiratorial yang membantu musuh-musuh Gereja. 

Beberapa saat sebelum kematiannya, Yohanes XXIII mengarang doa berikut untuk para Yahudi. Doa ini 

ditegaskan oleh Vatikan sebagai karya dari Yohanes XXIII.72 

“Kami menyadari hari ini betapa butanya kami selama berabad-abad dan bagaimana kami 

tidak menghargai keindahan para Bangsa Terpilih ataupun corak-corak dari saudara-saudara 

kami yang terberkati. Kami sadar akan tanda ilahi Kain yang ada di dahi kami. Berabad-abad 

lamanya, saudara kami, Habel, telah tersungkur berdarah dan menangis di tanah akibat 

kesalahan kami, hanya sebab  kami telah melupakan cinta kasih-Mu. Ampunilah pengecaman 

kami yang tidak adil kepada para Yahudi. Ampunilah kami bahwa dengan menyalibkan 

mereka, kami telah menyalibkan-Mu kedua kali. Ampunilah kami. Kami tidak tahu apa yang 

kami lakukan.”73 

Yohanes XXIII berkata bahwa para Yahudi masih merupakan bangsa yang terpilih, yang yaitu  sebuah 

bidah. Kata ’perfidis Judæis’ yaitu  ungkapan yang digunakan para Katolik di dalam Liturgi Jumat Agung 

sampai waktu Yohanes XXIII menghapuskannya pada tahun 1960