Filosofi 1


 Filsuf di Medan Perang

Di sebuah perbatasan utara kekaisaran Romawi bernama Germania, pagi 

masih sangat gelap. Utusan tentara Romawi yang dikirim bernegosiasi 

dengan kaum Barbar pulang tanpa kepala. Kudanya kembali membawa 

utusan malang yang tinggal jasadnya. Jenderal Maximus (diperankan oleh 

Russell Crowe) tidak melihat jalan lain kecuali menyiapkan ribuan legiun 

Romawinya untuk pertempuran tak terelakkan dengan kaum Barbar.

Anak panah dan busurnya disiapkan, ketapel raksasa diisi bola api. Para 

prajurit infanteri merapatkan tameng, mengenggam erat tombak dan 

menghunus pedang pendek dari sarungnya. Usai memberi instruksi pada 

pasukan infanteri, Maximus naik kuda, bergerak memutar memimpin 

pasukan kavaleri untuk menyergap kaum Barbar dari belakang. Begitu aba-

aba “serang” dikumandangkan, ribuan anak panah, ratusan bola api 

menyembur kaum Barbaryang memekik maju menyerang pasukan Romawi. 

Dua bala tentara bertempur dalam gelapnya pagi buta, saling memotong, 

mengayunkan pedang, kapak, dan apa pun yang bisa membuat lawannya 

terjungkal mati. Maximus dengan ratusan pasukan kudanya menembus 

gelapnya hutan, menyerang kaum Barbar dari belakang. Taktik Supit Urang 

(jepitan udang) membuat kaum Barbar kacau dan habis dibantai legiun 

Romawi di perbatasan utara Imperium Romawi, di daerah Austria sekarang 

xvii 

ini.

Dari kejauhan, di atas sebuah bukit kecil, duduk tenang di kudanya, 

dikelilingi pasukan Pretoria (penjaga Kaisar), Marcus Aurelius 

memperhatikan semuanya. Dialah yang memutuskan mengirim utusan untuk

mencoba negosiasi dengan kaum

Barbar. Sampai saat terakhir ia mengharapkan perdamaian dengan mereka. 

Namun, perang tak terelakkan, la hanya bisa menjalankan tugasnya sebagai 

Kaisar: memerintahkan Maximus melakukan apa yang terbaik untuk Roma.

Pada saat fajar merekah, dengan lega ia menyaksikan keberhasilan jenderalnya, 

Maximus, mengalahkan kaum barbar di Germania. Namun, bukannya senang, ia 

malah bertanya kepada Maximus tentang perlu tidaknya peperangan tadi 

dilakukan: “Saat orang merasa bahwa akhir hidupnya sudah dekat, ia mulai 

bertanya-tanya apakah hidupnya memiliki tujuan... Apakah aku akan dikenang 

sebagai filsuf, prajurit, atau tiran?'"

Film berjudul Gladiatoryang disutradari Ridley Scott, tahun 2000, pada 15 menit 

pertamanya menggambarkan Kaisar Romawi bernama Marcus Aurelius (yang 

diperankan oleh Richard Harris). Kaisar pemimpin pertempuran di Germania ini 

adalah seorang filsuf, la dikenal sebagai salah satu tokoh pengusung filsafat Stoa 

(yang dalam artikel  ini diterjemahkan sebagai ]. Bukannya berhura-

hura menikmati kemenangan, Marcus Aurelius malah melakukan permenungan 

diri: apakah tindakanku tepat, apakah peperangan dengan korban demikian 

banyak memang perlu dilakukan? Di film ini digambarkan bahwa pada malam hari,

Kaisar yang bijak ini tekun mencatatkan permenungan-permenungan pribadinya di

tenda peperangan.

Seorang filsuf menjadi kaisar dan memimpin peperangan? Bukankah filsafat ilmu 

yang menjemukan, susah, rumit, dan cenderung tanpa faedah? Masak sih 

seorang filsuf sampai difilmkan oleh Hollywood? Tontonlah film Gladiator. Untuk 

saya sendiri, film itu tak terlupakan.

Marcus Aurelius adalah filsuf, dan ia menulis artikel  yang sampai sekarang ini—

1.800 tahun setelah kematiannya—masih dibaca dan direnungkan banyak orang. 

Judul artikel nya, paling tidak demikian yang selama ini dipercaya orang, adalah Eis 

Heauton, For Himself, kadang diterjemahkan sebagai Meditations.

Marcus Aurelius hidup di abad kedua Masehi. Mengikuti filsafat Stoa, ia sibuk 

beraktivitas sebagai pemimpin politik dan peperangan. Bagaimana mungkin 

filsafat yang biasanya


Di sebuah perbatasan utara kekaisaran Romawi bernama Germania, pagi

masih  sangat  gelap.  Utusan  tentara  Romawi  yang  dikirim  bernegosiasi

dengan kaum  Barbar  pulang tanpa kepala.  Kudanya kembali  membawa

utusan malang yang tinggal jasadnya. Jenderal Maximus (diperankan oleh

Russell Crowe)  tidak melihat jalan lain kecuali menyiapkan ribuan legiun

Romawinya untuk pertempuran tak terelakkan dengan kaum Barbar.

Anak panah dan busurnya disiapkan, ketapel raksasa diisi bola api. Para

prajurit  infanteri  merapatkan  tameng,  mengenggam  erat  tombak  dan

menghunus pedang pendek dari sarungnya. Usai memberi instruksi pada

pasukan  infanteri,  Maximus  naik  kuda,  bergerak  memutar  memimpin

pasukan  kavaleri  untuk  menyergap  kaum  Barbar  dari  belakang.  Begitu

aba-aba “serang” dikumandangkan, ribuan anak panah, ratusan bola api

menyembur  kaum  Barbaryang  memekik  maju  menyerang  pasukan

Romawi.  Dua bala  tentara bertempur  dalam gelapnya pagi  buta,  saling

memotong,  mengayunkan  pedang,  kapak,  dan  apa  pun  yang  bisa

membuat  lawannya  terjungkal  mati.  Maximus  dengan  ratusan  pasukan

kudanya  menembus  gelapnya  hutan,  menyerang  kaum  Barbar  dari

belakang. Taktik Supit Urang (jepitan udang) membuat kaum Barbar kacau

dan habis dibantai legiun Romawi di perbatasan utara Imperium Romawi,

di daerah Austria sekarang ini.

Dari kejauhan, di atas sebuah bukit kecil, duduk tenang di kudanya, 

dikelilingi pasukan Pretoria (penjaga Kaisar), Marcus Aurelius 

memperhatikan semuanya. Dialah yang memutuskan mengirim utusan 

untuk mencoba negosiasi dengan kaum

Barbar. Sampai saat terakhir ia mengharapkan perdamaian dengan mereka. 

Namun, perang tak terelakkan, la hanya bisa menjalankan tugasnya sebagai 

Kaisar: memerintahkan Maximus melakukan apa yang terbaik untuk Roma.

Pada saat fajar merekah, dengan lega ia menyaksikan keberhasilan jenderalnya, 

Maximus, mengalahkan kaum barbar di Germania. Namun, bukannya senang, ia 

malah bertanya kepada Maximus tentang perlu tidaknya peperangan tadi 

dilakukan: “Saat orang merasa bahwa akhir hidupnya sudah dekat, ia mulai 

bertanya-tanya apakah hidupnya memiliki tujuan... Apakah aku akan dikenang 

sebagai filsuf, prajurit, atau tiran?'"

Film berjudul Gladiatoryang disutradari Ridley Scott, tahun 2000, pada 15 menit 

xvii 

pertamanya menggambarkan Kaisar Romawi bernama Marcus Aurelius (yang 

diperankan oleh Richard Harris). Kaisar pemimpin pertempuran di Germania ini 

adalah seorang filsuf, la dikenal sebagai salah satu tokoh pengusung filsafat Stoa 

(yang dalam artikel  ini diterjemahkan sebagai ]. Bukannya berhura-

hura menikmati kemenangan, Marcus Aurelius malah melakukan permenungan 

diri: apakah tindakanku tepat, apakah peperangan dengan korban demikian 

banyak memang perlu dilakukan? Di film ini digambarkan bahwa pada malam hari,

Kaisar yang bijak ini tekun mencatatkan permenungan-permenungan pribadinya di

tenda peperangan.

Seorang filsuf menjadi kaisar dan memimpin peperangan? Bukankah filsafat ilmu 

yang menjemukan, susah, rumit, dan cenderung tanpa faedah? Masak sih 

seorang filsuf sampai difilmkan oleh Hollywood? Tontonlah film Gladiator. Untuk 

saya sendiri, film itu tak terlupakan.

Marcus Aurelius adalah filsuf, dan ia menulis artikel  yang sampai sekarang ini—

1.800 tahun setelah kematiannya—masih dibaca dan direnungkan banyak orang. 

Judul artikel nya, paling tidak demikian yang selama ini dipercaya orang, adalah Eis 

Heauton, For Himself, kadang diterjemahkan sebagai Meditations.

Marcus Aurelius hidup di abad kedua Masehi. Mengikuti filsafat Stoa, ia sibuk 

beraktivitas sebagai pemimpin politik dan peperangan. Bagaimana mungkin 

filsafat yang biasanya 


dianggap membuat orang lari dari dunia justru dipraktikkan di tengah kancah 

politik dan peperangan? Marcus Aurelius justru membutuhkan filsafat untuk 

melindungi kedamaian jiwanya.

Lewat latihan konkret dan menuliskan setiap hari refleksi atas 

pengalamannya, Marcus Aurelius membangun jiwanya seperti benteng 

yang kokoh. Mengikuti Epiktetos (seorang budak Romawi), ia selalu 

berlatih memilah "apa yang tergantung padaku dan apa yang tak 

tergantung padaku” supaya terhindarkan dari penyakit jiwa (yaitu emosi-

emosi negatif). Selain itu, Marcus Aurelius mempraktikkan kategori sulit 

dalam filsafat Stoa, yaitu, kathekonta (kewajiban-kewajiban sosial yang 

sebenarnya "tidak wajib” tapi toh “selayaknya" dilakukan).

Filsafat Stoa Relevan?

Apa buktinya bahwa filsafat Stoa relevan? Apakah generasi milenial yang 

hidup dengan gadget dan media sosial masih perlu membaca filsafat? 

Untuk kita di zaman now, ajaran yang asal-usulnya sudah ribuan tahun 

bukankah sudah zadul?

Pertama-tama, kita jangan berasumsi buruk dulu pada filsafat. Bisa jadi 

kita memang belum pernah membaca filsafat? Bisa jadi kita salah belajar 

filsafat, atau salah mendapatkan guru filsafat, sehingga bukannya senang 

pada filsafat, kita malah jadi benci dan alergi pada filsafat. Filsafat Stoa 

berbeda, ia adalah sebuah way of life, jalan hidup. Bukankah kita sudah 

punya agama? Lha, apa salahnya beragama sambil mempelajari filsafat 

supaya agama kita makin mantap?

Bagi para ahli filsafat Yunani dan Hellenistik, ajaran Platonisme, 

Aristotelisme, Sinisme, Epikurisme, dan filsafat Stoa sering disebut 

sebagai aliran-aliran yang mengajarkan jalan hidup. Mereka memang 

aliran filsafat, namun  bukan dalam arti cara berpikir ruwet dan menjelimet 

serta tidak relevan dengan hidup sehari-hari. Way of life ini yang 

membantu Kaisar Marcus Aurelius menjalankan tugas-tugasnya sebagai 

penguasa dengan baik, la dikenang sebagai “Kaisar Baik” terakhir di 

Imperium Romawi, la sangat memperhatikan warganya, hidupnya jauh dari

hedonisme, dan dikenal sebagai penguasa yang adil dan penuh belas 

kasihan.

Kedua, sebab  jalan hidup, maka orang dari zaman kapan pun bisa membaca 

untuk berkaca, dan siapa tahu, terinspirasi darinya. Ada kisah menarik tentang 

James Stockdale, pilot pesawat tempur Angkatan Laut Amerika Serikat. Sebelum 

perang Vietnam, ia masuk ke kampus lagi di Stanford University untuk belajar. 

Dosen filsafatnya menganjurkan agar ia mempelajari Epiktetos (salah satu filsuf 

Stoa yang suka menggambarkan filsuf mirip seorang tentara).

James Stockdale sangat terkesan dengan pemikiran Epiktetos. Hal-hal pokok 

yang ia ingat-ingat terus dari filsafat Stoa adalah: a) pembedaan antara apa yang 

up to us (tergantung pada kita) dan not up to us (tidak tergantung pada kita); b) 

soal baik atau buruk itu tergantung dari cara jiwa kita menafsirkannya; c) segala 

situasi hidup yang menimpa kita bersifat indifferent (netral saja).

Saat Perang Vietnam pecah, ia ditugaskan bertempur di sana. Pesawatnya 

tertembak jatuh, dan ia menjadi tahanan di Hanoi, Vietnam selama tujuh tahun! la 

sering ditaruh di sel bawah tanah, disiksa, dipukuli, dan tiap hari mengalami 

penistaan lahir dan batin. James Stockdale mengatakan bahwa berkat Epiktetos ia

mampu bertahan waras, meski mengalami tekanan psikologis dan siksaan fisik 

selama tujuh tahun. Kisah POW {prisoner of war] James Stockdale menginspirasi 

orang lain. Seorang pengusaha besar yang kehilangan kesehatan, kekayaan, dan 

istrinya akhirnya menemukan hidupnya kembali berkat filsafat Stoa (bdk. roman 

yang ditulis oleh Tom Wolfe, A Man in Full, 1998).

Lalu di tahun 1990-an, di Amerika Serikat berkembang sebuah metode psikologi 

yang populer bernama “terapi kognitif". Katanya, ajaran ini mendapatkan inspirasi 

dari Buddha dan Epiktetos2. Inti terapi kognitif menyatakan bahwa segala emosi 

yang mengganggu kita sebenarnya berasal dari cara penilaian yang salah. Cara 

berpikir tertentu menjadi penyebab munculnya simtom-simtom yang mengganggu. 

Cara pandang kita yang keliru atas kejadian dalam hidup menyebabkan kita stres, 

gelisah, depresi atau marah-marah tanpa alasan yang jelas.

Bahagia Apatheia

Mengapa membicarakan Marcus Aurelius yang berperang? Atau, James 

Stockdale yang menjadi tawanan perang? Apa pula gunanya 

membicarakan soal stres dan depresi dalam terapi kognitif?

Lho, justru sebab  hidup kita ini setiap hari perang! Kita keluar rumah jam 

05.15 sudah harus berperang menghadapi macet di jalanan di Jakarta. Kita

harus cepat-cepat ke tempat kerjaan, berebut jalan dengan kendaraan lain,

kadang emosi menjadi tinggi. Setelah dua jam menembus kemacetan, di 

kantor pun segala persoalan siap membuat stres dan tekanan darah kita 

naik. Belum lagi berita di teve, radio, atau media sosial yang menemani 

nyaris 24 jam. Isinya cuma perang saja: perang mulut para politisi, beda 

opini kaum intelektual, siasat dagang iklan-iklan yang membombardir, dan 

segala keributan lainnya.

Bagaimana bisa damai di tengah suasana seperti itu? Bisakah berbahagia 

dalam hidup yang dari pagi berangkat kerja sampai malam pulang kerja 

selalu dipenuhi konflik dan ketegangan tanpa henti?

Filsafat Stoa mengusung kebahagiaan yang tidak lazim.

Mereka mengatakannya sebagai ataraxia, sebuah kata Yunani yang 

akarnya dari ataraktos (a = not, dan tarassein = to trouble]. Ataraxia 

dengan demikian berarti not troubled [untroubled, undisturbed]. 

Kebahagiaan—yang kita bayangkan sebagai jiwa yang tenang dan damai

—digambarkan oleh kaum Stoa sebagai situasi negative, yaitu "tiadanya 

gangguan". 

Dalam istilah lain, kadang juga dikatakan sebagai apatheia, kata Yunani 

yang artinya a=not dan pathos=suffering, sehingga apatheia adalah situasi 

di mana kita free from emotions, free form sufferings, freedom from all 

passions. Sama dengan sebelumnya, kebahagiaan bagi kaum Stoa 

bersifat "negatif logis”, yaitu tiadanya penderitaan, tiadanya emosi, saat 

kita tidak diganggu oleh nafsu-nafsu (seperti amarah, kecewa, rasa pahit, 

dan rasa iri hati).

Bagaimana caranya mencapai kebahagiaan seperti itu? Kalau kita ingat 

betapa kita mudah stres, marah di jalanan; kalau kita timbang bagaimana 

Facebook, grup WA, dan berita di media

sosial memicu emosi; bagaimana caranya agar bisa terlepas dari gangguan-

gangguan itu? Mengapa itu semua disebut gangguan? Kalau kita banyak marah-

marah dan gampang emosi, bukan hanya tetangga dan orang serumah yang 

terganggu. Kesehatan kita pun lama-lama bermasalah.

artikel   karya  hadir untuk memberikan kepada 

Anda jalan menuju ketenangan jiwa. Penulis artikel  ini telah mengalami sendiri stres

dan kesulitan- kesulitan dalam hidupnya sebab  banyak marah-marah seperti di 

atas. Meski bukan alumnus Fakultas Ilmu Filsafat, penulis artikel  berhasil membuat 

artikel  menarik tentang filsafat Stoa. Ini luar biasa. Filsafat sebagai praktik hidup ia 

jalani dan jalankan betul-betul.  menjadikan dirinya sendiri 

kelinci percobaan.

Karya yang berada di tangan Anda sekarang ini adalah sebuah way of life yang 

sudah dicoba dihayati oleh  sendiri. Bila Anda hendak 

mencoba menerapkan filsafat Stoa bagi diri Anda sendiri, percayalah, Marcus 

Aurelius, James Stockdale, dan si penulis artikel  ini juga telah memetik hasil-hasil 

yang konkret.

Latihan Mengatasi Emosi3

Setiap manusia mencari kebahagiaan, hidup yang tenang. Filsafat bagi kaum Stoa

bukanlah untuk sekadar mengisi waktu atau menumpuk ide untuk bergaya di 

depan kaum awam. Filsafat adalah praktik dan latihan [askesis], sebuah seni 

hidup. Epiktetos dalam Enchiridion 46 mengingatkan, "Never call yourself a 

philosopher, nor talk a great deal among the unlearned about theorems, but act 

conformably to them". Jangan suka menyebut diri Anda sendiri sebagai filsuf, 

jangan banyak berbicara di depan orang awam tentang teori-teori filsafat. Tidak 

penting itu semua, sebab  yang pokok adalah bagaimana Anda hidup sesuai apa 

yang Anda pelajari.

Di mata Stoa, bahagia itu sederhananya adalah manakala kita 

terbebaskan dari emosi atau segala rasa perasaan yang menganggu. 

Orang Yunani menyebutnya pathos (dari kata kerja paskhein, artinya 

mengenai atau menderita sesuatu). Pathos dalam bahasa Inggris menjadi 

passion (nafsu). Dalam pemikiran Stoa, pathos atau passion terjemahan 

mudahnya adalah emosi negatif (emosi yang buruk). Apa yang disebut 

emosi negatif [passion] berbeda dengan hasrat [desire, Yunaninya orexis] 

yang oleh kaum Stoa dianggap sebagai alamiah dan netral belaka. Hasrat 

adalah impuls/dorongan meraih tertentu, dan hasrat selalu mengandungi di

dalamnya aktivitas representasi terhadap objek yang dihasrati, di mana 

representasi ini  mau tak mau sudah memuat persetujuan rasio 

terhadap value judgement dalam representasi itu sendiri. Bila hasrat akan 

sesuatu tidak terpenuhi (misalnya hasrat akan gawai terhambat) atau bila 

kita menghasrati sesuatu yang tidak masuk akal (misalnya berhasrat tidak 

mati), maka kita jatuh dalam emosi negatif. Bagi kaum Stoa, emosi negatif 

didefinisikan sebagai hasrat yang eksesif, misalnya saat menghendaki 

sesuatu yang jelas-jelas tidak masuk akal (menghasrati supaya tidak tua).

Lewat latihan-latihan konkret, filsafat Stoa hendak menolong kita bebas 

dari hasrat eksesif. Lalu, jelas dengan sendirinya bahwa hasrat dalam 

dirinya sendiri tidak dibuang. Kadang memang ada pernyataan-pernyataan

Epiktetos yang seolah- olah kita harus “memotong semua hasrat”! 

Ungkapan ini dikenakan terutama saat  orang baru memulai latihan 

[askesis]. Namun, pada tahap yang lebih lanjut, orang bijak tetap hidup 

dengan hasratnya, namun  hasrat yang lurus dan selaras dengan logos 

universal.

Dalam pergaulan sehari-hari, kita tentu memiliki pengalaman yang tidak 

enak manakala hidup diisi oleh rasa marah. Selalu empet sama orang 

tertentu, sehingga mendengar namanya saja kita sudah misuh-misuh 

kehilangan kendali diri. Marah muncul entah sebab  iri hati (mengapa 

orang lain lebih baik dari saya) entah sebab  dari rasa sesal dan pahit 

[sebab pernah merasa dijahati, difitnah, atau dikejami oleh orang yang 

bersangkutan). Hidup juga menjadi sepet menjengkelkan kalau diisi oleh 

paranoia (selalu melihat ancaman dan kejahatan sedang berkonspirasi 

melawan diri kita). Orang menjadi paranoid 

sebab  dihantui oleh ketakutan di masa depan, oleh bayangan- bayangan 

fantasinya sendiri bahwa orang-orang dan takdir sedang berusaha 

menjatuhkannya.

Sebaliknya, jangan dikira bahwa kelekatan pada kesenangan serba nikmat 

membawa bahagia. Tidak! Orang yang selalu mencari senang-senang dalam 

hidupnya adalah orang yang merana manakala terlalu banyak waktu luang. Kapan 

bisa happy- happy lagi? Kapan makan enak lagi? Kapan jalan-jalan lagi?

Bagaimana caranya supaya bisa bahagia, terhindar dari rasa campur aduk yang 

memporakporandakan batin? Bagaimana bisa tenang, terbebaskan dari rasa 

perasaan negatif? Filsafat Stoa mengajarkan untuk mencermati empat jenis emosi 

negatif yang menjauhkan kita dari kebahagiaan (ketenangan batin) yaitu: iri hati, 

takut, rasa sesal atau pahit, dan kesenangan (kenikmatan).

Insight tajam kaum Stoa memberi tahu kita bahwa emosi negatif bukanlah 

"perasaan liar”, bukan pula "hal irasional" yang tak bisa dijelaskan asal-usulnya. 

Emosi adalah bagian dari rasio. Emosi negatif adalah opini yang mengatakan 

bahwa sesuatu itu buruk (sehingga muncul rasa sesal dan rasa takut) atau opini 

yang mengatakan bahwa sesuatu itu baik (sehingga ada rasa senang dan rasa 

mengingininya). Bila opininya berkenaan dengan masa kini yang muncul adalah 

rasa senang dan rasa sesal, sedangkan bila berkaitan dengan masa depan yang 

keluar adalah rasa iri dan takut. Berbagai jenis rasa-merasa yang meruyak dalam 

hati kita, seperti rasa marah, empet, sepet, paranoid adalah jenis-jenis emosi yang 

bisa dengan mudah dimasukkan ke dalam salah satu jenis emosi negatif tadi. 

Dengan mendefinisikan emosi negatif sebagai opini, sebagai aktivitas rasio, maka 

kaum Stoa memberi kita kunci untuk mengendalikan emosi negatif.

Bagi Stoa di dalam rasio kita ditemukan yang namanya hasrat, kehendak, 

keinginan, nafsu, sekaligus cara berpikir. Dengan menyatakan bahwa semuanya 

ada di dalam rasio yang sama, maka emosi-emosi negatif bukanlah sesuatu yang 

irasional! Sejauh emosi muncul dari rasio, maka emosi adalah sebuah rasionalitas 

juga, namun  rasionalitas yang melenceng. Emosi negatif bagi kaum Stoa adalah 

hasil rasio yang salah menilai, yang keliru. Dengan mendefinisikan emosi negatif 

[pathos] sebagai sesuatu yang juga rasional, apa yang biasa disebut "perasaan 

liar" bisa dipahami dan dipilah untuk akhirnya dilatih supaya menjadi emosi yang 

baik [euphateia].

Kunci  kebahagiaan  bagi  Stoa  adalah  manakala  kita  terhindarkan  dari

nafsu-nafsu  gak jelas,  kecanduan atau  addicted pada sesuatu,  angkara

murka,  kehilangan kendali,  dendam kesumat,  kecemasan yang obsesif,

rasa kesal berlebih-lebihan yang bisa dirangkum dalam empat jenis emosi

negatif: iri hati, takut, rasa sesal atau pahit, dan rasa senang- nikmat.

Selaras dengan Rasio (Alam)

Kaum Stoa mengandalkan distingsi  pokok antara "apa yang tergantung

padaku"  (yaitu  jiwaku  atau  rasioku)  dan  "apa  yang  tidak  tergantung

padaku” (yaitu tubuhku, lahir dan matiku, statusku, karierku, hartaku, siapa

gubernur  dan  presidenku).  Setia  dengan  tradisi  Sokrates,  kaum  Stoa

menempatkan kebahagiaan dalam ketenangan batin [peace of mind], dan

bukan  dalam  hal-hal  eksternal.  Rasa  bahagia  tidak  sama  dengan

kenikmatan (kesenangan) uang, makan, minum, seks, atau posisi jabatan

tinggi  serta  kekuasaan.  Ketenangan  batin  di  atas  bisa  dicapai  lewat

askesis [exercise, latihan).

Kebahagiaan khas Stoa diupayakan lewat latihan sehari-hari.  Teori-teori

Stoa  tentang  pembedaan  apa  yang  tergantung  padaku  dan  tidak

tergantung padaku,  atau teori  tentang  korporalitas segala  sesuatu,  atau

kecanggihan pelurusan bahasa, tidak akan berguna bila tidak dilatihkan.

Askesis  [exercise] tujuannya  adalah  untuk  membebaskan  jiwa  dari

"penyakit  jiwa"  (yaitu  emosi  negatif:  sebuah  error  of  reasoning,  sebuah

false belief produk dari faulty judgement].

Kebahagiaan dalam hidup sesuai Rasio Semesta tercapai lewat apatheia,

yaitu  saat   kita  terjauhkan  dari  perverted  reason  (definisi  untuk  emosi

negatif).  Yang perlu dipahami,  apatheia  bukanlah apatis!  Apatheia kaum

Stoa penuh emosi-emosi yang baik seperti  rasa gembira  [joy], waspada

[caution] dan memiliki keteguhan kehendak.

Obat Anti Galau Politik

Menjelang tahun politik 2019, filsafat Stoa menjadi sangat penting. Saat Pilkada 

DKI 2017 kedua kubu saling mencaci maki sedemikian rupa sehingga fakta atau 

intepretasi tidak jelas lagi, hoax bertebaran seperti asap polusi di Jakarta. Gejala 

yang sama sebentar lagi akan membuat banyak orang galau: kubu capres A dan 

kubu capres B akan saling menyebar representasi mereka masing-masing. Fakta 

menjadi tidak penting sebab  yang genting adalah "interpretasi atas fakta” yang 

Anda tebar dengan penuh keyakinan. Pertemanan rusak, silaturahmi putus, mata 

saling menatap curiga, bahkan Tuhan dan agama pun bisa dibawa-bawa sebagai 

representasi.

Berkaca dari Stoa, kita sekarang bisa membedakan bahwa 'yang menakutkan kita 

bukanlah parpol dalam dirinya sendiri, yang menakutkan kita adalah representasi 

orang bahwa parpol itu Tuhan atau Setan. Representasi seperti itulah yang 

mengerikan!”

Parpol di Indonesia mah, kalau kita kembali ke fakta, ya gitu- gitu aja. Jangan 

dibandingkan dengan parpol-parpol di negara maju yang punya ideologi, yang 

anggotanya membayar iuran, yang kerjanya jelas, yang pengkaderannya ciamik. 

Parpol di Indonesia? Udah deh, gak usah galau, Parpol kita mah ya gitu-gitu aja. 

Nah, yang menakutkan adalah manakala ada yang membuat representasi bahwa 

ada "Parpol Tuhan” dan ada "Parpol Setan". Bila memilih yang satu Anda pasti 

masuk surga, bila memilih yang lain Anda gak layak hidup (sebab  percuma Anda 

hidup, wong mati saja pasti masuk neraka kok). Ini menakutkan! Representasi 

seperti ini bisa memecah belah umat beragama, mengoyak kerukunan berbangsa,

dan menghancurkan kedamaian Nusantara. Selain menakutkan, representasi 

seperti itu juga bohong besar! Kenapa? sebab  kita tahu bahwa seandainya 

Parpol Tuhan itu nanti menang, haqul yakin, ntar saat berkuasa ya korupsi juga...

Tuhan sih gak mungkin korupsi. Maka kalau ParpolTuhan nanti korupsi, yang 

korupsi pasti Parpolnyalah. Istilah (representasi) "Parpol Tuhan" tidak ada 

kaitannya dengan Tuhan sama sekali, sebab  Tuhan tidak pernah mendaftar ikut 

Parpol mana pun. Selama istilah itu hanya representasi dari orang yang 

mengatakannya, maka pada orang itulah—dan bukan pada Tuhan—kita mesti 

bertanya, “maksudnya Parpol Tuhan apa?

xvii 

Apa Parpol mewakili Tuhan, atau Parpol itu Tuhan sendiri, atau barangkali 

cuma mengatasnamakan, mengklaim nama Tuhan saja buat Parpol?” 

Kalau dengan akal sehat kita bisa menduga jawabannya yang terakhir, ya 

sudah, kita biasa-biasa aja jugalah. Pun kalau seandainya setelah menang

pemilu Parpol itu korupsi, kita juga tidak kaget. Biasa ajalah, namanya juga

politik ala Indonesia.

Maka, penting bagi kita untuk belajar bersama Stoa, agar dapat 

membedakan mana fakta (parpol kita yang sejauh ini gitu-gitu aja] dan 

representasi (jualan politikus yang kebelet supaya partainya menang 

pemilu). Mengapa? Supaya kita tetap waras, tidak gampang galau 

diombang-ambingkan hoax atau opini orang- orang yang kurang ngopi, 

demi lestarinya persaudaraan dan silaturahmi antar anak bangsa.

Sebagai artikel  populer,  memakai data dari psikiatri, survei, 

hingga wawancara dengan praktisi media sosial, sehingga artikel  ini 

menyentuh hal-halyang sehari-hari dialami generasi milenial sampai 

mereka yang berumur 50-an tahun.

artikel  ini penting, sebab  kita akan memasuki tahun politik, di mana hoaks 

dan fake news akan bertebaran membuat orang emosi, lalu 

berdemonstrasi berjilid-jilid (ingat skenario “November 2016-Maret 2017" 

saat Pilkada DKI). artikel  ini bisa menyumbang banyak supaya kita waras 

menyikapi hoax dan fake news. Jangan gampang baper, jangan gampang 

lebay, jangan gampang terprovokasi oleh persepsi ciptaan media sosial.

Bagaimana caranya? Jadilah seperti Stoa. Kendalikan persepsi dan 

pikiranmu. Itu ada di dalam kendalimu. Lalu bagaimana dengan omongan 

media sosial, komentar orang lain, dan persepsi orang lain? Mereka tidak 

ada di dalam kendalimu, jadi terima dan biarkan saja.

Kaum troll, Saracen, dan army apa pun yang menyelundup di media sosial

akan pusing tujuh keliling kalau orang-orang Indonesia bersikap seperti 

kaum Stoa dan tidak merespon-apalagi mem- forward-berita-berita 

sampah yang memang sengaja dikirim untuk mengeruhkan suasana. 

Cambridge Analytica, perusahaan Rusia, Novel Ghost Fleet, atau siapa 

pun yang bergerak menjadi konsultan politik ngawur-ngawuran, tak akan 

bisa men-Suriah-kan dan membubarkan Indonesia kalau kita memiliki 

"benteng batin" yang kokoh seperti Marcus Aurelius.

Justru sebaliknya, terinspirasi oleh kaum Stoa, kita malah diajak menanggapi 

dengan ramah kaum haters dan pemancing di air keruh ini: ah, mereka hanya 

menjalankan pekerjaan mereka (kan mereka memang dibayar untuk menyebarkan

hoax], atau, hmm... mereka melakukan apa yang mereka pikir baik untuk 

dilakukan, padahal mereka tidak tahu apa itu yang ‘baik’, jadi kasihan saja mereka 

berkeras kepala dalam ketidaktahuan mereka.

Belajar dari Filsafat Stoa, kita justru diajak untuk selalu bersyukur, bersyukur, dan 

bersyukur: bahwa saat ini hidupku oke-oke saja, aku tidak stres akibat hoax dan 

aku tidak down akibat bullying kaum haters- hari ini juga negaraku Indonesia 

masih memberiku rezeki, kebebasan, kenyamanan, dan persaudaraan dengan 

kaum haters yang ignorant; saat ini alam semesta masih memberiku oksigen untuk

hidup, alam semesta juga menyediakan kaum haters bagiku supaya aku bisa 

berlatih menguji kesabaran dan keramahanku.

Saya suka dengan istilah yang dipakai oleh  untuk 

menggambarkan pentingnya latihan dalam filsafat Stoa. "Sama seperti otot harus 

dilatih dengan berulang-ulang mengangkat barbel, maka batin pun bisa diperkokoh

lewat latihan rutin setiap hari lewat STAR [Stop, Think-Assess, Respond]". Setia 

pada filsafat sebagai praktik dan latihan, artikel   ini memberikan cara 

latihan mental supaya kita memiliki syaraf titanium dan tidak gampang KO terkapar

kesamber galau.

artikel   berjudul  ini sangat penting bagi semua 

yang masih ingin berakal sehat dan mencintai sesama serta alam semesta. 

Filsafat Stoa adalah yang pertama mengusung konsep kosmopolis (negara seluas 

kosmos]. Bukan hanya di Nusantara ini kita bersaudara. Kita adalah warga negara 

dunia, semua manusia satu kerabat sebab  berpartisipasi pada logos (rasio) 

semesta yang sama.


Mengapa Saya Menulis artikel  

Ini?

“Kamu menderita Major Depressive Disorder”

Kata-kata Sang Psikiater bagaikan petir di siang bolong. Oke, tidak 

selebay itu sih. Namun, yang pasti jauh lebih mengejutkan dari teriakan 

tukang sate kompleks perumahan di siang hari. “MajorDepressive 

Disorder' adalah istilah keren (dan medis) dari ’‘depresi", dan tentunya 

"depresi" di sini adalah kondisi medis beneran, bukan istilah yang sering 

kali digunakan seenaknya oleh netizen di media sosial ["Depresi banget 

gw, kata abangnya martabak nutella sudah habis!!")

Beberapa bulan sebelum menemui psikiater, saya memang mengalami 

kemurungan yang tidak bisa dijelaskan. Saya diganggu pikiran-pikiran 

mendung yang tidak bisa dijelaskan selalu pemicunya. Bawaannya sedih 

dan negative thinking melulu, walaupun saya masih bisa 

menyembunyikannya di tempat kerja (mungkin sebab  belum terlalu 

parah/severe).

Dari dulu, saya memang dikenal sebagai pribadi yang penuh negative 

thinking. saat  dihadapkan pada sebuah situasi, saya selalu terpikir 


skenario jeleknya dulu. Namun, di pertengahan tahun 2017, pikiran buruk, 

cemas, dan rasa tidak semangat menjalani hidup itu terasa semakin 

menekan. Saya menyadari bahwa kondisi ini sudah menjadi serius saat  

mulai memengaruhi orang-orang terdekat di sekitar saya.

Sejak dulu, orang-orang yang sudah mengenal saya secara dekat sering 

menganjurkan saya untuk hanya berpikir hal-hal yang positif saja, namun  

saya merasa tidak cocok dengan ajakan positive thinking. Entah mengapa 

saya tidak pernah merasa bisa untuk "pokoknya pikirkan yang bagus-

bagus saja". Bagi saya, berat sekali untuk bisa mengubah pikiran negatif 

menjadi pikiran positif semudah menyalakan saklar lampu. Selain itu, 

ajakan "berpikir positif” seperti mengabaikan karakter dasar saya yang 

lumayan overthinking (apa-apa dipikirin), termasuk melihat potensi negatif 

yang bisa terjadi dari rencana apa pun. Yup, I am definitely the life of the 

party.

Sesudah mendapat diagnosis dari psikiater, saya kemudian diberikan terapi obat-

obatan. Dari pengalaman ini, saya jadi lebih menyadari betapa topik kesehatan 

jiwa dan juga terapinya masih mengalami stigma yang sangat merugikan di 

Indonesia. Kesehatan jiwa sering dianggap tabu untuk dibicarakan (sebab  hanya 

identik dengan "gila”. "Bro, gue gak bisa ketemuan besok siang, ada janji sama 

psikiater”. ”HAH, LO GILA YA? GILA KOK SADAR?”). Saya rasa hal ini 

disebabkan gangguan psikis masih sering dianggap berbeda dari gangguan fisik 

seperti encok, pegel linu, dan batuk pilek.

Gangguan psikis sering dianggap berada di ranah "jiwa” atau "roh”, sesuatu yang 

abstrak, tak terlihat, dan kalau ada gangguan artinya hanya "gila” atau "diguna-

guna”. Masih banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa problem psikis juga

bisa berkaitan dengan fungsi organ tubuh dan kimia otak, dan ini menjadikannya 

tidak berbeda dengan saat tenggorokan kita meradang dan sakit sebab  serangan 

bakteri.

Stigma dan salah pengertian tentang kondisi mental pun menimpa terapi dan 

pengobatannya. sebab  kurangnya pemahaman bahwa ada aspek fisik di balik 

kondisi psikis, sering kali yang dianggap "terapi” hanya terbatas pada "curhat”, 

konseling, atau, yang paling parah, disembur air kembang kumuran dukun. Terapi 

obat untuk kondisi kejiwaan sering dipukul rata dianggap sebagai bahaya sebab  

"tidak alami”, atau pasti akan menimbulkan "ketergantungan”. Stigma mengenai 

masalah kesehatan jiwa dan terapinya yang masih menghambat ini sebenarnya 

merugikan banyak orang yang seharusnya bisa mendapatkan manfaat, namun  

harus memilih kena semburan mulut dukun.

Obat-obatan yang saya dapatkan terbukti efektif. Dalam tempo kira-kira dua 

minggu, mood saya jauh membaik. Entah ini efek plasebo atau memang riil, yang 

pasti saya merasakan perubahan nyata. Hal ini juga dirasakan oleh keluarga dan 

orang-orang di sekitar saya.

Sejak itu, saya semakin mengapresiasi ilmu kesehatan jiwa dan menyadari

bahwa masalah kesehatan mental memang bisa dipengaruhi oleh 

gangguan kimia di otak. Artinya, obat-obatan modern bisa membantu. 

Namun, selama perjalanan terapi ini, saya juga tidak sabar untuk bisa 

bebas dari pengobatan. Ibarat sakit kepala dan minum parasetamol, 

tentunya kita tidak ingin terus-terusan mengonsumsi parasetamol.

Dalam artikel "We Need New Ways of Treating Depression” yang ditulis 

oleh Johan Hari, disebutkan bahwa walaupun terapi depresi dengan obat-

obatan memang memberikan hasil yang menggembirakan (37% pasien 

yang menjalani terapi obat melaporkan perbaikan kondisi mental mereka), 

sayangnya kesembuhan ini tidak bertahan lama. Hanya 10% pasien 

depresi penerima obat yang tetap bertahan sembuh dari depresi selama 

satu tahun. Pengobatan memang memberikan pemulihan yang sangat 

dibutuhkan, namun  perlahan-lahan depresi kembali menyerang. Berarti, 

obat-obatan saja tidak cukup. Ada hal lain yang diperlukan untuk bisa 

memelihara kesehatan mental kita dalam jangka panjang.

Dalam artikel ini  juga dikatakan bahwa fokus pada aspek biologi saja

membuat kita memandang depresi atau kecemasan sebagai sebuah 

"malfungsi’’ dari otak atau gen. Namun, para ilmuwan yang meneliti faktor 

sosial dan psikologi di balik depresi cenderung memiliki pendapat yang 

berbeda. Bagaimana jika depresi bukanlah sebuah "kerusakan" 

(malfunction), namun  justru "fungsi" alarm yang memberitahukan ada 

kebutuhan yang tidak terpenuhi? Ibaratnya, alarm kebakaran di gedung 

yang tiba-tiba berbunyi (harusnya) bukanlah sebuah kerusakan, namun  

menjadi alat yang memberi tahu para penghuni gedung bahwa kebakaran 

benar-benar terjadi di gedung ini . Depresi juga harus dilihat sebagai 

upaya tubuh memberi tahu ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam hidup 

kita.

Tanpa disangka-sangka, jalan hidup membawa saya ke sebuah alternatif 

solusi yang membantu saya memperoleh ketenangan yang lebih baik 

pasca-terapi obat. Di tengah masa pengobatan, saya menemukan Filosofi 

Teras (atau Stoisisme, nanti akan saya jelaskan mengapa saya 

terjemahkan menjadi ), sebuah filosofi purba dengan usia 

2.300 tahun (lebih tua dari agama Nasrani dan Islam).

Suatu hari, saat kondisi saya belum pulih dan masih dalam pengobatan, sambil 

menunggu istri yang sedang belanja di supermarket, saya iseng melangkah masuk

ke sebuah toko artikel . Di tumpukan artikel -artikel  terbaru, saya temui artikel  How To 

Be A Stoic karya Massimo Pigliucci. Sebelum membaca artikel  ini , saya 

hanya mengetahui Stoisisme sebagai salah satu cabang filsafat kuno. Itu saja. 

Selain itu, dalam bahasa Inggris, definisi stoic (dengan 's’ kecil) adalah seseorang 

yang tidak tampak memiliki emosi, f/af/datar banget, atau tidak mudah bereaksi 

secara emosi, baik dalam situasi susah maupun senang. Gambarannya seperti ras

Vulcan yang ada di Star Trek mungkin ya, seperti Mr. Spock yang mukanya 

lempeng terus, baik di saat susah ataupun senang (mungkin kamu punya teman 

yang seperti demikian juga!).

Sesudah membaca artikel  Pigliucci, mata saya bagaikan terbuka dan saya seperti 

menemukan sebuah “terapi tanpa obat" yang bisa dipraktikkan seumur hidup. 

 ini sangat membantu saya merasa lebih tenang, damai, dan tidak 

mudah stres dan marah-marah. Efek dari mempelajari Stoisisme ini begitu 

positifnya, bahkan terapi obat oleh Sang Psikiater bisa dihentikan jauh lebih awal 

dari umumnya, sebab  perbaikan sikap dan mental saya yang signifikan.

Saya percaya banyak orang di luar sana yang hidup dengan kekhawatiran. 

Mungkin tidak sampai depresi klinis, namun  tetap saja kecemasan dan 

kekhawatiran sehari-hari cukup merugikan. Stoisisme bisa menjadi alternatif untuk 

membantu hidup yang lebih baik. Dalam bahasa Yunani, para filsuf Stoa menyebut

tujuan dari filosofi Stoisisme sebagai "eudaimonia" atau "hidup yang berkembang 

[flourishing)".

Sayangnya, belum banyak artikel  mengenai filosofi ini di dalam Bahasa Indonesia—

atau bahkan artikel  filsafat secara umum— mungkin sebab  kata “filsafat" punya 

banyak konotasi negatif, seperti topik yang sulit dan bikin rambut beruban, atau 

topik yang dianggap tidak ada relevansinya dengan kehidupan sehari-hari. Saya 

berharap artikel  ini bisa menjadi trigger atau pemicu untuk menumbuhkan minat—

baik bagi para pembaca, penerjemah, dan penulis artikel —akan artikel -artikel  dengan 

tema serupa.

artikel  ini juga berisikan wawancara dengan pakar dan praktisi dari 

berbagai bidang yang relevan, seperti Dr. Andri, SpKJ, FAPM., seorang 

psikiater dengan spesialiasi Psychosomatic Medicine; Agstried Piethers, 

seorang psikolog pendidikan; Wiwit Puspitasari seorang psikolog klinis; 

Llia Halimatussadiah, seorang pengusaha dan penulis; dan Citta Cania 

Irlanie, seorang aktivis dan editor. Saya tertarik melihat keterkaitan Filosofi 

Teras ini dengan disiplin ilmu psikologi dan psikiatri, dan juga praktik 

langsung di kehidupan sehari-hari. Ada banyak hal menarik yang saya 

pelajari dari diskusi dengan para narasumber ini.

Menggunakan analogi yang kekinian, saya menemukan  ini 

bagaikan OS (Operating System) dari keseharian kita, seperti OS Android 

di smartphone berbasis Android, atau iOS di iPhone. OS di smartphone 

memastikan bahwa penggunaan dan aplikasi [apps) sehari-hari dari 

smartphone kita berjalan lancar. Aplikasi tercanggih dan terseru pun akan 

macet jika tidak didukung OS yang baik. Demikian dengan keseharian kita.

Kita memiliki banyak "aplikasi” dalam keseharian kita, pergi sekolah/kuliah,

pekerjaan kita, pacaran/pernikahan kita, hubungan kita dengan orang-tua, 

ambisi dan mimpi kita, hobi kita, dan lain-lain. "Aplikasi-aplikasi” ini 

membutuhkan OS yang baik agar bisa berfungsi optimal. Saya 

menemukan  sebagai sebuah OS yang bisa membantu 

tujuan ini .

Akhir kata, saya menulis artikel  ini untuk berbagi pengalaman saya 

menemukan  yang sangat membantu memperoleh hidup 

yang lebih tenang. Saya berharap artikel  ini bisa membantu para pembaca 

yang mungkin sedang dilanda kecemasan dan kekhawatiran. artikel  Filosofi

Teras rasanya memang cocok untuk mereka yang sering atau sedang 

merasa khawatir akan hidup, atau sering resah dan kecewa dalam 

kehidupan sehari-hari.

 tidak menjanjikan rahasia untuk menghilangkan kesulitan 

dan tantangan hidup, namun  justru menawarkan cara- cara untuk 

mengembangkan sikap mental yang lebih tangguh agar bisa tetap tenang 

menghadapi terpaan hidup apa pun. Bagi pembaca lainnya, semoga artikel  

kecil ini minimal dapat menambah pengetahuanmu akan adanya sebuah 

pemikiran antik yang sudah berusia 2.000 tahun lebih, dan masih relevan 

dengan kehidupan kita sekarang.


i  bulan  November  2017,  saat  saya sedang mempelajari  Filosofi  Teras,

saya terpikir  untuk mencari  tahu apakah orang-orang lain juga merasa

khawatir  mengenai  hidupnya  melalui  riset  (baca:  kepo  ilmiah).  Saya

kemudian membuat Survei Khawatir Nasional secara online.

D

Survei  Khawatir  Nasional  dilakukan  selama  seminggu  dengan  rentang  waktu

tanggal 11-18 November 2017, jumlah responden sebanyak 3.634 responden, dan

komposisi responden 70% perempuan. Sebagai catatan metodologi, sebab  survei

ini  dilakukan secara  online dan  disebarkan secara  organik  (sukarela)  di  media

sosial, maka hasilnya tidak bisa dianggap mewakili keseluruhan populasi, sebab 

pemilihan sampel tidak acak Irandom). Dalam bahasa awam, hasil dari survei ini

hanya mewakili  responden survei  ini  saja  dan tidak  bisa serta  merta  dianggap

mewakili populasi umum.

Survei  ini  menanyakan  tingkat  kekhawatiran  responden  terhadap  kehidupan

secara umum dan beberapa aspek hidup yang umum bagi generasi milenial, yaitu

mereka  yang  dilahirkan  antara  tahun  1980-2000.  Ini  artinya,  di  tahun  2018,

penduduk milenial tertua berusia 38 tahun (sudah ada yang menikah dan menjadi

orang tua), dan termuda berusia 18 tahun (usia mulai kuliah/bekerja). sebab nya,

Survei Khawatir Nasional ini juga menanyakan tingkat kekhawatiran di beberapa

aspek  hidup  yang  dirasa  relevan,  yaitu  sekolah/studi,  relationship,

pekerjaan/bisnis,  sampai  topik  yang  lebih  besar  seperti  kondisi  sosial  politik  di

Indonesia.

Pertanyaan mengenai rasa khawatir selalu menggunakan skala 4-poin, yaitu 

sangat tidak khawatir, tidak khawatir, sedikit khawatir, sangat khawatir. Skala ganjil

dihindari untuk menghindari kebiasaan banyak orang memilih "tengah-tengah 

saja".

Bagaimana hasilnya?

a. saat  ditanyakan mengenai tingkat kekhawatiran tentang hidup secara 

keseluruhan saat ini, hasilnya adalah 63% (hampir dua dari tiga responden) 

mengaku merasa “lumayan khawatir/sangat khawatir” tentang hidup secara 

umum.

3

b. Dari responden yang masih bersekolah/kuliah, separuhnya (53%) 

merasa khawatir dengan pendidikan mereka. Tiga penyebab 

kekhawatiran tertinggi adalah tugas/paper yang tidak lancar, hilangnya

motivasi belajar, dan nilai jelek/tidak lulus. “Biaya” ada di urutan 

keempat, dipilih oleh seperempat dari mereka yang khawatir 

mengenai pendidikan mereka.

c. Untuk responden yang berada di dalam relationship 

(pacaran/menikah), mereka yang mengaku "agak khawatir” dan 

"sangat khawatir” mengenai hubungan mereka ternyata minoritas 

dengan persentase 30%. Ini artinya, mereka yang tidak khawatir 

mengenai relationship (pacaran/pernikahan) lebih banyak dari yang 

merasa khawatir.

d. Bagi mereka yang merasa khawatir soal relationship mereka, tiga 

kekhawatiran utama adalah:

/. Relationship mau dibawa ke manaa? [Udah kayak lagu aja).

ii. Relationship yang terasa sudah hambar.

iii. Pasangan selingkuh, sangat dekat dengan pilihan keempat, yaitu 

"hubungan tidak direstui orang tua”.

e. Bagaimana dengan responden jomblo? Apakah yang jomblo merasa

lebih  khawatir  soal  status  jomblo  mereka?  Ternyata  hasilnya

TIDAK. Tingkat kekhawatiran jomblo mengenai

ke-jomblo-an mereka ternyata sama dengan kekhawatiran mereka 

yang sudah berpasangan mengenai hubungan mereka, yaitu sekitar 

30% dari responden. Jadi, dari hasil survei ini saja bisa terlihat kalau 

memiliki pasangan tidak membuat kekhawatiran kamu lebih berkurang

dibandingkan dengan saat kamu jomblo. Good news dong bagi kaum 

tuna- asmara atau jomblo!

f. Di antara mereka yang mengaku agak/sangat khawatir soal status 

jomblo mereka, tiga kekhawatiran utamanya adalah:

i. Khawatir tidak akan pernah mendapatkan pasangan.

ii. Khawatir dengan umur.

iii. Khawatir tidak menarik lagi.

 4

sebab  penasaran dan kepo, saya menanyakan kepada para jomblo yang 

TIDAK khawatir soal relationship mengenai apa alasan mereka tidak 

khawatir. Hasilnya, tiga alasan tertinggi mereka tidak khawatir dengan 

kejombloannya adalah:

iv. Memang sedang senang sendiri.

v. . Jodoh di tangan Tuhan (dipilih separuh dari mereka yang tidak khawatir).

vi. . Sedang terlalu sibuk di kehidupannya untuk punya waktu memikirkan 

pasangan.

g. Bagi mereka yang memiliki pekerjaan/bisnis, kekhawatiran akan 

pekerjaan/bisnis dialami oleh sekitar sepertiga responden (33%). 

Kekhawatiran terbesar mengenai pekerjaan/bisnis adalah:

/. Stuck di karier sekarang.

ii. Gaji tidak mencukupi.

iii. Khawatir performa (di kantor) tidak memuaskan.

h. Mengenai aspek keuangan: sekitar separuh responden (53%) mengaku 

khawatir/stres soal kondisi keuangan mereka. Bayangkan, satu dari dua 

responden khawatir soal ini!

i. Kekhawatiran sebagai orang tua. Menjadi orang tua umumnya adalah fase 

hidup yang dinanti-nantikan oleh banyak orang, namun  siapa sangka menjadi 

orang tua juga bisa jadi sumber kekhawatiran lho! Ternyata, separuh 

responden orang tua (53%) mengaku merasa khawatir, sama dengan 

proporsi mereka yang khawatir soal uang. Apa saja yang dikhawatirkan saat 

menjadi orang tua?

i. Biaya sekolah anak! Opsi ini dipilih oleh lebih dari separuh responden 

orang tua yang merasa khawatir. Bagi yang akan menikah dan menjadi 

orang tua, apakah sudah memikirkan ini? Memiliki anak memang sumber 

kebahagiaan yang besar, namun  jika kita tidak siap dengan biaya 

pendidikannya ke depan, hal ini malah bisa menjadi sumber kekhawatiran.

ii. Anak sakit/kecelakaan.

PENDAFTARAN TERIMA

SISWA BARU JUAL GINJAL

iii. Biaya kesehatan anak.

Surprisingly (atau tidak?), dua dari tiga kekhawatiran utama para 

orang tua berkaitan dengan uang. Masalah lain seperti kenakalan 

anak, penyalahgunaan narkoba, dan ibadah anak/agama ternyata 

berada di bawahnya.

j. Sosial Politik. Surpriseee (atau nggak ya?)! Kondisi sosial politik ternyata 

menjadi sumber kekhawatiran terbesar dengan 76% (atau tiga dari 

empat responden) merasa agak/ sangat khawatir mengenai ini. 

Berikut tiga kekhawatiran tertinggi mengenai kondisi sosial politik:

i. Hoaks, fake news.

ii. Diskriminasi suku dan agama makin meningkat.

iii. Bangkitnya kaum radikal/intoleran.

Bisa dibayangkan saat kita memasuki tahun Pemilihan Presiden 2019

nanti, mungkin saja tingkat kekhawatiran semakin meningkat saat  

suhu politik memanas.

The Cost of Worrying-.

Berdasarkan Survei Khawatir Nasional, ada lebih banyak orang yang merasa 

khawatir di dalam hidup ini, dengan dua dari tiga responden merasa khawatir 

secara umum. Aspek hidup yang berbeda memiliki tingkat kekhawatiran yang 

berbeda pula. Relationship ternyata tidak menjadi sumber kekhawatiran tertinggi, 

sementara peran menjadi orang tua dan keuangan cukup menjadi kekhawatiran. 

Di luar kehidupan pribadi, kondisi sosial politik Indonesia juga sesuatu yang 

sangat dikhawatirkan.

So what? Mungkin kamu berpikir, tidakkah kekhawatiran akan hidup itu normal? 

 6

Untuk apa dipusingkan atau 'dikhawatirkan' (khawatir tentang khawatir!)? Menurut 

saya, kekhawatiran adalah sesuatu yang bisa—dan seharusnya—dikurangi, 

sebab  menimbulkan banyak “biaya”. Apa saja “biaya” dari kekhawatiran?

1. Menghabiskan energi pikiran. Berpikir, termasuk di 

dalamnya merasa khawatir berlebihan, adalah aktivitas 

yang membutuhkan energi. Artinya, setiap kalori energi 

tubuh yang dipakai untuk khawatir adalah kalori yang tidak 

bisa digunakan untuk hal-hal lain yang lebih produktif.

2. Menghabiskan waktu dan juga uang. Saat kita khawatir soal

studi, orang tua, keuangan, atau sosial politik negara tanpa 

menghasilkan solusi, kita sudah membuang waktu yang 

sebenarnya bisa digunakan untuk hal-hal lain yang lebih 

berguna. Tidak hanya waktu, kekhawatiran juga bisa 

menghabiskan uang, apabila rasa khawatir ini  

membuat kita mengeluarkan uang untuk hal- hal yang 

(dianggap) menenangkan pikiran, padahal tidak efektif. 

Misalnya, sebagian orang yang merasa khawatir 

menjadikan makanan sebagai pelipur lara, berkelakuan 

menyebalkan di depan keluarga dan teman-teman sekitar, 

atau memutuskan untuk kawin lagi, dan lain sebagainya.

3. Mengganggu kesehatan tubuh! Masih banyak orang yang 

memisahkan kebutuhan "pikiran” dan “tubuh”, seolah-olah 

apa yang terjadi di pikiran tidak memiliki hubungan dengan 

tubuh fisik kita. Padahal, sudah lama 

para ilmuwan kesehatan menemukan bahwa pikiran dan 

kesehatan tubuh memiliki hubungan dua arah yang saling 

memengaruhi. Untuk topik ini, saya khusus mewawancarai 

Dr. Andri, seorang Spesialis Kesehatan Jiwa yang 

tergabung dalam Academy of Psychosomatic Medicine 

(USA).

Wawancara

dengan Dr. Andri

SpKJ FAPM

"Masalah

khawatir

bukan masalah ‘di pikiran’ saja!

Bagaimana latar belakang sampai dokter memilih kuliah psikiatri dan 

kemudian mendalami Psychosomatic Medicine?

Saya lahir dan besar di Tangerang. Saya memilih bersekolah di SMA 

negeri, sebab  zaman dulu katanya lebih mudah masuk FKUI (Fakultas 

Kedokteran Universitas Indonesia) kalau datang dari sekolah negeri. Saat 

memulai kuliah di tahun 1997, pembangunan lagi berjalan pesat-pesatnya. 

Indonesia saat itu baru mengenal istilah konglomerat. Waktu itu saya 

 8

kepikir, kalau jadi pengusaha harus seperti konglomerat yang punya sifat 

"makanin orang”, kayaknya cara mendapatkan duitnya kok kurang bagus. 

Jadi, saya memikirkan (profesi) apa yang bisa mendapatkan uang, tapi 

juga menolong orang.

sebab  kondisi keuangan, Papa nggak mungkin menyekolahkan saya ke sekolah 

kedokteran swasta. Selain mahal, lulusnya gak jelas. Kalo gak masuk UI, saya 

harus masuk swasta. Nah, seperti umumnya orang keturunan China kebanyakan, 

swasta yang saya pilih waktu itu adalah Untar (Universitas Tarumanegara), tapi 

ngambilnya (Teknik) Sipil, sebab  jargon pembangunan. Mikirnya, nanti kalo lulus 

banyak yang pake. Tapi, ternyata saya lulus UMPTN (FKUI).

Sesudah menjadi mahasiswa kedokteran, mengapa tertarik untuk mengambil 

jurusan psikiatri?

Kalau keinginan menjadi psikiater sendiri sudah sejak dari kuliah tingkat satu. 

artikel  yang berpengaruh kenapa saya memilih psikiatri adalah The Doctors karya 

Erich Segal.

Salah satu tokoh di artikel  itu adalah seorang psikiater lulusan Harvard. Di situ saya

mengenal konsep Freudian dan mulai membeli artikel -artikel  mengenai Freud 

(Sigmund Freud, Bapak Psikoanalisis) di tingkat dua.

Kemudian, dulu kan ada mata kuliah Ilmu Budaya Dasar. Kebetulan, di kampus 

saya (mata kuliah ini ) dibawakan oleh seorang psikiater. Dia bicara tentang 

cara memahami perilaku manusia, bagaimana menciptakan kebiasaan, dan, dia 

selalu bilang, kalau ingin mempelajari kebiasaan dan otak manusia, belajarlah 

psikiatri. Kalau hanya belajar psikologi, sepertinya hanya mempelajari perilakunya 

saja. Sementara kalau kita belajar psikiatri, sebab  kita seorang dokter, kita juga 

tahu sakitnya bagaimana. Kita tidak kehilangan "sense of doctor" dengan menjadi 

psikiater. Dari situ saya terpikir, berarti di profesi ini saya masih bisa bantu orang 

nih.

Dalam perjalanannya, sesudah lulus kedokteran, saya langsung mengambil 

spesialisasi psikiatri. Zaman dulu kita bisa langsung mengambil spesialis tanpa 

harus PPT.

Kenapa psikiatri? sebab  menarik, bisa mempelajari perilaku manusia, dan

sebagai dokter kita tahu bahwa sumbernya di otak. Semua fenomena bisa

dijelaskan di otak kita. Masalahnya ilmunya belum nyampe aja, sehingga

kita  belum  bisa  menjelaskan  kenapa  orang  bisa  menjadi  depresi,  jadi

cemas, dll.

Saya  menjadi  dokter  dan  mengambil  psikiatri  untuk  melawan  stigma

bahwa  psikiater  itu  hanya  ngurusin  orang  gila  aja.  Secara  statistik  di

Indonesia, dari Survei Kesehatan Dasar Rumah Tangga 2012, sebenarnya

yang  psikotik  (yang  disebut  “gila”  itu)  itu  hanya  0,7%.  Jadi,  pekerjaan

psikiater  sebenarnya  lebih  banyak  merawat  yang  depresi  cemas.  Dari

berbagai literatur bisa 20- 30% (insiden).

Kalau ketertarikan pada pengobatan psikosomatik (bagian dari ilmu 

psikiatri yang menghubungkan psikiatri dan disiplin kedokteran lainnya, 

seperti penyakit dalam, alergi, syaraf, dan lain-lain)?

Di tahun kedua belajar psikiatri, saya berkenalan dengan psikosomatik. Di

Indonesia, psikosomatik ada dua sisi. Dari sisi penyakit dalam dan dari sisi

psikiatri.  Kalau  penyakit  dalam,  lebih  ke  organ,  sebab   dulu  ada istilah

"penyakit-penyakit  psikosomatik",  seperti  hipertensi,  neurodermatitis,

asthma  bronchiale, dan  lainnya.  Ini  adalah  penyakit-penyakit  yang

dianggap  banyak  hubungannya  dengan  psikologi.  Makanya  ada  istilah

seperti "Lo jangan marah-marah melulu dong, nanti darah tinggi!", "Nanti

kalo stres,  lambung lo sakit”.  Jadi,  sebenarnya orang sejak dulu sudah

mengetahui adanya psikosomatik.

Alasan  lain  memilih  psikosomatik:  di  ilmu  kedokteran  ada  sebagian

spesialisasi  yang merasa dirinya  lebih  tinggi  dari  yang lain.  Psikiatri  ini

dianggap "gak  terlalu  medis",  terlalu  banyak  memikirkan  kejiwaan yang

tidak  ada  hubungannya  dengan  kedokteran.  Ada  anggapan  bahwa

sesudah  menjadi  psikiater,  kami  gak  bakal  lagi  menjadi  dokter.  Kami

hanyalah "psikolog yang bisa mengobati dengan obat".

Jadi, sederhananya, apakah itu “pengobatan psikosomatik”?

Di ilmu pengobatan psikosomatis dijelaskan bahwa apa yang terjadi di otak kita bisa

memengaruhi badan secara keseluruhan. Maka, tidak heran ada orang stres 

mengalami tegang leher. Kalau sakit kepala, bisa kemudian mengalami sakit 

lambung juga, sebab  ada interconnection (keterkaitan).

Kita sebagai psikiater gak cuma bilang, “Kamu ini sakit kepala sebab  banyak 

mikir.” Betul, saya lagi mikirin utang sampai jadi sakit kepala. Tapi pertanyaannya, 

kenapa jadi sakit kepala? sebab  dengan mikirin hutang, otak saya bekerja lebih 

keras. Stres sebab  utang itu persepsinya negatif. saat  ada persepsi negatif, otak 

harus bekerja keras untuk beradaptasi dengan persepsi negatif itu. Otak kita selalu 

berusaha agar segala sesuatu menjadi seimbang. saat  ada persepsi negatif, 

maka otak itu akan mencoba beradaptasi.

Jadi, bagaimana stres bisa merusak kesehatan tubuh kita?

Ada quote dari Hans Seyle, “Bukan stres yang membunuh kita, tapi reaksi kita 

terhadapnya.” sebab  sebenarnya masalahnya bukan di stres itu sendiri, namun  

persepsi kita. Misalnya, “Duh jalanan macet nih!”, atau, “Utang gue banyak.” Itulah 

yang menyebabkan badan mengeluarkan zat. Pertama, respon adrenalin 

meningkat. Adrenalin meningkatkan tekanan darah (sebab  jantung menjadi makin 

berdebar), pembuluh darah menyempit, dan sebab nya kepala kita menjadi tegang.

Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini akan meningkatkan hormon stres, 

namanya kortisol. Kortisol adalah zat yang sifatnya oksidatif, merusak apa pun di 

dalam tubuh kita. Jika dia menempel di pankreas, dia meningkatkan insulin. 

Makanya, ada orang yang kalau stres bawaannya mau makan. Badannya 

memanggil- manggil sebab  berpikir dia sedang membutuhkan energi.

Jika stresnya akut atau sementara, maka reaksi tubuh juga sementara. namun  jika 

stresnya lama, maka reaksi tubuh juga akan lama. Makanya saya suka bilang 

kepada pasien, jangan stres lama-lama, nanti adaptasinya berubah. Nanti anda 

tidak tahu lagi bahwa anda sedang stres, sebab  sudah terbiasa hidup dalam stres.

Jika kita stres kelamaan, badan akan merespon dengan hal- hal yang kita 

tidak tahu sebagai bagian dari stres. Contohnya penyakit dispepsia atau 

gangguan lambung. In the long run, bisa muncul gangguan jantung, 

hipertensi, dan diabetes.

Adakah perbedaan antara ‘takut’, ‘stres’, ‘khawatir/cemas’, dan depresi?

Kalo “takut’’, kita tahu sumbernya, misalnya takut setan atau takut ujian. 

Kalau cemas, berdasarkan definisinya, gak jelas penyebabnya, pokoknya 

merasa cemas saja. sebab nya, ada diagnosis “gangguan cemas 

menyeluruh”, yaitu orang yang suka khawatir berlebihan terhadap segala 

sesuatu di dalam hidupnya, khususnya terhadap orang-orang yang 

dicintai.

Gangguan cemas itu tidak muncul tiba-tiba, seperti di Survei (Khawatir) itu.

Di satu sisi, saya merasa ini opportunity (kesempatan), sehingga saya 

bilang kepada koas-koas (ko- asisten) saya, kamu jadi psikiater deh, 

dibutuhkan banget sebab  banyak orang khawatir. Apalagi dengan 

ketidakpastian sekarang. Orang menjadi cemas sebab  dia tidak bisa 

mengendalikan hidup di situasi ketidakpastian.

Kalo stres artinya “tekanan”, sesuatu yang mengganggu keseimbangan di 

hidup kita. Ada stres fisik, stres psikis. Kalau olahraga sampai kecapean 

itu stres fisik. Kalau stres mental, saya merasa exhausted, kelelahan. Ada 

sumber stresnya.

Jika stres meningkat terus, pada kondisi orang sudah tidak tahu stresnya 

datang dari mana, artinya dia sudah masuk fase cemas. Makin jauh lagi, 

jika cemasnya dibiarkan, bisa menjadi depresi.

11 

Banyak orang yang awalnya cemas biasa saja—merasa khawatir akan 

kehidupan—kemudian tidak mendapat solusi dan dia menjadi depresi. 

Tidak ada solusi, jadi hopeless, lalu jadi depresi. Ada dua gejala penting 

depresi: pertama adalah mood yang sedih, lalu yang kedua adalah putus 

asa—tidak ada harapan, hidup kok begini-begini aja. Kita harus hati-hati 

dengan teman-teman yang berkata, "Hidup gue kok begini-begini aja", 

jangan-jangan dia sudah mengalami gejala awal depresi. sebab  apa yang

terucap oleh seseorang bisa jadi memang refleksi dari (hidup) dia.

Depresi dan cemas tidak berbeda jauh. Dan secara organ otak juga sama, 

sebab nya obatnya pun sama. Depresi, mendapat obat antidepresan. Cemas 

panik, dikasih antidepresan juga.

Apakah gangguan tubuh sebab  pikiran hanya terjadi saat sudah parah saja? Atau

bahkan cemas "sehari-hari” saja sudah bisa bermanifestasi fisik?

Cemas sehari-hari pun sudah bisa memengaruhi fisik. Contohnya, saat mau 

presentasi kita bolak-balik ke kamar mandi. Penjelasannya adalah saat kita stres, 

atau tubuh kita memersepsikan adanya stres, maka terjadi peningkatan aktivitas 

saraf otonom (saraf yang bertanggung jawab atas organ-organ yang berfungsi 

sendiri tanpa perintah, seperti jantung, paru, kandung kemih), makanya jadi 

pengen pipis.

Asthma bronchiale, misalnya. Asma yang dipicu stres. saat  orang stres, 

merangsang reaksi alergi imunologi, maka timbullah asmanya. Gangguan cemas 

tidak datang tiba-tiba. Biasanya pasien datang ke saya sesudah berkeliling ke 

beberapa dokter, seperti dokter penyakit dalam, dokter jantung, dokter saraf, atau 

dokter THT, sebab  gejalanya seperti vertigo, tapi kemudian dinyatakan tidak apa-

apa. Tidak ada organ yang rusak. Kata saya, makronya memang tidak, artinya 

jantungnya masih bagus. Tapi bayangkan, jantung berdetak 95 kali per menit, 

dibandingkan 65 kali per menit, lebih berat mana bebannya?

Bisakah saya artikan bahwa pesannya di sini adalah: jangan anggap remeh 

khawatir/cemas “kecil” yang terjadi sehari-hari?

Secara umum, kita memiliki kemampuan adaptasi. Bayangkan stress threshold 

sebagai gelas, lalu kita isi sedikit-sedikit dengan stres. Kita harus cari tahu cara 

supaya gelas itu tidak terlalu penuh, dikeluarkan sedikit-sedikit. Caranya macam-

macam, misalnya dengan berbicara. Kadang-kadang kita feeling relieved (lega) 

hanya dengan berbicara kepada orang. Atau rekreasi.

Mengapa saya katakan persepsi itu penting. Contoh: liburan itu lebih melelahkan 

dibandingkan praktik/kerja, jalan ke sana sini, tapi rasanya senang sebab  kita 

berkumpul bersama keluarga. Makanya, ada yang bilang, coba ganti suasana biar 

 12

gak stres. sebab  sekarang lagi trennya ke CBT [Cognitive Behavioral Therapy], 

maka yang paling penting itu perception.

Catat hal-hal

dalam hidup

yang bisa atau

pernah

membuat

kita bahagia.

Misalnya olahraga,

ngobrol, punya

teman. Lalu; lakukan aktivitas

yang membahagiakan. jd

Ada juga alternatif “membohongi” pikiran dengan sementara, dengan zat. Misalnya 

dengan alkohol, menekan kesadaran sehingga lupa sementara. Tapi besoknya 

muncul lagi. Kalau narkoba bekerja dengan mengelabui (otak), seperti sabu, yang 

meningkatkan dopamin dan serotonin, sehingga seseorang happy berlebihan. 

Setiap kita pakai sabu di otak kita sebenarnya seperti ada luka/rusak permanen 

yang tidak hilang selama 10 tahun.

Depression hurts. Depresi itu melukai. Melukai otak, namun  juga bisa diartikan 

melukai orang-orang di sekitar penderita, sebab  penderita memandang segala 

sesuatu "gelap”.

Apakah artinya manajemen cemas sehari-hari sama dengan manajemen persepsi?

Benar. Misalnya terjebak di tengah macet, wah sialan gue gak bisa jalan, itu 

persepsi negatifnya. Tapi persepsi positifnya, wah terjebak macet di jalan di 

sebelah cewek cakep (istri), gue bisa ngobrol lama-lama sama dia. Sama 

macetnya, tapi beda cara bersikapnya. Mengapa? sebab  beda persepsi. Dan 

jadinya less stress bagi kita.

Benarkah bahwa saat ini lebih banyak orang muda yang berkonsultasi pada 

psikiater?

Yang saya amati memang seperti itu. Penyebabnya beberapa: mereka semakin 

well-informed mengenai kesehatan jiwa. Awalnya adalah para sarjana yang 

sebelumnya kuliah di luar negeri yang kemudian kembali ke Indonesia untuk 

menetap. Masalah timbul sebab  penyesuaian. Mulanya, pas kuliah di luar negeri 

mereka culture shock, sesudah lama di sana dan menyesuaikan diri dengan 

budaya di sana, saat kembali ke Indonesia kembali culture shock.

Belakangan makin banyak yang datang sebab  isu relationship. Baper, galau, itu 

kan bahasa awamnya, namun , dalam bahasa kedokteran, ada beberapa perilaku 

baper/galau yang sudah masuk sindrom depresi. saat  dia kehilangan seseorang 

yang sangat dia sayangi, dia merasa terganggu, diagnosis klinisnya mungkin yang 

disebut “depresi ringan”, tidak sampai gejala ingin bunuh diri.

Menariknya, kalau saya ngobrol dengan pasien yang sudah berumah 

tangga selama lima tahun ke atas, banyak yang bilang, "Saya sudah 

mengertilah suami saya kayak apa. Jadi, saya tidak usah berharap 

banyak.” Menurut saya, penerimaan itu mungkin stressful juga loh buat dia. 

Dia berusaha menerima bahwa seseorang yang setiap hari dia temui di 

dalam kehidupannya sebenarnya adalah sumber stres. Tapi masalah ini 

dianggap tidak ada oleh pasien. saat  pasien ditanya apa sumber stres 

mereka, rata-rata mereka menjawab tidak tahu. Menarik kan?

Kalau pasiennya anak muda, saya lebih sering mendengar masalah 

relationship dengan teman dan orang tua. Dengan teman sebaya, 

umumnya masalahnya dengan teman dekat, best friend mereka. Atau, 

hubungan dengan kolega di pekerjaan. Lewat ilmu kedokteran jiwa, kami 

tahu kalau sebenarnya yang bermasalah bukan temannya, kerjaannya, 

atau lingkungannya, tapi dia (pasien). Jadi, ujung-ujungnya dia.

Sekarang kita bicara konteks lebih besar, tahun Pilkada dan Pilpres akan 

memanas. Ada efeknya pada tingkat kecemasan individu?

Mungkin kita harus membatasi punya WhatsApp Group. Saya percaya too 

much information will kill you. Terlalu banyak informasi dari mana-mana, 

informasi itu belum tentu benar. "Tapi kan itu hanya informasi doang?” kata 

orang. Saya percaya kalau karakter kita pada dasarnya sudah negatif, lalu 

misalnya kita sedang stres dengan kehidupan pribadi kita, kemudian kita 

membaca berita yang jelek, efeknya akan beda dengan jika kita membaca 

berita ini  saat sedang normal.

Dulu, ada situs abal-abal. Sekarang sudah jarang, orang abal-abalyang 

banyak, yaitu teman-teman kita sendiri (yang turut menyebarkan berita 

hoaks). Apakah mereka memang kerjaannya seperti ini ya? Sebenarnya, 

kalau kita sibuk, harusnya tidak terlalu banyak main media sosial. Kok 

mereka kayaknya terus-terusan gitu, selalu aja ada waktu.

Adakah pesan-pesan untuk pembaca?

Coba kenali sumber stresnya. Kalau kita merasa sedang berada dalam sebuah 

keadaan, kenali kenapa. Kalau kita bisa mengenali sumbernya, maka kita bisa 

melawannya.

Catat hal-hal dalam hidup yang bisa atau pernah membuat kita bahagia. Misalnya 

olahraga, ngobrol, punya teman. Lalu, lakukan aktivitas yang membahagiakan.

(Catatan: Dr. Andri SpKJ, FAPM saat ini praktik di RS Omni Alam Sutra, 

Tangerang. Beliau bisa dihubungi di email: andri(3ukrida.

ac.id. dan Twitter: (dmbahndi.)

Intisari Wawancara dengan Dr. Andri:

• Kondisi psikis berkaitan dengan kesehatan tubuh kita.

• Jika dalam keseharian kita terbiasa hidup dengan cemas dan stres untuk 

jangka waktu panjang, maka tubuh juga beradaptasi dalam rentang waktu 

ini .

• Bukan situasi penyebab stresnya yang menjadi masalah, namun  persepsi kita 

akan situasi ini . Manajemen cemas = manajemen persepsi.

• Dengan media sosial, kita mengalami banjir informasi yang belum tentu benar.

Ini bisa menambah kekhawatiran.


dulu, saya sering kagum, dan iri, pada teman-teman yang punya kepribadian 

ceria, ekstrover, dan rasanya hidupnya tidak ada masalah. Rasanya setiap 

bertemu mereka, senyum, canda dan tawa selalu mengelilingi keseharian 

mereka. Ini sungguh kontras dengan penampakan saya yang selalu digambarkan 

'terlalu serius. Jika berjalan saja saya sering menundukkan kepala. sebab nya dulu 

saya terkadang memikirkan bagaimana mengubah kepribadian saya. Bagi saya, 

seseorang yang ‘bahagia" harus seperti teman- teman saya tadi, selalu tampak 

tersenyum dan tertawa. Bisa ditebak, usaha mengubah kepribadian ini gagal total. 

'Cetakan saya sudah seperti ini. Saya mulai terpikir, bisakah saya “bahagia" tanpa 

mengubah kepribadian asli saya?

D

The Problem with Positive Thinking

Setelah membaca hasil Survei Khawatir Nasional dan mendengarkan penjelasan 

Dr. Andri, saya jadi berpikir bahwa kekhawatiran sehari-hari bukanlah sebuah 

kondisi yang bisa dianggap remeh. Selain membuat kita jadi sulit merasakan damai, 

ada risiko lain yaitu ancaman atas kesehatan fisik kita sendiri. Terus, bagaimana 

dong solusinya? Adakah cara mengatasi kekhawatiran sehari-hari dan juga emosi 

negatif lainnya?

Saya dikenal memiliki karakter yang pesimis dan sering kali berpikiran negatif. 

saat  berkumpul dengan teman-teman atau keluarga, lalu ada yang mengusulkan 

ide untuk bersenang- senang, saya pasti mampu melihat semua kemungkinan buruk

yang bisa terjadi dari ide ini . Yuk kita main ke tempat paling gaul saat ini! 

/saya: Ah males, nanti sudah capek mengantri gak dapet tempat]. Yuk jalan-jalan ke

luar kota! /saya: Ah nanti macet, hanya capek saja jadinya]. Yup, bisa terbayang kan

betapa populernya saya di pertemanan?

Sering kali nasihat yang saya dapatkan adalah, "Jangan berpikiran negatif melulu 

dong. Think positive ajal" Pada umumnya, pernyataan itu berarti sebaiknya saya 

hanya memikirkan kemungki


Filosofi 2

 


nan yang positif atau terbaik saja daripada memikirkan 

hal negatif yang mungkin terjadi. Ajakan untuk "berpikir yang positif saja" seperti ini 

sudah sangat populer.

Saya ingat di pertengahan tahun 2000-an pernah membaca artikel  populer 

The Secret yang bahkan mengklaim bahwa sekadar berpikir positif dan 

memikirkan hal yang kita dambakan saja mampu membawa perubahan 

yang kita mau! (Saya sudah berpikir keras supaya Gal Gadot menghubungi 

saya, tapi tidak kejadian tuh....)

Perkembangan terakhir ilmu psikologi justru menemukan adanya potensi 

masalah dengan anjuran berpikir positif. Artikel "The Problem With Positive 

Thinking" menyebutkan bahwa positive thinking justru sering menghambat 

kita. Beberapa eksperimen menunjukkan, mereka yang menerapkan positive

thinking dalam berusaha mencapai tujuannya sering kali memperoleh hasil 

yang lebih buruk dibandingkan dengan mereka yang tidak menerapkan 

positive thinking. Positive Thinking "menipu" pikiran kita, beranggapan 

seolah-olah kita "sudah" mencapai apa yang kita inginkan, sehingga 

melemahkan keuletan kita dalam berusaha mencapainya. Namun, 

sebaliknya, sekadar menyuruh orang berpikir realistis saja juga tidak 

memberikan hasil yang lebih baik.

Penulis artikel ini  mengusulkan "mental contrasting", yaitu 

menggabungkan positive thinking (membayangkan hasil yang diharapkan 

telah tercapai), dengan memikirkan hambatan- hambatan apa saja yang 

akan ditemui. Penelitian menunjukkan peserta eksperimen yang melakukan 

"mental contrasting" ini memperoleh pencapaian yang lebih baik 

dibandingkan dengan mereka yang hanya membayangkan hal-hal positif 

saja, atau yang hanya membayangkan hal negatif saja.

Artikel "The Tyranny of Positive Thinking Can Threaten Your Health and 

Happiness" (Tirani Berpikir Positif Dapat Mengancam Kesehatan dan 

Kebahagiaan Anda) di Newsweek menyatakan bahwa positive thinking 

justru bisa menyebabkan sebagian orang gagal dan merasa depresi, sebab  

secara implisit "menyalahkan" diri sendiri jika mereka tidak merasa bahagia. 

Misalnya, kita sedang merasa terpuruk sebab  tidak lulus ujian. Kesedihan 

ini masih ditambah lagi kita menjadi merasa bersalah sebab  merasakan 

kesedihan itu sendiri ("Saya harusnya bisa positive thinking, kenapa saya 

masih merasa sedih?"]. Ini bagaikan kena tinju dua kali, dan tinju yang 

kedua— merasa bersalah sebab  tidak bisa bahagia—justru yang lebih 

merusak dibandingkan kegagalan saat ujian itu sendiri.

 20

Julie Norem, Profesor Psikologi dari Wellesley College yang menjadi narasumber 

artikel ini , meneliti mengapa beberapa orang justru memberi respon lebih 

baik terhadap peristiwa negatif, sebuah sikap yang disebutnya sebagai "pesimisme

defensif". Penelitiannya menunjukkan bahwa dengan memikirkan segala sesuatu 

yang bisa berjalan tidak sesuai rencana, orang-orang ini justru mengurangi 

kekhawatiran mereka dan sering kali sanggup untuk mengantisipasi hambatan-

hambatan ini .

Dari artikel yang sama, penulis Barbara Ehrenreich menyalahkan krisis finansial 

2008 kepada para investor yang menolak untuk memikirkan kemungkinan yang 

buruk (berinvestasi hanya membayangkan untung besar saja, tidak mau 

memikirkan bahwa investasi bisa juga merugi). Nanti kita akan melihat bagaimana 

temuan di atas sudah dipikirkan oleh para filsuf Stoa sejak 2.000 tahun yang 

lampau.

Bagaimana dengan agama? Tidakkah agama (seharusnya) menawarkan cara 

memperoleh kedamaian di dunia (selain di surga)?

Walaupun di atas kertas memang demikian, namun  dari pengamatan pribadi saya 

banyak orang masih menjadikan agama hanya sebagai "tiket ke surga", di mana 

ritual keagamaan menjadi sekadar daftar yang harus dicentang untuk memenuhi 

syarat masuk surga, namun  para penganutnya tidak memahami dan menerapkan 

substansinya sebagai pedoman kedamaian dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, 

sering kali (interpretasi) agama dijadikan alasan untuk bertengkar dan menyakiti 

orang lain.

Selain itu, identitas agama sering dijadikan dasar untuk “membedakan", bukan 

untuk mencari kesamaan yang mempertemukan [common ground]. Boro-boro 

mencari kesamaan antar-agama dan keyakinan yang berbeda, bahkan di dalam 

agama dan keyakinan yang sama saja kita bisa mencari-cari perbedaan 

interpretasi, mazhab, dan ritual untuk dipertengkarkan.

Ini sebenarnya sangat disayangkan, sebab  berbagai agama menawarkan mutiara 

kehidupan yang kaya dan saling melengkapi, namun  label identitas agama yang 

berbeda-beda


 22

justru bisa mendirikan tembok-tembok yang memisahkan, misalnya, '‘sebab  gue 

Kristen gue gak mau membaca kebijaksanaan yang ada di agama Islam," atau, 

“sebab  gue Muslim gue gak mau membaca kebijaksanaan yang ada di agama 

Hindu," dan seterusnya.

Adakah ide alternatif yang bisa membantu kita merasa lebih tenang dan damai, 

tanpa terbentur label dan politik identitas?


Kira-kira 300 tahun sebelum Masehi (atau sekitar 2.300 tahun yang lalu), seorang 

pedagang kaya dari Siprus (sebuah pulau di Selatan Turki) bernama Zeno 

melakukan perjalanan dari Phoenicia ke Peiraeus dengan kapal laut melintasi 

Laut Mediterania. Zeno membawa barang dagangan khas daerah Phoenicia, yaitu

semacam pewarna tekstil berwarna ungu yang sangat mahal, yang sering dipakai 

untuk mewarnai jubah raja-raja. Pewarna ini dibuat dari ekstrak siput laut, dan 

proses pembuatannya sangat melelahkan, sebab  ribuan siput laut ini harus 

dibuka dengan tangan hanya untuk mendapatkan beberapa gram ekstrak 

pewarna. sebab nya tidak heran barang ini sangat berharga dan mahal.

Malang tidak bisa ditolak, kapal yang ditumpangi Zeno karam. Zeno tidak hanya 

kehilangan seluruh barang dagangannya yang teramat mahal, namun  ia juga harus 

terdampar di Athena. Ini tentunya sebuah cobaan yang besar, tidak hanya 

kehilangan harta benda, namun  juga harus menjadi orang asing yang luntang-

lantung di kota yang bukan rumahnya.

Suatu hari di Athena, ia pergi mengunjungi sebuah toko artikel  dan menemukan 

sebuah artikel  filsafat yang menarik hatinya, la bertanya kepada si pemilik toko 

artikel , di manakah ia bisa bertemu dengan f i lsuf-f ilsuf seperti penulis artikel  itu. 

Kebetulan saat itu melintaslah Crates, seorang filsuf aliran Cynic, dan sang 

penjual artikel  menunjuk kepadanya. Zeno pun pergi mengikuti Crates untuk belajar

filsafat darinya.

Zeno kemudian belajar dari berbagai filsuf yang berbeda, dan kemudian ia pun 

mulai mengajar filosofinya sendiri, la senang mengajar di sebuah teras berpilar 

(dalam bahasa Yunani


disebut stoa] yang terletak di sisi Utara dari agora (tempat publik 

yang digunakan untuk berdagang dan berkumpul. Mungkin semacam

alun-alun Yunani kuno ya) di kota Athena.

Sejak itu, para pengikutnya disebut "kaum Stoa". Dalam proses 

penulisan artikel  ini, saya menemukan banyak orang sulit 

menyebutkan "Stoisisme”. sebab nya, untuk memudahkan judul 

artikel , saya menyebutnya  (terjemahan langsung dari 

kata stoa].

Dari Zeno, filsafat ini dilanjutkan dan dikembangkan oleh para filsuf 

lain, mulai dari Yunani sampai ke kekaisaran Romawi. Beberapa dari 

mereka adalah Chrysippus dari Soli, Yunani, yang dianggap sebagai 

pendiri kedua Stoisisme; Cato The Younger dari Roma, seorang 

politisi dan negarawan yang terkenal sebab  berani menentang Julius

Caesar; Lucius Seneca dari Roma, seorang filsuf, negarawan, 

penulis drama; Musonius Rufus dari Roma, mengajar filsafat di era 

Kaisar Nero; Epictetus dari Yunani, terlahir sebagai budak, kemudian 

mendapat kebebasan dan tinggal di Roma; dan Kaisar Marcus 

Aurelius, yang dikenal sebagai salah satu dari Lima Kaisar Yang Baik

[The Five Good Emperors).

Stoisisme kemudian meredup di awal abad ke-4, saat  Kekaisaran 

Romawi mengadopsi agama Kristen sebagai agama resmi negara. 

Sekarang, di abad 21, di belahan dunia Barat, filosofi ini mulai 

populer kembali dengan artikel -artikel  dan presentasi yang 

memperkenalkannya kembali ke publik, seperti karya-karya dari 

William Irvine, Tim Ferris, Ryan Holiday, dan Massimo Pigliucci. 

Bahkan, sekarang ada acara tahunan Minggu Stoa [Stoic Week) 

pada sekitar bulan Oktober sampai November, di mana para peminat

Stoisisme dari seluruh dunia bisa bersama-sama melakukan refleksi 

dan mempraktikkan filosofi ini selama seminggu dengan panduan 

online.

Saat mempelajari Stoisisme, saya menemukan filosofi ini jauh dari 

mengawang-awang, atau lebih dari sekadar konsep yang abstrak dan

"intelek”. Stoisisme bersifat sangat practical dan bisa diterapkan 

sehari-hari. Saya pribadi menemukan alternatif laku hidup (meminjam

terjemahan Romo Setyo Wibowo untuk “way of Z/fe”) yang lebih baik 

dari ajaran positive thinking.

Contoh sederhana bagaimana Stoisisime telah mengubah karakter 

saya adalah sebagai berikut.

Dahulu saya bisa berubah menjadi orang yang sangat pemarah jika 

terjebak di dalam...kemacetan. Saya bisa sangat merasa stres, 

mengalami peningkatan detak jantung, dan sangat emosional di balik 

kemudi (bayangkan Bruce Banner mau berubah jadi Hulk, tapi minus 

jadi gede dan ijo aja...] Bahkan, saat saya hanya menjadi penumpang

dan tidak perlu mengemudi pun saya masih mengalami kemarahan 

ini. Jika berada di tengah kemacetan, saya merasa stuck, terjebak, 

frustrasi, dan hal ini membuat saya murka. Perilaku saya sudah 

sampai mengganggu keluarga. Setelah menemukan dan belajar 

mempraktikkan Stoisisme, saya berubah drastis. Kemacetan sudah 

tidak membuat saya emosional lagi (bahkan saat  menghadapi 

perilaku pengguna jalan lain yang terkadang ajaib dan membuat saya 

ingin mengelus dada ayam...).

Efek dari Stoisisme di hidup saya tidak hanya terbatas di situasi jalan 

raya. Stoisisme membantu saya dalam menjalani hidup sehari-hari 

dengan lebih tenteram dan tidak mudah terganggu oleh hal-hal 

negatif, kesialan, tekanan pekerjaan, sampai ke perilaku orang yang 

menyebalkan di sekitar. sebab  saya telah merasakan manfaat 

mempraktikkan Stoisisme, saya ingin berbagi kepada orang lain 

melalui artikel  ini, siapa tahu  ini bisa membantu orang-

orang lain seperti saya. Minimal, memulai ketertarikan untuk 

mempelajarinya lebih dalam.

Satu hal yang saya temui saat mempelajari Stoisisme adalah betapa 

banyak prinsip-prinsipnya yang serupa dengan yang diajarkan 

berbagai agama, orang tua, nasihat kakek nenek, sampai budaya asli 

Indonesia. Saat membaca artikel  ini, saya rasa akan banyak dari kamu

yang berpikir, "Lho, ini sama dengan ajaran agama saya!" atau, "Eh 

ini kayak kata-kata orang jaman dulu ya," atau, "Ini seper ti'quote 

tokoh besar yang itu!" Atau, mungkin kamu kenal langsung dengan 

orang yang sudah mempraktikkan prinsip-prinsip filosofi ini walaupun 

ia belum pernah membaca tentang Stoisisme.

Bagi saya, prinsip Stoisisme ini  menunjukkan kebijaksanaan 

universal yang terkandung di dalamnya. Selain itu, sebab  ini adalah 

sebuah aliran filsafat dan bukan agama/kepercayaan, seharusnya 

tidak terjadi tembok dan benturan-benturan yang umum timbul 

dengan ide-ide yang memiliki “label agama”. Saya merasa kelebihan 

Stoisisme adalah sifatnya yang kompatibel dan

r “Seorang praktisi

Stoa seharusnya merasakan

keceriaan senantiasa dan

sukacita yang terdalam,

sebab  ia mampu menemukan

kebahagiaannya sendiri, dan tidak

menginginkan sukacita yang lebih

daripada sukacita yang datang dari

dalam (inner joys)”

komplementer dengan berbagi kepercayaan. Dari yang sangat religius 

sampai agnostik sekalipun bisa mendapat manfaat dari mempelajari 

Stoisisme.

Stoisisme juga tidak bersifat "dogmatis” sebab  ia bukan agama yang 

k

K.

Seneca (On Happy Life)

memiliki aturan mutlak yang tidak boleh dilanggar, atau ada ancaman 

masuk neraka jika tidak dilakukan. Di luar ajaran- ajaran mendasar, para 

filsuf Stoa memiliki pengajaran yang tidak seluruhnya seragam satu sama 

lain. Sebagai filosofi, ia terbuka untuk diperdebatkan atau diadaptasi 

menurut kebutuhan masing-masing. artikel  ini lebih memusatkan pada 

prinsip-prinsip dasar  yang bisa membantu kita menjalani 

hidup dan ketidak-pastiannya. Pada akhirnya, praktisi Stoisisme lebih 

mementingkan praktik nyata dan manfaatnya di dalam hidup mereka 

ketimbang meributkan dogma dan teks.

Apa TUJUAN UTAMA dari ?

Mari kita mulai dari apa yang BUKAN merupakan tujuan Stoisisme. 

Stoisisme tidak dimaksudkan untuk mendapatkan hal-hal yang bersifat 

eksternal, seperti sukses jodoh, disayang bos dan istri (istri sendiri, bukan 

istri si bos!), mendapatkan ide bisnis start-up yang gampang memperoleh 

investasi jutaan dolar, atau anak-anak yang jenius. Ini yang 

membedakannya dari banyak ajaran self-help populer masa kini. Nanti 

akan dijelaskan alasan mengapa para filsuf Stoa tidak mengejar hal- hal 

ini .

Yang terutama ingin dicapai oleh Stoisisme adalah:

1. Hidup bebas dari emosi negatif (sedih, marah, cemburu, curiga, 

baper, dan lain-lain), mendapatkan hidup yang tenteram 

[tranquil). Ketenteraman ini hanya bisa diperoleh dengan 

memfokuskan diri pada hal-hal yang bisa kita kendalikan. Kita 

akan membahas lebih lanjut di bagian-bagian berikutnya.

2. Hidup mengasah kebajikan [virtues). Ada empat kebajikan utama 

menurut Stoisisme:

a. Kebijaksanaan [wisdom): kemampuan mengambil 

keputusan terbaik di dalam situasi apa pun.

b. Keadilan [justice): memperlakukan orang lain dengan adil 

dan jujur.

c. Keberanian /courage): keberanian berbuat yang benar, 

berani berpegang pada prinsip yang benar. Ini bukan 

‘‘berani’’ dalam makna sempit, seperti bernyali masuk 

kandang singa (walaupun jika kita membaca kisah hidup 

para filsuf Stoa, rasanya mereka juga akan berani masuk 

kandang singa jika memang perlu....).

d. Menahan diri /temperance): disiplin, kesederhanaan, 

kepantasan, dan kontrol diri (atas nafsu dan emosi).

Saat saya mempelajari Stoisisme, saya menemukan bahwa 

“kebahagiaan” (dalam pengertian umum) bukanlah tujuan utama yang 

dicari dalam filosofi ini. Para filsuf Stoa lebih menekankan pada 

mengendalikan emosi negatif, dan mengasah virtue (kebajikan, atau 

terjemahan lainnya “keutamaan”). Virtue dalam bahasa Inggris diambil 

dari kata dalam Bahasa Latin virtus, dan kata ini sendiri diambil dari 

bahasa Yunani arete. Dalam proses penerjemahan berlapis ini tentu ada 

makna yang hilang, dan penting untuk kita mengetahui apa makna asli 

dari kata arete.

Dalam artikel nya Stoicism and The Art of Happiness, Donald Robertson 

menerangkan bahwa arete bermakna menjalankan sifat dan esensi dasar 

kita dengan sebaik mungkin, dengan cara sehat dan terpuji. Atau, kalau 

saya mencoba menggunakan kata-kata saya sendiri, hidup sebaik-

baiknya sesuai dengan peruntukkan kita.

Mungkin lebih jelas jika kita melihat contoh penggunaan arete dalam 

penggunaan bahasa Yunani aslinya. Seekor kuda yang kuat, tangguh, 

dan bisa berlari kencang bisa disebut memiliki arete (sementara dalam 

bahasa Inggris tidak mungkin kuda itu disebut memiliki virtue, atau dalam 

bahasa Indonesia kuda itu disebut ‘bajik’). Ini artinya si kuda yang kuat 

dan berlari kencang ini sudah menjalankan hidupnya sebaik-baiknya 

sesuai sifat dan esensi dasar dari ‘kuda’.

 percaya bahwa hidup dengan arete/v/rtue/kebajikan ini 

yang harus dikejar oleh kita semua. Bersama-sama dengan kemampuan 

mengendalikan emosi negatif, maka hidup yang tenteram, damai, dan 

tangguh akan hadir sebagai konsekuensi.

Namun, untuk bisa hidup dengan arete, kita harus terlebih dahulu 

mengetahui apa sebenarnya esensi dan peruntukkan kita sebagai 

manusia. Ini yang akan dibahas di bab berikutnya.

Berbeda dari banyak aliran filsafat lain, Stoisisme terasa lebih 

menekankan pada praktik, dan tidak terlalu pada diskusi intelektual 

menyangkut ide-ide dan konsep abstrak. Semakin banyak saya membaca

mengenai Stoisisme, semakin saya merasa para tokoh-tokoh filsafat ini 

lebih menyerupai psikolog, konselor, guru BP (eh, sekarang namanya 

guru BK, Bimbingan Konseling, ya?), dan life coach untuk zamannya. 

Mereka adalah pengamat perilaku manusia dan human condition yang 

tajam, sangat mengerti kehidupan manusia, bisa membedakan 

kebahagiaan dan damai yang substansial dari yang dangkal, dan juga 

pragmatis dalam penerapan sehari-hari.

Salah satu alasan mengapa saya menyukai filosofi ini adalah sebab  

SIAPA PUN bisa ikut mempraktikkannya tanpa harus bergantung pada 

atribut-atribut, seperti kekayaan, prestasi akademis, inteligensi bawaan, 

warna kulit, suku, karier, atau profesi. Stoisisme sama sekali tidak 

terpesona dan tidak mementingkan pencapaian-pencapaian dunia, seperti

kekayaan, kesuksesan karier, popularitas, dan lain-lain.

Ini yang menjadikan Stoisisme sebagai filosofi yang bersifat inklusif—

merangkul semua. Harta benda, popularitas, gelar akademisi yang 

melebihi panjang nama-hal-hal ini  bukan definisi sukses, dan juga 

bukan bukti bahwa seseorang mempraktikkan Stoisisme. Ini tampak nyata

dari latar belakang para filsuf Stoa yang beragam, mulai dari politisi, 

kaisar, pedagang, sampai mantan budak. Sebaliknya, jika seseorang 

memiliki rasa tenteram dan sukacita yang tidak mudah goyah di situasi 

hidup apa pun, jika ia menunjukkan kepedulian sosial, jika ia hidup dalam 

kebajikan, maka inilah buah-buah dari praktik Stoisisme.

’‘Seorang praktisi Stoa seharusnya merasakan keceriaan senantiasa

dan sukacita yang terdalam, sebab  ia mampu menemukan 

kebahagiaannya sendiri, dan tidak menginginkan sukacita yang 

lebih daripada sukacita yang datang dari dalam /inner joys/." - 

Seneca lOn Happy Life)

Damai dan

tenteram ini kokoh

sebab  berakar dari

dalam diri kita, bukan

pada hal-hal eksternal

yang bisa berubah,

hancur, atau direnggut

dari kita.

Tujuan membebaskan kita dari emosi negatif, minimal menguranginya, 

rasanya sangat relevan dengan kehidupan sekarang yang penuh 

ketidakpastian. Setelah membaca hasil Survei Khawatir Nasional, rasanya 

pemikiran purba ini tetap relevan, bahkan sesudah lewat lebih dari 2.000 

tahun. Di dalam artikel "Why Stoicism Matters Today", Kare Anderson 

menyebutkan beberapa alasan mengapa Stoisisme tetap relevan di masa 

kini:

1. Stoisisme ditulis untuk menghadapi masa sulit.

Stoisisme lahir di era penuh peperangan dan krisis di Yunani. 

Filsafat ini tidak menjanjikan materi ataupun damai di akhirat, 

namun  damai dan tenteram yang kokoh di kehidupan sekarang. 

Damai dan tenteram ini kokoh sebab  berakar dari dalam diri kita, 

bukan pada hal-hal eksternal yang bisa berubah, hancur, atau 

direnggut dari kita.

Di era di mana banyak hoaks, fake news, maupun fitnah yang 

beredar dengan liar di media sosial ataupun chat group, serta 

keriuhan politik yang sering kali berdampak pada relasi personal 

dan menyebabkan perpecahan di masyarakat, rasanya Stoisisme 

sama relevannya untuk Indonesia saat ini, seperti halnya di Yunani

& Romawi 2.000 tahun yang lalu.

2. Stoisisme dibuat untuk globalisasi. Stoisisme mungkin adalah 

filsafat Barat pertama yang mengajarkan persaudaraan universal 

[universal brotherhood). Di tengah dunia yang rasanya semakin 

terpolarisasi dengan "kiri” versus "kanan”, "konservatif” versus 

"liberal”, tersekat oleh identitas suku dan agama, sebuah filosofi 

yang mengajarkan bahwa "kita semua adalah saudara dalam 

kemanusiaan” sungguh sangat dibutuhkan. Ini juga pas dengan 

kondisi Indonesia yang terasa memanas sebab  politik, di mana 

label-label pemisah dan penyekat terasa semakin menguat.

3. Stoisisme adalah filsafat kepemimpinan.

Kepemimpinan di sini tidak sesempit memimpin tim, organisasi, 

ataupun negara, namun  dimulai dari memimpin diri sendiri. 

Stoisisme mengajarkan kita untuk memprioritaskan mengendalikan

diri sendiri sebelum mencoba mengendalikan kehidupan dan 

orang-orang di luar kita. Stoisisme membekali para pemimpin 

untuk tegar di dalam kegagalan dan rendah hati di saat sukses. 

Bekal ini berguna bagi siapa pun, tidak terbatas pada mereka yang

memangku jabatan resmi.

artikel  The Daily Stoic memaparkan beberapa orang terkenal yang diketahui

—berdasarkan pengakuan langsung maupun tulisan-tulisan mereka—

mempelajari dan mempraktikkan Stoisisme dalam kehidupannya, seperti 

mantan presiden Amerika Serikat Bill Clinton, aktris Anna Kendrick, aktor 

Tom Hiddleston, penulis J.K. Rowlings, dan Nicolas Nassim Taleb— 

penulis favorit saya, yang menulis artikel  keuangan The Black Swan\ artikel  

 tidak dimaksudkan menjadi artikel  pengantar resmi Stoisisme, 

apalagi sebagai referensi utama. artikel  kecil ini tidak mungkin cukup 

menjelaskan keseluruhan filosofi ini. Saya hanya mengambil inti-inti yang 

saya rasakan paling mudah dan relevan untuk kehidupan sehari-hari, yang 

saya gabungkan dengan insight pribadi saya dan juga perspektif para 

praktisi dari bidang-bidang yang saya anggap relevan.

Saya menganjurkan kamu untuk membaca lebih dalam dan menemukan 

sendiri filosofi ini secara lebih utuh, baik melalui tulisan-tulisan kontemporer

mengenainya, atau membaca langsung tulisan-tulisan dari tokoh-tokoh 

filosofi ini—walaupun sayangnya hampir semua literatur yang saya baca 

masih menggunakan bahasa Inggris. Referensi di internet juga sangat 

banyak, dari tulisan sampai video, meskipun lagi-lagi sebagian besar masih

dalam bahasa Inggris.

Anggaplah artikel  ini menjadi appetizer (hidangan pembuka) terhadap 

filsafat Stoisisme, dan semoga dari 'hidangan pembuka’ ini, kamu tertarik 

untuk ‘menyantap hidangan utama’, yaitu tulisan-tulisan mengenai 

Stoisisime, baik dari penulis asli maupun penulis kontemporer lainnya.

Mari kita mulai memasuki  ini!

Br Tujuan utama dari^

F  adalah

hidup dengan emosi

negatif yang terkendali,

dan hidup dengan

kebajikan (virtue/arete)

—atau bagaimana kita

hidup sebaik-baiknya

seperti seharusnya kitaj

menjadi manusia,

• w

•1

w

B r

<

Intisari Bab 2:

• , atau Stoisisme, adalah aliran filsafat Yunani-Romawi 

purba yang sudah berusia lebih dari 2.000 tahun, namun  masih relevan 

untuk kondisi manusia zaman sekarang.

• Sebagai sebuah filsafat, Stoisisme bisa melengkapi cara kita menjalani 

hidup. Stoisisme bukan agama kepercayaan.

• Stoisisme mengandung banyak ajaran dan nilai-nilai universal yang 

mungkin kita dengar dari filosofi lain, nilai budaya, atau agama.

• Tujuan utama dari  adalah hidup dengan emosi negatif 

yang terkendali, dan hidup dengan kebajikan (virtue/arete)—atau 

bagaimana kita hidup sebaik-baiknya seperti seharusnya kita menjadi 

manusia.

BAB TIGA

Hidup 

Selaras 

dengan 

Alam

36

aat menulis artikel  ini, anak saya masih berusia 21 bulan. Jika 

memungkinkan, saya senang menyempatkan diri berjalan- jalan 

dengannya di kompleks perumahan saat pagi atau sore hari. Saya

senang mengamati bagaimana dia berkembang dari bayi yang tidak 

bisa apa-apa hingga sekarang sudah mulai berjalan dan mencoba 

belajar berlari. Ada yang lucu dari caranya berlari yang belum 

sempurna, tangannya masih lurus menggantung dan belum berayun 

layaknya cara berlari orang yang lebih dewasa. Dalam proses 

pertumbuhannya, kelak dia akan mengerti bagaimana cara berlari 

yang ‘seharusnya’. Sampai ia mengerti cara berlari yang ‘seharusnya’,

ia selalu tampak kurang seimbang dan sepertinya bisa tersandung 

kapan saja.

S

Satu prinsip utama Stoisisme adalah bahwa kita harus "hidup selaras 

alam” [in accordance with nature). Jika kamu langsung mengantuk 

mendengar ini, atau tiba-tiba teringat pernah membuang sampah 

sembarangan, tunggu dulu! "Hidup selaras alam" dalam Stoisisme 

tidak sesempit "memelihara harmoni dengan lingkungan hidup", 

seperti tidak membuang sampah sembarangan, mencemari 

lingkungan, atau mencintai dan melindungi satwa langka (walaupun 

tentu hal-hal ini juga baik dilakukan). Di dalam Stoisisme, "Alam” 

[Nature—dengan huruf pertama kapital/ di sini lebih besar dari 

"lingkungan hidup”, serta mencakup keseluruhan alam semesta dan 

seluruh penghuninya.

Dalam konteks nature dari manusia, Stoisisme menekankan satu-

satunya hal yang dimiliki “manusia” yang membedakannya dari 

"binatang”. Hal ini  adalah nalar, akal sehat, rasio, dan 

kemampuan menggunakannya untuk hidup berkebajikan [life of 

virtues). Manusia yang hidup selaras dengan alam adalah manusia 

yang hidup sesuai dengan desainnya, yaitu makhluk bernalar.

Dikaitkan dengan konsep arete di bab sebelumnya, maka manusia 

yang hidup dengan arete/vVrtue/kebajikan adalah ia yang sebaik-

baiknya menggunakan nalar dan rasionya— sebab  itulah esensi, 

nature mendasar dari menjadi manusia.

Yang menarik, nalar/rasionalitas yang sangat dipentingkan di dalam 

 adalah konsep yang bisa diterima oleh

37

siapa pun tanpa harus memperdebatkan asal muasalnya. 

Mereka yang religius akan memandang nalar/rasio sebagai 

sebuah karunia dari Sang Pencipta dan mungkin bersifat 

abstrak, dalam arti tidak berwujud fisik atau bagian 

dari ruh manusia. Sebaliknya, mereka yang skeptis dan 

sangat berpegangan pada sains mungkin melihat nalar 

murni sebagai fungsi biologis, produk evolusi ratusan 

ribu tahun, hasil kerja dan interaksi berbagai bagian di

otak yang rumit.

It does not matter where it came from. Stoisisme lebih menekankan 

bahwa rasionalitas adalah fitur unik dari manusia. Walaupun ilmu 

psikiatri dan saraf modern mengerti bahwa fungsi nalar bisa menjadi 

rusak/terganggu sebab  gangguan otak atau penggunaan narkoba, 

namun  untuk pembahasan ini kita mengasumsikan fungsi nalar yang 

sehat pada kebanyakan orang.

Sampai di sini mungkin kamu berpikir, “YA ELAH, APA 

ISTIMEWANYA INI? GUE JUGA UDAH TAU KALO MANUSIA LEBIH 

PINTER DARI BINATANG!" Ini mungkin pemahaman lama bagi kita 

semua, namun  kemudian Stoisisme lebih jauh lagi mengajarkan 

mengapa kita harus selalu menggunakan rasionalitas. Argumennya 

kurang lebih seperti berikut:

• Jika kita ingin hidup bahagia, bebas dari emosi negatif, kita 

“harus hidup selaras dengan Alam".

• Alam memberikan manusia rasionalitas sebagai fitur unik yang 

membedakannya dari binatang.

• “Hidup selaras dengan Alam" untuk manusia artinya kita 

HARUS menggunakan nalar. Saat kita tidak menggunakannya,

praktis kita tidak berbeda dengan binatang.

• saat  kita tidak menggunakan nalar kita, selain kita menjadi 

sama dengan binatang, kita akan rentan merasa tidak bahagia,

sebab  kita telah “tidak selaras lagi dengan Alam”. Bayangkan 

seekor singa yang sifat dasarnya adalah tinggal di savanna 

luas di alam bebas, kemudian harus tinggal di kurungan sempit

di kebun binatang. Singa yang hidupnya sudah tidak selaras 

lagi dengan Alam ini rasanya sulit merasa 'bahagia’, bahkan 

walaupun makanannya dijamin sekalipun.

 38

Coba kita pikirkan situasi-situasi sehari-hari di mana kita mungkin 

kehilangan nalar, akal sehat, atau kepala dingin—-walau hanya sesaat:

• Kita menerima e-mail pekerjaan yang—menurut kita— sengaja 

menyinggung perasaan pribadi. Kita segera membalas e-mail 

ini  dengan kosakata berbagai penghuni kebun binatang 

(padahal kita tidak berkantor di kebun binatang).

• Kita sedang berkendara di jalan, kemudian kendaraan kita 

disalip orang. Serta-merta kita emosi dan marah- marah, 

bahkan sampai mengejar penyerobot ini  untuk membalas

dendam (padahal, kita sedang naik skuter, sementara yang 

nyalip naik mobil Ferrari. Etapi ke/ce/erjuga sih kalau lagi 

macet....).

• Kita mencium wangi parfum perempuan lain di baju suami dan 

tanpa berpikir panjang kita menyentuhkan panci ke pipi suami 

(dengan kecepatan tinggi).

• Kita baru berkenalan dengan perempuan cantik, kemudian 

langsung mengajaknya tidur bersama.

• Kita membaca sebuah posting-an provokatif di media sosial 

dan langsung emosi, sehingga kita marah-marah di bagian 

comment atau segera mem-forward-nya ke banyak orang 

tanpa mengecek dulu kebenarannya.

Di semua contoh situasi tadi, kita sedang tidak menggunakan 

nalar/rasio dan hanya mengikuti hawa nafsu. Apakah kira- kira semua 

tindakan tadi akan membawa hasil yang positif? (Bayangkan nasib 

sang suami yang dielus panci dengan kecepatan tinggi tadi). Inilah 

yang dimaksudkan di dalam Stoisisme, agar kita "hidup selaras 

dengan Alam", yaitu, sebisa mungkin, di setiap situasi hidup, kita tidak 

kehilangan nalar kita dan berlaku seperti binatang, yang akhirnya 

berujung kepada ketidakbahagiaan (dan dalam beberapa kasus, benjol

di kepala orang lain).

Makhluk Sosial

Selain memiliki nalar, Stoisisme percaya bahwa sifat alami [nature) 

manusia adalah social creatures (makhluk sosial). Artinya, kita harus 

hidup sebagai bagian dari kelompok yang lebih besar. Jika ini 

digabungkan dengan prinsip manusia harus menggunakan nalar tadi, 

seorang praktisi Stoa—seharusnya— hidup secara sosial, yaitu tidak 

mengisolasi diri dari manusia lainnya, dan juga berhubungan dengan 

39 

orang lain secara rasional.

Percuma kalau kita menjadi bijak dan tahu segala hal, namun  memutus

hubungan  dengan  sesamanya.  Sebaliknya,  percuma  juga  kita  aktif

secara  sosial,  namun   tidak  menggunakan  nalar,  dan  bahkan  sampai

dikuasai emosi negatif, seperti marah, dengki, dan iri hati. Penggunaan

nalar  dan  hidup  sosial  berjalan  beriringan.  Kita  semua tahu  bahwa

hidup dengan orang lain pada kenyataannya memang tidak mudah.

Setiap  hari  kita  akan  berhadapan  dengan  perilaku  orang  lain  yang

menjengkelkan.  Para filsuf  Stoa menyadari  sepenuhnya hal  itu,  dan

nanti  kita  akan  melihat  bagaimana  caranya  praktisi  Stoisisme  bisa

hidup berdampingan dengan  orang  lain  secara  rasional  dan damai,

bahkan di antara orang yang (kita anggap) menyebalkan sekalipun.

Keterkaitan Segala Sesuatu di Dalam Hidup 

(Interconnectedness)

"Hidup selaras dengan Alam” menuntut kita menyadari adanya 

keterkaitan [interconnectedness] di kehidupan ini. Stoisisme melihat 

segala sesuatu di alam semesta ini sebagai keterkaitan, bagaikan 

jaring-jaring raksasa, termasuk semua peristiwa di dalam hidup kita 

sehari-hari. Dengan kata lain, kejadian-kejadian yang ada di dalam 

hidup kita adalah hasil rantai peristiwa yang panjang, dari peristiwa 

"besar” sampai peristiwa yang terkesan “remeh” sekalipun.

Jadi, jika suatu hari kita menginjak eek kucing di jalan (umumnya tidak 

sengaja, saya tidak pernah kenal orang yang senang menginjak eek 

kucing....), maka ini bukanlah sebuah peristiwa acak/random, namun  

adalah hasil rantai banyak peristiwa lain. Misalnya, si kucing eek di situ

sebab  memang sudah kebelet dan pada saat itu titik ini  tampak 

nyaman untuk si kucing buang hajat. Kemudian, kita pas sedang 

melewati jalanan ini  dan sibuk stalking media sosial mantan 

sampai tidak memperhatikan jalan, dan JREK\ Terinjaklah eek kucing 

itu oleh kita.

 40

Tidak ada peristiwa yang betul-betul "kebetulan". Atau, dengan kata lain, 

sesuatu yang sudah terjadi di masa lalu dan sedang terjadi pada detik ini juga

adalah hal tak terhindarkan sebab  merupakan mata rantai dari peristiwa-

peristiwa sebelumnya.

Kamu mungkin berpikir bahwa ini mirip dengan konsep "takdir”. 

41 

Perbedaannya adalah Stoisisme tidak mengharuskan adanya dewa-dewi 

atau Tuhan yang merancang keterkaitan peristiwa- peristiwa ini. Sebagian 

filsuf Stoa mengatribusikannya kepada Tuhan, sementara sebagian lainnya 

sekadar melihat alam semesta bagaikan mekanisme raksasa yang bergerak 

menuruti hukum-hukum alam. Sama seperti konsep nalar di atas, tidak terlalu

penting "dari mana” keterkaitan ini ada untuk kita bisa menjadikan Stoisisme 

sebagai laku hidup, yang penting adalah menyadari bahwa eksistensi setiap 

manusia adalah bagian dari Alam yang lebih besar. Hidup kita sangat terkait 

di jaring semesta ini, dan semua peristiwa di dalam hidup ini menaati hukum 

dan aturan ”Alam”.

Dunia sains modern mengenal The Butterfly Effect (Efek Kupu- Kupu) di 

dalam Chaos Theory yang mengingatkan saya pada interconnectedness di 

Stoisisme. Singkatnya, Efek Kupu-Kupu berkata kepakan sayap seekor kupu-

kupu di Amerika Serikat bisa menyebabkan topan badai di China beberapa 

waktu kemudian. Waduh! Lebay amat? Masak iya? Efek Kupu-Kupu ini sering

dijadikan ilustrasi dalam menjelaskan Chaos Theory.

Menurut sains, di dalam sebuah sistem nonlinear (seperti cuaca), perubahan 

kecil saja (seperti kepakan sayap kupu) di waktu dan tempat yang tepat, bisa 

menyebabkan reaksi berantai yang berujung pada perubahan yang sangat 

besar (seperti topan badai di tempat lain yang jauh). Menurut saya, teori 

sains modern ini sesuai dengan interconnectedness di dalam  

yang berusia 2.000 tahun lebih.

Kembali ke kehidupan sehari-hari kita. Coba kita membayangkan peristiwa-

peristiwa penting dalam hidup kita yang tentunya lebih signifikan daripada 

menginjak e'ek kucing di jalan. Bisa dimulai dari proses kelahiran kita. 

Tidakkah kita bisa merunut ke belakang rantai peristiwa yang akhirnya 

berujung kepada kelahiran kita? Dan mungkin kita akan menemukan hal- hal 

signifikan di hidup kita sekarang adalah hasil rantai panjang konsekuensi 

sebuah peristiwa sepele belasan atau bahkan puluhan tahun yang lampau. 

Misalnya:

• Bagaimana kita bisa ada di dunia? sebab  selama kira- kira sembilan 

bulan kita dikandung ibu kita dengan baik.

• Bagaimana ibu kita bisa mengandung kita? Well, tidak perlu dijelaskan

di sini harusnya, ahem. Ya gitu deh, bapak nakal....

• Bagaimana terjadinya “ehem-ehem" itu? sebab  ayah dan ibu kita 

sebelumnya menikah.

• Mengapa mereka menikah? sebab  sebelumnya mereka mungkin 

sudah pacaran selama beberapa lama dan kemudian memutuskan 

untuk mengikat tali pernikahan.

 42

• Bagaimana mereka awalnya bertemu? sebab  dikenalkan oleh teman 

yang merasa mereka berdua akan cocok.

• Bagaimana teman ini tahu kedua calon orang tua kita ini? sebab  dia 

kebetulan adalah teman kuliah mereka.

• Bagaimana orang tua kita bisa menjadi teman kuliah dengan orang 

ini? sebab  orang tua kita secara terpisah memilih, atau dipaksa, 

untuk kuliah di tempat ini .

• Dan seterusnya, dan seterusnya.

Maka, jika dirunut, kelahiran kita di dunia ternyata adalah konsekuensi dari 

mata rantai peristiwa hidup yang sangat panjang, yaitu gabungan banyaknya 

peristiwa dan keputusan- keputusan yang diambil para pelaku hidup di sekitar

kita dan juga orang-orang yang tidak kita kenal. Hal ini berlaku untuk 

''seluruh” hal yang pernah dan sedang terjadi di dalam hidup kita, baik besar 

maupun ‘‘kecil”. Dari tempat kita akhirnya bersekolah/kuliah atau bekerja, 

sampai kejadian kita ketinggalan kereta, semua peristiwa-peristiwa ini 

sesungguhnya tidak "berdiri sendiri” [isolated], namun  hanyalah bagian dari 

mata rantai peristiwa yang terus bersambung.  melihat semua 

peristiwa hidup sebagai sebuah keteraturan kosmos dari peristiwa-peristiwa 

terkait yang mengikuti aturan alam.

Hidup selaras dengan

Alam artinya kita

harus sebaik-baiknya

menggunakan nalar,

akal sehat, rasio,

sebab  itulah yang

membedakan manusia .

dan binatang.

sebab  keterkaitan (termasuk di dalamnya semua peristiwa di 

kehidupan kita) adalah bagian dari “Alam” [Nature], maka “melawan 

atau mengingkari peristiwa yang terjadi" dianggap sama dengan 

“melawan Alam”, dan seperti telah dijelaskan sebelumnya, Stoisisme 

mengajarkan agar manusia hidup “selaras dengan alam”.

Melanjutkan contoh sebelumnya, marah-marah sebab  sepatu Jordan 

terbaru kita menginjak e’ek kucing adalah melawan alam dan sebuah 

kesia-siaan (lebih sia-sia lagi marah-marah kepada sang empunya 

e’ek.] Begitu juga dengan menyesali kondisi kita dilahirkan, entah itu 

kondisi keluarga, negara kita dilahirkan, kondisi kesehatan kita saat 

dilahirkan, dan lain-lain. Semuanya sudah terjadi mengikuti keteraturan 

"Alam”. Jadi, untuk apa disesali, ditangisi, dan disumpahserapahi? 

Semua hal yang telah terjadi di masa lalu dan baru saja terjadi detik ini

—termasuk sekarang saat kamu sedang membaca artikel  ini—terjadi 

mengikuti aturan "Alam" ini. [Forfun, coba dirunut peristiwa-peristiwa 

yang menyebabkan kamu detik ini sedang membaca artikel  ini).

Apakah artinya filosofi ini mengajarkan pasrah pada keadaan? Sama 

sekali tidak! Di bab berikut kita akan memahami mengapa penerimaan 

Stoisisme akan peristiwa hidup sama sekali tidak sama dengan 

kepasrahan totaL

Intisari Bab 3:

• Manusia harus hidup selaras dengan Alam jika ingin hidup yang 

baik.

• Keluar dari keselarasan dengan Alam adalah pangkal 

ketidakbahagiaan.

• Hidup selaras dengan Alam artinya kita harus sebaik- baiknya 

menggunakan nalar, akal sehat, rasio, sebab  itulah yang 

membedakan manusia dan binatang.

•  percaya bahwa segala sesuatu di Alam ini saling 

terkait (interconnected), termasuk di dalamnya segala peristiwa 

yang terjadi di dalam hidup kita.

• Melawan atau mengingkari apa yang telah terjadi artinya keluar 

dari keselarasan dengan Alam.

BAB EMPAT 

Dikotomi

Kendali

46

H > A ita kalah tender", kira-kira begitu bunyi e-mail yang masuk ke inbox 

saya. Sebuah tender proyek yang f B proposalnya sudah dikerjakan selama 

berhari-hari oleh perusahaan tempat saya bekerja, bahkan sampai masuk 

kantor hari Sabtu dan Minggu, akhirnya berujung dengan kekalahan. Calon 

klien akhirnya menyerahkan bisnisnya ke pihak lain. Tentunya saat pertama 

kali membaca e-mail itu, saya merasa lumayan kecewa. Siapa sih yang tidak 

ingin memenangkan tender? Kekecewaan ini kemudian berlanjut menjadi 

pikiran-pikiran yang mengganggu, "Di mana salah kami ya?", ‘Apakah 

eksekusi idenya kurang baik?", "Apakah ada tutur kata yang salah saat 

presentasi?", dan seterusnya. Pada akhirnya, saya harus menegur diri saya 

sendiri untuk berhenti. Kami tentunya harus mengevaluasi diri, namun  tidak 

perlu sampai menyesali secara berlebihan. Keputusan calon klien tidak ada 

dalam kendali kami. Kami memang bisa berusaha sebaik-baiknya dalam 

menyiapkan proposal, namun  keputusan akhir sepenuhnya sudah di luar 

kekuasaan kami. Mengingat kembali hal ini membantu membuat saya 

merasa sedikit lebih tenang. Masih ada hari esok yang masih harus 

diperjuangkan.

Some things are up to us, some things are 

not up to us"

- Epictetus [Enchiridion]

“Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal- hal yang tidak 

di bawah kendali (tidak tergantung pada) kita.”

Jika harus memilih hanya bisa mengingat satu kutipan saja dari berbagai teks

tentang , biarkan kalimat dari Epictetus di atas yang selalu 

pembaca ingat. Kalimat ini begitu sederhana, begitu mudah dipahami, dan 

mungkin saat ini kamu berpikir, "HAH, NENEK-NENEK GEN-X JUGA TAU, 

APALAGI GUE YANG MILENIAL!" Namun...apakah kamu benar-benar 

TAHU? Sekadar pernah mendengar dan “merasa” tahu tidak sama dengan 

benar-benar "tahu”, yaitu benar-benar meresapi, mendalami, dan 

menerapkannya.

• 

-t

(Epictetus)

 48

Prinsip ini disebut "dikotomi kendali” [dichotomy of control). Bisa dibilang 

semua filsuf Stoa sepakat pada prinsip fundamental ini, bahwa ada hal-

hal di dalam hidup yang bisa kita kendalikan, dan ada yang tidak. Hal-hal

apa saja yang masuk ke dalam kedua definisi ini menurut Stoisisme?

TIDAK di bawah kendali kita:

• Tindakan orang lain (kecuali tentunya dia berada di bawah 

ancaman kita).

• Opini orang lain.

• Reputasi/popularitas kita.

• Kesehatan kita.

• Kekayaan kita.

• Kondisi saat kita lahir, seperti jenis kelamin, orang tua, 

saudara-saudara, etnis/suku, kebangsaan, warna kulit, dan 

lain-lain.

• Segala sesuatu di luar pikiran dan tindakan kita, seperti cuaca, 

gempa bumi, dan peristiwa alam lainnya.

• Ada banyak hal-hal yang belum ada di masa para filsuf Stoa 

hidup, namun  dapat kita kategorikan di sini, seperti harga 

saham, indeks pasar modal, razia sepeda motor, dan nilai 

tukar rupiah.

DI BAWAH kendali kita:

1. Pertimbangan [judgment], opini, atau persepsi kita.

2. Keinginan kita.

3. Tujuan kita.

4. Segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita 

sendiri.

Lebih lanjut, Epictetus menjelaskan dalam artikel  Enchiridion,

"Hal-hal yang ada di bawah kendali kita bersifat merdeka, tidak 

terikat, tidak terhambat; namun  hal-halyang tidak di bawah kendali 

kita bersifat lemah, bagai budak, terikat, dan milik orang lain. 

sebab nya, ingatlah, jika kamu menganggap hal-halyang bagaikan

budak sebagai bebas, dan hal-halyang merupakan milik orang lain

sebagai milikmu sendiri...maka kamu akan meratap, dan kamu 

akan selalu menyalahkan para dewa dan manusia.”

Dalam bahasa gampangnya: siap-siap saja kecewa cuy kalau lo 

terobsesi pada hal-hal di luar kendali lo, seperti perbuatan/ opini orang 

lain, kekayaan kita, bahkan sampai kesehatan kita sendiri. Atau, 

49 

menyesali kondisi kita terlahir misalnya. Awal eksistensi kita di dunia ini 

adalah sebuah hal yang sangat di luar kendali kita.

Kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan (ini adalah konsekuensi 

perbuatan orang tua kita di sebuah malam yang dingin dan romantis, 

saat hujan baru usai dan bulan purnama...) dan kita sama sekali tidak 

memiliki hak suara untuk menentukan jenis kelamin kita, warna kulit kita 

(walau nanti saat sudah dewasa boleh dicoba diganti), jenis rambut kita 

(lurus, keriting, jigrak], kesehatan kita (memiliki anggota tubuh yang 

lengkap atau disabilitas), sampai etnis/suku dan kewarganegaraan kita 

saat lahir.

Banyak orang sampai usia dewasanya masih menyesali kondisi dia 

terlahir. Pikiran-pikiran seperti, “Mengapa saya terlahir menjadi orang 

Sunda, padahal seharusnya saya orang Viking!”, “Mengapa saya terlahir

di tahun 1990-an, padahal saya maunya lahir di jaman Star Trek?”, 

"Mengapa saya punya rambut keriting?”, "Mengapa saya pendek?”, dan 

lain-lain. Bagi , penyesalan seperti ini adalah kesia-siaan, 

sebab  menyesali hal yang ada di luar kendali kita.

Stoisisme mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati hanya bisa datang 

dari "things we can control", hal-hal yang di bawah kendali kita. Dengan 

kata lain, kebahagiaan sejati hanya bisa datang dari dalam. Sebaliknya, 

kita tidak bisa menggantungkan kebahagiaan dan kedamaian sejati 

kepada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan. Bagi para filsuf Stoa, 

menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang tidak bisa kita 

kendalikan, seperti perlakuan orang lain, opini orang lain, status dan 

popularitas (yang ditentukan orang lain), kekayaan, dan lainnya adalah 

tidak rasional.

Di bab sebelumnya, kita sudah melihat bagaimana Stoisisme 

mengajarkan bahwa kita wajib menggunakan nalar dan rasionalitas agar

selaras dengan alam dan terhindar dari kebiasaan menyalahkan Tuhan 

dan orang lain (pernah menyalahkan Tuhan atau orang lain untuk 

urusan rezeki, reputasi, atau kesehatan kita? Udah, ngaku aja...].

Menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang di luar kendali itu tidak

rasional, sebab  bagaimana kita bisa benar-benar bahagia jika 

pencapaian akan hal-hal ini  tidak sepenuhnya berada di tangan 

kita? Hal-hal ini tidak merdeka, bagaikan budak, dan merupakan milik 

(atau ditentukan) orang lain. Jika kita hanya bisa merasa bahagia 

dengan hal-halyang ada di luar kendali kita, ini sama saja dengan 

menyerahkan kebahagiaan dan kedamaian hidup kita ke pihak/orang 

lain. Perilaku ini  bertentangan dengan , seperti yang 

 50

akan kita bahas berikut.

Sampai di sini, mungkin ada dari kamu yang berpikir, tidakkah kekayaan 

datang dari kerja keras dan ide-ide start-up brilian kita? Tidakkah 

ketenaran bisa dibangun dengan jerih payah kita, seperti misalnya mem-

post/ng ratusan selfie dan video di media sosial? Apalagi soal kesehatan

—masak sih ini di luar kendali kita? Sejak kecil, kita diajarkan untuk 

memelihara kesehatan dengan mengonsumsi makanan sehat dan 

berolahraga. Harusnya, kekayaan dan ketenaran, apalagi kesehatan, 

termasuk dalam hal-hal yang bisa kita kendalikan dong?

Di sinilah pentingnya memahami bahwa “kendali” bukan hanya soal 

kemampuan kita “memperoleh”, namun  juga “mempertahankan”. 

Kenyataannya, kekayaan, ketenaran, dan kesehatan memang bisa 

diusahakan untuk dimiliki, namun  apakah kita yakin bisa sepenuhnya 

mempertahankannya? Atau, sesungguhnya semua itu adalah hal-

halyang sangat rapuh, ringkih, dan mudah lenyap bagai asap rokok 

disedot pemurni udara?

• Kekayaan bisa lenyap dalam sekejap. Rumah, mobil, atau tas mewah 

kita bisa terbakar. Bisnis kita bisa bangkrut atau disita pemerintah. 

Bencana alam bisa melenyapkan properti kita dalam sekejap. Pasar

saham dan investasi lain kita bisa merosot mendadak (dapat salam 

dari koleksi batu akik dan Investasi Pandawa). Kita berpikir orang 

tua kita tajir melintir kepuntir, sampai tiba-tiba suatu hari rumah kita 

kedatangan tamu dengan rompi oranye KPK. Sesungguhnya, 

kekayaan bisa dibangun, namun  mempertahankannya tidak semudah

itu.  dimulai oleh seorang pedagang kaya yang 

kehilangan


Siapa pun yang

mengingini atau

menghindari hal-hal yang ada

di luar kendalinya tidak pernah akan

benar-benar merdeka dan

bisa setia pada dirinya sendiri,

namun  akan terus terombang-ambing

terseret hal-hal ini ,”

ujar Epictetus dalam

Discourses.

kekayaannya dalam sekejap di kapal

karam. Zeno

tahu betul

bahwa harta

miliknya adalah

"tidak

tergantung

padanya".

Ketenaran. Yakinkah kita bisa sepenuhnya mempertahankan ketenaran?

Popularitas yang dibangun bertahun-tahun dengan susah payah bisa 

lenyap dalam sekejap hanya sebab  salah omong/salah posting di media

sosial, sekadar mendukung calon kepala daerah yang "salah", atau foto 

ena-ena dengan mantan tiba-tiba tersebar. Sesungguhnya, ketenaran 

dan reputasi kita sangatlah rapuh. Artinya, sebenarnya ketenaran di luar 

kendali kita sepenuhnya.

Persahabatan. sebab  persahabatan melibatkan orang lain, maka sudah

jelas hal ini di luar kendali kita, walaupun kita sudah melakukan segala 

upaya untuk mempertahankannya. Kita bisa bersikap jujur, 

CC

menghormati, menghargai, dan berusaha menyenangkan teman, namun  

tetap saja persahabatan bisa menjadi dingin dan mati sebab  satu dan 

lain hal, misalnya sama-sama naksir orang yang sama!

Kesehatan. Ini pasti bagian yang paling membingungkan, namun  sangat 

mudah dijelaskan. Mengapa kesehatan tidak termasuk hal yang bisa kita

kendalikan? Bayangkan skenario ini: seseorang hidup sangat sehat, 

menjaga makanan, tidak merokok (apalagi narkoba), tidak mabuk- 

mabukan, olahraga teratur, mencukur bulu ketiak setiap minggu, dan 

semua kebiasaan sehat lainnya. Namun, suatu hari dia didiagnosis 

menderita kanker— yang menurut pengetahuan medis saat ini masih 

bisa dipengaruhi faktor keturunan/genetik. Atau, orang yang sama 

traveling ke belahan dunia lain dan terinfeksi dengan kuman setempat. 

Atau, orang yang sama sedang lari pagi dan tiba-tiba ditabrak secara 

tidak sengaja oleh anak muda yang baru pulang party dalam keadaan 

mabuk, dan pada akhirnya orang ini  menderita cacat seumur 

hidup. Sesungguhnya, sama seperti kekayaan, kesehatan sewaktu-

waktu bisa direnggut oleh nasib.

Jadi, menyangkut hal-hal di luar kendali kita seperti kekayaan, 

reputasi, dan kesehatan, bahkan sesudah memilikinya, kita akan 

selalu dihantui rasa was-was kehilangan hal-hal ini . sebab  

semua ini berada di luar kendali kita, maka kemungkinan hal ini  

hilang benar-benar nyata. Kita bisa kehilangan karier, reputasi, status,

pacar, maupun harta dalam sekejap. Lalu, sebab  tidak berada di 

bawah kendali kita, maka hal ini  bisa direnggut sewaktu-waktu 

dari kita, dan tidak masuk akal untuk menggantungkan kebahagiaan 

pada hal-hal yang kapan pun bisa lenyap dari hidup kita. Filsuf Stoa 

mengambil pendekatan yang sangat logis, ngapain lo bahagia untuk 

sesuatu yang sewaktu-waktu bisa hilang?

"Siapa pun yang mengingini atau menghindari hal-hal yang ada di 

luar kendalinya tidak pernah akan benar-benar merdeka dan bisa 

setia pada dirinya sendiri, namun  akan terus terombang- ambing 

terseret hal-hal ini ,” ujar Epictetus dalam Discourses. Menarik di

sini bahwa Epictetus mencatat dua sikap umum terhadap hal-hal di 

luar kendali kita: mengingininya [seperti mengingini kekayaan, 

popularitas, kecantikan, dan lain-lain), dan juga menghindarinya.

Kita bisa terobsesi menghindari hal-hal buruk dalam hidup kita, 

seperti kemiskinan, kesusahan hidup, kejahatan, kematian, dan lain-

lain. Namun, sama dengan keinginan, maka menghindari hal-hal yang

di luar kendali kita adalah kesia-siaan. Keinginan dan ketakutan akan 

hal-hal di luar kendali kita bagaikan rantai yang membelenggu, 

sehingga kita tidak pernah benar-benar merdeka. saat  segala 

keputusan hidup kita didorong dan dipengaruhi oleh nafsu ingin 

memiliki—atau menghindari—hal- hal di luar kendali kita, sebenarnya 

kita telah diperbudak hal- hal ini .

Jika ingat empat kebajikan/wrfue dalam  (keberanian, 

kebijaksanaan, menahan d'\r'\/temperance, dan keadilan), maka dua 

di antaranya (keberanian dan menahan diri) adalah sikap 

menghadapi hal-hal di luar kendali di atas. Manusia yang rasional 

diharapkan bisa menahan diri dari keinginan akan hal-hal di luar 

kendali kita (harta benda, reputasi, kenikmatan ragawi seperti 

makanan, minuman, seks, kesehatan). Sebaliknya, keberanian timbul

sebab  kita sadar

kebahagiaan kita tidak tergantung pada hal-hal di luar kendali kita. Jika 

kekayaan, reputasi, kesehatan kita diambil dari kita, kita bisa tetap bahagia, jadi 

mengapa takut?

Pasrah pada Keadaan?

Dengan dikotomi kendali seperti di atas, apakah Stoisisme mengajarkan kita 

untuk pasrah pada keadaan? Sama sekali tidak. Di semua situasi, bahkan saat 

kita merasa tidak ada kendali sekalipun, selalu ada bagian di dalam diri kita yang

tetap merdeka, yaitu pikiran dan persepsi. Ada sebuah analogi menarik di dalam 

literatur Stoisisme yang menjelaskan tentang kemerdekaan di dalam situasi yang

tidak bisa kita kendalikan:

Bayangkan seekor anjing yang terikat lehernya ke sebuah gerobak. Saat 

gerobak bergerak, anjing ini punya pilihan. Pertama, dia bisa ngotot pergi 

berlawanan arah dengan si gerobak, yang hasilnya adalah lelah, sebab  dia tidak

mungkin bisa menang melawan gerobak itu, dan lehernya akan tercekik sampai 

tersengal-sengal. Pilihan kedua, dia bisa memilih untuk berjalan mengikuti arah 

dan kecepatan si gerobak tanpa harus tercekik. Bahkan, dia masih bisa 

menikmati pemandangan—dan bergenit ria dengan anjing lain di jalan. saat  

anjing ini melawan hal-hal yang di luar kendalinya, dalam hal ini gerobak yang 

berjalan, dia hanya menemui penderitaan. Namun, saat  dia memfokuskan 

pada hal yang bisa dikendalikan, yaitu mengikuti gerobak, menikmati 

pemandangan, sambil mengedipkan mata pada anjing-anjing lain, maka dia 

tetap bisa merasa bahagia.

Kalau kita berpikir analogi anjing di atas terlalu “kejam” untuk diterapkan di 

situasi manusia, coba bayangkan pengalaman kedua orang berikut. Pertama, 

ada Vice Admiral James Stockdale, seorang pilot Angkatan Laut Amerika Serikat

yang terjun di Perang Vietnam. Stockdale menerbangkan 150 misi terbang di 

atas wilayah musuh, Vietnam Utara, dan pada September 1965, pesawatnya 

ditembak jatuh di wilayah musuh. Stockdale berhasil menyelamatkan diri dengan

terjun keluar menggunakan parasut.  yang dipelajarinya akan 

menjadi bekalnya bertahan hidup, secara fisik dan moril. Saat ia harus memasuki

wilayah musuh, Stockdale berkata pada dirinya sendiri, "Saya meninggalkan 

dunia teknologi, dan memasuki dunia Epictetus."


Sesudah ditangkap, Stockdale dikeroyok dan dipukuli oleh tentara 

musuh sedemikian rupa yang di kemudian hari menyebabkan ia 

berjalan pincang untuk seumur hidupnya. Stockdale ditahan sebagai 

tawanan perang selama 7,5 tahun, dan lebih dari 4 tahun dari masa 

itu dihabiskan dalam sel isolasi (bayangkan, kamu tidak bisa 

berhubungan dengan manusia lain selama lebih dari 4 tahun!).

Selama ditawan, Stockdale disiksa selama 15 kali. Selama di 

tahanan itu juga, Stockdale berusaha mempertahankan moril 

tawanan yang lain dan menghibur mereka jika mereka akhirnya 

takluk di bawah penyiksaan fisik. Sesudah bertahun-tahun melalui 

isolasi, cedera permanen, sampai penyiksaan, akhirnya Stockdale 

dibebaskan dan kembali ke Amerika Serikat. Beliau kemudian 

menuliskan esai berjudul “Courage Under Fire: Testing Epictetus's 

Doctrines In A Laboratory of Human Behavior" [Keberanian Dalam 

Serangan: Menguji Doktrin Epictetus Di Dalam Laboratorium Perilaku 

Manusia), bagaimana Stoisisme membantunya melalui episode 

paling gelap dalam hidupnya.

Kedua, jika kamu mengalami situasi di mana ayah, ibu, saudara laki-

laki, dan istrimu yang sedang hamil harus mati di kompleks tahanan 

[ghetto] dan kamp konsentrasi di waktu yang berdekatan, apakah 

kamu bisa tetap waras dan tegar? Itulah yang dialami Viktor Frankl, 

seorang psikiater yang hidup di Austria saat Perang Dunia II. saat  

tentara Nazi Jerman memasuki Austria, Frankl dan keluarganya yang 

keturunan Yahudi diciduk dan dikirim ke ghetto Yahudi, kemudian 

dipindahkan lagi ke kamp konsentrasi. Ayah Frankl meninggal di 

ghetto pada 1943, lalu ibu, saudara laki-laki, dan istrinya dibunuh di 

kamp konsentrasi.

Selama di kamp konsentrasi, Frankl tetap aktif bekerja menyediakan 

kelas pengajaran dan juga layanan kesehatan bagi sesama tawanan,

sampai akhirnya ia dibebaskan dengan datangnya pasukan Amerika 

Serikat. Seusai Perang Dunia II, Frankl kembali ke Vienna dan 

menulis artikel  mengenai pengalamannya di kamp konsentrasi. 

artikel nya yang berjudul Man’s Search for Meaning (Pencarian 

Manusia akan Makna] menjadi salah satu artikel  psikologi paling 

populer sepanjang masa dan menjadi basis untuk terapi psikologi 

Frankl yang disebut Logotherapy.

Dari pengalamannya, Frankl menyimpulkan bahwa di dalam situasi 

yang paling menyakitkan dan tidak manusiawi, hidup masih bisa 

memiliki makna, dan sebab nya, penderitaan pun dapat bermakna 

[meaningful). Kita tidak bisa memilih situasi kita, namun  kita selalu bisa

menentukan sikap [attitude) kita atas situasi yang sedang dialami.

Kisah kedua tokoh di atas cukup memberikan jawaban apakah 

 artinya identik dengan "pasrah pada keadaan”. Baik 

Stockdale maupun Frankl berada di situasi yang tidak bisa 

dikendalikannya—ditahan oleh musuh perang—namun  dalam kondisi 

yang terkesan dibatasi, ternyata mereka masih memiliki kebebasan 

untuk "memberikan respon”. Baik respon di dalam diri, di dalam 

pikiran (menolak untuk menyerah dan putus asa), sampai respon 

eksternal (tetap memilih aktif membantu sesama di dalam situasi 

nestapa).

Seperti dikatakan Epictetus dalam Discourses,

"Misalkan saya harus mati. Haruskah saya mati sambil menjerit-

jerit dan menangis?

Atau, tangan dan kaki saya harus dirantai. Haruskah saya 

melakukannya sambil mengeluh dan menggerutu?

Saya harus dibuang [exiled]. Adakah yang bisa menghentikan 

saya untuk menjalaninya dengan senyuman dan tetap tenang?”

Tidak ada kemerdekaan yang benar-benar hilang, bahkan di situasi di

mana seolah kebebasan kita sudah direnggut sama sekali, atau 

situasi yang tampak sudah sangat gelap sekalipun.

Dikotomi Kendali di Situasi Sehari-hari

Dalam kisah Admiral Stockdale dan Viktor Frankl di atas, jelas sekali 

penerapan dari apa yang dimaksud para filsuf Stoa mengenai 

memisahkan hal-halyang bisa dikendalikan dan yang tidak. Fokus 

kepada hal-halyang bisa kita kendalikan bisa membantu kita melalui 

masa hidup tersulit sekalipun, sebab  sikap dan persepsi kita "ada 

sepenuhnya di bawah kendali kita”.

Saya rasa sebagian besar pembaca artikel  ini mungkin tidak akan 

pernah harus menghadapi risiko ditawan musuh di dalam 

peperangan. Namun, jika  bisa membantu Admiral 

Stockdale dan Viktor Frankl dalam menjalani situasi terberat hidup 

mereka, tentunya filosofi ini bisa lebih banyak membantu kita dalam 

menghadapi tantangan hidup yang mungkin tidak seberat dan 

sekeras kedua orang ini .

Mari kita ambil situasi umum di antara para pembaca muda, yaitu first

date, atau kencan pertama, situasi yang bisa menyebabkan penuh 

kecemasan bagi kedua belah pihak.  bahkan bisa 

diterapkan di sini. Rasanya, hampir sebagian besar dari kita pasti 

merasa deg-degan saat akan nge- date pertama, apalagi jika orang 

yang diajak kencan sudah lama kita idam-idamkan. Ketakutan paling 

besar adalah, "Apakah kencan gue akan sukses?", "Apakah dia 

bakalan tertarik sama gue?", Apakah orang tuanya bakalan melepas 

anjing doberman saat gue memencet bel rumahnya?", dan lain-lain.

Dengan dikotomi kendali, kita bisa memisahkan kencan pertama ini 

menjadi beberapa bagian. Misalnya dari perspektif si cowok:

• Perasaan si cewek ini . Ini sudah jelas di luar kendali kita. 

Para filsuf Stoa akan berkata kepada kita, "Gak usah dipusingin\ 

Lo gak bisa memaksa perasaan dan opini si cewek! Berhenti 

mikirin hal-hal di luar kendali lo!”

• Kalau begitu, apa yang masih bisa di bawah kendali kita? 

BANYAK! Kita bisa memilih untuk tampil bersih, mandi sebelum 

bertemu, sikat gigi, memakai deodoran, jangan berbau seperti 

daging tetelan (ingat ada doberman), wangi dengan parfum (tapi 

jangan berlebihan supaya wanginya tidak sama seperti toilet 

mal...), memakai baju yang rapi dan matching dari atasan sampai

kaus kaki, datang TEPAT WAKTU, sopan menyapa dia (dan 

orang tuanya kalau ada, juga dobermannya), mengajak makan di

tempat yang menyenangkan, dan selalu bersikap gentleman. 

Masih banyak hal lain di bawah kendali kita yang bisa dipikirkan.

• Saat kita sudah melakukan semua yang terbaik di dalam kendali 

kita, maka itu sudah cukup. Relax and enjoy the result. 

Seandainya si cewek ternyata menyukai kita, syukurlah. Akan 

namun , jika ternyata si cewek tidak menyukai kita—dengan 

catatan kita tidak melakukan

 60

hal-hal memalukan selama nge-date, seperti mengupil di depan dia, 

misalnya—maka, dengan menyadari bahwa respon orang di lain 

berada di luar kendali diri sendiri, kita bisa lebih cepat menerima 

keadaan itu.

• Saat kita mengurangi memusingkan hal-hal di luar kendali diri 

sendiri, seperti "Duh, gue keliatan ganteng apa gentong ya di mata 

dia?", "Gue keliatan pintar gak ya?", "Bokapnya tadi impressed 

gakya sama gue?", dan lain-lain, kita jadi lebih memiliki waktu dan 

energi untuk hal-hal lain yang bisa kita lakukan dan justru 

meningkatkan daya tarik kita di mata si cewek. Inilah manfaat praktis

dari penerapan dikotomi kendali, yaitu realokasi waktu dan tenaga 

untuk hal-hal yang lebih bisa kita atur/kendalikan.

Skenario di atas hanyalah sebuah contoh situasi sehari-hari di mana 

dikotomi kendali bisa diterapkan. Mari kita lihat contoh situasi lainnya 

yang umum kita temui:

• Prestasi di sekolah. Apakah nilai, prestasi akademis, dan kelulusan 

sepenuhnya berada di bawah kendali kita? Pasti jawaban spontan 

adalah, “Iya dong! Kan kita berupaya mati-matian untuk 

mendapatkan nilai yang bagus, dari belajar sampai menyontek. 

Masa sih tidak berada di bawah kendali kita?” Namun, coba kita 

renungkan juga betapa banyak faktor eksternal yang bisa 

menentukan prestasi akademis kita, mulai dari kebagian dosen/ guru

killer, mendapatkan teman tugas kelompok yang malas, sampai hal-

hal tak terduga seperti orang tua yang mendadak tidak memiliki uang

untuk membiayai sekolah kita. Masih yakin prestasi akademis ada 

sepenuhnya di bawah kendali kita?

• Karier di kantor. Mirip dengan prestasi akademis, jika kita bekerja 

keras, pandai, rajin, apakah kita bisa menjamin akan mendapatkan 

kenaikan jabatan dan gaji secara fair? Kamu yang sudah beberapa 

tahun bekerja di kantor akan menyadari bahwa ada banyak sekali 

faktor di luar kendali, seperti bos yang punya sentimen pribadi atau 

anak emas sendiri, subjektivitas soal definisi “kinerja yang baik”, 

kolega yang dengki, aturan perusahaan yang berubah, kinerja 

perusahaan (untung/rugi), atau hal-hal di luar perusahaan seperti 

kondisi ekonomi, perubahan selera


Have  courage  and  be  kind

(hiduplah  dengan  berani  dan

tetap ramah kepada orang lain)”

pasar, dan lain-lain. Sesungguhnya, perjalanan karier kita di kantor 

banyak sekali dipengaruhi oleh faktor-faktor di luar kendali kita.

• Relationship. Kamu yang pernah patah hati akibat 

diputusin semena-mena pasti tahu bahwa rasa cinta

dan sayang pasangan kita sesungguhnya tidak bisa

dipaksakan. Kita bisa rajin mengirimkan bunga, 

cokelat, sampai bitcoin kepada sang kekasih, tapi 

pada akhirnya, perasaannya yang sesungguhnya 

ada di hatinya.

• Kompetisi/perlombaan yang kita ikuti. Kita bisa 

berlatih keras, namun  saat hari pertandingan, selalu ada faktor- 

faktoryang bisa tidak memihak kita, entah itu perubahan cuaca, 

macam-macam gangguan teknis di lapangan, sampai kenyataan 

bahwa peserta lomba/kompetisi yang lain memang lebih bagus dari 

kita.

• Keadaan sosial politik di sekitar kita. Membaca berita tentang 

korupsi, ketidakadilan, teror, dan kebencian yang ada membuat kita 

sadar bahwa kita sungguh- sungguh tidak memiliki kendali atas 

kejadian-kejadian di masyarakat.

• Di samping itu, ada begitu banyak bagian hidup lain yang akan 

membuat kita menyadari bahwa kita tidak sepenuhnya memiliki 

kendali atasnya, seperti hasil investasi, pilihan hidup anak-anak, dan 

banyak lagi.

F

F

“saat  orang-orang mengalihkan perhatian mereka dari pilihan 

rasional sendiri ke hal-hal di luar kendali mereka, (atau) berusaha 

menghindari hal-hal yang dikendalikan pihak lain, maka mereka 

akan merasa terganggu, ketakutan, dan labil.” - Epictetus 

[Discourses)

Cinderella adalah tokoh fiktif, dongengan untuk anak kecil. Akan namun , 

bagi saya film Cinderella (2015) mengingatkan tentang  

melalui perbandingan antara tokoh Cinderella dan Ibu Tiri.

Di dalam filmnya, Cinderella (Ella) dikisahkan sebagai seseorang yang 

memiliki masa kecil yang bahagia dengan orang tua yang kaya raya, 

sampai suatu hari ibunya meninggal dan ayahnya menikahi seorang 

janda dari sahabatnya. Saat 

ayahnya pun meninggal, Ella harus menghadapi kenyataan bahwa ibu 

tirinya berlaku kejam terhadapnya dan keindahan masa kecilnya, yang 

penuh kemewahan dan kasih sayang orang tua, berubah drastis seratus 

delapan puluh derajat.

Film Cinderella mengontraskan perbedaan sikap antara Ella dan si ibu 

tiri. Sebelum meninggal, ibu kandung Ella berpesan kepadanya, “Have 

courage and be kind (hiduplah dengan berani dan tetap ramah kepada 

orang lain)". Dengan pesan ini, Ella menjalani perubahan hidupnya 

dengan tabah dan tetap ramah kepada orang lain, bahkan kepada 

makhluk hidup lain, seperti tikus penghuni rumahnya. Sebaliknya, si ibu 

tiri digambarkan tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia kehilangan 

sumber uang, yaitu suami yang juga ayah Ella, dan terus merasa 

terancam akan jatuh miskin.

Cinderella menunjukkan nilai Stoa dengan tidak terobsesi pada hal di luar

kendalinya (kekayaan keluarga), dan mengikuti nasihat mendiang ibunya 

untuk selalu bersikap "berani dan ramah” (yang ada di bawah 

kendalinya). Dia juga digambarkan sebagai karakter yang bisa tetap 

merasa riang dan bahagia. Sebaliknya, si ibu tiri yang selalu memikirkan 

harta (yang ada di luar kendalinya), digambarkan sebagai sosok yang 

serakah, bahkan bisa bengis pada anak tirinya sebab  nafsu kekayaan. Si

ibu tiri tidak mampu merasakan kebahagiaan yang sejati.

Dari Dikotomi Kendali menjadi Trikotomi Kendali

Sebagian dari kamu mungkin saat ini merasa tidak nyaman dengan 

pembagian kategori menjadi dua seperti contoh sebelumnya. Okelah,

kalau mengenai cuaca hari ini (apakah hari akan panas atau hujan) 

atau saya akan duduk di sebelah siapa di kereta [saat bepergian 

sendirian), hal-hal ini  benar-benar di luar kendali kita. Namun, 

ikut memasukkan prestasi sekolah, pekerjaan, prestasi perlombaan, 

sampai relationship ke dalam kategori yang sama (tidak bisa 

dikendalikan) sepertinya sangat tidak memotivasi kita untuk 

berupaya dan bekerja keras. Tentunya realitas hidup tidak 

sesederhana pembagian dua kategori ini?

Ini adalah protes yang cukup valid, sebab  bagaimanapun, tentunya 

kita masih bisa punya andil dan kontribusi di dalam menentukan 

prestasi sekolah, prestasi kerja, kinerja bisnis, kesehatan, dan 

reputasi kita. William Irvine di dalam artikel nya A Guide To Good Life: 

The Ancient Art of Stoic Joy menawarkan solusi untuk keresahan di 

atas dengan cara merevisi dikotomi kendali menjadi trikotomi (tiga 

kategori) kendali. Trikotomi kendali terdiri dari:

• Hal-hal yang bisa kita kendalikan, seperti opini, persepsi dan 

pertimbangan kita sendiri.

• Hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan, seperti cuaca, opini dan 

tindakan orang lain.

• Hal-hal yang bisa SEBAGIAN kita kendalikan. Irvine 

mengusulkan bahwa sekolah, pekerjaan, perlombaan, 

hubungan dengan pasangan, bisa dimasukkan ke dalam 

kategori ketiga (SEBAGIAN dalam kendali). Bagaimana cara 

penerapan kategori yang ketiga ini di dalam hidup sehari-hari? 

Dengan memisahkan tujuan di dalam diri /internal goal) dari 

hasil eksternal /outcome-nya].

Contoh penerapan poin ketiga adalah sebagai berikut. Kamu menghadapi 

sidang skripsi. Kita tahu bahwa HASIL dari sidang skripsi tidak bisa 

dimasukkan ke dalam kategori ‘di bawah kendali kita’, sebab  banyak faktor 

tak terduga di luar kendali kita, seperti mood dosen penguji hari itu, apakah 

laptop kita akan berfungsi atau tidak, dan lainnya. Akan namun , tentunya ada 

bagian dari pengerjaan skripsi yang masih berada di bawah kendali kita, 

misalnya persiapan kita dalam memahami topik, presentasi yang kita 

siapkan, dan istirahat fisik yang cukup. Maka, Irvine menganjurkan kita untuk

memisahkan "hasil” (sebagai hal yang di luar kendali kita), dari ''internalgoal"

atau target bagi diri sendiri yang sepenuhnya berada di bawah kendali kita.

Dalam contoh sidang skripsi, internal goal adalah belajar yang rajin, benar-

benar memahami materi skripsi, latihan pr