Tampilkan postingan dengan label pembunuhan masal 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pembunuhan masal 3. Tampilkan semua postingan

pembunuhan masal 3

 



ahwa tembak-

menembak terjadi di rumah Yani dan darah terlihat berceceran di sana, 

Sukarno barangkali menduga Yani telah terbunuh. Jadi Presiden menge-

tahui Supardjo mewakili sebuah gerakan yang, mungkin sekali, baru saja 

membunuh panglima angkatan bersenjatanya.

Sukarno pasti bingung seorang brigadir jenderal datang bertemu 

dengannya atas nama seorang letnan kolonel. Pada persidangannya 

Untung menyebut, bahwa Sukarno bertanya kepada Supardjo, “Mengapa 

jang memimpin Untung?” Walaupun Untung tidak mengetahui langsung 

perundingan itu – apa pun yang diketahuinya berdasar  apa yang dice-

ritakan Supardjo kepadanya – barangkali Sukarno memang menanyakan 

pertanyaan semacam itu. Jawaban Supardjo, sekali lagi menurut Untung, 

tidak memberi kejelasan: “Dialah jang kita anggap pantas.”37

Cerita orang pertama satu-satunya tentang pembicaraan mereka 

pagi itu diberikan Supardjo (dalam persidangannya pada 1967) dan 

Laksamana Madya Omar Dani, yang hadir selama pembicaraan mereka 

yang pertama. Cerita Supardjo dan Omar Dani sangat singkat dan jelas 

tidak memberi  seluk-beluk pembicaraan yang tentunya pelik dan 

sangat panjang lebar. Sukarno sendiri tidak pernah menyampaikan 

ceritanya.

Pada sidang Mahmilubnya Supardjo memberi kesaksian bahwa 

Sukarno tidak terlalu cemas menanggapi berita tentang penculikan 

para jenderal. Presiden tidak menuduh G-30-S sebagai jahat, khianat, 

atau kontra revolusioner. Supardjo menceritakan, Sukarno tetap tenang 

dan mengucapkan dalam bahasa Belanda “Ja zo iets in een revolutie kan 

gebeuren (hal semacam ini akan terjadi di dalam suatu revolusi).”38 

Kendati demikian Sukarno cemas kalau-kalau peristiwa itu menimbulkan 

perang saudara yang tidak terkendalikan antara kekuatan sayap kanan dan 

sayap kiri di kalangan militer. Ia meminta Supardjo agar menghentikan 

G-30-S, sementara ia akan berusaha menemukan pemecahan politis. 

Supardjo mengatakan, “Kemudian saja diminta duduk lebih dekat, beliau 

bitjara bahwa kalau begini pertempuran nanti bisa meluas. Lantas jang 

untung nanti yaitu  Nekolim, lantas beliau tanja sama saja: mempunjai 

kesanggupan tidak untuk memberhentikan gerakan dari G-30-S? Waktu 

itu saja katakan: ‘Ja – sanggup.’ Lantas beliau menepuk-nepuk bahu 

saja dan mengatakan ‘Awas ja kalau tidak beres engke maneh dipeuntjit,’ 

74

1. KESEMRAWUTAN FAKTA-FAKTA

ja sambil gujon itu. Kalau tidak bisa menjelesaikan, memberhentikan 

gerakan G-30-S, kamu nanti saja sembelih.”39 

Menurut Omar Dani, Sukarno menolak permintaan Supardjo 

untuk tampil mendukung G-30-S, lalu beliau meminta agar Supardjo 

menghentikan G-30-S. Dalam kata-kata penulis biografi  Dani, dinya-

takan sebagai berikut: 

Ia [Supardjo] melapor langsung kepada Presiden bahwa 

bersama kawan-kawan ia telah mengambil tindakan terhadap 

para perwira tinggi Angkatan Darat. Para perwira muda di 

lingkungan Angkatan Darat dan para bawahan mengeluh atas 

sikap, kelakuan, ketidakpedulian para Jendral terhadap ba-

wahannya. Atas pertanyaan Bung Karno apakah Pardjo punya 

bukti, Soepardjo mengiyakan dan sanggup mengambilnya di 

MBAD bila ia diperintahkan. Bung Karno memberi perintah 

untuk mengambilnya, namun  sampai menghilangnya pada 2 

Oktober 1965, Soepardjo tidak pernah dapat menyerahkan 

bukti-bukti itu kepada Bung Karno. Presiden memerintahkan 

Brigjen Soepardjo untuk menghentikan gerakannya, guna 

menghindari terjadinya pertumpahan darah. Presiden juga 

menolak permintaan Brigjen Soepardjo untuk mendukung 

G-30-S. Begitu ditolak permintaannya oleh Presiden Sukarno, 

Brigjen Soepardjo langsung berpamitan dan pergi keluar dari 

Markas Koops. Tampak di wajahnya sedikit kusut, capai, 

kurang tidur dan kecewa.40

Cerita Omar Dani ini menegaskan pernyataan Supardjo bahwa 

Sukarno meminta agar G-30-S dihentikan. Sukarno tidak mendukung 

juga tidak menentang G-30-S. Di satu pihak, ia tidak mengeluarkan 

pernyataan dukungan terhadapnya (seperti yang telah diperbuat Dani) 

atau diam-diam mendorong agar meneruskannya. Di lain pihak, ia tidak 

melihat G-30-S sebagai bahaya yang akan mencelakakan dirinya atau 

kedudukannya sebagai presiden. Bahwa ia tinggal di Halim, justru tempat 

yang diketahuinya dipakai sebagai pusat pimpinan G-30-S, menunjuk-

kan bahwa ia melihat Supardjo dan Untung sebagai perwira-perwira yang 

setia kepadanya. Sukarno kelihatan tidak menjadi panik oleh kejadian 

75

 

pagi itu. Antara pukul 11.30 dan tengah hari, sesudah berbicara dengan 

Supardjo di pusat komando pangkalan udara, Sukarno pindah ke sebuah 

rumah yang sedikit lebih luas milik Komodor Susanto dan beristirahat 

siang beberapa jenak di sana.

Sukarno tidak sekadar berada di Halim, ia juga memanggil para 

penasihat utamanya ke sana. Dari tiga wakil perdana menterinya, satu-

satunya yang saat itu berada di Jakarta, Leimena, tiba di Halim pada saat 

menjelang siang hari. Begitu juga Panglima Angkatan Laut, Panglima 

Angkatan Kepolisian, Komandan Pasukan Kawal Istana, dan Jaksa Agung. 

Mereka bersama Sukarno sepanjang sore dan petang hari itu.41 Menteri-

menteri ini menyaksikan sebagian dari pembicaraan yang berlanjut antara 

Sukarno dan Supardjo. Belakangan mereka menyampaikan informasi 

sekadarnya kepada wartawan dan juga kesaksian singkat saat  mereka 

tampil sebagai saksi di sidang pengadilan. Tapi, sejauh yang saya ketahui, 

mereka tidak menulis catatan rinci tentang pembicaraan antara kedua 

tokoh ini .

Supardjo menemui Sukarno untuk kedua kali sesudah ia kembali dari 

perundingan dengan para pimpinan inti G-30-S. Seluruhnya Supardjo 

berbicara dengan Sukarno dalam empat atau lima kali kesempatan yang 

terpisah-pisah sepanjang hari itu. Hanya pembicaraan pertama yang 

berlangsung di kantor komandan Halim. Pembicaraan-pembicaraan 

yang belakangan berlangsung di rumah Komodor Soesanto. Rumah ini 

dipilih untuk Presiden sebab  merupakan rumah tunjukan yang terbaik di 

pangkalan itu.42 Supardjo mondar-mandir antara rumah Sersan Sujatno, 

tempat persembunyian Untung, Sjam dan lainnya, dan rumah Soesanto, 

tempat Sukarno dan menteri-menterinya berada.43

Topik utama perbincangan antara Sukarno dan Supardjo pada lepas 

tengah hari, sekitar pukul 12.00 sampai 13.30, ialah memilih pengganti 

sementara untuk Yani sebagai panglima Angkatan Darat. Sukarno jelas 

tidak memusuhi G-30-S sebab  untuk pengangkatan yang sepenting 

itu ia meminta nasihat mereka. Dalam analisisnya Supardjo menyata-

kan bahwa pimpinan G-30-S merekomendasikan tiga nama jenderal 

Angkatan Darat.44 Gerakan 30 September memberi  dukungan-

nya untuk Mayor Jenderal U. Rukman, panglima antardaerah untuk 

Indonesia timur; Mayor Jenderal Pranoto Reksosamodra, asisten pada 

staf umum Yani yang biasanya hanya disebut dengan nama pertamanya; 

76

1. KESEMRAWUTAN FAKTA-FAKTA

dan Mayor Jenderal Basuki Rachmat, Panglima Kodam Brawijaya, Jawa 

Timur.45

Keputusan tentang penggantian Yani sepenuhnya ada pada Sukarno. 

Gerakan 30 September tidak mendiktekan syarat-syarat kepada Presiden. 

Perwira yang akhirnya menjadi pilihan Sukarno ialah Pranoto, anggota 

staf Yani yang tidak diculik. Pada pukul 13.30 Sukarno menandatangani 

perintah pengangkatan Pranoto sebagai pejabat pimpinan sementara 

Angkatan Darat dan mengirim utusan-utusan untuk memanggilnya ke 

Halim. Sementara itu G-30-S, demi alasan yang tak diketahui, tidak 

menyiarkan perintah Sukarno melalui radio.

Dalam percakapan mereka, Supardjo secara tersirat mengakui ke-

wenangan Sukarno sebagai presiden. Ia tidak mengancam Sukarno baik 

dengan gangguan secara fi sik maupun berusaha menculiknya, memak-

sanya untuk mendukung G-30-S, atau menekan agar Sukarno mengambil 

keputusan-keputusan tertentu. Dipandang dari sudut mana pun Supardjo 

memainkan peranan sebagai perwira bawahan. Maka menjadi ganjil jika 

kira-kira pada saat yang bersamaan dengan perundingan-perundingan di 

Halim ini (tengah hari sampai pukul 14.00), pemancar radio menyiarkan 

pengumuman yang secara tidak langsung memberhentikan Sukarno 

sebagai presiden. Di Halim orang yang berbicara dengan Sukarno atas 

nama G-30-S tetap memperlakukannya sebagai seorang presiden. namun  

melalui gelombang-gelombang radio, G-30-S mencanangkan secara 

sepihak telah mendemisionerkan kabinet Sukarno. 

Sukarno entah mendengar sendiri atau diberi tahu tentang isi 

pengumuman G-30-S itu. Ia tidak senang. Dalam sidang kabinet awal 

November 1965 ia mengacu pada tuntutan G-30-S saat  menjawab 

para mahasiswa demonstran yang diorganisir oleh Angkatan Darat, 

yang menuntut agar Sukarno mendemisionerkan kabinetnya: “ben je 

bedonderd, dat ik mijn Kabinet ga laten demissioneren. Ya, itu ucapan 

saya sesudah diadakannya oleh sesuatu pihak ‘Dewan Revolusi.’ Pada 

waktu itu di sini saya berkata dengan tegas: ben je bedonderd.”46 Sukarno 

sudah memutuskan untuk tidak mendukung G-30-S pada saat dewan 

itu diumumkan melalui radio. Tapi mendengar kabinetnya sudah di-

demisionerkan pastilah lebih memperkeras penentangannya terhadap 

G-30-S.

77

 

AKSI-AKSI DI JAWA TENGAH

Satu-satunya aksi-aksi penting militer yang mendukung G-30-S terjadi 

di provinsi Jawa Tengah dan daerah Yogyakarta.47 Pemberontakan meluas 

di dua wilayah itu.48 Para perwira muda memberontak terhadap perwira 

tertinggi di provinsi termaksud, Brigadir Jenderal Suryasumpeno, dan tiga 

komandan distrik militer. Di ibu kota Jawa Tengah, Semarang, seorang 

kolonel dari staf Suryasumpeno menduduki stasiun radio, RRI Semarang, 

dengan sekelompok pasukan pemberontak dan menyatakan diri sebagai 

panglima baru pada sekitar pukul 13.00. Ia yaitu  Kolonel Suherman, 

kepala intelijen daerah militer tingkat provinsi.

Di Yogyakarta Mayor Muljono memimpin pasukan pemberontak 

menggerebek rumah komandan mereka, Kolonel Katamso. Mereka 

menculiknya dan juga kepala stafnya, Letnan Kolonel Sugijono, yang 

kebetulan ada di rumah itu saat  para pemberontak datang. Mereka 

membawa dua perwira itu ke sebuah kota kecil di utara Yogyakarta, 

Kentungan, dan menahan mereka di tangsi batalyon militer di sana. 

Kemudian mereka membunuh kedua perwira ini .

Para perwira militer yang berada di belakang gerakan di Yogya-

karta, berbeda dari kawan-kawan mereka di Semarang, bekerja dalam 

koordinasi dengan penduduk sipil setempat. Massa keluar di jalan-jalan 

mendukung G-30-S. Mayor Muljono, sebagai perwira yang bertanggung 

jawab atas urusan pertahanan sipil, telah menjalin hubungan erat dengan 

organisasi-organisasi sipil, seperti PKI. saat  para prajurit menculik 

Kolonel Katamso, massa pemuda dari berbagai organisasi yang berafi liasi 

dengan PKI mengepung kantor Sultan Yogyakarta, Kepatihan, tempat 

kedudukan penguasa sipil. Mereka juga mengambil alih pemancar RRI 

Yogyakarta dan mulai menyiarkan pernyataan-pernyataan dukungan 

terhadap G-30-S pada sekitar pukul 20.00.

Peristiwa-peristiwa serupa terjadi di Solo, kota terbesar kedua di 

Jawa Tengah. Seorang perwira muda memimpin G-30-S. Organisasi-

organisasi sipil sayap kiri mengeluarkan pernyataan mendukung G-30-S, 

walaupun tidak disertai aksi-aksi jalanan seperti halnya di Yogyakarta. 

Pemimpin pemberontak di Solo, Mayor Iskandar, menyatakan dirinya 

sebagai ketua Dewan Revolusi Solo dan memerintahkan prajurit-prajurit 

yang setia kepadanya untuk menahan perwira komandannya, Letnan 

78

1. KESEMRAWUTAN FAKTA-FAKTA

Kolonel Ezy Suharto, kepala staf Korem (Komando Resort Militer) 

Solo, Kapten Parman, dan seorang perwira lain, Letnan Kolonel Ashari. 

Mayor Iskandar menyerukan kepada wakil-wakil partai politik untuk 

berkumpul dan dengan bantuannya mengadakan rapat pembentukan 

Dewan Revolusi kota Solo. Wali kota Solo, Utomo Ramelan, seorang 

anggota PKI, mengeluarkan pernyataan mendukung G-30-S.

Di kota lain di Jawa Tengah, Salatiga, para perwira pemberon-

tak bertindak tanpa dukungan sipil sama sekali. Letnan Kolonel Idris, 

kepala staf Korem Salatiga, mengerahkan pasukan menentang perwira 

komandannya, Kolonel Sukardi, dan seorang perwira militer penting 

lain di kota ini, Letnan Kolonel Sugiman. Tidak ada tokoh dan organi-

sasi sipil yang mengeluarkan pernyataan dukungan atau keikutsertaan 

dalam demonstrasi-demonstrasi. Wali kota Salatiga, Bakri Wahab, yaitu  

anggota PKI, namun ia tidak menyatakan dukungannya kepada G-30-S 

secara terbuka.

Dengan demikian di Jawa Tengah, pada 1 Oktober malam, 

para perwira menengah merebut komando provinsi di Semarang dan 

menculik para komandan distrik di tiga kota utama. Hanya di Yogyakarta 

penduduk sipil turun ke jalan-jalan memberi dukungan kepada G-30-S, 

dan hanya di Solo kaum politisi sipil mengeluarkan pernyataan-per-

nyataan dukungan. Hanya di Yogyakarta perwira-perwira yang diculik 

dibunuh. Aksi-aksi yang dilakukan atas nama G-30-S di Jawa Tengah 

mengambil pola yang tidak berbeda.

Rupanya G-30-S telah menjalin hubungan dengan para perwira 

militer di provinsi-provinsi lain. Dalam analisis postmortemnya Supardjo 

menyatakan bahwa G-30-S telah mengirim kurir-kurirnya ke berbagai 

provinsi. Sementara para perwira di provinsi-provinsi lain mungkin telah 

mengetahui tentang adanya G-30-S, dan berpikir untuk melakukan 

tindakan tertentu, namun mereka tetap pasif.49 Hanya di Jawa Tengah 

dan Yogyakarta yang merupakan wilayah-wilayah di luar Jakarta G-30-S 

mewujud.

SERANGAN SUHARTO TERHADAP G-30-S

Kembali di Jakarta, seorang jenderal senior Angkatan Darat yang tidak 

79

 

menjadi sasaran penculikan ialah Mayor Jenderal Suharto, Komandan 

Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat atau lebih dikenal sebagai 

Kostrad. Pasukan yang menduduki Lapangan Merdeka (Batalyon 454 

dan 530) tidak diperintahkan untuk memblokade markas Kostrad atau 

setidaknya menetralisirnya. Pasukan menduduki sisi utara, barat, dan 

selatan lapangan ini  dan membiarkan sisi timur, tempat markas 

Kostrad berdiri, kosong. Para perwira Suharto keluar masuk gedung 

dengan leluasa sepanjang hari itu saat mereka menyusun rencana serangan 

terhadap G-30-S. Salah satu keganjilan besar dari kejadian-kejadian 1 

Oktober itu ialah bahwa musuh-musuh G-30-S bekerja di sebuah gedung 

yang berada langsung di depan sebagian besar pasukan G-30-S.

Barangkali G-30-S memutuskan tidak menetralisir markas Kostrad 

sebab  Kostrad bukanlah merupakan instalasi militer utama di Jakarta. 

Berbeda dengan Kodam Jaya, Kostrad tidak mempunyai pasukan tetap 

yang diasramakan di dalam atau sekitar kota. Prajurit-prajurit cadangan 

Kostrad selalu dipinjam dari komando-komando daerah (kodam-kodam). 

Kostrad mengerahkan batalyon-batalyon untuk penugasan sementara 

dalam operasi-operasi tempur tertentu.50 Meskipun demikian, Kostrad 

mempunyai arti strategis yang besar, mengingat bahwa yang memimpin-

nya yaitu  Suharto, tokoh yang terkadang bertugas sebagai panglima 

Angkatan Darat setiap saat Yani bepergian ke luar negeri. Jika pasukan 

pemberontak ingin menguasai Jakarta, mereka harus memastikan bahwa 

Suharto, orang dalam peringkat pertama yang langsung akan mengganti-

kan Yani, tidak dapat mengerahkan pasukan untuk melakukan serangan 

balasan. Suharto diangkat menjadi panglima Kostrad pada Mei 1963 dan 

sebab  itu berpengalaman paling tidak dua tahun dalam berhubungan 

dengan para perwira puncak militer di Jakarta.

Menurut penuturannya sendiri, Suharto mendengar tentang adanya 

tembak-menembak dan penculikan dari tetangga saat  ia masih di ke-

diamannya di Menteng. Ia tiba di Kostrad antara pukul 6.30 dan 7.00 

pagi. sebab  Suharto menduga Yani sudah terbunuh, ia mengangkat 

dirinya sendiri sebagai panglima Angkatan Darat ad interim. Perwira 

kunci yang menguasai pasukan paling besar di Jakarta, Umar Wiraha-

dikusumah, pada sekitar pukul 8.00 melapor kepada Suharto dan me-

nempatkan dirinya di bawah komando Suharto.51 Jenderal-jenderal dari 

Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) yang selamat mengadakan rapat 

80

1. KESEMRAWUTAN FAKTA-FAKTA

darurat sekitar saat yang sama dan memutuskan mengangkat Suharto 

sebagai panglima sementara. Menurut salah seorang anggota staf, Mayor 

Jenderal Pranoto, yang belakangan ditunjuk Sukarno sebagai panglima, 

“rapat memutuskan untuk menunjuk Mayjen Suharto Pangkostrad agar 

bersedia mengisi pimpinan A.D. yang terdapat vacuum. Melalui kurir 

khusus, maka keputusan rapat kita sampaikan kepada Mayjen Suharto di 

MAKOSTRAD.”52 Sepanjang hari itu banyak perwira yang berkumpul 

di Kostrad sesudah diketahui bahwa di sinilah pusat kekuatan militer 

yang anti-G-30-S. Nasution tiba di sana pada petang hari.53

Tindakan pertama Suharto dalam menghadapi G-30-S ialah 

menuntut dua batalyon di Lapangan Merdeka menyerahkan diri. Para 

komandan batalyon-batalyon itu, Kapten Sukirno dan Mayor Supeno, 

ada di dalam halaman istana (menemani Supardjo dari Halim pada pagi 

hari). Para perwira Kostrad menghubungi wakil-wakil komandan batalyon 

yang masih ada di lapangan bersama pasukannya. Wakil-wakil komandan 

itu berbuat sesuai dengan perintah yang mereka terima: mereka melapor 

kepada Suharto di dalam gedung Kostrad. Begitu bertemu dengan mereka, 

Suharto memberi tahukan bahwa ia menganggap G-30-S sebagai usaha 

kup dan mengancam akan menyerang mereka jika pasukan mereka tidak 

menyerah kepadanya pada pukul 6.00 petang hari itu.

Keganjilan lain lagi dari G-30-S yaitu  bahwa dua batalyon ini  

– Yon 454 dari Jawa Tengah dan Yon 530 dari Jawa Timur – dipanggil ke 

Jakarta oleh Suharto sendiri. Dalam penjelasannya yang pertama di depan 

umum tentang peristiwa hari itu, yaitu pidatonya pada 15 Oktober, 

Suharto mengakui bahwa dua batalyon itu termasuk anggota Kostrad.54 

Mereka dibawa ke Jakarta bersama batalyon yang ketiga, Yon 328 dari 

Jawa Barat, untuk mengambil bagian dalam parade Hari Angkatan Ber-

senjata yang dijadwalkan pada 5 Oktober. Pada pagi hari 30 September 

1965 Suharto memeriksa tiga batalyon itu, di lapangan tempat mereka 

berkemah. Pada 1980-an salinan perintah-perintah Kostrad yang asli 

kepada tiga batalyon ini  tersingkap – semuanya ditandatangani 

oleh Suharto.55

Sementara mereka berpangkalan di Lapangan Merdeka, tidak 

seorang pun dari dua komandan batalyon itu berhubungan dengan 

pimpinan G-30-S di Halim. Mereka benar-benar memikirkan sendiri 

bagaimana menjawab ancaman Suharto, tanpa berkonsultasi dengan 

81

 

Untung, Sjam, dan lainnya. Satu batalyon, yaitu Yon 530, meninggal-

kan posisinya dan menyerah ke Kostrad menjelang tengah hari. Kapten 

Sukirno dari Yon 454 berhasil mencegah pasukannya untuk membelot 

namun  merasa tidak dapat tetap berada di Lapangan Merdeka tanpa adanya 

batalyon yang lain. Ia memerintahkan semua anggota pasukannya naik 

truk dan kembali menuju Halim menjelang senja.56

Suharto berhasil mengosongkan Lapangan Merdeka dari tentara 

tanpa satu letusan senjata pun: satu batalyon menyerah, yang lain 

melarikan diri. Pasukan Suharto tidak menemui perlawanan saat  

merebut stasiun RRI sekitar pukul 18.00.57 Di gedung telekomunikasi 

pasukan Suharto menjumpai beberapa sukarelawan sipil G-30-S. sebab  

sukarelawan-sukarelawan itu sangat bingung apa yang harus mereka 

lakukan, dan juga tidak yakin apakah pasukan itu kawan atau lawan, 

mereka menunjukkan perlawanan kecil belaka. Mereka dengan cepat 

dikalahkan dan diangkut.58 Hingga petang hari G-30-S sudah tidak 

mempunyai pasukan yang tersisa di dalam kota. Sisa-sisa kekuatannya 

telah kembali ke Lubang Buaya. Suharto menguasai Jakarta. Antara pukul 

19.00 dan 20.30 ia memerintahkan RRI untuk menyiarkan pesan yang 

telah ia rekam sebelumnya sore itu. Gema suara Suharto di udara menjadi 

pertanda berakhirnya G-30-S secara simbolik.

Untuk merebut stasiun RRI, Lapangan Merdeka, dan gedung 

telekomunikasi, Suharto memakai  pasukan RPKAD yang dibawa 

dari markas mereka di Cijantung, sebuah kota kecil di selatan Jakarta. 

Ia juga memakai  satu-satunya batalyon Kostrad yang tidak ikut 

menggabung dalam G-30-S, Batalyon 328 dari Jawa Barat, dan bagian-

bagian dari Batalyon 530 yang telah menyeberang hanya beberapa jam 

sebelumnya. Aneh bahwa Suharto tidak mengambil kesempatan meng-

gunakan pasukan dari garnisun Jakarta (Kodam Jaya) yang berada di 

bawah komando Umar Wirahadikusumah. Suharto hanya memakai  

pasukan-pasukan yang berada langsung di bawah komandonya, bahkan 

lebih menyukai pasukan yang pernah ikut serta dalam G-30-S.

Sesudah Lapangan Merdeka bersih, Suharto memalingkan perha-

tiannya ke Halim, yang ia ketahui sebagai basis G-30-S. Berbagai kurir 

dan perwira berdatangan di Kostrad dari Halim sejak hari masih sore 

dan melaporkan bahwa Supardjo (yang kedudukannya sebagai wakil 

komandan gerakan telah diumumkan melalui radio) sedang berunding 

82

1. KESEMRAWUTAN FAKTA-FAKTA

dengan Sukarno di sana. Untuk mengisolasi G-30-S di pangkalan AURI 

Halim, Suharto tidak mengizinkan seorang pun perwira Angkatan Darat 

pergi ke sana, bahkan mereka yang dipanggil oleh presiden sekali pun.

Seperti sudah saya kemukakan, Sukarno telah mengangkat Pranoto 

sebagai Panglima Angkatan Darat pada pukul 13.30 dan memerintahkan-

nya untuk datang ke Halim. Sukarno tidak menyadari bahwa Pranoto 

dan staf Yani yang masih hidup telah sepakat mengangkat Suharto sebagai 

panglima. Suharto tidak mengijinkan Pranoto meninggalkan Markas 

Besar Angkatan Darat (MBAD) dan bertemu dengan Sukarno. Dalam 

catatan retrospeksi singkatnya Pranoto teringat, “Saya sudah terlanjur 

masuk dalam hubungan komando taktis di bawah Mayjen Suharto, maka 

saya tidak dapat secara langsung menghadap Presiden/Pangti dengan 

tanpa seizin Mayjen Suharto sebagai pengganti Pimpinan AD saat itu. 

Atas dasar panggilan dari utusan-utusan Presiden/Pangti ini  di atas, 

saya pun berusaha mendapatkan izin dari Mayjen Suharto. Akan namun , 

Mayjen Suharto selalu melarang saya untuk menghadap Presiden/Pangti 

dengan alasan bahwa dia (Mayjen Suharto) tidak berani mereskir ke-

mungkinan tambahnya korban Jenderal lagi apabila dalam keadaan yang 

sekalut itu saya pergi menghadap Presiden.”59

sebab  Sukarno yaitu  Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, 

penolakan Suharto untuk mengikuti perintahnya tentang pengangkatan 

Pranoto dapat disamakan dengan pembangkangan. Sukarno sudah me-

negaskan bahwa aman bagi Pranoto untuk datang ke Halim. Dengan 

demikian Suharto tidak mempunyai alasan, menurut protokol kemiliteran, 

untuk meragukan penilaian Sukarno. Suharto menentang atasannya dan 

melaksanakan strateginya sendiri. Sementara Sukarno sedang berunding 

dengan para pimpinan G-30-S di Halim dan membujuk mereka agar 

menghentikan aksi-aksinya, Suharto sibuk merancang serangan militer 

terhadap mereka.

Suharto mulai memberi  perintah-perintahnya kepada presiden. 

Melalui kurir ia mengatakan kepada Sukarno agar sekitar pukul 20.00 

presiden meninggalkan Halim supaya tidak menjadi korban dalam 

pertempuran yang akan terjadi. Suharto menyatakan pasukannya akan 

menyerang pangkalan udara dan membersihkan seluruh kekuatan 

G-30-S. Rupanya melihat bahwa akan sia-sia memerintahkan Suharto 

agar menghentikan serangannya, Sukarno bertukar pikiran dengan para 

83

 

penasihatnya bagaimana jalan yang terbaik untuk melarikan diri dari 

Halim. Ia akhirnya memutuskan pergi dengan mobil ke Istana Bogor, di 

selatan Jakarta, tempat ia biasa melewatkan akhir pekan. Ia tiba di Istana 

Bogor sekitar pukul 22.00.

Dengan tersingkirnya Sukarno, rintangan yang masih tersisa bagi 

Suharto tinggal Angkatan Udara. Ia menerima berita bahwa para perwira 

AURI di Halim akan memberi  perlawanan jika pangkalan udara 

diserang dan sedang memikirkan untuk membom atau memberondong 

markas Kostrad. Suharto dan stafnya meninggalkan markas mereka dan 

menempati markas baru di dekat stadion Senayan.60 Ternyata serangan 

udara itu tidak pernah terjadi. Bagaimana pun juga, adanya ancaman itu 

mengakibatkan persiapan-persiapan Suharto tertunda beberapa jam.

Pasukan RPKAD disiapkan di sepanjang batas selatan pangkalan 

udara Halim sejak dini hari 2 Oktober. Mereka bertempur sebentar dengan 

pasukan dari batalyon Jawa Tengah yang kebetulan juga berkelompok di 

sepanjang jalan yang sama. Sesudah meninggalkan Lapangan Merdeka 

pada sore hari sebelumnya, Batalyon 454 bergerak mundur ke Halim, tapi 

mendapati pintu-pintu pangkalan udara tertutup. Dilarang memasuki 

Halim, mereka melewatkan malam dengan berkeliaran di sepanjang jalan 

antara pangkalan udara dan Lubang Buaya. Inilah jalan yang ditempuh 

RPKAD saat  masuk sekitar dini hari 2 Oktober. Seorang perwira AURI, 

Komodor Dewanto, berhasil menyela dan mencegah pertempuran besar-

besaran antara RPKAD dan pasukan Batalyon 454. Gencatan senjata 

segera diadakan yang mendesak agar Batalyon 454 ditarik dari kawasan 

dan RPKAD memasuki pangkalan udara. Komandan RPKAD, Kolonel 

Sarwo Edhie, menemui para perwira senior Angkatan Udara di Markas 

Besar AURI. Ia meyakinkan dirinya bahwa Sukarno benar-benar sudah 

pergi dan Halim tidak lagi menjadi ancaman bagi Angkatan Darat. 

Angkatan Udara tidak akan melancarkan serangan udara, seperti yang 

telah dikhawatirkan Kostrad sepanjang malam sebelumnya.61

Suatu saat pada pagi 2 Oktober pimpinan inti G-30-S meninggal-

kan persembunyian mereka di Halim dan pindah ke selatan di Lubang 

Buaya. Di sini mereka membahas situasi yang ada dengan para perwira 

Batalyon 454 dan anggota-anggota PKI yang ikut serta dalam G-30-S. 

Akhirnya semua kekuatan G-30-S membubarkan diri dan pergi ke arah 

yang berbeda-beda. Kedatangan RPKAD agaknya mendorong pelarian 

84

1. KESEMRAWUTAN FAKTA-FAKTA

mereka. Sjam, Latief, dan Supardjo mencari jalan masuk pusat kota. 

Untung dan prajurit-prajurit kawal istana menyelinap dengan kereta 

api menuju Jawa Tengah. Aidit dan Omar Dani sudah diterbangkan 

keluar Jakarta pada malam hari (Aidit ke Yogyakarta, Omar Dani ke Jawa 

Timur). Tamatlah kisah G-30-S di Jakarta. Pada hari berikutnya G-30-S 

di Jawa Tengah pun tamat kisahnya. 

CATATAN

1 Schlemihl yaitu  makhluk khayali yang tubuhnya tak memantulkan bayangan sebab  ia 

sudah menjual bayangannya kepada setan. Makhluk ini merupakan karakter utama dalam 

dongeng Th e Wonderful History of Peter Schlemihl (1813), buah karya pengarang Jerman 

Adelbert von Chamisso (1781-1838). 

2 Untuk pernyataan-pernyataan yang dikeluarkan G-30-S, lihat Sekretariat Negara Republik 

Indonesia, Gerakan 30 September (Jakarta: 1994), lampiran 1-5, hal. 5-13.

3 Sekarang nama yang lazim dipakai yaitu  Lapangan Monas. Waktu itu lapangan ini  

bernama Lapangan Merdeka. Mengikuti kebiasaan lama, saya akan memakai  Lapangan 

Merdeka. 

4 Catatan rinci tentang razia penculikan terdapat dalam Anderson dan McVey, Preliminary 

Analysis, 12-18.

5 Anderson dan McVey menduga peranan Supardjo yaitu  untuk “mengawasi istana dan 

stasiun RRI” (Preliminary Analysis, 11). Ini tidak tepat. Pada saat Supardjo tiba, Yon 454 

dan Yon 530 sudah menguasai kawasan di luar istana dan stasiun radio. Tidak terlihat bahwa 

Supardjo diharapkan berperanan lebih dari sekadar berbicara dengan Sukarno di dalam 

istana. Ia tidak memimpin pasukan yang menduduki stasiun RRI.

6 Transkrip Mahmilub, sidang pengadilan Supardjo, pleidooi dari tertuduh, 13, 28. Dalam 

hal ini, juga pada hampir semua hal-hal lain, saya memakai  transkrip dari Mahmilub 

hanya untuk mengajukan kemungkinan, bukan untuk menegakkan fakta-fakta. Seperti 

sudah saya kemukakan dalam Pendahuluan, kesaksian para terdakwa dan saksi di depan 

sidang Mahmilub tidak dapat diandalkan, dan di dalam artikel  ini saya akan menunjukkan 

banyak kesalahan di dalam kesaksian-kesaksian mereka. Namun demikian beberapa bagian 

dari kesaksian-kesaksian itu dapat dianggap akurat bila didukung oleh bukti-bukti dalam 

bentuk lain. Dalam setiap transkrip persidangan, bagian terpenting ialah pledoi tertuduh 

yang ditulis sendiri untuk mengajukan interpretasinya secara umum tentang G-30-S dan 

mengungkapkan sesuatu tentang kepribadiannya.

7 Pada 1965 Sukarno mempunyai empat istri: Fatmawati, Hartini, Dewi, dan Harjati. Tidak 

satu pun dari mereka tinggal di istana kepresidenan di Jakarta.

8 Saelan, Dari Revolusi ’45 Sampai Kudeta ’66, 309-310. Saat itu Kolonel Saelan yaitu  

85

 

wakil komandan pasukan kawal istana. Tapi malam itu ia juga pejabat komandan sebab  

komandan pasukan, Brigjen Sabur, berada di luar kota. Dalam pasukan kawal istana, yang 

disebut Cakrabirawa, ada satu satuan kecil pengawal pribadi presiden yang dikenal sebagai 

Detasemen Kawal Pribadi Presiden (DKP). Satuan kecil DKP ini merupakan lingkar pertama 

yang berada paling dekat dengan sekeliling tubuh presiden. Komandan DKP, Letnan Kolonel 

Mangil Martowidjojo, telah menulis dengan rinci dalam memoarnya tentang gerak-gerik 

Sukarno pada pagi hari 1 Oktober 1965 (lihat Martowidjojo, Kesaksian Tentang Bung Karno, 

378-398).

9 Kolonel Saelan menyatakan bahwa salah seorang bawahan Untung, Kapten Suwarno, 

menghampirinya pada sekitar pukul 5.45 pagi dan bertanya di mana presiden berada 

(Saelan, Dari Revolusi ‘45 Sampai Kudeta ‘66, 309). Ini mungkin memberi petunjuk bahwa 

sampai detik terakhir kelompok Untung masih mencari-cari presiden. Suwarno inilah yang 

menjumpai Supardjo di istana dan menyampaikan bahwa presiden tidak ada di tempat. 

10 Wawancara dengan Heru Atmodjo, 14 Desember 2002.

11 Lihat wawancara dengan Omar Dani dalam Katoppo, Menyingkap Kabut Halim 1965, 

240.

12 Lihat pernyataan Sukarno pada 3 Oktober 1965, dalam Setiyono dan Triyana, Revolusi 

Belum Selesai, 1:18.

13 Waktu yang ditunjukkan di sini waktu perkiraan. Menurut ingatan Letkol Mangil Mar-

towidjojo, Sukarno tiba di pangkalan udara Halim sekitar pukul 9.00 pagi (Martowidjojo, 

Kesaksian Tentang Bung Karno, 389). Agaknya Supardjo tiba lebih awal dari Sukarno. saat  

Supardjo tiba, ia berbicara sebentar dengan Omar Dani di kantor utama, kemudian pergi 

menemui para pimpinan inti G-30-S. Supardjo sudah meninggalkan kantor komandan 

Halim saat Sukarno dan rombongannya tiba. 

14 Kapan waktu pembunuhan setepatnya tidak diketahui. Badan intelijen AS, Central 

Intelligence Agency (CIA), dalam laporannya tentang G-30-S yang diterbitkan, menyebut 

jenderal-jenderal itu dibunuh sekitar pukul 7.00 pagi (CIA, Indonesia – 1965, 21). Menurut 

ingatan seorang prajurit kawal istana, yang berada di Lubang Buaya saat itu, Sersan Mayor 

Bungkus, pembunuhan terjadi sekitar pukul 9.30 (wawancara dengan Bungkus). Untuk 

komentar Bungkus tentang pembunuhan yang telah terbit, lihat Anderson, “World of 

Sergeant-Mayor Bungkus,” 27-28).

15 Tanggal-tanggal pertemuan, topik-topik diskusi, nama-nama semua yang hadir, dan 

berbagai pendapat yang dikemukakan dalam pertemuan tidak dapat diketahui dengan 

kepastian sedikit pun. Kisah-kisah dari rezim Suharto disusun atas dasar kesaksian Sjam. Tapi 

kita tidak mempunyai alasan mempercayai kata-kata Sjam tentang masalah ini. Notosusanto 

dan Saleh menyatakan bahwa komplotan ini bertemu sepuluh kali dari 17 Agustus sampai 

29 September (lihat Tragedi Nasional, 11-13). Laporan CIA menyatakan, mereka bertemu 

delapan kali dari 6 September sampai 29 September (Indonesia – 1965, 110-157).

16 Wawancara dengan Heru Atmodjo, 14 Desember 2002.

17 Tentang kehadiran Kusno, lihat Siauw Giok Tjhan, “Berbagai Catatan,“ 5-7. Iskandar 

Subekti di depan pengadilan mengakui ia berada di Halim bersama Aidit (Subekti, “Jalan 

86

1. KESEMRAWUTAN FAKTA-FAKTA

Pembebasan Rakyat Indonesia”, 45-46). Ini merupakan pernyataan Mahmilub yang andal. 

Tidak ada alasan kuat bagi Subekti untuk mengakui bahwa ia berada di Halim bersama Aidit. 

Sebagian besar pembelaan Subekti berisi kutukan terhadap rezim Suharto. Sementara Subekti 

tidak berterus terang mengenai apa yang terjadi di pangkalan Halim pagi itu, pernyataannya 

bahwa ia berada di Halim agaknya memang benar. Heru Atmodjo juga mengemukakan, ia 

mendengar dari tapol-tapol lain bahwa Iskandar Subekti memang ada di Halim (Sembiring 

dan Sutedjo, Gerakan 30 September, 128-129).

18 Wawancara dengan Heru Atmodjo, 14 Desember 2002, Jakarta.

19 Menurut Omar Dani para perwira yang hadir dalam rapat itu, selain Dani sendiri, ialah 

Komodor Dewanto, Komodor Andoko, Komodor Wattimena, dan Laksamana Madya 

Makki Perdanakusuma. Rapat diadakan di kantor Dani di Wisma Angkasa (Katoppo, 

Menyingkap Kabut Halim 1965, 225).

20 Sukarno memprakarsai kampanye melawan Malaysia pada September 1963 yang dise-

butnya sebagai Konfrontasi. Tentara Indonesia menempatkan pasukannya di Sumatra 

dan Kalimantan untuk kemungkinan melakukan penyerbuan dan terkadang mengirim 

kelompok pasukan-pasukan kecil ke kawasan Malaysia. Nama semula dari komando militer 

yang dibentuk untuk melancarkan Konfrontasi itu Koga. Sukarno mereorganisasi komando 

ini pada Oktober 1964 dengan nama baru Kolaga: Komando Mandala Siaga. Omar Dani 

yaitu  Panglima Kolaga. Wakil Panglima, sejak 1 Januari 1965, ialah Suharto. Panglima 

pasukan-pasukan Kolaga di Kalimantan ialah Supardjo.

21 Omar Dani mengatakan bahwa ia menginap di Halim malam itu sebab  ia berharap 

pada hari berikut akan mendengar lebih banyak tentang apa yang akan terjadi. Ia tidur di 

gedung pusat pangkalan udara, bukan pulang ke rumah atau pergi ke kantornya sendiri di 

tengah kota Jakarta. Agaknya tidak benar bahwa, seperti yang disangkakan oleh Anderson 

dan McVey, Dani “diambil oleh personel AURI dan dibawa ke Halim [pada jam 3.00 pagi] 

untuk, dengan kehadirannya yang ‘otoritatif,’ mengukuhkan penguasaan para konspirator 

atas pangkalan udara.“ (Preliminary Analysis, 19). 

22 Wawancara dengan Heru Atmodjo, 11 Juni 2000.

23 Omar Dani menjelaskan, ia menulis “Perintah Harian” antara pukul 7.15 dan 8.00 pagi 

sesudah mendengar pengumuman pertama G-30-S melalui radio di pangkalan udara Halim. 

Ia menyisihkan pernyataan itu begitu ia mendengar pada pukul 8.00 bahwa Sukarno sedang 

menuju Halim. Dani menganggap apa yang sudah ditulisnya sebagai draf yang mungkin 

harus ia ubah sesudah ia mengetahui pendirian Presiden mengenai G-30-S. Dani sudah 

mengirim draf itu kepada Komodor Dewanto di Markas Besar AURI untuk meminta 

pendapatnya. Rupanya, sebab  keliru komunikasi, draf itu lalu diumumkan sebagai sebuah 

dokumen fi nal dari MBAU pada pukul 9.30 pagi sebelum Dani dapat merevisinya (Katoppo, 

Menyingkap Kabut Halim, 238-239) 

24 Keterlibatan secara individual dari satuan pasukan para dan polisi militer berdasar pada 

wawancara lisan dengan beberapa mantan personil militer yang ikut serta dalam G-30-S, 

Subowo dan Mudjijono (kedua-duanya nama samaran).

25 Jumlah sukarelawan yang berafi liasi dengan PKI tidak diketahui dengan pasti. Selama 

87

 

persidangan Mahmilub Untung menyatakan ada kira-kira dua ribu orang sipil ikut serta 

dalam aksi G-30-S pada 1 Oktober 1965 (“Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub 

di Djakarta, Perkara Untung, 40).

26 Anderson dan McVey menyitat berita surat kabar yang mengutip Mayor Jenderal Umar 

Wirahadikusumah, Panglima Kodam Jaya, yang menyatakan jumlah seluruh pasukannya 

enam puluh ribu personil (Preliminary Analysis, 66 n13). Saya kira angka ini terlalu tinggi, 

tapi saya tidak menemukan angka lain tentang kekuatan pasukan Kodam ini .

27 Wirahadikusumah, Dari Peristiwa ke Peristiwa, 182-186.

28 Catatan rezim Suharto sendiri tidak berisi informasi tentang peran serta Sunardi dan 

Anwas dalam G-30-S. Lihat Notosusanto dan Saleh, Coup Attempt, Sekretariat Negara, 

September 30th Movement. Kedua tokoh itu kemudian diadili oleh pengadilan militer, dijatuhi 

hukuman walaupun kekurangan bukti yang melemahkan terdakwa, dan dipenjarakan 

sampai akhir 1970-an.

29 “Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub, Perkara Untung, 77.

30 Ibid., 75.

31 Sembiring dan Sutedjo, Gerakan 30 September 1965, 125-129.

32 Transkrip Mahmilub, pengadilan Supardjo, pleidooi dari tertuduh, 6, 11. 

33 Laporan CIA menyatakan bahwa Dekrit No. 1 pertama-tama disiarkan pada tengah hari, 

dan Keputusan 1 dan Keputusan 2 pada pukul 13.00 (lihat Indonesia – 1965, 25-26). Jurnal 

Indonesia dalam penerbitan terjemahan dokumen-dokumen itu menyatakan bahwa ketiga 

pengumuman ini  disiarkan melalui radio pada pukul 14.00 (“Selected Documents,“ 

137-139)

34 “Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub, Perkara Untung, foto-foto antara halaman 

8 dan 9.

35 RRI menyiarkan “Perintah Harian” Omar Dani suatu saat lepas tengah hari, walaupun 

telah disiarkan (menurut Dani secara tidak sengaja) pada pukul 9.30 pagi. Dani mendasarkan 

pernyataannya lebih pada informasi dari pengumuman gerakan yang pertama (G-30-S 

sebagai pelindung Sukarno), ketimbang pada pengumuman yang disiarkan pada sore hari 

(G-30-S sebagai perampas kekuasaan Sukarno). Para editor jurnal Indonesia menyatakan 

bahwa pernyataan Dani disiarkan pukul 15.30. (“Selected Documents,” 143). Dani sendiri 

menyatakan bahwa pernyataan itu disiarkan pukul 13.00 siang (Katoppo, Menyingkap 

Kabut Halim, 239). 

36 Sukarno memakai  istilah Panca Azimat Revolusi, dengan maksud menunjuk pada 

Nasakom, Pancasila, Manipol-Usdek, Trisakti, dan Berdikari. Nasakom ialah prinsip untuk 

menggabungkan kecenderungan politik nasionalis, agama, dan komunis ke dalam suatu 

negara bangsa yang berfungsi tunggal. Pancasila terdiri dari lima prinsip umum yang 

merupakan dasar untuk persatuan di antara bangsa Indonesia. Secara garis besar lima prinsip 

itu ialah: kepercayaan kepada Tuhan yang tunggal, kemanusiaan, kebangsaan, demokrasi, 

dan keadilan sosial. Manipol ialah Manifesto Politik Sukarno tahun 1959, yang ditetapkan 

pemerintah sebagai azas pembimbing. Usdek ialah akronim untuk lima istilah: UUD 1945, 

88

1. KESEMRAWUTAN FAKTA-FAKTA

Sosialisme ala Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin, dan Kepribadian 

Indonesia. Trisakti merujuk kepada tiga prinsip: berdaulat dalam politik, berdikari dalam 

ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Berdikari atau berdiri di atas kaki sendiri, 

ialah prinsip Sukarno untuk ekonomi nasional yang berswasembada.

37 “Gerakan 30 September” Dihadapan Mahmillub, Perkara Untung, 60.

38 Transkrip Mahmilub, pengadilan Supardjo, sidang ketiga, 24 Februari 1967, 21.

39 Transkrip Mahmilub, pengadilan Supardjo, sidang ketiga, 24 Februari 1967, 16-17. 

Versi resmi militer menyatakan, Sukarno menepuk punggung Supardjo dan mengatakan, 

“Kerja yang baik” (CIA, Indonesia – 1965, 31). Ini tampaknya merupakan pencatutan 

kesaksian Supardjo. Sukarno tidak memberi ucapan selamat untuk penculikan terhadap 

para jenderal; ia menepuk Supardjo di punggung sambil mengancam akan menghukumnya 

jika ia tidak menghentikan G-30-S. Sukarno belum mengenal Supardjo dengan baik, tapi 

ia telah bertemu dengannya pada sejumlah kesempatan, dan mengembangkan rasa hormat 

mendalam terhadap Supardjo. Di Halim Sukarno rupanya nyaman bergaul dengannya. 

Keakraban dibangun dengan senda gurau, tepukan di punggung, dan bercakap-cakap dalam 

bahasa Sunda. Baik Sukarno maupun Supardjo bukan orang Sunda, tapi keduanya pernah 

tinggal cukup lama di Jawa Barat, sehingga mereka fasih berbahasa Sunda. 

40 Surodjo and Soeparno, Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran and Tanganku, 70.

41 Para pembantu Sukarno di pangkalan udara Halim ialah Laksamana Madya R. Eddy 

Martadinata, Inspektur Jenderal Sutjipto Judodihardjo, Brigadir Jenderal Sabur, dan Brigadir 

Jenderal Soetardio.

42 Surodjo and Soeparno, Tuhan, Pergunakanlah Hati, Pikiran, and Tanganku, 71.

43 Wawancara dengan Heru Atmodjo, 14 Desember 2002. Laporan CIA menyatakan bahwa 

Supardjo pagi hari itu mondar-mandir antara Pusat Komando Operasi dan rumah Sersan 

Soejatno sebanyak empat kali (9.30, 10.15, 11.15, dan 11.45). Laporan itu tidak menye-

butkan sumber informasi ini . Lihat CIA, Indonesia – 1965, diagram antara halaman 

22 dan 23. Diagram tidak tampak akurat sebab  laporan-laporan lain menunjukkan bahwa 

Supardjo tidak bertemu Sukarno di Pusat Komando Pangkalan Udara sampai kira-kira pukul 

10.00 pagi, dan bahwa Sukarno telah pindah ke rumah Komodor Soesanto pada pukul 

11.00 siang. Diagram CIA tidak memperlihatkan bahwa Supardjo juga mondar-mandir 

antara rumah Soesanto dan rumah Sujatno.

44 Menurut laporan CIA yang diterbitkan, “Supardjo minta agar ia diberi kesempatan 

berkonsultasi tentang masalah itu dengan ‘kawan-kawan’-nya. Presiden menjawab, ‘Ya, 

baiklah, tapi segera kembali’ …Sesudah bertukar pikiran mereka [pimpinan G-30-S] memu-

tuskan untuk merekomendasikan kepada Sukarno agar menunjuk Mayor Jenderal Pranoto” 

(CIA, Indonesia – 1965, 32). Menurut cerita Supardjo (lihat Bab 3 dan Apendiks 1 artikel  

ini), G-30-S merekomendasikan tiga nama: Rukman, Pranoto, dan Basuki Rachmat.

45 Mengenai reputasi Rukman dan Basuki Rachmat, lihat Sundhaussen, Road to Power, 

171-172.

46 Setiyono and Triyana, Revolusi Belum Selesai, 1:73. Kalimat dalam bahasa Belanda berarti: 

89

 

“Apa kalian sudah gila, berpikir bahwa saya akan membubarkan kabinet saya sendiri?”

47 Yogyakarta tidak berada di bawah pemerintahan sipil Jawa Tengah. Daerah ini merupakan 

Daerah Istimewa. Namun, Daerah Istimewa Yogyakarta diintegrasikan ke dalam struktur 

komando Angkatan Darat yang meliputi wilayah Jawa Tengah (Kodam Diponegoro).

48 Untuk kejadian-kejadian di Jawa Tengah, saya pada pokoknya memakai  peng-

gambaran dalam Anderson dan McVey, Preliminary Analysis, 46-53. Mereka mendasarkan 

penuturannya pada cerita-cerita yang terdapat dalam koran-koran lokal sejak Oktober 

sampai Desember 1965.

49 Satu contoh ialah kepasifan para perwira militer pro-PKI di Sumatra Barat (A. Kahin, 

Rebellion to Integration, 240-241).

50 Kostrad yang dibentuk pada 1960 merupakan usaha pertama Angkatan Darat untuk 

membentuk pasukan cadangan pusat. Walaupun pasukannya masih dipinjam dari komando-

komando daerah, Kostrad dirancang untuk memberi panglima Angkatan Darat (yang 

dipegang Yani sejak Juni 1962) batalyon-batalyon yang berada di bawah komandonya 

sendiri (Lowry, Armed Forces of Indonesia, 89.) 

51 Wirahadikusumah, Dari Peristiwa ke Peristiwa, 186.

52 Reksosamodra, Memoar, 246.

53 Nasution mengingat ia datang pukul 19.30 (Nasution, Memenuhi Panggilan Tugas, 6:241). 

Tapi menurut ingatan Suharto, Nasution tiba sekitar pukul 17.30 sore (Suharto, Pikiran, 

Ucapan, dan Tindakan Saya, 126).

54 “Selected Documents,“ 167. 

55 Tapol Bulletin, no. 90 (Desember 1988), 20-21, mengutip Indonesia Reports, Politics 

Supplement, no. 25, Agustus 1988. Informasi ini aslinya muncul dalam sebuah dokumen 

anonim berbahasa Indonesia, berjudul “Peranan Presiden Suharto dalam Gerakan 30 

September.” Dokumen ini dilampiri sebuah reproduksi radiogram yang dikirim Suharto 

kepada tiga batalyon itu pada 21 September 1965, memerintahkan mereka ke Jakarta untuk 

parade Hari Angkatan Bersenjata.

56 saat  mereka tiba di Halim pasukan ini ditolak masuk pangkalan oleh perwira-perwira 

AURI. Dalam keadaan bingung, mereka berkeliaran di sepanjang jalan, di selatan pangkalan 

udara (Katoppo, Menyingkap Kabut Halim 1965, 129).

57 Waktu pukul 18.00 dilaporkan oleh Dinas Sejarah Militer TNI-Angkatan Darat, Cuplikan 

Sejarah Perjuangan TNI-Angkatan Darat, 496.

58 Wawancara dengan Juwono (nama samaran), anggota organisasi pemuda PKI, Pemuda 

Rakyat. Ia mendapat perintah dari atasannya untuk menduduki gedung telekomunikasi.

59 Reksosamodra, Memoar, 247-248.

60 Hughes, End of Sukarno, 82.

61 Laporan paling rinci tentang peristiwa-peristiwa 2 Oktober pagi di dan sekitar Halim, 

terdapat dalam Katoppo, Menyingkap Kabut Halim, 149-180.

90

2

PENJELASAN TENTANG G-30-S

Tindakan dapat kita mengerti jika ada koherensi antara tindakan 

agen dengan makna situasi yang dihadapinya bagi dirinya. Tindakan 

si agen akan kita rasakan membingungkan sebelum koherensi itu kita 

temukan … Koherensi ini sama sekali tidak menyiratkan bahwa 

tindakan itu masuk akal; makna sebuah situasi bagi pelaku bisa jadi 

penuh kekacauan dan pertentangan; namun  penggambaran yang cukup 

tentang pertentangan itu menjadikannya dapat dimengerti.

Charles Taylor, Philosophy and the Human Science (1971)

Ada tanda tanya yang menggelantung hampir pada setiap aspek 

Gerakan 30 September. Mengapa sebuah gerakan yang menyata-

kan diri kepada umum pada 1 Oktober menamai dirinya dengan 

tanggal hari sebelumnya? Mengapa sebuah gerakan yang menyatakan diri 

sebagai murni tindakan intern Angkatan Darat juga memutuskan men-

demisionerkan kabinet Presiden Sukarno dan membentuk pemerintahan 

baru atas dasar “dewan revolusi”? Mengapa sebuah gerakan yang menya-

takan diri sebagai usaha untuk mencegah kup terhadap Presiden Sukarno 

tidak tegas-tegas menyatakan bahwa ia akan tetap menjadi presiden di 

dalam pemerintahan yang baru ini? Mengapa sebuah gerakan yang ingin 

mengganti pemerintah tidak menggelar pasukan untuk menguasai ibu 

kota sesuai dengan prosedur klasik dalam kudeta? Mengapa gerakan ini 

tidak menculik Mayor Jenderal Suharto atau bersiap untuk mengha-

dapi pasukan-pasukan yang ada di bawah komandonya? Gerakan 30 

91

 

September tampak sebagai kemelut yang kusut tanpa kepaduan.

Bertahun-tahun banyak orang berusaha mencerna apa kiranya 

logika pokok dari G-30-S. Orang harus berpikir bahwa para pelakunya 

bukanlah orang-orang yang menderita schizofrenia, tolol, atau berkecen-

derungan bunuh diri. Mereka pasti mempunyai tujuan-tujuan tertentu 

di dalam benak mereka dan tentu juga telah merancang tindakan dan 

pernyataan mereka sebagai sarana yang cukup efektif untuk mencapai 

tujuan-tujuan itu. Bisa saja mereka salah membaca situasi politik dan 

salah menghitung kemampuan mereka sendiri, tapi tentu mereka tidak 

akan melangkah maju dengan G-30-S tanpa ada rencana yang masuk 

akal bagi mereka.

Ada empat pendekatan pokok untuk mengurai keganjilan-kegan-

jilan G-30-S dan menetapkan semacam koherensi terhadapnya. Menurut 

penjelasan pihak militer Indonesia, sejak hari-hari pertama Oktober 

sampai sekarang, G-30-S merupakan siasat PKI sebagai sebuah institusi 

untuk merebut kekuasaan negara. Gerakan ini bukan sekadar sebuah 

pemberontakan atau kup, tapi awalan revolusi sosial secara menyelu-

ruh untuk melawan semua kekuatan nonkomunis. Dua ilmuwan dari 

Cornell University, Anderson dan McVey, dalam analisis mereka pada 

Januari 1966, mengemukakan pembacaan alternatif terhadap G-30-S. 

Mereka menggarisbawahi pernyataan G-30-S sendiri, yaitu sebagai putsch 

intern Angkatan Darat yang dilakukan oleh perwira-perwira bawahan. 

Pendekatan ketiga, yang dikemukakan ilmuwan politik Harold Crouch, 

bermaksud membuktikan bahwa pada hakikatnya G-30-S merupakan 

kegiatan para perwira yang tidak puas tapi PKI juga memainkan peran 

pendukung yang kuat. Pendekatan keempat dipelopori seorang sosiolog 

Belanda, W.F. Wertheim, mengemukakan hipotesis bahwa Suharto dan 

para jenderal Angkatan Darat antikomunis mengorganisasikan G-30-S 

melalui agen ganda (khususnya Sjam) agar dapat menciptakan dalih untuk 

menyerang PKI dan menggulingkan Sukarno. Izinkanlah saya mengurai-

kan keempat pendekatan ini  secara rinci satu demi satu.1 

G-30-S SEBAGAI USAHA KUDETA PKI

Dalam memoarnya Suharto menyatakan sudah menduga PKI menda-

92

2. PENJELASAN TENTANG G-30-S

langi G-30-S saat  mendengar pengumuman radio yang pertama pada 

pagi hari 1 Oktober, “Deg, saya segera mendapatkan fi rasat. Lagi pula 

saya tahu siapa itu Letkol. Untung. Saya ingat, dia seorang yang dekat, 

rapat dengan PKI, malahan pernah jadi anak didik tokoh PKI, Alimin.”2 

Asisten Suharto untuk urusan intelijen di Kostrad, Yoga Sugama, dalam 

memoarnya (yang ditulis dalam gaya orang ketiga oleh para penulis 

yang ia sewa) menyatakan yakin G-30-S itu dipimpin oleh PKI bahkan 

sebelum Suharto berpikiran demikian, “Yoga yaitu  orang pertama di 

Kostrad yang memastikan bahwa penculikan para Jenderal Angkatan 

Darat di penghujung bulan September 1965 [sic], dilakukan oleh anasir-

anasir PKI. Beberapa perwira tampak ragu-ragu dengan kesimpulan-

nya itu sebab  pada pagi hari 1 Oktober belum diperoleh bukti-bukti 

yang mendukung kesimpulan ini .” Konon Sugama mengatakan 

kepada mereka yang meragukannya itu, “Ini mesti perbuatan PKI. Kita 

tinggal mencari bukti-buktinya.” Sugama menyombongkan diri sebagai 

orang pertama yang meyakinkan Suharto bahwa PKI bersalah sehingga 

mengubah fi rasat Suharto menjadi keyakinan yang tidak tergoyahkan.3 

Penuturan Sugama itu memberi kesan bahwa jenderal-jenderal Kostrad 

sudah menengarai sang dalang sebelum mendapatkan satu pun bukti 

yang pasti. Kesimpulan sudah datang sebelum pembuktian.

Suharto tidak serta-merta menuduh PKI sebagai pihak yang ber-

tanggung jawab terhadap G-30-S. yaitu  para perwira bawahannya yang 

memobilisasi sejumlah pimpinan politik anti-PKI untuk melancarkan 

tuduhan. Hanya satu hari sesudah G-30-S meletus, seorang jenderal 

antikomunis, Brigadir Jenderal Sucipto, membentuk organisasi yang 

dibuat tampak seperti organisasi sipil dengan nama Kesatuan Aksi Peng-

ganyangan Gerakan 30 September (KAP Gestapu). Sesudah mengadakan 

rapat tertutup para pimpinan kelompok ini menyelenggarakan konpe-

rensi pers pada 4 Oktober. Yang terlibat di dalamnya yaitu  orang-orang 

semacam Subchan Z.E. dari Nahdlatul Ulama, yang sejak lama bekerja 

sama dengan para perwira Angkatan Darat yang anti-PKI.4 Dengan 

adanya kerja sama sebelumnya, mereka mampu dengan cepat mengor-

ganisasikan diri.

Pada Hari Angkatan Bersenjata 5 Oktober, Angkatan Darat 

bukannya menyelenggarakan parade militer sebagaimana yang sudah 

dijadwalkan, dengan barisan demi barisan pasukan berderap memamer-

93

 

kan persenjataan mutakhir, melainkan mengadakan prosesi pemakaman 

besar-besaran untuk tujuh perwira yang terbunuh. Pada hari itu juga 

Angkatan Darat menyiarkan artikel  setebal 130 halaman yang disusun 

cepat, berisi catatan tentang rangkaian kejadian-kejadian pada 1 Oktober 

dan menuduh PKI sebagai dalang di balik peristiwa itu.5 Rupanya 5 

Oktober menjadi hari saat  pimpinan Angkatan Darat memutuskan 

untuk memulai serangan terhadap PKI. Menurut warta CIA yang 

dikirim dari Jakarta, pada hari itu jenderal-jenderal tertinggi Angkatan 

Darat bersidang dan bersepakat untuk “melaksanakan rencana meng-

ganyang PKI.”6 Di bawah arahan Suharto dengan cepat Angkatan Darat 

mengerahkan massa sipil dan menyebarkan propaganda anti-PKI melalui 

pers (yang seluruhnya sudah di bawah kendali Angkatan Darat sejak 

akhir pekan pertama Oktober). Sebuah kisah sensasional melukiskan 

bagaimana anggota PKI menyiksa, menyayat-nyayat, dan memotong 

kemaluan para jenderal tawanan mereka. saat  koran-koran dan stasiun 

radio mulai melansir cerita-cerita mengerikan tentang PKI, massa yang 

digalang tentara bergerak dengan amuk yang mematikan. Pada 8 Oktober 

mereka membakar habis gedung CC-PKI di Jakarta dan menyerang 

kantor-kantor tiap organisasi yang dianggap terkait dengan PKI. Rumah 

para pimpinan PKI di Jakarta dibakar atau disita.7 

Bahkan pada kemuncak penindasan kejam pada akhir 1965 dan 

awal 1966, warga  belum memperoleh bukti bahwa PKI mendalangi 

G-30-S. warga  tidak mempunyai alasan mendesak untuk tidak 

mempercayai pernyataan Untung bahwa “Gerakan 30 September yaitu  

gerakan semata-mata dalam tubuh Angkatan Darat” atau pernyataan 

Politbiro CC-PKI pada 6 Oktober yang menegaskan bahwa “PKI tidak 

tahu menahu tentang G-30-S dan peristiwa itu yaitu  intern AD.”8 

Memang benar, Untung agaknya tak mungkin menjadi pimpinan suatu 

intervensi ambisius dalam politik nasional serupa G-30-S. Ia mempunyai 

reputasi sebagai seorang prajurit yang berani dan sederhana, bukan 

pengatur siasat yang lihai dan cukup percaya diri untuk mengorganisa-

sikan aksi semacam itu. Tabiat Untung yang demikian memberi kesan 

bahwa ada kekuatan-kekuatan lain yang terlibat di dalam G-30-S, lebih 

dari prajurit-prajurit patriotik yang tidak suka kepada perwira-perwira 

atasan mereka. Tapi purbasangka demikian tidak cukup untuk menarik 

kesimpulan bahwa PKI merupakan pembantu terselubung di belakang 

94

2. PENJELASAN TENTANG G-30-S

Untung.

PKI jelas mendukung G-30-S, sebagaimana ternyata dalam editorial 

Harian Rakjat pada 2 Oktober, yang memuji G-30-S sebagai patriotik 

dan revolusioner. Tapi editorial itu tidak memberi  bukti bahwa PKI-

lah yang memimpin G-30-S, terutama sebab  editorial itu menyatakan 

bahwa G-30-S merupakan “persoalan intern Angkatan Darat.” Demikian 

juga keikutsertaan ratusan anggota sayap pemuda PKI (Pemuda Rakjat) 

di dalam aksi itu tidak membuktikan kepemimpinan partai di dalam 

G-30-S. Tidak ada alasan untuk percaya bahwa peranannya lebih dari 

apa yang belakangan dinyatakan oleh sementara pimpinan partai, seperti 

Njono: tenaga bantuan untuk putsch intern Angkatan Darat. Usul dari 

beberapa pimpinan PKI di daerah-daerah luar Jakarta untuk membentuk 

dewan-dewan revolusi setempat, sesuai dengan dekrit pertama Letnan 

Kolonel Untung, sekali lagi hanya menunjukkan bahwa partai sungguh-

sungguh mendukung aksi ini , namun  ia bukanlah yang memimpin. 

Kehadiran Aidit di pangkalan AURI Halim tidak dengan sendirinya 

membuktikan bahwa perannya lebih dari sekadar penonton atau penasihat 

yang menyetujui G-30-S.9

Pusat Penerangan Angkatan Darat menerbitkan seri tiga jilid artikel  

dari Oktober sampai Desember 1965, dengan maksud membuktikan 

bahwa PKI “mendalangi” G-30-S. Bukti-bukti yang diajukan dalam 

penerbitan ini tidak substansial, bergantung pada situasi tertentu (circum-

stantial), atau tidak andal. Bukti utama ialah pengakuan Untung (yang ter-

tangkap di Jawa Tengah pada 13 Oktober) dan Latief (ditangkap pada 11 

Oktober di Jakarta), bahwa mereka yaitu  antek-antek PKI.10 Angkatan 

Darat mengutip laporan interogasi dari kedua perwira itu. Kiranya tidak 

mungkin bahwa masing-masing perwira ini  dengan bersungguh-

sungguh dan sukarela mengaku bekerja untuk kepentingan PKI. Saya 

mempunyai salinan laporan interogasi Latief (bertanggal 25 Oktober 

1965), dan memang benar ia mengaku mengikuti perintah-perintah PKI. 

Namun, ia menyatakan, pada pembelaannya pada 1978, bahwa saat itu 

ia mengalami infeksi luka akibat tusukan bayonet di kakinya dan dalam 

keadaan setengah sadar.11 Dalam mahkamah pengadilan atau mahkamah 

sejarah yang layak di mana pun, kesaksian yang diperoleh di bawah 

tekanan dan dengan siksaan tidak dapat diterima. Dalam sidang-sidang 

pengadilan mereka kemudian, baik Untung maupun Latief, menyangkal 

95

 

laporan-laporan interogasi mereka, dan bersikeras bahwa mereka, sebagai 

perwira militer, telah memimpin G-30-S. PKI, mereka menegaskan, 

diajak ikut serta hanya sebagai tenaga bantuan.12

Mengingat bahwa penjelasan Suharto dipaksakan dengan kekuatan 

senjata dan bukan kekuatan penalaran, tidak banyak tentangnya yang 

patut dipertimbangkan. Angkatan Darat tidak pernah membuktikan 

tuduhannya. Orang harus curiga saat  tuduhan sebagian didasarkan atas 

propaganda palsu dan sebagian lagi atas dasar kesaksian yang diperoleh 

melalui siksaan. Pengakuan dua tokoh pimpinan PKI, Njono dan Aidit, 

yang diterbitkan oleh pers Angkatan Darat pada akhir 1965 merupakan 

pemalsuan yang terang benderang.13 Demikian juga kisah yang disiarkan 

besar-besaran tentang perempuan-perempuan peserta G-30-S yang 

menyiksa dan memotong kemaluan tujuh perwira tangkapan mereka 

di Lubang Buaya, ternyata merupakan rekayasa, barangkali ciptaan para 

ahli perang urat syaraf.14 Sekalipun arus propaganda terus membanjir 

selama tiga puluh tahun lebih, tentara Suharto tidak pernah membuk-

tikan bahwa PKI telah mendalangi G-30-S.

Saat membidik PKI sebagai “dalang” G-30-S, militer Suharto tidak 

dapat menjelaskan satu fakta dasar: G-30-S dilakukan oleh personil 

militer, yaitu Letnan Kolonel Untung dan pasukannya dari pasukan 

kawal kepresidenan, Kolonel Latief dan pasukannya dari garnisun Jakarta, 

Mayor Soejono dan pasukannya dari pangkalan AURI Halim, Kapten 

Sukirno dan pasukannya dari Batalyon 454 Jawa Tengah, dan Mayor 

Soepeno dan pasukannya dari Batalyon 530 Jawa Timur. Demikian juga 

halnya di Jawa Tengah, kekuatan G-30-S terutama terdiri dari perwira-

perwira Angkatan Darat dan bukan para aktivis partai. Sekali lagi tidak 

ada bukti kuat tentang kehadiran PKI secara dominan. Apa pun persisnya 

keterlibatan anggota-anggota partai tertentu, saat  itu mereka tampak 

berada di pinggiran aksi yang dilakukan oleh personil militer. Versi rezim 

Suharto hanya dapat benar jika orang berasumsi bahwa perwira-perwira 

Angkatan Darat yang terlibat itu menempatkan diri mereka di bawah 

PKI dan mereka bersedia menjalankan perintah partai seperti robot.15 

Benedict Anderson dan Ruth McVey benar dengan penjelasannya dalam 

“analisis awal” Januari 1966 bahwa PKI bukanlah dalang. Sampai saat 

itu tidak ada bukti-bukti yang kuat untuk tuduhan yang muncul baik 

di dalam berita-berita pers maupun pernyataan-pernyataan Angkatan 

96

2. PENJELASAN TENTANG G-30-S

Darat. Maka yang lebih masuk akal ialah menjelaskan G-30-S sebagai 

suatu putsch intern Angkatan Darat.

Isu tentang keterlibatan PKI menjadi lebih ruwet segera sesudah  

Anderson dan McVey menyelesaikan laporan mereka. Pada sidang pe-

ngadilan Njono dan Untung dalam Februari dan Maret 1966, nama-

nama dua anggota PKI – Sjam dan Pono – disebut-sebut sebagai anggota 

kelompok inti komplotan. Untung mengatakan bahwa Sjam dan Pono 

yaitu  wakil-wakil Aidit, yang membantu G-30-S namun tidak memim-

pinnya.16 Peranan mereka, menurut Untung, tidak berarti. Mereka tampil 

semata-mata untuk meyakinkan bahwa “PKI akan memberi  bantuan 

dari tenaga massa.”17 Ia dan perwira-perwira militer lain menginginkan 

adanya tenaga bantuan untuk mendukung aksi-aksi mereka, sehingga 

mereka berpaling kepada PKI yang dapat mengerahkan ribuan pemuda, 

yang baru saja menerima latihan kemiliteran singkat di pangkalan udara 

Halim. Namun Untung kemudian mengubah versinya sendiri mengenai 

rangkaian peristiwa itu, dengan menyatakan bahwa bantuan Sjam 

termasuk menuliskan konsep dekrit pertama G-30-S tentang pemben-

tukan dewan-dewan revolusi.18 Pimpinan inti yang lain, Mayor Soejono 

dari AURI, sebagai saksi dalam persidangan Njono, membuat Sjam dan 

Pono terlihat terlibat lebih jauh lagi di dalam G-30-S. Ia mengatakan 

bahwa Sjam yaitu  pimpinan perencana G-30-S, “Saudara Sjam jang 

merupakan seorang tokoh dari PKI jang kami lihat dan kami ketahui 

merupakan orang jang memegang penentuan dalam rapat maupun 

pertemuan-pertemuan itu.”19 sebab  Soejono menyatakan bahwa Sjam 

juga dikenal dengan nama Sugito, banyak pengamat menduga Sjam, 

tokoh yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, pastilah nama 

samaran dari Tjugito, anggota Central Comite PKI yang dimunculkan 

dan salah seorang dari empat puluh lima orang yang duduk dalam Dewan 

Revolusi Indonesia.20 Identitas Pono juga sama tidak jelas. Penying-

kapan tentang Sjam dan Pono melahirkan kerutan baru dalam kisah ini. 

Apakah Untung dan Soejono menceritakan kebenaran? Siapakah dua 

orang ini? Apa posisi mereka di dalam PKI? Apa pula peranan mereka 

dalam G-30-S?

Semula alur kisah Angkatan Darat menampilkan Sjam dan Pono 

tidak lebih sebagai fungsionaris yang tak dikenal di dalam organisasi 

PKI. Diduga mereka bawahan langsung Aidit, yang melaksanakan 

97

 

perintah-perintahnya. Tapi Angkatan Darat tidak menjelaskan bagaimana 

dua orang ini dapat mengorganisasi sekelompok perwira militer dan 

memimpin G-30-S. Wartawan Amerika John Hughes, yang menulis 

pada awal 1967, sambil lalu menyebut dua orang itu sebagai wakil-

wakil PKI dalam G-30-S.21 Namun, alur kisah resmi ini berubah secara 

substansial sesudah mantan anggota Politbiro Soejono Pradigdo meng-

khianati kawan-kawan lamanya saat  ia ditangkap pada Desember 

1966. Angkatan Darat mulai memakai  laporan interogasinya 

(teks ini tidak dibuka untuk umum) sebagai dasar pernyataan bahwa 

PKI membentuk organisasi rahasia yang bernama Biro Chusus (BC) 

untuk menyusup ke tubuh militer dan menggarap simpatisan partai 

di kalangan perwira. Sjam disebut sebagai kepala Biro Chusus ini dan 

Pono sebagai asistennya. Walaupun nama-nama Sjam dan Pono sudah 

muncul di persidangan Mahmilub pada 1966, istilah “Biro Chusus” 

belum disebut-sebut.22 Angkatan Darat memakai  informasi dari 

Pradigdo ini untuk menambah sebuah simpul baru dalam alur kisahnya: 

PKI mengorganisasi G-30-S melalui Biro Chusus Sjam dan Pono. Satu 

kekurangan dalam alur kisah sebelumnya – tidak adanya wahana antara 

partai dan para perwira militer – dibenahi dengan tambahan Biro Chusus 

ini . Dengan memperhatikan informasi baru ini, seorang sejarawan 

yang mengabdikan dirinya kepada Angkatan Darat, Nugroho Notosu-

santo, dan juga penuntut umum Mahmilub Ismail Saleh, memasok rezim 

Suharto dengan kisah baru melalui artikel  mereka Th e Coup Attempt of the 

“September 30th Movement” (terbit pertama kali pada April 1967).23

Penangkapan Sjam pada Maret 1967, rupanya berkat pengkhia-

natan Pradigdo yang memberitahukan tempat-tempat persembunyian 

partai, memungkinkan Angkatan Darat menerbitkan informasi lebih 

banyak lagi mengenai Biro Chusus. Sebagai saksi dalam sidang 1967 

dan sebagai tertuduh dalam persidangannya sendiri pada 1968, Sjam 

secara mengejutkan mudah buka mulut. Menurut kesaksiannya, Aidit 

memerintahkannya untuk melaksanakan G-30-S. Sjam menjelaskan 

bahwa beberapa anggota Politbiro dan Central Comite mengetahui 

adanya Biro Chusus, namun  tidak tahu-menahu tentang kinerjanya. Biro 

Chusus tetap ada di luar struktur formal partai dan berfungsi khusus di 

bawah komando Aidit. Organisasi bawah tanah partai inilah, menurut 

Sjam, yang meyakinkan berbagai perwira militer agar ikut dalam G-30-S. 

98

2. PENJELASAN TENTANG G-30-S

Semua artikel  yang disponsori pemerintah, seperti misalnya artikel  putih 

1994, mendasarkan uraian mereka pada kesaksian Sjam itu.24

Versi pemerintah, dalam dua hal pokok, merupakan perluasan yang 

tidak dapat dipertanggungjawabkan dari kesaksian Sjam. Apabila Sjam 

menyatakan hanya Aidit yang memerintahkan Biro Chusus untuk meng-

organisasi G-30-S, Angkatan Darat menyatakan badan pimpinan partai 

yang lebih besar, yaitu Central Comite, yang mengambil keputusan.25 

Sementara Sjam melukiskan G-30-S sebagai pembersihan terhadap 

jenderal-jenderal sayap kanan yang bekerja untuk kekuatan neokolonialis, 

Angkatan Darat menggambarkannya sebagai suatu percobaan kudeta. 

sebab  Angkatan Darat sudah melarang PKI, membunuh banyak pen-

dukungnya, dan menahan ratusan ribu orang sebagai tahanan politik, 

maka institusi ini harus menyatakan bahwa seluruh organisasi partai dari 

puncak sampai bawah terlibat. Angkatan Darat harus menunjuk Central 

Comite PKI sebagai otak G-30-S. Untuk memberi pembenaran pada 

kehebatan penindasan, Angkatan Darat harus menampilkan aksi G-30-S 

sebagai kup yang mengancam seluruh struktur pemerintah.

Laporan CIA 1968 mengikuti garis rezim Suharto dan menyatakan 

bahwa melalui Biro Chusus itulah PKI merancang dan melaksanakan 

G-30-S. Seperti dalam artikel  Notosusanto dan Saleh sumber utama yang 

dipakai ialah transkrip interogasi para pemimpin G-30-S. Laporan itu 

tidak mencatat bahwa beberapa pimpinan G-30-S menolak keabsahan 

transkrip-transkrip itu dalam persidangan mereka dan menyatakan 

bahwa mereka diancam dengan kekerasan jika menolak membubuh-

kan tanda tangan.26 CIA mengakui bahwa jawaban-jawaban mereka 

mungkin merupakan hasil paksaan, namun terus-menerus menggu-

nakannya sebagai dasar narasinya. Laporan ini disertai sebuah lampiran 

yang membenarkan penggunaan sumber-sumber itu. Penulis laporan, 

belakangan diketahui sebagai Helen-Louise Hunter, seorang agen CIA 

yang mengkhususkan dirinya pada masalah komunisme di Asia, berargu-

men bahwa laporan-laporan interogasi ini  dapat dipercaya sebab  

adanya “kesamaan yang mencolok dalam cerita-cerita yang dituturkan 

oleh Untung, Latief, Soejono, dan Supardjo.” Kesamaan yang demikian, 

sejauh memang ada, dapat diterangkan justru sebab  paksaan interogator 

agar mereka menerima alur cerita Angkatan Darat sendiri.27 Metodologi 

CIA merupakan cacat yang tidak dapat diperbaiki: orang tidak dapat 

99

 

bersandar pada pernyataan para tahanan suatu kekuatan militer yang 

secara rutin melakukan penyiksaan, terutama saat  kekuatan ini  

sejak 2 Oktober bertekad menempatkan PKI sebagai dalang (atau 

“mencari bukti-buktinya,” seperti ditulis Yoga Sugama). Orang dapat 

juga menulis sejarah ilmu sihir Eropa dengan memakai  pengakuan-

pengakuan di hadapan Inkuisisi sebagai kebenaran.

Pelahap penjelasan rezim Suharto tentang G-30-S di Amerika 

Serikat melampaui ruang-ruang di markas besar CIA di Langley, Virginia. 

Bagi para penulis antikomunis garis keras, tingkat pembuktian yang 

diperlukan tidak terlalu tinggi saat mereka berasumsi bahwa G-30-S 

merupakan manifestasi cara kekerasan, yang sudah dapat diramalkan, 

dari kaum komunis untuk merebut kekuasaan negara. Mereka berpegang 

pada parodi yang digunakan Anderson dan McVey tentang citra PKI 

sebagai gergasi, seakan-akan partai ini telah “digerakkan oleh ambisi 

kelewat pongah dan kebutuhan bawaan untuk menyatakan dirinya 

melalui kekerasan.”28 Ilmuwan politik yang produktif Justus M. van der 

Kroef menulis serangkaian artikel pada akhir 1960-an dan awal 1970-an 

dan melemparkan kesalahan G-30-S sepenuhnya kepada PKI. Menurut 

dugaannya, PKI sudah mengerahkan kekuatan pada 1965, memulai 

tindakan ofensif, dan merencanakan kudeta. Dalam pandangan Kroef, 

G-30-S merupakan konsekuensi wajar dan sudah dapat diramalkan dari 

gerak gigih partai meraih kekuasaan.29 Dalam denyut serupa ilmuwan 

politik yang mempunyai hubungan dekat dengan militer Indonesia, Guy 

Pauker, menulis laporan untuk Rand Corporation yang menunjukkan 

kelaiksalahan PKI sebagai suatu kebenaran tak terpungkiri.30 Menulis 

untuk khalayak yang lebih luas, wartawan Arnold Brackman mengajukan 

dua penjelasan tentang peristiwa 1965 yang memamah biak alur baku 

penjelasan dari rezim Suharto.31 Pengkajian terhadap artikel  Notosusanto 

dan Saleh serta penerbitan-penerbitan dari van der Kroef, Pauker, dan 

Brackman akan menghadirkan bukti-bukti tercemar serupa yang dikemas 

dengan cara berbeda-beda. Pada akhirnya, satu-satunya bukti bahwa 

PKI memimpin G-30-S yaitu  sebab  Angkatan Darat menyatakan 

demikian.

Satu cacat kasat mata dalam narasi rezim Suharto pasca-1967 

tentang Biro Chusus yaitu  narasi itu sangat bergantung kepada kesaksian 

seseorang yang mengakui bahwa menipu yaitu  pekerjaannya. Sjam 

100

2. PENJELASAN TENTANG G-30-S

seorang tokoh yang tak dikenal. Ia tidak pernah muncul sebagai pemimpin 

PKI. Ia mengaku bahwa ia sedemikian dipercaya oleh Aidit sehingga 

ditugasi untuk melakukan operasi yang rumit dan tinggi taruhannya, 

yaitu membersihkan para panglima puncak Angkatan Darat. Tingkah 

laku dan gaya bicara Sjam yang dipertontonkannya di ruang sidang tidak 

memberi kesan bahwa ia seorang pemimpin partai yang berpengaruh. 

Jika ia berhasil menanjak ke posisi yang demikian tinggi dan penting di 

dalam partai, mengapa ia begitu santai membocorkan rahasia-rahasia 

partai di persidangan Mahmilub? Mengapa tutur katanya tidak lebih 

mendekati tutur kata pimpinan partai yang lain, seperti Sudisman, satu-

satunya anggota Dewan Harian Politbiro yang selamat?32 Keterangan 

Sudisman pada persidangannya dalam Juli 1967 penuh dengan kebulatan 

tekad yang gagah dan kepercayaan tak tergoyahkan kepada kekuatan 

partai dan proletariat. Sjam, yang bertekuk lutut di depan mahkamah 

militer, tampak seperti permaklum-an buruk bagi seseorang yang se-

mestinya menjadi padanan kepala KGB jika partai berhasil mengambil 

alih kekuasaan negara. Dapat dipahami jika ceritanya tentang jaringan 

klandestin pekerja partai yang menyusupi tubuh militer disambut 

dengan kecurigaan besar oleh kalangan pengamat. Sekali lagi, Benedict 

Anderson dan Ruth McVey benar, saat  menulis pada 1978, melon-

tarkan keraguan akan kebenaran kesaksian Sjam dan menduga bahwa 

sangat mungkin Sjam seorang agen ganda yang lebih banyak bekerja 

untuk militer ketimbang untuk Aidit dan PKI.33 Dalam artikelnya yang 

belakangan lagi-lagi Anderson menegaskan bahwa identitas Sjam tidak 

dapat ditetapkan dengan pasti: “Apakah ia mata-mata Angkatan Darat 

di dalam jajaran orang-orang komunis? Atau dia mata-mata komunis 

di dalam militer? Atau mata-mata untuk pihak ketiga? Atau mata-mata 

ketiga-tiganya secara bersamaan?”34

Tidak dapat dibantah bahwa beberapa orang pemimpin dan 

anggota PKI dengan satu atau lain cara terlibat dalam G-30-S. Sudisman 

mengaku demikian dalam persidangannya (saya akan kembali ke hal ini 

dalam Bab 5). Pertanyaan yang belum terjawab ialah bagaimana tepatnya 

keterlibatan mereka. Siapa-siapa dan badan-badan partai mana saja yang 

ikut serta? Bagaimana pemahaman mereka tentang G-30-S? Apa alasan 

mereka? Apa hubungan mereka dengan para perwira militer di dalam 

G-30-S? Dengan menyalahkan PKI secara menyeluruh, sampai pada 

101

 

anggota-anggota organisasi-organisasi front di tingkat desa yang tidak 

mempunyai hubungan apa pun dengan G-30-S, rezim Suharto mem-

pecundangi PKI dengan melakukan perburuan membabi buta belaka. 

Jika Angkatan Darat memang bersungguh-sungguh dalam pengumpulan 

bukti tentang keterlibatan PKI, ia tidak akan bergegas-gegas mengek-

sekusi empat dari lima pimpinan puncak partai. D.N. Aidit, justru tokoh 

yang oleh Angkatan Darat dinyatakan sebagai dalang, ditembak mati di 

sebuah tempat rahasia di Jawa Tengah pada 22 November 1965, segera 

sesudah ia tertangkap.35

G-30-S SEBAGAI PEMBERONTAKAN PERWIRA MUDA

Dalam bulan-bulan terakhir 1965, saat  G-30-S masih tetap merupakan 

misteri bagi setiap orang kecuali bagi mereka yang mempercayai propagan-

da militer, Anderson dan McVey menghimpun analisis tentang peristiwa 

ini , dengan membacai berbagai macam surat kabar Indonesia. Seperti 

sudah saya kemukakan di atas, mereka tidak menemukan bukti bahwa 

PKI bermain sebagai dalang. Partai belum memobilisasi massanya untuk 

mendukung G-30-S. Kendati partai menyatakan dukungannya kepada 

G-30-S melalui surat kabarnya, Harian Rakjat, partai tidak mencurahkan 

seluruh kekuatannya di belakang  G-30-S untuk memastikan keberha-

silan gerakan ini : “Tak seorang pun keluar di jalan-jalan di Jakarta, 

dan tidak terlihat adanya koordinasi kegiatan, baik di kota maupun di 

seluruh tanah air,” tulis Anderson dan McVey.36 Editorial Harian Rakjat 

2 Oktober, yang mencerminkan kebijakan resmi partai, secara implisit 

memerintahkan anggotanya untuk tidak ikut-ikut sebab  editorial ini 

menyatakan bahwa G-30-S merupakan urusan intern Angkatan Darat. 

Jika orang percaya bahwa PKI mengorganisasi G-30-S, kemudian tidak 

melakukan tindakan apa pun untuk mencegah G-30-S memberosot ke 

kekalahan, ia harus percaya bahwa PKI memiliki kecenderungan bunuh 

diri yang mencengangkan. Apa pun kekurangan PKI, sukar dipercaya, 

seperti ditulis Anderson dan McVey, bahwa pimpinan partai telah 

“memasang jerat di leher sendiri dan menunggu dinaikkan di tiang lampu 

terdekat.”37 Mereka mencatat bahwa PKI tidak tampak mempunyai 

alasan untuk melancarkan kudeta sebab  partai “telah berjalan sangat 

102

2. PENJELASAN TENTANG G-30-S

baik melalui jalan damai” di bawah pimpinan Presiden Sukarno.38 Dalam 

hal ini W.F. Wertheim sependapat dengan Anderson dan McVey, “Sejak 

1951 strategi PKI didasarkan pada perjuangan legal dan parlementer, dan 

di bawah pemerintahan Sukarno strategi ini kelihatannya agak meng-

untungkan partai, yang menyebabkan segala pikiran tentang perubahan 

strategi ke arah kekerasan secara mendadak sangat tidak mungkin.”39

sebab  G-30-S merupakan operasi militer yang melibatkan sangat 

sedikit orang sipil, Anderson dan McVey yakin gerakan ini pasti timbul 

dari dalam tubuh militer sendiri. Mereka memperhatikan bahwa sebagian 

besar pimpinan G-30-S yaitu  mantan perwira atau perwira aktif 

Angkatan Darat dari Kodam Diponegoro, yang meliputi Jawa Tengah. 

Latief yaitu  perwira Diponegoro yang dipindah ke Jakarta pada 1962. 

Untung yaitu  Komandan Batalyon 454 di Jawa Tengah sebelum penem-

patannya di pasukan kawal kepresidenan pada awal 1965. Ia sangat dekat 

dengan Kolonel Suherman, pimpinan utama G-30-S di Jawa Tengah, 

selagi mereka sama-sama bertugas di Batalyon 454. Suherman yaitu  

Komandan Batalyon 454 sebelum Untung. Batalyon ini, tentu saja, 

yaitu  batalyon yang ikut ambil bagian dalam G-30-S pada 1 Oktober 

dengan menduduki Lapangan Merdeka. Menarik diperhatikan bahwa 

satu-satunya daerah di luar Jakarta di mana G-30-S aktif yaitu  di Jawa 

Tengah.

Anderson dan McVey memandang G-30-S sebagai semacam 

pemberontakan dalam Angkatan Darat yang dilancarkan para perwira 

muda Jawa Tengah yang merasa jijik terhadap gaya hidup dekaden dan 

orientasi politik pro-Barat para jenderal di SUAD di Jakarta. Para perwira 

muda ini menganggap staf umum di bawah Yani bersalah sebab  “tunduk 

terhadap korupsi warga  elite Jakarta, mengabaikan bekas anak buah 

mereka (Jenderal Yani dan beberapa lainnya yaitu  mantan perwira Di-

ponegoro), dan terus-menerus menentang dan merintangi kebijakan-

kebijakan luar dan dalam negeri Presiden Sukarno.”40 Anderson dan 

McVey berpendapat bahwa G-30-S merupakan usaha untuk mengubah 

arah Angkatan Darat menjadi lebih merakyat. Mereka menunjuk kepada 

pernyataan pertama G-30-S, yang menyatakan bahwa “Jenderal-jenderal 

dan perwira-perwira yang gila kuasa, yang menelantarkan nasib anak 

buah, yang di atas tumpukan penderitaan anak buah hidup bermewah-

mewah dan berfoya-foya menghina kaum wanita dan menghambur-

103

 

hamburkan uang negara harus ditendang keluar dari Angkatan Darat 

dan diberi hukuman setimpal.”

Menurut Anderson dan McVey jaringan perwira Jawa Tengah itu 

ingin membersihkan Angkatan Darat dari jenderal-jenderal yang korup 

dan berpolitik konservatif, serta memberi Sukarno kebebasan lebih 

besar untuk menjalankan kebijakan-kebijakannya. Untuk membangun 

kekuatan mereka, perwira-perwira Jawa Tengah ini mengajak orang-orang 

tertentu dari AURI dan PKI di dalam operasi mereka, sementara merekalah 

yang memegang kendali kepemimpinannya. Para perwira menginginkan 

agar PKI tidak hanya menyediakan personil tambahan untuk operasi 

mereka, tapi juga dukungan politik begitu aksi mereka berakhir. Dengan 

demikian PKI bukannya menjadi dalang, melainkan korban penipuan 

dari perwira-perwira itu. Partai telah “diperdaya” sehingga melibatkan 

dirinya di dalam sebuah aksi yang tidak ia mengerti sepenuhnya.41 

sebab  pimpinan partai berpikir mereka hanya memainkan sebagian 

kecil peran dalam drama pihak lain, mereka tidak memandang aksi itu 

dengan sungguh-sungguh dan tidak membayangkan bahwa mereka akan 

dipersalahkan jika G-30-S gagal.

Tesis Anderson dan McVey lemah dalam sejumlah hal. Apakah 

latar belakang Jawa Tengah para perwira itu cukup untuk menjelas-

kan bagaimana ikatan mereka sebagai kelompok? Sementara beberapa 

orang konspirator sebelumnya memang dari Kodam Diponegoro 

(Latief, Suherman, Untung), beberapa orang lainnya tidak. Soejono 

dan Supardjo yaitu  tokoh-tokoh yang berasal usul Jawa Tengah, namun  

mereka tampaknya tidak mempunyai hubungan lama dan akrab dengan 

perwira-perwira yang lain. Soejono dari Angkatan Udara dan Supardjo 

dari Kodam Siliwangi, Jawa Barat, Angkatan Darat. Salah satu dari 

batalyon-batalyon yang terlibat berasal dari Kodam Brawijaya, Jawa 

Timur. Umumnya putsch dan kup dilancarkan oleh para perwira yang 

dipersatukan oleh ikatan persaudaraan yang cukup kuat dan sebelumnya 

telah teruji: mereka bekas kadet-kadet akademi militer dari tahun lulusan 

yan