Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 20. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gereja vatikan 20. Tampilkan semua postingan

gereja vatikan 20

 


Membalas, "namun  bagaimana dengan Kristus yang hadir di 

dalam setiap orang ?" 

Michael Rose, Goodbye, Good Men {Selamat Tinggal Pria-pria yang Baik}, hal. 121: 

“Suster Katarina Schuth di St Paul’s Seminary di Minnesota menerangkan bahwa ‘para murid 

dapat menuduh staf pengajar bahwa mereka tidak mendukung devosi mereka ataupun 

mencintai Sakramen Kudus, yang ditanggapi oleh staf pengajar bahwa mereka hanya 

meminta para murid untuk melihat Kristus di dalam orang lain...”11 

Perhatikan bagaimana Iblis dengan lihai menunjukkan secara licik penyembahan manusia di bawah dalih 

sesat yaitu perhatian untuk orang lain. Menyembunyikan kejahatan di bawah kerudung kasih yang palsu 

atau ‘cinta’ yang palsu terus merupakan salah satu jalan Iblis yang paling efektif untuk menyebarkan 

bidah dan kebohongan. 

Orang-orang ini gagal untuk menyadari bahwa Paus Pius XII secara terang-terangan mengutuk 

pencampuradukkan Tubuh Mistis Kristus (anggota Gereja) dengan Tubuh dan Pribadi Yesus Kristus yang 

sejati. 

Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi (#86), 29 Juni 1943 : 

"sebab  ada  beberapa orang yang tidak mengindahkan fakta bahwa Rasul Paulus telah 

memakai  bahasa metafora untuk berbicara tentang doktrin ini [tentang Tubuh Mistis], dan 

mereka gagal untuk membedakan seperti yang seharusnya arti yang persis dan benar akan 

istilah-istilah yaitu tubuh jasmani, tubuh sosial, dan Tubuh mistis, sehingga mereka salah kaprah 

akan ide tentang persatuan. Mereka mencampuradukkan sang Penebus Ilahi dan anggota-

anggota di dalam satu pribadi jasmani, dan sewaktu mereka memberi  sifat-sifat ilahi 

kepada manusia, mereka membuat Kristus Tuhan kita dapat berbuat salah dan memiliki 

kecenderungan manusiawi untuk berbuat jahat. namun  iman Katolik dan tulisan-tulisan 

para Bapa kudus menolak ajaran sesat semacam itu sebagai suatu hal yang jahat dan nista; 

dan menurut pikiran sang Rasul kepada para Bangsa, hal ini  sama-sama 

menjijikkannya, sebab  walaupun ia membawa Kristus dan Tubuh Mistis-Nya ke dalam 

suatu persatuan yang luar biasa intimnya, bagaimanapun, ia membedakan satu dari yang 

lainnya, sebagai Mempelai laki-laki dan Pengantin-Nya."12 

Kami akan menyudahi bagian ini dengan suatu cerita yang begitu mengejutkan tentang apa yang terjadi 

di Seminari Minor Novus Ordo St. Mark. Cerita ini menerapkan secara penuh doktrin tentang manusia. 

Hal ini menunjukkan bagaimana doktrin tentang para umat Kristus menguasai Gereja Baru. Hal ini 

menggambarkan bagaimana sekte Vatikan II, Misa Baru dan para seminaris Novus Ordo begitu jahatnya. 

Berbagai Cara Sekte Vatikan II Mempromosikan Penyembahan Berhala dan Manusia 

463 

 

 

Michael Rose, Goodbye, Good Men {Selamat Tinggal Pria-pria yang Baik}, hal. 166: 

“Salah satu momen yang paling berkesan untuk Trigilio yaitu  pada waktu sebuah 

pemberkatan yang langka untuk ibadat doa Sakramen Kudus [di Gereja St. Mark] di dalam 

kapel. ‘Sang imam mengambil monstrans’, cerita Trigilio, ‘dan memegangnya setinggi 

pinggang, berjalan ke tabernakel, dan memindahkan Sakramen Kudus. Lalu ia mengambil 

sebuah pot dari tanah liat yang tampak seperti jambangan Yunani, memegangnya jauh 

lebih tinggi dari sewaktu ia memegang monstrans, membawanya ke altar, dan 

meletakkannya di tempat di mana Sakramen Kudus sebelumnya berada; lalu ia mendupai 

jambangan ini  dan berlutut di depannya, sambil berkata, ‘Abba, engkau yaitu  sang 

pengrajin, dan kami yaitu  tanah liatnya.' Jambangan ini  kosong, namun  sang imam 

mendupainya, dan berdoa kepadanya…’ Hal ini, kata Trigilio, yaitu  sikap dari banyak dari tim 

pembentukan di Gereja St. Mark: pendek kata, musyrik.”13 

Penyembahan kepada manusia (yaitu umat) sebagai Kristus di Misa Baru telah begitu menyelimuti 

‘Imam’ murtad Novus Ordo ini sampai ia menyembah jambangan tanah liat ini , layaknya ia 

menyembah umat di Misa Baru. Dan inilah persisnya agama Novus Ordo/Vatikan II dari Yohanes Paulus 

II. Itulah mengapa kemurtadan antaragama Assisi telah dipeluk secara penuh oleh para imam Vatikan II, 

di mana semua pemimpin agama, termasuk orang-orang yang menolak Kristus, diterima. Mereka 

diundang dan disambut sebab  (menurut agama sesat Vatikan II) martabat mereka sebagai manusia 

lebih penting dari fakta bahwa mereka menolak Kristus. 

Maka, penyembahan berhala ada  di dalam tiga bentuk di dalam agama Vatikan II: 1) penyembahan 

sebuah potongan roti yang dikonsekrasikan secara tidak valid di dalam Misa Baru, sebab  formula 

konsekrasi di dalam Misa Baru tidak cukup untuk validitas (seperti yang telah kami tunjukkan); 2) 

penyembahan manusia dengan menyesuaikan ibadat kepada umat, dan bukan kepada Allah, dengan cara 

memutarkan arah altar dan banyak hal lain; serta 3) pemujaan martabat manusia di atas ajaran Kristus 

dengan cara menerima agama-agama sesat manusia walaupun mereka bertentangan dengan ajaran 

Kristus. 

Penyembahan manusia yaitu  alasan utama mengapa ‘imamat’ Novus Ordo yaitu  sebuah kubangan 

kenistaan, homoseksualitas dan kebejatan yang tidak dapat diungkapkan. Seperti yang kita telah lihat, 

pengamatan dari para misionaris menunjukkan bahwa di tempat di mana ditemukan banyak 

penyembahan berhala (seperti di teritori-teritori misi di bawah kuk Setan), homoseksualitas menjamur. 

Berbagai Cara Sekte Vatikan II Mempromosikan Penyembahan Berhala dan Manusia 

464 

 

Penyembahan berhala di Misa Baru yaitu  factor utama dari kebejatan yang besar dari para ‘Imam’ 

Novus Ordo. 

Jelas, fakta-fakta ini seharusnya menunjukkan kepada kita sekali lagi mengapa Misa Novus Ordo tidak 

pernah boleh dihadiri atas alasan di atas sebab  hal ini  yaitu  sebuah dosa berat. 

Paus St. Pius X, E Supremi Apostolatus, 4 Oktober 1903: 

“Sewaktu, di sisi lain, dan hal ini menurut rasul yang sama merupakan tanda yang khas milik 

Antikristus, manusia dengan kelancangan yang tidak terbatas menempatkan dirinya 

sendiri di tempat Allah.”

“Saya pada awalnya percaya bahwa mudah untuk menghentikan sekolah untuk mengajarkan materi-

materi yang jorok. Saya percaya diri bahwa jika seseorang yang baik pun melihat materi ini , 

mereka akan jijik dan akan langsung menghentikannya. Begitu lugunya saya untuk berpikir bahwa 

sang Uskup Agung ataupun ‘kepala departemen’-nya peduli sedikit pun akan jiwa-jiwa.”1 

Sejak revolusi Vatikan II, sistem sekolah yang tadinya Katolik telah ditiadakan. Bahkan banyak dari 

pendukung ‘Gereja’ Vatikan II/Novus Ordo, yang membela dengan penuh semangat para Anti-Paus yang 

kami telah singkapkan di bagian-bagian sebelumnya, terpaksa meninggalkan sistem sekolah Novus Ordo 

‘Katolik’ dengan berbondong-bondong. Bidah dan ketidakbermoralan sistem sekolah ‘Katolik’ ini  

memperbolehkan seseorang untuk berkata bahwa sekolah tidak lagi Katolik, kecuali di dalam namanya 

saja. Yang terutama dari masalah-masalah di sekolah ini  yaitu  pendidikan seksual. 

Paus Pius XI mengutuk pendidikan seksual. Sewaktu ia melakukan hal ini , ia menunjukkan bahwa 

bukanlah ketidaktahuan mengenai hal yang diajarkan pendidikan seksuallah yang menjerumuskan orang 

kepada dosa, melainkan pemaparan orang-orang kepada hal-hal ini . 

Paus Pius XI, Divini illius magistri, 31 Desember 1931: 

"namun  hal-hal yang jauh lebih berbahaya yaitu  pendapat-pendapat dan ajaran-ajaran yang 

berkenaan menjadikan alam sebagai pedoman mutlak. Hal-hal ini memasuki suatu fase tertentu 

dari pendidikan manusia yang penuh kesukaran, yakni, yang berkenaan dengan integritas moral 

dan kesucian. sebab  di berbagai tempat, banyak orang dengan bodohnya dan dengan 

berbahaya mendukung dan memajukan metode pendidikan, yang dengan menjijikkan 

disebut ‘seksual’, sebab  mereka dengan bodohnya merasa bahwa mereka dapat, semata-

mata lewat jalan alamiah, sesudah  menyingkirkan setiap bantuan agama dan rohani, 

memperingatkan orang muda terhadap sensualitas dan keberlebihan, dengan cara 

menginisiasikan dan mengajarkan mereka semua, tanpa membedakan kelamin mereka, bahkan 

secara publik, doktrin-doktrin yang berbahaya, dan yang lebih buruknya, dengan 

memaparkan mereka sebelum waktunya kepada hal-hal ini , supaya pikiran mereka 

yang menjadi terbiasa, seperti yang mereka katakan, tidak terpengaruh oleh bahaya-bahaya 

masa akil balik. 

 

“namun  di dalam hal ini orang-orang ini  melakukan kesalahan yang serius, sebab  mereka 

tidak mempertimbangkan kelemahan asli dari kodrat manusia, dan hukum yang tertanam di 

dalam anggota-anggota badan kita, yang, untuk mengutip Rasul Paulus, ‘berjuang melawan 

hukum akal budiku’ (Roma 7:23); dan di samping itu, mereka dengan keras kepala menentang 

apa yang kita telah pelajari dari pengalaman sehari-hari, bahwa orang-orang muda terutama 

lebih banyak jatuh ke dalam tindakan-tindakan yang tercela, bukan sebab  akibat 

pengetahuan akal budi yang tidak sempurna, namun  lebih sebab  kehendak yang 

terpaparkan kepada godaan-godaan dan tidak didukung oleh bantuan ilahi.”2 

Ajaran ini sama sekali tidak diindahkan: program-program pendidikan seksual, termasuk yang benar-

benar eksplisit, diimplementasikan di dalam semua ‘sekolah Katolik’, yang oleh sebab  itu mengotori 

Keadaan yang Mengenaskan dari Sekolah-Sekolah ‘Katolik’ 

466 

 

kemurnian anak-anak Katolik sejak mereka kecil. Faktanya, yaitu  sebuah peremehan besar untuk 

semata-mata menyebut program-program ini ‘pendidikan seksual’. Program-program ini lebih tepat 

disebut ‘inisiasi seksual’ atau indoktrinasi sampah. Seperti yang telah dikutip pada permulaan bagian ini, 

seorang ibu, yang anaknya diberikan ‘pendidikan seksual’ di dalam sekolah ‘Katolik’, mengungkapkan 

kekecewaannya terhadap ‘Uskup’; namun  hal ini tidak berbuah: 

“Dua bulan terakhir yaitu  suatu mimpi buruk. Saya pada awalnya percaya bahwa mudah 

untuk menghentikan sekolah untuk mengajarkan materi-materi yang jorok. Saya percaya 

diri bahwa jika seseorang yang baik pun melihat materi ini , mereka akan jijik dan 

akan langsung menghentikannya. Begitu lugunya saya untuk berpikir bahwa sang Uskup 

Agung ataupun ‘kepala departemen’-nya peduli sedikit pun akan jiwa-jiwa. Malah, apa 

yang saya temukan yaitu  tempat Kanselir yang penuh dengan orang-orang yang hati 

nuraninya telah dimatikan dan yang akalnya cacat – ‘kuburan yang dilabur putih dengan 

tulang-tulang manusia yang telah mati’. Setiap orang tua di dioses ini harus diperingatkan 

bahwa orang-orang semacam itu telah diberikan kuasa untuk merawat dan mendidik anak-anak 

yang polos dan rentan terhadap bahaya. Benar-benar memalukan!”3 

Untuk menggambarkan kebejatan ‘pendidikan seksual’ ini, kami perlu menyingkap beberapa hal yang 

spesifik. Jika hal-hal yang spesifik tidak pernah diberikan, kebanyakan orang tidak akan pernah 

menyadari betapa buruknya situasi ini. Di dalam Dioses San Antonio, contohnya, buku Growing in Love 

{Bertumbuh di dalam Cinta} digunakan untuk pendidikan seksual tingkat K-8 dari {TK sampai SMP kelas 

2}. Buku ini juga digunakan di dalam berbagai dioses-dioses di dalam negeri. Seorang ibu mengeluh akan 

buku ini: 

“Pendidikan seksual dimulai dari TK di mana anak-anak mulai mempelajari istilah-istilah 

badaniah yang tepat seperti: zakar, pelir, payudara, vagina, bokong, dubur, kencing dan berak. 

Mereka diperkenalkan kepada ide tentang menyentuh diri sendiri (masturbasi) ‘Untuk 

kenyamanan dan sensasi yang menyenangkan’. Setiap tahun program ini  membahas 

aktivitas seksual dengan sedikit lebih dalam serta mengulang-ulangi bagian-bagian tubuh dan 

secara bertahap membahas petunjuk tentang French kissing {berciuman dengan lidah}, 

foreplay {aktivitas seksual sebelum hubungan badan}, orgasme, hubungan seksual lewat 

mulut dan dubur. Jika hal ini tidak cukup buruk, Growing in Love {Bertumbuh di dalam Cinta} 

mengajarkan tentang permainan seksual (dildo dan vibrator – alat getar), dan sadisme serta 

masokisme.”4 

Seorang pria lain mencatat: 

“Growing in Love sangatlah menjijikkan dan bejat di dalam deskripsinya yang eksplisit tentang 

tindakan-tindakan seksual yang bejat, termasuk hubungan seksual lewat mulut untuk orang-

orang heteroseksual lelaki dan wanita serta homoseksual, dan dengan terang-terangan 

menyebarkan propaganda gay dan lesbian, sampai hal ini dapat memercikkan kemarahan publik 

yang cukup besar untuk memaksa hierarki Amerika dan Vatikan untuk mengakhiri eksperimen 

yang bertentangan dengan hidup, keluarga, dan Allah.”5 

Buku ini digunakan untuk mendidik anak-anak di dalam sekolah-sekolah ‘Katolik’! Kami telah membahas 

dengan sangat rinci betapa jahat dan sesatnya sekte Vatikan II, namun  tetaplah merupakan hal yang sulit 

untuk percaya bahwa hal ini diajarkan. Ini merupakan suatu pengambilalihan oleh iblis secara penuh: 

pendidikan ini  yang diberikan di dalam sekolah-sekolah ‘Katolik’ mendorong anak-anak yang 

Keadaan yang Mengenaskan dari Sekolah-Sekolah ‘Katolik’ 

467 

 

paling muda untuk melakukan dosa-dosa berat (seperti masturbasi) yang akan menjerumuskan mereka 

ke Neraka selamanya! 

Matius 18:6- "namun  barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya 

kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia 

ditenggelamkan ke dalam laut.” 

Walaupun inisiasi seksual yang menjijikkan dan satanik ini diajarkan di dalam sekolah-sekolah ‘Katolik’, 

sebetulnya yaitu  hal yang melanggar hukum untuk menyajikan materi yang begitu eksplisit secara 

seksual, seperti yang ditemukan di dalam Growing in Love, di dalam sekolah negeri di negara bagian 

Louisiana.6 Buku Growing in Love mendapat  Nihil obstat dari Romo Richard I. Schaefer, Censor 

DePutatus dan imprimatur dari Uskup Agung Jerome Hanus di Dioses Agung Dubuque (Iowa). 

Berkenaan dengan situasi di atas, tidaklah mengejutkan bahwa dogma dan moralitas Katolik dasar 

ditolak atau hampir secara universal tidak diindahkan oleh para ‘Katolik’ yang datang dari sekolah-

sekolah ini. Ketidakbermoralan, ketidaksenonohan, dan indiferentisme rohani begitu merajalela, dan 

dalam berbagai aspek, para ‘Katolik’ Novus Ordo sama buruknya atau bahkan lebih buruk dari para 

pagan. Contohnya, hampir semua sekolah menengah atas ‘Katolik’ mengadakan pesta prom dan 

dansa yang menghadirkan music Rap, Rock, dan Heavy Metal – serta gaun dan acara dansa yang tidak 

senonoh. Tidak ada  penolakan budaya modern dan acara-acara yang mendunia, yang diajarkan oleh 

Kitab Suci dan Iman Katolik sebagai bertentangan dengan jalan Allah. namun , ada  perpaduan 

budaya pagan dan sistem sekolah Novus Ordo. sebab  hal ini bertentangan dengan pendidikan 

Katolik sejati, hal ini menunjukkan kembali bahwa sistem sekolah Novus Ordo sama sekali tidak memiliki 

Iman Katolik. 

Paus Leo XIII, Exeunte iam anno (#10), 25 Desember 1888: 

“Seluruh esensi hidup Kristiani yaitu  untuk menolak kebusukan dunia dan dengan senantiasa 

menentang kenikmatan di dalamnya…”7 

Orang-orang melalui empat tahun sekolah menengah atas ‘Katolik’ tanpa diajarkan konsep tentang dosa 

berat.8 Seperti yang dikatakan ibu di atas, “Benar-benar suatu tragedi bahwa di dalam sekolah Katolik, 

anak-anak zaman sekarang dapat mengucapkan rentetan anggota-anggota kelamin tubuh, namun  tidak 

dapat mengucapkan Sepuluh Perintah Allah.”9 Sebuah kajian yang ditulis oleh seorang profesor sosiologi 

di Notre Dame menyimpulkan bahwa para remaja ‘Katolik’ Amerika ‘secara keseluruhan tidak peduli 

akan hal-hal yang menyangkut iman dan praktiknya’.10 Pernyataan yang begitu membuka mata ini 

mungkin yaitu  suatu hal yang terlalu kecil jika kita mempertimbangkan bahwa hal ini datang dari 

seorang profesor yang mengajar di salah satu universitas dari sekte pasca-Vatikan II. 

Di Amerika dan di luar negeri, sistem sekolah ‘Katolik’ pasca-Vatikan II penuh dengan indiferentisme 

keagamaan dan perayaan agama-agama sesat. Misalnya, Holy Rood Roman Catholic Primary School di 

South Yorkshire, Inggris – yang didukung oleh Dioses Hallam – mengadakan Hari Sikh dan Yahudi untuk 

merayakan agama-agama sesat ini.11 

Keadaan yang Mengenaskan dari Sekolah-Sekolah ‘Katolik’ 

468 

 

 

 

Hari Yahudi di Holy Rood ‘Catholic’ Primary School 

Ini yaitu  hal yang begitu jahat dan menyedihkan; mereka menjadikan anak-anak kecil ini murtad. 

Sistem sekolah ‘Katolik’ pasca-Vatikan II benar-benar menyedihkan, dan mungkin satu-satunya alasan 

sistem sekolah ini memiliki sekelumit rasa hormat atau pengakuan sebagai ‘Katolik’ dari dunia modern 

yaitu  sebab  program-program atletiknya. ‘Catholic Leagues’ sekarang disamakan dengan atletik 

sekolah menengah atas yang kompetitif, yang memiliki salah satu program olahraga terbaik dalam 

negeri, terutama sepak bola dan bola basket. ‘Catholic Leagues’ tentunya tidaklah terkenal untuk 

pembentukan orang-orang di dalam Iman Katolik, yang sama sekali tidak ada di dalamnya. 

sebab  Iman Katolik tidak lagi diperlukan untuk keselamatan, imam-imam Novus Ordo tidak lagi 

memberitahukan keluarga-keluarga bahwa mereka wajib menyekolahkan anak-anak mereka ke sekolah-

sekolah ‘Katolik’. “Jumlah anak-anak sekolah Katolik di Keuskupan Agung Boston jatuh dari 152.869 pada 

tahun 1965 menjadi 50.742 pada hari ini, dan keuskupan agung telah menutup beberapa  sekolah 

beberapa tahun lalu.”12 

Statistik penurunan untuk AS secara keseluruhan bahkan lebih menonjol. 

“—Sekolah-sekolah Katolik. Hampir separuh dari sekolah menengah atas Katolik di Amerika 

Serikat telah tutup sejak 1965. Populasi siswa-siswi telah jatuh dari 700.000 menjadi 386.000. 

Sekolah-sekolah paroki menderita penurunan yang bahkan lebih besar. Sekitar 4.000 orang telah 

menghilang dan jumlah murid yang hadir telah jatuh di bawah 2 juta orang – dari 4,5 juta. 

Keadaan yang Mengenaskan dari Sekolah-Sekolah ‘Katolik’ 

469 

 

Walaupun populasi Katolik AS telah meningkat 20 juta orang sejak 1965, statistik dari Jones 

menunjukkan bahwa kekuatan kepercayaan Katolik dan devosi kepada Iman tidak sebesar yang 

sebelumnya.”13 

Sewaktu seseorang mempertimbangkan angka-angka ini, ia harus mengingat bahwa populasi dari orang-

orang yang mengaku diri Katolik meningkat 20 juta orang dari tahun 1965.14 Maka, jika jumlah anak 

sekolah Katolik tetap sama dari tahun 1965, jumlah ini  melambangkan, dengan sendirinya, suatu 

kegagalan besar. namun  sewaktu kita mempertimbangkan bahwa bukan hanya jumlah ini  tetap 

sama, namun  hampir separuh dari semua sekolah menengah atas Katolik telah tutup, dan kehadiran anak 

sekolah paroki telah turun 2,5 juta, hal ini melambangkan suatu krisis yang sangat besar dan suatu 

kebusukan rohani yang sangat mendalam. Hal ini berhubungan secara langsung dengan apa yang kami 

telah bahas dan singkap di bagian pertama buku ini: para Anti-Paus Vatikan II, Misa Baru, dan 

kemurtadan Vatikan II. 

 

Setiap universitas ‘Katolik’ yang bersekutu dengan Benediktus XVI dipenuhi bidah dan indiferentisme 

dan/atau mendukung propaganda homoseksual dan/atau menyerang Kitab Suci dan/atau menyerang 

kebenaran sejarah Tuhan Kita atau semuanya. Gelar kehormatan sering diberikan kepada para orang-

orang pro-aborsionis. Para pro-aborsionis sering menjadi pembicara di upacara pemberian ijazah di 

universitasini, di mana berkubang skandal-skandal yang paling memalukan. 

Sekarang kita akan melihat beberapa potret dari bidah, kemurtadan, dan ketidakbermoralan yang 

mencirikan universitas-universitas ‘Katolik’. Seseorang dapat menulis suatu buku penuh dengan contoh-

contoh yang kami akan bahas. 

Pada tahun 2004, 29 ‘Universitas Katolik’ mempertunjukkan sandiwara yang menjijikkan, The Vagina 

Monologues {Monolog Vagina}.1 Pada bulan Februari 2005, 27 universitas mempertunjukkan sandiwara 

ini.2 Orang-orang perlu mempertimbangkan jenjang kemurtadan tersingkap oleh fakta ini; kekejian ini 

dipertunjukkan di kampus-kampus ‘Katolik’ ini, di mana ada  anggota imamat yang memiliki posisi 

kepemimpinan! Di dalam tahun yang sama, setidaknya 16 universitas ‘Katolik’ menjadikan Hillary 

Clinton sebagai pembicara di upacara pemberian ijazah. Pada bulan Mei 2005, Marymount Manhattan 

College yang ‘Katolik’ menghadirkan Hillary Clinton sebagai pembicara di upacara pemberian ijazah 

mereka.3 Clinton telah berbicara di berbagai universitas ‘Katolik’ lain, termasuk Canisius di Buffalo, New 

York.4 Universitasbegitu seringnya menghadirkan pembicara-pembicara non-

Katolik dan pro-aborsi di upacara pemberian ijazah sehingga sulit untuk terus melacak jumlahnya. 

Loyola University Chicago, “Universitas Yesuit Chicago”, mengundang Kyan Douglas, aktor homoseksual 

dari “Queer Eye for the Straight Guy” {sebuah acara televisi tentang pria-pria homoseksual}, dengan 

tautan dan gambar yang mencolok di dalam situsnya.5 Universitas yang sama secara terang-terangan 

mendukung lesbianisme dan homoseksualitas.6 

Sebuah “kajian yang dilakukan oleh University of California-Los Angeles menunjukkan bahwa 

pandangan-pandangan moral para murid Katolik melemah, dan tidak menguat, sesudah  empat tahun 

belajar di sebuah kampus universitas ‘Katolik’. Di ketiga puluh delapan universitas Katolik yang disurvei, 

37.9 persen dari siswa tahun pertama mengatakan bahwa pada tahun 1997, bahwa aborsi harus menjadi 

legal. Empat tahun lalu , sebagai siswa tahun keempat, 51.7 persen mendukung legalisasi aborsi.”7 

Sekolah AS yang mengambil namanya dari Maria – University of Notre Dame – telah dua kali mengadakan 

Festival Film Homoseksual. Kepala teologinya, ‘Romo’ Richard McBrien, menentang dogma-dogma 

Katolik yang paling mendasar. 

University of San Francisco yang Yesuit memberi  tunjangan untuk pasangan-pasangan homoseksual.8 

Santa Clara University, sebuah institusi ‘Yesuit’ di California, menghadirkan dua pembicara dari National 

Center for Lesbian Rights pada bulan Februari 2004 untuk mempromosikan masalah-masalah hukum 

yang dihadapi pasangan-pasangan homoseksual.9 

DePaul University, universitas ‘Katolik’ terbesar di Amerika, menawarkan pelajaran tambahan ‘Queer 

Studies’ {Kajian Homoseksual}.”10 


471 

 

‘Catholic University of America’, layaknya universitasterkemuka, dipenuhi bidah 

dan kemurtadan. Pada tanggal 26 April 2006, CUA mengadakan pertemuan makan siang antaragama. 

“Sekitar 100 tamu, yang mewakili Katolik Roma, Ortodoks Timur/Kristen Oriental, Yahudi, 

Muslim dan kepercayaan Timur, berpartisipasi di dalam pertemuan makan siang pada pukul 1 siang 

yang dijamu oleh Romo David M. O’Connell, C.M, Presiden dari Catholic University. Di dalam kata 

sambutannya untuk perkumpulan ini , Romo O’Connell merefleksikan bahwa agama telah selalu 

memiliki peran yang penting di dalam pembangunan budaya-budaya dunia,”11 layaknya agama-agama 

sesat mereka yang berasal dari Iblis yaitu  aspek yang positif dan dikehendaki Allah untuk pembentukan 

budaya-budaya. 

‘Romo’ O’Connell juga mendukung mereka sewaktu mereka berdoa, seturut semangat Assisi, dan 

‘bergabung bersama di dalam doa’ bersama para orang tidak beriman, pagan, dan bidah. Seseorang yang 

kami kenal yang bersekolah di CUA menyebutnya sebagai salah satu tempat terjahat di mana ia pernah 

berada; kemurtadan dari Iman sejati di suatu tempat yang mengaku melambangkanya, hal ini  

yaitu  suatu bentuk kejahatan yang begitu unik dan mendalam sampai seseorang dapat merasakannya. 

Seton Hall University yang ‘Katolik’ merupakan rumah ibadat orang-orang dari berbagai agama. Situs 

resminya menyatakan: “Tidak peduli jika anda mencari sebuah sinagoga terdekat, kelompok 

Muslim untuk doa Jumat bersama, atau untuk mempelajari Kitab Suci antaragama, Campus Ministry 

[di Seton Hall] akan membantu anda mencari siswa-siswi yang memiliki kepercayaan yang sama dengan 

anda.”12 Ini tentunya yaitu  suatu kemurtadan besar-besaran – mendukung orang untuk mempraktikkan 

agama Yahudi, Islam, dst. 

Seton Hall juga memberi  “Sandra Day O’Connor Award” {“Penghargaan Sandra Day O’Connor”} 

kepada hakim Maryanne Trump Barry yang mendukung aborsi. Sandra Day O’Connor, yang sendirinya 

pula yaitu  seorang pro-aborsi yaitu  seseorang yang sangat berpengaruh di dalam penghapusan 

hukum-hukum anti-aborsi di dalam hampir 30 negara bagian. Ia memberi  penghargaan yang 

dinamakan atas namanya sendiri untuk sang hakim pro-aborsi yang menghapuskan larangan untuk 

aborsi kelahiran parsial di New Jersey.13 Hanya ada  dua kata untuk hal ini: kegilaan dan 

kemurtadan. 

Marquette University yang ‘Katolik’ mendukung kemurtadan antaragama. Salah satu contohnya yaitu  di 

dalam situsnya yang menyatakan: “Pelayanan Universitas akan melangsungkan doa antaragama untuk 

perdamaian... Kami mohon agar anda mengambil bagian untuk mendengar panggilan dari para 

pemimpin agama dari berbagai tradisi iman serta denominasi-denominasi yang beragam selagi 

mereka mengumandangkan doa mereka bersama untuk resolusi damai untuk kemungkinan adanya 

perang di Irak.”14 

Duquesne University yang ‘Katolik’ terutama sangatlah terang-terangan akan kemurtadannya. Situsnya 

sampai menyusun suatu daftar alamat-alamat dari gereja-gereja serta bait-bait non-Katolik sehingga 

murid-muridnya dapat beribadah di sana. Termasuk di dalam daftar ini yaitu  gereja-gereja 

Protestan dan skismatis, sinagoga-singagoga, mesjid-mesjid serta Kuil Hindu Jain! Sama sekali 

tidak ada gunanya sekolah ini  dinamakan Universitas ‘Katolik’ yang didedikasikan untuk Iman yang 

satu dan sejati! 

  


472 

 

“Kantor Spiritan dari Pelayanan Kampus telah menyusun daftar ini untuk semua murid agar 

mereka dapat mempraktikkan iman mereka sewaktu mereka tidak berada di sekolah. Jika tidak 

ada  daftar pada suatu waktu, silakan bertanya lewat nomor telpon yang tercantum. Lokasi-

lokasi yang diberi tanda bintang (*) dapat dijangkau dengan berjalan. Duquesne yaitu  suatu 

kampus urban dengan banyak gereja dan tempat-tempat ibadah lain yang dekat. Kami senang 

membantu anda menemukan tempat ibadah yang cocok dengan kebutuhan anda.”15 

Xavier University yang ‘Yesuit’ di Ohio secara terbuka mendukung orang-orang untuk mempraktikkan 

agama-agama non-Katolik. Universitas ini  ‘memberi  kesempatan beribadah serta 

pembangunan rohani untuk orang-orang dari seluruh tradisi iman. Informasi tentang komunitas-

komunitas Protestan, Yahudi, serta berbagai komunitas rohani yang lain tersedia di kantor pelayanan 

kampus’.16 Benar-benar suatu kemurtadan. 

Georgetown University yang ‘Katolik’ menghadirkan suatu mata kuliah yang dinamakan ‘Masalah 

tentang Allah’. Tujuan untuk mata kuliah ini yaitu  untuk membawa penerimaan untuk seluruh agama. 

“Para murid [non-Katolik] mengakui bahwa mereka skeptis sewaktu mereka pertama 

mengetahui bahwa mata kuliah ini  yaitu  bagian dari kurikulum. Sewaktu Kholoud berkata 

kepada keluarganya bahwa ia akan mengambil suatu kelas yang bernama Masalah tentang Allah 

yang diajarkan oleh seorang imam Katolik, mereka bertanya-tanya apakah ia akan dikonversikan. 

”’Bukan itu tujuannya di sini,’ kata Kholoud tentang Maher. ‘Ia di sini untuk berbicara tentang 

iman. Ide saya berbeda dengan idenya, namun  ia membantu kami untuk membangun 

penerimaan atas iman-iman lain.’ Maher juga membantu mengenyahkan ketakutan ini  

[bahwa ia ingin mengonversikan orang-orang] pada minggu kelas pertama sewaktu ia berkata 

dengan sangat jelas: ‘Saya yakin orang-orang akan bertanya, ‘Apakah Romo Maher ingin 

mengonversikan kami?’... Tentu saja, jawabannya yaitu  ya. Saya ingin mengonversikan 

kita semua dari pengertian yang kekanak-kanakan akan iman kita menjadi pengertian 

dewasa akan iman kita.’”17 

Maka, sang ‘imam’ pengajar di Georgetown University yang ‘Katolik’ mengakui bahwa ia tidak ingin 

mengonversikan orang-orang menjadi Katolik, namun  ingin ‘mengonversikan’ mereka ke dalam 

pengertian yang lebih dalam akan iman-iman mereka, apa pun iman mereka. Dan tujuan dari mata 

kuliahnya ‘Masalah tentang Allah’ yaitu  untuk membawa suatu penerimaan akan seluruh agama. Ini 

benar-benar suatu kemurtadan. 

 

Kemurtadan Antaragama 2006 di Georgetown dalam perayaan Assisi18 

Pada hari ulang tahun ke-20 pertemuan doa antaragama Yohanes Paulus II di Assisi, banyak universitas-

universitas ‘Katolik’ mengadakan pertemuan-pertemuan kecil yang mirip untuk merayakan pertemuan 


473 

 

ini . Georgetown yang ‘Katolik’ menyelenggarakan International Prayer for Peace 2006: A Meeting of 

Peoples and Religions in the Spirit of Assisi {Doa Internasional untuk Perdamaian 2006: Pertemuan Orang-

orang dan Agama-agama di dalam Semangat Assisi}.19 Georgetown juga menawarkan program-program 

Pelayanan untuk mempromosikan agama Yahudi, Islam, Protestantisme, dan ‘Ortodoks’ Timur. 

“Di samping pelayanan loka karya yang luas yang ditawarkan oleh berbagai tradisi agama secara 

spesifik, Kantor Pelayanan Kampus memberi  kesempatan untuk doa serta dialog antaragama 

di sepanjang tahun sekolah. Acara-acaranya berikut dialog-dialog antaragama, meditasi 

antaragama, Sabat Halleluia, Seder {Ritual Yahudi} antaragama serta pameran kesenian 

antaragama.”20 

Hal ini berarti bahwa Georgetown mendukung praktik Yahudi secara langsung di dalam situsnya. 

“Ibadat Protestan, Yahudi, dan Muslim berlangsung di kampus [di Georgetown] yang 

diorganisir oleh Kantor Pelayanan Kampus dan kelompok-kelompok siswa-siswi. Kajian-

kajian Kitab Suci, retret-retret harian serta tiga ibadat hari Minggu di dalam tradisi Protestan 

berlangsung di kampus. Para Imam Yahudi dan Jewish Student Association melangsungkan 

makan malam Sabat setiap Jumat. Sebuah ruangan doa Muslim di Copley Hall digunakan 

untuk doa Islam dan ibadat harian dan ada  sebuah pelayanan ibadat komunitas Muslim 

setiap Jumat. Setiap Selasa sore, ibadat doa Ortodoks berlangsung di Copley Crypt.”21 

Boston College yang ‘Yesuit’ juga dipenuhi kemurtadan. Pada tanggal 9 Februari 2008, universitas 

ini  melangsungkan sebuah diskusi panel tentang dokumen bulan Agustus 2002 ‘uskup-uskup’ 

Amerika, Reflections on Covenant and Mission {Refleksi-refleksi tentang Perjanjian dan Misi}. Dokumen 

yang terkenal keburukannya ini menyatakan bahwa “...upaya-upaya yang menargetkan konversi orang-

orang Yahudi kepada Kekristenan tidak lagi dapat diterima secara teologis di dalam Gereja Katolik.” Tiga 

teolog Boston College membahas isu berikut: “Haruskah Orang-orang Katolik Mencoba 

Mengonversikan Orang-orang Yahudi (Jika Orang-orang Yahudi Berada di Dalam Perjanjian Sejati 

dengan Allah)?” Ketiganya menunjukkan – di dalam cara modernis mereka untuk mengatakan banyak 

hal sekaligus hampir tidak mengatakan apa-apa sama sekali – bahwa sama sekali tidak ada  

keperluan apa pun bagi orang-orang Yahudi untuk dikonversikan. Jawaban yang terjelas datang dari 

‘teolog’ Boston College, Philip Cunningham, yang menyatakan: 

“Jika, sebagaimana yang orang-orang Kristiani tentunya nyatakan, kelahiran Kristus yaitu  

bagian dari rencana ilahi, maka orang-orang Kristiani harus mempertimbangkan 

kemungkinan bahwa penolakan orang Yahudi akan Injil serta pembangunan warisan para 

rabbi sesudah  kehancuran Bait Yahudi juga merupakan bagian dari rencana ilahi.”22 

Penolakan akan Injil juga merupakan bagian dari rencani ilahi, menurut Boston College yang ‘Katolik’. 

Kemungkinan universitas ‘Katolik’ yang paling ‘terkemuka’ di dunia yaitu  Angelicum di Roma. 

Universitas ini juga mempromosikan kemurtadan yang sama yang ditemukan di seluruh universitas 

‘Katolik’ yang lain. Universitas ini  memberi  mata kuliah tentang ekumenisme yang 

mempromosikan ekumenisme sejalan dengan The Directory for the Application of the Principles and 

Norms on Ecumenism {Pedoman Penerapan Prinsip-Prinsip dan Norma-Norma Ekumenisme}, yang 

dipermaklumkan oleh Yohanes Paulus II.23 Petunjuk yang mencengangkan ini menghalau upaya untuk 

mengonversikan orang-orang non-Katolik, mempromosikan ibadat antaragama, penggunaan bersama 

gereja-gereja dengan penganut agama-agama serta sekte-sekte sesat, dst., seperti yang telah dibahas di 

bagian yang lebih awal dalam buku ini. 


474 

 

Gregorian di Roma yaitu  suatu institusi ‘Katolik’ lain yang terkenal. Mantan ‘Uskup Agung’ Anglikan 

dari Canterbury, George Carey, mengajarkan ekumenisme di sana.24 Hal ini berarti bahwa seorang bidah 

non-Katolik – seorang awam yang mengaku diri sebagai uskup yang sah – mengajarkan ekumenisme 

sesat kepada para seminaris dan imam Novus Ordo. Kami yakin mereka tidak akan membahas 

ketidakabsahan ordo Anglikan. 

Kami dapat melanjutkan di dalam banyak halaman untuk mendokumentasikan kemurtadan, 

ketidakbermoralan, serta skandal di universitas-universitas ‘Katolik’, namun  seseorang seharusnya dapat 

melihat dengan jelas bahwa kemurtadan institusi-institusi pendidikan di dalam sekte Vatikan II yaitu  

universal. Hal ini berlangsung dari universitas setempat Vatikan II di sini di Amerika, sampai yang paling 

terkemuka di Roma. Hal ini disebabkan hanya sebab  mereka semua mengikuti agama baru sekte 

Vatikan II. Mereka, seperti sekte Vatikan II yang mendukung mereka, yaitu  Katolik secara nama saja. 


 

Suatu gambar yang mencolok dari kemurtadan Vatikan II yang dipromosikan di dalam situs Seton Hall University 

yang ‘Katolik’ yang kami telah bahas di dalam bagian ini (kami menambahkan garis bawah). {Kata-kata yang 

digarisbawahi yaitu  sebagai berikut: “Jika anda mencari sebuah sinagoga terdekat, kelompok Muslim untuk 

bergabung dalam doa Jumat atau suatu kajian Kitab Suci antaragama, Campus Ministry akan menghubungkan 

anda...”} 

Bencana Pembatalan Pernikahan 

476 

 

28. Pembatalan Pernikahan –Vatikan II 

Mendukung Secara De Facto Perceraian dan 

Pernikahan Kembali 

Paus Leo XIII, Sum Multa (#2), 24 Desember 1902: 

“Oleh sebab  itu, pernikahan orang-orang Kristiani yang telah tercapai sepenuhnya… tidak dapat 

dibatalkan atas dasar apa pun kecuali kematian salah seorang pasangan, seturut perkataan suci: 

‘Apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.’”1 

Menurut dogma Katolik, sifat-sifat esensial pernikahan yaitu  persatuan dan indisolubilitas {fakta bahwa 

sesuatu tidak dapat diceraikan}. Suatu pernikahan yang telah disetujui dan dilaksanakan secara sah 

mengikat sampai kematian memisahkan kedua pasangan. “Tidak ada yang namanya pembatalan 

pernikahan sakramental yang telah terlaksana. Ungkapan ini  kadangkala digunakan secara tidak 

tepat untuk menyatakan ketidakabsahan suatu persatuan yang disebut sebagai suatu pernikahan namun , 

yang sesudah  ditelaah, tidak demikian adanya.”2 Penting untuk dimengerti bahwa tidak ada yang namanya 

‘pembatalan’ pernikahan yang telah terlaksana, namun  hanya ada  pernyataan ketidakabsahan bahwa 

suatu persatuan dari awalnya bukanlah suatu pernikahan jika ada  suatu bukti yang jelas bahwa 

persatuan ini  tidak berlangsung secara valid. 

sesudah  kita mengerti hal ini, mudah untuk melihat mengapa ‘pembatalan pernikahan’ (yaitu, pernyataan 

bahwa persatuan-persatuan tertentu bukanlah pernikahan dari awalnya) secara tradisional sangat 

jarang diberikan. Kasus-kasus ini  sangatlah sulit untuk dibuktikan, dan jika ada  keraguan bila 

suatu persatuan tertentu yaitu  suatu pernikahan yang terlaksana secara valid, Gereja menganggap 

bahwa pernikahan ini  valid. 

Kanon 1014, Kitab Hukum Kanonik 1917:  

“Pernikahan mendapat dukungan dari hukum; oleh sebab  itu, jika ada  keraguan, validitas 

pernikahan ini  dijunjung sampai hal yang sebaliknya terbukti, dengan perhatian kepada 

perintah Kanon 1127.”3 

Suatu contoh yang baik untuk ‘pembatalan pernikahan’ yang dapat diberikan atas dasar yang kuat yaitu  

jika seorang wanita ‘menikahi’ (bukan sebab  kesalahannya sendiri) seorang lelaki yang ia lalu  

sadari yaitu  seorang imam yang ditahbiskan secara valid. Oleh sebab  para imam tidak dapat menikah 

(kanon 1972),4 persatuan antara imam dan wanita ini  bukanlah suatu pernikahan yang valid. Ia lalu 

akan diberikan suatu dekret ketidakabsahan bahwa ia sama sekali tidak pernah menikah. Wanita 

ini  lalu bebas untuk menikahi seorang lain. 

Suatu contoh lain yang jelas akan sebuah ‘pembatalan pernikahan’ yaitu  jika orang yang anda ‘nikahi’ 

ternyata telah menikah sebelumnya, namun  ia menyembunyikan informasi ini dari anda. Suatu contoh 

dari masa lalu yaitu  jika seorang wanita menikahi seorang budak yang ia kira yaitu  seorang lelaki 

yang bebas, namun  tidak nyatanya. Suatu pernyataan ketidakabsahan akan diberikan, sebab  kesalahan 

yang spesifik ini  tentang seseorang yang dinikahi begitu berat sehingga hal ini  membuat 

pernikahan ini  tidak valid (kanon 1083.2).5 

Di dalam semua kasus-kasus ini , alasan ini  haruslah berat dan bukti bahwa tidak pernah 

ada  pernikahan yang valid haruslah jelas. Itulah mengapa hanya 338 pembatalan pernikahan 

Bencana Pembatalan Pernikahan 

477 

 

diberikan pada tahun 1968 di AS sewaktu ajaran sebelum Vatikan II tentang pernikahan masih 

dijunjung oleh kebanyakan orang. 

namun , dengan adanya ledakan kemurtadan pasca-Vatikan II, ajaran indisolubilitas pernikahan telah 

diinjak-injak bersama dogma-dogma lain. Dari tahun 1984 sampai 1994, Gereja Vatikan II di AS 

memberi  hampir 59.000 pembatalan pernikahan setiap tahun, walaupun jumlah pernikahan-

pernikahan Katolik telah jatuh sebanyak sepertiga sejak tahun 1965!6 

Di tahun 2002 sendiri, sekte Vatikan II memberi  50.000 pembatalan pernikahan di Amerika 

Serikat!7 Sebanyak 97% dari semua pembatalan pernikahan diberikan di Amerika Serikat! Hal ini 

berarti bahwa hampir semua orang yang menginginkan sebuah ‘pembatalan pernikahan’ 

mendapat nya! 

Romo Leonard Kennedy: 

“Sejak tahun 1984 sampai 1994, 97% terjadi di Pengadilan Tingkat Pertama. namun , semua 

kasusnya harus diadili kedua kali. Persentase keputusan yang dibatalkan di Amerika Serikat 

yaitu  4/10 dari 1%.”8 

Hal ini berarti hampir 100 persen dari permohonan pembatalan pernikahan diberikan di dalam 

pengadilan pertama, dengan kemungkinan pembatalan pernikahan ini  dibatalkan di dalam 

pengadilan kedua mencapai kurang dari ½ dari 1%! Hal ini yaitu  penolakan keseluruhan dari 

indisolubilitas pernikahan dalam fakta dan dalam kelakuan. Bencana pembatalan pernikahan ini yaitu  

tema dari buku Sheila Rauch Kennedy yang terkenal, Shattered Faith: A Woman’s Struggle to Stop the 

Catholic Church from Annulling Her Marriage {Iman yang Hancur: Perjuangan Seorang Wanita untuk 

Menghentikan Gereja Katolik Membatalkan Pernikahannya}. Dibolehkannya perceraian dan pernikahan 

ulang di bawah dalih pembatalan pernikahan yang palsu telah menghancurkan keluarga yang tidak 

terhitung jumlahnya dan mengolok-olok Gereja Katolik di depan dunia. 

Hal ini  begitu buruknya sampai, “ada  iklan di buletin gereja, koran-koran Katolik, dan bahkan 

di dalam pers sekuler, bahwa tersedia pembatalan pernikahan, kadangkala disertai janji bahwa 

pembatalan pernikahan ini  benar-benar akan diberikan. ‘Beberapa undangan ini  

merupakan janji bahwa pembatalan pernikahan akan diberikan kepada semua orang yang 

memohonkannya… Upaya-upaya promosi ini… mungkin mendapat  tanggapan-tanggapan… dari 

pasangan-pasangan yang mengimpikan rumput pernikahan yang lebih hijau namun  yang tidak dapat 

dengan serius melakukan perpisahan dan perceraian, andaikan pembatalan pernikahan tidak 

dipampangkan sebagai suatu alternatif yang mudah dan dapat diterima.’”9 

Pada dasarnya, setiap orang yang menginginkan sebuah pernyataan bahwa mereka tidak menikah dapat 

memperolehnya. Mereka mengeluarkan pernyataan ini  untuk berbagai macam alasan-alasan yang 

konyol, seperti alkoholisme, ketidakcocokan kepribadian, dst., yang sama sekali bukanlah alasan yang 

sah. 11.68% dari pembatalan pernikahan pada hari ini diberikan sebab  ‘persetujuan yang cacat’, 

di mana ada  paling tidak salah satu dari pasangan yang tidak memiliki pengetahuan yang 

cukup atau kedewasaan untuk mengetahui apa itu pernikahan!10 Dalam kata lain, jika dalam 

beberapa tahun pernikahan, seseorang tidak lagi menyukai pasangannya, ia tidak benar-benar ‘dewasa’ 

atau tidak mengerti apa yang ia lakukan sewaktu ia bertukar janji pernikahan abadi bersama orang 

ini . Tentunya hal ini absurd, sama sekali salah dan hina. 

  

Bencana Pembatalan Pernikahan 

478 

 

Orang-orang yang berpikir bahwa mereka bebas menikah berdasar  hal-hal yang salah dan tidak jujur 

berbohong kepada diri mereka sendiri; mereka menempatkan diri mereka sendiri di dalam jalan menuju 

Neraka. Dan sekte Vatikan II mendukung jalan mereka ke Neraka. Sewaktu orang-orang bertukar janji 

pernikahan, hal ini  yaitu  sah sampai mereka meninggal. Mereka menginginkan manfaat 

pernikahan; merekalah yang memilih untuk menjalankannya. Kewajiban yang menyertai pernikahan 

kelihatannya tidak menyusahkan mereka sewaktu mereka mengambil manfaat dari hak-hak pernikahan 

mereka. yaitu  salah mereka sendiri jika, sesudah  beberapa waktu, mereka tidak menyukai pilihan 

mereka atau tidak benar-benar siap untuknya. Bahwa Vatikan II menyerah di dalam masalah ini 

yaitu  suatu bukti lain bahwa sekte ini  menyembah manusia, menyenangkan manusia tidak 

peduli akibatnya, menghapuskan darinya semua tanggung jawab dan ikatan-ikatan di depan muka 

Allah sebab  hal ini  membuatnya tidak nyaman atau tidak disenanginya. Kekacauan 

pembatalan pernikahan yang hina ini yaitu  salah satu aspek yang paling menjijikkan dari sekte Vatikan 

II. 

Robert H. Vasoli, pengarang dari buku What God Has Joined Together {Apa yang Telah Dipersatukan 

Allah}, telah menikah secara valid selama 15 tahun ketika ia menjadi salah satu responden dari 

pembatalan pernikahannya sendiri. Ia menulis bahwa skandal yang dihasilkan oleh pembatalan 

pernikahan yang orang tahu sama sekali tidak akan disetujui oleh pasangannya yaitu  ‘secara tidak 

terhingga lebih besar dibandingkan dengan skandal yang dihasilkan oleh sistem pengadilan. Secara 

keseluruhan, sistem ini  memalukan’.11 

Para Anti-Paus sekte Vatikan II tidak melakukan hal apa pun untuk membendung skandal ini  

ataupun untuk menegakkan kesucian ikatan pernikahan. Mereka mengolok-olok pernikahan dengan 

mengeluarkan pembatalan-pembatalan pernikahan yang palsu yang berlanjut tanpa henti di bawah 

pengawasan mereka bagaikan lava yang mengalir dari suatu gunung berapi yang sedang meletus. 

berdasar  fakta-fakta menakjubkan ini, seseorang dapat benar-benar berkata bahwa sekte Vatikan II 

memperbolehkan perceraian dan pernikahan kembali, yang membuktikan sekali lagi bahwa sekte 

ini  bukanlah Gereja Katolik, namun  suatu sekte palsu di akhir zaman. Perhatikan bagaimana para 

Paus sejati dari Gereja Katolik bertindak sewaktu dihadapkan dengan masalah-masalah ini. 

Sewaktu sekte Vatikan II menolak indisolubilitas pernikahan, Gereja Katolik dan para 

Paus sejati membelanya, tidak peduli harga yang dibayarnya 

Pada tahun 995, Raja Robert dari Prancis menyingkirkan istrinya Suzanne dan ‘menikahi’ Bertha dari 

Chartres. Walaupun ada  masalah-masalah yang mungkin timbul sewaktu melawan raja yang kuat 

itu, Paus Gregorius V mengutuk hubungan Robert dengan Bertha sebagai bigami dan memerintahkannya 

untuk menyingkirkan Bertha, jika tidak, ia akan diekskomunikasikan. Robert lalu mengutus seorang duta 

besar ke Roma untuk dapat membuat sang Paus berkompromi, namun  tanpa hasil: 

“…Paus Gregorius V hanya dapat berkata dengan Tuhannya: ‘Apa yang telah dipersatukan 

Allah, tidak boleh dipisahkan oleh manusia.’ Hampir seribu tahun sebelumnya, Yesus Kristus 

telah memberi  hal ini kepada para murid-Nya, yang tampak kepada mereka merupakan salah 

satu ajaran-Nya yang tersulit. namun , hal ini  bergema seiring berjalannya waktu, ketakutan 

orang-orang yang berkuasa, perisai orang-orang yang lemah, sewaktu keseratus delapan puluh 

delapan Wakil-Nya mengumandangkan pikiran-Nya sekali lagi tentang ikatan pernikahan yang 

suci yang tidak dapat dipecahkan, atas nama Putri Suzanne. Sewaktu Raja Robert tidak 

menyingkirkan Bertha, ia diekskomunikasikan, kira-kira pada akhir tahun 988. Tiga tahun 

lalu , ia akhirnya menyerah dan menyingkirkannya.”12 

Bencana Pembatalan Pernikahan 

479 

 

Pada tahun 1141, saudari dari Ratu Eleanor dari Prancis, Peronelle, menginginkan pernikahan dengan 

salah satu kaum ningrat yang terkaya dan pejabat yang paling berkuasa di istana, sang Gubernur Raoul 

dari Vermandois. Masalahnya yaitu  Gubernur Raoul dari Vernandois telah menikah dengan seorang 

Eleanor yang lain. Suatu komisi yang terdiri dari tiga uskup, yang tentunya dipengaruhi oleh Raja Louis 

VI, menyatakan pernikahan Raoul dengan Eleanor sebagai tidak sah berdasar  alasan konsanguitas 

(hubungan saudara) yang tidak jelas. Ia lalu segera menikahi Peronelle. St. Bernardus mencela 

keputusan para uskup ini  dengan kata-kata yang dapat diterapkan secara pas kepada 

situasi pasca-Vatikan II, dengan satu perbedaan yang penting: 

“St. Bernardus mencela ketiga uskup sebagai ‘pria yang tidak tahu malu… yang, dengan melawan 

hukum Allah, tidak sama sekali takut untuk memisahkan apa yang telah dipersatukan Allah. Hal 

ini tidak berhenti sampai sini. Mereka melangkah lebih lanjut dan menambahkan satu dosa lagi 

dengan mempersatukan apa yang seharusnya tidak dipersatukan. Ritus-ritus suci Gereja telah 

dilanggar dan jubah Kristus telah dirobek, dan untuk membuat masalah ini  lebih buruk lagi, 

hal ini telah dilakukan oleh orang-orang yang tugasnya yaitu  untuk membenarkannya.’ 

Ia tidak ragu-ragu untuk menunjukkan bahwa pernikahan Louis sendiri dengan Eleanor tidak 

diperbolehkan atas berdasar  dekret konsanguitas, namun  tidak menerima sama sekali 

dispensasi dari Paus. Paus Inosensius III menanggapi hal ini  pada tahun 1142 dengan 

mengekskomunikasikan Raoul dari Vermandois dan menjatuhkan sebuah larangan atas 

tanah-tanahnya, dan menskors ketiga uskup ini .”13 

Di dalam episode ini, kita melihat suatu analogi yang mencolok dengan keadaan hari ini. St. Bernardus 

mencela para uskup yang memberi  pembatalan pernikahan sewaktu tidak ada  alasan untuk 

melakukan hal ini , dan mengutuk mereka yang merobek persatuan pernikahan, yang padahal 

memiliki tugas untuk menjaga keberlangsungannya. Perbedaannya yaitu  St. Bernardus hidup di zaman 

sewaktu ada  seorang Paus sejati, tidak seperti mereka yang hidup pada hari ini. Sang Paus sejati, 

Inosensius III, segera mendukung St. Bernardus dengan mengekskomunikasikan sang pelakunya dan 

menskors para uskup. Hal semacam ini sama sekali tidak dilakukan oleh para Anti-Paus sekte Vatikan II, 

tentunya, sebab  mereka tidaklah Katolik dan sekte mereka mendukung perceraian dan pernikahan 

kembali di bawah dalih pembatalan pernikahan yang mudah dan palsu. 

Pada tahun 1193, Raja Philip II dari Prancis yang berkuasa mengumumkan bahwa ia ingin mendapat  

pembatalan pernikahan satu hari sesudah  menikahi Putri Ingeborg. Para uskup Prancis tunduk dan 

memberi  kepada Philip sebuah pembatalan pernikahan tanpa mendengarkan Ingeborg. namun  pada 

tahun 1195, Paus Selestinus II membatalkan pembatalan pernikahan ini  yang diberikan oleh 

para uskup Prancis dan memerintahkan Philip untuk mengambil kembali Ingeborg; ia lalu 

mengingatkannya bahwa selama Ingeborg masih hidup, tidak satu pun dari pernikahannya di masa 

depan akan diakui oleh Gereja. 

“Dengan murka, sang raja melawan hal ini, dan pada tahun 1196, ia menikah secara bigami Agnes 

dari Meran; namun  Paus Selestinus dan penerusnya… tetap berkeras akan hak-hak Ingeborg. Pada 

bulan Januari 1200, Paus Inosensius menempatkan seluruh Kerajaan Prancis di bawah 

sebuah larangan agar dapat melaksanakan hal ini . Philip berpura-pura menyerah, 

namun  hatinya tetap berkeras; hanya sesudah  tiga belas tahun ia lalu  mengambil kembali 

Ingeborg dan memimpin dengannya di sisinya. Sekali lagi, Wakil Kristus telah membela ikatan 

pernikahan kerajaan tanpa peduli akibat politiknya.”14 

Kasus yang mungkin paling jelas yang harus disebutkan mengenai hal ini yaitu  Skisma Anglikan. Skisma 

Anglikan (abad ke-16) yaitu  hasil dari penolakan yang adil dari Gereja Katolik untuk memberi  

Bencana Pembatalan Pernikahan 

480 

 

kepada Raja Henry VIII dari Inggris pembatalan atas pernikahannya yang sah kepada Katherine dari 

Aragon. Raja Henry VIII ingin menjadikannya tidak sah sebab  ia berkehendak menikahi Anne Boleyn 

(yang oleh beberapa pelajar disebut sebagai anak jadahnya),15 maka Henry menyingkirkan Katherine dan 

secara tidak sah menikahi Anne Boleyn. Pada tanggal 11 Juli 1533, Paus Klemens VII 

mengekskomunikasikan Raja Henry VIII dan memerintahkan semua umat beriman untuk 

menghindarinya sebab  ia telah menyingkirkan Katherine dan secara nista dan tidak sah ‘menikahi’ 

Anne. Di tahun yang berikutnya (1534), Raja Henry VIII menyatakan dirinya sendiri sebagai kepala dari 

Gereja di Inggris. Ia menyangkal bahwa sang Paus memiliki yurisdiksi tertinggi atas Gereja universal 

dengan menolak otoritas Paus di atas Gereja di Inggris. Ia menyatakan bahwa pernikahannya dengan 

Katherine sebagai tidak sah, dan pernikahannya dengan Anne sebagai sah. 

Jika para Paus memberi  pembatalan pernikahan kepada Henry VIII yang ia inginkan berdasar  

‘persetujuan yang cacat’ atau ketidakcocokan kepribadian atau alasan-alasan palsu lain, seperti yang 

diinginkan sekte Vatikan II, Skisma Anglikan akan terhindarkan sama sekali. namun  tidak, kebenaran dan 

kesucian ikatan pernikahan harus dibela tidak peduli akibatnya, walaupun jika hal ini  berarti 

bahwa seorang raja akan membawa suatu negara ke dalam skisma. Itulah perbedaan antara Gereja 

Katolik dan sekte Vatikan II; salah satunya Katolik, dan yang lainnya tidak.  

  

Bencana Pembatalan Pernikahan 

481 

 

_______________________________ Bagian 28:  

 

1 The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, oleh Claudia Carlen, Raleigh: The Pierian Press, 1990, Vol. 2 (1878-

1903), hal. 517-518. 

 

2 Donald Attwater, A Catholic Dictionary {Kamus Katolik}, Tan Books, 1997, hal. 23. 

 

3 The 1917 Pio-Benedictine Code of Canon Law {Kitab Hukum Kanonik 1917 Pius-Benediktus}, diterjemahkan oleh Dr. 

Edward Von Peters, San Francisco, CA: Ignatius Press, 2001, hal. 352. 

 

4 The 1917 Pio-Benedictine Code of Canon Law {Kitab Hukum Kanonik 1917 Pius-Benediktus}, diterjemahkan oleh Dr. 

Edward Von Peters, hal. 369. 

 

5 The 1917 Pio-Benedictine Code of Canon Law {Kitab Hukum Kanonik 1917 Pius-Benediktus}, diterjemahkan oleh Dr. 

Edward Von Peters, hal. 373. 

 

6 Romo Leonard Kennedy, Catholic Insight, “The Annulment Crisis in the Church {Krisis Pembatalan Pernikahan di 

dalam Gereja},” Terbitan Maret 1999, http://catholicinsight.com/online/church/divorce/c_annul.shtml 

7 http://www.townhall.com/opinion/columns/patbuchanan/2002/12/11/165161.html 

8 Romo Leonard Kennedy, Catholic Insight, “The Annulment Crisis in the Church {Krisis Pembatalan Pernikahan di 

dalam Gereja},” Terbitan Maret 1999, http://catholicinsight.com/online/church/divorce/c_annul.shtml 

 

9 Romo Leonard Kennedy, Catholic Insight, “The Annulment Crisis in the Church {Krisis Pembatalan Pernikahan di 

dalam Gereja},” Terbitan Maret 1999, http://catholicinsight.com/online/church/divorce/c_annul.shtml 

 

10 Romo Leonard Kennedy, Catholic Insight, “The Annulment Crisis in the Church {Krisis Pembatalan Pernikahan di 

dalam Gereja},” Terbitan Maret 1999, http://catholicinsight.com/online/church/divorce/c_annul.shtml 

11 Dikutip oleh Romo Leonard Kennedy, Catholic Insight, “The Annulment Crisis in the Church {Krisis Pembatalan 

Pernikahan di dalam Gereja},” Terbitan Maret 1999, 

http://catholicinsight.com/online/church/divorce/c_annul.shtml 

 

12 Warren H. Carroll, A History of Christendom {Sejarah Kekristenan}, Vol. 2 (The Building of Christendom 

{Pembangunan Kekristenan}), Front Royal, VA: Christendom Press, 1987, hal. 437-438. 

13 Warren H. Carroll, A History of Christendom {Sejarah Kekristenan}, Vol. 3 (The Glory of Christendom {Keagungan 

Kekristenan}), hal. 55. 

 

14 Warren H. Carroll, A History of Christendom {Sejarah Kekristenan}, Vol. 3 (The Glory of Christendom {Keagungan 

Kekristenan}), hal. 141-142. 

15 Rev. Dr. Nicholas Sander, The Rise and Growth of the Anglican Schism {Kemunculan dan Berkembangnya Skisma 

Anglikan}, Tan Books, 1988, hal. 96-100. 

Angka-Angka Penurunan Vatikan II 

482 

 

29. Angka-Angka Sehubungan dengan 

Penurunan Vatikan II 

Angka-angka sehubungan dengan penurunan sesudah  Vatikan II dirangkum oleh Pat Buchanan pada 

sebuah artikel bertanggal 11 Desember 2002 yang berjudul “An index of Catholicism’s decline {Indeks 

penurunan Katolisisme}” di townhall.com. Pat Buchanan menyatakan hal ini  berdasar  penelitian 

dari Kenneth Jones, Index of Leading Catholic Indicators: The Church Since Vatican II {Indeks Indikator-

indikator Utama Katolik: Gereja Sejak Vatikan II}. 

“Walaupun jumlah imam di Amerika Serikat lebih dari berganda menjadi 58.000, antara 1930 dan 

1965, sejak saat ini , jumlah itu telah jatuh menjadi 45.000. Pada tahun 2020, hanya akan 

ada  31.000 imam, dan lebih dari separuh imam-imam ini  akan berumur lebih dari 70. 

“-Penahbisan. Pada tahun 1965, 1.575 imam-imam baru ditahbiskan di Amerika Serikat. Pada 

tahun 2002, jumlahnya yaitu  450. Pada tahun 1965, hanya 1 persen dari paroki-paroki Amerika 

Serikat tidak memiliki imam. Pada hari ini, ada  3.000 paroki-paroki yang tidak memiliki 

imam, 15 persen dari keseluruhannya yaitu  paroki-paroki AS. – Seminaris. Antara 1965 dan 

2002, jumlah seminaris jatuh dari 49.000 menjadi 4.700, penurunan lebih dari 90 persen. Dua per 

tiga dari 600 seminari yang beroperasi pada tahun 1965 telah tutup. 

“-Suster-suster. Pada tahun 1965, ada  185.000 biarawati Katolik. Di tahun 2002, jumlah 

ini  telah jatuh menjadi 75.000 dan umur rata-rata seorang biarawati Katolik pada hari ini 

yaitu  68. Pada tahun 1965, ada  104.000 biarawati pengajar. Pada hari ini, ada  8.200, 

penurunan sebesar 94 persen sejak akhir dari Vatikan II. 

“-Ordo Religius. Sudah terlihat akhir bagi ordo-ordo religius di Amerika. Pada tahun 1965, 

3.559 pria-pria muda belajar untuk menjadi imam-imam Yesuit. Pada tahun 2000, jumlah 

ini  yaitu  389. Untuk para Bruder Kristiani, situasi ini  bahkan lebih buruk. Jumlah 

mereka telah menyusut sebesar dua per tiga, dengan jumlah seminaris yang jatuh sebesar 99 

persen. Pada tahun 1965, ada  912 seminaris untuk menjadi Bruder Kristiani. Pada tahun 

2000, hanya ada  tujuh. Jumlah pria-pria muda yang belajar untuk menjadi imam-imam 

Fransiskan dan Redemptoris jatuh dari 3.379 pada tahun 1965 menjadi 85 di tahun 2000. 

“-Sekolah-sekolah Katolik. Hampir separuh dari sekolah menengah atas Katolik di Amerika 

Serikat telah tutup sejak tahun 1965. Populasi murid telah jatuh dari 700.000 menjadi 

386.000. Sekolah-sekolah paroki menderita kejatuhan yang bahkan lebih besar. Sekitar 4.000 

telah menghilang, dan jumlah murid-murid yang hadir telah jatuh di bawah 2 juta – dari 4.5 juta. 

Walaupun jumlah orang-orang Katolik Amerika Serikat telah meningkat sebesar 20 juta 

sejak 1