jay smith 2

  


yang lebih awal. Hal ini menggemakan pernyataan yang dibuat sebelumnya oleh 

Schacht mengenai kebutuhan dari penyusun abad kesembilan untuk mengotentikasi 

hukum-hukum dipinjam dari agama lain, dengan cara mengait-kaitkan dengan 

kehidupan nabi. Dengan tergesa-gesa mereka meminjam tradisi lain yang terlalu longgar 

dan saling bertentangan, yang pada gilirannya memaksa ulama untuk men-standarkan 

hadis-hadis yang mereka anggap mendukung agenda mereka.

Hal ini meninggalkan kita masalah, bagaimana mereka memutuskan hadis yang 

otentik dan yang tidak.

B.7. Isnad ( Jalur Transmisi Lisan)

Untuk menjawab masalah ini, para sarjana Muslim mempertahankan asumsi bahwa 

alat utama untuk memilih antara hadis sahih dari hadis palsu yaitu  melalui proses 

transmisi lisan, yang dalam bahasa Arab disebut Isnad. Muslim berpendapat bahwa 

isnad yaitu  ilmu yang digunakan oleh Bukhari, Tabari dan pengumpul lain pada abad 

kesembilan dan kesepuluh untuk memilih autentisitas kompilasi mereka. Untuk 

mengetahui siapa penulis asli dari banyak hadis yang mereka miliki, para penyusun 

memberikan sebuah daftar nama-nama yang seharusnya ditelusuri sampai penutur yang 

sejaman dengan kehidupan nabi sendiri. sebab  pentingnya bagi diskusi kita, maka ilmu 

Isnad ini perlu dijelaskan secara lebih rinci:

Dalam rangka memberikan kredibilitas sebuah hadits, atau narasi, daftar nama yang 

melekat pada setiap dokumen yang diduga menunjuk melalui siapa hadis itu telah 

diwariskan. Itu yaitu  nama rantai transmisi, yang menyatakan, saya menerima ini dari

si anu yang ia peroleh dari si Fulan yang menerimanya dari sahabat nabi. "(Rippin 

1990:37-39)

Sementara kita di Barat menilai transmisi oral sebagai mencurigakan, dan tidak 

kredibel, namun hal ini dikembangkan dalam dunia Arab, dan wahana untuk 

mewariskan banyak sejarah mereka. Masalah dengan transmisi lisan yaitu  bahwa 

sifatnya, terbuka untuk suatu penyimpangan sebab  tidak memiliki kode tertulis atau 

dokumentasi untuk menguatkan itu. Dengan demikian, dapat dengan mudah 

dimanipulasi menurut agenda si penutur (seperti permainan anak-anak dari "kata berkait 

").

Dalam rangka untuk mendapat  kredibilitas tulisannya, seorang pungumpul hadis 

akan mendaftarkan daftar indivdidu terkenal Isnad-nya, mirip dengan kebiasaan yang 

kita gunakan saat ini untuk meminta individu penting untuk menulis prakata dalam buku-

buku kita. Semakin besar rantai daftarnya, semakin besar kredibilitasnya. Namun, tidak 

seperti kita yang menampilkan orang-orang sejaman, para penyusun abad kesembilan 

tidak memiliki dokumentasi untuk membuktikan bahwa sumber mereka cukup otentik. 

Individu-individu yang namanya mereka catut sudah lama mati, dan tidak bisa menjamin 

apa yang telah mereka konon katakan.

Anehnya, "isnad memiliki kecenderungan untuk terus mundur." Dalam teks-teks awal 

tertentu, misalnya, sebuah pernyataan akan ditemukan dikaitkan dengan khalifah dari 

dinasti Umayyah, atau bahkan akan tidak menyebutkan sumbernya, seperti dalam kasus 

hukum tertentu; namun ditempat lain, laporan yang sama akan ditemukan dalam bentuk 

18

laporan hadits dengan runutan isnad sampai ke masa Muhammad atau salah satu 

temannya. "(Rippin 1990:38)

sebab  itu, jelas tampak bahwa isnad digunakan untuk memberikan wewenang 

kepada hadis tertentu yang jelas berkaitan erat dengan jaman masyarakat dalam 

generasi-generasi setah Muhammad, tapi seakan-akan dibingkai sebagai ucapan 

Muhammad sendiri." (Rippin 1990:38) Isnad dan hadis ini sendiri yang seharusnya para 

mufasir coba carikan otentisitasnya, bukan malah memilih mempercayainya sebagai 

fakta historis, yang pada gilirannya akan melemahkan yang apa yang hadis-hadis ini 

coba untuk komunikasikan (Crone 1987:214 ).

sebab  itu jelas bahwa Isnad, bukannya menguatkan dan mensubstansikan materi 

yang harusnya kita temukan dalam tradisi Muslim, malahan membuat masalah 

otentisitas yang lebih besar. Kita ditinggalkan dengan kesadaran bahwa tanpa ada 

transmisi berkelanjutan antara abad ketujuh dan kedelapan, tradisi-tradisi ini  hanya 

dapat dianggap sebagai gambaran dari abad sembilan dan sepuluh, tidak lebih (Crone 

1987:226).

Terlebih lagi, ilmu Isnad, yang dimaksudkan untuk mengotentikasi silsilah transmisi 

baru dimulai pada abad kesepuluh, lama setelah isnad yang bersangkutan sudah 

disusun (Humphreys 1991:81), sehingga memiliki relevansi yang sedikit sekali untuk 

diskusi kita. Akibatnya, sebab  itu yaitu  seperti ilmu non-eksakta, aturan praktis 'untuk 

sejarawan paling saat itu yaitu : daftar yang lebih panjang, yang meliputi nama orang 

terkenal, semakin membuat suatu hadis terlihat keasliannya. " Oleh sebab  itu. kita tidak 

akan pernah tahu apakah nama yang tercantum dalam isnad pernah memberikan atau 

menerima informasi dengan yang darinya mereka dikait-kaitkan.

B.8. Para Pendongeng Kisah (Kussa)

Mungkin argumen terbesar yang memberatkan penggunaan Tradisi Islam sebagai 

sumber yaitu  masalah transmisi. Untuk memahami argumen ini lebih baik kita perlu 

menyelidiki seratus tahun lebih sebelum jaman Ibnu Ishaq (765 M), dan setelah 

kematian Muhammad pada tahun 632 M , sebab , 'para pengajar Muslim, yang kepada 

siapa kita mendapat  “Biografi” Muhammad, bukanlah bank memori asli dari tradisi 

Nabi. "(Crone 1980:5)

Menurut Patricia Crone, seorang peneliti Denmark di bidang kritik sumber, kita hanya 

tahu sedikit tentang bahan asli, sebab tradisi-tradisi yang ada telah dibentuk kembali 

oleh para pengembang cerita selama satu setengah abad (Crone 1980:3). Para 

Pendongeng ini disebut Kussa. Diyakini bahwa mereka mengumpulkan cerita mereka 

dengan memakai  model legenda Bibel yang cukup populer di sekitar dunia 

Bizantium pada waktu itu, dan  cerita-cerita asal Iran. Dari kisah-kisah maka tumbuhlah 

literature mirip novel sejarah , dan bukan catatan sejarah (Levi Della Vida 1934:441).

Dalam kisah-kisah inilah ditulis contoh bahan-bahan yang ditransmisikan oleh tradisi 

lisan selama berabad-abad. Kisah ini ada dua jenis : Mutawatir (cerita yang diturunkan 

berturut-turut) dan Mashhur (cerita yang terkenal atau dikenal luas) (Welch 1991:361).

Patricia Crone, dalam bukunya: Meccan Trade and the Rise of Islam, 

mempertahankan bahwa sebagian besar apa yang pengumpul kisah terkemudian 

19

menerima bahan-bahan itu dari para pendongen (Kussas) yang secara tradisional 

yaitu  pengulang gudang sejarah:

yaitu  para pendongeng kisah yang menciptakan tradisi Muslim. Tradisi yang terdengar 

seperti sejarah – yang mana mereka tambahkan dongeng-dongeng yang seharusnya tidak 

pernah ada.

Hal ini terjadi sebab  para pendongeng memainkan peran penting dalam 

pembentukan tradisi yang ada dimana begitu kecil nilai historisitas terkandung pada 

kisah itu. Sebagai pendongeng satu mengikuti pendongeng lainnya, dalam ingatan masa 

lalu tereduksi menjadi sebentuk cerita umum, tema, dan motif yang dapat 

dikombinasikan dan direkombinasi dalam kisah yang sepertinya menyejarah. Setiap 

kombinasi dan rekombinasi akan menghasilkan rincian baru, dan sebagai akumulasi 

informasi palsu, sedang  informasi asli akan hilang. Dengan tidak adanya tradisi 

alternatif, sarjana awal dipaksa untuk mengandalkan kisah pendongeng, seperti yang 

dilakukan Ibn Ishaq, Waqidi, dan sejarawan lainnya. Hal ini sebab  mereka bergantung 

pada pengulangan cerita yang sama bahwa mereka semua berkata serupa sebab  kisah 

kehidupan Muhammad tidak pernah ditulis sampai periode akhir Ummayad (sekitar 

tahun 750 M).

Crone percaya bahwa: " Tradisi Islam demikian merupakan sebuah monumen kehancuran 

daripada pelestarian masa lalu," (Crone 1980:7) dan " yaitu  tradisi dimana informasi yang 

tak berarti apa-apa dan membimbing kita ke bukan apa-apa." (Crone 1980:12) Oleh sebab  

logis bila Tradisi Muslim sama sekali tidak dapat dipercaya sebab  memiliki terlalu 

banyak perkembangan selama transmisi dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Bahkan, kita juga bisa mengulangi apa yang telah kita menyatakan sebelumnya: tradisi 

relevan hanya saat  mereka berbicara pada periode di mana mereka ditulis, dan tidak 

lebih.

Ada begitu banyak kesulitan dalam tradisi: tanggal penulisan yang terlambat 

sebagai naskah-naskah awal Islam, hilangnya kredibilitas sebab  agenda kemudian, dan 

kontradiksi yang jelas saat  orang membacanya, dan  perkembang biakan akibat 

redaksi agresif oleh pendongeng , dan ketidak-ilmiahan ilmu Isnad yang digunakan 

sebagai metoda pembuktian. Apakah mengherankan jika para sejarawan, sementara 

wajib untuk merujuk pada materi yang disajikan oleh tradisi Muslim (sebab  ukuran dan 

ruang lingkup), lebih memilih untuk mencari penjelasan alternatif ide-ide dan teori 

tradisional yang bisa diterima, sambil mencari bahan sumber lebih lanjut lain?

sebab  banyak muslim yang mengklaim bahwa hanya Al Qur’an saja yang bisa 

memberikan kita sumber otoritasnya, maka yaitu  wajar bagi kita, setelah melihat 

nature tradisi yang tidak bisa diandalkan ini, untuk kemabali pada Al Qur’an, dan bukan 

tradisi.

C. Kritik Internal Dalam Tubuh Qur'an Sendiri 

Sementara Muslim senang dengan pendekatan kritis kepada semua kitab, 

termasuk Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, ironisnya mereka menuntut posisi yang 

unik dan tertinggi untuk Al Qur'an, dengan mengklaim kekuasaan tertinggi atas semua 

kitab lainnya, sebab  menurut mereka, awalnya Quran tidak pernah ditulis oleh manusia 

20

dan tidak pula tercemar oleh pikiran dan gaya menulis manusia . Alasan seperti itu 

sebab  keyakinan bahwa Quran berasal dari "Ibu segala Buku" (diambil dari Surah 43:3-

4).

C.1. Pujian Atas Qur'an Yang Dikarang-karang 

Muslim mengklaim bahwa keunggulan Al-Qur'an atas semua wahyu lainnya yaitu  

sebab  struktur dan gaya sastranya yang canggih. Mereka mengutip dari Surah 10:37-

38, 2:23 atau 17:88, yang mengatakan:

Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur’an itu) 

membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah 

ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.

Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: 

“(Kalau benar yang kamu katakan itu),maka cobalah datangkan sebuah Suraht 

semisalnya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) 

selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Q 10:37-38)

Gema membanggakan ini berasal dari Hadis (Mishkat III, pg.664), yang mengatakan: 

Al-Qur'an yaitu  keajaiban terbesar di antara keajaiban dunia. Buku ini tidak ada 

duanya di dunia menurut keputusan bulat dari orang-orang terpelajar dalam poin dari 

gaya penyajiannya, retorika, gaya bahasa, pemikiran dan logika hukum dan peraturan 

untuk membentuk nasib umat manusia. "

C.1.a. Keunikan Al-Qur’an

Muslim menyimpulkan bahwa sebab  tidak ada karya sastra yang setara dengan 

Quran, ini membuktikan bahwa Al Qur'an yaitu  mukjizat diturunkan dari Allah, dan 

bukan karya tulis satu orang pun. yaitu  sifatnya yang unik ini, yang dalam bahasa Arab 

disebut i'jaz , yang muslim percayai - membuktikan penulisan ilahi, dan dengan 

demikian menegaskan statusnya sebagai sebuah mukjizat, dan menegaskan peran 

Muhammad dan  kebenaran Islam (Rippin 1990:26).

Namun, Al Qur’an sendiri menyajikan keraguan formulasi awal, dan tentu saja 

menciptakan kecurigaan tentang keunikannya. Padahal kita tahu bahwa itu tidak sampai 

akhir abad kesepuluh bahwa gagasan tentang keunikanan ini mengambil ekspresinya 

secara penuh, terutama dalam menanggapi tulisan-tulisan polemik Kristen waktu itu 

(Rippin 1990:26).

Kalangan muslim tertentu yang bertanya-tanya apakah pertanyaan keunikan ini 

sama sekali tepat untuk Al-Quran. C.G. Pfander, cendekiawan Islam, pada tahun 1835 

menunjukkan bahwa, "Ini tidak berarti pendapat universal ulama Arab tak berprasangka 

bahwa gaya sastra Quran lebih unggul dari semua buku lain dalam bahasa Arab. Beberapa 

kalangan ragu apakah Qur’an bisa mengungguli Mu'allaqat oleh Quais Imraul, atau Maqamat 

oleh Hariri baik dalam kefasihan dan puisi, meskipun di negara Muslim hanya sedikit saja orang 

yang cukup berani untuk menyatakan pendapat seperti itu. " (Pfander 1835:264)

21

Pfander menguraikannya dengan membandingkan Al Qur'an dengan Alkitab. Dia 

menyatakan, "saat  kita membaca Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani asli, banyak sarjana 

berpendapat bahwa kefasihan bahasa Kitab Yesaya, Ulangan, dan banyak bagian dalam 

Mazmur, misalnya, lebih agung daripada setiap bagian dari Quran. Hampir tidak ada orang tapi 

Muslim akan menyangkal hal ini, dan mungkin tidak ada Muslim yang tahu bahasa Arab dan 

Ibrani dengan baik akan mampu menyangkalnya. " (Pfander 1835:266)

C.1.b. Kelemahan-kelemahan Struktural

Sebuah perbandingan dengan Alkitab membawa masalah lain yang nyata. saat  

ada yang akrab dengan Alkitab mulai membaca Al Qur'an akan segera jelas bahwa Al 

Qur'an merupakan jenis sastra yang sama sekali berbeda, apapun keindahan puitis-

nya.

Manakala Alkitab berisi banyak narasi sejarah, Al-Qur'an mengandung sangat sedikit 

informasi sejarah. Manakala Alkitab menjelaskan sendiri istilah-istilah yang tidak akrab, 

atau wilayah tertentu yang ia sebutkan, Al-Qur'an tetap diam. Bahkan, struktur dari 

Alkitab, bagaikan sebuah kepustakaan dengan 66 buku, ditulis selama periode 1.500 

tahun mengungkapkan bahwa memerintahkan menurut kronologi, subyek dan tema.

Al-Qur'an, di sisi lain, tampak lebih seperti koleksi campur aduk dengan pernyataan 

dan idea-idea yang membingungkan, banyak yang tidak jelas hubungannya dari bab ke 

bab dan ayat ke ayat. Banyak sarjana mengakui bahwa Al Qur'an sangat serampangan 

dalam pengarangannya, hingga memerlukan tenaga yang luar biasa bagi siapapun 

untuk menjelaskan apa yang ayat-ayat itu maksudkan.

Seorang sarjana sekuler Jerman Salomon Reinach dalam pernyataannya yang agak 

keras menyatakan: 

"Dari sudut pandang sastra, Quran memiliki sedikit sekali kebaikan, penuh dengan 

deklamasi, atau pengulangan, bersifat kekanak-kanakan, kurangnya logika dan koherensi 

nyata sekali bagi para pembaca yang tidak siap pada setiap lompatan idea-nya. Hal ini 

memalukan bagi akal manusia untuk berpikir bahwa ini sastra biasa-biasa saja seperti 

ini telah menjadi subjek komentar tak terhitung, dan bahwa jutaan orang masih 

membuang-buang waktu dalam menyerapnya." (Reinach 1932:176)

Dalam nada yang sama, ensiklopedia McClintock dan Strong menyatakan bahwa:

"Masalah dalam Qur’an yaitu  sangat kacau dan suka memakai kata-kata yang tak 

jelas, buku yang jelas tanpa urutan pemikiran logis baik secara keseluruhan atau dalam 

bagian-bagiannya. Ini sesuai dengan cara yang acak-acakan dan insidental di mana 

pesan itu disampaikan.” (McClintock dan Strong 1981:151)

C.1.c. Cacat-cacat Sastra

Bahkan mantan Ulama Muslim Dashti meratapi cacat sastra Al-Qur'an dengan 

berkata, "Sayangnya Qur'an parah diedit dan isinya diatur secara bodoh". Dia menyimpulkan 

22

bahwa, "Semua yang mempelajari Al Qur'an mempertanyakan mengapa para editor Qur’an 

tidak memakai  metode alami dan logis dalam menyusunnya berdasarkan tanggal 

pewahyuan, seperti halnya dalam naskah Ali bin Abu Talib yang dihilangkan." (Dashti 

1985:28)

Setelah membaca Surah-Surah dalam Al-Qur'an seseorang akan segera menyadari 

bahwa semua itu itu tidak kronologis. Menurut tradisi, Surah-Surah yang terpanjang di 

awal yaitu  ayat-ayat yang disampaikan terakhir, dan Surah-Surah terpendek yang 

diletakan di akhir dianggap diwahyukan paling awal. Namun tradisi-tradisi yang sama 

memberitahu kita bahwa ada Surah-Surah tertentu yang mengandung ayat-ayat yang 

diwahyu baik di awal dan dan di akhir pelayanan Muhammad. Sehingga sulit untuk 

mengetahui apakah setiap pernyataan dalam Al Qur'an yaitu  pewahyuan yang awal 

atau yang terakhir.

Masalah lain yaitu  bahwa pengulangan. Al-Qur'an, seperti yang telah diberathukan 

kepada kita, dimaksudkan untuk dihafalkan oleh mereka yang buta huruf dan tidak 

berpendidikan. Oleh sebab  itu dalam Quran terdapat prinsip pengulangan yang tak 

berujung dari bahan yang sama (Morey 1992:113). Ini semua mengarah kepada 

kebingungan bagi pembaca pemula, dan tampaknya untuk menunjuk pada sebuah 

pengingatan gaya pendongeng disebutkan sebelumnya.

Al Qur'an memiliki kesulitan sastra lainnya: "Idea dalam masing-masing bab melompat 

dari satu topik ke yang berikutnya, dengan duplikasi dan inkonsistensi jelas nyata dalam tata 

bahasa, hukum dan teologi yang berlimpah" (Rippin 1990:23). Bahasa Qur’an memang semi-

puitis, sementara tata bahasanya, sebab  kelalaian, begitu tigak tegas (elliptical), sering tidak 

jelas dan ambigu. Ada perselisihan gramatikal (seperti penggunaan verba majemuk, dengan 

subyek tunggal), dan ketidak-konsistenan dalam perlakuan jenis kelamin kata benda (untuk 

contoh, lihat Surah 2:177; 3:59; 4:162, 5:69, 7: 160, dan 63:10) (Rippin 1990:28). (penerjemah : 

dalam banyak bahasa seperti bahasa Arab, Prancis dsb, kata benda dibagi kedalam 

dua kategori : maskulin dan feminin, dengan perlakuan kata benda, kata ganti dan kata 

kerja yang berbeda pula. Hal yang tidak kita miliki dalam bahasa Indonesia) Banyak kali 

kalimat dalam Surah yang tanpa kata kerja, dan mengasumsikan pembacanya 

memahami informasinya dengan baik. Qur’an memiliki penjelasan sedikit dan akibatnya 

sulit untuk dibaca.

Ini bukan hanya masalah struktural. Patricia Crone menunjuk bahwa, "didalam 

kumpulan ayat saja hal-hal sepele yang ditempatkan secara keliru sering kali secara 

mengejutkan ditemukan. Tuhan bisa muncul sebagai orang pertama dan ketiga dalam satu 

kalimat yang sama. Mungkin ada kelalaian, yang jika tidak dibetulkan oleh terjemahannya, akan 

memperlihatkan kebodohan yang nyata." (Cook 1983:68)

Menanggapi tuduhan ini, teolog tata-bahasa al-Rummani (meninggal 996 M) 

berpendapat bahwa ketidak-jelasan dan penyimpangan gramatikal yaitu  perangkat 

retoris benar-benar positif dan bukan bukti menulis terburu-buru atau ceroboh (Rippin 

1990:27). Namun argumen semacam ini hampir mustahil untuk dipahami, sebab  

kurangnya literatur sekuler sejaman dengan yang untuk membandingkan. Hal ini 

meninggalkan "satu-satunya kartu argumen dogmatis” ... tapi kartu yang satu ini yang 

sering dipakai (seperti banyak argumen keagamaan lainnya) dalam praduga Islam 

sendiri." (Rippin 1990:27).

Namun demikian, telah banyak cara dilakukan oleh non-muslim untuk menyanggah 

anggapan di atas dengan mengekspos alasan yang benar untuk penyimpangan ini. Al-

Kindi, seorang Kristen yang dipekerjakan di istana khalifah, melakukan diskusi dengan 

para Muslim sedini 830 M ( yang saya percayai beberapa sesaat setelah kanonisasi Al-

23

Qur’an). Dia sepertinya memahami agenda umat Islam waktu itu. Mengantisipasi klaim 

oleh umat Islam bahwa Al Qur'an itu sendiri yaitu  bukti inspirasi ilahi dia menanggapi 

dengan mengatakan:

“Hasil dari semua ini [proses dimana Al-Qur'an datang menjadi ada] yaitu  paten bagi anda 

yang telah membaca tulisan suci dan melihat bagaimana, dalam kitab Anda, sejarah semua 

campur aduk bersama dan berkelit-kelindan, sebuah bukti bahwa banyak tangan yang berbeda 

yang memiliki perbedaan nyata telah bekerja di dalamnya, dan memicu  ketidak-

cocokan, penambahan, pemotongan apapun yang mereka suka atau tidak suka. Apakah seperti 

itu, sekarang, kondisi sebuah wahyu diturunkan dari surga? " (Muir 1882:18-19,28)

Menariknya, pernyataan Al-Kindi sedini awal abad 9 M ternyata selaras dengan 

kesimpulan Wansbrough lebih dari sebelas ratus tahun kemudian, keduanya 

mempertahankan bahwa Quran yaitu  hasil dari kompilasi serampangan oleh redaktur 

kemudian satu abad atau lebih setelah kejadian (Wansbrough 1977:51).

C.1.d. Klaim Keuniversalan Qur’an

Kesulitan lain dalam Al Qur'an yaitu  ruang lingkupnya. Beberapa negara ayat 

mengatakan bahwa Qur’an yaitu  buku hanya untuk orang Arab (Surah 14:04; 42:7; 

43:3 dan 46:12), sementara ayat-ayat lain menyiratkan itu yaitu  wahyu bagi semua 

orang dan di segala jaman (Surah 34:28 ; 33:40). Apakah aplikasi universal ini datang di 

kemudian hari, ditambahkan setelah Islam merambah dan merangsek negeri-negeri 

asing, dan di syiarkan antara orang-orang asing? Jika demikian, maka hal ini 

menempatkan keraguan atas keandalannya sebagai sumber awal.

C.1.e. Interpolasi (Penyisipan)

Dalam Al-Qur'an ada juga kasus yang jelas yang berkaitan dengan interpolasi. 

Sebuah contoh dirujuk oleh Michael Cook dapat ditemukan di Surrah 53, di mana "teks 

dasar terdiri dari seragam ayat pendek dengan gaya yang terinspirasi, namun di dua 

tempat itu terganggu oleh penekanan prosai yang bertele-tele dan cukup membosankan 

yang keluar konteks."(Cook 1983:69) Apakah ini datang dari sumber yang sama? 

Bahkan apakah mereka sebenarnya termasuk dalam Surah ini?

Fitur lain yang signifikan yaitu  kerapnya kita temukan versi alternatif dari bagian 

yang sama di berbagai bagian Al Qur'an. Cerita yang sama dapat ditemukan diulang 

dengan variasi kecil dalam Surah yang berbeda. saat  ditempatkan berdampingan, 

berbagai versi ini sering menunjukkan jenis yang sama, sehingga kita bisa menemukan 

versi paralel dari tradisi lisan (Cook 1983:69). Sekali lagi kita diperhadapkan dengan 

contoh lain dari sebuah buku tidak ditulis oleh seorang penulis tunggal, tetapi sebuah 

buku disusun kemudian oleh beberapa  individu.

Masalah ini menjadi lebih jelas saat  kita melihat beberapa kutipan dari kitab-kitab 

lain yang kita temukan dalam Al Qur'an.

24

C.2. Kisah-kisah Qur'an Yang Bersumber Dari Talmud 

Mungkin kebingungan terbesar bagi orang Kristen yang membaca Al Qur'an yaitu  

banyaknya cerita Alkitab yang nampaknya sama dengan kisah dalam Alkitab namun 

hanya memiliki sedikit kesamaannya. Kisah-kisah Al-Qur'an mencakup banyak distorsi, 

perubahan, dan beberapa tambahan cerita-cerita aneh dari kisah-kisah yang akrab 

ketahui dan pelajari dari Alkitab. Jadi, dari mana cerita-cerita ini datang, jika bukan dari 

kitab-kitab sebelumnya?

Untungnya, kita memiliki banyak literatur apokrifa Yahudi (kebanyakan dari Talmud), 

berasal dari abad kedua masehi yang dapat kita bandingkan dengan kisah-kisah dalam 

Qur’an. Sesaat  melakukannya, kita akan temua begitu banyak persamaan luar biasa 

antara dongeng atau cerita rakyat, dan kisah-kisah yang diceritakan dalam Al-Qur'an 

(catatan: materi Talmud diambil dari Feinburg 1993:1162-1163).

Kisah-kisah Talmud dikumpulkan pada abad kedua masehi dari hukum lisan 

(Mishnah) dan tradisi hukum-hukum (Gemara). Hukum-hukum dan tradisi ini diciptakan 

sebagai upaya adaptasi hukum Musa (Taurat) dengan zaman yang senantiasa berubah. 

Talmud juga memasukan interpretasi dan diskusi tentang hukum-hukum (misalnya 

Halakhah dan Haggadah dll). Banyak orang Yahudi tidak menganggap tulisan-tulisan 

Talmud otoritatif, namun mereka tetap membacanya sebagai alat Bantu pengetahuan 

pada jaman kisah-kisah itu ditulis.

Jadi bagaimana tulisan-tulisan Talmud Yahudi non-authoritatif ini bisa sampai 

dimasukkan dalam Al Qur'an? Antara abad ketujuh dan kesembilan komunitas Yahudi 

banyak ditemukan di Semenanjung Arab (dikenal sebagai Hijaz). Mereka yaitu  bagian 

dari diaspora Palestina yang melarikan diri setelah penghancuran Yerusalem pada tahun 

70 M. beberapa  besar orang Yahudi ini dipandu oleh tulisan-tulisan Talmud yang telah 

diturunkan secara lisan dari ayah ke anak selama beberapa generasi. Setiap generasi 

menghiasi kisah-kisah ini , atau pada jaman tertentu mereka memasukan cerita 

rakyat setempat ke dalam kisah-kisah itu, sehingga sulit untuk mengetahui apa 

sebenarnya isi cerita asli ini  sebelumnya. Bahkan ada orang di antara orang 

Yahudi yang percaya bahwa tulisan-tulisan Talmud telah ditambahkan ke " dua prasasti 

batu “ (yaitu loh batu yang berisi Sepuluh Perintah YHWY, dan Taurat yang disimpan 

dalam Tabut Perjanjian), dan diyakini replika dari surgawi buku (Feinburg 1993:1163).

Beberapa sarjana percaya bahwa saat  para Pengumpul teks Qur'an di kemudian 

hari muncul di abad kedelapan dan kesembilan, mereka hanya menambahkan literatur 

ini ke dalam bahan-bahan Al Qur’an yang baru lahir. Oleh sebab  itu, tidak 

mengherankan bahwa beberapa  tradisi-tradisi dari Yudaisme secara tidak sengaja 

diterima oleh redaktur, dan dimasukkan ke dalam tulisan-tulisan ‘suci ' Islam. Ada 

beberapa cerita yang memiliki akar dalam literatur apokrif Yahudi abad kedua. Kita akan 

melihat hanya tiga sini, dan kemudian menyebutkan yang lain di akhir bagian ini:

  

C.2.a. Kisah Qabil & Habil / Kain & Habel

Kisah Kain dan Habel atau Qabil dan Habil ditemukan dalam Surah 5:30-32, yang 

awalnya sama seperti kisah dalam Alkitab dimana Kain membunuh Qabil, sekalipun 

tidak disebutkan secara eksplisti di dalam quran. .

25

Namun dalam ayat 31, setelah Kain (Qabil) membunuh Habel (Habil), ceritanya 

berubah, dan dan tidak lagi mengikuti penjelasan Bibel. Dari mana datangnya kisah 

Quran ini berasal ? Apakah ini sebuah catatan sejarah yang tidak diketahui oleh penulis 

Alkitab?

Memang ada, sebab sumber untuk kisah terlacak sampai setelah Perjanjian Lama 

telah dikanonisasi, dan setelah Perjanjian Baru ditulis. Bahkan ada tiga sumber dari 

mana kisah ini bisa diambil: Targum Jonathan ben-Uzia-, The Targum Yerusalem, dan 

sebuah buku berjudul The Pirke-Rabi Eleazar (Shorrosh 1988:144). Ketiga dokumen 

tulisan-tulisan Yahudi berasal dari Talmud, yang berasal dari tradisi lisan antara 150-

200 Masehi. Kisah-kisah ini ditulis sebagai komentar kitab-kitab Torah, namun yang 

diketahui mengandung tidak lebih dari mitos dan dongeng Ibrani.

saat  kita membaca kisah ini dari Al-Qur'an , kita menemukan paralel yang 

mencolok dengan tiga sumber Talmud :

Qur'an- Surah 5:31

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk 

memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat 

saudaranya 410. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat 

seperti burung gagak ini lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" sebab  itu 

jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. 

Targum Jonathan-ben-Uzziah

"Adam dan Hawa, duduk mayat, menangis tidak tahu apa yang harus dilakukan, sebab  

mereka belum memiliki pengetahuan tentang penguburan. Lalu seekor gagak muncul, 

mengambil mayat temannya, dan setelah menggaruk tanah, kemudian menguburkannya 

di depan mata mereka. Adam berkata, 'Mari kita ikuti contoh burung gagak,' sehingga ia 

mengambil tubuh Habel, dan dikuburkanlah segera. "

Terlepas dari kontras siapa yang menguburkan siapa, dua cerita di atas luar biasa 

mirip. Kita hanya bisa menyimpulkan bahwa di sinilah Muhammad, atau sebuah para 

kompiler kemudian, memperoleh ceritanya. Jadi kita menemukan bahwa fable dan mitos 

Yahudi diulang sebagai fakta sejarah dalam Al Qur’an.

Namun ini belum semuanya, sebab  saat  kita melanjutkan membaca kita Surah 5, 

dalam ayat berikut ini 32 , kita menemukan bukti lebih lanjut dari plagiarisme Qur’an atas 

literatur Yahudi apokrif, kali ini Mishnah Sanhedrin Yahudi 4:05

Qur'an- Surah 5:32

Oleh sebab  itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Israil, bahwa: barangsiapa yang 

membunuh seorang manusia, bukan sebab  orang itu (membunuh) orang lain, atau 

26

bukan sebab  membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh 

manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan menusia semuannya. 

Mishnah Sanhedrin 4:5

"Kami menemukan hal ini dalam kasus Kain yang membunuh saudaranya, suara tangis 

darah adikmu itu terdengar”

[yang terakhir ini yaitu  kutipan dari Alkitab, Kejadian 4:10], Namun sebenarnya 

tertulis bukanlah darah (kata benda tunggal), melainkan darah-darah (kata benda 

jamak].

"Engkau diciptakan tunggal untuk menunjukkan bahwa dia yang membunuh seorang 

manusia, harus diperhitungkan bahwa dia telah dibunuh di seluruh umat manusia. Tetapi 

ia yang telah memelihara kehidupan seorang manusia, akan diperhitungkan telah 

memelihara seluruh umat manusia.

Bisakah kita lihat ketiadaan hubungan jelas antara ayat 31 dengan ayat 32? Apakah 

hubungan antara pembunuhan Habel oleh Kain dengan pembunuhan seluruh umat 

manusia?

Jika kita beralih ke Talmud Yahudi lagi, kali ini ke Sanhendrin Mishnah, bab 4, ayat 

5, kita akan menemukan di mana penulis mendapat  materi untuk Qur’an, dan 

mengapa ia memasukkannya.

Dalam kisah ini kita membaca komentar seorang Rabbi, di mana ia menafsirkan kata 

'darah' berarti, "darahnya sendiri dan darah keturunannya." Ingat, ini hanyalah komentar 

seorang Rabbi. Ini yaitu  interpretasinya sendiri, dan sangat spekulatif .

Oleh sebab  itu, agak menarik bahwa ia kemudian melanjutkan dengan 

mengomentari kata jamak untuk darah.  Namun komentar Rabbi ini diulang hampir kata 

demi kata dalam Qur'an, dalam QS 5: 32 ! Bagaimana mungkin komentar seorang Rabbi 

pada teks Alkitab, hasil perenungan manusia biasa, menjadi ayat Al-Qur'an dan dikait-

kaitkan sebagai kata-kata Allah?

Satu-satunya kesimpulan yaitu  bahwa para kompiler kemudian mengetahui nasihat 

ini dari tulisan ini Rabbi, sebab  tidak ada hubungan antara cerita tentang pembunuhan 

Habil oleh Kain dalam Qur'an (QS 31), dan ayat berikutnya tentang seluruh ras (QS 32 ).

Hanya saat  kita membaca Mishnah Sanhedrin 4:05 kita dapat menemukan 

hubungan antara dua cerita itu: eksposisi dari seorang Rabbi dari sebuah ayat Alkitab 

dan penjelasan kata intinya. Alasan mengapa koneksi ini kurang dalam Al Qur'an 

sekarang cukup mudah dimengerti. Penulis Surah 5 tidak tahu konteks di mana Rabi 

berbicara, dan sebab nya tidak sadar bahwa ini hanyalah komentar pada teks Alkitab 

dan bukan dari Alkitab itu sendiri. Dia hanya menambahkan mereka ke Al-Qur'an, 

mengulangi apa yang dia dengar tanpa memahami implikasinya.

C.2.b. Kisah Ibrahim / Abraham 

27

Dalam Surah 21:51-71, kita menemukan kisah Ibrahim atau Abraham. Dalam 

penjelasan Al-Quran Ibrahim menantang kaumnya dan ayahnya sebab  berhala-berhala 

yang mereka sembah. Setelah Abraham dan kaumnya ini berdebat, mereka berangkat 

dan Abraham menghancurkan patung-patung kecil tapi menyisakan patung yang paling 

besar masih utuh. saat  orang-orang melihat ini mereka memanggil Abraham dan 

menanyakan apakah ia bertanggung jawab akan hal itu. Abraham menjawab pastilah itu 

patung-patung yang lebih besar menghancurk patung-patung yang lebih kecil.

Dia menantang mereka untuk bertanya sendiri kepada patung-patung yang besar itu 

untuk mencari jawabnya. Mereka menjawab, "Engkau tahu benar bahwa ini patung-

patung tidak berbicara!" (QS 65). Dia memberikan jawaban mengejek, dan mereka 

kemudian melemparkan dia ke dalam api. Tapi dalam ayat 69 atas perintah Allah api 

untuk menjadi dingin, sehingga Abraham aman, dan dia secara ajaib berjalan keluar 

tanpa cedera.

Tidak ada paralel kisah ini dalam Alkitab. Namun ada kisah serupa dalam sebuah 

buku abad kedua, yakni cerita rakyat Yahudi yang disebut Midrash Rabbah. Dalam 

kitab itu dikisahkan tentang Abraham yang menghancurkan semua patung kecuali 

patung yang terbesar. Ayahnya dan yang lain menantangnya, dan dengan jenaka 

Abraham menjawab bahwa ia telah memberikan sebuah lembu besa untuk dimakan 

bersama-sama oleh semua berhala. Namun berhala yang kecil, tanpa rasa hormat pada 

berhala yang besar, langsung memakan habis lembu itu. Hal ini membuat berhala yang 

lebih besar marah dan menghancurkan berhala yang kecil. (bagian jenaka ini dihapus 

dari pencatatan di Qur’an). Ayahnya yang sedang marah itu tidak mempercayai kisah 

Abraham, kemudian ia membawa seorang pria yang bernama Nimrod, dan kemudian ia 

melemparkan Abraham ke dalam api. Namun Allah membuat api itu dingin dan 

selamatlah Abraham.   

Kesamaan antara kedua cerita ini jelas sekali. Sebuah dongeng Yahudi abad kedua, 

cerita rakyat, dan mitos diulang dalam “kitab suci “ Al-Qur'an. Jelas sekali bahwa 

kompiler kisah ini pernah mendengar potongan-potongan kisah Alkitab dari komunitas 

Yahudi dan dengan asumsi mereka datang dari sumber, yang sama tanpa disadari 

menulis cerita rakyat Yahudi ke dalam Al-Qur'an.

Beberapa Muslim mengklaim bahwa mitos ini, dan bukan kisah dalam Alkitab, dalam 

kenyataannya merupakan Firman Allah yang benar. Mereka mempertahankan bahwa 

Yahudi menghapuskan kisah-kisah ini  sehingga tidak sesuai dengan kisah dalam 

Al-Quran, tanpa mencoba untuk menjelaskan bagaimana orang-orang Yahudi bisa 

mencoreng kisah-kisah ini, sebab Al Qur'an itu sendiri tidak muncul sampai berabad-

abad kemudian. Namun demikian tetap saja kita harus bertanya dari mana cerita rakyat 

ini berasal?

Alkitab sendiri memberikan kita jawabannya. Dalam Kejadian 15:07, Tuhan 

memberitahu Abraham bahwa Ia yang membawa Abraham keluar dari Ur-Kasdim. Ur 

yaitu  tempat, juga disebutkan dalam Kejadian 11:31. Kami memiliki bukti bahwa 

seorang penulis Yahudi bernama Jonathan Ben Uziel mengira kata Ibrani "Ur" untuk kata 

Ibrani yang berarti "api." Jadi dalam komentarnya tentang ayat ini ia menulis, "Akulah 

TUHAN yang membawa engkau keluar dari api Kasdim."

Akibatnya, sebab  kesalahpahaman ini, dan sebab  salah membaca ayat Alkitab, 

sebuah cerita rakyat menjadi populer di jaman itu (abad 2 M), yang menyatakan bahwa 

Tuhan telah membawa Abraham keluar dari api.

28

Dengan informasi ini di tangan, kita bisa, sebab  itu, membedakan dari mana 

dongeng Yahudi berasal: dari kesalahpahaman membaca sebuah ayat Alkitab oleh 

seorang penutur kisah yang keliru. Namun, entah bagaimana pemahaman sesat bisa 

sampai dijadikan ayat dalam Al Qur'an.

Dari contoh-contoh di atas, hal ini jelas bahwa penyusun Al-Qur'an hanya 

mengulangi apa yang dia dengar, dan tidak mampu membedakan antara yang ia dengar 

dengan kisah sebenarnya dalam Alkitab. Ia hanya memperkenalkan mereka bersamaan 

dalam Al-Qur'an

  

C.2.c. Kisah Raja Sulaeman dan Ratu Sheba

Dalam Surah 27:17-44 kita membaca kisah tentang Sulaeman atau Salomo, burung 

hud-hud dan Ratu Sheba. Setelah membaca kisah Al Qur'an tentang Salomo dalam 

Surat 27, akan membantu untuk membandingkannya dengan cerita yang diambil dari 

cerita rakyat Yahudi, Targum II Ester, yang ditulis dalam abad 2 M, hampir lima ratus 

tahun sebelum penciptaan Al-Qur'an (Tisdall 1904:80-88; Shorrosh 1988:146-150):

Qur'an- Surah 27:17-44

(17) Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu 

mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).

(20) Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat hud-

hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir.

(21) Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-

benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan 

yang terang".

(22) Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah 

mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri 

Saba suatu berita penting yang diyakini.

(23) Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia 

dianugerahi segala sesuatu dan  mempunyai singgasana yang besar.

(27) Berkata Sulaiman: "Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk 

orang-orang yang berdusta.

(28) Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian 

berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan"

(29) Berkata ia (Balqis): "Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan 

kepadaku sebuah surat yang mulia.

(30) Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan 

menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

29

(31) Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah 

kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri".

(32) Berkata dia (Balqis): "Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam 

urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada 

dalam majelis(ku)".

(33) Mereka menjawab: "Kita yaitu  orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) 

memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada 

ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan".

(35) Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) 

hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan 

itu".

(42) Dan saat  Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: "Serupa inikah 

singgasanamu?" Dia menjawab: "Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah

diberi pengetahuan sebelumnya dan kami yaitu  orang-orang yang berserah diri".

  

Targum 2 Esther

Salomo memberikan perintah ........................Aku akan mengirim raja dan bala tentara 

melawan engkau .......................yang terdiri dari jenis binatang-binatang darat dan 

burung-burung di udara. Kemudian sesudah itu, seekor ayam jantan merah (seekor 

burung) pergi dengan sesuka hatinya dan entah kemana. Raja Salomo memberi perintah 

untuk menangkapnya, membawanya dengan paksa dan dia memang bermaksud 

membunuhnya.

Tetapi kemudian ayam jantan itu muncul dihadapan raja dan berkata : "Aku telah 

melihat-lihat seluruh bumi dan menyaksikan sebuah kota dan kerajaan (Sheba) yang 

belum tunduk kepadamu, tuanku raja. Mereka diperintah oleh seorang ratu bernama 

Sheba. Kemudian aku menemukan kota yang dibentengi di Tanah Timur dan 

sekelilingnya dihiasi batu-batu emas dan perak, yang mengalasi jalan-jalan."

Secara kebetulan, ratu Sheba keluar pagi-pagi untuk menyembah laut. Juru tulis Salomo 

mempersiapkan sepucuk surat, dimasukkannya di bawah sayap seekor burung yang 

membawanya terbang dan tiba di benteng Sheba. Melihat surat di bawah sayapnya, 

Sheba membuka dan membacanya: "Raja Salomo mengirim salam. Bila berkenan, 

datanglah engkau untuk menanyakan kesehatanku, dan aku akan menempatkan engkau 

tinggi di atas segala-galanya. Jika tidak berkenan, aku akan mengirim raja-raja dan bala 

tentara melawan engkau."

Membaca demikian, ratu Sheba merobek pakaiannya dan  memanggil kaum bangsawan 

untuk meminta nasehat. Mereka belum pernah mengenal Salomo, tetapi menasehatkan 

dia untuk mengirim kapal-kapal melalui laut, penuh dengan perhiasan-perhiasan dan 

batu-batu yang indah............dan juga sepucuk surat kepadanya.

Sheba akhirnya datang. Salomo mengirim utusan untuk menjemput dia, dan saat  ia 

tiba, Salomo bangkit dan duduk di dalam istana gelas. saat  ratu Sheba melihat itu, dia 

berfikir lantai gelas itu ialah air, dan saat  menyebranginya, dia mengangkat 

pakaiannya. Salomo melihat bulu kakinya dan (dia) berseru kepadanya.....

30

Sekali anda membaca dua kisah di atas, maka jelas dari mana pengumpul kisah 

Sulaeman dan Ratu Sheba dalam Al-Quran memperoleh data-nya. Dalam isi dan gaya 

kisah Al-Quran hampir identik dengan kisah yang diambil dari Targum Yahud yang ditulis 

di abad 2 M tadi, hampir lima ratus tahun sebelum penciptaan Qur'an. Kedua cerita luar 

biasa mirip, jin, burung, dan khususnya burung pembawa pesan, yang awalnya 

Sulaeman tidak bisa temukan, tetapi kemudian digunakan sebagai penghubung antara 

dirinya dan Ratu Sheba, bersama dengan surat dan lantai kaca, itulah keunikan yang 

sama dalam dua kisah di atas. Kita sama sekali tidak akan temukan paralelisme kisah ini 

dalam Alkitab. Sekali lagi kita harus bertanya bagaimana sebuah cerita rakyat Yahudi 

dari abad kedua Masehi masuk menjadi bagian dari Al-Qur'an?

Ada contoh-contoh lain dimana kita bisa temukan baik literatur Yahudi maupun 

literature apokrif Kristen apokrif dalam teks-teks Al-Quran. Kisah Gunung Sinai yang 

diangkat sampai ke atas kepala orang Yahudi sebagai ancaman untuk menolak hukum 

(Surah 7:171) berasal dari Sarah Abodah, kitab apokrif Yahudi abad kedua. Kisah-kisah 

aneh mengenai masa kanak-kanak Yesus dalam Al-Qur’an dapat ditelusuri dari 

beberapa  tulisan apokrif Kristen: pohon kurma yang menyediakan untuk penderitaan 

Maria setelah kelahiran Yesus (Surah 19:22-26) berasal dari Kitab-Kitab Terhilang, 

sedang  kisah Yesus yang menciptakan seekor burung dari tanah liat (Surah 03:49) 

berasal dari Injil Thomas Tentang Masa Kanak-kanak Yesus. Kisah tentang bayi Yesus 

berbicara (Surah 19:29-33) dapat ditelusuri ke fabel aprokif Arab dari Mesir bernama Injil 

pertama Tentang Bayi Yesus Kristus.

Dalam Surah 17:01 kita memiliki kisah perjalanan Muhammad pada malam hari dari 

masjid suci (Mekkah) ke mesjid terjauh (Yerusalem). Dari tradisi terkemudian kita tahu 

tahu bahwa ayat ini merujuk kepada Muhammad naik ke langit ketujuh, setelah 

perjalanan malam ajaib (Mi'raj) dari Mekah ke Yerusalem, dengan menungga "kuda" 

yang disebut Buraq. Detil kisah ini lebih jauh ditulis dalam kitab Mishkat Al Masabih. Kita 

bisa melacak kisah ini ke buku fiksi yang disebut Perjanjian Abraham, ditulis sekitar 200 

SM di Mesir, dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dan Arab.

Kemudian kita juga bisa melacak kisah itu di kitab Rahasia Henokh (pasal 1:4-10 dan 

2:1), yang ditulis 400 tahun sebelum penulisan Al-Qur'an. Namun kisah serupa sebagian 

besar mengambil modelkan dari kisah yang terkandung dalam kitab Persia kuno berjudul 

Arta-i Viraf Namak yang menceritakan bagaimana Zoroaster Muda yang saleh naik ke 

langit, dan kembali, kemudian menuliskan apa yang ia lihat selama perjalanannya itu 

(Pfander 1835:295-296).

Uraian Al-Quran tentang neraka menyerupai deskripsi neraka dalam Homilies 

Efraim, seorang pengkhotbah Nestorian abad keenam (Glubb 1971:36)

Penulis Al-Qur'an dalam Surah 42:17 dan 101:6-9 mungkin memanfaatkan Kitab 

Perjanjian Abraham untuk mengajarkan bahwa ada timbangan yang akan digunakan 

pada hari penghakiman untuk menimbang perbuatan baik dan buruk dalam rangka 

menentukan apakah seseorang masuk ke surga atau ke neraka.

Gambaran surga di Surah 55:56-58 dan 56:22-24,35-37, yang berbicara tentang 

orang yang saleh akan diberi upah bidadari bermata bulat seperti mutiara, memiliki 

kesejajaran yang menarik dalam agama Zoroaster Persia, di mana nama untuk gadis 

tidak ‘houris atau bidadari’, tapi Paaris.

31

Penting untuk diingat bahwa kisah-kisah dalam Talmud tidak dianggap oleh orang 

Yahudi Ortodoks jaman itu sebagai kitab yang otentik untuk satu alasan yang sangat 

baik: kitab-kitab belum ada pada Konsili Jamnia pada tahun 80 SM saat  Perjanjian 

Lama dikanonisasi. Begitu pula bahan apokrif Kristen tidak dimasukan kedalam kanon 

sebab  mereka tidak terbukti otoritatif baik sebelum dan sesudah Konsili Nicea tahun 

325 M. Jadi kitab-kitab itu selalu dipahami sebagai sesat oleh orang-orang  Yahudi dan 

Kristen Ortodoks dan terpelajar. Untuk alasan ini kita merasa sangat mencurigai 

bagaimana kisah-kisah apokrif itu kemudian dimasukan menjadi sebuah kitab yang 

diaku-aku sebagai wahyu terakhir dari Allah yang disembah Abraham, Ishak dan Yakub.

C.3. Keganjilan-keganjilan Saintifik Dalam Qur’an 

Sekarang kita beralih ke bahasan terakhir dari kesulitan-kesulitan yang kita amati 

saat  membaca Al Qur'an, yaitu keganjilan sains. Dari sudut pandang ilmu pengetahuan 

modern kita sekarang dapat mengamati apa yang terlihat seperti kelemahan ilmiah yang 

masih kasar dalam teks-teks Al-Quran.

Beberapa ini yaitu  kontradiksi hanya dengan kisah Alkitab, seperti:

 kisah Musa diadopsi 'oleh istri Firaun dalam Al Qur'an (Surah 28:9), sedang  

Alkitab menyatakan itu yaitu  putri Firaun (Keluaran 2 : 10); atau

 klaim bahwa nama Yahya unik untuk abad pertama Yohanes Pembaptis di Surah 

19:07, sedang  nama ini disebutkan lebih awal dalam 2 Raja-raja 25:23; atau

 dimasukannya Maria ke dalam trinitas Kristen dalam Surah 5:116, yang 

bertentangan bukan hanya dengan penjelasan Bibel, tetapi kepercayaan yang 

dipegang oleh hampir seluruh penduduk Kristen selama 2.000 tahun terakhir.

Menariknya, sebuah sekte yang secara signifikan dianggap sesat oleh kaum 

ortodoks dan disebut Kaum Cholloridian memegang pandangan demikian. Mereka 

tinggal di Timur Tengah pada saat kompilasi Al Qur’an berlangsung. Mungkinkah ini 

menjadi sumber untuk kesalah-pandangan Al’Qur’an tentang Maria?

Ada kontradiksi internal juga dalam Qur’an yang sama sekali nyata yang 

memperlihatkan kecerobohan dan ketidak-tahuan sejarah, seperti kebingungan tentang 

Maria yang tercatat sebagai saudara perempuan Harun dan putri Imran (Amran – dalam 

Alkitab) dan  ibu Yesus (Surah 18:28 , 66:12, dan 20:25-30).meskipun dua Maria tinggal 

1.570 tahun terpisah !

Bagian lain yang terkenal sulit yaitu  menyangkut nama Haman. Dalam Al Qur'an 

Haman disebut sebagai seorang hamba Firaun, yang membangun sebuah menara tinggi 

untuk mendaki kepada Allah Musa (Surah 28:38; 29:38; 40:25,38). Namun menara 

Babel terjadi 750 tahun sebelumnya (Kejadian 11), dan nama Haman benar ditemukan 

dalam kisah Ester di Babel, 1.100 tahun setelah Firaun. Yusuf Ali percaya bahwa 

referensi di sini hanya untuk Haman lain, namun nama ‘Haman’ bukanlah unik Mesir, 

melainkan nama bagi orang Babilonia (Pfander 1835:283-284).

Contoh-contoh ini sebenarnya tidak membawa ke pertanyaan temuan-temuan ilmiah, 

namun mereka menunjukkan sebuah kecerobohan. Ini mengisyaratkan suatu 

keterpencilan, dimana cerita ini ditransmisikan secara lisan kepada lingkungan yang jauh 

dari tradisi itu berasal, sehingga kesalahan-kesalahan detil tampak sebab  tiadanya 

kisah pembanding lain yang lebih otoritatif.

32

Kesulitan lebih serius diperlihatkan oleh ayat-ayat yang bertentangan dengan data-

data data historis yang terobservasi oleh metoda keilmiahan sekuler. Ada cukup banyak 

ditemukan dalam Al Qur'an, tetapi untuk singkatnya saya akan merujuk pada hanya 

beberapa.

Menurut Al-Qur'an (Surah 20:85-87, 95-97) yaitu  seorang Samaria yang 

membentuk patung Anak Lembu di gunung Horeb, meskipun istilah Samaria tidak 

diciptakan sampai beberapa ratus tahun kemudian, pada tahun 722 SM (Pfander 

1835:284). ( pent - di Alquran tertulis Samiri – sebenarnya ini yaitu  pelafalan Arab dari 

kata Samaria. Kata Samari menunjuk pada kebencian kaum Yahudi kepada Kaum 

Samaria yang mencampurkan ritual Yudaisme dengan ritual pemujaan berhala. Dan 

kebencian itu disamarkan dalam kisah Musa. Seakan-akan dari dahulu ritual orang 

Samaria itu memang sudah jadi bibit kekufuran dalam agama Yahudi. Namun tentu saja 

itu hanya suatu kekeliruan. Sebab tidak pernah ada catatan tentang Samari atau 

Samaria dalam kisah Perjanjian Lama. Jadi sekali lagi ini membuktikan bagaimana Al-

Qur’an mengambil sumber-sumbernya dari kisah-kisah fabel Yahudi dan Kristen yang 

sama sekali tidak masuk hitungan dalam kanonisasi kitab sebab  otentisitasnya yang 

tidak bisa dipertanggung-jawabkan. )

Issa nama keliru yang diterapkan kepada Yesus. Nama Arab yang benar untuk 

Yesus harusnya ‘Yesuwa’.

Hal menarik lain yaitu  pernyataan yang agak aneh dalam Surah 16:15; 21:31 

31:10, 78:6-7, 88:19 mengklaim bahwa gunung-gunung yang digunakan sebagai pasak 

tenda untuk menjaga bumi dari guncangan. Kita sekarang tahu dari studi geologi bahwa 

gunung yaitu  hasil dari entah aktivitas gunung berapi atau aktivitas tektonik – atau 

tabrakan dua lempeng bumi (Campbell 1989:170-173). Ironisnya, kedua alasan 

membuktikan bahwa keberadaan gunung yaitu  bukti ketidakstabilan dalam kerak bumi 

dan bukan sebaliknya.

Dalam Surah 7:124, Firaun menegur para ahli-ahli sihirnya dengan mengancam 

akan menyalibkan mereka di kayu salib. Dalam Surah 12:41, tukang roti dalam kisah 

Yusuf diberitahu bahwa dia akan disalibkan. Namun sejarah membuktikan bahwa 

hukuman penyaliban tidak muncul pada jaman itu. (jangan dibingungkan dengan Ankh 

Mesir yang merupakan objek untuk kesuburan dan kehidupan, dan bukan instrumen 

kematian). Penyaliban pertama kali dipraktekkan oleh Fenisia dan penduduk 

Carthaginians dan kemudian dipinjam secara luas oleh Roma sekitar jaman Yesus, 

tahun 1700 setelah Firaun!

Masih ada inkonsistensi ilmiah lain dalam Qur’an yang bisa diamati, seperti 

anggapan di Surah 41:9-11 bahwa langit diciptakan dari asap (kata Arab yang 

digunakan yaitu  Dukhan). Bandingankan dengan penggambaran Alkitab tentang 

penciptaan langit dari air (Kejadian 1:1 - 2). Neuman dan Eckelmann, dua fisikawan 

terkemuka mempertahankan bahwa asap, yang terdiri dari partikel-partikel organik tidak 

bisa eksis dalam keadaan primordial, sementara air (kata Ibrani yang digunakan yaitu  

mayim) kemungkinan besar hadir sebagaimana penelitian baru tentang evolusi nebula 

menunjukkan kepada kita kebutuhan akan hadirnya hidrogen dan oksigen (atau H2O) 

dalam keadaan primordial (Neuman / Eckelmann 1977:71-72 dan Campbell 1989:22-

25). Ironisnya yaitu  Alkitab, dan bukan Al-Qur'an, yang lebih dekat dengan temuan 

ilmiah modern. (pent- saya sendiri lebih senang temuan ilmiah dari pada kisah-kisah 

mitos baik itu dari Al-Qur;an, ataupun Bibel)

Meteor, dan bahkan bintang-bintang, menurut Quran dikatakan sebagai rudal yang 

ditembakkan pada setan dan jin yang berusaha untuk mendengarkan pembacaan Al 

33

Qur’an di surga, dan kemudian mereka sampaikan pada manusia (Surah 15 :16-18; 

37:6-10; 55:33-35; 67:5; 72:6-9 & 86:2-3). Bagaimana kita memahami Surah? Apakah 

kita percaya bahwa Allah melemparkan meteor, materi yang terdiri dari karbon dioksida 

atau besi-nikel, pada setan, yang non material, yang curi-curi dengar di dewan surgawi?

Dan bagaimana kita menjelaskan fakta bahwa banyak meteor dalam badai meteor 

dengan jalur yang paralel? Apakah kita berasumsi bahwa si setan-setan ini diberdirikan

berbaris di tengah-tengah jalur parallel itu agar tertabrak sebagai hukuman dari Allah ? 

(Campbell 1989:175-177)

Yang menjadi tema favorit lainnya bagi Muslim modern untuk pikirkan yaitu  

tahapan dalam pembentukan janin (lihat Surah 2:259; 22:5, 23:12-14, 40:67, 75:37-39, 

dan 96:1-2) . Menurut Surah janin melewati empat tahap, dimulai dengan sperma yang 

menjadi Alaqa. Meskipun tidak ada yang sepertinya tahu apa arti kata ini sebenarnya, 

banyak orang menduga bahwa itu yaitu  sesuatu yang menempel pada sesuatu, atau 

menggumpal, atau suatu gumpalan darah, sebuah benjolan embrio, dan bahkan 

segumpal daging dll .. ‘Alaqa’ kemudian menjadi tulang yang akhirnya ditutupi oleh 

daging (Rahman 1979:13).

Ada beberapa  kesulitan dalam surah-surah. Namun yang paling penting, tidak ada 

tahap pembekuan selama pembentukan janin (Campbell 1989:185). Selanjutnya, 

sperma tidak menjadi "segumpal darah" atau sel telur yang dibuahi tanpa sel telur tidak 

dibuahi. Keduanya saling membutuhkan Kedua, "hal yang melekat" tidak berhenti 

berpegangan untuk menjadi "segumpal daging “ tetapi tetap menempel selama 8,5 

bulan! Dan akhirnya kerangka tidak dibentuk sebelum daging (atau otot), sebab otot dan 

calon tulang rawan dari tulang mulai membentuk secara simultan (Campbell 1989:188). 

Bahkan, menurut Dr T.W. Sadler PhD, penulis Embriologi Kedokteran Langman, lewat 

sebuah surat pribadi kepada Dr Campbell pada tahun 1987, telah membuktikan bahwa 

otot-otot terbentuk beberapa minggu sebelum ada pembentukan tulang, bukan setelah 

terbentuknya tulang seperti yang Al-Qur'an siratkan (Campbell 1989:188).

Sungguh ironis mendengar ayat-ayat diatas dikutip sebagai bukti oleh para apologet 

modern yang membanggakan keilmiahan Qur'an, padahal sebenarnya, sekali kebenaran 

diketahui, maka sadarlah mereka bahwa sainslah yang akan membuktikan kekeliruan Al-

Qur’an.

C.4. Solusi Memungkinkan ("Sejarah Penyelamatan")

Islam mengatakan bahwa wahyu Quran diterima oleh Muhammad dan dikompilasi ke 

dalam bentuk tertulis terakhir oleh Zaid ibn Thabit antara tahun 646-650 M, di bawah 

naungan khalifah ketiga, Usman (Glasse 1991:230). Sejarawan mengambil dua posisi 

dalam menanggapi pernyataan Tradisi Muslim ini.

Kelompok pertama, yang didukung oleh sejarawan John Burton, agak setuju dengan 

Tradisi Islam yang menyatakan bahwa Al Qur’an disusun selama Muhammad hidup 

atau segera setelah Muhammad meninggal. Burton dalam pembelaannya memakai  

teks-teks Qur’an ke jaman sekitar kehidupan nabi. Di kalangan pelajar Barat hanya ada 

sedikit yang setuju dengan Burton. Banyak cendekiawan Barat menemukan teori Burton 

tidak cukup logis sebab  ada begiitu sedikit teks tertulis yang menjadi dasar kesimpulan 

setiap kesimpulannya (Rippin 1985:154).

34

Posisi kedua langsung berhadapan dengan Tradisi Muslim, seperti yang didukung 

oleh John Wansbrough, dari SOAS (University of London). Dia memakai  analisa 

historis mirip dengan kritik Alkitab untuk sampai pada kesimpulan (Wansbrough 1977:9). 

Wansbrough berpendapat bahwa Al-Qur'an, seperti yang kita kenal dengan segala 

permasalahannya literal dan struktural, belum hadir sampai tahun 800-an Masehi

(Wansbrough 1977:160-163). Al-Qur'an bukan teks yang diserahkan kepada dunia 

melalui satu orang, melainkan melibatkan karya berbagai penulis dari sekitar abad 

kesembilan (Wansbrough 1977:51).

Wansbrough memperluas klaim ini dengan mempertahankan bahwa seluruh korpus 

dokumentasi Islam awal harus dipandang sebagai "Sejarah Penyelamatan", yakni sejarah yang 

bukan catatan sejarah terbuka untuk dipelajari para sejarawan, sebab kejadian sejarah 

keselamatan itu tidak pernah terjadi , namun sejarah Sejarah Penyelamatan yang memiliki 

bentuk sastra dan konteks historisnya sendiri. " (Thompson 1974:328) Dengan kata lain, 

kisah-kisah ini ditulis dengan agenda dalam pikiran, bukan penuturan fakta sejarah.

Dengan demikian, catatan sastra Sejarah Penyelamatan menunjukkan bahwa kisah-kisah 

ini ditulis menurut interpretasi generasi terkemudian dikarang sedemikian rupa agar 

sesuai dengan etos yang waktu saat itu, meskipun mereka menampilkan diri sebagai 

kontemporer dengan peristiwa yang mereka gambarkan, sebenarnya milik periode 

setelah peristiwa ini . Hal ini menyarankan bahwa kisah-kisah ini ditulis 

berdasarkan interpretasi generasi kemudian untuk memenuhi permasalahan waktu itu. 

“Sejarah” sebenarnya, dalam kerangka “apa yang telah benar-benar terjadi saat itu”, 

telah secara sadar dibenamkan dalam interpretasi terkemudian dan hampir, kalau tidak 

sepenuh-penuhnya, tak terpisahkan dari interpretasi itu (Crone 1987:213-215; Rippin 

1985:156).

Pertanyaan tentang apakah ada "butiran kebenaran sejarah" yang mendasari kisah-

kisah Qur’an yaitu  fokus perhatian kita di sini. Bahkan jika kita mengakui bahwa ada 

"kernel" kebenaran sejarah, menjadi hampir mustahil untuk mengidentifikasi itu.

Wansbrough berpendapat bahwa Al-Qur'an, Tafsir, dan Sirat ,semuaanya yaitu  

komponen Sejarah Penyelamatan versi Islam, yang ditulis untuk merujuk pada peranan 

Tuhan dalam mengarahkan urusan duniawi umat manusia, khususnya selama masa 

hidup Muhammad (Rippin 1985: 154). Dia berpendapat bahwa kita tidak tahu, dan 

mungkin tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang bisa kita tahu 

yaitu  apa yang generasi-generasi terkemudian percayai sebagai “pernah terjadi”, 

seperti yang telah tercatat dalam Sejarah Penyelamatan.

Wansbrough menyarankan bahwa titik Sejarah Penyelamatan versi Islam yaitu  

untuk merumuskan identitas keagamaan khusus Arab. Hal ini dilakukan dengan 

mengadopsi dan mengadaptasi gudang ide dan cerita tema-tema keagamaan Yudeo-

Kristen yang telah mapan, suatu kecenderungan yang bermula di abad ketujuh di 

Arabia. Wansbrough mengacu pada bukti-bukti dalam Quran yang menunjuk pada 

ekstrapolasi dari konteks Yahudi-Kristen: misalnya, garis kenabian berakhir pada Nabi 

Terakhir dari Para Nabi, urutan kitab suci, gagasan masyarakat yang hancur, dan narasi 

motif yang umum (Rippin 1985:157).

Jik