jay smith 1



Siapakah Jay Smith? Setiap orang yang sering terlibat dalam debat Islam - Kristen 

akan segera mengenal nama Jay Smith. Ia yaitu  seorang penginjil yang tinggal di 

London, Inggris. Ia juga seorang apologetis, yakni ahli dalam menerangkan dan 

mempertahankan keimanan agamanya dalam debat agama.

Namun jangan anda salah sangka. Penerjemah bukanlah seorang Kristen, dan 

tentu tidak tertarik dengan penjelasan tentang apa itu kekristenan. Penerjemah 

hanya berfokus pada kritik terhadap iman Islam dan tradisi Islam yang dilatar 

belakangi dengan pemikiran yang kritis, bukan dengan kecurigaan dan

kedengkian. Dan sayangnya kekritisan yang cukup , yang memakai  analisa 

moderen tidak pernah datang dari tubuh islam sendiri. 

Islam sudah terlalu lama dikungkung dalam kecurigaan dan kebencian pada Barat, 

Kristen dan Yahudi, sehingga kita menjadi bagai katak dalam tempurung yang hanya 

mendengar kisah kita saja tanpa mau mendengarkan kisah orang. Kita melihat dunia 

dalam kacamata kita sendiri, tanpa mau menyadari bahwa kaca mata kita sudah 

membentuk kita dalam perspektif yang dogmatis.

Kebenaran harus jadi kebenaran manakala ia dicecar dengan kritik dan 

pertanyaan. Jika ia tidak kuat diterpa pertanyaan dan kritikan, dan  tidak ditopang 

oleh bukti-bukti valid sejarah, maka ia bukanlah kebenaran, ia hanyalah 

pembenaran.

Manusia dewasa hidup atas dasar nilai-nilai kebenaran, bukan atas dasar 

emosionalitas agama. Sejauh apa kita bisa berpikir dengan tenang dan 

mempertimbangkan apa yang layak dipercaya sebab  bukti-bukti yang 

menyokongnya, sejauh itu pula kedewasaan kita berkembang. Kita hidup di abad 

21 dimana kita belajar dengan memakai  otak, bukan perasaan. Dan tidak 

patut kita, demi membuat tameng bagi kelemahan dogma yang kita percayai, 

dengan entengnya berkata , “saya tetap beriman, walau tanpa bukti yang 

menopang kebenaran dogmatis itu.”

Untuk itu para pembaca di harapkan terbuka dalam setiap kritik. Karya Jay Smith ini 

merangkum banyak poin-poin penting dari berbagai buku yang terbaik mengenai kritik 

terhadap Islam.

Tidak ada caci-maki atau pelecehan di sini. Sehinggga anda tidak perlu 

membuangnya sesaat  anda membaca judulnya saja, kecuali memang anda sudah 

punya prasangka buruk, hal mana sangat disesalkan.

Penerjemah berupaya untuk mendekatkan terjemahan ini dengan format kalimat asli 

dari penulis yang sayangnya sering kali panjang dan kompleks, 

Pada bulan Agustus tahun 1995 saya diundang untuk ikut dalam acara debat dengan 

tema usulan, "Apakah Quran Pewahyuan Ilahi?" dengan Dr. Jamal Badawi. Perdebatan 

ini  berlangsung di Trinity College, Cambridge, dan setelah paparan kami selesai 

disajikan perdebatan dibuka untuk audiens selama satu jam pertanyaan baik dari Muslim 

dan Kristen yang hadir. Berikut yaitu  isi dari makalah, yang saya berikan dalam debat, 

dan  materi lebih lanjut, yang saya digunakan dalam sesi tanya jawab, dan data lebih 

lanjut, yang telah saya keluarkan pada saat sesi debat. sebab  ketertarikan yang 

ditunjukkan pada topik itu, kami telah menempatkan makalah ini bersama dengan 

sepuluh masalah apologetik lainnya, dan beberapa sanggahan muslim terhadap materi 

itu , dan  beberapa  99 Traktat Kebenaran populer di situs-web, di internet (silakan 

mengaksesnya di : 


Harapan kami yaitu  bahwa materi debat di situs web ini dapat menyebar ke seluruh 

dunia, dan membantu untuk menghidupkan dialog yang telah dimulai dalam Debat 

Cambridge.

(Catatan: Saya telah mencoba untuk memberi catatan kaki pernyataan-pernyataan yang 

terbukti menjadi sumber perdebatan, atau yang akan merangsang pembaca untuk 

mencari data lebih lanjut. Saya telah memakai  model Harvard, yang dimulai dengan 

nama penulis, diikuti dengan tanggal publikasi, dan nomor halaman).

Mari kita mulai pelajaran kita.

Islam mengklaim bahwa Al Qur'an bukan hanya Firman Tuhan, tetapi ia yaitu  

wahyu terakhir diberikan kepada manusia. Qur’an datang dari "Ibu dari segala kitab" 

menurut Surah 43:2-4. Muslim mempertahankan keyakinan bahwa Qur'an yaitu  

salinan yang tepat kata perkata dari pewahyuan Allah yang terakhir, yang ditemukan di 

naskah asli yang selalu tersimpan di surga. Mereka merujuk pada Surah 85:21-22, yang 

berbunyi : 

Bahkan yang didustakan mereka itu ialah Al- Quranul Majid

yang tersimpan dalam Lauh Mahfuz. (QS 85:21-22)

Ulama Islam berpendapat bahwa bagian ini mengacu pada kitab yang tidak pernah 

dibuat. Mereka percaya bahwa Qur'an yaitu  salinan identik dari buku surgawi yang 

kekal, bahkan sejauh tanda baca, judul dan divisi dari bab yang bersangkutan.

Menurut tradisi Muslim, "wahyu-wahyu ini mulai diturunkan (Tanzil atau Nazil) (Surah 

17:85), dari level terendah dari surga tujuh lapis di bulan Ramadhan, pada malam 

Lailatul Qadar (Pfander, 1910:262). Dari sana wahyu-wahyu ini diturunkan kepada 

Muhammad secara berangsur, seiring dengan munculnya kebutuhan akan suatu hal, 

melalui malaikat Jibril (Surah 25:32). Akibatnya, setiap huruf dan setiap kata bebas dari 

pengaruh manusia, yang memberikan Al Qur’an aura otoritas, bahkan kekudusan, dan 

dengan demikian, integritas.

Kebanyakan orang Barat selama ini menerima klaim ini dari umat Islam sebagai 

penakdiran. Mereka tidak pernah memiliki kemampuan untuk berdebat lewat kejujuran 

mereka, sebab  klaim-klaim ini  tidak bisa dibuktikan atau dibantah sebab 

otoritasnya berasal hanya dari Al Quran itu sendiri (termasuk merontokkan klaim muslim 

tentang terpenuhinya nubuatan-nubuatan Alkitab dalam Ulangan 18 , Yohanes 14, 16 

oleh Muhammad, dan mungkin lainnya).Pula telah terjadi keengganan untuk 

mempertanyakan Qur'an dan Muhammad sebab  respon negatif dari umat Islam yang

diarahkan kepada mereka yang cukup berani untuk mencobanya di masa lalu. Faktanya 

yaitu  bahwa Sarjana Barat telah terlalu lama menyenangkan dirinya dengan 

mengasumsikan bahwa umat Islam memiliki bukti dan data untuk mendukung klaim 

mereka.

Baru sekarang ini, saat  para cendekiawan sekuler tentang Islam (dikenal sebagai " 

Para Orientalis") menguji kembali sumber-sumber Islam, bahwa bukti tengah ditemukan 

yang mengarah pada pertanyaan yang jauh dari apa yang kepadanya kita telah dituntun 

untuk percaya; tentang Muhammad dan wahyu-Nya, yakni Qur'an.

Temuan para sarjana ini menunjukkan bahwa Al Qur'an bukan diturunkan pada satu 

orang, tetapi merupakan kompilasi dari redaksi (atau edisi) yang terkemudian yang 

dirumuskan oleh sekelompok orang, selama lebih dari beberapa ratus tahun (Rippin 

1985:155 dan 1990:3,25, 60). Dengan kata lain, Al Qur’an yang kita baca sekarang tidak 

sama dengan Quran yang ada di pertengahan abad ketujuh , tapi mungkin lebih dari 

sebuah produk dari abad kedelapan dan kesembilan (Wansbrough 1977:160-163). Pada 

jaman kurun waktu itu, para orientalis mengatakan, khususnya pada abad kesembilan, 

Islam mengambil identitas klasik dan menjadi apa yang dikenal saat ini. Akibatnya 

mereka berpendapat bahwa tahap pembentukan Islam terjadi tidak pada jaman saat  

Muhammad hidup, tapi berkembang selama 200-300 tahun 

Sumber bahan yang merujuk pada kurun waktu itu, bagaimanapun, yaitu  jarang. 

Pada dasarnya satu-satunya sumber yang tersedia bagi para sejarawan yaitu  sumber-

sumber muslim. Terlebih lagi di luar Al Qur’an, semua sumber merupakan produk yang 

terkemudian. Sebelum tahun 750 M kita tidak memiliki dokumen muslim yang bisa 

diverifikasi yang dapat memberi kita jendela ke masa pembentukan Islam  Tidak ada yang dapat digunakan untuk menguatkan materi Tradisi Muslim 

(yaitu, sejarah Islam berdasarkan tradisi mereka). Dokumen terkemudian hanya 

memanfaatkan dokumen-dokumen sebelumnya, yang tidak ada lagi pada kita saat kita 

ini (jika memang mereka sama sekali pernah ada) (Crone 1987:225-226; Humphreys 

1991:73). Periode Klasik ini (sekitar 800 M) menggambarkan periode sebelumnya, tetapi 

dari sudut pandangnya sendiri, sama seperti orang dewasa yang menulis tentang masa 

kecil mereka, mereka akan cenderung mengingat momen-momen menyenangkan saja. 

Dengan demikian catatan tradisi Islam sudah diwarnai dan bias, dan tidak dapat 

diterima sebagai otentik oleh para ahli sejarah (lihat studi Crone tentang masalah tradisi, 

"terutama yang tergantung pada pendongeng lokal, di Meccan Trade .... 1987, pp.203-

230 dan Slaves on Horses, 1980, hlm 3-17).

Akibatnya, garis demarkasi antara apa yang sejarawan terima dan apa yang Tradisi 

Muslim pertahankan melebar lebih lanjut sebab  alasan berikut: Islam, menurut ulama 

Muslim ortodoks, memberikan kepercayaan penuh untuk intervensi ilahi bagi wahyunya. 

Tradisi Muslim menegaskan bahwa Allah menurunkan wahyu kepada Muhammad 

melalui malaikat Jibril (Gabriel) selama dua puluh dua tahun (610-632 M), dimana pada 

masa itu banyak hukum dan tradisi yang menggambarkan apa yang kita definisikan 

sebagai Islam dirumuskan dan berlangsung.

Namun skenario inilah yang sejarawan sekuler tolak keras saat ini, sepertinya klaim 

ini mengandaikan bahwa pada abad ketujuh awal, Islam, sebuah agama dengan 

kecanggihan yang luar biasa, dengan hukum dan tradisi yang rumit dirumuskan dalam 

budaya nomaden yang terbelakang dan secara penuh berfungsi hanya dalam 22 tahun.

Sebelum jaman itu, Hijaz (Arabia pusat saat itu) hampir tidak pernah dikenal di dunia

beradab. Bahkan tradisi terkemudian merujuk pada periode ini sebagai Jahiliyyah (atau 

periode kebodohan - menyiratkan keterbelakangannya). Arabia sebelum Muhammad 

tidak memiliki budaya kota (urbandized culture), juga tidak mungkin membanggakan 

infrastruktur canggih yang dibutuhkan untuk menciptakan, apalagi mempertahankan 

skenario yang dilukis oleh tradisi-tradisi terkemudian sebagai periode awal Islam (Rippin 

1990:3-4). Jadi, bagaimana mungkin ia datang secara serentak begitu rapi dan begitu 

cepat? Tidak ada preseden sejarah untuk skenario semacam ini. Kita akan 

mengharapkan derajat kecanggihan itu tercipta selama satu atau dua abad, sepanjang 

ada sumber-sumber lain, seperti budaya yang melingkupinya dari mana tradisi dan 

hukum bisa dipinjam, tapi jelas tidak mungkin lingkungan padang pasir yang tidak 

canggih dan terbelakang, dan jelas tidak mungkin dalam periode dari 22 tahun saja.

Sejarawan sekuler tidak bisa begitu saja menerima posisi yang diasumsikan oleh 

tradisi-tradisi terkemudian bahwa semua ini muncul melalui wahyu ilahi, sebab  mereka 

berpegang bahwa seluruh sejarah harus didan i dengan bukti sejarah. Mereka dipaksa 

untuk tenang dan bertanya bagaimana kita tahu apa yang kita tahu, di mana informasi 

ini  berasal, dan apakah ini ada sebab  suatu ‘bias’ atau analisis sejarah netral.

Oleh sebab  itu, para sejarawan, telah didorong ke dalam dilema. Sebab lewat 

presuposisi sekuler mereka tidak bisa mendasarkan penelitian mereka atas dasar 

keberadaan Tuhan, namun mereka tidak bisa membuang elemen Tradisi Muslim (yang 

tentu mengandaikan keberadaan-Nya), sebab  sumber tradisi ini yaitu  yaitu  yang 

terbaik yang dimiliki dan kadang-kadang hanya itulah dokumen yang tersedia.

Itulah yang terjadi sampai saat ini.

Sederet ahli sejarah baru tentang Islam (seperti Dr John Wansbrough, Michael Cook 

[keduanya dari SOAS], Patricia Crone, yang sebelumnya dari Oxford sekarang mengajar 

di Cambridge, Yehuda Nevo dari University of Jerusalem, Andrew Rippin dari Kanada, 

dan lain-lain ), sementara mengakui bahwa ada suatu misteri bekenaan dengan 

pertanyaan mengenai intervensi ilahi, sekarang melihat lebih dekat pada sumber-sumber 

lain tentang Al-Quran untuk memastikan petunjuk untuk asal-usulnya. yaitu  sumber-

sumber ini yang kini mulai mengungkapkan bukti penjelasan alternatif awal dari sebuah 

agama yang saat ini dianut seperlima populasi dunia, dan juga tumbuh lebih cepat dari 

agama besar lainnya.

Dengan demikian, yaitu  hasil karya mereka yang akan saya gunakan untuk 

memahami dengan lebih baik asal-usul yang memungkinkan dari Al Qur'an. Ini yaitu  

materi mereka, dan teman sejawat lainnya, yang saya rasa para apologetis Muslim 

harus hadapi secara serius dalam tahun-tahun mendatang, sebanyak ini data baru yang 

secara serius meragukan banyak klaim diteruskan oleh para sarjana Muslim tradisional 

tentang kitab suci mereka, Al Qur'an, dan Muhammad. Untuk itu mari kita mulai analisis 

kita dengan melihat pada sumber-sumber yang kita ketahui yang menyoal Islam, nabi 

dan kitabnya.

B. Masalah-masalah dalam Tradisi Islam

Dalam rangka untuk membuat kritik terhadap Al Qur'an, yaitu  penting untuk tidak 

menekankan pada apa yang para penafsir jaman ini katakan, namun langsung kembali 

ke awal, ke sumber-sumber paling awal dari Al Qur'an yang kita miliki untuk memetik 

petunjuk yang berkenaan dengan otentisitasnya. Kita akan berasumsi bahwa ini 

seharusnya cukup mudah dilakukan sebab  merupakan suatu bentuk sastra yang relatif 

muda yang muncul di tempat kejadian, yang menurut Muslim “hanya 1.400 tahun yang 

lalu."


Pertanyaan mengenai sumber-sumber selalu menjadi area perdebatan bagi sarjana 

sekuler Islam, seperti halnya studi Al Qur’an harus dimulai dengan masalah sumber-

sumber primer atau sekunder.

- Sumber primer yaitu  bahan-bahan yang terdekat, atau memiliki akses langsung ke 

kejadian ini .

- Sumber sekunder berkenaan dengan material yang cenderung lebih baru dan, 

akibatnya, tergantung pada sumber-sumber primer.

Dalam Islam, sumber-sumber primer yang kita miliki yaitu  150-300 tahun setelah 

kejadian yang mereka gambarkan, dan oleh sebab  itu cukup jauh dari peristiwa-

peristiwa ini  (Nevo 1994:108; Wansbrough 1978:119; Crone 1987:204). Untuk 

alasan ini  mereka disebut sumber-sumber sekunder, sebagai tujuan praktis, 

sebab  mereka bergantung pada bahan lain yang banyak tidak lagi ada. Yang pertama 

dan terbesar dari sumber-sumber ini  yaitu  "Tradisi Islam atau Tradisi Muslim" 

sebab  pentingnya Tradisi Muslim ini, maka sangat penting bagi kita untuk mengupas 

mereka terlebih dahulu

Tradisi Muslim terdiri dari tulisan-tulisan yang disusun oleh Muslim di akhir abad 

kedelapan sampai awal abad kesepuluh awal tentang apa yang nabi Muhammad 

katakan dan lakukan di masa hidupnya di abad ketujuh, dan tentang komentar-komentar 

Al Qur’an. Sejauh ini catatan-catatan seperti itulah yang menjadi bahan yang paling luas 

yang kita miliki saat ini tentang periode awal Islam. Mereka juga ditulis secara lebih 

mendetil dari pada apapun yang kita miliki saat ini, dalam catatan ini  memasukan 

tanggal dan penjelasan atas apa yang terjadi. Catatan-catatan ini  menjadi 

pelengkap Al Qur'an.

Al Quran pada dirinya sendiri yaitu  sulit untuk diikuti, sebab  membuat pembaca 

bingung saat  temanya melompat dari cerita satu ke cerita lainnya dengan sedikit latar 

belakang narasi atau penjelasan. yaitu  pada titik ini bahwa tradisi menjadi penting 

sebab  mereka mengisi rincian yang dinyatakan hilang. Dalam beberapa kasus Tradisi 

menang atas Al Qur'an. Sebagai contoh : saat  Al Qur'an mengacu pada tiga doa harian 

(Surah 11:114, 17:78-79, 30:17-18 dan mungkin 24:58), sedang  dalam Tradisi 

Muslim shalat lima waktu ditetapkan oleh tradisi terkemudian telah diadopsi oleh kaum 

Muslim (Glasse 1991:381).

beberapa  genre dapat kita temukan dalam tradisi-tradisi. Para penulis Tradisi ini 

bukanlah penulis professional, melainkan pengumpul kisah dan editor yang 

mengumpulkan informasi yang “diturunkan kepada mereka," dan terciptalah Tradisi itu. 

Ada banyak pengumpul kisah, tapi empat yang dianggap oleh banyak umat Islam yang 

paling berwibawa dalam genre masing-masing. Para pengumpul kisah ini hidup dan 

mengumpulkan materi mereka antara 750-923 M (atau 120-290 tahun setelah kematian 

Muhammad).

Mungkin akan membantu untuk mendaftar karya-karya mereka, bersama dengan

tanggal mereka:

1. Sirat Nabi yaitu  catatan tentang kehidupan tradisional nabi (termasuk 

pertempuran-pertempurannya). Sirrat yang paling komprehensif ditulis oleh Ibn Ishaq 

(wafat 765 M), meski tidak satupun dari manuskrip yang ia miliki ada pada kita saat ini. 

Akibatnya, kita tergantung pada Sira Ibn Hisham (w.  833 M), yang katanya ia ambil dari 

Ibn Ishaq, meskipun menurut pengakuannya sendiri (berdasarkan penelitian dari Patricia 

Crone) Ibnu Ishaq menghilangkan bagian-bagian yang mungkin memicu  

kontroversi (yakni kisah manapun yang ia rasakan menjijikkan, puisi yang tidak bisa

dibuktikan di bagian-bagian lain, dan  hal-hal yang dia tidak bisa terima sebagai dapat 

dipercaya) (Crone 1980:6).

2. Hadis / Hadits yaitu  ribuan laporan pendek atau narasi (Akhbar) tentang perkataan 

dan perbuatan nabi yang dikumpulkan oleh Muslim di abad kesembilan dan kesepuluh. 

Dari enam koleksi Hadis yang paling terkenal, hadis-hadis al-Bukhari- lah (w. 870 M) 

yang dianggap oleh banyak muslim sebagai yang paling otoritatif.

3. Tarikh yaitu  sejarah atau kronologi kehidupan nabi, yang paling terkenal ditulis oleh 

al-Tabari (w. 923 M) pada awal abad kesepuluh.

4. Tafsir yaitu  komentar dan penafsiran atas  teks-teks Al Qur'an, tata bahasa dan 

konteksnya, yang paling dikenal juga ditulis oleh al-Tabari (w. 923 M).

B.2. Kemunculan Yang Begitu Terlambat 

Jelas, pertanyaan pertama yang harus kita pertanyakan yaitu  mengapa tradisi ini 

ditulis begitu terlambat, yakni 150-300 tahun setelah kejadian? Kita sama sekali tidak 

memiliki “catatan dari komunitas Islam selama 150 tahun pertama , antara penaklukan 

Arab pertama, yakni dari awal abad ketujuh, hingga kemunculan komunitas islam, 

dengan narasi sira-maghazi, sebagai awal literatur Islam, yakni di akhir abad kedelapan 

(Wansbrough 1978:119). Kita seharusnya berharap untuk menemukan dalam masa 150 

tahun itu setidaknya sisa-sisa bukti pengembangan agama Arab tua menuju Islam, 

namun kita menemukan apa-apa (Nevo 1994:108; Crone 1980:5-8) .

Ada Muslim yang tidak setuju dengan fakta di atas, dengan tetap mempertahankan 

bahwa ada bukti tradisi sebelumnya, utamanya Muwatta oleh Malik ibn Anas (lahir 712 

M dan meninggal pada 795 M). Norman Calder dalam bukunya Study in Early Muslim 

Jurisprudence tidak setuju dengan penanggalan awal seperti itu dan banyak pertanyaan 

menyangkut karya ini  dapat dikaitkan dengan penulis-penulis yang disebutkan di 

situ. Dia berpendapat bahwa sebagian besar teks yang kita miliki dari para penulis ini 

,yang dianggap sebagai penulis islam awal, yaitu  "kumpulan teks" yang ditransmisikan 

dan dikembangkan selama beberapa generasi, dan mencapai bentuk yang kita ketahui 

lebih terkemudian sebagai karya dari "penulis" yang disangkakan, yaitu mereka yang 

dianggap menulis kisah-kisah itu.

Dengan mengikuti anggapan bahwa saat itu "aliran Syafi'i" (yang menuntut bahwa 

semua hadis ditelusuri kepada Muhammad) belum berlaku sampai setelah 820 M, ia 

menyimpulkan bahwa sebab  Mudawwana tidak berbicara tentang otoritas kenabian 

Muhammad sedang  Muwatta tidak. Muwatta selayaknya jadi dokumen yang 

terkemudian. Akibatnya, posisi Calder Muwatta harusnya hadir sebelum tahun 795 M, 

tapi kadang setelah Mudawwana yang ditulis pada tahun 854 M. Kenyataannya Calder 

menempatkan Muwatta bahkan tidak di Arab abad kedelapan namun di Cordoba, 

Spanyol abad kesebelas (Calder 1993). Jika ia benar maka kita memang ditinggalkan 

dengan begitu sedikit bukti dari setiap tradisi dari masa awal Islam.

Humphreys mengkristal masalah ini saat  dia menunjukkan bahwa, "Kita akan 

menganggap umat Islam pastilah dilecut sedemikian rupa untuk mencatat prestasi spektakuler 

mereka, sementara yang kaum terpelajar dan masyarakat perkotaan yang akan segera 

ditundukkan oleh Islam hampir tidak mengetahui nasib yang akan menimpa mereka"

(Humphreys 1991:69). Menurut Humphreys semua yang kita temukan dari periode awal 

ini merupakan sumber yang, " entah perspektif yang fragmentaris, atau sangat spesifik , atau 

bahkan eksentrik," benar-benar membatalkan setiap kemungkinan untuk merekonstruksi Islam 

abad pertama secara memadai (Humphreys 1991: 69).

Untuk itu pertanyaan yang harus ditanyakan di sini yaitu  dari mana para 

pengumpul kisah nabi di abad 8 & 9 mendapat  bahan cerita mereka? Jawabannya

yaitu  bahwa kita tidak tahu. "Bukti yang kita miliki dokumentasi sebelum 750 M hampir 

seluruhnya terdiri dari kutipan yang agak meragukan dari kompilasi yang dilakukan 

terkemudian.." (Humphreys 1991:80) Akibatnya, kita tidak memiliki bukti yang dapat 

dipercaya jika tradisi benar-benar berbicara tentang kehidupan Muhammad, atau bahkan Qur'an

(Schacht 1949:143-154). Kita diminta untuk percaya bahwa dokumen-dokumen ini, yang 

ditulis ratusan tahun kemudian, sebagai dokumen yang akurat. Sayangnya kita tidak 

disajikan dengan bukti kejujuran mereka; di luar isnad - yang tidak lebih dari daftar yang 

dimaksudkan untuk memberikan nama-nama mereka dari lisan yang ini tradisi 

diturunkan. Bahkan isnad sendiri kurang dalam dokumentasi pendukung yang dapat 

digunakan untuk menguatkan otentisitas mereka (Humphreys 1991:81-83), namun 

dilebih-lebihkan dalam tulisan-tulisan di kemudian hari.

B.2.a. Belum Berkembangnya Tradisi Tulis Menulis ? 

Muslim mempertahankan pandangan bahwa begitu terlambatnya sumber primer 

dapat disebab kan budaya tulis menulis belum berkembang luas di daerah terisolasi 

seperti Arab pada saat itu. Asumsi ini sama sekali tidak berdasar, sebab budaya menulis 

di atas kertas sudah dimulai jauh sebelum abad ketujuh. Menulis di atas kertas 

ditemukan pada abad keempat, dan digunakan secara luas di dunia beradab sejak saat 

itu. Dinasti Umayyah bermarkas di daerah Siria, bekas provinsi Bizantium, dan bukan di 

Arab. Siria saat itu yaitu  suatu masyarakat yang canggih dimana para sekretaris 

dipekerjakan untuk tulis menulis di pengadilan Khalifah. Ini membuktikan bahwa budaya 

menulis naskah sudah dengan baik dikembangkan di sana.

Lebih jauh lagi kita diberitahu bahwa Arab (yang lebih dikenal sebagai Hijaz ) di abad 

ketujuh dan sebelumnya, yaitu  daerah perdagangan, dimana rombongan karavan 

pedagang bolak-balik rute utara-selatan, dan mungkin timur-dan barat. Sementara bukti-

bukti menunjukkan bahwa perdagangan terutama bersifat lokal (seperti yang akan kita 

bahas kemudian). Bagaimana para pedagang menyimpan catatan mereka jika alat tulis 

menulis tidak tersedia saat itu? Mereka tentu tidak menghafal angka-angka di luar 

kepala sebagai catatan jual beli mereka bukan? Dan akhirnya kita harus bertanya :

bagaimana Al-Qur'an ada dalam bentuk sekarang jika tidak ada seorangpun yang 

mampu memakai  pena dan kertas untuk menulis pada waktu itu?

Muslim mengklaim adanya beberapa  mushaf / naskah Qur'an tidak lama setelah 

kematian Muhammad, seperti mushaf Abdullah ibn Mas'ud, Abu Musa, dan Ubayy b. 

Ka'b (Pearson 1986:406). Dalam bentuk apakah mushaf ini jika mereka bukan dokumen

tertulis? Teks Usman sendiri harus sudah ditulis, jika tidak maka tidak akan disebut teks! 

Budaya tulis menulis sudah ada, tapi untuk suatu alasan tertentu, mengapa tidak ada 

catatan sebelum tahun 750 M yang tersimpan? 

. Usia Ketahanan Kertas

Sarjana Muslim lain mempertahankan bahwa tidak adanya dokumentasi awal bisa 

disalahkan pada usia ketahanan kertas. Mereka percaya bahwa bahan atas mana 

sumber-sumber utama ini ditulis entah hancur dari waktu ke waktu, sehingga yang 

tersedia pada kita hanya sedikit saja, atau rusak sebab  perlakuan yang kasar oleh 

penggunanya sehingga hancur.

Argumen ini agak meragukan, sebab dii British Library kita memiliki cukup banyak 

contoh dokumen yang ditulis oleh individu dalam masyarakat yang tidak terlalu jauh dari 

Arab, yang hidup ratusan tahun sebelum Muhammad hidup. Terpampang di museum itu 

manuskrip Perjanjian Baru seperti Codex Syniaticus dan Codex Alexandrinus, baik yang 

ditulis pada abad keempat, tiga sampai empat ratus tahun sebelum jaman Muhammad 

hidup! Mengapa mereka tidak hancur sebab  usia?

saat  kita menerapkannya pada Al Qur'an argumen ini sangatlah lemah. Mushaf 

Usman, yakni kanon Quran terakhir disusun oleh Zaid ibn Thabit, di bawah arahan 

khalifah ketiga Usman, dianggap oleh semua umat Islam sebagai bagian paling penting 

dari literatur yang pernah ditulis. Seperti yang kita catat sebelumnya, menurut Surah 

43:2-4, Quran yaitu  "ibu dari semua kitab". Pentingnya Al Qur’an terletak pada 

keyakinan bahwa ia dianggap sebagai replika yang tepat dari "kitab abadi" yang ada di 

surga (Surah 85:22). Tradisi Muslim memberitahu kita bahwa semua mushaf dan 

dokument pesaing lainnya telah dimusnahkan setelah 646-650 M. Bahkan mushaf yang 

Hafsah simpan, dari mana resensi final Quran diambil, akhirnya dibakar. Jika Mushaf 

Usmani ini begitu penting, mengapa saat itu tidak ditulis di atas kertas, atau bahan lain 

yang akan berlangsung sampai hari ini? Dan tentu saja, jika naskah awal robek atau 

rusak sebab  penggunaan, mengapa tidak diganti dengan mushaf yang ditulis pada kulit, 

seperti begitu banyak dokumen lama lainnya yang masih ada saat ini?

Kita sama sekali tidak memiliki bukti untuk teks asli Al Qur’an asli (Schimmel 1984:4). 

Kita juga tidak memiliki salah satu dari empat salinan yang konon dibuat sebagai resensi

ini dan dikirim ke Mekah, Madinah, Basrah dan Damaskus (lihat argumen Gilchrist dalam 

bukunya Jam’ Al Quran, 1989, hal 140-154, dan  Ling & Safadi The Qur'an 1976, hlm 

11-17). Bahkan jika salinan ini  entah bagaimana hancur sebab  usia, pasti akan 

ada beberapa fragmen dokumen yang masih kita bisa lihat.

Pada akhir abad ketujuh Islam telah meluas di seluruh Afrika Utara dan sampai ke 

Spanyol di barat , sampai ke India di timur, dan Al-Qur'an (menurut tradisi) yaitu  inti 

dari iman mereka. Tentu saja dalam bahwa lingkup pengaruh sebesar itu harus ada 

dokumen atau manuskrip Al-Qur'an yang masih eksis sampai hari ini. Namun, tidak ada 

dari periode itu sama sekali.

sedang  kekristenan dapat mengklaim lebih dari 5.300 manuskrip berbahasa 

Yunani yang dikenal dari Perjanjian Baru, 10.000 dokumen berbahasa Latin Vulgata dan 

setidaknya 9.300 versi awal lainnya, ditambah lebih dari 24.000 manuskrip Perjanjian 

Baru yang masih ada (McDowell 1990:43-55), sebagian besar yang ditulis antara 25 

sampai 400 tahun setelah kematian Yesus (atau antara abad ke-1 dan ke-5) (McDowell 

1972:39-49).

Ironisnya Islam tidak dapat memberikan sebuah naskah tunggal hingga memasuki 

abad kedelapan (Lings & Safadi 1976:17; Schimmel 1984:4-6). Jika Kristen bisa 

mempertahankan begitu banyak ribuan naskah kuno, yang semuanya ditulis jauh 

sebelum abad ketujuh, pada saat kertas belum diperkenalkan, dan berkutat pada 

ketergantungan pada papirus yang mudah rusak, kemudian orang bertanya-tanya 

mengapa Muslim tidak mampu meneruskan sebuah naskah tunggal dari periode yang 

begitu belakangan ini? Kapan saat wahyu sebenarnya diungkapkan? Ini memang 

menyajikan masalah bagi argumen bahwa semua mushaf Al Qur’an awal hanya hancur 

sebab  faktor usia, atau hancur sebab  mereka usang dipakai.

B.2.c. Dokumen-dokumen Yang Ada Sampai Saat Ini  

Sebagai tanggapan, umat Islam berpendapat bahwa mereka memiliki beberapa  

“turunan mushaf Usman". Salinan asli dari abad ketujuh masih milik mereka. Saya 

mendengar Muslim mengklaim bahwa ada salinan asli di Mekah, di Kairo dan di hampir 

setiap komunitas Islam kuno. Saya sering meminta mereka untuk melengkapi dengan 

data yang akan membuktikan keberadaan naskah kuno mereka, sebuah tugas yang 

sampai saat ini tak seorang pun telah mampu lakukan..

Bagaimanapun ada dua dokumen yang memiliki kredibilitas, dan banyak dirujuk oleh 

umat Islam. Ini yaitu  Naskah Samarkand, yang terletak di Perpustakaan Negara di 

Tashkent, Uzbekistan (di bagian selatan dari bekas Uni Soviet), dan Naskah Topkapi, 

yang dapat ditemukan di Museum Topkapi Istanbul, Turki

Kedua dokumen ini  memang tua, dan telah dilakukan analisis etimologis dan 

paleografis yang cukup banyak pada dokumen ini  oleh para scriptologists, dan  

ahli dalam kaligrafi Arab untuk menjamin diskusi mereka di sini.

  

Naskah Samarkand – (diambil dari Jam ' Al Quran Gilchrist 1989, pp 148-150) :

Naskah Samarkand ini sama sekali tidak lengkap. Bahkan, dari 114 Surah yang ada 

dalam Al Qur’an saat ini, hanya bagian dari Surah 2 sampai dengan 43 yang ada di 

naskah Samarkand ini. Dari sekian Surah yang ada pun banyak teks yang hilang. 

Inskripsi yang sebenarnya dari teks dalam naskah Samarkand ini menghadirkan 

masalah nyata, sebab  sangatlah tidak teratur. Beberapa halaman disalin rapi dan 

seragam, sementara yang lain tidak rapi dan tidak seimbang (Gilchrist 1989:139 dan 

154). Pada beberapa halaman teks cukup luas, sedang  di halaman lain teksnya 

ditulis padat berjejalan. Pada jaman itu aksara Arab KAF telah dikecualikan dari teks, 

sementara pada bagian lain, aksara ini tidak hanya diperluas tetapi menjadi dominan 

dalam teks. sebab  begitu banyak halaman dengan naskah berbeda satu sama lain, 

maka asumsi kita hari ini yaitu  bahwa naskah ini  yaitu  produk pengumpulan, 

disusun dari beberapa bagian-bagian naskah yang berbeda (Gilchrist 1989:150).

9

Juga dalam teks kita dapat menemukan iluminasi artistik antara Surah, biasanya 

terdiri dari beberapa baris kotak medali sebanyak 151 dengan warna merah, hijau, biru 

dan oranye. Iluminasi ini membimibing skriptologis untuk memberikan penanggalan 

akurat asal dokumen ini  sebagai produk dari abad kesembilan, sebab  sangat tidak 

mungkin bahwa hiasan seperti itu muncul di abad ketujuh saat  konon naskah Usman 

dikirim ke berbagai propinsi (Lings & Safadi 1976:17-20; Gilchrist 1989: 151).

  

Naskah Topkapi :

Naskah Topkapi di Istanbul, Turki juga ditulis di perkamen, dan tidak memiliki 

vokalisasi (lihat Gilchrist, 1989, hal.151-153). Seperti naskah Samarkand, naskah inipun 

dilengkapi dengan medali hias yang menunjukkan usianya yang terkemudian (produk 

dari abad kesembilan) (Lings & Safadi 1976:17-20).

Muslim menyatakan bahwa ini juga pastilah salah satu salinan asli, jika bukan yang 

asli yang disusun oleh Zaid ibn Thabit. Namun kita hanya perlu membandingkannya 

dengan Naskah Samarkand untuk menyadari bahwa kedua naskah ini bukanlah naskah 

Usman asli. Misalnya, Naskah Istanbul Topkapi memiliki 18 garis per halaman 

sementara codex Samarkand di Tashkent hanya memiliki antara 8 dan 12 baris per 

halaman. Naskah Istanbul ditulis seluruhnya dengan cara yang sangat formal, kata-kata 

dan baris cukup ditulis seragam, sementara naskah Samarkand sering serampangan 

dan sangat terdistorsi. Kita tidak dapat meyakini bahwa kedua manuskrip disalin oleh 

para penulis kitab yang sama.

Analisa Naskah :

Para ahli dalam analisa naskah memakai  tiga tes untuk memastikan usia 

mereka. Pertama, mereka menguji usia kertas dimana naskah itu ditulis, dengan 

memakai  proses kimia seperti penanggalan karbon-14. Metoda ini cukup memadai 

untuk mengukur usia naskah seperti Al Qur'an. Ketepatan penanggalan biasanya 

berkisar dalam toleransi + / - 20 tahun. Namun selalu ada keengganan untuk 

memakai nya sebab  jumlah bahan yang harus dihancurkan dalam proses ini  

(1 sampai 3 gram) akan memerlukan hilangnya terlalu banyak naskah. Bentuk yang 

lebih halus dari carbon-14, yang dikenal sebagai AMS (Accelerator Mass Spectometry) 

yang sekarang digunakan, hanya membutuhkan 0,5-1,0 mg dari bahan uji (Vanderkam 

1994: 17). Namun, sampai saat ini tak satu pun dari naskah ini telah diuji oleh metode ini 

canggih ini.

Para ahli juga mempelajari tinta naskah dan menganalisis materi non kertasnya. 

Kemudian menemukan dimana bahan tinta ini berasal, atau apakah ia telah dihapus dan 

ditimpa. Namun usia untuk dokumen-dokumen ini akan sulit untuk ditentukan sebab  

keterlambatan dokumen. Masalah-masalah ini diperparah oleh tidak diberinya ijin untuk 

mempelajari naskah ini secara rinci, sebab  rasa ketakutan dari orang-orang yang 

menjaga naskah ini  (penerjemah -jika klaim mereka terbukti salah).

Jadi para spesialis harus pergi menganalisa naskah itu sendiri, menganalisa apakah 

naskah itu baru atau lama. Penelitian ini lebih dikenal sebagai paleografi. Gaya 

penulisan naskah terus berubah dari waktu ke waktu. Perubahan ini cenderung 

seragam sebagai naskah biasanya ditulis oleh ahli tulis kitab profesional. Jadi tulisan 

tangan cenderung mengikuti konvensi yang berlaku saat itu, dengan hanya modifikasi 

10

secara bertahap (Vanderkam 1994:16). Dengan memeriksa tulisan tangan pada naskah 

ini , tanggal penulisaannya sudah bisa diketahui. Paleograper bisa 

membandingkannya dengan teks dengan tanggal penulisan lainnya dan dengan 

demikian memastikan dari mana jangka waktu penulisan mereka berasal.

  Aksara Kufik :

Apa yang kebanyakan Muslim tidak sadari yaitu  bahwa kedua naskah ditulis dalam 

aksara kufik, aksara yang menurut para ahli Al Qur’an modern, seperti Martin Lings dan 

Yasin Hamid Safadi, tidak pernah muncul sampai akhir abad kedelapan (tahun 790-an  

dan kemudian), dan sama sekali tidak digunakan di Mekkah dan Madinah pada abad 

ketujuh (Lings & Safadi 1976:12-13,17; Gilchrist 1989:145-146, 152-153).

Alasannya cukup sederhana. Pertimbangk an: aksara Kufik, biasanya dikenal 

sebagai al-Khatt al-Kufi, namanya berasal dari kota Kufah di Irak (Lings & Safadi 

1976:17). Akan tampak aneh jika aksara ini dijadikan naskah resmi dari Al Qur'an 

bahasa Arab, sebab Kufah , aksara yang dari nama kotanya diambil ini, baru ditaklukan 

10-14 tahun kemudian.

Penting untuk dicatat bahwa kota Kufah, berlokasi di Irak saat ini, yaitu  sebuah 

kota yang bercorak Sassanid atau Persia sebelum waktu itu (637-8 M). Jadi, sementara 

Arab akan telah dikenal di sana, Kufik tidak akan menjadi bahasa dominan, apalagi 

aksara dominan, sampai lama kemudian.

Pada kenyataannya kita ketahui bahwa aksara Kufik mencapai kesempurnaannya 

selama abad kedelapan akhir (sampai seratus lima puluh tahun setelah kematian 

Muhammad) dan setelah itu banyak digunakan di seluruh dunia Muslim (Lings & Safadi 

1976:12,17; Gilchrist 1989:145-146). Ini masuk akal, sebab  setelah tahun 750 M Dinasti 

Abbasiyah mengendalikan Islam, dan sebab  mereka berlatar belakang Persia mereka 

bermarkas di daerah Kufah dan Baghdad. Mereka dengan demikian ingin aksara Kufik 

mendominasi. Setelah mereka sendiri didominasi oleh Bani Umayyah (yang berbasis di 

Damaskus) selama sekitar 100 tahun sebelumnya. Sekarang akan cukup dimengerti 

apabila tulisan bercorak Arab yang berasal di wilayah pengaruh mereka, seperti aksara 

Kufik, akan berevolusi menjadi apa yang kita temukan dalam dua dokumen yang 

disebutkan di atas.

  

Format Lanskap Tulisannya :

Faktor lain yang menunjuk pada tanggal terkemudian dari dua manuskrip ini  

yaitu  format di mana mereka ditulis. Kita akan mengamati bahwa sebab  gaya 

memanjang dari aksara Kufik ini, kedua naskah memakai  lembaran yang lebih 

lebar bukannya tinggi. Hal ini dikenal sebagai 'format landskap'. Format dipinjam dari 

Syria dan dokumen Kristen Irak dari abad kedelapan dan kesembilan. Semua naskah 

berbahasa Arab sebelumnya selalu ditulis dalam 'format tegak' (terima kasih kepada Dr 

Hugh Goodacre dari Kantor Koleksi Oriental dan India, yang menunjukkan fakta ini 

kepada saya untuk debat South Bank).

Oleh sebab  itu, sebab  kedua naskah ini ditulis dalam aksara Kufik, dan sebab  mereka 

memakai  format lanskap,  yaitu  masuk akal jika baik Manuskrip Topkapi dan Samarkand 

11

tidak mungkin ditulis lebih awal dari 150 tahun setelah jaman naskah Usman, atau seperti 

perkiraan awal yaitu antara awal akhir thn 700 atau 800-an awal (Gilchrist 1989:144-147).

  

Naskah Ma'il dan Mashq :

Jadi naskah Quran macam apa yang digunakan di Hijaz (Arab) pada saat itu? Kita 

tahu bahwa ada dua naskah Arab awal yang muslim moderen tidak kenali. Kedua 

naskah itu yaitu  naskah al-Ma'il, yang dikembangkan di Hijaz, khususnya di Mekah 

dan Madinah, dan Naskah Mashq, yang juga dikembangkan di Medinah (Lings & Safadi 

1976:11; Gilchrist 1989:144-145). Aksara al-Ma'il mulai dipakai pada abad ketujuh dan 

mudah diidentifikasi, seperti yang ditulis sedikit miring (lihat contoh pada halaman 16 

Jam’ Al Quran, Gilchrist -1989). Sebenarnya kata al-Ma'il itu sendiri berarti "miring." 

Aksara ini bertahan selama sekitar dua abad sebelum akhirnya tidak digunakan sama 

sekali.

Naskah Mashq juga ditulis pada abad ketujuh, tetapi terus digunakan selama 

berabad-abad. Naskah ini bercirikan huruf yang lebih horizontal dan dapat dibedakan 

dengan gaya agak kursif / melengkung dan santai (Gilchrist 1989:144). Jika Al Qur’an 

telah disusun saat ini pada abad ketujuh, maka kita beranggapan quran pasti ditulis baik 

dalam aksara Ma'il atau Mashq.

Menariknya, kita memang memiliki Al Qur’an yang ditulis dalam aksara Ma'il, dan 

dianggap quran yang paling awal di tangan kita hari ini. Namun naskah ini tidak 

ditemukan entah di Istanbul atau Tashkent, tapi, ironisnya berada di British Library di 

London (Lings & Safadi 1976:17,20; Gilchrist 1989:16,144). Naskah ini telah dianalisa 

penanggalannya dan diketahui ditulis di akhir abad kedelapan, oleh Martin Lings, 

mantan kurator naskah Perpustakaan Inggris, yang yaitu  seorang Muslim juga. Oleh 

sebab  itu, dengan bantuan analisis naskah, kami cukup yakin bahwa tidak ada 

manuskrip yang diketahui dari Al Qur'an yang kita miliki sekarang yang dapat tanggal 

dari abad ketujuh (Gilchrist 1989:147-148,153).

Selain itu, hampir semua fragmen manuskrip awal Al-Quran yang kita miliki dan telah 

diperiksa tanggal kemunculannya, tidak ada dari naskah ini  yang ditulis dalam 

jangka waktu 100 tahun setelah kematian Muhammad. (pent :Semuanya lebih 

terkemudian dari 1 abad pertama setelah kematian Muhammad.)

Dalam bukunya Kaligrafi dan Kebudayaan Islam, Annemarie Schimmel 

menggarisbawahi poin ini saat  ia menyatakan : “kecuali naskah Qur'an yang baru-baru 

ini , semua fragmen dapat ditelusuri kemunculannya sejauh sampai kuartal pertama 

abad kedelapan. (Schimmels 1984:4) (penerjemah -berarti paling tua hanya muncul 

sekitar tahun 725 M)

Menariknya, Al Qur’an dari Sanaa ini masih tetap menjadi misteri, sebab  pemerintah 

Yaman belum mengijinkan para peneliti Jerman yang menganalisa naskah itu untuk 

menerbitkan temuan mereka.

Mungkinkah ini ada sebuah usaha untuk menutup-nutupi apa yang naskah ini mungkin 

akan ungkapkan? Ada kesan bahwa naskah dalam Al Qur’an awal abad kedelapan ini 

tidak sesuai dengan Quran yang kita miliki saat ini. Kita masih menunggu untuk 

mengetahui seluruh kebenarannya.

12

Namun dari bukti-bukti yang kita miliki, tampaknya tidak mungkin bahwa bagian-

bagian dari Al-Qur'an yang disalin pada jaman Usman selamat. Apa yang tersisa pada 

kita yaitu  usaha campur tangan 150 tahun kemudian yang kita tidak dapat jelaskan.

Sebelum melanjutkan topik kita ke Al Qur'an, mari kita kembali ke tradisi Muslim dan 

melanjutkan diskusi kita pada poin terpenting apakah sumber-sumber awal Qur'an ini 

dapat memberikan penilaian yang memadai akan otoritas Al-Qur'an. Kumpulan tradisi 

yang paling banyak digunakan yaitu  Hadis.

  

B.3. Kredibilitas 

Ada banyak diskusi mengenai kredibilitas kompilasi hadis, tidak hanya di kalangan 

sejarawan sekuler, tetapi dalam Islam juga, bahkan sampai saat ini.

Seperti kita catat sebelumnya, sebagian besar teks sejarah kita tentang Islam awal 

yang disusun antara tahun 850-950 M (Humphreys 1991:71). Semua kumpulan naskah 

terkemudian ini digunakan sebagai standar mereka, sedang  materi sebelum tahun-

tahun itu tidak bisa menjadi bukti yang menguatkan berkaitan dengan akurasinya 

(Humphreys 1991:71-72). Bisa jadi bahwa tradisi sebelumnya tidak lagi relevan, dan 

begitu juga dibiarkan lapuk, atau dihancur. Kita tidak tahu. Apa yang kita tahu yaitu  

bahwa para pengumpul itu kemungkinan besar mengambil materi mereka dari koleksi 

yang dikumpulkan dalam dekade sekitar 800 M, dan bukan dari dokumen yang ditulis 

pada abad ketujuh, dan tentu bukan dari pribadi Muhammad atau sahabatnya 

(Humphreys 1991 : 73, 83; Schacht 1949:143-145; Goldziher 1889-90:72).

Kita juga tahu bahwa banyak dari mereka kompilasi parafrase dari Akhbar 

sebelumnya (anekdot dan frase) yang mereka anggap dapat diterima, meskipun apa 

kriteria yang mereka pakai untuk membedakan yang bisa dan tidak bisa diterima masih 

tidak jelas (Humphreys 1991:83). Sekarang tampak jelas bahwa awal abad kesembilan 

"aliran hukum / fiqih" mengotentifikasi agenda mereka sendiri dengan menegaskan 

bahwa doktrin-doktrin mereka datang awalnya dari sahabat nabi dan kemudian dari nabi 

sendiri (Schacht 1949:153-154).

Schacht berpendapat bahwa asal muasal pengambil-alihan ini berasal dari sarjana 

al-Syafi'i (meninggal pada 820 AD). Dialah yang menetapkan bahwa semua tradisi 

hukum harus dilacak kembali ke Muhammad untuk mempertahankan kredibilitas 

mereka. Akibatnya beberapa  besar tradisi hukum oleh aliran Fiqih klasik pada masa itu 

diserukan seakan-akan bersumber dari jaman nabi, yang akibatnya memunculkan 

ekspresikan doktrin-doktrin lain seperti halnya dari aliran Iraqian, dan bukan dari Arab 

awal (Schacht 1949: 145). Inilah agenda yang ditekankan oleh masing-masing sekolah 

hukum tentang pilihan tradisi dalam abad kesembilan dan kesepuluh yang banyak orang 

percayai berasal dari hadis.

Wansbrough setuju dengan Humphreys dan Schacht saat  ia mengatakan bahwa 

catatan sastra ini, walaupun menampilkan setting waktu yang kontemporer dengan 

peristiwa yang mereka gambarkan, sebenarnya milik masa jauh sesudah kejadian 

ini , yang menunjukkan bahwa mereka telah ditulis sesuai dengan poin 

terkemudian untuk memenuhi tujuan dan agenda di jaman terkemudian (Rippin 

1985:155-156). (pent- dengan kata lain, hadis-hadis itu menggambarkan Muhammad 

yang berbicara menyoal ini dan itu, padahal itu tidak pernah terjadi, semua itu dijadikan 

alat untuk melegitimasi keyakinan dan produk hukum kaum fiqih pada tahun 800an. 

13

Untuk memperkuat keyakinan mereka maka figur Muhammad dicomot sebagai figur 

komunikator ).

Ambil contoh dari Syiah. Agenda mereka memang cukup transparan, sebab  mereka 

mempertahankan bahwa dari 2.000 hadis yang valid mayoritas (1.750) berasal dari Ali, 

menantu nabi, yang kepadanya kaum Syi'ah mencari inspirasi. Bagi seorang pengamat 

selintas kelihatannya ini agak mencurigakan. Jika premis keaslian Syiah itu murni politik, 

lalu mengapa tidak kita simpulkan premis yang sama pada para penyusun lain dari 

tradisi?

Pertanyaan yang harus kita ajukan disini yaitu  adakah "butiran kebenaran sejarah" 

yang mendasari yang tersisa bagi kita untuk digunakan? Schacht dan Wansbrough 

keduanya skeptis mengenai hal ini (Schacht 1949:147-149; Wansbrough 1978:119).

Patricia Crone mengambil argumen satu langkah lebih jauh dengan berpendapat 

bahwa kredibilitas tradisi ini  sudah hilang akibat bias dari setiap individu 

pengumpul kisah. Dia menyatakan:

“Karya-karya para penyusun pertama seperti Abu Mikhnaf, Sayf bin ‘Umar’ Awana, Ibn 

Ishaq dan Ibn al-Kalbi yaitu  tumpukan sekadar dari tradisi yang berbeda-beda, tidak 

mencerminkan satu kepribadian, aliran, waktu atau tempat: Sebagai seorang Madinah 

Ibnu Ishaq mentransmisikan tradisi yang mendukung Irak, sehingga tradisi Saif Irak 

menentangnya. Dan semua kompilasi dicirikan dengan dimasukkannya materi dalam 

mendukung pendekatan hukum dan doktrinal yang bertentangan. (Crone 1980:10) “

Dengan kata lain, sekolah-sekolah lokal hukum sebenarnya membentuk tradisi-

tradisi yang berbeda, bergantung pada konvensi lokal dan pendapat ulama setempat 

(Rippin 1990:76-77). Nantinya para sarjana menyadari keragaman ini dan melihat 

perlunya menyatukan hukum Islam. Solusinya ditemukan dengan cari mengaitkan kisah-

kisah itu dengan tradisi Nabi, yang akan membut kisah itu memiliki otoritas, bukan hanya 

pendapat seorang ulama. Oleh sebab  itu tradisi-tradisi yang dikaitkan dengan 

Muhammad mulai berkembang biak dari sekitar 820 seterusnya AD (Schacht 1949:145; 

Rippin 1990:78).

Ambil contoh Sirah, yang memberi kita bahan terbaik tentang kehidupan nabi. 

Tampaknya Sirah mengambil beberapa informasi dari Al Qur'an. Meskipun Isnad 

digunakan untuk menentukan keaslian (yang kita ketahui sekarang menjadi tersangka, 

seperti yang akan kita lihat nanti), otoritasnya tergantung pada otoritas Al Qur'an, yang 

kredibilitas sekarang juga diragukan (juga akan dibahas dalam bagian selanjutnya). 

Menurut G. Levi Della Vida, dalam artikelnya tentang Sirah, pembentukan Sirah sampai 

ke periode reduksi kemudian dibakukan bentuk tampaknya telah terjadi sebagai berikut:

Seiring meningkatnya penghormatan yang terus kepada figur Muhammad, hal ini 

memprovokasi suatu hagiographical (pengagungan / pemberhalaan) dari figur yang 

kurang lebih cacat secara historis menjadi figur legenda dimana kisah-kisahnya 

mengambil model dari tradisi Yahudi dan Kristen (mungkin juga Iran , meskipun pada 

tingkat yang jauh lebih rendah). (Levi Della Vida 1934:441)

Dia melanjutkan penjelasannya bahwa bahan-bahan ini menjadi, terorganisir dan 

sistematis di sekolah-sekolah muhaddithun Madinah, melalui 'pengisahan sebagaimana 

midrash yahudi,' secara halus dan penuh kombinasi, terdiri dari bacaan-bacaan dar Al 

Qur'an yang penafsirannya telah didekat-dekatkan dengan kejadian dalam kehidupan 

nabi. Ini yaitu  cara bagaimana kisah-kisah tentang kehidupan nabi di Madinah 

dibentuk (Levi Della Vida 1934:441).

14

Oleh sebab  itu kita ditinggalkan dengan dokumen-dokumen islam yang tingkat 

kredibilitasnya rendah (Crone 1987:213-215). Bahkan materi sebelumnya hanya sedikit 

membantu kita. Kisah-kisah Maghazi, yang bercerita tentang pertempuran nabi , yaitu  

dokumen muslim paling awal yang kita miliki. Mereka seharusnya memberi kita 

gambaran terbaik tentang jaman itu, namun mereka menceritakan begitu sedikit tentang 

kehidupan nabi atau ajarannya. Bahkan, anehnya tidak ada dalam dokumen ini bagian 

yang menunjukan penghormatan terhadap Muhammad sebagai nabi!

B.4. Kontradiksi 

Masalah lebih lanjut dengan tradisi-tradisi ini yaitu  yaitu  kontradiksi, 

kebingungan dan inkonsistensi dan  anomali yang nyata diseluruh kisahnya. Misalnya 

Crone bertanya, "Apa yang kita lakukan dengan pernyataan Baladhuri bahwa kiblat 

(arah sholat) di masjid Kufah pertama yaitu  di sebelah barat ... bahwa ada begitu banyak 

Fatima, dan bahwa Ali kadang-kadang disebut sebagai saudara Muhammad? Ini yaitu  tradisi 

di mana informasi nya tidak bernilai dan tidak menghasilkan apa-apa."(Crone 1980:12)

Beberapa penulis menuliskan laporan yang bertentangan dengan kisah-kisah yang 

mereka pernah tulis sebelumnya. (Humphreys 1991:73; Crone 1987:217-218). Al-Tabari, 

misalnya, sering memberikan kisah yang berbeda, dan kadang-kadang bertentangan 

dari insiden yang sama (Kennedy 1986:362). Pertanyaan tentang seberapa jauh al-

Tabari mengedit tetap mengemuka. Apakah dia memilih Akhbar (cerita pendek) yang 

digunakan dalam rangka untuk mengembangkan dan mengilustrasikan tema-teman 

utama tentang sejarah negara Islam? Kita tidak tahu.

Ibnu Ishaq memberitahu kita bahwa Muhammad mengalami kekosongan politik 

saat  memasuki Yathrib (Medina), tetapi kemudian ia mengatakan bahwa Muhammad 

merenggut otoritas dari penguasa di sana (Ibn Hisham ed.1860: 285, 385, 411). Ibnu 

Ishaq juga menceritakan bahwa orang-orang Yahudi di Madinah mendukung tetangga 

Arab mereka, namun kemudian mengatakan bahwa Muhammad dilecehkan oleh mereka 

(Ibn Hisham ed.1860: 286, 372, 373, 378). Manakah dari catatan-catatan ini  yang 

jelas bertentangan yang harus kita percaya? Sebagaimana Crone tunjukkan, "cerita-

cerita ini  dikisahkan dengan pengabaian, tanpa memandang fakta tentang situasi 

Madinah yang memungkinkan atau tidak." (Crone 1987:218)

Kesulitan lain yaitu  catatan-catatan lain yang bertentangan yang diberikan oleh 

pengumpul yang berbeda-beda (Rippin 1990:10-11). Banyak variasi pada tema umum. 

Ambil contoh 15 catatan yang berbeda dari pertemuan Muhammad dengan perwakilan 

dari agama non-Islam yang mengakui dia sebagai seorang nabi masa depan (Crone 

1987:219-220). Beberapa tradisi menyebutkan kejadian ini terjadi selama masa kanak-

kanak (Ibn Hisham ed.1860: 107), yang lain saat  ia berusia sembilan atau dua belas 

tahun (Ibn Sa'd 1960:120), sementara yang lain mengatakan dia berusia dua puluh lima 

pada waktu (Ibnu Hisyam ed.1860: 119). Beberapa tradisi menyatakan bahwa ia 

diramalkan oleh orang Kristen Ethiopia (Ibn Hisham ed.1860: 107), atau oleh orang-

orang Yahudi (Abd al-Razzaq 1972: 318), sementara yang lain seorang peramal atau 

Kahin entah di Mekah, atau Ukaz atau Dhu'l-Majaz (Ibn Sa'd 1960:166; Nu'aym Abu 

1950:95, 116f; Abd al-Razzaq 1972:317). Crone menyimpulkan bahwa apa yang kita 

miliki di sini tidak lebih dari "lima belas versi fiktif tentang suatu peristiwa yang tidak 

pernah terjadi." (Crone 1987:220)

15

Akibatnya sulit untuk memastikan mana laporan yang otentik, dan mana yang harus 

dibuang. Inilah masalah yang mengacaukan Muslim dan para orientalis bahkan sampai 

saat ini.

B.5. Kemiripan-kemiripan

Di sisi lain, banyak dari tradisi mencerminkan materi yang sama seperti yang lain, 

menyiratkan daur ulang dari tubuh data yang sama selama berabad-abad tanpa 

referensi apapun dari mana ia berasal.

Ambil contoh sejarah al-Tabari tentang kehidupan nabi yang sama seperti Sira Ibn 

Hisham, dan banyak yang sama dengan karyanya "Penjelasan tentang Al Qur'an," 

yang sama seperti koleksi Hadis Bukhari. sebab  kesamaan mereka di tanggal yang 

kemudian, mereka tampaknya menunjukkan sumber tunggal pada awal abad 

kesembilan, yaitu dari sumber dimana semua kisah kutip (Crone 1980:11). Apakah ini 

menunjukkan adanya "kanonisasi" materi disahkan oleh para ulama? Mungkin, tapi kita 

tidak pernah bisa yakin.

Akibatnya, bahan-bahan ini menciptakan masalah besar bagi sejarawan yang hanya 

dapat mempertimbangkan mereka otentik jika ada data yang dapat diobservasi yang 

dapat secara obyektif dinilai berasal dari sumber-sumber luar yang sekunder, seperti 

sumber utama dari sumber-sumber utama yang darinya tradisi-tradisi ini didapatkan.

Namun jika pun ada, kita hanya memiliki sedikit untuk dirujuk. Oleh sebab  itu, 

pertanyaannya yang harus diajukan yaitu  : apakah sumber-sumber utama pernah 

ada? dan jika demikian akankah kita dapat mengenali mereka dengan memakai  

bahan sekunder yang kita miliki?

B.6. Pengembang-biakan Kisah-kisah Yang Mendadak 

Masalah lebih lanjut dengan tradisi-tradisi ini yaitu  proliferasi atau perkembang-

biakan kisah(Rippin 1990:34). Seperti yang telah kami sebutkan, karya-karya awal ini 

baru muncul mulai abad kedelapan akhir dan seterusnya (hampir 200-300 tahun setelah 

kejadian yang dilaporkan). Kemudian tiba-tiba mereka berkembang biak hingga ratusan 

ribu kisah. Mengapa? Bagaimana kita bisa menjelaskan perkembang-biakan kisah-kisah 

ini?

Ambil contoh kematian 'Abdullah, ayah dari Muhammad. Para penyusun abad kedelapan 

pertengahan hingga (Ibnu Ishaq dan Ma'mar) menyepakati bahwa Abdullah sudah 

meninggal pada saat Muhammad masih kecil, tetapi tidak merinci spesifik kematiannya. 

Hanya Tuhan yang tahu '(Cook 1983:63 ).

Selanjutnya pada abad kesembilan tampaknya kematian Abdullah diketahui lebih 

banyak. Waqidi, yang menulis lima puluh tahun kemudian memberitahu kita tidak hanya 

kapan Abdullah meninggal, tetapi bagaimana dia meninggal, di mana ia meninggal, apa 

usia berapa, dan tempat penguburannya secara tepat. Menurut Michael Cook, "evolusi 

kisah ini dalam perjalanan setengah abad, dari ketidakpastian kepada kelimpahan detail yang 

tepat, menunjukkan bahwa cukup banyak dari apa Waqidi ketahui bukanlah fakta" (Cook 

1983:63-65). Ini agaknya khas Waqidi. Dia selalu bersedia memberikan tanggal dan 

lokasi yang tepat, padahal Ibn Ishaqpun, yang hidup ratusan tahun setelah kematian 

muhammad dan hidup sebelum Waqidi, tidak pernah mengetahui detailnya. (Crone 

1987:224).

16

"Tidak mengherankan," balas Crone, “ bahwa ulama sangat menyukai Waqidi: dimana 

lagi bisa kita temukan informasi sangat tepat seperti tentang segala sesuatu yang ingin 

kita ketahui? Namun, mengingat bahwa informasi ini semua tidak diketahui sebelumnya 

oleh Ibnu Ishaq, maka nilai kisahnya sangat diragukan. Dan jika informasi palsu 

terakumulasi pada periode ini, dalam dua generasi antara Ibn Ishaq dan Waqidi, sulit 

untuk menghindari kesimpulan bawa setidaknya ada 3 generasi terbentang antara 

Muhammad dan Ibnu Ishaq "(Crone 1987:224).

Akibatnya, tanpa pengawasan yang nyata, atau keinginan untuk menyajikan 

dokumentasi yang mendukung, para pengumpul kisah ini melebihi kewenangan mereka.

Para sarjana Muslim yang menyadari hal ini membiarkan perkembang-biakan ini 

dengan berpendapat bahwa agama Islam mulai stabil saat ini. Jadi, wajar bahwa karya 

sastra juga akan mulai tampil lebih banyak. Mereka katakan bahwa kisah-kisah versi 

awal tidak lagi relevan bagi Islam yang baru, dan akibatnya kisah-kisah awal itu entah 

dibuang atau hilang (Humphreys 1991:72).

Walaupun ada kepercayaan pada teori ini, orang akan berasumsi bahwa bahkan 

beberapa dokumen ini akan tetap, terselip di perpustakaan tertentu, atau dalam koleksi 

seseorang. Namun asumsi ini tidak terbukti, dan ini yang mencurigakan.

Namun, yang lebih penting lagi yaitu  apakah "naskah Quran Usman" (yang konon 

dijadikan naskah final yang disusun oleh Zaid ibnu Thabit pada 646-650 M, dan sumber 

bagi Quran kita sekarang) bisa dimasukkan dalam skenario ini ? Tentu saja akan 

dianggap relevan, sebab, seperti yang telah kita sebutkan sebelumnya, menurut tradisi 

semua naskah Quran dan salinan lain dibakar oleh Khalifah Usman segera setelah 

empat salinan itu dibuat. Dimana salinan ini hari ini? Segmen naskah paling awal dari Al 

Qur'an yang kita miliki tidak lebih awal dari tahun 690-750 M! (Schimmel 1984:4) 

Apakah mereka yang memegang asumsi ini bersedia mengakui bahwa keempat salinan 

juga dibuang sebab  mereka tidak lagi relevan bagi Islam yang baru pada jaman itu?

Lebih jauh lagi, banyaknya jumlah hadis yang tiba-tiba muncul pada abad 

kesembilan menciptakan banyak skeptisisme. Telah diklaim bahwa pada pertengahan 

abad ke-sembilan ada lebih dari 600.000 hadis, atau cerita-cerita awal tentang 

kehidupan nabi ! Bahkan tradisi mengatakan bahwa begitu banyak hadis sehingga 

Khalifah yang berkuasa minta Al Bukhari, sarjana terkenal, untuk mengumpulkan 

perkataan yang benar dari 600.000 hadis itu. Jelas, bahkan saat itu ada keraguan 

mengenai kebenaran bagi begitu banyaknya hadis.

Bukhari tidak pernah menyebutkan kriteria yang ia pakai, kecuali pernyataan samar-

samar "tidak dapat diandalkan" atau "tidak sesuai" (Humphreys 1991:73). Pada 

akhirnya, ia menetapkan hanya 7.397 hadis, atau kira-kira hanya 1,2%, yang bisa 

dipercayai! Namun lewat seleksi berikutnya jumlahnya menjadi 2762 hadis sahih dari 

600.000 (AKC 1993:12). Apakah ini berarti bahwa dari 600.000 hadis itu ada 592.603 

yang palsu dan harus dibuang. Jadi hampir 99% dari hadits ini  dianggap palsu. 

Benar-benar mengerikan !

Ironisnya skenario macam inilah yang menciptakan keraguan tentang keaslian dari 

setiap hadis. Dari mana 600.000 hadis awal ini berasal jika demikian banyak dianggap 

palsu? Apakah salah satu dari hadis yang palsu itu lolos diturunkan kepada kita 

sekarang? Apakah kita memiliki bukti keberadaan mereka sebelum waktu itu? Tidak ada 

sama sekali!

17

Fakta bahwa mereka tiba-tiba muncul pada periode ini (pada abad kesembilan, atau 

250 tahun setelah peristiwa dirujuk terjadi) dan tiba-tiba ditolak, tampaknya menunjukkan 

bahwa hadis-hadis ini diciptakan atau diadopsi pada saat ini, dan bukan pada tanggal


jay smith 2

  


yang lebih awal. Hal ini menggemakan pernyataan yang dibuat sebelumnya oleh 

Schacht mengenai kebutuhan dari penyusun abad kesembilan untuk mengotentikasi 

hukum-hukum dipinjam dari agama lain, dengan cara mengait-kaitkan dengan 

kehidupan nabi. Dengan tergesa-gesa mereka meminjam tradisi lain yang terlalu longgar 

dan saling bertentangan, yang pada gilirannya memaksa ulama untuk men-standarkan 

hadis-hadis yang mereka anggap mendukung agenda mereka.

Hal ini meninggalkan kita masalah, bagaimana mereka memutuskan hadis yang 

otentik dan yang tidak.

B.7. Isnad ( Jalur Transmisi Lisan)

Untuk menjawab masalah ini, para sarjana Muslim mempertahankan asumsi bahwa 

alat utama untuk memilih antara hadis sahih dari hadis palsu yaitu  melalui proses 

transmisi lisan, yang dalam bahasa Arab disebut Isnad. Muslim berpendapat bahwa 

isnad yaitu  ilmu yang digunakan oleh Bukhari, Tabari dan pengumpul lain pada abad 

kesembilan dan kesepuluh untuk memilih autentisitas kompilasi mereka. Untuk 

mengetahui siapa penulis asli dari banyak hadis yang mereka miliki, para penyusun 

memberikan sebuah daftar nama-nama yang seharusnya ditelusuri sampai penutur yang 

sejaman dengan kehidupan nabi sendiri. sebab  pentingnya bagi diskusi kita, maka ilmu 

Isnad ini perlu dijelaskan secara lebih rinci:

Dalam rangka memberikan kredibilitas sebuah hadits, atau narasi, daftar nama yang 

melekat pada setiap dokumen yang diduga menunjuk melalui siapa hadis itu telah 

diwariskan. Itu yaitu  nama rantai transmisi, yang menyatakan, saya menerima ini dari

si anu yang ia peroleh dari si Fulan yang menerimanya dari sahabat nabi. "(Rippin 

1990:37-39)

Sementara kita di Barat menilai transmisi oral sebagai mencurigakan, dan tidak 

kredibel, namun hal ini dikembangkan dalam dunia Arab, dan wahana untuk 

mewariskan banyak sejarah mereka. Masalah dengan transmisi lisan yaitu  bahwa 

sifatnya, terbuka untuk suatu penyimpangan sebab  tidak memiliki kode tertulis atau 

dokumentasi untuk menguatkan itu. Dengan demikian, dapat dengan mudah 

dimanipulasi menurut agenda si penutur (seperti permainan anak-anak dari "kata berkait 

").

Dalam rangka untuk mendapat  kredibilitas tulisannya, seorang pungumpul hadis 

akan mendaftarkan daftar indivdidu terkenal Isnad-nya, mirip dengan kebiasaan yang 

kita gunakan saat ini untuk meminta individu penting untuk menulis prakata dalam buku-

buku kita. Semakin besar rantai daftarnya, semakin besar kredibilitasnya. Namun, tidak 

seperti kita yang menampilkan orang-orang sejaman, para penyusun abad kesembilan 

tidak memiliki dokumentasi untuk membuktikan bahwa sumber mereka cukup otentik. 

Individu-individu yang namanya mereka catut sudah lama mati, dan tidak bisa menjamin 

apa yang telah mereka konon katakan.

Anehnya, "isnad memiliki kecenderungan untuk terus mundur." Dalam teks-teks awal 

tertentu, misalnya, sebuah pernyataan akan ditemukan dikaitkan dengan khalifah dari 

dinasti Umayyah, atau bahkan akan tidak menyebutkan sumbernya, seperti dalam kasus 

hukum tertentu; namun ditempat lain, laporan yang sama akan ditemukan dalam bentuk 

18

laporan hadits dengan runutan isnad sampai ke masa Muhammad atau salah satu 

temannya. "(Rippin 1990:38)

sebab  itu, jelas tampak bahwa isnad digunakan untuk memberikan wewenang 

kepada hadis tertentu yang jelas berkaitan erat dengan jaman masyarakat dalam 

generasi-generasi setah Muhammad, tapi seakan-akan dibingkai sebagai ucapan 

Muhammad sendiri." (Rippin 1990:38) Isnad dan hadis ini sendiri yang seharusnya para 

mufasir coba carikan otentisitasnya, bukan malah memilih mempercayainya sebagai 

fakta historis, yang pada gilirannya akan melemahkan yang apa yang hadis-hadis ini 

coba untuk komunikasikan (Crone 1987:214 ).

sebab  itu jelas bahwa Isnad, bukannya menguatkan dan mensubstansikan materi 

yang harusnya kita temukan dalam tradisi Muslim, malahan membuat masalah 

otentisitas yang lebih besar. Kita ditinggalkan dengan kesadaran bahwa tanpa ada 

transmisi berkelanjutan antara abad ketujuh dan kedelapan, tradisi-tradisi ini  hanya 

dapat dianggap sebagai gambaran dari abad sembilan dan sepuluh, tidak lebih (Crone 

1987:226).

Terlebih lagi, ilmu Isnad, yang dimaksudkan untuk mengotentikasi silsilah transmisi 

baru dimulai pada abad kesepuluh, lama setelah isnad yang bersangkutan sudah 

disusun (Humphreys 1991:81), sehingga memiliki relevansi yang sedikit sekali untuk 

diskusi kita. Akibatnya, sebab  itu yaitu  seperti ilmu non-eksakta, aturan praktis 'untuk 

sejarawan paling saat itu yaitu : daftar yang lebih panjang, yang meliputi nama orang 

terkenal, semakin membuat suatu hadis terlihat keasliannya. " Oleh sebab  itu. kita tidak 

akan pernah tahu apakah nama yang tercantum dalam isnad pernah memberikan atau 

menerima informasi dengan yang darinya mereka dikait-kaitkan.

B.8. Para Pendongeng Kisah (Kussa)

Mungkin argumen terbesar yang memberatkan penggunaan Tradisi Islam sebagai 

sumber yaitu  masalah transmisi. Untuk memahami argumen ini lebih baik kita perlu 

menyelidiki seratus tahun lebih sebelum jaman Ibnu Ishaq (765 M), dan setelah 

kematian Muhammad pada tahun 632 M , sebab , 'para pengajar Muslim, yang kepada 

siapa kita mendapat  “Biografi” Muhammad, bukanlah bank memori asli dari tradisi 

Nabi. "(Crone 1980:5)

Menurut Patricia Crone, seorang peneliti Denmark di bidang kritik sumber, kita hanya 

tahu sedikit tentang bahan asli, sebab tradisi-tradisi yang ada telah dibentuk kembali 

oleh para pengembang cerita selama satu setengah abad (Crone 1980:3). Para 

Pendongeng ini disebut Kussa. Diyakini bahwa mereka mengumpulkan cerita mereka 

dengan memakai  model legenda Bibel yang cukup populer di sekitar dunia 

Bizantium pada waktu itu, dan  cerita-cerita asal Iran. Dari kisah-kisah maka tumbuhlah 

literature mirip novel sejarah , dan bukan catatan sejarah (Levi Della Vida 1934:441).

Dalam kisah-kisah inilah ditulis contoh bahan-bahan yang ditransmisikan oleh tradisi 

lisan selama berabad-abad. Kisah ini ada dua jenis : Mutawatir (cerita yang diturunkan 

berturut-turut) dan Mashhur (cerita yang terkenal atau dikenal luas) (Welch 1991:361).

Patricia Crone, dalam bukunya: Meccan Trade and the Rise of Islam, 

mempertahankan bahwa sebagian besar apa yang pengumpul kisah terkemudian 

19

menerima bahan-bahan itu dari para pendongen (Kussas) yang secara tradisional 

yaitu  pengulang gudang sejarah:

yaitu  para pendongeng kisah yang menciptakan tradisi Muslim. Tradisi yang terdengar 

seperti sejarah – yang mana mereka tambahkan dongeng-dongeng yang seharusnya tidak 

pernah ada.

Hal ini terjadi sebab  para pendongeng memainkan peran penting dalam 

pembentukan tradisi yang ada dimana begitu kecil nilai historisitas terkandung pada 

kisah itu. Sebagai pendongeng satu mengikuti pendongeng lainnya, dalam ingatan masa 

lalu tereduksi menjadi sebentuk cerita umum, tema, dan motif yang dapat 

dikombinasikan dan direkombinasi dalam kisah yang sepertinya menyejarah. Setiap 

kombinasi dan rekombinasi akan menghasilkan rincian baru, dan sebagai akumulasi 

informasi palsu, sedang  informasi asli akan hilang. Dengan tidak adanya tradisi 

alternatif, sarjana awal dipaksa untuk mengandalkan kisah pendongeng, seperti yang 

dilakukan Ibn Ishaq, Waqidi, dan sejarawan lainnya. Hal ini sebab  mereka bergantung 

pada pengulangan cerita yang sama bahwa mereka semua berkata serupa sebab  kisah 

kehidupan Muhammad tidak pernah ditulis sampai periode akhir Ummayad (sekitar 

tahun 750 M).

Crone percaya bahwa: " Tradisi Islam demikian merupakan sebuah monumen kehancuran 

daripada pelestarian masa lalu," (Crone 1980:7) dan " yaitu  tradisi dimana informasi yang 

tak berarti apa-apa dan membimbing kita ke bukan apa-apa." (Crone 1980:12) Oleh sebab  

logis bila Tradisi Muslim sama sekali tidak dapat dipercaya sebab  memiliki terlalu 

banyak perkembangan selama transmisi dari satu generasi ke generasi berikutnya. 

Bahkan, kita juga bisa mengulangi apa yang telah kita menyatakan sebelumnya: tradisi 

relevan hanya saat  mereka berbicara pada periode di mana mereka ditulis, dan tidak 

lebih.

Ada begitu banyak kesulitan dalam tradisi: tanggal penulisan yang terlambat 

sebagai naskah-naskah awal Islam, hilangnya kredibilitas sebab  agenda kemudian, dan 

kontradiksi yang jelas saat  orang membacanya, dan  perkembang biakan akibat 

redaksi agresif oleh pendongeng , dan ketidak-ilmiahan ilmu Isnad yang digunakan 

sebagai metoda pembuktian. Apakah mengherankan jika para sejarawan, sementara 

wajib untuk merujuk pada materi yang disajikan oleh tradisi Muslim (sebab  ukuran dan 

ruang lingkup), lebih memilih untuk mencari penjelasan alternatif ide-ide dan teori 

tradisional yang bisa diterima, sambil mencari bahan sumber lebih lanjut lain?

sebab  banyak muslim yang mengklaim bahwa hanya Al Qur’an saja yang bisa 

memberikan kita sumber otoritasnya, maka yaitu  wajar bagi kita, setelah melihat 

nature tradisi yang tidak bisa diandalkan ini, untuk kemabali pada Al Qur’an, dan bukan 

tradisi.

C. Kritik Internal Dalam Tubuh Qur'an Sendiri 

Sementara Muslim senang dengan pendekatan kritis kepada semua kitab, 

termasuk Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, ironisnya mereka menuntut posisi yang 

unik dan tertinggi untuk Al Qur'an, dengan mengklaim kekuasaan tertinggi atas semua 

kitab lainnya, sebab  menurut mereka, awalnya Quran tidak pernah ditulis oleh manusia 

20

dan tidak pula tercemar oleh pikiran dan gaya menulis manusia . Alasan seperti itu 

sebab  keyakinan bahwa Quran berasal dari "Ibu segala Buku" (diambil dari Surah 43:3-

4).

C.1. Pujian Atas Qur'an Yang Dikarang-karang 

Muslim mengklaim bahwa keunggulan Al-Qur'an atas semua wahyu lainnya yaitu  

sebab  struktur dan gaya sastranya yang canggih. Mereka mengutip dari Surah 10:37-

38, 2:23 atau 17:88, yang mengatakan:

Tidaklah mungkin Al Qur’an ini dibuat oleh selain Allah; akan tetapi (Al Qur’an itu) 

membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah 

ditetapkannya, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.

Atau (patutkah) mereka mengatakan: “Muhammad membuat-buatnya.” Katakanlah: 

“(Kalau benar yang kamu katakan itu),maka cobalah datangkan sebuah Suraht 

semisalnya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) 

selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (Q 10:37-38)

Gema membanggakan ini berasal dari Hadis (Mishkat III, pg.664), yang mengatakan: 

Al-Qur'an yaitu  keajaiban terbesar di antara keajaiban dunia. Buku ini tidak ada 

duanya di dunia menurut keputusan bulat dari orang-orang terpelajar dalam poin dari 

gaya penyajiannya, retorika, gaya bahasa, pemikiran dan logika hukum dan peraturan 

untuk membentuk nasib umat manusia. "

C.1.a. Keunikan Al-Qur’an

Muslim menyimpulkan bahwa sebab  tidak ada karya sastra yang setara dengan 

Quran, ini membuktikan bahwa Al Qur'an yaitu  mukjizat diturunkan dari Allah, dan 

bukan karya tulis satu orang pun. yaitu  sifatnya yang unik ini, yang dalam bahasa Arab 

disebut i'jaz , yang muslim percayai - membuktikan penulisan ilahi, dan dengan 

demikian menegaskan statusnya sebagai sebuah mukjizat, dan menegaskan peran 

Muhammad dan  kebenaran Islam (Rippin 1990:26).

Namun, Al Qur’an sendiri menyajikan keraguan formulasi awal, dan tentu saja 

menciptakan kecurigaan tentang keunikannya. Padahal kita tahu bahwa itu tidak sampai 

akhir abad kesepuluh bahwa gagasan tentang keunikanan ini mengambil ekspresinya 

secara penuh, terutama dalam menanggapi tulisan-tulisan polemik Kristen waktu itu 

(Rippin 1990:26).

Kalangan muslim tertentu yang bertanya-tanya apakah pertanyaan keunikan ini 

sama sekali tepat untuk Al-Quran. C.G. Pfander, cendekiawan Islam, pada tahun 1835 

menunjukkan bahwa, "Ini tidak berarti pendapat universal ulama Arab tak berprasangka 

bahwa gaya sastra Quran lebih unggul dari semua buku lain dalam bahasa Arab. Beberapa 

kalangan ragu apakah Qur’an bisa mengungguli Mu'allaqat oleh Quais Imraul, atau Maqamat 

oleh Hariri baik dalam kefasihan dan puisi, meskipun di negara Muslim hanya sedikit saja orang 

yang cukup berani untuk menyatakan pendapat seperti itu. " (Pfander 1835:264)

21

Pfander menguraikannya dengan membandingkan Al Qur'an dengan Alkitab. Dia 

menyatakan, "saat  kita membaca Perjanjian Lama dalam bahasa Ibrani asli, banyak sarjana 

berpendapat bahwa kefasihan bahasa Kitab Yesaya, Ulangan, dan banyak bagian dalam 

Mazmur, misalnya, lebih agung daripada setiap bagian dari Quran. Hampir tidak ada orang tapi 

Muslim akan menyangkal hal ini, dan mungkin tidak ada Muslim yang tahu bahasa Arab dan 

Ibrani dengan baik akan mampu menyangkalnya. " (Pfander 1835:266)

C.1.b. Kelemahan-kelemahan Struktural

Sebuah perbandingan dengan Alkitab membawa masalah lain yang nyata. saat  

ada yang akrab dengan Alkitab mulai membaca Al Qur'an akan segera jelas bahwa Al 

Qur'an merupakan jenis sastra yang sama sekali berbeda, apapun keindahan puitis-

nya.

Manakala Alkitab berisi banyak narasi sejarah, Al-Qur'an mengandung sangat sedikit 

informasi sejarah. Manakala Alkitab menjelaskan sendiri istilah-istilah yang tidak akrab, 

atau wilayah tertentu yang ia sebutkan, Al-Qur'an tetap diam. Bahkan, struktur dari 

Alkitab, bagaikan sebuah kepustakaan dengan 66 buku, ditulis selama periode 1.500 

tahun mengungkapkan bahwa memerintahkan menurut kronologi, subyek dan tema.

Al-Qur'an, di sisi lain, tampak lebih seperti koleksi campur aduk dengan pernyataan 

dan idea-idea yang membingungkan, banyak yang tidak jelas hubungannya dari bab ke 

bab dan ayat ke ayat. Banyak sarjana mengakui bahwa Al Qur'an sangat serampangan 

dalam pengarangannya, hingga memerlukan tenaga yang luar biasa bagi siapapun 

untuk menjelaskan apa yang ayat-ayat itu maksudkan.

Seorang sarjana sekuler Jerman Salomon Reinach dalam pernyataannya yang agak 

keras menyatakan: 

"Dari sudut pandang sastra, Quran memiliki sedikit sekali kebaikan, penuh dengan 

deklamasi, atau pengulangan, bersifat kekanak-kanakan, kurangnya logika dan koherensi 

nyata sekali bagi para pembaca yang tidak siap pada setiap lompatan idea-nya. Hal ini 

memalukan bagi akal manusia untuk berpikir bahwa ini sastra biasa-biasa saja seperti 

ini telah menjadi subjek komentar tak terhitung, dan bahwa jutaan orang masih 

membuang-buang waktu dalam menyerapnya." (Reinach 1932:176)

Dalam nada yang sama, ensiklopedia McClintock dan Strong menyatakan bahwa:

"Masalah dalam Qur’an yaitu  sangat kacau dan suka memakai kata-kata yang tak 

jelas, buku yang jelas tanpa urutan pemikiran logis baik secara keseluruhan atau dalam 

bagian-bagiannya. Ini sesuai dengan cara yang acak-acakan dan insidental di mana 

pesan itu disampaikan.” (McClintock dan Strong 1981:151)

C.1.c. Cacat-cacat Sastra

Bahkan mantan Ulama Muslim Dashti meratapi cacat sastra Al-Qur'an dengan 

berkata, "Sayangnya Qur'an parah diedit dan isinya diatur secara bodoh". Dia menyimpulkan 

22

bahwa, "Semua yang mempelajari Al Qur'an mempertanyakan mengapa para editor Qur’an 

tidak memakai  metode alami dan logis dalam menyusunnya berdasarkan tanggal 

pewahyuan, seperti halnya dalam naskah Ali bin Abu Talib yang dihilangkan." (Dashti 

1985:28)

Setelah membaca Surah-Surah dalam Al-Qur'an seseorang akan segera menyadari 

bahwa semua itu itu tidak kronologis. Menurut tradisi, Surah-Surah yang terpanjang di 

awal yaitu  ayat-ayat yang disampaikan terakhir, dan Surah-Surah terpendek yang 

diletakan di akhir dianggap diwahyukan paling awal. Namun tradisi-tradisi yang sama 

memberitahu kita bahwa ada Surah-Surah tertentu yang mengandung ayat-ayat yang 

diwahyu baik di awal dan dan di akhir pelayanan Muhammad. Sehingga sulit untuk 

mengetahui apakah setiap pernyataan dalam Al Qur'an yaitu  pewahyuan yang awal 

atau yang terakhir.

Masalah lain yaitu  bahwa pengulangan. Al-Qur'an, seperti yang telah diberathukan 

kepada kita, dimaksudkan untuk dihafalkan oleh mereka yang buta huruf dan tidak 

berpendidikan. Oleh sebab  itu dalam Quran terdapat prinsip pengulangan yang tak 

berujung dari bahan yang sama (Morey 1992:113). Ini semua mengarah kepada 

kebingungan bagi pembaca pemula, dan tampaknya untuk menunjuk pada sebuah 

pengingatan gaya pendongeng disebutkan sebelumnya.

Al Qur'an memiliki kesulitan sastra lainnya: "Idea dalam masing-masing bab melompat 

dari satu topik ke yang berikutnya, dengan duplikasi dan inkonsistensi jelas nyata dalam tata 

bahasa, hukum dan teologi yang berlimpah" (Rippin 1990:23). Bahasa Qur’an memang semi-

puitis, sementara tata bahasanya, sebab  kelalaian, begitu tigak tegas (elliptical), sering tidak 

jelas dan ambigu. Ada perselisihan gramatikal (seperti penggunaan verba majemuk, dengan 

subyek tunggal), dan ketidak-konsistenan dalam perlakuan jenis kelamin kata benda (untuk 

contoh, lihat Surah 2:177; 3:59; 4:162, 5:69, 7: 160, dan 63:10) (Rippin 1990:28). (penerjemah : 

dalam banyak bahasa seperti bahasa Arab, Prancis dsb, kata benda dibagi kedalam 

dua kategori : maskulin dan feminin, dengan perlakuan kata benda, kata ganti dan kata 

kerja yang berbeda pula. Hal yang tidak kita miliki dalam bahasa Indonesia) Banyak kali 

kalimat dalam Surah yang tanpa kata kerja, dan mengasumsikan pembacanya 

memahami informasinya dengan baik. Qur’an memiliki penjelasan sedikit dan akibatnya 

sulit untuk dibaca.

Ini bukan hanya masalah struktural. Patricia Crone menunjuk bahwa, "didalam 

kumpulan ayat saja hal-hal sepele yang ditempatkan secara keliru sering kali secara 

mengejutkan ditemukan. Tuhan bisa muncul sebagai orang pertama dan ketiga dalam satu 

kalimat yang sama. Mungkin ada kelalaian, yang jika tidak dibetulkan oleh terjemahannya, akan 

memperlihatkan kebodohan yang nyata." (Cook 1983:68)

Menanggapi tuduhan ini, teolog tata-bahasa al-Rummani (meninggal 996 M) 

berpendapat bahwa ketidak-jelasan dan penyimpangan gramatikal yaitu  perangkat 

retoris benar-benar positif dan bukan bukti menulis terburu-buru atau ceroboh (Rippin 

1990:27). Namun argumen semacam ini hampir mustahil untuk dipahami, sebab  

kurangnya literatur sekuler sejaman dengan yang untuk membandingkan. Hal ini 

meninggalkan "satu-satunya kartu argumen dogmatis” ... tapi kartu yang satu ini yang 

sering dipakai (seperti banyak argumen keagamaan lainnya) dalam praduga Islam 

sendiri." (Rippin 1990:27).

Namun demikian, telah banyak cara dilakukan oleh non-muslim untuk menyanggah 

anggapan di atas dengan mengekspos alasan yang benar untuk penyimpangan ini. Al-

Kindi, seorang Kristen yang dipekerjakan di istana khalifah, melakukan diskusi dengan 

para Muslim sedini 830 M ( yang saya percayai beberapa sesaat setelah kanonisasi Al-

23

Qur’an). Dia sepertinya memahami agenda umat Islam waktu itu. Mengantisipasi klaim 

oleh umat Islam bahwa Al Qur'an itu sendiri yaitu  bukti inspirasi ilahi dia menanggapi 

dengan mengatakan:

“Hasil dari semua ini [proses dimana Al-Qur'an datang menjadi ada] yaitu  paten bagi anda 

yang telah membaca tulisan suci dan melihat bagaimana, dalam kitab Anda, sejarah semua 

campur aduk bersama dan berkelit-kelindan, sebuah bukti bahwa banyak tangan yang berbeda 

yang memiliki perbedaan nyata telah bekerja di dalamnya, dan memicu  ketidak-

cocokan, penambahan, pemotongan apapun yang mereka suka atau tidak suka. Apakah seperti 

itu, sekarang, kondisi sebuah wahyu diturunkan dari surga? " (Muir 1882:18-19,28)

Menariknya, pernyataan Al-Kindi sedini awal abad 9 M ternyata selaras dengan 

kesimpulan Wansbrough lebih dari sebelas ratus tahun kemudian, keduanya 

mempertahankan bahwa Quran yaitu  hasil dari kompilasi serampangan oleh redaktur 

kemudian satu abad atau lebih setelah kejadian (Wansbrough 1977:51).

C.1.d. Klaim Keuniversalan Qur’an

Kesulitan lain dalam Al Qur'an yaitu  ruang lingkupnya. Beberapa negara ayat 

mengatakan bahwa Qur’an yaitu  buku hanya untuk orang Arab (Surah 14:04; 42:7; 

43:3 dan 46:12), sementara ayat-ayat lain menyiratkan itu yaitu  wahyu bagi semua 

orang dan di segala jaman (Surah 34:28 ; 33:40). Apakah aplikasi universal ini datang di 

kemudian hari, ditambahkan setelah Islam merambah dan merangsek negeri-negeri 

asing, dan di syiarkan antara orang-orang asing? Jika demikian, maka hal ini 

menempatkan keraguan atas keandalannya sebagai sumber awal.

C.1.e. Interpolasi (Penyisipan)

Dalam Al-Qur'an ada juga kasus yang jelas yang berkaitan dengan interpolasi. 

Sebuah contoh dirujuk oleh Michael Cook dapat ditemukan di Surrah 53, di mana "teks 

dasar terdiri dari seragam ayat pendek dengan gaya yang terinspirasi, namun di dua 

tempat itu terganggu oleh penekanan prosai yang bertele-tele dan cukup membosankan 

yang keluar konteks."(Cook 1983:69) Apakah ini datang dari sumber yang sama? 

Bahkan apakah mereka sebenarnya termasuk dalam Surah ini?

Fitur lain yang signifikan yaitu  kerapnya kita temukan versi alternatif dari bagian 

yang sama di berbagai bagian Al Qur'an. Cerita yang sama dapat ditemukan diulang 

dengan variasi kecil dalam Surah yang berbeda. saat  ditempatkan berdampingan, 

berbagai versi ini sering menunjukkan jenis yang sama, sehingga kita bisa menemukan 

versi paralel dari tradisi lisan (Cook 1983:69). Sekali lagi kita diperhadapkan dengan 

contoh lain dari sebuah buku tidak ditulis oleh seorang penulis tunggal, tetapi sebuah 

buku disusun kemudian oleh beberapa  individu.

Masalah ini menjadi lebih jelas saat  kita melihat beberapa kutipan dari kitab-kitab 

lain yang kita temukan dalam Al Qur'an.

24

C.2. Kisah-kisah Qur'an Yang Bersumber Dari Talmud 

Mungkin kebingungan terbesar bagi orang Kristen yang membaca Al Qur'an yaitu  

banyaknya cerita Alkitab yang nampaknya sama dengan kisah dalam Alkitab namun 

hanya memiliki sedikit kesamaannya. Kisah-kisah Al-Qur'an mencakup banyak distorsi, 

perubahan, dan beberapa tambahan cerita-cerita aneh dari kisah-kisah yang akrab 

ketahui dan pelajari dari Alkitab. Jadi, dari mana cerita-cerita ini datang, jika bukan dari 

kitab-kitab sebelumnya?

Untungnya, kita memiliki banyak literatur apokrifa Yahudi (kebanyakan dari Talmud), 

berasal dari abad kedua masehi yang dapat kita bandingkan dengan kisah-kisah dalam 

Qur’an. Sesaat  melakukannya, kita akan temua begitu banyak persamaan luar biasa 

antara dongeng atau cerita rakyat, dan kisah-kisah yang diceritakan dalam Al-Qur'an 

(catatan: materi Talmud diambil dari Feinburg 1993:1162-1163).

Kisah-kisah Talmud dikumpulkan pada abad kedua masehi dari hukum lisan 

(Mishnah) dan tradisi hukum-hukum (Gemara). Hukum-hukum dan tradisi ini diciptakan 

sebagai upaya adaptasi hukum Musa (Taurat) dengan zaman yang senantiasa berubah. 

Talmud juga memasukan interpretasi dan diskusi tentang hukum-hukum (misalnya 

Halakhah dan Haggadah dll). Banyak orang Yahudi tidak menganggap tulisan-tulisan 

Talmud otoritatif, namun mereka tetap membacanya sebagai alat Bantu pengetahuan 

pada jaman kisah-kisah itu ditulis.

Jadi bagaimana tulisan-tulisan Talmud Yahudi non-authoritatif ini bisa sampai 

dimasukkan dalam Al Qur'an? Antara abad ketujuh dan kesembilan komunitas Yahudi 

banyak ditemukan di Semenanjung Arab (dikenal sebagai Hijaz). Mereka yaitu  bagian 

dari diaspora Palestina yang melarikan diri setelah penghancuran Yerusalem pada tahun 

70 M. beberapa  besar orang Yahudi ini dipandu oleh tulisan-tulisan Talmud yang telah 

diturunkan secara lisan dari ayah ke anak selama beberapa generasi. Setiap generasi 

menghiasi kisah-kisah ini , atau pada jaman tertentu mereka memasukan cerita 

rakyat setempat ke dalam kisah-kisah itu, sehingga sulit untuk mengetahui apa 

sebenarnya isi cerita asli ini  sebelumnya. Bahkan ada orang di antara orang 

Yahudi yang percaya bahwa tulisan-tulisan Talmud telah ditambahkan ke " dua prasasti 

batu “ (yaitu loh batu yang berisi Sepuluh Perintah YHWY, dan Taurat yang disimpan 

dalam Tabut Perjanjian), dan diyakini replika dari surgawi buku (Feinburg 1993:1163).

Beberapa sarjana percaya bahwa saat  para Pengumpul teks Qur'an di kemudian 

hari muncul di abad kedelapan dan kesembilan, mereka hanya menambahkan literatur 

ini ke dalam bahan-bahan Al Qur’an yang baru lahir. Oleh sebab  itu, tidak 

mengherankan bahwa beberapa  tradisi-tradisi dari Yudaisme secara tidak sengaja 

diterima oleh redaktur, dan dimasukkan ke dalam tulisan-tulisan ‘suci ' Islam. Ada 

beberapa cerita yang memiliki akar dalam literatur apokrif Yahudi abad kedua. Kita akan 

melihat hanya tiga sini, dan kemudian menyebutkan yang lain di akhir bagian ini:

  

C.2.a. Kisah Qabil & Habil / Kain & Habel

Kisah Kain dan Habel atau Qabil dan Habil ditemukan dalam Surah 5:30-32, yang 

awalnya sama seperti kisah dalam Alkitab dimana Kain membunuh Qabil, sekalipun 

tidak disebutkan secara eksplisti di dalam quran. .

25

Namun dalam ayat 31, setelah Kain (Qabil) membunuh Habel (Habil), ceritanya 

berubah, dan dan tidak lagi mengikuti penjelasan Bibel. Dari mana datangnya kisah 

Quran ini berasal ? Apakah ini sebuah catatan sejarah yang tidak diketahui oleh penulis 

Alkitab?

Memang ada, sebab sumber untuk kisah terlacak sampai setelah Perjanjian Lama 

telah dikanonisasi, dan setelah Perjanjian Baru ditulis. Bahkan ada tiga sumber dari 

mana kisah ini bisa diambil: Targum Jonathan ben-Uzia-, The Targum Yerusalem, dan 

sebuah buku berjudul The Pirke-Rabi Eleazar (Shorrosh 1988:144). Ketiga dokumen 

tulisan-tulisan Yahudi berasal dari Talmud, yang berasal dari tradisi lisan antara 150-

200 Masehi. Kisah-kisah ini ditulis sebagai komentar kitab-kitab Torah, namun yang 

diketahui mengandung tidak lebih dari mitos dan dongeng Ibrani.

saat  kita membaca kisah ini dari Al-Qur'an , kita menemukan paralel yang 

mencolok dengan tiga sumber Talmud :

Qur'an- Surah 5:31

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk 

memperlihatkan kepadanya (Qabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat 

saudaranya 410. Berkata Qabil: "Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat 

seperti burung gagak ini lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?" sebab  itu 

jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. 

Targum Jonathan-ben-Uzziah

"Adam dan Hawa, duduk mayat, menangis tidak tahu apa yang harus dilakukan, sebab  

mereka belum memiliki pengetahuan tentang penguburan. Lalu seekor gagak muncul, 

mengambil mayat temannya, dan setelah menggaruk tanah, kemudian menguburkannya 

di depan mata mereka. Adam berkata, 'Mari kita ikuti contoh burung gagak,' sehingga ia 

mengambil tubuh Habel, dan dikuburkanlah segera. "

Terlepas dari kontras siapa yang menguburkan siapa, dua cerita di atas luar biasa 

mirip. Kita hanya bisa menyimpulkan bahwa di sinilah Muhammad, atau sebuah para 

kompiler kemudian, memperoleh ceritanya. Jadi kita menemukan bahwa fable dan mitos 

Yahudi diulang sebagai fakta sejarah dalam Al Qur’an.

Namun ini belum semuanya, sebab  saat  kita melanjutkan membaca kita Surah 5, 

dalam ayat berikut ini 32 , kita menemukan bukti lebih lanjut dari plagiarisme Qur’an atas 

literatur Yahudi apokrif, kali ini Mishnah Sanhedrin Yahudi 4:05

Qur'an- Surah 5:32

Oleh sebab  itu kami tetapkan (suatu hukum) bagi bani Israil, bahwa: barangsiapa yang 

membunuh seorang manusia, bukan sebab  orang itu (membunuh) orang lain, atau 

26

bukan sebab  membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh 

manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan menusia semuannya. 

Mishnah Sanhedrin 4:5

"Kami menemukan hal ini dalam kasus Kain yang membunuh saudaranya, suara tangis 

darah adikmu itu terdengar”

[yang terakhir ini yaitu  kutipan dari Alkitab, Kejadian 4:10], Namun sebenarnya 

tertulis bukanlah darah (kata benda tunggal), melainkan darah-darah (kata benda 

jamak].

"Engkau diciptakan tunggal untuk menunjukkan bahwa dia yang membunuh seorang 

manusia, harus diperhitungkan bahwa dia telah dibunuh di seluruh umat manusia. Tetapi 

ia yang telah memelihara kehidupan seorang manusia, akan diperhitungkan telah 

memelihara seluruh umat manusia.

Bisakah kita lihat ketiadaan hubungan jelas antara ayat 31 dengan ayat 32? Apakah 

hubungan antara pembunuhan Habel oleh Kain dengan pembunuhan seluruh umat 

manusia?

Jika kita beralih ke Talmud Yahudi lagi, kali ini ke Sanhendrin Mishnah, bab 4, ayat 

5, kita akan menemukan di mana penulis mendapat  materi untuk Qur’an, dan 

mengapa ia memasukkannya.

Dalam kisah ini kita membaca komentar seorang Rabbi, di mana ia menafsirkan kata 

'darah' berarti, "darahnya sendiri dan darah keturunannya." Ingat, ini hanyalah komentar 

seorang Rabbi. Ini yaitu  interpretasinya sendiri, dan sangat spekulatif .

Oleh sebab  itu, agak menarik bahwa ia kemudian melanjutkan dengan 

mengomentari kata jamak untuk darah.  Namun komentar Rabbi ini diulang hampir kata 

demi kata dalam Qur'an, dalam QS 5: 32 ! Bagaimana mungkin komentar seorang Rabbi 

pada teks Alkitab, hasil perenungan manusia biasa, menjadi ayat Al-Qur'an dan dikait-

kaitkan sebagai kata-kata Allah?

Satu-satunya kesimpulan yaitu  bahwa para kompiler kemudian mengetahui nasihat 

ini dari tulisan ini Rabbi, sebab  tidak ada hubungan antara cerita tentang pembunuhan 

Habil oleh Kain dalam Qur'an (QS 31), dan ayat berikutnya tentang seluruh ras (QS 32 ).

Hanya saat  kita membaca Mishnah Sanhedrin 4:05 kita dapat menemukan 

hubungan antara dua cerita itu: eksposisi dari seorang Rabbi dari sebuah ayat Alkitab 

dan penjelasan kata intinya. Alasan mengapa koneksi ini kurang dalam Al Qur'an 

sekarang cukup mudah dimengerti. Penulis Surah 5 tidak tahu konteks di mana Rabi 

berbicara, dan sebab nya tidak sadar bahwa ini hanyalah komentar pada teks Alkitab 

dan bukan dari Alkitab itu sendiri. Dia hanya menambahkan mereka ke Al-Qur'an, 

mengulangi apa yang dia dengar tanpa memahami implikasinya.

C.2.b. Kisah Ibrahim / Abraham 

27

Dalam Surah 21:51-71, kita menemukan kisah Ibrahim atau Abraham. Dalam 

penjelasan Al-Quran Ibrahim menantang kaumnya dan ayahnya sebab  berhala-berhala 

yang mereka sembah. Setelah Abraham dan kaumnya ini berdebat, mereka berangkat 

dan Abraham menghancurkan patung-patung kecil tapi menyisakan patung yang paling 

besar masih utuh. saat  orang-orang melihat ini mereka memanggil Abraham dan 

menanyakan apakah ia bertanggung jawab akan hal itu. Abraham menjawab pastilah itu 

patung-patung yang lebih besar menghancurk patung-patung yang lebih kecil.

Dia menantang mereka untuk bertanya sendiri kepada patung-patung yang besar itu 

untuk mencari jawabnya. Mereka menjawab, "Engkau tahu benar bahwa ini patung-

patung tidak berbicara!" (QS 65). Dia memberikan jawaban mengejek, dan mereka 

kemudian melemparkan dia ke dalam api. Tapi dalam ayat 69 atas perintah Allah api 

untuk menjadi dingin, sehingga Abraham aman, dan dia secara ajaib berjalan keluar 

tanpa cedera.

Tidak ada paralel kisah ini dalam Alkitab. Namun ada kisah serupa dalam sebuah 

buku abad kedua, yakni cerita rakyat Yahudi yang disebut Midrash Rabbah. Dalam 

kitab itu dikisahkan tentang Abraham yang menghancurkan semua patung kecuali 

patung yang terbesar. Ayahnya dan yang lain menantangnya, dan dengan jenaka 

Abraham menjawab bahwa ia telah memberikan sebuah lembu besa untuk dimakan 

bersama-sama oleh semua berhala. Namun berhala yang kecil, tanpa rasa hormat pada 

berhala yang besar, langsung memakan habis lembu itu. Hal ini membuat berhala yang 

lebih besar marah dan menghancurkan berhala yang kecil. (bagian jenaka ini dihapus 

dari pencatatan di Qur’an). Ayahnya yang sedang marah itu tidak mempercayai kisah 

Abraham, kemudian ia membawa seorang pria yang bernama Nimrod, dan kemudian ia 

melemparkan Abraham ke dalam api. Namun Allah membuat api itu dingin dan 

selamatlah Abraham.   

Kesamaan antara kedua cerita ini jelas sekali. Sebuah dongeng Yahudi abad kedua, 

cerita rakyat, dan mitos diulang dalam “kitab suci “ Al-Qur'an. Jelas sekali bahwa 

kompiler kisah ini pernah mendengar potongan-potongan kisah Alkitab dari komunitas 

Yahudi dan dengan asumsi mereka datang dari sumber, yang sama tanpa disadari 

menulis cerita rakyat Yahudi ke dalam Al-Qur'an.

Beberapa Muslim mengklaim bahwa mitos ini, dan bukan kisah dalam Alkitab, dalam 

kenyataannya merupakan Firman Allah yang benar. Mereka mempertahankan bahwa 

Yahudi menghapuskan kisah-kisah ini  sehingga tidak sesuai dengan kisah dalam 

Al-Quran, tanpa mencoba untuk menjelaskan bagaimana orang-orang Yahudi bisa 

mencoreng kisah-kisah ini, sebab Al Qur'an itu sendiri tidak muncul sampai berabad-

abad kemudian. Namun demikian tetap saja kita harus bertanya dari mana cerita rakyat 

ini berasal?

Alkitab sendiri memberikan kita jawabannya. Dalam Kejadian 15:07, Tuhan 

memberitahu Abraham bahwa Ia yang membawa Abraham keluar dari Ur-Kasdim. Ur 

yaitu  tempat, juga disebutkan dalam Kejadian 11:31. Kami memiliki bukti bahwa 

seorang penulis Yahudi bernama Jonathan Ben Uziel mengira kata Ibrani "Ur" untuk kata 

Ibrani yang berarti "api." Jadi dalam komentarnya tentang ayat ini ia menulis, "Akulah 

TUHAN yang membawa engkau keluar dari api Kasdim."

Akibatnya, sebab  kesalahpahaman ini, dan sebab  salah membaca ayat Alkitab, 

sebuah cerita rakyat menjadi populer di jaman itu (abad 2 M), yang menyatakan bahwa 

Tuhan telah membawa Abraham keluar dari api.

28

Dengan informasi ini di tangan, kita bisa, sebab  itu, membedakan dari mana 

dongeng Yahudi berasal: dari kesalahpahaman membaca sebuah ayat Alkitab oleh 

seorang penutur kisah yang keliru. Namun, entah bagaimana pemahaman sesat bisa 

sampai dijadikan ayat dalam Al Qur'an.

Dari contoh-contoh di atas, hal ini jelas bahwa penyusun Al-Qur'an hanya 

mengulangi apa yang dia dengar, dan tidak mampu membedakan antara yang ia dengar 

dengan kisah sebenarnya dalam Alkitab. Ia hanya memperkenalkan mereka bersamaan 

dalam Al-Qur'an

  

C.2.c. Kisah Raja Sulaeman dan Ratu Sheba

Dalam Surah 27:17-44 kita membaca kisah tentang Sulaeman atau Salomo, burung 

hud-hud dan Ratu Sheba. Setelah membaca kisah Al Qur'an tentang Salomo dalam 

Surat 27, akan membantu untuk membandingkannya dengan cerita yang diambil dari 

cerita rakyat Yahudi, Targum II Ester, yang ditulis dalam abad 2 M, hampir lima ratus 

tahun sebelum penciptaan Al-Qur'an (Tisdall 1904:80-88; Shorrosh 1988:146-150):

Qur'an- Surah 27:17-44

(17) Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu 

mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).

(20) Dan dia memeriksa burung-burung lalu berkata: "Mengapa aku tidak melihat hud-

hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir.

(21) Sungguh aku benar-benar akan mengazabnya dengan azab yang keras atau benar-

benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan 

yang terang".

(22) Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah 

mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri 

Saba suatu berita penting yang diyakini.

(23) Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia 

dianugerahi segala sesuatu dan  mempunyai singgasana yang besar.

(27) Berkata Sulaiman: "Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk 

orang-orang yang berdusta.

(28) Pergilah dengan (membawa) suratku ini, lalu jatuhkan kepada mereka, kemudian 

berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan"

(29) Berkata ia (Balqis): "Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan 

kepadaku sebuah surat yang mulia.

(30) Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan sesungguhnya (isi)nya: "Dengan 

menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

29

(31) Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah 

kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri".

(32) Berkata dia (Balqis): "Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam 

urusanku (ini) aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada 

dalam majelis(ku)".

(33) Mereka menjawab: "Kita yaitu  orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) 

memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada 

ditanganmu: maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan".

(35) Dan sesungguhnya aku akan mengirim utusan kepada mereka dengan (membawa) 

hadiah, dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan 

itu".

(42) Dan saat  Balqis datang, ditanyakanlah kepadanya: "Serupa inikah 

singgasanamu?" Dia menjawab: "Seakan-akan singgasana ini singgasanaku, kami telah

diberi pengetahuan sebelumnya dan kami yaitu  orang-orang yang berserah diri".

  

Targum 2 Esther

Salomo memberikan perintah ........................Aku akan mengirim raja dan bala tentara 

melawan engkau .......................yang terdiri dari jenis binatang-binatang darat dan 

burung-burung di udara. Kemudian sesudah itu, seekor ayam jantan merah (seekor 

burung) pergi dengan sesuka hatinya dan entah kemana. Raja Salomo memberi perintah 

untuk menangkapnya, membawanya dengan paksa dan dia memang bermaksud 

membunuhnya.

Tetapi kemudian ayam jantan itu muncul dihadapan raja dan berkata : "Aku telah 

melihat-lihat seluruh bumi dan menyaksikan sebuah kota dan kerajaan (Sheba) yang 

belum tunduk kepadamu, tuanku raja. Mereka diperintah oleh seorang ratu bernama 

Sheba. Kemudian aku menemukan kota yang dibentengi di Tanah Timur dan 

sekelilingnya dihiasi batu-batu emas dan perak, yang mengalasi jalan-jalan."

Secara kebetulan, ratu Sheba keluar pagi-pagi untuk menyembah laut. Juru tulis Salomo 

mempersiapkan sepucuk surat, dimasukkannya di bawah sayap seekor burung yang 

membawanya terbang dan tiba di benteng Sheba. Melihat surat di bawah sayapnya, 

Sheba membuka dan membacanya: "Raja Salomo mengirim salam. Bila berkenan, 

datanglah engkau untuk menanyakan kesehatanku, dan aku akan menempatkan engkau 

tinggi di atas segala-galanya. Jika tidak berkenan, aku akan mengirim raja-raja dan bala 

tentara melawan engkau."

Membaca demikian, ratu Sheba merobek pakaiannya dan  memanggil kaum bangsawan 

untuk meminta nasehat. Mereka belum pernah mengenal Salomo, tetapi menasehatkan 

dia untuk mengirim kapal-kapal melalui laut, penuh dengan perhiasan-perhiasan dan 

batu-batu yang indah............dan juga sepucuk surat kepadanya.

Sheba akhirnya datang. Salomo mengirim utusan untuk menjemput dia, dan saat  ia 

tiba, Salomo bangkit dan duduk di dalam istana gelas. saat  ratu Sheba melihat itu, dia 

berfikir lantai gelas itu ialah air, dan saat  menyebranginya, dia mengangkat 

pakaiannya. Salomo melihat bulu kakinya dan (dia) berseru kepadanya.....

30

Sekali anda membaca dua kisah di atas, maka jelas dari mana pengumpul kisah 

Sulaeman dan Ratu Sheba dalam Al-Quran memperoleh data-nya. Dalam isi dan gaya 

kisah Al-Quran hampir identik dengan kisah yang diambil dari Targum Yahud yang ditulis 

di abad 2 M tadi, hampir lima ratus tahun sebelum penciptaan Qur'an. Kedua cerita luar 

biasa mirip, jin, burung, dan khususnya burung pembawa pesan, yang awalnya 

Sulaeman tidak bisa temukan, tetapi kemudian digunakan sebagai penghubung antara 

dirinya dan Ratu Sheba, bersama dengan surat dan lantai kaca, itulah keunikan yang 

sama dalam dua kisah di atas. Kita sama sekali tidak akan temukan paralelisme kisah ini 

dalam Alkitab. Sekali lagi kita harus bertanya bagaimana sebuah cerita rakyat Yahudi 

dari abad kedua Masehi masuk menjadi bagian dari Al-Qur'an?

Ada contoh-contoh lain dimana kita bisa temukan baik literatur Yahudi maupun 

literature apokrif Kristen apokrif dalam teks-teks Al-Quran. Kisah Gunung Sinai yang 

diangkat sampai ke atas kepala orang Yahudi sebagai ancaman untuk menolak hukum 

(Surah 7:171) berasal dari Sarah Abodah, kitab apokrif Yahudi abad kedua. Kisah-kisah 

aneh mengenai masa kanak-kanak Yesus dalam Al-Qur’an dapat ditelusuri dari 

beberapa  tulisan apokrif Kristen: pohon kurma yang menyediakan untuk penderitaan 

Maria setelah kelahiran Yesus (Surah 19:22-26) berasal dari Kitab-Kitab Terhilang, 

sedang  kisah Yesus yang menciptakan seekor burung dari tanah liat (Surah 03:49) 

berasal dari Injil Thomas Tentang Masa Kanak-kanak Yesus. Kisah tentang bayi Yesus 

berbicara (Surah 19:29-33) dapat ditelusuri ke fabel aprokif Arab dari Mesir bernama Injil 

pertama Tentang Bayi Yesus Kristus.

Dalam Surah 17:01 kita memiliki kisah perjalanan Muhammad pada malam hari dari 

masjid suci (Mekkah) ke mesjid terjauh (Yerusalem). Dari tradisi terkemudian kita tahu 

tahu bahwa ayat ini merujuk kepada Muhammad naik ke langit ketujuh, setelah 

perjalanan malam ajaib (Mi'raj) dari Mekah ke Yerusalem, dengan menungga "kuda" 

yang disebut Buraq. Detil kisah ini lebih jauh ditulis dalam kitab Mishkat Al Masabih. Kita 

bisa melacak kisah ini ke buku fiksi yang disebut Perjanjian Abraham, ditulis sekitar 200 

SM di Mesir, dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dan Arab.

Kemudian kita juga bisa melacak kisah itu di kitab Rahasia Henokh (pasal 1:4-10 dan 

2:1), yang ditulis 400 tahun sebelum penulisan Al-Qur'an. Namun kisah serupa sebagian 

besar mengambil modelkan dari kisah yang terkandung dalam kitab Persia kuno berjudul 

Arta-i Viraf Namak yang menceritakan bagaimana Zoroaster Muda yang saleh naik ke 

langit, dan kembali, kemudian menuliskan apa yang ia lihat selama perjalanannya itu 

(Pfander 1835:295-296).

Uraian Al-Quran tentang neraka menyerupai deskripsi neraka dalam Homilies 

Efraim, seorang pengkhotbah Nestorian abad keenam (Glubb 1971:36)

Penulis Al-Qur'an dalam Surah 42:17 dan 101:6-9 mungkin memanfaatkan Kitab 

Perjanjian Abraham untuk mengajarkan bahwa ada timbangan yang akan digunakan 

pada hari penghakiman untuk menimbang perbuatan baik dan buruk dalam rangka 

menentukan apakah seseorang masuk ke surga atau ke neraka.

Gambaran surga di Surah 55:56-58 dan 56:22-24,35-37, yang berbicara tentang 

orang yang saleh akan diberi upah bidadari bermata bulat seperti mutiara, memiliki 

kesejajaran yang menarik dalam agama Zoroaster Persia, di mana nama untuk gadis 

tidak ‘houris atau bidadari’, tapi Paaris.

31

Penting untuk diingat bahwa kisah-kisah dalam Talmud tidak dianggap oleh orang 

Yahudi Ortodoks jaman itu sebagai kitab yang otentik untuk satu alasan yang sangat 

baik: kitab-kitab belum ada pada Konsili Jamnia pada tahun 80 SM saat  Perjanjian 

Lama dikanonisasi. Begitu pula bahan apokrif Kristen tidak dimasukan kedalam kanon 

sebab  mereka tidak terbukti otoritatif baik sebelum dan sesudah Konsili Nicea tahun 

325 M. Jadi kitab-kitab itu selalu dipahami sebagai sesat oleh orang-orang  Yahudi dan 

Kristen Ortodoks dan terpelajar. Untuk alasan ini kita merasa sangat mencurigai 

bagaimana kisah-kisah apokrif itu kemudian dimasukan menjadi sebuah kitab yang 

diaku-aku sebagai wahyu terakhir dari Allah yang disembah Abraham, Ishak dan Yakub.

C.3. Keganjilan-keganjilan Saintifik Dalam Qur’an 

Sekarang kita beralih ke bahasan terakhir dari kesulitan-kesulitan yang kita amati 

saat  membaca Al Qur'an, yaitu keganjilan sains. Dari sudut pandang ilmu pengetahuan 

modern kita sekarang dapat mengamati apa yang terlihat seperti kelemahan ilmiah yang 

masih kasar dalam teks-teks Al-Quran.

Beberapa ini yaitu  kontradiksi hanya dengan kisah Alkitab, seperti:

 kisah Musa diadopsi 'oleh istri Firaun dalam Al Qur'an (Surah 28:9), sedang  

Alkitab menyatakan itu yaitu  putri Firaun (Keluaran 2 : 10); atau

 klaim bahwa nama Yahya unik untuk abad pertama Yohanes Pembaptis di Surah 

19:07, sedang  nama ini disebutkan lebih awal dalam 2 Raja-raja 25:23; atau

 dimasukannya Maria ke dalam trinitas Kristen dalam Surah 5:116, yang 

bertentangan bukan hanya dengan penjelasan Bibel, tetapi kepercayaan yang 

dipegang oleh hampir seluruh penduduk Kristen selama 2.000 tahun terakhir.

Menariknya, sebuah sekte yang secara signifikan dianggap sesat oleh kaum 

ortodoks dan disebut Kaum Cholloridian memegang pandangan demikian. Mereka 

tinggal di Timur Tengah pada saat kompilasi Al Qur’an berlangsung. Mungkinkah ini 

menjadi sumber untuk kesalah-pandangan Al’Qur’an tentang Maria?

Ada kontradiksi internal juga dalam Qur’an yang sama sekali nyata yang 

memperlihatkan kecerobohan dan ketidak-tahuan sejarah, seperti kebingungan tentang 

Maria yang tercatat sebagai saudara perempuan Harun dan putri Imran (Amran – dalam 

Alkitab) dan  ibu Yesus (Surah 18:28 , 66:12, dan 20:25-30).meskipun dua Maria tinggal 

1.570 tahun terpisah !

Bagian lain yang terkenal sulit yaitu  menyangkut nama Haman. Dalam Al Qur'an 

Haman disebut sebagai seorang hamba Firaun, yang membangun sebuah menara tinggi 

untuk mendaki kepada Allah Musa (Surah 28:38; 29:38; 40:25,38). Namun menara 

Babel terjadi 750 tahun sebelumnya (Kejadian 11), dan nama Haman benar ditemukan 

dalam kisah Ester di Babel, 1.100 tahun setelah Firaun. Yusuf Ali percaya bahwa 

referensi di sini hanya untuk Haman lain, namun nama ‘Haman’ bukanlah unik Mesir, 

melainkan nama bagi orang Babilonia (Pfander 1835:283-284).

Contoh-contoh ini sebenarnya tidak membawa ke pertanyaan temuan-temuan ilmiah, 

namun mereka menunjukkan sebuah kecerobohan. Ini mengisyaratkan suatu 

keterpencilan, dimana cerita ini ditransmisikan secara lisan kepada lingkungan yang jauh 

dari tradisi itu berasal, sehingga kesalahan-kesalahan detil tampak sebab  tiadanya 

kisah pembanding lain yang lebih otoritatif.

32

Kesulitan lebih serius diperlihatkan oleh ayat-ayat yang bertentangan dengan data-

data data historis yang terobservasi oleh metoda keilmiahan sekuler. Ada cukup banyak 

ditemukan dalam Al Qur'an, tetapi untuk singkatnya saya akan merujuk pada hanya 

beberapa.

Menurut Al-Qur'an (Surah 20:85-87, 95-97) yaitu  seorang Samaria yang 

membentuk patung Anak Lembu di gunung Horeb, meskipun istilah Samaria tidak 

diciptakan sampai beberapa ratus tahun kemudian, pada tahun 722 SM (Pfander 

1835:284). ( pent - di Alquran tertulis Samiri – sebenarnya ini yaitu  pelafalan Arab dari 

kata Samaria. Kata Samari menunjuk pada kebencian kaum Yahudi kepada Kaum 

Samaria yang mencampurkan ritual Yudaisme dengan ritual pemujaan berhala. Dan 

kebencian itu disamarkan dalam kisah Musa. Seakan-akan dari dahulu ritual orang 

Samaria itu memang sudah jadi bibit kekufuran dalam agama Yahudi. Namun tentu saja 

itu hanya suatu kekeliruan. Sebab tidak pernah ada catatan tentang Samari atau 

Samaria dalam kisah Perjanjian Lama. Jadi sekali lagi ini membuktikan bagaimana Al-

Qur’an mengambil sumber-sumbernya dari kisah-kisah fabel Yahudi dan Kristen yang 

sama sekali tidak masuk hitungan dalam kanonisasi kitab sebab  otentisitasnya yang 

tidak bisa dipertanggung-jawabkan. )

Issa nama keliru yang diterapkan kepada Yesus. Nama Arab yang benar untuk 

Yesus harusnya ‘Yesuwa’.

Hal menarik lain yaitu  pernyataan yang agak aneh dalam Surah 16:15; 21:31 

31:10, 78:6-7, 88:19 mengklaim bahwa gunung-gunung yang digunakan sebagai pasak 

tenda untuk menjaga bumi dari guncangan. Kita sekarang tahu dari studi geologi bahwa 

gunung yaitu  hasil dari entah aktivitas gunung berapi atau aktivitas tektonik – atau 

tabrakan dua lempeng bumi (Campbell 1989:170-173). Ironisnya, kedua alasan 

membuktikan bahwa keberadaan gunung yaitu  bukti ketidakstabilan dalam kerak bumi 

dan bukan sebaliknya.

Dalam Surah 7:124, Firaun menegur para ahli-ahli sihirnya dengan mengancam 

akan menyalibkan mereka di kayu salib. Dalam Surah 12:41, tukang roti dalam kisah 

Yusuf diberitahu bahwa dia akan disalibkan. Namun sejarah membuktikan bahwa 

hukuman penyaliban tidak muncul pada jaman itu. (jangan dibingungkan dengan Ankh 

Mesir yang merupakan objek untuk kesuburan dan kehidupan, dan bukan instrumen 

kematian). Penyaliban pertama kali dipraktekkan oleh Fenisia dan penduduk 

Carthaginians dan kemudian dipinjam secara luas oleh Roma sekitar jaman Yesus, 

tahun 1700 setelah Firaun!

Masih ada inkonsistensi ilmiah lain dalam Qur’an yang bisa diamati, seperti 

anggapan di Surah 41:9-11 bahwa langit diciptakan dari asap (kata Arab yang 

digunakan yaitu  Dukhan). Bandingankan dengan penggambaran Alkitab tentang 

penciptaan langit dari air (Kejadian 1:1 - 2). Neuman dan Eckelmann, dua fisikawan 

terkemuka mempertahankan bahwa asap, yang terdiri dari partikel-partikel organik tidak 

bisa eksis dalam keadaan primordial, sementara air (kata Ibrani yang digunakan yaitu  

mayim) kemungkinan besar hadir sebagaimana penelitian baru tentang evolusi nebula 

menunjukkan kepada kita kebutuhan akan hadirnya hidrogen dan oksigen (atau H2O) 

dalam keadaan primordial (Neuman / Eckelmann 1977:71-72 dan Campbell 1989:22-

25). Ironisnya yaitu  Alkitab, dan bukan Al-Qur'an, yang lebih dekat dengan temuan 

ilmiah modern. (pent- saya sendiri lebih senang temuan ilmiah dari pada kisah-kisah 

mitos baik itu dari Al-Qur;an, ataupun Bibel)

Meteor, dan bahkan bintang-bintang, menurut Quran dikatakan sebagai rudal yang 

ditembakkan pada setan dan jin yang berusaha untuk mendengarkan pembacaan Al 

33

Qur’an di surga, dan kemudian mereka sampaikan pada manusia (Surah 15 :16-18; 

37:6-10; 55:33-35; 67:5; 72:6-9 & 86:2-3). Bagaimana kita memahami Surah? Apakah 

kita percaya bahwa Allah melemparkan meteor, materi yang terdiri dari karbon dioksida 

atau besi-nikel, pada setan, yang non material, yang curi-curi dengar di dewan surgawi?

Dan bagaimana kita menjelaskan fakta bahwa banyak meteor dalam badai meteor 

dengan jalur yang paralel? Apakah kita berasumsi bahwa si setan-setan ini diberdirikan

berbaris di tengah-tengah jalur parallel itu agar tertabrak sebagai hukuman dari Allah ? 

(Campbell 1989:175-177)

Yang menjadi tema favorit lainnya bagi Muslim modern untuk pikirkan yaitu  

tahapan dalam pembentukan janin (lihat Surah 2:259; 22:5, 23:12-14, 40:67, 75:37-39, 

dan 96:1-2) . Menurut Surah janin melewati empat tahap, dimulai dengan sperma yang 

menjadi Alaqa. Meskipun tidak ada yang sepertinya tahu apa arti kata ini sebenarnya, 

banyak orang menduga bahwa itu yaitu  sesuatu yang menempel pada sesuatu, atau 

menggumpal, atau suatu gumpalan darah, sebuah benjolan embrio, dan bahkan 

segumpal daging dll .. ‘Alaqa’ kemudian menjadi tulang yang akhirnya ditutupi oleh 

daging (Rahman 1979:13).

Ada beberapa  kesulitan dalam surah-surah. Namun yang paling penting, tidak ada 

tahap pembekuan selama pembentukan janin (Campbell 1989:185). Selanjutnya, 

sperma tidak menjadi "segumpal darah" atau sel telur yang dibuahi tanpa sel telur tidak 

dibuahi. Keduanya saling membutuhkan Kedua, "hal yang melekat" tidak berhenti 

berpegangan untuk menjadi "segumpal daging “ tetapi tetap menempel selama 8,5 

bulan! Dan akhirnya kerangka tidak dibentuk sebelum daging (atau otot), sebab otot dan 

calon tulang rawan dari tulang mulai membentuk secara simultan (Campbell 1989:188). 

Bahkan, menurut Dr T.W. Sadler PhD, penulis Embriologi Kedokteran Langman, lewat 

sebuah surat pribadi kepada Dr Campbell pada tahun 1987, telah membuktikan bahwa 

otot-otot terbentuk beberapa minggu sebelum ada pembentukan tulang, bukan setelah 

terbentuknya tulang seperti yang Al-Qur'an siratkan (Campbell 1989:188).

Sungguh ironis mendengar ayat-ayat diatas dikutip sebagai bukti oleh para apologet 

modern yang membanggakan keilmiahan Qur'an, padahal sebenarnya, sekali kebenaran 

diketahui, maka sadarlah mereka bahwa sainslah yang akan membuktikan kekeliruan Al-

Qur’an.

C.4. Solusi Memungkinkan ("Sejarah Penyelamatan")

Islam mengatakan bahwa wahyu Quran diterima oleh Muhammad dan dikompilasi ke 

dalam bentuk tertulis terakhir oleh Zaid ibn Thabit antara tahun 646-650 M, di bawah 

naungan khalifah ketiga, Usman (Glasse 1991:230). Sejarawan mengambil dua posisi 

dalam menanggapi pernyataan Tradisi Muslim ini.

Kelompok pertama, yang didukung oleh sejarawan John Burton, agak setuju dengan 

Tradisi Islam yang menyatakan bahwa Al Qur’an disusun selama Muhammad hidup 

atau segera setelah Muhammad meninggal. Burton dalam pembelaannya memakai  

teks-teks Qur’an ke jaman sekitar kehidupan nabi. Di kalangan pelajar Barat hanya ada 

sedikit yang setuju dengan Burton. Banyak cendekiawan Barat menemukan teori Burton 

tidak cukup logis sebab  ada begiitu sedikit teks tertulis yang menjadi dasar kesimpulan 

setiap kesimpulannya (Rippin 1985:154).

34

Posisi kedua langsung berhadapan dengan Tradisi Muslim, seperti yang didukung 

oleh John Wansbrough, dari SOAS (University of London). Dia memakai  analisa 

historis mirip dengan kritik Alkitab untuk sampai pada kesimpulan (Wansbrough 1977:9). 

Wansbrough berpendapat bahwa Al-Qur'an, seperti yang kita kenal dengan segala 

permasalahannya literal dan struktural, belum hadir sampai tahun 800-an Masehi

(Wansbrough 1977:160-163). Al-Qur'an bukan teks yang diserahkan kepada dunia 

melalui satu orang, melainkan melibatkan karya berbagai penulis dari sekitar abad 

kesembilan (Wansbrough 1977:51).

Wansbrough memperluas klaim ini dengan mempertahankan bahwa seluruh korpus 

dokumentasi Islam awal harus dipandang sebagai "Sejarah Penyelamatan", yakni sejarah yang 

bukan catatan sejarah terbuka untuk dipelajari para sejarawan, sebab kejadian sejarah 

keselamatan itu tidak pernah terjadi , namun sejarah Sejarah Penyelamatan yang memiliki 

bentuk sastra dan konteks historisnya sendiri. " (Thompson 1974:328) Dengan kata lain, 

kisah-kisah ini ditulis dengan agenda dalam pikiran, bukan penuturan fakta sejarah.

Dengan demikian, catatan sastra Sejarah Penyelamatan menunjukkan bahwa kisah-kisah 

ini ditulis menurut interpretasi generasi terkemudian dikarang sedemikian rupa agar 

sesuai dengan etos yang waktu saat itu, meskipun mereka menampilkan diri sebagai 

kontemporer dengan peristiwa yang mereka gambarkan, sebenarnya milik periode 

setelah peristiwa ini . Hal ini menyarankan bahwa kisah-kisah ini ditulis 

berdasarkan interpretasi generasi kemudian untuk memenuhi permasalahan waktu itu. 

“Sejarah” sebenarnya, dalam kerangka “apa yang telah benar-benar terjadi saat itu”, 

telah secara sadar dibenamkan dalam interpretasi terkemudian dan hampir, kalau tidak 

sepenuh-penuhnya, tak terpisahkan dari interpretasi itu (Crone 1987:213-215; Rippin 

1985:156).

Pertanyaan tentang apakah ada "butiran kebenaran sejarah" yang mendasari kisah-

kisah Qur’an yaitu  fokus perhatian kita di sini. Bahkan jika kita mengakui bahwa ada 

"kernel" kebenaran sejarah, menjadi hampir mustahil untuk mengidentifikasi itu.

Wansbrough berpendapat bahwa Al-Qur'an, Tafsir, dan Sirat ,semuaanya yaitu  

komponen Sejarah Penyelamatan versi Islam, yang ditulis untuk merujuk pada peranan 

Tuhan dalam mengarahkan urusan duniawi umat manusia, khususnya selama masa 

hidup Muhammad (Rippin 1985: 154). Dia berpendapat bahwa kita tidak tahu, dan 

mungkin tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang bisa kita tahu 

yaitu  apa yang generasi-generasi terkemudian percayai sebagai “pernah terjadi”, 

seperti yang telah tercatat dalam Sejarah Penyelamatan.

Wansbrough menyarankan bahwa titik Sejarah Penyelamatan versi Islam yaitu  

untuk merumuskan identitas keagamaan khusus Arab. Hal ini dilakukan dengan 

mengadopsi dan mengadaptasi gudang ide dan cerita tema-tema keagamaan Yudeo-

Kristen yang telah mapan, suatu kecenderungan yang bermula di abad ketujuh di 

Arabia. Wansbrough mengacu pada bukti-bukti dalam Quran yang menunjuk pada 

ekstrapolasi dari konteks Yahudi-Kristen: misalnya, garis kenabian berakhir pada Nabi 

Terakhir dari Para Nabi, urutan kitab suci, gagasan masyarakat yang hancur, dan narasi 

motif yang umum (Rippin 1985:157).

Jik