gereja vatikan 14

 


Secara mutlak membuktikan bahwa Benediktus XVI yaitu  seseorang yang murtad. Ini yaitu  

salah satu skandal terbesar di dalam sejarah manusia. 

St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. I-II Pertanyaan 103, Artikel 4: 

“Semua perayaan yaitu  pengakuan iman, di dalam mana ada  penyembahan Allah. namun , 

manusia dapat membuat pengakuan atas iman di dalam dirinya, baik lewat tindakan 

maupun lewat kata-kata: dan di dalam salah satu pun dari pengakuan iman ini , jikalau ia 

membuat suatu pernyataan yang sesat, ia berdosa berat.” 

St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. II Pertanyaan 12, Artikel 1, Penolakan 2: 

“...jika seseorang...menyembah di kubur Muhammad, ia akan dianggap seseorang yang 

murtad.” 

St. Thomas berkata bahwa seseorang yang menyembah di kubur Muhammad dianggap sebagai orang 

yang murtad; berdoa di dalam mesjid, menghadap Mekkah seperti para Muslim, jauh lebih buruk. 

Itulah mengapa bahkan tidak ada sama sekali Paus di dalam sejarah yang pergi ke dalam mesjid; mereka 


336 

 

semua tahu bahwa bahkan untuk pergi ke sana yaitu  berarti untuk menerima agama sesat. Lewat 

tindakan ini, perdebatan apakah Benediktus XVI yaitu  Paus selesai sudah untuk seseorang yang 

mengenal fakta-fakta ini dan yang memiliki sedikit pun kehendak baik. Katakan kepada teman-teman dan 

saudara-saudara anda bahwa Benediktus XVI yaitu  seorang bidah, murtad, dan oleh sebab  itu, seorang 

Anti-Paus. 

Benediktus XVI, Audiens Umum, 6 Desember 2006: 

“Di dalam bidang dialog antaragama, Penyelenggaraan ilahi telah memberi  kepada saya, 

hampir pada akhir Perjalanan saya, sebuah Kunjungan yang tidak direncanakan yang terbukti 

cukup penting: Kunjungan saya ke Mesjid Biru Istanbul yang terkenal. Sambil berhenti 

dalam beberapa menit untuk berrekoleksi di dalam tempat ibadah ini , saya berdoa 

kepada Tuhan yang satu dari Surga dan Bumi, Bapa yang Pengasih dari seluruh umat manusia.”93 

 

DENGAN PAGANISME 

BENEDIKTUS XVI MENDUKUNG SECARA PENUH EKUMENISME DAN PERAYAAN-PERAYAAN 

EKUMENISME YANG MENYEMBAH SETAN DI ASSISI 

 


337 

 

Kita sudah membahas perkumpulan-perkumpulan ekumenis Yohanes Paulus II yang terkenal di Assisi 

pada tahun 1986 di mana ia berdoa bersama lebih dari 130 pemimpin agama dari berbagai agama-agama 

sesat dari Iblis, yang menyetarakan agama yang sejati dengan penyembahan berhala. Tindakan ini sama 

sekali dikutuk oleh Tradisi Katolik. Hal ini  telah dikecam sebagai kemurtadan oleh Paus Pius XI. 

Nah, kereta yang membawa para pemimpin agama sesat dari Vatikan kepada acara Assisi tahun 2002 

ini  (acara ulangan) disebut oleh Benediktus XVI sebagai “sebuah simbol ziarah kita di dalam 

sejarah... perukunan kembali orang-orang dan agama, suatu ilham yang besar...”94 

Pada tahun 2006, Benediktus XVI juga memuji ibadat doa antaragama Assisi tahun 1986. 

Benediktus XVI, Pesan, 2 September 2006: 

“Tahun ini yaitu  ulang tahun ke-20 Pertemuan Doa Antaragama untuk Perdamaian, yang 

dikehendaki oleh Pendahulu saya yang terhormat Yohanes Paulus II pada tanggal 27 Oktober 

1986 di Assisi. yaitu  suatu hal yang diketahui secara umum bahwa ia tidak hanya mengundang 

orang-orang Kristiani dari berbagai denominasi ke dalam Pertemuan ini namun  juga berbagai 

agama lain yang berbeda. Hal ini  merupakan sebuah pesan yang hidup untuk 

memajukan perdamaian dan sebuah acara yang meninggalkan tandanya di dalam sejarah zaman 

kita... bukti-bukti bahwa ikatan yang erat yang hadir di antara hubungan dengan Allah serta etika 

cinta kasih ada  di segala tradisi agama-agama yang agung. 

“Dari antara corak-corak Pertemuan tahun 1986, harus ditekankan bahwa nilai doa ini di dalam 

pembangunan perdamaian telah disaksikan oleh para perwakilan tradisi agama-agama 

yang berbeda, dan hal ini tidak terjadi dari jauh, namun  di dalam konteks sebuah pertemuan... 

Kami membutuhkan dialog ini terutama pada saat ini... Oleh sebab  itu, saya bergembira, 

sebab  inisiatif yang direncanakan di Assisi tahun ini sejalan dengan hal ini  dan, 

terutama, bahwa Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama telah memiliki ide untuk 

menerapkan hal-hal ini  di dalam jalan yang khusus untuk orang-orang muda... Saya dengan 

senang mengambil kesempatan ini untuk memberi salam kepada para perwakilan agama-agama 

lain yang mengambil bagian di dalam salah satu perayaan ataupun perayaan-perayaan Assisi 

yang lain. Seperti kami, para umat Kristiani, mereka mengetahui bahwa di dalam doa, 

ada  kemungkinan untuk memiliki sebuah pengalaman yang khusus akan Allah dan 

untuk menarik dari hal ini  insentif-insentif yang efektif untuk dedikasi sebab 

perdamaian.”95 

Benediktus XVI mendukung perkumpulan-perkumpulan ekumenis murtad di Assisi di mana Yohanes 

Paulus II berdoa dengan berbagai pemimpin agama-agama iblis dan penyembah berhala – di mana 

Yohanes Paulus II memerintahkan agar dicabut dari ruangan-ruangan Katolik salib-salib agar para pagan 

dapat menyembah dewa-dewi sesat. Perhatikan bahwa Benediktus XVI berkata bahwa para agama lain 

mengetahui bahwa doa memberi  mereka pengalaman akan Allah. Hal ini berarti bahwa pengalaman-

pengalaman rohani mereka, contohnya, penyembahan dewa-dewi sesat di dalam doa, yaitu  benar. 

BENEDIKTUS XVI MENGKRITIK ORANG-ORANG YANG MENGHANCURKAN KUIL-KUIL 

PAGAN SEBAGAI ‘PEMBERANG’ 

Benediktus XVI, God and the World {Allah dan Dunia}, 2000, hal. 373: 

“Kenyataannya, ada orang-orang Kristen yang pemberang dan fanatik, yang 

menghancurkan kuil-kuil, yang tak mampu memandang paganisme lebih dari 

penyembahan berhala yang harus dilenyapkan secara radikal.”96 


338 

 

Para “pemberang” yang dikritiknya ini akan mencakup St. Fransiskus Xaverius:dan St. Benediktus. 

St. Fransiskus Xaverius [mengenai anak-anak pagan yang telah dikonversikannya kepada iman 

sejati, sekitar tahun 1543): “Anak-anak ini … mempertunjukkan cinta yang membara 

terhadap hukum Ilahi, dan suatu semangat yang luar biasa terhadap agama kita yang suci 

dan dalam menanamkannya kepada orang lain. Kebencian mereka terhadap 

penyembahan berhala mengagumkan adanya. Mereka bertengkar dengan orang-orang 

pagan tentang perkara itu … Kapan pun saya mendengar dilakukannya ibadat 

penyembahan berhala, saya pergi ke tempat itu bersama kumpulan anak-anak yang 

jumlahnya besar ini, yang dengan amat segera melontarkan olok-olok dan cercaan kepada 

Iblis yang lebih banyak jumlahnya dibandingkan  penghormatan serta ibadat dari orang tua 

mereka … Anak-anak itu berlari ke arah berhala-berhala, menjatuhkan mereka, 

menghancurkan mereka berkeping-keping, meludahi mereka, menginjak-injak mereka, 

menendang mereka ke sana, ke mari, dan pendek kata menghina mereka habis-habisan.”97 

St. Benediktus menghancurkan sebuah altar pagan dan membakar semak-semak yang dipersembahkan 

kepada Apollo pertama kalinya ia sampai di Monte Cassino: 

Paus Pius XII, Fulgens Radiatur (#11), 21 Maret 1947: 

“...ia [St. Benediktus] pergi ke selatan dan sampai di sebuah benteng yang disebut Cassino yang 

terletak di sisi sebuah gunung yang tinggi; di atasnya terletak sebuah kuil kuno di mana 

Apollo disembah oleh orang-orang desa yang bodoh, menurut budaya para penyembah 

berhala kuno. Di sekililingnya tumbuh semak-semak di mana sampai waktu itu, kumpulan 

orang-orang tidak beriman yang gila memakai nya untuk mempersembahkan korban-

korban mereka yang musyrik. Sang pria yang diutus Allah itu mendatangi tempat ini  

untuk memecahkan berhala, menghancurkan altarnya, membakar semak-semak, dan dari kuil 

Apollo itu, ia membuat sebuah kapel St. Martinus. Di mana tadinya terletak altar berhala itu, ia 

membangun kapel St. Yohanes; dan lewat khotbahnya yang terus-menerus, ia mengonversikan 

banyak orang-orang di sana.’”98 

BENEDIKTUS XVI MENGATAKAN KEPADA KITA BAHWA AGAMA-AGAMA PAGAN DAN 

MUSYRIK yaitu  TINGGI DAN MURNI 

Benediktus XVI, Salt of the Earth {Garam Dunia}, 1996, hal. 23: 

“Maka kita juga dapat melihat bahwa di dalam kosmos rohani India (‘Hinduisme’ yaitu  

sebutan yang agak rancu akan keberagaman berbagai agama) ada  berbagai bentuk 

yang berbeda: yang tinggi dan murni yang ditandai oleh ide akan cinta kasih, namun  juga yang 

sangat mengerikan, termasuk yang mengikutsertakan pembunuhan secara ritual.”99 

Ia berkata bahwa agama-agama musyrik ini  tinggi dan murni. Ini yaitu  bidah dan kemurtadan. 

1 Korintus 10:20- “...persembahan mereka {penyembah berhala} yaitu  persembahan kepada 

roh-roh jahat, bukan kepada Allah.” 

Paus Leo XIII, Ad Extremas (#1), 24 Juni 1893: 

“ … Rasul Thomas yang terberkati yang secara pantas disebut sebagai perintis 

pengkhotbahan Injil kepada orang-orang Hindu. Lalu, Fransiskus Xaverius juga ... Dengan 

ketekunannya yang luar biasa, ia mengonversikan ratusan ribu orang-orang Hindu dari 

mitos-mitos dan takhayul-takhayul jahat dari kaum Brahmana kepada agama yang 

sejati.”100 


339 

 

BENEDIKTUS XVI MEMILIKI RASA HORMAT YANG MENDALAM UNTUK IMAN-IMAN SESAT 

Benediktus XVI, Homili, 10 September 2006: 

“Kami tidak gagal untuk menunjukkan rasa hormat untuk agama-agama serta budaya-budaya 

lain, kami tidak gagal untuk menunjukkan rasa hormat kami yang mendalam untuk iman 

mereka...”101 

Perhatikan bahwa Benediktus XVI bukan hanya menghormati anggota-anggota iman-iman sesat namun  ia 

menunjukkan RASA HORMAT YANG MENDALAM untuk iman-iman sesat sendiri! Ini yaitu  kemurtadan. 

Hal ini berarti bahwa ia menghormati penolakan Kristus, penolakan Kepausan, dukngan untuk 

kontrasepsi dan aborsi, dst. (yang seluruhnya yaitu  ajaran ‘iman-iman’ lain). 

Paus Leo XIII, Custodi di Quella fede (#15), 8 Desember 1892: 

“Semua orang harus menghindari kedekatan atau persahabatan dengan setiap orang yang diduga 

merupakan bagian dari perkumpulan Masonik atau kelompok-kelompok yang berkaitan. 

Kenalilah mereka lewat buah-buah mereka dan hindari mereka. Setiap keakraban harus 

dihindari, bukan hanya dengan para penjangak fasik yang secara terbuka 

mempromosikan ciri khas dari sekte ini , namun  juga dengan mereka yang 

bersembunyi di balik topeng toleransi universal, rasa hormat terhadap semua agama ....”102 

BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA KEHADIRAN AGAMA-AGAMA SESAT yaitu  

SUMBER DARI KEKAYAAN UNTUK SEMUA ORANG 

Benediktus XVI, Pidato (#15), 28 November 2006: 

“...Saya yakin bahwa kebebasan beragama yaitu  ungkapan mendasar akan kebebasan manusia 

dan bahwa kehadiran yang aktif dari agama-agama di dalam masyarakat yaitu  sumber 

dari kemajuan dan kekayaan untuk semua orang.”103 

Hal ini berarti bahwa berbagai agama-agama sesat yaitu  sumber dari kemajuan dan kekayaan untuk 

semua orang! Ini yaitu  kemurtadan. 

BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA TEOLOGI HARUS BELAJAR DARI PENGALAMAN-

PENGALAMAN AGAMA-AGAMA SESAT 

Benediktus XVI, Sambutan Khusus, 12 September 2006: 

“Untuk filosofi dan, walaupun dengan cara yang berbeda, untuk teologi, mendengarkan 

pengalaman-pengalaman yang besar serta wawasan tradisi-tradisi rohani dari umat 

manusia, dan terutama mereka yang memiliki iman Kristiani, yaitu  sumber dari 

pengetahuan, dan dengan tidak mengacuhkannya yaitu  sebuah larangan yang tidak 

dapat diterima untuk pendengaran dan tanggapan kita.”104 

Benediktus XVI berkata bahwa teologi Katolik harus mendengarkan ‘pengalaman-pengalaman besar’ 

serta ‘wawasan’ dari agama-agama sesat, dan dengan tidak mengacuhkannya yaitu  sebuah 

ketidakbertanggungjawaban. Ini jelas-jelas menunjukkan bahwa ia tidak memandang agama-agama ini 

(termasuk yang pagan dan musyrik) sebagai sesat dan berasal dari Iblis. Pernyataannya hanyalah suatu 

ungkapan lain dari kemurtadan Modernis bahwa semua agama pada dasarnya yaitu  benar sebab  

seseorang menjadi seorang umat beriman lewat ‘pengalaman-pengalaman’ rohani seseorang. 

Paus St. Pus X, Pascendi (#14), 8 September 1907: 

“[Menurut para Modernis] Pengalaman inilah yang, sewaktu diperoleh seseorang, 


340 

 

membuat orang itu sungguh-sungguh menjadi seorang umat beriman. Betapa jauhnya kita 

dari ajaran Katolik yang telah kita lihat di dalam dekret Konsili Vatikan. Kita akan melihat, 

lalu , bagaimana dengan teori-teori semacam itu, yang ditambahkan kepada kesalahan-

kesalahan lain yang telah disebutkan, terbukalah jalan yang lebar menuju ateisme. Di sini, patut 

untuk segera dicatat bahwa, dengan doktrin pengalaman ini, yang dipersatukan dengan 

doktrin lain, yakni simbolisme, semua agama, bahkan paganisme, harus dipercaya sebagai 

agama yang benar. Hal apakah yang dapat mencegah pengalaman-pengalaman ini  

untuk dijumpai di dalam setiap agama? Kenyataannya, tidak sedikit jumlah orang yang 

menyatakan hal yang serupa. Dan dengan hak apakah para modernis akan menyangkal 

kebenaran tentang suatu pengalaman yang diakui oleh seorang pengikut Islam? Atas dasar 

prinsip apakah mereka mungkin memberi  kepada orang-orang Katolik satu-satunya 

hak atas pengalaman-pengalaman yang benar? Memang, para modernis tidak menyangkal, 

melainkan mengakui, beberapa dari mereka secara tersembunyi, sedangkan yang lainnya secara 

terang-terangan, bahwa semua agama benar adanya. Jelas bahwa mereka tidak dapat merasakan 

hal yang sebaliknya”.105 

BENEDIKTUS XVI MENOLAK BAHWA DI LUAR GEREJA TIDAK ada  

KESELAMATAN 

Yang telah kita lihat sampai saat ini membuktikan berulang-ulang kali bahwa Benediktus XVI menolak 

dogma yang sudah didefinisikan bahwa Di Luar Gereja Katolik Tidak ada  Keselamatan. Benediktus 

XVI percaya bahwa kita bahkan tidak boleh mengonversikan para bidah dan skismatis. namun  di sini 

ada  lebih banyak contoh-contoh bidah di mana Benediktus XVI secara spesifik menjawab dan 

menolak dogma yang penting ini. 

BENEDIKTUS XVI MENJAWAB DOGMA DI LUAR GEREJA TIDAK ada  KESELAMATAN 

DAN MENOLAKNYA SECARA PENUH 

Benediktus XVI, Salt of the Earth {Garam Dunia}, 1996, hal. 24: 

“Pertanyaan. namun  tidakkah kita bisa menerima bahwa seseorang dapat diselamatkan 

lewat suatu iman yang bukan Katolik? Jawaban. Itu yaitu  pertanyaan yang seluruhnya 

berbeda. Tentu saja mungkin bahwa seseorang dapat menerima dari agamanya petunjuk-

petunjuk yang menolongnya untuk menjadi seseorang yang lebih murni, yang juga, jika 

kita ingin memakai  kata ini , membantunya untuk menyenangkan Allah dan 

mencapai keselamatan. Hal ini sama sekali dikecualikan oleh apa yang saya sudah 

katakan; malah sebaliknya, hal ini terjadi dalam skala yang besar.”106 

Gereja mengajarkan bahwa tidak ada  keselamatan di luar Gereja. Benediktus XVI mengajarkan 

bahwa tidak diragukan bahwa ada  keselamatan di luar Gereja dalam skala yang besar. Hal ini yaitu  

penolakan yang lancang akan dogma bahwa Di Luar Gereja Tidak ada  Keselamatan. 

BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA ada  SANTO-SANTA PAGAN 

Benediktus XVI, Truth and Tolerance {Kebenaran dan Toleransi}, 2004, hal. 207: 

“Fakta bahwa di setiap zaman ada , dan masihlah ada , ‘santo-santa pagan’ yaitu  

sebab  di mana-mana dan di setiap masa – walaupun dengan kesulitan dan cara yang terpisah-

pisah – kata-kata dari ‘hati’ dapat didengar sebab  Taurat Allah dapat didengar dalam diri kita 

sendiri...”107 


341 

 

Ini yaitu  sebuah bidah yang lancang. Ingat bahwa Paus Eugenius IV secara infalibel menolak bahwa 

semua orang yang meninggal sebagai ‘pagan’ tidaklah diselamatkan. 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, ex cathedra: 

“...semua yang berada di luar Gereja Katolik, bukan hanya orang pagan namun  juga Yahudi atau 

bidah dan skismatis, tidak dapat mengambil bagian di dalam kehidupan kekal...”108 

BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA ada  BANYAK JALAN MENUJU SURGA DI 

SAMPING IMAN KRISTIANI 

 

Benediktus XVI, Co-Workers of the Truth {Rekan-rekan Kerja Kebenaran}, 1990, hal. 217: 

“Pertanyaan yang benar-benar meresahkan kita, pertanyaan yang sungguh menekan diri 

kita, yaitu  mengapa kita diwajibkan terutama untuk mempraktikkan Iman Kristiani di 

dalam totalitasnya; mengapa, sewaktu ada  banyak sekali cara-cara lain yang 

menuntun ke Surga dan keselamatan, kita harus diwajibkan untuk menanggung hari demi hari 

seluruh beban dogma-dogma gerejawi dan etos-etos gerejawi. Dan lalu kita kembali sampai 

kepada pertanyaan ini : Apakah itu sebenarnya realitas Kristiani? Apakah elemen yang 

spesifik di dalam Kekristenan yang bukan hanya membenarkannya, namun  membuatnya 

diwajibkan untuk kita? Sewaktu kita mempertanyakan fondasi dan arti dari keberadaan 

Kristiani kita, terselisip suatu keinginan palsu tertentu untuk kehidupan orang-orang lain 

yang tampaknya lebih nyaman yang juga akan masuk Surga. Kita sedemikian serupanya 

dengan para pekerja dari jam pertama di dalam perumpamaan pekerja-pekerja di dalam kebun 

anggur (Mt. 20:1-16). Sewaktu mereka menyadari bahwa mereka seharusnya dapat memperoleh 

upah harian satu denarius mereka dengan suatu cara yang jauh lebih mudah, mereka tidak dapat 

mengerti mengapa mereka harus bekerja seluruh hari. namun  betapa anehnya sikap ini  

yang menemukan bahwa tanggung jawab hidup Kristiani kita tidak bernilai hanya sebab  

denarius keselamatan dapat diperoleh tanpa tanggung jawab hidup Kristiani ini ! 

Mungkin tampak bahwa kita – bagaikan para pekerja dari jam pertama – ingin dibayar bukan 

hanya dengan keselamatan kita, namun  lebih khususnya dengan ketidakberpunyaan orang lain 

akan keselamatan. Pandangan ini  benar-benar sangat manusiawi dan sangat tidak 

Kristiani.”109 

Benediktus XVI mengajukan pertanyaan yang sungguh penting: Mengapakah diperlukan untuk 

mempraktikkan Iman Kristiani sewaktu ada  banyak jalan lain menuju keselamatan? Benediktus XVI 

menjawab pertanyaan ini  dengan mengakui bahwa ada  banyak jalan lain selain Iman Kristiani 

yang menuntun kepada keselamatan. Ia bahkan mengkritik orang-orang yang menanyakan pertanyaan 

ini . 


342 

 

Benediktus XVI terang-terangan menolak sebuah kebenaran yang diwahyukan akan Iman Katolik: Yesus 

Kristus yaitu  satu-satunya jalan keselamatan, dan Iman Katolik diperlukan untuk keselamatan. 

Paus Leo XII, Ubi Primum (#14), 5 Mei 1824: 

“ ... dengan Iman Ilahi Kami percaya akan satu Tuhan, satu Iman, satu Pembaptisan, dan bahwa 

tiada nama lain yang diberikan di bawah Surga kepada manusia selain nama Yesus Kristus dari 

Nazaret, yang di dalamnya kita harus diselamatkan, dan oleh sebab  itu Kami mengakui bahwa 

tidak ada  keselamatan di luar Gereja.”110 

BENEDIKTUS XVI MENGAJARKAN BAHWA SEMUA AGAMA DAPAT MENUNTUN KEPADA 

ALLAH 

Benediktus XVI, Salt of the Earth {Garam Dunia}, 1996, hal. 29: 

“...di dalam semua agama ada  orang-orang yang memiliki kemurnian dalam yang 

lewat mitos-mitos mereka, entah bagaimana menyentuh misteri agung dan menemukan 

cara yang benar untuk menjadi manusia.”111 

Ini benar-benar sesat.  

BENEDIKTUS XVI MENGEJEK DOGMA KATOLIK 

BENEDIKTUS XVI MENGEJEK DEKRET KONSILI TRENTE TENTANG EKARISTI 

Benediktus XVI, Feast of Faith {Perayaan Iman}, 1981, hal. 130: 

“Konsili Trente mengakhiri kata-katanya tentang Corpus Christi dengan sesuatu yang 

menyinggung telinga-telinga ekumenis kami dan tidak diragukan lagi tidak sedikit 

berkontribusi kepada hilangnya kepercayaan akan perayaan ini di dalam opini para 

saudara Protestan kami. namun  jika yang kami membersihkan rumusannya dari nada yang 

bersemangat dari abad keenam belas, kami akan dikejutkan oleh sesuatu yang besar dan 

positif.”112 

Benediktus XVI mengatakan bahwa pernyataan infalibel Konsili Trente ‘menyinggung’ telinga-telinga 

ekumenisnya dan bahwa ‘rumusannya’ perlu ‘dibersihkan’, yang berarti untuk membersihkan atau 

menyingkirkan elemen-elemen yang tidak dapat diterima. Ini sangatlah sesat. 

BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA DOKTRIN TRENTE TENTANG IMAMAT yaitu  

LEMAH DAN MEMBAWA BENCANA DI DALAM DAMPAKNYA 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 247-

248: 

“...[Berbicara tentang pandangan-pandangan Protestan versus Katolik tentang Imamat] Konsili 

Trente tidak mencoba sebuah perawatan yang menyeluruh akan masalah ini . Di 

dalamnya ada  kelemahan naskah yang dipermaklumkannya, yang dampaknya 

sangatlah membawa bencana...”113 

BENEDIKTUS XVI SUNGGUH-SUNGGUH MENGHUJAT TRADISI GEREJA 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 100: 

“...masalah tentang tradisi seperti yang hadir di dalam Gereja... Gereja yaitu  tradisi... yang di 

dalamnya – marilah mengakui – ada  banyak pseudo-tradisi manusia, sangatlah banyak 


343 

 

sehingga, faktanya, dan lebih tepatnya, Gereja telah berkontribusi kepada krisis umum akan 

tradisi yang merongrong umat manusia.”114 

Ini yaitu  sebuah penolakan dari salah satu dari kedua sumber Wahyu, yaitu Tradisi Suci. 

Paus Pius IX, Vatikan I, ex cathedra: 

“ ... segala hal yang termuat di dalam sabda Allah yang tertulis atau yang diwariskan melalui 

tradisi ... harus dipercayai ....”115 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 378: 

“Tidak semua Konsili yang sah di dalam sejarah Gereja berbuah; di dalam analisis 

terakhir, banyak dari mereka hanyalah membuang waktu.”116 

BENEDIKTUS XVI MENGAJARKAN BAHWA ISTILAH ‘DOSA ASAL’ yaitu  SALAH 

Benediktus XVI, In the Beginning {Pada Mulanya}, 1986, hal. 72: 

“...Teologi merujuk kepada keadaan ini lewat istilah yang rancu dan tidak tepat ‘dosa asal.’”117 

Konsili Trente mempermaklumkan sebuah ‘Dekret tentang Dosa Asal’ di mana digunakan istilah ‘dosa 

asal” setidaknya empat kali.118 

BENEDIKTUS XVI MENGKRITIK SYAHADAT PARA RASUL 

Benediktus XVI, Introduction to Christianity {Perkenalan akan Kekristenan}, 2004, hal. 326: 

“...Mungkin akan harus diakui bahwa kecenderungan akan sebuah perkembangan yang 

salah ini , yang hanya melihat bahaya-bahaya dari tanggung jawab dan tidak lagi 

kebebasan cinta, yang sudah hadir di dalam Syahadat [Para Rasul]...’”119 

BENEDIKTUS XVI MENGAKUI BAHWA VATIKAN II TELAH MENGUBAH ATAU 

MENOLAK DOGMA KATOLIK 

BENEDIKTUS XVI TERANG-TERANGAN MENGAKUI BAHWA VATIKAN II MENENTANG 

AJARAN INFALIBEL DARI PAUS PIUS IX TENTANG KEBEBASAN BERAGAMA DAN AGAMA-

AGAMA SESAT 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 381: 

“Jika suatu diagnosis secara keseluruhan tentang teks itu [dokumen Vatikan II, Gaudium et 

Spes] dikehendaki, kita mungkin berkata bahwa (bersama teks tentang kebebasan 

beragama dan agama-agama dunia), teks itu yaitu  suatu revisi terhadap Silabus Pius IX, 

semacam kontra-silabus ... Akibatnya, kesatusisian posisi yang dipegang oleh Gereja di 

bawah Pius IX dan Pius X sebagai tanggapan terhadap situasi yang diciptakan oleh fase 

sejarah yang baru yang dimulai oleh Revolusi Prancis, telah, dalam skala yang besar, 

dikoreksi via facti, terutama di Eropa Tengah, namun  masih belum ada  pernyataan mendasar 

akan hubungan yang harus berada di antara Gereja dan dunia yang telah dihasilkan sesudah  tahun 

1789 ....”120 

Benediktus XVI tidak dapat menjadi lebih sesat. Ia mengakui bahwa ajaran Vatikan II (yang ia pegang) 

secara langsung menentang ajaran Magisterium di dalam Silabus Kesalahan-kesalahan yang dikutuk oleh 

Paus Pius IX. Kami telah menunjukkan bahwa ajaran Vatikan II tentang kebebasan beragaman 

menentang ajaran Katolik tradisional. Benediktus XVI hanya mengakuinya. Seseorang tidak perlu 


344 

 

meminta lagi sebuah penegasan bahwa ajaran Vatikan II yaitu  sesat. Di dalam bukunya, Benediktus XVI 

mengulang-ulangi hal ini, menyebut ajaran Vatikan II sebagai ‘kontra-silabus’, dan berkata bahwa tidak 

ada  jalan untuk kembali kepada Silabus Kesalahan-kesalahan. 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 385: 

“Lewat suatu jenis kebutuhan dalam, oleh sebab  itu, optimisme dari kontra-silabus 

memberi  jalan kepada teriakan yang jauh lebih intens dan dramatis dari yang 

sebelumnya.”121 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 391: 

“Tugas ini bukanlah, oleh sebab  itu, untuk menghapuskan Konsili namun  untuk menemukan 

Konsili sejati dan untuk memperdalam niat sejatinya sehubungan dengan pengalaman masa kini. 

Hal ini  berarti tidak diperbolehkan untuk kembali kepada Silabus yang mungkin telah 

memberi  tanda untuk tahap pertama di dalam pertarungan dengan liberalisme dan Marxisme 

yang baru saja dilahirkan namun  bukanlah tahap terakhirnya.”122 

Ini yaitu  bidah yang mencengangkan! 

BENEDIKTUS XVI MENGAKUI BAHWA SEKTE VATIKAN II TELAH MENINGGALKAN 

LARANGAN TRADISIONAL GEREJA KATOLIK UNTUK KREMASI 

Benediktus XVI, God and the World {Allah dan Dunia}, hal. 436: 

“Pertanyaan: Apakah diperkenankan untuk mengkremasikan jenazah, atau apakah itu hanya suatu 

ritus pagan? Jawaban … Sampai waktu Konsili Vatikan Kedua, kremasi dikenakan pinalti-

pinalti. Menimbang segala keadaan dunia modern, Gereja telah meninggalkan hal ini.”123 

Hukum tradisional Gereja mengutuk kremasi, dan melarang penguburan gerejawi untuk mereka yang 

memintanya. 

MELAWAN GEREJA 

BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA AJARAN GEREJA TIDAK MENGECUALIKAN MEREKA 

YANG BERPEGANG KEPADA PANDANGAN YANG BERLAWANAN 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 229: 

“Pernyataan dari Kongregasi... mengajukan untuk mengatasi krisis lewat penyajian yang 

positif terutama tentang poin-poin ini  tentang doktrin Gereja yang dipertentangkan 

dan untuk mendirikan identitas Katolisisme, dengan tidak mengecualikan mereka yang 

berpegang kepada pandangan-pandangan yang berlawanan...”124 

Ini sungguh-sungguh sesat. 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, Bulla Cantate Domino, 1441: 

“Maka Gereja Roma yang Kudus mengecam, menolak, mengutuk dan menyatakan di luar Tubuh 

Kristus, yang yaitu  Gereja, siapa pun yang berpegang pada pandangan-pandangan yang 

berlawanan atau bertentangan.”125 

BENEDIKTUS XVI MENGAJARKAN BAHWA ‘GEREJA’ HADIR DI LUAR GEREJA 

Benediktus XVI, Co-Workers of the Truth {Rekan-rekan Kerja Kebenaran}, 1990, hal. 29: 

“...tidaklah dapat ataupun boleh terjadi penyangkalan terhadap kehadiran Kristus dan nilai-nilai 


345 

 

Kristiani di antara orang-orang Kristiani yang terpisahkan... Teologi Katolik harus menyatakan 

secara lebih jelas dari yang sebelumnya bahwa, bersama dengan kehadiran yang nyata 

akan dunia di luar batas-batas gereja, ‘Gereja’ juga hadir di sana dalam suatu bentuk...”126 

Benediktus XVI menyatakan bahwa Gereja sendiri hadir di luar Gereja. Hal ini yaitu  suatu omong 

kosong yang sesat yang menolak bahwa hanya ada  satu Gereja. 

Syahadat Nicea-Konstantinopel, 381, ex cathedra: 

“Kami percaya akan... Gereja yang satu, kudus, Katolik, dan apostolik.”127 

BENEDIKTUS XVI SAMA SEKALI MENOLAK KESATUAN GEREJA KATOLIK 

Kesatuan atau keesaan Gereja Katolik yaitu  suatu dogma yang sangat penting. Kesatuan yaitu  salah 

satu dari empat tanda milik Gereja, yaitu satu, kudus, Katolik dan apostolik. Sewaktu para bidah 

membentuk sekte-sekte, mereka tidak memecahkan kesatuan dari Gereja Katolik, sebab  kesatuan 

Gereja tidak dapat dipecahkan. Mereka hanya meninggalkan Gereja Katolik. 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#4), 29 Juni 1896: 

“Gereja, yang satu adanya, tergolong hal yang berkodrat tunggal ....”128 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#5), 29 Juni 1896: 

“ … Kesatuannya tak dapat dipatahkan: tubuh yang tetap satu adanya tak bisa dibagi-bagi 

dengan memecah-belah anggota-anggota penyusunnya.”129 

namun  BENEDIKTUS XVI SAMA SEKALI MENOLAK DOGMA TENTANG KESATUAN GEREJA 

KATOLIK 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 121: 

“...pada akhirnya, lewat faktor-faktor ini, menjadi jelas bahwa kesatuan Gereja tidaklah terjadi 

lewat upaya manusiawi namun  hanya dapat diadakan oleh Roh Kudus.”130 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 148: 

“Kanon dari Kitab Suci dapat ditelusuri kembali kepada mereka, atau, paling tidak, kepada 

Gereja yang tidak terbagi-bagi dari abad-abad pertama, dari mana mereka merupakan 

perwakilannya”131 

Benediktus XVI mengajarkan bahwa Gereja dipersatukan selama seribu tahun pertama, namun  terbagi-

bagi sesudah nya oleh pemberontakan skismatis dan pemberontakan Protestan. Ini yaitu  penolakan 

keseluruhan dari salah satu tanda dari Gereja Katolik. Hal ini sendiri membuktikan bahwa ia bukan 

seorang Katolik. 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 147: 

“Para Bapa, kita dapat mengatakannya sekarang, merupakan guru-guru teologis dari Gereja yang 

tidak terbagi-bagi...” 

 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 127: 

“Untuk tujuan kita, tipe keempat simbolum ini tidak perlu lagi didiskusikan lebih jauh sebab  hal 

ini  bukanlah bagian dari sejarah simbolum Gereja yang tidak terbagi-bagi...” 

 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 145-146: 

“Para Bapa merupakan guru-guru dari Gereja yang masih belum terbagi-bagi.” 

 


346 

 

Benediktus XVI, Co-Workers of the Truth {Rekan-rekan Kerja Kebenaran}, 1990, hal. 29: 

“...Hal ini berarti bahwa bahkan di dalam kepercayaan Katolik, kesatuan Gereja masih dalam 

proses pembentukan; bahwa hal ini  hanya akan tercapai pada akhir dunia...” 

 

Benediktus XVI berkata bahwa kesatuan Gereja (keesaan Gereja), salah satu ciri Gereja sejati, tidak ada 

dan tidak akan ada sampai akhir dunia! 

Paus Pius XI, Mortalium Animos (#7), 6 Jan. 1928, berbicara tentang para bidah: 

“Sudah tiba saatnya untuk menyingkap dan membantah suatu kesalahan yang merupakan dasar 

semua perkara ini ... mereka berpendapat bahwa kesatuan iman dan pemerintahan (ciri Gereja 

yang satu dan sejati), hampir tidak pernah ada sampai saat ini, dan pada hari ini tidak ada lagi 

....”132 

BIDAH-BIDAH LAIN DARI BENEDIKTUS XVI 

BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA YUDAS MUNGKIN TIDAK ADA DI DALAM NERAKA 

Benediktus XVI, 18 Oktober 2006: “Hal ini mengajukan dua pertanyaan yang berkaitan dengan 

apa yang terjadi [dengan Yudas]. Yang pertama yaitu  dengan bertanya kepada diri kita sendiri 

bagaimana mungkin Yesus memilih pria ini dan memercayainya. Faktanya, walaupun Yudas 

yaitu  pengelola kelompok ini  (bandingkan Yohanes 12:6b; 13:29a), kenyataannya ia juga 

disebut ‘pencuri’ (Yohanes 12:6a). Misteri pemilihan ini  lebih besar, sebab  Yesus 

mengucapkan sebuah penghakiman yang sangat parah untuknya: “Celakalah orang yang olehnya 

Anak Manusia itu diserahkan!” (Matius 26:24). Misteri ini bahkan lebih dalam jika seseorang 

berpikir akan takdirnya yang abadi, sewaktu seseorang mengetahui bahwa Yudas 

“menyesal. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam 

kepala dan tua-tua, dan berkata: ‘Aku telah berdosa sebab  menyerahkan darah orang 

yang tak bersalah.’” (Matius 27:3-4). Walaupun ia lalu pergi untuk menggantung dirinya 

sendiri (bandingkan Matius 27:5), kita tidak berhak untuk menghakimi sikapnya, 

meletakkan diri kita sendiri di tempat Allah, yang secara tidak terbatas pengampun dan 

adil.”133 

Kata-kata Benediktus XVI ini menunjukkan bahwa ia percaya bahwa Yudas mungkin tidak ada di dalam 

Neraka. Ini yaitu  penolakan Injil. Jika Yudas tidak berada di dalam Neraka (seperti yang ditunjukkan 

sebagai mungkin oleh Benediktus XVI), maka kata-kata Tuhan kita di Matius 26:24 (dikutip di bawah) 

yaitu  salah. 

“...celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. yaitu  lebih baik bagi orang itu 

sekiranya ia tidak dilahirkan” (Matius 26:24) 

Jika Yudas tidak berakhir di Neraka, maka ia akan pergi ke Api Penyucian atau Surga. Dalam kasus 

ini , Tuhan Kita (yang mengetahui segalanya) tidak akan mengatakan bahwa lebih baik bahwa 

Yudas tidak dilahirkan. Hal ini sangatlah jelas dan sederhana; namun , kebenaran-kebenaran sederhana 

tentang Iman Katolik ini diinjak-injak oleh sekte Vatikan II yang tidak Katolik. 

Sangatlah menarik bahwa, di dalam perkataannya ini, Benediktus XVI mengutip bagian pertama dari 

Matius 26:24 (“Celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan!”), namun  ia tidak mengutip 

bagian terakhirnya (“yaitu  lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan”). Anda dapat 


347 

 

melihat di sini pengabaian bagian yang penting dari ayat di kutipan di atas. Ini yaitu  sebuah contoh 

yang menonjol yang memotong-motong Injil yang tidak ia sukai atau yang ia akan tolak. 

Untuk membantah Anti-Paus Benediktus XVI lebih jauh, yaitu  fakta bahwa Tuhan kita juga berkata 

bahwa Yudas ‘binasa’ dan menyebutnya ‘dia yang telah ditentukan untuk binasa’ {‘anak kebinasaan’ di 

dalam Terjemahan Lama dan MILT 2008}, yang berarti ‘anak yang terkutuk’. Yudas juga mengakhiri 

hidupnya dengan dosa berat, yaitu bunuh diri. 

Yohanes 17:12- “...tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang 

telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci.” 

Gereja Katolik telah selalu percaya bahwa Yudas masuk Neraka, berdasar  kata-kata yang jelas dari 

Tuhan kita. 

St. Alfonsus, Preparation for Death {Persiapan untuk Kematian}, hal. 127: 

“Yudas yang malang! Lebih dari seribu tujuh ratus tahun telah berjalan sejak ia telah 

berada di dalam Neraka, dan Nerakanya itu masihlah baru bermula.”134 

namun  layaknya dogma-dogma lain yang sudah didefinisikan tentang keselamatan, bahkan kata-kata 

serta pesan-pesan yang terjelas dari Kitab Suci ditolak oleh sekte bidah terang-terangan yang non-

Katolik, yaitu Vatikan II dan para Anti-Pausnya. 

Paus Pius X, Pascendi (#3), 8 September 1907: 

“Terlebih lagi, mereka [para Modernis] mengayunkan kapak bukan kepada batang dan 

ranting, melainkan kepada akarnya sendiri, yakni kepada iman dan serat-seratnya yang 

terdalam. Dan sesudah  menyerang akar imortalitas ini, mereka lalu menyebarkan racun kepada 

seluruh pohon, agar tidak satu bagian pun dari iman Katolik terlindung dari tangan mereka, 

tidak satu hal pun yang tidak mereka bejatkan sepenuhnya.”135 

BENEDIKTUS XVI MENGHORMATI JALAN PENOLAKAN HANS KUNG TERHADAP YESUS 

KRISTUS  

Untuk mereka yang tidak mengenalnya, Hans Kung menolak antara lain Infalibilitas Paus dan Keilahian 

Tuhan kita Yesus Kristus. 

 

Hans Kung 

Hans Kung dapat disebut secara benar sebagai seorang Arian, sebab  ia menolak bahwa Tuhan kita 

sehakikat dengan Bapa. 


348 

 

Benediktus XVI, Salt of the Earth {Garam Dunia}, 1996, hal 95-96: 

“Pertanyaan. Dan bagaimana dengan jalan Hans Kung? Maksud saya, ia sekarang berharap bisa 

mendapat  sebuah rehabilitasi. Jawaban. ...ia [Hans Kung] tidak sama sekali menarik 

ketidaksetujuannya akan Kepausan; memang, ia telah meradikalisasikan posisi-posisinya, 

Di dalam Kristologi dan di dalam teologi trinitarian, ia telah semakin menjauhkan dirinya 

sendiri dari iman Gereja. Saya menghormati jalannya, yang diambilnya sesuai dengan hati 

nuraninya, namun  ia seharusnya tidak oleh sebab  itu meminta persetujuan Gereja namun  harus 

mengakui bahwa di dalam pertanyaan-pertanyaan penting ini , ia telah sampai kepada 

keputusan-keputusan dirinya sendiri yang sangat pribadi.”136 

Benediktus XVI bukan hanya semata-mata berkata bahwa ia menghormati Hans Kung, yang itu saja 

sudah amat buruk, namun  ia berkata bahwa ia menghormati pandangannya – yaitu, penolakan Yesus 

Kristus! Ini yaitu  sebuah kemurtadan besar-besaran. 

BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA PENTING BAGI SETIAP ORANG UNTUK MENGANUT 

AGAMA PILIHANNYA SENDIRI 

Benediktus XVI, Sambutan, 18 Mei 2006: 

“Seperti hal itu juga, perdamaian berakar di dalam rasa hormat akan kebebasan beragama, yang 

merupakan aspek dasar dan pertama dari kebebasan berhati nurani dari setiap individu dan 

kebebasan orang-orang. Penting bagi setiap orang di seluruh dunia untuk menganut agama 

pilihannya sendiri dan mempraktikannya dengan bebas tanpa rasa takut sebab  tidak 

seorang pun dapat mendasari hidupnya akan pencarian hal-hal material saja.”137 

Menurut Benediktus XVI, penting bagi setiap orang untuk menganut agama yang dipilihnya sendiri. Ini 

yaitu  indiferentisme rohani. Benediktus XVI lalu menjelaskan alasannya untuk mengatakan hal ini: 

“sebab  tidak seorang pun dapat mendasari hidupnya akan pencarian hal-hal material saja.” Dalam 

kata lain, hidup yaitu  lebih dari hal-hal material, ada  kenyataan rohani, maka pentinglah untuk 

menganut suatu agama – agama apa pun yang seseorang pilih! Benar-benar murtad. 

BENEDIKTUS XVI MENGUCAPKAN LEBIH BANYAK BIDAH TENTANG KEBEBASAN 

BERAGAMA, YANG SECARA LANGSUNG MENENTANG AJARAN DOGMATIS PIUS IX 

Benediktus XVI, Sambutan kepada duta besar Spanyol, 20 Mei 2006: 

“Gereja juga menuntut hak asasi individu untuk mengakui agama-agama mereka sendiri 

tanpa hambatan, secara publik dan pribadi, serta hak orang tua untuk membuat anak-anak 

mereka menerima suatu pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai serta kepercayaan-

kepercayaan mereka tanpa diskriminasi yang eksplisit maupun implisit.”138 

Ini persis kebalikan dari ajaran infalibel Gereja Katolik. Gereja mengutuk secara khusus hal yang ia 

katakan bahwa Gereja tuntut! Lihatlah betapa jelasnya bahwa ajaran Benediktus XVI berlawanan dengan 

ajaran dogmatis Paus Pius IX. Perhatikan terutama bagian yang digarisbawahi, dan bandingkan hal 

ini  dengan ajaran Benediktus XVI: 

Paus Pius IX, Quanta Cura (#3-6), 8 Desember 1864, ex cathedra: 

“Gagasan yang sepenuhnya sesat tentang pemerintahan sosial ini  membuat mereka tidak 

ragu untuk mendukung opini yang sesat ini, yang dampak-dampaknya paling mematikan kepada 

Gereja Katolik dan keselamatan jiwa-jiwa, dan yang disebut oleh Pendahulu Kami dari kenangan 

yang berbahagia, Gregorius XVI, sebagai suatu kegilaan, yaitu bahwa ‘KEBEBASAN BERHATI 

NURANI DAN BERIBADAH MERUPAKAN HAK PRIBADI DARI SETIAP MANUSIA, YANG 


349 

 

HARUS SECARA HUKUM DIPROKLAMASIKAN DAN DIJAMIN DI DALAM SETIAP 

MASYARAKAT YANG TERSUSUN SECARA BENAR; dan BAHWA WARGA NEGARA MEMILIKI 

SUATU HAK ATAS KEBEBASAN YANG PENUH UNTUK MEWUJUDKAN DENGAN SUARA 

LANTANG DAN SECARA PUBLIK OPINI-OPINI MEREKA, APA PUN OPINI MEREKA ITU, 

MELALUI PERKATAAN, MELALUI PERCETAKAN ATAU MELALUI SARANA APA PUN, tanpa 

dikekang oleh otoritas gerejawi maupun sipil.’ namun , walaupun mereka menekankan 

pernyataan-pernyataan yang lancang ini, mereka tidak memikirkan, tidak pun mereka 

mempertimbangkan bahwa mereka mengajarkan suatu kebebasan untuk menjadi binasa … Maka, 

Maka, DENGAN OTORITAS APOSTOLIK KAMI, KAMI MENOLAK, MENGECAM, DAN 

MENGUTUK SELURUH DAN SETIAP OPINI SERTA DOKTRIN YANG JAHAT YANG SECARA 

RINCI DISEBUTKAN DI DALAM SURAT INI, DAN KAMI MENGHENDAKI DAN 

MEMERINTAHKAN KEPADA ANAK-ANAK GEREJA KATOLIK AGAR MEREKA MENGANGGAP 

OPINI-OPINI DAN DOKTRIN-DOKTRIN ini  SEPENUHNYA DITOLAK, DIKECAM, DAN 

DIKUTUK.”139 

Benediktus XVI   vs  ajaran Katolik ex cathedra 

Gereja juga menuntut hak asasi individu untuk 

mengakui agama-agama mereka sendiri tanpa 

hambatan, secara publik dan pribadi 

bahwa warga negara memiliki suatu hak ... UNTUK 

MEWUJUDKAN DENGAN SUARA LANTANG DAN 

SECARA PUBLIK OPINI-OPINI MEREKA, APA 

PUN OPINI MEREKA ITU ... DENGAN OTORITAS 

APOSTOLIK KAMI, KAMI MENOLAK, 

MENGECAM, DAN MENGUTUK [seluruh opini 

yang jahat ini] 

 

BENEDIKTUS XVI MENOLAK KEBANGKITAN BADAN 

Kebangkitan Badan yaitu  sebuah dogma yang sangat penting. Di samping bahwa hal ini  

merupakan bagian dari Syahadat para Rasul, dogma ini telah didefinisikan hampir lebih banyak kali dari 

pada dogma lain akan Iman. 

Paus Gregorius X, Konsili Lyon II, 1274, ex cathedra: 

“Gereja Roma kudus yang sama secara teguh percaya dan secara teguh menyatakan bahwa 

bagaimanapun pada hari penghakiman, semua manusia akan dipersatukan dengan badan 

mereka di depan pengadilan Kristus untuk memberi pertanggungjawaban atas perbuatan-

perbuatan mereka.”140 

Paus Inosensius III, 1215, ex cathedra: 

“...yang seluruhnya akan naik bersama badan-badan mereka yang sekarang mereka 

bawa...”141 

Paus Benediktus XII, 1336, ex cathedra: 

“...semua manusia bersama badan-badan mereka akan membuat diri mereka sendiri siap 

untuk mempertanggungjawabkan perbuatan-perbuatan mereka...”142 

Benediktus XVI terang-terangan menolak dogma ini dan membuktikan kembali bahwa ia yaitu  seorang 

bidah terang-terangan. 

Benediktus XVI, Introduction to Christianity {Perkenalan akan Kekristenan}, 2004, hal. 349:  

“Sekarang telah menjadi jelas bahwa makna sejati dari iman akan kebangkitan sama 


350 

 

sekali bukan ide akan pemulihan badan, yang kita telah sederhanakan di dalam pikiran kita; 

demikianlah adanya walaupun inilah gambaran ilustrasi yang digunakan di sepanjang Kitab 

Suci.”143 

Benediktus XVI, Introduction to Christianity {Perkenalan akan Kekristenan}, hal. 353:  

“Renungan-renungan sebelumnya mungkin telah menjelaskan sampai taraf tertentu apa yang 

terlibat di dalam pernyataan-pernyataan Kitab Suci tentang kebangkitan: intinya yang 

penting bukanlah pemulihan badan-badan kepada jiwa-jiwa sesudah  selang waktu lama...”144 

Benediktus XVI, Introduction to Christianity {Perkenalan akan Kekristenan}, hal. 357-358:  

“Sebagai rangkuman, Paulus tidak mengajarkan kebangkitan badan-badan secara jasmani, 

namun  kebangkitan pribadi-pribadi...”145 

Kita dapat melihat bahwa Benediktus XVI menolak dogma ini di dalam bukunya Introduction to 

Christianity {Perkenalan akan Kekristenan} (seperti yang dikutip di atas) dengan mengajarkan bahwa St. 

Paulus tidak mengajarkan kebangkitan badan-badan secara jasmani, dan bahwa kebangkitan bukanlah 

pemulihan badan-badan. Ini yaitu  bidah yang mencengangkan. 

Benediktus XVI memberi  tanda satanik El Diablo 

Di bawah kita melihat Benediktus XVI memberi  tanda El Diablo (Iblis). Gerakan tangan ini populer di 

antara para Satanis dan grup rock satanis. Banyak yang melakukan gerakan tangan ini tanpa 

mengetahuinya sebab  mereka telah dirasuki roh jahat. Beberapa orang menunjukkan bahwa tanda 

Iblis ini  mirip dengan gerakan tangan “Aku cinta kamu” dalam bahasa isyarat. Hal ini benar, namun  

hal ini  mungkin disebabkan oleh fakta bahwa sang pelopor bahasa isyarat orang tuna wicara 

yaitu  Helen Keller, yang juga seorang okultis dan Teosofis. Ia menulis sebuah buku yang berjudul 

My Religion {Agama Saya} di dalam mana ia menjelaskan tentang pandangan-pandangan okultnya.146 

Beberapa orang percaya bahwa ia merancang tanda “aku cinta kamu” sedemikian rupa sehingga 

menyerupai tanda Iblis supaya seseorang yang membuatnya akan berkata bahwa ia mencintai Setan. 


351 

 

 

Bagaimanapun, kami percaya bahwa di atas Benediktus XVI membuat tanda Iblis – tanda Iblis ganda, 

secara faktual – dan ia tahu apa yang ia lakukan. Kami mengatakan hal ini sebab , sesudah  membaca 

banyak buku-bukunya, kami dapat berkata bahwa ia jelas salah satu dari pria yang paling pintar di dunia, 

di samping fakta bahwa ia memiliki pengetahuan tentang hal-hal Katolik bagaikan ensiklopedia. Maka, 

sewaktu ia mengulang-ulangi di dalam buku-bukunya bahwa seseorang bebas untuk tidak memandang 

Yesus sebagai sang Mesias (seperti yang kami telah dokumentasikan), Benediktus XVI (seorang pria yang 

sangat berilmu) tahu dengan sangat baik bahwa ia sedang mengkhotbahkan suatu Injil baru antikristus 

dari dalam struktur-struktur fisik Gereja Katolik, sambil mengaku-ngaku sebagai seorang Paus yang dari 

tampaknya, berdedikasi kepada Injil. Maka, ia sadar sepenuhnya akan muslihat jahat yang ia jalankan. 

Hanya seseorang yang secara sengaja menyembah Setan atau sangtlah dikendalikan atau dirasuki Setan 

dapat melakukan hal semacam itu. 

KESIMPULAN TENTANG BENEDIKTUS XVI 

Benediktus XVI yaitu  seorang bidah terang-terangan. Kami telah membuktikan hal ini tanpa 

keraguan. Ia mengajarkan bahwa Tuhan kita tidak mungkin yaitu  sang Mesias, bahwa Perjanjian Lama 

sah; bahwa para Yahudi dan orang-orang lain dapat diselamatkan tanpa percaya akan Kristus; bahwa 

para skismatis dan Protestan tidak memerlukan konversi; bahwa para non-Katolik tidak terikat untuk 

menerima Vatikan I; bahwa biara-biara Protestan harus didirikan; bahwa Protestantisme bahkan 

bukanlah bidah; bahwa Misa itu valid tanpa kata-kata konsekrasi; bahwa pembaptisan bayi tidak 

memiliki tujuan; bahwa Kitab Suci dipenuhi mitos-mitos; bahwa agama sesat Islam yaitu  agama yang 

mulia; bahwa agama-agama pagan tinggi; bahwa keselamatan bisa didapatkan di luar Gereja Katolik; 

bahwa dogma-dogma Katolik perlu dibersihkan; bahwa Vatikan II menolak ajaran Katolik akan 

kebebasan beragama; bahwa kesatuan Gereja tidak ada sama sekali; dan bahwa Kebangkitan Badan tidak 

akan terjadi, hanya untuk menamakan sedikit dari bidah-bidahnya. 

sebab  ia yaitu  seorang bidah, ia tidak mungkin menjadi Paus yang dipilih secara sah. Seperti 

yang telah dikutip, Paus Paulus IV secara khidmat mengajarkan di dalam Bullanya di tanggal 15 Februari 


352 

 

1559, Cum ex Apostolatus officio, bahwa tidak mungkin bagi seorang bidah untuk menjadi seorang Paus 

yang dipilih secara sah. 

Oleh sebab  itu, menurut ajaran Gereja Katolik, Benediktus XVI bukanlah seorang Paus, melainkan 

seorang Anti-Paus non-Katolik yang para Katolik harus tolak sama sekali. Ia memimpin agama baru 

Vatikan II, suatu Katolisisme palsu yang telah meninggalkan tradisi-tradisi dan dogma-dogma Gereja 

Katolik. 

Salah satu ciri khas Benediktus XVI yaitu  bahwa ia yaitu  seorang penipu. Walaupun ia mengajarkan 

bidah-bidah yang tidak dapat dipungkiri, mencengangkan, dan terang-terangan, salah satu cara ia 

meyakinkan banyak sekaling orang bahwa ia yaitu  seseorang yang konservatif yaitu  bahwa, di antara 

bidah-bidah di dalam tulisan-tulisannya ini, ada  banyak tulisan-tulisan konservatif. namun  ini 

bukanlah hal yang baru. Paus Pius VI menyatakan bahwa para bidah, terilhami oleh Iblis, telah selalu 

memakai  taktik ini  untuk menanamkan bidah dan untuk menipu orang-orang. 

Paus Pius VI, Bulla “Auctorem fidei,” 28 Agustus 1794: 

“[Doktor-Doktor {Gereja} Kuno] mengenali kemampuan para inovator dalam seni 

penipuan. Agar tidak mengejutkan telinga-telinga para Katolik, mereka mencoba untuk 

menyembunyikan kelicikan-kelicikan dari muslihat mereka… dengan memakai  kata-

kata yang kelihatannya tidak berbahaya yang sedemikian rupa sehingga membuat mereka 

mampu menyisipkan kesesatan ke dalam jiwa-jiwa dengan cara yang paling halus. 

Sekalinya kebenaran ini  dikompromikan, mereka dapat, dengan memakai  

perubahan-perubahan kecil atau tambahan-tambahan dalam susunan kata, menyesatkan 

pengakuan iman yang diperlukan demi keselamatan kita, dan menuntun para umat beriman 

lewat kesesatan-kesesatan yang licin ke dalam kebinasaan kekal.” 

Paus Pius VI menunjukkan bahwa dengan menyembunyikan bidah-bidah di dalam pernyataan-

pernyataan yang ambigu atau kelihatannya konservatif atau bertentangan yaitu  taktik sang bidah 

Nestorius, dan bahwa para Katolik tidak dapat memperbolehkan para bidah lepas dari hal ini atau 

menipu mereka lewat hal ini . Mereka harus mengikat sang bidah kepada ajaran sesat mereka 

bagaimanapun: 

Paus Pius VI, “Auctorem fidei”: 

“…cara ini  tidak boleh dibenarkan sewaktu seseorang melihatnya dilakukan – di 

bawah dalih bahwa pernyataan-pernyataan yang kelihatannya mengejutkan di satu 

tempat diajukan lebih lanjut di antara pernyataan-pernyataan yang ortodoks di tempat 

lain; dan bahkan jika di tempat-tempat yang lain [pernyataan-pernyataan mengejutkan 

ini ] dikoreksi; seolah-olah memperkenankan kemungkinan baik untuk menyetujui 

atau menolak pernyataan ini … demikianlah metode yang tidak jujur dan lancang 

yang telah selalu digunakan oleh para inovator untuk menegakkan kesalahan. Metode 

ini  memperkenankan kemungkinan untuk memajukan kesalahan dan 

membenarkannya.” 

“…Teknik ini  yaitu  suatu teknik yang paling tercela untuk menyusupkan kesalahan-

kesalahan doktrin, dan suatu teknik yang dahulu kala dikutuk oleh Pendahulu Kami, Santo 

Selestinus, yang menemukan penggunaannya di dalam karya tulis Nestorius, Uskup 

Konstantinopel, dan yang disingkapnya demi mengutuknya dengan hukuman yang paling besar 

yang mungkin dijatuhkan. Sekalinya karya tulis ini  ditelaah dengan berhati-hati, sang 

penipu tersingkap dan menjadi kebingungan, sebab  ia menjelaskan dirinya sendiri dengan kata-


353 

 

kata yang begitu banyak, menyelang-selingi hal-hal yang benar dengan hal-hal lain yang tidak 

jelas, terkadang mencampuradukkan yang satu dengan yang lain sedemikian rupa sehingga ia 

juga dapat mengiyakan hal-hal yang bahkan ditolaknya, sembari, pada waktu yang bersamaan, 

memiliki dasar untuk menolak kata-kata yang sama yang ia akui.” 

Para bidah selalu bergantung kepada ambiguitas dan penipuan untuk menyisipkan ajaran-ajaran sesat 

mereka dan membuat mereka tidak tampak seburuk yang sebenarnya. Faktanya, semakin sang bidah 

lihai dalam penipuannya, biasanya semakin ia berhasil bekerja untuk Iblis. Sang bidah Arius 

menyebarkan penolakannya akan Keilahian Kristus dengan efektif sebab  ia mengesankan orang-orang 

dengan tampak luarnya, yaitu asketisme dan ketaatan. 

Paus Pius XI, Rite expiatis (#6), 30 April 1926:  

“...bidah-bidah sedikit demi sedikit muncul dan bertumbuh di dalam kebun anggur Tuhan, 

disebarkan oleh bidah terang-terangan atau oleh para penipu yang lihai yang, sebab  

mereka berlagak keras dalam kehidupan mereka dan memberi  kesan yang palsu akan 

kebajikan dan kesalehan, dengan mudah menyesatkan orang-orang yang lemah dan 

sederhana.”147 

Paus Pius VI mengakhiri poinnya dengan memberi  para Katolik petunjuk-petunjuk untuk 

menghadapi tipuan atau ambiguitas ini  di antara tulisan-tulisan para bidah: 

“Untuk menyingkap jebakan-jebakan yang demikian, suatu hal yang menjadi diperlukan dengan 

kekerapan tertentu di setiap abad, tiada suatu metode lain pun yang dibutuhkan selain metode berikut: 

MANAKALA DIBUTUHKAN UNTUK MENYINGKAP PERNYATAN-PERNYATAAN YANG 

MENYEMBUNYIKAN KESALAHAN TERTENTU YANG DICURIGAI ATAU BAHAYA YANG DISELUBUNGI 

OLEH AMBIGUITAS, SESEORANG HARUS MENCELA MAKNANYA YANG SESAT YANG 

MENYAMARKAN KESALAHAN YANG BERLAWANAN DENGAN KEBENARAN KATOLIK.” 

 

Paus Pius VI mengajarkan kita bahwa jika seseorang menyamarkan sebuah bidah di dalam ambiguitas, 

seorang Katolik harus membuat seseorang mempertanggungjawabkan makna yang sesat ini  dan 

mencela makna yang sesat itu yang tersembunyi di dalam ambiguitas. namun  hal ini hanyalah logika: jika 

seseorang berkata bahwa ia menentang aborsi, namun  berulang-ulang kali memberi  suara untuk 

aborsi, ia yaitu  pendukung aborsi dan yaitu  seorang bidah. Fakta bahwa kadangkala ia mengaku 

memegang ajaran Katolik menentang aborsi sama sekali tidak berarti apa-apa. 

Demikian pula, fakta bahwa Benediktus XVI mengatakan beberapa hal yang konservatif, ambigu atau 

bertentangan tidak mengubah kenyataan bahwa ia mengajarkan bidah-bidah yang mencengangkan dan 

bahwa ia bukanlah seorang Katolik. 

PENCABUTAN PERNYATAAN BENEDIKTUS XVI TENTANG ISLAM MENUNJUKKAN SIFAT ASLINYA 

SEBAGAI SEORANG PENIPU 

Hampir semua orang yang membaca buku ini mungkin telah mendengar tentang pernyataan-pernyataan 

kontroversial Benediktus XVI tentang Muhammad di dalam pidatonya di Bavaria pada tanggal 12 

September 2006. Di dalam pidatonya yang sekarang menjadi terkenal ini, Benediktus XVI mengutip 

seorang pemimpin negara dari abad pertengahan yang mencela kebijakan Muhammad (dan oleh sebab  

itu Islam) sebagai jahat dan tidak manusiawi. 

Benediktus XVI, Pidato di Bavaria, 12 September 2006: 

“Di dalam percakapan ketujuh... sang raja berbicara tentang tema perang suci... di mana ia 


354 

 

berkata: ‘Tunjukkan saya hal-hal baru yang dibawa oleh Muhammad dan di sana kalian 

hanya akan menemukan hal-hal yang jahat dan tidak manusiawi, seperti perintahnya 

untuk menyebarkan iman dengan pedang.’ Sang raja, sesudah  mengungkapkan dirinya 

dengan tegas, menjelaskan dengan rinci alasan-alasan mengapa penyebaran iman lewat 

kekerasan yaitu  sesuatu yang tidak masuk akal. Kekerasan tidaklah sesuai dengan sifat 

Tuhan dan sifat dari jiwa. ‘Allah’, katanya, ‘tidak dibahagiakan oleh darah – dan kelakuan yang 

tidak masuk akal berlawanan dengan sifat Allah.’”148 

Di dalam konteks ini, kita dapat melihat dengan jelas bahwa Benediktus XVI tidak semata-mata mengutip 

pernyataan dari sang raja yang menentang kebijakan Muhammad, namun  ia mendukung pernyataan sang 

raja. 

Lalu, mengapa Benediktus XVI membuat sebuah pernyataan yang menentang Islam? Apakah sebab  ia 

percaya bahwa Islam itu jahat? Tentunya tidak. Benediktus XVI berkata bahwa Islam melambangkan 

‘keagungan’ (Truth and Tolerance {Kebenaran dan Toleransi}, hal. 204). Benediktus XVI sepenuhnya 

menyetujui ajaran Vatikan II yang mendukung Islam, seperti yang kita telah lihat. Benediktus XVI 

berpikir bahwa Yohanes Paulus II – yang mencintai agama sesat Islam dan melakukan tindakan-tindakan 

murtad yang terhitung jumlahnya yang memuji Islam – yaitu  seorang Paus yang agung yang layak 

dikanonisasikan. Alasan Benediktus XVI membuat satu pernyataan ini yaitu  bahwa misinya, seperti 

yang kita telah tunjukkan, yaitu  untuk kadangkala membuat beberapa pernyataan yang konservatif dan 

melakukan beberapa hal yang konservatif untuk menipu orang-orang yang berpikian tradisionalis untuk 

kembali ke dalam cengkeraman Gereja sesat – sambil mengkhotbahkan kemurtadan Vatikan II. Dan satu 

pernyataan konservatifnya ini mendapat  dampak yang diinginkan, sampai Allah mengizinkan hal 

ini  untuk menjadi bumerang untuknya. 

Segera sesudah  pidato Benediktus XVI pada tanggal 12 September tersebar, kami dihubungi oleh individu-

individu yang, di masa lalu, bergumul akan isu-isu apakah para Anti-Paus yaitu  Paus-Paus yang 

sesungguhnya. Salah satu individu ini  menulis kepada kita dan merujuk kepada pidato Benediktus 

XVI tentang Islam; imannya melawan Kontra-Gereja tentunya melemah. Benar-benar menyedihkan dan 

sebetulnya menjijikkan bahwa satu pernyataan atau tindakan konservatif di sini atau di sana dari sang 

Anti-Paus – walaupun ia menolak Kristus, beribadat di sinagoga, berkat bahwa kita tidak boleh 

mengonversikan para Protestan, dst... – yaitu  satu-satunya yang diperlukan untuk menghancurkan 

iman yang lemah dari orang ini. 

namun  begitulah kebanyakan orang. Mereka tidak memiliki iman sejati dalam Kristus, mereka tidak 

membenci kejahaan, atau iman mereka serapuh buluh. Banyak dari antara mereka terpikat oleh satu 

pernyataan konservatif di sini atau di sana, bahkan dari seorang bidah murtad terang-terangan yang 

didokumentasikan dengan baik yang bahkan tidak percaya bahwa Yesus yaitu  sang Mesias, seperti yang 

kita telah buktikan. Itulah mengapa Benediktus XVI, yang benar-benar di bawah kekuatan Iblis, 

melakukan hal semacam ini. 

KEBENARAN PUN BERSINAR: BENEDIKTUS XVI MEMINTA MAAF UNTUK PIDATONYA TENTANG 

ISLAM DAN BERKATA BAHWA PERNYATAANNYA YANG MENENTANG AJARAN MUHAMMAD ‘SAMA 

SEKALI TIDAK MENGUNGKAPKAN’ PENDAPAT PRIBADINYA 

Benediktus XVI, Permohonan maaf untuk pidatonya tanggal 12 September 2006: 

“Pada waktu ini, saya juga ingin menambahkan bahwa saya sungguh meminta maaf untuk re