BUAH-BUAH BUSUK DAN
SKANDAL-SKANDAL TANPA AKHIR
DARI SEKTE VATIKAN II
MEMBUKTIKAN BAHWA VATIKAN II
BUKANLAH GEREJA KATOLIK DAN
BAHWA KITA BERADA DI DALAM
KEMURTADAN BESAR
‘Kardinal’ Bernard Law, sebelumnya dari Boston, yang memimpin skandal seksual besar Vatikan II di sana
CBS News – “Anggota-anggota imamat dan yang lainnya di Keuskupan Agung
Boston kemungkinan besar melakukan pelecehan seksual terhadap lebih dari
1.000 orang selama periode enam dekade, ujar Jaksa Agung Massachusetts pada
hari Rabu, yang menyebut skandal ini begitu besar sampai hal ini
‘hampir mustahil’.”1
Hampir semua orang yang membaca buku ini kemungkinan sudah akrab dengan skandal seksual besar di
antara para ‘Imam’ Novus Ordo/Vatikan II yang dipaparkan tanpa henti oleh media-media utama kurang
lebih dari tahun 2002-2004. Kebejatan seksual para ‘Imam’ Novus Ordo/Vatikan II sudah menjalar ke
mana-mana sampai seluruh dioses sekte Vatikan II telah menjadi bangkrut untuk membayar pemberesan
hukum kepada para korban pelecehannya. Dioses Davenport memberi contoh yang terkini.
Para Katolik Tradisional perlu mempertimbangkan dengan serius betapa parahnya kerusakan dari
skandal ini bagi Gereja Katolik di mata dunia. Walaupun kami dapat membuktikan bahwa sekte Vatikan II
bukanlah Gereja Katolik dan para pria yang terlibat secara intim di dalam skandal ini menganut suatu
agama yang berbeda, bukan agama Katolik – seperti yang kami akan terus lakukan di dalam buku ini –
untuk mereka yang dari luar, skandal ini terlihat berasal dari ‘imam-imam Katolik’. Para non-Katolik
memakai skandal seksual imamat ini sebagai cara yang mudah untuk menyerang Gereja sejati dan
menghalangi kemungkinan untuk konversi. Hal ini memang yaitu salah satu skandal terburuk di dalam
sejarah manusia sewaktu kita mempertimbangkan kenyataan akan imamat kudus dan Iman Katolik.
Kami telah berbicara dengan banyak sekali orang-orang non-Katolik yang, sewaktu dibujuk untuk
menerima kenyataan tentang Iman Katolik, langsung membalas dengan fakta tentang para imam sekte
Vatikan II yang bejat. “Mengapa saya mau mengikuti Gereja yang para imamnya memerkosa anak-anak?”,
kata mereka (atau kata-kata yang memiliki arti yang sama). Kami telah ditolak lusinan kali sebab alasan
ini sewaktu kami mencoba mengonversikan orang-orang. Orang-orang perlu menyadari bahwa fakta
441
bahwa Allah membiarkan skandal besar ini terjadi, yang tentunya telah menghalangi jutaan orang dan
akan terus membuat jutaan orang untuk tidak menelaah atau melihat Iman Katolik sebagai benar,
menunjukkan bahwa kita berada di dalam Kemurtadan Besar dan penipuan rohani yang besar. Hanya
orang-orang Katolik yang benar-benar sadar akan kebenaranlah yang dapat menerima kenyataan bahwa
para imam ini bukanlah pengikut Iman Katolik sama sekali, namun yaitu pengikut sekte palsu non-
Katolik. Perwujudan dari kebejatan ini hanyalah kenyataan yang tersembunyi dari kemurtadan
pasca-Vatikan II yang menunjukkan dirinya sendiri.
Pada masa jabaran ‘Kardinal’ Law di Boston, Paul Shanley dan John Geoghan dipindahkan dari paroki ke
paroki di dalam dioses ini , kendati tuduhan-tuduhan berulang-ulang akan pemerkosaan anak-anak.
lalu , tersingkaplah bahwa Romo Shanley mendukung North American Man-Boy Love Association
{Asosiasi yang mendukung pedofilia, khususnya hubungan badan antara orang dewasa dan anak-anak
laki-laki; serta perjantanan – hubungan badan antara orang dewasa dan remaja laki-laki}.
BOSTON MENIMBANG KEBANGKRUTAN – Keuskupan Agung Boston dilaporkan
menimbang untuk mengajukan tuntutan di dalam Pengadilan Kebangkrutan AS jika tidak
ada prospek yang lebih baik untuk pembayaran yang dimediasikan, laporan Boston Globe
pada tanggal 1 Desember... Seorang wanita juru bicara mengatakan bahwa Keuskupan Agung
harus mempertimbangkan semua pilihannya namun berkata bahwa tidak ada jadwal waktu
untuk memutuskan untuk mengajukan kebangkrutan. (National Catholic Register, 8-14 Des.
2002, hal. 1)
KEUSKUPAN AGUNG BOSTON MENJUAL ATAU MENGGADAIKAN PROPERTI YANG
DULUNYA TIDAK TERSENTUH UNTUK MEMBAYAR PEMBERESAN SKANDAL SEKSUAL
The Associated Press-
BOSTON (AP) – SKANDAL SEKSUAL DI KEUSKUPAN AGUNG BOSTON TELAH
MENGGOYAHKAN GEREJA HAMPIR SAMPAI KE FONDASINYA.
Untuk membantu membayar penyelesaian senilai $85 juta dengan para korban yang
berjumlah lebih dari 500 orang dari para imam yang memerkosa anak-anak, Keuskupan
Agung telah menggadaikan takhta kekuatannya – Catedral of the Holy Cross – dan menjual
tempat tinggal sang Uskup Agung, sebuah rumah megah bergaya Renaisans Italia yang
sebelumnya merupakan simbol dari kemegahan dan otoritas Gereja. Lusinan gereja juga
dinantikan untuk ditutup akibat skandal ini . (18 Des. 2003)
“Aku akan melampiaskan murka-Ku kepada mereka, sehingga hati-Ku yang panas tenang
kembali dan Aku merasa puas; dan mereka akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN yang
mengatakannya di dalam cemburu-Ku, tatkala Aku melampiaskan amarah-Ku kepada
mereka.
Aku akan membuat engkau menjadi reruntuhan dan buah celaan di antara bangsa-bangsa
yang di sekitarmu di hadapan semua orang yang lintas dari padamu. Engkau akan menjadi
buah celaan dan cercaan, menjadi peringatan dan suatu kengerian bagi bangsa-bangsa
yang di sekitarmu, tatkala Aku menjatuhkan hukuman kepadamu di dalam kemurkaan
dan kemarahan dan di dalam penghajaran-penghajaran kemarahan--Aku, TUHAN, yang
mengatakannya...” (Yehezkiel 5:13-15)
442
CBS News – “Anggota-anggota imamat dan yang lainnya di Keuskupan Agung Boston
kemungkinan besar melakukan pelecehan seksual terhadap lebih dari 1.000 orang selama
periode enam dekade, ujar Jaksa Agung Massachusetts pada hari Rabu, yang menyebut skandal
ini begitu besar sampai hal ini ‘hampir mustahil’. ”...Jumlah tuduhan pelecehan yang
sangat besar yang didokumentasikan oleh para penyelidik di Boston kelihatannya tidak
tertandingi, bahkan di tengah suatu skandal yang telah berlangsung di dalam dioses-
dioses di seluruh negara bagian dan telah mendorong sekitar 1.000 orang untuk
mengedepankan tuduhan-tuduhan secara nasional pada tahun yang lalu (CBSNews.com, 23 Juli
2003)
ABC NEWS, 9 September – Keuskupan Agung Boston dan para pengacara untuk para korban
pelecehan seksual oleh para imam mengumumkan pada hari ini bahwa mereka telah mencapai
suatu pemberesan senilai $85 juta, pembayaran terbesar yang diketahui di dalam skandal
pemerkosaan anak yang telah menggoyahkan Gereja Katolik Roma. (ABCNews.com 9
September 2003)
namun skandal ini sama sekali tidak terbatas di Boston.
Pada tanggal 3 Mei 2003, Uskup dari Phoenix, Thomas J. O’Brien mengakui bahwa ia menyembunyikan
tuduhan-tuduhan pelecehan seksual oleh para imam. Ia lalu menyerahkan bagian dari kekuasaannya.2
28 Juni 2003 – “Di dalam salah satu pemberesan di luar pengadilan yang terbesar kepada para
korban pelecehan di dalam skandal seksual Katolik, Keuskupan Agung Louisville di Kentucky
mengumumkan bahwa ia akan membayar jumlah yang hampir mencapai $25.7 juta kepada
orang-orang yang berkata bahwa mereka telah diperkosa oleh para imam dan pegawai-pegawai
lain di Gereja... William McMurry, yang mewakili banyak dari penggugat, berkata bahwa
keuskupan agung memakai lebih dari setengah dari aset lancarnya untuk membayar
pemberesan ini .3
Pada tanggal 6 Juli 2004,“Di hadapan lusinan gugatan hukum yang tertunda yang menuduh imam
akan pelecehan seksual, Keuskupan Agung Portland, Oregon, mengajukan kebangkrutan. Gereja
Portland telah membayar lebih dari $53 juta untuk membereskan lebih dari 130 gugatan
pelecehan, dan sang Uskup Agung berkata, ‘Pundi emas benar-benar kosong sekarang.’”4
Pada tanggal 20 September 2004, “Dioses Katolik Roma di Tucson, Arizona, yaitu yang negara
bagian kedua yang mencari perlindungan kebangkrutan, akibat tindakan hukum yang begitu
besar dan berkelanjutan yang berakar di dalam pelecehan seksual kepada anak-anak oleh para
imam paroki.”5
Pada tanggal 24 September 2004, “Uskup Thomas Dupre didakwa atas tuduhan pemerkosaan
anak, menjadi uskup pertama yang menghadapi tuduhan di dalam skandal pelecehan seksual
Gereja. Dupre yaitu kepala dari dioses Springfield, Massachusets, namun mengundurkan diri
pada bulan Februari sesudah tuduhan-tuduhannya terbuka.”6
Pada tanggal 2 Desember 2004, “Dioses Kabupaten Orange telah mencapai sebuah pemberesan
dengan 87 korban pelecehan oleh imam. Ketentuan perjanjian ini tidak diberitahukan,
namun sebuah narasumber memberitahukan Associated Press bahwa pembayaran ini akan
berjumlah lebih dari $85 juta, yang merupakan rekor Keuskupan Agung Boston. Gugatan-gugatan
hukum ini menduga terjadinya pelecehan seksual oleh 30 imam, 11 karyawan awam dan
dua biarawati.”7
443
Dioses Spokane, WA mengajukan perlindungan kebangkrutan Bab 11 pada bulan Desember
2004, mencatat gugatan-gugatan yang bernilai lebih dari $81 juta. Dioses ini mencari
perlindungan kebangkrutan sebelum menghadapi pengadilan atas gugatan-gugatan akan
pelecehan seksual oleh imam.”8 Pada tahun 2006, Dioses Spokane melelangkan tempat
kanselirnya untuk membayar gugatan-gugatan pelecehan seksual.”9
“Skandal pelecehan seksual anak-anak di dioses Katolik Roma di Long Island menyebabkan
pemecatan delapan imam dan penskorsan permanen sembilan imam [untuk tuduhan pelecehan
seksual], sedangkan tiga {imam} menantikan pengadilan kanonik, ujar uskup dioses ini .”10
“Pada tanggal 12 Oktober 2005, “Catatan yang baru diumumkan tentang gugatan pelecehan
seksual terhadap 126 imam merupakan ratusan gugatan utama terhadap Keuskupan Agung Los
Angeles, yang menunjukkan bahwa para pejabat Gereja selama berdekade-dekade memindahkan
para imam yang tertuduh antara konseling dan tugas baru.”11
Pada tahun 2006, “Dioses Davenport Katolik Roma mengajukan perlindungan kebangkrutan
Bab 11 pada hari ini, kurang dari dua minggu sebelum ia melindungi dirinya sendiri pada sebuah
pengadilan bersangkutan dengan seorang mantan imam yang tertuduh telah melakukan
pelecehan seksual terhadap seorang anak sekolah menengah. Uskup William Franklin berkata
bahwa ia menyesali keputusan ini , namun tekanan finansial serta tuntutan-tuntuan untuk
membereskan 25 gugatan pelecehan seksual oleh para imamnya terlalu besar.”12 (IOWA CITY,
Iowa)
Contoh-contoh dari korupsi di antara para imam Vatikan II dapat dituliskan dalam banyak sekali
halaman, namun sang pembaca haruslah mengerti maknanya: skandal yang mencengangkan ini berada di
antara sekte Vatikan II hanyalah sebab ia bukanlah Gereja Katolik yang kudus. Siapa yang berani
mengatakannya? Skandal yang kami bicarakan sangatlah memalukan – memang salah satu skandal
terburuk di dalam sejarah – sampai hal ini hanya bisa merupakan suatu tanda akhir zaman dan
gereja palsu yang akan mempertandakan hari-hari terakhir. Anda tahu bahwa situasi sudahlah
menjadi buruk ketika hal yang paling menonjol di atas situs untuk Dioses Pittsburgh yaitu
nomor telepon bebas pulsa untuk tanggapan kepada pelechan seksual.13
Situs Keuskupan Agung Philadelphia memiliki suatu bagian sebagai opsi kelima tentang “Children and
Youth Protection {Perlindungan Anak-anak dan Muda-mudi}”14 – perlindungan, yaitu, dari para ‘Imam’-
nya yang bejat. Hal ini merupakan suatu masalah yang sangat besar sehingga setiap situs dioses
yang kami lihat memiliki suatu tempat yang menonjol untuk masalah pelecehan ini . Berikut
hanyalah beberapa contoh dari situs dioses Miami15 dan Milwaukee.16 Perhatikan bahwa masalah
444
pelecehan seksual yaitu salah satu hal yang paling menonjol yang disebutkan di dalam situs-situs
ini (kami menggarisbawahi dan memberi tanda kurung).
Skandal seksual sekte Vatikan II itu pun tidak terbatas di AS. Skandal seksual ini yang telah
menenggelamkan sekte Vatikan II memang telah tersebar di seluruh dunia. Pada tanggal 8 Juli 2002,
“Konferensi Uskup-uskup Katolik Filipina memohon maaf untuk ‘pelecehan seksual yang parah’ oleh
para imam Filipina, dan menjanjikan sebuah protokol untuk mengatasi kasus-kasus pelecehan di masa
depan.”17
Di Keuskupan Agung Wina {Austria} pada tahun 2004, contohnya, 10.000 orang meninggalkan gereja
Novus Ordo beberapa bulan sesudah dua skandal seksual besar yang melibatkan para imam, pornografi
anak-anak dan tuduhan pemerkosaan.18
23. Seminari-Seminari Sekte Vatikan II
yaitu Kubangan Homoseksualitas dan
Bidah yang Menjijikkan
Paus Pius XI, Ad catholici sacerdotii (#66), 20 Desember 1935:
“Berikan imam terbaik anda kepada seminari-seminari anda; janganlah takut untuk
memindahkan mereka dari posisi lain. Posisi-posisi [lain] ini mungkin terlihat lebih
penting, namun kenyataannya, kepentingan mereka tidak bisa dibandingkan dengan
kepentingan seminari-seminari, yang sangat besar dan tidak tergantikan. Carilah pula
dari berbagai tempat, di mana anda dapat menemukan mereka, pria-pria yang benar-
benar pantas untuk tugas mulia ini. Hendaknya mereka mengajarkan kebajikan-
kebajikan imamat, lebih banyak lewat contoh dibandingkan lewat perkataan, pria-pria yang
sanggup menanamkan, di samping pengetahuan, roh yang kuat, jantan, dan
apostolik.”1
Pada tahun 2002, buku Goodbye, Good Men {Selamat Tinggal Pria-pria yang Baik} oleh Michael Rose
diterbitkan. Buku ini mendokumentasikan kebejatan dan penyelewengan yang bukan kepalang di dalam
seminari-seminari ‘Gereja’ Vatikan II / Novus Ordo. Seminari-seminari yang korup ini
menghasilkan ‘imam-imam’, yang sesudah nya, menghasilkan skandal seksual yang terkenal buruknya.
Penulis buku ini (Rose) yaitu pembela sekte Vatikan II, maka, paparannya (yang bersumber dari
seseorang yang cenderung membela imamat Vatikan II) menyingkap betapa buruknya situasi yang
benar-benar terjadi.
Beberapa anekdot-anekdot {cerita-cerita pribadi dari narasumber} tentang kehidupan seminari begitu
mengerikan sampai hanya satu kesimpulan dapat ditarik dari hal-hal ini : ‘Gereja’ yang menyajikan
tempat-tempat ini sebagai ‘seminari-seminari untuk pembentukan imam-imam Katolik’ hanyalah
merupakan Pelacur Babel dari Kitab Wahyu yang dinubuatkan Kitab Suci, yang akan muncul pada akhir
zaman untuk menipu para Katolik. Beberapa petikan dari Goodbye, Good Men diperlukan untuk
menetapkan poin ini :
Seminari-Seminari, Kubangan Homoseksualitas dan Bidah
447
Michael Rose, Goodbye, Good Men {Selamat Tinggal Pria-pria yang Baik}, hal 56-57:
“Menurut mantan-mantan seminaris dan imam-imam yang baru ditahbiskan, ‘cabang budaya
{sub-culture} gay’ ini begitu menonjol di seminari-seminari tertentu sampai institusi-
institusi ini mendapat julukan-juluan seperti Notre Flame (untuk Notre Dame
Seminary di New Orleans) {Flame – api - di sini merujuk kepada sikap pria homoseksual
yang cenderung seperti banci, ‘berkobar-kobar’}. dan Theological Closet (untuk Theological
College dari Catholic University of America di Washington D.C.) {Closet - lemari di sini yaitu
istilah untuk fase di mana seorang pria menyembunyikan ketertarikannya kepada sesama jenis
‘bersembunyi di balik lemari’}. St. Mary’s Seminary di Baltimore telah mendapat julukan
‘Pink Palace’ {‘Istana Merah Jambu’}.2
Para Anti-Paus dan ‘Uskup’ sekte Vatikan II tidak melakukan hal apa pun mengenai seminari-
seminari ini ataupun masalah homoseksual yang besar, tentunya! namun sewaktu seseorang
di bawah otoritas mereka melawan Agama Baru ini , mereka bertindak secepat kilat. Contohnya:
sewaktu kepala dari Fraternity of St. Peter Seminary, Romo Bisig, menunjukkan bahwa ia tidak
ingin untuk menerima di dalam kelompoknya pria-pria yang ingin mengadakan Misa Baru,
Vatikan langsung memecatnya dan menunjuk Romo Arnaud Devillers untuk menggantikannya.
Betapa cepatnya Vatikan bertindak sewaktu Agama Baru dilawan! Ingatlah pula bahwa, pada tahun 1988,
seorang uskup langsung diekskomunikasikan sesudah ia bertindak untuk menyebarkan Misa Latin
Tradisional. namun , Vatikan pasca-Vatikan II tidak melakukan apa pun berkenaan dengan seminari-
seminari yang bejat di seluruh dunia. Hal ini yaitu sebab ia yaitu Kontra-Gereja dari sang Iblis.
Sebelum Vatikan II, yaitu suatu kebijakan bahwa mereka yang memiliki kecenderungan homoseksual
(yang merupakan hasil dari kuasa iblis akibat suatu bentuk dari penyembahan berhala, seperti yang
diajarkan di Roma 1) dilarang untuk menjadi imam.
“Romo Andrew Walter, ditahbiskan untuk Dioses Bridgeport, Connecticut, pada tahun 2000,
melewatkan beberapa semester di sekolah Baltimore sebagai seorang seminaris untuk Dioses
Paterson, New Jersey. Masalah [homoseksual] ini begitu buruknya sampai sewaktu ia
berada di sana, ia menjelaskan, bahwa ‘beberapa murid dan pengajar mengenakan
pakaian kulit untuk bepergian ke ‘the block’ {tempat hiburan orang dewasa di mana ada
klub striptis dan berbagai kebejatan lain}, tempat di Baltimore yang mirip 42nd Street di
Manhattan {distrik lampu merah}.’”3
Michael Rose, Goodbye, Good Men {Selamat Tinggal Pria-pria yang Baik}, hal 57:
“Romo John Trigilio dari Harrisburg, Pennsylvania, mengingat bahwa ia mengunjungi St. Mary’s
di Baltimore sewaktu ia menjadi seorang seminaris di Pennsylvania. ‘Sama sekali tidak
disembunyikan,’ katanya tentang cabang budaya gay di sana. “Beberapa kali saya berada di sana,
beberapa seminaris benar-benar berdandan seperti para gay dari the Village {lingkungan
gay di New York}. Mereka bahkan sampai mengenakan sutra merah jambu; saya merasa
seperti pergi untuk menonton La Cage aux Folles {film musikal homoseksual}.’
‘Hari-hari saya di St. Mary’s,’ kata Romo John Despard, yang sekarang yaitu seorang imam ordo
religius dari {Amerika} Tenggara, ‘di aula di sana, dua lelaki mandi bersama di sana dan
semua orang mengetahuinya.’
“Ada Mason, seorang profesor filsafat di sebuah universitas Katolik yang terkenal, pernah sekali
bertugas sebagai dewan sebuah seminari di Amerika Tengah menuju utara. Di posisi ini , ia
begitu terkejut untuk menemukan sebuah cabang budaya gay yang sungguh aktif di sana.
Seminari-Seminari, Kubangan Homoseksualitas dan Bidah
448
‘Perilaku homoseksual yang terbuka lebih dari ditolerir’, ia mengakui. ‘Saya bahkan diberitahu
oleh salah satu dari pengajar seminari bahwa setiap hari Jumat, sebuah van menjemput para
murid imamat ke sebuah kota yang dekat untuk menjelajahi bar-bar gay.’”4
Walaupun hal ini terdengar begitu buruk, ini hanyalah puncak gunung es dari kebejatan dan
homoseksualitas yang merajalela dari sekte Vatikan II. Goodbye, Good Men juga mendokumentasikan
bahwa seminari-seminari sekte Novus Ordo mendukung dan menerima penolakan ajaran-ajaran yang
paling mendasar dari Iman Katolik.
“’Banyak dari para seminaris kehilangan iman mereka di sana [di seminari ini ],’ sesalnya.
‘Saya ingat seorang lelaki secara khusus’, ceritanya. ‘Ia kehilangan imannya sebab pelajaran
Kristologi yang diwajibkan untuk kami ambil.’ Di dalam pelajaran ini , jelas Perrone,
para seminaris diajarkan penafsiran Kitab Suci ala Protestan dari German yang dipopulerkan oleh
Rudolph Bultmann, seorang Lutheran dari Jerman, dan buku pertama yang mereka baca
yaitu Quest for the Historical Jesus {Pencarian Yesus di dalam Sejarah} oleh Albert
Schweitzer, yang disebut Perrone ‘sebuah buku yang sangat merusak’ yang menolak
seluruh ajaran Gereja sebagai mitos-mitos yang tidak dapat diandalkan. ‘Dan kami memiliki
buku-buku yang mirip tentang hal-hal yang seumpama.’”5
Buku pertama yang mereka baca di seminari menyerang kenyataan sejarah Tuhan kita dan menolak
semua ajaran-ajaran Gereja sebagai mitos-mitos. Kembali lagi, ini hanyalah suatu sampel kecil dari apa
yang terjadi dan yang diajarkan di ‘seminari-seminari’ sekte Vatikan II. Buku Rose juga
mendokumentasikan bahwa para pria yang melawan penahbisan wanita dihalang-halangi agar tidak
meneruskan panggilan mereka. Buku ini juga mendokumentasikan bagaimana Keutamaan Paus,
kesempurnaan Kitab Suci, dst. secara umum ditolak di dalam seminari-seminari ini. Buku ini juga
mendokumentasikan bagaimana seorang penyihir menghadiri satu seminari (hal. 180), dan bagaimana
para kandidat seminari ini diwawancarai dan disaring oleh seorang Freemason:
“Langkah selanjutnya di dalam proses penerimaan [seminaris] yaitu evaluasi psikologis.
Carrigee dikirim ke suatu klinik psikologis independen, di mana ia melewatkan dua hari
dengan mengambil tes dan ‘diwawancarai seorang stoik berwajah batu yang mengenakan
sebuah cincin Masonik’.”6
Begitu buruknya keadaan di dalam ‘seminari-seminari’ ini sehingga seorang ‘Imam’ terkemuka dari
sekte Vatikan II, ‘Romo’ John Trigilio harus mengatakan hal berikut tentang hari-harinya di seminari:
“Trigilio menyesali, menunjukkan cabang budaya banci yang merajalela di dalam suasana
seminari. ‘Kami dulu berkata, jika kamu mengenakan jubah, kamu yaitu seorang ‘putri
Trente’ yang reaksioner. Jika kamu mengenakan pakaian dalam wanita, mereka
menghargaimu sebagai seminaris tahun ini. Kami juga melihat beberapa pria yang
kadangkala mengenakan pakaian wanita, pakaian dalam wanita, makeup, dst., dan
beberapa benar-benar kemayu... Yang banci di MIS (Mary Immaculate Seminary,
Northampton, P.A] menyebut satu sama lain dengan nama perempuan mereka...’”7
“Saya dapat mengatakan hal ini’, jelasnya, ‘namun hal ini tidak mutlak: Jika seorang pria di dalam
karirnya di seminari MIS tidak pernah mendapat tentangan dari pengajar, ada sesuatu
yang salah dengan dirinya. Jika anda sedikit pun ortodoks, anda harus berjuang begitu keras
untuk menjaga kewarasan dan iman anda. Tim pembentukan akan mengatakan kepada uskup
saya bahwa ‘Ia memiliki kesulitan untuk menyesuaikan diri kepada teologi kontemporer; ia tetap
Seminari-Seminari, Kubangan Homoseksualitas dan Bidah
449
bersikukuh.’ namun untuk mereka yang terang-terangan homoseksual, para uskup mereka
tidak diberitahukan...’”8
Hal-hal ini yaitu kata-kata seorang ‘Imam’ Novus Ordo yang sekarang tampil di EWTN {saluran
televisi Novus Ordo di Amerika Serikat}. ‘Imam’ ini yaitu seorang pemuka ekumenisme sesat,
keselamatan di luar Gereja, dan berbagai bidah pasca-Vatikan II yang lain. Poinnya yaitu ia sama sekali
bukan seorang Katolik tradisional. Ia begitu jauh dari Iman Katolik Tradisional, namun ia dianggap
seorang konservatif di seminarinya hanya sebab ia tidak terbuka kepada hal-hal seperti
homoseksualitas dan penahbisan wanita. Hal ini menunjukkan kita betapa jahatnya sekte Vatikan II, dan
betapa jauhnya tidak Katolik sekte ini .
CERITA YANG MENCENGANGKAN TENTANG KEADAAN SEMINARI-SEMINARI DARI SESEORANG
YANG MELEWATKAN WAKTU DI SEBUAH SEMINARI NOVUS ORDO YANG TERKENAL
Di dalam terbitan tahun 1995 dari The Homiletic and Pastoral Review (yang selanjutnya diterbitkan di
internet), sebuah artikel muncul, yang ditulis oleh seorang individu yang menghadiri salah satu seminari
Novus Ordo yang paling terkenal di seluruh negeri. Ia begitu dikejutkan oleh apa yang ia lihat. Beberapa
hal yang ia katakan termasuk:
“sesudah menghadiri seminari Katolik Roma Neo-Modernis selama empat tahun, saya menjadi
percaya dengan kuat bahwa sumber dari krisis masa kini di dalam Gereja di Amerika Serikat
dapat ditelusuri secara langsung ke dalam seminari-seminari. Seminari secara harfiah merupakan
persemaian iman... Seorang pria pada akhirnya akan menemukan masalah [di dalam
seminari], bagaimanapun, jika ia memakai bahasa seperti ‘Kurban Kudus Misa’. Ia
akan dicontreng dua kali jika ia melawan konsep ‘iman perempuan’ di dalam Gereja Katolik
Roma.
“Rosario dipandang sebagai cocok untuk mereka yang tidak memiliki kemampuan untuk
mendekati Allah secara intelektual, dan di bawah kemajuan teologis...”
Pertama-tama, kami diinstruksikan sewaktu memasuki seminari bahwa kami tidak dapat
berlutut pada saat konsekrasi di Misa, tidak pun kami boleh berlutut sesudah menerima
komuni. Hal ini akan ‘memecahkan persekutuan’....
“Pada saat Misa, imam sering dirujuk sebagai ‘pemimpin Misa’ {‘presider’}. Ialah yang memimpin
kami di dalam doa, ‘menggerakkan’ persekutuan. Banyak ‘pemimpin Misa’ berimprovisasi pada
saat Misa, menambahkan sentuhan pribadi mereka di dalam doa-doa ekaristi. Bahwa bacaan-
bacaan harus dipastikan untuk menjadi inklusif yaitu tanggung jawab pembaca untuk hari itu...
“Kami, sebagai seminaris Katolik Roma, tidak diperbolehkan untuk mengenakan pakaian
imamat. Hal ini yaitu sebab kerah imam yaitu tanda ‘klerikalisme’. Walaupun orang-orang
mengetahui bahwa sang rektor berkata kepada para uskup bahwa ia tidak ingin
’mencampuradukkan pelayanan dengan imamat,’ larangan untuk mengenakan kerah di seminari
kami yaitu sebab hal ini menggelisahkan para feminis...
“Kami diberi tahu sejak awal bahwa para seminaris tidak boleh memanggil para pengajar sebagai
‘Romo’ atau ‘Suster’. Kami tidak boleh terperangkap oleh ‘gelar’, sebab ini merupakan simbol
dari ‘klerikalisme’. Hal-hal ini juga dianggap menyinggung misi ‘ekumenis’ yang dijalankan
seminari ini . Dalam soal ‘kebingungan pelayanan’, seseorang mungkin mempertanyakan
praktik yang diajarkan di seminari...
Seminari-Seminari, Kubangan Homoseksualitas dan Bidah
450
“Pada suatu konferensi di dalam kelas, pertanyaan diajukan tentang tingkah laku yang
seperti banci dan memalukan dari beberapa seminaris, reputasi negatif yang didapatkan
oleh seminari dari gambaran yang berkelanjutan ini , dan panutan macam apa yang
diam-diam disetujui oleh seminari sewaktu seminari itu merekomendasikan pria-pria
ini untuk tahbisan. Wakil Rektor menjawab bahwa seminari ini menerima
pria-pria dari kedua orientasi {seksual – heteroseksual dan homoseksual}, namun kebijakannya
yaitu semuanya haruslah selibat...
“Di tahun akademik pertama kami, kami harus mempelajari {buku berjudul} Katolisisme
oleh Richard P. McBrien. Buku ini meletakkan fondasi yang paling subur untuk keraguan dan
penyimpangan intelektual dari Iman Katolik yang sejati. Lewat penipuan yang halus dan cerdik,
di bawah kerudung bahasa yang ambigu, buku McBrien sangatlah efektif. Buku ini menjadi
dasar dari kewajaran untuk perbedaan pendapat. Beberapa dari ide-idenya yang paling
menonjol, membisikkan dan dengan cerdik menunjukkan secara tersembunyi di
sepanjang buku ini , bahwa kami tidak harus percaya akan keperawanan Bunda yang
Terberkati, bahwa kita tidak perlu percaya atau setuju untuk mengikuti ajaran Gereja kecuali hal
ini disebut secara terang-terangan sebagai dogma; dan bahwa kami harus mengakui bahwa
Yesus pernah membuat kesalahan sebab ketidaktahuan. McBrien secara ahli memakai
bahasanya agar tetap berada di dalam kaidah yang ‘legal’, dan membuat saran-saran yang
memalukan yang terlihat menarik bagi beberapa orang. Saya ingat pernah melihat hasil langsung
dari penggunaan buku ini di dalam sebuah diskusi yang saya lakukan dengan seorang seminaris
lain – ia benar-benar yakin bahwa ‘sangatlah naif jika seseorang berpikir bahwa Maria tidak
melakukan hubungan badan.’
“Kami sering mempelajari teolog Protestan di samping Rahner, Schillebeeckx, Kung, Boff (dan
bahkan kadangkala Matthew Fox) dan seterusnya. sebab kami tidak bersandar kepada
Magisterium untuk panduan atau rujukan di dalam kebanyakan diskusi teologis, kami para
seminaris terombang-ambingkan di dalam lautan pendapat dan penafsiran, Protestan maupun
Katolik.
“Di dalam bidang kerohanian, kami melakukan loka karya tentang ‘kerohanian wanita’, atau
sesuatu yang berkenaan dengan ‘pelayanan kolaboratif’ dan ‘keadilan sosial’, sebab hal ini dikira
sebagai ‘tempat Roh Kudus berada’ di dunia masa kini. Devosi kepada Maria sebagai “Bunda yang
Terberkati” diperbolehkan, namun secara umum tidak disarankan... Rosario, yang didoakan di
kapel utama oleh sekelompok seminaris, ditolerir untuk suatu waktu. namun alhasil,
ketegangan yang diciptakan di dalam seminari berkenaan dengan kelompok ini
mengakhirinya. namun , untuk menyenangkan para uskup, dan sebagai sebuah tingkah laku yang
menyarankan suatu elemen konservatif di dalam seminari, Rosario tiba-tiba diperbolehkan
kembali – dengan persetujuan resmi oleh seminari –lalu namun hanya di dalam kapel aula kecil di
mana tidak ada Sakramen Kudus, satu hari dalam seminggu, antara makan pagi dan kelas.
Alasan Rosari tidak diperbolehkan di kapel utama yaitu bahwa ‘kapel yaitu untuk
penyelenggaran liturgis – dan bukan devosi.’ Walaupun demikian kapel ini digunakan untuk
beberapa fungsi lain selain ibadat Katolik, termasuk kadangkala latihan-latihan orkes simfoni
setempat.
“Cobaan rohani terbesar datang pada tahun keempat saya, di dalam suatu pelajaran yang
dinamakan ‘Konseling Pastoral’. Seorang wanita awam yang sangat vokal akan rencananya
mengajar kelas ini . Tidak hanya ia memberi tahu kami dengan bangga bahwa ia akan
membolos suatu kelas untuk menghadiri {acara} seminar-seminar Panggilan untuk Bertindak di
Seminari-Seminari, Kubangan Homoseksualitas dan Bidah
451
Chicago (di mana semua orang menghadiri doa-doa Ekaristi sewaktu seorang wanita yang
mengenakan stola ‘memimpin acara’ – dan bersama seorang Uskup Katolik di dalam kongregasi)
namun ia juga secara terang-terangan mendukung hak-hak gay dan lesbian, feminisme radikal, dan
bahkan aborsi. sebab saya terang-terangan mempertanyakan argumen-argumen wanita ini, saya
diberikan pinalti...
“Lewat suatu dilema yang mengecilkan hati, saya tahu bahwa apa yang diajarkan menentang
secara langsung apa yang Gereja ajarkan, dan saya tahu bahwa sang uskup di dioses tempat
tinggil saya mendukung saya... sesudah empat tahun di seminari, berjuang untuk
mempertahankan apa yang benar, saya akhirnya dihukum dengan pengeluaran. Saya
diminta untuk keluar pada akhir tahun akademik dan tidak kembali. Walaupun saya
menunjukkan kasus-kasus secara langsung di mana seminari ini menentang Katolisisme di
dalam iklim rohaninya, para anggota staf pengajar melindungi diri mereka sendiri dan institusi
ini dengan membuat tampak seperti sayalah yang menentang Gereja, otoritasnya, dan
pembentukan seminari... sebab akibat-akibat dari murka sang rektor, dan saya terkejut pula
akan hal ini, sang uskup lalu juga ‘melepas’ saya, sebab hal ini menjadi sangat politis
untuknya.
“Saya ingin tahu jika, di dalam seminari-seminari seperti yang saya hadiri, para pria seolah-olah
masih ditempatkan di depam gambar-gambar dewa-dewa dan disuruh untuk membuat suatu
pilihan.”9
Perhatikan bahwa seminaris yang berpikiran konservatif ini mengira bahwa sang ‘Uskup’ Novus Ordonya
akan mendukungnya. sesudah ia didepak, ia mengetahui bahwa sang ‘Uskup’ berdiri bersama para orang
yang murtad di seminari ini melawannya.
24. Penyembahan Berhala dari Sekte Vatikan II
dan Pembentukan dari Para ‘Imam’ untuk
Kemusyrikannya di dalam Seminari-
Seminari Vatikan II, Memiliki Hubungan
dengan Homoseksualitasnya yang
Merajalela
Kitab Suci mengajarkan bahwa homoseksualitas yaitu akibat dari penyembahan berhala
Roma 1:21, 25-27, 32 - Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak
memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya
pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap...Sebab
mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan
menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-
lamanya, amin. sebab itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang
memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar
dengan yang tak wajar. Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan
yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang
terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan
laki-laki, dan sebab itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang
setimpal untuk kesesatan mereka... Sebab walaupun mereka mengetahui tuntutan-
tuntutan hukum Allah, yaitu bahwa setiap orang yang melakukan hal-hal
demikian, patut dihukum mati, mereka bukan saja melakukannya sendiri, namun
mereka juga setuju dengan mereka yang melakukannya.
Homoseksualitas yang Merajalela Berkaitan dengan Kemusyrikan Sekte Vatikan II
453
Sekte Vatikan II menentang ajaran Kitab Suci ini dengan menyatakan bahwa sebab homoseksualitas tidak
diketahui, dan bahwa ketertarikan sesama jenis tidaklah salah.
Yohanes Paulus II, Katekismus Baru, #2357:
“Homoseksualitas... Sebagian besar dari permulaan psikologisnya tetap tidak diketahui.”1
namun Roma 1 jelas-jelas mengajarkan bahwa homoseksualitas ‘tidak wajar’, yang berarti bahwa
ketertarikan ini yaitu sesuatu yang asing kepada kodrat manusia; yaitu, TIDAK DITANAMKAN
OLEH ALLAH. Akibat penyembahan berhala, kadangkala Allah mengizinkan iblis untuk menguasai orang-
orang, merasuki mereka, dan mengubah ketertarika mereka, seperti yang digambarkan St. Paulus.
Pria dan wanita diserahkan kepada homoseksualitas sebab mereka membanjiri diri mereka sendiri
dengan dosa-dosa kenajisan – yang oleh sebab nya, menyembah daging dan bukan Allah. Akibat dosa ini,
mereka dapat dirasuki roh hawa nafsu, yang lalu menguasai mereka dan membejatkan
ketertarikan mereka seutuhnya. (Dan mereka dapat disembuhkan dari hal ini.) Orang-orang juga menjadi
homoseksual sebab mereka mengambil bagian di dalam penyembaan berhala dengan menyimpan
ketertarikan yang bejat akan manusia di atas Allah – yang sebab itu menyembah ciptaan dan bukan sang
Pencipta – atau dengan menyembah sesuatu yang yaitu ciptaan dari tangan seseorang. Fakta bahwa
semua homoseksual dirasuki iblis didukung oleh fakta bahwa kebanyakan laki-laki homoseksual dapat
dikenali lewat tingkah laku eksternal mereka yang sangat feminin. Apa yang menjelaskan hal ini? Jelaslah
bahwa kehadiran iblis di dalam orang ini menunjukkan dirinya lewat tampak luarnya – tingkah
laku eksternal yang tidak alamiah yang menyingkapkan kenajisan dalam jiwanya.
Yesaya 3:9 – “Air muka mereka menyatakan kejahatan mereka, dan seperti orang Sodom,
mereka dengan terang-terangan menyebut-nyebut dosanya, tidak lagi disembunyikannya.
Celakalah orang-orang itu! Sebab mereka mendatangkan malapetaka kepada dirinya sendiri.“
Perhatikan bahwa nabi Yesaya, saat ia berbicara tentang para homoseksual, berkata bawa “mereka
mendatangkan malapetaka kepada dirinya sendiri.” Ini sangatlah mirip dengan Roma 1 di atas, di mana St.
Paulus berkata bahwa para homoseksual telah ‘menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk
kesesatan mereka’.
Penelitian akan budaya-budaya yang paling jahat di dalam sejarah mendukung ajaran Kitab Suci akan
hubungan antara penyembahan berhala dengan homoseksualitas. Semua hal ini relevan sebab
homoseksualitas merajalela di antara para imam Vatikan II.
Budaya Aztek di Meksiko pada abad-abad ke-15 dan ke-16, yang digulingkan secara jasmani oleh para
conquistador {angkatan bersenjata kerajaan Spanyol} Katolik – dan yang diremukkan secara rohani oleh
penampakan Bunda Maria dari Guadalupe (1531) – merupakan salah satu budaya terjahat di dalam
sejarah manusia.
Warren H. Caroll, Our Lady of Guadalupe and the Conquest of Darkness {Bunda Maria dari
Guadalupe dan Ditaklukannya Kegelapan}, hal. 8-11:
“Banyak dari orang-orang purbakala kadangkala mempraktikkan pengorbanan manusia
dan kanibalisme. Tidak satu budaya pun menandingi jumlah {pengorbanan manusia dan
kanibalisme} yang bahkan hampir mencapai budaya Aztek. Tidak seorang pun akan pernah
tahu berapa banyak orang yang mereka korbankan; namun hukum kerajaan mewajibkan seribu
korban kepada dewa suku Aztek Huitzilopochtli di setiap kota dengan sebuah kuil, setiap tahun;
dan ada 371 kota yang tunduk di bawah kerajaan Aztek...
Homoseksualitas yang Merajalela Berkaitan dengan Kemusyrikan Sekte Vatikan II
“Setiap kota dan kota besar Aztek memiliki lapangan pusat, di mana sebuah kuil
berbentuk piramida menjulang, dan empat gapura menyambut empat jalan yang menuju kota
di dalam garis lurus yang panjangnya setidaknya lima mil, tiap-tiap jalan ini berakhir di satu
sisi dari kuil piramida ini ... Bulan berganti bulan, tahun berganti tahun, di dalam tiap-
tiap kuil, korban ritual berjalan menuju anak tangga {kuil}, menapaki anak tangga menuju
mimbar di atas, dan di sana {mereka} berbaring ke belakang di atas lempengan batu
cembung yang dipelitur. Sebuah kail diikatkan di leher mereka oleh seorang imam yang kepala
dan lengannya berwarna hitam, dengan rambutnya yang hitam yang tidak pernah dipotong, yang
berkerak dan diselimuti darah yang sudah mengering; ia mengenakan pakaian yang tadinya
putih, yang dilumuri dan dinodai tetesan merah menyala. Sebuah pisau yang besar yang
matanya terbuat dari kaca vulkanik berwarna hitam legam membumbung dan jatuh,
membuka badan sang korban. Jantungnya disobekkan selagi masih berdebar dan
digenggam untuk dilihat semua orang, sedangkan badannya yang porak-poranda
ditendang ke ujung mimbar kuil di mana ia membal dan menjalar, meliuk-liuk dengan
menjijikkan ke bawah anak tangga beberapa ratus kaki di bawah. lalu , anggota
badannya dimakan...
“Sejarahwan awal dari Meksiko, Ixtlilxochitl, memperkirakan bahwa satu dari lima anak-anak di
Meksiko dikorbankan... Satu simbol yang hampir universal di dalam agama Meksiko yaitu
ular. Pengorbanan diwartakan dengan tabuhan berkepanjangan suatu gendang besar yang
terbuat dari kulit ular-ular besar, yang dapat terdengar dari kejauhan dua mil. Tidak ada tempat
lain di dalam sejarah manusia di mana Setan telah mengesahkan dan mendirikan
penyembahannya dengan begitu banyaknya gelar-gelar dan simbol-simbol untuk dirinya
sendiri.”2
Berikut yaitu gambaran dari tahun 1487 pembaktian Aztek akan suatu kuil piramida baru untuk
berhala mereka Huitzilopochtli:
“Tlacaellell memutuskan bahwa kuil pusat ini harus dibaktikan dengan pengorbanan
massal yang paling besar di dalam lima puluh delapan tahun kepemimpinannya di dalam
kerajaan Aztek. Seperti biasa, ia mendapat apa yang ia mau. Di dalam gambaran R.C Padden
yang mengesankan: “Jauh sebelum subuh, anggota legiun menyiapkan para korban, yang
ditempatkan di dalam satu antrian tertutup di bawah anak tangga piramida besar, yang
memotong kota, di jalan lintas, sejauh mata memandang. Untuk orang biasa yang memandang
peristiwa ini dari atap rumah, akan terlihat bahwa para korban berentetan di dalam garis
menuju ujung bumi. Kebanyakan dari orang-orang malang ini berasal dari provinsi-
provinsi yang berseteru dan dari kalangan budak. Di puncak piramida, empat lempengan
telah dipersiapkan, satu di atas setiap tangga, untuk Tlacaellel dan ketiga raja dari Tiga
Persekutuan, yang semuanya memulai hal ini sebagai imam-imam yang menjalankan
korban. Semuanya sudah siap; rentetan korban panjangnya bermil-mil, dengan tampungan besar
di ujungnya, ribuan dari manusia-manusia yang terperangkap bergerak hiruk-pikuk
bagaikan ternak, menunggu giliran mereka di dalam rentetan yang akan maju. Tiba-tiba,
para raja yang pakaiannya begitu brilian mendekati kapel Huitzilopochtli [sang berhala] dan
membuat suatu penghormatan yang khidmat. Selagi mereka beralih untuk mendekati para
ajudan mereka di dekat keempat lempengan, gendang kulit ular besar itu mulai ditabuhkan,
mengumumkan bahwa antrian-antrian {korban} sekarang boleh mulai maju.
“Para imam bergantian memberangkatkan para korban. Selagi tiap kelompok menjadi
lelah [akibat pembunuhan ini ], ribuan korban yang lain yang masih hidup di bawah
Homoseksualitas yang Merajalela Berkaitan dengan Kemusyrikan Sekte Vatikan II
kuil yang baru maju untuk membantu mereka dan untuk menjaga irama. Praktik bertahun-
tahun ini telah memberi mereka kemampuan dan kecepatan yang hampir tidak bisa
dipercaya. Bukti yang dapat diandalkan menunjukkan bahwa hanya diperlukan lima belas detik
untuk membunuh tiap korban. Darah dan badan-badan jatuh di dalam aliran tiada henti ke
bawah anak tangga kuil. Jantung-jantung dikumpulkan di dalam tumpukan dan
tengkorak-tengkorak di dalam rak-rak yang begitu banyak.
“Kejadian itu berlangsung empat hari dan empat malam. Lebih dari delapan puluh ribu manusia
dibunuh. Tlacaellel telah memerintahkan seluruh bangsawan tinggi Meksiko untuk hadir,
menonton dari panggung yang dilumuri wewangian, yang diberi warna merah; namun pada
akhirnya, kebiasaan adat dan bahkan oleh ketakutan meledak akibat kengerian yang luar biasa,
dan kebanyakan dari para penonton kabur, bersama banyak orang kota. Bahkan mereka yang
dapat bersembunyi dari pemandangan ini tidak dapat lagi menahan baunya. namun
Tlacaellel [pemimpin Kerajaan] yang berumur delapan puluh sembilan tahun menetap
sampai akhir perayaan ini , melihat para korban dibunuh dalam waktu lima belas
detik per orang, sampai orang terakhir dari kedelapan puluh ribu korban ini
dirobek jantungnya di depan mata kepalanya.”3
Mungkin kupasan sejarah ini, lebih dari yang lain, menggambarkan kenyataan dari ajaran Kitab Suci
bahwa allah-allah bangsa-bangsa sebenarnya yaitu setan.
Mazmur 96:5- “Sebab segala allah bangsa-bangsa yaitu hampa {lyla ‘eliyl – dewa-dewa sesat;
devils - setan dalam terjemahan Katolik Douay-Rheims}...
1 Korintus 10:20- “Apa yang kumaksudkan ialah, bahwa persembahan mereka {penyembah
berhala} yaitu persembahan kepada roh-roh jahat, bukan kepada Allah. Dan aku tidak mau,
bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat.”
Hal ini juga menunjukkan hubungan antara penyembahan berhala dengan homoseksualitas, sebab para
conquistador Katolik, “sesudah menangkis serangan [para Aztek], melihat kuil-kuil kecil pertama mereka.
‘ada berhala tanah liat yang terbuat dari tembikar,’ cerita Bernal Diaz, ‘dengan wajah iblis
atau wanita atau tokoh-tokoh jahat lain yang menunjukkan para Indian yang melakukan
tindakan sodomi satu sama lain.’”4
Hal ini merupakan masalah yang begitu besar sampai Cortes {salah satu pemimpin conquistador}
berkata kepada para Aztek: “Saya ingin kalian tahu bahwa kami telah datang dari jauh... Berhentilah
melakukan sodomi dan segala praktik kalian yang jahat, sebab itulah yang diperintahkan Tuhan Allah
kami, Yang kami percayai dan Yang kami sembah...”5
St. Fransiskus Xaverius (abad ke-16) menyaksikan hal yang sama sewaktu ia mengkhotbahkan iman di
Jepang kafir. “Fucarandono lalu berbicara tentang hal-hal umum, dan sesudah itu bertanya kepada
Fransiskus Xaverius mengapa ia melarang nafsu yang tidak wajar yang begitu umum di Jepang.”6
Nafsu yang tidak wajar itu begitu umum sebab mereka menyembah sekitar 33.000 berhala di kuil di
Kioto.7 Seperti yang diajarkan Roma 1, hawa nafsu yang tidak wajar memiliki hubungan dengan
penyembahan berhala.
Itulah mengapa hawa nafsu yang tidak wajar begitu umum di kalangan imamat sekte Vatikan II: mereka
terjerumus di dalam penyembahan berhala.
Homoseksualitas yang Merajalela Berkaitan dengan Kemusyrikan Sekte Vatikan II
25. Sekte Vatikan II Mempromosikan
Penyembahan Berhala dengan Menyembah
Manusia Secara Umum, dan Secara Khusus
Menyembah Manusia di dalam Misa Barunya,
serta Penerimaan Agama-Agama Sesat
“Mereka yang menempuh usaha yang begitu keras untuk menghindari bahkan sekelumit
dari propaganda yang ada di dalam Misa Baru di negara Barat mana pun tentunya
akan setuju dengan hampir serempak bahwa arti dari Misa ditemukan di dalam
perkumpulan umat, bukan di dalam kurban untuk mana, paling tidak di dalam teorinya,
umat berkumpul... Profesor Salleron mencatat suatu kali [pada tahun 1970] bahwa Misa
Baru melambangkan ungkapan liturgis akan Penyembahan Manusia...”1
Kami telah membahas secara sangat rinci tentang penerimaan sekte Vatikan II akan agama-agama sesat.
Sekarang kita harus melihat bagaimana manusia telah menggantikan Allah di dalam Misa Baru dan
bagaimana hal ini tercermin di dalam seminari-seminari.
Lex Orandi, lex credendi – Hukum Novus Ordo tentang Doa berkaitan dengan Hukum Iman
Novus Ordo: bahwa Manusia yaitu Allah
Lex Orandi, lex credendi yaitu suatu prinsip di dalam ajaran Katolik. Secara sederhana hal ini berarti
bahwa cara Gereja berdoa atau beribadat mencerminkan apa yang dipercayai Gereja. Hal ini terlihat
sangat jelas sewaktu para bidah Protestan memisahkan diri dari Gereja, mereka mengindoktrinasikan
orang-orang secara efektif dengan ajaran-ajaran sesat Protestan (yang menentang Kehadiran Nyata
Kristus di dalam Ekaristi, menolak bahwa Misa yaitu suatu kurban, dst.) dengan mengubah Misa di
Berbagai Cara Sekte Vatikan II Mempromosikan Penyembahan Berhala dan Manusia
dalam cara-cara yang mencerminkan kepercayaan-kepercayaan mereka yang baru (misalnya,
memperlakukan Ekaristi bagaikan sebuah roti biasa, menghapuskan rujukan kepada kurban, dst.)
Kita melihat hal yang sama di dalam Misa Novus Ordo (Misa Baru). Marilah berfokus secara singkat akan
bagaimana hukum doa Novus Ordo mencerminkan ajaran pasca-Vatikan II (yang diucapkan Yohanes
Paulus II) bahwa manusia yaitu Allah. Bahkan mendiang Michael Davies, yang membela keabsahan Misa
Baru, jelas-jelas mengakui bahwa penyembahan Misa Baru yaitu Penyembahan kepada Manusia.
Michael Davies, Pope Paul’s New Mass {Misa Baru Paus Paulus}, hal. 149:
“Mungkin simbol yang paling dramatis dari sifat yang berpusat kepada manusia di dalam
liturgi baru yaitu bahwa dibalikkannya altar, atau, penggantiannya dengan sebuah
meja… Manusia telah berbalik badan dari Allah untuk menghadap manusia lain. Tidak
semua ahli liturgi akan menyatakan secara resmi bahwa mereka menggantikan Penyembahan
Allah dengan Penyembahan Manusia. Untuk beberapa orang, hal ini yaitu suatu proses
bawah sadar. namun semua ini yaitu bagian dari suatu tren yang, meskipun tidak dikatakan
secara formal, yaitu suatu hal yang jelas.”2
Diputarbalikkannya altar, dan penggantiannya dengan sebuah meja, yang menghadap manusia,
menggantikan penyembahan Allah dengan penyembahan manusia.
Michael Davies, Pope Paul’s New Mass {Misa Baru Paus Paulus}, hal. 141:
“Almarhum T.S. Gregory… sangatlah terganggu oleh reform liturgis sesudah konsili… ia
mengingatkan: ‘…namun walaupun kita tidak dapat mengubah Misa Katolik lebih dibandingkan kita
dapat mengubah sifat Allah… Kita bahkan dapat berpikir bahwa inti dari hal ini bukanlah Putra
Allah yang dikurbankan namun para perkumpulan umat.’ Ini yaitu suatu peringatan yang
bernubuat akan sifat Misa Baru yang didefinisikan oleh para penyusunnya di dalam Artikel 7-nya
yang terkenal, yaitu, esensi dari Misa yaitu berkumpulnya para umat. Mereka yang menempuh
usaha yang begitu keras untuk menghindari bahkan sekelumit dari propaganda yang
ada di dalam Misa Baru di negara Barat mana pun tentunya akan setuju dengan
hampir serempak bahwa arti dari Misa ditemukan di dalam perkumpulan umat, bukan di
dalam kurban untuk mana, paling tidak di dalam teorinya, umat berkumpul... Profesor
Salleron mencatat suatu kali [pada tahun 1970] bahwa Misa Baru melambangkan
ungkapan liturgis akan Penyembahan Manusia...”3
Perhatikan poin yang penting ini: arti dari Misa Baru ada di dalam perkumpulan umat, menurut
sekte Vatikan II, sebab dipercayai bahwa perkumpulan ini – manusia – sekarang yaitu Kristus.
Yohanes Paulus II, Homilinya yang Pertama, Selamanya Menandai Permulaan Pelayanan
Penggembalaannya, Minggu, 22 Oktober 1978:
Berbagai Cara Sekte Vatikan II Mempromosikan Penyembahan Berhala dan Manusia
“’Anda semua yang masih mencari Allah, anda semua yang sudah sangat beruntung untuk
percaya, dan juga anda yang tersiksa oleh keraguan: mohon mendengarkan sekali lagi, hari ini, di
tempat suci ini, kata-kata yang diucapkan oleh Simon Petrus [Matius 16:16]. Di dalam kata-kata
itu ada iman Gereja. Di dalam kata-kata yang sama ini memang, ada kebenaran
yang baru, kebenaran yang pokok dan pasti tentang manusia: Putra Allah yang hidup –
Engkau yaitu Kristus, Putra Allah yang hidup.’”4
Digantikannya Allah oleh manusia di dalam Misa (Baru) juga diajarkan di dalam dokumen resmi Vatikan
II tentang liturgi (Sacrosanctum Concilium).
Konstitusi Vatikan II tentang Liturgi Kudus, Sacrosanctum Concilium #14:
“Di dalam pemulihan dan promosi liturgi kudus, partisipasi yang penuh dan aktif oleh semua
orang ini [di dalam liturgi] merupakan tujuan yang harus dipertimbangkan sebelum hal-
hal yang lain; sebab hal ini yaitu sumber utama dan yang tidak tergantikan dari mana
para umat beriman mendapat roh Kristiani yang sejati.”5
Tentang ajaran ini, Michael Davies berkomentar:
Michael Davies, Pope Paul’s New Mass {Misa Baru Paus Paulus}, hal. 142-143:
“Hal yang paling penting di dalam Misa Tridentin yaitu penghormatan yang pantas yang
diberikan kepada Allah, sehingga kurban harus diselenggarakan di dalam suatu cara yang pantas
untuk keagungan Allah kepada siapa hal ini dipersembahkan. Artikel 14 dari Konstitusi
tentang Liturgi Kudus sangat jelas, perhatian harus dipusatkan kepada kongregasi dan
bukan kepada Allah.”6
Maka, Vatikan II secara resmi mengajarkan bahwa perhatian di dalam Misa haruslah diberikan kepada
manusia dan bukan Allah.
Itulah mengapa kita mendengar tentang berbagai kekejian di Misa Baru, termasuk Misa Badut, Misa
kanak-kanak, Misa Polka, dst., dst., dst., dst., yang seluruhnya ditujukan untuk membuat ibadat sesuai
dengan perkumpulan umat – sesuai dengan manusia, yang sebenarnya yaitu objek dari ibadatnya.
Berbagai Cara Sekte Vatikan II Mempromosikan Penyembahan Berhala dan Manusia
460
Body Surfing di Misa Baru
Michael Davies, Pope Paul’s New Mass {Misa Baru Paus Paulus}, hal. 170:
”...ciri yang paling jelas dari liturgi yang baru yaitu bahwa hal ini merupakan
Penyembahan Manusia dan bukan Penyembahan Manusia dan bukan Penyembahan Allah.
Hal terakhir yang Misa Baru hendak sampaikan yaitu bahwa kita berada di dalam dunia, namun
bukan milik dunia; hal terakhir yang ia maksudkan yaitu kita harus menarik diri dari kehidupan
sehari-hari kita. Tema utama tulisan kontemporer tentang liturgi [baru] yaitu bahwa kongregasi
harus dibuat agar merasa di rumah sendiri pada saat Misa dan hal ini dilakukan paling baik lewat
dengan memastikan bahwa liturgi ini mencerminkan lingkungan ini ... Hal ini benar
terutama di dalam kasus anak-anak... Petunjuk Misa Anak-anak...”7
Penyembahan manusia di dalam Misa Baru tertangkap secara menonjol di dalam paparan bertanggal 3
April 1978 oleh The Boston Globe.
Misa Badut yang berlangsung di Boston pada tanggal 2 April 1978
Berbagai Cara Sekte Vatikan II Mempromosikan Penyembahan Berhala dan Manusia
Berikut yaitu doa Ekaristi dari “Misa” Badut Novus Ordo ini , yang diselenggarakan oleh Romo
Joachim Lally:
“Utuslah Roh-Mu atas persembahan roti dan anggur ini dan di atas kami semua agar bersama-
sama kami dapat menjadi Tubuh dan Darah Yesus Kristus yang hidup, bernapas, dan
bergerak, Putra-Mu dan Saudara kami.”8
Di dalam doa Ekaristi dari Misa Badut Novus Ordo ini, kita melihat ajaran yang sangat jelas bahwa
manusia yaitu Kristus. Doa ini menyatakan bahwa “kami dapat menjadi Tubuh dan Darah Yesus
Kristus...”! Ini yaitu doktrin dari Antikristus, melarutkan Yesus menjadi semua orang (1 Yohanes 4:2-3).
Penyembahan manusia sebagai Kristus juga diajarkan di dalam sebuah aturan yang dijelaskan tentang
bagaimana ‘Komuni’ Novus Ordo tidak boleh dibagikan.
Michael Davies, Pope Paul’s New Mass {Misa Baru Paus Paulus}, hal. 340:
“Banyak pembaca akan terkejut saat mengetahui bahwa hierarki Amerika sebenarnya sedang
mempersiapkan penerimaan Katolik akan konsep bahwa kurban di dalam Misa yaitu Kristus
yang dipersembahkan atas dasar kehadiran-Nya di dalam kongregasi yang
mempersembahkan diri mereka sendiri. Di dalam buletin Komite Para Uskup tentang
Liturgi, telah dibuat suatu aturan bahwa sewaktu membagikan Komuni Kudus, seorang
imam tidak boleh berkata: ‘Terimalah Tubuh Kristus’ atau ‘Inilah Tubuh Kristus.’ Alasan
yang diberikannya yaitu bahwa kongregasi sendiri yaitu Tubuh Kristus.
“[Pernyataan para Uskup]: ‘Penggunaan kata Tubuh Kristus. Amin, di dalam ritus Komuni
menyatakan dengan cara yang sangat tegas akan kehadiran dan peran dari komunitas...
Perubahannya yang terjadi berkenaan dengan penggunaan kata Tubuh Kristus dan bukan
rumusan panjang yang sebelumnya dikatakan oleh sang imam memiliki beberapa dampak
di dalam pembaruan liturgi. Pertama, hal ini bertujuan untuk menonjolkan konsep
yang penting tentang komunitas sebagai tubuh Kristus...’”9
Perhatikan: pernyataan resmi dari para uskup Novus Ordo menyatakan bahwa seorang imam tidak boleh
mengatakan “Terimalah Tubuh Kristus” atau “Inilah Tubuh Kristus” sewaktu membagikan Komuni, namun
“Tubuh Kristus” untuk menonjolkan bahwa “Tubuh Kristus” hadir di dalam komunitas! Ini yaitu
penyembahan manusia!
Kemusyrikan ini tercermin di dalam seminari-seminari Novus Ordo. Di berbagai seminari ini, devosi
kepada apa yang mereka kira yaitu Sakramen Kudus [ingat, Kehadiran Nyata Kristus tidak ada
di dalam Misa Baru, seperti yang kami telah bahas] dihalang-halangi sebab hal ini tidak
mengakui kehadiran Kristus di dalam semua orang!
Michael Rose, Goodbye, Good Men {Selamat Tinggal Pria-pria yang Baik}, hal. 121, sebuah paparan
tentang Seminari-seminari Novus Ordo:
“[Seminaris] Novus Ordo yang berlutut dan menerima Komuni di lidah bersalah akan tiga
hal: hormat, penghargaan, dan kekhidmatan, yang merupakan petunjuk bahwa sang
seminaris memiliki pengertian yang ‘ketinggalan zaman’ akan Kehadiran Nyata Kristus di
dalam Ekaristi.”10
Beberapa orang yang bahkan berlutut di depan apa yang mereka anggap sebagai Sakramen Kudus
dimarahi akibat pengertian mereka yang ‘ketinggalan zaman’ akan Kehadiran Nyata Kristus, yaitu, ‘gagal’
untuk ‘mengerti’ bahwa Kristus hadir di dalam semua orang! Ini yaitu doktrin Antikristus, yang diteguk
oleh sekte Vatikan II. Dan kami mengetahui hal ini secara langsung. Beberapa tahun lalu salah satu dari
Berbagai Cara Sekte Vatikan II Mempromosikan Penyembahan Berhala dan Manusia
462
kami mengunjungi sebuah seminari Novus Ordo di daerah Philadelphia. ‘Misa’ Baru di sana begitu tidak
khusyuk dan menghadirkan para seminaris yang memainkan gitar mereka bagaikan di dalam suatu
konser musik rakyat dan bukan di Misa. Sewaktu salah satu dari kami mengeluh kepada seorang kepala
seminari bahwa ‘Misa’ ini tidaklah sopan kepada Kristus yang hadir di dalam Sakramen Kudus
(yang salah satu dari kami salah kaprah pada waktu itu, saat kami tidak mengetahui bahwa Misa Baru
tidaklah valid), kepala seminari ini m






