onal, yaitu ibadat terkudus di dalam Ritus Roma Gereja Katolik, yang telah ditetapkan
oleh Paus St. Pius V di dalam bullanya Quo Primum pada tahun 1570.
Di dalam Bullanya yang terkenal, Quo Primum, Paus St. Pius V melarang pengubahan Misa Latin
Tradisional.
Paus St. Pius V, Quo Primum Temore, 14 Juli 1570:
“Oleh sebab itu, sekarang, agar di seluruh tempat semua orang dapat menjalankan apa yang
telah diberikan kepada mereka oleh Gereja Roma yang Kudus, Ibunda dan Pengajar dari gereja-
gereja lain, yaitu suatu hal yang tidak sah mulai sekarang dan selama-lamanya di seluruh dunia
kristiani untuk menyanyikan atau membaca Misa menurut formula apa pun selain Missal yang
kami terbitkan... Oleh sebab itu tidak seorang pun diperbolehkan untuk melanggar atau
dengan sembrono menentang maklumat ini mengenai izin, undang-undang, peraturan,
petunjuk, dukungan, indult, pernyataan, wasiat, dekret, dan larangan Kami. Jika seseorang
mencoba melakukannya, hendaknya ia mengetahui bahwa ia akan mendapat murka
Allah yang Mahakuasa dan Rasul Petrus dan Paulus yang terberkati.”2
115
Pada tanggal 3 April 1969, Paulus VI menggantikan Misa Latin Tradisional di dalam gereja-gereja Vatikan
II dengan rekayasanya sendiri, Misa Baru atau Novus Ordo. Sejak saat itu, dunia ini telah melihat hal-hal
sebagai berikut di dalam gereja-gereja Vatikan II yang menyelenggarakan Misa Baru atau Novus Ordo:
Dunia telah melihat Misa-misa Badut, di mana sang ‘imam’ berdandan sebagai badut sebagai ejekan
terang-terangan kepada Allah.
Dunia telah melihat seorang imam berpakaian seperti Drakula, dengan kaos sepak bola disertai para
pemandu sorak; seorang imam mengenakan keju di atas kepalanya...
...menyetir sebuah Volkswagen sampai ke lorong gereja disertai nyanyian hosanna para umat. Telah
diselenggarakan Misa disko...
116
...pertunjukan gimnastik pada saat Misa Baru; Misa balon; Misa Karnaval
...Misa telanjang, di mana orang-orang yang berpakaian sangat minim atau telanjang berpartisipasi. Dunia
telah melihat Misa juggling, di mana seorang juggler beraksi pada saat Misa Baru.
117
Dunia telah melihat imam-imam menyelenggarakan Misa Baru dengan Dorito Chips {keripik Dorito};
...dengan Mountain Dew {minuman bersoda}; di atas kotak kardus; dengan kue kering; dengan teh Cina
disertai pemujaan leluhur; dengan sebuah bola basket yang di-dribble sang imam sampai ke altar; dengan
gitar yang dimainkan secara solo oleh sang imam. Dunia telah menyaksikan Misa Baru dengan sang imam
yang hampir telanjang bulat sewaktu ia menari di sekeliling altar atau dengan kabel yang menjijikkan.
118
Dunia telah melihat Misa-misa Baru dengan imam yang mengenakan kostum penduduk asli yang pagan;
...dengan sebuah Menorah Yahudi di atas altar;
...dengan sebuah patung Buddha di atas altar; dengan para suster yang membawa persembahan kepada
dewi-dewi; dengan lektor dan pembawa persembahan yang mengenakan kostum voodoo Satanis. Dunia
telah melihat Misa Baru di mana ada performer yang berpakaian tuksedo dan membuat lelucon.
Dunia juga telah melihat konser rock di dalam Misa Baru;
119
...Misa Baru dengan gitar dan musik Polka
120
...Misa Baru boneka; Misa Baru di mana orang-orang berkumpul di sekeliling altar berpakaian seperti
Setan.
121
...Misa Baru di mana orang-orang melakukan tarian yang seronok diiringi irama drum besi. Dunia telah
melihat Misa Baru di mana para suster berdandan seperti perawan-perawan untuk dewi pagan dan
memberi persembahan pagan.
122
Dunia telah melihat Misa Baru yang mengikutsertakan setiap agama sesat. Telah diadakan Misa-misa
Baru Buddhis;
...Misa-misa Baru Hindu dan Muslim;
123
...Misa-misa Baru di mana orang-orang Yahudi dan Unitarian mempersembahkan lilin-lilin kepada dewa-
dewi sesat. Ada juga gereja-gereja di mana seluruh kongregasi mengucapkan Misa bersama imam.
...di mana sang imam kadangkala bercakap-cakap dengan para umat dan bukan mengucapkan Misa.
Apa yang kami telah katalogkan hanyalah sebuah sampel kecil dari hal-hal yang terjadi di setiap
dioses di dunia di mana Misa Baru diselenggarakan. Tuhan kita berkata, “Dari buahnyalah kamu akan
mengenal mereka.” (Matius 7:16). Buah-buah dari Misa Baru benar-benar memalukan, nista, dan
musyrik. Hal ini disebabkan oleh sebab Misa Baru itu sendiri, di dalam bentuknya yang paling murni,
yaitu Misa yang tidak valid, palsu, dan yaitu sebuah kekejian.
124
Bahkan sebuah organisasi yang membela Misa Baru terpaksa mengakui hal berikut tentang Misa Baru
yang umum – yaitu, Misa Baru yang biasa dilakukan di dalam gereja-gereja (tanpa perlu
mempertimbangkan kekejian-kekejian yang kami telah sebutkan serta penistaan yang sering terjadi):
“Kebanyakan dari Misa-misa Baru yang kami telah hadiri... merupakan pesta bersenang-senang diikuti
tepuk tangan, musiknya sangat buruk, khotbahnya tidak berisi, dan sangat tidak hormat...”3
Sewaktu Misa Baru dikeluarkan pada tahun 1969, Kardinal Ottaviani, Bacci, dan beberapa teolog lain
menulis kepada Paulus VI. Ingat bahwa apa yang mereka katakan tentang Misa Baru berkaitan dengan
Versi Latin, yaitu versi yang dalam tanda kutip ‘paling murni’ dari Misa Baru. Penelitian mereka dikenal
dengan The Ottaviani Intervention {Intervensi Ottaviani}.
125
“Novus Ordo [Orde Baru Misa] melambangkan, secara keseluruhan dan secara rinci,
penyimpangan yang menonjol dari teologi Katolik tentang Misa sebagaimana yang dirumuskan di
dalam Sesi 22 dari Konsili Trente.”4
Mereka dapat melihat dengan jelas bahwa versi Latin dari Misa Baru yaitu penyimpangan yang
menonjol dari ajaran Konsili Trente. Dari kedua belas doa-doa persembahan Ekaristi yang ada di
dalam Misa Tradisional, hanyalah dua yang dipertahankan di dalam Misa Baru. Doa-doa persembahan
yang dihapuskan yaitu doa-doa yang sama yang dihapuskan oleh para bidah Protestan Martin Luther
dan Thomas Cranmer. Misa Baru dipermaklumkan oleh Paulus VI dengan bantuan enam Pelayan
Protestan.
Keenam Pelayan Protestan yang membantu pembentukan Misa Baru yaitu : Drs. George, Jasper,
Shepherd, Kunneth, Smith dan Thurian.
Paulus VI bahkan mengakui kepada teman baiknya, Jean Guitton bahwa tujuannya untuk mengubah Misa
ini yaitu untuk membuatnya Protestan.
Jean Guitton (sahabat karib Paulus VI) menuliskan: “Tujuan Paus Paulus VI berkenaan
dengan apa yang sering disebut Misa [Baru], yaitu untuk mereformasi liturgi Katolik
sebagaimana mestinya agar bertepatan dengan liturgi Protestan. Paus Paulus VI memiliki
intensi ekumenis untuk menghapus, atau mengoreksi, atau setidaknya mengendurkan,
hal-hal yang terlalu Katolik secara tradisional di dalam Misa dan, saya ulangi, untuk
menjadikan Misa Katolik mirip dengan Misa Kalvinis.”5
Paulus VI menghapus apa yang terlalu Katolik di dalam Misa untuk membuat Misa ini menjadi
sebuah ibadat Protestan.
126
Suatu penelitian yang membandingkan antara proprium dan doa-doa Misa Tradisional dengan Misa Baru
menunjukkan sebuah pembantaian terhadap Iman Tradisional. Buku Missal tradisional mengandung
1.182 doa. Sekitar 760 dari doa-doa ini ditiadakan sama sekali di dalam Misa Baru. Dari sekitar
36% dari doa-doa yang tersisa, para pengubahnya merombak lebih dari separuhnya sebelum
memasukkan doa-doa ini ke dalam buku Missal yang baru. Maka, hanya sekitar 17% dari doa-
doa Misa Tradisional tetap tidak terjamah di dalam Misa Baru. Hal yang juga menonjol yaitu isi
dari revisi-revisi atas doa-doa ini . Doa-doa Tradisional yang menggambarkan konsep-konsep
berikut secara khusus dihapuskan dari buku Missal Baru: kebejatan dosa; jerat-jerat kejahatan;
pelanggaran berat dosa; jalan kebinasaan; ketakutan di depan murka Allah; kemarahan Allah; ledakan
amarah-Nya; beban kejahatan; godaan-godaan; pikiran-pikiran yang jahat; bahaya yang mengancam
jiwa; musuh dari jiwa dan raga. Doa-doa yang menyebutkan hal-hal berikut juga dihapuskan: waktu
kematian; dirampasnya Surga dari seseorang; kematian yang kekal; hukuman yang abadi; rasa sakit
Neraka dan apinya. Hal-hal yang ditekankan agar dihapuskan dari Misa Baru yaitu doa-doa yang
menggambarkan penjauhan diri dari dunia; doa-doa untuk orang yang sudah meninggal; Iman yang sejati
dan ada nya bidah; rujukan-rujukan kepada militan Gereja; manfaat karya-karya santo-santa,
mukjizat-mukjizat dan Neraka.6 Seseorang dapat melihat hasil dari pembantaian Iman Tradisional
dengan melihat proprium Misa Baru.
Misa Baru penuh dengan penistaan, pencemaran, dan kekejian-kekejian yang paling konyol yang dapat
dibayangkan sebab Misa Baru mencerminkan agama sesat yang telah meninggalkan Iman Katolik
tradisional.
127
Agama sesat yang dicerminkan oleh Misa Baru yaitu salah satu alasan mengapa Misa Baru sangatlah
hampa; itulah mengapa buah-buahnya sangatlah gersang, tandus dan sangatlah buruk. Agama yang
dipraktikkan di dalam Gereja-gereja di mana Misa Baru dirayakan yaitu , secara singkat, sebuah
penistaan total dan penyembahan manusia yang hampa.
Bahkan Dietrich von Hildebrand, pendukung agama Vatikan II, mengatakan hal berikut tentang Misa
Baru:
128
“Memang, seakan-akan salah satu iblis di dalam buku C.S. Lewis The Screwtape Letters telah
dipercayakan untuk menghancurkan liturgi, ia tidak dapat melakukannya dengan lebih baik
lagi.”7
Kecuali satu gerakan berlutut oleh imam sesudah konsekrasi, dapat dikatakan bahwa setiap tanda
penghormatan untuk Tubuh dan Darah Kristus yang mencirikan Misa Tradisional telah dihapuskan atau
dibuat tidak wajib untuk Misa Baru.
.
129
Cawan-cawan suci tidak perlu lagi disepuh emas bila tidak terbuat dari logam berharga. Cawan-cawan
suci, yang tadinya hanya boleh disentuh oleh tangan-tangan imam yang telah diurapi, sekarang dipegang
oleh semua orang.
Para imam sering berjabatan tangan sebelum membagikan hosti.8 Pedoman Umum untuk Misa Baru juga
menyatakan bahwa altar-altar tidak lagi perlu dibuat dari batu alami; bahwa batu altar yang berisi
relikui-relikui martir-martir tidak lagi diwajibkan; hanya satu kain saja yang diwajibkan di atas altar;
bahkan salib atau lilin pun tidak diperlukan di atas altar.9
130
Tidak satu pun dari hal-hal yang diwajibkan yang dibentuk selama 2.000 tahun untuk membuat
altar Misa menjadi pantas ada di dalam Misa Baru.
Sewaktu para Protestan memisahkan diri dari Gereja Katolik di Inggris pada abad ke-16, mereka
mengubah Misa untuk mencerminkan kepercayaan-kepercayaan mereka yang sesat. Altar-altar
digantikan dengan meja-meja. Bahasa Latin digantikan dengan Bahasa Inggris. Patung-patung dan ikon-
ikon disingkirkan dari gereja-gereja. Injil Terakhir dan Doa Pengakuan Dosa dihapuskan. ‘Komuni’
dibagikan di dalam tangan. Misa diucapkan dengan lantang dan menghadap Kongregasi. Musik
tradisional disingkirkan dan digantikan dengan musik baru. Tiga perempat dari para imam di Inggris
mengikuti Ibadat Baru.
namun hal inilah yang persis terjadi pada tahun 1969, sewaktu Paulus VI mempermaklumkan Misa Baru,
yaitu Novus Ordo Missae {Misa Orde Baru}. Persamaan antara 1549 Anglican Prayer Book {Buku Doa
Anglikan tahun 1549} dan Misa Baru sangat mencolok. Seorang ahli mencatat:
“Cara terbaik untuk mengukur cakupan penyimpangan antara Misa Novus Ordo dengan Konsili
Trente yaitu dengan membandingkan doa-doa yang dihapuskan dari liturgi oleh Konsilium
dengan doa-doa yang dihapuskan oleh sang bidah Thomas Cranmer. Kebetulan ini bukan hanya
mencolok – kebetulan ini menyeramkan. Kebetulan ini, kenyataannya, tidak mungkin yaitu
suatu kebetulan.”10
Untuk menekankan kepercayaan yang sesat bahwa Misa bukanlah sebuah kurban, melainkan hanyalah
sebuah santapan, para Protestan menggantikan altar dengan meja. Di dalam negara Inggris yang
Protestan, contohnya “Pada tanggal 23 November 1550, Konsili Privy memerintahkan agar semua altar-
altar di Inggris dihancurkan dan digantikan dengan meja-meja komuni.”11
131
Sebuah gereja Vatikan II dengan meja yang mirip meja ‘Protestan’ untuk Misa barunya yang Protestan
Kepala bidah Protestan berkata: “Bentuk dari meja akan mengubah pikiran penuh takhayul orang-orang
yang sederhana tentang Misa Papis agar mereka mengikuti penggunaannya yang benar untuk Perjamuan
Makan Tuhan. sebab altar digunakan untuk membuat kurban di atasnya: meja digunakan orang untuk
makan.”12 Martir Katolik dari negara Wales, Richard Gwyn, menyatakan sebagai protes terhadap
perubahan ini: “Altar digantikan dengan sebuah meja yang menyedihkan, Kristus digantikan dengan
roti.”13
Dan St. Robertus Bellarminus berkomentar: ”...sewaktu kami memasuki bait-bait para bidah, di mana
hanya ada sebuah kursi untuk berkhotbah dan sebuah meja untuk membuat santapan, kami
sendiri merasa hanya memasuki ruangan yang profan dan bukan rumah Allah.”14
132
Seperti ibadat-ibadat para revolusioner Protestan, Misa Baru diselenggarakan di atas sebuah meja.
Buku Doa Anglikan tahun 1549 juga disebut “The Supper of the Lord, and the holy Communion, commonly
called the mass {Perjamuan Makan Tuhan, dan Komuni kudus, yang secara umum dikenal sebagai misa}.”15
Judul ini menekankan kepercayaan Protestan bahwa Misa hanyalah sebuah santapan, makanan – dan
bukan pengorbanan. Pedoman Umum untuk Misa Baru yang dipermaklumkan Paulus VI memiliki judul
yang persis sama. Judulnya yaitu “Perjamuan Makan Tuhan atau Misa.”16
Buku Doa Anglikan Tahun 1549 menghapus dari Misa mazmur yang berjudul Adililah aku, ya Allah,
sebab rujukannya kepada altar Allah. Mazmur ini juga dihapuskan di dalam Misa Baru.
133
Buku Doa Anglikan Tahun 1549 menghapus dari Misa doa yang dimulai dengan “Hapuskanlah dosa kami”
sebab doa ini mengingatkan akan kurban. Doa ini juga dihapus di dalam Misa Baru.
Doa yang dimulai dengan Kami memohon kepada-Mu, ya Tuhan, merujuk kepada relikui-relikui para
martir di dalam altar batu. Doa ini telah dihapuskan di dalam Misa Baru.
Di dalam Buku Doa Anglikan Tahun 1549, Introit, Kyrie, Gloria, Collecta, Epistola, Injil dan Syahadat
dipertahankan. Semua doa-doa ini ada di dalam Misa Baru.
Doa-doa yang mirip dengan Doa-doa Persembahan: Terimalah, ya Bapa yang kudus... ya Allah, yang telah
menetapkan kodrat manusia... Kami mempersembahkan kepada-Mu, ya Tuhan... Dengan jiwa yang rendah
hati... Datanglah, wahai Roh Kudus, Mahakuasa... dan Terimalah, Allah Tritunggal Mahakudus, seluruhnya
telah dihapus di dalam Buku Doa Anglikan Tahun 1549. Semua doa-doa ini telah dihapus dari Misa
Baru, kecuali dua kutipan.
Di dalam Buku Doa Anglikan Tahun 1549, dialog Marilah mengarahkan hati kepada Tuhan, Prefasi dan
Sanctus dipertahankan. Doa-doa ini juga tetap ada di dalam Misa Baru.
Kanon Roma dihapuskan oleh Buku Doa Anglikan Tahun 1549. Di dalam Misa Baru, Kanon Roma
hanyalah sebuah opsi.
134
Bidah ‘agung’ revolusi Protestan: Thomas Cranmer (kiri) dan Martin Luther (kanan)
Thomas Cranmer (penulis Buku Doa Anglikan Tahun 1549) dan Martin Luther menghapuskan doa
Selamatkanlah kami, ya Tuhan – kemungkinan sebab doa ini menyebutkan perantaraan Bunda
Maria dan santo-santa. Hanyalah sebuah versi yang telah diubah dari doa inilah yang dipertahankan di
dalam Misa Baru, tanpa doa kepada santo-santa. Harus dicatat pula bahwa doa Persembahan di dalam
Misa Baru yang bermula dengan Terpujilah Engkau, ya Tuhan, Allah semesta alam diambil dari Doa Meja
Yahudi.17
Bahkan, Misa Novus Ordo telah menghapuskan doa tradisional Jumat Agung untuk konversi para orang
Yahudi. Doa ini telah digantikan dengan sebuah doa, yang tidak mengharapkan agar para Yahudi
berkonversi, namun agar mereka ‘bertumbuh’ di dalam kesetiaan akan perjanjian-Nya! Maka, ada
ungkapan kemurtadan di dalam doa Jumat Agung resmi Misa Baru. Hal ini yaitu sebuah promosi dari
agama Yahudi dan sebuah ajaran sesat bahwa Perjanjian yang Lama masihlah berlaku.
Dua doa Jumat Agung yang berbeda untuk para Yahudi dari dua agama yang
berbeda
Pada Jumat Agung, agama Novus Ordo berdoa:
“untuk para orang Yahudi, mereka yang
pertama kali mendengar sabda Allah, agar
mereka dapat terus bertumbuh di dalam
cinta akan nama-Nya dan kesetiaan akan
perjanjian-Nya.”
namun Gereja Katolik berdoa pada Jumat
Agung: “untuk para orang Yahudi yang tidak
beriman: agar Tuhan dan Allah kita sudi
mengangkat selubung yang menutupi hati
mereka, agar mereka dapat mengakui Yesus
Kristus, Tuhan kita.”
Di dalam Buku Doa Anglikan Tahun 1549, doa yang setara dari doa yang bermula dengan, Semoga
Percampuran dan Konsekrasi Tubuh dan Darah telah dihapuskan. Sangatlah menarik bahwa sebuah versi
yang telah diubah dari doa ini telah dijaga di dalam Misa Baru, di dalam mana kata ‘konsekrasi’ yang
penting telah dihapuskan.
Buku Doa Anglikan Tahun 1549 meninggalkan disiplin Ritus Roma yang membagikan Komuni dalam satu
jenis, dan berubah untuk membagikan Komuni di dalam kedua jenis. Di dalam Misa Baru, Komuni di
dalam dua jenis dibagikan di berbagai tempat di dunia.
135
Versi tahun 1552 dari Buku Doa Anglikan berpesan agar Komuni diberikan di dalam tangan untuk
menandakan bahwa roti ini hanyalah roti biasa dan bahwa sang imam tidak berbeda secara esensi
dengan orang awam.18
Misa Baru membagikan Komuni di dalam tangan hampir di semua tempat di dunia dan, bahkan lebih
parah dari Cranmer, mengizinkan para penerima komuni untuk berdiri dan menerima komuni dari
pelayan awam.
136
Doa-doa di dalam Misa Tradisional yang dimulai dengan: Ya Tuhan, buatlah agar kami menjaga dengan
hati murni dan Semoga Tubuh-Mu yang telah kuterima, Ya Tuhan yaitu rujukan terang-terangan kepada
Kehadiran Nyata Kristus di dalam Ekaristi. Keduanya telah dihapuskan di dalam Misa Baru.
Doa yang bermula dengan Sudilah menerima, ya Allah Tritunggal Mahakudus, ketaatan dari pelayananku,
yaitu doa sesudah Komuni yang paling tidak menyenangkan kepada para Protestan, oleh sebab
rujukannya kepada kurban propisiasi. Martin Luther, dan Cranmer di dalam Buku Doa Anglikannya,
menghapuskannya. Atas teladan mereka, doa ini dihapuskan di dalam Misa Baru.
Injil Terakhir – yaitu yang menutup Misa Tradisional. Jika Injil Terakhir yang menutup Misa Tradisional
diikutsertakan di dalam Misa Baru, maka Misa Baru akan bertentangan dengan pola ibadat Protestan,
yang menutup dengan pemberkatan. Maka, Injil Terakhir tidak diikutsertakan di dalam Misa Baru.
Doa-doa sesudah Misa Tradisional, Doa-doa Leonin {doa-doa Paus Leo XIII}, termasuk Salam Maria; Salam
Ya Ratu; Ya Allah, perlindungan kami; doa kepada St. Mikhael; dan doa kepada Hati Kudus Yesus
merupakan, secara praktik, bagian yang penting dari liturgi. Kelima doa yang tidak cocok dengan
Protestantisme tidak dapat ditolerir. Seluruh doa ini telah dihapuskan di dalam Misa Baru.
Dengan mempertimbangkan hal ini, bahkan Michael Davies setuju: “Tidak dapat diperdebatkan lagi
bahwa... Ritus Roma telah dihancurkan.”19
Di samping fakta bahwa Misa Baru yaitu sebuah ibadat Protestan, ada pula fakta bahwa gereja-
gereja Novus Ordo memiliki kemiripan yang menonjol dan tidak terpungkiri dengan loji-loji Freemason.
Lihatlah gambar-gambar berikut. Ini yaitu sebuah loji Freemason:
137
Berikut yaitu sebuah gereja Novus Ordo:
Keduanya hampir tidak dapat dibedakan; keduanya berpusat kepada manusia, di mana Takhta dari sang
pemimpin acara berada di tengah, dengan aksen berbentuk lingkaran. Hal ini mungkin disebabkan
sebab arsitek utama dari Misa Baru Paulus VI yaitu Kardinal Annibale Bugnini, yang yaitu seorang
Freemason.
Annibale Bugnini, arsitek utama dari Misa Baru dan seorang Freemason
‘Kardinal’ Annibale Bugnini yaitu Ketua dari Konsilium yang membuat konsep dari Misa Baru Paulus VI.
Bugnini menerima inisiasi masuk loji Freemason pada tanggal 23 April 1963, menurut sebuah Daftar
Mason pada tahun 1976.20
Di samping semua masalah-masalah Misa Baru, ada suatu hal yang lebih besar. Masalah yang paling
besar dari Misa Baru yaitu Misa ini tidak valid. Yesus Kristus tidak hadir di dalam Misa Baru sebab
Misa Baru telah mengubah kata-kata konsekrasi.
138
BUKTI BAHWA MISA BARU TIDAK VALID – KATA-KATA KONSEKRASI TELAH
DIUBAH
Sebuah sakramen dikatakan valid bila sakramen ini berlangsung. Sakramen Ekaristi itu valid jika
roti dan anggur menjadi Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian sejati Yesus Kristus. Suatu sakramen yang
valid memerlukan adanya materi, formula, pelayan, dan intensi yang diwajibkan.
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, 1439:
“Semua sakramen-sakramen ini terdiri dari tiga elemen: yakni benda-benda sebagai materi, kata-
kata sebagai formula, dan pribadi dari pelayan yang memberi sakramen dengan intensi untuk
melakukan apa yang Gereja lakukan. Jika tidak ada salah satu dari elemen-elemen ini,
sakramen ini tidak terlaksana.”21
Masalah dari validitas Misa Baru berkaitan dengan formulanya, kata-kata yang diperlukan untuk
melaksanakan Sakramen Ekaristi. Formula yang diperlukan untuk melaksanakan Ekaristi di dalam Ritus
Roma telah dideklarasikan oleh Paus Eugenius IV dalam Konsili Florence.
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, Cantate Domino, 1441:
”...Gereja Roma yang kudus, yang diteguhkan oleh doktrin dan otoritas dari rasul-rasul
Petrus dan Paulus... Di dalam konsekrasi Tubuh Tuhan… memakai formula ini:
SEBAB INILAH TUBUHKU; di dalam konsekrasi darah-Nya: SEBAB INILAH PIALA
DARAHKU, DARAH PERJANJIAN BARU DAN KEKAL: MISTERI IMAN, YANG AKAN
DITUMPAHKAN BAGIMU DAN BAGI BANYAK ORANG DEMI PENGAMPUNAN DOSA.”22
Di dalam Dekret Paus St. Pius V De Defectibus, kita menemukan kata-kata yang sama yang diulangi:
Paus St. Pius V, De Defectibus, bab 5, Bagian 1:
“Kata-kata Konsekrasi, yang merupakan FORMULA dari Sakramen ini, yaitu sebagai
berikut: SEBAB INILAH TUBUHKU. Dan: SEBAB INILAH PIALA DARAHKU, DARAH
PERJANJIAN BARU DAN KEKAL: MISTERI IMAN, YANG AKAN DITUMPAHKAN BAGIMU DAN
BAGI BANYAK ORANG DEMI PENGAMPUNAN DOSA. Jikalau seseorang menghapuskan atau
mengubah suatu hal pun di dalam FORMULA konsekrasi Tubuh dan Darah, dan dalam
perubahan kata-kata ini , rumusan [yang baru] ini gagal untuk memiliki arti
yang sama, ia tidak akan mengonsekrasikan sakramen ini .”23
Ajaran ini terpampang di depan semua Buku Missal Altar Roma dari tahun 1570-1962. Kita bisa melihat
bahwa kata-kata yang sama yang disebutkan oleh Konsili Florence dideklarasikan sebagai diperlukan
oleh Paus St. Pius V. Inilah mengapa semua kata-kata konsekrasi ini dibuat tebal di dalam Buku
Missal Altar Roma Tradisional, dan mengapa Missal Roma menginstruksikan para imam untuk
memegang piala sampai seluruh kata-kata ini sudah diucapkan.
Ajaran Paus St. Pius V mengatakan bahwa jika kata-kata konsekrasi diubah untuk mengubah
artinya, sang imam tidak membuat sebuah sakramen terlaksana. Di dalam Misa Baru, kata-kata
konsekrasi telah diubah secara drastis, dan artinya telah diubah.
139
Pertama, versi Latin orisinal dari Misa Baru telah menghapuskan kata-kata mysterium fidei – ‘misteri
Iman’ – dari kata-kata konsekrasi. Hal ini menyebabkan sebuah keraguan yang besar, sebab ‘mysterium
fidei’ yaitu bagian dari formula Ritus Roma. Walaupun kata-kata ‘mysterium fidei’ bukanlah bagian dari
formula konsekrasi beberapa Ritus Timur, kata-kata ini telah dideklarasikan sebagai bagian dari Ritus
Roma. Kata-kata ini juga ditemukan di beberapa Ritus Timur. Paus Inosensius III dan Kanon Misa
juga menyatakan bahwa kata-kata ‘mysterium fidei’ diberikan oleh Yesus Kristus sendiri.
Paus Inosensius III, Cum Marthae circa, 29 November 1202, untuk menjawab sebuah pertanyaan
tentang formula Ekaristi dan diikutsertakannya ‘mysterium fidei’:
“Anda telah bertanya (memang) siapakah yang telah menambahkan ke dalam formula kata-kata
yang Kristus sendiri ucapkan sewaktu Ia mengubah roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah,
yang ada di dalam Kanon Misa yang digunakan secara umum oleh Gereja, yang tidak
diucapkan oleh seorang pun dari para Penginjil... Di dalam Kanon Misa, istilah ‘mysterium
fidei’ ada di antara kata-kata-Nya... Tentunya kita melihat bahwa banyak hal-hal
sejenis telah diabaikan dari kata-kata serta perbuatan Tuhan oleh Penginjil, yang, seperti
yang kita bisa baca, para Rasul lengkapi secara lisan atau ungkapkan lewat tindakan mereka...
Oleh sebab itu, kami percaya bahwa formula dari kata-kata ini , seperti yang ada
di dalam Kanon, diterima oleh para Rasul dari Kristus, dan para penerus mereka dari para
Rasul.”24
Kata-kata ‘misteri iman’ di dalam konsekrasi merupakan rujukan yang jelas kepada Kehadiran Nyata
Kristus di dalam Ekaristi. Kata-kata ini juga telah dihapuskan oleh sang bidah Thomas Cranmer di dalam
Buku Doa Anglikan tahun 1549 sebab rujukannya yang jelas kepada Kehadiran Nyata Kristus di dalam
Ekaristi.25 Sewaktu kata-kata dihapuskan dari sebuah ritus sebab arti yang diungkapkan oleh kata-kata
ini bertentangan dengan arti yang dimaksudkan dari ritus ini , suatu keraguan menjadi timbul.
Kita bisa membahas lebih banyak tentang hal ini , namun kita sekarang harus membahas tentang
bukti terbesar akan ketidakvalidan Misa Baru.
Di dalam hampir seluruh terjemahan vernakular Misa Baru di dunia, kata-kata konsekrasi yaitu sebagai
berikut:
FORMULA KONSEKRASI DI DALAM MISA BARU
“Sebab inilah tubuh-Ku. Sebab inilah piala darah-Ku, darah perjanjian baru dan
kekal, yang akan ditumpahkan bagimu dan BAGI SEMUA ORANG DEMI
PENGAMPUNAN DOSA.”
Kata-kata ‘bagimu dan bagi banyak orang demi pengampunan dosa’ telah diubah menjadi bagimu dan
bagi semua orang demi pengampunan dosa. Kata ‘banyak’ telah dihapuskan dan digantikan dengan
kata ‘semua'. Perubahan besar ini membuat semua Misa Baru tidak valid. Pertama, kata banyak telah
digunakan oleh Yesus untuk menginstitusikan sakramen Ekaristi, seperti yang kita lihat di dalam Matius
26:28: “Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk
pengampunan dosa.” Kata-kata yang digunakan oleh Tuhan kita, “bagi banyak orang untuk pengampunan
dosa” melambangkan kemujaraban dari darah yang ditumpahkan Yesus. Darah Yesus mujarab untuk
keselamatan dari banyak, dan bukan semua orang. Untuk menjelaskan hal ini, Katekismus Konsili Trente
140
secara khusus mengatakan bahwa Tuhan Kita tidak memaksudkan ‘semua’ dan oleh sebab itu tidak
mengatakannya!
Katekismus Konsili Trente, Tentang Formula Ekaristi, hal. 227:
“Kata-kata tambahan bagimu dan bagi banyak orang diambil, sebagian dari Matius, sebagian dari
Lukas, namun digabungkan bersama-sama oleh Gereja Katolik di bawah bimbingan Roh Allah.
Kata-kata itu berguna menyatakan buah dan manfaat Sengsara-Nya. Sebab jika kita
memandang nilainya, kita harus mengakui bahwa sang Penebus menumpahkan Darah-Nya demi
keselamatan semua orang; namun jika kita memandang buah yang telah diterima umat manusia
darinya, kita akan dengan mudah menemukan bahwa buah itu tidak berlaku kepada semua
orang, namun kepada banyak orang dari antara umat manusia. Maka ketika (Tuhan kita)
berkata: Bagimu, maksud-Nya yaitu mereka yang pada waktu itu hadir, atau mereka yang
terpilih dari antara bangsa Yahudi, seperti halnya, terkecuali Yudas, para murid yang dengannya
Ia sedang berbicara. Ketika Ia menambahkan, Dan bagi banyak orang, kata-kata itu
diinginkan-Nya supaya dipahami dengan makna sisa-sisa umat pilihan dari antara orang
Yahudi dan bangsa-bangsa non-Yahudi. MAKA DENGAN BENAR KATA-KATA BAGI SEMUA
ORANG TIDAK DIGUNAKAN, sebab di sini, hanya buah-buah Sengsara-Nyalah yang dibicarakan,
dan hanya kepada para umat pilihanlah Sengsara-Nya membawa buah keselamatan.”26
Seperti yang kita bisa lihat, menurut Katekismus Konsili Trente, kata-kata ‘bagi banyak orang’ secara
spesifik tidak digunakan oleh Tuhan kita sebab kata-kata ini akan memberi arti yang salah.
St. Alfonsus de Liguori, Treatise on The Holy Eucharist {Traktat akan Ekaristi Kudus}:
“Kata-kata bagimu dan bagi banyak orang digunakan untuk membedakan kebajikan dari Darah
Kristus dan buah-buahnya; sebab Darah dari Juru Selamat kita memiliki nilai yang cukup untuk
menyelamatkan semua orang namun buah-buahnya hanyalah diterapkan kepada beberapa orang
tertentu dan bukan untuk semua orang, dan ini yaitu sebab kesalahan mereka sendiri...”27
Penggunaan ‘semua orang’ mengubah arti dari formula konsekrasi. Tidak seorang pun, tidak pun seorang
Paus, dapat mengubah kata-kata yang Yesus telah institusikan untuk sebuah sakramen Gereja.
Paus Pius XII, Sacramentum Ordinis (#1), 30 November 1947:
”...Gereja tidak memiliki kekuatan di atas ‘substansi sakramen’, yakni, diatas hal-hal yang, dengan
wahyu ilahi sebagai saksi, didekretkan Kristus Tuhan sendiri untuk dijaga di dalam suatu tanda
sakramental...”28
sebab ‘semua’ tidak memiliki arti yang sama dengan ‘banyak’, sakramen ini tidak terlaksana di
dalam Misa Baru.
Paus St. Pius V, De Defectibus, bab 5, Bagian 1:
“Kata-kata Konsekrasi, yang merupakan FORMULA dari Sakramen ini, yaitu sebagai
berikut: SEBAB INILAH TUBUHKU. Dan: SEBAB INILAH PIALA DARAHKU, DARAH
PERJANJIAN BARU DAN KEKAL: MISTERI IMAN, YANG AKAN DITUMPAHKAN BAGIMU
DAN BAGI BANYAK ORANG DEMI PENGAMPUNAN DOSA. Jikalau seseorang
menghapuskan atau mengubah suatu hal pun di dalam FORMULA konsekrasi
Tubuh dan Darah, dan dalam perubahan kata-kata ini , rumusan [yang baru]
141
ini gagal untuk memiliki arti yang sama, ia tidak akan mengonsekrasikan
sakramen ini .”29
SEBUAH SUDUT LAIN AKAN MASALAH INI MEMBUKTIKAN SECARA MUTLAK
BAHWA MISA BARU TIDAK VALID
ada sebuah sudut lain akan masalah ini yang harus kita bahas sekarang. Di dalam Bullanya yang
terkenal, Apostolicae Curae pada tahun 1896, Paus Leo XIII mengajarkan:
Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:
“Semua orang mengetahui bahwa sakramen-sakramen Hukum Baru, sebagai tanda-tanda yang
terlihat dan mujarab dari sebuah rahmat yang tidak kelihatan, harus menandakan rahmat yang
mereka hasilkan dan menghasilkan rahmat yang mereka tandakan.”30
Jika hal ini tidak menandakan rahmat yang dihasilkannya dan tidak menghasilkan rahmat yang
ditandakannya, hal ini bukanlah sebuah sakramen – tanda titik. Lalu, apakah rahmat yang diberikan
oleh Sakramen Ekaristi Kudus?
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Exultate Deo”, Tentang Ekaristi, 1439:
“Akhirnya, ini yaitu sebuah hal yang pantas untuk menandakan hasil dari sakramen ini,
yakni, persatuan antara umat Kristiani dengan Kristus.”31
St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. III, Pertanyaan 73, Artikel 3:
“Sekarang telah dikatakan di atas bahwa kenyataan dari sakramen [Ekaristi] yaitu
persatuan dengan tubuh mistis, yang tanpanya tidak ada keselamatan...”32
Seperti yang Konsili Florence, St. Thomas Aquinas, dan banyak teolog lain ajarkan, rahmat yang
dihasilkan oleh Ekaristi yaitu persatuan umat beriman dengan Kristus. St. Thomas menyebut rahmat ini
‘persatuan dengan Tubuh Mistis’. Rahmat yang dihasilkan Ekaristi (persatuan para umat beriman
dengan Kristus atau persatuan dengan Tubuh Mistis) harus dibedakan secara hati-hati dari Ekaristi
sendiri: Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian Kristus.
sebab persatuan umat beriman dengan Kristus yaitu rahmat yang dihasilkan oleh Sakramen Ekaristi –
atau yang disebut sebagai kenyataan dari Sakramen atau rahmat yang khusus dari Sakramen Ekaristi –
rahmat ini harus ditandakan dalam formula konsekrasi, agar Sakramen ini valid, seperti yang
diajarkan oleh Paus Leo XIII. Baiklah, kita, oleh sebab itu, harus melihat formula tradisional konsekrasi
dan menemukan di mana rahmat ini – persatuan antara para umat beriman dengan Kristus – ditandakan.
Formula konsekrasi tradisional, seperti yang dinyatakan Paus Eugenius IV pada Konsili Florence dan Paus
St. Pius V di dalam De Defectibus yaitu sebagai berikut:
“SEBAB INILAH TUBUHKU. SEBAB INILAH PIALA DARAHKU, DARAH PERJANJIAN BARU DAN
KEKAL: MISTERI IMAN, YANG AKAN DITUMPAHKAN BAGIMU DAN BAGI BANYAK ORANG DEMI
PENGAMPUNAN DOSA.”
142
Mohon mencatat kembali, kita mencari bagian dari formula ini yang menandakan bahwa
orang yang menerima sakramen ini secara layak menjadi dipersatukan atau dipersatukan
dengan lebih kuat dengan Yesus Kristus dan Tubuh Mistis-Nya.
Apakah kata-kata ‘PERJANJIAN BARU DAN KEKAL’ menandakan persatuan umat beriman dengan Kristus
/ Tubuh Mistis? Tidak. Kata-kata itu tidak menandakan Tubuh Mistis, namun kata-kata itu
membandingkan pengorbanan yang sementara dari Perjanjian Lama dengan pengorbanan yang
menyelamatkan dan kekal dari Yesus Kristus.
Apakah kata-kata ‘MISTERI IMAN’ menandakan persatuan umat beriman dengan Kristus / Tubuh Mistis?
Tidak. Kata-kata ini menandakan Kehadiran Nyata Kristus di dalam Ekaristi, seperti yang diajarkan
Inosensius III; kata-kata ini tidak menandakan Tubuh Mistis Yesus Kristus.
Apakah kata-kata “YANG AKAN DITUMPAHKAN” menandakan persatuan umat beriman dengan Kristus /
Tubuh Mistis? Tidak. Kata-kata ini menandakan pengorbanan sejati.
Kata-kata yang tersisa di dalam formula konsekrasi yaitu ‘BAGIMU DAN BAGI BANYAK ORANG DEMI
PENGAMPUNAN DOSA’.
Pengampunan dosa diperlukan untuk dipersatukannya seseorang ke dalam Tubuh Mistis, dan
pengampunan dosa-dosa yaitu komponen pembenaran sejati yang tidak tergantikan, lewat mana
seseorang dipersatukan kepada Yesus Kristus. Kata-kata ‘bagimu dan bagi banyak orang’ menandakan
para anggota dari Tubuh Mistis yang telah menerima pengampunan dosa ini .
Kata-kata ‘BAGIMU DAN BAGI BANYAK ORANG DEMI PENGAMPUNAN DOSA’ yaitu kata-kata di dalam
formula Konsekrasi yang menandakan persatuan umat beriman dengan Kristus/persatuan di dalam
Tubuh Mistis Kristus, yakni rahmat yang khas dari Sakramen Ekaristi.
Sekarang, jika kita melihat formula konsekrasi Novus Ordo, apakah kita menemukan tanda dari Tubuh
Mistis / persatuan umat beriman dengan Kristus (yaitu rahmat khusus dari Sakramen Ekaristi)? Berikut
yaitu formula konsekrasi dari Misa Baru atau Novus Ordo:
Formula Misa Baru: “Sebab inilah tubuh-Ku. Sebab inilah piala darah-Ku, darah perjanjian baru dan kekal,
yang akan ditumpahkan bagimu dan bagi semua orang demi pengampunan dosa.”
Apakah persatuan dengan Tubuh Mistis Yesus Kristus ditandakan oleh kata-kata ‘bagimu dan bagi semua
orang demi pengampunan dosa?’ Tidak. Apakah semua orang yaitu bagian dari Tubuh Mistis? Tidak.
Apakah semua orang yaitu bagian dari umat beriman yang dipersatukan dengan Kristus? Tidak. Kita
dapat melihat dengan sangat jelas bahwa Misa Baru atau Novus Ordo tentunya tidak menandakan
persatuan Tubuh Mistis (rahmat yang khas dari Sakramen Ekaristi), maka itu bukanlah sebuah sakramen
yang valid!
Tidak lagi diperlukan penjelasan... Misa Baru tidaklah valid!
Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 1896:
“Semua orang mengetahui bahwa sakramen-sakramen Hukum Baru, sebagai tanda-tanda yang
143
terlihat dan mujarab dari sebuah rahmat yang tidak kelihatan, harus menandakan rahmat yang
mereka hasilkan dan menghasilkan rahmat yang mereka tandakan.”33
Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 1896:
“…formula ini tidak dapat dianggap tepat ataupun cukup untuk sakramen ini , sebab
formula ini menghapuskan hal yang harus ditandakannya secara pokok.”34
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Exultate Deo”, 1438:
”...ini yaitu sebuah hal yang pantas untuk menandakan hasil dari sakramen ini, yakni, persatuan
antara umat Kristiani dengan Kristus.”35
Untuk membuktikan lebih lanjut poin ini, kami harus mencatat bahwa di seluruh formula konsekrasi di
dalam ritus liturgi Gereja Katolik, yakni di dalam Liturgi Armenia, Koptik, Etiopia, Suriah, Kaldea, dsb.,
persatuan para umat beriman dengan Kristus / Tubuh Mistis ditandakan di dalam formula konsekrasi.
Tidak ada satu liturgi pun yang pernah disetujui Gereja tidak menandakan persatuan umat beriman
dengan Kristus.
Berikut yaitu bagian-bagian dari formula-formula konsekrasi Anggur yang
digunakan di dalam Ritus Timur yang menandakan apa yang dilakukan Misa
Tradisional dan tidak dilakukan Misa Baru: persatuan dan anggota dari
Gereja
LITURGI ARMENIA: “...yang ditumpahkan bagimu dan bagi banyak orang demi penebusan dan
pengampunan dosa.”
Perhatikan bahwa persatuan dan anggota dari Tubuh Mistis ditandakan dengan kata-kata ‘bagimu dan
bagi banyak orang demi pengampunan dosa’.
LITURGI BYZANTINE: “...yang ditumpahkan bagimu dan bagi banyak orang demi pengampunan
dosa.”
Perhatikan bahwa persatuan dan anggota dari Tubuh Mistis ditandakan.
LITURGI KALDEA: “...yang ditumpahkan bagimu dan bagi banyak orang demi pengampunan dosa.”
Perhatikan bahwa persatuan dan anggota dari Tubuh Mistis ditandakan.
LITURGI KOPTIK: “...yang ditumpahkan bagimu dan bagi banyak orang demi pengampunan dosa.”
Perhatikan bahwa persatuan dan anggota dari Tubuh Mistis ditandakan.
LITURGI ETIOPIA: “...yang ditumpahkan bagimu dan bagi banyak orang demi pengampunan dosa.”
Perhatikan bahwa persatuan dan anggota dari Tubuh Mistis ditandakan.
144
LITURGI MALABAR: “...yang ditumpahkan bagimu dan bagi banyak orang demi pengampunan
dosa.”
Perhatikan bahwa persatuan dan anggota dari Tubuh Mistis ditandakan.
LITURGI MARONIT: (formula ini sama dengan formula yang telah selalu digunakan di dalam Ritus
Roma)
LITURGI SURIAH: “Inilah Darahku, Darah Perjanjian Baru, yang akan ditumpahkan dan
dipersembahkan demi pengampunan dosa dan kehidupan kekal bagimu dan bagi banyak orang.”
Perhatikan bahwa persatuan dan anggota dari Tubuh Mistis ditandakan dengan kata-kata ‘untuk
pengampunan dosa dan kehidupan kekal bagimu dan bagi banyak orang’.
Formula konsekrasi di semua liturgi Katolik menandakan persatuan umat beriman dengan Kristus /
Tubuh Mistis Kristus, seperti yang kita bisa lihat. Misa Baru, yang mengatakan, ‘bagimu dan bagi semua
orang demi pengampunan dosa’, tidak menandakan Tubuh Mistis, sebab semua orang bukanlah bagian
dari Tubuh Mistis. Oleh sebab itu, Misa Baru tidak menandakan rahmat yang dihasilkan Ekaristi. Misa
Baru tidak valid.
Maka, seorang Katolik tidak boleh menghadiri ‘Misa’ Baru di bawah ancaman dosa berat. Mereka
yang berkeras kepala melakukannya melakukan penyembahan berhala (sebab mereka menyembah
sepotong roti). Yesus Kristus tidaklah hadir di sana. Hosti ini hanyalah sepotong roti, bukanlah
Tubuh, Darah, Jiwa, dan Keilahian Tuhan kita. Gereja telah selalu mengajarkan bahwa untuk menerima
sebuah sakramen yang diragukan (yang menggunaan materi atau formula yang diragukan) yaitu suatu
dosa berat. Faktanya, Paus Inosensius XI, Dekret Kementerian Suci, 4 Maret 1679,36 bahkan mengecam ide
bahwa orang-orang Katolik dapat menerima sakramen-sakramen yang ‘mungkin’ valid. Dan Misa Baru
bukan hanya diragukan, namun tidak valid, sebab tidak menandakan rahmat yang seharusnya
ditandakannya. Misa Baru bahkan lebih buruk dari ibadat Protestan, Misa Baru yaitu sebuah kekejian,
yang memalsukan kata-kata Yesus Kristus dan Iman Katolik.
Catatan: Sewaktu kami menulis hal ini, ada kabar bahwa Vatikan, untuk menipu para tradisionalis
untuk kembali kepada Kontra-Gereja dan Misa Baru yang sesat, berencana untuk mengoreksi kesalahan
‘bagi semua’ di dalam formula konsekrasi. Fakta bahwa Vatikan akan melakukan hal ini membuktikan
bahwa ‘bagi semua’ memberi , seperti yang kami telah katakan, sebuah makna yang palsu. Walaupun
mereka melakukan hal ini, seorang Katolik tetap harus menghindari semua Misa-misa Baru di bawah
ancaman dosa berat, sebab Misa Baru itu sendiri yaitu ibadat non-Katolik. Misa Baru tetap tidak
mengikutsertakan kata-kata ‘mysterium fidei’ di dalam konsekrasi, dan kebanyakan dari ‘imam-imam’
yang menyelenggarakannya tidak valid pula (seperti yang kami akan buktikan di dalam bagian berikut).
10.
Michael Davies: “ ... setiap doa di dalam ritus tradisional [Imamat] yang menyatakan secara
khusus peran pokok seorang imam sebagai seorang manusia yang ditahbiskan untuk
mempersembahkan kurban propisiasi untuk orang yang hidup dan yang mati telah
dihapuskan [dari Ritus Baru Paulus VI]. Di dalam kebanyakan kasus, doa-doa ini
merupakan doa-doa yang persis dihapuskan oleh para reformer Protestan, atau jika bukan
doa yang persis sama, ada paralel-paralel yang jelas.”1
Iblis tidak hanya membuat perubahan-perubahan pada Misa yang membuatnya tidak valid, namun ia
tahu dirinya juga harus menjamah ritus imamat supaya para imam Gereja Baru tidak valid pula.
(uskup, imam, diakon) telah disetujui dan diberlakukan oleh Paulus VI pada
tanggal 18 Juni 1968. Berikut ini informasi yang penting sekali untuk diketahui oleh semua umat
Katolik, sebab bersangkutan dengan validitas setiap “imam” yang ditahbiskan dalam struktur diosesan
sejak sekitar tahun 1968; dan sebab itu, bersangkutan dengan validitas pengakuan dosa dan Misa indult
yang tak terhitung jumlahnya, dsb.
Pada tanggal 30 November 1947, Paus Pius XII mengeluarkan sebuah Konstitusi apostolik berjudul
“Sacramentum Ordinis”. Di dalam Konstitusi ini, Paus Pius XII menyatakan dengan otoritas apostolik
tertingginya, kata-kata yang diperlukan untuk penahbisan imamat yang valid.
FORMULA TRADISIONAL PENAHBISAN IMAM
Paus Pius XII, Sacramentum Ordinis, 30 November 1947:
“Namun sehubungan materi dan formula dalam penganugerahan setiap tahbisan, dengan
otoritas apostolik tertinggi Kami yang sama ini, Kami mendekretkan dan menetapkan hal-
hal berikut: ... Dalam penahbisan para imam, materinya yaitu penumpangan pertama tangan
uskup yang dilakukan dalam keheningan ... namun , formulanya [formula Penahbisan] terdiri
dari kata-kata prefasi yang bagian berikut bersifat esensial dan sebab itu wajib untuk
validitas:
”Kami memohon kepada-Mu, Bapa yang Mahakuasa, agar Engkau mengaruniakan kepada
hamba-hamba-Mu ini, jabatan Imamat (presbyterii dignitatem); perbaruilah roh kekudusan di
dalam diri mereka, agar mereka dapat menjalankan dibandingkan -Mu, ya Allah, tugas derajat kedua,
yang diterima dibandingkan -Mu, dan semoga tingkah laku mereka menjadi tolak ukur untuk hidup
yang suci.”2
FORMULA BARU PENAHBISAN IMAM
Berikut yaitu formula Ritus Baru Penahbisan IMAM:
“Kami memohon kepada-Mu, Bapa yang Mahakuasa, agar Engkau mengaruniakan kepada
hamba-hamba-Mu ini, jabatan Imamat; perbaruilah roh kekudusan di dalam diri mereka. Semoga
mereka dapat menjalankan dibandingkan -Mu, ya Allah, tugas derajat kedua, yang diterima dibandingkan -
Mu, dan semoga tingkah laku mereka menjadi tolak ukur untuk hidup yang suci.”3
148
Perbedaan antara kedua formula ini yaitu kata Latin “ut” (yang berarti “agar”) telah
dihapus di dalam Ritus Baru. Hal ini mungkin kelihatan sepele, namun di dalam Sacramentum Ordinis
Pius XII menyatakan bahwa kata ini diperlukan untuk validitas. Terlebih lagi, dihapusnya kata “agar”
merelaksasi penyebutan hasil sakramental (yakni penganugerahan jabatan derajat kedua). Dalam kata
lain, menghapus kata “agar” berpraanggapan bahwa ada suatu penahbisan yang sudah berlangsung,
namun tidak sedang berlangsung ketika kata-katanya sedang diucapkan.
sebab ritus baru ini mengaku-ngaku Ritus Roma, penghapusan kata “ut” (agar) ini menjadikan ritus ini
ber-validitas dipertanyakan. Namun, ada masalah yang jauh lebih besar, yang membuktikan bahwa Ritus
Baru tidak valid.
MASALAH TERBESAR PADA BUKANLAH FORMULANYA, namun
UPACARA-UPACARA DI SEKELILINGNYA YANG TELAH DIHAPUS
Perubahan pada formula esensial ritus itu bukanlah satu-satunya masalah pada yang
dipermaklumkan Paulus VI. Poin-poin berikut sama pentingnya, meski Sakramen Imamat diinstitusikan
oleh Tuhan kita Yesus Kristus, namun ritus itu tidak diinstitusikan oleh Tuhan kita dengan sebuah
formula sakramental spesifik – tidak seperti Sakramen Ekaristi dan Sakramen Pembaptisan, yang
diinstitusikan Tuhan kita dengan sebuah formula sakramental spesifik - sehingga formula dari kata-
kata dalam Sakramen Imamat beroleh makna dan kepentingannya dari ritus serta upacara-
upacara di sekelilingnya.
Di dalam surat Bullanya yang terkenal, Apostolicae Curae, 13 September 1896, Paus Leo XIII secara
khidmat menyatakan bahwa Penahbisan Anglikan tidak valid. Hal ini berarti bahwa sekte Anglikan tidak
memiliki imam ataupun uskup yang valid.
Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:
“ ... dengan otoritas Kami, dengan mosi Kami dan dengan pengetahuan pasti, Kami
mengumumkan dan menyatakan bahwa Penahbisan yang dilaksanakan seturut ritus
Anglikan, baik dahulu maupun sekarang, batal secara mutlak dan sama sekali tidak
valid.”4
Dalam membuat pernyataan khidmat ini, harus dimengerti bahwa Paus Leo XIII pada waktu itu tidak
sedang menjadikan Tahbisan Anglikan tidak valid, namun Sri Paus justru kala itu sedang menyatakan
bahwa Tahbisan mereka tidak valid akibat cacat dalam ritusnya. Namun apa saja cacat atau masalah
yang dilihat Paus Leo XIII pada Ritus Anglikan, yang menyebabkan invaliditasnya?
Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:
“Ketika siapa saja telah dengan sungguh-sungguh dan benar memakai formula dan materi
secara laik yang diwajibkan untuk menyelenggarakan atau menganugerahkan sakramen, oleh
sebab fakta itu sendiri, orang ini dianggap melakukan yang dilakukan oleh Gereja. Asas ini
merupakan landasan bertumpunya doktrin bahwa bahwa sebuah sakramen benar-benar
dianugerahkan melalui pelayanan seorang bidah atau orang tak dibaptis, asalkan ritus Katolik
digunakan. Sebaliknya, jika ritusnya diubah, dengan intensi nyata untuk menghadirkan
suatu ritus yang tak disetujui Gereja dan untuk menolak yang dilakukan Gereja serta yang
tergolong hakikat sakramen seturut institusi Kristus, lantas jelas bahwa intensi yang
149
diperlukan tak hanya tiada pada sakramen itu, namun intensi itu juga merusak sakramen
ini dan berlawanan dengannya.”5
Di sini kita melihat Paus Leo XIII mengajarkan bahwa jika seorang imam memakai ritus Katolik
dalam menganugerahkan Sakramen Imamat, dengan materi dan formula yang benar, ia sebab alasan itu
sendiri dianggap telah bermaksud (berintensi) melakukan yang dilakukan Gereja – berintensi melakukan
yang dilakukan Gereja itu perlu untuk validitas segala sakramen. Sebaliknya, ujar Sri Paus, jika ritusnya
diubah, dengan intensi nyata untuk menghadirkan suatu ritus yang tak disetujui Gereja dan
untuk menolak yang dilakukan Gereja, lantas intensinya tidak hanya tak memadai, namun
berlawanan dengan Sakramen itu.
Lalu apa saja hal-hal yang digambarkan Paus Leo XIII sebagai penunjuk adanya intensi yang berlawanan
pada ritus Imamat Anglikan?
Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:
“Sebab, agar kita dapat mengesampingkan alasan-alasan lain yang menunjukkan betapa tidak
memadainya formula-formula ritus Anglikan untuk tujuan yang hendak dicapai, hendaknya
semua orang menjadi puas dengan argumen yang satu ini: segala sesuatu dalam ritus
Katolik yang jelas mengutarakan jabatan dan tugas-tugas imamat, telah dihapus secara
sengaja dari formula-formula ritus Anglikan. Dengan demikian, formula itu tidak dapat
dianggap layak maupun memadai untuk sakramen ini , sebab formula itu mengabaikan hal
esensial yang harus ditandakannya.”6
Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:
“Maka, terjadilah bahwa sebab Sakramen Imamat dan imamat (sacerdotium) sejati milik
Kristus telah dibuang sama sekali dari ritus Anglikan, dan akibatnya imamat
(sacerdotium) itu sama sekali tidak dianugerahkan secara sungguh dan valid dalam
konsekrasi Keuskupan ritus yang sama, lantas sebab alasan itu jugalah, Keuskupan pun sama
sekali tidak dapat dianugerahkan secara sungguh dan valid oleh ritus ini ; dan hal ini
semakin berlaku demikian, sebab tanggung jawab utama Keuskupan mencakup menahbiskan
para pelayan untuk Ekaristi Mahakudus dan kurban.”7
Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:
“Sadar betul akan hubungan yang niscaya antara iman dan ibadat, antara hukum percaya dan
hukum berdoa (legem credenda et legem supplicandi), dan dengan dalih ingin kembali ke formula
asal, mereka merusak tata liturgi dalam berbagai cara demi menuruti doktrin-doktrin sesat para
pembaru. Oleh sebab itulah di seluruh Ordinalnya, tidak disebutkan secara jelas tentang
kurban, tentang konsekrasi, tentang imamat (sacerdotium) dan tentang kuasa
mengonsekrasikan serta mempersembahkan kurban, namun juga, seperti yang sudah
Kami sebutkan, tiap-tiap bekas dari hal-hal ini, yang dahulunya termuat dalam doa-doa
tertentu dari ritus Katolik yang sebelumnya tidak mereka tolak seutuhnya, telah
ditiadakan dan dihapus secara sengaja. Dengan demikian, terwujudlah dengan jelas sifat
asli – atau semangat asli, demikianlah sebutannya – dari Ordinal ini . Maka dari itu,
kalau sudah rusak dari asalnya, dan sebab itu sama sekali tidak memadai untuk
menganugerahkan Tahbisan, lantas mustahil Ordinal itu menjadi memadai seiring dengan
berjalannya waktu, sebab sama sekali belum ada perubahan yang terjadi.”8
150
Wahai pembaca, hal-hal yang digambarkan oleh Paus Leo XIII sebagai cacat pada Ritus Imamat
Anglikan – penghapusan sistematis tiap-tiap rujukan kepada kurban Misa, konsekrasi serta imamat
sejati pelaksana kurban – merupakan hal-hal persis yang terjadi dalam yang
dipermaklumkan oleh Paulus VI! Di dalam bukunya, The Order of Melchisedech [Ordo Melkisedek],
kendati menarik kesimpulan-kesimpulan yang salah pada perkara ini dan perkara-perkara lainnya,
Michael Davies terpaksa mengakui fakta-fakta yang mencengangkan berikut:
Michael Davies:
“Seperti yang dijelaskan bagian sebelumnya, setiap doa di dalam ritus tradisional
[Imamat] yang menyatakan secara khusus peran pokok seorang imam sebagai
seorang manusia yang ditahbiskan untuk mempersembahkan kurban propisiasi
untuk orang yang hidup dan yang mati telah dihapuskan [dari Ritus Baru Paulus
VI]. Di dalam kebanyakan kasus, doa-doa ini merupakan doa-doa yang persis
dihapuskan oleh para reformer Protestan, atau jika bukan doa yang persis sama,
ada paralel-paralel yang jelas.”9
Michael Davies:
“ ... tidak ada satu pun doa wajib di dalam ritus imamat yang baru yang
membuat jelas bahwa pokok dari imamat Katolik yaitu pemberian kekuatan
untuk mempersembahkan kurban Misa dan untuk melepaskan manusia dari dosa-
dosa mereka, dan bahwa sakramen ini memberi sebuah karakter yang
membedakan seorang imam bukan hanya di dalam derajat, namun juga secara
esensi dari orang awam ... Tidak ada kata di dalamnya yang tidak sesuai
dengan kepercayaan Protestan.”10
Berikut doa-doa serta upacara-upacara spesifik yang secara jelas mengutarakan sifat sejati imamat dalam
ritus Tradisional, yang telah dihapus secara spesifik dari Paulus VI. Informasi berikut
ditemukan di dalam buku Michael Davies, The Order of Melchisedech {Ordo Melkisedek}, hal. 79 dan
selanjutnya.
Di dalam Ritus Tradisional, sang uskup berbicara kepada para calon imam dan berkata:
”Sebab yaitu tugas seorang imam untuk mempersembahkan kurban, memberkati,
memimpin, berkhotbah dan membaptis.”
Teguran ini telah dihapuskan.
Litani Para Kudus lalu menyusul teguran di atas pada Ritus Tradisional. Upacara ini telah dipersingkat di
dalam Ritus Baru. Ritus Baru juga menghapus pernyataan yang tidak ekumenis ini:
"Agar Engkau sudi mengingat semua orang yang telah terpisah dari persatuan Gereja,
dan memimpin semua orang beriman kepada terang Injil.”
151
lalu , di dalam Ritus Tradisional, usai mengucapkan formula esensial, yang telah diubah di dalam
Ritus Baru (lihat di atas), sang uskup mengucapkan sebuah doa lain, yang mengikutsertakan hal berikut:
”Mereka ditugaskan untuk mengubah dengan berkat yang murni, demi umat-umat-Mu,
roti dan anggur menjadi Tubuh dan Darah Putra-Mu.”
Doa ini telah dihapuskan.
Di dalam Ritus Tradisional, sang uskup lalu menyanyikan Veni Creator Spiritus. Sambil mengurapi setiap
calon tahbisan, ia berkata:
”Sudilah, Tuhan, untuk menyucikan dan menguduskan tangan-tangan ini lewat urapan
ini, dan berkat kami. Agar apa pun yang mereka berkati menjadi terberkati, dan apa pun
yang mereka sucikan menjadi suci dan kudus di dalam nama Tuhan kami Yesus Kristus.”
Doa ini telah dihapuskan. Dan doa ini sangatlah penting sampai bahkan disebutkan oleh Pius XII di
dalam Mediator Dei #43:
Paus Pius XII, Mediator Dei (#43), 20 November 1947:
“ ... mereka sendirilah [para imam] yang telah ditandai dengan tanda yang tak terhapuskan yang
‘menyelaraskan’ mereka kepada Kristus sang Imam, dan bahwa tangan-tangan mereka sendirilah
yang telah dikuduskan, ‘agar apa pun yang mereka berkati menjadi terberkati, dan apa pun
yang mereka sucikan menjadi suci dan kudus di dalam nama Tuhan kami Yesus Kristus.’”11
Perhatikan bahwa sewaktu Pius XII berbicara tentang bagaimana para imam telah ditandai dalam
tahbisan, ia merujuk kepada doa yang sangat penting ini, doa yang secara khusus dihapuskan oleh Paulus
VI di dalam Ritus barunya di tahun 1968.
Segera sesudah doa ini, di dalam Ritus Tradisional, sang uskup berkata kepada calon imam:
”Terimalah kekuatan untuk mempersembahkan kurban kepada Allah, dan untuk
menyelenggarakan Misa, untuk orang-orang yang hidup dan yang mati, dalam nama
Tuhan.”
Doa yang begitu penting ini telah dihapuskan di dalam Ritus Baru.
Di dalam Ritus Tradisional, para imam baru lalu menyelenggarakan Misa bersama uskup. Pada akhirnya,
masing-masing imam baru berlutut di depan uskup yang menumpangkan kedua tangan pada kepala
masing-masing imam dan berkata:
”Terimalah Roh Kudus. Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan
jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.”
Upacara dan doa ini telah dihapuskan.
152
Di dalam Ritus Tradisional:
” ... para imam baru lalu berjanji untuk patuh kepada uskup mereka yang ‘menugaskan’
mereka untuk mengingat bahwa dalam mempersembahkan Misa Kudus, mereka tidak
bebas dari risiko, dan mereka harus mempelajari segala sesuatu yang perlu dari imam-imam
yang rajin sebelum melaksanakan suatu tanggung jawab yang begitu menakutkan.”
Teguran ini telah dihapuskan.
Akhirnya, sebelum menyelesaikan Misa, sang uskup memberi sebuah berkat:
”Berkat Allah yang Mahakuasa, Bapa, Putra, dan Roh Kudus, turun di atas kalian, dan membuat
kalian terberkati di dalam Orde imamat, menyanggupkan kalian untuk mempersemba






