hkan
kurban propisiasi untuk dosa-dosa para umat kepada Allah yang Mahakuasa.”
Berkat ini telah dihapuskan.
Kesimpulan: Sangatlah jelas dari fakta-fakta ini bahwa sama sekali tidak ada intensi di
dalam Ritus Baru untuk menahbiskan imam sejati yang melaksanakan kurban. Setiap rujukan
wajib kepada imamat yang melaksanakan kurban telah secara disengaja dihapuskan,
sama seperti di dalam Ritus Anglikan – yang telah dinyatakan tidak valid untuk alasan ini
oleh Paus Leo XIII.
Maka, kata-kata yang dinyatakan oleh Paus Leo XIII berikut dapat diterapkan secara persis kepada Ritus
Baru Paulus VI.
Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:
“Oleh sebab itulah di seluruh Ordinalnya, tidak disebutkan secara jelas tentang kurban,
tentang konsekrasi, tentang imamat (sacerdotium) [imamat yang melaksanakan kurban] dan
tentang kuasa mengonsekrasikan serta mempersembahkan kurban, namun juga, seperti
yang sudah Kami sebutkan, tiap-tiap bekas dari hal-hal ini, yang dahulunya termuat dalam
doa-doa tertentu dari ritus Katolik yang sebelumnya tidak mereka tolak seutuhnya, telah
ditiadakan dan dihapus secara sengaja. Dengan demikian, terwujudlah dengan jelas sifat asli –
atau semangat asli, demikianlah sebutannya – dari Ordinal ini . Maka dari itu, kalau sudah
rusak dari asalnya, dan sebab itu sama sekali tidak memadai untuk menganugerahkan Tahbisan,
lantas mustahil Ordinal itu menjadi memadai seiring dengan berjalannya waktu, sebab sama
sekali belum ada perubahan yang terjadi.”12
Deskripsi ini menggambarkan persis Ritus Imamat Baru. Adakah orang yang bisa menyangkal fakta ini?
Tidak, melakukannya, orang akan harus bersaksi dusta. secara spesifik menghapu
imamat pelaksana kurban. Maka intensi yang diwujudkan oleh berlawanan dengan
intesi Gereja dan tidak memadai untuk validitasnya.
Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896:
“Sebab, agar kita dapat mengesampingkan alasan-alasan lain yang menunjukkan betapa tidak
memadainya formula-formula ritus Anglikan untuk tujuan yang hendak dicapai, hendaknya
semua orang menjadi puas dengan argumen yang satu ini: segala sesuatu dalam ritus Katolik
153
yang jelas mengutarakan jabatan dan tugas-tugas imamat, telah dihapus secara sengaja
dari formula-formula ritus Anglikan. Dengan demikian, formula itu tidak dapat dianggap
layak maupun memadai untuk sakramen ini , sebab formula itu mengabaikan hal
esensial yang harus ditandakannya.”13
Michael Davies membuktikan bahwa Ritus Baru tidak valid
Di dalam bukunya, The Order of Melchisedech {Ordo Melkisedek}, Michael Davies (seorang pria yang
sebetulnya membela validitas Ritus Imamat Baru) terpaksa membuat berbagai pernyataan, di depan
bukti yang tidak terpungkiri, yang membuktikan bahwa harus dianggap tidak valid,
sama seperti Ritus Anglikan. Berikut beberapa kutipannya:
Michael Davies, The Order of Melchisedech {Ordo Melkisedek}, hal. 97:
“Jika ritus Katolik yang baru dianggap memuaskan, maka seluruh perkara yang diajukan
oleh Apostolicae Curae [Paus Leo XIII] pun diperlemah ... Kalau ritus Katolik baru, yang
darinya tercukur setiap doa wajib penanda kuasa-kuasa pokok imamat, itu valid, lantas
tampak tidak ada alasan sama sekali ritus Anglikan tahun 1662 juga tidak valid, jangankan
bisa ada penolakan terhadap Ordinal Anglikan Seri III tahun 1977 (1977 Anglican Series III
Ordinal).”
Michael Davies, The Order of Melchisedech {Ordo Melkisedek}, hal. 99:
“Sebagai komentar terakhir tentang ordinal Katolik yang baru, ingin saya kutip sebuah perikop
dari Apostolicae Curae dan meminta pembaca untuk membuktikan kepada saya,
bagaimanakah kata-kata yang ditulis oleh Paus Leo XIII tidak bisa dikatakan berlaku
kepada Ordinal Katolik yang baru, setidak-tidaknya yang berkenaan dengan doa-doa
wajib.”
Michael Davies, The Order of Melchisedech {Ordo Melkisedek}, hal. 109:
“ ... perbedaan antara ritus Katolik tahun 1968 dan Ordinal Anglikan yang baru sebegitu
minim, sehingga sulit dipercayai bahwa kedua-duanya tidak dimaksudkan untuk tujuan
yang sama ... Akan ditemukan bahwa setiap formula wajib yang dapat ditafsirkan
menganugerahkan suatu kuasa imamat spesifik tak diberikan kepada umat beriman
secara umum, telah secara berhati-hati ditiadakan dari ritus baru.”
Michael Davies, The Order of Melchisedech {Ordo Melkisedek}, hal. 94-95:
“Ketika perubahan-perubahannya [perubahan-perubahan pada Ritus Imamat]
dipertimbangkan secara keseluruhan, tampak mustahil untuk dipercaya bahwa seorang
Katolik berintegritas bisa menyangkal bahwa kesamaan dengan pembaruan Cranmer
[pembaruan Anglikan] itu jelas dan gawat. Sungguh jelas bahwa ada daya-daya penuh kuasa
dalam Gareja Katolik dan berbagai denominasi Protestan yang bertekad mencapai sebuah Ordinal
bersama dengan segala cara ... Kaum Protestan dari abad XVI mengubah Pontifikal tradisional,
sebab mereka menolak doktrin Katolik tentang imamat. Uskup Agung Bugnini dan
Konsiliumnya mengubah Pontifikal Romawi sedemikian rupa sehingga tampak terlihat
sedikit atau tidak ada perbedaan antara kepercayaan Katolik dan Protestan, dan sebab
itu memperlemah Apostolicae Curae [dari Paus Leo XIII].”14
154
St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bagian III, Pertanyaan 60, Artikel 8:
” ... intensi bersifat esensial bagi sakramen ini , seperti yang akan dijelaskan lebih lanjut.
Oleh sebab itu, jika dengan penambahan atau penghapusan itu, ia bermaksud
melaksanakan suatu ritus yang berbeda dari ritus yang diakui oleh Gereja, tampaknya
sakramennya tidak valid; sebab ia tampaknya tidak berintensi melakukan yang dilakukan
Gereja.”
Patut dicatat bahwa dalam menciptakan Ritus Anglikan yang tidak valid, Cranmer menghapuskan
subdiakonat dan ordo-ordo minor dan menggantikan mereka dengan pelayanan tiga derajat – uskup,
imam, dan diakon. Ini persis dilakukan Paulus VI dalam mengubah ritus-ritus Katolik.
Ritus Baru memang menyebutkan bahwa para kandidat penahbisan harus diangkat ke dalam “imamat” –
namun ritus Anglikan yang tidak valid juga berkata demikian. Kenyataannya, Paus Leo XIII menjelaskan
dalam Apostolicae Curae, bahwa kalau ritus imamat menyiratkan tiadanya kuasa untuk
mempersembahkan kurban propisiasi, lantas ritus itu niscaya tidak valid, meskipun mungkin
mengungkapkan atau menyebutkan kata “imam”.
Kongregasi Ibadah Ilahi dan Tata-tertib Sakramen mengakui bahwa teologi Katolik soal imamat tidak
dibuat eksplisit dalam ritus 1968.15
Faktanya yaitu Ritus Baru Paulus VI merupakan ritus yang seutuhnya baru. Ritus ini menolak
yang dilakukan Gereja, dengan menolak hal yang tergolong hakikat sakramen seturut institusi Kristus
[imamat pelaksana kurban], sehingga jelas bahwa intensi yang diperlukan, yang tewujud oleh ritus ini
tidak memadai, dan bahkan merusak Sakramen Imamat dan berlawanan dengannya (Leo XIII). Fakta-fakta
ini membuktikan bahwa Ritus Imamat Paulus II tidak bisa dianggap valid, namun harus dianggap tidak
valid.
Kesimpulan: Ini berarti bahwa semua pengakuan dosa untuk dosa-dosa berat dalam Sakramen
Tobat kepada para “imam’ yang ditahbiskan dalam Ritus Baru harus dibuat kembali kepada
imam yang ditahbiskan secara valid, yang ditahbiskan dalam Ritus Imamat Tradisional oleh
seorang uskup yang dikonsekrasi dalam Ritus Konsekrasi Uskup Tradisional. Jika seseorang
tidak dapat mengingat dosa-dosa mana yang sudah diakui kepada “imam-imam” Ritus Baru dan
yang telah diampuni oleh seorang imam yang ditahbiskan dalam Ritus Tradisional, seorang
Katolik harus membuat pengakuan dosa umum yang menyebutkan semua dosa berat (jika ada)
yang mungkin telah diakui kepada seorang “imam” yang ditahbiskan dalam ritus Paulus VI
(Ritus Baru).
Tentunya, tidak ada orang Katolik pun boleh mendatangi para “imam” yang ditahbiskan dalam Ritus Baru
Paulus VI untuk “Komuni” atau pengakuan dosa ataupun sakramen lain yang mewajibkan validnya imam
dengan ancaman dosa berat, sebab mereka itu bukanlah imam yang valid.
Seperti yang telah disebutkan lebih awal, Paus Inosensius XI, Dekret Kementerian Suci, 4 Maret 1679,16
mengecam ide bahwa orang-orang Katolik dapat menerima sakramen-sakramen yang “kemungkinan”
valid. Dalam kata lain, meskipun seseorang percaya bahwa kemungkinan valid (yang
jelas-jelas salah, sebab ritus itu jelas-jelas tidak valid), orang itu tetap dilarang menerima sakramen-
155
sakramen dari para “imam” yang “ditahbiskan” di dalam ritus itu dengan ancaman dosa berat. Sakramen-
sakramen hanya dapat diterima sewaktu materi dan formulanya jelas valid.
Fakta-fakta ini berarti semua Misa indult yang diselenggarakan oleh para “imam” yang
ditahbiskan dalam Ritus Baru Paulus VI (Ritus 1968) tidaklah valid dan tidak boleh dihadiri.
Serikat Santo Pius X terkadang memasukkan para pria ke dalam kelompok mereka yang “ditahbiskan”
dalam Ritus Imamat Baru, dan mereka tidak selalu disuruh agar ditahbis ulang secara bersyarat– atau
setidak-tidaknya, mereka tidak mengakuinya secara publik. “Misa” yang dipersembahkan para “imam”
ini tidak valid.
Para imam tahbisan Ritus Baru Paulus VI yang terbuka kepada kebenaran, harus ditahbiskan ulang oleh
seorang uskup yang dikonsekrasi secara valid dalam Ritus Tradisional. Hal ini juga berarti bahwa Novus
Ordo Missae (Misa Baru), tanpa mempertimbangkan masalah-masalah yang membuatnya tidak valid
sekalipun, tentunya tidak valid jika diselenggarakan oleh “imam” mana pun tahbisan Ritus Imamat Baru.
Ritus Konsekrasi Uskup Baru
11. Ritus Konsekrasi Uskup Baru
Paulus VI juga telah mengubah ritus untuk mengonsekrasikan para uskup. Hal ini sangatlah penting
sebab kelompok-kelompok seperti Fraternity of St. Peter dan Institute of Christ the King (kelompok
indult yang mempersembahkan Misa Latin Tradisional) menahbiskan anggota mereka di dalam Ritus
Penahbisan Tradisional, namun penahbisan mereka dilakukan oleh para ‘Uskup’ yang dijadikan ‘Uskup’ di
dalam Ritus Konsekrasi Uskup yang Baru.
Masalah ini sangat besar, sebab Benediktus XVI {Joseph Ratzinger}, ‘dikonsekrasikan’ di dalam Ritus
Konsekrasi Uskup Baru pada tanggal 28 Mei 1977.1 Jika ia bukanlah seorang uskup yang dikonsekrasikan
secara valid, ia tidak bisa menjadi uskup Roma.
Di dalam Sacramentum Ordinis, 30 November 1947, Paus Pius XII menyatakan formula yang pokok untuk
Konsekrasi para Uskup:
FORMULA TRADISIONAL UNTUK KONSEKRASI PARA USKUP
Paus Pius XII, Sacramentum Ordinis, 30 November 1947:
“namun mengenai materi dan formula untuk menjadikan setiap ordo, dengan otoritas apostolik
Kami yang tertinggi, Kami mendekretkan dan menetapkan hal-hal berikut:... di dalam
penahbisan atau konsekrasi Uskup... formula {penahbisan} ini terdiri dari kata-kata dari
“Prefasi”, di dalam mana hal-hal berikut diperlukan dan maka diwajibkan untuk validitas:
”Lengkapilah di dalam imam-Mu kepenuhan untuk pelayanan-Mu, hiasilah ia
dengan jubah segala kemulian dan kuduskanlah ia dengan embun urapan
surgawi.”2
Dengan menyebutkan “kepenuhan untuk pelayanan-Mu... jubah segala kemuliaan” formula tradisional
ini menandakan secara jelas kekuatan keuskupan, yakni ‘kepenuhan imamat’. Formula baru Paulus VI
pada ritusnya tahun 1968 yaitu sebagai berikut. Kedua formula ini hanya memiliki satu hal yang sama,
yaitu kata ‘et’, yang berarti ‘dan’.
FORMULA BARU PAULUS VI UNTUK KONSEKRASI PARA USKUP
“Curahkanlah ini kepada orang pilihan-Mu ini, kekuatan yang berasal dari pada-Mu, yaitu Roh pangkal
segala rahmat yang telah Kaucurahkan kepada Putra-Mu terkasih, Yesus Kristus, dan yang oleh-Nya
dianugerahkan kepada para Rasul. Mereka telah membangun jemaat di tempat masing-masing sebagai
kediaman-Mu yang kudus, demi keagungan dan kemuliaan nama-Mu sepanjang masa.”3, 3a
Formula baru ini tidak menandakan secara jelas kekuatan keuskupan. Kata-kata ‘Roh pangkal segala
rahmat {spiritum principalem}’ yang digunakan untuk merujuk kepada banyak hal di dalam Kitab Suci
ataupun Tradisi (misal. Mazmur 51:14), namun tidak secara jelas menandakan kekuatan keuskupan.
Maka, formula baru ini memiliki validitas yang sangat diragukan.
Ritus Konsekrasi Uskup Baru
157
Di samping perubahan yang menghancurkan formula pokok ini , ada banyak hal-hal lain yang
telah dihapuskan. Bahkan tidak ada satu pun pernyataan yang jelas tentang hasil yang dimaksudkan
dari Sakramen Penahbisan Uskup. Di dalam Ritus Penahbisan Tradisional, sang konsekrator menasihati
sang calon uskup di dalam panduan-panduan berikut:
”Seorang uskup menghakimi, menginterpretasikan, mengonsekrasikan, menahbiskan,
mempersembahkan, membaptis dan menguatkan.”
Ini telah dihapuskan.
Di dalam Ritus Tradisional, sang calon uskup diminta untuk mengonfirmasikan
kepercayaannya akan setiap artikel Syahadat
Ini telah dihapuskan.
Di dalam Ritus Tradisional, sang calon uskup diminta agar ia ‘menganatemakan setiap bidah
yang akan muncul melawan Gereja Katolik yang Kudus’.
Ini telah dihapuskan. Penghapuskan kewajiban untuk menganatemakan bidah yaitu hal yang penting,
sebab ini memang salah satu fungsi seorang uskup.
Di dalam Ritus Tradisional, sesudah doa konsekrasi, fungsi-fungsi seorang uskup sekali lagi disebutkan
secara khusus di dalam kata-kata ini:
”Berikanlah kepadanya, ya Tuhan, kunci Kerajaan Surga... Apa yang ia ikat di dunia ini
hendaklah terikat di Surga dan apa yang ia lepaskan di dunia ini hendaknya pula terlepas di
Surga. Jikalau ia menyatakan dosa seseorang tetap ada, hendaknya dosanya tetap ada, dan sudilah
Engkau mengampuni dosa-dosa orang yang ia ampuni... Berikanlah kepadanya, ya Tuhan, sebuah
takhta Keuskupan...”
Seluruh doa ini telah dihapuskan di dalam Ritus Baru.
Kesimpulan: Ritus Penahbisan Uskup Baru Paulus VI memiliki sebuah formula yang berbeda secara
radikal dari yang dinyatakan oleh Pius XII sebagai diwajibkan untuk validitas. Formula yang baru
tidak dengan secara jelas menandakan kekuatan keuskupan. Ritus Konsekrasi Uskup Baru tidak
dapat dianggap valid, sebab materi atau formula yang diragukan dianggap tidak valid.
Semua ‘Imam’ yang ditahbiskan oleh ‘uskup-uskup’ yang dikonsekrasikan di dalam ritus ini, walaupun
dengan memakai Ritus Penahbisan Tradisional, seperti kebanyakan imam Fraternity of St. Peter,
Institute of Christ the King, dsb. tidak dapat dianggap imam yang valid. ‘Misa-misa’ mereka harus
dihindari.
Ritus Konsekrasi Uskup Baru
12. Sakramen-Sakramen Baru: Perubahan-
Perubahan kepada Sakramen-Sakramen Lain
“Musuh-musuh yang paling lihai ini telah memenuhi dan meracuni, dengan kemarahan
dan kepahitan, Gereja, mempelai Anak Domba yang tak bernoda, dan telah meletakkan
tangannya yang jahat pada kepunyaannya yang terkudus. Di Tempat Kudus itu sendiri, di
mana telah ditetapkan takhta bagi Petrus yang Terberkati dan Tempat Duduk Kebenaran bagi
cahaya dunia, mereka telah mengangkat takhta kekejian mereka yang jahat, dengan rancangan
kejahatan agar ketika sang gembala diserang, domba-domba akan tercerai berai.” (Nubuat Paus
Leo XIII tentang sebuah kemurtadan di masa depan, 1888)
Di samping membuat perubahan-perubahan yang menjadikan Misa, Ritus Imamat dan Konsekrasi Uskup
tidak valid, seperti yang kita telah bahas, Paulus VI mengubah seluruh ritus dari kelima sakramen lain.
PEMBAPTISAN
Orde Baru Pembaptisan dipermaklumkan pada tanggal 15 Mei 1969. Pertanyaan-pertanyaan “Apakah
engkau menolak Setan?” dan “Apakah engkau percaya...?” sekarang ditanyakan kepada ‘orang tua dan
orang tua baptis’; pertanyaan-pertanyaan ini tidak lagi ditanyakan kepada calon baptis. Di dalam
ritus baru, calon baptis bahkan tidak ditanyakan apakah ia percaya.
Di dalam ritus baru, sang anak yang baru dibaptis tidak diberikan lilin yang menyala – lilin ini
diberikan kepada sang orang tua atau orang tua baptis. Juga, sang anak yang baru dibaptis tidak lagi
menerima pakaian putih – hal ini hanya disebutkan secara simbolis. Calon baptis tidak lagi
diwajibkan untuk membuat janji baptis.
Di samping itu, seluruh eksorsisme {pengusiran roh jahat} telah dihapuskan oleh Paulus VI di dalam ritus
baru Pembaptisan! Mengapa seseorang menghapuskan doa-doa pengusiran roh jahat? Walaupun Setan
tidak disebutkan di dalam naskah ini , ia tidak diusirkan.
Kesimpulan: Selama seseorang yang membaptis di dalam Gereja Novus Ordo menuangkan air dan
memakai formula pokok – “Aku membaptis engkau, dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus”
dengan intensi untuk melakukan apa yang Gereja lakukan, pembaptisan ini valid, walaupun
ada masalah-masalah lain ini di dalam ritus-ritus yang mengelilinginya. namun perubahan-
perubahan kepada ritus Pembaptisan ini, walaupun bukanlah hal yang pokok untuk validitas,
menunjukkan karakter dan intensi para pria yang telah mengimplementasikan revolusi Vatikan II.
KRISMA
Orde Baru Krisma dipermaklumkan pada tanggal 15 Agustus 1971. Formula dan materi sakramen
ini telah diubah.
Sakramen-Sakramen Baru yang Lain
160
Formula tradisional Sakramen Krisma yaitu :
”Ketika mengurapi orang yang ia Krismakan, uskup mengucapkan: "Aku menandaimu
dengan tanda salib, dan aku memeteraikanmu dengan Krisma Keselamatan, dalam nama
Bapa, dan Putra dan Roh Kudus. Amin”
Formula Ritus Baru untuk Sakramen Krisma:
”{Nama}, Terimalah meterai Roh Kudus, karunia Allah”
Seperti yang kita bisa lihat, formula tradisional Krisma telah diubah secara mendasar. Formula yang baru
yaitu formula yang digunakan di dalam Ritus Timur. Mengapa Paulus VI menggantikan formula
tradisional di dalam Ritus Roma dengan formula Ritus Timur? Kita akan melihat besarnya perubahan ini
sewaktu kita melihat materi Krisma yang juga telah diubah. Kebanyakan teolog secara tradisional
melihat penumpangan tangan dan penandaan serta pengurapan dahi sebagai materi terdekat {proximate
matter} dari Krisma, dan minyak zaitun serta balsem yang telah dikonsekrasikan oleh uskup sebagai
materi terjauh {remote matter}. Di dalam Ritus Krisma yang Baru dari Paulus VI, penumpangan tangan
telah dihapuskan, dan minyak-minyak sayur lain dapat menggantikan minyak zaitun, dan
rempah-rempah lain dapat digunakan sebagai pengganti balsem!
Di dalam Perjanjian Baru, penumpangan tangan selalu hadir di dalam krisma (lihat juga Kisah Para Rasul
8:17, Kisah Para Rasul 19:6). namun tidak ada penumpangan tangan di dalam Ritus Krisma yang Baru. Hal
ini telah dihapuskan. Hal ini sendiri membuat Ritus Krisma Baru Paulus VI sangat diragukan. Terlebih
lagi, di dalam Ritus Krisma Timur, sewaktu formula ini diucapkan oleh sang uskup, ia menumpangkan
tangannya; suatu tindakan yang melengkapi kata-kata formula ini . namun di dalam ritus baru,
walaupun formula Ritus Timur digunakan, kata-katanya tidak dilengkapi dengan tindakan penumpangan
tangan di dalam Ritus Timur, yang menjadikannya sangat diragukan.
Kesimpulan: Validitas Sakramen Krisma yang baru sangat diragukan, dengan mempertimbangkan
seluruh perubahan yang terjadi.
PENGAKUAN DOSA
Sakramen Tobat telah diubah menjadi ‘Perayaan Rekonsiliasi’. Orde Baru Tobat atau Pengakuan Dosa
telah dipermaklumkan oleh Paulus VI pada tanggal 2 Desember 1973. Formula pokok yang diperlukan
agar seorang imam yang ditahbiskan secara valid untuk melepaskan seseorang dari dosanya yaitu
dengan kata-kata berikut:
“Saya melepaskanmu dari dosa-dosamu dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.” (Konsili Florence,
“Exultate Deo”, Denzinger 696.)
Hal ini mungkin mengejutkan, namun formula pokok ini tidak diubah di dalam Ritus Baru Pengakuan
Dosa. Ada beberapa imam Novus Ordo yang tidak mengucapkan “Saya melepaskanmu dari dosa-dosamu
dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus”, namun memakai formula-formula baru seperti: “Saya
Sakramen-Sakramen Baru yang Lain
161
membebaskanmu dari segala ikatan dosamu.” Jika salah satu dari formula ini digunakan, maka
pengakuan dosa ini diragukan.
Seperti yang kami telah tunjukkan, bagaimanapun, para ‘Imam’ di Gereja-gereja Novus Ordo / Vatikan II
yang telah ditahbiskan di dalam (yang dipermaklumkan pada tanggal 18 Juni 1968)
tidaklah ditahbiskan secara valid. Hal ini berarti bahwa bahkan jika para ‘Imam’ Novus Ordo
memakai formula pokok, “Saya melepaskanmu dari dosa-dosamu dalam nama Bapa, dan Putra, dan
Roh Kudus”, jika mereka ditahbiskan di Ritus Baru, mereka bukanlah imam yang valid dan tidak membuat
perbedan.
Kesimpulan: Ritus Baru Pengampunan Dosa valid, hanya jika imamnya ditahbiskan di dalam Ritus
Tradisional oleh uskup yang dikonsekrasikan di dalam Ritus Tradisional – dan jika ia mengucapkan kata-
kata “Saya melepaskanmu dari dosa-dosamu dalam nama Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus.”
PENGURAPAN TERAKHIR
Ritus Pengurapan Terakhir yang Baru dipermaklumkan pada tanggal 30 November 1972. Ritus
Pengurapan Terakhir yang baru sekarang dinamakan ‘Pengurapan Orang Sakit’, yang diberikan kepada
orang-orang yang sakit berat. Istilah ‘di dalam bahaya maut’ dihindari. Ritus baru ini ditujukan lebih
kepada penyembuhan penyakit dibandingkan persiapan untuk waktu kematian. Konsekrasi minyak dan
syukur atas minyak ini mengandung banyak kata-kata tentang pulihnya kesehatan. Doa untuk
pengusiran Setan telah dihapuskan. Dan nama para malaikat, Malaikat Penjaga, Bunda Allah, dan
St. Yosef tidak lagi disebutkan dalam doa.
FORMULA TRADISIONAL SAKRAMEN PENGURAPAN TERAKHIR
Formula tradisional Pengurapan Terakhir yaitu
Semoga lewat pengurapan kudus ini dan kerahiman-Nya yang penuh kasih, Tuhan
mengampunimu dan segala dosa-dosa yang telah engkau perbuat lewat indramu (penglihatan,
penciuman, perasaan, perkataan, perabaan, kekuatan untuk berjalan).
FORMULA BARU ‘PENGURAPAN ORANG SAKIT’ (DISEBUT PENGURAPAN TERAKHIR DI
DALAM GEREJA KATOLIK)
Dengan pengurapan kudus dan kerahiman-Nya yang penuh kasih, semoga Tuhan
membantumu lewat rahmat Roh Kudus (Peniten: Amin) agar sewaktu engkau telah dibebaskan
dari dosa-dosamu, Ia sudi menyelamatkan-Mu dan membangkitkanmu di dalam kebaikan-Nya.
Orang dapat melihat bahwa perubahan formula baru ini menekankan hal yang sangat berbeda.
Penekanannya sekarang yaitu pada kesembuhan dari penyakit. Fakta bahwa ritus baru ini hanya
disebut ‘Pengurapan Orang Sakit’ menunjukkan seseorang untuk berpikir tentang kepulihan jasmani.
Maka dari itu, ritus baru ini diberikan banyak kali kepada orang sakit dan orang tua yang tidak berada
dalam bahaya maut.
Formula ini juga ambigu tentang kapan pengampunan dosa diberikan. Formula yang lama menunjukkan
secara jelas bahwa Tuhan mengampuni dosa dengan pengurapan ini. Formula baru ini
Sakramen-Sakramen Baru yang Lain
162
menyebutkan ‘sewaktu engkau telah dibebaskan dari dosa-dosamu’, yang dapat berarti suatu waktu di
masa depan.
Materi dari ritus baru ini juga telah diubah. Sepanjang sejarah Gereja, minyak zaitun yaitu materi dari
Sakramen Pengurapan Terakhir. namun di dalam ritus baru ini, minyak sayur apa pun dapat digunakan
untuk menggantikan minyak zaitun. Tidak ada enam pengurapan yang diwajibkan, namun hanya dua.
Menurut kebanyakan teolog, penggunaan minyak sayur apa pun membuat sakramen ini tidak valid.
Tidak diketahuinya jika materi yang digunakan di dalam Ritus Baru yaitu minyak zaitun cukup untuk
menghasilkan sebuah keraguan.
Kesimpulan: Validitas Ritus Pengurapan Terakhir yang Baru diragukan.
PERNIKAHAN
Orde baru pernikahan dipermaklumkan pada tanggal 19 Maret 1969. Dengan perayaan pernikahan yang
baru, hampir semua doa-doanya diubah. Di dalam ritus tradisional pernikahan, sebuah bacaan dari
Efesus (5:22-23) diwajibkan, yang berkaitan tentang tunduknya istri kepada sang suami. Di dalam ritus
baru, salah satu dari sepuluh bacaan-bacaan yang berbeda dapat dipilih, salah satu darinya yaitu ayat
dari Efesus, namun bacaan ini secara khusus menghapuskan ayat yang berkenaan tentang
tunduknya istri pada sang suami! Sewaktu mempelai wanita dan pria ditanyakan akan komitmen
mereka untuk menjalankan sebuah pernikahan Kristiani, mereka tidak ditanyakan secara terpisah, namun
bersamaan.
Berkat pernikahan telah diubah; kata-katanya telah diubah. Pernikahan campur juga sering terjadi
dewasa ini, banyak di antaranya tidak valid.
Walaupun ada masalah-masalah ini, formula dan materi Sakramen Pernikahan tidak dapat diubah
sebab materi ini terdiri dari orang-orang yang menikah, dan formulanya yaitu persetujuan
bersama mereka. namun , perubahan-perubahan Sakramen Pernikahan menunjukkan sekali lagi karakter
dan intensi dari mereka yang telah mengimplementasikan revolusi Vatikan II.
Kesimpulan: Ritus pernikahan baru valid, namun seorang Katolik tradisional tidak boleh menikah
menurut ritus yang baru. Banyak dari pernikahan campur yang diizinkan tidak valid. Ritus pernikahan
baru tidak menyebutkan Allah di dalamnya. Ritus pernikahan baru digunakan untuk mencemari ajaran-
ajaran Katolik dan menekankan pengeritan yang salah kepada pasangan yang menikah. sebab sang
imam yaitu saksi gereja di dalam pernikahan, seorang Katolik hendaknya tidak menikah di depan imam
mana pun, bahkan yang ditahbiskan secara valid, yang bukan 100% Katolik.
Sakramen-Sakramen Baru yang Lain
163
RINGKASAN RITUS-RITUS SAKRAMEN YANG DICIPTAKAN PAULUS VI UNTUK
KONTRA-GEREJA
Misa Baru – tidak valid
– tidak valid
Ritus Konsekrasi Uskup Baru – sangat diragukan
Ritus Pembaptisan Baru – valid
Ritus Pengakuan Dosa Baru – valid, jika memakai kata-kata yang diperlukan dan digunakan oleh
imam yang ditahbiskan secara valid
Ritus Krisma Baru – sangat diragukan
Ritus Pengurapan Terakhir Baru – diragukan
Ritus Pernikahan Baru - valid
164
13. Skandal-Skandal serta Bidah-Bidah
Yohanes XXIII
Yves Marsaudon, freemason derajat ke-33 dari Ritus Skotlandia:
“Sentimen universalisme yang menutupi Roma pada masa ini
sangatlah dekat dengan keberadaan kami... Dengan segenap hati kami,
kami mendukung revolusi Yohanes XXIII.”1
Yohanes XXIII (Angelo Roncalli) – Pria yang memulai Vatikan II dan
mengaku sebagai Paus dari tahun 1958 – 1963
Mari mengamati beberapa fakta tentang Angelo Roncalli (Yohanes XXIII). Angelo Roncalli lahir pada
tahun 1881 dan memegang jabatan diplomatis di Bulgaria, Turki dan Prancis. Roncalli juga yaitu
seorang ‘Patriark’ Venesia.
BEBERAPA AKTIVITAS YOHANES XXIII SEBELUM ‘PEMILIHANNYA’
SEBAGAI ‘PAUS’ PADA TAHUN 1958
Bertahun-tahun, Kementerian Suci telah menyimpan dokumen tentang Angelo Roncalli (Yohanes XXIII)
yang dapat diartikan ‘tersangka Modernisme’. Dokumen ini bertanggal kembali kepada tahun 1925,
sewaktu Roncalli, yang dikenal akan ajaran-ajarannya yang tidak ortodoks, dicabut dari jabatannya
sebagai Profesor di Seminari Lateran pada pertengahan semester (ia menjadi tersangka modernisme)
dan dikirim ke Bulgaria. Transfer ke Bulgaria ini yaitu awal dari karir diplomatisnya. Kekhawatiran
Roma khususnya yaitu hubungan Roncalli yang dekat dan terus-menerus dengan seorang imam yang
telah dipecat dari imamatnya, Ernesto Buonaiuti, yang diekskomunikasikan akibat bidah pada tahun
1926.2
165
Pada tahun 1926, Angelo Roncalli (Yohanes XXIII menulis kepada seorang Skismatis Ortodoks:
“Katolik dan Ortodoks bukanlah musuh, melainkan saudara. Kita memiliki iman yang sama;
kita memiliki sakramen-sakramen yang sama, terutama Ekaristi. Kita terpisah akibat beberapa
pertentangan mengenai konstitusi ilahi Gereja Yesus Kristus. Orang-orang yang merupakan sebab
pertentangan ini telah meninggal beberapa abad lamanya. Marilah kita meninggalkan
permusuhan lama itu dan, masing-masing di dalam wewenangnya, bekerja sama untuk
menjadikan saudara-saudara kita baik, dengan menunjukkan contoh yang baik kepada mereka.
Kelak, sesudah melewati jalan-jalan yang berbeda, kita akan mencapai sebuah persatuan
antara gereja-gereja untuk membentuk bersama Gereja yang sejati dan satu dari Tuhan
kita Yesus Kristus.”3
Pernyataan ini berarti Gereja yang satu dan sejati belum terbentuk.
Pada tahun 1935, Angelo Roncalli sampai di Turki dan menjadi teman dengan Sub-Sekretariat
Kementerian Asing, Naman Rifat Menemengioglu.4 Menemengioglu berkata kepada Roncalli:
“Sekularitas Negara yaitu sebuah prinsip mendasar dan jaminan dari kebebasan kami.” Roncalli
menjawab: “Gereja akan berhati-hati untuk tidak melanggar kebebasanmu.”5
Pada saat ia berada di Turki, Roncalli juga berkata: “Kalian, orang-orang Irlandia, kalian sangat
keterlaluan. Mulai dari waktu kalian lahir, bahkan sebelum kalian dibaptis, kalian mulai mengutuk
orang-orang yang bukan anggota Gereja, terutama para Protestan!”6
Ini merupakan salah satu kutipan lain yang menunjukkan pandangan sesat Roncalli: “Fraksi Gereja
Ortodoks Yunani yang sangat anti-Katolik dengan gembira mengumumkan sebuah persetujuan dengan
Gereja Inggris di mana masing-masing mengakui validitas Imamat satu sama lain. namun Roncalli benar-
benar puas akan hal ini . Kepada para orang-orang Yunani yang bertanya kepadanya dengan nakal
tentang opininya tentang hal ini , ia berkata dengan jujur, ‘Saya tidak dapat mengatakan apa pun
selain pujian bagi saudara-saudara kita yang terpisah untuk semangat mereka menuju persatuan seluruh
umat Kristiani.’”7
Desmond O’Grady, mantan koresponden Vatikan untuk Washington Post, melaporkan bahwa sewaktu
Roncalli ditempatkan di Istanbul pada tahun 1944, Roncalli “memberi sebuah khotbah di dalam sebuah
konsili yang akan berlangsung pada periode sesudah perang.”8 Sewaktu Roncalli ditugaskan sebagai
Nuncio {Duta Besar Kepausan} di Prancis, ia ditunjuk sebagai Pengamat bagi Takhta Suci untuk agen
kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa, UNESCO. Pada bulan Juli 1951, ia memberi sebuah khotbah
“yang memuji-muji UNESCO...”9 Roncalli menyebut UNESCO “organisasi internasional yang hebat ini...”10
Sewaktu Angelo Roncalli menjabat sebagai nuncio di Prancis, ia menunjuk teman dekatnya, seorang
Freemason derajat tiga puluh tiga, Baron Yves Marsaudon, sebagai kepala cabang Prancis dari
Knights of Malta, sebuah orde awam Katolik.11
YOHANES XXIII DILAPORKAN SEBAGAI SEORANG FREEMASON
Yves Marsaudon, Freemason Prancis yang disebut di atas, yang juga yaitu seorang penulis buku, juga
menyatakan bahwa Roncalli [Yohanes XXIII] menjadi seorang Mason derajat tiga puluh tiga
sewaktu ia menjabat sebagai nuncio di Prancis. Mary Ball Martinez menulis bahwa para Pengawal
Republik Prancis mengamati dari pos penjagaan mereka bahwa: ”...sang Nuncio [Roncalli]
berpakaian seperti warga negara biasa meninggalkan tempat tinggalnya untuk menghadiri
166
pertemuan-pertemuan Kamis sore dari [Loji Masonik] Prancis Timur Agung. Melihat konflik
kesetiaan ini membuat orang biasa ngeri, Katolik ataupun Freemason, namun Angelo Roncalli
kelihatannya telah terbiasa.”12
Majalah 30 Days juga mengadakan sebuah wawancara beberapa tahun lalu dengan kepala Freemason
Italia. Sang Grand Master dari Loji Timur Agung di Italia menyatakan: “Tentang hal ini ,
kelihatannya Yohanes XXIII telah diinisiasikan (ke dalam Loji Masonik) di Paris dan mengambil
bagian di dalam karya di Loka Karya Istanbul.”13
Pada suatu waktu di Paris, ‘Monsinyur’ Roncalli menghadiri sebuah perjamuan dan duduk di samping
seorang wanita yang mengenakan sebuah gaun yang sangat tidak senonoh. Rombongan yang menyertai
Roncalli merasa agak tidak nyaman. Para tamu memandang sang ‘Nuncio Paus’. Roncalli menyudahi
keheningan ini dengan bercanda:
“Saya tidak dapat membayangkan mengapa para tamu menatap saya, seorang pendosa
yang malang, sewaktu nyonya rumah kita yang menawan, jauh lebih muda dan menarik
rupanya.”14
Sewaktu Yohanes XXIII lalu ‘diangkat’ kepada Dewan Kardinal, ia bersikeras untuk menerima topi merah
dari sang ateis dan sosialis yang dikenal sebagai anti-Gereja Katolik, Vincent Auriol, Presiden Prancis,
yang ia sebut sebagai ‘seorang sosialis yang jujur’.15
Yohanes XXIII, sebagai seorang kardinal, memilih untuk menerima topi kardinalnya dari Vincent Auriol
yang dikenal akan ke-Anti-Katolikkannya
Roncalli berlutut di depan Auriol, dan Auriol meletakkan biretta kardinal di atas kepala Roncalli. Auriol
lalu menggantungkan ‘pita merah lebar di sekeliling leher kardinal ini , dan menciumnya di pipinya
dengan pelukan yang memberi kehangatan pribadi di dalam protokol formal’.16 Auriol lalu menyeka
air matanya dengan sebuah saputangan sewaktu Roncalli pergi untuk melanjutkan tugas barunya sebagai
‘kardinal’.17
167
Di dalam berbagai fungsi sosial di Paris, Roncalli (Yohanes XXIII) juga sering terlihat bersosialisasi
dengan duta Soviet, M. Bogomolov, walaupun pemerintahan Bogomolov telah melanjutkan politik
sebelum perangnya yaitu pemusnahan para Katolik secara brutal di Russia.
Angelo Roncalli (Yohanes XXIII) bersosialisasi dengan pembunuh orang-orang Katolik
Yohanes XXIII juga dikenal sebagai ‘teman baik dan yang dipercaya’ dari Edouard Herriot, Sekretaris
Sosialis Radikal Anti-Katolik (Prancis).18 “Teman terdekat dari Roncalli mungkin yaitu sang sosialis
yang lama dan besar serta anti-Katolik, Edouard Herriot.”19
Yohanes XXIII bersama Edouard Herriot dan para radikal yang lain
Sebelum Roncalli meninggalkan Paris, ia mengadakan sebuah perjamuan makan malam perpisahan
untuk teman-temannya. “Para tamu termasuk para politikus dari sayap Kanan, Kiri, dan Tengah, yang
bersatu di dalam kehangatan mereka untuk pengisi acara mereka yang ramah.”20 Sewaktu Roncalli
menjabat sebagai ‘Kardinal’ Venesia, “Para Komunis sama sekali tidak memiliki alasan untuk
mengkritiknya. Tidak ada olok-olok anti-Katolik, hanya ada keheningan yang hormat.”21
Sewaktu ia berada di Venesia, ‘Kardinal’ Roncalli ‘menasihati para umat untuk menyambut para
Sosialis di seluruh Italia yang melangsungkan partai mereka selama tiga puluh detik’ di Venesia.22
“Patriark (Yohanes XXIII) menyuruh agar pengumuman ditempelkan di dinding seluruh Venesia untuk
pembukaan selama tiga puluh detik dari Kongres Partai Sosialis Italia (PSI) pada bulan Februari 1957.
Berikut pesannya: ‘Saya menyambut acara ini yang luar biasa sangat berarti, yang sangat penting untuk
masa depan negara kita.’”23
168
Paus Pius XI, Quadragesimo Anno (#120), 15 Mei 1931:
“Tidak seorang pun dapat dalam waktu yang bersamaan menjadi seorang Katolik yang
baik dan seorang sosialis sejati.”24
Roncalli pernah sekali berbicara pada balai kota Venesia. Ia berkata:
”...Saya gembira bisa berada di sini, walaupun hadir di sini orang-orang yang tidak menyebut diri
mereka Kristiani, namun dapat diakui seperti itu {sebagai Kristiani} sebab perbuatan baik
mereka.”25
Pernyataan ini jelas-jelas sesat.
AKTIVITAS YOHANES XXIII DAN PERNYATAAN-PERNYATAANNYA sesudah
‘PEMILIHANNYA’ SEBAGAI ‘PAUS’ PADA TAHUN 1958
Segera sesudah ‘terpilih’ dan berpindah ke dalam Vatikan, “Yohanes XXIII menemukan sebuah patung
kuni Hippolitus, seorang Anti-Paus dari Abad Ketiga. Ia memerintahkan agar patung ini dipugar dan
ditempatkan pada pintu masuk Perpustakaan Vatikan.”26 “Kita melihat muka orang-orang yang kecewa di
mana-mana di Lapangan St. Petrus sewaktu Yohanes XXIII memulai berkat kepausannya, sebab ia
hampir tidak mengangkat tangannya. Tanda salibnya terlihat kepada orang-orang di Roma sebagai
gerakan tangan yang menyedihkan, sebab ia terlihat menggerakan pergelangan tangannya setinggi
pinggulnya.”27
“Yohanes XXIII menyatakan bahwa ia malu sewaktu disapa sebagai ‘Yang Mulia’ [atau] ‘Bapa
Suci’...”28 “Sejak lama, Yohanes XXIII memakai ‘saya’ dan bukan ‘kami’ di dalam percakapan
resminya. Para Paus diharapkan untuk memakai ‘kami’ paling tidak di dalam acara-acara
resmi.”29
Sewaktu Yohanes XXIII menerbitkan sebuah ensiklik tentang pertobatan, ensiklik ini sama sekali
tidak menyebutkan puasa ataupun hari raya wajib untuk pantang dari makanan atau kenikmatan
duniawi.30 Yohanes XXIII berkata tentang dirinya sendiri: “Saya yaitu seorang Paus yang selalu
menginjak gas.”31
Ayah dari Yohanes XXIII yaitu seorang petani anggur. Tentang ayahnya, Yohanes XXIII berkata:
“Hanya ada tiga cara di mana seorang pria dapat menjadi hancur: wanita, perjudian, dan...
pertanian. Ayah saya memilih hal yang paling membosankan dari antara ketiganya.”32
YOHANES XXIII TENTANG BIDAH, SKISMATIS, DAN NON-KATOLIK
Yohanes XXIII menggambarkan sikap yang harus dimiliki Vatikan II kepada sekte-sekte non-Katolik
dalam kata-kata berikut: “Kami tidak bermaksud untuk melakukan pengadilan akan hal-hal di masa lalu.
Kami tidak ingin membuktikan kepada anda siapa yang benar atau siapa yang salah. Yang kami
ingin katakan yaitu , ‘Mari berkumpul, mari mengakhiri perpecahan kita.’”33 Instruksinya kepada
‘Kardinal’ Bea, kepala Konsili untuk Sekretariat Persatuan Kristiani, yaitu , “Kita harus meninggalkan,
untuk saat ini, elemen-elemen ini di mana kita memiliki perbedaan.”34
Suatu ketika, “seorang anggota kongres tiba-tiba mengatakan: ‘Saya seorang Baptis.’ Tersenyum, Yohanes
XXIII berkata, ‘Saya Yohanes.’”35 Yohanes XXIII berkata kepada sang non-Katolik Roger Schutz,
pendiri komunitas ekumenis di Taize (sebuah biara ekumenis non-Katolik): “Anda berada di
169
dalam Gereja, jadilah anda damai.” Schutz berseru: “namun jika itu benar, berarti kita Katolik!”
Yohanes XXIII berkata: “Ya, kita tidak lagi terpisahkan.”36
Ini benar-benar sesat.
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate Domino”, 1441:
“Maka ia [Gereja] mengecam, menolak, mengutuk dan menyatakan di luar Tubuh Kristus, yang
yaitu Gereja, siapa pun yang berpegang pada pandangan-pandangan yang berlawanan atau
bertentangan.”37
Yohanes XXIII menyambut di Vatikan, ‘Uskup Agung’ pertama dari Canterbury, ‘wali gereja’ pertama dari
Gereja Episkopal Amerika Serikat, dan imam agung pertama Shinto.38 Yohanes XXIII suatu kali
menyatakan: “Jika saya dilahirkan Muslim, saya percaya bahwa saya akan selalu menjadi seorang
Muslim yang baik, setia kepada agama saya.”39
Salah satu perbuatan pertama Yohanes XXIII yaitu untuk menyambut Shah Muslim dari Iran untuk
audiens. Sewaktu sang Shah dari Iran akan pergi, “Yohanes XXIII memberi kepadanya berkatnya
yang ia telah ubah bentuknya dengan hati-hati agar tidak menyinggung prinsip agama
Muhammad: ‘Semoga berkat Allah Yang Mahakuasa yang paling besar bersama anda.’”40
Dengan mengubah bentuk pemberkatan ini, Yohanes XXIII: 1) menghapuskan Allah Tritunggal
Mahakudus yang disebut di dalam pemberkatan ini , agar ia tidak menyinggung sang kafir, dan 2) ia
memberi pemberkatan kepada seorang anggota dari sebuah agama sesat. Ini bertentangan dengan
ajaran Kitab Suci yang melarang untuk memberi berkat kepada para orang-orang kafir, seperti yang
diulangi oleh Paus Pius XI.
Paus Pius XI, Mortalium Animos (#9), 6 Jan. 1928:
“Tidak seorang pun tentunya mengabaikan bahwa Santo Yohanes sendiri, Rasul Cinta Kasih, yang
di dalam Injil-Nya menyingkapkan dengan suatu cara tertentu rahasia dari Hati Kudus Yesus,
Rasul yang tidak henti-hentinya mengingatkan para umatnya akan perintah baru, yakni Kasihilah
sesamamu manusia, melarang secara mutlak segala hubungan dengan orang-orang yang
tidak mengakui doktrin Kristus secara utuh dan murni: Jikalau seseorang datang
kepadamu dan ia tidak membawa ajaran ini, janganlah kamu menerima dia di dalam
rumahmu dan janganlah memberi salam kepadanya. (II Yohanes 1:10)”41
Pada tanggal 18 Juli 1959, Yohanes XXIII mengapus doa berikut: “Jadilah Engkau Raja dari semua yang
masih berada di dalam kegelapan penyembahan berhala ataupun Islam.”42 Di dalam surat
apostoliknya pada tanggal 17 Oktober 1925, Paus Pius XI memerintahkan agar doa ini dibacakan secara
publik pada perayaan Kristus Raja.43 Yohanes XXIII mencabut dari Kalender Santo-Santa Empat belas
Penolong Kudus dan berbagai santo-santa lain, termasuk St. Filomena.
170
St. Filomena, salah satu dari santo-santa yang dihapuskan dari Kalender Santo-Santa oleh Yohanes XXIII
dan Paulus VI
Di bawah Paus Gregorius XVI, Kongregasi Ritus Kudus memberi keputusan yang penuh dan
menyetujui penghormatan kepada St. Filomena; terlebih lagi, Paus Gregorius XVI memberi kepada
Santa Filomena gelar “Pembuat Mukjizat yang Agung di abad ke-19” dan “Pelindung Rosario yang
Hidup.”44 Ia dikanonisasikan oleh Paus yang sama pada tahun 1837. Kanonisasi seorang santa yaitu
“sebuah pernyataan umum dan resmi akan kebajikan mulia dari seseorang dan diikutsertakannya
namanya di dalam kanon (daftar) santo-santa... Penghakiman Gereja ini infalibel dan tidak dapat
diubah.”45
Yohanes XXIII berkata: ”...barangsiapa berseru, ia salah! Kita harus selalu menghormati martabat
manusia yang berdiri di depan kita, dan di atas segalanya kebebasan dari setiap orang.”46
Berikut yaitu gambar Yohanes XXIII di dalam pertemuannya dengan para Skismatis Timur di Vatikan II.
Yohanes XXIII menginginkan agar para imam Gereja ‘Ortodoks’ Russia (banyak dari antara mereka
yaitu agen KGB {komunis}) untuk berpartisipasi di Vatikan II. Para ‘Ortodoks’ berkata bahwa beberapa
imam mereka akan hadir, jika tidak akan ada kutukan atas Komunisme di Vatikan II. Maka, Yohanes
XXIII – perintis kemurtadan Vatikan II – menawarkan ‘tawaran yang menguntungkan’ di dalam
Persetujuan Vatikan-Moskwa. Vatikan setuju untuk tidak mengutuk Komunisme di Vatikan II, agar,
perhatikan hal berikut, para Skismatis Timur dapat hadir di dalam acara-acara Vatikan II!47 Benar-benar
sebuah tawaran! Yohanes XXIII jelas-jelas yaitu seorang Freemason dan kemungkinan seorang
Komunis; ia yaitu sang pria yang memulai konspirasi dan kemurtadan besar yaitu sekte Vatikan II.
Yohanes XXIII bersama para Skismatis Timur
171
Yohanes XXIII melihat di mana para pengamat non-Katolik di Vatikan II akan dipersilakan duduk dan
berkata: “Tidak bisa! Persilakan para saudara saya yang terpisah untuk duduk dekat saya.” Seperti
yang dikatakan seorang Anglikan yang senang: “Di situlah kita duduk – di barisan depan.”48
Pada tanggal Oktober 11 1962, Yohanes XXIII memberi khotbah pembukaannya kepada Konsili
ini :
“Mereka berkata bahwa era kita ini, jika dibandingkan dengan era-era sebelumnya, memburuk,
dan mereka berlaku bagaikan waktu konsili-konsili sebelumnya, semua hal yaitu
kemenangan penuh untuk ide dan kehidupan Kristiani dan untuk kebebasan beragama
yang benar. Kami merasa bahwa kami harus tidak setuju dengan para nabi kemalangan
ini , yang selalu memperkirakan bencana, bagaikan akhir dunia sudah dekat. Di dalam orde
hal-hal masa kini, Penyelenggaraan Ilahi memimpin kita menuju kepada sebuah orde baru dari
hubungan umat manusia...”
”...kesalahan-kesalahan hilang segera sesudah mereka muncul, bagaikan kabut di depan matahari.
Gereja selalu melawan kesalahan-kesalahan ini. Ia telah sering mengutuk mereka dengan
kekejaman yang sangat besar. namun , pada masa kini, Mempelai Kristus lebih menyukai
untuk memakai obat belas kasihan dibandingkan kekejaman. Ia (Gereja)
mempertimbangkan bahwa ia pantas untuk pada hari ini menunjukkan validitas ajarannya bukan
lewat kutukan. ...Sayangnya, seluruh keluarga Kristiani belum mencapai kesatuan yang
kelihatan ini di dalam kebenaran.”49
Seperti yang kita lihat di atas, di dalam khotbah pembukaannya di Vatikan II, Yohanes XXIII berkata
bahwa Gereja di masa lalu telah melawan dan mengutuk kesalahan-kesalahan, namun hari ini, ia tidak
akan mengeluarkan kutukan apa pun. Ia juga menyatakan sebuah bidah bahwa ‘seluruh seluruh keluarga
Kristiani beluh mencapai kesatuan yang kelihatan ini di dalam kebenaran’. Pertama-tama, ‘seluruh
keluarga Kristiani’ hanya terdiri dari para Katolik. Untuk berkata bahwa ‘seluruh keluarga Kristiani’
mengikutsertakan para non-Katolik, seperti yang dilakukan Yohanes XXIII, yaitu sebuah kesesatan.
Kedua, Yohanes XXIII berkata bahwa keluarga Kristiani (yang yaitu Gereja Katolik) ‘belum mencapai
kesatuan yang kelihatan ini di dalam kebenaran’. Ini yaitu bidah. Ini yaitu penolakan kesatuan Gereja
Kristus, Gereja Katolik. Gereja sejati (Gereja Katolik) yaitu satu di dalam iman. Gereja Katolik telah
mencapai dan akan selalu memiliki ‘kesatuan yang kelihatan di dalam kebenaran’.
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#4), 29 Juni 1896:
“Gereja, sehubungan dengan kesatuannya tergolong kategori hal-hal yang tidak bisa terbagi-bagi
secara kodrati, walaupun para bidah mencoba untuk membagi-baginya menjadi berbagai
bagian.”50
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#5):
“ … hanya ada satu Allah, satu Kristus, satu Gereja Kristus, satu iman, satu bangsa, yang oleh
ikatan keharmonisan dibangun di dalam kesatuan yang kokoh dari tubuh yang sama. Kesatuan
ini tidak dapat dipecahkan: tubuh yang tetap satu tidak dapat terbagi-bagi oleh pemecah-
belahan anggota-anggota yang menyusunnya.”51
Yohanes XXIII juga menggantikan rubrik untuk Breviarium dan Missal. Ia memerintahkan agar Doa-doa
Paus Leo dihapuskan, doa-doa yang diperintahkan oleh Paus Leo XIII agar diucapkan sesudah Misa. Doa-
doa ini juga diwajibkan oleh Paus St. Pius X dan Paus Pius XI.52 Doa-doa ini mengikutsertakan Doa kepada
St. Mikhael Malaikat Agung, sebuah doa yang menyebutkan secara spesifik sebuah peperangan yang akan
dilakukan Gereja melawan Setan. Yohanes XXIII menghapuskan Mazmur Judica me dari Misa. Yohanes
172
XXIII lalu menghapuskan Injil Terakhir, Injil dari St. Yohanes. Injil ini juga digunakan dalam pengusiran
roh jahat.53
Selanjutnya, Yohanes XXIII menghapuskan Confiteor {Doa Pengakuan Dosa} kedua di dalam Misa. Hanya
sesudah membuat semua perubahan ini, ia membuat sebuah perubahan di dalam Kanon Misa dengan
memasukkan nama St. Yosef.54 Permohonan untuk menempatkan nama St. Yosef di dalam kanon telah
ditolak secara resmi oleh Paus Pius VII pada tanggal 16 September 181555 dan Paus Leo XIII pada tanggal
15 Agustus 1892.56 Perubahan-perubahan besar tentang Kurban Suci Misa (sebelum Misa Baru Paulus VI
pada tahun 1969) ditempatkan pada Minggu pertama Adven, tahun 1964.
YOHANES XXIII TENTANG SOSIALISME DAN KOMUNISME
Yohanes XXIII menulis sebuah surat yang memuji Marc Sangnier, pendiri Sillon. Sillon yaitu sebuah
organisasi yang dikecam oleh Paus Pius X. Yohanes XXIII menulis tentang Sangnier: “Ketertarikan yang
kuat akan kata-katanya (Sangnier), jiwanya, membuat saya semangat, dan semua memori-memori saya
yang paling hidup sewaktu saya menjadi seorang imam muda yaitu sebab pribadinya dan aktivitas
politis dan sosialnya...”57
Di dalam ensiklik Yohanes XXIII Mater et Magistra (tentang Kekristenan dan perkembangan sosial), ia
mempromosikan ide-ide sosialis dan tidak mengecam kontrasepsi ataupun Komunisme, bahkan
sekalipun. Sewaktu ia ditanya mengapa ia menjawab sambutan seorang diktator Komunis, Yohanes XXIII,
Yohanes XXIII menjawab: “Saya yaitu Paus Yohanes bukan sebab kebaikan pribadi saya, namun sebab
perbuatan Allah, dan Allah ada di dalam setiap diri kita.”58 “Yohanes sangat menikmati dirinya sewaktu
bersama para Komunis, seseorang mungkin berpikir bahwa mereka yaitu saudaranya sendiri.”59
Komunisme telah dikecam 35 kali oleh Paus Pius XI dan 123 kali oleh Paus Pius XII.60
Pada tanggal 6 Maret 1963, Yohanes XXIII menyambut Aleksei Adzhubei dan istrinya, Rada di dalam
sebuah audiens khusus. Rada yaitu putri Kepala Pemerintahan Uni Soviet Khrushchev. Rada (putri
Khrushchev) berbicara tentang pertemuannya dengan Yohanes XXIII: ”...Ia memberi kepada Aleksei
dan saya dua hadiah simbolis yang diperuntukan bagi bapak saya, juga dan ia berkata: ‘...Itu yaitu
untuk Papamu.’”61
Pada ulang tahunnya yang kedelapan puluh (25 November 1961), Yohanes XXIII menerima sebuah
telegram dari Khrushchev yang mengucapkan “selamat dan permohonan yang tulus akan kesehatan dan
kesuksesannya di dalam aspirasinya yang mulia dalam berkontribusi kepada... damai di dunia.”62
Sekretaris Jenderal Partai Komunis Inggris, John Gollan, di depan kamera televisi pada tanggal 21
April 1963, berkata bahwa “ensiklik (Pacem in Terris) [dari Yohanes XXIII] mengejutkan dan
menyenangkannya” dan, maka, ia harus mengucapkan ‘kepuasannya yang paling tulus pada Kongres
terbaru Partai ke-28’.63
Salah satu teman-teman karib Yohanes XXIII yaitu sang Komunis dan pemenang Hadiah Perdamaian
Lenin Giacomo Manzu.64 Yohanes XXIII berkata: ”Saya tidak melihat alasan mengapa seorang Kristiani
tidak boleh memilih untuk seorang Marxis jika ia melihat bahwa ia [sang Marxis] ini lebih pantas
untuk mengikuti politik dan takdir sejarah.”65
Gereja Katolik telah mengecam Komunisme lebih dari 200 kali.66
173
YOHANES XXIII DIPUJI OLEH PARA FREEMASON DAN KOMUNIS PADA
PERIODE ‘KEPAUSANNYA’
Yohanes XXIII, Pacem in Terris #14, 11 April 1963:
“Juga termasuk hak-hak manusia yaitu bahwa ia dapat menyembah Allah sesuai dengan hati
nuraninya, dan untuk dapat mengakui agamanya secara pribadi dan di dalam publik.”
Ini yaitu bidah. Seorang manusia tidak memiliki hak untuk menyembah allah-allah sesat di dalam
publik. Hal ini telah dikecam oleh banyak Paus, seperti yang kita telah bahas di dalam bagian tentang
Vatikan II. Sewaktu seorang teolog Kementerian Suci, Romo Ciappi, berkata kepada Yohanes XXIII bahwa
ensikliknya Pacem in Terris bertentangan dengan ajaran Paus Gregorius XVI dan Pius IX tentang
kebebasan beragama, Yohanes XXIII menjawab: “Saya tidak akan tersinggung akan beberapa noda
jika keseluruhannya berkilau.”67
Ensiklik Pacem in Terris Yohanes XXIII dipuji oleh para pemimpin Masonik sendiri sebagai sebuah
dokumen Masonik. Berikut yaitu beberapa contoh:
Ini yaitu sebuah kutipan dari Bulletin Masonik, organ resmi dari Konsili Agung dari Derajat ke-33 dari
Ritus Skotlandia yang Resmi dari para Mason, untuk Distrik Masonik dari Meksiko Serikat, yang
bertempat di 56 Lucerna St., Meksiko, D.F. (Tahun 18, No. 220, Mei 1963):
“TERANG DARI
SANG ARSITEK AGUNG ALAM SEMESTA
MENERANGI VATIKAN
“Berbicara secara umum, ensiklik Pacem in Terris, yang ditujukan kepada semua manusia yang
berkeinginan baik, telah mengilhami kenyamanan dan harapan. Di negara-negara demokratik dan
Komunis, {ensiklik} ini telah dipuji secara serempak. Hanya para diktator Katoliklah yang tidak
menyukainya dan memutarbalikkan semangatnya.
“Kami sangat akrab dengan banyak dari konsep-konsep dan doktrin-doktrinnya. Kami telah
mendengarkannya dari saudara-saudara rasionalis, liberal, dan sosialis yang terkemuka. sesudah
kami telah mempertimbangkan baik-baik arti dari setiap katanya, kami dapat berkata bahwa, jika
kami mengecualikan kesusastraan Vatikan yang omong kosong yang khas {di dalamnya}, ensiklik
Pacem in Terris yaitu sebuah pernyataan yang kuat berisi doktrin Masonik... kami tidak
ragu-ragu untuk menyarankan {orang-orang} untuk membacanya dengan saksama.”68
Di dalam buku Résurgence du Temple, yang diterbitkan dan disunting oleh Knights Templar (Freemason),
1975:149, kutipan berikut dapat dipertimbangkan: “Tujuan dari tindakan kami: Melanjutkan Karya
Yohanes XXIII dan mereka yang telah mengikutinya di dalam jalan menuju Universalisme
Templar.”69
YOHANES XXIII DAN PARA YAHUDI
Yohanes XXIII juga melakukan hal-hal seperti memberhentikan mobilnya agar ia dapat memberkati para
Yahudi yang pergi meninggalkan pemujaan ‘Sabat’ mereka.70
174
APAKAH YOHANES XXIII MENUNJUKKAN BAHWA IA SEORANG YAHUDI?
Yohanes XXIII juga pernah sekali menyapa beberapa pengunjung Yahudi dengan kata-kata, “Saya
ini Yusuf, saudara kalian.”71 Walaupun pernyataan misterius Yohanes XXIII kepada orang-orang Yahudi
ini sering dikutip, maknanya belum pernah dijelaskan. Kami percaya bahwa ada penjelasan yang
baik akan maknanya: Pernyataan Yohanes XXIII, “Saya ini Yusuf, saudara kalian”, yaitu sebuah
kutipan dari Kejadian 45:4. Pernyataan ini dibuat oleh sang patriark Yusuf, putra Yakub, kepada para
saudaranya sewaktu mereka datang ke Mesir pada waktu bencana kelaparan. Orang-orang yang
mengenal cerita Kitab Suci ini mengetahui bahwa Yusuf telah dijual sebagai budak oleh para saudara-
saudaranya bertahun-tahun sebelumnya, namun ia telah naik ke jabatan tertinggi di dalam kerajaan
Mesir (walaupun ia bukanlah salah satu dari mereka) sebab ia telah berhasil mengartikan mimpi
Firaun. sebab ia telah naik ke jabatan tertinggi di dalam kerajaan Mesir, ia bebas untuk memakai
harta karun kerajaan sebagaimana yang ia kehendaki – yaitu untuk saudara-saudaranya. Ia memberi
banyak harta ini kepada saudara-saudaranya secara gratis.
Sewaktu kita mempertimbangkan bukti bahwa Yohanes XXIII yaitu seorang Freemason, bahwa ia
memulai proses revolusi melawan Gereja Katolik pada Vatikan II, dan bahwa ‘kepausan’ Yohanes XXIII
memulai sebuah sikap revolusioner yang baru kepada para Yahudi, dari antara hal-hal yang lain, arti dari
pernyataannya kepada para Yahudi menjadi jelas. Seperti Yusuf, yang bukanlah salah satu dari orang-
orang Mesir, melihat dirinya di puncak hierarki para orang Mesir dan menunjukkan hal ini kepada
para saudara-saudaranya bahwa ia yaitu ‘Yusuf, saudara kalian’, Yohanes XXIII berkata kepada para
Yahudi bahwa ia yaitu ‘Yusuf, saudara kalian’ sebab sesungguhnya ia yaitu seorang penyusup
Yahudi yang ada di dalam jabatan tertinggi di dalam hierarki Kristiani (atau sebagaimana
yang terlihat). Ini yaitu cara tersembunyi Yohanes XXIII untuk menunjukkan siapa ia sesungguhnya:
seorang Anti-Paus konspiratorial yang membantu musuh-musuh Gereja.
Beberapa saat sebelum kematiannya, Yohanes XXIII mengarang doa berikut untuk para Yahudi. Doa ini
ditegaskan oleh Vatikan sebagai karya dari Yohanes XXIII.72
“Kami menyadari hari ini betapa butanya kami selama berabad-abad dan bagaimana kami
tidak menghargai keindahan para Bangsa Terpilih ataupun corak-corak dari saudara-saudara
kami yang terberkati. Kami sadar akan tanda ilahi Kain yang ada di dahi kami. Berabad-abad
lamanya, saudara kami, Habel, telah tersungkur berdarah dan menangis di tanah akibat
kesalahan kami, hanya sebab kami telah melupakan cinta kasih-Mu. Ampunilah pengecaman
kami yang tidak adil kepada para Yahudi. Ampunilah kami bahwa dengan menyalibkan
mereka, kami telah menyalibkan-Mu kedua kali. Ampunilah kami. Kami tidak tahu apa yang
kami lakukan.”73
Yohanes XXIII berkata bahwa para Yahudi masih merupakan bangsa yang terpilih, yang yaitu sebuah
bidah. Kata ’perfidis Judæis’ yaitu ungkapan yang digunakan para Katolik di dalam Liturgi Jumat Agung
sampai waktu Yohanes XXIII menghapuskannya pada tahun 1960






