gereja vatikan 9

 


elokkan perhatian orang dari dirinya sendiri; dan ia berhasil dalam hal ini. namun , yang paling 


 

menakutkan yaitu  pernyataan Paulus VI yang terkenal ini  pada dasarnya yaitu  rujukan langsung 

kepada Wahyu 9:1-2. 

Wahyu 9:1-2: ”...dan kepadanya diberikan anak kunci lobang jurang maut. Maka dibukanyalah 

pintu lobang jurang maut itu, lalu naiklah asap dari lobang itu bagaikan asap tanur besar...” 

Di dalam Wahyu 9, kita melihat sebuah rujukan langsung kepada asap Setan, dan orang yang diberikan 

kunci untuk melepaskannya. Anti-Paus Paulus VI tidak memiliki kunci Petrus, namun  ia diberikan kunci 

pintu lubang jurang maut. Ialah yang membawa masuk asap Setan dari tanur besar; seperti yang ia 

katakan, lewat beberapa celah. 

Jean Guitton, teman karib Paulus VI, mengenai apa yang Paulus VI katakan pada sesi akhir 

Vatikan II: 

“Pada saat sesi terakhir Konsili ini ,” Guitton menulis, “sesi terpenting di mana Paulus VI 

akan melimpahkan kepada umat manusia ajaran-ajaran Konsili ini . Ia mengumumkan hal 

ini kepada saya pada hari ini  dalam kata-kata berikut. ‘Sebentar lagi aku akan meniup 

ketujuh sangkakala dari Kitab Wahyu.’”118 

Paulus VI, Pidato kepada Seminari Lombard, 7 Desember 1968: 

 “Gereja sedang berada di dalam saat kegelisahan, saat di mana ia mengkritik dirinya sendiri, 

dapat dikatakan bahwa ia sedang menghancurkan dirinya sendiri... Gereja melukai dirinya 

sendiri.”119 

Di sini Paulus VI sekali lagi mengolok-olok umat. Ia berkata bahwa Gereja ‘sedang menghancurkan 

dirinya sendiri’ dan ‘melukai dirinya sendiri’. Ia merujuk kepada dirinya sendiri lagi, sebab  ialah yang 

mencoba menghancurkan Gereja dan melukainya di setiap saat! 

PAULUS VI TENTANG ‘ILMU GAIB’ 

The Oxford Illustrated Dictionary mendefinisikan magic {‘ilmu gaib’} sebagai “sebuah ilmu yang dianggap 

dapat memengaruhi kejadian-kejadian lewat kekuasaan rahasia atas alam atau roh, sihir...”120 

Orang-orang Katolik dilarang untuk mempraktikkan ilmu gaib. namun  Paulus VI sering berbicara tentang 

ilmu gaib. 

Paulus VI, Homili, 12 November 1972:  

“Dari manakah datangnya ilmu gaib dalam ini yang mengenyahkan rasa takut...”121 

Paulus VI, Audiens Umum, 30 Desember 1970:  

”...ilmu gaib yang tidak kelihatan namun  terlalu kuat dari opini publik yang sangat banyak...”122 

Paulus VI, Pesan, 1 Januari 1975:  

“Rekonsiliasi!...Tidakkah kata gaib ini dapat menemukan tempat di dalam kamus harapan-

harapan anda...”123 

Paulus VI, Homili, 11 Mei 1975:  

“Kalian, para artis teater dan layar lebar...yang memiliki ilmu gaib untuk persembahan lewat 

suara dan musik...adegan sungguhan dari suatu kejadian...”124 


202 

 

Paulus VI, Pidato, 18 Mei 1969:  

“Segala hal ditransformasikan di bawah pengaruh gaib dari ilmu pengetahuan...”125 

Paulus VI, Pesan kepada Orang-orang Brazil, Februari 1972:  

“Pelayanan: sebuah kata gaib yang menyemangati untuk melakukan sebuah tindakan...”126 

Paulus VI, Sambutan, 23 Juni 1973:  

”...akar rohani ini  kelihatannya telah kehilangan banyak dari kekuatan gaib dari 

ilhamnya?”127 

Mengapa Paulus VI berbicara banyak kali tentang ilmu gaib? Menurut pendapat kami, tepatnya ini yaitu  

sebab  ia mengetahui bahwa Ilmu Hitamlah yang memungkinkannya, seorang penyusup satanik, untuk 

mengelabui seluruh dunia untuk berpikir bahwa ia yaitu  seorang Paus agar ia dapat menghancurkan 

Misa dan hampir seluruh Gereja Katolik. Ia tahu bahwa Ilmu Hitamnyalah yang memperkenankannya 

untuk mengubah ritus dari setiap sakramen dan menipu dunia dengan agama Vatikan II-nya. 

PAULUS VI MENGAKUI BAHWA GEREJANYA yaitu  PELACUR BABEL 

Di dalam Kitab Wahyu bab 17 dan 18, dinubuatkan bahwa seorang pelacur akan muncul pada akhir 

zaman dari kota bertujuh gunung, yakni Roma. Pelacur ini akan menginjak-injak darah para martir dan 

santo-santa. Pelacur ini jelas-jelas dikontraskan dengan mempelai tak bernoda Kristus, yaitu Gereja 

Katolik. Dalam kata lain, pelacur Babel ini yaitu  sebuah gereja palsu dari Roma yang akan muncul pada 

akhir zaman. Mendekati akhir buku ini, kami akan menunjukkan bukti bahwa Pelacur Babel ini  

yaitu  sekte Vatikan II, yaitu mempelai palsu yang muncul di Roma pada akhir zaman untuk menipu 

Umat Katolik. 

Sewaktu ia muncul di La Salette, Prancis, 19 September 1846, Bunda yang terberkati bernubuat: 

“Roma akan kehilangan Iman dan menjadi takhta sang Antikristus...Gereja akan berada dalam 

gerhana.” 

Di dalam kutipan berikut, Anti-Paus Paulus VI pada dasarnya mengakui bahwa Gerejanya yang baru 

yaitu  Gereja yang palsu dengan mengakui bahwa ‘Gereja’-nya telah menanggalkan ketidaksukaannya 

akan dunia, suatu hal yang khas dari Gereja sejati. 

Paulus VI, Audiens Umum, 1 Oktober 1969: 

“Pada sisi lain, Ia [Gereja] juga mencoba menyesuaikan dirinya sendiri dan mengasimilasikan 

dirinya ke dalam cara-cara dunia; Ia menanggalkan pakaian sucinya yang khas, sebab  Ia ingin 

merasa lebih manusiawi dan duniawi. Ia cenderung membiarkan dirinya sendiri diserap oleh 

lingkungan sosial dan temporal. Ia hampir telah dikuasai oleh rasa hormat kepada manusia 

sewaktu Ia berpikir bahwa Ia berbeda dan wajib untuk memiliki cara berpikir dan hidup yang 

bukan berasal dari dunia. Ia sedang melalui perubahan-perubahan dan degradasi dunia 

dengan semangat yang konformis dan tidak biasa.”128 

Di sini Paulus VI mengakui bahwa Gereja sesudah  Vatikan II yaitu  Gereja palsu yang telah menyesuaikan 

dirinya kepada dunia dan mengikuti cara-cara dunia dengan penuh semangat. Ini yaitu  sebuah 

pengakuan Paulus VI yang mengejutkan. Ia mengakui dalam banyak kata bahwa Gereja sesudah  Vatikan II 

yaitu  Pelacur Babel. 


203 

 

Sewaktu seseorang menggabungkan fakta bahwa Paulus VI sering mengenakan efod Yahudi 

dengan seluruh upayanya untuk menghancurkan seluruh Tradisi Katolik, buktinya kuat bahwa ia 

yaitu  seorang penyusup Yahudi satanis. 

Bahkan, nenek moyang Paulus VI memiliki asal-usul Yahudi. Nama aslinya yaitu  Giovanni Montini. 

Keluarga Montini terdaftar di dalam Golden Book of Noble Italian Heritage {Buku Emas Keturunan 

Bangsawan Italia} (1962-1964, hal. 994): “Cabang dari...keluarga bangsawan dari Brescia...asal dari 

emblem bangsawan keluarga mereka dan yang memastikan peti dan pendirinya, yakni Bartholomew 

(Bartolino) de Benedictis, Montini yaitu  keturunan Yahudi”.129 

SEBUAH FOTO LAIN DI MANA ANTI-PAUS VI MENGENAKAN TUTUP DADA PEMBUATAN 

KEPUTUSAN IMAM AGUNG YAHUDI 

 

Kami telah membuktikan bahwa Paulus VI yaitu  seseorang yang sama sekali murtad yang percaya 

bahwa agama-agama sesat yaitu  benar, dan bahwa bidah dan skisma itu baik adanya, dan bahwa para 

skismatis seharusnya tidak dikonversikan – beberapa dari ajaran sesatnya. 

Jika anda menerima Vatikan II atau Misa Baru atau ritus-ritus sakramen yang baru – singkatnya, jika 

anda menerima agama Vatikan II – inilah sang pria yang agamanya anda ikuti, seorang penyusup bidah 

terang-terangan, yang seluruh misinya yaitu  untuk mengupayakan kehancuran Gereja Katolik sebesar 

mungkin. 

Orang-orang Katolik tidak boleh sama sekali menghadiri Misa Baru Anti-Paus Paulus VI (Novus Ordo) 

dan harus menolak sama sekali Vatikan II dan ritus-ritus sakramen baru. Orang-orang Katolik harus 

menolak sama sekali Anti-Paus Paulus VI sebab  ia yaitu  seorang Anti-Paus. Orang-orang Katolik harus 

menolak dan tidak boleh mendukung sama sekali kelompok apa pun yang menerima orang yang murtad 


204 

 

ini sebagai Paus yang valid, atau yang menerima Misa Baru ataupun Vatikan II ataupun ritus-ritus 

sakramen Baru Paulus VI. 

TANDA TANGAN PAULUS VI MEMUAT TIGA ANGKA 6 

 

 

Ini yaitu  gambar dari tanda tangan Anti-Paus Paulus VI. Jika anda membalikkannya, anda akan melihat 

dengan jelas bahwa ada  tiga angka 6. Foto yang di bawah yaitu  namanya yang terbalik jika 

diperbesar. Ketiga angka 6 di sini sangat jelas. Setahu kami, ini yaitu  bagaimana tanda tangan Paulus VI 

selalu tampak. 

15. Skandal-Skandal dan Bidah-Bidah 

Yohanes Paulus I 

“Ia dapat dan memang menerima orang-orang yang bercerai. Ia juga dengan mudah 

menerima orang-orang yang tinggal di dalam hal yang disebut Gereja ‘dosa.’”1 (Romo 

Mario Senigaglia, sekretaris Yohanes Paulus I sewaktu ia menjabat sebagai ‘Patriark’ 

Venesia) 

 

Yohanes Paulus I (Albino Luciani) 

Pria yang mengaku sebagai Paus antara Paulus VI dan Yohanes Paulus VI selama 33 hari di tahun 1978... 

Albino Luciani (Yohanes Paulus I) terlahir sebagai putra seorang aktivis Sosialis.2 Yohanes XXIII secara 

pribadi mengonsekrasikan Luciani sebagai seorang uskup pada tanggal 27 Desember 1958.3 Luciani 

dijadikan sebagai seorang ‘Kardinal’ oleh Paulus VI.4 

Luciani menjalin persahabatan dengan banyak orang non-Katolik. Phillip Potter, Sekretaris Konsili 

Gereja-Gereja Sedunia , pernah menjadi tamu di rumahnya. Tamu-tamu lainnya termasuk para Yahudi, 

Anglikan dan orang-orang ‘Kristen’ Pentakosta. Ia telah melakukan tukar-menukar buku dan surat-

menyurat bersama Hans Kung.5 

Luciani (Yohanes Paulus I) telah beberapa kali mengutip Hans Kung secara positif di dalam khotbah-

khotbahnya.6 (Untuk orang-orang yang tidak tahu, Hans Kung menolak Keilahian Kristus.) Luciani “sadar 

bahwa jumlah orang awam Katolik yang ia kenal yaitu  anggota dari berbagai loji-loji (Masonik) – 

sebagaimana ia memiliki teman-teman Komunis.”7 

Luciani membuat sebuah studi yang menyeluruh tentang ‘orang tua yang bertanggung jawab’ dan 

berkonsultasi dengan berbagai dokter dan teolog. Seperti Yohanes XXIII dan Paulus VI, Luciani telah 

mempelajari kemungkinan digunaannya ‘pil’ sebagai metode ‘alamiah’ untuk mengatur kelahiran.8 

Mereka yang telah terjerumus kepada penggunaan kontrasepsi artifisial dan lalu pergi mengakui dosa 

berpendapat bahwa Luciani ‘sangat penuh kasih sayang’.9 


211 

 

Di bulan April 1968, Albino Luciani menuliskan dan menyerahkan sebuah laporan kepada Paulus VI yang 

menyarankan agar Gereja Katolik menyetujui penggunaan pil anovulan {yang mencegah indung untuk 

melepaskan sel telur agar dapat dibuahi sperma} yang dikembangkan oleh Profesor Pincus. Luciani 

menyarankan agar pil ini menjadi pil pengendalian kelahiran Katolik.10 United Press International (UPI) 

menemukan bahwa Luciani telah mengedepankan sebuah peraturan Vatikan yang menyetujui 

pengendalian kelahiran artifisial. Surat-surat kabar Italia juga membawa cerita-cerita. Untuk mendukung 

cerita ini , surat-surat kabar ini  merujuk kepada dokumen Luciani yang dikirimkan kepada 

Paulus VI oleh ’Kardinal’ Urbani dari Venesia, di mana telah dimuat sebuah saran yang kuat untuk 

menyetujui pil kontrasepsi.11 

Lalu di masa ‘kepausannya’ – sewaktu ia menjadi ‘Yohanes Paulus I’ – Luciani sering mengutip dari 

pernyataan-pernyataan serta ensiklik-ensiklik Paulus VI. Yohanes Paulus I tidak pernah merujuk kepada 

Humanae Vitae, suatu hal yang mencolok.12 

Pada tanggal 13 April 1968, Luciani berbicara kepada orang-orang dari kota Vittorio Veneto tentang isu 

pengendalian kelahiran.13 Luciani membuat pernyataan-pernyataan berikut: 

“Lebih mudah di masa kini, akibat kekacauan yang disebabkan oleh pers, untuk menemukan 

orang-orang yang menikah yang tidak percaya bahwa mereka berdosa. Jika hal ini terjadi, 

mungkin baik halnya, di bawah keadaan-keadaan yang biasa, agar mereka tidak diganggu... 

“Mari berdoa agar Tuhan dapat membantu Paus untuk mengatasi pertanyaan ini [apakah orang-

orang Katolik seharusnya dapat melakukan pengendalian kelahiran artifisial]. Mungkin tidak 

pernah sebelumnya ada  pertanyaan yang benar-benar sesulit ini untuk Gereja – akibat 

kesulitan-kesulitan intrinsiknya maupun untuk dampak-dampaknya yang banyak yang 

memengaruhi masalah-masalah lain, dan sebab  hal ini  sangat dirasakan oleh banyak 

orang.”14 

Sewaktu Albino Luciani menjadi ‘Patriark’ Venesia, sekretaris pribadinya yaitu  Romo Mario Senigaglia. 

Senigaglia berdiskusi bersama Luciani (keduanya memiliki hubungan yang menyerupai ayah dan anak) 

tentang berbagai kasus moral yang menyangkut anggota-anggota Gereja. Luciani selalu menyetujui 

pandangan liberal Senigaglia. Senigaglia berkata: “Ia yaitu  seorang pria yang sangat pengertian. Banyak 

kali saya ingin mendengarnya berkata kepada pasangan-pasangan, ‘Kita membuat seks satu-satunya 

dosa, padahal hal ini  bersangkutan dengan kelemahan dan keringkihan manusiawi dan maka 

mungkin yaitu  yang terkecil dari dosa-dosa.’”15 

Senigaglia menegaskan bahwa pandangan pribadi Luciani tentang perceraian akan mengagetkan para 

kritiknya: “Ia dapat dan memang menerima orang-orang yang bercerai. Ia juga dengan mudah 

menerima orang-orang yang tinggal di dalam hal yang disebut Gereja ‘dosa’.”16 

Ia juga mempromosikan ekumenisme sesat. “Pada masa sembilan tahunnya [sebagai “Patriark” 

Venesia] ia menyelenggarakan lima konferensi ekumenis, termasuk pertemuan Komisi 

Internasional Anglikan-Katolik Roma yang mengeluarkan sebuah pernyataan akan persetujuan 

bersama atas otoritas di tahun 1976...”17 

  


212 

 

LUCIANI TENTANG ORGANISASI INTERNASIONAL BARU 

Luciani: “Sebuah perlucutan senjata yang bertahap, dikontrol, dan universal mungkin terjadi 

hanya jika muncul sebuah organisasi internasional dengan kekuatan dan kemampuan untuk 

mengeluarkan sanksi yang lebih efesien dibandingkan  Perserikatan Bangsa-Bangsa...”18 

LUCIANI TENTANG UMAT KRISTIANI 

Mengutip Gandhi, Luciani berkata: “Saya mengagumi Kristus namun  tidak orang-orang Kristiani.”19 Pada 

sebuah khotbah Paskah pada tahun 1976, Luciani mengeluarkan pernyataan berikut: 

“Jika moralitas Kristiani mengadopsikan teori perang yang benar {bahwa perang yaitu  benar secara 

moral jika memenuhi kriteria tertentu}, maka Gereja mengizinkan legalisasi dari pelacuran (bahkan di 

dalam Negara-negara Kepausan), walaupun tentunya tidak diizinkan pada tingkat moral.”20 

yaitu  sebuah penistaan untuk menyatakan bahwa Gereja Katolik mengizinkan legalisasi pelacuran. 

Sebagai Patriark Venesia, pada tanggal 24 Desember 1977, Albino Luciani menyatakan hal berikut 

tentang Revolusi Prancis: ”...intensi-intensi mereka yang telah menyemangati pemberontakan dan 

revolusi pada awalnya yaitu  sangat baik, dan semboyan yang diproklamasikannya yaitu  ‘Kebebasan, 

Persaudaraan, dan Keadilan.’”21 

Tidak lama sebelum konklaf tahun 1978, Luciani diberi pertanyaan atas opininya akan bayi tabung 

pertama, Louise Brown. Sewaktu berbicara tentang bayi tabung ini  dan orang tuanya, Luciani 

berkata: “Dengan mengikuti contoh dari Allah, yang menginginkan dan mencintai hidup manusia, saya 

juga memberi  harapan terbaik saya untuk sang bayi. Sedangkan untuk orang tuanya, saya tidak 

mempunyai hak untuk menghakimi mereka; secara subjektif, jika mereka berlaku dengan intensi-intensi 

baik dan di dalam itikad baik, mereka mungkin memiliki pahala besar dari Allah untuk apa yang 

mereka telah putuskan dan mintakan agar sang dokter lakukan.”22 

Luciani telah melaksanakan lebih dari ‘Kardinal’ lain semangat dari Konsili Vatikan Kedua Yohanes 

XXIII.23 Yohanes Paulus I menolak tiara kepausan dan menggantikan upacara pemahkotaan dengan 

sebuah perayaan yang sederhana.24 Tiara yang telah dijual Paulus VI sekarang digantikan dengan sebuah 

pallium, sebuah stola putih dari wol yang ia pakai di sekeliling bahunya.25 

Yohanes Paulus I mengatakan hal-hal berikut di dalam pidato pertamanya untuk mengumumkan 

program ‘kepausannya’: 

1) “Gema dari kehidupan sehari-harinya memberi  kesaksian bahwa, walaupun ada  banyak 

rintangan, ia (Gereja) tinggal di dalam hati para manusia, bahkan mereka yang tidak membagikan 

kebenarannya atau menerima pesannya.”26 

2) ”...Konsili Vatikan Kedua (yang ajaran-ajarannya hendak kami kerjakan di dalam seluruh 

pelayanan kami)...”27 

3) “Kami berharap melanjutkan keberlangsungan warisan dari Konsili Vatikan Kedua. Norma-

normanya yang bijaksana harus diikuti dan disempurnakan.”28 

4) ”...kami memprioritaskan revisi kedua Hukum Kanonik: yaitu dari tradisi timur dan dari tradisi 

barat...”29 

5) “Kami berharap dapat melanjutkan dorongan ekumenis, yang kami anggap sebagai perintah 

dari para Pendahulu kami secara langsung.”30 


213 

 

Pada saat Pelantikan Yohanes Paulus I, ia berkata: “Kami juga menyambut dengan hormat dan kasih 

seluruh manusia di dunia. Kami memandang mereka dan mencintai mereka sebagai saudara-saudara 

kami, sebab  mereka yaitu  anak-anak dari Bapa surgawi yang sama dan saudara-saudara dalam Kristus 

Yesus.”31 

Sewaktu berbicara kepada seorang teman tentang Patriark skismatis dari Moskwa, Nikodem, 

Yohanes Paulus I menyebutnya ‘sungguh-sungguh seorang santo’.32 

Di dalam sebuah surat kepada patriak skismatis dari Moskwa yang baru tentang patriark skismatis 

Moskwa yang baru saja meninggal, Yohanes Paulus I berkata: 

”...kami mengungkapkan kepada Yang Mulia dan kepada Sinode Suci Gereja Ortodoks Russia 

belasungkawa kami yang tulus. Kami berjanji kepada anda untuk mendoakan agar jiwa dari 

pelayan yang berbakti kepada Gerejanya serta pembangun hubungan yang semakin 

mendalam antara Gereja kami ini mendapat  istirahat. Semoga Allah menerimanya kedalam 

sukacita-Nya serta damai-Nya.”33 

Yohanes Paulus I menyebut sang skismatis Russia yang meninggal, yang menolak Infalibilitas Kepausan 

dan ketiga belas konsili-konsili dogmatis terakhir (termasuk ajaran-ajaran Katolik lain), ‘pelayan yang 

berbakti kepada Gerejanya’. 

Yohanes Paulus I ‘percaya akan pembagian kekuasaan yang lebih besar dengan para uskup di seluruh 

dunia dan berrencana untuk mendesentralisasikan struktur Vatikan’.34 

Yohanes Paulus I berkata, “Gereja tidak seharusnya memiliki kekuatan ataupun kekayaan... Betapa 

indahnya jika Paus sendiri menanggalkan semua kekuatan temporalnya!”35 Yohanes Paulus I 

berkata kepada badan diplomatis bahwa Vatikan menanggalkan semua klaimnya atas kekuatan 

temporal.36 

Paus Pius IX, Nullis Certe Verbis (#1), 19 Januari 1860: 

”...di dalam surat-surat yang baik yang dikirimkan kepada Kami dan lewat surat-surat 

penggembalaan dari tulisan-tulisan rohani dan terdidik yang lain, anda dengan keras mencela 

serangan-serangan yang nista yang ditujukan kepada kekuatan sipil Gereja Roma. Dan dalam 

melindungi kekuasaan ini, anda menyatakan dan mengajarkan bahwa Allah memberi  

kekuatan sipil kepada Paus Roma, agar ia, yang tidak pernah tunduk kepada kekuatan mana 

pun, dapat melaksanakan dalam kebebasan penuh dan tanpa hambatan tugas tertinggi dari 

penggembalaan apostolik ilahi yang dilimpahkan kepadanya oleh Kristus Tuhan Kami.”37 

Yohanes Paulus I sering berbicara tentang Paulus VI dengan kekaguman dan kasih sayang: ”Ia yaitu  

seorang Paus yang agung dan banyak menderita. Ia tidak dimengerti...”38 

Yohanes Paulus I juga berbicara tentang Allah sebagai ‘ibu’.  

Yohanes Paulus I, Pesan Angelus, 10 September 1978: 

“Ia (Allah) yaitu  bapa kita; terlebih lagi Ia yaitu  ibu kita.”39 

Di dalam Audiens Umum-nya pada tanggal 13 September 1978, Yohanes Paulus I berbicara tentang 

kebenaran-kebenaran yang tidak dapat berubah dan berkata: 


214 

 

“Hal ini  yaitu  kebenaran-kebenaran: kita harus berjalan di jalan kebenaran-kebenaran 

ini , dengan semakin memahami mereka, membarui pengetahuan kita sendiri, dan 

mengusulkan mereka {kebenaran-kebenaran itu} di dalam bentuk yang sesuai dengan waktu. 

Paus Paulus juga memiliki pikiran yang sama.”40 

Pada bulan September 1978, Luciani didengar di dalam apartemen Paus berbicara dengan Sekretaris 

Negaranya, ‘Kardinal’ Villot: “Saya akan senang berbicara tentang perwakilan Amerika Serikat ini tentang 

isu ini . Di dalam pikiran saya kita tidak boleh meninggalkan keadaan ini  seperti yang ada 

sekarang.” ‘Isu’ ini  yaitu  populasi dunia. ‘Keadaan’ ini  yaitu  Humanae Vitae.41 

Perubahan utama yang ia prioritaskan yaitu  untuk mengubah seara radikal hubungan Vatikan dengan 

kapitalisme dan meringankan apa yang ia pandang sebagai penderitaan yang berakar secara langsung 

dari Humanae Vitae.42 [Kami ingin memperjelas bahwa kami tidak mengatakan bahwa Humanae Vitae 

yaitu  sebuah dokumen yang baik. Tidak sama sekali. Humanae Vitae mengajarkan bahwa pasangan-

pasangan dapat memakai  pengendalian kelahiran ‘alamiah’ dan tidak memiliki anak sama sekali, 

seperti yang dibahas di dalam buku ini. Poinnya yaitu  bahwa Humanae Vitae memang mengecam 

pengendalian kelahiran artifisial, dan Yohanes Paulus I sangat menentang Humanae Vitae sebab  alasan 

ini .] 

Pada bulan Mei 1978, Luciani telah diundang untuk menghadiri dan berbicara pada sebuah kongres 

internasional yang diadakan di Milan pada tanggal 21-22 Juni. Tujuan utama dari kongres ini  

yaitu  untuk merayakan ulang tahun ensiklik Humanae Vitae. Luciani mengumumkan bahwa ia tidak 

akan berbicara pada kongres ini  dan ia tidak akan menghadirinya.43 

Pada tanggal 19 September 1978, Yohanes Paulus I menghadiri pertemuan dengan Sekretaris Negaranya 

‘Kardinal’ Villot. Yohanes Paulus I berkata: 

“Yang Mulia, kami telah mendiskusikan pengendalian kelahiran selama empat puluh lima menit. 

Jika informasi yang telah diberikan kepada saya, berbagai statistik, jika informasi ini  akurat, 

maka dalam kurun waktu di mana kita berbicara ini, lebih dari seribu anak di bawah lima tahun 

telah mati akibat kekurangan gizi. Selama empat puluh lima menit berikut sewaktu anda dan saya 

melihat ke depan untuk mengantisipasi makanan kita selanjutnya, seribu anak yang lain akan 

mati akibat kekurangan gizi. Pada jam ini besok, tiga puluh ribu anak yang pada hari ini masih 

hidup, akan mati – sebab  kekurangan gizi. Allah tidak selalu menyediakan.”44 

Vatikan mengaku bahwa Yohanes Paulus I meninggal akibat sebuah serangan jantung yang besar sekitar 

pukul 11 malam pada tanggal 28 September 1978.45 

Kami telah membuktikan bahwa Yohanes Paulus I yaitu  seorang bidah terang-terangan yang, antara 

lain, menyetujui secara penuh indiferentisme keagamaan dan ekumenisme sesat dari Konsili Vatikan 

Kedua. sebab  ia yaitu  seorang bidah, ia tidak dapat dipilih secara valid sebagai Paus. Ia yaitu  seorang 

Anti-Paus non-Katolik. 

  

 

16. (1978-

2005) – Pria yang Paling Sering Menjelajah 

Dunia dan Kemungkinan Bidah Terbesar di 

dalam Sejarah 

Maestro Yahudi Gilbert Levine bercerita kepada Larry King dari CNN tentang Yohanes 

Paulus II: 

“KING: Sri Paus mengucapkan selamat untuk bar mitzvah [upacara agama Yahudi 

untuk anak laki-laki yang menginjak masa remaja] anak-anak anda? 

“LEVINE: Ia bukan hanya menyelamati kami, ia juga mengirimkan sebuah menorah 

kepada kami. 

“KING: Ia mengirimkan kalian sebuah menorah? 

“LEVINE: Sebenarnya, ia memberi nya kepada kami, ia tidak mengirimkannya. Ia 

benar-benar memberi  kami sebuah menorah. Ia mengirimkan sepucuk surat 

untuk menandai acara bar mitzvah dari masing-masing putra saya. Ia juga 

memerintahkan kardinal yang bertugas atas hubungan Katolik/Yahudi untuk 

mengirimkan sepucuk surat yang dibaca keras-keras di depan sinagoga Ortodoks 

saya pada acara bar mitzvah putra saya baru-baru ini, dan bapak rabi 

membacakannya seakan-akan surat ini  datang dari seorang rabi.”1 

 

Karol Wojtyla (Yohanes Paulus II) mengaku diri sebagai Paus dari 

tahun 1978-2005 


 


218 

 

 

Yohanes Paulus II mengajarkan keselamatan universal, gagasan bahwa 

semua manusia akan diselamatkan 

 

Yohanes Paulus II dikelilingi orang-orang muda 

Satu-satunya kesulitan dalam hal membahas yaitu  memutuskan dari 

mana kita harus membahasnya. begitu banyaknya sehingga orang hampir 

kewalahan untuk memutuskan di mana diskusi ini harus bermula. Gagasan bahwa semua manusia 

diselamatkan bertentangan dengan perkataan Injil yang jelas serta dogma-dogma Katolik yang banyak 

jumlahnya, terutama dogma-dogma yang menyatakan bahwa Di Luar Gereja Katolik tidak ada  

keselamatan dan bahwa semua orang yang meninggal dalam dosa asal atau dosa berat tidak dapat 

diselamatkan. 

Paus Gregorius X, Konsili Lyon II. 1274, ex cathedra: 

“Jiwa-jiwa dari orang-orang yang meninggal dalam dosa berat atau hanya di dalam dosa asal ... 

langsung turun ke dalam Neraka, bagaimanapun, mereka akan dihukum dengan hukuman yang 

berbeda-beda.”2 

namun , Yohanes Paulus II percaya dan mengajarkan bahwa dalam Penjelmaan, Putra Allah menyatukan 

diri-Nya sendiri dengan setiap manusia di dalam suatu persatuan yang tidak terpecahkan, yang, menurut 

Yohanes Paulus II memustahilkan orang untuk masuk Neraka. Yohanes Paulus II secara terang-terangan 

mengajarkan bahwa persatuan antara Kristus dan setiap manusia berlangsung untuk selamanya. 

Yohanes Paulus II, Redemptor Hominis (#13), 4 Maret 1979: 

“Kami sedang membahas setiap manusia, sebab setiap orang diikutsertakan di dalam misteri 

Penebusan dan dengan setiap orang Kristus telah menyatukan diri-Nya sendiri untuk selamanya 

melalui misteri ini.”3 

Yohanes Paulus II, Redemptoris Missio (#4), 7 Desember 1990: 

“Peristiwa Penebusan membawa keselamatan kepada semua orang, ‘sebab setiap orang 


219 

 

diikutsertakan dalam misteri Penebusan dan dengan setiap orang Kristus telah menyatukan diri-

Nya sendiri untuk selamanya melalui misteri ini.’”4 

Yohanes Paulus II, Centesimus Annus (#53): 

“Di sini Kami tidak sedang berbicara tentang manusia dalam ‘keabstrakan’, melainkan tentang 

manusia yang nyata, ‘konkret’, ‘bersejarah’. Kami sedang berbicara tentang setiap individu, sebab 

setiap individu diikutsertakan di dalam misteri Penebusan dan melalui misteri ini Kristus telah 

menyatukan diri-Nya sendiri dengan setiap orang untuk selamanya.”5 

Perhatikan kata-kata “untuk selamanya” di dalam ketiga kutipan ini. Ya, di dalam tiga surat ensiklik yang 

berbeda, Yohanes Paulus II menyatakan secara terang-terangan bahwa setiap manusia bersatu dengan 

Kristus untuk selamanya. Pernyataan ini berarti bahwa semua manusia diselamatkan. Neraka yaitu  

perpisahan kekal dari Allah, namun  tidak seorang pun terpisah dari Allah menurut Yohanes Paulus II. 

Semua orang disatukan dengan Allah untuk selamanya. Inilah keselamatan universal. 

ada  banyak kutipan lain yang dapat kami ajukan untuk membuktikan bahwa Yohanes Paulus II 

mengajarkan bahwa semua manusia diselamatkan. Contohnya, pada tahun 1985, Yohanes Paulus II 

mengajarkan bagaimana Darah Kristus yang menyelamatkan bukan semata-mata tersedia untuk semua 

orang (hal ini benar), namun  bahwa Darah Kristus sungguh mencapai semua orang dan menyelamatkan 

semua orang. 

Yohanes Paulus II, Homili, 6 Juni 1985: 

“Ekaristi yaitu  sakramen dari perjanjian Tubuh dan Darah Kristus, dari perjanjian yang kekal. 

Perjanjian ini merangkul semua orang. Darah ini mencapai semua orang dan menyelamatkan 

semua orang.”6 

Ajaran dogmatis Gereja Katolik berkontras dengan ajaran Yohanes Paulus II ini. Gereja Katolik 

menegaskan bahwa Darah Kristus tidak mencapai semua orang ataupun menyelamatkan semua orang. 

Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 6, ex cathedra: 

“namun  walaupun Kristus wafat untuk semua orang, tidak semua orang menerima jasa dari 

kematian-Nya, melainkan hanya mereka yang telah disampaikan jasa dari Sengsara-Nya.”7 

Orang-orang yang menerima manfaat jasa kematian Kristus hanyalah orang-orang yang terbebas dari 

dosa asal melalui Pembaptisan, dan bersatu dengan-Nya melalui sakramen-sakramen dan iman yang 

sejati. 

Yohanes Paulus II, Homili, 27 April 1980: 

” ... di dalam diri-Nya, Yesus membuat kita kembali menjadi anak-anak dari Bapa-Nya yang Kekal. 

Ia memperolehkan, sekali untuk selama-lamanya, keselamatan bagi manusia: bagi setiap 

manusia dan semua manusia ....”8 

Yohanes Paulus II, Audiensi Umum, 27 Desember 1978: 

”Yesus yaitu  Pribadi Kedua dari Allah Tritunggal Mahakudus yang menjadi 

manusia; dan oleh sebab  itu, di dalam Yesus, kodrat manusia dan dengan 

demikian segenap kemanusiaan ditebus, diselamatkan, dipermuliakan 


220 

 

sampai mengambil bagian dalam ‘kehidupan ilahi’ melalui sarana 

Rahmat.”9 

Di sini Yohanes Paulus II menjelaskan bahwa segenap kemanusiaan telah diselamatkan dan 

pada saat ini mengambil bagian dalam kehidupan ilahi. Frase “mengambil bagian dalam 

kehidupan ilahi” mengacu kepada keadaan pembenaran atau keadaan rahmat pengudusan. 

Dengan berkata bahwa segenap kemanusiaan mengambil bagian di dalam kehidupan ilahi, 

Yohanes Paulus II berkata bahwa semua umat manusia berada di dalam keadaan rahmat! 

Pernyataan itu berarti bahwa tidak seorang pun berada dalam dosa berat ataupun dosa 

asal. 

 

Dengan doktrin semacam ini, siapakah yang tidak akan dicintai dunia? Yohanes Paulus II dicintai dan 

disukai oleh banyak orang, sebab  ia menerima agama semua orang dan mengajarkan bahwa semua 

orang disatukan dengan Kristus tidak peduli apa kepercayaan atau perbuatan mereka. Indiferentisme 

keagamaan ini merupakan ciri khas keantipausannya. 

Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa Roh Kudus yaitu  sumber Agama-

Agama Non-Kristiani 

Di samping doktrin keselamatan universalnya serta pembenaran universalnya yang mencengangkan, 

ada  banyak bidah lain dari Yohanes Paulus II yang perlu kita cermati. Bidah yang terutama 

diajarkannya yaitu  ajarannya tentang Pribadi Ketiga dari Allah Tritunggal Mahakudus, yakni Roh 

Kudus. Apa yang diajarkan oleh Yohanes Paulus II tentang Roh Kudus merupakan penghujatan dan bidah 

yang sedemikian besarnya sehingga ajaran ini kemungkinan merupakan bidahnya yang terburuk. 

Yohanes Paulus II, Redemptor Hominis (#6), 4 Maret 1979: 

“Tidakkah hal ini kadang kala terjadi, bahwa keyakinan yang teguh dari 

para pengikut agama-agama non-Kristiani – keyakinan yang juga 

merupakan hasil dari Roh Kebenaran yang bekerja di luar batasan-

batasan Tubuh Mistis yang kelihatan ....”10 

Yohanes Paulus II berkata bahwa keyakinan yang teguh dari para pengikut agama-agama non-Kristiani 

berasal dari Roh Kudus, Roh Kebenaran. sebab  kita mengetahui atas dasar Kitab Suci dan ajaran Katolik 


221 

 

bahwa Setan yaitu  sumber segala agama non-Kristiani, apa yang sedang dikatakan oleh Yohanes Paulus 

II ini yaitu  bahwa Roh Kudus, Roh Kebenaran, sesungguhnya yaitu  roh kebohongan: Setan. 

Pernyataannya ini yaitu  suatu penghujatan yang luar biasa terhadap Allah. 

Kitab Suci dan Tradisi mengajarkan kita bahwa semua agama non-Kristiani yaitu  milik iblis, dan “ilah-

ilah” yang mereka sembah sesungguhnya yaitu  roh-roh jahat. 

Mazmur 96:5- ““Segala ilah orang-orang pagan yaitu  roh-roh jahat ….” 

1 Korintus 10:20- “namun  hal-hal yang dipersembahkan oleh para penyembah berhala yaitu  

persembahan kepada roh-roh jahat dan bukan kepada Allah. Dan aku tidak ingin kalian menjadi 

sekutu roh-roh jahat.” 

Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa keyakinan dalam agama-agama ini merupakan hasil dari Roh 

Kebenaran, dan itulah mengapa ia berulang kali memuji, mempromosikan, dan bahkan berdoa bersama 

para anggota dan pemimipin agama-agama non-Kristiani. 

 

Yohanes Paulus II dengan para Animis dari Afrika (dukun-dukun) 

Hal ini akan dibahas secara lebih rinci lalu  

Yohanes Paulus II, Redemptoris Missio (#29), 7 Desember 1990: 

“Hubungan Gereja dengan agama-agama lain didiktekan oleh rasa hormat yang berganda: 

‘Rasa hormat terhadap manusia dalam pencariannya untuk jawaban-jawaban yang terdalam di 

dalam kehidupnya, dan rasa hormat terhadap perbuatan Roh di dalam diri manusia.’”11 

Di sini Yohanes Paulus II berkata bahwa rasa hormat terhadap agama-agama non-Kristiani didiktekan 

oleh rasa hormat terhadap perbuatan Roh di dalam diri manusia. Pernyataan ini jelas berarti bahwa Roh 

merupakan sumber agama-agama non-Kristiani ini, yang sekali lagi berarti bahwa Roh Kudus harus 

dianggap sebagai roh kebohongan: Setan. 

Yohanes Paulus II, Redemptoris Missio (#56), 7 Desember 1990: 

“Agama-agama lain tergolong tantangan yang positif bagi Gereja: mereka mendorong 

Gereja untuk menemukan dan mengakui tanda-tanda kehadiran Kristus dan karya yang 

dikerjakan Roh.”12 


222 

 

Yohanes Paulus II berkata bahwa agama-agama lain mendorong kita untuk menemukan kehadiran dan 

karya yang dikerjakan Roh. Pernyataan ini berarti bahwa agama-agama non-Kristiani yaitu  hasil karya 

Roh – Roh Kudus – yang sekali lagi menyetarakan Roh Kebenaran dengan roh kebohongan: Setan. 

Yohanes Paulus II mengajarkan dan mempraktikkan Indiferentisme 

Keagamaan secara penuh 

Paus Pius IX, Qui Pluribus (#15), 9 November 1846: 

“Demikianlah pula tujuan dari sistem yang mengerikan itu, yakni indiferentisme terhadap 

segala agama, yang secara mutlak bertentangan dengan terang dari akal budi sendiri. Di 

dalam sistem yang menakutkan ini, para rasul kesesatan menghapuskan segala perbedaan antara 

kebajikan dan kefasikan, kebenaran dan kesalahan, kelurusan dan kebejatan, dan mengemukakan 

bahwa manusia dapat memperoleh keselamatan abadi di dalam agama apa pun, seolah-olah 

mungkin terjadi persetujuan antara keadilan dan kefasikan, antara terang dan kegelapan, 

antara Kristus dan Belial.”13 

Indiferentisme keagamaan Yohanes Paulus II kemungkinan merupakan ciri yang paling umum dari karya 

tulis dan pidato-pidatonya yang begitu banyak. Ia terus-menerus memuji dan menghormati agama-

agama non-Kristiani, dan dengan demikianm ia menolak Allah Tritunggal Mahakudus serta perlunya 

kepercayaan akan agama Katolik yang satu dan sejati, sembari mengolok-olok kematian para martir. 

Yohanes Paulus II, Sambutan di Bandara Korea, 3 Mei 1984: 

“Bangsa anda yaitu  bangsa yang bangga dan kukuh ... yang menghasilkan buah-buah yang 

sangat baik dalam bidang seni, agama, dan kehidupan manusia. Leluhur anda merangkul 

realitas-realitas kerohanian yang sangat banyak seperti Konfusianisme dan Buddhisme, 

namun demikian, mereka menjadikan realitas-realitas itu sebagai milik diri mereka 

sendiri, yang mereka perdalam, jalankan, dan bahkan sebarkan kepada orang-orang lain. 

Wonhyo dan Sosan ... dengan fasih mengutarakan prestasi ini.”14 

Kata “prestasi” berarti suatu pencapaian. Maka Yohanes Paulus II berkata bahwa agama-agama sesat 

Buddhisme dan Konfusianisme ini merupakan buah-buah yang sangat baik dalam hal agama dan 

kenyataan bahwa orang-orang Korea menyebarkan agama-agama milik Setan ini kepada orang-orang 

lain yaitu  suatu pencapaian! 

Paus Gregorius XVI, Probe Nostis (#6), 18 September 1840: 

“Kami bersyukur atas keberhasilan misi-misi apostolik di Amerika, di Hindia, dan berbagai tanah 

kafir lainnya ... Mereka mencari orang-orang yang duduk di dalam kegelapan dan bayangan 

maut demi memanggil mereka kepada terang dan kehidupan agama Katolik ... Pada akhirnya 

mereka merenggut orang-orang itu dari pimpinan Iblis, dengan permandian regenerasi dan 

mengangkat mereka sampai kepada kebebasan yang dimiliki oleh anak-anak angkat Allah.”15 

 


223 

 

Yohanes Paulus II di Kuil Buddhis 

Pada perjalanannya yang kedua ke benua Asia pada tahun 1984, Yohanes Paulus II mengunjungi Kuil 

Buddhis. Sebelum sampai ke Kuil ini , ia mengutarakan betapa rindunya dirinya untuk bertemu 

‘‘Paduka Suci, Patriark Buddhis yang tertinggi dalam Kuil”. Beberapa hari sebelum pergi ke Kuil Buddhis 

itu, Yohanes Paulus II berkata pula: 

Yohanes Paulus II, 6 Mei 1984:  

” ... dunia memandang Korea dengan suatu ketertarikan tertentu. Sebab bangsa Korea di 

sepanjang sejarah telah mencari, dalam visi-visi etika dan keagamaan yang agung dari Buddhisme 

dan Konfusianisme, jalan untuk memperbarui diri … Bolehkah saya menyampaikan salam 

yang istimewa kepada para anggota tradisi Buddhis sewaktu mereka bersiap diri 

merayakan pesta Kedatangan Tuan Buddha? Semoga kegembiraan anda menjadi genap dan 

semoga sukacita anda menjadi penuh.”16 

Yohanes Paulus II lalu masuk ke dalam kuil kemusyrikan itu dan menundukkan kepalanya kepada 

Patriark Buddhis yang berdiri di depan patung Buddha raksasa. Perbuatannya ini tergolong suatu tindak 

kemurtadan. 

 

Yohanes Paulus II di dalam sebuah Kuil Buddhis 

Yohanes Paulus II, Audiens Umum, 11 Januari 1995: 

“Saya dengan gembira memakai  kesempatan ini untuk meyakinkan mereka yang 

mengikuti agama Buddhis akan rasa hormat saya yang mendalam dan ketakziman saya 

yang tulus.”17 

-Paus Leo XIII, 8 Desember 1892: 

“Semua orang harus menghindari kedekatan atau persahabatan dengan setiap orang yang diduga 

merupakan bagian dari perkumpulan Masonik atau kelompok-kelompok yang berkaitan. 

Kenalilah mereka lewat buah-buah mereka dan hindari mereka. Setiap keakraban harus 

dihindari, bukan hanya dengan para penjangak fasik yang secara terbuka 

mempromosikan ciri khas dari sekte ini , namun  juga dengan mereka yang 

bersembunyi di balik topeng toleransi universal, rasa hormat terhadap semua agama ….”18 


224 

 

Yohanes Paulus II, Homili, 12 April 1997: 

” ... Gereja, yang hanya mencari kemampuan untuk dapat berkhotbah secara bebas ... dengan rasa 

hormat terhadap ... setiap agama.”19 

 

  


225 

 

Yohanes Paulus II menerima tanda dari para penyembah Siwa 

 

Pada tanggal 2 Februari 1986, Yohanes Paulus II menerima Tilaka di dahinya. Ini yaitu  adonan 

berbubuk yang berwarna merah, yang digunakan oleh orang-orang Hindu, tanda penghormatan bagi 

para penyembah Siwa. Ini yaitu  penyembahan berhala dan kemurtadan total. 

  


226 

 

Yohanes Paulus II menghormati Gandhi, seorang Hindu 

Pada bulan Maret 1986, Yohanes Paulus II mengunjungi New Delhi, India, tempat di mana Mahatma 

Gandi, seorang Hindu, dikremasikan. Mahatma Gandhi yaitu  seorang kafir dan penyembah berhala yang 

menyembah ilah-ilah sesat. 

Yohanes Paulus II melepaskan sepatunya di depan monumen Gandhi dan menyatakan: “Pada hari ini, 

sebagai ziarah perdamaian, saya telah datang ke sini untuk menghormati Mahatma Gandhi, pahlawan 

kemanusiaan.”20 

Menurut Yohanes Paulus II, seorang penyembah berhala dan kafir yaitu  seorang “pahlawan 

kemanusiaan”. 

 

 

Seperti yang kita lihat di sini, Yohanes Paulus II juga menebarkan bunga-bunga di atas makam Gandhi 

untuk menghormati dan memperingati orang kafir itu. St. Thomas Aquinas menjelaskan bahwa 

sebagaimana pernyataan-pernyataan sesat dapat dibuat, demikian pula ada  perbuatan-perbuatan 

yang sesat dan murtad dapat dilakukan. 

St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. I-II Pertanyaan 103, Artikel 4: 

“Saya menjawab, bahwa segala upacara yaitu  semacam perwujudan iman, yang merupakan 

bagian yang terutama dari penyembahan Allah secara batiniah. namun , manusia dapat 


227 

 

mewujudkan iman batiniahnya, baik melalui perbuatan maupun perkataan; dan di dalam 

salah satu pun dari kedua perwujudan ini , jikalau seorang manusia mewujudkan sesuatu 

yang sesat, ia berdosa berat.”21 

St. Thomas bahkan memberi  kita suatu contoh: 

St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. II-II Pertanyaan 12, Artikel 1, Penolakan 2: 

” ... seandainya seseorang ... menghormati kubur Muhammad, ia akan dianggap sebagai seorang 

pemurtad.”22 

Seseorang dapat mewujudkan kemurtadannya melalui kata-kata atau melalui perbuatan. Melalui apa 

yang diperbuatnya, di samping apa yang dikatakannya, Yohanes Paulus II mewujudkan suatu hal yang 

setara dengan menghormati kubur Muhammad. Ia menghormati seorang Hindu.  

Kemurtadan Yohanes Paulus II di Assisi 

 

Pada tanggal 27 Oktober 1986, Yohanes Paulus II mengundang para pemimpin yang terkemuka dari 

agama-agama sesat dunia untuk datang ke Assisi, di Italia untuk Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian. 

Yohanes Paulus II berdoa bersama lebih dari 100 pemimpin agama sesat, dan dengan demikian, ia 

menolak ajaran Kitab Suci serta ajaran Gereja Katolik selama 2000 tahun yang melarang doa semacam itu 

dengan agama-agama sesat. 

Doa sepanjang hari yang dilangsungkan bersama orang-orang pagan, orang-orang kafir, dan para bidah 

itu yaitu  gagasan Yohanes Paulus II. Pada saat pertemuan ini, Dalai Lama menempatkan sebuah patung 

Buddhis di atas tabernakel di gereja St. Fransiskus. 

  


228 

 

Patung Buddha di atas Tabernakel di Assisi 

 

Dari antara berbagai pemimpin agama sesat yang berhimpun di Assisi itu, ada  rabi, mufti Islam, 

biarawan Buddhis, Shintois, berbagai pelayan Protestan, Animis, Jainis, dan sebagainya. 

Di dalam pertemuan ini, setiap anggota dari agama-agama sesat itu maju dan memanjatkan doa untuk 

perdamaian – doa-doa yang penuh hujat, misalnya, doa Hindu di sana berkata “Damai kepada semua 

dewa-dewi.” (Pemimpin agama Animis berdoa kepada “Ibu Jari Besar.”) namun  dewa-dewi mereka 

yaitu  roh-roh jahat seperti yang kita lihat di atas, maka mereka berdoa untuk kepada semua roh 

jahat (yang menciptakan agama-agama sesat ini) pada Hari Doa Sedunia untuk Perdamaian yang 

disponsori Vatikan! Agama Vatikan II ingin agar anda bersekutu dengan roh-roh jahat. 

Pada tahun 1928, Paus Pius XI secara otoritatif mengutuk akivitas antaragama ini dan mencelanya 

sebagai suatu kemurtadan yang menyangkal Iman sejati. 

Paus Pius XI, Mortalium Animos (#2), 6 Januari 1928: 

“Oleh sebab itu, mereka mengadakan rapat-rapat, pertemuan-pertemuan, konferensi-konferensi yang 

dihadiri oleh para hadirin yang cukup banyak jumlahnya; orang-orang ini  mengundang untuk 

berdiskusi semua orang tanpa pandang bulu, orang-orang kafir dari segala kalangan, orang-orang 

Kristiani, dan bahkan mereka yang celaka akibat memisahkan diri dari Kristus atau yang dengan getir 

bersikeras menyangkal keilahian dari kodrat-Nya serta misi-Nya. Upaya-upaya semacam itu sama 

sekali tidak boleh disetujui oleh orang-orang Katolik, sebab  upaya-upaya ini  berlandaskan 

pendapat yang sesat bahwa semua agama kurang lebih baik dan terpuji, dan dalam arti bahwa 

semua agama menyingkapkan dan mengungkapkan, walaupun dengan cara yang berbeda-beda, nalar 

bawaan yang kodrati yang membawa kita kepada Allah dan yang membuat kita bertekuk lutut dengan 

penuh hormat di hadapan kuasa-Nya. Orang-orang ini  bukan hanya sepenuhnya tersesat di 

dalam kesalahan, namun  orang-orang yang menganut opini semacam itu juga menolak agama yang 

sejati; mereka menyesatkan gagasan tentang agama sejati dan sedikit demi sedikit jatuh ke dalam 

naturalisme dan ateisme. Jelas sekali, oleh sebab  itu, bahwa dengan bergabung bersama para 

pendukung dan penyebar doktrin-doktrin semacam itu, seseorang sepenuhnya meninggalkan 

agama yang diwahyukan secara ilahi.” 

Paus Pius XI, Mortalium Animos (#10): 

“Maka, Saudara-Saudara yang Terhormat, jelaslah mengapa Takhta Apostolik ini tidak pernah 

mengizinkan umat-umatnya untuk mengambil bagian di dalam perkumpulan-

perkumpulan orang-orang non-Katolik ....”23 


229 

 

Yohanes Paulus II, Sambutan Angelus, 12 Oktober 1986:  

“Dalam kurun waktu beberapa hari kita akan bepergian ke Assisi, para perwakilan dari Gereja 

Katolik, dari Gereja-Gereja Kristiani lainnya dan komunitas-komunitas gerejani, dan dari seluruh 

agama besar dunia ... Saya menyampaikan undangan ini kepada ‘seluruh umat beriman dari 

semua agama’.”24 

Yohanes Paulus II, Redemptoris Missio (#55), 7 Desember 1990:  

“Allah ... tidak gagal untuk membuat diri-Nya sendiri hadir di dalam berbagai cara, bukan 

hanya kepada individu-individu namun  juga kepada semua bangsa melalui kekayaan rohani 

mereka, di mana agama-agama mereka merupakan ungkapan yang terutama dan 

terhakiki ....”25 

Di sini kita kembali menemukan perwujudan yang jelas dari kemurtadan Yohanes Paulus II. Ia berkata 

bahwa Allah membuat diri-Nya sendiri hadir melalui kekayaan-kekayaan semua bangsa, yang 

terutama diungkapkan oleh agama-agama mereka. Maknanya yaitu  Allah membuat diri-Nya sendiri 

hadir kepada bangsa-bangsa melalui agama-agama non-Kristiani, yang berarti bahwa agama-agama non-

Kristiani merupakan agama-agama sejati dan diilhami oleh Allah. 

Paus Pius VIII, 24 Mei 1829: 

“Untuk melawan para sofis yang berpengalaman ini orang-orang harus diajarkan bahwa 

pengakuan iman Katolik yaitu  satu-satunya yang benar, seperti yang dinyatakan oleh sang 

rasul: satu Tuhan, satu iman, satu pembaptisan.”26 

Yohanes Paulus II, Sambutan, 22 Mei 2002:  

“Terpujilah kalian, para pengikut Islam ... Terpujilah kalian, orang-orang Yahudi ... Terpujilah 

kalian, terutama, Gereja Ortodoks ....”27 

Paus Gregorius XVI, Mirari Vos (#13), 15 Agustus 1832:  

“Hendaknya mereka sungguh-sungguh merenungkan kesaksian sang Juru Selamat sendiri, bahwa 

‘barang siapa tidak bersama Kristus, ia melawan Kristus’ (Lukas 11:23) dan barang siapa tidak 

memanen bersama-Nya akan tercerai-berai dengan tidak bahagia.  Dan itulah sebabnya, ‘jikalau 

mereka tidak menjaga iman Katolik utuh dan murni, tidak diragukan bahwa mereka akan 

binasa selamanya’”28 

Yohanes Paulus II, Redemptoris Missio (#10), 7 Desember 1990:  

“Universalitas keselamatan berarti bahwa keselamatan bukan hanya dianugerahkan kepada 

orang-orang yang secara eksplisit percaya akan Kristus dan telah masuk ke dalam Gereja.”29 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, Syahadat Atanasius yang dogmatis, 1439:  

“Barang siapa hendak diselamatkan harus di atas segala hal menganut iman Katolik. Jikalau 

seseorang tidak menjaga iman ini utuh dan murni, tidak diragukan bahwa ia akan binasa 

selamanya ... namun , yaitu  suatu hal yang juga diperlukan untuk keselamatan kekal, bahwa ia 

dengan setia percaya akan Penjelmaan Tuhan kita Yesus Kristus ....”30 

Pertemuan-pertemuan ekumenis lainnya dari Yohanes Paulus II 

Yohanes Paulus II melanjutkan program kemurtadannya yang liar, yang sepenuhnya dikutuk oleh ajaran 

Gereja Katolik, sesudah  acara Assisi. Yohanes Paulus II mensponsori pertemuan-pertemuan doa pagan di 


230 

 

Kyoto (1987), Roma (1988), Warsawa (1989), Bari (1990), dan Malta (1991), juga berbagai pertemuan 

sesudah  1991. 

 

Yohanes Paulus II sedang “diberkati” pada suatu ritus pagan oleh seorang dukun Indian pada tahun 

198731 

Ada suatu pertemuan doa pagan pada tahun 1999 yang sungguh durjana, yang secara resmi dijuluki 

“Pertemuan Pan-Kristiani”, di mana perhimpunan dari agama-agama sesat yang besar jumlahnya datang 

ke Vatikan atas undangan Yohanes Paulus II (kami akan membahas hal ini lebih lanjut tidak lama lagi). 

Yohanes Paulus II berdoa dengan Orang-Orang Animis dari Afrika 

 

Pada tanggal 8 Agustus 1985, Yohanes Paulus II berdoa dengan orang-orang Animis dari Afrika (dukun-

dukun). Yohanes Paulus II mengenang pertemuan ini : 

“Acara yang terutama patut dicatat yaitu  pertemuan doa di sanctuarium 

Notre-Dame de la Miséricorde di Danau Togo di mana, untuk pertama 

kalinya, saya juga berdoa dengan sekelompok Animis.”32 

Telah dinyatakan bahwa sewaktu Yohanes Paulus II berada di Togo, ia benar-benar menghormati ular-

ular suci. 


231 

 

Di Cotonou, di Afrika pada tanggal 4 Februari 1993, anak-anak perempuan yang menyanyikan lagu 

keagamaan mengundang Yohanes Paulus II untuk menghadiri tarian voodoo yang “menyebabkan 

keadaan trans”. 

 

Yohanes Paulus II juga telah mengambil bagian dalam banyak acara, baik di Roma maupun di luar 

negeri, yang menyertakan suatu ritus pagan pribumi. Ritus-ritus ini berasal dari budaya-budaya yang 

sama sekali satanik dan durjana dalam segala segi praktik keagamaannya, dan walau bagaimanapun, 

ritus-ritus ini menyertai banyak dari acara-acara liturgis Yohanes Paulus II. 

 

Di atas: “Misa” Yohanes Paulus II pada tahun 2002 di Kota Meksiko, yang menyertakan adat budaya Aztek 

yang satanik. Orang-orang Indian menari di hadapan altar sambil mengenakan perhiasan kepala dan 

tutup dada dan beberapa dari antara mereka membiarkan tengah badan mereka kelihatan. Selagi mereka 

melakukan pertunjukan itu, Yohanes Paulus II sendiri menerima suatu ritus “pemurnian” pagan yang 

dilakukan oleh seorang wanita. 


232 

 

 

Pertemuan ‘Pan-Kristiani’: Pertemuan Doa Kemurtadan Yohanes 

Paulus II pada tahun 1999 

 

Gambar di atas memperlihatkan Yohanes Paulus II, yang dikelilingi berbagai kelompok pagan dan 

penyembah berhala termasuk seorang pria yang telanjang dada, pada tanggal 7 November 1999 – pada 

salah satu dari pertemuan-pertemuan doa antaragamanya yang murtad. Perhatikan orang pagan yang 

bermasker persis di belakang Yohanes Paulus II di sisi kiri dari sudut pandang kita dan di sisi kanannya. 

Yohanes Paulus II memuji mereka dan menghormati agama-agama sesat mereka yang berasal dari Iblis. 

Perbuatannya ini tiada berbeda dari okultisme secara umum. 

Pertemuan ini dijuluki “orang-orang Pan-Kristiani ini  ….” Hal ini menarik mengingat di dalam surat 

ensiklik Mortalium Animos, Paus Pius XI mendeskripsikan para bidah yang memajukan indiferentisme 

keagamaan sebagai “kaum Pan-Kristiani ....”33 Beberapa hal yang terjadi pada pertemuan pan-religius 

Yohanes II di bulan Oktober 1999 termasuk: seorang Indian Amerika yang berputar badan di tengah-

tengah Lapangan St. Petrus pada waktu matahari terbenam dan ‘memberkati keempat penjuru Bumi’, 

dan para Muslim yang membentangkan surat-surat kabar di Vatikan untuk berlutut ke arah Mekkah dan 

berdoa.34 


233 

 

 

Paus Leo X, Konsili Lateran V, Sesi 9, 5 Mei 1514: 

“Ilmu sihir, yang dilakukan melalui tenung, ramalan, takhayul, dan pemanggilan setan, dilarang 

oleh hukum-hukum sipil dan sanksi-sanksi dari kanon-kanon suci.”35 

Pertemuan Doa Yohanes Paulus II bersama Agama-Agama sesat – 

Suatu Pertemuan Doa Kemurtadan Lainnya di tahun 2002 

Baru-baru ini, ada pula peristiwa Assisi pada tahun 2002. Di tanggal 24 Januari 2002, Yohanes Paulus II 

mengadakan suatu pertemuan doa pagan lainnya di kota Assisi di Italia. Pertemuan ini mengulangi acara 

kekejian yang berlangsung pada tahun 1986. namun , pertemuan Assisi yang satu ini mungkin bahkan 

lebih buruk.  

 


234 

 

Pada pertemuan doa Assisi II, para perwakilan dari setiap agama sesat yang terlibat diperkenankan 

untuk datang ke mimbar dan memberi ceramah tentang perdamaian sedunia. Di hadirat Yohanes Paulus 

II, seorang imam agung dari agama voodoo datang ke mimbar di luar Basilika St. Fransiskus dan 

memberi  pedoman voodoo untuk perdamaian sedunia. (Ingatlah, bahwa kaum voodoo yaitu  dukun-

dukun). Maka, dengan pengaturan Yohanes Paulus II, seorang dukun diizinkan untuk berceramah dan 

memberi pedomannya untuk perdamaian sedunia dari sebuah mimbar di luar Basilika St. Fransiskus 

yang bersejarah! Pedomannya itu termasuk menggorok leher kambing, ayam, burung dara dan merpati, 

dan meniriskan darah binatang-binatang itu dari urat nadi mereka. 

Ada seorang wanita Hindu yang berkata kepada seluruh khalayak bahwa setiap orang yaitu  Allah, selagi 

Yohanes Paulus II memandangnya. sesudah  orang-orang Yahudi, Buddhis, Muslim, Hindu, dukun, dan 

lainnya selesai berkhotbah, para pemimpin agama sesat yang berbagai macam itu berpisah dan masuk ke 

dalam ruangan yang berbeda-beda untuk berdoa kepada ilah-ilah sesat mereka. 

 

Yohanes Paulus II telah mengatur terlebih dahulu agar setiap agama sesat ini  diberikan ruangan 

yang terpisah untuk menyembah Iblis. 

Semua salib ditiadakan, dan salib-salib yang tidak dapat dicabut lalu ditutupi. Yohanes Paulus II 

memastikan agar semua orang kafir, dukun serta orang-orang pagan tidak melihat tanda Yesus Kristus. 

Orang-orang Muslim perlu sebuah ruangan yang menghadap penjuru Timur menuju Mekkah, dan 

ruangan itu diberikan kepada mereka. Kaum Zoroastrian memerlukan sebuah ruangan yang berjendela, 

supaya asap dari serpihan kayu yang mereka bakar kepada Iblis dapat keluar dari ruangan itu – dan 

ruangan itu diberikan kepada mereka. Orang-orang Yahudi menginginkan sebuah ruangan yang belum 

pernah diberkati sebelumnya; dalam kata lain, sebuah ruangan yang belum pernah diberkati sebelumnya 

dalam nama Yesus Kristus, dan Yohanes Paulus II menyediakan ruangan semacam itu kepada mereka. 


235 

 

Hampir tidak ada kekejian, penghujatan, dan penolakan terhadap Allah yang sejati yang dapat 

dibayangkan. 

Konsili Elvira, 305 Masehi: 

“Telah didekretkan bahwa orang-orang yang berusia dewasa, yang sesudah  menerima 

Pembaptisan, pergi ke kuil-kuil pagan untuk menyembah berhala, yang merupakan suatu 

kejahatan yang mematikan dan puncak kefasikan, tidak diizinkan menyambut komuni 

bahkan pada saat kematian.”36 

Seperti yang dapat kita lihat dari konsili regional ini, pada Gereja perdana, pergi ke sebuah kuil pagan 

(yang dilakukan oleh Yohanes Paulus II di Thailand) untuk menyembah berhala dianggap sebagai puncak 

kefasikan. Perbuatan semacam itu melambangkan kemurtadan dari Iman yang sedemikian rupa besarnya 

sehingga mereka yang bertobat pun dari perbuatan semacam itu hanya diperkenankan mengaku dosa 

(dan tidak diizinkan menyambut Komuni). Jika pada waktu itu pergi ke kuil pagan dianggap sebagai 

kemurtadan yang begitu parahnya, apakah yang akan mereka katakan tentang seseorang yang 

dianggap-anggap sebagai pemimpin Gereja yang mengubah gereja-gereja Katolik sendiri menjadi 

kuil-kuil pagan sehingga orang-orang pagan dapat menyembah ilah-ilah sesat mereka di dalam 

kuil-kuil itu? Mereka tentunya akan menganggap perbuatan semacam itu sebagai puncak kemurtadan. 

Paus Pius XI, Ad Salutem (#27), 20 April 1930:  

“ ... segala pemaksaan dan kegilaan, segala ketercelaan dan hawa nafsu, masuk ke dalam hidup 

manusia melalui penyembahan ilah-ilah sesat.”37 

 

Kemurtadan Yohanes Paulus II dengan para Muslim 

 

Pada tanggal 14 Mei 1999, Yohanes Paulus II menundukkan kepala kepada dan mencium Alquran. 

Alquran yaitu  kitab “suci” Muslim yang menghujat Allah Tritunggal Mahakudus dan menolak Keilahian 

Yesus Kristus. Menghormati kitab “suci” agama sesat telah selalu dianggap sebagai tindak kemurtadan – 


236 

 

suatu penolakan total terhadap agama yang sejati. Perbuatan ini sendiri menjadikan Yohanes Paulus II 

sebagai seorang pemurtad, sebab  perbuatan itu setara dengan menghormati kubur Muhammad, suatu 

perbuatan yang, ujar St. Thomas, menjadikan orang sebagai pemurtad. 

St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. II Pertanyaan 12, Artikel 1, Penolakan 2: 

” ... seandainya seseorang ... menghormati kubur Muhammad, ia akan dianggap sebagai seorang 

pemurtad.” 

Pada kunjungannya ke Jerman di tanggal 17 November 1980, Yohanes Paulus II mendorong para Muslim 

agar mereka “juga mengamalkan iman kalian di negeri asing ….”38 

Pada bulan Februari 2000, Yohanes Paulus II bertemu dengan “Sheikh Agung” Muslim, Muhammad. 

Yohanes Paulus II kembali melakukan tindak kemurtadan pada pidatonya kepada orang-orang Muslim. 

Yohanes Paulus II, Pesan kepada ‘Sheikh Agung Muhammad’, 24 Februari 2000: 

“Islam yaitu  suatu agama, Kekristenan yaitu  suatu agama. Islam telah menjadi suatu 

kebudayaan. Kekristenan juga telah menjadi suatu kebudayaan ... Saya berterima kasih kepada 

universitas anda, pusat kebudayaan Islam yang terbesar. Saya berterima kasih kepada mereka 

yang sedang mengembangkan kebudayaan Islam ....”39 

Yohanes Paulus II berterima kasih kepada mereka yang mengembangkan budaya Islam! Ia berterima 

kasih kepada para orang-orang kafir sebab  mereka mengembangkan suatu kebudayaan yang 

menyangkal Yesus Kristus, Allah Tritunggal Mahakudus, dan Iman Katolik dalam skala yang amat besar, 

dan mengurung ratusan juta orang dalam kegelapan Iblis. Dari antara segala kejahatan di dunia yang 

pernah dapat dibayangkan, kebudayaan Islam kemungkinan merupakan salah satu dari kelima hal