gereja vatikan 1

 


KENYATAAN TENTANG APA YANG 

SEBENARNYA TERJADI KEPADA GEREJA 

KATOLIK sesudah  VATIKAN II 


 

Yohanes Paulus II pada suatu perkumpulan doa sinkretis dengan berbagai pemimpin agama sesat di Assisi pada tahun 

1986. Aktivitas “ekumenis” ini selalu dikutuk oleh Gereja Katolik, dan secara khusus dicap sebagai suatu penolakan 

penuh terhadap Iman Katolik oleh Paus Pius XI di tahun 1928. Ini yaitu  suatu revolusi melawan Iman Katolik – suatu 

Injil yang baru. Apakah yang sedang terjadi di sini? Bacalah buku ini untuk tahu lebih banyak. 

  

Glosarium 

 

Glosarium Istilah dan Prinsip 

 

Kami berharap bahwa glosarium istilah dan prinsip ini akan membantu orang-orang yang kurang 

akrab dengan istilah-istilah, topik-topik, atau prinsip-prinsip tertentu yang sering didiskusikan di dalam 

buku ini. Kami merasa bahwa lebih berguna jika glosarium ini diatur berdasar  tema dan bukan 

berdasar  urutan abjad. 

Kepausan - Jabatan seorang Paus, penerus Santo Petrus, yang didirikan oleh Yesus Kristus di atas 

Santo Petrus sebagai kepala dari Gereja Kristiani (Matius 16:18-20; Yohanes 21:15-17). Para uskup Roma 

yaitu  para penerus Santo Petrus. Mereka memiliki keutamaan yang sama di dalam Gereja Kristiani 

dengan keutamaan yang dimiliki oleh Santo Petrus di dalam Gereja apostolik. 

Magisterium - Otoritas pengajaran dari Gereja Katolik yang dilaksanakan oleh seorang Paus 

sewaktu ia menyatakan suatu dogma dengan otoritas Kepausan. Tidak semua pernyataan seorang Paus 

yaitu  ajaran Magisterium. Seorang Paus berbicara secara magisterial sewaktu ia memenuhi syarat-

syarat tertentu (seperti yang telah didefinisikan oleh Konsili Vatikan I). Orang-orang yang setia kepada 

Magisterium yaitu  mereka yang setia kepada segala hal yang telah diajarkan secara dogmatis oleh 

semua Paus di sepanjang sejarah atau yang dinyatakan sebagai hal yang telah selalu dipegang atau 

dinyatakan oleh Gereja Katolik. 

Ex cathedra - Kata dalam bahasa Latin untuk “dari Takhta”. Istilah ini mengacu kepada seorang Paus 

sewaktu ia berbicara secara infalibel dari Takhta Santo Petrus dan memenuhi syarat-syarat untuk suatu 

pernyataan yang infalibel. yaitu  suatu bidah dan dosa berat untuk menolak suatu pernyataan yang 

bersifat ex cathedra dari seorang Paus, yang merupakan suatu hal yang tidak dapat diubah, sebab  

pernyataan semacam itu yaitu  suatu dogma yang telah diwahyukan oleh Kristus kepada Gereja. 

Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, 1870, Sesi 4, Bab 4: 

“ ... bahwa sewaktu Sri Paus Roma berbicara secara ‘ex cathedra’, yakni, sewaktu ia 

mendefinisikan atas dasar otoritas apostoliknya yang tertinggi, demi menunaikan tanggung 

jawabnya sebagai gembala dan pengajar segenap umat Kristiani, bahwa suatu doktrin tentang 

iman atau moral harus dipercayai oleh Gereja universal, ia bertindak sepenuhnya dengan 

infalibilitas ini, berkat pertolongan ilahi yang telah dijanjikan kepadanya dalam pribadi Petrus 

yang terberkati, yaitu infalibilitas yang telah dikehendaki oleh sang Penebus ilahi sebagai bekal 

bagi Gereja dalam mendefinisikan doktrin yang menyangkut iman atau moral; dan dengan 

demikian, bahwa definisi-definisi semacam itu dari Sri Paus Roma tidak dapat diubah atas dasar 

dirinya sendiri, dan bukan atas dasar pemufakatan Gereja.”1 

Wahyu ilahi / dogma - Kebenaran Yesus Kristus yaitu  ajaran Wahyu ilahi. Gereja Katolik 

mengajarkan bahwa dua sumber Wahyu ilahi yaitu  Kitab Suci dan Tradisi Suci; isi  Kitab Suci dan 

Tradisi Suci disajikan oleh Magisterium Gereja Katolik. Wahyu ilahi berakhir dengan meninggalnya rasul 

terakhir. Dogma tidak dapat berubah. Sewaktu seorang Paus mendefinisikan suatu dogma, ia tidak 

menjadikan dogma ini  benar sejak saat itu, namun , Sri Paus tanpa membuat kesalahan menyatakan 

secara khidmat apa yang telah selalu benar sejak kematian rasul terakhir. Kita harus memercayai dogma 

sebagaimana “yang telah sekalinya dinyatakan oleh Bunda Gereja yang kudus; dan tidak pernah boleh 

Glosarium 


 

ada pergeseran dari makna ini  di balik dalih dan atas nama suatu pemahaman yang lebih 

mendalam.” 

Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, Sesi 3, bab 2 tentang Wahyu, 1870, ex cathedra: 

“Itulah pula mengapa dogma-dogma suci harus senantiasa dipertahankan dengan makna yang 

telah sekalinya dinyatakan oleh Bunda Gereja yang kudus; dan tidak pernah boleh ada pergeseran 

dari makna ini  di balik dalih dan atas nama suatu pemahaman yang lebih mendalam.”2 

Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, Sesi 3, bab 4, kanon 3: 

“Barang siapa berkata bahwa yaitu  suatu hal yang mungkin bahwa kepada dogma-dogma yang 

dinyatakan oleh Gereja, suatu makna terkadang harus diatribusikan menurut perkembangan 

ilmu pengetahuan, yang berbeda dari makna yang telah dimengerti dan yang dimengerti oleh 

Gereja: terkutuklah dia.”3 

Bidah (Heretic dalam bahasa Inggris) - Seseorang yang telah dibaptis yang menolak suatu 

dogma dari Gereja Katolik. Para bidah secara otomatis terekskomunikasi dari Gereja (ipso facto/oleh 

sebab  fakta itu sendiri) tanpa perlu pernyataan/deklarasi apa pun, sebab  mereka telah menolak suatu 

ajaran otoritatif tentang Iman. 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896: 

“ … tidak seorang pun yang semata-mata tidak percaya akan semua kesesatan itu (yakni, bidah-

bidah itu yang baru saja ia sebutkan) dapat memandang dirinya sendiri atau menyebut dirinya 

sendiri Kristen Katolik. Sebab mungkin ada  atau mungkin muncul bidah-bidah yang lain 

yang tidak disebutkan di dalam karya ini, dan barangsiapa menganut satu pun dari bidah-

bidah ini , ia bukan lagi seorang Kristen Katolik.”4 

Paus St. Pius X, Editae Saepe, 26 Mei 1910:  

“yaitu  suatu fakta yang pasti dan yang telah terbukti secara baik bahwa tiada suatu kejahatan 

pun yang sedemikian parahnya menghina Allah dan menggelegakkan murka-Nya yang 

terbesar selain kejahatan bidah.”5 

Skismatis - Seseorang yang telah dibaptis yang menolak persekutuan bersama seorang Paus yang 

sejati ataupun dengan orang-orang Katolik yang sejati. Kaum skismatis juga hampir selalu merupakan 

bidah. Kaum skismatis juga terkena ekskomunikasi secara otomatis. 

Pemurtad - Seseorang yang telah dibaptis yang tidak hanya menyangkal satu atau beberapa 

kebenaran tentang iman Katolik, namun  yang meninggalkan Iman Kristiani sepenuhnya. Para pemurtad 

juga terkena ekskomunikasi secara otomatis. 

Anti-Paus - Seseorang yang secara salah mengaku sebagai seorang Paus (yaitu seseorang yang secara 

salah mengaku sebagai uskup Roma). Sudah ada lebih dari empat puluh Anti-Paus di sepanjang sejarah, 

beberapa dari antara mereka memimpin dari Roma. Buku ini membuktikan bahwa revolusi Vatikan II 

telah dilaksanakan oleh para pria yang yaitu  para Anti-Paus, yang secara palsu memperlihatkan diri 

mereka sendiri seolah-olah mereka yaitu  Paus yang sejati. 

Sedevakantis (posisi sedevakantis) - Di dalam bahasa Latin, Sede berarti “kursi”/“takhta” 

dan Vacante berarti “kosong”. Suatu masa sedevacante yaitu  suatu kurun waktu di mana tidak ada  

Paus. Kurun waktu ini biasanya terjadi sesudah  kematian seorang Paus atau sesudah  seorang Paus 

mengundurkan diri. Kurun waktu ini telah terjadi lebih dari dua ratus kali di dalam sejarah Gereja, dan 

Glosarium 

 

kadang kala berlangsung selama beberapa tahun. Para Doktor Gereja mengajarkan pula bahwa Takhta 

Petrus akan menjadi kosong seandainya seorang Paus menjadi seorang bidah terang-terangan. Posisi 

sedevakantis menggambarkan posisi umat Katolik tradisional yang mendukung bahwa Takhta dari Santo 

Petrus pada saat ini kosong, sebab  dapat dibuktikan bahwa pria yang ada di Roma pada saat ini yaitu  

seorang bidah publik, dan oleh sebab  itu bukanlah seorang Paus. 

Vatikan II - Suatu konsili yang berlangsung dari tahun 1962 sampai 1965. Vatikan II mengaku 

sebagai suatu konsili umum dari Gereja Katolik, namun  kenyataannya yaitu  suatu “konsili penyamun” 

yang revolusioner, yang mengajarkan doktrin-doktrin yang telah dikutuk oleh Gereja Katolik. Vatikan II 

mendatangkan suatu agama baru, dan bertanggung jawab atas buah-buah busuk yang mencengangkan 

dan perubahan-perubahan revolusioner yang berlangsung sesudah  penutupannya. 

Sekte Vatikan II - Frase ini mendeskripsikan Gereja palsu yang muncul sejak Vatikan II, yang 

dinubuatkan di dalam nubuat Katolik dan di dalam Kitab Suci. Sekte sesat ini penuh dengan bidah, 

kemurtadan, dan skandal-skandal yang paling tercela, sebagaimana yang dibuktikan oleh buku ini 

dengan luar biasa rincinya. Buku ini membuktikan bahwa sekte Vatikan II bukanlah Gereja Katolik, 

melainkan gereja palsu milik Iblis yang bertujuan untuk menyesatkan orang-orang pada masa 

Kemurtadan Besar. 

Novus Ordo Missae - Istilah dalam bahasa Latin untuk Orde Baru Misa (Tata Cara Misa yang Baru), 

yang mengacu kepada Misa baru yang dipermaklumkan oleh Paulus VI, pada tanggal 3 April 1969. 

Gereja Novus Ordo - Sebagaimana yang digunakan di dalam buku ini, istilah ini yaitu  sinonim 

untuk istilah “sekte Vatikan II,” yang menggambarkan Gereja palsu Vatikan II, Misa Baru, dan para 

pengikutnya. 

Katolik tradisional - Seseorang yang sederhananya Katolik, yang menganut iman Katolik dari 

sepanjang zaman, yang berpegang kepada semua dogma yang diproklamasikan oleh para Paus, serta 

ritus-ritus tradisional Gereja. Seorang Katolik tradisional tidak menerima agama sesat Vatikan II, dan ia 

pun tidak menerima Misa Baru (Novus Ordo), sebab  hal-hal semacam itu yaitu  inovasi-inovasi yang 

bertentangan dengan ajaran Katolik. 

Tradisionalis palsu - Seseorang yang menganut Iman Katolik tradisional dalam beberapa hal 

tertentu (seperti dalam melawan ekumenisme atau beberapa aspek Vatikan II), namun  juga tetap 

mempertahankan suatu kesetiaan tertentu terhadap sekte Vatikan II. Para tradisionalis palsu biasanya 

bersetia kepada sekte Vatikan II sebab  mereka menerima para “Paus” pasca-Vatikan II sebagai para 

Paus yang sejati walaupun para “Paus” pasca-Vatikan II dapat dibuktikan sebagai Anti-Paus (seperti yang 

diperlihatkan di dalam buku ini). 

Ekumenisme – Istilah ini mengacu kepada ajaran Vatikan II dan para “Paus” sesudah  Vatikan II 

sehubungan dengan perihal bergabung bersama, berdoa bersama, dan menghormati agama-agama sesat. 

“Ekumenisme” sebagaimana yang dipraktikkan dan diajarkan oleh sekte Vatikan II, secara langsung 

dikutuk oleh ajaran Katolik, para Paus dan segenap tradisi Gereja. Ekumenisme Vatikan II memandang 

agama yang sejati sederajat dengan agama-agama sesat, dan Allah yang sejati sederajat dengan ilah-ilah 

sesat. Ekumenisme sekte Vatikan II didedahkan dengan luar biasa rinci di dalam buku ini. Beberapa 

orang berkata bahwa, dalam makna sempitnya, Ekumenisme mengacu kepada praktik bidah untuk 

bergabung bersama sekte-sekte skismatis, sedangkan dialog antaragama mengacu kepada praktik yang 

Glosarium 

 

sama dengan agama-agama non-Kristiani. namun , kedua istilah itu pada dasarnya merupakan persamaan 

kata di zaman ini. 

KONSEP-KONSEP KATOLIK TENTANG AGAMA-AGAMA NON-KATOLIK 

Agama-agama non-Katolik yaitu  agama-agama sesat / Tidak ada  

Keselamatan di luar Gereja Katolik - Gereja Katolik mengajarkan secara dogmatis bahwa 

hanya ada  satu agama yang sejati dan satu Allah yang sejati. Gereja mengajarkan bahwa semua 

agama non-Katolik yaitu  agama yang sesat dan milik Iblis. yaitu  suatu dogma dari iman Katolik bahwa 

di luar Gereja Katolik tidak ada  keselamatan (extra ecclesiam nulla salus). Dogma ini telah 

didefinisikan tujuh kali oleh para Paus yang berbicara secara ex cathedra. 

Paus St. Gregorius Agung, dikutip di dalam Summo Iugiter Studio, 590-604: 

“Gereja yang kudus dan universal mengajarkan bahwa mustahil adanya untuk menyembah Allah 

secara benar kecuali di dalam dirinya [Gereja] dan menyatakan bahwa semua orang yang berada 

di luar dirinya tidak akan diselamatkan.”6 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate Domino”, 1441, ex cathedra:  

“Ia [Gereja Roma yang Kudus] dengan teguh percaya, mengakui dan berkhotbah bahwa ‘semua 

orang yang berada di luar Gereja Katolik, bukan hanya orang-orang pagan namun  juga Yahudi atau 

bidah dan skismatis, tidak dapat mengambil bagian di dalam kehidupan kekal dan akan masuk ke 

dalam api yang kekal yang telah disiapkan untuk iblis dan para malaikatnya’, [Matius 25, 41] 

kecuali jika mereka bergabung ke dalam Gereja sebelum akhir hidup mereka; bahwa kesatuan 

dari tubuh gerejawi ini sedemikian kuatnya sehingga hanya kepada mereka yang tetap tinggal di 

dalamnyalah sakramen-sakramen Gereja berdaya guna menuju keselamatan, dan hanya kepada 

mereka jugalah puasa, derma, dan karya-karya kesalehan serta praktik-praktik lain dari para 

laskar Kristiani menghasilkan upah yang abadi; dan bahwa tidak seorang pun dapat 

diselamatkan, sebanyak apa pun ia telah berderma, walaupun ia telah menumpahkan darah 

dalam nama Kristus, kecuali ia telah bertekun di pangkuan dan di dalam kesatuan Gereja 

Katolik..”7 

Paganisme / pemujaan ilah-ilah yang lain - Istilah paganisme mengacu kepada agama-

agama politeis sesat, seperti Buddhisme, Hinduisme, dst. Gereja Katolik mengajarkan bahwa ilah-ilah 

atau ”dewa-dewi” yang disembah oleh para pengikut agama pagan (yang memuja berbagai macam 

”dewa-dewi”) yaitu  iblis. 

Mazmur 96:5 - “Segala ilah orang-orang pagan yaitu  roh-roh jahat ….” 

1 Korintus 10:20 – “namun  hal-hal yang dipersembahkan oleh para penyembah berhala yaitu  

persembahan kepada roh-roh jahat dan bukan kepada Allah. Dan aku tidak ingin kalian menjadi 

sekutu roh-roh jahat.” 

Paus Pius XI, Ad Salutem (#27), 20 April 1930:  

“ ... segala pemaksaan dan kegilaan, segala ketercelaan dan hawa nafsu, masuk ke dalam hidup 

manusia melalui penyembahan ilah-ilah sesat.”8 

Islam - Suatu agama sesat yang diwahyukan oleh nabi palsu Muhammad. Para pengikutnya disebut 

Muslim dan mengikuti kitab yang bernama Alquran. Para Muslim menolak Allah Tritunggal dan Keilahian 

Kristus. Menurut ajaran Katolik, Islam yaitu  suatu kekejian dan sekte satanik (yaitu, suatu sekte yang 

Glosarium 

10 

 

berasal dari Iblis). Para Muslim yaitu  orang-orang kafir (istilahnya dalam bahasa Latin yaitu  Ä«nfidÄ“lis).  

Mereka perlu berkonversi agar mampu memperoleh keselamatan. 

Paus Eugenius IV, Konsili Basel, 1434: 

“ … ada  harapan bahwa begitu banyak pengikut sekte Mahomet [Muhammad] yang keji 

akan berkonversi kepada iman Katolik.”9 

Paus Kalikstus III, 1455: 

“Saya bersumpah untuk … meninggikan Iman sejati, dan untuk menumpas sekte iblis dari 

Mahomet [Islam] yang terkutuk dan tidak beriman di dunia Timur.”10 

Sekte Vatikan II memuji-muji Islam dan menganggapnya sebagai suatu agama yang baik. 

Yahudi - Agama yang menolak Yesus Kristus sebagai Mesias dan yang berupaya mengamalkan Hukum 

Lama yang diberikan lewat perantaraan Musa. Agama Yahudi percaya bahwa sang Mesias masih akan 

datang untuk pertama kalinya. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Hukum Lama telah dibatalkan dengan 

kedatangan Kristus, dan bahwa seseorang berdosa berat jika ia terus menaati Hukum Lama (seturut 

Konsili Florence), dan bahwa para pengikut agama Yahudi tidak akan diselamatkan jika mereka tidak 

berkonversi kepada Yesus Kristus dan Iman Katolik. 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, 1441, ex cathedra: 

“Ia [Gereja Roma yang Kudus] dengan teguh percaya, mengakui, dan mengajarkan bahwa 

ketentuan-ketentuan hukum dari Perjanjian Lama, atau dari hukum Musa, yang terbagi menjadi 

perayaan-perayaan, ritus-ritus kudus, kurban-kurban, dan sakramen-sakramen ... sesudah  

kedatangan Tuhan kita ... telah berakhir, dan sakramen-sakramen Perjanjian Baru bermula ... Oleh 

sebab  itu, ia [Gereja] mencela sebagai orang-orang yang terasing dari iman akan Kristus, semua 

orang yang, sejak dari masa itu menaati penyunatan, Sabat, dan segala kewajiban dari hukum 

ini , dan menyatakan bahwa mereka tidak dapat mengambil bagian di dalam keselamatan 

kekal.”11 

Paus Benediktus XIV, A Quo Primum, 14 Juni 1751: 

“Tentunya tidaklah sia-sia Gereja mempersembahkan Doa universal demi orang-orang Yahudi 

yang durhaka sejak terbitnya matahari sampai pada terbenamnya, agar Allah dan Tuhan 

mengangkat selubung hati mereka, dan agar mereka dapat direnggut dari kegelapan mereka 

sehingga sampai kepada terang kebenaran.”12 

Ortodoks / Ortodoks Timur - Para pengikut skisma dari Gereja Katolik yang terjadi pada tahun 

1054. Orang-orang “Ortodoks” menolak dogma Kepausan, Infalibilitas Kepausan, dan ketiga belas konsili 

dogmatis terakhir dari Gereja. Mereka juga memperbolehkan perceraian dan pernikahan kembali. 

Mereka dianggap sebagai para bidah dan skismatis menurut ajaran Katolik. Mereka perlu berkonversi 

untuk memperoleh persekutuan dan keselamatan. 

Paus Benediktus XIV, Allatae Sunt (#19), 26 Juli 1755: 

“Pertama, sang misionaris yang dengan pertolongan Allah berupaya untuk memulangkan para 

skismatis Yunani dan Timur kepada kesatuan harus membaktikan segala upayanya untuk tujuan 

satu-satunya, yakni, membebaskan mereka dari doktrin-doktrin yang bertentangan dengan iman 

Katolik.”13 

Glosarium 

11 

 

Bagaimanapun, sekte Vatikan II berkata bahwa para “Ortodoks” tidak perlu dikonversikan untuk 

memperoleh keselamatan. Vatikan II mengajarkan bahwa mereka yaitu  bagian dari Gereja yang sejati 

dan bahwa mereka berada di dalam jalan keselamatan (seperti yang dibuktikan di dalam buku ini). 

Protestan - Para pengikut sekte-sekte yang memisahkan diri dari Gereja Katolik sejak 

pemberontakan Martin Luther di tahun 1517. Orang-orang Protestan yaitu  orang-orang yang menolak 

dogma Katolik dalam satu atau beberapa hal. Seseorang yang menolak atau membangkang terhadap satu 

dogma Katolik pun yaitu  seorang bidah dan terekskomunikasi secara ipso facto. Para Protestan 

biasanya menolak dogma Katolik dalam hal imamat, Misa, sakramen, Kepausan, perlunya iman dan 

perbuatan, perantaraan para kudus, dll. 

Paus Pius XI, Rerum omnium perturbationem (#4), 26 Januari 1923: 

“ ... bidah-bidah yang terlahir dari Reformasi [Protestan]. Di dalam bidah-bidah inilah kita 

menemukan awal mula kemurtadan umat manusia dari Gereja ....”14 

Paus Leo XII, Ubi Primum (#14), 5 Mei 1824: 

“Allah yang Mahabenar, yang bahwasanya yaitu  kebenaran yang terluhur sendiri, sang 

Penyelenggara yang Mahabaik dan Mahabijak, tidak mungkin menyetujui semua sekte yang 

mengajarkan doktrin-doktrin sesat yang saling bertentangan dan berkontradiksi, serta 

menganugerahkan imbalan-imbalan abadi kepada orang-orang yang mengakui doktrin-doktrin 

sesat ini  … dan oleh sebab  itu Kami mengakui bahwa tidak ada  keselamatan di luar 

Gereja.”15 

namun , sekte Vatikan II percaya bahwa Protestantisme bukanlah suatu bidah, bahwa para Protestan 

bukan orang-orang bidah, bahwa sekte-sekte mereka yaitu  sarana keselamatan dan merupakan bagian 

dari Gereja yang sejati. 

KONSEP-KONSEP KATOLIK LAINNYA YANG PENTING YANG DIGUNAKAN DI 

SEPANJANG BUKU INI 

Orang-orang Katolik tidak boleh mengambil bagian di dalam ibadat non-

Katolik - Sebelum Vatikan II, semua buku panduan teologi moral Katolik mengulang-ulangi ajaran 

tradisional Gereja, yaitu bahwa partisipasi di dalam ibadat non-Katolik yaitu  suatu dosa berat melawan 

hukum ilahi. sesudah  Vatikan II, aktivitas yang merupakan dosa berat ini dianjurkan secara resmi (lihat 

juga, misanya, bagian di dalam buku ini yang berjudul Sekte Vatikan II vs Gereja Katolik: tentang Hal 

Mengambil Bagian dalam Ibadat Non-Katolik). 

Paus Pius XI, Mortalium Animos (#10), 6 Januari 1928: 

“Maka, Saudara-Saudara yang Terhormat, jelaslah mengapa Takhta Apostolik ini tidak pernah 

mengizinkan umat-umatnya untuk mengambil bagian di dalam perkumpulan-perkumpulan 

orang-orang non-Katolik...”16 

Bidah dapat terwujudkan lewat perbuatan - Walaupun orang-orang tertentu 

mewujudkan bidah mereka melalui pernyataan-pernyataan yang tertulis atau deklarasi-deklarasi lisan, 

kebanyakan bidah dan kemurtadan terwujud melalui perbuatan, dan bukan perkataan. Orang-orang 

mewujudkan bidah dan kemurtadan mereka dengan pergi ke bait-bait non-Katolik untuk beribadat, 

seperti pergi ke sinagoga atau mesjid, atau dengan bergabung bersama para Protestan dan skismatis 

dalam ibadat di gereja-gereja mereka. 

Glosarium 

12 

 

St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. I-II Pertanyaan 103, Artikel 4: 

“Semua upacara yaitu  semacam perwujudan iman, yang tergolong bagian yang terutama dari 

penyembahan Allah secara batiniah. Maka manusia dapat mewujudkan iman batiniahnya baik 

melalui perbuatan maupun perkataan; dan di dalam salah satu pun dari kedua perwujudan 

ini , jikalau seorang manusia mewujudkan sesuatu yang sesat, ia berdosa berat.”17 

Itulah mengapa Santo Thomas Aquinas mengajarkan bahwa seandainya seseorang menghormati kubur 

Muhammad, orang itu akan dianggap sebagai seorang pemurtad. Tindakan semacam itu sendiri akan 

membuktikan bahwa orang itu tidak memiliki iman Katolik, dan bahwa ia menerima agama Islam yang 

sesat. 

St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. II Pertanyaan 12, Artikel 1, Penolakan 2: 

” ... seandainya  seseorang ... menghormati kubur Muhammad, ia akan dianggap sebagai seorang 

pemurtad.”18 

Paus Pius IX, Ineffabilis Deus, 8 Desember 1854, mendefinisikan dogma Santa Perawan Maria 

Dikandung Tanpa Noda: 

“ ... jika ia berani mengungkapkan pendapat-pendapat dari hatinya itu [yang bertentangan 

dengan dekret ini] baik secara lisan, dalam karya tulis, maupun melalui sarana lahiriah 

lainnya, ia akan secara ipso facto terkena sanksi-sanksi yang telah ditetapkan oleh hukum.”19 

Kita melihat di sini bahwa bidah yang melawan dogma Dikandung Tanpa Noda dapat terungkap baik 

secara lisan, dalam karya tulis, maupun melalui “sarana lahiriah lainnya”. Kenyataannya, di dalam 

bukunya Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, Benediktus XVI mengakui 

bahwa tindakan-tindakan dan gerak-gerik ekumenis yang telah diperbuat oleh sekte pasca-Vatikan II 

kepada para skismatis timur, menandakan secara persis bahwa (menurut sekte Vatikan II) para 

skismatis tidak perlu menerima Keutamaan Kepausan: 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 198: 

“Di sisi lain, mustahil baginya untuk memandang bentuk yang telah diambil oleh 

keutamaan ini pada abad kesembilan belas dan kedua puluh sebagai satu-satunya bentuk 

yang mungkin ada, dan sebab  itu bersifat mengikat kepada semua orang Kristen. Gerak-

gerik isyarat Paus Paulus VI yang simbolis, dan terutama, dengan berlutut di hadapan perwakilan 

dari Patriark Ekumenis [Patriark Athenagoras yang skismatis] yaitu  suatu upaya untuk 

mengungkapkan kemustahilan ini secara tepat ….”20 

Kami akan mendiskusikan hal ini  lebih lanjut di dalam buku ini, namun  hal ini yaitu  suatu 

pengakuan luar biasa dari mentan pemimpin sekte Vatikan II, yaitu bahwa tindakan-tindakan ekumenis 

merupakan suatu bidah terhadap keutamaan Paus. Hal ini yaitu  suatu contoh yang jelas tentang bidah 

yang diwujudkan di dalam suatu tindakan. 

Gereja Katolik menolak semua orang yang memiliki pandangan berlawanan 

- Mereka yang menolak ajaran dogmatis Gereja Katolik dikutuk, dianatemakan, dan ditolak oleh Gereja. 

Paus Pelagius II, surat (1) Quod ad dilectionem, 585: 

“Bagaimanapun, barang siapa mengusulkan, atau percaya, maupun sedemikian 

gegabahnya sehingga mengajarkan hal yang bertentangan dengan iman ini, hendaknya ia 

mengetahui bahwa ia dikutuk dan dianatemakan seturut pendapat dari para Bapa yang 

sama.”21 

Glosarium 

13 

 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate Domino”, 1441: 

“Maka, semua orang yang percaya akan pandangan-pandangan yang bertentangan atau 

berlawanan, Gereja mengutuk, menolak, menganatemakan, dan mencela mereka sebagai terasing 

dari tubuh Kristus yang yaitu  Gereja.”22 

Dengan menolak satu dogma pun dari Gereja Katolik, seseorang menolak 

iman segenap-genapnya, sebab Kristuslah pelindung dogma-dogma Gereja. 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896: 

“ ... adakah seseorang yang dapat diizinkan untuk menolak satu pun dari kebenaran-kebenaran 

itu, tanpa, akibat penolakannya itu sendiri, terjerembap ke dalam bidah secara terbuka? Tanpa 

memisahkan dirinya sendiri dari Gereja dan tanpa menolak seluruh doktrin Kristiani segenap-

genapnya? Sebab hakikat iman sedemikian rupa adanya, sehingga tiada suatu hal pun yang lebih 

mustahil dibandingkan  untuk percaya akan hal yang satu dan menolak hal yang lain ... Sebaliknya, 

barangsiapa berselisih dengan kebenaran yang diwahyukan secara ilahi bahkan dalam satu pasal 

pun, niscaya ia meninggalkan iman sepenuhnya, sebab  ia menolak untuk tunduk kepada Allah 

yang yaitu  kebenaran teragung dan motif formal dari iman itu sendiri.”23 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896: 

“sebab  Gereja berkeyakinan kuat akan prinsip-prinsip ini , dan sebab  ia penuh perhatian 

terhadap tanggung jawabnya, tiada suatu hal pun yang pernah menjadi tekad Gereja yang 

terbesar, tiada suatu hal pun yang pernah dikejarnya dengan usaha yang sedemikian besarnya 

selain menjaga keutuhan iman dengan cara yang tersempurna. Itulah sebabnya, semua orang 

yang tidak setuju dengan Gereja tentang pasal doktrin yang mana pun telah dipandang oleh 

Gereja sebagai para pemberontak terbuka dan Gereja pun mengusir mereka jauh-jauh dari 

dirinya. Kaum Arian, Montanis, Novatian, Kuartodesiman, Eutikian tentunya tidak meninggalkan 

doktrin Katolik sepenuhnya, namun  mereka hanya meninggalkan bagian tertentu dari doktrin 

Katolik: dan meskipun demikian, siapakah yang tidak tahu bahwa mereka telah dinyatakan 

sebagai kaum bidah dan diusir dari pangkuan Gereja? Dan suatu penilaian yang serupa telah 

mengutuk semua pembuat doktrin sesat yang muncul sesudah nya pada berbagai masa dalam 

sejarah. ‘Tiada suatu hal pun yang lebih berbahaya dari para bidah ini, yang menjaga keutuhan 

doktrin yang lain, namun  yang dengan satu patah kata, bagaikan setetes racun, merusakkan 

kemurnian dan kesederhanaan iman yang telah diajarkan oleh Tuhan dan yang telah kita warisi 

dari tradisi apostolik.’”24 

Orang-orang Katolik tidak bersekutu dengan para bidah – Semua orang yang 

menolak Iman Gereja Katolik berada di luar persekutuan Gereja dan terasing dari persekutuan ini ; 

orang-orang Katolik sejati sama sekali tidak boleh bersekutu dengan mereka. 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896: 

“Praktik Gereja selalu sama, dan demikianlah pula penilaian yang semufakat dari para Bapa yang 

kudus: yaitu, bahwa MEREKA TELAH SELALU MENGANGGAP SEBAGAI terbuang dari 

persekutuan katolik dan TERASING DARI GEREJA SIAPA PUN YANG TELAH MENYIMPANG 

BAHKAN SEDIKIT PUN DARI DOKTRIN YANG DIAJUKAN OLEH MAGISTERIUM YANG 

AUTENTIK.”25 

Paus St. Leo Agung, Khotbah 129: 

“Itulah sebabnya, sebab  di luar Gereja Katolik tiada suatu hal pun yang sempurna, tiada suatu hal 

Glosarium 

14 

 

pun yang tak bernoda … kita sama sekali tidak serupa dengan mereka yang terpisahkan dari 

kesatuan Tubuh Kristus; kita sama sekali tidak terhubung dalam persekutuan apa pun.”26 

Para imam harus dilawan, termasuk para uskup dan Paus, jika mereka 

menyimpang dari Iman; mereka secara otomatis kehilangan jabatan-jabatan 

mereka jika mereka menjadi bidah secara publik. 

Kanon 188.4, Kitab Hukum Kanonik 1917: 

“Suatu jabatan menjadi kosong secara ipso facto dan tanpa suatu deklarasi apa pun akibat 

pengunduran diri tersirat yang terjadi secara ipso iure (demi hukum), jika klerus: … 4) telah 

meninggalkan iman Katolik secara publik.”27 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#15), 29 Juni 1896: 

“Maka, tidak seorang pun yang tidak berada dalam persekutuan dengan Petrus dapat mengambil 

bagian dalam otoritasnya, sebab, yaitu  suatu hal yang absurd untuk membayangkan bahwa 

seseorang yang berada di luar Gereja dapat memerintah di dalam Gereja.”28 

Apa yang dimaksud dengan meninggalkan Iman secara publik? 

Kanon 2197.1, Kitab Hukum Kanonik 1917: 

“Suatu pelanggaran bersifat: 1) publik, jika pelanggaran itu telah diketahui secara umum, atau 

jika pelanggaran itu telah terjadi dalam atau melibatkan keadaan-keadaan yang sedemikian rupa 

sehingga dapat dinilai secara bijak bahwa pelanggaran itu seharusnya dengan mudah diketahui 

secara umum ….”29 

St. Robertus Bellarminus, Kardinal dan Doktor Gereja, De Romano Pontifice, Buku II, bab 30: 

“Pada akhirnya, para Bapa yang kudus mengajarkan secara bulat suara bahwa para bidah bukan 

hanya berada di luar Gereja, namun  juga bahwa mereka secara ‘ipso facto’ kehilangan segala 

yurisdiksi dan jabatan gerejawi.” 

Dom Prosper Guéranger, The Liturgical Year [Tahun Liturgis], Vol. 4, hal. 379, tentang bagaimana 

seorang awam dari abad ke-5 melawan dan mengutuk Nestorius, yang yaitu  uskupnya, sewaktu 

Nestorius menyebarkan suatu bidah secara terang-terangan: “Pada saat itulah Setan 

membuahkan Nestorius … yang terduduk pada Takhta Konstantinopel … Pada tahun 

pengangkatannya, pada hari Natal tahun 428, Nestorius memanfaatkan hadirnya khalayak yang 

amat besar jumlahnya yang telah berhimpun demi menghormati sang Bunda Perawan dan 

Putranya dengan mengucapkan perkataan yang penuh hujat ini dari mimbar Keuskupan: 

‘Maria tidak melahirkan Allah; Putranya hanyalah seorang manusia, alat bagi Keilahian.’ Khalayak 

itu bergidik ngeri. Eusebius, seorang awam sederhana, bangkit untuk mengungkapkan 

kegeraman umum, dan memprotes penghujatan ini. Segera, suatu protes yang lebih eksplisit 

dipersiapkan dan disebarluaskan atas nama para anggota dari Gereja yang berduka ini, untuk 

menjatuhkan suatu kutukan kepada siapa pun yang berani berkata: ‘Putra Tunggal Bapa 

dan Putra Maria yaitu  pribadi yang berbeda.’ Sikap yang mulia ini merupakan penjaga 

Bizantium, dan memenangkan pujian dari para Paus dan konsili-konsili. Sewaktu sang 

gembala menjadi seekor serigala, tanggung jawab pertama milik kawanan domba yaitu  untuk 

membela dirinya sendiri.”30 

Paus St. Selestinus, dikutip oleh St. Robertus Bellarminus: 

“ … otoritas dari Takhta Apostolik Kami telah secara terbuka menetapkan bahwa uskup, imam, 

Glosarium 

15 

 

atau orang Kristen dari profesi mana pun, yang telah dimakzulkan dari posisi mereka atau dari 

persekutuan oleh Nestorius dan mereka yang merupakan bagian dari kelompoknya sejak saat 

[ex quo] mereka mulai mengkhotbahkan bidah, tidak boleh dianggap sebagai dimakzulkan 

atau diekskomunikasikan … sebab barang siapa terjerembap [meninggalkan iman] sebab  ia 

mengkhotbahkan hal-hal semacam itu tidak mampu memakzulkan atau memberhentikan 

seorang pun.”31 

St. Robertus Bellarminus, Kardinal dan Doktor Gereja, De Romano Pontifice, Buku II, bab 30: 

“Seorang Paus yang yaitu  bidah secara manifes [terang-terangan] secara otomatis (per 

se) berhenti menjadi Paus dan kepala, layaknya ia berhenti menjadi seorang Kristiani dan 

seorang anggota dari tubuh Gereja. Maka dari itu, ia dapat dihakimi dan dihukum oleh Gereja. Ini 

yaitu  ajaran dari semua Bapa Kuno yang mengajarkan bahwa para bidah manifes langsung 

kehilangan semua yurisdiksi.” 

St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, Buku II, bab 30: 

“Prinsip ini yaitu  prinsip yang teramat pasti. Seorang non-Kristiani sama sekali tidak 

dapat menjadi Paus, seperti yang diakui oleh Gaetanus sendiri (ib. C. 26). Alasan untuk hal 

ini yaitu  ia tidak bisa menjadi kepala dari sesuatu yang di dalamnya ia bukan seorang 

anggota; akan namun , barang siapa bukan seorang Kristiani bukanlah anggota Gereja, dan 

seorang bidah manifes bukan seorang Kristiani seperti yang diajarkan secara jelas oleh St. 

Siprianus (lib. 4, epist. 2), St. Atanasius (Scr. 2 cont. Arian), St. Agustinus (lib. De grat. 

Christ. Cap. 20), St. Hieronimus (contra Lucifer.) dan lain-lain; maka, seorang bidah 

manifes tidak dapat menjadi Paus.” 

St. Fransiskus de Sales (abad ke 17), Doktor Gereja, The Catholic Controversy {Kontroversi 

Katolik}, hal. 305-306: 

“namun  sewaktu ia [Sri Paus] yaitu  seorang bidah secara eksplisit, ia secara ipso facto 

jatuh dari pangkatnya dan berada di luar Gereja ....”32 

St. Antoninus (1459):  

“Dalam kasus di mana Sri Paus menjadi seorang bidah, ia akan menyadari bahwa dirinya, 

oleh sebab  kenyataan itu sendiri dan tanpa vonis lainnya, terpisah dari Gereja. Sebuah 

kepala yang terpisah dari sebuah tubuh tidak mungkin, selama kepala itu tetap terpisahkan, 

merupakan kepala dari tubuh yang sama, yang darinya kepala itu terpenggal. Maka dari itu, 

seorang Paus yang akan terpisah dari Gereja akibat bidah, ia, akibat kenyataan itu sendiri, 

berhenti sebagai kepala Gereja. Ia tidak dapat menjadi seorang bidah dan tetap menjadi 

Paus, sebab, sebab  ia berada di luar Gereja, ia tidak dapat memiliki kunci-kunci Gereja.” 

(Summa Theologica, dikutip di dalam Actes de Vatican I. V. Frond pub.) 

St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, II, 30: 

“...sebab  manusia tidak diwajibkan untuk, ataupun dapat membaca hati; namun  sewaktu mereka 

melihat bahwa seseorang yaitu  seorang bidah lewat perilaku eksternalnya, mereka 

menghakiminya sebagai bidah secara murni dan sederhana, dan mengutuknya sebagai 

bidah.”33 

Indefektibilitas - Istilah ini mengacu kepada janji Kristus, yaitu bahwa Ia akan selalu berada 

bersama dengan Gereja-Nya (Matius 28) dan bahwa pintu-pintu gerbang Neraka tidak dapat berjaya 

melawan Gereja-Nya (Matius 16). Indefektibilitas berarti bahwa Gereja Katolik akan, sampai akhir 

zaman, tetap pada hakikatnya menjadi Gereja Katolik. Indefektibilitas Gereja mensyaratkan agar setidak-

Glosarium 

16 

 

tidaknya suatu sisa Gereja akan berada sampai akhir zaman, agar ajaran-ajaran resmi Gereja tidak akan 

memuat kesalahan, dan agar seorang Paus sejati tidak akan pernah secara otoritatif mengajarkan 

kesalahan kepada segenap Gereja. Indefektibilitas tidak memustahilkan adanya para Anti-Paus yang 

menyamar sebagai Paus, atau suatu sekte palsu yang menyusutkan para pengikut Gereja Katolik yang 

sejati menjadi suatu sisa pada hari-hari terakhir; demikianlah apa yang persisnya diprediksikan akan 

terjadi pada akhir zaman dan apa yang dahulu terjadi pada saat terjadinya krisis Arian.  

St. Atanasius: 

“Walaupun para umat Katolik yang setia kepada tradisi berkurang sehingga hanya sekelumit saja 

jumlahnya, mereka itulah Gereja Yesus Kristus yang sejati.”

 

BAGIAN I – PEMAPARAN TENTANG 

SITUASI KINI GEREJA KATOLIK DAN 

KEMURTADAN PASCA-VATIKAN II 

DENGAN DETAIL-DETAIL FAKTUAL

Kemurtadan Besar dan Gereja Palsu Diprediksikan 

19 

 

1. Kemurtadan Besar dan Gereja Palsu 

Diprediksikan dalam Perjanjian Baru dan 

dalam Nubuat Katolik 

 

Lukas 18:8- “Akan namun , jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman 

di bumi?" 

Di dalam Injil, Tuhan kita Yesus Kristus memberi tahu kita bahwa pada akhir zaman, Iman yang sejati 

hampir tidak akan didapati di dunia. Ia memberi tahu kita bahwa “di dalam tempat suci” itu ”sendiri akan 

ada “Pembinasa Keji” (Matius 24:15), dan suatu penyesatan yang sedemikian besarnya sehingga 

andaikata mungkin, orang-orang pilihan pun akan disesatkan (Matius 24:24). 

Matius 24:15- “Maka sewaktu engkau melihat Pembinasa Keji, yang dibicarakan oleh 

Daniel sang nabi, berdiri di dalam tempat suci: barangsiapa membaca, hendaknya ia 

mengerti.” 

Matius 24:24-25- “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan 

mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, 

mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. Camkanlah, Aku sudah mengatakannya 

terlebih dahulu kepadamu.” 

2 Tes. 2:3-5- “Hendaknya engkau tidak membiarkan seorang pun menyesatkanmu dengan cara 

apa pun;  sebab hari itu tidak akan datang, sebelum datangnya kemurtadan itu, dan sebelum sang 

manusia pendosa tampak, sang putra kebinasaan, yang melawan dan ditinggikan di atas segala 

sesuatu yang disebut sebagai Allah, atau yang disembah, sehingga ia duduk di dalam bait Allah, 

memamerkan dirinya sendiri seolah-olah dirinya yaitu  Allah. Tidakkah engkau ingat, bahwa 

sewaktu aku masih berada bersamamu, aku selalu mengatakan hal-hal ini kepadamu?” 

Pada tahun 1903, Paus St. Pius X mengira bahwa ia mungkin sedang melihat permulaan dari kejahatan-

kejahatan yang akan sepenuhnya terjadi pada akhir zaman. 

Paus St. Pius X, E Supremi (#5), 4 Oktober 1903:  

” ... ada  suatu alasan yang baik untuk menakuti bahwa kebejatan besar ini mungkin 

layaknya suatu pertanda, dan mungkin merupakan permulaan dari kejahatan-kejahatan 

yang dipersiapkan untuk hari-hari terakhir; dan bahwa sang ‘Putra Kebinasaan’, yang 

disebutkan oleh sang Rasul, mungkin sudah ada di dunia ini (2 Tes. 2:3).”1 

Perjanjian Baru berkata bahwa penyesatan ini akan terjadi di tengah-tengah struktur fisik Gereja, 

yakni di dalam “Bait Allah” (2 Tes. 2:4) dan “di dalam tempat suci”(Mt. 24:15). Penyesatan ini akan 

terjadi sebab  orang-orang tidak menerima dan tidak mengasihi kebenaran (2 Tesalonika 2:10). 

Di dalam 2 Tesalonika 2, St. Paulus berbicara tentang akhir zaman yang ditandai oleh suatu kemurtadan 

besar yang akan menjadi kemurtadan yang terburuk – bahkan lebih buruk dibandingkan  krisis Arian pada 

abad ke-4, di mana hampir tidak dapat ditemukan seorang imam Katolik yang autentik. 

Kemurtadan Besar dan Gereja Palsu Diprediksikan 

20 

 

Romo William Jurgens: 

“Pada suatu waktu dalam sejarah Gereja, hanya beberapa tahun sebelum berkhotbahnya 

Gregorius [Nazianzus] (380 Masehi), kemungkinan jumlah uskup Katolik yang memiliki 

takhta, berbanding dengan uskup Arian yang memiliki takhta, tidaklah lebih banyak dari 

antara 1% dan 3% dari keseluruhannya. Jika saja doktrin ditentukan oleh popularitas, hari ini 

kita semua akan menjadi orang-orang yang menolak Kristus dan musuh dari Roh [Kudus].”2 

Romo William Jurgens: 

“Pada zaman Kaisar Valens (abad ke-4), Basilius hampir menjadi satu-satunya Uskup yang 

ortodoks di seluruh Dunia Timur yang berhasil mempertahankan yurisdiksi takhtanya … 

Jika hal ini sama sekali tidak memiliki makna yang lain bagi manusia modern, hendaknya suatu 

pengetahuan akan sejarah Arianisme setidak-tidaknya membuktikan bahwa Gereja Katolik tidak 

memperhitungkan popularitas dan jumlah dalam hal membentuk dan menjaga doktrin: jika tidak, 

sejak masa yang lampau itu, kita akan harus meninggalkan Basilius, Hilarius, Atanasius, dan 

Liberius serta Ossius dan menyebut diri kita sendiri pengikut Arius.”3 

St. Gregorius dari Nazianzus (380 Masehi), Melawan Para Arian {Against the Arians}:  

“Di manakah mereka yang memandang rendah kita sebab  kemiskinan kita dan mengagungkan 

diri mereka sendiri di dalam kekayaan mereka? Mereka yang mendefinisikan Gereja lewat 

jumlah dan mencemooh kawanan domba yang kecil?”4 

Jika krisis Arian – yang hanya merupakan suatu perkenalan untuk Kemurtadan Besar – sedemikian besar 

dan luasnya, akan sebesar dan seluas apa Kemurtadan Besar itu yang telah dinubuatkan oleh Tuhan kita 

dan Santo Paulus? 

Nubuat St. Nikolas dari Fluh (1417-1487):  

“Gereja akan dihukum sebab  kebanyakan dari para anggotanya, besar dan kecil, akan menjadi 

sedemikian sesatnya. Gereja semakin lama akan semakin tenggelam, sampai pada akhirnya, 

ia akan tampak musnah, dan suksesi Petrus dan para Rasul tiada lagi. namun , sesudah  hal ini 

terjadi, ia akan diagungkan dengan penuh jaya di hadapan semua orang yang meragukannya.”5 

St. Paulus berkata lebih lanjut bahwa hasil dari kemurtadan ini yaitu  bahwa seorang manusia duduk di 

dalam Bait Allah, “memamerkan dirinya sendiri seolah-olah dirinya yaitu  Allah.” Di dalam bagian yang 

lalu  di dalam buku ini, kami membuktikan bahwa hal inilah yang persisnya telah terjadi melalui 

seorang pria yang duduk di dalam Basilika St. Petrus, yang menyatakan bahwa dirinya sendiri dan semua 

orang yaitu  Allah. 

Romo Herman Kramer yaitu  seorang imam Katolik yang mempelajari dan menulis buku tentang Kitab 

Wahyu selama 30 tahun. Di dalam bukunya, ia menulis hal berikut tentang nubuat St. Paulus sehubungan 

dengan sang Antikristus yang duduk di dalam Bait Allah. 

“St. Paulus berkata bahwa sang Antikristus ‘duduk di dalam Bait Allah’ ... Bait ini bukanlah Bait 

Yerusalem kuno, dan juga bukan sebuah bait yang menyerupai Bait Yerusalem kuno yang 

dibangun oleh sang Antikristus, seperti yang telah diduga oleh beberapa orang, sebab jika 

demikian adanya, maka bait itu akan menjadi bait sang Antikristus sendiri … bait ini terbukti 

merupakan sebuah Gereja Katolik, kemungkinan salah satu dari gereja-gereja di Yerusalem atau 

Gereja St. Petrus di Roma, yang yaitu  gereja terbesar di dunia dan yang secara harfiah 

merupakan ‘Bait Allah’.”6 

Kemurtadan Besar dan Gereja Palsu Diprediksikan 

21 

 

Perhatikan bahwa Kramer berkata bahwa “Bait Allah” itu kemungkinan mengacu kepada Basilika St. 

Petrus di Roma. 

Paus Pius XI, Quinquagesimo ante (#30), 23 Des. 1929:  

“ … khalayak yang begitu besar jumlahnya berhimpun di Basilika Santo Petrus pada hari pertama 

dari bulan Desember … sehingga Kami mungkin belum pernah sebelumnya melihat Bait [Aedem] 

yang terluas megah ini begitu padat.”7 

Artikel The Catholic Encyclopedia [Ensiklopedia Katolik] tentang “Antikristus” mengindikasikan bahwa St. 

Bernardus percaya bahwa sang Antikristus akan merupakan seorang Anti-Paus: 

” ... St. Bernardus berkata di dalam ayat tentang Anti-Paus [sebagai Binatang dalam kitab 

Wahyu].”8 

Beato Yoakim (wafat 1202):  

“Menjelang akhir zaman, sang Antikristus akan menggulingkan Sri Paus dan merampas 

takhtanya.”9 

namun , terlepas bilamana seseorang percaya bahwa sang Antikristus akan merupakan seorang Anti-Paus 

atau tidak, yaitu  suatu hal yang telah dinubuatkan secara pasti bahwa kuasa sang Antikristus akan 

menguasai Roma pada akhir zaman. Pada tanggal 19 September 1846, Bunda Maria dari La Salette 

bernubuat bahwa Roma akan kehilangan Iman dan menjadi Takhta sang Antikristus di dalam 

kemurtadan dari Iman Katolik yang satu dan sejati pada akhir zaman. 

Bunda Maria di La Salette, 19 Sep. 1846: “Roma akan kehilangan Iman dan 

menjadi takhta sang Antikristus ... Gereja akan berada dalam gerhana.” 

 

 

Bunda Maria dari La Salette 

Kemurtadan Besar dan Gereja Palsu Diprediksikan 

22 

 

Nubuat yang mengejutkan ini bertepatan dengan nubuat-nubuat di dalam Kitab Suci (Wahyu 17 dan 18) 

yang memberitahukan kita bahwa kota di atas tujuh gunung (Roma) akan menjadi seorang pelacur 

(Mempelai Kristus yang palsu), yang akan melakukan perzinaan rohani (penyembahan berhala) dan 

menginjak-injak darah para kudus (ekumenisme sesat). Sang pelacur besar yang dinubuatkan di dalam 

Kitab Suci bukanlah Gereja Katolik, melainkan suatu Gereja Katolik yang palsu, seorang Mempelai yang 

pemurtad dan palsu yang muncul pada akhir zaman untuk menyesatkan para umat Katolik dan menjadi 

gerhana bagi Gereja yang sejati yang telah disusutkan menjadi suatu sisa. Di dalam buku ini, kami akan 

mengajukan bukti yang sangat banyak, yang tidak terbantahkan, dan yang tidak dapat dipungkiri, 

berdasar  doktrin dan fakta-fakta yang tak dapat dipertanyakan, bahwa “Gereja” yang muncul 

bersama dengan Konsili Vatikan Kedua (1962-1965) sama sekali bukan Gereja Katolik, melainkan suatu 

Kontra-Gereja luar biasa palsu, yang menyangkal ajaran-ajaran Gereja Katolik yang mendasar. 

Kami akan memperlihatkan bahwa para pria yang memberlakukan agama Vatikan II ini dan Misa Baru 

sama sekali tidak Katolik, melainkan para bidah manifes [terbuka/terang-terangan] yang 

mengkhotbahkan suatu agama baru. 

Kenyataannya, segala keraguan tentang keaslian pesan Bunda Maria dari La Salette akan 

dihancurkan dengan mencermati bukti di dalam buku ini secara saksama. Antara lain, buku ini 

akan mendokumentasikan bahwa Vatikan sekarang mengajarkan bahwa orang-orang Yahudi sama sekali 

bebas untuk tidak percaya akan Yesus Kristus.  

Hal ini mungkin mengejutkan beberapa orang, namun  ini yaitu  sebuah fakta. Bahkan, tanpa perlu 

mempertimbangkan segala kemurtadan lainnya yang akan kami bahas di dalam buku ini, fakta ini 

membuktikan bahwa perkataan Bunda Maria telah menjadi kenyataan: Roma (bukan Gereja Katolik) 

telah kehilangan Iman (diserahkan kepada suatu sekte palsu yang non-Katolik) dan menjadi takhta sang 

Antikristus. 

Pada akhir tahun 2001, Komisi Kepausan bagi Kitab Suci merilis sebuah buku berjudul The Jewish People 

and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible [Orang-Orang Yahudi dan Kitab Suci Mereka di dalam 

Kitab Suci Kristiani]. Buku ini berargumentasi bahwa penantian orang-orang Yahudi untuk sang 

Mesias diabsahkan dan dibenarkan oleh Perjanjian Lama. “Penantian untuk sang Mesias dibenarkan 

di dalam Perjanjian Lama”, demikianlah penjelasan dari juru bicara Kepausan Joaquin Navarro-Valls, 

“dan jika Perjanjian Lama tetap sah, maka penantian itu juga tetap sah. Perjanjian Lama berkata bahwa 

anda tidak dapat semata-mata berkata bahwa semua orang Yahudi salah dan kita benar.” Sewaktu ia 

ditanya oleh para wartawan bilamana pernyataan-pernyataannya mungkin dapat dipahami sehingga 

menyiratkan bahwa sang Mesias kenyataannya mungkin belum datang, Navaro-Valls menjawab, “Artinya 

yaitu  akan menjadi suatu kesalahan bagi seorang Katolik untuk menantikan sang Mesias, namun  

bukanlah kesalahan bagi seorang Yahudi.” Hal ini berarti bahwa Vatikan sekarang percaya bahwa orang-

orang Yahudi sama sekali bebas untuk menolak Kristus; inilah ajaran para “Paus” Vatikan II. 

Kemurtadan Besar dan Gereja Palsu Diprediksikan 

23 

 

 

 

 

Roma telah kehilangan Iman dan menjadi takhta sang Antikristus. 

1 Yohanes 2:22- “Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus yaitu  

Kristus? Dia itu yaitu  antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.” 

namun  bagaimanakah hal ini terjadi, dan apakah orang-orang Katolik harus menyikapinya? Kami akan 

berusaha untuk menjawab kedua pertanyaan itu secara rinci di dalam buku ini. 

 

2. Versi Orisinal Doa kepada St. Mikhael 

dari Paus Leo XIII – Suatu Nubuat tentang 

Kemurtadan di Roma di Masa yang Akan 

Datang 

Versi orisinal dari Doa Kepada St. Mikhael, Malaikat Agung dari Paus Leo XIII 

yaitu  doa yang bernubuat. Doa ini ditulis lebih dari 100 tahun lalu dan lalu 

ditiadakan akibat isinya yang mengejutkan. Versi orisinal dari Doa kepada St. 

Mikhael dari Paus Leo XIII ini yaitu  salah satu dari doa-doa yang paling 

menarik dan kontroversial sehubungan dengan situasi masa kini di mana 

Gereja Katolik yang sejati berada. Pada tanggal 25 September 1888, sesudah  

Misa pagi, Paus Leo XIII mengalami trauma yang sedemikian rupa sehingga 

membuat dirinya pingsan. Orang-orang yang hadir di sekitar dirinya mengira 

bahwa ia meninggal dunia. Sewaktu ia siuman, Sri Paus mendeskripsikan 

suatu percakapan yang menakutkan yang didengarnya berasal dari dekat 

tabernakel. Di dalam percakapan itu, ia mendengar dua suara – suara-suara 

yang secara jelas dipahami oleh Paus Leo XIII sebagai suara-suara dari Yesus 

Kristus dan Iblis. Iblis berbangga diri bahwa ia mampu menghancurkan 

Gereja, seandainya ia diberikan jangka waktu 75 tahun untuk melaksanakan 

rencananya (atau 100 tahun menurut beberapa laporan). Iblis juga meminta izin atas “suatu pengaruh 

yang lebih besar atas orang-orang yang akan menyerahkan diri mereka sendiri untuk melayaniku.” 

Kepada permintaan-permintaan Iblis, Tuhan kita dilaporkan memberi tanggapan ini: “engkau akan 

diberikan waktu dan kuasa untuk melaksanakannya.”  

Paus Leo XIII sangat terkejut akan hal yang telah didengarnya. Maka dari itu, ia mengarang versi orisinal 

dari Doa kepada St. Mikhael berikut (yang juga yaitu  suatu nubuat) dan memerintahkan agar doa ini 

diucapkan sesudah  Misa-Misa Rendah sebagai suatu perlindungan bagi Gereja terhadap serangan-

serangan dari Neraka. Berikut yaitu  versi orisinal dari doa ini  (mohon perhatikan, terutama, 

bagian yang dicetak tebal), yang diikuti oleh beberapa komentar kami. Doa Orisinal ini diambil dari 

The Raccolta, 1930 (Benziger Bros., hal. 314-315). The Raccolta yaitu  suatu kumpulan doa yang 

resmi dan berindulgensi dari Gereja Katolik yang telah dianugerahi imprimatur. 

_____________________________ 

Berikut doanya: 

“Ya Santo Mikhael, Malaikat Agung yang mulia, Panglima bala tentara surgawi, jadilah engkau 

pembela kami dalam peperangan yang mengerikan yang kami laksanakan melawan penghulu-

penghulu, melawan Kuasa-Kuasa, melawan para penguasa dunia kegelapan ini, roh-roh 

kejahatan. Datanglah untuk membantu manusia, yang diciptakan oleh Allah agar tidak mengalami 

kematian, yang dibuat dari gambaran dan rupa Allah, dan yang ditebus dengan harga yang mahal 

dari kezaliman Iblis. 

Bertempurlah pada hari ini di dalam pertempuran Tuhan, bersama dengan para malaikat kudus, 

sebagaimana engkau telah bertempur melawan sang pemimpin dari para malaikat yang angkuh, 

Paus Leo XIII 

25 

 

Lucifer, serta para bala tentaranya yang pemurtad, yang dahulu tidak berdaya melawanmu, dan 

yang tidak lagi memiliki tempat di dalam Surga. 

Ular yang tua itu, ular yang kejam itu, yang dinamai Iblis atau Setan, yang menyesatkan segenap 

dunia, telah dicampakkan ke dalam jurang bersama dengan para malaikatnya. Lihatlah, musuh 

dan pembunuh manusia yang tua ini telah memberanikan diri. Ia menyamar sebagai malaikat 

terang, dan mengembara bersama dengan beberapa  besar roh-roh fasik, menyerbu dunia demi 

menghapuskan nama Allah dan Kristus-Nya, demi menyergap, membunuh, dan mencampakkan 

ke dalam kebinasaan kekal jiwa-jiwa yang ditakdirkan untuk memperoleh mahkota kemuliaan 

abadi. Sang naga yang fasik ini menumpahkan, layaknya banjir yang amat menjijikkan, racun dari 

niat jahatnya atas para manusia yang jangak pikirannya dan bejat hatinya, roh dusta, 

ketidakberimanan, penghujatan, dan napas penyebar wabah ketidakmurnian, dan segala 

kemaksiatan dan pelanggaran.  

Para musuh yang terlicik ini telah memenuhi dan memabukkan Gereja 

dengan empedu dan kegetiran, Gereja yang yaitu  mempelai dari Anak 

Domba yang tak bernoda, dan telah menjamah dengan tangan mereka 

yang fasik kepunyaannya yang terkudus. Di dalam Tempat Suci sendiri, 

di mana telah didirikan Takhta dari Petrus yang amat kudus serta 

Takhta Kebenaran sebagai terang bagi dunia, mereka telah 

mengangkat takhta kefasikan mereka yang keji, dengan rancangan 

kejahatan agar sewaktu sang Gembala telah diserang, domba-domba 

akan tercerai-berai. 

Sebab itulah, wahai Panglima yang tak terkalahkan, bangkitlah, berikanlah bantuan untuk 

melawan serangan-serangan dari roh-roh sesat itu kepada umat Allah, dan berikanlah mereka 

kemenangan. Mereka menghormatimu sebagai pembela dan Pelindung mereka; oleh sebab  

dirimulah Gereja yang kudus bersukacita, engkau yang yaitu  pelindungnya melawan kuasa 

Neraka yang jahat; kepadamulah Allah telah memercayakan jiwa umat manusia untuk ditetapkan 

di dalam kebahagiaan surgawi. Panjatkanlah doa kepada Allah sang pembawa damai, agar Ia 

meremukkan Setan di bawah kaki kami, agar ia tidak lagi menawan manusia dan mencelakai 

Gereja. Persembahkanlah doa-doa kami di hadapan Yang Mahatinggi, agar kami dapat segera 

memperoleh kerahiman Tuhan; dan hendaknya engkau merenggut sang naga, ular tua itu, yang 

yaitu  Iblis dan Setan, hendaknya engkau kembali mencampakkannya terantai ke dalam jurang, 

agar tidak lagi ia dapat menyesatkan bangsa-bangsa. 

L: Lihatlah salib Tuhan; enyahlah kuasa-kuasa musuh. 

R: Ia telah berjaya, sang singa dari suku Yudea, sang akar Daud! 

L: Hendaknya kerahiman-Mu tercurah atas diri kami, Ya Tuhan. 

R: Sebagaimana harapan kami di dalam Engkau. 

L: Ya Tuhan, dengarkanlah doaku! 

R: Dan hendaknya seruanku sampai kepada-Mu. 

Paus Leo XIII 

26 

 

Marilah kita berdoa 

Ya Allah, Bapa Tuhan kami Yesus Kristus, kami memanggil Nama-Mu yang Kudus, dan memohon 

pengampunan-Mu, agar dengan perantaraan Maria yang tak Bernoda, Bunda Allah yang 

selamanya Perawan, dan Santo Mikhael Malaikat Agung yang mulia, Engkau sudi membantu kami 

untuk melawan Setan dan segala roh najis, yang berkeliaran di dunia untuk mencelakai umat 

manusia dan membinasakan jiwa-jiwa. Dengan perantaraan Kristus yang sama, Tuhan kami. 

Amin.”  

 

Seperti yang dapat dilihat oleh seseorang yang membaca doa itu (terutama, bagian yang dicetak tebal), 

Paus Leo XIII menubuatkan dan memprediksikan datangnya Kemurtadan Besar; dan dengan saksama ia 

menyatakan bahwa kemurtadan ini akan dipimpin dari Roma – Roma, satu-satunya yang merupakan 

“Tempat Suci sendiri, di mana telah didirikan Takhta dari Petrus yang amat kudus serta Takhta Kebenaran 

sebagai terang bagi dunia.” Paus Leo dengan jelas memprediksikan bahwa tempat ini (Kota Vatikan 

di Roma), di mana telah didirikan Takhta Petrus oleh Sri Paus yang pertama, St. Petrus sendiri, 

akan menjadi takhta dari takhta ketidakberimanan Setan, dengan “rancangan kejahatan agar 

sewaktu sang Gembala telah diserang, domba-domba (para umat beriman Katolik) akan tercerai-berai.” Itu 

yaitu  kata-kata Paus Leo XIII sendiri 

Paus Leo XIII tidak sedang memprediksikan membelotnya Gereja Katolik (yang yaitu  suatu 

kemustahilan, sebab pintu gerbang Neraka tidak akan pernah dapat berjaya melawan Gereja [Mt. 16]), 

atau membelotnya Takhta Petrus (yang juga mustahil), namun , ia sedang menubuatkan implementasi dari 

suatu agama Katolik palsu yang pemurtad dari Roma, di mana “sang gembala” (Sri Paus yang sejati) 

digantikan oleh seorang Anti-Paus yang merenggut kekuasaan (seperti yang telah terjadi pada 

waktu-waktu tertentu di dalam sejarah Gereja), dengan rancangan kejahatan agar “domba-domba akan 

tercerai-berai”. 

Doa Paus Leo juga menubuatkan bahwa para pemurtad yang tidak murni itu, para pengikut Setan, akan 

menjamah dengan tangan mereka yang fasik “kepunyaannya [Gereja] yang terkudus”. Apakah itu 

kepunyaan Gereja yang terkudus? Kepunyaan terkudus yang dimiliki oleh Gereja yaitu  hal-hal yang 

telah dipercayakan oleh Allah kepada Gereja: yakni, khazanah iman (dengan segala dogmanya) dan 

ketujuh sakramen yang telah diinstitusikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus sendiri. Maka, doa Paus Leo 

menubuatkan upaya untuk menghancurkan khazanah iman dengan Vatikan II dan ritus-ritus 

sakramental dari Gereja Vatikan II. Kedua hal ini akan dibahas secara rinci di dalam buku ini. Kita akan 

melihat bahwa Paulus VI menjamah dengan tangannya yang fasik ketujuh ritus sakramental Gereja 

bermula dari bulan April tahun 1969. Tindakannya itu membuahkan sebuah Misa Baru yang tidak valid, 

Ritus Penahbisan yang tidak valid, dan ritus-ritus Penguatan dan Pengurapan Terakhir yang sangat 

diragukan, tindakan yang menggenapi prediksi Paus Leo secara saksama. 

Pada tahun 1934, doa Paus Leo yang mengejutkan itu (yang ditulis di atas) diubah tanpa penjelasan. 

Kata-kata kunci yang mengacu kepada kemurtadan di Roma (Tempat Suci, di mana telah 

didirikan Takhta Petrus sebagai terang bagi dunia) telah dihapuskan. Di sekitar waktu yang sama, 

Doa kepada St. Mikhael yang lebih panjang dari Paus Leo XIII ini sesudah  setiap Misa Rendah, digantikan 

dengan suatu doa yang lebih pendek; Doa kepada St. Mikhael yang dipersingkat