KENYATAAN TENTANG APA YANG
SEBENARNYA TERJADI KEPADA GEREJA
KATOLIK sesudah VATIKAN II
Yohanes Paulus II pada suatu perkumpulan doa sinkretis dengan berbagai pemimpin agama sesat di Assisi pada tahun
1986. Aktivitas “ekumenis” ini selalu dikutuk oleh Gereja Katolik, dan secara khusus dicap sebagai suatu penolakan
penuh terhadap Iman Katolik oleh Paus Pius XI di tahun 1928. Ini yaitu suatu revolusi melawan Iman Katolik – suatu
Injil yang baru. Apakah yang sedang terjadi di sini? Bacalah buku ini untuk tahu lebih banyak.
Glosarium
6
Glosarium Istilah dan Prinsip
Kami berharap bahwa glosarium istilah dan prinsip ini akan membantu orang-orang yang kurang
akrab dengan istilah-istilah, topik-topik, atau prinsip-prinsip tertentu yang sering didiskusikan di dalam
buku ini. Kami merasa bahwa lebih berguna jika glosarium ini diatur berdasar tema dan bukan
berdasar urutan abjad.
Kepausan - Jabatan seorang Paus, penerus Santo Petrus, yang didirikan oleh Yesus Kristus di atas
Santo Petrus sebagai kepala dari Gereja Kristiani (Matius 16:18-20; Yohanes 21:15-17). Para uskup Roma
yaitu para penerus Santo Petrus. Mereka memiliki keutamaan yang sama di dalam Gereja Kristiani
dengan keutamaan yang dimiliki oleh Santo Petrus di dalam Gereja apostolik.
Magisterium - Otoritas pengajaran dari Gereja Katolik yang dilaksanakan oleh seorang Paus
sewaktu ia menyatakan suatu dogma dengan otoritas Kepausan. Tidak semua pernyataan seorang Paus
yaitu ajaran Magisterium. Seorang Paus berbicara secara magisterial sewaktu ia memenuhi syarat-
syarat tertentu (seperti yang telah didefinisikan oleh Konsili Vatikan I). Orang-orang yang setia kepada
Magisterium yaitu mereka yang setia kepada segala hal yang telah diajarkan secara dogmatis oleh
semua Paus di sepanjang sejarah atau yang dinyatakan sebagai hal yang telah selalu dipegang atau
dinyatakan oleh Gereja Katolik.
Ex cathedra - Kata dalam bahasa Latin untuk “dari Takhta”. Istilah ini mengacu kepada seorang Paus
sewaktu ia berbicara secara infalibel dari Takhta Santo Petrus dan memenuhi syarat-syarat untuk suatu
pernyataan yang infalibel. yaitu suatu bidah dan dosa berat untuk menolak suatu pernyataan yang
bersifat ex cathedra dari seorang Paus, yang merupakan suatu hal yang tidak dapat diubah, sebab
pernyataan semacam itu yaitu suatu dogma yang telah diwahyukan oleh Kristus kepada Gereja.
Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, 1870, Sesi 4, Bab 4:
“ ... bahwa sewaktu Sri Paus Roma berbicara secara ‘ex cathedra’, yakni, sewaktu ia
mendefinisikan atas dasar otoritas apostoliknya yang tertinggi, demi menunaikan tanggung
jawabnya sebagai gembala dan pengajar segenap umat Kristiani, bahwa suatu doktrin tentang
iman atau moral harus dipercayai oleh Gereja universal, ia bertindak sepenuhnya dengan
infalibilitas ini, berkat pertolongan ilahi yang telah dijanjikan kepadanya dalam pribadi Petrus
yang terberkati, yaitu infalibilitas yang telah dikehendaki oleh sang Penebus ilahi sebagai bekal
bagi Gereja dalam mendefinisikan doktrin yang menyangkut iman atau moral; dan dengan
demikian, bahwa definisi-definisi semacam itu dari Sri Paus Roma tidak dapat diubah atas dasar
dirinya sendiri, dan bukan atas dasar pemufakatan Gereja.”1
Wahyu ilahi / dogma - Kebenaran Yesus Kristus yaitu ajaran Wahyu ilahi. Gereja Katolik
mengajarkan bahwa dua sumber Wahyu ilahi yaitu Kitab Suci dan Tradisi Suci; isi Kitab Suci dan
Tradisi Suci disajikan oleh Magisterium Gereja Katolik. Wahyu ilahi berakhir dengan meninggalnya rasul
terakhir. Dogma tidak dapat berubah. Sewaktu seorang Paus mendefinisikan suatu dogma, ia tidak
menjadikan dogma ini benar sejak saat itu, namun , Sri Paus tanpa membuat kesalahan menyatakan
secara khidmat apa yang telah selalu benar sejak kematian rasul terakhir. Kita harus memercayai dogma
sebagaimana “yang telah sekalinya dinyatakan oleh Bunda Gereja yang kudus; dan tidak pernah boleh
Glosarium
ada pergeseran dari makna ini di balik dalih dan atas nama suatu pemahaman yang lebih
mendalam.”
Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, Sesi 3, bab 2 tentang Wahyu, 1870, ex cathedra:
“Itulah pula mengapa dogma-dogma suci harus senantiasa dipertahankan dengan makna yang
telah sekalinya dinyatakan oleh Bunda Gereja yang kudus; dan tidak pernah boleh ada pergeseran
dari makna ini di balik dalih dan atas nama suatu pemahaman yang lebih mendalam.”2
Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, Sesi 3, bab 4, kanon 3:
“Barang siapa berkata bahwa yaitu suatu hal yang mungkin bahwa kepada dogma-dogma yang
dinyatakan oleh Gereja, suatu makna terkadang harus diatribusikan menurut perkembangan
ilmu pengetahuan, yang berbeda dari makna yang telah dimengerti dan yang dimengerti oleh
Gereja: terkutuklah dia.”3
Bidah (Heretic dalam bahasa Inggris) - Seseorang yang telah dibaptis yang menolak suatu
dogma dari Gereja Katolik. Para bidah secara otomatis terekskomunikasi dari Gereja (ipso facto/oleh
sebab fakta itu sendiri) tanpa perlu pernyataan/deklarasi apa pun, sebab mereka telah menolak suatu
ajaran otoritatif tentang Iman.
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896:
“ … tidak seorang pun yang semata-mata tidak percaya akan semua kesesatan itu (yakni, bidah-
bidah itu yang baru saja ia sebutkan) dapat memandang dirinya sendiri atau menyebut dirinya
sendiri Kristen Katolik. Sebab mungkin ada atau mungkin muncul bidah-bidah yang lain
yang tidak disebutkan di dalam karya ini, dan barangsiapa menganut satu pun dari bidah-
bidah ini , ia bukan lagi seorang Kristen Katolik.”4
Paus St. Pius X, Editae Saepe, 26 Mei 1910:
“yaitu suatu fakta yang pasti dan yang telah terbukti secara baik bahwa tiada suatu kejahatan
pun yang sedemikian parahnya menghina Allah dan menggelegakkan murka-Nya yang
terbesar selain kejahatan bidah.”5
Skismatis - Seseorang yang telah dibaptis yang menolak persekutuan bersama seorang Paus yang
sejati ataupun dengan orang-orang Katolik yang sejati. Kaum skismatis juga hampir selalu merupakan
bidah. Kaum skismatis juga terkena ekskomunikasi secara otomatis.
Pemurtad - Seseorang yang telah dibaptis yang tidak hanya menyangkal satu atau beberapa
kebenaran tentang iman Katolik, namun yang meninggalkan Iman Kristiani sepenuhnya. Para pemurtad
juga terkena ekskomunikasi secara otomatis.
Anti-Paus - Seseorang yang secara salah mengaku sebagai seorang Paus (yaitu seseorang yang secara
salah mengaku sebagai uskup Roma). Sudah ada lebih dari empat puluh Anti-Paus di sepanjang sejarah,
beberapa dari antara mereka memimpin dari Roma. Buku ini membuktikan bahwa revolusi Vatikan II
telah dilaksanakan oleh para pria yang yaitu para Anti-Paus, yang secara palsu memperlihatkan diri
mereka sendiri seolah-olah mereka yaitu Paus yang sejati.
Sedevakantis (posisi sedevakantis) - Di dalam bahasa Latin, Sede berarti “kursi”/“takhta”
dan Vacante berarti “kosong”. Suatu masa sedevacante yaitu suatu kurun waktu di mana tidak ada
Paus. Kurun waktu ini biasanya terjadi sesudah kematian seorang Paus atau sesudah seorang Paus
mengundurkan diri. Kurun waktu ini telah terjadi lebih dari dua ratus kali di dalam sejarah Gereja, dan
Glosarium
8
kadang kala berlangsung selama beberapa tahun. Para Doktor Gereja mengajarkan pula bahwa Takhta
Petrus akan menjadi kosong seandainya seorang Paus menjadi seorang bidah terang-terangan. Posisi
sedevakantis menggambarkan posisi umat Katolik tradisional yang mendukung bahwa Takhta dari Santo
Petrus pada saat ini kosong, sebab dapat dibuktikan bahwa pria yang ada di Roma pada saat ini yaitu
seorang bidah publik, dan oleh sebab itu bukanlah seorang Paus.
Vatikan II - Suatu konsili yang berlangsung dari tahun 1962 sampai 1965. Vatikan II mengaku
sebagai suatu konsili umum dari Gereja Katolik, namun kenyataannya yaitu suatu “konsili penyamun”
yang revolusioner, yang mengajarkan doktrin-doktrin yang telah dikutuk oleh Gereja Katolik. Vatikan II
mendatangkan suatu agama baru, dan bertanggung jawab atas buah-buah busuk yang mencengangkan
dan perubahan-perubahan revolusioner yang berlangsung sesudah penutupannya.
Sekte Vatikan II - Frase ini mendeskripsikan Gereja palsu yang muncul sejak Vatikan II, yang
dinubuatkan di dalam nubuat Katolik dan di dalam Kitab Suci. Sekte sesat ini penuh dengan bidah,
kemurtadan, dan skandal-skandal yang paling tercela, sebagaimana yang dibuktikan oleh buku ini
dengan luar biasa rincinya. Buku ini membuktikan bahwa sekte Vatikan II bukanlah Gereja Katolik,
melainkan gereja palsu milik Iblis yang bertujuan untuk menyesatkan orang-orang pada masa
Kemurtadan Besar.
Novus Ordo Missae - Istilah dalam bahasa Latin untuk Orde Baru Misa (Tata Cara Misa yang Baru),
yang mengacu kepada Misa baru yang dipermaklumkan oleh Paulus VI, pada tanggal 3 April 1969.
Gereja Novus Ordo - Sebagaimana yang digunakan di dalam buku ini, istilah ini yaitu sinonim
untuk istilah “sekte Vatikan II,” yang menggambarkan Gereja palsu Vatikan II, Misa Baru, dan para
pengikutnya.
Katolik tradisional - Seseorang yang sederhananya Katolik, yang menganut iman Katolik dari
sepanjang zaman, yang berpegang kepada semua dogma yang diproklamasikan oleh para Paus, serta
ritus-ritus tradisional Gereja. Seorang Katolik tradisional tidak menerima agama sesat Vatikan II, dan ia
pun tidak menerima Misa Baru (Novus Ordo), sebab hal-hal semacam itu yaitu inovasi-inovasi yang
bertentangan dengan ajaran Katolik.
Tradisionalis palsu - Seseorang yang menganut Iman Katolik tradisional dalam beberapa hal
tertentu (seperti dalam melawan ekumenisme atau beberapa aspek Vatikan II), namun juga tetap
mempertahankan suatu kesetiaan tertentu terhadap sekte Vatikan II. Para tradisionalis palsu biasanya
bersetia kepada sekte Vatikan II sebab mereka menerima para “Paus” pasca-Vatikan II sebagai para
Paus yang sejati walaupun para “Paus” pasca-Vatikan II dapat dibuktikan sebagai Anti-Paus (seperti yang
diperlihatkan di dalam buku ini).
Ekumenisme – Istilah ini mengacu kepada ajaran Vatikan II dan para “Paus” sesudah Vatikan II
sehubungan dengan perihal bergabung bersama, berdoa bersama, dan menghormati agama-agama sesat.
“Ekumenisme” sebagaimana yang dipraktikkan dan diajarkan oleh sekte Vatikan II, secara langsung
dikutuk oleh ajaran Katolik, para Paus dan segenap tradisi Gereja. Ekumenisme Vatikan II memandang
agama yang sejati sederajat dengan agama-agama sesat, dan Allah yang sejati sederajat dengan ilah-ilah
sesat. Ekumenisme sekte Vatikan II didedahkan dengan luar biasa rinci di dalam buku ini. Beberapa
orang berkata bahwa, dalam makna sempitnya, Ekumenisme mengacu kepada praktik bidah untuk
bergabung bersama sekte-sekte skismatis, sedangkan dialog antaragama mengacu kepada praktik yang
Glosarium
9
sama dengan agama-agama non-Kristiani. namun , kedua istilah itu pada dasarnya merupakan persamaan
kata di zaman ini.
KONSEP-KONSEP KATOLIK TENTANG AGAMA-AGAMA NON-KATOLIK
Agama-agama non-Katolik yaitu agama-agama sesat / Tidak ada
Keselamatan di luar Gereja Katolik - Gereja Katolik mengajarkan secara dogmatis bahwa
hanya ada satu agama yang sejati dan satu Allah yang sejati. Gereja mengajarkan bahwa semua
agama non-Katolik yaitu agama yang sesat dan milik Iblis. yaitu suatu dogma dari iman Katolik bahwa
di luar Gereja Katolik tidak ada keselamatan (extra ecclesiam nulla salus). Dogma ini telah
didefinisikan tujuh kali oleh para Paus yang berbicara secara ex cathedra.
Paus St. Gregorius Agung, dikutip di dalam Summo Iugiter Studio, 590-604:
“Gereja yang kudus dan universal mengajarkan bahwa mustahil adanya untuk menyembah Allah
secara benar kecuali di dalam dirinya [Gereja] dan menyatakan bahwa semua orang yang berada
di luar dirinya tidak akan diselamatkan.”6
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate Domino”, 1441, ex cathedra:
“Ia [Gereja Roma yang Kudus] dengan teguh percaya, mengakui dan berkhotbah bahwa ‘semua
orang yang berada di luar Gereja Katolik, bukan hanya orang-orang pagan namun juga Yahudi atau
bidah dan skismatis, tidak dapat mengambil bagian di dalam kehidupan kekal dan akan masuk ke
dalam api yang kekal yang telah disiapkan untuk iblis dan para malaikatnya’, [Matius 25, 41]
kecuali jika mereka bergabung ke dalam Gereja sebelum akhir hidup mereka; bahwa kesatuan
dari tubuh gerejawi ini sedemikian kuatnya sehingga hanya kepada mereka yang tetap tinggal di
dalamnyalah sakramen-sakramen Gereja berdaya guna menuju keselamatan, dan hanya kepada
mereka jugalah puasa, derma, dan karya-karya kesalehan serta praktik-praktik lain dari para
laskar Kristiani menghasilkan upah yang abadi; dan bahwa tidak seorang pun dapat
diselamatkan, sebanyak apa pun ia telah berderma, walaupun ia telah menumpahkan darah
dalam nama Kristus, kecuali ia telah bertekun di pangkuan dan di dalam kesatuan Gereja
Katolik..”7
Paganisme / pemujaan ilah-ilah yang lain - Istilah paganisme mengacu kepada agama-
agama politeis sesat, seperti Buddhisme, Hinduisme, dst. Gereja Katolik mengajarkan bahwa ilah-ilah
atau ”dewa-dewi” yang disembah oleh para pengikut agama pagan (yang memuja berbagai macam
”dewa-dewi”) yaitu iblis.
Mazmur 96:5 - “Segala ilah orang-orang pagan yaitu roh-roh jahat ….”
1 Korintus 10:20 – “namun hal-hal yang dipersembahkan oleh para penyembah berhala yaitu
persembahan kepada roh-roh jahat dan bukan kepada Allah. Dan aku tidak ingin kalian menjadi
sekutu roh-roh jahat.”
Paus Pius XI, Ad Salutem (#27), 20 April 1930:
“ ... segala pemaksaan dan kegilaan, segala ketercelaan dan hawa nafsu, masuk ke dalam hidup
manusia melalui penyembahan ilah-ilah sesat.”8
Islam - Suatu agama sesat yang diwahyukan oleh nabi palsu Muhammad. Para pengikutnya disebut
Muslim dan mengikuti kitab yang bernama Alquran. Para Muslim menolak Allah Tritunggal dan Keilahian
Kristus. Menurut ajaran Katolik, Islam yaitu suatu kekejian dan sekte satanik (yaitu, suatu sekte yang
Glosarium
10
berasal dari Iblis). Para Muslim yaitu orang-orang kafir (istilahnya dalam bahasa Latin yaitu īnfidēlis).
Mereka perlu berkonversi agar mampu memperoleh keselamatan.
Paus Eugenius IV, Konsili Basel, 1434:
“ … ada harapan bahwa begitu banyak pengikut sekte Mahomet [Muhammad] yang keji
akan berkonversi kepada iman Katolik.”9
Paus Kalikstus III, 1455:
“Saya bersumpah untuk … meninggikan Iman sejati, dan untuk menumpas sekte iblis dari
Mahomet [Islam] yang terkutuk dan tidak beriman di dunia Timur.”10
Sekte Vatikan II memuji-muji Islam dan menganggapnya sebagai suatu agama yang baik.
Yahudi - Agama yang menolak Yesus Kristus sebagai Mesias dan yang berupaya mengamalkan Hukum
Lama yang diberikan lewat perantaraan Musa. Agama Yahudi percaya bahwa sang Mesias masih akan
datang untuk pertama kalinya. Gereja Katolik mengajarkan bahwa Hukum Lama telah dibatalkan dengan
kedatangan Kristus, dan bahwa seseorang berdosa berat jika ia terus menaati Hukum Lama (seturut
Konsili Florence), dan bahwa para pengikut agama Yahudi tidak akan diselamatkan jika mereka tidak
berkonversi kepada Yesus Kristus dan Iman Katolik.
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, 1441, ex cathedra:
“Ia [Gereja Roma yang Kudus] dengan teguh percaya, mengakui, dan mengajarkan bahwa
ketentuan-ketentuan hukum dari Perjanjian Lama, atau dari hukum Musa, yang terbagi menjadi
perayaan-perayaan, ritus-ritus kudus, kurban-kurban, dan sakramen-sakramen ... sesudah
kedatangan Tuhan kita ... telah berakhir, dan sakramen-sakramen Perjanjian Baru bermula ... Oleh
sebab itu, ia [Gereja] mencela sebagai orang-orang yang terasing dari iman akan Kristus, semua
orang yang, sejak dari masa itu menaati penyunatan, Sabat, dan segala kewajiban dari hukum
ini , dan menyatakan bahwa mereka tidak dapat mengambil bagian di dalam keselamatan
kekal.”11
Paus Benediktus XIV, A Quo Primum, 14 Juni 1751:
“Tentunya tidaklah sia-sia Gereja mempersembahkan Doa universal demi orang-orang Yahudi
yang durhaka sejak terbitnya matahari sampai pada terbenamnya, agar Allah dan Tuhan
mengangkat selubung hati mereka, dan agar mereka dapat direnggut dari kegelapan mereka
sehingga sampai kepada terang kebenaran.”12
Ortodoks / Ortodoks Timur - Para pengikut skisma dari Gereja Katolik yang terjadi pada tahun
1054. Orang-orang “Ortodoks” menolak dogma Kepausan, Infalibilitas Kepausan, dan ketiga belas konsili
dogmatis terakhir dari Gereja. Mereka juga memperbolehkan perceraian dan pernikahan kembali.
Mereka dianggap sebagai para bidah dan skismatis menurut ajaran Katolik. Mereka perlu berkonversi
untuk memperoleh persekutuan dan keselamatan.
Paus Benediktus XIV, Allatae Sunt (#19), 26 Juli 1755:
“Pertama, sang misionaris yang dengan pertolongan Allah berupaya untuk memulangkan para
skismatis Yunani dan Timur kepada kesatuan harus membaktikan segala upayanya untuk tujuan
satu-satunya, yakni, membebaskan mereka dari doktrin-doktrin yang bertentangan dengan iman
Katolik.”13
Glosarium
11
Bagaimanapun, sekte Vatikan II berkata bahwa para “Ortodoks” tidak perlu dikonversikan untuk
memperoleh keselamatan. Vatikan II mengajarkan bahwa mereka yaitu bagian dari Gereja yang sejati
dan bahwa mereka berada di dalam jalan keselamatan (seperti yang dibuktikan di dalam buku ini).
Protestan - Para pengikut sekte-sekte yang memisahkan diri dari Gereja Katolik sejak
pemberontakan Martin Luther di tahun 1517. Orang-orang Protestan yaitu orang-orang yang menolak
dogma Katolik dalam satu atau beberapa hal. Seseorang yang menolak atau membangkang terhadap satu
dogma Katolik pun yaitu seorang bidah dan terekskomunikasi secara ipso facto. Para Protestan
biasanya menolak dogma Katolik dalam hal imamat, Misa, sakramen, Kepausan, perlunya iman dan
perbuatan, perantaraan para kudus, dll.
Paus Pius XI, Rerum omnium perturbationem (#4), 26 Januari 1923:
“ ... bidah-bidah yang terlahir dari Reformasi [Protestan]. Di dalam bidah-bidah inilah kita
menemukan awal mula kemurtadan umat manusia dari Gereja ....”14
Paus Leo XII, Ubi Primum (#14), 5 Mei 1824:
“Allah yang Mahabenar, yang bahwasanya yaitu kebenaran yang terluhur sendiri, sang
Penyelenggara yang Mahabaik dan Mahabijak, tidak mungkin menyetujui semua sekte yang
mengajarkan doktrin-doktrin sesat yang saling bertentangan dan berkontradiksi, serta
menganugerahkan imbalan-imbalan abadi kepada orang-orang yang mengakui doktrin-doktrin
sesat ini … dan oleh sebab itu Kami mengakui bahwa tidak ada keselamatan di luar
Gereja.”15
namun , sekte Vatikan II percaya bahwa Protestantisme bukanlah suatu bidah, bahwa para Protestan
bukan orang-orang bidah, bahwa sekte-sekte mereka yaitu sarana keselamatan dan merupakan bagian
dari Gereja yang sejati.
KONSEP-KONSEP KATOLIK LAINNYA YANG PENTING YANG DIGUNAKAN DI
SEPANJANG BUKU INI
Orang-orang Katolik tidak boleh mengambil bagian di dalam ibadat non-
Katolik - Sebelum Vatikan II, semua buku panduan teologi moral Katolik mengulang-ulangi ajaran
tradisional Gereja, yaitu bahwa partisipasi di dalam ibadat non-Katolik yaitu suatu dosa berat melawan
hukum ilahi. sesudah Vatikan II, aktivitas yang merupakan dosa berat ini dianjurkan secara resmi (lihat
juga, misanya, bagian di dalam buku ini yang berjudul Sekte Vatikan II vs Gereja Katolik: tentang Hal
Mengambil Bagian dalam Ibadat Non-Katolik).
Paus Pius XI, Mortalium Animos (#10), 6 Januari 1928:
“Maka, Saudara-Saudara yang Terhormat, jelaslah mengapa Takhta Apostolik ini tidak pernah
mengizinkan umat-umatnya untuk mengambil bagian di dalam perkumpulan-perkumpulan
orang-orang non-Katolik...”16
Bidah dapat terwujudkan lewat perbuatan - Walaupun orang-orang tertentu
mewujudkan bidah mereka melalui pernyataan-pernyataan yang tertulis atau deklarasi-deklarasi lisan,
kebanyakan bidah dan kemurtadan terwujud melalui perbuatan, dan bukan perkataan. Orang-orang
mewujudkan bidah dan kemurtadan mereka dengan pergi ke bait-bait non-Katolik untuk beribadat,
seperti pergi ke sinagoga atau mesjid, atau dengan bergabung bersama para Protestan dan skismatis
dalam ibadat di gereja-gereja mereka.
Glosarium
12
St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. I-II Pertanyaan 103, Artikel 4:
“Semua upacara yaitu semacam perwujudan iman, yang tergolong bagian yang terutama dari
penyembahan Allah secara batiniah. Maka manusia dapat mewujudkan iman batiniahnya baik
melalui perbuatan maupun perkataan; dan di dalam salah satu pun dari kedua perwujudan
ini , jikalau seorang manusia mewujudkan sesuatu yang sesat, ia berdosa berat.”17
Itulah mengapa Santo Thomas Aquinas mengajarkan bahwa seandainya seseorang menghormati kubur
Muhammad, orang itu akan dianggap sebagai seorang pemurtad. Tindakan semacam itu sendiri akan
membuktikan bahwa orang itu tidak memiliki iman Katolik, dan bahwa ia menerima agama Islam yang
sesat.
St. Thomas Aquinas, Summa Theologica, Bag. II Pertanyaan 12, Artikel 1, Penolakan 2:
” ... seandainya seseorang ... menghormati kubur Muhammad, ia akan dianggap sebagai seorang
pemurtad.”18
Paus Pius IX, Ineffabilis Deus, 8 Desember 1854, mendefinisikan dogma Santa Perawan Maria
Dikandung Tanpa Noda:
“ ... jika ia berani mengungkapkan pendapat-pendapat dari hatinya itu [yang bertentangan
dengan dekret ini] baik secara lisan, dalam karya tulis, maupun melalui sarana lahiriah
lainnya, ia akan secara ipso facto terkena sanksi-sanksi yang telah ditetapkan oleh hukum.”19
Kita melihat di sini bahwa bidah yang melawan dogma Dikandung Tanpa Noda dapat terungkap baik
secara lisan, dalam karya tulis, maupun melalui “sarana lahiriah lainnya”. Kenyataannya, di dalam
bukunya Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, Benediktus XVI mengakui
bahwa tindakan-tindakan dan gerak-gerik ekumenis yang telah diperbuat oleh sekte pasca-Vatikan II
kepada para skismatis timur, menandakan secara persis bahwa (menurut sekte Vatikan II) para
skismatis tidak perlu menerima Keutamaan Kepausan:
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 198:
“Di sisi lain, mustahil baginya untuk memandang bentuk yang telah diambil oleh
keutamaan ini pada abad kesembilan belas dan kedua puluh sebagai satu-satunya bentuk
yang mungkin ada, dan sebab itu bersifat mengikat kepada semua orang Kristen. Gerak-
gerik isyarat Paus Paulus VI yang simbolis, dan terutama, dengan berlutut di hadapan perwakilan
dari Patriark Ekumenis [Patriark Athenagoras yang skismatis] yaitu suatu upaya untuk
mengungkapkan kemustahilan ini secara tepat ….”20
Kami akan mendiskusikan hal ini lebih lanjut di dalam buku ini, namun hal ini yaitu suatu
pengakuan luar biasa dari mentan pemimpin sekte Vatikan II, yaitu bahwa tindakan-tindakan ekumenis
merupakan suatu bidah terhadap keutamaan Paus. Hal ini yaitu suatu contoh yang jelas tentang bidah
yang diwujudkan di dalam suatu tindakan.
Gereja Katolik menolak semua orang yang memiliki pandangan berlawanan
- Mereka yang menolak ajaran dogmatis Gereja Katolik dikutuk, dianatemakan, dan ditolak oleh Gereja.
Paus Pelagius II, surat (1) Quod ad dilectionem, 585:
“Bagaimanapun, barang siapa mengusulkan, atau percaya, maupun sedemikian
gegabahnya sehingga mengajarkan hal yang bertentangan dengan iman ini, hendaknya ia
mengetahui bahwa ia dikutuk dan dianatemakan seturut pendapat dari para Bapa yang
sama.”21
Glosarium
13
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, “Cantate Domino”, 1441:
“Maka, semua orang yang percaya akan pandangan-pandangan yang bertentangan atau
berlawanan, Gereja mengutuk, menolak, menganatemakan, dan mencela mereka sebagai terasing
dari tubuh Kristus yang yaitu Gereja.”22
Dengan menolak satu dogma pun dari Gereja Katolik, seseorang menolak
iman segenap-genapnya, sebab Kristuslah pelindung dogma-dogma Gereja.
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896:
“ ... adakah seseorang yang dapat diizinkan untuk menolak satu pun dari kebenaran-kebenaran
itu, tanpa, akibat penolakannya itu sendiri, terjerembap ke dalam bidah secara terbuka? Tanpa
memisahkan dirinya sendiri dari Gereja dan tanpa menolak seluruh doktrin Kristiani segenap-
genapnya? Sebab hakikat iman sedemikian rupa adanya, sehingga tiada suatu hal pun yang lebih
mustahil dibandingkan untuk percaya akan hal yang satu dan menolak hal yang lain ... Sebaliknya,
barangsiapa berselisih dengan kebenaran yang diwahyukan secara ilahi bahkan dalam satu pasal
pun, niscaya ia meninggalkan iman sepenuhnya, sebab ia menolak untuk tunduk kepada Allah
yang yaitu kebenaran teragung dan motif formal dari iman itu sendiri.”23
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896:
“sebab Gereja berkeyakinan kuat akan prinsip-prinsip ini , dan sebab ia penuh perhatian
terhadap tanggung jawabnya, tiada suatu hal pun yang pernah menjadi tekad Gereja yang
terbesar, tiada suatu hal pun yang pernah dikejarnya dengan usaha yang sedemikian besarnya
selain menjaga keutuhan iman dengan cara yang tersempurna. Itulah sebabnya, semua orang
yang tidak setuju dengan Gereja tentang pasal doktrin yang mana pun telah dipandang oleh
Gereja sebagai para pemberontak terbuka dan Gereja pun mengusir mereka jauh-jauh dari
dirinya. Kaum Arian, Montanis, Novatian, Kuartodesiman, Eutikian tentunya tidak meninggalkan
doktrin Katolik sepenuhnya, namun mereka hanya meninggalkan bagian tertentu dari doktrin
Katolik: dan meskipun demikian, siapakah yang tidak tahu bahwa mereka telah dinyatakan
sebagai kaum bidah dan diusir dari pangkuan Gereja? Dan suatu penilaian yang serupa telah
mengutuk semua pembuat doktrin sesat yang muncul sesudah nya pada berbagai masa dalam
sejarah. ‘Tiada suatu hal pun yang lebih berbahaya dari para bidah ini, yang menjaga keutuhan
doktrin yang lain, namun yang dengan satu patah kata, bagaikan setetes racun, merusakkan
kemurnian dan kesederhanaan iman yang telah diajarkan oleh Tuhan dan yang telah kita warisi
dari tradisi apostolik.’”24
Orang-orang Katolik tidak bersekutu dengan para bidah – Semua orang yang
menolak Iman Gereja Katolik berada di luar persekutuan Gereja dan terasing dari persekutuan ini ;
orang-orang Katolik sejati sama sekali tidak boleh bersekutu dengan mereka.
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#9), 29 Juni 1896:
“Praktik Gereja selalu sama, dan demikianlah pula penilaian yang semufakat dari para Bapa yang
kudus: yaitu, bahwa MEREKA TELAH SELALU MENGANGGAP SEBAGAI terbuang dari
persekutuan katolik dan TERASING DARI GEREJA SIAPA PUN YANG TELAH MENYIMPANG
BAHKAN SEDIKIT PUN DARI DOKTRIN YANG DIAJUKAN OLEH MAGISTERIUM YANG
AUTENTIK.”25
Paus St. Leo Agung, Khotbah 129:
“Itulah sebabnya, sebab di luar Gereja Katolik tiada suatu hal pun yang sempurna, tiada suatu hal
Glosarium
14
pun yang tak bernoda … kita sama sekali tidak serupa dengan mereka yang terpisahkan dari
kesatuan Tubuh Kristus; kita sama sekali tidak terhubung dalam persekutuan apa pun.”26
Para imam harus dilawan, termasuk para uskup dan Paus, jika mereka
menyimpang dari Iman; mereka secara otomatis kehilangan jabatan-jabatan
mereka jika mereka menjadi bidah secara publik.
Kanon 188.4, Kitab Hukum Kanonik 1917:
“Suatu jabatan menjadi kosong secara ipso facto dan tanpa suatu deklarasi apa pun akibat
pengunduran diri tersirat yang terjadi secara ipso iure (demi hukum), jika klerus: … 4) telah
meninggalkan iman Katolik secara publik.”27
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#15), 29 Juni 1896:
“Maka, tidak seorang pun yang tidak berada dalam persekutuan dengan Petrus dapat mengambil
bagian dalam otoritasnya, sebab, yaitu suatu hal yang absurd untuk membayangkan bahwa
seseorang yang berada di luar Gereja dapat memerintah di dalam Gereja.”28
Apa yang dimaksud dengan meninggalkan Iman secara publik?
Kanon 2197.1, Kitab Hukum Kanonik 1917:
“Suatu pelanggaran bersifat: 1) publik, jika pelanggaran itu telah diketahui secara umum, atau
jika pelanggaran itu telah terjadi dalam atau melibatkan keadaan-keadaan yang sedemikian rupa
sehingga dapat dinilai secara bijak bahwa pelanggaran itu seharusnya dengan mudah diketahui
secara umum ….”29
St. Robertus Bellarminus, Kardinal dan Doktor Gereja, De Romano Pontifice, Buku II, bab 30:
“Pada akhirnya, para Bapa yang kudus mengajarkan secara bulat suara bahwa para bidah bukan
hanya berada di luar Gereja, namun juga bahwa mereka secara ‘ipso facto’ kehilangan segala
yurisdiksi dan jabatan gerejawi.”
Dom Prosper Guéranger, The Liturgical Year [Tahun Liturgis], Vol. 4, hal. 379, tentang bagaimana
seorang awam dari abad ke-5 melawan dan mengutuk Nestorius, yang yaitu uskupnya, sewaktu
Nestorius menyebarkan suatu bidah secara terang-terangan: “Pada saat itulah Setan
membuahkan Nestorius … yang terduduk pada Takhta Konstantinopel … Pada tahun
pengangkatannya, pada hari Natal tahun 428, Nestorius memanfaatkan hadirnya khalayak yang
amat besar jumlahnya yang telah berhimpun demi menghormati sang Bunda Perawan dan
Putranya dengan mengucapkan perkataan yang penuh hujat ini dari mimbar Keuskupan:
‘Maria tidak melahirkan Allah; Putranya hanyalah seorang manusia, alat bagi Keilahian.’ Khalayak
itu bergidik ngeri. Eusebius, seorang awam sederhana, bangkit untuk mengungkapkan
kegeraman umum, dan memprotes penghujatan ini. Segera, suatu protes yang lebih eksplisit
dipersiapkan dan disebarluaskan atas nama para anggota dari Gereja yang berduka ini, untuk
menjatuhkan suatu kutukan kepada siapa pun yang berani berkata: ‘Putra Tunggal Bapa
dan Putra Maria yaitu pribadi yang berbeda.’ Sikap yang mulia ini merupakan penjaga
Bizantium, dan memenangkan pujian dari para Paus dan konsili-konsili. Sewaktu sang
gembala menjadi seekor serigala, tanggung jawab pertama milik kawanan domba yaitu untuk
membela dirinya sendiri.”30
Paus St. Selestinus, dikutip oleh St. Robertus Bellarminus:
“ … otoritas dari Takhta Apostolik Kami telah secara terbuka menetapkan bahwa uskup, imam,
Glosarium
15
atau orang Kristen dari profesi mana pun, yang telah dimakzulkan dari posisi mereka atau dari
persekutuan oleh Nestorius dan mereka yang merupakan bagian dari kelompoknya sejak saat
[ex quo] mereka mulai mengkhotbahkan bidah, tidak boleh dianggap sebagai dimakzulkan
atau diekskomunikasikan … sebab barang siapa terjerembap [meninggalkan iman] sebab ia
mengkhotbahkan hal-hal semacam itu tidak mampu memakzulkan atau memberhentikan
seorang pun.”31
St. Robertus Bellarminus, Kardinal dan Doktor Gereja, De Romano Pontifice, Buku II, bab 30:
“Seorang Paus yang yaitu bidah secara manifes [terang-terangan] secara otomatis (per
se) berhenti menjadi Paus dan kepala, layaknya ia berhenti menjadi seorang Kristiani dan
seorang anggota dari tubuh Gereja. Maka dari itu, ia dapat dihakimi dan dihukum oleh Gereja. Ini
yaitu ajaran dari semua Bapa Kuno yang mengajarkan bahwa para bidah manifes langsung
kehilangan semua yurisdiksi.”
St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, Buku II, bab 30:
“Prinsip ini yaitu prinsip yang teramat pasti. Seorang non-Kristiani sama sekali tidak
dapat menjadi Paus, seperti yang diakui oleh Gaetanus sendiri (ib. C. 26). Alasan untuk hal
ini yaitu ia tidak bisa menjadi kepala dari sesuatu yang di dalamnya ia bukan seorang
anggota; akan namun , barang siapa bukan seorang Kristiani bukanlah anggota Gereja, dan
seorang bidah manifes bukan seorang Kristiani seperti yang diajarkan secara jelas oleh St.
Siprianus (lib. 4, epist. 2), St. Atanasius (Scr. 2 cont. Arian), St. Agustinus (lib. De grat.
Christ. Cap. 20), St. Hieronimus (contra Lucifer.) dan lain-lain; maka, seorang bidah
manifes tidak dapat menjadi Paus.”
St. Fransiskus de Sales (abad ke 17), Doktor Gereja, The Catholic Controversy {Kontroversi
Katolik}, hal. 305-306:
“namun sewaktu ia [Sri Paus] yaitu seorang bidah secara eksplisit, ia secara ipso facto
jatuh dari pangkatnya dan berada di luar Gereja ....”32
St. Antoninus (1459):
“Dalam kasus di mana Sri Paus menjadi seorang bidah, ia akan menyadari bahwa dirinya,
oleh sebab kenyataan itu sendiri dan tanpa vonis lainnya, terpisah dari Gereja. Sebuah
kepala yang terpisah dari sebuah tubuh tidak mungkin, selama kepala itu tetap terpisahkan,
merupakan kepala dari tubuh yang sama, yang darinya kepala itu terpenggal. Maka dari itu,
seorang Paus yang akan terpisah dari Gereja akibat bidah, ia, akibat kenyataan itu sendiri,
berhenti sebagai kepala Gereja. Ia tidak dapat menjadi seorang bidah dan tetap menjadi
Paus, sebab, sebab ia berada di luar Gereja, ia tidak dapat memiliki kunci-kunci Gereja.”
(Summa Theologica, dikutip di dalam Actes de Vatican I. V. Frond pub.)
St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, II, 30:
“...sebab manusia tidak diwajibkan untuk, ataupun dapat membaca hati; namun sewaktu mereka
melihat bahwa seseorang yaitu seorang bidah lewat perilaku eksternalnya, mereka
menghakiminya sebagai bidah secara murni dan sederhana, dan mengutuknya sebagai
bidah.”33
Indefektibilitas - Istilah ini mengacu kepada janji Kristus, yaitu bahwa Ia akan selalu berada
bersama dengan Gereja-Nya (Matius 28) dan bahwa pintu-pintu gerbang Neraka tidak dapat berjaya
melawan Gereja-Nya (Matius 16). Indefektibilitas berarti bahwa Gereja Katolik akan, sampai akhir
zaman, tetap pada hakikatnya menjadi Gereja Katolik. Indefektibilitas Gereja mensyaratkan agar setidak-
Glosarium
16
tidaknya suatu sisa Gereja akan berada sampai akhir zaman, agar ajaran-ajaran resmi Gereja tidak akan
memuat kesalahan, dan agar seorang Paus sejati tidak akan pernah secara otoritatif mengajarkan
kesalahan kepada segenap Gereja. Indefektibilitas tidak memustahilkan adanya para Anti-Paus yang
menyamar sebagai Paus, atau suatu sekte palsu yang menyusutkan para pengikut Gereja Katolik yang
sejati menjadi suatu sisa pada hari-hari terakhir; demikianlah apa yang persisnya diprediksikan akan
terjadi pada akhir zaman dan apa yang dahulu terjadi pada saat terjadinya krisis Arian.
St. Atanasius:
“Walaupun para umat Katolik yang setia kepada tradisi berkurang sehingga hanya sekelumit saja
jumlahnya, mereka itulah Gereja Yesus Kristus yang sejati.”
BAGIAN I – PEMAPARAN TENTANG
SITUASI KINI GEREJA KATOLIK DAN
KEMURTADAN PASCA-VATIKAN II
DENGAN DETAIL-DETAIL FAKTUAL
Kemurtadan Besar dan Gereja Palsu Diprediksikan
19
1. Kemurtadan Besar dan Gereja Palsu
Diprediksikan dalam Perjanjian Baru dan
dalam Nubuat Katolik
Lukas 18:8- “Akan namun , jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman
di bumi?"
Di dalam Injil, Tuhan kita Yesus Kristus memberi tahu kita bahwa pada akhir zaman, Iman yang sejati
hampir tidak akan didapati di dunia. Ia memberi tahu kita bahwa “di dalam tempat suci” itu ”sendiri akan
ada “Pembinasa Keji” (Matius 24:15), dan suatu penyesatan yang sedemikian besarnya sehingga
andaikata mungkin, orang-orang pilihan pun akan disesatkan (Matius 24:24).
Matius 24:15- “Maka sewaktu engkau melihat Pembinasa Keji, yang dibicarakan oleh
Daniel sang nabi, berdiri di dalam tempat suci: barangsiapa membaca, hendaknya ia
mengerti.”
Matius 24:24-25- “Sebab Mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan
mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin,
mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga. Camkanlah, Aku sudah mengatakannya
terlebih dahulu kepadamu.”
2 Tes. 2:3-5- “Hendaknya engkau tidak membiarkan seorang pun menyesatkanmu dengan cara
apa pun; sebab hari itu tidak akan datang, sebelum datangnya kemurtadan itu, dan sebelum sang
manusia pendosa tampak, sang putra kebinasaan, yang melawan dan ditinggikan di atas segala
sesuatu yang disebut sebagai Allah, atau yang disembah, sehingga ia duduk di dalam bait Allah,
memamerkan dirinya sendiri seolah-olah dirinya yaitu Allah. Tidakkah engkau ingat, bahwa
sewaktu aku masih berada bersamamu, aku selalu mengatakan hal-hal ini kepadamu?”
Pada tahun 1903, Paus St. Pius X mengira bahwa ia mungkin sedang melihat permulaan dari kejahatan-
kejahatan yang akan sepenuhnya terjadi pada akhir zaman.
Paus St. Pius X, E Supremi (#5), 4 Oktober 1903:
” ... ada suatu alasan yang baik untuk menakuti bahwa kebejatan besar ini mungkin
layaknya suatu pertanda, dan mungkin merupakan permulaan dari kejahatan-kejahatan
yang dipersiapkan untuk hari-hari terakhir; dan bahwa sang ‘Putra Kebinasaan’, yang
disebutkan oleh sang Rasul, mungkin sudah ada di dunia ini (2 Tes. 2:3).”1
Perjanjian Baru berkata bahwa penyesatan ini akan terjadi di tengah-tengah struktur fisik Gereja,
yakni di dalam “Bait Allah” (2 Tes. 2:4) dan “di dalam tempat suci”(Mt. 24:15). Penyesatan ini akan
terjadi sebab orang-orang tidak menerima dan tidak mengasihi kebenaran (2 Tesalonika 2:10).
Di dalam 2 Tesalonika 2, St. Paulus berbicara tentang akhir zaman yang ditandai oleh suatu kemurtadan
besar yang akan menjadi kemurtadan yang terburuk – bahkan lebih buruk dibandingkan krisis Arian pada
abad ke-4, di mana hampir tidak dapat ditemukan seorang imam Katolik yang autentik.
Kemurtadan Besar dan Gereja Palsu Diprediksikan
20
Romo William Jurgens:
“Pada suatu waktu dalam sejarah Gereja, hanya beberapa tahun sebelum berkhotbahnya
Gregorius [Nazianzus] (380 Masehi), kemungkinan jumlah uskup Katolik yang memiliki
takhta, berbanding dengan uskup Arian yang memiliki takhta, tidaklah lebih banyak dari
antara 1% dan 3% dari keseluruhannya. Jika saja doktrin ditentukan oleh popularitas, hari ini
kita semua akan menjadi orang-orang yang menolak Kristus dan musuh dari Roh [Kudus].”2
Romo William Jurgens:
“Pada zaman Kaisar Valens (abad ke-4), Basilius hampir menjadi satu-satunya Uskup yang
ortodoks di seluruh Dunia Timur yang berhasil mempertahankan yurisdiksi takhtanya …
Jika hal ini sama sekali tidak memiliki makna yang lain bagi manusia modern, hendaknya suatu
pengetahuan akan sejarah Arianisme setidak-tidaknya membuktikan bahwa Gereja Katolik tidak
memperhitungkan popularitas dan jumlah dalam hal membentuk dan menjaga doktrin: jika tidak,
sejak masa yang lampau itu, kita akan harus meninggalkan Basilius, Hilarius, Atanasius, dan
Liberius serta Ossius dan menyebut diri kita sendiri pengikut Arius.”3
St. Gregorius dari Nazianzus (380 Masehi), Melawan Para Arian {Against the Arians}:
“Di manakah mereka yang memandang rendah kita sebab kemiskinan kita dan mengagungkan
diri mereka sendiri di dalam kekayaan mereka? Mereka yang mendefinisikan Gereja lewat
jumlah dan mencemooh kawanan domba yang kecil?”4
Jika krisis Arian – yang hanya merupakan suatu perkenalan untuk Kemurtadan Besar – sedemikian besar
dan luasnya, akan sebesar dan seluas apa Kemurtadan Besar itu yang telah dinubuatkan oleh Tuhan kita
dan Santo Paulus?
Nubuat St. Nikolas dari Fluh (1417-1487):
“Gereja akan dihukum sebab kebanyakan dari para anggotanya, besar dan kecil, akan menjadi
sedemikian sesatnya. Gereja semakin lama akan semakin tenggelam, sampai pada akhirnya,
ia akan tampak musnah, dan suksesi Petrus dan para Rasul tiada lagi. namun , sesudah hal ini
terjadi, ia akan diagungkan dengan penuh jaya di hadapan semua orang yang meragukannya.”5
St. Paulus berkata lebih lanjut bahwa hasil dari kemurtadan ini yaitu bahwa seorang manusia duduk di
dalam Bait Allah, “memamerkan dirinya sendiri seolah-olah dirinya yaitu Allah.” Di dalam bagian yang
lalu di dalam buku ini, kami membuktikan bahwa hal inilah yang persisnya telah terjadi melalui
seorang pria yang duduk di dalam Basilika St. Petrus, yang menyatakan bahwa dirinya sendiri dan semua
orang yaitu Allah.
Romo Herman Kramer yaitu seorang imam Katolik yang mempelajari dan menulis buku tentang Kitab
Wahyu selama 30 tahun. Di dalam bukunya, ia menulis hal berikut tentang nubuat St. Paulus sehubungan
dengan sang Antikristus yang duduk di dalam Bait Allah.
“St. Paulus berkata bahwa sang Antikristus ‘duduk di dalam Bait Allah’ ... Bait ini bukanlah Bait
Yerusalem kuno, dan juga bukan sebuah bait yang menyerupai Bait Yerusalem kuno yang
dibangun oleh sang Antikristus, seperti yang telah diduga oleh beberapa orang, sebab jika
demikian adanya, maka bait itu akan menjadi bait sang Antikristus sendiri … bait ini terbukti
merupakan sebuah Gereja Katolik, kemungkinan salah satu dari gereja-gereja di Yerusalem atau
Gereja St. Petrus di Roma, yang yaitu gereja terbesar di dunia dan yang secara harfiah
merupakan ‘Bait Allah’.”6
Kemurtadan Besar dan Gereja Palsu Diprediksikan
21
Perhatikan bahwa Kramer berkata bahwa “Bait Allah” itu kemungkinan mengacu kepada Basilika St.
Petrus di Roma.
Paus Pius XI, Quinquagesimo ante (#30), 23 Des. 1929:
“ … khalayak yang begitu besar jumlahnya berhimpun di Basilika Santo Petrus pada hari pertama
dari bulan Desember … sehingga Kami mungkin belum pernah sebelumnya melihat Bait [Aedem]
yang terluas megah ini begitu padat.”7
Artikel The Catholic Encyclopedia [Ensiklopedia Katolik] tentang “Antikristus” mengindikasikan bahwa St.
Bernardus percaya bahwa sang Antikristus akan merupakan seorang Anti-Paus:
” ... St. Bernardus berkata di dalam ayat tentang Anti-Paus [sebagai Binatang dalam kitab
Wahyu].”8
Beato Yoakim (wafat 1202):
“Menjelang akhir zaman, sang Antikristus akan menggulingkan Sri Paus dan merampas
takhtanya.”9
namun , terlepas bilamana seseorang percaya bahwa sang Antikristus akan merupakan seorang Anti-Paus
atau tidak, yaitu suatu hal yang telah dinubuatkan secara pasti bahwa kuasa sang Antikristus akan
menguasai Roma pada akhir zaman. Pada tanggal 19 September 1846, Bunda Maria dari La Salette
bernubuat bahwa Roma akan kehilangan Iman dan menjadi Takhta sang Antikristus di dalam
kemurtadan dari Iman Katolik yang satu dan sejati pada akhir zaman.
Bunda Maria di La Salette, 19 Sep. 1846: “Roma akan kehilangan Iman dan
menjadi takhta sang Antikristus ... Gereja akan berada dalam gerhana.”
Bunda Maria dari La Salette
Kemurtadan Besar dan Gereja Palsu Diprediksikan
22
Nubuat yang mengejutkan ini bertepatan dengan nubuat-nubuat di dalam Kitab Suci (Wahyu 17 dan 18)
yang memberitahukan kita bahwa kota di atas tujuh gunung (Roma) akan menjadi seorang pelacur
(Mempelai Kristus yang palsu), yang akan melakukan perzinaan rohani (penyembahan berhala) dan
menginjak-injak darah para kudus (ekumenisme sesat). Sang pelacur besar yang dinubuatkan di dalam
Kitab Suci bukanlah Gereja Katolik, melainkan suatu Gereja Katolik yang palsu, seorang Mempelai yang
pemurtad dan palsu yang muncul pada akhir zaman untuk menyesatkan para umat Katolik dan menjadi
gerhana bagi Gereja yang sejati yang telah disusutkan menjadi suatu sisa. Di dalam buku ini, kami akan
mengajukan bukti yang sangat banyak, yang tidak terbantahkan, dan yang tidak dapat dipungkiri,
berdasar doktrin dan fakta-fakta yang tak dapat dipertanyakan, bahwa “Gereja” yang muncul
bersama dengan Konsili Vatikan Kedua (1962-1965) sama sekali bukan Gereja Katolik, melainkan suatu
Kontra-Gereja luar biasa palsu, yang menyangkal ajaran-ajaran Gereja Katolik yang mendasar.
Kami akan memperlihatkan bahwa para pria yang memberlakukan agama Vatikan II ini dan Misa Baru
sama sekali tidak Katolik, melainkan para bidah manifes [terbuka/terang-terangan] yang
mengkhotbahkan suatu agama baru.
Kenyataannya, segala keraguan tentang keaslian pesan Bunda Maria dari La Salette akan
dihancurkan dengan mencermati bukti di dalam buku ini secara saksama. Antara lain, buku ini
akan mendokumentasikan bahwa Vatikan sekarang mengajarkan bahwa orang-orang Yahudi sama sekali
bebas untuk tidak percaya akan Yesus Kristus.
Hal ini mungkin mengejutkan beberapa orang, namun ini yaitu sebuah fakta. Bahkan, tanpa perlu
mempertimbangkan segala kemurtadan lainnya yang akan kami bahas di dalam buku ini, fakta ini
membuktikan bahwa perkataan Bunda Maria telah menjadi kenyataan: Roma (bukan Gereja Katolik)
telah kehilangan Iman (diserahkan kepada suatu sekte palsu yang non-Katolik) dan menjadi takhta sang
Antikristus.
Pada akhir tahun 2001, Komisi Kepausan bagi Kitab Suci merilis sebuah buku berjudul The Jewish People
and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible [Orang-Orang Yahudi dan Kitab Suci Mereka di dalam
Kitab Suci Kristiani]. Buku ini berargumentasi bahwa penantian orang-orang Yahudi untuk sang
Mesias diabsahkan dan dibenarkan oleh Perjanjian Lama. “Penantian untuk sang Mesias dibenarkan
di dalam Perjanjian Lama”, demikianlah penjelasan dari juru bicara Kepausan Joaquin Navarro-Valls,
“dan jika Perjanjian Lama tetap sah, maka penantian itu juga tetap sah. Perjanjian Lama berkata bahwa
anda tidak dapat semata-mata berkata bahwa semua orang Yahudi salah dan kita benar.” Sewaktu ia
ditanya oleh para wartawan bilamana pernyataan-pernyataannya mungkin dapat dipahami sehingga
menyiratkan bahwa sang Mesias kenyataannya mungkin belum datang, Navaro-Valls menjawab, “Artinya
yaitu akan menjadi suatu kesalahan bagi seorang Katolik untuk menantikan sang Mesias, namun
bukanlah kesalahan bagi seorang Yahudi.” Hal ini berarti bahwa Vatikan sekarang percaya bahwa orang-
orang Yahudi sama sekali bebas untuk menolak Kristus; inilah ajaran para “Paus” Vatikan II.
Kemurtadan Besar dan Gereja Palsu Diprediksikan
23
Roma telah kehilangan Iman dan menjadi takhta sang Antikristus.
1 Yohanes 2:22- “Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus yaitu
Kristus? Dia itu yaitu antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.”
namun bagaimanakah hal ini terjadi, dan apakah orang-orang Katolik harus menyikapinya? Kami akan
berusaha untuk menjawab kedua pertanyaan itu secara rinci di dalam buku ini.
2. Versi Orisinal Doa kepada St. Mikhael
dari Paus Leo XIII – Suatu Nubuat tentang
Kemurtadan di Roma di Masa yang Akan
Datang
Versi orisinal dari Doa Kepada St. Mikhael, Malaikat Agung dari Paus Leo XIII
yaitu doa yang bernubuat. Doa ini ditulis lebih dari 100 tahun lalu dan lalu
ditiadakan akibat isinya yang mengejutkan. Versi orisinal dari Doa kepada St.
Mikhael dari Paus Leo XIII ini yaitu salah satu dari doa-doa yang paling
menarik dan kontroversial sehubungan dengan situasi masa kini di mana
Gereja Katolik yang sejati berada. Pada tanggal 25 September 1888, sesudah
Misa pagi, Paus Leo XIII mengalami trauma yang sedemikian rupa sehingga
membuat dirinya pingsan. Orang-orang yang hadir di sekitar dirinya mengira
bahwa ia meninggal dunia. Sewaktu ia siuman, Sri Paus mendeskripsikan
suatu percakapan yang menakutkan yang didengarnya berasal dari dekat
tabernakel. Di dalam percakapan itu, ia mendengar dua suara – suara-suara
yang secara jelas dipahami oleh Paus Leo XIII sebagai suara-suara dari Yesus
Kristus dan Iblis. Iblis berbangga diri bahwa ia mampu menghancurkan
Gereja, seandainya ia diberikan jangka waktu 75 tahun untuk melaksanakan
rencananya (atau 100 tahun menurut beberapa laporan). Iblis juga meminta izin atas “suatu pengaruh
yang lebih besar atas orang-orang yang akan menyerahkan diri mereka sendiri untuk melayaniku.”
Kepada permintaan-permintaan Iblis, Tuhan kita dilaporkan memberi tanggapan ini: “engkau akan
diberikan waktu dan kuasa untuk melaksanakannya.”
Paus Leo XIII sangat terkejut akan hal yang telah didengarnya. Maka dari itu, ia mengarang versi orisinal
dari Doa kepada St. Mikhael berikut (yang juga yaitu suatu nubuat) dan memerintahkan agar doa ini
diucapkan sesudah Misa-Misa Rendah sebagai suatu perlindungan bagi Gereja terhadap serangan-
serangan dari Neraka. Berikut yaitu versi orisinal dari doa ini (mohon perhatikan, terutama,
bagian yang dicetak tebal), yang diikuti oleh beberapa komentar kami. Doa Orisinal ini diambil dari
The Raccolta, 1930 (Benziger Bros., hal. 314-315). The Raccolta yaitu suatu kumpulan doa yang
resmi dan berindulgensi dari Gereja Katolik yang telah dianugerahi imprimatur.
_____________________________
Berikut doanya:
“Ya Santo Mikhael, Malaikat Agung yang mulia, Panglima bala tentara surgawi, jadilah engkau
pembela kami dalam peperangan yang mengerikan yang kami laksanakan melawan penghulu-
penghulu, melawan Kuasa-Kuasa, melawan para penguasa dunia kegelapan ini, roh-roh
kejahatan. Datanglah untuk membantu manusia, yang diciptakan oleh Allah agar tidak mengalami
kematian, yang dibuat dari gambaran dan rupa Allah, dan yang ditebus dengan harga yang mahal
dari kezaliman Iblis.
Bertempurlah pada hari ini di dalam pertempuran Tuhan, bersama dengan para malaikat kudus,
sebagaimana engkau telah bertempur melawan sang pemimpin dari para malaikat yang angkuh,
Paus Leo XIII
25
Lucifer, serta para bala tentaranya yang pemurtad, yang dahulu tidak berdaya melawanmu, dan
yang tidak lagi memiliki tempat di dalam Surga.
Ular yang tua itu, ular yang kejam itu, yang dinamai Iblis atau Setan, yang menyesatkan segenap
dunia, telah dicampakkan ke dalam jurang bersama dengan para malaikatnya. Lihatlah, musuh
dan pembunuh manusia yang tua ini telah memberanikan diri. Ia menyamar sebagai malaikat
terang, dan mengembara bersama dengan beberapa besar roh-roh fasik, menyerbu dunia demi
menghapuskan nama Allah dan Kristus-Nya, demi menyergap, membunuh, dan mencampakkan
ke dalam kebinasaan kekal jiwa-jiwa yang ditakdirkan untuk memperoleh mahkota kemuliaan
abadi. Sang naga yang fasik ini menumpahkan, layaknya banjir yang amat menjijikkan, racun dari
niat jahatnya atas para manusia yang jangak pikirannya dan bejat hatinya, roh dusta,
ketidakberimanan, penghujatan, dan napas penyebar wabah ketidakmurnian, dan segala
kemaksiatan dan pelanggaran.
Para musuh yang terlicik ini telah memenuhi dan memabukkan Gereja
dengan empedu dan kegetiran, Gereja yang yaitu mempelai dari Anak
Domba yang tak bernoda, dan telah menjamah dengan tangan mereka
yang fasik kepunyaannya yang terkudus. Di dalam Tempat Suci sendiri,
di mana telah didirikan Takhta dari Petrus yang amat kudus serta
Takhta Kebenaran sebagai terang bagi dunia, mereka telah
mengangkat takhta kefasikan mereka yang keji, dengan rancangan
kejahatan agar sewaktu sang Gembala telah diserang, domba-domba
akan tercerai-berai.
Sebab itulah, wahai Panglima yang tak terkalahkan, bangkitlah, berikanlah bantuan untuk
melawan serangan-serangan dari roh-roh sesat itu kepada umat Allah, dan berikanlah mereka
kemenangan. Mereka menghormatimu sebagai pembela dan Pelindung mereka; oleh sebab
dirimulah Gereja yang kudus bersukacita, engkau yang yaitu pelindungnya melawan kuasa
Neraka yang jahat; kepadamulah Allah telah memercayakan jiwa umat manusia untuk ditetapkan
di dalam kebahagiaan surgawi. Panjatkanlah doa kepada Allah sang pembawa damai, agar Ia
meremukkan Setan di bawah kaki kami, agar ia tidak lagi menawan manusia dan mencelakai
Gereja. Persembahkanlah doa-doa kami di hadapan Yang Mahatinggi, agar kami dapat segera
memperoleh kerahiman Tuhan; dan hendaknya engkau merenggut sang naga, ular tua itu, yang
yaitu Iblis dan Setan, hendaknya engkau kembali mencampakkannya terantai ke dalam jurang,
agar tidak lagi ia dapat menyesatkan bangsa-bangsa.
L: Lihatlah salib Tuhan; enyahlah kuasa-kuasa musuh.
R: Ia telah berjaya, sang singa dari suku Yudea, sang akar Daud!
L: Hendaknya kerahiman-Mu tercurah atas diri kami, Ya Tuhan.
R: Sebagaimana harapan kami di dalam Engkau.
L: Ya Tuhan, dengarkanlah doaku!
R: Dan hendaknya seruanku sampai kepada-Mu.
Paus Leo XIII
26
Marilah kita berdoa
Ya Allah, Bapa Tuhan kami Yesus Kristus, kami memanggil Nama-Mu yang Kudus, dan memohon
pengampunan-Mu, agar dengan perantaraan Maria yang tak Bernoda, Bunda Allah yang
selamanya Perawan, dan Santo Mikhael Malaikat Agung yang mulia, Engkau sudi membantu kami
untuk melawan Setan dan segala roh najis, yang berkeliaran di dunia untuk mencelakai umat
manusia dan membinasakan jiwa-jiwa. Dengan perantaraan Kristus yang sama, Tuhan kami.
Amin.”
Seperti yang dapat dilihat oleh seseorang yang membaca doa itu (terutama, bagian yang dicetak tebal),
Paus Leo XIII menubuatkan dan memprediksikan datangnya Kemurtadan Besar; dan dengan saksama ia
menyatakan bahwa kemurtadan ini akan dipimpin dari Roma – Roma, satu-satunya yang merupakan
“Tempat Suci sendiri, di mana telah didirikan Takhta dari Petrus yang amat kudus serta Takhta Kebenaran
sebagai terang bagi dunia.” Paus Leo dengan jelas memprediksikan bahwa tempat ini (Kota Vatikan
di Roma), di mana telah didirikan Takhta Petrus oleh Sri Paus yang pertama, St. Petrus sendiri,
akan menjadi takhta dari takhta ketidakberimanan Setan, dengan “rancangan kejahatan agar
sewaktu sang Gembala telah diserang, domba-domba (para umat beriman Katolik) akan tercerai-berai.” Itu
yaitu kata-kata Paus Leo XIII sendiri
Paus Leo XIII tidak sedang memprediksikan membelotnya Gereja Katolik (yang yaitu suatu
kemustahilan, sebab pintu gerbang Neraka tidak akan pernah dapat berjaya melawan Gereja [Mt. 16]),
atau membelotnya Takhta Petrus (yang juga mustahil), namun , ia sedang menubuatkan implementasi dari
suatu agama Katolik palsu yang pemurtad dari Roma, di mana “sang gembala” (Sri Paus yang sejati)
digantikan oleh seorang Anti-Paus yang merenggut kekuasaan (seperti yang telah terjadi pada
waktu-waktu tertentu di dalam sejarah Gereja), dengan rancangan kejahatan agar “domba-domba akan
tercerai-berai”.
Doa Paus Leo juga menubuatkan bahwa para pemurtad yang tidak murni itu, para pengikut Setan, akan
menjamah dengan tangan mereka yang fasik “kepunyaannya [Gereja] yang terkudus”. Apakah itu
kepunyaan Gereja yang terkudus? Kepunyaan terkudus yang dimiliki oleh Gereja yaitu hal-hal yang
telah dipercayakan oleh Allah kepada Gereja: yakni, khazanah iman (dengan segala dogmanya) dan
ketujuh sakramen yang telah diinstitusikan oleh Tuhan kita Yesus Kristus sendiri. Maka, doa Paus Leo
menubuatkan upaya untuk menghancurkan khazanah iman dengan Vatikan II dan ritus-ritus
sakramental dari Gereja Vatikan II. Kedua hal ini akan dibahas secara rinci di dalam buku ini. Kita akan
melihat bahwa Paulus VI menjamah dengan tangannya yang fasik ketujuh ritus sakramental Gereja
bermula dari bulan April tahun 1969. Tindakannya itu membuahkan sebuah Misa Baru yang tidak valid,
Ritus Penahbisan yang tidak valid, dan ritus-ritus Penguatan dan Pengurapan Terakhir yang sangat
diragukan, tindakan yang menggenapi prediksi Paus Leo secara saksama.
Pada tahun 1934, doa Paus Leo yang mengejutkan itu (yang ditulis di atas) diubah tanpa penjelasan.
Kata-kata kunci yang mengacu kepada kemurtadan di Roma (Tempat Suci, di mana telah
didirikan Takhta Petrus sebagai terang bagi dunia) telah dihapuskan. Di sekitar waktu yang sama,
Doa kepada St. Mikhael yang lebih panjang dari Paus Leo XIII ini sesudah setiap Misa Rendah, digantikan
dengan suatu doa yang lebih pendek; Doa kepada St. Mikhael yang dipersingkat






