yang sekarang menjadi
terkenal. Doa ini sebagai berikut:
“St. Mikhael Malaikat Agung, lindungilah kami dalam pertempuran. Jadilah pembela kami
melawan kejahatan dan tipu daya Setan. Kami mohon dengan rendah hati kiranya Allah
Paus Leo XIII
27
menghukumnya. Dan engkau, ya panglima bala tentara Surga, dengan kekuatan ilahi,
campakkanlah ke dalam Neraka, Setan dan roh jahat lainnya yang berkeliaran di atas bumi untuk
membinasakan segala jiwa. Amin.”
Doa kepada St. Mikhael yang satu ini sama sekali tidak salah; kenyataannya, doa ini sangat baik dan
mujarab. namun , inti permasalahannya yaitu do aini bukanlah Doa kepada St. Mikhael yang telah
dikarang oleh Paus Leo XIII. Doa yang lebih singkat ini, menurut banyak orang, dipromosikan sebagai
suatu pengganti, agar para umat beriman tidak menyadari isi yang menakjubkan dari doa yang lebih
panjang itu, seperti yang telah dideskripsikan di atas. Seandainya saja Doa kepada St. Mikhael yang lebih
panjang itu telah diucapkan pada akhir dari setiap Misa Rendah dan tidak dihapuskan pada tahun 1934,
bukankah akan ada jutaan orang yang lebih banyak yang akan tergerak untuk melawan sewaktu
mereka menjumpai upaya dari agama baru pasca-Vatikan II yang akan kami bahas di dalam buku ini?
Betapa banyaknya orang yang akan telah melihat pengubrak-abrikkan sistematis yang dilakukan
terhadap Iman Katolik tradisional sesudah Vatikan II?
Doa kepada St. Mikhael yang lebih panjang dari Paus Leo XIII ini juga secara sempurna bertepatan dengan
penampakan dan prediksi yang terkenal dari Bunda Maria dari La Salette pada tahun 1846: “Roma akan
kehilangan iman dan menjadi Takhta sang Antikristus … Gereja akan berada di dalam gerhana.” Perkataan
Paus Leo menyiratkan bahwa sang Antikristus sendiri, atau setidaknya para pasukan dari sang
Antikristus, akan mendirikan takhta mereka di Roma. “Di dalam Tempat Suci sendiri, di mana telah
didirikan Takhta dari Petrus yang amat kudus serta Takhta Kebenaran sebagai terang bagi dunia, mereka
telah mengangkat takhta kefasikan mereka yang keji ….”
Sebuah foto lain Yohanes Paulus II pada waktu ibadat doa antaragama pada tahun 1986 di Assisi, Italia – suatu hal
sama sekali dikutuk oleh Gereja Katolik (hal ini akan dibahas lebih lanjut di dalam bab tentang Yohanes Paulus II).
Pesan di Fatima
28
3. Pesan di Fatima: Suatu Tanda dari Surga
yang Mengisyaratkan Bermulanya Akhir
Zaman dan Nubuat tentang Kemurtadan dari
Gereja
Lucia, Francico, dan Jacinta dari Fatima
Romo Mario Luigi Ciappi, seorang teolog kepausan dari Paus Pius XII: “Di dalam Rahasia Ketiga
[Fatima], diprediksikan, antara lain, bahwa kemurtadan besar di dalam Gereja akan bermula di
puncaknya.”1
Pesan dan mukjizat Bunda Maria di Fatima, pada tahun 1917, yaitu salah satu peristiwa terbesar di
dalam Gereja Katolik. sebab mukjizat Fatima, yang terjadi pada tanggal 13 Oktober 1917, telah
diprediksikan sebelum hal ini terjadi, dan digenapi di hadapan sekitar 100.000 orang, mukjizat itu
kemungkinan yaitu mukjizat terbesar di dalam sejarah Katolik, di samping Kebangkitan Kristus.
Mukjizat dan pesan Fatima juga memiliki bobot yang luar biasa pentingnya untuk topik yang kami bahas:
Kenyataan tentang Apa yang Sebenarnya Terjadi kepada Gereja Katolik sesudah Vatikan II. Sejak tanggal 13
Mei 1917, Bunda Allah menampakkan diri enam kali kepada Jacinta (7 tahun), Francisco (9 tahun) dan
Lucia (10 tahun) di Fatima, Portugal. Sang Perawan Suci berkata kepada anak-anak itu untuk berdoa
Rosario setiap harinya; ia mempertunjukkan kepada mereka suatu penglihatan akan Neraka; dan ia
membuat nubuat-nubuat, antara lain tentang Perang Dunia II serta meluasnya Komunisme (“kesalahan-
kesalahan Rusia”).
Penglihatan akan Neraka yang dipertunjukkan oleh Bunda Maria di Fatima kepada anak-anak:
“Seraya mengucapkan kata-katanya yang terakhir, Nona itu membuka kedua tangannya sekali
lagi, seperti yang telah dilakukannya dua bulan lalu. Sinar-sinar [dari cahaya] itu tampak
menembus tanah, dan kami melihat apa yang tampak seperti samudra api. Kami melihat
roh-roh jahat dan jiwa-jiwa [dari orang-orang yang terkutuk] tenggelam di dalam nyala
api ini. Jiwa-jiwa itu tampak seperti bara api transparan yang terbakar, yang hitam legam
atau seperti perunggu yang mengilap, rupa mereka tampak seperti manusia. Mereka
terapung ke sana dan ke mari di dalam lautan api itu, dan sekarang terangkat ke udara oleh lidah-
Pesan di Fatima
29
lidah api yang keluar dari dalam diri mereka sendiri, bersama dengan awan-awan besar yang
terbentuk dari asap. Sekarang mereka kembali jatuh ke setiap sisi layaknya percikan api
dari kebakaran besar, tanpa berat maupun keseimbangan, di tengah-tengah jeritan dan
rintihan rasa sakit dan keputusasaan, yang membuat kami ngeri dan gemetar ketakutan
(penglihatan inilah yang pastinya telah membuat saya menjerit, sebagaimana yang
didengar orang dari diri saya). Roh-roh jahat itu terlihat berbeda [dari jiwa-jiwa yang
terkutuk] oleh sebab rupa mereka yang mengerikan dan menjijikkan yang mirip dengan
binatang-binatang asing yang menakutkan, mereka berwarna hitam dan transparan
seperti batu bara yang terbakar. Penglihatan itu hanya berlangsung sesaat, berkat Bunda
kami dari Surga yang baik hati, yang pada saat penampakannya yang pertama telah
berjanji untuk membawa kami ke Surga. Tanpanya, saya kira kami akan telah mati
ketakutan dan kengerian.”2
“Kalian telah melihat Neraka, tempat perginya jiwa-jiwa para pendosa yang malang. Untuk
menyelamatkan mereka, Allah ingin menetapkan di dalam dunia ini devosi kepada Hatiku yang Tak
Bernoda”, ujar Bunda Maria.
Anak-anak dari Fatima tidak lama sesudah penglihatan Neraka ... Orang dapat melihat, di dalam air muka
mereka yang ketakutan, kebenaran dari perkataan mereka: bahwa mereka akan telah mati ketakutan
sewaktu melihat Neraka, seandainya mereka tidak dijanjikan akan masuk Surga
Pada tanggal 13 Juli 1917, Bunda Maria juga berkata kepada anak-anak itu bahwa pada tanggal 13
Oktober 1917, ia akan membuat sebuah mukjizat yang akan harus dipercayai oleh semua orang:
“Lucia berkata, ‘Saya hendak meminta anda untuk memberi tahu kami siapa diri anda, dan untuk
membuat sebuah mukjizat agar semua orang akan percaya bahwa anda telah tampak kepada
kami!’
‘Teruslah datang ke sini setiap bulan.’, jawab Nona itu. ‘Pada bulan Oktober, aku akan
mengatakan kepada kalian siapa diriku ini dan apa yang kukehendaki, dan akan membuat
sebuah mukjizat yang harus dipercayai oleh semua orang.”3 (Bunda Maria di Fatima; 13 Juli
1917)
sebab anak-anak itu telah mengumumkan beberapa bulan sebelum tanggal 13 Oktober bahwa Nona itu
akan membuat sebuah mukjizat, 70.000 sampai 100.000 orang berkumpul di Fatima pada 13 Oktober
Pesan di Fatima
30
untuk melihat mukjizat yang diprediksikan akan terjadi. Banyak orang yang tidak beriman juga datang
untuk mencemooh sewaktu mukjizat itu tidak terjadi. namun , bahkan seperti yang ditegaskan oleh pers
sekuler, Mukjizat Matahari – demikianlah nama yang dikenal untuk peristiwa itu – sungguh terjadi, persis
seperti yang diprediksikan oleh anak-anak itu dan Bunda Maria dari Fatima. Mukjizat itu mengejutkan
khalayak yang hadir, mengonversikan orang-orang yang tidak beriman yang keras hati, termasuk para
ateis dan Freemason, dan meneguhkan ribuan orang di dalam Iman Katolik.
Di atas: dua foto kerumunan orang yang terkesiap di Fatima pada tanggal 13 Oktober 1917, yang
menyaksikan mukjizat yang diprediksikan oleh Bunda Maria di Fatima
Apakah Mukjizat Matahari itu, yang begitu mencengangkan dan yang memesonakan hadirin yang
berjumlah lebih dari 70.000 orang di Fatima itu pada tanggal 13 Okt. 1917? Pengamatan singkat atas
mukjizat itu serta betapa pentingnya mukjizat ini akan berguna ke depannya untuk
menyingkapkan: Kenyataan tentang Apa yang Sebenarnya Terjadi kepada Gereja Katolik sesudah Vatikan
II.
“Matahari bersinar di puncak langit bagaikan piringan besar yang keperakan. Walaupun matahari
bersinar terang seperti yang telah senantiasa dilihat sebelumnya, mereka dapat langsung
menatapnya tanpa berkedip, dan dengan suatu kepuasan yang istimewa dan penuh sukacita.
Peristiwa ini hanya berlangsung sesaat. Sewaktu mereka menatapnya, bola raksasa itu mulai
‘menari’ – itulah kata yang digunakan oleh orang-orang yang melihatnya untuk menyebutnya.
Sekarang, matahari berputar dengan cepat seperti sebuah roda api raksasa. sesudah perputaran
itu terjadi untuk beberapa saat, matahari pun berhenti. Lalu ia kembali berotasi, dengan
kecepatan yang memusingkan dan memeningkan. Akhirnya, di pinggirannya tampak suatu
lingkaran berwarna merah kirmizi, yang memantulkan ke segala arah di langit, layaknya dari
suatu pusaran yang mengerikan, lidah api yang berwarna merah darah, yang memantulkan
kepada bumi, kepada pepohonan dan semak-semak, kepada wajah-wajah yang menghadap ke
atas serta pakaian-pakaian, segala jenis warna yang brilian secara bergantian: hijau, merah,
jingga, biru, ungu, kenyataanya, semua warna dari spektrum warna. Seraya berputar dengan
demikian tiga kali secara cepat dan tak terkendali, bola api itu tampak gemetar seolah-olah
ketakutan, dan lalu bergegas terjun dengan gerakan zigzag yang kencang menuju
kerumunan orang. ‘Ribuan orang yang ngeri itu mengeluarkan jerit ketakutan seraya
jatuh berlutut, sebab mengira bahwa kiamat sudah datang. Beberapa orang berkata bahwa
udara menjadi lebih hangat pada saat itu; mereka tidak akan telah terkejut seandainya segala
sesuatu yang ada di sekeliling mereka meledak menjadi lidah-lidah api yang membungkus dan
membakar mereka sampai habis.”4
“Di seluruh Portugal, kenyataannya, surat kabar yang antiklerikal terpaksa memberi kesaksian yang
serupa. Orang-orang pada umumnya setuju tentang hal-hal yang pokok dari peristiwa itu. Seperti yang
Pesan di Fatima
31
ditulis oleh Dr. Domingos Pinto Coelho di dalam O Ordem, ‘Matahari terkadang dikelilingi oleh lidah-lidah
api merah kirmizi, di waktu yang lain bermahkotakan warna kuning dan merah, dan bahkan di kala lain
tampak berevolusi dengan suatu gerakan rotasi yang amat cepat, dan kembali lagi, tampak
melepaskan dirinya sendiri dari langit, untuk menghampiri bumi ….”5
Sewaktu mukjizat itu terjadi, matahari tampak bergegas terjun menuju bumi dan orang-orang berpikir
bahwa kiamat sudah datang. Maknanya seharusnya jelas: Fatima yaitu suatu pertanda
apokaliptik; peristiwa itu yaitu suatu pertanda bahwa akhir zaman sudah dekat, bahwa
peristiwa-peristiwa yang akan mendahului berakhirnya dunia dan Kedatangan Kedua Yesus
Kristus akan bermula. Orang-orang harus membenahi hidup mereka sebelum akhir zaman sungguh
datang.
berdasar pertimbangan-pertimbangan ini, banyak orang telah menyimpulkan bahwa Bunda Maria
dari Fatima yaitu wanita yang berselubungkan matahari, yang dideskripsikan oleh Wahyu 12:1:
“Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang wanita berselubungkan matahari,
dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.”
(Wahyu 12:1)
Para saksi mata Fatima juga melaporkan bahwa Bunda Maria sepenuhnya terbentuk dari cahaya – ia jauh
lebih kemilau dari matahari. Bukti bahwa Bunda Maria dari Fatima yaitu wanita yang berselubungkan
matahari yang dinubuatkan di dalam Wahyu bab 12 sangatlah kuat. Kenyataannya, ada suatu
penegasan yang mengejutkan bahwa penampakan Bunda Maria di Fatima merupakan penggenapan dari
nubuat di dalam Kitab Wahyu tentang wanita yang berselubungkan matahari.
Surat Kabar Harian Masonik, O Século, secara mengejutkan menegaskan bahkan tanpa
mengetahuinya, bahwa Bunda Maria yaitu wanita yang berselubungkan matahari dari
Wahyu 12:1
Surat Kabar O Século
Pesan di Fatima
32
Mukjizat Matahari yang dibuat oleh Bunda Maria dari Fatima dilaporkan oleh berbagai surat kabar anti-
Katolik di seluruh Portugal. Surat kabar harian Masonik yang antiklerikal dari Lisbon, O Século, membuat
Kepala Editornya, Avelino de Almeida, hadir untuk melaporkan peristiwa itu. Walau bagaimanapun, ia
melaporkan mukjizat surya itu dengan jujur. Kami hendak menarik perhatian pembaca kepada judul dari
artikelnya yang diterbitkan di dalam O Século pada tanggal 15 Okt. 1917. Artikelnya yang bertanggal 15
Oktober, yang menceritakan peristiwa tanggal 13 Okt. yang luar biasa di Fatima itu, berjudul sebagai
berikut:
“Bagaimana Matahari Menari pada Siang Bolong di Fatima. Penampakan-Penampakan Sang
Perawan. – Tanda dari Langit. – Ribuan Orang Menyatakannya Sebagai Suatu Mukjizat. – Perang
dan Perdamaian.”6
Mohon perhatikan bahwa surat kabar harian Masonik dan antiklerikal dari Lisbon menggambarkan
peristiwa di Fatima dan Mukjizat Mataharinya sebagai “Tanda dari Langit”. Terdengar akrabkah kata-
kata ini?
Wahyu 12:1- “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan
berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas
bintang di atas kepalanya.”
Haruskah kita percaya bahwa surat kabar Masonik dari Lisbon berpikir tentang Wahyu 12:1 sewaktu
menerbitkan artikel ini tidak lama sesudah sesudah terjadinya mukjizat surya tahun 1917? Apakah
golongan antiklerikal itu mempertimbangkan kemungkinan bahwa penampakan Bunda Maria
merupakan wanita yang berselubungkan matahari dan “tanda di langit” yang digambarkan oleh Alkitab?
Tentunya tidak; para umat Katolik pada waktu itu bahkan tidak menghubungkan Fatima dengan wanita
yang berselubungkan matahari, apalagi golongan antiklerikal yang bahkan tidak percaya akan Kitab Suci
atau kemungkinan bahkan tidak tahu akan nubuat di dalam Wahyu 12:1! Maka dari itu, judul berita
utama ini yaitu suatu penegasan yang tak disengaja, oleh suatu sumber informasi publik yang
Anti-Katolik, bahwa Bunda Maria dari Fatima serta mukjizatnya di tanggal 13 Okt. memang benar
merupakan tanda yang dinubuatkan di dalam Wahyu 12:1.
Peristiwa itu tampak seolah-olah seseorang mengajukan kepada Allah pertanyaan berikut: Tuhan,
bagaimanakah kita akan tahu kapan “tanda di langit” yang besar itu yang Engkau prediksikan di dalam
Wahyu 12:1, akan terjadi? Dan Tuhan pun menjawab: baca saja judul berita utama di dalam surat kabar
Masonik, sebab sewaktu tanda ini akan terjadi, peristiwa itu akan dilaporkan bahkan di dalam surat
kabar itu.
Fakta yang mengejutkan ini bukan hanya berguna untuk menegaskan bahwa Bunda Maria dari Fatima
yaitu wanita yang berselubungkan matahari dari Wahyu 12:1, namun juga menegaskan lebih lanjut
autentisitas Iman Katolik serta Kitab Suci.
Maka, pada akhirnya, untuk menuntaskan poin kami tentang Fatima dan relevansinya terhadap apa yang
telah terjadi kepada Gereja Katolik sesudah Vatikan II, kami dapat berkata: sebab Fatima yaitu tanda
yang dinubuatkan di dalam Wahyu 12:1, hal ini berarti bahwa kita berada di dalam era Wahyu, hari-hari
terakhir dari dunia.
Fatima, tanda dari Why. 12:1, dan sang naga merah (Komunisme), tanda dari Why. 12:3:
keduanya muncul pada tahun 1917
Pesan di Fatima
33
Gagasan bahwa Fatima yaitu “tanda” dari Wahyu 12:1 didukung lebih lanjut oleh fakta bahwa Kitab
Wahyu berbicara tentang “naga merah padam yang besar” dua ayat sesudah nya. Kitab Suci tampaknya
menunjukkan bahwa keduanya akan muncul pada saat yang bersamaan.
Wahyu 12:3-4- “Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga
merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada
tujuh mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan
melemparkannya ke atas bumi ....”
Banyak komentator menganggap bahwa “naga merah padam yang besar” itu yaitu Komunisme, sebab
paham Komunisme secara pasti diasosiasikan dengan warna merah, dan bertanggung jawab atas
pembunuhan terhadap lebih dari 20 juta orang di Rusia sendiri. Di bawah Vladimir Lenin, kaum
Bolshevik mengambil alih atas Rusia demi Komunisme, dan memperoleh kemenangan yang
signifikan yang akan membuat Komunisme sebagai suatu kekuatan yang mendunia, pada tanggal
7 Nov. 1917, segera sesudah penampakan-penampakan Bunda Maria di Fatima, yang telah
memperingatkan tentang menyebarnya “kesalahan-kesalahan Rusia.”7 Bahkan di masa kini, kita
menyebut Cina Komunis sebagai “Cina Merah”. Revolusi Komunis di Cina diluncurkan dengan perayaan
yang meriah oleh orang-orang dengan “spanduk-spanduk merah, puluhan ribu bendera merah, dan
gerombolan balon merah yang terbang di atas mereka”.8 Buktinya sangat kuat bahwa “naga merah
padam yang besar” mendeskripsikan Kekaisaran Komunis.
Sangatlah menarik pula bahwa naga merah padam yang besar itu menyeret sepertiga dari bintang-
bintang di langit:
Wahyu 12:3-4- “Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga
merah padam yang besar ... Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit
dan melemparkannya ke atas bumi ...”
Apakah hal ini semata-mata suatu kebetulan, bahwa Komunisme, pada puncaknya, menggenggam
sepertiga dunia di dalam cengkeramannya?
W.H. Carroll, The Rise and Fall of the Communist Revolution {Kebangkitan dan Kejatuhan Revolusi
Komunis}, hal. 418: “Sewaktu Joseph Stalin berjalan di dalam Lembah Kekelaman Maut, gerakan
komunis internasional yang dipimpinnya menggenggam sepertiga dunia di dalam
cengkeramannya.”9
Pada tahun 1957, Suster Lucia, salah satu dari anak-anak yang mengalami penglihatan di Fatima,
berkata kepada Romo Fuentes:
Pesan di Fatima
34
“Romo, sang Perawan yang Tersuci tidak berkata kepada saya bahwa kita berada pada
akhir zaman, namun ia membuat saya mengerti hal ini untuk tiga alasan. Alasan yang
pertama yaitu sebab ia berkata kepada saya bahwa Iblis sedang berhasrat untuk melakukan
suatu pertempuran yang menentukan melawan sang Perawan. Dan suatu pertempuran yang
menentukan yaitu pertempuran yang terakhir di mana satu kubu akan berjaya dan kubu yang
lain akan menderita kekalahan. Itulah sebabnya sejak saat ini, kita harus memilih kubu. Kita
berpihak kepada Allah atau kita berpihak kepada Iblis. Tidak ada kemungkinan yang lain.
“Alasan yang kedua yaitu sebab ia [sang Perawan Tersuci] berkata kepada saudara-saudar
sepupu saya dan kepada saya sendiri bahwa Allah sedang memberi dua obat terakhir kepada
dunia. Kedua obat ini yaitu Rosario Suci dan Devosi kepada Hati Maria yang Tak Bernoda.
Keduanya ini yaitu kedua obat yang terakhir, yang berarti bahwa tidak akan ada obat
yang lain.
“Alasan yang ketiga yaitu sebab di dalam rancangan Penyelenggaraan Ilahi, Allah senantiasa,
sebelum Ia akan segera menghukum dunia, menghabiskan segala obat yang lain. Sekarang,
sewaktu Ia melihat bahwa dunia sama sekali tidak peduli, seperti yang kita katakan dalam cara
bicara kita yang tidak sempurna, Ia menawarkan kita dengan suatu kekhawatiran tertentu sarana
keselamatan yang terakhir, Ibunda-Nya yang Terkudus. Ia melakukannya dengan suatu
kekhawatiran tertentu sebab jika anda membenci dan menolak sarana yang terakhir ini, kita
tidak lagi akan mendapat pengampunan dari Surga sebab kita akan telah melakukan suatu
dosa yang disebut oleh Injil sebagai dosa melawan Roh Kudus. Dosa ini dilakukan melalui
penolakan secara terbuka dengan pengetahuan dan persetujuan yang penuh, keselamatan yang
ditawarkan oleh-Nya. Marilah kita mengingat bahwa Yesus Kristus yaitu seorang Putra yang
Suster Lucia
Pesan di Fatima
35
amat baik dan bahwa Ia tidak mengizinkan kita untuk menghina dan membenci Ibunda-Nya yang
Terkudus. Kita telah mencatat di sepanjang sejarah Gereja yang berabad-abad kesaksian yang
jelas yang membuktikan, melalui hukuman-hukuman yang mengerikan yang telah menimpa
orang-orang yang telah menghina kehormatan Ibunda-Nya yang Terkudus, bagaimana Tuhan kita
Yesus Kristus telah selalu membela kehormatan Ibunda-Nya.” 10
Seperti yang telah didiskusikan, ciri yang utama dari masa akhir zaman yaitu suatu kemurtadan dari
Iman Katolik. Di dalam “tempat suci sendiri” (Roma) akan ada “Pembinasa Keji” (Mt. 24:15), dan suatu
penyesatan yang sebegitu mendalamnya sehingga, seandainya mungkin, bahkan orang-orang pilihan
akan disesatkan (Mat. 24:24). Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa penyesatan ini akan terjadi
di dalam jantung dari struktur-struktur fisik Gereja, di dalam “Bait Allah” (2 Tes. 2:4). Penyesatan
itu akan timbul sebab orang-orang tidak menerima dan mengasihi kebenaran (2 Tesalonika 2:10). Itulah
persisnya mengapa kata-kata terakhir yang diberikan oleh Bunda Maria dari Fatima di dalam rahasianya
yang besar dari 13 Juli 1917 yaitu :
“Di Portugal, dogma Iman akan selalu dipertahankan, dsb.”
Ini merupakan kata-kata terakhir yang diberikan sebelum rahasia ketiga Fatima yang tidak disingkapkan.
Atas dasar perkataan ini, para pelajar Fatima telah menyimpulkan bahwa rahasia ketiga itu tentunya
membahas suatu krisis rohani dan kemurtadan raksasa dari Iman Katolik di kalangan orang-orang yang
mengaku memegang posisi-posisi otoritas di dalam Gereja.
sebab kami tidak memiliki kalimat penuh dari perkataan terakhir Bunda Maria di dalam pesan
terakhirnya di bulan Juli, kami tidak dapat berkata dengan pasti apa artinya; namun kalimatnya mungkin
seperti ini: “Di Portugal, dogma Iman akan selalu dipertahankan di dalam suatu sisa umat yang setia
….” Atau: “Di Portugal, dogma Iman akan selalu dipertahankan sampai Kemurtadan Besar …." Atau: “Di
Portugal, dogma Iman akan selalu dipertahankan di kalangan mereka yang mendengarkan
peringatan-peringatanku ….” Tidak diragukan bahwa rahasia ketiga membahas kemurtadan masa kini
dari sekte Vatikan II. Kami akan mendokumentasikan kemurtadan ini dengan amat rinci di dalam buku
ini.
Seperti yang telah dikutip pada permulaan bagian ini, ‘Romo’ Mario Luigi Ciappi, teolog Kepausan Paus
Pius XII, menyatakan:
“Di dalam Rahasia Ketiga, diprediksikan, antara lain, bahwa kemurtadan besar di dalam Gereja
akan bermula di puncaknya.”11
Seorang “Kardinal” lain dari Gereja Vatikan II secara mengejutkan mengakui bahwa Rahasia Ketiga
menceritakan tentang kemurtadan pasca-Vatikan II.
‘Kardinal’ Silvio Oddi: ” ... Rahasia Ketiga [Fatima] ... bukanlah tentang apa yang dikira sebagai
berkonversinya Rusia ... melainkan tentang ‘revolusi’ di dalam Gereja Katolik.”12
Kesaksian-kesaksian: Surga meminta agar rahasia Ketiga Fatima disingkapkan selambat-
lambatnya pada tahun 196013
Kanonik Galamba: “Sewaktu sang uskup menolak untuk membuka suratnya, Lucia
membuatnya berjanji agar surat ini akan secara pasti dibuka dan dibacakan kepada dunia
pada waktu yang datang lebih dahulu: sewaktu Lucia meninggal atau pada tahun 1960.” (La
Verdad sobre el Secreto de Fátima [Kenyataan tentang Rahasia Ketiga Fatima], Romo JoaquÃn
Alonso, Edisi bahasa Spanyol, hal. 46-47)
Pesan di Fatima
36
John Haffert: “Di dalam rumah bapak uskup (di Leiria), saya duduk di depan meja di sisi
kanannya, bersama empat orang Kanonik. Pada makan malam yang pertama, Kanonik Jose
Galamba de Oliveira berpaling kepada saya sewaktu bapak uskup telah meninggalkan ruangan
itu untuk sesaat dan bertanya: “Mengapa anda tidak meminta bapak uskup untuk membuka
Rahasia itu?” Saya berusaha keras untuk tidak mempertunjukkan kepadanya ketidaktahuan saya
sehubungan dengan Fatima – pada waktu itu saya hampir tidak tahu sama sekali – saya semata-
mata menatapnya tanpa berekspresi. Ia melanjutkan: “Bapak uskup dapat membuka Rahasia itu.
Ia tidak harus menunggu sampai tahun 1960.” (Dear Bishop! [Yang Terhormat Uskup!] John
Haffert, AMI 1981, hal. 3-4)
Kardinal Cerejeria: Pada bulan Februari 1960, Patriark Lisbon melaporkan arahan-arahan
yang telah “disampaikan kepadanya” oleh Uskup Leiria sehubungan dengan Rahasia Ketiga:
“Uskup da Silva melingkupi (amplop yang dimeteraikan oleh Lucia) di dalam sebuah amplop lain
di mana ia menyatakan bahwa surat itu harus dibuka pada tahun 1960 oleh dirinya sendiri,
Uskup José Correia da Silva, jika ia masih hidup, atau jika tidak, oleh Kardinal Patriark Lisbon.”
(Novidades, 24 Februari 1960, dikutip dari La Documentation catholique [Dokumentasi Katolik],
19 Juni 1960, col. 751)
Kanonik Barthas: Selama ia bercakap-cakap dengan Suster Lucia pada tanggal 17-18 Oktober
1946, ia mendapat kesempatan untuk bertanya kepadanya tentang Rahasia Ketiga. Ia
menulis: “Kapankah elemen ketiga dari Rahasia itu dapat disingkapkan kepada kita?” Walaupun
kala itu masih di tahun 1946, pertanyaan saya ini dijawab oleh Lucia dan Uskup Leiria dengan
seia sekata tanpa ragu-ragu dan tanpa komentar: “Pada tahun 1960.” Dan sewaktu saya
mendesak keberanian saya sehingga saya bertanya mengapa dibutuhkan untuk menunggu
sampai tahun itu, satu-satunya tanggapan yang saya dapatkan dari mereka masing-masing
yaitu : “sebab sang Perawan Suci menghendakinya demikian.” (Barthas, Fatima, merveille
du XXe siècle [Fatima, keajaiban abad ke-20], hal. 93. Fatima-éditions, 1952)
Keluarga Armstrong: “Pada tanggal 14 Mei 1953, Lucia menerima suatu kunjungan dari
keluarga Armstrong, yang dapat bertanya kepadanya tentang Rahasia ketiga. Di dalam laporan
mereka yang diterbitkan pada tahun 1955, mereka menegaskan bahwa Rahasia ketiga “harus
dibuka dan disingkapkan pada tahun 1960.” (A. O. Armstrong, Fatima, pilgrimage to peace
[Fatima, ziarah perdamaian], The World’s Work, Kingswood, Surrey, 1955)
Kardinal Ottaviani: “Tanggal 17 Mei 1955, Kardinal Ottaviani, Pro-Prefek dari Kementerian
Suci, mendatangi Karmel Santa Teresa di Coimbra. Ia bertanya kepada Suster Lucia tentang
Rahasia ketiga; dan ia mengingat pada konferensinya di tahun 1967: “Pesan ini tidak boleh
dibuka sampai tahun 1960. Saya bertanya kepada Suster Lucia, ‘Mengapa pada tanggal ini?’ Ia
menjawab, ‘sebab pada saat itu, pesan itu akan menjadi lebih jelas (mais claro).” (La
Documentation catholique [Dokumentasi Katolik], 19 Maret 1967, col. 542)
Romo JoaquÃn Alonso, juru arsip resmi Fatima: “Para uskup yang lain telah berbicara pula -
dan dengan berwibawa - tentang tahun 1960 sebagai tanggal yang diindikasikan untuk
pembukaan surat yang terkenal itu. Maka, sewaktu bapak uskup, yang waktu itu yaitu Uskup
Tituler Tiava dan Uskup Auksilier Lisbon, bertanya kepada Lucia kapan Rahasia ini harus
dibuka, ia selalu menerima jawaban yang sama: pada tahun 1960.” (La Verdad sobre el Secreto
Pesan di Fatima
37
de Fátima [Kenyataan tentang Rahasia Ketiga Fatima], Romo JoaquÃn Alonso, Edisi bahasa
Spanyol, hal. 46)
Romo JoaquÃn Alonso: “Sewaktu Don José, Uskup pertama Leiria, dan Suster Lucia setuju
bahwa surat ini harus dibuka pada tahun 1960, mereka jelas bermaksud bahwa isi surat
itu harus dibuat publik demi kebaikan Gereja dan dunia.” (Ibid., hal. 54)
Uskup Venancio: “Saya berpikir bahwa surat ini tidak akan dibukakan sebelum tahun
1960. Suster Lucia telah meminta agar surat itu tidak dibuka sebelum ia meninggal, atau jangan
dibuka sebelum tahun 1960. Kita sekarang ada di tahun 1959 dan Suster Lucia sehat walafiat.”
(La Verdad sobre el Secreto de Fátima {Kenyataan tentang Rahasia Ketiga Fatima}, Romo JoaquÃn
Alonso, Edisi bahasa Spanyol, hal. 46)
Romo Fuentes: Romo Fuentes mewawancarai Suster Lucia pada tanggal 26 Desember 1957,
yang berkata kepadanya: “Romo, sang Perawan Tersuci sangat sedih sebab tidak seorang pun
telah mengindahkan Pesannya, baik orang-orang yang baik maupun yang jahat. Orang-orang
baik terus berjalan di dalam mereka tanpa mengacuhkan Pesannya … Saya tetap tidak dapat
memberi detail lainnya sebab pesan itu masih merupakan suatu rahasia. Menurut kehendak
dari sang Perawan Tersuci, hanya Bapa Suci dan Uskup Fatima yang diizinkan untuk mengetahui
Rahasia itu, namun mereka telah memilih untuk tidak mengetahuinya agar mereka tidak menjadi
terpengaruh. Inilah bagian ketiga [Rahasia ketiga] dari Pesan Bunda Maria yang akan
tetap dirahasiakan sampai tahun 1960.” (La Verdad sobre el Secreto de Fátima [Kenyataan
tentang Rahasia Ketiga Fatima], Romo JoaquÃn Alonso, Edisi bahasa Spanyol, hal. 103-104)
Romo Stein: “Kesaksian-kesaksian yang telah mengumumkan disingkapkannya Rahasia itu
untuk tahun 1960 sedemikian berbobot dan banyaknya sehingga menurut kami, walaupun
otoritas-otoritas gerejawi dari Fatima [pada tahun 1959, para pakar sendiri masih tidak
menyadari bahwa Roma telah mengambil Rahasia itu dari Uskup Leiria dua tahun sebelumnya]
belum memutuskan untuk membuka Rahasia itu pada tahun 1960, mereka sekarang akan
terdesak untuk melakukannya oleh sebab keadaan-keadaan ini.” (Mensagem de Fátima ]Pesan
Fatima], Juli – Agustus 1959)
Romo Dias Coelho: ” ... kami dapat memakai , sebagai fakta yang tidak terpungkiri,
pernyataan dari Dr. Galamba de Oliveira ini (pada tahun 1953) di dalam Fátima, Altar do Mundo :
“Bagian ketiga dari Rahasia itu dimeteraikan di dalam tangan Paduka Rahmat Bapak Uskup
Leiria, dan akan dibuka sesudah meninggalnya sang saksi mata atau selambat-lambatnya pada
tahun 1960.” (L’Homme Nouveau [Manusia Baru], nomor 269, 22 November 1959)
Semua kesaksian dan pernyataan menunjukkan secara jelas bahwa Surga menginginkan agar rahasia
ketiga Fatima disingkapkan kepada seluruh dunia selambat-lambatnya pada tahun 1960, sebab rahasia
itu akan menjadi lebih jelas pada waktu itu.
Mengapa rahasia ketiga Fatima akan menjadi lebih jelas pada tahun 1960?
Pada tanggal 25 Januari 1959, Yohanes XXIII mengumumkan bahwa ia mendapat suatu ilham
khusus untuk seketika menghimpun suatu konsili ekumenis. (Tanggal 25 Januari, omong-omong,
yaitu tanggal yang sama di mana cahaya yang tidak dikenal menerangi dunia sebelum Perang Dunia
Kedua, menyinari langit Eropa. Cahaya yang tidak dikenal yang muncul pada tanggal 25 Januari 1938
Pesan di Fatima
38
ini telah diprediksikan oleh Bunda Maria dari Fatima sebagai peringatan bahwa Allah akan
menghukum dunia dengan hal-hal yang disingkapkan di dalam bagian kedua dari rahasia ini .
Apakah fakta bahwa Yohanes XXIII menghimpun Konsili Vatikan II pada tanggal 25 Januari merupakan
peringatan atas hukuman yang akan datang yang dideskripsikan oleh rahasia ketiga?)
Konsili yang dihimpun oleh Yohanes XXIII pada tahun 1959 ternyata yaitu Vatikan II. Hasil-hasil dari
Vatikan II yang merupakan bencana yaitu hal yang dibahas di dalam buku ini. Bukankah perihal
dihimpunnya konsili ini pada tahun 1959 merupakan alasan Bunda kita yang Kudus meminta agar
rahasia ketiga Fatima disingkapkan pada tahun 1960? Apakah Bunda Maria sedang memperingatkan kita
secara langsung tentang kemurtadan yang akan dihasilkan oleh konsili ini, yang sungguh melahirkan
suatu Kontra-Gereja Katolik yang baru, yang palsu, seperti yang akan kita lihat di dalam buku ini?
Memang benar, satu-satunya tanda yang besar yang telah terjadi pada tahun 1960 sehubungan dengan
kemurtadan besar-besaran yang sekarang kita lalui yang akan membuat hal-hal menjadi “lebih jelas”
yaitu bahwa Yohanes XXIII telah mengumumkan niatnya untuk menghimpun suatu konsili baru pada
tahun 1959. Menurut pandangan kami, sangat jelas adanya bahwa rahasia ketiga Fatima berkenaan
dengan kemurtadan yang dihasilkan oleh suatu konsili sesat; jika tidak, rahasia ketiga tidak akan menjadi
lebih masuk akal di tahun 1960, seperti yang dikatakan akan terjadi oleh Bunda kita yang Kudus.
Pesan di Fatima
39
4. Daftar Komplet Anti-Paus di dalam
Sejarah
Untuk mengerti apa yang Allah dapat izinkan untuk berlangsung pada akhir zaman, kita harus mengerti
ajaran Katolik tentang Kepausan dan melihat beberapa contoh di dalam sejarah Gereja, yang diizinkan
untuk terjadi oleh Allah kepada Kepausan. yaitu sebuah fakta Sejarah, Kitab Suci, dan Tradisi, bahwa
Tuhan kita Yesus Kristus, telah mendirikan Gereja-Nya yang universal (Gereja Katolik) di atas St. Petrus.
Matius 16:18-19- “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau yaitu Petrus dan di atas batu
karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan Alam Maut tidak akan menguasainya.
Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat
di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”
Tuhan kita telah menjadikan St. Petrus Paus pertama, memberi kepadanya domba-domba-Nya, dan
memberi nya kekuasaan tertinggi di dalam Gereja universal Kristus.
Yohanes 21:15-17- ”...Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah
engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan,
Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau. "Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-
domba-Ku." Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah
engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku
mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku. "Kata Yesus
kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? " Maka
sedih hati Petrus sebab Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?"
Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku
mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.”
namun di dalam sejarah Gereja Katolik ada lebih dari 40 Anti-Paus. Seorang Anti-Paus yaitu
seorang uskup yang mengaku seorang Paus, namun tidak diangkat secara kanonik layaknya uskup Roma
(yaitu sang Paus). Berikut yaitu daftar dari 42 Anti-Paus yang Gereja harus hadapi sebelum Vatikan II
1. St. Hippolitus (bersatu kembali dengan Paus St. Pontianus dan meninggal sebagai martir untuk
Gereja); 217-235
2. Novatianus; 251-258
3. Feliks II (orang sering salah kaprah antara ia dan seorang martir yang memiliki nama yang sama,
maka dianggap sebagai Paus sejati sampai akhir-akhir ini); 355-365
4. Ursinus; 366-367
5. Eulalius; 418-419
6. Laurentius; 498-499, 501-506
7. Dioskorus (mungkin sah jika dibandingkan dengan Bonifasius II, namun meninggal 22 hari sesudah
terpilih); 530
8. Theodorus (II) (melawan Anti-Paus Paskalis); 687
9. Paskalis (I) (melawan Anti-Paus Theodorus); 687
10. Theophylactus; 757
11. Konstantinus II; 767-768
12. Filipus (menggantikan dengan singkat Anti-Paus Konstantinus II ; berkuasa selama satu hari dan
lalu kembali ke dalam biaranya); 768
Para Anti-Paus dalam Sejarah
13. Yohanes VIII; 844
14. Anastasius III sang pustakawan; 855
15. Kristoforus; 903-904
16. Bonifasius VII; 974, 984-985
17. Yohanes Filagatto (Yohanes XVI); 997-999
18. Gregorius VI; 1012
19. Silvester III; 1045
20. Yohanes Mincius (Benediktus X); 1058-1059
21. Pietro Cadalus (Honorius II); 1061-1064
22. Wilbert dari Ravenna (Klemens III); 1080 dan 1084-1100
23. Theodoric; 1100-1101
24. Adalbertus; 1101
25. Maginulf (Silvester IV); 1105-1111
26. Mauritius Burdinus (Gregorius VIII); 1118-1121
27. Theobald Boccapecci (Selestinus II) (sah, namun tunduk kepada Paus yang melawan Honorius II,
maka sesudahnya dianggap sebagai Anti-Paus); 1124
28. Pietro Pierleoni (Anakletus II); 1130-1138
29. Gregorio Conti (Viktor IV); 1138
30. Ottavio di Montecelio (Viktor IV ); 1159-1164
31. Guido di Crema (Paskalis III ); 1164-1168
32. Giovanni di Struma (Kalikstus III); 1168-1178
33. Lanz di Sezan (Innocent III); 1179-1180
34. Pietro Rainalducci (Nikolas V), Anti-Paus dari Roma, 1328-1330
35. Robert dari Jenewa (Klemens VII), Anti-Paus dari urutan Avignon; 20 September 1378 - 16
September 1394
36. Pedro de Luna (Benediktus XIII), Anti-Paus dari urutan Avignon; 1394-1423
37. Pietro Philarghi (Aleksander V), Anti-Paus dari urutan Pisa; 1409-1410
38. Baldassare Cossa (Yohanes XXIII), Anti-Paus dari urutan Pisa; 1410-1415
39. Gil Sánchez Muñoz (Klemens VIII), Anti-Paus dari urutan Avignon; 1423-1429
40. Bernard Garnier (Benediktus XIV yang pertama), Anti-Paus dari urutan Avignon; 1425- sekitar
1429
41. Jean Carrier (Benediktus XIV kedua), Anti-Paus dari urutan Avignon; 1430-1437
42. Adipati Amadeus VIII dari Savoy (Féliks V); 5 November 1439 - 7 April 1449
(Wikipedia, Ensiklopedia bebas)
Salah satu kasus yang paling buruk di dalam sejarah Gereja yaitu kasus Anakletus II yang memimpin
dari Roma dari tahun 1130-1138. Anakletus ditempatkan lewat pemilihannya yang tidak sah dan tidak
kanonik, sesudah Paus sejati, Inosensius II telah terpilih. Walaupun pemilihannya tidak sah dan tidak
kanonik, Anti-Paus Anakletus mendapat dukungan dari hampir seluruh penduduk Roma, sampai sang
Paus sejati memenangkan kembali kuasa atas Roma di tahun 1138 (The Catholic Encyclopedia
{Ensiklopedia Katolik}, Anacletus, Vol. 1, 1907, hal. 447.).
Juga, kita harus mempertimbangkan Skisma Barat Besar untuk melihat hal yang Allah biarkan terjadi di
dalam sejarah Gereja dan hal yang Ia dapat biarkan terjadi dalam Kemurtadan Besar.
Skisma Barat Besar
42
5. Skisma Barat Besar (1378-1417) dan Hal
yang Kita Pelajari akan Kemurtadan sesudah
Vatikan II
Ketidakpastian yang besar, berbagai Anti-Paus, Anti-Paus di Roma, seorang Anti-Paus yang diakui oleh
semua kardinal ; Skisma Barat Besar membuktikan bahwa sebuah urutan Anti-Paus di tengah-tengah
krisis sesudah Vatikan II dapat terjadi –
Analisis Skisma Barat Besar
Tahun Para Paus Urutan Avignon (Anti-
Paus)
Urutan Pisa (Anti-
Paus) Urutan yang
paling disukai oleh
kebanyakan teolog pada
masa itu, dipilih oleh
para kardinal dari kedua
kubu
1378
Urbanus VI
(1378-1389)
Klemens VII
(1378-1394)
diakui oleh semua
kardinal yang memilih
Urbanus VI
1389 Bonifasius IX
(1389-1404)
1394
Benediktus XIII
(1394-1417)
diakui untuk sesaat oleh
St. Vincent Ferrer
1404
Inosensius VII
(1404-1406)
1406
Gregorius XII
(1406-1415)
Paus yang paling sedikit
jumlah pendukungnya di
dalam sejarah ; yang paling
tidak diakui dari ketiga urutan
; ditolak oleh hampir seluruh
Kekristenan
1409
Aleksander V
(1409-1410)
dipilih oleh para kardinal
di Pisa
1410
Yohanes XXIII
(1410-1415)
memimpin di Roma,
memiliki dukungan
terbesar dari ketiga
urutan
1415
1417 Diselesaikan lewat pemilihan Paus Martinus V pada tahun 1417 di Konsili Konstanz
Skisma Barat Besar
43
Bagaimana hal ini terjadi
Konklaf [Pemilihan Paus] yang terjadi di Vatikan (1378) sesudah meninggalnya Paus Gregorius XI, yaitu
konklaf pertama yang berlangsung di Roma sejak tahun 1303. Para Paus sebelumnya bertempat tinggal
di Avignon sejak sekitar 70 tahun lamanya, akibat masalah-masalah politik. Pemilihan Paus terjadi di
dalam sebuah kegemparan yang besar.1 sebab Prancis telah menjadi tempat tinggal para Paus sejak 70
tahun, massa Romawi yang mengerumuni konkflaf ini amat rusuh dan berseru menuntut para
kardinal untuk memilih seseorang yang berasal dari Roma, atau setidaknya dari Italia. Pada suatu ketika,
sewaktu kita berpikir bahwa seorang Prancis telah terpilih pada tempat itu, dan bukan seorang Italia,
massa itu orang menyerbu istana.
“Di dalam suatu kemurkaan, masa itu sekarang mulai bebatuan ke arah jendela istana dan
menyerang pintu dengan beliung dan kapak. kekuatan pertahanan yang efektif; massa ini
menyerbu.”2
Akhirnya, seorang Italia, Paus Urbanus VI dipilih oleh 16 kardinal. Sri Paus yang baru bertanya kepada
para kardinal bilamana mereka telah memilihnya secara bebas dan secara kanonik; mereka menjawab
ya. Segera sesudah pemilihan sang Paus, ke-16 kardinal yang telah memilih Paus Urbanus VI menulis
kepada enam kardinal yang telah bersikeras menetap di Avignon:
“Kami telah memberi suara kami kepada Bartolomeo, uskup agung dari Bari [Urbanus VI],
yang dikenal untuk jasa-jasanya yang baik, dan yang kebajikannya membuatnya sebagai suatu
teladan yang cemerlang; kami telah, dalam mufakat penuh, mengangkatnya ke puncak keagungan
apostolik dan telah mengumumkan pilihan kami kepada khalayak Kristiani.”3
PARA KARDINAL MENOLAK PAUS URBANUS VI DI BAWAH DALIH MASSA ROMA YANG RUSUH
namun , segera sesudah terpilih, Paus Urbanus mulai menjauhi para kardinal.
“Para kardinal Prancis, yang membentuk mayoritas dari Dewan Kardinal, kecewa dengan
kota ini , dan ingin pulang ke Avignon, di mana tidak ada gereja-gereja yang usang,
puing-puing istana, serta massa Romawi yang begitu kacau serta demam Romawi yang
mematikan, di mana kehidupan, pendek kata, lebih nyaman. Urbanus VI menolak untuk
meninggalkan Roma,dan tekadnya yang tegas, yang dinyatakan kepada mereka tanpa
basa-basi, untuk mereformasi mahkamah Kepausan dan menghentikan kemewahannya,
sangat menyinggung para kardinal” .”4
Satu per satu, para kardinal pergi berlibur ke Agnagni. “Sri Paus yang baru, yang sama sekali tidak curiga,
telah memberi mereka izin untuk pergi ke sana selama musim panas. Pada pertengahan bulan Juli...
mereka setuju di antara diri mereka sendiri bahwa pemilihan Paus pada bulan April sebelumnya
tidaklah valid oleh sebab halangan akibat oleh massa yang mengerumuni mereka dan,
berdasar hal ini, mereka mencabut pengakuan mereka terhadap Urbanus.”5
sesudah berita tentang keputusan dari para kardinal telah diedarkan, juru kanon Baldus, yang dianggap
sebagai juri yang paling terkenal pada masa itu, menerbitkan sebuah traktat yang menolak keputusan
mereka. Di dalamnya, ia berkata:
”...tidak ada dasar di atas mana para kardinal dapat menolak seorang Paus sesudah mereka
telah memilihnya dan tidak ada alasan bahwa seluruh Gereja dapat menggulingkannya
{memecatnya}, kecuali oleh sebab bidah yang persisten dan terang-terangan.”6
Skisma Barat Besar
44
Walaupun ketidaktepatan dari pernyataan Baldus ini – sebab seorang Paus sejati tidak akan bisa
digulingkan; seorang bidah menggulingkan dirinya sendiri – kita dapat melihat dengan jelas di dalam
kata-katanya, kebenaran yang diakui secara umum, bahwa seorang klaiman Kepausan yang
persisten dan terang-terangan yaitu seorang bidah, dapat ditolak sebagai non-Paus, sebab ia
berada di luar Gereja.
SELURUH KARDINAL PADA WAKTU ITU MENOLAK URBANUS VI DAN MENGAKUI SEORANG
ANTI-PAUS
Pada tanggal 20 Juli 1378, 15 dari ke-16 kardinal yang telah memilih Urbanus VI berhenti
mematuhinya dengan alasan bahwa massa Romawi yang rusuh membuat pemilihan Paus
ini non-kanonik. Satu-satunya kardinal yang tidak menolak Urbanus VI yaitu kardinal
Tebaldeschi, namun ia meninggal segera sesudah nya, pada tanggal 7 September – yang membuat keadaan
di mana tidak ada satu kardinal pun dari Gereja Katolik yang mengakui Sri Paus yang sejati,
Urbanus VI. Semua kardinal yang hidup sekarang menganggap pemilihannya tidak valid.7
sesudah menolak Urbanus VI, pada tanggal 20 September 1378, para kardinal lalu memilih Klemens VII
sebagai “Paus”, yang mendirikan “Kepausan” pesaingnya di Avignon. Skisma Barat Besar telah dimulai.
“Para kardinal yang memberontak lalu menulis kepada raja-raja Eropa, untuk menjelaskan aksi
mereka. Karolus V dari Prancis dan negara Prancis seluruhnya langsung mengakui Klemens VII,
seperti yang dilakukan Flandria, Spanyol, dan Skotlandia. Kekaisaran dan Inggris, bersama
negara-negara timur dan utara, serta kebanyakan republik Italia berpegang kepada Urbanus VI.”8
Walaupun validitas dari pemilihan Urbanus VI dapat dipastikan, kita dapat melihat bagaimana banyak
orang tergerakkan oleh argumen bahwa massa Romawi telah memengaruhi secara ilegal pemilihannya,
yang oleh sebab itu, membuat pemilihan itu tidak kanonik. Di samping itu, kita bisa melihat bagaimana
posisi Anti-Paus Klemens VII di mata banyak orang menjadi jauh lebih kuat dan lebih berarti, lewat fakta
bahwa 15 dari ke-16 kardinal yang telah memilih Urbanus VI telah menolak pemilihannya sebagai tidak
valid. Situasi yang muncul sesudah Klemens VII diterima menghasilkan suatu mimpi buruk – suatu mimpi
buruk sejak awalnya – sebuah mimpi buruk yang menunjukkan kepada kita bagaimana Allah
kadangkala membiarkan hal-hal menjadi benar-benar buruk dan kacau, tanpa melanggar janji-janji-
Nya kepada Gereja-Nya:
“Skisma ini sekarang telah menjadi suatu fakta yang telah terjadi, dan selama 40 tahun,
Kekristenan memperlakukan dengan kemurungan pemandangan di mana dua dan bahkan
tiga Paus pesaing menggugat kesetiaan pengikut-pengikutnya. Ini yaitu krisis paling
berbahaya yang Gereja pernah hadapi. Kedua Paus mengadakan perang salib terhadap yang
lain. Masing-masing Paus mengklaim hak untuk menciptakan kardinal-kardinal dan
meneguhkan uskup-uskup agung, para uskup, dan para imam sampai ada dua dewan
kardinal dan di berbagai tempat, dua klaiman untuk posisi-posisi tinggi di dalam Gereja...
Masing-masing Paus mencoba untuk mengumpulkan semua pendapatan Gereja, dan yang satu
mengekskomunikasikan yang lain bersama semua pengikutnya.”9
Pemandangan ini terus berlanjut selama para Paus dan para Anti-Paus meninggal, hanya untuk
digantikan oleh yang lainnya. Paus Urbanus VI meninggal pada tahun 1389 dan digantikan oleh Paus
Bonifasius IX yang memerintah dari tahun 1389 sampai 1404. sesudah pemilihan Bonifasius IX, ia
langsung diekskomunikasikan oleh Anti-Paus Klemens VII, dan ia juga membalas dengan
mengekskomunikasikan Anti-Paus Klemens VII.
Skisma Barat Besar
45
Pada masa pemerintahannya, Paus Bonifasius IX “tidak mampu memperbesar pengaruhnya di
Eropa; Sisilia dan Genoa bahkan kenyataannya meninggalkannya. Untuk mencegah pembesaran
dukungan terhadap partai Klemens di Jerman, ia memberi banyak sokongan kepada raja Jerman
Wenceslas...”10
PARA KARDINAL DARI KEDUA KUBU BERSUMPAH UNTUK MENGHENTIKAN SKISMA ini
SEBELUM BERPARTISIPASI DI DALAM PEMILIHAN PAUS BARU, YANG MEMBUKTIKAN BETAPA
PARAHNYA SITUASI ini
Pada waktu itu di Avignon, Anti-Paus Klemens VII meninggal pada tahun 1394. Sebelum memilih penerus
Anti-Paus Klemens VII, ke-21 kardinal “bersumpah untuk menghentikan skisma ini ; masing-masing
dari mereka bersumpah, jika ia terpilih, untuk turun takhta jika mayoritas menilainya pantas turun
takhta.”11 Ingatlah akan hal ini, sebab hal ini akan menjadi relevan sewaktu kami membahas mengapa
seorang klaiman ketiga terhadap Kepausan muncul.
Para kardinal di Avignon memilih Pedro de Luna, (Anti-Paus) Benediktus XIII untuk meneruskan
Klemens VII. Benediktus XIII memerintah sebagai klaiman dari Avignon selama sisa waktu Skisma itu.
Untuk suatu waktu, Benediktus XIII mendapat dukungan dari sang pembuat mukjizat dari ordo
Dominikam, St. Vinsensius Ferrer. St. Vinsensius Ferrer yaitu imam pengaku dosa bagi Benediktus XIII
selama beberapa waktu.12 Ia percaya bahwa urut-urutan Avignon yaitu urut-urutan yang valid (sampai
suatu waktu lalu dari skisma ini ). St. Vinsensius Ferrer jelas telah menjadi yakin bahwa
pemilihan Urbanus VI tidak sah akibat massa Romawi yang rusuh, di samping penerimaan yang
signifikan terhadap urut-urutan Avignon oleh 15 dari ke-16 kardinal yang telah mengambil bagian dalam
pemilihan Urbanus VI.
Sebagai seorang kardinal, Anti-Paus Benediktus XIII pada awalnya juga telah mengambil bagian di dalam
pemilihan Paus Urbanus VI, namun sesudah nya, ia menolak Urbanus dan membantu pemilihan Klemens
(sebab ia telah yakin bahwa pemilihan Urbanus tidak valid). Sebagai seorang kardinal di bawah
Klemens VII, Benediktus XIII “bepergian ke semenanjung Iberia selama sebelas tahun sebagai duta besar
Anti-Paus, dan peran diplomatiknya menggerakkan Aragon, Kastila, Navarra dan Portugal ke bawah
kepatuhannya [Anti-Paus Klemens VII].”13
sesudah bersumpah untuk turun takhta agar dapat menghentikan skisma, jika disetujui oleh mayoritas
dari para kardinal, Anti-Paus Benediktus mengasingkan banyak dari para kardinalnya sewaktu ia
mengingkari janjinya dan menjadi enggan turun takhta walaupun kebanyakan dari para kardinalnya
menginginkan agar ia melakukannya. Saingannya, Paus Bonifasius IX juga sama enggannya.
Pada tahun 1404, Paus Bonifasius IX (penerus Urbanus IV) meninggal, dan Paus Inosensius VII terpilih
sebagai penerusnya oleh delapan kardinal yang hadir. namun , Paus Inosensius VII tidak hidup lama; ia
meninggal dunia hanya dua tahun sesudah nya, pada tahun 1406. Dalam masa pemerintahannya yang
singkat, Inosensius VII telah tetap menolak untuk bertemu dengan klaiman dari Avignon, Benediktus XIII,
walaupun ia telah mengambil sebuah sumpah sebelum pemilihannya untuk melkukan segala sesuatu
yang mampu dilakukannya untuk mengakhiri skisma itu, termasuk turun takhta, jika diperlukan.
Sewaktu skisma ini terus berlangsung, para anggota dari kedua kubu menjadi semakin frustrasi
akan keengganan kedua klaiman untuk melakukan upaya-upaya yang efektif untuk mengakhiri skisma
itu:
“Kedua suara terdengar dari semua kubu yang menuntut agar kesatuan dipulihkan.
Universitas Paris, atau, kedua profesornya yang paling terkemuka, Jean Gerson dan Pierre
Skisma Barat Besar
46
d’Ailly, mengusulkan agar suatu Konsili Umum dihimpun untuk memutuskan antara para
klaiman yang bersaing.”14
Sesuai dengan sentimen yang tersebar luas untuk mengambil tindakan yang efektif untuk mengakhiri
skisma itu, sebuah sumpah diambil sebelum pemilihan penerus Paus Inosensius VII:
”...tiap-tiap dari keempat belas kardinal yang hadir dalam konklaf sesudah meninggalnya
[Paus] Inosensius VII, bersumpah bahwa, jika ia terpilih, ia akan turun dengan syarat bahwa
Anti-Paus Benediktus XIII turun takhta pula atau meninggal dunia; juga bahwa ia tidak
menciptakan kardinal-kardinal baru kecuali untuk menjaga kesetaraan jumlah dengan kardinal-
kardinal Avignon, dan bahwa dalam waktu tiga bulan, ia akan melakukan negosiasi dengan
pesaingnya tentang suatu tempat bertemu...”15
Fakta bahwa para kardinal yang mempersiapkan diri untuk memilih seorang Paus sejati bersumpah
seperti itu - yang mengikutsertakan negosiasi dengan seorang Anti-Paus, menunjukkan betapa
mengenaskan situasi itu pada waktu skisma ini terjadi, dan betapa besarnya dukungan yang
dimiliki oleh sang Anti-Paus dari Kekristenan.
Konklaf ini lalu memilih Paus Gregorius XII pada tanggal 30 November 1406. Harapan agar skisma
ini berakhir kembali menyala lewat negosiasi-negosiasi Paus Gregorius XII dengan Anti-Paus
Benediktus XIII. Keduanya bahkan telah setuju tentant suatu tempat pertemuan, namun Paus Gregorius
XII menjadi goyah; ia khawatir (dengan alasan yang baik) akan ketulusan dari intensi Benediktus XIII.
Paus Gregorius XII juga dipengaruhi agar ia tidak turun takhta oleh beberapa saudaranya yang karib,
yang membuat suatu gambaran yang negatif tentang apa yang mungkin terjadi andaikata ia turun takhta.
PARA KARDINAL DARI KEDUA KUBU MUAK, PERGI KE PISA, DAN MEMILIH SEORANG “PAUS” BARU DI
DALAM SEBUAH PERAYAAN YANG MENGAGUMKAN BERSAMA PARA KARDINAL DARI KEDUA KUBU
“Sewaktu negosiasi berjalan [antara Paus Gregorius XII dan Anti-Paus Benediktus XIII]
dengan semakin lambat, para kardinal dari Gregorius menjadi semakin waswas. Sebuah
perpecahan tidak dapat terelakkan ketika Gregorius yang meragukan kesetiaan mereka,
memungkiri janji yang dibuatnya sebelum ia terpilih dan pada tanggal 4 Mei mengumumkan
penciptaan empat kardinal baru... Semua dewan kardinalnya yang awal (kecuali tiga
anggota) meninggalkannya dan bergegas pergi ke Pisa...”16
Keempat belas kardinal yang telah meninggalkan Paus Gregorius untuk melarikan diri ke Pisa,
diikuti oleh sepuluh kardinal yang telah meninggalkan kepatuhan kepada Anti-Paus Benediktus
XIII. Para kardinal dari kedua kubu telah mengatur sebuah konsili, dan setuju untuk menyudahi
skisma itu melalui suatu pemilihan bersama di Pisa.
“Di mata dunia, Konsili Pisa memang merupakan sebuah perhimpunan yang brilian,
dihadiri oleh 24 kardinal (empat belas dari mereka dahulu setia kepada Paus Gregorius
XII, sepuluh kepada Luna [Anti-Paus Benediktus XIII] ... empat patriark, 80 uskup, 89
kepala biara, 41 pemimpin ordo, pemimpin-pemimpin dari empat ordo religius, dan pada
dasarnya perwakilan dari setiap universitas, pemimpin kerajaan, dan para kaum ningrat
dari berbagai kerajaan Eropa Katolik.“17
Kardinal Uskup Agung dari Milan membuat kata sambutan di Pisa. Ia mengutuk kedua klaiman, Gregorius
XII dan (Anti-Paus) Benediktus XIII, dan secara resmi memanggil mereka untuk menghadiri konsili itu.
Mereka dinyatakan sebagai berkeras kepala sewaktu mereka tidak datang.
Skisma Barat Besar
47
Harus kita katakan bahwa pada titik skisma ini (1409), orang-orang sangatlah muak akan perpecahan
yang tanpa henti dan janji-janji yang tidak dipenuhi oleh kedua klaiman, sehingga perhimpunan di Pisa
diterima dan didukung oleh banyak orang. Konsili ini menjadi sangat memukau dan disenangi oleh
sebab fakta bahwa ke-24 kardinalnya terdiri dari jumlah yang besar dari para kardinal yang
telah mengambil bagian dari kedua kubu [kubu dari Gregorius XII dan Anti-Paus Benediktus XIII]. Hal
ini memberi kesan bahwa para kardinal dari Gereja melakukan sebuah aksi serempak. Pada tanggal
29 Juni 1409, ke-24 kardinal memilih secara serempak Aleksander V. Sekarang, ada tiga
klaiman Kepausan pada waktu yang bersamaan.
Romo John Laux, Church History {Sejarah Gereja}, hal. 405:
“Sekarang ada tiga Paus, dan tiga Dewan Kardinal, tiga uskup yang bersaingan di dalam
beberapa dioses, dan di dalam beberapa Ordo Religius, tiga superior yang bersaingan.”18
KLAIMAN KETIGA, ANTI-PAUS DARI PISA mendapat DUKUNGAN YANG PALING BESAR DAN DARI
KEBANYAKAN TEOLOG, sebab IA TAMPAK MERUPAKAN PILIHAN YANG SEREMPAK DARI PARA
KARDINAL DARI KEDUA KUBU
Anti-Paus Pisa yang baru terpilih, Aleksander V, mendapat dukungan yang paling besar dari
Kekristenan dari antara ketiga klaiman. Sri Paus yang sejati, Gregorius XII, mendapat dukungan
paling sedikit.
Sejak awal, Aleksander V “mendapat dukungan dari Inggris, dari kebanyakan penduduk
Prancis, Belanda, Bohemia... Polandia... dari kotanya yaitu Milan, dari Venesia, dan Florence. De
Luna [Anti-Paus Benediktus XIII] mendapat dukungan dari negerinya sendiri, Aragon, dari
Kastila, dari beberapa bagian dari Prancis Selatan, dan dari Skotlandia... Gregorius XII yaitu
yang terlemah dari ketiganya, ia hanya mendapat kesetiaan dari Napoli, dari Inggris barat, dari
beberapa kota Italia utara, dan dari Carlo Malatesta di Rimini yang tak tergoyahkan... Skisma
Barat Besar telah menjadi segitiga kesetiaan yang berbahaya, di mana Sri Paus yang sejati
yaitu yang terlemah dari ketiganya... Gereja Katolik kelihatannya menderita dari takdir yang
akan lalu akan menggapai Protestantisme: subdivisi yang berganda dan tidak dapat
dikendalikan... Yang paling parah, kelihatannya tidak ada sebuah jalan keluar dari
bencana ini.”19
Kebanyakan teolog dan kanonis yang terpelajar dari zaman ini mendukung urut-urutan
Anti-Paus dari Pisa.
“Sejak dari akhir tahun 1408 sampai musim dingin 1409, berlanjutlah perdebatan yang berkobar
antara para teolog dan para kanonis. Kebanyakan dari mereka, oleh sebab b






