gereja vatikan 2


 yang sekarang menjadi 

terkenal. Doa ini sebagai berikut: 

“St. Mikhael Malaikat Agung, lindungilah kami dalam pertempuran. Jadilah pembela kami 

melawan kejahatan dan tipu daya Setan. Kami mohon dengan rendah hati kiranya Allah 

Paus Leo XIII 

27 

 

menghukumnya. Dan engkau, ya panglima bala tentara Surga, dengan kekuatan ilahi, 

campakkanlah ke dalam Neraka, Setan dan roh jahat lainnya yang berkeliaran di atas bumi untuk 

membinasakan segala jiwa. Amin.” 

Doa kepada St. Mikhael yang satu ini sama sekali tidak salah; kenyataannya, doa ini sangat baik dan 

mujarab. namun , inti permasalahannya yaitu  do aini bukanlah Doa kepada St. Mikhael yang telah 

dikarang oleh Paus Leo XIII. Doa yang lebih singkat ini, menurut banyak orang, dipromosikan sebagai 

suatu pengganti, agar para umat beriman tidak menyadari isi yang menakjubkan dari doa yang lebih 

panjang itu, seperti yang telah dideskripsikan di atas. Seandainya saja Doa kepada St. Mikhael yang lebih 

panjang itu telah diucapkan pada akhir dari setiap Misa Rendah dan tidak dihapuskan pada tahun 1934, 

bukankah akan ada  jutaan orang yang lebih banyak yang akan tergerak untuk melawan sewaktu 

mereka menjumpai upaya dari agama baru pasca-Vatikan II yang akan kami bahas di dalam buku ini? 

Betapa banyaknya orang yang akan telah melihat pengubrak-abrikkan sistematis yang dilakukan 

terhadap Iman Katolik tradisional sesudah  Vatikan II? 

Doa kepada St. Mikhael yang lebih panjang dari Paus Leo XIII ini juga secara sempurna bertepatan dengan 

penampakan dan prediksi yang terkenal dari Bunda Maria dari La Salette pada tahun 1846: “Roma akan 

kehilangan iman dan menjadi Takhta sang Antikristus … Gereja akan berada di dalam gerhana.” Perkataan 

Paus Leo menyiratkan bahwa sang Antikristus sendiri, atau setidaknya para pasukan dari sang 

Antikristus, akan mendirikan takhta mereka di Roma. “Di dalam Tempat Suci sendiri, di mana telah 

didirikan Takhta dari Petrus yang amat kudus serta Takhta Kebenaran sebagai terang bagi dunia, mereka 

telah mengangkat takhta kefasikan mereka yang keji ….” 

 

Sebuah foto lain Yohanes Paulus II pada waktu ibadat doa antaragama pada tahun 1986 di Assisi, Italia – suatu hal 

sama sekali dikutuk oleh Gereja Katolik (hal ini akan dibahas lebih lanjut di dalam bab tentang Yohanes Paulus II).

Pesan di Fatima 

28 

 

3. Pesan di Fatima: Suatu Tanda dari Surga 

yang Mengisyaratkan Bermulanya Akhir 

Zaman dan Nubuat tentang Kemurtadan dari 

Gereja 

 

Lucia, Francico, dan Jacinta dari Fatima 

Romo Mario Luigi Ciappi, seorang teolog kepausan dari Paus Pius XII: “Di dalam Rahasia Ketiga 

[Fatima], diprediksikan, antara lain, bahwa kemurtadan besar di dalam Gereja akan bermula di 

puncaknya.”1 

Pesan dan mukjizat Bunda Maria di Fatima, pada tahun 1917, yaitu  salah satu peristiwa terbesar di 

dalam Gereja Katolik. sebab  mukjizat Fatima, yang terjadi pada tanggal 13 Oktober 1917, telah 

diprediksikan sebelum hal ini  terjadi, dan digenapi di hadapan sekitar 100.000 orang, mukjizat itu 

kemungkinan yaitu  mukjizat terbesar di dalam sejarah Katolik, di samping Kebangkitan Kristus. 

Mukjizat dan pesan Fatima juga memiliki bobot yang luar biasa pentingnya untuk topik yang kami bahas: 

Kenyataan tentang Apa yang Sebenarnya Terjadi kepada Gereja Katolik sesudah  Vatikan II. Sejak tanggal 13 

Mei 1917, Bunda Allah menampakkan diri enam kali kepada Jacinta (7 tahun), Francisco (9 tahun) dan 

Lucia (10 tahun) di Fatima, Portugal. Sang Perawan Suci berkata kepada anak-anak itu untuk berdoa 

Rosario setiap harinya; ia mempertunjukkan kepada mereka suatu penglihatan akan Neraka; dan ia 

membuat nubuat-nubuat, antara lain tentang Perang Dunia II serta meluasnya Komunisme (“kesalahan-

kesalahan Rusia”). 

Penglihatan akan Neraka yang dipertunjukkan oleh Bunda Maria di Fatima kepada anak-anak: 

“Seraya mengucapkan kata-katanya yang terakhir, Nona itu membuka kedua tangannya sekali 

lagi, seperti yang telah dilakukannya dua bulan lalu. Sinar-sinar [dari cahaya] itu tampak 

menembus tanah, dan kami melihat apa yang tampak seperti samudra api. Kami melihat 

roh-roh jahat dan jiwa-jiwa [dari orang-orang yang terkutuk] tenggelam di dalam nyala 

api ini. Jiwa-jiwa itu tampak seperti bara api transparan yang terbakar, yang hitam legam 

atau seperti perunggu yang mengilap, rupa mereka tampak seperti manusia. Mereka 

terapung ke sana dan ke mari di dalam lautan api itu, dan sekarang terangkat ke udara oleh lidah-

Pesan di Fatima 

29 

 

lidah api yang keluar dari dalam diri mereka sendiri, bersama dengan awan-awan besar yang 

terbentuk dari asap. Sekarang mereka kembali jatuh ke setiap sisi layaknya percikan api 

dari kebakaran besar, tanpa berat maupun keseimbangan, di tengah-tengah jeritan dan 

rintihan rasa sakit dan keputusasaan, yang membuat kami ngeri dan gemetar ketakutan 

(penglihatan inilah yang pastinya telah membuat saya menjerit, sebagaimana yang 

didengar orang dari diri saya). Roh-roh jahat itu terlihat berbeda [dari jiwa-jiwa yang 

terkutuk] oleh sebab  rupa mereka yang mengerikan dan menjijikkan yang mirip dengan 

binatang-binatang asing yang menakutkan, mereka berwarna hitam dan transparan 

seperti batu bara yang terbakar. Penglihatan itu hanya berlangsung sesaat, berkat Bunda 

kami dari Surga yang baik hati, yang pada saat penampakannya yang pertama telah 

berjanji untuk membawa kami ke Surga. Tanpanya, saya kira kami akan telah mati 

ketakutan dan kengerian.”2 

“Kalian telah melihat Neraka, tempat perginya jiwa-jiwa para pendosa yang malang. Untuk 

menyelamatkan mereka, Allah ingin menetapkan di dalam dunia ini devosi kepada Hatiku yang Tak 

Bernoda”, ujar Bunda Maria. 

 

Anak-anak dari Fatima tidak lama sesudah  penglihatan Neraka ... Orang dapat melihat, di dalam air muka 

mereka yang ketakutan, kebenaran dari perkataan mereka: bahwa mereka akan telah mati ketakutan 

sewaktu melihat Neraka, seandainya mereka tidak dijanjikan akan masuk Surga 

Pada tanggal 13 Juli 1917, Bunda Maria juga berkata kepada anak-anak itu bahwa pada tanggal 13 

Oktober 1917, ia akan membuat sebuah mukjizat yang akan harus dipercayai oleh semua orang: 

“Lucia berkata, ‘Saya hendak meminta anda untuk memberi tahu kami siapa diri anda, dan untuk 

membuat sebuah mukjizat agar semua orang akan percaya bahwa anda telah tampak kepada 

kami!’ 

‘Teruslah datang ke sini setiap bulan.’, jawab Nona itu. ‘Pada bulan Oktober, aku akan 

mengatakan kepada kalian siapa diriku ini dan apa yang kukehendaki, dan akan membuat 

sebuah mukjizat yang harus dipercayai oleh semua orang.”3 (Bunda Maria di Fatima; 13 Juli 

1917) 

sebab  anak-anak itu telah mengumumkan beberapa bulan sebelum tanggal 13 Oktober bahwa Nona itu 

akan membuat sebuah mukjizat, 70.000 sampai 100.000 orang berkumpul di Fatima pada 13 Oktober 

Pesan di Fatima 

30 

 

untuk melihat mukjizat yang diprediksikan akan terjadi. Banyak orang yang tidak beriman juga datang 

untuk mencemooh sewaktu mukjizat itu tidak terjadi. namun , bahkan seperti yang ditegaskan oleh pers 

sekuler, Mukjizat Matahari – demikianlah nama yang dikenal untuk peristiwa itu – sungguh terjadi, persis 

seperti yang diprediksikan oleh anak-anak itu dan Bunda Maria dari Fatima. Mukjizat itu mengejutkan 

khalayak yang hadir, mengonversikan orang-orang yang tidak beriman yang keras hati, termasuk para 

ateis dan Freemason, dan meneguhkan ribuan orang di dalam Iman Katolik. 

 

Di atas: dua foto kerumunan orang yang terkesiap di Fatima pada tanggal 13 Oktober 1917, yang 

menyaksikan mukjizat yang diprediksikan oleh Bunda Maria di Fatima 

Apakah Mukjizat Matahari itu, yang begitu mencengangkan dan yang memesonakan hadirin yang 

berjumlah lebih dari 70.000 orang di Fatima itu pada tanggal 13 Okt. 1917? Pengamatan singkat atas 

mukjizat itu serta betapa pentingnya mukjizat ini  akan berguna ke depannya untuk 

menyingkapkan: Kenyataan tentang Apa yang Sebenarnya Terjadi kepada Gereja Katolik sesudah  Vatikan 

II. 

“Matahari bersinar di puncak langit bagaikan piringan besar yang keperakan. Walaupun matahari 

bersinar terang seperti yang telah senantiasa dilihat sebelumnya, mereka dapat langsung 

menatapnya tanpa berkedip, dan dengan suatu kepuasan yang istimewa dan penuh sukacita. 

Peristiwa ini hanya berlangsung sesaat. Sewaktu mereka menatapnya, bola raksasa itu mulai 

‘menari’ – itulah kata yang digunakan oleh orang-orang yang melihatnya untuk menyebutnya. 

Sekarang, matahari berputar dengan cepat seperti sebuah roda api raksasa. sesudah  perputaran 

itu terjadi untuk beberapa saat, matahari pun berhenti. Lalu ia kembali berotasi, dengan 

kecepatan yang memusingkan dan memeningkan. Akhirnya, di pinggirannya tampak suatu 

lingkaran berwarna merah kirmizi, yang memantulkan ke segala arah di langit, layaknya dari 

suatu pusaran yang mengerikan, lidah api yang berwarna merah darah, yang memantulkan 

kepada bumi, kepada pepohonan dan semak-semak, kepada wajah-wajah yang menghadap ke 

atas serta pakaian-pakaian, segala jenis warna yang brilian secara bergantian: hijau, merah, 

jingga, biru, ungu, kenyataanya, semua warna dari spektrum warna. Seraya berputar dengan 

demikian tiga kali secara cepat dan tak terkendali, bola api itu tampak gemetar seolah-olah 

ketakutan, dan lalu  bergegas terjun dengan gerakan zigzag yang kencang menuju 

kerumunan orang. ‘Ribuan orang yang ngeri itu mengeluarkan jerit ketakutan seraya 

jatuh berlutut, sebab  mengira bahwa kiamat sudah datang. Beberapa orang berkata bahwa 

udara menjadi lebih hangat pada saat itu; mereka tidak akan telah terkejut seandainya segala 

sesuatu yang ada di sekeliling mereka meledak menjadi lidah-lidah api yang membungkus dan 

membakar mereka sampai habis.”4 

“Di seluruh Portugal, kenyataannya, surat kabar yang antiklerikal terpaksa memberi  kesaksian yang 

serupa. Orang-orang pada umumnya setuju tentang hal-hal yang pokok dari peristiwa itu. Seperti yang 

Pesan di Fatima 

31 

 

ditulis oleh Dr. Domingos Pinto Coelho di dalam O Ordem, ‘Matahari terkadang dikelilingi oleh lidah-lidah 

api merah kirmizi, di waktu yang lain bermahkotakan warna kuning dan merah, dan bahkan di kala lain 

tampak berevolusi dengan suatu gerakan rotasi yang amat cepat, dan kembali lagi, tampak 

melepaskan dirinya sendiri dari langit, untuk menghampiri bumi ….”5 

Sewaktu mukjizat itu terjadi, matahari tampak bergegas terjun menuju bumi dan orang-orang berpikir 

bahwa kiamat sudah datang. Maknanya seharusnya jelas: Fatima yaitu  suatu pertanda 

apokaliptik; peristiwa itu yaitu  suatu pertanda bahwa akhir zaman sudah dekat, bahwa 

peristiwa-peristiwa yang akan mendahului berakhirnya dunia dan Kedatangan Kedua Yesus 

Kristus akan bermula. Orang-orang harus membenahi hidup mereka sebelum akhir zaman sungguh 

datang. 

berdasar  pertimbangan-pertimbangan ini, banyak orang telah menyimpulkan bahwa Bunda Maria 

dari Fatima yaitu  wanita yang berselubungkan matahari, yang dideskripsikan oleh Wahyu 12:1: 

“Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang wanita berselubungkan matahari, 

dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya.” 

(Wahyu 12:1) 

Para saksi mata Fatima juga melaporkan bahwa Bunda Maria sepenuhnya terbentuk dari cahaya – ia jauh 

lebih kemilau dari matahari. Bukti bahwa Bunda Maria dari Fatima yaitu  wanita yang berselubungkan 

matahari yang dinubuatkan di dalam Wahyu bab 12 sangatlah kuat. Kenyataannya, ada  suatu 

penegasan yang mengejutkan bahwa penampakan Bunda Maria di Fatima merupakan penggenapan dari 

nubuat di dalam Kitab Wahyu tentang wanita yang berselubungkan matahari. 

Surat Kabar Harian Masonik, O Século, secara mengejutkan menegaskan bahkan tanpa 

mengetahuinya, bahwa Bunda Maria yaitu  wanita yang berselubungkan matahari dari 

Wahyu 12:1 

 

Surat Kabar O Século 

Pesan di Fatima 

32 

 

Mukjizat Matahari yang dibuat oleh Bunda Maria dari Fatima dilaporkan oleh berbagai surat kabar anti-

Katolik di seluruh Portugal. Surat kabar harian Masonik yang antiklerikal dari Lisbon, O Século, membuat 

Kepala Editornya, Avelino de Almeida, hadir untuk melaporkan peristiwa itu. Walau bagaimanapun, ia 

melaporkan mukjizat surya itu dengan jujur. Kami hendak menarik perhatian pembaca kepada judul dari 

artikelnya yang diterbitkan di dalam O Século pada tanggal 15 Okt. 1917. Artikelnya yang bertanggal 15 

Oktober, yang menceritakan peristiwa tanggal 13 Okt. yang luar biasa di Fatima itu, berjudul sebagai 

berikut: 

“Bagaimana Matahari Menari pada Siang Bolong di Fatima. Penampakan-Penampakan Sang 

Perawan. – Tanda dari Langit. – Ribuan Orang Menyatakannya Sebagai Suatu Mukjizat. – Perang 

dan Perdamaian.”6 

Mohon perhatikan bahwa surat kabar harian Masonik dan antiklerikal dari Lisbon menggambarkan 

peristiwa di Fatima dan Mukjizat Mataharinya sebagai “Tanda dari Langit”. Terdengar akrabkah kata-

kata ini? 

Wahyu 12:1- “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan 

berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas 

bintang di atas kepalanya.” 

Haruskah kita percaya bahwa surat kabar Masonik dari Lisbon berpikir tentang Wahyu 12:1 sewaktu 

menerbitkan artikel ini tidak lama sesudah  sesudah  terjadinya mukjizat surya tahun 1917? Apakah 

golongan antiklerikal itu mempertimbangkan kemungkinan bahwa penampakan Bunda Maria 

merupakan wanita yang berselubungkan matahari dan “tanda di langit” yang digambarkan oleh Alkitab? 

Tentunya tidak; para umat Katolik pada waktu itu bahkan tidak menghubungkan Fatima dengan wanita 

yang berselubungkan matahari, apalagi golongan antiklerikal yang bahkan tidak percaya akan Kitab Suci 

atau kemungkinan bahkan tidak tahu akan nubuat di dalam Wahyu 12:1! Maka dari itu, judul berita 

utama ini yaitu  suatu penegasan yang tak disengaja, oleh suatu sumber informasi publik yang 

Anti-Katolik, bahwa Bunda Maria dari Fatima serta mukjizatnya di tanggal 13 Okt. memang benar 

merupakan tanda yang dinubuatkan di dalam Wahyu 12:1. 

Peristiwa itu tampak seolah-olah seseorang mengajukan kepada Allah pertanyaan berikut: Tuhan, 

bagaimanakah kita akan tahu kapan “tanda di langit” yang besar itu yang Engkau prediksikan di dalam 

Wahyu 12:1, akan terjadi? Dan Tuhan pun menjawab: baca saja judul berita utama di dalam surat kabar 

Masonik, sebab sewaktu tanda ini akan terjadi, peristiwa itu akan dilaporkan bahkan di dalam surat 

kabar itu. 

Fakta yang mengejutkan ini bukan hanya berguna untuk menegaskan bahwa Bunda Maria dari Fatima 

yaitu  wanita yang berselubungkan matahari dari Wahyu 12:1, namun  juga menegaskan lebih lanjut 

autentisitas Iman Katolik serta Kitab Suci. 

Maka, pada akhirnya, untuk menuntaskan poin kami tentang Fatima dan relevansinya terhadap apa yang 

telah terjadi kepada Gereja Katolik sesudah  Vatikan II, kami dapat berkata: sebab  Fatima yaitu  tanda 

yang dinubuatkan di dalam Wahyu 12:1, hal ini berarti bahwa kita berada di dalam era Wahyu, hari-hari 

terakhir dari dunia. 

Fatima, tanda dari Why. 12:1, dan sang naga merah (Komunisme), tanda dari Why. 12:3: 

keduanya muncul pada tahun 1917 

Pesan di Fatima 

33 

 

Gagasan bahwa Fatima yaitu  “tanda” dari Wahyu 12:1 didukung lebih lanjut oleh fakta bahwa Kitab 

Wahyu berbicara tentang “naga merah padam yang besar” dua ayat sesudah nya. Kitab Suci tampaknya 

menunjukkan bahwa keduanya akan muncul pada saat yang bersamaan.  

Wahyu 12:3-4- “Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga 

merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada 

tujuh mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan 

melemparkannya ke atas bumi ....” 

Banyak komentator menganggap bahwa “naga merah padam yang besar” itu yaitu  Komunisme, sebab  

paham Komunisme secara pasti diasosiasikan dengan warna merah, dan bertanggung jawab atas 

pembunuhan terhadap lebih dari 20 juta orang di Rusia sendiri. Di bawah Vladimir Lenin, kaum 

Bolshevik mengambil alih atas Rusia demi Komunisme, dan memperoleh kemenangan yang 

signifikan yang akan membuat Komunisme sebagai suatu kekuatan yang mendunia, pada tanggal 

7 Nov. 1917, segera sesudah  penampakan-penampakan Bunda Maria di Fatima, yang telah 

memperingatkan tentang menyebarnya “kesalahan-kesalahan Rusia.”7 Bahkan di masa kini, kita 

menyebut Cina Komunis sebagai “Cina Merah”. Revolusi Komunis di Cina diluncurkan dengan perayaan 

yang meriah oleh orang-orang dengan “spanduk-spanduk merah, puluhan ribu bendera merah, dan 

gerombolan balon merah yang terbang di atas mereka”.8 Buktinya sangat kuat bahwa “naga merah 

padam yang besar” mendeskripsikan Kekaisaran Komunis. 

Sangatlah menarik pula bahwa naga merah padam yang besar itu menyeret sepertiga dari bintang-

bintang di langit: 

Wahyu 12:3-4- “Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga 

merah padam yang besar ... Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit 

dan melemparkannya ke atas bumi ...” 

Apakah hal ini semata-mata suatu kebetulan, bahwa Komunisme, pada puncaknya, menggenggam 

sepertiga dunia di dalam cengkeramannya? 

W.H. Carroll, The Rise and Fall of the Communist Revolution {Kebangkitan dan Kejatuhan Revolusi 

Komunis}, hal. 418: “Sewaktu Joseph Stalin berjalan di dalam Lembah Kekelaman Maut, gerakan 

komunis internasional yang dipimpinnya menggenggam sepertiga dunia di dalam 

cengkeramannya.”9 

Pada tahun 1957, Suster Lucia, salah satu dari anak-anak yang mengalami penglihatan di Fatima, 

berkata kepada Romo Fuentes: 

Pesan di Fatima 

34 

 

 

 

“Romo, sang Perawan yang Tersuci tidak berkata kepada saya bahwa kita berada pada 

akhir zaman, namun  ia membuat saya mengerti hal ini untuk tiga alasan. Alasan yang 

pertama yaitu  sebab  ia berkata kepada saya bahwa Iblis sedang berhasrat untuk melakukan 

suatu pertempuran yang menentukan melawan sang Perawan. Dan suatu pertempuran yang 

menentukan yaitu  pertempuran yang terakhir di mana satu kubu akan berjaya dan kubu yang 

lain akan menderita kekalahan. Itulah sebabnya sejak saat ini, kita harus memilih kubu. Kita 

berpihak kepada Allah atau kita berpihak kepada Iblis. Tidak ada kemungkinan yang lain. 

“Alasan yang kedua yaitu  sebab  ia [sang Perawan Tersuci] berkata kepada saudara-saudar 

sepupu saya dan kepada saya sendiri bahwa Allah sedang memberi  dua obat terakhir kepada 

dunia. Kedua obat ini yaitu  Rosario Suci dan Devosi kepada Hati Maria yang Tak Bernoda. 

Keduanya ini yaitu  kedua obat yang terakhir, yang berarti bahwa tidak akan ada obat 

yang lain. 

“Alasan yang ketiga yaitu  sebab  di dalam rancangan Penyelenggaraan Ilahi, Allah senantiasa, 

sebelum Ia akan segera menghukum dunia, menghabiskan segala obat yang lain. Sekarang, 

sewaktu Ia melihat bahwa dunia sama sekali tidak peduli, seperti yang kita katakan dalam cara 

bicara kita yang tidak sempurna, Ia menawarkan kita dengan suatu kekhawatiran tertentu sarana 

keselamatan yang terakhir, Ibunda-Nya yang Terkudus. Ia melakukannya dengan suatu 

kekhawatiran tertentu sebab  jika anda membenci dan menolak sarana yang terakhir ini, kita 

tidak lagi akan mendapat  pengampunan dari Surga sebab  kita akan telah melakukan suatu 

dosa yang disebut oleh Injil sebagai dosa melawan Roh Kudus. Dosa ini dilakukan melalui 

penolakan secara terbuka dengan pengetahuan dan persetujuan yang penuh, keselamatan yang 

ditawarkan oleh-Nya. Marilah kita mengingat bahwa Yesus Kristus yaitu  seorang Putra yang 

Suster Lucia 

Pesan di Fatima 

35 

 

amat baik dan bahwa Ia tidak mengizinkan kita untuk menghina dan membenci Ibunda-Nya yang 

Terkudus. Kita telah mencatat di sepanjang sejarah Gereja yang berabad-abad kesaksian yang 

jelas yang membuktikan, melalui hukuman-hukuman yang mengerikan yang telah menimpa 

orang-orang yang telah menghina kehormatan Ibunda-Nya yang Terkudus, bagaimana Tuhan kita 

Yesus Kristus telah selalu membela kehormatan Ibunda-Nya.” 10 

Seperti yang telah didiskusikan, ciri yang utama dari masa akhir zaman yaitu  suatu kemurtadan dari 

Iman Katolik. Di dalam “tempat suci sendiri” (Roma) akan ada “Pembinasa Keji” (Mt. 24:15), dan suatu 

penyesatan yang sebegitu mendalamnya sehingga, seandainya mungkin, bahkan orang-orang pilihan 

akan disesatkan (Mat. 24:24). Perjanjian Baru memberi tahu kita bahwa penyesatan ini akan terjadi 

di dalam jantung dari struktur-struktur fisik Gereja, di dalam “Bait Allah” (2 Tes. 2:4). Penyesatan 

itu akan timbul sebab  orang-orang tidak menerima dan mengasihi kebenaran (2 Tesalonika 2:10). Itulah 

persisnya mengapa kata-kata terakhir yang diberikan oleh Bunda Maria dari Fatima di dalam rahasianya 

yang besar dari 13 Juli 1917 yaitu : 

 “Di Portugal, dogma Iman akan selalu dipertahankan, dsb.” 

Ini merupakan kata-kata terakhir yang diberikan sebelum rahasia ketiga Fatima yang tidak disingkapkan. 

Atas dasar perkataan ini, para pelajar Fatima telah menyimpulkan bahwa rahasia ketiga itu tentunya 

membahas suatu krisis rohani dan kemurtadan raksasa dari Iman Katolik di kalangan orang-orang yang 

mengaku memegang posisi-posisi otoritas di dalam Gereja. 

sebab  kami tidak memiliki kalimat penuh dari perkataan terakhir Bunda Maria di dalam pesan 

terakhirnya di bulan Juli, kami tidak dapat berkata dengan pasti apa artinya; namun  kalimatnya mungkin 

seperti ini: “Di Portugal, dogma Iman akan selalu dipertahankan di dalam suatu sisa umat yang setia 

….” Atau: “Di Portugal, dogma Iman akan selalu dipertahankan sampai Kemurtadan Besar …." Atau: “Di 

Portugal, dogma Iman akan selalu dipertahankan di kalangan mereka yang mendengarkan 

peringatan-peringatanku ….”  Tidak diragukan bahwa rahasia ketiga membahas kemurtadan masa kini 

dari sekte Vatikan II. Kami akan mendokumentasikan kemurtadan ini dengan amat rinci di dalam buku 

ini. 

Seperti yang telah dikutip pada permulaan bagian ini, ‘Romo’ Mario Luigi Ciappi, teolog Kepausan Paus 

Pius XII, menyatakan: 

“Di dalam Rahasia Ketiga, diprediksikan, antara lain, bahwa kemurtadan besar di dalam Gereja 

akan bermula di puncaknya.”11 

Seorang “Kardinal” lain dari Gereja Vatikan II secara mengejutkan mengakui bahwa Rahasia Ketiga 

menceritakan tentang kemurtadan pasca-Vatikan II. 

‘Kardinal’ Silvio Oddi: ” ... Rahasia Ketiga [Fatima] ... bukanlah tentang apa yang dikira sebagai 

berkonversinya Rusia ... melainkan tentang ‘revolusi’ di dalam Gereja Katolik.”12 

Kesaksian-kesaksian: Surga meminta agar rahasia Ketiga Fatima disingkapkan selambat-

lambatnya pada tahun 196013 

  Kanonik Galamba: “Sewaktu sang uskup menolak untuk membuka suratnya, Lucia 

membuatnya berjanji agar surat ini  akan secara pasti dibuka dan dibacakan kepada dunia 

pada waktu yang datang lebih dahulu: sewaktu Lucia meninggal atau pada tahun 1960.” (La 

Verdad sobre el Secreto de Fátima [Kenyataan tentang Rahasia Ketiga Fatima], Romo Joaquín 

Alonso, Edisi bahasa Spanyol, hal. 46-47) 

Pesan di Fatima 

36 

 

 

  John Haffert: “Di dalam rumah bapak uskup (di Leiria), saya duduk di depan meja di sisi 

kanannya, bersama empat orang Kanonik. Pada makan malam yang pertama, Kanonik Jose 

Galamba de Oliveira berpaling kepada saya sewaktu bapak uskup telah meninggalkan ruangan 

itu untuk sesaat dan bertanya: “Mengapa anda tidak meminta bapak uskup untuk membuka 

Rahasia itu?” Saya berusaha keras untuk tidak mempertunjukkan kepadanya ketidaktahuan saya 

sehubungan dengan Fatima – pada waktu itu saya hampir tidak tahu sama sekali – saya semata-

mata menatapnya tanpa berekspresi. Ia melanjutkan: “Bapak uskup dapat membuka Rahasia itu. 

Ia tidak harus menunggu sampai tahun 1960.” (Dear Bishop! [Yang Terhormat Uskup!] John 

Haffert, AMI 1981, hal. 3-4) 

 

  Kardinal Cerejeria: Pada bulan Februari 1960, Patriark Lisbon melaporkan arahan-arahan 

yang telah “disampaikan kepadanya” oleh Uskup Leiria sehubungan dengan Rahasia Ketiga: 

“Uskup da Silva melingkupi (amplop yang dimeteraikan oleh Lucia) di dalam sebuah amplop lain 

di mana ia menyatakan bahwa surat itu harus dibuka pada tahun 1960 oleh dirinya sendiri, 

Uskup José Correia da Silva, jika ia masih hidup, atau jika tidak, oleh Kardinal Patriark Lisbon.” 

(Novidades, 24 Februari 1960, dikutip dari La Documentation catholique [Dokumentasi Katolik], 

19 Juni 1960, col. 751) 

 

  Kanonik Barthas: Selama ia bercakap-cakap dengan Suster Lucia pada tanggal 17-18 Oktober 

1946, ia mendapat  kesempatan untuk bertanya kepadanya tentang Rahasia Ketiga. Ia 

menulis: “Kapankah elemen ketiga dari Rahasia itu dapat disingkapkan kepada kita?”  Walaupun 

kala itu masih di tahun 1946, pertanyaan saya ini dijawab oleh Lucia dan Uskup Leiria dengan 

seia sekata tanpa ragu-ragu dan tanpa komentar: “Pada tahun 1960.” Dan sewaktu saya 

mendesak keberanian saya sehingga saya bertanya mengapa dibutuhkan untuk menunggu 

sampai tahun itu, satu-satunya tanggapan yang saya dapatkan dari mereka masing-masing 

yaitu : “sebab  sang Perawan Suci menghendakinya demikian.” (Barthas, Fatima, merveille 

du XXe siècle [Fatima, keajaiban abad ke-20], hal. 93. Fatima-éditions, 1952) 

 

  Keluarga Armstrong: “Pada tanggal 14 Mei 1953, Lucia menerima suatu kunjungan dari 

keluarga Armstrong, yang dapat bertanya kepadanya tentang Rahasia ketiga. Di dalam laporan 

mereka yang diterbitkan pada tahun 1955, mereka menegaskan bahwa Rahasia ketiga “harus 

dibuka dan disingkapkan pada tahun 1960.” (A. O. Armstrong, Fatima, pilgrimage to peace 

[Fatima, ziarah perdamaian], The World’s Work, Kingswood, Surrey, 1955) 

 

  Kardinal Ottaviani: “Tanggal 17 Mei 1955, Kardinal Ottaviani, Pro-Prefek dari Kementerian 

Suci, mendatangi Karmel Santa Teresa di Coimbra. Ia bertanya kepada Suster Lucia tentang 

Rahasia ketiga; dan ia mengingat pada konferensinya di tahun 1967: “Pesan ini  tidak boleh 

dibuka sampai tahun 1960. Saya bertanya kepada Suster Lucia, ‘Mengapa pada tanggal ini?’ Ia 

menjawab, ‘sebab  pada saat itu, pesan itu akan menjadi lebih jelas (mais claro).” (La 

Documentation catholique [Dokumentasi Katolik], 19 Maret 1967, col. 542) 

 

  Romo Joaquín Alonso, juru arsip resmi Fatima: “Para uskup yang lain telah berbicara pula - 

dan dengan berwibawa - tentang tahun 1960 sebagai tanggal yang diindikasikan untuk 

pembukaan surat yang terkenal itu. Maka, sewaktu bapak uskup, yang waktu itu yaitu  Uskup 

Tituler Tiava dan Uskup Auksilier Lisbon, bertanya kepada Lucia kapan Rahasia ini  harus 

dibuka, ia selalu menerima jawaban yang sama: pada tahun 1960.” (La Verdad sobre el Secreto 

Pesan di Fatima 

37 

 

de Fátima [Kenyataan tentang Rahasia Ketiga Fatima], Romo Joaquín Alonso, Edisi bahasa 

Spanyol, hal. 46) 

 

  Romo Joaquín Alonso: “Sewaktu Don José, Uskup pertama Leiria, dan Suster Lucia setuju 

bahwa surat ini  harus dibuka pada tahun 1960, mereka jelas bermaksud bahwa isi surat 

itu harus dibuat publik demi kebaikan Gereja dan dunia.” (Ibid., hal. 54) 

 

  Uskup Venancio: “Saya berpikir bahwa surat ini  tidak akan dibukakan sebelum tahun 

1960. Suster Lucia telah meminta agar surat itu tidak dibuka sebelum ia meninggal, atau jangan 

dibuka sebelum tahun 1960. Kita sekarang ada di tahun 1959 dan Suster Lucia sehat walafiat.” 

(La Verdad sobre el Secreto de Fátima {Kenyataan tentang Rahasia Ketiga Fatima}, Romo Joaquín 

Alonso, Edisi bahasa Spanyol, hal. 46) 

 

  Romo Fuentes: Romo Fuentes mewawancarai Suster Lucia pada tanggal 26 Desember 1957, 

yang berkata kepadanya: “Romo, sang Perawan Tersuci sangat sedih sebab  tidak seorang pun 

telah mengindahkan Pesannya, baik orang-orang yang baik maupun yang jahat. Orang-orang 

baik terus berjalan di dalam mereka tanpa mengacuhkan Pesannya … Saya tetap tidak dapat 

memberi  detail lainnya sebab  pesan itu masih merupakan suatu rahasia. Menurut kehendak 

dari sang Perawan Tersuci, hanya Bapa Suci dan Uskup Fatima yang diizinkan untuk mengetahui 

Rahasia itu, namun  mereka telah memilih untuk tidak mengetahuinya agar mereka tidak menjadi 

terpengaruh. Inilah bagian ketiga [Rahasia ketiga] dari Pesan Bunda Maria yang akan 

tetap dirahasiakan sampai tahun 1960.” (La Verdad sobre el Secreto de Fátima [Kenyataan 

tentang Rahasia Ketiga Fatima], Romo Joaquín Alonso, Edisi bahasa Spanyol, hal. 103-104) 

 

  Romo Stein: “Kesaksian-kesaksian yang telah mengumumkan disingkapkannya Rahasia itu 

untuk tahun 1960 sedemikian berbobot dan banyaknya sehingga menurut kami, walaupun 

otoritas-otoritas gerejawi dari Fatima [pada tahun 1959, para pakar sendiri masih tidak 

menyadari bahwa Roma telah mengambil Rahasia itu dari Uskup Leiria dua tahun sebelumnya] 

belum memutuskan untuk membuka Rahasia itu pada tahun 1960, mereka sekarang akan 

terdesak untuk melakukannya oleh sebab  keadaan-keadaan ini.” (Mensagem de Fátima ]Pesan 

Fatima], Juli – Agustus 1959) 

 

  Romo Dias Coelho: ” ... kami dapat memakai , sebagai fakta yang tidak terpungkiri, 

pernyataan dari Dr. Galamba de Oliveira ini (pada tahun 1953) di dalam Fátima, Altar do Mundo : 

“Bagian ketiga dari Rahasia itu dimeteraikan di dalam tangan Paduka Rahmat Bapak Uskup 

Leiria, dan akan dibuka sesudah  meninggalnya sang saksi mata atau selambat-lambatnya pada 

tahun 1960.” (L’Homme Nouveau [Manusia Baru], nomor 269, 22 November 1959) 

Semua kesaksian dan pernyataan menunjukkan secara jelas bahwa Surga menginginkan agar rahasia 

ketiga Fatima disingkapkan kepada seluruh dunia selambat-lambatnya pada tahun 1960, sebab  rahasia 

itu akan menjadi lebih jelas pada waktu itu. 

Mengapa rahasia ketiga Fatima akan menjadi lebih jelas pada tahun 1960? 

Pada tanggal 25 Januari 1959, Yohanes XXIII mengumumkan bahwa ia mendapat  suatu ilham 

khusus untuk seketika menghimpun suatu konsili ekumenis. (Tanggal 25 Januari, omong-omong, 

yaitu  tanggal yang sama di mana cahaya yang tidak dikenal menerangi dunia sebelum Perang Dunia 

Kedua, menyinari langit Eropa. Cahaya yang tidak dikenal yang muncul pada tanggal 25 Januari 1938 

Pesan di Fatima 

38 

 

ini  telah diprediksikan oleh Bunda Maria dari Fatima sebagai peringatan bahwa Allah akan 

menghukum dunia dengan hal-hal yang disingkapkan di dalam bagian kedua dari rahasia ini . 

Apakah fakta bahwa Yohanes XXIII menghimpun Konsili Vatikan II pada tanggal 25 Januari merupakan 

peringatan atas hukuman yang akan datang yang dideskripsikan oleh rahasia ketiga?) 

Konsili yang dihimpun oleh Yohanes XXIII pada tahun 1959 ternyata yaitu  Vatikan II. Hasil-hasil dari 

Vatikan II yang merupakan bencana yaitu  hal yang dibahas di dalam buku ini. Bukankah perihal 

dihimpunnya konsili ini pada tahun 1959 merupakan alasan Bunda kita yang Kudus meminta agar 

rahasia ketiga Fatima disingkapkan pada tahun 1960? Apakah Bunda Maria sedang memperingatkan kita 

secara langsung tentang kemurtadan yang akan dihasilkan oleh konsili ini, yang sungguh melahirkan 

suatu Kontra-Gereja Katolik yang baru, yang palsu, seperti yang akan kita lihat di dalam buku ini? 

Memang benar, satu-satunya tanda yang besar yang telah terjadi pada tahun 1960 sehubungan dengan 

kemurtadan besar-besaran yang sekarang kita lalui yang akan membuat hal-hal menjadi “lebih jelas” 

yaitu  bahwa Yohanes XXIII telah mengumumkan niatnya untuk menghimpun suatu konsili baru pada 

tahun 1959. Menurut pandangan kami, sangat jelas adanya bahwa rahasia ketiga Fatima berkenaan 

dengan kemurtadan yang dihasilkan oleh suatu konsili sesat; jika tidak, rahasia ketiga tidak akan menjadi 

lebih masuk akal di tahun 1960, seperti yang dikatakan akan terjadi oleh Bunda kita yang Kudus. 

Pesan di Fatima 

39 

4. Daftar Komplet Anti-Paus di dalam 

Sejarah 

Untuk mengerti apa yang Allah dapat izinkan untuk berlangsung pada akhir zaman, kita harus mengerti 

ajaran Katolik tentang Kepausan dan melihat beberapa contoh di dalam sejarah Gereja, yang diizinkan 

untuk terjadi oleh Allah kepada Kepausan. yaitu  sebuah fakta Sejarah, Kitab Suci, dan Tradisi, bahwa 

Tuhan kita Yesus Kristus, telah mendirikan Gereja-Nya yang universal (Gereja Katolik) di atas St. Petrus. 

Matius 16:18-19- “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau yaitu  Petrus dan di atas batu 

karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan Alam Maut tidak akan menguasainya. 

Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat 

di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” 

Tuhan kita telah menjadikan St. Petrus Paus pertama, memberi  kepadanya domba-domba-Nya, dan 

memberi nya kekuasaan tertinggi di dalam Gereja universal Kristus. 

Yohanes 21:15-17- ”...Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah 

engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, 

Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau. "Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-

domba-Ku." Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah 

engkau mengasihi Aku?" Jawab Petrus kepada-Nya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku 

mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku. "Kata Yesus 

kepadanya untuk ketiga kalinya: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku? " Maka 

sedih hati Petrus sebab  Yesus berkata untuk ketiga kalinya: "Apakah engkau mengasihi Aku?" 

Dan ia berkata kepada-Nya: "Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku 

mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-domba-Ku.” 

namun  di dalam sejarah Gereja Katolik ada  lebih dari 40 Anti-Paus. Seorang Anti-Paus yaitu  

seorang uskup yang mengaku seorang Paus, namun  tidak diangkat secara kanonik layaknya uskup Roma 

(yaitu sang Paus). Berikut yaitu  daftar dari 42 Anti-Paus yang Gereja harus hadapi sebelum Vatikan II 

1. St. Hippolitus (bersatu kembali dengan Paus St. Pontianus dan meninggal sebagai martir untuk 

Gereja); 217-235 

2. Novatianus; 251-258 

3. Feliks II (orang sering salah kaprah antara ia dan seorang martir yang memiliki nama yang sama, 

maka dianggap sebagai Paus sejati sampai akhir-akhir ini); 355-365 

4. Ursinus; 366-367 

5. Eulalius; 418-419 

6. Laurentius; 498-499, 501-506 

7. Dioskorus (mungkin sah jika dibandingkan dengan Bonifasius II, namun  meninggal 22 hari sesudah  

terpilih); 530 

8. Theodorus (II) (melawan Anti-Paus Paskalis); 687 

9. Paskalis (I) (melawan Anti-Paus Theodorus); 687 

10. Theophylactus; 757 

11. Konstantinus II; 767-768 

12. Filipus (menggantikan dengan singkat Anti-Paus Konstantinus II ; berkuasa selama satu hari dan 

lalu kembali ke dalam biaranya); 768 

Para Anti-Paus dalam Sejarah  


 

13. Yohanes VIII; 844 

14. Anastasius III sang pustakawan; 855 

15. Kristoforus; 903-904 

16. Bonifasius VII; 974, 984-985 

17. Yohanes Filagatto (Yohanes XVI); 997-999 

18. Gregorius VI; 1012 

19. Silvester III; 1045 

20. Yohanes Mincius (Benediktus X); 1058-1059 

21. Pietro Cadalus (Honorius II); 1061-1064 

22. Wilbert dari Ravenna (Klemens III); 1080 dan 1084-1100 

23. Theodoric; 1100-1101 

24. Adalbertus; 1101 

25. Maginulf (Silvester IV); 1105-1111 

26. Mauritius Burdinus (Gregorius VIII); 1118-1121 

27. Theobald Boccapecci (Selestinus II) (sah, namun  tunduk kepada Paus yang melawan Honorius II, 

maka sesudahnya dianggap sebagai Anti-Paus); 1124 

28. Pietro Pierleoni (Anakletus II); 1130-1138 

29. Gregorio Conti (Viktor IV); 1138 

30. Ottavio di Montecelio (Viktor IV ); 1159-1164 

31. Guido di Crema (Paskalis III ); 1164-1168 

32. Giovanni di Struma (Kalikstus III); 1168-1178 

33. Lanz di Sezan (Innocent III); 1179-1180 

34. Pietro Rainalducci (Nikolas V), Anti-Paus dari Roma, 1328-1330 

35. Robert dari Jenewa (Klemens VII), Anti-Paus dari urutan Avignon; 20 September 1378 - 16 

September 1394 

36. Pedro de Luna (Benediktus XIII), Anti-Paus dari urutan Avignon; 1394-1423 

37. Pietro Philarghi (Aleksander V), Anti-Paus dari urutan Pisa; 1409-1410 

38. Baldassare Cossa (Yohanes XXIII), Anti-Paus dari urutan Pisa; 1410-1415 

39. Gil Sánchez Muñoz (Klemens VIII), Anti-Paus dari urutan Avignon; 1423-1429 

40. Bernard Garnier (Benediktus XIV yang pertama), Anti-Paus dari urutan Avignon; 1425- sekitar 

1429 

41. Jean Carrier (Benediktus XIV kedua), Anti-Paus dari urutan Avignon; 1430-1437 

42. Adipati Amadeus VIII dari Savoy (Féliks V); 5 November 1439 - 7 April 1449 

(Wikipedia, Ensiklopedia bebas) 

Salah satu kasus yang paling buruk di dalam sejarah Gereja yaitu  kasus Anakletus II yang memimpin 

dari Roma dari tahun 1130-1138. Anakletus ditempatkan lewat pemilihannya yang tidak sah dan tidak 

kanonik, sesudah  Paus sejati, Inosensius II telah terpilih. Walaupun pemilihannya tidak sah dan tidak 

kanonik, Anti-Paus Anakletus mendapat dukungan dari hampir seluruh penduduk Roma, sampai sang 

Paus sejati memenangkan kembali kuasa atas Roma di tahun 1138 (The Catholic Encyclopedia 

{Ensiklopedia Katolik}, Anacletus, Vol. 1, 1907, hal. 447.). 

Juga, kita harus mempertimbangkan Skisma Barat Besar untuk melihat hal yang Allah biarkan terjadi di 

dalam sejarah Gereja dan hal yang Ia dapat biarkan terjadi dalam Kemurtadan Besar.

Skisma Barat Besar 

42 

 

5. Skisma Barat Besar (1378-1417) dan Hal 

yang Kita Pelajari akan Kemurtadan sesudah  

Vatikan II 

Ketidakpastian yang besar, berbagai Anti-Paus, Anti-Paus di Roma, seorang Anti-Paus yang diakui oleh 

semua kardinal ; Skisma Barat Besar membuktikan bahwa sebuah urutan Anti-Paus di tengah-tengah 

krisis sesudah  Vatikan II dapat terjadi –  

Analisis Skisma Barat Besar 

Tahun Para Paus Urutan Avignon (Anti-

Paus) 

Urutan Pisa (Anti-

Paus) Urutan yang 

paling disukai oleh 

kebanyakan teolog pada 

masa itu, dipilih oleh 

para kardinal dari kedua 

kubu 

1378 

Urbanus VI  

(1378-1389) 

 

Klemens VII  

(1378-1394) 

diakui oleh semua 

kardinal yang memilih 

Urbanus VI 

 1389 Bonifasius IX  

(1389-1404) 

 1394 

Benediktus XIII  

(1394-1417) 

diakui untuk sesaat oleh 

St. Vincent Ferrer 

1404 

Inosensius VII  

(1404-1406) 

 

1406 

Gregorius XII  

(1406-1415) 

Paus yang paling sedikit 

jumlah pendukungnya di 

dalam sejarah ; yang paling 

tidak diakui dari ketiga urutan 

; ditolak oleh hampir seluruh 

Kekristenan 

1409 

Aleksander V  

(1409-1410) 

dipilih oleh para kardinal 

di Pisa 

 

1410 

Yohanes XXIII  

(1410-1415) 

memimpin di Roma, 

memiliki dukungan 

terbesar dari ketiga 

urutan 

1415   

1417 Diselesaikan lewat pemilihan Paus Martinus V pada tahun 1417 di Konsili Konstanz 

 

  

Skisma Barat Besar 

43 

 

Bagaimana hal ini terjadi 

Konklaf [Pemilihan Paus] yang terjadi di Vatikan (1378) sesudah  meninggalnya Paus Gregorius XI, yaitu  

konklaf pertama yang berlangsung di Roma sejak tahun 1303. Para Paus sebelumnya bertempat tinggal 

di Avignon sejak sekitar 70 tahun lamanya, akibat masalah-masalah politik. Pemilihan Paus terjadi di 

dalam sebuah kegemparan yang besar.1 sebab  Prancis telah menjadi tempat tinggal para Paus sejak 70 

tahun, massa Romawi yang mengerumuni konkflaf ini  amat rusuh dan berseru menuntut para 

kardinal untuk memilih seseorang yang berasal dari Roma, atau setidaknya dari Italia. Pada suatu ketika, 

sewaktu kita berpikir bahwa seorang Prancis telah terpilih pada tempat itu, dan bukan seorang Italia, 

massa itu orang menyerbu istana. 

“Di dalam suatu kemurkaan, masa itu sekarang mulai bebatuan ke arah jendela istana dan 

menyerang pintu dengan beliung dan kapak. kekuatan pertahanan yang efektif; massa ini  

menyerbu.”2 

Akhirnya, seorang Italia, Paus Urbanus VI dipilih oleh 16 kardinal. Sri Paus yang baru bertanya kepada 

para kardinal bilamana mereka telah memilihnya secara bebas dan secara kanonik; mereka menjawab 

ya. Segera sesudah  pemilihan sang Paus, ke-16 kardinal yang telah memilih Paus Urbanus VI menulis 

kepada enam kardinal yang telah bersikeras menetap di Avignon:  

“Kami telah memberi  suara kami kepada Bartolomeo, uskup agung dari Bari [Urbanus VI], 

yang dikenal untuk jasa-jasanya yang baik, dan yang kebajikannya membuatnya sebagai suatu 

teladan yang cemerlang; kami telah, dalam mufakat penuh, mengangkatnya ke puncak keagungan 

apostolik dan telah mengumumkan pilihan kami kepada khalayak Kristiani.”3 

PARA KARDINAL MENOLAK PAUS URBANUS VI DI BAWAH DALIH MASSA ROMA YANG RUSUH 

namun , segera sesudah  terpilih, Paus Urbanus mulai menjauhi para kardinal. 

“Para kardinal Prancis, yang membentuk mayoritas dari Dewan Kardinal, kecewa dengan 

kota ini , dan ingin pulang ke Avignon, di mana tidak ada  gereja-gereja yang usang, 

puing-puing istana, serta massa Romawi yang begitu kacau serta demam Romawi yang 

mematikan, di mana kehidupan, pendek kata, lebih nyaman. Urbanus VI menolak untuk 

meninggalkan Roma,dan tekadnya yang tegas, yang dinyatakan kepada mereka tanpa 

basa-basi, untuk mereformasi mahkamah Kepausan dan menghentikan kemewahannya, 

sangat menyinggung para kardinal” .”4 

Satu per satu, para kardinal pergi berlibur ke Agnagni. “Sri Paus yang baru, yang sama sekali tidak curiga, 

telah memberi  mereka izin untuk pergi ke sana selama musim panas. Pada pertengahan bulan Juli... 

mereka setuju di antara diri mereka sendiri bahwa pemilihan Paus pada bulan April sebelumnya 

tidaklah valid oleh sebab  halangan akibat oleh massa yang mengerumuni mereka dan, 

berdasar  hal ini, mereka mencabut pengakuan mereka terhadap Urbanus.”5 

sesudah  berita tentang keputusan dari para kardinal telah diedarkan, juru kanon Baldus, yang dianggap 

sebagai juri yang paling terkenal pada masa itu, menerbitkan sebuah traktat yang menolak keputusan 

mereka. Di dalamnya, ia berkata: 

”...tidak ada  dasar di atas mana para kardinal dapat menolak seorang Paus sesudah  mereka 

telah memilihnya dan tidak ada  alasan bahwa seluruh Gereja dapat menggulingkannya 

{memecatnya}, kecuali oleh sebab  bidah yang persisten dan terang-terangan.”6 

Skisma Barat Besar 

44 

 

Walaupun ketidaktepatan dari pernyataan Baldus ini – sebab  seorang Paus sejati tidak akan bisa 

digulingkan; seorang bidah menggulingkan dirinya sendiri – kita dapat melihat dengan jelas di dalam 

kata-katanya, kebenaran yang diakui secara umum, bahwa seorang klaiman Kepausan yang 

persisten dan terang-terangan yaitu  seorang bidah, dapat ditolak sebagai non-Paus, sebab  ia 

berada di luar Gereja. 

SELURUH KARDINAL PADA WAKTU ITU MENOLAK URBANUS VI DAN MENGAKUI SEORANG 

ANTI-PAUS 

Pada tanggal 20 Juli 1378, 15 dari ke-16 kardinal yang telah memilih Urbanus VI berhenti 

mematuhinya dengan alasan bahwa massa Romawi yang rusuh membuat pemilihan Paus 

ini  non-kanonik. Satu-satunya kardinal yang tidak menolak Urbanus VI yaitu  kardinal 

Tebaldeschi, namun  ia meninggal segera sesudah nya, pada tanggal 7 September – yang membuat keadaan 

di mana tidak ada  satu kardinal pun dari Gereja Katolik yang mengakui Sri Paus yang sejati, 

Urbanus VI. Semua kardinal yang hidup sekarang menganggap pemilihannya tidak valid.7 

sesudah  menolak Urbanus VI, pada tanggal 20 September 1378, para kardinal lalu memilih Klemens VII 

sebagai “Paus”, yang mendirikan “Kepausan” pesaingnya di Avignon. Skisma Barat Besar telah dimulai. 

“Para kardinal yang memberontak lalu menulis kepada raja-raja Eropa, untuk menjelaskan aksi 

mereka. Karolus V dari Prancis dan negara Prancis seluruhnya langsung mengakui Klemens VII, 

seperti yang dilakukan Flandria, Spanyol, dan Skotlandia. Kekaisaran dan Inggris, bersama 

negara-negara timur dan utara, serta kebanyakan republik Italia berpegang kepada Urbanus VI.”8 

Walaupun validitas dari pemilihan Urbanus VI dapat dipastikan, kita dapat melihat bagaimana banyak 

orang tergerakkan oleh argumen bahwa massa Romawi telah memengaruhi secara ilegal pemilihannya, 

yang oleh sebab  itu, membuat pemilihan itu tidak kanonik. Di samping itu, kita bisa melihat bagaimana 

posisi Anti-Paus Klemens VII di mata banyak orang menjadi jauh lebih kuat dan lebih berarti, lewat fakta 

bahwa 15 dari ke-16 kardinal yang telah memilih Urbanus VI telah menolak pemilihannya sebagai tidak 

valid. Situasi yang muncul sesudah  Klemens VII diterima menghasilkan suatu mimpi buruk – suatu mimpi 

buruk sejak awalnya – sebuah mimpi buruk yang menunjukkan kepada kita bagaimana Allah 

kadangkala membiarkan hal-hal menjadi benar-benar buruk dan kacau, tanpa melanggar janji-janji-

Nya kepada Gereja-Nya: 

“Skisma ini  sekarang telah menjadi suatu fakta yang telah terjadi, dan selama 40 tahun, 

Kekristenan memperlakukan dengan kemurungan pemandangan di mana dua dan bahkan 

tiga Paus pesaing menggugat kesetiaan pengikut-pengikutnya. Ini yaitu  krisis paling 

berbahaya yang Gereja pernah hadapi. Kedua Paus mengadakan perang salib terhadap yang 

lain. Masing-masing Paus mengklaim hak untuk menciptakan kardinal-kardinal dan 

meneguhkan uskup-uskup agung, para uskup, dan para imam sampai ada  dua dewan 

kardinal dan di berbagai tempat, dua klaiman untuk posisi-posisi tinggi di dalam Gereja... 

Masing-masing Paus mencoba untuk mengumpulkan semua pendapatan Gereja, dan yang satu 

mengekskomunikasikan yang lain bersama semua pengikutnya.”9 

Pemandangan ini  terus berlanjut selama para Paus dan para Anti-Paus meninggal, hanya untuk 

digantikan oleh yang lainnya. Paus Urbanus VI meninggal pada tahun 1389 dan digantikan oleh Paus 

Bonifasius IX yang memerintah dari tahun 1389 sampai 1404. sesudah  pemilihan Bonifasius IX, ia 

langsung diekskomunikasikan oleh Anti-Paus Klemens VII, dan ia juga membalas dengan 

mengekskomunikasikan Anti-Paus Klemens VII. 

Skisma Barat Besar 

45 

 

Pada masa pemerintahannya, Paus Bonifasius IX “tidak mampu memperbesar pengaruhnya di 

Eropa; Sisilia dan Genoa bahkan kenyataannya meninggalkannya. Untuk mencegah pembesaran 

dukungan terhadap partai Klemens di Jerman, ia memberi  banyak sokongan kepada raja Jerman 

Wenceslas...”10 

PARA KARDINAL DARI KEDUA KUBU BERSUMPAH UNTUK MENGHENTIKAN SKISMA ini  

SEBELUM BERPARTISIPASI DI DALAM PEMILIHAN PAUS BARU, YANG MEMBUKTIKAN BETAPA 

PARAHNYA SITUASI ini  

Pada waktu itu di Avignon, Anti-Paus Klemens VII meninggal pada tahun 1394. Sebelum memilih penerus 

Anti-Paus Klemens VII, ke-21 kardinal “bersumpah untuk menghentikan skisma ini ; masing-masing 

dari mereka bersumpah, jika ia terpilih, untuk turun takhta jika mayoritas menilainya pantas turun 

takhta.”11 Ingatlah akan hal ini, sebab hal ini akan menjadi relevan sewaktu kami membahas mengapa 

seorang klaiman ketiga terhadap Kepausan muncul. 

Para kardinal di Avignon memilih Pedro de Luna, (Anti-Paus) Benediktus XIII untuk meneruskan 

Klemens VII. Benediktus XIII memerintah sebagai klaiman dari Avignon selama sisa waktu Skisma itu. 

Untuk suatu waktu, Benediktus XIII mendapat dukungan dari sang pembuat mukjizat dari ordo 

Dominikam, St. Vinsensius Ferrer. St. Vinsensius Ferrer yaitu  imam pengaku dosa bagi Benediktus XIII 

selama beberapa waktu.12 Ia percaya bahwa urut-urutan Avignon yaitu  urut-urutan yang valid (sampai 

suatu waktu lalu  dari skisma ini ). St. Vinsensius Ferrer jelas telah menjadi yakin bahwa 

pemilihan Urbanus VI tidak sah akibat massa Romawi yang rusuh, di samping penerimaan yang 

signifikan terhadap urut-urutan Avignon oleh 15 dari ke-16 kardinal yang telah mengambil bagian dalam 

pemilihan Urbanus VI. 

Sebagai seorang kardinal, Anti-Paus Benediktus XIII pada awalnya juga telah mengambil bagian di dalam 

pemilihan Paus Urbanus VI, namun  sesudah nya, ia menolak Urbanus dan membantu pemilihan Klemens 

(sebab  ia telah yakin bahwa pemilihan Urbanus tidak valid). Sebagai seorang kardinal di bawah 

Klemens VII, Benediktus XIII “bepergian ke semenanjung Iberia selama sebelas tahun sebagai duta besar 

Anti-Paus, dan peran diplomatiknya menggerakkan Aragon, Kastila, Navarra dan Portugal ke bawah 

kepatuhannya [Anti-Paus Klemens VII].”13 

sesudah  bersumpah untuk turun takhta agar dapat menghentikan skisma, jika disetujui oleh mayoritas 

dari para kardinal, Anti-Paus Benediktus mengasingkan banyak dari para kardinalnya sewaktu ia 

mengingkari janjinya dan menjadi enggan turun takhta walaupun kebanyakan dari para kardinalnya 

menginginkan agar ia melakukannya. Saingannya, Paus Bonifasius IX juga sama enggannya. 

Pada tahun 1404, Paus Bonifasius IX (penerus Urbanus IV) meninggal, dan Paus Inosensius VII terpilih 

sebagai penerusnya oleh delapan kardinal yang hadir. namun , Paus Inosensius VII tidak hidup lama; ia 

meninggal dunia hanya dua tahun sesudah nya, pada tahun 1406. Dalam masa pemerintahannya yang 

singkat, Inosensius VII telah tetap menolak untuk bertemu dengan klaiman dari Avignon, Benediktus XIII, 

walaupun ia telah mengambil sebuah sumpah sebelum pemilihannya untuk melkukan segala sesuatu 

yang mampu dilakukannya untuk mengakhiri skisma itu, termasuk turun takhta, jika diperlukan. 

Sewaktu skisma ini  terus berlangsung, para anggota dari kedua kubu menjadi semakin frustrasi 

akan keengganan kedua klaiman untuk melakukan upaya-upaya yang efektif untuk mengakhiri skisma 

itu: 

“Kedua suara terdengar dari semua kubu yang menuntut agar kesatuan dipulihkan. 

Universitas Paris, atau, kedua profesornya yang paling terkemuka, Jean Gerson dan Pierre 

Skisma Barat Besar 

46 

 

d’Ailly, mengusulkan agar suatu Konsili Umum dihimpun untuk memutuskan antara para 

klaiman yang bersaing.”14 

Sesuai dengan sentimen yang tersebar luas untuk mengambil tindakan yang efektif untuk mengakhiri 

skisma itu, sebuah sumpah diambil sebelum pemilihan penerus Paus Inosensius VII: 

”...tiap-tiap dari keempat belas kardinal yang hadir dalam konklaf sesudah  meninggalnya 

[Paus] Inosensius VII, bersumpah bahwa, jika ia terpilih, ia akan turun dengan syarat bahwa 

Anti-Paus Benediktus XIII turun takhta pula atau meninggal dunia; juga bahwa ia tidak 

menciptakan kardinal-kardinal baru kecuali untuk menjaga kesetaraan jumlah dengan kardinal-

kardinal Avignon, dan bahwa dalam waktu tiga bulan, ia akan melakukan negosiasi dengan 

pesaingnya tentang suatu tempat bertemu...”15 

Fakta bahwa para kardinal yang mempersiapkan diri untuk memilih seorang Paus sejati bersumpah 

seperti itu - yang mengikutsertakan negosiasi dengan seorang Anti-Paus, menunjukkan betapa 

mengenaskan situasi itu pada waktu skisma ini  terjadi, dan betapa besarnya dukungan yang 

dimiliki oleh sang Anti-Paus dari Kekristenan. 

Konklaf ini  lalu memilih Paus Gregorius XII pada tanggal 30 November 1406. Harapan agar skisma 

ini  berakhir kembali menyala lewat negosiasi-negosiasi Paus Gregorius XII dengan Anti-Paus 

Benediktus XIII. Keduanya bahkan telah setuju tentant suatu tempat pertemuan, namun  Paus Gregorius 

XII menjadi goyah; ia khawatir (dengan alasan yang baik) akan ketulusan dari intensi Benediktus XIII. 

Paus Gregorius XII juga dipengaruhi agar ia tidak turun takhta oleh beberapa saudaranya yang karib, 

yang membuat suatu gambaran yang negatif tentang apa yang mungkin terjadi andaikata ia turun takhta. 

PARA KARDINAL DARI KEDUA KUBU MUAK, PERGI KE PISA, DAN MEMILIH SEORANG “PAUS” BARU DI 

DALAM SEBUAH PERAYAAN YANG MENGAGUMKAN BERSAMA PARA KARDINAL DARI KEDUA KUBU 

“Sewaktu negosiasi berjalan [antara Paus Gregorius XII dan Anti-Paus Benediktus XIII] 

dengan semakin lambat, para kardinal dari Gregorius menjadi semakin waswas. Sebuah 

perpecahan tidak dapat terelakkan ketika Gregorius yang meragukan kesetiaan mereka, 

memungkiri janji yang dibuatnya sebelum ia terpilih dan pada tanggal 4 Mei mengumumkan 

penciptaan empat kardinal baru... Semua dewan kardinalnya yang awal (kecuali tiga 

anggota) meninggalkannya dan bergegas pergi ke Pisa...”16 

Keempat belas kardinal yang telah meninggalkan Paus Gregorius untuk melarikan diri ke Pisa, 

diikuti oleh sepuluh kardinal yang telah meninggalkan kepatuhan kepada Anti-Paus Benediktus 

XIII. Para kardinal dari kedua kubu telah mengatur sebuah konsili, dan setuju untuk menyudahi 

skisma itu melalui suatu pemilihan bersama di Pisa. 

“Di mata dunia, Konsili Pisa memang merupakan sebuah perhimpunan yang brilian, 

dihadiri oleh 24 kardinal (empat belas dari mereka dahulu setia kepada Paus Gregorius 

XII, sepuluh kepada Luna [Anti-Paus Benediktus XIII] ... empat patriark, 80 uskup, 89 

kepala biara, 41 pemimpin ordo, pemimpin-pemimpin dari empat ordo religius, dan pada 

dasarnya perwakilan dari setiap universitas, pemimpin kerajaan, dan para kaum ningrat 

dari berbagai kerajaan Eropa Katolik.“17 

Kardinal Uskup Agung dari Milan membuat kata sambutan di Pisa. Ia mengutuk kedua klaiman, Gregorius 

XII dan (Anti-Paus) Benediktus XIII, dan secara resmi memanggil mereka untuk menghadiri konsili itu. 

Mereka dinyatakan sebagai berkeras kepala sewaktu mereka tidak datang. 

Skisma Barat Besar 

47 

 

Harus kita katakan bahwa pada titik skisma ini (1409), orang-orang sangatlah muak akan perpecahan 

yang tanpa henti dan janji-janji yang tidak dipenuhi oleh kedua klaiman, sehingga perhimpunan di Pisa 

diterima dan didukung oleh banyak orang. Konsili ini menjadi sangat memukau dan disenangi oleh 

sebab  fakta bahwa ke-24 kardinalnya terdiri dari jumlah yang besar dari para kardinal yang 

telah mengambil bagian dari kedua kubu [kubu dari Gregorius XII dan Anti-Paus Benediktus XIII]. Hal 

ini memberi  kesan bahwa para kardinal dari Gereja melakukan sebuah aksi serempak. Pada tanggal 

29 Juni 1409, ke-24 kardinal memilih secara serempak Aleksander V. Sekarang, ada  tiga 

klaiman Kepausan pada waktu yang bersamaan. 

Romo John Laux, Church History {Sejarah Gereja}, hal. 405:  

“Sekarang ada  tiga Paus, dan tiga Dewan Kardinal, tiga uskup yang bersaingan di dalam 

beberapa dioses, dan di dalam beberapa Ordo Religius, tiga superior yang bersaingan.”18 

KLAIMAN KETIGA, ANTI-PAUS DARI PISA mendapat  DUKUNGAN YANG PALING BESAR DAN DARI 

KEBANYAKAN TEOLOG, sebab  IA TAMPAK MERUPAKAN PILIHAN YANG SEREMPAK DARI PARA 

KARDINAL DARI KEDUA KUBU 

Anti-Paus Pisa yang baru terpilih, Aleksander V, mendapat  dukungan yang paling besar dari 

Kekristenan dari antara ketiga klaiman. Sri Paus yang sejati, Gregorius XII, mendapat dukungan 

paling sedikit. 

Sejak awal, Aleksander V “mendapat  dukungan dari Inggris, dari kebanyakan penduduk 

Prancis, Belanda, Bohemia... Polandia... dari kotanya yaitu Milan, dari Venesia, dan Florence. De 

Luna [Anti-Paus Benediktus XIII] mendapat dukungan dari negerinya sendiri, Aragon, dari 

Kastila, dari beberapa bagian dari Prancis Selatan, dan dari Skotlandia... Gregorius XII yaitu  

yang terlemah dari ketiganya, ia hanya mendapat kesetiaan dari Napoli, dari Inggris barat, dari 

beberapa kota Italia utara, dan dari Carlo Malatesta di Rimini yang tak tergoyahkan... Skisma 

Barat Besar telah menjadi segitiga kesetiaan yang berbahaya, di mana Sri Paus yang sejati 

yaitu  yang terlemah dari ketiganya... Gereja Katolik kelihatannya menderita dari takdir yang 

akan lalu  akan menggapai Protestantisme: subdivisi yang berganda dan tidak dapat 

dikendalikan... Yang paling parah, kelihatannya tidak ada  sebuah jalan keluar dari 

bencana ini.”19 

Kebanyakan teolog dan kanonis yang terpelajar dari zaman ini  mendukung urut-urutan 

Anti-Paus dari Pisa. 

“Sejak dari akhir tahun 1408 sampai musim dingin 1409, berlanjutlah perdebatan yang berkobar 

antara para teolog dan para kanonis. Kebanyakan dari mereka, oleh sebab  b