ng kita bertanya: Apa arti dari memulihkan kesatuan semua orang Kristiani ...
kesatuan ini bukan berarti apa yang mungkin disebut ekumenisme pemulangan: yakni,
menyangkal dan menolak sejarah iman diri sendiri. Sama sekali bukan!”29
KARDINAL KASPER DAN BENEDIKTUS XVI SAMA-SAMA MENOLAK EKUMENISME BERPULANG –
MENGONVERSIKAN PARA PROTESTAN
Kardinal Walter Kasper: “ ... pada hari ini kita tidak
lagi memahami ekumenisme dengan makna
pemulangan, yang membuat orang lain
‘berkonversi’ dan kembali menjadi Katolik. Makna
ini secara jelas ditinggalkan oleh Vatikan II.”30
Benediktus XVI, Sambutan kepada Para Protestan
pada Hari Orang Muda Sedunia, 19 Agustus 2005:
“Dan sekarang kita bertanya: Apa arti dari
memulihkan kesatuan semua orang Kristiani ...
kesatuan ini bukan berarti apa yang mungkin
disebut ekumenisme pemulangan: yakni,
menyangkal dan menolak sejarah iman diri
sendiri. Sama sekali bukan!”31
Seperti yang ditunjukkan secara jelas oleh perbandingan ini, seperti sang bidah ‘Kardinal’ Kasper,
Benediktus XVI terang-terangan menolak ‘ekumenisme berpulang’, yaitu, bahwa para non-Katolik perlu
berpulang ke Gereja Katolik lewat konversi dan menolak sekte-sekte bidah mereka. Mereka sama-sama
menolak ajaran Paus Pius XI kata demi kata.
Paus Pius XI, Mortalium Animos (#10), 6 Jan. 1928:
“ ... sama sekali tiada cara yang diizinkan untuk membina persatuan umat Kristiani, selain dengan
membina pulangnya para pembangkang ke dalam Gereja Kristus yang satu dan sejati, yang
sayangnya telah mereka tinggalkan sebelumnya.”32
Benediktus XVI yaitu seorang bidah secara formal. Ia percaya bahwa para Protestan dan Skismatis
Timur tidak perlu dikonversikan dan menerima Vatikan I. Ia menolak terang-terangan perlunya Iman
Katolik untuk keselamatan, dan ajaran dogmatis Vatikan I.
Itulah alasan Benediktus XVI mengikut Paulus VI dan Yohanes Paulus II dalam memuji
dihapuskannya ekskomunikasi atas kaum “Ortodoks” – dan dengan demikian, mengikut
mereka menyangkal Vatikan I
Benediktus XVI, Pesan Ekumenis kepada Patriark Skismatis dari Konstantinopel, 26 November
2005: “Tahun ini kita merayakan Ulang Tahun ke-40 tanggal 7 Desember 1965, hari Paus Paulus
VI dan Patriark Atenagoras tidak puas dengan yang terjadi di tahun 1054 dan sebab itu
bersama-sama memutuskan di Roma dan di Konstatinopel, ‘untuk membatalkan dari
ingatan Gereja hukuman ekskomunikasi yang telah dikeluarkan.’”33
Pada tahun 1054, Patriark Konstantinopel, Mikhael Kerularius, pecah dari persekutuan dengan Gereja
Katolik dan Paus Roma. Kerularius menolak otoritas tertinggi Sri Paus dan menutup gereja-gereja ritus
Roma di Konstantinopel. Kerularius diekskomunikasi oleh Paus St. Leo IX dan Skisma Besar Timur pun
menjadi resmi.34
Maka, yang “terjadi di tahun 1054”, dan yang disebut oleh Benediktus XVI di atas, merujuk
kepada ekskomunikasi yang dijatuhkan oleh Gereja Katolik atas mereka yang mengikut Mikhael
Kerularius masuk skisma dan menolak Kepausan. Paulus VI “mengangkat” ekskomunikasi ini pada
akhir Vatikan II, dan Yohanes Paulus II memuji serta memperingati diangkatnya ekskomunikasi ini
316
berulang kali. Sekarang kita melihat bahwa Benediktus XVI mengikuti teladan Yohanes Paulus II dan juga
merayakan peristiwa itu.
Ini semua pada dasarnya berarti bahwa Paulus VI, Yohanes Paulus II dan sekarang, Benediktus XVI, telah
berupaya membatalkan Kepausan sebagai dogma yang harus dipercayai di bawah ancaman bidah dan
ekskomunikasi. Namun seperti yang sudah kita lihat, Vatikan I acapkali dan dalam berbagai cara
menyatakan, bahwa orang-orang yang menolak dogma Kepausan itu teranatema, dan terpisah dari Iman.
Jadi, berupaya membatalkan ekskomunikasi dari mereka yang masih tetap menolak Kepausan, pada
dasarnya yaitu perbuatan lancang yang menolak ajaran Vatikan I. Ini yaitu bidah dan skisma secara
resmi, yang terwujud dalam perkataan dan perbuatan.
Benediktus XVI bersama ‘pelayan’ Lutheran
Benediktus berdoa Doa Senja ekumenis bersama para skismatis dan Protestan dan
berkata bahwa ia mencintai Gereja Ortodoks skismatis
Benediktus XVI berdoa Doa Senja ekumenis pada tanggal 12 September 2006.35 Ini yaitu partisipasi aktif
di dalam ibadat non-Katolik. Hal ini yaitu bukti atas bidah lewat perbuatan.
Benediktus XVI, Sambutan pada ibadat Doa Senja ekumenis, 12 September 2006:
“Saudara-saudari terkasih dalam Kristus! Kita berkumpul, Kristen Ortodoks, Katolik, dan
Protestan – dan bersama kita juga ada beberapa teman Yahudi – untuk bernyanyi bersama
317
pujian sore kepada Allah... Ini yaitu waktu berterimakasih atas fakta bahwa kita dapat berdoa
bersama dengan cara ini dan, dengan menghadap kepada Tuhan, pada waktu bersamaan
bertumbuh di dalam kesatuan bersama-sama... Dari antara mereka yang bergabung untuk ibadat
senja ini, saya ingin pertama-tama menyambut dengan hangat perwakilan dari Gereja Ortodoks.
Saya telah selalu menganggap hal ini sebagai sebuah karunia yang khusus dari Penyelenggaraan
Ilahi bahwa, sebagai seorang profesor di Bonn, saya dapat mengenal dan mencintai Gereja
Ortodoks, secara pribadi, lewat dua Arkimandrit muda, Stylianos Harkianakis dan Damaskinos
Papandreou, yang keduanya akhirnya menjadi Metropolitan... Koinonia [persatuan] kita
berada di atas seluruh kesatuan bersama Bapa dan bersama Putra-Nya Yesus Kristus di dalam
Roh Kudus; itu yaitu persatuan dengan Allah Tritunggal, yang dimungkinkan oleh Tuhan lewat
penjelmaan-Nya dan pencurahan Roh. Persatuan dengan Allah ini lalu menciptakan koinonia di
antara orang-orang, sebagai suatu partisipasi di dalam iman para Rasul...”36
Ini yaitu sebuah bidah terbesar Benediktus XVI. Pertama, ia mengambil bagian secara aktif di dalam doa
dan ibadat non-Katolik, yang dikutuk di dalam ajaran Katolik.
Paus Pius XI, Mortalium Animos (#10):
“Maka, Saudara-Saudara yang Terhormat, jelaslah mengapa Takhta Apostolik ini tidak pernah
mengizinkan umat-umatnya untuk mengambil bagian di dalam perkumpulan-
perkumpulan orang-orang non-Katolik ....”37
Kedua, ia berkata bahwa ia mencintai Gereja Ortodoks – sebuah sekte non–Katolik skismatis dan sesat.
Bagaimana seseorang bisa menjadi lebih sesat dibandingkan sewaktu ia berkata: “Saya mencintai Gereja
skismatis?” Ia lalu menunjukkan bahwa ia, para skismatis, dan para Protestan memiliki kesatuan
bersama Allah, kesatuan satu sama lain, dan kesatuan bersama Iman para Rasul. Ini semua sangatlah
sesat. Benediktus XVI yaitu seorang bidah publik yang bersatu bersama para non-Katolik.
Bidah terburuk Benediktus XVI? Ia berdoa dengan pemimpin para skismatis ‘Ortodoks’
sedunia dan menandatangani Deklarasi Gabungan dengannya, yang mengatakan bahwa
ia berada di dalam Gereja Kristus
Benediktus XVI mencium pemimpin skismatis ‘Ortodoks’ Timur sedunia, Bartolomeus I, pada kunjungannya
ke Turki pada bulan November 2006
BBC News, 29 November 2006 – “Benediktus XVI telah bertemu Patriark Ekumenis Bartolomeus I
di Turki, pada hari kedua dari kunjungan bersejarah kepada negara yang mayoritasnya Muslim.
Bincang-bincangnya dengan pemimpin rohani Kristen Ortodoks sedunia bertujuan untuk
menyembuhkan perpecahan lama. Kedua pemimpin ini memulai pertemuan mereka
dengan mengadakan ibadat doa bersama di Gereja St. George di Istanbul.”38
318
Pada kunjungannya di tahun 2006 ke Turki, Benediktus XVI masuk ke dalam dua katedral skismatis dan
bertemu dengan tiga patriark skismatis, termasuk pemimpin skismatis sedunia, Patriark Ortodoks Timur
dari Konstantinopel, Bartolomeus I. Benediktus XVI bukan hanya melakukan tindakan yang terlarang,
yaitu persatuan di dalam hal-hal kudus bersama sang skismatis, namun ia juga mungkin telah melakukan
bidahnya yang terburuk di dalam deklarasi gabungannya bersamanya.
Benediktus XVI, Deklarasi Gabungan bersama Patriark Skismatis Bartolomeus, 30 November
2006:
“Pertemuan persaudaraan yang menyatukan kita ini, Paus Benediktus XVI dari Roma dan Patriark
Ekumenis Bartolomeus I, yaitu karya Allah, dan dalam arti tertentu karunia-Nya. Kami
bersyukur kepada sang Pencipta dari segala hal yang baik, yang mengizinkan kami sekali lagi di
dalam doa dan dialog, untuk mengungkapkan sukacita yang kami rasakan sebagai saudara dan
untuk memperbarui komitmen kami untuk bergerak menuju kesatuan yang penuh. Komitmen ini
datang dari kehendak Tuhan dan dari tanggung jawab kami sebagai Gembala di dalam
Gereja Kristus... Berkaitan dengan hubungan antara Gereja Roma dan Gereja Konstantinopel,
kami tidak boleh lupa akan tindakan gereja yang khidmat yang menghapus memori akan
kutukan-kutukan kuno yang selama berabad-abad memiliki dampak negatif kepada Gereja-gereja
kami.”39
Anda lihat itu? Ia berkata ‘...tanggung jawab kami sebagai gembala DI DALAM GEREJA KRISTUS’!
Sungguhlah sesat, ia menyatakan di dalam sebuah deklarasi gabungan bersama pemimpin skismatis
sedunia bahwa sang pemimpin skismatis, yang menolak Kepausan serta Infalibilitas Paus, ada ‘di
dalam Gereja Kristus’.
Benediktus XVI membuat pernyataan formal yang sesat ini di dalam sebuah katedral skismatis sebagai
bagian dari deklarasi gabungan pada saat sebuah liturgi ilahi bersama seorang skismatis yang terkenal!
Maka, resminya: Benediktus XVI telah menyatakan di dalam sebuah deklarasi gabungan publik bahwa
seseorang dapat menolak Kepausan, Infalibilitas Paus, Vatikan I, dst. dan berada di dalam Gereja
Kristus. Tidak diragukan lagi, ia yaitu seorang bidah publik. Siapa pun yang menolak hal ini, sesudah
mengetahui fakta-fakta ini, juga yaitu seorang bidah. Bahkan pembela Anti-Paus XVI yang paling tidak
jujur dan keras kepala akan kesulitan untuk menjelaskan hal ini.
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#15), 29 Juni 1896 –Para Uskup yang terpisah dari Petrus dan
Para Penerusnya Kehilangan Segala Yurisdiksi:
“Oleh sebab itulah kita melihat dengan jelas, bahwa para uskup kehilangan hak dan kuasa
memerintah, jika dengan sepengetahuan mereka, mereka memisahkan diri dari Petrus
atau dari para penerusnya. sebab akibat perpisahan ini, mereka mencabut diri mereka sendiri
dari landasan bertumpunya seluruh bangunan itu; sebab itu juga, mereka berada di luar
bangunan itu sendiri: oleh sebab itu juga, mereka mendapati diri mereka sendiri terpisah
dari kandang domba yang dipimpin oleh sang gembala tertinggi, dan terasing dari kerajaan
yang kunci-kuncinya telah diberikan oleh Allah kepada Petrus seorang ... Oleh sebab itulah, tak
seorang pun yang tidak berada dalam persekutuan dengan Petrus dapat mengambil
bagian dalam otoritasnya; sebab membayangkan bahwa orang yang berada di luar Gereja,
memerintah di dalam Gereja, yaitu perbuatan absurd.”40
Semua bidah ini yang berasal dari Benediktus XVI juga mengejek sepenuhnya santo-santa dan para
martir yang menderita sebab mereka menolak untuk menjadi ‘Ortodoks’ Timur, seperti yang telah
dibahas di awal di bagian yang berjudul Orang-orang Katolik yang disiksa dan dimartir sebab
mereka menolak menjadi Skismatis Timur.
319
Itulah mengapa Benediktus XVI bahkan mendorong Patriark Skismatis untuk
Melanjutkan Pelayanannya
Benediktus XVI, Sambutan, 12 November 2005:
“Sehubungan dengan hal ini, saya meminta anda, Saudara-saudara yang terhormat, untuk
mengungkapkan salam hangat saya kepada Patriark Maksim, Hierark Pertama dari Gereja
Ortodoks dari Bulgaria. Mohon ungkapkan kepadanya harapan-harapan terbaik saya
untuk kesehatannya dan untuk kelanjutan pelayanannya yang berbahagia.”41
Benediktus XVI mendorong sang patriark non-Katolik dan skismatis untuk melanjutkan pelayanan non-
Katolik dan skismatisnya. Lalu, pada perjalanannya ke Turki, Benediktus XVI mengingat Yohanes Paulus
II yang memberi relikui-relikui kepada para skismatis. Benediktus XVI berkata bahwa tindakan
ini yaitu suatu tanda persatuan.
Benediktus XVI, Pidato kepada patriark skismatis Bartolomeus, 29 November 2006:
“...St. Gregorius dari Nazianzus dan St. Yohanes Krisostomus... Relikui-relikui mereka berada di
dalam basilika St. Petrus di Vatikan, dan sebagian dari mereka telah diberikan kepada
Yang Mulia sebagai tanda kesatuan oleh almarhum Paus Yohanes Paulus II untuk
penghormatan di dalam katedral ini.”42
Hal ini membuktikan sekali lagi bahwa ‘gerak-gerik ekumenisme’ menandakan penolakan dogma bahwa
para skismatis harus menerima Keutamaan Paus untuk berada di dalam kesatuan bersama Gereja.
Bidah Benediktus XVI yang mencengangkan tentang ‘Uskup Agung’ skismatis dari Atena
Benediktus XVI, Sambutan, 30 Oktober 2006:
“Saya juga senang sebab saya dapat mengutarakan pikiran-pikiran serta harapan-
harapan baik saya kepada Yang Terberkati Christodoulos, Uskup Agung Atena dan Seluruh
Yunani: Saya meminta Tuhan untuk menjaga kebijaksanaan dan kehati-hatiannya dalam
menjalankan pelayanan yang berat yang Tuhan telah percayakan kepadanya. Lewatnya,
saya berharap dapat menyambut dengan kasih yang mendalam Sinode kudus Gereja
Ortodoks dari Yunani dan para umat yang ia layani dengan penuh kasih dan dengan
dedikasi apostolik.”43
Benediktus XVI berkata bahwa Christodoulos, sang uskup ‘Ortodoks’ skismatis dan non-Katolik di Yunani
memiliki kekuasaan di seluruh Yunani! Ia juga menunjukkan bahwa para skismatis yaitu para ‘umat’
dan bahwa Tuhan memercayakan sang uskup skismatis ini dengan ‘pelayanan yang berat’. Terlebih
lagi, perhatikan pokok berita yang muncul di surat kabar resmi Vatikan sewaktu uskup non-Katolik ini
datang untuk mengunjungi Benediktus XVI. Surat kabar resmi Vatikan (yang mengutip Benediktus XVI)
merujuk kepada ‘Uskup Agung’ skismatis non-Katolik Yunani ini sebagai ‘Uskup Agung Atena dan Seluruh
Yunani’ di dalam pokok berita yang besar yang diulang-ulang di dalam surat kabar ini . Semua ini
yaitu penolakan utuh dari ajaran dogma Katolik akan kesatuan Gereja.
320
BIDAH-BIDAH LAIN BENEDIKTUS XVI DENGAN PARA PROTESTAN
Benediktus XVI bersama ‘Uskup’ Protestan Evangelikal Wolfgang Huber pada tahun 200544
Benediktus XVI terang-terangan menolak untuk mengonversikan para Protestan sekali lagi di dalam
bukunya Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}.
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 202:
“Hal ini berarti bahwa orang Katolik tidak menuntut pembubaran lembaga-lembaga
Protestan dan penghancuran gereja-gereja mereka namun sebaliknya berharap agar mereka
akan dikuatkan dalam keyakinan-keyakinan mereka dan di dalam realitas gerejani
mereka.”45
Perhatikan bahwa Benediktus XVI tidak ingin agama-agama Protestan ibubarkan dan berkonversi
kepada agama Katolik, namun sebaliknya berharap bahwa mereka akan dikuatkan di dalam keyakinan
mereka akan Protestantisme.
321
Doa ekumenis Benediktus XVI di dalam gereja Lutheran: Ia terus melangkah dengan
bidah ekumenis yang besar
Benediktus XVI di dalam doa bersama di sebuah Pertemuan Ekumenis di dalam bait Lutheran di Warsawa
pada tanggal 25 Mei 2006 – jangan tertipu oleh salibnya yang ber-corpus; banyak gereja-gereja Lutheran
memakai salib ber-corpus
Benediktus XVI, Sambutan pada Pertemuan Ekumenis di dalam gereja Lutheran di Warsawa, 25
Mei 2006:
“Bersama kalian saya berterima kasih atas karunia pertemuan doa bersama ini... harapan
ekumenis kami haruslah disertai banyak doa, saling mengampuni... Kata-kata kitab Wahyu
mengingatkan kita bahwa kita semua berada di dalam sebuah perjalanan yang menuju kepada
pertemuan yang pasti dengan Kristus, di mana Ia akan menyingkap di depan mata kita semua arti
dari sejarah manusia... Sebagai komunitas para murid, kita diarahkan kepada pertemuan itu,
yang dipenuhi harapan dan kepercayaan bahwa hal ini akan menjadi bagi kita hari
keselamatan, hari di mana penantian kita akan terpenuhi, oleh sebab kesiapan kita untuk
membiarkan diri kita sendiri dipimpin oleh rasa saling mengasihi yang didorong oleh Roh-Nya di
dalam diri kita... Perkenankanlah saya untuk mengingat sekali lagi pertemuan ekumenis yang
terjadi di gereja ini dengan partisipasi saudara anda yang agung Yohanes Paulus II...
“Sejak pertemuan itu [dengan Yohanes Paulus II di dalam gereja Lutheran], banyak yang berubah.
Allah telah menganugerahkan kita untuk mengambil langkah-langkah menuju jalan untuk saling
mengerti dan pendekatan. Perkenankan saya untuk mengingatkan anda beberapa acara
ekumenis yang telah berlangsung di dunia pada waktu itu: penerbitan dari Surat Ensiklik Ut
Unum Sint... penandatanganan di Augsburg Deklarasi Gabungan tentang Doktrin
Pembenaran; pertemuan Yubileum Agung Tahun 2000 dan peringatan ekumenis dari saksi-
saksi iman abad ke-20 [martir-martir Protestan]; kelanjutan dari dialog Katolik-Ortodoks di
tingkat dunia... penerbitan terjemahan ekumenis dari Perjanjian Baru dan Kitab Mazmur...
Kami melihat banyak kemajuan di bidang ekumenis dan pada waktu yang sama kami selalu
menantikan sesuatu yang lebih.”46
ada banyak bidah di dalam pidato yang diberikan Benediktus XVI di dalam gereja Lutheran.
Persilakan kami untuk merangkumnya di dalam poin-poin utama. Pertama, Benediktus pergi ke bait
Lutheran dan mengambil bagian secara aktif di dalam sebuah ibadat ‘doa bersama’ (kata-katanya)
bersama para Lutheran, Protestan lain, dan para skismatis ‘Ortodoks’. Ini yaitu manifestasi bidah lewat
perbuatan – menghadiri bait Lutheran yang non-Katolik.
322
Kedua, ia menyebutkan Kedatangan Kedua Kristus, dan berkata: “kita [yaitu, ia dan para Lutheran serta
para ‘Ortodoks’] diarahkan kepada pertemuan itu, yang dipenuhi harapan dan kepercayaan bahwa hal
ini akan menjadi bagi kita hari keselamatan”; dalam kata lain, para Protestan dan skismatis
dengan siapa ia bicara akan memperoleh keselamatan. Ini benar-benar sesat.
Ketiga, ia menyebut dirinya sendiri dan para Lutheran serta ‘Ortodoks’ sebagai satu komunitas murid-
murid: “Sebagai komunitas para murid...” Hal ini menunjukkan bahwa Benediktus XVI yaitu bagian
dari Gereja yang sama dengan para Lutheran dan skismatis; bahwa ia yaitu bagian dari sebuah sekte
non-Katolik.
Keempat, Benediktus XVI mengingat banyak pencapaian ekumenisme sesat, termasuk Deklarasi
Gabungan dengan Para Lutheran tentang Pembenaran yang sangat sesat dan anti Konsili Trente. Ia juga
mengingat ‘peringatan ekumenis dari saksi-saksi iman abad ke-20’, yang merupakan peringatan para
non-Katolik sebagai martir untuk Iman. Ia juga mengingat Ut Unum Sint, yang dipenuhi bidah, termasuk
ide bahwa ada santo-santa non-Katolik. Ia juga mempromosikan terjemahan ekumenis baru
Kitab Suci. Benediktus XVI yaitu Anti-Paus yang non-Katolik dan terang-terangan bidah.
Benediktus XVI mendorong kepala Gereja Anglikan yang tidak sah di dalam
‘pelayanannya’ dan berkata bahwa Sekte Anglikan berakar pada Tradisi Apostolik
Benediktus XVI, Sambutan kepada ‘Uskup Agung Canterbury’ Anglikan, 23 November 2006:
“yaitu harapan kami yang besar bahwa Persatuan Anglikan tetap berakar di dalam Injil
dan Tradisi Apostolik yang membentuk warisan kita bersama... Dunia memerlukan kesaksian
kita... Semoga Tuhan terus memberkati kalian dan keluarga kalian, dan semoga Ia menguatkan
anda di dalam pelayanan anda kepada Persatuan Anglikan!”47
Sekte Anglikan tidaklah berakar di dalam Tradisi Apostolik, namun di dalam ‘tradisi’ Henry VIII yaitu zina
dan perpecahan skismatis dari Gereja Katolik. Benediktus XVI mendorong kepala skismatis dan bidah
dari Sekte Anglikan di dalam ‘pelayanannya’, dan mengolok-olok semua santo-santa dan martir yang
menderita serta wafat sebagai martir sebab mereka tidak mau menjadi Anglikan.
DI VATIKAN II, BENEDIKTUS II JUGA MENOLAK BAHWA PARA NON-KATOLIK HARUS
DIKONVERSIKAN
Benediktus XVI, Theological Highlights of Vatican II {Sorotan-Sorotan Teologis Vatikan II}, 1966,
hal 61, 68:
“...Sementara itu, Gereja Katolik tidak berhak untuk menyerap Gereja-gereja lain.... Suatu
kesatuan yang mendasar – dari Gereja-Gereja yang tetap yaitu Gereja-Gereja, yang walau
bagaimanapun menjadi satu Gereja – harus menggantikan ide tentang konversi...”48
Pada dasarnya, Benediktus XVI tidak sedikit pun Katolik.
BENEDIKTUS XVI MEMUJI ‘KEBESARAN’ DARI ‘SEMANGAT ROHANI’ LUTHER
Martin Luther yaitu salah satu bidah terburuk di dalam sejarah Gereja. Luther menyerang Gereja
Katolik dan dogma-dogmanya dengan ganas. Benediktus XVI tidak pernah mencela Luther sebagai
seorang bidah, malah sering berbicara secara positif tentang pandangan-pandangan Luther dan bahkan
memujinya.
323
Di Vatikan II, Benediktus XVI bahkan mengeluh bahwa dokumen Gaudium et Spes terlalu banyak
mengandalkan pandangan-pandangan Teilhard de Chardin {seorang imam bidah} dan kurang
mengandalkan pandangan-pandangan Martin Luther.49 Benediktus XVI juga dianggap menyelamatkan
Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang Pembenaran tahun 1999, yang menyatakan bahwa
bidah Luther tentang Pembenaran lewat iman saja (dan sebagainya) tidak lagi dikutuk oleh Konsili
Trente.
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 263:
“Walaupun ia memiliki banyak kekurangan, hal yang membuat Luther dapat
dipertahankan yaitu kebesaran semangat rohaninya...”50
BENEDIKTUS XVI MENDUKUNG PARA METODIS UNTUK MEMASUKI DEKLARASI
GABUNGAN DENGAN PARA LUTHERAN TENTANG PEMBENARAN YANG SANGAT SESAT,
YANG MENOLAK KONSILI TRENTE
Benediktus XVI, Sambutan kepada para Metodis, 9 Desember 2005:
“Saya telah merasa terdorong oleh inisiatif yang akan membawa anggota gereja dari Dewan
Metodis Sedunia untuk berasosiasi dengan Deklarasi Gabungan tentang Doktrin Pembenaran,
yang ditandatangani oleh Gereja Katolik dan Federasi Lutheran Se-Dunia pada tahun 1999.”51
Seperti yang telah dibahas, Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang Pembenaran menolak
mentah-mentah Konsili Trente dengan mengajarkan bahwa kanon-kanonnya yang infalibel tidak lagi
berlaku kepada para Lutheran. Benediktus XVI berpegangan kepada persetujuan Protestan ini dan
menyatakan bahwa persetujuan ini ditandatangani oleh ‘Gereja Katolik’.
BENEDIKTUS XVI MEMUJI BIARA EKUMENIS NON-KATOLIK TAIZE DAN BERKATA BAHWA
LEBIH BANYAK BIARA SEPERTI ITU HARUS DIBANGUN
Biara ekumenis Taize terletak di Prancis. Itu yaitu biara yang terdiri dari lebih dari seratus bruder
dari berbagai denominasi non-Katolik, termasuk Protestan.52
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 304:
“...Taize telah menjadi, tidak diragukan lagi, contoh utama dari insipirasi ekumenis... Komunitas-
komunitas iman yang serupa dan kehidupan bersama harus didirikan di mana-mana...”53
Maka, menurut Benediktus XVI lebih banyak biara-biara ekumenis non-Katolik harus didirikan, menurut
Benediktus XVI.
324
BENEDIKTUS XVI memberi KOMUNI KEPADA PENDIRI PROTESTAN TAIZE
Benediktus XVI memberi Komuni kepada bidah publik, Bruder Roger Schutz, pendiri Protestan dari
Taize54
Benediktus XVI memberi Komuni kepada Bruder Roger, pendiri Protestan dari komunitas Taize, pada
tanggal 8 April 2005. Dan sewaktu Bruder Roger meninggal pada bulan Agustus 2005, Benediktus XVI
berkata bahwa sang bidah Protestan ini langsung pergi ke Surga.
Benediktus XVI, 17 Agustus 2005, tentang Bruder Roger:
“Bruder Roger Schutz [pendiri dari sekte non-Katolik] sekarang berada di dalam tangan
kebaikan abadi, cinta abadi; ia telah sampai kepada sukacita abadi...”55
Tidak peduli fakta bahwa Bruder Roger meninggalkan Gereja Katolik, menolak dogmanya selama
puluhan tahun dan menjadi pendiri dari sekte non-Katoliknya sendiri. Ia tetap masuk Surga, menurut
Benediktus XVI. Ini yaitu bidah terang-terangan. Benediktus XVI bahkan berkata bahwa sang bidah
Bruder Roger memandu kita dari surga.
Benediktus XVI, Sambutan kepada para Protestan pada Hari Orang Muda Sedunia, 19 Agustus
2005, tentang Bruder Roger:
“Bruder Roger Schutz... Ia sekarang mengunjungi kita dan berbicara kepada kita dari
surga.”56
Benediktus XVI juga memuji ‘kesaksian iman’ Bruder Roger.57 Jika anda percaya bahwa Benediktus XVI
yaitu seorang Paus Katolik, anda sekalian saja menghadiri gereja Protestan.
Paus St. Gregorius Agung:
“Gereja yang kudus dan universal mengajarkan bahwa tidaklah mungkin untuk menyembah Allah
dengan benar kecuali di dalam Dia {Gereja} dan menyatakan bahwa semua yang berada di
luar Dia tidak akan diselamatkan.”58
325
BENEDIKTUS XVI MENGAJARKAN BAHWA ‘EKARISTI’ PROTESTAN yaitu SEBUAH
EKARISTI YANG MENYELAMATKAN!
Benediktus XVI, Pilgrim Fellowship of Faith {Kerukunan Iman Peziarah}, 2002, hal. 248
“Bahkan sebuah teologi semacam konsep suksesi [apostolik] seperti yang berlaku di
dalam Gereja Katolik dan Ortodoks, sama sekali tidak berarti menolak kehadiran Tuhan
yang menyelamatkan di dalam Perjamuan Makan Tuhan Evangelis.”59
Para Protestan tidak memiliki Ekaristi yang valid. Mereka tidak memiliki uskup-uskup dan imam-imam
yang valid, sebab mereka tidak memiliki suksesi apostolik. namun Benediktus XVI di atas mengatakan
bahwa bahkan jika seseorang menerima dogma Katolik tentang suksesi apostolik, seseorang TIDAK
SAMA SEKALI BOLEH MENOLAK KEHADIRAN TUHAN YANG MENYELAMATKAN DI DALAM ‘PERJAMUAN
MAKAN TUHAN’ PROTESTAN EVANGELIS. Menurut Benediktus XVI, para Protestan memiliki Kehadiran
Ekaristi yang menyelamatkan. Hal ini berarti bahwa anda bisa mendapat kehadiran Ekaristi
yang menyelamatkan di gereja Protestan setempat. Ini yaitu bidah yang luar biasa.
Yohanes 6:54- “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang
kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.”
BENEDIKTUS XVI MENGAJARKAN BAHWA PROTESTANTISME (KRISTEN EVANGELIS)
MENYELAMATKAN
Benediktus XVI, Pilgrim Fellowship of Faith {Kerukunan Iman Peziarah}, 2002, hal. 251:
“...pertanyaan yang berat tentang suksesi [apostolik] tidak menjauhkan dari martabat
Kekristenan Evangelis, ataupun dari kekuatan Tuhan yang menyelamatkan yang bekerja
di dalamnya...”60
Ini yaitu penolakan yang lancang akan dogma Di Luar Gereja Tidak ada Keselamatan. Jika hal ini
benar, sama sekali tidak ada alasan untuk menjadi Katolik.
Paus Gregorius XVI, Summo Iugiter Studio (#2), 27 Mei 1832:
“Pada akhirnya beberapa orang yang sesat ini mencoba meyakinkan diri mereka sendiri dan
orang-orang lain bahwa manusia tidak hanya diselamatkan di dalam agama Katolik, namun
bahkan bahwa para bidah dapat mendapat hidup kekal.”61
BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA PROTESTANTISME BUKANLAH BIDAH
Benediktus XVI, The Meaning of Christian Brotherhood [Makna Persaudaraan Kristiani], hal. 87-
88: “Ada kesulitan yang besar dalam cara memberi suatu jawaban. Pada akhirnya, kesulitan itu
diakibatkan kenyataan bahwa tidak ada kategori yang layak dalam pemikiran Katolik untuk
fenomena Protestantisme di masa kini (orang bisa mengatakan hal yang sama tentang
hubungan dengan gereja-gereja Dunia Timur yang terpisah). Jelas adanya bahwa kategori
‘bidah’ yang lama tidak lagi bernilai sama sekali. Bagi Kitab Suci dan Gereja perdana, bidah
mencakup gagasan keputusan pribadi melawan kesatuan Gereja, dan ciri khas bidah
yaitu pertinacia, kebersikerasan orang yang bersikukuh dalam jalan pribadinya sendiri.
Namun ini tak dapat dipandang sebagai deskripsi yang layak untuk keadaan rohaniah
orang Kristen Protestan. Di sepanjang sejarah yang sekarang sudah berabad-abad usianya,
Protestantisme telah membuat suatu kontribusi yang penting bagi realisasi iman Kristiani,
memenuhi suatu fungsi positif dalam perkembangan pesan Kristiani dan, terutama, sering kali
memunculkan iman yang tulus dan mendalam pada orang Kristen non-Katolik perorangan,
326
yang perpisahannya dari keyakinan Katolik sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan
ciri khas pertinacia dari bidah. Kita mungkin di sini bisa membalikkan perkataan St. Agustinus:
bahwa skisma yang lama menjadi bidah. Arus waktu sendiri mengubah sifat perpecahan,
sehingga perpecahan yang lama yaitu sesuatu yang pada hakikatnya berbeda dari yang baru.
Sesuatu yang pada suatu kala secara benar dikutuk sebagai bidah tidak dapat di lalu hari
begitu saja menjadi benar, namun dapat secara bertahap mengembangkan kodrat gerejaninya
sendiri yang positif, yang dengannya individu dihadirkan sebagai gereja miliknya dan yang di
dalamnya ia hidup sebagai umat beriman, dan bukan seorang bidah. Namun demikian, organisasi
yang terdiri dari satu kelompok ini pada akhirnya berdampak kepada keseluruhannya. Maka
dari itu, kesimpulannya tak terelakkan: Protestantisme pada zaman ini yaitu sesuatu
yang berbeda dari bidah dalam makna tradisional, suatu fenomena yang kedudukan
teologisnya belum ditentukan.”62
Protestantisme yaitu penolakan banyak dogma Iman Katolik. Protestantisme bukan hanya sebuah
bidah, namun yaitu kumpulan bidah-bidah yang paling terkenal keburukannya, yang pernah dilawan
oleh Gereja.
Paus Pius XI, Rerum omnium perturbationem (#4), 26 Januari 1923:
“...bidah-bidah yang lahir dari Reformasi [Protestan]. Kita mendapati di dalam bidah-bidah
ini permulaan dari kemurtadan umat manusia dari Gereja, yang dampak-dampak yang
menyedihkan serta mematikannya disayangkan, bahkan sampai masa ini, oleh semua yang
berpikir dengan jernih.”63
namun Benediktus XVI mengatakan kepada kita bahwa para Protestan bukanlah bidah, dan bahwa
Protestantisme sendiri bukanlah bidah. Ini yaitu bukti yang tidak bisa dipungkiri bahwa Benediktus XVI
bukan seorang Katolik, tapi benar-benar seorang bidah. Ini yaitu salah satu bidah Benediktus XVI yang
terburuk.
BENEDIKTUS XVI MENUNJUKKAN SEKALI LAGI BAHWA PERSATUAN BERSAMA PARA
PROTESTAN MENGHORMATI, BUKAN MENGONVERSIKAN, KEBERAGAMAN SUARA-SUARA
Paus Pius XI, Wawancara dengan Radio Vatikan, 5 Agustus 2006:
“...Para Gereja [Protestan] Evangelis. Jika saya tidak salah, di Jerman kita mendapati tiga
komunitas yang penting: Lutheran, Reformed, dan Serikat Prusia. Juga ada beberapa
Gereja bebas dan di dalamnya ada gerakan-gerakan seperti ‘Gereja yang Mengaku’, dan
sebagainya. Oleh sebab itu, hal ini yaitu kumpulan banyak suara-suara dengan
mana kita harus berdialog, untuk mencari kesatuan sambil menghormati keberagaman
suara-suara dengan mana kita ingin bekerjasama.”64
Ia berkata bahwa ia mencari kesatuan dengan mereka sambil menghomati keberagaman suara-suara. Hal
ini menggemakan sekali lagi posisinya bahwa mereka tidak perlu meninggalkan bidah-bidah mereka dan
bahwa kesatuan bersama mereka bukanlah ‘ekumenisme berpulang’.
BENEDIKTUS XVI BERBICARA AKAN ‘KEKAYAAN’ DARI DENOMINASI-DENOMINASI SESAT
DAN SKISMATIS
Paus Pius XI, Sambutan kepada Konferensi Sekretaris Persatuan-persatuan Kristiani Sedunia, 27
Oktober 2006:
“Selama puluhan tahun, Konferensi Sekretaris Persatuan-persatuan Kristiani Sedunia telah
memberi tempat bicara untuk pertemuan-pertemuan yang berhasil antara berbagai
327
Komunitas-komunitas gerejawi. Hal ini telah memungkinkan perwakilan-perwakilan mereka
untuk membangun kepercayaan timbal balik yang diperlukan oleh upaya yang serius untuk
membawa kekayaan berbagai tradisi Kristiani yang berbeda untuk melayani panggilan umum
kemuridan.”65
MELAWAN SAKRAMEN-SAKRAMEN
Pada tahun 2001, Vatikan menyetujui sebuah dokumen dengan Gereja Asiria Skismatis Timur. Dokumen
ini berkata bahwa anggota-anggota Gereja Vatikan II dapat pergi ke gereja skismatis ini dan
menerima Komuni, dan sebaliknya. Dokumen ini disetujui oleh Benediktus XVI. Masalah di dalam
dokumen ini yaitu , di samping fakta bahwa para skismatis Asiria bukanlah Katolik, bahwa liturgi
skismatis ini tidak memiliki kata-kata konsekrasi, tidak ada ‘kata-kata institusi’. Benediktus XVI
menyebutkan masalah ini di dalam bukunya Pilgrim Fellowship of Faith {Kerukunan Iman Peziarah}:
Benediktus XVI, Pilgrim Fellowship of Faith {Kerukunan Iman Peziarah}, 2002, hal. 232:
“...Kasus ini membutuhkan pelajaran-pelajaran, sebab Anafora Addai dan Mari yang
paling sering digunakan oleh para Asiria tidak mengikutsertakan kata-kata institusi.
namun kesulitan-kesulitan ini dapat diatasi...”66
Benediktus XVI mengakui bahwa liturgi skismatis ini tidak memiliki ‘kata-kata institusi’, yang merupakan
kata-kata konsekrasi. namun ia tetap menyetujui penerimaan Komuni di dalam liturgi Skismatis ini yang
tidak memiliki kata-kata konsekrasi.
Benediktus XVI sampai kepada keputusan yang tidak bisa dipercaya ini sebab ia menolak bahwa kata-
kata ini dibutuhkan untuk sebuah konsekrasi yang sah!
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 377:
“ … pada hari ini kita menjadi saksi terhadap suatu integralisme [maksudnya: tradisionalisme]
yang baru yang mungkin tampak Katolik dalam makna sempit namun yang kenyataannya
merusakannya sampai kepada intinya sendiri. Integralisme baru ini membuahkan suatu
hasrat akan kecurigaan, rasa permusuhan yang asing dari semangat injil. Ada suatu obsesi
terhadap kata-kata yang menganggap liturgi Gereja tidak valid dan dengan demikian
menempatkan dirinya sendiri di luar Gereja. Hal yang dilupakan di sini yaitu bahwa
validitas liturgi terutama tidak bergantung kepada kata-kata yang spesifik, melainkan
kepada komunitas Gereja ….”67
328
Ini benar-benar suatu penolakan penuh terhadap ajaran Katolik tentang sakramen.
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, 1439:
“Semua sakramen ini terdiri dari tiga elemen: yakni hal-hal sebagai materi, kata-kata
sebagai formula, dan pribadi dari pelayan yang memberi sakramen dengan intensi untuk
melakukan apa yang Gereja lakukan. Jika tidak ada salah satu dari elemen-elemen ini,
sakramen ini tidak terlaksana.”68
Fakta bahwa Benediktus XVI percaya bahwa Misa tanpa kata-kata konsekrasi valid adanya membuktikan
bahwa ia bahkan tidak memiliki sekelumit iman Katolik pun. Ia yaitu seorang bidah manifes yang
melawan ajaran Gereja tentang sakramen. Dan bidah ini diulangi di dalam beberapa bukunya.
BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA TIDAK ada ALASAN UNTUK MEMBAPTIS BAYI
Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 43:
“Konflik mengenai pembaptisan bayi mempertunjukkan betapa kita telah kehilangan arah
sehubungan hakikat iman yang sejati, pembaptisan dan keanggotaan di dalam Gereja ... Jelas pula
bahwa makna pembaptisan menjadi hancur manakala pembaptisan tidak lagi dipahami sebagai
suatu rahmat penantian melainkan hanya sebagai ritus yang lengkap dalam hakikatnya sendiri.
Manakala pembaptisan terpisah dari katekumenat, pembaptisan kehilangan raison d’être
[alasan keberadaan] yang dimilikinya.”69
Ini yaitu sebuah bidah raksasa yang luar biasa dan mencengangkan! Benediktus XVI berkata bahwa
sewaktu pembaptisan terpisah dari katekumenat – contohnya, dalam kasus pembaptisan bayi –
pembaptisan tidak diperlukan. Pembaptisan bayi tidak bermakna maupun ataupun bertujuan, menurut
Benediktus XVI. Inilah mengapa di dalam bukunya God and the World {Allah dan Dunia}, Benediktus XVI
MENOLAK DAN MENCAP PEMBAPTISAN BAYI SEBAGAI “TAK TERCERAHKAN”.
Benediktus XVI, God and the World {Allah dan Dunia} (2000), hal. 401:
“Pertanyaan... apa yang terjadi kepada jutaan anak yang dibunuh dalam rahim ibu mereka?
Jawaban... tentang anak-anak yang tidak dapat dibaptis sebab mereka telah diaborsi lalu
mendorong kita dengan desakan yang sebegitu jauh lebih kuatnya. Zaman-zaman yang
terdahulu telah mereka suatu ajaran yang bagi saya agak tak tercerahkan. Mereka berkata
bahwa pembaptisan mengaruniakan kita, melalui rahmat pengudusan, kemampuan untuk
menatap Allah. Memang benar bahwa bagian yang terutama dari keadaan dosa asal, yang darinya
kita dibebaskan oleh pembaptisan, yaitu tiadanya rahmat pengudusan. Anak-anak yang mati
demikian bahwasanya tidak memiliki dosa pribadi sama sekali, maka mereka tidak dapat dikirim
masuk Neraka, namun di sisi lain, mereka tidak memiliki rahmat pengudusan dan dengan
demikian [tidak memiliki] kemampuan untuk menatap Allah yang dikaruniakan oleh rahmat ini.
Mereka hanya akan menikmati suatu keterberkatan kodrati, di mana mereka akan menjadi
berbahagia. Keadaan ini disebut orang sebagai limbo. Di sepanjang abad yang kita lalui, ajaran itu
telah secara bertahap tampak bermasalah bagi kita. Ini yaitu salah satu cara orang
berupaya membenarkan perlunya membaptis bayi-bayi sesegera mungkin, namun
solusinya sendiri patut dipertanyakan.”70
Ia berkata bahwa zaman-zaman yang terdahulu “telah mereka” (dan tidak menerima dari Kristus) ajaran
tentang perlunya membaptis para bayi agar mereka bisa mendapat rahmat yang menyucikan. Ia
berkata bahwa ajaran ini “tak tercerahkan”! Ini yaitu bidah yang sangat besar. Konsili Florence dan
329
Trente telah secara infalibel mendefinisikan bahwa Sakramen Pembaptisan diperlukan untuk
keselamatan, dan bayi-bayi yang mati tanpa Sakramen Pembaptisan tidak dapat selamat.
Lantas, beberapa orang mungkin bertanya-tanya mengapa Ratzinger mempraktikkan pembaptisan bayi?
Alasannya yaitu bahwa ia tidak melihat ada masalah dalam hal mempraktikkan dan menjalankan
kebiasaan semacam itu, yang baginya tidak bermakna ataupun bertujuan. Demikian pula, ia
memampangkan diri sebagai “Sri Paus” meskipun ia bahkan tidak percaya akan keutamaan yurisdiksi
tertinggi milik para Paus, seperti yang sudah dibuktikan. Demikian pula, ia memampangkan diri sebagai
kepala Gereja Yesus Kristus walaupun ia bahkan tidak percaya bahwa Yesus Kristus pastinya yaitu sang
Mesias, seperti yang telah dibuktikan.
MELAWAN KITAB SUCI
Gereja Katolik mengajarkan bahwa Kitab Suci yaitu sabda Allah yang infalibel dan sempurna. Vatikan I
juga menyatakan bahwa semua hal yang ada di dalam sabda Allah yang tertulis harus dipercayai
dengan Iman ilahi dan Katolik.
Paus Pius IX, Vatikan I, Sesi III, Bab 3, ex cathedra:
“Selain itu, segala hal yang termuat di dalam sabda Allah yang tertulis atau yang diwariskan
melalui tradisi, serta segala sesuatu yang diajukan oleh Gereja sebagai hal yang diwahyukan oleh
Allah, baik melalui keputusan khidmat maupun melalui Magisterium biasa dan universal, harus
dipercayai dengan iman ilahi dan Katolik.”71
namun BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA KISAH PENCIPTAAN DI DALAM ALKITAB
DIDASARI KISAH PENCIPTAAN PAGAN
Benediktus XVI, A New Song for the Lord {Lagu Baru untuk Tuhan}, 1995, hal. 86:
“Kisah-kisah penciptaan pagan yang menjadi dasar sebagian kisah Alkitab berakhir tanpa
terkecuali dengan ditetapkannya suatu kultus, namun kultusnya pada kasus ini ada di dalam
siklus do ut des.”72
Jika sebagian kisah penciptaan di dalam kitab Kejadian didasari kisah-kisah penciptaan pagan, hal ini
berarti bahwa kisah Kitab Suci tidaklah asli dan tidak pun diilhami secara langsung oleh Allah.
Pernyataan Benediktus XVI ini yaitu bidah dan menunjukkan kembali bahwa ia yaitu seseorang yang
murtad dan tak beriman.
Paus Leo XIII, Providentissimus Deus (#20), 18 November 1893:
“Sebab semua kitab yang seutuhnya oleh Gereja diterima dengan sifat suci dan kanonik
dalam seluruh bagiannya, telah ditulis atas diktat Roh Kudus; dan sebagaimana sama sekali
330
mustahil bahwa ilham ilahi disertai kesalahan, demikian pula ilham Ilahi pada hakikatnya
memustahilkan segala kesalahan, namun juga sedemikian niscayanya memustahilkan dan
menolak segala kesalahan, sebagaimana Allah, yang merupakan Kebenaran yang terluhur, niscaya
sama sekali bukan pencipta kesalahan apa pun. Demikianlah iman yang kuno dan tak berubah
milik Gereja, yang secara khidmat didefinisikan oleh Konsili Florence dan Trente, yang
pada akhirnya diteguhkan dan dijabarkan secara lebih jelas dalam Konsili Vatikan ....”73
BENEDIKTUS XVI MENYANGSIKAN LOH-LOH BATU DI DALAM CERITA KELUARAN
Di dalam Keluaran 31, kita membaca bahwa Allah memberi Musa dua loh batu yang ditulisi oleh jari
Allah.
Keluaran 31:18- “Dan TUHAN memberi kepada Musa, sesudah Ia selesai berbicara dengan dia
di gunung Sinai, kedua loh hukum Allah, loh batu, yang ditulisi oleh jari Allah.”
Benediktus XVI, God and the World {Allah dan Dunia}, 2000, hal. 165-166, 168:
“Pertanyaan … Apakah hukum-hukum ini benar-benar diserahkan kepada Musa oleh Allah sewaktu
Ia tampak di Gunung Sinai? Sebagai loh-loh batu, yang padanya, seperti ceritanya, ‘telah ditulisi jari
Allah?’ … sejauh mana Perintah-Perintah ini diduga berasal dari Allah. … [hal. 166] Dia ini [Musa]
yaitu orang yang telah dijamah oleh Allah, dan atas dasar kontak yang bersahabat ini ia mampu
merumuskan kehendak Allah, yang sejauh ini hanya terungkap secara tidak lengkap dalam
tradisi-tradisi lainnya, sedemikian rupa sehingga kita benar-benar mendengar sabda Allah.
Apakah dahulu benar-benar ada loh-loh batu, itu yaitu pertanyaan yang lain … [hal. 168]
Sejauh manakah kita harus memahami cerita ini secara harfiah yaitu suatu pertanyaan
yang lain.” 74
BENEDIKTUS XVI MENGAJARKAN BAHWA PERKATAAN-PERKATAAN DI DALAM KITAB
SUCI TIDAKLAH BENAR
Benediktus XVI, God and the World {Allah dan Dunia}, 2000, hal. 153:
“yaitu suatu perkara lain, untuk memandang Kitab Suci secara keseluruhan sebagai Sabda Allah,
di mana segala hal berkaitan dengan hal-hal yang lain, dan segalanya diungkapkan sepanjang
waktu anda membacanya. Hal ini [Kitab Suci] mengikuti sebuah jalan langsung yang kriteria
ilhamnya tidak pun infalibilitasnya dapat diterapkan secara mekanis. Tidaklah mungkin untuk
memilah-milah satu perkataan dan berkata, anda menemukan perkataan ini di dalam
buku agung Allah, oleh sebab itu, hal ini pastilah benar dengan sendirinya...”75
BENEDIKTUS XVI TENTANG EVOLUSI
Benediktus XVI, God and the World {Allah dan Dunia}, 2000, hal. 76:
“Pertanyaan: Pada awalnya bumi hampa dan kosong; Allah belum menurunkan hujan, itulah yang
dikatakan dalam Kitab Kejadian. Lalu allah menciptakan manusia, dan demi itu, ia mengambil
‘debu dari padang dan mengembuskan napas kehidupan ke dalam lubang hidungnya; demikianlah
manusia menjadi makhluk yang hidup’. Napas kehidupan – itukah jawaban terhadap pertanyaan
dari mana kita berasal? Jawaban. Saya kira di sini kita punya gambaran yang terpenting, yang
menyajikan pemahaman yang signifikan tentang jati diri manusia. Gambaran ini mengajukan
bahwa manusia yaitu ia yang muncul dari tanah dan kemungkinan-kemungkinannya. Kita
bahkan dapat mengartikannya sebagai suatu hal yang mirip evolusi.”76
331
Benediktus XVI, God and the World {Allah dan Dunia}, 2000, hal. 139: “Gambaran Kristiani
tentang dunia demikian adanya, yaitu dunia dalam detail-detailnya merupakan buah
proses evolusi yang panjang namun pada tingkatannya yang paling mendalam berasal dari sang
Logos.”77
BIDAH-BIDAH DAN KEMURTADAN BENEDIKTUS XVI DENGAN ISLAM
Islam yaitu suatu agama sesat yang menolak Allah Tritunggal dan Keilahian Tuhan kita. Gereja Katolik
secara resmi mengajarkan bahwa Islam yaitu sebuah kekejian – sebuah agama sesat yang pengikutnya
perlu dikonversikan dan diselamatkan.
Paus Eugenius IV, Konsili Basel, 1434:
“...ada harapan bahwa banyak dari pengikut sekte Mahomet yang keji akan berkonversi
kepada iman Katolik.”78
Paus Kalikstus III:
“Saya bersumpah untuk...meninggikan Iman sejati, dan untuk menumpas sekte iblis dari
Mahomet [Islam] yang terkutuk dan tidak beriman di Timur.”79
BENEDIKTUS XVI MEMILIKI ‘RASA HORMAT YANG MENDALAM’ UNTUK AGAMA SESAT
ISLAM
Benediktus XVI, Audiens Umum, 20 September 2006:
“Saya berharap bahwa di dalam berbagai keadaan pada waktu Kunjungan saya –
contohnya, sewaktu di Munich, saya menekankan betapa pentingnya untuk menghargai hal-hal
yang suci bagi orang-orang lain – bahwa rasa hormat saya yang mendalam untuk agama-
agama yang agung, dan terutama untuk para Muslim, yang ‘menyembah Allah...’ terlihat
cukup jelas!”80
Perhatikan bahwa ia memiliki ‘rasa hormat yang mendalam’ bukan hanya untuk agama sesat Islam, namun
juga untuk agama-agama sesat lain. Ini yaitu sebuah kemurtadan. Juga perhatikan bahwa ia
menganggap bahwa rasa hormat untuk agama sesat itu sendiri yaitu sama dengan untuk menghormati
‘umat’ Muslim. Ia mengatakan hal ini sebagai dua hal yang sama, seperti yang kita lihat. Hal ini
penting untuk diingat sebab Benediktus XVI sering mengatakan bahwa ia menghormati para umat
beriman Muslim atau Muslim sebagai umat beriman. Dengan melakukan hal ini ia menghormati agama
sesat mereka, seperti yang kita lihat terbukti secara jelas di dalam kutipan berikut.
Benediktus XVI, Sambutan, 22 Desember 2006:
“Kunjungan saya ke Turki memberi saya kesempatan untuk menunjukkan rasa hormat saya
untuk Agama Islam secara publik, suatu rasa hormat yang terutama diwujudkan oleh
Konsili Vatikan II (deklarasi Nostra Aetate #3) kepada kita sebagai sikap yang benar.”81
Perhatikan bahwa Benediktus XVI mengakui di sini bahwa Vatikan II sendiri mengajarkan rasa hormat
untuk agama sesat Islam.
332
BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA ada ISLAM YANG MULIA
Benediktus XVI, Salt of the Earth {Garam Dunia}, 1996, hal. 244:
“Dan, untuk menghindari topik tentang skisma di antara para Sunni dan Syi’ah, ia {Islam] juga
hadir di dalam berbagai bentuk. ada Islam yang mulia, yang diwujudkan, sebagai contoh,
oleh Raja Maroko, dan ada pula Islam yang ekstrem dan teroris, yang, sekali lagi, tidak boleh
disamakan dengan Islam secara keseluruhan, suatu ketidakadilan kepada agama itu.”82
Ia berkata bahwa agama sesat itu baik. Ini yaitu sebuah kemurtadan.
BENEDIKTUS XVI BERKATA ISLAM MELAMBANGKAN KEAGUNGAN
Benediktus XVI, Truth and Tolerance {Kebenaran dan Toleransi}, 2004, hal. 204:
“Di dalam Hinduisme (yang sebetulnya yaitu nama untuk kumpulan berbagai agama-
agama) ada beberapa elemen-elemen yang mengagumkan – namun juga ada aspek-
aspek yang negatif: campur tangan dengan sistem kasta, sati [membakar diri sendiri] untuk para
janda, yang dikembangkan dari awal yang hanyalah simbolis; cabang dari pemujaan dewi Sakti –
semuanya ini dapat disebutkan hanya untuk memberi sedikit contoh. namun , bahkan Islam,
dengan semua keagungan yang dilambangkannya, selalu memiliki risiko untuk kehilangan
keseimbangan, membiarkan kekerasan terjadi dan membiarkan agama untuk jatuh ke dalam
ibadah dan ritual semata.”83
Ia berkata bahwa Islam, suatu agama sesat yang menolak Keilahian Yesus Kristus dan seluruh Iman
Katolik melambangkan ‘keagungan’. Ini yaitu kemurtadan. Islam melambangkan ketidakberimanan,
penolakan Allah Tritunggal dan kegelapan. Menarik pula untuk dicatat bahwa sewaktu ia berbicara
tentang ‘elemen-elemen yang mengagumkan’ di dalam Hinduisme, Benediktus XVI menyebutkan aspek-
aspek negatifnya seperti sistem kasta, dst. Ia tidak menyebutkan fakta bahwa Hinduisme menyembah
dewa-dewi sesat dari antara aspek-aspek negatifnya.
Benediktus XVI, Sambutan kepada Perwakilan Islam, 20 Agustus 2005:
“Umat beriman – dan kita semua, sebagai orang-orang Kristiani dan Muslim, yaitu umat
beriman - ...Anda menuntun umat-umat Muslim beriman dan melatihnya di dalam iman
Islam... Oleh sebab itu, anda memiliki tanggung jawab yang besar untuk pembentukan
generasi muda.”84
Benediktus XVI, Katekesis, 24 Agustus 2005:
“Tahun ini juga yaitu ulang tahun ke-30 Deklarasi konsili Nostra Aetate, yang telah menuntun
sebuah musim baru untuk dialog dan solidaritas rohani antara Yahudi dan Kristen, juga rasa
hormat untuk berbagai tradisi rohani agung yang lain. Islam memiliki tempat yang khusus
di antara mereka.”85
Perhatikan bahwa Benediktus XVI bukan hanya semata-mata menghormati anggota-anggota agama-
agama sesat, namun juga agama-agama sesatnya sendiri. Ini yaitu kemurtadan.
Benediktus XVI, Sambutan, 25 September 2006:
“Saya ingin mengulangi pada hari ini, segala rasa hormat yang dalam yang saya miliki
untuk para umat beriman Muslim, mengingat kata-kata dari Konsili Vatikan II, yang untuk
Gereja Katolik yaitu magna carta dari dialog Muslim-Katolik: “Gereja memandang para Muslim
dengan rasa hormat. Mereka menyembah satu Allah yang hidup dan nyata... Pada waktu ini,
sewaktu perjalanan rohani orang-orang Muslim bermula di dalam bulan Ramadan, saya
333
menyambut mereka semua harapan baik saya, sambil berdoa agar yang Mahakuasa boleh
memberi mereka hidup yang tenang dan penuh damai. Semoga Allah pencipta damai
memenuhi anda dengan kelimpahan Berkat-Nya, bersama komunitas-komunitas yang anda
wakili!.”86
Benediktus XVI menghormati para umat dari sekte iblis ini; ia berkata bahwa mereka menyembah Allah;
ia mengharapkan berkat Allah untuk mereka di dalam ‘perjalanan rohani’ Ramadan. Ini hanyalah sebuah
kemurtadan.
Benediktus XVI, Sambutan Angelus, 22 Oktober 2006:
“Saya bergembira sebab saya bisa menyampaikan sebuah salam penuh hormat kepada para
Muslim di seluruh dunia yang sedang merayakan pada hari-hari ini berakhirnya puasa bulan
Ramadan.”87
BENEDIKTUS XVI MENGHORMATI PERADABAN-PERADABAN ISLAM
Benediktus XVI, Audiens Umum, 6 Desember 2006:
“Oleh sebab itu saya memiliki kesempatan yang baik untuk memperbarui
sentimen rasa hormat saya kepada para Muslim dan untuk peradaban-peradaban
Islam.”88
Peradaban-peradaban Islam merupakan beberapa hal yang paling jahat dan anti-Kristiani di dalam
sejarah. Pernyataan Benediktus XVI ini, oleh sebab itu, yaitu sebuah kemurtadan besar-besaran.
Benediktus XVI, Sambutan di Turki untuk Para Muslim, 28 November 2006:
“...Saya gembira bahwa saya dapat mengungkapkan rasa hormat saya yang dalam untuk para
Penduduk dari Negara yang besar ini dan untuk memberi rasa hormat saya pada nisan
pendiri Turki modern, Mustafa Kemal Ataturk... Saya menyampaikan salam saya kepada
semua pemimpin agama di Turki, terutama kepada Mufti Agung dari Ankara dan Istanbul. Di
dalam pribadi anda, Bapak Presiden, saya menyambut semua orang Muslim di Turki dengan
rasa hormat yang khusus dan pandangan yang penuh kasih... Negara yang mulia ini juga telah
menyaksikan perkembangan yang luar biasa akan peradaban Islam di dalam berbagai
bidang yang paling beragam... ada banyak sekali monumen Kristiani dan Islam yang
menjadi saksi akan masa lalu Turki yang agung. Pantaslah bahwa anda berbangga diri
akan hal-hal ini, menjaga mereka untuk kekaguman dari para pengunjung yang jumlahnya
semakin banyak yang berkumpul di sini... Sebagai umat beriman, kita mendapat kekuatan
yang kita butuhkan dari doa kita untuk mengalahkan semua sisa-sisa prasangka dan untuk
menanggung bersama kesaksian akan iman yang teguh kepada Allah.”89
Pertama ia menyebutkan bahwa ia memberi hormat kepada nisan Ataturk yang tidak beriman. Lalu ia
berkata bahwa ia menghormati semua orang Muslim dari Turki. Untuk menghormati sesorang yaitu
untuk mengaguminya. Hal ini berarti bahwa ia mengagumi semua orang Muslim di Turki. Hal ini
berarti bahwa bukan hanya ia mengagumi jutaan orang yang menolak Kristus, namun juga bahkan para
kriminal dari antara para Muslim di Turki, sebab tentunya beberapa di sana. Ia lalu memuji
‘perkembangan yang luar biasa akan peradaban Islam’, yang mengurung jutaan orang di dalam kegelapan
dan ketidakberimanan. Ia lalu memuji monumen-monumen Muslim dari masa lalu, dan berkata bahwa
para Muslim ‘pantas untuk berbangga diri akan hal-hal ini’. Terakhir, ia berkata bahwa sebagai ‘umat
beriman’, para Muslim bisa mendapat kekuatan lewat doa mereka, yang menunjukkan bahwa praktik
Islam yaitu benar dan sejati. Benediktus XVI yaitu seseorang yang benar-benar murtad.
334
BENEDIKTUS XVI MENGAJARKAN BAHWA ISLAM DAN KEKRISTENAN MEMILIKI ALLAH
YANG SAMA
Benediktus XVI, Pilgrim Fellowship of Faith {Kerukunan Iman Peziarah}, 2002, hal. 273:
“...Islam, pula, ... telah mewarisi dari Israel dan para umat Kristiani Allah yang sama....”90
Islam dan Kekristenan tidak memiliki Allah yang sama. Para pengikut Islam menolak Allah Tritunggal.
Orang-orang Kristiani menyembah Allah Tritunggal.
BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA AL-QURAN yaitu KITAB SUCI SUATU AGAMA YANG
AGUNG
Benediktus XVI, pidato permintaan maaf untuk komentarnya akan Islam, September 2006:
“Di dalam dunia muslim, sayangnya, kutipan ini telah diambil sebagai ungkapan posisi pribadi
saya, yang oleh sebab itu mengomporkan kemarahan yang dapat dimengerti. Saya berharap
bahwa pembaca naskah saya dapat dengan segera melihat bahwa perkataan ini tidak
mengungkapkan pandangan pribadi saya akan Al-Quran, yang untuknya saya memiliki rasa
hormat kepada kitab suci suatu agama yang agung.”91
Benediktus XVI menghormati Al-Quran sebagai sebuah kitab suci dari agama yang agung. Al-Quran
menghujat Allah Tritunggal, menolak Keilahian Yesus Kristus, dan berkata bahwa mereka yang percaya
kepadanya yaitu sama seperti kotoran. Al-Quran juga berkata bahwa semua umat Kristiani terkutuk.
Pernyataan oleh Benediktus XVI ini benar-benar merupakan sebuah kemurtadan. Kita telah membahas
bagaimana Yohanes Paulus II mencium Al-Quran; hal ini yaitu ciuman kepada Al-Quran di dalam kata-
kata.
BENEDIKTUS XVI PERGI KE MESJID DAN BERDOA MENGHADAP MEKKAH SEPERTI PARA
MUSLIM
335
Pada tanggal 30 November 2006, pada saat ia berkunjung ke Turki, Benediktus XVI melepaskan
sepatunya dan memasuki Mesjid Biru. Ia mengikuti panduan Muslim untuk menghadap ‘Kiblat’ –
mengarah Mekkah. Di sana, doa dimulai. Benediktus XVI berdoa seperti para Muslim menghadap Mekkah
di dalam mesjid. Ia bahkan menyilangkan tangannya di dalam sikap doa yang disebut ‘sikap ketenangan’.
Tindakan kemurtadan yang luar biasa ini dilaporkan dan ditunjukkan di semua media besar. Bukanlah
sebuah hal yang dibesar-besarkan untuk mengatakan bahwa Benediktus XVI telah masuk Islam.
Benediktus XVI “Hailed for Praying like Muslims Toward Mecca {Dielu-elukan sebab Ia Berdoa
seperti Para Muslim Menghadap Mekkah}.” 1 Desember 2006 – ISTANBUL (Reuters) – “Paus
Benediktus mengakhiri kunjungannya yang sensitif untuk perbaikan hubungan di Turki
pada hari Jumat di tengah-tengah pujian untuk mengunjungi Mesjid Biru Istanbul yang
terkenal dan berdoa di sana menghadap Mekkah ‘seperti para Muslim.’... ‘Kunjungan Paus
yang membuat was-was berakhir dengan kejutan yang luar biasa’, tulisan harian Aksam di
sampul depan. ‘Di Mesjid Sultan Ahmet, ia menghadap Mekkah dan berdoa seperti orang-
orang Muslim’, harian Hurriyet yang populer berkata, dengan memakai nama resmi
bangunan ini ... ‘Saya melihat kunjungan Paus ke mesjid sama seperti sikap-sikap Paus
Yohanes Paulus di Tembok Barat’, kata mediator senior Vatikan Kardinal Roger Etchegaray,
merujuk kepada doa-doa Paus Yohanes Paulus II di Tembok Barat Yerusalem pada tahun 2000.
‘Kemarin, Benediktus melakukan bersama para Muslim apa yang Yohanes Paulus II lakukan
bersama para Yahudi.’”92
Hal ini s






