gereja vatikan 13

 


ng kita bertanya: Apa arti dari memulihkan kesatuan semua orang Kristiani ... 

kesatuan ini bukan berarti apa yang mungkin disebut ekumenisme pemulangan: yakni, 

menyangkal dan menolak sejarah iman diri sendiri. Sama sekali bukan!”29 

KARDINAL KASPER DAN BENEDIKTUS XVI SAMA-SAMA MENOLAK EKUMENISME BERPULANG – 

MENGONVERSIKAN PARA PROTESTAN 

Kardinal Walter Kasper: “ ... pada hari ini kita tidak 

lagi memahami ekumenisme dengan makna 

pemulangan, yang membuat orang lain 

‘berkonversi’ dan kembali menjadi Katolik. Makna 

ini secara jelas ditinggalkan oleh Vatikan II.”30 

Benediktus XVI, Sambutan kepada Para Protestan 

pada Hari Orang Muda Sedunia, 19 Agustus 2005: 

“Dan sekarang kita bertanya: Apa arti dari 

memulihkan kesatuan semua orang Kristiani ... 

kesatuan ini bukan berarti apa yang mungkin 

disebut ekumenisme pemulangan: yakni, 

menyangkal dan menolak sejarah iman diri 

sendiri. Sama sekali bukan!”31 

 

Seperti yang ditunjukkan secara jelas oleh perbandingan ini, seperti sang bidah ‘Kardinal’ Kasper, 

Benediktus XVI terang-terangan menolak ‘ekumenisme berpulang’, yaitu, bahwa para non-Katolik perlu 

berpulang ke Gereja Katolik lewat konversi dan menolak sekte-sekte bidah mereka. Mereka sama-sama 

menolak ajaran Paus Pius XI kata demi kata. 

Paus Pius XI, Mortalium Animos (#10), 6 Jan. 1928: 

“ ... sama sekali tiada cara yang diizinkan untuk membina persatuan umat Kristiani, selain dengan 

membina pulangnya para pembangkang ke dalam Gereja Kristus yang satu dan sejati, yang 

sayangnya telah mereka tinggalkan sebelumnya.”32 

Benediktus XVI yaitu  seorang bidah secara formal. Ia percaya bahwa para Protestan dan Skismatis 

Timur tidak perlu dikonversikan dan menerima Vatikan I. Ia menolak terang-terangan perlunya Iman 

Katolik untuk keselamatan, dan ajaran dogmatis Vatikan I. 

Itulah alasan Benediktus XVI mengikut Paulus VI dan Yohanes Paulus II dalam memuji 

dihapuskannya ekskomunikasi atas kaum “Ortodoks” – dan dengan demikian, mengikut 

mereka menyangkal Vatikan I 

Benediktus XVI, Pesan Ekumenis kepada Patriark Skismatis dari Konstantinopel, 26 November 

2005: “Tahun ini kita merayakan Ulang Tahun ke-40 tanggal 7 Desember 1965, hari Paus Paulus 

VI dan Patriark Atenagoras tidak puas dengan yang terjadi di tahun 1054 dan sebab  itu 

bersama-sama memutuskan di Roma dan di Konstatinopel, ‘untuk membatalkan dari 

ingatan Gereja hukuman ekskomunikasi yang telah dikeluarkan.’”33 

Pada tahun 1054, Patriark Konstantinopel, Mikhael Kerularius, pecah dari persekutuan dengan Gereja 

Katolik dan Paus Roma. Kerularius menolak otoritas tertinggi Sri Paus dan menutup gereja-gereja ritus 

Roma di Konstantinopel. Kerularius diekskomunikasi oleh Paus St. Leo IX dan Skisma Besar Timur pun 

menjadi resmi.34 

Maka, yang “terjadi di tahun 1054”, dan yang disebut oleh Benediktus XVI di atas, merujuk 

kepada ekskomunikasi yang dijatuhkan oleh Gereja Katolik atas mereka yang mengikut Mikhael 

Kerularius masuk skisma dan menolak Kepausan. Paulus VI “mengangkat” ekskomunikasi ini pada 

akhir Vatikan II, dan Yohanes Paulus II memuji serta memperingati diangkatnya ekskomunikasi ini  


316 

 

berulang kali. Sekarang kita melihat bahwa Benediktus XVI mengikuti teladan Yohanes Paulus II dan juga 

merayakan peristiwa itu. 

Ini semua pada dasarnya berarti bahwa Paulus VI, Yohanes Paulus II dan sekarang, Benediktus XVI, telah 

berupaya membatalkan Kepausan sebagai dogma yang harus dipercayai di bawah ancaman bidah dan 

ekskomunikasi. Namun seperti yang sudah kita lihat, Vatikan I acapkali dan dalam berbagai cara 

menyatakan, bahwa orang-orang yang menolak dogma Kepausan itu teranatema, dan terpisah dari Iman. 

Jadi, berupaya membatalkan ekskomunikasi dari mereka yang masih tetap menolak Kepausan, pada 

dasarnya yaitu  perbuatan lancang yang menolak ajaran Vatikan I. Ini yaitu  bidah dan skisma secara 

resmi, yang terwujud dalam perkataan dan perbuatan.  

 

Benediktus XVI bersama ‘pelayan’ Lutheran 

Benediktus berdoa Doa Senja ekumenis bersama para skismatis dan Protestan dan 

berkata bahwa ia mencintai Gereja Ortodoks skismatis 

 

Benediktus XVI berdoa Doa Senja ekumenis pada tanggal 12 September 2006.35 Ini yaitu  partisipasi aktif 

di dalam ibadat non-Katolik. Hal ini yaitu  bukti atas bidah lewat perbuatan. 

Benediktus XVI, Sambutan pada ibadat Doa Senja ekumenis, 12 September 2006: 

“Saudara-saudari terkasih dalam Kristus! Kita berkumpul, Kristen Ortodoks, Katolik, dan 

Protestan – dan bersama kita juga ada  beberapa teman Yahudi – untuk bernyanyi bersama 


317 

 

pujian sore kepada Allah... Ini yaitu  waktu berterimakasih atas fakta bahwa kita dapat berdoa 

bersama dengan cara ini dan, dengan menghadap kepada Tuhan, pada waktu bersamaan 

bertumbuh di dalam kesatuan bersama-sama... Dari antara mereka yang bergabung untuk ibadat 

senja ini, saya ingin pertama-tama menyambut dengan hangat perwakilan dari Gereja Ortodoks. 

Saya telah selalu menganggap hal ini sebagai sebuah karunia yang khusus dari Penyelenggaraan 

Ilahi bahwa, sebagai seorang profesor di Bonn, saya dapat mengenal dan mencintai Gereja 

Ortodoks, secara pribadi, lewat dua Arkimandrit muda, Stylianos Harkianakis dan Damaskinos 

Papandreou, yang keduanya akhirnya menjadi Metropolitan... Koinonia [persatuan] kita 

berada di atas seluruh kesatuan bersama Bapa dan bersama Putra-Nya Yesus Kristus di dalam 

Roh Kudus; itu yaitu  persatuan dengan Allah Tritunggal, yang dimungkinkan oleh Tuhan lewat 

penjelmaan-Nya dan pencurahan Roh. Persatuan dengan Allah ini lalu menciptakan koinonia di 

antara orang-orang, sebagai suatu partisipasi di dalam iman para Rasul...”36 

Ini yaitu  sebuah bidah terbesar Benediktus XVI. Pertama, ia mengambil bagian secara aktif di dalam doa 

dan ibadat non-Katolik, yang dikutuk di dalam ajaran Katolik. 

Paus Pius XI, Mortalium Animos (#10): 

“Maka, Saudara-Saudara yang Terhormat, jelaslah mengapa Takhta Apostolik ini tidak pernah 

mengizinkan umat-umatnya untuk mengambil bagian di dalam perkumpulan-

perkumpulan orang-orang non-Katolik ....”37 

Kedua, ia berkata bahwa ia mencintai Gereja Ortodoks – sebuah sekte non–Katolik skismatis dan sesat. 

Bagaimana seseorang bisa menjadi lebih sesat dibandingkan  sewaktu ia berkata: “Saya mencintai Gereja 

skismatis?”  Ia lalu menunjukkan bahwa ia, para skismatis, dan para Protestan memiliki kesatuan 

bersama Allah, kesatuan satu sama lain, dan kesatuan bersama Iman para Rasul. Ini semua sangatlah 

sesat. Benediktus XVI yaitu  seorang bidah publik yang bersatu bersama para non-Katolik. 

Bidah terburuk Benediktus XVI? Ia berdoa dengan pemimpin para skismatis ‘Ortodoks’ 

sedunia dan menandatangani Deklarasi Gabungan dengannya, yang mengatakan bahwa 

ia berada di dalam Gereja Kristus 

 

Benediktus XVI mencium pemimpin skismatis ‘Ortodoks’ Timur sedunia, Bartolomeus I, pada kunjungannya 

ke Turki pada bulan November 2006 

BBC News, 29 November 2006 – “Benediktus XVI telah bertemu Patriark Ekumenis Bartolomeus I 

di Turki, pada hari kedua dari kunjungan bersejarah kepada negara yang mayoritasnya Muslim. 

Bincang-bincangnya dengan pemimpin rohani Kristen Ortodoks sedunia bertujuan untuk 

menyembuhkan perpecahan lama. Kedua pemimpin ini  memulai pertemuan mereka 

dengan mengadakan ibadat doa bersama di Gereja St. George di Istanbul.”38 


318 

 

Pada kunjungannya di tahun 2006 ke Turki, Benediktus XVI masuk ke dalam dua katedral skismatis dan 

bertemu dengan tiga patriark skismatis, termasuk pemimpin skismatis sedunia, Patriark Ortodoks Timur 

dari Konstantinopel, Bartolomeus I. Benediktus XVI bukan hanya melakukan tindakan yang terlarang, 

yaitu persatuan di dalam hal-hal kudus bersama sang skismatis, namun  ia juga mungkin telah melakukan 

bidahnya yang terburuk di dalam deklarasi gabungannya bersamanya. 

Benediktus XVI, Deklarasi Gabungan bersama Patriark Skismatis Bartolomeus, 30 November 

2006: 

“Pertemuan persaudaraan yang menyatukan kita ini, Paus Benediktus XVI dari Roma dan Patriark 

Ekumenis Bartolomeus I, yaitu  karya Allah, dan dalam arti tertentu karunia-Nya. Kami 

bersyukur kepada sang Pencipta dari segala hal yang baik, yang mengizinkan kami sekali lagi di 

dalam doa dan dialog, untuk mengungkapkan sukacita yang kami rasakan sebagai saudara dan 

untuk memperbarui komitmen kami untuk bergerak menuju kesatuan yang penuh. Komitmen ini 

datang dari kehendak Tuhan dan dari tanggung jawab kami sebagai Gembala di dalam 

Gereja Kristus... Berkaitan dengan hubungan antara Gereja Roma dan Gereja Konstantinopel, 

kami tidak boleh lupa akan tindakan gereja yang khidmat yang menghapus memori akan 

kutukan-kutukan kuno yang selama berabad-abad memiliki dampak negatif kepada Gereja-gereja 

kami.”39 

Anda lihat itu? Ia berkata ‘...tanggung jawab kami sebagai gembala DI DALAM GEREJA KRISTUS’! 

Sungguhlah sesat, ia menyatakan di dalam sebuah deklarasi gabungan bersama pemimpin skismatis 

sedunia bahwa sang pemimpin skismatis, yang menolak Kepausan serta Infalibilitas Paus, ada ‘di 

dalam Gereja Kristus’. 

Benediktus XVI membuat pernyataan formal yang sesat ini di dalam sebuah katedral skismatis sebagai 

bagian dari deklarasi gabungan pada saat sebuah liturgi ilahi bersama seorang skismatis yang terkenal! 

Maka, resminya: Benediktus XVI telah menyatakan di dalam sebuah deklarasi gabungan publik bahwa 

seseorang dapat menolak Kepausan, Infalibilitas Paus, Vatikan I, dst. dan berada di dalam Gereja 

Kristus. Tidak diragukan lagi, ia yaitu  seorang bidah publik. Siapa pun yang menolak hal ini, sesudah  

mengetahui fakta-fakta ini, juga yaitu  seorang bidah. Bahkan pembela Anti-Paus XVI yang paling tidak 

jujur dan keras kepala akan kesulitan untuk menjelaskan hal ini. 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#15), 29 Juni 1896 –Para Uskup yang terpisah dari Petrus dan 

Para Penerusnya Kehilangan Segala Yurisdiksi: 

“Oleh sebab itulah kita melihat dengan jelas, bahwa para uskup kehilangan hak dan kuasa 

memerintah, jika dengan sepengetahuan mereka, mereka memisahkan diri dari Petrus 

atau dari para penerusnya. sebab  akibat perpisahan ini, mereka mencabut diri mereka sendiri 

dari landasan bertumpunya seluruh bangunan itu; sebab  itu juga, mereka berada di luar 

bangunan itu sendiri: oleh sebab itu juga, mereka mendapati diri mereka sendiri terpisah 

dari kandang domba yang dipimpin oleh sang gembala tertinggi, dan terasing dari kerajaan 

yang kunci-kuncinya telah diberikan oleh Allah kepada Petrus seorang ... Oleh sebab itulah, tak 

seorang pun yang tidak berada dalam persekutuan dengan Petrus dapat mengambil 

bagian dalam otoritasnya; sebab membayangkan bahwa orang yang berada di luar Gereja, 

memerintah di dalam Gereja, yaitu  perbuatan absurd.”40 

Semua bidah ini yang berasal dari Benediktus XVI juga mengejek sepenuhnya santo-santa dan para 

martir yang menderita sebab  mereka menolak untuk menjadi ‘Ortodoks’ Timur, seperti yang telah 

dibahas di awal di bagian yang berjudul Orang-orang Katolik yang disiksa dan dimartir sebab  

mereka menolak menjadi Skismatis Timur.  


319 

 

 

Itulah mengapa Benediktus XVI bahkan mendorong Patriark Skismatis untuk 

Melanjutkan Pelayanannya 

Benediktus XVI, Sambutan, 12 November 2005: 

“Sehubungan dengan hal ini, saya meminta anda, Saudara-saudara yang terhormat, untuk 

mengungkapkan salam hangat saya kepada Patriark Maksim, Hierark Pertama dari Gereja 

Ortodoks dari Bulgaria. Mohon ungkapkan kepadanya harapan-harapan terbaik saya 

untuk kesehatannya dan untuk kelanjutan pelayanannya yang berbahagia.”41 

Benediktus XVI mendorong sang patriark non-Katolik dan skismatis untuk melanjutkan pelayanan non-

Katolik dan skismatisnya. Lalu, pada perjalanannya ke Turki, Benediktus XVI mengingat Yohanes Paulus 

II yang memberi  relikui-relikui kepada para skismatis. Benediktus XVI berkata bahwa tindakan 

ini  yaitu  suatu tanda persatuan. 

Benediktus XVI, Pidato kepada patriark skismatis Bartolomeus, 29 November 2006: 

“...St. Gregorius dari Nazianzus dan St. Yohanes Krisostomus... Relikui-relikui mereka berada di 

dalam basilika St. Petrus di Vatikan, dan sebagian dari mereka telah diberikan kepada 

Yang Mulia sebagai tanda kesatuan oleh almarhum Paus Yohanes Paulus II untuk 

penghormatan di dalam katedral ini.”42 

Hal ini membuktikan sekali lagi bahwa ‘gerak-gerik ekumenisme’ menandakan penolakan dogma bahwa 

para skismatis harus menerima Keutamaan Paus untuk berada di dalam kesatuan bersama Gereja. 

Bidah Benediktus XVI yang mencengangkan tentang ‘Uskup Agung’ skismatis dari Atena 

Benediktus XVI, Sambutan, 30 Oktober 2006: 

“Saya juga senang sebab  saya dapat mengutarakan pikiran-pikiran serta harapan-

harapan baik saya kepada Yang Terberkati Christodoulos, Uskup Agung Atena dan Seluruh 

Yunani: Saya meminta Tuhan untuk menjaga kebijaksanaan dan kehati-hatiannya dalam 

menjalankan pelayanan yang berat yang Tuhan telah percayakan kepadanya. Lewatnya, 

saya berharap dapat menyambut dengan kasih yang mendalam Sinode kudus Gereja 

Ortodoks dari Yunani dan para umat yang ia layani dengan penuh kasih dan dengan 

dedikasi apostolik.”43 

Benediktus XVI berkata bahwa Christodoulos, sang uskup ‘Ortodoks’ skismatis dan non-Katolik di Yunani 

memiliki kekuasaan di seluruh Yunani! Ia juga menunjukkan bahwa para skismatis yaitu  para ‘umat’ 

dan bahwa Tuhan memercayakan sang uskup skismatis ini  dengan ‘pelayanan yang berat’. Terlebih 

lagi, perhatikan pokok berita yang muncul di surat kabar resmi Vatikan sewaktu uskup non-Katolik ini 

datang untuk mengunjungi Benediktus XVI. Surat kabar resmi Vatikan (yang mengutip Benediktus XVI) 

merujuk kepada ‘Uskup Agung’ skismatis non-Katolik Yunani ini sebagai ‘Uskup Agung Atena dan Seluruh 

Yunani’ di dalam pokok berita yang besar yang diulang-ulang di dalam surat kabar ini . Semua ini 

yaitu  penolakan utuh dari ajaran dogma Katolik akan kesatuan Gereja. 


320 

 

 

BIDAH-BIDAH LAIN BENEDIKTUS XVI DENGAN PARA PROTESTAN 

 

Benediktus XVI bersama ‘Uskup’ Protestan Evangelikal Wolfgang Huber pada tahun 200544 

Benediktus XVI terang-terangan menolak untuk mengonversikan para Protestan sekali lagi di dalam 

bukunya Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}. 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 202: 

“Hal ini berarti bahwa orang Katolik tidak menuntut pembubaran lembaga-lembaga 

Protestan dan penghancuran gereja-gereja mereka namun  sebaliknya berharap agar mereka 

akan dikuatkan dalam keyakinan-keyakinan mereka dan di dalam realitas gerejani 

mereka.”45 

Perhatikan bahwa Benediktus XVI tidak ingin agama-agama Protestan ibubarkan dan berkonversi 

kepada agama Katolik, namun  sebaliknya berharap bahwa mereka akan dikuatkan di dalam keyakinan 

mereka akan Protestantisme. 

  


321 

 

Doa ekumenis Benediktus XVI di dalam gereja Lutheran: Ia terus melangkah dengan 

bidah ekumenis yang besar 

 

Benediktus XVI di dalam doa bersama di sebuah Pertemuan Ekumenis di dalam bait Lutheran di Warsawa 

pada tanggal 25 Mei 2006 – jangan tertipu oleh salibnya yang ber-corpus; banyak gereja-gereja Lutheran 

memakai  salib ber-corpus 

Benediktus XVI, Sambutan pada Pertemuan Ekumenis di dalam gereja Lutheran di Warsawa, 25 

Mei 2006: 

“Bersama kalian saya berterima kasih atas karunia pertemuan doa bersama ini... harapan 

ekumenis kami haruslah disertai banyak doa, saling mengampuni... Kata-kata kitab Wahyu 

mengingatkan kita bahwa kita semua berada di dalam sebuah perjalanan yang menuju kepada 

pertemuan yang pasti dengan Kristus, di mana Ia akan menyingkap di depan mata kita semua arti 

dari sejarah manusia... Sebagai komunitas para murid, kita diarahkan kepada pertemuan itu, 

yang dipenuhi harapan dan kepercayaan bahwa hal ini  akan menjadi bagi kita hari 

keselamatan, hari di mana penantian kita akan terpenuhi, oleh sebab  kesiapan kita untuk 

membiarkan diri kita sendiri dipimpin oleh rasa saling mengasihi yang didorong oleh Roh-Nya di 

dalam diri kita... Perkenankanlah saya untuk mengingat sekali lagi pertemuan ekumenis yang 

terjadi di gereja ini dengan partisipasi saudara anda yang agung Yohanes Paulus II... 

“Sejak pertemuan itu [dengan Yohanes Paulus II di dalam gereja Lutheran], banyak yang berubah. 

Allah telah menganugerahkan kita untuk mengambil langkah-langkah menuju jalan untuk saling 

mengerti dan pendekatan. Perkenankan saya untuk mengingatkan anda beberapa acara 

ekumenis yang telah berlangsung di dunia pada waktu itu: penerbitan dari Surat Ensiklik Ut 

Unum Sint... penandatanganan di Augsburg Deklarasi Gabungan tentang Doktrin 

Pembenaran; pertemuan Yubileum Agung Tahun 2000 dan peringatan ekumenis dari saksi-

saksi iman abad ke-20 [martir-martir Protestan]; kelanjutan dari dialog Katolik-Ortodoks di 

tingkat dunia... penerbitan terjemahan ekumenis dari Perjanjian Baru dan Kitab Mazmur... 

Kami melihat banyak kemajuan di bidang ekumenis dan pada waktu yang sama kami selalu 

menantikan sesuatu yang lebih.”46 

ada  banyak bidah di dalam pidato yang diberikan Benediktus XVI di dalam gereja Lutheran. 

Persilakan kami untuk merangkumnya di dalam poin-poin utama. Pertama, Benediktus pergi ke bait 

Lutheran dan mengambil bagian secara aktif di dalam sebuah ibadat ‘doa bersama’ (kata-katanya) 

bersama para Lutheran, Protestan lain, dan para skismatis ‘Ortodoks’. Ini yaitu  manifestasi bidah lewat 

perbuatan – menghadiri bait Lutheran yang non-Katolik. 


322 

 

Kedua, ia menyebutkan Kedatangan Kedua Kristus, dan berkata: “kita [yaitu, ia dan para Lutheran serta 

para ‘Ortodoks’] diarahkan kepada pertemuan itu, yang dipenuhi harapan dan kepercayaan bahwa hal 

ini  akan menjadi bagi kita hari keselamatan”; dalam kata lain, para Protestan dan skismatis 

dengan siapa ia bicara akan memperoleh keselamatan. Ini benar-benar sesat. 

Ketiga, ia menyebut dirinya sendiri dan para Lutheran serta ‘Ortodoks’ sebagai satu komunitas murid-

murid: “Sebagai komunitas para murid...” Hal ini menunjukkan bahwa Benediktus XVI yaitu  bagian 

dari Gereja yang sama dengan para Lutheran dan skismatis; bahwa ia yaitu  bagian dari sebuah sekte 

non-Katolik. 

Keempat, Benediktus XVI mengingat banyak pencapaian ekumenisme sesat, termasuk Deklarasi 

Gabungan dengan Para Lutheran tentang Pembenaran yang sangat sesat dan anti Konsili Trente. Ia juga 

mengingat ‘peringatan ekumenis dari saksi-saksi iman abad ke-20’, yang merupakan peringatan para 

non-Katolik sebagai martir untuk Iman. Ia juga mengingat Ut Unum Sint, yang dipenuhi bidah, termasuk 

ide bahwa ada  santo-santa non-Katolik. Ia juga mempromosikan terjemahan ekumenis baru 

Kitab Suci. Benediktus XVI yaitu  Anti-Paus yang non-Katolik dan terang-terangan bidah. 

Benediktus XVI mendorong kepala Gereja Anglikan yang tidak sah di dalam 

‘pelayanannya’ dan berkata bahwa Sekte Anglikan berakar pada Tradisi Apostolik 

Benediktus XVI, Sambutan kepada ‘Uskup Agung Canterbury’ Anglikan, 23 November 2006: 

“yaitu  harapan kami yang besar bahwa Persatuan Anglikan tetap berakar di dalam Injil 

dan Tradisi Apostolik yang membentuk warisan kita bersama... Dunia memerlukan kesaksian 

kita... Semoga Tuhan terus memberkati kalian dan keluarga kalian, dan semoga Ia menguatkan 

anda di dalam pelayanan anda kepada Persatuan Anglikan!”47 

Sekte Anglikan tidaklah berakar di dalam Tradisi Apostolik, namun  di dalam ‘tradisi’ Henry VIII yaitu zina 

dan perpecahan skismatis dari Gereja Katolik. Benediktus XVI mendorong kepala skismatis dan bidah 

dari Sekte Anglikan di dalam ‘pelayanannya’, dan mengolok-olok semua santo-santa dan martir yang 

menderita serta wafat sebagai martir sebab  mereka tidak mau menjadi Anglikan. 

DI VATIKAN II, BENEDIKTUS II JUGA MENOLAK BAHWA PARA NON-KATOLIK HARUS 

DIKONVERSIKAN 

Benediktus XVI, Theological Highlights of Vatican II {Sorotan-Sorotan Teologis Vatikan II}, 1966, 

hal 61, 68: 

“...Sementara itu, Gereja Katolik tidak berhak untuk menyerap Gereja-gereja lain.... Suatu 

kesatuan yang mendasar – dari Gereja-Gereja yang tetap yaitu  Gereja-Gereja, yang walau 

bagaimanapun menjadi satu Gereja – harus menggantikan ide tentang konversi...”48 

Pada dasarnya, Benediktus XVI tidak sedikit pun Katolik. 

BENEDIKTUS XVI MEMUJI ‘KEBESARAN’ DARI ‘SEMANGAT ROHANI’ LUTHER 

Martin Luther yaitu  salah satu bidah terburuk di dalam sejarah Gereja. Luther menyerang Gereja 

Katolik dan dogma-dogmanya dengan ganas. Benediktus XVI tidak pernah mencela Luther sebagai 

seorang bidah, malah sering berbicara secara positif tentang pandangan-pandangan Luther dan bahkan 

memujinya. 


323 

 

Di Vatikan II, Benediktus XVI bahkan mengeluh bahwa dokumen Gaudium et Spes terlalu banyak 

mengandalkan pandangan-pandangan Teilhard de Chardin {seorang imam bidah} dan kurang 

mengandalkan pandangan-pandangan Martin Luther.49 Benediktus XVI juga dianggap menyelamatkan 

Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang Pembenaran tahun 1999, yang menyatakan bahwa 

bidah Luther tentang Pembenaran lewat iman saja (dan sebagainya) tidak lagi dikutuk oleh Konsili 

Trente. 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 263: 

“Walaupun ia memiliki banyak kekurangan, hal yang membuat Luther dapat 

dipertahankan yaitu  kebesaran semangat rohaninya...”50 

BENEDIKTUS XVI MENDUKUNG PARA METODIS UNTUK MEMASUKI DEKLARASI 

GABUNGAN DENGAN PARA LUTHERAN TENTANG PEMBENARAN YANG SANGAT SESAT, 

YANG MENOLAK KONSILI TRENTE 

Benediktus XVI, Sambutan kepada para Metodis, 9 Desember 2005: 

“Saya telah merasa terdorong oleh inisiatif yang akan membawa anggota gereja dari Dewan 

Metodis Sedunia untuk berasosiasi dengan Deklarasi Gabungan tentang Doktrin Pembenaran, 

yang ditandatangani oleh Gereja Katolik dan Federasi Lutheran Se-Dunia pada tahun 1999.”51 

Seperti yang telah dibahas, Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang Pembenaran menolak 

mentah-mentah Konsili Trente dengan mengajarkan bahwa kanon-kanonnya yang infalibel tidak lagi 

berlaku kepada para Lutheran. Benediktus XVI berpegangan kepada persetujuan Protestan ini dan 

menyatakan bahwa persetujuan ini  ditandatangani oleh ‘Gereja Katolik’. 

BENEDIKTUS XVI MEMUJI BIARA EKUMENIS NON-KATOLIK TAIZE DAN BERKATA BAHWA 

LEBIH BANYAK BIARA SEPERTI ITU HARUS DIBANGUN 

Biara ekumenis Taize terletak di Prancis. Itu yaitu  biara yang terdiri dari lebih dari seratus bruder 

dari berbagai denominasi non-Katolik, termasuk Protestan.52 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 304: 

“...Taize telah menjadi, tidak diragukan lagi, contoh utama dari insipirasi ekumenis... Komunitas-

komunitas iman yang serupa dan kehidupan bersama harus didirikan di mana-mana...”53 

Maka, menurut Benediktus XVI lebih banyak biara-biara ekumenis non-Katolik harus didirikan, menurut 

Benediktus XVI. 

  


324 

 

BENEDIKTUS XVI memberi  KOMUNI KEPADA PENDIRI PROTESTAN TAIZE 

 

Benediktus XVI memberi  Komuni kepada bidah publik, Bruder Roger Schutz, pendiri Protestan dari 

Taize54 

Benediktus XVI memberi  Komuni kepada Bruder Roger, pendiri Protestan dari komunitas Taize, pada 

tanggal 8 April 2005. Dan sewaktu Bruder Roger meninggal pada bulan Agustus 2005, Benediktus XVI 

berkata bahwa sang bidah Protestan ini  langsung pergi ke Surga. 

Benediktus XVI, 17 Agustus 2005, tentang Bruder Roger: 

“Bruder Roger Schutz [pendiri dari sekte non-Katolik] sekarang berada di dalam tangan 

kebaikan abadi, cinta abadi; ia telah sampai kepada sukacita abadi...”55 

Tidak peduli fakta bahwa Bruder Roger meninggalkan Gereja Katolik, menolak dogmanya selama 

puluhan tahun dan menjadi pendiri dari sekte non-Katoliknya sendiri. Ia tetap masuk Surga, menurut 

Benediktus XVI. Ini yaitu  bidah terang-terangan. Benediktus XVI bahkan berkata bahwa sang bidah 

Bruder Roger memandu kita dari surga. 

Benediktus XVI, Sambutan kepada para Protestan pada Hari Orang Muda Sedunia, 19 Agustus 

2005, tentang Bruder Roger: 

“Bruder Roger Schutz... Ia sekarang mengunjungi kita dan berbicara kepada kita dari 

surga.”56 

Benediktus XVI juga memuji ‘kesaksian iman’ Bruder Roger.57 Jika anda percaya bahwa Benediktus XVI 

yaitu  seorang Paus Katolik, anda sekalian saja menghadiri gereja Protestan. 

Paus St. Gregorius Agung: 

“Gereja yang kudus dan universal mengajarkan bahwa tidaklah mungkin untuk menyembah Allah 

dengan benar kecuali di dalam Dia {Gereja} dan menyatakan bahwa semua yang berada di 

luar Dia tidak akan diselamatkan.”58 


325 

 

BENEDIKTUS XVI MENGAJARKAN BAHWA ‘EKARISTI’ PROTESTAN yaitu  SEBUAH 

EKARISTI YANG MENYELAMATKAN! 

Benediktus XVI, Pilgrim Fellowship of Faith {Kerukunan Iman Peziarah}, 2002, hal. 248 

“Bahkan sebuah teologi semacam konsep suksesi [apostolik] seperti yang berlaku di 

dalam Gereja Katolik dan Ortodoks, sama sekali tidak berarti menolak kehadiran Tuhan 

yang menyelamatkan di dalam Perjamuan Makan Tuhan Evangelis.”59 

Para Protestan tidak memiliki Ekaristi yang valid. Mereka tidak memiliki uskup-uskup dan imam-imam 

yang valid, sebab  mereka tidak memiliki suksesi apostolik. namun  Benediktus XVI di atas mengatakan 

bahwa bahkan jika seseorang menerima dogma Katolik tentang suksesi apostolik, seseorang TIDAK 

SAMA SEKALI BOLEH MENOLAK KEHADIRAN TUHAN YANG MENYELAMATKAN DI DALAM ‘PERJAMUAN 

MAKAN TUHAN’ PROTESTAN EVANGELIS. Menurut Benediktus XVI, para Protestan memiliki Kehadiran 

Ekaristi yang menyelamatkan. Hal ini berarti bahwa anda bisa mendapat  kehadiran Ekaristi 

yang menyelamatkan di gereja Protestan setempat. Ini yaitu  bidah yang luar biasa. 

 

Yohanes 6:54- “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang 

kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” 

BENEDIKTUS XVI MENGAJARKAN BAHWA PROTESTANTISME (KRISTEN EVANGELIS) 

MENYELAMATKAN 

Benediktus XVI, Pilgrim Fellowship of Faith {Kerukunan Iman Peziarah}, 2002, hal. 251: 

“...pertanyaan yang berat tentang suksesi [apostolik] tidak menjauhkan dari martabat 

Kekristenan Evangelis, ataupun dari kekuatan Tuhan yang menyelamatkan yang bekerja 

di dalamnya...”60 

Ini yaitu  penolakan yang lancang akan dogma Di Luar Gereja Tidak ada  Keselamatan. Jika hal ini 

benar, sama sekali tidak ada  alasan untuk menjadi Katolik. 

Paus Gregorius XVI, Summo Iugiter Studio (#2), 27 Mei 1832:  

“Pada akhirnya beberapa orang yang sesat ini mencoba meyakinkan diri mereka sendiri dan 

orang-orang lain bahwa manusia tidak hanya diselamatkan di dalam agama Katolik, namun  

bahkan bahwa para bidah dapat mendapat  hidup kekal.”61 

BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA PROTESTANTISME BUKANLAH BIDAH 

Benediktus XVI, The Meaning of Christian Brotherhood [Makna Persaudaraan Kristiani], hal. 87-

88: “Ada kesulitan yang besar dalam cara memberi suatu jawaban. Pada akhirnya, kesulitan itu 

diakibatkan kenyataan bahwa tidak ada kategori yang layak dalam pemikiran Katolik untuk 

fenomena Protestantisme di masa kini (orang bisa mengatakan hal yang sama tentang 

hubungan dengan gereja-gereja Dunia Timur yang terpisah). Jelas adanya bahwa kategori 

‘bidah’ yang lama tidak lagi bernilai sama sekali. Bagi Kitab Suci dan Gereja perdana, bidah 

mencakup gagasan keputusan pribadi melawan kesatuan Gereja, dan ciri khas bidah 

yaitu  pertinacia, kebersikerasan orang yang bersikukuh dalam jalan pribadinya sendiri. 

Namun ini tak dapat dipandang sebagai deskripsi yang layak untuk keadaan rohaniah 

orang Kristen Protestan. Di sepanjang sejarah yang sekarang sudah berabad-abad usianya, 

Protestantisme telah membuat suatu kontribusi yang penting bagi realisasi iman Kristiani, 

memenuhi suatu fungsi positif dalam perkembangan pesan Kristiani dan, terutama, sering kali 

memunculkan iman yang tulus dan mendalam pada orang Kristen non-Katolik perorangan, 


326 

 

yang perpisahannya dari keyakinan Katolik sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan 

ciri khas pertinacia dari bidah. Kita mungkin di sini bisa membalikkan perkataan St. Agustinus: 

bahwa skisma yang lama menjadi bidah. Arus waktu sendiri mengubah sifat perpecahan, 

sehingga perpecahan yang lama yaitu  sesuatu yang pada hakikatnya berbeda dari yang baru. 

Sesuatu yang pada suatu kala secara benar dikutuk sebagai bidah tidak dapat di lalu  hari 

begitu saja menjadi benar, namun dapat secara bertahap mengembangkan kodrat gerejaninya 

sendiri yang positif, yang dengannya individu dihadirkan sebagai gereja miliknya dan yang di 

dalamnya ia hidup sebagai umat beriman, dan bukan seorang bidah. Namun demikian, organisasi 

yang terdiri dari satu kelompok ini pada akhirnya berdampak kepada keseluruhannya. Maka 

dari itu, kesimpulannya tak terelakkan: Protestantisme pada zaman ini yaitu  sesuatu 

yang berbeda dari bidah dalam makna tradisional, suatu fenomena yang kedudukan 

teologisnya belum ditentukan.”62 

Protestantisme yaitu  penolakan banyak dogma Iman Katolik. Protestantisme bukan hanya sebuah 

bidah, namun  yaitu  kumpulan bidah-bidah yang paling terkenal keburukannya, yang pernah dilawan 

oleh Gereja. 

Paus Pius XI, Rerum omnium perturbationem (#4), 26 Januari 1923:  

“...bidah-bidah yang lahir dari Reformasi [Protestan]. Kita mendapati di dalam bidah-bidah 

ini permulaan dari kemurtadan umat manusia dari Gereja, yang dampak-dampak yang 

menyedihkan serta mematikannya disayangkan, bahkan sampai masa ini, oleh semua yang 

berpikir dengan jernih.”63 

namun  Benediktus XVI mengatakan kepada kita bahwa para Protestan bukanlah bidah, dan bahwa 

Protestantisme sendiri bukanlah bidah. Ini yaitu  bukti yang tidak bisa dipungkiri bahwa Benediktus XVI 

bukan seorang Katolik, tapi benar-benar seorang bidah. Ini yaitu  salah satu bidah Benediktus XVI yang 

terburuk. 

BENEDIKTUS XVI MENUNJUKKAN SEKALI LAGI BAHWA PERSATUAN BERSAMA PARA 

PROTESTAN MENGHORMATI, BUKAN MENGONVERSIKAN, KEBERAGAMAN SUARA-SUARA 

Paus Pius XI, Wawancara dengan Radio Vatikan, 5 Agustus 2006:  

“...Para Gereja [Protestan] Evangelis. Jika saya tidak salah, di Jerman kita mendapati tiga 

komunitas yang penting: Lutheran, Reformed, dan Serikat Prusia. Juga ada  beberapa 

Gereja bebas dan di dalamnya ada  gerakan-gerakan seperti ‘Gereja yang Mengaku’, dan 

sebagainya. Oleh sebab  itu, hal ini  yaitu  kumpulan banyak suara-suara dengan 

mana kita harus berdialog, untuk mencari kesatuan sambil menghormati keberagaman 

suara-suara dengan mana kita ingin bekerjasama.”64 

Ia berkata bahwa ia mencari kesatuan dengan mereka sambil menghomati keberagaman suara-suara. Hal 

ini menggemakan sekali lagi posisinya bahwa mereka tidak perlu meninggalkan bidah-bidah mereka dan 

bahwa kesatuan bersama mereka bukanlah ‘ekumenisme berpulang’. 

BENEDIKTUS XVI BERBICARA AKAN ‘KEKAYAAN’ DARI DENOMINASI-DENOMINASI SESAT 

DAN SKISMATIS 

Paus Pius XI, Sambutan kepada Konferensi Sekretaris Persatuan-persatuan Kristiani Sedunia, 27 

Oktober 2006:  

“Selama puluhan tahun, Konferensi Sekretaris Persatuan-persatuan Kristiani Sedunia telah 

memberi  tempat bicara untuk pertemuan-pertemuan yang berhasil antara berbagai 


327 

 

Komunitas-komunitas gerejawi. Hal ini telah memungkinkan perwakilan-perwakilan mereka 

untuk membangun kepercayaan timbal balik yang diperlukan oleh upaya yang serius untuk 

membawa kekayaan berbagai tradisi Kristiani yang berbeda untuk melayani panggilan umum 

kemuridan.”65 

MELAWAN SAKRAMEN-SAKRAMEN 

Pada tahun 2001, Vatikan menyetujui sebuah dokumen dengan Gereja Asiria Skismatis Timur. Dokumen 

ini  berkata bahwa anggota-anggota Gereja Vatikan II dapat pergi ke gereja skismatis ini  dan 

menerima Komuni, dan sebaliknya. Dokumen ini  disetujui oleh Benediktus XVI. Masalah di dalam 

dokumen ini yaitu , di samping fakta bahwa para skismatis Asiria bukanlah Katolik, bahwa liturgi 

skismatis ini tidak memiliki kata-kata konsekrasi, tidak ada  ‘kata-kata institusi’. Benediktus XVI 

menyebutkan masalah ini di dalam bukunya Pilgrim Fellowship of Faith {Kerukunan Iman Peziarah}: 

Benediktus XVI, Pilgrim Fellowship of Faith {Kerukunan Iman Peziarah}, 2002, hal. 232: 

“...Kasus ini membutuhkan pelajaran-pelajaran, sebab  Anafora Addai dan Mari yang 

paling sering digunakan oleh para Asiria tidak mengikutsertakan kata-kata institusi. 

namun  kesulitan-kesulitan ini dapat diatasi...”66 

Benediktus XVI mengakui bahwa liturgi skismatis ini tidak memiliki ‘kata-kata institusi’, yang merupakan 

kata-kata konsekrasi. namun  ia tetap menyetujui penerimaan Komuni di dalam liturgi Skismatis ini yang 

tidak memiliki kata-kata konsekrasi. 

 

Benediktus XVI sampai kepada keputusan yang tidak bisa dipercaya ini sebab  ia menolak bahwa kata-

kata ini  dibutuhkan untuk sebuah konsekrasi yang sah! 

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 377: 

“ … pada hari ini kita menjadi saksi terhadap suatu integralisme [maksudnya: tradisionalisme] 

yang baru yang mungkin tampak Katolik dalam makna sempit namun  yang kenyataannya 

merusakannya sampai kepada intinya sendiri. Integralisme baru ini membuahkan suatu 

hasrat akan kecurigaan, rasa permusuhan yang asing dari semangat injil. Ada suatu obsesi 

terhadap kata-kata yang menganggap liturgi Gereja tidak valid dan dengan demikian 

menempatkan dirinya sendiri di luar Gereja. Hal yang dilupakan di sini yaitu  bahwa 

validitas liturgi terutama tidak bergantung kepada kata-kata yang spesifik, melainkan 

kepada komunitas Gereja ….”67 


328 

 

Ini benar-benar suatu penolakan penuh terhadap ajaran Katolik tentang sakramen. 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, 1439:  

“Semua sakramen ini terdiri dari tiga elemen: yakni hal-hal sebagai materi, kata-kata 

sebagai formula, dan pribadi dari pelayan yang memberi  sakramen dengan intensi untuk 

melakukan apa yang Gereja lakukan. Jika tidak ada  salah satu dari elemen-elemen ini, 

sakramen ini  tidak terlaksana.”68 

 

Fakta bahwa Benediktus XVI percaya bahwa Misa tanpa kata-kata konsekrasi valid adanya membuktikan 

bahwa ia bahkan tidak memiliki sekelumit iman Katolik pun. Ia yaitu  seorang bidah manifes yang 

melawan ajaran Gereja tentang sakramen. Dan bidah ini diulangi di dalam beberapa  bukunya. 

BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA TIDAK ada  ALASAN UNTUK MEMBAPTIS BAYI  

Benediktus XVI, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 43: 

“Konflik mengenai pembaptisan bayi mempertunjukkan betapa kita telah kehilangan arah 

sehubungan hakikat iman yang sejati, pembaptisan dan keanggotaan di dalam Gereja ... Jelas pula 

bahwa makna pembaptisan menjadi hancur manakala pembaptisan tidak lagi dipahami sebagai 

suatu rahmat penantian melainkan hanya sebagai ritus yang lengkap dalam hakikatnya sendiri. 

Manakala pembaptisan terpisah dari katekumenat, pembaptisan kehilangan raison d’être 

[alasan keberadaan] yang dimilikinya.”69 

Ini yaitu  sebuah bidah raksasa yang luar biasa dan mencengangkan! Benediktus XVI berkata bahwa 

sewaktu pembaptisan terpisah dari katekumenat – contohnya, dalam kasus pembaptisan bayi – 

pembaptisan tidak diperlukan. Pembaptisan bayi tidak bermakna maupun ataupun bertujuan, menurut 

Benediktus XVI. Inilah mengapa di dalam bukunya God and the World {Allah dan Dunia}, Benediktus XVI 

MENOLAK DAN MENCAP PEMBAPTISAN BAYI SEBAGAI “TAK TERCERAHKAN”. 

Benediktus XVI, God and the World {Allah dan Dunia} (2000), hal. 401: 

“Pertanyaan... apa yang terjadi kepada jutaan anak yang dibunuh dalam rahim ibu mereka? 

Jawaban... tentang anak-anak yang tidak dapat dibaptis sebab  mereka telah diaborsi lalu 

mendorong kita dengan desakan yang sebegitu jauh lebih kuatnya. Zaman-zaman yang 

terdahulu telah mereka suatu ajaran yang bagi saya agak tak tercerahkan. Mereka berkata 

bahwa pembaptisan mengaruniakan kita, melalui rahmat pengudusan, kemampuan untuk 

menatap Allah. Memang benar bahwa bagian yang terutama dari keadaan dosa asal, yang darinya 

kita dibebaskan oleh pembaptisan, yaitu  tiadanya rahmat pengudusan. Anak-anak yang mati 

demikian bahwasanya tidak memiliki dosa pribadi sama sekali, maka mereka tidak dapat dikirim 

masuk Neraka, namun di sisi lain, mereka tidak memiliki rahmat pengudusan dan dengan 

demikian [tidak memiliki] kemampuan untuk menatap Allah yang dikaruniakan oleh rahmat ini. 

Mereka hanya akan menikmati suatu keterberkatan kodrati, di mana mereka akan menjadi 

berbahagia. Keadaan ini disebut orang sebagai limbo. Di sepanjang abad yang kita lalui, ajaran itu 

telah secara bertahap tampak bermasalah bagi kita. Ini yaitu  salah satu cara orang 

berupaya membenarkan perlunya membaptis bayi-bayi sesegera mungkin, namun 

solusinya sendiri patut dipertanyakan.”70 

Ia berkata bahwa zaman-zaman yang terdahulu “telah mereka” (dan tidak menerima dari Kristus) ajaran 

tentang perlunya membaptis para bayi agar mereka bisa mendapat  rahmat yang menyucikan. Ia 

berkata bahwa ajaran ini “tak tercerahkan”! Ini yaitu  bidah yang sangat besar. Konsili Florence dan 


329 

 

Trente telah secara infalibel mendefinisikan bahwa Sakramen Pembaptisan diperlukan untuk 

keselamatan, dan bayi-bayi yang mati tanpa Sakramen Pembaptisan tidak dapat selamat. 

Lantas, beberapa orang mungkin bertanya-tanya mengapa Ratzinger mempraktikkan pembaptisan bayi? 

Alasannya yaitu  bahwa ia tidak melihat ada masalah dalam hal mempraktikkan dan menjalankan 

kebiasaan semacam itu, yang baginya tidak bermakna ataupun bertujuan. Demikian pula, ia 

memampangkan diri sebagai “Sri Paus” meskipun ia bahkan tidak percaya akan keutamaan yurisdiksi 

tertinggi milik para Paus, seperti yang sudah dibuktikan. Demikian pula, ia memampangkan diri sebagai 

kepala Gereja Yesus Kristus walaupun ia bahkan tidak percaya bahwa Yesus Kristus pastinya yaitu  sang 

Mesias, seperti yang telah dibuktikan. 

MELAWAN KITAB SUCI 

 

Gereja Katolik mengajarkan bahwa Kitab Suci yaitu  sabda Allah yang infalibel dan sempurna. Vatikan I 

juga menyatakan bahwa semua hal yang ada  di dalam sabda Allah yang tertulis harus dipercayai 

dengan Iman ilahi dan Katolik. 

Paus Pius IX, Vatikan I, Sesi III, Bab 3, ex cathedra: 

“Selain itu, segala hal yang termuat di dalam sabda Allah yang tertulis atau yang diwariskan 

melalui tradisi, serta segala sesuatu yang diajukan oleh Gereja sebagai hal yang diwahyukan oleh 

Allah, baik melalui keputusan khidmat maupun melalui Magisterium biasa dan universal, harus 

dipercayai dengan iman ilahi dan Katolik.”71 

namun  BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA KISAH PENCIPTAAN DI DALAM ALKITAB 

DIDASARI KISAH PENCIPTAAN PAGAN 

Benediktus XVI, A New Song for the Lord {Lagu Baru untuk Tuhan}, 1995, hal. 86: 

“Kisah-kisah penciptaan pagan yang menjadi dasar sebagian kisah Alkitab berakhir tanpa 

terkecuali dengan ditetapkannya suatu kultus, namun kultusnya pada kasus ini ada  di dalam 

siklus do ut des.”72 

Jika sebagian kisah penciptaan di dalam kitab Kejadian didasari kisah-kisah penciptaan pagan, hal ini 

berarti bahwa kisah Kitab Suci tidaklah asli dan tidak pun diilhami secara langsung oleh Allah. 

Pernyataan Benediktus XVI ini yaitu  bidah dan menunjukkan kembali bahwa ia yaitu  seseorang yang 

murtad dan tak beriman. 

Paus Leo XIII, Providentissimus Deus (#20), 18 November 1893: 

“Sebab semua kitab yang seutuhnya oleh Gereja diterima dengan sifat suci dan kanonik 

dalam seluruh bagiannya, telah ditulis atas diktat Roh Kudus; dan sebagaimana sama sekali 


330 

 

mustahil bahwa ilham ilahi disertai kesalahan, demikian pula ilham Ilahi pada hakikatnya 

memustahilkan segala kesalahan, namun juga sedemikian niscayanya memustahilkan dan 

menolak segala kesalahan, sebagaimana Allah, yang merupakan Kebenaran yang terluhur, niscaya 

sama sekali bukan pencipta kesalahan apa pun. Demikianlah iman yang kuno dan tak berubah 

milik Gereja, yang secara khidmat didefinisikan oleh Konsili Florence dan Trente, yang 

pada akhirnya diteguhkan dan dijabarkan secara lebih jelas dalam Konsili Vatikan ....”73 

BENEDIKTUS XVI MENYANGSIKAN LOH-LOH BATU DI DALAM CERITA KELUARAN 

Di dalam Keluaran 31, kita membaca bahwa Allah memberi  Musa dua loh batu yang ditulisi oleh jari 

Allah. 

Keluaran 31:18- “Dan TUHAN memberi  kepada Musa, sesudah  Ia selesai berbicara dengan dia 

di gunung Sinai, kedua loh hukum Allah, loh batu, yang ditulisi oleh jari Allah.” 

Benediktus XVI, God and the World {Allah dan Dunia}, 2000, hal. 165-166, 168: 

“Pertanyaan … Apakah hukum-hukum ini benar-benar diserahkan kepada Musa oleh Allah sewaktu 

Ia tampak di Gunung Sinai? Sebagai loh-loh batu, yang padanya, seperti ceritanya, ‘telah ditulisi jari 

Allah?’ … sejauh mana Perintah-Perintah ini diduga berasal dari Allah. … [hal. 166] Dia ini [Musa] 

yaitu  orang yang telah dijamah oleh Allah, dan atas dasar kontak yang bersahabat ini ia mampu 

merumuskan kehendak Allah, yang sejauh ini hanya terungkap secara tidak lengkap dalam 

tradisi-tradisi lainnya, sedemikian rupa sehingga kita benar-benar mendengar sabda Allah. 

Apakah dahulu benar-benar ada loh-loh batu, itu yaitu  pertanyaan yang lain … [hal. 168] 

Sejauh manakah kita harus memahami cerita ini secara harfiah yaitu  suatu pertanyaan 

yang lain.” 74 

BENEDIKTUS XVI MENGAJARKAN BAHWA PERKATAAN-PERKATAAN DI DALAM KITAB 

SUCI TIDAKLAH BENAR 

Benediktus XVI, God and the World {Allah dan Dunia}, 2000, hal. 153: 

“yaitu  suatu perkara lain, untuk memandang Kitab Suci secara keseluruhan sebagai Sabda Allah, 

di mana segala hal berkaitan dengan hal-hal yang lain, dan segalanya diungkapkan sepanjang 

waktu anda membacanya. Hal ini  [Kitab Suci] mengikuti sebuah jalan langsung yang kriteria 

ilhamnya tidak pun infalibilitasnya dapat diterapkan secara mekanis. Tidaklah mungkin untuk 

memilah-milah satu perkataan dan berkata, anda menemukan perkataan ini di dalam 

buku agung Allah, oleh sebab  itu, hal ini  pastilah benar dengan sendirinya...”75 

BENEDIKTUS XVI TENTANG EVOLUSI 

Benediktus XVI, God and the World {Allah dan Dunia}, 2000, hal. 76: 

“Pertanyaan: Pada awalnya bumi hampa dan kosong; Allah belum menurunkan hujan, itulah yang 

dikatakan dalam Kitab Kejadian. Lalu allah menciptakan manusia, dan demi itu, ia mengambil 

‘debu dari padang dan mengembuskan napas kehidupan ke dalam lubang hidungnya; demikianlah 

manusia menjadi makhluk yang hidup’. Napas kehidupan – itukah jawaban terhadap pertanyaan 

dari mana kita berasal? Jawaban. Saya kira di sini kita punya gambaran yang terpenting, yang 

menyajikan pemahaman yang signifikan tentang jati diri manusia. Gambaran ini mengajukan 

bahwa manusia yaitu  ia yang muncul dari tanah dan kemungkinan-kemungkinannya. Kita 

bahkan dapat mengartikannya sebagai suatu hal yang mirip evolusi.”76  


331 

 

Benediktus XVI, God and the World {Allah dan Dunia}, 2000, hal. 139: “Gambaran Kristiani 

tentang dunia demikian adanya, yaitu dunia dalam detail-detailnya merupakan buah 

proses evolusi yang panjang namun pada tingkatannya yang paling mendalam berasal dari sang 

Logos.”77 

 

BIDAH-BIDAH DAN KEMURTADAN BENEDIKTUS XVI DENGAN ISLAM 

Islam yaitu  suatu agama sesat yang menolak Allah Tritunggal dan Keilahian Tuhan kita. Gereja Katolik 

secara resmi mengajarkan bahwa Islam yaitu  sebuah kekejian – sebuah agama sesat yang pengikutnya 

perlu dikonversikan dan diselamatkan. 

Paus Eugenius IV, Konsili Basel, 1434: 

“...ada  harapan bahwa banyak dari pengikut sekte Mahomet yang keji akan berkonversi 

kepada iman Katolik.”78 

Paus Kalikstus III: 

“Saya bersumpah untuk...meninggikan Iman sejati, dan untuk menumpas sekte iblis dari 

Mahomet [Islam] yang terkutuk dan tidak beriman di Timur.”79 

BENEDIKTUS XVI MEMILIKI ‘RASA HORMAT YANG MENDALAM’ UNTUK AGAMA SESAT 

ISLAM 

Benediktus XVI, Audiens Umum, 20 September 2006: 

“Saya berharap bahwa di dalam berbagai keadaan pada waktu Kunjungan saya – 

contohnya, sewaktu di Munich, saya menekankan betapa pentingnya untuk menghargai hal-hal 

yang suci bagi orang-orang lain – bahwa rasa hormat saya yang mendalam untuk agama-

agama yang agung, dan terutama untuk para Muslim, yang ‘menyembah Allah...’ terlihat 

cukup jelas!”80 

Perhatikan bahwa ia memiliki ‘rasa hormat yang mendalam’ bukan hanya untuk agama sesat Islam, namun  

juga untuk agama-agama sesat lain. Ini yaitu  sebuah kemurtadan. Juga perhatikan bahwa ia 

menganggap bahwa rasa hormat untuk agama sesat itu sendiri yaitu  sama dengan untuk menghormati 

‘umat’ Muslim. Ia mengatakan hal ini  sebagai dua hal yang sama, seperti yang kita lihat. Hal ini 

penting untuk diingat sebab  Benediktus XVI sering mengatakan bahwa ia menghormati para umat 

beriman Muslim atau Muslim sebagai umat beriman. Dengan melakukan hal ini ia menghormati agama 

sesat mereka, seperti yang kita lihat terbukti secara jelas di dalam kutipan berikut. 

Benediktus XVI, Sambutan, 22 Desember 2006: 

“Kunjungan saya ke Turki memberi saya kesempatan untuk menunjukkan rasa hormat saya 

untuk Agama Islam secara publik, suatu rasa hormat yang terutama diwujudkan oleh 

Konsili Vatikan II (deklarasi Nostra Aetate #3) kepada kita sebagai sikap yang benar.”81 

Perhatikan bahwa Benediktus XVI mengakui di sini bahwa Vatikan II sendiri mengajarkan rasa hormat 

untuk agama sesat Islam. 

  


332 

 

BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA ada  ISLAM YANG MULIA 

Benediktus XVI, Salt of the Earth {Garam Dunia}, 1996, hal. 244: 

“Dan, untuk menghindari topik tentang skisma di antara para Sunni dan Syi’ah, ia {Islam] juga 

hadir di dalam berbagai bentuk. ada  Islam yang mulia, yang diwujudkan, sebagai contoh, 

oleh Raja Maroko, dan ada  pula Islam yang ekstrem dan teroris, yang, sekali lagi, tidak boleh 

disamakan dengan Islam secara keseluruhan, suatu ketidakadilan kepada agama itu.”82 

Ia berkata bahwa agama sesat itu baik. Ini yaitu  sebuah kemurtadan. 

BENEDIKTUS XVI BERKATA ISLAM MELAMBANGKAN KEAGUNGAN 

Benediktus XVI, Truth and Tolerance {Kebenaran dan Toleransi}, 2004, hal. 204: 

“Di dalam Hinduisme (yang sebetulnya yaitu  nama untuk kumpulan berbagai agama-

agama) ada  beberapa elemen-elemen yang mengagumkan – namun  juga ada  aspek-

aspek yang negatif: campur tangan dengan sistem kasta, sati [membakar diri sendiri] untuk para 

janda, yang dikembangkan dari awal yang hanyalah simbolis; cabang dari pemujaan dewi Sakti – 

semuanya ini dapat disebutkan hanya untuk memberi sedikit contoh. namun , bahkan Islam, 

dengan semua keagungan yang dilambangkannya, selalu memiliki risiko untuk kehilangan 

keseimbangan, membiarkan kekerasan terjadi dan membiarkan agama untuk jatuh ke dalam 

ibadah dan ritual semata.”83 

Ia berkata bahwa Islam, suatu agama sesat yang menolak Keilahian Yesus Kristus dan seluruh Iman 

Katolik melambangkan ‘keagungan’. Ini yaitu  kemurtadan. Islam melambangkan ketidakberimanan, 

penolakan Allah Tritunggal dan kegelapan. Menarik pula untuk dicatat bahwa sewaktu ia berbicara 

tentang ‘elemen-elemen yang mengagumkan’ di dalam Hinduisme, Benediktus XVI menyebutkan aspek-

aspek negatifnya seperti sistem kasta, dst. Ia tidak menyebutkan fakta bahwa Hinduisme menyembah 

dewa-dewi sesat dari antara aspek-aspek negatifnya. 

Benediktus XVI, Sambutan kepada Perwakilan Islam, 20 Agustus 2005: 

“Umat beriman – dan kita semua, sebagai orang-orang Kristiani dan Muslim, yaitu  umat 

beriman - ...Anda menuntun umat-umat Muslim beriman dan melatihnya di dalam iman 

Islam... Oleh sebab  itu, anda memiliki tanggung jawab yang besar untuk pembentukan 

generasi muda.”84 

Benediktus XVI, Katekesis, 24 Agustus 2005: 

“Tahun ini juga yaitu  ulang tahun ke-30 Deklarasi konsili Nostra Aetate, yang telah menuntun 

sebuah musim baru untuk dialog dan solidaritas rohani antara Yahudi dan Kristen, juga rasa 

hormat untuk berbagai tradisi rohani agung yang lain. Islam memiliki tempat yang khusus 

di antara mereka.”85 

Perhatikan bahwa Benediktus XVI bukan hanya semata-mata menghormati anggota-anggota agama-

agama sesat, namun  juga agama-agama sesatnya sendiri. Ini yaitu  kemurtadan. 

Benediktus XVI, Sambutan, 25 September 2006: 

“Saya ingin mengulangi pada hari ini, segala rasa hormat yang dalam yang saya miliki 

untuk para umat beriman Muslim, mengingat kata-kata dari Konsili Vatikan II, yang untuk 

Gereja Katolik yaitu  magna carta dari dialog Muslim-Katolik: “Gereja memandang para Muslim 

dengan rasa hormat. Mereka menyembah satu Allah yang hidup dan nyata... Pada waktu ini, 

sewaktu perjalanan rohani orang-orang Muslim bermula di dalam bulan Ramadan, saya 


333 

 

menyambut mereka semua harapan baik saya, sambil berdoa agar yang Mahakuasa boleh 

memberi  mereka hidup yang tenang dan penuh damai. Semoga Allah pencipta damai 

memenuhi anda dengan kelimpahan Berkat-Nya, bersama komunitas-komunitas yang anda 

wakili!.”86 

Benediktus XVI menghormati para umat dari sekte iblis ini; ia berkata bahwa mereka menyembah Allah; 

ia mengharapkan berkat Allah untuk mereka di dalam ‘perjalanan rohani’ Ramadan. Ini hanyalah sebuah 

kemurtadan. 

Benediktus XVI, Sambutan Angelus, 22 Oktober 2006: 

“Saya bergembira sebab  saya bisa menyampaikan sebuah salam penuh hormat kepada para 

Muslim di seluruh dunia yang sedang merayakan pada hari-hari ini berakhirnya puasa bulan 

Ramadan.”87 

BENEDIKTUS XVI MENGHORMATI PERADABAN-PERADABAN ISLAM 

Benediktus XVI, Audiens Umum, 6 Desember 2006: 

“Oleh sebab  itu saya memiliki kesempatan yang baik untuk memperbarui 

sentimen rasa hormat saya kepada para Muslim dan untuk peradaban-peradaban 

Islam.”88 

Peradaban-peradaban Islam merupakan beberapa hal yang paling jahat dan anti-Kristiani di dalam 

sejarah. Pernyataan Benediktus XVI ini, oleh sebab  itu, yaitu  sebuah kemurtadan besar-besaran. 

Benediktus XVI, Sambutan di Turki untuk Para Muslim, 28 November 2006: 

“...Saya gembira bahwa saya dapat mengungkapkan rasa hormat saya yang dalam untuk para 

Penduduk dari Negara yang besar ini dan untuk memberi  rasa hormat saya pada nisan 

pendiri Turki modern, Mustafa Kemal Ataturk... Saya menyampaikan salam saya kepada 

semua pemimpin agama di Turki, terutama kepada Mufti Agung dari Ankara dan Istanbul. Di 

dalam pribadi anda, Bapak Presiden, saya menyambut semua orang Muslim di Turki dengan 

rasa hormat yang khusus dan pandangan yang penuh kasih... Negara yang mulia ini juga telah 

menyaksikan perkembangan yang luar biasa akan peradaban Islam di dalam berbagai 

bidang yang paling beragam... ada  banyak sekali monumen Kristiani dan Islam yang 

menjadi saksi akan masa lalu Turki yang agung. Pantaslah bahwa anda berbangga diri 

akan hal-hal ini, menjaga mereka untuk kekaguman dari para pengunjung yang jumlahnya 

semakin banyak yang berkumpul di sini... Sebagai umat beriman, kita mendapat  kekuatan 

yang kita butuhkan dari doa kita untuk mengalahkan semua sisa-sisa prasangka dan untuk 

menanggung bersama kesaksian akan iman yang teguh kepada Allah.”89 

Pertama ia menyebutkan bahwa ia memberi hormat kepada nisan Ataturk yang tidak beriman. Lalu ia 

berkata bahwa ia menghormati semua orang Muslim dari Turki. Untuk menghormati sesorang yaitu  

untuk mengaguminya. Hal ini berarti bahwa ia mengagumi semua orang Muslim di Turki. Hal ini  

berarti bahwa bukan hanya ia mengagumi jutaan orang yang menolak Kristus, namun  juga bahkan para 

kriminal dari antara para Muslim di Turki, sebab  tentunya beberapa di sana. Ia lalu memuji 

‘perkembangan yang luar biasa akan peradaban Islam’, yang mengurung jutaan orang di dalam kegelapan 

dan ketidakberimanan. Ia lalu memuji monumen-monumen Muslim dari masa lalu, dan berkata bahwa 

para Muslim ‘pantas untuk berbangga diri akan hal-hal ini’. Terakhir, ia berkata bahwa sebagai ‘umat 

beriman’, para Muslim bisa mendapat  kekuatan lewat doa mereka, yang menunjukkan bahwa praktik 

Islam yaitu  benar dan sejati. Benediktus XVI yaitu  seseorang yang benar-benar murtad. 


334 

 

BENEDIKTUS XVI MENGAJARKAN BAHWA ISLAM DAN KEKRISTENAN MEMILIKI ALLAH 

YANG SAMA 

Benediktus XVI, Pilgrim Fellowship of Faith {Kerukunan Iman Peziarah}, 2002, hal. 273: 

“...Islam, pula, ... telah mewarisi dari Israel dan para umat Kristiani Allah yang sama....”90 

Islam dan Kekristenan tidak memiliki Allah yang sama. Para pengikut Islam menolak Allah Tritunggal. 

Orang-orang Kristiani menyembah Allah Tritunggal. 

BENEDIKTUS XVI BERKATA BAHWA AL-QURAN yaitu  KITAB SUCI SUATU AGAMA YANG 

AGUNG 

Benediktus XVI, pidato permintaan maaf untuk komentarnya akan Islam, September 2006: 

“Di dalam dunia muslim, sayangnya, kutipan ini telah diambil sebagai ungkapan posisi pribadi 

saya, yang oleh sebab  itu mengomporkan kemarahan yang dapat dimengerti. Saya berharap 

bahwa pembaca naskah saya dapat dengan segera melihat bahwa perkataan ini tidak 

mengungkapkan pandangan pribadi saya akan Al-Quran, yang untuknya saya memiliki rasa 

hormat kepada kitab suci suatu agama yang agung.”91 

Benediktus XVI menghormati Al-Quran sebagai sebuah kitab suci dari agama yang agung. Al-Quran 

menghujat Allah Tritunggal, menolak Keilahian Yesus Kristus, dan berkata bahwa mereka yang percaya 

kepadanya yaitu  sama seperti kotoran. Al-Quran juga berkata bahwa semua umat Kristiani terkutuk. 

Pernyataan oleh Benediktus XVI ini benar-benar merupakan sebuah kemurtadan. Kita telah membahas 

bagaimana Yohanes Paulus II mencium Al-Quran; hal ini yaitu  ciuman kepada Al-Quran di dalam kata-

kata. 

BENEDIKTUS XVI PERGI KE MESJID DAN BERDOA MENGHADAP MEKKAH SEPERTI PARA 

MUSLIM 

 


335 

 

 

Pada tanggal 30 November 2006, pada saat ia berkunjung ke Turki, Benediktus XVI melepaskan 

sepatunya dan memasuki Mesjid Biru. Ia mengikuti panduan Muslim untuk menghadap ‘Kiblat’ – 

mengarah Mekkah. Di sana, doa dimulai. Benediktus XVI berdoa seperti para Muslim menghadap Mekkah 

di dalam mesjid. Ia bahkan menyilangkan tangannya di dalam sikap doa yang disebut ‘sikap ketenangan’. 

Tindakan kemurtadan yang luar biasa ini dilaporkan dan ditunjukkan di semua media besar. Bukanlah 

sebuah hal yang dibesar-besarkan untuk mengatakan bahwa Benediktus XVI telah masuk Islam.  

Benediktus XVI “Hailed for Praying like Muslims Toward Mecca {Dielu-elukan sebab  Ia Berdoa 

seperti Para Muslim Menghadap Mekkah}.” 1 Desember 2006 – ISTANBUL (Reuters) – “Paus 

Benediktus mengakhiri kunjungannya yang sensitif untuk perbaikan hubungan di Turki 

pada hari Jumat di tengah-tengah pujian untuk mengunjungi Mesjid Biru Istanbul yang 

terkenal dan berdoa di sana menghadap Mekkah ‘seperti para Muslim.’... ‘Kunjungan Paus 

yang membuat was-was berakhir dengan kejutan yang luar biasa’, tulisan harian Aksam di 

sampul depan. ‘Di Mesjid Sultan Ahmet, ia menghadap Mekkah dan berdoa seperti orang-

orang Muslim’, harian Hurriyet yang populer berkata, dengan memakai  nama resmi 

bangunan ini ... ‘Saya melihat kunjungan Paus ke mesjid sama seperti sikap-sikap Paus 

Yohanes Paulus di Tembok Barat’, kata mediator senior Vatikan Kardinal Roger Etchegaray, 

merujuk kepada doa-doa Paus Yohanes Paulus II di Tembok Barat Yerusalem pada tahun 2000. 

‘Kemarin, Benediktus melakukan bersama para Muslim apa yang Yohanes Paulus II lakukan 

bersama para Yahudi.’”92 

Hal ini s