henti berada di semua negara dengan
pengecualian di dalam satu negara. Keterlihatan Gereja tidak mengharuskan bahwa umat atau
hierarkinya kelihatan di setiap lokasi geografis di dunia. Hal ini tidak pernah terjadi. Sederhananya,
makna dari keterlihatan Gereja yaitu umat Katolik sejati yang secara eksternal mengakui agama yang
satu dan sejati, bahkan jika jumlah mereka berkurang menjadi sangat sedikit. Para umat ini yang
mengakui secara eksternal agama yang satu dan sejati akan selalu menjadi Gereja Kristus yang sejati,
bahkan jika jumlah mereka hanya sedikit sekali.
Dan hal ini benar-benar apa yang dinubuatkan akan terjadi pada akhir dunia.
St. Atanasius: “Bahkan jika para umat Katolik yang setia terhadap tradisi berkurang jumlahnya
sampai hanya tersisa sedikit saja, merekalah Gereja sejati Yesus Kristus.”84
Tuhan kita sendiri menunjukkan bahwa Gereja akan menjadi luar biasa kecil pada akhir zaman.
Lukas 18:8: “Akan namun , jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di
bumi?”
Wahyu kepada St. Yohanes tampaknya menunjukkan hal yang sama.
Wahyu 11:1-2:
“lalu diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan
kata-kata yang berikut: ‘Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang
beribadah di dalamnya. namun kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah
engkau mengukurnya, sebab ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain...’”
Versi Haydock dari Alkitab Douay-Rheims [Terjemahan Alkitab Katolik dari bahasa Latin Vulgata ke
bahasa Inggris], sebuah kompilasi komentar-komentar Katolik tentang Kitab Suci oleh Romo Geo. Leo
Haydock, memuat komentar berikut tentang Wahyu 11:1-2:
Komentar Katolik tentang Wahyu 11:1-2, versi Haydock dari Alkitab Douay-Rheims:
“Gereja-gereja yang dikonsekrasikan kepada Allah yang sejati, sangatlah berkurang
jumlahnya, sampai gereja-gereja ini digambarkan oleh St. Yohanes sebagai satu
gereja; para pelayannya bertugas di satu mezbah; dan umat-umat sejatinysedemikian
sedikitnya, dibandingkan dengan jumlah umat manusia, sehingga sang penginjil melihat
mereka bergabung di dalam satu bait, untuk menyembah Yang Mahatinggi. – Pastorini.”85
Magisterium Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa harus ada sekian banyak uskup atau
umat beriman agar Gereja tetap ada. Selama ada paling tidak satu imam atau satu uskup dan paling
tidak beberapa umat beriman, Gereja dan hierarkinya hidup dan kelihatan. Pada masa ini ada jauh
lebih banyak dari sekelumit umat beriman yang tetap mempertahankan Iman Katolik yang tidak
berubah. Maka, argumentasi dari para lawan kami di dalam sudut pandang keterlihatan Gereja tidak
memiliki arti dan bertentangan dengan nubuat-nubuat Kitab Suci.
Di samping itu, pada saat krisis Arian, Iman sejati telah dilenyapkan dari seluruh daerah, sedemikian
rupa sehingga hampir tidak ada uskup Katolik di mana pun.
Romo William Jurgens: “Pada suatu waktu dalam sejarah Gereja, hanya beberapa tahun sebelum
berkhotbahnya Gregorius [dari Nazianzus] (380 Masehi), jumlah uskup Katolik yang memiliki
takhta, berbanding dengan uskup Arian yang memiliki takhta, kemungkinan tidak lebih besar dari
antara 1% dan 3% dari keseluruhannya. Seandainya doktrin telah ditentukan oleh
popularitas, pada hari ini kita semua akan menjadi orang-orang yang menolak Kristus dan
musuh dari Roh [Kudus].”86
Romo William Jurgens: “Pada zaman Kaisar Valens (abad ke-4), Basilius hampir menjadi
satu-satunya Uskup yang ortodoks di seluruh Dunia Timur yang berhasil
418
mempertahankan yurisdiksi takhtanya … Jika hal ini sama sekali tidak memiliki makna yang
lain bagi manusia modern, hendaknya suatu pengetahuan akan sejarah Arianisme setidak-
tidaknya membuktikan bahwa Gereja Katolik tidak memperhitungkan popularitas dan
jumlah dalam hal membentuk dan menjaga doktrin: jika tidak, sejak masa yang lampau itu,
kita akan harus meninggalkan Basilius, Hilarius, Atanasius, dan Liberius serta Ossius dan
menyebut diri kita sendiri pengikut Arius.”87
Bidah Arian ini menyebar begitu luasnya pada abad ke-4 sampai para Arian (yang menolak Keilahian
Kristus) menduduki hampir semua gereja Katolik dan tampak seperti hierarki yang legitim di mana-
mana.
St. Ambrosius (+382): “Tidak ada cukup jam di dalam satu hari bagi saya untuk
menamakan semua sekte bidah yang beragam.”88
Keadaan ini begitu buruknya sampai St. Gregorius dari Nazianzus merasa terdorong untuk
mengatakan apa yang dapat dikatakan oleh sisa umat Katolik pada hari ini.
St. Gregorius dari Nazianzus (380 Masehi), Melawan Para Arian [Against the Arians]:
“Di manakah mereka yang memandang rendah diri kita oleh sebab kemiskinan kita dan yang
mengagungkan diri mereka sendiri di dalam kekayaan mereka? Mereka yang mendefinisikan
Gereja atas dasar jumlah dan yang mencemooh kawanan domba yang kecil?”89
Periode sejarah Gereja ini, oleh sebab itu, membuktikan sebuah poin yang penting untuk zaman kita:
Jika tugas Gereja yang indefektibel untuk mengajarkan, memimpin serta menyucikan memerlukan
seorang uskup yang memimpin (yaitu yurisdiksi) dari Gereja Kristus untuk hadir dan beroperasi dari
takhta atau dioses tertentu, maka seseorang harus mengatakan bahwa Gereja Kristus telah menjadi cacat
di seluruh daerah ini di mana tidak ada uskup Katolik yang memimpin pada saat
berlangsungnya bidah Arian. namun , yaitu suatu fakta bahwa di abad ke-4, di mana para umat beriman
menjaga iman Katolik sejati, bahkan di takhta-takhta ini di mana uskupnya jatuh ke dalam
Arianisme, para sisa umat Katolik merupakan Gereja Kristus yang sejati. Di dalam sisa ini , Gereja
Katolik berada dan bertahan di dalam misinya untuk mengajarkan, memimpin dan menyucikan tanpa
seorang uskup yang memimpin, yang oleh sebab itu membuktikan bahwa indefektibilitas Gereja
Kristus dan misi untuk mengajar, memimpin dan menyucikan tidak memerlukan kehadiran
uskup yurisdiksional.
Harus dicatat pula bahwa hierarki ini dapat didefinisikan di dalam dua cara: hierarki yurisdiksional
dan hierarki gerejawi.90
Paus Pius XII, Ad Sinarum gentum (#13), 7 Oktober 1954:
“Di samping itu – seperti yang telah ditetapkan secara ilahi – kekuatan tahbisan (yang olehnya
hierarki gerejawi terdiri dari uskup, imam, dan pelayan) berasal dari penerimaan
Sakramen Imamat.”91
Hanya mereka yang memiliki yurisdiksi biasalah (yaitu, yurisdiksi yang melekat kepada sebuah jabatan)
yang merupakan hierarki yurisdiksional. Semua imam Katolik yang valid, di sisi lain, merupakan bagian-
bagian dari hierarki gerejawi. yaitu suatu kemungkinan bahwa selama hierarki gerejawi bertahan,
hierarki tetap ada.
Para non-sedevakantis yang menolak hal ini tidak dapat menunjuk kepada satu uskup Katolik sejati yang
memiliki yurisdiksi biasa. Kepada siapakah mereka akan menunjuk? Apakah mereka akan menunjuk
419
kepada “Uskup” Bruskewitz, yang melakukan Perjamuan Malam Seder antaragama dengan sekelompok
rabbi di dalam katedralnya pada Pekan Suci?92 Apakah mereka akan menunjuk kepada “Kardinal”
Mahony atau “Kardinal” Keeler?
Jika benar bahwa harus ada satu uskup dengan yurisdiksi biasa di suatu tempat (yang merupakan
sesuatu yang belum pernah terbukti), maka uskup itu ada di suatu tempat. namun hal ini tidak
mengubah fakta bahwa Benediktus XVI dan para uskupnya yang murtad tidak Katolik dan oleh sebab itu
bukanlah bagian dari hierarki. Tidak ada argumen untuk melawan suatu fakta; melawan fakta ini,
tidak ada suatu argumen.
Akhirnya, dan poin yang paling penting, sekte Vatikan II menolak Gereja Katolik yang kelihatan, yang
oleh sebab itu kembali membuktikan bahwa Vatikan II bukanlah Gereja Katolik yang kelihatan!
Dokumen Vatikan II, Unitatis Redintegratio (#1):
“namun hampir semua, walaupun di dalam cara-cara yang berbeda, menantikan Gereja Allah yang
satu dan kelihatan, Gereja yang sungguhlah universal yang misinya yaitu untuk mengonversikan
seluruh dunia kepada injil, agar dunia dapat diselamatkan, kepada kemuliaan Allah.”93
Ingat pernyataan yang satu ini? Pada permulaan dari Dekretnya tentang Ekumenisme, Vatikan II
mengajarkan bahwa hampir semua orang menantikan Gereja yang sungguh universal dan kelihatan yang
misinya yaitu untuk mengonversikan seluruh dunia kepada Injil. Sekali lagi, untuk mereka yang
meragukan bahwa Vatikan II di sini menolak bahwa Gereja Katolik berada, kami akan mengutip
interpretasi Anti-Paus Yohanes Paulus II sendiri tentang wacana ini:
Yohanes Paulus II, Homili, 5 Des. 1996, berbicara tentang doa dengan orang-orang non-Katolik:
“Sewaktu kita berdoa bersama, kita melakukannya dengan menantikan ‘bahwa akan ada
Gereja Allah yang satu dan kelihatan, sebuah Gereja yang sungguh universal dan diutus ke
seluruh dunia supaya dunia dapat berkonversi kepada Injil dan oleh sebab itu diselamatkan,
untuk kemuliaan Allah.’ (Unitatis Redintegratio, 1).”
Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#7), 27 Mei 1995:
“namun hampir semua, walaupun di dalam cara-cara yang berbeda, menantikan Gereja
Allah yang satu dan kelihatan, Gereja yang sungguhlah universal yang misinya yaitu untuk
mengonversikan seluruh dunia kepada injil, agar dunia dapat diselamatkan, kepada kemuliaan
Allah (dokumen Vatikan II Unitatis Redintegratio, 1).”94
Maka, jika anda menerima ajaran Gereja yang kelihatan, anda memiliki satu alasan lagi untuk menolak
sekte Vatikan II dan para Anti-Pausnya.
Di samping hal ini, ide tentang Gereja yang tidak kelihatan – yang diajarkan oleh sekte Vatikan II – telah
dikutuk paling tidak tiga kali: Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#3), 29 Juni 1896;95 Paus Pius XI, Mortalium
Animos (#10), 6 Januari 1928;96 Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi (#64), 29 Juni 1943.97
Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#3), 29 Juni 1896:
“‘Kalian yaitu tubuh Kristus’. sebab Gereja yaitu satu tubuh, Gereja kelihatan oleh mata…
Oleh sebab itu, banyak orang berada di dalam kesesatan yang besar dan berbahaya,
yakni mereka yang membuat Gereja sekehendak angan-angan mereka dan
membayangkan bahwa Gereja itu tersembunyi dan sama sekali tidak kelihatan…”98
Terlebih lagi, berikut yaitu sebuah kutipan yang menarik dari krisis Kontroversi Penobatan (1075-
1122). Di saat krisis ini, Raja Jerman yang jahat, Henry IV, menobatkan seorang Anti-Paus (yang
420
didukung banyak uskup-uskup Jerman). Henry juga menunjuk uskup-uskupnya sendiri yang juga tunduk
kepada sang Anti-Paus. Hasilnya yaitu dua uskup di kebanyakan dioses dan kebingungan yang
besar.
The Catholic Encyclopedia [Ensiklopedia Katolik], Vol. 8, 1910, “Investitures {Penobatan},” hal. 86:
“Lalu ada kebingungan di segala sisi... Banyak dioses memiliki dua okupan. Kedua partai
menyebut para saingan mereka pendusta dan pengkhianat...”99
Poinnya yaitu : walaupun kita sekarang menghadapi suatu kemurtadan yang tidak pernah terjadi
sebelumnya, Gereja telah menghadapi masa-masa yang membingungkan sebelumnya, termasuk masa-
masa di mana hierarki yang sejati tidak dapat dipastikan dengan mudah.
Penolakan 16): Para Paus Vatikan II belum mengajarkan bidah secara terang-
terangan, sebab pernyataan-pernyataan mereka ambigu dan memerlukan
komentar.
Chris Ferrara, Catholic Family News, “Opposing the Sedevacantist Enterprise, Part II” {“Melawan
Kelompok Sedevakantis, Bagian II”}, Oktober 2005, hal. 8:
“namun , suatu hal yang terang-terangan – yaitu polos, nyata, jelas, kentara dan tidak dapat
diragukan – tidak memerlukan penjelasan. Bahwa sesuatu tidak memerlukan penjelasan
membuat hal ini terang-terangan. Maka sebelum Kelompok {Sedevakantis} itu bahkan
dapat meraih base pertama, Kelompok itu harus menunjukkan kepada kita bukan hanya semata-
mata pernyataan-pernyataan Paus yang dibuat secara terbuka, namun pernyataan-pernyataan
yang apa yang disebut-sebut sebagai bidahnya tidak memerlukan penjelasan. Kata-kata Sri Paus
itu sendiri – bukan interpretasi-interpretasi sedevakantis tentang kata-kata ini –
harus menunjukkan bidah.
“Jika seorang Paus menyatakan kepada seluruh Gereja di dalam dokumen atau pernyataan
publik tertentu ‘Tidak ada Allah Tritunggal Mahakudus. Hanya ada Allah
Pencipta, seperti yang dipercayai para Muslim!’, bidahnya akan menjadi terang-terangan
di dalam arti yang penuh dan benar dari kata ini .”100
Jawaban: Orang yang membuat penolakan ini, Chris Ferrara, seperti biasanya, sama sekali salah. Pertama,
ada banyak sekali contoh bidah terang-terangan dari para Anti-Paus pasca-konsili Vatikan II yang
tidak memerlukan penjelasan atau komentar, seperti yang kita telah lihat. Kedua, otoritas Kepausan
mengajarkan kita bahwa bidah-bidah tertentu memang memerlukan penjelasan, penelaahan yang
mendalam dan analisis untuk membongkar dan mengutuknya seperti yang kita akan lihat.
Sebelum kami menguraikan tentang kedua poin ini , sang pembaca perlu mencermati contoh bidah
yang diberikan oleh Ferrara. Contoh bidah yang diberikan oleh Ferrara: “Tidak ada Allah Tritunggal
Mahakudus.” Menurut Ferrara, pernyataan ini yaitu suatu contoh yang tidak terpungkiri dari bidah
terang-terangan. Ia memang benar sewaktu ia berkata bahwa pernyataan ini yaitu bidah, namun
perhatikan bahwa di dalam contoh ini kita tidak menghadapi penolakan yang persis kata demi kata
dari definisi dogmatis. Sejauh yang kami ketahui, tidak ada definisi dogmatis tentang Allah
Tritunggal Mahakudus yang menyatakan “ada Allah Tritunggal Mahakudus.” ada definisi-
definisi seperti berikut:
421
Paus Gregorius X, Konsili Lyon II, 1274, ex cathedra:
“Kami percaya bahwa Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus,
yaitu satu Allah yang mahakuasa...”101
Tentunya, orang-orang Katolik segera mengakui bahwa pernyataan “Tidak ada Allah Tritunggal
Mahakudus” setara dengan penolakan secara langsung terhadap definisi dogmatis ini, walaupun
pernyataan ini tidak menolak definisi dogmatis itu kata demi kata. Maka, dengan memberi
contoh bidahnya yang satu itu – satu contoh yang Ferrara mungkin ciptakan sebab ia merasa percaya
diri bahwa para sedevakantis tidak dapat menemukan bidah yang sepadan tentang Allah Tritunggal
Mahakudus dari Benediktus XVI – Ferrara membuktikan poin kami: pernyataan-pernyataan yang
setara dengan sebuah penolakan secara langsung terhadap dogma, walaupun pernyataan-
pernyataan ini tidak menolak definisi dogma kata demi kata, yaitu contoh-contoh dari
bidah terang-terangan.
Maka, layaknya para Katolik segera mengakui bahwa pernyataan “Tidak ada Allah Tritunggal
Mahakudus” yaitu bidah terang-terangan, walaupun tidak ada dogma yang menyatakan yang
bertentangan kata demi kata, demikian pula mereka langsung mengakui bahwa pernyataan Benediktus
XVI bahwa Protestantisme bukanlah bidah yaitu , tentunya, penolakan secara langsung terhadap
dogma-dogma Katolik yang mengutuk ajaran-ajaran Protestan sebagai bidah. Terima kasih untuk
membuktikan poin kami kembali, Tuan Ferrara.
Kami sekarang akan mengutip lebih dari 10 pernyataan dari Benediktus XVI (dan satu dari Yohanes
Paulus II) dan tidak memberi komentar apa pun. Semua orang yang tulus dan jujur akan melihat
bahwa pernyataan-pernyataan ini setara dengan penolakan secara langsung terhadap dogma Katolik
tanpa perlu suatu analisis.
‘Kardinal’ Joseph Ratzinger, The Meaning of Christian Brotherhood [Makna Persaudaraan
Kristiani], hal. 87-88: “Ada kesulitan yang besar dalam cara memberi suatu jawaban. Pada
akhirnya, kesulitan itu diakibatkan kenyataan bahwa tidak ada kategori yang layak dalam
pemikiran Katolik untuk fenomena Protestantisme di masa kini (orang bisa mengatakan hal
yang sama tentang hubungan dengan gereja-gereja Dunia Timur yang terpisah). Jelas adanya
bahwa kategori ‘bidah’ yang lama tidak lagi bernilai sama sekali … Protestantisme telah
membuat suatu kontribusi yang penting bagi realisasi iman Kristiani, memenuhi suatu
fungsi positif dalam perkembangan pesan Kristiani ... Maka dari itu, kesimpulannya tak
terelakkan: Protestantisme pada zaman ini yaitu sesuatu yang berbeda dari bidah dalam
makna tradisional, suatu fenomena yang kedudukan teologisnya belum ditentukan.”102
Kami tidak perlu berkomentar.
Joseph Ratzinger, Theological Highlights of Vatican II {Sorotan-Sorotan Teologis Vatikan II}, hal.
61, 68: “...Sementara itu, Gereja Katolik tidak berhak untuk menyerap Gereja-gereja lain.
Gereja belum mempersiapkan untuk gereja-gereja lain ini suatu tempat yang akan mereka
duduki, namun mereka secara sah berhak mendapat tempat ini ... Suatu kesatuan yang
mendasar – dari Gereja-Gereja yang tetap yaitu Gereja-Gereja, yang walau bagaimanapun
menjadi satu Gereja – harus menggantikan ide tentang konversi, walapun konversi
mempertahankan maknanya bagi mereka yang terdorong dalam hati nurani untuk
melaksanakannya...”103
Kami tidak perlu berkomentar.
422
“Kardinal” Ratzinger, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal.
197-198: “Dengan latar belakang ini, kita sekarang dapat mempertimbangkan kemungkinan-
kemungkinan yang terbuka bagi ekumenisme Kristiani. Pertama-tama kita melihat tuntutan-
tuntutan maksimum yang sudah pasti akan menggagalkan upaya untuk mencapai kesatuan. Dari
pihak [Gereja] Barat, tuntutan maksimumnya yaitu agar [Gereja] Timur mengakui
keutamaan Uskup Roma seturut cakupan penuh dari definisi tahun 1870, dan dengan
demikian, tunduk secara praktik, kepada suatu keutamaan sebagaimana yang telah diterima oleh
Gereja-Gereja Uniat. Dari pihak [Gereja] Timur, tuntutan maksimumnya yaitu agar [Gereja]
Barat menyatakan doktrin tahun 1870 tentang Keutamaan sebagai suatu kesalahan dan dengan
demikian tunduk, secara praktik, kepada suatu keutamaan sebagaimana yang telah diterima
dengan penghapusan Filioque dari Syahadat dan termasuk dogma-dogma tentang Maria di abad
kesembilan belas dan kedua puluh. Sehubungan dengan Protestantisme, tuntutan maksimum
dari Gereja Katolik yaitu agar para pelayan gerejawi Protestan dianggap sama sekali
tidak valid dan agar orang-orang Protestan berkonversi kepada Katolisisme ... tidak
satu pun dari solusi-solusi maksimum ini menawarkan harapan
yang nyata untuk kesatuan.”104
Kami tidak perlu berkomentar.
“Kardinal” Joseph Ratzinger, God and the World {Allah dan Dunia}, 2000, hal. 209:
“Tentu saja seseorang dapat membaca Perjanjian Lama dengan cara yang tidak tertuju
kepada Kristus; Perjanjian Lama tidak menunjuk kepada Kristus secara amat tidak
ambigu. Dan jika para Yahudi tidak dapat melihat bahwa janji-janji Perjanjian Lama
ditepati dalam diri-Nya, hal ini bukanlah sekadar akibat kehendak buruk dari pihak
orang-orang Yahudi, namun sungguh disebabkan oleh ketidakjelasan teks-teksnya dan
ketegangan dalam hubungan antara teks-teks ini dan sosok Yesus. Yesus
memberi suatu makna yang baru kepada teks-teks ini – bagaimanapun Ialah
yang pertama kali memberi teks-teks ini koherensi, relevansi, dan bobot yang
tepat. Oleh sebab itu, sungguh ada alasan-alasan yang baik untuk menyangkal bahwa
Perjanjian Lama mengacu kepada Kristus dan untuk berkata, Tidak, Ia tidak berkata
demikian. Dan juga ada alasan-alasan yang baik untuk mengacukan Perjanjian Lama
kepada-Nya - itulah apa yang dipertentangkan oleh orang-orang Yahudi dan Kristiani.”105
Kami tidak perlu berkomentar.
“Kardinal” Ratzinger, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal.
377: “...ada sebuah obsesi akan kata-kata, yang memandang liturgi Gereja sebagai
tidak sah dan oleh sebab itu menempatkan dirinya sendiri di luar Gereja. Di sini, telah
dilupakan bahwa keabsahan liturgi bergantung pertama-tama, bukan kepada kata-kata
yang spesifik, melainkan kepada komunitas Gereja...”106
Kami tidak perlu berkomentar.
“Kardinal” Ratzinger, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal.
202: “Hal ini berarti bahwa sang Katolik tidak menuntut penghapusan keyakinan-
keyakinan Protestan dan penghancuran gereja-gereja mereka, namun berharap agar mereka
akan dikuatkan di dalam keyakinan-keyakinan mereka dan di dalam kenyataan gerejawi
mereka.”
Kami tidak perlu berkomentar.
Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#84), 25 Mei 1995:
“...[Berbicara tentang ‘Gereja-gereja’ non-Katolik] Santo-santa ini datang dari semua Gereja
dan Komunitas Gerejawi YANG memberi KEPADA MEREKA JALAN MASUK KEPADA
PERSEKUTUAN KESELAMATAN.”108
Kami tidak perlu berkomentar.
“Kardinal” Joseph Ratzinger, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik},
1982, hal. 381: “Jika suatu diagnosis secara keseluruhan tentang teks itu [dokumen Vatikan
II, Gaudium et Spes] dikehendaki, kita mungkin berkata bahwa (bersama teks tentang
kebebasan beragama dan agama-agama dunia), teks itu yaitu suatu revisi terhadap
Silabus Pius IX, semacam kontra-silabus ... Akibatnya, kesatusisian posisi yang dipegang
oleh Gereja di bawah Pius IX dan Pius X sebagai tanggapan terhadap situasi yang
diciptakan oleh fase sejarah yang baru yang dimulai oleh Revolusi Prancis, telah, dalam
skala yang besar, dikoreksi terutama di Eropa Tengah, namun masih belum ada pernyataan
mendasar akan hubungan yang harus berada di antara Gereja dan dunia yang telah dihasilkan
sesudah tahun 1789 ....”109
Kami tidak perlu berkomentar.
“Kardinal” Joseph Ratzinger, Co-Workers of the Truth {Rekan-rekan Kerja Kebenaran}, 1990, hal.
217: “Pertanyaan yang benar-benar meresahkan kita, pertanyaan yang sungguh menekan
diri kita, yaitu mengapa kita diwajibkan terutama untuk mempraktikkan Iman Kristiani
di dalam totalitasnya; mengapa, sewaktu ada banyak sekali cara-cara lain yang
menuntun ke Surga dan keselamatan, kita harus diwajibkan untuk menanggung hari demi hari
seluruh beban dogma-dogma gerejawi dan etos-etos gerejawi. Dan lalu kita kembali sampai
kepada pertanyaan ini : Apakah itu sebenarnya realitas Kristiani? Apakah elemen yang
spesifik di dalam Kekristenan yang bukan hanya membenarkannya, namun membuatnya
diwajibkan untuk kita? Sewaktu kita mempertanyakan fondasi dan arti dari keberadaan
Kristiani kita, terselisip suatu keinginan palsu tertentu untuk kehidupan orang-orang lain
yang tampaknya lebih nyaman yang juga akan masuk Surga. Kita sedemikian serupanya
dengan para pekerja dari jam pertama di dalam perumpamaan pekerja-pekerja di dalam kebun
anggur (Mt. 20:1-16). Sewaktu mereka menyadari bahwa mereka seharusnya dapat memperoleh
upah harian satu denarius mereka dengan suatu cara yang jauh lebih mudah, mereka tidak dapat
mengerti mengapa mereka harus bekerja seluruh hari. namun betapa anehnya sikap ini
yang menemukan bahwa tanggung jawab hidup Kristiani kita tidak bernilai hanya sebab
denarius keselamatan dapat diperoleh tanpa tanggung jawab hidup Kristiani ini !
Mungkin tampak bahwa kita – bagaikan para pekerja dari jam pertama – ingin dibayar bukan
hanya dengan keselamatan kita, namun lebih khususnya dengan ketidakberpunyaan orang lain
akan keselamatan. Pandangan ini benar-benar sangat manusiawi dan sangat tidak
Kristiani.”110
Kami tidak perlu berkomentar.
“Kardinal” Joseph Ratzinger, Co-Workers of the Truth {Rekan-rekan Kerja Kebenaran}, 1990, hal.
29: “Untuk meminjam pernyataan Congar yang kuat, yaitu sesuatu yang bodoh dan bejat
untuk mengidentifikasikan keefektifan Roh Kudus di dalam karya alat gerejawi. Hal ini
berarti bahwa bahkan di dalam kepercayaan Katolik, kesatuan Gereja masih berada di
424
dalam proses pembentukan; hal ini hanya akan terbentuk secara total pada eskaton
[akhir zaman], seperti halnya rahmat tidak akan disempurnakan sampai efek-efeknya menjadi
kelihatan – walaupun komunitas Allah telah mulai menjadi kelihatan.”111
Kami tidak perlu berkomentar.
“Kardinal” Joseph Ratzinger, Introduction to Christianity {Perkenalan akan Kekristenan}, 2004, hal.
349: “Sekarang telah menjadi jelas bahwa makna sejati dari iman akan kebangkitan sama
sekali bukan ide akan pemulihan badan, yang kita telah sederhanakan di dalam pikiran kita;
demikianlah adanya walaupun inilah gambaran ilustrasi yang digunakan di sepanjang Kitab
Suci.”112
Kami tidak perlu berkomentar.
The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible {Orang-orang Yahudi dan Kitab
Suci Mereka di dalam Kitab Suci Kristiani}, Bagian II, A, Pembukaan oleh Benediktus XVI:
“Penantian Mesianik orang-orang Yahudi tidaklah sia-sia... untuk membaca Kitab Suci seperti
di dalam agama Yahudi memang secara pasti melibatkan suatu penerimaan yang implisit
terhadap segala persyaratannya... yang meniadakan iman akan Yesus sebagai Mesias dan
Anak Allah... Orang-orang Kristiani dapat dan harus mengakui bahwa Pembacaan Kitab
Suci dengan cara Yahudi yaitu hal yang mungkin dilakukan...”113
ada banyak pernyataan yang lain, namun pernyataan-pernyataan ini merupakan lebih dari sepuluh
contoh tentang bidah terang-terangan yang setara dengan penolakan secara langsung terhadap dogma
Katolik tanpa perlu ada komentar.
CHRIS FERRARA VS. PAUS PIUS VI TENTANG AMBIGUITAS DI DALAM BIDAH = SEBUAH KNOCKOUT
UNTUK PAUS PIUS VI
Di samping fakta bahwa ada bidah-bidah terang-terangan yang tidak perlu dikomentari dari para
Anti-Paus Vatikan II, seperti yang kita telah lihat di atas, YANG BENAR-BENAR MENGHANCURKAN
POIN FERRARA yaitu fakta bahwa Paus Pius VI mengajarkan hal yang benar-benar bertentangan
dengan Ferrara tentang bidah dan ambiguitas!
Paus Pius VI menyatakan bahwa para bidah, seperti Nestorius, telah selalu menyamarkan bidah-
bidah dan kesalahan-kesalahan doktrin mereka di dalam kontradiksi diri dan ambiguitas!
Paus Pius VI, mengutuki Sinode Pistoia, Bulla “Auctorem fidei,” 28 Agustus 1794:
“[Doktor-Doktor {Gereja} Kuno] mengenali kemampuan para inovator dalam seni
penipuan. Agar tidak mengejutkan telinga-telinga para Katolik, mereka mencoba untuk
menyembunyikan kelicikan-kelicikan dari muslihat mereka yang berliku-liku dengan
memakai kata-kata yang kelihatannya tidak berbahaya yang sedemikian rupa sehingga
membuat mereka mampu menyisipkan kesesatan ke dalam jiwa-jiwa dengan cara yang paling
halus. Sekalinya kebenaran ini dikompromikan, mereka dapat, dengan memakai
perubahan-perubahan kecil atau tambahan-tambahan dalam susunan kata, menyesatkan
pengakuan iman yang diperlukan demi keselamatan kita, dan menuntun para umat beriman
lewat kesesatan-kesesatan yang licin ke dalam kebinasaan kekal. Cara menyembunyikan dan
berbohong ini sangatlah berbahaya, terlepas keadaan-keadaan di mana cara ini digunakan.
Untuk alasan-alasan yang amat baik, cara ini tidak pernah boleh ditolerir di dalam suatu
425
Sinode yang kemuliaan utamanya yaitu , di atas segala hal, untuk mengajarkan kebenaran
dengan jelas dan mengenyahkan segala bahaya kesalahan.”
“Di samping itu, jika semua ini yaitu dosa, cara ini tidak boleh dibenarkan sewaktu
seseorang melihatnya dilakukan – di bawah dalih bahwa pernyataan-pernyataan yang
kelihatannya mengejutkan di satu tempat diajukan lebih lanjut di antara pernyataan-
pernyataan yang ortodoks di tempat lain; dan bahkan jika di tempat-tempat yang lain
[pernyataan-pernyataan mengejutkan ini ] dikoreksi; seolah-olah memperkenankan
kemungkinan baik untuk menyetujui atau menolak pernyataan ini , atau untuk
menyerahkan pernyataan ini kepada kecenderungan-kecenderungan pribadi dari
individu- demikianlah metode yang tidak jujur dan lancang yang telah selalu digunakan
oleh para inovator untuk menegakkan kesalahan. Metode ini memperkenankan
kemungkinan untuk memajukan kesalahan dan membenarkannya.”
“Seolah-olah para inovator mengaku-aku bahwa mereka selalu bermaksud untuk mengajukan
tulisan-tulisan yang alternatif, terutama kepada mereka yang beriman secara sederhana yang
pada akhirnya hanya mengenali beberapa bagian dari kesimpulan-kesimpulan diskusi-diskusi
ini yang diterbitkan di dalam bahasa umum untuk penggunaan oleh semua orang. Atau,
kembali lagi, seolah-olah para umat beriman yang sama ini memiliki kemampuan untuk
menelaah dokumen-dokumen semacam itu untuk menghakimi masalah-masalah ini untuk
diri mereka sendiri tanpa menjadi bingung dan menghindari sama sekali risiko kesesatan.
Teknik ini yaitu suatu teknik yang paling tercela untuk menyusupkan kesalahan-
kesalahan doktrin, dan suatu teknik yang dahulu kala dikutuk oleh Pendahulu Kami, Santo
Selestinus, yang menemukan penggunaannya di dalam karya tulis Nestorius, Uskup
Konstantinopel, dan yang disingkapnya demi mengutuknya dengan hukuman yang paling
besar yang mungkin dijatuhkan. Sekalinya karya tulis ini ditelaah dengan berhati-
hati, sang penipu tersingkap dan menjadi kebingungan, sebab ia menjelaskan dirinya
sendiri dengan kata-kata yang begitu banyak, menyelang-selingi hal-hal yang benar
dengan hal-hal lain yang tidak jelas, terkadang mencampuradukkan yang satu dengan
yang lain sedemikian rupa sehingga ia juga dapat mengiyakan hal-hal yang bahkan
ditolaknya, sembari, pada waktu yang bersamaan, memiliki dasar untuk menolak kata-
kata yang sama yang ia akui.”
“Untuk menyingkap jebakan-jebakan yang demikian, suatu hal yang menjadi diperlukan
dengan kekerapan tertentu di setiap abad, tiada suatu metode lain pun yang dibutuhkan
selain metode berikut: MANAKALA DIBUTUHKAN UNTUK MENYINGKAP PERNYATAN-
PERNYATAAN YANG MENYEMBUNYIKAN KESALAHAN TERTENTU YANG DICURIGAI ATAU
BAHAYA YANG DISELUBUNGI OLEH AMBIGUITAS, SESEORANG HARUS MENCELA
MAKNANYA YANG SESAT YANG MENYAMARKAN KESALAHAN YANG BERLAWANAN
DENGAN KEBENARAN KATOLIK.”
Paus Pius VI mengajarkan bahwa jika seseorang menyelubungi bidah di dalam ambiguitas, seperti yang
telah dilakukan oleh para bidah di sepanjang masa, seorang Katolik harus membuat sang bidah
bertanggung jawab atas makna bidahnya dan mencela makna bidah ini yang diselubungi oleh
ambiguitas! Hal ini sendiri menghancurkan seluruh rangkaian artikel dan penolakan Chris
Ferrara terhadap sedevakantisme. (Juga, mohon mencatat suatu perbedaan yang penting: kami tidak
menyatakan bahwa dokumen-dokumen atau pernyataan-pernyataan yang semata-mata ambigu, namun
yang tidak mengajarkan kontradiksi doktrin yang jelas terhadap Iman Katolik, yaitu bidah; tidak, kami
menyatakan bersama Paus Pius VI bahwa dokumen-dokumen yang mengandung pernyataan-pernyataan
426
bidah atau pendapat-pendapat yang jelas-jelas menentang dogma Katolik (‘pernyataan-pernyataan yang
mengejutkan”, menurut Pius VI) namun yang juga mengandung kontradiksi diri dan ambiguitas bersama
dengan pernyataan-pernyataan bidah ini , tetap yaitu bidah terlepas ambiguitas dan kontradiksi
diri yang menyertai bidah ini . Suatu contoh yaitu seseorang yang mengaku-aku “Katolik” yang
terus-menerus mendukung aborsi, namun yang terkadang berkata bahwa ia menerima ajaran Gereja
tentang aborsi. Orang ini yaitu bidah terang-terangan, walaupun kontradiksi dirinya dan ambiguitas
yang tersirat dari dari posisinya. Suatu contoh lain yaitu seorang pria yang berkata bahwa kita tidak
boleh mengonversikan para Protestan (suatu bidah terang-terangan), namun yang juga menyatakan
bahwa Gereja Katolik sendiri yaitu kepenuhan dari Iman Kristiani yang harus dipeluk oleh semua
orang. Ia yaitu seorang bidah terang-terangan, terlepas fakta bahwa pernyataan-pernyataannya yang
selanjutnya {bahwa Gereja Katolik yaitu kepenuhan dari Iman Kristiani} kelihatannya bertentangan
dengan pernyataan yang sebelumnya. Para bidah sangatlah tidak jujur dan pembohong, maka mereka
sering mencoba untuk menentang atau mengurangi keofensifan bidah-bidah mereka lewat taktik yang
licin yaitu kontradiksi diri dan ambiguitas yang menyertainya; itulah poin dari Paus Pius VI.)
Perhatikan betapa Chris Ferrara menentang secara langsung ajaran Paus Pius VI.
Chris Ferrara, Catholic Family News, “Opposing the
Sedevacantist Enterprise {“Melawan Kelompok
Sedevakantis, Bagian II”}, Oktober 2005, hal. 25:
“Maka, kita menghadapi sebuah dokumen
[Dignitatis Humanae dari Vatikan II] yang
tampaknya mengandung kontradiksi diri, yang
kelihatanya berasal dari upaya Konsili untuk
menyenangkan kedua fraksi konservatif dan liberal
dari antara Bapa-bapa Konsili. Suatu dokumen
yang menentang dirinya sendiri sebab tampak
mendukung dan menentang ajaran tradisional
pada waktu yang bersamaan hampir tidak bisa
dikatakan sebagai mengandung kontradiksi
terang-terangan terhadap ajaran tradisional...
sebab masalah yang kita hadapi yaitu
ambiguitas, ketidakkonsistenan internal, dan
pembaruan...”
Paus Pius VI: “Di samping itu, jika semua ini yaitu
dosa, cara ini tidak boleh dibenarkan
sewaktu seseorang melihatnya dilakukan – di
bawah dalih bahwa pernyataan-pernyataan
yang kelihatannya mengejutkan di satu tempat
diajukan lebih lanjut di antara pernyataan-
pernyataan yang ortodoks di tempat lain; dan
bahkan jika di tempat-tempat yang lain
[pernyataan-pernyataan mengejutkan
ini ] dikoreksi; seolah-olah
memperkenankan kemungkinan baik untuk
menyetujui atau menolak pernyataan ini ,
atau untuk menyerahkan pernyataan ini
kepada kecenderungan-kecenderungan pribadi
dari individu- demikianlah metode yang tidak
jujur dan lancang yang telah selalu digunakan
oleh para inovator untuk menegakkan
kesalahan. Metode ini memperkenankan
kemungkinan untuk memajukan kesalahan dan
membenarkannya.
“Teknik ini yaitu suatu teknik yang paling
tercela untuk menyusupkan kesalahan-kesalahan
doktrin, dan suatu teknik yang dahulu kala dikutuk
oleh Pendahulu Kami, Santo Selestinus, yang
menemukan penggunaannya di dalam karya
tulis Nestorius, Uskup Konstantinopel, dan
yang disingkapnya demi mengutuknya dengan
hukuman yang paling besar yang mungkin
dijatuhkan...”
Tentunya, Paus Pius VI benar dan Chris Ferrara sama sekali salah. Perhatikan bahwa Pius VI juga berkata
bahwa beberapa dari kesalahan-kesalahan doktrin ini (yang juga yaitu bidah dalam kasus ini,
427
sebab ia merujuk kepada bidah-bidah dari Nestorius, sang bidah kelas kakap) yang hanya
tersingkap lewat penelaahan dan analisis yang cermat!
Pius VI: “Teknik ini yaitu suatu teknik yang paling tercela untuk menyusupkan kesalahan-
kesalahan doktrin, dan suatu teknik yang dahulu kala dikutuk oleh Pendahulu Kami, Santo
Selestinus, yang menemukan penggunaannya di dalam karya tulis Nestorius, Uskup
Konstantinopel, dan yang disingkapnya demi mengutuknya dengan hukuman yang paling besar
yang mungkin dijatuhkan. Sekalinya karya tulis ini ditelaah dengan
berhati-hati, sang penipu tersingkap dan menjadi kebingungan, sebab ia menjelaskan
dirinya sendiri dengan kata-kata yang begitu banyak, menyelang-selingi hal-hal yang benar
dengan hal-hal lain yang tidak jelas, terkadang mencampuradukkan yang satu dengan yang lain
sedemikian rupa sehingga ia juga dapat mengiyakan hal-hal yang bahkan ditolaknya, sembari,
pada waktu yang bersamaan, memiliki dasar untuk menolak kata-kata yang sama yang ia akui.”
namun bukankah analisis dan penelaahan ini tidak diperlukan untuk kontradiksi terang-terangan
terhadap ajaran Katolik? Itulah yang dikatakan oleh Chris Ferrara.
Chris Ferrara, The Remnant, 30 September 2005, hal. 18:
“...di manakah pernyataan-pernyataan yang sesat secara objektif? Jika memang pernyataan-
pernyataan itu ada, seharusnya yaitu suatu hal yang mudah untuk mengutip dalil-dalil yang
bidah yang dituturkan... ‘Bidah-bidah’ ini seharusnya terlihat jelas tanpa ‘komentar’
yang membantu dari tuduhan-tuduhan sedevakantis.”114
Chris Ferrara sangatlah salah. Para bidah menipu melalui kontradiksi dan ambiguitas sebab bidah
sendiri yaitu suatu kebohongan dan kontradiksi.
Paus Pius XI, Rite expiatis (#6), 30 April 1926:
“...bidah-bidah sesat sedikit demi sedikit muncul dan bertumbuh di
dalam kebun anggur Tuhan, disebarkan oleh bidah terang-terangan
atau oleh para penipu yang lihai yang, sebab mereka berlagak keras dalam
kehidupan mereka dan memberi kesan yang palsu akan kebajikan dan kesalehan, dengan
mudah menyesatkan orang-orang yang lemah dan sederhana.”115
Perhatikan, bidah-bidah muncul melalui orang-orang yang bidah secara terbuka dan tidak mencoba
untuk menipu, serta melalui para penipu yang lihai seperti Benediktus XVI, yang mencampuradukkan
pernyataan-pernyataan serta tindakan-tindakan yang konservatif di antara bidah-bidahnya yang
mencengangkan dan tidak terpungkiri. Untuk menggambarkan poin ini kembali, pertimbangkanlah fakta
bahwa sang bidah kelas kakap Arius membuat dirinya sendiri disetujui oleh Konstantinus {Kaisar
Romawi yang menggelar Konsili Nicea I di abad ke-4} dengan memberi kepada sang Kaisar suatu
pengakuan iman yang ambigu. namun , St. Atanasius tidak tertipu, dan menolak untuk menganggapnya
sebagai seorang Katolik,
“Arius hadir bersama Euzoios, sekutunya di dalam doktrin dan pengasingan. Ia meninggalkan
sang Kaisar [Konstantinus] dengan suatu pengakuan iman yang berhati-hati yang dapat
diartikan dengan makna Arian atau ortodoks namun yang tidak mengandung kata
‘sehakikat.’ Konstantinus puas, dan menghapuskan hukuman pengasingannya, dan
memerintahkan agar Arius diterima kembali kepada jabatannya di dalam imamat. namun ,
superior gerejawi Arius, Atanasius, menolak untuk menerimanya.”116
428
Menurut Chris Ferrara, orang-orang Katolik seharusnya menerima Arius yang menolak Kristus, sebagai
seorang Katolik seperti yang dilakukan Konstantinus sebab pengakuan imannya ambigu. Chris Ferrara
yaitu penipu yang sempurna dari Setan; Iblis hanya perlu memerintahkan kepada sang bidah
sesudah mengajarkan bidahnya untuk membumbuinya dengan sedikit ambiguitas, dan
meladainya dengan sekelumit kontradiksi, dan ia akan memerintahkan seluruh dunia untuk
mengikuti sang bidah dan tetap berada di bawah perlindungannya. Dan inilah persisnya bagaimana
Iblis telah begitu berhasil mengurung orang-orang di dalam sekte Vatikan II yang murtad dan bidah
secara terang-terangan. Orang-orang melihat sedikit pernyataan-pernyataan atau tindakan-tindakan
konservatif dari para bidah, dan mereka meyakinkan diri mereka sendiri bahwa orang-orang ini
tidak mungkin yaitu bidah yang berbahaya, walaupun mereka menolak dan menghancurkan Iman di
sekeliling mereka, seperti yang kami telah tunjukkan. Dengan demikian, Iblis menang.
Untuk menggambarkan lebih lanjut “keabsurdan paten” dari “teologi” Chris Ferrara, seseorang dapat
menulis sebuah dokumen yang menolak bahwa Bunda Maria tidak memiliki dosa asal berulang-ulang
kali, dan berkata pada akhir dokumen ini bahwa ia mengakui ajaran Gereja tentang dogma Santa
Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa, dan dokumen ini tidak akan menjadi bidah secara
terang-terangan sebab dokumen itu memuat “kontradiksi diri”. Adakah hal yang lebih bodoh dari hal
ini? Ferrara menerapkan teologi sesat ini, yang secara langsung bertentangan dengan ajaran Paus Pius VI
(seperti yang kita lihat di atas), kepada analisisnya tentang Deklarasi Vatikan II tentang Kebebasan
Beragama.
Chris Ferrara, Catholic Family News, “Opposing the Sedevacantist Enterprise, Part II” {“Melawan
Kelompok Sedevakantis, Bagian II”}, Oktober 2005, hal. 24-25:
“Tuduhan Kelompok [Sedevakantis] ini atas bidah terang-terangan di dalam DH
[Dignitatis Humanae, Deklarasi Vatikan II tentang Kebebasan Beragama] menjadi bahkan lebih
lemah sewaktu seseorang mempertimbangkan Artikel 1 dari DH yang mengatakan bahwa
Konsili ini ‘tidak menjamah doktrin Katolik tradisional akan kewajiban moral
manusia dan masyarakat terhadap agama sejati dan terhadap Gereja Kristus yang satu.’”117
Deklarasi Vatikan II tentang Kebebasan Beragama mengandung bidah yang jelas melawan dogma Gereja
bahwa Negara memiliki hak untuk mengekang ungkapan secara publik dari agama-agama sesat. Fakta
bahwa Deklarasi Vatikan II tentang Kebebasan Beragama mengaku “tidak menjamah doktrin Katolik
tradisional” sama sekali tidak berarti apa-apa. Para “Katolik Lama {orang-orang yang memisahkan diri
dari Gereja Katolik di bawah Serikat Gereja-gereja Katolik Lama Utrecht dan bersekutu secara penuh
dengan Gereja Anglikan}” mengatakan hal yang sama persis, seperti yang dikatakan oleh para bidah di
sepanjang sejarah.
Paus Pius IX, Graves ac diuturnae (#2), 23 Maret 1875:
“Mereka [para ‘Katolik Lama’] mengulang-ulangi secara terbuka pernyataan bahwa
mereka sama sekali tidak menolak Gereja Katolik dan kepalanya yang kelihatan, namun
mereka memiliki semangat terhadap kemurnian doktrin Katolik... namun faktanya yaitu
bahwa mereka menolak untuk mengakui semua hak istimewa yang ilahi milik vikaris Kristus di
bumi dan tidak tunduk kepada Magisterium-Nya yang tertinggi.”118
Maka, menurut Ferrara, kasus bahwa para “Katolik Lama” yaitu bidah tidaklah sah, sebab mereka
mengulang-ulangi pernyataan bahwa mereka memiliki semangat terhadap kemurnian doktrin Katolik,
dan bahwa mereka secara terang-terangan berkata bahwa mereka tidak menolak ajaran Katolik. namun
tidak, Gereja Katolik mengajarkan bahwa mereka yaitu bidah terang-terangan, dan semua orang yang
mengikuti ajaran serta sekte mereka dianggap sebagai bidah.
429
Paus Pius IX, Graves ac diuturnae (#1-4), 23 Maret 1875:
“...para bidah yang baru yang menyebut diri mereka sendiri para ‘Katolik Lama’... para skismatis
dan bidah ini... sekte mereka yang jahat... para putra kegelapan... fraksi mereka yang jahat... sekte
mereka yang tercela... Sekte ini menggulingkan fondasi-fondasi dari agama Katolik, tanpa rasa
malu menolak definisi-definisi dogmatis dari Konsili Ekumenis Vatikan dan membaktikan diri
mereka sendiri untuk kehancuran jiwa-jiwa di dalam berbagai cara. Kami telah mendekretkan
dan menyatakan di dalam surat Kami pada tanggal 21 November 1873 bahwa para pria
yang malang ini yang merupakan bagian dari, mengikuti, dan mendukung sekte
ini harus dianggap sebagai skismatis dan terpisah dari persekutuan dengan
Gereja.”119
Paus Pius IX, Quartus Supra (#6), 6 Januari 1873:
“Para bidah dan skismatis telah selalu terbiasa menyebut diri mereka sendiri Katolik dan
menyatakan kebaikan-kebaikan mereka yang banyak agar dapat memimpin orang-orang dan
pangeran-pangeran kepada kesesatan mereka.”120
Kita dapat melihat bahwa “teologi” Chris Ferrara secara langsung bertentangan bukan hanya dengan
ajaran para Paus, namun dengan akal sehat. Bahkan, kebodohan satanik dari posisi Ferrara (dan banyak
orang lain) – bahwa para pemurtad serta Anti-Paus Vatikan II bukanlah bidah terang-terangan sebab
mereka terkadang menentang diri mereka sendiri dan memakai ambiguitas bersama bidah-bidah
mereka yang mencengangkan –mungkin diejawantahkan dengan cara melihat kasus John Kerry yang
murtad.
Kami akan meragukan bahwa hampir semua yang membaca artikel ini percaya bahwa John Kerry yaitu
seorang Katolik. Bahkan orang-orang di Fransiscan University mengakui bahwa: “Anda tidak bisa
menjadi seorang Katolik dan menjadi pro-aborsi,” seperti yang diserukan oleh papan-papan protes
mereka sewaktu ia berbicara di Ohio. namun John Kerry menyatakan bahwa ia menerima ajaran
Katolik, walaupun ia secara konsisten memberi suara untuk mendukung aborsi.
Pada saat Debat Kepresidenan pada tahun 2004 dengan George W. Bush, John Kerry menyatakan:”Saya
tidak bisa memberlakukan artikel iman saya kepada orang lain.” Anda lihat? John Kerry telah
menyatakan secara publik bahwa ajaran Gereja melawan aborsi yaitu artikel imannya, namun ia
sederhananya tidak dapat menerapkannya atau memberlakukannya di dalam ruang lingkup publik.
Argumennya sangatlah konyol, suatu kebohongan, sebuah kontradiksi, tentunya – layaknya segala bidah.
namun menurut Chris Ferrara, John Kerry harus dianggap sebagai seorang Katolik, sebab suatu hal yang:
“...menentang dirinya sendiri sebab tampak mendukung dan menentang ajaran
tradisional pada waktu yang bersamaan hampir tidak bisa dikatakan sebagai mengandung
kontradiksi terang-terangan terhadap ajaran tradisional...”121
Kita dapat melihat di sini bahwa pernyataan ini yaitu suatu omong kosong belaka. Jika pernyataan ini
benar, John Kerry hampir tidak bisa dianggap sebagai seorang bidah terang-terangan sewaktu ia
menyatakan secara publik bahwa ajaran Gereja melawan aborsi yaitu artikel imannya, walaupun ia
menentang pernyataan publiknya dengan mendukung aborsi secara tegar. John Kerry harus dianggap
sebagai seorang Katolik, menurut pembejatan yang hina terhadap ajaran Katolik, yang diilhami oleh
Setan, yang dijajakan oleh sang bidah Chris Ferrara di dalam penerbitan ‘tradisional’. Kesimpulan ini juga
membuat Ferrara menentang salah satu rekan dan teman baiknya, Michael Matt, yang menyatakan
dengan jelas (atas otoritasnya sendiri, sebab hal ini belum pernah dinyatakan oleh ‘Paus’-nya) bahwa
John Kerry yaitu seorang pemurtad.
430
Michael Matt, The Remnant, 15 April 2005, hal. 5:
“Mari mengambil contoh Senator John F. Kerry, seorang Katolik pertama yang
dinominasikan untuk kepresidenan oleh kedua partai yang besar sejak tahun 1960. Kerry,
yang kakek dari pihak ayahnya yaitu orang Yahudi, omong-omong, membuat suatu pernyataan
yang meniru Kennedy dengan baik pada hari ini: ‘Kita memiliki suatu perpisahan antara Gereja
dan negara di negara ini,’ ujar Kerry baru-baru ini di majalah Time. ‘Seperti yang dikatakan
dengan sangat jelas oleh John Kennedy, Saya akan menjadi seorang Presiden yang kebetulan
seorang Katolik, dan bukan seorang Presiden Katolik.’ Berkenaan dengan hal ini ,
setidaknya, kita dapat bersetuju dengan tuan dari Massachusetts itu! Faktanya, kami bahkan
akan mengambil satu langkah lebih jauh dengan mencatat bahwa kandidat kepresidenan,
Kerry, sama sekali tidak Katolik.
“Oh, ya, mantan putra altar ini berkata bahwa ia Katolik; ia dilaporkan mengeluh sewaktu
pegawainya tidak memberi waktu yang cukup di dalam jadwalnya untuk Misa hari
Minggu; situs resminya mengumumkan bahwa ‘John Kerry dibesarkan di dalam iman
Katolik dan terus menjadi seorang anggota yang aktif dari Gereja Katolik.’ namun ia bukan
Katolik, dan tidak pun istrinya – seorang anti-Katolik yang mengaku sebagai seorang Katolik
yang mempraktikkan agamanya. Gambaran John Kerry tentang dirinya sendiri dan istrinya sama
sekali tidak benar: [Saya seorang] Katolik yang percaya dan mempraktikkan agama, menikah
dengan seorang Katolik lain yang percaya dan mempraktikkan agama.’ Kedengarannya bagus.
Masalahnya, John Kerry yaitu seorang pemurtad.’”122
Kelihatannya Ferrara dan Matt banyak sekali berbicara. Dan memang, kasus tentang John Kerry
membuktikan poin ini , sebab jika anda tidak dapat berkata bahwa Benediktus XVI yang
mengambil bagian secara aktif di dalam ibadat Yahudi, tidak percaya bahwa Yesus benar-benar yaitu
Mesias dan Putra Allah, mengajarkan bahwa kita tidak boleh mengonversikan para Protestan,
diinisiasikan ke dalam Islam, dst. tidak bisa dianggap sebagai seorang bidah – maka anda tidak memiliki
pembenaran apa pun untuk melabeli John Kerry sebagai seorang bidah. Faktanya, dogma-dogma yang
ditolak oleh Benediktus XVI telah jauh lebih sering didefinisikan dibandingkan dogma yang ditolak oleh Kerry.
Penolakan 17): Kedua Kitab Hukum Kanonik: KHK 1917 dan 1983 mengajarkan
bahwa suatu deklarasi dibutuhkan bagi seseorang untuk kehilangan jabatannya
akibat bidah.
Chris Ferrara, “A Challenge to the Sedevacantist Enterprise, Part II [Tantangan untuk Kelompok
Sedevakantis, Bagian II],” The Remnant, 30 September 2005, hal. 18:
“Memang benar, Kitab Hukum Kanonik 1917 dan 1983 menentukan bahwa tidak seorang
pun dapat mendesakkan bahwa suatu jabatan gerejawi telah hilang akibat bidah kecuali
jika hal ini telah ditetapkan lewat suatu deklarasi dari otoritas yang kompeten.”123
Jawaban: Pandangan ini sama sekali tidak benar. Kitab Hukum Kanonik 1983 yang bidah dan tidak valid
milik Anti-Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa deklarasi semacam itu diperlukan di dalam Kanon
194 § 3. namun pernyataan ini tidak ada di dalam Kitab Hukum Kanonik 1917. Kanon yang sepadan
dengan kanon 194 di dalam Kitab Hukum Kanonik tahun 1917 yaitu kanon 188. Kanon 188 dari Kitab
Hukum Kanonik 1917 tidak memuat ketentuan ini , dan hanya menyatakan bahwa seorang imam
yang “meninggalkan iman Katolik secara publik” (188 § 4) kehilangan jabatannya oleh sebab fakta itu
sendiri ‘tanpa suatu deklarasi apa pun’.
431
Kanon 188.4, Kitab Hukum Kanonik 1917:
“Suatu jabatan menjadi kosong secara ipso facto dan tanpa suatu deklarasi apa pun akibat
pengunduran diri tersirat yang terjadi secara ipso iure (demi hukum), jika klerus: … 4) telah
meninggalkan iman Katolik secara publik.”124
Perhatikan bahwa Kitab Hukum Kanonik 1917 tidak menyatakan bahwa suatu deklarasi diperlukan, dan
justru menyatakan hal yang berlawanan – “tanpa suatu deklarasi apa pun”! Sewaktu seseorang
membandingkan kedua kanon ini , ia dapat melihat perbedaan yang mencolok.
Kanon 194.1-3, Kitab Hukum Kanonik 1983:
“Demi hukum itu sendiri diberhentikan dari jabatan gerejawi: ...2- orang yang secara publik
meninggalkan iman katolik atau persekutuan Gereja... Pemberhentian yang disebut dalam no. 2
dan 3 hanya dapat didesakkan, jika mengenai hal itu pasti dari pernyataan otoritas yang
berwenang.”125
Ini kemungkinan merupakan alasan Ferrara tidak memberi kutipan Kitab Hukum Kanonik 1917 di
dalam catatan kakinya; ia hanya memberi suatu rujukan kepada Kitab Hukum Kanonik 1983. Maka,
apa yang sedang kita hadapi yaitu suatu kebohongan lain yang terang-terangan dari Ferrara.
Penolakan 18): Konsili Konstanz mengutuk ide bahwa seorang bidah berhenti
menjadi Paus.
Kesalahan-kesalahan Yohanes Hus, Dikutuk oleh Konsili Konstanz:
“#20. Jika sang Paus yaitu orang yang fasik dan terutama jika ia telah diketahui terlebih
dahulu (sebagai seseorang yang terkutuk), maka layaknya Yudas, sang Rasul, ia berasal dari Iblis,
seorang pencuri, dan seorang putra kebinasaan dan bahwa ia bukanlah kepala dari militan
suci Gereja, sebab ia bukanlah anggotanya.”126 – Dikutuk
Jawaban: Tidak, Konsili Konstanz sama sekali tidak mengutuk ide bahwa seorang bidah akan berhenti
menjadi Paus. Ini yaitu kesalahpahaman yang serius terhadap dalil ini . Seperti yang kita telah
lihat dengan jelas di atas, Konsili ini mengutuk sesuatu yang jauh berbeda. Konsili Konstanz
mengutuk dalil bahwa seseorang yang fasik akan berhenti menjadi kepala Gereja, sebab ia bukan
anggota Gereja. Dalil dari sang bidah Hus dengan benar menyatakan bahwa seseorang yang bukanlah
anggota dari Gereja tidak bisa menjadi kepala dari Gereja, namun dalil ini memuat suatu masalah sewaktu
dalil ini mengatakan bahwa Sri Paus berhenti menjadi seorang anggota jika ia “orang fasik”.
Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi (#23), 29 Juni 1943:
“sebab tidak semua dosa, bagaimanapun beratnya dosa ini , memiliki kodrat tersendiri
yang sedemikian rupa sehingga memotong seorang manusia dari Tubuh Gereja, layaknya
skisma atau bidah atau kemurtadan.”127
Seorang Paus yang semata-mata jahat tidak berhenti menjadi Paus, namun seorang bidah atau skismatis
berhenti menjadi Paus. Hal ini disebab kan bidah dan skisma dan kemurtadan memisahkan seseorang
dari Gereja, sedangkan dosa-dosa lain (tidak peduli seberat atau sefasik apa pun) tidak memisahkan
seseorang dari Gereja. Bukanlah suatu hal yang bertentangan dengan kebenaran bahwa seorang bidah
berhenti menjadi seorang Paus. Bahkan, banyak dari dalil-dalil lain dari Yohanes Hus yang dikutuk oleh
Konsili Konstanz yang mengulangi ide sesat yang diungkapkan di atas dalam berbagai cara: bahwa orang-
orang fasik bukanlah bagian dari Gereja.128
432
St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, Buku II, Bab 30:
“Prinsip ini yaitu prinsip yang teramat pasti. Seorang non-Kristiani sama sekali tidak
dapat menjadi Paus, seperti yang diakui oleh Gaetanus sendiri (ib. C. 26). Alasan untuk hal
ini yaitu ia tidak bisa menjadi kepala dari sesuatu yang di dalamnya ia bukan seorang
anggota; akan namun , barang siapa bukan seorang Kristiani bukanlah anggota Gereja, dan
seorang bidah manifes bukan seorang Kristiani seperti yang diajarkan secara jelas oleh St.
Siprianus (lib. 4, epist. 2), St. Atanasius (Scr. 2 cont. Arian), St. Agustinus (lib. De grat.
Christ. Cap. 20), St. Hieronimus (contra Lucifer.) dan lain-lain; maka, seorang bidah
manifes tidak dapat menjadi Paus.”
Penolakan 19): Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tidak menunjukkan
secara terang-terangan suatu bidah sebab Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI
tidak menandatanganinya.
Jawaban: Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran dengan sendirinya membuktikan bahwa para “Paus”
Vatikan II yaitu Anti-Paus. Fakta bahwa Yohanes Paulus II tidak pun Benediktus XVI menulis dokumen
ini ataupun menandatanganinya tidaklah relevan. Mereka berdua mendukung deklarasi
ini secara publik berulang kali, dan setuju dengan deklarasi itu.
Yohanes Paulus II, 19 Januari 2004, Pada Pertemuan dengan Para Lutheran dari Finlandia:
“...Saya ingin mengungkapkan rasa syukur saya untuk perkembangan ekumenis yang terjadi
antara orang-orang Katolik dan Lutheran dalam lima tahun sejak penandatanganan Deklarasi
Gabungan tentang Doktrin Pembenaran.”129
Benediktus XVI, Sambutan kepada para Protestan pada Hari Orang Muda Sedunia, 19 Agustus
2005:
“...Deklarasi Gabungan tentang Doktrin Pembenaran (1999) yang penting...”130
Seseorang yang bernama James Smith dapat menuliskan suatu dokumen yang menentang Dikandungnya
Bunda Maria Tanpa Dosa Asal, dan jika anda memberi pidato untuk mendukung dokumen Smith,
tindakan ini akan menjadikan anda seorang bidah terang-terangan. Fakta bahwa anda tidak
menulis dokumen Smith ataupun menuliskannya sama sekali tidak berarti apa-apa; anda menyetujuinya
secara publik. Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI menyetujui secara publik Deklarasi Gabungan
dengan Para Lutheran tentang Pembenaran, yang mengajarkan bahwa bidah-bidah Lutheran yang
terburuk tidaklah dikutuk oleh Konsili Trente. Mereka yaitu bidah-bidah terang-terangan.
Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak menerima Posisi Sedevakantis
Kami telah menanggapi secara sangat rinci penolakan-penolakan melawan posisi sedevakantis. Kita
dapat melihat bahwa tidak ada satu ajaran Gereja Katolik pun yang dapat menyebabkan seseorang
untuk menerima fakta yang tidak terpungkiri bahwa sekte Vatikan II bukanlah Gereja Katolik, dan bahwa
para pria yang telah mengepalai sekte ini (para “Paus” pasca-Vatikan II) bukanlah Paus sama sekali,
melainkan, para Anti-Paus non-Katolik. Sebaliknya, ada bukti yang tidak terbantahkan untuk posisi
sedevakantis dan segala alasan untuk menerimanya.
BAGIAN II – ANDA AKAN
MENGENALINYA LEWAT BUAH-
BUAHNYA.






