gereja vatikan 18

 


henti berada di semua negara dengan 

pengecualian di dalam satu negara. Keterlihatan Gereja tidak mengharuskan bahwa umat atau 

hierarkinya kelihatan di setiap lokasi geografis di dunia. Hal ini tidak pernah terjadi. Sederhananya, 

makna dari keterlihatan Gereja yaitu  umat Katolik sejati yang secara eksternal mengakui agama yang 

satu dan sejati, bahkan jika jumlah mereka berkurang menjadi sangat sedikit. Para umat ini yang 



 

mengakui secara eksternal agama yang satu dan sejati akan selalu menjadi Gereja Kristus yang sejati, 

bahkan jika jumlah mereka hanya sedikit sekali. 

Dan hal ini benar-benar apa yang dinubuatkan akan terjadi pada akhir dunia. 

St. Atanasius: “Bahkan jika para umat Katolik yang setia terhadap tradisi berkurang jumlahnya 

sampai hanya tersisa sedikit saja, merekalah Gereja sejati Yesus Kristus.”84 

Tuhan kita sendiri menunjukkan bahwa Gereja akan menjadi luar biasa kecil pada akhir zaman. 

Lukas 18:8: “Akan namun , jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di 

bumi?” 

Wahyu kepada St. Yohanes tampaknya menunjukkan hal yang sama. 

Wahyu 11:1-2: 

“lalu  diberikanlah kepadaku sebatang buluh, seperti tongkat pengukur rupanya, dengan 

kata-kata yang berikut: ‘Bangunlah dan ukurlah Bait Suci Allah dan mezbah dan mereka yang 

beribadah di dalamnya. namun  kecualikan pelataran Bait Suci yang di sebelah luar, janganlah 

engkau mengukurnya, sebab  ia telah diberikan kepada bangsa-bangsa lain...’” 

Versi Haydock dari Alkitab Douay-Rheims [Terjemahan Alkitab Katolik dari bahasa Latin Vulgata ke 

bahasa Inggris], sebuah kompilasi komentar-komentar Katolik tentang Kitab Suci oleh Romo Geo. Leo 

Haydock, memuat komentar berikut tentang Wahyu 11:1-2: 

Komentar Katolik tentang Wahyu 11:1-2, versi Haydock dari Alkitab Douay-Rheims: 

“Gereja-gereja yang dikonsekrasikan kepada Allah yang sejati, sangatlah berkurang 

jumlahnya, sampai gereja-gereja ini  digambarkan oleh St. Yohanes sebagai satu 

gereja; para pelayannya bertugas di satu mezbah; dan umat-umat sejatinysedemikian 

sedikitnya, dibandingkan dengan jumlah umat manusia, sehingga sang penginjil melihat 

mereka bergabung di dalam satu bait, untuk menyembah Yang Mahatinggi. – Pastorini.”85 

Magisterium Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa harus ada  sekian banyak uskup atau 

umat beriman agar Gereja tetap ada. Selama ada  paling tidak satu imam atau satu uskup dan paling 

tidak beberapa umat beriman, Gereja dan hierarkinya hidup dan kelihatan. Pada masa ini ada  jauh 

lebih banyak dari sekelumit umat beriman yang tetap mempertahankan Iman Katolik yang tidak 

berubah. Maka, argumentasi dari para lawan kami di dalam sudut pandang keterlihatan Gereja tidak 

memiliki arti dan bertentangan dengan nubuat-nubuat Kitab Suci. 

Di samping itu, pada saat krisis Arian, Iman sejati telah dilenyapkan dari seluruh daerah, sedemikian 

rupa sehingga hampir tidak ada  uskup Katolik di mana pun. 

Romo William Jurgens: “Pada suatu waktu dalam sejarah Gereja, hanya beberapa tahun sebelum 

berkhotbahnya Gregorius [dari Nazianzus] (380 Masehi), jumlah uskup Katolik yang memiliki 

takhta, berbanding dengan uskup Arian yang memiliki takhta, kemungkinan tidak lebih besar dari 

antara 1% dan 3% dari keseluruhannya. Seandainya doktrin telah ditentukan oleh 

popularitas, pada hari ini kita semua akan menjadi orang-orang yang menolak Kristus dan 

musuh dari Roh [Kudus].”86 

Romo William Jurgens: “Pada zaman Kaisar Valens (abad ke-4), Basilius hampir menjadi 

satu-satunya Uskup yang ortodoks di seluruh Dunia Timur yang berhasil 


418 

 

mempertahankan yurisdiksi takhtanya … Jika hal ini sama sekali tidak memiliki makna yang 

lain bagi manusia modern, hendaknya suatu pengetahuan akan sejarah Arianisme setidak-

tidaknya membuktikan bahwa Gereja Katolik tidak memperhitungkan popularitas dan 

jumlah dalam hal membentuk dan menjaga doktrin: jika tidak, sejak masa yang lampau itu, 

kita akan harus meninggalkan Basilius, Hilarius, Atanasius, dan Liberius serta Ossius dan 

menyebut diri kita sendiri pengikut Arius.”87 

Bidah Arian ini menyebar begitu luasnya pada abad ke-4 sampai para Arian (yang menolak Keilahian 

Kristus) menduduki hampir semua gereja Katolik dan tampak seperti hierarki yang legitim di mana-

mana. 

St. Ambrosius (+382): “Tidak ada  cukup jam di dalam satu hari bagi saya untuk 

menamakan semua sekte bidah yang beragam.”88 

Keadaan ini  begitu buruknya sampai St. Gregorius dari Nazianzus merasa terdorong untuk 

mengatakan apa yang dapat dikatakan oleh sisa umat Katolik pada hari ini. 

St. Gregorius dari Nazianzus (380 Masehi), Melawan Para Arian [Against the Arians]:  

“Di manakah mereka yang memandang rendah diri kita oleh sebab  kemiskinan kita dan yang 

mengagungkan diri mereka sendiri di dalam kekayaan mereka? Mereka yang mendefinisikan 

Gereja atas dasar jumlah dan yang mencemooh kawanan domba yang kecil?”89 

Periode sejarah Gereja ini, oleh sebab  itu, membuktikan sebuah poin yang penting untuk zaman kita: 

Jika tugas Gereja yang indefektibel untuk mengajarkan, memimpin serta menyucikan memerlukan 

seorang uskup yang memimpin (yaitu yurisdiksi) dari Gereja Kristus untuk hadir dan beroperasi dari 

takhta atau dioses tertentu, maka seseorang harus mengatakan bahwa Gereja Kristus  telah menjadi cacat 

di seluruh daerah ini  di mana tidak ada  uskup Katolik yang memimpin pada saat 

berlangsungnya bidah Arian. namun , yaitu  suatu fakta bahwa di abad ke-4, di mana para umat beriman 

menjaga iman Katolik sejati, bahkan di takhta-takhta ini  di mana uskupnya jatuh ke dalam 

Arianisme, para sisa umat Katolik merupakan Gereja Kristus yang sejati. Di dalam sisa ini , Gereja 

Katolik berada dan bertahan di dalam misinya untuk mengajarkan, memimpin dan menyucikan tanpa 

seorang uskup yang memimpin, yang oleh sebab  itu membuktikan bahwa indefektibilitas Gereja 

Kristus dan misi untuk mengajar, memimpin dan menyucikan tidak memerlukan kehadiran 

uskup yurisdiksional. 

Harus dicatat pula bahwa hierarki ini  dapat didefinisikan di dalam dua cara: hierarki yurisdiksional 

dan hierarki gerejawi.90 

Paus Pius XII, Ad Sinarum gentum (#13), 7 Oktober 1954: 

“Di samping itu – seperti yang telah ditetapkan secara ilahi – kekuatan tahbisan (yang olehnya 

hierarki gerejawi terdiri dari uskup, imam, dan pelayan) berasal dari penerimaan 

Sakramen Imamat.”91 

Hanya mereka yang memiliki yurisdiksi biasalah (yaitu, yurisdiksi yang melekat kepada sebuah jabatan) 

yang merupakan hierarki yurisdiksional. Semua imam Katolik yang valid, di sisi lain, merupakan bagian-

bagian dari hierarki gerejawi. yaitu  suatu kemungkinan bahwa selama hierarki gerejawi bertahan, 

hierarki tetap ada. 

Para non-sedevakantis yang menolak hal ini tidak dapat menunjuk kepada satu uskup Katolik sejati yang 

memiliki yurisdiksi biasa. Kepada siapakah mereka akan menunjuk? Apakah mereka akan menunjuk 


419 

 

kepada “Uskup” Bruskewitz, yang melakukan Perjamuan Malam Seder antaragama dengan sekelompok 

rabbi di dalam katedralnya pada Pekan Suci?92 Apakah mereka akan menunjuk kepada “Kardinal” 

Mahony atau “Kardinal” Keeler? 

Jika benar bahwa harus ada  satu uskup dengan yurisdiksi biasa di suatu tempat (yang merupakan 

sesuatu yang belum pernah terbukti), maka uskup itu ada  di suatu tempat. namun  hal ini tidak 

mengubah fakta bahwa Benediktus XVI dan para uskupnya yang murtad tidak Katolik dan oleh sebab  itu 

bukanlah bagian dari hierarki. Tidak ada  argumen untuk melawan suatu fakta; melawan fakta ini, 

tidak ada  suatu argumen. 

Akhirnya, dan poin yang paling penting, sekte Vatikan II menolak Gereja Katolik yang kelihatan, yang 

oleh sebab  itu kembali membuktikan bahwa Vatikan II bukanlah Gereja Katolik yang kelihatan! 

Dokumen Vatikan II, Unitatis Redintegratio (#1): 

“namun  hampir semua, walaupun di dalam cara-cara yang berbeda, menantikan Gereja Allah yang 

satu dan kelihatan, Gereja yang sungguhlah universal yang misinya yaitu  untuk mengonversikan 

seluruh dunia kepada injil, agar dunia dapat diselamatkan, kepada kemuliaan Allah.”93 

Ingat pernyataan yang satu ini? Pada permulaan dari Dekretnya tentang Ekumenisme, Vatikan II 

mengajarkan bahwa hampir semua orang menantikan Gereja yang sungguh universal dan kelihatan yang 

misinya yaitu  untuk mengonversikan seluruh dunia kepada Injil. Sekali lagi, untuk mereka yang 

meragukan bahwa Vatikan II di sini menolak bahwa Gereja Katolik berada, kami akan mengutip 

interpretasi Anti-Paus Yohanes Paulus II sendiri tentang wacana ini: 

Yohanes Paulus II, Homili, 5 Des. 1996, berbicara tentang doa dengan orang-orang non-Katolik: 

“Sewaktu kita berdoa bersama, kita melakukannya dengan menantikan ‘bahwa akan ada 

Gereja Allah yang satu dan kelihatan, sebuah Gereja yang sungguh universal dan diutus ke 

seluruh dunia supaya dunia dapat berkonversi kepada Injil dan oleh sebab  itu diselamatkan, 

untuk kemuliaan Allah.’ (Unitatis Redintegratio, 1).” 

Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#7), 27 Mei 1995: 

“namun  hampir semua, walaupun di dalam cara-cara yang berbeda, menantikan Gereja 

Allah yang satu dan kelihatan, Gereja yang sungguhlah universal yang misinya yaitu  untuk 

mengonversikan seluruh dunia kepada injil, agar dunia dapat diselamatkan, kepada kemuliaan 

Allah (dokumen Vatikan II Unitatis Redintegratio, 1).”94 

Maka, jika anda menerima ajaran Gereja yang kelihatan, anda memiliki satu alasan lagi untuk menolak 

sekte Vatikan II dan para Anti-Pausnya. 

Di samping hal ini, ide tentang Gereja yang tidak kelihatan – yang diajarkan oleh sekte Vatikan II – telah 

dikutuk paling tidak tiga kali: Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#3), 29 Juni 1896;95 Paus Pius XI, Mortalium 

Animos (#10), 6 Januari 1928;96 Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi (#64), 29 Juni 1943.97 

Paus Leo XIII, Satis Cognitum (#3), 29 Juni 1896: 

“‘Kalian yaitu  tubuh Kristus’. sebab  Gereja yaitu  satu tubuh, Gereja kelihatan oleh mata… 

Oleh sebab  itu, banyak orang berada di dalam kesesatan yang besar dan berbahaya, 

yakni mereka yang membuat Gereja sekehendak angan-angan mereka dan 

membayangkan bahwa Gereja itu tersembunyi dan sama sekali tidak kelihatan…”98 

Terlebih lagi, berikut yaitu  sebuah kutipan yang menarik dari krisis Kontroversi Penobatan (1075-

1122). Di saat krisis ini, Raja Jerman yang jahat, Henry IV, menobatkan seorang Anti-Paus (yang 


420 

 

didukung banyak uskup-uskup Jerman). Henry juga menunjuk uskup-uskupnya sendiri yang juga tunduk 

kepada sang Anti-Paus. Hasilnya yaitu  dua uskup di kebanyakan dioses dan kebingungan yang 

besar. 

The Catholic Encyclopedia [Ensiklopedia Katolik], Vol. 8, 1910, “Investitures {Penobatan},” hal. 86: 

“Lalu ada  kebingungan di segala sisi... Banyak dioses memiliki dua okupan. Kedua partai 

menyebut para saingan mereka pendusta dan pengkhianat...”99 

Poinnya yaitu : walaupun kita sekarang menghadapi suatu kemurtadan yang tidak pernah terjadi 

sebelumnya, Gereja telah menghadapi masa-masa yang membingungkan sebelumnya, termasuk masa-

masa di mana hierarki yang sejati tidak dapat dipastikan dengan mudah. 

Penolakan 16): Para Paus Vatikan II belum mengajarkan bidah secara terang-

terangan, sebab  pernyataan-pernyataan mereka ambigu dan memerlukan 

komentar. 

 

Chris Ferrara, Catholic Family News, “Opposing the Sedevacantist Enterprise, Part II” {“Melawan 

Kelompok Sedevakantis, Bagian II”}, Oktober 2005, hal. 8: 

“namun , suatu hal yang terang-terangan – yaitu polos, nyata, jelas, kentara dan tidak dapat 

diragukan – tidak memerlukan penjelasan. Bahwa sesuatu tidak memerlukan penjelasan 

membuat hal ini  terang-terangan. Maka sebelum Kelompok {Sedevakantis} itu bahkan 

dapat meraih base pertama, Kelompok itu harus menunjukkan kepada kita bukan hanya semata-

mata pernyataan-pernyataan Paus yang dibuat secara terbuka, namun  pernyataan-pernyataan 

yang apa yang disebut-sebut sebagai bidahnya tidak memerlukan penjelasan. Kata-kata Sri Paus 

itu sendiri – bukan interpretasi-interpretasi sedevakantis tentang kata-kata ini  – 

harus menunjukkan bidah. 

“Jika seorang Paus menyatakan kepada seluruh Gereja di dalam dokumen atau pernyataan 

publik tertentu ‘Tidak ada  Allah Tritunggal Mahakudus. Hanya ada  Allah 

Pencipta, seperti yang dipercayai para Muslim!’, bidahnya akan menjadi terang-terangan 

di dalam arti yang penuh dan benar dari kata ini .”100 

Jawaban: Orang yang membuat penolakan ini, Chris Ferrara, seperti biasanya, sama sekali salah. Pertama, 

ada  banyak sekali contoh bidah terang-terangan dari para Anti-Paus pasca-konsili Vatikan II yang 

tidak memerlukan penjelasan atau komentar, seperti yang kita telah lihat. Kedua, otoritas Kepausan 

mengajarkan kita bahwa bidah-bidah tertentu memang memerlukan penjelasan, penelaahan yang 

mendalam dan analisis untuk membongkar dan mengutuknya seperti yang kita akan lihat. 

Sebelum kami menguraikan tentang kedua poin ini , sang pembaca perlu mencermati contoh bidah 

yang diberikan oleh Ferrara. Contoh bidah yang diberikan oleh Ferrara: “Tidak ada  Allah Tritunggal 

Mahakudus.” Menurut Ferrara, pernyataan ini yaitu  suatu contoh yang tidak terpungkiri dari bidah 

terang-terangan. Ia memang benar sewaktu ia berkata bahwa pernyataan ini yaitu  bidah, namun  

perhatikan bahwa di dalam contoh ini kita tidak menghadapi penolakan yang persis kata demi kata 

dari definisi dogmatis. Sejauh yang kami ketahui, tidak ada  definisi dogmatis tentang Allah 

Tritunggal Mahakudus yang menyatakan “ada  Allah Tritunggal Mahakudus.” ada  definisi-

definisi seperti berikut: 


421 

 

Paus Gregorius X, Konsili Lyon II, 1274, ex cathedra: 

“Kami percaya bahwa Allah Tritunggal Mahakudus, Bapa, dan Putra, dan Roh Kudus, 

yaitu  satu Allah yang mahakuasa...”101 

Tentunya, orang-orang Katolik segera mengakui bahwa pernyataan “Tidak ada  Allah Tritunggal 

Mahakudus” setara dengan penolakan secara langsung terhadap definisi dogmatis ini, walaupun 

pernyataan ini  tidak menolak definisi dogmatis itu kata demi kata. Maka, dengan memberi  

contoh bidahnya yang satu itu – satu contoh yang Ferrara mungkin ciptakan sebab  ia merasa percaya 

diri bahwa para sedevakantis tidak dapat menemukan  bidah yang sepadan tentang Allah Tritunggal 

Mahakudus dari Benediktus XVI – Ferrara membuktikan poin kami: pernyataan-pernyataan yang 

setara dengan sebuah penolakan secara langsung terhadap dogma, walaupun pernyataan-

pernyataan ini  tidak menolak definisi dogma kata demi kata, yaitu  contoh-contoh dari 

bidah terang-terangan. 

Maka, layaknya para Katolik segera mengakui bahwa pernyataan “Tidak ada  Allah Tritunggal 

Mahakudus” yaitu  bidah terang-terangan, walaupun tidak ada  dogma yang menyatakan yang 

bertentangan kata demi kata, demikian pula mereka langsung mengakui bahwa pernyataan Benediktus 

XVI bahwa Protestantisme bukanlah bidah yaitu , tentunya, penolakan secara langsung terhadap 

dogma-dogma Katolik yang mengutuk ajaran-ajaran Protestan sebagai bidah. Terima kasih untuk 

membuktikan poin kami kembali, Tuan Ferrara. 

Kami sekarang akan mengutip lebih dari 10 pernyataan dari Benediktus XVI (dan satu dari Yohanes 

Paulus II) dan tidak memberi  komentar apa pun. Semua orang yang tulus dan jujur akan melihat 

bahwa pernyataan-pernyataan ini setara dengan penolakan secara langsung terhadap dogma Katolik 

tanpa perlu suatu analisis. 

‘Kardinal’ Joseph Ratzinger, The Meaning of Christian Brotherhood [Makna Persaudaraan 

Kristiani], hal. 87-88: “Ada kesulitan yang besar dalam cara memberi suatu jawaban. Pada 

akhirnya, kesulitan itu diakibatkan kenyataan bahwa tidak ada kategori yang layak dalam 

pemikiran Katolik untuk fenomena Protestantisme di masa kini (orang bisa mengatakan hal 

yang sama tentang hubungan dengan gereja-gereja Dunia Timur yang terpisah). Jelas adanya 

bahwa kategori ‘bidah’ yang lama tidak lagi bernilai sama sekali … Protestantisme telah 

membuat suatu kontribusi yang penting bagi realisasi iman Kristiani, memenuhi suatu 

fungsi positif dalam perkembangan pesan Kristiani ... Maka dari itu, kesimpulannya tak 

terelakkan: Protestantisme pada zaman ini yaitu  sesuatu yang berbeda dari bidah dalam 

makna tradisional, suatu fenomena yang kedudukan teologisnya belum ditentukan.”102 

Kami tidak perlu berkomentar. 

Joseph Ratzinger, Theological Highlights of Vatican II {Sorotan-Sorotan Teologis Vatikan II}, hal. 

61, 68: “...Sementara itu, Gereja Katolik tidak berhak untuk menyerap Gereja-gereja lain. 

Gereja belum mempersiapkan untuk gereja-gereja lain ini  suatu tempat yang akan mereka 

duduki, namun  mereka secara sah berhak mendapat  tempat ini ... Suatu kesatuan yang 

mendasar – dari Gereja-Gereja yang tetap yaitu  Gereja-Gereja, yang walau bagaimanapun 

menjadi satu Gereja – harus menggantikan ide tentang konversi, walapun konversi 

mempertahankan maknanya bagi mereka yang terdorong dalam hati nurani untuk 

melaksanakannya...”103 

Kami tidak perlu berkomentar. 


422 

 

“Kardinal” Ratzinger, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 1982, hal. 

197-198: “Dengan latar belakang ini, kita sekarang dapat mempertimbangkan kemungkinan-

kemungkinan yang terbuka bagi ekumenisme Kristiani. Pertama-tama kita melihat tuntutan-

tuntutan maksimum yang sudah pasti akan menggagalkan upaya untuk mencapai kesatuan. Dari 

pihak [Gereja] Barat, tuntutan maksimumnya yaitu  agar [Gereja] Timur mengakui 

keutamaan Uskup Roma seturut cakupan penuh dari definisi tahun 1870, dan dengan 

demikian, tunduk secara praktik, kepada suatu keutamaan sebagaimana yang telah diterima oleh 

Gereja-Gereja Uniat. Dari pihak [Gereja] Timur, tuntutan maksimumnya yaitu  agar [Gereja] 

Barat menyatakan doktrin tahun 1870 tentang Keutamaan sebagai suatu kesalahan dan dengan 

demikian tunduk, secara praktik, kepada suatu keutamaan sebagaimana yang telah diterima 

dengan penghapusan Filioque dari Syahadat dan termasuk dogma-dogma tentang Maria di abad 

kesembilan belas dan kedua puluh. Sehubungan dengan Protestantisme, tuntutan maksimum 

dari Gereja Katolik yaitu  agar para pelayan gerejawi Protestan dianggap sama sekali 

tidak valid dan agar orang-orang Protestan berkonversi kepada Katolisisme ... tidak 

satu pun dari solusi-solusi maksimum ini  menawarkan harapan 

yang nyata untuk kesatuan.”104 

Kami tidak perlu berkomentar. 

“Kardinal” Joseph Ratzinger, God and the World {Allah dan Dunia}, 2000, hal. 209: 

“Tentu saja seseorang dapat membaca Perjanjian Lama dengan cara yang tidak tertuju 

kepada Kristus; Perjanjian Lama tidak menunjuk kepada Kristus secara amat tidak 

ambigu. Dan jika para Yahudi tidak dapat melihat bahwa janji-janji Perjanjian Lama 

ditepati dalam diri-Nya, hal ini bukanlah sekadar akibat kehendak buruk dari pihak 

orang-orang Yahudi, namun  sungguh disebabkan oleh ketidakjelasan teks-teksnya dan 

ketegangan dalam hubungan antara teks-teks ini  dan sosok Yesus. Yesus 

memberi  suatu makna yang baru kepada teks-teks ini  – bagaimanapun Ialah 

yang pertama kali memberi  teks-teks ini  koherensi, relevansi, dan bobot yang 

tepat. Oleh sebab  itu, sungguh ada alasan-alasan yang baik untuk menyangkal bahwa 

Perjanjian Lama mengacu kepada Kristus dan untuk berkata, Tidak, Ia tidak berkata 

demikian. Dan juga ada alasan-alasan yang baik untuk mengacukan Perjanjian Lama 

kepada-Nya - itulah apa yang dipertentangkan oleh orang-orang Yahudi dan Kristiani.”105 

Kami tidak perlu berkomentar. 

“Kardinal” Ratzinger, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 

377: “...ada  sebuah obsesi akan kata-kata, yang memandang liturgi Gereja sebagai 

tidak sah dan oleh sebab  itu menempatkan dirinya sendiri di luar Gereja. Di sini, telah 

dilupakan bahwa keabsahan liturgi bergantung pertama-tama, bukan kepada kata-kata 

yang spesifik, melainkan kepada komunitas Gereja...”106 

Kami tidak perlu berkomentar. 

“Kardinal” Ratzinger, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik} (1982), hal. 

202: “Hal ini berarti bahwa sang Katolik tidak menuntut penghapusan keyakinan-

keyakinan Protestan dan penghancuran gereja-gereja mereka, namun  berharap agar mereka 

akan dikuatkan di dalam keyakinan-keyakinan mereka dan di dalam kenyataan gerejawi 

mereka.”

 

 

Kami tidak perlu berkomentar. 

Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#84), 25 Mei 1995: 

“...[Berbicara tentang ‘Gereja-gereja’ non-Katolik] Santo-santa ini datang dari semua Gereja 

dan Komunitas Gerejawi YANG memberi  KEPADA MEREKA JALAN MASUK KEPADA 

PERSEKUTUAN KESELAMATAN.”108 

Kami tidak perlu berkomentar. 

“Kardinal” Joseph Ratzinger, Principles of Catholic Theology {Prinsip-Prinsip Teologi Katolik}, 

1982, hal. 381: “Jika suatu diagnosis secara keseluruhan tentang teks itu [dokumen Vatikan 

II, Gaudium et Spes] dikehendaki, kita mungkin berkata bahwa (bersama teks tentang 

kebebasan beragama dan agama-agama dunia), teks itu yaitu  suatu revisi terhadap 

Silabus Pius IX, semacam kontra-silabus ... Akibatnya, kesatusisian posisi yang dipegang 

oleh Gereja di bawah Pius IX dan Pius X sebagai tanggapan terhadap situasi yang 

diciptakan oleh fase sejarah yang baru yang dimulai oleh Revolusi Prancis, telah, dalam 

skala yang besar, dikoreksi terutama di Eropa Tengah, namun  masih belum ada  pernyataan 

mendasar akan hubungan yang harus berada di antara Gereja dan dunia yang telah dihasilkan 

sesudah  tahun 1789 ....”109 

Kami tidak perlu berkomentar. 

“Kardinal” Joseph Ratzinger, Co-Workers of the Truth {Rekan-rekan Kerja Kebenaran}, 1990, hal. 

217: “Pertanyaan yang benar-benar meresahkan kita, pertanyaan yang sungguh menekan 

diri kita, yaitu  mengapa kita diwajibkan terutama untuk mempraktikkan Iman Kristiani 

di dalam totalitasnya; mengapa, sewaktu ada  banyak sekali cara-cara lain yang 

menuntun ke Surga dan keselamatan, kita harus diwajibkan untuk menanggung hari demi hari 

seluruh beban dogma-dogma gerejawi dan etos-etos gerejawi. Dan lalu kita kembali sampai 

kepada pertanyaan ini : Apakah itu sebenarnya realitas Kristiani? Apakah elemen yang 

spesifik di dalam Kekristenan yang bukan hanya membenarkannya, namun  membuatnya 

diwajibkan untuk kita? Sewaktu kita mempertanyakan fondasi dan arti dari keberadaan 

Kristiani kita, terselisip suatu keinginan palsu tertentu untuk kehidupan orang-orang lain 

yang tampaknya lebih nyaman yang juga akan masuk Surga. Kita sedemikian serupanya 

dengan para pekerja dari jam pertama di dalam perumpamaan pekerja-pekerja di dalam kebun 

anggur (Mt. 20:1-16). Sewaktu mereka menyadari bahwa mereka seharusnya dapat memperoleh 

upah harian satu denarius mereka dengan suatu cara yang jauh lebih mudah, mereka tidak dapat 

mengerti mengapa mereka harus bekerja seluruh hari. namun  betapa anehnya sikap ini  

yang menemukan bahwa tanggung jawab hidup Kristiani kita tidak bernilai hanya sebab  

denarius keselamatan dapat diperoleh tanpa tanggung jawab hidup Kristiani ini ! 

Mungkin tampak bahwa kita – bagaikan para pekerja dari jam pertama – ingin dibayar bukan 

hanya dengan keselamatan kita, namun  lebih khususnya dengan ketidakberpunyaan orang lain 

akan keselamatan. Pandangan ini  benar-benar sangat manusiawi dan sangat tidak 

Kristiani.”110 

Kami tidak perlu berkomentar. 

“Kardinal” Joseph Ratzinger, Co-Workers of the Truth {Rekan-rekan Kerja Kebenaran}, 1990, hal. 

29: “Untuk meminjam pernyataan Congar yang kuat, yaitu  sesuatu yang bodoh dan bejat 

untuk mengidentifikasikan keefektifan Roh Kudus di dalam karya alat gerejawi. Hal ini 

berarti bahwa bahkan di dalam kepercayaan Katolik, kesatuan Gereja masih berada di 


424 

 

dalam proses pembentukan; hal ini  hanya akan terbentuk secara total pada eskaton 

[akhir zaman], seperti halnya rahmat tidak akan disempurnakan sampai efek-efeknya menjadi 

kelihatan – walaupun komunitas Allah telah mulai menjadi kelihatan.”111 

Kami tidak perlu berkomentar. 

“Kardinal” Joseph Ratzinger, Introduction to Christianity {Perkenalan akan Kekristenan}, 2004, hal. 

349: “Sekarang telah menjadi jelas bahwa makna sejati dari iman akan kebangkitan sama 

sekali bukan ide akan pemulihan badan, yang kita telah sederhanakan di dalam pikiran kita; 

demikianlah adanya walaupun inilah gambaran ilustrasi yang digunakan di sepanjang Kitab 

Suci.”112 

Kami tidak perlu berkomentar. 

The Jewish People and Their Sacred Scriptures in the Christian Bible {Orang-orang Yahudi dan Kitab 

Suci Mereka di dalam Kitab Suci Kristiani}, Bagian II, A, Pembukaan oleh Benediktus XVI: 

“Penantian Mesianik orang-orang Yahudi tidaklah sia-sia... untuk membaca Kitab Suci seperti 

di dalam agama Yahudi memang secara pasti melibatkan suatu penerimaan yang implisit 

terhadap segala persyaratannya... yang meniadakan iman akan Yesus sebagai Mesias dan 

Anak Allah... Orang-orang Kristiani dapat dan harus mengakui bahwa Pembacaan Kitab 

Suci dengan cara Yahudi yaitu  hal yang mungkin dilakukan...”113 

ada  banyak pernyataan yang lain, namun  pernyataan-pernyataan ini merupakan lebih dari sepuluh 

contoh tentang bidah terang-terangan yang setara dengan penolakan secara langsung terhadap dogma 

Katolik tanpa perlu ada komentar. 

CHRIS FERRARA VS. PAUS PIUS VI TENTANG AMBIGUITAS DI DALAM BIDAH = SEBUAH KNOCKOUT 

UNTUK PAUS PIUS VI 

Di samping fakta bahwa ada  bidah-bidah terang-terangan yang tidak perlu dikomentari dari para 

Anti-Paus Vatikan II, seperti yang kita telah lihat di atas, YANG BENAR-BENAR MENGHANCURKAN 

POIN FERRARA yaitu  fakta bahwa Paus Pius VI mengajarkan hal yang benar-benar bertentangan 

dengan Ferrara tentang bidah dan ambiguitas! 

Paus Pius VI menyatakan bahwa para bidah, seperti Nestorius, telah selalu menyamarkan bidah-

bidah dan kesalahan-kesalahan doktrin mereka di dalam kontradiksi diri dan ambiguitas! 

Paus Pius VI, mengutuki Sinode Pistoia, Bulla “Auctorem fidei,” 28 Agustus 1794: 

“[Doktor-Doktor {Gereja} Kuno] mengenali kemampuan para inovator dalam seni 

penipuan. Agar tidak mengejutkan telinga-telinga para Katolik, mereka mencoba untuk 

menyembunyikan kelicikan-kelicikan dari muslihat mereka yang berliku-liku dengan 

memakai  kata-kata yang kelihatannya tidak berbahaya yang sedemikian rupa sehingga 

membuat mereka mampu menyisipkan kesesatan ke dalam jiwa-jiwa dengan cara yang paling 

halus. Sekalinya kebenaran ini  dikompromikan, mereka dapat, dengan memakai  

perubahan-perubahan kecil atau tambahan-tambahan dalam susunan kata, menyesatkan 

pengakuan iman yang diperlukan demi keselamatan kita, dan menuntun para umat beriman 

lewat kesesatan-kesesatan yang licin ke dalam kebinasaan kekal. Cara menyembunyikan dan 

berbohong ini sangatlah berbahaya, terlepas keadaan-keadaan di mana cara ini  digunakan. 

Untuk alasan-alasan yang amat baik, cara ini  tidak pernah boleh ditolerir di dalam suatu 


425 

 

Sinode yang kemuliaan utamanya yaitu , di atas segala hal, untuk mengajarkan kebenaran 

dengan jelas dan mengenyahkan segala bahaya kesalahan.” 

“Di samping itu, jika semua ini yaitu  dosa, cara ini  tidak boleh dibenarkan sewaktu 

seseorang melihatnya dilakukan – di bawah dalih bahwa pernyataan-pernyataan yang 

kelihatannya mengejutkan di satu tempat diajukan lebih lanjut di antara pernyataan-

pernyataan yang ortodoks di tempat lain; dan bahkan jika di tempat-tempat yang lain 

[pernyataan-pernyataan mengejutkan ini ] dikoreksi; seolah-olah memperkenankan 

kemungkinan baik untuk menyetujui atau menolak pernyataan ini , atau untuk 

menyerahkan pernyataan ini  kepada kecenderungan-kecenderungan pribadi dari 

individu- demikianlah metode yang tidak jujur dan lancang yang telah selalu digunakan 

oleh para inovator untuk menegakkan kesalahan. Metode ini  memperkenankan 

kemungkinan untuk memajukan kesalahan dan membenarkannya.” 

“Seolah-olah para inovator mengaku-aku bahwa mereka selalu bermaksud untuk mengajukan 

tulisan-tulisan yang alternatif, terutama kepada mereka yang beriman secara sederhana yang 

pada akhirnya hanya mengenali beberapa bagian dari kesimpulan-kesimpulan diskusi-diskusi 

ini  yang diterbitkan di dalam bahasa umum untuk penggunaan oleh semua orang. Atau, 

kembali lagi, seolah-olah para umat beriman yang sama ini  memiliki kemampuan untuk 

menelaah dokumen-dokumen semacam itu untuk menghakimi masalah-masalah ini  untuk 

diri mereka sendiri tanpa menjadi bingung dan menghindari sama sekali risiko kesesatan. 

Teknik ini  yaitu  suatu teknik yang paling tercela untuk menyusupkan kesalahan-

kesalahan doktrin, dan suatu teknik yang dahulu kala dikutuk oleh Pendahulu Kami, Santo 

Selestinus, yang menemukan penggunaannya di dalam karya tulis Nestorius, Uskup 

Konstantinopel, dan yang disingkapnya demi mengutuknya dengan hukuman yang paling 

besar yang mungkin dijatuhkan. Sekalinya karya tulis ini  ditelaah dengan berhati-

hati, sang penipu tersingkap dan menjadi kebingungan, sebab  ia menjelaskan dirinya 

sendiri dengan kata-kata yang begitu banyak, menyelang-selingi hal-hal yang benar 

dengan hal-hal lain yang tidak jelas, terkadang mencampuradukkan yang satu dengan 

yang lain sedemikian rupa sehingga ia juga dapat mengiyakan hal-hal yang bahkan 

ditolaknya, sembari, pada waktu yang bersamaan, memiliki dasar untuk menolak kata-

kata yang sama yang ia akui.” 

“Untuk menyingkap jebakan-jebakan yang demikian, suatu hal yang menjadi diperlukan 

dengan kekerapan tertentu di setiap abad, tiada suatu metode lain pun yang dibutuhkan 

selain metode berikut: MANAKALA DIBUTUHKAN UNTUK MENYINGKAP PERNYATAN-

PERNYATAAN YANG MENYEMBUNYIKAN KESALAHAN TERTENTU YANG DICURIGAI ATAU 

BAHAYA YANG DISELUBUNGI OLEH AMBIGUITAS, SESEORANG HARUS MENCELA 

MAKNANYA YANG SESAT YANG MENYAMARKAN KESALAHAN YANG BERLAWANAN 

DENGAN KEBENARAN KATOLIK.” 

Paus Pius VI mengajarkan bahwa jika seseorang menyelubungi bidah di dalam ambiguitas, seperti yang 

telah dilakukan oleh para bidah di sepanjang masa, seorang Katolik harus membuat sang bidah 

bertanggung jawab atas makna bidahnya dan mencela makna bidah ini  yang diselubungi oleh 

ambiguitas! Hal ini sendiri menghancurkan seluruh rangkaian artikel dan penolakan Chris 

Ferrara terhadap sedevakantisme. (Juga, mohon mencatat suatu perbedaan yang penting: kami tidak 

menyatakan bahwa dokumen-dokumen atau pernyataan-pernyataan yang semata-mata ambigu, namun  

yang tidak mengajarkan kontradiksi doktrin yang jelas terhadap Iman Katolik, yaitu  bidah; tidak, kami 

menyatakan bersama Paus Pius VI bahwa dokumen-dokumen yang mengandung pernyataan-pernyataan 


426 

 

bidah atau pendapat-pendapat yang jelas-jelas menentang dogma Katolik (‘pernyataan-pernyataan yang 

mengejutkan”, menurut Pius VI) namun  yang juga mengandung kontradiksi diri dan ambiguitas bersama 

dengan pernyataan-pernyataan bidah ini , tetap yaitu  bidah terlepas ambiguitas dan kontradiksi 

diri yang menyertai bidah ini . Suatu contoh yaitu  seseorang yang mengaku-aku “Katolik” yang 

terus-menerus mendukung aborsi, namun  yang terkadang berkata bahwa ia menerima ajaran Gereja 

tentang aborsi. Orang ini yaitu  bidah terang-terangan, walaupun kontradiksi dirinya dan ambiguitas 

yang tersirat dari dari posisinya. Suatu contoh lain yaitu  seorang pria yang berkata bahwa kita tidak 

boleh mengonversikan para Protestan (suatu bidah terang-terangan), namun  yang juga menyatakan 

bahwa Gereja Katolik sendiri yaitu  kepenuhan dari Iman Kristiani yang harus dipeluk oleh semua 

orang. Ia yaitu  seorang bidah terang-terangan, terlepas fakta bahwa pernyataan-pernyataannya yang 

selanjutnya {bahwa Gereja Katolik yaitu  kepenuhan dari Iman Kristiani} kelihatannya bertentangan 

dengan pernyataan yang sebelumnya. Para bidah sangatlah tidak jujur dan pembohong, maka mereka 

sering mencoba untuk menentang atau mengurangi keofensifan bidah-bidah mereka lewat taktik yang 

licin yaitu kontradiksi diri dan ambiguitas yang menyertainya; itulah poin dari Paus Pius VI.) 

Perhatikan betapa Chris Ferrara menentang secara langsung ajaran Paus Pius VI. 

Chris Ferrara, Catholic Family News, “Opposing the 

Sedevacantist Enterprise {“Melawan Kelompok 

Sedevakantis, Bagian II”}, Oktober 2005, hal. 25: 

“Maka, kita menghadapi sebuah dokumen 

[Dignitatis Humanae dari Vatikan II] yang 

tampaknya mengandung kontradiksi diri, yang 

kelihatanya berasal dari upaya Konsili untuk 

menyenangkan kedua fraksi konservatif dan liberal 

dari antara Bapa-bapa Konsili. Suatu dokumen 

yang menentang dirinya sendiri sebab  tampak 

mendukung dan menentang ajaran tradisional 

pada waktu yang bersamaan hampir tidak bisa 

dikatakan sebagai mengandung kontradiksi 

terang-terangan terhadap ajaran tradisional... 

sebab  masalah yang kita hadapi yaitu  

ambiguitas, ketidakkonsistenan internal, dan 

pembaruan...”  

Paus Pius VI: “Di samping itu, jika semua ini yaitu  

dosa, cara ini  tidak boleh dibenarkan 

sewaktu seseorang melihatnya dilakukan – di 

bawah dalih bahwa pernyataan-pernyataan 

yang kelihatannya mengejutkan di satu tempat 

diajukan lebih lanjut di antara pernyataan-

pernyataan yang ortodoks di tempat lain; dan 

bahkan jika di tempat-tempat yang lain 

[pernyataan-pernyataan mengejutkan 

ini ] dikoreksi; seolah-olah 

memperkenankan kemungkinan baik untuk 

menyetujui atau menolak pernyataan ini , 

atau untuk menyerahkan pernyataan ini  

kepada kecenderungan-kecenderungan pribadi 

dari individu- demikianlah metode yang tidak 

jujur dan lancang yang telah selalu digunakan 

oleh para inovator untuk menegakkan 

kesalahan. Metode ini  memperkenankan 

kemungkinan untuk memajukan kesalahan dan 

membenarkannya. 

 

“Teknik ini  yaitu  suatu teknik yang paling 

tercela untuk menyusupkan kesalahan-kesalahan 

doktrin, dan suatu teknik yang dahulu kala dikutuk 

oleh Pendahulu Kami, Santo Selestinus, yang 

menemukan penggunaannya di dalam karya 

tulis Nestorius, Uskup Konstantinopel, dan 

yang disingkapnya demi mengutuknya dengan 

hukuman yang paling besar yang mungkin 

dijatuhkan...” 

 

 

Tentunya, Paus Pius VI benar dan Chris Ferrara sama sekali salah. Perhatikan bahwa Pius VI juga berkata 

bahwa beberapa dari kesalahan-kesalahan doktrin ini (yang juga yaitu  bidah dalam kasus ini, 


427 

 

sebab  ia merujuk kepada bidah-bidah dari Nestorius, sang bidah kelas kakap) yang hanya 

tersingkap lewat penelaahan dan analisis yang cermat! 

Pius VI: “Teknik ini  yaitu  suatu teknik yang paling tercela untuk menyusupkan kesalahan-

kesalahan doktrin, dan suatu teknik yang dahulu kala dikutuk oleh Pendahulu Kami, Santo 

Selestinus, yang menemukan penggunaannya di dalam karya tulis Nestorius, Uskup 

Konstantinopel, dan yang disingkapnya demi mengutuknya dengan hukuman yang paling besar 

yang mungkin dijatuhkan. Sekalinya karya tulis ini  ditelaah dengan 

berhati-hati, sang penipu tersingkap dan menjadi kebingungan, sebab  ia menjelaskan 

dirinya sendiri dengan kata-kata yang begitu banyak, menyelang-selingi hal-hal yang benar 

dengan hal-hal lain yang tidak jelas, terkadang mencampuradukkan yang satu dengan yang lain 

sedemikian rupa sehingga ia juga dapat mengiyakan hal-hal yang bahkan ditolaknya, sembari, 

pada waktu yang bersamaan, memiliki dasar untuk menolak kata-kata yang sama yang ia akui.” 

namun  bukankah analisis dan penelaahan ini  tidak diperlukan untuk kontradiksi terang-terangan 

terhadap ajaran Katolik? Itulah yang dikatakan oleh Chris Ferrara. 

Chris Ferrara, The Remnant, 30 September 2005, hal. 18: 

“...di manakah pernyataan-pernyataan yang sesat secara objektif? Jika memang pernyataan-

pernyataan itu ada, seharusnya yaitu  suatu hal yang mudah untuk mengutip dalil-dalil yang 

bidah yang dituturkan... ‘Bidah-bidah’ ini  seharusnya terlihat jelas tanpa ‘komentar’ 

yang membantu dari tuduhan-tuduhan sedevakantis.”114 

Chris Ferrara sangatlah salah. Para bidah menipu melalui kontradiksi dan ambiguitas sebab  bidah 

sendiri yaitu  suatu kebohongan dan kontradiksi. 

Paus Pius XI, Rite expiatis (#6), 30 April 1926:  

“...bidah-bidah sesat sedikit demi sedikit muncul dan bertumbuh di 

dalam kebun anggur Tuhan, disebarkan oleh bidah terang-terangan 

atau oleh para penipu yang lihai yang, sebab  mereka berlagak keras dalam 

kehidupan mereka dan memberi  kesan yang palsu akan kebajikan dan kesalehan, dengan 

mudah menyesatkan orang-orang yang lemah dan sederhana.”115 

Perhatikan, bidah-bidah muncul melalui orang-orang yang bidah secara terbuka dan tidak mencoba 

untuk menipu, serta melalui para penipu yang lihai seperti Benediktus XVI, yang mencampuradukkan 

pernyataan-pernyataan serta tindakan-tindakan yang konservatif di antara bidah-bidahnya yang 

mencengangkan dan tidak terpungkiri. Untuk menggambarkan poin ini kembali, pertimbangkanlah fakta 

bahwa sang bidah kelas kakap Arius membuat dirinya sendiri disetujui oleh Konstantinus {Kaisar 

Romawi yang menggelar Konsili Nicea I di abad ke-4} dengan memberi  kepada sang Kaisar suatu 

pengakuan iman yang ambigu. namun , St. Atanasius tidak tertipu, dan menolak untuk menganggapnya 

sebagai seorang Katolik, 

“Arius hadir bersama Euzoios, sekutunya di dalam doktrin dan pengasingan. Ia meninggalkan 

sang Kaisar [Konstantinus] dengan suatu pengakuan iman yang berhati-hati yang dapat 

diartikan dengan makna Arian atau ortodoks namun  yang tidak mengandung kata 

‘sehakikat.’ Konstantinus puas, dan menghapuskan hukuman pengasingannya, dan 

memerintahkan agar Arius diterima kembali kepada jabatannya di dalam imamat. namun , 

superior gerejawi Arius, Atanasius, menolak untuk menerimanya.”116 


428 

 

Menurut Chris Ferrara, orang-orang Katolik seharusnya menerima Arius yang menolak Kristus, sebagai 

seorang Katolik seperti yang dilakukan Konstantinus sebab pengakuan imannya ambigu. Chris Ferrara 

yaitu  penipu yang sempurna dari Setan; Iblis hanya perlu memerintahkan kepada sang bidah 

sesudah  mengajarkan bidahnya untuk membumbuinya dengan sedikit ambiguitas, dan 

meladainya dengan sekelumit kontradiksi, dan ia akan memerintahkan seluruh dunia untuk 

mengikuti sang bidah dan tetap berada di bawah perlindungannya. Dan inilah persisnya bagaimana 

Iblis telah begitu berhasil mengurung orang-orang di dalam sekte Vatikan II yang murtad dan bidah 

secara terang-terangan. Orang-orang melihat sedikit pernyataan-pernyataan atau tindakan-tindakan 

konservatif dari para bidah, dan mereka meyakinkan diri mereka sendiri bahwa orang-orang ini  

tidak mungkin yaitu  bidah yang berbahaya, walaupun mereka menolak dan menghancurkan Iman di 

sekeliling mereka, seperti yang kami telah tunjukkan. Dengan demikian, Iblis menang. 

Untuk menggambarkan lebih lanjut “keabsurdan paten” dari “teologi” Chris Ferrara, seseorang dapat 

menulis sebuah dokumen yang menolak bahwa Bunda Maria tidak memiliki dosa asal berulang-ulang 

kali, dan berkata pada akhir dokumen ini  bahwa ia mengakui ajaran Gereja tentang dogma Santa 

Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa, dan dokumen ini  tidak akan menjadi bidah secara 

terang-terangan sebab  dokumen itu memuat “kontradiksi diri”. Adakah hal yang lebih bodoh dari hal 

ini? Ferrara menerapkan teologi sesat ini, yang secara langsung bertentangan dengan ajaran Paus Pius VI 

(seperti yang kita lihat di atas), kepada analisisnya tentang Deklarasi Vatikan II tentang Kebebasan 

Beragama. 

Chris Ferrara, Catholic Family News, “Opposing the Sedevacantist Enterprise, Part II” {“Melawan 

Kelompok Sedevakantis, Bagian II”}, Oktober 2005, hal. 24-25:  

“Tuduhan Kelompok [Sedevakantis] ini  atas bidah terang-terangan di dalam DH 

[Dignitatis Humanae, Deklarasi Vatikan II tentang Kebebasan Beragama] menjadi bahkan lebih 

lemah sewaktu seseorang mempertimbangkan Artikel 1 dari DH yang mengatakan bahwa 

Konsili ini  ‘tidak menjamah doktrin Katolik tradisional akan kewajiban moral 

manusia dan masyarakat terhadap agama sejati dan terhadap Gereja Kristus yang satu.’”117 

Deklarasi Vatikan II tentang Kebebasan Beragama mengandung bidah yang jelas melawan dogma Gereja 

bahwa Negara memiliki hak untuk mengekang ungkapan secara publik dari agama-agama sesat. Fakta 

bahwa Deklarasi Vatikan II tentang Kebebasan Beragama mengaku “tidak menjamah doktrin Katolik 

tradisional” sama sekali tidak berarti apa-apa. Para “Katolik Lama {orang-orang yang memisahkan diri 

dari Gereja Katolik di bawah Serikat Gereja-gereja Katolik Lama Utrecht dan bersekutu secara penuh 

dengan Gereja Anglikan}” mengatakan hal yang sama persis, seperti yang dikatakan oleh para bidah di 

sepanjang sejarah. 

Paus Pius IX, Graves ac diuturnae (#2), 23 Maret 1875: 

“Mereka [para ‘Katolik Lama’] mengulang-ulangi secara terbuka pernyataan bahwa 

mereka sama sekali tidak menolak Gereja Katolik dan kepalanya yang kelihatan, namun  

mereka memiliki semangat terhadap kemurnian doktrin Katolik... namun  faktanya yaitu  

bahwa mereka menolak untuk mengakui semua hak istimewa yang ilahi milik vikaris Kristus di 

bumi dan tidak tunduk kepada Magisterium-Nya yang tertinggi.”118 

Maka, menurut Ferrara, kasus bahwa para “Katolik Lama” yaitu  bidah tidaklah sah, sebab  mereka 

mengulang-ulangi pernyataan bahwa mereka memiliki semangat terhadap kemurnian doktrin Katolik, 

dan bahwa mereka secara terang-terangan berkata bahwa mereka tidak menolak ajaran Katolik. namun  

tidak, Gereja Katolik mengajarkan bahwa mereka yaitu  bidah terang-terangan, dan semua orang yang 

mengikuti ajaran serta sekte mereka dianggap sebagai bidah. 


429 

 

Paus Pius IX, Graves ac diuturnae (#1-4), 23 Maret 1875: 

“...para bidah yang baru yang menyebut diri mereka sendiri para ‘Katolik Lama’... para skismatis 

dan bidah ini... sekte mereka yang jahat... para putra kegelapan... fraksi mereka yang jahat... sekte 

mereka yang tercela... Sekte ini menggulingkan fondasi-fondasi dari agama Katolik, tanpa rasa 

malu menolak definisi-definisi dogmatis dari Konsili Ekumenis Vatikan dan membaktikan diri 

mereka sendiri untuk kehancuran jiwa-jiwa di dalam berbagai cara. Kami telah mendekretkan 

dan menyatakan di dalam surat Kami pada tanggal 21 November 1873 bahwa para pria 

yang malang ini  yang merupakan bagian dari, mengikuti, dan mendukung sekte 

ini  harus dianggap sebagai skismatis dan terpisah dari persekutuan dengan 

Gereja.”119 

Paus Pius IX, Quartus Supra (#6), 6 Januari 1873: 

“Para bidah dan skismatis telah selalu terbiasa menyebut diri mereka sendiri Katolik dan 

menyatakan kebaikan-kebaikan mereka yang banyak agar dapat memimpin orang-orang dan 

pangeran-pangeran kepada kesesatan mereka.”120 

Kita dapat melihat bahwa “teologi” Chris Ferrara secara langsung bertentangan bukan hanya dengan 

ajaran para Paus, namun  dengan akal sehat. Bahkan, kebodohan satanik dari posisi Ferrara (dan banyak 

orang lain) – bahwa para pemurtad serta Anti-Paus Vatikan II bukanlah bidah terang-terangan sebab  

mereka terkadang menentang diri mereka sendiri dan memakai  ambiguitas bersama bidah-bidah 

mereka yang mencengangkan –mungkin diejawantahkan dengan cara melihat kasus John Kerry yang 

murtad. 

Kami akan meragukan bahwa hampir semua yang membaca artikel ini percaya bahwa John Kerry yaitu  

seorang Katolik. Bahkan orang-orang di Fransiscan University mengakui bahwa: “Anda tidak bisa 

menjadi seorang Katolik dan menjadi pro-aborsi,” seperti yang diserukan oleh papan-papan protes 

mereka sewaktu ia berbicara di Ohio. namun  John Kerry menyatakan bahwa ia menerima ajaran 

Katolik, walaupun ia secara konsisten memberi  suara untuk mendukung aborsi. 

Pada saat Debat Kepresidenan pada tahun 2004 dengan George W. Bush, John Kerry menyatakan:”Saya 

tidak bisa memberlakukan artikel iman saya kepada orang lain.” Anda lihat? John Kerry telah 

menyatakan secara publik bahwa ajaran Gereja melawan aborsi yaitu  artikel imannya, namun  ia 

sederhananya tidak dapat menerapkannya atau memberlakukannya di dalam ruang lingkup publik. 

Argumennya sangatlah konyol, suatu kebohongan, sebuah kontradiksi, tentunya – layaknya segala bidah. 

namun  menurut Chris Ferrara, John Kerry harus dianggap sebagai seorang Katolik, sebab suatu hal yang: 

“...menentang dirinya sendiri sebab  tampak mendukung dan menentang ajaran 

tradisional pada waktu yang bersamaan hampir tidak bisa dikatakan sebagai mengandung 

kontradiksi terang-terangan terhadap ajaran tradisional...”121 

Kita dapat melihat di sini bahwa pernyataan ini yaitu  suatu omong kosong belaka. Jika pernyataan ini 

benar, John Kerry hampir tidak bisa dianggap sebagai seorang bidah terang-terangan sewaktu ia 

menyatakan secara publik bahwa ajaran Gereja melawan aborsi yaitu  artikel imannya, walaupun ia 

menentang pernyataan publiknya dengan mendukung aborsi secara tegar. John Kerry harus dianggap 

sebagai seorang Katolik, menurut pembejatan yang hina terhadap ajaran Katolik, yang diilhami oleh 

Setan, yang dijajakan oleh sang bidah Chris Ferrara di dalam penerbitan ‘tradisional’. Kesimpulan ini juga 

membuat Ferrara menentang salah satu rekan dan teman baiknya, Michael Matt, yang menyatakan 

dengan jelas (atas otoritasnya sendiri, sebab  hal ini belum pernah dinyatakan oleh ‘Paus’-nya) bahwa 

John Kerry yaitu  seorang pemurtad. 


430 

 

Michael Matt, The Remnant, 15 April 2005, hal. 5: 

“Mari mengambil contoh Senator John F. Kerry, seorang Katolik pertama yang 

dinominasikan untuk kepresidenan oleh kedua partai yang besar sejak tahun 1960. Kerry, 

yang kakek dari pihak ayahnya yaitu  orang Yahudi, omong-omong, membuat suatu pernyataan 

yang meniru Kennedy dengan baik pada hari ini: ‘Kita memiliki suatu perpisahan antara Gereja 

dan negara di negara ini,’ ujar Kerry baru-baru ini di majalah Time. ‘Seperti yang dikatakan 

dengan sangat jelas oleh John Kennedy, Saya akan menjadi seorang Presiden yang kebetulan 

seorang Katolik, dan bukan seorang Presiden Katolik.’ Berkenaan dengan hal ini , 

setidaknya, kita dapat bersetuju dengan tuan dari Massachusetts itu! Faktanya, kami bahkan 

akan mengambil satu langkah lebih jauh dengan mencatat bahwa kandidat kepresidenan, 

Kerry, sama sekali tidak Katolik. 

“Oh, ya, mantan putra altar ini berkata bahwa ia Katolik; ia dilaporkan mengeluh sewaktu 

pegawainya tidak memberi  waktu yang cukup di dalam jadwalnya untuk Misa hari 

Minggu; situs resminya mengumumkan bahwa ‘John Kerry dibesarkan di dalam iman 

Katolik dan terus menjadi seorang anggota yang aktif dari Gereja Katolik.’ namun  ia bukan 

Katolik, dan tidak pun istrinya – seorang anti-Katolik yang mengaku sebagai seorang Katolik 

yang mempraktikkan agamanya. Gambaran John Kerry tentang dirinya sendiri dan istrinya sama 

sekali tidak benar: [Saya seorang] Katolik yang percaya dan mempraktikkan agama, menikah 

dengan seorang Katolik lain yang percaya dan mempraktikkan agama.’ Kedengarannya bagus. 

Masalahnya, John Kerry yaitu  seorang pemurtad.’”122 

Kelihatannya Ferrara dan Matt banyak sekali berbicara. Dan memang, kasus tentang John Kerry 

membuktikan poin ini , sebab  jika anda tidak dapat berkata bahwa Benediktus XVI yang 

mengambil bagian secara aktif di dalam ibadat Yahudi, tidak percaya bahwa Yesus benar-benar yaitu  

Mesias dan Putra Allah, mengajarkan bahwa kita tidak boleh mengonversikan para Protestan, 

diinisiasikan ke dalam Islam, dst. tidak bisa dianggap sebagai seorang bidah – maka anda tidak memiliki 

pembenaran apa pun untuk melabeli John Kerry sebagai seorang bidah. Faktanya, dogma-dogma yang 

ditolak oleh Benediktus XVI telah jauh lebih sering didefinisikan dibandingkan  dogma yang ditolak oleh Kerry. 

Penolakan 17): Kedua Kitab Hukum Kanonik: KHK 1917 dan 1983 mengajarkan 

bahwa suatu deklarasi dibutuhkan bagi seseorang untuk kehilangan jabatannya 

akibat bidah. 

 

Chris Ferrara, “A Challenge to the Sedevacantist Enterprise, Part II [Tantangan untuk Kelompok 

Sedevakantis, Bagian II],” The Remnant, 30 September 2005, hal. 18: 

“Memang benar, Kitab Hukum Kanonik 1917 dan 1983 menentukan bahwa tidak seorang 

pun dapat mendesakkan bahwa suatu jabatan gerejawi telah hilang akibat bidah kecuali 

jika hal ini telah ditetapkan lewat suatu deklarasi dari otoritas yang kompeten.”123 

Jawaban: Pandangan ini sama sekali tidak benar. Kitab Hukum Kanonik 1983 yang bidah dan tidak valid 

milik Anti-Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa deklarasi semacam itu diperlukan di dalam Kanon 

194 § 3. namun  pernyataan ini tidak ada  di dalam Kitab Hukum Kanonik 1917. Kanon yang sepadan 

dengan kanon 194 di dalam Kitab Hukum Kanonik tahun 1917 yaitu  kanon 188. Kanon 188 dari Kitab 

Hukum Kanonik 1917 tidak memuat ketentuan ini , dan hanya menyatakan bahwa seorang imam 

yang “meninggalkan iman Katolik secara publik” (188 § 4) kehilangan jabatannya oleh sebab  fakta itu 

sendiri ‘tanpa suatu deklarasi apa pun’. 


431 

 

Kanon 188.4, Kitab Hukum Kanonik 1917: 

“Suatu jabatan menjadi kosong secara ipso facto dan tanpa suatu deklarasi apa pun akibat 

pengunduran diri tersirat yang terjadi secara ipso iure (demi hukum), jika klerus: … 4) telah 

meninggalkan iman Katolik secara publik.”124 

Perhatikan bahwa Kitab Hukum Kanonik 1917 tidak menyatakan bahwa suatu deklarasi diperlukan, dan 

justru menyatakan hal yang berlawanan – “tanpa suatu deklarasi apa pun”! Sewaktu seseorang 

membandingkan kedua kanon ini , ia dapat melihat perbedaan yang mencolok. 

Kanon 194.1-3, Kitab Hukum Kanonik 1983: 

“Demi hukum itu sendiri diberhentikan dari jabatan gerejawi: ...2- orang yang secara publik 

meninggalkan iman katolik atau persekutuan Gereja... Pemberhentian yang disebut dalam no. 2 

dan 3 hanya dapat didesakkan, jika mengenai hal itu pasti dari pernyataan otoritas yang 

berwenang.”125 

Ini kemungkinan merupakan alasan Ferrara tidak memberi  kutipan Kitab Hukum Kanonik 1917 di 

dalam catatan kakinya; ia hanya memberi  suatu rujukan kepada Kitab Hukum Kanonik 1983. Maka, 

apa yang sedang kita hadapi yaitu  suatu kebohongan lain yang terang-terangan dari Ferrara.  

Penolakan 18): Konsili Konstanz mengutuk ide bahwa seorang bidah berhenti 

menjadi Paus. 

 

Kesalahan-kesalahan Yohanes Hus, Dikutuk oleh Konsili Konstanz: 

“#20. Jika sang Paus yaitu  orang yang fasik dan terutama jika ia telah diketahui terlebih 

dahulu (sebagai seseorang yang terkutuk), maka layaknya Yudas, sang Rasul, ia berasal dari Iblis, 

seorang pencuri, dan seorang putra kebinasaan dan bahwa ia bukanlah kepala dari militan 

suci Gereja, sebab  ia bukanlah anggotanya.”126 – Dikutuk 

Jawaban: Tidak, Konsili Konstanz sama sekali tidak mengutuk ide bahwa seorang bidah akan berhenti 

menjadi Paus. Ini yaitu  kesalahpahaman yang serius terhadap dalil ini . Seperti yang kita telah 

lihat dengan jelas di atas, Konsili ini  mengutuk sesuatu yang jauh berbeda. Konsili Konstanz 

mengutuk dalil bahwa seseorang yang fasik akan berhenti menjadi kepala Gereja, sebab  ia bukan 

anggota Gereja. Dalil dari sang bidah Hus dengan benar menyatakan bahwa seseorang yang bukanlah 

anggota dari Gereja tidak bisa menjadi kepala dari Gereja, namun  dalil ini memuat suatu masalah sewaktu 

dalil ini mengatakan bahwa Sri Paus berhenti menjadi seorang anggota jika ia “orang fasik”. 

Paus Pius XII, Mystici Corporis Christi (#23), 29 Juni 1943: 

“sebab  tidak semua dosa, bagaimanapun beratnya dosa ini , memiliki kodrat tersendiri 

yang sedemikian rupa sehingga memotong seorang manusia dari Tubuh Gereja, layaknya 

skisma atau bidah atau kemurtadan.”127 

Seorang Paus yang semata-mata jahat tidak berhenti menjadi Paus, namun  seorang bidah atau skismatis 

berhenti menjadi Paus. Hal ini disebab kan bidah dan skisma dan kemurtadan memisahkan seseorang 

dari Gereja, sedangkan dosa-dosa lain (tidak peduli seberat atau sefasik apa pun) tidak memisahkan 

seseorang dari Gereja. Bukanlah suatu hal yang bertentangan dengan kebenaran bahwa seorang bidah 

berhenti menjadi seorang Paus. Bahkan, banyak dari dalil-dalil lain dari Yohanes Hus yang dikutuk oleh 

Konsili Konstanz yang mengulangi ide sesat yang diungkapkan di atas dalam berbagai cara: bahwa orang-

orang fasik bukanlah bagian dari Gereja.128 


432 

 

St. Robertus Bellarminus, De Romano Pontifice, Buku II, Bab 30: 

“Prinsip ini yaitu  prinsip yang teramat pasti. Seorang non-Kristiani sama sekali tidak 

dapat menjadi Paus, seperti yang diakui oleh Gaetanus sendiri (ib. C. 26). Alasan untuk hal 

ini yaitu  ia tidak bisa menjadi kepala dari sesuatu yang di dalamnya ia bukan seorang 

anggota; akan namun , barang siapa bukan seorang Kristiani bukanlah anggota Gereja, dan 

seorang bidah manifes bukan seorang Kristiani seperti yang diajarkan secara jelas oleh St. 

Siprianus (lib. 4, epist. 2), St. Atanasius (Scr. 2 cont. Arian), St. Agustinus (lib. De grat. 

Christ. Cap. 20), St. Hieronimus (contra Lucifer.) dan lain-lain; maka, seorang bidah 

manifes tidak dapat menjadi Paus.” 

Penolakan 19): Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tidak menunjukkan 

secara terang-terangan suatu bidah sebab  Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI 

tidak menandatanganinya. 

 

Jawaban: Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran dengan sendirinya membuktikan bahwa para “Paus” 

Vatikan II yaitu  Anti-Paus. Fakta bahwa Yohanes Paulus II tidak pun Benediktus XVI menulis dokumen 

ini  ataupun menandatanganinya tidaklah relevan. Mereka berdua mendukung deklarasi 

ini  secara publik berulang kali, dan setuju dengan deklarasi itu. 

Yohanes Paulus II, 19 Januari 2004, Pada Pertemuan dengan Para Lutheran dari Finlandia: 

“...Saya ingin mengungkapkan rasa syukur saya untuk perkembangan ekumenis yang terjadi 

antara orang-orang Katolik dan Lutheran dalam lima tahun sejak penandatanganan Deklarasi 

Gabungan tentang Doktrin Pembenaran.”129 

Benediktus XVI, Sambutan kepada para Protestan pada Hari Orang Muda Sedunia, 19 Agustus 

2005: 

“...Deklarasi Gabungan tentang Doktrin Pembenaran (1999) yang penting...”130 

Seseorang yang bernama James Smith dapat menuliskan suatu dokumen yang menentang Dikandungnya 

Bunda Maria Tanpa Dosa Asal, dan jika anda memberi pidato untuk mendukung dokumen Smith, 

tindakan ini  akan menjadikan anda seorang bidah terang-terangan. Fakta bahwa anda tidak 

menulis dokumen Smith ataupun menuliskannya sama sekali tidak berarti apa-apa; anda menyetujuinya 

secara publik. Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI menyetujui secara publik Deklarasi Gabungan 

dengan Para Lutheran tentang Pembenaran, yang mengajarkan bahwa bidah-bidah Lutheran yang 

terburuk tidaklah dikutuk oleh Konsili Trente. Mereka yaitu  bidah-bidah terang-terangan. 

Sama sekali tidak ada alasan untuk tidak menerima Posisi Sedevakantis 

 

Kami telah menanggapi secara sangat rinci penolakan-penolakan melawan posisi sedevakantis. Kita 

dapat melihat bahwa tidak ada  satu ajaran Gereja Katolik pun yang dapat menyebabkan seseorang 

untuk menerima fakta yang tidak terpungkiri bahwa sekte Vatikan II bukanlah Gereja Katolik, dan bahwa 

para pria yang telah mengepalai sekte ini (para “Paus” pasca-Vatikan II) bukanlah Paus sama sekali, 

melainkan, para Anti-Paus non-Katolik. Sebaliknya, ada  bukti yang tidak terbantahkan untuk posisi 

sedevakantis dan segala alasan untuk menerimanya. 

  



BAGIAN II – ANDA AKAN 

MENGENALINYA LEWAT BUAH-

BUAHNYA.