gereja vatikan 21

 


965, statistik Jones menunjukkan bahwa iman Katolik dan devosi kepada Iman tidaklah 

sebesar yang sebelumnya. 

“-Pernikahan Katolik. Pernikahan-pernikahan Katolik telah turun jumlahnya sebesar sepertiga 

sejak 1965, sedangkan jumlah per tahun dari pembatalan pernikahan telah membumbung dari 

338 pada tahun 1968 menjadi 50.000 pada tahun 2002. 

“-Kehadiran di Misa. Gallup Poll pada tahun 1958 melaporkan bahwa tiga dari empat orang-orang 

Katolik menghadiri gereja pada hari Minggu. Suatu penelitian yang baru-baru ini dari University 

of Notre Dame menemukan bahwa hanya satu dari empat hadir. Hanya 10 persen dari guru-

Angka-Angka Penurunan Vatikan II 

483 

 

guru religius awam pada hari ini menerima ajaran gereja tentang kontrasepsi. Lima puluh tiga 

persen percaya bahwa seorang Katolik dapat melakukan aborsi dan tetap menjadi seorang 

Katolik yang baik. Enam puluh lima persen percaya bahwa orang-orang Katolik boleh bercerai 

dan menikah kembali. Tujuh puluh tujuh persen percaya bahwa seseorang dapat menjadi seorang 

Katolik yang baik tanpa pergi ke Misa di hari Minggu. Sebuah jajak pendapat New York Times 

menyatakan bahwa 70 persen dari seluruh orang Katolik di dalam kelompok umur 18 sampai 44 

percaya bahwa Ekaristi hanyalah suatu ‘peringatan simbolis’ akan Yesus. 

Pada pembukaan Vatikan II, para reformer menggila. Mereka ingin menuntun kita semua keluar 

dari ghetto-ghetto Katolik kita dengan mengubah liturgi, menulis ulang Kitab Suci dan buku-buku 

Misa, meninggalkan tradisi-tradisi lama, membuat kita menjadi lebih ekumenis, dan menyambut 

dunia. Apakah peninggalan mereka? Empat dekade kehancuran yang dibawa atas gereja, dan 

kekejian terakhir dari suatu hierarki yang tidak memiliki semangat moral dari para Pramuka 

untuk dapat menghalau orang-orang yang bejat dari seminari, dan mengeluarkan mereka dari 

rumah-rumah rektor serta sekolah-sekolah Bunda Gereja yang Kudus. Sampai kepausan Pius XII, 

Gereja menahan desakan untuk menyesuaikan dirinya sendiri kepada dunia dan tetap menjadi 

mercusuar moralitas untuk umat manusia. Sejak Vatikan II, Gereja telah mencoba untuk bertemu 

dunia. Statistik Jones menceritakan kita harga dari ketenteraman.”1 

_______________________________ Bagian 29: 

 

1 http://www.townhall.com/opinion/columns/patbuchanan/2002/12/11/165161.html 

 

Pro-Aborsi dan Bagian dari Sekte Vatikan II 

484 

 

30. Seseorang Dapat Menjadi Pro-Aborsi dan 

Menjadi Bagian dari Sekte Vatikan II dalam 

Waktu yang Bersamaan 

“…tidak satu pun dari politikus yang pro-aborsi, tidak peduli betapa menonjolnya 

ataupun betapa lancangnya ia mendukung aborsi, telah diekskomunikasikan (yaitu 

dikeluarkan dari ‘Gereja’) oleh para Anti-Paus Vatikan II.” 

 

John Kerry menerima ‘Komuni’ di sebuah gereja Vatikan II di Boston.1 Perhatikan gambar bayi yang secara mukjizat 

tampak seolah-olah Kerry memakannya! 

Pro-Aborsi dan Bagian dari Sekte Vatikan II 

485 

 

Kami telah membahas dengan sangat rinci bahwa sekte Vatikan II dipenuhi indiferentisme rohani dan 

penolakan dogma-dogma dasar Katolik. Satu-satunya isu yang pura-pura dibela oleh Vatikan II yaitu  

isu-isu sehubungan dengan moralitas dan martabat manusia, bukan isu-isu tentang Iman. Misalnya, 

walaupun sekte Vatikan II tentunya mendukung agama-agama sesat, seperti Islam dan Yahudi, sekte 

Vatikan II berpura-pura melawan aborsi dan kontrasepsi artifisial. 

namun , tidak satu pun dari politikus yang pro-aborsi, tidak peduli betapa menonjolnya ataupun 

betapa lancangnya ia mendukung aborsi, telah diekskomunikasikan (yaitu dikeluarkan dari 

‘Gereja’) oleh para Anti-Paus Vatikan II. Sewaktu kita mempertimbangkan fakta ini, ingatlah bahwa tidak 

sampai 72 jam Yohanes Paulus II ‘mengekskomunikasikan’ Uskup Agung Marcel Lefebvre sebab  ia 

mengonsekrasikan uskup-uskup tanpa mandat Paus! Lefebvre mengonsekrasikan uskup-uskup ini  

untuk menyebarkan Misa Latin Tradisional. Yohanes Paulus II sangatlah khawatir bahwa Misa Latin 

Tradisional akan menjadi tersedia, yang ia sangat ingin hentikan, maka ia tidak membuang-buang 

waktu untuk melakukannya. Jika ia atau Benediktus XVI benar-benar melawan aborsi, mereka akan 

bertindak dengan cepat melawan para politikus pro-aborsi yang berkeras kepala dengan hukuman 

ekskomunikasi, seperti yang dilakukan Yohanes Paulus II kepada Lefebvre. 

Kasus yang paling terkenal yaitu  Kandidat Presiden Demokratik, John Kerry. Kerry ‘membanggakan’ 

rekor votingnya yang 100% aborsi, dan memamerkan posisinya yang pro-aborsi di depan seluruh dunia 

sewaktu ia menjadi salah satu figur yang paling terkenal di dunia di dalam Kampanye Presidensialnya 

pada tahun 2004. Secara konsisten, ia menerima ‘Komuni’ di dalam Gereja Novus Ordo, suatu hal yang 

diprotes jutaan orang yang mengaku diri Katolik. Yohanes Paulus II sama sekali tidak melakukan hal apa 

pun berkenaan dengan hal ini , dan Benediktus XVI pun tidak. 

Jika seseorang harus mendapat  ekskomunikasi dari sekte Vatikan II untuk posisi pro-aborsi, John 

Kerry-lah orang ini . Tidak hanya ia tidak diekskomunikasikan, namun  hampir setiap uskup Novus 

Ordo yang dihadapkan dengan masalah ini  menolak untuk mengatakan bahwa Kerry bahkan 

seharusnya tidak diperbolehkan berkomuni. Pada akhir bagian ini, kami akan mempertimbangkan akibat 

teologis dari fakta ini untuk hierarki Vatikan II/Gereja Novus Ordo. 

Uskup Robert Vasa dari Baker (Oregon) menggambarkan diskusi dan keputusan para uskup tentang 

politikus Katolik yang pro-aborsi: 

“Secara sangat spesifik, pertanyaan diajukan tentang bilamana larangan untuk pemberian 

Komuni Kudus ‘diperlukan oleh sebab  mereka mendukung aborsi secara publik’. 

“Pandangan yang akhirnya diterima oleh badan keuskupan yaitu  larangan pemberian 

Komuni ini  ‘tidak diperlukan’, namun  larangan ini  tentunya mungkin dan 

diperbolehkan, jika, atas pertimbangan Ordinaris setempat, hal ini  diangap ‘jalan yang 

paling hati-hati atas tindakan penggembalaan’.”2 

Hal ini berarti bahwa kebijakan resmi yang diambil oleh para ‘Uskup’ AS tentang masalah yang berat ini 

yaitu  bahwa para politikus pro-aborsi tidak perlu dilarang untuk menerima Komuni, dan bahwa para 

‘Uskup’ dapat memutuskan untuk diri mereka sendiri. Hal ini membuktikan bahwa seseorang dapat 

secara resmi menerima ‘Komuni’ dan menjadi ‘Katolik’ yang baik di dalam sekte Vatikan II 

walaupun ia mendukung aborsi. 

sesudah  mereviu kebijakan di mana para ‘Uskup’ memutuskan untuk diri mereka sendiri apakah mereka 

yang mendukung pembunuhan di dalam rahim boleh diberikan Komuni atau tidak, ‘Kardinal’ Ratzinger 

Pro-Aborsi dan Bagian dari Sekte Vatikan II 

486 

 

berkata bahwa hal ini  ‘benar-benar sesuai’ dengan prinsip-prinsip Kongregasi bagi Doktrin 

Iman.3 

Kita harus mengingat konteks dari keputusan-keputusan yang diraih ini. Pada tahun 2004, skandal para 

politikus ‘Katolik’ yang pro-aborsi yang menerima ‘Komuni’ dan tidak dinyatakan terekskomunikasikan 

diletakkan di depan dan tengah-tengah media ‘Katolik’ dan banyak media utama. Semua orang 

mengetahuinya, namun  pertanyaannya yaitu : apakah sekte Vatikan II akan melakukan sesuatu untuk 

menghentikannya? Apakah sekte Vatikan II menerima sebagai ‘Katolik’ para pro-aborsionis atau tidak? 

Apakah sekte Vatikan II akan mendeklarasikan bahwa seseorang yaitu  bagian dari ‘Gereja’ jika ia 

menolak aborsi? Atau apakah ia, dengan keheningannya, menunjukkan bahwa seseorang dapat percaya 

apa pun di dalam sekte Vatikan II dan tidak diekskomunikasikan? Jawabannya yaitu  tidak satu hal pun 

dilakukan. Keheningan di dalam konteks ini benar-benar merupakan pernyataan resmi dari sekte 

Vatikan II bahwa seseorang dapat menjadi Katolik dan pro-aborsi dalam waktu yang bersamaan. 

Sebagai rangkuman, sekte Vatikan II bukan hanya menolak untuk mengekskomunikasikan para politikus 

pro-aborsi seperti John Kerry, namun  kepala dari Kongregasi bagi Doktrin Iman, ‘Kardinal’ Ratzinger 

(Benediktus XVI), setuju bahwa para politikus pro-aborsi tidak perlu dilarang untuk menerima 

Komuni, yang oleh sebab nya membuktikan bahwa sekte Vatikan II tidak menganggap sebagai dogma 

yang mengikat bahwa seseorang harus melawan aborsi. 

Sekretaris Negara Vatikan ‘Kardinal’ Angelo Sodano, mengaruniakan gelar ‘Knight’ {Ksatria} kepada 

Julian Hunte, seorang politikus pro-aborsi dari Kepulauan Karibia.4 

Sang ‘Uskup Agung’ yang ‘sangat konservatif’ dari Denver, Charles Chaput, tidak percaya bahwa para 

politikus yang pro-aborsi harus dilarang untuk menerima Komuni, namun  ia tidak ‘mengesampingkan 

kemungkinannya’. Wow… ia benar-benar seorang ‘martil bidah’. 

“Uskup agung [dari Denver, Chaput] menolak untuk mengesampingkan kemungkinan 

untuk melarang penerimaan komuni dengan berkata, ‘Melarang seseorang untuk berkomuni 

yaitu  suatu hal yang sangat berat. Hal ini  harus dilakukan hanya untuk kasus-kasus 

istimewa yaitu skandal publik.’”5 

Ia memang benar seorang ‘Katolik’ – tidak; dan Chaput yaitu  seorang konservatif radikal dalam standar 

Novus Ordo! ‘Uskup’ Mengeling dari Lansing, Michigan – seseorang yang murtad – terang-terangan 

menolak untuk menghukum Gubernur Granholm yang pro-aborsi. “Uskup Mengeling sekarang telah 

menyatakan secara resmi kepada media bahwa ia TIDAK AKAN MELAKUKAN HAL APA PUN untuk 

mendisiplinkan Granholm atau politikus Katolik lain yang pro-aborsi.”6 Sang bidah yang menuliskan 

artikel ini berkata bahwa ‘Uskup’ Mengeling telah pecah dengan Roma (para ‘Paus’ Vatikan II). Tidak 

juga, sebab  para Anti-Paus Vatikan II sama sekali tidak melakukan hal apa pun untuk 

mengekskomunikasikan atau untuk menghentikan para politikus yang pro-aborsi untuk menerima 

Komuni. Mereka dapat dengan sangat mudah dan secara langsung mengekskomunikasikan John Kerry 

dan para politikus-politikus lain yang pro-aborsi, namun  mereka memilih dengan sengaja untuk tidak 

melakukannya, sebab  mereka yaitu  orang-orang yang murtad yang sama sekali tidak melawan aborsi. 

‘Kardinal’ dari Baltimore, William Keeler, juga berkata bahwa John Kerry tidak boleh dilarang untuk 

menerima Komuni. Ia berkata bahwa bukanlah urusan para uskup untuk melakukan hal semacam itu: 

“Kami tidak perlu uskup untuk bertindak.”7 Kami ingin tahu apa yang harus dilakukan para ‘Uskup’: 

bertindak sebagai kepala dan memindah-mindahkan para pedofil, dan lalu membayar pengacara untuk 

menegosiasikan pemberesan skandal seks? 

Pro-Aborsi dan Bagian dari Sekte Vatikan II 

487 

 

Keeler yang murtad juga berkata bahwa kita tidak perlu mengonversikan para Yahudi, namun  sekali lagi, 

pada dasarnya itu yaitu  pandangan setiap ‘Uskup’ Novus Ordo! 

Mantan ‘Uskup’ Donald Wuerl dari Pittsburgh yang murtad, juga tidak melarang para pro-aborsi untuk 

menerima Komuni. “Uskup Katolik Pittsburgh berkata kemarin bahwa para politikus Katolik tidak boleh 

mendukung aborsi yang sudah dilegalkan namun  bahwa ia tidak mendukung untuk melarang mereka 

menerima Komuni Kudus.”8 

‘Uskup Agung’ Cincinnati Daniel Pilarczyk berkata bahwa para politikus pro-aborsi seharusnya tidak 

dilarang untuk menerima Komuni, sebab  oleh sebab  itu seseorang harus melarang semua orang yang 

menentang apa pun ajaran Gereja untuk menerima Komuni! Memang itu yang seharusnya dilakukan! 

‘Uskup Agung’ Daniel Pilarczyk: “...menurut saya kita harus sangat berhati-hati untuk 

melarang orang-orang untuk menerima sakramen-sakramen berdasar  apa yang 

mereka percayai, terutama sewaktu hal ini  yaitu  pandangan-pandangan politis. Jadi 

Kerry percaya bahwa aborsi yaitu  suatu hal yang baik untuk masyarakat kita, katakanlah. 

Apakah anda melarangnya untuk menerima komuni atas dasar opini-opininya? Bagaimana 

dengan orang yang tidak menyukai Humanae Vitae? Bagaimana dengan orang-orang yang 

tidak menyukai ajaran Gereja tentang hukuman mati, atau pernikahan-pernikahan 

sesama jenis? Apakah kita akan melarangnya? 

Sdr. Allen: “ada  sekumpulan pendapat Katolik yang akan mengatakan ya kepada 

pertanyaan ini . 

‘Uskup Agung’ Pilarczyk: “Saya tahu. namun  juga ada  masalah keadilan di sini. Menurut 

saya hal itu yaitu  hal terakhir yang dikehendaki suatu gereja, atau perwakilan atau agen 

dari gereja, yaitu melarang seseorang untuk menerima komuni kepada siapa pun dengan 

tidak adil. Menurut saya pada saat ini, lebih masuk akal untuk menganggap bahwa orang-orang 

berkeinginan baik, atau berhati nurani yang salah atau kebingungan, dan memberi  mereka 

Komuni, dan tidak mengatakan, ‘Menurut saya anda begini dan begitu.’...”9 

‘Uskup’ John Steinbock dari Fresno, California juga tidak mendukung untuk melarang para pro-aborsi 

untuk menerima Komuni: “Saya menunjukkan kepada para imam dan diakon bahwa dokumen ini tidak 

berkata, seperti yang sebelumnya telah dilaporkan secara salah oleh media sekuler bahwa para politikus 

Katolik yang bervoting untuk aborsi tidak boleh menerima Komuni. Hal ini  sama sekali tidak merujuk 

kepada para politikus Katolik.”10 

‘Uskup Agung’ Alexander Brunett dari Seattle telah berkata bahwa para politikus pro-aborsi tidak boleh 

dilarang untuk menerima Komuni Kudus: “Para pelayan Ekaristi seharusnya tidak mengambil keputusan 

sendiri untuk melarang seseorang pun yang hadir untuk menerima Komuni Kudus.”11 

‘Uskup’ Joseph A. Fiorenza dari Galveston-Houston memandang sebagai suatu masalah bahwa 

sekelompok kecil ‘uskup-uskup’ Novus Ordo mendukung larangan untuk menerima Komuni. 

“Seperti yang anda ketahui, beberapa uskup membuat pernyataan publik di mana mereka 

mendukung larangan untuk memberi  Komuni Kudus kepada para politikus Katolik yang 

secara konsisten melawan ajaran Gereja tentang masalah hak asasi manusia, hak untuk 

dilahirkan. Saya benar-benar berharap bahwa para uskup ini  telah menunggu untuk 

laporan dari satuan tugas. Mereka tidak menunggu, dan sekarang banyak orang meminta uskup 

diosesnya untuk berkata akan masalah ini. 

Pro-Aborsi dan Bagian dari Sekte Vatikan II 

488 

 

“Tanpa masuk ke dalam detail tentang masalah-masalah penggembalaan dan kanonik yang 

terlibat di dalam masalah ini, saya percaya bahwa tradisi Gereja tidak mendukung untuk 

melarang penerimaan Ekaristi sebagai hukuman untuk para politikus Katolik yang pro-

aborsi. Bahkan, saya percaya bahwa hukuman ini  malah menjadi suatu hambatan dan pada 

akhirnya, akan membahayakan gerakan anti-aborsi.”12 

‘Uskup’ Fiorenza jelas-jelas tidak tahu sama sekali tentang tradisi Gereja. Para Paus di dalam sejarah 

telah memproklamasikan dogma bahwa orang-orang non-Katolik yang menerima Anak Domba di luar 

Gereja menerimanya sebagai kutukan. 

Paus Pius VIII, Traditi Humilitati (#4), 24 Mei 1829: 

“Hieronimus dahulu terbiasa mengungkapkannya demikian: barangsiapa memakan Anak 

Domba di luar rumah ini akan binasa seperti mereka yang pada waktu air bah datang 

tidak berada bersama dengan Nuh di dalam bahtera.”13 

Paus Gregorius XVI, Commissum divinitus (#11), 17 Mei 1835: 

“...siapa pun yang berani meninggalkan kesatuan dari Petrus mungkin mengerti bahwa ia tidak 

lagi mengambil bagian di dalam misteri ilahi. St. Hieronimus menambahkan: ‘Barangsiapa 

memakan Anak Domba di luar rumah ini berdosa. Mereka yang tidak berada di dalam bahtera 

Nuh binasa di dalam banjir.’”14 

Paus Pius IX, Amantissimus (#3), 8 April 1862: 

“ … barangsiapa bukan anggota Gereja, dan memakan Anak Domba, telah menjadi 

cemar.”15 

Dan Paus Benediktus XIV (bukan Anti-Paus Benediktus XVI) membuat jelas bahwa bukan hanya orang-

orang yang mengaku bukan Katolik dilarang untuk diberikan sakramen, namun  juga siapa pun yang 

diketahui melawan satu pun ajaran resmi Gereja. 

Paus Benediktus XIV, Ex Omnibus (#3), 16 Oktober 1756: 

“Otoritas konstitusi apostolik yang memulai Unigenitus tentunya sangat besar dan menyatakan 

haknya di mana-mana untuk menerima penghormatan dan kepatuhan yang tulus yang tidak 

seorang pun dapat meninggalkan ketaatan yang patut ataupun melawannya tanpa menerima 

risiko kehilangan keselamatan kekal. Sekarang, suatu kontroversi telah muncul tentang apabila 

viaticum harus dilarang untuk diberikan kepada mereka yang melawan konstitusi ini . 

Jawabannya harus diberikan tanpa keraguan bahwa selama mereka melawan secara 

publik dan jelas, viaticum tidak boleh diberikan kepada mereka; hal ini berasaskan 

hukum universal yang sama yang melarang seorang pendosa publik yang terkenal untuk 

diterima di dalam komuni Ekaristi, bilamana ia memintanya dalam publik ataupun 

pribadi.”16 

Para uskup Arizona tidak menolak penerimaan Komuni oleh John Kerry: “...dua uskup Arizona berkata 

bahwa mereka tidak akan menolak untuk memberi  komuni kepada para politikus Katolik Roma yang 

mendukung hak-hak aborsi. Uskup Thomas J. Olmstead dari Phoenix berkata bahwa ia tidak akan 

menolak untuk memberi  komuni, namun  ia akan mencoba memakai  bujukan untuk mendidik 

para politikus tentang ajaran-ajaran gereja.”17 

Kami dapat terus mengutip berbagai ‘Uskup’ Novus Ordo yang mengatakan hal yang sama, namun  poin 

ini  haruslah sudah menjadi jelas. Di dalam sekte Vatikan II, menentang aborsi yaitu  suatu hal yang 

tidak diharuskan, namun  yaitu  sesuatu yang para ‘hierarki’ sekte Vatikan II akan coba ‘membujuk anda 

Pro-Aborsi dan Bagian dari Sekte Vatikan II 

489 

 

untuk percaya. Dalam kata lain, hal ini  hanyalah masalah opini, dan bukan sebuah dogma yang 

mengikat di mana orang yang menolaknya masuk Neraka, terekskomunikasikan dan terkutuk. 

Sekarang kita harus mempertimbangkan akibat-akibat teologis dari posisi ini, atau, non-posisi dari sekte 

Vatikan II. Bidah dapat terwujud bukan hanya lewat perkataan dan perbuatan, namun  juga lewat 

kelalaian. Jika seseorang berkata bahwa ia mendukung dogma Katolik, namun  menolak untuk mengutuk 

bidah yang berlawanan dengan dogma sewaktu ia ditanyakan tentang hal itu, ia bukan seorang Katolik. 

Kebenaran ini ditunjukkan di dalam krisis Arian. Uskup Eusebius dari Nikomedia yang terkenal 

menandatangani syahadat dogma Tritunggal Mahakudus di Konsili Nicea, namun  ia menolak untuk 

mengutuk para Arian yang menolak dogma ini. 

“Tiada lagi bisikan, kedipan dan anggukan kepala dari para Arian. Gereja telah mengambil 

langkah pertamanya yang besar untuk menetapkan doktrin yang diwahyukan secara lebih 

persis untuk menanggapi tantangan dari suatu teologi yang sesat. Suatu syahadat telah 

disusun, mewujudkan formula yang baru ini, untuk menunjukkan kesadaran yang lebih baik – 

walaupun tidak mengerti dengan penuh – misteri supernatural. Hal ini  dihadirkan untuk 

penandatanganan pada tanggal 19 Juni 325. Semua uskup menandatanganinya kecuali dua orang 

dari Libya yang telah berteman dekat dengan para Arian dari awalnya. Mereka dan Arius 

diasingkan ke Ilirikum. Bahkan Eusebius dari Nikomedia menandatanganinya, walaupun 

ia menolak untuk mengutuk Arius.”18 

sebab  Eusebius dari Nikomedia menolak untuk mengutuk Arius dan bersedia untuk menerima mereka, 

walaupun ia menandatangani syahadat dari dogma yang sejati, dengan benar ia diasingkan bersama 

para bidah.19 Hal yang sama berlaku kepada para ‘Uskup’ Novus Ordo/Vatikan II yang mungkin mengaku 

melawan aborsi – seperti, yang kita telah lihat, hanyalah tentang bidah atau kejahatan yang kadangkala 

mereka cela – dan mungkin menandatangani pernyataan-pernyataan bahwa hal ini  yaitu  salah, 

namun  sebab  mereka tidak mengekskomunikasikan ataupun mengutuk para pendukung yang bersikeras 

atas aborsi, mereka tidak benar-benar menentngnya. Kita telah melihat bahwa, sebagai sebuah badan – 

dan dengan persetujuan dari Roma – mereka menolak untuk mengekskomunikasikan ataupun 

menganggap tidak berhak untuk menerima Komuni para pendukung yang berkelas kepala atas 

pembunuhan di dalam rahim yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri, seperti John 

Kerry. 

Pada tanggal 10 Mei 2004, 48 Perwakilan Demokrat – termasuk para ‘Katolik’ yang mendukung aborsi – 

mengirimkan sebuah surat kepada Kardinal Theodore McCarrick dari Washington, D.C, yang dengan 

berani menyatakan bahwa dengan penolakan pemberian Komuni sebagai suatu cara untuk membuat 

para politikus Katolik sejalan tentang hak-hak aborsi akan menjadi kontraproduktif dan mungkin 

menghasilkan sentimen anti-Katolik.20 Dalam kata lain, mereka pada dasarnya mewujudkan penolakan 

ajaran Katolik secara lancang di depan mata kepala para uskup – seuatu tantangan yang nyata kepada 

mereka untuk melakukan sesuatu akan hal ini . Tentu saja, tidak satu hal pun dilakukan oleh para 

‘Uskup’ gadungan dari sekte Vatikan II untuk mengutuk para bidah ini yang menunjukkan kesesatan 

mereka di depan muka mereka. 

Oleh sebab  itu, yaitu  suatu fakta bahwa seseorang dapat menjadi bagian dari sekte Vatikan II 

tanpa melawan aborsi. Faktanya, pada tanggal 22 Juni 2006, pada “Misa” instalasi untuk Uskup Agung 

Donald W. Wuerl, John Kerry diberikan ‘Komuni’ oleh nuncio {perwakilan kepausan} kepada uskup-

uskup Amerika: 

Pro-Aborsi dan Bagian dari Sekte Vatikan II 

490 

 

“Pada saat Misa, Kerry, yang mendukung legalitas aborsi, menerima Komuni di dalam 

tangan dari Uskup Agung Pietro Sambi, nuncio apostolik kepada Amerika Serikat dan 

wakil dari Paus Benediktus XVI kepada para uskup AS. Uskup Agung Wuerl membagikan 

Komuni bersama sang nuncio.”21 

Fakta-fakta ini membuktikan dengan sangat jelas bahwa untuk menjadi bagian dari sekte Vatikan II, 

seseorang tidak perlu menentang aborsi. namun  anda tidak boleh mengonsekrasikan uskup-uskup untuk 

menyebarkan Misa Latin Tradisional tanpa diekskomunikasikan dalam jangka waktu 72 jam (misal. 

Lefebvre). Hal ini menunjukkan sekali lagi bahwa sekte Vatikan II, yang pada saat ini dikepalai oleh 

Benediktus XVI bukanlah Gereja Katolik, namun  Kontra-Gereja. 

_______________________________ Bagian 30:

 

1 Time Magazine, 21 Juni 2004, hal. 4. 

2 http://www.wf-f.org/Bishops_Catholics_Politics.html#anchor36189926 

3 http://www.usccb.org/comm/archives/2004/04-133.htm 

 

4 http://www.lifesite.net/ldn/2004/sep/04092702.html 

5 http://www.lifesite.net/ldn/2004/may/04052603.html 

 

6 http://www.catholiccitizens.org/press/contentview.asp?c=14536 

 

7 The Baltimore Sun, 28 Mei 2004; http://www.wf-f.org/Bishops_Catholics_Politics.html#anchor69086 

8 http://www.pittsburgpostgazette.com/pg/04147/322065.stm 

 

9 http://www.wf-f.org/Bishops_Catholics_Politics.html#anchor932576 

 

10 http://www.dioceseoffresno.org/letters/20040701knxtcommunion.html 

 

11 http://www.wf-f.org/Bishops_Catholics_Politics.html#anchor3484970 

 

12 http://www.wf-f.org/Bishops_Catholics_Politics.html#anchor114660 

 

13 The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, oleh Claudia Carlen, Raleigh: The Pierian Press, 1990, Vol. 1 (1740-

1878), hal. 222. 

 

14 The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, Vol. 1 (1740-1878), hal. 256. 

 

15 The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, Vol. 1 (1740-1878), hal. 364. 

 

16 The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, Vol. 1 (1740-1878), hal. 105-106. 

 

17 http://www.tucsoncitizen.com/news/local/052204b1_abortion 

 

18 Warren H. Carroll, A History of Christendom {Sejarah Kekristenan}, Vol. 2 (The Building of Christendom 

{Pembangunan Kekristenan}), Front Royal, VA: Christendom Press, 1987, hal. 11. 

 

19 Romo John Laux, Church History {Sejarah Gereja}, Rockford, IL: Tan Books, 1989, hal. 112. 

 

20 http://www.msnbc.msn.com/id/5017313/ 

 

21 http://www.catholic.org/international/international_story.php?id=20313 

Sekte Vatikan II Menolak Orang-Orang yang Berkonversi 

491 

 

31. Sekte Vatikan II Menolak Secara Terang-

terangan Orang-Orang yang Berkonversi 

Kita telah melihat bahwa Paulus VI, Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, Fransiskus mengajarkan secara 

eksplisit bahwa para non-Katolik, seperti para Protestan dan para Ortodoks Timur tidak perlu 

berkonversi kepada iman Katolik untuk persekutuan dan keselamatan. Dengan menganut teologi sesat 

mereka, para pejabat Vatikan menolak para non-Katolik yang hadir untuk berkonversi kepada Iman 

Katolik! 

“ada  contoh-contoh Kardinal dari Vatikan yang menghalang-halangi para non-Katolik yang 

ingin berkonversi menjadi Katolik... Romo Linus Dragu Popian, yang dibesarkan di dalam agama 

Ortodoks Rumania, mempertaruhkan hidupnya pada tahun 1975 untuk melarikan diri dari 

Rumania komunis dan menghadirkan diri untuk masuk seminari Vatikan, mengungkapkan 

ikrarnya untuk berkonversi kepada Katolisisme. Kardinal Villot, Sekretaris Negara, bersama 

kardinal-kardinal lain dari Vatikan ngeri. Mereka berkata kepada Popian yang muda bahwa ia 

seharusnya tidak melarikan diri dari Komunisme dan tidak boleh menjadi Katolik, sebab  hal 

ini  akan memperburuk hubungan Vatikan dengan Rumania komunis dan Gereja Ortodoks 

Rumania.” (The Devil’s Final Battle {Pertempuran Terakhir Iblis}, hal. 68) 

Para pejabat Vatikan berkata bahwa ia tidak boleh menjadi Katolik! Mereka hanya mengikuti politik 

satanis yang diajarkan oleh para Anti-Paus Vatikan II, Paulus VI, Yohanes Paulus I, Yohanes Paulus II, 

Benediktus XVI, dan Fransiskus. 

Pada tahun 2005, kami dihubungi oleh seorang uskup Ortodoks Oriental yang ingin berkonversi menjadi 

Katolik. Ia memberi tahu kami lewat email bahwa ia telah dihalangi oleh Keuskupan Agung Boston untuk 

berkonversi menjadi Katolik: 

“Salam di dalam Kristus! Sudah beberapa waktu lamanya saya mengamati situs anda dan saya 

ingin tahu lebih banyak tentang organisasi anda. Pada suatu waktu saya sangat giat di dalam 

gerakan ekumenis, namun  saya keluar beberapa waktu lalu akibat hal yang menurut saya 

bermasalah. namun , mohon persilahkan saya untuk memperkenalkan diri dengan singkat: saya 

yaitu  seorang uskup Ortodoks Koptik yang sudah pensiun pada saat ini. Saya mengenal 

beberapa imam dan seorang uskup di Kairo yang ingin berkonversi kepada iman Katolik. Untuk 

saya sendiri, dioses Boston menunjukkan kepada saya hal ini: ‘Tidak perlu berkonversi, 

ada  keselamatan untuk orang-orang non-Katolik.’ Saya sangat berkecil hati dan bingung, 

seperti yang saya yakini bahwa anda dapat mengerti hal itu. namun  saya memiliki ketertarikan 

yang besar akan pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan doktrin Katolik.” 

Jelas, semua hal ini berhubungan secara sempurna dengan ajaran Sekte Vatikan II, yang diumumkan oleh 

Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI, yang menurutnya, konversi para ‘Ortodoks’ bukanlah jalan untuk 

menuju kesatuan. Hal ini sangatlah sesuai dengan buku panduan Sekte Vatikan II tentang ekumenisme, 

Pedoman Penerapan Prinsip-Prinsip dan Norma-Norma Ekumenisme, yang sangat memalukan. 

Sekali lagi ini yaitu  contoh yang jelas dan mutlak bahwa Sekte Vatikan II bukanlah Gereja Katolik.

Kemurtadan Ordo-Ordo Religius 

492 

 

32. Ordo-Ordo Religius di dalam Sekte 

Vatikan II: Benar-Benar Murtad 

“Kami mendevosikan dua hari penuh untuk berbagi pengalaman rohani pribadi kami... 

menghadiri ibadat nyanyian komunitas Buddhis, bermeditasi bersama, dan menikmati 

masakan vegetarian Cina yang sangat lezat.”1 

 

Para ‘Benediktin’ Novus Ordo di dalam Konferensi “Monks in the West {Biarawan-biarawan di Barat}” bersama para 

Buddhis2 

“-Ordo Religius. Sudah terlihat akhir bagi ordo-ordo religius di Amerika. Pada tahun 1965, 

3.559 pria-pria muda belajar untuk menjadi imam-imam Yesuit. Pada tahun 2000, jumlah 

ini  yaitu  389. Untuk para Bruder Kristiani, situasi ini  bahkan lebih buruk. Jumlah 

mereka telah menyusut sebesar dua per tiga, dengan jumlah seminaris yang jatuh sebesar 99 

persen. Pada tahun 1965, ada  912 seminaris untuk menjadi Bruder Kristiani. Pada tahun 

2000, hanya ada  tujuh. Jumlah pria-pria muda yang belajar untuk menjadi imam-imam 

Fransiskan dan Redemptoris jatuh dari 3.379 pada tahun 1965 menjadi 85 di tahun 

2000.”3 

Bukanlah hal yang mengejutkan bahwa ordo-ordo religius di dalam sekte Vatikan II hampirlah 

menghilang. Mengapakah seorang Katolik yang muda ingin bergabung jika pada dasarnya satu-satunya 

hal yang mereka perjuangkan yaitu  promosi dari agama-agama sesat dan ‘martabat manusia’? 

Para ‘Fransiskan’ di Massachusetts menerima para ‘Katolik’ gay tanpa mencela gaya hidup homoseksual 

yang menjijikkan, yang oleh sebab nya mendukung mereka dalam aktivitas mereka.4 

Para biarawati Novus Ordo beribadat bersama para Buddhis di depan patung Buddha.5 

Kemurtadan Ordo-Ordo Religius 

493 

 

Situs resmi para ‘Yesuit’ Irlandia menyatakan dengan menonjol bahwa: “Tidak ada  ibadat iman 

tanpa... keterbukaan terhadap pengalaman-pengalaman agama lain.”6 Ini yaitu  dari Kongregasi Umum 

Yesuit Irlandia – sebuah kemurtadan total. 

Situs resmi untuk ‘Ordo St. Benediktus’ Novus Ordo memuat tautan kepada situs Anglikan dan Benediktin 

‘Ortodoks’!7 

Praktik Yoga juga sangat merajalela di dalam ordo-ordo religius Novus Ordo. sebab  praktik jahat Yoga 

ini sangatlah tidak terkendali bukan hanya di dalam ordo-ordo religius Novus Ordo namun  juga di dalam 

institusi-institusi sekuler, seperti YMCA, kami menganggap penting untuk mendiskusikan apa yang salah 

dengan hal ini . Bukankah Yoga hanyalah latihan peregangan badan? Tidak. Kami akan mengutip 

seorang ‘Imam’ Novus Ordo, ‘Romo’ James Manjackal, yang sangat mengenal hal ini : 

“Apa itu Yoga? Kata Yoga berarti ‘persatuan’, tujuan dari Yoga yaitu  untuk 

mempersatukan pribadi seseorang, ‘JIVA’ yang sementara dengan ‘BRAHMAN’ yang tidak 

terbatas, konsep Hindu tentang Allah. Allah ini bukanlah seorang Allah yang memiliki 

pribadi, namun  yaitu  sebuah substansi ilahi yang impersonal yang yaitu  satu bersama 

alam dan kosmos. Brahman yaitu  sebuah substansi ilahi yang impersonal yang ‘meliputi, 

menyelimuti, dan mendasari segala sesuatu.’ Yoga berakar di dalam Upanishad Hindu, yang 

berawal sekitar 1.000 SM, dan hal ini  menjelaskan tentang yoga yang oleh sebab nya, 

‘menyatukan cahaya di dalam diri anda dengan cahaya Brahman’. ‘Yang mutlak ada di dalam 

pribadi seorang’ kata Upanishad Chanogya. ‘TAT TUAM ASI’ atau ‘ENGKAU yaitu  IA.’ Sang 

Ilahi tinggal di dalam setiap dari diri kita lewat perwakilan mikrokosmiknya, yaitu pribadi setiap 

orang yang disebut Jiva. Di dalam Bhagavad Gita, tuan Krishna menggambarkan Jiva sebagai 

‘bagian diriku yang kekal’, dan ‘sukacita Yoga datang kepada yogi yang yaitu  satu dengan 

Brahman.’ Pada tahun 150 M, sang yogi Patanjali menjelaskan delapan cara yang menuntun 

praktik-praktik Yoga dari ketidaktahuan menuju pencerahan – delapan langkah seperti anak 

tangga. Mereka yaitu  penguasaan diri (yama), ketaatan beragama (niyama), sikap tubuh 

(asana), latihan pernapasan (pranayama), penguasaan indra (pratyahara), konsentrasi (dharana), 

kontemplasi dalam (dhyana), pencerahan (samadhi). Hal yang menarik untuk dicatat, di sini, 

yaitu  bahwa sikap tubuh dan latihan pernapasan, yang sering dianggap sebagai 

keseluruhan Yoga di negara-negara Barat, yaitu  langkah ke-3 dan ke-4 menuju 

persatuan dengan Brahman! Yoga bukan hanya suatu sistem latihan jasmani, namun  yaitu  

suatu disiplin rohani, yang bertujuan untuk menuntun jiwa kepada samadhi, yaitu 

persatuan total dengan makhluk ilahi. Samadhi yaitu  keadaan di mana yang alami dan yang 

ilahi menjadi satu, manusia dan Allah menjadi satu tanpa ada perbedaan (Brad Scott: “Exercise or 

religious practice? Yoga: What the teacher never taught you in that Hatha Yoga class {Latihan 

atau praktik keagamaan? Yoga: Apa yang sang guru tidak pernah ajarkan kepada anda di dalam 

kelas Hatha Yoga}” di dalam The Watchman Expositor, Vol. 18, No. 2, 2001).”8 

Pendek kata, Yoga yaitu  suatu disiplin rohani yang mencoba untuk menyatukan seseorang 

dengan keilahian di dalam dirinya dan menyatukannya dengan semua ciptaan lewat pernapasan, 

olahraga jasmani, konsentrasi, dst. Ide bahwa keilahian dapat ditemukan di dalam diri sendiri, tentunya, 

yaitu  okultik. Ide bahwa keilahian ada  di dalam seluruh ciptaan – ide yang mendasari dan menjadi 

tujuan dari praktik Yoga – yaitu Panteisme dan dikutuk oleh Vatikan I. 

Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, Sesi 3, Bab 1, Tentang Allah Pencipta segala sesuatu: 

“Gereja Katolik Roma yang Kudus dan Apostolik percaya dan mengakui bahwa ada  

satu Allah yang benar dan hidup, Pencipta dan Penguasa Surga dan bumi … walaupun Allah ini 

Kemurtadan Ordo-Ordo Religius 

494 

 

yaitu  satu substansi rohani yang esa, yang secara mutlak sederhana dan tidak dapat berubah, Ia 

harus dinyatakan sebagai berbeda dari dunia dalam kenyataan dan esensi ….”9 

Paus Pius XI, Mit Brennender Sorge (#7), 14 Maret 1937: 

“Siapa pun yang mengidentifikasikan, lewat pengaburan panteistik, Allah dan alam 

semesta, dengan cara merendahkan Allah ke dalam dimensi dunia, atau dengan mengangkat 

dunia kepada dimensi Allah, tidak percaya akan Allah.”10 

Sebagai catatan, Yohanes Paulus II sendiri mengajarkan ide panteistik yang telah dikutuk ini di dalam 

ensikliknya Dominum et Vivificantem (50.3), 18 Mei 1986. Ia berkata: 

“Sabda telah menjadi daging.’ Penjelmaan Allah Putra menandakan pengangkatan kepada 

kesatuan dengan Allah, bukan hanya kodrat manusia saja, namun juga, di dalam kodrat 

manusia ini, dalam suatu makna tertentu, segala sesuatu yang merupakan ‘daging’: 

seluruh umat manusia, seluruh dunia bendawi yang kelihatan. Oleh sebab  itu, Penjelmaan 

juga memiliki suatu arti kosmik, suatu dimensi kosmik.”11 

Perhatikan bahwa sewaktu ia menguraikan (seperti biasa) kepercayaannya yang sesat bahwa Kristus 

bersatu dengan setiap dan semua umat manusia, dalam kasus ini Yohanes Paulus II memutuskan untuk 

maju satu langkah lagi: bukan hanya Kristus mempersatukan diri-Nya sendiri dengan setiap manusia 

(katanya), namun  dengan ‘segala dunia yang kelihatan dan material’. Menurut Anti-Paus Yohanes Paulus 

II, rumput, pohon, sungai, danau, samudra, dst. dipersatukan dengan Kristus lewat Penjelmaan-Nya. Ia 

mengembangkan ide ini  di dalam kalimat berikutnya di dalam ensiklik ini. 

Yohanes Paulus II, Dominum et Vivificantem (50.3), 18 Mei 1986: 

‘Anak sulung dari segala yang diciptakan,’ menjelma di dalam kemanusiaan pribadi Kristus, 

menyatukan diri-Nya sendiri dengan cara tertentu dengan segala kenyataan manusia, 

yang juga yaitu  ‘daging’ – dan di dalam kenyataan ini dengan segala ‘daging’, dengan 

seluruh ciptaan.”12 

Anti-Paus Yohanes Paulus II yaitu  seorang Panteis. Di dalam Panteisme, dunia dan Allah yaitu  satu hal. 

A Catholic Dictionary {Kamus Katolik}, oleh Attwater:  

“Panteisme – Suatu filosofi sesat yang mengaburkan Allah dengan dunia. Menurut beberapa 

orang dunia diserap oleh Allah (para panteis dari India, Spinoza); yang lain mengajarkan bahwa 

Allah diserap oleh dunia yang ia berikan kekuatan dan hidup... namun  semua [Panteis] mencoba 

untuk membangun sebuah identitas substansi antara Allah dan dunia.”13 

The Catholic Encyclopedia {Ensiklopedia Katolik}: 

“Panteisme, pandangan di mana Allah dan dunia yaitu  satu.”14 

sebab , seperti yang kita telah lihat di atas, praktik Yoga yaitu  berdasar  atas ide yaitu persatuan 

antara keilahian di dalam diri sendiri dan yang ada  di dalam segala ciptaan, praktik Yoga oleh 

sebab  itu yaitu  suatu ungkapan kepercayaan kepada bidah panteistik bahwa Allah dan ciptaan-Nya 

yaitu  satu. Mempraktikkan Yoga, oleh sebab  itu, yaitu  mempraktikkan agama sesat dan 

mengungkapkan kepercayaan akan suatu allah yang sesat. Imam Novus Ordo yang konservatif yang kami 

kutip di atas, yang tersinggung oleh praktik Yoga yang merajalela di dalam kalangan ‘Kristen’ dan 

‘Katolik’, meringkas situasi ini  dengan amat baik: 

“Praktik Yoga sebagus-bagusnya yaitu  kafir, dan seburuk-buruknya yaitu  okultik. Ini 

yaitu  agama antikristus dan untuk pertama kalinya di dalam sejarah, dipraktikkan 

Kemurtadan Ordo-Ordo Religius 

495 

 

secara luas di dalam dunia Barat dan Amerika. Sangatlah konyol bahwa bahkan para yogi 

yang ulung yang mengenakan Salib atau simbol Kristiani menipu orang-orang dengan berkata 

bahwa Yoga sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hinduisme dan berkata bahwa hal 

ini  yaitu  penerimaan budaya-budaya lain. Beberapa orang telah menyembunyikan Yoga di 

bawah kedok Kristiani dan menyebutnya ‘Yoga Kristiani’. Ini bukanlah persoalan menerima 

budaya orang-orang lain, ini yaitu  persoalan menerima agama lain...”15 

Monastery of the Holy Spirit menawarkan suatu program khusus “Fundamentals of Yoga and 

Christianity {Dasar-dasar Yoga dan Kekristenan}”.16 Carmelite Spiritual Center di Darien, Illinois 

menawarkan suatu Retret Yoga ‘Living Your Light {Nikmati Cahayamu}’.17 Ecclesia Center yang ‘Katolik’ 

di Girard, Pennsylvania – yang disetujui oleh Diosesnya18 – memiliki seorang staf yang yaitu  seorang 

instruktur Yoga! 

“Michael Plasha yaitu  seorang Terapis Yoga yang terakreditasi dan seorang guru Yoga yang 

terdaftar di dalam Yoga Alliance... Ia juga terlatih di dalam meditasi Zen dan Vipassana. Sejak 

tahun 1980, Michael telah mengajarkan 3.000 kelas yoga dan meditasi... Yoga... yaitu  

pendekatan non-dogmatis untuk mempersatukan kehadiran Ilahi di dalam semua orang.”19 

Perhatikan bahwa Ecclesia Center mengakui bahwa Yoga yaitu  suatu pendekatan kepada kehadiran 

Ilahi ‘di dalam semua orang’, yang oleh sebab  itu membuktikan bahwa hal ini  berakar di dalam, 

dan bertujuan kepada Panteisme dan okult. Situsnya juga berkata bahwa Ecclesia Center ‘memberi  

pembaruan rohani kepada semua orang dari segala iman’.20  Ini benar-benar suatu kemurtadan, yang 

sepenuhnya disetujui oleh dioses. 

Contoh-contoh lain dapat diberikan, namun  praktik jahat Yoga begitu merajalela di dalam biara-biara 

‘Katolik’ sehingga Budget Travel Online mengiklankannya! 

“Lebih dari 2.000 biara dan pusat retret rohani ada  di Amerika Serikat dan Kanada. Sekitar 

80 persen berkaitan dengan ordo religius. namun  kebanyakan mengambil pendekatan yang 

lebih ekumenis, antaragama untuk mangakomodasikan ketertarikan yang semakin besar. 

‘Zaman dahulu, suatu pusat retret Katolik akan diiklankan seperti apa adanya. Sekarang 

kebanyakan ingin semua orang untuk datang,’ kata Stone. Banyak tempat menawarkan yoga, 

pandangan Buddhis, berbagai macam doa.”21 

  

Kemurtadan Ordo-Ordo Religius 

496 

 

Para ‘Trappis’ dan ‘Yesuit’ Novus Ordo ditempatkan secara resmi di dalam Biara Novus 

Ordo sebagai guru-guru Buddhisme Zen! 

 

‘Imam’ Trappis, Romo Kevin Hunt, berlutut sewaktu ia ditempatkan sebagai Guru Zen oleh Romo Robert 

Kennedy yang ’Yesuit’.22 Perhatikan patung Buddha di belakang. 

 

Dialog antaragama biara (buletin) – disponsori oleh biara-biara pria dan wanita Benediktin dan 

Sistersian: 

“Romo Kevin Hunt ditempatkan sebagai Guru Zen – Pada tanggal 17 April 2004, Romo 

Kevin Hunt, OCSO, seorang biarawan Trappis dari St. Joseph’s Abbey di Spencer, 

Massachusetts, dan mantan anggota dari dewan MID, ditempatkan sebagai guru Zen 

(Sensei) di dalam suatu upacara yang dilangusungkan di dalam biara ini . Penempatan 

ini  dipimpin oleh Romo Robert Kennedy, SJ, yang yaitu  satu-satunya Yesuit Amerika Utara 

yang juga yaitu  seorang Master Zen (Roshi) dan yang juga bertugas sebagai guru Romo Kevin. 

Penempatan ini disaksikan oleh kepala biara St. Joseph dan komunitas biara yang lain 

serta lebih dari tujuh puluh tamu, termask guru-guru Zen dan anggota-anggota dari ordo 

religius Katolik di dalam negeri. 

 

“Romo Kevin oleh sebab  itu menjadi biarawan Trappis pertama yang juga yaitu  seorang guru 

Zen. Untuk mengakui acara yang unik ini, surat pujian dituliskan oleh Yang Mulia Dalai 

Lama dan oleh Romo Peter-Hans Kolvenbach, kepala dari Serikat Yesus. Romo Kolvenbach 

menulis, ‘Banyak orang Kristiani merasa bahwa Zen yaitu  suatu alat yang berharga untuk 

memajukan kehidupan rohani. Dengan berfokus kepada saat ini lewat praktik dari teknik-teknik 

meditasi Zen, seorang Kristiani dapat menjadi lebih sadar akan kehadiran langsung Allah yang 

pengasih.’ 

 

“Perkataan-perkataan Romo Kolvenbach mencerminkan komitmen yang dibuat oleh para Yesuit 

pada Kongregasi Umumnya yang ke-34 untuk membangun dialog bersama agama-agama lain... 

Mencatat bahwa Paus Yohanes Paulus II telah berharap untuk dapat membuat dialog 

antaragama sebagai prioritas penggembalaan untuk milenium ketiga, Romo Kennedy 

berkata bahwa karya ini dengan Romo Kevin yaitu  salah satu cara di mana prioritas ini 

dapat dijalankan...” 

Kemurtadan Ordo-Ordo Religius 

497 

 

Dialog Tahunan Ketujuh Vaishnava-Kristiani 

“Pada tanggal 16-17 April 2004, tiga orang yang berhubungan langsung dengan MID Amerika 

Utara yaitu  bagian dari keenam belas orang yang mengambil bagian di dalam Dialog tahunan 

ketujuh Vaishnava-Kristiani, yang berlangsug di Rockwood Manor Park di Potomac, Maryland, 

di bawah sponsor bersama dari Dewan Pertemuan Ekumenis dan Antaragama dari Konferensi 

Waligereja Amerika Serikat bersama Masyarakat Internasional Kesadaran Kresna... 

“Seperti di dalam tahun-tahun sebelumnya, hari pertama dari program ini diberikan sambutan-

sambutan oleh seorang partisipan Kristiani dan partisipan Vaishnava, masing-masing 

berkomentar atas naskah dari kedua tradisi... Percakapan pembukaan menghasilkan dialog yang 

hidup di antara para partisipan untuk sisa hari ini  dan pada hari yang berikutnya, yang 

bermula dengan menyanyikan himne-himne serta melantunkan doa-doa dari kedua 

tradisi.”23 

Di sini kita melihat upacara-upacara di dalam biara Novus Ordo untuk menjadikan para pria sebagai guru 

praktisi okult Buddhisme Zen. namun  sekali lagi semua ini berlangsung sebab  mereka hanya mengikuti 

Vatikan II dan pemimpin Gereja Baru di Roma. 

Mohon mencatat bahwa ‘Romo’ Peter-Hans Kolvenbach yaitu  ‘Kepala Serikat Yesuit’, yang menuliskan 

suatu surat yang memuji acara ini. Ia yaitu  pemimpin dari semua Ordo ‘Yesuit’ dari sekte Vatikan II. 

Mohon mencatat bahwa buletin ini  (yang dikutip di atas), yang disponsori oleh biara-biara 

‘Benediktin dan Sistersian Amerika Utara’, merujuk kepada Dalai Lama yang satanik (yang mengaku diri 

seorang allah) sebagai ‘Yang Mulia’. Mohon mencatat bahwa program dialog antaragama Yohanes 

Paulus II digunakan sebagai pembenaran atas acara ini. 

Akhirnya, mohon mencatat bahwa ‘Konferensi Waligereja’ Amerika Serikat mensponsori Dialog 

tahunan ketujuh Vaishnava-Kristiani di mana dinyanyikan doa-doa Hindu! Lihatlah para anggota, 

para rohaniwan, dan pemimpin-pemimpin Gereja anda, jika anda percaya bahwa sekte Vatikan II yaitu  

Gereja Katolik. 

Biarawati-biarawati di Gunung Karmel berdoa agar para Yahudi tetap menjadi Yahudi 

Sebuah artikel diterbitkan di internet tentang biarawati-biarawati Novus Ordo yang tertutup yang 

menghabiskan waktu mereka dalam keheningan dan menginginkan para orang Yahudi untuk tetap 

menjadi Yahudi: 

“Sewaktu Paus Yohanes Paulus II memohon agar terjadi keakuran antaragama di Tanah Suci, 17 

biarawati yang tertutup di Gunung Karmel berdoa dengan hening untuk tetangga-tetangga 

Yahudi mereka. Bukan untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Kekristenan. Para biarawati 

ini menginginkan para Yahudi untuk tetap menjadi Yahudi... 

“Bagaimana anda bisa menjadi pelayan di Israel jika anda berbicara tentang konversi? 

Kata Suster Angela del Bono, ibu kepala Biara Our Lady of Mount Carmel, dalam suatu wawancara 

yang langka dari balik kisi-kisi besi di dalam ruang tamu biara yang dibangun dari batu granit. Ia 

mengetuk dengan tangannya dahinya yang berkerudung. ‘Bayangkan jika seseorang datang ke 

sini dan mengatakan kepada saya untuk menjadi Adventis atau seorang Muslim,’ katanya, 

tersenyum akan semangatnya sendiri... 

Kemurtadan Ordo-Ordo Religius 

498 

 

“Kami berdoa agar para Yahudi tetap setia kepada perjanjian mereka,’ kata Suster Angela 

del Bono, 68 tahun, yang memegang switer wul tebal di sekeliling jubah coklatnya yang 

menyentuh lantai di dalam biaranya yang tidak ada alat penghangat. 

Kami berdoa agar orang-orang dapat sampai sepenuhnya kepada wahyu akan Allah... Jika mereka 

yaitu  orang Yahudi yang baik dan kami yaitu  orang-orang Kristiani yang baik hal ini sudah 

merupakan kemuliaan bagi Allah tanpa memaksakan orang-orang untuk berubah,’ kata sang 

biarawati dari Italia ini , berbicara dalam bahasa Inggris. ‘Kami berdoa untuk semua orang 

agar menjadi bahagia dan menjadi pantas untuk menghadap Allah. Setiap orang dapat pergi ke 

Surga-Yahudi, Katolik, Muslim, Zulu—jika mereka... berkehendak baik. Jika mereka merasa 

baik di mata Allah, jika mereka mengikuti hati nurani mereka, mereka akan masuk Surga.”24 

Orang-orang perlu menyadari betapa buruknya hal ini. Hal ini menunjukkan kembali bahwa sekte 

Vatikan II yaitu  sekte Antikristus. Kepercayaan bahwa seseorang dapat dengan bebas menolak Yesus 

Kristus – doktrin dari sang Antikristus – telah meracuni ordo-ordo religius yang seharusnya 

dipersembahkan kepada Yesus Kristus. 

1 Yohanes 2:22 – “Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus yaitu  

Kristus? Dia itu yaitu  antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.” 

Hal ini juga mengingatkan kita bahwa orang-orang dapat menghabiskan banyak waktu di dalam 

tindakan-tindakan yang dianggap religius untuk Allah dan hal ini  sia-sia untuk diri mereka jika 

mereka tidak memiliki Iman yang sejati. Para biarawati ini menghabiskan kebanyakan waktu mereka 

dalam keheningan dan biara mereka tidak memiliki mesin penghangat; namun  mereka sama sekali 

murtad, menolak Allah dan ada  di dalam jalan menuju Neraka. Hal ini menunjukkan kepada kita 

bahwa tanpa iman sejati tidaklah mungkin untuk menyenangkan Allah, tidak peduli betapa banyak 

tindakan-tindakan religius dan devosi yang seseorang pikir ia lakukan. Perhatikan bahwa sang biarawati 

di sini juga mengungkapkan secara persis bidah yang dikutuk oleh Paus Gregorius XVI, bahwa Surga 

terbuka untuk anggota-anggota agama apa pun yang ‘baik’ secara alami. 

Paus Gregorius XVI, Mirari Vos (#13), 15 Agustus 1832: 

“Dengan teguran dari sang rasul, ‘satu Tuhan, satu iman, satu baptisan’ (Ef. 4:5), semoga mereka 

menjadi takut, yaitu orang-orang yang membuat-buat ide bahwa dermaga keselamatan 

terbuka kepada orang-orang dari agama apa pun. Mereka harus mempertimbangkan 

kesaksian Kristus sendiri bahwa ’mereka yang tidak bersama-Nya melawan-Nya.’ (Lk.11:23) dan 

mereka yang tidak bersama-Nya akan tercerai-berai dengan tidak bahagia. Maka, ‘tanpa 

keraguan, mereka akan binasa selamanya, kecuali mereka berpegang kepada iman 

Katolik secara penuh dan utuh’ (Syahadat Atanasius).”25 

Kemurtadan dari para Biarawati ‘Benediktin’ Novus Ordo; apa perlu dijelaskan lagi? 

Kami telah mengutip fakta bahwa para ‘Benediktin’ Novus Ordo membuat tautan di situs mereka kepada 

situs Anglikan dan ‘Ortodoks’ Timur. Mary Lou Kownacki, ‘OSB’, yaitu  direktur eksekutif dari Alliance 

for International Monasticism, yang menghubungkan 200 komunitas-komunitas ‘Benediktin’ dan 

‘Sistersian’ Novus Ordo di dalam negara-negara berkembang dengan komunitas-komunitas di Amerika 

Serikat. Ia juga yaitu  direktur pengembangan dan komunikasi untuk suster-suster ‘Benediktin’ Novus 

Ordo di Erie, PA. Sejalan dengan agama Vatikan II, ia memberi contoh yang nyata akan kemurtadan 

antaragama. Di dalam puisinya yang dikutip di bawah, ia memanggil sang ‘Kristus Kosmik’, yang katanya 

berbicara lewat Teilhard de Chardin, seorang imam ‘Katolik’ yang murtad. Ia juga berkata bahwa ia 

Kemurtadan Ordo-Ordo Religius 

499 

 

{‘Kristus Kosmik’} berbicara lewat sang penyembah berhala, Mahatma Gandhi, sang bidah Martin Luther 

King, Jr. dan para Yahudi Anne Frank dan Rabbi Heschel.  

“Oh Kristus Kosmik... Lewat Teilhard de Chardin, ilmuwan kosmos, anda telah membayangkan 

surga dan bumi yang baru. Lewat Mahatma Gandhi, jiwa yang agung, anda menjadi tanpa 

kekerasan di dalam perjuangan untuk keadilan... Lewat Anne Frank... anda mempertahankan 

kebaikan di tengah-tengah suatu kejahatan yang besar... Lewat Martin Luther King, Jr.,... Lewat 

Rabbi Abraham Heschel, sang Hasidut yang bijak, anda telah menjawab pencarian kami akan 

makna.”26 

Apa lagi yang kami perlu katakan? Sang pemurtad ini mengurus suatu aliansi yang menghubungkan 

komunitas-komunitas ‘Benediktin’ dan ‘Sistersian’ Novus Ordo. Dan orang-orang bertanya kepada 

kami mengapa kami tidak bersekutu dengan para ‘Benediktin’ Novus Ordo. Mereka yang menerima 

orang-orang semacam itu sebagai Katolik tidak bersekutu dengan Gereja Katolik. 

Saint John’s Abbey: contoh umum dari kemurtadan yang memalukan di dalam ordo-ordo 

religius Vatikan II 

Saint John’s Abbey, terletak di Collegeville, Minnesota, yaitu  salah satu dari biara-biara terkemuka dan 

bersejarah dari sekte Vatikan II di Amerika. Para ‘Benediktin’ di St. John’s Abbey, seperti sekte Vatikan II 

di mana mereka tergabung, sayangnya tidak sedikit pun Katolik. Seperti yang kami telah laporkan pada 

awal bagian ini, pada tahun 2004, St. John’s Abbey mengadakan “Monks in the West {Biarawan-biarawan di 

Barat}” – pertemuan dengan para ‘biarawan’ Buddhis. 

Majalah mereka menyatakan: “Kami mendevosikan dua hari penuh untuk berbagi 

pengalaman rohani pribadi kami... menghadiri ibadat nyanyian komunitas Buddhis, 

bermeditasi bersama, dan menikmati masakan vegetarian Cina yang sangat lezat.”27 

Ini benar-benar murtad. 

 

Para ‘Benediktin’ Novus Ordo menghadiri ibadat doa Buddhis di Konferensi “Monks in the West”.28 

Perhatikan bahwa ‘salib’ mereka bukanlah sebuah salib, namun  tanda tambah. 

Majalah yang sama mengatakan: “...Kekristenan juga dapat belajar dari kebijaksanaan tradisi 

Buddhis, terutama di dalam hal-hal pikiran dan fantasi. Misalnya, di dalam satu sesi, seorang 

biarahan dari Shasta Buddhist Abbey... menggambarkan metode Buddhis untuk menerima 

perasaan-perasaan seksual tanpa menindakinya ataupun menahannya, namun  hanya 

Kemurtadan Ordo-Ordo Religius 

500 

 

membiarkannya lewat... Kami menjelajahi kemungkinan untuk menerbitkan sebuah buku tentang 

apa yang kami pelajari dari arti dan praktik keselibatan di dalam kedua tradisi kami.”29 

Jadi, anggota-anggota dari St. John’s Abbey bukan hanya bermeditasi dengan para pagan dan penyembah 

berhala dan juga menghadiri ibadat-ibadat mereka yang musyrik, namun  juga mempersilakan mereka 

untuk mempromosikan filosofi mereka yang jahat yaitu untuk tidak menolak pikiran-pikiran kotor. 

Gereja Katolik, berdasar  ajaran Yesus Kristus (Matius 5:28) telah selalu mengajarkan bahwa pikiran-

pikiran serta gairah-gairah kotor harus ditolak. Apa yang kami telah bahas di sini yaitu  suatu contoh 

yang dalam tentang kemurtadan di dalam sekte Vatikan II, namun  hal ini  sangatlah umum. 

Seorang anggota dari komunitas religius kami, sebelum menjadi seorang Katolik tradisional, melewatkan 

waktu di sebuah Biara Novus Ordo di South Carolina. Pada saat ia tinggal di biara ini , ia menghadiri 

sebuah ceramah oleh seorang ‘imam’ Novus Ordo yang kelihatannya yaitu  seorang teolog. Sang ‘imam’ 

mengatakan kepada para biarawan bahwa semua agama memimpin orang ke Surga, dan tidak ada  

keperluan untuk menjadi Katolik agar dapat diselamatkan. Para biarawan Novus Ordo yang hadir tidak 

terlihat menunjukkan reaksi apa pun, tersinggung ataupun terkejut atas ajaran-ajaran yang jelas-jelas 

sesat dari sang ‘imam’. Sang pria muda ini , namun , sangatlah bingung dan terkejut sehingga ia 

begadang pada malam hari untuk menuliskan ayat-ayat Kitab Suci untuk perlunya menerima Yesus 

Kristus untuk keselamatan untuk membantah kemurtadan sang ‘imam’. Pada hari berikutnya ia 

menyajikan informasi ini  kepada para biarawan Novus Ordo untuk membantah apa yang telah 

dikatakan; mereka kelihatannya sama sekali tidak peduli. 

Sebuah artikel oleh seorang Biarawati ‘Benediktin’, Sr. Mary Margaret Funk, menegaskan 

lebih lanjut kemurtadan total dari ordo-ordo religius sekte Vatikan II 

Banyak orang berargumentasi bahwa ajaran-ajaran Vatikan II tidak menentang dogma Katolik sama 

sekali. Mereka menegaskan dengan keras bahwa agama Vatikan II sangatlah harmonis dengan agama 

Katolik yang tidak berubah. Beberapa orang menyebut orang-orang ini (yang membela semua hal dalam 

Vatikan II dan kemurtadan sesudah  konsili ini ) neo-Katolik; kami menyebut mereka neo-apostat, 

sebab  mereka mencoba untuk menjelaskan lewat dalih-dalih dari penciuman Al-Quran sampai 

diperbolehkannya para pemuja berhala untuk mengambil alih dan berdoa kepada para allah-allah sesat 

di Assisi. namun  salah satu dari cara-cara yang paling menarik dan jelas untuk membuktikan 

bahwa sekte Vatikan II bukanlah Gereja Katolik yaitu  hanya dengan melihat apa yang 

dipercayai para anggotanya di kalangan setempat. Kami telah melakukan banyak sekali hal ini, namun  

cerita-cerita dari para individu yang telah berkecil hati untuk bergabung menjadi Katolik oleh para 

anggota Gereja Novus Ordo, termasuk uskup-uskup, pejabat-pejabat Vatikan dan guru-guru RCIA, 

tampaknya hampir tidak terbatas. Maka jika anda pernah ingin digerakkan oleh kegeraman suci melawan 

kemurtadan Vatikan II, atau jika anda menginginkan bukti atas betapa hinanya kekejian sekte Vatikan II, 

atau jika anda ingin diyakinkan bahwa yaitu  persoalan Surga atau Neraka untuk menolak sekte yang 

palsu dan non-Katolik ini yang berpura-pura menjadi Gereja Katolik, anda cukup menelpon gereja-gereja 

Novus Ordo dan bertanya kepada mereka: “Apakah anda menerima dogma bahwa Di Luar Gereja Katolik 

Tidak ada  Keselamatan? Apakah Islam yaitu  agama sesat? Apakah Yahudi agama sesat?” 

Jawaban-jawaban yang anda akan dapatkan akan mengejutkan anda, jika anda tahu dan memiliki Iman 

Katolik yang sejati. Jawaban-jawaban yang anda akan dapatkan akan menegaskan untuk anda, jika anda 

berhati tulus, bahwa agama para individu ini (agama Vatikan II) bukanlah agama Katolik. Hal ini akan 

menegaskan untuk anda, jika anda berhati tulus, bahwa keseluruhan sekte Vatikan II yaitu  

murtad, sebab  para individu ini hanya mempraktikkan apa yang diajarkan dan diberikan 

sebagai contoh oleh Vatikan II mengenai agama-agama non-Kristiani. 

Kemurtadan Ordo-Ordo Religius 

501 

 

Dalam nada yang sama, salah satu dari kami membaca St. Anthony Messenger dan menjumpai sebuah 

artikel berjudul Islam: What Every Catholic Should Know {Islam: Apa yang Semua Orang Katolik 

Harus Ketahui} oleh Mary Margaret Funk, ‘OSB’ (St. Anthony Messenger yaitu  salah satu penerbitan 

yang paling menonjol di sekte Vatikan II.) Berikut yaitu  sebuah artikel dari sang Biarawati “Benediktin” 

tentang Islam. Apa katanya? 

Mary Margaret Funk, ‘OSB’, Islam: What Every Catholic Should Know {Islam: Apa yang Semua 

Orang Katolik Harus Ketahui}, hal. 36, St. Anthony Messenger, Agustus, 2005: 

“Tidak seperti orang-orang Kristiani, yang percaya bahwa Yesus yaitu  Putra Allah dan bagian 

yang tidak terpisahkan dari Allah, orang-orang Muslim percaya bahwa sang Nabi Muhammad 

yang Kudus (570-632) yaitu  seorang pria