965, statistik Jones menunjukkan bahwa iman Katolik dan devosi kepada Iman tidaklah
sebesar yang sebelumnya.
“-Pernikahan Katolik. Pernikahan-pernikahan Katolik telah turun jumlahnya sebesar sepertiga
sejak 1965, sedangkan jumlah per tahun dari pembatalan pernikahan telah membumbung dari
338 pada tahun 1968 menjadi 50.000 pada tahun 2002.
“-Kehadiran di Misa. Gallup Poll pada tahun 1958 melaporkan bahwa tiga dari empat orang-orang
Katolik menghadiri gereja pada hari Minggu. Suatu penelitian yang baru-baru ini dari University
of Notre Dame menemukan bahwa hanya satu dari empat hadir. Hanya 10 persen dari guru-
Angka-Angka Penurunan Vatikan II
483
guru religius awam pada hari ini menerima ajaran gereja tentang kontrasepsi. Lima puluh tiga
persen percaya bahwa seorang Katolik dapat melakukan aborsi dan tetap menjadi seorang
Katolik yang baik. Enam puluh lima persen percaya bahwa orang-orang Katolik boleh bercerai
dan menikah kembali. Tujuh puluh tujuh persen percaya bahwa seseorang dapat menjadi seorang
Katolik yang baik tanpa pergi ke Misa di hari Minggu. Sebuah jajak pendapat New York Times
menyatakan bahwa 70 persen dari seluruh orang Katolik di dalam kelompok umur 18 sampai 44
percaya bahwa Ekaristi hanyalah suatu ‘peringatan simbolis’ akan Yesus.
Pada pembukaan Vatikan II, para reformer menggila. Mereka ingin menuntun kita semua keluar
dari ghetto-ghetto Katolik kita dengan mengubah liturgi, menulis ulang Kitab Suci dan buku-buku
Misa, meninggalkan tradisi-tradisi lama, membuat kita menjadi lebih ekumenis, dan menyambut
dunia. Apakah peninggalan mereka? Empat dekade kehancuran yang dibawa atas gereja, dan
kekejian terakhir dari suatu hierarki yang tidak memiliki semangat moral dari para Pramuka
untuk dapat menghalau orang-orang yang bejat dari seminari, dan mengeluarkan mereka dari
rumah-rumah rektor serta sekolah-sekolah Bunda Gereja yang Kudus. Sampai kepausan Pius XII,
Gereja menahan desakan untuk menyesuaikan dirinya sendiri kepada dunia dan tetap menjadi
mercusuar moralitas untuk umat manusia. Sejak Vatikan II, Gereja telah mencoba untuk bertemu
dunia. Statistik Jones menceritakan kita harga dari ketenteraman.”1
_______________________________ Bagian 29:
1 http://www.townhall.com/opinion/columns/patbuchanan/2002/12/11/165161.html
Pro-Aborsi dan Bagian dari Sekte Vatikan II
484
30. Seseorang Dapat Menjadi Pro-Aborsi dan
Menjadi Bagian dari Sekte Vatikan II dalam
Waktu yang Bersamaan
“…tidak satu pun dari politikus yang pro-aborsi, tidak peduli betapa menonjolnya
ataupun betapa lancangnya ia mendukung aborsi, telah diekskomunikasikan (yaitu
dikeluarkan dari ‘Gereja’) oleh para Anti-Paus Vatikan II.”
John Kerry menerima ‘Komuni’ di sebuah gereja Vatikan II di Boston.1 Perhatikan gambar bayi yang secara mukjizat
tampak seolah-olah Kerry memakannya!
Pro-Aborsi dan Bagian dari Sekte Vatikan II
485
Kami telah membahas dengan sangat rinci bahwa sekte Vatikan II dipenuhi indiferentisme rohani dan
penolakan dogma-dogma dasar Katolik. Satu-satunya isu yang pura-pura dibela oleh Vatikan II yaitu
isu-isu sehubungan dengan moralitas dan martabat manusia, bukan isu-isu tentang Iman. Misalnya,
walaupun sekte Vatikan II tentunya mendukung agama-agama sesat, seperti Islam dan Yahudi, sekte
Vatikan II berpura-pura melawan aborsi dan kontrasepsi artifisial.
namun , tidak satu pun dari politikus yang pro-aborsi, tidak peduli betapa menonjolnya ataupun
betapa lancangnya ia mendukung aborsi, telah diekskomunikasikan (yaitu dikeluarkan dari
‘Gereja’) oleh para Anti-Paus Vatikan II. Sewaktu kita mempertimbangkan fakta ini, ingatlah bahwa tidak
sampai 72 jam Yohanes Paulus II ‘mengekskomunikasikan’ Uskup Agung Marcel Lefebvre sebab ia
mengonsekrasikan uskup-uskup tanpa mandat Paus! Lefebvre mengonsekrasikan uskup-uskup ini
untuk menyebarkan Misa Latin Tradisional. Yohanes Paulus II sangatlah khawatir bahwa Misa Latin
Tradisional akan menjadi tersedia, yang ia sangat ingin hentikan, maka ia tidak membuang-buang
waktu untuk melakukannya. Jika ia atau Benediktus XVI benar-benar melawan aborsi, mereka akan
bertindak dengan cepat melawan para politikus pro-aborsi yang berkeras kepala dengan hukuman
ekskomunikasi, seperti yang dilakukan Yohanes Paulus II kepada Lefebvre.
Kasus yang paling terkenal yaitu Kandidat Presiden Demokratik, John Kerry. Kerry ‘membanggakan’
rekor votingnya yang 100% aborsi, dan memamerkan posisinya yang pro-aborsi di depan seluruh dunia
sewaktu ia menjadi salah satu figur yang paling terkenal di dunia di dalam Kampanye Presidensialnya
pada tahun 2004. Secara konsisten, ia menerima ‘Komuni’ di dalam Gereja Novus Ordo, suatu hal yang
diprotes jutaan orang yang mengaku diri Katolik. Yohanes Paulus II sama sekali tidak melakukan hal apa
pun berkenaan dengan hal ini , dan Benediktus XVI pun tidak.
Jika seseorang harus mendapat ekskomunikasi dari sekte Vatikan II untuk posisi pro-aborsi, John
Kerry-lah orang ini . Tidak hanya ia tidak diekskomunikasikan, namun hampir setiap uskup Novus
Ordo yang dihadapkan dengan masalah ini menolak untuk mengatakan bahwa Kerry bahkan
seharusnya tidak diperbolehkan berkomuni. Pada akhir bagian ini, kami akan mempertimbangkan akibat
teologis dari fakta ini untuk hierarki Vatikan II/Gereja Novus Ordo.
Uskup Robert Vasa dari Baker (Oregon) menggambarkan diskusi dan keputusan para uskup tentang
politikus Katolik yang pro-aborsi:
“Secara sangat spesifik, pertanyaan diajukan tentang bilamana larangan untuk pemberian
Komuni Kudus ‘diperlukan oleh sebab mereka mendukung aborsi secara publik’.
“Pandangan yang akhirnya diterima oleh badan keuskupan yaitu larangan pemberian
Komuni ini ‘tidak diperlukan’, namun larangan ini tentunya mungkin dan
diperbolehkan, jika, atas pertimbangan Ordinaris setempat, hal ini diangap ‘jalan yang
paling hati-hati atas tindakan penggembalaan’.”2
Hal ini berarti bahwa kebijakan resmi yang diambil oleh para ‘Uskup’ AS tentang masalah yang berat ini
yaitu bahwa para politikus pro-aborsi tidak perlu dilarang untuk menerima Komuni, dan bahwa para
‘Uskup’ dapat memutuskan untuk diri mereka sendiri. Hal ini membuktikan bahwa seseorang dapat
secara resmi menerima ‘Komuni’ dan menjadi ‘Katolik’ yang baik di dalam sekte Vatikan II
walaupun ia mendukung aborsi.
sesudah mereviu kebijakan di mana para ‘Uskup’ memutuskan untuk diri mereka sendiri apakah mereka
yang mendukung pembunuhan di dalam rahim boleh diberikan Komuni atau tidak, ‘Kardinal’ Ratzinger
Pro-Aborsi dan Bagian dari Sekte Vatikan II
486
berkata bahwa hal ini ‘benar-benar sesuai’ dengan prinsip-prinsip Kongregasi bagi Doktrin
Iman.3
Kita harus mengingat konteks dari keputusan-keputusan yang diraih ini. Pada tahun 2004, skandal para
politikus ‘Katolik’ yang pro-aborsi yang menerima ‘Komuni’ dan tidak dinyatakan terekskomunikasikan
diletakkan di depan dan tengah-tengah media ‘Katolik’ dan banyak media utama. Semua orang
mengetahuinya, namun pertanyaannya yaitu : apakah sekte Vatikan II akan melakukan sesuatu untuk
menghentikannya? Apakah sekte Vatikan II menerima sebagai ‘Katolik’ para pro-aborsionis atau tidak?
Apakah sekte Vatikan II akan mendeklarasikan bahwa seseorang yaitu bagian dari ‘Gereja’ jika ia
menolak aborsi? Atau apakah ia, dengan keheningannya, menunjukkan bahwa seseorang dapat percaya
apa pun di dalam sekte Vatikan II dan tidak diekskomunikasikan? Jawabannya yaitu tidak satu hal pun
dilakukan. Keheningan di dalam konteks ini benar-benar merupakan pernyataan resmi dari sekte
Vatikan II bahwa seseorang dapat menjadi Katolik dan pro-aborsi dalam waktu yang bersamaan.
Sebagai rangkuman, sekte Vatikan II bukan hanya menolak untuk mengekskomunikasikan para politikus
pro-aborsi seperti John Kerry, namun kepala dari Kongregasi bagi Doktrin Iman, ‘Kardinal’ Ratzinger
(Benediktus XVI), setuju bahwa para politikus pro-aborsi tidak perlu dilarang untuk menerima
Komuni, yang oleh sebab nya membuktikan bahwa sekte Vatikan II tidak menganggap sebagai dogma
yang mengikat bahwa seseorang harus melawan aborsi.
Sekretaris Negara Vatikan ‘Kardinal’ Angelo Sodano, mengaruniakan gelar ‘Knight’ {Ksatria} kepada
Julian Hunte, seorang politikus pro-aborsi dari Kepulauan Karibia.4
Sang ‘Uskup Agung’ yang ‘sangat konservatif’ dari Denver, Charles Chaput, tidak percaya bahwa para
politikus yang pro-aborsi harus dilarang untuk menerima Komuni, namun ia tidak ‘mengesampingkan
kemungkinannya’. Wow… ia benar-benar seorang ‘martil bidah’.
“Uskup agung [dari Denver, Chaput] menolak untuk mengesampingkan kemungkinan
untuk melarang penerimaan komuni dengan berkata, ‘Melarang seseorang untuk berkomuni
yaitu suatu hal yang sangat berat. Hal ini harus dilakukan hanya untuk kasus-kasus
istimewa yaitu skandal publik.’”5
Ia memang benar seorang ‘Katolik’ – tidak; dan Chaput yaitu seorang konservatif radikal dalam standar
Novus Ordo! ‘Uskup’ Mengeling dari Lansing, Michigan – seseorang yang murtad – terang-terangan
menolak untuk menghukum Gubernur Granholm yang pro-aborsi. “Uskup Mengeling sekarang telah
menyatakan secara resmi kepada media bahwa ia TIDAK AKAN MELAKUKAN HAL APA PUN untuk
mendisiplinkan Granholm atau politikus Katolik lain yang pro-aborsi.”6 Sang bidah yang menuliskan
artikel ini berkata bahwa ‘Uskup’ Mengeling telah pecah dengan Roma (para ‘Paus’ Vatikan II). Tidak
juga, sebab para Anti-Paus Vatikan II sama sekali tidak melakukan hal apa pun untuk
mengekskomunikasikan atau untuk menghentikan para politikus yang pro-aborsi untuk menerima
Komuni. Mereka dapat dengan sangat mudah dan secara langsung mengekskomunikasikan John Kerry
dan para politikus-politikus lain yang pro-aborsi, namun mereka memilih dengan sengaja untuk tidak
melakukannya, sebab mereka yaitu orang-orang yang murtad yang sama sekali tidak melawan aborsi.
‘Kardinal’ dari Baltimore, William Keeler, juga berkata bahwa John Kerry tidak boleh dilarang untuk
menerima Komuni. Ia berkata bahwa bukanlah urusan para uskup untuk melakukan hal semacam itu:
“Kami tidak perlu uskup untuk bertindak.”7 Kami ingin tahu apa yang harus dilakukan para ‘Uskup’:
bertindak sebagai kepala dan memindah-mindahkan para pedofil, dan lalu membayar pengacara untuk
menegosiasikan pemberesan skandal seks?
Pro-Aborsi dan Bagian dari Sekte Vatikan II
487
Keeler yang murtad juga berkata bahwa kita tidak perlu mengonversikan para Yahudi, namun sekali lagi,
pada dasarnya itu yaitu pandangan setiap ‘Uskup’ Novus Ordo!
Mantan ‘Uskup’ Donald Wuerl dari Pittsburgh yang murtad, juga tidak melarang para pro-aborsi untuk
menerima Komuni. “Uskup Katolik Pittsburgh berkata kemarin bahwa para politikus Katolik tidak boleh
mendukung aborsi yang sudah dilegalkan namun bahwa ia tidak mendukung untuk melarang mereka
menerima Komuni Kudus.”8
‘Uskup Agung’ Cincinnati Daniel Pilarczyk berkata bahwa para politikus pro-aborsi seharusnya tidak
dilarang untuk menerima Komuni, sebab oleh sebab itu seseorang harus melarang semua orang yang
menentang apa pun ajaran Gereja untuk menerima Komuni! Memang itu yang seharusnya dilakukan!
‘Uskup Agung’ Daniel Pilarczyk: “...menurut saya kita harus sangat berhati-hati untuk
melarang orang-orang untuk menerima sakramen-sakramen berdasar apa yang
mereka percayai, terutama sewaktu hal ini yaitu pandangan-pandangan politis. Jadi
Kerry percaya bahwa aborsi yaitu suatu hal yang baik untuk masyarakat kita, katakanlah.
Apakah anda melarangnya untuk menerima komuni atas dasar opini-opininya? Bagaimana
dengan orang yang tidak menyukai Humanae Vitae? Bagaimana dengan orang-orang yang
tidak menyukai ajaran Gereja tentang hukuman mati, atau pernikahan-pernikahan
sesama jenis? Apakah kita akan melarangnya?
Sdr. Allen: “ada sekumpulan pendapat Katolik yang akan mengatakan ya kepada
pertanyaan ini .
‘Uskup Agung’ Pilarczyk: “Saya tahu. namun juga ada masalah keadilan di sini. Menurut
saya hal itu yaitu hal terakhir yang dikehendaki suatu gereja, atau perwakilan atau agen
dari gereja, yaitu melarang seseorang untuk menerima komuni kepada siapa pun dengan
tidak adil. Menurut saya pada saat ini, lebih masuk akal untuk menganggap bahwa orang-orang
berkeinginan baik, atau berhati nurani yang salah atau kebingungan, dan memberi mereka
Komuni, dan tidak mengatakan, ‘Menurut saya anda begini dan begitu.’...”9
‘Uskup’ John Steinbock dari Fresno, California juga tidak mendukung untuk melarang para pro-aborsi
untuk menerima Komuni: “Saya menunjukkan kepada para imam dan diakon bahwa dokumen ini tidak
berkata, seperti yang sebelumnya telah dilaporkan secara salah oleh media sekuler bahwa para politikus
Katolik yang bervoting untuk aborsi tidak boleh menerima Komuni. Hal ini sama sekali tidak merujuk
kepada para politikus Katolik.”10
‘Uskup Agung’ Alexander Brunett dari Seattle telah berkata bahwa para politikus pro-aborsi tidak boleh
dilarang untuk menerima Komuni Kudus: “Para pelayan Ekaristi seharusnya tidak mengambil keputusan
sendiri untuk melarang seseorang pun yang hadir untuk menerima Komuni Kudus.”11
‘Uskup’ Joseph A. Fiorenza dari Galveston-Houston memandang sebagai suatu masalah bahwa
sekelompok kecil ‘uskup-uskup’ Novus Ordo mendukung larangan untuk menerima Komuni.
“Seperti yang anda ketahui, beberapa uskup membuat pernyataan publik di mana mereka
mendukung larangan untuk memberi Komuni Kudus kepada para politikus Katolik yang
secara konsisten melawan ajaran Gereja tentang masalah hak asasi manusia, hak untuk
dilahirkan. Saya benar-benar berharap bahwa para uskup ini telah menunggu untuk
laporan dari satuan tugas. Mereka tidak menunggu, dan sekarang banyak orang meminta uskup
diosesnya untuk berkata akan masalah ini.
Pro-Aborsi dan Bagian dari Sekte Vatikan II
488
“Tanpa masuk ke dalam detail tentang masalah-masalah penggembalaan dan kanonik yang
terlibat di dalam masalah ini, saya percaya bahwa tradisi Gereja tidak mendukung untuk
melarang penerimaan Ekaristi sebagai hukuman untuk para politikus Katolik yang pro-
aborsi. Bahkan, saya percaya bahwa hukuman ini malah menjadi suatu hambatan dan pada
akhirnya, akan membahayakan gerakan anti-aborsi.”12
‘Uskup’ Fiorenza jelas-jelas tidak tahu sama sekali tentang tradisi Gereja. Para Paus di dalam sejarah
telah memproklamasikan dogma bahwa orang-orang non-Katolik yang menerima Anak Domba di luar
Gereja menerimanya sebagai kutukan.
Paus Pius VIII, Traditi Humilitati (#4), 24 Mei 1829:
“Hieronimus dahulu terbiasa mengungkapkannya demikian: barangsiapa memakan Anak
Domba di luar rumah ini akan binasa seperti mereka yang pada waktu air bah datang
tidak berada bersama dengan Nuh di dalam bahtera.”13
Paus Gregorius XVI, Commissum divinitus (#11), 17 Mei 1835:
“...siapa pun yang berani meninggalkan kesatuan dari Petrus mungkin mengerti bahwa ia tidak
lagi mengambil bagian di dalam misteri ilahi. St. Hieronimus menambahkan: ‘Barangsiapa
memakan Anak Domba di luar rumah ini berdosa. Mereka yang tidak berada di dalam bahtera
Nuh binasa di dalam banjir.’”14
Paus Pius IX, Amantissimus (#3), 8 April 1862:
“ … barangsiapa bukan anggota Gereja, dan memakan Anak Domba, telah menjadi
cemar.”15
Dan Paus Benediktus XIV (bukan Anti-Paus Benediktus XVI) membuat jelas bahwa bukan hanya orang-
orang yang mengaku bukan Katolik dilarang untuk diberikan sakramen, namun juga siapa pun yang
diketahui melawan satu pun ajaran resmi Gereja.
Paus Benediktus XIV, Ex Omnibus (#3), 16 Oktober 1756:
“Otoritas konstitusi apostolik yang memulai Unigenitus tentunya sangat besar dan menyatakan
haknya di mana-mana untuk menerima penghormatan dan kepatuhan yang tulus yang tidak
seorang pun dapat meninggalkan ketaatan yang patut ataupun melawannya tanpa menerima
risiko kehilangan keselamatan kekal. Sekarang, suatu kontroversi telah muncul tentang apabila
viaticum harus dilarang untuk diberikan kepada mereka yang melawan konstitusi ini .
Jawabannya harus diberikan tanpa keraguan bahwa selama mereka melawan secara
publik dan jelas, viaticum tidak boleh diberikan kepada mereka; hal ini berasaskan
hukum universal yang sama yang melarang seorang pendosa publik yang terkenal untuk
diterima di dalam komuni Ekaristi, bilamana ia memintanya dalam publik ataupun
pribadi.”16
Para uskup Arizona tidak menolak penerimaan Komuni oleh John Kerry: “...dua uskup Arizona berkata
bahwa mereka tidak akan menolak untuk memberi komuni kepada para politikus Katolik Roma yang
mendukung hak-hak aborsi. Uskup Thomas J. Olmstead dari Phoenix berkata bahwa ia tidak akan
menolak untuk memberi komuni, namun ia akan mencoba memakai bujukan untuk mendidik
para politikus tentang ajaran-ajaran gereja.”17
Kami dapat terus mengutip berbagai ‘Uskup’ Novus Ordo yang mengatakan hal yang sama, namun poin
ini haruslah sudah menjadi jelas. Di dalam sekte Vatikan II, menentang aborsi yaitu suatu hal yang
tidak diharuskan, namun yaitu sesuatu yang para ‘hierarki’ sekte Vatikan II akan coba ‘membujuk anda
Pro-Aborsi dan Bagian dari Sekte Vatikan II
489
untuk percaya. Dalam kata lain, hal ini hanyalah masalah opini, dan bukan sebuah dogma yang
mengikat di mana orang yang menolaknya masuk Neraka, terekskomunikasikan dan terkutuk.
Sekarang kita harus mempertimbangkan akibat-akibat teologis dari posisi ini, atau, non-posisi dari sekte
Vatikan II. Bidah dapat terwujud bukan hanya lewat perkataan dan perbuatan, namun juga lewat
kelalaian. Jika seseorang berkata bahwa ia mendukung dogma Katolik, namun menolak untuk mengutuk
bidah yang berlawanan dengan dogma sewaktu ia ditanyakan tentang hal itu, ia bukan seorang Katolik.
Kebenaran ini ditunjukkan di dalam krisis Arian. Uskup Eusebius dari Nikomedia yang terkenal
menandatangani syahadat dogma Tritunggal Mahakudus di Konsili Nicea, namun ia menolak untuk
mengutuk para Arian yang menolak dogma ini.
“Tiada lagi bisikan, kedipan dan anggukan kepala dari para Arian. Gereja telah mengambil
langkah pertamanya yang besar untuk menetapkan doktrin yang diwahyukan secara lebih
persis untuk menanggapi tantangan dari suatu teologi yang sesat. Suatu syahadat telah
disusun, mewujudkan formula yang baru ini, untuk menunjukkan kesadaran yang lebih baik –
walaupun tidak mengerti dengan penuh – misteri supernatural. Hal ini dihadirkan untuk
penandatanganan pada tanggal 19 Juni 325. Semua uskup menandatanganinya kecuali dua orang
dari Libya yang telah berteman dekat dengan para Arian dari awalnya. Mereka dan Arius
diasingkan ke Ilirikum. Bahkan Eusebius dari Nikomedia menandatanganinya, walaupun
ia menolak untuk mengutuk Arius.”18
sebab Eusebius dari Nikomedia menolak untuk mengutuk Arius dan bersedia untuk menerima mereka,
walaupun ia menandatangani syahadat dari dogma yang sejati, dengan benar ia diasingkan bersama
para bidah.19 Hal yang sama berlaku kepada para ‘Uskup’ Novus Ordo/Vatikan II yang mungkin mengaku
melawan aborsi – seperti, yang kita telah lihat, hanyalah tentang bidah atau kejahatan yang kadangkala
mereka cela – dan mungkin menandatangani pernyataan-pernyataan bahwa hal ini yaitu salah,
namun sebab mereka tidak mengekskomunikasikan ataupun mengutuk para pendukung yang bersikeras
atas aborsi, mereka tidak benar-benar menentngnya. Kita telah melihat bahwa, sebagai sebuah badan –
dan dengan persetujuan dari Roma – mereka menolak untuk mengekskomunikasikan ataupun
menganggap tidak berhak untuk menerima Komuni para pendukung yang berkelas kepala atas
pembunuhan di dalam rahim yang mereka lihat dengan mata kepala mereka sendiri, seperti John
Kerry.
Pada tanggal 10 Mei 2004, 48 Perwakilan Demokrat – termasuk para ‘Katolik’ yang mendukung aborsi –
mengirimkan sebuah surat kepada Kardinal Theodore McCarrick dari Washington, D.C, yang dengan
berani menyatakan bahwa dengan penolakan pemberian Komuni sebagai suatu cara untuk membuat
para politikus Katolik sejalan tentang hak-hak aborsi akan menjadi kontraproduktif dan mungkin
menghasilkan sentimen anti-Katolik.20 Dalam kata lain, mereka pada dasarnya mewujudkan penolakan
ajaran Katolik secara lancang di depan mata kepala para uskup – seuatu tantangan yang nyata kepada
mereka untuk melakukan sesuatu akan hal ini . Tentu saja, tidak satu hal pun dilakukan oleh para
‘Uskup’ gadungan dari sekte Vatikan II untuk mengutuk para bidah ini yang menunjukkan kesesatan
mereka di depan muka mereka.
Oleh sebab itu, yaitu suatu fakta bahwa seseorang dapat menjadi bagian dari sekte Vatikan II
tanpa melawan aborsi. Faktanya, pada tanggal 22 Juni 2006, pada “Misa” instalasi untuk Uskup Agung
Donald W. Wuerl, John Kerry diberikan ‘Komuni’ oleh nuncio {perwakilan kepausan} kepada uskup-
uskup Amerika:
Pro-Aborsi dan Bagian dari Sekte Vatikan II
490
“Pada saat Misa, Kerry, yang mendukung legalitas aborsi, menerima Komuni di dalam
tangan dari Uskup Agung Pietro Sambi, nuncio apostolik kepada Amerika Serikat dan
wakil dari Paus Benediktus XVI kepada para uskup AS. Uskup Agung Wuerl membagikan
Komuni bersama sang nuncio.”21
Fakta-fakta ini membuktikan dengan sangat jelas bahwa untuk menjadi bagian dari sekte Vatikan II,
seseorang tidak perlu menentang aborsi. namun anda tidak boleh mengonsekrasikan uskup-uskup untuk
menyebarkan Misa Latin Tradisional tanpa diekskomunikasikan dalam jangka waktu 72 jam (misal.
Lefebvre). Hal ini menunjukkan sekali lagi bahwa sekte Vatikan II, yang pada saat ini dikepalai oleh
Benediktus XVI bukanlah Gereja Katolik, namun Kontra-Gereja.
_______________________________ Bagian 30:
1 Time Magazine, 21 Juni 2004, hal. 4.
2 http://www.wf-f.org/Bishops_Catholics_Politics.html#anchor36189926
3 http://www.usccb.org/comm/archives/2004/04-133.htm
4 http://www.lifesite.net/ldn/2004/sep/04092702.html
5 http://www.lifesite.net/ldn/2004/may/04052603.html
6 http://www.catholiccitizens.org/press/contentview.asp?c=14536
7 The Baltimore Sun, 28 Mei 2004; http://www.wf-f.org/Bishops_Catholics_Politics.html#anchor69086
8 http://www.pittsburgpostgazette.com/pg/04147/322065.stm
9 http://www.wf-f.org/Bishops_Catholics_Politics.html#anchor932576
10 http://www.dioceseoffresno.org/letters/20040701knxtcommunion.html
11 http://www.wf-f.org/Bishops_Catholics_Politics.html#anchor3484970
12 http://www.wf-f.org/Bishops_Catholics_Politics.html#anchor114660
13 The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, oleh Claudia Carlen, Raleigh: The Pierian Press, 1990, Vol. 1 (1740-
1878), hal. 222.
14 The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, Vol. 1 (1740-1878), hal. 256.
15 The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, Vol. 1 (1740-1878), hal. 364.
16 The Papal Encyclicals {Ensiklik-Ensiklik Paus}, Vol. 1 (1740-1878), hal. 105-106.
17 http://www.tucsoncitizen.com/news/local/052204b1_abortion
18 Warren H. Carroll, A History of Christendom {Sejarah Kekristenan}, Vol. 2 (The Building of Christendom
{Pembangunan Kekristenan}), Front Royal, VA: Christendom Press, 1987, hal. 11.
19 Romo John Laux, Church History {Sejarah Gereja}, Rockford, IL: Tan Books, 1989, hal. 112.
20 http://www.msnbc.msn.com/id/5017313/
21 http://www.catholic.org/international/international_story.php?id=20313
Sekte Vatikan II Menolak Orang-Orang yang Berkonversi
491
31. Sekte Vatikan II Menolak Secara Terang-
terangan Orang-Orang yang Berkonversi
Kita telah melihat bahwa Paulus VI, Yohanes Paulus II, Benediktus XVI, Fransiskus mengajarkan secara
eksplisit bahwa para non-Katolik, seperti para Protestan dan para Ortodoks Timur tidak perlu
berkonversi kepada iman Katolik untuk persekutuan dan keselamatan. Dengan menganut teologi sesat
mereka, para pejabat Vatikan menolak para non-Katolik yang hadir untuk berkonversi kepada Iman
Katolik!
“ada contoh-contoh Kardinal dari Vatikan yang menghalang-halangi para non-Katolik yang
ingin berkonversi menjadi Katolik... Romo Linus Dragu Popian, yang dibesarkan di dalam agama
Ortodoks Rumania, mempertaruhkan hidupnya pada tahun 1975 untuk melarikan diri dari
Rumania komunis dan menghadirkan diri untuk masuk seminari Vatikan, mengungkapkan
ikrarnya untuk berkonversi kepada Katolisisme. Kardinal Villot, Sekretaris Negara, bersama
kardinal-kardinal lain dari Vatikan ngeri. Mereka berkata kepada Popian yang muda bahwa ia
seharusnya tidak melarikan diri dari Komunisme dan tidak boleh menjadi Katolik, sebab hal
ini akan memperburuk hubungan Vatikan dengan Rumania komunis dan Gereja Ortodoks
Rumania.” (The Devil’s Final Battle {Pertempuran Terakhir Iblis}, hal. 68)
Para pejabat Vatikan berkata bahwa ia tidak boleh menjadi Katolik! Mereka hanya mengikuti politik
satanis yang diajarkan oleh para Anti-Paus Vatikan II, Paulus VI, Yohanes Paulus I, Yohanes Paulus II,
Benediktus XVI, dan Fransiskus.
Pada tahun 2005, kami dihubungi oleh seorang uskup Ortodoks Oriental yang ingin berkonversi menjadi
Katolik. Ia memberi tahu kami lewat email bahwa ia telah dihalangi oleh Keuskupan Agung Boston untuk
berkonversi menjadi Katolik:
“Salam di dalam Kristus! Sudah beberapa waktu lamanya saya mengamati situs anda dan saya
ingin tahu lebih banyak tentang organisasi anda. Pada suatu waktu saya sangat giat di dalam
gerakan ekumenis, namun saya keluar beberapa waktu lalu akibat hal yang menurut saya
bermasalah. namun , mohon persilahkan saya untuk memperkenalkan diri dengan singkat: saya
yaitu seorang uskup Ortodoks Koptik yang sudah pensiun pada saat ini. Saya mengenal
beberapa imam dan seorang uskup di Kairo yang ingin berkonversi kepada iman Katolik. Untuk
saya sendiri, dioses Boston menunjukkan kepada saya hal ini: ‘Tidak perlu berkonversi,
ada keselamatan untuk orang-orang non-Katolik.’ Saya sangat berkecil hati dan bingung,
seperti yang saya yakini bahwa anda dapat mengerti hal itu. namun saya memiliki ketertarikan
yang besar akan pertanyaan-pertanyaan berkenaan dengan doktrin Katolik.”
Jelas, semua hal ini berhubungan secara sempurna dengan ajaran Sekte Vatikan II, yang diumumkan oleh
Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI, yang menurutnya, konversi para ‘Ortodoks’ bukanlah jalan untuk
menuju kesatuan. Hal ini sangatlah sesuai dengan buku panduan Sekte Vatikan II tentang ekumenisme,
Pedoman Penerapan Prinsip-Prinsip dan Norma-Norma Ekumenisme, yang sangat memalukan.
Sekali lagi ini yaitu contoh yang jelas dan mutlak bahwa Sekte Vatikan II bukanlah Gereja Katolik.
Kemurtadan Ordo-Ordo Religius
492
32. Ordo-Ordo Religius di dalam Sekte
Vatikan II: Benar-Benar Murtad
“Kami mendevosikan dua hari penuh untuk berbagi pengalaman rohani pribadi kami...
menghadiri ibadat nyanyian komunitas Buddhis, bermeditasi bersama, dan menikmati
masakan vegetarian Cina yang sangat lezat.”1
Para ‘Benediktin’ Novus Ordo di dalam Konferensi “Monks in the West {Biarawan-biarawan di Barat}” bersama para
Buddhis2
“-Ordo Religius. Sudah terlihat akhir bagi ordo-ordo religius di Amerika. Pada tahun 1965,
3.559 pria-pria muda belajar untuk menjadi imam-imam Yesuit. Pada tahun 2000, jumlah
ini yaitu 389. Untuk para Bruder Kristiani, situasi ini bahkan lebih buruk. Jumlah
mereka telah menyusut sebesar dua per tiga, dengan jumlah seminaris yang jatuh sebesar 99
persen. Pada tahun 1965, ada 912 seminaris untuk menjadi Bruder Kristiani. Pada tahun
2000, hanya ada tujuh. Jumlah pria-pria muda yang belajar untuk menjadi imam-imam
Fransiskan dan Redemptoris jatuh dari 3.379 pada tahun 1965 menjadi 85 di tahun
2000.”3
Bukanlah hal yang mengejutkan bahwa ordo-ordo religius di dalam sekte Vatikan II hampirlah
menghilang. Mengapakah seorang Katolik yang muda ingin bergabung jika pada dasarnya satu-satunya
hal yang mereka perjuangkan yaitu promosi dari agama-agama sesat dan ‘martabat manusia’?
Para ‘Fransiskan’ di Massachusetts menerima para ‘Katolik’ gay tanpa mencela gaya hidup homoseksual
yang menjijikkan, yang oleh sebab nya mendukung mereka dalam aktivitas mereka.4
Para biarawati Novus Ordo beribadat bersama para Buddhis di depan patung Buddha.5
Kemurtadan Ordo-Ordo Religius
493
Situs resmi para ‘Yesuit’ Irlandia menyatakan dengan menonjol bahwa: “Tidak ada ibadat iman
tanpa... keterbukaan terhadap pengalaman-pengalaman agama lain.”6 Ini yaitu dari Kongregasi Umum
Yesuit Irlandia – sebuah kemurtadan total.
Situs resmi untuk ‘Ordo St. Benediktus’ Novus Ordo memuat tautan kepada situs Anglikan dan Benediktin
‘Ortodoks’!7
Praktik Yoga juga sangat merajalela di dalam ordo-ordo religius Novus Ordo. sebab praktik jahat Yoga
ini sangatlah tidak terkendali bukan hanya di dalam ordo-ordo religius Novus Ordo namun juga di dalam
institusi-institusi sekuler, seperti YMCA, kami menganggap penting untuk mendiskusikan apa yang salah
dengan hal ini . Bukankah Yoga hanyalah latihan peregangan badan? Tidak. Kami akan mengutip
seorang ‘Imam’ Novus Ordo, ‘Romo’ James Manjackal, yang sangat mengenal hal ini :
“Apa itu Yoga? Kata Yoga berarti ‘persatuan’, tujuan dari Yoga yaitu untuk
mempersatukan pribadi seseorang, ‘JIVA’ yang sementara dengan ‘BRAHMAN’ yang tidak
terbatas, konsep Hindu tentang Allah. Allah ini bukanlah seorang Allah yang memiliki
pribadi, namun yaitu sebuah substansi ilahi yang impersonal yang yaitu satu bersama
alam dan kosmos. Brahman yaitu sebuah substansi ilahi yang impersonal yang ‘meliputi,
menyelimuti, dan mendasari segala sesuatu.’ Yoga berakar di dalam Upanishad Hindu, yang
berawal sekitar 1.000 SM, dan hal ini menjelaskan tentang yoga yang oleh sebab nya,
‘menyatukan cahaya di dalam diri anda dengan cahaya Brahman’. ‘Yang mutlak ada di dalam
pribadi seorang’ kata Upanishad Chanogya. ‘TAT TUAM ASI’ atau ‘ENGKAU yaitu IA.’ Sang
Ilahi tinggal di dalam setiap dari diri kita lewat perwakilan mikrokosmiknya, yaitu pribadi setiap
orang yang disebut Jiva. Di dalam Bhagavad Gita, tuan Krishna menggambarkan Jiva sebagai
‘bagian diriku yang kekal’, dan ‘sukacita Yoga datang kepada yogi yang yaitu satu dengan
Brahman.’ Pada tahun 150 M, sang yogi Patanjali menjelaskan delapan cara yang menuntun
praktik-praktik Yoga dari ketidaktahuan menuju pencerahan – delapan langkah seperti anak
tangga. Mereka yaitu penguasaan diri (yama), ketaatan beragama (niyama), sikap tubuh
(asana), latihan pernapasan (pranayama), penguasaan indra (pratyahara), konsentrasi (dharana),
kontemplasi dalam (dhyana), pencerahan (samadhi). Hal yang menarik untuk dicatat, di sini,
yaitu bahwa sikap tubuh dan latihan pernapasan, yang sering dianggap sebagai
keseluruhan Yoga di negara-negara Barat, yaitu langkah ke-3 dan ke-4 menuju
persatuan dengan Brahman! Yoga bukan hanya suatu sistem latihan jasmani, namun yaitu
suatu disiplin rohani, yang bertujuan untuk menuntun jiwa kepada samadhi, yaitu
persatuan total dengan makhluk ilahi. Samadhi yaitu keadaan di mana yang alami dan yang
ilahi menjadi satu, manusia dan Allah menjadi satu tanpa ada perbedaan (Brad Scott: “Exercise or
religious practice? Yoga: What the teacher never taught you in that Hatha Yoga class {Latihan
atau praktik keagamaan? Yoga: Apa yang sang guru tidak pernah ajarkan kepada anda di dalam
kelas Hatha Yoga}” di dalam The Watchman Expositor, Vol. 18, No. 2, 2001).”8
Pendek kata, Yoga yaitu suatu disiplin rohani yang mencoba untuk menyatukan seseorang
dengan keilahian di dalam dirinya dan menyatukannya dengan semua ciptaan lewat pernapasan,
olahraga jasmani, konsentrasi, dst. Ide bahwa keilahian dapat ditemukan di dalam diri sendiri, tentunya,
yaitu okultik. Ide bahwa keilahian ada di dalam seluruh ciptaan – ide yang mendasari dan menjadi
tujuan dari praktik Yoga – yaitu Panteisme dan dikutuk oleh Vatikan I.
Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, Sesi 3, Bab 1, Tentang Allah Pencipta segala sesuatu:
“Gereja Katolik Roma yang Kudus dan Apostolik percaya dan mengakui bahwa ada
satu Allah yang benar dan hidup, Pencipta dan Penguasa Surga dan bumi … walaupun Allah ini
Kemurtadan Ordo-Ordo Religius
494
yaitu satu substansi rohani yang esa, yang secara mutlak sederhana dan tidak dapat berubah, Ia
harus dinyatakan sebagai berbeda dari dunia dalam kenyataan dan esensi ….”9
Paus Pius XI, Mit Brennender Sorge (#7), 14 Maret 1937:
“Siapa pun yang mengidentifikasikan, lewat pengaburan panteistik, Allah dan alam
semesta, dengan cara merendahkan Allah ke dalam dimensi dunia, atau dengan mengangkat
dunia kepada dimensi Allah, tidak percaya akan Allah.”10
Sebagai catatan, Yohanes Paulus II sendiri mengajarkan ide panteistik yang telah dikutuk ini di dalam
ensikliknya Dominum et Vivificantem (50.3), 18 Mei 1986. Ia berkata:
“Sabda telah menjadi daging.’ Penjelmaan Allah Putra menandakan pengangkatan kepada
kesatuan dengan Allah, bukan hanya kodrat manusia saja, namun juga, di dalam kodrat
manusia ini, dalam suatu makna tertentu, segala sesuatu yang merupakan ‘daging’:
seluruh umat manusia, seluruh dunia bendawi yang kelihatan. Oleh sebab itu, Penjelmaan
juga memiliki suatu arti kosmik, suatu dimensi kosmik.”11
Perhatikan bahwa sewaktu ia menguraikan (seperti biasa) kepercayaannya yang sesat bahwa Kristus
bersatu dengan setiap dan semua umat manusia, dalam kasus ini Yohanes Paulus II memutuskan untuk
maju satu langkah lagi: bukan hanya Kristus mempersatukan diri-Nya sendiri dengan setiap manusia
(katanya), namun dengan ‘segala dunia yang kelihatan dan material’. Menurut Anti-Paus Yohanes Paulus
II, rumput, pohon, sungai, danau, samudra, dst. dipersatukan dengan Kristus lewat Penjelmaan-Nya. Ia
mengembangkan ide ini di dalam kalimat berikutnya di dalam ensiklik ini.
Yohanes Paulus II, Dominum et Vivificantem (50.3), 18 Mei 1986:
‘Anak sulung dari segala yang diciptakan,’ menjelma di dalam kemanusiaan pribadi Kristus,
menyatukan diri-Nya sendiri dengan cara tertentu dengan segala kenyataan manusia,
yang juga yaitu ‘daging’ – dan di dalam kenyataan ini dengan segala ‘daging’, dengan
seluruh ciptaan.”12
Anti-Paus Yohanes Paulus II yaitu seorang Panteis. Di dalam Panteisme, dunia dan Allah yaitu satu hal.
A Catholic Dictionary {Kamus Katolik}, oleh Attwater:
“Panteisme – Suatu filosofi sesat yang mengaburkan Allah dengan dunia. Menurut beberapa
orang dunia diserap oleh Allah (para panteis dari India, Spinoza); yang lain mengajarkan bahwa
Allah diserap oleh dunia yang ia berikan kekuatan dan hidup... namun semua [Panteis] mencoba
untuk membangun sebuah identitas substansi antara Allah dan dunia.”13
The Catholic Encyclopedia {Ensiklopedia Katolik}:
“Panteisme, pandangan di mana Allah dan dunia yaitu satu.”14
sebab , seperti yang kita telah lihat di atas, praktik Yoga yaitu berdasar atas ide yaitu persatuan
antara keilahian di dalam diri sendiri dan yang ada di dalam segala ciptaan, praktik Yoga oleh
sebab itu yaitu suatu ungkapan kepercayaan kepada bidah panteistik bahwa Allah dan ciptaan-Nya
yaitu satu. Mempraktikkan Yoga, oleh sebab itu, yaitu mempraktikkan agama sesat dan
mengungkapkan kepercayaan akan suatu allah yang sesat. Imam Novus Ordo yang konservatif yang kami
kutip di atas, yang tersinggung oleh praktik Yoga yang merajalela di dalam kalangan ‘Kristen’ dan
‘Katolik’, meringkas situasi ini dengan amat baik:
“Praktik Yoga sebagus-bagusnya yaitu kafir, dan seburuk-buruknya yaitu okultik. Ini
yaitu agama antikristus dan untuk pertama kalinya di dalam sejarah, dipraktikkan
Kemurtadan Ordo-Ordo Religius
495
secara luas di dalam dunia Barat dan Amerika. Sangatlah konyol bahwa bahkan para yogi
yang ulung yang mengenakan Salib atau simbol Kristiani menipu orang-orang dengan berkata
bahwa Yoga sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hinduisme dan berkata bahwa hal
ini yaitu penerimaan budaya-budaya lain. Beberapa orang telah menyembunyikan Yoga di
bawah kedok Kristiani dan menyebutnya ‘Yoga Kristiani’. Ini bukanlah persoalan menerima
budaya orang-orang lain, ini yaitu persoalan menerima agama lain...”15
Monastery of the Holy Spirit menawarkan suatu program khusus “Fundamentals of Yoga and
Christianity {Dasar-dasar Yoga dan Kekristenan}”.16 Carmelite Spiritual Center di Darien, Illinois
menawarkan suatu Retret Yoga ‘Living Your Light {Nikmati Cahayamu}’.17 Ecclesia Center yang ‘Katolik’
di Girard, Pennsylvania – yang disetujui oleh Diosesnya18 – memiliki seorang staf yang yaitu seorang
instruktur Yoga!
“Michael Plasha yaitu seorang Terapis Yoga yang terakreditasi dan seorang guru Yoga yang
terdaftar di dalam Yoga Alliance... Ia juga terlatih di dalam meditasi Zen dan Vipassana. Sejak
tahun 1980, Michael telah mengajarkan 3.000 kelas yoga dan meditasi... Yoga... yaitu
pendekatan non-dogmatis untuk mempersatukan kehadiran Ilahi di dalam semua orang.”19
Perhatikan bahwa Ecclesia Center mengakui bahwa Yoga yaitu suatu pendekatan kepada kehadiran
Ilahi ‘di dalam semua orang’, yang oleh sebab itu membuktikan bahwa hal ini berakar di dalam,
dan bertujuan kepada Panteisme dan okult. Situsnya juga berkata bahwa Ecclesia Center ‘memberi
pembaruan rohani kepada semua orang dari segala iman’.20 Ini benar-benar suatu kemurtadan, yang
sepenuhnya disetujui oleh dioses.
Contoh-contoh lain dapat diberikan, namun praktik jahat Yoga begitu merajalela di dalam biara-biara
‘Katolik’ sehingga Budget Travel Online mengiklankannya!
“Lebih dari 2.000 biara dan pusat retret rohani ada di Amerika Serikat dan Kanada. Sekitar
80 persen berkaitan dengan ordo religius. namun kebanyakan mengambil pendekatan yang
lebih ekumenis, antaragama untuk mangakomodasikan ketertarikan yang semakin besar.
‘Zaman dahulu, suatu pusat retret Katolik akan diiklankan seperti apa adanya. Sekarang
kebanyakan ingin semua orang untuk datang,’ kata Stone. Banyak tempat menawarkan yoga,
pandangan Buddhis, berbagai macam doa.”21
Kemurtadan Ordo-Ordo Religius
496
Para ‘Trappis’ dan ‘Yesuit’ Novus Ordo ditempatkan secara resmi di dalam Biara Novus
Ordo sebagai guru-guru Buddhisme Zen!
‘Imam’ Trappis, Romo Kevin Hunt, berlutut sewaktu ia ditempatkan sebagai Guru Zen oleh Romo Robert
Kennedy yang ’Yesuit’.22 Perhatikan patung Buddha di belakang.
Dialog antaragama biara (buletin) – disponsori oleh biara-biara pria dan wanita Benediktin dan
Sistersian:
“Romo Kevin Hunt ditempatkan sebagai Guru Zen – Pada tanggal 17 April 2004, Romo
Kevin Hunt, OCSO, seorang biarawan Trappis dari St. Joseph’s Abbey di Spencer,
Massachusetts, dan mantan anggota dari dewan MID, ditempatkan sebagai guru Zen
(Sensei) di dalam suatu upacara yang dilangusungkan di dalam biara ini . Penempatan
ini dipimpin oleh Romo Robert Kennedy, SJ, yang yaitu satu-satunya Yesuit Amerika Utara
yang juga yaitu seorang Master Zen (Roshi) dan yang juga bertugas sebagai guru Romo Kevin.
Penempatan ini disaksikan oleh kepala biara St. Joseph dan komunitas biara yang lain
serta lebih dari tujuh puluh tamu, termask guru-guru Zen dan anggota-anggota dari ordo
religius Katolik di dalam negeri.
“Romo Kevin oleh sebab itu menjadi biarawan Trappis pertama yang juga yaitu seorang guru
Zen. Untuk mengakui acara yang unik ini, surat pujian dituliskan oleh Yang Mulia Dalai
Lama dan oleh Romo Peter-Hans Kolvenbach, kepala dari Serikat Yesus. Romo Kolvenbach
menulis, ‘Banyak orang Kristiani merasa bahwa Zen yaitu suatu alat yang berharga untuk
memajukan kehidupan rohani. Dengan berfokus kepada saat ini lewat praktik dari teknik-teknik
meditasi Zen, seorang Kristiani dapat menjadi lebih sadar akan kehadiran langsung Allah yang
pengasih.’
“Perkataan-perkataan Romo Kolvenbach mencerminkan komitmen yang dibuat oleh para Yesuit
pada Kongregasi Umumnya yang ke-34 untuk membangun dialog bersama agama-agama lain...
Mencatat bahwa Paus Yohanes Paulus II telah berharap untuk dapat membuat dialog
antaragama sebagai prioritas penggembalaan untuk milenium ketiga, Romo Kennedy
berkata bahwa karya ini dengan Romo Kevin yaitu salah satu cara di mana prioritas ini
dapat dijalankan...”
Kemurtadan Ordo-Ordo Religius
497
Dialog Tahunan Ketujuh Vaishnava-Kristiani
“Pada tanggal 16-17 April 2004, tiga orang yang berhubungan langsung dengan MID Amerika
Utara yaitu bagian dari keenam belas orang yang mengambil bagian di dalam Dialog tahunan
ketujuh Vaishnava-Kristiani, yang berlangsug di Rockwood Manor Park di Potomac, Maryland,
di bawah sponsor bersama dari Dewan Pertemuan Ekumenis dan Antaragama dari Konferensi
Waligereja Amerika Serikat bersama Masyarakat Internasional Kesadaran Kresna...
“Seperti di dalam tahun-tahun sebelumnya, hari pertama dari program ini diberikan sambutan-
sambutan oleh seorang partisipan Kristiani dan partisipan Vaishnava, masing-masing
berkomentar atas naskah dari kedua tradisi... Percakapan pembukaan menghasilkan dialog yang
hidup di antara para partisipan untuk sisa hari ini dan pada hari yang berikutnya, yang
bermula dengan menyanyikan himne-himne serta melantunkan doa-doa dari kedua
tradisi.”23
Di sini kita melihat upacara-upacara di dalam biara Novus Ordo untuk menjadikan para pria sebagai guru
praktisi okult Buddhisme Zen. namun sekali lagi semua ini berlangsung sebab mereka hanya mengikuti
Vatikan II dan pemimpin Gereja Baru di Roma.
Mohon mencatat bahwa ‘Romo’ Peter-Hans Kolvenbach yaitu ‘Kepala Serikat Yesuit’, yang menuliskan
suatu surat yang memuji acara ini. Ia yaitu pemimpin dari semua Ordo ‘Yesuit’ dari sekte Vatikan II.
Mohon mencatat bahwa buletin ini (yang dikutip di atas), yang disponsori oleh biara-biara
‘Benediktin dan Sistersian Amerika Utara’, merujuk kepada Dalai Lama yang satanik (yang mengaku diri
seorang allah) sebagai ‘Yang Mulia’. Mohon mencatat bahwa program dialog antaragama Yohanes
Paulus II digunakan sebagai pembenaran atas acara ini.
Akhirnya, mohon mencatat bahwa ‘Konferensi Waligereja’ Amerika Serikat mensponsori Dialog
tahunan ketujuh Vaishnava-Kristiani di mana dinyanyikan doa-doa Hindu! Lihatlah para anggota,
para rohaniwan, dan pemimpin-pemimpin Gereja anda, jika anda percaya bahwa sekte Vatikan II yaitu
Gereja Katolik.
Biarawati-biarawati di Gunung Karmel berdoa agar para Yahudi tetap menjadi Yahudi
Sebuah artikel diterbitkan di internet tentang biarawati-biarawati Novus Ordo yang tertutup yang
menghabiskan waktu mereka dalam keheningan dan menginginkan para orang Yahudi untuk tetap
menjadi Yahudi:
“Sewaktu Paus Yohanes Paulus II memohon agar terjadi keakuran antaragama di Tanah Suci, 17
biarawati yang tertutup di Gunung Karmel berdoa dengan hening untuk tetangga-tetangga
Yahudi mereka. Bukan untuk memenangkan jiwa-jiwa bagi Kekristenan. Para biarawati
ini menginginkan para Yahudi untuk tetap menjadi Yahudi...
“Bagaimana anda bisa menjadi pelayan di Israel jika anda berbicara tentang konversi?
Kata Suster Angela del Bono, ibu kepala Biara Our Lady of Mount Carmel, dalam suatu wawancara
yang langka dari balik kisi-kisi besi di dalam ruang tamu biara yang dibangun dari batu granit. Ia
mengetuk dengan tangannya dahinya yang berkerudung. ‘Bayangkan jika seseorang datang ke
sini dan mengatakan kepada saya untuk menjadi Adventis atau seorang Muslim,’ katanya,
tersenyum akan semangatnya sendiri...
Kemurtadan Ordo-Ordo Religius
498
“Kami berdoa agar para Yahudi tetap setia kepada perjanjian mereka,’ kata Suster Angela
del Bono, 68 tahun, yang memegang switer wul tebal di sekeliling jubah coklatnya yang
menyentuh lantai di dalam biaranya yang tidak ada alat penghangat.
Kami berdoa agar orang-orang dapat sampai sepenuhnya kepada wahyu akan Allah... Jika mereka
yaitu orang Yahudi yang baik dan kami yaitu orang-orang Kristiani yang baik hal ini sudah
merupakan kemuliaan bagi Allah tanpa memaksakan orang-orang untuk berubah,’ kata sang
biarawati dari Italia ini , berbicara dalam bahasa Inggris. ‘Kami berdoa untuk semua orang
agar menjadi bahagia dan menjadi pantas untuk menghadap Allah. Setiap orang dapat pergi ke
Surga-Yahudi, Katolik, Muslim, Zulu—jika mereka... berkehendak baik. Jika mereka merasa
baik di mata Allah, jika mereka mengikuti hati nurani mereka, mereka akan masuk Surga.”24
Orang-orang perlu menyadari betapa buruknya hal ini. Hal ini menunjukkan kembali bahwa sekte
Vatikan II yaitu sekte Antikristus. Kepercayaan bahwa seseorang dapat dengan bebas menolak Yesus
Kristus – doktrin dari sang Antikristus – telah meracuni ordo-ordo religius yang seharusnya
dipersembahkan kepada Yesus Kristus.
1 Yohanes 2:22 – “Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus yaitu
Kristus? Dia itu yaitu antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.”
Hal ini juga mengingatkan kita bahwa orang-orang dapat menghabiskan banyak waktu di dalam
tindakan-tindakan yang dianggap religius untuk Allah dan hal ini sia-sia untuk diri mereka jika
mereka tidak memiliki Iman yang sejati. Para biarawati ini menghabiskan kebanyakan waktu mereka
dalam keheningan dan biara mereka tidak memiliki mesin penghangat; namun mereka sama sekali
murtad, menolak Allah dan ada di dalam jalan menuju Neraka. Hal ini menunjukkan kepada kita
bahwa tanpa iman sejati tidaklah mungkin untuk menyenangkan Allah, tidak peduli betapa banyak
tindakan-tindakan religius dan devosi yang seseorang pikir ia lakukan. Perhatikan bahwa sang biarawati
di sini juga mengungkapkan secara persis bidah yang dikutuk oleh Paus Gregorius XVI, bahwa Surga
terbuka untuk anggota-anggota agama apa pun yang ‘baik’ secara alami.
Paus Gregorius XVI, Mirari Vos (#13), 15 Agustus 1832:
“Dengan teguran dari sang rasul, ‘satu Tuhan, satu iman, satu baptisan’ (Ef. 4:5), semoga mereka
menjadi takut, yaitu orang-orang yang membuat-buat ide bahwa dermaga keselamatan
terbuka kepada orang-orang dari agama apa pun. Mereka harus mempertimbangkan
kesaksian Kristus sendiri bahwa ’mereka yang tidak bersama-Nya melawan-Nya.’ (Lk.11:23) dan
mereka yang tidak bersama-Nya akan tercerai-berai dengan tidak bahagia. Maka, ‘tanpa
keraguan, mereka akan binasa selamanya, kecuali mereka berpegang kepada iman
Katolik secara penuh dan utuh’ (Syahadat Atanasius).”25
Kemurtadan dari para Biarawati ‘Benediktin’ Novus Ordo; apa perlu dijelaskan lagi?
Kami telah mengutip fakta bahwa para ‘Benediktin’ Novus Ordo membuat tautan di situs mereka kepada
situs Anglikan dan ‘Ortodoks’ Timur. Mary Lou Kownacki, ‘OSB’, yaitu direktur eksekutif dari Alliance
for International Monasticism, yang menghubungkan 200 komunitas-komunitas ‘Benediktin’ dan
‘Sistersian’ Novus Ordo di dalam negara-negara berkembang dengan komunitas-komunitas di Amerika
Serikat. Ia juga yaitu direktur pengembangan dan komunikasi untuk suster-suster ‘Benediktin’ Novus
Ordo di Erie, PA. Sejalan dengan agama Vatikan II, ia memberi contoh yang nyata akan kemurtadan
antaragama. Di dalam puisinya yang dikutip di bawah, ia memanggil sang ‘Kristus Kosmik’, yang katanya
berbicara lewat Teilhard de Chardin, seorang imam ‘Katolik’ yang murtad. Ia juga berkata bahwa ia
Kemurtadan Ordo-Ordo Religius
499
{‘Kristus Kosmik’} berbicara lewat sang penyembah berhala, Mahatma Gandhi, sang bidah Martin Luther
King, Jr. dan para Yahudi Anne Frank dan Rabbi Heschel.
“Oh Kristus Kosmik... Lewat Teilhard de Chardin, ilmuwan kosmos, anda telah membayangkan
surga dan bumi yang baru. Lewat Mahatma Gandhi, jiwa yang agung, anda menjadi tanpa
kekerasan di dalam perjuangan untuk keadilan... Lewat Anne Frank... anda mempertahankan
kebaikan di tengah-tengah suatu kejahatan yang besar... Lewat Martin Luther King, Jr.,... Lewat
Rabbi Abraham Heschel, sang Hasidut yang bijak, anda telah menjawab pencarian kami akan
makna.”26
Apa lagi yang kami perlu katakan? Sang pemurtad ini mengurus suatu aliansi yang menghubungkan
komunitas-komunitas ‘Benediktin’ dan ‘Sistersian’ Novus Ordo. Dan orang-orang bertanya kepada
kami mengapa kami tidak bersekutu dengan para ‘Benediktin’ Novus Ordo. Mereka yang menerima
orang-orang semacam itu sebagai Katolik tidak bersekutu dengan Gereja Katolik.
Saint John’s Abbey: contoh umum dari kemurtadan yang memalukan di dalam ordo-ordo
religius Vatikan II
Saint John’s Abbey, terletak di Collegeville, Minnesota, yaitu salah satu dari biara-biara terkemuka dan
bersejarah dari sekte Vatikan II di Amerika. Para ‘Benediktin’ di St. John’s Abbey, seperti sekte Vatikan II
di mana mereka tergabung, sayangnya tidak sedikit pun Katolik. Seperti yang kami telah laporkan pada
awal bagian ini, pada tahun 2004, St. John’s Abbey mengadakan “Monks in the West {Biarawan-biarawan di
Barat}” – pertemuan dengan para ‘biarawan’ Buddhis.
Majalah mereka menyatakan: “Kami mendevosikan dua hari penuh untuk berbagi
pengalaman rohani pribadi kami... menghadiri ibadat nyanyian komunitas Buddhis,
bermeditasi bersama, dan menikmati masakan vegetarian Cina yang sangat lezat.”27
Ini benar-benar murtad.
Para ‘Benediktin’ Novus Ordo menghadiri ibadat doa Buddhis di Konferensi “Monks in the West”.28
Perhatikan bahwa ‘salib’ mereka bukanlah sebuah salib, namun tanda tambah.
Majalah yang sama mengatakan: “...Kekristenan juga dapat belajar dari kebijaksanaan tradisi
Buddhis, terutama di dalam hal-hal pikiran dan fantasi. Misalnya, di dalam satu sesi, seorang
biarahan dari Shasta Buddhist Abbey... menggambarkan metode Buddhis untuk menerima
perasaan-perasaan seksual tanpa menindakinya ataupun menahannya, namun hanya
Kemurtadan Ordo-Ordo Religius
500
membiarkannya lewat... Kami menjelajahi kemungkinan untuk menerbitkan sebuah buku tentang
apa yang kami pelajari dari arti dan praktik keselibatan di dalam kedua tradisi kami.”29
Jadi, anggota-anggota dari St. John’s Abbey bukan hanya bermeditasi dengan para pagan dan penyembah
berhala dan juga menghadiri ibadat-ibadat mereka yang musyrik, namun juga mempersilakan mereka
untuk mempromosikan filosofi mereka yang jahat yaitu untuk tidak menolak pikiran-pikiran kotor.
Gereja Katolik, berdasar ajaran Yesus Kristus (Matius 5:28) telah selalu mengajarkan bahwa pikiran-
pikiran serta gairah-gairah kotor harus ditolak. Apa yang kami telah bahas di sini yaitu suatu contoh
yang dalam tentang kemurtadan di dalam sekte Vatikan II, namun hal ini sangatlah umum.
Seorang anggota dari komunitas religius kami, sebelum menjadi seorang Katolik tradisional, melewatkan
waktu di sebuah Biara Novus Ordo di South Carolina. Pada saat ia tinggal di biara ini , ia menghadiri
sebuah ceramah oleh seorang ‘imam’ Novus Ordo yang kelihatannya yaitu seorang teolog. Sang ‘imam’
mengatakan kepada para biarawan bahwa semua agama memimpin orang ke Surga, dan tidak ada
keperluan untuk menjadi Katolik agar dapat diselamatkan. Para biarawan Novus Ordo yang hadir tidak
terlihat menunjukkan reaksi apa pun, tersinggung ataupun terkejut atas ajaran-ajaran yang jelas-jelas
sesat dari sang ‘imam’. Sang pria muda ini , namun , sangatlah bingung dan terkejut sehingga ia
begadang pada malam hari untuk menuliskan ayat-ayat Kitab Suci untuk perlunya menerima Yesus
Kristus untuk keselamatan untuk membantah kemurtadan sang ‘imam’. Pada hari berikutnya ia
menyajikan informasi ini kepada para biarawan Novus Ordo untuk membantah apa yang telah
dikatakan; mereka kelihatannya sama sekali tidak peduli.
Sebuah artikel oleh seorang Biarawati ‘Benediktin’, Sr. Mary Margaret Funk, menegaskan
lebih lanjut kemurtadan total dari ordo-ordo religius sekte Vatikan II
Banyak orang berargumentasi bahwa ajaran-ajaran Vatikan II tidak menentang dogma Katolik sama
sekali. Mereka menegaskan dengan keras bahwa agama Vatikan II sangatlah harmonis dengan agama
Katolik yang tidak berubah. Beberapa orang menyebut orang-orang ini (yang membela semua hal dalam
Vatikan II dan kemurtadan sesudah konsili ini ) neo-Katolik; kami menyebut mereka neo-apostat,
sebab mereka mencoba untuk menjelaskan lewat dalih-dalih dari penciuman Al-Quran sampai
diperbolehkannya para pemuja berhala untuk mengambil alih dan berdoa kepada para allah-allah sesat
di Assisi. namun salah satu dari cara-cara yang paling menarik dan jelas untuk membuktikan
bahwa sekte Vatikan II bukanlah Gereja Katolik yaitu hanya dengan melihat apa yang
dipercayai para anggotanya di kalangan setempat. Kami telah melakukan banyak sekali hal ini, namun
cerita-cerita dari para individu yang telah berkecil hati untuk bergabung menjadi Katolik oleh para
anggota Gereja Novus Ordo, termasuk uskup-uskup, pejabat-pejabat Vatikan dan guru-guru RCIA,
tampaknya hampir tidak terbatas. Maka jika anda pernah ingin digerakkan oleh kegeraman suci melawan
kemurtadan Vatikan II, atau jika anda menginginkan bukti atas betapa hinanya kekejian sekte Vatikan II,
atau jika anda ingin diyakinkan bahwa yaitu persoalan Surga atau Neraka untuk menolak sekte yang
palsu dan non-Katolik ini yang berpura-pura menjadi Gereja Katolik, anda cukup menelpon gereja-gereja
Novus Ordo dan bertanya kepada mereka: “Apakah anda menerima dogma bahwa Di Luar Gereja Katolik
Tidak ada Keselamatan? Apakah Islam yaitu agama sesat? Apakah Yahudi agama sesat?”
Jawaban-jawaban yang anda akan dapatkan akan mengejutkan anda, jika anda tahu dan memiliki Iman
Katolik yang sejati. Jawaban-jawaban yang anda akan dapatkan akan menegaskan untuk anda, jika anda
berhati tulus, bahwa agama para individu ini (agama Vatikan II) bukanlah agama Katolik. Hal ini akan
menegaskan untuk anda, jika anda berhati tulus, bahwa keseluruhan sekte Vatikan II yaitu
murtad, sebab para individu ini hanya mempraktikkan apa yang diajarkan dan diberikan
sebagai contoh oleh Vatikan II mengenai agama-agama non-Kristiani.
Kemurtadan Ordo-Ordo Religius
501
Dalam nada yang sama, salah satu dari kami membaca St. Anthony Messenger dan menjumpai sebuah
artikel berjudul Islam: What Every Catholic Should Know {Islam: Apa yang Semua Orang Katolik
Harus Ketahui} oleh Mary Margaret Funk, ‘OSB’ (St. Anthony Messenger yaitu salah satu penerbitan
yang paling menonjol di sekte Vatikan II.) Berikut yaitu sebuah artikel dari sang Biarawati “Benediktin”
tentang Islam. Apa katanya?
Mary Margaret Funk, ‘OSB’, Islam: What Every Catholic Should Know {Islam: Apa yang Semua
Orang Katolik Harus Ketahui}, hal. 36, St. Anthony Messenger, Agustus, 2005:
“Tidak seperti orang-orang Kristiani, yang percaya bahwa Yesus yaitu Putra Allah dan bagian
yang tidak terpisahkan dari Allah, orang-orang Muslim percaya bahwa sang Nabi Muhammad
yang Kudus (570-632) yaitu seorang pria






