gereja vatikan 28


 an dosa berat. 

Bantahan 3) Saya tahu bahwa KBA itu selalu salah, kecuali untuk alasan-alasan tertentu, dan di 

dalam kasus-kasus ini , hal itu diperbolehkan. 

Jawaban: Kami akan mengutip kembali Paus Pius XI untuk menjawab bantahan ini. 

Paus Pius XI, Casti Connubii (#54), 31 Desember 1930: 

““namun  tidak ada alasan, betapapun seriusnya, yang dapat diajukan untuk hal apa pun 

yang secara intrinsik berlawanan dengan alam untuk membuatnya menjadi sesuai dengan 

alam dan baik secara moral. Oleh sebab  itu, sebab hubungan perkawinan terutama 

ditakdirkan oleh alam untuk menciptakan anak-anak, mereka yang dalam pelaksanaannya 

menghalangi kekuatan-kekuatan alaminya dan tujuannya berdosa melawan alam dan 

melakukan suatu hal yang memalukan dan secara intrinsik jahat.”12 

Tidak ada alasan, bagaimanapun seriusnya, yang dapat membuat sesuatu yang secara intrinsik buruk 

menjadi baik. KBA mengemudiankan tujuan utama dari tindakan perkawinan (prokreasi dan pendidikan 

anak-anak) dibandingkan  hal-hal lain dan oleh sebab  itu terlarang. 

Dan hal ini membawa kita ke suatu poin yang lain. Jika KBA bukanlah suatu dosa – jika hal itu 

hanyalah ‘alami’ , seperti yang mereka katakan – lalu mengapakah para pasangan yang telah 

menikah tidak dapat memakai  KBA sepanjang pernikahan mereka dan tidak memiliki anak-

anak sama sekali? Jika KBA bukanlah sebuah dosa, lalu semua wanita bebas sama sekali untuk 

memakai  metode pengendalian kelahiran ini untuk mencegah dikandungnya semua anak supaya 

tidak satu pun dilahirkan. namun , pada dasarnya semua pembela KBA akan mengakui bahwa hal ini  

imoral dan yaitu  dosa berat untuk memakai  KBA untuk menghindari semua kehidupan baru. 

namun  sewaktu mereka membuat pengakuan ini mereka mengakui bahwa KBA yaitu  sebuah dosa; jika 

tidak, biarkan mereka mengakui bahwa hal ini  dapat digunakan oleh semua pasangan untuk alasan 

apa pun untuk menghindari semua anak-anak. 

Bantahan 4) Di dalam Casti Connubii sendiri, Paus Pius XI mengajarkan bahwa para pasangan 

suami istri dapat memakai  periode-periode di mana sang istri tidak dapat mengandung. 

Paus Pius XI, Casti Connubii (#59), 31 Desember 1930: 

“Tidak pun mereka dianggap bertindak secara berlawanan terhadap alam, orang-orang yang di 

Keluarga Berencana Alami yaitu  Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa 

613 

 

dalam pernikahan memakai  hak mereka dengan cara yang layak yang bagaimanapun akibat 

alasan-alasan alami yaitu waktu atau kecacatan tertentu, tidak dapat menghasilkan kehidupan 

baru. sebab  di dalam pernikahan dan juga di dalam penggunaan hak pernikahan, ada  pula 

tujuan-tujuan sekunder, seperti tujuan saling membantu, menenangkan nafsu, dan pertumbuhan 

rasa saling cinta yang sang suami dan istri tidak dilarang untuk pertimbangkan SELAMA 

TUJUAN-TUJUAN SEKUNDER ini  DIlalu KAN OLEH TUJUAN UTAMANYA dan 

selama sifat intrinsik dari tindakan ini  dijaga.”13 

Jawaban: Ya, Paus Pius XI mengajarkan bahwa para pasangan suami istri dapat memakai  hak-hak 

pernikahan mereka pada masa-masa infertil sang istri (atau sewaktu ada  kecacatan alami atau umur 

yang mencegah dikandungnya kehidupan baru). namun  ia tidak mengajarkan bahwa mereka dapat 

merencanakan untuk membatasi tindakan perkawinan hanya pada masa-masa infertil untuk 

menghindari kehamilan, seperti di dalam Keluarga Berencana Alami. 

Inilah mengapa, di dalam kutipan di atas, Paus Pius XI mengulangi bahwa semua penggunaan hak-hak 

pernikahan – termasuk sewaktu kehidupan baru tidak dapat dihasilkan akibat waktu atau alam – harus 

tetap mengemudiankan tujuan-tujuan sekunder dari pernikahan dibandingkan  tujuan utamanya! Ajaran ini 

mematikan KBA, sebab  KBA sendiri mengemudiankan tujuan utama pernikahan (prokreasi dan 

pendidikan anak-anak) dibandingkan  hal-hal lain. Maka, secara pendek, kutipan di atas tidak mengajarkan 

KBA, namun  hanya semata-mata mengucapkan prinsip bahwa pasangan suami istri dapat memakai  

hak-hak pernikahan mereka kapan pun. Terlebih lagi, di dalam paragraf yang sama, paragraf yang 

diputarbalikkan oleh para pembela KBA untuk membenarkan praktik pengendalian kelahiran mereka 

yang penuh dosa, Paus Pius XI mengutuk KBA dengan mengulangi ajaran tentang tujuan utama 

pernikahan, yang dilalu kan KBA dibandingkan  hal-hal lain. 

Bantahan 5) Semua orang mengakui bahwa ‘Keluarga Berencana Alami' dapat digunakan untuk 

membantu seorang wanita untuk mengandung. Oleh sebab  itu, metode yang sama dapat 

digunakan untuk menghindari kehamilan. 

Jawaban: Jika pasangan memakai  Keluarga Berencana Alami untuk mencapai kehamilan, hal 

ini  sah sebab  di dalam kasus ini, mereka melakukan apa yang mereka dapat lakukan untuk 

memenuhi tujuan utama pernikahan (prokreasi dan pendidikan anak-anak). Jika pasangan suami istri 

memakai  Keluarga Berencana Alami untuk menghindari kehamilan, hal ini  yaitu  dosa sebab  

di dalam kasus ini, mereka melakukan apa yang mereka dapat lakukan untuk menghindari tujuan utama 

pernikahan (prokreasi dan pendidikan anak-anak). 

 Bantahan 6) namun  imam tradisional saya mengajarkan saya KBA. 

Jawaban: Sewaktu orang buta menuntun orang buta, keduanya jatuh ke dalam lubang (Matius 15:14). 

Pasangan-pasangan yang memakai  KBA mengetahui bahwa mereka melakukan suatu dosa. Hal 

ini  tertulis di dalam hati mereka. Mereka tidak memerlukan seorang imam untuk memberi tahu 

mereka bahwa hal ini  yaitu  dosa. Ya, para imam yang bersikeras mengajarkan orang-orang bahwa 

KBA diperbolehkan dan membela metode pengendalian kelahiran ini juga bersalah, namun  hal ini tidak 

menghapuskan tanggung jawab para pasangan yang mengikuti ajaran mereka yang buruk. 

Inilah mengapa kami harus menekankan bahwa mereka yang memberi  uang kepada imam-imam 

‘tradisionalis’ yang mempromosikan atau menerima KBA harus segera berhenti jika mereka tidak ingin 

berbagi di dalam dosa mereka dan mengikuti mereka ke Neraka, sebab  para imam ini  menuntun 

jiwa-jiwa ke Neraka. 

Keluarga Berencana Alami yaitu  Pengendalian Kelahiran yang Penuh Dosa 

614 

 

Imam-imam ini  termasuk imam-imam Serikat St. Pius X, Serikat St. Pius V, CMRI {Congregation of 

Mary Immaculate Queen} dan hampir semua imam independen di dalam waktu Kemurtadan Besar ini. 

Kesimpulan 

Pasangan-pasangan yang telah memakai  KBA, namun  bertekad untuk berubah, tidak boleh berputus 

asa. KBA yaitu  suatu kejahatan, namun  Allah pengasih dan akan mengampuni mereka yang bertekad 

secara teguh untuk mengubah hidup mereka dan mengakui dosa mereka. Mereka yang telah 

memakai  KBA harus menyesali dosa mereka dan mengakui dosa mereka kepada seorang imam yang 

ditahbiskan secara valid bahwa mereka telah melakukan pengendalian kelahiran (selama hal ini  

telah dilakukan). Sang istri dan suami yang setuju dengan penggunaan KBA harus mengaku dosa. Mereka 

lalu harus terbuka kepada semua anak-anak yang Allah harapkan untuk berikan kepada mereka – tanpa 

khawatir atau mengetahui grafik, siklus, fertil atau infertil, mencari terlebih dahulu kerajaan Allah dan 

keadilan-Nya, dan membiarkan Allah merencanakan keluarga mereka. 

Lucia Gadungan 

- Pertanyaannya yaitu : apakah anda berani mengetahui kenyataan tentang perkara ini? 

- Kenyataan yang tidak akan anda dengar dari “Romo” Gruner; fakta-fakta mengejutkan tentang suatu 

perkara di mana kita semua telah ditipu sehingga hanya mempertimbangkannya dari satu sudut 

- Suatu artikel yang harus dibaca oleh semua orang Katolik tradisional 

Amsal 16:7: “Jikalau jalan seseorang berkenan 

kepada TUHAN, bahkan musuh-musuhnya dibuat-

Nya berdamai dengannya.” (Kitab Suci terjemahan 

MILT 2008) 

Bunda Maria: “Jikalau mereka mendengarkan 

permintaan-permintaanku, Rusia akan berkonversi 

dan akan ada kedamaian.” 

 

Amsal 16:7: “Jikalau jalan seseorang berkenan kepada TUHAN, bahkan musuh-musuhnya dibuat-Nya 

berdamai dengannya.” 

“... Cum placuerint Domino viae hominis inimicos quoque eius convertet ad pacem.“ 

Di dalam bab ini: 

- Fakta #1: Paus Pius XII sudah mengonsekrasikan Rusia kepada Hati Maria yang Tak Bernoda – 

Paus Pius XII tidak mengonsekrasikan dunia, melainkan Rusia secara spesifik, pada tanggal 7 Juli 

1952 

- Fakta #2: Apa Maksud Bunda Maria saat ia berkata tentang Berkonversinya Rusia – bukti yang 

mengejutkan 

- Posisi ini didukung lebih lanjut dengan mempertimbangkan Portugal – “Lemari Kaca Bunda 

Maria” 

- Posisi ini didukung oleh Ringkasan Suster Lucia tentang penglihatannya di Tuy 

- “Orang-orang benar akan dimartirkan” dan “Berbagai negara akan dilenyapkan” yaitu  nubuat-

nubuat yang telah digenapi 

- Rusia berkonversi dari apa – potret-potret kuasa Setan di dalam Rusia Komunis 

- Ia akan melakukan konsekrasi ini , namun  dengan “terlambat” 

- Kata-kata Bunda Maria menunjukkan kepada kita bahwa kemenangan Bunda Maria bukanlah 

suatu kemenangan universal ataupun kuasa damai yang universal, melainkan hanyalah suatu 

masa kedamaian “tertentu” 

- Konversi Rusia = ... 

- Buktinya 

- Bantahan-bantahan lain – dan Sr. Lucia bahkan tidak mengetahui apakah konsekrasi dunia oleh 

Pius XII pada tahun 1942 diterima oleh Surga 

- Bagian II: Bukti yang menyingkap adanya Suster Lucia Gadungan 

- Pesan sesat dari “Romo” Nicholas Gruner 

Salah satu pertanyaan yang paling sering kami terima mengenai pernyataan Bunda Maria di Fatima 

pada tanggal 13 Juli 1917: 


616 

 

“Kalian telah melihat Neraka, tempat perginya jiwa-jiwa para pendosa yang malang. Untuk 

menyelamatkan mereka, Allah ingin menetapkan di dalam dunia ini devosi kepada Hatiku yang Tak 

Bernoda. Jika mereka melakukan apa yang kuberitahukan kepada kalian, banyak jiwa akan 

diselamatkan, dan akan ada kedamaian. Perang akan berakhir. Namun, jika mereka tidak berhenti 

menghina Allah, akan bermula sebuah perang lain yang lebih buruk di bawah masa pemerintahan 

Pius XI. Ketika kalian melihat suatu malam yang diterangi oleh sebuah cahaya yang tak dikenal, 

ketahuilah bahwa cahaya itu yaitu  pertanda besar yang diberikan oleh Allah kepada kalian 

bahwa Ia akan menghukum dunia atas kejahatan-kejahatannya, melalui perang, kelaparan, dan 

penganiayaan terhadap Gereja dan Bapa Suci. Untuk mencegah hal ini, aku datang untuk meminta 

konsekrasi Rusia kepada Hatiku yang Tak Bernoda dan Komuni Reparasi setiap Sabtu pertama. 

Jikalau mereka mendengarkan permintaan-permintaanku, Rusia akan berkonversi dan 

akan ada kedamaian. Jika tidak, ia akan menyebarkan kesalahan-kesalahannya di seluruh dunia, 

yang membangkitkan peperangan dan penganiayaan-penganiayaan terhadap Gereja. Orang-orang 

benar akan dimartirkan, Bapa Suci akan mengalami penderitaan yang besar, berbagai negara akan 

dilenyapkan. Pada akhirnya, Hatiku yang Tak Bernoda akan menang. Bapa Suci akan 

mengonsekrasikan Rusia kepadaku, dan ia akan berkonversi dan suatu masa kedamaian 

tertentu akan diberikan kepada dunia.”1 

Berikut yaitu  pertanyaan/bantahannya: para “Paus” Vatikan II haruslah merupakan paus yang sejati, 

sebab  salah satu dari mereka pada akhirnya akan mengonsekrasikan Rusia kepada Hati Maria yang Tak 

Bernoda, dan negeri itu akan sepenuhnya berkonversi kepada Iman Katolik. Peristiwa itu belum terjadi, 

maka, anda tidak benar untuk berkata bahwa mereka yaitu  Anti-Paus. 

Pertama-tama, untuk mencermati masalah ini, penting bagi orang-orang untuk menjernihkan pikiran 

mereka dari praduga-praduga tentang hal ini. Mereka harus bersiap diri untuk melihat fakta-

faktanya dengan mata yang segar. Mari kita langsung membahas masalah yang sangat penting ini: 

FAKTA #1: PAUS PIUS XII SUDAH MENGONSEKRASIKAN RUSIA KEPADA HATI 

MARIA YANG TAK BERNODA – PAUS PIUS XII TIDAK MENGONSEKRASIKAN 

DUNIA, MELAINKAN RUSIA SECARA SPESIFIK, PADA TANGGAL 7 JULI 1952 

Banyak orang mengetahui bahwa Paus Pius XII telah mengonsekrasikan dunia kepada Hati Maria yang 

Tak Bernoda pada tahun 1942. Banyak orang tidak tahu bahwa Paus Pius XII telah secara spesifik 

mengonsekrasikan Rusia kepada Hati Maria yang Tak Bernoda pada tahun 1952. 

Kami tidak mengetahui hal ini sebelum kami mulai mempelajari pertanyaan ini dengan lebih mendalam. 

Fakta yang penting ini bahkan tersingkap di dalam buku-buku yang didukung oleh kerasulan “Romo” 

Nicholas Gruner. 

Bruder Michel, Toute la vérité sur Fatima [Seluruh Kenyataan tentang Fatima], Volume 1, hal. 498: 

“ ... pada bulan Juni 1952. Pada tanggal 7 Juli di tahun yang sama, satu tahun sesudah  artikel 

dari Dhanis, Paus Pius XII, di dalam surat apostoliknya Sacro Vergente Anno, telah 

menuntaskan konsekrasi Rusia ini dan Rusia sendiri, dengan menyebutkan nama negara 

itu – tidaklah benar bagi Dhanis untuk menyatakan bahwa hal ini  tidak mungkin terjadi!”2 

Kita juga menemukan fakta ini di dalam buku Fatima in Twilight [Aram-temaram Fatima]. 

Mark Fellows, Fatima in Twilight [Aram-temaram Fatima], hal. 119: 

“Surat ini  berlanjut dengan meminta agar Pius mengonsekrasikan Rusia kepada Hati 


617 

 

Tak Bernoda. Ia [Pius XII] melakukannya di dalam sepucuk surat yang ditujukan kepada 

seluruh rakyat Rusia (Sacro Vergente Anno), di mana ia menuliskan dengan saksama, ‘pada 

hari ini, Kami mengonsekrasikan dan dengan cara yang teramat khusus memercayakan seluruh 

rakyat Rusia kepada Hati Tak Bernoda ini’ ....”3 

Berikut kata-kata Pius XII: 

Paus Pius XII, Sacro Vergente Anno (Surat apostolik), 7 Juli 1952: 

“ ... sebagaimana beberapa tahun lalu Kami mengonsekrasikan segenap umat manusia 

kepada Hati Tak Bernoda milik Perawan Maria, Bunda Allah, demikian pula pada hari ini 

Kami mengonsekrasikan dan dengan cara yang teramat khusus Kami memercayakan 

seluruh rakyat Rusia kepada Hati Tak Bernoda ini ....”4 

Oleh sebab  itu, yaitu  suatu fakta yang tidak terpungkiri: Paus Pius XII telah secara khusus 

mengonsekrasikan Rusia kepada Hati Maria yang Tak Bernoda. 

namun  bukankah Bunda Maria telah berjanji bahwa Rusia akan dikonsekrasikan bersama semua uskup di 

dunia? Tidak! Ini yaitu  poin kuncinya. Bunda Maria meminta agar Rusia dikonsekrasikan bersama 

semua uskup di dunia, namun  pada tanggal 13 Juli, ia hanya berjanji bahwa “Pada akhirnya, Hatiku yang 

Tak Bernoda akan menang. Bapa Suci akan mengonsekrasikan Rusia kepadaku, dan ia akan 

berkonversi dan suatu masa kedamaian tertentu akan diberikan kepada dunia.’ Perhatikan bahwa Bunda 

Maria tidak berjanji: “Bapa Suci dan semua uskup akan mengonsekrasikan Rusia kepadaku ….” Di 

samping itu, Surga telah mewahyukan bahwa konsekrasi Rusia yang sebenarnya tidak akan sepenuhnya 

ditepati sesuai dengan kehendak-kehendak Surga pada awalnya; misalnya, konsekrasi itu akan dilakukan 

“dengan terlambat” (hal ini akan dibahas tidak lama lagi). 

FAKTA #2: BUNDA MARIA TIDAK PERNAH BERKATA BAHWA KONVERSI 

RUSIA BERARTI BAHWA RUSIA AKAN BERKONVERSI KEPADA IMAN KATOLIK 

Pertanyaan yang harus kembali kita telaah yaitu  sebagai berikut: Apakah Bunda Maria pernah 

berkata bahwa Rusia akan berkonversi kepada “Iman Katolik”? Apakah ada  bukti bahwa 

Bunda Maria telah berkata bahwa Rusia akan berkonversi kepada Iman Katolik? Jawabannya, yang 

kemungkinan besar akan mengejutkan banyak orang, yaitu  tidak. Salah satu dari kami [seorang 

biarawan dari Biara Keluarga Terkudus] telah mempelajari secara saksama karya dari Bruder Michel, 

“Toute la vérité sur Fatima [Seluruh Kenyataan tentang Fatima]’ (lebih dari 2.000 halaman tentang hal 

ini ). Pada waktu itu, kami sedang mencari suatu bukti, bukti apa pun, yang menyatakan bahwa 

Bunda Maria pernah berkata bahwa “konversi” Rusia berarti bahwa negara Rusia akan berkonversi 

kepada Iman Katolik. [Mohon mencatat: kami tidak sedang mencermati pertanyaan bilamana Surga 

menghendaki agar Rusia berkonversi kepada Iman Katolik: tentunya jawabannya yaitu  ya, sebab  di luar 

Gereja Katolik tidak ada  keselamatan. namun , kami sedang menanggapi pertanyaan tentang bilamana 

Surga pernah berkata atau berjanji bahwa negara Rusia akan berkonversi kepada Iman Katolik. Tidak 

ada  bukti bahwa Surga pernah berjanji bahwa Rusia akan berkonversi kepada Iman Katolik.] 

Seseorang berkata kepada kami: “Tentu saja hal ini  berarti bahwa seluruh negeri itu akan 

berkonversi kepada iman Katolik, hal ini tidak bisa diartikan dengan makna yang lain!” Orang ini bahkan 

berkata bahwa yaitu  suatu hal yang absurd untuk berpikir bahwa Bunda Maria memakai  kata 

“konversi” dengan makna yang lain selain konversi kepada Iman yang sejati. Benarkah? Orang ini akan 

terkejut saat ia mengetahui bahwa di dalam terjemahan bahasa Latin Vulgata Kitab Amsal 16:7, kita 

menemukan suatu rujukan kepada “konversi” yang tidak berarti konversi kepada iman yang sejati, 


618 

 

melainkan berkonversinya seorang musuh penganiaya kepada kedamaian (yakni, bahwa ia berhenti 

melakukan penganiayaannya). 

Amsal 16:7: “Jikalau jalan seseorang berkenan kepada TUHAN, bahkan musuh-musuhnya 

dibuat-Nya berdamai dengannya.”  

Dalam bahasa Latin: “ ... Cum placuerint Domino viae hominis inimicos quoque eius 

convertet ad pacem.“ 

Dalam bahasa Inggris: “When the ways of man shall please the Lord, He will convert even 

his enemies to peace.” 

Kenyataannya, perhatikan keserupaan antara perkataan Bunda Maria dari tanggal 13 Juli dan Amsal 16:7 

(menurut Kitab Suci Vulgata): di dalam konteks kedua perkataan ini, konversi secara langsung 

berhubungan dengan kedamaian, sesudah  seorang manusia telah memenuhi permintaan Tuhan. 

Amsal 16:7: “Jikalau jalan seseorang berkenan 

kepada TUHAN, bahkan musuh-musuhnya dibuat-

Nya berdamai dengannya.” [Kitab Suci terjemahan 

MILT 2008] 

 

[Dalam bahasa Inggris: “When the ways of man shall 

please the Lord, He will convert even his enemies to 

peace.”] 

Bunda Maria: “Jikalau mereka mendengarkan 

permintaan-permintaanku, Rusia akan berkonversi 

dan akan ada kedamaian. 

 

 

[Dalam bahasa Inggris: “If they listen to my requests, 

Russia will be converted dan there will be peace.”]  

 

sesudah  mempelajari perkara ini secara mendalam, dan sesudah  kembali mengkaji fakta-faktanya, saya 

berpendapat dengan teguh bahwa perkataan Bunda Maria berselaras dengan apa yang kita baca di sini di 

dalam Amsal 16:7: “konversi” Rusia tidak berarti berkonversinya negara ini  kepada iman Katolik, 

melainkan berkonversinya musuh penganiaya (yakni, Rusia) kepada suatu masa kedamaian tertentu. 

Kita akan melihat makna yang persis dari hal ini sewaktu kita berlanjut, dan kita juga akan melihat 

bahwa bukti dari pesan Fatima mendukung kesimpulan ini. 

POSISI INI DIDUKUNG LEBIH LANJUT DENGAN MEMPERTIMBANGKAN 

PORTUGAL – “LEMARI KACA BUNDA MARIA” 

Untuk mencoba mendukung posisi mereka bahwa Rusia belum dikonsekrasikan, “Romo” Gruner dan 

para pengikutnya sering mengungkit-ungkit kasus Portugal, di mana Portugal disebut sebagai “Lemari 

Kaca Bunda Maria.” Mereka menyatakan bahwa sewaktu para Uskup Portugal mengonsekrasikan negara 

mereka kepada Hati Maria yang Tak Bernoda pada tanggal 13 Mei 1931, peristiwa itu menghasilkan 

suatu pembaruan sosial dan pembaruan Katolik yang luar biasa. Mereka berkata bahwa Bunda Maria 

memakai  Portugal sebagai sebuah “lemari kaca” untuk mempertunjukkan apa yang akan 

dilakukannya untuk Rusia dan seluruh dunia. 

John Vennari, It Doesn’t Add Up [Tidak Masuk Akal], The Fatima Crusader, Terbitan #70: 

“Oleh sebab  itu, tidaklah sulit untuk dimengerti mengapa Portugal, pada masa ini , disebut 

sebagai ‘Lemari Kaca Bunda Maria’. Dan mukjizat lipat tiga di Portugal berguna sebagai suatu 

pratinjau tentang akan seperti apa keadaan Rusia dan seluruh dunia sesudah  Konsekrasi 

Rusia secara Kolegial.”5 


619 

 

namun , dengan membawa-bawa Portugal sebagai contoh, mereka hanya membuktikan lebih lanjut bahwa 

janji “konversi” Rusia bukan berarti bahwa seluruh negeri itu akan berkonversi kepada Iman Katolik. 

Sebab mereka gagal untuk mencatat bahwa bahkan sesudah  para uskup mengonsekrasikan negara 

Portugal (suatu negara yang hampir sepenuhnya Katolik dari sudut pandang populasi), negara itu 

tidak menjadi suatu negara Katolik! 

Bruder Michel, Toute la vérité sur Fatima [Seluruh Kenyataan tentang Fatima], Volume 2, hal. 265: 

“Anehnya, di dalam persetujuan ini [persetujuan negara Portugal – tanggal 7 Mei 1940] agama 

Katolik tidak diakui sebagai agama resmi Negara Portugal, dan oleh sebab  itu, secara teori, 

tetap ada pemisahan antara Gereja dan Negara.”6 

Jika Portugal sendiri (suatu negara yang hampir sepenuhnya Katolik) tidak berubah menjadi suatu 

negara Katolik bahkan sesudah  dikonsekrasikan, hal ini yaitu  bukti lebih lanjut bahwa konversi Rusia 

bukan berarti konversi negara itu kepada iman Katolik. Konstitusi Portugal pada tahun 1959 bahkan 

tidak menyebutkan nama Allah.7 

POSISI INI DIDUKUNG LEBIH LANJUT OLEH RINGKASAN SUSTER LUCIA 

TENTANG PENGLIHATANNYA DI TUY 

Untuk mencoba mendukung posisi mereka bahwa Rusia akan berkonversi kepada Iman Katolik, banyak 

orang mengutip penglihatan di Tuy, di mana Bunda Maria berjanji untuk “menyelamatkan” Rusia: 

Bunda Maria kepada Suster Lucia: 13 Juni 1929, di Tuy: 

“Sudah tiba saatnya di mana Allah meminta kepada Bapa Suci untuk melakukan bersama seluruh 

uskup di dunia, konsekrasi Rusia kepada Hatiku yang Tak Bernoda. Ia berjanji untuk 

menyelamatkannya dengan cara demikian.”8 

Hal yang SANGAT PENTING yaitu  bahwa Bruder Michel mengakui bahwa Suster Lucia merangkum 

komunikasi di Tuy ini dengan suatu cara yang sedikit berbeda di dalam kedua surat kepada Romo 

Gonçalves: 

Bruder Michel, Toute la vérité sur Fatima [Seluruh Kenyataan tentang Fatima], Volume 2, hal. 294: 

“[halaman sesudah  kutipan yang anda baru saja baca] Marilah menunjukkan secara 

langsung bahwa pada tahun 1930, di dalam dua surat kepada Romo Gonçalves, Suster 

Lucia ingin mengungkapkan dengan cara yang sedikit berbeda permintaan-permintaan 

dari Surga ... [Suster Lucia]: ‘Tuhan yang Mahabaik berjanji untuk mengakhiri 

penganiayaan di Rusia, jika Bapa Suci sendiri akan melakukan suatu tindakan reparasi dan 

konsekrasi Rusia secara khidmat kepada Hati Kudus Yesus dan Maria, dan memerintahkan 

kepada semua uskup dari Gereja Katolik untuk melakukan hal yang sama. Bapa Suci lalu harus 

berjanji bahwa sesudah  penganiayaan ini berakhir, ia akan menyetujui dan menyarankan praktik 

devosi reparasi yang sudah dideskripsikan tesebut.’”9 

Maka, menurut Suster Lucia, pesan di Tuy, yang berkata bahwa Tuhan kita akan “menyelamatkan” Rusia, 

berarti bahwa Tuhan berjanji untuk “mengakhiri penganiayaan di Rusia”, yang dengan demikian 

meneguhkan poin bahwa tidak ada  bukti bahwa Surga pernah menjanjikan berkonversinya Rusia 

kepada iman Katolik. Kita menemukan hal yang sama di dalam suatu penglihatan lain yang diberikan 

oleh Tuhan kita kepada Sr. Lucia pada tahun 1940: 

Tuhan kita kepada Suster Lucia; 22 Oktober 1940: 

“Aku akan menghukum negara-negara atas kejahatan-kejahatan mereka, melalui perang, 


620 

 

kelaparan, dan penganiayaan terhadap Gereja-Ku yang terutama akan membebani Vikaris-Ku di 

atas bumi. Paduka Suci akan menemukan bahwa hari-hari pencobaan ini  akan 

dipersingkat jika ia menaati keinginan-keinginan-Ku dengan mempermaklumkan 

Tindak Konsekrasi seluruh dunia kepada Hati Maria yang Tak Bernoda, dengan menyebutkan 

Rusia secara khusus.”10 

Konsekrasi Rusia akan membuat pencobaan yang disebabkan oleh penganiayaan-penganiayaan Rusia 

“dipersingkat”. Janji ini secara sempurna bertepatan dengan poin kami tentang maksud Bunda Maria 

tentang “konversi” Rusia. Bagaimanapun, hal yang terpenting yaitu  bahwa kita dapat melihat maksud 

Bunda Maria sehubungan dengan konversi Rusia dalam konteksnya, dengan mempertimbangkan secara 

saksama perkataannya dari tanggal 13 Juli. 

“Perang akan berakhir. Namun, jika mereka tidak berhenti menghina Allah, akan bermula sebuah 

perang lain yang lebih buruk di bawah masa pemerintahan Pius XI. Ketika kalian melihat suatu 

malam yang diterangi oleh sebuah cahaya yang tak dikenal, ketahuilah bahwa cahaya itu yaitu  

pertanda besar yang diberikanoleh Allah kepada kalian bahwa Ia akan menghukum dunia atas 

kejahatan-kejahatannya, melalui perang, kelaparan, dan penganiayaan terhadap Gereja 

dan Bapa Suci. Untuk mencegah hal ini, aku datang untuk meminta konsekrasi Rusia kepada 

Hatiku yang Tak Bernoda dan Komuni Reparasi setiap Sabtu pertama. Jikalau mereka 

mendengarkan permintaan-permintaanku, Rusia akan berkonversi dan akan ada kedamaian. Jika 

tidak, ia akan menyebarkan kesalahan-kesalahannya di seluruh dunia, yang membangkitkan 

peperangan dan penganiayaan-penganiayaan terhadap Gereja. Orang-orang benar akan 

dimartirkan, Bapa Suci akan mengalami penderitaan yang besar, berbagai negara akan 

dilenyapkan. Pada akhirnya, Hatiku yang Tak Bernoda akan menang. Bapa Suci akan 

mengonsekrasikan Rusia kepadaku, dan ia akan berkonversi dan suatu masa kedamaian tertentu 

akan diberikan kepada dunia.” 

Mohon mencatat bahwa konsekrasi Rusia telah secara khusus dimintakan untuk mencegah “perang ... 

kelaparan, dan penganiayaan terhadap Gereja.” Hal ini menunjukkan bahwa kata-kata Bunda Maria 

tentang konsekrasi Rusia telah dipasang secara kokoh dalam konteks ini: mengonversikan musuh ini 

kepada kedamaian dari penganiayaan-penganiayaan ini, yakni, “perang … kelaparan dan penganiayaan 

terhadap Gereja.” 

Poin ini diperkuat sewaktu seseorang mempertimbangkan “pertanda yang besar” yang disebutkan oleh 

Bunda Maria dalam konteks permintaannya untuk konsekrasi Rusia. Bunda Maria berkata: “Sewaktu 

kalian melihat suatu malam yang diterangi oleh suatu cahaya yang tidak dikenal, ketahuilah bahwa 

cahaya itu yaitu  pertanda yang besar yang diberikan oleh Allah kepada kalian bahwa Ia akan 

menghukum dunia atas kejahatan-kejahatannya, melalui perang, kelaparan, dan penganiayaan terhadap 

Gereja dan Bapa Suci. Untuk mencegah hal ini … ” “Pertanda” ini bukanlah suatu “pertanda yang kecil”, 

melainkan “pertanda yang besar” yang diberikan oleh Surga dalam konteks konsekrasi Rusia serta 

hukuman-hukuman yang akan dicegah oleh konsekrasi Rusia. 

Nah, semua orang tahu bahwa “pertanda yang besar” ini yaitu  cahaya yang tak dikenal yang menerangi 

langit pada tanggal 25 Jan. 1938, hanya beberapa saat sebelum terjadinya peristiwa-peristiwa yang 

menyegerakan terjadinya Perang Dunia II. 

“Suatu aurora borealis yang sangat besar terlukiskan di langit Eropa Barat malam lalu; 

kejadian ini menyebabkan suatu kegaduhan di beberapa  departemen, yang pada awalnya percaya 

bahwa kejadian itu yaitu  suatu kebakaran raksasa. Di seluruh daerah Alpen, orang-orang sangat 


621 

 

tertarik oleh pertunjukan yang aneh ini. Langit membara bagaikan perapian besar yang 

bergerak, yang menimbulkan suatu cahaya merah darah yang sangat kuat.”11 

Kami berpendapat bahwa kebanyakan orang akan setuju bahwa pertanda ini tidak terlihat begitu 

signifikan dari sudut pandang zaman ini. namun , dalam konteks konsekrasi Rusia yang dipintakan 

untuk mencegah terjadinya “perang … kelaparan … dan penganiayaan terhadap Gereja ….”, inilah 

“pertanda yang besar” yang diberikan oleh Surga. Hal ini kembali membuktikan betapa perkataan 

Bunda Maria untuk konsekrasi Rusia sedemikian kokohnya dipasang di dalam konteks ini, yakni, 

mengonversikan musuh ini kepada kedamaian dari penganiayaan-penganiayaannya dalam bentuk 

peperangan, penganiayaan-penganiayaan terhadap Gereja, dll.  

“ORANG-ORANG BENAR AKAN DIMARTIRKAN” DAN “BERBAGAI NEGARA 

AKAN DILENYAPKAN” yaitu  NUBUAT-NUBUAT YANG TELAH DIGENAPI 

Untuk mengerti lebih baik apa yang dimaksudkan oleh Bunda Maria dengan “konversi” Rusia, penting 

adanya bagi kita untuk memahami apa yang Bunda Maria maksudkan dengan hal-hal yang 

disebutkannya di dalam konteks yang sama; misalnya, “berbagai negara akan dilenyapkan” dan 

“orang-orang benar akan dimartirkan”. 

Bunda Maria dari Fatima, 13 Juli 1917: 

“Jikalau mereka mendengarkan permintaan-permintaanku, Rusia akan berkonversi dan akan ada 

kedamaian. Jika tidak, ia akan menyebarkan kesalahan-kesalahannya di seluruh dunia, yang 

membangkitkan peperangan dan penganiayaan-penganiayaan terhadap Gereja. Orang-

orang benar akan dimartirkan, Bapa Suci akan mengalami penderitaan yang besar, 

berbagai negara akan dilenyapkan ….” 

Banyak orang percaya bahwa perkataan Bunda Maria “berbagai negara akan dilenyapkan” dan “orang-

orang benar akan dimartirkan” (akibat tersebarnya kesalahan-kesalahan Rusia) belum digenapi. namun , 

kenyataannya yaitu  bahwa kedua hal ini sudah digenapi. 

BERBAGAI NEGARA DILENYAPKAN 

Seperti yang kita telah lihat, bahkan Bruder Michel, seorang penulis yang karyanya dipromosikan oleh 

kerasulan Nicholas Gruner, mengakui bahwa pengambilalihan kuasa atas negara-negara Baltik dan 

berbagai Negara kecil lainnya oleh Uni Soviet pada Perang Dunia II, hanya dengan proses 

aneksasi ke dalam Uni Soviet sendiri membuat negara-negara itu tidak lagi ada, dan merupakan 

pelenyapan negara-negara yang dibicarakan oleh Bunda Maria. 

Bruder Michel, Toute la vérité sur Fatima {Seluruh Kenyataan tentang Fatima}, Volume 3, hal. 133: 

“Pada tahun 1939, URSS masih merupakan satu-satunya negara komunis di dunia ... Enam tahun 

lalu  ... beberapa negara terhapuskan dari peta, diserap oleh kekaisaran Soviet, 

selusin negara memasuki orbit Moskwa dan hanya mempertahankan kebebasan dari 

tampak luar mereka saja, sedangkan negara-negara yang lain diguncang oleh peperangan 

internal atau begitu terancam oleh subversi komunis. Nubuat Fatima telah digenapi sampai 

setiap detailnya.”12 

Di samping negara-negara seperti Polandia, Hongaria, Cekoslowakia, Rumania, Bulgaria, dst., yang 

memasuki orbit Kekaisaran Soviet, dan yang semata-mata dijadikan negara boneka bagi Uni Soviet, 

negara-negara Baltik: Lituania, Latvia, dan Estonia sungguh terhapuskan dari peta – negara-

negara Baltik itu sama sekali dilenyapkan sebab  diserap ke dalam Kekaisaran Soviet. 


622 

 

W. H. Carroll, The Rise and Fall of the Communist Revolution [Kebangkitan dan Kejatuhan Revolusi 

Komunis], hal. 310: 

“Negara-negara Baltik yang kecil – Lituania, Latvia, dan Estonia – sekarang sudah cukup 

ranum untuk dipetik oleh Stalin. Ia segera bergerak untuk memberlakukan ‘traktak-traktat 

bantuan timbal balik’ kepada negara-negara itu. Satu-satunya klausul yang paling penting dari 

traktat-traktat ini  yaitu  ditempatkannya pasukan Soviet yang besar jumlahnya di dalam 

negara-negara ini . Traktat-traktat ini ditandatangani pada tanggal 28 September (Estonia), 

5 Oktober (Latvia), dan 10 Oktober (Lituania). Mereka dapat dikuasai kapan saja.”13 

Suatu artikel yang dituliskan di dalam situs internet dari Joint Baltic American National Committee 

berisikan kata-kata berikut: 

“Pada tanggal 23 Juli 1940, Summer Welles, Penjabat Sekretaris Negara AS, menyatakan bahwa 

‘proses-proses yang licik yang melaluinya kemerdekaan politis dan integritas teritorial 

dari ketiga republik Baltik yang kecil – Estonia, Latvia dan Lituania – secara sengaja 

dilenyapkan oleh salah satu dari tetangga mereka yang lebih kuat, telah dituntaskan dengan 

cepat.”14 

Perhatikan bahwa penyerapan negara-negara Baltik oleh Uni Soviet “melenyapkan” 

kemerdekaan politis dan integritas teritorial dari negara-negara ini  (yakni, negara-negara 

itu sendiri dilenyapkan)! Suatu artikel lain yang ada di situs internet Joint Baltic American National 

Committee berkata demikian: ” ... komunisme dikenang bukan melalui hal-hal yang ditinggalkannya, 

melainkan hal-hal yang tidak ditinggalkannya. Dekade kepemimpinan totaliter melenyapkan 

budaya-budaya ....”15 

Kata-kata Bunda Maria tentang lenyapnya negara-negara merujuk secara jelas kepada pengambilalihan 

kuasa atas negara-negara Baltik oleh Uni Soviet, pengambilalihan yang secara harfiah menghapuskan 

negara-negara itu dari peta melalui penyerapan. namun , ada beberapa orang yang berpikir bahwa kata-

kata Bunda Maria mengacu kepada suatu bencana nuklir yang akan terjadi di masa depan. Untuk 

mencoba membuktikan argumen mereka, mereka akan mengutip perkataan Suster Lucia kepada Romo 

Fuentes. 

Suster Lucia kepada Romo Fuentes, 1957: 

“Katakan kepada mereka, Romo, bahwa Perawan yang Tersuci beberapa kali berkata kepada 

sepupu-sepupu saya Francisco dan Jacinta dan kepada diri saya sendiri bahwa banyak negara 

akan menghilang dari muka bumi. Ia berkata bahwa Rusia akan menjadi alat hukuman yang 

dipilih oleh Surga untuk menghajar seluruh dunia jika sebelumnya kita tidak membuat negara 

yang malang itu berkonversi.”16 

Suster Lucia jelas-jelas mengulangi kata-kata Bunda Maria tentang lenyapnya negara-negara. 

Bagaimanapun, jika suatu negara dihancurkan oleh suatu bencana nuklir, negara itu tidak akan 

menghilang. Negara ini  tetap akan kelihatan, hanya saja, negara itu akan merupakan suatu tanah 

terlantar yang tandus dan hampa. Satu-satunya cara untuk membuat suatu negara “menghilang” secara 

harfiah yaitu  dengan menghapuskan negara itu melalui inkorporasi ke dalam suatu negara yang lain, 

sebagaimana yang terjadi dengan pengambilalihan kuasa oleh Uni Soviet atas negara-negara Baltik. 

Suatu bukti yang mengejutkan tentang hal ini: berikut kata-kata Menteri Luar Negeri Soviet, 

Molotov, kepada Menteri Luar Negeri Lituania (tentang pengambilalihan yang akan segera 

dilakukan oleh Uni Soviet atas negara-negara Baltik): 


623 

 

Menteri Luar Negeri Soviet, Molotov, kepada Menteri Luar Negeri Lituania: 

“Anda harus memperhatikan kenyataan dengan saksama dan memahami bahwa ke 

depannya, negara-negara kecil akan harus menghilang. Lituania anda bersama 

negara-negara Baltik lainnya ....”17 

 

Peta di atas yaitu  peta Eropa Timur sebelum Perang Dunia II yang menggambarkan negara-negara 

Baltik (Estonia, Latvia, dan Lituania) sebelum negara-negara itu dilenyapkan dan menghilang akibat 

diserap secara penuh ke dalam Kekaisaran Uni Soviet yang satanik 

 

Ini yaitu  peta Eropa Timur dan Blok Komunis sesudah  Perang Dunia II yang menggambarkan hilangnya 

dan lenyapnya negara-negara Baltik akibat diserap secara penuh ke dalam Kekaisaran Soviet 

Lenyapnya negara-negara – proses yang membuat negara-negara “menghilang” – merujuk secara jelas 

kepada Uni Soviet dan pengambilalihannya atas negara-negara Baltik. Bruder Michel bahkan 

memakai  istilah yang sama “anéantissement des nations” [pelenyapan negara-negara] untuk 

berbicara tentang negara-negara lain yang diinkorporasikan oleh Uni Soviet ke dalam orbitnya sebagai 


624 

 

negara-negara satelit, seperti Polandia, dll. namun , istilah itu secara amat spefisik merujuk kepada 

dihapuskannya negara-negara Baltik, serta berbagai provinsi kecil lainnya, seperti Bukovina Utara dan 

Bessarabia. Dan inilah pastinya yang akan telah terjadi kepada “banyak” negara lainnya, seandainya 

Rusia tidak dikonsekrasikan. 

Bruder Michel, Toute la vérité sur Fatima [Seluruh Kenyataan tentang Fatima], Volume 3, hal. 136: 

“Apakah kita perlu menyebutkan negara-negara ini satu per satu, yang kemungkinan 

dirujuk oleh Bunda Maria dari Fatima, sewaku ia menyatakan bahwa ‘berbagai negara 

akan dilenyapkan’? Masyarakat mereka direnggut dari tradisi-tradisi mereka yang kuno, dan 

dari Gereja mereka, serta dihancurkan oleh mesin Bolshevik yang besar. Memang benar bahwa 

negara-negara itu sudah kehilangan jati diri mereka sendiri … Kita melihat Albania, di mana 

penganiayaan terhadap Gereja bermula pada tahun 1945. Kita melihat Hongaria, dengan 

umat Katoliknya yang berjumlah 7 juta orang, dari antara 10 juta penduduknya, di mana nunsius 

apostoliknya diusir pada bulan April 1945 … Kita melihat Polandia (22 juta umat Katolik), di 

mana pada bulan September 1945, pemerintahan negara memutuskan untuk melanggar 

konkordat. Kita melihat Cekoslowakia, di mana dari 12 juta penduduknya, umat Katolik hampir 

berjumlah 9 juta orang. Kita melihat Rumania Ortodoks, dengan minoritas penduduknya yang 

tergolong umat Ritus Timur yang berjumlah 3 juta orang, di mana pemerintahan negara menanti 

saat yang tepat untuk melakukan integrasi paksa ke dalam Gereja skismatis, sama seperti yang 

dilakukan di Ukraina. Kita melihat Bulgaria, di mana umat Gereja hanya beberapa  57.000 orang. 

Kita melihat Yugoslavia di bawah Tito … di mana suatu penganiayaan yang bersimbah 

darah bermula pada bulan Juni – Juli 1945.”18 

Di dalam setiap negara komunis yang dikendailkan oleh Uni Soviet, pers, radio, dan pendidikan 

sepenuhnya berada di bawah kuasa Negara. Demikianlah kenyataan yang menyedihkan dan kelam yang 

terjadi kepada setiap negara yang jatuh ke dalam Komunisme. Semua negara satelit ini juga dengan 

penuh semangat menganiaya Gereja. Contohnya: 

Bruder Michel, Toute la vérité sur Fatima [Seluruh Kenyataan tentang Fatima], Volume 3, hal. 169: 

“Di Rumania, dengan keterlibatan aktif dari Patriark Alexis dari Moskwa dan segenap hierarki 

Ortodoks nasional, para komunis pada dasarnya memutuskan untuk melikuidasikan Gereja 

Yunani Katolik, yang umatnya pada waktu itu berjumlah 1.600.000 orang: ‘Menjelang akhir 

bulan Oktober 1948, mereka mulai menangkap para Uskup, vikaris jenderal, kanonik, dan 

kebanyakan imam dari Gereja Katolik Bizantina, yang secara keseluruhan berjumlah 600 orang. 

Pemerintah lalu menyita gereja-gereja, biara-biara dari para biarawan dan kaum 

rohaniwan, kendati perlawanan mereka.’ Pada tanggal 1 Desember [1948], pemerintahan 

komunis menerbitkan dekret yang menghapuskan Gereja Katolik Timur.”19 

Kejadian ini menuntun kepada nubuat bahwa “orang-orang benar akan dimartirkan”, yang juga telah 

digenapi: 

  


625 

 

ORANG-ORANG BENAR DIMARTIRKAN 

yaitu  suatu fakta yang sederhana bahwa begitu banyak umat Katolik yang dimartirkan oleh Uni Soviet 

dan negara-negara satelit Komunisnya. sebab  kejadian ini terkenal, kami tidak akan memberi  

banyak kutipan untuk membuktikan poin ini. namun , penting adanya untuk kembali mencatat bahwa 

bahkan Bruder Michel, yang karyanya tentang Fatima dipromosikan oleh “Romo” Nicholas Gruner, 

mengakui bahwa nubuat “orang-orang benar akan dimartirkan” sudah terjadi. 

Bruder Michel, Toute la vérité sur Fatima [Seluruh Kenyataan tentang Fatima], Volume 2, hal. 485: 

“Sewaktu, di dalam sepucuk surat yang bertanggal 21 Januari 1940, Suster Lucia menyebutkan 

sehubungan dengan perang ‘darah yang ditumpahkan oleh para martir’, yang pada akhirnya 

akan meredakan murka ilahi, dan sewaktu Bunda Maria mengumumkan di dalam 

Rahasianya bahwa ‘orang-orang benar akan dimartirkan’, bagaimanakah kita dapat 

melupakan jutaan umat Katolik dari Ukraina ini atau para umat Katolik Polandia yang 

dimartirkan oleh golongan Bolshevik?”20 

Suatu contoh yang baik yaitu  dari Rusia di tahun 1923. Pada waktu itu, Moskwa mencoba untuk 

memeras Vatikan sehingga mengaruniakan kepada rezimnya pengakuan diplomatik. Moskwa 

memberi  perintah untuk menangkap seorang imam yang berjabatan tinggi, Mons. Cieplak 

(administrator apostolik dari dioses Mohilev), vikaris jenderalnya, Mons. Budkiewicz, dan tiga belas 

imam lainnya. Para imam ini menyatakan bahwa mereka tidak akan menaati hukum Uni Soviet tahun 

1922 yang melarang pengajaran Iman Katolik kepada anak-anak.20a Moskwa setuju untuk membebaskan 

mereka jika Vatikan setuju untuk menjalin hubungan-hubungan diplomatik dengan rezimnya. Rezim 

Rusia tahu bahwa sekalinya Vatikan menjalin hubungan-hubungan diplomatik dengannya, negara-negara 

Eropa lainnya akan mengikutinya. namun , Vatikan tidak dapat memberi  kepada Moskwa pengakuan 

semacam itu, maka, Moskwa menjatuhkan hukumannya: 

“Pada Jumat Agung tahun 1923, Mgr. Budkiewicz dimartirkan dengan kekejaman yang 

mengerikan: ia didorong secara brutal di dalam sebuah koridor yang gelap, ia jatuh dan 

kakinya pun patah … Seluruh pakaiannya ditanggalkan dan ia pun tidak lagi dapat 

berjalan. Badan sang martir diseret dengan memegang telinganya sampai kepada pasukan 

pengawas. Salah satu dari telinganya telah putus. Di dalam lubang yang menganga itu, ia 

ditembak dengan sebuah revolver. Romo Walsh ... mendengar tembakan itu bergema di 

tengah-tengah seruan, nyanyian orang mabuk dan tawa yang terbahak-bahak. Agar tidak 

meninggalkan relikui apa pun, badan sang martir dibakar dan abunya disebarkan. Dan ini yaitu  

sinyal yang menandakan serangkaian serangan terhadap hierarki Gereja, imam dan orang 

awam. Banyak dari antara mereka diasingkan ke dalam penjara-penjara es Solowki di 

Laut Hitam, di mana ada  suatu kamp konsentrasi yang dikhususkan untuk orang-

orang Kristiani; orang-orang yang lain meninggal di dalam penjara, beberapa dari mereka 

menjadi gila akibat siksaan-siksaan yang telah mereka tanggung.”21 

“ ... pada tahun 1922 sendiri, lebih dari 800 imam, rohaniwan dan rohaniwati Katolik dan 

Ortodoks ditembak di Rusia.”22 

Paus Pius XI, Surat kepada Kardinal Pompili, 2 Februari 1930: 

“Di tahun lalu pada hari-hari raya Natal, ratusan gereja [di Rusia] ditutup, beberapa  besar 

ikon dibakar, semua buruh dan murid sekolahan dipaksa untuk bekerja dan hari Minggu 

dihapuskan, namun  mereka juga memaksa para buruh pabrik, baik pria maupun wanita, 

untuk menandatangani suatu deklarasi kemurtadan dan kebencian resmi terhadap Allah, 


626 

 

jika tidak, kartu jatah roti mereka akan disita. Tanpa kartu ini, setiap penduduk dari 

negara yang malang ini terpaksa mati akibat kelaparan, penderitaan, dan kedinginan. Dari 

antara hal-hal lainnya, di semua kota dan di banyak pedesaan … pada hari-hari raya Natal tahun 

lalu: mereka menyaksikan perarakan tank yang dijalankan oleh anak-anak berandal yang 

mengenakan jubah suci, yang membawa salib dengan penuh olok-olok dan meludahinya, 

sedangkan kendaraan-kendaraan berpelat baja lainnya memindahkan pohon-pohon Natal yang 

besar, di mana tergantung boneka-boneka marionette yang menyerupai para uskup Katolik dan 

Ortodoks yang lehernya digantung. Di tengah-tengah kota, anak-anak jalanan muda lainnya 

melakukan berbagai jenis penistaan terhadap salib.”23 

W.H. Carrol, The Rise and Fall of the Communist Revolution [Kebangkitan dan Kejatuhan Revolusi 

Komunis], hal. 364-365: 

“Pada tahun 1946, otoritas Soviet telah mengusir semua uskup Lituania kecuali satu orang 

dari diosesnya … Dari tahun 1946 sampai 1948, 357 orang imam – sepertiga dari semua imam 

di Lituania – dideportasikan ke dalam kamp-kamp kerja paksa di Rusia dan Siberia. Salah 

satu dari mereka, yang telah divonis hukuman 25 tahun (yang berarti hukuman mati, 

sebab  hampir semua orang tidak bertahan hidup lebih dari sepuluh tahun di dalam kamp-kamp 

itu) diberi tawaran kebebasan, salah satu dari gereja-gereja yang terbesar di Vilnius, dan 

100.000 Rubel seandainya ia hendak mengepalai sebuah gereja Katolik skismatis di 

Lituania. Ia menolak, dan lalu menghilang.”24 

(Sebagai catatan sampingan, imam ini bisa saja telah diselamatkan dari kengerian kamp-kamp kerja 

paksa ini  seandainya saja ia telah setuju untuk menjadi seorang Skismatis Timur. Ia menolak, dan 

menderita hukuman yang amat ngeri. Hal ini kembali menunjukkan kepada kita kejahatan dari 

ekumenisme sesat. Ekumenisme pasca-Vatikan II, yang menerima dan memuji Ortodoksi Timur, percaya 

bahwa kemartiran imam ini sama sekali tidak berguna.) 

 

Mayat-mayat para rakyat Lituania sesudah  Uni Soviet melenyapkan orang-orang yang dianggap sebagai 

ancaman terhadap pengambilalihan kekuasaan penuh. 

Pada tahun 1936, kesalahan-kesalahan komunisme Rusia membangkitkan suatu revolusi dan Perang 

Saudara di Spanyol. Hasilnya, kemungkinan yaitu  salah satu penganiayaan Gereja Katolik yang terbesar 

di dalam sejarah. 

W.H. Carrol, The Rise and Fall of the Communist Revolution [Kebangkitan dan Kejatuhan Revolusi 

Komunis], hal. 285: 

“Holocaust Spanyol dimulai hampir dengan segera [pada tahun 1936]. Sasaran utama dari 

para revolusioner yaitu  ... Gereja Katolik. Selama tiga bulan berikutnya, para imam, 

rohaniwan dan umat Katolik yang ditangkap di separuh negeri Spanyol di mana Republik 


627 

 

berkuasa, merupakan korban-korban penganiayaan yang paling bersimbahkan darah 

yang pernah dialami oleh Gereja sejak penganiayaan yang dilakukan oleh Kaisar Romawi 

Diokletianus pada abad ke-4. Secara keseluruhan, 6.549 imam dan 283 biarawati 

dimartirkan; banyak dari antara mereka meninggal dalam kondisi-kondisi kemartiran yang 

klasik. Mereka ditawarkan hidup jika mereka menyangkal iman mereka dan kematian jika 

mereka menjunjung iman mereka.”25 

Hugh Thomas, yang dianggap sebagai sejarahwan yang terkemuka dalam hal Perang Saudara Spanyol, 

memberi  kita beberapa detail tentang para martir ini : 

“Di Cervera, mereka memaksakan sebuah Rosario untuk dimasukkan ke dalam telinga 

seorang biarawan sampai menembus gendang telinganya ... Beberapa orang lain dibakar, 

yang lain dikubur hidup-hidup – orang-orang yang dihukum untuk dikubur hidup-hidup ini 

dipaksa untuk menggali kuburan mereka sendiri. Di Alcazar de San Juan, seorang pria muda, 

yang terkenal akan kesalehannya, dicungkil bola matanya. Di provinsi itu, Ciudad Real, 

kejahatan-kejahatan yang dilakukan memang mengenaskan. Sebuah salib dipaksakan masuk 

ke dalam mulut ibunda dua orang Yesuit. Delapan ratus orang dijebloskan ke dalam 

corong tambang.”26 

Tidak diragukan bahwa penganiayaan di Spanyol didorong dan dibangkitkan oleh kesalahan-kesalahan 

Rusia; bahkan beberapa dari “para penyerang membawa spanduk-spanduk merah bergambarkan palu 

dan arit.”27 

Kami dapat memberi  banyak contoh untuk bagaimana orang-orang benar dimartikan yang jumlahnya 

berhalaman-halaman. Sebagai contoh, sesudah  Uni Soviet memaksakan “reunifikasi” “Gereja” skismatis 

dengan Gereja Katolik Yunani di tahun 1945, begitu banyak umat Katolik Ukraina yang dimartirkan oleh 

sebab  iman mereka: 

Kardinal Slipyi: 

“Pada tanggal 11 April 1945, saya ditangkap bersama semua uskup yang lain. Kurang dari 

setahun sesudah nya, lebih dari 800 imam telah mengikuti kita ke dalam pengasingan. Dari tanggal 

8-10 Maret 1946, sinode ilegal di Lviv berlangsung. Di bawah tekanan kaum ateis, sinode ini 

menyerukan ‘reunifikasi’, dan, akibatnya, likuidasi resmi Gereja kami dilaksanakan dengan 

paksaan yang brutal. Para uskup dideportasikan ke setiap pelosok Uni Soviet. Hampir 

semuanya mati sesudah nya, atau dibunuh di dalam pengasingan ... lebih dari 1.400 imam dan 800 

rohaniwati, dan belasan ribu umat yang di dalam pengasingan, memeteraikan, lewat 

pengorbanan hidup mereka, kesetiaan mereka kepada Sri Paus, Takhta Apostolik Roma 

dan Gereja Universal.”28 

yaitu  suatu fakta yang tidak perlu dibuktikan kembali: orang-orang benar dimartirkan di Uni Soviet, di 

negara-negara satelit Komunis dan di negara-negara lainnya, seperti di Spanyol, di mana kesalahan-

kesalahan Rusia telah membangkitkan penganiayaan yang bersimbahkan darah. Kata-kata Bunda Maria 

– bahwa “orang-orang benar akan dimartirkan” dan “berbagai negara akan dilenyapkan” – telah 

digenapi. 

Bunda Maria:  

“Jikalau mereka mendengarkan permintaan-permintaanku, Rusia akan berkonversi dan akan ada 

kedamaian. Jika tidak, ia akan menyebarkan kesalahan-kesalahannya di seluruh dunia, yang 

membangkitkan peperangan dan penganiayaan-penganiayaan terhadap Gereja. Orang-

orang benar akan dimartirkan, Bapa Suci akan mengalami penderitaan yang besar, 


628 

 

berbagai negara akan dilenyapkan. Pada akhirnya, Hatiku yang Tak Bernoda akan menang. 

Bapa Suci akan mengonsekrasikan Rusia kepadaku, dan ia akan berkonversi dan suatu masa 

kedamaian tertentu akan diberikan kepada dunia.” 

Suster Lucia kepada Romo Jongen, Februari 1946: 

“Saya kira bahwa kata-kata Bunda Maria sekarang sedang digenapi: ‘Jika mereka tidak 

melakukannya (ia baru saja mengingat “permintaan yang persis” dari Santa Perawan Maria), 

Rusia akan menyebarkan kesalahan-kesalahannya di seluruh dunia.’”29 

Beberapa orang juga bertanya: bagaimana dengan penganiayaan terhadap Bapa Suci, siapakah yang 

“akan mengalami penderitaan yang besar”? Apakah maksud dari perkataan ini? Kita menemukan 

jawabannya di dalam pesan Tuhan kita yang disebutkan sebelumnya kepada Suster Lucia pada tahun 

1940: 

Tuhan kita kepada Suster Lucia, 22 Oktober 1940: 

“Aku akan menghukum negara-negara atas kejahatan-kejahatan mereka, melalui perang, 

kelaparan, dan penganiayaan terhadap Gereja-Ku yang terutama akan membebani 

Vikaris-Ku di atas bumi. Paduka Suci akan menemukan bahwa hari-hari pencobaan 

ini  akan dipersingkat jika ia menaati keinginan-keinginan-Ku dengan mempermaklumkan 

Tindak Konsekrasi seluruh dunia kepada Hati Maria yang Tak Bernoda, dengan menyebutkan 

Rusia secara khusus.”30 

Penganiayaan terhadap Gereja pada masa itu – siksaan dan kemartiran para imam dan umat, larangan 

terhadap aktivitas gerejawi – membebani bagaikan suatu beban dan siksaan yang luar biasa atas Sri Paus 

yang merasa bahwa dirinya bertanggung jawab, namun  tidak berdaya di hadapan tragedi ini. Mengingat 

fakta-fakta ini, kita dapat melihat bahwa keempat aspek dari pesan Bunda Maria: tersebarnya kesalahan-

kesalahan Rusia, kemartiran orang-orang benar, lenyapnya negara-negara, dan penderitaan Bapa Suci, 

berlaku pada masa ini. 

Orang-orang gagal untuk menyadari bahwa permintaan Bunda Maria untuk konsekrasi Rusia diberikan 

di dalam konteks yang sama ini. Konsekrasi dan konversi Rusia dimaksudkan untuk mencegah hukuman-

hukuman dan siksaan-siksaan serta penganiayaan-penganiayaan Rusia yang disebutkan di dalam konteks 

ini. Sejalan dengan Amsal 16:7 dan rangkuman Suster Lucia tentang penglihatan di Tuy, maknanya yaitu  

mengonversikan musuh ini kepada kedamaian dari tindak-tindak penganiayaannya. 

Itulah sebabnya Bunda Maria datang ke Tuy pada tahun 1929 untuk meminta konsekrasi Rusia. 

Kenyataannya, Suster Lucia tidak menyebutkan satu patah kata pun tentang Rusia sampai pada tahun 

1929. Tahun 1929 yaitu  waktu di mana kengerian-kengerian dari Gulag [kamp-kamp kerja 

paksa] yang didirikan oleh Stalin mulai menjadi terkenal di dunia. Itulah waktu di mana 

penganiayaan-penganiayaan Rusia hampir mencapai puncaknya. Tahun 1929 yaitu  tahun yang 

persis sebelum Stalin memberlakukan “dekulakisasi”, suatu kebijakan yang diberlakukan dari tahun 

1930-1934, yang mengakibatkan kematian jutaan petani jelata. Tahun 1929 juga berlangsung persis 

sebelum kelaparan yang direkayasa oleh Stalin pada tahun 1933, yang mengakibatkan kematian jutaan 

orang. Masuk akal bahwa Bunda Maria akan kembali untuk meminta konsekrasi Rusia demi 

mencegah penganiayaan-penganiayaan yang mengerikan ini pada saat penganiayaan-

penganiayaan ini  hampir mencapai titik yang terkejam. Para demografer yang paling serius 

memperkirakan bahwa korban Rusia Bolshevik setidak-tidaknya berjumlah lima belas juta orang dari 

tahun 1929-1933.31 


629 

 

Pada saat ini, sangatlah penting bagi kita untuk melihat kesalahan-kesalahan Rusia itu sudah menjadi 

seperti apa. Kita perlu melihat secara lebih saksama rezim Komunis Rusia yang satanic untuk memahami 

konteks dari pesan Bunda Maria dengan lebih baik. 

RUSIA BERKONVERSI DARI APA – POTRET-POTRET KUASA SETAN DI 

DALAM RUSIA KOMUNIS 

 

Vladimir Lenin, perintis revolusi Komunis, pembunuh massal, dan pemimpin Rusia Komunis dari tahun 

1917-1924 

Di tahun 1917, Lenin menutup semua gereja Katolik di Petrograd.32 Pada tahun 1918, Lenin telah 

menutup semua surat kabar di Moskwa, kecuali yang diterbitkan oleh para Komunis. Tindakannya itu 

lalu segera diperluas kepada semua media tertulis, termasuk surat kabar berkala, dll.33 

“Pada tahun 1918, seseorang dapat membaca kata-kata ini di dalam organ resmi Soviet di 

Petrograd: ‘Kita akan menjadikan hati kita kejam, keras, tanpa belas kasih. Kita akan 

membuka bendungan lautan darah ini. Tanpa belas kasih, tanpa ampun, kita akan 

membunuh musuh-musuh kita yang ribuan jumlahnya. Kita akan menenggelamkan 

mereka di dalam darah mereka sendiri.”34 

“ ... suatu dekret yang bertanggal 26 Februari 1922 menyita semua harta Gereja, termasuk benda-

benda yang dikonsekrasikan ... Pada waktu yang sama, dan ini masih merupakan fase yang 

terawal dari kengerian-kengerian Bolshevik, Kardinal Mercier menerbitkan angka-angka 

penganiayaan ini : ‘Statistik korban penganiayaan itu menakutkan. Sejak bulan November 

1917, 260.000 serdadu tahanan yang sederhana dan 54.000 pejabat; 18.000 tuan tanah; 35.000 

‘cendekiawan’; 192.000 buruh; 815.000 petani; 28 uskup dan 1.215 imam dihukum mati.’”35 

Keadaan di Rusia pada tahun 1922 sedemikian buruknya sehingga Paus Pius XI menerbitkan surat 

apostolik Annus Fere, yang memerintahkan agar kolekte umum dikumpulkan untuk membantu para 

rakyat Rusia yang kelaparan. Di dalam surat itu, Sri Paus berbicara tentang kengerian-kengerian yang 

diderita oleh rakyat Rusia. Walaupun Sri Paus tidak mencela rezim Komunis di Rusia dengan menyebut 

namanya, Pius XI berbicara tentang “penderitaan rakyat Rusia yang ekstrem, yang dihancurkan oleh 

penyakit dan kelaparan, para korban dari musibah terbesar di dalam sejarah ….”36 

Tidak lama sesudah  ia mengambil alih atas Rusia, Lenin mendirikan Gulag pada tahun 1919. Gulag yaitu  

suatu jaringan kamp konsentrasi di mana semua “musuh” Negara dapat dikirimkan. 


630 

 

“Pada bulan April 1919, seturut rekomendasi dari Dzerzhinsky dan dengan persetujuan dari 

Lenin, pemerintahan Soviet memerintahkan agar suatu jaringan kamp konsentrasi 

diciptakan, setidak-tidaknya satu per provinsi, pertama kalinya di dalam sejarah, yang 

menjadi model dan inspirasi untuk Hitler dan golongan Nazinya, dan yang nama buruknya 

menjadi terkenal di lalu  hari: GULAG. Pada tahun 1923, jumlah kamp ini  telah 

mencapai 315.”37 

Kita perlu melihat secara sekilas kengerian-kengerian yang terjadi di Gulag. Itulah sebabnya, kami akan 

mengutip Warren H. Carroll terinspirasi dari karya Alexander Solzhenitsyn yang terkenal, The Gulag 

Archipelago [Arkipelago Gulag]. 

 

Alexander Solzhenitsyn sebagai tahanan kamp kerja paksa scs 262 

“Kelaparan membawa kematian di rumah, atau sejauh mana orang-orang yang sekarat dapat 

berjalan dari rumahnya. Kamp-kamp kerja paksa membawa kematian nun jauh di sana ... 

Seseorang mungkin terkesan lancang jika ia menulis tentang gulag sesudah  Alexander 

Solzhenitsyn. Ia dahulu berada di sana, ia menjadikan tema gulag sebagai tema miliknya; ia 

mengubah dunia dan sejarah dengan apa yang dituliskannya tentang gulag … Di sini, kami 

hanya dapat mengutip beberapa hal yang ditulis oleh Solzhenitsyn dan memberi  

komentar-komentar atas tulisannya – untuk memberi  sekecap rasa, suara angin 

Neraka yang bertiup di sepanjang tanah padang belantara yang membawa kematian itu.”38 

Carrol lalu menggambarkan kamp konsentrasi Orotukan: 

“Kita dapat memulai dengan Orotukan. Pada pertengahan dari volume kedua Gulag 

Archipelago [Kepulauan Gulag], Solzhenitsyn memberi  suatu gambaran singkat tentang 

Orotukan (lokasinya lalu ia sebutkan hanya dengan suatu rujukan kepada Sungai Kolyma 

di belahan utara jauh dari Siberia) yang kengeriannya terdengar sama buruknya, namun  ti