gereja vatikan 11


 Bahwa ia memiliki iman dan kesatuan yang sama dengan sekte-sekte 

non-Katolik, ia menyatakan bahwa ia bukan seorang Katolik. 

Yohanes Paulus II memberi  sebuah relikui kepada skismatis Karekin II, 

dan ia menyatakan bahwa sekte sang skismatis ini  yaitu  ‘Mempelai 

Kristus’ 

Yohanes Paulus II juga memberi  Karekin II, kepala dari Gereja skismatis di Armenia, sebuah relikui St. 

Gregorius Illuminator. 

 

Yohanes Paulus II memberi  sebuah relikui St. Gregorius Illuminator kepada kepala ‘Gereja’ skismatis 

di Armenia 

Yohanes Paulus II, Homili kepada Patriark skismatis Karekin II, 10 November 2000: 

”...Saya bahagia dapat mengembalikan kepada Yang Mulia sebuah relikui dari St. Gregorius 

Illuminator... Relikui ini akan ditempatkan di dalam katedral baru yang sekarang sedang 

dibangun... Harapan saya yaitu  bahwa katedral baru ini akan menghiasi dengan 

kecantikan yang bahkan lebih besar Mempelai Kristus di Armenia...”99 

St. Gregorius Illuminator (sekitar 257-332 Masehi) yaitu  ‘rasul Armenia’, yang menyebarkan Iman 

Kristiani sejati (Iman Katolik) di Armenia: 


260 

 

“Raja Tiridates dan St. Gregorius Illuminator bekerja sama dengan dekat untuk menghancurkan 

seluruh kuil-kuil pagan tua di Armenia, dimulai dengan kuil-kuil dewi Anahit dan dewa Tir, dari 

mana sang raja mendapat  namanya. Salib-salib dibangun di atas tempat-tempat ini . 

Banyak sekali jumlah orang yang dibaptis.”100 

Dengan memberi  relikui seorang rasul Kristiani dari Armenia kepada para skismatis, Yohanes Paulus 

II jelas-jelas menunjukkan bahwa ia menganggap bahwa para skismatis ini  yaitu  pemiliki Iman 

Kristiani yang sejati – Iman sejati yang dipegang oleh St. Gregorius Illuminator. Terlebih lagi, di dalam 

homili di atas, kita dapat melihat bahwa Yohanes Paulus II menyebut Gereja Ortodoks skismatis 

‘Mempelai Kristus’, sebuah gelar yang khusus dimiliki oleh Gereja Katolik!  

Bidah Yohanes Paulus II dengan Sekte Anglikan 

sebab  Margareta Clitherow menolak untuk menerima sekte Anglikan dan “Misa”-nya – dan sebaliknya, 

sebab  ia melawan hukum pidana dengan mengundang para imam Katolik masuk rumahnya – ia 

dimartirkan dengan ditindih sampai mati di bawah sebuah pintu besar yang dibebani beban berat. 

Hukuman mati semacam itu begitu menyakitkannya sehingga disebut sebagai “hukuman yang berat dan 

keras”. Margareta Clitherow menderita semuanya itu sebab  ia tidak mau menerima 

Anglikanisme. Namun sekte Vatikan II mengajarkan bahwa orang-orang Anglikan yaitu  sesama “orang 

Kristen” yang tidak perlu berkonversi, dan yang para “uskup”-nya yang tidak valid sebenarnya yaitu  

uskup sejati dari Gereja Kristus. Sekte Vatikan II mengajarkan bahwa kemartiran Margareta Clitherow 

sama sekali sia-sia belaka. 

Yohanes Paulus II mengunjungi Katedral Anglikan dan mengambil bagian di 

dalam ibadat sekte Anglikan – sebuah bidah lewat kelakuannya 

 

Yohanes Paulus II berbicara di Katedral Anglikan di Canterbury pada tahun 1982101 

Yohanes Paulus II mengolok-olok para Martir Inggris lewat doanya bersama 

‘Uskup Agung’ Anglikan dari Canterbury, 1982 


261 

 

 

Yohanes Paulus II berdoa bersama ‘Uskup Agung’ skismatis dan bidah dari Canterbury (seorang Anglikan) 

yang hanyalah seorang awam yang mengaku diri uskup 

Pada tanggal 29 Mei 1982, di dalam Katheral Anglikan, Yohanes Paulus II berlutut di dalam ‘doa 

antaragama’ dengan ‘Uskup Agung’ Canterbury, Robert Runcie, dan oleh sebab itu mengolok-olok 

kemartiran banyak sekali santo-santa Katolik, yang dengan berani mencucurkan darah dibandingkan  

menerima sekte sesat Anglikan atau mengambil bagian di dalam ibadat sesat mereka. 

Paus Pius IX, Neminem vestrum (#5), 2 Februari 1854: 

“Kami ingin anda tahu bahwa para biarawan ini  mengirimkan kepada Kami sebuah 

pengakuan iman dan doktrin Katolik yang sangat baik... Mereka dengan lancar mengakui dan 

menerima dengan bebas peraturan-peraturan dan dekret-dekret yang telah diterbitkan 

atau akan diterbitkan oleh para Paus dan Kongregasi suci – terutama mereka yang 

melarang communicatio in divinis (komunikasi dalam hal-hal suci) dengan para 

skismatis.”102 

Yohanes Paulus II menganugerahkan Salib Pektoral kepada seorang kepala 

Sekte Anglikan, seorang awam 

Pada tahun 2003, Yohanes Paulus II menganugerahkan salib pektoral kepada Rowan Williams, ‘Uskup 

Agung’ Anglikan dari Canterbury. 

 

Yohanes Paulus II mencium cincin Rowan Williams, kepala dari sekte Anglikan, yang ia juga anugerahi 

sebuah salib pektoral, walaupun Williams hanyalah seorang awam 


262 

 

Untuk mereka yang tidak mengetahui hal ini, sekte non-Katolik Anglikan bahkan tidak memiliki imam 

yang valid ataupun uskup yang valid. Paus Leo XIII secara infalibel mendeklarasikan bahwa penahbisan 

Anglikan tidaklah valid. 

Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896, ex cathedra:  

”...lewat otoritas Kami, mosi Kami dan pengetahuan tertentu, Kami mengumumkan dan 

menyatakan bahwa Penahbisan yang dilaksanakan sesuai ritus Anglikan telah dan yaitu  

secara mutlak batal dan sama sekali tidak valid.”103 

 

‘Imam-imam’ dan ‘uskup-uskup’ Anglikan oleh sebab  itu yaitu  orang-orang awam, bukan hanya bidah-

bidah dan skismatis non-Katolik. namun , sesudah  pemilihan ‘Uskup Agung’ Anglikan dari Canterbury yang 

baru (Rowan Williams), Yohanes Paulus II mengutus Walter Kasper yang murtad untuk 

memberi  orang awam ini sebuah salib pektoral dan telegram yang menyetujuinya! Ini 

sangatlah sesat sampai hampir tidak ada kata yang dapat menggambarkannya. 

 

‘Uskup Agung’ Anglikan dari Canterbury Rowan Williams kepada Yohanes Paulus II, 4 Oktober 

2003: 

“Pada tahun 1966, Paus Paulus VI memberi  kepada Uskup Agung Michael Ramsey cincin 

Keuskupannya sendiri yang sangat dihargai oleh para penerusnya dan yang saya kenakan pada 

hari ini. Saya senang dapat mengucapkan terima kasih kepada anda untuk hadiah pribadi 

yaitu sebuah salib pektoral, yang dikirimkan kepada saya berkenaan dengan penobatan 

saya di awal tahun ini. Sembari saya menjalankan tugas saya yang baru, saya sangat 

menghargai tanda penugasan yang sama...”104 

Salib pektoral yaitu  lambang Katolik tradisional akan otoritas keuskupan. Dengan menganugerahkan 

salib pektoral kepada Rowan Williams yang murtad – yang juga mendukung imam-imam perempuan dan 

homoseksual untuk ditahbiskan – Yohanes Paulus II bukan hanya menolak mentah-mentah lewat 

perbuatannya definisi infalibel Paus Leo XIII bahwa tahbisan Anglikan tidak valid, namun  ia juga 

mengejek dogma-dogma Katolik tentang Kepausan dan Gereja Kristus. 

Dan apa yang membuat tindakan Yohanes Paulus II ini sangat mencengangkan yaitu  fakta bahwa 

Williams sendiri telah dilarang untuk melakukan ibadat ‘Komuni’ di dalam 350 paroki Anglikan akibat 

pandangannya akan imam perempuan!105 namun  hal ini  tidak menghentikan Yohanes Paulus II; ia 

tetap melaju dengan kemurtadannya. 

Yohanes Paulus II bahkan menunjukkan bahwa sang awam Williams yaitu  seorang uskup yang sah dari 

‘Takhta Canterbury’. 

Yohanes Paulus II, “Kepada yang Terhormat Rowan Williams, Uskup Agung Canterbury,” 4 

Oktober 2003: 

“Pertemuan-pertemuan ini telah mencoba memperbarui hubungan antara Takhta 

Canterbury dan Takhta Apostolik... Kesetiaan kepada Kristus yaitu  yang mendorong kita 

untuk terus mencari kesatuan yang penuh dan kelihatan dan untuk mencari jalan-jalan yang 

pantas untuk bersatu di dalam, sewaktu mungkin, kesaksian dan misi bersama... Saya berdoa 

untuk pencurahan Roh Kudus yang baru kepada anda... Semoga Allah menjaga anda, mengawasi 

anda dan selalu menuntun anda dalam pelaksanaan tanggung jawab anda yang besar.”106 

Seperti yang ditunjukkan di atas, di dalam sebuah pertemuan dengan Rowan Williams, Yohanes Paulus II 

juga mencium cincinnya, yang menunjukkan sekali lagi bahwa Yohanes Paulus II mengakui orang awam 


263 

 

yang non-Katolik ini sebagai uskup yang sah di dalam Gereja Kristus. Yohanes Paulus II mengejek Yesus 

Kristus, Gereja Katolik dan semua martir Inggris yang menderita siksaan yang mengerikan sebab  

mereka menolak ajaran Gereja Katolik akan Keuskupan, Penahbisan, Suksesi Apostolik dan Kesatuan 

Gereja. 

Bidah Yohanes Paulus II dengan para Lutheran 

 

Yohanes Paulus II di dalam sebuah bait Lutheran di tahun 1983 

Pada tahun 1983, Yohanes Paulus II mengunjungi sebuah bait Lutheran untuk ulang tahun ke-500 

kelahiran Martin Luther. Ini yaitu  sebuah tindakan yang sesat – mengambil bagian di dalam perayaan-

perayaan ibadat sebuah agama non-Katolik dan menghormati seorang bidah – yang membuktikan jelas-

jelas bahwa Yohanes Paulus II bukanlah seorang Katolik. 

Yohanes Paulus II memuji Luther, Calvin, Zwingli dan Hus 

Yohanes Paulus II juga memuji musuh-musuh terbesar Gereja Katolik, termasuk para revolusioner 

Luther dan Calvin. Pada bulan Oktober 1983, Yohanes Paulus II berbicara tentang Martin Luther, 

menyatakan: “Dunia kita bahkan pada hari ini mengalami dampaknya yang besar di dalam 

sejarah.”107 Dan pada tanggal 17 Juni 1984 Yohanes Paulus II memuji Calvin sebagai seseorang yang 

mencoba ‘membuat Gereja lebih beriman kepada kehendak Tuhan’.108 Untuk menyokong, mendukung 

dan melindungi para bidah yaitu  untuk menjadi bidah. Untuk memuji para bidah terburuk di dalam 

sejarah Gereja, seperti Luther dan Calvin, yaitu  lebih dari bidah. 

Paus Gregorius XVI, Ensiklik, 8 Mei 1844: 

“namun  lalu  kehati-hatian yang lebih besar diperlukan sewaktu para Lutheran dan 

Kalvinis berani untuk menentang doktrin yang tidak dapat berubah akan iman dengan 


264 

 

berbagai kesalahan-kesalahan yang mencengangkan. Mereka mencoba segala cara untuk 

menipu para umat beriman dengan berbagai penjelasan yang bejat akan buku-buku suci...”109 

Yohanes Paulus II juga memuji bidah yang terkenal Zwingli dan Hus. Ia bahkan juga berkata bahwa John 

Hus, yang dikecam sebagai bidah oleh Konsili Konstanz, yaitu  seseorang yang memiliki ‘integritas 

pribadi yang infalibel’!110 

Yohanes Paulus II menyetujui Persetujuan Vatikan-Lutheran tentang 

Pembenaran 

 

Pada tanggal 31 Oktober 1999, ‘Kardinal’ Edward Cassidy dan ‘Uskup’ Lutheran Christian Krause 

berjabatan tangan pada saat menandatangani “Deklarasi Gabungan tentang Doktrin Pembenaran” di 

Augsburg, Jerman. Persetujuan ini, yang disetujui oleh Yohanes Paulus II, mengajarkan: bahwa 

Pembenaran datang ‘hanya lewat iman’ (Annex,2, C); bahwa Kanon Konsili Trente tidak lagi diterapkan 

kepada para Lutheran (#13); bahwa tidak satu pun ajaran Lutheran di dalam Deklarasi Gabungan 

ini , termasuk bidah tentang Pembenaran hanya lewat iman dan berbagai ajaran-ajaran sesat 

Lutheran, dikutuk oleh Trente (#41). Pendek cerita, persetujuan antara ‘Gereja’ Yohanes Paulus dan 

sekte Lutheran menolak mentah-mentah ajaran dogmatis Konsili Trente. Hal ini yaitu  sebuah deklarasi 

yang sungguh bahwa sekte Yohanes Paulus II yaitu  sebuah sekte Protestan. (Di dalam buku ini 

lalu  ada  sebuah bagian yang membahas persetujuan yang sangat sesat ini.) 

Yohanes Paulus II, 19 Januari 2004, Pada sebuah Pertemuan dengan para Lutheran dari Finlandia: 

”...Saya ingin mengungkapkan rasa syukur saya untuk perkembangan ekumenis yang terjadi 

antara orang-orang Katolik dan Lutheran dalam lima tahun sejak penandatanganan Deklarasi 

Gabungan tentang Doktrin Pembenaran.”111 

Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa para non-Katolik dapat menerima 

Komuni 

Yohanes Paulus II juga mengajarkan bahwa para non-Katolik dapat secara sah menerima Komuni Kudus. 

Kanon 844.3 dari Kitab Hukum Kanonik tahun 1983-nya menyatakan bahwa : 

“Pelayan-pelayan Katolik dapat dengan sah memberi  sakramen-sakramen Tobat, Ekaristi dan 

Pengurapan Orang Sakit kepada para anggota gereja timur yang tidak bersatu secara penuh 

dengan Gereja Katolik...”112 


265 

 

Ide bahwa orang-orang non-Katolik dapat secara sah menerima Komuni Kudus ataupun sakramen-

sakramen lain bertentangan dengan ajaran 2000 tahun Gereja Katolik. 

Paus Pius IX, Ensiklik, 8 April 1862: 

”...’barangsiapa bukan anggota Gereja, dan memakan Anak Domba, telah menjadi cemar.’”113 

Hal yang sangat signifikan tentang bidah Yohanes Paulus II ini (bahwa pemberian Komuni Kudus kepada 

orang-orang non-Katolik yaitu  hal yang sah) yaitu  fakta bahwa hal ini  juga ada  di dalam 

katekismusnya yang baru, paragraf #1401. Dokumen ini dipermaklumkan oleh ‘otoritas apostolik 

tertinggi’ Yohanes Paulus II. Di dalam konstitusinya Fidei Depositum, Yohanes Paulus II 

mempermaklumkan katekismusnya yang baru memakai  ‘otoritas apostolik’-nya untuk 

mengumumkan bahwa hal ini  yaitu  sebuah ‘norma yang pasti untuk mengajarkan iman’. 

Yohanes Paulus II, Fidei Depositum, 11 Oktober 1992: 

“Katekismus Gereja Katolik, yang telah saya setujui pada tanggal 25 Juni lalu dan terbitan yang 

saya perintahkan lewat otoritas Apostolik saya, yaitu  pernyataan iman Gereja dan doktrin 

Katolik... Saya menyatakannya sebagai sebuah norma yang pasti untuk mengajarkan 

iman.”114 

Katekismus Yohanes Paulus II bukanlah sebuah norma yang pasti untuk mengajarkan iman. Hal itu 

yaitu  sebuah norma yang pasti untuk mengajarkan bidah. Oleh sebab  itu, sebab  Yohanes Paulus II 

telah mengakui bahwa ia menyatakan dari Takhta Petrus bahwa katekismusnya yaitu  sebuah norma 

yang pasti untuk mengajarkan iman, walaupun tidak sama sekali, kita tahu bahwa ia tidak duduk di 

Takhta Petrus. Seorang Paus tidak dapat salah sewaktu berbicara dari Takhta Apostolik, yaitu, dengan 

otoritas apostoliknya dari Takhta Petrus.  

Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, ex cathedra: 

”...di dalam Takhta Apostolik agama Katolik telah terus dipertahankan dalam keadaan tanpa noda, 

dan doktrin sucinya diselenggarakan.”115 

Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, ex cathedra: 

“Maka, karunia kebenaran dan iman yang tidak pernah gugur ini telah diberikan kepada Petrus 

dan para penerusnya di dalam takhta ini...”116 

Ajaran sesat tentang bahwa para non-Katolik diperbolehkan menerima Komuni Kudus juga diajarkan di 

Vatikan II, seperti yang kita telah bahas. Yohanes Paulus II juga berkomentar tentang ajaran ini dengan 

persetujuannya di dalam Ut Unum Sint: 

”...Oleh sebab  ikatan sakramen yang sangat dekat antara Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks... 

Gereja Katolik telah sering menyetujui dan sekarang menyetujui kebijakan yang lebih halus, 

menawarkan segala jalan keselamatan kepada semua orang dan sebuah contoh akan kasih antara 

orang-orang Kristiani lewat pengambilan bagian di dalam sakramen-sakramen dan di 

dalam berbagai fungsi dan objek kudus. Tidak boleh ada kehilangan penghargaan akan 

dampak gerejawi atas pembagian sakramen, terutama Ekaristi Kudus.”117 

Ia menyatakan ‘dampak gerejawi’ pembagian sakramen dengan para ‘Ortodoks’. Dampaknya yaitu  

mereka yaitu  bagian dari Gereja yang sama. 

Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa sekte-sekte non-Katolik merupakan 

jalan keselamatan 


266 

 

Yohanes Paulus II mengikuti Vatikan II dan mengajarkan pula bahwa sekte-sekte non-Katolik yaitu  

jalan keselamatan, yang merupakan ajaran sesat. 

Yohanes Paulus II, Katekismus Baru, paragraf 819, tentang Gereja-gereja Non-Katolik: 

“Roh Kristus memakai  Gereja-gereja serta komunitas gerejawi ini sebagai jalan 

keselamatan...”118 

Paus Pius IV, pengakuan iman, Konsili Trente, ex cathedra:  

“Iman Katolik yang sejati ini, di luar mana tidak seorang pun dapat diselamatkan... 

Sekarang saya mengakuinya dan sungguh-sungguh menjunjungnya...”119 

Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa sekte-sekte non-Katolik memiliki 

Santo-santa dan Martir-martir 

Yohanes Paulus II mengajarkan secara berulang-ulang bahwa sekte-sekte non-Katolik memiliki santo-

santa dan martir-martir. 

Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#84), 25 Mei 1995, Berbicara tentang ‘Gereja-gereja’ non-

Katolik: 

“Walaupun di dalam cara yang tidak kelihatan, kesatuan antara Komunitas-komunitas kita, masih 

tidak penuh, hal ini  benar-benar dan secara mantap berakar di dalam kesatuan yang penuh 

dari santo-santa – mereka yang, pada akhir hidup mereka yang selalu setia kepada rahmat. 

Santo-santa ini datang dari segala Gereja dan Komunitas Gerejawi YANG memberi  

MEREKA PINTU GERBANG MENUJU KESATUAN KESELAMATAN.”120 

Ini yaitu  bidah yang tidak terpungkiri yang sangat jelas. yaitu  sebuah dogma Iman Katolik bahwa 

mereka yang tidak berada di dalam Gereja Katolik, walaupun mereka mencucurkan darah dalam nama 

Kristus, tidak dapat diselamatkan. 

Paus Eugenius IV, Konsili Florence, ex cathedra: 

” ... tidak seorang pun dapat diselamatkan, sebanyak apa pun ia telah berderma, walaupun 

ia telah menumpahkan darah dalam nama Kristus, kecuali jika ia telah bertekun di 

pangkuan dan di dalam kesatuan Gereja Katolik.”121 

Ini yaitu  dogma yang telah didefinisikan secara khidmat oleh Konsili Florence yang diulangi oleh Paus 

Pius XI. 

Paus Pius XI, Rappresentati in Terra (#99), 31 Desember 1929: 

“Ia {Gereja} tampak secara menonjol di dalam kehidupan berbagai santo-santa, yang dilahirkan 

hanya oleh Gereja, dan hanya Gereja sendiri, di dalam mana terrealisasikan tujuan dari 

pendidikan Kristiani...”122 

Sulit untuk membayangkan penolakan dogma yang lebih jelas dan terang-terangan dibandingkan  Ut Unum 

Sint #84 dari Yohanes Paulus II (dikutip di atas). 

Paus Gregorius XVI, Summo Iugiter Studio, 27 Mei 1832: 

“Pada akhirnya beberapa orang yang teperdaya ini mencoba meyakinkan diri mereka 

sendiri dan orang-orang lain bahwa manusia tidak hanya diselamatkan di dalam agama 

Katolik, namun  bahwa bahkan para bidah dapat memperoleh kehidupan kekal.”123 


267 

 

Mohon perhatikan pula bahwa bukan hanya sang bidah terang-terangan Yohanes Paulus II ini 

menyatakan di Ut Unum Sint #84 bahwa para ‘santo-santa’ datang dari Gereja-gereja non-Katolik 

(sebuah bidah yang jelas), namun  ia berkata lebih jauh dengan menyatakan bahwa sekte-sekte non-

Katolik ini  ‘memberi  mereka’ keselamatan: “Gereja dan Komunitas Gerejawi yang 

memberi  mereka pintu gerbang menuju kesatuan keselamatan.” 

Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#83), 25 Mei 1995: 

“Semua Komunitas Kristiani mengetahui bahwa, berkat kekuatan yang diberikan oleh Roh, 

tidaklah mustahil untuk menuruti kehendak ini  dan mengatasi rintangan-rintangan 

ini . Sesungguhnya mereka semua memiliki martir-martir untuk iman Kristiani.”124 

Yohanes Paulus II, Pidato kepada Patriark Karekin II yang skismatis dan non-Katolik, 9 November 

2000: 

“Sekali lagi, saya berterima kasih kepada Yang Mulia untuk kerelaan anda untuk menjadi bagian 

dari liturgi lewat perwakilan anda. Memang, ‘bentuk ekumenisme yang mungkin paling 

meyakinkan yaitu  ekumenisme santo-santa dan para martir. Communio sanctorum lebih 

besar dibandingkan  hal-hal yang memisahkan kita.’”125 

Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#1), 25 Mei 1995: 

“Kesaksian yang pemberani dari banyak sekali martir di zaman kita, termasuk para 

anggota dari Gereja-gereja dan Komunitas-komunitas Gerejawi yang tidak bersatu secara 

penuh dengan Gereja Katolik, memberi  semangat baru kepada panggilan Konsili dan 

mengingatkan kita akan kewajiban kita untuk mendengarkan dan melaksanakan nasihatnya.’”126 

Yohanes Paulus II, Salvifici Doloris (#22), 11 Februari 1984: 

“Kebangkitan Kristus telah menunjukkan ‘kemuliaan masa depan’ dan pada waktu yang 

sama, telah menegaskan ‘kebanggaan salib’: kemuliaan yang tersembunyi di dalam sengsara 

Kristus dan yang telah dan sering tercerminkan di dalam sengsara manusia, sebagai sebuah 

ungkapan kebesaran rohani manusia. Kemuliaan ini harus diakui bukan hanya di dalam 

martir untuk Iman namun  juga di dalam banyak orang-orang lain yang, walaupun tidak 

percaya kepada Kristus, menderita dan memberi  hidup mereka untuk kebenaran dan 

untuk hal yang bajik. Di dalam penderitaan-penderitaan semua orang ini martabat manusia 

yang besar ditegaskan secara keras.’”127 

Yohanes Paulus II, Sambutan Angelus, 19 September 1993: 

“Di dalam ruang yang tidak terbatas di Eropa Timur, Gereja Ortodoks juga dapat mengatakan 

pada akhir abad ini apa yang para Bapa Gereja telah umumkan tentang penyebaran pertama Injil: 

‘Sanguis martyrum – semen Christianorum’ [darah para martir yaitu  benih para 

Kristiani].’”128 

Yohanes Paulus II, Tertio Millennio Adveniente (#37), 10 November 1994: 

“Kesaksian akan Kristus juga sampai kepada pencucuran darah yang merupakan warisan 

bersama dari para Katolik, Ortodoks, Anglikan dan Protestan, seperti yang dinyatakan 

oleh Paus Paulus VI di dalam Homilinya untuk Kanonisasi para Martir Uganda.”129 

Yohanes Paulus II, Tertio Millennio Adveniente (#37), 10 November 1994: 

”...Gereja-gereja lokal harus melakukan segala hal yang mungkin untuk memastikan agar 

kenangan akan orang-orang yang telah dimartir tetap terjaga, dengan mengumpulkan 

dokumentasi yang diperlukan. Hal ini tidak dapat gagal untuk memiliki sebuah ciri dan 

ungkapan ekumenis. Bentuk ekumenisme yang paling meyakinkan mungkin yaitu  


268 

 

ekumenisme santo-santa dan para martir. Communio sanctorum lebih besar dari hal-hal yang 

memisahkan kita.”130 

Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#84), 25 Mei 1995: 

“Di dalam pandangan teosentris, kita orang-orang Kristiani sudah memiliki martirologi yang 

sama. Hal ini mengikutsertakan martir-martir pada zaman kita, yang lebih banyak dari yang 

orang kira...”131 

Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#84), 25 Mei 1995: 

“Di dalam kemilau ‘warisan santo-santa’ yang dipunyai semua Komunitas, ‘dialog konversi’ 

menuju kesatuan yang penuh dan kelihatan, oleh sebab  itu tampak sebagai sebuah sumber 

harapan. Kehadiran santo-santa yang mendunia yaitu  sebuah bukti kekuatan Roh yang 

besar.”132 

Yohanes Paulus II, Audiens Umum, 12 Mei 1999: 

“Pengalaman kemartiran menyatukan orang-orang Kristiani dari berbagai denominasi di 

Rumania. Orang-orang Ortodoks, Katolik, dan Protestan memberi  kesaksian yang satu 

kepada Kristus lewat pengorbanan hidup mereka.”133 

Semua ini yaitu  bidah yang berulang-ulang, publik, dan formal. Bisa-bisanya beberapa ‘tradisionalis’ 

berkata dengan lancang bahwa Yohanes Paulus II tidak pernah menolak satu dogma pun! Benar-benar 

memalukan, dan sebuah kebohongan! Bidah ini sendiri, tanpa mempertimbangkan yang lainnya, 

membuktikan bahwa ia bukanlah seorang Katolik. Hal ini membuktikan bahwa Yohanes Paulus II secara 

langsung menolak dogma yang didefinisikan secara khidmat (dari Konsili Florence di atas) bahwa para 

non-Katolik tidak dapat diselamatkan walaupun mereka mencucurkan darah mereka untuk Kristus. 

Paus Pelagius II, surat (2) Dilectionis vestrae, 585: 

“Mereka yang tidak berkehendak untuk setuju dengan Gereja Allah, tidak dapat tetap berada 

bersama Allah; walaupun diserahkan kepada lidah-lidah api, mereka terbakar, ataupun 

dicampakkan kepada binatang-binatang liar, mereka menyerahkan hidup mereka, tidak akan 

ada  untuk mereka mahkota kehidupan, melainkan hukuman untuk 

ketidakberimanan, bukan sebuah hasil yang mulia (dari sebuah kebajikan rohani), melainkan 

kehancuran akibat hilangnya harapan. Orang ini  dapatlah dibunuh; ia tidak dapat 

dimahkotai.”134 

Yohanes Paulus II menyetujui praktik putri-putri altar 


269 

 

 

Yohanes Paulus II bersama Putri-Putri Altar 

Yohanes Paulus II juga menyetujui praktik putri-putri altar, sebuah praktik yang sering didapati di 

gereja-gereja Vatikan II. Praktik putri-putri altar dikecam sebagai suatu hal yang jahat oleh Paus 

Benediktus XIV, Paus St. Gelasius dan Paus Inosensius IV. 

Paus Benediktus XIV, Ensiklik, 26 Juli 1755: 

“Paus Gelasius, di dalam suratnya yang kesembilan (bab 26) kepada para uskup Lukania, 

mengutuk praktik jahat yang telah diperkenalkan, yakni wanita melayani imam pada saat 

perayaan Misa. sebab  penyalahgunaan ini telah menyebar ke orang-orang Yunani, Inosensius 

IV melarang praktik ini secara ketat di dalam suratnya kepada uskup Tuskulum: 

‘Hendaknya para wanita tidak memberanikan diri melayani di altar; hendaknya mereka sama 

sekali tidak diperbolehkan melakukan pelayanan ini.’ Kami pula telah melarang praktik ini 

dalam kata-kata yang sama yang termuat dalam konstitusi Kami yang sering diulangi, Etsi 

Pastoralis, bagian 6, no. 21.”135 

Yohanes Paulus II juga ‘menganonisasikan’ orang-orang yang memeluk secara penuh bidah-bidah 

Vatikan II, Misa Baru, dan indiferentisme keagamaan. Hal ini tidak mungkin dilakukan seorang Paus 

sejati, sebab  kanonisasi oleh Paus-Paus sejati yaitu  infalibel. Ini merupakan sebuah bukti lain bahwa 

Yohanes Paulus II bukanlah seorang Paus sejati. 

Yohanes Paulus II juga mengecam Perang Salib. Perang Salib disetujui secara khidmat oleh empat konsili 

dan oleh lebih dari 10 Paus, termasuk Paus Urbanus II, Paus Kalikstus II, Paus Aleksander III, Paus 

Kalikstus III, Paus Klemens V dan lain-lain. 

  


270 

 

Yohanes Paulus II diberikan penghargaan oleh para Freemason 

 

Yohanes Paulus II menyambut B’nai B’rith (Loji Freemason dari New York) pada tanggal 22 Maret 1982 

Pada bulan Desember 1996, Loji Timur Agung dari Freemason Italia memberi  Yohanes Paulus II 

penghargaannya yang terbesar, Ordo Galilea, sebagai ungkapan terima kasih atas upaya-upaya yang 

ia kerahkan untuk mendukung ide-ide Freemason. Perwakilah Freemason Italia menyatakan bahwa 

Yohanes Paulus II pantas mendapat  penghargaan ini  sebab  ia mengedepankan ‘nilai-nilai 

universal Freemason: persaudaraan, rasa hormat atas martabat manusia, dan semangat toleransi, poin-

poin sentral untuk kehidupan para mason sejati’. 136 

Yohanes Paulus II meminta maaf kepada Cina Merah {Komunis} 

Pada tanggal 24 Oktober 2001, Yohanes Paulus II meminta maaf kepada Cina Merah. Ya, benar: Yohanes 

Paulus II meminta maaf kepada rezim Komunis satanik di Cina untuk ‘kesalahan-kesalahan’ para Katolik! 

Ia bahkan memuji keadilan sosial Cina Merah. 

Yohanes Paulus II, 24 Oktober 2001: 

“Gereja Katolik, dari sisinya, memandang dengan rasa hormat dorongan yang mengagumkan 

serta perencanaan jangka panjang ini... Gereja juga berpegang kepada nilai-nilai serta tujuan-

tujuan yang merupakan prioritas utama Cina modern: solidaritas, perdamaian, keadilan 

sosial...”137 

Keadilan sosial di Cina termasuk kebijakan satu-anak-per-keluarga, yang ditekankan oleh pemaksaan 

aborsi dan kontrasepsi. Pemerintahan Cina membunuh jutaan anak setiap tahun di samping 

memenjarakan, menyiksa dan membunuh orang-orang Katolik. 

Yohanes Paulus II menyatakan bahwa Gereja Katolik dan Cina yaitu  dua institusi kuno ‘yang tidak 

berlawanan satu sama lain.’138 Memuji keadilan sosial dari Cina yang Komunis yaitu  lebih dari sebuah 

bidah; hal ini  yaitu  satanik. 

Yohanes Paulus II mempromosikan teori evolusi 

Pada tanggal 22 Oktober 1996, Yohanes Paulus II menyatakan bahwa evolusi yaitu  ‘lebih dari sekadar 

hipotesis.’139 Hal ini menunjukkan bahwa ia menganggap bahwa evolusi yaitu  suatu kebenaran. 


271 

 

Yohanes Paulus II berkata bahwa Surga, Neraka, dan Api Penyucian 

bukanlah tempat-tempat yang nyata 

Di dalam rentetan pidato pada musim panas tahun 1999, yang diterbitkan di dalam surat kabar resmi 

Vatikan, Yohanes Paulus II berkata bahwa Surga, Neraka, dan Api Penyucian bukanlah tempat-tempat 

yang nyata. 

Di dalam audiens umum-nya pada tanggal 21 Juli 1999, Yohanes Paulus II berkata bahwa Surga bukanlah 

sebuah tempat yang nyata.140 

Pada tanggal 28 Juli 1999, Yohanes Paulus II berkata: 

1) “Di dalam situasi tragis inilah di mana doktrin Kristiani menjelaskan sewaktu ia berbicara 

tentang kutukan abadi Neraka. Hal ini  bukanlah sebuah hukuman yang dijatuhkan 

selamanya oleh Allah namun  merupakan perkembangan dari dasar-dasar pikiran yang 

telah ditetapkan oleh orang-orang di dalam hidup ini.”141 

 

2) “Dengan memakai  gambar-gambar, Perjanjian Baru menunjukkan tempat bagi para pelaku 

kejahatan sebagai sebuah tungku apai, di mana orang-orang akan ‘meratap dan mengertakan 

gigi’... Gambaran-gambaran Neraka yang ditunjukkan oleh Kitab Suci haruslah 

diinterpretasikan dengan benar. Gambaran-gambaran ini  menunjukkan frustrasi yang 

besar dan kekosongan hidup tanpa Allah. Bukanlah suatu tempat, Neraka menunjukkan 

keadaan mereka yang secara bebas dan pasti memisahkan diri mereka sendiri dari Allah, sumber 

dari segala hidup dan sukacita.”142 

 

3) “Kutukan kekal tetaplah merupakan sebuah kemungkinan yang nyata, namun  kita tidak diberikan, 

tanpa wahyu ilahi, pengetahuan apakah atau manusia mana yang ada di dalamnya. Pikiran 

akan Neraka – dan penggunaan gambar-gambar Kitab Suci yang malah kurang tepat – tidak 

boleh menciptakan kegelisahan atau kehilangan harapan, namun  merupakan peringatan yang 

sehat akan kebebasan di dalam seruan Yesus yang telah bangkit yang telah mengalahkan Setan, 

dan memberi  kita Roh Allah yang membuat kita berseru ‘Abba, Bapa!’”143 

Pidato Yohanes Paulus II ini sendirinya yaitu  sebuah bidah formal. Ia berkata kita tidak tahu apakah 

manusia terkutuk. yaitu  sebuah kenyataan yang diwahyukan dari Injil bahwa manusia terlibat di dalam 

kutukan kekal, seperti yang diulangi Yesus. Misalnya: 

Matius 13:39-42- “Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga 

pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan 

mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan 

dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan 

ada  ratapan dan kertakan gigi.” 

Di dalam audiens singkat dalam bahasa Polandia kepada saudara setanah airnya, Yohanes Paulus II 

mengenang ajaran bidah Hans Urs von Balthasar yaitu, “ada  Neraka, namun  mungkin kosong.”144 

Pada tanggal 4 Agustus 1999, Yohanes Paulus II berkata bahwa Api Penyucian bukanlah sebuah tempat 

yang nyata.145 

  


272 

 

Paus Pius IV, Konsili Trente, Sesi 25, 3-4 Desember 1563: 

“sebab  Gereja Katolik, diinstruksikan oleh Roh Kudus, telah mengajarkan dari Kitab Suci dan 

tradisi kuno para Bapa di dalam konsili-konsilinya dan yang baru-baru ini di dalam Sinode 

ekumenis ini bahwa ada  Api Penyucian, dan jiwa-jiwa yang ditahan di dalamnya 

terbantu oleh doa-doa para orang beriman dan terutama kurban yang pantas dari altar.”146 

Pada pertemuan Assisi di tanggal 24 Januari 2002, Yohanes Paulus II mengeluarkan “Dekalog Assisi”. 

Kata Dekalog berarti ‘sepuluh perintah’. 

Yohanes Paulus II, 21 Mei 2002: 

“Untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan solider, camkan dalam hati perlunya 

mempromosikan ‘Dekalog Assisi’, yang diumumkan pada Hari Doa bagi Perdamaian 24 Januari 

lalu.”147 

Maka Yohanes Paulus II berkata bahwa orang-orang perlu mengumumkan sepuluh perintah yang baru 

yang ia keluarkan di Assisi. 

Yohanes Paulus II mengubah Rosario 

 

Yohanes Paulus II menghormati sebuah roti?! 

Yohanes Paulus II juga mengubah Rosario. Pada bulan Oktober 2002, Yohanes Paulus II menambahkan 

lima misteri baru kepada Rosario, yang disebut ‘Misteri Terang’. Di dalam dokumen yang 

mempermaklumkan misteri terang, Yohanes Paulus II berkata: 

“Siapa pun yang mengontemplasikan Kristus lewat berbagai jenjang kehidupannya tidak bisa 

tidak melihat di dalam diri-Nya kebenaran akan manusia.”148 

Sewaktu kita mengontemplasikan misteri-misteri Kristus, kita tidak melihat dalam diri-Nya kebenaran 

akan manusia. Yohanes Paulus II berkata hal ini  sebab  ia mengajarkan bahwa manusia yaitu  

Allah; dan secara spesifik, kebenaran akan manusia bahwa ia yaitu  Yesus Kristus. 

 

  


273 

 

Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa manusia yaitu  Kristus 

Yohanes Paulus II, Homilinya yang Pertama, Selamanya Menandai 

Permulaan Pelayanan Penggembalaannya, Minggu, 22 Oktober 1978: 

“’Engkau yaitu  Kristus, Putra Allah yang hidup’ (Matius 16:16). Kata-

kata ini diucapkan oleh Simon, anak Yunus, di distrik Kaisarea Filipi... Kata-

kata ini menandai permulaan dari misi Petrus di dalam sejarah 

keselamatan... 

“Pada hari ini dan di tempat ini kata-kata yang sama ini haruslah sekali lagi 

diucapkan dan didengarkan: ‘Engkau yaitu  Kristus, Putra Allah yang hidup.’ 

Ya, Saudara-saudara dan putra dan putri, kata-kata ini, pertama-tama... 

mohon dengarkanlah lagi, hari ini, di tempat suci ini, kata-kata yang 

diucapkan Simon Petrus. Di dalam kata-kata ini  ada  iman Gereja. 

Di dalam kata-kata yang sama itu ada  kebenaran yang baru, 

memang, kebenaran yang pokok dan pasti tentang manusia: Putra Allah 

yang hidup – ‘Engkau yaitu  Kristus, Putra Allah yang hidup.”149 

Di dalam homilinya yang pertama sebagai ‘Paus’ pada tahun 1978, di dalam pidato yang sama ini yang 

akan selamanya menandai permulaan pelayanan penggembalaannya, Minggu 22 Oktober 1978, Yohanes 

Paulus II mengumumkan kepada dunia bahwa MANUSIA yaitu  Kristus, Putra Allah yang hidup dari 

Matius 16:16! Ia bahkan berkata bahwa hal ini yaitu  ‘kebenaran yang baru’ – sebuah kebenaran baru 

yang ia akan tunjukkan di sini. “Engkau yaitu  Kristus, Putra Allah yang hidup”, diucapkan oleh St. Petrus 

tentang Tuhan kita Yesus Kristus, yang merupakan kata-kata yang mengungkapkan kebenaran tentang 

manusia, menurut Yohanes Paulus II. Hal ini sangatlah signifikan, sebab  hal ini  membuktikan 

bahwa kata-kata Bunda Maria di La Salette telah menjadi kenyataan 

Bunda Maria di La Salette, 19 September 1846:  

“Roma akan kehilangan Iman dan menjadi takhta sang Antikristus... Gereja akan berada dalam 

gerhana.” 

Faktanya yaitu  bahwa Yohanes Paulus II mengumumkan bahwa manusia yaitu  Kristus di dalam 

berbagai cara. Kadangkala dengan sangat halus dan pintar, namun  di waktu yang lain, dengan sangat jelas 

dan berani. Hal ini dibahas dengan rinci pada akhir buku ini, namun  berikut yaitu  beberapa kutipannya: 

Yohanes Paulus II, Audiens Umum, 22 Februari 1984:  

”...agar hati nurani dapat dibebaskan di dalam kebenaran yang penuh akan manusia, yang yaitu  

Kristus, ‘damai dan ampun’ kepada semua orang.”150 

Yohanes Paulus II, Homili, 17 Desember 1991:  

“Saudara-saudari terkasih, lihatlah Kristus, Kebenaran akan manusia....”151 

Yohanes Paulus II, Homili, 10 Desember 1989:  

”...luruskanlah jalan Tuhan dan manusia....”152 


274 

 

Yohanes Paulus II, Homili, 10 Agustus 1985:  

“Hari ini, sambil mengonsekrasikan katedral anda, kami berharap dengan besar bahwa ia 

akan menjadi ‘bait sejati Allah dan manusia...’”153 

Yohanes Paulus II, Homili, 25 Desember 1978:  

“Natal yaitu  perayaan manusia.’”154 

Yohanes Paulus II, 25 Desember 2001:  

”...marilah berhenti untuk menyembah di dalam gua, dan menatap Juru Selamat yang baru 

lahir. Di dalam-Nya kita dapat mengenali wajah dari setiap anak kecil yang lahir...”155 

Yohanes Paulus II, 25 Desember 1985:  

“Apa itu rahmat? Rahmat secara tepat merupakan manifestasi dari Allah... Rahmat yaitu  

Allah sebagai “Bapa kami.” Ia yaitu  Putra Allah... Ia yaitu  Roh Kudus... Rahmat juga, 

yaitu  manusia...”156 

Yohanes Paulus II, 31 Maret 1991:  

“Hendaknya rasa hormat untuk manusia menjadi penuh...Setiap pelanggaran kepada 

pribadi yaitu  pelanggaran melawan Allah...”157 

Yohanes Paulus II, 24 Januari 2002:  

“Untuk melanggar manusia yaitu , tentunya, melanggar Allah.”158 

Yohanes Paulus II, Sambutan kepada Perwakilan Tunisia, 27 Mei 2004, hal. 8:  

”...Dari sisinya, komunitas Katolik yang sederhana yang tinggal di Tunisia tidak memiliki 

ambisi lain selain untuk menyaksikan martabat manusia...”159 

‘Komunitas Katolik’ di Tunisia tidak memiliki ambisi lain selain menyaksikan martabat manusia? Lewat 

pernyataan semacam itu, Yohanes Paulus II sekali lagi menunjukkan bahwa komunitas ‘Katolik’ di 

Tunisia tidak memiliki keinginan untuk mengonversikan orang-orang non-Katolik lain, namun  hanya 

untuk menyaksikan martabat manusia. 

Yohanes Paulus II, Homili, 24 Juni 1988:  

”...Allah ingin menemukan di dalam manusia seluruh ciptaan...”160 

Hal ini berarti di dalam manusia, seseorang dapat menemukan seluruh ciptaan. 

Anti-Paus Yohanes Paulus II, Sambutan kepada para Misionaris Darah yang Berharga, 14 

September 2001: 

“Dan pada saat Paskah, sukacita ini sampai kepada kepenuhannya sewaktu terang kemuliaan ilahi 

bersinar di wajah sang Tuhan yang Bangkit, yang luka-lukanya bersinar selamanya seperti 

Matahari. Ini yaitu  kebenaran akan siapa dirimu, Saudara-saudara terkasih...”161 

Yohanes Paulus II, Redemptor Hominis, 4 Maret 1979: 

“KENYATAANNYA, NAMA UNTUK KEKAGUMAN YANG DALAM AKAN NILAI DAN MARTABAT 

MANUSIA yaitu  INJIL, YANG BERARTI: KABAR BAIK. HAL ITU JUGA DIKENAL SEBAGAI 

KEKRISTENAN.”162 

Injil yaitu  Yesus Kristus (Hidup dan Ajaran-Nya); itu yaitu  agama dari iman dan moral yang Ia 

wahyukan kepada dunia. Dengan berkata bahwa Injil Kabar Baik dan Kekristenan yaitu  ‘kekaguman 


275 

 

akan manusia’, seseorang menyamakan manusia dengan Yesus Kristus; namun  ini yaitu  alasan yang 

persis mengapa Yohanes Paulus II mengatakannya dan itulah yang dilakukannya. 

Galatia 1:8: “namun  sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada 

kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” 

Yohanes Paulus II terkutuk. Ia mewartakan sebuah Injil baru, bukan tentang Yesus Kristus, namun  tentang 

manusia di tempat Kristus – Injil Antikristus. 

Paus Pius X, E Supremi Apostolatus, 4 Oktober 1903:  

”...tanda yang khas milik Antikristus, manusia dengan kelancangan yang tidak terbatas 

menempatkan dirinya sendiri di tempat Allah...”163 

Yohanes Paulus II membawa ‘Salib yang Patah’ 

 

Paulus VI, Yohanes Paulus I, Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI membawa salib yang hanya 

dimengerti beberapa orang– salib yang patah atau yang melengkung di mana Tubuh Kristus 

dipampangkan dengan bentuk yang mengerikan. Salib yang melengkung atau patah ini digunakan oleh 

para penyihir hitam atau para ahli ilmu gaib di abad keenam untuk melambangkan istilah Kitab Suci 

‘tanda binatang’. Para Satanis di abad kelima dan keenam, serta para penyihir hitam dan ahli ilmu gaib di 

Abad Pertengahan (476-1453), memakai  bentuk-bentuk ini  untuk melambangkan kebencian 

mereka untuk Kekristenan. Fakta bahwa salib yang patah digunakan untuk tujuan-tujuan gaib dapat 

dilihat di dalam Museum Ilmu Sihir di Bayonne, Prancis.164 

  


276 

 

Kesimpulan-kesimpulan tentang Yohanes Paulus II 

Lalu pertanyaan yang harus ditanyakan semua orang yang mengaku diri Katolik kepada diri mereka 

sendiri yaitu  sebagai berikut: apakah Yohanes Paulus II kepala Gereja Katolik? Atau apakah Yohanes 

Paulus II bagian dari sebuah agama yang berbeda? Jika Yohanes Paulus II bagian dari agama yang 

berbeda – dan siapakah yang berani menentang hal ini sesudah  melihat bukti yang tidak terpungkiri dan 

sangat banyak yang kami sudah sajikan? – maka ia tidak dapat menjadi kepala dari Gereja Katolik. 

St Fransiskus de Sales, Doktor Gereja: 

“Memang yaitu  salah satu monster teraneh yang kita dapat lihat – jika kepala dari Gereja 

bukanlah bagian dari Gereja.”165 

Kami telah membuktikan bahwa Yohanes Paulus II yaitu  bidah terang-terangan. sebab  ia yaitu  

seorang bidah, ia tidak dapat menjadi seorang Paus yang terpilih secara sah. Ia yaitu  seorang Anti-

Paus non-Katolik. Seperti yang telah dikutip sebelumnya, Paus Paulus IV mengajarkan dengan khidmat 

hal ini di dalam Bullanya di tanggal 15 Februari 1559, Cum ex Apostolatus officio, yaitu tidaklah mungkin 

bagi seorang bidah untuk menjadi Paus yang terpilih secara sah. 

 

17. Revolusi Protestan dari Sekte Vatikan II: 

Deklarasi Gabungan Tahun 1999 bersama 

Para Lutheran tentang Doktrin Pembenaran 

Persetujuan Vatikan-Lutheran tentang Pembenaran, 31 Oktober 1999:  

“#13. SEHUBUNGAN DENGAN PERMUFAKATAN INI, PENGUTUKAN DOKTRIN DARI ABAD KE-16 

TIDAK BERLAKU KEPADA PARTNER HARI INI.”1 

 

Dengan persetujuan Yohanes Paulus II, pada tanggal 31 Oktober 1999, ‘Kardinal’ Edward Cassidy dan 

‘Uskup’ Lutheran Christian Krausse menandatangani Deklarasi Gabungan tentang Doktrin Pembenaran di 

Augsburg, Jerman 

Pada tanggal 31 Oktober 1999, Vatikan di bawah Yohanes Paulus II menyetujui sebuah deklarasi 

Gabungan dengan Para Lutheran tentang doktrin Pembenaran. Ide bahwa para Katolik dapat bersetuju 

akan sebuah deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang doktrin pembenaran seharusnya 

langsung terlihat oleh sang Katolik sebagai suatu hal yang absurd sebab  orang-orang Katolik diwajibkan 

percaya akan ajaran dogmatis Konsili Trente, sedangkan para Lutheran menolak ajaran dogmatis dari 

Konsili Trente. 

Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 6, Tentang Pembenaran, Pengantar: 

”...Sinode kudus ekumenis dan umum Trente secara hukum bergabung dalam Roh Kudus... 

para kardinal dari Gereja Roma yang Kudus dan para wakil apostolik a latere, memimpin... tujuan 

untuk menguraikan kepada semua umat Kristus yang beriman doktrin yang sejati dan 

menyelamatkan tentang pembenaran, yang sang ‘surya kebenaran’ (Mal. 4:2), Kristus 

Yesus, ‘yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada 

kesempurnaan’ (Ibr 12:2) ajarkan, yang disampaikan para Rasul, dan yang Gereja Katolik, 

di bawah dorongan Roh Kudus, selalu jaga...”2 

  


284 

 

Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 6, Bab 16: 

“sesudah  menunjukkan doktrin Katolik tentang pembenaran – yang, kalau tidak diterima 

dengan setia dan teguh, tidak seorang pun dapat dibenarkan – Sinode kudus ini menilai baik 

untuk menambahkan kanon-kanon ini agar semua orang dapat mengetahui, bukan hanya apa 

yang mereka harus pegang dan ikuti, namun  juga apa yang mereka harus elakkan dan hindari.3 

Jelas saja, satu-satunya persetujuan yang dapat dicapai yaitu  yang di mana para Lutheran menolak 

bidah mereka dan menerima dogma Katolik. namun , hal ini bukanlah apa yang Deklarasi Gabungan 

dengan Para Lutheran – yang disetujui oleh Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI – setujui. 

Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang Doktrin Pembenaran sangatlah sesat sampai hampir 

tidak ada  kata-kata yang dapat menggambarkannya. Hal ini  benar-benar menolak Konsili 

Trente. sebab  beberapa pembela sekte Vatikan II dan bahkan beberapa ‘tradisionalis’ telah 

mengedepankan beberapa upaya yang sangat konyol dan tidak jujur untuk membela persetujuan ini, 

kami akan secara singkat membahas mengapa dokumen ini sesat, dan mengapa dokumen ini  

menolak sama sekali Konsili Trente, dan mengapa dokumen ini  merupakan sebuah pernyataan 

resmi oleh Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI sendiri bahwa sekte mereka, sebenarnya, yaitu  

sebuah ‘Gereja’ non-Katolik Protestan. 

1) Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang Pembenaran, 31 

Oktober 1999:  

“#5. DEKLARASI GABUNGAN KINI... tidak membahas semua yang gereja 

ajarkan tentang pembenaran; hal ini  memang mencakup sebuah 

persetujuan tentang kebenaran-kebenaran mendasar tentang doktrin 

pembenaran dan MENUNJUKKAN BAHWA PERBEDAAN-PERBEDAAN 

YANG MASIH ADA TIDAK LAGI MERUPAKAN ALASAN PENGUTUKAN 

DOKTRIN.”4 

Hal ini berarti bahwa perbedaan-perbedaan yang masih ada antara Lutheran dan Katolik tentang 

Pembenaran – misalnya, fakta bahwa para Lutheran tidak menerima Dekret Konsili Trente sebagai 

dogmatis bukan lagi alasan untuk pengutukan doktrin. Ini jelas-jelas BIDAH. Fakta yang sama bahwa para 

Lutheran tidak menerima Dekret Konsili Trente tentang Pembenaran sebagai dogmatis yaitu  alasan 

untuk pengutukan doktrin mereka, seperti yang kita baru saja lihat. 

2) Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang Pembenaran, 31 

Oktober 1999: 

 “#41. Oleh sebab  itu pengutukan doktrin dari abad ke-16 [yaitu Konsili 

Trente], sejauh mana berhubungan dengan doktrin pembenaran, tampak di 

dalam sebuah terang yang baru: Ajaran dari gereja-gereja Lutheran yang 

disajikan di dalam Deklarasi ini tidak jatuh dalam pengutukan dari 

Konsili Trente.”5 

Hal ini berarti bahwa tidak satu pun dari ajaran para Lutheran di dalam Deklarasi Gabungan (DG) 

ini  dikutuk oleh Konsili Trente! namun  di dalam DG, selain bidah-bidah lain yang diajarkan oleh 


285 

 

para Lutheran (seperti yang kita akan lihat), gereja-gereja Lutheran mengajarkan bidah Pembenaran 

lewat ‘iman saja’, yang dikutuk oleh Konsili Trente kira-kira 13 kali! 

Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang Pembenaran: 

“26. Menurut pengertian Lutheran, Allah membenarkan para pendosa di dalam iman saja (sola 

fide).6 

Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 6, Bab 10, ex cathedra: 

“’Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan sebab  perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya 

sebab  iman.’ (Yak.2:24).”7 

Maka, pernyataan di dalam #41 dari DG berarti bahwa sisi ‘Katolik’ setuju bahwa semua kanon-kanon 

dan dekret-dekret dogmatis di Trente yang mengutuk iman saja telah dilengserkan, dan ‘iman saja’ tidak 

lagi berlawanan dengan ataupun dikutuk oleh Trente. Tidak ada  bidah lain yang lebih formal dari 

hal ini. 

3) Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang Pembenaran, 31 

Oktober 1999: 

“#13. SEHUBUNGAN DENGAN PERMUFAKATAN INI, PENGUTUKAN 

DOKTRIN DARI ABAD KE-16 TIDAK BERLAKU KEPADA PARTNER HARI 

INI.”8 

Hal ini sekali lagi berarti bahwa fakta bahwa para Lutheran tidak menerima Dekret Konsili Trente 

tentang Pembenaran secara total tidaklah sesat, suatu hal yang merupakan penolakan dari Konsili 

Trente. Konsili Trente mengutuk sebagai bidah siapa pun yang tidak menerima semua ajarannya, seperti 

yang kita telah lihat di atas. 

Maka, janganlah tersesatkan oleh para pembohong yang mencoba meyakinkan orang-orang bahwa DG 

tidak benar-benar menolak Konsili Trente, atau bahwa “hal ini  lebih rumit dari itu.” Orang-orang ini 

digunakan oleh Iblis untuk membela sekte murtad Vatikan II. Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran 

tentang Doktrin Pembenaran menolak sama sekali Konsili Trente yang dogmatis. Siapa pun yang menolak 

hal ini yaitu  seorang pembohong. 

BEBERAPA BIDAH LAIN DI DALAM DEKLARASI GABUNGAN 

Bahkan, di samping ‘iman saja’ ada  setumpuk bidah lain di dalam DG yang secara khusus dikutuk 

oleh Trente. Lihatlah artikel yang lebih panjang di dalam situs kami Joint Declaration with the Lutherans 

on Justification jika anda ingin semua rinciannya yang mencengangkan. DG ini  memuntahkan 

berbagai bidah. Berikut yaitu  beberapa bidahnya yang lain: 

 Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran: “21. Menurut ajaran Lutheran, manusia tidak 

sanggup bekerja sama di dalam keselamatan mereka, sebab  sebagai para pendosa, mereka 

secara aktif melawan Allah dan tindakan-Nya yang menyelamatkan.”9 BIDAH YANG DIKUTUK 

TRENTE! 

  Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 6, Kanon 4: 

“Jika seseorang berkata bahwa kehendak bebas manusia yang digerakkan dan didorong 

oleh Allah tidak bekerjasama dengan cara bersetuju kepada Allah yang mendorong dan 

memanggil, di mana kehendak bebas ini  mempersiapkan dirinya untuk mendapat  


286 

 

rahmat pembenaran, dan bahwa ia tidak dapat menolak, jika ia ingin menolak, namun  layaknya 

sesuatu yang tidak bernyawa, ia tidak melakukan apa pun dan hanyalah sekedar berada di dalam 

keadaan yang pasif, terkutuklah dia.”10 

 Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran: “23. ...Para Lutheran... sedangkan itu, mereka berniat 

mengungkapkan bahwa pembenaran tidaklah dipengaruhi oleh kerjasama manusia dan tidak 

bergantung kepada hasil dari rahmat yang memperbarui hidup di dalam manusia.” – BIDAH YANG 

DIKUTUK TRENTE! 

 

  Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 6, Kanon 1: 

“Jika seseorang berkata bahwa manusia dapat dibenarkan di depan Allah lewat 

perbuatannya sendiri yang dilakukan lewat kekuatan alamiahnya ataupun lewat ajaran Hukum, 

dan tanpa rahmat ilahi lewat Kristus Yesus, terkutuklah dia.”11 

 

 Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran: “29. Para Lutheran mengerti keadaan seorang 

Kristiani ini sebagai ‘pada waktu yang sama benar {righteous} dan pendosa.’ Para umat beriman 

sungguhlah benar, sebab  Allah mengampuni dosa-dosa mereka lewat Sabda dan Sakramen dan 

memberi  kebenaran dari Kristus yang mereka dapatkan di dalam iman. Di dalam Kristus, mereka 

dibuat benar di depan Allah. namun , sewaktu mereka melihat diri mereka sendiri dari sudut pandang 

hukum, mereka mengakui bahwa mereka tetap pendosa.”12 – BIDAH YANG DIKUTUK TRENTE! 

Bidah ini juga disebut ‘simul justus et peccator’ (pada waktu bersamaan baik dan berdosa) dan 

merupakan salah satu kesukaan Martin Luther. Hal ini  dikutuk dengan dashyat oleh Trente di 

dalam dua bagian berikut: 

  Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 5: 

“Jika seseorang menolak bahwa lewat rahmat dari Tuhan kita Yesus Kristus, yang diberikan di 

dalam pembaptisan, kesalahan dari dosa asal diampuni, atau bahkan menyatakan bahwa 

keseluruhan dari sifat yang sejati dari dosa tidaklah dihapuskan, namun  berkata bahwa hal 

ini  hanya tersentuh atau tidak diperhitungkan, terkutuklah dia.”13 

 

  Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 5: 

“sebab  Allah tidak membenci sama sekali mereka yang terlahir kembali [Dibenarkan], sebab 

‘tidak ada penghukuman’ (Rom. 8:1) untuk mereka yang sungguh dikuburkan bersama-sama 

dengan Dia oleh baptisan dalam kematian (Rom. 6:4), yang tidak lagi ‘hidup menurut daging’ 

(Rom. 8:5), namun  yang dengan ‘menanggalkan manusia lama’ (Ef. 4:22, Kol 3:9) dan mengenakan 

‘yang baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah’ (Ef 4:24), dibuat tidak bersalah, 

tidak bernoda, murni, tidak berdosa, dan menjadi anak-anak Allah yang terkasih, ‘ahli waris, 

maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya 

bersama-sama dengan Kristus’ (Rom. 8:17), sehingga tidak ada  sesuatu pun yang dapat 

menghambat mereka untuk masuk Surga.”14 

 

Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran: “29...para Lutheran berkata bahwa orang-orang 

yang dibenarkan juga merupakan pendosa dan permusuhan mereka dengan Allah yaitu  

sungguh-sungguh dosa, mereka tidak menolak hal ini , walaupun mereka berdosa, mereka 

tidak terpisahkan dari Allah dan hal ini yaitu  dosa yang ‘sudah terkalahkan’.”15 – BIDAH YANG 

DIKUTUK TRENTE  


287 

 

  Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 6, Bab 15: 

”...doktrin tentang hukum ilahi yang mengecualikan dari Kerajaan Allah bukan hanya orang-orang 

yang tidak beriman, namun  juga orang-orang yang beriman yang juga orang cabul, penyembah 

berhala, orang yang berzina, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan 

penipu (1 Kor. 6:9), dan semua orang lain yang melakukan dosa berat, yang dapat dihindari 

dengan bantuan rahmat ilahi dan yang menyebabkan mereka terpisah dari rahmat Allah.”16 

Ingat bahwa semua ajaran Lutheran ini yang ada  di dalam Deklarasi Gabungan – yang terang-

terangan sesat dan jelas-jelas dikutuk oleh Konsili Trente – dinyatakan tidak terkutuk oleh Trente di #41 

dari Deklarasi Gabungan! 

Kami dapat terus melanjutkan hal ini, namun  apa yang sudah kami bahas di atas cukup untuk menegaskan 

poinnya. 

Beberapa pembohong yang mencoba mengecilkan pentingnya DG ini telah mencoba untuk menipu 

pembaca dan pendengar mereka dengan mengatakan bahwa kedua dokumen lain yang menyertai DG 

sebetulnya menjelaskan semuanya. HAL INI yaitu  OMONG KOSONG! Kedua dokumen lain yang 

menyertai DG: 1) Pernyataan Umum Resmi oleh Federasi Lutheran Se-Dunia dan Gereja Katolik serta 2) 

Lampiran Pernyataan Umum Resmi menegaskan semua yang ada  di dalam DG. Mereka tidak 

menentang bidah DG sama sekali, namun  mengulanginya, seperti yang kita lihat di sini: 

Pernyataan Umum Resmi, #1 (bagian dari Deklarasi Gabungan): “Atas dasar persetujuan ini, 

Federasi Lutheran Se-Dunia dan Gereja Katolik menyatakan bersama: ‘Ajaran dari Gereja-

gereja Lutheran yang disajikan di dalam Deklarasi tidak jatuh di bawah kutukan-kutukan 

Konsili Trente. Kutukan-kutukan di dalam Iman Lutheran tidak berlaku untuk ajaran Gereja 

Katolik Roma yang disajikan di dalam Deklarasi ini (DG #41).’”17 

 

Selanjutnya, Lampiran Pernyataan Umum Resmi malah lebih parah dari DG itu sendiri dan 

mengakui iman di dalam pembenaran lewat iman saja dari pihak ‘Katolik’! 

 

 Lampiran Pernyataan Umum Resmi, #2, C [Pihak ‘Katolik’ dan pihak ‘Lutheran’ bersama-

sama]: “Pembenaran terjadi lewat rahmat saja, lewat iman saja, seseorang dibenarkan bukan 

dari perbuatan-perbuatan.”18 

Mohon dimengerti: ‘Lampiran’ ini yaitu  bagian dari Deklarasi Gabungan yang dikatakan oleh para 

pembela sekte Vatikan II menjelaskan segalanya dan ‘membuat hal ini  dapat diterima’! Mereka 

berkata bahwa Lampiran ini  membuat semua hal di dalam DG sesuai dengan ajaran Katolik. Benar 

benar suatu kebohongan! Di dalam kutipan berikut, kita melihat seorang pembela sekte Vatikan II 

mencoba memakai  argumen ini. Para pembela Novus Ordo/Vatikan II yang mencoba memakai  

argumen macam ini berpikir atau berharap bahwa orang yang berbicara dengan mereka tentang hal ini 

tidak tahu akan kedua dokumen penyerta ini  (Lampiran dan Pernyataan Umum Resmi) – agar 

mereka dapat membuat sebuah kesan palsu bahwa kedua dokumen ini  mengurangi atau 

menjelaskan bidah-bidah di dalam Deklarasi Gabungan. Mereka berharap bahwa orang yang lain, yang 

tidak mengenal kedua dokumen ini , tidak dapat menjawab. namun  argumen ini tidak berhasil 

dengan mereka yang akrab dengan kedua dokumen ini . 

  


288 

 

Leon Surprenant, Presiden dari Catholics United for the Faith, kepada MHFM, untuk membela DG, 

20 Januari 2005: 

”...seseorang harus membaca Pernyataan Umum Resmi dan “Lampiran Katolik” yang 

diterbitkan bersama untuk mendapat  pengertian yang cukup tentang posisi Gereja 

akan DG. (Beri tahu saya bila anda memerlukan kopi dari kedua dokumen ini ).”19 

Seperti yang kita lihat di sini, ia mencoba untuk menjawab bidah-bidah yang kami kutip di dalam 

Deklarasi Gabungan dengan mengatakan bahwa Lampiran dan Pernyataan Umum Resmi membuat DG 

dapat diterima. namun , seperti yang kami tunjukan, hal ini omong kosong. Lampiran dan Pernyataan 

Umum Resmi menegaskan apa yang ada di dalam DG. Juga, Lampiran menyatakan bahwa para ‘Katolik’ 

bukan hanya menerima iman saja sebagai hal yang tidak berlawanan dengan Trente (seperti yang 

dikatakan DG), namun  para Katolik sendiri percaya akan iman saja! Jika, seperti yang ia katakan, Lampiran 

ini  diperlukan untuk mengerti apa yang diajarkan DG, maka ia mengakui bahwa ia percaya akan 

Pembenaran lewat iman saja. 

Pendek kata, upaya untuk membela DG dengan membuat rujukan-rujukan kepada kedua dokumen yang 

lain yang menyertainya sama sekali salah, dan untuk mereka yang mengenal fakta-faktanya, hal ini  

yaitu  kebohongan yang memalukan. 

Terlebih lagi, bahkan jika Lampiran ini  tidak menyatakan bidah yang keji tentang Pembenaran 

lewat iman saja dari pihak Katolik, hal ini  sama sekali tidak berpengaruh sebab  semua bidah yang 

dicatat di atas – dari pihak Lutheran mauun dari pihak ‘Katolik’ di dalam DG – telah diterima sebagai 

tidak terkutuk oleh Konsili Trente. Selanjutnya, seperti yang dibuktikan poin pertama artikel ini, DG 

ini  berkata secara spesifik