Bahwa ia memiliki iman dan kesatuan yang sama dengan sekte-sekte
non-Katolik, ia menyatakan bahwa ia bukan seorang Katolik.
Yohanes Paulus II memberi sebuah relikui kepada skismatis Karekin II,
dan ia menyatakan bahwa sekte sang skismatis ini yaitu ‘Mempelai
Kristus’
Yohanes Paulus II juga memberi Karekin II, kepala dari Gereja skismatis di Armenia, sebuah relikui St.
Gregorius Illuminator.
Yohanes Paulus II memberi sebuah relikui St. Gregorius Illuminator kepada kepala ‘Gereja’ skismatis
di Armenia
Yohanes Paulus II, Homili kepada Patriark skismatis Karekin II, 10 November 2000:
”...Saya bahagia dapat mengembalikan kepada Yang Mulia sebuah relikui dari St. Gregorius
Illuminator... Relikui ini akan ditempatkan di dalam katedral baru yang sekarang sedang
dibangun... Harapan saya yaitu bahwa katedral baru ini akan menghiasi dengan
kecantikan yang bahkan lebih besar Mempelai Kristus di Armenia...”99
St. Gregorius Illuminator (sekitar 257-332 Masehi) yaitu ‘rasul Armenia’, yang menyebarkan Iman
Kristiani sejati (Iman Katolik) di Armenia:
260
“Raja Tiridates dan St. Gregorius Illuminator bekerja sama dengan dekat untuk menghancurkan
seluruh kuil-kuil pagan tua di Armenia, dimulai dengan kuil-kuil dewi Anahit dan dewa Tir, dari
mana sang raja mendapat namanya. Salib-salib dibangun di atas tempat-tempat ini .
Banyak sekali jumlah orang yang dibaptis.”100
Dengan memberi relikui seorang rasul Kristiani dari Armenia kepada para skismatis, Yohanes Paulus
II jelas-jelas menunjukkan bahwa ia menganggap bahwa para skismatis ini yaitu pemiliki Iman
Kristiani yang sejati – Iman sejati yang dipegang oleh St. Gregorius Illuminator. Terlebih lagi, di dalam
homili di atas, kita dapat melihat bahwa Yohanes Paulus II menyebut Gereja Ortodoks skismatis
‘Mempelai Kristus’, sebuah gelar yang khusus dimiliki oleh Gereja Katolik!
Bidah Yohanes Paulus II dengan Sekte Anglikan
sebab Margareta Clitherow menolak untuk menerima sekte Anglikan dan “Misa”-nya – dan sebaliknya,
sebab ia melawan hukum pidana dengan mengundang para imam Katolik masuk rumahnya – ia
dimartirkan dengan ditindih sampai mati di bawah sebuah pintu besar yang dibebani beban berat.
Hukuman mati semacam itu begitu menyakitkannya sehingga disebut sebagai “hukuman yang berat dan
keras”. Margareta Clitherow menderita semuanya itu sebab ia tidak mau menerima
Anglikanisme. Namun sekte Vatikan II mengajarkan bahwa orang-orang Anglikan yaitu sesama “orang
Kristen” yang tidak perlu berkonversi, dan yang para “uskup”-nya yang tidak valid sebenarnya yaitu
uskup sejati dari Gereja Kristus. Sekte Vatikan II mengajarkan bahwa kemartiran Margareta Clitherow
sama sekali sia-sia belaka.
Yohanes Paulus II mengunjungi Katedral Anglikan dan mengambil bagian di
dalam ibadat sekte Anglikan – sebuah bidah lewat kelakuannya
Yohanes Paulus II berbicara di Katedral Anglikan di Canterbury pada tahun 1982101
Yohanes Paulus II mengolok-olok para Martir Inggris lewat doanya bersama
‘Uskup Agung’ Anglikan dari Canterbury, 1982
261
Yohanes Paulus II berdoa bersama ‘Uskup Agung’ skismatis dan bidah dari Canterbury (seorang Anglikan)
yang hanyalah seorang awam yang mengaku diri uskup
Pada tanggal 29 Mei 1982, di dalam Katheral Anglikan, Yohanes Paulus II berlutut di dalam ‘doa
antaragama’ dengan ‘Uskup Agung’ Canterbury, Robert Runcie, dan oleh sebab itu mengolok-olok
kemartiran banyak sekali santo-santa Katolik, yang dengan berani mencucurkan darah dibandingkan
menerima sekte sesat Anglikan atau mengambil bagian di dalam ibadat sesat mereka.
Paus Pius IX, Neminem vestrum (#5), 2 Februari 1854:
“Kami ingin anda tahu bahwa para biarawan ini mengirimkan kepada Kami sebuah
pengakuan iman dan doktrin Katolik yang sangat baik... Mereka dengan lancar mengakui dan
menerima dengan bebas peraturan-peraturan dan dekret-dekret yang telah diterbitkan
atau akan diterbitkan oleh para Paus dan Kongregasi suci – terutama mereka yang
melarang communicatio in divinis (komunikasi dalam hal-hal suci) dengan para
skismatis.”102
Yohanes Paulus II menganugerahkan Salib Pektoral kepada seorang kepala
Sekte Anglikan, seorang awam
Pada tahun 2003, Yohanes Paulus II menganugerahkan salib pektoral kepada Rowan Williams, ‘Uskup
Agung’ Anglikan dari Canterbury.
Yohanes Paulus II mencium cincin Rowan Williams, kepala dari sekte Anglikan, yang ia juga anugerahi
sebuah salib pektoral, walaupun Williams hanyalah seorang awam
262
Untuk mereka yang tidak mengetahui hal ini, sekte non-Katolik Anglikan bahkan tidak memiliki imam
yang valid ataupun uskup yang valid. Paus Leo XIII secara infalibel mendeklarasikan bahwa penahbisan
Anglikan tidaklah valid.
Paus Leo XIII, Apostolicae Curae, 13 September 1896, ex cathedra:
”...lewat otoritas Kami, mosi Kami dan pengetahuan tertentu, Kami mengumumkan dan
menyatakan bahwa Penahbisan yang dilaksanakan sesuai ritus Anglikan telah dan yaitu
secara mutlak batal dan sama sekali tidak valid.”103
‘Imam-imam’ dan ‘uskup-uskup’ Anglikan oleh sebab itu yaitu orang-orang awam, bukan hanya bidah-
bidah dan skismatis non-Katolik. namun , sesudah pemilihan ‘Uskup Agung’ Anglikan dari Canterbury yang
baru (Rowan Williams), Yohanes Paulus II mengutus Walter Kasper yang murtad untuk
memberi orang awam ini sebuah salib pektoral dan telegram yang menyetujuinya! Ini
sangatlah sesat sampai hampir tidak ada kata yang dapat menggambarkannya.
‘Uskup Agung’ Anglikan dari Canterbury Rowan Williams kepada Yohanes Paulus II, 4 Oktober
2003:
“Pada tahun 1966, Paus Paulus VI memberi kepada Uskup Agung Michael Ramsey cincin
Keuskupannya sendiri yang sangat dihargai oleh para penerusnya dan yang saya kenakan pada
hari ini. Saya senang dapat mengucapkan terima kasih kepada anda untuk hadiah pribadi
yaitu sebuah salib pektoral, yang dikirimkan kepada saya berkenaan dengan penobatan
saya di awal tahun ini. Sembari saya menjalankan tugas saya yang baru, saya sangat
menghargai tanda penugasan yang sama...”104
Salib pektoral yaitu lambang Katolik tradisional akan otoritas keuskupan. Dengan menganugerahkan
salib pektoral kepada Rowan Williams yang murtad – yang juga mendukung imam-imam perempuan dan
homoseksual untuk ditahbiskan – Yohanes Paulus II bukan hanya menolak mentah-mentah lewat
perbuatannya definisi infalibel Paus Leo XIII bahwa tahbisan Anglikan tidak valid, namun ia juga
mengejek dogma-dogma Katolik tentang Kepausan dan Gereja Kristus.
Dan apa yang membuat tindakan Yohanes Paulus II ini sangat mencengangkan yaitu fakta bahwa
Williams sendiri telah dilarang untuk melakukan ibadat ‘Komuni’ di dalam 350 paroki Anglikan akibat
pandangannya akan imam perempuan!105 namun hal ini tidak menghentikan Yohanes Paulus II; ia
tetap melaju dengan kemurtadannya.
Yohanes Paulus II bahkan menunjukkan bahwa sang awam Williams yaitu seorang uskup yang sah dari
‘Takhta Canterbury’.
Yohanes Paulus II, “Kepada yang Terhormat Rowan Williams, Uskup Agung Canterbury,” 4
Oktober 2003:
“Pertemuan-pertemuan ini telah mencoba memperbarui hubungan antara Takhta
Canterbury dan Takhta Apostolik... Kesetiaan kepada Kristus yaitu yang mendorong kita
untuk terus mencari kesatuan yang penuh dan kelihatan dan untuk mencari jalan-jalan yang
pantas untuk bersatu di dalam, sewaktu mungkin, kesaksian dan misi bersama... Saya berdoa
untuk pencurahan Roh Kudus yang baru kepada anda... Semoga Allah menjaga anda, mengawasi
anda dan selalu menuntun anda dalam pelaksanaan tanggung jawab anda yang besar.”106
Seperti yang ditunjukkan di atas, di dalam sebuah pertemuan dengan Rowan Williams, Yohanes Paulus II
juga mencium cincinnya, yang menunjukkan sekali lagi bahwa Yohanes Paulus II mengakui orang awam
263
yang non-Katolik ini sebagai uskup yang sah di dalam Gereja Kristus. Yohanes Paulus II mengejek Yesus
Kristus, Gereja Katolik dan semua martir Inggris yang menderita siksaan yang mengerikan sebab
mereka menolak ajaran Gereja Katolik akan Keuskupan, Penahbisan, Suksesi Apostolik dan Kesatuan
Gereja.
Bidah Yohanes Paulus II dengan para Lutheran
Yohanes Paulus II di dalam sebuah bait Lutheran di tahun 1983
Pada tahun 1983, Yohanes Paulus II mengunjungi sebuah bait Lutheran untuk ulang tahun ke-500
kelahiran Martin Luther. Ini yaitu sebuah tindakan yang sesat – mengambil bagian di dalam perayaan-
perayaan ibadat sebuah agama non-Katolik dan menghormati seorang bidah – yang membuktikan jelas-
jelas bahwa Yohanes Paulus II bukanlah seorang Katolik.
Yohanes Paulus II memuji Luther, Calvin, Zwingli dan Hus
Yohanes Paulus II juga memuji musuh-musuh terbesar Gereja Katolik, termasuk para revolusioner
Luther dan Calvin. Pada bulan Oktober 1983, Yohanes Paulus II berbicara tentang Martin Luther,
menyatakan: “Dunia kita bahkan pada hari ini mengalami dampaknya yang besar di dalam
sejarah.”107 Dan pada tanggal 17 Juni 1984 Yohanes Paulus II memuji Calvin sebagai seseorang yang
mencoba ‘membuat Gereja lebih beriman kepada kehendak Tuhan’.108 Untuk menyokong, mendukung
dan melindungi para bidah yaitu untuk menjadi bidah. Untuk memuji para bidah terburuk di dalam
sejarah Gereja, seperti Luther dan Calvin, yaitu lebih dari bidah.
Paus Gregorius XVI, Ensiklik, 8 Mei 1844:
“namun lalu kehati-hatian yang lebih besar diperlukan sewaktu para Lutheran dan
Kalvinis berani untuk menentang doktrin yang tidak dapat berubah akan iman dengan
264
berbagai kesalahan-kesalahan yang mencengangkan. Mereka mencoba segala cara untuk
menipu para umat beriman dengan berbagai penjelasan yang bejat akan buku-buku suci...”109
Yohanes Paulus II juga memuji bidah yang terkenal Zwingli dan Hus. Ia bahkan juga berkata bahwa John
Hus, yang dikecam sebagai bidah oleh Konsili Konstanz, yaitu seseorang yang memiliki ‘integritas
pribadi yang infalibel’!110
Yohanes Paulus II menyetujui Persetujuan Vatikan-Lutheran tentang
Pembenaran
Pada tanggal 31 Oktober 1999, ‘Kardinal’ Edward Cassidy dan ‘Uskup’ Lutheran Christian Krause
berjabatan tangan pada saat menandatangani “Deklarasi Gabungan tentang Doktrin Pembenaran” di
Augsburg, Jerman. Persetujuan ini, yang disetujui oleh Yohanes Paulus II, mengajarkan: bahwa
Pembenaran datang ‘hanya lewat iman’ (Annex,2, C); bahwa Kanon Konsili Trente tidak lagi diterapkan
kepada para Lutheran (#13); bahwa tidak satu pun ajaran Lutheran di dalam Deklarasi Gabungan
ini , termasuk bidah tentang Pembenaran hanya lewat iman dan berbagai ajaran-ajaran sesat
Lutheran, dikutuk oleh Trente (#41). Pendek cerita, persetujuan antara ‘Gereja’ Yohanes Paulus dan
sekte Lutheran menolak mentah-mentah ajaran dogmatis Konsili Trente. Hal ini yaitu sebuah deklarasi
yang sungguh bahwa sekte Yohanes Paulus II yaitu sebuah sekte Protestan. (Di dalam buku ini
lalu ada sebuah bagian yang membahas persetujuan yang sangat sesat ini.)
Yohanes Paulus II, 19 Januari 2004, Pada sebuah Pertemuan dengan para Lutheran dari Finlandia:
”...Saya ingin mengungkapkan rasa syukur saya untuk perkembangan ekumenis yang terjadi
antara orang-orang Katolik dan Lutheran dalam lima tahun sejak penandatanganan Deklarasi
Gabungan tentang Doktrin Pembenaran.”111
Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa para non-Katolik dapat menerima
Komuni
Yohanes Paulus II juga mengajarkan bahwa para non-Katolik dapat secara sah menerima Komuni Kudus.
Kanon 844.3 dari Kitab Hukum Kanonik tahun 1983-nya menyatakan bahwa :
“Pelayan-pelayan Katolik dapat dengan sah memberi sakramen-sakramen Tobat, Ekaristi dan
Pengurapan Orang Sakit kepada para anggota gereja timur yang tidak bersatu secara penuh
dengan Gereja Katolik...”112
265
Ide bahwa orang-orang non-Katolik dapat secara sah menerima Komuni Kudus ataupun sakramen-
sakramen lain bertentangan dengan ajaran 2000 tahun Gereja Katolik.
Paus Pius IX, Ensiklik, 8 April 1862:
”...’barangsiapa bukan anggota Gereja, dan memakan Anak Domba, telah menjadi cemar.’”113
Hal yang sangat signifikan tentang bidah Yohanes Paulus II ini (bahwa pemberian Komuni Kudus kepada
orang-orang non-Katolik yaitu hal yang sah) yaitu fakta bahwa hal ini juga ada di dalam
katekismusnya yang baru, paragraf #1401. Dokumen ini dipermaklumkan oleh ‘otoritas apostolik
tertinggi’ Yohanes Paulus II. Di dalam konstitusinya Fidei Depositum, Yohanes Paulus II
mempermaklumkan katekismusnya yang baru memakai ‘otoritas apostolik’-nya untuk
mengumumkan bahwa hal ini yaitu sebuah ‘norma yang pasti untuk mengajarkan iman’.
Yohanes Paulus II, Fidei Depositum, 11 Oktober 1992:
“Katekismus Gereja Katolik, yang telah saya setujui pada tanggal 25 Juni lalu dan terbitan yang
saya perintahkan lewat otoritas Apostolik saya, yaitu pernyataan iman Gereja dan doktrin
Katolik... Saya menyatakannya sebagai sebuah norma yang pasti untuk mengajarkan
iman.”114
Katekismus Yohanes Paulus II bukanlah sebuah norma yang pasti untuk mengajarkan iman. Hal itu
yaitu sebuah norma yang pasti untuk mengajarkan bidah. Oleh sebab itu, sebab Yohanes Paulus II
telah mengakui bahwa ia menyatakan dari Takhta Petrus bahwa katekismusnya yaitu sebuah norma
yang pasti untuk mengajarkan iman, walaupun tidak sama sekali, kita tahu bahwa ia tidak duduk di
Takhta Petrus. Seorang Paus tidak dapat salah sewaktu berbicara dari Takhta Apostolik, yaitu, dengan
otoritas apostoliknya dari Takhta Petrus.
Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, ex cathedra:
”...di dalam Takhta Apostolik agama Katolik telah terus dipertahankan dalam keadaan tanpa noda,
dan doktrin sucinya diselenggarakan.”115
Paus Pius IX, Konsili Vatikan I, ex cathedra:
“Maka, karunia kebenaran dan iman yang tidak pernah gugur ini telah diberikan kepada Petrus
dan para penerusnya di dalam takhta ini...”116
Ajaran sesat tentang bahwa para non-Katolik diperbolehkan menerima Komuni Kudus juga diajarkan di
Vatikan II, seperti yang kita telah bahas. Yohanes Paulus II juga berkomentar tentang ajaran ini dengan
persetujuannya di dalam Ut Unum Sint:
”...Oleh sebab ikatan sakramen yang sangat dekat antara Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks...
Gereja Katolik telah sering menyetujui dan sekarang menyetujui kebijakan yang lebih halus,
menawarkan segala jalan keselamatan kepada semua orang dan sebuah contoh akan kasih antara
orang-orang Kristiani lewat pengambilan bagian di dalam sakramen-sakramen dan di
dalam berbagai fungsi dan objek kudus. Tidak boleh ada kehilangan penghargaan akan
dampak gerejawi atas pembagian sakramen, terutama Ekaristi Kudus.”117
Ia menyatakan ‘dampak gerejawi’ pembagian sakramen dengan para ‘Ortodoks’. Dampaknya yaitu
mereka yaitu bagian dari Gereja yang sama.
Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa sekte-sekte non-Katolik merupakan
jalan keselamatan
266
Yohanes Paulus II mengikuti Vatikan II dan mengajarkan pula bahwa sekte-sekte non-Katolik yaitu
jalan keselamatan, yang merupakan ajaran sesat.
Yohanes Paulus II, Katekismus Baru, paragraf 819, tentang Gereja-gereja Non-Katolik:
“Roh Kristus memakai Gereja-gereja serta komunitas gerejawi ini sebagai jalan
keselamatan...”118
Paus Pius IV, pengakuan iman, Konsili Trente, ex cathedra:
“Iman Katolik yang sejati ini, di luar mana tidak seorang pun dapat diselamatkan...
Sekarang saya mengakuinya dan sungguh-sungguh menjunjungnya...”119
Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa sekte-sekte non-Katolik memiliki
Santo-santa dan Martir-martir
Yohanes Paulus II mengajarkan secara berulang-ulang bahwa sekte-sekte non-Katolik memiliki santo-
santa dan martir-martir.
Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#84), 25 Mei 1995, Berbicara tentang ‘Gereja-gereja’ non-
Katolik:
“Walaupun di dalam cara yang tidak kelihatan, kesatuan antara Komunitas-komunitas kita, masih
tidak penuh, hal ini benar-benar dan secara mantap berakar di dalam kesatuan yang penuh
dari santo-santa – mereka yang, pada akhir hidup mereka yang selalu setia kepada rahmat.
Santo-santa ini datang dari segala Gereja dan Komunitas Gerejawi YANG memberi
MEREKA PINTU GERBANG MENUJU KESATUAN KESELAMATAN.”120
Ini yaitu bidah yang tidak terpungkiri yang sangat jelas. yaitu sebuah dogma Iman Katolik bahwa
mereka yang tidak berada di dalam Gereja Katolik, walaupun mereka mencucurkan darah dalam nama
Kristus, tidak dapat diselamatkan.
Paus Eugenius IV, Konsili Florence, ex cathedra:
” ... tidak seorang pun dapat diselamatkan, sebanyak apa pun ia telah berderma, walaupun
ia telah menumpahkan darah dalam nama Kristus, kecuali jika ia telah bertekun di
pangkuan dan di dalam kesatuan Gereja Katolik.”121
Ini yaitu dogma yang telah didefinisikan secara khidmat oleh Konsili Florence yang diulangi oleh Paus
Pius XI.
Paus Pius XI, Rappresentati in Terra (#99), 31 Desember 1929:
“Ia {Gereja} tampak secara menonjol di dalam kehidupan berbagai santo-santa, yang dilahirkan
hanya oleh Gereja, dan hanya Gereja sendiri, di dalam mana terrealisasikan tujuan dari
pendidikan Kristiani...”122
Sulit untuk membayangkan penolakan dogma yang lebih jelas dan terang-terangan dibandingkan Ut Unum
Sint #84 dari Yohanes Paulus II (dikutip di atas).
Paus Gregorius XVI, Summo Iugiter Studio, 27 Mei 1832:
“Pada akhirnya beberapa orang yang teperdaya ini mencoba meyakinkan diri mereka
sendiri dan orang-orang lain bahwa manusia tidak hanya diselamatkan di dalam agama
Katolik, namun bahwa bahkan para bidah dapat memperoleh kehidupan kekal.”123
267
Mohon perhatikan pula bahwa bukan hanya sang bidah terang-terangan Yohanes Paulus II ini
menyatakan di Ut Unum Sint #84 bahwa para ‘santo-santa’ datang dari Gereja-gereja non-Katolik
(sebuah bidah yang jelas), namun ia berkata lebih jauh dengan menyatakan bahwa sekte-sekte non-
Katolik ini ‘memberi mereka’ keselamatan: “Gereja dan Komunitas Gerejawi yang
memberi mereka pintu gerbang menuju kesatuan keselamatan.”
Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#83), 25 Mei 1995:
“Semua Komunitas Kristiani mengetahui bahwa, berkat kekuatan yang diberikan oleh Roh,
tidaklah mustahil untuk menuruti kehendak ini dan mengatasi rintangan-rintangan
ini . Sesungguhnya mereka semua memiliki martir-martir untuk iman Kristiani.”124
Yohanes Paulus II, Pidato kepada Patriark Karekin II yang skismatis dan non-Katolik, 9 November
2000:
“Sekali lagi, saya berterima kasih kepada Yang Mulia untuk kerelaan anda untuk menjadi bagian
dari liturgi lewat perwakilan anda. Memang, ‘bentuk ekumenisme yang mungkin paling
meyakinkan yaitu ekumenisme santo-santa dan para martir. Communio sanctorum lebih
besar dibandingkan hal-hal yang memisahkan kita.’”125
Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#1), 25 Mei 1995:
“Kesaksian yang pemberani dari banyak sekali martir di zaman kita, termasuk para
anggota dari Gereja-gereja dan Komunitas-komunitas Gerejawi yang tidak bersatu secara
penuh dengan Gereja Katolik, memberi semangat baru kepada panggilan Konsili dan
mengingatkan kita akan kewajiban kita untuk mendengarkan dan melaksanakan nasihatnya.’”126
Yohanes Paulus II, Salvifici Doloris (#22), 11 Februari 1984:
“Kebangkitan Kristus telah menunjukkan ‘kemuliaan masa depan’ dan pada waktu yang
sama, telah menegaskan ‘kebanggaan salib’: kemuliaan yang tersembunyi di dalam sengsara
Kristus dan yang telah dan sering tercerminkan di dalam sengsara manusia, sebagai sebuah
ungkapan kebesaran rohani manusia. Kemuliaan ini harus diakui bukan hanya di dalam
martir untuk Iman namun juga di dalam banyak orang-orang lain yang, walaupun tidak
percaya kepada Kristus, menderita dan memberi hidup mereka untuk kebenaran dan
untuk hal yang bajik. Di dalam penderitaan-penderitaan semua orang ini martabat manusia
yang besar ditegaskan secara keras.’”127
Yohanes Paulus II, Sambutan Angelus, 19 September 1993:
“Di dalam ruang yang tidak terbatas di Eropa Timur, Gereja Ortodoks juga dapat mengatakan
pada akhir abad ini apa yang para Bapa Gereja telah umumkan tentang penyebaran pertama Injil:
‘Sanguis martyrum – semen Christianorum’ [darah para martir yaitu benih para
Kristiani].’”128
Yohanes Paulus II, Tertio Millennio Adveniente (#37), 10 November 1994:
“Kesaksian akan Kristus juga sampai kepada pencucuran darah yang merupakan warisan
bersama dari para Katolik, Ortodoks, Anglikan dan Protestan, seperti yang dinyatakan
oleh Paus Paulus VI di dalam Homilinya untuk Kanonisasi para Martir Uganda.”129
Yohanes Paulus II, Tertio Millennio Adveniente (#37), 10 November 1994:
”...Gereja-gereja lokal harus melakukan segala hal yang mungkin untuk memastikan agar
kenangan akan orang-orang yang telah dimartir tetap terjaga, dengan mengumpulkan
dokumentasi yang diperlukan. Hal ini tidak dapat gagal untuk memiliki sebuah ciri dan
ungkapan ekumenis. Bentuk ekumenisme yang paling meyakinkan mungkin yaitu
268
ekumenisme santo-santa dan para martir. Communio sanctorum lebih besar dari hal-hal yang
memisahkan kita.”130
Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#84), 25 Mei 1995:
“Di dalam pandangan teosentris, kita orang-orang Kristiani sudah memiliki martirologi yang
sama. Hal ini mengikutsertakan martir-martir pada zaman kita, yang lebih banyak dari yang
orang kira...”131
Yohanes Paulus II, Ut Unum Sint (#84), 25 Mei 1995:
“Di dalam kemilau ‘warisan santo-santa’ yang dipunyai semua Komunitas, ‘dialog konversi’
menuju kesatuan yang penuh dan kelihatan, oleh sebab itu tampak sebagai sebuah sumber
harapan. Kehadiran santo-santa yang mendunia yaitu sebuah bukti kekuatan Roh yang
besar.”132
Yohanes Paulus II, Audiens Umum, 12 Mei 1999:
“Pengalaman kemartiran menyatukan orang-orang Kristiani dari berbagai denominasi di
Rumania. Orang-orang Ortodoks, Katolik, dan Protestan memberi kesaksian yang satu
kepada Kristus lewat pengorbanan hidup mereka.”133
Semua ini yaitu bidah yang berulang-ulang, publik, dan formal. Bisa-bisanya beberapa ‘tradisionalis’
berkata dengan lancang bahwa Yohanes Paulus II tidak pernah menolak satu dogma pun! Benar-benar
memalukan, dan sebuah kebohongan! Bidah ini sendiri, tanpa mempertimbangkan yang lainnya,
membuktikan bahwa ia bukanlah seorang Katolik. Hal ini membuktikan bahwa Yohanes Paulus II secara
langsung menolak dogma yang didefinisikan secara khidmat (dari Konsili Florence di atas) bahwa para
non-Katolik tidak dapat diselamatkan walaupun mereka mencucurkan darah mereka untuk Kristus.
Paus Pelagius II, surat (2) Dilectionis vestrae, 585:
“Mereka yang tidak berkehendak untuk setuju dengan Gereja Allah, tidak dapat tetap berada
bersama Allah; walaupun diserahkan kepada lidah-lidah api, mereka terbakar, ataupun
dicampakkan kepada binatang-binatang liar, mereka menyerahkan hidup mereka, tidak akan
ada untuk mereka mahkota kehidupan, melainkan hukuman untuk
ketidakberimanan, bukan sebuah hasil yang mulia (dari sebuah kebajikan rohani), melainkan
kehancuran akibat hilangnya harapan. Orang ini dapatlah dibunuh; ia tidak dapat
dimahkotai.”134
Yohanes Paulus II menyetujui praktik putri-putri altar
269
Yohanes Paulus II bersama Putri-Putri Altar
Yohanes Paulus II juga menyetujui praktik putri-putri altar, sebuah praktik yang sering didapati di
gereja-gereja Vatikan II. Praktik putri-putri altar dikecam sebagai suatu hal yang jahat oleh Paus
Benediktus XIV, Paus St. Gelasius dan Paus Inosensius IV.
Paus Benediktus XIV, Ensiklik, 26 Juli 1755:
“Paus Gelasius, di dalam suratnya yang kesembilan (bab 26) kepada para uskup Lukania,
mengutuk praktik jahat yang telah diperkenalkan, yakni wanita melayani imam pada saat
perayaan Misa. sebab penyalahgunaan ini telah menyebar ke orang-orang Yunani, Inosensius
IV melarang praktik ini secara ketat di dalam suratnya kepada uskup Tuskulum:
‘Hendaknya para wanita tidak memberanikan diri melayani di altar; hendaknya mereka sama
sekali tidak diperbolehkan melakukan pelayanan ini.’ Kami pula telah melarang praktik ini
dalam kata-kata yang sama yang termuat dalam konstitusi Kami yang sering diulangi, Etsi
Pastoralis, bagian 6, no. 21.”135
Yohanes Paulus II juga ‘menganonisasikan’ orang-orang yang memeluk secara penuh bidah-bidah
Vatikan II, Misa Baru, dan indiferentisme keagamaan. Hal ini tidak mungkin dilakukan seorang Paus
sejati, sebab kanonisasi oleh Paus-Paus sejati yaitu infalibel. Ini merupakan sebuah bukti lain bahwa
Yohanes Paulus II bukanlah seorang Paus sejati.
Yohanes Paulus II juga mengecam Perang Salib. Perang Salib disetujui secara khidmat oleh empat konsili
dan oleh lebih dari 10 Paus, termasuk Paus Urbanus II, Paus Kalikstus II, Paus Aleksander III, Paus
Kalikstus III, Paus Klemens V dan lain-lain.
270
Yohanes Paulus II diberikan penghargaan oleh para Freemason
Yohanes Paulus II menyambut B’nai B’rith (Loji Freemason dari New York) pada tanggal 22 Maret 1982
Pada bulan Desember 1996, Loji Timur Agung dari Freemason Italia memberi Yohanes Paulus II
penghargaannya yang terbesar, Ordo Galilea, sebagai ungkapan terima kasih atas upaya-upaya yang
ia kerahkan untuk mendukung ide-ide Freemason. Perwakilah Freemason Italia menyatakan bahwa
Yohanes Paulus II pantas mendapat penghargaan ini sebab ia mengedepankan ‘nilai-nilai
universal Freemason: persaudaraan, rasa hormat atas martabat manusia, dan semangat toleransi, poin-
poin sentral untuk kehidupan para mason sejati’. 136
Yohanes Paulus II meminta maaf kepada Cina Merah {Komunis}
Pada tanggal 24 Oktober 2001, Yohanes Paulus II meminta maaf kepada Cina Merah. Ya, benar: Yohanes
Paulus II meminta maaf kepada rezim Komunis satanik di Cina untuk ‘kesalahan-kesalahan’ para Katolik!
Ia bahkan memuji keadilan sosial Cina Merah.
Yohanes Paulus II, 24 Oktober 2001:
“Gereja Katolik, dari sisinya, memandang dengan rasa hormat dorongan yang mengagumkan
serta perencanaan jangka panjang ini... Gereja juga berpegang kepada nilai-nilai serta tujuan-
tujuan yang merupakan prioritas utama Cina modern: solidaritas, perdamaian, keadilan
sosial...”137
Keadilan sosial di Cina termasuk kebijakan satu-anak-per-keluarga, yang ditekankan oleh pemaksaan
aborsi dan kontrasepsi. Pemerintahan Cina membunuh jutaan anak setiap tahun di samping
memenjarakan, menyiksa dan membunuh orang-orang Katolik.
Yohanes Paulus II menyatakan bahwa Gereja Katolik dan Cina yaitu dua institusi kuno ‘yang tidak
berlawanan satu sama lain.’138 Memuji keadilan sosial dari Cina yang Komunis yaitu lebih dari sebuah
bidah; hal ini yaitu satanik.
Yohanes Paulus II mempromosikan teori evolusi
Pada tanggal 22 Oktober 1996, Yohanes Paulus II menyatakan bahwa evolusi yaitu ‘lebih dari sekadar
hipotesis.’139 Hal ini menunjukkan bahwa ia menganggap bahwa evolusi yaitu suatu kebenaran.
271
Yohanes Paulus II berkata bahwa Surga, Neraka, dan Api Penyucian
bukanlah tempat-tempat yang nyata
Di dalam rentetan pidato pada musim panas tahun 1999, yang diterbitkan di dalam surat kabar resmi
Vatikan, Yohanes Paulus II berkata bahwa Surga, Neraka, dan Api Penyucian bukanlah tempat-tempat
yang nyata.
Di dalam audiens umum-nya pada tanggal 21 Juli 1999, Yohanes Paulus II berkata bahwa Surga bukanlah
sebuah tempat yang nyata.140
Pada tanggal 28 Juli 1999, Yohanes Paulus II berkata:
1) “Di dalam situasi tragis inilah di mana doktrin Kristiani menjelaskan sewaktu ia berbicara
tentang kutukan abadi Neraka. Hal ini bukanlah sebuah hukuman yang dijatuhkan
selamanya oleh Allah namun merupakan perkembangan dari dasar-dasar pikiran yang
telah ditetapkan oleh orang-orang di dalam hidup ini.”141
2) “Dengan memakai gambar-gambar, Perjanjian Baru menunjukkan tempat bagi para pelaku
kejahatan sebagai sebuah tungku apai, di mana orang-orang akan ‘meratap dan mengertakan
gigi’... Gambaran-gambaran Neraka yang ditunjukkan oleh Kitab Suci haruslah
diinterpretasikan dengan benar. Gambaran-gambaran ini menunjukkan frustrasi yang
besar dan kekosongan hidup tanpa Allah. Bukanlah suatu tempat, Neraka menunjukkan
keadaan mereka yang secara bebas dan pasti memisahkan diri mereka sendiri dari Allah, sumber
dari segala hidup dan sukacita.”142
3) “Kutukan kekal tetaplah merupakan sebuah kemungkinan yang nyata, namun kita tidak diberikan,
tanpa wahyu ilahi, pengetahuan apakah atau manusia mana yang ada di dalamnya. Pikiran
akan Neraka – dan penggunaan gambar-gambar Kitab Suci yang malah kurang tepat – tidak
boleh menciptakan kegelisahan atau kehilangan harapan, namun merupakan peringatan yang
sehat akan kebebasan di dalam seruan Yesus yang telah bangkit yang telah mengalahkan Setan,
dan memberi kita Roh Allah yang membuat kita berseru ‘Abba, Bapa!’”143
Pidato Yohanes Paulus II ini sendirinya yaitu sebuah bidah formal. Ia berkata kita tidak tahu apakah
manusia terkutuk. yaitu sebuah kenyataan yang diwahyukan dari Injil bahwa manusia terlibat di dalam
kutukan kekal, seperti yang diulangi Yesus. Misalnya:
Matius 13:39-42- “Maka seperti lalang itu dikumpulkan dan dibakar dalam api, demikian juga
pada akhir zaman. Anak Manusia akan menyuruh malaikat-malaikat-Nya dan mereka akan
mengumpulkan segala sesuatu yang menyesatkan dan semua orang yang melakukan kejahatan
dari dalam Kerajaan-Nya. Semuanya akan dicampakkan ke dalam dapur api; di sanalah akan
ada ratapan dan kertakan gigi.”
Di dalam audiens singkat dalam bahasa Polandia kepada saudara setanah airnya, Yohanes Paulus II
mengenang ajaran bidah Hans Urs von Balthasar yaitu, “ada Neraka, namun mungkin kosong.”144
Pada tanggal 4 Agustus 1999, Yohanes Paulus II berkata bahwa Api Penyucian bukanlah sebuah tempat
yang nyata.145
272
Paus Pius IV, Konsili Trente, Sesi 25, 3-4 Desember 1563:
“sebab Gereja Katolik, diinstruksikan oleh Roh Kudus, telah mengajarkan dari Kitab Suci dan
tradisi kuno para Bapa di dalam konsili-konsilinya dan yang baru-baru ini di dalam Sinode
ekumenis ini bahwa ada Api Penyucian, dan jiwa-jiwa yang ditahan di dalamnya
terbantu oleh doa-doa para orang beriman dan terutama kurban yang pantas dari altar.”146
Pada pertemuan Assisi di tanggal 24 Januari 2002, Yohanes Paulus II mengeluarkan “Dekalog Assisi”.
Kata Dekalog berarti ‘sepuluh perintah’.
Yohanes Paulus II, 21 Mei 2002:
“Untuk menciptakan dunia yang lebih adil dan solider, camkan dalam hati perlunya
mempromosikan ‘Dekalog Assisi’, yang diumumkan pada Hari Doa bagi Perdamaian 24 Januari
lalu.”147
Maka Yohanes Paulus II berkata bahwa orang-orang perlu mengumumkan sepuluh perintah yang baru
yang ia keluarkan di Assisi.
Yohanes Paulus II mengubah Rosario
Yohanes Paulus II menghormati sebuah roti?!
Yohanes Paulus II juga mengubah Rosario. Pada bulan Oktober 2002, Yohanes Paulus II menambahkan
lima misteri baru kepada Rosario, yang disebut ‘Misteri Terang’. Di dalam dokumen yang
mempermaklumkan misteri terang, Yohanes Paulus II berkata:
“Siapa pun yang mengontemplasikan Kristus lewat berbagai jenjang kehidupannya tidak bisa
tidak melihat di dalam diri-Nya kebenaran akan manusia.”148
Sewaktu kita mengontemplasikan misteri-misteri Kristus, kita tidak melihat dalam diri-Nya kebenaran
akan manusia. Yohanes Paulus II berkata hal ini sebab ia mengajarkan bahwa manusia yaitu
Allah; dan secara spesifik, kebenaran akan manusia bahwa ia yaitu Yesus Kristus.
273
Yohanes Paulus II mengajarkan bahwa manusia yaitu Kristus
Yohanes Paulus II, Homilinya yang Pertama, Selamanya Menandai
Permulaan Pelayanan Penggembalaannya, Minggu, 22 Oktober 1978:
“’Engkau yaitu Kristus, Putra Allah yang hidup’ (Matius 16:16). Kata-
kata ini diucapkan oleh Simon, anak Yunus, di distrik Kaisarea Filipi... Kata-
kata ini menandai permulaan dari misi Petrus di dalam sejarah
keselamatan...
“Pada hari ini dan di tempat ini kata-kata yang sama ini haruslah sekali lagi
diucapkan dan didengarkan: ‘Engkau yaitu Kristus, Putra Allah yang hidup.’
Ya, Saudara-saudara dan putra dan putri, kata-kata ini, pertama-tama...
mohon dengarkanlah lagi, hari ini, di tempat suci ini, kata-kata yang
diucapkan Simon Petrus. Di dalam kata-kata ini ada iman Gereja.
Di dalam kata-kata yang sama itu ada kebenaran yang baru,
memang, kebenaran yang pokok dan pasti tentang manusia: Putra Allah
yang hidup – ‘Engkau yaitu Kristus, Putra Allah yang hidup.”149
Di dalam homilinya yang pertama sebagai ‘Paus’ pada tahun 1978, di dalam pidato yang sama ini yang
akan selamanya menandai permulaan pelayanan penggembalaannya, Minggu 22 Oktober 1978, Yohanes
Paulus II mengumumkan kepada dunia bahwa MANUSIA yaitu Kristus, Putra Allah yang hidup dari
Matius 16:16! Ia bahkan berkata bahwa hal ini yaitu ‘kebenaran yang baru’ – sebuah kebenaran baru
yang ia akan tunjukkan di sini. “Engkau yaitu Kristus, Putra Allah yang hidup”, diucapkan oleh St. Petrus
tentang Tuhan kita Yesus Kristus, yang merupakan kata-kata yang mengungkapkan kebenaran tentang
manusia, menurut Yohanes Paulus II. Hal ini sangatlah signifikan, sebab hal ini membuktikan
bahwa kata-kata Bunda Maria di La Salette telah menjadi kenyataan
Bunda Maria di La Salette, 19 September 1846:
“Roma akan kehilangan Iman dan menjadi takhta sang Antikristus... Gereja akan berada dalam
gerhana.”
Faktanya yaitu bahwa Yohanes Paulus II mengumumkan bahwa manusia yaitu Kristus di dalam
berbagai cara. Kadangkala dengan sangat halus dan pintar, namun di waktu yang lain, dengan sangat jelas
dan berani. Hal ini dibahas dengan rinci pada akhir buku ini, namun berikut yaitu beberapa kutipannya:
Yohanes Paulus II, Audiens Umum, 22 Februari 1984:
”...agar hati nurani dapat dibebaskan di dalam kebenaran yang penuh akan manusia, yang yaitu
Kristus, ‘damai dan ampun’ kepada semua orang.”150
Yohanes Paulus II, Homili, 17 Desember 1991:
“Saudara-saudari terkasih, lihatlah Kristus, Kebenaran akan manusia....”151
Yohanes Paulus II, Homili, 10 Desember 1989:
”...luruskanlah jalan Tuhan dan manusia....”152
274
Yohanes Paulus II, Homili, 10 Agustus 1985:
“Hari ini, sambil mengonsekrasikan katedral anda, kami berharap dengan besar bahwa ia
akan menjadi ‘bait sejati Allah dan manusia...’”153
Yohanes Paulus II, Homili, 25 Desember 1978:
“Natal yaitu perayaan manusia.’”154
Yohanes Paulus II, 25 Desember 2001:
”...marilah berhenti untuk menyembah di dalam gua, dan menatap Juru Selamat yang baru
lahir. Di dalam-Nya kita dapat mengenali wajah dari setiap anak kecil yang lahir...”155
Yohanes Paulus II, 25 Desember 1985:
“Apa itu rahmat? Rahmat secara tepat merupakan manifestasi dari Allah... Rahmat yaitu
Allah sebagai “Bapa kami.” Ia yaitu Putra Allah... Ia yaitu Roh Kudus... Rahmat juga,
yaitu manusia...”156
Yohanes Paulus II, 31 Maret 1991:
“Hendaknya rasa hormat untuk manusia menjadi penuh...Setiap pelanggaran kepada
pribadi yaitu pelanggaran melawan Allah...”157
Yohanes Paulus II, 24 Januari 2002:
“Untuk melanggar manusia yaitu , tentunya, melanggar Allah.”158
Yohanes Paulus II, Sambutan kepada Perwakilan Tunisia, 27 Mei 2004, hal. 8:
”...Dari sisinya, komunitas Katolik yang sederhana yang tinggal di Tunisia tidak memiliki
ambisi lain selain untuk menyaksikan martabat manusia...”159
‘Komunitas Katolik’ di Tunisia tidak memiliki ambisi lain selain menyaksikan martabat manusia? Lewat
pernyataan semacam itu, Yohanes Paulus II sekali lagi menunjukkan bahwa komunitas ‘Katolik’ di
Tunisia tidak memiliki keinginan untuk mengonversikan orang-orang non-Katolik lain, namun hanya
untuk menyaksikan martabat manusia.
Yohanes Paulus II, Homili, 24 Juni 1988:
”...Allah ingin menemukan di dalam manusia seluruh ciptaan...”160
Hal ini berarti di dalam manusia, seseorang dapat menemukan seluruh ciptaan.
Anti-Paus Yohanes Paulus II, Sambutan kepada para Misionaris Darah yang Berharga, 14
September 2001:
“Dan pada saat Paskah, sukacita ini sampai kepada kepenuhannya sewaktu terang kemuliaan ilahi
bersinar di wajah sang Tuhan yang Bangkit, yang luka-lukanya bersinar selamanya seperti
Matahari. Ini yaitu kebenaran akan siapa dirimu, Saudara-saudara terkasih...”161
Yohanes Paulus II, Redemptor Hominis, 4 Maret 1979:
“KENYATAANNYA, NAMA UNTUK KEKAGUMAN YANG DALAM AKAN NILAI DAN MARTABAT
MANUSIA yaitu INJIL, YANG BERARTI: KABAR BAIK. HAL ITU JUGA DIKENAL SEBAGAI
KEKRISTENAN.”162
Injil yaitu Yesus Kristus (Hidup dan Ajaran-Nya); itu yaitu agama dari iman dan moral yang Ia
wahyukan kepada dunia. Dengan berkata bahwa Injil Kabar Baik dan Kekristenan yaitu ‘kekaguman
275
akan manusia’, seseorang menyamakan manusia dengan Yesus Kristus; namun ini yaitu alasan yang
persis mengapa Yohanes Paulus II mengatakannya dan itulah yang dilakukannya.
Galatia 1:8: “namun sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada
kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.”
Yohanes Paulus II terkutuk. Ia mewartakan sebuah Injil baru, bukan tentang Yesus Kristus, namun tentang
manusia di tempat Kristus – Injil Antikristus.
Paus Pius X, E Supremi Apostolatus, 4 Oktober 1903:
”...tanda yang khas milik Antikristus, manusia dengan kelancangan yang tidak terbatas
menempatkan dirinya sendiri di tempat Allah...”163
Yohanes Paulus II membawa ‘Salib yang Patah’
Paulus VI, Yohanes Paulus I, Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI membawa salib yang hanya
dimengerti beberapa orang– salib yang patah atau yang melengkung di mana Tubuh Kristus
dipampangkan dengan bentuk yang mengerikan. Salib yang melengkung atau patah ini digunakan oleh
para penyihir hitam atau para ahli ilmu gaib di abad keenam untuk melambangkan istilah Kitab Suci
‘tanda binatang’. Para Satanis di abad kelima dan keenam, serta para penyihir hitam dan ahli ilmu gaib di
Abad Pertengahan (476-1453), memakai bentuk-bentuk ini untuk melambangkan kebencian
mereka untuk Kekristenan. Fakta bahwa salib yang patah digunakan untuk tujuan-tujuan gaib dapat
dilihat di dalam Museum Ilmu Sihir di Bayonne, Prancis.164
276
Kesimpulan-kesimpulan tentang Yohanes Paulus II
Lalu pertanyaan yang harus ditanyakan semua orang yang mengaku diri Katolik kepada diri mereka
sendiri yaitu sebagai berikut: apakah Yohanes Paulus II kepala Gereja Katolik? Atau apakah Yohanes
Paulus II bagian dari sebuah agama yang berbeda? Jika Yohanes Paulus II bagian dari agama yang
berbeda – dan siapakah yang berani menentang hal ini sesudah melihat bukti yang tidak terpungkiri dan
sangat banyak yang kami sudah sajikan? – maka ia tidak dapat menjadi kepala dari Gereja Katolik.
St Fransiskus de Sales, Doktor Gereja:
“Memang yaitu salah satu monster teraneh yang kita dapat lihat – jika kepala dari Gereja
bukanlah bagian dari Gereja.”165
Kami telah membuktikan bahwa Yohanes Paulus II yaitu bidah terang-terangan. sebab ia yaitu
seorang bidah, ia tidak dapat menjadi seorang Paus yang terpilih secara sah. Ia yaitu seorang Anti-
Paus non-Katolik. Seperti yang telah dikutip sebelumnya, Paus Paulus IV mengajarkan dengan khidmat
hal ini di dalam Bullanya di tanggal 15 Februari 1559, Cum ex Apostolatus officio, yaitu tidaklah mungkin
bagi seorang bidah untuk menjadi Paus yang terpilih secara sah.
17. Revolusi Protestan dari Sekte Vatikan II:
Deklarasi Gabungan Tahun 1999 bersama
Para Lutheran tentang Doktrin Pembenaran
Persetujuan Vatikan-Lutheran tentang Pembenaran, 31 Oktober 1999:
“#13. SEHUBUNGAN DENGAN PERMUFAKATAN INI, PENGUTUKAN DOKTRIN DARI ABAD KE-16
TIDAK BERLAKU KEPADA PARTNER HARI INI.”1
Dengan persetujuan Yohanes Paulus II, pada tanggal 31 Oktober 1999, ‘Kardinal’ Edward Cassidy dan
‘Uskup’ Lutheran Christian Krausse menandatangani Deklarasi Gabungan tentang Doktrin Pembenaran di
Augsburg, Jerman
Pada tanggal 31 Oktober 1999, Vatikan di bawah Yohanes Paulus II menyetujui sebuah deklarasi
Gabungan dengan Para Lutheran tentang doktrin Pembenaran. Ide bahwa para Katolik dapat bersetuju
akan sebuah deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang doktrin pembenaran seharusnya
langsung terlihat oleh sang Katolik sebagai suatu hal yang absurd sebab orang-orang Katolik diwajibkan
percaya akan ajaran dogmatis Konsili Trente, sedangkan para Lutheran menolak ajaran dogmatis dari
Konsili Trente.
Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 6, Tentang Pembenaran, Pengantar:
”...Sinode kudus ekumenis dan umum Trente secara hukum bergabung dalam Roh Kudus...
para kardinal dari Gereja Roma yang Kudus dan para wakil apostolik a latere, memimpin... tujuan
untuk menguraikan kepada semua umat Kristus yang beriman doktrin yang sejati dan
menyelamatkan tentang pembenaran, yang sang ‘surya kebenaran’ (Mal. 4:2), Kristus
Yesus, ‘yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada
kesempurnaan’ (Ibr 12:2) ajarkan, yang disampaikan para Rasul, dan yang Gereja Katolik,
di bawah dorongan Roh Kudus, selalu jaga...”2
284
Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 6, Bab 16:
“sesudah menunjukkan doktrin Katolik tentang pembenaran – yang, kalau tidak diterima
dengan setia dan teguh, tidak seorang pun dapat dibenarkan – Sinode kudus ini menilai baik
untuk menambahkan kanon-kanon ini agar semua orang dapat mengetahui, bukan hanya apa
yang mereka harus pegang dan ikuti, namun juga apa yang mereka harus elakkan dan hindari.3
Jelas saja, satu-satunya persetujuan yang dapat dicapai yaitu yang di mana para Lutheran menolak
bidah mereka dan menerima dogma Katolik. namun , hal ini bukanlah apa yang Deklarasi Gabungan
dengan Para Lutheran – yang disetujui oleh Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI – setujui.
Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang Doktrin Pembenaran sangatlah sesat sampai hampir
tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkannya. Hal ini benar-benar menolak Konsili
Trente. sebab beberapa pembela sekte Vatikan II dan bahkan beberapa ‘tradisionalis’ telah
mengedepankan beberapa upaya yang sangat konyol dan tidak jujur untuk membela persetujuan ini,
kami akan secara singkat membahas mengapa dokumen ini sesat, dan mengapa dokumen ini
menolak sama sekali Konsili Trente, dan mengapa dokumen ini merupakan sebuah pernyataan
resmi oleh Yohanes Paulus II dan Benediktus XVI sendiri bahwa sekte mereka, sebenarnya, yaitu
sebuah ‘Gereja’ non-Katolik Protestan.
1) Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang Pembenaran, 31
Oktober 1999:
“#5. DEKLARASI GABUNGAN KINI... tidak membahas semua yang gereja
ajarkan tentang pembenaran; hal ini memang mencakup sebuah
persetujuan tentang kebenaran-kebenaran mendasar tentang doktrin
pembenaran dan MENUNJUKKAN BAHWA PERBEDAAN-PERBEDAAN
YANG MASIH ADA TIDAK LAGI MERUPAKAN ALASAN PENGUTUKAN
DOKTRIN.”4
Hal ini berarti bahwa perbedaan-perbedaan yang masih ada antara Lutheran dan Katolik tentang
Pembenaran – misalnya, fakta bahwa para Lutheran tidak menerima Dekret Konsili Trente sebagai
dogmatis bukan lagi alasan untuk pengutukan doktrin. Ini jelas-jelas BIDAH. Fakta yang sama bahwa para
Lutheran tidak menerima Dekret Konsili Trente tentang Pembenaran sebagai dogmatis yaitu alasan
untuk pengutukan doktrin mereka, seperti yang kita baru saja lihat.
2) Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang Pembenaran, 31
Oktober 1999:
“#41. Oleh sebab itu pengutukan doktrin dari abad ke-16 [yaitu Konsili
Trente], sejauh mana berhubungan dengan doktrin pembenaran, tampak di
dalam sebuah terang yang baru: Ajaran dari gereja-gereja Lutheran yang
disajikan di dalam Deklarasi ini tidak jatuh dalam pengutukan dari
Konsili Trente.”5
Hal ini berarti bahwa tidak satu pun dari ajaran para Lutheran di dalam Deklarasi Gabungan (DG)
ini dikutuk oleh Konsili Trente! namun di dalam DG, selain bidah-bidah lain yang diajarkan oleh
285
para Lutheran (seperti yang kita akan lihat), gereja-gereja Lutheran mengajarkan bidah Pembenaran
lewat ‘iman saja’, yang dikutuk oleh Konsili Trente kira-kira 13 kali!
Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang Pembenaran:
“26. Menurut pengertian Lutheran, Allah membenarkan para pendosa di dalam iman saja (sola
fide).6
Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 6, Bab 10, ex cathedra:
“’Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan sebab perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya
sebab iman.’ (Yak.2:24).”7
Maka, pernyataan di dalam #41 dari DG berarti bahwa sisi ‘Katolik’ setuju bahwa semua kanon-kanon
dan dekret-dekret dogmatis di Trente yang mengutuk iman saja telah dilengserkan, dan ‘iman saja’ tidak
lagi berlawanan dengan ataupun dikutuk oleh Trente. Tidak ada bidah lain yang lebih formal dari
hal ini.
3) Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran tentang Pembenaran, 31
Oktober 1999:
“#13. SEHUBUNGAN DENGAN PERMUFAKATAN INI, PENGUTUKAN
DOKTRIN DARI ABAD KE-16 TIDAK BERLAKU KEPADA PARTNER HARI
INI.”8
Hal ini sekali lagi berarti bahwa fakta bahwa para Lutheran tidak menerima Dekret Konsili Trente
tentang Pembenaran secara total tidaklah sesat, suatu hal yang merupakan penolakan dari Konsili
Trente. Konsili Trente mengutuk sebagai bidah siapa pun yang tidak menerima semua ajarannya, seperti
yang kita telah lihat di atas.
Maka, janganlah tersesatkan oleh para pembohong yang mencoba meyakinkan orang-orang bahwa DG
tidak benar-benar menolak Konsili Trente, atau bahwa “hal ini lebih rumit dari itu.” Orang-orang ini
digunakan oleh Iblis untuk membela sekte murtad Vatikan II. Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran
tentang Doktrin Pembenaran menolak sama sekali Konsili Trente yang dogmatis. Siapa pun yang menolak
hal ini yaitu seorang pembohong.
BEBERAPA BIDAH LAIN DI DALAM DEKLARASI GABUNGAN
Bahkan, di samping ‘iman saja’ ada setumpuk bidah lain di dalam DG yang secara khusus dikutuk
oleh Trente. Lihatlah artikel yang lebih panjang di dalam situs kami Joint Declaration with the Lutherans
on Justification jika anda ingin semua rinciannya yang mencengangkan. DG ini memuntahkan
berbagai bidah. Berikut yaitu beberapa bidahnya yang lain:
Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran: “21. Menurut ajaran Lutheran, manusia tidak
sanggup bekerja sama di dalam keselamatan mereka, sebab sebagai para pendosa, mereka
secara aktif melawan Allah dan tindakan-Nya yang menyelamatkan.”9 BIDAH YANG DIKUTUK
TRENTE!
Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 6, Kanon 4:
“Jika seseorang berkata bahwa kehendak bebas manusia yang digerakkan dan didorong
oleh Allah tidak bekerjasama dengan cara bersetuju kepada Allah yang mendorong dan
memanggil, di mana kehendak bebas ini mempersiapkan dirinya untuk mendapat
286
rahmat pembenaran, dan bahwa ia tidak dapat menolak, jika ia ingin menolak, namun layaknya
sesuatu yang tidak bernyawa, ia tidak melakukan apa pun dan hanyalah sekedar berada di dalam
keadaan yang pasif, terkutuklah dia.”10
Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran: “23. ...Para Lutheran... sedangkan itu, mereka berniat
mengungkapkan bahwa pembenaran tidaklah dipengaruhi oleh kerjasama manusia dan tidak
bergantung kepada hasil dari rahmat yang memperbarui hidup di dalam manusia.” – BIDAH YANG
DIKUTUK TRENTE!
Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 6, Kanon 1:
“Jika seseorang berkata bahwa manusia dapat dibenarkan di depan Allah lewat
perbuatannya sendiri yang dilakukan lewat kekuatan alamiahnya ataupun lewat ajaran Hukum,
dan tanpa rahmat ilahi lewat Kristus Yesus, terkutuklah dia.”11
Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran: “29. Para Lutheran mengerti keadaan seorang
Kristiani ini sebagai ‘pada waktu yang sama benar {righteous} dan pendosa.’ Para umat beriman
sungguhlah benar, sebab Allah mengampuni dosa-dosa mereka lewat Sabda dan Sakramen dan
memberi kebenaran dari Kristus yang mereka dapatkan di dalam iman. Di dalam Kristus, mereka
dibuat benar di depan Allah. namun , sewaktu mereka melihat diri mereka sendiri dari sudut pandang
hukum, mereka mengakui bahwa mereka tetap pendosa.”12 – BIDAH YANG DIKUTUK TRENTE!
Bidah ini juga disebut ‘simul justus et peccator’ (pada waktu bersamaan baik dan berdosa) dan
merupakan salah satu kesukaan Martin Luther. Hal ini dikutuk dengan dashyat oleh Trente di
dalam dua bagian berikut:
Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 5:
“Jika seseorang menolak bahwa lewat rahmat dari Tuhan kita Yesus Kristus, yang diberikan di
dalam pembaptisan, kesalahan dari dosa asal diampuni, atau bahkan menyatakan bahwa
keseluruhan dari sifat yang sejati dari dosa tidaklah dihapuskan, namun berkata bahwa hal
ini hanya tersentuh atau tidak diperhitungkan, terkutuklah dia.”13
Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 5:
“sebab Allah tidak membenci sama sekali mereka yang terlahir kembali [Dibenarkan], sebab
‘tidak ada penghukuman’ (Rom. 8:1) untuk mereka yang sungguh dikuburkan bersama-sama
dengan Dia oleh baptisan dalam kematian (Rom. 6:4), yang tidak lagi ‘hidup menurut daging’
(Rom. 8:5), namun yang dengan ‘menanggalkan manusia lama’ (Ef. 4:22, Kol 3:9) dan mengenakan
‘yang baru yang telah diciptakan menurut kehendak Allah’ (Ef 4:24), dibuat tidak bersalah,
tidak bernoda, murni, tidak berdosa, dan menjadi anak-anak Allah yang terkasih, ‘ahli waris,
maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya
bersama-sama dengan Kristus’ (Rom. 8:17), sehingga tidak ada sesuatu pun yang dapat
menghambat mereka untuk masuk Surga.”14
Deklarasi Gabungan dengan Para Lutheran: “29...para Lutheran berkata bahwa orang-orang
yang dibenarkan juga merupakan pendosa dan permusuhan mereka dengan Allah yaitu
sungguh-sungguh dosa, mereka tidak menolak hal ini , walaupun mereka berdosa, mereka
tidak terpisahkan dari Allah dan hal ini yaitu dosa yang ‘sudah terkalahkan’.”15 – BIDAH YANG
DIKUTUK TRENTE
287
Paus Paulus III, Konsili Trente, Sesi 6, Bab 15:
”...doktrin tentang hukum ilahi yang mengecualikan dari Kerajaan Allah bukan hanya orang-orang
yang tidak beriman, namun juga orang-orang yang beriman yang juga orang cabul, penyembah
berhala, orang yang berzina, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan
penipu (1 Kor. 6:9), dan semua orang lain yang melakukan dosa berat, yang dapat dihindari
dengan bantuan rahmat ilahi dan yang menyebabkan mereka terpisah dari rahmat Allah.”16
Ingat bahwa semua ajaran Lutheran ini yang ada di dalam Deklarasi Gabungan – yang terang-
terangan sesat dan jelas-jelas dikutuk oleh Konsili Trente – dinyatakan tidak terkutuk oleh Trente di #41
dari Deklarasi Gabungan!
Kami dapat terus melanjutkan hal ini, namun apa yang sudah kami bahas di atas cukup untuk menegaskan
poinnya.
Beberapa pembohong yang mencoba mengecilkan pentingnya DG ini telah mencoba untuk menipu
pembaca dan pendengar mereka dengan mengatakan bahwa kedua dokumen lain yang menyertai DG
sebetulnya menjelaskan semuanya. HAL INI yaitu OMONG KOSONG! Kedua dokumen lain yang
menyertai DG: 1) Pernyataan Umum Resmi oleh Federasi Lutheran Se-Dunia dan Gereja Katolik serta 2)
Lampiran Pernyataan Umum Resmi menegaskan semua yang ada di dalam DG. Mereka tidak
menentang bidah DG sama sekali, namun mengulanginya, seperti yang kita lihat di sini:
Pernyataan Umum Resmi, #1 (bagian dari Deklarasi Gabungan): “Atas dasar persetujuan ini,
Federasi Lutheran Se-Dunia dan Gereja Katolik menyatakan bersama: ‘Ajaran dari Gereja-
gereja Lutheran yang disajikan di dalam Deklarasi tidak jatuh di bawah kutukan-kutukan
Konsili Trente. Kutukan-kutukan di dalam Iman Lutheran tidak berlaku untuk ajaran Gereja
Katolik Roma yang disajikan di dalam Deklarasi ini (DG #41).’”17
Selanjutnya, Lampiran Pernyataan Umum Resmi malah lebih parah dari DG itu sendiri dan
mengakui iman di dalam pembenaran lewat iman saja dari pihak ‘Katolik’!
Lampiran Pernyataan Umum Resmi, #2, C [Pihak ‘Katolik’ dan pihak ‘Lutheran’ bersama-
sama]: “Pembenaran terjadi lewat rahmat saja, lewat iman saja, seseorang dibenarkan bukan
dari perbuatan-perbuatan.”18
Mohon dimengerti: ‘Lampiran’ ini yaitu bagian dari Deklarasi Gabungan yang dikatakan oleh para
pembela sekte Vatikan II menjelaskan segalanya dan ‘membuat hal ini dapat diterima’! Mereka
berkata bahwa Lampiran ini membuat semua hal di dalam DG sesuai dengan ajaran Katolik. Benar
benar suatu kebohongan! Di dalam kutipan berikut, kita melihat seorang pembela sekte Vatikan II
mencoba memakai argumen ini. Para pembela Novus Ordo/Vatikan II yang mencoba memakai
argumen macam ini berpikir atau berharap bahwa orang yang berbicara dengan mereka tentang hal ini
tidak tahu akan kedua dokumen penyerta ini (Lampiran dan Pernyataan Umum Resmi) – agar
mereka dapat membuat sebuah kesan palsu bahwa kedua dokumen ini mengurangi atau
menjelaskan bidah-bidah di dalam Deklarasi Gabungan. Mereka berharap bahwa orang yang lain, yang
tidak mengenal kedua dokumen ini , tidak dapat menjawab. namun argumen ini tidak berhasil
dengan mereka yang akrab dengan kedua dokumen ini .
288
Leon Surprenant, Presiden dari Catholics United for the Faith, kepada MHFM, untuk membela DG,
20 Januari 2005:
”...seseorang harus membaca Pernyataan Umum Resmi dan “Lampiran Katolik” yang
diterbitkan bersama untuk mendapat pengertian yang cukup tentang posisi Gereja
akan DG. (Beri tahu saya bila anda memerlukan kopi dari kedua dokumen ini ).”19
Seperti yang kita lihat di sini, ia mencoba untuk menjawab bidah-bidah yang kami kutip di dalam
Deklarasi Gabungan dengan mengatakan bahwa Lampiran dan Pernyataan Umum Resmi membuat DG
dapat diterima. namun , seperti yang kami tunjukan, hal ini omong kosong. Lampiran dan Pernyataan
Umum Resmi menegaskan apa yang ada di dalam DG. Juga, Lampiran menyatakan bahwa para ‘Katolik’
bukan hanya menerima iman saja sebagai hal yang tidak berlawanan dengan Trente (seperti yang
dikatakan DG), namun para Katolik sendiri percaya akan iman saja! Jika, seperti yang ia katakan, Lampiran
ini diperlukan untuk mengerti apa yang diajarkan DG, maka ia mengakui bahwa ia percaya akan
Pembenaran lewat iman saja.
Pendek kata, upaya untuk membela DG dengan membuat rujukan-rujukan kepada kedua dokumen yang
lain yang menyertainya sama sekali salah, dan untuk mereka yang mengenal fakta-faktanya, hal ini
yaitu kebohongan yang memalukan.
Terlebih lagi, bahkan jika Lampiran ini tidak menyatakan bidah yang keji tentang Pembenaran
lewat iman saja dari pihak Katolik, hal ini sama sekali tidak berpengaruh sebab semua bidah yang
dicatat di atas – dari pihak Lutheran mauun dari pihak ‘Katolik’ di dalam DG – telah diterima sebagai
tidak terkutuk oleh Konsili Trente. Selanjutnya, seperti yang dibuktikan poin pertama artikel ini, DG
ini berkata secara spesifik






