ngan tersenyum dia menjawab salamnya. Dia
selanjutnya berlutut di hadapan orang ini . Lalu dia menceritakan sesuatu kepada
orang ini sambil menunjuk ke arah saya. Saya mengetahui bahwa dia
memandang saya dari kejauhan, dan saya mengetahui bahwa dia sedang
menceritakan tentang hal ikhwal saya kepada orang ini . Tidak lama lalu
syeikh itu berdiri dan memberi isyarat kepada saya. “Orang yang duduk di sana
yaitu Sayidina Ali ra. Kamu dengarkan baik-baik dan perhatikan apa yang akan
beliau katakan,” dia memperingatkan saya. Lalu kami masuk dan saya mengucapkan
salam kepada beliau. Orang yang wajahnya bersinar itu berkata, “Jangan sekali-kali
kamu mempunyai perasaan dendam dan benci di dalam hatimu terhadap para
shahabat Rasulullah saw.! Jangan sekali-kali kamu merasa sakit hati kepada salah
seorang dari orang-orang mulia itu! Kami dan saudara-saudara kami itu mengetahui
niat dari perbuatan-perbuatan yang kami lakukan yang tampak dari luar seakan-akan
seperti perang.” lalu sambil menyebut nama sang syeikh, beliau melanjutkan,
“dan jangan sekali-kali menentang tulisan-tulisannya!” sesudah mendengar
nasihatnya, saya memeriksa batin saya, dan saya menemukan permusuhan yang saya
rasakan selama ini terhadap orang-orang yang melakukan apa yang disebutnya
perang, masih hinggap di dalam batin saya. Dia mengetahui keadaan saya yang
demikian itu, dan dia tampak marah. Sambil memandang sang syiekh, beliau berkata,
“Hatinya perlu dibersihkan lagi. Tampar mukanya!” Lalu sang syeikh menampar
muka saya, yang membuat saya berpikir, “Kecintaan saya kepada orang ini-lah (Ali
ra. pent.) yang membuat saya membenci kepada orang-orang itu (musuh-musuh Ali
ra. pent). Dan sekarang beliau benar-benar merasa sakit hati akibat perasaan dendam
saya kepada mereka. Beliau ingin menghilangkan perasaan dendam itu dari hati saya.
Sehingga saya harus menghilangkan perasaan dendam ini dari diri saya!” saat saya
memeriksa batin saya sekali lagi, saya menemukan bahwa batin saya telah bersih dari
sifat permusuhan dan dendam. Pada saat itulah saya bangun. Sekarang hati saya
benar-benar telah bersih dari perasaan dengki kepada mereka. Nilai spiritualitas yang
saya peroleh melalui mimpi dan nasihat ini telah menciptakan transformasi
batin yang luar biasa di dalam diri saya. Sekarang hati saya tidak lagi memiliki cinta
selain kepada Allah, dan saya lebih yakin kepada sang syeikh itu dan ma’rifat yang
ada di dalam tulisan-tulisannya.
Di akhirat kelak, seseorang tidak akan dianggap bersalah dan berdosa
disebabkan dirinya tidak mengutuki orang lain, atau disebabkan sebab menutup
mulut seseorang di dunia.
Kita tidak diperintahkan untuk mengutuki atau menyumpahi seseorang,
walaupun terhadap orang-orang kafir yang menyakiti dan menyiksa Guru kita
Fakhrul Kainat Muhammad saw. dan para shahabat beliau selama tiga belas tahun,
juga tidak kepada lima atau enam orang yang sangat kejam yang menjadi pemimpin
mereka. Bahkan kepada orang-orang yang sangat biadab sekali pun, yang telah lama
dilupakan oleh orang, kecuali kepada Abu Jahal. Islam tidak memerintahkan kepada
manusia untuk mengutuki dan mencaci orang yang beragama di dunia ini. jika
seseorang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, maka dia tidak
akan dimintai pertanggungan jawab disebabkan sebab dirinya tidak mengutuki
manusia yang jahat sekali pun saat hidup di dunia. Dia juga tidak akan dituduh
telah bersekutu dengan manusia yang jahat itu. Sebaliknya, jika seseorang
mengabaikan perintah Allah dan mengutuki manusia yang jahat beratus kali setiap
hari, maka dia akan dimintai pertanggungan jawab di akhirat kelak, dan kutukannya
terhadap manusia jahat itu tidak akan dapat menyelamatkan dirinya dari siksa
neraka. sebab orang ini tidak dianggap sebagai musuh dari orang jahat itu,
namun justru sebagai salah seorang dari teman dia. Oleh sebab nya, mengutuki orang
ini atau orang itu untuk membuktikan bahwa seseorang benar-benar mencintai Ahlul
Bayt, maka tindakan seperti itu sangat tidak masuk akal dan perbuatan yang sia-sia
jika dilihat dari sudut pandang ajaran Islam.
Nadzir Syah, -Raja Iran-, yang naik tahta pada tahun 1148 H berhasil
menguasai Delhi di India pada tahun 1152 H/1739 M. Dia berusaha menguasai
Baghdad. Akan namun , dia mati terbunuh dalam sebuah pemberontakan yang terjadi
pada tahun 1160 H. Pada saat Nadzir Syah melakukan pengepungan terhadap kota
Baghdad, dia mengundang para ulama Sunni dan Syi'ah dalam sebuah rapat, dan
menunjuk Abdullah bin Husein Suwaydi ra. [lahir tahun 1104 H, wafat pada tahun
1174 H/1760 M] untuk memimpin rapat ini . Di dalam rapat diputuskan untuk
mengeliminir perbedaan-perbedaan kepercayaan yang terjadi di kalangan muslim
Sunni dan Syi'i. Keputusan ini ditandatangani oleh seluruh ulama yang hadir
pada pertemuan ini . Akan namun , sesudah Nadzir Syah meninggal dunia, upaya
itu tinggal ada di atas kertas. Pada point ini saya ingin menyampaikan sebuah
peristiwa berkaitan dengan masalah ini :
Nadzir Syah pernah mengajukan pertanyaan kepada ulama-ulama Syi'i,
“Apakah orang-orang Yahudi, Kristen dan Magian (orang-orang kafir yang tidak
memiliki kitab samawi, seperti orang komunis dan freemason) akan masuk surga
atau neraka?” Mereka sepakat berpendapat, bahwa orang-orang kafir ini akan
masuk neraka. saat Nadzir Syah bertanya, akan masuk ke mana orang-orang Islam
Sunni, mereka menjawab, “Mereka akan masuk neraka.” Jawaban ini membuat
Nadzir Syah marah. Dia berkata, “Apakah Allah menciptakan delapan surga hanya
untuk sekelompok orang Iran saja?”
Pada tahun 1282 H/1866 M, al-faqir ini (Utsman Efendi) menunaikan
ibadah haji. Di perjalanan saya bertemu dengan seorang ulama yang berasal dari Iran
bernama Hasan Efendi. Saya berkata kepada dia, “Para Shahabat yaitu manusia-
manusia terpuji, sebagaimana banyak dijelaskan oleh hadits Nabi saw. Namun,
ada sebuah pertanyaan berkaitan dengan masalah ini, yaitu mengapa anda
memusuhi mereka. Bahkan mengutuki mereka semua?” Dia menjawab, “Saya tidak
memusuhi mereka. Namun, menurut keyakinan mayoritas orang Syi'ah, Abu Bakar
ra. telah merampas kekhalifahan dari Imam Ali ra., dan para shahabat mendukung
tindakan Abu Bakar ini sehingga mereka murtad.” Berkaitan dengan jawaban
ini, saya bertanya kembali, “Apakah Guru kita Rasulullah saw. tidak mengetahui
bahwa pada suatu saat orang-orang ini akan murtad, padahal beliau memuji dan
menyanjung mereka?” Dia menjawab, “Beliau tidak mengetahui jika mereka
akan demikian akhirnya. jika beliau telah mengetahui hal ini , tentu beliau
tidak akan memuji mereka, justru akan mengutuki mereka.” lalu saya bertanya
lagi, “Allah swt memuji para shahabat di dalam beberapa ayat Al Qur'an. Apakah
Allah tidak mengetahui juga ?” Ulama Syi'ah itu tidak bisa menjawab pertanyan saya
ini. Saya melanjutkan pertanyaan, “Apakah tindakan seperti itu tidak berarti
pencemaran terhadap nama baik Sayidina Ali ra. dengan mengatakan bahwa dia
berambisi mengejar kedudukan duniawi?” Dia menjawab, “Persaingan yang terjadi
antara Sayidina Ali ra. dengan para shahabat tidak dapat diartikan sebagai ambisi
mengejar jabatan duniawi. Guru kita Fakhrul Kainat telah berwasiat, bahwa Sayidina
Ali ra. kelak akan menjadi khalifah. Para shahabat menjadi murtad disebabkan
mereka telah melanggar wasiat ini. Sayidina Ali ra. memerangi mereka semata-mata
sebab menjalankan perintah Rasulullah saw. ini ”. Berkaitan dengan jawaban
ini saya balik bertanya : “Orang-orang Syi’ah juga banyak melakukan pelanggaran
terhadap perintah Rasulullah saw. Mereka banyak membuat bid’ah. Dan sangat
bertentangan dengan ayat Al Qur’an. Jika mereka mengetahui hal ini , tentu
mereka akan menghentikan perbuatan mereka, artinya mereka wajib mengakui
superioritas dan kemampuan kasyaf dan keramat Sayidina Ali, Fatimah, dan para
shahabat lainnya.
Sayid Abdul Qadir Ghaylani [lahir pada tahun 471 H, wafat di Bagdad
pada tahun 561 H (bertepatan dengan tahun 1166 M), -salah seorang keturunan Ali
ra. dan salah seorang wali agung-, menulis di dalam artikel nya berjudul Ghunyat al-
Talibin : “Menurut orang-orang Syi'ah’ (Shiites), kekhalifahan merupakan hak
istimewa (exclusive right) bagi Imam Duabelas. Mereka yaitu orang-orang yang
terpuji. Mereka tidak pernah berbuat dosa. Mereka benar-benar memiliki kasyaf dan
karamah. Mereka mengetahui segala sesuatu yang telah dan yang akan terjadi.”
Sebaliknya, bertentangan dengan kepercayaan ini di atas mengatakan, bahwa
Ali ra., -sebagaimana dikatakan mereka-, mengetahui segala sesuatu sampai kepada
jumlah butir-butir pasir (di laut), akan namun dia tidak mengetahui, bahwa memilih
Abu Bakar ra. akan memicu berjuta-juta orang Islam tersesat dari kebenaran.
Kami telah menjelaskan secara singkat mengenai kekhalifahan Umar ra.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa bagi Umar kekahlifahan ini pada hakikatnya
menjadi beban sangat berat bagi dirinya. Sekarang, akan lebih bijaksana bagi seorang
muslim, apakah merasa menyesal sebab orang-orang Islam lain tidak memilih
dirinya dan memusuhi mereka sebab alasan ini di atas, atau rela sebab
dirinya tidak memikul beban yang berat ini sebagaimana yang dipikul oleh
Umar ra.? Seandainya dirinya mengetahui, bahwa permusuhan dirinya akan
menimbulkan pertikaian dan fitnah di antara orang-orang Islam sampai kiamat, tentu
dirinya mendukung kekhalifahan ini dengan memilih Umar ra. secara suka rela.
Ayat keseratus delapan puluh lima surat Ali Imran dan ayat kedua puluh
satu surat al-Hadid menjelaskan, “Kehidupan dunia hanya akan memperdayakan
manusia”. Ayat ketujuh puluh dua surat al-An’am menjelaskan, “ Kehidupan dunia
hanyalah kesenangan dan permainan belaka. Bagi mereka yang takut kepada Allah,
kehidupan akhirat jauh lebih baik. Mengapa kamu tidak menyadari hal yang
demikian?” Ayat kedua puluh delapan surat al-Anfal dan ayat kelima belas surat al-
Taghabun menjelaskan, “ Ketahuilah, bahwa harta benda dan anak-anakmu
hanyalah ujian bagi kamu. Allah akan memberi kamu balasan (pahala) yang lebih
baik atas segala kebaikanmu”. Ayat ketiga puluh delapan surat al-Taubah
menjelaskan, “Apakah kamu lebih menyukai kehidupan dunia ini dari pada akhirat?
Keuntungan yang didapat di dalam kehidupan dunia ini jauh lebih sedikit dari pada
yang dijanjikan di akhirat.” Ayat empat puluh enam surat al-Kahfi menjelaskan,
“Harta benda dan anak-anak cucu yaitu perhiasan dunia. Pahala (yang diberikan)
atas amal baik dan yang kekal abadi lebih baik di sisi Allah (Rabb).” ada enam
puluh enam ayat senada lainnya yang memperingatkan munculnya hasrat kepada
jabatan duniawi dan harta benda. Tidak terhitung jumlah hadits yang menekankan
persoalan penting ini . Di antaranya, sebuah hadits qudsi yang menegaskan,
“Wahai anak Adam! Kamu telah menghabiskan umurmu dengan menyimpan harta
benda dunia. Kamu tidak pernah mengharapkan surga”. Tentunya Ali ra. yang
menjadi pintu gerbang kota ilmu, dan Fatimah az-Zahra wanita yang memiliki
martabat sangat tinggi, lebih mengetahui ayat-ayat ini dari pada orang lain.
Apakah kita patut menduga dan menyangka bahwa mereka menyesali harta dunia
atau bertikai hanya sebab persoalan harta dunia semisal kebun kurma?
Di dalam benak kita muncul sebuah pertanyaan : Penderitaan yang
dialami, dan permusuhan di antara mereka, yaitu Ali dan Fatimah az-Zahra di satu
pihak, dan Abu Bakar ra. serta para shahabat dipihak lain, semata-mata bukan
disebabakan sebab kecintaan mereka kepada dunia. Akan namun , Abu Bakar ra. dan
Umar ra. telah berdosa sebab telah merampas hak kekhalifahan melalui kekuatan,
lalu mereka hendak bertobat dari dosa ini ?
Jawabannya yaitu : Di dalam ayat keseratus enam puluh empat surat al-
An’am dan ayat kelima belas surat al-Isra’ disebutkan, “Seseorang yang berdosa
tidak akan memikul dosa orang lain.” Seandainya, -meskipun tidak mungkin-, Abu
Bakar ra., Umar ra. dan sebagian besar shahabat Rasulullah saw. berdosa, maka dosa
ini tidak akan berdampak sama sekali terhadap Ali ra. berdasar makna ayat
di atas, dan sebab nya tidak seharusnya Ali ra. memerangi mereka. Mungkinkah Ali
ra. memulai perang yang memicu ratusan juta manusia masuk neraka?
Al-Faqir ini [maksudnya Utsman Efendi] suatu saat pernah bertanya
kepada salah seorang ulama Syi'ah, “Sayidah Fatimah menghina para shahabat ra.
disebabkan sebab mereka tidak memberikan kebun kurma miliknya, artinya dia
mencintai kesenangan dunia, -sesuatu yang tidak patut bagi seorang Fatimah ra.” Dia
menjawab, “Penghinaan yang dilakukan Fatimah ra. terhadap para shahabat bukan
semata-mata sebab kecintaan dia kepada dunia. Hal ini disebabkan dia tidak
setuju terhadap kezaliman yang mereka lakukan.” Dengan jawaban mengelak
ini , dia berarti menghina putri Rasulullah saw., yang suci. Barang siapa
mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan ajaran Islam dianggap sebagai sebuah
kezaliman, hanyalah perbuatan yang didasarkan kepada hawa nafsu amarah semata.
Oleh sebab itu, saya perlu mengklarifikasi fakta ini , dan menjelaskannya
sebagai berikut : Setiap orang yang mempelajari sejarah, tentu akan mengetahui
peristiwa berikut ini : Di dalam sebuah perang suci, Imam Ali ra. berhasil
merobohkan seorang kafir ke tanah dan memukulnya hingga nyaris tewas. saat itu
musuh yang sudah putus asa itu memuntahkan kotoran yang ada di mulut dan tepat
mengenai wajah Ali ra. Wajah beliau berlumuran kotoran, dan beliau pun
mengurungkan membunuh si kafir ini . lalu si kafir yang sudah frustrasi
itu merasa terkejut. “Mengapa kamu mengurungkan membunuh saya?” tanya dia.
“Apakah kamu takut?” Ali ra. justru membiarkan si kafir itu pergi, sambil berkata,
“Saya hendak membunuh kamu semata-mata sebab perintah Allah swt., yaitu kamu
memusuhi dan tidak mau masuk Islam serta memeranginya. Akan namun , sekarang
nafsu saya yaitu musuh kamu sebab perbuatan keji yang telah kamu lakukan
terhadap saya. Jika sekarang saya membunuh kamu, berarti saya telah
melakukannya atas dasar dorongan nafsu. Sehingga jika saya membunuh kamu,
berarti saya melakukan dosa dan bukan kebajikan.” Kata-kata Sayidina Ali ra.
ini menyadarkan si kafir ini akan keagungan ajaran Islam yang
ditunjukkan melalui sikap Imam Ali ra. lalu dia mengucapkan kalimat
syahadat dengan ikhlas. Dua manusia yang saling bermusuhan segera menjadi
saudara dan saling berpelukan.
Ibrahim bin Adham ra., salah seorang wali agung, dilahirkan di Belh
pada tahun 96 H, dan wafat di Damaskus pada tahun 162 H (bertepatan tahun 779
M), dulu beliau yaitu seorang raja Belh. Beliau meninggalkan singgasana kerajaan
dan pergi ke Mekkah al-Mukarramah. Beliau menjalani hidup dengan membawa
kayu bakar di punggungnya. Beliau berjuang melawan hawa nafsu hingga ajal
menjemputnya.
Fatih Sultan Muhammad Khan (Muhammad Sang Penakluk) ra., Raja
Utsmani ketujuh, dilahirkan pada tahun 833 H. Beliau berhasil menaklukkan Istanbul
dari Bizantium pada tahun 857 H (bertepatan tahun 1453 M) sehingga mengantarkan
sebuah era baru bagi Islam. Beliau wafat pada tahun 886 H. Ayahnya, Sultan Murad
II, Raja Utsmani keenam, dilahirkan pada tahun 806 H, wafat pada tahun 855 H
[bertepatan tahun 1451], dimakamkan di Bursa. Beliau menjadi Raja (Padisyah) pada
tahun 824 H. Pada tahun 847 H beliau meninggalkan tahta atas kerelaan sendiri dan
menyerahkan kepada putranya, lalu pergi menyendiri ke Maghnisa, di mana
beliau menghabiskan sisa hidupnya dengan menjalankan ibadah khalwat.
Sejarah mencatat, bahwa Sayidina Ali ra. dan Fatimah az-Zahra tidak
lebih rendah dari pada raja-raja yang disebutkan di atas dalam memandang dunia dan
dalam berjuang memerangi hawa nafsu. Sehingga sangat mustahil bagi seorang
muslim berpendapat bahwa mereka menderita, -apalagi menaruh dendam-, hanya
sebab keinginan untuk mendapat harta dan kedudukan dunia yang hina. Tidak
diragukan, bahwa fitnah-fitnah ini sengaja dihembuskan oleh seorang Yahudi
munafik, bernama Abdullah bin Saba’. Pada masa Utsman ra., si Yahudi ini
meninggalkan Yaman menuju Mesir, lalu ke Madinah, di mana dia bermukim
di sana dengan berpura-pura masuk Islam dan merusak Islam dari dalam.
Ayat keseratus tiga puluh tiga surat Ali Imran menjelaskan,
“Bersegeralah meminta ampunan dari Rabb-mu dan surga. Beramal-lah, untuk
mendapat nya! Surga itu luasnya seluas langit dan bumi, dan disediakan bagi
orang-orang yang bertakwa kepada Allah swt. Yaitu mereka yang memberikan
hartanya di jalan yang telah ditunjukkan oleh Allah tanpa menghiraukan apakah
mereka mempunyai harta sedikit atau banyak. Mereka tidak membiarkan orang lain
kelaparan. Mereka akan memaafkan siapa saja. Allah ta’ala mencintai orang-orang
yang berbuat baik lagi dermawan”. Ayat kesepuluh surat al-Hujurat menyebutkan,
“Orang-orang yang beriman yaitu saudara bagi lainnya. Damaikanlah di antara
saudaramu!” Di dalam Al Qur’an, ada kira-kira tiga puluh ayat senada lainnya
yang menegaskan, bahwa orang-orang beriman diperintahkan untuk tidak saling
bermusuhan, untuk berbuat baik dan dermawan kepada lainnya, dan untuk saling
memaafkan. Ditegaskan di dalam sebuah hadits, “Allah swt. akan menyayangi orang-
orang yang menyayangi orang lain. Dia Maha Penyayang. Sayangilah orang-orang
yang berada di bumi niscaya para Malaikat di langit akan menyayangi kamu”. Lima
puluh hadits senada lainnya memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk
menahan marah, berbuat baik dan dermawan serta mengajarkan hak dan kewajiban
kepada kita sebagai manusia.
Oleh sebab itu, sebagai konsekuensinya, jika Ali ra. dan Fatimah az-
Zahra ra. marah disebabkan oleh kepentingan duniawi atau kebun kurma, dan
memusuhi para shahabat ra. sepanjang hidup mereka dan tidak mau memaafkan
mereka, maka Ali ra. dan Fatimah ra. telah mengingkari ayat-ayat dan hadits-hadits
di atas. Apakah hal ini mungkin? Pandangan seperti ini hanya akan
merendahkan kehormatan dan kemuliaan mereka.
Untuk memelihara keagungan martabat kedua orang yang sangat dicintai
oleh Rasulullah saw. ini , dan kemungkinan adanya penodaan terhadap mereka,
para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menghindari pernyataan-pernyataan
absurd seperti itu tentang mereka, dan secara khusus memerintahkan ummat Islam
agar mencintai mereka, dengan mengatakan bahwa “Mencintai mereka akan
menjadikan seseorang meninggal dalam keadaan khusn al-khatimah (sebagai seorang
mukmin)”. Kecintaan yang dimiliki oleh golongan mana yang dipandang sejati
terhadap mereka ; apakah yang dianjurkan oleh orang-orang Syi'ah ataukah Alhus
Sunnah wal Jamaah? Seseorang yang memiliki akal sehat tentu akan dengan mudah
membedakan hal ini .
Ssebuah kenyataan yang telah diketahui umum, bahwa ummat
Muhammad saw. bersaudara dan saling mencintai satu sama lain. Sejarah menulis,
bahwa pada suatu hari Abdullah ibnu Umar ra. menghadap Rasulullah saw. Beliau
memuji serta menyanjung Abdullah dengan mengucapkan hadits berikut : “Pada
Hari Pengadilan kelak, setiap orang akan menerima artikel catatan amalnya masing-
masing, sesudah seluruh amalnya dihitung. Namun, Abddullah telah menerima artikel
catatan amalnya (saat dia) masih di dunia. saat ditanya mengapa demikian,
Rasulullah saw. menjawab, “Dia tidak hanya wara’ dan taqwa, namun juga
memanjatkan doa/permohonan berikut ini setiap kali dia berdoa : ‘Ya Rabb-ku!
Jadikanlah tubuhku ini menjadi besar pada Hari Pengadilan kelak sehingga aku
akan memenuhi neraka. Dan Janji-Mu untuk mengisi neraka dengan manusia akan
terpenuhi, sehingga tidak seorang pun dari ummat Muhammad saw. akan masuk
neraka.’ “ Doa ini menunjukkan, bahwa Abdullah lebih mencintai saudara-
saudara muslim lainnya dari pada dirinya sendiri. Disebutkan di dalam kitab
Manakib Khihar Yar Ghazin, bahwa Abu Bakar ra. juga memanjatkan doa seperti
doa yang dibaca oleh Abdullah di dalam shalat. Tidak diragukan lagi, jika
kecintaan Ali ra. terhadap orang-orang Islam jauh lebih besar dari pada Abdullah
ibnu Umar ra. Dan sangat tidak mungkin juga jika Ali ra. menunjukkan sikap
permusuhan yang memicu jutaan orang Islam kekal masuk di dalam neraka,
hanya sebab dirinya tidak diangkat menjadi khalifah.
Di dalam kitab berjudul Kimia Sa’adah yang ditulis oleh Imam al-
Ghazali, -juga di dalam kitab-kitab lainnya-, diterangkan sebuah peristiwa berikut :
Selama Perang Suci Tabuk, sekelompok shahabat terluka parah dan mereka sangat
membutuhkan air. Tiba-tiba ada seseorang datang dengan membawa sedikit air dan
menawarkaan kepada salah seorang di antara mereka. Mereka yang kehausan tidak
mengambil air ini akan namun justru menyuruh memberikan air ini kepada
saudara muslim lainnya yang sama-sama membutuhkannya. Oleh sebab itu, air
ini berlalu dari seorang shahabat yang satu ke shahabat yang lainnya, sehingga
mereka meninggal sebelum meminumnya. Demikianlah, kecintaan para shahabat
Rasulullah saw. kepada yang lainnya. Mungkinkah Imam Ali ra. (yang
mempertaruhkan nyawanya dalam seluruh Perang Suci ) dan Fatimah az-Zahrah, -
putri tercinta Rasulullah saw.-, memusuhi ketiga khalifah Nabi saw. dan kepada
sebagaian besar shahabat ra.? Pernyataan ini merupakan tuduhan keji dan kejam
yang dengan jelas diharamkan oleh Al Qur’an maupun al hadits, dan bukan
merupakan sebuah ungkapan penghargaan dan sanjungan kepada mereka. Imam Ali
ra. dan Fatimah az-Zahra yaitu manusia yang benar-benar suci dan bebas dari
perbuatan keji dan kotor seperti itu, maka sangat jelas bahwa tuduhan-tuduhan
seperti di atas merupakan kebohongan dan fitnah yang dihembuskan oleh musuh-
musuh Islam. Bagi mereka yang ingin mendapat informasi yang lebih rinci,
dipersilakan membaca bagian ke lima ( dari tulisan ini ) yang berjudul O My
Brother ; If You Wish to Die in Iman, You Should Love the Ahlul Bayt and the
Ashab [Bagian ini akan kami terjemahkan, Insya Allah].
Jariyah berkata ; “Pada saat Rasulullah saw. wafat, Ali ra. sibuk
mempersiapkan pemakaman beliau. saat itu, Abu Bakar ra. dan Umar al-Faruq ra.
serta lima sampai enam shahabat Anshar berkumpul di sebuah pemukiman milik
Bani Sakifa, dan membahas masalah kekhalifahan di antara mereka. Sambil
memegang tangan Abu Bakar ra., Umar ra. berkata : Engkau akan menjadi Khalifah,
dan orang lain tentu akan menyetujuimu’. Dengan menghunus pedang, Umar
menjelajahi jalan-jalan di kota Madinah selama tiga hari, dan menekan kepada setiap
orang yang ia temui untuk menyetujui kekhalifahan Abu Bakar ra. Pada hari kedua,
Ali ra. datang ke tempat pertemuan ini dan berkata, ‘Di antara kalian, aku-lah
yang paling cerdas, paling unggul, dan paling berani. Mengapa kalian merampas hak
kekhalifahanku?’ Dengan menyampaikan pernyataan-pernyataan seperti itu, dia
bermaksud mununtut haknya sambil mengajak dua puluh orang mengikuti dirinya.
Namun, pada akhirnya dia menyetujui kekhalifahan Abu Bakar ra. meskipun dengan
perasaan sangat terpaksa”.
Akan namun , fakta yang sebenarnya ialah : saat Rasulullah saw. wafat
semua shahabat merasakan kesedihan yang sangat mendalam, sehingga mereka tidak
mengetahui apa yang mesti mereka lakukan. Kesedihan itu begitu menyakitkan,
sehingga sebagian mereka merasa kaku, tubuh mereka merasa sangat lemah dan
mereka tidak kuasa beranjak pergi. Kesedihan yang begitu mendalam juga menimpa
diri Ali ra., sehingga dia tidak mengetahui apa yang mesti dilakukan berkaitan
dengan kewafatan Rasul saw. Sayidina Umar ra. merasa sangat bingung sehingga
dia mengambil pedang dan berjalan tidak tentu arah sambil berteriak, ‘Saya akan
memenggal kepala siapa saja yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. telah
meninggal dunia.’ Orang-orang munafik yang dengki, justru mencoba
mengeksploitir kebingungan ini . Melihat kegalauan itu, Abu Bakar ra. masuk
ke Masjid dan naik ke atas mimbar, lalu beliau berpidato : “Wahai para shahabat
Rasulullah saw.! Kita semua menyembah Allah swt. Dia selalu hidup, Dia tidak
akan pernah mati, Dia tidak akan pernah sirna. Ayat ketiga belas surat al-Zumar
menjelaskan, ‘Wahai Nabi-Ku tercinta! Suatu saat kamu pasti akan mati. Mereka
juga pasti akan mati.’ Sebagaimana ditegaskan oleh Allah swt., Rasulullah saw. telah
meninggal dunia.” Melalui pernyataan-pernyataan yang efektif ini , beliau
memberi nasihat kepada para shahabat yang sedang dalam kebingungan. Pidatonya
itu menghapuskan kebingungan di antara para shahabat dan membuat mereka sadar.
Sayidina Umar ra. yang juga turut berada di antara mereka berkata sesudah
mendengar ayat yang baru saja dibacakan oleh Abu Bakar ra. di atas, “Saya benar-
benar lupa akan ayat ini, sehingga saya pikir ayat ini yaitu wahyu yang baru saja
diturunkan.” Abu Bakar ra. bersikap bijaksana dalam menghadapi sikap orang-orang
munafik yang mengeruhkan suasana pemilihan khalifah dari kalangan mereka, dan
beliau meninggalkan aktifitas keseharian lainnya guna mempersiapkan pemakaman
Rasulullah saw. Beliau juga menyediakan tempat di mana para shahabat ra. dapat
membicarakan masalah pemilihan khalifah. Di dalam musyawarah, mereka yang
hadir akhirnya memilih Abu Bakar ra. sebagai khalifah. Pada hari Selasa kedua
sesudah kewafatan Rasulullah saw., Ali ra. pergi ke Masjid melakukan baiat kepada
Abu Bakar ra. Dengan demikian, Abu Bakar ra. diangkat menjadi khalifah dengan
suara bulat.
Allah swt. mencela dan melarang sikap sombong dan arogan
sebagaimana diterangkan di dalam semua kitab samawi yang Dia turunkan kepada
hamba-hamba-Nya. Di antaranya, ayat kedua puluh tiga surat al-Nahl menjelaskan,
“Allah swt. benar-benar tidak menyukai kesombongan!” Menurut sebuah ayat yang
tercantum di dalam Bible, para Rasul bertanya kepada Nabi Isa as. : ‘Wahai
Nabiyullah! Siapakah di antara kita yang paling mulia dan siapa yang paling hina?’
Nabi Isa as. menjawab, “ Yang paling mulia di antara kita ialah yang paling hina ;
dan yang paling hina di antara kita ialah yang paling mulia.” Maksudnya, “Barang
siapa yang menganggap dirinya mulia, maka dia-lah sesungguhnya orang yang hina,
dan barang siapa yang menganggap dirinya rendah (hina) maka dia-lah
sesungguhnya orang yang mulia.” Begitu pula, Muhammad saw., -nabi terakhir dan
tertinggi-, mencela orang-orang yang bersikap sombong, dan memuji orang yang
rendah hati di dalam sejumlah hadits beliau. Di antaranya, beliau bersabda dalam
sebuah hadits, “Bila seseorang merendahkan hati sebab Allah, yaitu bila dia tidak
menganggap dirinya lebih tinggi (baik) dari pada orang Islam lainnya, maka Allah
swt. akan mengangkat derajatnya.” Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah
beropendapat, bahwa Allah swt. menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya
bagian dari setiap Sifat-Sifat-Nya seperti ilmu dan berkuasa. Meskipun tiga sifat-Nya
yang khusus hanya untuk Diri sendiri. Dia tidak membagikan tiga sifat-Nya ini
kepada makhluk-Nya. Tiga sifat ini yaitu kibriya, ghani dan khalq. Kibriya
artinya sombong, superioritas. Ghani artinya tidak butuh kepada yang lain dan
dibutuhkan oleh yang lain. Sebaliknya Dia telah memberi kepada hamba-hamba-Nya
tiga sifat turunan-Nya. Yaitu sifat dzull dan inkisar artinya rendah dan hina, butuh
dan fana [menjadi tidak ada]. Konsekuensinya, kesombongan berarti bertentangan
dengan sifat [sombong] yang dimiliki oleh Allah swt. secara hak. Kesombongan
bukanlah sifat yang dimiliki oleh hamba. Kesombongan merupakan dosa yang sangat
besar. Di dalam sebuah hadis qudsi dijelaskan, “Azamat [kebanggaan] dan kibriya
[kesombongan] yaitu milik-Ku [Allah], Aku akan menyiksa dengan siksa amat
pedih kepada mereka yang hendak mengambil dua sifat ini dari-Ku”. Oleh sebab
itu, para ulama dari kalangan ahli tasawuf terkemuka senantiasa mengajarkan kepada
ummat Islam untuk bersikap rendah hati. Orang Islam dilarang egois (terlalu
mementingkan diri sendiri). Allah swt. membenci kepada orang-orang yang egois.
Abdul Qadir Ghaylani, -salah seorang wali agung dan mursyid tasawuf terkenal-,
dilahirkan di Ghaylani Iran pada tahun 471 H, dan wafat di Baghdad pada tahun
561 H [bertepatan dengan tahun 1166]. Pada suatu hari, Sayid Ahmad Rifai dan
sejumlah muridnya duduk di pinggir sungai Tigris. saat mereka sedang
memperbincangkan karamah yang dimiliki oleh Abdul Qadir Ghaylani, murid-
muridnya merasa heran dan kagum. saat itu, salah seorang di antara mereka
menyanjung secara berlebihan sehingga dia terselip lidah (sabqul lisan, pent.), maka
dengan sikap rendah hati Abdul Qadir Ghaylani menyadarkan murid lain atas
kealpaan ini [yang memicu terselip lidah] dengan kata-katanya yang amat
santun : “Saya tidak mengira di dunia ini ada seorang muslim yang lebih rendah dari
pada diri saya”. Ahmad Rifai dilahirkan di sebuah desa bernama Ummi Ubaidah,
terletak antara Basrah dan Wasit, pada tahun 512 H, dan meninggal dunia di sana
pada tahun 578 H [1183 M]. Arogaansi, kecongkakan, yaitu sifat yang amat dicela.
Sebaliknya, rendah hati, sopan santun, merupakan sifat terpuji dan baik. Semua nabi
memiliki sifat rendah hati dalam segala amal yang dikerjakannya. Begitu pula
dengan para shahabat ra. Sikap percaya dalam pemilihan khalifah, dan sikap rendah
hati serta tidak haus akan jabatan ini , menunjukkan bahwa mereka benar-benar
memiliki sifat rendah hati. Dengan ilustrasi seperti ini, apakah Ali ra. dikatakan
memiliki sikap sombong, congkak, dan menantang kepada para shahabat ra. lain
dengan mengatakan, “ Apakah ada orang yang lebih cerdas, lebih mulia dan lebih
berani dari pada saya?” dibandingkan dengan para shahabat ra. lainnya. Hal ini
mengingatkan kita pada prilaku iblis (devil) yang sombong dan mengklaim bahwa
dirinya lebih baik dari pada Adam as. Pernyataan yang seolah-olah diucapkan oleh
Imam Ali ra. di atas tidak sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Ali ra. sendiri,
dan jelas hal ini merupakan kebohongan serta fitnah yang ditujukan kepada
Singa Allah ini . Keanehan (absurdity) lainnya, ialah pernyataan yang
menyebutkan bahwa Umar ra. menghunus pedang dan mengintimidasi serta menekan
para shahabat ra. untuk meyakinkan kepada mereka bahwa Abu Bakar ra. sekarang
telah dibait menjadi khalifah. Sementara itu, Bani Hasyim dan Bani Umayyah yang
memiliki hubungan kekerabatan dengan Sayidina Ali ra., -sebagaiman kita ketahui-,
yaitu suku yang paling kuat di kalangan para shahabat ra. sedang Abu Bakar
ra. dan Umar ra. memiliki kerabat dari kalangan mereka yang jumlahnya tidak
banyak. Tidak mungkin, Umar ra. menghunus pedang dan menekan dua suku
ini untuk memaksakan kehendaknya. Padahal Sayidina Ali ra. sendiri sangat
masyhur dikenal sebagai Singa Allah (the Lion of Allah) di kalangan mereka. Hal
ini bertentangan dengan logika yang mengatakan, bahwa para shahabat ra.
memilih Abu Bakar ra., dan bukan Ali ra., semata-mata sebab tekanan Umar atas
diri mereka.
Saya (Utsman Efendi, pent.) mendengar sebuah cerita berikut dari salah
seorang ulama Kirkuk : Suatu saat saya pergi ke Iran. Saya memasuki sebuah
masjid yang ada di sana. Di situ saya melihat seorang ulama sedang berpidato. Di
dalam pidatonya dia mengatakan bahwa, “Pada suatu hari Imam Ali ra. mengunjungi
shahabat Abbas ra. di rumahnya. Beliau melihat Abbas ra. sedang menangis, lalu
beliau bertanya kepada Abbas ra. kenapa dia menangis. Abbas ra. menjawab, ‘Saya
memasang beberapa papan di depan pintu rumah saya untuk melindungi sinar
matahari. Akan namun Umar ra. menyuruh papan ini dilepas dengan alasan
membahayakan orang yang lewat. Saya tidak menerima perlakuan ini.’ Dengan
penuh amarah, Ali ra. menghunus pedang, -yang disebut zulfikar-, sambil berlari-lari
mencari Khalifah Umar ra. untuk membalas dendam atas perlakuannya terhadap
Abbas ra. Namun, Umar ra. bersembunyi. Di tengah-tengah pidatonya ini ,
salah seorang murid dari ulama ini bertanya, ‘Jika Ali ra. menghunus pedang
melawan Khalifah hanya sebab persoalan papan kayu, dan berlari-lari mengancam
Khalifah, kenapa beliau tidak menghunus pedang saat Abu Bakar ra. dipilih
menjadi khalifah dan mengancam orang-orang yang memilih Abu Bakar ra.? Jika
beliau melakukan hal ini , tentu kita ummat Muhammad saw. tidak akan
terpecah belah ke dalam kelompok-kelompok seperti ini, dan banyak orang Islam
yang tidak tersesat dari jalan yang benar.’ sebab bingung, maka dia ragu-ragu
menjawab pertanyaan si murid ini . lalu dia berteriak, ‘Orang ini telah
kafir. Pukul-lah dia, bunuh dia!’ Murid malang ini berhasil menyelamatkan diri
sesudah berhasil lari dari masjid ini . Mereka tidak saja berani mengatakan,
bahwa yaitu merupakan kebohongan yang nyata menuduh Umar ra. menghunus
pedang dan menekan para shahabat untuk memilih Abu Bakar ra. menjadi khalifah,
namun juga mereka berani mengatakan, bahwa yaitu kebohongan yang nyata
mengatakan Ali ra. menghunus pedang melawan Umar ra.
Kejadian-kejadian yang menyelimuti para shahabat ra. pada hari
kewafatan Rasulullah saw. terkadang diuraikan dengan dibumbui fitnah yang keji
dan kejam oleh sebagian mereka. Oleh sebab itu, kami menganggap penting untuk
mengutip keterangan dari kitab Qishas al-Anbiya, paragraf berikut yang
menerangkan wafatnya Rasulullah saw. dan peristiwa-peristiwa yang dialami para
shahabat sesudahnya :
Pada hari kedua puluh tujuh bulan (Arab) Safar tahun kesebelas hijriah
Rasulullah saw. mulai merasakan sakit kepala. Beliau menempati kamar istrinya,
Sayidah Aisyah ra. Beliau memberitahukan kepada Abdurahman bin Abu Bakar
bahwa dirinya akan mendiktekan sebuah wasiat tertulis yang merekomendasikan
kepada Abu Bakar ra. untuk menjadi khalifah sepeninggal dirinya, dan menyuruh
Abdurrahman bin Abu Bakar membawakan tinta dan pulpen untuk menulis wasiat
ini . saat Abdurrahman bin Abu Bakar hendak pergi untuk melaksanakan
perintah ini , beliau berkata, “Kamu kerjakan nanti saja. Sekarang, tunggu
sebentar!” lalu beliau menuju ke Masjid. saat para shahabat ra. mengetahui
kabar bahwa Nabi saw. akan memasuki Masjid, maka mereka berkumpul di Masjid
itu (Masjid Nabawi, pent.). Fakhrul ’Alam (julukan Nabi saw., artinya Kemegahan
Jagad Raya, pent.) naik ke atas mimbar, memberi nasihat kepada para shahabat ra.
dan meminta kepada mereka untuk memaafkan dirinya jika pernah melakukan
kesalahan secara tidak sengaja. lalu beliau memuji Abu Bakar ra., sebab
kemuliaan dan ketinggian derajatnya di antara para shahabat ra, dan mengatakan
bahwa dirinya sangan mencintai Abu Bakar ra. Beberapa hari lalu , sakit beliau
bertambah parah. Para shahabat Anshar, yaitu warga asli Madinah sangat
berduka cita. Mereka berjalan mengelilingi Masjid itu tidak henti-hentinya laksana
sayap-sayap serangga. Fadl, -putra Abbas-, dan Ali bin Abi Thalib
menginformasikan mengenai keadaan Baginda Rasulullah saw. Nabi yang sangat
penyantun itu berjalan menuju ke Masjid dibantu mereka berdua dengan mendukung
di bawah lengan beliau. Para shahabat telah berkumpul menunggu beliau di Masjid.
Khatam al-Anbiya’ (Nabi Penutup di antara Para Nabi) itu naik ke atas mimbar.
sesudah mengucapkan puji-pujian kepada Allah, beliau menoleh kepada para
shahabat Anshar, dan berkata ; “Wahai shahabat-shahabatku! Aku mendengar,
bahwa kalian mengkhawatirkan kematianku. Apakah seorang nabi harus selalu
bersama ummatnya selamanya, sehingga kalian mengharapkan aku selalu bersama
kalian selamanya? Ketahuilah, bahwa aku akan menemui Rabb-ku. Aku wasiatkan
kalian untuk menghormati para tokoh Muhajirin.” Selanjutnya beliau berkata,
“Wahai orang-orang Muhajirin! Wasiatku kepada kalian yaitu : Berbuat baik-lah
kalian kepada orang-orang Anshar! sebab mereka telah berbuat baik kepada kalian.
Mereka memberikan perlindungan secara ikhlas kepada kalian di rumah-rumah
mereka. Meskipun mereka memiliki kehidupan sulit, mereka selalu mendahulukan
kalian dari pada diri mereka sendiri. Mereka membagikan harta benda kepada kalian.
jika salah seorang dari kalian mengambil hak atas mereka, biarkanlah dia
menjaga mereka, dan maafkanlah kesalahan-kesalahan mereka.” lalu beliau
memberi nasihat, “Allah swt. telah mengabulkan seorang hamba pilihan-Nya untuk
menetap di dunia ini atau menghadap Rabb-Nya. Hamba itu lebih suka menghadap
Rabb-Nya.” Pernyataan ini mengisyaratkan, bahwa beliau akan berpulang ke
rahmatullah. Abu Bakar ra. mengetahui makna pernyataan ini sehingga beliau
mulai menangis, sambil berkata, “Semoga hidup kami bermanfaat buat engkau,
wahai Utusan Allah!” Rasulullah saw. menyuruh dia bersabar dan ikhlas. Air mata
mengalir dari mata beliau yang diberkati. Beliau berkata , “Wahai para shahabat-ku!
Aku mencintai Abu Bakar ra. yang telah mengorbankan harta bendanya sebab iman
dan ikhlas demi agama Islam. Seandainya memungkinkan bagi seseorang membawa
seorang teman ke akhirat, pasti aku akan memilih dia”. lalu beliau
memerintahkan agar para shahabat yang mempunyai pintu rumah terbuka
menghadap ke arah Masjid untuk menutupnya, kecuali pintu rumah Abu Bakar ra.
Selanjutnya dengan bijaksana dan lemah lembut beliau berpidato :
“Wahai orang-orang Muhajirin dan Anshar! saat tiba waktu untuk
mengerjakan sesuatu, janganlah seseorang tergesa-gesa. Allah swt. tidak tergesa-gesa
terhadap hamba-hamba-Nya. Bila seseorang hendak mengubah qadha dan qadar
Allah swt. dan menundukkan kehendak-Nya, maka Dia akan menundukkan dia
dengan Kemarahan-Nya dan menghancurkan-Nya. Bila seseorang mencoba
memperdaya dan menipu Allah swt., maka sesungguhnya dia akan menipu dirinya
sendiri dan menyia-nyiakan hal ikhwal dirinya sendiri. Ketahuilah, bahwa aku
mencintai dan menyayangi kalian. Kalian akan mendapat berkah atas pertemuan
kalian dengan aku lagi. Tempat di mana kalian akan bertemu denganku ialah telaga
yang disebut al-Kautsar. Barang siapa yang ingin masuk surga dan mendapat
rahmat (berkah) bersama aku di sana, sebaiknya jangan berbicara dusta. Wahai
orang-orang Islam! Keingkaran dan perbuatan jahat akan mengubah berkah dan
mengurangi kehidupan seseorang. jika rakyat mentaati perintah Allah swt.,
penguasa, pemimpin dan pejabat pemerintahan, maka Allah swt. akan menyayangi
dan mengasihi mereka. Bila mereka jahat, kasar, dan banyak melakukan perbuatan
dosa, maka mereka tidak akan mendapat kasih sayang dari penguasa mereka.
sebab hidupku bermanfaat bagi kalian, maka kematianku akan membawa kebaikan
dan berkah bagi kalian juga. jika aku pernah memukul atau menghina salah
seorang di antara kalian secara zalim, maka aku bersedia dibalas sebagaimana
perlakuanku terhadapa dia ; atau jika aku merampas harta salah seorang di antara
kalian secara zalim, biarkan dia datang kepadaku dan mengambil hartanya ; saya
bersedia mengembalikannya, sebab hukuman dunia jauh lebih ringan dari pada
hukuman yang akan diterima di akhirat. Hukuman dunia itu jauh lebih ringan
memikulnya.” Lalu beliau turun dari mimbar. sesudah mengerjakan shalat (sunnah)
beliau naik ke mimbar lagi, menyampaikan wasiat dan beberapa nasihat. Beliau
berkata, “Aku ‘mempercayakan’ Allah swt. kepada kalian,” lalu beliau kembali ke
kamar istrinya. Dalam keadaan sakit, setia kali adzan dikumandangkan beliau tetap
pergi ke Masjid untuk mengerjakan shalat berjamaah, dan beliau sendiri yang
menjadi imam. Tiga hari sebelum wafat, beliau merasakan sakitnya semakin parah.
Beliau tidak mampu lagi pergi ke Masjid, sehingga beliau memerintahkan,
“Perintahkan kepada Abu Bakar ra. (menggantikan tempatku sebagai imam) dalam
menjalankan shalat bersama para shahabat-ku”. Selama Rasulullah saw. hidup, Abu
Bakar ra. pernah menjalankan tugas sebagai imam shalat selama tujuh belas kali.
Abu Bakar-lah orang yang telah memerintahkan kepada Sayidina Ali ra. untuk
mempersiapkan pemakaman. Sebelum sakit, Nabi saw. penah menerima beberapa
hadiah berupa emas. Beliau memberikan sebagian hadiah ini kepada orang-
orang miskin. Dan sisanya beliau berikan kepada Aisyah ra. Pada hari kesepuluh,
Sabtu, bulan Rabi’ul Awwal, Allah swt mengutus Malaikat Jibril as. untuk
menanyakan keadaan beliau. Hari berikutnya, Ahad, Malaikat itu datang lagi dan
menanyakan keadaan beliau serta menyampaikan kabar gembira bahwa Aswad al-
Anasi, si pendusta yang mendakwakan dirinya menjadi nabi di Yaman, telah mati
terbunuh. Rasul saw. menyampaikan kabar gembira ini kepada para shahabat ra.
Pada hari Ahad, sakit beliau semakin parah. Usamah yang ditunjuk oleh Rasulullah
saw. sebagai komandan perang, datang menjenguk beliau. saat itu Rasulullah saw.
sedang berbaring di atas dipan, dalam keadaan sangat lemah. Beliau tidak berbicara
apa pun kepada Usamah. Namun, beliau mengangkat tangan dan mengusapkannya
kepada Usamah pelan-pelan. Hal ini mengisyaratkan bahwa beliau memintakan
berkah untuk Usamah. Pada hari Senin, di mana para shahabat sedang mengerjakan
shalat Subuh berjamaah di belakang Abu Bakar ra. di Masjid, tiba-tiba Fakhur ‘Alam
memasuki Masjid. Beliau menyaksikan kaum muslimin sedang melaksanakan shalat
berjamaah. Beliau merasa gembira sekali dan tersenyum. Beliau juga mengikuti
shalat yang dipimpin oleh Abu Bakar ra. di belakang. saat para shahabat
mengetahui bahwa Rasulullah saw. berada di Masjid, mereka mengira bahwa beliau
telah sembuh dari sakit dan sudah sehat kembali. Rasulullah saw. memasuki kamar
Aisyah ra., menuju ke tempat tidur. “Aku ingin menghadap Allah swt. tanpa
meninggalkan harta dunia di belakang-ku. Sedekahkanlah emas yang kamu miliki
kepada orang-orang miskin, semuanya!” Beliau merasa demamnya semakin tinggi.
Sejenak sesudah beliau membuka mata, beliau menanyakan kepada Aisyah ra. apakah
dia telah mensedekahkan emas itu. Dia menjawab sudah. Lagi-lagi dia menyuruh
Aisyah untuk mensedekahkan emas itu segera. sesudah mengetahui bahwa emas itu
telah disedekahkan, maka beliau berkata, “Sekarang aku telah merasa ringan”.
Usamah datang lagi. Utusan Allah itu berkata, “Semoga Allah ta’ala
menolongmu! Sekarang, berangkatlah perang”. Usamah berangkat bersama pasukan
dan segera memerintahkan mereka bergerak. Pada saat itulah sakit beliau semakin
parah. Beliau memanggil putri kesayangannya, Fatimah az.-Zahra. Beliau
membisikkan sesuatu di telinganya. Fatimah mulai menangis. Beliau membisikkan
lagi sesuatu. saat itu Fatimah tersenyum. Ternyata diketahui bahwa, hal pertama
yang diucapkan oleh beliau kepada Fatimah yaitu ; “Aku akan mati”. Hal inilah
yang membuat Fatimah menangis. lalu beliau berkata, “Dari Ahlul Bayt-ku,
kamu yaitu orang pertama yang akan memasuki (surga) bersamaku (di akhirat),”
Fatimah merasa gembira mendengar kabar itu, sehingga dia tersenyum.
Pada sore hari yang sama (Senin, pent.) Malaikat Jibril dan Izrail as.
(Angel of Death) tiba di pintu rumah Nabi. Jibril as. memasuki rumah beliau. Dia
memberitahukan kepada Nabi saw. bahwa Izrail as. sudah berada di pintu menunggu
ijin masuk. Rasulullah saw. memberi ijin kepada Izrail as. Dia pun masuk,
mengucapkan salam, dan menyampaikan perintah yang dibawanya dari Allah swt.
Rasulullah saw. memandang wajah Jibril as. Malaikat itu berkata , “Wahai
Rasulullah saw.! Para Malaikat sedang menunggumu.” Fakhrul ‘Alam saw. berkata,
“Wahai Izrail! Kemari dan laksanakan tugasmu!” Malaikat itu lalu mencabut ruh
Muhammad saw. dan membawanya ke Illiyyin.
saat tanda-tanda kematian mulai tampak pada diri Rasulullah saw.,
Ummu Aiman ra. mengirimkan pesan kepada putranya, Usamah. sesudah menerima
kabar duka itu, Usamah, Umar al-Faruq dan Abu Ubaidah meninggalkan pasukan
dan bergegas kembali ke Masjid Nabawi. saat itu, Aisyah Shiddiqah dan
wanita -wanita lain mulai menangis. sedang para shahabat yang berada
di Masjid merasa gundah dan lemas. Ali ra. terpaku seakan-akan mati. Sementara
itu, Umar ra. diam termangu. Pada saat itu Abu Bakar ra. sedang berada di rumah.
Beliau mendatangi tempat itu dengan tergopoh-gopoh, lalu memasuki Hujrat as-
Sa’adah (Kamar yang Sentosa, pent.). sesudah membuka wajah Fakhrul ‘Alam,
beliau mengetahui bahwa Baginda Nabi saw. telah wafat. Wajah dan seluruh anggota
tubuh Rasulullah saw. tampak berseri-seri, bersih dan bercahaya lakasana sebuah
lingkaran cahaya. Abu Bakar ra. menciumnya, sambil berkata, “Wahai Rasulullah
saw.! Engkau benar-benar indah, baik dalam hidup maupun matimu!” Dia menangis
sedih. Dia menutupi wajah Nabi dengan sehelai kain. lalu dia berusaha
menghibur orang-orang yang berada di rumah itu. Lalu dia keluar menuju ke Masjid,
dan berusaha menenangkan hati para shahabat yang tengah dirundung duka, dan
berusaha memulihkan keadaan. Sehingga mereka semua percaya bahwa Rasulullah
saw. benar-benar telah wafat. Sementara itu, pasukan yang berada di bawah
komando Usamah memasuki kota. Buraidah bin Hasib mengangkat bendera yang
dipegang di tangannya. Kedukaan dan kesedihan laksana pisau belati beracun yang
menyayat hati para shahabat. Air mata tertumpah mengalir deras, hati mereka
berduka cita sebab sedih menanggung perpisahan dengan Baginda Rasulullah saw.
Abbas, -putra Fadl-, Sayidina Ali ra., dan orang-orang yang berada di
rumah itu menyiapkan prosesi pemakaman Rasulullah saw. Pada saat itu Abu Bakar
ra. berdiri di dekat pintu, sambil menangis dan membantu pemakaman. Namun, ratap
dan tangis tidak ada gunanya lagi dalam hal ini, sebab keberadaan seorang khalifah
sangat diperlukan untuk mendinamisasi urusan kaum muslimin, dan untuk
menegakkan ajaran-ajaran Islam yang baru tumbuh. saat itu figur yang dipandang
paling cocok untuk mengemban tugas ini yaitu Sayidina Abu Bakar ra.
Abbas dan Ali ra. yaitu orang-orang yang memiliki hubungan dekat
dengan Rasulullah saw. Sementara itu, Fakhrul ‘Alam telah menegaskan, bahwa Abu
Bakar-lah, -yang menemani beliau saat berada di dalam goa-, memiliki derajat
lebih tinggi dibandingkan dengan para shahabat lainnya. Dan selama beliau sakit,
dalam sebuah pidato perpisahannya beliau menyampaikan kepada para shahabat,
bahwa Abu Bakar ra. yaitu orang yang paling dicintainya. Pada saat Rasulullah
saw. menyuruh menutup seluruh pintu yang terbuka menghadap Masjid, beliau
hanya memperbolehkan pintu rumah Abu Bakar ra. yang tetap terbuka. Tiga hari
sebelum wafat, beliau telah mengangkat Abu Bakar ra. menjadi imam bagi para
shahabat, artinya beliau telah memberinya suatu kedudukan lebih tinggi di atas orang
lain dalam mengerjakan shalat. Semua fakta itu menunjukkan, bahwa Abu Bakar ra.
sesungguhnya telah diangkat menjadi khalifah. Sehingga yang perlu dilakukan oleh
para shahabat yaitu tinggal melaksanakan musyawarah untuk memilih beliau.
Sebaliknya, sebagian shahabat Anshar bermaksud mengangkat seorang
khalifah dari kalangan mereka sendiri. Oleh sebab itu, mereka berkumpul di
pemukiman Bani Sa’idah. saat itu, Sa’ad ibn Ubadah ra.,-pemimpin suku Hazraj-,
ikut terlibat dalam musyawarah ini , meskipun dalam keadaan sakit. Dia berkata
kepada orang-orang Anshar :
“Wahai orang-orang Anshar! Tidak ada satu suku pun yang memiliki
derajat lebih mulia dari pada yang kalian miliki. Di Mekkah, Muhammad saw.
mengajak sukunya masuk Islam selama tiga belas tahun. Namun, sangat sedikit di
antara mereka yang beriman kepadanya. Dan jumlah sedikit yang beriman kepadanya
itu tidak cukup untuk melaksanakan tugas jihad. saat Allah swt. menganugerahkan
kehormatan kepada kalian menjadi orang Islam, Dia memberkati kalian dengan nasib
baik, yaitu dapat melindungi utusan-Nya, para shahabatnya, memperkuat dan
menyebarluaskan agama Islam melalui jihad. Kalian yaitu manusia yang mampu
menundukkan musuh-musuh (Islam). Pedang kalian mampu menggetarkan orang-
orang Arab sehingga mereka masuk Islam. Rasulullah saw. mencintai kalian saat
beliau wafat. Hak kalian yaitu menjadi pemimpin (khalifah). Janganlah kalian
memberikan hak ini kepada orang lain.” Sebagian besar orang-orang Anshar yang
hadir di sana berkata, “Anda benar. Semoga Allah menolong Anda. Kami memilih
Anda menjadi khalifah”.
Akan namun suku Aus dari Anshar tidak menyetujui keputusan ini .
Mereka berkumpul bersama Usayyad bin Hudair yang menjadi kepala suku mereka.
Sebaliknya, orang-orang Muhajirin, pasti tidak akan memilih khalifah dari kalangan
suku Aus maupun Hazraj. Padahal suku Quraisy-lah suku yang dipandang
mempunyai kedudukan paling tinggi dan mulia di antara semua suku Arabia.
Sehingga perselisihan besar mungkin akan segera timbul di antara mereka.
Pada saat itu suasana begitu kritis dan mencekam. Oleh sebab itu,
kedatangan Abu Bakar ra., Umar ra. dan Abu Ubaidah ra. ke tempat itu ibarat
kedatangan Nabi Hidzir as. sang penyelamat kehidupan yang ajaib. saat itu salah
seorang dari kaum Anshar berdiri sambil berkata, “Kami telah menolong Rasulullah
saw., dan memberi perlindungan kepada orang-orang Muhajirin. Oleh sebab itu,
khalifah harus berasal dari kalangan kami.”
Rasulullah saw. memiliki Abu Bakar ra. di tangan kanan, dan Umar ra. di
tangan kiri. Dalam sebuah kesempatan, beliau juga pernah berkata mengenai Abu
Ubaidah, “Dia yaitu salah seorang manusia terpuji dari ummat ini”. saat ketiga
orang ini muncul secara tiba-tiba, maka seolah-olah Rasulullah saw. hidup
kembali dan datang ke tempat ini . Semua orang terdiam, menunggu dengan
antusias untuk mendengarkan apa yang akan mereka sampaikan. Abu Bakar ra. mulai
berbicara :
“Ummat ini dulunya menyembah berhala. lalu Allah swt mengutus
seorang Rasul kepada mereka supaya menyembah Dia. Orang-orang kafir merasa
keberatan meninggalkan agama nenek moyang mereka. Allah ta’ala memberikan
hidayah-Nya kepada orang-orang Muhajirin sehingga mereka menjadi orang-orang
beriman. Mereka menjadi shahabat dan teman duka Rasulullah saw. Mereka telah
bersabar bersama Rasulullah saw. dalam menghadapi penganiayaan yang dilakukan
oleh musuh-musuh agama Allah. Mereka yaitu para penyembah al-Haqq (Allah)
pertama di bumi, dan menjadi orang-orang mukmin yang beriman kepada Utusan-
Nya. Oleh sebab itu, khalifah harus berasal dari kalangan mereka. Tidak ada
seorang pun yang bisa bersekutu dengan mereka dalam hal ini. Mencoba mengambil
hak ini dari mereka berarti merampasnya secara zalim. Wahai, orang-orang Anshar!
pengabdian kalian terhadap Islam tidak dapat dipungkiri. Allah ta’ala memilih kalian
11. Menurut mereka Sayidina Abu Bakar ra. yang berasal dari suku
Tamim dan Sayidina Umar ra. yang berasal dari suku Adiy yaitu “para penyembah
berhala secara tersembunyi,” meskipun Sayidina Ali ra. sendiri memberikan putrinya
kepada putra Sayidina Abu Bakar ra. bernama Muhammad dan mengangkatnya
menjadi gubernur. Ali ra. juga memberikan putri yang lainnya kepada Sayidina
Umar ra. Di satu sisi mereka juga berpendapat bahwa, ‘Sayidina Ali ra. yaitu
ma’shum’ (bebas dari kesalahan-kesalahan). Akan namun , di sisi lain mereka mencela
para pemimpin agama terkemuka ini , di mana kepada mereka-lah Ali ra.
memberikan putri-putrinya yang menjadi mertua Rasulullah saw. dan sekaligus Ali
ra. sendiri menjadi menantu beliau. Mereka juga berpendapat bahwa mereka yaitu
orang-orang munafik.
12. Mereka berpendapat, bahwa orang-orang Sunni yaitu musuh
Sayidina Ali ra. dan Ahlul Bayt Nabi saw. Sebagaimana diketahui, orang-orang
Sunni yaitu kelompok Islam yang sangat mencintai Sayidina Ali ra. dan Ahlul
Bayt. Mereka berkeyakinan, bahwa barang siapa mencintai Ali dan Ahlul Bayt Nabi
saw. jika meninggal dunia dalam keadaan beriman. Menurut orang-orang Sunni,
salah satu persyaratan menjadi kekasih Allah (wali) di antaranya dia harus mencintai
Sayidina Ali ra. dan Ahlul Bayt serta mengikuti tariqah mereka.
13. Mereka berpendapat, bahwa menurut orang-orang Sunni Ibnu
Muljam pembunuh Sayidina Ali ra. yaitu orang yang adil, dan Imam Bukhari telah
meriwayatkan hadits-hadits yang berasal dari Ibnu Muljam ini . Pendapat
mereka ini jelas tidak benar. Kitab Shahih Bukhari tidak memuat hadits-hadits yang
diriwayatkan oleh Ibnu Muljam.
14. Mereka memusuhi golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka
menghina kata ‘Sunnah’.
15. Mereka berpendapat, jika seseorang mengucapkan ‘wa ta’aalaa
jadduk’ dalam shalat maka shalatnya batal.
16. Mereka berpendapat, bahwa orang Sunni lebih jahat dan lebih keji
dari pada orang Yahudi dan Nasrani.
17. Mereka mengklaim bahwa semua kelompoknya akan masuk surga
sebab mereka mencintai kepada Ali ra. meskipun di antara mereka sendiri saling
berselisih satu dengan lainnya.
18. Mereka berpendapat, bahwa tidak ada gunanya mengerjakan
ibadah yang diajarkan oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.
19. Mereka mengutuki ketiga khalifah Rasulullah sebagai pengganti
ucapan basmalah saat hendak memulai suatu pekerjaan. Mereka berkeyakinan,
bahwa orang sakit yang melekatkan secarik kertas yang berisi tulisan kutukan
terhadap kedua khalifah pertama pada dirinya atau meminum air yang di dalamnya
ada kertas berisi kutukan ini yang telah dicelupkan, dia akan segera
sembuh.
20. Mereka berpendapat, bahwa mengutuki Sayidah Aisyah dan
Hafsah ra. lima kali sehari hukumnya wajib.
21. Mereka berpendapat, bahwa Rasulullah saw. telah memberikan
mandat kepada Imam Ali ra. untuk menceraikan istri-istri beliau. Oleh sebab itu,
melalui mandat ini Imam Ali ra. menceraikan Aisyah (dari Rasulullah saw.).
Padahal Al Qur'an tidak menghendaki perceraian sunggupun kepada diri Rasulullah
saw. sekali pun.
22. Mereka berpendapat, bahwa Allah swt. tidak menciptakan para
Nabi seandainya Dia tidak menciptakan Ali ra. Mereka tidak mengetahui bahwa
barang siapa yang meyakini seseorang yang bukan Nabi memiliki kedudukan lebih
tinggi dari pada seorang Nabi, dirinya telah kafir.
23. Mereka berpendapat, bahwa pada hari kebangkitan yang berhak
memutuskan segala persoalan yaitu Muhammad saw. dan Ali ra.
24. Menurut mereka, saat Umar ra. terbunuh para Malaikat tidak
mencatat perbuatan dosa yang dilakukan manusia selama tiga hari.
25. Mereka berpendapat, bahwa melempar jumrah di Mina selama
musim haji pada hakikatnya diarahkan kepada Abu Bakar dan Umar.
138
26. Mereka berpendapat, ayat tentang dabbat al-ardl yaitu isyarat
kembalinya Sayidina Ali ra. ke dunia.
27. Menurut mereka, -sebagaimana tercantum pada artikel kedua
puluh dua tentang keyakinan sesat mereka-, barang siapa menjadi tuan rumah lalu
menawarkan istri dan anak-anak wanita nya kepada orang Hurufi lainnya yang
mengunjunginya, dia akan memperoleh pahala berlipat ganda. Di Iran, bapak-bapak
orang Hurufi setiap kali bertamu, mereka ditawari wanita -wanita yang
mereka sukai. Mereka memiliki kepercayaan bahwa anak-anak yang dibuahi pada
malam Jum’at (malam antara Kamis dan Jum’at) berhak menyandang gelar sayyid
Persia. Sehingga dengan demikian, jumlah sayyid ini banyak sekali di Iran.
28. Mereka berkeyakinan, bahwa tanggal delapan belas bulan
Dzulhijjah yaitu h






