aku telah
datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yang mengokohkan
kenabianku bahwa sebenarnya aku yaitu seorang Rasul darinya yang diutus kepada kalian,
yaitu aku membuat untuk kamu dari tanak berbentuk burung; lalu aku meniupnya maka ia
menjadi seekor burung dengan seizin Allah; yang telah mengutusku kepada kalian semua, Dia Tuhanku
dan Tuhan kalian semua,
dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan
aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu
makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. sebenarnya padayang demikian itu yaitu suatu
tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, bahwa sebenarnya aku yaitu seorang Rasul Allah pada
kalian, jika kamu sungguh-sungguh beriman. "
Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan
bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, yakni aku beritahukan kepadamu bahwa itu haram
lalu kalian meninggalkannya, lalu aku beritahukan bahwa itu halal untuk kalian sebagai
keringanan sehingga kalian mendapat kemudahan dan kalian keluar dari beban-bebannya,
dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu
bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. sebenarnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,
sebagai ungkapan berlepas diri dari apa yang mereka katakan tentang Isa dan sebagai hujjah untuk
Tuhannya atas mereka,
karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus." Yakni inilah apa yang aku bawa atasnya dan akan
datang dengannya,
Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel), dan permusuhan atasnya,
berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama)
Allah?"Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kami lah penolong-penolong (agama)
Allah. Kami beriman kepada Allah; ini yaitu ungkapan mereka dimana mereka mendapat
keutamaan dari Tuhan mereka,
dan saksikanlah bahwa sebenarnya kami yaitu orang-orang yang berserah diri, bukan
sebagaimana yang dikatakan orang-orang yang mendebatmu tentang Isa.
Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul,
karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan
Allah)." (QS. Ali Imran: 48-53) Yakni demikianlah perkataan dan keimanan mereka.
Lalu Allah menyebutkan tentang pengangkatan Nabi Isa pada-Nya saat mereka berkonspirasi untuk
membunuhnya. Allah berfirman:
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu, dan Allah sebaik-
baik pembalas tipu-daya (QS. Ali Imran: 54).
lalu Allah memberitahukan kepada mereka, dan menyangkal prasangka orang-orang Yahudi
yang menyatakan bahwa mereka telah menyalib Nabi Isa dan cara Allah mengangkat Nabi Isa, dan
membersihkan beliau dari mereka. Allah berfirman:
(Ingatlah), jika Allah berfirman: "Hai Isa, sebenarnya Aku akan menyampaikan kamu kepada
akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang
kafir, tatkala mereka merencanakan apa yang mereka inginkan, dan menjadikan orang-orang yang
mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat, (QS. Ali Imran: 55). lalu
kisahnya berlanjut hingga berakhir pada firman-Nya,
Demikianlah (kisah Isa), Kami membacakannya kepada kamu, wahai Muhammad, sebagian dari bukti-
bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al-Qur'an yang penuh hikmah. ' (QS. Ali Imran: 58).
Inilah kata terakhir yang benar yang tidak ada kebatilan di dalamnya tentang kisah Nabi Isa, dan apa
yang mereka perselisihkan tentang beliau. Oleh karena itu, janganlah engkau menerima kabar lain
selain dari apa yang kamu peroleh dari kabar ini.
lalu Allah berfirman:
sebenarnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, yaitu seperti (penciptaan) Adam. Allah
menciptakan Adam dari tanah, lalu Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia),
maka jadilan dia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), inilah yang benar, yang datang dari Tuhanmu.
yakni kabar yang datang padamu tentang Isa, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang
ragu-ragu. (QS. Ali Imran: 59- 60). Kebenaran dari Tuhanmu telah dataEi kepadamu, yakni tentang Isa.
Oleh karena itu janganlah engkau meragukannya. Jika mereka mengatakan, 'Isa diciptakan tanpa
ayah,' sebenarnya Aku juga sebelumnya telah menciptakan Adam dari tanah tanpa ayah dan ibu.
Penciptaan Adam tidak jauh berbeda dengar penciptaan Isa; sama-sama mempunyai daging, darah,
rambut, dan kulit. Jadi penciptaan Isa yang tidak memiliki ayah itu tidak lebih menakjubkan dari
penciptaan Adam.
lalu Allah Ta'ala berfirman:
Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu , (QS. Ali
Imran: 61), yakni sesudah Aku kisahkan kepadamu tentang Isa dan bagaimana kondisi dia yang
sebenarnya maka Allah Taaia berfirman:
Maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-
istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; lalu marilah kita bermubahalah kepada
Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali Imran:
61).
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaid berkata: Nabtahil artinya kita berdoa untuk saling laknat.
Ibnu Ishaq berkata: sebenarnya apa yang aku bawa tentang kabar Isa:
sebenarnya ini yaitu kisah yang benar (QS. Ali Imran: 62), yakni sesuai perintah-Nya.
lalu Allah berfirman:
Dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sebenarnya Allah, Dia-lah Yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana. lalu jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sebenarnya
Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan. Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah
(berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu,
bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak
(pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling
maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami yaitu orang-orang yang berserah diri
(kepada Allah)." (QS. Ali Imran: 62-64). Dia mengajak mereka untuk adil dan mematahkan hujjah-
hujjah mereka.
Ibnu Ishaq berkata: sesudah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendapat wahyu dari Allah dan
keputusan final antara beliau dengan kaum Najran dan beliau diperintahkan untuk saling melaknat
jika mereka menolak ajakan beliau, maka beliaupun menantang mereka untuk melakukan adu
laknat (saling melaknat). Orang-orang Kristen berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam:
"Wahai Abu Al-Qasim, berilah kami waktu jeda untuk memikirkan perkara kami ini. Baru lalu
kami akan datang kepadamu dengan jawaban atas tantanganmu itu." sesudah itu, mereka pergi dari
hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan menemui Al-Aqib, tokoh paling berpengaruh bagi
mereka. Mereka berkata kepada Al-Aqib: "Wahai Abdul Masih, bagaimana pandanganmu?" Al-Aqib
menjawab: "Wahai orang-orang Kristen, kalian telah mengetahui bahwa Muhammad yaitu Nabi
yang diutus, dan kini ia telah datang kepada kalian dengan membawa jawaban pasti tentang kenabian.
Kalian pun telah mengetahui bahwa jika suatu kaum melakukan saling laknat dengan seorang Nabi,
maka seluruh orang dewasa yang ada dari kaum ini akan mati, dan anak-anaknya tidak akan bisa
lahir. sebenarnya saling laknat (mubahalah) itu hanya akan memusnahkan kalian, jika kalian
melakukannya. jika kalian ingin bertahan dengan tetap memeluk agama kalian, dan
mempertahankan pendapat kalian tentang kenabian, berdamailah dengan orang itu (Rasulullah).
Sesudah itu, kembalilah kalian ke negeri kalian!" Maka merekapun pergi menemui Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan berkata: "Wahai Abu Al-Qasim, kami memutuskan untuk tidak
mengadakan saling laknat denganmu, membiarkanmu memeluk agamamu dan kami pun tetap dalam
agama kami. Namun demikian utuslah kepada kami salah seorang sahabatmu yang engkau
rekomendasikan untuk kami agar ia memutuskan perkara-perkara yang kami berselisih dalam
kekayaan kami. sebenarnya kalian diridhai di sisi kami."
Muhammad bin Ja'far berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Temuilah aku nanti
sore, pasti aku akan mengirim orang kuat dan tepercaya ber- sama kalian." Umar bin Khaththab
berkata: aku tidak pernah berobsesi untuk mendapat posisi kecuali posisi yang Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebutkan saat itu. Aku demikian berharap kiranya akulah orang yang akan
diutus oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. lalu aku segera berangkat untuk shalat
Zhuhur. jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam shalat Zhuhur bersama kami, beliau
mengucapkan salam, dan beliau menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku tampakkan diriku, agar bisa terlihat
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tapi beliau terus mencari-cari seseorang, hingga beliau melihat
Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. jika itulah, beliau bersabda: "Wahai Abu Ubaidah, pergilah bersama
orang-orang Kristen lalu putuskan secara adil apa saja yang mereka perselisihkan!" Umar bin
Khaththab berkata: Maka berangkatlah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah berangkat bersama dengan delegasi
Kristen Najran ini .
Orang-orang Munafik
Ibnu Ishaq berkata: jika Rasulullah She. lalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinar --sebagaimana
dituturkan kepadaku olea Ashim bin Umar bin Qatadah- tokoh paling berpengaruh di kota Madinah
pada saat itu ialah Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Aufi, salah seorang dari Bani Al-Hubla. Tidak ada
seorang pun dari kaumnya yang dapat menandingi otoritas Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Aufi.
Sebelum dan sesudahnya, orang orang Al-Aus dan Al-Khazraj tidak pernah menjadikan pemimpin lain
selain Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Aufi sampai akhirnya Islam datang. Selain Abdullah bin Ubay bin
Salul, di Al-Aus terdapat tokoh berpengarur lainnya yang juga dihormati dan ditaati kaumnya, yang
bernama Abu Amir Abdu Ann bin Shaifi bin An-Nu'man. Abu Amir adaia: orang tua dari sahabat
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang bernama Hanzhalar Al-Ghasil, ia yaitu orang yang
dimandikar para malaikat pada Perang Uhud. Pada za man jahiliyah, Abu Amir menjadi pendeka
mengenakan baju kasar, dan biasa dipangg: pendeta. Namun sayang seribu sayang, justru posisi
terhormat mereka berdua menjadikan mereka celaka dan membahayakan dirinya. Adapun untuk
Abdullah bin Ubay bin Salul, kaumnya telah mempersiapkan mutiara sebagai mahkota untuk
disematkan padanva dan mengangkatnya sebagai raja mereka. Sementara mereka dalam kondisi
seperti itu, Saat itulah Allah mengutus Rasul-Nya kepada mereka. Maka tatkala kaumnya berpaling
darinya dan tidak memilih kecuali Islam, ia pun menaruh dendam permusuhan kepada Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan menuduh beliau telah merampok mahkota kepemimpinannya. jika
dia melihat kaumnya tidak suka kecuali memilih Islam, ia ikut masuk Islam namun tetap dengan
menyimpan kemunafikan dan dendam kesumat.
Sementara Abu Amir bin Shaifi, ia tetap bersikukuh pada kekafirannya, dan berseberangan dengan
kaumnya pada saat kaumnya telah memutuskan masuk Islam. Abu Amir memilih pergi bersama
belasan orang dari kaumnya ke Makkah dengan meninggalkan Islam, dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam. Rasulullah -sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Muhammad bin Abu Umamah dari
sebagian keluarga Hanzhalah bin Abu Amir, bersabda: "Janganlah kalian memanggil dia rahib
(pendeta), panggillah dia si Fasiq."
Ibnu Ishaq berkata: Ja'far bin Abdullah bin Abu Al-Hakam, sebelum berangkat ke Mekkah berkata
kepadaku bahwa Abu Amir menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika beliau tiba
Madinah. Ia berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Agama apakah yang engkau
datang dengannya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku datang dengan agama
yang lurus (hanifiyah), agama Ibrahim." Abu Amir berkata: "Aku juga menganut agama Ibrahim."
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Amir: "Engkau tidak menganut agama
Ibrahim." Abu Amir menjawab: "Betul, aku menganut agama Ibrahim!" Dia berkata: "Wahai
Muhammad, engkau telah memasukkan hal-hal baru ke dalam agama yang lurus (hanifiyah) yang
bukan merupakan bagian darinya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku tidak
pernah melakukan itu semua. Aku datang dengan agama Ibrahim dalam keadaan putih suci." Abu Amir
berkata: "Seorang pendusta akan Allah matikan dia dalam keadaan terusir, terasing dan dalam
kesendirian." Yang di maksud pendusta olehnya yaitu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Yakni
engkau Muhammad, tidak membawa agama Ibrahim dalam keadaan putih suci, sebagaimana yang
kau katakan. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Betul!" Barangsiapa berlaku dusta,
Allah akan melakukan itu." Demikianlah apa yang dilakukan musuh Allah, Abu Amir. Ia pun beranjak
pergi ke Makkah. Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhasil menaklukkan Makkah, Abu
Amir pergi ke Thaif. Tatkala orang-orang Thaif masuk Islam, ia pegi ke Syam, di sanalah dia meninggal
dunia dalam keadaan terusir, terasing, dan dalam kesendirian.
Orang yang pergi keluar Madinah bersama Abu Amir ialah Alqamah bin Ulatsah bin Auf bin Al-Ahwash
bin Ja'far bin Kilab, dan Kinanah bin Abdu Yalail bin Amr bin Umair Ats-Tsaqafi. Pada saat Abu Amir
meninggal dunia, keduanya berebut hartanya dan mengadukan perkara mereka berdua kepada Kaisar
Romawi. Kaisar berkata: "Orang kota mewarisi orang kota, dan orang padang pasir mewarisi orang
padang pasir." Berdasarkan keputusan Kaisar, Kinanah bin Abdul Yalail mewarisi harta Abu Amir tanpa
Alqamah.
Sedangkan Abdullah bin Ubay bin Salul tetap terhormat pada pandangan kaumnya hanya saja dia
senantiasa ragu-ragu hingga ia dikalahkan Islam, dan dia memeluk Islam secara terpaksa.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim Az-Zuhri berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari
Usamah bin Zaid bin Haritsah, seorang yang sangat dicintai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ia
berkata: Suatu saat, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi menunggang keledai. Di atas
keledainya ada kain pelana yang di atasnya terdapat selimut asal Fadak yang diikat dengan serat
palem, sementara aku berada di belakang beliau. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan
melewati Abdullah bin Ubay bin Salul yang sedang bernaung di bawah benteng kecil yang bernama
Muzahim.
Abdullah bin Ubay bin Salul saat itu tengah bersama beberapa orang dari kaumnya. Tatkala Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam melihat Abdullah bin Ubay bin Salul, beliau merasa malu melintasinya
dengan mengendarai keledai. Makanya beliau turun dari keledainya dan mengucapkan salam lalu
duduk sejenak. Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur'an kepada Abdullah bin Ubay bin Salul, sambil
mengajaknya kepada agama Allah, mengingatkannya tentang Allah, memberi peringatan keras,
memberi kabar gembira dan ancaman padanya. Abdullah bin Ubay bin Salul diam seribu bahasa.
Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sudah selesai bicara, Abdullah bin Ubay bin Salul
berkata: "Wahai Muhammad, sebenarnya tidak ada orang yang lebih baik perkataannya dari per-
kataanmu. jika yang engkau katakan benar adanya, duduk sajalah di rumahmu. Siapapun yang
datang menemuimu, bicaralah engkau dengannya. Sedang orang yang tidak datang menemuimu,
tidak usahlah engkau bersusah payah datang kepadanya untuk mengatakan sesuatu yang orang itu
tidak menyukainya." Abdullah bin Rawahah yang sedang bersama beberapa orang dari kaum Muslimin
berkata: "Betul sekali. Biarkan kami senantiasa berada bersamanya. Biarkanlah kami membawanya ke
majlis-majlis, kampung dan rumah-rumah kami. Demi Allah, inilah satu hal sangat kami sukai, sesuatu
yang dengannya Allah jadikan kami mulia, dan dia memberi petunjuk bagi kami padanya."
jika Abdullah bin Ubay bin Salul memperhatikan kaumnya menentang pendapatnya, ia berkata:
Kala tuanmu menjadi musuhmu
Kau akan senantiasa hina dan lawanmu akan menjatuhkanmu
Biasakah burung elang harus terbang tanpa sayapnya
Jika pada suatu hari bulunya dicabut, ia kar jatuh
Ibnu Hisyam berkata: Bait kedua bukar dari Ibnu Ishaq
Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri berkata ke padaku dari Urwah bin Zubair dari Usama bin Zaid yang
berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam beranjak dari tempat ini lalu pergi ke rumah
Sa'ad bin Ubadah. Ucapan Abdullah bin Ubay bin Salul masih terus membersit di wajah beliau. Sa'ad
bin Ubadah berkata: "Wahai Rasulullah, demi Allah, aku melihat sesuatu terbersit di wajahmu, apakah
engkau baru mendengar satu hal yang tidak engkau sukai?" Rasulullah Shallalahu 'alaiki wa Sallam
bersabda: "Betul sekali." Sa'ad bin Ubadah berkata: "Wahai Rasulullah, bersikaplah lemah-lembut
terhadap Abdullah bin Ubay bin Salul. Demi Allah, sebenarnya tatkala engkau datang kepada kami,
kami telah mempersiapkan mahkota yang akan kami berikan padanya sebagai kepemimpinan. Ia
beranggapan bahwa sebenarnya engkau telah merampas mahkota kepemimpinannya itu darinya!"
Sahabat-sahabat Rasulullah yang Sakit
Ibnu Ishaq berkata: Hisyam bin Urwah dan Amr bin Abdullah bin Urwah berkata kepadaku dari Urwah
bin Zubair dari Aisyah Radhiyallahu Anha ia berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
sampai di Madinah. Madinah saat itu merupakan bumi Allah yang paling potensial dengan penyakit
demam. Dampaknya, banyak sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang terjangkiti sakit
demam itu. Allah menjaga Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sehingga beliau tidak terserang
wabah penyakit demam. Abu Bakar, Amir bin Fuhairah, dan Bilal tinggal satu rumah. Mereka semua
terjangkit wabah demam. Lalu aku menjenguk mereka. Peristiwa ini terjadi pada saat hijab belum
diwajibkan. Mereka bertiga diserang demam tinggi yang hanya Allah sajalah yang tahu. Aku mendekat
kepada Abu Bakar, dan bertanya kepadanya: "Bagaimana kabarmu, ayahanda?"Abu Bakar menjawab:
Semua manusia disambut ria oleh keluarganya di pagi hari
Sementara maut lebih dekat padanya dibandingkan tali sandalnya
Aisyah: Aku berkata: 'Demi Allah, ayah tidak sadar akan apa yang ia katakan. Aku mendekat kepada
Amir bin Fuhairah, dan bertanya kepadanya: "Bagaimana kabarmu, wahai Amir?" Amir bin Fuhairah
menjawab:
Telah aku jumpai kematian sebelum mencicipinya
sebenarnya kematian datang pada para pengecut dari atasnya
Setiap orang itu berjuang dengan kekuatannya
Sebagaimana sapi jantan menjaga kulitnya dengan tanduknya
Aisyah berkata: Aku berkata: "Demi Allah, Amir tidak menyadari apa yang dikatakannya." Adapun Bilal,
bila demam menderanya, ia berbaring di emperan rumah, dengan mengangkat suaranya sambil
berkata:
Wahai bisakah aku kembali bermalam Di Fakh (tempat di luar Makkah),
Sementara di sekitarku terdapat idzkhir (nama pohon beraroma wangi), dan Jalil (nama tumbuh-
tumbuhan) Mampukan suatu saat aku berada di mata air Majannah?
Adakah gunung Syamah dan Gunung Thafil terlihat olehku?
Aisyah Radhiyallahu Anha berkata: Maka aku ceritakan apa yang aku dengar dari mereka bertiga
kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Aku berkata kepada beliau: "Mereka bertiga bicara
asal-asalan dan tidak sadar dengan apa yang mereka ucapkan akibat serangan demam tinggi."
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah
sebagaimana telah Engkau jadikan kami mencintai Makkah, atau kokohkanlah rasa cinta kami kepada
Madinah. Berilah kami keberkahan di mud, dan sha' Madinah (yakni makanannya). Alihkan serangan
wabahnya ini ke Mahyaa'h."80 Mahyaa'h yaitu Al-Juhfah.
Ibnu Ishaq berkata: Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash yang berkata: Pada
saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai di Madinah sahabat-sahabatnya di dera wabah
demam Madinah yang mengakibatkan banyak di antara mereka menderita sakit berat namun Allah
menjauhkan wabah ini dari beliau. Akibat deraan penyakit demam ini hingga ada di antara para
sahabat mengerjakan shalat dengan cara duduk. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar
menemui mereka yang kala itu menunaikan shalat dengan cara duduk. Beliau bersabda kepada
mereka: "Ketahuilah wahai sahabat-sahabatku bahwa shalat orang yang duduk itu pahalanya yaitu
setengah shalat orang yang berdiri." Maka para sahabat berupaya untuk berdiri sekuat mungkin
walaupun mereka demikian lemah dan sedang sakit dengan harapan mendapat pahala.
Ibnu Ishaq berkata: Sesudah itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersia-siap diri untuk perang
dan berjihad melawan musuhnya sesuai yang Allah perintahkan, serta memerangi orang-orang
musyrik, orang-orang musyrik Arab. Ini semua baru terjadi tiga belas tahun sesudah Allah mengutus
beliau sebagai Nabi.
Penanggalan Hijrah
Berdasarkan pada sanad sebelumnya, dari Abdul Malik bin Hisyam yang berkata bahwa Ziyad bin
Abdullah Al-Bakkai berkata dari Abdullah bin lshaq Al-Muthallibi yang berkata: Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam sampai di Madinah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal, pada saat waktu dhuha
berakhir, saat matahari tidak begitu panas. Itulah tanggal hijrah beliau sebagaimana dituturkan Ibnu
Hisyam.
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Rasulullah sampai di Madinah, usia beliau lima puluh tiga tahun, tiga
belas tahun sesudah beliau diutus menjadi Nabi dan Rasul. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
tinggal di Madinah pada akhir sisa bulan Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Ula, Jumadil Akhir, Rajab,
Sya'ban, Ramadhan, Syawwal, Dzul Qa'dah dan Dzul Hijjah. Pada bulan-bulan inilah dan bulan pada
Muharram tahun berikutnya, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak berperang dengan kaum
musyrikin.
Barulah pada bulan Shafar tahun berikutnya, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar untuk
berperang. Tepatnya sesudah setahun sejak kedatangannya di Madinah.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk Sa'ad bin Ubadah sebagai
penggantinya di Madinah selama dirinya berada di medan jihad.
Perang Waddan, Perang Pertama yang Diikuti Rasulullah
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalaka 'alaihi wa Sallam keluar dari Madinah hingga sampai di
daerah Waddan. Perang Waddan yaitu sebutan lain untuk Perang Al-Abwa’. Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam bermaksud untuk menyerang orang-orang Quraisy dan Bani Dhamrah bin Bakr bin
Abdu Manat bin Kinanah. Namun akhirnya beliau berdamai dengan Bani Dhamrah di Al-Abwal. Dalam
proses perdamaian ini Bani Dhamra diwakili pemimpin mereka yang bernama Makhsyi bin Amr Adh-
Dhamri. lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali ke Madinah tanpa ada perlawanan
apapun. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menetap di Madinah hingga sisa akhir bular Shafar dan
awal-awal bulan Rabiul Awwal.
Ibnu Hisyam berkata: Perang Waddar merupakan perang yang pertama dilakukan Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ekspedisi Ubaidah bin al-Harits Panji Pertama yang dibentuk oleh Rasulullah
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat berada di Madinah inilah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
mengirim Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muthalib bin Abdu Manaf bin Qushay bersama enam puluh
atau delapan puluh pasukan dari kaum Muhajirin, tanpa menyerta kan seorangpun dari kaum Anshar.
Ubaidah bin Al-Harits beserta pasukannya keluar dari Madinah hingga tiba di mata air di Hijaz di bawah
Tsaniyyatul Murrah. Di sana, Ubaidah bin Al-Harits dan pasukannya berpapasan dengan sekian banyak
orang Quraisy, namun perang belum meletus di antara mereka. Namun demikian Sa'ad bin Abu
Waqqash telah memanah dengan satu anak panahnya. Itulah anak panah pertama yang dipanahan
dalam Islam.
Kedua belah pihak lalu meninggal- kan yang lain. Saat itu kaum Muslimin telah memiliki
keberanian yang hebat. Beberapa orang musyrik yang bergabung dengan baris- an kaum muslimin
saat itu yaitu Al-Miqdad bin Amr Al-Bahrani sekutu Bani Zuhrah, dan Utbah bin Ghazwan bin Jabir
Al-Mazini sekutu Bani Naufal bin Abdu Manaf. Keduanya telah masuk Islam, namun mereka berdua
sengaja keluar bersama orang-orang kafir sebagai fasilitas untuk lebih mudah bergabung dengan kaum
muslimin. Pimpinan kaum kafir saat itu yaitu Ikrimah bin Abu Jahal.
Ibnu Hisyam berkata: Ibnu Abu Amr bin Al-Ala' berkata kepadaku dari Abu Amr Al-Madani ia berkata:
Tatkala itu orang-orang kafir dipimpin oleh Mikraz bin Hafsh bin Al-Akhyaf salah seorang dari Bani
Ma'ish bin Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr.
Ibnu Ishaq berkata: Panji perang Ubaidah bin Al-Harits, sebagaimana yang dituturkan padaku, yaitu
panji pertama yang diberikan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dalam Islam kepada salah seorang
kaum Muslimin.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian ulama berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim
Ubaidah bin Al-Harits dan pasukannya tatkala beliau pulang dari Perang Al-Abwa', dan sebelum beliau
tiba di kota Madinah.
Ekspedisi Perang Hamzan bin Abdul Muthalib ke Pesisir Pantai
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat yang bersamaan, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam juga mengirim
Hamzah bin Abdul Muthalib bin Hasyim dengan membawahi tiga puluh orang Muhajirin ke Saiful Bahri
(kawasan pantai) di daerah Al-Ish tanpa mengikut sertakan satu orangpun dari kaum Anshar dalam
ekspedisi Hamzah bin Abdul Muthalib. Di daerah pantai ini , Hamzah bin Abdul Muthalib
bersama pasukannya berpapasan dengan Abu Jahal bersama tiga ratus pasukan orang Makkah.
lalu kedua belah pihak berdamai dengan mediator Majdi bin Amr Al-Juhani yang mendamaikan
kaum Muslimin dan kaum musyrikin dan kedua belah pihak pulang ke tempat masing-masing tanpa
melakukan perang.
Sebagian ulama berpendapat bahwa panji perang Hamzah bin Abdul Muthalib yaitu panji pertama
yang diberikan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada salah seorang dari kaum Muslimin.
Karena pada saat pengiriman ekspedisi perang Hamzah bin Abdul Muthalib, dan ekspedisi perang
Ubaidah bin Al-Harts terjadi secara bersamaan. Karenanya banyak orang yang tidak mengetahui
masalah ini dengan pasti.
Sebagian ulama berkata bahwa Hamzah bin Abdul Muthalib mengucapkan syair-syair yang di
dalamnya berkata bahwa panji perang miliknya yaitu panji pertama yang diserahkan Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Jika Hamzah bin Abdul Muthalib berkata seperti itu, insya Allah ia berkata
benar dan tidak mungkin berdusta. Wallahu a 'lam mana yang paling benar dalam masalah ini.
Sementara yang kami dengar dari para ulama di kalangan kami Ubaidah bin Al-Harits-lah orang
pertama yang diberi panji perang oleh Rasulullah.
Perang Buwath
Ibnu Ishaq berkata: lalu pada bulan Rabiul Awwal, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar
dari Madinah dengan maksud untuk memerangi orang-orang Quraisy.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk As-Saib bin Utsman bin Madz'un sebagai pemimpin
sementara di Madinah, demikian menurut Ibnu Hisyam.
Ibnu Ishaq berkata: Hingga tatkala Rasulullah sampai di Buwath, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
memutuskan pulang ke Madinah, karena tidak ada perlawanan. Beliau menetap di Madinah pada sisa
akhir bulan Rabiul Awwal, dan sebagian bulan Jumadil Ula.
Perang 'Usyairah
lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berangkat untuk memerangi orang-orang Quraisy,
dan menetapkan Abu Salamah bin Abdul Asad sebagai pemimpin sementara di Madinah, demikianlah
sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hisyam.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan melintasi gunung Bani Dinar,
lalu Faifa' dan Al-Khabar. Beliau berhenti di bawah pohon di lembah Bin Azhar yang bemama
Dzatu As-Saaq dan melaksankan shalat di sana. lalu dibangunlah mesjid untuk beliau, makanan
dibuat untuk beliau lalu beliau dan para sahabat menyantapnya. Tempat tungku dapur beliau masih
terisa di sana, dan beliau dihidangi air minum dari Mata Air Al-Musytarib.
Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melanjutkkan perjalanannya dengan meninggalkan Khalaiq
di sisi kiri, dan berjalan melintasi perbukitan berlorong kecil yang disebut dengan bukit berlorong
Abdullah. Itulah nama bukit ini pada saat itu. lalu beliau menuruni Yasar hingga tiba di
Yalyal. Beliau berhenti di perkampungan Yalyal, dan perkampungan Adh-Dhabu'ah. Beliau diam-
bilkan air dari sumur di Adh-Dhabu'ah lalu berjalan melewati dataran Malal, hingga bertemu dengan
jalan di Shuhairat Al-Yama. Lalu berjalan lurus dan berhenti di Al-Usyairah, salah satu kabilah di Yanbu'.
Beliau berada di sana selama bulan Jumadil Ula, dan beberapa malam pada bulan Jumadil Akhir. Beliau
berdamai dengan Bani Mudlij dan sekutu-sekutunya dari Bani Dhamrah. Sesudahnya beliau pulang ke
Madinah tanpa ada perlawanan.
Pemberian Kun-yah (Gelar) Ali dengan Abu Turab
Pada perang ini Rasulullah mengatakan sesuatu kepada Ali bin Abu Thalib.
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Muhammad bin Khaitsam Al-Muharibi berkata kepadaku dari
Muhammad bin Ka'ab Al-Ourazhi dari Muhammad bin Khaitsam Abu Yazid dari Ammar bin Yasir yang
berkata: Aku dan Ali bin Abu Thalib yaitu dua sahabat akrab pada Perang 'Usyairah. Pada saat itu
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhenti di 'Usyairah dan menetap di tempat itu. Kami melihat
sekian banyak Bani Mudlij bekerja di mata air dan kebun kurma mereka. Ali bin Abu Thalib berkata
kepadaku: "Wahai Abu Al-Yaqzhan, apa pendapatmu jika kita singgah ke tempat orang-orang
ini , agar bisa melihat lebih dekat apa yang mereka kerjakan?" Aku menjawab: “Jika engkau mau,
mariian kita pergi ke sana!' Kami pergi ke tempat orang-orang ini untuk melihat pekerjaan
mereka selama beberapa saat hingga kantuk mengalahkan kami. lalu aku dan Ali bin Abu Thailib
pergi, dan tidur-tiduran di bawah anak pohon kurma di tempat yang bertanah lembek. Demi Allah,
tidaklah ada yang membagunkan dari tidur kami kecuali Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang
menggerak-gerakkan kami dengan kakinya, sedangkan kami berlumuran tanah dari tempat kami tidur.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Ali bin Abu Thalib: "Apa yang terjadi pada
dirimu, wahai Abu Turab (bapak tanah)?" Beliau katakan itu karena menyaksikan kami berlumuran
tanah liat. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Maukah kalian aku kabari tentang dua
orang yang paling celaka?" Kami menjawab: "Tentu saja, wahai Rasulullah." Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam bersabda: "Dua orang yang paling celaka ialah Uhaimir Tsamud yang telah
menyembelih unta, dan orang yang memukul tengkukmu seperti ini wahai Ali." Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam bersabda demikian sambil memegang tengkuk Ali bin Abu Thalib hingga basah.
Rasulullah juga sambil memegang jenggot Ali bin Abu Thalib.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian ulama berkata kepadaku Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memberi
gelar Ali bin Abu Thalib dengan Abu Turab, karena ia marah kepada Fathimah karena satu perkara, ia
tidak menuruti marahnya dan tidak mengatakan sesuatu yang melukai hati Fathimah. Alih-alih ia
malah mengambil tanah, lalu menyimpannya di atas kepalanya. jika Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam melihat tanah di atas kepala Ali bin Abu Thalib beliau paham bahwa Ali bin Abu Thalib
sedang marah kepada anaknya tercintanya Fathimah, lalu beliau bersabda: "Ada apa dengan
dirimu, wahai Abu Turab?" Wallahu a'lam mana yang lebih benar dalam hal ini.
Ekspedisi Sa'ad bin Abi Waqqash
Ibnu Ishaq berkata: Di sela waktu ini , Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus Sa'ad bin
Abu Waqqash bersama pasukannya yang terdiri dari kaum Muhajirin yang berjumlah delapan orang.
Sa'ad bin Abu Waqqash dan pasukannya berangkat hingga tiba di Al-Kharrar di Hijaz, lalu pulang
ke Madinah tanpa ada perlawanan.
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian ulama menyatakan bahwa pengiriman ekspedisi Sa'ad bin Abu
Waqqash terjadi sesudah pengiriman pasukan Hamzah bin Abdul Muthalib.
Perang Safwan, Perang Badar Pertama
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah tinggal di Madinah tidak lebih dari sepuluh malam sesudah
kedatangannya dari Perang 'Usyairah, ternyata Kurzu bin Jabir Al-Fihri menyerang sekawanan hewan
ternak Madinah. Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar mengejar Kurzu bin Jabir Al-Fihri.
Beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai wakilnya di Ma¬dinah sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu
Hisyam.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengejar Kurzu bin Jabir Al-Fihri hingga
lembah Safwan dari arah Badar namun tidak berhasil mengejar Kurzu bin Jabir Al-Fihri untuk
menangkapnya. Inilah Perang Badar Pertama.
lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali ke Madinah dan menetap di sana sepanjang
sisa bulan Jumadil Akhir, Rajab, dan Sya'ban.
Ekspedisi Perang Abdullah bin Jahsy dan Turunnya ayat: (Mereka bertanya kepadamu tentang
berperang di bulan Haram)
Ibnu Ishaq berkata: Pada bulan Rajab, sesudah kedatangannya dari Perang Badar I, Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim Abdullah bin Jahsy bin Riab Al-Asadi dengan membawa delapan
orang kaum Muhajirin dan tanpa ada seorang pun dari kalangan Anshar. Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam menulis surat untuk Abdullah bin Jahsy dan memintanya untuk tidak membukanya kecuali
sesudah perjalanan berlangsung selama dua hari. Sesudah dua hari berjalan, Abdullah bin Jahsy baru
membukanya sesuai dengan perintah beliau di surat ini tanpa memaksa seorangpun dari
sahabatnya.
Sahabat-sahabat Abdullah bin Jahsy dari kaum Muhajirin dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf yaitu
Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah bin Abdu Syams.
Dari sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf yaitu Abdullah bin Jahsy yang menjadi komandan
mereka, dan 'Ukkasyah bin Mihshan bin Hurtsan sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf dari Bani
Asad bin Khuzaimah. Dari Bani Naufal bin Abdu Manaf yaitu Utbah bin Ghazwan bin Jabir sekutu
mereka.
Dari Bani Zuhrah bin Kilab yaitu Sa'ad bin Abu Waqqash.
Dari Bani Adi bin Ka'ab yaitu Amir bin Rabi'ah sekutu mereka dari Anz bin Wail, Waqid bin Abdullah
bin Abdu Manaf bin Arin bin Tsa'labah bin Yarbu' salah seorang Bani
Tamim sekutu mereka, Khalid bin Al-Bukair salah seorang Bani Sa'ad bin Laits sekutu mereka.
Dan dari Bani Al-Harits bin Fihr yaitu Suhail bin Baidha'.
Sesudah berjalan dua hari, Abdullah bin Jahsy membuka surat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ternyata surat ini berbunyi sebagai berikut: jika membaca suratku ini, hendaklah engkau
berjalan hingga berhenti di Nakhlah antara Makkah dan Thaif. Perhatikan dan awasi kaum kafir
Quraisy lalu laporkan kepadaku berita tentang mereka.
Sesudah membuka dan membaca surat ini , Abdullah bin Jahsy berkata: "Aku patuh atas
perintahmu." Abdullah bin Jahsy berkata kepada sahabat-sahabatnya: Rasulullah Shallallau 'Alaihi wa
Sallam memerintahkanku berjalan menuju Nakhlah untuk mengawasi kaum Quraisy lalu melaporkan
berita tentang mereka kepadanya. Beliau tidak membolehkan aku memaksa seorang pun dari kalian.
Barangsiapa di antara kalian berniat mati syahid, dan tertarik padanya, silakan tetap ikut bersama aku.
Namun barangsiapa tidak ingin mati syahid, silakan saja kembali ke Madinah. Sedangkan aku tetap
akan melaksanakan amar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Abdullah bin Jahsy dan sahabat-sahabatnya melanjutkan perjalanan dan ternyata tidak seorang pun
dari mereka yang pulang ke Madinah. Mereka berjalan melalaui Hijaz. Tatkala mereka berada di
Bahran, unta Sa'ad bin Abu Waqqash dan Utbah bin Ghazwan tiba-tiba hilang. Padahal unta mereka
berdua telah diikat kuat. Dampaknya keduanya ter- tinggal dari pasukan Abdullah bin Jahsy karena
mencari-cari untanya.
Abdullah bin Jahsy dan sisa-sisa sahabatnya tetap berjalan hingga sampai di Nakhlah yang
dimaksudkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Tak berapa lama lalu kafilah dagang
Quraisy yang membawa anggur kering, kulit, dan barang-barang dagangan orang-orang Quraisy
melewati Nakhlah. Di dalam kafilah dagang ini ada Amr bin Al-Hadhrami, Utsman bin Abdullah bin Al-
Mughirah Al-Makhzumi, saudara Utsman yang bernama Naufal bin Abdullah Al-Makhzumi, dan Al-
Hakam bin Kaisan mantan budak Hisyam bin Al-Mughirah. Tatkala kafilah dagang Quraisy ini
dilihat pasukan Abdullah bin Jahsy mereka didera ketakutan, sebab posisi tempat mereka berhenti
tepat berdekatan dengan pasukan Abdullah bin Jahsy. Lalu Ukkasyah bin Mihsyan yang telah
mencukur rambutnya mendekat kepada kafilah dagang Quraisy ini . Begitu melihat kedatangan
Ukkasyah bin Mihshan, mereka merasa aman. Mereka berkata: "Ini dia Ummar. Janganlah kalian takut
kepada mereka." Pada saat itu juga, pasukan Abdullah bin Jahsy bermusyawarah antar mereka
membahas tentang kafilah dagang Quraisy. Peristiwa ini terjadi pada akhir bulan Rajab. Pasukan
Abdullah bin Jahsy berkata: "Demi Allah, jika malam ini kalian membiarkan kafilah dagang Quraisy
ini , mereka pasti akan memasuki Al-Haram lalu berlindung dari kalian di sana. jika
membunuh mereka berarti kalian membunuh mereka di bulan-bulan haram."
Pasukan Abdullah bin Jahsy pun merasa ragu. Namun akhirnya mereka memutuskan untuk menyerang
kafilah dagang Quraisy ini . Mereka bakar semangat untuk menghadapi kafilah dagang Quraisy
itu. Mereka sepakat untuk membunuh siapa saja dari kafilah dagang Quraisy yang mampu mereka
bunuh, dan mengambil apa saja yang bisa dirampas dari mereka. Lalu Waqid bin Abdullah At-Tamimi
melepaskan anak panahnya ke arah Amr bin Al-Hadhrami dan menewaskannya.
Pasukan Abdullah bin Jahsy berhasil pula menawan Utsman bin Abdullah dan Al-Hakam bin Kaisan.
Sementara Naufal bin Abdullah berhasil lolos dari serbuan pasukan Abdullah bin Jahsy dan mereka
tidak berhasil menangkapnya. Lalu Abdullah bin Jahsy dan pasukannya pulang membawa unta dan
dua tawanan hingga tiba di Madinah dan bertemu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Salah seorang dari keluarga Abdullah bin Jahsy menyebutkan bahwa Abdullah bin Jahsy berkata
kepada sahabat-sahabatnya: "sebenarnya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mempunyai hak
seperlima dari rampasan perang yang kita peroleh." Itu terjadi jika Allah Ta'ala belum mewajibkan
seperlima terhadap rampasan perang. Abdullah bin Jahsy menyisihkan seperlima bagian untuk
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sisanya dia bagikan untuk para sahabatnya.
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat pasukan Abdullah bin Jahsy menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam, beliau bersabda: "Aku tidak menyuruh kalian untuk membunuh mereka di bulan haram."
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menahan unta dan kedua tawanan ini . Beliau tidak mau
mengambil bagian sedikit pun dari rampasan ini . jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
mengatakan itu, pasukan Abdullah bin Jahsy sangat menyesal atas perbuatan mereka dan mereka
merasa akan dihukum qishah.
Kaum Muslimin juga sangat mengecam tindakan yang mereka lakukan. Pada saat yang sama di tempat
lain, orang-orang Quraisy berkata: "Muhammad dan para sahabatnya telah menghalalkan bulan
haram dan menumpahkan darah, merampas harta dan menawan manusia di bulan haram." Beberapa
orang dari kaum Muslimin di Makkah membalas ucapan orang-orang Quraisy dengan berkata
"sebenarnya tindakan pasukan Abdullah bin Jahsy merupakan reaksi atas apa yang mereka terima
di bulan Sya'ban."
Orang-orang Yahudi berkata menyerang Rasulullah dalam ucapan yang buruk: "Amr bin Al-Hadhrami
telah dibunuh Waqid bin Abdullah. Amr telah meramaikan (ammarat) perang. Al-Hadhrami ialah orang
yang terlibat perang. Dan Waqid bin Abdullah ialah orang yang menyalakan(waqid) perang." Pada saat
orang-orang ramai membicarakan tentang peristiwa ini, Allah menurunkan ayat-Nya:
Mereka bertanya kepadamu tentang berperang di bulan haram. Katakanlah, 'Berperang di bulan itu
dosa besar, tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk)
Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitamya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. (QS. al-
Baqarah: 217). Yakni, jika kalian telah membunuh pada bulan haram, sebenarnya mereka telah
menghalang-halangi kalian dari jalan Allah dan telah kafir kepada Allah, melarang kalian ke Masjidil
Haram, dan mengusir kalian dari sana. Padahal kalianlah orang yang paling berhak atas Masjidil
Haram. Dosa yang mereka lakukan itu jauh lebih besar dosanya di sisi Allah dibandingkan pembunuhan
kalian terhadap seorang di antara mereka.
Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) dibandingkan membunuh. (QS. Baqarah: 217). Yakni, mereka
telah menyiksa orang Muslim disebabkan oleh agama mereka, karena mereka berambisi sekali untuk
mengeluarkan orang Muslim dari agamanya sesudah mereka beriman. Yang demikian itu jauh lebih
besar dosanya di sisi Allah dibandingkan pembunuhan yang kalian lakukan.
Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari
agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup (QS. al-Baqarah: 217). Yakni, mereka
melakukan perbuatan yang lebih kejam dan lebih jahat dibandingkan perbuatan mereka sebelum itu
sebagaimana disebutkan pada ayat sebelumnya. Mereka engggan bertobat, dan tiada hentinya dari
melakukan tindakan-tindakan jahat itu.
Tatkala ayat Al-Qur'an turun membawa hal ini , dan Allah menghilangkan gundah gulana yang
dialami kaum Muslimin. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersedia untuk menerima unta dan
kedua tawanan perang ini . lalu orang-orang Quraisy mengirim perwakilan mereka untuk
menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk menebus Utsman bin Abdullah dan Al-Hakam
bin Kaisan. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Kami tidak akan menyerahkan keduanya
pada kalian sampai dua sahabat kami datang yakni Sa'ad bin Abu Waqqash dan Utbah bin Ghazwan.
Kami khawatir kalian berbuat sesuatu yang tidak wajar terhadap mereka. Jika ternyata kalian
membunuh mereka berdua, maka dua sahabat kalian ini akan kami bunuh pula." Tak lama lalu ,
Sa'ad bin Abu Waqqash dan Utbah bin Ghazwan tiba di Madinah, lalu Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam menyerahkan dua tawanan tadi kepada perwakilan Quraisy.
Sedangkan Al-Hakam bin Kaisan, ia masuk Islam dengan amat baik. Dia tetap tinggal bersama
Rasulullah di Madinah hingga terbunuh sebagai seorang syahid pada Perang Bi'ru Ma unah. Sementara
Utsman bin Abdullah pulang kembali ke Makkah dan mati dalam kondisi kafir.
Tatkala gundah gulana telah hilang dari pasukan Abdullah bin Jahsy sesudah Al-Qur'an turun, maka
para sahabat berobsesi besar untuk mendapat pahala. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah,
bolehkan kita menginginkan perang, yang dengan perang itu kita memperoleh pahala para
mujahidin?" Allah Yang Mahaagung menurunkan firman-Nya:
sebenarnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah,
mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. al-
Baqarah: 218). Allah memposisikan mereka pada harapan tertinggi.
Hadits tentang hal ini berasal dari Az- Zuhri dan Yazid bin Ruman dari Urwah bin Zubair.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian keluarga Abdullah bin Jahsy berkata bahwa Allah membaginya dengan
cara fay' (rampasan tanpa pertempuran), sesudah Dia menghalalkannya, yakni empat perlima bagi
yang mendapat nya sedangkan seperlima yaitu bagian untuk Allah dan Rasul-Nya. Artinya, ini
selaras dengan kebijakan yang diambil Abdullah bin Jahsy pada unta yang mereka dapatkan dari
kafilah dagang Quraisy ini .
Ibnu Hisyam berkata: Itulah rampasan perang pertama yang diperoleh kaum Muslimin. Sedangkan
Amr bin Al-Hadhrami yaitu orang yang pertama kali dibunuh oleh kaum Muslimin sementara Utsman
bin Abdullah dan Al-Hakam bin Kaisan yaitu orang yang pertama kali menjadi tawanan kaum
Muslimin.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Bakar Ash-Shid- diq berkata mengenai ekspedisi Abdullah bin Jahsy, walaupun
ada juga yang mengatakan bahwa perkataan ini dikatakan oleh Abdullah bin Jashy tatkala orang-orang
Quraisy berkata: "Muhammad dan sahabat-sahabatnya menghalalkan bulan-bulan haram,
menumpahkan darah, merampas harta di dan menawan orang-orang di dalamnya."
Perubahan Arah Kiblat ke Ka'bah
Ibnu Ishaq berkata: Ada yang berpendapat bahwa perubahan arah kiblat ke Ka'bah terjadi pada bulan
Sya'ban, delapan belas bulan sesudah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah.
Perang Badar Kubra
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar berita bahwa Abu Sufyan bin
Harb baru saja tiba dari Syam bersama dengan kafilah dagang Quraisy yang membawa sejumlah besar
kekayaan dan barang dagangan milik orang-orang Quraisy. Kafilah ini terdiri dari tiga puluh atau empat
puluh orang Quraisy. Di antara mereka ada Makhramah bin Naufal bin Uhaib bin Abdu Manaf bin
Zuhrah dan Amr bin Al-Ash bin Wail bin Hisyam.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berkata bahwa Amr yaitu anak dari Wail bin Hasyim.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim Az-Zuhri, Ashim bin Umar bin Qatadah, Abdullah bin Abu
Bakr, Yazid bin Ruman, dan ulama-ulama lain berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari Ibnu Abbas
Radhiyallahu Anhuma. Mereka Semua mengatakan beberapa hadits dalam redaksi sama tentang
Perang Badar.
Mereka berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar Abu Sufyan bin Harb
tiba dari Syam, beliau mengajak kaum Muslimin keluar dari Madinah dan bersabda: "Inilah kafilah
dagang Quraisy. Di dalamnya yaitu harta kekayaan mereka. Oleh sebab itu, pergilah kalian kepada
mereka! Semoga Allah memberikan kekayaan mereka kepada kalian!" Kaum Muslimin menanggapi
cepat seruan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Sebagian mereka merasa ringan tanpa beban
untuk berangkat dan sebagian lainnya merasa berat hati untuk berangkat, karena mereka tidak
mengira Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam akan mendapat perlawanan perang.
Pada saat mendekati Hijaz, Abu Sufyan mengorek berita dan bertanya kepada musafir yang ia temui,
karena khawatir mendapat serangan tak terduga. Akhirnya dia mendapat berita dari salah seorang
musafir yang mengatakan kepadanya: "sebenarnya Muhammad telah mengirim sahabat-
sahabatnya untuk menyerangmu dan kafilah dagang yang kamu pimpin." Karena berita ini , Abu
Sufyan bersikap ekstra hati-hati. Ia menyewa Dhamdham bin Amr Al-Ghifari untuk pergi ke Makkah
dan memerintahkannya untuk mendatangi orang-orang Quraisy serta mendesak mereka untuk
menyelamatkan harta kekayaan mereka, dan memberi tahu mereka bahwa Muhammad kini telah
menghadangnya bersama para sahabatnya. Dhamdham bin Amr Al-Ghifari segera meluncur ke
Makkah.
Mimpi Atikah Binti Abdul Muthalib
Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan integritasnya berkata kepadaku dari Ikrimah dari
Ibnu Abbas, dan Yazid bin Ruman dari Urwah bin Zubair mereka berdua berkata: Tiga malam sebelum
kedatangan Dhamdham bin Amr Al-Ghifari di Makkah, Atikah binti Abdul Muthalib melihat mimpi yang
sangat mengerikan. Ia pun pergi menemui saudaranya, Al-Abbas bin Abdul Muthalib sambil bertutur:
"Saudaraku, demi Allah, semalam aku melihat mimpi yang demikian mengerikan. Aku khawatir
keburukan dan musibah akan menimpa kaummu. Maka rahasiakanlah apa yang aku akan katakan
padamu nanti." Al-Abbas bin Abdul Muthalib bertanya kepada Atikah binti Abdul Muthalib: "Mimpi
apakah yang engkau lihat?" Atikah binti Abdul Muthalib menjawab: "Dalam mimpiku aku melihat
seorang musafir datang dengan menunggang unta. Ia berdiri di sebuah tanah lembah nan lapang. Lalu
ia berteriak dengan suara sangat lantang: "Ketahuilah, wahai orang-orang Ghudar, berangkatlah kalian
ke ladang kematian kalian dalam jangka tiga hari." Aku lihat manusia berhimpun pada musafir
ini , lalu ia masuk ke masjid di ikuti banyak orang. jika mereka berada di sekelilingnya,
musafir ini berdiri di atas untanya di depan Ka'bah, lalu berteriak dengan suara sangat lantang:
"Ketahuilah, wahai orang-orang Ghudar, berangkatlah kalian ke ladang kematian kalian dalam jangka
tiga hari." lalu musafir ini berdiri di atas untanya di atas Abu Qubais, dan berteriak dengan
teriakan yang sama lantangnya. Musafir ini mengambil batu besar lalu melemparkannya. Batu
besar itu meluncur jatuh. Tatkala batu ini sampai di bawah gunung, ia pecah berkeping-keping.
Tidak ada satupun rumah di Makkah, kecuali diterjang pecahan batu besar ini ."
Al-Abbas bin Abdul Muthalib berkata: "Demi Allah, inilah mimpi yang sebenarnya. Saya berpesan
padamu agar merahasiakan mimpimu ini, dan janganlah sekali-kali kau menceritakannya kepada siapa
pun"
lalu Al-Abbas bin Abdul Muthalib keluar dan bertemu dengan Al-Walid bin Utbah bin Rabi'ah
seorang sahabat dekat Al-Abbas bin Abdul Muthalib. Lalu Al-Abbas bin Abdul Muthalib menceritakan
mimpi Atikah binti Abdul Muthalib kepadanya, dan meminta Al-Walid merahasiakan rapat-rapat
mimpi ini . Sayang sekali Al-Walid tak mampu menahan rahasia dan ia menceritakan mimpi
ini kepada ayahnya, Utbah bin Rabi'ah. Hasilnya, berita tentang mimpi ini pun menyebar
luas ke seantero Makkah dan menjadi bahan pembicaraan hangat di antara orang-orang Quraisy di
tempat pertemuan mereka.
Al-Abbas berkata: Lalu aku pergi untuk thawaf di Baitullah. Saat itu, Abu Jahal sedang berkumpul
bersama beberapa orang Quraisy membincangkan serius tentang mimpi Atikah binti Abdul Muthalib.
Pada saat Abu Jahal melihatku, ia berkata: "Wahai Abu AI-Fadhl, jika telah selesai thawaf, harap
engkau datang ke tempat kami!" Seusai thawaf, aku datang dan duduk bersama mereka. Abu Jahal
berkata kepadaku: "Wahai Bani Abdul Muthalib, sejak kapan ada nabi wanita di tengah kalian?" Aku
bertanya: "maksudnya apa itu ?" Abu Jahal berkata: "Mimpi yang dilihat Atikah." Aku bertanya:
"Bermimpi apakah Atikah?" Abu Jahal berkata: "Wahai Bani Abdul Muthalib, bukankah kalian senang
ada seorang laki-laki di antara kalian yang mengaku sebagai seorang nabi, lalu wanita kalian juga
mengaku sebagai nabi? Atikah mengaku bahwa dalam mimpinya, orang ini berkata: 'Pergilah
kalian dalam tiga hari ini! Kami akan menunggu apa yang akan terjadi pada kalian dalam jangka waktu
tiga hari ini! jika apa yang dikatakan Atikah benar, maka dia akan terjadi. Jika telah berjalan tiga
hari, namun tidak terjadi sesuatupun, kami akan menulis bahwa kalian yaitu warga Baitullah yang
paling pendusta di seluruh dunia Arab."
Al-Abbas berkata: Demi Allah, di mataku Abu Jahal bukanlah apa-apa, aku bisa melakukan apa saja
atasnya. Namun, aku sengaja mengingkari mimpi ini , pura-pura tidak mengetahuinya. sesudah
itu kami bubar.
Pada sore harinya, tidak seorangpun wanita Bani Abdul Muthalib kecuali pasti datang menemuiku.
Setiap wanita Bani Abdul Muthalib berkata: "Mengapa engkau biarkan begitu saja orang fasik dan
kotor ini menyerang orang laki-laki kita, dan menyinggung perasaan wanita-wanita kita? Sementara
engkau mendengar jelas ucapannya, namun engkau tidak merasa gerah atas ucapan yang engkau
dengar." Al-Abbas berkata: "Demi Allah, aku akan melakukannya. Abu Jahal itu bukan apa-apa di
mataku, dan aku bisa melakukan apa saja atasnya. Aku bersumpah kepada Allah, aku akan hadapi dia.
Jika ia mengulangi perbuatannya, aku pasti melakukan perlindungan terhadap kalian dari perilaku
jahatnya."
Al-Abbas berkata: "Tiga hari sesudah mimpi Atikah binti Abdul Muthalib, aku keluar rumah dalam
keadaan marah besar. Aku mengira bahwa aku telah kehilangan momen besar yang seharusnya aku
lakukan. Aku masuk masjid, dan melihat Abu Tahal di dalamnya. Demi Allah, aku berjalan ke arahnya
untuk menghadapinya, agar ia menahan sebagian ucapannya, dan aku bisa membungkamnya. Abu
Jahal yaitu orang yang ringan, wajahnya keras, mulutnya dan pandangannya tajam. Tiba-tiba Abu
Jahal buru-buru keluar menuju pintu masjid. Aku berkata dalam diri ku: "Ada apa dengan orang yang
dikutuk Allah ini?" Apakah ia takut aku akan mencercanya?" Ternyata Abu Jahal telah mendengar apa
yang tidak aku dengar, yaitu suara Dhamdham bin Amr Al-Ghifari di tengah lembah sambil berdiri di
atas untanya yang hidungnya sudah dipotong. Ia putar pelana untanya dalam posisi terbalik, dan
merobek-robek bajunya. Dhamdham bin Amr Al-Ghifari berkata: "Hai orang-orang Quraisy, unta, dan
harta kekayaan kalian yang sedang dibawa Abu Sufyan dihadang oleh Muhammad bersama para
sahabatnya. Aku kira kalian tidak bisa menyelamatkannya. Bantulah mereka dan selamatkanlah
meraka"
Al-Abbas berkata: "Aku lebih fokus dengan berita Dhamdham, hingga tak mempedulikan Abu Jahal.
Demikian pula halnya dengan Abu Jahal, dia fokus pada kabar itu dan tidak memperhatikan saya."
Orang-orang Quraisy cepat-cepat melakukan persiapan. Mereka berkata: "Apakah Muhammad dan
sahabat-sahabatnya menyangka bahwa nasib kafilah dagang Abu Sufyan akan mengalami nasib serupa
dengan nasib kafilah dagang Ibnu Al-Hadhrami? Tidak, demi Allah, dia pasti akan mengetahui, bahwa
kafilah dagang Abu Sufyan tidak akan mengalami nasib serupa dengan kafilah dagang Ibnu Al-
Hadhrami." Orang-orang Quraisy terbagi ke dalam dua kelompok. Ada yang keluar sendiri untuk
menghadapi Muhammad dan sahabat-sahabatnya dan ada yang cukup dengan mengutus seseorang
sebapai pengganti dirinya. Orang-orang Quraisy sepakat untuk perang. Tidak ada seorang pun dari
tokoh-tokoh utama mereka yang ketinggalan, kecuali Abu Lahab bin Abdul Muthalib. Ia tidak ikut serta
dan hanya mengutus Al-Ashi bin Hisyam bin Al-Mughirah sebagai pengganti dirinya. Awalnya Al-Ashi
bin Hisyam bin Al-Mughirah tidak akan ikut terjun dalam kecamuk perang karena ia mempunyai
hutang sebesar empat ribu dirham kepada Abu Lahab. Al-Ashi bin Hisyam bin Al-Mughirah bangkrut
dalam perdagangannya. Maka iapun di kontrak Abu Lahab dengan nilai sebesar hutangnya. Akhirnya,
ia ikut perang menggantikan posisi Abu Lahab.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku bahwa Umayyah bin Khalaf memutuskan
tidak ikut perang. Ia sudah sangat tua dan terhormat, gemuk, dan berbadan berat. Uqabah bin Mu'aith
datang menemui Umayyah bin Khalaf yang pada saat itu duduk di masjid bersama kaumnya. Ia
membawa anglo tempat membakar kemenyan dan dupa. Uqbah bin Abu Mu'aith meletakkan anglo
dan dupa ini di depan Umayyah bin Khalaf seraya berkata: "Wahai Abu Ali, hiasilah dirimu
dengan dupa ini, karena engkau laksana seorang perempuan." Umayyah bin Khalaf menjawab:
"Semoga Allah memburukkanmu dan memburukkan apa yang engkau bawa!" Karena tersinggung
Umayyah bin Khalaf segeraber siap-siap dan ikut perang bersama pasukan lainnya.
Perang Antara Kinanah dan Quraisy dan Persekutuan Mereka di Perang Badar
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat orang-orang Quraisy mengadakan persiapan perang, dan akan
berangkat, tiba-tiba memori mereka terbang pada perang yang terjadi antara mereka melawan Bani
Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. Mereka berkata: "Kita khawatir orang-orang Bani Bakr akan
menohok kita dari belakang."
Seseorang dari Bani Amir bin Luay berkata kepadaku dari Muhammad bin Sa'id bin Al-Musayyib yang
berkata bahwa anak Hafsh bin Al-Akhyaf salah seorang dari Bani Ma'ish bin Amir bin Luay keluar untuk
mencari untanya yang hilang di Dhajnan. Anak Hafsh itu terbilang masih sangat muda, rambutnya
memakai ikatan, mengenakan perhiasan demikian tampan dan bersih. Anak Hafsh ini berjalan
melewati Amir bin Yazid bin Amir Al-Mulawwah, salah seorang dari Bani Ya'mur bin Auf bin Ka'ab bin
Amir bin Laits bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah di Dhajnan. Pada saat itu Amir bin Yazid yaitu
seorang pemimpin kaumnya. Pada saat meli- hat anak Hafsh, ia terpikat kepadanya. Ia bertanya
kepada anak Hafsh: "Siapa engkau ini wahai anak muda?" Anak Hafsh menjawab: "Aku anak Hafsh bin
Al-Akhyaf Al-Qurasyi." Tatkala anak Hafsh itu berpaling dari Amir bin Al-Akhyaf, ia berkata: "Wahai
Bani Bakr, apakah kalian punya utang darah pada Quraisy?" Mereka menjawab: "Ya, kita punya utang
darah pada mereka." Amir bin Yazid berkata: "jika salah seorang di antara kalian membunuh anak
muda ini, berarti ia telah menunaikan hutang darahnya."
Salah seorang dari Bani Bakr bergerak untuk membunuh anak Hafsh lalu ia membunuhnya sebagai
pembalasan darah yang ada pada Quraisy. Orang-orang Quraisy geger membicarakan pembunuhan
terhadap anak Hafsh itu. Amir bin Yazid berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, kalian memiliki utang
darah pada kami. Apakah yag menjadi keinginan kalian? jika mau, silahkan bayar hutang kalian
pada kami sebelumnya, niscaya kami bayar lunas utang kami pada kalian sebelum ini. Jika mau, maka
ini yaitu darah satu orang dibalas dengan darah satu orang pula. Oleh karena itu, silakan kalian
membayar hutang kalian sebelumnya pada kami, niscaya kami bebaskan hutang kalian atas kami
sebelumnya. Anak Hafsh ini dianggap tidak ada harganya di perkampungan orang-orang
Quraisy." Orang-orang Quraisy berkata: "Benar, satu orang dibalas dengan satu orang pula." Maka
mereka tidak menuntut apa pun atas darah anak Hafsh.
Tatkala saudara korban Makraz bin Hafsh bin Al-Akhyaf berjalan melintas di Marr Adh-Dhahran, ia
melihat Amir bin Yazid bin Amir bin Al-Mulawwah sedang menunggang unta. Tatkala Makraz bin Hafsh
melihatnya, ia mendekat kepadanya dan mendudukkan untanya. jika itu Amir bin Yazid menghunus
pedang dan Makraz bin Hafsh menyerangnya dengan pedangnya hingga tewas. Lalu Makraz bin Hafsh
merobek perutnya lalu membawanya ke Makkah, dan menggantungkannya suatu malam pada kain
Ka'bah. jika orang-orang Quraisy melihat pedang Amir bin Yazid bin Amr menggantung di kain
Ka'bah keesokan mereka pun mengenalinya. Mereka berkata: "Ini pasti pedang Amir bin Yazid. Ia
diserang Makraz bin Hafsh dan lalu membunuhnya." Demikianlah apa yang terjadi antara orang-
orang Quraisy dengan Bani Bakr.
Pada saat mereka berada pada situasi perang demikian, datanglah Islam menengahi perselisihan itu
dan mereka melupakan yang lain, hingga orang Quraisy memutuskan untuk berangkat ke Badar. Lalu
memori kembali muncul tentang perseteruannya dengan Bani Bakr dan mereka was-was Bani Bakr
menyerang.
Makraz bin Hafsh berkata dalam untaian syair tentang pembunuhannya terhadap Amir bin Yazid:
Kala ku lihat bahwa dia yaitu Amir
Aku ingat akan daging mengelupas saudara tercintaku
Aku bergumam dalam diriku, 'Dia itu Amir, Janganlah takut padanya dan lihatlah tunggangan apa
saja
Aku yakin aku kuasa memukulnya dengan pedang, dan ia pasti binasa Saat menghadapinya, aku
kendalikan rasa takutku
Dan kudorongkan dadaku pada pahlawan si penghunus pedang yang kenyangpengalaman Tatkala
kekhawatiran telah bertemu untuk perang
Aku tidak tampakkan diriku sebagai anak dua orang tua yang bodoh
Aku mengendurkan anak panahku, dan aku tak pernah melupakan balas dendamnya jika orang
yang lemah akalnya lupa pada dendamnya
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ruman menuturkan kepadaku dari Urwah bin Zubair yang berkata:
Tatkala orang-orang Quraisy telah memutuskan berangkat perang, mereka ingat konfliknya dengan
Bani Bakr. Memori tentang konflik ini hampir saja menggagalkan keberangkatan mereka. Namun iblis
terkutuk menampakkan diri kepada mereka dalam rupa Suraqah bin Malik bin Ju'syum Al-Mudliji.
Suraqah bin Malik yaitu salah seorang tokoh utama Bani Kinanah. Iblis berkata kepada orang-orang
Quraisy: "Aku memberikan garansi kepada mereka bahwa orang-orang Kinanah tidak akan menohok
kalian dari belakang dengan hal-hal yang kalian tidak sukai." Maka merekapun berangkat dengan
segera.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar dari Madinah bersama para
sahabatnya sesudah Ramadhan berlalu beberapa hari.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar dari Madinah pada hari Senin
tanggal 8 Ramadhan, dan mengangkat Amr bin Ummu Maktum sebagai pengganti sementara beliau
untuk menjadi imam shalat di Madinah. Ada juga yang berp











