Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 19. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 19. Tampilkan semua postingan

Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 19

 


aku telah 

datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yang mengokohkan 

kenabianku bahwa sebenarnya  aku yaitu  seorang Rasul darinya yang diutus kepada kalian, 

 

yaitu aku membuat untuk kamu dari tanak berbentuk burung; lalu  aku meniupnya maka ia 

menjadi seekor burung dengan seizin Allah; yang telah mengutusku kepada kalian semua, Dia Tuhanku 

dan Tuhan kalian semua, 

 

dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahirnya dan orang yang berpenyakit sopak; dan 

aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah; dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu 

makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu. sebenarnya  padayang demikian itu yaitu  suatu 

tanda (kebenaran kerasulanku) bagimu, bahwa sebenarnya  aku yaitu  seorang Rasul Allah pada 

kalian, jika kamu sungguh-sungguh beriman. " 

 

Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan 

bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, yakni aku beritahukan kepadamu bahwa itu haram 

lalu  kalian meninggalkannya, lalu aku beritahukan bahwa itu halal untuk kalian sebagai 

keringanan sehingga kalian mendapat  kemudahan dan kalian keluar dari beban-bebannya, 

 

dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena itu 

bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. sebenarnya  Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, 

sebagai ungkapan berlepas diri dari apa yang mereka katakan tentang Isa dan sebagai hujjah untuk 

Tuhannya atas mereka, 

 

karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus." Yakni inilah apa yang aku bawa atasnya dan akan 

datang dengannya, 

 

Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israel), dan permusuhan atasnya, 

 

berkatalah dia: "Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) 

Allah?"Para hawariyyin (sahabat-sahabat setia) menjawab: "Kami lah penolong-penolong (agama) 

Allah. Kami beriman kepada Allah; ini yaitu  ungkapan mereka dimana mereka mendapat  

keutamaan dari Tuhan mereka, 

 

dan saksikanlah bahwa sebenarnya  kami yaitu  orang-orang yang berserah diri, bukan 

sebagaimana yang dikatakan orang-orang yang mendebatmu tentang Isa. 

 

Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang telah Engkau turunkan dan telah kami ikuti rasul, 

karena itu masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang menjadi saksi (tentang keesaan 

Allah)." (QS. Ali Imran: 48-53) Yakni demikianlah perkataan dan keimanan mereka. 

Lalu Allah menyebutkan tentang pengangkatan Nabi Isa pada-Nya saat mereka berkonspirasi untuk 

membunuhnya. Allah berfirman: 

 

Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu, dan Allah sebaik-

baik pembalas tipu-daya (QS. Ali Imran: 54). 

lalu  Allah memberitahukan kepada mereka, dan menyangkal prasangka orang-orang Yahudi 

yang menyatakan bahwa mereka telah menyalib Nabi Isa dan cara Allah mengangkat Nabi Isa, dan 

membersihkan beliau dari mereka. Allah berfirman: 

 

(Ingatlah), jika  Allah berfirman: "Hai Isa, sebenarnya  Aku akan menyampaikan kamu kepada 

akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang 

kafir, tatkala mereka merencanakan apa yang mereka inginkan, dan menjadikan orang-orang yang 

mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat, (QS. Ali Imran: 55). lalu  

kisahnya berlanjut hingga berakhir pada firman-Nya, 

 

Demikianlah (kisah Isa), Kami membacakannya kepada kamu, wahai Muhammad, sebagian dari bukti-

bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al-Qur'an yang penuh hikmah. ' (QS. Ali Imran: 58). 

Inilah kata terakhir yang benar yang tidak ada kebatilan di dalamnya tentang kisah Nabi Isa, dan apa 

yang mereka perselisihkan tentang beliau. Oleh karena itu, janganlah engkau menerima kabar lain 

selain dari apa yang kamu peroleh dari kabar ini. 

lalu  Allah berfirman: 

 

sebenarnya  misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, yaitu  seperti (penciptaan) Adam. Allah 

menciptakan Adam dari tanah, lalu  Allah berfirman kepadanya: "Jadilah" (seorang manusia), 

maka jadilan dia. (Apa yang telah Kami ceritakan itu), inilah yang benar, yang datang dari Tuhanmu. 

yakni kabar yang datang padamu tentang Isa, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang 

ragu-ragu. (QS. Ali Imran: 59- 60). Kebenaran dari Tuhanmu telah dataEi kepadamu, yakni tentang Isa. 

Oleh karena itu janganlah engkau meragukannya. Jika mereka mengatakan, 'Isa diciptakan tanpa 

ayah,' sebenarnya  Aku juga sebelumnya telah menciptakan Adam dari tanah tanpa ayah dan ibu. 

Penciptaan Adam tidak jauh berbeda dengar penciptaan Isa; sama-sama mempunyai daging, darah, 

rambut, dan kulit. Jadi penciptaan Isa yang tidak memiliki ayah itu tidak lebih menakjubkan dari 

penciptaan Adam. 

lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

 

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu , (QS. Ali 

Imran: 61), yakni sesudah  Aku kisahkan kepadamu tentang Isa dan bagaimana kondisi dia yang 

sebenarnya maka Allah Taaia berfirman: 

 

Maka katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-

istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; lalu  marilah kita bermubahalah kepada 

Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali Imran: 

61). 

Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaid berkata: Nabtahil artinya kita berdoa untuk saling laknat. 

Ibnu Ishaq berkata: sebenarnya  apa yang aku bawa tentang kabar Isa: 

 

sebenarnya  ini yaitu  kisah yang benar (QS. Ali Imran: 62), yakni sesuai perintah-Nya. 

lalu  Allah berfirman: 

 

Dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan sebenarnya  Allah, Dia-lah Yang Maha 

Perkasa lagi Maha Bijaksana. lalu  jika mereka berpaling (dari kebenaran), maka sebenarnya  

Allah Maha Mengetahui orang-orang yang berbuat kerusakan. Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, marilah 

(berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, 

bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak 

(pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling 

maka katakanlah kepada mereka: "Saksikanlah, bahwa kami yaitu  orang-orang yang berserah diri 

(kepada Allah)." (QS. Ali Imran: 62-64). Dia mengajak mereka untuk adil dan mematahkan hujjah-

hujjah mereka. 

Ibnu Ishaq berkata: sesudah  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendapat  wahyu dari Allah dan 

keputusan final antara beliau dengan kaum Najran dan beliau diperintahkan untuk saling melaknat 

jika  mereka menolak ajakan beliau, maka beliaupun menantang mereka untuk melakukan adu 

laknat (saling melaknat). Orang-orang Kristen berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: 

"Wahai Abu Al-Qasim, berilah kami waktu jeda untuk memikirkan perkara kami ini. Baru lalu  

kami akan datang kepadamu dengan jawaban atas tantanganmu itu." sesudah  itu, mereka pergi dari 

hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan menemui Al-Aqib, tokoh paling berpengaruh bagi 

mereka. Mereka berkata kepada Al-Aqib: "Wahai Abdul Masih, bagaimana pandanganmu?" Al-Aqib 

menjawab: "Wahai orang-orang Kristen, kalian telah mengetahui bahwa Muhammad yaitu  Nabi 

yang diutus, dan kini ia telah datang kepada kalian dengan membawa jawaban pasti tentang kenabian. 

Kalian pun telah mengetahui bahwa jika suatu kaum melakukan saling laknat dengan seorang Nabi, 

maka seluruh orang dewasa yang ada dari kaum ini  akan mati, dan anak-anaknya tidak akan bisa 

lahir. sebenarnya  saling laknat (mubahalah) itu hanya akan memusnahkan kalian, jika  kalian 

melakukannya. jika  kalian ingin bertahan dengan tetap memeluk agama kalian, dan 

mempertahankan pendapat kalian tentang kenabian, berdamailah dengan orang itu (Rasulullah). 

Sesudah itu, kembalilah kalian ke negeri kalian!" Maka merekapun pergi menemui Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan berkata: "Wahai Abu Al-Qasim, kami memutuskan untuk tidak 

mengadakan saling laknat denganmu, membiarkanmu memeluk agamamu dan kami pun tetap dalam 

agama kami. Namun demikian utuslah kepada kami salah seorang sahabatmu yang engkau 

rekomendasikan untuk kami agar ia memutuskan perkara-perkara yang kami berselisih dalam 

kekayaan kami. sebenarnya  kalian diridhai di sisi kami." 

Muhammad bin Ja'far berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Temuilah aku nanti 

sore, pasti aku akan mengirim orang kuat dan tepercaya ber- sama kalian." Umar bin Khaththab 

berkata: aku tidak pernah berobsesi untuk mendapat  posisi kecuali posisi yang Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebutkan saat itu. Aku demikian berharap kiranya akulah orang yang akan 

diutus oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. lalu  aku segera berangkat untuk shalat 

Zhuhur. jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam shalat Zhuhur bersama kami, beliau 

mengucapkan salam, dan beliau menoleh ke kanan dan ke kiri. Aku tampakkan diriku, agar bisa terlihat 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tapi beliau terus mencari-cari seseorang, hingga beliau melihat 

Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. jika  itulah, beliau bersabda: "Wahai Abu Ubaidah, pergilah bersama 

orang-orang Kristen lalu putuskan secara adil apa saja yang mereka perselisihkan!" Umar bin 

Khaththab berkata: Maka berangkatlah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah berangkat bersama dengan delegasi 

Kristen Najran ini . 

 

 

Orang-orang Munafik 

 

Ibnu Ishaq berkata: jika  Rasulullah She. lalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinar --sebagaimana 

dituturkan kepadaku olea Ashim bin Umar bin Qatadah- tokoh paling berpengaruh di kota Madinah 

pada saat itu ialah Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Aufi, salah seorang dari Bani Al-Hubla. Tidak ada 

seorang pun dari kaumnya yang dapat menandingi otoritas Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Aufi. 

Sebelum dan sesudahnya, orang orang Al-Aus dan Al-Khazraj tidak pernah menjadikan pemimpin lain 

selain Abdullah bin Ubay bin Salul Al-Aufi sampai akhirnya Islam datang. Selain Abdullah bin Ubay bin 

Salul, di Al-Aus terdapat tokoh berpengarur lainnya yang juga dihormati dan ditaati kaumnya, yang 

bernama Abu Amir Abdu Ann bin Shaifi bin An-Nu'man. Abu Amir adaia: orang tua dari sahabat 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang bernama Hanzhalar Al-Ghasil, ia yaitu  orang yang 

dimandikar para malaikat pada Perang Uhud. Pada za man jahiliyah, Abu Amir menjadi pendeka 

mengenakan baju kasar, dan biasa dipangg: pendeta. Namun sayang seribu sayang, justru posisi 

terhormat mereka berdua menjadikan mereka celaka dan membahayakan dirinya. Adapun untuk 

Abdullah bin Ubay bin Salul, kaumnya telah mempersiapkan mutiara sebagai mahkota untuk 

disematkan padanva dan mengangkatnya sebagai raja mereka. Sementara mereka dalam kondisi 

seperti itu, Saat itulah Allah mengutus Rasul-Nya kepada mereka. Maka tatkala kaumnya berpaling 

darinya dan tidak memilih kecuali Islam, ia pun menaruh dendam permusuhan kepada Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan menuduh beliau telah merampok mahkota kepemimpinannya. jika  

dia melihat kaumnya tidak suka kecuali memilih Islam, ia ikut masuk Islam namun tetap dengan 

menyimpan kemunafikan dan dendam kesumat. 

Sementara Abu Amir bin Shaifi, ia tetap bersikukuh pada kekafirannya, dan berseberangan dengan 

kaumnya pada saat kaumnya telah memutuskan masuk Islam. Abu Amir memilih pergi bersama 

belasan orang dari kaumnya ke Makkah dengan meninggalkan Islam, dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam. Rasulullah -sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Muhammad bin Abu Umamah dari 

sebagian keluarga Hanzhalah bin Abu Amir, bersabda: "Janganlah kalian memanggil dia rahib 

(pendeta), panggillah dia si Fasiq." 

Ibnu Ishaq berkata: Ja'far bin Abdullah bin Abu Al-Hakam, sebelum berangkat ke Mekkah berkata 

kepadaku bahwa Abu Amir menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika  beliau tiba 

Madinah. Ia berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Agama apakah yang engkau 

datang dengannya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku datang dengan agama 

yang lurus (hanifiyah), agama Ibrahim." Abu Amir berkata: "Aku juga menganut agama Ibrahim." 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Amir: "Engkau tidak menganut agama 

Ibrahim." Abu Amir menjawab: "Betul, aku menganut agama Ibrahim!" Dia berkata: "Wahai 

Muhammad, engkau telah memasukkan hal-hal baru ke dalam agama yang lurus (hanifiyah) yang 

bukan merupakan bagian darinya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku tidak 

pernah melakukan itu semua. Aku datang dengan agama Ibrahim dalam keadaan putih suci." Abu Amir 

berkata: "Seorang pendusta akan Allah matikan dia dalam keadaan terusir, terasing dan dalam 

kesendirian." Yang di maksud pendusta olehnya yaitu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Yakni 

engkau Muhammad, tidak membawa agama Ibrahim dalam keadaan putih suci, sebagaimana yang 

kau katakan. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Betul!" Barangsiapa berlaku dusta, 

Allah akan melakukan itu." Demikianlah apa yang dilakukan musuh Allah, Abu Amir. Ia pun beranjak 

pergi ke Makkah. Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhasil menaklukkan Makkah, Abu 

Amir pergi ke Thaif. Tatkala orang-orang Thaif masuk Islam, ia pegi ke Syam, di sanalah dia meninggal 

dunia dalam keadaan terusir, terasing, dan dalam kesendirian. 

Orang yang pergi keluar Madinah bersama Abu Amir ialah Alqamah bin Ulatsah bin Auf bin Al-Ahwash 

bin Ja'far bin Kilab, dan Kinanah bin Abdu Yalail bin Amr bin Umair Ats-Tsaqafi. Pada saat Abu Amir 

meninggal dunia, keduanya berebut hartanya dan mengadukan perkara mereka berdua kepada Kaisar 

Romawi. Kaisar berkata: "Orang kota mewarisi orang kota, dan orang padang pasir mewarisi orang 

padang pasir." Berdasarkan keputusan Kaisar, Kinanah bin Abdul Yalail mewarisi harta Abu Amir tanpa 

Alqamah. 

Sedangkan Abdullah bin Ubay bin Salul tetap terhormat pada pandangan kaumnya hanya saja dia 

senantiasa ragu-ragu hingga ia dikalahkan Islam, dan dia memeluk Islam secara terpaksa. 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim Az-Zuhri berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari 

Usamah bin Zaid bin Haritsah, seorang yang sangat dicintai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ia 

berkata: Suatu saat, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi menunggang keledai. Di atas 

keledainya ada kain pelana yang di atasnya terdapat selimut asal Fadak yang diikat dengan serat 

palem, sementara aku berada di belakang beliau. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan 

melewati Abdullah bin Ubay bin Salul yang sedang bernaung di bawah benteng kecil yang bernama 

Muzahim. 

Abdullah bin Ubay bin Salul saat itu tengah bersama beberapa orang dari kaumnya. Tatkala Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam melihat Abdullah bin Ubay bin Salul, beliau merasa malu melintasinya 

dengan mengendarai keledai. Makanya beliau turun dari keledainya dan mengucapkan salam lalu 

duduk sejenak. Lalu Rasulullah membacakan Al-Qur'an kepada Abdullah bin Ubay bin Salul, sambil 

mengajaknya kepada agama Allah, mengingatkannya tentang Allah, memberi peringatan keras, 

memberi kabar gembira dan ancaman padanya. Abdullah bin Ubay bin Salul diam seribu bahasa. 

Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sudah selesai bicara, Abdullah bin Ubay bin Salul 

berkata: "Wahai Muhammad, sebenarnya  tidak ada orang yang lebih baik perkataannya dari per- 

kataanmu. jika  yang engkau katakan benar adanya, duduk sajalah di rumahmu. Siapapun yang 

datang menemuimu, bicaralah engkau dengannya. Sedang orang yang tidak datang menemuimu, 

tidak usahlah engkau bersusah payah datang kepadanya untuk mengatakan sesuatu yang orang itu 

tidak menyukainya." Abdullah bin Rawahah yang sedang bersama beberapa orang dari kaum Muslimin 

berkata: "Betul sekali. Biarkan kami senantiasa berada bersamanya. Biarkanlah kami membawanya ke 

majlis-majlis, kampung dan rumah-rumah kami. Demi Allah, inilah satu hal sangat kami sukai, sesuatu 

yang dengannya Allah jadikan kami mulia, dan dia memberi petunjuk bagi kami padanya." 

jika  Abdullah bin Ubay bin Salul memperhatikan kaumnya menentang pendapatnya, ia berkata: 

Kala tuanmu menjadi musuhmu 

Kau akan senantiasa hina dan lawanmu akan menjatuhkanmu 

Biasakah burung elang harus terbang tanpa sayapnya 

Jika pada suatu hari bulunya dicabut, ia kar jatuh 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bait kedua bukar dari Ibnu Ishaq 

Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri berkata ke padaku dari Urwah bin Zubair dari Usama bin Zaid yang 

berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam beranjak dari tempat ini  lalu pergi ke rumah 

Sa'ad bin Ubadah. Ucapan Abdullah bin Ubay bin Salul masih terus membersit di wajah beliau. Sa'ad 

bin Ubadah berkata: "Wahai Rasulullah, demi Allah, aku melihat sesuatu terbersit di wajahmu, apakah 

engkau baru mendengar satu hal yang tidak engkau sukai?" Rasulullah Shallalahu 'alaiki wa Sallam 

bersabda: "Betul sekali." Sa'ad bin Ubadah berkata: "Wahai Rasulullah, bersikaplah lemah-lembut 

terhadap Abdullah bin Ubay bin Salul. Demi Allah, sebenarnya  tatkala engkau datang kepada kami, 

kami telah mempersiapkan mahkota yang akan kami berikan padanya sebagai kepemimpinan. Ia 

beranggapan bahwa sebenarnya  engkau telah merampas mahkota kepemimpinannya itu darinya!" 

 

 

Sahabat-sahabat Rasulullah yang Sakit 

 

Ibnu Ishaq berkata: Hisyam bin Urwah dan Amr bin Abdullah bin Urwah berkata kepadaku dari Urwah 

bin Zubair dari Aisyah Radhiyallahu Anha ia berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

sampai di Madinah. Madinah saat itu merupakan bumi Allah yang paling potensial dengan penyakit 

demam. Dampaknya, banyak sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang terjangkiti sakit 

demam itu. Allah menjaga Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sehingga beliau tidak terserang 

wabah penyakit demam. Abu Bakar, Amir bin Fuhairah, dan Bilal tinggal satu rumah. Mereka semua 

terjangkit wabah demam. Lalu aku menjenguk mereka. Peristiwa ini terjadi pada saat hijab belum 

diwajibkan. Mereka bertiga diserang demam tinggi yang hanya Allah sajalah yang tahu. Aku mendekat 

kepada Abu Bakar, dan bertanya kepadanya: "Bagaimana kabarmu, ayahanda?"Abu Bakar menjawab: 

Semua manusia disambut ria oleh keluarganya di pagi hari 

Sementara maut lebih dekat padanya dibandingkan  tali sandalnya 

 

Aisyah: Aku berkata: 'Demi Allah, ayah tidak sadar akan apa yang ia katakan. Aku mendekat kepada 

Amir bin Fuhairah, dan bertanya kepadanya: "Bagaimana kabarmu, wahai Amir?" Amir bin Fuhairah 

menjawab: 

Telah aku jumpai kematian sebelum mencicipinya 

sebenarnya  kematian datang pada para pengecut dari atasnya 

Setiap orang itu berjuang dengan kekuatannya 

Sebagaimana sapi jantan menjaga kulitnya dengan tanduknya  

 

Aisyah berkata: Aku berkata: "Demi Allah, Amir tidak menyadari apa yang dikatakannya." Adapun Bilal, 

bila demam menderanya, ia berbaring di emperan rumah, dengan mengangkat suaranya sambil 

berkata: 

Wahai bisakah aku kembali bermalam Di Fakh (tempat di luar Makkah), 

Sementara di sekitarku terdapat idzkhir (nama pohon beraroma wangi), dan Jalil (nama tumbuh-

tumbuhan) Mampukan suatu saat aku berada di mata air Majannah? 

Adakah gunung Syamah dan Gunung Thafil terlihat olehku? 

 

Aisyah Radhiyallahu Anha berkata: Maka aku ceritakan apa yang aku dengar dari mereka bertiga 

kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Aku berkata kepada beliau: "Mereka bertiga bicara 

asal-asalan dan tidak sadar dengan apa yang mereka ucapkan akibat serangan demam tinggi." 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah 

sebagaimana telah Engkau jadikan kami mencintai Makkah, atau kokohkanlah rasa cinta kami kepada 

Madinah. Berilah kami keberkahan di mud, dan sha' Madinah (yakni makanannya). Alihkan serangan 

wabahnya ini ke Mahyaa'h."80 Mahyaa'h yaitu Al-Juhfah. 

 

 

Ibnu Ishaq berkata: Ibnu Syihab Az-Zuhri berkata dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash yang berkata: Pada 

saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai di Madinah sahabat-sahabatnya di dera wabah 

demam Madinah yang mengakibatkan banyak di antara mereka menderita sakit berat namun Allah 

menjauhkan wabah ini  dari beliau. Akibat deraan penyakit demam ini hingga ada di antara para 

sahabat mengerjakan shalat dengan cara duduk. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar 

menemui mereka yang kala itu menunaikan shalat dengan cara duduk. Beliau bersabda kepada 

mereka: "Ketahuilah wahai sahabat-sahabatku bahwa shalat orang yang duduk itu pahalanya yaitu  

setengah shalat orang yang berdiri." Maka para sahabat berupaya untuk berdiri sekuat mungkin 

walaupun mereka demikian lemah dan sedang sakit dengan harapan mendapat  pahala. 

Ibnu Ishaq berkata: Sesudah itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersia-siap diri untuk perang 

dan berjihad melawan musuhnya sesuai yang Allah perintahkan, serta memerangi orang-orang 

musyrik, orang-orang musyrik Arab. Ini semua baru terjadi tiga belas tahun sesudah  Allah mengutus 

beliau sebagai Nabi. 

 

 

Penanggalan Hijrah 

 

Berdasarkan pada sanad sebelumnya, dari Abdul Malik bin Hisyam yang berkata bahwa Ziyad bin 

Abdullah Al-Bakkai berkata dari Abdullah bin lshaq Al-Muthallibi yang berkata: Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam sampai di Madinah pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awwal, pada saat waktu dhuha 

berakhir, saat matahari tidak begitu panas. Itulah tanggal hijrah beliau sebagaimana dituturkan Ibnu 

Hisyam. 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Rasulullah sampai di Madinah, usia beliau lima puluh tiga tahun, tiga 

belas tahun sesudah beliau diutus menjadi Nabi dan Rasul. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

tinggal di Madinah pada akhir sisa bulan Rabiul Awwal, Rabiul Akhir, Jumadil Ula, Jumadil Akhir, Rajab, 

Sya'ban, Ramadhan, Syawwal, Dzul Qa'dah dan Dzul Hijjah. Pada bulan-bulan inilah dan bulan pada 

Muharram tahun berikutnya, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak berperang dengan kaum 

musyrikin. 

Barulah pada bulan Shafar tahun berikutnya, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar untuk 

berperang. Tepatnya sesudah  setahun sejak kedatangannya di Madinah. 

Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk Sa'ad bin Ubadah sebagai 

penggantinya di Madinah selama dirinya berada di medan jihad. 

 

 

Perang Waddan, Perang Pertama yang Diikuti Rasulullah 

 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalaka 'alaihi wa Sallam keluar dari Madinah hingga sampai di 

daerah Waddan. Perang Waddan yaitu  sebutan lain untuk Perang Al-Abwa’. Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam bermaksud untuk menyerang orang-orang Quraisy dan Bani Dhamrah bin Bakr bin 

Abdu Manat bin Kinanah. Namun akhirnya beliau berdamai dengan Bani Dhamrah di Al-Abwal. Dalam 

proses perdamaian ini Bani Dhamra diwakili pemimpin mereka yang bernama Makhsyi bin Amr Adh-

Dhamri. lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali ke Madinah tanpa ada perlawanan 

apapun. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menetap di Madinah hingga sisa akhir bular Shafar dan 

awal-awal bulan Rabiul Awwal. 

Ibnu Hisyam berkata: Perang Waddar merupakan perang yang pertama dilakukan Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

 

 

Ekspedisi Ubaidah bin al-Harits Panji Pertama yang dibentuk oleh Rasulullah 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat berada di Madinah inilah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

mengirim Ubaidah bin Al-Harits bin Al-Muthalib bin Abdu Manaf bin Qushay bersama enam puluh 

atau delapan puluh pasukan dari kaum Muhajirin, tanpa menyerta kan seorangpun dari kaum Anshar. 

Ubaidah bin Al-Harits beserta pasukannya keluar dari Madinah hingga tiba di mata air di Hijaz di bawah 

Tsaniyyatul Murrah. Di sana, Ubaidah bin Al-Harits dan pasukannya berpapasan dengan sekian banyak 

orang Quraisy, namun perang belum meletus di antara mereka. Namun demikian Sa'ad bin Abu 

Waqqash telah memanah dengan satu anak panahnya. Itulah anak panah pertama yang dipanahan 

dalam Islam. 

Kedua belah pihak lalu  meninggal- kan yang lain. Saat itu kaum Muslimin telah memiliki 

keberanian yang hebat. Beberapa orang musyrik yang bergabung dengan baris- an kaum muslimin 

saat itu yaitu  Al-Miqdad bin Amr Al-Bahrani sekutu Bani Zuhrah, dan Utbah bin Ghazwan bin Jabir 

Al-Mazini sekutu Bani Naufal bin Abdu Manaf. Keduanya telah masuk Islam, namun mereka berdua 

sengaja keluar bersama orang-orang kafir sebagai fasilitas untuk lebih mudah bergabung dengan kaum 

muslimin. Pimpinan kaum kafir saat itu yaitu  Ikrimah bin Abu Jahal. 

Ibnu Hisyam berkata: Ibnu Abu Amr bin Al-Ala' berkata kepadaku dari Abu Amr Al-Madani ia berkata: 

Tatkala itu orang-orang kafir dipimpin oleh Mikraz bin Hafsh bin Al-Akhyaf salah seorang dari Bani 

Ma'ish bin Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr. 

Ibnu Ishaq berkata: Panji perang Ubaidah bin Al-Harits, sebagaimana yang dituturkan padaku, yaitu  

panji pertama yang diberikan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dalam Islam kepada salah seorang 

kaum Muslimin. 

Ibnu Ishaq berkata: Sebagian ulama berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim 

Ubaidah bin Al-Harits dan pasukannya tatkala beliau pulang dari Perang Al-Abwa', dan sebelum beliau 

tiba di kota Madinah. 

 

 

Ekspedisi Perang Hamzan bin Abdul Muthalib ke Pesisir Pantai 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat yang bersamaan, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam juga mengirim 

Hamzah bin Abdul Muthalib bin Hasyim dengan membawahi tiga puluh orang Muhajirin ke Saiful Bahri 

(kawasan pantai) di daerah Al-Ish tanpa mengikut sertakan satu orangpun dari kaum Anshar dalam 

ekspedisi Hamzah bin Abdul Muthalib. Di daerah pantai ini , Hamzah bin Abdul Muthalib 

bersama pasukannya berpapasan dengan Abu Jahal bersama tiga ratus pasukan orang Makkah. 

lalu  kedua belah pihak berdamai dengan mediator Majdi bin Amr Al-Juhani yang mendamaikan 

kaum Muslimin dan kaum musyrikin dan kedua belah pihak pulang ke tempat masing-masing tanpa 

melakukan perang. 

Sebagian ulama berpendapat bahwa panji perang Hamzah bin Abdul Muthalib yaitu  panji pertama 

yang diberikan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada salah seorang dari kaum Muslimin. 

Karena pada saat pengiriman ekspedisi perang Hamzah bin Abdul Muthalib, dan ekspedisi perang 

Ubaidah bin Al-Harts terjadi secara bersamaan. Karenanya banyak orang yang tidak mengetahui 

masalah ini dengan pasti. 

Sebagian ulama berkata bahwa Hamzah bin Abdul Muthalib mengucapkan syair-syair yang di 

dalamnya berkata bahwa panji perang miliknya yaitu  panji pertama yang diserahkan Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Jika Hamzah bin Abdul Muthalib berkata seperti itu, insya Allah ia berkata 

benar dan tidak mungkin berdusta. Wallahu a 'lam mana yang paling benar dalam masalah ini. 

Sementara yang kami dengar dari para ulama di kalangan kami Ubaidah bin Al-Harits-lah orang 

pertama yang diberi panji perang oleh Rasulullah. 

 

 

Perang Buwath 

 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  pada bulan Rabiul Awwal, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar 

dari Madinah dengan maksud untuk memerangi orang-orang Quraisy. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk As-Saib bin Utsman bin Madz'un sebagai pemimpin 

sementara di Madinah, demikian menurut Ibnu Hisyam. 

Ibnu Ishaq berkata: Hingga tatkala Rasulullah sampai di Buwath, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

memutuskan pulang ke Madinah, karena tidak ada perlawanan. Beliau menetap di Madinah pada sisa 

akhir bulan Rabiul Awwal, dan sebagian bulan Jumadil Ula. 

 

 

Perang 'Usyairah 

 

lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berangkat untuk memerangi orang-orang Quraisy, 

dan menetapkan Abu Salamah bin Abdul Asad sebagai pemimpin sementara di Madinah, demikianlah 

sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hisyam. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan melintasi gunung Bani Dinar, 

lalu  Faifa' dan Al-Khabar. Beliau berhenti di bawah pohon di lembah Bin Azhar yang bemama 

Dzatu As-Saaq dan melaksankan shalat di sana. lalu  dibangunlah mesjid untuk beliau, makanan 

dibuat untuk beliau lalu beliau dan para sahabat menyantapnya. Tempat tungku dapur beliau masih 

terisa di sana, dan beliau dihidangi air minum dari Mata Air Al-Musytarib. 

Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melanjutkkan perjalanannya dengan meninggalkan Khalaiq 

di sisi kiri, dan berjalan melintasi perbukitan berlorong kecil yang disebut dengan bukit berlorong 

Abdullah. Itulah nama bukit ini  pada saat itu. lalu  beliau menuruni Yasar hingga tiba di 

Yalyal. Beliau berhenti di perkampungan Yalyal, dan perkampungan Adh-Dhabu'ah. Beliau diam- 

bilkan air dari sumur di Adh-Dhabu'ah lalu berjalan melewati dataran Malal, hingga bertemu dengan 

jalan di Shuhairat Al-Yama. Lalu berjalan lurus dan berhenti di Al-Usyairah, salah satu kabilah di Yanbu'. 

Beliau berada di sana selama bulan Jumadil Ula, dan beberapa malam pada bulan Jumadil Akhir. Beliau 

berdamai dengan Bani Mudlij dan sekutu-sekutunya dari Bani Dhamrah. Sesudahnya beliau pulang ke 

Madinah tanpa ada perlawanan. 

 

 

Pemberian Kun-yah (Gelar) Ali dengan Abu Turab 

 

Pada perang ini Rasulullah mengatakan sesuatu kepada Ali bin Abu Thalib. 

Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Muhammad bin Khaitsam Al-Muharibi berkata kepadaku dari 

Muhammad bin Ka'ab Al-Ourazhi dari Muhammad bin Khaitsam Abu Yazid dari Ammar bin Yasir yang 

berkata: Aku dan Ali bin Abu Thalib yaitu  dua sahabat akrab pada Perang 'Usyairah. Pada saat itu 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhenti di 'Usyairah dan menetap di tempat itu. Kami melihat 

sekian banyak Bani Mudlij bekerja di mata air dan kebun kurma mereka. Ali bin Abu Thalib berkata 

kepadaku: "Wahai Abu Al-Yaqzhan, apa pendapatmu jika  kita singgah ke tempat orang-orang 

ini , agar bisa melihat lebih dekat apa yang mereka kerjakan?" Aku menjawab: “Jika engkau mau, 

mariian kita pergi ke sana!' Kami pergi ke tempat orang-orang ini  untuk melihat pekerjaan 

mereka selama beberapa saat hingga kantuk mengalahkan kami. lalu  aku dan Ali bin Abu Thailib 

pergi, dan tidur-tiduran di bawah anak pohon kurma di tempat yang bertanah lembek. Demi Allah, 

tidaklah ada yang membagunkan dari tidur kami kecuali Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang 

menggerak-gerakkan kami dengan kakinya, sedangkan kami berlumuran tanah dari tempat kami tidur. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Ali bin Abu Thalib: "Apa yang terjadi pada 

dirimu, wahai Abu Turab (bapak tanah)?" Beliau katakan itu karena menyaksikan kami berlumuran 

tanah liat. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Maukah kalian aku kabari tentang dua 

orang yang paling celaka?" Kami menjawab: "Tentu saja, wahai Rasulullah." Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam bersabda: "Dua orang yang paling celaka ialah Uhaimir Tsamud yang telah 

menyembelih unta, dan orang yang memukul tengkukmu seperti ini wahai Ali." Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam bersabda demikian sambil memegang tengkuk Ali bin Abu Thalib hingga basah. 

Rasulullah juga sambil memegang jenggot Ali bin Abu Thalib. 

Ibnu Ishaq berkata: Sebagian ulama berkata kepadaku Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memberi 

gelar Ali bin Abu Thalib dengan Abu Turab, karena ia marah kepada Fathimah karena satu perkara, ia 

tidak menuruti marahnya dan tidak mengatakan sesuatu yang melukai hati Fathimah. Alih-alih ia 

malah mengambil tanah, lalu  menyimpannya di atas kepalanya. jika  Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam melihat tanah di atas kepala Ali bin Abu Thalib beliau paham bahwa Ali bin Abu Thalib 

sedang marah kepada anaknya tercintanya Fathimah, lalu  beliau bersabda: "Ada apa dengan 

dirimu, wahai Abu Turab?" Wallahu a'lam mana yang lebih benar dalam hal ini. 

 

 

Ekspedisi Sa'ad bin Abi Waqqash 

 

Ibnu Ishaq berkata: Di sela waktu ini , Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus Sa'ad bin 

Abu Waqqash bersama pasukannya yang terdiri dari kaum Muhajirin yang berjumlah delapan orang. 

Sa'ad bin Abu Waqqash dan pasukannya berangkat hingga tiba di Al-Kharrar di Hijaz, lalu  pulang 

ke Madinah tanpa ada perlawanan. 

Ibnu Hisyam berkata: Sebagian ulama menyatakan bahwa pengiriman ekspedisi Sa'ad bin Abu 

Waqqash terjadi sesudah pengiriman pasukan Hamzah bin Abdul Muthalib. 

 

 

Perang Safwan, Perang Badar Pertama 

 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah tinggal di Madinah tidak lebih dari sepuluh malam sesudah  

kedatangannya dari Perang 'Usyairah, ternyata Kurzu bin Jabir Al-Fihri menyerang sekawanan hewan 

ternak Madinah. Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar mengejar Kurzu bin Jabir Al-Fihri. 

Beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai wakilnya di Ma¬dinah sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu 

Hisyam. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengejar Kurzu bin Jabir Al-Fihri hingga 

lembah Safwan dari arah Badar namun tidak berhasil mengejar Kurzu bin Jabir Al-Fihri untuk 

menangkapnya. Inilah Perang Badar Pertama. 

lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali ke Madinah dan menetap di sana sepanjang 

sisa bulan Jumadil Akhir, Rajab, dan Sya'ban. 

 

 

Ekspedisi Perang Abdullah bin Jahsy dan Turunnya ayat: (Mereka bertanya kepadamu tentang 

berperang di bulan Haram) 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pada bulan Rajab, sesudah kedatangannya dari Perang Badar I, Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim Abdullah bin Jahsy bin Riab Al-Asadi dengan membawa delapan 

orang kaum Muhajirin dan tanpa ada seorang pun dari kalangan Anshar. Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam menulis surat untuk Abdullah bin Jahsy dan memintanya untuk tidak membukanya kecuali 

sesudah perjalanan berlangsung selama dua hari. Sesudah dua hari berjalan, Abdullah bin Jahsy baru 

membukanya sesuai dengan perintah beliau di surat ini  tanpa memaksa seorangpun dari 

sahabatnya. 

Sahabat-sahabat Abdullah bin Jahsy dari kaum Muhajirin dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf yaitu  

Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah bin Abdu Syams. 

Dari sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf yaitu  Abdullah bin Jahsy yang menjadi komandan 

mereka, dan 'Ukkasyah bin Mihshan bin Hurtsan sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf dari Bani 

Asad bin Khuzaimah. Dari Bani Naufal bin Abdu Manaf yaitu  Utbah bin Ghazwan bin Jabir sekutu 

mereka. 

Dari Bani Zuhrah bin Kilab yaitu  Sa'ad bin Abu Waqqash. 

Dari Bani Adi bin Ka'ab yaitu  Amir bin Rabi'ah sekutu mereka dari Anz bin Wail, Waqid bin Abdullah 

bin Abdu Manaf bin Arin bin Tsa'labah bin Yarbu' salah seorang Bani 

Tamim sekutu mereka, Khalid bin Al-Bukair salah seorang Bani Sa'ad bin Laits sekutu mereka. 

Dan dari Bani Al-Harits bin Fihr yaitu  Suhail bin Baidha'. 

Sesudah berjalan dua hari, Abdullah bin Jahsy membuka surat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Ternyata surat ini  berbunyi sebagai berikut: jika  membaca suratku ini, hendaklah engkau 

berjalan hingga berhenti di Nakhlah antara Makkah dan Thaif. Perhatikan dan awasi kaum kafir 

Quraisy lalu laporkan kepadaku berita tentang mereka. 

Sesudah membuka dan membaca surat ini , Abdullah bin Jahsy berkata: "Aku patuh atas 

perintahmu." Abdullah bin Jahsy berkata kepada sahabat-sahabatnya: Rasulullah Shallallau 'Alaihi wa 

Sallam memerintahkanku berjalan menuju Nakhlah untuk mengawasi kaum Quraisy lalu melaporkan 

berita tentang mereka kepadanya. Beliau tidak membolehkan aku memaksa seorang pun dari kalian. 

Barangsiapa di antara kalian berniat mati syahid, dan tertarik padanya, silakan tetap ikut bersama aku. 

Namun barangsiapa tidak ingin mati syahid, silakan saja kembali ke Madinah. Sedangkan aku tetap 

akan melaksanakan amar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Abdullah bin Jahsy dan sahabat-sahabatnya melanjutkan perjalanan dan ternyata tidak seorang pun 

dari mereka yang pulang ke Madinah. Mereka berjalan melalaui Hijaz. Tatkala mereka berada di 

Bahran, unta Sa'ad bin Abu Waqqash dan Utbah bin Ghazwan tiba-tiba hilang. Padahal unta mereka 

berdua telah diikat kuat. Dampaknya keduanya ter- tinggal dari pasukan Abdullah bin Jahsy karena 

mencari-cari untanya. 

Abdullah bin Jahsy dan sisa-sisa sahabatnya tetap berjalan hingga sampai di Nakhlah yang 

dimaksudkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Tak berapa lama lalu  kafilah dagang 

Quraisy yang membawa anggur kering, kulit, dan barang-barang dagangan orang-orang Quraisy 

melewati Nakhlah. Di dalam kafilah dagang ini ada Amr bin Al-Hadhrami, Utsman bin Abdullah bin Al-

Mughirah Al-Makhzumi, saudara Utsman yang bernama Naufal bin Abdullah Al-Makhzumi, dan Al-

Hakam bin Kaisan mantan budak Hisyam bin Al-Mughirah. Tatkala kafilah dagang Quraisy ini  

dilihat pasukan Abdullah bin Jahsy mereka didera ketakutan, sebab posisi tempat mereka berhenti 

tepat berdekatan dengan pasukan Abdullah bin Jahsy. Lalu Ukkasyah bin Mihsyan yang telah 

mencukur rambutnya mendekat kepada kafilah dagang Quraisy ini . Begitu melihat kedatangan 

Ukkasyah bin Mihshan, mereka merasa aman. Mereka berkata: "Ini dia Ummar. Janganlah kalian takut 

kepada mereka." Pada saat itu juga, pasukan Abdullah bin Jahsy bermusyawarah antar mereka 

membahas tentang kafilah dagang Quraisy. Peristiwa ini terjadi pada akhir bulan Rajab. Pasukan 

Abdullah bin Jahsy berkata: "Demi Allah, jika  malam ini kalian membiarkan kafilah dagang Quraisy 

ini , mereka pasti akan memasuki Al-Haram lalu berlindung dari kalian di sana. jika  

membunuh mereka berarti kalian membunuh mereka di bulan-bulan haram." 

Pasukan Abdullah bin Jahsy pun merasa ragu. Namun akhirnya mereka memutuskan untuk menyerang 

kafilah dagang Quraisy ini . Mereka bakar semangat untuk menghadapi kafilah dagang Quraisy 

itu. Mereka sepakat untuk membunuh siapa saja dari kafilah dagang Quraisy yang mampu mereka 

bunuh, dan mengambil apa saja yang bisa dirampas dari mereka. Lalu Waqid bin Abdullah At-Tamimi 

melepaskan anak panahnya ke arah Amr bin Al-Hadhrami dan menewaskannya. 

Pasukan Abdullah bin Jahsy berhasil pula menawan Utsman bin Abdullah dan Al-Hakam bin Kaisan. 

Sementara Naufal bin Abdullah berhasil lolos dari serbuan pasukan Abdullah bin Jahsy dan mereka 

tidak berhasil menangkapnya. Lalu Abdullah bin Jahsy dan pasukannya pulang membawa unta dan 

dua tawanan hingga tiba di Madinah dan bertemu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Salah seorang dari keluarga Abdullah bin Jahsy menyebutkan bahwa Abdullah bin Jahsy berkata 

kepada sahabat-sahabatnya: "sebenarnya  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mempunyai hak 

seperlima dari rampasan perang yang kita peroleh." Itu terjadi jika  Allah Ta'ala belum mewajibkan 

seperlima terhadap rampasan perang. Abdullah bin Jahsy menyisihkan seperlima bagian untuk 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sisanya dia bagikan untuk para sahabatnya. 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat pasukan Abdullah bin Jahsy menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam, beliau bersabda: "Aku tidak menyuruh kalian untuk membunuh mereka di bulan haram." 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menahan unta dan kedua tawanan ini . Beliau tidak mau 

mengambil bagian sedikit pun dari rampasan ini . jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

mengatakan itu, pasukan Abdullah bin Jahsy sangat menyesal atas perbuatan mereka dan mereka 

merasa akan dihukum qishah. 

Kaum Muslimin juga sangat mengecam tindakan yang mereka lakukan. Pada saat yang sama di tempat 

lain, orang-orang Quraisy berkata: "Muhammad dan para sahabatnya telah menghalalkan bulan 

haram dan menumpahkan darah, merampas harta dan menawan manusia di bulan haram." Beberapa 

orang dari kaum Muslimin di Makkah membalas ucapan orang-orang Quraisy dengan berkata 

"sebenarnya  tindakan pasukan Abdullah bin Jahsy merupakan reaksi atas apa yang mereka terima 

di bulan Sya'ban." 

Orang-orang Yahudi berkata menyerang Rasulullah dalam ucapan yang buruk: "Amr bin Al-Hadhrami 

telah dibunuh Waqid bin Abdullah. Amr telah meramaikan (ammarat) perang. Al-Hadhrami ialah orang 

yang terlibat perang. Dan Waqid bin Abdullah ialah orang yang menyalakan(waqid) perang." Pada saat 

orang-orang ramai membicarakan tentang peristiwa ini, Allah menurunkan ayat-Nya: 

 

 

Mereka bertanya kepadamu tentang berperang di bulan haram. Katakanlah, 'Berperang di bulan itu 

dosa besar, tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) 

Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitamya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. (QS. al-

Baqarah: 217). Yakni, jika  kalian telah membunuh pada bulan haram, sebenarnya  mereka telah 

menghalang-halangi kalian dari jalan Allah dan telah kafir kepada Allah, melarang kalian ke Masjidil 

Haram, dan mengusir kalian dari sana. Padahal kalianlah orang yang paling berhak atas Masjidil 

Haram. Dosa yang mereka lakukan itu jauh lebih besar dosanya di sisi Allah dibandingkan  pembunuhan 

kalian terhadap seorang di antara mereka. 

 

Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) dibandingkan  membunuh. (QS. Baqarah: 217). Yakni, mereka 

telah menyiksa orang Muslim disebabkan oleh agama mereka, karena mereka berambisi sekali untuk 

mengeluarkan orang Muslim dari agamanya sesudah mereka beriman. Yang demikian itu jauh lebih 

besar dosanya di sisi Allah dibandingkan  pembunuhan yang kalian lakukan. 

 

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari 

agama kalian (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup (QS. al-Baqarah: 217). Yakni, mereka 

melakukan perbuatan yang lebih kejam dan lebih jahat dibandingkan  perbuatan mereka sebelum itu 

sebagaimana disebutkan pada ayat sebelumnya. Mereka engggan bertobat, dan tiada hentinya dari 

melakukan tindakan-tindakan jahat itu. 

Tatkala ayat Al-Qur'an turun membawa hal ini , dan Allah menghilangkan gundah gulana yang 

dialami kaum Muslimin. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersedia untuk menerima unta dan 

kedua tawanan perang ini . lalu  orang-orang Quraisy mengirim perwakilan mereka untuk 

menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk menebus Utsman bin Abdullah dan Al-Hakam 

bin Kaisan. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Kami tidak akan menyerahkan keduanya 

pada kalian sampai dua sahabat kami datang yakni Sa'ad bin Abu Waqqash dan Utbah bin Ghazwan. 

Kami khawatir kalian berbuat sesuatu yang tidak wajar terhadap mereka. Jika ternyata kalian 

membunuh mereka berdua, maka dua sahabat kalian ini akan kami bunuh pula." Tak lama lalu , 

Sa'ad bin Abu Waqqash dan Utbah bin Ghazwan tiba di Madinah, lalu  Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam menyerahkan dua tawanan tadi kepada perwakilan Quraisy. 

Sedangkan Al-Hakam bin Kaisan, ia masuk Islam dengan amat baik. Dia tetap tinggal bersama 

Rasulullah di Madinah hingga terbunuh sebagai seorang syahid pada Perang Bi'ru Ma unah. Sementara 

Utsman bin Abdullah pulang kembali ke Makkah dan mati dalam kondisi kafir. 

Tatkala gundah gulana telah hilang dari pasukan Abdullah bin Jahsy sesudah  Al-Qur'an turun, maka 

para sahabat berobsesi besar untuk mendapat  pahala. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, 

bolehkan kita menginginkan perang, yang dengan perang itu kita memperoleh pahala para 

mujahidin?" Allah Yang Mahaagung menurunkan firman-Nya: 

 

sebenarnya  orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah, dan berjihad di jalan Allah, 

mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. al-

Baqarah: 218). Allah memposisikan mereka pada harapan tertinggi. 

Hadits tentang hal ini berasal dari Az- Zuhri dan Yazid bin Ruman dari Urwah bin Zubair. 

Ibnu Ishaq berkata: Sebagian keluarga Abdullah bin Jahsy berkata bahwa Allah membaginya dengan 

cara fay' (rampasan tanpa pertempuran), sesudah  Dia menghalalkannya, yakni empat perlima bagi 

yang mendapat nya sedangkan seperlima yaitu  bagian untuk Allah dan Rasul-Nya. Artinya, ini 

selaras dengan kebijakan yang diambil Abdullah bin Jahsy pada unta yang mereka dapatkan dari 

kafilah dagang Quraisy ini . 

Ibnu Hisyam berkata: Itulah rampasan perang pertama yang diperoleh kaum Muslimin. Sedangkan 

Amr bin Al-Hadhrami yaitu  orang yang pertama kali dibunuh oleh kaum Muslimin sementara Utsman 

bin Abdullah dan Al-Hakam bin Kaisan yaitu  orang yang pertama kali menjadi tawanan kaum 

Muslimin. 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Bakar Ash-Shid- diq berkata mengenai ekspedisi Abdullah bin Jahsy, walaupun 

ada juga yang mengatakan bahwa perkataan ini dikatakan oleh Abdullah bin Jashy tatkala orang-orang 

Quraisy berkata: "Muhammad dan sahabat-sahabatnya menghalalkan bulan-bulan haram, 

menumpahkan darah, merampas harta di dan menawan orang-orang di dalamnya." 

 

 

Perubahan Arah Kiblat ke Ka'bah 

 

Ibnu Ishaq berkata: Ada yang berpendapat bahwa perubahan arah kiblat ke Ka'bah terjadi pada bulan 

Sya'ban, delapan belas bulan sesudah  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah. 

 

 

Perang Badar Kubra 

 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar berita bahwa Abu Sufyan bin 

Harb baru saja tiba dari Syam bersama dengan kafilah dagang Quraisy yang membawa sejumlah besar 

kekayaan dan barang dagangan milik orang-orang Quraisy. Kafilah ini terdiri dari tiga puluh atau empat 

puluh orang Quraisy. Di antara mereka ada Makhramah bin Naufal bin Uhaib bin Abdu Manaf bin 

Zuhrah dan Amr bin Al-Ash bin Wail bin Hisyam. 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang berkata bahwa Amr yaitu  anak dari Wail bin Hasyim. 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim Az-Zuhri, Ashim bin Umar bin Qatadah, Abdullah bin Abu 

Bakr, Yazid bin Ruman, dan ulama-ulama lain berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari Ibnu Abbas 

Radhiyallahu Anhuma. Mereka Semua mengatakan beberapa hadits dalam redaksi sama tentang 

Perang Badar. 

Mereka berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar Abu Sufyan bin Harb 

tiba dari Syam, beliau mengajak kaum Muslimin keluar dari Madinah dan bersabda: "Inilah kafilah 

dagang Quraisy. Di dalamnya yaitu  harta kekayaan mereka. Oleh sebab itu, pergilah kalian kepada 

mereka! Semoga Allah memberikan kekayaan mereka kepada kalian!" Kaum Muslimin menanggapi 

cepat seruan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Sebagian mereka merasa ringan tanpa beban 

untuk berangkat dan sebagian lainnya merasa berat hati untuk berangkat, karena mereka tidak 

mengira Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam akan mendapat  perlawanan perang. 

Pada saat mendekati Hijaz, Abu Sufyan mengorek berita dan bertanya kepada musafir yang ia temui, 

karena khawatir mendapat serangan tak terduga. Akhirnya dia mendapat  berita dari salah seorang 

musafir yang mengatakan kepadanya: "sebenarnya  Muhammad telah mengirim sahabat-

sahabatnya untuk menyerangmu dan kafilah dagang yang kamu pimpin." Karena berita ini , Abu 

Sufyan bersikap ekstra hati-hati. Ia menyewa Dhamdham bin Amr Al-Ghifari untuk pergi ke Makkah 

dan memerintahkannya untuk mendatangi orang-orang Quraisy serta mendesak mereka untuk 

menyelamatkan harta kekayaan mereka, dan memberi tahu mereka bahwa Muhammad kini telah 

menghadangnya bersama para sahabatnya. Dhamdham bin Amr Al-Ghifari segera meluncur ke 

Makkah. 

 

 

Mimpi Atikah Binti Abdul Muthalib 

 

Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan integritasnya berkata kepadaku dari Ikrimah dari 

Ibnu Abbas, dan Yazid bin Ruman dari Urwah bin Zubair mereka berdua berkata: Tiga malam sebelum 

kedatangan Dhamdham bin Amr Al-Ghifari di Makkah, Atikah binti Abdul Muthalib melihat mimpi yang 

sangat mengerikan. Ia pun pergi menemui saudaranya, Al-Abbas bin Abdul Muthalib sambil bertutur: 

"Saudaraku, demi Allah, semalam aku melihat mimpi yang demikian mengerikan. Aku khawatir 

keburukan dan musibah akan menimpa kaummu. Maka rahasiakanlah apa yang aku akan katakan 

padamu nanti." Al-Abbas bin Abdul Muthalib bertanya kepada Atikah binti Abdul Muthalib: "Mimpi 

apakah yang engkau lihat?" Atikah binti Abdul Muthalib menjawab: "Dalam mimpiku aku melihat 

seorang musafir datang dengan menunggang unta. Ia berdiri di sebuah tanah lembah nan lapang. Lalu 

ia berteriak dengan suara sangat lantang: "Ketahuilah, wahai orang-orang Ghudar, berangkatlah kalian 

ke ladang kematian kalian dalam jangka tiga hari." Aku lihat manusia berhimpun pada musafir 

ini , lalu  ia masuk ke masjid di ikuti banyak orang. jika  mereka berada di sekelilingnya, 

musafir ini  berdiri di atas untanya di depan Ka'bah, lalu berteriak dengan suara sangat lantang: 

"Ketahuilah, wahai orang-orang Ghudar, berangkatlah kalian ke ladang kematian kalian dalam jangka 

tiga hari." lalu  musafir ini  berdiri di atas untanya di atas Abu Qubais, dan berteriak dengan 

teriakan yang sama lantangnya. Musafir ini  mengambil batu besar lalu melemparkannya. Batu 

besar itu meluncur jatuh. Tatkala batu ini  sampai di bawah gunung, ia pecah berkeping-keping. 

Tidak ada satupun rumah di Makkah, kecuali diterjang pecahan batu besar ini ." 

Al-Abbas bin Abdul Muthalib berkata: "Demi Allah, inilah mimpi yang sebenarnya. Saya berpesan 

padamu agar merahasiakan mimpimu ini, dan janganlah sekali-kali kau menceritakannya kepada siapa 

pun" 

lalu  Al-Abbas bin Abdul Muthalib keluar dan bertemu dengan Al-Walid bin Utbah bin Rabi'ah 

seorang sahabat dekat Al-Abbas bin Abdul Muthalib. Lalu Al-Abbas bin Abdul Muthalib menceritakan 

mimpi Atikah binti Abdul Muthalib kepadanya, dan meminta Al-Walid merahasiakan rapat-rapat 

mimpi ini . Sayang sekali Al-Walid tak mampu menahan rahasia dan ia menceritakan mimpi 

ini  kepada ayahnya, Utbah bin Rabi'ah. Hasilnya, berita tentang mimpi ini  pun menyebar 

luas ke seantero Makkah dan menjadi bahan pembicaraan hangat di antara orang-orang Quraisy di 

tempat pertemuan mereka. 

Al-Abbas berkata: Lalu aku pergi untuk thawaf di Baitullah. Saat itu, Abu Jahal sedang berkumpul 

bersama beberapa orang Quraisy membincangkan serius tentang mimpi Atikah binti Abdul Muthalib. 

Pada saat Abu Jahal melihatku, ia berkata: "Wahai Abu AI-Fadhl, jika  telah selesai thawaf, harap 

engkau datang ke tempat kami!" Seusai thawaf, aku datang dan duduk bersama mereka. Abu Jahal 

berkata kepadaku: "Wahai Bani Abdul Muthalib, sejak kapan ada nabi wanita di tengah kalian?" Aku 

bertanya: "maksudnya apa itu ?" Abu Jahal berkata: "Mimpi yang dilihat Atikah." Aku bertanya: 

"Bermimpi apakah Atikah?" Abu Jahal berkata: "Wahai Bani Abdul Muthalib, bukankah kalian senang 

ada seorang laki-laki di antara kalian yang mengaku sebagai seorang nabi, lalu  wanita kalian juga 

mengaku sebagai nabi? Atikah mengaku bahwa dalam mimpinya, orang ini  berkata: 'Pergilah 

kalian dalam tiga hari ini! Kami akan menunggu apa yang akan terjadi pada kalian dalam jangka waktu 

tiga hari ini! jika  apa yang dikatakan Atikah benar, maka dia akan terjadi. Jika telah berjalan tiga 

hari, namun tidak terjadi sesuatupun, kami akan menulis bahwa kalian yaitu  warga Baitullah yang 

paling pendusta di seluruh dunia Arab." 

Al-Abbas berkata: Demi Allah, di mataku Abu Jahal bukanlah apa-apa, aku bisa melakukan apa saja 

atasnya. Namun, aku sengaja mengingkari mimpi ini , pura-pura tidak mengetahuinya. sesudah  

itu kami bubar. 

Pada sore harinya, tidak seorangpun wanita Bani Abdul Muthalib kecuali pasti datang menemuiku. 

Setiap wanita Bani Abdul Muthalib berkata: "Mengapa engkau biarkan begitu saja orang fasik dan 

kotor ini menyerang orang laki-laki kita, dan menyinggung perasaan wanita-wanita kita? Sementara 

engkau mendengar jelas ucapannya, namun engkau tidak merasa gerah atas ucapan yang engkau 

dengar." Al-Abbas berkata: "Demi Allah, aku akan melakukannya. Abu Jahal itu bukan apa-apa di 

mataku, dan aku bisa melakukan apa saja atasnya. Aku bersumpah kepada Allah, aku akan hadapi dia. 

Jika ia mengulangi perbuatannya, aku pasti melakukan perlindungan terhadap kalian dari perilaku 

jahatnya." 

Al-Abbas berkata: "Tiga hari sesudah  mimpi Atikah binti Abdul Muthalib, aku keluar rumah dalam 

keadaan marah besar. Aku mengira bahwa aku telah kehilangan momen besar yang seharusnya aku 

lakukan. Aku masuk masjid, dan melihat Abu Tahal di dalamnya. Demi Allah, aku berjalan ke arahnya 

untuk menghadapinya, agar ia menahan sebagian ucapannya, dan aku bisa membungkamnya. Abu 

Jahal yaitu  orang yang ringan, wajahnya keras, mulutnya dan pandangannya tajam. Tiba-tiba Abu 

Jahal buru-buru keluar menuju pintu masjid. Aku berkata dalam diri ku: "Ada apa dengan orang yang 

dikutuk Allah ini?" Apakah ia takut aku akan mencercanya?" Ternyata Abu Jahal telah mendengar apa 

yang tidak aku dengar, yaitu suara Dhamdham bin Amr Al-Ghifari di tengah lembah sambil berdiri di 

atas untanya yang hidungnya sudah dipotong. Ia putar pelana untanya dalam posisi terbalik, dan 

merobek-robek bajunya. Dhamdham bin Amr Al-Ghifari berkata: "Hai orang-orang Quraisy, unta, dan 

harta kekayaan kalian yang sedang dibawa Abu Sufyan dihadang oleh Muhammad bersama para 

sahabatnya. Aku kira kalian tidak bisa menyelamatkannya. Bantulah mereka dan selamatkanlah 

meraka" 

Al-Abbas berkata: "Aku lebih fokus dengan berita Dhamdham, hingga tak mempedulikan Abu Jahal. 

Demikian pula halnya dengan Abu Jahal, dia fokus pada kabar itu dan tidak memperhatikan saya." 

Orang-orang Quraisy cepat-cepat melakukan persiapan. Mereka berkata: "Apakah Muhammad dan 

sahabat-sahabatnya menyangka bahwa nasib kafilah dagang Abu Sufyan akan mengalami nasib serupa 

dengan nasib kafilah dagang Ibnu Al-Hadhrami? Tidak, demi Allah, dia pasti akan mengetahui, bahwa 

kafilah dagang Abu Sufyan tidak akan mengalami nasib serupa dengan kafilah dagang Ibnu Al-

Hadhrami." Orang-orang Quraisy terbagi ke dalam dua kelompok. Ada yang keluar sendiri untuk 

menghadapi Muhammad dan sahabat-sahabatnya dan ada yang cukup dengan mengutus seseorang 

sebapai pengganti dirinya. Orang-orang Quraisy sepakat untuk perang. Tidak ada seorang pun dari 

tokoh-tokoh utama mereka yang ketinggalan, kecuali Abu Lahab bin Abdul Muthalib. Ia tidak ikut serta 

dan hanya mengutus Al-Ashi bin Hisyam bin Al-Mughirah sebagai pengganti dirinya. Awalnya Al-Ashi 

bin Hisyam bin Al-Mughirah tidak akan ikut terjun dalam kecamuk perang karena ia mempunyai 

hutang sebesar empat ribu dirham kepada Abu Lahab. Al-Ashi bin Hisyam bin Al-Mughirah bangkrut 

dalam perdagangannya. Maka iapun di kontrak Abu Lahab dengan nilai sebesar hutangnya. Akhirnya, 

ia ikut perang menggantikan posisi Abu Lahab. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku bahwa Umayyah bin Khalaf memutuskan 

tidak ikut perang. Ia sudah sangat tua dan terhormat, gemuk, dan berbadan berat. Uqabah bin Mu'aith 

datang menemui Umayyah bin Khalaf yang pada saat itu duduk di masjid bersama kaumnya. Ia 

membawa anglo tempat membakar kemenyan dan dupa. Uqbah bin Abu Mu'aith meletakkan anglo 

dan dupa ini  di depan Umayyah bin Khalaf seraya berkata: "Wahai Abu Ali, hiasilah dirimu 

dengan dupa ini, karena engkau laksana seorang perempuan." Umayyah bin Khalaf menjawab: 

"Semoga Allah memburukkanmu dan memburukkan apa yang engkau bawa!" Karena tersinggung 

Umayyah bin Khalaf segeraber siap-siap dan ikut perang bersama pasukan lainnya. 

 

 

Perang Antara Kinanah dan Quraisy dan Persekutuan Mereka di Perang Badar 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat orang-orang Quraisy mengadakan persiapan perang, dan akan 

berangkat, tiba-tiba memori mereka terbang pada perang yang terjadi antara mereka melawan Bani 

Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. Mereka berkata: "Kita khawatir orang-orang Bani Bakr akan 

menohok kita dari belakang." 

Seseorang dari Bani Amir bin Luay berkata kepadaku dari Muhammad bin Sa'id bin Al-Musayyib yang 

berkata bahwa anak Hafsh bin Al-Akhyaf salah seorang dari Bani Ma'ish bin Amir bin Luay keluar untuk 

mencari untanya yang hilang di Dhajnan. Anak Hafsh itu terbilang masih sangat muda, rambutnya 

memakai ikatan, mengenakan perhiasan demikian tampan dan bersih. Anak Hafsh ini  berjalan 

melewati Amir bin Yazid bin Amir Al-Mulawwah, salah seorang dari Bani Ya'mur bin Auf bin Ka'ab bin 

Amir bin Laits bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah di Dhajnan. Pada saat itu Amir bin Yazid yaitu  

seorang pemimpin kaumnya. Pada saat meli- hat anak Hafsh, ia terpikat kepadanya. Ia bertanya 

kepada anak Hafsh: "Siapa engkau ini wahai anak muda?" Anak Hafsh menjawab: "Aku anak Hafsh bin 

Al-Akhyaf Al-Qurasyi." Tatkala anak Hafsh itu berpaling dari Amir bin Al-Akhyaf, ia berkata: "Wahai 

Bani Bakr, apakah kalian punya utang darah pada Quraisy?" Mereka menjawab: "Ya, kita punya utang 

darah pada mereka." Amir bin Yazid berkata: "jika  salah seorang di antara kalian membunuh anak 

muda ini, berarti ia telah menunaikan hutang darahnya." 

Salah seorang dari Bani Bakr bergerak untuk membunuh anak Hafsh lalu ia membunuhnya sebagai 

pembalasan darah yang ada pada Quraisy. Orang-orang Quraisy geger membicarakan pembunuhan 

terhadap anak Hafsh itu. Amir bin Yazid berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, kalian memiliki utang 

darah pada kami. Apakah yag menjadi keinginan kalian? jika  mau, silahkan bayar hutang kalian 

pada kami sebelumnya, niscaya kami bayar lunas utang kami pada kalian sebelum ini. Jika mau, maka 

ini yaitu  darah satu orang dibalas dengan darah satu orang pula. Oleh karena itu, silakan kalian 

membayar hutang kalian sebelumnya pada kami, niscaya kami bebaskan hutang kalian atas kami 

sebelumnya. Anak Hafsh ini  dianggap tidak ada harganya di perkampungan orang-orang 

Quraisy." Orang-orang Quraisy berkata: "Benar, satu orang dibalas dengan satu orang pula." Maka 

mereka tidak menuntut apa pun atas darah anak Hafsh. 

Tatkala saudara korban Makraz bin Hafsh bin Al-Akhyaf berjalan melintas di Marr Adh-Dhahran, ia 

melihat Amir bin Yazid bin Amir bin Al-Mulawwah sedang menunggang unta. Tatkala Makraz bin Hafsh 

melihatnya, ia mendekat kepadanya dan mendudukkan untanya. jika  itu Amir bin Yazid menghunus 

pedang dan Makraz bin Hafsh menyerangnya dengan pedangnya hingga tewas. Lalu Makraz bin Hafsh 

merobek perutnya lalu membawanya ke Makkah, dan menggantungkannya suatu malam pada kain 

Ka'bah. jika  orang-orang Quraisy melihat pedang Amir bin Yazid bin Amr menggantung di kain 

Ka'bah keesokan mereka pun mengenalinya. Mereka berkata: "Ini pasti pedang Amir bin Yazid. Ia 

diserang Makraz bin Hafsh dan lalu  membunuhnya." Demikianlah apa yang terjadi antara orang-

orang Quraisy dengan Bani Bakr. 

Pada saat mereka berada pada situasi perang demikian, datanglah Islam menengahi perselisihan itu 

dan mereka melupakan yang lain, hingga orang Quraisy memutuskan untuk berangkat ke Badar. Lalu 

memori kembali muncul tentang perseteruannya dengan Bani Bakr dan mereka was-was Bani Bakr 

menyerang. 

Makraz bin Hafsh berkata dalam untaian syair tentang pembunuhannya terhadap Amir bin Yazid: 

Kala ku lihat bahwa dia yaitu  Amir 

Aku ingat akan daging mengelupas saudara tercintaku 

Aku bergumam dalam diriku, 'Dia itu Amir, Janganlah takut padanya dan lihatlah tunggangan apa 

saja 

Aku yakin aku kuasa memukulnya dengan pedang, dan ia pasti binasa Saat menghadapinya, aku 

kendalikan rasa takutku 

Dan kudorongkan dadaku pada pahlawan si penghunus pedang yang kenyangpengalaman Tatkala 

kekhawatiran telah bertemu untuk perang 

Aku tidak tampakkan diriku sebagai anak dua orang tua yang bodoh 

Aku mengendurkan anak panahku, dan aku tak pernah melupakan balas dendamnya jika  orang 

yang lemah akalnya lupa pada dendamnya 

 

Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ruman menuturkan kepadaku dari Urwah bin Zubair yang berkata: 

Tatkala orang-orang Quraisy telah memutuskan berangkat perang, mereka ingat konfliknya dengan 

Bani Bakr. Memori tentang konflik ini hampir saja menggagalkan keberangkatan mereka. Namun iblis 

terkutuk menampakkan diri kepada mereka dalam rupa Suraqah bin Malik bin Ju'syum Al-Mudliji. 

Suraqah bin Malik yaitu  salah seorang tokoh utama Bani Kinanah. Iblis berkata kepada orang-orang 

Quraisy: "Aku memberikan garansi kepada mereka bahwa orang-orang Kinanah tidak akan menohok 

kalian dari belakang dengan hal-hal yang kalian tidak sukai." Maka merekapun berangkat dengan 

segera. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar dari Madinah bersama para 

sahabatnya sesudah  Ramadhan berlalu beberapa hari. 

Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar dari Madinah pada hari Senin 

tanggal 8 Ramadhan, dan mengangkat Amr bin Ummu Maktum sebagai pengganti sementara beliau 

untuk menjadi imam shalat di Madinah. Ada juga yang berp