gan tangan
beliau yang diberkati, sambil membaca basmalah
*
, lalu mulai memerah susu
biri-biri. Air susu yang keluar dari biri-biri ini mengalir deras sehingga semua
orang bisa minum dengan puas dan mengisi kaleng-kaleng mereka dengan air susu
ini . saat suami wanita itu pulang dan diceritakan tentang mu’jizat Nabi
saw., mereka berdua masuk Islam.
Banyak artikel yang menguraikan tentang peristiwa hijrah Nabi ini .
Sejarah mencatat, bahwa dalam peristiwa hijrah ini tidak seorang pun yang
masih tinggal di kota Mekkah kecuali Abu Bakar ra. dan Ali ra. Keterangan yang
menyebutkan bahwa, “Rasulullah saw. memerintahkan kepada para shahabat untuk
tidak meninggalkan rumah mereka” jelas tidak benar sama sekali. Sebagaimana kita
ketahui, bahwa usia Abu Bakar ra. dua tahun lebih muda dari pada Rasulullah saw.
saat masih muda mereka berdua yaitu teman dekat yang saling mencintai. Dan
sepanjang hayat, cinta mereka berdua terpelihara abadi. Mereka selalu bersama siang
*
Lafadz “Bismillāhirrahmānirrahīm” yang pada prinsipnya mengandung arti, ‘Dengan
nama Allah, Yang Maha Pengasih, Penyayang’. Setiap muslim seharusnya mengucapkan lafadz ini
sebelum melakukan sesuatu dan bila tidak (membaca basmalah, pent.) sesuatu itu dianggap kurang
(kurang berkah, pent.)
dan malam. saat Rasulullah saw. mengunjungi Damaskus dua kali, Abu Bakar ra.-
lah yang menemani beliau. Dengan memperhatikan sikap dan perasaan cinta, kasih
sayang dan pengorbanan beliau, mengatakan bahwa Rasulullah saw. tidak
mempercayai Abu Bakar ra., hal ini yaitu kedustaan nyata dan fitnah yang
keji. Penulis artikel Husniyyah mengatakan, bahwa Rasulullah saw. tidak menyuruh
Abu Bakar ra. untuk turut hijrah. saat mereka berdua hijrah, orang-orang kafir
yang mengepung rumah Rasulullah saw. tidak menyadari bahwa Rasulullah saw.
telah pergi meninggalkan rumah. Abu Bakar ra. mengetahui dan bahkan mengikuti
Rasulullah saw. Hal ini meruapakan suatu isyarat kasyaf (yaitu melihat,
memahami, menyadari dan merasakan melalui mata hati) dan karamah (yaitu
keajaiban yang terjadi pada para wali, -yaitu manusia yang sangat dicintai oleh Allah
swt.), yang dimiliki Abu Bakar ra. Apakah masuk akal, jika dikatakan bahwa
seseorang yang memiliki kasyaf dan karamah mengkhianati Rasulullah saw.?
Seandainya Abu Bakar ra. hendak mengkhianati Rasulullah saw., bukankah beliau
mempunyai kesempatan melakukan hal ini , -demi kepentingan orang-orang
kafir Quraisy-, saat mereka tiba di mulut goa (di mana Rasulullah saw. dan Abu
Bakar ra. sendiri bersembunyi di dalamnya) pada hari Jum’at, dan mereka melihat
seekor laba-laba yang menutupi mulut goa ini , sehingga mereka mengatakan,
“Nampaknya tidak seorang manusia pun telah masuk ke goa ini sejak bumi ini
diciptakan?” Apakah Abu Bakar ra. akan melewatkan kesempatan ini begitu
saja?
Mendistorsikan ayat Al Qur’an yang artinya, “Jangat takut! Allah
bersama kita,” dan memakai ayat ini sebagai alasan untuk mengutuk dan
menghujat Abu Bakar ra. merupakan cara paling menjijikan dalam memusuhi Islam.
Hal ini merupakan sebuah dalih yang tidak beralasan sama sekali.
Husniyyah berdiskusi dengan Khalid Ibrahim lama sekali. Dia
mengajukan beberapa pertanyaan tentang berbagai masalah yang rumit (subtle)
kepada Khalid Ibrahim. Sebagaimana para ulama mujtahid lainnya, beliau juga tidak
mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh
Husniyyah. Dalam keadaan terdesak, beliau balik bertanya kepada Husniyyah
mengenai orang yang pantas menjadi khalifah. Husniyyah menjawab, bahwa
kekhalifahan yaitu hak seseorang yang masuk Islam paling awal. Khalid Ibrahim
lalu bertanya lagi, siapa yang dimaksud seseorang yang masuk Islam paling awal
(the earliset muslim) ini . Husniyyah menjawab, orang itu yaitu Sayidina Ali.
saat beliau merasa keberatan atas jawabannya, dan mengatakan bahwa, ‘saat
masuk Islam, Sayiddina Ali juga masih kanak-kanak. Seorang anak, lalu
masuk Islam tidak-lah menjadi persoalan penting dalam kaitannya dengan masalah
kekhalifahan, akan namun seseorang yang masuk Islam pertama (paling awal) ialah
Abu Bakar ra. Husniyyah lantas membacakan ayat-ayat Al Qur’an yang
menceritakan tentang Isa (Jesus), Musa (Moses) dan Ibrahim (Abraham). Dia
mengatakan, bahwa nabi-nabi ini telah menjadi muslim saat mereka masih
kanak-kanak. Husniyyah lalu memaki-maki Khalid Ibrahim dan para ulama
Ahlus Sunnah wal Jamaah. Imam Syafi’i yang turut hadir, meminta kepada Khalifah
Harun untuk menghukum jariyah ini . Akan namun , Khalifah justru mengabaikan
permintaan beliau sambil mengatakan bahwa Husniyyah hanya bisa dikalahkan
dengan ilmu, bukan dengan hukuman.
Padahal hadits yang berbunyi, “Bahwa setiap anak yang lahir ke dunia
ini menurut fitrahnya (in a nature well fitted) yaitu muslim. lalu orang
tuanya-lah yang akan menjadikan ia Yahudi (Jews) atau Nasrani (Christians) atau
Kafir (Atheists),” sangat masyhur di kalangan muslim Sunni, sehingga mereka telah
mafhum. berdasar hadits ini , mempercayai bahwa Ibrahim Khalid atau
orang Islam lainnya berpendapat, “Sayyidina Ali ra. itu masih kanak-kanak saat
masuk Islam sehingga keberadaan beliau sebagai seorang muslim tidak
dipertimbangkan,” dan bahwa ratusan ulama yang mengetahui pernyataan aneh
ini lantas menerima begitu saja, maka hal ini akan sama dengan
mempercayai seseorang yang menyebut putih ‘hitam’, bahkan hal ini akan
menjadi bahan tertawaan anak-anak. Pernyataan ini jelas menyingkapkan fakta,
bahwa artikel ini sesungguhnya ditulis oleh seorang Yahudi yang berasal dari
Iran.
Dikatakan, bahwa di hadapan para ulama, jariyah ini mengatakan,
“Meskipun yang berhak menjadi khalifah yaitu Sayidina Ali, akan namun ketiga
khalifah telah merampas hak beliau melalui kekuatan (fisik, pent.). Salman al-Farisi
dan lima hingga enam shahabat lainnya tetap berpihak kepada Sayidina Ali dan tidak
memilih ketiga khalifah ini . Mereka beroposisi melawan para khalifah zalim
ini selama dua puluh lima tahun. Oleh sebab itu, ketiga khalifah dan sepuluh
orang [yang telah diberi kabar gembira akan masuk surga] serta ribuan shahabat
yang memilih mereka termasuk kafir. [Semoga Allah swt. melindungi kita dari
ucapan seperti itu]”.
Untuk menunjukkan kecintaan yang mendalam kepada Ali, orang-orang
Hurufi mencampuradukkan persoalan kekhalifahan dengan masalah Ahlul Bayt.
Dalam kaiatannya dengan persoalan Ahlul Bayt ini , mereka sangat melampaui
batas-batas agama dan terjebak ke dalam pemikiran-pemikiran menyesatkan. Jika
diperhatikan, akan tampak bahwa mereka berpendapat bahwa kekhalifahan ini ,
-yang sebenarnya menjadi bagian dari persoalan agama-, yaitu bagian masalah yang
menyangkut prestise duniawi semata. sesudah mengkaji sejarah tentang trik-trik
mereka dan pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok mereka
terhadap orang Islam, dapat diketahui bahwa dalam meraih kedudukan dan jabatan
pimpinan, mereka membandingkan diri mereka sendiri dengan keempat khalifah
Rasulullah saw.
Pada masa Abu Bakar ra. memerintah, suatu hari Umar bin Khaththab
melihat beliau memanggul sekarung tepung di punggungnya. lalu Umar
bertanya kenapa beliau melakuakn hal ini . Abu Bakar ra. menjawab : “Wahai
Umar! Apakah aku tidak boleh mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan rumah
tanggaku?” Umar sangat kagum dan terkejut mendengar jawaban Khalifah.
lalu dia mengusulkan agar Khalifah Rasulullah ini diberi gaji dari
baitulmal, -yakni dari belanja negara-, sehingga beliau bisa menjalankan tugas
kekhalifahan dengan baik dalam melayani seluruh rakyat. Usulannya diterima oleh
seluruh shahabat sehingga ditetapkan, bahwa Khalifah akan diberi tunjangan gaji
dari baitulmal menurut kebutuhan hidup Khalifah. Abu Bakar memakai gaji
yang nilainya sama dengan kebutuhan rakyat pada umumnya. Dan beliau
mengembalikan sisa gaji ini . Begitu pula dengan khalifah kedua Umar ra.
saat pasukan Islam berhasil menaklukkan kota suci Yerusalem dan sekitarnya,
beberapa negara Eropa mengutus seorang duta besar mereka ke Yerusalem. sesudah
beraudensi dengan Khalifah, duta besar ini pulang dengan membawa laporan
sebagai berikut :
“Dia (Umar, pent.) seperti seorang Padisyah (raja), memiliki pengetahuan
luas dan penampilannya amat bersahaja dan mempesona, dia tidak mempunyai istana
dan baju-baju berhias. Saya memperhatikan pakaiannya. Pada pakaian yang
dikenakan olehnya ada delapan belas tambalan. Tidak mungkin seseorang akan
sanggup mengalahkan seorang pahlawan yang hidupnya sesederhana itu, yang selalu
siap berperang”. Fakta ini ditulis secara obyektif di dalam artikel -artikel sejarah
Eropa. Jalaluddin ar-Rumi [lahir di kota Belh pada tahun 604 hijriyah dan meninggal
di Konya pada tahun 672 H (bertepatan dengan tahun 1273 M)] di dalam artikel nya
yang berjudul Masnawi, -yang memuat lebih dari empat puluh tujuh ribu sajak dua
baris dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa terkenal di dunia-, memuat
informasi sebagai berikut : Duta besar yang dikirim oleh Kaisar Bizantium ini
tiba di Madinah dan menanyakan di mana istana Khalifah. sesudah ditunjukkan
sebuah rumah gubuk (cottage), duta besar ini pun menuju ke sana. Dia melihat
Khalifah sedang berbaring di atas tanah kering memakai batu sebagai bantalnya.
Sayidina Umar lalu bangun dan menemui duta besar ini , -yang merasa tertegun
dan simpati saat melihat beliau pertama kali. sesudah beristirahat sebentar, duta besar
ini berbicara kepada Khalifah, lalu dia pulang. saat hendak pulang, istri
Khalifah memberi hadiah yang telah dipersiapkan kepada duta besar ini berupa
delapan belas dirham koin perak yang diperoleh dari seorang teman Khalifah.
Kepada duta besar ini , istri Khalifah berpesan untuk memberikan hadiah
ini kepada istri Kaisar. Sebagai balasan, istri Kaisar ini mengirimi dia
sebuah hadiah yang sangat tinggi nilainya berupa permata. Khalifah Umar bin
Khaththab, -yang tidak pernah berbuat zalim dalam semua tindakannnya-, hanya
memberi delapan belas dirham koin perak kepada istrinya dan memberikan sisanya
ke baitulmal.
sedikit dari mereka yang menjalankan perintah ajaran Islam dan as-sunnah. Apakah
menurut silogisme Anda mereka tidak murtad?” Dia tidak bisa menjawab. Saya
melanjutkan , “Menganggap bahwa Sayidina Ali ra. dan Fatimah ra. merasa sakit
hati kepada para shahabat ra., disebabkan yang pertama (Ali ra.) tidak diangkat
menjadi khalifah dan yang terakhir (Fatimah ra.) tidak diberi kebun kurma, yaitu
perbuatan yang haram. Bagi seorang mukmin, menyakiti atau membuat marah
sesama saudara muslim lainnya, dan mendiamkan mereka selama lebih dari tiga hari
haram juga hukumnya. Apakah dapat dibenarkan (justifiable) mengatakan, bahwa
mereka terus-menerus memusuhi (para shahabat, pent.) hingga akhir zaman?”
“Permusuhan mereka (Ali ra. dan Fatimah, pent.) disebabkan sebab mereka (para
shahabat) tidak menjalankan perintah (Rasulullah saw)”, katanya. Untuk menanggapi
jawaban ini saya berkata, “Jika orang mukmin melanggar (hukum) Islam, maka
kewajiban yang harus dilakukan ialah mencegahnya dan memperingatkannya agar
dia mau mengerjakan kewajibannya. Hal ini akan dapat dilakukan oleh negara
melalui kekuasaan yang dimiliki, dan oleh para ulama melalui dakwah. Dan yang
lain dapat melakukannya melaui hati, -ini merupakan tingkat iman yang paling
rendah. Nah, sebagaimana diketahui, bahwa Sayidina Ali ra. yaitu Singa Allah
(asadullah, the lion of Allah), akan namun mengapa dia tidak memerintahkan agar
hukum-hukum Allah ini dijalankan memakai kekuatan yang dimilikinya?
Apakah dia terlalu lemah melakukan tindakan ini ? Meskipun seseorang
memiliki hak untuk menuntut orang lain yang membunuh ayah, ibu atau anaknya
dihukum mati sebagai tindakan balasannya. Akan namun , ayat kedua ratus tiga puluh
tujuh surat al-Baqarah menjelaskan, ‘Jika kamu memaafkannya, hal itu akan lebih
dekat kepada takwa,’ dan ayat keempat puluh delapan dan keseratus enambelas surat
al-Nisa menerangkan,’Allah akan mengampuni dosa-dosa, selain syirik kepada siapa
saya yang Dia kehendaki,’ dan ayat ketiga puluh delapan surat al-Maidah
menerangkan,’Jika seseorang melakukan kezaliman lalu bertaubat dan
mengerjakan amal-amal salih, niscaya Allah akan mnerima taubatnya.’ Dan ada
tiga puluh ayat senada lainnya yang menejelaskan bahwa taubat ini akan dapat
diterima. Seorang hamba yang telah melakukan banyak dosa lalu bertaubat, dia
akan mendapat ampunan dari Allah swt. Bagaimana Anda mengetahui bahwa
para shahabat Nabi saw. enggan bertaubat dan taubat mereka ditolak oleh Allah swt.
sebab mereka telah dianggap melakukan kesalahan berkaitan dengan masalah
kekhalifahan?” Dalam hal ini, sekali lagi dia tidak dapat menjawabnya.
Aruzzada Efendi, seorang mufti Baghdad, suatu saat menceritakan
kepada al-faqir (penulis, pent.) sebuah peristiwa yang dia dengar seorang penjaga
makam Sayidina Husein ra. di Karbala :
Pada suatu malam, dia bermimpi bertemu dengan Sayidina Husein ra.
Beliau berkata kepadanya,”Besok akan dikirim sesosok jenazah dari Iran. Jangan
kamu biarkan jenazah itu dikubur di dekat saya.” Pada hari berikutnya, ternyata
benar bahwa sesosok jenazah dikirim dari Iran. Mereka ingin menguburkan jenazah
ini di dekat makam Sayidina Husein ra. Pada awalnya si penjaga makam
Sayidina Husein ra. ini melarang mereka. Namun, mereka berhasil
mempengaruhi dia agar mengijinkan mengubur jenazah ini di sana dengan
memberinya uang dalam jumlah banyak. Sehingga pada akhirnya, mereka diijinkan
mengubur jenazah ini pada jarak sekitar dua ribu langkah dari makam ini .
Pada malam harinya, dia bermimpi melihat Sayidina Husein ra. Sang Imam ini
marah dan membentak si penjaga makam itu. Penjaga makam ini merasa sangat
menyesal dan meminta maaf kepadanya. Pada malam berikutnya, sang Imam muncul
kembali di dalam mimpinya dan memarahinya. Penjaga makam beliau berjanji akan
membongkar makam ini dan mengubur jenazahnya di tempat yang jauh dari
makam beliau. Namun, cucu Rasulullah saw. ini berkata, “jika seseorang
meninggal dan jenazahnya dikubur di dekat kami selama dua malam, dia akan
diampuni oleh Allah. Dia telah mendapat ampunan dari Allah swt., akan namun
keberadaan dia di dekat saya telah mengusik saya.” lalu penjaga makam
ini memperlakukan jenazah itu sebagai orang mati yang telah memperoleh
ampunan dari Allah swt. saat dia menceritakan peristiwa ini kepada
Aruzzada, sang mufti itu bertanya kepadanya”, Jika seorang pendosa yang telah
ditolak oleh sang Imam sebab perbuatan dosa yang telah dilakukannya mendapat
ampunan dari Allah swt. disebab kan jenazah orang ini dikubur pada jarak dua
ribu langkah dari makam keramat sang Imam selama dua malam, apakah al-syaikhan
ini (yakni Abu Bakar ra. dan Umar ra.) yang dikubur berdampingan dengan
makam Rasulullah saw. di hujrat-mu'attara-nabawiyyah (Makam Suci Nabi) selama
seribu dua ratus enam puluh tahun
*
, tidak memperoleh ampunan dari Allah swt.? Dia
terkejut dan tidak mampu menjawab. Kebodohannya tampak. Betapa akurat bantahan
sang mufti ini , dan betapa malunya dia!
saat Umar ra. menjadi khalifah, beliau berhasil menaklukkan beberapa
wilayah dalam rangka menyebarluaskan agama Allah swt. dan Rasul-Nya ke seluruh
penjuru dunia. Angkatan bersenjata Umar ra. mampu merambah ke seluruh
Semenanjung Arabia dan melintasi negeri-negeri yang sangat jauh di belahan timur
dan barat, meumpas kezaliman yang dilakukan oleh orang-orang kafir, menerangi
wilayah ini itu dengan cahaya Islam. Saya heran mengapa Sayidina Ali ra. tidak
berkenan mengampuni beliau, padahal beliau melakukan semua itu demi
menegakkan Islam? Pada saat Umar ra. pergi untuk menaklukkan Yerusalem, beliau
mengangkat Ali ra. sebagai wakil khalifah. Ali ra. bertindak atas nama Khalifah, dan
menjalankan tugas ini hingga Umar ra. kembali. Ali ra. pun menyerahkan
kembali jabatan ini kepada beliau saat pulang. Bukankah hal ini
menunjukkan sikap saling percaya dan mencintai di antara mereka? Seandainya
ada perselisihan sekecil apa pun atau permusuhan di antara mereka, apakah
Umar ra. akan mempercayai dan mengangkat Ali ra. sebagai wakil dirinya? Apakah
Ali ra. akan dengan ikhlas mengembalikan jabatan kekhalifahan ini sesudah
diberikan kepada dirinya? Seandainya dikatakan “lalu Ali ra. melupakan
jabatan kekhalifahan ini . Beliau tidak akan menyerahkan kembali jabatan
ini kepada Umar ra. seandainya beliau tidak melupakan jabatan ini ”,
*
Seribu dua ratus enam puluh tahun (1260) atau dua belas abad lebih enam puluh tahun
(12 abad = 12 X 100 =1.200 tahun ) dihitung dari masa hidup Nabi saw., Abu Bakar dan Umar ra.
sampai masa saat kisah itu disampaikan [oleh penjaga makam Husain ra. kepada Aruzzada Efendi]
yang menuturkan kembali kisah ini kepada Utsman Efendi, -pengarang kitab Tazkiyat Ahlul Bayt
ini-, [meskipun sejauh ini belum diperoleh informasi secara pasti bilamana Utsman Efendi sendiri
yang menyebutkan bahwa dirinya menunaikan ibadah haji pada tahun 1866 M bertemu dengan
Aruzzada Efendi], maka bisa diduga bahwa pertemuan antara Utsman Efendi dan Aruzzada Efendi,
maupun pertemuan antara Aruzzada Efendi dan penjaga makam Husein ra. terjadi sebelum atau
sesudah tahun 1860-an (paroh pertama akhir atau paroh kedua awal abad ke-19 M). Dengan demikian,
maka jarak antara periode hidup Nabi saw., Abu Bakar ra. dan Umar ra. dengan Utsman Efendi,
Aruzzada Efendi dan penjaga makam Husein ra. sekitar 13 abad, yaitu, 19 dikurangi 6 (abad). Tahun
1866 M termasuk dalam kategori abad ke-19 M, dan tahun 1230 M termasuk dalam kategori abad ke-
13 M [Eksplanasi dari penerjemah].
68
sehingga di sana tidak ada perselisihan di antara dirinya dengan Umar ra., yang
artinya tidak perlu mencela orang ini (Umar ra., pent ).
Selama Umar ra. menjadi khalifah, Sayidina Ali karamallahu wajhah
menikahkan putri beliau,-Ummu Kultsum-, dengan sang Khalifah pada tahun ke
tujuh belas hijriah dengan mahar empat puluh ribu uang koin perak. Dari
pernikahannya dengan Ummu Kultsum ini , Umar ra. dikaruniai seorang anak
laki-laki bernama Zaid dan seorang anak wanita bernama Ruqayyah. Dengan
demikian, Umar ra. yaitu menantu Ali ra. dan Fatimah radliyallahu ‘anha.
Pernikahan ini telah mengokohkan dan mengekalkan cinta mereka. Mereka
selalu bersama dalam menyelenggarakan kepentingan kaum muslimin. Apakah Ali
ra. menyimpan dendam dan permusuhan,-apalagi terhadap orang yang paling dekat?
Oleh sebab itu, sungguh merupakan fitnah yang keji jika kita mengatakan hal
sedemikian itu kepada sang Imam Agung.
Saya pernah mengenal seorang Pasya dan Vizier, namun yang terakhir
(Vizier, pent.) telah membelot menjadi seorang Hurufi dan memakai nama
Bektasy sebagai kedok dirinya. Beberapa waktu lalu dia sadar lalu bertaubat.
saat al-faqir (saya) bertanya kepadanya mengapa dia bertaubat, dia bercerita
kepada saya sebagai berikut : Sebuah artikel yang dijadikan rujukan oleh orang-orang
Bektasyi menjelaskan, bahwa Umar ra. termasuk orang kafir. Untuk menjelaskan
kenapa Ali ra. menikahkan putrinya kepada Umar ra. yang dianggapnya kafir, artikel
ini memberikan uraian sebagai berikut : Pada suatu hari, Umar ra., -sang
Khalifah-, memanggil Sayidina Abbas dan menyampaikan kepadanya bahwa dia
mempunyai keinginan untuk menikahi putri Sayidina Ali ra. saat yang terakhir ini
(Abbas ra.) menyampaikan kepadanya bahwa gadis itu dipandang oleh Ali terlalu
muda untuk dirinya, Umar ra. berkata, “Jawaban Ali kali ini sama dengan jawaban
yang disampaikannya pada saat saya mengutarakan niat saya kepadanya. Oleh sebab
itu, pergi dan sampaikan kepadanya, jika dia tidak mau menikahkan putrinya
kepada saya, maka saya akan memanggil dua saksi palsu untuk menangkap dia, dan
menetapkan dia sebagai pencuri, serta akan memenggal kedua tangannya.” Dalam
keadaan tidak berdaya seperti itulah, Sayidina Ali ra. lantas memberikan putrinya
kepada Umar ra. sesudah saya membaca artikel ini , saya berkata di dalam diri
69
saya sendiri, “jika orang jahat memaksa saya untuk memberikan anak wanita
saya kepada seorang kafir, dengan mengancam akan membunuh saya jika saya tidak
mengikuti kemauannya, tentu saya lebih baik mati dari pada harus menyerahkan
anak wanita saya kepada orang kafir ini meskipun harus hitam muka saya.
Padahal, Ali ra. yang bergelar ‘Singa Allah’ yaitu seorang muslim yang sangat
sempurna, bersih dari dosa , dan salah seorang yang sangat dicintai oleh Baginda
Rasulullah saw. Tidak mungkin dia sudi melemparkan putrinya, -yang juga sangat
dicintai oleh Rasulullah saw.-, ke dalam tumpukan sampah yang kotor, yang dilarang
oleh agama Islam hanya sebab takut akan bahaya yang belum jelas.” Saya
menyadari, bahwa ternyata saya telah menempuh jalan yang sesat, lalu saya
bertaubat dan menyelamatkan diri dari orang-orang bid’ah yang disebut golongan
Hurufi ini .
Salah seorang menteri dari Kerajaan Utsmani, -saat dirinya masih
menjabat sebagai gubernur di Baghdad-, pernah bertanya kepada seorang Persia yang
mengetahui tentang pernikahan Umar ra. ini . Laki-laki kurang ajar ini
membuat pernyataan yang bernada menghina dan merendahkan derajat putri
Sayidina Ali ra. sambil pergi meninggalkan sang gubernur ini .
Dari keterangan detail yang diberikan ini di atas, dapat dipahami
bahwa Abdul Qadir Ghaylani sangat tepat dalam membandingkan antara orang
Hurufi dengan orang Yahudi dari lima belas aspek. Dan dapat dipahami pula, bahwa
sekte Hurufi pada hakikatnya didirikan oleh Abdullah bin Saba’ untuk memecah
belah ummat Islam. Dalam rangka menciptakan permusuhan di kalangan ummat
Islam, si Yahudi ini membuat provokasi bahwa Ali ra. telah dirampas hak
kekhalifahannya secara paksa, sehingga akibat provokasinya telah memicu
penghujatan terhadap seratus dua puluh empat ribu shahabat secara zalim dan
membabi buta dalam waktu relatif lama.
[Orang-orang Yahudi yaitu keturunan dari dua belas anak Nabi Ya’qub
as. (Jacob). Mereka disebut Bani Israil (Children of Israil, atau Israeliyah) sebab
nama Nabi Ya’qub as. yaitu Israil. sedang Israil berarti Abdullah, hamba Allah.
saat Nabi Musa pergi menuju ke gunung Sinai (Tur), mereka meninggalkan
kepercayaan mereka dan mulai menyembah anak sapi. lalu mereka menyesal
dan bertaubat. Oleh sebab itu, mereka disebut Jeaw (Yahudi, Judah). Judah artinya
orang yang memperoleh jalan keselamatan. Orang Yahudi banyak menimbulkan
masalah kepada Nabi Musa as. Generasi mereka selanjutnya telah membunuh seribu
Nabi. Mereka memfitnah Nabi Isa as. (Jesus) sebab dia tidak mempunyai bapak.
Mereka menganggap ibunya, -Maryam (Mary)-, sebagai wanita kotor. Mereka
menyerang Nabi Isa as dan ibunya serta mencoba membunuhnya. Mereka meracuni
Nabi Muhammad saw. Pada saat Sayidina Utsman ra. menjadi khalifah, mereka
menghembus-hembuskan fitnah, yang berakhir dengan syahidnya sang Khalifah.
Mereka menciptakan sekte Hurufi untuk memecah belah kaum muslimin menjadi
kelompok-kelompok yang saling bermusuhan. Sepanjang sejarah mereka selalu
berusaha menghancurkan agama-agama wahyu dan para Nabi yang diutus oleh Allah
swt. Dalam rangka menghancurkan agama-agama di dunia, mereka mendirikan
organisasi yang disebut Freemasonri. sesudah selesai Perang Dunia I pada tahun
1336 H/1918 M, mereka membentuk negara-negara komunis dengan tujuan untuk
menghancurkan semua agama di dunia. Sementara itu, Hayim Naum, -kepala Rabbi
Istanbul di Mesir-, melakukan intrik-intrik di antara negara-negera kapitalistik dan
imperialistik untuk menghancurkan Kekaisaran Utsmani Islam dari muka bumi.
Akibatnya, kekaisaran besar ini yang pernah memimpin dunia Islam, runtuh.
Mereka memandang bahwa kaum muslimin sebagai masyarakat yang regresif
(mundur, terbelakang, pent.). Akibat intrik-intrik ini , kini Islam kehilangan
kekuatannya dan meluncur ke ambang kehancuran].
artikel -artikel agama dan sejarah menulis, bahwa Abu Bakar ra. terpilih
menjadi khalifah pada hari Senin. Pada hari berikutnya, Selasa, Sayidina Ali ra. dan
beberapa shahabat lainnya datang ke Masjid menemui beliau, dan dengan suka rela
memberikan bai’at kepadanya. Ali ra. menjadi pendukung segala kebijakan Khalifah
hingga sang Khalifah wafat. Dia berjuang membantu Khalifah dalam menyebarkan
agama Islam. berdasar semua fakta ini , masih juga ada orang yang
menuduh Imam Agung Ali ra. telah melakukan kejahatan yang dilarang oleh Al
Qur'an. Seorang muslim, apakah tidak merasa berdosa jika memfitnah Ali ra.
dengan cara seperti itu? Abu Bakar, Umar dan Utsman radliyallahu ‘anhum saat
dipilih menjadi khalifah, mereka berkata, bahwa di antara mereka ada orang-
orang yang lebih baik dari pada diri mereka sendiri. Mereka masing-masing
menganggap dirinya sebagai orang yang tidak cukup pantas mengemban jabatan
khalifah. Mereka bersikap sopan dan santun sebagaimana diperintahkan oleh Allah
swt. kepada rakyat. Apakah keterangan yang menyebutkan bahwa, “Pada hari
berikutnya Ali ra. datang dengan sikap arogan, -salah satu dosa besar-, menantang
orang-orang yang hadir di sana, dengan mengatakan apakah ada orang yang lebih
baik, lebih pemberani, dan lebih pandai dari pada dirinya,” dianggap sebagai sesuatu
yang layak bagi seorang muslim? Sebagaimana diketahui, bahwa sebagian besar
aliran tasawuf bersumber dari ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Sayidina Ali ra.
Para pemimpin tasawuf mengajarkan kepada murid-murid mereka menurut petunjuk
yang diajarkan oleh Sayidina Ali ra. Pelajaran yang mereka ajarkan pertama-tama
ialah sifat sederhana dan sopan santun (modesty). Banyak ayat Al Qur’an yang
mengajarkan kepada kita untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saudara kita sesama
muslim. Apakah dapat dibenarkan, jika kita menuduhkan sikap dendam selama tiga
puluh tahun dan mengajak orang lain untuk melestarikan sikap dendam ini
hingga kiamat, kepada seorang pendosa hina sekali pun, apalagi kepada Sayidina Ali
ra.? Para guru besar tasawuf (mursyid) mengajarkan kepada murid-muridnya
berdasar ayat-ayat Al Qur’an. Mereka menjelaskan, bahwa segala sesuatu yang
ada di jagad raya ini yaitu ciptaan oleh Allah swt. Mereka juga mengajarkan agar
manusia menerima segala ketentuan (qadla) yang telah digariskan oleh Allah swt.
secara ikhlas. Apakah mungkin seseorang yang mengajarkan keikhlasan seperti itu
justru menentang qadla atas dirinya sendiri? Apakah hal ini bisa dipercayai
menurut akal sehat? Bukankah keterangan seperti itu merupakan fitnah yang keji?
Apakah akal sehat dapat menerima, jika dikatakan bahwa Sayidina Ali ra. tidak
bersikap sabar dalam menghadapi situasi problematis seperti itu, padahal ayat-ayat
Al Qur’an dengan tegas mengajarkan kepada ummat Islam untuk bersabar setiap kali
menghadapi kesulitan dan situasi dilematis? Apakah Sayidina Ali ra. telah lupa
dengan ayat-ayat Al Qur’an yang memperingatkan tentang bahaya dari sikap
ambisius terhadap kenikmatan dan kesenangan duniawiah, menyebarkan fitnah dan
perpecahan di kalangan ummat Muhammad saw., hanya untuk memperoleh
keuntungan duniawi semata? Apakah pernyataan seperti itu layak ditujukan kepada
sang Imam Agung ini , padahal kata-kata ‘sabar’ dan ‘prilaku tidak ambisius’
terhadap dunia telah akrab digunakan sebagai simbol kesalihan dan kebajikan
seorang muslim?
Ketiga khalifah Rasululullah saw. menerima jabatan kekhalifahan
ini secara ‘terpaksa’ disebabkan sebab jabatan ini merupakan kewajiban
yang harus mereka pikul dan semata-mata sebab para shahabat Rasulullah saw.
lainnya memilih mereka. Bahkan sesudah mereka tidak lagi menjadi khalifah,
mereka tidak sekali-kali memwasiatkan agar digantikan oleh putra-putra mereka.
Bukankah fakta ini menunjukkan, bahwa keterangan kami itu benar? saat
para shahabat telah sepakat memilih Ali ra. menjadi khalifah, beliau menerima
amanat itu dengan terpaksa. Meskipun Mu’awiyah (menuntut haknya menjadi
khalifah sebagai kesalahan ijtihadnya), akan namun Ali ra. menghadapi kesulitan
besar itu dengan berupaya menyadarkan Mu’awiyah supaya mentaati dirinya, sebab
jabatan ini semata-mata hanyalah merupakan perintah agama Islam. Tidak
seorang pun yang mengingkari fakta di atas. Lagi pula, banyak ayat Al Qur’an dan
hadits yang memerintahkan agar ummat Islam saling menyayangi sesama orang
Islam lainnya, bahkan kepada semua makhluk Allah di muka bumi. Sayidina Ali ra.
yaitu salah satu sumber sifat kebajikan. Beliau sangat terkenal akan keramahan dan
kasih sayangnya. Hal ini merupakan sebuah fakta kongkrit yang telah teruji
oleh berbagai macam peristiwa yang sangat terkenal di dalam sejarah; Allah swt.
telah menyampaikan kabar gembira dan akan mencurahkan kasih sayang-Nya kepada
hamba-hamba-Nya pada hari Kiamat kelak dalam bentuk air dari telaga Kautsar.
Sekarang, bagaimana seseorang bisa mengingkari semua fakta di atas dan
mengatakan bahwa berjuta orang mukmin akan kekal di neraka disebabkan sebab
perbuatan yang pernah dilakukan oleh Sayidina Ali ra.
Menyayangi orang lain berarti mengupayakan keselamatan kehidupan
akhirat orang ini dan melindungi dirinya dari api neraka. Membantu persoalan
dunia tidak bisa diartikan sama dengan membantu keselamatan dirinya di akhirat.
Orang-orang Hurufi menuduh, bahwa jutaan bahkan milyaran orang Islam akan
kekal di neraka disebabkan sebab perbuatan yang pernah dilakukan oleh Sayidina
Ali ra. Padahal, banyak ayat Al Qur’an dan hadits Nabi saw. yang memperingatkan
73
akibat dari perbuatan menfitnah dan memperolok-olok sesama orang Islam. Apakah
dapat dibenarkan, jika seseorang selalu memaki dan menuduh tanpa alasan kepada
para shahabat ra. dan kepada oarng-orang Islam Sunni yang taat menjalankan
perintah-perintah Rasulullah saw.? Adakah manfaat, bagi seorang muslim jika
dirinya menuduh, bahwa semuanya ini disebabkan sebab ulah Sayidina Ali ra.? Para
shahabat dan orang-orang yang mulia dari ummat Muhammad saw. telah bersepakat,
bahwa kewajiban pertama yang harus dijalankan oleh seorang mukmin ialah
memerangi hawa nafsunya sendiri. Dengan demikian, yaitu sangat mustahil,
jika Sayidina Ali ra. melakukan dosa sekeji itu sekali pun jiwanya sedang sakit.
Fakta ini lebih terang dari pada matahari. Oleh sebab itu, tidak ada alasan jika
dikatakan bahwa dia melakukan dosa ini , apalagi beliau tidak sakit jiwa sama
sekali.
Orang-orang Hurufi tentu tidak dapat memberikan alasan yang masuk
akal berkaitan dengan persoalan di atas, sebab di antara shahabat yang mereka
tuduh sebagai musuh abadi yaitu bibi dari pihak ibu Ali ra., saudara sepupu dari
pihak ayah pertama dan banyak kerabat lainnya. Al Qur’an mengajarkan bahwa
bersikap lemah lembut dan dermawan kepada kerabat dan mengunjungi mereka
yaitu kewajiban. Apakah seorang mukmin menganggap bahwa Sayidina Ali ra.
pernah membuat wasiat yang isinya berupa perintah untuk memusuhi para shahabat
Nabi saw.? Al Qur’an menegaskan bahwa istri-istri Rasulullah saw. yaitu ibu dari
orang-orang beriman (umahat al-mukminin). Islam memerintahkan untuk mematuhi
dan menghormati orang tua. Bagaimana seseorang yang memiliki cahaya iman yang
menyinari hatinya mengakui bahwa Sayidina Ali ra. memusuhi para istri Nabi saw.
dan menganggap mereka termasuk orang-orang kafir disebabkan mereka telah
membai’at (memberi penghormatan) kepada Sayidina Abu Bakar ra.?
Hadist Nabi menegaskan bahwa seseorang yang menyebarkan fitnah
akan dikutuk. Apakah Sayidina Ali ra. termasuk seorang penyebar fitnah di kalangan
ummat Muhammad saw. yang juga akan dikutuk?
Umar ra. berkata, “jika saya ditimpa musibah, saya akan ikhlas
menerimanya disebabkan sebab tiga alasan. Pertama, musibah itu datang dari oleh
Allah swt. Sesuatu yang datang dari Dzat tercinta (yaitu Allah swt.) pasti akan terasa
nikmat. Kedua, saya bersyukur kepada Allah swt. sebab Dia tidak menurunkan
musibah yang lebih hebat kepada saya. Ketiga, Allah swt. tidak akan menurunkan
sesuatu yang sia-sia atau tidak berguna kepada manusia. Sebaliknya, musibah yang
Dia turunkan akan menjadi rahmat di akhirat. Saya ikhlas dan ridla jika ditimpa
musibah. sebab musibah di dunia ini jauh lebih ringan (insignificant) bila
dibandingkan dengan rahmat yang abadi di akhirat.” Bahkan sekarang tidak sedikit
orang Islam Sunni yang ikhlas jika ditimpa kesulitan hidup dan bencana. Mereka
memiliki hati yang suci dan ridla sebagaimana dicontohkan oleh Sayidina Ali ra.
Banyak ayat Al Qur’an dan hadits yang memerintahkan hubb fillah dan
bughd fillah (yaitu mencintai orang Islam sebab mereka muslim dan membenci
orang kafir sebab mereka musuh Islam). Para shahabat Rasul telah diberi kabar
gembira melalui ayat Al Qur’an, bahwa, “Allah mencintai mereka. Dan mereka pun
mencintai Allah.,” dan melalui hadits yang jumlahnya banyak sekali yang memuji
orang-orangMuhajirin dan Anshar. Sepuluh orang dari mereka dimuliakan dengan
nama Asyrah Mubasysyarah sebab mereka telah diberi kabar gembira bahwa
mereka akan masuk surga. Banyak juga hadist yang mencerikan bahwa mereka
yaitu orang-orang yang dicintai, tidak dimusuhi. Mungkinkah Imam Ali ra.,-salah
seorang Ahlul Bayt yang sangat mulia yang menjadi pintu gerbang ‘kota ilmu’-,
menganjurkan untuk membenci para shahabat Nabi saw.? Apakah tuduhan yang
sangat menjijikan itu akan menumbuhkan perasaan cinta ataukah dendam kesumat
terhadap sang Imam itu?
Di dalam ayat-ayat Al Qur’an dan hadits Nabi dijelaskan bahwa
seseorang dianggap melakukan perbuatan dosa disebabkan sebab ia meninggalkan
shalat jamaah Jum’at atau salah satu shalat fardlu lima waktu lainnya. Pada masa
kekhalifahan, shalat fardlu dikerjakan di Masjid Nabawi Madinah dan Khalifah
bertindak sebagai imam. Jika Sayidina Ali ra. menganggap ke tiga khalifah Nabi
saw. (yakni Abu Bakar, Umar dan Utasman ra.) termasuk orang kafir, -padahal dia
sendiri menjadi makmum dari orang-orang yang dia anggap kafir setiap kali
mengerjakan shalat jamaah di belakang mereka. jika seseorang mengerjakan
shalat berjamaah dan dia mengetahui secara pasti bahwa sang imam yang diikuitinya
yaitu orang kafir, dia sendiri menjadi kafir. jika Sayidina Ali ra. tidak
75
mengerjakan shalat di belakang mereka, -para khalifah Nabi saw.-, yang bertindak
sebagai imam, dan mengabaikan shalat Jum’at serta shalat-shalat fardlu lainnya yang
dikerjakan secara berjamaah, hal ini merupakan perbuatan dosa juga. Hal itu
sangat mustahil dilakukan oleh Sayidina Ali ra.
Sayidina Ali ra. memberikan putrinya kepada Umar ra. Seseorang yang
memberikan putrinya kepada orang lain yang ia sendiri mengetahui bahwa orang
ini termasuk orang kafir, dia pun akan menjadi kafir. Adakah manfaat dari
perbuatan seperti itu bagi seorang Ali ra.?
Kami telah menjelaskan bagaimana kelompok-kelompok Syi'ah telah
mengalami distorsi kepercayaan dan penyimpangan yang dilakukan oleh orang-orang
Hurufi. Di sini kami akan menjelaskan bagaimana dan mengapa hal ini sampai
bisa terjadi? Pendiri sekte Hurufi yaitu seorang Yahudi berasal dari Yaman,
Abdullah bin Saba’. Dia telah mendistorsi dan melakukan pembelokan terhadap
ajaran Syi’ah. Secara sadar dia melakukan hal ini dalam rangka mengecoh,
menyesatkan dan memecah belah ummat Islam, dan melampiaskan dendam kepada
Ahlul Bayt, yang menjadi sumber cahaya agama Islam. Untuk menyembunyikan
maksud jahatnya ini , dia seolah-olah memuliakan dan mencintai Sayidina Ali
ra. Dia berkeyakinan bahwa Imam Ali ra. telah dirampas hak kekhalifahannya. Dia
juga berpendapat, bahwa ketiga khalifah Nabi dan para shahabat ra. telah kafir. Dia
menyembunyikan dendam kesumat dan kedengkiannya kepada Ali ra. di balik
kedok cinta kepada beliau. Dia melakukan sejumlah perbuatan biadab dan gila.
Sebagian orang bodoh, yang tidak mempunyai benteng iman dan ilmu yang kuat, dan
buta akan cahaya kebenaran Islam laksana kelelawar, akan jatuh ke dalam perangkap
si Yahudi ini . Sehingga mereka mempercayai fitnah-fitnah yang menodai
kemuliaan dan keutamaan Sayidina Ali ra. Mereka dengan fanatik buta mendukung
gagasan-gagasannya untuk mengecam dan mencaci sang Imam ini . [Banyak
artikel ilmiah yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah menggugah
kesadaran ummat Islam terhadap gagasan-gagasan dan ajaran-ajaran sesat Abdullah
bin Saba’, pada saat seorang Yahudi yang berasal dari Persia bernama Fadlullah
Hurufi memunculkan kembali gagasan-gagasan ini sebelum dia meninggal
pada tahun 796 H/1393 M].
76
Tuduhan keji dari orang-orang Hurufi yang mengotori sang Imam ditulis
di dalam kitab Injil dan Taurat. Orang-orang Yahudi dan Kristen mengakui bahwa
fitnah-fitnah yang dilancarkan oleh Abdullah bin Saba’ telah melahirkan permusuhan
terhadap Imam Ali ra.
Kami telah memberikan bantahan terhadap fitnah-fitnah keji terhadap
sang Imam yang ada di dalam artikel yang berjudul Husniyyah. Kami mencoba
membuka kedok sang penulis yang bersembunyi di belakang tulisan-tulisannya
ini , dan membongkar niat terselubungnya. Berikut ini kami sajikan penjelasan
singkat dalam bentuk jawaban-jawaban yang diberikan oleh seorang ulama terhadap
fitnah-fitnah yang ada di dalam kitab-kitab berbahasa Arab seperti Haqaiq al-
Haqaiq, Alfadz Qudsiyyah dan Ayn al-Hayat yang ditulis oleh orang-orang Hurufi.
sesudah membaca kitab Ayn al-Hayat, beliau (ulama ini ) memahami
bahwa seluruh isi kitab ini dari A-Z memuat fitnah-fitnah menjijikan, celaan
dan kata-kata kotor yang ditujukan kepada ketiga khalifah Nabi saw., Sayidina
Mu’awiyah, Sayidah Aisyah dan ulama-ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah
rahmatullah ‘alaihim. Beliau mencoba membuat sebuah daftar yang memaparkan
kebohongan-kebohongan ini ;
artikel ini (Ayn al-Hayat, pent.) menerangkan bahwa, “saat Guru
kita, Fakhrul ‘Alam saw. wafat, semua shahabat kecuali Salman, Abu Dzar, dan
Mikdad ra. kembali menjadi kafir. Utsman yaitu orang yang patut dikutuk, dan
Ka’ab ra. juga menjadi kafir.” Tuduhan-tuduhan palsu ini ada di halaman
permulaan sampai halaman kesembilan dari artikel Ayn al-Hayat di atas.
Dikatakan juga, “Bahwa ketiga khalifah Nabi saw. dan sebagian besar
shahabat Nabi saw. yaitu musuh-musuh agama yang dibawa oleh Muhammad saw.
Mereka semua yaitu para penyembah banyak tuhan (politeis). Imam Abu Hanifah,
Sufyan Tsauri dan orang-orang Islam Sunni semuanya termasuk kafir.” artikel
ini menghujat dan menfitnah para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dan para
mursyid besar tasawuf berkaitan dengan persoalan wahdat al-wujud (persatuan
eksistensi). Keterangan ini ditulis hingga halaman kedua puluh tujuh.
Disebutkan bahwa, “Utsman dan para shahabat pada masanya yaitu
orang-orang kafir.” artikel ini mencoba mencemarkan nama baik mereka dengan
kata-kata kotor, dan mengatakan bahwa, “Sebagian besar orang Irak telah tersesat
dan menyimpang dari jalan yang benar. Allah swt. menurunkan rizki kepada hamba-
hamba-Nya dengan perantaraan Duabelas Imam. Oleh sebab itu, sudah sepatutnya
jika mengutuki dan menyumpahi ketiga khalifah Nabi ini . Mereka telah menjadi
kafir, pendosa dan termasuk Yahudi. Orang-orang Islam Sunni menjadi kafir sebab
mereka mencintai ketiga khalifah ini . Di dalam Perang Unta (The Camel War)
Ali ra. bertindak sebagai wakil Nabi untuk menceraikan Sayidah Aisyah ra. Tafsir Al
Qur’an yang ada (pada saat itu) telah dikotori dan dicemari. Abu Bakar, Umar,
Talhah dan Zubair termasuk orang-orang kafir. Utsman, Aisyah, Talhah, Zubair dan
Muawiyah yaitu orang jahat, keji dan kafir.”
Disebutkan juga bahwa, “sebab Guru kita Nabi Muhammad saw. belajar
kepada Malikat Jibril, Mikail dan Israfil, sedang para malaikat ini
memperoleh pengetahuan dari Lauh al-Mahfudz dan Kalam, jika seseorang akan
menjadi wali, dia cukup memerlukan perantaraan Sayidina Ali ra. dan Duabelas
Imam. Kehendak Ali ra. menjadi benteng Allah swt. Pada hari kiamat, kehendak
Imam Ali ra. akan menentukan orang-orang yang masuk surga dan yang masuk
neraka. Pembahasan mengenai peperangan antara Sayidina Ali ra. dan musuh-
musuhnya hingga pembahasan mengenai Sayidah Fatimah ra. dipaparkan dalam
sembilan puluh halaman. Pada setiap halaman, ada keterangan yang
menyebutkan bahwa ketiga khalifah dan para shahabat Nabi yaitu manusia-manusia
jahat, yang berakhlak rendah dan dipenuhi dosa. Imam Ja’far Shadiq lebih mulia dari
pada Nabi Musa as. dan Hidzir as. Ar-Ruh yang dinyatakan di dalam ayat kedelapan
puluh lima surat al-Isra’ yaitu Malaikat yang diangkat sebagai pembantu dari
Duabelas Imam. Imam Ali ra. dapat menganugerahkan kenikmatan dan kesenangan
kepada orang-orang yang telah mati.” Kitab ini memuat keterangan yang cukup
panjang dalam bentuk celaan dalam rangka menghina Sayidina Ali ra. disebabakan
beliau menerima Abu Bakar ra. sebagai khalifah, meskipun secara terpaksa. Lanjutan
dari penjelasan sebelumnya yaitu : “Para Malaikat yang memiliki kedudukan tinggi
yaitu pembantu-pembantu yang bekerja di bawah perintah Duabelas Imam.
Hukum-hukum fisika, kimia, biologi, gerakan-gerakan atom, dan benda-benda
angkasa dikendalikan oleh Duabelas Imam. Pada Hari Pengadilan, para Nabi akan
78
dimintai pertanggung jawaban. Nabi Nuh as akan mempercayakan dirinya kepada
Imam Ali ra. dan dia akan selamat sebab dua orang saksi yang diutus oleh Imam Ali
ra. Orang-orang Islam Sunni yang telah mencemarkan agama Nabi Muhammad saw.
dengan mengatakan yang halal ‘haram’ dan sebaliknya, mereka termasuk para
pembuat bid’ah yang berdosa dan kafir. Menurut mereka, aliran/faham Sunni (Ahlus
Sunnah wal Jamaah, pent.) diciptkan oleh Umar ra. Dia menyebarluaskan faham
ini dengan bantuan orang-orang bid’ah dan jahat. Hal ini telah
menimbulkan polemik dan perdebatan yang hebat antara Imam Ja’far Shadiq dan
Sufyan Tsauri. Pada akhirnya terlihat jelas bahwa Sufyan Tsauri yaitu salah
seorang pengikut faham ini yang membawa dirinya kepada kesangsian dan
bid’ah.”
“Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak bisa membedakan antara
ayat-ayat muhkamat-mutasyabihat, dan nasih-mansuh. Mereka melanggar batas-
batas yang telah ditetapkan oleh Allah dan tidak menjauhi perbuatan yang
diharamkan oleh-Nya. Oleh sebab itu, mereka terjebak dalam kesesatan dan selalu
berada dalam kelalaian. Sufyan Tsauri dan Iyad Bisyri berusaha menghancurkan
Islam. Sementara itu, Ibrahim bin Hisyam termasuk golongan orang zindiq. Orang-
orang Islam pengikut faham Sunni bernyanyi dan menari dalam beribadah.
sedang Ma’ruf al-Karhi yaitu seorang pendusta. Orang-orang Sunni akan
masuk neraka. Seorang warga Sodom yang mengakui perbuatan dosa yang
pernah dikerjakannya di hadapan Imam Ali ra. akan diampuni dosanya. Shalat
tarawih yang dikerjakan oleh orang-orang Sunni tergolong perbuatan riya’ dan
bid’ah. Hal ini mirip dengan peribadatan yang dilakukan oleh orang-orang
kafir. Seseorang yang berambisi menjadi penguasa patut dikutuk. Pada hari kiamat,
Allah swt. akan mengampuni orang-orang Syi'ah sebagaimana seseorang yang
mengampuni saudaranya sendiri. Orang-orang Islam Sunni akan tetap kekal di
neraka bersama orang-orang kafir disebabkan mereka dianggap murtad dan kafir.
Taubat dan doa mereka akan ditolak dan mereka tidak akan pernah dikeluarkan dari
neraka. Nama-nama seperti Paraoh, Hamman dan Qarun yang disebut-sebut akan
masuk neraka, merepresentasikan nama-nama Abu Bakar, Umar, Utsman, dan
keturunan Umayyah.”
artikel ini menerangkan secara panjang lebar mengenai kedahsyatan
api neraka, bagaimana adzab neraka ditimpakan, adzab yang akan diterima oleh si
pembunuh Abel. Di samping itu, memaparkan juga tentang Namrud dan Paraoh,
orang Yahudi yang menyesatkan golongan Yahudi lain dan seorang Yahudi bernama
Paul yang telah menyesatkan orang-orang Kristen. Juga menjelaskan tentang Abu
Bakar dan Umar yang tidak beriman kepada Allah, membandingkan adzab yang akan
diterima oleh Paraoh dengan Mu’awiyah.
artikel ini juga menerangkan tentang kepalsuan-kepalsuan sebagai
berikut : “Fakhrul ‘Alam akan mencium putrinya yang bernama Sayidah Fatimah ra.
setiap hari. Oleh sebab itu, istri beliau,- Sayidah Aisyah ra.-, yang melihat melihat
hal ini akan merasa cemburu. Kalimat La Ilaha illa-allah Ali Rasulullah ditulis
di seluruh tempat/bagian di surga. Mengerjakan shalat tanpa wudlu diperbolehkan,
meskipun tidak akan memperoleh pahala di akhirat. Orang-orang kafir Quraisy
mengatakan bahwa para malaikat yaitu putri-putri Allah sehingga diturunkan
sebuah ayat Al Qur’an. Disebutkan di dalam Al Qur’an bahwa orang-orang Syi'ah, -
satu-satunya golongan yang benar-, jumlahnya akan terus meningkat. Sementara itu,
golongan lain akan lenyap secara bertahap. Sebagian besar ayat yang ada di
dalam surat al-Ahzab membongkar kejahatan dan kekejaman yang dilakukan oleh
orang-orang Quraisy baik laki-laki maupun wanita , sehingga sebagian ayat
ini dihapus dari Al Qur’an, sedang sebagian lainnya dirubah redaksinya.
Abu Bakar, Umar, dan Utsman radliyallah ‘anhum senantiasa melakukan kejahatan,
bid’ah dan perbuatan dosa lainnya yang dilarang oleh agama.”
artikel ini juga memaparkan kisah-kisah seputar penangkapan dan
penahanan yang dilakukan oleh Ali ra. terhadap Aisyah ra. dalam Perang Unta.
Bagaimana Sayidah Aisyah beserta tawanan lainnya dikirim ke Madinah, dan
kutukan terhadap beliau. Selanjutnya artikel ini juga melemparkan berbagai
macam pencemaran nama baik, fitnah, dan kutukan terhadap Sayidina Mu’awiyah.
Juga menerangkan, bahwa Allah telah menjual surga dan neraka, dan juga menjual
seorang jariyah kepada Ali ra. dengan harga empat ratus dirham perak. Di dalam
peperangan yang terjadi antara Mu’awiyah dan Ali ra., Sayidina Ali ra. berpidato
yang menjelaskan, bahwa Mu’awiyah yaitu seorang yang patut dikutuk. Orang-
orang Islam Sunni termasuk orang-orang yang patut menerima kutukan disebabkan
mereka mengenakan pakaian yang terbuat dari bulu. Di dalam artikel ini juga
dijelaskan, bahwa orang-orang Islam Sunni termasuk golongan kafir dan zindiq,
sebagaimana hal ini ditegaskan lewat wahyu. Juga melemparkan tuduhan
kepada Muhammad al-Ghazali, Ahmad al-Ghazali, Jalaludin ar-Rumi dan Muhyidin
ibnu Arabi bahwa mereka semua termasuk orang-orang kafir.”
artikel itu juga mengutuk dan menghujat ketiga khalifah Nabi saw., Hasan
al-Bashri, Mansur Dawaniki, al-Ma’mun dan Harun ar-Rasyid. Juga menyebutkan,
bahwa Hallaj Mansur, Abu Ja’far Shalghamani dan ulama Ahlus Sunnah lainnya
termasuk orang-orang kafir dan zindiq.”
Dari penjelasan yang telah dipaparkan di atas, dapat diketahui bahwa
artikel ini pada dasarnya seluruhnya memuat kumpulan penjelasan yang irasional
dan cerita-cerita bernada menhujat dan menfitnah yang tidak jelas sumbernya.
Sehingga sangat mustahil jika artikel ini ditulis oleh orang yang memiliki agama.
Apalagi penjelasan yang menyebutkan bahwa Allah menjual surga kepada Ali ra.,
Ali ra. akan memasukkan orang-orang yang dicintainya ke surga, dan akan
memasukkan mereka yang dibencinya ke neraka, persoalan dunia dikendalikan oleh
Duabelas Imam, -yang berarti mengingkari sifat qudrat Allah. Sebaliknya, ketrengan
ini justru menunjukkan bahwa sang penulis kitab/artikel ini yaitu seorang
politeis sejati.
artikel ini juga menjelaskan tentang penolakan Abu Bakar ra. untuk
memberikan kebun kurma yang disebut Fadak kepada Fatimah. Keterangan ini
disajikan secara berlebih-lebihan sehingga menjadikan tulisan orang Persia yang
irasional ini tidak logis sama sekali. Kebun kurma yang disebut Fadak terletak
di sekitar Haibar. Rasulullah saw. memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga beliau
melalui pendapatan yang diperoleh dari kebun ini , dan sisanya disedekahkan.
Menjelang wafat, beliau menghibahkan kebun ini kepada badan amal untuk
menyantuni orang-orang miskin dan musafir. saat Abu Bakar ra. menjadi khalifah,
beliau menyimpan hasil yang diperoleh dari kebun ini . Dan saat Umar ra.
menjadi khalifah, beliau menyerahkan pengelolaannya kepada Sayidina Ali ra. atas
permintaan beliau sendiri. artikel ini menjelaskan peristiwa-peristiwa ini
secara demonstratif dan eksploitatif dalam rangka mencaci Sayidina Ali ra. dan
Sayidina Umar ra. Mencela Sayidina Ali dan Umar ra. yaitu perbuatan yang sangat
keji dan tidak dapat diampuni walaupun dengan bertaubat.
Di samping ketiga kitab sebagaimana disebutkan di atas, ada sepuluh
brosur (artikel kecil) lainnya yang memuat kecaman dan kutukan yang ditujukan
kepada para shahabat Nabi saw. Brosur-brosur ini beredar di Irak dan Iran dan
dimaksudkan untuk menyesatkan orang-orang Islam khususnya yang tinggal di
Anatoli. Dengan menyebut dirinya sebagai golongan Alawi, mereka bekerja keras
mengelabuhi dan mengecoh orang-orang Islam Alawi di negeri kami Turki. Mereka
mencoba menciptakan sebuah generasi baru di kalangan ummat Islam yang memiliki
sikap memusuhi para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah, dan mencoba
menghancurkan Islam dari dalam. [Untuk memproteksi rencana dan pemikiran sesat
mereka, kami telah menerjemahkan sebuah artikel berjudul Tuhfah Itsna Asyariyyah
dari bahas Persia ke dalam bahasa Turki dan menerbitkan sebuah artikel berjudul Mati
dalam Iman. artikel Tuhfah ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dan
ringkasannya telah dicetak di Mesir dengan judul Mukhtashar Tuhfah. artikel
ini dicetak ulang di Istanbul dengan memakai proses offset. Seorang ulama
Iran berpendapat, bahwa apa yang disebut artikel ini (yaitu artikel -artikel
sebagaimana disebutkan di atas) ditulis oleh para muhlid (pembangkang) yang di
India disebut ghulat. Mereka berusahaa menyesatkan orang-orang Iran. Beliau juga
menyatakan, bahwa para ulama Iran yaitu pengikut golongan Syi’ah Imamiyyah.
Meskipun demikian, menurutnya, mereka termasuk dalam kategori kafir].
Orang Syi'ah dari kelompok Imamiyyah yang hidup di Iran sebagian
besar tinggal di Najaf dan Karbala. Semestinya mereka bersatu dengan golongan
Ahlus Sunnah wal Jamaah mencegah wabah yang disebarkan oleh orang-orang sesat
dari kelompok Alawi gadungan. Jika mereka mengabaikan persoalan ini
dimungkinkan jumlah mereka meningkat pesat baik secara kualitatif maupun
kuantitatif. Larangan-larangan yang diberlakukan terhadap mereka pasca
kemenangan Yavuz Sultan Salim Khan di Kaldiran pada tahun 920 H/1514 M
sampai sekarang, di mana sekitar lima belas tahun yang lalu, [yaitu pada tahun 1280
H/1864 M], larangan ini dicabut, secara tiba-tiba fitnah itu muncul kembali. Hal
ini disebabkan sebab kemerosotan dan kelalaian ummat Islam. Himbauan kami
ini mengakhiri keterangan dan bantahan yang dimuat di dalam artikel Tazkiyah Ahlul
Bayt. .
[Jika para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak memberi respon dan
kritik terhadap orang-orang freemason, komunis, Kristen, para missionaris, Hurufi
yang merebak di Iran maupun Irak, dan juga kelompok Wahhabi, jika mereka tidak
dapat membongkar maksud jahat yang mereka sembunyikan, dan tidak menjelaskan
kepada generasi muda bahaya yang mereka timbulkan, jika para orang tua tidak
mengajari anak-anak mereka, -atau setidaknya menyuruh mereka membaca artikel -
artikel yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah-, masa depan mereka
semua akan hilang. Mereka akan merasakan keraguan dan kebimbangan akidah.
Ummat Islam akan terjerembab ke dalam bencana dan malapetaka sebagaimana
pernah diderita warga negeri Samarkand, Bukhara dan Krimea. Allah swt.
menegaskan di dalam ayat ketiga puluh tiga surat al-Nahl, “Allah tidak akan
menyiksa mereka. Namun mereka sendiri menyiksa diri mereka.”]
Seorang hamba tidak akan pernah rugi sebab bimbingannya ;
Apapun yang diderita seseorang, semata-mata yaitu lantaran
perbuatannya sendiri! Oh dunia! Segala kenikmatan yang engkau
tawarkan tidak akan abadi ;
Segenap kedudukan, kau binasakan melalui dinginnya angin kematian!
Meskipun Umar ra. menjadi seorang Khalifah, beliau biasa makan dan
minum di atas mangkuk yang terbuat dari tembikar. Pada suatu hari, para shahabat
ra. meminta putri Khalifah, Sayidah Hafsah, untuk menghadap Khalifah dan
mengajukan suatu permohonan. “Wahai ayahku, Amirul Mukminin! Abu Bakar,
Khalifah pertama, telah memerangi orang-orang munafik hingga dia meninggal
dunia, bahkan dia tidak punya kesempatan untuk beristirahat. Sekarang, engkau telah
menaklukkan banyak negeri baik di timur maupun di barat. Para duta besar dari
kerajaan di seluruh dunia datang menghadapmu dan bersantap bersamamu. Apakah
engkau tidak berhenti memakai mangkuk tembikar ini , dan memakai
tempat makanan yang terbuat dari tembaga atau logam lainnya saat mereka datang
dan makan bersamamu?” Demikianlah permohonan dari para shahabat yang
disampaikan oleh Sayidah Hafsah kepada ayahnya, Sayidina Umar al-Faruq.
Jawaban Umar selaku Khalifah : “Wahai anakku Hafsah! Aku akan mencaci orang
lain sebab permintaan seperti ini. Aku telah mendengar dari kamu, bahwa junjungan
kita Muhammad saw. mempunyai sebuah kasur yang berisi rumput. Melihat tubuh
beliau kelihatan tidak nyaman sebab tidur di atas kasur ini , pada suatu malam
kamu mengganti kasur ini dengan kasur yang sedikit empuk. Kamu meminta
beliau tidur di atas kasur ini sehingga beliau tidak bangun dan shalat malam
pada malam ini . Beliau sangat menyesal dan memprotes kamu ; ‘Jangan sekali
lagi kamu lakukan hal seperti itu!’ Mesikpun ayat kedua surat al-Fath menjelaskan,
Untuk menutupi kesalahan-kesalahan yang dilakukan pada masa lalu dan yang akan
datang …’ Gaya hidup yang telah dicontohkan oleh seorang Nabi yang telah diberi
kabar gembira akan diampuni segala dosa yang lalu dan yang akan datang, membuat
Umar al-Faruq yang dlaif ini, -yang belum jelas bagaiamana akhir hayatnya-,
meninggalkan cara hidup yang pernah dijalani oleh Rasulullah saw. lalu menikmati
kemewahan hidup dengan makan di atas piring tembaga?”
Di Madinah, pada waktu siang hari, Umar al-Faruq ra. sibuk memimpin
tentara-tentara yang berada di Asia, dengan mensuplai dan mengirimkan kebutuhan
mereka. Sementara, di malam hari beliau menghabiskan seluruh malamnya dengan
meronda ke seluruh penjuru kota untuk melindungi harta benda, kehidupan dan
kehormatan orang-orang Islam. Pada suatu malam, saat beliau sedang meronda,
beliau mendengar suara tangisan. Beliau menghampiri suara itu dan ingin
mengetahui siapa yang menangis. Ternyata tangisan seorang wanita miskin. Dia
berkata, “Saya tidak mempunyai orang yang bisa membantu hidup saya. Semenjak
saya datang kemari, anak-anak saya menangis kelaparan selama dua hari yang lalu.
Saya menyalakan api, supaya mereka tertidur. Saya menaruh air ke dalam periuk
sambil mengatakan kepada mereka, bahwa saya sedang membuat makanan!”
Khalifah sanga











