ni ke sana.
Ibnu Hisyam berkata: Bait-bait di atas yaitu bait-bait syair Hassan bin Tsabit yang ditanggapi oleh
Abu Sufyan bin A1 Harits bin Abdul Muthalib. Akan saya paparkan bait-bait Hassan bin Tsabit dan
jawaban Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muthalib pada tem- patnya. Insyaallah.
Terbunuhnya Ka'ab bin Al-Asyraf
Ibnu Ishaq berkata: jika orang-orang Quraisy ditimpa kekalahan telak di perang Badar, Zaid bin
Haritsah berangkat ke kawasan lembah sedangkan Abdullah bin Rawahah di kirim ke dataran atas
sebagai utusan yang dikirim Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk memberi kabar gembira
kepada kaum muslimin di Madinah tentang pertolongan yang Allah berikan dan terbunuhnya orang-
orang musyrikin. Sebagaimana hal ini dikatakan kepadaku oleh Abdullah bin Al-Mughits bin Abu
Burdah Adz-Dzafari, Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Hazm, Ashim bin Umar bin Qatadah,
dan Shalih bin Abu Umarah bin Sahl. Mereka semua menceri- takan sebagian ucapannya kepadaku
bahwa
Ka'ab bin Al-Asyraf berasal dari Thayyi' yang berasal dari Bani Nabhan, sedangkan ibunya berasal dari
Bani An-Nadhir. Ka'ab bin Al-Asyraf berkata jika mendengar kabar dari Zaid bin Haritsah dan
Abdullah bin Rawahah: "Apakah berita ini benar? Benarkah Muhammad telah berhasil mengalahkan
orang-orang yang disebutkan oleh kedua orang ini — yakni Abdullah bin Rawahah dan Zaid?
Padahal mereka yaitu orang-orang Arab yang termulia dan raja manusia? Demi Allah, bila
Muhammad telah benar berhasil mengalahkan orang-orang ini , maka lebih baik aku mati saja."
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala musuh Allah ini yakin tentang kebenaran berita yang dibawa kedua
sahabat ini , ia beranjak dari Madinah menuju Makkah dan singgah di rumah Al-Muthalib bin
Abu Wada'ah bin Dhubairah As-Shami yang beristrikan Atikah binti Abu Al-Ish bin Umayyah bin Abdu
Syams bin Abdu Manaf yang lalu menjamu dan menghormatinya. Ka'ab bin Al-Asyraf
memprovokasi orang-orang Quraisy untuk menggempur Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
dengan melantunkan untaian-untaian syair, dan menangisi penghuni sumur Badar, yaitu orang-orang
Quraisy yang tewas di perang Badar.
sesudah itu, Ka'ab bin Al-asyraf pulang ke Madinah dan menyanjung istri-istri kaum muslimin sehingga
membuat mereka tidak nyaman karenanya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda
sebagaimana dikatakan kepadaku oleh Abdullah bin Al-Mughits bin Abu Burdah: "Siapa yang berani
memberi pelajaran pada Ka'ab bin Al-Asyraf atas namaku?"95
Muhammad bin Maslamah, dari Bani Abdul Asyhal berkata: "Wahai Rasullah, saya siap bertindak atas
namamu!!. Aku akan habisi dial! Rasullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Silahkan ambil
tindakan, bila engkau sanggup melakukannya."
Muhammad bin Maslamah pulang ke rumah dan mengurung diri di dalamnya selama tiga hari tanpa
makan dan minum, kecuali sekedarnya saja. Peristiwa ini dilaporkan kepada Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam, lalu beliau memanggilnya dan bersabda: "Kenapa engkau tidak makan dan
minum?"Muhammad bin Maslamah menjawab: "Wahai Rasulullah, aku telah mengucapkan
perkataan kepadamu dan aku tidak tahu pasti apakah aku mampu menepatinya atau tidak?"
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Muhammad bin Maslamah: "sebenarnya
hal itu satu hal yang kau mesti engkau lakukan?" Muhammad bin Maslamah berkata: "Wahai
Rasulullah, kita harus mengatakan sesuatu padanya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Silahkan katakan apa yang terlintas untuk kalian katakan, karena itu bebas buat kalian lakukan."
sesudah itu terkumpullah sejumlah orang untuk membunuh Ka'ab bin Al-Asyraf. Mereka yaitu
Muhammad bin Maslamah, Silkan bin Salamah bin Waqasy -Abu Nailah- salah seorang dari Bani Abdul
Asyhal dan saudara sesusuan dengan Ka'ab bin Al-Asyraf-, Abbad bin Bisyr bin Waqasy -dari Bani Abdul
Asyhal-, A1 Harts bin Aus bin Muadz -dari Bani Abdul Asyhal-, dan Abu Abs bin Jabr - dari Bani Haritsah.
Sebelum mendatangi musuh Allah, Ka'ab bin Al-Asyraf, mereka mengutus Silkan bin Salamah
menemui Ka'ab Bin Al-Asyraf. Silkan bin Salamah pun segera menemuinya. Silkan bin Salamah
berbicara beberapa saat dengan Kaab bin Al-Asyraf, melantunkan syair-syair, dan berkata kepada
Ka'ab bin Al- Asyraf: "Sungguh celaka engkau wahai Ka'ab bin Al-Asyraf, aku datang menemuimu
karena sesuatu yang ingin aku utarakan kepadamu dan dengan harapan engkau merahasiakannya.
Ka'ab bin Al-Asyraf berkata: "Pasti akan saya rahasiakan itu." Silkan bin Salamah berkata: "Sungguh
kedatangan orang ini (Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ) kepada kita yaitu petaka di atas
petaka, orang-orang Arab memusuhi kita karenanya dan menyerang kita bersama-sama bersatu
memusuhi kita, mereka memutus jalur dan jalan-jalan hingga orang-orang kita menjadi sengsara,
setiap jiwa menderita, kita dan orang-orang tanggungan kita juga mengalami beban derita."
Ka'ab bin Al-Asyraf berkata: "Aku anak Al-Asyraf, demi Allah, aku telah mengatakan padamu wahai
Ibnu Salamah bahwa perkara ini akan berujung pada apa yang telah pernah aku katakan." Silkan bin
Salamah berkata kepada Ka'ab bin Al-asyraf: "Aku ingin engkau menjual makanan kepada kami dan
untuk itu kami gadaikan sesuatu kepadamu buat penguat untukmu sebagai balasannya engkau
berbuat baik dalam hal ini." Ka'ab bin Al-Asyraf berkata: "Apakah engkau mau mengadaikan anak-anak
kalian kepadaku?" Silkan bin Salamah berkata: "Tampaknva engkau hanya ingin menjelek-jelekkan
kami. sebenarnya bersamaku ada teman-teman yang seide dan aku ingin datang menemuimu
kembali bersama mereka lalu engkau jual makanan kepada mereka, berbuat baik, dan kami
gadaikan kepadamu senjata. Kami tidak akan melanggar janji." Silkan bin Salamah mengatakan itu
padanya agar Ka'ab bin Al-Asyraf tidak menolak teman-temannya jika mereka datang dengan
menghunus pedang.
lalu Silkan bin Salamah menemui sahabat-sahabatnya, menceritakan keadaan Ka'ab Al-Asyraf
dan meminta mereka untuk mengambil pedangnya masing-masing. Lalu merekapun berangkat untuk
menghabisi Ka'ab bin Al-Asyraf, namun sebelum itu mereka berkumpul di tempat Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan bahwa Ka'ab bin Al-Asyraf berkata: "Apakah kalian mau
menggadaikan istri-istri kalian kepadaku?" Silkan bin Salamah berkata: "Bagaimana kami harus
menggadaikan istri-istri kami, padahal engkau warga Yatsrib yang pintar memuji wanita dan paling
gemar memakai parfum?" Ka'ab bin Al-Asyraf berkata: Apakah kalian mau menggadaikan anak-anak
kalian?"
Ibnu Ishaq berkata: Tsaur bin Ziad berkata kepadaku dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas Radhiyallahu
Anhuma yang berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersama sahabat-sahabat ini
berangkat ke Baqi' Al-Gharqad dan memberi arahan kepada mereka. Beliau bersabda: "Berangkatlah
kalian dengan nama Allah. Ya Allah, tolonglah mereka."96 lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam pulang ke rumah dan jika itu malam sedang purnama.
Sementara sahabat-sahabat tadi berjalan hingga sampai di benteng Ka'ab bin Al-Asyraf. Abu Nailah
memanggil Ka'ab bin Al-Asyraf yang baru saja menikah. Ka'ab bin Al-Asyraf melompat namun istrinya
memegang ujung selimutnya sambil berkata: "Engkau yaitu seorang yang sudah terbiasa perang dan
orang yang terbiasa perang tidak akan pernah terjun ke medan perang pada jam-jam seperti ini."Ka'ab
bin Al-Asyraf berkata: Dia Abu Nailah, Silkan bin Salamah. Jika dia dapatkan aku tidur, pasti tidak akan
membangunkanku." Istri Ka'ab bin Al-Asyraf berkata: "sebenarnya aku mengerti ada keburukan
pada suaranya." Ka'ab bin Al-Asyraf berkata: "Seorang pemuda ditantang untuk bertarung, pastilah ia
tak akan mundur."
Ka'ab bin Al-Asyraf menemui Silkan bin Salamah dan sahabat-sahabatnya, mereka terlibat
pembicaraan dalam beberapa saat. Sahabat-sahabat Silkan bin Salamah berkata: "Hai anak Al-Asyraf,
maukah engkau berjalan ke Syi'ab al-Ajuz (luar Madinah) lalu kita berbincang di sana di sisa-sisa
malam kita ini?" Ka'ab bin Al-Asyraf berkata: "Jika kalian mau, mari silahkan saja!" Mereka pun keluar
Madinah sambil jalan-jalan sesaat. Silkan bin Salamah berkata kepada Ka'ab bin Al-Asyraf: "Tidak
pernah aku dapatkan parfum yang lebih wangi dari parfummu!" Silkan bin Salamah berjalan sesaat
dan malakukan seperti yang dia lakukan sebelumnya, lalu berkata: "Hantamlah musuh Allah
ini!" Sahabat-shabatnyapun memukuli Ka'ab bin Al-Asyraf dan pedang mereka menyerangnya secara
bertubi-tubi, namun ternyata pedang-pedang itu tidak mempan untuk melukainya.
Muhammad bin Maslamah berkata: "Tatkala aku dapatkan pedang sahabat-sahabatku tidak mempan
sedikit pun untuk melukai Ka'ab bin Asyraf, aku ingat belati kecil di pedangku dan akupun
mengambilnya. Musuh Allah, Ka'ab bin Al-Asyraf, berteriak dengan teriakan yang melengking sehingga
tidak ada satu benteng di sekitar kami yang tidak menyalakan api, lalu aku menusukkan tombak
kecilku kebagian antara pusar dan kemaluannya dan menancapkannya hingga mengenai
kemaluannya. Musuh Allah Ka'ab bin Al-Asyraf, jatuh tersungkur ke tanah. Al- Harits bin Aus bin
Muadz, sahabatku terluka di kepala atau kakinya karena terkena tebasan pedang salah seorang di
antara kami sendiri. sesudah itu, kami pulang melewati perkampungan Bani Umayyah bin Zaid,
lalu melewati perkampungan Bani Quraizhah, lalu melewati Buats hingga lalu mendaki
tanah berbatu hitam Al-Uraidhah. Al-Harits bin Aus tertinggal oleh kami karena kucuran darahnya.
Kami berhenti sejenak menunggunya dan tidak lama berselang, ia datang menyusul kami. Kami
membopong Al-Harits bin Aus dan membawanya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di
akhir malam. Rasulullah jika itu sedang shalat qiyamul lail. Kami ucapkan salam kepada beliau,
lalu beliau keluar menemui kami. Kami terangkan kronologi terbunuhnya musuh Allah, Ka'ab
bin Al-Asyraf, dan terlukanya salah seorang dari kami, yakni Al-Harits bin Aus. Rasulullah menjampi
luka sahabat itu lalu kami masing-masing pulang ke rumah. Keesokan harinya orang-orang Yahudi
ketakutan karena pembunuhan kami terhadap musuh Allah, Ka'ab bin Al-Asyraf. Maka sejak saat itu
semua orang Yahudi tidak ada yang berani macam-macam lagi.
Tentang Muhayyishah dan Huwayyishah
Ibnu Ishaq berkata: Rasullulah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barang siapa
yang berhasil menguasai salah seorang lelaki Yahudi maka bunuhlah dia!"97 Dengan serta merta
Muhaishah membunuhnya, Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan namanya yaitu Mahishah
bin Mas'ud bin Ka'ab bin Amir bin Adi bin Majda'ah bin Haritsah bin Al-Khazraj bin Atnr bin Malik bin
Al-Aus, menangkap Ibnu Sunainah.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebut namanya yaitu Ibnu Subainah, salah seorangpedagang
Yahudi yang realitanya memiliki hubungan sosial dan bisnis dengan mereka. Huwaiyyishah bin Mas'ud
jika itu belum masuk Islam dan secara usia lebih tua dari pada Muhaiyyishah. jika Muhaiyyishah
membunuh Ibnu Sunainah, Huwaiyyishah memukulnya dan berkata: "Wahai musuh Allah, kenapa
engkau membunuh Ibnu Sunainah? Demi Allah, bukankah lemak yang di perutmu itu berasal dari
hartanya?!" Muhaiyyishah berkata: "Demi Allah, aku diperintah untuk membunuhnya oleh orang yang
jika ia menyuruhku membunuhmu, aku pasti mematahkan lehermu." Muhayyishah berkata lagi:
"Demi Allah, itulah sebab awal masuk Islamnya Huwaiyyishah." Huwaiyyishah berkata: "Demi Allah,
andaikata Muhammad menyuruhmu membunuhku, apakah engkau akan membunuhku juga?"
Muhaiyyishah menjawab: "Ya, Demi Allah, seandainya dia memerintahkanku untuk membunuhmu,
aku pasti mematahkan lehermu." Huwaiyyishah berkata: "Demi Allah, sungguh agama ini telah
membuatmu demikian kagum." Lalu Huwaiyyishah pun masuk Islam.
Ibnu Ishaq berkata: Cerita tentang hal di atas dituturkan kepadaku oleh mantan budak Bani Haritsah
dari anak perempuan Muhaiyyishah. Tentang kejadian di atas, Muhaiyyishah berkata dalam untaian
syair:
Anak ibuku mencelaku jika aku diperintah untuk membunuh dirinya
Pasti potong tulang telinga belakangnya dengan pedang nan tajam
Pedang laksana kristal garam yang putih cemerlang
Bila pedang itu aku ayunkan, ia tidak pernah luput sasaran
Aku bahagia karena aku membunuhmu berdasarkan ketaatan
Dan kita berhak mendapat yang di antara Bushra dan Ma'arib
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah berkata kepadaku dari Abu Amr Al-Madani yang berkata: jika
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhasil mengalahkan Bani Quraizhah, beliau menawan sekitar
empat ratus orang Yahudi dari mereka. Mereka yaitu sekutu orang-orang Al-Aus. Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan agar mereka dihabisi, lalu orang-orang Al-Khazraj
menghabisi mereka dan itu membuat lega mereka. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam melihat
orang-orang Al-Khazraj, ternyata wajah mereka berbinar cerah penuh bahagia. Rasulullah melihat
pada orang-orang Al-Aus namun tidak demikian halnya dengan orang-orang mereka. Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengira bahwa murung dan kusutnya wajah orang-orang Al-Aus itu
disebabkan karena adanya persekutuan antara mereka dengan Bani Quraizhah. Sisa dari keempat
ratus orang yang masih hidup dari Bani Quraizhah yaitu delapan belas orang, lalu ke dua belas
orang ini di serahkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada orang-orang Al-Aus, dan
untuk setiap dua orang Al-Aus diserahi satu orang dari Bani Quraizhah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Hendaklah satu orang menghajarnya sedangkan satunya lagi membunuhnya." Di
antara kedua belas orang Bani Quraizhah yang diserahkan kepada orang-orang Al-Aus ialah Ka'ab bin
Yahudza, salah seorang tokoh utama Bani Quraizhah. Ia diserahkan kepada Mu- haiyyishah bin Mas'ud
dan Abu Burdah bin Nayar. Abu Burdah inilah yang di beri keringanan oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam untuk menyembelih anak kambing yang berusia delapan atau sembilan bulan di Hari Raya
Idul Adha. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Hendaklah Muhaiyyisah menghajar Ka'ab
bin Yahudza dan hendaklah Abu Burdah membunuhnya!" Muhaiyyishah menghajar Ka'ab bin Yahudza
lalu barulah Abu Burdah menghabisinya. Huwaiyyishah yang saat itu masih kafir berkata kepada
saudaranya: "Apakah engkau membunuh Ka'ab bin Yahudza?" Muhaiyyishah berkata: "Ya."
Huwaiyyishah berkata: "Demi Allah, lemak yang ada di perutmu itu mungkin berasal dari hartanya?
Engkau tercela, hai Muhaiyyishah!" Muhaiyyishah berkata: "Aku diperintah membunuhnya oleh orang
yang jika menyuruhku membunuhmu, pasti aku membunuhmu juga." Huwaiyyishah berpaling dari
Muhaiyyishah dalam keadaan terkagum-kagum. Para ulama sirah menyebutkan bahwa pada malam
harinya, Huwaiyyishah terbangun dari tidurnya dan dia sangat kagum pada perktaan saudaranya. Esok
harinya, Huwaiyyishah berkata: "Demi Allah, inilah agama yang benar." sesudah itu, ia datang menemui
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, mengucapkan salam lalu masuk Islam, dan mengucapkan syair-
syair yang telah saya tuliskan sebelum ini.
Ibnu Ishaq berkata: Sekembalinya dari Bahran, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menetap di
Madinah selama bulan Jumadil Akhir, Rajab, Sya'ban, dan Ramadhan.
Orang-orang Quraisy memerangi beliau di Perang Uhud di bulan Syawal tahun ketiga Hijriyah.
Perang Uhud
Ibnu Ishaq berkata: Cerita tentang Perang Uhud yaitu sebagaimana dituturkan kepadaku oleh
Muhammad bin Muslim Az Zuhri, Muhammad bin Yahya bin Hibban, Ashim bin Umar bin Qatadah, A1
Hushain bin Abdurrahman bin Amr bin Sa'ad bin Muadz, dan ulama-ulama lainnya. Semua dari mereka
menceritakan sebagian cerita tentang Perang Uhud dan cerita mereka terkumpul menjadi satu dalam
kisah Perang Uhud yang akan saya ketengahkan pada bahasan berikut ini. Para ulama tadi atau salah
seorang dari mereka berkata: sesudah orang-orang kafir Quraisy mengalami kekalahan telak di sumur
Perang Badar, tokoh-tokoh mereka yang masih hidup pulang ke Makkah. Abu Sufyan bin Harb tiba di
Makkah dengan kafilah dagangnya. Maka Abdullah bin Abu Rabi'ah, Ikrimah bin Abu Jahal, dan
Shafwan bin Umaiyyah berangkat bersama dengan orang-orang Quraisy yang kehilangan ayah, anak
dan saudara di Perang Badar mendatangi Abu Sufyan Bin Harb dan berkata kepadanya dan kepada
para saudagar Quraisy yang ikut bersamanya: "Wahai orang-orang Quraisy, sebenarnya
Muhammad telah melakukan kekeliruan besar pada kalian dan membinasakan orang-orang pilihan
kalian. Oleh sebab itulah, bantulah kami dengan harta kalian untuk memeranginya. Mudah-mudahan
dengan itu kita bisa melakukan balas dendam atas kematian orang-orang kita!" Abu Sufyan bin Harb
dan para saudagar Quraisy mengabulkan permintaan mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian ulama berkata kepadaku bahwa tentang Abu Sufyan bin Harb dan kawan-
kawan Allah menurunkan firman-Nya:
sebenarnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang)
dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, lalu menjadi sesalan bagi mereka, dan
mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam neraka Jahanamlah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan
(QS. al-Anfal: 36).
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy sepakat untuk memerangi Rasulullah jika Abu Sufyan bin
Harb melakukan itu dan di ikuti oleh pedagang-pedagang Quraisy dan kabilah lain yang bergabung
dengan Quraisy dan kabilah-kabilah yang loyal kepada mereka seperti Kinanah dan orang-orang
Tihamah.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Izzah Amr bin Abdullah Al-Jumahi yaitu seorang tawanan yang dibebaskan
secara gratis oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Perang Badar, karena ia miskin dan
menanggung tanggungan keluarga yang banyak. Seusai Perang Badar, ia berkata: "Wahai Rasulullah,
aku seorang yang miskin dan mempunyai tanggungan keluarga yang banyak, maka bebaskanlah aku,
mudah-mudahan Allah memberi shalawat dan salam kepadamu." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam lalu membebaskan Abu Izzah Al-Jumahi.
Beberapa hari sebelum Perang Uhud, Shafwan bin Umaiyyah berkata kepada Abu Izzah Al Jumahi:
"Wahai Abu 'Izzah, engkau yaitu seorang penyair, maka bantulah kami dengan lidahmu dan keluarlah
bersama kami!" Abu Izzah Al-Jumahi menjawab: "sebenarnya Muhammad telah membebaskanku
dan aku tidak ingin membantu orang-orang yang hendak memeranginya." Shafwan bin Umaiyyah
berkata: "Bantulah kami dengan kehadiran dirimu. Demi Allah, jika aku berhasil kembali maka aku
berjanji akan membuatmu kaya dan jika engkau tidak terbunuh maka aku berjanji akan membuatmu
kaya namun jika engkau terbunuh maka kami akan jadikan anak-anak perempuanmu mendapat jatah
seperti jatah anak-anak perempuanku pada saat sulit dan mudah. Akhirnya Abu Izzah Al-Jumahi
berangkat dalam rombongan orang-orang Tihamah dan mengajak orang-orang Bani Kinanah dengan
berkata:
Wahai Bani Abdu Manat nan tegar di medan perang,
Kalian para pembela sebagaimana nenek moyang kalian
Janganlah janjikan pertolonganmu padaku sesudah tahun ini
Dan jangan kalian khianati aku, karena pengkhianatan itu tidaklah dibenarkan
Ibnu Ishaq berkata: Musafi' bin Abdu Manaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumahi pergi ke Bani Malik
bin Kinanah untuk menghasut dan menyeru mereka memerangi Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam.
Musafi' berkata:
Wahai Malik, orang yang paling mulia
Aku bersumpah dengan sanak kerabat dan mereka yang terikat perjanjian,
Orang yang mempunyai kekerabatan dan orang yang tidak menghormati persekutuan
Di tengah-tengah negeri nan suci
Pada tembok Ka 'bah yang diagungkan
Ibnu Ishaq berkata: Jubair bin Al-Muth’im memanggil budak hitamnya, Wahsyi, seorang ahli melempar
tombak asal Habasyah dengan lemparan yang jarang sekali meleset dari sasaran. Jubiar berkata
kepadanya, "Berangkatlah engkau bersama orang-orang Quraisy. Jika berhasil membunuh Hamzah,
paman Muhammad, sebagai pembalasan atas kematian pamanku, Thu'aimah bin Adi, maka engkau
menjadi orang bebas merdeka."
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy berangkat dengan kekuatan penuh, tokoh-tokoh, orang-
orang yang pro mereka, dan para pengikutnya baik orang-orang dari Bani Ki-nanah dan orang-orang
Tihamah. Mereka juga mengikut sertakan istri-istri mereka sebagai penjaga agar mereka tidak
melarikan diri dari medan perang. Abu Sufyan bin Harb sang komandan perang berangkat bersama
istrinya, Hindun binti Utbah. Ikrimah bin Abu Jahal berangkat bersama istrinya, Ummu Hakim binti Al-
Harits bin Hisyam bin Al-Mughirah. Al-Harits bin Hisyam bin Al-Mughirah berangkat bersama istrinya,
Fathimah binti Al-Walid bin At-Mughirah. Shafwan bin Umaiyyah berangkat bersama istrinya, Barzah
binti Mas'ud bin Amr bin Umair Ats-Tsaqafi, ibu Abdullah bin Shafwan bin Umaiyyah.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Ruqayyah.
Amr bin Al-Ash berangkat bersama is-trinya, Barithah bin Munabbih bin Al-Hajjaj, ibu Abdullah bin
Amr bin Al-Ash. Thalhah bin Abu Thalhah (Abu Thalhah ialah Abdullah bin Abdul Uzza bin Utsman bin
Abdud- dar) berangkat bersama istrinya Sulafah binti Sa'ad bin Syuhaid Al-Anshariyah, ibu anak-anak
Thalhah; Musafi', Al-Julas, dan Kilab yang seluruhnya tewas bersama ayah mereka. Khunas binti Malik
bin Al-Mudharrib, salah satu istri Malik bin Hisl, berangkat bersama anaknya, Abu Aziz bin Umair.
Khunas binti Malik yaitu ibu Mush'ab bin Umair. Amrah binti Alqamah, salah seorang wanita Bani Al-
Harits bin Abdu Manat bin Kinanah, juga ikut berangkat ke medan perang.
jika Hindun bin Utbah berjalan melewati Wahsyi atau Wahsyi berjalan melewatinya, ia selalu
berkata: "Wahai Abu Dasamah, sembuhkanlah dendamku dan carilah kesembuhan!" Wahsyi diberi
gelar Abu Dasamah.
Orang-orang Quraisy berjalan hingga sampai di dua mata air di gunung di lembah Sabkhah dari saluran
air di atas tepian lembah yang menghadap Madinah.
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat orang-orang Quraisy sampai di tempat ini , Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam dan kaum Muslimin mendengar kedatangan mereka. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Demi Allah, aku melihat dalam mimpiku sesuatu yang baik. Aku lihat sapi
disembelih, salah satu sisi pedangku retak, dan aku lihat diriku memasukkan tanganku ke dalam baju
perang baja dan aku menafsirkannya bahwa itu yaitu Madinah."98
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian ulama berkata kepadaku bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
bersabda, "Aku bermimpi melihat sapiku disembelih."99 Adapun tafsir sapi ialah beberapa orang dari
sahabat- sahabatku terbunuh. Sedang keretakan yang aku lihat di salah satu sisi pedangku ialah bahwa
salah seorang dari keluargaku akan terbunuh."100
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabat: "Jika kalian
mau, tetaplah tinggal di Madinah dan biarkan mereka di tempat mereka kini berada. Jika mereka tetap
di tempat itu, maka ia menjadi tempat yang paling buruk bagi mereka. Jika masuk menyerbu kita, kita
akan serang balik mereka di dalamnya." Pendapat Abdullah bin Ubay bin Salul serupa dengan
pendapat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, yaitu tidak usah keluar dari Madinah untuk
menyerbu orang-orang Quraisy. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sendiri tidak ingin keluar dari
Madinah untuk berduel dengan mereka, namun beberapa orang dari kaum Muslirrrin yang dimuliakan
Allah untuk gugur sebagai syuhada di Perang Uhud dan perang-perang lainnya yang tidak ikut
berkesampatan hadir di Perang Badar berkata: "Wahai Rasulullah, keluarlah bersama kami untuk
berduel melawan mereka agar mereka tidak menganggap kami sebagai pengecut yang tidak berani
berhadapan dengan mereka." Abdullah bin Ubay bin Salul berkata: "Wahai Rasulullah, tetaplah tinggal
di Madinah dan janganlah engkau keluar menyerbu tempat mereka. Demi Allah, jika kita
menyongsong musuh-musuh kita mereka pasti akan membunuh salah seorang di antara kita dan
jika mereka masuk ke tempat kita, kita pasti berhasil mengalahkan mereka. Wahai Rasulullah,
biarkanlah mereka di tempat kini mereka berada. jika menetap di tempat ini , mereka
menetap di tempat tahanan terburuk. jika masuk ke Madinah, mereka akan diperangi orang laki-
laki dan akan dilempari batu oleh kaum wanita-wanita dan anak-anak. jika pulang kembali ke
negeri asalnya, mereka pulang dengan gagal seperti halnya saat mereka datang."
Para sahabat yang menginginkan berhadapan langsung dengan orang-orang Quraisy tetap tidak
beranjak dari tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai beliau masuk rumah dan
mengenakan baju besi perangnya. Hari itu yaitu hari Jum'at dan itu terjadi jika beliau usai
menunaikan shalat. Pada hari itu, salah seorang dari kaum Anshar, yang bernama Malik bin Amr dari
Bani An-Najjar meninggal dunia. Rasulullah Shalla¬lahu 'alaihi wa Sallam mensalatkannya. Barulah
Rasulullah menemui sahabat-sahabatnya dan mereka menyesal atas apa yang mereka lakukan.
Mereka berkata: "Kita telah lancang memaksa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk keluar dan
itu tidak sepatutnya kita lakukan."
Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertemu para sahabat, mereka berkata: "Wahai
Rasulullah, kami telah lancang memaksamu untuk keluar Madinah padahal hal itu tidak sepatutnya
kami lakukan. Bila mau sabda: "jika seorang nabi telah memakai baju besi, tidak patut baginya
mencopotnya
Kembali, hingga ia berperang."101 lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ber- angkat
bersama seribu sahabatnya.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menugaskan Ibnu Ummi Maktum untuk
menjadi imam sementara di Mesjid Nabawi.
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersama para sahabat sampai di
Asy-Syauth, kawasan yang berada di antara Madinah dan Uhud, Abdullah bin Ubay bin Salul beserta
sepertiga pasukan memisahkan diri dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Abdullah bin Ubay bin
Salul berkata: "Dia (Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam ) mentaati usulan sahabat-sahabatnya
dan tidak mau mengambil pendapatku. Wahai manusia, kami tidak mau bunuh diri di tempat ini?"
sesudah itu, Abdullah bin Ubay bin Salul pulang ke Madinah bersama para pengikutnya, yaitu orang-
orang munafik dan orang-orang yang dihinggapi penyakit keragu-raguan dalam hatinya. Mereka
dikejar Abdullah bin Amr bin Haram saudara Bani Salimah yang lalu berkata kepada mereka:
"Wahai kaumku, aku ingatkan kalian kepada Allah, hendaklah kalian tidak menelantarkan kaum dan
Nabi kalian jika ia akan berhadapan dengan musuh." Mereka berkata: "Andai kita tahu kalian akan
diperangi,.kita pasti tidak akan meninggalkan kalian, namun kami memandang bahwa perang tidak
membangkang dengan pulang ke Madinah, Abdullah bin Amr bin Haram berkata: "Wahai musuh-
musuh Allah, mudah-mudahan Allah mengutuk kalian dan Dia jadikan Nabi-Nya tidak lagi
membutuhkan kalian."
Ibnu Hisyam berkata: Beberapa orang lain selain Ziyad berkata: dari Muhammad bin Ishaq dari Az-
Zuhri bahwa orang-orang Anshar berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebelum
Perang Uhud: "Wahai Rasulullah, mengapa kita tidak meminta bantuan sekutu-sekutu kita dari orang-
orang Yahudi?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Kita tidak membutuhkan mereka.
Ziyad berkata: Muhammad bin Ishaq berkata kepadaku bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
terus berjalan hingga melewati Harrah Bani Haritsah. Di sana, ada seekor kuda mengibaskan ekornya
hingga mengenai besi di gagang pedang salah seorang sahabat hingga membuat pedang itu terhunus.
Ibnu Hisyam mengatakan: Kilab al-Saif (paku di ujung pedang).
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang terbiasa optimis dan tidak pesimis
bersabda kepada sahabat pemilik pedang: "Sarungkanlah pedangmu kembali, karena pada hari ini aku
lihat semua pedang akan terhunus."
Ibnu Ishaq berkata: sesudah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada sahabat-
sahabatnya: "Siapa di antara kalian yang bisa membawa kita dekat dengan musuh melalui jalan lain
yang tidak biasa dilalui mereka?'"Abu Khaitsamah dari Bani Haritsah bin Al-Haritsah berkata: "Aku,
wahai Rasulullah." lalu Abu Khaitsamah membawa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
melewati antara tanah hitam berbatu (harrah) Bani
Haritsah dengan kebun-kebun mereka hingga melewati kebun milik Mirba' bin Qaidhi. Ia yaitu
seorang munafik bermata buta. jika mendengar gerak Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
bersama sahabatnya, ia berdiri untuk melemparkan tanah ke muka mereka. Ia berkata: "Seandainya
engkau memang benar sebagai utusan Allah, tetap saja aku tidak akan mengizinkanmu memasuki
kebunku."
Ibnu Ishaq berkata: Ada yang menuturkan kepadaku bahwa Mirba' bin Qaidhi memegang segenggam
tanah, seraya berkata: "Demi Allah, hai Muhammad, jika aku tahu tanah ini tidak akan mengenai orang
selain dirimu, pastilah aku lemparkan semuanya kepadamu." Kaum Muslimin spontan bergerak ingin
menghabisi Mirba bin Qaidhi, namun Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jangan! Orang
buta ini, buta hati dan matanya." Namun, Sa'ad bin Zaid dari Bani Abdul Asyhal berhasil mendekati
Mirba' bin Qaidhi sebelum Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melarang membunuhnya, lalu
menghantam kepalanya dengan busur panah hingga bersimbah berdarah102
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam terus melanjutkan perjalanannya hingga
sampai di jalan menuju Gunung Uhud, di sebuah ngarai yang dekat dengan Gunung Uhud, dan
Rasulullah jadikan ngarai itu memunggunginya dan menghadapkan pasukannya ke gunung Uhud.
Beliau berkata: "Janganlah salah seorang dari kalian berperang tanpa perintah dariku."103
Orang-orang Quraisy melepas unta dan kuda mereka di rerumputan di Ash-Shamghah dekat dengan
saluran kaum Muslimin. jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melarang kaum Muslimin
berperang hingga beliau memerintahkannya, salah seorang dari kaum Anshar berkata: "Pantaskah
tanaman-tanaman Bani Qailah dijadikan padang gembala sementara kami tidak mendapat
bagian?"
Ibnil Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam siaga perang bersama tujuh ratus
sahabatnya dan menunjuk Abdullah bin Jubair dari Bani Amr bin Auf sebagai komandan pasukan
pemanah. Saat itu, Abdullah bin Jubair diberi sandi pakaian putih dengan jumlah pasukan pemanah
sebanyak lima puluh orang. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Abdullah bin
Jubair: "Cegah pasukan berkuda mereka dari kami dengan anak panah kalian agar tidak akan
menyerang ke tempat kita dari belakang kita. Baik kita menang atau kalah, engkau harus tetap berada
pada posisimu semula. Kita tidak akan diserbu dari depanmu!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
merapatkan kedua baju besinya dan menyerahkan panji perang kepada Mush'ab bin Umair dari Bani
Abduddar.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengijinkan Samurah bin Jundab Al-
Fazari dan Rafi' bin Khadij saudara Bani Haritsah ikut ikut dalam medan perang. Kedua sahabat
ini baru berusia lima belas tahun. Sebelumnya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyuruh
mereka pulang kembali ke Madinah, lalu ada seseorang mengatakan kepadanya: "Wahai
Rasulullah, sebenarnya Rafi' itu seorang pemuda pemanah yang lihai." Maka Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam mengizinkannya ikut perang. sesudah mengizinkan Rafi', dikatakan kepada beliau:
"Wahai Rasulullah, sebenarnya Samurah pernah mengalahkan Rafi'." Akhirnya Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengizinkan Samurah ikut perang juga. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam memulangkan Usamah bin Zaid, Abdullah bin Umar bin Khaththab, Zaid bin Tsabit salah
seorang dari Bani Malik bin An-Najjar, Al-Bara' bin Azib salah seorang dari Bani Haritsah, Amr bin Hazm
salah seorang dari Bani Malik bin An-Najjar, dan Usaid bin Zhuhair salah seorang dari Bani Haritsah,
lalu membolehkan mereka ikut dalam Perang Khandaq saat usia mereka lima belas tahun.
Ibnu Ishaq berkata: Pasukan Quraisy berkekuatan tiga ribu personil dengan dua ratus pasukan
berkuda. Mereka menunjuk Khalid bin Walid sebagai komandan pasukan berkuda sayap kanan dan
Ikrimah bin Abu Jahal sebagai komandan pasukan berkuda sayap kiri.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Siapa yang siap mengambil
pedang ini dengan haknya?"104
Beberapa sahabat berdiri untuk mengambihya dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, namun
beliau belum juga memberikan pedang itu kepada seorang pun dari mereka. Abu Dujanah Simak bin
Kharasyah dari Bani Saidah berdiri seraya berkata: "Apa haknya, wahai Rasulullah?" Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Engkau menyerang musuh dengannya hingga musuh
tersungkur mati” Abu Dujanah berkata: "Aku siap mengambilnya dengan haknya, wahai Rasulullah."
Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memberikan pedang ini kepada Abu Dujanah. Abu
Dujanah yaitu seorang lelaki pemberani dan suka berjalan sombong pada saat perang berkecamuk.
Ia membuat tanda dengan ikat kepala berwarna merah di kepalanya. jika ia telah memakaianya,
semua mengerti bahwa dia siaga berperang.
sesudah mengambil pedang ini dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia keluarkan ikat
kepala berwarna merah, lalu mengenakanya dan berjalan dengan angkuh di antara dua barisan.
Ibnu Ishaq berkata: Ja'far bin Abdullah bin Aslam mantan budak Umar bin Khaththab berkata
kepadaku dari salah seorang kaum Anshar dari Bani Salimah ia berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaiWi
wa Sallam bersabda saat melihat Abu Dujanah berjalan dengan sombong: "sebenarnya cara
berjalan seperti itu yang dibenci Allah kecuali di tempat ini (perang)."105
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa Abu Amir Abdu Amr bin
Shaifi bin Malik bin An-Nu'man salah seorang dari Bani Dhabi'ah berada di Makkah karena ingin
menjauh dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan membawa lima puluh budak dari kabilah
Aus, ada yang mengatakan dua puluh lima budak, berjanji kepada orang-orang Quraisy bahwa jika ia
bertemu dengan kaumnya, niscaya tidak akan ada seorangpun yang menentangnya. Saat kedua
pasukan terlibat pertempuran, orang pertama yang menemui orang-orang Madinah ialah Abu Amir
dalam barisan orang-orang non Arab dan budak warga Makkah. Abu Amir berseru: "Hai orang-orang
Aus, saya Abu Amir." Orang-orang Aus berkata: "Semoga Allah tidak memberimu mata, wahai orang
yang fasik." Pada masa jahiliyah, Abu Amir dipanggil dengan sebutan Rahib (pendeta), lalu Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam menamakannya Fasiq (orang fasik). Saat mendengar jawaban orang-orang
Aus tadi, ia berkata: "Sepeninggalku, kaumku tertimpa keburukan." Sesudah mendapat kenyataan
itu, Abu Amir memerangi kaum Muslimin dengan sangat brutal dan melemparkan batu ke arah
mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Sufyan bin Harb membakar semangat para pemegang panji perang Bani
Abduddar dengan berkata: "Wahai Bani Abduddar, kalian ditunjuk memegang panji perang kita pada
saat Perang Badar lalu kita kalah sebagaimana kalian ketahui. sebenarnya pasukan perang
senantiasa di datangi dari arah para pemegang panji perangnya. jika para pemegang panji kalah
maka pasukan pun kalah. Sekarang terserah kalian, apakah kalian tetap ingin memegang panji perang
atau kalian melepaskannya, dan untuk itu kami melindungi kalian." Orang-orang Bani Abduddar
terpukau dengan tawaran Abu Sufyan dan berjanji padanya dengan berkata: "Kami serahkan panji
perang kepadamu. Esok hari, jika kita berhadapan dengan musuh, engkau akan tahu apa yang akan
kami lakukan." Sikap seperti inilah sebenarnya yang dikehendaki Abu Sufyan bin Harb dari orang-
orang Bani Abduddar.
jika kedua pasukan telah bertempur, Hindun binti Utbah berdiri bersama wanita lainnya lalu
mengambil rebana dan menabuhnya di belakang pasukan orang-orang musyrikin untuk guna
menyemangati mereka. Hindun binti Utbah berkata:
Wahai Bani Abduddar,
Wahai para penjaga bagian belakang
Tebaslah dengan pedang nan tajam
Hindun binti Utbah juga berkata:
Kami rangkul kalian jika kalian maju bertempur
Kami sediakan sandaran dengan bantal kecil
Kami kan tinggalkan bila kalian mundur
Dengan perspisahan yang tidak menggembirakan
Ibnu Hisyam berkata: Telik sandi kaum Muslimin di Perang Uhud ialah amit (bunuh), amif(bunuh).
Ibnu Ishaq berkata: Kedua pasukan pun berduel hingga perang berkobar.
Ibnu Hisyam berkata: Tidak sedikit ulama yang berkata kepadaku bahwa Zubair bin Awwam berkata:
Aku sedih jika meminta pedang kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan beliau tidak
mengabulkan permintaanku malah memberikannya kepada Abu Dujanah, padahal aku yaitu anak
bibinya, Shafiyyah. Aku juga dari kalangan Quraisy di samping itu aku lebih dahulu meminta pedang
itu dibandingkan Abu Dujanah. Demi Allah, aku akan lihat sepak terjang apa yang bisa di perbuat Abu
Dujanah. Maka aku ikuti dia dan kulihat dia mengeluarkan ikat kepala berwarna merah lalu
mengikatkannnya di kepalanya. Orang-orang Anshar berkata: "Abu Dujanah mengeluarkan ikat kepala
kematian."
Demikianlah apa yang dikatakan oleh orang-orang Anshar tentang Abu Dujanah jika ia
mengenakan ikat kepalanya yang berwarna merah. sesudah itu Abu Dujanah keluar sambil berkata:
Akulah yang disumpah setia oleh kekasihku Kala kami berada di kaki bukit dekat pohon kurma
Agar aku tidak berada di barisan yang terakhir
Aku hajar musuhku dengan pedang Allah dan pedang sang Rasul mulia
Ibnu Hisyam berkata: Ada riwayat yang menyebutkan kata kabul sebagai ganti kayul.
Maka sesudah itu, setiap kala berpapasan dengan musuh dia membunuhnya. Di pihak kaum musyrikin
ada seseorang yang tidak membiarkan orang terluka di antara kami melainkan pasti ia membantainya.
Orang musyrik ini mendekat kepada Abu Dujanah dan aku berdoa kepada Allah mudah-
mudahan Dia mempertemukan keduanya. Betul, mereka bertemu lalu saling serang. Orang musyrik
itu memukul Abu Dujanah, namun perisai kulit Abu Dujanah melindungi dan menahan pedang orang
ini , lalu Abu Dujanah membunuhnya. sesudah itu, Abu Dujanah mengayunkan pedangnya
di atas kepala Hindun binti Utbah, hanya saja ia menurunkan pedangnya kembali. Zubair berkata:
Maka aku katakan: " Allah dan Rasul-Nya lebih tahu apa yang terjadi."
Ibnu Ishaq berkata: Abu Dujanah Simak bin Kharasyah berkata: Aku lihat seseorang mengobarkan
semangat kaum musyrikin lalu aku pergi kepadanya. jika aku hendak menebasnya, ia
mendoakan kecelakaan, ternyata ia perempuan. Akupun tidak jadi mengayunkan pedang Rasululah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan tidak memukulkannya pada seorang perempuan.
Hamzah bin Abdul Muthalib terus menghantam pasukan hingga berhasil menghabisi Artha'ah bin
Abdu Syurahbil bin Hasyim bin Abdu Manaf Abduddar. Artha'ah yaitu seorang pemegang panji
perang kaum musyrikin. sesudah itu, Siba' bin Abdul Uzza Al-Ghubsyani yang biasa dipanggil dengan
panggilan Abu Niyar berjalan melewati Hamzah bin Abdul Muthalib. Hamzah bin Abdul Muthalib
berkata kepada Siba' bin Abdul Uzza, "Kemarilah, wahai anak perempuan tukang sunat bayi
perempuan!" Ibu Siba' bin Abdul Uzza yaitu Ummu Anmar mantan budak wanita Syariq bin Amr bin
Wahb Ats- Tsaqafi. Ibnu Hisyam berkata: Syariq yaitu anak Al-Akhnas bin Syariq. Ummu Anmar
yaitu wanita ahli khitan di Makkah. jika keduanya bertemu, Hamzah bin Abdul Mutha- lib
menghabisi Siba' bin Abdul Uzza.
Wahsyi budak Jubair bin Muth'im berkata: Demi Allah aku melihat Hamzah bin Abdul Muthalib
menghabisi orang-orang Quraisy dengan pedangnya tanpa menyisakan seorang pun. Kulihat Hamzah
Bin Abdul Muthalib seperti unta belang-belang putih dan hitam, tiba-tiba Siba' bin Abdul Uzza lebih
cepat dariku datang kepada Hamzah bin Abdul Muthalib. Hamzah bin Abdul Muthalib berkata:
"Kemarilah!" Usai berkata seperti itu, Hamzah bin Abdul Muthalib menghabisi Siba bin Abdul Uzza.
Akupun menggerak-gerakkan tombakku. Saat telah siap, aku melemparkannya ke arah Hamzah bin
Abdul Muthalib dan tepat mengenai bagian bawah perutnya hingga tombakku keluar di antara kedua
kakinya. Hamzah bin Abdul Muthalib berusaha berjalan ke arahku, namun ia kehabisan tenaga dan
akhirnya terjatuh. Aku membiarkannya beberapa waktu. saat aku yakin ia telah mati, aku ambil
tombakku lalu pergi ke barak, karena tugasku hanyalah membunuh Hamzah bin Abdul
Muthalib.
jika yakin ia telah meninggal, aku ambil tombakku, lalu aku masuk ke barak dan duduk di
dalamnya. Aku tidak mempunyai tujuan lain selain hanya membunuh Hamzah bin Abdul Muthalib,
karena aku ingin menjadi orang merdeka dengan membunuhnya. jika tiba di Makkah, aku langsung
dimerdekakan dan tetap berdomisili di Makkah. Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
menaklukkan Makkah, aku melarikan diri ke Thaif dan bertempat tinggal di sana. jika delegasi Thaif
pergi menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk menyatakan masuk Islam, tiba-tiba
semua jalan terasa tertutup bagiku. Aku berkata dalam diriku aku akan pergi ke Syam atau Yaman atau
negara lain. Demi Allah, aku merasa demikian hingga ada seseorang berkata kepadaku: "Celakalah
engkau, demi Allah, dia tidak pernah membunuh seseorang yang masuk dalam agamanya dan
mengucapkan syahadatnya!!"
jika orang ini berkata seperti itu kepadaku, aku ikut pergi bersama orang-orang Thaif untuk
berjumpa dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Madinah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam demikian terkejut melihat aku berdiri di hadapannya dengan mengucapkan syahadat
kebenaran. jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melihatku, beliau bersabda: "Bukankah
engkau Wahsyi?" Aku menjawab: "Benar wahai Rasulullah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam,
"Duduklah dan tuturkanlah kepadaku bagaimana caramu menghabisi Hamzah?'"Aku pun bercerita
kepada beliau tentang pembunuhan Hamzah bin Abdul Muthalib sebagaimana yang aku ceritakan
kepada kalian berdua saat ini. jika aku telah bercerita tentang pembunuhan terhadap Hamzah bin
Abdul Muthalib, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Celakalah engkau, palingkanlah
wajahmu dariku. Aku tidak suka melihatmu kembali!" Aku pergi meninggalkan Rasulullah supaya
beliau tidak melihat wajahku.
Pada saat kaum Muslimin berangkat untuk memerangi Musailamah si Pendusta, penguasa Yamamah,
aku ikut bersama mereka dan mengambil tombak yang dulu pernah aku gunakan untuk membunuh
Hamzah bin Abdul Muthalib. jika kedua pasukan telah berhadap-hadapan, aku melihat Musailamah
si Pendusta berdiri dengan pedang terhunus dan sat itu aku tidak kenal mengenalinya. Aku bersiap-
siap membidiknya. Salah seorang dari kaum Anshar juga siap-siap membidiknya. Kami berdua ingin
membunuh Musailamah si Pendusta itu. Aku gerak-gerakkan tombak ku. jika telah siap, aku
melemparkannya ke arah Musailamah si Pendusta dan tepat mengenainya dan pada saat yang
bersamaan, orang dari kaum Anshar memukul Musailamah si Pendusta dengan pedang. Hanya Tuhan
yang lebih tahu siapa di antara kami berdua yang membunuh Musailamah si Pendusta itu.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Al-Fadhl berkata kepadaku dari Sulaiman bin Yasar dari Abdullah bin
Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhuma yang berkata ikut terjun di Perang Yamamah: Pada perang
Yamamah, aku dengar seseorang berteriak dengan suara nyaring: "Seorang budak hitam telah
membunuhnya."
Ibnu Hisyam berkata: Aku mendapat kabar bahwa Wahsyi tidak henti-hentinya dijatuhi hukuman
cambuk karena mengkonsumsi minuman keras hingga namanya di hapus sebagai salah seorang
penerima uang pensiunan perang. Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata: "Sungguh aku
tahu bahwa Allah Ta 'ala tidak pernah membiar- kan begitu saja pembunuh Hamzah bin Abdul
Muthalib Radhiyallahu Anhu hidup tanpa hukuman."
Ibnu Ishaq berkata: Mush'ab bin Umair bertempur melindungi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
hingga gugur. Ia dihabisi oleh Ibnu Qami'ah Al-Laitsi karena dia mengira bahwa Mush'ab yaitu
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. sesudah membunuh Mush'ab bin Umair yang disangkanya
Rasulullah Shal¬lalahu 'alaihi wa Sallam, Ibnu Qami'ah Al-Laitsi pulang ke Makkah dan berkata: Aku
telah berhasil membunuh Muhammad.
Tatkala Mush'ab bin Umair gugur sebagai syahid, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyerahkan
panji perang kepada Ali bin Abu Thalib, lalu Ali bin Abu Thalib bertempur bersama beberapa
orang dari kaum Muslimin.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Sa'ad bin Abu Thalhah dibunuh Sa'ad bin Abu Waqqash. Ashim bin Tsabit bin
Abu Al-Aqlah bertempur habis-habisan dan berhasil membunuh Musafi' bin Thalhah dan saudaranya
yang bernama Al-Julas bin Thalhah. Keduanya terkena anak panah Ashim bin Tsabit. Salah seorang
dari keduanya sebelum meniggal menemui ibunya, Sulafah, dan merebahkan kepalanya di
pangkuannya. Sulafah berkata: "Anakku, siapakah orang yang telah melukaimu?" Musafi atau Al-Julas
menjawab: "Tatkala seseorang melemparkan anak panah kepadaku, aku dengar ia berkata:
"Terimalah ini, aku anak Abu Al-Aqlah." Sulafah pun bernazar jika Allah menakdirkan padanya
untuk melihat kepala Ashim bin Tsabit, ia akan menyiramkan minuman keras di kepalanya. Pada saat
yang sama Ashim bin Tsabit juga bersumpah kepada Allah untuk tidak menyentuh orang kafir atau
disentuh orang kafir untuk selama-lamanya.
Pada Perang Uhud, Utsman bin Abu Thalhah, yang memegang panji perang kaum musyrikin berkata:
sebenarnya para pemegang panji perang ada hak
Tuk melumuri tombaknya hingga berkeping-keping
Utsman bin Abu Thalhah dibunuh Hamzah bin Abdul Muthalib.
Ibnu Ishaq berkata: Hanzhalah bin Abu Amir Al-Ghasil berduel dengan Abu Sufyan bin Harb pada
Perang Uhud. jika Hanzhalah bin Abu Amir dapat mengatasi perlawanan Abu Sufyan bin Harb, tiba-
tiba Syaddad bin Al-Aswad bin Sya'ub melihat Hanzhalah bin Abu Harb yang berhasil mengatasi
perlawanan Abu Sufyan bin Harb lalu memukul Hanzhalah bin Abu Amir hingga gugur sebagai
syahid. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "sebenarnya sahabat kalian, Hanzhalah,
pasti akan dimandikan para malaikat." Para sahabat menanyakan tentang Hanzhalah bin Abu Amir
kepada istrinya: "Ada apa dengan Hanzhalah bin Abu Amir?" Istrinya menjawab bahwa Hanzhalah bin
Abu Amir berangkat dari rumah dalam keadaan junub pada saat mendengar seruan jihad.106
Ibnu Hisyam berkata: Dikatakan "al-hai'ah" sebagai pengganti"al-hatifah ." Disebutkan dalam hadits
Rasulullah. Sebaik-baik lelaki yaitu seorang yang memegang kendali kudanya, setiap kali dia
mendengar teriakan ketakutan maka dia langsung melesat ke Sana.107
At-Thirimah bin Hakim al-Thai –ada pun makna Thirimah yaitu orang yang berpostur tinggi, dia
berkata:
Aku anak-anak keturunan keluarga mulia dari keluarga Malik
Kapanpun ada teriakan minta tolong kami akan segera berangkat
Makna "al-hai'ah" yaitu teriakan yang di dalamnya ada rasa ketakutan.
Ibnu Ishaq berkata: Oleh sebab itulah Rasulullah bersabda: Oleh sebab itulah (belum mandi junub) dia
dimandikan oleh para malaikat.
Ibnu Ishaq berkata: Syaddad bin Al-Aswad berkata tentang pembunuhan terhadap Hanzhalah bin Abu
Amir:
Aku lindungi sahabat dan diriku sendiri dengan tikaman bak sinar mentari
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah Ta'ala menurunkan pertolongan kepada kaum Muslimin sehingga
mereka berhasil membunuh orang-orang musyrikin dengan pedang-pedang dan memaksa mereka
membuka pertahanan. Maka kekalahan telak pun menimpa kaum musyrikin.
Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair berkata kepadaku dari ayahnya, Abbad
dari Abdullah bin Zubair dari Zubair, berkata: "Demi Allah, aku menyaksikan gelang kaki Hindun binti
Utbah dan teman-temannya tertinggal tanpa diambil sedikit pun. Namun tiba-tiba pasukan pemanah
pergi ke perkemahan jika kami berhasil mendobrak pertahanan musuh dan mereka membiarkan
punggung kami berada di depan pasukan berkuda musuh. Akhimya kami di datangi pasukan berkuda
musuh dari belakang dan seseorang penyeru berseru dengan lantang: "Ketahuilah oleh kalian
sebenarnya Muhammad telah terbunuh." Musuh berhasil mengalahkan kami sesudah sebelumnya
kami berhasil mengalahkan para pemegang panji mereka hingga tidak ada seorangpun dari kita yang
berani mendekatinya.
Ibnu Hisyam berkata: Sharikh maknanya seseorang berteriak keras yaitu setan.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian ulama ber- cerita kepadaku bahwa panji perang orang-orang Quraisy
jatuh lalu diambil oleh Amrah binti Alqamah Al Haritsiyah. Ia mengangkatnya tinggi-tinggi
kepada orang-orang Quraisy dan orang-orang Quraisypun lalu berkumpul kembali di sekitar
bendera ini . lalu panji perang ini di pegang Shu'ab yang tidak lain yaitu budak Abu
Thalhah, asal Habasyah dan dialah orang terakhir yang memegangnya. Shu'ab bertempur dengan
bendera itu hingga kedua tangannya terputus. sesudah itu, ia bertempur dengan berlutut lalu ia
mendekap panji perang ini dengan dada dan lehernya hingga akhirnya ia tewas sambil berkata:
"Ya Allah, apakah Engkau memaafkanku?"
Ibnu Ishaq berkata: Pertahanan kaum Muslimin pun berantakan dan kocar kacir dan musuh
menyerang mereka. Hari itu yaitu hari ujian dan hari penyaringan dimana Allah memuliakan kaum
Muslirnin dengan memberi peluang mati syahid kepada mereka. Karena pertahanan kaum Muslimin
terbuka, mereka berhasil menyelinap masuk ke tempat dimana Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
berada lalu mereka melempar beliau dengan batu hingga terjatuh dalam posisi miring, batu
ini mengenai gigi antara gigi depan dengan gigi taring, melukai wajah dan bibir beliau. Orang
yang berhasil melempar beliau dengan batu ialah Utbah bin Abu Waqqash.
Ibnu Ishaq berkata: Humaid Ath-Thawil bercerita kepadaku dari Anas bin Malik di mana berkata: Pada
Perang Uhud, gigi seri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam retak dan wajahnya terluka. Darah
mengalir pada wajahnya, sambil mengusap darah itu beliau bersabda: "Bagaimana mungkin bahagia
sebuah kaum bila mereka melukai wajah Nabi mereka, sementara ia mengajaknya kepada Tuhan
mereka." Tentang hal ini, Allah menurunkan firman-Nya:
Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka,
atau mengadzab mereka, karena sebenarnya mereka itu orang-orang zalim. (QS. Ali Imran: 128).108
Ibnu Hisyam berkata: Rubaih bin Abdurrahman bin Abu Sa'id Al-Khudri berkata dari ayahnya dari Abu
Sa'id AI-Khudri bahwa di Perang Uhud: Utbah bin Abu Waqqash melempar Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam hingga memecahkan gigi seri sebelah kanan bawah dan melukai bibir bawah beliau.
Sedangkan Abdullah bin Syihab Az-Zuhri menciderai kening Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Qami'ah melukai pipi bagian atas yang menonjol hingga dua rantai besi perisai masuk ke dalam
pipi bagian atas beliau. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam terperosok ke dalam satu lubang yang
sengaja digali oleh Abu Amir agar kaum muslimin terperosok ke dalamnya tanpa mereka sadari. Ali
bin Abu Thalib segera memegang tangan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedangkan Thalhah
bin Ubaidillah mengangkat beliau hingga beliau tegak berdiri. Malik bin Sinan yang tidak lain yaitu
Abu Sa'id Al-Khudri menyeka darah dari wajah beliau lalu menelannya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Barang siapa darahnya bercampur dengannya darahku, maka ia tidak akan
tersentuh neraka."
Ibnu Hisyam berkata: Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi menyebutkan bahwa Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa ingin melihat orang syahid berjalan di atas muka
bumi, maka lihatlah Thalhah bin Ubaidillah."109
Ibnu Hisyam berkata: Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi berkata dari Ishaq bin Yahya bin
Thalhah dari Isa bin Thalhah dari Aisyah dari Abu Bakar Ash-Shiddiq bahwa Abu Ubaidah bin Al-Jarrah
mencabut salah satu besi dari wajah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hingga gigi bagian
depannya tanggal dan mencabut besi satunya hingga gigi depan lainnya juga tanggal. Jadi kedua gigi
depannya tanggal.
Ibnu Hisyam berkata: Ada dua bait syair yang sengaja tidak saya camtumkan, karena terlalu vulgar.
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dikepung oleh kaum Quraisy,
beliau bersabda: "Siapa orang yang siap berkorban nyawa buat kami?" Ziyad bin As-Sakan berdiri
bersama lima orang dari kaum Anshar sebagaimana hal ini dikatakan kepadaku oleh Al-Hushain bin
Abdurrahman bin Amr bin Sa'ad bin Muadz dari Mahmud bin Amr. Sebagian orang berkata bahwa
orang yang siap mengorbankan nyawa untuk Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam yaitu Umarah
bin Yazid bin As-Sakkan. Mereka bertempur dengan sengit melindungi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam hingga satu persatu dari mereka gugur sebagai syuhada. Sedangkan orang terakhir yang gugur
dari kelima orang itu ialah Ziyad atau Umarah yang bertempur hingga mengalami luka yang parah.
Dalam kondisi kritis itu, datanglah salah satu kelompok dari kaum Muslimin yang akhirnya berhasil
menyingkirkan orang-orang musyrik dari sisi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Beliau bersabda:
"Dekatkanlah dia kepadaku." Mereka pun mendekatkannya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam lalu beliau merebahkan Ziyad bin As-Sakan , lalu ia pun meninggal sedangkan pipinya
berada di atas paha Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.110
Ibnu Hisyam berkata: Ummu Umarah, perisai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hingga panah
mengenai punggungnya dan dia memiringkan diri kepada Rasulullah sehingga banyak panah yang
mengenai dirinya. Sa'ad bin Abu Waqqash melepas anak panah untuk melindungi Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Ishaq berkata: Al-Qasim bin Abdurrahman bin Raff dari Bani Adi bin An-Najjar berkata kepadaku
bahwa Anas bin An-Nadhr, paman Anas bin Malik, tiba di tempat Umar bin Khaththab dan Thalhah bin
Ubaidillah bersama beberapa orang dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar yang berhenti bertempur.
Anas bin An-Nadhr berkata: "Kenapa kalian duduk?!" Mereka menjawab, "Rasulullah Shallallahu
Shallalahu alaihi wa Sallam telah gugur." Dengan sedikit berang Anas bin An-Nadhr berkata: "Jika
demikian, apa yang akan bisa kita lakukan dengan kehidupan ini sesudah beliau gugur? Meninggallah
kalian seperti meninggalnya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam."
Usai mengatakan itu, Anas bin An-Nadhr maju ke arah musuh dan bertempur sengit hingga gugur
sebagai syahid. Anas bin Malik diberi nama Anas seperti dirinya.
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian ulama bercerita kepadaku bahwa tatkala Perang Uhud terjadi, bibir
Abdurrahman bin Auf terluka, gigi depannya patah, terluka sebanyak dua puluh atau lebih. Sebagian
luka itu ada pada kakinya hingga membuatnya pincang. Ka'ab bin Malik berkata: "Aku ketahui kedua
mata Rasuiullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengkilat dari balik tutup kepalanya, lalu aku
berteriak dengan suaraku yang paling lantang: "Wahai kaum Muslimin, bergembiralah kalian. Inilah
Rasulullah." Namun Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memberi padaku isyarat agar aku diam.
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala kaum Muslimin mengetahui bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
masih hidup, mereka beranjak bangkit mendekati beliau. lalu beliau pergi ke jalan ke Gunung
Uhud bersama mereka dan dikawal oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Ali bin Abu
Thalib, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair, Al-Harits bin Ash-Shammah, dan sejumlah sahabat lainnya dari
kaum Muslimin.
Ibnu lshaq berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan mendaki menuju Gunung
Uhud, dia berjumpa dengan Ubay bin Khalaf. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam maju menuju
Ubay bin Khalaf dan menikam lehernya sehingga membuatnya tersungkur beberapa kali dari kuda
tunggangannya.111
Ibnu Ishaq berkata: Ubay bin Khalaf, seperti dituturkan kepadaku oleh Shalih bin Ibrahim bin
Abdurrahman bin Auf, pernah bertemu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Makkah lalu
berkata kepada: "Wahai Muhammad, aku mempunyai kuda bemama Al-Audz yang aku beri makan
se¬banyak dua belas kwintal makanan setiap harinya agar membunuhmu pada saat aku sedang
menungganginya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Justru sebaliknya, akulah yang
akan membunuhmu, insya Allah." Maka matilah musuh Allah itu di Saraf dan orang-orang Quraisy
membawa mayatnya ke Makkah."112
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai di lorong jalan menuju
Gunung Uhud, Ali bin Abu Thalib keluar untuk mengisi tempat airnya di Al-Mihras lalu membawanya
kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk diminum oleh beliau. Hanya saja Rasulullah
mencium bau tidak sedap pada air ini dan beliau tidak jadi meminumnya. Beliau membersihkan
sisa darah dari wajahnya dan menyiramkan air ini ke kepalanya sambil bersabda, "Allah sangat
murka kepada seseorang yang melukai wajah nabi-Nya."113
Ibnu Ishaq berkata: jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berada di lorong jalan menuju
Gunung Uhud bersama beberapa sahabatnya, tiba-tiba pasukan berkuda Quraisy mendaki gunung.
Ibnu Hisyam berkata: Di antara pasukan berkuda ini yaitu Khalid bin Walid.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Ya Allah, tidak layak bagi
mereka berada di atas kami!" Lalu Umar bin Khaththab bersama beberapa orang kaum Muhajirin
melawan mereka hingga menjungkalkan mereka dari gunung.114
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi ke batu cadas di gunung untuk
mendakinya dalam keadaan badan mulai lemah dengan mengenakan baju besi di depan dan belakang
badannya. Beliau berusaha mendaki, namun tidak berhasil, lalu Thalhah bin Ubaidillah duduk di
bawah beliau dan berdiri bersamanya hingga beliau mampu berdiri tegak. Saat itulah Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam seperti dikatakan kepadaku oleh Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair
dari ayahnya dari Abdullah bin Zubair dari Zubair, bersabda: "Thalhah pasti masuk surga."115
Ibnu Hisyam berkata: Aku mendapat berita dari Ikrimah dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam tidak mampu mencapai tempat yang dibangun di lorong jalan yang menuju Gunung
Uhud.
Ibnu Hisyam berkata: Umar eks budak Ghufrah menyebutkan bahwa Nabi Muhammad Shallalahu
'alaihi wa Sallam melaksanakan shalat Zhuhur di perang Uhud dengan cara duduk akibat luka yang
menimpanya sedangkan kaum muslimin mengerjakan shalat di belakangnya dengan cara yang sama.
Ibnu Ishaq berkata: Para sahabat mundur dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hingga sebagian
dari mereka tiba di Al-Munaqqa dekat Al-A'wash. Tsabit bin Waqasy dihabisi oleh orang-orang
musyrikin, sedang Husail bin Jabir (Al-Yaman) tewas dengan tangan kaum Muslimin. Mereka tidak
sengaja menghabisi Husail bin Jabir (Al-Yaman) karena tidak tahu bahwa ia yaitu Husail bin Jabir (Al-
Yaman). Hudzaifah bin Al-Yaman berkata: "Ini ayahku." Para sahabat berkata: "Sungguh kami andai
kami tahu pasti kami tidak melakukan itu!! Dan mereka berkata benar." Hudzaifah berkata: "Mudah-
mudahan Allah mengampuni kalian, karena Allah Dzat yang paling Penyayang." Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam ingin memberi diyat(tebusan darah) kepada Hudzaifah, namun Hudzaifah
menyedekahkan diyatnya kepada kaum Muslimin. Peristiwa ini semakin mendekatkan Hudzaifah
dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata: di tengah-tengah kami ada orang asing yang
tidak diketahui dari mana dia berasal. Namanya Quzman. Jika namanya disebutkan di sisi Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda: "Dia pasti termasuk salah seorang penghuni neraka." Di
perang Uhud, Quzman berperang dengan sengit dan berhasil membunuh tujuh atau delapan orang
dari kaum musyrikin. Ia sosok lelaki yang kuat. Pada Perang Uhud ia terluka. Lalu ia dibawa ke
pemukiman Bani Zhafar. Orang-orang dari kaum Muslimin berkata kepadanya: "Demi Allah, engkau
berhasil pada hari ini wahai Quzman, maka bergembir











