Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 18. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 18. Tampilkan semua postingan

Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 18


  tanpa alasan yang benar, dan Kami akan mengatakan (kepada mereka): 

"Rasakanlah olehmu adzab yang membakar." (QS. Ali Imran; 181). 

Allah juga menurunkan firman-Nya tentang Abu Bakar Radhiyallahu Anhu dan sikap marahnya atas 

perkataan Finhash tadi: 

 

Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mereka dengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum 

kamu dan dari orang-orang ymg mempersekutukan Allah, gangguan yang banyakyang menyakitkan 

hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sebenarnya  yang demikian itu termasuk urusan yang 

patut diutamakan. (QS. Ali Imran: 186). 

 

Dan (ingatlah), jika  Allah mengambil jarji dari orang-orang yang telah diberi kitab: (yaitu): 

"Hendaklah kamu menerangkan kitab itu kepada manusia, dan jangan kamu menyembunyikannya. 

"Lalu mereka melemparkan janji itu ke belakang punggung mereka dan mereka menukarnya dengan 

harga yang sedikit. Amatlah buruk tukaran yang mereka terima. Janganlah sekali-kali kamu 

menyangka bahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka 

suka supaya di puji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka 

bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih. (QS. Ali Imran 187-188). 

Mereka yang dimaksud dalam ayat tadi yaitu  Finhash, Asya', dan pendeta-pendeta Yahudi yang 

semisal mereka berdua yang amat cinta pada dunia dan pujian dengan sesuatu hal yang mana mereka 

sendiri tidak mengerjakannya: mereka dianggap ulama oleh banyak orang, padahal sebenarnya 

mereka bukanlah sosok ulama. Mereka tidak mengarahkan manusia kepada hidayah dan kebenaran. 

 

 

Orang-orang Yahudi Memerintahkan Orang-orang Mukmin Bersikap Kikir 

 

Ibnu Ishaq berkata: Kardam bin Qais sekutu Kaab bin Al-Asyraf, Usamah bin Habib, Nafi' bin Abu Nafi', 

Bahri bin Amr, Huyay bin Akhthab dan Rafi'ah bin Zaid bin At-Tabut bertemu dengan beberapa orang 

dari kalang- an kaum Anshar. Dulu orang-orang Yahudi ini  bergaul dengan kaum Anshar. Mereka 

menasihati sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan berkata kepada mereka: 

"Janganlah kalian menginfakkan harta kalian, karena itu akan menjadikan kalian menjadi orang miskin. 

Janganlah tegesa-gesa untuk berinfak, sebab kalian tidak tahu apa yang akan terjadi dengan nasib 

kalian kelak." lalu  Allah Ta'ala menurunkan ayat: 

 

(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia 

Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. (QS. an-Nisa': 37). 

Yang dimaksud dengan karunia pada ayat di atas yaitu  Taurat yang membenarkan apa yang dibawa 

oleh Nabi Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam. lalu  Allah berfirman, 

 

Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan. ' Dan (juga) orang-

orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang 

tidak beriman kepada Allah dan kepada hari lalu . Barangsiapa yang mengambil sayitan itu 

menjadi temannya, maka setan itu yaitu  teman yang seburuk-buruknya. Apakah kemudaratannya 

bagi mereka, kalau mereka beriman kepada Allah dan hari lalu  dan menafkahkan sebahagian 

rezeki yang telah diberikan Allah kepada mereka? Dan yaitu  Allah Maha Mengetahui keadaan 

mereka. (QS. an-Nisa': 37-39). 

Ibnu lshaq berkata: Rifa'ah bin Zaid bin At-Tabut yaitu  salah seorang pemuka Yahudi. jika  

berbicara dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia senantiasa memilin-milin lidahnya. Ia 

berkata: "Wahai Muhammad, dengarkanlah dengan seksama, agar kamu paham." lalu  Rifa'ah 

bin Zaid bin At-Tabut menghina dan mencemooh Islam. Lalu Allah Yang Mahamulia menurunkan 

firman-Nya tentang dirinya: 

 

 

 

Apakah kamu tidak melihat orang-orang yang telah diberi bahagian dari Al-Kitab (Taurat)? Mereka 

membeli (memilih) kesesatan (dengati petunjuk) dan mereka bermaksud supaya kamu tersesat 

(menyimpang) dari jalan (yang benar). Dan Allah lebih mengetahui (dibandingkan  kamu) tentang musuh-

musuhmu. Dan cukuplah Allah menjadi Pelindung (bagimu). Dan cukuplah Allah menjadi Penolong 

(bagimu). Yaitu orang-orang Yahudi, mereka mengubah perkataan dari tempat-tempatnya. Mereka 

berkata: "Kami mendengar", tetapi kami tidak mau menurutinya. Dan (mereka mengatakan pula): 

"Dengarlah" sedang kamu sebenarnya tidak mendengar apa-apa. Dan (mereka mengatakan): 

"Raa'ina", dengan memutar-mutar lidahnya dan mencela agama. Sekiranya mereka mengatakan: 

"Kami mendengar dan patuh, dan dengarlah, dan perhatikanlah kami", tentulah itu lebih baik bagi 

mereka dan lebih tepat, akan tetapi Allah mengutuk mereka, karena kekafiran mereka. Mereka tidak 

beriman kecuali iman yang sangat tipis. (QS. an-Nisa': 44-46). 

Suatu jika , Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada pemuka-pemuka Yahudi seperti 

Abdullah bin Shuriya AI-A'war dan dan Ka'ab bin Asad: "Wahai orang-orang Yahudi, bertakwalah 

kepada Allah dan masuklah ke dalam Islam. Demi Allah sebenarnya  kalian telah mengetahui bahwa 

yang aku bawa yaitu  kebenaran." Orang-orang Yahudi berkata: "Kami tidak kenal itu wahai 

Muhammad." Mereka ingkar terhadar apa yang sebenarnya telah mereka ketahui dan tetap bertahan 

dengan kekafiran. Lalu Allah menurunkan firman-Nya. 

 

Hai orang-orang yang telah diberi Al-Kitab berimanlah kamu kepada apa yang telah Kami turunkan 

(Al-Qur'an) yang membenarkan Kitab yang ada pada kamu sebelum Kami merobah muka (mu), lalu 

Kami putarkan ke belakang atau Kami kutuk mereka sebagaimana Kami telah mengutuk orang-orang 

(yang berbuat maksiat)pada hari Sabtu. Dan ketetapan Allah pasti berlaku. " (QS. An-Nisa': 47). 

 

 

Orang-orang yang Berkoalisi 

 

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang yang mem bangun koalisi dari Quraisy, Ghathafan, dar Bani 

Quraizhah yaitu  Huyay bin Akhthab Salam bin Abu Al-Huqaiq, Abu Rafi', Ar-Rab; bin Ar-Rabi' bin Abu 

Al-Huqaiq, Abu Ammar, Wahwah bin Amir, dan Haudzah bin Qais. Wahwah bin Amir, Abu Ammar, dan 

Haudzah berasal dari Bani Wail, dan selebihnya dari Bani An-Nadhir. Pada saat mereka sampai di 

tempat orang-orang Quraisy, orang-orang Quraisy itu berkata: "Mereka yaitu  pendeta-pendeta 

Yahudi, dan orang-orang yang memiliki ilmu yang memadai tentang kitab suci terdahulu. Cobalah 

tanyakan kepada mereka manakah yang lebih baik agama kalian atau agama Muhammad." Orang-

orang Quraisy pun bertanya kepada pendeta-pendeta Yahudi dan mereka menjawab: "Agama kalian 

jauh lebih baik dari pada agama Muhammad. Kalian tentunya lebih baik dibandingkan  Muhammad dan 

yang orang yang bersamanya. Lalu Allah menurunkan firman-Nya: 

 

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya 

kepada jibt dan thaghut (QS. an-Nisa': 51). 

Ibnu Hisyam berkata: Menurut orang-orang Arab jibt yaitu  segala sesuatu yang disembah selain 

Allah, sementara thaghut yaitu  segala sesuatu yang membuat orang berpaling dari kebenaran. Kata 

plural dari kata jibt ialah jubut, sementara plural dari kata thaghut yaitu  thawaghit. 

Ibnu Hisyam berkata: Kami mendengar dari Ibnu Abu Najih berkata: bahwa jibt yaitu  sihir, sementara 

thaghut yaitu  setan. 

Allah lalu  berfirman: 

 

 

Dan mengatakan kepada orang-orang kafir '(musyrik Mekah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya 

dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki 

Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya. Ataukah ada bagi mereka 

bagian dari kerajaan (kekuasaan)? Kendati pun ada, mereka tidak akan memberikan sedikit pun 

(kebajikan) kepada manusia, ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia 

yang Allah telah berikan kepadanya? sebenarnya  Kami telah memberikan Kitab dan Hikmah kepada 

keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. (QS. an-Nisa 51-54). 

Ibnu Ishaq berkat: Sukain dan Adi bin Zaid mengatakan: "Wahai Muhammad, kami tidak mengetahui 

bahwa sesudah  Musa diturunkan, Allah menurunkan sesuatu atas manusia. lalu  Allah Yang Maha 

mulia menurunkan firman-Nya: 

 

Sesurtgguhnya Kami telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana Kami telah memberikan 

wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang lalu nya, dan Kami telah memberikan wahyu (pula) 

kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, Isa, Ayub, Yunus, Harun dan Sulaiman. Dan 

Kami berikan Zabur kepada Daud. Dan (kami telah mengutus) rasul-rasul yang sungguh telah Kami 

kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak Kami kisahkan tentang mereka 

kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa dengan langsung. (Mereka kami utus) selaku rasul-

rasul pembawa berita gembira dan pemberi peringatan agarsupaya tidak ada alasan bagi manusia 

membantah Allah sesudah diutusnya rasul-rasul itu. Dan yaitu  Allah Maha Perkasa lagi Maha 

Bijaksana. (QS. an-Nisa: 163-165) 

Beberapa orang Yahudi datang menjumpai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  beliau 

bersabda: "Demi Allah, sebenarnya  kalian telah mengetahui bahwa aku utusan Allah yang diutus 

kepada kalian." Orang-orang Yahudi berkata: '"Kami tidak mengetehaui itu, dan tidak bersaksi 

atasnya." Lalu Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya: 

 

(Mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al-Qur'an yang 

diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun 

menjadi saksi (pula). Cukuplah Allah yang mengakuinya. (QS. an- Nisa': 166). 

 

 

Orang-orang Yahudi Membuat Makar untuk Membunuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

dengan Menjatuhkan Batu kepada Beliau 

 

Suatu jika , Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi ke Bani An-Nadhir untuk meminta bantuan 

mereka dalam membantu beliau, meminta diyat (ganti rugi kriminal) dua orang Bani Amir yang telah 

membunuh Ami bin Umayyah Adh-Dhamri. jika  itu orang-orang Yahudi sedang duduk sesama 

mereka. sebagian dari mereka berkata: "Kalian tidak pernah dapatkan Muhammad berada dekat sekali 

dengan kalian dari pada saat ia berada saat ini. Maka siapakah di antara kalian yang siap untuk naik 

ke atas rumah, untuk menjatuhkan batu kepadanya sehingga kita tidak merasa terganggu oleh 

keberadaannya?" Amr bin Jihasy bin Ka'ab berkata: "Aku siap!" Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam mangetahui makar jahat mereka, beliau segera pergi. Lalu Allah Yang Mahatinggi 

menurunkan firman-Nya: 

 

Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di 

waktu suatu kaum bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat), 

maka Allah menahan tangan mereka dari kamu. Dan bertakwalah Kepada Allah, dan hanya hepada 

Allah sajalah orang-orang mukmin itu harus bertawakal. (QS. al-Maidah: 11). 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjumpa dengan Nu'man bin Adha, Bahri 

bin Amr dan Syas bin Qais. Mereka terlibat dalam sebuah percakapan dengan Rasul dan beliau 

mengajak mereka kepada agama Allah, serta memberi peringatan akan siksa Allah. Mereka berkata: 

"Janganlah engkau mengintimidasi kami wahai Muhammad, karena kami anak-anak dan kekasih- 

kekasih Allah persis sebagaiama perkataan orang-orang Kristen." Lalu Allah Yang Maha mulia 

menurunkan ayat: 

Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: "Kami ini yaitu  anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-

Nya." Katakanlah: "Maka mengapa Allah menyiksa kamu karena dosa-dosamu?" (Kamu bukanlah 

anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya), tetapi kamu yaitu  manusia (biasa) di antara orang-orang 

yang diciptakan-Nya. Dia mengampuni bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa siapa yang 

dikehendaki-Nya. Dan Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada antara 

keduanya. Dan kepada Allah-lah kembali (segala sesuatu). " (QS. al-Maidah: 18). 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyeru orang-orang Yahudi untuk masuk 

Islam, dan memberi peringatan kepada mereka akan hukuman Allah. Namun sayang mereka menolak 

untuk masuk Islam, dan tetap mengingkari terhadap ajaran yang beliau bawa. lalu  Muadz bin 

Jabal, Sa'ad bin Ubadah, dan Uqbah bin Wahb berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Yahudi, 

bertakwalah kepada Allah. Demi Allah, kalian telah mengetahui bahwa beliau yaitu  utusan Allah, 

jauh sebelum beliau diutus menjadi rasul, dan kalian pun telah memaparkan dan menerangkan ciri-

cirinya kepada kami." Rafi' bin Huraimalah dan Wahb bin Yahudza berkata: "Kami tidak pernah 

mengatakan hal itu kepada kalian. Allah tidak menurunkan kitab, tidak mengutus rasul dan pemberi 

peringatan sesudah  Musa." Lalu Allah menurunkan firman-Nya tentang perkataan Rafi' bin Huraimalah, 

dan Wahb bin Yahudza: 

 

Hai Ahli Kitab, sebenarnya  telah datang kepada kamu Rasul Kami, menjelaskan (syariat Kami) 

kepadamu jika  terputus (pengiriman) rasul-rasul, agar kamu tidak mengatakan: "Tidak datang 

kepada kami baik seorang pembawa berita gembira maupun seorang pemberi peringatan." 

sebenarnya  telah datang kepadamu pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Allah Maha 

Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Ma'idah: 19). 

lalu  Allah memaparkan kisah Musa kepada mereka, apa yang Nabi Musa terima dari mereka, 

protes mereka dan perintah Allah yang ditolak oleh mereka hingga mereka terlunta-lunta di muka 

bumi selama empat puluh tahun sebagai hukuman atas tindakan mereka. 

 

 

Mereka Minta Pertimbangan Nabi tentang Hukum Rajam 

 

Ibnu lshaq berkata: Ibnu Syihab Az-Zuhri menuturkan kepadaku, ia mendengar seseorang dari 

Muzainah dari seorang ulama yang berbicara dengan Said bin Al-Musayyib bahwa Abu Hurairah 

berkata kepada mereka bahwa pendeta-pendeta Yahudi berkumpul di Baitul Midras saat Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah. Sebelum Rasulullah tiba salah seorang lelaki yang telah 

menikah telah berzina dengan seorang wanita Yahudi yang telah menikah pula. Mereka berkata: 

"Bawalah pria dan wanita ini kepada Muhammad, lalu tanyakanlah kepadanya apa hukuman atas 

mereka berdua, dan beri dia hak untuk mengadilinya, Jika ia menjatuhkan hukuman cambuk dengan 

tali kepadanya seperti kalian, pasti dia seorang raja dan ikutilah dia. Namun jika  dia menjatuhkan 

hukuman rajam kepada mereka, pastilah dia seorang nabi. Maka jagalah apa yang ada pada kalian, 

agar tidak direbut olehnya." Mereka mendatangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan berkata: 

"Wahai Muhammad, orang ini telah menikah lalu  berzina dengan wanita ini yang telah menikah 

pula. Adililah mereka berdua dan kami memberikan hak sepenuhnya kepadamu untuk mengadili 

mereka." Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berjalan hingga tiba di tempat pendeta-pendeta 

mereka di Baitul Midras. Beliau bersabda: "Wahai orang-orang Yahudi, datangkan kepadaku ulama 

kalian." Mereka mengirim Abdullah bin Shuriya kepada Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam.75 

 

Ibnu lshaq berkata: Beberapa orang Bam Quraizhah berkata kepadaku, selain mendatangkan Abdullah 

bin Shuriya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, mereka juga mendatangkan Abu Yasir bin 

Akhthab dan Wahb bin Yahudza. Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Merekalah ulama kami”  

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada pendeta-pendeta Yahudi tentang masalah 

ini  sampai perkaranya menjadi jelas hingga akhimya mereka berkata tentang Abdullah bin 

Shuriya: "Orang ini lebih mengerti tentang Taurat dibandingkan  ulama-ulama kami yang lain." 

Ibnu Hisyam berkata: Dari perkataan "beberapa Bani Quraizhah hingga "Orang ini lebih mengerti 

tentang Taurat" yaitu  ucapan Ibnu lshaq sedangkan yang sesudah nya yaitu  dari untaian kisah 

sebelumnya. 

sesudah  itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam duduk berdua bersama dengan Abdullah bin 

Shuriya. Abdullah bin Shuriya yaitu  orang paling dalam ilmunya di antara ulama-ulama Yahudi. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyelidik Abdullah bin Shuriya dengan beberapa pertanyaan 

menukik: "Wahai anak Shuriya, aku bersumpah kepadamu dengan nama Allah, dan dengan hari-hari 

Allah yang ada di Bani Israel, tidakkah engkau paham bahwa Allah menetapkan hukuman rajam bagi 

seorang muhshan (lelaki atau perempuan yang telah menikah) yang berzina di dalam Taurat?" 

Abdullah bin Shuriya menjawab: "Benar, demi Allah, memang demikianlKetahuilah wahai Abu Al-

Qasim, sebenarnya  orang-orang Yahudi telah tahu bahwa engkau yaitu  nabi yang diutus, hanya 

saja mereka dengki padamu." 

Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar dan memerintahkan agar kedua orang yang berbuat 

zina ini  di rajam di depan pintu masjid beliau di Bani Ghanm bin Malik bin An-Najjar. Sesudah 

peristiwa ini Abdullah bin Shuriya kafir dan tidak mengingkari kenabian Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam. 

Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah Yang Maha mulia menurunkan firman-Nya tentang orang-orang Yahudi 

ini : 

 

 

Hai Rasul, janganlah hendaknya kamu di sedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memper- 

lihatkan) kekafirannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka: "Kami 

telah beriman", padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. 

(Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar 

perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; yakni mereka mengutus orang 

yang mereka utus di antara mereka, dan mereka mengingkari, dan mereka menyuruh mereka dengan 

apa yang mereka suruhkan dengan mengubah hukum dari yang sebenarnya, lalu  Allah 

berfirman: mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka 

mengatakan: "Jika diberikan ini (yang sudah dirobah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka 

terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, yakni rajam, maka hati-hatilah" (QS. al-Ma'idah: 41). 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Thalhah bin Yazid bin Rukanah berkata kepadaku dari Ismail bin 

Ibrahim dari Ibnu Abbas ia berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan 

pelaksanaan hukuman rajam kepada kedua pelaku zina ini , lalu mereka berdua dirajam di depan 

masjid beliau. jika  laki-laki Yahudi ini  mulai mendapat  lemparan batu, ia berdiri menuju 

wanita yang dia pernah berzina dengannya, lalu  menelungkupinya untuk melindunginya hingga 

akhirnya keduanya meninggal dunia.76 

 

Demikianlah satu hal yang Allah lakukan bagi Rasul-Nya dalam melaksanakan hukum-an zina terhadap 

kedua orang ini . 

Ibnu Ishaq berkata: Shalih bin Kaisan berkata kepadaku dari Nafi' bekas budak Abdullah bin Umar dari 

Abdullah bin Umar, ia berkata: Pada saat orang-orang Yahudi menyerahkan putusan hukum mereka 

berdua kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, beliau meyeru mereka kepada Taurat dan salah 

seorang dari pendeta mereka duduk membaca Taurat sambil menutup ayat tentang hukuman rajam 

dengan tangannya, lalu  Abdullah bin Salam memukul tangan pendeta tadi. Abdullah bin Salam 

berkata: "Wahai Rasulullah, inilah ayat tentang hukuman rajam. Namun ia menolak membacakannya 

kepadamu." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka: "Sungguh celaka kalian 

wahai orang-orang Yahudi, mengapa kalian meninggalkan hukum Allah, padahal itu berada di tangan 

kalian?" Mereka menjawab: "Demi Allah, awalnya hukuman rajam diberlakukan pada kami, hingga 

pada suatu hari orang muhshan yang berasal dari keluarga istana dan kalangan tehormat berbuat zina. 

Raja melarang pemberlakukan hukuman rajam terhadapnya. lalu  ada seseorang berzina 

sesudah keluarga istana ini . Raja bermaksud merajamnya, hanya saja orang-orang Yahudi 

berkata: "Demi Allah, tidak mungkin ini bisa dilakukan. jika  engkau mau merajam orang ini maka 

hendaknya engkau juga merajam orang dari keluarga istana yang berzina. Selesai mengatakan itu 

kepada rajanya mereka menyelenggarakan rapat, dengan hasil kesepakatan mengganti hukuman 

rajam dengan hukuman cambuk, dan mereka meninggalkan hukuman rajam dan penerapannya." 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika demikian, maka akulah orang yang pertama kali 

menghidupkan hukum Allah dan Kitab-Nya serta penerapannya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam meminta keduanya dihukum rajam di depar. masjid beliau. Abdullah bin Umar berkata "Aku 

ikut serta merajam kedua orang pezim ini ."77 

 

 

 

Kezaliman Orang-orang Yahudi dalam Diyat 

 

Ibnu Ishaq berkata: Daud bin Al-Husha:r. berkata padaku dari Ikrimah dari Ibnu Abba? bahwa ayat-

ayat di surat Al-Maidah beriku; 

 

Maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka, atau berpalinglah dari mereka; jika kamu berpaling 

dari mereka maka mereka tidak akar memberi mudarat kepadamu sedikitpun. Dan jika kamu 

memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) di antara mereka dengan adil, 

sebenarnya  Allah menyukai orang-orang yang adil. '(QS. al-Ma'idah 42). 

Diturunkan pada kasus diyat antara Ban An-Nadhir dengan Bani Quraizhah. Penyebab nya bahwa Bani 

An-Nadhir yang terhorma: membayar diyat dengan utuh, sementara Ban: Quraizhah hanya membayar 

separuh saja. Ke mudian mereka mengadukan masalah ini kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam. Lalu Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya di atas tentang mereka. Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam mengembalikan mereka pada kebenaran dengan menyamakan diyat di antara mereka.78 

 

Ibnu Ishaq berkata: Wallahu a 'lam mana yang lebih benar di antara riwayat ini . 

Konspirasi Orang-orang Yahudi untuk Memfitnah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

 

Ibnu Ishaq berkata: Ka'ab bin Asad, Ibnu Shaluba, Abdullah bin Shuriya, dan Syas bin Qais berbincang 

di antara mereka: "Marilah kita pergi menemui Muhammad, semoga kita berhasil mengeluarkannya 

dari agamanya, karena dia juga manusia biasa layaknya kita semua." Mereka pun datang menjumpai 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  berkata: Wahai Muhammad, engkau tahu bahwa 

kami pendeta-pendeta Yahudi, orang-orang tehormat serta pemimpin-pemimpin mereka. Jika kami 

mengikutimu, maka semua orang Yahudi akan mengikutimu, dan mereka tidak mungkin menentang 

kami. sebenarnya  kami mempunyai sengketa, bagaimana jika kami serahkan sengketa mereka itu 

padamu, lalu engkau memutuskan penyelesainnya untuk kami, sesudah  itu kami akan beriman dan 

membenarkanmu?' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menolak permintaan mereka, lalu Allah 

Yang Mahamulia menurunkan firman-Nya tentang mereka: 

 

Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan 

janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya 

mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika 

mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sebenarnya  

Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa 

mereka. Dan sebenarnya  kebanyakan manusia yaitu  orang-orang yang fasik. Apakah hukum 

Jahiliah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik dibandingkan  (hukum) Allah bagi 

orang-orang yang yakin? (QS. al-Maidah: 49-50). 

Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang Ya-hudi antara lain Abu Yasir bin Akhthab, Nafi' bin Abu Nafi, Azir 

bin Abu Azir, Khalid, Zaid, Izar bin Abu Izar, dan Asya' datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam lalu  bertanya mengenai rasul-rasul yang diimani oleh rasul. Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam menjawab: 

Katakanlah (hai orang-orangmukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada 

kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakub dan anak cucunya, dan apa yang 

diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak 

membeda-bedakan seorang pun di antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." (QS. 

al-Baqarah: 136). jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyebut Nabi Isa bin Maryam, 

mereka mengingkarinya. Mereka berkata: "Kami tidak beriman kepada Isa bin Maryam, tidak pula 

pada orang-orang yang beriman kepadanya." lalu  Allah menurunkan firman-Nya: 

 

Katakanlah: "Hai Ahli kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman 

kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan 

sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik? (QS. al-

Maidah: 59). 

Rafi' bin Haritsah, Salam bin Misykam, Malik bin Shaif, dan Rafi' bin Huraimalah datang menemui 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  berkata: "Wahai Muhammad, bukankah engkau 

mengaku menganut agama Ibrahim, beriman kepada Taurat yang kami miliki, dan engkau bersaksi 

bahwa Taurat itu benar dari Allah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Benar. Namun 

kalian telah membuat kebid'ahan, menolak perjanjian yang telah diambil Allah dari kalian yang ada di 

dalamnya, kalian pun menyembunyikan apa yang diperintahkar. kepada kalian untuk memaparkannya 

paca manusia. Maka aku berlepas diri dari bid'ah-bid'ah yang kalian bikin." Orang-orang Yahudi 

ini  berkata: "Kami tetap berpegang tegufa dengan apa yang berada pada tangan kam karena 

kami yakin bahwa kami ada dalam petunjuk dan kebenaran. Kami tidak berimar kepadamu tidak juga 

akan mengikutimu Lalu Allah Yang Mahamulia menurunkan firman-Nya: 

 

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak d: pandang beragama sedikit pun hingga kan:, menegakkan 

ajaran-ajaran Taurat, Injil dan Al-Qur'an yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu." sebenarnya  

apa yang diturunkar kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akar menambah kedurhakaan dan 

kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlar kamu bersedih hati terhadap orang-orang 

yang kafir itu. (QS. al-Maidah: 68) 

Ibnu Ishaq berkata: An-Nahham bin Zaid, Fardam bin Ka'ab, dan Bahri bin Amr datang menemui 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  berkata: "Hai Muhammad apakah engkau tidak tahu 

bahwa terdapat tuhan lain selain Allah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, bersabda: "Tidak ada 

Tuhan yang pantas disembah selain Allah. Dengan ajaran ini aku diutus, dan kepada-Nya aku 

menyeru." lalu  Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya: 

 

Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah. Dia menjadi saksi antara 

aku dan kamu. Dan Al-Qur'an ini diwahyukan kepadaku supaya dengannya aku memberi peringatan 

kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Qur'an (kepadanya). Apakah sebenarnya  kamu 

mengakui bahwa ada tuhan-tuhan yang lain di sampingAllah?"Katakanlah: "Aku tidak mengakui." 

Katakanlah: "sebenarnya  Dia yaitu  Tuhan Yang Maha Esa dan sebenarnya  aku berlepas diri 

dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)." Orang-orang yang telah Kami berikan kitab 

kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. 

Orang-orang yang merugikan dirinya, mereka itu tidak beriman (kepada Allah). (QS. al-An'am: 19-20) 

Rifa'ah bin Zaid bin At-Tabut dan Suwaid bin Al-Harits pura-pura berpenampilan sebagai Muslim 

walaupun hakikatnya dia seorang munafik. Karena kepura-puraannya inilah, beberapa orang kaum 

Muslimin mencintainya. Lalu Allah Ta'ala menurunkan firman- Nya tentang Rifa'ah bin Zaid dan Suwaid 

bin Al-Harits: 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu, orang-orang yang 

membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi 

Kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah 

jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman. Dan jika  kamu menyeru (mereka) untuk 

(mengerjakan) shalat, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. Yang demikian itu yaitu  

karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal. Katakanlah: "Hai Ahli kitab, 

apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang 

diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara 

kamu benar-benar orang-orang yang fasik?" Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu 

tentang orang- orang yang lebih buruk pembalasannya dari  (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu 

orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi 

dan (orang yang) menyembah thaghut?" Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari 

jalan yang lurus. Dan jika  orang-orang (Yahudi atau munafik) datang kepadamu, mereka 

mengatakan: "Kami telah beriman", padahal mereka datang kepada kamu dengan kekafirannya dan 

mereka pergi (dibandingkan  kamu) dengan kekafirannya (pula); dan Allah lebih mengetahui apa yang 

mereka sembunyikan. " (QS. al-Ma'idah: 57-61). 

Jabal bin Abu Qusyair dan Samuel bin Zaid berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: 

"Wahai Muhammad, tolong terangkan kepada kami kapankah Hari Kiamat akan terjadi bila engkau 

yaitu  benar-benar seorang Nabi sebagaimana yang selama ini engkau ucapkan! Lalu Allah Yang Maha 

mulia menurunkan firman-Nya tentang Jabal bin Abu Qusyair dan Samuel bin Zaid: 

 

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: "Bilakah terjadinya?" Katakanlah: "sebenarnya  

pengetahuan tentang kiamat itu yaitu  pada sisi Tuhanku; tidak seorang pun yang dapat menjelaskan 

waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit 

dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan aengan tiba-tiba. Mereica bertanya 

kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: "sebenarnya  

pengetahuan tentang hari kiamat itu yaitu  di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak 

mengetahui." (QS. al-A'raaf: 187). 

 

 

Klaim Mereka Bahwa Uzair Anak Allah 

 

Sallam bin Misykam, Nu'man bin Abu Aufa Abu Anas, Mahmud bin Dahyah, Syas bin Qais, dan Malik 

bin As-Shaif datang menemm Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  berkata: "Bagaimana 

mungkin kami akan mengikutimu, sedangkan engkau telah meninggalkan kiblat kami, dan tidak 

meyakini Uzair sebagai anak Allah." Lalu Allah Yang Mahamulia menurunkan ayat tentang ucapan 

mereka ini : 

 

 

Orang-orang Yahudi berkata: "Uzair itu putra Allah" dan orang Nasrani berkata: "Al-Masik itu putra 

Allah." Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang 

kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. at-

Taubah: 30), hingga akhir kisah. 

Ibnu Hisyam berkata: Yudhahi'una artinya ucapan mereka itu sama dengan ucapan orang-orang yang 

kafir. 

Ibnu Ishaq berkata: Mahmud bin Saihan, Nu'man bin Adha, Bahri bin Amr, Uzair bin Abu Uzair, dan 

Sallam bin Misykam datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  mereka 

berkata: "Wahai Muhammad apakah benar kebenaran yang engkau bawa itu bersumber dari Allah? 

Karena kami tidak mendapat nya tersusun sebagaimana Kitab Taurat?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam bersabda: "Demi Allah, sebenarnya  kalian pun mengetahui bahwa yang aku bawa ini 

benar-benar dari Allah dan kalian telah mendapat nya tertera dalam Taurat yang ada pada kalian. 

Andai semua manusia dan jin bersekutu untuk membuat sebagaimana apa yang aku bawa, mereka 

tidak akan kuasa untuk melakukannya." Usai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda seperti 

itu, Finhash, Abdullah bin Shuwariya, Ibnu Shaluba, Kinanah bin Ar-Rabi' bin Abu Al-Huqaiq, Asya', 

Ka'ab bin Asa Samuel bin Zaid, dan Jabal bin Sukainah berkata serentak: "Wahai Muhammad, 

sebenarnya  Allah melakukan apa saja untuk Rasul-Nya sesuai dengan kehendak-Nya. Jika Dia 

mengutusnya sebagai nabi, dan Dia kuasa melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya, maka turunkan- 

lah kitab dari langit yang bisa kami baca dan kami mengerti. jika  engkau tidak dapat 

melakukannya, kami datang kepadamu dengan membawa sesuatu sebagaimana yang engkau bawa. 

Maka Allah menurunkan firman-Nya: 

 

Katakanlah: "sebenarnya  jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al-Qur'an 

ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia." (QS. al¬Isra': 88). 

Ibnu Hisyam berkata: Zhahir artinya 'aun (pertolongan) dan pluralnya yaitu  Zhuhara 

Wahai orang yang memakai nama Nabi kau menjadi tonggak agama 

Dan kau menjadi penolong bagi sang Imam 

 

 

Pertanyaan Mereka kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tentang Dzu Al-Qarnain 

 

Ibnu Ishaq berkata: Huyay bin Akhthab, Ka'ab bin Asad, Abu Nafi', Asya', dan Samuel bin Zaid berkata 

kepada Abdullah bin Salam jika  ia telah masuk Islam: "Kenabian tidak akan ada pada orang-orang 

Arab. Sahabatmu itu tak lebih hanyalah seorang raja." Usai mengatakan itu kepada Abdullah bin 

Salam, mereka menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, lalu  bertanya tentang Dzu Al-

Qarnain. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menceritakan kisah Dzu Al-Qarnain yang diterimanya 

dari Allah seperti yang pernah beliau ceritakan kepada orang-orang Quraisy. Merekalah yang 

memerintakan kepada orang-orang Quraisy untuk bertanya mengenai Dzu Al-Qarnain kepada 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yaitu pada saat orang-orang Quraisy mengirim An-Nadhr bin 

Al-Harits dan Uqbah bin Mu'ath kepada mereka. 

 

 

Sikap Kurang Ajar Mereka Atas Dzat Allah dan Kemarahan Rasulullah 

 

Ibnu Ishaq berkata:Dituturkan kepadaku dari Said bin Jubair, ia berkata: Beberapa orang Yahudi 

datang menjumpai Rasulullah Shallalahu 'alaihi. wa Sallam, lalu  berkata: "Wahai Muhammad, 

Dialah Allah yang menciptakan makhluk. Lalu siapakah yang menciptakan Allah?" Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam marah besar mendengar pertanyaan mereka hingga wajah beliau berubah 

disebabkan kemarahannya karena Allah. Maka datanglah Malaikat Jibril guna menenangkan beliau. 

Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Tenangkanlah dirimu wahai 

Muhammad!" Malaikat Jibril datang dari Allah dengan sebuah jawaban atas pertanyaan yang mereka 

ajukan: 

 

Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa, Dia tiada 

beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia." (QS. al-

Ikhlas: 1-4). 

jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membacakan ayat-ayat ini , mereka berkata 

kepada beliau: "Coba terangkan kepada kami wahai Muhammad, bagaimana penciptaan Allah, 

bagaimana tangan-Nya? Seperti apa lengan-Nya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertambah 

marah melebihi dari pada kemarahannya yang pertama. lalu  Malaikat Jibril datang kepada 

beliau dan berkata sebagaimana yang ia katakan sebelumnya, serta membawa jawaban dan Allah atas 

semua pertanyaan mereka. Allah berfirman: 

 

Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi 

seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. 

Maha Suci Tuhan dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan. (QS. az-Zumar: 67). 

Ibnu Ishaq berkata: Utbah bin Muslim mantan budak Bani Taim berkata kepadaku dari Abu Salamah 

bin Abdurrahman dari Abu Hurairah yang berkata bahwa aku mendengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam bersabda: Seluruh manusia saling bertanya di antara mereka hingga salah seorang dari 

mereka berkata: "Allah-lah yang telah menciptakan makhluk, maka siapakah yang menciptakan 

Allah?" jika  mereka mengatakan itu, katakanlah: Katakanlah: "Dia-lah Allah: Yang Maha Esa. Allah 

yaitu  Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula 

diperanakkan Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia. ' (QS. al-Ikhlas: 1-4), lalu  

hendaknya seseorang meludah kecil di sebelah kirinya sebanyak tiga kali, dan berlindunglah kepada 

Allah dari semua godaan setan yang terkutuk."79 

 

 

 

Perkara As-Sayyid, al-'Aqib dan Perihal Mubahalah 

 

 

Ibnu Ishaq berkata: Delegasi Kristen Najran datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Jumlah mereka enam puluh orang. Di antara mereka terdapat empat belas tokoh terhormat di 

kalangan mereka. Dari empat belas orang itu, tiga orang yang mengatur urusan mereka. Pertama, Al-

'Aqib. Jabatan Al-Aqib yaitu  pemimpin kaum, ahli pertimbangan, dan segala urusan tidakboleh 

diputuskan kecuali menurut pendapatnya. Ia bernama Abul Masih. Kedua, As-Sayyid. Jabatan As-

Sayyid ialah administrator yang mengatur perjalalan dan kesepakatan umum. Yang menjabat As- 

Sayyid saat itu yaitu  Al-Aiham. Abu Haritsah bin Alqamah salah seorang dari Bani Bakr bin Wail. Dia 

uskup, pendeta, ulama dan pemilik Baitul Mirdas. 

Abu Haritsah datang ke tempat mereka dan menelaah kitab-kitab mereka hingga pengetahuannya 

tentang agama mereka sangat memadai. Raja-raja Byzantium Romawi yang memeluk agama Kristen 

menghormati dan memuliakan Abu Haritsah, mengirimkan pembantu, membangunkan gereja 

untuknya, dan memberikan banyak sekali kemudahan-kemudahan kepadanya. Itu semua dilakukan 

karena kapasitas ilmunya dan semangatnya dalam agama mereka. 

 

 

Sebab Masuk Islamnya Kuz bin Alqamah 

 

Saat mereka telah siap sedia untuk berangkat menuju ke tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam dari Najran, Abu Haritsah duduk di atas keledainya dengan arah Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam dan di sampingnya terdapat saudaranya yang bernama Kuz. Ada pula yang menyebut Kurz 

bin Alqamah. 

Keledai Abu Haritsah terperosok ke lubang, lalu  Kuz bin Alqamah berkata: "Celakalah orang jauh 

ini ." Yang dia maksud dengan orang jauh yaitu  Rasulullah Shallailahu 'Alaihi wa Sallam. Abu 

Haritsah berkata kepada Kuz bin Alqamah: "Dirimu-lah yang binasa." Kuz bin Alqamah berkata: 

"Mengapa demikian, wahai saudaraku?" Abu Haritsah menjawab: "Demi Allah, sungguh orang itulah 

Nabi yang selama ini kita tunggu-tunggu." Kuz bin Alqamah berkata kepada Abu Haritsah: "Lalu apa 

yang menghalangimu untuk masuk Islam sedangkan engkau mengetahuinya?" Abu Haritsah berkata: 

"Kaum ini  (para raja Romawi) telah memuliakan, mengangkat derajat dan menghormati kami. 

Mereka menginginkan agar kami menentang Nabi ini . Maka jika  aku memeluk Islam, mereka 

akan menarik semua fasilitas yang selama ini mereka berikan kepada kami." Kuz bin Alqamah 

merahasiakan tentang dirinya dari Abu Haritsah sampai sesudah  itu ia memeluk Islam. Kisah ini berasal 

dibandingkan nya sebagaimana disampaikan kepadaku. 

Ibnu Hisyam berkata: Telah dituturkan kepadaku, bahwa para pemimpin Najran mewariskan kitab-

kitab milik mereka. jika  salah seorang pemimpin mereka meninggal dunia, mereka segera 

mengalihkan kepemimpinan pada yang lain. Kitab-kitab ini  dikunci dan tidak seorangpun yang 

memecahkannya. Pada masa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, pemimpin Najran berjalan-jalan 

dan ia jatuh terpeleset. Anak sang pemimpin berkata: "Celakalah orang jauh -maksudnya Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam." Pemimpin ini  berkata: "Janganlah engkau berkata demikian, 

karena dia seorang Nabi dan namanya tertera dalam kitab kita." jika  pemimpin ini  telah 

meninggal dunia, anaknya mempunyai ke inginan kuat untuk memecahkan kunci kitab itu. Lalu ia 

membongkar kunci kitab ini  dan mendapatan nama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

tertera di dalamnya. Maka diapun masuk Islam dan dengan keislaman yang bagus. Orang inilah yang 

berkata: 

Kepadamu, dia lari dengan tali pingging yang melorot 

Janin di perutnya menonjol kan melahirkan agamanya berbeda dengan agama Kristen 

 

 

 

 

Mereka Shalat Menghadap ke Timur 

 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ja'far bin Zubair berkata kepadaku: Pada saat delegasi Najran tiba 

di kediaman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan masuk ke masjid beliau pada saat waktu 

shalat Ashar telah tiba, mereka memakai pakaian bergaris yang berasal dari Yaman dengan jubah dan 

mantel warna-warni menawan sebagaimana yang biasa dikenakan orang-orang Bani Al-Harits bin 

Ka'ab. Salah seorang sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang melihat mereka jika  itu 

berujar: "Kami tidak pernah melihat delegasi seperti mereka. Pada saat shalat mereka telah tiba, 

mereka langsung berdiri di masjid Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu merekapun shalat. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Biarkanlah mereka melakukan shalat." Mereka 

shalat dengan menghadap ke arah timur. 

Ibnu Ishaq berkata: Nama keempat belas delegasi Najran yaitu  sebagai berikut: Al Aqib Abdul Masih, 

As-Sayyid Al-Aiham, Abu Haritsah bin Alqamah saudara Bani Bakr bin Wail, Aus, Al-Harits, Zaid, Qais, 

Yazid. Nabaih, Khuwailid, Amr, Khalid, Abdullah, Johannes. Mereka membawa enam puluh kendaraan. 

Sebagai Juru bicara kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mereka menunjuk Abu Haritsah bin 

Alqamah, Al-Aqib Abdul Masih, dan As Sayyid Al-Aiham. Mereki menganut agama Kristen model raja, 

walau- pun dalam beberapa hal mereka berbeda. Mereka berkata: "Isa yaitu  Allah." Mereka juga 

berkata: "Isa yaitu  anak Allah." Mereka juga berkata: "Isa yaitu  satu dari tiga Tuhan." Demikianlah 

ucapan orang-orang Kristen itu. 

Mengenai perkataan mereka bahwa Isa yaitu  Allah, mereka berargumen bahwa Isa bisa 

menghidupkan orang mati, menyembuhkan penyakit, memberi tahu hal-hal yang ghaib, dan membuat 

burung dari tanah lalu meniupnya hingga menjadi burung hidup. Itu semua yaitu  perintah Allah 

Tabaraka wa Ta'ala. "Dan Kami jadikan dia sebagai tanda kebesaran Kami pada manusia." (Maryam: 

21) 

Mengenai perkataan mereka bahwa Isa yaitu  anak Allah, mereka berkata: "Isa tidak mempunyai 

ayah yang bisa diketahui. Ini belum pernah terjadi pada anak keturunan Adam sebelum mereka. 

Mengenai perkataan mereka bahwa Isa yaitu  salah satu dari tiga tuhan, mereka berargumentasi 

dengan menggunakan firman Allah, 'Kami berbuat, Kami memerintahkan, Kami menciptakan, dan 

Kami memutuskan." Mereka menambahkan, bahwa jika Allah itu satu, maka Dia berfirman Aku -bukan 

Kami- berbuat, Aku memerintahkan, dan Aku menciptakan. Namun tuhan itu yaitu  Dia sendiri, Isa, 

dan Maryam. Al-Qur'an menurunkan firman-Nya tentang masing-masing perkaataan mereka 

ini . sesudah  dua pendeta tadi mengatakan itu kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, 

beliau bersabda: "Masuklah kalian berdua ke dalam Islam." Namun kedua pendeta ini  

menjawab: "Kami telah masuk Islam." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Kalian berdua 

belum masuk Islam." Kedua pendekta ini  berkata: "Kami telah masuk Islam sebelum engkau 

memasukinya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Kalian berdua berdusta. Kalian 

berdua terhalang masuk Islam karena masih menyakini bahwa Allah mempunyai anak, karena kalian 

berdua menyembah salib dan memakan daging babi." Kedua pendeta itu menukas: "Jika demikian lalu 

siapa ayahnya, wahai Muhammad?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam diam tidak menjawab 

pertanyaan kedua pendeta itu. 

 

 

 

Ayat-ayat Al-Qur'an Yang Turun Tentang Meraka Pada Surat Ali Imran 

 

Maka Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya pada awal surat Ali Imran hingga ayat delapan puluhan 

tentang perkataan dan perbedaan pandangan mereka. Allah berfirman: 

 

Alif laam miim. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. YangHidup kekal lagi 

terus menerus mengurus makhluk- Nya (QS. Ali Imran: 1-2). 

Allah mengawali surat dengan menyucikan diri-Nya dari apa yang mereka katakan, tentang keesaan-

Nya dalam penciptaan dan perintah, serta tidak ada sekutu bagi-Nya. Hal ini juga sebagai sanggahan 

terhadap kekafiran yang mereka lakukan, dan tandingan-tandingan bagi Allah yang mereka ciptakan, 

serta sanggahan yang menerangkan kesesatan mereka. Allah berfirman: 

Aliflaam miim. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Yang Hidup kekal lagi 

terus-menerus mengurus makhluk-Nya (QS. Ali Imran: 1-2). 

Yakni Allah tidak memiliki sekutu dalam perintah-Nya. Al-Hayyu al-Qayyum yang tidak pernah mati, 

sementara Nabi Isa mati dan ia disalib dalam pandangan orang-orang Kristen. Al-Qayyum artinya yang 

berdiri bertahan pada posisi-Nya yaitu kekuasaan-Nya terhadap makhluk-Nya. Kekuasaan Allah tidak 

pernah habis, sementara kekuasaan Isa bin Maryam lenyap dari dirinya sesuai dengan pandangan 

mereka dan berpindah tangan kepada orang lain. Allah berfirman: 

 

Dia menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah 

diturunkan sebelumnya (QS. Ali Imran: 3) Al-Haq maksudnya dengan benar tentang apa yang mereka 

perselisihkan. Allah berfirman: 

 

dan menurunkan Taurat dan Injil (QS. Ali Imran: 3). Allah menurunkan Taurat kepada Musa, dan 

menurunkan Injil kepada Isa, serta menurunkan kitab-kitab sebelumnya. Allah berfirman: 

 

Sebelum (Al-Qur'an), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqaan (QS. Ali Imran: 

4). Al-Furqan ialah yang memisahkan kebenaran dengan kebatilan dalam hal-hal yang menjadi 

sengketa antara manusia, seperti tentang Isa, dan masalah-masalah lainnya. Allah berfirman: 

 

"sebenarnya  orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat, 

dan Allah Mahaperkasa lagi mempunyai balasan (siksa) (QS. Ali Imran: 4). Yakni, Allah mengadzab 

orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah yang telah diketahuinya padahal mereka mengetahui 

kandungannya. Allah berfirman: 

 

'sebenarnya  bagi Allah tidak ada satu pun yang tersembunyi di bumi dan tidak di langit. '(QS. Ali 

Imran: 5), yakni Allah mengetahui apa yang mereka inginkan, kejahatan yang sedang mereka 

rencanakan, perkataan mereka tentang Isa, sebab mereka menjadikan Isa sebagai Tuhan yang 

disembah. Allah Ta'ala berfirman: 

 

Dialah yang membentuk kalian dalam rahim sebagaimana dikehendaki-Nya (QS. Ali Imran: 6), 

sebenarnya  Isa termasuk orang yang diciptakan langsung oleh Allah dalam rahim, dan mereka tidak 

bisa membantahnya sebagaimana halnya anak keturunan Adam yang lain dibentuk di dalam rahim. 

Bagaimana mungkin Isa didaulat sebagai tuhan, padahal kedudukannya sama seperti mereka? 

lalu  Allah berfirman mensucikan diri-Nya dan mentauhidkan-Nya dari tuhan-tuhan yang mereka 

akui: 

 

'Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha perkasa lagi Ma- habijaksana (QS. 

Ali Imran: 6), yakni, Allah Maha perkasa untuk menang atas orang-orang yang kafir kepada-Nya jika  

Dia mengkehendaki. Dia Maha bijaksana dalam alasan logis dan argumen-Nya terhadap hamba 

hamba-Nya. Allah berfirman: 

 

Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al Quran0 kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang 

muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al- Qur'an (QS. Ali Imran: 7), yakni pada ayat- ayat itu terdapat 

muhkamaat (ayat yang jelas dan pasti) terdapat hujjah Allah, perlindungan bagi hamba-hamba Allah, 

penolakan dari lawan dan kebatilan. Di dalamnya tidak tidak ada deviasi dan penyelewengan. Lalu 

Allar berfirman: 

 

dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihat, (QS. Ali Imran: 7), yakni ayat-ayat mutasyabihat mempunyai 

multi tafsir dan interpretasi. Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan ayat-ayat mutasyabihat 

sebagaimana halnya Allah menguji mereka dalam hal-hal yang halal dan haram. Agar ayat-ayat 

mutasyabihat itu tidak boleh diorientasikan kepada kebatilan dan tidak didisorientasikan dari 

kebenaran Lalu Allah berfirman: 

 

Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, yakni yang miring dan hidayah 

 

maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyabihat, dia mengutak-atiknya agar bisa 

dibenarkan hal-hal bid'ah yang mereka lakukan, agar hal ini menjadi hujjah buat mereka dan menjadi 

senjata atas ucapan syubhat mereka, 

 

untuk menimbulkan fitnah, yakni pengkaburan, 

 

dan untuk mencari-cari takwilnya, ini semua terjadi karena tindakan sesat mereka dalam ucapannya: 

Kami menciptakan, Kami memutuskan, 

 

padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya, yang apa-apa yang mereka inginkan,  

 

melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman ke- pada ayat-

ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." Bagaimana mungkin mereka masih saja 

berselisih padahal itu yaitu  satu kata dan dari Satu Tuhan. lalu  mereka mengembalikan takwil 

mutasyabih pada apa yang mereka ketahui tentang takwil muhkamat, dimana dalam hal ini tidak ada 

lagi penafsiran selain satu takwil tunggal, dan ucapan mereka berselaras dengan Kitabullah 

membenarkan antara satu dengan yang lain. Dengan demikian maka habislah hujjah dengan Al-Quran, 

dan tampaklah ketidakmampuan, kebatilan menjadi lenyap, dan kekufuran menjadi sirna. Allah 

berfirman dalam hal serupa dengan ini: 

 

Dan tidak dapat mengambil pelajaran (dari padanya) melainkan orang-orang yang berakal. (Mereka 

berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah 

Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena 

sebenarnya  Engkau-lah Maha Pemberi (karunia). (QS. Ali Imran: 7-8). 

Selanjutnya Allah berfirman: 

 

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang 

menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian 

itu), berseberangan dengan apa yang mereka katakan, Tak ada Tuhan (yang berhak disembah) 

melainkan Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. sebenarnya  agama (yang diridai) di sisi 

Allah hanyalah Islam. (QS. Ali Imran: 3) Yakni yang menjadi agamamu wahai Muhammad: Mengesakan 

Tuhan dan membenarkan Rasulullah. 

 

Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada 

mereka, yakni yang diberikan kepadamu, bahwa Allah itu Maha Esa dan tidak punya sekutu, 

 

karena kedengkian (yangada) di antara mereka. Barang siapa yangkafir terhadap ayat-ayat Allah 

maka sebenarnya  Allah sangat cepat hisab-Nya. lalu  jika mereka mendebat kamu (tentang 

kebenaran Islam), yakni dengan apa yang mereka datangkan dari kebatilan dari ucapan mereka: Kami 

mencipta, melakukan dan memerintah, maka semua itu yaitu  syubhat batil dan mereka mengetahui 

kebenaran yang sebenarnya, 

 

maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah, yakni hanya pada-Nya saja, dan (demikian 

pula) orang-orangyang mengikuti-ku" Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab 

dan kepada orang-orang yang ummi: yakni orang yang tidak memiliki Kitab 

 

"Apakah kamu (mau) masuk Islam?" Jika mereka masuk Islam, sebenarnya  mereka telah mendapat 

petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat 

Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran: 18-20). 

lalu  Allah Ta'ala menggabungkan kedua ahli Kitab dan mengutarakan apa yang telah mereka 

buat. Allah Ta'ala berfirman: 

 

 

 

sebenarnya  orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi yang 

memang tidak dibenarkan dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, maka 

gembirakanlah mereka bahwa mereka akan menerima siksa yang pedih. Mereka itu yaitu  orang-

orang yang lenyap (pahala) amal-amalnya di dunia dan akhirat, dan mereka sekali-kali tidak memper- 

oleh penolong. Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al-Kitab 

(Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; 

lalu  sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). Hal itu 

yaitu  karena mereka mengaku: "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari 

yang dapat dihitung." Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-

adakan. Bagaimanakah nanti jika  mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada 

keraguan tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang diusahakannya 

sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan). Katakanlah: "Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, 

yakni Tuhan hamba- hamba, dan Raja yang tidak yang memutus perkara di tengah mereka kecuali 

Dia, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari 

orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan 

orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan, tidak ada Tuhan selain Engkau. 

sebenarnya  Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. Yakni tiada seorangpun yang mampu 

melakukan itu selain Engkau dengan kekuatan dan kekuasaan-Mu.. Engkau masukkan malam ke 

dalam siang dan Engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang 

mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup, dengan kekuasaan itu, Dan Engkau beri rezeki 

siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas) " (QS. Ali Imran: 21-27). 

Yakni, tidak ada yang kuasa memberikan rizki kecuali Engkau dan tidak ada orang yang bisa 

melakukannya kecuali Engkau. Artinya walaupun Aku memberikan banyak karunia kepada Isa 

sehingga dengan hal-hal ini  orang-orang Kristen berasumsi bahwa Isa sebagai Tuhan, seperti 

menghidupkan orang yang telah mati, menyembuhkan penyakit, menciptakan burung dari tanah, dan 

memberi tahu hal-hal yang ghaib, maka sebenarnya  Aku memberikan hal-hal ini  kepada Isa 

sebagai tanda-tanda kebesaran-Ku untuk manusia, serta untuk membenarkan kenabian yang Aku utus 

dia dengannya kepada kaumnya. sebenarnya  banyak sekali kekuasaan-Ku dan kemampuan-Ku yang 

tidak Aku berikan kepadanya. Seperti penentuan raja-raja melalui perintah kenabian, dan pe¬nentuan 

kenabian kepada siapa saja yang Aku sukai, memasukkan malam ke dalam siang, memasukkan siang 

ke dalam malam, mengeluarkan orang hidup dari orang mati, mengeluarkan orang mati dari orang 

hidup, memberi rezeki tanpa batas kepada siapa saja yang Aku suka baik dia orang jahat atau baik. 

Semua itu Aku tidak berikan kepada Isa. Apakah semua ini masih belum cukup untuk menjadi pelajaran 

dan bukti nyata bagi mereka bahwa andaikata Isa itu benar-benar Tuhan, pastilah ia memiliki semua 

hal tadi. Padahal pada kenyataannya, sebagaimana mereka ketahui Isa melarikan diri dari para raja 

berpindah dari satu negeri ke negeri yang lain. 

lalu  Allah berfirman: 

 

Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, jika ini yaitu  perkataanmu yang sebenarnya 

sebagai rasa cinta dan pengagungan kepada Allah,  

 

ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Yakni kekufuran masa lalunya, 

 

Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: "Taatilah Allah dan Rasul-Nya; karena 

kalian mengetahuinya, dan kalian dapatkan dalam Kitab kalian, 

 

jika kalian berpaling, dan tetap dalam kekafiran kalian,  

 

maka sebenarnya  Allah tidak menyukai orang-orang kafir." (QS. Ali Imran: 31-32). 

 

Lalu Allah menerangkan pada mereka tentang Nabi Isa dan bagaimana Nabi Isa memulai apa yang 

Allah kehendaki dengannya. Maka Allah berfirman: 

 

sebenarnya  Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala 

umat (di masa mereka masing-masing), (sebagai) satu keturunan yang sebagiannya (keturunan) dari 

yang lain. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Ali Imran: 33-34). 

Lalu Allah memaparkan tentang istri Imran dan perkataannya: 

 

(lngatlah), jika  istri Imran berkata: "Ya Tuhanku, sebenarnya  aku menazarkan kepadi Engkau 

anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat (di Baitul makdis). Yakni 

aku telah bernazar dan aku telah bebaskan dia, dan hanya semata-mata mengabdi kepada Allah dan 

bukan derm kepentingan dunia, 

 

karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku sebenarnya  Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi 

Maha Mengetahui." Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata "Ya Tuhanku, 

sebenarnya  aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang 

dilahirkannya itu; dari anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan, yakni laki-laki tidaklah sama 

dengan perempuan dalam hal nazar yang aku jadikan dia bebas untuk pengabdian, 

 

sebenarnya  aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-

anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau dibandingkan  setan yang terkutuk. "Maka Tuhannya 

menerimanya (sebagai nazar) dengan penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan 

yang baik dan Allah menjadikan Zakaria pemeliharanya, (QS. Ali Imran: 35-37) yakni sesudah  ia 

dipelihara oleh ayah dan ibunya. 

lalu  Allah Ta'ala memaparkan kisah tentang Maryam, tentang Nabi Zakaria, doa Nabi Zakaria, 

dan karunia yang diberikan Allah kepada Nabi Zakaria berupa seorang anak yang bernama Yahya. 

lalu  Allah menyebutkan tentang Maryam, dan ucapan malaikat kepadanya: 

 

Dan (ingatlah) jika  Malaikat (Jibril) berkata: "Hai Maryam, sebenarnya  Allah telah memilih kamu, 

menyucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yangsemasa dengan kamu). Hai 

Maryam, taatlah kepada Tuhanmu, sujud dan rukuklah bersama orang- orangyang rukuk. (QS. Ali 

Imran: 42-43). 

Allah berfirman: 

 

Yang demikian itu yaitu  sebagian dari berita-berit agaib yang Kami wahyukan kepada kamu (ya 

Muhammad); padahal kamu tidak hadir beserta mereka, jika  mereka melemparkan anak-anak 

panah mereka (untuk mengundi) siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu 

tidak hadir di sisi mereka jika  mereka bersengketa. (QS. Ali Imran: 44). 

Ibnu Hisyam berkata: Maksud dengan Aqlaam pada ayat di atas yaitu  anak-anak panah yang mereka 

gunakan untuk mengundi, maka dari undian itu keluarlah nama Zakaria. Maka Maryam pun diasuh 

oleh Nabi Zakaria sebagaimana dikatakan Al-Hasan bin Abu Al-Hasan Al-Basri. 

Ibnu Ishaq berkata: Maryam diasuh oleh Juraij sang pendeta Yahudi. Ia salah seorang dari Bani Israil 

Najjar. Undian keluar atas namanya, makanya ia pun mengasuh Maryam, sesudah  sebelumnya Maryam 

diasuh oleh Nabi Zakaria. Pada saat Maryam diasuh Zakaria, Bani Israel mengalami krisis pangan yang 

luar biasa sehingga membuat Zakaria tidak kuasa untuk mengasuh Maryam. Orang-orang Bani Israel 

melakukan undian kembali untuk menentukan kembali siapa yang berhak mengasuh Maryam. Undian 

keluar atas nama Juraij, maka diapun diserahi pengasuhannya. 

Dan kamu tidak hadir di sisi mereka jika  mereka bersengketa. (QS. Ali Imran: 44), yakni kamu waktu 

itu tidak bersama dengan mereka tatkala terjadi perselisihan antara mereka tentang Maryam. Allah 

memberitahukan kepada Rasulullah apa yang mereka sembunyikan dari ilmu yang mereka ketahui 

demi mengokohkan kenabiannya, dan menjadi argumen atas mereka mengenai apa yang mereka 

sembunyikan selama ini. 

lalu Allah Ta 'ala berfirman: 

 

(Ingatlah), jika  Malaikat berkata: "Hai Maryam, sebenarnya  Allah menggembira kan kamu 

(dengan kelahiran seorang putra yang diciptakan) dengan kalimat (yangdatang) dibandingkan -Nya, 

namanya Al-Masih Isa putra Maryam, yakni demikianlah kondisinya dan bukan sebagaimana yang 

kalian semua katakan, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, yakni di sisi Allah, dan termasuk 

orang-orang yang didekatkan (kepada Allah), dan dia berbicara dengan manusia dalam buaian dan 

jika  sudah dewasa dan dia termasuk di antara orang-orang yang shaleh. (QS. Ali Imran: 45-46). 

Allah Yang Mahaagung memberitahukan kepada mereka tentang kondisi Isa yang sebenarnya, 

bagaimana Nabi Isa bersikap sebagaimana manusia lainnya sepanjang umurnya baik saat masih anak 

kecil atau orang dewasa. Hanya saja Allah memberi keistimewaan dengan kemampuan berbicara 

tatkala ia masih berada dalam pangkuan ibunya, sebagai tanda kenabiannya dan menerangkan 

kekuasaan-Nya kepada manusia. 

Lalu Allah berfirman: 

 

Maryam berkata: "Ya Tuhanku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah 

disentuh oleh seorang laki-laki pun. " Allah berfirman (dengan perantaraan Jibril): "Demikianlah Allah 

menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dia membuat apa yang Dia kehendaki, dan mencipta apa 

yang Dia kehendaki dari manusia atau selain manusia, 

 

jika  Allah berkehendak menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya: 

"Jadilah", lalu jadilah dia. ' (QS. Ali Imran; 47), sebagaimana yang Dia kehendaki. 

lalu  memberitahukan Maryam apa yang Dia kehendaki dengan firman-Nya: 

 

Dan Allah akan mengajarkan kepadanya At Kitab, Hikmah, Taurat, yang ada di tengah-tengah mereka 

sejak zaman Musa sebelum dia, dan Injil sebuah Kitab lain yang Allah turunkan kepadanya yang belum 

ada di tengah mereka kecuali hanya sebagai penyebutan bahwasanya dia akan ada di tangan salah 

seorang Nabi sesudah  Musa. 

 

Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israel (yang berkata kepada mereka): "sebenarnya