Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 17. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 17. Tampilkan semua postingan

Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 17

 


an itu atas kalian." Namun mereka mengatakan sebaliknya dari apa yang 

Allah firmankan kepada mereka. Mereka itulah yang Allah terangkan kepada Rasul-Nya, Muhammad 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

lalu  Allah berfirman: 

 

Dan jika  mereka berjumpa dengan orang-orangyang beriman, mereka berkata: "Kami pun telah 

beriman," (QS. al-Baqarah; 76). Yakni, kami pun beriman dengan sahabat kalian yaitu  Rasulullah 

Shallahahu 'Alaihi wa Sallam, namun ia hanya diutus secara khusus kepada kalian. Tapi, mana kala 

mereka berada bersama kelompoknya mereka berkata: "Janganlah kalian memceritakan ini kepada 

orang-orang Arab, sebab dulu kalian pernah meminta kemenangan atas mereka dengan selalu 

menyebut nama Muhammad, ternyata kini Muhammad berada di pihak mereka." Allah menurunkan 

firman-Nya perihal mereka, 

 

Dan jika  mereka berjumpa dengan orang- orang yang beriman, mereka berkata: "Kami pun telah 

beriman," tetapi jika  mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: "Apakah kamu 

menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu, 

supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu 

mengerti?" (QS. al-Baqarah: 76). Yakni, apakah kalian mengakui Muhammad sebagai Nabi, padahal 

kalian mengetahui bahwa kalian telah dimintai perjanjian untuk mengikutinya. Dia telah menerangkan 

dengan gamblang bahwa Muhammad yaitu  seorang Nabi yang sejak lama kita tunggu-tunggu, dan 

kita dapati namanya dalam Kitab suci kita. Maka ingkarilah. dan jangan pernah engkau mengakuinya. 

Allah berfirman: 

 

Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala 

yang mereka nyatakan? Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab 

(Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. (QS. al-Baqarah: 77-

78). Yakni, merekii tidak mengetahui Al-Kitab, tidak memaham: isinya, serta tidak mengakui 

kenabianmu melainkan hanya berdasar pada prasangka saja Allah berfirman: 

 

Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidan akan disentuh oleh api neraka, kecuali selamu beberapa 

hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan 

memungkiri janji-Nya ataukak kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu 

ketahui?" (QS. al-Baqarah: 80). 

Ibnu Ishaq berkata: Mantan budak Zaid bin Tsabit berkata kepadaku dari Ikrimah atau dari Sa'id bin 

Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: "jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi hm Sallam tiba di Madinah, 

orang-orang Yahudi berkata: "Usia dunia ini ialah tujuh ribu tahun. Allah menyiksa manusia di neraka 

dalam setiap seribu tahun hitungan hari-hari dunia dengan hanya satu hari dari hitungan hari-hari 

akhirat di neraka. Dengan demikian mereka hanya menjalani tujuh hari siksa di dalam neraka, 

lalu  siksa terhenti.' Allah Ta 'ala menurunkan ayat tentang ucapan mereka ini : 

 

Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa 

hari saja. " Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan 

memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu 

ketahui?." (Bukan demikian), yang benar, barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya, 

mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.' (QS. al-Baqarah: 80-81), Yakni, 

barangsiapa mengerjakan tindakan sebagaimana tindakan kalian, dan berlaku ingkar sebagaimana 

kekafiran kalian, maka kekafiran akan menghapus kebaikan dirinya di sisi Allah. 

 

 

 

Dan orang-orang yang beriman serta beramal shaleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di 

dalamnya. (QS. al-Baqarah: 82). Yakni, barangsiapa beriman kepada apa yang mereka ingkari, dan 

melakukan apa yang kalian tinggalkan dari agama-Nya, bagi mereka surga dan mereka kekal di 

dalamnya. Allah menjelaskan kepada mereka bahwa balasan kebaikan dan keburukan itu diberikan 

secara terus menerus kepada pelakunya tanpa terhenti. 

Ibnu Ishaq berkata: Allah mencela mereka dengan firman-Nya: 

 

Dan (ingatlah), jika  Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu): Janganlah kamu menyembah 

selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang 

miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah 

zakat. lalu  kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil dibandingkan  kamu, dan kamu 

selalu berpaling. (QS. al-Baqarah: 83). Yakni, kalian meninggalkan semua itu, dan tidak menetapi 

perjanjian, bukan karena kurang pengetahuan. 

Allah melanjutkan firman-Nya: 

 

Dan (ingatlah), jika  Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan 

darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari 

kampung halamanmu, lalu  kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu 

mempersaksikannya (QS. al-Baqarah: 84). Yakni, bahwa ini yaitu  hak dari perjanjian-Ku atas kalian. 

Allah melanjutkan firman-Nya: 

 

lalu  kamu (Bani Israel) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan 

dibandingkan  kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan 

membuat dosa dan permusuhan (QS. al-Baqarah: 85). Yang dimaksud dengan mereka pada ayat di ini 

yaitu  orang-orang musyrik. Kalian menumpahkan darah dan mengusir mereka dari negeri mereka.  

 

tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir 

mereka itu (juga) terlarang bagimu. (QS. al-Baqarah: 85). 

Yakni, padahal kalian mengetahui bahwa itu telah ditetapkan dalam agama dan dalam kitab kalian 

yaitu haram hukumnya bagi kalian untuk mengusir mereka. 

Allah Ta'ala berfirman: 

 

Apakah kamu beriman kepada sebahagiar. Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang 

lain? (QS. al-Baqarah: 85), yakni, apakak kalian menebus mereka dalam keadaan kahir 

mempercayainya, dan kalian mengusir mereka dalam keadaan mengingkarinya. 

Allah berfirman: 

 

Tiyaitu  balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam 

kehidupan dunia, dan pada hari kiamat: mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah 

tidak lengah dari apa yang kamu perbuat (QS. al-Baqarah: 85). 

Allah memurkai mereka disebabkan perbuatan buruk mereka. Padahal Allah telar mengharamkan 

mereka di dalam Taurat untuk membunuh orang lain, dan mewajibkan ataf mereka untuk menebus 

tawanan perang. 

Pendeta-pendeta Yahudi terbagi dua: Pertama, Bani Qainuqa' dan orang-orang yang selaras dengan 

mereka, mereka yaitu  sekutu Khazraj. Kedua, An-Nadhir, Quraizhah, dan orang-orang yang selaras 

dengan mereka, sekutu Aus. jika  terjadi perang antara Khazraj melawan Aus, Bani Qainuqa' beraci 

di pihak Khazraj, sementara An-Nadhir dar Quraizhah berada di pihak Aus. Setiap kubu membantu 

sekutunya untuk menghadapi lawannya yang pada akhrinya mereka menum pahkan darah. Padahal 

memiliki Taurat yang darinya mereka mengerti hak dan kewajiban mereka. Aus dan Khazraj yaitu  

orang-orang musyrik yang tidak mengetahui surga tidak pula neraka, Hari kebangkitan, Hari Kiamat, 

Kitab, Suci atau hal-hal yang halal dan yang haram. 

jika  perang telah usai, mereka menebus tawanan perangnya karena yakin apa yang tertera di 

dalam Taurat. Bani Qainuqa' menebus tawanan mereka di Aus. Nadhir dan Quraizhah menebus 

tawanan mereka di Khazraj. Dan dalam waktu yang sama mereka menyatakan bahwa darah mereka 

yang tertumpah yaitu  halal, dan korban mereka yang terbunuh sebagai realisasi dukungan mereka 

terhadap orang-orang musyrik. Allah Ta'ala berfirman mencela tindakan buruk yang mereka lakukan: 

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? 

(QS. al-Baqarah: 85). Yakni, apakah kalian menebus tawanan perang berdasarkan hukum yang tertera 

dalam Taurat lalu kalian membunuh manusia padahal pembunuhan yaitu  merupakan sesuatu yang 

diharamkan dalam Taurat? Apakah kalian mengusirnya dari negerinya dan mendukung orang-orang 

yang menyekutukan Allah dan menyembah patung-patung karena mengharapkan kehidupan yang 

sekejap? 

Demikianlah yang diperbuat orang-orang Yahudi terhadap Khazraj dan Aus. Inilah latar belakang sebab 

dilansirnya kisah ini oleh Allah. 

Lalu Allah berfirman: 

 

Dan sebenarnya  Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah 

menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti 

kebenaran (mukjizat) kepada Is a putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. (QS. 

al-Baqarah: 87). Di antara mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Isa ialah menghidupkan orang 

yang telah mati, ia meniup tanah yang dibentuk burung lalu  tanah ini  menjadi burung 

yang hidup dengan izin Allah, menyembuhkan orang sakit, dan memberi tahu apa yang tersimpan di 

rumah-rumah mereka. Allah menyebutkan bantahan atas mereka yang ada di dalam Taurat dan Injil 

yang dibuat untuk mereka. Allah memaparkan kekafiran mereka terhadap semua itu: 

 

Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai 

dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan 

beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (QS. al-Baqarah: 87). 

Allah berfirman: 

 

Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup." Allah berfirman: Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk 

mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman. (QS. al-Baqarah: 88). 

Allah Ta’ala befirman: 

 

Dan sesudah  datang kepada mereka Al-Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada 

mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat 

kemenangan atas orang-orang kafir, maka sesudah  datang kepada mereka apa yang telah mereka 

ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (QS. 

al-Baqarah: 89). 

Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku dari sesepuh kalangan Ansar yang 

mengatakan: Ayat di atas diturunkan karena perbuatan kami dan orang-orang Yahudi. Kami 

mengalahkan orang-orang Yahudi pada masa jahiliyah, saat itu kami masih berstatus sebagai ahli 

syirik, sedangkan mereka para Ahli Kitab. Dahulu pendeta-pendeta Yahudi berkata kepada kami: 

"Kemunculan nabi yang akan diutus telah dekat. jika  ia telah muncul kami akan menumpas kalian 

sebagaimana penumpasan terhadap kaum Ad dan Iram." Pada saat Allah mengutus Rasul-Nya dari 

suku Quraisy, kami mengimaninya sementara mereka mengingkarinya." Allah berfirman: 

 

Maka sesudah  datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. 

Maka laknat Allah-lah atas orang- orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang 

menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki 

bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-

Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang 

kafir siksaan yang menghinakan. (QS. al-Baqarah: 89-90). 

Allah murka karena mereka menyia-nyiakan Taurat dan ingkar kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam yang diutus oleh Allah kepada mereka. 

lalu  Allah memurkai mereka dengan mengangkat Gunung Ath-Thur ke atas mereka, dan mereka 

menjadikan anak sapi betina sebagai Tuhan selain Allah. Allah berfirman kepada Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam: 

 

Katakanlah: Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi 

Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian (mu), jika kamu memang benar. (QS. al-

Baqarah: 94), yakni, doakan kematian atas salah satu dari dua kelompok yang paling berdusta di sisi 

Allah, namun mereka tidak mau melakukannya. Allah Ta'ala melanjutkan firman-Nya: 

 

Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-

kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui siapa 

orang-orang yang aniaya. (QS. al- Baqarah: 95), mereka tidak mengharapkan kematian, karena 

mereka memiliki pengetahuan tentang dirimu, hanya saja mereka mengingkarinya. Ada yang 

mengatakan andai saja orang-orang Yahudi mengharapkan kematian pada hari itu, maka tidak ada 

seorang Yahudi pun yang akan tersisa di atas muka bumi. 

lalu  Allah memaparkan tabiat orang-orang Yahudi yaitu menginginkan kehidupan kekal di dunia 

dan umur yang panjang: 

 

Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), 

bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur 

seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha 

Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. al-Baqarah: 96). Yakni, usia panjang tidak akan pernah 

bisa menyelamatkan mereka dari adzab, hal ini  disebabkan karena orang kafir tidak 

mengharapkan kebangkitan sesudah  kematian, ia memilih untuk hidup kekal di dunia, karena 

mengetahui kehinaan yang akan menimpa mereka di akhirat akibat menyia-nyiakan pengetahuan 

tentang nabi yang dimilikinya. lalu  Allah berfirman:  

 

Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur'an) 

ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi 

petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman (QS. al-Baqarah: 97). 

 

 

Pertanyaan Orang-orang Yahudi dan Jawaban Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Pada Mereka 

 

Ibnu lshaq berkata: Abdullah bin Abdur-rahman bin Abu Husain Al-Makki bertutur kepadaku dari Syahr 

bin Hausyab Al-Asy'ari yang berkata bahwa beberapa pendeta Yahudi datang menemui Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka berkata: "Wahai Muhammad, jawablah pertanyaan-pertanyaan 

yang kami ajukan kepadamu. jika  engkau mampu memberikan jawaban, maka kami akan 

mengikuti, membenarkan dan beriman kepadamu. "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 

"Kalian mempunyai perjanjian dengan Allah, bahwa jika  aku mampu menjawab pertanyaan-

pertanyaan yang kalian ajukan, kalian pasti membenarkanku?" Mereka berkata: Ya. Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Katakanlah apa yang kalian hendak tanyakan." Mereka 

bertanya: "Terangkanlah kepada kami kenapa seorang bayi itu menyerupai ibunya, padahal sperma 

itu berasal dari bapaknya!” Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Aku bersumpah 

dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israel, tahukah kalian bahwa sperma laki-laki itu 

berwarna putih kental, dan ovum wanita berwarna kuning dan encer; maka mana di antara keduanya 

yang lebih dominan, keserupaan akan terjadi padanya." Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Benar!" 

Kini terangkanlah kepada kami, bagaimana cara tidurmu!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

menjawab: "Aku bersumpah dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israel, aku seperti yang 

kalian perkirakan dimana mataku tidur namun hatiku tidaklah tidur." Pendeta-pendeta Yahudi 

berkata: "Benar." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Begitu juga tidurku, mataku tidur, 

namun hatiku tetap terjaga." Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu  bertanya kembali: "Terangkan 

kepada kami apa saja yang diharamkan orang-orang Israel atas diri mereka!" Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam menjawab: "Aku bersumpah dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israel, 

tahukah kalian bahwa mulanya makanan dan minuman yang paling disukai Israel yaitu  daging unta 

dan susunya? lalu  jika  ia sakit, maka Allah menyembuhkannya dengannya, lalu  ia 

mengharamkan atas dirinya makanan dan minuman yang paling disukainya itu sebagai refleksi 

syukurnya kepada Allah. Dia mengharamkan atas dirinya daging dan susu unta." Pendeta-pendeta 

Yahudi berkata: "Benar." Kini terangkanlah kepada kami tentang ruh!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam bersabda: "Aku bersumpah dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israel, apakah kalian 

tahu bahwa yang datang kepadaku yaitu  Jibril?" Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Betul!" Tapi 

wahai Muhammad, dia yaitu  musuh Kami. Ia malaikat, tapi dia datang dengan kasar dan 

menumpahkan darah. Jika bukan karena itu, pastilah kami mengikutimu." lalu  Allah 

menurunkan firman-Nya tentang ucapan mereka ini :  

 

 

 

Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur'an) 

ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi 

petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menjadi musuh 

Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sebenarnya  Allah yaitu  

musuh orang-orang kafir. Dan sebenarnya  Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; 

dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik. Patutkah (mereka ingkar 

kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? 

Bahkan sebahagian besar dari mereka tidak beriman. Dan sesudah  datang kepada mereka seorang 

Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-

orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung) nya seolah-olah 

mereka tidak mengetahui (bahwa itu yaitu  Kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh 

setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu 

mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah 

yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan 

kepada dua orang malaikat di negeri Babilyaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak 

mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: "sebenarnya  kami hanya 

cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir." Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu 

apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan 

mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin 

Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi 

manfaat. Demi, sebenarnya  mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab 

Allah) dengan sihir itu, tiyaitu  baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka 

menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. al-Baqarah: 97-102) 

Ibnu Ishaq berkata: -sebagaimana berita yang sampai kepadaku—bahwa jika  Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam menyebutkan Nabi Sulaiman bin Daud termasuk bagian dari para rasul, sebagian 

pendeta Yahudi berkata: Apakah kalian tidak merasa heran dengan Muhammad? Ia beranggapan 

bahwa Sulaiman bin Daud itu seorang nabi. Demi Allah, Sulaiman bin Daud itu tidak lebih dari seorang 

penyihir." lalu  Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang mereka: 

Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir 

(mengerjakan sihir). (QS. al-Baqarah: 102). 

Yakni, setan-setan itu kafir disebabkan mereka mengikuti sihir dan mengamalkannya, Dan apa yang 

diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak 

mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun (QS. al-Baqarah: 102) 

Ibnu Ishaq berkata: seorangyang aku percaya pada kejujurannya berkata kepadaku dari Ikrimah dari 

Ibnu Abbas ia berkata: Yang diharamkam Israel terhadap dirinya ialah bagian yang menonjol dari hati, 

ginjal dan lemak kecuali lemak yang ada pada tulang punggung sebab lemak pada tulang punggung 

biasanya disediakan untuk sesajen yang lalu  ditelan api. 

 

 

Surat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Kepada Orang-orang Yahudi Khaybar 

 

Ibnu Ishaq berkata:-sebagaimana dituturkan kepadaku oleh mantan budak keluarga Zaid bin Tsabit 

dari Ikrimah atau Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas yang berkata-- Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam 

menulis surat kepada orang-orang Yahudi Khaybar yang berbunyi sebagai berikut: Bismillahirrah- 

manirrahim. Dari Muhammad, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sahabat dan saudara Musa, dan 

orang yang membenarkan apa telah berfirman kepada kalian wahai orang- orang yang diberi Kitab 

Taurat dan kalian telah temukan ini dalam kitab kalian: 

 

Muhammad itu yaitu  utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia yaitu  keras 

terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan 

sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari 

bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu 

seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu 

menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-

penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-

orang mukmin). Allah men- janjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang 

shaleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Fath: 29). 

Aku bersumpah dengan nama Allah, dan dengan apa yang diturunkan kepada kalian, aku bersumpah 

dengan Dzat yang memberi kalian makan beruapa Al-Manna dan As-Salwa yang diberikan kepada 

orang-orang yang datang sebelum kalian, aku bersumpah dengan Allah yang mengeringkan laut untuk 

para leluhur kalian lalu  Allah menyelamatkan kalian dari Fir'aun dan tindakannya. Tidakkah 

kalian mau memberitahukan kepadaku apakah kalian temukan dalam Kitab yang diturunkan kepada 

kalian bahwa kalian wajib percaya kepada Muhammad? jika  kalian tidak menemukannya maka 

tidak ada paksaan bagi kalian, karena Allah telah menjelaskan, 

 

"Sungguh petunjuk dan kesesatan itu telah jelas. " (QS. al-Baqarah: 256). Aku seru kalian kepada Allah 

dan Nabi-Nya. 

 

 

Ayat Al-Qur'an yang Turun tentang Abu Yasir dan Saudaranya 

 

Ibnu lshaq berkata: sebenarnya  di antara pendeta-pendeta Yahudi dan orang-orang kafir Yahudi 

yang kisahnya disebutkan dalam Al-Qur'an —sebagaimana dituturkan kepadaku dari Abdullah bin 

Abbas dan Jabir bin Abdullah bin Ri'ab— yang bertanya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sal- 

lam, dan membuat kerancuan bagi beliau untuk mencampuradukkan antara kebenaran dengan 

kebatilan yaitu  Yasir bin Akhthab dan saudaranya. Suatu jika  Abu Yasir bin Akhthab berjalan 

melintasi di hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan saat itu beliau sedang membaca surat 

Al-Baqarah, 'Alif' laam mim. Kitab itu tiada keraguan di dalamnya (QS. al-Baqarah: 1-2). lalu  Yasir 

bin Akhthab menjumpai saudaranya, Huyay bin Akhthab yang tengah berkumpul bersama orang-

orang Yahudi. Abu Yasir bin Akhthab berkata: "Demi Allah, ketahuilah, baru saja aku mendengar 

Muhammad membaca apa yang diturunkan padanya 'Alif' laam mim. Kitab itu tiada keraguan di 

dalamnya (QS. al-Baqarah: 1-2) Orang-orang Yahudi berkata: "Apakah engkau benar-benar men- 

dengarnya?' Yasir bin Akhthab menjawab: "Benar." Huyay bin Akhthab bersama orang-orang Yahudi 

segera beranjak dan berangkat untuk menjumpai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka 

berkata: "Wahai Muhammad, telah dikbarkan kepada kami bahwa engkau membaca apa yang 

diturunkan kepadamu? "Alif' laam mim. Kitab itu tiada keraguan di dalamnya (QS. al-Baqarah: 1-2), 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya, benar." Orang-orang Yahudi berkata: "Apakah 

ayat Al-Qur'an itu dibawa Jibril dari sisi Allah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya, 

benar." Orang-orang Yahudi berkata: "Sungguh Allah telah mengutus beberapa nabi sebelum engkau. 

Kami tidak mengetahui Allah menjelaskan kepada salah seorang nabi itu tentang masa kekuasaannya, 

dan masa kekuasaan umatnya selain pada dirimu." 

Huyay bin Akhtab berkata sambil menghadap pada orang-orang yang datang bersamanya: "Alif satu, 

laam tiga puluh, dan miim empat puluh. Jadi jumlah keseluruhannya tujuh puluh satu tahun. Apakah 

kalian akan menganut agama yang masa kekuasaannya hanyalah tujuh puluh satu tahun saja?." 

lalu  Huyay bin Akhthab menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan berkata: "Hai 

Muhammad, apakah engkau mempunyai ayat lain selain ayat tadi?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam bersabda, Ya!.' Huyai bin Akhthab berkata: "Bagaimana bunyinya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam membaca ayat, 'Alif laam miim shaad (QS. al-A'raaf: 1) Huyai bin Akhthab berkata: "Demi 

Allah, ayat ini jauh lebih berat dan lebih panjang. Alif satu, laam a tiga puluh, miim empat puluh dan 

shaad yaitu  sembilan puluh. Jadi jumlah keseluruhannya yaitu  seratus enam puluh satu tahun. 

Apakah engkau mempunyai ayat yang lain, wahai Muhammad?' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

bersabda: "Ya." Huyay bin Akhthab berkata: "Bagaimana bunyinya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam membaca ayat, 'Alif laam raa' (QS. Yunus: 1) Huyay bin Akhthab berkata: "Demi Allah, ini jauh 

lebih berat dan lebih panjang. Alif satu, laam tiga puluh dan raa' dua ratus. Jadi jumlah keseluruhannya 

yaitu  dua ratus tiga puluh satu tahun. Apakah engkau masih memiliki ayat yang lain, wahai 

Muhammad?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya." Huyay bin Akhthab berkata: 

"Bagaimana bunyinya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membaca ayat: Alif laam mim raa (QS. 

ar-Ra'd: 1). Huyay bin Akhthab berkata: "Ini lebih jauh berat dan lebih panjang. Alif satu, laam tiga 

puluh, miim empat puluh, dan raa' dua ratus. Jadi jumlah keseluruhannya dua ratus tujuh puluh satu 

tahun." Huyay bin Akhthab berkata: "Wahai Muhammad, masalahnya menjadi sangat kompleks bagi 

kami, hingga kami tidak mengerti apakah engkau diberi banyak atau sedikit?" lalu  orang-orang 

Yahudi itu pergi. Abu Yasir bin Akhthab berkata kepada saudaranya, Huyay bin Akhthab dan pendeta-

pendeta Yahudi yang ikut bersamanya: "Tahukah kalian barangkali jumlah tadi diberikan kepada 

Muhammad, yaitu tujuh puluh satu, seratus enam puluh satu, dua ratus tiga puluh satu, dan dua ratus 

tujuh puluh satu. Jadi jika dijumlah keseluruhannya maka menjadi tujuh ratus tiga puluh empat tahun. 

Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Persoalannya menjadi sangat kompleks bagi kami." Para ulama 

meyakini bahwa ayat di bawah ini Allah turunkan karena ulah mereka: 

 

Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al- Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang 

muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. (QS. Ali 

Imran: 7). 

Ibnu Ishaq berkata: Aku mendengar dari ulama kredibel yang tidak aku ragukan integritasnya berkata 

bahwa ayat di atas diturunkan atas warga Najran yaitu pada saat mereka bertemu dengan Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk bertanya tentang Isa bin Maryam ' Alaihis-Salam. 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif berkata kepadaku bahwa ia 

mendengar ayat di atas diturunkan untuk beberapa orang Yahudi namun dia tidak memberikan 

rinciannya lebih lanjut kepadaku. Wallahu a'lam mana yang lebih benar. 

 

 

Kekafiran Orang-orang Yahudi terhadap Rasulullah sesudah  Mereka Menanti-nanti Kedatangannya 

dan Ayat Al-Qur'an yang Diturunkan Allah dalam Hal ini 

 

Ibnu Ishaq berkata: Aku mendengar dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas atau dari Sa'id bin Jubair 

dari Ibnu Abbas ia berkata: Orang-orang Yahudi berharap mengungguli orang-orang Aus dan Khazraj 

dengan wasilah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebelum diutusnya. Namun saat Allah 

mengutusnya dan ternyata beliau berasal dari orang- orang Arab, mereka kafir dan membantah apa 

saja yang dikatakan beliau. lalu  Muadz bin Jabal, dan Bisyr bin Al-Barra' bin Ma'rur, saudara Bani 

Salimah berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah, dan 

masuklah ke dalam Islam, karena kalian pernah mengharapkan kemenangan atas kami dengan 

perantara Muhammad, sedangkan kami pada saat itu masih dalam keadaan musyrik. Kalian pernah 

sampaikan kepada kami bahwa beliau telah diutus, dan kalian telah terangkan kepada kami tentang 

sifat-sifat beliau." Salam bin Misykam, salah seorang dari Bani Nadhir berkata: " Namun ia sama sekali 

tidak membawa apa pun yang kami ketahui, dan tidak membawa sesuatu yang pernah kami 

sampaikan kepada kalian.' Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapan mereka dalam firman-Nya 

berikut: 

 

Dan sesudah  datang kepada mereka Al-Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada 

mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat 

kemenangan atas orang-orang kafir, maka sesudah  datang kepada mereka apa yang telah mereka 

ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu (QS. 

al-Baqarah: 89). 

Ibnu Ishaq berkata: Saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam diangat menjadi rasul, dan 

memaparkan tentang perjanjian yang telah Allah ambil dari mereka, Malik bin Ash-Shaif berkata: 

"Demi Allah, kami tidak pernah diberi perjanjian agar percaya kepada Muhammad, tidak pernah pula 

dimintai perjanjian tentang dirinya." Allah Ta'ala menurunkan ayat Al-Qur'an tentang Malik bin Ash-

Shaif: 

 

Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan 

mereka melemparkannya? Bahkan sebahagian besar dari mereka tidak beriman. (QS. al-Baqarah: 

100). 

Ibnu Ishaq berkata: Ibnu Shaluba al-Fithyuni berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: 

"Wahai Muhammad, engkau tidak datang kepada kami dengan membawa sesuatu yang pernah kami 

ketahui, dan Allah tidak menurunkan kepadamu ayat nyata yang mengharuskan kami beriman dan 

mengikutimu." Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapan Ibnu Shaluba ini : 

Dan sebenarnya  Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar 

kepadanya, melainkan orang- orang yang fasik. (QS. al-Baqarah: 99). 

Ibnu Ishaq berkata: Rafi' bin Huraimalah dan Wahb bin Zaid berkata kepada Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam: "Wahai Muhammad, datangkanlah pada kami kitab yang engkau turunkan dari langit 

hingga kami bisa membacanya, lalu pancarkanlah air sungai untuk kami, pasti kami akan beriman, 

mengikuti dan membenarkanmu." Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya mengenai perkataan Rafi' bin 

Huraimalah dan Wahb bin Zaid ini : 

 

Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israel meminta kepada 

Musapada zaman dahulu? Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh 

orang itu telah sesat dari jalan yanglurus. (QS. al-Baqarah: 108). 

Ibnu Ishaq berkata: Huyay bin Akhthab dan saudaranya, Abu Yasir bin Akhthab yaitu  sosok orang 

Yahudi yang memendam dendam kesumat yang amat dalam kepada orang-orang Arab, karena Allah 

memberikan karunia kepada mereka berupa seorang Rasul-Nya Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka 

berdua berupaya sekuat tenaga untuk menjauhkan manusia dari agama Islam dengan segala kapasitas 

yang mereka miliki. Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya tentang mereka berdua: 

 

Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada 

kekafiran sesudah  kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, sesudah  nyata 

bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan 

perintah-Nya. sebenarnya  Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Baqarah: 109). 

 

 

Konflik Antara Orang-orang Yahudi dan Kristen di Hadapan Rasulullah 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat delegasi Kristen Najran sampai di tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam, maka pendeta-pendeta Yahudi itu datang menemui mereka, dan lang- sung terlibat cekcok 

dengan mereka di hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Rafi' bin Huraimalah berkata: 

"Kalian tidak 

mempunyai pegangan." Rafi' bin Huraimalah kafir kepada Isa bin Maryam dan Injil. Seorang delegasi 

Kristen Najran angkat bicara kepada orang-orang Yahudi: "Kalian tidak memiliki pegangan." Dia juga 

mengingkari kenabian Musa dan kafir kepada Taurat. Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya tentang 

ucapan mereka berdua ini : 

 

Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan 

orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,"padahal 

mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, 

mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari 

kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (QS. al-Baqarah: 113). 

Yakni, setiap pihak membaca dalam kitabnya apa yang membenarkan sesuatu yang mereka ingkari 

sendiri. Orang-orang Yahudi kafir kepada Isa bin Maryam, padahal mereka mempunyai kitab Taurat 

yang di dalamnya Allah mengambil janji kepada mereka melalui mulut Musa 'Alaihis-Salam untuk 

membenarkan Isa bin Maryam 'Alaihis Salam. Demikian pula dengan Injil yang diturunkan kepada Isa 

bin Maryam terdapat ayat yang membenarkan Musa 'Alaihis salam dan Taurat yang dia bawa dari 

Allah. Namun ternyata masing-masing pihak mengingkari apa yang ada di tangan lawannya. 

Ibnu Ishaq berkata: Rafi' bin Huraimalah berkata kepada Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam: 

"Wahai Muhammad, jika  engkau benar-benar seorang Rasul yang diutus oleh Allah sebagaimana 

yang engkau katakan, maka mintalah kepada Allah agar Dia berbicara kepada kami hingga kami bisa 

mendengar firman-Nya." Allah Taala menurunkan firman-Nya tentang ucapan Rafi' bin Huraimalah 

ini : 

 

Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan 

kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orangyang 

sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. sebenarnya  

Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yangyakin. (QS. al-Baqarah: 118). 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Shuriya Al-A'war (si Mata Juling) Al-Fithyuni berkata kepada 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Muhammad, petunjuk itu, hanyalah petunjuk yang 

kami miliki. Oleh sebab itu, ikutilah kami, pastilah engkau mendapat  petunjuk." Orang-orang 

Kristen mengatakan hal serupa. lalu  Allah menurunkan firman-Nya tentang ucapan Abdullah 

bin Shuriya dan tentang ucapan orang Kristen ini : 

 

 

Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadipenganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu 

mendapat petunjuk." Katakanlah: "Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan 

bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik. Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami 

beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada 

Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta 

apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di 

antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." Maka jika mereka beriman kepada apa 

yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka 

berpaling, sebenarnya  mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan 

memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Shibghah 

Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dibandingkan  Allah? Dan hanya kepada-Nya lah kami 

menyembah. Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia 

yaitu  Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya 

kepada-Nya kami mengikhlaskan hati, ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani) 

mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakqub dan anak cucunya, yaitu  penganut agama Yahudi 

atau Nasrani? Katakanlah: "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang 

lebih zalim dibandingkan  orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah 

sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. Itu yaitu  umat yang telah lalu; baginya apa 

yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta 

pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. al-Baqarah: 135-141) 

  

 

Komentar Orang Yahudi tentang Pemindahan Kiblat ke Ka'bah 

 

Ibnu Ishaq berkata: jika  arah kiblat dipindahkan dari Syam ke Ka'bah yang terjadi pada bulan Rajab 

genap tujuh puluh bulan sesudah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah, maka Rifa'ah 

bin Qais, Fardam bin Amr, Ka'ab bin Al-Asyraf, Rafi' bin Abu Raff Al-Hajjaj bin Amr sekutu Ka'ab bin Al-

Asyraf, Ar-Rabi' bin Ar-Rabi' bin Abu Al-Huqaiq, dan Kinanah bin Ar-Rabi' bin Abu Al-Huqaiq datang 

menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, lalu berkata: "Wahai Muhammad, mengapa engkau 

beralih dari kiblatmu yang semula, padahal engkau menyatakan bahwa dirimu sebagai penganut 

agama Ibrahim? Kembalilah kepada kiblatmu yang pertama, niscaya kami mengikuti dan 

membenarkanmu." Ucapan ini  memiliki maksud untuk mengeluarkan Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam dari agamanya. lalu  Allah menurunkan firman-Nya: 

 

Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan 

mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitulmakdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?" 

Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang 

dikehendaki-Nya ke jalan yanglurus. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), 

umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul 

(Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblatyang menjadi 

kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan 

siapa yang membelot. Sebagai ujian dan cobaan, Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat 

berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; yakni berupa keyakinan dan 

yang Allah kokohkan dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Yakni keimanan kalian dengan 

kiblat dan pembenaran kalian akan Nabi kalian, dan ikutnya kalian pada kiblat terakhir, dan ketaatan 

kalian pada nabi kalian, agar Allah berikan pahala keduanya secara keseluruhan. sebenarnya  Allah 

Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (QS. al-Baqarah: 142-143) 

lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

 

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan 

memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil haram. Dan di 

mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. (QS. al-Baqarah: 144). 

Ibnu Hisyam berkata: syathrahu artinya nahwahu (ke arahnya). 

 

Dan sebenarnya  orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang 

mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu yaitu  benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali 

tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Dan sebenarnya  jika kamu mendatangkan kepada 

orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), 

mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan 

sebahagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sebenarnya  jika 

kamu mengikuti keinginan mereka sesudah  datang ilmu kepadamu, sebenarnya  kamu kalau begitu 

termasukgolongan orang-orang yang zalim. Orang-orang (Yahudidan Nasrani) yang telah Kami beri 

Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan 

sebenarnya  sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka 

mengetahui. Kebenaran itu yaitu  dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-

orang yang ragu. (QS. al- Baqarah: 144-147). 

 

 

Orang-orang Yahudi Merahasiakan Isi Kebenaran yang Terkandungan dalam Kitab Taurat 

 

Ibnu Ishaq berkata: Muadz bin Jabal saudara Bani Salimah, Sa'ad bin Muadz saudara Bani Abdul Asyhal, 

dan Kharijah bin Zaid saudara Bani Balharits bin Al-Khazraj bertanya kepada beberapa pendeta Yahudi 

mengenai sebagian kandungan Taurat. Hanya saja mereka merahasiakannya serta menolak dengan 

keras untuk memberikan penjelasan. lalu  Allah menurunkan ayat tentang sikap orang-orang 

Yahudi ini : 

 

sebenarnya  orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa 

keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, sesudah  Kami menerangkannya kepada manusia 

dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat 

melaknati, (QS. al-Baqarah: 159). 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyeru orang-orang Yahudi untuk masuk Islam dan 

memperingatkan mereka akan siksa Allah. Raff bin Kharijah dan Malik bin Auf berkata: "Wahai 

Muhammad, kami hanya akan mengikuti apa yang kami peroleh dari pan leluhur kami, karena mereka 

lebih mengen. dan lebih bijak dibandingkan  kami." Lalu Allat menurunkan firman-Nya tentang ucapan 

mereka berdua: 

 

Dan jika  dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: 

"(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang 

kami. "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui 

suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS. al- Baqarah: 170). 

 

 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Mengumpulkan Orang-orang Yahudi di Pasar Bani Qainuqa' 

 

Ibnu Ishaq berkata: sesudah  Allah menjatuhkan kekalahan kepada orang-orang Quraisy di Perang 

Badar, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengumpulkan orang-orang Yahudi di Pasar Bani 

Qainuqa' setibanya beliau di Ma- dinah. Beliau berkata kepada mereka: "Waha: orang-orang Yahudi, 

masuklah kalian ke dalam Islam sebelum Allah menjatuhkan kekalahan pada kalian sebagaimana yang 

menimpa orang-orang Quraisy." Orang-orang Yahud; berkata: "Wahai Muhammad, janganlah engkau 

terpedaya oleh dirimu sendiri. Engkau hanya berhasil membunuh beberapa orang Quraisy yang miskin 

pengalaman dan tidak paham tata cara perang. Demi Allah, jika  engkau memerangi kami, engkau 

pasti akan tahu, bahwa kami benar-benar manusia, dan engkau tidak pernah menjumpai orang-orang 

sehebat kami." Maka Allah Yang Mahamulia menurunkan firman-Nya : 

 

Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: "Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan 

digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya." sebenarnya  telah 

ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di 

jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-

orang muslimin dua kalijumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang 

dikehendaki-Nya. sebenarnya  pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang 

mempunyai mata hati. (QS. Ali imran: 12-13). 

 

 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Masuk ke Baitul Midras 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pada suatu hari, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memasuki Baitul Midras 

(tempat belajar Taurat orang Yahudi) yang pada saat itu dihadiri beberapa orang Yahudi untuk 

menyeru mereka kembali ke jalan Allah. An-Nu'man bin Amr dan Al-Harits bin Zaid berkata kepada 

Rasulullah: "Wahai Muhammad, agama apakah yang engkau anut?' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam bersabda: "Aku menganut agama Ibrahim." An-Nu'man bin Amr dan Al-Harits bin Zaid berkata: 

"sebenarnya  Ibrahim itu orang Yahudi." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika 

demikian, marilah kita kembali kepada Taurat sebagai jalan keluar dari masalah yang ada di antara 

kita." Namun mereka berdua menampik ajakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Lalu Allah 

menurunkan ayat Al-Qur'an tentang keduanya: 

 

Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al-Kitab (Taurat), 

mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; lalu  

sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). Hal itu yaitu  

karena mereka mengaku: "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat 

dihitung." Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. (QS. 

Ali Imran: 23-24). 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat pendeta-pendeta Yahudi dan delegasi Kristen berkumpul di kediaman 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, mereka terlibat adu mulut. 

Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Ibrahim itu yaitu  seorang Yahudi." Delegasi Kristen berkata: 

"Ibrahim yaitu  seorang Kristen." Lalu Allah Ta 'ala menurunkan ayat tentang perselisihan mereka itu: 

 

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hai Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak 

diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? Beginilah kamu, kamu ini 

(sewajarnya) bantah membantah tentang hai yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-

membantah tentang hai yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedangkamu tidak mengetahui. 

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia yaitu  seorang yang 

lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang 

musyrik. " sebenarnya  orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang 

mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan 

Allah yaitu  Pelindung semua orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imrm 65-68). 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Shaif. Adi bin Zaid, dan Al-Harits bin Auf berkata kepada sebagian 

orang Yahudi: "Marilah kita mempercayai apa yang diturunkan kepada Muhammad dan sahabat-

sahabatnya di pagi hari, lalu kita berbondong-bondong mengingkarinya pada sore hari, agar kita bisa 

mengacak-acak agama mereka. Mudar-mudahan mereka melakukan sebagaimana yang kita lakukan 

lalu mereka berpaling dari agamanya." Maka Allah menurunkan firman Nya : 

 

 

 

Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampw adukkan yang hak dengan yang bathil, dan 

menyembunyikan kebenaran, padahal kami mengetahui? Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata 

(kepada sesamanya): "Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apt yang diturunkan 

kepada orang-orang ber iman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada 

akhirnya supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). Dan Janganlah kamu 

percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: "sebenarnya  petunjuk 

(yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada 

seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan 

mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu." Katakanlah: "sebenarnya  karunia itu di tangan Allah, 

Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-

Nya) lagi Maha Mengetahui. " (QS. Ali Imran: 71-73). 

Abu Rafi' al-Qurazhi berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi dan delegasi Kristen Najran saat mereka 

berkumpul di kediaman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan beliau mengajak mereka kepada 

Islam: "Wahai Muhammad, apakah engkau bermaksud agar kami menyembahmu sebagaimana orang- 

orang Kristen menyembah Isa bin Maryam?' Salah seorang dari delegasi Kristen Najran bemama Ar-

Ribbiyusu berkata: "Wahai Muhammad, apakah itu yang engkau kehendaki dari kami, dan engkau 

menyeru kami kepadanya?" Atau sebagaimana yang ia katakan. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

bersabda: "Aku berlindung kepada Allah dari menyembah selain Allah, atau menyuruh orang lain 

beribadah kepada selain Allah. Allah tidak mengutusku demikian, dan tidak menyuruhku pada perkara 

seperti ini." Lalu Allah menurunkan ayat: 

 

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, 

lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan 

penyembah Allah. " Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena 

kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. Dan (tidak wajar pula 

baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia 

menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?" (QS. Ali Imran 79-

80). 

Ibnu Hisyam berkata: Rabbaniyyun yaitu  para ulama dan fuqaha' terkemuka. Kata tunggalnya 

"rabbany" dan derivasi dari kata "rabb" yang berarti sayyid (pemimpin). 

 

Akan memberi minum tuannya dengan khamar (QS. Yusuf: 41), yakni rabb (tuan) 

Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah Yang Maha mulia menyebutkan tentang perjanjian yang telah Dia ambil 

dari mereka dan dari nabi-nabi mereka untuk mengimani Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, 

jika  dia telah diutus di tengah mereka: 

 

Dan (ingatlah), jika  Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yan gAku berikan 

kepadamu berupa kitab dan hikmah, lalu  datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan 

apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya." 

Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?" 

Mereka menjawab: "Kami mengakui." Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan 

Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu." (QS. Ali lmran: 81). 

 

 

Orang-orang Yahudi Berusaha Membuat Fitnah Antara Kaum Anshar 

 

Ibnu Ishaq berkata: Syas bin Qais seorang yang sudah tua bangka dengan kekafiran yang luar biasa 

dan memendam kedengkian yang hebat kepada kaum Muslimin, berjalan melewati beberapa sahabat 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari Aus dan Khazraj dalam sebuah majlis yang menyatukan 

mereka dan mereka berbincang-bincang satu sama salinnya. Melihat keakraban mereka muncullah 

kedengkian dan kejengkelan Syas bin Qais. Dia merasa muak saat menyaksikan persatuan dan 

kebaikan hati mereka dengan Islam sesudah  sebelumnya pada masa jahiliyah mereka saling 

bermusuhan. Syas bin Qais berkata: "Tokoh-tokoh Bani Qailah telah berkumpul di negeri ini. Tidak, 

demi Allah, rasanya tidak sepatutnya bagi kita ikut bersama-sama dengan mereka jika  tokoh-tokoh 

mereka bertemu di dalamnya secara damai." Maka Syas bin Qais memerintahkan seorang pemuda 

Yahudi dengan mengatakan padanya: "Pergilah ke tempat mereka kini beradi lalu duduklah bersama 

mereka! sesudah  itu usik ingatan mereka akan Perang Bu'ats dar perang-perang sebelumnya serta 

lantunkan kepada mereka syair-syair yang dulu pernah mereka lontarkan." 

 

 

Sekilas tentang Perang Bu'ats 

 

Perang Bu'ats yaitu  perang yang terjadi antara Al-Aus melawan Al-Khazraj. Perang ini  

dimenangkan oleh Al-Aus atas Al-Khazraj. Saat itu, Al-Aus dipimpin Hudhair bin Simak Al-Asyhali, Abu 

Usaid bin Hudhair, sedang pemimpin Al-Khazraj pada saa: itu yaitu  Amr bin An-Nu'man Al-Bayadhi 

Pada perang ini  kedua pemimpin ini  tewas terbunuh. 

Perang Bu'ats sangat panjang untuk diurai secara keseluruhan dan saya tidak terpikat untuk 

memamparkannya mengungkapnya secara utuh, karena khawatir memutus pemaparan sirah hidup 

Rasulullah. 

Ibnu Ishaq berkata: Pemuda Yahudi melaksanakan apa yang diperintahkan padanya yang lalu  

kaum muslimin terlibat pembicaraan yang panas antar mereka pada pertemuan ini , saling adu 

mulut hingga mereka bertengkar, dan saling membanggakan dirinya atas orang lain. Bahkan dua orang 

dari Aus dan Khazraj meloncat ke atas hewan kendaraannya. Mereka yaitu  Aus bin Qaidhi salah 

seorang dari Haritsah bin Al-Harits dari Aus dan seorang lagi Jabbar bin Shakr dari Bani Salimah dari 

Khazraj. Keduanya beradu kata secara bergantian, "Bila kalian mau kami akan melakukan hal yang 

sama sebagaimana kita lakukan dahulu!' Kedua belah pihak tersulut emosi. Mereka berkata: "Boleh 

kita lakukan itu dan mari kita bertemu lagi di siang hari. Senjata beradu senjata!" Pada hari yang telah 

ditentukan, mereka pergi ke tempat yang telah disepakati sebelumnya. Peristiwa ini terdengar oleh 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, lalu  beliau berangkat menemui mereka dengan ditemani 

beberapa sahabat dari kaum Muhajirin. Sesampainya di sana Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

bersabda: "Wahai kaum Muslimin, ingatlah Allah. Mengapa kalian mengikuti propaganda jahiliyah, 

padahal aku masih ada di tengah-tengah kalian. Allah telah memberi petunjuk kalian kepada Islam dan 

menjadikan kalian orang yang mulia dengannya, memutus segala kejahiliyahan dari kalian, 

menyelamatkan kalian dari kekufuran serta menyatukan hati kalian!" Kaum Muslimin dari Aus dan 

Khazraj segera menyadari bahwa propaganda jahiliyah yaitu  tipudaya setan, dan merupakan 

konspirasi musuh-musuh mereka. Tangisan mereka meledak, mereka saling merangkul, antara Al-Uas 

dan Al-Khazraj. sesudah  itu, mereka pulang bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan 

patuh dan taat. Allah telah memadamkan dari mereka salah satu konspirasi jahat musuh Allah, Syas 

bin Qais. Lalu Allah menurunkan ayat tentang Syas bin Qais dan perilaku buruknya itu: 

 

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha menyaksikan 

apa yang kamu kerjakan?" Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan 

Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu 

menyaksikan?" Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran: 98-99) 

Sedangkan tentang Aus bin Qaidhi, Jabbar bin Shakr dan pengikutnya masing-masing serta perbuatan 

mereka yang terjebak propaganda kejahiliyahan yang ditebarkan Syas bin Qais kepada mereka, Allah 

menurunkan firman-Nya: 

 

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al-

Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. 

Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan 

Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) 

Allah maka sebenarnya  ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Hai orang-orang yang 

beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu 

mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali 

(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu jika  

kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah 

kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang 

neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dibandingkan nya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya 

kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang 

menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makrufdan mencegah dari yang munkar; 

merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang 

bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yangjelas kepada mereka. Mereka itulah 

orang-orang yang mendapat siksa yang berat, (QS. Ali Imran: 100-105) 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Abdullah bin Salam, Tsa'labah bin Sa'yah, Usaid bin Sa'yah, Asad bin 

Ubaid, dan orang-orang Yahudi lainnya masuk Islam, beriman, membenarkan serta tertarik 

kepadanya, dan sesudah  keislaman mereka kokoh kuat, pendeta-pendeta Yahudi yang masih saja kafir 

berkata: "Tidaklah akan menganut agama Muhammad kecuali orang-orang terjelek di antara Jika 

mereka orang-orang terbaik kami, niscaya mereka tidak akan meninggalkan agama leluhur, dan tidak 

mungkin beralih pada agama lain." Maka Allah menurunkan firman-Nya:  

 

Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca 

ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujus (shalat). (QS. Ali 

Imran: 113). 

Ibnu Hisyam berkata: Makna dari Anaa' al-Lail yaitu  jam-jam malam. Kata tunggalnya yaitu  yaitu  

inyun 

 

Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang makruf, dan 

mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu 

termasuk orang-orang yang shaleh (QS. Ali Imran: 114) 

Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang dari kaum Muslimin memiliki hubungan dekat dengan beberapa 

orang Yahudi, karena ikatan jaminan keamanan dan persekutuan pada masa jahiliyah. sesudah  itu Allah 

Yang Maha tinggi menurunkan ayat yang melarang mereka menjadikan orang-orang Yahudi sebagai 

teman akrab: 

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang 

yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu. 

Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa 

yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-

ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka 

tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. (QS. Ali lmran: 118-119), 

hingga akhir kisah. Yakni, kalian beriman kepada kitab mereka dan kepada kitab yang telah lalu 

sementara mereka kafir dengan kitab kalian. Jadi kalian lebih berhak untuk menyukai mereka dari- 

pada mereka benci kepada kalian. 

Ta'ala melanjutkan firman-Nya, 

 

jika  mereka menjumpai kamu, mereka berkata: "Kami beriman"; dan jika  mereka menyendiri, 

mereka menggigit ujungjari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada 

mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu." sebenarnya  Allah mengetahui segala isi hati. 

" (QS. Ali lmran: 119) 

 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pada suatu hari, Abu Bakar memasuki Baitul Midras dan melihat orang-orang 

Yahudi sedang berkumpul di kediaman salah seorang dari mereka yang benama Finhash, salah seorang 

ulama dan pendeta mereka. Finhash ditemani seorang pendeta Yahudi lainnya yang bernama Asya'. 

Abu Bakar berkata kepada Finhash: "Celaka engkau wahai Finhash, bertakwalah kepada Allah dan 

peluklah agama Islam! Demi Allah, engkau telah mengetahui bahwa Muhammad yaitu  utusan Allah. 

Dia datang dengan membawa kebenaran dari sisi Allah, dan kalian menemukan namanya tertulis di 

dalam Taurat dan Injil. "'Finhash berkata: "Demi Allah, wahai Abu Bakar, kami tidak butuh Allah, 

sebaliknya Allah-lah yang butuh pada kami. Kami tidak merendahkan diri kepada-Nya sebagaimana 

Dia merendahkan diri kepada kami. Kami tidak butuh Dia, Dia-lah yang butuh kepada kami. jika  

Allah lebih kaya dibandingkan  kami, pastilah Dia tidak meminjam kekayaan kami seperti dikatakan sahabat 

kalian. Allah melarang kalian dari riba, dan Dia memberi riba kepada kami. Jika Allah lebih kaya dari 

pada kami, Dia tidak memberi kami riba." Abu Bakar meluap ama- rahnya mendengar ucapan Finhash 

ini , lalu  ia memukul wajah Finhash dengan pukulan keras, sambil berkata: "Demi Dzat 

yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika tidak ada perjanjian di antara kita, akan ku tampar wajahmu wahai 

musuh Allah." Mendapat perlakuan seperti itu dari Abu Bakar, Finhash pergi menghadap Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  berkata kepada beliau: "Wahai Muhammad, perhatikanlah 

tindakan sahabatmu itu terhadap diriku!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada Abu 

Bakar: "Apa yang membuatmu melakukan itu semua, wahai Abu Bakar?" Abu Bakar berkata: "Wahai 

Rasulullah, sebenarnya  musuh Allah ini telah melontarkan sebuah perkataan yang sungguh 

melampaui batas. Ia berkata bahwa Allah membutuhkan mereka, dan mereka lebih kaya dibandingkan  

Allah. jika  ia mengatakan itu, meluaplah amarahku karena Allah atas perkataannya tadi, lalu aku 

pukul wajahnya." Finhash membantah bahwa dia mengatakan seperti itu. Ia berkata: "Aku tidak 

pernah mengatakan semua itu." lalu  Allah menurunkan ayat tentang ucapan Finhash dan 

membenarkan Abu Bakar, 

 

sebenarnya  Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: "sebenarnya  

Allah miskin dan kami kaya." Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka 

membunuh nabi-nabi