Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 9. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 9. Tampilkan semua postingan

Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 9

 


r yang mereka. Pada pertemuan ini , 

Al-Walid bin Al-Mughirah berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Quraisy, musim haji sudah tiba 

dan rombongan orang-orang Arab akan berduyun-duyun ke tempat kalian. Mereka mengetahui sepak 

terjang sahabat kalian ini (maksudnya Rasulullah). Oleh sebab itulah, aku harap kalian bersatu padu, 

jangan ada perselisihan lagi di antara kalian." Mereka berkata: "Wahai Abu Abdu Syams, bicaralah dan 

utarakanlah pendapatmu, pasti pendapat itulah yang kami jadikan sebagai sandaran." Al-Walid bin Al-

Mughirah berkata: "Silahkan utarakan lebih dulu pendapat kalian, dan aku akan dengar ucapan 

kalian." Mereka berkata: "Kita akan buat isu bahwa Muhammad yaitu  seorang dukun." Al-Walid bin 

Al-Mughirah berkata: "Demi Allah, itu isu konyol, sebab ucapannya yang tersembunyi yang tidak 

terdengar bukanlah ucapan seorang dukun tidak pula sajaknya." Mereka berkata: "Bagaimana kalau 

isunya yaitu  orang gila!?" Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Tidak, itu lebih konyol lagi! Mereka 

berkata: "Bagaimana kalau diganti dengan isu penyair?" Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Bukan, ia 

bukan penyair, kita sudah tahu seluruh bentuk syair dan perkataannya tidak termasuk syair." Mereka 

berkata: "Bagaimana kalau ahli sihir?" Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Tidak, sebab Muhammad 

tidak ada kaitannya dengan 

itu." Mereka berkata: "Jika demikian lalu bagaimanakah pendapatmu wahai Abu Abdu Syams?" Al-

Walid bin Al-Mughirah berkata: "Demi Allah, sebenarnya  ucapan Muhammad itu demikian indah 

dan syahdu dan penuh kekuatan. Maka jika kalian mengatakan seperti ucapan di atas, mudah 

disimpulkan bahwa ucapan kalian yaitu  dusta. sebenarnya  perkataan kalian yang mungkin lebih 

mengena tentang dirinya, yaitu  hendaklah kalian mengatakan bahwa dia seorang penyihir. Ia 

membawa sihir yang memisahkan seorang anak dengan ayahnya, seseorang dengan saudaranya, 

suami dengan istrinya, dan seseorang dengan keluarganya. Mereka bercerai-berai akibat kekuatan 

sihirnya." 

Maka jika  Arab berdatangan ke kota Makkah di musim haji orang-orang Quraisy duduk di jalan-jalan 

umum. Tidak ada seorang pun yang berjalan melintasi mereka, melainkan mereka mewanti-wanti 

perihal Muhammad dan menjelaskan persoalan Muhammad kepadanya. lalu  Allah Ta 'ala 

menurunkan firman-Nya tentang Al-Walid bin Al-Mughirah: 

  

 

Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian. Dan Aku jadikan 

baginya harta benda yang banyak, dan anak-anak yang selalu bersama dia, dan Ku lapangkan baginya 

(rezeki dan kekuasaan) dengan selapang-lapangnya, lalu  dia ingin sekali supaya Aku 

menambahnya. Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sebenarnya  dia menentang ayat-ayat 

Kami (Al-Qur’an). (QS. Al-Muddatstsir: 11-16). Kata 'aniid pada ayat ini  artinya yaitu  me- 

musuhi," 

Ibnu Hisyam berkata 'aniid artinya membangkang dan menentang. Ru'bah bin Al Ajjaj berkata: Kami 

yaitu  penghantam kepala orang-orang yang membangkang dan menentang. Bait di atas ada dalam 

kumpulan syair Ru'bah bin Al-Ajjaj. 

Ibnu Ishaq berkata: Allah Ta'ala juga menurunkan ayat: 

 

Aku akan membebaninya mendaki pendakian yangmemayahkan. sebenarnya  dia telah me- 

mikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya), maka celakalah dia! Bagaimanakah dia 

menetapkan?, lalu  celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan?, lalu  dia memikirkan, 

sesudah itu dia bermasam muka dan merengut." (QS. al-Muddatstsir: 17-22). 

Ibnu Hisyam berkata: Basar artinya wajahnya menampakkan rasa tidak suka. Ru'bah bin Al A'jaj 

berkata: 

Orang yang berpostur besar dan dua tulang rahangya keras makan dengan gigi depannya 

Dia mensifati ketidaksukaan pada wajahnya. Bait syair ini  ada dalam kumpulan syair-syair 

Ru'bah bin Al-Ajjaj. 

Ibnu Ishaq berkata: Allah juga menurunkan ayat: 

 

lalu  dia uerpaling (dart kebenaran) dan menyombongkan diri, lalu dia berkata: "(Al Quran) ini 

tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu), ini tidak lain hanyalah perkataan 

manusia." (QS. al- Muddatstsir: 23-25). 

Allah juga menurunkan ayat tentang Rasul-Nya Shallalahu 'alaihi wa Sallam, apa yang beliau bawa dari 

Allah Ta'ala, orang-orang yang menyebarkan fitnah keji terhadap beliau, dan terhadap apa yang 

Rasulullah bawa dari Allah: 

 

Sebagaimana (Kami telah memberi peringat- an), Kami telah menurunkan (adzab) kepada orang-

orang yang membagi-bagi (Kitab Allah), (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Qur'an itu 

terbagi-bagi. (yaitu) orang-orang yang telah menjadikan Al Qur'an itu terbagi- bagi tentang apa yang 

telah mereka kerjakan dahulu. " (QS. al-Hijr: 90-93). 

Ibnu Hisyam berkata: "Kata tunggal idhiin ialah idhah. Orang-orang Arab berkata, 'Adh-dhawhu.' 

Artinya mereka membagi-baginya. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata: 

Agama Allah itu tidak bisa dibagi-bagi 

Bait di atas yaitu  penggalan dari syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj. 

Ibnu Ishaq berkata: Lalu orang-orang Quraisy menjelek-jelekkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

seperti itu kepada orang-orang yang mereka jumpai. Jadi sejak musim haji tahun itu, orang-orang Arab 

mulai mengenal sepak terjang Rasulullah shallalahu 'alaihi wa Sallam dan perbincangan tentang beliau 

segera menyebar ke seantero negeri Arab. 

Ibnu Ishaq berkata: Menyaksikan hal ini, Abu Thalib khawatir orang-orang Arab berbondong-bondong 

akan mendatanginya, oleh karena itu ia segera menggubah syair. Dalam syairnya, ia meminta 

perlindungan dengan kesucian Makkah, dan kedudukan dirinya di dalamnya. Pada saat yang sama dia 

jelaskan kepada mereka dan orang-orang selain mereka dalam syairnya, bahwa ia tidak akan pernah 

menyerahkan Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan tidak meninggalkannya selama-lamanya 

hingga tetes darah terakhir. 

Ibnu Hisyam berkata: Aku diberitahu bahwa penduduk Madinah mengalami musim kemarau yang 

panjang, lalu mereka menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan mengadukan apa yang 

mereka alami. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam naik ke atas podium dan memohon air hujan 

kepada Allah untuk mereka. Tak lama lalu , hujan turun dan orang-orang dari kawasan yang tidak 

bisa menampung air melaporkan bahwa telah terjadi banjir. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

berdoa: "Ya Allah, turunkanlah di sekitar kami, dan tidak di atas kami."28 Sejika  itu juga mendung 

menipis di Madinah dan hujan sekitarnya menjadi reda. lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam bersabda: "Jika Abu Thalib melihat peristiwa ini, ia pasti sangat senang." Beberapa sahabat 

bertanya kepada beliau, "Sepertinya engkau menginginkan syair Abu Thalib." 

Beliau bersabda: "Benar."29 

 

Ibnu Ishaq berkata: Al-Ghayathil ber- asal dari Bani Sahm bin Amr bin Hushaish. Abu Sufyan yaitu  

anak Harb bin Umayyah. Muth'im yaitu  anak Adi bin Naufal bin Abdu Manaf. Zuhair yaitu  anak Abu 

Umayyah bin Al Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum dan ibunya yaitu  Atikah binti Abdul 

Muthalib. 

Ibnu Ishaq berkata: Asid dan anak sulungnya yakni Attab bin Asid bin Abu Al-Ish bin Umayyah bin Abdu 

Syams bin Abdu Manaf bin Qushay. Utsman yaitu  anak Ubaidillah, saudara Thalhah bin Ubaidillah 

At-Taimi. Qunfudz yaitu  anak Umair bin Jud'an bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah. Abu 

Al-Walid yaitu  Utbah bin Rabi'ah. Ubay yaitu  Al-Akhnas bin Syariq Ats-Tsaqafi, sekutu Bani Zuhrah 

bin Kilab. 

Ibnu Hisyam berkata: Ia juluki Al-Akhnas, karena ia tidak ikut Perang Badar. Nama aslinya yaitu  Ubay, 

ia berasal dari Bani Ilaj, yaitu Ilaj bin Salamah bin Auf bin Uqbah. 

Al-Aswad yaitu  anak Abdu Yaghuts bin Wahb bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Subay'i yaitu  

anak Khalid, saudara Al-Harits bin Fihr. Naufal yaitu  anak Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin 

Qushay. Naufal ini yaitu  anak Al-Adawiyah dan termasuk gembong-gembong penjahat Quraisy. 

Dialah yang menyekap Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Thalhah bin Ubaidillah jika  keduanya masuk 

Islam. Oleh karena itu, Abu Bakar dan Thalhah bin Ubaidillah dinamakan Al-Qarinaini. Naufal dihabisi 

Ali bin Abu Thalib di Perang Badar. Abu Amr yaitu  Qurazhah bin Abdu Amr bin Naufal bin Abdu 

Manaf. Kaum yang dimaksud yaitu  Bani Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. Nama-nama itulah yang 

disebutkan Abu Thalib dalam syairnya. 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala berita tentang 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyebar luas ke berbagai kalangan orang Arab hingga ke 

banyak negeri termasuk Madinah. Sehingga tidak ada satu pemukiman di Arab yang lebih tahu tentang 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang melebihi pemukiman Al-Aus dan Al-Khazraj. Mereka 

mendengar kabar tentang beliau dari pendeta-pendeta Yahudi. Pendeta-pendeta Yahudi yaitu  

sekutu-sekutu mereka dan tinggal bersama di negeri mereka. jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam menjadi wacana di Madinah dan mereka membicarakan benturan yang terjadi antara 

Rasulullah dengan orang-orang Quraisy, maka berkatalah Abu Qais bin Al-Aslat saudara Bani Waqif 

dalam sebuah (syairnya lengkapnya di bawah ini) 

Ibnu Hisyam berkata: Ibnu Ishaq menasabkan Abu Qais kepada Bani Waqif, padahal nasabnya pada 

peristiwa Gajah dinisbatkan kepada Khathmah. Ini terjadi karena dalam tradisi Arab bisa jadi 

seseorang menasabkan dirinya kepada nasab saudara kakeknya yang lebih masyhur. 

Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah bercerita kepadaku bahwa Al-Hakam yaitu  anak Amr Al-Ghifari 

dari anak keturunan Nu'ailah, saudara Ghifar yaitu Ghifar bin Mulail. Nu'ailah yaitu  anak Mulail bin 

Dzamrah bin Bakr bin Abdu Manat. Mereka berkata bahwa Utbah yaitu  anak Ghazu As-Sulami, 

padahal ia anak Mazin bin Manshur. Sulaim yaitu  anak Manshur. 

Ibnu Hisyam berkata: Jadi Abu Qais bin Al-Aslat berasal dari Bani Wail. Wail, Waqif, dan Khathmah 

yaitu  satu saudara dari Al-Aus. 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Qais, dia sangat mencintai Quraisy, memiliki jalinan perbesanan dengan 

mereka, beristrikan Arnab binti Asad bin Abdi Uzza bin Qushay, dan tinggal di tengah-tengah orang-

orang Quraisy selama bertahun-tahun bersama istrinya- mengucapkan syairnya. Dalam syairnya Abu 

Qais bin Al-Aslat mengagung-agungkan kehormatan Quraisy, mencegah orang-orang Quraisy terlibat 

perang di Makkah, memerintahkan mereka menahan dari menyerang sebagian yang lain, 

menyebutkan kelebihan dan mimpi-mimpi mereka, memerintahkan mereka menahan diri dari 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, menjelaskan bagaimana Allah memperlakukan mereka, dan 

perlindungan-Nya ter- hadap mereka dari pasukan gajah, serta tipu daya-Nya pada pasukan gajah itu. 

Maka berkecamuklah perang antara Abs melawan Fazarah. Hudzaifah bin Badr dan saudaranya, Hamal 

bin Badr tewas. Qais bin Zuhair bin Jadzimah berkata mengungkapkan kesedihannya atas tewasnya 

Hudzaifah, 

Betapa banyak kesatria dipanggil kesatria, padahal ia bukanlah kesatria  

Di Al-Habaah ada kesatria yang sudah terbukti satria 

Tangisilah Hudzaifah, karena kalian tak akan dapatkan orang seperti dia  

Walaupun seluruh kabilah telah musnah, tak kan lagi dicipta orang seperti dia 

 

Bait di atas yaitu  penggalan dari syair- syair Qais bin Zuhair. 

Qais bin Zuhair juga berkata: 

Ketahuilah pemuda Hamal bin Badr telah berlaku zalim 

Yang mengantarkan pada kebinasaan 

 

Bait syair di atas yaitu  penggalan dari syair-syair Qais bin Zuhair. 

Al-harts bin Zuhair, saudara Qais bin Zuhair berkata: 

Bukan kebanggaan yang aku tinggalkan di Al- Haba 'ah 

Di sana Hudzaifah terluka tertusuk tombak 

 

Bait syair ini  ialah penggalan dari syair-syair Al-Harts bin Zuhair. 

Ibnu Hisyam berkata: Disebutkan bahwa, Qais mengirim kuda Dahis dan kuda Al- Ghabra, sedangkan 

Hudzaifah mengirim kuda Al-Khaththar kuda Al-Hanfa'. Namun kisah pertama tadi jauh lebih benar. 

Kisah ini  demikian panjang dan saya tidak ingin memotong kronologi sirah Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam. 

Ibnu Hisyam berkata: Adapun perkataannya: 'Perang Hathib maka yang dimaksud yaitu  Hathib bin 

Al-Harits bin Qais bin Hai- syah bin Al-Harts bin Umayyah bin Muawiyah bin Malik bin Auf bin Amr bin 

Auf bin Malik bin Al-Aus. Hathib bin Al-Harits membunuh orang Yahudi yang bertetangga dengan Al- 

Khazraj. lalu  di tengah malam, Hathib bin Al-Harits didatangi Yazid bin Al-Harits bin Qais bin 

Malik bin Ahmar bin Haritsah bin Tsalabah bin Ka'ab bm Al-Khazraj bin Al-Harts bin Al-Khazraj yang 

biasa juluki Ibnu Fushum. Ibunya Fushum berasal dari kabilah Al-Qain bin Jasr dengan beberapa orang 

dari Bani Al-Harits bin Al-Khazrah lalu mereka membunuh Hathib bin Al-Harits. Perang meletus antara 

Al-Aus dan Al-Khazraj. Mereka saling menyerang dengan hebat dan di akhir perang kemenangan di 

peroleh Al-Khazraj atas Al-Aus. Pada perang ini , Suwaid bin Shamit bin Khalid bin Athiyyah bin 

Hauth bin Habib bin Amr bin Auf bin Malik bin Al-Aus terbunuh. Ia dihabisi Al-Mujadzdzar bin Dziyad 

al Balawi yang nama aslinya yaitu  Abdullah bin Dziyad Al-Balawi, sekutu Bani AUI Din Al-Khazraj. 

Pada Perang Uhud, Al- Mujadzdzir bin Dziyad ikut bersama Rasu¬lullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Al-Harits bin Suwaid bin Shamit juga ikut Perang Uhud. jika  Al-Harits bin Suwaid melihat Al-

Mujadzdir lengah, ia menghabisi sebagai bentuk balas dendam atas kematian ayahnya. Pembahasan 

hal ini akan saya paparkan pada tempatnya, insya Allah. 

Perang meletus kembali lagi antara mereka, namun saya tidak akan membahasnya lagi, karena sudah 

dijelaskan pada bahasan tentang Perang Dahis. 

Ibnu Ishaq berkata: Hakim bin Umayyah bin Haritsah Al-Auqash As-Sulami, sekutu Bani Umayyah yang 

telah memeluk Islam bercerita mengenai persekongkolan kaumnya untuk memusuhi Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

 

 

Perlakuan Qaum Quraisy kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari Kaumnya 

 

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy semakin menggencarkan teror kepada Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam dan terhadap orang-orang yang masuk mengikutinya. Mereka memobilisasi orang-

orang bodoh untuk mendustakan, mengusik dan menuduh beliau sebagai penyair, penyihir, dukun, 

dan 

mereka sukai; menghina agama mereka, meninggalkan berhala-berhala mereka, dan tidak mengikuti 

kekafiran mereka. 

Ibnu Ishaq berkata: Yahya bin Urwah bin Zubair bercerita kepadaku dari ayahnya, Urwah bin Zubair 

dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash. Urwah bin Zubair berkata bahwa aku pernah bertanya kepada 

Abdullah bin Amr: Berapa kali engkau melihat orang-orang Quraisy meneror Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam? 

Abdullah bin Amr berkata: Suatu waktu, aku bertemu tokoh-tokoh Quraisy di Hijr. Mereka 

membicarakan sepak terjang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka berkata: sebelumnya, 

kami tidak pernah bisa bersabar terhadap sebuah persoalan sesabar menghadapi laki-laki ini 

(Rasulullah). Ia membatilkan mimpi-mimpi kita, mengata-ngatai para leluhur dan mencaci maki agama 

kita, memecah belah persatuan kita serta menghina Tuhan-tuhan kita. 

jika  mereka asyik berdiskusi, tiba-tiba Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam muncul di depan 

mereka lalu melakukan thawaf di Ka'bah. jika  beliau berjalan melintasi mereka, mereka berbisik 

menghina beliau. 

Abdullah bin Amr berkata: Rasulullah melanjutkan langkahnya. jika  beliau melewati mereka untuk 

kedua kalinya, mereka melakukan penghinaan sebagaimana sebelumnya. 

Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan melewati mereka untuk ketiga kalinya, dan 

mereka menghina beliau seperti sebelumnya, beliau berhenti lalu  berkata kepada mereka: 

"Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah, apakah kalian tidak tahu bahwa aku datang untuk 

membinasakan kalian? 

Abdullah bin Amr berkata: Perkataan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam itu amat menusuk hati 

orang-orang Quraisy, hingga salah seorang dari mereka terdiam bagaikan patung. sesudah  mendengar 

ucapan ini  mereka berusaha menenangkan beliau dan berpura-pura meminta maaf dengan 

kata-kata yang sebaik mungkin. Ia berkata: "Tinggalkan kami wahai Abu Al-Qasim. Demi Allah, engkau 

bukan orang bodoh." 

Abdullah bin Amr berkata: lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam meninggalkan tempat itu. 

Esok harinya, kembali orang-orang Quraisy mengadakan pertemuan di Hijr. Sebagian di antara mereka 

berkata kepada sebagian yang lain: "Apakah kalian masih ingat kejadian kemarin di tempat ini? 

Sayang, jika  ia muncul di tengah kalian dengan memperlihatkan apa yang kalian benci, kalian 

membiarkannya?" jika  mereka dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam muncul lagi ke tengah-tengah mereka. Mereka lalu melompat ke arah Rasulullah dan mengitari 

beliau sambi berkata: "Engkaukah orangnya yang mengatakan ini dan itu." Karena sebelum ini, beliau 

menghina sesembahan dan agama mereka. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Benar, 

akulah yang mengatakan semua itu". Abdullah bin Amr berkata: "Aku melihat seorang dari mereka 

memegang baju Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam." Tiba-tiba, Abu Bakar melewati mereka. Abu 

Bakar berkata: "Apakah kalian akan membunuh seseorang hanya karena ia mengatakan Tuhanku 

hanyalah Allah?" lalu merekapun bubar sejika . Itulah gangguan terberat yang pernah dilakukan 

orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang pernah aku saksikan.30 

 

Ibnu Ishaq berkata: Sebagian orang dari keluarga besar Ummu Kaltsum, putri Abu Bakar berkata 

bahwa Ummu Kaltsum berkata kepadaku: "Saat Abu Bakar pulang ke rumah. Orang-orang Quraisy 

menarik jenggot Abu Bakar hingga membuat rambutnya berantakan. Abu Bakar memang memiliki 

rambut yang tebal." 

Ibnu Hisyam berkata: Sebagian pakar berkata kepadaku bahwa cobaan paling berat yang dialami 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari orang-orang Quraisy yaitu  bahwa pada suatu hari beliau 

keluar rumah lalu semua orang mendustakannya dan mempermainkannya. Rasulullah Shallalahu 

alaihi wa Sallam lalu  pulang ke rumahnya dan mengenakan selimut karena sedih atas apa yang 

menimpa dirinya. lalu  Allah menurunkan firman-Nya: Hai orang yang berkemul (berselimut), 

bangunlah, lalu berilah peringatan! (QS.Al-Muddatstsir: 1-2). 

 

 

Hamzah Masuk Islam 

 

Ibnu Ishaq berkata: Aku diberitahu oleh orang Aslum: Pernah suatu jika , Abu Jahal berjalan 

melewati Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di bukit Shafa. Ia lalu mengganggu, mencaci maki dan 

melampiaskan dendamnya kepada Rasulullah karena dianggap menghina agamanya dan melecehkan 

ibadahnya. Meski begitu Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam tidak menimpalinya sedikit pun. jika  

itu mantan budak wanita Abdullah bin Jud an bin Amr bin Kaab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah 

mendengar apa yang dikatakan oleh Abu Jahal kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Usai 

mengumpat beliau, Abu Jahal pergi meninggalkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menuju ke 

balai pertemuan orang-orang Quraisy di samping Ka'bah lalu duduk bersama-sama dengan mereka. 

Tak lama lalu , Hamzah bin Abdul Muthalib Radhiyallahu Anhu datang dengan memanggul anak 

panahnya dari berburu. Ia yaitu  sosok yang muda yang disegani di kalangan orang-orang Quraisy dan 

suka di hina. jika  ia berjalan melewati mantan budak wanita tadi dan sesudah  Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam kembali ke rumahnya, mantan budak wanita ini  berkata kepadanya: "Wahai 

Abu Umarah, andai saja engkau tadi saksikan apa yang dilakukan Abu Al-Hakam bin Hisyam terhadap 

keponakanmu, Muhammad! Ia, mengganggu keponakannya, mencaci-makinya, dan melakukan hal-

hal yang tidak disukainya. Lalu ia pergi dan Muhammad tidak menimpali ucapannya sedikit pun." 

Hamzah bin Abdul Muthalib marah karena Allah ingin memuliakannya. Ia pergi mencari Abu Jahal 

tanpa memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Ia siap-siap jika bertemu dengan Abu Jahal, dia akan 

memukulnya. 

Tatkala Hamzah memasuki masjid, ia melihat Abu Jahal sedang duduk berdiskusi dengan orang-orang 

Quraisy, lalu ia berjalan menuju ke arahnya. jika  sudah berada tepat di depannya, ia mengangkat 

busur panahnya lalu  menghajar Abu Jahal dengannya hingga menderita luka sangat parah. Ia 

berkata: "Apakah engkau mencaci-maki keponakanku, padahal aku seagama dengannya, dan aku 

bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah seperti yang ia saksikan? Silahkan balas, jika engkau 

mampu!" Beberapa orang dari Bani Makhzum mendekat kepada Hamzah untuk menolong Abu Jahal, 

namun Abu Jahl berkata: "Biarkan saja Abu Umarah. Demi Allah, aku telah menghina keponakannya 

dengan penghinaan yang buruk." Hamzah sejak peristiwa itu resmi masuk Islam, dan mengikuti 

ucapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Tatkala Hamzah masuk Islam, orang-orang Quraisy menyadari sepenuhnya bahwa Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam telah kuat, terjaga, dan Hamzah pasti melidunginya. Karena itulah, mereka 

menghentikan sebagian gangguan mereka terhadapnya. 

Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ziyad bercerita kepadaku dari Muhammad bin Ka'ab bin Al-Qurazhi yang 

berkata bahwa aku pernah diberitahu bahwa Utbah bin Rabi'ah sang tokoh Quraisy berkata jika  ia 

sedang duduk di balai pertemuan Daar An-Nadwah milik orang-orang Quraisy dan jika  itu Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang duduk sendirian di masjid: "Hai orang-orang Quraisy, bagaimana 

kalau aku berdiplomasi dengan Muhammad dan mengajukan tawaran-tawaran? Siapa tahu ia 

menerima sebagiannya lalu  kita berikan apa yang diminta selanjutnya ia akan menghentikan 

dakwahnya?" Peristiwa ini terjadi jika  Hamzah bin Abdul Muthalib telah masuk Islam, dan mereka 

melihat sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam semakin banyak dan menyebar. 

Orang-orang Quraisy berkata: "Baiklah, wahai Abu Al-Walid. Temuilah dan bicaralah dengannya!" 

lalu  Utbah pergi ke tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan duduk di dekat beliau. Ia 

berkata: 'Hai keponakanku, sebenarnya  engkau masih memiliki ikatan kekeluargaan dengan kami. 

Engkau mempu nyai kehormatan di keluarga dan memiliki keluhuran nasab. Engkau telah merusak 

kemapanan kaummu. Engkau memecah belah persatuan mereka, mencemoohkan mimpi-mimpi 

mereka, mencaci-maki sesembahan dan agama mereka, dan mengkafirkan leluhur mereka yang telah 

meninggal dunia. Dengarkan perkataanku, sebab aku akan mengajukan beberapa tawaran yang bisa 

engkau pikirkan dan semoga engkau bisa menerima sebagian tawaran-tawaran ini .” 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata kepada Utbah: "Katakan, wahai Abu Al-Walid, aku pasti 

menyimak apa yang engkau katakan!" Utbah berkata: "Wahai keponakanku, jika tujuan dakwahmu 

untuk menginginkan harta, maka kami akan himpun seluruh harta kami agar engkau menjadi orang 

terkaya di antara kami. Jika tujuannya kehormatan, kami akan angkat engkau sebagai pemimpin dan 

kami tidak memutuskan satu perkarapun tanpamu. Jika tujuannya kekuasaan, maka kami akan angkat 

engkau sebagai raja. Jika yang datang kepadamu yaitu  makhluk halus yang tidak sanggup engkau 

usir, maka kami mencarikan dokter untukmu dan mengeluarkan harta kami hingga engkau sembuh 

darinya, karena boleh jadi ini mengalahkan orang yang dimasukinya hingga ia sembuh darinya." Atau 

seperti dikatakan Utbah, hingga dia tuntas. 

jika  Utbah selesai bicara, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Apakah engkau sudah 

selesai bicara, wahai Abu Al- Walid?" Utbah menjawab: "Ya, sudah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam bersabda: "Maka simaklah baik-baik apa yang akan aku katakan." lalu  Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam membaca sebuah ayat: 

 

 

Bismillahi Ar-Rahmaani Ar-Rahiim. Haa Miim. Diturunkan dari Tuhan Yang Maha Pemurah lagi Maha 

Penyayang. Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang 

mengetahui, yang membawa berita gembira dan yang membawa peringatan, tetapi kebanyakan 

mereka berpaling (dibandingkan nya); maka mereka tidak (mau) mendengarkan. Mereka berkata: "Hati 

kami berada dalam tutupan (yang menutupi) apa yang kamu seru kami kepadanya dan di telinga kami 

ada sumbatan dan antara kami dan kamu ada dinding, maka bekerjalah kamu; sebenarnya  kami 

bekerja (pula)." (QS. Fush- shilat: 1-5). Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membacakan 

kelanjutan ayat-ayat di atas. Sementara Utbah, setiap kali ia mendengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam membacakan ayat-ayat kepadanya, ia diam mendengarkannya dengan serius sambil 

bersandar dengan kedua tangannya. Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai pada ayat 

Sajdah, beliau sujud, lalu  beliau bersabda, "Hai Utbah, engkau telah menyimak dengan jelas apa 

yang baru saja engkau dengar. Kini, terserah kepadamu mau dibawa kemana apa yang engkau baru 

dengarkan itu." 

Utbah pulang menemui sahabat-sahabatnya. Sebagian di antara mereka berkata kepada sebagian 

yang lain: "Kami bersumpah dengan asma Allah, sungguh, Abu Al-Walid datang ke temp at kalian 

dengan wajah yang berbeda dengan wajah saat ia berangkat." 

jika  Utbah telah duduk, mereka berkata kepadanya: "Apa yang telah terjadi, wahai Abu Al-Walid?" 

Utbah menjawab: "Demi Allah, baru saja aku mendengar perkataan yang belum pernah aku dengar 

sebelum ini. Demi Allah, perkataan ini  bukan syair, bukan sihir, bukan perdukunan. Wahai orang-

orang Quraisy, dengarkan aku! Serahkan perkara Quraisy kepadaku, biarkanlah orang itu dengan apa 

yang ia lakukan, dan biarkanlah dial, Demi Allah, ucapannya yang aku dengar tadi pada suatu saat akan 

menjelma menjadi kekuatan yang besar. Jika saja ucapannya ini  dimiliki orang-orang Arab, 

mereka sudah merasa cukup dengannya tanpa kalian. Jika ia berhasil mengalahkan orang-orang Arab, 

maka kekuasaannya ialah kekuasaan kalian, dan kejayaannya yaitu  kejayaan kalian juga, lalu  

kalian menjadi manusia yang paling berbahagia karenanya." Mereka berkata: "Ia telah menguna-

guniai mu dengan mantranya, wahai Abul Walid." Utbah berkata: "Ini hanya pendapatku saja tentang 

dia. Terserah kalian, mau menerima atau tidak?!"31 

 

 

 

Apa yang Terjadi Antara Rasulullah dengan Tokoh-tokoh Quraisy dan Tafsir Surat Al-Kahfi 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pasca kejadian ini , Islam menyebar luas di Makkah baik di kalangan laki-laki 

maupun wanita-wanita di kabilah-kabilah Quraisy. Orang-orang Quraisy memenjara dan menyiksa 

siapa saja yang bisa mereka tangkap, sebagaimana disampaikan kepadaku oleh sebagian orang 

berilmu dari Sa id bin Jubair dan dari Ikrimah, mantan budak Ibnu Abbas dari Abdullah bin Abbas 

(Radhiyallahu Anhuma,).32 

 

Maka berkumpullah tokoh-tokoh Quraisy Utbah bin Rabi'ah, Syaibah bin Rabi'ah, Abu Sufyan bin Harb, 

An-Nadhr bin Al-Harts bin Kildah saudara Bani Abduddar, Abu Al-Bakh- turi bin Hisyam, Al-Aswad bin 

Al-Muthalib bin Asad, Zam'ah bin Al-Aswad, Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu Jahal bin Hisyam, Abdullah 

bin Abu Umayyah, Al-Ash bin Wail, Nubaih Munabbih, mereka Umayyah bin Khalaf dan lainnya. 

Mereka mengadakan rapat sesudah  matahari terbenam di belakang Ka'bah. Sebagian dari mereka 

berkata kepada sebagian yang lain: "Pergilah salah seorang dari kalian kepada Muhammad lalu  

bicaralah dengannya, dan berdebatlah dengannya hingga kalian bisa mengajukan argumen-argumen." 

Mereka mengutus seseorang dengan membawa pesan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: 

"sebenarnya  kaummu sedang berkumpul membicarakan sepak terjangmu. Mereka 

mengundangmu untuk berdiskusi. Oleh sebab itulah, pergilah engkau ke tempat mereka berkumpul!" 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan bergegas mendatangi mereka karena mengira ada per- 

ubahan sikap positif pada mereka. Beliau menaruh perhatian demikian besar kepada mereka, 

mengharapkan mereka memperoleh petunjuk, dan sedih atas kerusakan mereka. jika  beliau telah 

duduk bersama mereka, salah seorang dari mereka berkata: "Muhammad, Demi Allah, kami belum 

pernah melihat ada seorangpun dari Arab yang bersikap lancang kapada kaumnya melebihi sikap 

lancanganmu kepada kaummu. Sungguh, engkau telah menghina para leluhur. Engkau mencela agama 

dan melecehkan sesembahan kami. Engkau mendungu-dungukan mimpi-mimpi dan mencerai-

beraikan. Jika tujuan dakwahmu menginginkan harta kekayaan, maka akan kami himpun seluruh 

kekayaan kami hingga engkau menjadi orang terkaya di antara kami. Jika tujuannya kehormatan, maka 

kami akan angkat engkau sebagai pemimpin kami. Jika engkau ingin menjadi raja, kami angkat sebagai 

raja kami. Jika apa yang engkau alami yaitu  karena bisikan makhluk halus yang tidak mampu engkau 

usir, maka kami akan mencari dokter dan mengeluarkan biaya yang besar hingga engkau sembuh 

darinya." 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka: "Apa kalian membicarakan sepak 

terjang aku? Dakwahku sama sekali tidak bertujuan mendapat  kekayaan, kehormatan atau 

kekuasaan atas kalian. Allah mengutusku kepada kalian sebagai Rasul, menurunkan Al-Kitab kepadaku, 

dan memerintahkanku memberi kabar gembira dan peringatan untuk kalian. Aku sampaikan firman- 

firman Tuhanku kepada kalian dan memberi nasihat kepada kalian. Jika kalian menerima apa yang aku 

bawa, maka selamatlah kalian di dunia dan akhirat. Sebaliknya jika kalian menolak, aku bersabar 

terhadap perintah Allah hingga Dia memutuskan persoalan di antara kita. "Atau seperti yang 

disabdakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam." 

Pentolan-pentolan Quraisy berkata: "Wahai Muhammad, jika engkau tetap keras kepala seperti ini 

maka, ketahuilah, bahwa tidak ada seorang pun yang lebih sempit daerahnya, dan lebih sedikit 

persediaan airnya, dan lebih keras kehidupannya dari kami. Oleh karena itu, berdoalah kepada 

Tuhanmu agar Dia menggoncang gunung-gunung yang menyempitkan kami, meluaskan daerah kami, 

mengalirkan sungai-sungai seperti Sungai Syam dan Irak untuk kami di dalamnya. Membangkitkan 

leluhur kami, dan hendaknya di antara leluhur yang dibangkitkan untuk kami yaitu  Qushay bin Kilab, 

karena ia orang tua yang benar, lalu  kita bertanya kepada mereka apakah yang engkau katakan; 

benar atau salah? Jika leluhur kita membenarkanmu dan engkau mengerjakan apa yang kami minta 

kepadamu, kami akan membenarkanmu, mengakui kedudukanmu di sisi Allah, dan bahwa Allah 

mengutusmu sebagai Rasul sebagaimana yang engkau utarakan." 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka: "Aku diutus kepada kalian bukan 

untuk mengabulkan permohonan mistis kalian. sebenarnya  Allah mengutusku kepada kalian 

dengan apa yang kalian saksikan saat ini. Sungguh, telah aku sampaikan kepada kalian firman Tuhanku. 

Jika kalian menerimanya, itulah keselamatan kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian kerasa kepala, aku 

tetap akan bersabar dalam menjalankan perintah Allah Ta'ala hingga Dia memutuskan persoalan di 

antara kita." 

Mereka berkata: "Jika engkau tidak mau mengerjakan apa yang kami kita, maka kerjakanlah untuk 

dirimu sendiri. Mintalah Tuhanmu mengutus malaikat bersamamu yang membenarkan apa yang 

engkau katakan dan meminta pendapat kami tentang dirimu. Mohonlah pada Tuhanmu untukmu agar 

memberikan untukmu taman-taman, istana-istana, dan kekayaan dari emas dan perak hingga engkau 

menjadi kaya dengannya, karena engkau berada di pasar seperti halnya kami dan mencari kehidupan. 

Kami mengetahui kelebihan dan kedudukanmu di sisi Tuhanmu jika engkau benar-benar Rasul 

sebagaimana pengakuanmu." 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku tidak akan melakukan itu semua, dan aku tidak 

akan meminta itu semua kepada Tuhanku, serta aku tidak diutus kepada kalian dengan untuk semua 

itu. Namun Allah mengutusku sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan, atau 

sebagaimana yang beliau sabdakan. Jika kalian menerima apa yang aku bawa, itulah keberuntungan 

kalian di dunia dan akhirat. Jika kalian menolaknya, aku bersabar dalam menjalankan perintah Allah 

hingga Allah memutuskan masalah yang terjadi di antara kita." 

Pentolan-pentolan Quraisy itu berkata: Jika ucapanmu memang benar, maka turun- kanlah awan dari 

langit karena engkau mengatakan bahwa jika Allah berkehendak, Dia pasti melakukannya. Sungguh, 

kami tidak akan beriman kepadamu jika engkau tidak bisa membuktikan kesaksitanmu." 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika itu dikehendaki Allah pada kalian, pasti itu akan 

terjadi." 

Tokoh-tokoh Quraisy berkata: "Hai Muhammad, apakah Tuhanmu yang menurunkan ini semua, 

bahwa kami akan bertemu denganmu disini, lalu kami menanyakan ini kepadamu, dan meminta ini 

semua kepadamu. Dia mendatangimu untuk mengajarimu sesuatu yang bisa engkau jadikan argumen 

untuk menjawab pertanyaan kami dan Dia menerangkan kepadamu tentang apa yang akan Dia 

lakukan terhadap kami jika menolak apa yang engkau bawa? Sungguh, kami telah mendengar berita 

bahwa engkau berguru pada seseorang dari Yamamah yang bernama Ar-Rahman. Demi Allah, kami 

tidak pernah beriman kepada Ar-Rahman. Wahai Muhammad, kami telah menawarkan banyak hal 

kepadamu. Demi Allah, kami tidak membiarkanmu sesuka hati berdakwah hingga kami berhasil 

memerangimu atau engkau yang memerangi kami." 

Salah seorang dari pentolan Quraisy berkata: "Kami menyembah para malaikat, karena mereka yaitu  

anak-anak perempuan Allah." 

Ucapan mereka diabadikan dalam Al- Qur'an: 

 

Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air 

dari bumi untuk kami, atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan 

sungai-sungai di celah kebun yangderas alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas 

kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan 

muka dengan kami. (QS. al-Israa': 90-92) 

Usai mengatakan itu kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, beliau bangkit dan diikuti 

Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum yang merupakan 

saudara misannya, dan suami Atikah binti Abdul Muthalib. Abdullah bin Abu Umayyah berkata kepada 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: Hai Muhammad, kaummu telah mengajukan demikian banyak 

tawaran menggiurkan kepadamu, namun semuanya kau tolak. Mereka memintamu bukti akan 

kedudukanmu di sisi Allah sebagaimana pengakuanmu, agar membenarkanmu, dan mengikutimu, 

namun engkau tidak juga mengabulkannya. Mereka memintamu menunjukkan kesaktianmu hingga 

mereka mengetahui kelebihanmu atas mereka dan kedudukanmu di sisi Allah, namun engkau tidak 

juga mampu membuktikannya. Mereka meminta percepatan siksa yang engkau ancamkan kepada 

mereka, namun engkau tidak juga mewujudkannya" -atau sebagaimana dikatakan Abdullah bin Abu 

Umayyah. "Demi Allah, sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengimanimu hingga engkau 

membangun tangga ke langit, lalu  engkau naik ke langit melalui tangga itu dan aku melihatmu 

tiba di sana, sesudah  itu engkau mengambil empat malaikat yang memberi kesaksian untukmu bahwa 

yang engkau katakan memang benar. Demi Allah, jika engkau tidak mau melakukannya, jangan 

harapkan aku membenarkanmu." lalu  Abdullah bin Abu Umayyah pergi meninggalkan 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Rasulullah sendiri pulang dengan perasaan sedih dan duka 

cita karena tidak tercapainya keingin an beliau pada mereka jika  mendakwahi mereka, dan karena 

melihat mereka menjauh dari beliau. 

Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bangkit meninggalkan mereka: Abu Jahl berkata: 

"Wahai orang-orang Quraisy, sebenarnya  Muhammad masih seperti dulu tidak mau berhenti 

mencela agama kita, menghina leluhur kita, mendungu-dungukan mimpi-mimpi kita, dan menghina 

sesembahan kita. Sungguh aku berjanji kepada Allah, besok pagi aku akan memukulnya dengan batu. 

Jika ia sujud dalam shalatnya, aku akan melempar kepalanya dengan batu itu. Jika itu terjadi, maka 

serahkan aku atau lindungi aku. sesudah  itu Bani Abdu Manaf bebas melakukan apa saja yang mereka 

suka." Mereka berkata: "Demi Allah, kami tidak menyerahkanmu selama-lamanya. Lakukanlah apa 

yang engkau mau!" 

Ibnu Ishaq berkata: Keesokan pagi, Abu Jahal telah menyiapkan batu sebagaimana yang dia janjikan, 

lalu  duduk menunggu kedatangan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Sementara itu 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berbuat sebagaimana hari-hari yang lalu. Di Makkah, kiblat 

beliau menghadap ke Syam. Jika beliau shalat, beliau shalat di antara rukun Yamani dan Hajar Aswad 

dan menjadikan Ka'bah di antara beliau dengan Syam. Lalu beliau berdiri melakukan shalat. Orang-

orang Quraisy pun berkumpul di ruang pertemuan mereka untuk melihat apa yang akan diperbuat 

Abu Jahal kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. jika  sujud, Abu Jahl mengambil batu dan 

berjalan ke arah Rasulullah. jika  dekat pada beliau, ia malah lari ketakutan dengan wajah berubah 

pucat pasi dan kedua tangannya tiada lagi memegang batu itu hingga batu itupun terjatuh dari 

tangannya. 

Orang-orang Quraisy bergegas berdiri menemui Abu Jahal, dan berkata: "Apa yang terjadi denganmu 

wahai Abu Jahal?" Abu Jahal berkata: "Aku berjalan kepada Muhammad untuk melakukan apa yang 

aku katakan pada kalian semalam. Saat aku dekat dengannya, tiba-tiba muncullah seekor unta. Demi 

Allah, aku belum pernah melihat kepala unta, pangkal lehernya, dan taringnya seperti unta itu. Aku 

sangat takut unta ini  akan menerkam diriku." 

Ibnu Ishaq berkata: Ada yang menyebut kan, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Itulah 

Malaikat Jibril. Jika Abu Jahl tetap mendekat, pasti ia menerkam Abu Jahal."33 

 

jika  Abu Jahl mengalami tekanan seperti itu, maka bangkitlah An-Nadhr bin Al-Harits bin Kaladah 

bin Abdu Manaf bin Abduddar bin Qushay. Ibnu Hisyam menyatakan, dia disebut An-Nadhr bin al-

Harits bin Alqamah bin Kaladah bin Abdu Manaf, lalu  berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, 

demi Allah, sungguh telah datang kepada kalian sesuatu yang tidak bisa kalian berkilah darinya. 

Sungguh sebelum ini Muhammad di mata kalian yaitu  anak muda belia, orang yang paling diterima 

di sisi kalian, orang yang paling benar ucapannya, dan orang yang paling tampak kejujurannya. Hingga 

jika  kalian lihat dia mulai beruban dan dia datang kepada kalian dengan ajaran yang dibawanya, 

kalian lalu menuduhnya sebagai penyihir. Tidak, demi Allah, ia bukan penyihir, karena kita telah 

mengetahui penyihir, sihirnya dan buhul-buhulnya. Kalian menuduhnya sebagai dukun. Tidak, demi 

Allah, ia bukan seorang dukun, karena kita sudah sangat paham tentang dukun dan mendengar 

mantera mereka. Kalian menuduhnya sebagai seorang penyair. Tidak, demi Allah, ia bukan penyair, 

karena kita sudah mengetahui syair, dan menyimak jenis-jenisnya. Kalian menuduhnya orang gila. 

Tidak, demi Allah, ia bukan orang gila, karena kita sudah pernah menyaksikan orang gila; tangisannya, 

keragu-raguannya, dan kekacauan pikirannya. Wahai orang-orang Quraisy, pikirkan persoalan kalian 

ini dengan cermat, karena demi Allah, sebuah masalah besar telah merongrong kehidupan pada 

kalian." 

An-Nadhr bin AI-Harits termasuk gembong-gembong Quraisy, orang yang menganiaya Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan membuka front permusuhan dengan beliau. Ia pernah pergi ke Al-

Hirah dan di sana ia sering mendengar cerita-cerita tentang raja-raja Persia, kisah-kisah tentang 

Rustum, dan Isfandiyar. Jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkhotbah di satu tempat untuk 

mengajak kaumnya ingat kepada Allah, mengingatkan mereka tentang hukuman Allah yang diterima 

orang-orang sebelum mereka, dan sesudah  itu beliau beranjak meninggalkan tempat ini , maka 

An-Nadhr bin Al- Harits duduk di tempat yang sama, lalu  berkata: "Demi Allah, wahai orang-

orang Quraisy, ucapanku lebih bagus dibandingkan  ucapan Muhammad. Sekarang kalian kemarilah, 

niscaya aku sampaikan kepada kalian tutur kata yang jauh lebih indah dibandingkan  perkataan 

Muhammad!" lalu  An-Nadhr bin Al-Harits bercerita kepada mereka kisah tentang raja-raja 

Persia, Rustum, dan Isfandiyar. Ia berkata: "Ucapan Muhammad yang mana yang lebih bagus dibandingkan  

ucapanku?" 

Ibnu Hisyam berkata: An-Nadhr bin Al-Harits inilah, yang mengatakan: "Aku akan menerima wahyu 

seperti yang diturunkan Allah." 

Ibnu Ishaq berkata: Seperti disampaikan kepadaku bahwa Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu berkata: Al-

Qur'an menurunkan delapan ayat tentang An Nadhr bin Al-Harits. Yaitu firman Allah Ta'ala: 

 

jika  dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "(Ini yaitu ) dongeng-dongengan orang-

orang dahulu kala." (QS. al-Qalam: 15) Dan semua ayat yang di dalamnya terdapat kata Al-Asaathir 

(dongeng) dalam Al- Qur'an. 

Usai mengatakan itu An-Nadhr bin Al- Harits, orang-orang Quraisy mengutus bersama Uqbah bin Abu 

Mu'ith untuk menemui pendeta-pendeta Madinah. Orang-orang Quraisy berpesan pada keduanya: 

"Bertanyalah kalian berdua kepada rabi-rabi Yahudi tentang Muhammad, sifat-sifatnya, dan jelaskan 

ucapannya kepada mereka, karena mereka yaitu  orang-orang yang pertama kali diberi kitab yang 

mempunyai pengetahuan tentang para nabi yang tidak kita ketahui." Keduanya berangkat ke 

Madinah. Sesampainya di sana, mereka bertanya kepada rabi-rabi Yahudi tentang Muhammad 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sembari menjelaskan sifat-sifat dan sebagian ucapan beliau kepada 

mereka. Keduanya berkata kepada mereka: "sebenarnya  kalian mempunyai Kitab Taurat, dan kami 

datang kepada kalian untuk bertanya tentang sahabat kami." 

Ibnu Ishaq berkata: rabi-rabi Yahudi itu berkata kepada kedua utusan Quraisy: "Tanyakan tiga hal 

kepada sahabatmu itu. Jika ia mampu menjawab ketiga hal ini , ia memang seorang Nabi 

sekaligus Rasul. Jika tidak bisa menjawabnya, pasti ia berdusta dan kalian akan tahu belangnya. 

Tanyakan kepadanya mengenai pemuda-pemuda (Ashabul Kahfi) yang meninggal pada periode 

pertama dan bagaimana kabar tentang mereka? Sebab mereka mempunyai kisah yang menarik. 

lalu  tanyakan kepadanya tentang seorang pengembara yang menjelajahi timur dan barat 

seperti apa kisahnya? Lalu tanyakan padanya tentang ruh, apakah ruh itu? Jika sahabatmu bisa 

menjawab ketiga pertanyaan ini , ia seorang Nabi dan kalian harus mengikutinya. Jika tidak bisa 

menjawabnya, berarti ia ber kata bohong dan terserah kalian mau berbuat apa saja kepadanya." 

lalu  An-Nadhr bin AJ-Harits dan Uqbah bin Abu Mu'aith bin Abu Amr bin Umayyah bin Abdu 

Syams bin Abdu Manaf bin Qushay kembali pulang ke Makkah. jika  meeka berdua bertemu kembali 

dengan orang-orang Quraisy, mereka berkata kepada mereka: "Hai orang-orang Quraisy, 

sebenarnya  kami datang membawa kabar kepada kalian. Rabi-rabi Yahudi menyuruh kita 

menanyakan tiga perkara kepada Muhammad. Jika mampu menjawabnya, berarti ia betul seorang 

Nabi. Jika tidak mampu menjawabnya maka artinya ia berkata bohong dan kalian bebas menilainya 

seperti apa saja." 

Maka merekapun menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan bertanya kepada beliau: "Hai 

Muhammad, ceritakan kepada kami tentang anak-anak muda (Ashabul Kahfi) yang meninggal dunia 

pada periode pertama, karena mereka mempunyai kisah yang menarik hati, kisah seorang 

pengembara yang menjelajahi dunia timur dan barat serta tentang ruh?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam bersabda: "Semua pertanyaan kalian aku jawab besokpagi." Rasulullah mengatakan itu 

tanpa ada embel-embel insya Allah. sesudah  itu. mereka berbalik pulang meninggalkan Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Menurut banyak pakar sejarah, selama lima belas malam Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak menerima wahyu. Malaikat Jibril tidak datang kepada beliau, hingga 

membuat gusar penduduk Makkah. Mereka berkata: "Muhammad berjanji memberi jawaban atas 

pertanyaan kita besok pagi, sedangkan waktu sudah berjalan lima belas malam, namun sam- pai kini 

ia belum memberi jawaban apapun atas pertanyaan kita." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

sangat berduka karena wahyu terputus dari beliau. Beliau bersedih hati karena komentar orang-orang 

Quraisy terhadap dirinya. Baru sesudah  itu datanglah Malaikat Jibril datang kepada beliau dari Allah 

Azza wa Jalla dengan membawa surat QS. Al Kahfi. Dalam surat ini , Allah mencela ucapan 

mereka yang membuat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersedih, menjelaskan kepada beliau 

berita sekitar pertanyaan mereka, tentang pemuda-pemuda yang mereka maksud, sang pengembara, 

dan masalah ruh." 

Ibnu Ishaq berkata: Dikatakan kepadaku bahwa jika  Malaikat Jibril datang, Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam berkata: "Sungguh engkau meninggalkanku wahai Jibril, hingga aku berburuk sangka 

kepadamu." Malaikat Jibril berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: 

 

Dan tidaklah kami (Jibril) turun, kecuali dengan perintah Tuhanmu. Kepunyaan-Nya-lah apa-apa yang 

ada di hadapan kita, apa-apa yang ada di belakang kita dan apa-apa yang ada di antara keduanya, 

dan tidaklah Tuhanmu lupa. (QS. Maryam: 64) 

Allah Yang Mahatinggi membuka surat ini  dengan memuji diri-Nya dan menjelaskan kenabian 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan pengingkaran mereka. Allah Ta'ala berfirman: 

 

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al Kitab (Al Qur'an) dan Dia tidak 

mengadakan kebengkokan di dalam- nya; (QS. al-Kahfi: 1) 

Yakni, Muhammad engkau yaitu  Rasul dari-Ku, dan sebagai jawaban atas pertanyaan mereka 

tentang kenabianmu. 

dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya; sebagai bimbingan yang lurus, (QS. al-Kahfi: 1-

2) 

Yakni, Al Quran itu lurus dan tidak ada sesuatu yang saling bertentangan di dalamnya. 

 

Untuk memperingatkan akan siksaan yang sangat pedih dari sisi Allah (QS. al-Kahfi: 2) 

Yakni, untuk memperingatkan adanya siksaan Allah di dunia dan siksa nan pedih di akhirat dari sisi 

Tuanmu yang mengutusmu sebagai Rasul. 

 

Dan memberi berita gembira kepada orang-orang yang beriman, yang mengerjakan amal shaleh, 

bahwa mereka akan mendapat pembalasan yang baik, mereka kekal di dalamnya untuk selama-

lamanya. (QS. al-Kahfi: 2-3) 

Yaitu negeri keabadian dimana mereka tidak pernah mati di dalamnya. Mereka yang dimaksud yaitu  

orang-orang yang membenarkan apa yang engkau bawa di saat orang-orang lain mendustakanmu, 

dan mereka mengerjakan amal-amal perbuatan yang diperintahkan kepada mereka. 

 

Dan untuk memperingatkan kepada orang- orang yang berkata: "Allah mengambil seorang anak. (QS. 

al-Kahfi: 4) 

 

Yaitu orang-orang Quraisy yang berkata: "Sesunggunya kita menyembah para Malaikat, karena 

mereka yaitu  anak-anak perempuan Allah.” 

 

Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitupula nenek moyang mereka 

(QS. al-Kahfi: 5), yakni yang membesarkan perpecahan mereka dan mengungkap aib agama mereka. 

 

Alangkah jeleknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka (QS. al-Kahfi: 5) Karena ucapan mereka 

bahwa para malaikat yaitu  anak-anak perempuan Allah. 

 

Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh 

dirimu (QS. al-Kahfi: 5-6). Maksudnya, apakah engkau akan membunuh dirimu wahai Muhammad atas 

apa yang mereka lakukan jika mereka tidak beriman dengan Kitab ini? Tatkala kau tidak dapatkan apa 

yang diharapkan dari mereka, maka jangan pernah lakukan itu. 

Ibnu Hisyam berkata: Bakhi'un nafsaka, yakni menghancurkan dirimu, sebagaimana dikatakan kepada 

saya oleh Abu Ubaidah. Dzu Rumah berkata: 

Wahai orang yang menghancurkan dirinya sendiri 

Dengan sesuatu takdir yang ditetapkan yang dicabut darinya 

 

Bentul flural dari bakhi' yaitu  bakhi'un dan bait di atas yaitu  penggalan dari syairnya. Orang Arab 

berkata: Bakha'tu lahu nushi wa nafsi yakni aku telah berusaha keras untuknya: 

Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta. Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh 

dirimu (QS. al-Kahfi: 5-6). 

Allah Yang Mahatinggi berfirman: 

 

sebenarnya  Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami 

menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya (QS. al- Kahfi: 7) 

Ibnu Ishaq berkata: Yakni siapa saja yang paling mengikuti perintahku dan taat padaku? 

Ibnu Ishaq berkata: Allah Yang Maha tinggi juga berfirman: 

 

Dan sebenarnya  Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata 

lagi tandus. (QS. AI Kahfi: 8) 

Maksud firman Allah: 'Shaidan, artinya bumi. Maksudnya: "sebenarnya  apa saja yang ada di atas 

bumi pasti mengalami kematian, dan bahwa tempat kembali yaitu  kepada-Ku, lalu  Aku 

menghisab semua orang sesuai dengan amal perbuatannya. Oleh karena itulah, engkau, wahai 

Muhammad, jangan berduka cita dan bersedih hati atas apa yang engkau dengar dan atas apa yang 

engkau 

lihat selama ini. 

Ibnu Hisyam berkata: Ash-Sha'idu artinya bumi dan jamaknya ash-shu'udu. Arti lain ash-sha'idu ialah 

jalan. Dijelaskan dalam hadits: 'Janganlah kalian duduk di jalan-jalan (shuu'adaat)."34 

 

Arti kata ash-shu'udaat pada di atas ialah jalan-jalan. Arti kata al-juruzu pada ayat di atas berarti bumi 

yang kering-kerontang. Jamaknya ialah ajraaz. Sanatun juruzun atau sinunun ajraazun artinya tahun-

tahun dimana hujan tidak turun di dalamnya dan terjadi kekeringan, kemarau berkepanjangan. " 

Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah memberi jawaban atas pertanyaan mereka tentang anak-anak muda 

dengan berfirman: 

 

Atau kamu mengira bahwa orang-orang yang mendiami gua dan (yang mempunyai) raqim itu, mereka 

termasuk tanda-tanda kekuasaan Kami yang mengherankan? (QS. al-Kahfi: 9), yakni boleh jadi di 

antara tanda-tanda kekuasaan-Ku, misalnya argumen-argumen-Ku yang Aku karuniai kepada hamba-

hamba-Ku itu jauh lebih mengherankan menakjub- kan dibandingkan  kisah tentang pemuda-pemuda 

ini . " 

Ibnu Hisam berkata: Ar-Raqiimu pada ayat diatas ialah kitab yang memuat kisah tentang mereka. 

Jamaknya ialah ar-ruqumu. Ru'bah bin Al Ajjaj berkata: 

Tempat penyimpanan kitab yang memuat (nomor-nomor) 

Bait diatas yaitu  penggalan dari syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj. 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

 

(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua lalu mereka berdoa: 

"Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami 

petunjuk yang lurus dalam urusan kami (ini)." Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam 

gua itu, lalu  Kami bangunkan mereka, agar Kami mengetahui manakah di antara kedua 

golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung berapa lamanya mereka tinggal (dalam gua itu). 

Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. (QS. al-Kahfi: 10-13), bi al-

haqqi maksudnya, dengan berita yang benar tentang mereka. lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

 

sebenarnya  mereka itu yaitu  pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan Kami 

tambahkan kepada mereka petunjuk; dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka 

berdiri lalu mereka berkata: "Tuhan kami yaitu  Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak 

menyeru Tuhan selain Dia, sebenarnya  kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang 

amat jauh dari kebenaran." (QS. al-Kahfi: 13-14). Yakni pemuda-pemuda ini  tidak 

menyekutukan-Ku sebagaimana kalian menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang tidak kalian ketahui. 

Ibnu Hisyam berkata: Kata syathathan pada ayat di atas artinya melampaui batas dan melanggar 

kebenaran. A'sya Bani Qais bin Tsa'labah berkata: 

Mereka tidak akan berhenti, begitu juga orang yang melampaui batas 

Laksana serbuan yang kehilangan minyak dan lampu 

 

Bait diatas yaitu  penggalan syair-syair A'sya Bani Qai Tsa'labah. 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  Allah Yang Maha tinggi berfirman: 

 

Kaum kami ini telah menjadikan selain Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk di sembah). Mengapa mereka 

tidak mengemukakan alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka?) (QS. al-Kahfi: 15) 

Makna kata sulthaanin bayyinin pada ayat ini yaitu  argumentasi yang kuat. lalu  Allah 

berfirman: 

 

Siapakah yang lebih zalim dibandingkan  orang-orangyang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah? 

Dan jika  kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah 

tempat berlindungke dalam gua itu niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya 

kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. Dan kamu akan 

melihat matahari jika  terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari itu 

terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua 

itu. (QS. al-Kahfi: 15-17) 

Ibnu Hisyam berkata: Arti tazaawaru pada ayat di atas yaitu  condong. Kata ini  beasal dari kata 

az-zawaru. Umru'u Al Qais bin Hujr berkata: 

sebenarnya  aku yaitu  penguasa, jika aku kembali sebagai raja 

Yang dari mereka, Anda melihat orang yang diborgol itu condong 

 

Ini yaitu  penggalan syair miliknya. 

Abu Zahf al-Kulaibi berkata menggambarkan semua negeri: 

Tanah bergaram bukanlah tempat yang kami condong 

Tuk bekerja tanpa air selama lima hari yang membuat unta kurus 

 

Dua bait ini yaitu  penggalan syairnya. Taqridhuhum Dzaat al-Syimal artinya bahwa matahari 

menjauhi meninggalkan mereka dari sisi kiri. 

Dzu Rummah berkata: 

Pada unta yang bertandu dia menggigit pasir yang bundar di sebuah tempat  

Di sisi kiri sedangkan di sisi kanan yaitu  para penunggang kuda 

 

Bait ini yaitu  penggalan syair miliknya. 

Al Fajwah artinya tempat yang luas dan jamaknya al-fija'u. Salah seorang penyair berkata: 

Engkau sandangkan kehinaan dan kekurangan kepada kaummu 

Hingga darah mereka keluar hukum dan mereka meninggalkan negeri yang luas 

 

lalu  Allah Yang Mahatinggi berfirman: 

 

Itu yaitu  sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. (QS. Al Kahfi: 17) Yakni, inilah hujjah atas 

orang-orang dari Ahli Kitab yang mengetahui cerita pemuda-pemuda ini . Untuk menguji 

validitas kenabianmu apakah engkau mampu menjawab tentang mereka atau tidak? 

lalu  Allah berfirman: 

 

Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialahyang mendapatpetunjuk; dan barang siapa 

yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapat  seorangpemimpin pun yang dapat memberi 

petunjuk kepadanya. Dan kamu mengira mereka itu bangun padahal mereka tidur; dan Kami balik-

balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka 

pintu gua. (QS. A1 Kahfi: 17-18). 

Ibnu Hisyam berkata: Al-washiid artinya pintu. A1 Absi yang bernama asli Ubaid bin Wahb berkata: 

Di bumi lapang yang pintunya tidak ditutup untukku 

Dan kebaikanku didalamnya tak mungkin tuk diingkari 

 

Bait diatas yaitu  penggalan syair-syair Al-Absi. 

Arti lainnya dari al-washiid ialah hala- man. Jamaknya "al-washaa'idu, al-wushudu, al-wushdaan, al-

ushudu, dan al-ushdaan." 

Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah Ta'ala berfirman: 

 

Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan 

(diri) dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi dengan ketakutan terhadap mereka. Dan demikianlah 

Kami bangunkan mereka agar mereka saling bertanya di antara mereka sendiri. Berkatalah salah 

seorang di antara mereka: "Sudah berapa lamakah kamu berada (di sini?)." Mereka menjawab: "Kita 

berada (di sini) sehari atau setengah hari." Berkata (yang lain lagi): "Tuhan kamu lebih mengetahui 

berapa lamanya kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota 

dengan membawa uangperakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, 

maka hendaklah dia membawa makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut, dan 

janganlah sekali-kali menceritakan halmu kepada seseorang pun. sebenarnya  jika mereka dapat 

mengetahui tempatmu, niscaya mereka akan melempar kamu dengan batu, atau memaksamu 

kembali kepada agama mereka, dan jika demikian niscaya kamu tidak akan beruntung untuk selama-

lamanya.” Dan demikian (pula) Kami mempertemukan (manusia) dengan mereka, agar manusia itu 

mengetahui, bahwa janji Allah itu benar, dan bahwa kedatangan hari kiamat tidak ada keraguan 

padanya. jika  orang-orang itu berselisih tentang urusan mereka, orang-orang itu berkata: 

"Dirikanlah sebuah bangunan di atas (gua) mereka, Tuhan mereka lebih mengetahui tentang mereka." 

Orang- orangyang berkuasa atas urusan mereka ber- kata: "sebenarnya  kami akan mendirikan 

sebuah rumah peribadatan di atasnya." (QS. al-Kahfi: 18-21) 

lalu  Allah Taala berfirman: 

 

Nanti (ada orang yang akan) mengatakan (jumlah mereka) yaitu  tiga orang yang ke- empat yaitu  

anjingnya, dan (yang lain) mengatakan: "(Jumlah mereka) yaitu  lima orang yang keenam yaitu  

anjingnya", sebagai terkaan terhadap barang yang gaib; (QS. al-Kahfi: 22). 

Mereka pada ayat di atas yaitu  rahib- rahib Yahudi yang menyuruh orang-orang Quraisy bertanya 

kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tentang pemuda-pemuda ini . Rajman bilghaib 

maksudnya, mereka sendiri tidak mempunyai ilmu pengetahuan yang pasti tentang pemuda-pemuda 

ini . Lalu Allah Taala berfirman: 

 

dan (yang lain lagi) mengatakan: "(Jumlah mereka) tujuh orang, yang kedelapan yaitu  anjingnya." 

Katakanlah: "Tuhanku lebih mengetahui jumlah mereka; tidak ada orang yang mengetahui (bilangan) 

mereka kecuali 

Yakni, janganlah engkau bertanya mengenai pemuda-pemuda ini  kepada mereka sendiri karena 

mereka tidak mempunyai ilmu pemgetahuan yang pasti tentang mereka itu. Lalu Allah Ta'ala 

berfirman: 

 

Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu: "sebenarnya  aku akan mengerjakan 

itu besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah." Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu 

lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat 

kebenaran- nya dibandingkan  ini." (QS. al-Kahfi: 23-24). 

Yakni, janganlah karena di tanya seperti itu engkau mengatakan akan menjawabnya besok pagi seperti 

yang engkau katakan sebelumnya. Tapi katakanlah insya Allah. Ingatlah engkau kepada Allah jika 

engkau lupa, dan katakanlah, "Semoga Allah memberiku petunjuk untuk bisa menjawab apa yang 

mereka tanyakan kepadaku, karena engkau tidak mengetahui apa yang dikerjakan pemuda- pemuda 

ini . 

Lalu Allah berfirman: 

 

Dan mereka tinggal dalam gua mereka tiga ra- tus tahun dan ditambah sembilan tahun (lagi). (QS. Al-

Kahfi: 25) 

Yakni, rahib-rahib Yahudi akan mengatakan perkataan ini . lalu  Allah berfirman: 

 

Katakanlah: "Allah lebih mengetahui berapa lamanya mereka tinggal (di gua); kepunyaan- Nya-lah 

semua yang tersembunyi di langit dan di bumi. Alangkah terangpenglihatan-Nya dan alangkah tajam 

pendengaran-Nya; tak ada se- orangpelindungpun bagi mereka selain dari- pada-Nya; dan Dia tidak 

mengambil seorang pun menjadi sekutu-Nya dalam menetapkan keputusan." (QS. al-Kahfi: 26). 

Yakni, semua yang mereka tanyakan ituf Allah Mahamengetahui. 

Ibnu Ishaq berkata: Allah Taala berfirman tentang pertanyaan mereka perihal seorang pengembara: 

 

Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Zulkarnain. Katakanlah: "Aku akan bacakan 

kepadamu cerita tentangnya." sebenarnya  Kami telah memberi kekuasaan kepadanya di (muka) 

bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan (untuk mencapai) segala sesuatu, (QS. al-Kahfi: 

83-84). 

Di antara berita tentang Dzu Al-Qarnain ialah bahwa ia diberi beragam nikmat yang tidak dikarunikan 

kepada orang lain. Antara lain, jalan-jalan terbentang untuknya hingga ia berjalan melakukan 

pengembaraan dari timur ke barat. Setiap kali ia menjejakkan kakinya di suatu negeri, maka ia akan 

berhasil menguasai penduduk setempat. Ia melakukan pengembaraan hingga tiba ke negeri-negeri 

yang tidak berpenghuni. 

Ibnu Ishaq berkata: Orang yang mendapat  berita-berita dari orang-orang non-Arab berkata 

kepadaku: Dzu Al-Qarnaini berasal dari Mesir. Ia bernama asli Marzuban bin Mardziyah Al-Yunani. Ia 

berasal dari anak keturunan Yunan bin Yafits bin Nuh. 

Ibnu Hisyam berkata: Nama aslinya yaitu  Iskandar. Dialah orang yang membangun kota Iskandariyah 

(Mesir), lalu  kota Iskandariyah diberi nama dengan namanya. 

Ibnu Ishaq berkata: Tsaur bin Yazid berkata kepadaku dari Khalid bin Madan Al-Kala'i bahwa Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam pernah ditanya mengenai Dzu Al-Qarnain, lalu  beliau bersabda: Ia 

seorang malaikat yang mengukur dengan tali dari bawahnya. 

Khalid berkata bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu mendengar seseorang memanggilnya: 

"Wahai Dzu Al-Qarnaini" Umar bin Khaththab berkata: "Ya Allah, ampunilah dia! Tidaklah kalian 

senang memberi nama anak-anak kalian dengan nama para nabi, hingga kalian memberi nama anak 

kalian dengan nama-nama para malaikat." 

Ibnu Ishaq berkata