Paham ini tidak pernah diajarkan di dalam Tanakh, tidak ada
rabbi Yahudi yang mengklaim bahwa Sorga hanya miliki 1 golongan saja, lainnya ke neraka.
Rabbi Yeshua-pun juga tidak mengajarkan demikian. Sorga yaitu milik semua jiwa yang
berhak ke sana. Berhak itu seperti apa? Berhak itu artinya si jiwa tidak lagi melekat suatu dosa.
Dosa-dosanya itu sudah diimpas. Lawan untuk ajaran ini yaitu ajaran sebagian saja yang akan
diselamatkan masuk Sorga. Jadi saat manusia tidak memaksimalkan hidupnya yang kira-kira
hanya sekitar 70 th maka dengan menerima Yeshua sebagai Tuhan dan juruselamat, maka
mereka akan masuk ke neraka selamanya.
Naskah Yunani, Kis 3:21: ὃν δεῖ οὐρανὸν μὲν δέξασθαι ἄχρι χρόνων ἀποκαταστάσεως
πάντων ὧν ἐλάλησεν ὁ Θεὸς διὰ στόματος τῶν ἁγίων ἀπ’ αἰῶνος αὐτοῦ προφητῶν.
Naskah Peshitta syriak: ܗ
ܶ
ܠ
݂ ܕ
ܶ
ܠ
݂ܳ
ܐ ܘ ܫܰܡܝ݂ܳ
ܰ
ܘܢ ܠ
ܽ
ܠ ܢܰܩܒ
ܰ
ܐ ܕ ܡ݂ܳ
ܰ
ܐ ܥܕ ܝ݂ܳ
݂ܳ
ܐ ܠܽܡܘܠ
ܶ
ܢ ܒ
ܰ
ܙ
ܽܠܶܗܝܢ ܕ ܟ
ܝܢ ܕ
ܶ
ܝܠ
ܰ
ܠ ܐ
ܶ
ܰܡܠ
ܕ
ܐ ܗ݂ܳ
݂ܳ
ܠ
ܰ
ܐ ܐ ܘܡ݂ܳ
ܽ
ܦ
ܝ ܒ ܰܝܘܗ
ܺ
ܢܒ
ܰ
ܝܶܫܐ ܕ
ܺ
ܶܡܢ ܰܩܕ
ܡ ܕ
ܰ
ܠ ܥ݂ܳ
54
Terjemahan New American Standard Bible: whom heaven must receive until the period
of restoration of all things about which God spoke by the mouth of His holy prophets
from ancient time.
Terjemahan King James Bible: Whom the heaven must receive until the times of
restitution of all things, which God hath spoken by the mouth of all his holy prophets
since the world began.
Terjemahan GNI: Mshikha harus tinggal di Sorga sampai pemulihan segala sesuatu,
seperti yang dinubuatkan Alaha melalui para nabi-Nya yang kudus pada zaman dahulu.
Mar Lukas mencatat bahwa memang ada pemulihan untuk segala sesuatu (apokatastasi)
dengan jelas. Ayat ini yang menjadi salah satu alasan bahwa semua jiwa termasuk roh-roh yang
paling jahat sekalipun akan dipulihkan. Roh dan jiwa yang berasal dari Alaha itu bersifat kekal,
keluar dari Sang Sumber kehidupan untuk menjalani rangkaian kehidupan yang membuatnya
menyerap banyak kebijaksanaan. Ada saatnya terjatuh dan tenggelam dalam dosa, namun itu
tidak selamanya. Kesadaran akan kebutuhan bersama Tuhan akan kembali menyeruak dari
dalam diri dan itu yang menentunnya untuk menerima pemulihan yang Tuhan sediakan lewat
berbagai cara.
Ajaran universalisme harus dipahami juga dari tujuan penciptaan yang Tuhan lakukan yaitu
supaya semua jiwa yang berasal daripada-Nya itu bisa mengalami berbagai kehidupan sehingga
jiwa itu membawa banyak kebijaksanaannya dan pengalamannya dan memperkaya
keberadaannya saat kembali menyatu dengan Sang Sumber. Itulah tujuan dari penciptaan.
Tuhan tidak pernah mencipta dengan kemungkian jiwa yang berasal dari-Nya menjadi hilang
dan tidak pernah kembali. Sekecil apapun kemungkinan itu tidak pernah ada. Semua akan
kembali, cepat atau lambat itu tergantung dari free will mereka masing-masing. Jiwa-jiwa itu
akan bereinkarnasi untuk mendapatkan segala pengetahuan yang cukup untuk dipakainya di
alam-alam Sorgawi saat dia melayani.
Bapa, Putra, dan Sang Roh Kudus yaitu Kesatuan Tuhan (Ibrani: Elohim Ekhad) yang
menjadi sutradara kehidupan ini. Semua penciptaan roh-roh melalui karya Sang Putra sebagai
Sabda Sang Bapa. Sang Putra yaitu Yang Sulung (1 Kor 15:23). Sementara semua roh-jiwa
lainnya itu yaitu adik-adiknya, yang kemudian bisa dibilang sebagai ‘little Gods’. Kita semua
yaitu Tuhan-tuhan kecil yang sedang berkelana dan berjumpa di Alam fisik ini. Saat kita
masuk kea lam ini, kita memakai raga fana yang lambat laun kemampuan kerjanya akan
menurut dan pada akhirnya akan mati. Jiwa dan Roh kita tidak akan pernah mati. Perhatikan
penjelasan dari Maran Yeshua sendiri dalam injil yang ditulis Mar Yukhnan berikut ini:
Yohanes 10:33-38 Jawab orang-orang Yahudi itu: "Bukan sebab suatu pekerjaan baik
maka kami mau melempari Engkau, melainkan sebab Engkau menghujat Alaha dan
sebab Engkau, sekalipun hanya seorang manusia saja, menyamakan diri-Mu dengan
Alaha." Yeshua kepada mereka: "Tidakkah ada tertulis dalam kitab Taurat kamu:
Aku telah berfirman: Kamu yaitu Alaha? Jikalau mereka, kepada siapa firman
itu disampaikan, disebut Alaha — sedang Kitab Suci tidak dapat dibatalkan —,
masihkah kamu berkata kepada Dia yang dikuduskan oleh Bapa dan yang telah diutus-
Nya ke dalam dunia: Engkau menghujat Alaha! sebab Aku telah berkata: Aku Anak
Alaha? Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya
kepada-Ku,tetapi jikalau Aku melakukannya dan kamu tidak mau percaya kepada-Ku,
55
percayalah akan pekerjaan-pekerjaan itu, supaya kamu boleh mengetahui dan mengerti,
bahwa Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa."
Perhatikan bahwa Maran Yeshua mengutip dari ayat Mazmur 82:6 yang menyatakan bahwa
kita yaitu Alaha (Tuhan dalam bahasa Aramaik)! Jadi, Yeshua yaitu Anak Sulung Alaha (1
Kor 15:23) dan kita semua yaitu adik-adik-Nya. Jadi kalau Bapa kita yaitu Tuhan, maka
roh-roh dalam diri kita juga yaitu bagian dari Roh Tuhan yang menjadi sumbernya. Inilah
yang membuat roh manusia itu tidak tercipta saat terjadi pembuahan di dalam rahim, namun
roh itu sudah ada sebelumnya, bahkan jauh sebelumnya. Kita pada mulanya menyatu dengan
Tuhan dan pada akhirnya akan menyatu kembali dengan-Nya.
Apa bedanya Roh Sang Putra Sulung dan roh adik-adik-Nya ini? Roh Yeshua yaitu Roh yang
sudah sempurna. Sementara roh-roh adik-Nya ini perlu disempurnakan dalam banyak
perjalanan kehidupan. Bahkan semua roh yang sudah berhasil masuk ke Alam Sorgapun masih
terus disempurnakan. Perhatikan perbedaan penting ini.
Apa inti dari Peribadatan Nasrani? Apakah kotbah yang berapi-api? Tidak. Apakah pujian
penyembahan yang mendalu-dalu? Tidak juga. Apakah inti peribadatan yaitu persembahan
uang? Apalagi uang, bukan! Lalu apa inti peribadatan itu? Intinya ada di ritual Perjamuan Suci
(Aram: Qurbana Qadisha). Qurbana yaitu ritual jemaat, sebagai mempelai Mshikha itu
menyatu dengan Tubuh dan Darah Yeshua. Menyatu di sini terjadi saat jemaat memakan
Roti dan Anggur yang telah dikonsekrasi oleh Imam. Inilah inti peribadatan. Lainnya hanyalah
penambah. Ritual penyatuan ini begitu sakral sehingga sebelum memasukinya, semua jemaat
harus dibaptis, harus melakukan pengakuan dosa. Artinya? Semua harus melalui pemulihan
dan penyempurnaan jiwa. Jadi penyatuan-penyatuan kecil yang terjadi di Alam Bumi ini akan
membimbing atau menjadi modal semua jemaat untuk menyatu dalam kekekalan dengan Sang
Sumber Roh kembali.
1 Kor 15: 28 namun saat segala sesuatu telah ditaklukkan di bawah kaki Mshikha, maka
Ia sendiri sebagai Anak akan menaklukkan segala sesuatu di bawah-Nya, supaya Alaha
menjadi semua di dalam semua.
Perhatikan juga bahwa Keilahian dari Nasrani merujuk kepada Alaha yang satu (Ekhad)
dengan beberapa aspek yang disebut Tlithayutha atau Tlaqnume. Tuhan itu memiliki Aspek
Bapa, Aspek Bunda (Roh Kudus)44, Aspek Sang Putra Sulung (Sang Sabda yang kemudian
menjadi manusia bernama Yeshua). Kemudian jemaat (Aram: Idtah) yaitu mempelai wanita
Sang Putra. Perhatikan kata ‘idtah’ dalam aramaik ini bergender feminime, inilah mengapa
dalam bahasa Inggris kata benda ‘Church’ sering diganti dengan ‘her’. Jemaat yaitu
mempelai-Sang Putra Alaha yang yaitu Alaha juga. Jika kucing menikah dengan kucing,
kelinci dengan kelinci, maka Alaha akan ‘menikah’ juga dengan Alaha. Roh jemaat yang sudah
disempurnakan nantilah yang akan ‘menikah’ atau menyatu dengan-Nya di dalam kekekalan.
Lalu bersama Sang Putra kita akan menyatu dengan Sang Bapa dan Sang Bunda Roh Kudus.
Merupakan keinginan hati Maran Yeshua sendiri bahwa Dia akan menarik semua orang
kepada-Nya untuk bersatu, perhatikan pernyataan-Nya berikut ini:
44 Kata ‘Roh’ dalam Ibrani yaitu ‘Ruakh’, dalam Aramaik ‘Ruakh’ merupakan kata benda bergender Feminime.
Saat Alkitab disalin dalam bahasa Yunani, kata ini bergeser makna. Kata ‘Roh’ dalam PL mengacu kepada
‘Shakinah’ yaitu Hadirat Tuhan yang merupakan aspek wanita dari Tuhan. Elohim (Tuhan) menciptakan manusia
serupa dan segambar dengan-Nya, Kej 1:28. Ini artinya pola ciptaan manusia yang terdiri dari pria dan wanita itu
mencontoh Pola Keilahian, yaitu ada Sang Bapa dan Sang Bunda.
56
“dan Aku, apabila Aku ditinggikan dari Bumi, Aku akan menarik semua orang datang
kepada-Ku” (Yoh 12:32)
Itulah pernyataan kasih-Nya yang tidak terbatas. Dia mengasihi semua jiwa sebab Tuhan
sendiri yaitu kasih. Oleh sebab itu Dia merencakan supaya semua diselamatkan, perhatikan
petikan pesan Mar Paulus berikut:
“Itulah yang baik dan berkenan kepada Alaha, juruselamat kita, yang menghendaki
supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebanaran” (1
Tim 2:4).
Bapa-bapa Gereja Universalis
Ajaran Maran Yeshua dan Mar Paulus ini tidak berhenti di abad 1, namun ada terus di abad
kedua. Clementinus dari Alexandria (150-220) dalam tulisannya: Stromata Buku ke-7 Bab 2.
Sang Putra Penguasa dan Penyelamat semuanya. Demikian tertulis:
And, on the other hand, He is in no respect whatever the cause of evil. For all things
are arranged with a view to the salvation of the universe by the Lord of the universe,
both generally and particularly. It is then the function of the righteousness of salvation
to improve everything as far as practicable. For even minor marten are arranged with
a view to the salvation of that which is better, and for an abode suitable for people's
character. Now everything that is virtuous changes for the better; having as the proper
cause of change the free choice of knowledge, which the soul has in its own power. But
necessary corrections, through the goodness of the great overseeing Judge, both by the
attendant angels, and by various acts of anticipative judgment, and by the perfect
judgment, compel egregious sinners to repent.
Terjemahan: Dan, di sisi lain, Dia sama sekali tidak memandang apapun penyebab
kejahatan. Segala sesuatu disusun dengan tujuan untuk keselamatan semesta alam
oleh Tuhan, baik secara umum maupun khususnya. Inilah fungsi dari kebenaran
keselamatan untuk memperbaiki segala hal sejauh mungkin. Untuk hal kecil sekalipun
disusun dengan tujuan untuk keselamatan ke arah yang lebih baik, dan dengan tujuan
sesuai dengan karakter manusia. Sekarang segala sesuatu yang saleh berubah menjadi
lebih baik; segalanya yaitu akibat yang tepat dari kehendak bebas buah pengetahuan
yang dimiliki oleh keuatan jiwa. Tetapi perbaikan juga diperlukan, melalui kebaikan
Sang Hakim pengawas yang agung, baik oleh malaikat penjaga, dan oleh berbagai
tindakan penghakiman antisipatif, dan dengan penilaian yang tepat, membuat yang
berdosa menjadi bertobat.
Dari Clementinus di awal abad 2 ke abad 2 akhir sampai abad 3 pertengahan hadir seorang
Imam lain yang menjadi guru dari banyak Bapa Gereja dan Kadosa lainnya, yaitu Fr Origen
dari Alexandria. Beliau dalam tulisannya berikut ini menegaskan ajaran sebelumnya45:
As, therefore, there is a kind of advance in man, so that from being first an animal
being, and not understanding what belongs to the Spirit of God, he reaches by means
of instruction the stage of being made a spiritual being, and of judging all things, while
he himself is judged by no one; so also, with respect to the state of the body, we are to
hold that this very body which now, on account of its service to the soul, is styled an
45 Origen, DE PRINCIPIIS III bab VI.—On the End of the World, bagian 5.
57
animal body, will, by means of a certain progress, when the soul, united to God, shall
have been made one spirit with Him …
Terjemahan: Dan oleh sebab itu, ada semacam kemajuan dalam diri manusia, sehingga
dari semula menjadi makhluk binatang, dan tidak memahami apa yang menjadi milik
Roh Alaha, dia mencapai tahapan itu dengan mengikuti instruksi sampai menjadi
makhluk spiritual, dan untuk menilai segala sesuatu, sementara dia sendiri tidak dinilai
oleh siapapun; Begitu juga, sehubungan dengan keadaan tubuh, kita harus berpegang
bahwa tubuh inilah yang sekarang, sebab pelayanannya kepada jiwa, dibentuk seperti
tubuh binatang, dengan melalui berbagai kemajuan, tiba saatnya jiwa, dipersatukan
dengan Tuhan, akan menjadi satu roh dengan Dia...
Kemudian dia menulis lagi berikut46:
…And when this dissolution and rending asunder of soul shall have been tested by the
application of fire, a solidification undoubtedly into a firmer structure will take place,
and a restoration be effected.
Terjemahan: Dan saat terjadinya peleburan dan pengoyakan suatu jiwa yang diuji oleh
api, suatu pembentukan yang lebih kuat sudah pasti terjadi sehingga pemulihan
menjadi effektif.
Pemikiran dan tulisan Fr Origen menjalar ke banyak muridnya, ke para Bapa Gereja, penulis,
dan Theologiawan sampai ke beberapa abad setelahnya dan mencari jalan ke sampai ke abad
sekarang, beberapa di antaranya yaitu :
1. Theognostus dan Pierius yang juga sama-sama sempat menjabat Kepala Seminari di
Alexandria. Pierius dikenal juga sebagai ‘Origen Junior’.
2. Ks Didymus Si Buta, dia bahkan berani membela semua tulisan Origen yaitu benar-
benar ajaran Ortodoksi. Akibatnya yaitu pada Konsili 553 M, dia juga dianathema
bersama dengan Origen dan Evagrius Ponticus. Ks Didymus yaitu pengajar Ks
Gregory dari Nazianzen (329-389) dan Rufinus dari Aquileia (345-410).
3. Pamphilius dari Caesarea (240-309) yang ditahbiskan oleh Uskup Agapius dalam
jenjang Imam. Dia membangun kembali seminari pengikut Origen di Caesarea berikut
dengan perpustakaannya meniru seminari Origen di Alexandria. AKhir hidupnya
dihabiskan di dalam penjara mulai November 307 saat dia ditahan, kemudian pada
Februari 310 pada masa Kaisar Roma Mazimus Daia, dia dijatuhi hukuman penggal.
4. Eusebius dari Caesarea sejarawan gereja terbesar yaitu salah satu murid Fr
Phamphilius. Bersama dengan sang guru, dia menulis Apology of Origen ke dalam 6
buah buku. Sepertinya hanya 1 buku yang berhasil diselamatkan sampai sekarang dan
sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh Rufinus. Isi buku tersebut yaitu suatu
pembelaan terhadap Origen sebagai seorang penganut Ortodoks.
5. Ks Basil the great dan saudaranya Gregory dari Nyssa,
6. Ks Macrina (330-379) saudara perempuan Ks Basil dan Gregory dari Nyssa yang
yaitu seorang biarawati juga penganut Universalist47.
7. Gregory dari Nazianus,
46 Origen, DE PRINCIPIIS II, Bab X.—On the Resurrection, and the Judgment, the Fire of Hell, and Punishments.
Bagian 5
47 J. W. Hanson Universalism: The Prevailing Doctrine of the Christian Church, 1889, halaman 105
58
8. Evagrius Ponticus, seorang penulis kehidupan spiritual terbesar yang pernah ada.
Data di atas sejalan dengan riset yang dilakukan sejarawan Perancis tentang siapa saja di antara
Bapa Gereja yang menganut Apokatastasis. Berikut yaitu pendapat Dr Ilaria Rameli48:
Pendukung utama Bapa Gereja pada teori apokatastasis antara lain: Bardaisan,
Clement, Origin, Didymus, Ks. Anthony, Ks. Pamphilus Martyr, Methodius, Ks.
Macrina, Ks. Gregorius dari Nyssa (dan mungkin dua orang Kapadokia lainnya), Ks.
Evagrius Ponticus, Diodore dari Tarsus, Theodore dari Mopsuestia, Ks. Yohanes dari
Yerusalem, Rufinus, Ks. Jerome dan Ks. Agustinus (setidaknya pada awalnya) ...
Cassian, Ks. Issac dari Niniwe, Ks Yohanes dari Dalyatha, Mzm. Dionysius sang
Areopagite, mungkin juga Ks. Maximus si Pengawas, sampai kepada John si Scot
Eriugena, dan banyak lainnya, mendasarkan doktrin mereka tentang apokatastasis
pertama-tama di dalam Alkitab.
Ada juga para penentang ajaran Origen, namun mereka semua hidup di zaman yang berbeda
dengan Origen sehingga sangatlah tidak adil menentang ajaran orang yang sudah wafat dan
tidak bisa membela ajarannya tersebut.
Universalisme ala Gereja Timur
Sekitar sebulan yang lalu saya sempat bertanya jawab dengan seorang Imam Gereja Ortodoks
Rusia Paroki Jakarta Timur tentang ajaran keselamatan di gereja cabang Byzantium Yunani
ini. Apa yang saya dapati cukup menarik, mengapa? Sebab dalam ajarannya, siapapun yang
masuk ke dalam neraka bisa saja masih diselamatkan oleh Tuhan jika Dia berkenan. Memang
mereka terus meyakini bahwa neraka itu yaitu alam penghukuman kekal, namun ada jiwa-
jiwa tertantu yang akan Tuhan pilih dari antaranya untuk diselamatkan. Saya kurang paham
apa kriteria Tuhan menentukan siapa yang diangkut dari neraka ke Sorga dan siapa yang tidak.
Tanya jawab itu berhenti sebab kesibukannya.
Belakangan saya membaca tulisan Uskup Kallisto Ware, The Inner Kingdom. Saya perhatikan
ada beberapa buku yang mengulas tulisan beliau dan menyimpulkan bahwa uskup ini yaitu
penganut universalis juga seperti buku Introducing Christian Theologies, Volume Two: Voices
from Global Christian karya Victor I. Ezigbo. Namun setelah saya pelajari mendalam,
keadaannya berbeda. Apa yang ditulis oleh Fr. Ware sedikit membingungkan memang kalau
tidak teliti membacanya. Beliau menulis dengan membandingkan tulisan Bapa Gereja COE
Mesopotamia yang memang mendukung Universalisme Origen, kemudian beliau juga
mengulas pandangan para lawannya. Nah, kesimpulan akhirnya yaitu Fr. Ware tetap
menyalahkan Origen sebab berani memastikan bahwa semua jiwa akan diselamatkan.
Sementara menurutnya yang benar yaitu silahkan berharap saja bahwa semua akan
diselamatkan. Begini apa yang dia tuliskan49:
Keyakinan kami yaitu kehendak bebas manusia artinya kita tidak penya hak untuk
mengatakan dengan yakin bahwa “semua pasti akan selamat”. Namun keyakinan kami
pada Kasih Tuhan yang membuat kita meyakini untuk mengharap bahwa semua
akan diselamatkan.
48 Ramelli, Christian Doctrine, halaman 11
49 The Inner Kingdom, K Ware, St Vladimir Seminari Press Creswod, New York, hal 215
59
Saya teringat akan diskusi saya dengan rohaniawan ROCOR yang meyakini bahwa hasil
konsili yaitu suara Roh Kudus dan itu tidak mungkin bisa salah. Namun mengapa Uskup
Ware malah terlihat berdoa supaya konsili yang menyatakan Universalisme salah? Supaya
semua orang diselamatkan? Setelah saya renungkan, saya paham sekarang bagaimana
pandangan Gereja Timur ini. Uskup Ware juga bukanlah seorang Mistikus seperti Fr Origen
dan para Uskup kami sekarang sehingga beliau tidak bisa mengetahui lebih jauh hal-hal mistik.
Ini yang membuat perbedaan itu ada dengan jelas. Mungkin mereka memiliki kaum Staretz
yang merupakan kaum Mistik juga, namun belum ada yang menerima penyingkapan rahasia-
rahasia ilahi ini. Dan apa yang mereka yakini ini berdasarkan kehati-hatian menjelaskan ajaran
awal, jadi mereka cukup meyakini semoga semua bisa saja diselamatkan, tapi apakah itu
akan benar-benar terjadi atau tidak, mereka tidak mengetahuinya. Saya sekarang tidak heran
kalau mereka juga berdoa terus bagi jiwa-jiwa yang ada di neraka seperti sorang Staretz ini50.
Dilema yang kami alami bisa dilihat dari tercatatnya diskusi berikut yang direkam oleh
Akrimandrit Sophrony, murid dari Ks Siloun dari Gunung Athos:
Sudah merupakan kebiasaan dari Staretz Silouan untuk berdoa bagi mereka yang
menderita di Neraka dan terpisah dari Tuhan…Dia tidak bisa menahan diri bahwa ada
orang yang tersiksa di “bagian kegelapan” tersebut. Saya ingat suatu diskusi antara dia
dan seorang pertapa, yang menyatakan dengan puas: “Tuhan akan menghukum semua
Atheis. Mereka akan dibakar selamanya di dalam Api.”
Namun demikian, si Staretz mengatakan, “Katakanlah pada saya, jikalah kamu masuk
ke Firdaus, dan melihat ke bawah dan terliat seseorang terbakar dalam api neraka-
apakah kamu merasa bahagia?
“Tidak ada yang bisa membantunya. Itu kan salahnya sendiri.” Si pertapa menimpali.
Staretz menjawabnya dengan kesedihan: “Kasih tidak akan bisa menanggungnya” dia
katakan “Kita harus berdoa untuk semua”.
Di sinilah letak masalah buat kita semua. Ks Silouan menyatakan Kasih yang Ilahi”
Kasih tidak akan bisa menanggungnya”. Sementara si pertapa menekankan
tanggungjawab manusia: “Itu kan kesalahannya sendiri”. Kita diberturkan pada kedua
prinsip ini: Pertama, Tuhan itu kasih. Kedua, manusia itu punya kehendak bebas.
Jauh dalam hati saya berpikir bahwa mereka sebenarnya ingin meyakini Universalisme ini,
bahkan dengan jujur Uskup Russian Orthodox Church, Hilarion Alveyev menuliskan tidak
sedikit Imam Ortodoks yang diam-diam meyakininya51.
Saya merekomendasikan buku khususnya bab Ekskatology dari Ks Isaac ini. Tidak
sedikit Imam Ortodoks yang berbisik pada saya: “Saya diam-diam yaitu seorang
Universalist, tolong jangan katakan pada siapapun. Ks Isaac juga meyakinkan
saya.” Ada apa dengan tulisan Ks Isaac itu sebenarnya? Itu sebab dia mengetahui daya
kuasa dan Kasih Tuhan yang tanpa syarat. Fr Isaac meyakini bahwa Tuhan pada
akhirnya akan memenangkan hati dan pikiran setiap manusia dan setiap roh jahat.
50 Ibid, hal 194
51 https://afkimel.wordpress.com
60
Di atas yaitu penggalan tulisan Fr Aidan (Alvin) Kimel yang sambil dari website pribadinya.
Beliau yaitu seorang Imam menikah di Gereja Timur dengan ritus barat. Buku yang
dibicarakan oleh Fr Hilarion yaitu The Spiritual World of Isaac The Syrian (Cistercian
Studies) karyanya sendiri yang sekarang dijual bebas di Amazon.com. Mengapa banyak Imam
Ortodoks yang tidak mau namanya muncul ke public bahwa mereka meyakini Universalis ini?
Ya tentu saja tidak mau sebab akibat yang harus mereka terima yaitu hukuman anathema
seperti yang diterima oleh Fr Origen. Suatu dilema memang memendam kebenaran ini di sana.
Namun itulah faktanya. Jadi, mari kita semua mengangkat hati dan berdoa, terutama bagi
saudara-saudara kita yang sudah wafat dan belum menerima injil. Semoga jiwa mereka
berlabuh pada kasih dan karya Salib Yeshua. Semoga banyak dan bahkan semua akan
diselamatkan. Juga berdoa bagi pemurnian semua gereja supaya bertobat dan kembali kepada
ajaran awal.
Hukum Karma
Gb 4.5 Hukum Karma
Hukum Karma memiliki nama lainnya yaitu
Hukum Sebab Akibat atau Hukum Retribusi
atau Hukum Tabur-tuai. Dalam kekristenan
biasanya memakai istilah tabur-tuai, kecuali
di Nasrani India yang hidup berdampingan
dengan penganut Hindu, mereka
mempertahankan istilah ‘karma’.
Sebenarnya istilahnya saja berbeda, namun
artinya bisa dibilang sama. Dalam ajaran
tabur tuai ada dosa dan upah/pahala.
Sementara di dalam Hukum Karma, dosa
disebut juga sebagai Karma Buruk,
sementara upah disebut dengan Karma Baik.
Setiap jiwa memiliki Free Will untuk
menghasilkan karma buruk dan baik ini.
Mar Mattai dan Paulus mencatat demikian:
Matius 10:41-42 Barangsiapa menyambut seorang nabi sebagai nabi, ia akan
menerima upah nabi, dan barangsiapa menyambut seorang benar sebagai orang benar,
ia akan menerima upah orang benar.Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja
pun kepada salah seorang yang kecil ini, sebab ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu:
Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya."
2Kor 9:6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga,
dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.
Gal 6:8 Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari
dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal
dari Roh itu. 9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, sebab apabila sudah datang
waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.
61
Setiap jiwa berasal dari Alaha dan setelah menuruni banyak alam sampai ke Bumi, semua akan
berusaha kembali kepada Alaha dengan membawa semua pengalaman yang dimilikinya.
Kecepatan setiap jiwa untuk kembali itu tidaklah sama. Cepat atau lambatnya jiwa-jiwa itu
menyatu kembali dengan Sang Pencipta dipengaruhi oleh adanya Hukum Karma. Anak saya
Rio bertanya beberapa bulan lalu bagaimana bisa tahu ada hukum Karma. Saya memberinya
contoh, saya minta dia tersenyum kepada adiknya dan kepada kakak sepupunya. Rio
tersenyum, kendati agak dipaksakan. Adiknya heran, tapi kakaknya ikut tersenyum. Lalu saya
memberinya contoh, saya tersenyum setulus yang saya bisa kepada adiknya dan sang kakak.
Keduanya tersenyum balik ke arah saya. Rio mulai memahami. Dari tindakannya maka akan
ada akibat yang terjadi. Senyum yang tulus akan mendapatkan kembali yang tulus, sementara
yang kaku, tidak. Ada aksi dan ada reaksinya, ada kebaikan yang ditabur dan ada kebaikan
yang dituai.
Tindakan positif yang besar akan menghasilkan pahala yang besar, demikian sebaliknya.
Karma baik misalnya jumlahnya 100 akan menjadi 0 (nol) kalau jumlah Karma buruknya
yaitu 100 juga. Seratus dikurang seratus sama dengan 0. Jadi janganlah bermain-main,
bersungguhlah dalam berbuat baik kendati tidak ada seorangpun yang mengetahuinya.
Yak 2: 14 Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia
mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu
menyelamatkan dia? 15 Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian
dan kekurangan makanan sehari-hari, 16 dan seorang dari antara kamu berkata:
"Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!," tetapi ia tidak
memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? 17
Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman
itu pada hakekatnya yaitu mati. 18 Tetapi mungkin ada orang berkata: "Padamu ada
iman dan padaku ada perbuatan," aku akan menjawab dia: "Tunjukkanlah kepadaku
imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari
perbuatan-perbuatanku."
Waspyaitu pada ajaran ‘Hanya Iman’ atau ‘Sola Fide’. Ini yaitu ajaran baru di abad 16.
Ajaran kita harus kembali ke abad 1 sebab dari sanalah semua bermula, Perjanjian Baru
bermula. Iman itu harus dibarengi dengan Perbuatan, Iman harus ditunjukkan dengan perbuatan
baik yang menghasilkan Karma Baik. Kita harus memperhatikan Karma Baik yang kita
hasilkan, tidak hanya fokus pada Iman. Perbuatan itu bisa dilihat dari tindakan kita. Orang tidak
melihat iman di dalam diri kita, mereka melihat karya yang kita lakukan, buah-buah kehidupan
kita.
Perhatikan Mar Yakub, kembali menegaskan adanya pengimpasan dosa sbb:
Yak 5: 19 Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari
kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, 20 ketahuilah, bahwa
barangsiapa membuat orang berdosa berbalik dari jalannya yang sesat, ia akan
menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa.
Tindakan menyelamatkan jiwa orang itulah tindakan yang menghasilkan Karma Baik. Dan
Karma Baik itu mengimpas banyak dosa (Karma Buruk). Ini sejalan dengan perintah Yeshua
di dalam Sefer Limudah berikut:
Lim 4:6 Jika kamu memiliki sesuatu, melalui tanganmu memberilah sebagai ganti
dosa-dosamu.
62
Di ayat ini, Maran menjelaskan bahwa dengan memberi, maka itu akan menghasilkan Karma
Baik. Karma Baik itulah yang akan mengganti Karma Buruk (dosa-dosa).
Tiga cara mengimpas dosa
Pada umumnya agama-agama mengajarkan pengikutnya untuk berbuat kebaikan. Agama-
agama ini juga mengajarkan Pengorbanan, Penderitaan, dan Pelayanan sebagai 3 cara
mengimpas Karma Buruk. Ini dibenarkan dalam pewahyuan yang diterima oleh Uskup Agung
John Ward. Jadi, tanpa menjadi pengikut Yeshua, seorang manusia bisa saja mengurangi dosa-
dosanya kendati itu sulit. Di dalam ajaran Judaism atau PL, jemaat Israel membawa Kurban
Hewan (Pengorbanan) saat mereka mau menghapus dosa-dosa pribadi mereka. Lalu mereka
menderita (Penderitaan) bahkan tewas saat melanggar perintah Alaha.
Yos 7: 11 Orang Israel telah berbuat dosa, mereka melanggar perjanjian-Ku yang
Kuperintahkan kepada mereka, mereka mengambil sesuatu dari barang-barang yang
dikhususkan itu, mereka mencurinya, mereka menyembunyikannya dan mereka
menaruhnya di antara barang-barangnya. 12 Sebab itu orang Israel tidak dapat bertahan
menghadapi musuhnya. Mereka membelakangi musuhnya, sebab mereka itupun
dikhususkan untuk ditumpas. Aku tidak akan menyertai kamu lagi jika barang-barang
yang dikhususkan itu tidak kamu punahkan dari tengah-tengahmu.
Perhatikan ayat 2 ayat di atas, pelanggaran Israel menyebabkan banyak jiwa wafat dan
keluarganya pasti menderita. Dengan kata lain penderitaan itu yaitu sebagai ganti dosa
yang mereka lakukan terhadap Tuhan YHWH.
Suku Lewi yaitu suku yang ditetapkan oleh Tuhan untuk menjadi perantara 11 suku Israel
lainnya dan Tuhan. Mereka sejak dari kecil dilatih untuk melayani dan mendedikasikan hidup
mereka di Bait Suci. Dengan demikian, dosa-dosa mereka bisa diganti dengan pelayanan yang
merkea lakukan. Ketiga hal tersebut dilakukan oleh Jemaah Israel supaya mereka bisa menebus
semua kesalahan mereka.
Di zaman modern ini, mereka yang tidak memeluk agama Kristen, banyak yang berhati mulia.
Banyak orang baik di luar gedung-gedung gereja. Kendati mereka menolak untuk menjadi
Kristen, namun kehidupan mereka diisi dengan banyak tindakan baik yang menghasilkan
Karma Baik. Orang Australia terbiasa mendonorkan darah ke Palang Merah untuk kebutuhan
manusia lainnya. Ini yaitu contoh Pelayanan dan Pengorbanan. Mereka ada yang lahir dengan
cacat namun hidup mereka bisa menjadi inspirator bagi manusia lainnya, inilah penderitaan
yang mereka jalani untuk menebus Karma buruk masa lalunya. Bagi umat Kristen pada
umumnya yang meyakini neraka kekal, mereka semua itu akan masuk ke neraka sebab tidak
menerima Yeshua sebagai Tuhan. Namun bagi kami, tidak. Semua tindakan baik, pasti akan
dicatat, pasti akan menghasilkan Karma Baik. Kebaikan itu akn menutupi segala dosa yang
telah mereka perbuat. Saat mereka wafat, tanpa beriman pada Yeshua, itulah free will mereka
yang harus dihormati. Mungkin saja mereka menolak sebab mereka tidak melihat contoh ada
orang Kristen baik di sekeliling mereka. Ya mereka hanya mendengar Injil, tapi tidak ada yang
memperlihat hidup baik. Jadi, kita tidak bisa salahkan mereka bukan? Mereka akan menemui
para Rohaniawan dan Kadosa (The Saint) yang mengajar mereka di alam Astral dan Spirtual.
Orang baik pasti akan menjadi Good Spirit (roh baik) dan mau dengan mudah mendegar
pengajaran para Kadosa. Tidak heran jika dalam kehidupan berikutnya, mereka akan masuk ke
dalam keluarga Kristen yang baik atu bahkan dididik menjadi para Imam Tertahbis. Semua
akan mengalami penyempurnaan.
63
Hubungan Hukum Karma dan Korban Salib Yeshua
Bagi kita yang sudah ada di dalam Jemaat Maran, sudah tersedia fasilitas untuk mengimpas
dosa-dosa kita yang menumpuk. Fasilitas itu yaitu Sakramen-sakramen (Ibrani: Qadishotim).
Ada sakramen Baptis, pengakuan dosa, sampai ke Perjamuan Suci. Semua Sakramen tersebut
terutama sakramen Perjamuan Suci (Kurban Tubuh dan Darah Yeshua) bisa menghasilkan
Karma Baik yang sangat besar sehingga dosa-dosa dari puluhan kehidupan kita di masa lalu
pun bisa dihapuskan secara total. Luar biasa Haleluyah!! Umat Kristen berpikir bahwa
pengorbanan Yeshua itu hanya satu kali, sebenarnya kurang tepat. Yeshua memang menderita
dan wafat disalib sekali. Namun…sebenarnya, Dia berkurban terus untuk kita saat kita masuk
dan menikmati Perjamuan Suci. Itulah bentuk kasih-Nya kepada kita. Dia tidak berhenti
berbuat kebaikan. Dia yaitu Tuhan yang terus bekerja. Luar biasa Haleluyah!!
Jadi, kalau jemaat ikut mendonorkan darah, memberikan santunan kepada orang miskin,
menolong tetangga, atau memberi kekuatan kepada mereka yang kehilangan orang yang
dikasihi, itu semua bisa memperbanyak Karma Baik. Semua perbuatan baik itu yaitu buah-
buah roh. Berbuahlah yang lebat, biarlah semua orang dari agama apapun mengecap buah-buah
kita.
Lalu apakah jemaat yang rajin beribadah sudah pasti menjadi orang Kudus? Jawabnya: Tidak
juga. Selagi ada di alam Bumi, kita semua berstatus orang-orang berdosa. Perhatikan bahwa
Alam Bumi, Alam Astral, dan Alam Spriritual ini disebut Alam-alam manusia berdosa. Yang
kudus yaitu Para Kadosa yang telah naik dari Firdaus ke alam para Kadosa. Mereka dilatih di
sana dan diutus kemudian turun ke alam-alam manusia berdosa untuk memimpin kita yang
masih tertinggal di bawah sini. Oleh sebab itulah penting bagi kita semua untuk beribadat dan
menerima Qadishotim.
Tingkap-tingkap alam
Saat suatu jiwa berhak untuk menghentikan reinkarnasinya, maka kehidupan di alam-alam roh
di atas menanti kehadirannya. Dalam penglihatan Mar John Ward, Alam Baka (Sorga)
merupakan bidang yang luas, bertingkap-tingkap, jauh, jauh lebih besar dari seluruh dunia dari
alam semesta fisik ini jika disatukan. Kami percaya bahwa alam ciptaan Tuhan terdiri dari
tingkap-tingkap. Sorga sendiri bukanlah satu tingkap Alam saja, jauh dari pewahyuan yang Dia
berikan kepada Mar John Ward, Tuhan sudah menyingkapkannya kepada penulis awal kitab
Tanakh. Kata ‘Sorga’ dalam bahasa Ibrani yaitu ‘Shamayim’ artinya yaitu ‘The heights’ atau
tingkap-tingkap alam.
Tingkap alam yang terdekat dengan Alaha yaitu Alam Para Malaikat terbesar yang dikenal
sebagai Seraphim, dan dibawah mereka yaitu delapan jenjang lainnya dari Para Malaikat,
total 9 jenjang Malaikat setara dengan 9 jenjang keimamatan PB dalam gereja kami. Di bawah
mereka lagi tiga Alam Kadosa. Jadi Alam-alam Sorgawi itu terdiri dari total 12 Alam Mayor
(9 Alam Malaikat dan 3 Alam Kadosa) yang berisi alam-alam minor juga.
Kemudian di bawahnya lagi ada 3 Jagad dari manusia fana, dari atas ke bawah: Alam Roh,
Alam Astral, dan Alam Bumi. Di dalam 3 alam inilah terjadi perputaran jiwa-jiwa yang
64
bereinkarnasi. Saat raga bumi mati, jiwa dari Alam Bumi, naik ke Alam Astral, lalu setelah
beberapa waktu akan naik ke Alam Roh. Setelah beberapa waktu lamanya akan bereinkarnasi
untuk menebus semua kesalahannya di Bumi lagi melalui Dinding Berapi. Perhatikan tabel di
bawah ini untuk lebih jelasnya, dari bawah ke atas susunannya yaitu sebagai berikut:
No
NAMA
ALAM
DESKRIPSI
TIPE
KEBERADAAN
1
Alam Bumi
(Alam Fisik)
Bumi kita dan semua isi alam semesta
lainnya yang sangat luas. Ini disebut alam
fisik sebab bisa disentuh, dirasakan
dengan panca indera fisik manusia.Saat
wafat, raga jasmani ditinggal di alam ini.
Manusia
2
Alam Astral
(Alam semi
fisik)
Ini yaitu tempat tinggal orang yang baru
wafat. Kita hidup di sini saat pertama kali
wafat, sebelum melewati Alam Roh.
Termasuk jiwa dalam binatang dan
tumbuhan semua akan singgah di alam
ini. Ini yaitu alam penghubung dengan
Alam Roh, sifatnya perantara sehingga
disebut alam semi fisik. Roh-jiwa
manusia masih diselimuti oleh Raga
Astralnya.
Manusia
3
Alam Roh
(Spiritual
Plane)
Ini yaitu alam rohaniah di mana terdapat
Firdaus dan Neraka. Firdaus diisi oleh
jiwa-jiwa baik, sebaliknya neraka
ditempati oleh jiwa-jiwa yang banyak
melakukan kejahatan saat di bumi. Saat
masuk ke alam ini, jiwa dalam keadaan
telanjang atau meninggalkan raga
astralnya di alam astral.
Manusia
TEMBOK KOBARAN API. Alam-alam diseberang tembok kobaran Api
yaitu apa secara umum disebut Sorga. Roh-roh manusia yang tak sempurna
melewati dari Alam Fisik ke alam Astral dan masuk ke Alam Roh, lalu
menembus tembok ini untuk ber-reinkarnasi kembali ke alam bumi.
4
Alam Kadosa
I: Alam
Kemuliaan
Alam Kadosa pertama tempat roh manusia
yang tidak perlu reinkarnasi lagi. Para
Kadosa mempelajari banyak hal di sini
untuk memulai pelayanannya kemudian.
Para Kadosa (The
Saints)
65
5
Alam Kadosa
II: Alam
Terberkati
Alam Terberkati (atau Terindah).
Pemuridan di sini sudah berjalan dengan
sangat maju dan efektif.
Para Kadosa (The
Saints)
6
Alam Kadosa
III: Alam
Orang-orang
Kudus
Alam Kadosa sepenuhnya. Mereka sudah
diutus untuk menolong manusia di alam-
alam bawah/manusia. Mereka juga
melakukan persiapan bagi jenjang
Kemalaikatan mereka di atasnya.
Para Kadosa (The
Saints)
Roh-roh dari sepasang Kadosa harus bergabung untuk membentuk sesosok Malaikat. Sebab
itulah ada istilah “teman sejiwa” (Soulmate).
7
Alam Malaikat
Penjaga
Alam Malaikat Penjaga sebagai
pelindung manusia dan ciptaan lain yang
lebih rendah.
Para Malaikat
8
Alam Penghulu
Malaikat
Alam Penghulu Malaikat (Malaikat
Kepala) yang bertugas menuntun dan
memberi bantuan para Malaikat
Pelindung di bawak kuasanya.
Para Malaikat
9
Alam Malaikat
Tahta
Para malaikat yang bertugas mengawasi
dan membantu berbagai institusi
pembawa kebaikan bagi kemanusiaan.
Ini termasuk menjaga setiap kehilat
(paroki) dan Gereja induk.
Para Malaikat
10
Alam Malaikat
Penjaga Bangsa-
bangsa
Para malaikat yang berkuasa mengawasi
bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok
secara nasional.
Para Malaikat
11
Alam Malaikat
penjaga ras-ras
manusia
Para Malaikat yang membimbing ras
manusia yang berbeda-beda.
Para Malaikat
66
12
Alam Malaikat
penentu keputusan
Para Malaikat besar dalam tugas
kerohanian dari seluruh dunia. Malaikat
ini juga bertugas memutuskan hasil
karma yang diterima oleh manusia.
Para Malaikat
Enam jenjang malaikat awal bekerja di lingkup tertentu sesuai penugasan mereka. Tiga jajaran
Malaikat tertinggi tidak dibatasi oleh Ruang dan berhak bekerja di seluruh Alam Semesta.
13
Alam Malaikat
Virtue
Malaikat yang bertugas menyebarkan
Kebajikan-kebajikan atau berbagai
atribut Tuhan ke seluruh Alam Semesta.
Para Malaikat
14 Alam Kherubim
Kherubim menunjukkan Kasih Alaha
bagi semua Ciptaan.
Para Malaikat
15 Alam Seraphim
Seraphim bertugas untuk
menyebarluaskan pengetahuan Alaha ke
seluruh Ciptaan. Di Alam inilah ada
Tahta Alaha.
Para Malaikat
Tabel 4.1 Tingkap-tingkap Alam
Kesadaran manusia, baik itu ingatan dan semua kemampuannya masih ada setelah kematian
raga Bumiahnya. Semuanya itu dibawa ke Alam Astral, kemudian pengetahuannya akan
bertambah seiring banyak pengalaman yang dia alami di sana. Yang berbeda hanyalah dia tidak
membawa raga Bumi dan harta bendanya. Lalu pada saatnya tiba, dia akan naik ke Alam Roh,
entah itu ke Firdaus atau Neraka sesuai dengan upahnya. Sebagian besar memorinya akan
menghilang saat dia berpindah dari sana kembali ke Alam Bumi melalui Dinding Berapi.
Banyak jiwa yang sangat ketakutan untuk kembali ke Bumi, dengan mendekati dinding itu,
ketekutannya akan menghilang juga bersama sebagian besar memorinya. Inilah yang
menyebabkan hanya sedikit orang yang masih mengingat masa lalunya saat dilahirkan kembali
di Bumi. Lalu apakah semua kenangan dan skill-nya itu sia-sia saja dikumpulkan? Tidak juga,
skill itu melekat pada jiwanya dan saat disadari kembali maka tinggal dipoles lagi supaya bisa
dikembangkan. Skill yang menjadi bagian masa lalunya ini sering disebut sebagai ‘Talenta’.
Pada saat suatu jiwa tidak perlu reinkarnasi lagi, maka saat dia menembus Dinding Berapi dan
masuk ke Alam Kadosa Awal sebagai bagian Sorgawi yang paling dasar, semua memori dan
skill yang telah dipelajarinya ini akan menyatu kembali ke dalam jiwanya. Jadi semua
pengalaman yang ditempuh, semua kompetensi yang pernah didalami pada puluhan kali
kehidupan tidak akan sia-sia. Pada saatnya itu akan dipakai untuk melayani jiwa-jiwa lain di
Alam Bumi.
Penyingkapan yang Tuhan berikan kepada Fr John Ward sejalan dengan yang pernah Dia
singkapkan kepada Uskup Ignatius di Antiokia di abad 2. Demikian yaitu Surat
Pengembalaannya kepada jemaat di Tralles, Asia (Srt Ignatius kepada Tralian pasal 5):
For might not I write to you things more full of mystery? But I fear to do so, lest I should
inflict injury on you who are but babes [in Christ]. Pardon me in this respect, lest, as
not being able to receive their weighty import, ye should be strangled by them. For even
I, though I am bound [for Christ], and am able to understand heavenly things, the
angelic orders, and the different sorts of angels and hosts, the distinctions between
67
powers and dominions, and the diversities between thrones and authorities, the
mightiness of the Aeons, and the pre-eminence of the cherubim and seraphim, the
sublimity of the spirit, the kingdom of the Lord, and above all, the incomparable majesty
of Almighty God-though I am acquainted with these things, yet am I not therefore by
any means perfect; nor am I such a disciple as Paul or Peter.
Terjemahan: Apakah aku tidak menulis kepadamu hal-hal yang lebih penuh misteri?
Tapi aku takut melakukannya, supaya aku tidak menyakiti dirimu yang kusayang [di
dalam Mshikha]. Maafkan saya dalam hal ini, sebab tidak dapat menerima beban berat
mereka, kamu harus dibebankan oleh mereka. Bahkan saya, sekalipun saya terikat
[untuk Mshikha], dan saya dapat memahami hal-hal surgawi, perintah malaikat, dan
jenis malaikat dan penghuni yang berbeda, perbedaan antara kekuasaan dan wilayah,
dan keragaman antara takhta dan penguasa, Kemegahan Aeon, dan keunggulan
kerubim dan serafim, keagungan, kerajaan Tuhan, dan yang terpenting, keagungan
yang tak tertandingi dari Alaha Yang Mahakuasa - meskipun saya memahami hal-hal
ini, namun saya oleh sebab nya tidak berarti sempurna; Saya juga bukan murid seperti
Paulus atau Petrus.
Persamaan yang diterima oleh Mistikus bukanlah hal yang mengherankan. Saya meyakini apa
yang ditulis oleh Uskup Ignatius hanya sedikit dari apa yang telah diterimanya. Apalagi kalau
dia menerima penyingkapan ini dari suatu penglihatan. Terkadang apa yang dilihat dalam suatu
mimpi atau visi tidak semua bisa dituangkan ke dalam suatu tulisan. Ada banyak gambaran
yang tidak bisa diuraikan dengan kata-kata. Intinya yaitu rahasia Tuhan tentang jenjang
Kemalaikatan ini sudah banyak diketahui jemaat Gereja Rasuliah sejak abad-abad awal.
Kemudian diperdalam dalam ajaran Fr John Ward.
Unsur-unsur manusia
Perlu dipahami terlebih dahulu bahwa manusia termasuk Maran Yeshua sendiri terdiri dari:
1. Raga jasmani, ini yang disebut sebagai ‘kemah’ oleh Mar Paulus (2 Kor 5:1).
2. Raga Astral yang terhubung dengan raga jasmani dengan Benang/rantai Perak.
Peng 12:6 Sebelum rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan, sebelum
tempayan dihancurkan dekat mata air dan roda timba di atas sumur.
Gb 4.6 Rantai perak antara Raga Bumi&Astral, sumber: www.esotericjenavi.wordpress.com
68
3. Roh-jiwa yang berpasangan, saya sederhanakan dengan menyebut pasangan ini sebagai
‘sukma’.
Sukma yang ada di dalam Yeshua dan manusia biasa itu berbeda sebab Dia yaitu bagian dari
Sang Sumber Pencipta. Sukma Yeshua yaitu bagian dari Sang Bapa dan Sang Bunda Roh
Kudus. Ketiganya yaitu Esa atau satu-kesatuan (Ibrani: ekhad). Sementara sukma di dalam
diri semua binatang, tumbuhan, manusia, kadosa, dan malaikat berasal dari Sang Sumber oleh
karya Sang Putra yang disebut sebagai proses penciptaan. Sebenarnya istilah roh-jiwa berbagai
mahluk itu disebut diciptakan itu kurang tepat istilah ‘diciptakan’ itu merujuk dari sesuatu yang
tidak ada menjadi ada. Sementara semua sukma yaitu percikan dari Sang Sumber dari
segalanya. Oleh sebab itu Sukma Yeshua dan sukma lainnya dibedakan.
Ketika manusia meninggal, Benang Perak selama beberapa jam akan memudar dan sirna. Ini
tandanya sukmanya itu tidak bisa mendiami raga kembali sebab sudah berhenti digunakan. Ia
harus meninggalkan raga jasmaninya di alam bumi sebab tubuh jasmani tidak bisa memasuki
Alam Astral.
2 Kor 5:1 Seba kami tahu, jika kemah kediaman kita di Bumi ini dibongkar, Alaha telah
menyediakan….
Tanah akan kembali menjadi tanah, debu akan kembali menjadi debu (Kej 3:19). Ini berlaku
bagi Eliyahu yang tidak wafat namun diangkat hidup-hidup ke langit, dan juga berlaku pada
Maran Yeshua yang menghilang setelah memberikan amanat agung kepada para murid-Nya,
Kis 1:9. Tubuh jasmani Eliyah dan Yeshua mengalami penguraian (dematerialisasi) dan
menyatu ke alam bumi. Dengan kata lain, kita semua sebenarnya yaitu roh yang memiliki
jiwa, sukma. Pasangan roh-jiwa kita memerlukan tubuh sementara sebagai kemah. Jadi, di alam
bumi ini sukma kita memakai selimut raga bumi yang sifatnya sementara. Ketampanan dan
kecantikan ‘kemah’ ini hanyalah bersifat sementara dan akan memudar seiring waktu berjalan,
dan sebaliknya biarlah kecantikan dari dalam jiwa (inner beauty) meningkat. Mereka yang
berfokus untuk mempertahankan kecantikan ‘kemah’ selama mungkin yaitu mereka yang
belum siap untuk kembali ke rumah asal kita di Sorga, mereka masih terikat dengan alam fisik
Bumi ini.
Mereka yang akan bereinkarnasi lagi
Secara sederhana, semua sukma berasal dari Tuhan, keluar dari Tuhan Sang Sumber. Mereka
menuruni tingkap-tingkap alam sampai menembus Alam Bumi untuk memulai perjalanan
kehidupan mereka dari dunia binatang dan tumbuhan. Perlu ratusan atau ribuan kali reinkarnasi
sampai sukmanya berevolusi menjadi manusia. Di tingkap akhir sebelum menjadi manusia
biasanya sukma mereka mendiami binatang dengan tingkat kepintaran yang tinggi seperti
anjing, kucing, kuda, dan lainnya. Binatang seperti ini bisa dengan baik berkomunikasi dengan
manusia dan menunjukkan perasaan mereka.
Sukma binatang-tumbuhan saat mereka mati, akan berada di Alam Astral untuk beberapa
waktu kemudian langsung turun lagi ke Alam Bumi. Sukma mereka ini yaitu cikal-bakal
sukma manusia sebab semua mengalami evolusi. Pada saat menjadi manusia, banyak
kejahatan dilakukan oleh jiwa-jiwa yang kurang bijaksana ini sebab kurangnya pengalaman
hidup. Oleh sebab itu mereka menumpuk banyak karma buruk seiring menimbun banyak skill
di dalam jiwa mereka. Untuk manusia yang belum terbebas dari kuasa dosa, maka akan kembali
reinkarnasi setelah mendiami Alam Astral dan Alam Roh. Setiap kali suatu sukma pergi dari
Firdaus ke Bumi itu seperti kematian seseorang di Bumi, banyak yang bersedih. Sebaliknya
69
bayi yang datang ke Bumi membawa sukacita keluarganya, demikian juga satu sukma yang
masuk ke alam Firdaus membaca sukacita keluarganya di sana.
Sukma di Alam roh ini dipisahkan antara mereka yang baik ada di dalam Firdaus sementara
mereka yang jahat (Evil spirits) akan mendiami tingkap-tingkap neraka sesuai tingkat
kejahatannya. Baik mereka yang berada di Firdaus dan neraka ini akan mengulangi masa-masa
reinkarnasi ke bumi sampai tidak melekat dosa di dalam jiwa-jiwa mereka. Peran Kadosa
di sini yaitu mengajar mereka. Semua sukma di Neraka yang menerima pengajaran dan pesan
Malaikat Penjaganya dan berniat untuk bertobat akan masuk ke Alam Limbo untuk waktu
tertentu lalu akan kembali ke Alam Bumi melalui Dinding Berapi.
Mereka yang tidak perlu reinkarnasi lagi
Sukma mereka yang terbilang tidak perlu reinkarnasi lagi, akan naik ke Alam Astral, lalu akan
mendiami Firdaus di Alam Roh.
Peng 12:7 dan debu akan kembali menjadi tanah seperti semula, dan roh kembali
kepada Alaha yang mengaruniakannya.
Setelah beberapa waktu di Firdaus dia akan melalui Diding Berapi untuk masuk ke alam-alam
Sorgawi. Mereka berhak masuk ke Alam Kadosa I sebab mereka sudah berhasil mengimpas
semua dosanya. Itu bisa dilakukan melalui 3 cara yang sudah dijelaskan di atas. Dari Alam
Kadosa I, mereka sudah tahu siapa belahan sukma (soulmate)-nya masing-masing. Perlu waktu
yang cukup lama supaya mereka bisa bersatu. Seiring penyatuan itu mereka menempuh Alam
Kadosa II dan III. Di alam Kadosa III ini mereka sudah ditugaskan untuk turun dan membantu
sukma manusia yang masih berada di Firdaus atau bahkan sampai ke beberapa tingkap Neraka.
Sampai saatnya tiba, sepasang sukma itu akan menyatu dan membentuk satu sosok
Malaikat Penjaga. Tugas Malaikat awal ini yaitu membimbing 1 manusia yang ditunjuk oleh
Tuhan. Jadi setiap manusia memiliki 1 Malaikat Penjaga yang akan terus menginfuskan pesan-
pesan kebaikan supaya manusia itu bertobat. Jika manusia yang dijaga belum sampai memasuki
Alam Kadosa maka tugas si malaikat belum selesai. Manusia yang dijaganya jika harus
menempuh reinkarnasi sampai puluhan kali, maka puluhan kali itu juga dia bertugas untuk
menjaganya.
Malaikat Penjaga yang berhasil membawa sukma manusia menjadi seorang Kadosa,
dinyatakan berhasil dalam tugasnya dan berhak untuk masuk ke Alam Malaikat berikutnya.
Semua jenjang kemalaikatan memiliki tugas spesifik. Dan setelah yang menyelesaikan mereka
akan naik lagi ke Alam atasnya sampai ke level Malaikat Seraphim kemudian akan menyatu
kembali kepada Sang Sumber: Tuhan semesta Alam. Penyatuan ini memerlukan ribuan tahun
atau bahkan lebih, sampai saat ini para nabi kami menyatakan bahwa para rasul awal serta
Bunda Miriam sendiri belum menyatu dengan Alaha.
Penglihatan dan penyingkapan yang Tuhan berikan kepada Uskup John Ward ini sebenarnya
sudah pernah Dia singkap kepada Fr Origen. Namun sayangnya, dalam konsili Konstantinopel
II th 544 M, ajaran tentang jenjang-jenjang malaikat ini dibuang. Konsili tersebut menetapkan
meng-anathema siapapun yang masih terus memegang ajaran ini. Perhatikan kutipan point
kedua dari 15 point pengucilan ajaran Origen berikut:
IF anyone shall say that the creation of all reasonable things includes only intelligences
without bodies and altogether immaterial, having neither number nor name, so that
70
there is unity between them all by identity of substance, force and energy, and by their
union with and knowledge of God the Word; but that no longer desiring the sight of
God, they gave themselves over to worse things, each one following his own
inclinations, and that they have taken bodies more or less subtile, and have received
names, for among the heavenly Powers there is a difference of names as there is also a
difference of bodies; and thence some became and are called Cherubims, others
Seraphims, and Principalities, and Powers, and Dominations, and Thrones, and
Angels, and as many other heavenly orders as there may be: let him be anathema.
Terjemahan: JIKA ada orang yang mengatakan bahwa penciptaan semua hanya
mencakup kecerdasan tanpa tubuh dan sama sekali tidak berwujud, tidak memiliki
urutan atau nama, sehingga ada kesatuan antara mereka semua dalam suatu substansi,
kekuatan dan energi, Dan oleh persatuan mereka dengan dan pengetahuan tentang
Firman Tuhan; namun tidak lagi menginginkan kehadiran Tuhan, mereka menyerahkan
diri mereka pada hal-hal yang lebih buruk, masing-masing mengikuti
kecenderungannya sendiri, dan bahwa mereka telah mengambil alih tubuh sedikit
banyak subtil, dan telah menerima nama, di antara Kekuatan surgawi ada beberapa
Nama dan juga perbedaan tubuh; sebab nya beberapa menjadi Kherubim, yang lain
Seraphim, dan Malaikat penjaga ras-ras manusia, Malaikat penentu keputusan,
Malaikat penjaga bangsa-bangsa, Malaikat tahta, dan para malaikat biasa, biarlah dia
di-anathema.
Tuhan sudah menyingkapkan kebenaran ini, namun ada oknum-oknum yang berusaha
menghapus pengajaran luhur ini. Ternyata Tuhan tidak tinggal diam, Dia yaitu Tuhan yang
hidup dan berbicara. Dia memutuskan untuk memilih nabi-Nya lagi di akhir zaman untuk
kembali menyingkapkan tingkap-tingkap ini. Saya pikir ini penting sebab memang inilah
perjalan yang harus semua sukma tempuh suatu saat. Dia menyampaikan jalan pulang kepada
kita semua. Dia menunjukkan dengan gamblang.
Malaikat Satan bukanlah Malaikat Jatuh
Dalam Judaism dan Nasrani, sosok Satan bukanlah sosok Malaikat Jatuh. Satan bukanlah sosok
Malaikat yang memberontak kepada Alaha seperti yang banyak diajarkan oleh gereja-gereja
pada umumnya. Ini harus dipahami sebelum saya menjelaskan lebih jauh. Jadi yang sering
diusir dalam ritual pengusiran bukanlah Si Satan (Iblis) ini, melainkan roh-roh (sukma) jahat.
Sukma ini seperti saya jelaskan di atas, yaitu mereka yang suka memberontak terhadap ajaran
Tuhan sehingga melakukan perbuatan kejahatan. Ada banyak karma buruk yang melekat pada
jiwanya. Dan yang menjadi perbedaan sangat mencolok dengan sukma-sukma yang siap ke
Sorga yaitu mereka ini begitu terikat dengan pesona Alam Bumi, entah itu kekayaan,
kekuasaan, atau wanita/seksual. Yang mereka ingini yaitu kembali ke Bumi dengan
secepatnya tanpa melalui protokol yang telah Tuhan tetapkan yaitu melalui setiap pengajaran
yang Dia sediakan di alam astral dan alam roh. Mereka berlomba ingin merasuki tubuh-tubuh
manusia yang dibiarkan ‘terbuka’. Kejadian tubuh yang kerasukan itu terjadi saat sukma-
sukma jahat ini menyandera si pemilik tubuh jasmani dan berhasil mendiaminya beberapa
waktu.
71
Pemahaman Satan sebagai Malaikat pemberontak disebabkan penafsiran liar dari ayat-ayat
Tanakh seperti Yes 14:12-15 berikut:
Yes 14:12-15 Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur, putera Fajar,
engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!
Engkau yang tadinya berkata dalam hatimu: Aku hendak naik ke langit, aku hendak
mendirikan takhtaku mengatasi bintang-bintang Alaha, dan aku hendak duduk di atas
bukit pertemuan, jauh di sebelah utara. Aku hendak naik mengatasi ketinggian awan-
awan, hendak menyamai Yang Mahatinggi! Sebaliknya, ke dalam dunia orang mati
engkau diturunkan, ke tempat yang paling dalam di liang kubur.
Nabi Yesayahu tidak pernah bermaksud menggambarkan nats di atas sebagai gambaran dari
Malaikat Satan. Dia sebenarnya menggambarkan sosok Raja Babel. Justru Raja Babel ini
yaitu alat yang Alaha pakai sebagai penghukum bagi umat-Nya yang melanggar Perjanjian
Sinai. Mereka menyembah berhala, melanggar perintah-Nya, lalu sebagai akibatnya yaitu
mereka dibuang ke Babel. Para Rabbi Yahudi tidak pernah mengajarkan bahwa nats di atas itu
tentang Satan, kami yakin begitu juga dengan Rabbi Yeshua Mshikha, Maran kita.
Baik Judaism dan dalam ajaran Mistika kita, sosok Satan ini yaitu sosok Malaikat Penguji
atau The Tester. Semua jiwa untuk mengalami penyempurnaan haruslah diuji. Kalau lulus
dalam ujian maka mereka berhak untuk naik level dalam kehidupan mereka. Untuk tugas mulia
inilah Tuhan memberikan tugas kepada Satan. Ayub diuji oleh Satan (Kitab Ayub), Maran
Yeshua sendiri diuji oleh Satan (Mat 4:1-11), dan di dalam Kitab Wahyu ada peperangan di
dalam Sorga, ini juga menggambarkan bahwa ada ujian di dalam jenjang-jenjang
Kemalaikatan, sehingga terkesan seperti suatu pertempuran. Saat ujian, memang itu yaitu
moment pertempuran, kita mau taat pada Tuhan atau kita ikuti saran si Satan ini.
Dalam kacamata Mistikus kami, sosok Satan ini ada di jenjang Malaikat teratas antara
Seraphim paling atas dan Kherubim. Dia ada di bawah 4 Seraphim. Ke-4 Seraphim itu yaitu
Malaikat MichaEL (penghakim), Malaikat GabriEL (Kelahiran), Malaikat AzraEL
(Kematian), dan Malaikat RaphaEl (Kehidupan). Di bawah jenjang ini yaitu jenjang Great
Seraph, dan Satan ada di level ini. Oleh sebab posisinya yang sangat tinggi ini, maka dia
memiliki jajaran malaikat di bawahnya yang mengemban tugas yang sama, yaitu menguji
semua jiwa. Perhatikan kitab Ayub 1: 6. Di sana tercatat bahwa Satan ada di antara para
Malaikat-Nya. Ini begitu gamblang, Tuhan menjelaskan lewat penulis kitab ini. Iblis yaitu
salah satu pelayan Tuhan. Dia bukan musuh Tuhan, dia dan para melaikat di bawahnya yaitu
para pelayan Tuhan. Tapi saat dia bertugas, dia akan menjadi lawan setiap manusia, kadosa,
dan setiap malaikat yang ingin menyusuri jalan pulang menyatu dengan Tuhan.
Roh-roh jahat
Jiwa-jiwa terbagi 2, yaitu mereka yang baik dan jahat. Yang baik yaitu mereka yang mau
mendengar perintah Tuhan lewat berbagai agama yang ada di alam fisik bumi ini, dan ada yang
jahat. Yang jahat yaitu mereka yang suka memberontak terhadap aturan yang mengatur
mereka. Jiwa-jiwa ini tidak suka pada penundukan diri, membenci kebaikan, iri hati, dan
berbuat berbagai kejahatan, serta cinta dunia. Di dalam penganut ajaran Kristen ada juga,
kebanyakan yaitu mereka yang hanya mengikuti agama orang tuanya saja. Di dalam
kehidupannya, mereka sangat mencintai keduniawian ini. Jiwa-jiwa yang baik akan tertarik
hal-hal Sorgawi, sementara yang jahat tidak tertarik sama sekali, mereka ingin hidup selamanya
di Bumi ini. Mereka ingin berkuasa, memiliki banyak hal, dan umur sepanjang-panjangnya.
Dan di saat mereka mati, mereka tidak bisa menerima kenyataan itu, sehingga jiwa mereka ada
72
di bibir Alam Astral (Sheol). Bibir Alam Astral ini yaitu Alam yang berhimpitan dengan Alam
fisik Bumi sehingga mereka masih bisa memperlihatkan diri mereka kepada orang-orang yang
hidup.
Perhatikan jenjang-jenjang roh jahat yang dikelompokkan oleh para Uskup kita sesuai tingkat
kejahatannya berikut ini:
Gb 4.7 Tingkatan Roh Jahat
1. Earth Boud Spirit (roh yang terikat pada dunia), ada di bibir Alam Astral, biasanya
yaitu jiwa-jiwa yang mati akibat bunuh diri atau kecelakaan.
2. Poltergeist, ada di bibir Alam Astral, biasanya adanya benda-benda yang bergerak
itu dilakukan oleh sosok ini. Mereka yaitu jiwa-jiwa yang punya keinginan kuat
dan temperamental, tidak selalu jahat.
3. Ghost (hantu), ada di bibir Alam Astral, biasanya tidak membahayakan.
4. Ghoul, ada di Alam Astral dan biasanya sosok inilah yang membuat seseorang
ketergantungan pada sesuatu seperti obat-obatan, rokok, pornografi, narkotik, dll.
5. Thought Form, ada di Alam Astral dan Alam Roh, sosok hasil imajinasi manusia
di Bumi, sering ditemui saat jiwa manusia bermimpi.
6. Evil Spirit, ini yaitu sosok yang sering mengganggu dan membuat ketergantungan
juga dan harus diusir ke Level tiga Neraka.
7. Demon, ini yaitu sosok berbahaya yang suka merasuki seseorang yang
berhubungan dengan perdukunan atau kuasa kegelapan.
8. Devil, ini yaitu sosok yang sangat sangat berbahaya sebab usia jiwanya sangat
kuno dan harus diusir ke Alam Neraka paling bawah.
Jadi pahamilah dengan baik, roh-roh jahat itu bukanlah Satan (Iblis). Kita tidak punya hak
untuk mengusir Satan. Tanpa Satan dan malaikat penguji di bawah kendalinya, kita tidak
akan bisa disempurnakan.
73
Neraka
Kata ‘Neraka’ (Aram: Gehanna, ܐ yaitu suatu alam sebagai tempat penyempurnaan (ܓܗܢ
jiwa. Begini letak Firdaus, Sorga, Neraka, serta Alam fisik Bumi kita kurang lebihnya.
Perhatikan bahwa Firdaus tidak masuk ke dalam bagian Alam-alam Sorgawi. Firdaus
masih di dalam Alar Roh (Spiritual Plane). Dengan kata lain, si penjahat baik itu tidak langsung
masuk ke dalam Sorga. Jiwanya harus disempurnakan lagi dengan mengalami reinkarnasi. Dia
cukup beruntung sebab di akhir hidupnya itu, Dia bertemu Yeshua. Oleh sebab iman
percayanya itu, jiwanya masuk menembus lapisan-lapisan Astral Plane (Ibrani: Sheol) dan
alam-alam Neraka, lalu menuju ke Alam Firdaus. Di sana roh si penjahat ini sudah dinantikan
oleh Yehsua yang sudah terlebih dahulu wafat. Perlu diketahui bahwa si penjahat ini wafat
setelah Yeshua, sekitar jam 4 sore, dia baru mati. Jadi Roh Yeshua sudah menemui roh-roh
yang ada di Firdaus terlebih dahulu, lalu bersama mereka menyambut si penjahat masuk ke
dalamnya dengan sukacita. Masuknya suatu roh ke alam sana, sama saja seperti kelahiran
seorang bayi di alam bumi yang tentu membawa sukacita bagi keluarganya.
Jiwa-jiwa di alam Neraka dan Firdaus dibedakan antara mana jiwa jahat dan mana yang baik.
Jiwa-jiwa itu bisa dibedakan mana baik dan jahat tergantung dari perbuatan baik dan jahat,
tergantung pahala dan dosa, tergantung Karma Baik dan Karma Jahat. Jiwa-jiwa yang baik
akan terpisah dari yang jahat secara natural. Jiwa baik akan berkumpul dengan baik, jahat
dengan jahat, ini sebenarnya sama seperti apa yang terjadi di Alam fisik Bumi, kita punya
kecenderungan berkumpul dengan yang sama dengan jiwa kita. Namun perlu dipahami bahwa
baik itu berbeda dengan sempurna











