saat Utsman bin Affan ra. menikahkan putranya dengan putri dari
anak laki-laki Hakam yang bernama Haris (putri Haris/cucu wanita Hakam,
pent.), beliau memberi hadiah sebesar dua ratus dirham yang berasal dari baitulmal
kepada mereka. Pada suatu hari seorang bendahara baitulmal bernama Zaid bin
Arqam menemui Utsman ra. sambil menangis. Zaid diminta meletakkan jabatan
ini dengan cara mengundurkan diri. Utsman ra. melakukan hal ini sebab
beliau akan mentransfer sejumlah harta batulmal kepada para keluarganya. Beliau
bertanya kepada Zaid, ‘Apakah kamu menangis lantaran aku akan berbuat baik
kepada keluargaku?’ ‘Tidak,’ jawab Zaid. ‘Saya pikir anda mengambil semua harta
ini sebagai pengganti dari harta yang telah anda sedekahkan semata-mata sebab
Allah swt. pada saat Rasulullah saw. masih hidup.’ Mendengar jawaban Zaid beliau
marah dan berkata, ‘Sekarang tinggalkan kunci-kunci baitulmal dan kamu bisa
pergi! Saya akan mencari pengganti dirimu.’ Dan masih banyak lagi tindakan
Utsman ra. yang menunjukkan pemborosan. Beliau pernah memberikan enam ratus
ribu dirham kepada Zubayr, dua ratus ribu kepada Talhah, dan seperlima pajak
yang dikumpulkan dari Afrika kepada Marwan. Beliau dicela (dikritik, pent.) oleh
para shahabat terutama Ali bin Abi Thalib sebab tindakannya ini .
“Beliau memperbanyak kekayaan pribadi Mu’awiyah dan memberikan
Palestina kepadanya. Beliau mengangkat Hakam dan saudara laki-laki dari anak
angkat wanita nya yang bernama Abdullah bin Sa'ad, dan keluarga lainnya
menjadi gubernur. Melihat kebijakan yang diambil oleh Utsman ra. yang kian jauh
dari ruh (esensi, pent.) ajaran Islam, para shahabat Nabi saw. lalu mengadakan
pertemuan di Madinah. Tindakan ini dilakukan mengingat usia khalifah telah
semakin tua. Sehingga segala kepentingan ummat di bawah kendali Marwan. Pada
kesempatan ini , kaum muslimin meminta kepada Ali ra. untuk memberi
pertimbangan kepada khalifah mengenai kondisi ini . Di dalam
perbincangannya Utsman ra. sempat bertanya kepada Ali ra., ‘Bukankah Mughirah
menjadi gubernur sejak masa kekhalifahan Umar hingga sekarang?’ ‘Memang
demikian,’ jawab Ali ra. lalu Utsman ra. bertanya lagi, ‘Bukankah Umar ra.
telah mengangkat Mu’awiyah menjadi gubernur selama dia memerintah?’ Ali ra.
menjawab, ‘Ya, benar. namun Mu'awiyah sangat menghormati beliau. sedang
sekarang dia sedang melakukan intrik-intrik tanpa sepengetahuan Anda dan
tindakannya ini dilakukan dengan mengatasnamakan perintah dari Anda. Cukuplah
Anda saja yang mengetahui hal ini dan jangan sampai Mu'awiyah mengetahunyai.’
Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan ra. kebenaran telah bercampur aduk
sedemikian rupa dengan kebatilan sehingga sulit membedakannya. Kondisi
masyarakat tidak akan sedemikian parah sekiranya Utsman ra. menjadi khalifah
pada usia muda. Seandainya pada saat itu yang menjadi khalifah yaitu Ali ra.
bukan Utsman ra. tentu hal itu akan lebih baik. Orang-orang dari Bani Umayyah
tidak akan melakukan intervensi dalam masalah kebijakan khalifah,” kata Quthb.
Selanjunya Quthb mencela para khalifah lainnya, terutama Mu'awiyah. Menurutnya,
107
para khalifah itu telah melakukan pemborosan (harta) baitulmal untuk kesenangan
pribadi. Dia menambahkan, bahwa semua itu terjadi disebabkan oleh kebijakan yang
diambil Utsman ra.
Keterangan Sayyid Quthb di atas patut dipertanyakan keabsahannya. Di
dalam kitab Tuhfah dijelaskan, bahwa Utsman ra. dipilih menjadi khalifah
berdasar kesepakatan mutlak dari para shahabat Nabi saw. Dan di antara para
shahabat Nabi ini ada Ali ra. yang juga memilih beliau. Quthb mengecam
Utsman ra. berarti beliau menentang konsensus para shahabat Nabi saw., bahkan
menentang hadits yang menyebutkan, “Ummatku (kaum muslimin) tidak akan
sepakat dalam suatu kesalahan.”
Di dalam kitab Mir’at al-Kainat dijelaskan : Utsman bin Affan bin Abil
Ash bin Umayyah bin Abdis Syam bin Abdi Manaf bin Qushay, Khalifah ketiga,
yaitu orang keempat yang beriman kepada Rasulullah saw. saat paman seayah
beliau, -Hakam bin Abil Ash-, menyiksa dirinya serta mengancam tidak akan
menghentikan siksaan ini seandainya tidak kembali mengikuti agama nenek
moyang mereka, Utsman ra. dengan tegas memilih lebih baik mati dari pada harus
kembali (kepada agama sesat semula). Keteguhan pendirian beliau menjadikan sang
paman membebaskannya. Utsman ra. yaitu juru tulis wahyu Rasulullah saw., yang
bertugas menulis ayat-ayat yang diwahyukan kepada Nabi saw. Rasulullah saw.
menikahkan putri beliau Ruqayyah kepada beliau melalui perintah Allah swt. saat
Ruqayyah meninggal dunia di Madinah pada Perang Suci Badar, Nabi saw.
menikahkan putri kedua beliau Ummu Kultsum kepada beliau. Dan saat Ummu
Kultsum meninggal dunia pada tahun kesembilan hijriah, Nabi saw. berkata
kepadanya, ‘Seandainya saya mempunyai anak wanita lainnya, tentu saya akan
memberikan juga untukmu!’ saat Nabi saw. memberikan putri keduanya, -Ummu
Kultsum-, beliau berkata kepadanya, ‘Wahai anakku! Suamimu Utsman mirip
dengan leluhurmu Ibrahim, sedang ayahmu Muhammad lebih mirip dengan
Ibrahim dibandingkan orang lain.’ Tidak seorang shahabat pun kecuali Utsman bin
Affan ra. yang menikahi dua putri Rasulullah saw. Suatu saat Utsman ra.
menghampiri Rasulullah saw. Lalu beliau menutupi kakinya dengan pakaian yang
dikenakan oleh Utsman ra. Pada saat Aisyah menanyakan kepada Nabi perihal
ini , beliau menjawab, ‘Para Malaikat merasa malu berhadapan dengan dia.
Apakah saya tidak?’ Beliau menjelaskan di dalam sebuah hadits, ‘Utsman yaitu
saudaraku di surga dan dia akan selalu bersamaku.’
Di dalam Perang Suci Tabuk pasukan Islam menderita kekurangan
persediaan pangan dan senjata. Hal ini dialami oleh pasukan Islam dalam waktu
cukup lama. saat mengetahui hal ini , Utsman ra. mengirimkan tiga ribu unta,
tujuh puluh kuda dan sepuluh ribu uang emas yang diambil dari harta milik
perniagaannya. sesudah membagikan harta ini kepada para tentara, Rasulullah
saw. bersabda, ‘Sejak saat ini tidak ada lagi dosa yang dicatat untuk Utsman.’ Di
dalam kitab Jami’ al-Shaghir karya Imam Suyuthi ra. ada sebuah hadits yang
menjelaskan : ‘Melalui perantaraan Utsman ra. tujuh puluh ribu orang Islam yang
akan masuk neraka, masuk surga tanpa dihisab sama sekali.’ Utsman ra. memiliki
pengetahuan agama yang sangat luas. Orang akan mengira bahwa beliau dan Umar
ra. sedang bertengkar saat mereka sedang berdiskusi membahas persoalan agama.
Di dalam kitab Tuhfah dijelaskan : saat menduduki jabatan khalifah
Utsman ra. bertindak profesional dalam menempatkan orang pada posisinya sesuai
dengan karakter pribadi dan kecakapannya. Beliau tidak memandang dirinya sebagai
manusia super. Beliau memiliki kriteria jelas untuk menempatkan seseorang pada
jabatan tertentu dengan kualifikasi jujur, mempunyai semangat berwiraswasta,
amanah dan adil, dan loyal kepada kebijakan khalifah dalam mengemban tugasnya.
Barang siapa mengecam kebijakan Utsman ra. (berarti) dia mencoba
memutarbalikkan fakta kebenaran menjadi kebatilan. Beliau melakukan seleksi
secara ketat dalam mengangkat para gubernur dan komandan perang yang memiliki
dedikasi terhadap pemerintah dan setia kepada perintah-perintah khalifah, serta
cakap di bidang kemiliteran dan tangguh di medan pertempuran. Pada masa
pemerintahannya, pasukan Islam berhasil memperluas daerah kekuasaannya sampai
ke Spanyol di barat dan Kabul dan Belh di timur. Mereka melakukan mobilisasi baik
di laut maupun di darat. Pada saat itu, Irak dan Khurasan masih menjadi pusat
pemberontakan dan kekacauan sejak Umar ra. memegang jabatan khalifah. Pasukan
Utsman berhasil menumpas pemberontakan dan dapat membersihkan tempat-tempat
ini dari segala kekacauan dan huru hara. Seandainya ada sebagian gubernur
melanggar perintah beliau, mengapa pelanggaran ini harus dipikul di atas
pundaknya? Utsman ra. selalu bertindak tegas dan konsekwen jika menemukan
penyelewengan yang dilakukan oleh pegawainya. Bahkan beliau sendiri tidak segan-
segan melakukan investigasi terhadap dugaan tindakan indisipliner yang dilakukan
oleh para pegawainya untuk mengetahui apakah dugaan ini benar atau hanya
fitnah belaka yang disebarkan oleh para penghasut. sebab lazimnya seorang kepala
pemerintahan pasti memiliki banyak musuh dan sangat dicemburui. Oleh sebab itu,
dalam mengambil segala tindakan, Khalifah tidak sekedar mendasarkan laporan
(keluhan) belaka. sebab hal ini dapat menciptakan instabilitas di dalam sistem
kepemerintahannya. Jika investigasi yang dilakukannya ternyata dapat membuktikan
kebenaran laporan yang disampaikan kepada Khalifah, beliau segera memecat
pejabat ini . Beliau pernah memecat Walid.
Sebagaimana diketahui, bahwa salah seorang gubernur yang diangkat
oleh Utsman bin Affan yaitu Mu'awiyah. Beliau tidak pernah melanggar perintah
Khalifah apalagi memberontak. Beliau sangat terkenal dan dicintai oleh warga
Damaskus. Mua’wiyah bertindak adil dalam menjalankan roda kepemerintahannya di
Damaskus. Sehingga tidak seorang pun yang tinggal dibawah otoritasnya mengalami
intimidasi. Beliau menyerukan kepada rakyatnya untuk selalu menegakkan jihad
melawan orang-orang kafir. Siapakah yang akan memecat seorang pahlawan seperti
dirinya? Akan namun , mengapa Utsman bin Affan pernah memecat Abdullah bin
Sa’ad, gubernur Mesir? Abdullah bin Sa’ad mengundurkan diri dan menjauhi
kehidupan politik sesudah Utsman bin Affan meninggal dunia. Adapun keluhan-
keluhan dari rakyat Mesir menyangkut dirinya yang diterima oleh Khalifah Utsman
ra. di Madinah pada saat itu disebabkan oleh hasutan-hasutan yang dilakukan oleh
seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ sebagaimana telah dijelaskan
sebelumnya. Pendek kata, Utsman ra. telah menjalankan tugas kekhalifahan yang
diamanatkan kepada dirinya dengan sempurna. Akan namun , suratan takdir melawan
rencana beliau sehingga beliau gagal memadamkan pemberontakan yang dikobarkan
oleh orang-orang Yahudi.
Dalam beberapa aspek, kasus yang menimpa Utsman ra. tidak jauh
berbeda dengan kasus yang menimpa diri Ali ra. Meskipun berbagai langkah
preventif telah dilakukan oleh Khalifah Ali ra., akan namun hasilnya nihil. Perbedaan
antara keduanya hanya terletak pada loyalitas dari para gubernur mereka. Para
gubernur Utsman bin Affan ra. tetap setia dan patuh kepada beliau. Mereka secara
berkala mengirimkan harta rampasan perang kepada Khalifah. Sehingga kondisi
ekonomi rakyat baik dan keamanan terjamin. Meskipun dalam kenyataannya, upaya
yang dilakukan oleh Khalifah Utsman ini justru menimbulkan kekacauan dan
fitnah. Berbeda dengan para gubernur Ali ra. Mereka tidak loyal kepada beliau,
bahkan memberontak. Mereka tidak mematuhi perintah Khalifah Ali ra. Bahakan
ironisnya, para kerabat Ali sendiri yaitu saudara-saudara sepupu seayah beliau justru
turut andil menciptakan kondisi seperti itu. Dalam hal ini, kami ingin menegaskan
kepada orang-orang yang mencoba menghujat Sayidina Utsman ra., seandainya
mereka tidak mempercayai keterangan yang diberikan oleh para ulama Ahlus Sunnah
wal Jamaah, maka kami persilakan mereka merujuk dan membaca artikel -artikel yang
ditulis oleh orang-orang Syi'ah. Tentu mereka akan mendapat informasi dan fakta
yang sebenarnya.
Kitab Nahj al-Balagah yang menjadi referensi utama dan sangat
dikagumi oleh kalangan Syi'ah mengutip sebuah surat yang ditulis oleh Imam Ali ra.
yang ditujukan untuk saudara sepupu seayah beliau. Di dalam suratnya ini
beliau menulis, bahwa pada awalnya beliau mempercayai si munafik Abdullah bin
Saba’ itu. Selanjutnya kitab Nahj al-Balagah memberikan keterangan rinci tentang
pengkhianatan yang dilakukan oleh Ibnu Saba’ kepada Imam Ali ra. Munzir bin
Jarut, -gubernur Ali lainnya-, terbukti yaitu seorang pengkhianat. Di dalam artikel -
artikel yang ditulis oleh orang Syi’ah, dijelaskan bahwa Khalifah Ali ra. pernah
melayangkan surat ancaman untuk Munzir.
Nama besar dan kemuliaan Imam Ali ra. tidak tercemar disebabkan oleh
kejahatan yang pernah dilakukan oleh para gubernur beliau. Bahkan para nabi pun
sekali waktu tertipu oleh kata-kata manis yang keluar dari mulut orang-orang
munafik. Akan namun , Allah menurunkan wahyu kepada mereka sehingga
kedengkian batin orang-orang munafik dapat terungkap.
Menurut keyakinan orang-orang Syi'ah para Imam mereka mengetahui
segala sesuatu yang tersembunyi. Mereka mencela Utsman ra. sebab dirinya tidak
mampu mengetahui hal-hal yang tersembunyi. Dengan keyakinan ini, mereka juga
mencela Imam Ali ra. Mereka berpendapat, bahwa Imam Ali ra. telah mengangkat
para pengkhianat menjadi pejabat yang mengendalikan kepentingan publik kaum
muslimin. Meskipun Ali sendiri mengetahui bahwa suatu saat mereka akan
mengkhianati.dirinya. Di antara pejabat (gubernur) yang diangkat oleh Imam Ali ra.
yang lalu berkhianat kepadanya yaitu Ziyad bin Abih.
Hal lain yang dijadikan alasan mereka menghujat Khalifah Utsman bin
Affan ra. ialah beliau telah mengijinkan ayah Marwan, -Hakam bin Ash-, kembali
dan tinggal di Madinah. Rasulullah saw. telah mendeportasi Hakam dari Madinah
sebab Marwan bekerja sama dengan orang-orang munafik dan menyebarkan fitnah
di kalangan kaum muslimin. Pada masa pemerintahan dua khalifah pertama, orang-
orang kafir telah dibersihkan dari kota Madinah. Mereka melarang Hakam kembali
ke Madinah. Menurut mereka kemungkinan dia akan mengulangi lagi perbuatan-
perbuatan sesatnya. Hakam termasuk salah seorang dari suku Bani Umayyah.
sedang dua khalifah pertama ini berasal dari Bani Tamim dan Adiy. Mereka
mungkin terjangkiti kembali oleh sikap permusuhan suku seperti yang pernah terjadi
pada masa jahiliyah (sebelum Islam). Sementara itu, Utsman ra. yaitu putra dari
saudara laki-laki Hakam. Oleh sebab itu, menurutnya tidak ada alasan untuk
mencemaskan keadaan Hakam ini . Beliau menjelaskan keputusannya ini
sebagai berikut : “Saya telah memperoleh ijin dari Rasulullah saw. untuk membawa
Hakam kembali ke Madinah. saat saya menyampaikan hal ini kepada Khalifah
Abu Bakar ra., beliau meminta saya untuk membuktikannya lewat kesaksian. Akan
namun , saya tidak dapat melakukannya sebab saya tidak mempunyai seorang saksi
pun. Saya juga pernah menyampaikan hal ini kepada Umar ra. dengan harapan beliau
akan menerima permohonan saya. Akan namun , beliau pun meminta saksi. saat
saya menjadi khalifah, saya mengijinkan Hakam kembali ke Madinah.” saat
Rasulullah saw. sakit beliau pernah mengatakan, “Saya berharap ada orang salih
datang menemui saya sebab saya ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.” saat
mereka bertanya apakah dia yaitu Abu Bakar ra., Rasulullah saw. menjawab,
“Bukan.” Mereka bertanya lagi apakah dia Umar ra., beliau juga menjawab,
“Bukan.” Apakah dia Ali ra., jawaban beliau juga “Bukan”. Apakah dia Utsman ra.
kali ini beliau menjawab, “Ya.” saat Utsman datang, Rasulullah saw.
menyampaikan sesuatu kepadanya. Dalam pada itu, mungkin beliau (Utsman ra.)
memintakan ampunan untuk Hakam dan permintaan itu diterima oleh beliau. Hakam
berhenti dari kebiasaan menghasut dan menyesatkan orang lain serta bertaubat
menjelang akhir hayatnya. Di samping itu, menurutnya dia terlalu tua untuk
mengulangi kembali perbuatan-perbuatan dulu jika kembali ke Madinah.
Hadiah-hadiah yang diberikan Utsman ra. kepada kerabat-kerabat beliau
bukan berasal dari baitulmal sebagaimana dijelaskan dalam artikel -artikel yang ditulis
oleh orang-orang Hurufi dan Sayyid Quthb. Hadiah itu berasal dari harta pribadi
Utsman ra. Di dalam artikel berjudul Hadiqah volume kedua, Abdul Ghani Nablusi
menjelaskan di halaman ketujuh ratus sembilan belas sebagai berikut : “Tiga dari
keempat khalifah Rasulullah saw. memperoleh gaji yang diambilkan dari baitulmal
(keuangan negara). Akan namun , Utsman ra. tidak menerima gaji ini disebabkan
beliau sangat kaya. Beliau tidak membutuhkan gaji dari baitulmal itu.” Di dalam
artikel berjudul Bariqah di halaman keseribu empat ratus tiga puluh satu juga ada
keterangan seperti itu. Bariqah menambahkan penjelasan berikut ini : “saat
meninggal dunia, beliau meninggalkan seratus lima puluh ribu dinar emas, satu juta
dinar perak dan pakaian-pakaian senilai dua ratus ribu emas di antara harta pribadi
pembantu beliau.” Utsman ra. yaitu seorang saudagar kain. Beliau memberi hadiah
tidak hanya kepada kaum kerabatnya saja. Akan namun , beliau juga dermawan kepada
siapa saja sebab Allah semata. Setiap hari Jum’at beliau memerdekakan seorang
budak. Dan setiap hari beliau memberi hidangan istimewa kepada para shahabat
Nabi. Harta yang disedekahkan sebab mengharapkan pahala dari Allah swt. tidak
akan sia-sia (habis). Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa bersedekah kepada
kaum kerabat pahalanya dua kali lipat dibandingkan kepada orang lain. Pada suatu
hari, Utsman ra. mengundang para shahabat. Di antara mereka yang diundang yaitu
Ammar bin Yasir. Utsman ra. berkata, “Aku mengundang kalian untuk bersaksi
bahwa Rasulullah saw. memberi kebaikan lebih kepada suku Quraisy dan Bani
Hasyim di antara orang-orang yang berhak menerima. Jika mereka memberikan
kunci-kunci surga kepada saya, tentu saya akan memasukkan mereka semua ke
surga. Saya tidak akan membiarkan seorang pun dari mereka berada di luar.” Para
shahabat tidak membantah pernyataan Utsman ini . saat beliau ditanya
tentang rumor dirinya yang telah memberi hadiah-hadiah kepada kaum kerabat dan
para shahabat Nabi dari baitulmal, beliau menjawab, “Janganlah kamu membebani
saya dengan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip keadilan dan ketakwaan.”
Pada saat Utsman ra. menikahkan putranya dengan putri Haris, -saudara laki-laki
Marwan-, beliau memberi seribu dirham perak dari harta pribadi miliknya. Dan
saat beliau menikahkan putrinya, -Ruman-, kepada Marwan beliau memberi
mereka seribu dirham juga. Hadiah-hadiah ini sekali-kali bukan berasal dari
baitulmal.
Keterangan yang menyebutkan bahwa, “Dia memberikan seperlima dari
harta rampasan perang yang diperoleh dari Afrika kepada Marwan,” sebagaimana
dikutip oleh Sayyid Quthb yang bersumber dari artikel -artikel yang ditulis oleh orang
Hurufi dan dari sejarah-sejarah yang ditulis oleh orang-orang Abbasiyah, jelas tidak
benar sama sekali. Pada tahun dua puluh sembilan hijriah, Utsman ra. mengirim
Abdullah bin Sa’ad ke Afrika bersama dengan seribu pasukan kavaleri dan infantri
di bawah komando beliau. Perang hebat berkecamuk di ibu kota Tunisia, Afrika.
Pasukan Islam berhasil memukul lawan sehingga mereka memperoleh banyak harta
rampasan perang. Abdullah Marwan menghadap Khalifah Utsman ra. dengan
membawa seperlima dari harta rampasan perang ini . Jumah koinnya dari harta
rampasan itu mencapai lebih dari lima ribu emas. Sementara itu, jarak tempuh
perjalanan dari Tunisia Afrika hingga Madinah membutuhkan waktu berbulan-bulan
sehingga cukup riskan dan berbahaya seandainya membawa seluruh harta rampasan
perang ini ke Madinah. Oleh sebab itu, Marwan mengambil inisiatif menjual
seribu dirham dari harta itu, dan sisanya dibawa pulang ke Madinah. Tindakannya itu
dimaafkan oleh Khalifah Utsman bin Affan mengingat jarak perjalanan yang harus
ditempuh oleh pasukan begitu jauh dan penuh resiko. Sebagai khalifah, Utsman ra.
memiliki otoritas memaafkan siapa saja termasuk Marwan. Tambahan lagi, peristiwa
ini disaksikan oleh para shahabat Nabi saw. Jika seseorang dibawakan
(dikirimi) seribu emas, lalu dia memberi barang satu atau lebih dari emas ini
sebagai hadiah kepada si pengirim (si pembawa), tentu tidak seorang pun
mengatakan bahwa hal itu merupakan sikap pemborosan. Padahal Allah swt.
memerintahkan agar para kolektor zakat diberi imbalan sebanyak kebutuhannya.
Kedustaan lain berkaitan dengan Sayidina Utsman ra. menyebutkan,
“Beliau memberi hadiah kepada Abdullah bin Khalid seribu dirham.” Padahal kasus
yang sebenarnya yaitu bahwa beliau memerintahkan agar Abdullah ini dipinjami
uang. lalu Abdullah pun mengembalikan uang pinjaman ini . Bahkan
saat Utsman ra. mengetahui bahwa menantu beliau Haris (bukan Haris saudara
laki-lakinya Marwan, pent.) menyelewengkan zakat yang dipungut dari para
pedagang di Madinah, beliau tidak segan-segan memecat dan menghukumnya.
Utsman Dzunnurayn ra. memberi tanah yang tidak digarap di Hijaz dan
Irak kepada orang yang dia percaya dan kaum kerabatnya, membelikan mereka alat-
alat pertanian serta memerintahkan mengolah tanah ini agar tersedia lahan yang
subur bagi pertanian rakyat. Beliau juga membangun sumur-sumur dan membuka
saluran irigasi untuk mengairi tanah-tanah gersang yang ada di Arabia sehingga
menjadi subur. Dengan demikian, keadaan ekonomi rakyat menjadi lebih baik dan
keamanan negara terjamin. Beliau juga membangun rumah-rumah penginapan dan
losmen di tempat-tempat yang dulunya menjadi sarang perampok yang sekarang
telah menjadi warga masyarakat biasa. Di samping itu, beliau juga membangun
fasilitas-fasilitas perjalanan dan sarana transportasi. Upaya-upaya yang dilakukan
Utsman merupakan sebuah prestasi yang sangat luar biasa yang pernah diraih oleh
masyarakat Arab. Seolah-olah hadits yang disampaikan oleh Baginda Nabi saw. yang
menyebutkan, “Kiamat tidak akan terjadi kecuali jika sungai-sungai di Arabia
telah mengalir,” mengisyaratkan suatu tingkat peradaban yang gemilang yang
dicapai pada masa kekhalifahan Utsman ra. Di dalam hadits lain Rasulullah saw.
menyampaikan kepada Adi bin Hatim al-Thai : “Jika kamu dikarunia panjang umur,
kamu akan menyaksikan bagaimana seorang wanita pergi dari kota Hira ke
Ka'bah dengan mudah, tanpa merasa takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah”.
Banyak hadits yang meriwayatkan, bahwa pada masa pemerintahan
Utsman ra. akan terjadi peningkatan kemakmuran dan kemajuan di dunia pertanian
dan perdagangan. Para shahabat Nabi mengagumi kesuksesan dan sistem
administrasi yang dikelola oleh Khalifah Utsman ra. Banyak di antara mereka
115
mencoba mencontoh kinerja Khalifah. Ali ra. mencoba berladang dan mengolah
kebun anggur di Yanbu, Fadak dan Zuhra. Sementara itu, Thalhah bertani di Ghabid,
dan Zubayr di Zihashib. Dalam waktu tidak lama negeri Hijaz menjadi makmur.
Seandainya periode kekhalifahan Utsman ra. ditakdirkan bertahan sedikit lebih lama,
tanah pertanian yang ditanami mawar di Shiraz dan hutan kayu di Hirat akan
semakin luas. Khalifah Utsman mengijinkan kepada seluruh rakyat untuk mengelola
lahan pertanian yang mati secara cuma-cuma. Sehingga lahan ini seolah-olah
menjadi milik si pengelola.
Jika Khalifah Utsman memberi ijin secara cuma-cuma kepada siapa saja
yang ingin mengelola lahan pertanian, mengapa Khalifah sendiri lalu dilarang
melakukan hal yang sama? Mengapa hasil panen yang diusahakannya tidak halal
buat dirinya? Padahal beliau mengelola banyak lahan pertanian dengan harta milik
beliau sendiri. Di samping itu, Khalifah Utsman juga menyediakan infra-struktur
perdagangan rakyat. Beliau telah membangun sistem perdagangan baru untuk rakyat.
Pepatah mengatakan, “Harta akan menghasilkan harta”. Pendapatan rakyat
meningkat berlipat ganda pada masa pemerintahan Utsman ra. Pada masa itu semua
orang memiliki lahan pertanian atau perkebunan anggur di belakang rumah mereka
masing-masing. Seandainya al-Maududi dari India atau Sayyid Quthb dari Mesir
menelaah kembali sejarah Islam, atau minimal membaca artikel Tuhfah yang ditulis di
India, tentu mereka merasa berdosa dan menyesal sebab telah mencemarkan nama
baik para Khalifah Rasulullah saw.
Keterangan yang mengatakan bahwa, “Dia memberikan seribu dirham
kapada Zaid bin Tsabit ra. dari baitulmal,’ yaitu pandangan negatif terhadap
Utsman ra. Pada suatu hari, Utsman ra. memerintahkan mensubsidi harta dari
baitulmal kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Ternyata diketahui, bahwa
jumlah seribu dirham untuk subsidi ini terlalu banyak sehingga beliau
memerintahkan agar kelebihannya dialokasikan untuk kepentingan publik lainnya.
Sesuai dengan perintah dari Khalifah, Zaid memakai dana subsidi ini untuk
perbaikan Masjid Nabawi.
Di dalam kitab Masyihat karya Hafidz Ahmad bin Muhammad Abu
Tahir Silafi, -seorang ulama Syafi’i yang wafat pada tahun 576 H-, juga diriwayatkan
oleh Ibnu Asahir Ali bin Muhammad, ada sebuah hadits yang menyatakan,
“Mencintai Abu Bakar dan berterima kasih kepadanya wajib hukumnya bagi seluruh
ummatku”. Imam Munawi juga meriwayatkan hadits ini dari al-Daylami. Di
dalam kitab Wasilah karya Hafidz Umar bin Muhammad Arbili ada hadits yang
menyatakan, “sebab Allah telah mewajibkan shalat, zakat dan puasa kepada
kalian, maka Dia juga telah mewajibkan kalian untuk mencintai Abu Bakar, Umar,
Utsman dan Ali ,” Di dalam kitab al-Munawi, ada hadits lain yang
diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Adi yang menyebutkan, “Mencintai Abu Bakar
dan Umar yaitu (bagian) dari iman. Dan memusuhi mereka menjadikan
(seseorang) munafik.” Menurut sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Imam al-
Tirmidzi, diceritakan bahwa ada sesosok jenazah dibawa ke hadapan Rasulullah saw.
Akan namun beliau enggan menyalati jenazah itu. Lalu beliau berkata, “Orang ini
telah memusuhi Utsman. Oleh sebab itu, Allah swt. pun memusuhi dia.” Ayat
keseratus surat al-Taubah menjelaskan, “Allah mencintai orang-orang mukmin
permulaan di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang
mengikuti mereka. Mereka mencintai Allah dan Allah pun telah menyediakan taman-
taman surga untuk mereka.” Ketiga khalifah pertama yaitu orang-orang mukmin
permulaan sebagaimana dimaksud oleh ayat ini . Mu'awiyah dan Amr Ibn Ash
termasuk di antara mereka yang mengikuti ketiga khalifah pertama ini . Mereka
yang memfitnah para pemimpin agung Islam ini berarti telah mengingkari ayat
Al Qur'an dan hadits ini di atas. Seseorang yang mengingkari ayat Al Qur'an
maupun hadits berarti telah keluar dari Islam dan termasuk kafir. Pengakuannya
sebagai seorang muslim terbantah oleh fakta bahwa pada dasarnya dirinya yaitu
seorang munafik atau zindiq.
“Seorang wanita tua mengarang sebuah cerita palsu tentang
gelangnya yang hilang. Hal itu dilakukannya untuk menutupi perselingkuhan dirinya
dengan Safwan. Dia mencoba mengkambinghitamkan Ali ra. sehingga dirinya
tertinggal dari rombongan. wanita inilah yang menjadi penyulut terjadinya
Perang Unta,” kata penulis majalah itu.
Sang penulis majalah ini dengan tanpa basa-basi mencoba
menyerang Aisyah Shiddiqah ra., -ummul mukminin dan istri tercinta Rasulullah saw.
Perhatikan penjelasan yang diberikan oleh Abul Haq Dahlawi, -seorang ulama
hadits-, di dalam kitabnya Madarij al-Nubuwwah :
Keutamaan dan kemuliaan yang dimiliki oleh Aisyah Shiddiqah ra.
begitu banyak. Beliau yaitu salah seorang ulama fiqh dari kalangan shahabat.
Beliau juga seorang yang sangat fasih gaya bicaranya. Beliau menjadi sumber
rujukan fatwa dari para shahabat. Menurut jumhur ulama, seperempat ilmu fiqh
berasal dari beliau. Disebutkan di dalam sebuah hadits, “Pelajarilah sepertiga agama
kalian dari Humayrah!” Rasulullah saw. memanggil beliau Humayrah (wanita
yang kemerah-merahan, pent.) sebab beliau sangat mencintainya. Sebagian besar
shahabat dan tabi’in meriwayatkan hadits dari Aisyah Shiddiqah ra. Urwah Ibn
Zubayr menyatakan : Saya tidak menyaksikan seorang pun yang lebih mengetahui
tentang makna Al Qur'an, halal dan haram, puisi Arab, dan tentang silsilah keturunan
(nasab) kecuali dia. Aisyah memuji Rasulullah melalui dua bait syair berikut ini :
Seandainya orang-orang Mesir mengetahui keindahan pipi beliau,
tentu mereka tidak akan memberi uang untuk membeli Yusuf as.
(Artinya mereka akan menyimpan seluruh uangnya disebab kan dapat
melihat pipi beliau).
Seandainya wanita -wanita yang menyalahkan Zulaikha melihat
dahi beliau yang berkilauan,
tentu mereka akan memotong hati mereka bukan tangan mereka.
(Dan mereka tidak akan merasakan sakit sama sekali).
Keagungan lain yang dimiliki oleh Aisyah ra. ialah bahwa beliau yaitu
istri tercinta Rasulullah saw. Beliau sangat mencintai Aisyah. saat Rasulullah
ditanya siapa wanita yang paling beliau cintai, beliau menjawab : “Aisyah”. Dan
saat beliau ditanya siapa laki-laki yang paling beliau cintai, beliau menjawab
:“Ayah Aisyah”. Artinya beliau sangat mencintai Abu Bakar ra. saat Aisyah
ditanya siapa orang yang paling dicintai oleh Rasulullah saw., beliau menjawab
bahwa Rasulullah sangat mencintai Fatimah. Dan saat beliau ditanya siapa laki-
laki yang paling dicintai oleh Rasulullah saw., beliau menjawab bahwa Rasulullah
sangat mencintai suami Fatimah. Artinya di antara istri-istri Rasulullah, Aisyah
yaitu istri yang paling dicintainya; di antara anak-anak beliau yang paling dicintai
yaitu Fatimah ; di antara Ahlul Bayt beliau Ali ra. yaitu orang yang paling
dicintainya dan di antara shahabat-shahabat beliau Abu Bakar yaitu shahabat yang
paling dicintainya. Aisyah menceritakan : “Pada suatu hari Rasulullah saw. sedang
melepas tali sandalnya. saat itu saya sedang memintal benang. Saya melihat wajah
beliau. Dari dahinya yang bercahaya mengalir keringatnya. Setiap tetes keringat
beliau memancarkan cahaya ke sekeliling. Tetes-tetes keringat itu menyilaukan mata
saya. Saya kagum dan terkesima melihat kejadian ini . Tiba-tiba beliau menoleh
kepada saya. ‘Ada apa dengan kamu? Apa yang telah membuatmu termenung-
menung dan terkesima?’ tanya beliau. Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Kilatan
lingkaran cahaya di wajah tuan dan pancaran sinar yang terpancar dari tetes-tetes
keringat dahi tuan membuat saya tidak sadarkan diri.’ Lalu Rasulullah berdiri dan
mendekati saya. Beliau mencium di antara dua mata saya sambil berkata, ‘Wahai
Aisyah! Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepadamu! Saya tidak bisa
menyenangkan kamu sebagimana kamu menyenangkan saya.’ Artinya beliau
berkata, ‘Kesenangan yang saya dapatkan dari kamu lebih banyak dari pada yang
saya berikan kepada kamu.’ Ciuman beliau di antara dua matanya berarti pemberian
penghormatan dan kemuliaan kepadanya sebab kecintaan yang disewrikan Aisyah
kepada Rasulullah hingga memperoleh kesempatam menyaksikan keindahan beliau.
Sebaris puisi :
Saya ucapkan selamat kepada mata saya sebab menyaksikan
keindahannya!
Dan sebait puisi :
Betapa beruntung mata sebab melihat keindahan itu,
Betapa bahagia hati sebab terbakar bersama cintanya!
Imam Masruq, -salah seorang tabi’in-, setiap kali hendak menyampaikan
sebuah riwayat dari Aisyah, dia mengatakan sebagai berikut : ”Sayyidah Shiddiqah
kekasih Rasulullah saw. dan putri Abu Bakar ra., menyatakan bahwa ….”
Adakalanya dia mengatakan, “Salah seorang kekasih di antara para kekasih Allah
ta’ala dan salah seorang penghuni di antara para penghuni surga mengatakan bahwa
….” Aisyah ra. mengatakan bahwa dirinya yaitu seorang azwajut tahirat tertinggi (
Istri-itri suci Nabi ) dan merasa bangga dengan rahmat Allah swt. yang dilimpahkan
kepada dirinya. Misalnya, dia mengatakan, “Sebelum Rasulullah saw. (berbicara
kepada ayah saya bahwa beliau) ingin menikahi saya, Malaikat Jibril as.
menunjukkan (kepada beliau) rupa saya sambil berkata : Ini yaitu istrimu!” Pada
saat itu membuat gambar mahluk hidup belum diharamkan. Di samping itu, gambar
ini tidak dibuat oleh manusia. Di dalam sebuah hadits yang dinukil dari kitab
Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. berkata kepada Aisyah ra., “Selama
tiga malam saya melihat kamu di dalam mimpi. Malaikat itu menunjukkan kepada
saya gambarmu yang dibuat di atas sutra putih. Dia berkata : Ini yaitu istrimu.
Saya tidak lupa gambar yang ditunjukkan oleh malaikat itu kepada saya dalam
mimpi saya. Itu benar-benar (gambar) kamu.” Aisyah berkata, “Suatu saat
Rasulullah saw. sedang mengerjakan shalat tahajjud, sementara itu saya berbaring di
sebelah beliau. Kemuliaan istimewa hanya untuk saya. [Aisyah bangga dengan
kemuliaan itu]. saat beliau sujud, tangan beliau menyentuh kaki saya sehingga
saya menariknya.” Kemuliaan lain yang dianugerahkan kepada Aisyah ialah bahwa
mereka (Rasulullah saw. dan dia) mandi bersama dan memakai bejana yang
sama. Hal ini mengisyaratkan martabat cinta yang diberikan oleh Rasulullah
kepadanya. Rasulullah tidak pernah menerima wahyu di tempat tidur istri-istri beliau
kecuali di tempat tidur Aisyah. Hal ini menunjukkan ketinggian martabat yang
dianugerahkan Allah swt. kepada Aisyah. Suatu saat Ummu Salamah membicarakan
Aisyah di hadapan Rasulullah saw. Beliau berkata, “Jangan lukai saya dengan
Aisyah. Saya telah menerima wahyu di tempat tidurnya.” Atas kejadian ini
Ummu Salamah berkata, “Saya tidak akan sekali-kali melukai engkau. Saya
bertaubat, wahai Rasulullah.” Pada suatu hari, beliau bertanya kepada Fatimah,
“Apakah kamu akan mencintai orang yang aku cintai?” saat dia menjawab ‘ya’,
Rasulullah saw. mengatakan, “Cintailah Aisyah!”
Aisyah menjelaskan bahwa Allah swt. memberitahukan bahwa fitnah
yang diarahkan kepadanya yaitu bohong belaka. Allah swt. menurunkan tujuh belas
ayat di dalam surat al-Nur yang memberitahukan bahwa mereka yang memfitnah
dirinya akan masuk neraka. Ayat-ayat ini menunjukkan kemuliaan dan
ketinggian derajat Aisyah ra.
Fitnah yang menimpa diri Aisyah terjadi pada saat Perang Suci Muraysi
tahun kelima hijriah, disebut juga Perang Bani Mustaliq. Di dalam Perang Suci
ini Rasulullah saw. berangkat bersama seribu pasukan. Beliau juga membawa
serta Aisyah dan Ummu Salamah. Beberapa orang munafik juga turut bersama beliau
namun dengan niat mendapat harta rampasan perang. Rasulullah mengangkat
Umar sebagai komandan pasukan. sesudah perang selesai, mereka memperoleh harta
rampasan perang berupa lima ribu biri-biri, sepuluh ribu unta dan lebih dari tujuh
ratus orang tawanan. Di antara tawanan ini yaitu Juwairiyyah. Rasulullah saw.
membeli dia dan menikahinya. Melihat kejadian ini , para shahabat berkata,”
Bagaimana kita bisa menjaga ahlul bayt Rasulullah yang menjadi tawanan?” dan
membebaskan para tawanan lainnya. Sebagaimana diketahui, bahwa Juwairiyyah
yaitu wanita penyelamat bagi sukunya. Dengan perantaraan dia sukunya tidak
diperlakukan sebagai tawanan perang. Pada tahun itu juga, Rasulullah berhasil
menebus Salman al-Farisi dari majikannya, -seorang Yahudi-, dan
memerdekakannya. Salman sendiri masuk Islam pada tahun pertama hijriah.
Di dalam artikel yang berjudul Alti Parmak yang merupakan terjemahan
bahasa Turki dari artikel berbahasa Persia berjudul Ma’arij al-Nubuwwah diperoleh
keterangan sebagai berikut : Sebelum berangkat perang, Rasulullah saw. mengundi
di antara istri-istri beliau untuk menentukan siapa yang akan dibawa serta dalam
perang. Aisyah menceritakan : “sesudah turun wahyu yang memerintahkan kaum
wanita menutup dirinya, saya dibuatkan sebuah tenda. Saya naik unta di dalam
tenda ini . Dalam perjalanan pulang dari Perang Suci ini kami berhenti di
sebuah tempat dekat Madinah. Pada saat fajar menyingsing kami mendengar suara
gaduh sebab kami akan melanjutkan perjalanan. Saya meninggalkan tenda sebentar
untuk keperluan buang hajat. saat saya kembali saya baru menyadari bahwa
gelang yang saya pakai ternyata hilang. Saya pun pergi dan mencarinya sehingga
gelang ini ditemukan kembali. saat saya kembali ke tenda saya tidak
mendapat seorang tentara pun. Mereka telah pergi meninggalkan saya. Mereka
meletakkan tenda saya di atas unta dan mengira bahwa saya telah berada di
dalamnya. saat peristiwa itu terjadi saya sedang kurang selera makan sehingga
badan saya merasa lemah. Saya saat itu baru berusia empat belas tahun. Saya
bingung. Lalu saya berkata dalam diri saya sendiri bahwa mereka akan segera
menyadari kalau saya tidak berada (di dalam tenda) sehingga mereka akan kembali
lagi untuk mencari saya. Oleh sebab itu, saya duduk seorang diri menunggu sambil
tiduran sebentar. Rasulullah saw. memerintahkan kepada Safwan bin Mu’attil Sulami
untuk kembali dan mencari saya. saat orang ini menemukan saya dia berteriak.
Teriakannya membangunkan saya. saat melihat dia, saya segera menutupi muka
saya. Dia menyuruh untanya berlutut. Lalu dia sendiri menyingkir sambil berkata,
“Naiklah ke unta!” Saya pun naik ke unta. Safwan memegangi tali kendali unta
ini . Suasana telah menjadi panas saat kami menyusul pasukan. Orang-orang
yang pertama kami jumpai yaitu sekelompok orang munafik. Mereka
memperbincangkan sesuatu yang tidak menyenangkan. Ternyata mereka telah
diprovokasi oleh Ibnu Abi Salul. Hassan bin Tsabit dan Mistah (dari kaum muslimin)
juga ikut bersama mereka. saat kami kembali, saya jatuh sakit. Rumor tidak sedap
tentang diri saya telah menyebar ke mana-mana. Namun, secara pasti saya tidak
mengetahui hal ini . Yang saya rasakan bahwa Rasulullah tidak menemui saya
sebagaimana biasanya. Bahkan beliau enggan menemui saya untuk sekedar
mengetahui keadaan saya. Saya tidak mengetahui mengapa beliau demikian. Pada
suatu malam, saya keluar ke kamar kecil ditemani oleh ibunya Mistah. Tiba-tiba kain
yang dipakainya menjerat kakinya sehinggah dia terjatuh. saat itu dia mengutuki
anaknya (Mistah). saat saya menanyakan mengapa dia menyumpahi anaknya, dia
tidak memberikan alasannya. Lalu saya bertanya berkali- kali. Sehingga pada
akhirnya dia bertanya, ‘Wahai Aisyah! Bukankah engkau telah mendengar rumor
yang telah disebarkannya?’ saat saya menanyakan kepadanya rumor tentang
apakah itu, dia menceritakan kepada saya mengenai fitnah ini . Sesaat itu juga
sakit saya semakin parah. Demam saya semakin tinggi sehingga seolah-olah kepala
saya mengeluarkan api. Saya tidak sadarkan diri dan jatuh. saat saya sadar saya
segera kembali. Saya meminta ijin kepada Rasulullah saw. untuk pulang ke rumah
ayah saya. Beliau pun mengabulkan permohonan saya. Tujuan saya kembali ke
rumah ayah saya yaitu untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Saya bertanya
kepada ibu saya. Dia berkata, ‘Anakku tercinta! Jangan khawatir! Persoalan ini
mudah bagi kamu. Setiap wanita cantik dan dicintai oleh suaminya tentu akan
mengalami fitnah-fitnah seperti ini.’ Saya heran. Saya merasa tercengang sebab
fitnah itu ternyata telah sampai ke telinga Rasulullah. Apa yang akan terjadi
seandainya ayah saya juga mengetahui hal ini? Pikiran seperti inilah yang membuat
saya sedih sekali sehingga saya menangis tersedu-sedu. saat itu ayah saya sedang
membaca Al Qur'an di kamar. Dia mendengar tangisan saya. Dia lalu menghampiri
ibu dan bertanya kepada ibu kenapa saya menangis. Ibu saya menceritakan
kepadanya betapa pedih duka cita saya saat pertama kali mendengar gosip yang
merebak. Ayah saya juga turut menangis. Lalu dia mendekati saya dan berkata,
‘Anakku tercinta! Bersabarlah! Mari kita tunggu ayat yang akan diturunkan oleh
Allah swt.’ Malam itu saya tidak bisa tidur sampai pagi. Air mata saya terus mengalir
tanpa henti.”
Rasulullah memanggil Ali dan Usamah., beliau bertanya, “Bagaimana
masalah ini akan selesai?” Usamah menjawab, “Wahai Rasulullah! Kami
berprasangka baik terhadap istri Tuan.” Ali ra. menjawab, “ Banyak wanita di
dunia ini. Allah ta’ala tidak menjadikan dunia ini sempit buat Tuan. Tentang Aisyah
tanyakan saja kepada jariyahnya, Buraydah!” saat ditanyakan kepadanya,
Buraydah menjelaskan, “Saya bersumpah demi Allah, bahwa saya tidak pernah
melihat dia melakukan suatu kesalahan. Dari waktu ke waktu dia hanya tiduran.
saat dombanya pulang, dia membuat adonan tepung dan memberinya makan.
Sebagian besar waktu yang saya miliki saya habiskan bersama dia. Saya tidak
melihat dia berbuat salah. Jika rumor itu benar, tentu Allah swt. akan
memberitahukannya kepada Tuan.” saat Rasulullah sedang duduk di rumahnya,
tiba-tiba Umar datang. Rasulullah saw. bertanya kepadanya bagaimana pendapat dia
tentang desas-desus menyangkut istrinya Aisyah. Dia berkata, “Wahai Rasulullah!
Saya tahu persis bahwa desas-desus ini disebarkan oleh orang-orang munafik. Allah
swt. tidak akan membiarkan seekor lalat pun hinggap di tubuh Tuan. Dia melindungi
Tuan jangan sampai lalat kotor itu mengotori tubuh Tuan. Allah swt. yang
melindungi Tuan dari kotoran yang kecil, pasti Dia juga akan melindungi Tuan dari
kotoran yang lebih hina.” Pernyataan Umar ini melegakan hati beliau. Wajahnya
tampak ceria. lalu beliau memanggil Utsman ra. dan bertanya kepadanya
tentang hal yang sama. Utsman ra. berkata. “Saya yakin bahwa rumor itu yaitu
kebohongan yang disebarkan oleh orang-orang munafik. Hal itu benar-benar
merupakan fitnah. Allah swt. tidak akan membiarkan bayang-bayang Tuan jatuh di
tanah. Bahkan Dia melindungi bayang-bayang Tuan jatuh di tempat yang kotor atau
diinjak manusia jahat. Apakah Dia akan membiarkan fitnah kotor seperti itu
memasuki rumah Tuan?” Pernyataan ini juga meringankan hatinya. Lalu beliau pun
memanggil Ali dan bertanya kepadanya. Ali berkata, “Rumor ini yaitu fitnah yang
sengaja dibuat oleh orang-orang munafik. (Pada suatu hari) Anda dan kami
mengerjakan shalat. Anda melepaskan sandal saat shalat. Dan kami pun
melepaskan sandal kami sebab mengikuti Anda. saat itu Anda bertanya, ‘Kenapa
kalian melepaskan sandal kalian?’ saat kami menjawab bahwa kami melakukan
ini sebab mengikuti Anda, maka Anda berkata, ‘Jibril as. datang dan
memberitahukan kepada saya bahwa di sandal saya ada najis, sehingga saya harus
melepaskannya.’ Apakah mungkin Allah swt. yang melindungi Anda dari kotoran-
kotoran dengan menurunkan wahyu saat shalat, Dia akan membiarkan istri-istri
Anda melumuri dirinya sendiri dengan kotoran seperti itu? Seandainya kejahatan
seperti itu dilakukan oleh Aisyah, tentu Dia akan segera memberitahukan kepada
Anda. Jangan biarkan hati Anda bersedih. Allah swt. pasti akan menurunkan wahyu
dan memberitahukan kepada Anda bahwa istri Anda suci.” Pernyataan Ali ini sangat
menggembirakan Rasulullah. Beliau segera mengunjungi rumah Abu Bakar ra.
Aisyah menceritakan : Pada hari itu saya tidak henti-hentinya menangis.
Tiba-tiba seorang tamu wanita dari kaum Anshar datang menemui saya. Dia juga
turut menangis. Ibu dan ayah saya duduk bersama saya. Tiba-tiba Rasulullah saw.
datang dan mengucapkan salam kepada kami. Beliau duduk di samping saya. Beliau
tidak pernah datang menemui saya sejak peristiwa itu menimpa diri saya sebulan
sebelumnya. Wahyu belum juga turun. Sambil duduk, beliau memanjatkan syukur
kepada Allah swt. Beliau mengucapkan kalimat syahadat. Lalu beliau menoleh
kepada saya sambil berkata, “Wahai Aisyah! Mereka mengatakan itu dan ini kepada
saya mengenai kamu : Jika kamu tidak seperti yang dikatakan oleh mereka Allah
swt. pasti akan segera memberitahukan bahwa kamu benar. Dan jika kamu telah
melakukan dosa, bertaubatlah dan beristighfarlah! Allah swt. akan menerima taubat
orang yang bertaubat dari dosa-dosanya.” Mendengar ucapan Rasulullah ini saya pun
berhenti menangis. Saya menoleh kepada ayah saya dan meminta dia menjelaskan.
Ayah saya berkata, “Wallahi (Saya bersumpah atas nama Allah bahwa) saya tidak
mengetahui bagaimana saya harus menjelaskan kepada Rasulullah. Pada masa
jahiliah kami yaitu penyembah-penyembah berhala, kami dulu menyembah patung-
patung manusia. Kami tidak mengetahui bagaimana beribadah secara benar. Tidak
seorang pun bisa mengatakan bagaimana keadaan wanita -wanita kami.
Sekarang hati kita telah disinari oleh cahaya Islam. Rumah kami telah diterangi oleh
lentera Islam. Namun, semua orang sedang menebarkan desas-desus mengenai kami.
Lalu apa yang mesti saya katakan kepada Rasulullah?” lalu saya menoleh
kepada ibu dan memintanya menjelaskan. Dia berkata, “Saya heran dan saya
kehabisan kata yang bisa saya ucapkan. Kamu saja yang menerangkan Aisyah!.”
Lalu saya mulai berbicara. Saya berkata : Saya bersumpah demi Allah bahwa rumor-
rumor yang sampai ke telinga Anda yaitu bohong. Jika Anda mempercayai rumor-
rumor ini , maka tentu Anda tidak akan mempercayai apa pun yang saya
katakan. Allah swt. mengetahui bahwa saya yaitu wanita yang sangat suci.
Bila saya katakan ‘ya’ mengenai sesuatu yang tidak saya lakukan, maka saya berarti
telah mendustai diri saya. Wallahi tidak ada hal lain yang saya bisa saya katakan.
Hanya saja saya ingin mengutip pernyataan-pernyataan Yusuf as. : “Bersabar itu
baik. Saya mengharap perlindungan dari Allah terhadap apa yang mereka katakan.”
Saya sangat bingung saat itu sehingga saya mengatakan Yusuf as. bukan Ya’qub
as. Lalu saya memalingkan muka saya. Saya selalu berharap, demi Allah, bahwa
Tuhan saya akan memperbaiki kembali nama saya. sebab saya yakin dengan diri
saya sendiri. Saya tidak bersalah. Namun saya tidak pernah menduga Allah swt.
menurunkan ayat Al Qur'an sebab peristiwa saya. Saya tidak bisa membayangkan
bahwa ayat-ayat Al Qur'an ini akan dibaca (dihapal) di mana saja hingga akhir
masa sebab ihwal saya. Saya sadar akan kemahabesaran Allah swt. dibandingkan
kerendahan diri saya sehingga saya tidak pernah berharap bahwa Dia menurunkan
sebuah ayat sebab ihwal saya. Hanya saja saya berharap bahwa Dia akan
memberitahukan kepada Nabi-Nya lewat mimpi atau mengilhamkan kedalam hatinya
bahwa saya tidak berdosa, bahwa hati saya suci. Pada saat saya sedang
menyampaikan kebenaran itu dan Rasulullah belum berdiri dari tempat duduknya,
dan tidak seorang pun beranjak dari ruangan itu, tiba-tiba tanda-tanda turunnya
wahyu tampak di wajah beliau. Ali ra. yang juga berada di ruangan itu, mengetahui
bahwa wahyu akan segera turun : Kami mempunyai sebuah bantal yang terbuat dari
kulit. saat ayah saya mengetahui apa yang sedang terjadi, beliau meletakan bantal
ini di bawah kepala Rasulullah. Ayah saya menutupi wajah beliau dengan
seprei kasur tipis. saat wahyu itu selesai turun, beliau melepaskan tutup di wajah
Rasulullah. Beliau menyeka tetes keringat yang bercahaya seperti mutiara dari
wajah yang memerah laksana daun mawar dengan tangannya. Sambil tersenyum
beliau berkata, “Kabar gembira buat kamu, wahai Aisyah! Allah swt. telah
membuktikan bahwa kamu tidak bersalah. Dia telah bersaksi bahwa sesungguhnya
kamu suci.” Segera ayah saya berkata, “Berdirilah, wahai putriku! Segeralah
berterima kasih kepada Rasulullah!” Saya berkata, “Wallahi saya tidak akan berdiri!
Saya juga tidak akan berterima kasih kecuali kepada Allah swt.! Rabb saya telah
menurunkan ayat-ayat Al Qur'an sebab ihwal saya.” Lalu Rasulullah membacakan
sepuluh ayat Al Qur'an yang sekarang menjadi ayat-ayat permulaan dengan ayat
kesebelas dari surat al-Nur. Segera ayah saya bangun dan mencium kepala saya.”
Sebelum ayat-ayat Al Qur'an mengenai Aisyah ra. diturunkan, istri Abu
Ayub Khalid telah menanyakan kepada Khalid bagaimana pendapatnya tentang
rumor-rumor yang berkembang tentang diri Aisyah. Khalid berkata, “Demi Allah,
rumor ini bohong. Apakah kamu akan mencaci saya sebab persoalan ini?” saat
istrinya menjawab, “Tidak, tidak akan pernah, semoga Allah swt. melindungi kita
terhadap hal itu,” Khalid berkata, “Apakah Aisyah yang lebih beriman dari pada kita
melakukan kejahatan dengan mengkhianati Rasulullah? Kita sekali-kali tidak akan
mengatakan demikian. Rumor ini jelas bohong.” Dan Allah al-Haqq menurunkan
ayat-ayat Al Qur'an persis seperti ungkapan-ungkapan yang disampaikan oleh
Khalid. Segera sesudah itu Rasulullah saw. mengumpulkan para shahabat di Masjid :
Beliau membacakan ayat-ayat Al Qur'an yang telah diturunkan kepadanya. Dengan
mukjizat dari ayat-ayat Al Qur'an ini , orang-orang mukmin terlepas dari syak
wasangka yang selama ini mengusik hati mereka. Mistah, sebagaimana telah
disebutkan sebelumnya yaitu salah seorang kerabat Abu Bakar ra. Dia tergolong
miskin. Dahulu Abu Bakar ra. biasa membantu nafkah hidupnya. saat Mistah
bersekutu dengan orang-orang munafik dalam perbuatan keji ini , Abu Bakar
bersumpah tidak akan membantunya lagi. Atas kejadian ini, Allah swt. menurunkan
ayat kedua puluh dua surat al-Nur. saat Abu Bakar mendengar ayat ini beliau
berkata, “Saya bersyukur kepada Allah swt. yang telah mengampuni saya,” dan
beliau pun membantu Mistah kembali sebagaimana telah dilakukannya sebelumnya.
sesudah ayat-ayat yang memperbaiki nama Aisyah diturunkan, Rasulullah saw.
memerintahkan agar para penyebar fitnah ini dijatuhi hukuman qadzf (menuduh
wanita berzina). Mereka berjumlah empat orang dan masing-masing dicambuk
delapan puluh kali cambukan. Demikianlah, bagian terakhir dari keterangan yang
kami kutip dari kitab Ma’arij.
Kitab Mawakib menafsirkan ayat pertama berkaitan dengan Aisyah
sebagai berikut : “Para penyebar fitnah Aisyah ra. tidak lain hanyalah sebagian kecil
di antara kamu juga. Janganlah kamu menganggap fitnah itu suatu keburukan yang
membebani kamu! Bahkan hal itu akan membawa hikmah bagi kamu. [Kamu telah
memperoleh pahala yang banyak lantaran fitnah itu. Kebohongan mereka telah
dibongkar dan kemuliaanmu telah ditampakkan. Ayat ini menegaskan
kebenaranmu]. Para pemfitnah itu memperoleh hukuman yang setimpal dengan dosa
yang telah mereka kerjakan. Mereka yang telah mencemarkan nama baik dan
mengatakan sesuatu yang sangat menjijikan akan memperoleh siksa yang amat pedih
di dunia ini dan di akhirat kelak.” sesudah dihukum hadd, Abdullah bin Abih
wajahnya berubah menjadi sangat jelek rupanya. Hasan menjadi buta seumur hidup.
Dan Mistah buntung tangannya. Ayat kedua belas menjelaskan, “saat mendengar
fitnah ini, maka orang Islam laki-laki dan wanita seharusnya memiliki
prasangka yang baik terhadap kaum kerabat. Mereka seharusnya berkata bahwa hal
ini merupakan kebohongan dan fitnah yang nyata.” Ayat kesembilan belas
menjelaskan, “Mereka yang bermaksud jahat terhadap orang-orang mukmin akan
disiksa dengan siksaan yang amat pedih di dunia dan di akhirat.” Dan ayat kedua
puluh enam menjelaskan, “ Ucapan kata-kata kotor memberikan madlarat bagi
manusia yang kotor. Ucapan kotor pantas buat manusia kotor.” Rasulullah saw.,
Aisyah dan Safwan sekali-kali tidak pernah dan tidak patut bagi mereka
mengucapkan kata-kata kotor seperti yang diucapkan oleh orang-orang hina. Mereka
dijauhkan dari ampunan dan kasih sayang Allah swt, dan dijauhkan dari rahmat-Nya
di akhirat kelak. Rasulullah saw. memuji Safwan di dalam sebuah hadits beliau. Dia
memperoleh syahid dalam penaklukan Arzurum pada tahun tujuh belas hijriah .
Allah swt. menegaskan akan menimpakan siksa yang amat pedih kepada
para pemfitnah Aisyah ra. Kami akan memaparkan sebuah fakta sejarah yang
tercantum di dalam kitab Mir’at al-Kainat pada halaman kedua ratus sembilan puluh
dua :
Di dalam kitab Khasais al-Habib disebutkan bahwa Abdullah bin Abbas
telah mengeluarkan fatwa, bahwa, “Seseorang yang melakukan ‘qadzf’ (menuduh
berzina, pent.) terhadap salah seorang dari istri-istri Rasulullah saw., dia menjadi
kafir, dan taubatnya tidak akan diterima.” Dan menurut sebuah riwayat yang
disepakati (muttafaq alaih, pent.) menuduh Aisyah berbuat zina berarti mengingkari
Al Qur'an yaitu tidak mempercayai Al Qur'an. sedang menuduh secara zalim
kepada ibu dari salah seorang shahabat Nabi, [yaitu kepada Hindun], hukumannya
yaitu qadzf dua kali lipat. Semoga Allah swt. melindungi saudara-saudara kita
kaum Alawi dan Syi'i dan seluruh kaum muslimin dari kekhilafan yang membawa
malapetaka! Amin.
“Putri Utbah yang bernama Hindun yaitu pahlawan wanita yang
terkenal bengis. Dia sering melakukan skandal percintaan dengan banyak laki-laki.
Dia pernah memakan paru-paru Sayidina Hamzah dan membagikannya kepada
seorang budak Abissinia. Dia telah diceraikan oleh suaminya bernama Ibnu
Mughirah disebab kan perselingkuhan dan mengaku sebagai istri Abu Sufyan.
Meskipun perkawinannya dengan Abu Sufyan tidak membuat dirinya berhenti dari
perselingkuhannya dengan laki-laki lain. Dia terus menjalani hidup kotor. Dari
perkawinan ini dia melahirkan Mu’awiyah si terkutuk yang mungkin juga berasal
dari laki-laki lain, yang pada akhirnya dianggap sebagai anak Abu Sufyan. Orang
ini (Mu’awiyah, pent.) tumbuh menjadi seorang tiran yang kejam, dan
menindas rakyat secara zalim,” kata penulis majalah ini .
Seseorang tentu akan merasa malu memakai bahasa yang sangat
kotor dan jorok seperti itu, meskipun ditujukan kepada Abu Jahal dan iblis, -dua
musuh Rasulullah yang paling hina dan keras kepala. Dalam hal ini Al Qur'an
menegaskan, bahwa, “Ucapan kotor hanya pantas buat manusia kotor.” Bahasa
(tutur kata) seseorang yaitu cerminan bagi dirinya. Kita tidak mengharapkan bau
harum yang keluar dari kotoran! Tulisan-tulisan bernada fitnah dan kotor
sebagaimana dikutip di atas tidak akan mencemarkan nama baik orang-orang yang
telah memperoleh ampunan dan rahmat (surga) dari Allah swt. Mereka tidak
menyadari makna ucapannya itu sebab mengingkari watak dari ucapan ini .
Hadits yang berbunyi, “Iman itu akan menghapuskan dosa-dosa seseorang yang telah
lalu” menegaskan bahwa Mu'awiyah dan Abu Sufyan serta Hindun yaitu manusia-
manusia suci dan terhormat. Hal ini dibuktikan pada saat Rasulullah
menaklukkan kota Mekkah.
Banyak sekali artikel yang menulis tentang kebajikan dan kebesaran
mereka. Pada point ini kami akan menukil beberapa kutipan dari kitab Qishas al-
Anbiya (Sejarah-sejarah para Nabi) :
“Di kalangan bangsa Arab, kehidupan keluarga sangat penting artinya.
Mereka memiliki semangat kekeluargaan sangat kuat. Setiap orang Arab akan
memiliki cara tersendiri dalam menjaga kehormatan suku dan kaum kerabat mereka.
Bangsa Arab banyak menghapal puisi dan sangat gemar membacakan khutbah-
khutbah di pasar dan di acara-acara pertemuan lainnya. Pada suatu hari, Fakhrul
Alam Muhammad saw. naik ke gunung Shafa lalu beliau duduk di sana. Umar
mengikuti beliau dan duduk di sampingnya tepat di bawah beliau. lalu
datanglah kaum laki-laki yang diikuti oleh kaum wanita . Mereka menyatakan
masuk Islam. Saudara wanita Ali bernama Ummi Hani dan ibunya Mu'awiyah
bernama Hindun termasuk di antara kaum wanita ini . Pada saat Rasulullah
saw. sedang menasehati kaum wanita untuk tidak mencuri, tiba-tiba Hindun
tampil ke depan dan berkata, ‘Jika saya seorang pencuri sesungguhnya saya telah
banyak mencuri harta Abu Sufyan’. Fakhrul Alam saw. bertanya, ‘Apakah kamu
bernama Hindun?’ ‘Saya Hindun. Maafkanlah kesalahan-kesalahan saya yang telah
lalu agar Allah mengampuni Tuan,’ katanya. Pada saat Rasulullah saw. melarang
melakukan perbuatan zina, Hindun berkata, ‘Apakah seorang wanita merdeka
dianggap berzina?’ Dan pada saat Rasulullah saw. melarang membunuh anak-anak
orang, Hindun pun berkata, ‘Mereka yaitu anak-anak kecil dan kami yang
membesarkan mereka. Mereka tumbuh, a











