Tampilkan postingan dengan label Syiah 7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syiah 7. Tampilkan semua postingan

Syiah 7

 


saat  Utsman bin Affan ra. menikahkan putranya dengan putri dari 

anak laki-laki Hakam yang bernama Haris (putri Haris/cucu wanita  Hakam, 

pent.), beliau memberi hadiah sebesar dua ratus dirham yang berasal dari baitulmal 

kepada mereka. Pada suatu hari seorang bendahara baitulmal bernama Zaid bin 

Arqam menemui Utsman ra. sambil menangis. Zaid diminta meletakkan jabatan 

ini  dengan cara mengundurkan diri. Utsman ra. melakukan hal ini  sebab  

beliau akan mentransfer sejumlah harta batulmal kepada para keluarganya. Beliau 

bertanya kepada Zaid, ‘Apakah kamu menangis lantaran aku akan berbuat baik 

kepada keluargaku?’ ‘Tidak,’ jawab Zaid. ‘Saya pikir anda mengambil semua harta 

ini sebagai pengganti dari harta yang telah anda sedekahkan semata-mata sebab  

Allah swt. pada saat Rasulullah saw. masih hidup.’ Mendengar jawaban Zaid beliau 

marah dan berkata, ‘Sekarang tinggalkan kunci-kunci baitulmal dan kamu bisa 

pergi! Saya akan mencari pengganti dirimu.’ Dan masih banyak lagi tindakan 

Utsman ra. yang menunjukkan pemborosan. Beliau pernah memberikan enam ratus 

ribu dirham kepada Zubayr, dua ratus ribu kepada Talhah, dan seperlima pajak 

yang dikumpulkan dari Afrika kepada Marwan. Beliau dicela (dikritik, pent.) oleh 

para shahabat terutama Ali bin Abi Thalib sebab  tindakannya ini .  

“Beliau memperbanyak kekayaan pribadi Mu’awiyah dan memberikan  

Palestina kepadanya. Beliau mengangkat Hakam dan saudara laki-laki dari anak 

angkat wanita nya yang bernama Abdullah bin Sa'ad, dan keluarga lainnya 

menjadi gubernur. Melihat kebijakan yang diambil oleh Utsman ra. yang kian jauh 

dari ruh (esensi, pent.) ajaran Islam, para shahabat Nabi saw. lalu mengadakan 

pertemuan di Madinah. Tindakan ini  dilakukan mengingat usia khalifah telah 

semakin tua. Sehingga segala kepentingan ummat di bawah kendali Marwan. Pada 

kesempatan ini , kaum muslimin meminta kepada Ali ra. untuk memberi 

pertimbangan kepada khalifah mengenai kondisi ini . Di dalam 

perbincangannya Utsman ra. sempat bertanya kepada Ali ra., ‘Bukankah Mughirah 

menjadi gubernur sejak masa kekhalifahan Umar hingga sekarang?’ ‘Memang 

demikian,’ jawab Ali ra. lalu  Utsman ra. bertanya lagi, ‘Bukankah Umar ra. 

telah mengangkat Mu’awiyah menjadi gubernur selama dia memerintah?’ Ali ra. 

menjawab, ‘Ya, benar. namun  Mu'awiyah sangat menghormati beliau. sedang  

sekarang dia sedang melakukan intrik-intrik tanpa sepengetahuan Anda dan 

tindakannya ini dilakukan dengan mengatasnamakan perintah dari Anda. Cukuplah 

Anda saja yang mengetahui hal ini dan jangan sampai Mu'awiyah mengetahunyai.’ 

Pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan ra. kebenaran telah bercampur aduk 

sedemikian rupa dengan kebatilan sehingga sulit membedakannya. Kondisi 

masyarakat tidak akan sedemikian parah sekiranya Utsman ra. menjadi khalifah 

pada usia muda. Seandainya pada saat itu yang menjadi khalifah yaitu  Ali ra. 

bukan Utsman ra. tentu hal itu akan lebih baik. Orang-orang dari Bani Umayyah 

tidak akan melakukan intervensi dalam masalah kebijakan khalifah,” kata Quthb. 

Selanjunya Quthb mencela para khalifah lainnya, terutama Mu'awiyah. Menurutnya, 

 

 107

para khalifah itu telah melakukan pemborosan (harta) baitulmal untuk kesenangan 

pribadi. Dia menambahkan, bahwa semua itu terjadi disebabkan oleh kebijakan yang 

diambil Utsman ra.  

Keterangan Sayyid Quthb di atas patut dipertanyakan keabsahannya. Di 

dalam kitab Tuhfah dijelaskan, bahwa Utsman ra. dipilih menjadi khalifah 

berdasar  kesepakatan mutlak dari para shahabat Nabi saw. Dan di antara para 

shahabat Nabi ini  ada  Ali ra. yang juga memilih beliau. Quthb mengecam 

Utsman ra.  berarti beliau menentang konsensus  para shahabat Nabi saw., bahkan 

menentang hadits yang  menyebutkan, “Ummatku (kaum muslimin) tidak akan 

sepakat dalam suatu kesalahan.” 

Di dalam kitab Mir’at al-Kainat  dijelaskan : Utsman bin Affan bin Abil 

Ash bin Umayyah bin Abdis Syam bin Abdi Manaf bin Qushay, Khalifah ketiga, 

yaitu  orang keempat yang beriman kepada Rasulullah saw. saat  paman seayah 

beliau, -Hakam bin Abil Ash-, menyiksa dirinya serta mengancam tidak akan 

menghentikan siksaan ini  seandainya tidak kembali mengikuti agama nenek 

moyang mereka, Utsman ra. dengan tegas memilih lebih baik mati dari pada harus 

kembali (kepada agama sesat semula). Keteguhan pendirian beliau menjadikan sang 

paman membebaskannya. Utsman ra. yaitu  juru tulis wahyu Rasulullah saw., yang 

bertugas menulis ayat-ayat yang diwahyukan kepada Nabi saw. Rasulullah saw. 

menikahkan putri beliau Ruqayyah kepada beliau melalui perintah Allah swt. saat  

Ruqayyah meninggal dunia di Madinah pada Perang Suci Badar, Nabi saw.  

menikahkan putri kedua beliau Ummu Kultsum kepada beliau. Dan saat  Ummu 

Kultsum meninggal dunia pada tahun kesembilan hijriah, Nabi saw. berkata 

kepadanya, ‘Seandainya saya mempunyai anak wanita  lainnya, tentu saya akan 

memberikan juga untukmu!’ saat  Nabi saw. memberikan putri keduanya, -Ummu 

Kultsum-, beliau berkata kepadanya, ‘Wahai anakku! Suamimu Utsman mirip 

dengan leluhurmu Ibrahim, sedang  ayahmu Muhammad lebih mirip dengan 

Ibrahim dibandingkan orang lain.’ Tidak seorang shahabat pun  kecuali Utsman bin 

Affan ra. yang menikahi dua putri Rasulullah saw. Suatu saat  Utsman ra. 

menghampiri Rasulullah saw. Lalu beliau menutupi kakinya dengan pakaian yang 

dikenakan oleh Utsman ra. Pada saat Aisyah menanyakan kepada Nabi perihal 

ini , beliau menjawab, ‘Para Malaikat merasa malu berhadapan dengan dia. 

Apakah saya tidak?’ Beliau menjelaskan di dalam sebuah hadits, ‘Utsman yaitu  

saudaraku di surga dan dia akan selalu bersamaku.’  

Di dalam Perang Suci Tabuk pasukan Islam menderita kekurangan 

persediaan pangan dan senjata. Hal ini  dialami oleh pasukan Islam dalam waktu 

cukup lama. saat  mengetahui hal ini , Utsman ra. mengirimkan tiga ribu unta, 

tujuh puluh kuda dan sepuluh ribu uang emas yang diambil dari harta milik 

perniagaannya. sesudah  membagikan harta ini  kepada para tentara, Rasulullah 

saw. bersabda, ‘Sejak saat ini tidak ada lagi dosa yang dicatat untuk Utsman.’ Di 

dalam kitab Jami’ al-Shaghir karya Imam Suyuthi ra. ada  sebuah hadits yang 

menjelaskan : ‘Melalui perantaraan Utsman ra. tujuh puluh ribu orang Islam yang 

akan masuk neraka, masuk surga tanpa dihisab sama sekali.’ Utsman ra. memiliki 

pengetahuan agama yang sangat luas. Orang akan mengira bahwa beliau dan Umar 

ra. sedang bertengkar saat  mereka sedang berdiskusi membahas persoalan agama. 

Di dalam kitab Tuhfah dijelaskan : saat  menduduki jabatan khalifah 

Utsman ra. bertindak profesional dalam menempatkan orang pada posisinya sesuai 

dengan karakter pribadi dan kecakapannya. Beliau tidak memandang dirinya sebagai 

manusia super. Beliau memiliki kriteria jelas untuk menempatkan seseorang pada 

jabatan tertentu dengan kualifikasi jujur, mempunyai semangat berwiraswasta, 

amanah dan adil, dan loyal kepada kebijakan khalifah dalam mengemban tugasnya. 

Barang siapa mengecam kebijakan Utsman ra. (berarti) dia mencoba 

memutarbalikkan fakta kebenaran menjadi kebatilan. Beliau melakukan seleksi 

secara ketat dalam mengangkat para gubernur dan komandan perang yang memiliki 

dedikasi terhadap pemerintah dan setia kepada perintah-perintah khalifah, serta 

cakap di bidang kemiliteran dan tangguh di medan pertempuran. Pada masa 

pemerintahannya, pasukan Islam berhasil memperluas daerah kekuasaannya sampai 

ke Spanyol di barat dan Kabul dan Belh di timur. Mereka melakukan mobilisasi baik 

di laut maupun di darat. Pada saat itu, Irak dan Khurasan masih menjadi pusat 

pemberontakan dan kekacauan sejak Umar ra. memegang jabatan khalifah. Pasukan 

Utsman berhasil menumpas pemberontakan dan dapat membersihkan tempat-tempat 

ini  dari segala kekacauan dan huru hara. Seandainya ada sebagian gubernur 

melanggar perintah beliau, mengapa pelanggaran ini  harus dipikul di atas 

pundaknya? Utsman ra. selalu bertindak tegas dan konsekwen jika menemukan 

penyelewengan yang dilakukan oleh pegawainya. Bahkan beliau sendiri tidak segan-

segan melakukan investigasi terhadap dugaan tindakan indisipliner yang dilakukan 

oleh para pegawainya untuk mengetahui apakah dugaan ini  benar atau hanya 

fitnah belaka yang disebarkan oleh para penghasut. sebab  lazimnya seorang kepala 

pemerintahan pasti memiliki banyak musuh dan sangat dicemburui. Oleh sebab  itu, 

dalam mengambil segala tindakan, Khalifah tidak sekedar mendasarkan laporan 

(keluhan) belaka. sebab  hal ini  dapat menciptakan instabilitas di dalam sistem 

kepemerintahannya. Jika investigasi yang dilakukannya ternyata dapat membuktikan 

kebenaran laporan yang disampaikan kepada Khalifah, beliau segera memecat 

pejabat ini . Beliau pernah memecat Walid.  

Sebagaimana diketahui, bahwa salah seorang gubernur yang diangkat 

oleh Utsman bin Affan yaitu  Mu'awiyah. Beliau tidak pernah melanggar perintah 

Khalifah apalagi memberontak. Beliau sangat terkenal dan dicintai oleh warga  

Damaskus. Mua’wiyah bertindak adil dalam menjalankan roda kepemerintahannya di 

Damaskus. Sehingga tidak seorang pun yang tinggal dibawah otoritasnya mengalami 

intimidasi. Beliau menyerukan kepada rakyatnya untuk selalu menegakkan jihad 

melawan orang-orang kafir. Siapakah yang akan memecat seorang pahlawan seperti 

dirinya? Akan namun , mengapa Utsman bin Affan pernah memecat Abdullah bin 

Sa’ad, gubernur Mesir? Abdullah bin Sa’ad mengundurkan diri dan menjauhi 

kehidupan politik sesudah  Utsman bin Affan meninggal dunia. Adapun keluhan-

keluhan dari rakyat Mesir menyangkut dirinya yang diterima oleh Khalifah Utsman 

ra. di Madinah  pada saat itu disebabkan oleh hasutan-hasutan yang dilakukan oleh 

seorang Yahudi bernama Abdullah bin Saba’ sebagaimana telah dijelaskan 

sebelumnya. Pendek kata, Utsman ra. telah menjalankan tugas  kekhalifahan yang 

diamanatkan kepada dirinya dengan sempurna. Akan namun , suratan takdir melawan 

rencana beliau sehingga beliau  gagal memadamkan pemberontakan yang dikobarkan  

oleh orang-orang Yahudi. 

Dalam beberapa aspek, kasus yang menimpa Utsman ra. tidak jauh 

berbeda dengan kasus  yang menimpa diri Ali ra. Meskipun berbagai langkah 

preventif telah dilakukan oleh Khalifah Ali ra., akan namun  hasilnya nihil. Perbedaan 

antara keduanya hanya terletak pada loyalitas dari para gubernur mereka. Para 

gubernur Utsman bin Affan ra. tetap setia dan patuh kepada beliau. Mereka secara 

berkala mengirimkan harta rampasan perang kepada Khalifah. Sehingga kondisi 

ekonomi rakyat baik dan keamanan terjamin. Meskipun dalam kenyataannya, upaya 

yang dilakukan oleh Khalifah Utsman ini  justru menimbulkan kekacauan dan 

fitnah. Berbeda dengan para gubernur Ali ra. Mereka tidak loyal kepada beliau, 

bahkan memberontak. Mereka tidak mematuhi perintah Khalifah Ali ra. Bahakan 

ironisnya, para kerabat Ali sendiri yaitu saudara-saudara sepupu seayah beliau justru 

turut andil menciptakan kondisi seperti itu. Dalam hal ini, kami ingin menegaskan 

kepada orang-orang yang mencoba menghujat Sayidina Utsman ra., seandainya 

mereka tidak mempercayai keterangan yang diberikan oleh para ulama Ahlus Sunnah 

wal Jamaah, maka kami persilakan mereka merujuk dan membaca artikel -artikel  yang 

ditulis oleh orang-orang Syi'ah. Tentu mereka akan mendapat  informasi dan fakta 

yang sebenarnya.  

Kitab Nahj al-Balagah yang menjadi referensi utama dan sangat 

dikagumi oleh kalangan Syi'ah mengutip sebuah surat yang ditulis oleh Imam Ali ra. 

yang ditujukan untuk saudara sepupu seayah beliau. Di dalam  suratnya ini  

beliau menulis, bahwa pada awalnya beliau mempercayai si munafik Abdullah bin 

Saba’ itu. Selanjutnya kitab Nahj al-Balagah memberikan keterangan rinci tentang 

pengkhianatan yang dilakukan oleh Ibnu Saba’ kepada Imam Ali ra. Munzir bin 

Jarut, -gubernur Ali lainnya-, terbukti yaitu  seorang pengkhianat. Di dalam artikel -

artikel  yang ditulis oleh orang Syi’ah, dijelaskan bahwa Khalifah Ali ra. pernah 

melayangkan surat ancaman untuk Munzir.  

Nama besar dan kemuliaan Imam Ali ra.  tidak tercemar disebabkan oleh 

kejahatan yang  pernah dilakukan oleh para gubernur beliau. Bahkan para nabi pun 

sekali waktu tertipu oleh kata-kata manis yang keluar dari mulut orang-orang 

munafik. Akan namun , Allah menurunkan wahyu kepada mereka sehingga 

kedengkian batin orang-orang munafik dapat terungkap.  

Menurut keyakinan orang-orang Syi'ah para Imam mereka mengetahui  

segala sesuatu yang tersembunyi. Mereka mencela Utsman ra. sebab  dirinya tidak 

mampu mengetahui hal-hal yang tersembunyi. Dengan keyakinan ini, mereka juga 

mencela Imam Ali ra. Mereka berpendapat, bahwa Imam Ali ra. telah mengangkat 

para pengkhianat menjadi pejabat yang mengendalikan kepentingan publik kaum 

muslimin. Meskipun Ali sendiri mengetahui bahwa suatu saat  mereka akan  

mengkhianati.dirinya. Di antara pejabat (gubernur) yang diangkat oleh Imam Ali ra. 

yang lalu  berkhianat kepadanya yaitu  Ziyad bin Abih.  

Hal lain yang dijadikan alasan mereka menghujat Khalifah Utsman bin 

Affan ra. ialah beliau telah mengijinkan ayah Marwan, -Hakam bin Ash-, kembali 

dan tinggal di Madinah. Rasulullah saw. telah mendeportasi Hakam dari Madinah  

sebab  Marwan bekerja sama dengan orang-orang munafik dan menyebarkan fitnah 

di kalangan kaum muslimin. Pada masa pemerintahan dua khalifah pertama, orang-

orang kafir telah dibersihkan dari kota Madinah. Mereka melarang Hakam kembali 

ke Madinah. Menurut mereka kemungkinan dia akan mengulangi lagi perbuatan-

perbuatan sesatnya. Hakam termasuk salah seorang dari suku Bani Umayyah. 

sedang  dua khalifah pertama ini  berasal dari Bani Tamim dan Adiy. Mereka 

mungkin terjangkiti kembali oleh sikap permusuhan suku seperti yang pernah terjadi 

pada  masa jahiliyah (sebelum Islam). Sementara itu, Utsman ra. yaitu   putra dari 

saudara laki-laki Hakam. Oleh sebab  itu, menurutnya tidak ada alasan untuk 

mencemaskan keadaan Hakam ini . Beliau menjelaskan keputusannya ini  

sebagai berikut : “Saya  telah memperoleh ijin dari Rasulullah saw. untuk membawa 

Hakam kembali ke Madinah. saat  saya menyampaikan hal ini kepada Khalifah  

Abu Bakar ra., beliau meminta saya  untuk membuktikannya lewat kesaksian. Akan 

namun , saya tidak dapat melakukannya sebab  saya tidak mempunyai seorang saksi 

pun. Saya juga pernah menyampaikan hal ini kepada Umar ra. dengan harapan beliau 

akan menerima permohonan saya. Akan namun , beliau pun meminta saksi. saat   

saya menjadi khalifah, saya mengijinkan Hakam kembali ke Madinah.” saat  

Rasulullah saw. sakit beliau pernah mengatakan, “Saya berharap ada orang salih 

datang menemui saya sebab  saya ingin menyampaikan sesuatu kepadanya.”  saat  

mereka bertanya apakah dia yaitu  Abu Bakar ra., Rasulullah saw. menjawab, 

“Bukan.” Mereka bertanya lagi apakah dia Umar ra., beliau juga menjawab, 

“Bukan.” Apakah dia Ali ra., jawaban beliau juga “Bukan”. Apakah dia Utsman ra. 

kali ini beliau menjawab, “Ya.” saat  Utsman datang, Rasulullah saw. 

menyampaikan sesuatu kepadanya. Dalam pada itu, mungkin beliau (Utsman ra.) 

memintakan ampunan untuk Hakam dan permintaan itu diterima oleh beliau. Hakam 

berhenti dari kebiasaan menghasut dan menyesatkan orang lain serta bertaubat 

menjelang akhir hayatnya. Di samping itu, menurutnya dia terlalu tua untuk 

mengulangi kembali perbuatan-perbuatan dulu jika kembali ke Madinah. 

Hadiah-hadiah yang diberikan Utsman ra. kepada kerabat-kerabat beliau 

bukan berasal dari baitulmal sebagaimana dijelaskan dalam artikel -artikel  yang ditulis 

oleh orang-orang Hurufi dan Sayyid Quthb. Hadiah itu berasal dari harta pribadi 

Utsman ra. Di dalam artikel  berjudul Hadiqah volume kedua, Abdul Ghani Nablusi 

menjelaskan di halaman ketujuh ratus sembilan belas sebagai berikut : “Tiga dari 

keempat khalifah Rasulullah saw. memperoleh gaji yang diambilkan dari baitulmal 

(keuangan negara). Akan namun , Utsman ra. tidak menerima gaji ini  disebabkan 

beliau sangat kaya. Beliau tidak membutuhkan gaji dari baitulmal itu.” Di dalam 

artikel  berjudul Bariqah di halaman keseribu empat ratus tiga puluh satu juga ada  

keterangan seperti itu. Bariqah menambahkan penjelasan berikut ini : “saat  

meninggal dunia, beliau meninggalkan seratus lima puluh ribu dinar emas,  satu juta 

dinar perak dan pakaian-pakaian senilai dua ratus ribu emas di antara harta pribadi 

pembantu beliau.” Utsman ra. yaitu  seorang  saudagar kain. Beliau memberi hadiah 

tidak hanya kepada kaum kerabatnya saja. Akan namun , beliau juga dermawan kepada 

siapa saja sebab  Allah semata. Setiap hari Jum’at beliau memerdekakan seorang 

budak. Dan setiap hari beliau memberi hidangan istimewa kepada para shahabat 

Nabi. Harta yang disedekahkan sebab  mengharapkan pahala dari Allah swt. tidak 

akan sia-sia (habis). Di dalam sebuah hadits disebutkan bahwa bersedekah kepada 

kaum kerabat pahalanya dua kali lipat dibandingkan kepada orang lain. Pada suatu 

hari, Utsman ra. mengundang para shahabat. Di antara mereka yang diundang yaitu  

Ammar bin Yasir. Utsman ra. berkata, “Aku mengundang kalian untuk bersaksi 

bahwa Rasulullah saw. memberi kebaikan lebih kepada suku Quraisy dan Bani 

Hasyim di antara orang-orang yang berhak menerima. Jika mereka memberikan 

kunci-kunci surga kepada saya, tentu saya akan memasukkan mereka semua ke 

surga. Saya tidak akan membiarkan seorang  pun dari mereka berada di luar.” Para 

shahabat tidak membantah pernyataan Utsman ini . saat  beliau ditanya 

tentang rumor dirinya yang telah memberi hadiah-hadiah kepada kaum kerabat dan 

para shahabat Nabi dari baitulmal, beliau menjawab, “Janganlah kamu membebani 

saya dengan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip keadilan dan ketakwaan.” 

Pada saat Utsman ra. menikahkan putranya dengan putri Haris, -saudara laki-laki 

Marwan-, beliau memberi seribu dirham perak dari harta pribadi miliknya. Dan 

saat  beliau menikahkan putrinya, -Ruman-, kepada Marwan beliau memberi 

mereka seribu dirham juga. Hadiah-hadiah ini  sekali-kali bukan berasal dari 

baitulmal. 

Keterangan yang menyebutkan bahwa, “Dia memberikan seperlima dari 

harta rampasan perang yang diperoleh dari Afrika kepada Marwan,” sebagaimana 

dikutip oleh Sayyid Quthb yang bersumber dari artikel -artikel  yang ditulis oleh orang 

Hurufi dan dari sejarah-sejarah yang ditulis oleh orang-orang Abbasiyah, jelas tidak 

benar sama sekali. Pada tahun dua puluh sembilan hijriah, Utsman ra. mengirim 

Abdullah bin Sa’ad  ke Afrika bersama dengan seribu pasukan  kavaleri dan infantri 

di bawah komando beliau. Perang hebat berkecamuk di ibu kota Tunisia, Afrika. 

Pasukan Islam berhasil memukul lawan sehingga mereka memperoleh  banyak harta 

rampasan perang. Abdullah Marwan menghadap Khalifah Utsman ra. dengan 

membawa seperlima dari harta rampasan perang ini . Jumah koinnya dari harta 

rampasan itu mencapai lebih dari lima ribu emas. Sementara itu, jarak tempuh 

perjalanan dari Tunisia Afrika hingga Madinah membutuhkan waktu berbulan-bulan 

sehingga cukup riskan dan berbahaya seandainya membawa seluruh harta rampasan 

perang ini  ke Madinah. Oleh sebab  itu, Marwan mengambil inisiatif menjual 

seribu dirham dari harta itu, dan sisanya dibawa pulang ke Madinah. Tindakannya itu 

dimaafkan oleh Khalifah Utsman bin Affan mengingat jarak perjalanan yang harus 

ditempuh oleh pasukan begitu jauh dan penuh resiko. Sebagai khalifah, Utsman ra. 

memiliki otoritas memaafkan siapa saja termasuk Marwan. Tambahan lagi, peristiwa 

ini  disaksikan oleh para shahabat Nabi saw. Jika seseorang dibawakan 

(dikirimi) seribu emas, lalu dia memberi barang satu atau lebih dari emas ini  

sebagai hadiah kepada si pengirim (si pembawa), tentu tidak seorang pun 

mengatakan bahwa hal itu merupakan sikap pemborosan. Padahal Allah swt. 

memerintahkan agar para kolektor zakat diberi imbalan sebanyak kebutuhannya. 

Kedustaan lain berkaitan dengan Sayidina Utsman ra. menyebutkan, 

“Beliau memberi hadiah kepada Abdullah bin Khalid seribu dirham.” Padahal kasus 

yang sebenarnya yaitu  bahwa beliau memerintahkan agar Abdullah ini dipinjami 

uang. lalu  Abdullah pun mengembalikan uang pinjaman ini . Bahkan 

saat  Utsman ra. mengetahui bahwa menantu beliau Haris (bukan Haris saudara 

laki-lakinya Marwan, pent.) menyelewengkan zakat yang dipungut dari para 

pedagang di Madinah, beliau  tidak segan-segan memecat dan menghukumnya. 

Utsman Dzunnurayn ra. memberi tanah yang tidak digarap di Hijaz dan 

Irak kepada orang yang dia percaya dan kaum kerabatnya, membelikan mereka alat-

alat pertanian serta memerintahkan mengolah tanah ini  agar tersedia lahan yang 

subur bagi pertanian rakyat.  Beliau juga membangun sumur-sumur dan membuka 

saluran irigasi untuk mengairi tanah-tanah gersang yang ada di Arabia sehingga 

menjadi subur. Dengan demikian, keadaan ekonomi rakyat menjadi lebih baik dan 

keamanan negara terjamin. Beliau juga membangun rumah-rumah penginapan dan 

losmen di tempat-tempat yang dulunya menjadi sarang perampok yang sekarang 

telah menjadi warga masyarakat biasa. Di samping itu, beliau juga membangun 

fasilitas-fasilitas perjalanan dan sarana transportasi. Upaya-upaya yang dilakukan 

Utsman merupakan  sebuah prestasi yang sangat luar biasa yang pernah diraih oleh 

masyarakat Arab. Seolah-olah hadits yang disampaikan oleh Baginda Nabi saw. yang 

menyebutkan, “Kiamat tidak akan terjadi kecuali jika  sungai-sungai di Arabia 

telah mengalir,” mengisyaratkan suatu tingkat peradaban yang gemilang yang 

dicapai pada masa kekhalifahan Utsman ra. Di dalam hadits lain Rasulullah saw. 

menyampaikan kepada Adi bin Hatim al-Thai :  “Jika kamu dikarunia panjang umur, 

kamu akan menyaksikan bagaimana seorang wanita  pergi dari kota Hira ke 

Ka'bah dengan mudah, tanpa merasa takut kepada siapa pun kecuali kepada Allah”. 

Banyak hadits yang meriwayatkan, bahwa pada masa pemerintahan 

Utsman ra. akan terjadi peningkatan kemakmuran dan kemajuan di dunia pertanian 

dan perdagangan. Para shahabat Nabi mengagumi kesuksesan dan sistem 

administrasi yang dikelola oleh Khalifah Utsman ra. Banyak di antara mereka 

 

 115

mencoba mencontoh kinerja Khalifah. Ali ra. mencoba berladang dan mengolah 

kebun anggur di Yanbu, Fadak dan Zuhra. Sementara itu, Thalhah bertani di Ghabid, 

dan Zubayr di Zihashib. Dalam waktu tidak lama negeri Hijaz menjadi makmur. 

Seandainya periode kekhalifahan Utsman ra. ditakdirkan bertahan sedikit lebih lama, 

tanah pertanian yang ditanami mawar di Shiraz dan hutan kayu di Hirat akan 

semakin luas. Khalifah Utsman mengijinkan kepada seluruh rakyat untuk mengelola 

lahan pertanian yang mati secara cuma-cuma. Sehingga lahan ini  seolah-olah 

menjadi milik si pengelola.  

Jika Khalifah Utsman memberi ijin secara cuma-cuma kepada siapa saja 

yang ingin mengelola lahan pertanian, mengapa Khalifah sendiri lalu  dilarang 

melakukan hal yang sama? Mengapa hasil panen yang diusahakannya tidak halal 

buat dirinya? Padahal beliau mengelola banyak lahan pertanian dengan harta milik 

beliau sendiri. Di samping itu, Khalifah Utsman juga menyediakan infra-struktur 

perdagangan rakyat. Beliau telah membangun sistem perdagangan baru untuk rakyat. 

Pepatah mengatakan, “Harta akan menghasilkan harta”. Pendapatan rakyat 

meningkat berlipat ganda pada masa pemerintahan Utsman ra. Pada masa itu semua 

orang memiliki lahan pertanian atau perkebunan anggur di belakang rumah mereka 

masing-masing. Seandainya al-Maududi dari India atau Sayyid Quthb dari Mesir 

menelaah kembali sejarah Islam, atau minimal membaca artikel  Tuhfah yang ditulis di 

India, tentu mereka merasa berdosa dan menyesal sebab  telah mencemarkan nama 

baik para Khalifah Rasulullah saw. 

Keterangan yang mengatakan bahwa, “Dia memberikan seribu dirham 

kapada Zaid bin Tsabit ra. dari baitulmal,’ yaitu  pandangan negatif terhadap 

Utsman ra. Pada suatu hari, Utsman ra. memerintahkan mensubsidi harta dari 

baitulmal  kepada orang-orang yang berhak menerimanya. Ternyata diketahui, bahwa 

jumlah seribu dirham untuk subsidi ini  terlalu banyak sehingga beliau 

memerintahkan agar kelebihannya dialokasikan untuk kepentingan publik lainnya. 

Sesuai dengan perintah dari Khalifah, Zaid memakai  dana subsidi ini  untuk 

perbaikan Masjid Nabawi. 

Di dalam kitab Masyihat karya Hafidz Ahmad bin Muhammad Abu 

Tahir Silafi, -seorang ulama Syafi’i yang wafat pada tahun 576 H-, juga diriwayatkan 

oleh Ibnu Asahir Ali bin Muhammad, ada  sebuah hadits yang menyatakan, 

“Mencintai Abu Bakar dan berterima kasih kepadanya wajib hukumnya bagi seluruh 

ummatku”. Imam Munawi juga meriwayatkan hadits ini  dari al-Daylami. Di 

dalam kitab Wasilah karya Hafidz Umar bin Muhammad Arbili ada  hadits yang 

menyatakan, “sebab  Allah telah mewajibkan shalat, zakat dan puasa kepada 

kalian, maka Dia juga telah mewajibkan kalian untuk mencintai Abu Bakar, Umar, 

Utsman dan Ali ,”  Di dalam kitab al-Munawi, ada  hadits lain yang 

diriwayatkan oleh  Abdullah Ibnu Adi yang menyebutkan, “Mencintai Abu Bakar 

dan Umar yaitu  (bagian) dari iman. Dan memusuhi mereka menjadikan 

(seseorang) munafik.” Menurut sebuah riwayat yang diriwayatkan oleh Imam al-

Tirmidzi, diceritakan bahwa ada sesosok jenazah dibawa ke hadapan Rasulullah saw. 

Akan namun  beliau enggan menyalati jenazah itu. Lalu beliau berkata, “Orang ini 

telah memusuhi Utsman. Oleh sebab  itu,  Allah swt.  pun memusuhi dia.” Ayat 

keseratus surat al-Taubah menjelaskan, “Allah mencintai orang-orang mukmin 

permulaan di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar, dan orang-orang yang 

mengikuti mereka. Mereka mencintai Allah dan Allah pun telah menyediakan taman-

taman surga untuk mereka.” Ketiga khalifah pertama yaitu  orang-orang mukmin 

permulaan sebagaimana dimaksud oleh ayat ini . Mu'awiyah  dan Amr Ibn Ash 

termasuk di antara mereka yang mengikuti ketiga khalifah pertama ini . Mereka 

yang memfitnah para pemimpin agung Islam ini  berarti telah mengingkari ayat 

Al Qur'an dan hadits ini  di atas. Seseorang yang mengingkari ayat Al Qur'an 

maupun hadits berarti telah keluar dari Islam dan termasuk kafir. Pengakuannya 

sebagai seorang muslim terbantah oleh fakta bahwa pada dasarnya dirinya yaitu  

seorang munafik atau zindiq. 

“Seorang wanita  tua mengarang sebuah cerita palsu tentang 

gelangnya yang hilang. Hal itu dilakukannya untuk menutupi perselingkuhan dirinya 

dengan Safwan. Dia mencoba mengkambinghitamkan Ali ra. sehingga dirinya 

tertinggal dari rombongan. wanita  inilah yang menjadi penyulut terjadinya 

Perang Unta,” kata penulis majalah itu. 

Sang penulis majalah ini  dengan tanpa basa-basi mencoba 

menyerang Aisyah Shiddiqah ra., -ummul mukminin dan istri tercinta Rasulullah saw. 

Perhatikan penjelasan yang diberikan oleh Abul Haq Dahlawi, -seorang ulama 

hadits-,  di dalam kitabnya Madarij al-Nubuwwah : 

Keutamaan dan kemuliaan yang dimiliki oleh Aisyah Shiddiqah ra. 

begitu banyak. Beliau yaitu  salah seorang ulama fiqh dari kalangan shahabat. 

Beliau juga seorang yang sangat fasih gaya bicaranya. Beliau menjadi sumber 

rujukan fatwa dari para shahabat. Menurut jumhur ulama, seperempat ilmu fiqh 

berasal dari beliau. Disebutkan di dalam sebuah hadits, “Pelajarilah sepertiga agama 

kalian dari Humayrah!” Rasulullah saw. memanggil beliau Humayrah (wanita  

yang kemerah-merahan, pent.) sebab  beliau sangat mencintainya. Sebagian besar 

shahabat dan tabi’in meriwayatkan hadits dari Aisyah Shiddiqah ra. Urwah Ibn 

Zubayr menyatakan : Saya tidak menyaksikan seorang pun yang lebih mengetahui 

tentang makna Al Qur'an, halal dan haram, puisi Arab, dan tentang silsilah keturunan 

(nasab) kecuali dia. Aisyah memuji Rasulullah melalui dua bait syair berikut ini : 

Seandainya orang-orang Mesir mengetahui keindahan pipi beliau,  

tentu mereka  tidak  akan memberi  uang untuk  membeli Yusuf as. 

(Artinya mereka akan menyimpan seluruh uangnya disebab kan dapat 

melihat pipi beliau). 

Seandainya wanita -wanita  yang menyalahkan Zulaikha melihat  

dahi beliau yang berkilauan, 

tentu mereka akan memotong hati mereka bukan tangan mereka. 

(Dan mereka tidak akan merasakan sakit sama sekali). 

Keagungan lain yang dimiliki oleh Aisyah ra. ialah bahwa beliau yaitu  

istri tercinta Rasulullah saw. Beliau sangat mencintai Aisyah. saat  Rasulullah 

ditanya siapa wanita  yang paling beliau cintai, beliau menjawab : “Aisyah”. Dan 

saat  beliau ditanya siapa laki-laki yang paling beliau cintai, beliau menjawab 

:“Ayah Aisyah”. Artinya beliau sangat mencintai Abu Bakar ra. saat  Aisyah 

ditanya siapa orang yang paling dicintai oleh Rasulullah saw., beliau menjawab 

bahwa Rasulullah sangat mencintai Fatimah. Dan saat  beliau ditanya siapa laki-

laki yang paling dicintai oleh Rasulullah saw., beliau menjawab bahwa Rasulullah 

sangat mencintai suami Fatimah. Artinya di antara istri-istri Rasulullah, Aisyah 

yaitu  istri yang paling dicintainya; di antara anak-anak beliau yang paling dicintai 

yaitu  Fatimah ; di antara Ahlul Bayt beliau Ali ra. yaitu  orang yang paling 

dicintainya dan di antara shahabat-shahabat beliau Abu Bakar yaitu  shahabat yang 

paling dicintainya. Aisyah menceritakan : “Pada suatu hari Rasulullah saw. sedang 

melepas tali sandalnya. saat  itu saya sedang memintal benang. Saya melihat wajah 

beliau. Dari dahinya yang bercahaya mengalir keringatnya. Setiap tetes keringat 

beliau memancarkan cahaya ke sekeliling. Tetes-tetes keringat itu menyilaukan mata 

saya. Saya kagum dan terkesima melihat kejadian ini . Tiba-tiba beliau menoleh 

kepada saya. ‘Ada apa dengan kamu? Apa yang telah membuatmu termenung-

menung dan terkesima?’ tanya beliau. Saya menjawab, ‘Wahai Rasulullah! Kilatan 

lingkaran cahaya di wajah tuan dan pancaran sinar yang terpancar dari tetes-tetes 

keringat dahi tuan membuat saya tidak sadarkan diri.’ Lalu Rasulullah berdiri dan 

mendekati saya. Beliau mencium di antara dua mata saya sambil berkata, ‘Wahai 

Aisyah! Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepadamu! Saya tidak bisa 

menyenangkan kamu sebagimana kamu menyenangkan saya.’ Artinya beliau 

berkata, ‘Kesenangan yang saya dapatkan dari kamu lebih banyak dari pada yang 

saya berikan kepada kamu.’ Ciuman beliau di antara dua matanya berarti pemberian 

penghormatan dan kemuliaan kepadanya sebab  kecintaan yang disewrikan Aisyah 

kepada Rasulullah hingga memperoleh kesempatam menyaksikan keindahan beliau. 

Sebaris puisi : 

Saya ucapkan selamat kepada mata saya sebab  menyaksikan  

keindahannya! 

Dan sebait puisi : 

Betapa beruntung mata sebab   melihat keindahan itu, 

Betapa bahagia hati sebab  terbakar bersama cintanya! 

Imam Masruq, -salah seorang tabi’in-, setiap kali hendak menyampaikan 

sebuah riwayat dari Aisyah, dia mengatakan sebagai berikut : ”Sayyidah Shiddiqah 

kekasih Rasulullah saw. dan putri Abu Bakar ra., menyatakan bahwa ….” 

Adakalanya dia mengatakan, “Salah seorang kekasih di antara para kekasih Allah 

ta’ala dan salah seorang penghuni di antara para penghuni surga mengatakan bahwa 

….” Aisyah ra. mengatakan bahwa dirinya yaitu  seorang  azwajut tahirat tertinggi ( 

Istri-itri suci Nabi ) dan merasa bangga dengan rahmat Allah swt. yang dilimpahkan 

kepada dirinya. Misalnya, dia mengatakan, “Sebelum Rasulullah saw. (berbicara 

kepada ayah saya bahwa beliau) ingin menikahi saya, Malaikat Jibril as.  

menunjukkan (kepada beliau) rupa saya sambil berkata : Ini yaitu  istrimu!” Pada 

saat itu membuat gambar mahluk hidup belum diharamkan. Di samping itu, gambar 

ini  tidak dibuat oleh manusia. Di dalam sebuah hadits yang dinukil dari kitab 

Shahih Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. berkata kepada Aisyah ra., “Selama 

tiga malam saya melihat kamu di dalam mimpi. Malaikat itu menunjukkan kepada 

saya gambarmu yang dibuat di atas sutra putih. Dia berkata : Ini yaitu  istrimu. 

Saya tidak lupa gambar yang ditunjukkan oleh malaikat itu kepada saya dalam 

mimpi saya. Itu benar-benar (gambar) kamu.” Aisyah berkata, “Suatu saat  

Rasulullah saw. sedang mengerjakan shalat tahajjud, sementara itu saya berbaring di 

sebelah beliau. Kemuliaan istimewa hanya untuk saya. [Aisyah bangga dengan 

kemuliaan itu]. saat  beliau sujud, tangan beliau menyentuh kaki saya sehingga 

saya menariknya.” Kemuliaan lain yang dianugerahkan kepada Aisyah ialah bahwa 

mereka  (Rasulullah saw. dan dia)  mandi bersama dan memakai  bejana yang 

sama. Hal ini  mengisyaratkan martabat cinta yang diberikan oleh Rasulullah 

kepadanya. Rasulullah tidak pernah menerima wahyu di tempat tidur istri-istri beliau 

kecuali di tempat tidur Aisyah. Hal ini menunjukkan ketinggian martabat yang 

dianugerahkan Allah swt. kepada Aisyah. Suatu saat Ummu Salamah membicarakan 

Aisyah di hadapan Rasulullah saw. Beliau berkata, “Jangan lukai saya dengan 

Aisyah. Saya telah menerima wahyu di tempat tidurnya.” Atas kejadian ini  

Ummu Salamah berkata, “Saya tidak akan sekali-kali melukai engkau. Saya 

bertaubat, wahai Rasulullah.” Pada suatu hari, beliau bertanya kepada Fatimah, 

“Apakah kamu akan mencintai orang yang aku cintai?” saat  dia menjawab ‘ya’, 

Rasulullah saw. mengatakan, “Cintailah Aisyah!” 

Aisyah menjelaskan bahwa Allah swt. memberitahukan bahwa fitnah 

yang diarahkan kepadanya yaitu  bohong belaka. Allah swt. menurunkan tujuh belas 

ayat di dalam surat  al-Nur yang memberitahukan bahwa mereka yang memfitnah 

dirinya akan masuk neraka. Ayat-ayat ini  menunjukkan kemuliaan dan 

ketinggian derajat Aisyah ra. 

Fitnah yang menimpa diri Aisyah terjadi pada saat Perang Suci Muraysi 

tahun kelima hijriah, disebut juga Perang Bani Mustaliq. Di dalam Perang Suci 

ini  Rasulullah saw. berangkat bersama seribu pasukan. Beliau juga membawa 

serta Aisyah dan Ummu Salamah. Beberapa orang munafik juga turut bersama beliau 

namun  dengan niat mendapat  harta rampasan perang. Rasulullah mengangkat 

Umar sebagai komandan pasukan. sesudah  perang selesai, mereka memperoleh harta 

rampasan perang berupa lima ribu biri-biri, sepuluh ribu unta dan lebih dari tujuh 

ratus orang tawanan. Di antara tawanan ini  yaitu  Juwairiyyah. Rasulullah saw. 

membeli dia dan menikahinya. Melihat kejadian ini , para shahabat  berkata,” 

Bagaimana kita bisa menjaga ahlul bayt Rasulullah yang menjadi tawanan?” dan 

membebaskan para tawanan lainnya. Sebagaimana diketahui, bahwa Juwairiyyah 

yaitu  wanita  penyelamat  bagi sukunya. Dengan perantaraan dia sukunya tidak 

diperlakukan sebagai tawanan perang. Pada tahun itu juga, Rasulullah berhasil 

menebus Salman al-Farisi dari majikannya, -seorang Yahudi-, dan 

memerdekakannya.  Salman sendiri masuk Islam pada tahun pertama hijriah. 

Di dalam artikel  yang berjudul Alti Parmak yang merupakan terjemahan 

bahasa Turki dari artikel  berbahasa Persia berjudul Ma’arij al-Nubuwwah diperoleh 

keterangan sebagai berikut : Sebelum berangkat perang, Rasulullah saw. mengundi 

di antara istri-istri beliau untuk menentukan siapa yang akan dibawa serta dalam 

perang. Aisyah menceritakan : “sesudah  turun wahyu yang memerintahkan kaum 

wanita  menutup dirinya, saya dibuatkan sebuah tenda. Saya naik unta di dalam 

tenda ini . Dalam perjalanan pulang dari Perang Suci ini  kami berhenti di 

sebuah tempat dekat Madinah. Pada saat fajar menyingsing kami mendengar suara 

gaduh sebab  kami akan melanjutkan perjalanan. Saya meninggalkan tenda sebentar 

untuk keperluan buang hajat. saat  saya kembali saya baru menyadari bahwa 

gelang yang saya pakai ternyata hilang. Saya pun pergi dan mencarinya sehingga 

gelang ini  ditemukan kembali. saat  saya kembali ke tenda saya tidak 

mendapat  seorang tentara pun. Mereka telah pergi meninggalkan saya. Mereka 

meletakkan tenda saya di atas unta dan mengira bahwa saya telah berada di 

dalamnya. saat  peristiwa itu terjadi saya sedang kurang selera makan sehingga 

badan saya merasa lemah. Saya saat  itu baru berusia empat belas tahun. Saya 

bingung. Lalu saya berkata dalam diri saya sendiri bahwa mereka akan segera 

menyadari kalau saya tidak berada (di dalam tenda) sehingga mereka akan kembali 

lagi untuk mencari saya. Oleh sebab  itu, saya duduk seorang diri menunggu sambil 

tiduran sebentar. Rasulullah saw. memerintahkan kepada Safwan bin Mu’attil Sulami 

untuk kembali dan mencari saya. saat  orang ini menemukan saya dia berteriak. 

Teriakannya membangunkan saya. saat  melihat dia, saya segera menutupi muka 

saya. Dia menyuruh untanya berlutut. Lalu dia sendiri menyingkir sambil berkata, 

“Naiklah ke unta!” Saya pun naik ke unta. Safwan memegangi tali kendali unta 

ini . Suasana telah menjadi panas saat  kami menyusul pasukan. Orang-orang 

yang pertama kami jumpai yaitu  sekelompok orang munafik. Mereka 

memperbincangkan sesuatu yang tidak menyenangkan. Ternyata mereka telah 

diprovokasi oleh Ibnu Abi Salul. Hassan bin Tsabit dan Mistah (dari kaum muslimin) 

juga ikut bersama mereka. saat  kami kembali, saya jatuh sakit. Rumor tidak sedap 

tentang diri saya telah menyebar ke mana-mana. Namun, secara pasti saya tidak 

mengetahui hal ini . Yang saya rasakan bahwa Rasulullah tidak menemui saya 

sebagaimana biasanya. Bahkan beliau enggan menemui saya untuk sekedar 

mengetahui keadaan saya. Saya tidak mengetahui mengapa beliau demikian. Pada 

suatu malam, saya keluar ke kamar kecil ditemani oleh ibunya Mistah. Tiba-tiba kain 

yang dipakainya menjerat kakinya sehinggah dia terjatuh. saat  itu dia mengutuki 

anaknya (Mistah). saat  saya menanyakan mengapa dia menyumpahi anaknya, dia 

tidak memberikan alasannya. Lalu saya bertanya berkali- kali. Sehingga pada 

akhirnya dia bertanya, ‘Wahai Aisyah! Bukankah engkau telah mendengar rumor 

yang telah disebarkannya?’ saat  saya menanyakan kepadanya rumor tentang 

apakah itu, dia menceritakan kepada saya  mengenai fitnah ini . Sesaat  itu juga 

sakit saya semakin parah. Demam saya semakin tinggi sehingga seolah-olah kepala 

saya mengeluarkan api. Saya tidak sadarkan diri dan jatuh. saat  saya sadar saya 

segera kembali. Saya meminta ijin kepada Rasulullah saw. untuk pulang ke rumah 

ayah saya. Beliau pun mengabulkan permohonan saya. Tujuan saya kembali ke 

rumah ayah saya yaitu  untuk mengetahui apa yang sedang terjadi. Saya bertanya 

kepada ibu saya. Dia berkata, ‘Anakku tercinta! Jangan khawatir! Persoalan ini 

mudah bagi kamu. Setiap wanita  cantik dan dicintai oleh suaminya tentu akan 

mengalami fitnah-fitnah seperti ini.’ Saya heran. Saya merasa tercengang sebab  

fitnah itu ternyata telah sampai ke telinga Rasulullah. Apa yang akan terjadi 

seandainya ayah saya juga mengetahui hal ini? Pikiran seperti inilah yang membuat 

saya sedih sekali sehingga saya menangis tersedu-sedu. saat  itu ayah saya sedang 

membaca Al Qur'an  di kamar. Dia mendengar tangisan saya. Dia lalu menghampiri 

ibu dan bertanya kepada ibu kenapa saya menangis. Ibu saya menceritakan 

kepadanya betapa pedih duka cita saya saat  pertama kali mendengar gosip yang 

merebak. Ayah saya juga turut menangis. Lalu dia mendekati saya dan berkata, 

‘Anakku tercinta! Bersabarlah! Mari kita tunggu ayat yang akan diturunkan oleh 

Allah swt.’ Malam itu saya tidak bisa tidur sampai pagi. Air mata saya terus mengalir 

tanpa henti.” 

Rasulullah memanggil Ali dan Usamah., beliau bertanya, “Bagaimana 

masalah ini akan selesai?” Usamah menjawab, “Wahai  Rasulullah! Kami 

berprasangka baik terhadap istri Tuan.” Ali ra. menjawab, “ Banyak wanita  di 

dunia ini. Allah ta’ala tidak menjadikan dunia ini sempit buat Tuan. Tentang Aisyah 

tanyakan saja kepada jariyahnya, Buraydah!” saat  ditanyakan kepadanya, 

Buraydah menjelaskan, “Saya bersumpah demi Allah, bahwa saya tidak pernah 

melihat dia melakukan suatu kesalahan. Dari waktu ke waktu dia hanya tiduran. 

saat  dombanya pulang, dia membuat adonan tepung dan memberinya makan. 

Sebagian besar waktu yang saya miliki saya habiskan bersama dia. Saya tidak 

melihat dia berbuat salah. Jika rumor itu benar, tentu Allah swt. akan 

memberitahukannya kepada Tuan.” saat  Rasulullah sedang duduk di rumahnya, 

tiba-tiba Umar datang. Rasulullah saw. bertanya kepadanya bagaimana pendapat dia 

tentang desas-desus menyangkut istrinya Aisyah. Dia berkata, “Wahai Rasulullah! 

Saya tahu persis bahwa desas-desus ini disebarkan oleh orang-orang munafik. Allah 

swt. tidak akan membiarkan seekor lalat pun hinggap di tubuh Tuan. Dia melindungi 

Tuan jangan sampai lalat kotor itu mengotori tubuh Tuan. Allah swt. yang 

melindungi Tuan dari kotoran yang kecil, pasti Dia juga akan melindungi Tuan dari 

kotoran yang lebih hina.” Pernyataan Umar ini melegakan hati beliau. Wajahnya 

tampak ceria. lalu  beliau memanggil Utsman ra. dan bertanya kepadanya 

tentang hal yang sama. Utsman ra. berkata. “Saya yakin bahwa rumor itu yaitu  

kebohongan yang disebarkan oleh orang-orang munafik. Hal itu benar-benar 

merupakan fitnah. Allah swt. tidak akan membiarkan bayang-bayang Tuan jatuh di 

tanah. Bahkan Dia melindungi bayang-bayang Tuan jatuh di tempat yang kotor atau 

diinjak manusia jahat. Apakah Dia akan membiarkan fitnah kotor seperti itu 

memasuki rumah Tuan?” Pernyataan ini juga meringankan hatinya. Lalu beliau pun 

memanggil Ali dan bertanya kepadanya. Ali berkata, “Rumor ini yaitu  fitnah yang 

sengaja dibuat oleh orang-orang munafik. (Pada suatu hari) Anda dan kami 

mengerjakan shalat. Anda melepaskan sandal saat  shalat. Dan kami pun 

melepaskan sandal kami sebab  mengikuti Anda. saat  itu Anda bertanya, ‘Kenapa 

kalian melepaskan sandal kalian?’ saat  kami menjawab bahwa kami melakukan 

ini sebab  mengikuti Anda, maka Anda berkata, ‘Jibril as. datang dan 

memberitahukan kepada saya bahwa di sandal saya ada najis, sehingga saya harus 

melepaskannya.’ Apakah mungkin Allah swt. yang melindungi Anda dari kotoran-

kotoran dengan  menurunkan wahyu saat  shalat, Dia akan membiarkan istri-istri 

Anda melumuri dirinya sendiri dengan kotoran seperti itu? Seandainya kejahatan 

seperti itu dilakukan oleh Aisyah, tentu Dia akan segera memberitahukan kepada 

Anda. Jangan biarkan hati Anda bersedih. Allah swt. pasti akan menurunkan wahyu 

dan memberitahukan kepada Anda bahwa istri Anda suci.” Pernyataan Ali ini sangat 

menggembirakan Rasulullah. Beliau segera mengunjungi rumah Abu Bakar ra.  

Aisyah menceritakan : Pada hari itu saya tidak henti-hentinya menangis. 

Tiba-tiba seorang tamu wanita  dari kaum Anshar datang menemui saya. Dia juga 

turut menangis. Ibu dan ayah saya duduk bersama saya.  Tiba-tiba Rasulullah saw. 

datang dan mengucapkan salam kepada kami. Beliau duduk di samping saya. Beliau 

tidak pernah datang menemui saya sejak peristiwa itu menimpa diri saya sebulan 

sebelumnya. Wahyu belum juga turun. Sambil duduk, beliau memanjatkan syukur 

kepada Allah swt. Beliau mengucapkan kalimat syahadat. Lalu beliau menoleh 

kepada saya sambil berkata, “Wahai Aisyah! Mereka mengatakan itu dan ini kepada 

saya mengenai kamu : Jika kamu tidak seperti yang dikatakan oleh mereka Allah 

swt. pasti akan segera memberitahukan bahwa kamu benar. Dan jika kamu telah 

melakukan dosa, bertaubatlah dan beristighfarlah! Allah swt. akan menerima taubat 

orang yang bertaubat dari dosa-dosanya.” Mendengar ucapan Rasulullah ini saya pun 

berhenti menangis. Saya menoleh kepada ayah saya dan meminta dia menjelaskan. 

Ayah saya berkata, “Wallahi (Saya bersumpah atas nama Allah bahwa) saya tidak  

mengetahui bagaimana saya harus menjelaskan kepada Rasulullah. Pada masa 

jahiliah kami yaitu  penyembah-penyembah berhala, kami dulu menyembah patung-

patung manusia. Kami tidak  mengetahui bagaimana beribadah secara benar. Tidak 

seorang pun bisa mengatakan bagaimana keadaan wanita -wanita  kami. 

Sekarang hati kita telah disinari oleh cahaya Islam. Rumah kami telah diterangi oleh 

lentera Islam. Namun, semua orang  sedang menebarkan desas-desus mengenai kami. 

Lalu apa yang mesti saya katakan kepada Rasulullah?” lalu  saya menoleh 

kepada ibu dan memintanya menjelaskan. Dia berkata, “Saya heran dan saya 

kehabisan kata yang bisa saya ucapkan. Kamu saja yang menerangkan Aisyah!.” 

Lalu saya mulai berbicara. Saya berkata : Saya bersumpah demi Allah bahwa rumor-

rumor yang sampai ke telinga Anda yaitu   bohong. Jika Anda mempercayai rumor-

rumor ini , maka tentu Anda tidak akan mempercayai apa pun yang saya 

katakan. Allah swt. mengetahui  bahwa saya yaitu  wanita  yang sangat suci. 

Bila saya katakan ‘ya’ mengenai sesuatu yang tidak saya lakukan, maka saya berarti 

telah mendustai diri saya. Wallahi tidak ada hal lain yang saya bisa saya katakan. 

Hanya saja saya ingin mengutip pernyataan-pernyataan Yusuf as. : “Bersabar itu 

baik. Saya mengharap perlindungan dari Allah terhadap apa yang mereka katakan.” 

Saya sangat bingung saat  itu sehingga saya mengatakan Yusuf  as. bukan Ya’qub 

as. Lalu saya  memalingkan muka saya. Saya selalu berharap, demi Allah, bahwa 

Tuhan saya akan memperbaiki kembali nama saya. sebab  saya yakin dengan diri 

saya sendiri. Saya tidak bersalah. Namun saya tidak pernah menduga Allah swt. 

menurunkan ayat Al Qur'an sebab  peristiwa saya. Saya tidak bisa membayangkan 

bahwa ayat-ayat Al Qur'an ini  akan dibaca (dihapal) di mana saja hingga akhir 

masa sebab  ihwal saya. Saya sadar akan kemahabesaran Allah swt. dibandingkan 

kerendahan diri saya sehingga saya tidak pernah berharap bahwa Dia menurunkan 

sebuah ayat sebab  ihwal saya. Hanya saja saya berharap bahwa Dia akan 

memberitahukan kepada Nabi-Nya lewat mimpi atau mengilhamkan kedalam hatinya 

bahwa saya tidak berdosa, bahwa hati saya suci. Pada saat saya sedang 

menyampaikan kebenaran itu dan Rasulullah belum berdiri dari tempat duduknya, 

dan tidak seorang pun beranjak dari ruangan itu, tiba-tiba tanda-tanda turunnya 

wahyu tampak di wajah beliau. Ali ra. yang juga berada di ruangan itu, mengetahui 

bahwa wahyu akan segera turun : Kami mempunyai sebuah bantal yang terbuat dari 

kulit. saat  ayah saya mengetahui apa yang sedang terjadi, beliau meletakan bantal 

ini  di bawah kepala Rasulullah. Ayah saya menutupi wajah beliau dengan 

seprei kasur tipis. saat  wahyu itu selesai turun, beliau melepaskan tutup di wajah 

Rasulullah. Beliau menyeka tetes keringat  yang bercahaya  seperti mutiara dari 

wajah yang memerah laksana daun mawar dengan tangannya. Sambil tersenyum 

beliau berkata, “Kabar gembira buat kamu, wahai Aisyah! Allah swt. telah 

membuktikan bahwa kamu tidak bersalah. Dia telah bersaksi bahwa sesungguhnya 

kamu suci.” Segera ayah saya berkata, “Berdirilah, wahai putriku! Segeralah 

berterima kasih kepada Rasulullah!” Saya berkata, “Wallahi saya tidak akan berdiri! 

Saya juga tidak akan berterima kasih kecuali kepada Allah swt.! Rabb saya telah 

menurunkan ayat-ayat Al Qur'an sebab  ihwal saya.” Lalu Rasulullah membacakan 

sepuluh ayat Al Qur'an yang sekarang menjadi ayat-ayat  permulaan dengan ayat 

kesebelas dari surat al-Nur. Segera ayah saya bangun dan mencium kepala saya.” 

Sebelum ayat-ayat Al Qur'an mengenai Aisyah ra. diturunkan, istri Abu 

Ayub Khalid telah menanyakan kepada Khalid bagaimana pendapatnya tentang 

rumor-rumor yang berkembang tentang diri Aisyah. Khalid berkata, “Demi Allah, 

rumor ini bohong. Apakah kamu akan mencaci saya sebab  persoalan ini?” saat  

istrinya menjawab,  “Tidak, tidak akan pernah, semoga Allah swt. melindungi kita 

terhadap hal itu,” Khalid berkata, “Apakah Aisyah yang lebih beriman dari pada kita 

melakukan kejahatan dengan mengkhianati Rasulullah? Kita sekali-kali tidak akan 

mengatakan demikian. Rumor ini jelas bohong.” Dan Allah al-Haqq menurunkan 

ayat-ayat Al Qur'an persis seperti ungkapan-ungkapan yang disampaikan oleh 

Khalid. Segera sesudah  itu Rasulullah saw. mengumpulkan para shahabat di Masjid : 

Beliau membacakan ayat-ayat Al Qur'an yang telah diturunkan kepadanya. Dengan 

mukjizat dari ayat-ayat Al Qur'an ini , orang-orang mukmin terlepas dari syak 

wasangka yang selama ini mengusik hati mereka. Mistah, sebagaimana telah 

disebutkan sebelumnya yaitu  salah seorang kerabat Abu Bakar ra. Dia tergolong 

miskin. Dahulu Abu Bakar ra. biasa membantu nafkah hidupnya. saat  Mistah 

bersekutu dengan orang-orang munafik dalam perbuatan keji ini , Abu Bakar 

bersumpah tidak akan membantunya lagi. Atas kejadian ini, Allah swt. menurunkan 

ayat kedua puluh dua surat al-Nur. saat  Abu Bakar mendengar ayat ini  beliau 

berkata, “Saya bersyukur kepada Allah swt. yang telah mengampuni saya,” dan 

beliau pun membantu Mistah kembali sebagaimana telah dilakukannya sebelumnya. 

sesudah  ayat-ayat yang memperbaiki nama Aisyah diturunkan, Rasulullah saw. 

memerintahkan agar para penyebar fitnah ini  dijatuhi hukuman qadzf (menuduh 

wanita  berzina). Mereka berjumlah empat orang dan masing-masing dicambuk 

delapan puluh kali cambukan. Demikianlah, bagian terakhir dari keterangan yang 

kami kutip dari kitab Ma’arij. 

Kitab Mawakib menafsirkan ayat pertama berkaitan dengan Aisyah 

sebagai berikut : “Para penyebar fitnah Aisyah ra. tidak lain hanyalah sebagian kecil 

di antara kamu juga. Janganlah kamu menganggap fitnah itu suatu keburukan yang 

membebani kamu! Bahkan hal itu akan membawa hikmah bagi kamu. [Kamu telah 

memperoleh pahala yang banyak lantaran fitnah itu. Kebohongan mereka telah 

dibongkar dan kemuliaanmu telah ditampakkan. Ayat ini  menegaskan 

kebenaranmu]. Para pemfitnah itu memperoleh hukuman yang setimpal dengan dosa 

yang telah mereka kerjakan. Mereka yang telah mencemarkan nama baik dan 

mengatakan sesuatu yang sangat menjijikan akan memperoleh siksa yang amat pedih 

di dunia ini dan di akhirat kelak.” sesudah  dihukum hadd, Abdullah bin Abih 

wajahnya berubah menjadi sangat jelek rupanya. Hasan menjadi buta seumur hidup. 

Dan Mistah buntung tangannya. Ayat kedua belas menjelaskan, “saat  mendengar 

fitnah ini, maka orang Islam laki-laki dan wanita  seharusnya memiliki 

prasangka yang baik terhadap kaum kerabat. Mereka seharusnya berkata bahwa hal 

ini merupakan kebohongan dan fitnah yang nyata.”  Ayat kesembilan belas 

menjelaskan, “Mereka yang bermaksud jahat terhadap orang-orang mukmin akan 

disiksa  dengan siksaan yang amat pedih di dunia dan di akhirat.” Dan ayat kedua 

puluh enam menjelaskan, “ Ucapan kata-kata kotor memberikan madlarat bagi 

manusia  yang kotor. Ucapan kotor pantas buat manusia kotor.” Rasulullah saw., 

Aisyah dan Safwan sekali-kali tidak pernah dan tidak patut bagi mereka 

mengucapkan kata-kata kotor seperti yang diucapkan oleh orang-orang hina. Mereka 

dijauhkan dari ampunan dan kasih sayang Allah swt, dan dijauhkan dari rahmat-Nya 

di akhirat kelak. Rasulullah saw. memuji Safwan di dalam sebuah hadits  beliau. Dia 

memperoleh syahid dalam penaklukan Arzurum pada tahun tujuh belas hijriah . 

Allah swt. menegaskan akan menimpakan siksa yang amat pedih kepada 

para pemfitnah Aisyah ra. Kami akan memaparkan sebuah fakta sejarah yang 

tercantum di dalam kitab Mir’at al-Kainat pada halaman kedua ratus sembilan puluh 

dua : 

Di dalam kitab Khasais al-Habib disebutkan bahwa  Abdullah bin Abbas 

telah mengeluarkan fatwa, bahwa, “Seseorang yang  melakukan ‘qadzf’ (menuduh 

berzina, pent.) terhadap salah seorang dari istri-istri Rasulullah saw., dia menjadi 

kafir, dan taubatnya tidak akan diterima.” Dan menurut sebuah riwayat yang 

disepakati (muttafaq alaih, pent.) menuduh Aisyah berbuat  zina berarti mengingkari 

Al Qur'an yaitu tidak mempercayai Al Qur'an. sedang  menuduh secara zalim 

kepada ibu dari salah seorang shahabat Nabi, [yaitu kepada Hindun], hukumannya 

yaitu  qadzf dua kali lipat. Semoga Allah swt. melindungi saudara-saudara kita 

kaum Alawi dan Syi'i dan seluruh kaum muslimin dari kekhilafan yang membawa 

malapetaka! Amin. 

“Putri Utbah yang bernama Hindun yaitu  pahlawan wanita  yang 

terkenal bengis. Dia sering melakukan skandal percintaan dengan banyak laki-laki. 

Dia pernah memakan paru-paru Sayidina Hamzah dan membagikannya kepada 

seorang budak Abissinia. Dia telah diceraikan oleh suaminya bernama Ibnu 

Mughirah disebab kan perselingkuhan dan mengaku sebagai istri Abu Sufyan. 

Meskipun perkawinannya dengan Abu Sufyan tidak membuat dirinya berhenti dari 

perselingkuhannya dengan laki-laki lain. Dia terus menjalani hidup kotor. Dari 

perkawinan ini dia melahirkan Mu’awiyah si terkutuk yang mungkin juga berasal 

dari laki-laki lain, yang pada akhirnya dianggap sebagai anak Abu Sufyan. Orang 

ini  (Mu’awiyah, pent.) tumbuh menjadi seorang tiran yang kejam, dan 

menindas rakyat secara zalim,” kata penulis majalah ini . 

Seseorang tentu akan merasa malu memakai  bahasa yang sangat 

kotor dan jorok seperti itu, meskipun ditujukan kepada Abu Jahal dan iblis, -dua 

musuh Rasulullah yang paling hina dan keras kepala. Dalam hal ini Al Qur'an 

menegaskan, bahwa, “Ucapan kotor hanya pantas buat manusia kotor.” Bahasa 

(tutur kata) seseorang yaitu  cerminan bagi dirinya. Kita tidak mengharapkan bau 

harum yang keluar dari kotoran! Tulisan-tulisan bernada fitnah dan kotor 

sebagaimana dikutip di atas tidak akan mencemarkan nama baik orang-orang yang 

telah memperoleh ampunan dan rahmat (surga) dari Allah swt. Mereka tidak 

menyadari makna ucapannya itu sebab  mengingkari watak dari ucapan ini . 

Hadits yang berbunyi, “Iman itu akan menghapuskan dosa-dosa seseorang yang telah 

lalu” menegaskan bahwa Mu'awiyah dan Abu Sufyan serta Hindun yaitu  manusia-

manusia suci dan terhormat. Hal ini  dibuktikan pada saat Rasulullah 

menaklukkan kota Mekkah. 

Banyak sekali artikel  yang menulis tentang kebajikan dan kebesaran 

mereka. Pada point ini kami akan menukil beberapa kutipan dari kitab Qishas al-

Anbiya (Sejarah-sejarah para Nabi) : 

“Di kalangan bangsa Arab, kehidupan keluarga sangat penting artinya. 

Mereka memiliki semangat kekeluargaan sangat kuat. Setiap orang Arab akan 

memiliki cara tersendiri dalam menjaga kehormatan suku dan kaum kerabat mereka. 

Bangsa Arab banyak menghapal puisi dan sangat gemar membacakan khutbah-

khutbah di pasar dan di acara-acara pertemuan lainnya. Pada suatu hari, Fakhrul 

Alam Muhammad saw. naik ke gunung Shafa lalu beliau duduk di sana. Umar  

mengikuti beliau dan duduk di sampingnya tepat di bawah beliau. lalu  

datanglah kaum laki-laki yang diikuti oleh kaum wanita . Mereka menyatakan 

masuk Islam. Saudara wanita  Ali bernama Ummi Hani dan ibunya Mu'awiyah 

bernama Hindun termasuk di antara kaum wanita  ini . Pada saat Rasulullah 

saw. sedang menasehati kaum wanita  untuk tidak mencuri, tiba-tiba Hindun 

tampil ke depan dan berkata, ‘Jika saya seorang pencuri sesungguhnya saya telah 

banyak mencuri harta Abu Sufyan’. Fakhrul Alam saw. bertanya, ‘Apakah kamu 

bernama Hindun?’ ‘Saya Hindun. Maafkanlah kesalahan-kesalahan saya yang telah 

lalu agar Allah mengampuni Tuan,’ katanya. Pada saat Rasulullah saw. melarang 

melakukan perbuatan zina, Hindun berkata, ‘Apakah seorang wanita  merdeka 

dianggap berzina?’ Dan pada saat Rasulullah saw. melarang membunuh anak-anak 

orang, Hindun pun berkata, ‘Mereka yaitu  anak-anak kecil dan kami yang 

membesarkan mereka. Mereka tumbuh, a