Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 11. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 11. Tampilkan semua postingan

Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 11

 


mereka mempunyai kaum 

kerabat walaupun mereka berseberangan dengan kita." Amr bin Al-Ash berkata: "Demi Allah, aku akan 

jelaskan kepada Najasyi, bahwa sahabat-sahabat Muhammad meyakini Isa bin Maryam hanyalah 

seorang manusia biasa." 

Esok harinya, Amr bin Al-Ash kembali menghadap Najasyi untuk kedua kalinya dan berkata kepadanya: 

"Wahai tuan raja, mereka meyakini sesuatu yang di luar batas tentang Isa bin Maryam. Oleh karena 

itu, kirimlah seseorang untuk menghadirkan mereka ke sini agar engkau bisa menanyakan tentang 

pendapat mereka terhadap Isa bin Maryam!" Najasyi mengirim utusan untuk menanyakan pendapat 

kaum Muslimin terhadap Nabi Isa bin Maryam. 

Ummu Salamah berkata: Kami belum pernah berhadapan dengan persoalan rumit seperti ini 

sebelumnya. Pada saat yang bersamaan, kaum Muslimin mengadakan diskusi. Sebagian di antara 

mereka bertanya kepada sebagian yang lain: "Apa yang akan kalian katakan tentang Isa bin Mar yam 

jika raja Najasyi menanyakan hal itu kepada kalian?" Sebagian lain menjawab: "Demi Allah,akan kita 

katakan seperti yang difirmankan Allah, dan dibawa Nabi kita. Itulah yang akan kita katakan." 

jika  kaum Muslimin masuk ke tempat Najasyi, Najasyi bertanya kepada mereka: "Apa keyakinan 

kalian tentang Isa bin Maryam?" Jafar menjawab: "Dalam pandangan kami, Isa bin Maryam ialah 

seperti dikatakan Nabi kami bahwa Isa yaitu  hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya, dan Kalimat-Nya yang 

ditiupkan ke dalam rahim Maryam sang perawan." Najasyi memukul tanah dengan tangannya lalu dia 

mengambil sebuah tongkat, lalu  berkata: "Demi Allah, apa yang dikatakan Isa bin Maryam 

mengenai tongkat ini tidak jauh berbeda dengan apa yang engkau yakini." 

Para uskup yang ada di sekeliling Najasyi mendengus geram jika  mendengar apa yang dikatakan 

Najasyi. Najasyi berkata: "Ada apa dengan kalian!" Kepada kaum Muslimin, Najasyi berkata: "Kalian 

tetap aman di negeriku. Barangsiapa melecehkan kalian, ia pasti merugi. Barangsiapa merendahkan 

kalian, ia pasti merugi. Barangsiapa menghina kalian, ia merugi. Memiliki gunung dari emas, jika aku 

harus menyakiti salah seorang dari kalian maka hal itu sangat kubenci. Kembalikan hadiah-hadiah ini 

kepada dua orang utusan Quraisy. Demi Allah, Dia tidak pernah menyuapku untuk mendapat  

kekuasaan dariku, apakah pantas jika lalu  aku mengambil suap di dalamnya. Allah jadikan 

manusia tidak taat padaku lalu haruskah aku jadikan taat mereka padaku." lalu  kedua utusan 

Quraisy keluar dari hadapan Najasyi dalam keadaan kecewa sekali. Sementara kami tetap tinggal di 

negeri Najasyi dengan nyaman dan perlakukan yang baik. 

Ummu Salamah berkata: Demi Allan, selama di sana kami hidup bahagia hingga muncul seorang dari 

Habasyah yang berusaha menggeser Najasyi dari kursi kerajaan. Demi Allah, kami belum pernah 

bersedih seperti saat itu. Kami khawatir orang ini  berhasil menjatuhkan Najasyi, sehingga 

muncullah orang yang tidak mengetahui kondisi kami, sebagaimana Najasyi mengetahui kondisi kami. 

Najasyi lalu berangkat menemui lawannya di tepian Sungai Nil. Sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam berkata: "Siapa yang berani menyaksikan berke- camuknya peperangan dua pasukan 

ini  lalu  datang ke sini lagi dengan membawa berita?" 

Zubair bin Awwam berkata: "Aku siap!" Mereka berkata: "Bagus?" Zubair yaitu  orang yang termuda 

di antara kami. Sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengisi tempat air untuk 

Zubair bin Awwam dan menggantungkannya di dadanya. lalu  Zubair keluar menuju tepian 

Sungai Nil, di mana dua pasukan bertemu. Kami semua ber- doa kepada agar Allah memenangkan 

Najasyi atas musuhnya, dan memberikan kekokohan di negerinya. Demi Allah, di saat kami sedang 

berharap seperti itu, tiba-tiba Zubair berlari-lari sambil memberi isyarat dengan bajunya, ia berkata: 

"Bergembiralah, Najasyi telah menang. Allah memenangkannya, dan memberikan ketentaraman di 

negaranya. "Demi Allah, kami bahagia sekali saat itu. sesudah  itu, Najasyi pulang. Allah memberikan 

keamanan di negaranya. Habasyah pun semakin kokoh di bawah kepemimpinan Najasyi. Kami tinggal 

di sana dengan tentram hingga pulang ke Makkah bertemu kembali dengan Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam. "  

 

 

Kisah Penguasaan Najasyi Atas Habasyah 

 

Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri bercerita, aku pernah berdiskusi dengan Urwah bin Zubair tentang hadits 

Abu Bakr bin Abdurrahman dari Ummu Salamah, istri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Urwah 

bin Zubair berkata: "sebenarnya  Ummul Mukminin, Aisyah berkata kepadaku bahwa ayah Najasyi 

yaitu  seorang raja. Ia hanya mempunyai satu anak, yaitu Najasyi. Ayahnya mempunyai seorang 

saudara yang memiliki anak dua belas orang. Mereka yaitu  keluarga istana Habasyah. Orang-orang 

Habasyah berkata: "Bagaimana kalau kita habisi saja ayah Najasyi lalu  kita gantikan ia dengan 

saudaranya sebagai raja yang baru, karena ayah Najasyi hanya mempunyai satu anak saja, sedang 

saudara ayahnya mempunyai dua belas anak lalu  mereka mewarisi kerajaan sepeninggal 

kematian ayahnya. Orang-orang ini  lalu menyiksa ayah Najasyi dan menghabisinya. 

Sepeninggalnya, mereka mengangkat saudara ayah Najasyi sebagai raja baru. Najasyipun hidup 

bersama pamannya. Najasyi anak yang brilian dan penuh kemauan hingga lebih populer ketimbang 

pamannya, dan menurunkan pamor pamannya itu. jika  orang-orang Habasyah memahami posisi 

Najasyi dibandingkan pamannya, mereka berkata: "Demi Allah, anak muda ternyata lebih populer 

dibanding pamannya. Kami khawatir jika ia diangkat sebagai raja, pasti ia akan menghabisi kami 

semua, karena lambat laun ia pasti tahu bahwa kami telah membunuh ayahandanya." 

Lalu mereka berangkat menuju tempat paman Najasyi dan berkata: "Bunuhlah anak muda ini, karena 

kami khawatir ia mengancam keselamatan diri kami." Pamannya berkata: "Sialan kalian, aku telah 

membunuh ayahnya kemarin, apakah aku harus membunuh anaknya juga pada hari ini? Namun aku 

akan keluarkan dia dari negeri kalian!" 

Orang-orang ini  menyeret Najasyi ke pasar, lalu  menjualnya kepada seorang pedagang 

dengan harga enam ratus dirham. Pedagang ini  membaa Najasyi ikut serta ke dalam 

pelayarannya. Pada petang hari itu juga, awan musim gugur bertiup. Paman Najasyi keluar rumah, 

namun tiba-tiba ia disambar petir hingga tewas. 

Orang-orang Habasyah mencari anak raja yang meninggal itu, namun ternyata mereka hanya 

mendapat  seorang yang bodoh tidak memiliki kebaikan. Persoalan orang-orang Habasyah pun 

semakin berantakan. Karena kondisi sulit yang mereka hadapi, sebagian dari mereka berkata kepada 

yang lain: "Demi Allah, sekarang kalian baru sadar, karena sebenarnya  raja kalian yang mampu 

menyelesaikan persoalan yaitu  raja yang telah kalian jual pagi tadi. Jika kalian masih ingin hidup 

sentosa di Habasyah, kejarlah dia saat ini juga!" Mereka mengejar Najasyi dan mencari pedagang yang 

membelinya. jika  mereka berhasil menemukannya, mereka mengambilnya dari pedagang ini . 

lalu  mereka membawa Najasyi pulang ke Habasyah, lalu mengangkatnya sebagai raja." 

Tak lama lalu , pedagang yang mem- beli Najasyi menemui orang-orang Habasyah. Ia berkata: 

"Kalian harus mengembalikan uangku, atau mengizinkan aku berbicara dengan Najasyi." Mereka 

berkata: "Kami tidak akan memberi uang sepeserpun kepadamu." Orang ini  berkata: "Kalau 

begitu, izinkan aku berbicara dengan Najasyi." Mereka berkata: "Silahkan saja engkau bicara 

dengannya." 

Orang ini  menemui Najasyi dan berkata: "Wahai tuan raja, aku pernah membeli seorang budak 

di pasar dengan harga enam ratus dirham. jika  aku pulang membawa budak itu, mereka 

mengejarku, lalu  mengambilnya dariku tanpa mengganti rugi uang yang telah aku bayarkan 

kepada mereka." 

Najasyi berkata kepada orang-orang Habasyah: "Kalian harus mengembalikan uang dirhamnya atau 

budak ini  menyerahkan dirinya kepada orang itu, dan ia pulang membawanya." Orang-orang 

Habasyah berkata: "Jangan! Kami akan kembalikan uang dirhamnya kepadanya." 

Aisyah melanjutkan: "Itulah berita pertama tentang kekokohan agama Najasyi, dan keputusannya 

yang sangat adil. " 

Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ruman berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari Aisyah yang berkata: 

jika  Najasyi meninggal dunia, kuburannya cahaya. 

 

 

Orang-Orang Habasyah Menentang Najasyi 

 

Ibnu Ishaq berkata: Ja'far bin Muhammad berkata kepadaku dari ayahnya yang berkata: Orang-orang 

Habasyah berkata kepada Najasyi, "sebenarnya  engkau telah meninggalkan agama yang kita anut 

dan mutlat mengikuti agama mereka." Najasyi mengirim seseorang untuk menemui Ja'far dan 

sahabat-sahabatnya untuk menyiapkan perahu-perahu bagi kaum Muhajirin. Najasyi berkata: 

"Amankalah diri kalian ke dalam perahu-perahu. Jika ternyata nanti aku kalah, pergilah kalian ke mana 

saja kalian suka. Jika aku menang, kumohon tetaplah kalian di sini." 

Najasyi lalu menulis surat yang di dalam suratnya ia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang pantas 

disembah dengan benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad yaitu  hamba Allah dan utusan-Nya. Ia 

juga bersaksi bahwa Isa bin Maryam yaitu  hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya, dan Kalimat-Nya yang 

Dia tiupkan kepada Maryam. lalu  ia menemui orang-orang Habasyah yang sedang berbaris 

untuknya. Najasyi berkata: "Wahai orang-orang Habasyah, bukankah aku orang yang paling berkuasa 

atas kalian?" 

Mereka menjawab: "Ya, benar!" 

Najasyi berkata: "Menurut kalian aku ini bagaimana?" 

Mereka menjawab: "Engkau yaitu  manusia yang paling baik." 

Najasyi berkata: "Jika demikian, lalu apa yang terjadi pada kalian?" 

Mereka menjawab: "Engkau telah keluar dari agama kami dan meyakini bahwa Isa yaitu  seorang 

hamba Allah." 

Najasyi bertanya: "Lalu apa pendapat kalian tentang Isa?" 

Mereka menjawab: "Isa yaitu  anak Allah." 

Najasyi berkata sambil meletakkan tangannya di dadanya-, bahwa ia bersaksi Isa yaitu  anak Maryam 

dan tidak lebih dari itu seperti yang tertulis dalam surat yang telah ia tulis. Orang-orang Habasyah pun 

rela, lalu mereka berbalik dari hadapannya. 

Hal di atas didengar Nabi Shallalahu 'alaihi wa Sallam. jika  Najasyi meninggal dunia, beliau 

menshalatinya dan memohonkan ampunan kepada Allah untuknya. 

 

 

Kisah Masuk Islamnya Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu 

 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abu Rabi'ah bertemu dengan orang-orang 

Quraisy dalam keadaan gagal menarik pulang sahabat-sahabat Rasululah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, 

dan Najasyi tidak memperkenankan permintaan mereka, pada saat itulah Umar bin Khaththab 

memeluk Is lam. la sosok yang mempunyai harga diri yang tinggi dan anti penghinaan. Sahabat-

sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam terlindungi dengan masuk Islamnya Umar bin 

Khaththab dan Hamzah bin Abdul Muthalib hingga membuat orang-orang Quraisy tidak lagi berani 

menyiksa mereka. Abdullah bin Mas'ud berkata: "Dulunya kami tidak berani shalat di samping Ka'bah 

sebelum Umar bin Khaththab masuk Islam. jika  Umar bin Khaththab masuk Islam, ia memenangi 

duel melawan orang-orang Quraisy hingga ia bisa shalat di samping Ka'bah dan kami pun ikut shalat 

bersamanya." Masuk Islamnya Umar bin Khaththab terjadi sesudah  beberapa sahabat Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhijrah ke Habasyah. 

Al-Bakkai berkata: Mis'ar bin Kidam berkata kepadaku dari Sa'ad bin Ibrahim yang bercerita bahwa 

Abdullah bin Mas'ud berkata: sebenarnya  masuk Islamnya Umar bin Khaththab yaitu  sebuah 

pembuka kemenangan. Hijrahnya memberikan kemenangan. Dan pemerintahannya yaitu  karunia. 

Awal- nya kami tidak berani shalat di sisi Ka'bah sampai Umar bin Khaththab masuk Islam. jika  

masuk Islam, ia memenangi duel melawan orang-orang Quraisy hingga ia berhasil shalat di samping 

Ka'bah dan kami ikut shalat berjamaah bersamanya. 

Ibnu Ishaq berkata: Telah berkata kepadaku Abdurrahman bin Al-Harits bin Abdullah bin Ayyasy bin 

Abu Rabi'ah dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Amr bin Rabi'ah dari ibunya, yaitu Ummu Abdullah binti 

Abu Hatsmah yang berkata: "Demi Allah, saat bersiap- siap akan pergi ke negeri Habasyah. Suamiku 

Amir pergi memenuhi sebagian kebutuhannya. Namun tiba-tiba Umar bin Khaththab yang jika  itu 

masih musyrik sudah berdiri di hadapanku." 

Ummu Abdullah berkata: "Sebelumnya, kami selalu diganggu dan disiksa olehnya." Umar bin 

Khaththab berkata: "Kelihatannya engkau mau berangkat, wahai Ummu Abdullah?" Aku berkata: "Ya 

betul, kami akan pergi ke negeri Allah, karena kalian telah menyiksa dan menganiaya kami, hingga 

Allah memberikan jalan keluar bagi kami." Umar bin Khaththab berkata: "Semoga Allah bersama 

kalian!" Ummu Abdullah berkata: "Saat itu, kulihat kelembutan pada diri Umar bin Khaththab yang 

tidak pernah kulihat sebelum ini. lalu  ia pergi dan menurut perasaanku ia demikian sedih atas 

kepergian kami." 

Ummu Abdullah berkata: Sejurus lalu , Amir datang dan berkata kepadanya: "Wahai Abu 

Abdullah, andaikata engkau tadi melihat kelembutan dan duka cita Umar bin Khaththab atas 

kepergian kita?" Amir berkata: "Apakah dia sudah masuk Islam?" Ummu Abdullah berkata: "Aku 

berkata: "Entahlah!" Amir berkata: "Umar tidak akan mungkin masuk masuk Islam hingga keledainya 

masuk Islam." Ummu Abdullah berkata: "Dia mengatakan hal itu karena merasa putus asa melihat 

sikap keras Umar bin Khaththab dan kebenciannya sangat keras kepada Islam." 

Ibnu Ishaq berkata: Mengenai sebab masuk Islamnya Umar bin Khaththab seperti disampaikan 

kepadaku bahwa saudara perem- puannya Fathimah binti Khaththab yang bersuamikan Sa'id bin Zaid 

bin Amr bin Nufail telah sama-sama masuk Islam tanpa sepengetahuan Umar bin Khaththab. Nu'aim 

bin Abdullah An-Nahham, salah seorang dari kaumnya yaitu Bani Adi bin Ka'ab juga telah masuk Islam 

dan merahasiakan keislamannya karena khawatir kepada kaumnya. Khabbab bin Al-Arat sering bolak 

balik pulang pergi ke rumah Fathimah binti Khaththab guna membacakan Al-Qur'an kepadanya. Pada 

suatu jika , Umar bin Khaththab keluar berniat berduel dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sal- 

lam dan beberapa sahabat beliau, yang sedang berkumpul di salah satu rumah di bukit Shafa. Mereka 

berjumlah sekitar empat puluh orang; laki-laki dan perempuan. jika  itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam berkumpul bersama Hamzah bin Abdul Muthalib, Abu Bakar bin Abu Quhafah Ash Shiddiq, 

dan Ali bin Abu Thalib. Sahabat-sahabat yang hadir di rumah ini  yaitu  sahabat-sahabat yang 

tetap tinggal bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Makkah dan tidak ikut hijrah ke 

Habasyah. Di tengah jalan, Umar bin Khaththab bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah. " Nu'aim bin 

Abdullah bertanya kepada Umar bin Khaththab: "Mau pergi ke mana, wahai Umar?" Umar bin 

Khaththab menjawab: "Aku hendak pergi mencari Muhammad, orang yang keluar dari agama kita, 

yang memecah belah persatuan orang-orang Quraisy, mendungu-dungukan mimpi-mimpi kita, 

melecehkan, dan menghina agama kita, untuk aku bunuh dia." Nu'aim bin Abdullah berkata kepada 

Umar bin Khaththab: "Demi Allah, engkau bodoh sekali bila bertindak demikian, wahai Umar. Apakah 

Bani Abdu Manaf akan membiarkanmu hidup sesudah  engkau membunuh Muhammad? Kenapa 

engkau tidak pulang kepada keluargamu dan meluruskan persoalan mereka?" Umar bin Khaththab 

berkata: "Keluargaku yang mana?" Nu'aim bin Abdullah berkata: Ya, saudara iparmu yang juga saudara 

misanmu Sa'id bin Zaid bin Amr, dan Fathimah bin Khaththab, demi Allah, keduanya telah masuk Islam, 

dan menganut agama Muhammad, perhatikan dulu keduanya." Umar bin Khaththab segera bergegas 

berbalik arah menuju rumah saudarinya dan saudara iparnya. jika  itu di rumah mereka berdua ada 

Khabbab bin Al-Arat yang sedang membacakan surat Thaha. jika  mereka bertiga mendengar suara 

Umar bin Khaththab, Khabbab bin Al-Arat bersembunyi di rumah kecil persembunyian atau di salah 

satu bagian rumah, sedang Fathimah binti Khaththab bergegas mengambil lembaran surat Thaha dan 

menyembunyikannya. Saat mendekati rumah ini  Umar bin Khaththab telah mendengar bacaan 

surat Thaha oleh Khabbab. Tatkala Umar bin Khaththab telah masuk rumah, ia berkata: "Suara apa 

yang aku dengar tadi?" Sa'id bin Zaid dan Fathimah menjawab: "Aku tidak mendengar suara apa-apa." 

Umar bin Khaththab berkata: "Demi Allah, sungguh aku telah menerima kabar bahwa kalian berdua 

telah memeluk agama Muhammad." lalu  Umar bin Khaththab menghajar saudara iparnya, Sa'id 

bin Zaid, dan Fathimah pun bangkit melindunginya dari pukulan Umar bin Khaththab. Umar bin 

Khaththab tanpa sengaja menghajar Fathimah hingga terluka. Karena Umar bin Khaththab bersikap 

seperti itu, Fathimah dan suaminya berkata: "Benar, kami berdua telah memeluk agama Islam, 

beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Silahkan lakukan apa saja yang engkau mau terhadap kami." 

jika  Umar bin Khaththab melihat darah yang menetes di tubuh adik perempuannya ia menyesal 

atas tindakannya. Sadar akan kesalahan yang dilakukannya ia berkata kepada adik perempuannya: 

"Bolehkah aku melihat lembaran yang aku dengar tadi agar aku melihat apa sebenarnya yang dibawa 

Muhammad." Umar bin Khaththab yaitu  seorang yang pandai menulis. Mendengar Umar bin Khath-

thab berkata seperti itu, adik perempuannya berkata: "Sungguh, kami khawatir engkau merobek-

robek lembaran ini ." Umar bin Khaththab berkata: "Engkau tidak perlu khawatir!!. Umar bin 

Khaththab bersumpah kepada adikperempuannva dengan menyebut nama Tuhannya, bahwa ia pasti 

mengembalikan lembaran ini  kepadanva jika  telah selesai membacanya. Ia berkata kepada 

Umar bin Khaththab: "Wahai saudaraku, sebenarnya  engkau najis, karena engkau seorang yang 

musyrik. Lembaran ini tidak boleh disentuh kecuali oleh orang rang suci." lalu  Umar bin 

Khaththab berdiri, lalu mandi. Usai mandi, Fathimah memberikan lembaran ini  kepadanva. Di 

lembaran ini  tertulis: 'Thaaha.' Umar bin Khaththab membacanya. jika  ia membaca 

permulaan surat ini , ia berkata: "Betapa indahnya dan mulianya perkataan ini!" jika  Khabbab 

bin Al-Arat mendengar ucapan Umar bin Khaththab ini , ia keluar dari persembunyiannya dan 

menemui Umar bin Khaththab. Khabbab bin Al-Arat berkata kepada Umar bin Khaththab: "Wahai 

Umar, demi Allah, aku berharap kiranya Allah menjadikanmu sebagai orang yang didoakan Nabi-Nya, 

karena kemarin aku mendengar beliau bersabda: 'Ya Allah, kuatkanlah Islam ini dengan Abu Al-Hakam 

bin Hisyam atau dengan Umar bin Khaththab.'37 Maka bersegeralah wahai Umar." Umar bin Khaththab 

berkata: "Wahai Khabbab, ada di mana Muhammad kini berada agar aku bisa menemuinya lalu aku 

masuk Islam." Khabbab bin Al-Arat berkata kepadanya: "Beliau berada di Shafa di sebuah rumah 

bersama beberapa orang sahabatnya." 

 

Umar bin Khaththab mengambil pedangnya, dengan terhunus sambil berjalan menuju tempat 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya. Ia mendobrak pintu rumah tempat 

berkumpulnya para sahabat. jika  mereka mendengar suara Umar bin Khattab,salah seorang 

sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengintip dari celah- celah pintu dan melihat Umar 

bin Khaththab sedang menghunus pedang. Sahabat ini  kembaii kepada Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sdlam dalam keadaan sangat ketakutan. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, Umar bin Khaththab 

sedang menghunus pedangnya." Hamzah bin Abdul Muthalib berkata: "Jangan pedulikan dia. Jika ia 

menginginkan kebaikan, kita benkan padanya kebaikan. Jika keburukan vang dia inginkan, kita akan 

habisi dia dengan pedangnya sendiri." Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam bersabda: "Biarkanlah 

saja dia masuk." Salah seorang sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membukakan pintu dan 

mempersilahkan Umar bin Khaththab masuk, lalu  Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam 

menyambut kedatangannya dan menemuinya di dalam kamar. Beliau mengambil tempat ikatan 

celana atau ikatan selendangnya, lalu  menarik Umar bin Khaththab dengannya dengan tarikan 

yang sangat keras, sambil bersabda kepadanya: "Apa yang membuatmu datang ke sini, wahai anak 

Khaththab? Demi Allah jika engkau tidak menghentikan tindakanmu selama ini, Allah akan 

menurunkan siksa kepadamu." Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Rasulullah, aku datang 

menemuimu untuk beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan apa saja yang engkau bawa dari Allah." 

Mendengar jawaban Umar bin Khaththab, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertakbir dengan 

keras. Dengan takbir itulah sahabat-sahabat di rumah ini  paham bahwa Umar bin Khaththab 

telah masuk Islam. 

Sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam begitu senang dengan keislaman Umar bin 

Khaththab dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Mereka sadar sepenuhnya 

bahwa keduanya akan membentengi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan dengan keduanya 

mereka menghadapi musuh-musuh Islam. Itulah kisah para perawi'Madinah tentang keislaman Umar 

bin Khaththab. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Najih Al-Makki berkata kepadaku dari sahabat-sahabatnya dari 

Atha' dan Mujahid, atau dari orang yang meriwayatkannya bahwa keislaman Umar bin Khaththab, 

sebagaimana mereka katakan, bahwa Umar bin Khaththab pernah berkata: "Aku awalnya demikian 

jauh dari Islam. Aku hobi meneguk minuman keras. Aku sangat menyukainya dan meminumnya. Dulu 

kami mempunyai auditorium tempat orang-orang Quraisy biasa bertemu. Auditorium ini  

terletak di bukit kecil di pemukiman keluarga Umar bin Abd bin Imran Al-Makhzumi. Pada suatu 

malam, aku keluar rumah untuk mencari teman-temanku di auditorium itu. Aku mendatangi tempat 

mereka, namun tidak menemukan seorang pun. Aku berkata: "dibandingkan  menganggur sebaiknya aku 

berangkat menemui Si Fulan penjual minuman keras, di Makkah dan minum di sana. Lalu aku pergi ke 

tempat Si Fulan ini , sayang aku tidak berhasil berjumpa dengannya dengannya." 

Aku berkata: Ah, lebih baik aku pergi thawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh atau tujuh puluh kali. 

Maka akupun datang ke Masjidil Haram untuk thawaf di Ka'bah, tanpa sepengetahuanku Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang berdiri shalat. Jika shalat, beliau menghadap Syam, dan 

menjadikan Ka'bah di antara beliau dengan Syam. Tempat shalat beliau di antara dua rukun, rukun 

Aswad dan rukun Yamani. jika  aku melihat beliau, aku berkata dalam hati. "Demi Allah, alangkah 

baiknya jika  aku mendekat kepada Muhammad pada malam ini agar aku bisa mendengar apa yang 

dia katakan." Aku juga berkata: "Andai aku mendekat padanya dan mendengarkan apa yang dia 

katakan, pasti aku membuatnya kaget." Maka aku datang ketempat beliau dari arah Hijr dan aku 

masuk dari bawah kainnya. Aku berjalan pelan-pelan, sedang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

berdiri shalat dengan membaca Al-Qur'an hingga aku berdiri persis di depannya. jika  aku 

mendengar Al-Qur'an, tak bisa kupungkiri hatiku tertarik padanya. Aku menangis, dan Al-Qur'an 

membuatku mengambil keputusan untuk memeluk Islam. Aku terpana di tempatku hingga Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam menuntaskan shalatnya. sesudah  shalat beliau pergi. jika  pulang, beliau 

berjalan hingga muncul di rumah Ibnu Abu Husain. Itulah jalan yang biasa beliau lewati, hingga beliau 

memotong jalan, lalu  berjalan di antara rumah Abbas bin Abdul Muthalib dan rumah Ibnu Azhar 

bin Abdu Auf Az-Zuhri, lalu  berjalan ke di rumah Al-Akhnas bin Syariq hingga beliau masuk 

rumahnya. Tempat kediaman beliau yaitu  sebuah rumah yang berwarna warni yang berada di tangan 

Muawiyah bin Abu Sufyan. Aku ikuti beliau hingga masuk di antara rumah Abbas dan rumah Ibnu 

Azhar, dan aku berhasil menemukan beliau. jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar 

suara langkah kakiku, beliau mengenaliku. Beliau mengira aku mengikutinya untuk menyiksanya. 

Beliau membentakku, lalu  bersabda: "Apa yang mendorongmu datang ke tempat ini pada jam 

seperti ini, wahai anak Khaththab?" Aku menjawab: "Aku datang untuk beriman kepada Allah, dan 

Rasul-Nya, serta kepada apa saja yang dibawa Rasul-Nya dari Allah!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam memuji Allah lalu  bersabda: "Allah telah memberi hidayah kepadamu, wahai Umar."38  

 

sesudah  itu, beliau memegang dadaku dan berdoa semoga aku tegar dalam agama ini. Lalu aku pergi 

dari Rasulullah Shalialahu alaihi wa Sallam. 

Ibnu Ishaq berkata: Wallahu alam tentang mana riwayat yang benar. 

Ibnu Ishaq berkata: Naff eks budak Abdullah bin Umar berkata kepadaku dari Ibnu Umar Radhiyallahu 

Anhuma ia berkata: "Tatkala ayahku masuk Islam, ia berkata: 'Siapakah di antara orang-orang Quraisy 

yang paling pintar dalam menyebarkan gosip?" Maka Umar bin Khaththab diberi tahu bahwa untuk 

urusan itu yaitu  Jamil bin Ma'mar Al-Jumahi orangnya. lalu  Umar bin Khaththab pergi ke 

rumah Jamil bin Ma'mar Al-Jumahi. Aku membuntutinya dan aku lihat apa yang akan dia lakukan. Saat 

itu aku masih kanak- kanak namun telah bisa menangkap apa yang aku lihat. Setibanya di rumahnya, 

Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Jamil, apa kau sudah tahu bahwa aku memeluk Islam dan 

memeluk agama Muhammad?" Ibnu Umar berkata: "Demi Allah, Jamil bin Ma'mar tidak merespon 

perkataan Umar bin Khaththab. Ia berdiri dengan menarik kainnya. Ia dibuntuti Umar bin Khaththab 

dan aku mengikuti ayahku. jika  Jamil bin Ma'mar berdiri di pintu masjid, ia berteriak dengan suara 

terkerasnya: "Wahai orang-orang Quraisy -saat itu mereka sedang berkumpul di sekitar pintu Ka'bah 

ketahuilah bahwa Umar bin Khaththab telah kafir dari agama nenek-moyang kalian!" 

Ibnu Umar berkata: Umar bin Khaththab menyeru dari belakangnya: "Dia berdusta, sebenarnya  aku 

telah masuk Islam, dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan 

Muham¬mad yaitu  hamba Allah dan Rasul-Nya." lalu  orang-orang Quraisy menyerang Umar 

bin Khaththab dan Umar bin Khaththab membalas menyerang hingga mereka hampir mati. Ibnu Umar 

berkata: "Umar bin Khaththab kelelahan, lalu  ia duduk, sedang orang-orang Quraisy 

mengepungnya. Umar bin Khaththab berkata: "Kerjakan apa saja yang kalian mau. Aku bersumpah 

dengan nama Allah, andai saja jumlah kami telah mencapai tiga ratus orang, pasti kami duel kita 

berjalan seimbang." Ibnu Umar berkata: "jika  mereka dalam posisi seperti itu, tiba-tiba muncullah 

orang tua dari Quraisy yang mengenakan pakaian asal Yaman, dan baju gamis. Ia berdiri di depan 

mereka dan berkata: "Apa yang terjadi dengan kalian?" Mereka berkata: "Umar bin Khaththab telah 

murtad." Orang ini  berkata: "Lalu apa kalian sewot? Ia telah memilih sesuatu untuk dirinya, lalu 

apa yang kalian inginkan darinya? Apakah kalian pikir Bani Adi bin Ka'ab akan menyerahkan saudara 

mereka kepada kalian? Biarkanlah orang ini!" Ibnu Umar berkata: "Demi Allah, mereka seperti baju 

yang ditanggalkan dari Umar bin Khaththab." 

Ibnu Umar berkata: Aku bertanya kepada ayahku, usai ia Hijrah ke Madinah: Ayah, siapakah laki-laki 

tua yang melindungimu dari orang-orang Quraisy pada hari engkau masuk Islam dan mereka 

mengeroyokmu?" Umar menjawab: "Ananda, dialah Al-Ash bin Wail As-Sahmi." 

Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang dari orang berilmu berkata kepadaku bahwa Ibnu Umar berkata: 

"Ayahanda, siapakah orang yang melindungimu dari orang-orang Quraisy pada saat engkau masuk 

Islam dan mereka menyerangmu, mudah-mudahan Allah mem Balasannya dengan kebaikan?” Umar 

bin Khaththab berkata: "Wahai Ananda, dialah Al-Ash bin Wail, semoga Allah tidak membalasnya 

dengan kebaikan." 

Ibnu Ishaq berkata: Abdurrahman bin Al-Harits bercerita kepadaku dari sebagian keluarga Umar bin 

Khaththab yang berkata bahwa Umar bin Khaththab berkata: Pada saat aku masuk Islam pada malam 

itu, aku teringat siapa saja yang paling kejam permusuhannya terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam, lalu  aku datang kepadanya untuk mengatakan, bahwa aku telah masuk Islam. Aku 

berkata: "Dialah Abu Jahal." jika  itu, Umar bin Khaththab beristrikan Hantamah binti Hisyam bin Al-

Mughirah. Esok paginya, aku pergi ke rumah Abu Jahal dan mengetuk pintu rumahnya. 

Ibnu Umar berkata: Abu Jahal pun keluar menyambutku sambil berkata: "Selamat datang wahai anak 

saudara perempuanku. Apa yang membawa datang kemari?" Aku berkata kepadanya: "Aku datang 

kemari untuk memberitahukan padamu bahwa aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, 

Muhammad, serta membenarkan apa yang dibawanya." Abu Jahal langsung menutup pintu 

rumahnya, sambil berkata: "Semoga Allah memburuk- kanmu, dan memburukkan apa yang engkau 

bawa." 

 

 

Perihal Shahifah (Surat Perjanjian) 

 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala orang-orang Quraisy mengetahui sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam berada di Habasyah dan memperoleh kedamaian dan kenyamanan di dalamnya dan 

bahwa Najasyi melindungi siapa saja yang meminta per- lindungan kepadanya, saat itulah Umar bin 

Khaththab memeluk Islam. Umar bin Khaththab bersama Hamzah bin Abdul Muthalib berada di kubu 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, serta Islam menyebar luas di kabilah-

kabilah Quraisy, maka mereka segera berkumpul untuk mengadakan rapat. Dalam rapat itu, mereka 

merencanakan konspirasi dengan cara membuat perjanjian yang mereka tujukan kepada Bani Hasyim 

dan Bani Abdul Muthalib. Isi perjan¬jian ini  yaitu  sebagai berikut: 1. Mereka tidak boleh 

menikahi wanita-wanita dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. 2. Mereka tidak boleh menikahkan 

putri-putri mereka dengan orang-orang dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. 3. Mereka tidak 

boleh menjual apa pun kepada Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. 4. Mereka tidak boleh membeli 

apa pun dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. 

jika  sudah mufakat dengan seluruh isi perjanjian ini , mereka menulisnya di shahifah (surat 

perjanjian), lalu  mereka bersumpah untuk senantiasa komitmen dengan isi perjanjian ini . 

sesudah  itu, mereka menempelkan shahifah (surat perjanjian) di tengah-tengah Ka'bah sebagai tanda 

bukti sikap mereka. Penulis shahifah (surat perjanjian) itu yaitu  Manshur bin Ikrimah bin Amir bin 

Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar bin Qushay. Ibnu Hisyam berkata: Ada juga yang mengatakan 

bahwa penulisnya yaitu  An-Nadhr bin Al-Harits. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendoakan 

kehancuran atasnya, maka lumpuhlah sebagian jari Manshur bin Ikrimah. 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat orang-orang Quraisy melakukan hal itu, Bani Hasyim dan Bani Abdul 

Muthalib berpihak kepada Abu Thalib bin Abdul Muthalib, dan bergabung bersamanya. Dari kalangan 

Bani Hasyim yang keluar dan bergaung dengan orang-orang Quraisy dan mendukung sikap mereka 

ialah Abu Lahab, Abdul Uzza bin Abdul Muthalib. 

Ibnu Ishaq berkata: Husain bin Abdullah bercerita kepadaku, Abu Lahab bertemu dengan Hindun binti 

Utbah bin Rabi'ah. sesudah ia keluar dari kaumnya dan berpihak kepada orang-orang Quraisy dalam 

menghadapi kaumnya sendiri, lalu  ia berkata: "Hai anak perempuan Utbah, dengan sikap yang 

kuambil ini, apakah aku telah menolong Al- Lata dan Al-Uzza? Apakah aku telah berpaling dari orang-

orang yang telah meninggalkan AI-Lata dan Al-Uzza? Apakah aku telah membela Al-Lata dan Al-Uzza?" 

Hindun binti Utbah berkata: "Ya, semoga Allah membalas dengan ganjaran yang baik kepadamu, 

wahai Abu Utbah." 

Ibnu Ishaq berkata: Aku diberitahu selain berkata seperti di atas, Abu Jahal juga berkata: "Muhammad 

mengintimidasi aku dengan sesuatu yang belum pernah aku lihat. Ia berkata bahwa akan ada 

kehidupan sesudah  kematian ini. Celakalah engkau berdua. Aku tidak melihat padamu berdua sesuatu 

yang dikatakan Muhammad." lalu  Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang Abu Lahab:  

 

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sebenarnya  dia akan binasa. Tidaklah berfaedah 

kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang 

bergejolak Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya terdapat tali dari sabut. 

(QS. al-Masad: 1-5). 

Ibnu Hisyam menjelaskan: Tabbat artinya merugi dan at-tabab artinya kerugian. 

Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib menjalani pemboikotan orang-orang Quraisy selama dua atau 

tiga tahun, hingga mereka menjalani kesulitan yang sangat luar biasa. Tidak ada makanan atau 

minuman yang bisa sampai pada mereka kecuali dengan cara sembunyi-sembunyi dan siapa pun dari 

orang-orang Quraisy tidak bisa berinterakkasi dengan mereka kecuali dengan cara sembunyi-

sembunyi pula. 

Abu Jahal berjumpa dengan Hakim bin Hizam bin Khuwailid bin Asad yang sedang berjalan bersama 

budak laki-lakinya yang membawa tepung untuk diantarkan kepada bibinya, Khadijah, istri Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang sedang berada bersama beliau di Syi'b. Abu Jahal bin Hisyam 

mendekat pada Hakim bin Hizam, lalu  berkata kepadanya: "Akankah kau membawa makanan 

ini kepada Bani Hasyim? Demi Allah, engkau tidak bisa membawa makananmu itu hingga aku 

mengata-ngataimu di kota Makkah. Saat itu, Abu Al-Bakhtari bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad datang 

menemui Abu Jahal bin Hisyam, lalu  berkata kepadanya: "Apa masalahmu dengannya?" Abu 

Jahal menjawab: "Dia mau mengantar makanan kepada Bani Hasyim." Abu Al-Bakhtari berkata: 

"Makanan ini awalnya milik bibinya. Bibinya mengirimkannya kepadanya, lalu mengapa engkau 

melarangnya membawa kembali makanan itu kepada bibinya? Biarkanlah dia pergi!!" 

Namun Abu Jahal bin Hisyam tidak menerima saran Abu Al-Bakhtari, lalu  terjadilah duel seru 

antara Abu Jahal bin Hisyam melawan Abu Al-Bakhtari. Abu Al-Bakhtari mengambil tulang rahang 

unta, lalu dia pukulkan dengannya kepala Abu Jahal bin Hisyam hingga luka dan meneteskan darah 

lalu  dia menginjaknya keras-keras. Hamzah bin Abdul Muthalib yang berada di dekat tempat 

kejadian menyaksikan langsung perkelahian itu. Orang-orang Quraisy tidak mau duel ini  

didengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya. Sebab jika Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya mendengar duel ini , beliau dan para 

sahabatnya pasti akan menertawakannya. Walaupun mendapat  boikot dari orang-orang Quraisy, 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tetap saja terus berdakwah tanpa henti kepada kaumnya siang 

malam baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Beliau tetap menyerukan perintah Allah 

Ta'ala tanpa takut kepada siapa pun juga. 

 

 

Sebagian Gangguan yang DiaJami Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari Kaumnya 

 

Ibnu Ishaq berkata: Kala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dilindungi pamannya dan didukung 

kaumnya dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib, sontak hal itu membuat orang-orang Quraisy 

gagal menghentikan tindakan-tindakan beliau, maka mulailah mereka mengejek, mencibir dan 

menantangnya berduel. Wahyu pun turun mengisahkan dengan lengkap tentang perilaku orang 

Quraisy dan orang-orang yang menabuh genderang permusuhan kepadanya. Ada yang namanya 

disebutkan dengan jelas oleh Al-Qur'an kepada kita ada pulan di antara mereka yang namanya disebut 

Allah secara umum sebagai orang-orang kafir saja. Di antara orang-orang Quraisy yang kisah 

disebutkan Al-Qur'an dengan jelas untuk kita ialah paman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Abu 

Lahab bin Abdul Muthalib dan istrinya, Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah. Allah menamainya 

dengan "sangpembawa kayu bakar," karena ia seperti yang disampaikan kepadaku membawa onak 

dan meletakkannya di jalan yang selalu dilalui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Tentang kedua 

orang ini, Allah Ta'ala menurunkan ayat berikut: 

Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sebenarnya  dia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya 

harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yangbergejolak. Dan 

(begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (QS. Al-Masad: 1-5). 

Ibnu Hisyam berkata: Kata al-jiid dalam ayat di atas artinya yaitu  leher dan kata jamaknya ajyaadu. 

Sedangkan al-masad artinya pohon yang telah dihaluskan sebagaimana pohon rami dihaluskan 

lalu  dibikin tali. Kata tunggalnya masadah. 

Ibnu Ishaq berkata: jika  Ummu Jamil sang pembawa kayu bakar mendengar ayat Al-Qur'an yang 

diturunkan tentang perihal diri dan suaminya, ia segera datang kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam yang waktu itu sedang duduk di masjid di sisi Ka'bah ditemani Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ummu 

Jamil datang dengan membawa batu besar segenggam tangannya. jika  berdiri di depan Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Abu Bakar, Allah memalingkan pandangannya dari Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam sehingga dia hanya melijhat Abu Bakar. Ia berkata: "Wahai Abu Bakar, 

mana sahabatmu? Aku dengar sahabatmu mencibir kelakuanku. Demi Allah, jika  aku berjumpa 

dengannya, pasti aku sumpal mulutnya dengan batu ini. Demi Allah, aku seorang penyair." lalu  

ia berkata: 

Mudzammam (lawan dari Muhammad) kami tantang dirinya 

Kami bangkang semua perintahnya Dan agamanya membuat kami marah 

 

Selesai mengatakan itu, Ummu Jamil pergi. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam: "Wahai Rasulullah, apakah Ummu Jamil tidak melihatmu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam bersabda: "Ia tidak mampu melihatku, karena Allah cabut penglihatannya dariku."39 

Ibnu Hisyam berkata: Ucapan Ummu Jamil, "Dan agamanya membuat kami marah" bukan berasal dari 

Ibnu Ishaq. 

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy menamakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

Mudzammam, lalu  mereka mencela habis-habisan nama Mudzammam ini . Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ketahuilah, tidakkah kalian merasa takjub bagaimana Allah 

melindungiku dari gangguan orang-orang Quraisy? Mereka mencela dan mengolok-olok nama 

Mudzammam, sedangkan aku yaitu  Muhammad."40 

 

Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah jika melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam, ia melaknat dan mengeluarkan kata-kata kotor untuk beliau, lalu  Allah Ta'ala 

menurunkan ayat tentang orang ini: 

 

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-

hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! sebenarnya  

dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu) 

api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. sebenarnya  api itu 

ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikatpada tiang-tiangyangpanjang. (QS. al-Humazah: 

1-9). 

Ibnu Hisyam berkata: Al-Humazah ialah orang yang suka melaknat orang lain di depan umum dengan 

mengarahkan mata padanya serta mencelanya. Jamaknya humazaat. Sedang al-lumazah ialah orang 

yang mengumpat orang lain dan menyakitinya secara diam-diam. Kata jamaknya lamazaat. 

Hasan bin Tsabit berkata: 

Umpatanmu demikian hina karena hinanya jiwa 

Dengan qafiyah yang membakar karena golakan api 

Ini yaitu  penggalan syair miliknya. 

Sebagaimana disebutkan dalam ungkapan Ru'yah al-Ajjaj: 

Di bawah naungan zamanku kebatilan dan umpatanku 

 

Ini yaitu  penggalan syair miliknya 

lbnu ishaq berkata: Juga Al-Ash bin Wail As-Sahmi. Khabbab bin Al-Arat, salah seorang sahabat 

Rasulullah Shallallahu Alashi wa Sallam yaitu  tukang besi pembuat pedang di Makkah. Ia telah 

menjual banyak sekali pedang kepada Al-Ash bin Wail. Pedang-pedang itu ia buat secara khusus 

untuknya. jika  uangnya sudah berjumlah banyak pada Al-Ash bin Wail, ia datang kepadanya untuk 

menagih hutangnya. Al-Ash bin Wail berkata kepada Khabbab bin Al-Arat: "Wahai Khabbab, bukankah 

sahabatmu, Muhammad yang engkau imani itu mengatakan bahwa di surga, penghuninya 

mengenakan emas, perak, atau pakaian dan mempunyai pembantu?" Khabbab bin Al-Arat menjawab: 

"Benar." Al-Ash bin Wail berkata: "Jika demikian beri aku perpanjangan waktu hingga Hari Kiamat, 

agar aku bisa kembali pada hari ini  lalu aku beriman dengan kalian. Demi Allah, engkau dan 

sahabat-sahabatmu tidak lebih baik dariku di sisi Allah dan tidak lebih beruntung di sisi-Nya." 

lalu  Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang Al-Ash bin Wail: 

Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: "Pasti 

aku akan diberi harta dan anak." Adakah ia melihat yang gaib atau ia telah membuat perjanjian di sisi 

Tuhan Yang Maha Pemurah?, sekali-kali tidak, Kami akan menulis apa yang ia katakan, dan benar-

benar Kami akan memperpanjang adzab untuknya, 

  

dan Kami akan mewarisi apa yang ia katakan itu, dan ia akan datang kepada Kami dengan seorang 

diri. " (QS. Maryam: 77-80). 

Abu Jahal bin Hisyam, berjumpa dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, lalu ia berkata kepada 

beliau: "Wahai Muhammad, hendaknya engkau berhenti mencemooh tuhan-tuhan kami! Jika tidak, 

maka kami akan menghina Tuhan yang engkau sembah." Lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang 

Abu Jahal: 

 

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka 

nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. "(QS. al-An'am: 108). 

Sejak saat itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhenti dari memaki sesembahan mereka dan 

sebagai gantinya beliau mengajak mereka kepada Allah. 

An-Nadhr bin Al-Harits bin Kaladah bin Alqamah bin Abdu Manaf bin Abduddar bin Qushay, jika 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyeru manusia kepada Allah Ta'ala, membaca Al-Qur'an dan 

memperingatkan orang-orang Quraisy tentang siksa yang me nimpa umat-umat terdahulu, maka An-

Nadhr bin Al-Harits akan melaksanakan hal yang sama, lalu  bercerita kepada manusia tentang 

Rustum As-Sindid, tentang Isfandiyar dan raja-raja Persia. sesudah  itu, ia berkata: "Demi Allah, ceramah 

Muhammad tidaklah lebih baik dibandingkan  ceramahku. Ucapan Muhammad hanyalah dongeng-dongeng 

orang-orang dulu. Aku mampu menuliskan dongeng-dongeng sebagaimana ia menuliskan dongeng-

dongeng ini ." lalu  Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang dirinya: 

 

Dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya ditu- liskan, 

maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang." Katakanlah: "Al Quran itu 

diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. sebenarnya  Dia yaitu  

Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. al-Furqan: 5-6). 

Allah Ta'ala juga menurunkan ayat berikut perihal An-Nadhr bin Al-Harits, 

 

jika  dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "(Ini yaitu ) dongeng-dongengan orang-

orang dahulu kala." (QS. al-Qalam: 15). 

Allah juga menurunkan ayat berikut perihal An-Nadhr bin Al-Harits: 

 

Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia 

mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya lalu  dia tetap menyombongkan diri seakan-

akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan adzab yangpedih. (QS. al-

Jatsiyah: 7-8). 

Ibnu Hisyam berkata: Firman Allah al- affak artinya para pendusta. Tentang kata ini , disebutkan 

dalam Al-Qur'an: 

 

Ketahuilah bahwa sebenarnya  mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: "Allah 

beranak." Dan sebenarnya  mereka benar-benar orang yang berdusta. (QS. ash- Shaffat: 151-152). 

Ru'yah bin Al-Ajjaj berkata: 

Tidaklah seseorang berdusta dengan kata penuh dusta 

Ini yaitu  penggalan syairnya. 

Ibnu Ishaq berkata: Suatu hari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana berita yang 

disampaikan kepadaku, sedang duduk-duduk dengan Al-Walid bin Al-Mughirah di masjid, tiba-tiba 

tanpa disadari datanglah An-Nadhr bin Al-Harits lalu  dia duduk bersama mereka berdua. Saat 

itu ada beberapa orang Quraisy yang berada di masjid. lalu  Rasulullah Shallallahu Alihi wa 

Sallam berbicara kepada mereka, namun pembicaraan beliau diganggu oleh An Nadhr bin Al Harits. 

lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menegurnya hingga membuat ia diam. Baru sesudah  

itu, beliau membacakan ayat berikut kepadanya dan kepada orang-orang Quraisy lainnya:  

 

sebenarnya  kamu dan apayangkamu sembah selain Allah, yaitu  umpan Jahanam, kamu pasti 

masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan 

semuanya akan kekal di dalamnya. Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa 

mendengar. (QS. al-Anbiya': 98-100). 

Ibnu Hisyam berkata: Hashabu Jahannam artinya segala sesuatu yang membuat Jahanam menyala. 

Abu Dzu'ab al-Hudzali yang bernama asli Khuwailid bin Khalid berkata: 

Padamkan dan jangan kau nyalakan  

Janganlah jadi kayu penyulut api yang sangat dahsyat 

 

Bait ini yaitu  penggalan dari bait-baitnya. Diriwayatkan "janganlah kamu menjadi kayu penyulut. 

Seorang penyair berkata: 

Kunyalakan api untuknya hingga dia melihat sinarnya 

Dan barang siapa yang mendapat  sinar api dia dapat petunjuk 

 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallallahu Alihi wa Sallam lalu berdiri, pada saat yang bersamaan 

datanglah Abdullah bin Az-Zaba'ra As-Sahmi lalu  ia duduk. Al-Walid bin Al-Mughirah berkata 

kepada Abdullah bin Az-Zaba'ra, "Demi Allah, tadi An-Nadhr bin Al-Harits seperti patung yang tak bisa 

bergerak akibat perkataan anak Abdul Muththatib. Muhammad mengatakan bahwa 

kita dan tuhan-tuhan sesembahan kita ini akan menjadi bahan bakar Jahannam." Abdullah bin Az-

Zaba'ra berkata: "Demi Allah, jika berjumpa dengan Muhammad, aku pasti berdebat dengannya. 

Tanyailah Muhammad, apakah semua tuhan yang disembah selain Allah itu berada di dalam neraka 

Jahannam beserta penyembahnya? Kita menyembah para malaikat, sedang orang-orang Yahudi 

menyembah Uzair dan orang-orang Kristen menyembah Isa bin Maryam." Al-Walid bin Al-Mughirah 

dan orang-orang yang berada di 'perkumpulan ini  merasa tercengang dengan ucapan Abdullah 

bin Az-Zaba'ra. Mereka yakin, bahwa Abdullah bin Az-Zaba'ra mampu beradu argumentasi dengan 

lihai. Ucapan Abdullah bin Az-Zaba'ra ini  disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu Alihi wa 

Sallam lalu  beliau bersabda: "Barangsiapa ingin menyembah sesuatu selain Allah, maka orang 

yang menyembahnya akan bersama dengan sesembahannya. Sesungguh-nya mereka itu menyembah 

setan-setan dan apa saja yang dibisiku setan untuk disembah. Lalu Allah Ta'ala menurunkan wahyu 

berikut tentang peristiwa di atas: 

 

Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu 

dijauhkan dari neraka, mereka tidak men¬dengar sedikit pun suara api neraka, dan mere¬ka kekal 

dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka. (QS. al-Anbiya': 101-102). 

Mereka yang dimaksud ayat di atas ialah Isa bin Maryam, Uzair, para rahib dan para pendeta yang taat 

kepada Allah, yang dijadikan tuhan-tuhan selain Allah oleh orang- orang yang menyembahnya dari 

kalangan orang-orang yang menyimpang. 

Al-Qur'an juga merekam ucapan mereka bahwa mereka menyembah para malaikat dan bahwa para 

malaikat yaitu  anak-anak perempuan Allah, 

 

Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak", Maha Suci 

Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), yaitu  hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak 

mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah 

mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan 

mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orangyang diridai Allah, dan mereka itu selalu 

berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barang siapa di antara mereka mengatakan: 

"sebenarnya  aku yaitu  tuhan selain dibandingkan  Allah", maka orang itu Kami beri balasan dengan 

Jahanam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim. (QS. al-Anbiya': 26- 

29). 

Al-Qur'an juga mengisahkan ayat tentang Isa bin Maryam yang dijadikan tuhan selain Allah dan 

kekaguman Al-Walid bin Al- Mughirah dan orang-orang yang hadir pada pertemuan ini  kepada 

ungkapan Abdullah bin Zaba ra: 

 

Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak 

karenanya. (QS. az-Zukhruf: 57), yakni mereka menghamba urusanmu dengan ucapan mereka. 

lalu  Al Quran menyebutkan tentang Isa bin Maryam: 

 

Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami 

jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israel. Dan kalau Kami kehendaki benar-

benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. Dan 

sebenarnya  Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu 

janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (QS. az-

Zukhruf: 59-61) 

Maksudnya ialah bahwa tanda-tanda kebesaran yang Allah berikan kepada Isa bin Maryam 

membangunkan kembali orang yang telah mati dan menyembuhkan orang yang sakit suduh cukup 

baginya sebagai bukti ten¬tang pengetahuannya tentang hari kiamat. 

Ibnu Ishaq berkata: Al Akhnas bin Syariq bin Wahb Ats Tsaqafi, sekutu Bani Zuhrah. Ia termasuk salah 

seorang tokoh yang disegani di kaumnya. Ia menyakiti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan 

menentang beliau, lalu  Allah Ta'ala menurunkan ayat mengenai dirinya: 

 

Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang 

kian ke mari menyebarkan fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi 

banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, (QS. al-Qalam 10-13) 

Allah berfirman zaniim, dan tidak mengatakan zaniim karena adanya sesuatu yang hina dalam 

nasabnya. Karena Allah tidak pernah mencela seseorang karena nasabnya. Namun Allah memastikan 

sifatnya agar diketahui. Zanim itu artinya, yang keras, kaku dan jahat pada kaumnya. 

Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: Mengapa wahyu diturunkan kepada Muhammad dan tidak 

diturunkan kepadaku, padahal akulah tokoh senior Quraisy dan pemimpinnya? Serta mengapa tidak 

diturunkan kepada Abu Mas'ud Amr bin Umair Ats-Tsaqafi, pemimpin Tsaqif? Padahal kami berdua 

pemimpin besar tengah kaum kami?' Lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat berikut: 

 

Dan mereka berkata: "Mengapa Al Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu 

dua negeri (Mekah dan Thaif) ini? Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat , Tuhanmu? Kami telah 

menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah 

meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian 

mereka dapat memper- gunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang 

mereka kumpulkan. (QS. az-Zukhruf: 31-32). 

Ubay bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah bin Uqbah bin Abu Mu'aith yaitu  dua sahabat 

dekat. Suatu waktu Uqbah bin Abu Muaith pernah duduk bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam dan mendengar sesuatu dari beliau. Hal ini didengar Ubay bin Khalaf, lalu  ia mendatangi 

Uqbah bin Abu Mu'aith dan berkata kepadanya, "Benarkah engkau telah duduk bersama Muhamnad 

dan mendengar sesuatu darinya? Demi Tuhan, aku tidak akan mau berbicara denganmu!! "Ubay bin 

Khalaf bersumpah dengan sangat keras. "Benarkah engkau pernah duduk bersamannya dan 

mendengar sesuatu darinya? Lalu kenapa engkau tidak datang kepadanya dan meludahi wajahnya?" 

Uqbah bin Abu Muaith pun melakukan permintaan Ubay bin Khalaf, lalu  Allah Ta'ala 

menurunkan ayat tentang keduanya: 

 

Dan (ingatlah) hari (jika  itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai 

kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-satna Rusul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku 

(dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku). sebenarnya  dia telah menyesatkan aku dari 

Al Qur'an jika  Al Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan yaitu  setan itu tidak mau menolong 

manusia" (QS. al-Furqan: 27-29). 

Ubay bin Khalaf menghampiri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sambil membawa tulang rusak 

yang sudah berbau busuk, lalu  ia berkata: "Wahai Muhammad, engkau pernah mengatakan 

bahwa Allah akan mem- bangkitkan hewan ini sesudah  rusak seperti ini." Usai mengatakan itu, Ubay 

bin Khalaf memukul hancur tulang rusak tadi dengan tangannya, lalu  meniupkannnya ke arah 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Benar, aku 

mengatakan itu. Allah akan membangkitkannya juga membangkitkanmu sesudah  kalian menjadi tulang 

belulang, lalu Allah menenggeiamkanmu ke dalam neraka." Lalu Allah menurunkan ayat tentang Ubay 

bin Khalaf: 

 

Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah 

yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Katakanlah: "la akan 

dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang 

segala makhluk, yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu 

nyalakan (api) dari kayu itu. (QS. Yaasiin: 78-80). 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam, sedang melakukan thawaf di 

Ka'bah, beliau di datangi Al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad bin Abdul Uzza, Al Walid bin Mughirah, 

Umayyah bin Khalaf dan Al-Ash bin Wail. Mereka yaitu  orang-orang terpandang di kaumnya masing- 

masing. Mereka berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam, "Wahai Muhammad, 

bagaimana andai kami menyembah apa yang kau sembah dan kau menyembah apa yang kami 

sembah. Kita saling bekerja sama dalam hal ini. Jika apa yang engkau sembah lebih baik dibandingkan  apa 

yang kami sembah, maka kami akan mengikutimu. Jika apa yang kami sembah lebih baik, maka engkau 

mengikuti kami." lalu  Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang mereka, 

 

 

Katakanlah: "Hai orang-orangyang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan 

kamu bukan penyembah Tuhanyang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang 

kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. 

Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku." (QS. Al-Kafirun: 1-6). 

Tatkala Allah menyebutkan tentang pohon zaqqum dan menakut-nakuti mereka dengan pohon 

ini , Abu Jahal bin Hisyam berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, apakah kalian tahu pohon 

zaqqum yang di bicarakan Muhammad mengancam kalian dengannya?" Mereka menjawab: "Kami 

tidak tahu!!" Abu Jahal berkata: "Pohon zaqqum yaitu  kurma Yatsrib yang bercampur mentega. Demi 

Allah, jika kami mendapat nya, kami pasti mencabutnya dengan keras." lalu  Allah Ta'ala 

menurunkan ayat Al-Qur'an tentang ucapan Abu Jahal ini : 

 

sebenarnya  pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak 

yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas. (QS. ad-Dukhan: 43-46). 

Ibnu Hisyam berkata: Al Muhlu artinya benda-benda yang bisa meleleh misalnya tembaga, timah atau 

apapun yang serupa dengannya, sebagaimana dikatakan kepadaku oleh Abu Ubaidah. 

Aku diberitahu dari Al-Hasan bin Abu Al- Hasan ia berkata bahwa Abdullah bin Mas'ud yaitu  petugas 

Baitul Mai di Kufah di masa 

Umar bin Khaththab. Suatu hari, Abdullah bin Mas'ud memerintahkannya melelehkan perak, lalu 

lelehan perak ini  membentuk banyak warna. Abdullah bin Mas'ud berkata: "Adakah orang di 

balik pintu?" Orang-orang menjawab: "Ya, ada." Abdullah bin Mas'ud berkata: "Perintahkan mereka 

agar masuk." Mereka pun masuk, lalu Abdullah bin Mas'ud berkata: "sebenarnya  sesuatu yang 

kalian lihat yang paling mirip dengan al-muhlu yaitu  lelehan ini." Salah seorang penyair berkata: 

Tuhanku meminumkannya air panas lelehan perak 

Yang menghanguskan wajahnya Larut dalam perutnya 

Disebutkan bahwa makna muhlu yaitu  nanah yang ada di dalam tubuh. 

 

Telah pula sampai berita kepadaku bahwa jika  Abu Bakar akan meninggal dunia, ia mewasiatkan 

dimandikan dengan dua baju yang biasa dikenakannya dan dikafani dengannya. Aisyah berkata kepada 

Abu Bakar, "Ayah, sungguh Allah telah membuatmu tidak lagi membutuhkan pada keduanya. 

Ayahanda belilah baju yang lain!" Abu Bakar berkata: "sebenarnya  waktu itu hanya sedetik, ke-

mudian berubah menjadi al-muhlu" 

Ibnu Ishaq berkata: "lalu  Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang Abu Jahal bin Hisyam: 

 

Dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi 

yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (QS. al-Isra': 60). 

Al-Walid bin Al-Mughirah dihampiri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Beliau berbicara 

kepadanya, karena beliau meng- inginkan sekali Al Walid bin Al Mughirah bisa masuk Islam. Saat 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang berbicara dengan Al Walid bin Al Mughirah, le.watlah 

Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia merigajak bicara Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan me- 

mintanya mengajarkan Al Quran untuknya. Merasa diganggu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

lalu  membentaknya, karena beliau sedang fokus dengan urusan Al Walid bin Al Mugirah dan 

obsesi beliau agar dia masuk Islam. jika  Ibnu Ummi Maktum terus menerus mengeyel meminta 

dibaca- kan Al Quran, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berpaling darinya dengan muka masam, 

maka Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang beliau: 

  

Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. 

Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapat  

pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya 

serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak 

membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk 

mendapat  pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali 

jangan (demikian)! sebenarnya  ajaran-ajaran Tuhan itu yaitu  suatu peringatan, maka barang 

siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang 

ditinggikan lagi disucikan, (QS. Abasa: 1-14). 

Ibnu Hisyam berkata: Ibnu Ummi Maktum yaitu  pemuda yang berasal Bani Amir bin Luay. Ia bernama 

asli Abdullah. Ada pula yang mengatakan namanya yaitu  Amr. 

 

 

Kepulangan Orang-orang Muhajirin di Habasyah Tatkala Sampai Kabar tentang Masuk Islamnya 

Penduduk Mekkah 

 

Ibnu Ishaq berkata: Sampailah berita kepada sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

yang hijrah tentang masuk Islamnya warga Makkah, lalu  mereka pun bermaksud pulang ke 

Makkah. Namun tatkala mendekati Makkah, mereka mendapat berita bahwa semua itu yaitu  dusta 

belaka. Karenanya tidak ada seorang pun dari mereka yang memasuki Makkah kecuali dengan 

perlindungan orang lain atau dengan sembunyi-sembunyi. Di antara mereka ada yang tiba di Makkah, 

lalu menetap di dalamnya lalu  hijrah ke Madinah dan terjun di Perang Badar bersama Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ada yang tetap tinggal di Makkah, hingga tidak bisa ikut Perang Badar dan 

perang-perang lainnya. Ada juga yang wafat di Makkah. 

Kaum Muhajirin yang pulang ke Makkah dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay ada dua 

orang, yaitu: Utsman bin Affan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams beserta istrinya, Ruqayyah 

binti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah bin Abdu Syams 

beserta istrinya Sahlah binti Suhail. 

Sedangkan dari sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay ada satu orang, yaitu Abdullah 

bin Jahsy bin Riab. 

Bani Naufal bin Abdu Manaf ada satu orang, yaitu Utbah bin Ghazwan, sekutu Bani Abdu Syams dari 

Qais Ailan. 

Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay ada satu orang, yaitu Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad. 

Dari Bani Abduddar bin Qushay ada dua orang, yaitu: Mush'ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf, 

Suwaibith bin Sa'ad bin Harmalah. 

Dari Bani Abd bin Qushay ada satu orang yaitu Thulaib bin Umair bin Wahb bin Abu Kabir bin Abd. 

Dari Bani Zuhrah bin Kilab yaitu  tiga orang, yaitu: Abdurrahman bin Auf bin Abdu Auf bin Abd bin Al-

Harits bin Zuhrah, Al- Miqdaq bin Amr, sekutu Bani Zuhrah bin Kilab. Abdullah bin Mas'ud, sekutu Bani 

Zuhrah bin Kilab. 

Dari Bani Makhzum bin Yaqazhah yaitu  sebagai berikut: Abu Salamah bin Abdul Asad bin Hilal bin 

Abdullah bin Umar bin Makhzum beserta istrinya, Ummu Salamah binti Umayyah bin Al-Mughirah, 

Syammasy bin Utsman bin Asy-Syarid bin Suwaid bin Harmi bin Amir bin Makhzum, Salamah bin 

Hisyam bin Al-Mughirah yang lalu  dikekang pamannya di Makkah dia tidak bisa bebas kecuali 

sesudah Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq. Ayyasy bin Abu Rabi'ah bin Al-Mughirah