menegaskan bahwa ijtihad yang
tidak sejalan dengan ijithad yang dilakukan oleh Rasulullah saw. tidak dianggap
dosa. Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk menyampaikan hasil
pemikirannya. Lebih dari itu, Islam sesungguhnya merupakan sumber hak-hak azazi
dan kebebasan manusia. Perbedaan yang pernah terjadi di kalangan shahabat Nabi
berkisar pada persoalan ijtihad mengenai hukuman balasan. Allah dan Rasul-Nya
serta orang yang berakal sehat tidak memandang perbedaan ini sebagai sebuah
dosa. Mereka memandang bahwa ijtihad merupakan sesuatu yang dipandang sah
sebagai sebuah anugerah yang diberikan kepada manusia. Mereka tidak perlu
bermusuhan hanya sebab perbedaan ijtihad apalagi saling menyerang satu sama lain.
Perbedaan ijtihad akan selalu terjadi. Dan hal ini tidak menjadikan mereka
saling menghujat satu sama lain.
Meskipun sebagian anak cucu mereka yang tidak menyadari perbedaan
ijtihad di kalangan orang tua mereka saling berselisih. Akan namun , orang tua mereka
telah memperingatkan kepada mereka dan menghentikan perselisihan di antara
mereka hanya sebab persoalan sepele ini , perbedaan ijtihad. Fatka seperti ini
juga terjadi pada orang-orang Syi'ah. Akan namun , musuh-musuh Islam dan orang-
orang zindiq ini mencoba memaksa orang lain untuk mempercayai bahwa para
shahabat Nabi saling memusuhi satu sama lainnya. Mereka ingin membentuk
semacam opini ummat bahwa para shahabat Nabi yaitu manusia yang memiliki
perangai jelek, tidak terdidik dan tolol. Mereka menghantam reputasi dan keagungan
shahabat-shahabat Nabi dalam rangka menghancurkan Islam. Kita menyadari bahwa
Islam sendiri memuat ajaran-ajaran yang disampaikan oleh para shahabat
radliyallahu ‘anhum. Al Qur'an dan hadits Nabi yang kita miliki sekarang ini
disampaikan (diriwayatkan) oleh para shahabat Nabi saw. Seluruh ajaran Islam yang
bersumber dari Al Qur'an dan hadits Nabi saw., juga disampaikan melalui ucapan
dan perbuatan mereka sebagai realitas kongkrit dari kedua sumber utama Islam
ini . Sumber-sumber dan dokumen-dokumen pengetahuan keislaman bersumber
dari keterangan-keterangan yang diriwayatkan oleh para shahabat Nabi saw. Dengan
demikian, pencemaran para shahabat akan memicu penolakan dan setidaknya
penurunan derajat terhadap segala yang mereka riwayatkan kepada kita, yaitu ajaran-
ajaran Islam. Padahal sebagaimana kita yakini, bahwa semua shahabat Nabi yaitu
manusia yang memiliki kelebihan dan keutamaan derajat dibandingkan manusia
lainnya selain para Nabi baik untuk masa lalu, sekarang maupun untuk masa depan.
Untuk menjadi muslim sejati dan untuk mengetahui hakikat Islam,
seseorang harus memperhatikan persoalan ini di atas. Seseorang yang
mengetahui keutamaan derajat dan kemuliaan Rasulullah saw. dan memahami makna
kata ‘Rasulullah’ (Utusan Allah), pasti akan mudah memahami kenyataan bahwa
beliau-lah yang telah mendidik para shahabat sehingga mereka pun pasti memiliki
derajat yang utama dan mulia.
Sayidina Ali ra., Mu'awiyah dan para shahabat Nabi lainnya, sekali-kali
mereka tidak pernah menghujat satu sama lainnya. Di dalam Perang Unta dan
Shiffin, mereka sepakat berdamai untuk menciptakan ketentraman dan keasatuan di
kalangan ummat Islam. Mereka telah menyepakati hal ini . artikel -artikel sejarah
dan kalam yang ditulis oleh para ulama Sunni menerangkan kesepakatan ini .
Oleh sebab itu, kita ummat Islam tidak sepatutnya membenarkan cerita-cerita palsu
yang ditulis di dalam artikel dan majalah yang diterbitkan oleh musuh-musuh Islam
yang sama sekali tidak mengetahui persoalan agama. Pelacakan sejarah yang
sungguh-sungguh justru akan menemukan fakta bahwa para shahabat Nabi tidak
pernah melakukan pembunuhan di antara sesama mereka. Mereka akan sedih dan
meneteskan air mata tatkala mendengar berita kematian salah seorang dari mereka.
Kitab Qishas al-Anbiya (halaman seratus tujuh puluh) menerangkan :
Sebagaimana diketahui, bahwa Sayidina Hasan ra. diracun oleh istrinya sendiri yang
bernama Ja’da. Ini merupakan sebuah fakta sejarah yang diketahui oleh kalangan
luas. Memang, Hasan memiliki kebiasaan suka kawin-cerai. Sehingga ayah beliau, -
Sayidina Ali ra.-, memperingatkan warga Kufah dalam sebuah pidatonya,
“Janganlah kalian memberikan putri-putri kalian kepada Hasan! sebab dia pasti
akan menceraikannya juga.” Mereka berkata, “Kami akan memberikan putri-putri
kami kepadanya. Tolong, biarkan saja dia mengawini atau menceraikan istrinya.”
Seperti kta ketahui, bahwa Sayidina Hasan yaitu sosok lelaki yang sangat gagah
dan tampan. Beliau mirip dengan Rasulullah saw. (sang kakek). Gadis mana pun
yang beliau nikahi pasti akan jatuh cinta kepadanya. Sebagaimana disebutkan di atas,
sebab beberapa alasan Ja’da membunuh beliau.
Di dalam kitab Mir’at al-Kainat dijelaskan : Sayidina Mu'awiyah
mempertimbangkan Hasan untuk menjadi pengganti dirinya sebagai Khalifah. Beliau
mengumumkan hal ini kepada rakyat. Sementara itu, Yazid, -putra Sayidina
Mu'awiyah-, mengharap dapat menggantikan ayahnya menjadi Khalifah. Yazid-lah
yang memberikan racun kepada istri Hasan, Ja’da, sambil berkata : “Jika kamu
berhasil membunuh Hasan dengan racun ini, aku akan menikahimu dan menghiasi
kamu dengan intan permata dari kepala hingga ujung kaki.” Disebabkan terpikat
oleh janji palsu ini , Ja’da mencoba membunuh Sayidina Hasan dengan racun
ini beberapa kali. Namun, Allah belum menakdirkan dia mati. Sesungguhnya
Hasan sendiri mengetahui siapa yang telah melakukan semua perbuatan ini .
Akan namun dia tetap diam. Dia hanya memisahkan tempat tidur Ja’da. Sejak
kejadian ini , dia bersikap hati-hati terhadap makanan dan minuman yang
dikonsumsinya. Akan namun , pada suatu malam, Ja’da memasuki kamar Hasan
dengan sembunyi-sembunyi dan menaburkan bubuk berlian di dalam gelas
minumannya. saat Hasan meminum air campuran bubuk berlian ini , perut
beliau terasa dicabik-cabik. Sayidina Husein (saudara laki-laki beliau) mencoba
meminta Hasan menyebutkan nama orang yang telah meracun dirinya. Sayidina
Hasan justru balik bertanya, “Apakah kamu akan membalas dendam seandainya
mengetahui siapa pelakunya?” “Pasti, aku pasti akan membunuhnya,” jawab
Sayidina Husein. Mendengar jawaban ini, Sayidina Hasan berkata, “Sesungguhnya
hukuman yang telah dia jalani sudahlah cukup,” tanpa menyebutkan hukuman yang
dimaksud. Dan hukuman ini yaitu kedurhakaan yang dilakukan oleh sang istri
beliau. Empat puluh hari lalu , beliau pun meninggal dunia. Beliau dimakamkan
di dekat makam ibundanya Sayidah Fatimah az-Zahra di komplek pemakaman Baki.
Barang siapa menuduh bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh Yazid ini
kepada sang ayah beliau, -Mu’awiyah-, berarti dia telah melakukan perbuatan yang
lebih keji dibandingkan dengan pembunuhan itu sendiri. Fitnah seperti ini sama
dengan menuduh kekafiran putra Nabi Nuh as., Kan’an, kepada sang ayah Kan’an
sendiri (yaitu Nabi Nuh as.).
Penulis majalah ini berkata, “Mu'awiyah melibatkan salah seorang
anggota keluarga beliau, -yaitu seorang pembunuh yang bengis lagi kejam-, bernama
Ziyad bin Abih, -anak haram Abu Sufyan-, ayah beliau sendiri, untuk memenuhi
ambisinya di masa depan yang dipenuhi dengan keserakahan dan pengkhianatan.
Dengan mengangkat anak pembunuh ini bernama Ubaidullah (seorang
pimpinan pemberontak) menjadi gubernur sebagaimana ayahnya (Ziyad bin Abih,
pent.) saat masih hidup, Mu’awiyah merencanakan menyiapkan Ubaidullah
ini dalam rangka melakukan pembantaian di Karbala yang menghebohkan
sepanjang sejarah. Bagaimana intrik-intrik dan rencana seperti ini dipandang sebagai
kekeliruan ijtihad?” Penulis menambahkan, bahwa kutipan ini di atas diambil
dari kitab Qishas al-Anbiya.
Kitab Qishas al-Anbiya justru mengoreksi semua kritik dan komentar
mengenai Mu'awiyah sebagaimana dijelaskan di atas. Ungkapan kotor yang dikutip
di atas, bertentangan dengan keterangan yang diberikan oleh Cevdet Pasya ra.
Sebagai orang bijak, beliau membiarkan ungkapan kotor ini tetap mewarnai
artikel penulis ini . Kita akan melihat bagaimana kitab Qishas al-Anbiya
membantah keterangan penulis di atas berikut ini :
warga Parsi (Faris) memberontak Khalifah Ali bin Abi Thalib ra.
Mereka menolak membayar pajak (usyr dan kharaj) pada tahun 39 hijriah. Sejarah
mencatat, bahwa saat itu Ali bin Abi Thalib mengangkat Ziyad bin Abih, -pegawai
baitulmal di Bashrah-, menjadi gubernur provinsi Faris dan Karman. Sementara itu,
Abdullah bin Abbas, -Amir di Basrah-, mengirimkan Ziyad ke Faris bersama
pasukan di bawah komando Ziyad sendiri. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Ziyad
yaitu seorang administrator ulung, berbakat dan memiliki pemikiran luas. Dengan
kemampuan manajerial seperti itulah, dia berhasil memanage segala konflik tanpa
harus mengerahkan kekuatan pasukan. Dalam waktu singkat, dia berhasil
mewujudkan perdamaian dan memulihkan keadaan di provinsi Faris dan Karman.
Dia berhasil memadamkan dan menumpas pemberontakan–pemberontakan di kedua
propinsi ini . Pada saat Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. menerima keluhan-
keluhan mengenai Amir Basrah, -Abdullah bin Abbas-, beliau meminta kepada dia
mengirimkan artikel laporan jizyah. sebab merasa tersinggung, Abdullah bin Abbas
mengatakan akan mengirimkan pegawainya sekalian. lalu , beliau
meninggalkan Basrah. sesudah Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. wafat, Ziyad tidak lagi
mengakui Mu'awiyah. Sejarah menuturkan, bahwa Ziyad juga seorang orator ulung
dan cerdas. Sebelum menjadi gubernur, dia pernah menjadi sekretaris Abu Musa al
Asy’ari, -gubernur Basrah lainnya. Pada saat menjabat sebagai Khalifah, Sayidina
Umar bin Khaththab ra. pernah mengangkat Ziyad sebagai salah seorang staf beliau.
Sesudah Perang Unta, Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. mengangkat Ziyad sebagai
kepala kantor keuangan di Basrah, lalu Amir di Faris. Sebagai seorang
administrator yang piawai, Ziyad berhasil mewujudkan ketenteraman dan ketertiban
di provinsi ini . sesudah mengetahui keberhasilan yang dicapai oleh Ziyad,
Sayidina Mu'awiyah memaklumkan, bahwa Ziyad yaitu saudaranya. Sementara itu,
Khalifah Ali bin Abi Thalib ra. memperingatkan Ziyad melalui sepucuk surat : “Saya
telah mengangkat kamu menjadi gubernur. Kamu memang pantas memegang jabatan
ini ! Namun, kamu tidak akan sanggup menjaga genealogi (nasab, pent.) Abu
Sufyan dan warisannya, hanya dengan sepatah kata yang diucapkan oleh Mu’awiyah.
Dia memang orang yang sangat licik melakukan pendekatan dengan orang yang
berseberangan dengan dirinya, baik dari arah belakang, kanan maupun kiri.
Bersikaplah waspada terhadap dia.” Pada masa pra-Islam, di Arabia mengenal
berbagai macam pernikahan. Pada saat Islam datang, Islam melarang model
pernikahan yang berlaku pada masa jahiliah. Ziyad yaitu anak hasil pernikahan
model jaman jahiliah yang didasarkan pada tradisi yang berlaku pada masa itu.
Pada tahun 45 hijriah, Sayidina Mu'awiyah mengangkat Ziyad menjadi
gubernur di Basrah, Khurasan dan Sijistan. Pada saat itu, Basrah sedang dilanda
kekacauan. Melalui pidatonya, dia memperingatkan rakyat untuk tidak melakukan
perbuatan tidak terpuji, penyelewengan dan prilaku buruk lainnya. Dia mengancam
mereka yang melanggar tata susila masyarakat dengan hukuman berat. Bila waktu
shalat malam tiba, dia mengerjakan shalat secara berjamaah dengan bacaan surat-
surat panjang. Dia melarang rakyat pulang lebih awal dan keluar rumah sesudah
malam. Dia memberlakukan hukum darurat perang. Dengan cara seperti itu, dia
berhasil menciptakan keamanan di Basrah. Keberhasilan yang dilakukan oleh Ziyad
memperkokoh kedudukan pemerintahan Mu'awiyah. Dia menerapkan disiplin yang
sangat ketat. Seseorang yang kehilangan harta miliknya di jalan, pasti akan
mendapat nya kembali barang ini jika dia kembali lagi meskipun telah
berselang lama. warga Basrah tidak perlu mengunci rumah-rumah mereka. Dia
membentuk organisasi polisi yang terdiri dari sepuluh ribu personil. Dia juga
menetapkan aturan dan kode etik pengamanan di perkampungan-perkampungan dan
jalan raya. Seluruh warga merasa terjamin keamanannya sebagaimana pernah
terjadi pada masa kekhalifahan Sayidina Umar bin Khaththab ra. Dia mengangkat
tokoh-tokoh dari kalangan shahabat Nabi seperti Anas bin Malik menduduki posisi-
posisi penting.
Meskipun demikian, pada saat itu orang-orang Khawarij, -musuh-musuh
Sayidina Ali bin Abi Thalib ra.-, melakukan pemberontakan. Ziyad berhasil
menumpas pemberontakan ini . Sebagian besar pemberontak tewas terbunuh
termasuk pimpinan mereka. Pada tahun 49 hijriah, Sayidina Mu'awiyah
mengirimkan pasukan ke Istanbul. Beliau memerintahkan putranya, -Yazid-, untuk
bergabung bersama pasukan ini . Kita mengetahui bahwa Yazid yaitu anak
manja yang tumbuh dalam kesenangan dan kemewahan. Sehingga dia merasa enggan
bergabung dengan pasukan ini . Akan namun , Sayidina Mu'awiyah memaksanya
supaya menyusul pasukan yang sedang bergerak mengadakan operasi. Abdullah bin
Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubeir dan Abu Ayyub al Anshari Khalid
ikut bergabung bersama pasukan ini .
Pada tahun 53 hijriah, Ziyad meninggal dunia di Kufah dalam usia 53
tahun. Putra beliau, -Ubaidullah-, berangkat menuju Damaskus. Dia diangkat
menjadi komandan pasukan di Khurasan oleh Mu’awiyah. Dia berhasil
menyeberangi sungai Oxus (Amu Darya) dalam rangka melakukan infasi ke berbagai
daerah di Bukhara. Dari infasi ini , Ubaidullah memperoleh banyak harta
rampasan perang. Pada tahun 55 hijriah, dia diangkat menjadi gubernur Bashrah.
Pada saat itu, Basrah merupakan basis orang-orang Khawarij. Ubaidullah bin Ziyad
berhasil memaksa mereka keluar dari Basrah.
saat Yazid menjadi Khalifah pada tahun 60 hijriah, Ubaidullah bin
Ziyad yaitu gubernur Bashrah. Pada saat itu, warga Kufah meminta kepada
Khalifah seorang gubernur yang otoritatif. Lalu Yazid mengutus Ubaidullah bin
Ziyad ke Kufah. saat tiba di Kufah, Ibn Ziyad menyaksikan kota ini telah
porak poranda. Dia meminta rakyat mentaati dirinya. berdasar informasi dari
warga Kufah, Sayidina Husein ra. telah mengutus saudara sepupunya pertama
dari pihak ayah bernama Muslim ke Kufah. Sejarah menuturkan, kira-kira tiga puluh
ribu orang Kufah memaklumkan Sayidina Husein sebagai Khalifah. lalu
mereka menyerbu rumah Ibn Ziyad. Akan namun , Ibn Ziyad berhasil menumpas
mereka. Dia mengeksekusi pimpinan mereka yaitu Muslim. Pada saat bersamaan,
Sayidina Husein ra. meninggalkan Mekkah menuju ke Kufah.
Sementara itu, putra Sa’ad Ibn Abi Waqqas [salah seorang dari Asyarah
al-Mubasysyarah], -Umar-, diangkat menjadi Amir di Ray. Pada saat beliau sedang
mempersiapkan empat ribu orang pasukannya, beredar kabar bahwa Sayidina Husein
ra. dalam perjalanan menuju Kufah untuk menerima jabatan khalifah ini . Ibn
Ziyad memerintahkan Umar Ibn Sa’ad mendeportasi Sayidina Husein ra. Akan
namun , Umar menolak perintah ini . Atas penolakannya ini , Ibni Ziyad
mengancam akan memecatnya sebagai gubernur Ray. Umar Ibn Sa’ad meminta ijin
untuk mempertimbangkan masalah ini . Dia berjanji akan kembali membawa
keputusan berkaitan dengan dirinya.
Sebagaimana kita ketahui, bahwa pasukan Husein dan Umar Ibn Sa’ad
saling bertemu di Karbala. Sayidina Husein bersedia ‘kembali’. Sementara itu, Ibni
Ziyad mensyaratkan, bahwa dia dapat kembali jika ‘mematuhi Yazid’, dan ‘jika
tidak, maka dia tidak akan memberinya air.’ Sayidina Husein menolak mematuhi
Yazid. Umar mengerahkan pasukannya. Pada tahun ke 61 hijriah tanggal 10
Muharram, Sayidina Husein dan tujuh puluh orang pasukan lainnya memperoleh
syahid di Karbala. Dua hari lalu , Umar menawan kaum wanita dan Zainal
Abidin Ali dan membawanya ke Kufah. Ibni Ziyad memerintahkan agar mereka
dikumpulkan di Masjid. Dia naik mimbar, dan memanjatkan pujian, “Segala puji
bagi Allah yang telah menegakkan kebenaran dan menolong Amirul Mukminin
Yazid.” saat Yazid mendengar kabar bahwa Sayidina Husein telah tewas dan
kaum wanita yang ditawan telah tiba di Damaskus, beliau menetaskan air mata.
“Semoga Allah mengutuk Ibni Sumayyah,” kata Yazid. Memang, Ubaidullah bin
Ziyad biasa dipanggil dengan julukan ‘Ibni Sumayyah’ dan ‘Ibni Marjana’. Beliau
mendoakan Sayidina Husein, “Saya akan mengampuni Husein seandainya beliau
datang menemui saya.” Yazid tidak memberi hadiah kepada Zubeir yang telah
membawa berita kematian Husein ra. ini . “Semoga Allah mengutuknya. Ibn
Ziyad telah bertindak ceroboh dan membunuh Husein.” kata Yazid. Lalu dia
mengundang tawanan-tawanan dari Kufah ini ke istana beliau. Yazid berbicara
langsung kepada mereka : “Tahukah kalian mengapa Husein meninggal? Beliau
pernah berkata, ‘Ayahku, -Ali-, lebih mulia dari pada ayah Yazid, -Mu'awiyah.
Iartikel , -Fatimah-, lebih mulia dari pada ibunya. Dan kakekku, -Rasulullah saw.-,
lebih mulia dari pada kakeknya. Oleh sebab itu, aku lebih mulia dari pada Yazid.
Aku berhak menjadi khalifah. Ayahnya dan ayahku telah menyerahkan solusi atas
kemelut yang terjadi di antara mereka kepada para juru runding. Akan namun , semua
orang mengetahui siapa sesungguhnya yang dipilih menjadi khalifah. Ijinkan aku
(maksudnya Yazid, pent.) berkata demi Allah : Ibundanya, -Fatimah-, lebih mulia
dari pada iartikel . Kakeknya ; -seorang yang beriman kepada Allah dan beriman
kepada hari kebangkitan-, tidak akan sama dengan siapa pun, beliau yaitu utusan
Allah. Akan namun , Husein pernah berkata (dan bertindak) atas dasar pengetahuan
fiqh dan ijtihadnya, dengan melupakan ayat Al Qur'an yang menegaskan, ‘Allah
ta’ala yaitu Pemilik segala sesuatu. Dia akan memberi kekuasaan kepada siapa
saja yang dikehendaki-Nya’”. Para tawanan yang berada di istana Yazid sangat
berduka dan mencucurkan air mata menangisi Sayidina Husein. Harta rampasan dari
Husein dikembalikan dan dilipatgandakan. Putri Sayidina Husein, -Sukainah-,
bertutur, “Saya tidak melihat seseorang yang lebih dermawan dari pada putra
Mu'awiyah , Yazid” [Fakta sejarah ini tidak dapat dipungkiri oleh siapa pun
sekalipun oleh orang-orang yang tidak ber-Madzhab. Akan namun , melalui kutipan
pernyataan ini musuh-musuh Islam telah mengganti kata seseorang dengan
‘seorang kafir’]. Setiap pagi dan malam, Yazid mengundang Zainal Abidin untuk
bersantap bersama. saat mereka hendak berpisah, Yazid berkata, “Semoga Allah
mengutuk Ibni Marjana! Wallahi, jika saya berada di istananya tentu saya akan
mengabulkan semua permintaan ayah Anda. Akan namun , takdir Allah telah berlaku
atas ayah Anda! Kirimlah surat kepada saya jika Anda membutuhkan sesuatu, pasti
saya akan segera mengabulkan dan mengirimkan permintaan Anda.” Yazid
meninggal dunia pada tahun 64 hijriah dalam usia 30 tahun. Sementara itu, Ibni
Ziyad dibunuh oleh pimpinan pemberontak bernama Mukhtar dalam sebuah
pertempuran hebat pada bulan Muharram tahun 67 hijriah.
Jika kita mencermati keterangan-keterangan yang dikutip dari Qishas al-
Anbiya secara teliti, kita akan menemukan fakta bahwa kematian Sayidina Husein ra.
sekali-kali tidak disebabkan oleh sikap dendamnya terhadap Yazid atau ayah Yazid
(Mu'awiyah, pent.). Akan namun , semata-mata diakibatkan oleh ambisi-ambisi
duniawinya. Apa pun alasannya, Yazid tidak bertanggung jawab terhadap
kebiadaban yang mencoreng sejarah Islam ini . Bahkan, Yazid sendiri
menyesalkan tragedi Karbala ini dan perbuatan keji yang dilakukan oleh Ibni
Ziyad. Barang siapa berpendapat, bahwa Yazid-lah yang bertanggung jawab atas
perbuatan keji ini , sesungguhnya sama halnya dengan mengecam Nabi Adam
as. sebab pembunuhan yang dilakukan oleh putranya bernama Qabil (Cain) terhadap
saudaranya Habil (Abel).
Dan barang siapa menuduh bahwa pengangkatan Ubaidullah Ibni Ziyad
oleh Mu’awiyah menjadi gurbernur bertujuan untuk membunuh Sayidina Husein ra.
berarti dia telah mengingkari segala peristiwa yang telah terjadi. Sebagaimana telah
dijelaskan di dalam Qishas al-Anbiya, bahwa Mu’awiyah mengangkat Ubaidullah
menjadi gurbenur didasarkan atas pertimbangan keberhasilan yang telah diraih oleh
Ubaidullah dalam menumpas orang-orang kafir dan orang-orang Khawarij yang
merupakan musuh-musuh bebuyutan Sayidina Ali ra. Dengan mempertimbangkan
pengabdiannya terhadap Islam, Mu'awiyah mengangkat Ubaidullah sebagai gubenur
Basrah. Pada saat itu, Sayidina Husein ra. berada di Medinah. Seandainya Mu'awiyah
memiliki dendam kepada Sayidina Husein, dia justru akan mengangkat Ibni Ziyad
sebagai gurbenur Hijaz. Jika kita mengandaikan Yazid telah melakukan tindak
kejahatan, maka tidaklah adil jika kita mencaci maki ayah beliau disebabkan oleh
perbuatan jahat yang dilakukannya. Mengapa orang-orang yang mencaci Sayidina
Mu'awiyah disebabkan sebab kejahatan yang dilakukan oleh putranya Yazid, tidak
mengalihkan cacian yang ditujukan kepada Umar yang memicu kematian
Sayidina Husein kepada ayah Umar? Kita mengetahui bahwa ayah Umar, -Sa’ad bin
Abi Waqqas-, yaitu salah seorang di antara Asyarah al-Mubasysyarah yang telah
diberi kabar gembira oleh Allah swt. akan masuk surga. Mereka menyadari bahwa
seandainya mencela Sa’ad bin Abi Waqqas ini, maka seluruh rencana dan
kebohongan yang telah mereka rancang akan dapat terungkap.
Abdul Wahab Sya’rani menulis di dalam versi muhtashar Tadzkirah al-
Qurtubi halaman seratus dua puluh sembilan sebagai berikut : Yazid mengirimkan
kepala Sayidina Husein dan para tawanan dari Damaskus ke Kufah. Atas perintah
Umar bin Sa’ad, -gubernur Madinah saat itu, -kepala ini diberi kain kafan dan
dikubur di samping makam Sayidah Fatimah az-Zahra di pemakaman Baki. Seperti
diketahui, bahwa Faid, -seorang penguasa ketiga belas dari Bani Fatimiah-, naik
tahta pada tahun 549 H/1154 M saat berusai 5 tahun dan wafat pada tahun 555
hijriah. saat dia memegang tampuk pemerintahan, negera berada dibawah kendali
Perdana Menteri Talayi bin Ruzaik. Pada saat Talayi membangun pemakaman
Masyhad di Kairo, dia memerintahkan supaya kepala Sayidina Husein dibawa dari
Madinah ke Kairo. Adapun biaya yang dibutuhkan untuk memindahkan kepala
Sayidina Husein dari Medinah ke Mesir sebesar empat puluh ribu emas. Kepala
ini dibungkus dengan kain warna hijau yang diletakkan di dalam peti jenazah
yang dibuat dari kayu berwarna hitam. Kepala ini lalu dikubur
bersebelahan dengan makam Imam Syafi’i ra. dan Sayiyd Nafisah di Masyhad.
Orang-orang Hurufi juga mencoba mendistorsi peristiwa sejarah ini .
Mereka mengatakan, bahwa empat puluh hari sesudah kematian Sayidina Husein,
kepalanya dibawa ke Karbala dan dikubur berdampingan dengan jasadnya.
Maulana Hafidz Hakim Abdusysyakur Ihahi Mirzapuri Hanafi, -seorang
ulama besar dari Pakistan-, menulis sebuah artikel berjudul Syahadah al-Husein
(Syahidnya Husein ra.). artikel ini ditulis dalam bahasa Urdu dan telah
diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh Maulawi Ghulam Haidar Faruqi. Dia
yaitu seorang pelajar di Madrasah Islamiyyah di kota Karachi. Madrasah ini
terletak di Newton 5 Karachi. Madrasah ini menyelenggarakan pendidikan
tinggi dalam ilmu-ilmu ke-Islaman. Para mahasiswa yang belajar di sana berasal dari
seluruh penjuru dunia. Mereka dididik dan ditraining untuk menjadi ulama yang
berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Salah seorang pendiri Madrasah ini yang
juga seorang ulama besar Sunni bernama Muhammad Yusuf Banuri. Beliau memuji
keagungan Sayidina Husein ra. di dalam artikel Syahadah al-Husein ini . Yusuf
Banuri meninggal dunia pada tahun 1400 H/1980 M di Karachi. artikel Syahadah al-
Husein ini terdiri dari seratus dua halaman. Menurut penulis artikel ini
bahwa musuh-musuh Islam telah berpura-pura masuk Islam. Tujuan mereka tidak
lain yaitu untuk menghancurkan Islam dari dalam dan menanamkan benih
permusuhan terhadap Ahlul Bayt Nabi dengan slogan “para pendukung setia Ahlul
Bayt Nabi.” Penulis Syahadah al-Husein mencoba memaparkan dokumen-dokumen
yang berasal dari artikel -artikel yang ditulis oleh orang Syi'ah dalam rangka
menguatkan fakta di atas. Pada halaman sebelas, dia menjelaskan : Muhammad Baqir
Khurasani yaitu salah seorang ulama Syi'ah yang terkenal bergelar Mullah Muhsin.
Dia meninggal di Masyhad pada tahun 1091 H/1679 M. Di dalam artikel nya yang
berjudul Jilal al-Uyun halaman tiga ratus dua puluh satu, Mullah Muhsin
menerangkan, “Menjelang wafat, Mu'awiyah menyampaikan wasiat kepada
putranya, Yazid : Ketahuilah bahwa Imam Husein memiliki hubungan yang sangat
dekat dengan Rasulullah saw. Dia memiliki darah suci yang mengalir dari diri
Rasulullah saw. warga Irak akan mengundangnya ke sana dan berjanji akan
menolongnya. Akan namun , sesungguhnya mereka sekali-kali tidak akan menolong
dia. Mereka akan meninggalkannya sendirian. Jika kelak kamu menguasai dia,
hormatilah dia. Jangan sekali-kali kamu melukainya sebagai balasan atas
serangannya terhadap kamu.! Perlakukan dia dengan baik sebagaimana saya juga
memperlakukannya dengan baik!” Muhammad Taqi Khan, -seorang ahli sejarah
Syi’ah-, yang meninggal dunia pada tahun 1397 H/1879 M di dalam artikel nya
berbahasa Persia berjudul Nasikh al-Tawarih menulis, “Wasiat Mu”awiyah yaitu
sebagai berikut : Anakku! Janganlah kamu menurutkan hawa nafsumu! Janganlah
kamu menghadap Allah ta’ala dengan tangan berlumuran darah Husein bin Ali! Jika
tidak, kamu akan menderita selamanya! Ingatlah sabda Baginda Nabi saw. yang
menerangkan, ‘Allah ta’ala tidak akan melimpahkan berkah karunia kepada
seseorang yang merusak kehormatan Husein.’” Di halaman tiga puluh delapan
dijelaskan ,”Mereka yang mendukung Imam Ali ra., -yaitu orang-orang Syi’ah-, akan
pergi ke Damaskus. Mereka mencela Sayidina Mu’awiyah. Namun, beliau tidak
menghukum mereka sama sekali. Bahkan, beliau justru memberi mereka hadiah dari
baitulmal.” Di dalam artikel Jilal al-Uyun halaman tiga ratus dua puluh tiga
dijelaskan, “Imam Hasan bin Ali ra. berkata ; ‘Wallahi, Sayidina Mu’awiyah lebih
baik dari pada orang-orang yang mendukung saya. Mereka mengaku sebagai orang
Syi’ah, padahal sesungguhnya mereka sedang mencari kesempatan untuk membunuh
saya dan merampas harta milik saya.’”
Bagaimana kesaksian sejarah berbicara tentang sosok Yazid? Sejarah
menulis, bahwa dia tidak melupakan wasiat ayahnya ini . Dia tidak pernah
mengundang Imam Husein ke Kufah. Dan dia tidak menyuruh membunuh sang
Imam ini . Sekali-kali dia tidak mengharap kematian Imam Husein. Sebaliknya
dia justru berlinang air mata saat mendengar berita kematian Imam Husein. Dia
memerintahkan kepada rakyat berkabung. Dia sangat memuliakan Ahlul Bayt Nabi.
Di dalam artikel Syi'ah Jilal al-Uyun halaman tiga ratus dua puluh dua dijelaskan,
“Yazid mengangkat Walid bin Uqbah, -seorang tokoh yang dikenal luas sangat
mencintai Ahlul Bayt-, sebagai gubernur Madinah. Dia pernah memecat Marwan
dari jabatan gubernur sebab dia sangat memusuhi Ahlul Bayt. Pada suatu malam,
Walid mengunjungi Imam Husein. Beliau berkata kepada sang Imam bahwa
Mu'awiyah telah meninggal dunia. Beliau digantikan oleh putranya, Yazid. Imam
Husein berkata : “Anda akan benci jika aku menerimanya secara diam-diam. Anda
menghendaki aku menerimanya secara terang-terangan.” Keterangan Jilal al-Uyun
ini menunjukkan bahwa Imam Husein tidak menganggap Yazid sebagai seorang
pendosa yang bermoral bejat, apalagi kafir. Seandainya Imam Husein menganggap
demikian, tentu sang Imam tidak akan menerima dan mematuhi Yazid secara diam-
diam. Sang Imam tidak menerima Yazid secara terang-terangan disebabkan untuk
tidak menyulut kebencian dan dendam dari orang-orang Syi'ah. Imam Husein
menyadari bahwa sesungguhnya orang-orang Syi’ah telah meninggalkan ayah beliau
(Imam Ali ra., pent) dan menjadi orang-orang Khawarij disebabkan ayah beliau telah
berdamai dengan Mu'awiyah. Mereka telah memerangi ayahnya. Mereka juga telah
memusuhi adiknya, -Sayidina Hasan ra.-, sebab telah menyerahkan jabatan khalifah
kepada Mu'awiyah.
Di dalam artikel ini juga dijelaskan : “saat Zajr bin Qais
mengkhabarkan kematian Sayidina Husein kepada Yazid, beliau tertunduk dan
tertegun. Yazid berkata, ‘Berita tentang kepatuhanmu kepada Husein yang kamu
sampaikan kepada saya akan lebih baik dari pada berita pembunuhan yang kamu
lakukan terhadap beliau. Seandainya saya berada di sana tentu saya akan
mengampuni beliau. saat Mahdar bin Tsa’labah mencaci Imam Husein, Yazid
mengerutkan keningnya sambil bertkata, ‘Saya berharap kepada ibu Mahdar untuk
tidak mengutus seorang anak sekejam dan sehina dia. Semoga Allah swt. mengutuk
anak yang bernama Marjana [Ibnu Ziyad]!’ saat Syammar membawa kepala
Sayidina Husein kepada Yazid dan berkata, ‘Saya telah membunuh putra dari
manusia terbaik, sepatutnya Tuan mengisi kantong pelana kudaku dengan emas dan
perak!’, dengan sangat marah Yazid menghardik, ‘Semoga Allah swt. mengisi
kantong pelana kudamu dengan api neraka! Apa alasanmu telah membunuh manusia
terbaik? Keluar kamu dari sini! Aku sudah mengetahui semuanya! Aku sekali-kali
tidak akan memberimu sesuatu pun!’” Di dalam sebuah artikel yang ditulis oleh orang
Syi'ah berjudul Khulashah al-Masha’ib halaman tiga ratus sembilan puluh tiga
djelaskan : “Yazid mencucurkan air mata kesedihan di hadapan orang banyak. Di
kala sendirian, dia juga menangis. Putri-putri dan saudara wanita dia juga turut
menangisi kematian Sayidina Husein. Sambil meletakkan kepala Imam Husein di
dalam mangkok yang terbuat dari emas, dia berkata, ‘Wahai Husein, semoga Allah
merahmati engkau. Betapa manis senyummu!’” berdasar keterangan dari artikel -
artikel Syi'ah, kita mengetahui bahwa keterangan sebagian orang yang menyebutkan
bahwa Yazid memukul gigi Imam Husein dengan tongkat merupakan kebohongan
nyata. Di dalam Jilal al-Uyun disebutkan, “Di dalam istana, Yazid menyediakan
segala kebutuhan yang diperlukan oleh keluarga Imam Husein. Dia bersikap ramah
kepada mereka. Dia makan pagi dan malam bersama Zainal Abidin”. Di dalam
Khulashah al-Masha’ib juga dijelaskan, ”Suatu saat , Yazid bertanya kepada
keluarga Imam Husein, ‘Sudikah kalian menjadi tamu-tamuku di sini, dan tinggal di
Damaskus atau kembali ke Madinah?’ Ummi Kultsum menjawab, ‘Kami ingin
berkabung dengan berkhalwat’. Lalu Yazid menyediakan mereka sebuah kamar yang
luas di dalam istananya. Mereka berkabung selama satu minggu di kamar ini .
Pada hari ke delapan Yazid menanyakan kepada Ahlul Bayt keinginan mereka. Para
Ahlul Bayt menjawab, bahwa mereka hendak kembali ke Madinah. lalu Yazid
memberi mereka harta, hewan tunggangan, dan dua ratus emas. Dia berkata, ‘Sudilah
kalian menyampaikan kepada saya kebutuhan kalian, saya akan mengabulkannya’.
Dengan dikawal oleh Nu’man bin Basyir dan lima ratus penunggang kuda lainnya,
Yazid menyaksikan keberangkatan mereka menuju Madinah sesudah dilakukan
upacara perpisahan untuk menghormati mereka”.
berdasar keterangan yang bersumber dari artikel -artikel Syi’ah di atas
dan dari sumber Syi'ah lainnya yang moderat dan tidak bias, kita menemukan bahwa
Sayidina Mu'awiyah tidak menunjukkan sikap permemusuhan dengan Imam Husein.
Yazid juga tidak pernah memerintahkan membunuh beliau atau setidaknya
merencanakan pembunuhan ini . Para musuh Ahlul Bayt dan orang-orang yang
telah membunuh Imam Husein telah mengkambinghitamkan kedua khalifah ini
dalam rangka melampiaskan dendamnya kepada mereka.
Kita mengetahui, bahwa Abdurrahman Ibni Muljam sebelumnya yaitu
seorang pengikut Syi'ah. lalu dia membelot bergabung bersama kelompok
Khawarij. Dia-lah yang membunuh Imam Ali ra.
Sejarah tidak menulis adanya pasukan dari Damaskus yang tergabung di
antara kaum pemberontak yang membunuh Imam Husein di Karbala. Sesungguhnya,
mereka berasal dari Kufah. Qadli Nurullah Syusytari, -seorang ulama Syi'ah-,
memaparkan secara obyektif mengenai fakta sejarah ini . Di dalam Jilal al-
Uyun juga dijelaskan, bahwa saat Imam Zainal Abidin ra. dibawa ke Kufah, beliau
menuturkan, bahwa para pembunuh ayahnya yaitu orang-orang Syi'ah sendiri.
Dalam rangka menghancurkan Islam dari dalam, musuh-musuh Islam
telah menjerumuskan anggota Ahlul Bayt Nabi ke dalam malapetaka besar. Mereka
berpendapat, bahwa para pembunuh Sayidina Huisein berasal dari faksi Ahlus
Sunnah wal Jamaah. Mereka menyerang para shahabat Nabi saw. yang merupakan
benteng kekuatan Islam dan juga para pengikut mereka, -yaitu para ulama Ahlus
Sunnah wal Jamaah. Kita ummat Islam harus tetap waspada agar tidak menjadi
korban dari provokasi mereka.
“Gubernur Mu'awiyah di Mesir, -yaitu Amr Ibn Ash-, saat memegang
jabatan ini selama empat tahun empat bulan telah menggelapkan tiga ratus lima
belas ribu emas dan mencaplok daerah Raht untuk menumpuk kekayaan diri sendiri,”
kata penulis majalah ini . Dia menambahkan bahwa keterangan ini
bersumber dari artikel -artikel Syi'ah berjudul Muruj al-Dzahab dan al-Ijaz.
Kutipan di atas merupakan sebagian contoh betapa orang-orang yang
tidak ber-Madzhab menyisipkan kedustaan-kedustaan di dalam artikel -artikel yang
mereka tulis. Mereka memandang persoalan keagamaan seperti hiburan bagi anak
kecil. Penulis majalah ini mencoba mencaci Sayidina Amr Ibn Ash ra. Dia
berpendapat, bahwa Amr Ibn Ash yaitu gubernur yang diangkat oleh Mua’wiyah
pada saat itu. Sejarah menyebutkan, bahwa Amr Ibn Ash pernah diangkat menjadi
gubernur Mesir selama empat tahun oleh Khalifah Umar bin Khaththab. saat
Utsman bin Affan menjadi Khalifah, beliau mengangkat Amr Ibn Ash di sana selama
empat tahun lebih. sedang Sayidina Mu'awiyah pernah mengangkat Ziyad
menjadi gubernur di Mesir. Sebelumnya, Ziyad juga pernah diangkat menjadi
gubernur di sana oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib. Demikian pula, Mu’awiyah
mengangkat Amr Ibn Ash menjadi gubernur di sana. Sebagaiman kita ketahui, bahwa
sebelumnya Amr Ibn Ash yaitu kolega militer Mu'awiyah dalam Perang Suci di
Syiria. Mereka tidak mungkin akan menemukan kelemahan dan kekurangan
Mu'awiyah meskipun mereka berusaha mendistorsi kebajikan dan prestasi-prestasi
yang pernah dicapainya dalam menegakkan bendera Islam. Rasulullah saw. dan para
khalifah beliau pernah memberikan tugas-tugas yang berat kepada Mu'awiyah dan
Amr Ibn Ash. Fakta sejarah ini , mengisyaratkan kemuliaan kedudukan mereka
berdua. Di dalam kitab Maktubat volume pertama surat keseratus dua puluh, Imam
Rabbani rahmatullah ‘alaih menerangkan, “Kesalahan yang dilakukan oleh Sayidina
Mu'awiyah, -berkat limpahan barokah ke-shahabah-an belaiu dengan Rasulullah
saw.-, akan lebih baik dibandingkan kebaikan-kebaikan yang dimiliki oleh Wais al-
Qarni dan Umar bin Abdul Aziz (yang tidak memiliki kemuliaan derajat disebabkan
melihat Rasulullah saw. saat masih hidup). Demikian juga, kesalahan yang
dilakukan oleh Amr Ibn Ash akan lebih baik dari pada kebaikan yang dilakukan oleh
keduanya (Wais al-Qarni dan Umar bin Abdul Aziz, pent.).” Surat keseratus dua
puluh versi bahasa Turki dari Imam Rabbani ini ada di dalam artikel
berbahasa Turki berjudul Mujdeci Mektublar Tercemesi. Kritik-kritik yang
diarahkan kepada Mu'awiyah dan Amr Ibn Ash didasarkan pada alasan adanya
perbedaan ijtihad keduanya dengan Sayidina Ali bin Abi Thalib ra. Sehingga seolah-
olah segala perjuangan mereka berdua, bahkan ibadah mereka dianggap tidak benar.
Sejarah menuturkan, bahwa Amr Ibn Ash sekali-kali tidak menindas hak-
hak rakyat Mesir. Bahkan beliau mewariskan sebuah karya monumental bagi sejarah
Islam Mesir. Di antaranya, pembukaan terowongan Amirul Mukminin yang
menghubungkan Sungai Nil dengan Laut Merah. Pada tahun kedelapan belas hijriah,
Semenanjung Arabia mengalami bencana kelaparan hebat. Khalifah Umar al-Faruq
ra. memerintahkan setiap provinsi mendistribusikan bahan pangan kepada provinsi-
provinsi yang dilanda bencana kelaparan. Pendistribusian bantuan dari Mesir dan
Damaskus mengalami keterlambatan pengiriman disebabkan kedua provinsi ini
terletak cukup jauh dari Semenanjung Arabia. Khalifah memanggil gubenur Mesir
Amr Ibn Ash berserta para asistennya ke Mesir. Kepada mereka Khalifah berkata,
“Seandainya kita membangun sebuah terowongan yang menghubungkan antara
Sungai Nil dengan Laut Merah, tentu kekurangan pangan di Semenanjung Arabia
dapat ditanggulangi.” Amr Ibn Ash kembali ke Mesir dan mulai membuka sebuah
terowongan yang dimulai dari kota Fustat, -dua puluh empat kilometer dari Kairo-,
ke arah Laut Merah. Terowongan yang memiliki panjang seratus tiga puluh delapan
kilometer ini pembangunannya diselesaikan dalam waktu enan bulan. Kapal-
kapal yang berlayar melewati Terowongan Amirul Mukminin tiba di Laut Merah
dari Sungai Nil, dan berlabuh di sepanjang Dermaga Jar di Medinah. Pengiriman
bahan pangan pertama dilakukan dari Mesir menuju ke Madinah dalam bentuk dua
puluh muatan kapal besar yang berisi padi-padian. Jumlah ini setara dengan
enam puluh ribu irdeb. sedang satu irdeb sama dengan dua puluh empat sha’.
Dan sha' yaitu satu unit yang volumenya sama dengan 4,2 liter. Satu irdeb nilainya
sekitar seratus liter. Dengan demikian, pengiriman bahan pangan pertama yang
diangkut dari Mesir ke Madinah melalui jalur laut kapasitasnya sama dengan enam
juta liter, yaitu enam ribu meter kubik padi-padian. Pada masa pemerintahan Umar
bin Abdul Aziz, terowongan ini tidak lagi difungsikan mengingat dana
perawatan terowongan ini sangat besar. Pada tahun 155 hijriah, al-Manshur
melakukan perbaikan terowongan ini dan mengfungsikan kembali selama
beberapa tahun. Amr Ibn Ash juga merancang pembangunan terowongan yang
menghubungkan Mediterrania dengan Laut Merah. Dia menyampaikan rencananya
ini kepada Khalifah. Namun, Khalifah Umar tidak mengijinkan pembangunan
terowongan ini dengan pertimbangan-pertimbangan militer. Kita dapat
memperlajari secara mendetil mengenai terowongan ini di dalam artikel yang
berjudul Faruq yang ditulis oleh Syibli Nu’mani, -seorang profesor dari India.
Adapun kami mengutip keterangan di atas dari versi terjemahan bahasa Turki yang
dicetak pada tahun 1351 H.
Kita tidak perlu tertipu oleh kepalsuan dan kedustaan dari orang-orang
zindiq musuh-musuh Islam yang mencaci Sayidina Mu'awiyah dan para shahabat
beliau. Mereka berpendapat, bahwa tindakan ini disebabkan kecintaan mereka
kepada Ahlul Bayt Nabi! Memang, mereka menganggap demikian ; akan namun ,
sekali lagi kami ingatkan bahwa tujuan mereka memakai kedustaan ini
yaitu untuk memfitnah ribuan shahabat Nabi saw. yang berbeda ijtihad dengan
yang dilakukan oleh Sayidina Ali ra. Mereka juga memiliki tujuan terselubung
lainnya, yaitu menelanjangi cacat para tokoh agama yang mulia ini dalam
rangka meruntuhkan keimanan terhadap dasar-dasar Islam dan sumber-sumber utama
Islam seta menghancurkannya secara bertahap. Kita seharusnya menyadari apa yang
telah dilakukan oleh orang-orang Yahudi. Mereka telah menghancurkan agama yang
dibawa oleh Nabi Isa as. dengan cara yang keji dan kotor. Mereka telah
memusnahkan Injil (Bible yang asli). Mereka memalsukan gospel-gospel mereka.
Mereka mengubah agama Isawi yang diturunkan oleh Allah menjadi Kristianitas.
Injil asli yang disebut (Gospel) Barnabas yang muncul kembali pada tahun 1393 M,
menegaskan sebuah fakta sejarah bahwa Kristianitas yaitu ciptaan manusia. Sebuah
artikel berbahasa Turki berjudul Herkese Lazim Olan Iman yang dicetak di Istanbul
dan telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Perancis dan Jerman memuat
informasi mendetil tentang Kristianitas ini . Sekali lagi kami tegaskan, bahwa
tujuan mereka (musuh-musuh Islam) yaitu merubah Islam menjadi sebuah sistem
kepercayaan yang irrasional dengan memakai cara-cara sebagaimana telah
dijelaskan di atas. Kami patut bersyukur, sebab saudara-saudara kami se-Islam
menyadari rencana-rencana terselubung orang-orang Yahudi ini . Mereka telah
menulis ratusan ribu artikel dalam waktu empat belas abad. Kaum muslimin tetap
konsisten mendakwahkan ajaran-ajaran Rasulullah saw. ke seluruh penjuru dunia.
Mereka memperingatkan akan bahaya kebohongan dan kejahatan yang dilakukan
oleh orang-orang Yahudi. Mereka telah membantah kebohongan-kebohongan
ini melalui argumentasi yang meyakinkan. Musuh-musuh Islam ini
mungkin memakai cara lain dengan mendakwakan diri mereka sendiri sebagai
golongan Alawi (Syi'i). Saudara-saudara kita dari golongan Alawi (Syi'i) yang salih,
seharusnya bersikap waspada terhadap musuh-musuh Islam sehingga tidak terjebak
dalam jebakan mereka yang sering memakai otoritas suci mereka sebagai kedok.
Kami menghimbau kepada saudara-saudara kami yang menyebut diri
Alawi! Hendaknya kalian menyadari keagungan nama Alawi ini . Barang siapa
mencintai nama ini secara tulus, memahami maknanya, dan menyadari
keagungan yang terkandung di dalam nama ini , tentu dia juga mencintai
golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah yang juga berhak menyandang nama ini !
Orang-orang yang benar-benar mencintai Sayidina Ali ra. dan para pengikut setia
Imam Agung ini secara tulus, sesungguhnya mereka yaitu para ulama Ahlus
Sunnah wal Jamaah. Barang siapa yang menjadi bagian dari golongan Alawi, dirinya
harus mempelajari biografi Sayidina Ali ra. dengan membaca kitab-kitab yang ditulis
oleh para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Seorang muslim yang memahami
biografi Sayidina Ali ra., akan dengan mudah mengetahui bahwa artikel -artikel dan
majalah yang ditulis atas nama Alawi ini palsu.
“Kezaliman dan kejahatan yang dilakukan oleh Mu'awiyah, putra-putra
dan cucu-cucu, pendukung dan keluarga, para pegawai dan pengikut beliau lainnya,
menjadi catatan hitam dalam sejarah, tidak cuma untuk masa mereka bahkan hingga
sekarang. Yang paling fatal yaitu pengangkatan Mu'awiyah terhadapYazid, -putra
beliau sendiri-, sosok pemuda pemabuk, dungu, dan jelek perangainya, menjadi
pewaris jabatan khalifah berikutnya, (meskipun Mu’awiyah sendiri menyadari akan
kebiasaan-kebiasaan jelak putranya). Tindakannya ini , ternyata menimbulkan
mudlarat dan penderitaan bagi kaum muslimin,” kata dia.
Salah seorang yang terprovokasi oleh hasutan dan fitnah pernyataan di
atas yaitu Kevdet Pasya. Dia mengatakan, “Hal ini merupakan salah satu
kesalahan paling besar yang pernah dilakukan oleh Mu'awiyah.” Padahal, Kevdet
Pasya sendiri dengan jujur menuturkan sebagaimana dapat kita baca di dalam Qishas
al-Anbiya :
“Sayidina Mu'awiyah memutuskan memecat Mughirah dari jabatan
gubernur Kufah. sesudah mengetahui keputusan ini , Mughirah pergi ke
Damaskus menemui Yazid. Mugirah berkata kepada Yazid, ‘Tokoh-tokoh terkemuka
shahabat dan Quraisy sekarang sudah tidak ada lagi. Akan namun , putra-putra mereka
masih hidup. Anda yaitu figur yang paling berpengaruh di antara mereka. Anda
dipandang memahami dengan baik tentang Sunnah Nabi dan persoalan-persoalan
politik. Apakah ayah Anda tidak berniat mengangkat Anda menjadi Amirul
Mukminin?’ Kamudian Yazid menyampaikan hal ini kepada ayah beliau. Lalu
Sayidina Mu'awiyah memanggil Mughirah. Sebagaimana kita ketahui, Mughirah
yaitu seorang shahabat besar dan salah seorang di antara shahabat Nabi yang
melakukan baiat setia (kepada beliau) di bawah pohon. Mughirah berkata, ‘Wahai
Amirul Mukminin! Tuan telah menyaksikan kerusuhan-kerusuhan terjadi di mana-
mana dan darah ummat Islam banyak tertumpah sesudah kematian Khalifah Utsman
ra. Untuk mengatasi kondisi ini , saya mengusulkan agar Tuan berkenan
mengangkat Yazid menjadi khalifah! Beliau akan menjadi pelindung rakyat. Hal
ini merupakan tindakan strategis yang menguntungkan semua pihak. Tuan akan
dapat menghentikan munculnya fitnah dan kekacauan.’ Dalam rangka melakukan
upaya ini , Mughirah juga telah mempersiapkan sepuluh orang, -termasuk putra
dia sendiri-, untuk menemui Khalifah di Damaskus. Mereka mengemban tugas
meyakinkan Khalifah. saat Ziyad mendengar hal ini , dia menemui Yazid dan
menyampaikan beberapa nasihat kepadanya. Ziyad menasihati Yazid agar
memperbaiki prilaku jeleknya selama ini, kebiasaan dan sikapnya yang kurang
terpuji. Pada saat itu, Mu'awiyah memanggil para gubernur ke Damaskus. Beliau
meminta pendapat kepada mereka. Di antara gubernur yang dimintai pendapat
ini ada Dhahhak. Dia menyampaikan pendapatnya dengan mengatakan,
‘Wahai Amirul Mukminin! Sesudah Tuan, dibutuhkan seseorang yang dapat
melindungi keselamatan kaum muslimin sehingga darah mereka tidak akan
tertumpah lagi. Mereka dapat hidup secara damai dan sejahtera. Oleh sebab itu,
menurut pendapat saya, figur yang pantas mengemban tugas ini yaitu Yazid.
Dari segi ilmu dan karakter, Yazid merupakan sosok manusia yang lebih mumpuni
dibandingkan kita semua. Saya sangat setuju jika Yazid diangkat menjadi
khalifah.’ Beberapa tokoh Damaskus terkemuka lainnya juga berpendapat sama
dengan Dhahhak. Baik rakyat Damaskus maupun Irak menerima pengangkatan
Yazid menjadi khalifah. sesudah mempelajari pendapat-pendapat ini ,
Mu’awiyah mempertimbangkan untuk mengangkat Yazid menjadi khalifah.
lalu beliau pergi ke Mekkah. Di sana beliau bertemu dengan Sayidina Husein,
Abdullah bin Zubeir dan Abdullah bin Umar. Sesudah mengerjakan haji, beliau
mengundang mereka. Beliau berbicara kepada mereka, ‘Saya sangat mencintai kalian
semua, sebagaimana kalian mengetahui hal ini . Dan Yazid yaitu saudara
kalian juga. Dia yaitu saudara sepupu ayah kalian. Saya berharap kalian menerima
dia sebagai khalifah demi masa depan kaum muslimin. Saya akan menetapkan hal-
hal sebagai berikut : Bahwa persoalan pengangkatan dan pemberhentian para
gubernur, petugas pengumpul zakat, usyr (sepersepuluh, pent.) dan pajak-pajak
lainnya, serta pendistribusian barang ke daerah-daerah, tetap akan berada di bawah
pengawasan kalian. Saya menegaskan, bahwa Yazid tidak akan mencampuri urusan-
urusan ini !’ [Ini merupakan sebuah konstitusi yang akan ditetapkan oleh
Mu’awiyah). Sayidina Husein, Abdullah bin Zubeir dan Abdullah bin Umar tidak
memberikan respon terhadap pembicaraan yang disampaikan Mu’awiyah. Mereka
semua diam. Beliau meminta kepada mereka untuk menyampaikan tanggapan.
Namun, mereka semua tidak memberikan tanggapan sama sekali. Melihat sikap
mereka seperti itu, lalu Khalifah naik ke mimbar dan menyampaikan pidato :
‘Para pemuka Mekkah telah menyetujui dan menerima pengangkatan Yazid sebagai
khalifah. Saya berharap kalian semua juga menyetujui dan menerima dia sebagai
khalifah.’ Rakyat Mekkah pun menerima Yazid sebagai khalifah. lalu
Mu'awiyah pergi ke Madinah dan menyampaikan hal yang sama kepada warga
Madinah. Mereka juga menyetujui dan menerima pengangkatan Yazid. Selanjutnya
beliau kembali ke Damaskus.”
Pada dasarnya Mu'awiyah sendiri tidak mempersiapkan Yazid menjadi
khalifah. Oleh sebab itu, langkah awal yang dilakukan oleh Mu’awiyah dalam
merespon saran pengangkatan Yazid sebagai khalifah, beliau meminta pendapat dari
orang-orang yang menjadi kepercayaan beliau. lalu beliau juga meminta
pendapat dari para tokoh terkemuka. Dan pada akhirnya, beliau meminta dukungan
dari rakyat atas langkahnya ini . sesudah melalui tahapan-tahapan ini
beliau-lah yang berhak membuat keputusan akhir. Sebagaimana kita ketahui,
Mu’awiyah yaitu seorang pahlawan Islam yang mengalami berbagai peristiwa dan
kekacauan yang terjadi sesudah kematian Sayidina Utsman ra. Beliau menyaksikan
perang saudara yang terjadi di antara sesama muslim. sedang pada saat itu,
pendukung Yahudi jumlahnya meningkat pesat. Posisi orang-orang Khawarij, yang
mennadi musuh-musuh Ahlus Sunnah wal Jamaah, makin kuat dan mengancam
kaum muslimin. Beliau mempertimbangkan semua kondisi ini . Jika konstitusi
yang beliau siapkan memperoleh dukungan rakyat, sebuah demokrasi Islam akan
lahir. Dan ummat Islam akan berterima kasih kepadanya atas jasannya ini .
Barang siapa berpendapat, bahwa, “Kezaliman dan kejahatan yang
dilakukan oleh putra-putra Mu'awiyah dan anak-anak cucu beliau berlangsung
selama berabad-abad,” berarti mengingkari sejarah. Sejarah mencatat, bahwa cucu
beliau, - Mu'awiyah II-, yaitu khalifah yang sangat bijaksana, adil, salih, dan sangat
berjasa terhadap Islam. Namun, sayang sekali dia meninggal dunia hanya dua bulan
sesudah menjabat sebagai khalifah. Dia tidak mempunyai putra, sehingga dia
digantikan oleh Marwan bin Hakam melalui kudeta militer. Marwan yaitu saudara
laki-laki sepupu Mu'awiyah, namun mereka tidak akrab. Kejahatan yang dilakukan
oleh Marwan bin Hakam atau beberapa penguasa Bani Umayyah yang
menggantikannya tidak dapat dilihat sebagai kesalahan Mu'awiyah. Penindasan dan
kekejaman yang dilakukan oleh Dinasti Abbasiyah terhadap Ahlul Bayt jauh lebih
hebat dari pada yang dilakukan oleh Bani Umayyah. Para peneliti sejarah memahami
fakta (sejarah) ini . Oleh sebab nya, yaitu termasuk fitnah keji jika
seseorang mencela dan mengutuk kakek Bani Abbasiyah, yaitu Sayidina Abdullah,
dan ayah beliau, yaitu Sayidina Abbas, disebabkan oleh kezaliman-kezaliman yang
pernah dilakukan oleh Bani Abbasiyah terhadap Ahlul Bayt. Dan akan lebih naif dan
lebih keji lagi jika mencela Sayidina Mu'awiyah sebab kekhilafan yang pernah
dilakukan oleh para khalifah yang berasal dari keturunan Marwan bin Hakam.
Kami akaan memaparkan fakta sejarah lainnya kepada mereka yang
berpendapat, bahwa keturunan Sayidina Mu'awiyah telah melakukan kezaliman
selama berabad-abad. Dan juga kepada mereka yang berpendapat, bahwa sesudah
kematian cucu Mu’awiyah, yaitu Mu’awiyah II, tidak ada seorang pun dari keluarga
tokoh terkemuka shahabat yang memiliki pengaruh dan posisi kuat. Sebagaimana
kita ketahui, bahwa putra Mu'awiyah lainnya yaitu Khalid. Memang. dia tidak
tertarik dengan masalah kepemerintahan. Akan namun , ayahnya telah mempersiapkan
Khalid menjadi seorang ilmuwan. Jabir, -seorang pakar kimia terkemuka-, yaitu
murid Khalid. Jabir belajar ilmu kimia kepada Khalid, sang pakar ini .
Allah swt. membangkitkan ribuan ulama Sunni untuk membela Khalifah
Mu’awiyah dan untuk mempermalukan musuh-musuh Khalifah ini . Para ulama
ini menulis artikel -artikel yang memuat pembelaan terhadap Sayidina Mu'awiyah,
menjelaskan kemuliaan dan keagungan shahabat Nabi ini .
“Akal sehat tidak dapat menerima, jika Mu'awiyah bukan yang
merencanakan, dan tidak mengetahui, memprediksikan atau sekurang-kurangnya
membayangkan pada saat dia masih hidup, sebuah tragedi mengerikan yang
menggemparkan yang akan menimpa Sayidina Husein kelak di lalu hari,” kata
dia.
Tidak masuk akal juga jika seorang muslim tidak berduka atas
malapetaka Karbala yang dilakukan oleh anak Ziyad, -Ubaidullah. Setiap muslim
Sunni pasti akan mencucurkan air mata duka manakala teringat kembali hari-hari
duka ini . Sehingga sebagian orang berkabung atas musibah Karbala ini
pada hari ke sepuluh bulan Muharam. Musuh-musuh Islam berkabung hanya satu
hari saja pada tahun saat tragedi ini terjadi, sedang kami berkabung setiap
tahun. Mereka berkabung disebabkan sebab Husein yaitu putra Sayidina Ali,
sedang kami berkabung disebabkan sebab dia yaitu cucu Rasulullah,
Muhammad saw. Kami orang-orang Sunni, mencintai Sayidina Ali ra. sebab beliau
yaitu menantu Rasulullah saw. dan sebab beliau yaitu seorang mujahid Islam
yang membela Islam atas perintah Rasulullah saw. Kami juga mencintai Sayidina
Mu'awiyah sebab beliau yaitu ipar laki-laki Rasulullah saw. dan sebab beliau
telah berjihad memerangi orang-orang kafir hanya sebab Allah swt. semata.
Rasulullah saw. bersabda, “Cintailah para shahabatku! Barang siapa yang mencintai
mereka berarti mencintaiku. Janganlah memusuhi para shahabatku! Barang siapa
yang memusuhi mereka berarti dia memusuhiku.” Kami sangat mencintai Sayidina
Ali ra. dan Sayidina Mu'awiyah sebab mereka yaitu shahabat Rasulullah saw.
Kami telah menerangkan di depan bahwa menuduh segala kezaliman
yang terjadi pada masa Yazid kepada Sayidina Mu'awiyah termasuk perbuatan keji.
Lebih keji lagi jika kita mengatakan bahwa Mu'awiyah-lah yang menskenario segala
kezaliman ini sebelum meninggal dunia. artikel -artikel sejarah memaparkan
tentang kecintaan dan penghormatan Mu’awiyah kepada Sayidina Hasan dan Husein,
serta sikap lemah lembut beliau kepada mereka. Barang siapa yang gemar membaca
dan menganalisa artikel -artikel semacam itu pasti akan memahami fakta-fakta sejarah
ini dengan baik. Seandainya Sayidina Mu'awiyah memiliki niat jahat hendak
menyakiti putra-putra
*
tercinta Rasulullah saw. yang telah memperoleh kabar
gembira masuk surga dari sang kakek mereka yang suci, beliau dapat melakukannya
dengan mudah sekali saat menjadi khalifah pada saat segala perintah berada di
bawah kebijakannya. Minimal beliau akan menyetujui tindakan ini . Akan namun ,
beliau justru memperlakukan mereka dengan baik. Beliau sangat menghormati dan
memuliakan mereka. Beliau memuji mereka sebab keagungan dan ketinggian
derajat yang mereka miliki. Barang siapa berpendapat, bahwa pertumpahan darah
yang terjadi sesudah kematian Sayidina Mu'awiyah telah dirancang sebelumnya oleh
beliau secara rahasia, sesungguhnya dia yaitu seorang musuh Islam yang berhati
busuk dan benar-benar gila.
Sebagaimana telah disinggung di atas, bahwa Khalifa Ali bin Abi Thalib
pernah mengangkat Qais bin Sa’ad menjadi gurbernur Mesir. Beliau
menginstruksikan kepada Qais untuk memerangi orang-orang yang mengingkari
kekhalifahnya. Di antara mereka, ada para shahabat Nabi, seperti Yazid bin
Haris dan Maslamah. Maslamah ikut terlibat dalam Perang Suci Badar. Mereka
yaitu anggota suku Khazraj yang terkemuka. Instruksi ini dijawab oleh Qais
melalui surat yang menyatakan,” Tuan memerintahkan saya memerangi rakyat yang
*
Hasan dan Husein sebagai cucu-cucu Rasulullah saw. biasa disebut ‘putra-putra’ Rasulullah saw.
dengan menisbatkan sebagai putra-putra Rasulullah saw. sebagaimana disebutkan dalam beberapa
hadits beliau, pent.
tidak membahayakan Tuan. Lebih baik kita tidak mengusik mereka yang sedang
duduk manis.” Atas jawaban ini , Khalifah memberhentikan Qais dari jabatan
gurbernur Mesir dan mengangkat penggantinya Muhammad bin Abi Bakar. Dia
menginstruksikan kepada rakyat Mesir yang bersikap netral (tidak mendukung dan
tidak menentang, pent.) menentukan sikap “mendukung atau meninggalkan Mesir.”
Adapun alasan yang mereka ajukan atas sikap netralitas mereka ditolak oleh
Muhammad. Sehingga mereka marah dan mengerahkan pasukan. Hal ini telah
menyeret Mesir ke dalam konflik dan kerusuhan mengerikan. Muhammad terbunuh
dalam kerusuhan ini . Jenazahnya lalu dibakar.
Seperti telah dijelaskan di atas, bahwa Muhammad bin Abi Bakar pernah
melakukan konspirasi dengan para pengikut Ibni Saba’ memberontak melawan
Khalifah Utsman bin Affan. Dia berhasil masuk ke bagian dalam ruma











