Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 3. Tampilkan semua postingan

Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 3

 


i raja Najasyi dengan membawa surat Kaisar, dan Najasyipun segera 

mengirim pasukannya yang berjumlah tujuh puluh ribu di bawah komando seorang yang 

bernama Aryath. Di antara pasukannya ada seorang yang bernama Abrahah al-Asyram. Aryath 

bersama pasukannya segera mengarungi lautan hingga dia mendarat di pantai Yaman. Daus 

Dzu Tsa'laban juga ikut bersama mereka. Dzu Nuwas bersama dengan orang-orang Himyar 

dan orang-orang yang taat dan berada di bahwa kendalinya segera menyambutnya. sesudah  

peperangan berlangsung Dzu Nuwas dan pasukannya terpaksa harus mengaku kalah. Tatkala 

Dzu Nuwas menyadari apa yang terjadi pada diri dan kaumnya, dia segera mengarahkan 

kudanya ke laut lalu dia memacunya dan memasuki lautan itu dan dia memasuki lautan dari 

yang dangkal terus pada yang lebih dalam hingga akhirnya dia tenggelam di kedalaman laut 

itu. Inilah akhir dari pemerintahannya. Aryathpun memasuki Yaman dan dia menguasainya. 

 

Maka berkatalah seorang penduduk Yaman saat dia mengatakan apa yang dilakukan Daud 

untuk minta bantuan pada orang-orang Habasyah. 

 

Tidaklah seperti Daus tidak pula seperti apa yang dia bawa di perjalanannya 

 

Peribahasa ini berlaku hingga kini di Ya- man. Dzu Jadan al-Himyari berkata: 

 

Tenanglah, air mata tidak bisa mengembalikan apa yang telah berlalu 

Janganlah engkau hancur karena reruntuhan masa lalu 

Apakah sesudah  Baynun tidak akan ada lagi mata air dan jejak 

Dan sesudah  Silhin, manusia akan membangun rumah-rumah lagi? 

 

Baynun dan Silhan dan Ghumdan yaitu  benteng-benteng di Yaman yang dihancurkan oleh 

Aryath dan tidak ada benteng yang sama dengan benteng-benteng itu di tengah manusia. 

 

Dzu Jadan juga berkata: 

 

Biarkalah aku membuatmu tidak punya bapak dan kau tidak akan sanggup 

Caci makimu telah mengeringkan air liurku 

Aku mendengarkan musik para penyanyi di masa lalu yang demikian merdu 

Dan kami disuguhi arak yang murni dan terbaik 

Memimun arak tanpa rasa risih 

Karena sahabatku tidak pernah mencelaku perbuatan ku 

Karena kematian tidak ada yang yang mampu menghadang 

Walaupun meminum obat wangi dari para dukun obat 

Tidak pula para rahib di puncak biaranya Atau burung heriang yang sedang sedang berputar 

di sekitar sarangnya Kau telah dengar tentang menara Ghumdan Yang ada di puncak gunung 

menjulang Yang dilukis dengan batu yang indah Bersih, basah dengan tanah Hat yang licin 

Lampu-lampu minyak bersinar di dalamnya Kala senja tiba laksana sinar kilat Sedangkan 

pohon kurmanya yang di tanam untuknya demikian indahnya Dengan buah yang ranum 

hampir doyong dengan tandan kurmanya Kini semua itu telah menjadi abu Dan mengubah 

keindahannya menjadi kobaran api 

Dzu Nuwas menyerah kalah 

Dia peringatkan kaumnya tentang hidup yang sempit 

 

Berdasarkan syair di atas Adz-Dzu'bah Ats-Tsaqafi mengatakan sebuah syair serupa. Menurut 

Ibnu Hisyam:Adz-Dzibah bernama Rabiah bin Abdu Yalail bin Salim bin Malik bin Huthaith 

bin Jusyam bin Qasiy: 

 

Demi kehidupan ini, tidak ada tempat lari bagi pemuda dan tua bangka dari kematian 

Demi kehidupan ini, tak ada tempat yang lapang bagi seorang pemuda  

Demi kehidupan ini, tak ada tempat untuk perlindungan 

Apakah sesudah  kabilah-kabilah Himyar telah dihancurkan 

Di sebuah pagi dengan serangan di Dzat al- 'Abar 

Dengan sejuta pasukan yang menyerbu  

Laksana langit sebelum mencurahkan hujan  

Teriakkan mereka membuat tul kudayang terikat di dekat rumah 

Angin dan bau badannya mereka melenyapkan 

Jumlah mereka laksana pasir yang membuat pepohonan menjadi kering kerontang 

 

Amr bin Ma'di Karib Karib az-Zubaidi mengatakan tentang pertentangan yang terjadi antara 

dirinya dengan Qays bin Maksyuh al-Muradi di mana dia mendengar Qays mengancamnya. Ia 

mengatakan kepada Qays tentang orang-orang Himyar dan kejayaannya dan kekuasaan yang 

senantiasa berada di tangan mereka: 

 

Apakah engkau mengancamku seakan engkau Dzu Ruain 

Dengan kehidupan yang lebih baik atau engkau laksana Dzu Nuwas? 

Atau siapa pun yang mendapat  nikmat yang datang sebelum kamu 

Dengan kerajaan yang demikian kokoh di tengah manusia 

Yang telah lama umurnya laksana zamannya Ad 

Yang demikian perkasa, keras dan perkasa  

Maka penduduknya menjadi hancur dan kekuasaanya beralih tangan  

Dari manusia ke manusia yang lain 

 

Ibnu Hisyam berkata: Zubaid bin Sala- mah bin Mazin bin Munabbih bin Sha'b bin Sa'd al-

Asyirah bin Madzhij. Disebutkan pula bahwa namanya yaitu  Zubaid bin Sha'ab bin Sa'd al-

'Asyirah, ada pula yang menyebutkan namanya yaitu  Zubaid bin Sha'ab. Sedangkan Murad 

yaitu  Yuhabir bin Madzhij. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Telah menuturkan kepada saya Abu Ubaidah dia berkata: Umar bin 

Khattab menulis surat pada Salman bin Rabi'ah al-Bahili. Sedangkan Bahilah yaitu  anak dari 

Ya'shur bin Sa'd bin Qays bin Aylan yang sedang berada di Armenia. Dia memerintahkan agar 

dia memberi penghargaan lebih pada orang yang memiliki kuda Arab asli dan memberi 

penghargaan lebih sedikit pada siapapun yang memiliki kuda blasteran tatkala ada pembagian 

rampasan perang. Maka diapun mengeluarkan kudanya, dan tatkala kuda dikeluarkan 'Amr bin 

Ma'di bin Karib. Salmanpun berucap: "Kudamu ini yaitu  kuda blasteran (buruk)." Maka 'Amr 

marah dan dia melompat ke depan Salman dan mengancamnya, dan 'Amr pun mengucapkan 

bait syair di atas. 

 

Inilah yang pernah dikatakan oleh Sathih sang juru ramal dalam ucapannya: "Orang- orang 

Habasya (Ethiopia) akan menginjakkan kakinya di tanah kalian, mereka akan menguasai antara 

Abyan hingga Jurasy." Atau apa yang dikatakan oleh sang juru ramal Syiq: "Orang- orang 

hitam akan menginjakkan kaki mereka di tanah kalian, dan mereka akan melepaskan anak-anak 

dari perhatian kalian. Mereka akan berkuasa dari Abyan hingga Najran." 

 

 

Abrahah Menguasai Yaman dan Terbunuhnya Aryath 

 

Ibnu Ishaq berkata: Aryath berdiam di Yaman dalam beberapa tahun sebagai penguasa untuk 

kawasan itu. lalu  terjadi persaingan dalam penguasaan Habasyah antara dirinya dengan 

Abrahan —salah seorang tentaranya— sehingga Habasyah terpecah menjadi dua. Dan setiap 

pihak mendapat  dukungan dari setiap dari kelompok-kelompok tertentu. lalu  kedua 

kubu bergerak untuk menyerang kubu lainnya. Tatkala kedua pasukan telah saling mendekat, 

Abrahah mengirim surat kepada Aryath: "Sesunggguhnya tidak selayaknya kau mejadikan 

orang-orang Habasyah saling bunuh antara mereka sehingga engkau membinasakannya. Maka 

majulah kepadaku untuk duel satu lawan satu. Maka siapa yang menjadi pemenangnya dia 

kembali pada tentaranya." 

 

Aryath lalu  membalas surat itu: "Kau benar!" Maka Abrahah segera keluar untuk 

menyongsongnya. Abrahah yaitu  seorang laki-laki bertubuh pendek gemuk, seorang 

penganut agama Kristen. Aryath pun segera keluar menyongsongnya. Aryath yaitu  seorang 

lelaki yang tinggi besar dan ganteng dan dia memegang sebilah lembing. Sementara di 

belakang Abrahan seorang pelayannya—yang bernama Ataudah untuk melindungi 

punggungnya. lalu  Aryath mengangkat lembingnya dan dia arahkan ke tengkorak kepala 

Abrahah hingga membelah alis matanya, hidungnya, mata dan kedua bibirnya. Oleh sebab 

itulah dia disebut Abrahah al-Asyram karena terbelah (si muka belah). sesudah  itu Awtada 

melepas diri dari punggung Abrahah dan menikam Aryath dan dia pun berhasil membunuhnya. 

Maka pasukan Aryath menyambut Abraham sebagai pemimpin mereka. Sementara Abrahah 

membayar diyat (denda uang darah) atas kematian Aryath. 

 

Tatkala berita ini sampai pada Najasyi, dia murka semurka-murkanya. lalu  dia berkata: 

"Dia telah berlaku di luar batas atas gubernurku dan membunuh tanpa ada perintah dariku." 

lalu  dia bersumpah untuk tidak membiarkan Abrahah hingga dia menginjakkan kaki di 

negerinya lalu  dia akan memotong ubun-ubunnya. 

 

Maka Abrahah segera mencukur rambut kepalanya lalu  dia memenuhi sebuah kantong 

dari kulit dengan tanah Yaman, lalu dia kirimkan kepada Najasyi. Dalam isi surat ini  dia 

menulis: "Wahai padaku raja, sebenarnya  Aryath yaitu  budakmu dan saya yaitu  

budakmu. Kami berbeda pendapat dalam memaknai perintahmu, namun semua ketaatan yaitu  

untuk paduka. Hanya saja aku lebih kuat untuk mengendalikan orang-orang Habasyah (di 

Yaman) lebih teliti dan lebih terampil. Dan aku telah mencukur semua rambut kepalaku tatkala 

sampai berita kepadaku tentang sumpah sang raja dan aku mengirimkan kantong kulit berisi 

tanahku, untuk di letakkan di bawah kedua kakimu agar sumpah tidak berlaku padaku." 

 

Tatkala hal itu sampai pada Najasyi maka dia pun rela dan membalas suratnya sebagai berikut: 

"Hendaklah engkau tetap diam di negeri Yaman sampai datang perintahku. Maka tinggallah 

Abrahah di Yaman." 

 

 

Peristiwa Gajah dan Pembangunan Gereja 

 

lalu  Abrahah membangun gereja yang sangat besar dan tinggi yang tidak ada 

tandingannya di zaman itu. lalu  dia menulis surat kepada Najasyi: Wahai raja 

sebenarnya  saya telah membangun sebuah gereja yang demikian besar, yang tidak pernah 

dibangun untuk seorang raja pun sebelum engkau. Dan saya tidak akan merasa puas sampai 

orang- orang Arab datang untuk melakukan ibadah haji padanya. 

 

Tatkala orang-orang Arab memperbincangkan surat Abrahah kepada Najasyi maka marahlah 

seorang lelaki dari Nas'ah, salah seorang Bani Fuqaim bin Adi bin Amir bin Tsa'labah bin al-

Harits bin Malik bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar. Ada pun 

yang dimaksud dengan Nas'ah yaitu  orang-orang yang menunda bulan-bulan bagi orang-

orang Arab di masa jahiliyah, mereka menghalalkan beberapa bulan haram dan lalu  

mereka mengharamkan bulan-bulan halal dengan cara mengakhirkan bulan ini . Dalam hal 

ini Allah menurunkan firman-Nya: 

 

 

 

sebenarnya  mengundur-undurkan bulan haram itu yaitu  menambah kekafiran, disesatkan 

orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada 

suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan 

dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang 

diharamkan Allah, (setan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk 

itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (QS. at-Taubah: 37). 

 

Ibnu Hisyam berkata: Makna "liyuwathiu" dalam ayat di atas yaitu  bermakna "liyufiqu." 

Adapun makna muwatha'ah yaitu  muwafawaqah. Sebagaimana dikatakan oleh orang-orang 

Arab:Watha'thuka li hadza li almari. Artinya aku sepakat denganmu dalam perkara ini. Al-

Iytha' dalam syair yaitu  "al-muwafawah", yakni adanya kesamaan dua qafiyah (ujung sajak) 

dalam satu langgam. Sebagaimana yang dikatakan oleh 'Ajjaj dalam syairnya. Sedangkan nama 

Ajjaj yaitu  Ab-dullah bin Ru'bah salah seorang Bani Sa'ad bin Zaid bin Manat bin Tamim bin 

Murr bin Udd bin Thanijah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar berikut: 

 

Ibnu Ishaq berkata: Orang pertama yang memperlakukan sistem interkalasi (nasah) ini —yang 

menghalalkan bulan haram dan mengharamkan bulan halal— pada orang-orang Arab yaitu  

seorang yang bernama Al-Qalam- mas yang nama aslinya yaitu  Hudzaifah bin Abdu Fuqaim 

bin Adi bin Amir bin Tsa'labah bin Harits bin Malik bin Kinanah bin Khuzaimah. lalu  

dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Abbad bin Hudzaifah, sesudah  Abbad dilanjutkan Qala' 

bin Abbad, lalu  dilanjutkan oleh Umayyah bin Qala', lalu oleh Umayyah bin Auf bin 

Umayyah, lalu oleh Auf Abu Tsumamah Junadah bin Auf. Inilah orang terakhir yang 

memberlakukan sistem ini, dan di zamannya inilah Islam muncul. 

 

Dulu tatkala orang-orang Arab usai menu- naikan ibadah haji, mereka berkumpul menemui Al-

Qallamas. Maka dia mengumumkan keharaman empat bulan: Rajab, Dzul Qa'dah, Dzulhijjah 

dan Muharram. Tatkala dia ingin menghalalkan sesuatu maka dia menghalalkan bulan Haram 

lalu dia mengharamkan Shafar sebagai gantinya, lalu mereka pun mengharamkannya. Agar 

sesuai dengan hitungan bulan- bulan haram yang empat. Tatkala jama'ah haji itu menginginkan 

kembali dari Mekkah, dia lalu  berdiri dan berkata: "Ya Allah, aku telah menghalalkan 

untuk dua Shafar. Shafar pertama dan aku akhirkan Shafar kedua untuk tahun depan." 

 

Tentang hal ini 'Umair bin Qais Jidzl Ath- Tha'an salah seorang Bani Firas bin Ghunm bin Tsa 

labah bin Malik bin Kinanah, bersyair membanggakan nas'ah ini atas orang-orang Arab: 

 

Ma’ad telah tahu bahwa kaumku yaitu  kaum terhormat dengan nenek moyang terhormat 

Siapakah yang bisa lari dari balas dendam kami? 

Siapa yang tidak mampu kami beri hukuman  

Kami yaitu  An-Nasiin atas Ma'ad  

Kami jadilah bulan-bulan halal menjadi haram 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bulan haram yang pertama yaitu  bulan Muharram. 

 

Ibnu berkata: Maka al-Kinani keluar hingga bertemu dengan katedral dan duduk di sana. Ibnu 

Hisyam berkata: Dia buang air di sana. Ibnu Ishaq berkata: lalu  dia keluar sampai tiba 

di negerinya. Maka Abrahah pun diberi tahu tentang peristiwa ini  dan berkata: “siapa yang 

lancang melakukan ini?” Maka dikatakan padanya: ini dilakukan oleh seorang lelaki penduduk 

Arab dari Ahli Bait tempat di mana orang-orang Arab naik haji di Mekkah tatkala dia 

mendengar apa yang engkau katakan: "Palingkan haji orang-orang Arab padanya," dia marah, 

lalu duduk di sana dan buang air. Artinya bahwa katedralmu ini tidak layak dijadikan tempat 

ibadah haji mereka. 

 

Abrahah murka besar dan dia bersumpah untuk berangkat menuju Baitullah hingga 

menghancurkannya. Lalu dia perintahkan pada orang-orang Habasyah berangkat. Mereka 

segera bersiaga dan siap-siap. Lalu dia pun berangkat. Dia berangkat dengan menunggang 

gajah. Kabar keberangkatan Abrahah sampai ke telinga orang-orang Arab. Mereka pun 

mengagungkannya dan merasa sangat ketakutan dan mereka beranggapan bahwa apa yang dia 

niatkan yaitu  sangat serius tatkala mereka mendengar bahwa dia berencana untuk 

menghancurkan Ka bah, Baitullah al-Haram. 

 

Maka salah seorang tokoh dan salah seorang raja di Yaman datang menemuinya. Dia bernama 

Dzu Nafar, maka dia pun memanggil kaumnya dan orang-orang yang simpati padanya dari 

seluruh Arab untuk memerangi Abrahah dan berjuang untuk melindungi Baitullah al-Haram 

dan rencana penghancurannya olehnya dan berusaha untuk mengusirnya. Maka ada orang-

orang yang merespon seruannya dan dia segera menghadapi Abrahah dan memeranginya. Dzu 

Nafar dan bala tentaranya kalah dalam peperangan itu. Dzu Nafar ditangkap dan dibawa pada 

Abrahah sebagai tawanan perang. Tatkala Abrahah mau membunuhnya, Dzu Nafar berkata ke- 

pada Abrahah: Wahai raja, janganlah engkau membunuhku, semoga keberadaanku bersamamu 

lebih baik dari pada aku dibunuh! Maka Abrahah membiarkannya hidup. Dia hanya dipenjara 

saja dan tetap dibelenggu. Abraham dikenal sebagai seorang yang santun dan sabar. 

 

lalu  Abrahah melanjutkan perjalanannya sesuai dengan tujuannya semula. 

 

Tatkala dia sampai di kawasan Khats'am dia dihadang oleh Nufail bin Habib al-Khats'ami 

bersama dengan dua kabilah Khats'am Syahran dan Nahis dan orang-orang lainnya yang 

mengikutinya. Dia lalu  memeranginya namun dikalahkan oleh Abrahah dan dia 

dijadikan sebagai tahanan dan dia pun dibawa pada Abrahah. Tatkala Abrahah ingin 

membunuhnya, Nufail berkata padanya: "Wahai raja, janganlah engkau membunuhku karena 

aku bisa menjadi petunjuk jalan bagimu di negeri Arab. Inilah kedua tanganku sebagai jaminan 

bahwa dua kabilah Khats'am Syahran serta Nahis menyatakan tunduk dan patuh." Maka 

Abrahahpun membiarkan dia pergi. 

 

Lalu dia keluar memberikan petunjuk. Tatkala melewati Thaif dia segera dihadang oleh Mas'ud 

bin Mu'attib bin Malik bin Ka'ab bin Marwi bin Sa'ad bin Auf bin Tsaqif bersama dengan 

orang-orang Tsaqif. 

 

Adapun nama Tsaqif yaitu  Qasy bin Nabit bin Munabbih bin Manshur bin Yaqdam bin Aqsha 

bin Du'mi bin Iyad bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan. 

 

Umayyah bin Abi Shalt At-Tsaqafi mengatakan: 

 

Kaumku yaitu  Iyad, jika mereka dekat 

Atau tinggal di tempat mereka pasti membuat 

unta menjadi kurus 

Kaum yang menguasai wilayah Irak 

Jika mereka berjalan semuanya dengan doku- 

men dan pena 

 

Umayyah bin Abi Shalt juga berkata: 

 

Jika kau bertanya padaku siapa aku, Lubayna, 

dan tentang garis keturunanku 

Aku akan kabarkan padamu dengan sangat 

meyakinkan 

Kami keturunan An-Nabit Abi Qasiy 

Ana Manshur bin Yaqdam nenek moyang 

kami 

 

Ibnu Hisyam berkata: Tsaqif yaitu  Qasiy bin Munabbih bin Bakar bin Hawazin bin Manshur 

bin Ikrimah bin Khashafah bin Qais bin Aylan bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan. 

Kedua bait syair pertama dan kedua yaitu  karya Umayyah bin Abi Shalt. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Mereka berkata kepada Abrahah: Wahai raja: sebenarnya  kami yaitu  

hambamu, akan mendengar apa yang engkau katakan dan kami akan senantiasa taat. Kami 

tidak akan pernah ada sengketa. Dan rumah kami ini bukanlah rumah yang engkau kehendak 

—maksudnya Al-Laata— sebenarnya  engkau menginginkan rumah yang ada di Mekkah. 

Kami akan segera berangkat denganmu dan akan memberi petunjuk untukmu." Maka dia pun 

mengampuni mereka. 

 

Al-Laata yaitu  rumah ibadah mereka di Thaif yang mereka puja dan agungkan laksana 

pengagungan mereka terhadap Ka'bah. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Pernah Abu Ubaidah An-Nahwi menyenandungkan syair karya Dhirar 

bin Khattab al-Fihri sebagai berikut: 

 

Orang-orang Thaif melarikan diri ke rumah Al- Laata mereka 

Sebagai orang yang putus asa dan kalah 

 

Syair di atas yaitu  salah satu syair panjang Dhirar bin Khattab al-Fihri. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Maka mereka mengutus Abu Righal bersama Abrahah sebagai petunjuk 

jalan ke Mekkah, hingga keduanya sampai di Al-Mughammis. Di tempat inilah Abu Righal 

meninggal dunia. Orang-orang Arab melempari kuburannya. Kuburan inilah dilempari oleh 

orang-orang yang sekarang berada di di Al-Mughammis. 

 

Tatkala Abrahah tiba di Al-Mughammis dia mengutus seorang lelaki asal Habasyah yang 

bernama Al-Aswad bin Maqsud dengan pasukan berkudanya hingga dia sampai ke Mekkah. 

lalu  dia merampas. Harta- orang-orang Tihamah diserahkan kepadanya, baik harta orang 

Quraisy atau bukan Quraiys. Termasuk dua ratus ekor unta milik Abdul Mutthalib. Abdul 

Mutthalib saat itu yaitu  pimpinan dan pembesar Quraiys. Peristiwa ini mendorong orang-

orang Quraisy, Kinanah dan Hudzail dan orang-orang yang berada di sekitar Baitul Haram 

bermaksud untuk memeranginya. Namun mereka sadar bahwa mereka tidak akan mampu 

untuk mengalahkannya. Maka mereka pun membiarkannya. 

 

Abrahah lalu  mengutus Hunathah al-Himyari ke Mekkah dan dia berpesan padanya. 

"Tanyakan siapakah pemimpin negeri ini dan orang yang paling dihormati di tengah mereka. 

lalu  katakan padanya: sebenarnya  raja kami mengatakan pada- mu: 'sebenarnya  

aku tidak datang untuk memerangimu, aku datang untuk menghancurkan rumah ini (Ka'bah), 

jika kalian tidak menghalangi kami dengan perang maka kami tidak perlu menumpahkan darah 

kalian! Jika dia tidak menginginkan perang maka datangkanlah dia padaku!" 

 

Tatkala Hunathah datang ke Mekkah dia bertanya tentang pemimpin Quraisy dan junjungan 

mereka. Maka dikatakan padanya: Dia yaitu  Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf 

bin Qushay. Maka Hunathah pun menemuinya dan dia memberitahukan apa yang 

diperintahkan oleh Abrahah. 

 

Abdul Mutthalib berkata: "Demi Allah kami tidak menginginkan perang, kami tidak memiliki 

kekuatan untuk melakukan itu semua. Ini yaitu  Baitullah al-Haram dan rumah Kekasih-Nya 

(Khalilullah) Ibrahim 'Alaihisalam—atau sebagaimana yang dia katakan. Jika dia 

melindunginya maka itulah rumah Dia dan haram-Nya, dan jika dia membiarkannya maka 

demi Allah kami tidak memiliki kekuatan untuk membelanya!" 

 

Hunathah berkata: "Berangkatlah bersamaku untuk menemuinya, karena sebenarnya  dia 

telah memerintahkan aku untuk membawamu padanya." 

 

Maka berangkatlah Abdul Mutthalib bersamanya yang disertai oleh sebagian anaknya hingga 

datang ke markaz pasukan Abrahah. lalu  dia menanyakan tentang Dzu Nafar yang tak 

lain yaitu  sahabat dekatnya, hingga lalu  dia datang menemuinya dan mendapat nya 

dalam keadaan ditahan. Maka berkatalah Abdul Mutthalib padanya: "Apakah kau memiliki 

peluang untuk membantu dalam perkara yang menimpa kami ini?" 

 

Dzu Nafar menjawab: "Apa yang bisa dilakukan oleh seorang tawanan di tangan seorang raja 

yang setiap pagi dan petang. Tak ada bantuan yang bisa saya berikan kepadamu dalam perkara 

yang menimpa saat ini. Hanya saja Unais pengendali unta yaitu  teman dekat saya. Aku akan 

kirim surat kepadanya dan aku ceritakan tentang dirimu seraya aku besarkan hakmu. Aku akan 

memintanya agar dia meminta izin untukmu untuk bisa bertemu dengan sang raja, lalu kau 

ungkapkan apa yang engkau inginkan. Jika dia bisa dia akan memberikan pembelaan untukmu 

di si- sinya, jika dia mampu melakukannya." 

 

Abdul Mutthalib berkata: "Itu sudah sangat cukup bagiku! Maka Dzu Nafar me- nemui Unais 

dan berkata padanya: sebenarnya  Abdul Mutthalib yaitu  pimpinan kaum Quraisy dan 

pemilik kafilah Mekkah. Dia memberi makanan pada manusia di dataran rendah dan memberi 

makanan pada binatang-binatang buas puncak gunung. Sementara sang raja telah merampas 

dua ratus ekor unta darinya. Oleh sebab itulah mintakan izin untuknya agar dia bisa bertemu 

dengan raja Abrahah serta lakukan pembelaan atas dirinya sesuai kapasitasnya!" Unais berkata: 

"Akan saya lakukan!" 

 

Maka Unais pun melobi Abrahah dan dia berkata kepadanya: "Wahai raja, ini yaitu  pemimpin 

Quraisy berada di depan pintumu minta izin untuk menemuimu, dia yaitu  pemimpin kafilah 

Mekkah. Dia memberi makanan pada manusia di dataran rendah dan memberi makanan pada 

binatang-binatang buas puncak gunung. Maka berilah izin padanya untuk masuk menemuimu 

lalu mengatakan apa yang dia mau. Dan berbuat baiklah padanya! "Abrahah mengizinkan dia 

masuk. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abdul Mutthalib yaitu  seorang lelaki yang paling tampan dan mulia. 

Tatkala Abrahah melihatnya, dia menghormati mengagungkannya dan memuliakannya. 

Abrahah menyuruhnya di duduk di bawah karena dia tidak suka orang-orang Habasyah melihat 

duduk bersamanya di atas singgasananya. Oleh sebab itulah dia turun dari singgasananya, 

lalu  dia duduk di atas permadaninya lalu dia dudukkan Abdui Mutthalib di sisinya. 

Abrahah berkata kepada penerjemahnya: "Katakan padanya: Apa keperluanmu?" Maka 

penerjemah itu mengatakan apa yang diperintahkan Abrahah. Abdul Mutthalib menjawab: 

"Keperluan saya yaitu  hanya hendaknya sang raja mengembalikan dua ratus ekor unta yang 

dia rampas dari ku." 

 

Saat Abrahah diberi tahu apa yang di- inginkan oleh Abdul Mutthalib dia berkata: "Saat aku 

melihatmu aku demikian kagum padamu. Namun semua itu memudar tatkala engkau 

mengatakan apa keperluanmu padaku. Apakah engkau lebih mementingkan berbicara padaku 

tentang dua ratus ekor unta yang aku rampas sementara engkau membiarkan Rumah (Baitul 

Haram) itu yang merupakan symbol agamamu? Dan simbol agama nenek moyangmu di mana 

aku kini datang untuk menghancurkannya?" 

 

Abdul Mutthalib menjawab: "sebenarnya  aku hanyalah penguasa unta-unta itu sedangkan 

Rumah ini ada Tuhannya yang akan memberikan perlindungan!" 

 

Abrahah berkata: "Tidak mungkin Dia memberikan perlindungan dari serangan- ku!" 

Abdul Mutthalib berkata: "Terserah engkau!" 

 

Sebagian ilmuwan berpendapat bahwa tatkala Abdul Mutthalib datang menemui Abrahah 

tatkala ada utusan Abrahah yang bernama Hunathah, ikut bersamanya Ya'mur bin Nufatsat bin 

Ady bin Ad-Da'l bin Bakar bin Manat bin Kinanah. Saat itu dia yaitu  sebagai pemimpin Bani 

Bakar. Ikut pula bersama dia Khuwailid bin Watsilah al-Hudzali, saat itu dia yaitu  peminpin 

Bani Hudzail. Mereka menawarkan sepertiga dari kekayaan Tihamah kepada Abrahah dengan 

syarat dia balik kembali dan tidak menghancurkan Baitullah. Namun dia menolak tawaran 

mereka—Allah Mahatahu apa yang sebenarnya terjadi. lalu  Abrahah mengembalikan 

dua ratus unta yang dirampasnya kepada Ab-dul Mutthalib. 

 

Tatkala mereka meninggalkan Abrahah, Abdul Mutthalib kembali pada orang Quraisy dan 

diapun memberitahukan apa yang terjadi. Dia memerintahkan pada seluruh orang Quraisy 

untuk keluar dari Mekkah dan segera berlindung dan bersembunyi ke puncak gunung karena 

khawatir mendapat gangguan dari pasukan Abrahah. sesudah  itu, Abdul Mutthalib memegang 

rantai pintu Ka'bah lalu bersama beberapa orang Quraisy berdoa kepada Allah supaya 

menghancurkan Abrahah dan pasukannya. Sambil berpegang pada rantai pintu Ka'bah di pintu 

Ka'bah dia berkata: 

 

Ya Allah sebenarnya  seorang manusia telah menjaga tempat tinggalnya 

Maka jagalah rumah-Mu 

Tak kan pernah menang salib dan kekuatan mereka 

Jika Kau biarkan mereka dan kiblat kami Maka lakukan (yang terbaik) menurut-Mu 

 

Ibnu Hisyam berkata: Inilah yang benar dari ungkapannya. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Ikrimah bin Amir bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdu Daar bin Qushay 

berkata: 

 

Ya Allah, hinakanlah al-Aswad bin Maqshud Yang merampas ratusan unta dalam keadaan 

terikat 

Dia menahannya antara Hira' dan Tsabir dan padang pasir 

Padahal unta-unta itu sedang banyak air susu- nya 

lalu  dia kumpulkan untuk orang-orang hitam yang barbar 

Enyahkan dia wahai Tuhanku karena sesung-guhnya Engkau Mahaterpuji 

 

Ibnu Hisyam berkata: Inilah yan benar dari perkataannya. 

 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  Abdul Mutthalib melepas rantai Ka'bah, lalu berangkat bersama 

dengan orang-orang Quraisy menuju puncak gunung. lalu  mereka bersembunyi di sana 

sambil menunggu apa yang akan dilakukan oleh Abrahah saat dia gajahnya serta memobilisir 

pasukannya. Nama gajah tunggangannya yaitu  Mahmud. Abrahah sudah bertekad bulat untuk 

menghancurkan Baitullah ini baru sesudah  itu kembali ke Yaman. Maka mereka mengarahkan 

gajah gajah itu ke Mekkah datanglah Nufail bin Habib Al-Khats'ami berdiri di samping gajah 

lalu  dia memegang kupingnya seraya berkata: Menderumlah wahai Mahmud atau 

pulanglah dengan damai ke tempat dari mana engkau berasal karena sebenarnya  engkau 

sekarang berada di negeri Haram. "lalu  dia melepas kuping gajah ini. Lalu ke- luar dan 

segera bergerak ke gunung. Pasukan Abrahah pun memukul gajah itu agar berdiri namun gajah 

itu enggan berdiri. Mereka pun memukul kepalanya dengan menggunakan batangan besi. 

Mereka memasukkan mahjan (semacam tongkat yang ujungnya bengkok agar dia berdiri lalu 

ditusukkan ke bawah perutnya namun tetap saja Mahmud si gajah itu enggan berdiri. Maka 

merekapun mengarahkan gajah itu ke arah Yaman, lalu gajah itu bangun sambil lari, lalu  

mereka menghadapkannya ke arah Syam, dan si Mahmud gajah itu melakukan hal yang sama. 

Lalu di hadapkan ke arah Timur dia pun melakukan hal yang sama. Lalu mereka hadapkan ke 

Mekkah, kembali dia menderum. Maka Allah kirimkan pada mereka burung-burung dari laut 

seperti burung layang-layang (walet) dan burung balsan (burung jalak) setiap burung membawa 

tiga batu kerikil. Satu batu di paruh dan dua batu di kakinya. Batu-batu itu sebesar kacang dan 

adas. Dan setiap seorang yang terkena lemparan batu itu akan tewas sejika . Namun tidak 

semua mereka terkena lemparan batu itu. 

 

Maka mereka pun melarikan diri mundur ke arah jalan dari mana mereka datang. Mereka 

mencari-cari Nufail bin Habib untuk memberikan petunjuk jalan ke Yaman. Tatkala melihat 

kondisi mereka dan siksa apa yang Allah turunkan pada mereka, Nufail berkata: 

 

Dimanakah kini tempat berlindung dari Allah yang kini memburu 

Dan Abrahah al-Asyram si pecundang dan bukan pemenang 

 

Ibnu Hisyam berkata: Perkataannya "bukan pemenang" (ghalib) bukan berasal dari selain Ibnu 

Ishaq. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pada bait yang lain Nufail berkata: 

 

Tidakkah kau ucapkan kata selamat buat kami wahaiRudayna 

Kami telah alirkan nikmatpada kalian di pagi nan ceria 

Telah datang pada kami pencari api kalian semalam 

Namun kami tak rela memberikan api itu pa- danya 

Rudayna andai kau lihat dan kau tidak akan melihat 

Apa yang kami lihat di sisi Muhashshab  

Pastilah kau memberikan maaf padaku dan kau akan puji urusanku 

Dan tidaklah sedih atas yang lepas dari kami Aku puji Allah kala melihat burung-burung  

Kami takut batu-batu itu dilemparkan kepada kami 

Setiap orang mencari Nufail 

Seakan aku punya hutang pada pasukan Habasyah 

 

Maka mereka pun keluar dan bergelimpangan di jalan-jalan, mereka mati di di setiap tempat 

lubang berair. Sementara Abrahan terkena lemparan batu di tubuhnya. Dia ditandu oleh anak 

buahnya pergi bersama- sama mereka, namun setiap kali mereka bergerak jemarinya jatuh satu 

demi satu. Setiap kali jemarinya jatuh selalu dibarengi dengan keluarnya nanah bercampur 

darah. Sampai mereka tiba di Shan'a sedangkan dia sudah menjadi laksana anak burung. Saat 

dia meninggal, menurut sebagian riwayat, badan dan hatinya terpisah. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Ya'qub bin Utbah telah mengatakan kepada saya bahwa dia telah 

mendapat  berita bahwa pada tahun itulah untuk pertamanya campak dan cacar muncul di 

tanah Arab. Sebagaimana juga disebutkan bahwa pada tahun ini pula terlihat pohon- pohon 

yang pahit seperti Harmal, hanzhal (colocynth) dan al'usyr (Asclepias gigantea). 

 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Allah mengutus Muhammad Sallallahu'Alaihi wasallam, dia sering 

kali mengingatkan orang Quraisy tentang nikmat Allah yang diberikan pada mereka, yakni 

dengan memukul mundur orang-orang Habasyah untuk menjaga eksistensi dan keberadaan 

mereka. Allah Subhana wa Ta'ala berfirman: 

 

 

 

 

Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara 

bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) 

itu sia-sia?, Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang 

melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan 

mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (QS. al-Fiil: 1-5) 

 

Pada ayat yang lain Allah berfirman: 

 

 

 

 

Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim 

dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini 

(Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan 

mengamankan mereka dari ketakutan (QS. Quraisy: 1-4). 

 

Ini dimaksudkan agar tidak ada perubahan pada kondisi mereka, karena Allah menginginkan 

kebaikan pada mereka, jika mereka mau. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ababil artinya yaitu  berkelompok-kelompok. Sepanjang yang kami 

ketahui belum ada satu orang Arab pun yang menggunakan dengan kata tunggal (wahid). 

Adapun sijjil maka saya telah diberitahu oleh Yunus al-Nahwi dan Abu Ubaidah bahwa kata 

itu dalam bahasa Arab berarti yang sangat keras. Ru'yat bin Al-'Ajjaj berkata: 

 

Mereka ditimpa sebagaimana apa yang menimpa pasukan bergajah 

Mereka dilempar dengan batu-batu dari sijjil 

Dan mereka dipermainkan burung-burung ababil 

 

Bait-bait syair di atas yaitu  cuplikan dari syairnya dalam bahar rajaz. Sebagian ahli tafsir 

mengatakan bahwa dia yaitu  satu kata dalam bahasa Persia yang lalu  oleh orang Arab 

dijadikan satu kata. Dia berasal dari sanju dan jallu yang dimaksud dengan sanju yaitu  batu 

dan jallu yaitu  tanah. Artinya kerikil dari jenis bahan ini, yakni batu dan tanah. Sedangkan 

makna dari: 'ashf yaitu  daun pohon yang belum layak untuk ditebang. Sedangkan kata 

tunggalnya yaitu  'ashfah. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah an- Nahwi memberitahukan pada saya bahwa telah 

dikatakan padanya: kata tunggalnya yaitu  al-'ushafah atau al-'ashifah. Abu Ubadah juga 

membawakan sebuah syair karya Alqamah bin Abadah salah penyair dari Bani Rabi'ah bin 

Malik bin Zaia bin ivianat bin Tamim: 

 

Airnya mengaliri aliran air yang deras yang 

pepohonannya telah doyong 

Pusaran arusnya diangkat oleh tarikan air 

 

Syair di atas yaitu  penggalan syairnya. Seorang penyair bahar rajaz berkata: 

 

lalu  mereka dijadikan laksana daun- daun yang dimakan ulat 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bait syair ini memiliki tafsirnya dalam ilmu Nahwu (ilmu gramatika 

Arab). 

 

Adapun yang dimaksud dengan kebiasaan orang-orang Quraisy yaitu  kebiasaan mereka yang 

senantiasa berangkat ke Syam untuk berdagang. Dan mereka melakukan dua kali perjalanan 

perjalanan di musim dingin dan perjalanan di musim panas. 

 

Abu Zaid al-Anshari memberitahukan pada saya bahwa orang-orang Arab berkata: "Aliftu 

Syayan ilfa wa alafathu iilafa," dua kata itu memiliki satu makna. lalu  dia mengatakan 

pada bait syair karya Dzu Rummah: 

 

Dari kumpulan pasir ada hangat sinar kemuning waktu dhuha 

Dalam warnanya menjadi jelas dan nyata 

 

Bait ini yaitu  bait miliknya. Sedangkan Mathrud bin Ka'ab al-Khuza'i berkata: 

 

Mereka yang menikmati kala bintang-bintang berubah 

Dan mereka yang siap-siap melakukan perjalanannya 

 

Bait syairnya akan saya sebutkan pada saatnya nanti, Insya Allah. 

 

Iylaf juga dikatakan pada seseorang memiliki seribu unta atau sapi ataupun kambing dan 

lainnya. 

 

Sebagaimana juga disebutkan: "Aalafa fulaanun iilaafaa." Al-Kumait bin Yazid salah seorang 

Bani Asad bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Mu'ad berkata: 

 

Di suatu tahun di mana para pemilik seribu unta berkata 

Ini membuat orang yang merindu susu berjalan kaki 

 

Inilah kasidah yang dia bikin. Iilaf juga bermakna jika sebuah kaum menjadi seribu jumlahnya. 

Aalafa al-qaum iilafa. Alkumait berkata: 

 

Keluarga Bani Muzaiqa' besok akan berjumpa dengan 

Bani Sa'ad bin Dhabbah vane berjumlah seribu 

 

Ini yaitu  syair miliknya. Lilaf juga bermakna hendaknya sesuatu bergabung dengan sesuatu 

yang lain dan dia senantiasa bersamanya. Sebagaimana disebutkan "Alaftuhu Iyyahu Ilaafa." 

lilaf juga bermana sesuatu kepada saya Abdullah bin Abi Bakar dari Umrah binti Abdur 

Rahman bin Sa'ad bin Zurarah dari Aisyah dia berkata: "Saya telah melihat para penunggang 

dan sais gajah di Mekkah di mana dia dalam kedua matanya dalam keadaan buta dan duduk-

duduk sambil mengemis makanan pada manusia." 

 

Ibnu Ishaq berkata: sesudah  Allah mengusir balik orang-orang Habasyah dari Mekkah dan 

mereka tertimpa apa yang telah menimpa mereka dari adzab yang pedih, maka orang- orang 

Arab mengagung-agungkan orang- orang Quraisy. Orang-orang Arab itu berkata: Orang-orang 

Quraisy yaitu  wali-wali Allah. Allah telah berperang demi mereka dan mengusir musuh 

musuh mereka. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Abrahah telah meninggal, anaknya yang bernama Yaksun bin 

Abrahah menduduki tahta kerajaan Habasyah sebagai penggantinya. sesudah  Yaksum bin 

Abrahah meninggal saudaranya yang bernama Masruq menguasai orang-orang Habasyah yang 

ada di Yaman. 

 

 

Kepergian Sayf bin Dzu Yazan dan Pemerintahan Wihraz di Yaman 

 

Tatkala bencana melanda Yaman dalam waktu yang sangat lama, Sayf bin Dzu Yazan al-

Himyari yang bergelar Abu Murrah keluar hingga orang Habasyah dari sana dan mengambil 

alih negeri itu. Dia memintanya untuk mengirimkan pasukan ke sana sesuai yang dia kehendaki 

dan menjanjikannya untuk memberikan Nu’man bin Mundzir yang merupakan gubernur Kisra 

Persia di Hirah dan kawasan-kawasan sekitar Irak. Diapun mengadukan masalah orang-orang 

Habasyah ini. Mendengar pengaduannya Nu'man berkata: "sebenarnya  saya memiliki 

waktu khusus untuk mengunjungi Kisra setiap tahunnya, oleh sebab itu lah hendaknya engkau 

tinggal di sini sampai waktu itu datang." Maka Diapun tinggal be- berapa lama di sana dan 

pada saat waktunya tiba Nu'man mengajaknya menemui Kisra dan diapun memperkenalkannya 

padanya. Kisra duduk dia atas singgasananya dimana di sana ada mahkotanya. Mahkotanya 

laksana neraca yang besar — sebagaimana sangkaan mereka— dimana di dalamnya ada yaqut 

dan mutiara, intan berlian, rubi dan topaz yang dililit di rantai emas di dalam ruangan 

pertemuan istananya. Lehernya tidak mampu menopang mahkotanya makanya dia 

disembunyikan di balik jubah hingga dia duduk di singgasananya, lalu  dia memasukkan 

kepalanya ke mahkotanya. Tatkala dia ingin ia duduk di tempat duduknya maka kain (jubah) 

itu di- singkap. Maka setiap orang yang melihat dia untuk pertamanya kalinya segera 

bersimpuh di depannya karena segan padanya. Tatkala Sayf masuk menemuinya maka dia pun 

duduk bersimpuh. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah telah menuturkan pada saya bahwa Sayf tatkala masuk 

menemui Kaisar dia merundukkan kepalanya. Maka Kaisar berkata: "sebenarnya  orang 

bodoh ini masuk menemui saya dari pintu yang panjang, lalu dia mengangguk-anggukkan 

kepalanya!" Maka hal itu pun diberitahukan kepada Sayf. Maka Sayf pun berkata: 

"sebenarnya  aku melakukan itu karena kesedihanku dan semua hal yang menekanku"! 

 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  dia berkata: "Negeri kami dikalahkan oleh orang:orang asing di 

negeri kami sendiri?" Kisra bertanya: "Siapa yang engkau maksud dengan orang asing itu? 

Orang-orang Habasyah atau Sindi?" 

 

Maka diapun berkata: "Orang asing itu yaitu  orang Habasyah, aku datang ke sini untuk 

meminta bantuanmu dan jika engkau lakukan maka kerajaan menjadi milikmu!" Kisra berkata: 

"Negerimu sangat jauh dari kami sementara sumber kekayaannya sangat minim. Dan aku tidak 

ingin membuat pasukan Persia mengalami kesulitan di negeri Arab, Aku tidak butuh itu!" 

lalu  dia memberinya hadiah sebanyak sepuluh ribu dirham dia juga memberikan pakaian 

yang sangat indah. Tatkala semuanya sudah ada di tangannya maka Sayf pun segera keluar dari 

istana Kaisar. Dan dia pun menaburkan uang hadiah Kisra itu pada banyak orang. Apa yang 

dia lakukan sampai ke telinga Sang Kaisar. Maka dia pun berkata: "sebenarnya  orang ini 

pasti orang yang luar biasa. "lalu  dia mengutus seseorang untuk menemuinya. Orang itu 

berkata: "Apakah engkau sengaja menebarkan hadiah Kisra kepada banyak orang?" Dia pun 

menjawab: "Apa yang bisa aku perbuat dengan ini semua? Bukankah negeri dari mana aku 

datang gunung-gunungnya yaitu  emas dan perak?" Dia katakan itu untuk menarik hatinya. 

Maka Kisra segera mengumpulkan para menterinya. lalu  dia berkata: "Bagaimana 

pendapat mu tentang urusan lelaki ini dan rencana besarnya." Maka berkatalah salah seorang 

di antara mereka: "Wahai Kisra, sebenarnya  di dalam penjaramu ada banyak orang yang 

siap untuk dibunuh, andaikata kau kirim mereka bersamanya, jika mereka meninggal maka 

itulah yang memang engkau inginkan dan jika mereka selamat dan menang maka baginda akan 

mendapat  tambahan kerajaan baru." Maka Kisra segera mengirimkan orang-orang penjara 

yang jumlah sebanyak delapan ratus laki-laki. 

 

lalu  dia mengangkat seorang lelaki di antara mereka yang bernama Wahriz, salah 

seorang yang paling tua di tengah-tengah mereka. Seorang yang berasal dari keturunan yang 

paling baik dan dari rumah yang baik pula. Maka mereka pun berangkat dengan menggunakan 

delapan kapal, dua kapal teng- gelam. Sedangkan yang enam sisanya berhasil sampai di tepi 

pantai Adn. Sayf lalu  menggabungkan orang-orang yang berhasil dia himpun bergabung 

dengan Wahriz. Dia pun berkata: "Kakiku akan bersama kakimu hingga kita mati atau kita 

menang." 

 

Wahris berkata: "Kau telah melakukan suatu yang adil!" lalu  Masruq bin Ab- rahah raja 

Yaman keluar menyongsongnya dan dia pun menghimpun pasukannya. Wahriz lalu  

mengirimkan anaknya untuk memerangi mereka agar ia mendapat pengalaman perang. Anak 

Wahris terbunuh. Peristiwa semakin memuncakkan kemarahannya atas mereka. Tatkala 

manusia telah rapi berbaris dia berkata: "Tunjukkan kepada saya raja mereka!" Maka mereka 

berkata: "Tidakkah engkau lihat seorang lelaki yang duduk di atas gajah sementara mahkotanya 

ada di atas kepalanya. Dan di antara kedua matanya ada yakut berwarna merah?" Dia pun 

menjawab: "Ya!" Mereka berkata: "Dialah raja mereka!" Dia berkata: "Biarkanlah dia!" Maka 

mereka pun berdiri lama. lalu  dia berkata lagi: "Ke mana dia sekarang?" Mereka berkata: 

"Dia berganti kendaraan dengan menunggangi kuda!" Dia berkata lagi: "Biarkanlah!" Maka 

mereka pun lama berdiri menunggu. Dia berkata lagi: "Kini di mana dia?" Kini dia berganti 

kendaraan dengan menunggangi seekor keledai! Maka Wahriz berkata: "Anak keledai! Kau 

akan hina dan kerajaannya akan hina pula, aku akan memanahnya. Jika kalian bala tentaranya 

tidak bergerak maka tinggallah kalian di tempat dan jangan bergerak hingga aku memberi izin 

pada kalian. Sebab itu artinya aku telah salah memanah! Dan jika kalian melihat pasukannya 

melingkarinya dan berkumpul di sekelilingnya maka itu berarti bahwa panah saya telah 

mengenainya. Maka bergeraklah kalian menyerang mereka!" 

 

Lalu dia mencabut anak panahnya—dan menurut cerita bahwa anak panahnya tidak ada yang 

bisa mengangkat karena beratnya kecuali dia. Dia mengarahkan anak panahnya tepat di antara 

kedua alisnya. Lalu dia melepas anak panahnya dan berhasil memecah rubi yang ada di antara 

kedua matanya sedangkan anak panah itu menusuk kepalanya yang menembus hingga 

belakang lehernya. Dan dia terpelanting dari tunggangannya. Maka berkumpullah orang-orang 

Habasyah di sekeliling dia dan saat itulah pasukan Persia itu menyerang mereka. Orang-orang 

Habasyah itu kalah dan mereka melarikan diri dengan terpencar-pencar. Maka Wihraz segera 

bergerak untuk memasuki Shan'a hingga saat dia tiba di pintu gerbangnya dia berkata: "Jangan 

masukkan panjiku dengan cara terjungkir untuk selamnya! Hancurkan gerbang itu!" Dan 

gerbangpun hancur lebur. lalu  dia memasukinya dengan menancapkan panji perangnya. 

Maka Sayf Dzu Yazan al-Himyari berkata: 

 

Manusia menyangka bahwa kedua raja telah damai bersatu 

Dan orang yang mendengar rekonsialisasi mereka dapatkan satu hal yang mengerikan Kami 

telah membunuh raja Masruq Dan kami sirami pasir dengan kucuran darah 

sebenarnya  raja raja yang baru, Wahriz raja manusia telah mengucap sumpah Dia tidak 

akan minum anggur hingga berhasil menawan menangkap tawanan dan barang rampasan 

perang 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bait-bait syair ini yaitu  miliknya. Khallad bin Qurrah as Sadusi 

menyenandungkan bait terakhir syair gubahan A'sya Bani Qais bin Ts'labah. Namun sebagian 

ahli syair mengingkarinya bahwa ini yaitu  karya dia: 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Shalt bin Abi Rabi'ah al-Tsaqafi—Ibnu Hisyam berkata: Dan 

diriwayatkan karya Ibnu Abi Shalt: 

 

Hendaklah dia menuntut dendam laksana Bin Dzu Yazan 

Yang tinggal di laut bertahun-tahun demi balas dendam atas musuh-musuhnya 

Kala waktu perjalanan datang dia menemui Kaisar 

Namun dia tidak dapatkan sebagian apapun yang dia minta 

lalu  dia datang menemui Kisra sesudah  sepuluh tahun 

Yang ternyata menganggap murah nyawa dan hartanya 

Hingga dia berhasil membawa orang-orang Persia bersamanya 

Demi hidupku kau telah melakukan tindakan yang sangat cepat 

Lalu berangkatlah sekelompok orang di antara mereka 

Para prajurit yang belum pernah ada sebelum mereka 

Para pangeran, orang terpandang dan para pemanah 

Para singa yang mengajari anak-anak mereka di hutan 

Mereka melempar anak panah dari busur de- ngan sangat kuat 

Dengan kayu keringyang membuatyang terke- na cepat meninggal 

Kau telah mengirim singa melawan anjing hi- tam 

Membuat mereka lari terpencar di seluruh mu- ka bumi 

Maka minumlah dengan tenang dan pakailah mahkota 

Di puncak Ghumdan yang menjadi rumah tempat tinggalmu yang pilih  

Minumlah dengan tenang karena mereka telah binasa 

Dan kini berjalanlah dengan bangga dengan 

memakai jubahmu yang terjulur 

Itu semua yaitu  perbuatan mulia! Tidak ada 

dua ember susu yang dicampur air 

Lalu lalu  berubah menjadi kencing 

 

Ibnu Hisyam berkata: Inilah riwayat yang benar yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq darinya. 

Kecuali bagian terakhir yang berbunyi: Itu semua yaitu  perbuatan mulia! Tidak ada dua ember 

susu yang di campur air, adapun yang terakhir ini yaitu  karya Na- bighah al-Jadi yang 

bernama asli Hibban bin Abdullah bin Qais salah seorang Bani Jadah bin Ka'ab bin Rabi'ah bin 

Amir bin Sha'sha'ah bin Mu'awiyah bin Bakar bin Hawazin, dalam bait syairnya. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Adi bin Zaid al-Hiry, salah seorang Bani Tamim, Ibnu Hisyam berkata: 

lalu  salah seorang Bani Imruul Qais bin Zaid bin Manat bin Tamim, disebut- kan 

namanya yaitu  Adi bin dari Ibad dari penduduk Hirah: 

 

Apa terjadi sesudah  Shan'a diurus oleh yang berlaku baik 

Yang pemberiannnya demikian berlimpah  

Orang-orang yang membangunnya mengangkatnya ke awan yang bergerak beriringan  

Dan kamar-kamarnya yang yang berwangian kesturi 

Dilindungi bebukitan dari serangan musuh- musuhnya 

Ketinggiannya sulit untuk diukur 

Di dalamnya ada suara burung hantu nan merdu 

Saat menimpali suara peniup seluring  

Takdir telah menggiring pasukan Persia ke tempat itu 

Bersama dengan pangeran-pangerannya  

Mereka berjalan di atas keledai yang membawa kematian 

Sementara anak-anak kuda berlari di belakangnya 

Hingga raja-raja melihat mereka dari puncak benteng 

Di hari saat mereka memanggil orang-orang Barbar(Habasyah) dan Yaksum Dan tidak orang  

yang selamat yang lari darinya 

Cerita hari itu tetap lestari 

Dan kini lenyaplah nikmat dari orang yang selama ini menikmatinya 

Orang-orang Persia menggantikan orangpribu- mi dengan sekelompok manusia  

Dan hari-hari demikian gulita dan penuh misteri 

sesudah  anak-anak terhormat Tubba'  

Pangeran-pangeran Persia kini tinggal di sana 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bait-bait ini yaitu  ada pada syairnya. Sementara itu Abu Zaid al-

Anshari, dan al-Mufudhdhal al-Dhibbi mengungkapkan kata:  

 

Di hari saat mereka memanggil orang-orang Barbar(Habasyah) dan Yaksum 

 

Inilah yang dimaksud oleh Sathih dalam ucapannya: Orang yang melakukannya yaitu  Iram 

bin Dzi Yazan yang keluar menyerang mereka dari Aden dan mereka tidak membiarkan satu 

orang Habasyipun tersisa di Yaman. 

 

Ini pula yang dimaksud oleh Syiq dalam ucapannya: Seorang lelaki yang tidak hina, tidak pula 

menghinakan. Dia keluar pada mereka dari rumah Dzi Bazan. 

 

 

Akhir Pemerintahan Orang Persia di Yaman 

 

Ibnu Ishaq berkata: Maka Wihriz dan orang- orang Persia tinggal di Yaman. Dan di antara sisa-

sisa pasukan Persia kala itu yaitu  anak-anak mereka yang hingga kini ada di Yaman. Masa 

pemerintahan Habasyah di Yaman yaitu  berada di antara masuknya Aryath hingga 

terbunuhnya Masruq bin Abrahah oleh pasukan Persia dan dikeluarkannya mereka dari Yaman. 

Masa itu berlangsung sekitar tujuh puluh dua tahun. Kekuasaan mereka ada bergilir pada empat 

orang: Aryath, lalu  Abrahah, lalu Yaksum bin Abrahah dan yang terakhir yaitu  Masruq 

bin Abrahah. 

 

Ibnu Hisyam berkata: lalu  meninggallah Wahriz. Kisra segera memerintahkan anaknya 

yang bernama Marzuban bin Wihraz untuk memerintah Yaman. sesudah  Marzuban meninggal 

Kisra mengangkat anaknya yang bernama Taynujan bin Marzuban sebagai penggantinya 

sesudah  Taynujan meninggal Kisra menggantinya dengan anaknya, namun sesudah  itu dia 

diturunkan dan mengangkat Badzan. Badzan berkuasa di Yaman hingga Allah mengutus Nabi 

Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Alihi wa Sallam 

 

Zuhri menuturkan kepada saya, dia berkata: Kisra menulis surat kepada Badzan yang isinya 

yaitu  sebagai berikut: sebenarnya  telah sampai berita kepadaku bahwa seorang lelaki dari 

Quraisy telah muncul di Mekkah dan dia mengaku bahwa dirinya yaitu  seorang Nabi. Maka 

berangkatlah engkau ke sana dan suruhlah dia bertaubat, jika dia bertaubat biarkanlah dia hidup 

dan jika tidak maka kirimkan kepalanya kepadaku. 

 

Maka Badzan mengirimkan surat Kisra itu kepada Rasulullah. Dan Rasulullah membalas 

suratnya yang berisi: "sebenarnya  Allah telah menjanjikan kepadaku bahwa Kisra akan 

terbunuh pada hari demikian, bulan demikian." 

 

Tatkala Badzan menerima surat ini, dia terhentak dan sedikit merenung seraya berkata: "Jika 

dia benar seorang Nabi, maka apa yang dia katakan akan menjadi kenyataan!" Maka Allah 

mematikan Kisra pada hari yang telah dikatakan Rasulullah. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Di terbunuh di tangan anaknya sendiri yang bernama Syirawih. 

Mengenai hal ini berkatalah Khalid bin Haq al-Syaibani: 

 

Dan Kisra mana kala pedang-penuh anak-anaknya mencincangnya  

Laksana daging yang dicincang-cincang  

Kematian datang di suatu hari nan pasti  

Sebagaimana seorang hamil yang datang hari melahirkannya 

 

Az-Zuhri berkata: Tatkala berita itu sampai kepada Badzan maka dia mengirimkan utusan 

kepada Rasulullah dan menyatakan keislamannya dan masuk Islamnya orang-orang Persia 

yang bersamanya. Maka ber katalah utusan-utusan dari Persia itu kepada Rasulullah: "Kepada 

siapa kami bergabung wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab: "Kalian yaitu  bagian dari 

kami dan kepada kami ahli Bait." 

 

Ibnu Hisyam berkata: Telah sampai berita dari Az-Zuhri kepada saya bahwa sebenarnya  dia 

berkata: Oleh sebab itulah Rasulullah bersabda: 

 

"Salman bagian dari kami." 

 

Ibnu Hisyam berkata: Inilah yang dimaksudkan oleh Sathih tatkala dia berkata: Seorang Nabi 

Suci yang menerima wahyu dari Dzat Yang Mahatinggi. 

 

Ini pula yang dikatakan oleh Syiq tatkala dia berkata: Tidak, dia akan terputus dengan 

datangnya seorang nabi yang diutus yang datang dengan keadilan dan kebenaran di antara 

orang-orang beragama dan orang-orang yang memiliki keutamaan. Kerajaan akan berada di 

tangan kaumnya hingga hari pembalasan (kiamat). 

 

Ibnu Ishaq berkata: Bahwa di salah satu batu cadas di Yaman —sebagaimana yang 

mereka sangka— ada sebuah buku (inskripsi) Zabur yang di tulis di masa-masa awal yang 

berbunyi: 

 

Kepunyaan siapa kerajaan Dzimar? Kepunyaan orang-orang Himyar yang berbudi luhur. 

Kepunyaan siapa kerajaan Dzimar? Kepunyaan orang-orang Habasyah yang kejam. 

Kepunyaan siapa kerajaan Dzimar? Kepunyaan orang-orang Persia yang dimerdekakan. 

Kepunyaan siapa kerajaan Dzimar? Kepunyaan orang-orang Quraisy, pedagang 

 

Adapun yang dimaksud dengan Dzimar yaitu  Yaman atau Shan'a. Ibnu Hisyam berkata: 

Dzimar dengan harakatfathah (dzamar), sebagaimana yang Yunus sampaikan kepada saya. 

 

Ibnu Ishaq berkata: A'sya bin Qais bin Tsa'labah mengatakan tentang kebenaran apa yang 

dikatakan oleh Sathih dan Syiq sahabat nya: 

 

Tidak ada seorang perempuan yang pernah melihat apa yang mereka lihat  

Sebagaimana kebenaran yang dikatakan Adz- Dzibi dalam sajaknya 

 

Orang-orang Arab memanggil Sathih dengan sebutan Adz-Dzibi karena dia yaitu  anak 

Rabi'ah bin Mas'ud bin Mazin bin Dzi'b. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bait syair ini yaitu  apa yang ada dalam sajaknya. 

 

 

Kisah Kerajaan al-Hadhar 

  

Ibnu Hisyam berkata: Telah menuturkan kepada saya Khallad bin Qurrah bin Khalid As-Sadusi 

dari Jannad, atau dari sebagian ulama Kufah yang ahli tentang silsilah keturunan: 

sebenarnya  telah disebutkan bahwa sebenarnya  An-Nu'man bin Mundzir ter- masuk 

keturunan Sathirun raja al-Hadhar. 

 

Adapun al-Hadhar yaitu  benteng yang sangat besar laksana sebuah kota, dia berada di 

pinggiran sungai Eufrat. Inilah yang disebutkan oleh Ady bin Zaid dalam syairnya: 

 

Orang-orang Hadhar membatigunnya di pinggiran sungai Dajlah dan Khabur  

Dia dilapisi marmer dan dihiasi dengan cat dari gipsum 

Dimana burung-burung nyaman bersarang di atapnya tenang 

Namun kematian tidak takut akan benteng itu 

Kerajaannya lenyap dan gerbangnya ditinggalkan 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ini yaitu  syair miliknya. 

 

Adapun apa yang disebutkan oleh Abu Duad al-Iyadi yaitu  sebagai berikut: 

 

Kulihat maut bergerak pada Al-Hadhar  

Pada Satirun, sangpenguasa 

 

Inilah yaitu  syair miliknya. Disebutkan bahwa syair ini yaitu  milik Khalaf al-Ahmar, 

sedangkan yang lain menyebutkan bahwa ini yaitu  karya Hammad, seorang pembacanya. 

 

Kisra Sabur Dzul Aktaf menyerang Sathi-run raja Al-Hadhar, dia mengepungnya selama dua 

tahun. Suatu hari anak perempuan Sathirun melihat pada benteng, dan matanya melihat pada 

Sabur yang sedang mengenakan pakaian dari bahan sutera. Di atas kepalanya bertengger 

mahkota yang dibuat dari emas dan bertaburkan batu manikam, topas, rubi dan mutiara. Sabur 

yaitu  sosok lelaki yang ganteng. Secara rahasia dia mengirimkan seseorang kepada Sabur 

dengan mengatakan: "Apakah engkau akan menikahiku jika bukakan padamu pintu al-

Hadhar?" Maka dia menjawab: "Ya!" 

 

Tatkala hari menjelang malam Sathirun minum minuman keras hingga mabuk. Dia tidak 

pernah tidur malam kecuali dalam keadaan mabuk. Maka dia mengambil pintu-pintu kunci Al-

Hadhar dari bawah kepalanya. Lalu dia mengirimkan kunci-kunci itu melalui seorang mantan 

budak yang telah dimerdekakan kepada Sabur. Sabur pun membuka pintu dan dia pun masuk 

dan membunuh Sathirun, lalu dia menyerahkan Al-Hadhar pada tentara dengan melakukan 

tindakan yang diluar batas dan memporak porandakannya. Sementara dia membawa anak 

puteri Sathirun yang lalu  menikahinya. Tatkala waktu tidur tiba, namun dia bolak balik 

di atas kasurnya tidak bisa tidur. Maka Sabur pun mengambil lilin penerang dan dia memeriksa 

kasurnya dan ternyata dia dapatkan sebuah batang pohon kecil dengan warna terang. Maka 

Shabur pun bertanya: "Apakah ini yang membuat tidak bisa tidur malam?" Dia berkata: "Ya! 

Sabur bertanya kembali: "Apa yang ayahmu lakukan pada dirimu?" Shabur berkata: "Dia 

mengham- parkan kasur dari brokat, memberi baju dari sutera, memberinya makan dari sumsun 

dan memberikan minuman dari anggur." 

 

Shabur berkata: Jika yang kau balaskan kepada ayahmu yaitu  dengan cara sekarang ini, 

sebentar lagi engkau akan lebih cepat mengkhianatiku! Dia lalu  memerintahkan pada 

para pengawalnya untuk mengikat rambut wanita itu pada ekor kuda. Kuda itu lalu  

berlari kencang sehingga membuat wanita itu meninggal. 

 

Mengenai hal ini A'sya bin Qais berkata: 

 

Tidakkah kau melihat al-Hadhar bergelimangan nikmat 

Namun apakah nikmat-nikmat itu abadi adanya 

Shahbur menempatkan pasukannya dua tahun lamanya 

Dengan menghantamkan kapak-kapaknya  

Tatkala dia berdoa pada Tuhannya  

Dia mengabulkannya tanpa disertai dendam membara 

 

Bait-bait syair di atas yaitu  karya tangannya. 

 

Adi bin Zaid berkata: 

 

Orang-orang Hadhar itu tertimpa musibah besar, dari atasnya yang menimpa pundak-

pundaknya 

Seorang gadis yang tidak melindungi ayahnya 

Pada saat itu dimana dia telah menghilangkan pelindungnya 

Karena dia telah memberi minum ayahnya dengan arak murni 

Namun adakah orang yang minum menjadi linglung 

Dia serahkan keluarganya di malam itu Dengan mengira bahwa raja akan mempersunting 

dirinya 

Sayang masih pengantin tatkala subuh menjelang 

Yang ada yaitu  aliran darah menggenang Al-Hadhar telah dihancurkan dan 

diporakporandakan 

Gantungan-gantungan pakaiannya dibakar musnah 

 

 

Anak Nizar bin Ma'ad 

 

Ibnu Ishaq berkata: Nizar memiliki tiga anak: Mudhar bin Nizaz, Rabi'ah bin Nizaz dan An-

mar bin Nizaz. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Dan Iyad bin Nizar. Harits bin Daus al-Iyadi dan diriwayatkan dari Abu 

Duad bin al-Iyadi, yang namanya yaitu  Jariyah bin Al-Hajjaj. 

 

Dan pemuda-pemuda yang elok rupanya  

Dari Iyad bin Nizar bin Ma'ad 

 

Bait ini yaitu  miliknya. 

 

Adapun ibu Mudhar dan Iyad yaitu  Sau- dah binti Akk bin Adnan. Sedangkan ibu dari Rabi'ah 

dan Anmar yaitu  Syuqaiqah bin Akk bin Adnan. Ada juga yang menyebutkan ibunya bernama 

Jumu'ah bintu Akk bin Adnan. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Adapun Anmar, dia yaitu  Abu Khats'am dan Bajilah. Jarir bin Abdullah 

al-Jabili. Dia berkata: Jarir bin Ab-dullah al-Bajili dia yaitu  pemuka Bajilah. Dia- lah yang 

disebutkan oleh seorang penyair. 

 

Andaikata bukan karena Jari hancurlah Bjilah 

Sungguh dia pemuda yang baik dan sungguh kabilahnya kabilah terjelek 

 

la mengatakan itu tatkala ia mengadukan al-Furabishah al-Kalbi kepada Al-Aqra' bin Habis At-

Tamimi bin 'Iqal bin Mujasyi' bin Darim bin Malik bin Hanzhalah bin Malik bin Ziyad Manat 

 

Wahai Aqra' bin Habis, hai Aqra' 

Jika saudaramu mati maka kau juga akan mati 

 

Ia juga berkata: 

 

Hai kedua anak Nizar bantulah saudara kalian berdua 

Karena kudapatkan ayahku yaitu  ayah kalian juga 

Tak kan kalah orang yang bergabung dengan kalian berdua 

Mereka pergi ke Yaman dan menjadi penduduk Yaman. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Orang-orang Yaman dan Bajilah berkata: Anmar bin Irasy bin Lihyan 

bin Amr bin al-Ghauts bin Nabt bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba'. Juga disebutkan Irasy 

bin Amr bin Lihyan bin al-Ghauts. Ruman Bajilah dan Khats'am berada di Yaman. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Mudhar memiliki dua anak lelaki yang bernama Ilyas bin Mudhar dan 

Aylan bin Mudhar. Ibnu Hisyam berkata: "Ibu keduanya yaitu  berasal dari orang Jurhum." 

 

Ibnu Ishaq berkata: "Ilyas memiliki tiga anak. Mudrikah bin Ilyas, Thabikhah bin Ilyas dan 

Qama'ah bin Ilyas." Ibu mereka yaitu  Khindif seorang wanita asal Yaman. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Nama Mudrikah yaitu  Amir, sedangkan nama Thabikhah yaitu  Amran. 

Mereka mengatakan bahwa keduanya sedang menggembalikan unta mereka berdua, lalu  

mereka berburu binatang buruan. sesudah  mendapat  hasil buruan mereka duduk dan 

memasaknya. Tiba-tiba seekor singa datang menyerang unta mereka. Maka berkatalah Amir 

kepada Amr: "Apakah engkau akan mengejar unta itu atau akan memasak hasil buruanmu?" 

Amr berkata: "Aku akan memasak hasil buruanku." Maka Amir segera mengejar unta itu dan 

diapun berhasil mendapat nya kembali. Tatkala keduanya pulang menemui bapaknya 

mereka bercerita tentang peristiwa itu. Maka berkatalah bapaknya: "Engkau yaitu : 

Mudrikah(yang menemukan untanya kembali)!!" Dan dia berkata kepada Amr: "Engkau 

Thabikhah (tukang masak)." Ibu mereka keluar tatkaka mendengar berita itu. Dia keluar 

dengan sangat cepat. Maka suaminya berkata: "Engkau ini takhandafin (lari berderap), maka 

diapun disebut Khindif (yang lari berderap)." 

 

Adapun Qama'ah maka orang-orang ahli nasab Mudhar bahwa sebenarnya  Khuzaah yaitu  

anak dari Amr bin Luhay bin Qama'ah bin Ilyas. 

 

 

Amr bin Luhay dan Berhala berhala Arab 

 

Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm berkata 

kepadanya dari ayahnya bahwa ia diberitahu bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

bersabda: 

 

"Aku melihat Amr bin Luhay menyeret usus-ususnya di neraka. Aku bertanya kepadanya 

tentang manusia (yang hidup) antara aku dengannya, ia menjawab, 'Mereka telah binasa.'"4 

 

4  Bukhari pada hadits no. 1212 dan Muslim pada hadits no. 2856 tanpa ada perkataan "Aku bertanya kepadanya tentang manusia (yang hidup) 

antara aku dengannya" hanya langsung disebutkan: mereka binasa! 

 

Ibnu Ishaq: Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits At-Taimi berkata kepadaku bahwa Abu 

Shalih As-Samman berkata kepadanya bahwa Abu Hurairah, menurut Ibnu Hisyam bernama 

asli Abu Hurairah ialah Abdullah bin Amir. Ada yang menyebutkan nama Abu Hurairah yaitu  

Abdurrahman bin Shakhr, ia mendengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda 

kepada Aktsam bin Al-Jaun Al-Khuzai: 

 

"Hai Aktsam, aku lihat Amr bin Luhay bin Qama'ah bin Khindif menyeret usus-ususnya, dan 

aku belum pernah melihat orang yang amat mirip dengannya melainkan engkau, dan dia 

sangat mirip denganmu." Aktsam berkata: "Apakah kemiripannya denganku itu 

membahayakanku, wahai Rasulullah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 

 

"Tidak demikian, sebab engkau seorang Mukmin, sedangkan dia seorang kafir. Dialah orang 

yang pertama kali mengubah agama Ismail, memasang berhala, mengiris telinga unta, me- 

lepaskan saibah, menyambung washilah, dan melindungi (haami)."5 

 

5 Sanadnya hasan. Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir dari Ibnu Ishaq dalam al-Bidayah wa al-Nihayah jilid II halaman 189. 

 

Ibnu Hisyam berkata bahwa salah seorang yang memiliki ilmu sangat mumpuni berkata 

kepadaku bahwa Amr bin Luhay pergi dari Mekkah menuju Syam untuk satu kepentingan 

tertentu. Tatkala dia tiba di Ma'arib, daerah di Balqa', saat itu, Ma'arib didiami Al-Amaliq anak 

keturunan Imlaq, ada yang menyebutkan Amliq bin Lawudz bin Sam bin Nuh. Dia melihat 

mereka menyembah berhala. Lalu ia berkata pada mereka: "Berhala-berhala model apakah 

yang kalian puja-puja itu?" Mereka berkata kepada Amr bin Luhay: "Kami memuja-muja 

berhala-berhala guna meminta hujan, lalu ia menurunkan hujan kepada kami hujan. Kami 

memohon kepadanya lalu ia mengabulkan permohonan kami." Amr bin Luhay berkata kepada: 

"Apakah kalian mau memberiku satu berhala saja yang bisa aku bawa ke Jazirah Arab lalu 

mereka menyembahnya?" 

 

Merekapun memberi Amr bin Luhay satu berhala bernama Hubal. Amr bin Luhay tiba di 

Mekkah dengan membawa berhala Hubal. Ia memancangkannya, lalu memerintahkan 

penduduk kota Mekkah untuk menyembah dan mengagungkannya. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Ada yang menyebutkan bahwa penyebab keturunan Ismail menyembah 

berhala ialah karena jika mereka mengalami kesulitan di Mekkah, dan ingin pergi mencari rezki 

di