i raja Najasyi dengan membawa surat Kaisar, dan Najasyipun segera
mengirim pasukannya yang berjumlah tujuh puluh ribu di bawah komando seorang yang
bernama Aryath. Di antara pasukannya ada seorang yang bernama Abrahah al-Asyram. Aryath
bersama pasukannya segera mengarungi lautan hingga dia mendarat di pantai Yaman. Daus
Dzu Tsa'laban juga ikut bersama mereka. Dzu Nuwas bersama dengan orang-orang Himyar
dan orang-orang yang taat dan berada di bahwa kendalinya segera menyambutnya. sesudah
peperangan berlangsung Dzu Nuwas dan pasukannya terpaksa harus mengaku kalah. Tatkala
Dzu Nuwas menyadari apa yang terjadi pada diri dan kaumnya, dia segera mengarahkan
kudanya ke laut lalu dia memacunya dan memasuki lautan itu dan dia memasuki lautan dari
yang dangkal terus pada yang lebih dalam hingga akhirnya dia tenggelam di kedalaman laut
itu. Inilah akhir dari pemerintahannya. Aryathpun memasuki Yaman dan dia menguasainya.
Maka berkatalah seorang penduduk Yaman saat dia mengatakan apa yang dilakukan Daud
untuk minta bantuan pada orang-orang Habasyah.
Tidaklah seperti Daus tidak pula seperti apa yang dia bawa di perjalanannya
Peribahasa ini berlaku hingga kini di Ya- man. Dzu Jadan al-Himyari berkata:
Tenanglah, air mata tidak bisa mengembalikan apa yang telah berlalu
Janganlah engkau hancur karena reruntuhan masa lalu
Apakah sesudah Baynun tidak akan ada lagi mata air dan jejak
Dan sesudah Silhin, manusia akan membangun rumah-rumah lagi?
Baynun dan Silhan dan Ghumdan yaitu benteng-benteng di Yaman yang dihancurkan oleh
Aryath dan tidak ada benteng yang sama dengan benteng-benteng itu di tengah manusia.
Dzu Jadan juga berkata:
Biarkalah aku membuatmu tidak punya bapak dan kau tidak akan sanggup
Caci makimu telah mengeringkan air liurku
Aku mendengarkan musik para penyanyi di masa lalu yang demikian merdu
Dan kami disuguhi arak yang murni dan terbaik
Memimun arak tanpa rasa risih
Karena sahabatku tidak pernah mencelaku perbuatan ku
Karena kematian tidak ada yang yang mampu menghadang
Walaupun meminum obat wangi dari para dukun obat
Tidak pula para rahib di puncak biaranya Atau burung heriang yang sedang sedang berputar
di sekitar sarangnya Kau telah dengar tentang menara Ghumdan Yang ada di puncak gunung
menjulang Yang dilukis dengan batu yang indah Bersih, basah dengan tanah Hat yang licin
Lampu-lampu minyak bersinar di dalamnya Kala senja tiba laksana sinar kilat Sedangkan
pohon kurmanya yang di tanam untuknya demikian indahnya Dengan buah yang ranum
hampir doyong dengan tandan kurmanya Kini semua itu telah menjadi abu Dan mengubah
keindahannya menjadi kobaran api
Dzu Nuwas menyerah kalah
Dia peringatkan kaumnya tentang hidup yang sempit
Berdasarkan syair di atas Adz-Dzu'bah Ats-Tsaqafi mengatakan sebuah syair serupa. Menurut
Ibnu Hisyam:Adz-Dzibah bernama Rabiah bin Abdu Yalail bin Salim bin Malik bin Huthaith
bin Jusyam bin Qasiy:
Demi kehidupan ini, tidak ada tempat lari bagi pemuda dan tua bangka dari kematian
Demi kehidupan ini, tak ada tempat yang lapang bagi seorang pemuda
Demi kehidupan ini, tak ada tempat untuk perlindungan
Apakah sesudah kabilah-kabilah Himyar telah dihancurkan
Di sebuah pagi dengan serangan di Dzat al- 'Abar
Dengan sejuta pasukan yang menyerbu
Laksana langit sebelum mencurahkan hujan
Teriakkan mereka membuat tul kudayang terikat di dekat rumah
Angin dan bau badannya mereka melenyapkan
Jumlah mereka laksana pasir yang membuat pepohonan menjadi kering kerontang
Amr bin Ma'di Karib Karib az-Zubaidi mengatakan tentang pertentangan yang terjadi antara
dirinya dengan Qays bin Maksyuh al-Muradi di mana dia mendengar Qays mengancamnya. Ia
mengatakan kepada Qays tentang orang-orang Himyar dan kejayaannya dan kekuasaan yang
senantiasa berada di tangan mereka:
Apakah engkau mengancamku seakan engkau Dzu Ruain
Dengan kehidupan yang lebih baik atau engkau laksana Dzu Nuwas?
Atau siapa pun yang mendapat nikmat yang datang sebelum kamu
Dengan kerajaan yang demikian kokoh di tengah manusia
Yang telah lama umurnya laksana zamannya Ad
Yang demikian perkasa, keras dan perkasa
Maka penduduknya menjadi hancur dan kekuasaanya beralih tangan
Dari manusia ke manusia yang lain
Ibnu Hisyam berkata: Zubaid bin Sala- mah bin Mazin bin Munabbih bin Sha'b bin Sa'd al-
Asyirah bin Madzhij. Disebutkan pula bahwa namanya yaitu Zubaid bin Sha'ab bin Sa'd al-
'Asyirah, ada pula yang menyebutkan namanya yaitu Zubaid bin Sha'ab. Sedangkan Murad
yaitu Yuhabir bin Madzhij.
Ibnu Hisyam berkata: Telah menuturkan kepada saya Abu Ubaidah dia berkata: Umar bin
Khattab menulis surat pada Salman bin Rabi'ah al-Bahili. Sedangkan Bahilah yaitu anak dari
Ya'shur bin Sa'd bin Qays bin Aylan yang sedang berada di Armenia. Dia memerintahkan agar
dia memberi penghargaan lebih pada orang yang memiliki kuda Arab asli dan memberi
penghargaan lebih sedikit pada siapapun yang memiliki kuda blasteran tatkala ada pembagian
rampasan perang. Maka diapun mengeluarkan kudanya, dan tatkala kuda dikeluarkan 'Amr bin
Ma'di bin Karib. Salmanpun berucap: "Kudamu ini yaitu kuda blasteran (buruk)." Maka 'Amr
marah dan dia melompat ke depan Salman dan mengancamnya, dan 'Amr pun mengucapkan
bait syair di atas.
Inilah yang pernah dikatakan oleh Sathih sang juru ramal dalam ucapannya: "Orang- orang
Habasya (Ethiopia) akan menginjakkan kakinya di tanah kalian, mereka akan menguasai antara
Abyan hingga Jurasy." Atau apa yang dikatakan oleh sang juru ramal Syiq: "Orang- orang
hitam akan menginjakkan kaki mereka di tanah kalian, dan mereka akan melepaskan anak-anak
dari perhatian kalian. Mereka akan berkuasa dari Abyan hingga Najran."
Abrahah Menguasai Yaman dan Terbunuhnya Aryath
Ibnu Ishaq berkata: Aryath berdiam di Yaman dalam beberapa tahun sebagai penguasa untuk
kawasan itu. lalu terjadi persaingan dalam penguasaan Habasyah antara dirinya dengan
Abrahan —salah seorang tentaranya— sehingga Habasyah terpecah menjadi dua. Dan setiap
pihak mendapat dukungan dari setiap dari kelompok-kelompok tertentu. lalu kedua
kubu bergerak untuk menyerang kubu lainnya. Tatkala kedua pasukan telah saling mendekat,
Abrahah mengirim surat kepada Aryath: "Sesunggguhnya tidak selayaknya kau mejadikan
orang-orang Habasyah saling bunuh antara mereka sehingga engkau membinasakannya. Maka
majulah kepadaku untuk duel satu lawan satu. Maka siapa yang menjadi pemenangnya dia
kembali pada tentaranya."
Aryath lalu membalas surat itu: "Kau benar!" Maka Abrahah segera keluar untuk
menyongsongnya. Abrahah yaitu seorang laki-laki bertubuh pendek gemuk, seorang
penganut agama Kristen. Aryath pun segera keluar menyongsongnya. Aryath yaitu seorang
lelaki yang tinggi besar dan ganteng dan dia memegang sebilah lembing. Sementara di
belakang Abrahan seorang pelayannya—yang bernama Ataudah untuk melindungi
punggungnya. lalu Aryath mengangkat lembingnya dan dia arahkan ke tengkorak kepala
Abrahah hingga membelah alis matanya, hidungnya, mata dan kedua bibirnya. Oleh sebab
itulah dia disebut Abrahah al-Asyram karena terbelah (si muka belah). sesudah itu Awtada
melepas diri dari punggung Abrahah dan menikam Aryath dan dia pun berhasil membunuhnya.
Maka pasukan Aryath menyambut Abraham sebagai pemimpin mereka. Sementara Abrahah
membayar diyat (denda uang darah) atas kematian Aryath.
Tatkala berita ini sampai pada Najasyi, dia murka semurka-murkanya. lalu dia berkata:
"Dia telah berlaku di luar batas atas gubernurku dan membunuh tanpa ada perintah dariku."
lalu dia bersumpah untuk tidak membiarkan Abrahah hingga dia menginjakkan kaki di
negerinya lalu dia akan memotong ubun-ubunnya.
Maka Abrahah segera mencukur rambut kepalanya lalu dia memenuhi sebuah kantong
dari kulit dengan tanah Yaman, lalu dia kirimkan kepada Najasyi. Dalam isi surat ini dia
menulis: "Wahai padaku raja, sebenarnya Aryath yaitu budakmu dan saya yaitu
budakmu. Kami berbeda pendapat dalam memaknai perintahmu, namun semua ketaatan yaitu
untuk paduka. Hanya saja aku lebih kuat untuk mengendalikan orang-orang Habasyah (di
Yaman) lebih teliti dan lebih terampil. Dan aku telah mencukur semua rambut kepalaku tatkala
sampai berita kepadaku tentang sumpah sang raja dan aku mengirimkan kantong kulit berisi
tanahku, untuk di letakkan di bawah kedua kakimu agar sumpah tidak berlaku padaku."
Tatkala hal itu sampai pada Najasyi maka dia pun rela dan membalas suratnya sebagai berikut:
"Hendaklah engkau tetap diam di negeri Yaman sampai datang perintahku. Maka tinggallah
Abrahah di Yaman."
Peristiwa Gajah dan Pembangunan Gereja
lalu Abrahah membangun gereja yang sangat besar dan tinggi yang tidak ada
tandingannya di zaman itu. lalu dia menulis surat kepada Najasyi: Wahai raja
sebenarnya saya telah membangun sebuah gereja yang demikian besar, yang tidak pernah
dibangun untuk seorang raja pun sebelum engkau. Dan saya tidak akan merasa puas sampai
orang- orang Arab datang untuk melakukan ibadah haji padanya.
Tatkala orang-orang Arab memperbincangkan surat Abrahah kepada Najasyi maka marahlah
seorang lelaki dari Nas'ah, salah seorang Bani Fuqaim bin Adi bin Amir bin Tsa'labah bin al-
Harits bin Malik bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar. Ada pun
yang dimaksud dengan Nas'ah yaitu orang-orang yang menunda bulan-bulan bagi orang-
orang Arab di masa jahiliyah, mereka menghalalkan beberapa bulan haram dan lalu
mereka mengharamkan bulan-bulan halal dengan cara mengakhirkan bulan ini . Dalam hal
ini Allah menurunkan firman-Nya:
sebenarnya mengundur-undurkan bulan haram itu yaitu menambah kekafiran, disesatkan
orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada
suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan
dengan bilangan yang Allah mengharamkannya maka mereka menghalalkan apa yang
diharamkan Allah, (setan) menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk
itu. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir (QS. at-Taubah: 37).
Ibnu Hisyam berkata: Makna "liyuwathiu" dalam ayat di atas yaitu bermakna "liyufiqu."
Adapun makna muwatha'ah yaitu muwafawaqah. Sebagaimana dikatakan oleh orang-orang
Arab:Watha'thuka li hadza li almari. Artinya aku sepakat denganmu dalam perkara ini. Al-
Iytha' dalam syair yaitu "al-muwafawah", yakni adanya kesamaan dua qafiyah (ujung sajak)
dalam satu langgam. Sebagaimana yang dikatakan oleh 'Ajjaj dalam syairnya. Sedangkan nama
Ajjaj yaitu Ab-dullah bin Ru'bah salah seorang Bani Sa'ad bin Zaid bin Manat bin Tamim bin
Murr bin Udd bin Thanijah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar berikut:
Ibnu Ishaq berkata: Orang pertama yang memperlakukan sistem interkalasi (nasah) ini —yang
menghalalkan bulan haram dan mengharamkan bulan halal— pada orang-orang Arab yaitu
seorang yang bernama Al-Qalam- mas yang nama aslinya yaitu Hudzaifah bin Abdu Fuqaim
bin Adi bin Amir bin Tsa'labah bin Harits bin Malik bin Kinanah bin Khuzaimah. lalu
dilanjutkan oleh anaknya yang bernama Abbad bin Hudzaifah, sesudah Abbad dilanjutkan Qala'
bin Abbad, lalu dilanjutkan oleh Umayyah bin Qala', lalu oleh Umayyah bin Auf bin
Umayyah, lalu oleh Auf Abu Tsumamah Junadah bin Auf. Inilah orang terakhir yang
memberlakukan sistem ini, dan di zamannya inilah Islam muncul.
Dulu tatkala orang-orang Arab usai menu- naikan ibadah haji, mereka berkumpul menemui Al-
Qallamas. Maka dia mengumumkan keharaman empat bulan: Rajab, Dzul Qa'dah, Dzulhijjah
dan Muharram. Tatkala dia ingin menghalalkan sesuatu maka dia menghalalkan bulan Haram
lalu dia mengharamkan Shafar sebagai gantinya, lalu mereka pun mengharamkannya. Agar
sesuai dengan hitungan bulan- bulan haram yang empat. Tatkala jama'ah haji itu menginginkan
kembali dari Mekkah, dia lalu berdiri dan berkata: "Ya Allah, aku telah menghalalkan
untuk dua Shafar. Shafar pertama dan aku akhirkan Shafar kedua untuk tahun depan."
Tentang hal ini 'Umair bin Qais Jidzl Ath- Tha'an salah seorang Bani Firas bin Ghunm bin Tsa
labah bin Malik bin Kinanah, bersyair membanggakan nas'ah ini atas orang-orang Arab:
Ma’ad telah tahu bahwa kaumku yaitu kaum terhormat dengan nenek moyang terhormat
Siapakah yang bisa lari dari balas dendam kami?
Siapa yang tidak mampu kami beri hukuman
Kami yaitu An-Nasiin atas Ma'ad
Kami jadilah bulan-bulan halal menjadi haram
Ibnu Hisyam berkata: Bulan haram yang pertama yaitu bulan Muharram.
Ibnu berkata: Maka al-Kinani keluar hingga bertemu dengan katedral dan duduk di sana. Ibnu
Hisyam berkata: Dia buang air di sana. Ibnu Ishaq berkata: lalu dia keluar sampai tiba
di negerinya. Maka Abrahah pun diberi tahu tentang peristiwa ini dan berkata: “siapa yang
lancang melakukan ini?” Maka dikatakan padanya: ini dilakukan oleh seorang lelaki penduduk
Arab dari Ahli Bait tempat di mana orang-orang Arab naik haji di Mekkah tatkala dia
mendengar apa yang engkau katakan: "Palingkan haji orang-orang Arab padanya," dia marah,
lalu duduk di sana dan buang air. Artinya bahwa katedralmu ini tidak layak dijadikan tempat
ibadah haji mereka.
Abrahah murka besar dan dia bersumpah untuk berangkat menuju Baitullah hingga
menghancurkannya. Lalu dia perintahkan pada orang-orang Habasyah berangkat. Mereka
segera bersiaga dan siap-siap. Lalu dia pun berangkat. Dia berangkat dengan menunggang
gajah. Kabar keberangkatan Abrahah sampai ke telinga orang-orang Arab. Mereka pun
mengagungkannya dan merasa sangat ketakutan dan mereka beranggapan bahwa apa yang dia
niatkan yaitu sangat serius tatkala mereka mendengar bahwa dia berencana untuk
menghancurkan Ka bah, Baitullah al-Haram.
Maka salah seorang tokoh dan salah seorang raja di Yaman datang menemuinya. Dia bernama
Dzu Nafar, maka dia pun memanggil kaumnya dan orang-orang yang simpati padanya dari
seluruh Arab untuk memerangi Abrahah dan berjuang untuk melindungi Baitullah al-Haram
dan rencana penghancurannya olehnya dan berusaha untuk mengusirnya. Maka ada orang-
orang yang merespon seruannya dan dia segera menghadapi Abrahah dan memeranginya. Dzu
Nafar dan bala tentaranya kalah dalam peperangan itu. Dzu Nafar ditangkap dan dibawa pada
Abrahah sebagai tawanan perang. Tatkala Abrahah mau membunuhnya, Dzu Nafar berkata ke-
pada Abrahah: Wahai raja, janganlah engkau membunuhku, semoga keberadaanku bersamamu
lebih baik dari pada aku dibunuh! Maka Abrahah membiarkannya hidup. Dia hanya dipenjara
saja dan tetap dibelenggu. Abraham dikenal sebagai seorang yang santun dan sabar.
lalu Abrahah melanjutkan perjalanannya sesuai dengan tujuannya semula.
Tatkala dia sampai di kawasan Khats'am dia dihadang oleh Nufail bin Habib al-Khats'ami
bersama dengan dua kabilah Khats'am Syahran dan Nahis dan orang-orang lainnya yang
mengikutinya. Dia lalu memeranginya namun dikalahkan oleh Abrahah dan dia
dijadikan sebagai tahanan dan dia pun dibawa pada Abrahah. Tatkala Abrahah ingin
membunuhnya, Nufail berkata padanya: "Wahai raja, janganlah engkau membunuhku karena
aku bisa menjadi petunjuk jalan bagimu di negeri Arab. Inilah kedua tanganku sebagai jaminan
bahwa dua kabilah Khats'am Syahran serta Nahis menyatakan tunduk dan patuh." Maka
Abrahahpun membiarkan dia pergi.
Lalu dia keluar memberikan petunjuk. Tatkala melewati Thaif dia segera dihadang oleh Mas'ud
bin Mu'attib bin Malik bin Ka'ab bin Marwi bin Sa'ad bin Auf bin Tsaqif bersama dengan
orang-orang Tsaqif.
Adapun nama Tsaqif yaitu Qasy bin Nabit bin Munabbih bin Manshur bin Yaqdam bin Aqsha
bin Du'mi bin Iyad bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.
Umayyah bin Abi Shalt At-Tsaqafi mengatakan:
Kaumku yaitu Iyad, jika mereka dekat
Atau tinggal di tempat mereka pasti membuat
unta menjadi kurus
Kaum yang menguasai wilayah Irak
Jika mereka berjalan semuanya dengan doku-
men dan pena
Umayyah bin Abi Shalt juga berkata:
Jika kau bertanya padaku siapa aku, Lubayna,
dan tentang garis keturunanku
Aku akan kabarkan padamu dengan sangat
meyakinkan
Kami keturunan An-Nabit Abi Qasiy
Ana Manshur bin Yaqdam nenek moyang
kami
Ibnu Hisyam berkata: Tsaqif yaitu Qasiy bin Munabbih bin Bakar bin Hawazin bin Manshur
bin Ikrimah bin Khashafah bin Qais bin Aylan bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan.
Kedua bait syair pertama dan kedua yaitu karya Umayyah bin Abi Shalt.
Ibnu Ishaq berkata: Mereka berkata kepada Abrahah: Wahai raja: sebenarnya kami yaitu
hambamu, akan mendengar apa yang engkau katakan dan kami akan senantiasa taat. Kami
tidak akan pernah ada sengketa. Dan rumah kami ini bukanlah rumah yang engkau kehendak
—maksudnya Al-Laata— sebenarnya engkau menginginkan rumah yang ada di Mekkah.
Kami akan segera berangkat denganmu dan akan memberi petunjuk untukmu." Maka dia pun
mengampuni mereka.
Al-Laata yaitu rumah ibadah mereka di Thaif yang mereka puja dan agungkan laksana
pengagungan mereka terhadap Ka'bah.
Ibnu Hisyam berkata: Pernah Abu Ubaidah An-Nahwi menyenandungkan syair karya Dhirar
bin Khattab al-Fihri sebagai berikut:
Orang-orang Thaif melarikan diri ke rumah Al- Laata mereka
Sebagai orang yang putus asa dan kalah
Syair di atas yaitu salah satu syair panjang Dhirar bin Khattab al-Fihri.
Ibnu Ishaq berkata: Maka mereka mengutus Abu Righal bersama Abrahah sebagai petunjuk
jalan ke Mekkah, hingga keduanya sampai di Al-Mughammis. Di tempat inilah Abu Righal
meninggal dunia. Orang-orang Arab melempari kuburannya. Kuburan inilah dilempari oleh
orang-orang yang sekarang berada di di Al-Mughammis.
Tatkala Abrahah tiba di Al-Mughammis dia mengutus seorang lelaki asal Habasyah yang
bernama Al-Aswad bin Maqsud dengan pasukan berkudanya hingga dia sampai ke Mekkah.
lalu dia merampas. Harta- orang-orang Tihamah diserahkan kepadanya, baik harta orang
Quraisy atau bukan Quraiys. Termasuk dua ratus ekor unta milik Abdul Mutthalib. Abdul
Mutthalib saat itu yaitu pimpinan dan pembesar Quraiys. Peristiwa ini mendorong orang-
orang Quraisy, Kinanah dan Hudzail dan orang-orang yang berada di sekitar Baitul Haram
bermaksud untuk memeranginya. Namun mereka sadar bahwa mereka tidak akan mampu
untuk mengalahkannya. Maka mereka pun membiarkannya.
Abrahah lalu mengutus Hunathah al-Himyari ke Mekkah dan dia berpesan padanya.
"Tanyakan siapakah pemimpin negeri ini dan orang yang paling dihormati di tengah mereka.
lalu katakan padanya: sebenarnya raja kami mengatakan pada- mu: 'sebenarnya
aku tidak datang untuk memerangimu, aku datang untuk menghancurkan rumah ini (Ka'bah),
jika kalian tidak menghalangi kami dengan perang maka kami tidak perlu menumpahkan darah
kalian! Jika dia tidak menginginkan perang maka datangkanlah dia padaku!"
Tatkala Hunathah datang ke Mekkah dia bertanya tentang pemimpin Quraisy dan junjungan
mereka. Maka dikatakan padanya: Dia yaitu Abdul Mutthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf
bin Qushay. Maka Hunathah pun menemuinya dan dia memberitahukan apa yang
diperintahkan oleh Abrahah.
Abdul Mutthalib berkata: "Demi Allah kami tidak menginginkan perang, kami tidak memiliki
kekuatan untuk melakukan itu semua. Ini yaitu Baitullah al-Haram dan rumah Kekasih-Nya
(Khalilullah) Ibrahim 'Alaihisalam—atau sebagaimana yang dia katakan. Jika dia
melindunginya maka itulah rumah Dia dan haram-Nya, dan jika dia membiarkannya maka
demi Allah kami tidak memiliki kekuatan untuk membelanya!"
Hunathah berkata: "Berangkatlah bersamaku untuk menemuinya, karena sebenarnya dia
telah memerintahkan aku untuk membawamu padanya."
Maka berangkatlah Abdul Mutthalib bersamanya yang disertai oleh sebagian anaknya hingga
datang ke markaz pasukan Abrahah. lalu dia menanyakan tentang Dzu Nafar yang tak
lain yaitu sahabat dekatnya, hingga lalu dia datang menemuinya dan mendapat nya
dalam keadaan ditahan. Maka berkatalah Abdul Mutthalib padanya: "Apakah kau memiliki
peluang untuk membantu dalam perkara yang menimpa kami ini?"
Dzu Nafar menjawab: "Apa yang bisa dilakukan oleh seorang tawanan di tangan seorang raja
yang setiap pagi dan petang. Tak ada bantuan yang bisa saya berikan kepadamu dalam perkara
yang menimpa saat ini. Hanya saja Unais pengendali unta yaitu teman dekat saya. Aku akan
kirim surat kepadanya dan aku ceritakan tentang dirimu seraya aku besarkan hakmu. Aku akan
memintanya agar dia meminta izin untukmu untuk bisa bertemu dengan sang raja, lalu kau
ungkapkan apa yang engkau inginkan. Jika dia bisa dia akan memberikan pembelaan untukmu
di si- sinya, jika dia mampu melakukannya."
Abdul Mutthalib berkata: "Itu sudah sangat cukup bagiku! Maka Dzu Nafar me- nemui Unais
dan berkata padanya: sebenarnya Abdul Mutthalib yaitu pimpinan kaum Quraisy dan
pemilik kafilah Mekkah. Dia memberi makanan pada manusia di dataran rendah dan memberi
makanan pada binatang-binatang buas puncak gunung. Sementara sang raja telah merampas
dua ratus ekor unta darinya. Oleh sebab itulah mintakan izin untuknya agar dia bisa bertemu
dengan raja Abrahah serta lakukan pembelaan atas dirinya sesuai kapasitasnya!" Unais berkata:
"Akan saya lakukan!"
Maka Unais pun melobi Abrahah dan dia berkata kepadanya: "Wahai raja, ini yaitu pemimpin
Quraisy berada di depan pintumu minta izin untuk menemuimu, dia yaitu pemimpin kafilah
Mekkah. Dia memberi makanan pada manusia di dataran rendah dan memberi makanan pada
binatang-binatang buas puncak gunung. Maka berilah izin padanya untuk masuk menemuimu
lalu mengatakan apa yang dia mau. Dan berbuat baiklah padanya! "Abrahah mengizinkan dia
masuk.
Ibnu Ishaq berkata: Abdul Mutthalib yaitu seorang lelaki yang paling tampan dan mulia.
Tatkala Abrahah melihatnya, dia menghormati mengagungkannya dan memuliakannya.
Abrahah menyuruhnya di duduk di bawah karena dia tidak suka orang-orang Habasyah melihat
duduk bersamanya di atas singgasananya. Oleh sebab itulah dia turun dari singgasananya,
lalu dia duduk di atas permadaninya lalu dia dudukkan Abdui Mutthalib di sisinya.
Abrahah berkata kepada penerjemahnya: "Katakan padanya: Apa keperluanmu?" Maka
penerjemah itu mengatakan apa yang diperintahkan Abrahah. Abdul Mutthalib menjawab:
"Keperluan saya yaitu hanya hendaknya sang raja mengembalikan dua ratus ekor unta yang
dia rampas dari ku."
Saat Abrahah diberi tahu apa yang di- inginkan oleh Abdul Mutthalib dia berkata: "Saat aku
melihatmu aku demikian kagum padamu. Namun semua itu memudar tatkala engkau
mengatakan apa keperluanmu padaku. Apakah engkau lebih mementingkan berbicara padaku
tentang dua ratus ekor unta yang aku rampas sementara engkau membiarkan Rumah (Baitul
Haram) itu yang merupakan symbol agamamu? Dan simbol agama nenek moyangmu di mana
aku kini datang untuk menghancurkannya?"
Abdul Mutthalib menjawab: "sebenarnya aku hanyalah penguasa unta-unta itu sedangkan
Rumah ini ada Tuhannya yang akan memberikan perlindungan!"
Abrahah berkata: "Tidak mungkin Dia memberikan perlindungan dari serangan- ku!"
Abdul Mutthalib berkata: "Terserah engkau!"
Sebagian ilmuwan berpendapat bahwa tatkala Abdul Mutthalib datang menemui Abrahah
tatkala ada utusan Abrahah yang bernama Hunathah, ikut bersamanya Ya'mur bin Nufatsat bin
Ady bin Ad-Da'l bin Bakar bin Manat bin Kinanah. Saat itu dia yaitu sebagai pemimpin Bani
Bakar. Ikut pula bersama dia Khuwailid bin Watsilah al-Hudzali, saat itu dia yaitu peminpin
Bani Hudzail. Mereka menawarkan sepertiga dari kekayaan Tihamah kepada Abrahah dengan
syarat dia balik kembali dan tidak menghancurkan Baitullah. Namun dia menolak tawaran
mereka—Allah Mahatahu apa yang sebenarnya terjadi. lalu Abrahah mengembalikan
dua ratus unta yang dirampasnya kepada Ab-dul Mutthalib.
Tatkala mereka meninggalkan Abrahah, Abdul Mutthalib kembali pada orang Quraisy dan
diapun memberitahukan apa yang terjadi. Dia memerintahkan pada seluruh orang Quraisy
untuk keluar dari Mekkah dan segera berlindung dan bersembunyi ke puncak gunung karena
khawatir mendapat gangguan dari pasukan Abrahah. sesudah itu, Abdul Mutthalib memegang
rantai pintu Ka'bah lalu bersama beberapa orang Quraisy berdoa kepada Allah supaya
menghancurkan Abrahah dan pasukannya. Sambil berpegang pada rantai pintu Ka'bah di pintu
Ka'bah dia berkata:
Ya Allah sebenarnya seorang manusia telah menjaga tempat tinggalnya
Maka jagalah rumah-Mu
Tak kan pernah menang salib dan kekuatan mereka
Jika Kau biarkan mereka dan kiblat kami Maka lakukan (yang terbaik) menurut-Mu
Ibnu Hisyam berkata: Inilah yang benar dari ungkapannya.
Ibnu Ishaq berkata: Ikrimah bin Amir bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abdu Daar bin Qushay
berkata:
Ya Allah, hinakanlah al-Aswad bin Maqshud Yang merampas ratusan unta dalam keadaan
terikat
Dia menahannya antara Hira' dan Tsabir dan padang pasir
Padahal unta-unta itu sedang banyak air susu- nya
lalu dia kumpulkan untuk orang-orang hitam yang barbar
Enyahkan dia wahai Tuhanku karena sesung-guhnya Engkau Mahaterpuji
Ibnu Hisyam berkata: Inilah yan benar dari perkataannya.
Ibnu Ishaq berkata: lalu Abdul Mutthalib melepas rantai Ka'bah, lalu berangkat bersama
dengan orang-orang Quraisy menuju puncak gunung. lalu mereka bersembunyi di sana
sambil menunggu apa yang akan dilakukan oleh Abrahah saat dia gajahnya serta memobilisir
pasukannya. Nama gajah tunggangannya yaitu Mahmud. Abrahah sudah bertekad bulat untuk
menghancurkan Baitullah ini baru sesudah itu kembali ke Yaman. Maka mereka mengarahkan
gajah gajah itu ke Mekkah datanglah Nufail bin Habib Al-Khats'ami berdiri di samping gajah
lalu dia memegang kupingnya seraya berkata: Menderumlah wahai Mahmud atau
pulanglah dengan damai ke tempat dari mana engkau berasal karena sebenarnya engkau
sekarang berada di negeri Haram. "lalu dia melepas kuping gajah ini. Lalu ke- luar dan
segera bergerak ke gunung. Pasukan Abrahah pun memukul gajah itu agar berdiri namun gajah
itu enggan berdiri. Mereka pun memukul kepalanya dengan menggunakan batangan besi.
Mereka memasukkan mahjan (semacam tongkat yang ujungnya bengkok agar dia berdiri lalu
ditusukkan ke bawah perutnya namun tetap saja Mahmud si gajah itu enggan berdiri. Maka
merekapun mengarahkan gajah itu ke arah Yaman, lalu gajah itu bangun sambil lari, lalu
mereka menghadapkannya ke arah Syam, dan si Mahmud gajah itu melakukan hal yang sama.
Lalu di hadapkan ke arah Timur dia pun melakukan hal yang sama. Lalu mereka hadapkan ke
Mekkah, kembali dia menderum. Maka Allah kirimkan pada mereka burung-burung dari laut
seperti burung layang-layang (walet) dan burung balsan (burung jalak) setiap burung membawa
tiga batu kerikil. Satu batu di paruh dan dua batu di kakinya. Batu-batu itu sebesar kacang dan
adas. Dan setiap seorang yang terkena lemparan batu itu akan tewas sejika . Namun tidak
semua mereka terkena lemparan batu itu.
Maka mereka pun melarikan diri mundur ke arah jalan dari mana mereka datang. Mereka
mencari-cari Nufail bin Habib untuk memberikan petunjuk jalan ke Yaman. Tatkala melihat
kondisi mereka dan siksa apa yang Allah turunkan pada mereka, Nufail berkata:
Dimanakah kini tempat berlindung dari Allah yang kini memburu
Dan Abrahah al-Asyram si pecundang dan bukan pemenang
Ibnu Hisyam berkata: Perkataannya "bukan pemenang" (ghalib) bukan berasal dari selain Ibnu
Ishaq.
Ibnu Ishaq berkata: Pada bait yang lain Nufail berkata:
Tidakkah kau ucapkan kata selamat buat kami wahaiRudayna
Kami telah alirkan nikmatpada kalian di pagi nan ceria
Telah datang pada kami pencari api kalian semalam
Namun kami tak rela memberikan api itu pa- danya
Rudayna andai kau lihat dan kau tidak akan melihat
Apa yang kami lihat di sisi Muhashshab
Pastilah kau memberikan maaf padaku dan kau akan puji urusanku
Dan tidaklah sedih atas yang lepas dari kami Aku puji Allah kala melihat burung-burung
Kami takut batu-batu itu dilemparkan kepada kami
Setiap orang mencari Nufail
Seakan aku punya hutang pada pasukan Habasyah
Maka mereka pun keluar dan bergelimpangan di jalan-jalan, mereka mati di di setiap tempat
lubang berair. Sementara Abrahan terkena lemparan batu di tubuhnya. Dia ditandu oleh anak
buahnya pergi bersama- sama mereka, namun setiap kali mereka bergerak jemarinya jatuh satu
demi satu. Setiap kali jemarinya jatuh selalu dibarengi dengan keluarnya nanah bercampur
darah. Sampai mereka tiba di Shan'a sedangkan dia sudah menjadi laksana anak burung. Saat
dia meninggal, menurut sebagian riwayat, badan dan hatinya terpisah.
Ibnu Ishaq berkata: Ya'qub bin Utbah telah mengatakan kepada saya bahwa dia telah
mendapat berita bahwa pada tahun itulah untuk pertamanya campak dan cacar muncul di
tanah Arab. Sebagaimana juga disebutkan bahwa pada tahun ini pula terlihat pohon- pohon
yang pahit seperti Harmal, hanzhal (colocynth) dan al'usyr (Asclepias gigantea).
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Allah mengutus Muhammad Sallallahu'Alaihi wasallam, dia sering
kali mengingatkan orang Quraisy tentang nikmat Allah yang diberikan pada mereka, yakni
dengan memukul mundur orang-orang Habasyah untuk menjaga eksistensi dan keberadaan
mereka. Allah Subhana wa Ta'ala berfirman:
Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara
bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah)
itu sia-sia?, Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang
melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan
mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). (QS. al-Fiil: 1-5)
Pada ayat yang lain Allah berfirman:
Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim
dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini
(Ka'bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan
mengamankan mereka dari ketakutan (QS. Quraisy: 1-4).
Ini dimaksudkan agar tidak ada perubahan pada kondisi mereka, karena Allah menginginkan
kebaikan pada mereka, jika mereka mau.
Ibnu Hisyam berkata: Ababil artinya yaitu berkelompok-kelompok. Sepanjang yang kami
ketahui belum ada satu orang Arab pun yang menggunakan dengan kata tunggal (wahid).
Adapun sijjil maka saya telah diberitahu oleh Yunus al-Nahwi dan Abu Ubaidah bahwa kata
itu dalam bahasa Arab berarti yang sangat keras. Ru'yat bin Al-'Ajjaj berkata:
Mereka ditimpa sebagaimana apa yang menimpa pasukan bergajah
Mereka dilempar dengan batu-batu dari sijjil
Dan mereka dipermainkan burung-burung ababil
Bait-bait syair di atas yaitu cuplikan dari syairnya dalam bahar rajaz. Sebagian ahli tafsir
mengatakan bahwa dia yaitu satu kata dalam bahasa Persia yang lalu oleh orang Arab
dijadikan satu kata. Dia berasal dari sanju dan jallu yang dimaksud dengan sanju yaitu batu
dan jallu yaitu tanah. Artinya kerikil dari jenis bahan ini, yakni batu dan tanah. Sedangkan
makna dari: 'ashf yaitu daun pohon yang belum layak untuk ditebang. Sedangkan kata
tunggalnya yaitu 'ashfah.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah an- Nahwi memberitahukan pada saya bahwa telah
dikatakan padanya: kata tunggalnya yaitu al-'ushafah atau al-'ashifah. Abu Ubadah juga
membawakan sebuah syair karya Alqamah bin Abadah salah penyair dari Bani Rabi'ah bin
Malik bin Zaia bin ivianat bin Tamim:
Airnya mengaliri aliran air yang deras yang
pepohonannya telah doyong
Pusaran arusnya diangkat oleh tarikan air
Syair di atas yaitu penggalan syairnya. Seorang penyair bahar rajaz berkata:
lalu mereka dijadikan laksana daun- daun yang dimakan ulat
Ibnu Hisyam berkata: Bait syair ini memiliki tafsirnya dalam ilmu Nahwu (ilmu gramatika
Arab).
Adapun yang dimaksud dengan kebiasaan orang-orang Quraisy yaitu kebiasaan mereka yang
senantiasa berangkat ke Syam untuk berdagang. Dan mereka melakukan dua kali perjalanan
perjalanan di musim dingin dan perjalanan di musim panas.
Abu Zaid al-Anshari memberitahukan pada saya bahwa orang-orang Arab berkata: "Aliftu
Syayan ilfa wa alafathu iilafa," dua kata itu memiliki satu makna. lalu dia mengatakan
pada bait syair karya Dzu Rummah:
Dari kumpulan pasir ada hangat sinar kemuning waktu dhuha
Dalam warnanya menjadi jelas dan nyata
Bait ini yaitu bait miliknya. Sedangkan Mathrud bin Ka'ab al-Khuza'i berkata:
Mereka yang menikmati kala bintang-bintang berubah
Dan mereka yang siap-siap melakukan perjalanannya
Bait syairnya akan saya sebutkan pada saatnya nanti, Insya Allah.
Iylaf juga dikatakan pada seseorang memiliki seribu unta atau sapi ataupun kambing dan
lainnya.
Sebagaimana juga disebutkan: "Aalafa fulaanun iilaafaa." Al-Kumait bin Yazid salah seorang
Bani Asad bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Mu'ad berkata:
Di suatu tahun di mana para pemilik seribu unta berkata
Ini membuat orang yang merindu susu berjalan kaki
Inilah kasidah yang dia bikin. Iilaf juga bermakna jika sebuah kaum menjadi seribu jumlahnya.
Aalafa al-qaum iilafa. Alkumait berkata:
Keluarga Bani Muzaiqa' besok akan berjumpa dengan
Bani Sa'ad bin Dhabbah vane berjumlah seribu
Ini yaitu syair miliknya. Lilaf juga bermakna hendaknya sesuatu bergabung dengan sesuatu
yang lain dan dia senantiasa bersamanya. Sebagaimana disebutkan "Alaftuhu Iyyahu Ilaafa."
lilaf juga bermana sesuatu kepada saya Abdullah bin Abi Bakar dari Umrah binti Abdur
Rahman bin Sa'ad bin Zurarah dari Aisyah dia berkata: "Saya telah melihat para penunggang
dan sais gajah di Mekkah di mana dia dalam kedua matanya dalam keadaan buta dan duduk-
duduk sambil mengemis makanan pada manusia."
Ibnu Ishaq berkata: sesudah Allah mengusir balik orang-orang Habasyah dari Mekkah dan
mereka tertimpa apa yang telah menimpa mereka dari adzab yang pedih, maka orang- orang
Arab mengagung-agungkan orang- orang Quraisy. Orang-orang Arab itu berkata: Orang-orang
Quraisy yaitu wali-wali Allah. Allah telah berperang demi mereka dan mengusir musuh
musuh mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Abrahah telah meninggal, anaknya yang bernama Yaksun bin
Abrahah menduduki tahta kerajaan Habasyah sebagai penggantinya. sesudah Yaksum bin
Abrahah meninggal saudaranya yang bernama Masruq menguasai orang-orang Habasyah yang
ada di Yaman.
Kepergian Sayf bin Dzu Yazan dan Pemerintahan Wihraz di Yaman
Tatkala bencana melanda Yaman dalam waktu yang sangat lama, Sayf bin Dzu Yazan al-
Himyari yang bergelar Abu Murrah keluar hingga orang Habasyah dari sana dan mengambil
alih negeri itu. Dia memintanya untuk mengirimkan pasukan ke sana sesuai yang dia kehendaki
dan menjanjikannya untuk memberikan Nu’man bin Mundzir yang merupakan gubernur Kisra
Persia di Hirah dan kawasan-kawasan sekitar Irak. Diapun mengadukan masalah orang-orang
Habasyah ini. Mendengar pengaduannya Nu'man berkata: "sebenarnya saya memiliki
waktu khusus untuk mengunjungi Kisra setiap tahunnya, oleh sebab itu lah hendaknya engkau
tinggal di sini sampai waktu itu datang." Maka Diapun tinggal be- berapa lama di sana dan
pada saat waktunya tiba Nu'man mengajaknya menemui Kisra dan diapun memperkenalkannya
padanya. Kisra duduk dia atas singgasananya dimana di sana ada mahkotanya. Mahkotanya
laksana neraca yang besar — sebagaimana sangkaan mereka— dimana di dalamnya ada yaqut
dan mutiara, intan berlian, rubi dan topaz yang dililit di rantai emas di dalam ruangan
pertemuan istananya. Lehernya tidak mampu menopang mahkotanya makanya dia
disembunyikan di balik jubah hingga dia duduk di singgasananya, lalu dia memasukkan
kepalanya ke mahkotanya. Tatkala dia ingin ia duduk di tempat duduknya maka kain (jubah)
itu di- singkap. Maka setiap orang yang melihat dia untuk pertamanya kalinya segera
bersimpuh di depannya karena segan padanya. Tatkala Sayf masuk menemuinya maka dia pun
duduk bersimpuh.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah telah menuturkan pada saya bahwa Sayf tatkala masuk
menemui Kaisar dia merundukkan kepalanya. Maka Kaisar berkata: "sebenarnya orang
bodoh ini masuk menemui saya dari pintu yang panjang, lalu dia mengangguk-anggukkan
kepalanya!" Maka hal itu pun diberitahukan kepada Sayf. Maka Sayf pun berkata:
"sebenarnya aku melakukan itu karena kesedihanku dan semua hal yang menekanku"!
Ibnu Ishaq berkata: lalu dia berkata: "Negeri kami dikalahkan oleh orang:orang asing di
negeri kami sendiri?" Kisra bertanya: "Siapa yang engkau maksud dengan orang asing itu?
Orang-orang Habasyah atau Sindi?"
Maka diapun berkata: "Orang asing itu yaitu orang Habasyah, aku datang ke sini untuk
meminta bantuanmu dan jika engkau lakukan maka kerajaan menjadi milikmu!" Kisra berkata:
"Negerimu sangat jauh dari kami sementara sumber kekayaannya sangat minim. Dan aku tidak
ingin membuat pasukan Persia mengalami kesulitan di negeri Arab, Aku tidak butuh itu!"
lalu dia memberinya hadiah sebanyak sepuluh ribu dirham dia juga memberikan pakaian
yang sangat indah. Tatkala semuanya sudah ada di tangannya maka Sayf pun segera keluar dari
istana Kaisar. Dan dia pun menaburkan uang hadiah Kisra itu pada banyak orang. Apa yang
dia lakukan sampai ke telinga Sang Kaisar. Maka dia pun berkata: "sebenarnya orang ini
pasti orang yang luar biasa. "lalu dia mengutus seseorang untuk menemuinya. Orang itu
berkata: "Apakah engkau sengaja menebarkan hadiah Kisra kepada banyak orang?" Dia pun
menjawab: "Apa yang bisa aku perbuat dengan ini semua? Bukankah negeri dari mana aku
datang gunung-gunungnya yaitu emas dan perak?" Dia katakan itu untuk menarik hatinya.
Maka Kisra segera mengumpulkan para menterinya. lalu dia berkata: "Bagaimana
pendapat mu tentang urusan lelaki ini dan rencana besarnya." Maka berkatalah salah seorang
di antara mereka: "Wahai Kisra, sebenarnya di dalam penjaramu ada banyak orang yang
siap untuk dibunuh, andaikata kau kirim mereka bersamanya, jika mereka meninggal maka
itulah yang memang engkau inginkan dan jika mereka selamat dan menang maka baginda akan
mendapat tambahan kerajaan baru." Maka Kisra segera mengirimkan orang-orang penjara
yang jumlah sebanyak delapan ratus laki-laki.
lalu dia mengangkat seorang lelaki di antara mereka yang bernama Wahriz, salah
seorang yang paling tua di tengah-tengah mereka. Seorang yang berasal dari keturunan yang
paling baik dan dari rumah yang baik pula. Maka mereka pun berangkat dengan menggunakan
delapan kapal, dua kapal teng- gelam. Sedangkan yang enam sisanya berhasil sampai di tepi
pantai Adn. Sayf lalu menggabungkan orang-orang yang berhasil dia himpun bergabung
dengan Wahriz. Dia pun berkata: "Kakiku akan bersama kakimu hingga kita mati atau kita
menang."
Wahris berkata: "Kau telah melakukan suatu yang adil!" lalu Masruq bin Ab- rahah raja
Yaman keluar menyongsongnya dan dia pun menghimpun pasukannya. Wahriz lalu
mengirimkan anaknya untuk memerangi mereka agar ia mendapat pengalaman perang. Anak
Wahris terbunuh. Peristiwa semakin memuncakkan kemarahannya atas mereka. Tatkala
manusia telah rapi berbaris dia berkata: "Tunjukkan kepada saya raja mereka!" Maka mereka
berkata: "Tidakkah engkau lihat seorang lelaki yang duduk di atas gajah sementara mahkotanya
ada di atas kepalanya. Dan di antara kedua matanya ada yakut berwarna merah?" Dia pun
menjawab: "Ya!" Mereka berkata: "Dialah raja mereka!" Dia berkata: "Biarkanlah dia!" Maka
mereka pun berdiri lama. lalu dia berkata lagi: "Ke mana dia sekarang?" Mereka berkata:
"Dia berganti kendaraan dengan menunggangi kuda!" Dia berkata lagi: "Biarkanlah!" Maka
mereka pun lama berdiri menunggu. Dia berkata lagi: "Kini di mana dia?" Kini dia berganti
kendaraan dengan menunggangi seekor keledai! Maka Wahriz berkata: "Anak keledai! Kau
akan hina dan kerajaannya akan hina pula, aku akan memanahnya. Jika kalian bala tentaranya
tidak bergerak maka tinggallah kalian di tempat dan jangan bergerak hingga aku memberi izin
pada kalian. Sebab itu artinya aku telah salah memanah! Dan jika kalian melihat pasukannya
melingkarinya dan berkumpul di sekelilingnya maka itu berarti bahwa panah saya telah
mengenainya. Maka bergeraklah kalian menyerang mereka!"
Lalu dia mencabut anak panahnya—dan menurut cerita bahwa anak panahnya tidak ada yang
bisa mengangkat karena beratnya kecuali dia. Dia mengarahkan anak panahnya tepat di antara
kedua alisnya. Lalu dia melepas anak panahnya dan berhasil memecah rubi yang ada di antara
kedua matanya sedangkan anak panah itu menusuk kepalanya yang menembus hingga
belakang lehernya. Dan dia terpelanting dari tunggangannya. Maka berkumpullah orang-orang
Habasyah di sekeliling dia dan saat itulah pasukan Persia itu menyerang mereka. Orang-orang
Habasyah itu kalah dan mereka melarikan diri dengan terpencar-pencar. Maka Wihraz segera
bergerak untuk memasuki Shan'a hingga saat dia tiba di pintu gerbangnya dia berkata: "Jangan
masukkan panjiku dengan cara terjungkir untuk selamnya! Hancurkan gerbang itu!" Dan
gerbangpun hancur lebur. lalu dia memasukinya dengan menancapkan panji perangnya.
Maka Sayf Dzu Yazan al-Himyari berkata:
Manusia menyangka bahwa kedua raja telah damai bersatu
Dan orang yang mendengar rekonsialisasi mereka dapatkan satu hal yang mengerikan Kami
telah membunuh raja Masruq Dan kami sirami pasir dengan kucuran darah
sebenarnya raja raja yang baru, Wahriz raja manusia telah mengucap sumpah Dia tidak
akan minum anggur hingga berhasil menawan menangkap tawanan dan barang rampasan
perang
Ibnu Hisyam berkata: Bait-bait syair ini yaitu miliknya. Khallad bin Qurrah as Sadusi
menyenandungkan bait terakhir syair gubahan A'sya Bani Qais bin Ts'labah. Namun sebagian
ahli syair mengingkarinya bahwa ini yaitu karya dia:
Ibnu Ishaq berkata: Abu Shalt bin Abi Rabi'ah al-Tsaqafi—Ibnu Hisyam berkata: Dan
diriwayatkan karya Ibnu Abi Shalt:
Hendaklah dia menuntut dendam laksana Bin Dzu Yazan
Yang tinggal di laut bertahun-tahun demi balas dendam atas musuh-musuhnya
Kala waktu perjalanan datang dia menemui Kaisar
Namun dia tidak dapatkan sebagian apapun yang dia minta
lalu dia datang menemui Kisra sesudah sepuluh tahun
Yang ternyata menganggap murah nyawa dan hartanya
Hingga dia berhasil membawa orang-orang Persia bersamanya
Demi hidupku kau telah melakukan tindakan yang sangat cepat
Lalu berangkatlah sekelompok orang di antara mereka
Para prajurit yang belum pernah ada sebelum mereka
Para pangeran, orang terpandang dan para pemanah
Para singa yang mengajari anak-anak mereka di hutan
Mereka melempar anak panah dari busur de- ngan sangat kuat
Dengan kayu keringyang membuatyang terke- na cepat meninggal
Kau telah mengirim singa melawan anjing hi- tam
Membuat mereka lari terpencar di seluruh mu- ka bumi
Maka minumlah dengan tenang dan pakailah mahkota
Di puncak Ghumdan yang menjadi rumah tempat tinggalmu yang pilih
Minumlah dengan tenang karena mereka telah binasa
Dan kini berjalanlah dengan bangga dengan
memakai jubahmu yang terjulur
Itu semua yaitu perbuatan mulia! Tidak ada
dua ember susu yang dicampur air
Lalu lalu berubah menjadi kencing
Ibnu Hisyam berkata: Inilah riwayat yang benar yang diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq darinya.
Kecuali bagian terakhir yang berbunyi: Itu semua yaitu perbuatan mulia! Tidak ada dua ember
susu yang di campur air, adapun yang terakhir ini yaitu karya Na- bighah al-Jadi yang
bernama asli Hibban bin Abdullah bin Qais salah seorang Bani Jadah bin Ka'ab bin Rabi'ah bin
Amir bin Sha'sha'ah bin Mu'awiyah bin Bakar bin Hawazin, dalam bait syairnya.
Ibnu Ishaq berkata: Adi bin Zaid al-Hiry, salah seorang Bani Tamim, Ibnu Hisyam berkata:
lalu salah seorang Bani Imruul Qais bin Zaid bin Manat bin Tamim, disebut- kan
namanya yaitu Adi bin dari Ibad dari penduduk Hirah:
Apa terjadi sesudah Shan'a diurus oleh yang berlaku baik
Yang pemberiannnya demikian berlimpah
Orang-orang yang membangunnya mengangkatnya ke awan yang bergerak beriringan
Dan kamar-kamarnya yang yang berwangian kesturi
Dilindungi bebukitan dari serangan musuh- musuhnya
Ketinggiannya sulit untuk diukur
Di dalamnya ada suara burung hantu nan merdu
Saat menimpali suara peniup seluring
Takdir telah menggiring pasukan Persia ke tempat itu
Bersama dengan pangeran-pangerannya
Mereka berjalan di atas keledai yang membawa kematian
Sementara anak-anak kuda berlari di belakangnya
Hingga raja-raja melihat mereka dari puncak benteng
Di hari saat mereka memanggil orang-orang Barbar(Habasyah) dan Yaksum Dan tidak orang
yang selamat yang lari darinya
Cerita hari itu tetap lestari
Dan kini lenyaplah nikmat dari orang yang selama ini menikmatinya
Orang-orang Persia menggantikan orangpribu- mi dengan sekelompok manusia
Dan hari-hari demikian gulita dan penuh misteri
sesudah anak-anak terhormat Tubba'
Pangeran-pangeran Persia kini tinggal di sana
Ibnu Hisyam berkata: Bait-bait ini yaitu ada pada syairnya. Sementara itu Abu Zaid al-
Anshari, dan al-Mufudhdhal al-Dhibbi mengungkapkan kata:
Di hari saat mereka memanggil orang-orang Barbar(Habasyah) dan Yaksum
Inilah yang dimaksud oleh Sathih dalam ucapannya: Orang yang melakukannya yaitu Iram
bin Dzi Yazan yang keluar menyerang mereka dari Aden dan mereka tidak membiarkan satu
orang Habasyipun tersisa di Yaman.
Ini pula yang dimaksud oleh Syiq dalam ucapannya: Seorang lelaki yang tidak hina, tidak pula
menghinakan. Dia keluar pada mereka dari rumah Dzi Bazan.
Akhir Pemerintahan Orang Persia di Yaman
Ibnu Ishaq berkata: Maka Wihriz dan orang- orang Persia tinggal di Yaman. Dan di antara sisa-
sisa pasukan Persia kala itu yaitu anak-anak mereka yang hingga kini ada di Yaman. Masa
pemerintahan Habasyah di Yaman yaitu berada di antara masuknya Aryath hingga
terbunuhnya Masruq bin Abrahah oleh pasukan Persia dan dikeluarkannya mereka dari Yaman.
Masa itu berlangsung sekitar tujuh puluh dua tahun. Kekuasaan mereka ada bergilir pada empat
orang: Aryath, lalu Abrahah, lalu Yaksum bin Abrahah dan yang terakhir yaitu Masruq
bin Abrahah.
Ibnu Hisyam berkata: lalu meninggallah Wahriz. Kisra segera memerintahkan anaknya
yang bernama Marzuban bin Wihraz untuk memerintah Yaman. sesudah Marzuban meninggal
Kisra mengangkat anaknya yang bernama Taynujan bin Marzuban sebagai penggantinya
sesudah Taynujan meninggal Kisra menggantinya dengan anaknya, namun sesudah itu dia
diturunkan dan mengangkat Badzan. Badzan berkuasa di Yaman hingga Allah mengutus Nabi
Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Alihi wa Sallam
Zuhri menuturkan kepada saya, dia berkata: Kisra menulis surat kepada Badzan yang isinya
yaitu sebagai berikut: sebenarnya telah sampai berita kepadaku bahwa seorang lelaki dari
Quraisy telah muncul di Mekkah dan dia mengaku bahwa dirinya yaitu seorang Nabi. Maka
berangkatlah engkau ke sana dan suruhlah dia bertaubat, jika dia bertaubat biarkanlah dia hidup
dan jika tidak maka kirimkan kepalanya kepadaku.
Maka Badzan mengirimkan surat Kisra itu kepada Rasulullah. Dan Rasulullah membalas
suratnya yang berisi: "sebenarnya Allah telah menjanjikan kepadaku bahwa Kisra akan
terbunuh pada hari demikian, bulan demikian."
Tatkala Badzan menerima surat ini, dia terhentak dan sedikit merenung seraya berkata: "Jika
dia benar seorang Nabi, maka apa yang dia katakan akan menjadi kenyataan!" Maka Allah
mematikan Kisra pada hari yang telah dikatakan Rasulullah.
Ibnu Hisyam berkata: Di terbunuh di tangan anaknya sendiri yang bernama Syirawih.
Mengenai hal ini berkatalah Khalid bin Haq al-Syaibani:
Dan Kisra mana kala pedang-penuh anak-anaknya mencincangnya
Laksana daging yang dicincang-cincang
Kematian datang di suatu hari nan pasti
Sebagaimana seorang hamil yang datang hari melahirkannya
Az-Zuhri berkata: Tatkala berita itu sampai kepada Badzan maka dia mengirimkan utusan
kepada Rasulullah dan menyatakan keislamannya dan masuk Islamnya orang-orang Persia
yang bersamanya. Maka ber katalah utusan-utusan dari Persia itu kepada Rasulullah: "Kepada
siapa kami bergabung wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab: "Kalian yaitu bagian dari
kami dan kepada kami ahli Bait."
Ibnu Hisyam berkata: Telah sampai berita dari Az-Zuhri kepada saya bahwa sebenarnya dia
berkata: Oleh sebab itulah Rasulullah bersabda:
"Salman bagian dari kami."
Ibnu Hisyam berkata: Inilah yang dimaksudkan oleh Sathih tatkala dia berkata: Seorang Nabi
Suci yang menerima wahyu dari Dzat Yang Mahatinggi.
Ini pula yang dikatakan oleh Syiq tatkala dia berkata: Tidak, dia akan terputus dengan
datangnya seorang nabi yang diutus yang datang dengan keadilan dan kebenaran di antara
orang-orang beragama dan orang-orang yang memiliki keutamaan. Kerajaan akan berada di
tangan kaumnya hingga hari pembalasan (kiamat).
Ibnu Ishaq berkata: Bahwa di salah satu batu cadas di Yaman —sebagaimana yang
mereka sangka— ada sebuah buku (inskripsi) Zabur yang di tulis di masa-masa awal yang
berbunyi:
Kepunyaan siapa kerajaan Dzimar? Kepunyaan orang-orang Himyar yang berbudi luhur.
Kepunyaan siapa kerajaan Dzimar? Kepunyaan orang-orang Habasyah yang kejam.
Kepunyaan siapa kerajaan Dzimar? Kepunyaan orang-orang Persia yang dimerdekakan.
Kepunyaan siapa kerajaan Dzimar? Kepunyaan orang-orang Quraisy, pedagang
Adapun yang dimaksud dengan Dzimar yaitu Yaman atau Shan'a. Ibnu Hisyam berkata:
Dzimar dengan harakatfathah (dzamar), sebagaimana yang Yunus sampaikan kepada saya.
Ibnu Ishaq berkata: A'sya bin Qais bin Tsa'labah mengatakan tentang kebenaran apa yang
dikatakan oleh Sathih dan Syiq sahabat nya:
Tidak ada seorang perempuan yang pernah melihat apa yang mereka lihat
Sebagaimana kebenaran yang dikatakan Adz- Dzibi dalam sajaknya
Orang-orang Arab memanggil Sathih dengan sebutan Adz-Dzibi karena dia yaitu anak
Rabi'ah bin Mas'ud bin Mazin bin Dzi'b.
Ibnu Hisyam berkata: Bait syair ini yaitu apa yang ada dalam sajaknya.
Kisah Kerajaan al-Hadhar
Ibnu Hisyam berkata: Telah menuturkan kepada saya Khallad bin Qurrah bin Khalid As-Sadusi
dari Jannad, atau dari sebagian ulama Kufah yang ahli tentang silsilah keturunan:
sebenarnya telah disebutkan bahwa sebenarnya An-Nu'man bin Mundzir ter- masuk
keturunan Sathirun raja al-Hadhar.
Adapun al-Hadhar yaitu benteng yang sangat besar laksana sebuah kota, dia berada di
pinggiran sungai Eufrat. Inilah yang disebutkan oleh Ady bin Zaid dalam syairnya:
Orang-orang Hadhar membatigunnya di pinggiran sungai Dajlah dan Khabur
Dia dilapisi marmer dan dihiasi dengan cat dari gipsum
Dimana burung-burung nyaman bersarang di atapnya tenang
Namun kematian tidak takut akan benteng itu
Kerajaannya lenyap dan gerbangnya ditinggalkan
Ibnu Hisyam berkata: Ini yaitu syair miliknya.
Adapun apa yang disebutkan oleh Abu Duad al-Iyadi yaitu sebagai berikut:
Kulihat maut bergerak pada Al-Hadhar
Pada Satirun, sangpenguasa
Inilah yaitu syair miliknya. Disebutkan bahwa syair ini yaitu milik Khalaf al-Ahmar,
sedangkan yang lain menyebutkan bahwa ini yaitu karya Hammad, seorang pembacanya.
Kisra Sabur Dzul Aktaf menyerang Sathi-run raja Al-Hadhar, dia mengepungnya selama dua
tahun. Suatu hari anak perempuan Sathirun melihat pada benteng, dan matanya melihat pada
Sabur yang sedang mengenakan pakaian dari bahan sutera. Di atas kepalanya bertengger
mahkota yang dibuat dari emas dan bertaburkan batu manikam, topas, rubi dan mutiara. Sabur
yaitu sosok lelaki yang ganteng. Secara rahasia dia mengirimkan seseorang kepada Sabur
dengan mengatakan: "Apakah engkau akan menikahiku jika bukakan padamu pintu al-
Hadhar?" Maka dia menjawab: "Ya!"
Tatkala hari menjelang malam Sathirun minum minuman keras hingga mabuk. Dia tidak
pernah tidur malam kecuali dalam keadaan mabuk. Maka dia mengambil pintu-pintu kunci Al-
Hadhar dari bawah kepalanya. Lalu dia mengirimkan kunci-kunci itu melalui seorang mantan
budak yang telah dimerdekakan kepada Sabur. Sabur pun membuka pintu dan dia pun masuk
dan membunuh Sathirun, lalu dia menyerahkan Al-Hadhar pada tentara dengan melakukan
tindakan yang diluar batas dan memporak porandakannya. Sementara dia membawa anak
puteri Sathirun yang lalu menikahinya. Tatkala waktu tidur tiba, namun dia bolak balik
di atas kasurnya tidak bisa tidur. Maka Sabur pun mengambil lilin penerang dan dia memeriksa
kasurnya dan ternyata dia dapatkan sebuah batang pohon kecil dengan warna terang. Maka
Shabur pun bertanya: "Apakah ini yang membuat tidak bisa tidur malam?" Dia berkata: "Ya!
Sabur bertanya kembali: "Apa yang ayahmu lakukan pada dirimu?" Shabur berkata: "Dia
mengham- parkan kasur dari brokat, memberi baju dari sutera, memberinya makan dari sumsun
dan memberikan minuman dari anggur."
Shabur berkata: Jika yang kau balaskan kepada ayahmu yaitu dengan cara sekarang ini,
sebentar lagi engkau akan lebih cepat mengkhianatiku! Dia lalu memerintahkan pada
para pengawalnya untuk mengikat rambut wanita itu pada ekor kuda. Kuda itu lalu
berlari kencang sehingga membuat wanita itu meninggal.
Mengenai hal ini A'sya bin Qais berkata:
Tidakkah kau melihat al-Hadhar bergelimangan nikmat
Namun apakah nikmat-nikmat itu abadi adanya
Shahbur menempatkan pasukannya dua tahun lamanya
Dengan menghantamkan kapak-kapaknya
Tatkala dia berdoa pada Tuhannya
Dia mengabulkannya tanpa disertai dendam membara
Bait-bait syair di atas yaitu karya tangannya.
Adi bin Zaid berkata:
Orang-orang Hadhar itu tertimpa musibah besar, dari atasnya yang menimpa pundak-
pundaknya
Seorang gadis yang tidak melindungi ayahnya
Pada saat itu dimana dia telah menghilangkan pelindungnya
Karena dia telah memberi minum ayahnya dengan arak murni
Namun adakah orang yang minum menjadi linglung
Dia serahkan keluarganya di malam itu Dengan mengira bahwa raja akan mempersunting
dirinya
Sayang masih pengantin tatkala subuh menjelang
Yang ada yaitu aliran darah menggenang Al-Hadhar telah dihancurkan dan
diporakporandakan
Gantungan-gantungan pakaiannya dibakar musnah
Anak Nizar bin Ma'ad
Ibnu Ishaq berkata: Nizar memiliki tiga anak: Mudhar bin Nizaz, Rabi'ah bin Nizaz dan An-
mar bin Nizaz.
Ibnu Hisyam berkata: Dan Iyad bin Nizar. Harits bin Daus al-Iyadi dan diriwayatkan dari Abu
Duad bin al-Iyadi, yang namanya yaitu Jariyah bin Al-Hajjaj.
Dan pemuda-pemuda yang elok rupanya
Dari Iyad bin Nizar bin Ma'ad
Bait ini yaitu miliknya.
Adapun ibu Mudhar dan Iyad yaitu Sau- dah binti Akk bin Adnan. Sedangkan ibu dari Rabi'ah
dan Anmar yaitu Syuqaiqah bin Akk bin Adnan. Ada juga yang menyebutkan ibunya bernama
Jumu'ah bintu Akk bin Adnan.
Ibnu Ishaq berkata: Adapun Anmar, dia yaitu Abu Khats'am dan Bajilah. Jarir bin Abdullah
al-Jabili. Dia berkata: Jarir bin Ab-dullah al-Bajili dia yaitu pemuka Bajilah. Dia- lah yang
disebutkan oleh seorang penyair.
Andaikata bukan karena Jari hancurlah Bjilah
Sungguh dia pemuda yang baik dan sungguh kabilahnya kabilah terjelek
la mengatakan itu tatkala ia mengadukan al-Furabishah al-Kalbi kepada Al-Aqra' bin Habis At-
Tamimi bin 'Iqal bin Mujasyi' bin Darim bin Malik bin Hanzhalah bin Malik bin Ziyad Manat
Wahai Aqra' bin Habis, hai Aqra'
Jika saudaramu mati maka kau juga akan mati
Ia juga berkata:
Hai kedua anak Nizar bantulah saudara kalian berdua
Karena kudapatkan ayahku yaitu ayah kalian juga
Tak kan kalah orang yang bergabung dengan kalian berdua
Mereka pergi ke Yaman dan menjadi penduduk Yaman.
Ibnu Hisyam berkata: Orang-orang Yaman dan Bajilah berkata: Anmar bin Irasy bin Lihyan
bin Amr bin al-Ghauts bin Nabt bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba'. Juga disebutkan Irasy
bin Amr bin Lihyan bin al-Ghauts. Ruman Bajilah dan Khats'am berada di Yaman.
Ibnu Ishaq berkata: Mudhar memiliki dua anak lelaki yang bernama Ilyas bin Mudhar dan
Aylan bin Mudhar. Ibnu Hisyam berkata: "Ibu keduanya yaitu berasal dari orang Jurhum."
Ibnu Ishaq berkata: "Ilyas memiliki tiga anak. Mudrikah bin Ilyas, Thabikhah bin Ilyas dan
Qama'ah bin Ilyas." Ibu mereka yaitu Khindif seorang wanita asal Yaman.
Ibnu Ishaq berkata: Nama Mudrikah yaitu Amir, sedangkan nama Thabikhah yaitu Amran.
Mereka mengatakan bahwa keduanya sedang menggembalikan unta mereka berdua, lalu
mereka berburu binatang buruan. sesudah mendapat hasil buruan mereka duduk dan
memasaknya. Tiba-tiba seekor singa datang menyerang unta mereka. Maka berkatalah Amir
kepada Amr: "Apakah engkau akan mengejar unta itu atau akan memasak hasil buruanmu?"
Amr berkata: "Aku akan memasak hasil buruanku." Maka Amir segera mengejar unta itu dan
diapun berhasil mendapat nya kembali. Tatkala keduanya pulang menemui bapaknya
mereka bercerita tentang peristiwa itu. Maka berkatalah bapaknya: "Engkau yaitu :
Mudrikah(yang menemukan untanya kembali)!!" Dan dia berkata kepada Amr: "Engkau
Thabikhah (tukang masak)." Ibu mereka keluar tatkaka mendengar berita itu. Dia keluar
dengan sangat cepat. Maka suaminya berkata: "Engkau ini takhandafin (lari berderap), maka
diapun disebut Khindif (yang lari berderap)."
Adapun Qama'ah maka orang-orang ahli nasab Mudhar bahwa sebenarnya Khuzaah yaitu
anak dari Amr bin Luhay bin Qama'ah bin Ilyas.
Amr bin Luhay dan Berhala berhala Arab
Ibnu Ishaq berkata bahwa Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm berkata
kepadanya dari ayahnya bahwa ia diberitahu bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
bersabda:
"Aku melihat Amr bin Luhay menyeret usus-ususnya di neraka. Aku bertanya kepadanya
tentang manusia (yang hidup) antara aku dengannya, ia menjawab, 'Mereka telah binasa.'"4
4 Bukhari pada hadits no. 1212 dan Muslim pada hadits no. 2856 tanpa ada perkataan "Aku bertanya kepadanya tentang manusia (yang hidup)
antara aku dengannya" hanya langsung disebutkan: mereka binasa!
Ibnu Ishaq: Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits At-Taimi berkata kepadaku bahwa Abu
Shalih As-Samman berkata kepadanya bahwa Abu Hurairah, menurut Ibnu Hisyam bernama
asli Abu Hurairah ialah Abdullah bin Amir. Ada yang menyebutkan nama Abu Hurairah yaitu
Abdurrahman bin Shakhr, ia mendengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda
kepada Aktsam bin Al-Jaun Al-Khuzai:
"Hai Aktsam, aku lihat Amr bin Luhay bin Qama'ah bin Khindif menyeret usus-ususnya, dan
aku belum pernah melihat orang yang amat mirip dengannya melainkan engkau, dan dia
sangat mirip denganmu." Aktsam berkata: "Apakah kemiripannya denganku itu
membahayakanku, wahai Rasulullah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Tidak demikian, sebab engkau seorang Mukmin, sedangkan dia seorang kafir. Dialah orang
yang pertama kali mengubah agama Ismail, memasang berhala, mengiris telinga unta, me-
lepaskan saibah, menyambung washilah, dan melindungi (haami)."5
5 Sanadnya hasan. Sebagaimana dinukil oleh Ibnu Katsir dari Ibnu Ishaq dalam al-Bidayah wa al-Nihayah jilid II halaman 189.
Ibnu Hisyam berkata bahwa salah seorang yang memiliki ilmu sangat mumpuni berkata
kepadaku bahwa Amr bin Luhay pergi dari Mekkah menuju Syam untuk satu kepentingan
tertentu. Tatkala dia tiba di Ma'arib, daerah di Balqa', saat itu, Ma'arib didiami Al-Amaliq anak
keturunan Imlaq, ada yang menyebutkan Amliq bin Lawudz bin Sam bin Nuh. Dia melihat
mereka menyembah berhala. Lalu ia berkata pada mereka: "Berhala-berhala model apakah
yang kalian puja-puja itu?" Mereka berkata kepada Amr bin Luhay: "Kami memuja-muja
berhala-berhala guna meminta hujan, lalu ia menurunkan hujan kepada kami hujan. Kami
memohon kepadanya lalu ia mengabulkan permohonan kami." Amr bin Luhay berkata kepada:
"Apakah kalian mau memberiku satu berhala saja yang bisa aku bawa ke Jazirah Arab lalu
mereka menyembahnya?"
Merekapun memberi Amr bin Luhay satu berhala bernama Hubal. Amr bin Luhay tiba di
Mekkah dengan membawa berhala Hubal. Ia memancangkannya, lalu memerintahkan
penduduk kota Mekkah untuk menyembah dan mengagungkannya.
Ibnu Ishaq berkata: Ada yang menyebutkan bahwa penyebab keturunan Ismail menyembah
berhala ialah karena jika mereka mengalami kesulitan di Mekkah, dan ingin pergi mencari rezki
di











