harusnya membiasakan sesuatu yang baik.
Apakah seseorang meninggal dunia dalam keadaan sebagai seorang
mukmin (atau kafir) akan ditentukan pada saat hembusan nafas terakhirnya dari
kematiannya. Jika seseorang menjadi kafir selama enam puluh tahun, lalu dia
menjadi muslim hanya dalam beberapa saat sebelum ajal menjemputnya, dia akan
228
dibangkitkan di akhirat nanti sebagai seorang mukmin. Kecuali para nabi dan
sejumlah orang yang telah dijanjikan oleh Allah akan masuk surga, tidak seorang
pun dapat ‘dipastikan masuk surga.’ Masalah ini tidak dapat diketahui
sebelumnya, bergantung kepada bagaimana ikhwal seseorang pada saat
mengehmbuskan nafas terakhirnya.
Jika seseorang yang telah meninggal dunia, sementara di dunia ini dia
meninggalkan buah dari amal jariyah, atau artikel -artikel yang bermanfaat, atau anak-
anak salih yang mendoakannya sesudah meninggal, dia akan terus memperoleh pahala
ini . saat seseorang meninggal dunia, artikel catatan amal baik dan buruknya
tidak ditutup. Sa’ad bin Ubadah ra., salah seorang shahabat pernah bertanya kepada
Nabi, “Wahai Rasulullah! Ibu saya sudah meninggal dunia. Bagaimana saya tetap
dapat berbuat baik kepadanya?” Nabi menjawab : “Memberi minum dengan niat
untuk sedekah termasuk amal baik (yang dapat membuat ibumu senang, pent.).”
Pada saat seseorang berdoa hendaknya dia memohonkan rahmat untuk arwah orang-
orang mukmin. Mereka akan menerima rahmat ini . sebab doa akan dapat
mencegah bencana (musibah) yang akan menimpa. Dengan memberi sedekah, hal
ini akan dapat meredam murka Allah swt., melindungi seseorang dari nasib
jelek dan akan menyembuhkan orang sakit yang belum saatnya meninggal. Allah
benci kepada orang-orang yang enggan berdoa.
Setiap muslim seharusnya memahami madzhab yang diikutinya dalam
kaitannya dengan masalah akidah dan ibadah. Madzhab berarti jalan. Sebagian ajaran
Islam disebutkan secara implisit di dalam Al Qur'an dan al hadits. Hal ini dapat
dijelaskan melalui ijtihad yang membutuhkan ilmu yang memadai dan upaya
sungguh-sungguh. Ijtihad hanya dapat dilakukan oleh para ulama yang memiliki ilmu
memadai. Mereka disebut mujtahid. Berkaitan dengan akidah, madzhab yang kita
ikuti disebut Ahlus Sunnah wal Jamaah. Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah yaitu
sebuah madzhab yang dibangun atas keyakinan (kepercayaan) yang dipegang oleh
para shahabat Rasulullah saw. dan jamaah mereka (yaitu orang-orang yang
mengikuti para mereka, -para shahabat ini ). Setiap shahabat yaitu seorang
mujtahid, laksana lingkaran cahaya, pilar Islam. Mereka yaitu imam, pemimpin,
panutan dan rujukan kaum muslimin. Barang siapa yang menyimpang dari jalan yang
229
ditunjukkan oleh mereka akan masuk neraka. Golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah
memiliki dua orang imam madzhab (di bidang teologi, pent.). Pertama, yaitu Abu
Manshur al-Maturidiy rahmatullah ‘alaih. Dia yaitu seorang ulama yang sangat
alim yang mengembangkan madzhab Imam al-A’dzam Abu Hanifah rahmatullah
‘alaih. Para ulama Madzhab Hanafi yaitu para pengembang madzhab Abu Hanifah.
Kedua, yaitu Abul Hasan Al-Asy’ari rahmatullah ‘alaih. Dia yaitu seorang ulama
besar di dalam Madzhab Syafi’i. Dia memiliki ilmu pengetahuan (agama) yang
sangat mendalam. Meskipun di antara dua madzhab ini ada perbedaan,
namun sangat kecil. Dewasa ini, tidak ada ulama yang memiliki kapasitas ilmu yang
mampu melakukan ijtihad (sebagaimana yang dilakukan oleh mereka). Setiap
muslim harus mempelajari salah satu di antara empat madzhab (di bidang hukum
Islam, pent.) dengan membaca artikel -artikel yang memuat ‘ilm al-hal dan karakteristik
madzhab ini . lalu akidah dan amaliah-ubudiahnya mengikuti madzhab
ini . Seseorang dikatakan termasuk muslim Sunni jika dia mengikuti salah satu
di antara empat madzhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali, pent.). Barang siapa
yang tidak mengikuti salah satu di antara empat madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah,
disebut orang yang tidak bermadzhab (man la madzhab lahu, pent.). Seseorang yang
tidak memiliki madzhab termasuk salah satu di antara ke-tujuh puluh dua golongan
sesat atau kafir. Dalam menafsirkan ayat kedua puluh empat surat al-Kahfi, kitab
tafisr berjudul al-Shawi menjelaskan sebagai berikut : “Ittiba’ (mengikuti) kepada
seseorang yang bukan merupakan salah satu pengikut dari empat madzhab Sunni,
sungguhpun pendapat-pendapatnya sesuai dengan para shahabat, atau sesuai dengan
hadits-hadits sahih, atau sesuai dengan ayat-ayat Al Qur'an, dilarang. Barang siapa
tidak termasuk pengikut salah satu di antara empat madzhab Sunni dia termasuk
sesat. Dan akan menyesatkan orang lain. Barang siapa menyimpang dari empat
madzhab Sunni ini dikhawatirkan memicu kekufuran. Seperti diketahui,
orang-orang kafir telah biasa menyebut istilah ayat-ayat Al Qur'an yang bersifat
figuratif (kiasan) dengan sebutan mutasyabihat (samar maknanya).” Seorang muslim
yang menyebut dirinya sebagai pengikut madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah
berkewajiban mendakwahkan ajaran-ajaran madzhab ini . Fatwa-fatwa dan
artikel -artikel nya dapat dijadikan sebagai rujukan. Barang siapa membaca artikel -
230
artikel nya tentu akan berfaedah. sedang artikel -artikel keagamaan yang ditulis oleh
mereka yang tidak bermadzhab akan membahayakan (akidah) kita. Kami
menghimbau kepada saudara-saudara kami sesama muslim agar mempelajari
Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah, serta mengajarkannya kepada putra-putri
mereka. Disamping itu, mereka seyogyanya membaca artikel -artikel karangan para
ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah dan menyebarluaskannya. Dengan demikian kita
akan memperoleh pahala jihad fi sabilillah.
Jihad tidak berarti berperang, atau melakukan kudeta dengan menentang
penguasa, memberontak melawan pemerintah, menghancurkan, memusnahkan atau
mengutuk mereka. sebab cara-cara ini tidak akan mengatasi masalah, justru
akan menimbulkan fitnah. Dengan kata lain, tindakan-tindakan di atas dapat
dikategorikan sebagai gerakan separatisme. Dampak selanjutnya, memicu
ummat Islam ditekan dan dipenjara kebebasannya, sehingga dilarang melakukan
aktifitas dakwah keagamaan. Guru kita Nabi Muhammad saw. mengutuk orang-
orang yang membuat fitnah. Hidup di dalam penjara tentu tidak menjadi cita-cita
seorang muslim. Cita-cita yang didambakan oleh seorang muslim ialah menghiasi
dirinya dengan akhlak al-karimah yang diajarkan oleh Islam, berbuat baik kepada
semua orang, patuh kepada ajaran-ajaran Islam, dan memberi manfaat kepada
seluruh makhluk Allah. Barang siapa berprilaku jahil kepada diri sendiri berarti telah
menjerumuskan dirinya ke dalam marabahaya. Allah swt. berfirman, “Janganlah
kalian menjatuhkan diri kalian ke dalam marabahaya!”
Jihad berarti berjuang mendakwahkan agama Allah swt. kepada hamba-
hamba-Nya. Jihad dapat dilakukan dengan tiga macam cara. Pertama, yaitu
berperang, yaitu melawan dan menghacurkan penguasa zalim yang menindas rakyat,
memperlakukan rakyat seperti budak, melarang rakyat melakukan aktivitas dakwah
Islamiyah, menganiaya dan menekan rakyat. Seseorang yang telah memperoleh
dakwah/seruan Islam, kemungkinan dia menerima atau menolaknya tergantung pada
kehendak mereka. Mungkin mereka akan masuk Islam atau tetap mempertahankan
keyakinannya. Yang penting mereka telah mengetahui ajaran-ajaran Islam. Jihad
bersenjata seperti ini hanya dapat dilakukan oleh pemerintah Islam, (jika memang
ada). Tentara berkewajiban melaksanakan tugas jihad ini. Adapun kewajiban ummat
231
Islam dalam hal ini yaitu membantu melaksanakan tugas jihad ini melalui
perintah dari negara. Jihad yang mereka lakukan akan memperoleh pahala. Negara
juga berkewajiban melakukan jihad dalam rangka mempertahankan keberadaan
Islam dan negara terhadap gangguan-gangguan yang dilakukan oleh orang-orang
kafir yang menyerang untuk menghancurkan negara dan agama Islam. Negara juga
berkewajiban melakukan jihad terhadap kekuatan-kekuatan separatis yang mencoba
menodai dan menghacurkan Islam melalui kekuatan fisik. Ummat Islam akan
memperoleh pahala jihad disebabkan membantu tugas pemerintah ini .
Kedua, dengan cara menyebarluaskan ajaran-ajaran Islam, menanamkan
akhlak al-karimah, dan menegakkan hak-hak azazi dan kebebasan manusia melalui
dakwah, artikel -artikel dan media informasi lainnya.
Ketiga, yaitu mendukung mereka yang melaksanakan ke-dua macam
jihad di atas dengan doa. Jihad bersenjata (jihad pertama) dalam rangka
menyebarluaskan Islam hukumnya fardlu kifayah
∗
. Akan namun , saat musuh telah
menyerang, hukumnya menjadi fardlu ‘ain bagi setiap laki-laki, dan bahkan bagi
wanita serta anak-anak jika jumlah kaum laki-laki tidak memadai. Jika mereka
tidak mampu membendung kekuatan musuh, maka hukumnya menjadi fardlu ‘ain
bagi seluruh ummat Islam membantu mereka. Jihad kedua hukumnya fardlu ‘ain
bagi ummat Islam yang mampu melakukannya, dan jihad ke tiga hukumnya fardlu
‘ain bagi setiap muslim. Jihad kedua sangat diperlukan dalam rangka
menyebarluaskan artikel -artikel Ahlus Sunnah wal Jamaah. Kami telah melakukan
upaya ini secara kontinyu. Seorang muslim semestinya beramal untuk
akhiratnya tanpa mengenal lelah. Musuh-musuh Islam selalu bekerja dan
mempersiapkan diri mereka dalam rangka menghancurkan Islam. Dalam rangka
menghadapi mereka, ummat Islam harus melakukan dua hal : Pertama, mendidik
putra-putri mereka mempelajari dan mengajarkan Al Qur’an. Kedua, berupaya
menyebarluaskan artikel -artikel yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah.
berdasar keterangan yang ada pada paragraf empat belas Bab Waqf dari
∗
Perintah-perintah Islam tertentu disebut fardlu. saat perintah ini diwajibkan
bagi setiap individu muslim disebut fardlu ‘ain. Namun, ada jenis-jenis perintah yang
membebaskan muslim lainnya saat perintah ini dilakukan/dikerjakan oleh satu atau
sekelompok muslim lainnya. Perintah-perintah ini disebut fardlu kifayah.
232
kitab Fatawayi Hindiyyah disebutkan : “Barang siapa yang ingin berbuat kebajikan
dalam bentuk amal salih, hendaknya mereka mendirikan fasilitas (prasarana) umum,
seperti rumah sakit, dari pada memerdekakan buda-budak. Amal salih yang paling
baik yaitu menerbitkan artikel -artikel yang berfaedah (yang memuat ajaran Islam,
akhlak dan ilmu pengetahuan lainnya). Adapun menulis dan menerbitkan artikel -artikel
fiqih lebih baik dari pada melakukan ibadah yang paling wajib.”
Kita kembali kepada pokok pembahasan. Sebagaimana telah dijelaskan
sebelumnya, musuh-musuh Islam selalu berusaha menyerang bangunan Islam secara
licik dan berupaya menyesatkan generasi muda Islam. Seperti dilakukan oleh
Muhammad Quthb dari Mesir. Dia menulis dalam sebuah atikel yang berjudul
“Jalan Kesesatan” berikut ini :
“Keretakan utama dasar Islam dapat kita lihat pada kebijakan Bani
Umayyah di bidang administrasi dan keuangan. ‘Malik Adud’ membangun sistem
kekuasaan yang bersifat turun temurun. Hal ini memicu timbulnya berbagai
penyelewengan dan kezaliman. Para keluarga raja dan gurbenur menjadi semacam
pemimpin-pemimpin feodalistik.
“lalu muncul pemerintahan Bani Abbasiyah. Gedung-gedung
kekhalifahan dan gubenuran menjadi sarang kemaksiatan (mabuk-mabukan dan
perzinaan) dari pada menjadi kantor-kantor pelayanan sipil. Mereka menikmati
musik dengan berfoya-foya diiringi para penari perut. Mereka melanggar hukum dan
memeras pegawai di tingkat bawah untuk kepentingan diri mereka sendiri.”
Kitab Tuhfah menjawab kebohongan ketujuh puluh yang dibuat oleh
orang-orang yang tidak ber-Madzhab, sebagai berikut : “Jika Al Qur’an dan al hadits
menyatakan secara tegas perihal kekhalifahan seseorang, maka kekhalifahan ini
disebut khilafat al-rasyidah. Demikianlah, ke-empat khalifah utama disebut khulafa
al-rasyidin. Jika kekhalifahan seseorang dinyatakan secara implisit (tidak tegas)
melalui nash baik Al Qur’an maupun al hadits, kekhalifahannya disebut khilafat
‘adilah. Jika kekhalifahan seseorang tidak dinyatakan dengan jelas atau diperoleh
tidak dengan perebutan kekuasaan secara militer/fisik, kekhalifahannya disebut
khilafat jairah. Khalifahnya disebut Malik Adud.”
233
Di dalam kitab Izalat al-Hafa yang ditulis oleh Syah Waliyullah Dahlawi
halaman lima ratus dua puluh delapan, diriwayatkan sebuah hadits yang menyatakan,
“Kami memulai pekerjaan ini dengan berkah kenabian dan rahmat Allah. Sesudah
itu, kami akan memulai pekerjaan dengan berkah kekhalifahan dan rahmat Allah.
lalu akan datang masa Malik Adud. lalu akan muncul kesengsaraan,
kekejaman dan kezaliman di kalangan ummat-ku. Berpakaian sutra, mabuk-mabukan
dan berzina dipandang halal. Hal ini terus dilakukan oleh banyak orang
hingga akhir zaman.” Dengan tegas hadits ini menerangkan, bahwa Mu'awiyah
akan merebut kekuasaan dengan kekuatan, dan sesungguhnya kekejaman dan
kezaliman akan muncul sesudah dia meninggal dunia, bukan saat dia berkuasa.
Melalui tulisannya ini , Syah Waliyullah menegaskan, bahwa kejahatan dan
kezaliman akan muncul seiring berdirinya pemerintahan Abbasiyah. Tulisan Syah
Waliyullah ini membantah fitnah yang disebarkan oleh Muhammad Quthb
seperti dijelaskan di atas.
Banyak hadits yang menyatakan, kelak di lalu hari Mu'awiyah
akan menjadi seorang penguasa. Dan ternyata sejarah mencatat, Mu'awiyah menjadi
khalifah ‘adilah sesudah Hasan ra. menyerahkan kekhalifahan kepadanya dan para
shahabat Nabi saat itu memilihnya. Menuduh shahabat agung ini sebagai
seorang malik adud dan memakai kata ini dengan konotasi makna negatif,
seperti makna penindas, kafir merupaka fitnah yang sangat keji. Barang siapa yang
memakai kata ini dengan makna ‘raja’ (king, pent.) jelas sekali bahwa dia
tidak memahami Islam.
Para penguasa disebut ‘raja.’ Di antaranya Raja Perancis, Raja Inggris,
Raja Bulgaria. Barang siapa menyebut seorang raja (malik, pent.) muslim dengan
sebutan ‘raja’ berarti dia telah mengecilkan sosok manusia yang mulia, dihormati,
dan dicintai yang disebut khalifah oleh ummat Islam, dan juga berarti memandang
penguasa ini dan rakyatnya termasuk kafir. Guru kita, Rasulullah saw.
menyebut Mu'awiyah dengan sebutan ‘malik’. Jutaan kaum muslimin menyebut dia
malik dan khalifah. Tidak seorang pun berpendapat bahwa kekejaman ini
ditimbulkan oleh Mu’awiyah, -shahabat Nabi yang mulia, mujahid Islam yang sangat
masyhur, salah seorang manusia beruntung yang dipuji dan didoakan oleh Nabi saw.
234
dan yang [sebagaimana dinyatakan di dalam Al Qur'an] telah diberi kabar gembira
akan masuk surga. Jika seseorang memperbandingkan para mujahid Islam, singa-
singa Allah [yang pada suatu masa mereka dipuji di dalam hadits-hadits Nabi]
dengan para penguasa Eropa yang biadab dan kafir tidak ubahnya seperti
menusukkan pisau belati ke jantung Islam. Perhatiakn hadits-hadits Nabi yang sangat
masyhur berikut ini : “Di akhirat, para malaikat adzab akan menyiksa para ulama
yang tidak mengamalkan ilmunya sebelum menyiksa orang-orang kafir,” dan “Di
akhirat, siksa yang paling pedih akan ditimpakan kepada seorang ulama yang tidak
mengamalkan ilmunya.” Hadits-hadits ini menjadi peringatan (tandzir, pent.)
kepada generasi muda. Hadits-hadits ini juga menegaskan, bahwa mereka yang
dipandang sebagai sarjana-sarjana agama (ulama, pent.) oleh majalah-majalah agama
sesat pada hakikatnya yaitu maling-maling iman dan para pendosa celaka yang
akan disiksa dengan adzab sangat pedih di neraka.
Tulisan di atas mengingatkan (kita) akan seseorang bernama Lawrence
yang menjadi spionase terkenal selama Perang Dunia Pertama. Dia yaitu seorang
spionase Inggris yang fasih berbahasa Arab. Dia yaitu sosok laki-laki berjenggot,
selalu mengenakan surban dan jubah panjang (yang biasa dipakai oleh para ulama).
Dia berpura-pura menjadi seorang ulama Islam. Dia menyerang para ulama
terkemuka dari Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dia mencela para shahabat Nabi, para
khalifah Islam dan para penguasa Turki Utsmani. Dia berhasil menyesatkan ratusan
ribu ummat Islam. Dia menyokong dan menyediakan dana kepada setiap upaya yang
hendak menodai kemurnian agama Islam. Obsesi Lawrence antara lain ialah
memisahkan ummat Islam dari para penguasa Turki dan mendirikan sebuah negara
merdeka.
Sementara itu, artikel -artikel yang ditulis oleh orang-orang Wahabi
menyebut orang-orang Islam Sunni sebagai ‘politeis’. Mereka berpendapat, bahwa
orang-orang Islam Sunni termasuk kafir. Spionase Lawrence sekarang sudah mati.
Dan tentu dia termasuk penghuni neraka. Akan namun , para pengikut setia Lawrence
memakai para spionase lokal (pribumi) untuk meneruskan gagasan-gagasannya.
Mereka menerbitkan majalah dan artikel yang memuji para spionase ini ke
seluruh dunia yang didukung dengan dana yang sangat besar. Di dalam artikel dan
235
majalah ini , mereka mencela para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. Para ulama
Islam lainnya tentu membela mereka. Oleh sebab itu, mereka telah membantah
fitnah-fitnah yang ditujukan kepada para tokoh Islam terkemuka. Mereka telah
mendiskusikan dan memberikan jawaban atas segala persoalan ummat Islam dengan
tidak membiarkannya tanpa solusi. Generasi Islam selanjutnya tidak perlu
mendiskusikannya kembali. Mengorek kembali peristiwa-peristiwa sejarah masa lalu
yang telah selesai dibahas, disepakati dan dijawab baik dari sudut pandang sejarah
maupun agama, akan menimbulkan malapetaka (fitnah) bagi ummat Islam. Hal
ini akan menghambat kebangkitan kembali ummat Islam dari keterpurukan
selama ini. Di samping itu, hal ini dapat menimbulkan kedengkian.
Khalifah-khalifah dari Bani Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah
yaitu penguasa-penguasa yang salih, jujur, adil dan mulia. Meskipun kita tidak
memungkiri fakta sejarah, bahwa ada beberapa khalifah yang terjebak oleh hawa
nafsu dan terperangkap dalam bujukan setan. Akan namun , sekali-kali mereka tidak
pernah menimbulkan kerugian bagi Islam. Kejahatan yang mereka lakukan akan
kembali kepada diri mereka sendiri. Musibah paling parah yang menimpa ummat
Islam yang disebabkan oleh perbuatan sebagian mereka ialah mereka meninggalkan
madzhab Ahlus Sunnah dan menggantikannnya dengan madzhab Mu’tazilah. Hal
ini disebabkan oleh campur tangan yang dilakukan oleh para ulama jahat/ulama
suu’. Setan-setan yang menyesatkan sebagian khalifah ini terdiri dari manusia-
manusia bejat bukan sekedar keturunan iblis terkutuk. Imam Rabbani rah.
menyatakan di dalam kitabnya berjudul Maktubat bahwa, “Kesesatan yang dialami
oleh orang-orang Islam dan para penguasa selalu disebabkan oleh kedengkian para
ulama jahat/ulama suu’.” Perbuatan paling keji yang dilakukan oleh musuh-musuh
Islam yaitu mencoba mencemarkan para khalifah Islam dengan menfitnah mereka
sebagai manusia tidak bermoral dan tidak beragama. Musuh-musuh Islam ini
mempublikasikan kehidupan pribadi para harem sah mereka melalui artikel -artikel dan
majalah. Sehinggga hal ini menimbulkan keresahan di kalangan masyarakat.
Seseorang mungkin telah memperoleh informasi ini melalui sumber-sumber
sejarah Eropa. Atau melalui artikel -artikel yang ditulis oleh para pendeta dan orang-
orang freemason lalu memandangnya sebagai sebuah kebenaran ilmiah. Kami
236
menghimbau kepada mereka agar mereka juga membaca minimal beberapa artikel
sejarah Islam atau artikel -artikel yang ditulis oleh para ulama Ahlus Sunnah sehingga
kebenaran sejarah ini akan diketahui. Kita menemukan sebuah artikel dalam
bentuk kumpulan opini yang ditulis oleh seseorang yang tidak memiliki basik ke-
Islam-an sama sekali. Artikel ini memang tidak memiliki bukti-bukti
dokumenter yang meyakinkan. Artikel ini menjelaskan, bahwa pada masa Bani
Umayyah, Abbasiyah dan Utsmaniyah, rakyat sangat taat kepada ajaran-ajaran Islam.
Hal ini menunjukkan, bahwa para penguasa pada saat itu terdiri dari orang-
orang yang taat menjalankan ajaran-ajaran Islam. Guru kita, Nabi saw. menegaskan,
“Agama rakyat mengikuti agama pemimpin mereka.” Sejarah telah memberi banyak
pelajaran kepada kita ummat Islam tentang para ulama pemfitnah dan
pendusta/ulama suu’.
Sejarah menulis biografi Ibnu Taimiyyah. Dia mencoba merusak akidah
orang-orang Timur Tengah. Padahal dia sendiri belajar dari para ulama Ahlus
Sunnah wal Jamaah. Ribuan artikel ditulis untuk membantah gagasan-gagasan dia
yang tidak memiliki dasar kuat, dan ‘menelanjangi’ dia. Selanjutnya, sejarah juga
menulis tentang Muhammad Abduh dari Mesir. Dia pernah bekerja sama dengan
orang-orang freemason. Di dalam agama Kristen dikenal adanya sekte Bastar yang
disebut Protestantisme. Abduh juga mencoba mengeliminir paham Ahlus Sunnah wal
Jamaah yang ‘dikritiknya’. Dia menyisipkan filsafat Barat yang bersifat non-agama
ke dalam Islam. Di tangan Presiden Masonik Kairo, gagasan-gagasan Abduh
berkembang di Jami’ul Azhar Mesir. Di samping Abduh, sejumlah pembaharu
agama muncul di Mesir. Di antaranya, Rasyid Ridla, Mustafa Maraghi, -yang pernah
menjadi Rektor Madrasah Azhar-, Abdul Majid Salim, -yang pernah menjadi Mufti
Kairo-, Mahmud Syaltut, Tantawi Jauhari, Abdur Raziq Pasya, Zaki Mubarak, Farid
Wajdi, Abbas Aqqad, Ahmad Amin, Doktor Taha Husein Pasya dan Qasim Amin.
Sebagaimana Abduh, -guru mereka-, mereka juga dipandang sebagai ulama Islam
modern yang artikel -artikel nya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Turki. Banyak
ulama yang terpengaruh oleh pemikiran yang ditawarkan mereka.
Sayyid Abdul Hakim Efendi rah., -ulama besar Islam dan mujaddid abad
keempat belas hijriah-, memberi komentar tentang Abduh, “Abduh, -Mufti Kairo-,
237
tidak memahami keagungan para ulama Islam. Dia menjual dirinya kepada musuh-
musuh Islam. Dan akhirnya menjadi seorang freemason yang bekerja sama dengan
mereka. Dia telah membiarkan orang-orang kafir menghalangi pertumbuhan Islam
dari dalam. Ismail Hakki dari Izmir, Umar Riza Dogrul, Hamdi Aksaki, Sarafaddin
Yaltkaya, Samsudin Guneltay, Mustafa Fauzi, Vahbi dari Konya, Muhammad Akif,
dan banyak ulama lainnya yang telah membaca artikel -artikel yang ditulis oleh orang-
orang freemason terpengaruh dan tersesat.”
Abduh dan tokoh pembaharu lainnya telah larut dalam kesesatan. Mereka
juga berusaha menyesatkan generasi muda Islam. Para ulama ini membuka
jalan kepada malapetaka, sebagaimana dikatakan oleh hadits, “Malapetaka yang
akan menimpa ummat-ku disebabkan oleh para ulama sesat/ulama suu’”.
Sementara itu, para pengikut Abduh juga tidak tinggal diam. Mereka
menerbitkan artikel -artikel menyesatkan yang dapat menimbulkan keresahan dan
permusuhan di kalangan ummat Islam. Di antaranya, artikel yang ditulis oleh Rasyid
Ridla berjudul Muhawarat yang diterjemahkan ke dalam bahasa Turki oleh Hamdi
Aksaki dengan judul Islamda Birlik (Kesatuan dalam Islam), diterbitkan di Istanbul
pada tahun 1332 H/1914 M. Di dalam artikel nya, dia mengikuti metode gurunya,
menyerang empat Madzhab Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dia berpendapat, bahwa
madzhab-madzhab ini telah memicu timbulnya perbedaan pendapat yang
disebabkan oleh perbedaan metode dan kondisi madzhab-madzhab itu sendiri yang
saling bertentangan secara tajam. Dia menuduh bahwa empat madzhab ini
sebagai “pemecah belah kesatuan Islam.” Dia sesungguhnya telah melecehkan jutaan
ummat Islam yang menjadi pengikut salah satu di antara empat madzhab ini
selama seribu empat ratus tahun. Dia juga telah memposisikan Islam agar
menyesuaikan dengan kondisi zaman. Pada umumnya, para tokoh pembaharu agama
(mujaddid, pent.) menyebut diri mereka sebagai ulama intelek yang memahami Islam
secara komperhensif serta kondisi (perkembangan) zaman. Sementara itu, mereka
menyebut orang-orang Islam yang menjadi pengikut para ulama Ahlus Sunnah wal
Jamaah yang dipuji lewat hadits, “Sebaik-baik masa yaitu masa mereka,” sebagai
para pengekor/pengikut buta (mobbish-minded imitators) [muqallid buta, pent.]. Para
mujaddid modern pada dasarnya yaitu manusia-manusia jahil yang sama sekali
238
tidak memahami ajaran pokok (ushul al-din, pent.) dan cabang (furu’ al-din, pent.)
Islam. Kejahilan mereka dapat dipelajari melalui ceramah-ceramah dan tulisan-
tulisan mereka.
Dalam kaitannya dengan masalah ini di atas (mujtahid dan mujaddid
Islam, pent.), perhatikanlah hadits-hadits Nabi saw. berikut ini : “Manusia yang
paling tinggi (derajatnya) yaitu orang-orang yang berilmu (ulama, pent.) yang
beriman.” , “Orang-orang yang berilmu (ulama) yaitu pewaris para nabi.” , “Ilmu
yang berkaitan dengan hati yaitu salah satu rahasia milik Allah.” , “Tidurnya
seorang yang berilmu yaitu ibadah.” , “Muliakanlah orang-orang yang berilmu
dari ummat-ku! Mereka yaitu laksana bintang-bintang di bumi.” , “Orang-orang
yang berilmu akan memintakan ampunan atas dosa-dosa ummat Islam di akhirat.” ,
“Orang-orang yang ahli di bidang fiqih yaitu orang-orang yang mulia. Bergaul
dengan mereka termasuk ibadah.” , “Seorang yang berilmu di antara pengikut-
pengikutnya yaitu laksana seorang nabi di antara ummat-nya.” Berkaitan dengan
hadits-hadits ini dalam pikiran kita terlintas sebuah pertanyaan : Siapakah yang
dipuji oleh hadits-hadits ini di atas : apakah para ulama Ahlus Sunnah wal
Jamaah yang telah mendakwahkan Islam selama seribu empat ratus tahun, ataukah
Abduh dan murid-muridnya yang baru muncul belakangan? Pertanyaan ini pun
sesungguhnya telah dijawab oleh Sang Guru kita Baginda Rasulullah saw. : “Tiap-
tiap abad akan lebih jelek dari pada satu abad sebelumnya, abad-abad menjelang
datangnya hari kiamat akan lebih jelek dari pada abad-abad sebelumnya.” , “Hari
kiamat makin dekat, para ulama lebih jelek dan busuk dari pada daging bangkai
keledai.” Hadits-hadits ini ada di dalam ikhtisar Tadzkirah al-Qurthubi.
berdasar keterangan para ulama dan penegasan para wali Allah
menyebutkan, bahwa golongan Islam yang dijanjikan selamat dari siksa neraka yaitu
orang-orang yang mengikuti madzhab yang dianut oleh para ulama Ahlus Sunnah
wal Jamaah. Adapun selain golongan Ahlus Sunnah akan masuk neraka. Fakta
menunjukkan, bahwa gagasan persatuan madzhab yang mereka tawarkan ternyata
tidak benar. Dengan kata lain, bahwa mencoba menciptakan satu madzhab unifikasi
dengan mengambil keringanan-keringanan yang diberikan oleh empat madzhab
merupakan sebuah upaya yang keliru dan tidak lazim. Untuk mendapat informasi
239
yang memadai berkaitan dengan diskusi tentang persatuan madzhab ini , silakan
merujuk kepada kitab berbahasa Turki berjudul Fâideli Bilgiler.
Jika kita berpikir obyektif dan bijaksana, kita akan menentukan alternatif;
mengikuti Madzhab Ahlus Sunnah yang diwariskan oleh para ulama (yang
mayoritas) selama seribu tahun, atau mempercayai para ulama dadakan yang tidak
mengetahui agama, modern dan beradab (!) yang keberadaanya menjadi bagian
masalah dalam kurun waktu seratus tahun dewasa ini? Para tokoh terkemuka di
antara tujuh puluh dua golongan Islam yang ditegaskan oleh hadits-hadits Nabi
bahwa mereka akan masuk neraka selalu menghujat dan mendiskreditkan para ulama
Ahlus Sunnah wal Jamaah. Akan namun , ayat-ayat Al Qur'an dan hadits Nabi telah
menyanggah mereka. Mereka menyadari, bahwa ilmu tidak dapat dijadikan sebagai
sarana untuk mencapai tujuan akhir mereka dengan mudah. lalu mereka
memakai cara lain yaitu kekerasan. Sejarah mencatat pertumpahan darah kaum
muslimin selama berabad-abad disebabkan oleh kebiadaban mereka.
Rasulullah saw. menyebutkan, “Perbedaan madzhab yang terjadi di
kalangan ummat Islam (dalam masalah ibadah dan kaifiyah ibadah) yaitu rahmat
Allah (atas kaum muslimin).” Akan namun , para pembaharu agama seperti Rasyid
Ridla (lahir pada tahun 1282 H/1865 M, meninggal secara mendadak di Kairo pada
tahun 1354 H/1935 M), berpendapat perlunya membangun persatuan di dalam Islam
melalui penyatuan madzhab-madzhab yang telah ada. Sementara itu, Muhammad
saw. menyerukan kaum muslimin untuk bersatu di dalam satu akidah, yaitu sebuah
manhaj iman yang benar yang diajarkan oleh empat khalifah beliau. Para ulama
belajar secara bergandengan tangan (bersambung, pent.) sehingga menemukan
manhaj iman yang benar yang diajarkan oleh empat khalifah Nabi saw. lalu
mereka menulis dan merumuskannya di dalam kitab-kitab mereka. Manhaj yang
diajarkan oleh Nabi saw. melalui para shahabat beliau disebut Ahlus Sunnah wal
Jamaah. Kaum muslimin di seluruh dunia harus bersatu dalam manhaj yang unik
ini . Mereka yang menggagas persatuan dalam Islam, sepatutnya bergabung
dengan persatuan manhaj Ahlus Sunnah, jika mereka tulus dalam menawarkan
gagasan ini .
240
Akan namun , patut disesalkan, ternyata artikel yang ditulis oleh Rasyid
Ridla ini menimbulkan polemik di kalangan ummat Islam. Hal ini dapat
memicu kehancuran Islam dari dalam. artikel ini telah dicetak dengan judul
lengkap Islamda Birlik ve Fikh Mezhebleri (Kesatuan dalam Islam dan Madzhab-
madzhab Fiqh) dan diterbitkan pada tahun 1394 H/1974 M oleh beberapa anggota
partai politik yang telah menyusup ke dalam Kementerian Agama. Kami bersyukur,
Kementerian Agama telah membersihkan orang-orang tak ber-Madzhab ini dan
menggantikannya dengan para ulama yang berhati suci dan berwawasan luas.
Mereka menulis artikel -artikel yang memperingatkan para pemuda dari publikasi-
publikasi menyesatkan. Salah satu di antaranya artikel berjudul Islâm Dînini Tehdîd
Eden En Korkunç Fitne Mezhebsizlikdir (Ancaman Paling Berbahaya Terhadap
Agama Islam yaitu Fitnah dari Orang Tak Ber-Madzhab), yang ditulis oleh
Durmus Ali Kayapinar, seorang anggota Staf Pengajaran Islâm Enstîtüsü di Konya,
Turki. artikel ini dicetak di Konya pada tahun 1976.
Orang-orang zindiq selalau berusaha memanipulasi ajaran-ajaran Islam
melalui pendapat-pendapat bathil mereka. Mereka ingin menghancurkan ukhuwwah
Islam di bawah kedok unifikasi. Untuk memperoleh informasi lebih rinci, kami
persilakan pembaca menelaah artikel berbahasa Turki berjudul Fâideli Bilgiler
(Informsai Sangat Penting)! Orang-orang zindiq bersembunyi di belakang berbagai
nama Islam berupaya keras menodai Islam. Meskipun mereka tidak memiliki
kapasitas keilmuan dan moralitas yang memadai, akan namun mereka memiliki dana
yang sangat besar yang dapat dimanfaatkan sebagai propaganda terhadap para ulama
bayaran.
Di dalam artikel kami (ini), akan kami angkat sebuah kutipan surat yang
ditulis oleh Imam Rabbani, -yang bergelar Mujaddid Alf Al-Tsani Ahmad Faruqi
Sirhindi rahmatullah ‘alaih-, dengan harapan mendapat limpahan berkat dari ruh
penghulu wali mulia ini yang sangat dicintai oleh para ulama, pembimbing
wali-wali Allah menuju ke berbagai tariqat tasawuf, manusia pilihan di antara
manusia-manusia pilihan :
241
Volume Ketiga, Surat Keseratus Dua Puluh Empat
Saya tujukan surat ini kepada Mullah Murad Kasymi yang memuat
keagungan para shahabat Nabi :
Allah swt. berfirman di akhir surat al-Fath, “Muhammad yaitu seorang
Rasul yang diutus oleh Allah untuk manusia. Para shahabatnya yaitu orang-
orang yang sangat keras (tegas) kepada orang-orang kafir, sangat berkasih sayang
satu sama lain.” Ayat ini cukup panjang dan diakhiri dengan “Barang kali
orang-orang kafir marah…” Allah swt. memuji para shahabat dengan menegaskan
bahwa mereka saling mencintai di antara mereka. Kata ‘al-rahim’ yang ada di
dalam ayat ini mengisyaratkan keagungan cinta mereka. Kata seperti itu
disebut al-sifat al-musyabbihah menurut tata bahasa Arab. Kata ini
menunjukkan kuantitas dan kelestarian sifat ini . Hal ini menunjukkan,
bahwa kecintaan di antara sesama shahabat bersifat permanen (langgeng, lestari).
Kecintaan mereka tetap eksis sesudah Rasulullah saw. wafat, dan saat beliau masih
hidup. Dari ayat ini dapat dipahami, bahwa sesuatu yang tidak sejalan dengan
sifat saling cinta, tidak terjadi di antara para shahabat. Melalui ayat ini , Allah
swt. menegaskan, bahwa sifat yang tidak mencerminkan cinta, seperti iri hati, hasud
dan cemburu terhadap orang lain tidak dimiliki oleh para shahabat Nabi saw. Tidak
seorang shahabat pun memiliki sifat-sifat ini . Ungkapan “walladzina” di dalam
ayat ini menunjukkan kenyataan ini . Jika mereka demikian keadaannya,
bagaimana kita mengatakan bahwa ada pertentangan dengan mereka yang
memiliki derajat sangat tinggi ini ? Mereka memiliki kebajikan yang amat
banyak dan sangat tinggi. Demikianlah, Nabi saw. bersabda, “Abu Bakar ra. yaitu
orang yang paling pemurah dari ummat-ku!” Dalam hadits lain beliau bersabda,
“Tidak ada nabi yang akan menggantikanku. Jika ada seorang nabi yang diutus
sesudahku, pasti Umar-lah yang akan menjadi nabi.” Hadits ini ada di
dalam kitab al-Dailami dan Kunuz al-Daqaiq. Hadits ini mengisyaratkan
bahwa Umar al-Faruq memiliki keistimewaan-keistimewaan lebih dibandingkan para
nabi. Hanya ada satu keutamaan yang tidak diberikan kepada Umar, yaitu derajat
kenabian ini . Hal itu dapat dipahami, mengingat Rasulullah saw. yaitu Nabi
akhir zaman (penutup, pent.). Salah satu keutamaan yang dimiliki oleh para nabi
242
ialah bahwa mereka sangat mencintai orang-orang Islam dan menyayangi mereka.
Sifat-sifat tercela, seperti cemburu, hasud, permusuhan, dan marah yaitu sifat-sifat
yang berlawanan dengan sifat cinta dan kasih sayang. Apakah sifat-sifat tercela
ini mungkin dimiliki oleh orang-orang yang ruhaninya dididik oleh manusia
terbaik dan teragung, makhluk terbaik di antara yang paling baik, yaitu Baginda Nabi
Muhammad saw.? Para shahabat yaitu garda terdepan dari ummat Islam
sebelumnya. Mereka hidup dalam sebuah masa terbaik. Mereka dididik oleh seorang
Nabi teragung di antara para nabi. Seorang muslim yang paling hina sekalipun tentu
benci kepada sifat iri hati, permusuhan, marah dan cemburu. Jika para shahabat
memiliki sifat-sifat ini , apakah mereka dapat disebut sebagai manusia-manusia
terbaik di antara ummat ini? Apakah ummat ini dapat disebut sebagai ummat terbaik
di antara ummat-ummat lainnya? Kebaikan yang mereka miliki disebabkan menjadi
orang-orang Islam pertama, pemberi shadaqah pertama, yang telah berjihad dan
mengorbankan hidup mereka demi mencari ridla Allah, dapatkah disebut sebagai
bentuk kemuliaan dan keutamaan? Bagaimana masa hidup mereka disebut sebagai
sebaik-baik masa? Apakah yang menjadi keistimewaan dan nilai tambah dari sebuah
pendidikan yang diberikan oleh Rasulullah saw.? Seseorang yang dididik oleh
seorang wali atau seorang ulama dari ummat ini sanggup merubah perangai-perangi
jelek menjadi baik. Lalu mungkinkah perangai-perangai ini masih tetap melekat
pada diri para shahabat yang telah menghabiskan seluruh hidupnya bersama
Rasulullah saw., mengabdikan dirinya untuk beliau, mengorbankan harta benda dan
nyawa untuk membantu dan mendukung perjuangan beliau dan untuk agama yang
dibawa beliau, dan yang senantiasa siap mengorbankan jiwanya menurut perintah
beliau? Barang siapa mempercayai bahwa para shahabat Nabi saw. memiliki sifat-
sifat jelek, berarti dia mengingkari keagungan dan kemuliaan Rasulullah saw.
[Na’udzu billah min dzalik]. Jika demikian, berarti dia mengakui bahwa pendidikan
Nabi saw. tidak lebih baik dibandingkan dengan pendidikan seorang wali, atau
bahkan pendidik-pendidik lainnya. Padahal berdasar ijma para ulama disepakati,
bahwa tidak ada seorang wali pun dari ummat mana pun memiliki derajat yang sama
dengan para shahabat dari ummat ini . Lalu bagaimana mereka dapat memiliki
derajat yang sama dengan derajat yang dimiliki oleh seorang nabi dari ummat
243
ini ? Menurut Abu Bakar Syibli, barang siapa tidak memuliakan shahabat Nabi
saw. berarti dia tidak beriman kepada Nabi saw.
Kebanyakan orang menganggap bahwa para shahabat Nabi terpecah
menjadi dua kelompok. Menurut mereka, satu kelompok kontra (menentang) kepada
Ali bin Abi Thalib, dan satu kelompok lainnya pro (mendukung) Ali bin Abi Thalib.
Mereka berpendapat, “Kedua kelompok ini saling memusuhi satu sama lain.
Mayoritas dari mereka menyembunyikan sikap permusuhan ini sebab mereka
memiliki maksud-maksud tertentu yang bersifat duniawi. Mereka melakukan apa
yang disebut taqiyyah, yaitu sikap bermuka dua. Hal ini mereka lakukan selama
kurun waktu seratus tahun.” sebab sikap itulah, lalu mereka menfitnah para
shahabat yang mereka anggap menentang Ali bin Abi Thalib ra., dan menuduh
mereka secara kejam, -yang bertentangan dengan ketinggian dan kemuliaan mereka.
Mereka yang berpendapat demikian, pada dasarnya telah melakukan penghinaan
kepada kedua kelompok shahabat Nabi saw. dan menuduh mereka sebagai manusia-
manusia jahat. Barang siapa berpendapat bahwa para shahabat Nabi saw. yaitu
manusia-manusia jahat, berarti dia menuduh manusia-manusia terbaik dari ummat
Islam ini sebagai manusia-manusia paling jelek dari ummat Islam ini, atau bahkan
menuduh manusia yang paling jelek dari seluruh ummat manusia. Mereka juga
berpendapat bahwa ‘masa terbaik’ dari para shahabat Nabi saw. seperti dinyatakan
oleh sebuah hadits, sebagai ‘masa terjelek’. Kita layak mengajukan pertanyaan
kepada musuh-musuh Islam : berdasar alasan apa kalian mencela dan
mencemarkan Abu Bakar ash-Shiddiq dan Umar al-Faruq, -dua tokoh terkemuka
Islam yang sangat dicintai oleh kaum muslimin? Al Qur'an menegaskan, bahwa Abu
Bakar yaitu manusia yang memiliki tabiat sangat mulia, berbudi luhur di antara
ummat Islam. Menurut Abdullah Ibni Abbas dan shahabat-shahabat lainnya serta
para ulama tafsir, bahwa ayat Al Qur'an yang menyatakan, “Barang siapa yang takut
akan api neraka hendaklah ia mensedekahkan sebagian hartanya sebab Allah
semata agar mendapatklan rahmat yang telah dijanjikan oleh-Nya,” (dalam surat
Wallail), ayat ini ditujukan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq. Barang siapa
menuduh kufur, jahat atau jelek kepada seseorang yang telah Allah tegaskan sebagai
manusia yang sangat salih, yang sangat mulia dari ummat Islam ini dan manusia
244
terbaik di antara ummat-ummat lainnya, berarti dia telah melakukan perbuatan yang
teramat keji. Imam Fakhruddin Radli, -salah seorang ulama tafsir terkemuka-,
berpendapat, bahwa “Ayat ini menunjukkan bahwa Abu Bakar ra. yaitu
seorang yang teramat tinggi derajatnya di antara ummat Islam ini.” Ayat ketiga belas
surat al-Hujurat menjelaskan, “Di antara kalian, orang yang paling tinggi derajatnya
yaitu orang yang paling bertakwa kepada Allah.” Ayat sebelumnya menyebutkan,
bahwa di kalangan ummat Islam, manusia yang paling bertakwa kepada Allah yaitu
Abu Bakar ra. sedang ayat kedua ini menunjukkan, bahwa Abu Bakar
yaitu manusia yang paling mulia derajatnya di kalangan ummat Islam. Menurut
sebagian besar shahabat dan tabi’in, bahwa Abu Bakar ra. dan Umar ra. yaitu
manusia-manusia yang paling mulia di antara ummat Islam. Hadits ini
diriwayatkan kepada kita oleh para ulama/imam yang mulia. Di antara perawi hadits
ini yaitu Imam Syafi’i rahmatullah ‘alaih. Dan di antara orang yang mengakui
kemuliaan Abu Bakar ra. dan Umar ra. dibandingkan manusia lainnya yaitu Ali bin
Abi Thalib karramallah wajhah. Menurut Imam adz-Dzahabi, -seorang ulama besar
hadits-, menyatakan di dalam kitabnya, bahwa “Pengakuan Ali bin Abi Thalib
ini diriwayatkan kepada kita oleh lebih dari delapan puluh orang (perawi).”
Bahkan pengakuan akan kemuliaan Abu Bakar ra. dan Umar ra. dibandingkan
manusia lainnya dari ummat Islam diberikan oleh beberapa ulama Syi'ah, seperti
Abdur Razzaq, -seorang ulama (Syi'ah) terkemuka. Dia berkata sebagai berikut :
“Saya berpendapat demikian sebab Imam Ali ra. menyatakan bahwa Abu Bakar ra.
dan Umar ra. lebih mulia dari pada dirinya sendiri. Jika tidak demikian, tentu saya
tidak akan berpendapat seperti itu. Saya merasa akan sangat berdosa jika saya tidak
sependapat dengan Imam Ali ra. sebab saya sangat mencintai beliau.” Penegasan
akan kemuliaan Abu Bakar ra. dan Umar ra. dibandingkan ummat Islam dan ummat-
ummat lainnya disampaikan Al Qur'an, lalu dijelaskan oleh hadits-hadits Nabi,
dan diperkuat oleh ijma’ shahabah yaitu konsensus para shahabat, dan diakui sendiri
oleh Ali ra. Oleh sebab itu, tidak ada alasan bagi seorang yang berakal mencela atau
mencaci mereka. Jika Abu Bakar ra. dan Umar ra. dicela dan dicaci, kebaikan apalagi
yang masih tersisa dari ummat Islam untuk kita? Jika mengutuk atau mencaci
seseorang dipandang ibadah, kita wajib mengutuk Abu Jahal dan Abu Lahab yang
245
oleh Al Qur'an disebutkan sebagai manusia jahat dan terkutuk. sebab nya mengutuk
mereka akan memperoleh pahala banyak. Mengutuk seseorang yaitu perbuatan
yang tidak terpuji. Mengutuk seseorang berarti menistakan orang ini . Apakah
perbuatan seperti itu mengandung kebaikan? Jika perbuatan ini dilakukan
secara zalim, dan jika yang dikutuk tergolong orang baik-baik, berarti menempatkan
sesuatu bukan pada tempatnya (dhalim). Mustahil ada dua hal, dua tempat yang
sama antara satu dengan lainnya. Masing-masing jenis kezaliman tidak akan sama
antara satu dengan lainnya.
Sejarah mencatat, bahwa Utsman Dzunnurayn terpilih menjadi khalifah
berdasarakan suara bulat dari para shahabat Nabi saw. Mereka, baik laki-laki maupun
wanita , mengakui kekhalifahan Utsman ra. Oleh sebab itu, para ulama
berpendapat, “Derajat kemufakatan (kebulatan suara) di dalam penetapan
kekhalifahan Utsman ra. tidak pernah dicapai dalam pemilihan ketiga khalifah
lainnya.” Pada saat itu, berkembang berbagai desas-desus seputar masalah
kekhalifahan sehingga proses pemilihan merupakan sesuatu yang penting bagi setiap
individu. Seluruh shahabat Nabi berpartisipasi langsung dalam proses pemilihan
khalifah ini . [Seandainya Sayyid Quthb memahami fakta sejarah ini , dia
tidak akan berpendapat, “Terpilihnya Utsman ra. menjadi khalifah merupakan event
yang merugikan ummat Islam.”]
Al Qur'an dan al hadits diriwayatkan (ditransmisikan, pent.) kepada kita
oleh para shahabat Nabi saw. Ijma’ al-ummat yang merupakan salah satu di antara
empat sumber keilmuan dalam Islam mengandung pengertian konsensus para
shahabat. Barang siapa mencela seluruh atau sebagian dari mereka atau berpendapat
bahwa mereka menjadi manusia-manusia yang jahat (sesudah Rasulullah saw. wafat,
pent.) berarti dia mengingkari seluruh atau sebagian (sumber) keilmuan dalam Islam
ini . Pada gilirannya, dia akan mengingkari sebab ilahiyah bi’tsah Nabi terakhir
dan Rasul termulia oleh Allah swt.
Sejarah menulis, bahwa pengkodifikasian Al Qur'an al Karim dilakukan
oleh Utsman bin Affan, atau paling tidak oleh Abu Bakar Shiddiq dan Umar al
Faruq. Jika mereka dicela atau dituduh zalim, apakah Al Qur'an masih dipandang
memiliki nilai otentik? Apakah Islam (yang otentik) itu juga masih eksis sekarang?
246
Kita seharusnya menyadari betapa piciknya sikap seperti itu. Seluruh shahabat Nabi
saw. yaitu orang-orang yang adil. Seluruh ajaran Al Qur'an dan al hadits yang
diriwayatkan mereka kepada kita yaitu benar (sahih).
Sebagaimana kita ketahui, perbedaan dan perselisihan yang terjadi di
kalangan shahabat Nabi saw. pada masa Khalifah Ali ra. tidak disebabkan sebab
dorongan hawa nafsu untuk mendapat jabatan dan kedudukan. Hal ini
semata-mata disebabkan oleh perbedaan ijtihad, atau lebih tepatnya perbedaan alasan
semata. Keputusan ijtihad yang dilakukan oleh salah satu kelompok dianggap tidak
benar. Menurut pendapat para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah bahwa ijtihad yang
dilakukan oleh Ali ra. yaitu benar. sedang mereka yang memerangi Ali ra.
salah. Akan namun , sebab kesalahan mereka ini didasarkan pada keputusan
ijtihad, tidak seorang pun dari mereka yang tercela. Mereka juga tidak bersalah
dalam pandangan hukum Islam. Kami juga berpendapat demikian. Barang siapa
mengutuk atau mengecam mereka yang menentang Ali ra. berarti dia telah
melakukan tindakan keji dan mungkar. Bagaimanapun juga, mereka yaitu para
shahabat Rasulullah saw. Di antara mereka ada orang-orang yang telah diberi
kabar gembira akan masuk surga. Sebagaian mereka juga ada orang-orang yang
telah terlibat dalam Perang Suci Badar. Mereka yang terlibat di dalam Perang Suci
ini akan diampuni dosa-dosanya, mereka tidak akan disiksa di akhirat. Di dalam
sebuah hadits disebutkan : “Allah berfirman kepada mereka yang terlibat dalam
Perang Suci Badar : Kerjakan apa yang kalian inginkan! Aku telah mengampuni
segala perbuatan (jelek) kalian.” Dan di antara mereka juga ada orang-orang
yang turut menghadiri pertemuan Bai’at al-Ridwan. Nabi saw. menyatakan, bahwa
tidak seorang pun dari mereka yang menghadiri pertemuan ini akan masuk
neraka. Menurut para ulama, bahwa berdasar Al Qur'an, semua shahabat Nabi
akan masuk surga. Ayat sepuluh surat al-Hadid menjelaskan, “Orang-orang yang
telah mengorbankan harta bendanya dan ber-jihad sebab Allah sebelum
penaklukan kota Mekkah, tidak sama dengan mereka yang melakukan hal yang
sama sesudah penaklukan kota Mekkah. Mereka yang pertama akan menempati
derajat yang sangat tinggi. Allah telah menjanjikan hasanah (kebaikan) kepadai
mereka yang melakukan hal ini sebelum maupun sesudah penaklukan kota
247
Mekkah.” Pengertian hasanah (husna’) yaitu surga. Mereka yang mengorbankan
harta bendanya dan ber-jihad sebelum atau sesudah penaklukan kota suci Mekkah
telah diberi kabar gembira bahwa tempat kembali mereka yaitu surga. Ungkapan
‘mengorbankan harta benda’ dan ‘berjihad’ di dalam ayat ini memang tidak
menjadi prasyarat masuk surga. Hal ini semata-mata sebagai tambahan pujian
(ziyadat al-madh, pent.) yang dimaksudkan untuk menyanjung mereka. Segala
persyaratan ini dimiliki oleh semua shahabat Nabi saw. Mereka telah
mengorbankan harta benda mereka dan berjihad di jalan Allah. Oleh sebab itu,
semua shahabat dijanjikan dengan surga oleh Allah. Sehingga memaki atau mencela
para tokoh agama terkemuka ini sangat tidak masuk akal (common sense) dan
bertentangan dengan ruh ajaran Islam.
Di dalam pikiran kita muncul sebuah pertanyaan : Sebagian orang
berpendapat, bahwa sesudah Rasulullah saw. wafat, beberapa orang shahabat beliau
murtad. Mereka melakukan tindakan-tindakan tercela disebabkan mereka berambisi
menjadi khalifah atau ingin mendapat kedudukan, dan merampas hak
kekhalifahan Ali ra. Mereka juga berpendapat, banyak shahabat yang dicabut haknya
masuk surga. Menurut mereka, kemuliaan menjadi shahabat dibutuhkan persyaratan
muslim. Dengan demikian, seseorang yang telah menjadi murtad (kafir, pent.),
apakah masih dipandang memiliki kemuliaan sebagai seorang shahabat Nabi saw.?
Jawaban terhadap pertanyaan ini yaitu : Ketiga khalifah Nabi saw.
ini akan masuk surga sebagaimana diriwayatkan melalui hadits-hadits yang
sahih. Tidak seorang pun mengingkari hadits-hadits ini . Juga tidak seorang pun
berpendapat bahwa mereka menjadi kafir. Di samping itu, kemuliaan yang dimiliki
oleh Abu Bakar ra. dan Umar ra. disebabkan sebab mereka terlibat dalam Perang
Suci Badar. berdasar hadits-hadits Nabi diriwayatkan, bahwa orang-orang yang
terlibat dalam Perang Suci Badar akan diampuni segala dosa yang lalu maupun yang
akan datang. Abu bakar ra. dan Umar ra. juga termasuk di antara orang-orang yang
ikut terlibat dalam sumpah setia bai’at al-ridwan. Orang-orang yang mengikuti
sumpah setia ini akan masuk surga sebagimana diriwayatkan oleh hadits-hadits
sahih. Meskipun Utsman ra. tidak terlibat dalam Perang Suci Badar, hal ini
disebabkan sebab beliau diperintahkan oleh Rasulullah saw. untuk tetap tinggal di
248
Madinah merawat istri beliau, -Ruqayyah-, yang sedang sakit. Rasulullah saw.
mengatakan kepadanya, bahwa (tinggal di Madinah merawat istri beliau yang sedang
sakit) akan mendapat berkah sama seperti jika dirinya ikut terlibat langsung
dalam Perang Suci Badar ini . Ketidakhadiran beliau dalam sumpah setia yang
disebut bai’at al-ridwan disebabkan sebab beliau diutus oleh Nabi saw. membawa
sebuah misi ke Mekkah dan beliau sendiri telah mewakilkan kepada Rasul pada
pertemuan ini . Demikianlah fakta sejarah yang sebenarnya. Kemuliaan ketiga
khalifah ini diterangkan di dalam Al Qur'an.
Sebait syair :
Jika seseorang tidak memahami Al Qur'an dan al hadits,
Tidak layak dia mengatakan ; tidak ada jawaban lain yang lebih baik!
Mereka yang berpendapat bahwa Abu Bakar ra. yaitu orang yang sakit
(jiwa), benar-benar tidak tahu malu! Jika keimanan Abu Bakar ra.diragukan, tentu
ribuan shahabat Nabi saw. dengan seluruh ilmu dan keadilan yang dimilikinya,
sekali-kali tidak memilih Abu Bakar menjadi khalifah Nabi saw. secara bulat. Barang
siapa mengingkari kekhalifahan Abu Bakar ra. berarti dia mengingkari tiga puluh
tiga ribu orang yang hidup pada masa di mana sebuah hadits menyebutkan bahwa
masa mereka yaitu sebaik-baik masa sepanjang zaman. Seseorang yang paling
rendah kapasitas berpikirnya pun tidak akan melemparkan tuduhan seperti itu. Masa
di mana tiga puluh tiga ribu kaum muslimin membuat keputusan keliru dengan
memilih seorang yang jahat (pendosa) untuk menggantikan Rasulullah saw. bukanlah
masa yang baik, apalagi dipandang sebagai masa yang terbaik sepanjang zaman. Hal
itu berarti menuduh bahwa hadits yang menyebutkan masa itu sebagai masa yang
paling baik yaitu omong kosong belaka. Na’udzu billah mindzalik. [Semoga Allah
swt. menyadarkan mereka yang berpendapat demikian untuk berhenti menfitnah
shahabat agung ini . Semoga Allah membukakan hati dan pikiran mereka
sehingga memahami makna ke-shahabah-an bersama Rasulullah saw. dan ajaran
yang dibawa oleh beliau]. Di dalam sebuah hadits disebutkan, “Bertakwalah kepada
Allah pada saat kalian membicaraka para shahabatku! Bertakwalah kepada Allah
barang kali kalian telah menunjukkan sikap tidak hormat dalam membicarakan para
shahabatku! sesudah saya meninggal, tidak akan ada pendapat jelek mengenai
249
mereka. Barang siapa mencintai mereka, sesungguhnya dia mencintaiku. Dan
barang siapa memusuhi mereka berarti dia memusuhiku.” Saya telah menjelaskan
kemuliaan dan keagungan Abu Bakar ra. secara panjang lebar. Adakah sesuatu yang
terlupakan dalam menjelaskan masalah ini ? Banyak ayat Al Qur'an memuji Abu
Bakar ra. Seluruh ayat yang terkandung di dalam surat Wallail menegaskan
kelebihan dan kebajikan Abu Bakar ra. Banyak hadits-hadits sahih meriwayatkan
keutamaan-keutamaannya. Kitab-kitab samawi yang diturunkan kepada para nabi
sebelum Muhammad saw. menceritakan kebaikan karakter moral, kemuliaan sikap,
dan keutamaan-keutamaan istimewa yang dimiliki oleh para shahabat Nabi saw. Di
bagian akhir surat al-Fath, Allah swt. menjelaskan hal ini , “Keutamaan-
keutamaan para shahabatmu juga disebutkan di dalam kitab Taurat dan Injil.” Abu
Bakar ra. yaitu manusia terbaik dan terkemuka di kalangan ummat ini yang menjadi
ummat terbaik dari seluruh ummat manusia yang Allah karuniakan rahmat untuk
mereka. Jika Abu Bakar ra. dipandang ‘kafir’ atau dihinakan, kejelekan apa lagi yang
tidak dapat disandang oleh orang lain? Gaya bahasa apa lagi yang dapat digunakan
untuk menggambarkan mereka? Wahai Tuhan kami yang telah menciptakan langit
dan bumi dari tidak ada (menjadi ada) dan yang mengetahui segala sesuatu yang
tersembunyi dan nyata! Engkau mengetahui manusia yang benar di antara hamba-
hamba-Mu yang berbeda-berbeda! Semoga salam hormat kami tercurah kepada
orang-orang yang berada di jalan yang benar.
Janganlah kamu membanggakan hartamu!
Janganlah sekali-kali berkata, “Tidak ada seorang pun seperti aku!”
Angin kehancuran akan memisahkan semuanya,
Menjadikan kamu laksana sebutir dedak tak berdaya sama sekali!
136
11. Menurut mereka Sayidina Abu Bakar ra. yang berasal dari suku
Tamim dan Sayidina Umar ra. yang berasal dari suku Adiy yaitu “para penyembah
berhala secara tersembunyi,” meskipun Sayidina Ali ra. sendiri memberikan putrinya
kepada putra Sayidina Abu Bakar ra. bernama Muhammad dan mengangkatnya
menjadi gubernur. Ali ra. juga memberikan putri yang lainnya kepada Sayidina
Umar ra. Di satu sisi mereka juga berpendapat bahwa, ‘Sayidina Ali ra. yaitu
ma’shum’ (bebas dari kesalahan-kesalahan). Akan namun , di sisi lain mereka mencela
para pemimpin agama terkemuka ini , di mana kepada mereka-lah Ali ra.
memberikan putri-putrinya yang menjadi mertua Rasulullah saw. dan sekaligus Ali
ra. sendiri menjadi menantu beliau. Mereka juga berpendapat bahwa mereka yaitu
orang-orang munafik.
12. Mereka berpendapat, bahwa orang-orang Sunni yaitu musuh
Sayidina Ali ra. dan Ahlul Bayt Nabi saw. Sebagaimana diketahui, orang-orang
Sunni yaitu kelompok Islam yang sangat mencintai Sayidina Ali ra. dan Ahlul
Bayt. Mereka berkeyakinan, bahwa barang siapa mencintai Ali dan Ahlul Bayt Nabi
saw. jika meninggal dunia dalam keadaan beriman. Menurut orang-orang Sunni,
salah satu persyaratan menjadi kekasih Allah (wali) di antaranya dia harus mencintai
Sayidina Ali ra. dan Ahlul Bayt serta mengikuti tariqah mereka.
13. Mereka berpendapat, bahwa menurut orang-orang Sunni Ibnu
Muljam pembunuh Sayidina Ali ra. yaitu orang yang adil, dan Imam Bukhari telah
meriwayatkan hadits-hadits yang berasal dari Ibnu Muljam ini . Pendapat
mereka ini jelas tidak benar. Kitab Shahih Bukhari tidak memuat hadits-hadits yang
diriwayatkan oleh Ibnu Muljam.
14. Mereka memusuhi golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka
menghina kata ‘Sunnah’.
15. Mereka berpendapat, jika seseorang mengucapkan ‘wa ta’aalaa
jadduk’ dalam shalat maka shalatnya batal.
16. Mereka berpendapat, bahwa orang Sunni lebih jahat dan lebih keji
dari pada orang Yahudi dan Nasrani.
137
17. Mereka mengklaim bahwa semua kelompoknya akan masuk surga
sebab mereka mencintai kepada Ali ra. meskipun di antara mereka sendiri saling
berselisih satu dengan lainnya.
18. Mereka berpendapat, bahwa tidak ada gunanya mengerjakan
ibadah yang diajarkan oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah.
19. Mereka mengutuki ketiga khalifah Rasulullah sebagai pengganti
ucapan basmalah saat hendak memulai suatu pekerjaan. Mereka berkeyakinan,
bahwa orang sakit yang melekatkan secarik kertas yang berisi tulisan kutukan
terhadap kedua khalifah pertama pada dirinya atau meminum air yang di dalamnya
ada kertas berisi kutukan ini yang telah dicelupkan, dia akan segera
sembuh.
20. Mereka berpendapat, bahwa mengutuki Sayidah Aisyah dan
Hafsah ra. lima kali sehari hukumnya wajib.
21. Mereka berpendapat, bahwa Rasulullah saw. telah memberikan
mandat kepada Imam Ali ra. untuk menceraikan istri-istri beliau. Oleh sebab itu,
melalui mandat ini Imam Ali ra. menceraikan Aisyah (dari Rasulullah saw.).
Padahal Al Qur'an tidak menghendaki perceraian sunggupun kepada diri Rasulullah
saw. sekali pun.
22. Mereka berpendapat, bahwa Allah swt. tidak menciptakan para
Nabi seandainya Dia tidak mencipt











