Tampilkan postingan dengan label Syiah 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Syiah 4. Tampilkan semua postingan

Syiah 4

 


ngan tersenyum dia menjawab salamnya. Dia 

selanjutnya berlutut di hadapan orang ini . Lalu dia menceritakan sesuatu kepada 

orang ini  sambil menunjuk ke arah saya. Saya mengetahui bahwa dia 

memandang saya dari kejauhan, dan saya mengetahui bahwa dia sedang 

menceritakan tentang hal ikhwal saya kepada orang ini . Tidak lama lalu  

syeikh itu berdiri dan memberi isyarat kepada saya. “Orang yang duduk di sana 

yaitu  Sayidina Ali ra. Kamu dengarkan baik-baik dan perhatikan apa yang akan 

beliau katakan,” dia memperingatkan saya. Lalu kami masuk dan saya mengucapkan 

salam kepada beliau. Orang yang wajahnya bersinar itu berkata, “Jangan sekali-kali 

kamu mempunyai perasaan dendam dan benci di dalam hatimu terhadap para 

shahabat Rasulullah saw.! Jangan sekali-kali kamu merasa sakit hati kepada salah 

seorang dari orang-orang mulia itu! Kami dan saudara-saudara kami itu mengetahui 

niat dari  perbuatan-perbuatan yang kami lakukan yang tampak dari luar seakan-akan 

seperti perang.” lalu  sambil menyebut nama sang syeikh, beliau melanjutkan, 

“dan jangan sekali-kali menentang tulisan-tulisannya!” sesudah  mendengar 

nasihatnya, saya memeriksa batin saya, dan saya menemukan permusuhan yang saya 

rasakan selama ini terhadap orang-orang yang melakukan apa yang disebutnya 

perang, masih hinggap di dalam batin saya. Dia mengetahui keadaan saya yang 

demikian itu, dan dia tampak marah. Sambil memandang sang syiekh, beliau berkata, 

“Hatinya perlu dibersihkan lagi. Tampar mukanya!” Lalu sang syeikh menampar 

muka saya, yang membuat saya berpikir, “Kecintaan saya kepada orang ini-lah (Ali 

ra. pent.) yang membuat saya membenci kepada orang-orang itu (musuh-musuh Ali 

ra. pent). Dan sekarang beliau benar-benar merasa sakit hati  akibat perasaan dendam 

saya kepada mereka. Beliau ingin menghilangkan perasaan dendam itu dari hati saya. 

Sehingga saya harus menghilangkan perasaan dendam ini dari diri saya!” saat  saya 

memeriksa batin saya sekali lagi, saya menemukan bahwa batin saya telah bersih dari 

sifat permusuhan dan dendam. Pada saat itulah saya bangun. Sekarang hati saya 

benar-benar telah bersih dari perasaan dengki kepada mereka. Nilai spiritualitas yang 

saya peroleh melalui mimpi dan nasihat ini  telah menciptakan  transformasi 

batin yang luar biasa di dalam diri saya. Sekarang hati saya tidak lagi memiliki cinta 

selain  kepada Allah, dan saya lebih yakin kepada sang syeikh itu dan ma’rifat yang 

ada  di dalam tulisan-tulisannya. 

Di akhirat kelak, seseorang tidak akan dianggap bersalah dan berdosa 

disebabkan dirinya tidak mengutuki orang lain, atau disebabkan sebab  menutup 

mulut seseorang di dunia. 

Kita tidak diperintahkan untuk mengutuki atau menyumpahi seseorang, 

walaupun terhadap orang-orang kafir yang menyakiti dan menyiksa Guru kita 

Fakhrul Kainat Muhammad saw. dan para shahabat beliau selama tiga belas tahun, 

juga tidak kepada lima atau enam orang yang sangat kejam yang menjadi pemimpin 

mereka. Bahkan kepada orang-orang yang sangat biadab sekali pun, yang telah lama 

dilupakan oleh orang, kecuali kepada Abu Jahal. Islam tidak memerintahkan kepada 

manusia untuk mengutuki dan mencaci orang yang beragama di dunia ini. jika  

seseorang menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, maka dia tidak 

akan dimintai pertanggungan jawab disebabkan sebab  dirinya tidak mengutuki 

manusia yang jahat sekali pun saat  hidup di dunia. Dia juga tidak akan dituduh 

telah bersekutu dengan manusia yang jahat itu. Sebaliknya, jika  seseorang 

mengabaikan perintah Allah dan mengutuki manusia yang jahat beratus kali setiap 

hari, maka dia akan dimintai pertanggungan jawab di akhirat kelak, dan kutukannya 

terhadap manusia jahat itu tidak  akan dapat menyelamatkan dirinya dari siksa 

neraka. sebab  orang ini  tidak dianggap sebagai musuh dari orang jahat itu, 

namun  justru sebagai salah seorang dari teman dia. Oleh sebab nya, mengutuki  orang 

ini atau orang itu untuk membuktikan bahwa  seseorang benar-benar mencintai Ahlul 

Bayt, maka tindakan seperti itu sangat tidak masuk akal dan perbuatan yang sia-sia 

jika dilihat dari sudut pandang ajaran Islam.  

Nadzir Syah, -Raja Iran-, yang naik tahta pada tahun 1148 H berhasil 

menguasai Delhi di India pada tahun 1152 H/1739 M. Dia berusaha menguasai 

Baghdad. Akan namun , dia mati terbunuh dalam sebuah pemberontakan yang terjadi 

pada tahun 1160 H. Pada saat Nadzir Syah melakukan pengepungan terhadap kota 

Baghdad, dia mengundang para ulama Sunni dan Syi'ah dalam sebuah rapat, dan 

menunjuk Abdullah bin Husein Suwaydi ra. [lahir tahun 1104 H, wafat pada tahun 

1174 H/1760 M] untuk memimpin rapat ini . Di dalam rapat diputuskan untuk 

mengeliminir perbedaan-perbedaan kepercayaan yang terjadi di kalangan muslim 

Sunni dan Syi'i. Keputusan ini  ditandatangani oleh seluruh ulama yang hadir 

pada pertemuan ini . Akan namun , sesudah  Nadzir Syah meninggal dunia, upaya 

itu tinggal ada di atas kertas.  Pada point ini saya ingin menyampaikan sebuah 

peristiwa berkaitan dengan masalah ini  : 

Nadzir Syah pernah mengajukan pertanyaan kepada ulama-ulama Syi'i, 

“Apakah orang-orang Yahudi, Kristen dan Magian (orang-orang kafir yang tidak 

memiliki kitab samawi, seperti orang komunis dan freemason) akan masuk surga 

atau neraka?” Mereka sepakat berpendapat, bahwa orang-orang kafir ini  akan 

masuk neraka. saat  Nadzir Syah bertanya, akan masuk ke mana orang-orang Islam 

Sunni, mereka menjawab, “Mereka akan masuk neraka.” Jawaban ini  membuat 

Nadzir Syah marah. Dia berkata, “Apakah Allah menciptakan delapan surga hanya 

untuk sekelompok orang Iran saja?” 

Pada tahun 1282 H/1866 M, al-faqir ini (Utsman Efendi) menunaikan 

ibadah haji. Di perjalanan saya bertemu dengan seorang ulama yang berasal dari Iran 

bernama Hasan Efendi. Saya berkata kepada dia, “Para Shahabat yaitu  manusia-

manusia terpuji, sebagaimana banyak dijelaskan oleh hadits Nabi saw. Namun, 

ada  sebuah pertanyaan berkaitan dengan masalah ini, yaitu mengapa anda 

memusuhi mereka.  Bahkan mengutuki mereka semua?” Dia menjawab, “Saya tidak 

memusuhi mereka. Namun, menurut keyakinan mayoritas orang Syi'ah, Abu Bakar 

ra. telah merampas kekhalifahan dari Imam Ali ra., dan para shahabat mendukung 

tindakan Abu Bakar ini  sehingga mereka murtad.” Berkaitan dengan  jawaban 

ini, saya bertanya kembali, “Apakah Guru kita Rasulullah saw. tidak mengetahui 

bahwa pada suatu saat  orang-orang ini akan murtad, padahal beliau memuji dan 

menyanjung mereka?” Dia menjawab, “Beliau tidak mengetahui jika  mereka 

akan demikian akhirnya. jika  beliau telah mengetahui hal ini , tentu beliau  

tidak akan memuji mereka, justru akan mengutuki mereka.” lalu  saya bertanya 

lagi, “Allah swt memuji para shahabat di dalam beberapa ayat Al Qur'an. Apakah 

Allah tidak mengetahui juga ?” Ulama Syi'ah itu tidak bisa menjawab pertanyan saya 

ini. Saya melanjutkan pertanyaan, “Apakah tindakan seperti itu tidak berarti 

pencemaran terhadap nama baik Sayidina Ali ra. dengan mengatakan bahwa dia 

berambisi mengejar kedudukan duniawi?” Dia menjawab, “Persaingan yang terjadi 

antara Sayidina Ali ra. dengan para shahabat  tidak dapat diartikan sebagai ambisi 

mengejar jabatan duniawi. Guru kita Fakhrul Kainat telah berwasiat, bahwa Sayidina 

Ali ra. kelak akan menjadi khalifah. Para shahabat menjadi murtad disebabkan 

mereka telah melanggar wasiat ini. Sayidina Ali ra. memerangi mereka semata-mata 

sebab  menjalankan perintah Rasulullah saw. ini ”. Berkaitan dengan jawaban 

ini saya balik  bertanya : “Orang-orang Syi’ah juga banyak melakukan pelanggaran 

terhadap  perintah  Rasulullah saw.  Mereka   banyak  membuat  bid’ah.  Dan   sangat  

bertentangan dengan ayat Al Qur’an. Jika mereka mengetahui hal ini , tentu 

mereka akan menghentikan perbuatan mereka, artinya mereka wajib mengakui 

superioritas dan kemampuan kasyaf dan keramat Sayidina Ali, Fatimah, dan para 

shahabat lainnya. 

Sayid Abdul Qadir Ghaylani [lahir pada tahun 471 H, wafat di Bagdad                       

pada tahun 561 H (bertepatan dengan tahun 1166 M), -salah seorang keturunan Ali 

ra. dan salah seorang wali agung-, menulis di dalam artikel nya berjudul Ghunyat al-

Talibin :  “Menurut orang-orang Syi'ah’ (Shiites), kekhalifahan merupakan hak 

istimewa (exclusive  right) bagi Imam Duabelas. Mereka yaitu  orang-orang yang 

terpuji. Mereka tidak pernah berbuat dosa. Mereka benar-benar memiliki kasyaf dan 

karamah. Mereka mengetahui segala sesuatu yang telah dan yang akan terjadi.” 

Sebaliknya, bertentangan dengan kepercayaan ini  di atas mengatakan, bahwa 

Ali ra., -sebagaimana dikatakan mereka-, mengetahui segala sesuatu sampai kepada 

jumlah butir-butir pasir (di laut),  akan namun  dia tidak mengetahui, bahwa memilih 

Abu Bakar ra. akan memicu  berjuta-juta orang Islam tersesat dari kebenaran. 

Kami telah menjelaskan secara singkat mengenai kekhalifahan Umar ra. 

Sebagaimana kita ketahui, bahwa bagi Umar kekahlifahan ini  pada hakikatnya 

menjadi beban sangat berat bagi dirinya. Sekarang, akan lebih bijaksana bagi seorang 

muslim, apakah merasa menyesal sebab  orang-orang Islam lain tidak memilih 

dirinya dan memusuhi mereka  sebab   alasan ini  di atas, atau rela sebab  

dirinya tidak memikul beban yang berat ini  sebagaimana yang dipikul oleh 

Umar ra.? Seandainya dirinya mengetahui, bahwa permusuhan dirinya akan 

menimbulkan pertikaian dan fitnah di antara orang-orang Islam sampai kiamat, tentu 

dirinya mendukung kekhalifahan ini  dengan memilih Umar ra. secara suka rela. 

Ayat keseratus delapan puluh lima surat Ali Imran dan ayat kedua puluh 

satu surat al-Hadid menjelaskan, “Kehidupan dunia hanya akan memperdayakan 

manusia”. Ayat ketujuh puluh dua surat al-An’am menjelaskan, “ Kehidupan dunia 

hanyalah kesenangan dan permainan belaka. Bagi mereka yang takut kepada Allah, 

kehidupan akhirat jauh lebih baik. Mengapa kamu tidak menyadari hal yang 

demikian?” Ayat kedua puluh delapan surat al-Anfal dan ayat kelima belas surat  al-

Taghabun menjelaskan, “ Ketahuilah, bahwa harta benda dan anak-anakmu 

hanyalah ujian bagi kamu. Allah  akan memberi kamu balasan (pahala) yang lebih 

baik atas segala kebaikanmu”. Ayat ketiga puluh delapan surat al-Taubah 

menjelaskan, “Apakah kamu lebih menyukai kehidupan dunia ini dari pada akhirat? 

Keuntungan yang didapat di dalam kehidupan dunia ini jauh lebih sedikit dari pada  

yang dijanjikan di akhirat.” Ayat empat puluh enam surat al-Kahfi menjelaskan, 

“Harta benda dan anak-anak cucu yaitu  perhiasan dunia. Pahala (yang diberikan) 

atas amal baik dan yang kekal abadi lebih baik di sisi Allah (Rabb).” ada  enam 

puluh enam ayat senada lainnya yang memperingatkan munculnya hasrat kepada 

jabatan duniawi dan harta benda. Tidak terhitung jumlah hadits yang menekankan 

persoalan penting ini . Di antaranya, sebuah hadits qudsi yang menegaskan, 

“Wahai anak Adam! Kamu telah menghabiskan umurmu dengan menyimpan harta 

benda dunia. Kamu tidak pernah mengharapkan surga”.  Tentunya Ali ra. yang 

menjadi pintu gerbang kota ilmu, dan Fatimah az-Zahra wanita  yang memiliki 

martabat sangat tinggi, lebih mengetahui ayat-ayat ini  dari pada orang lain. 

Apakah  kita patut menduga dan menyangka bahwa mereka menyesali harta dunia 

atau bertikai hanya sebab  persoalan harta dunia semisal kebun kurma? 

Di dalam benak kita muncul sebuah pertanyaan : Penderitaan yang 

dialami, dan permusuhan di antara mereka, yaitu Ali dan Fatimah az-Zahra di satu 

pihak, dan Abu Bakar ra. serta para shahabat  dipihak lain, semata-mata bukan 

disebabakan sebab  kecintaan mereka kepada dunia. Akan namun , Abu Bakar ra. dan 

Umar ra. telah berdosa sebab  telah merampas hak kekhalifahan melalui kekuatan, 

lalu mereka hendak bertobat dari dosa ini ? 

Jawabannya yaitu   : Di dalam ayat keseratus enam puluh empat surat al-

An’am dan ayat kelima belas surat al-Isra’ disebutkan, “Seseorang yang berdosa 

tidak akan memikul dosa orang lain.” Seandainya, -meskipun tidak mungkin-, Abu 

Bakar ra., Umar ra. dan sebagian besar shahabat Rasulullah saw. berdosa, maka dosa 

ini  tidak akan berdampak sama sekali terhadap Ali ra. berdasar  makna ayat 

di atas, dan sebab nya tidak seharusnya Ali ra. memerangi mereka. Mungkinkah Ali 

ra. memulai perang yang memicu  ratusan juta manusia masuk neraka? 

Al-Faqir ini [maksudnya Utsman Efendi] suatu saat  pernah bertanya 

kepada salah seorang ulama Syi'ah,  “Sayidah Fatimah menghina para shahabat ra. 

disebabkan sebab  mereka tidak memberikan kebun kurma miliknya, artinya dia 

mencintai kesenangan dunia, -sesuatu yang tidak patut bagi seorang Fatimah ra.” Dia 

menjawab, “Penghinaan yang dilakukan Fatimah ra. terhadap para shahabat bukan 

semata-mata  sebab  kecintaan dia kepada dunia. Hal ini  disebabkan dia tidak 

setuju terhadap kezaliman yang mereka lakukan.” Dengan jawaban mengelak 

ini , dia berarti menghina putri Rasulullah saw., yang suci. Barang siapa 

mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan ajaran Islam dianggap sebagai sebuah 

kezaliman, hanyalah perbuatan yang didasarkan kepada hawa nafsu amarah semata. 

Oleh sebab  itu, saya perlu mengklarifikasi fakta ini , dan menjelaskannya 

sebagai berikut : Setiap orang yang mempelajari sejarah, tentu akan mengetahui 

peristiwa berikut ini : Di dalam sebuah perang suci, Imam Ali ra. berhasil 

merobohkan seorang kafir ke tanah dan memukulnya hingga nyaris tewas. saat  itu 

musuh yang sudah putus asa itu memuntahkan kotoran yang ada di mulut dan tepat 

mengenai wajah Ali ra. Wajah beliau berlumuran kotoran, dan beliau pun 

mengurungkan membunuh si kafir ini . lalu  si kafir yang sudah frustrasi 

itu merasa terkejut. “Mengapa kamu mengurungkan membunuh saya?” tanya dia. 

“Apakah kamu takut?” Ali ra. justru membiarkan si kafir itu pergi, sambil berkata, 

“Saya hendak membunuh kamu semata-mata  sebab  perintah Allah swt., yaitu kamu 

memusuhi dan tidak mau masuk Islam serta memeranginya. Akan namun ,  sekarang 

nafsu saya yaitu  musuh kamu sebab  perbuatan keji yang telah kamu lakukan 

terhadap saya.  Jika sekarang saya membunuh kamu, berarti saya telah 

melakukannya atas dasar dorongan nafsu. Sehingga jika saya membunuh kamu, 

berarti saya melakukan dosa dan bukan kebajikan.” Kata-kata Sayidina Ali ra. 

ini  menyadarkan si kafir ini  akan keagungan ajaran Islam yang 

ditunjukkan melalui sikap Imam Ali ra. lalu  dia mengucapkan kalimat 

syahadat dengan ikhlas. Dua manusia yang saling bermusuhan segera menjadi 

saudara dan saling berpelukan. 

Ibrahim bin Adham ra., salah seorang wali agung, dilahirkan di Belh 

pada tahun 96 H, dan wafat di Damaskus  pada tahun 162 H (bertepatan tahun 779 

M), dulu beliau yaitu  seorang raja Belh. Beliau meninggalkan singgasana kerajaan 

dan pergi ke Mekkah al-Mukarramah. Beliau menjalani hidup dengan membawa 

kayu bakar di punggungnya. Beliau berjuang melawan hawa nafsu hingga ajal 

menjemputnya. 

Fatih Sultan Muhammad Khan (Muhammad Sang Penakluk) ra., Raja 

Utsmani ketujuh, dilahirkan pada tahun 833 H. Beliau berhasil menaklukkan Istanbul 

dari Bizantium pada tahun 857 H (bertepatan tahun 1453 M) sehingga mengantarkan 

sebuah era baru bagi Islam. Beliau wafat pada tahun  886 H. Ayahnya, Sultan Murad 

II, Raja Utsmani keenam, dilahirkan pada tahun 806 H, wafat pada tahun 855 H 

[bertepatan tahun 1451], dimakamkan di Bursa. Beliau menjadi Raja (Padisyah) pada 

tahun 824 H. Pada tahun 847 H beliau meninggalkan tahta atas kerelaan sendiri dan 

menyerahkan kepada putranya, lalu   pergi menyendiri ke Maghnisa, di mana 

beliau menghabiskan sisa hidupnya dengan menjalankan ibadah khalwat. 

Sejarah mencatat, bahwa Sayidina Ali ra. dan Fatimah az-Zahra tidak 

lebih rendah dari pada raja-raja yang disebutkan di atas dalam memandang dunia dan 

dalam berjuang memerangi hawa nafsu. Sehingga sangat mustahil bagi seorang 

muslim berpendapat bahwa mereka menderita, -apalagi menaruh dendam-, hanya 

sebab  keinginan untuk mendapat  harta dan kedudukan dunia yang hina. Tidak 

diragukan, bahwa fitnah-fitnah ini  sengaja dihembuskan oleh seorang Yahudi  

munafik, bernama Abdullah bin Saba’. Pada masa Utsman ra., si Yahudi ini  

meninggalkan Yaman menuju Mesir, lalu  ke Madinah, di mana dia bermukim 

di sana dengan berpura-pura masuk Islam dan merusak Islam dari dalam. 

Ayat keseratus tiga puluh tiga surat Ali Imran menjelaskan, 

“Bersegeralah meminta ampunan dari Rabb-mu dan surga. Beramal-lah, untuk 

mendapat nya! Surga itu luasnya seluas langit dan bumi, dan  disediakan bagi 

orang-orang yang bertakwa kepada Allah swt. Yaitu mereka yang memberikan 

hartanya di jalan yang  telah ditunjukkan oleh Allah tanpa menghiraukan apakah 

mereka mempunyai harta sedikit atau banyak. Mereka tidak membiarkan orang lain 

kelaparan. Mereka akan memaafkan siapa saja. Allah ta’ala mencintai orang-orang 

yang berbuat baik lagi dermawan”. Ayat kesepuluh surat al-Hujurat menyebutkan, 

“Orang-orang yang beriman yaitu  saudara bagi lainnya. Damaikanlah di antara 

saudaramu!” Di dalam Al Qur’an, ada  kira-kira tiga puluh ayat senada lainnya 

yang menegaskan, bahwa orang-orang beriman diperintahkan untuk tidak saling 

bermusuhan, untuk berbuat baik dan dermawan kepada lainnya, dan untuk saling 

memaafkan. Ditegaskan di dalam sebuah hadits, “Allah swt. akan menyayangi orang-

orang yang menyayangi  orang lain. Dia Maha Penyayang. Sayangilah orang-orang 

yang berada di bumi niscaya para Malaikat di langit akan menyayangi kamu”. Lima 

puluh hadits senada lainnya memerintahkan kepada orang-orang beriman untuk 

menahan marah, berbuat baik dan dermawan serta mengajarkan hak dan kewajiban 

kepada kita sebagai manusia. 

Oleh sebab  itu, sebagai konsekuensinya, jika Ali ra. dan Fatimah az-

Zahra ra. marah disebabkan oleh kepentingan duniawi atau kebun kurma, dan 

memusuhi para shahabat ra. sepanjang hidup mereka dan tidak mau memaafkan 

mereka, maka Ali ra. dan Fatimah ra. telah mengingkari ayat-ayat dan hadits-hadits 

di atas. Apakah hal ini  mungkin? Pandangan seperti ini hanya akan 

merendahkan kehormatan dan kemuliaan mereka.  

Untuk memelihara keagungan martabat kedua orang yang sangat dicintai 

oleh Rasulullah saw.  ini , dan kemungkinan adanya penodaan terhadap mereka, 

para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah telah menghindari pernyataan-pernyataan 

absurd seperti itu tentang mereka, dan secara khusus memerintahkan ummat Islam 

agar mencintai mereka, dengan mengatakan bahwa “Mencintai mereka akan 

menjadikan seseorang meninggal dalam keadaan khusn al-khatimah (sebagai seorang 

mukmin)”. Kecintaan yang dimiliki oleh golongan mana yang dipandang sejati 

terhadap mereka ; apakah yang dianjurkan oleh orang-orang Syi'ah ataukah Alhus 

Sunnah wal Jamaah? Seseorang yang memiliki akal sehat tentu akan dengan mudah 

membedakan hal ini . 

Ssebuah kenyataan yang telah diketahui umum, bahwa ummat 

Muhammad saw. bersaudara dan saling mencintai satu sama lain. Sejarah menulis, 

bahwa pada suatu hari Abdullah ibnu Umar ra. menghadap Rasulullah saw. Beliau 

memuji serta menyanjung  Abdullah dengan mengucapkan hadits berikut : “Pada 

Hari Pengadilan kelak, setiap orang akan menerima artikel  catatan amalnya masing-

masing, sesudah seluruh amalnya dihitung. Namun, Abddullah telah menerima artikel  

catatan amalnya (saat  dia) masih di dunia. saat  ditanya mengapa demikian, 

Rasulullah saw. menjawab, “Dia tidak hanya wara’ dan taqwa, namun  juga 

memanjatkan doa/permohonan berikut ini setiap kali dia berdoa : ‘Ya Rabb-ku! 

Jadikanlah tubuhku ini menjadi besar pada Hari Pengadilan kelak sehingga aku 

akan memenuhi neraka. Dan Janji-Mu untuk mengisi neraka dengan manusia akan 

terpenuhi, sehingga tidak seorang pun dari ummat Muhammad saw. akan masuk 

neraka.’ “  Doa ini  menunjukkan, bahwa Abdullah lebih mencintai saudara-

saudara muslim lainnya dari pada dirinya sendiri. Disebutkan di dalam kitab 

Manakib Khihar Yar Ghazin, bahwa Abu Bakar ra. juga memanjatkan doa seperti 

doa yang dibaca oleh Abdullah di dalam shalat. Tidak diragukan lagi, jika  

kecintaan Ali ra. terhadap orang-orang Islam jauh lebih besar dari pada Abdullah 

ibnu Umar ra. Dan sangat tidak mungkin juga jika  Ali ra. menunjukkan sikap 

permusuhan yang memicu  jutaan orang Islam kekal masuk di dalam neraka, 

hanya sebab  dirinya tidak diangkat menjadi khalifah. 

Di dalam kitab berjudul Kimia Sa’adah yang ditulis oleh Imam al-

Ghazali, -juga di dalam kitab-kitab lainnya-, diterangkan sebuah peristiwa berikut : 

Selama Perang Suci Tabuk, sekelompok shahabat terluka parah dan mereka sangat 

membutuhkan air. Tiba-tiba ada seseorang datang dengan membawa sedikit air dan 

menawarkaan kepada salah seorang di antara mereka. Mereka yang kehausan  tidak 

mengambil air ini  akan namun  justru menyuruh memberikan air ini  kepada 

saudara muslim lainnya yang sama-sama membutuhkannya. Oleh sebab  itu, air 

ini  berlalu dari seorang shahabat  yang satu ke shahabat yang lainnya, sehingga  

mereka meninggal sebelum meminumnya. Demikianlah, kecintaan para shahabat  

Rasulullah saw. kepada yang lainnya. Mungkinkah Imam Ali ra. (yang 

mempertaruhkan nyawanya dalam seluruh Perang Suci ) dan Fatimah az-Zahrah, -

putri tercinta Rasulullah saw.-, memusuhi ketiga khalifah Nabi saw. dan kepada 

sebagaian besar shahabat ra.? Pernyataan ini  merupakan tuduhan keji dan kejam 

yang dengan jelas diharamkan oleh Al Qur’an  maupun al hadits, dan bukan 

merupakan sebuah ungkapan penghargaan dan sanjungan kepada mereka. Imam Ali 

ra. dan Fatimah az-Zahra yaitu  manusia yang benar-benar suci dan bebas dari 

perbuatan keji dan kotor seperti itu, maka sangat jelas bahwa tuduhan-tuduhan 

seperti di atas merupakan kebohongan dan fitnah yang dihembuskan oleh musuh-

musuh Islam. Bagi mereka  yang ingin mendapat  informasi yang  lebih rinci, 

dipersilakan  membaca bagian ke lima ( dari tulisan ini ) yang berjudul O My 

Brother ; If  You Wish to Die in Iman, You Should Love the Ahlul Bayt  and the 

Ashab [Bagian ini akan kami terjemahkan, Insya Allah]. 

Jariyah berkata ; “Pada saat Rasulullah saw. wafat, Ali ra. sibuk 

mempersiapkan pemakaman beliau. saat  itu, Abu Bakar ra. dan Umar al-Faruq ra. 

serta lima sampai enam shahabat Anshar berkumpul di sebuah pemukiman milik 

Bani Sakifa, dan membahas masalah kekhalifahan di antara mereka. Sambil 

memegang tangan Abu Bakar ra., Umar ra. berkata : Engkau akan menjadi Khalifah, 

dan orang lain tentu akan menyetujuimu’. Dengan menghunus pedang, Umar 

menjelajahi jalan-jalan di kota Madinah selama tiga hari, dan menekan kepada setiap 

orang yang ia temui untuk menyetujui kekhalifahan Abu Bakar ra. Pada hari kedua, 

Ali ra. datang ke tempat pertemuan ini  dan berkata, ‘Di antara kalian, aku-lah 

yang paling cerdas, paling unggul, dan paling berani. Mengapa kalian merampas hak 

kekhalifahanku?’ Dengan menyampaikan pernyataan-pernyataan seperti itu, dia 

bermaksud mununtut haknya sambil mengajak dua puluh orang mengikuti  dirinya. 

Namun, pada akhirnya dia menyetujui kekhalifahan Abu Bakar ra.  meskipun dengan 

perasaan sangat terpaksa”.  

Akan namun , fakta yang sebenarnya ialah : saat  Rasulullah saw. wafat  

semua shahabat merasakan kesedihan yang sangat mendalam, sehingga mereka tidak 

mengetahui apa yang mesti mereka lakukan. Kesedihan itu begitu menyakitkan, 

sehingga sebagian mereka  merasa kaku, tubuh mereka merasa sangat lemah dan 

mereka  tidak kuasa  beranjak pergi. Kesedihan yang begitu mendalam juga menimpa  

diri Ali ra., sehingga dia tidak mengetahui apa yang mesti  dilakukan berkaitan 

dengan kewafatan Rasul saw. Sayidina Umar ra. merasa sangat bingung sehingga  

dia mengambil pedang dan berjalan tidak tentu arah sambil berteriak, ‘Saya akan 

memenggal kepala siapa saja yang mengatakan bahwa Rasulullah saw. telah 

meninggal dunia.’ Orang-orang munafik yang dengki, justru mencoba 

mengeksploitir kebingungan ini . Melihat kegalauan itu, Abu Bakar ra.  masuk 

ke Masjid dan naik ke atas mimbar, lalu beliau berpidato : “Wahai para shahabat 

Rasulullah saw.! Kita semua menyembah Allah swt. Dia selalu hidup, Dia tidak  

akan pernah mati, Dia tidak akan pernah sirna. Ayat ketiga belas surat al-Zumar 

menjelaskan, ‘Wahai Nabi-Ku tercinta! Suatu saat kamu pasti akan mati. Mereka 

juga pasti akan mati.’ Sebagaimana ditegaskan oleh Allah swt., Rasulullah saw. telah 

meninggal dunia.” Melalui pernyataan-pernyataan yang efektif ini , beliau 

memberi nasihat  kepada para shahabat yang sedang dalam kebingungan. Pidatonya 

itu menghapuskan kebingungan di antara para shahabat dan membuat mereka sadar. 

Sayidina Umar ra. yang juga turut berada di antara mereka berkata sesudah  

mendengar ayat yang baru saja dibacakan oleh Abu Bakar ra. di atas, “Saya benar-

benar lupa akan ayat ini, sehingga saya pikir ayat ini yaitu  wahyu  yang baru saja 

diturunkan.” Abu Bakar ra. bersikap bijaksana dalam menghadapi sikap orang-orang 

munafik  yang mengeruhkan suasana pemilihan khalifah dari kalangan mereka, dan 

beliau meninggalkan aktifitas keseharian lainnya guna mempersiapkan pemakaman 

Rasulullah saw.  Beliau juga menyediakan tempat di mana para shahabat ra. dapat 

membicarakan masalah pemilihan khalifah. Di dalam musyawarah, mereka yang 

hadir akhirnya memilih Abu Bakar ra. sebagai khalifah.  Pada hari Selasa kedua 

sesudah  kewafatan Rasulullah saw., Ali ra.  pergi ke Masjid melakukan baiat kepada 

Abu Bakar ra. Dengan demikian, Abu Bakar ra.  diangkat menjadi khalifah  dengan 

suara bulat. 

Allah swt. mencela dan melarang sikap sombong dan arogan 

sebagaimana diterangkan di dalam semua kitab samawi yang Dia turunkan kepada 

hamba-hamba-Nya. Di antaranya, ayat kedua puluh tiga surat al-Nahl menjelaskan, 

“Allah swt. benar-benar tidak menyukai kesombongan!” Menurut sebuah ayat yang 

tercantum di dalam Bible, para Rasul bertanya kepada Nabi Isa as. : ‘Wahai 

Nabiyullah! Siapakah di antara kita yang paling  mulia dan siapa yang paling hina?’ 

Nabi Isa as. menjawab, “ Yang paling mulia di antara kita ialah yang paling hina ; 

dan yang paling hina di antara kita ialah yang paling mulia.” Maksudnya, “Barang 

siapa yang menganggap dirinya mulia, maka  dia-lah sesungguhnya orang yang hina, 

dan barang siapa yang menganggap dirinya rendah (hina) maka dia-lah 

sesungguhnya orang yang mulia.” Begitu pula, Muhammad saw., -nabi terakhir dan 

tertinggi-, mencela orang-orang yang bersikap sombong, dan memuji orang yang 

rendah hati di dalam sejumlah hadits beliau. Di antaranya, beliau bersabda dalam 

sebuah hadits, “Bila seseorang merendahkan hati sebab  Allah, yaitu bila dia tidak 

menganggap dirinya lebih tinggi (baik) dari pada orang Islam lainnya, maka Allah 

swt. akan mengangkat derajatnya.” Para ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah 

beropendapat, bahwa Allah swt. menganugerahkan kepada hamba-hamba-Nya 

bagian dari setiap Sifat-Sifat-Nya seperti ilmu dan berkuasa. Meskipun tiga sifat-Nya 

yang khusus hanya untuk Diri sendiri. Dia tidak membagikan tiga sifat-Nya ini  

kepada makhluk-Nya. Tiga sifat ini  yaitu  kibriya, ghani dan khalq. Kibriya 

artinya sombong, superioritas. Ghani artinya tidak butuh kepada yang lain dan 

dibutuhkan oleh yang lain. Sebaliknya Dia telah memberi kepada hamba-hamba-Nya  

tiga sifat turunan-Nya. Yaitu sifat dzull dan inkisar artinya rendah dan hina, butuh 

dan fana [menjadi tidak ada]. Konsekuensinya, kesombongan berarti bertentangan 

dengan sifat [sombong]  yang dimiliki oleh Allah swt. secara hak. Kesombongan 

bukanlah sifat yang dimiliki oleh hamba. Kesombongan merupakan dosa yang sangat 

besar. Di dalam sebuah hadis qudsi dijelaskan, “Azamat  [kebanggaan] dan kibriya 

[kesombongan] yaitu  milik-Ku [Allah], Aku akan menyiksa dengan siksa amat 

pedih  kepada mereka yang hendak mengambil dua sifat ini dari-Ku”. Oleh sebab  

itu, para ulama dari kalangan ahli tasawuf terkemuka senantiasa mengajarkan kepada 

ummat Islam untuk bersikap rendah hati. Orang Islam dilarang egois (terlalu 

mementingkan diri sendiri). Allah swt. membenci kepada orang-orang yang egois. 

Abdul Qadir Ghaylani, -salah seorang wali agung dan mursyid tasawuf terkenal-, 

dilahirkan di Ghaylani Iran pada tahun  471 H, dan wafat di Baghdad  pada tahun 

561 H [bertepatan dengan tahun 1166]. Pada suatu hari, Sayid  Ahmad Rifai dan 

sejumlah muridnya duduk di pinggir sungai Tigris. saat  mereka sedang 

memperbincangkan karamah yang dimiliki oleh Abdul Qadir Ghaylani, murid-

muridnya merasa heran dan kagum. saat  itu, salah seorang di antara mereka 

menyanjung secara berlebihan sehingga dia terselip lidah (sabqul lisan, pent.), maka 

dengan sikap rendah hati Abdul Qadir Ghaylani menyadarkan murid lain atas 

kealpaan ini  [yang memicu  terselip lidah] dengan kata-katanya yang amat 

santun : “Saya tidak mengira di dunia ini ada seorang muslim yang lebih rendah dari 

pada diri saya”. Ahmad Rifai dilahirkan di sebuah desa bernama Ummi Ubaidah, 

terletak antara Basrah dan Wasit, pada tahun 512 H, dan  meninggal dunia di sana 

pada tahun 578 H [1183 M]. Arogaansi, kecongkakan, yaitu  sifat yang amat dicela. 

Sebaliknya, rendah hati, sopan santun, merupakan sifat terpuji dan baik. Semua nabi 

memiliki sifat rendah hati dalam segala amal yang dikerjakannya. Begitu pula 

dengan para shahabat ra. Sikap percaya dalam pemilihan khalifah,  dan sikap rendah 

hati serta tidak haus akan jabatan ini , menunjukkan bahwa mereka benar-benar 

memiliki sifat rendah hati. Dengan ilustrasi seperti ini, apakah Ali ra. dikatakan 

memiliki sikap sombong, congkak, dan menantang kepada para shahabat ra. lain 

dengan mengatakan, “ Apakah ada orang yang lebih cerdas, lebih mulia dan lebih 

berani dari pada saya?” dibandingkan dengan para shahabat ra. lainnya. Hal ini  

mengingatkan kita pada prilaku iblis (devil) yang sombong dan mengklaim bahwa 

dirinya lebih baik dari pada Adam as. Pernyataan yang seolah-olah diucapkan oleh 

Imam Ali ra. di atas tidak sesuai dengan keagungan dan kemuliaan Ali ra. sendiri, 

dan jelas hal ini  merupakan kebohongan serta  fitnah yang ditujukan kepada  

Singa Allah ini . Keanehan (absurdity) lainnya, ialah pernyataan yang 

menyebutkan bahwa Umar ra. menghunus pedang dan mengintimidasi serta menekan 

para shahabat ra. untuk meyakinkan kepada mereka bahwa Abu Bakar ra. sekarang 

telah dibait menjadi khalifah. Sementara itu, Bani Hasyim dan Bani Umayyah yang 

memiliki hubungan kekerabatan dengan Sayidina Ali ra., -sebagaiman kita ketahui-, 

yaitu  suku yang paling kuat di  kalangan  para shahabat ra. sedang  Abu Bakar 

ra. dan Umar ra. memiliki kerabat dari kalangan mereka yang jumlahnya tidak 

banyak. Tidak mungkin, Umar ra. menghunus pedang  dan menekan dua suku 

ini   untuk memaksakan kehendaknya. Padahal Sayidina Ali ra. sendiri sangat 

masyhur dikenal sebagai Singa Allah (the Lion of Allah) di kalangan mereka. Hal 

ini  bertentangan dengan logika yang mengatakan, bahwa para shahabat ra. 

memilih Abu Bakar ra., dan bukan Ali ra., semata-mata sebab  tekanan Umar atas 

diri mereka.  

Saya (Utsman Efendi, pent.) mendengar sebuah cerita berikut dari salah 

seorang ulama Kirkuk : Suatu saat  saya pergi ke Iran. Saya memasuki sebuah  

masjid yang ada di sana. Di situ saya melihat seorang ulama sedang berpidato. Di 

dalam pidatonya dia mengatakan bahwa, “Pada suatu hari Imam Ali ra. mengunjungi 

shahabat Abbas ra. di rumahnya. Beliau melihat Abbas ra. sedang menangis, lalu 

beliau bertanya kepada Abbas ra. kenapa dia menangis. Abbas ra. menjawab,  ‘Saya 

memasang beberapa papan di depan pintu rumah saya untuk melindungi sinar 

matahari. Akan namun  Umar ra. menyuruh papan ini  dilepas dengan alasan 

membahayakan orang yang lewat. Saya tidak menerima perlakuan ini.’ Dengan 

penuh amarah, Ali ra. menghunus pedang, -yang disebut zulfikar-, sambil berlari-lari 

mencari Khalifah Umar ra. untuk membalas dendam atas perlakuannya terhadap 

Abbas ra. Namun, Umar ra.  bersembunyi. Di tengah-tengah pidatonya ini , 

salah seorang murid dari ulama ini  bertanya, ‘Jika Ali ra. menghunus pedang 

melawan Khalifah  hanya sebab  persoalan papan kayu, dan berlari-lari mengancam 

Khalifah, kenapa beliau tidak menghunus pedang saat  Abu Bakar ra. dipilih 

menjadi khalifah dan mengancam orang-orang yang memilih Abu Bakar ra.? Jika 

beliau melakukan hal ini , tentu kita ummat Muhammad saw. tidak akan 

terpecah belah ke dalam kelompok-kelompok seperti ini, dan banyak orang Islam  

yang tidak tersesat dari jalan yang benar.’ sebab  bingung,  maka dia ragu-ragu 

menjawab pertanyaan si murid ini . lalu  dia berteriak, ‘Orang ini telah 

kafir. Pukul-lah dia, bunuh dia!’ Murid malang ini  berhasil menyelamatkan diri 

sesudah  berhasil lari dari masjid ini . Mereka tidak saja berani mengatakan, 

bahwa yaitu  merupakan kebohongan yang nyata menuduh Umar ra. menghunus 

pedang dan menekan para shahabat  untuk memilih Abu Bakar ra. menjadi khalifah, 

namun  juga mereka berani mengatakan, bahwa yaitu  kebohongan yang nyata 

mengatakan Ali ra. menghunus pedang melawan Umar ra.  

Kejadian-kejadian yang menyelimuti para shahabat ra. pada hari 

kewafatan Rasulullah saw.  terkadang  diuraikan dengan dibumbui fitnah yang keji 

dan kejam oleh sebagian mereka. Oleh sebab  itu, kami menganggap penting untuk 

mengutip keterangan dari kitab Qishas al-Anbiya, paragraf berikut yang 

menerangkan wafatnya Rasulullah saw. dan peristiwa-peristiwa yang dialami para 

shahabat  sesudahnya : 

Pada hari kedua puluh tujuh bulan (Arab) Safar tahun kesebelas hijriah 

Rasulullah saw. mulai merasakan sakit kepala. Beliau menempati kamar istrinya, 

Sayidah Aisyah ra. Beliau memberitahukan kepada Abdurahman bin Abu Bakar 

bahwa dirinya akan mendiktekan sebuah wasiat tertulis yang merekomendasikan 

kepada Abu Bakar ra. untuk menjadi khalifah sepeninggal dirinya, dan menyuruh 

Abdurrahman bin Abu Bakar  membawakan tinta dan pulpen untuk menulis wasiat 

ini . saat  Abdurrahman bin Abu Bakar  hendak pergi  untuk melaksanakan 

perintah ini , beliau berkata, “Kamu kerjakan nanti saja. Sekarang, tunggu 

sebentar!” lalu   beliau menuju ke Masjid. saat  para shahabat ra. mengetahui 

kabar bahwa Nabi saw. akan memasuki Masjid, maka mereka berkumpul di Masjid  

itu (Masjid Nabawi, pent.). Fakhrul ’Alam (julukan Nabi saw., artinya Kemegahan 

Jagad Raya, pent.) naik ke atas mimbar, memberi nasihat kepada para shahabat ra. 

dan meminta kepada mereka untuk memaafkan dirinya jika pernah melakukan 

kesalahan secara tidak sengaja. lalu  beliau memuji Abu Bakar ra., sebab  

kemuliaan dan ketinggian derajatnya di antara para shahabat ra, dan mengatakan 

bahwa dirinya sangan mencintai Abu Bakar ra. Beberapa hari lalu , sakit beliau 

bertambah parah. Para shahabat Anshar, yaitu warga  asli Madinah sangat 

berduka cita. Mereka berjalan mengelilingi Masjid itu tidak henti-hentinya laksana 

sayap-sayap serangga. Fadl, -putra Abbas-, dan Ali bin Abi Thalib 

menginformasikan mengenai keadaan Baginda Rasulullah saw. Nabi yang sangat 

penyantun itu berjalan menuju ke Masjid dibantu mereka berdua dengan mendukung 

di bawah lengan beliau. Para shahabat telah berkumpul menunggu beliau di Masjid. 

Khatam al-Anbiya’ (Nabi Penutup di antara Para Nabi) itu naik ke atas mimbar. 

sesudah  mengucapkan puji-pujian kepada Allah, beliau menoleh kepada para 

shahabat Anshar, dan berkata ; “Wahai shahabat-shahabatku! Aku mendengar, 

bahwa kalian mengkhawatirkan kematianku. Apakah seorang nabi harus selalu 

bersama ummatnya selamanya, sehingga kalian mengharapkan aku selalu bersama 

kalian selamanya? Ketahuilah, bahwa aku akan menemui Rabb-ku. Aku wasiatkan 

kalian untuk menghormati para tokoh Muhajirin.” Selanjutnya beliau berkata, 

“Wahai orang-orang Muhajirin! Wasiatku kepada kalian yaitu  : Berbuat baik-lah 

kalian kepada orang-orang Anshar!  sebab  mereka telah berbuat baik kepada kalian.  

Mereka memberikan perlindungan secara ikhlas kepada kalian di rumah-rumah 

mereka. Meskipun mereka memiliki kehidupan sulit, mereka selalu mendahulukan 

kalian dari pada diri mereka sendiri. Mereka membagikan harta benda kepada kalian. 

jika  salah seorang dari kalian mengambil hak atas mereka, biarkanlah dia 

menjaga mereka, dan maafkanlah kesalahan-kesalahan mereka.” lalu  beliau 

memberi nasihat, “Allah swt. telah mengabulkan seorang hamba pilihan-Nya untuk 

menetap di dunia ini atau menghadap Rabb-Nya. Hamba itu lebih suka menghadap 

Rabb-Nya.” Pernyataan ini  mengisyaratkan, bahwa  beliau  akan berpulang  ke 

rahmatullah. Abu Bakar ra. mengetahui makna pernyataan ini  sehingga beliau 

mulai menangis, sambil berkata, “Semoga hidup kami bermanfaat buat engkau, 

wahai Utusan Allah!” Rasulullah saw. menyuruh dia bersabar dan ikhlas. Air mata 

mengalir dari mata beliau  yang diberkati. Beliau berkata , “Wahai para shahabat-ku! 

Aku mencintai Abu Bakar ra. yang telah mengorbankan harta bendanya sebab  iman 

dan ikhlas demi agama Islam. Seandainya memungkinkan bagi seseorang membawa 

seorang teman ke akhirat, pasti aku akan memilih dia”. lalu  beliau 

memerintahkan agar para shahabat yang mempunyai pintu rumah terbuka 

menghadap ke arah Masjid untuk menutupnya, kecuali pintu rumah Abu Bakar ra. 

Selanjutnya dengan bijaksana dan lemah lembut beliau berpidato : 

“Wahai orang-orang Muhajirin dan Anshar! saat  tiba waktu untuk 

mengerjakan sesuatu, janganlah seseorang tergesa-gesa. Allah swt. tidak tergesa-gesa 

terhadap hamba-hamba-Nya. Bila seseorang hendak mengubah qadha dan qadar 

Allah swt. dan menundukkan kehendak-Nya, maka Dia akan menundukkan dia 

dengan Kemarahan-Nya dan menghancurkan-Nya. Bila seseorang  mencoba 

memperdaya dan menipu Allah swt., maka sesungguhnya dia akan menipu dirinya 

sendiri dan menyia-nyiakan hal ikhwal dirinya sendiri. Ketahuilah, bahwa aku 

mencintai dan menyayangi kalian. Kalian akan mendapat  berkah atas pertemuan 

kalian dengan aku lagi. Tempat di mana kalian akan bertemu denganku ialah telaga 

yang disebut al-Kautsar. Barang siapa yang ingin masuk surga dan mendapat  

rahmat (berkah) bersama aku di sana, sebaiknya jangan berbicara dusta. Wahai 

orang-orang Islam! Keingkaran dan perbuatan jahat akan mengubah berkah dan 

mengurangi kehidupan seseorang. jika  rakyat mentaati perintah Allah swt., 

penguasa, pemimpin dan pejabat pemerintahan, maka Allah swt. akan menyayangi 

dan mengasihi mereka. Bila mereka jahat, kasar, dan banyak melakukan perbuatan 

dosa, maka mereka tidak akan mendapat  kasih sayang dari penguasa mereka.  

sebab  hidupku bermanfaat bagi kalian, maka kematianku akan membawa kebaikan 

dan berkah bagi kalian juga. jika  aku pernah memukul atau  menghina salah 

seorang di antara kalian secara zalim, maka aku bersedia dibalas sebagaimana 

perlakuanku terhadapa dia ; atau jika aku merampas harta salah seorang di antara 

kalian secara zalim, biarkan dia datang kepadaku dan mengambil hartanya ; saya 

bersedia mengembalikannya, sebab  hukuman dunia jauh lebih ringan dari pada 

hukuman yang akan diterima di akhirat. Hukuman dunia itu jauh lebih ringan 

memikulnya.” Lalu beliau turun dari mimbar. sesudah  mengerjakan shalat (sunnah) 

beliau naik ke mimbar lagi, menyampaikan wasiat dan beberapa nasihat. Beliau 

berkata, “Aku ‘mempercayakan’ Allah swt. kepada kalian,” lalu beliau kembali ke 

kamar istrinya. Dalam keadaan sakit, setia kali adzan dikumandangkan beliau tetap 

pergi ke Masjid untuk mengerjakan shalat berjamaah, dan beliau sendiri yang 

menjadi imam. Tiga hari sebelum wafat, beliau merasakan sakitnya semakin parah. 

Beliau tidak mampu lagi pergi ke Masjid, sehingga beliau memerintahkan, 

“Perintahkan kepada Abu Bakar ra. (menggantikan tempatku sebagai imam) dalam 

menjalankan shalat bersama para shahabat-ku”. Selama Rasulullah saw. hidup, Abu 

Bakar ra. pernah menjalankan tugas sebagai imam shalat selama tujuh belas kali. 

Abu Bakar-lah orang yang telah memerintahkan kepada Sayidina Ali ra. untuk 

mempersiapkan pemakaman. Sebelum sakit, Nabi saw. penah menerima beberapa 

hadiah berupa emas. Beliau memberikan sebagian hadiah ini  kepada orang-

orang miskin. Dan sisanya beliau berikan kepada Aisyah ra. Pada hari kesepuluh, 

Sabtu, bulan Rabi’ul Awwal, Allah swt mengutus Malaikat Jibril as. untuk 

menanyakan keadaan beliau. Hari berikutnya, Ahad, Malaikat itu datang lagi dan 

menanyakan keadaan beliau serta menyampaikan kabar gembira bahwa Aswad al-

Anasi, si pendusta yang mendakwakan dirinya menjadi nabi di Yaman, telah mati 

terbunuh. Rasul saw. menyampaikan kabar gembira ini  kepada para shahabat ra. 

Pada  hari Ahad, sakit beliau  semakin parah. Usamah yang ditunjuk oleh Rasulullah 

saw. sebagai komandan perang, datang menjenguk beliau. saat  itu Rasulullah saw. 

sedang berbaring di atas dipan, dalam keadaan sangat lemah. Beliau tidak berbicara 

apa pun kepada Usamah. Namun, beliau mengangkat tangan dan mengusapkannya 

kepada Usamah pelan-pelan. Hal ini  mengisyaratkan bahwa beliau memintakan 

berkah untuk Usamah. Pada hari Senin, di mana para shahabat sedang mengerjakan 

shalat Subuh berjamaah di belakang Abu Bakar ra. di Masjid, tiba-tiba Fakhur ‘Alam 

memasuki Masjid. Beliau menyaksikan kaum muslimin sedang melaksanakan shalat 

berjamaah. Beliau merasa gembira sekali dan tersenyum. Beliau juga mengikuti  

shalat yang dipimpin oleh Abu Bakar ra. di belakang. saat  para shahabat  

mengetahui bahwa Rasulullah saw. berada di Masjid, mereka mengira bahwa beliau  

telah sembuh dari sakit dan sudah sehat kembali. Rasulullah saw.  memasuki kamar 

Aisyah ra., menuju ke tempat tidur. “Aku ingin menghadap Allah swt. tanpa 

meninggalkan harta dunia di belakang-ku. Sedekahkanlah emas yang kamu miliki 

kepada orang-orang miskin, semuanya!” Beliau merasa demamnya semakin tinggi. 

Sejenak sesudah  beliau membuka mata, beliau menanyakan kepada Aisyah ra. apakah 

dia telah mensedekahkan emas itu. Dia menjawab sudah. Lagi-lagi dia menyuruh 

Aisyah untuk mensedekahkan emas itu segera. sesudah  mengetahui bahwa emas itu 

telah disedekahkan, maka beliau berkata, “Sekarang aku telah merasa ringan”. 

Usamah datang lagi. Utusan Allah itu berkata, “Semoga Allah ta’ala 

menolongmu! Sekarang, berangkatlah perang”. Usamah berangkat bersama pasukan 

dan segera memerintahkan mereka bergerak. Pada saat itulah sakit beliau semakin 

parah. Beliau memanggil putri kesayangannya, Fatimah az.-Zahra. Beliau 

membisikkan sesuatu di telinganya. Fatimah mulai menangis. Beliau membisikkan 

lagi sesuatu. saat  itu Fatimah tersenyum. Ternyata  diketahui bahwa, hal pertama 

yang diucapkan oleh beliau kepada Fatimah yaitu  ; “Aku akan mati”. Hal inilah 

yang membuat Fatimah menangis. lalu  beliau berkata, “Dari Ahlul Bayt-ku, 

kamu yaitu  orang pertama yang akan memasuki (surga) bersamaku (di akhirat),”  

Fatimah merasa gembira mendengar kabar itu, sehingga dia tersenyum. 

Pada sore hari yang sama (Senin, pent.) Malaikat Jibril dan Izrail as. 

(Angel of Death) tiba di pintu rumah Nabi. Jibril as. memasuki rumah beliau. Dia 

memberitahukan kepada Nabi saw. bahwa Izrail as. sudah berada di pintu menunggu 

ijin masuk. Rasulullah saw.  memberi ijin kepada Izrail as. Dia pun masuk, 

mengucapkan salam, dan menyampaikan perintah yang dibawanya dari Allah swt. 

Rasulullah saw. memandang wajah Jibril as. Malaikat itu berkata , “Wahai 

Rasulullah saw.! Para Malaikat sedang menunggumu.” Fakhrul ‘Alam saw. berkata, 

“Wahai Izrail! Kemari dan laksanakan tugasmu!” Malaikat itu lalu mencabut ruh 

Muhammad saw. dan membawanya ke Illiyyin. 

saat  tanda-tanda kematian mulai tampak pada diri Rasulullah saw., 

Ummu Aiman ra. mengirimkan pesan kepada putranya, Usamah. sesudah  menerima 

kabar duka itu, Usamah, Umar  al-Faruq dan Abu Ubaidah meninggalkan pasukan 

dan bergegas kembali ke Masjid Nabawi. saat  itu, Aisyah Shiddiqah dan 

wanita -wanita  lain mulai menangis. sedang  para shahabat yang berada 

di Masjid merasa gundah dan lemas. Ali ra.  terpaku seakan-akan mati. Sementara 

itu, Umar ra. diam termangu. Pada saat itu Abu Bakar ra. sedang berada di rumah. 

Beliau  mendatangi tempat itu dengan tergopoh-gopoh, lalu memasuki Hujrat as-

Sa’adah (Kamar yang Sentosa, pent.). sesudah  membuka wajah Fakhrul ‘Alam, 

beliau mengetahui bahwa Baginda Nabi saw. telah wafat. Wajah dan seluruh anggota 

tubuh  Rasulullah saw. tampak berseri-seri, bersih dan bercahaya lakasana sebuah 

lingkaran cahaya. Abu Bakar ra. menciumnya, sambil berkata, “Wahai Rasulullah 

saw.! Engkau benar-benar indah, baik dalam hidup maupun matimu!” Dia menangis 

sedih. Dia menutupi wajah Nabi dengan sehelai kain. lalu  dia berusaha 

menghibur orang-orang yang berada di rumah itu. Lalu dia keluar menuju ke Masjid, 

dan berusaha menenangkan hati para shahabat yang tengah dirundung duka, dan 

berusaha memulihkan keadaan. Sehingga mereka semua percaya bahwa Rasulullah 

saw. benar-benar telah wafat. Sementara itu, pasukan yang berada di bawah 

komando Usamah memasuki kota. Buraidah bin Hasib mengangkat bendera yang 

dipegang di tangannya. Kedukaan dan kesedihan laksana pisau belati beracun yang 

menyayat hati para shahabat. Air mata tertumpah mengalir deras, hati mereka 

berduka cita sebab  sedih menanggung perpisahan dengan Baginda Rasulullah saw.  

Abbas, -putra Fadl-, Sayidina Ali ra., dan orang-orang yang berada di 

rumah  itu menyiapkan prosesi pemakaman Rasulullah saw. Pada saat itu Abu Bakar 

ra. berdiri di dekat pintu, sambil menangis dan membantu pemakaman. Namun, ratap 

dan tangis tidak ada gunanya lagi dalam hal ini, sebab  keberadaan seorang khalifah 

sangat diperlukan untuk mendinamisasi urusan kaum muslimin, dan untuk 

menegakkan ajaran-ajaran Islam yang baru tumbuh. saat  itu figur yang dipandang 

paling cocok untuk mengemban tugas ini  yaitu  Sayidina Abu Bakar ra. 

Abbas dan Ali ra. yaitu  orang-orang yang memiliki hubungan dekat 

dengan Rasulullah saw. Sementara itu, Fakhrul ‘Alam telah menegaskan, bahwa Abu 

Bakar-lah, -yang menemani beliau saat  berada di dalam goa-, memiliki derajat 

lebih tinggi dibandingkan dengan para shahabat lainnya. Dan selama beliau sakit, 

dalam sebuah pidato perpisahannya beliau menyampaikan kepada para shahabat, 

bahwa Abu Bakar ra. yaitu  orang yang paling dicintainya. Pada saat Rasulullah 

saw. menyuruh menutup seluruh pintu yang terbuka menghadap Masjid, beliau 

hanya memperbolehkan pintu rumah Abu Bakar ra.  yang tetap terbuka. Tiga hari 

sebelum wafat, beliau telah mengangkat Abu Bakar ra. menjadi imam bagi para 

shahabat, artinya beliau telah memberinya suatu kedudukan lebih tinggi di atas orang 

lain dalam mengerjakan shalat. Semua fakta itu menunjukkan, bahwa Abu Bakar ra.  

sesungguhnya telah diangkat menjadi khalifah. Sehingga yang perlu dilakukan oleh 

para shahabat  yaitu  tinggal melaksanakan musyawarah untuk memilih beliau. 

Sebaliknya, sebagian shahabat  Anshar bermaksud mengangkat seorang 

khalifah dari kalangan mereka sendiri. Oleh sebab  itu, mereka berkumpul di 

pemukiman Bani Sa’idah. saat  itu,  Sa’ad ibn Ubadah ra.,-pemimpin suku Hazraj-, 

ikut terlibat dalam musyawarah ini , meskipun dalam keadaan sakit. Dia berkata 

kepada orang-orang Anshar : 

“Wahai orang-orang Anshar! Tidak ada satu suku pun yang memiliki 

derajat lebih mulia dari pada yang kalian miliki. Di Mekkah, Muhammad saw. 

mengajak sukunya masuk Islam selama tiga belas  tahun. Namun, sangat sedikit di 

antara mereka yang beriman kepadanya. Dan jumlah sedikit yang beriman kepadanya 

itu tidak cukup untuk melaksanakan tugas jihad. saat  Allah swt. menganugerahkan 

kehormatan kepada kalian menjadi orang Islam, Dia memberkati kalian dengan nasib 

baik, yaitu dapat melindungi utusan-Nya, para shahabatnya, memperkuat dan 

menyebarluaskan agama Islam melalui jihad. Kalian yaitu  manusia yang mampu 

menundukkan musuh-musuh (Islam).  Pedang kalian mampu menggetarkan orang-

orang Arab sehingga mereka masuk Islam. Rasulullah saw. mencintai kalian saat  

beliau wafat. Hak kalian yaitu  menjadi pemimpin (khalifah). Janganlah kalian 

memberikan hak ini kepada orang lain.” Sebagian besar orang-orang Anshar yang 

hadir  di sana berkata, “Anda benar. Semoga Allah menolong Anda. Kami memilih 

Anda menjadi khalifah”. 

Akan namun  suku Aus dari Anshar tidak menyetujui keputusan ini . 

Mereka berkumpul bersama Usayyad bin Hudair yang menjadi kepala suku mereka. 

Sebaliknya, orang-orang Muhajirin, pasti tidak akan memilih khalifah dari kalangan 

suku Aus maupun Hazraj. Padahal suku Quraisy-lah suku yang dipandang 

mempunyai kedudukan paling tinggi dan mulia di antara semua suku Arabia. 

Sehingga perselisihan besar mungkin akan segera timbul di antara mereka.  

Pada saat itu suasana begitu kritis dan mencekam. Oleh sebab  itu, 

kedatangan Abu Bakar ra., Umar ra. dan Abu Ubaidah ra. ke tempat itu ibarat 

kedatangan Nabi Hidzir as. sang penyelamat kehidupan yang ajaib. saat  itu salah 

seorang dari kaum Anshar berdiri sambil berkata, “Kami telah menolong Rasulullah 

saw., dan memberi perlindungan kepada orang-orang Muhajirin. Oleh sebab  itu, 

khalifah harus berasal dari kalangan kami.” 

Rasulullah saw. memiliki Abu Bakar ra. di tangan kanan, dan Umar ra. di 

tangan kiri. Dalam sebuah kesempatan, beliau juga pernah berkata mengenai Abu 

Ubaidah, “Dia yaitu  salah seorang  manusia terpuji dari ummat ini”. saat  ketiga 

orang ini  muncul secara tiba-tiba, maka seolah-olah Rasulullah saw. hidup 

kembali dan datang ke tempat ini . Semua orang terdiam, menunggu dengan 

antusias untuk mendengarkan apa yang akan mereka sampaikan. Abu Bakar ra. mulai 

berbicara : 

“Ummat ini dulunya menyembah berhala. lalu  Allah swt mengutus 

seorang Rasul kepada mereka supaya menyembah Dia. Orang-orang kafir merasa 

keberatan meninggalkan agama nenek moyang mereka. Allah ta’ala memberikan 

hidayah-Nya kepada orang-orang Muhajirin sehingga mereka menjadi orang-orang 

beriman. Mereka menjadi shahabat dan teman duka Rasulullah saw. Mereka telah   

bersabar bersama Rasulullah saw. dalam menghadapi penganiayaan yang dilakukan 

oleh musuh-musuh agama Allah. Mereka yaitu  para penyembah al-Haqq (Allah) 

pertama di bumi, dan menjadi orang-orang mukmin yang beriman kepada Utusan-

Nya. Oleh sebab  itu, khalifah harus berasal dari kalangan mereka. Tidak ada 

seorang pun yang bisa bersekutu dengan mereka dalam hal ini.  Mencoba mengambil 

hak ini dari mereka berarti merampasnya  secara zalim. Wahai, orang-orang Anshar! 

pengabdian kalian terhadap Islam tidak dapat dipungkiri. Allah ta’ala memilih kalian  

 

11. Menurut mereka Sayidina Abu Bakar ra. yang berasal dari suku 

Tamim dan Sayidina  Umar ra. yang berasal dari suku Adiy yaitu  “para penyembah 

berhala secara tersembunyi,” meskipun Sayidina Ali ra. sendiri memberikan putrinya 

kepada putra Sayidina Abu Bakar ra. bernama Muhammad dan mengangkatnya 

menjadi gubernur. Ali ra. juga memberikan putri yang lainnya kepada Sayidina  

Umar ra. Di satu sisi mereka juga berpendapat bahwa, ‘Sayidina Ali ra. yaitu  

ma’shum’ (bebas dari kesalahan-kesalahan). Akan namun , di sisi lain mereka mencela 

para pemimpin agama terkemuka ini , di mana kepada mereka-lah Ali ra. 

memberikan putri-putrinya yang menjadi mertua Rasulullah saw. dan sekaligus Ali 

ra. sendiri menjadi menantu beliau. Mereka juga berpendapat bahwa mereka yaitu  

orang-orang munafik. 

12. Mereka berpendapat, bahwa orang-orang Sunni yaitu  musuh 

Sayidina Ali ra. dan Ahlul Bayt Nabi saw. Sebagaimana diketahui, orang-orang 

Sunni yaitu  kelompok Islam yang sangat mencintai Sayidina Ali ra. dan Ahlul 

Bayt. Mereka berkeyakinan, bahwa barang siapa mencintai Ali dan Ahlul Bayt Nabi 

saw. jika meninggal dunia dalam keadaan beriman. Menurut orang-orang Sunni, 

salah satu persyaratan menjadi kekasih Allah (wali) di antaranya dia harus mencintai 

Sayidina  Ali ra. dan Ahlul Bayt serta mengikuti tariqah mereka. 

13. Mereka berpendapat, bahwa menurut orang-orang Sunni Ibnu 

Muljam pembunuh Sayidina Ali ra. yaitu  orang yang adil, dan Imam Bukhari telah 

meriwayatkan hadits-hadits yang berasal dari Ibnu Muljam ini . Pendapat 

mereka ini jelas tidak benar. Kitab Shahih Bukhari tidak memuat hadits-hadits yang 

diriwayatkan oleh Ibnu Muljam. 

14. Mereka memusuhi golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Mereka 

menghina kata ‘Sunnah’. 

15. Mereka berpendapat, jika seseorang mengucapkan ‘wa ta’aalaa 

jadduk’ dalam shalat maka shalatnya batal. 

16. Mereka berpendapat, bahwa orang Sunni lebih jahat dan lebih keji 

dari pada orang Yahudi dan Nasrani. 

 

17. Mereka mengklaim bahwa semua kelompoknya akan masuk surga 

sebab  mereka mencintai kepada Ali ra. meskipun di antara mereka sendiri saling 

berselisih satu dengan lainnya. 

18. Mereka berpendapat, bahwa tidak ada gunanya mengerjakan 

ibadah yang diajarkan oleh ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah. 

19. Mereka mengutuki ketiga khalifah Rasulullah sebagai pengganti 

ucapan basmalah saat  hendak memulai suatu pekerjaan. Mereka berkeyakinan, 

bahwa orang sakit yang melekatkan secarik kertas yang berisi tulisan kutukan 

terhadap kedua khalifah pertama pada dirinya atau meminum air yang di dalamnya 

ada  kertas berisi kutukan ini  yang telah dicelupkan, dia akan segera 

sembuh. 

20. Mereka berpendapat, bahwa mengutuki Sayidah Aisyah dan 

Hafsah ra. lima kali sehari hukumnya wajib. 

21. Mereka berpendapat, bahwa Rasulullah saw. telah memberikan 

mandat kepada Imam Ali ra. untuk menceraikan istri-istri beliau. Oleh sebab  itu, 

melalui mandat ini  Imam Ali ra. menceraikan Aisyah (dari Rasulullah saw.). 

Padahal Al Qur'an tidak menghendaki perceraian sunggupun kepada diri Rasulullah 

saw. sekali pun. 

22. Mereka berpendapat, bahwa Allah swt. tidak menciptakan para 

Nabi seandainya Dia tidak menciptakan Ali ra. Mereka tidak mengetahui bahwa 

barang siapa yang meyakini seseorang yang bukan Nabi memiliki kedudukan lebih 

tinggi dari pada seorang Nabi, dirinya telah kafir. 

23. Mereka berpendapat, bahwa pada hari kebangkitan yang berhak 

memutuskan segala persoalan yaitu  Muhammad saw. dan Ali ra. 

24. Menurut mereka, saat  Umar ra. terbunuh para Malaikat tidak 

mencatat perbuatan dosa yang dilakukan manusia selama tiga hari. 

25. Mereka berpendapat, bahwa melempar jumrah di Mina selama 

musim haji pada hakikatnya diarahkan kepada Abu Bakar dan Umar. 

 

 138

26. Mereka berpendapat, ayat tentang dabbat al-ardl yaitu  isyarat 

kembalinya Sayidina Ali ra. ke dunia. 

27. Menurut mereka, -sebagaimana tercantum pada artikel kedua 

puluh dua tentang keyakinan sesat mereka-, barang siapa menjadi tuan rumah lalu 

menawarkan istri dan anak-anak wanita nya kepada orang Hurufi lainnya yang 

mengunjunginya, dia akan memperoleh pahala berlipat ganda. Di Iran, bapak-bapak 

orang Hurufi setiap kali bertamu, mereka ditawari wanita -wanita  yang 

mereka sukai. Mereka memiliki kepercayaan bahwa anak-anak yang dibuahi pada 

malam Jum’at (malam antara Kamis dan Jum’at) berhak menyandang gelar sayyid 

Persia. Sehingga dengan demikian,  jumlah sayyid ini  banyak sekali di Iran. 

28. Mereka berkeyakinan, bahwa tanggal delapan belas bulan 

Dzulhijjah yaitu  h