yang hijrah ke Madinah dengan diikuti dua saudara seibunya, yaitu Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits
bin Hisyam, lalu Abu Jahal bin Hisyam dan
Al-Harits bin Hisyam membawa Ayyasy bin Abu Rabi'ah pulang ke Makkah dan mengekangnya di
Makkah hingga Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq usai.
Dari sekutu Bani Makhzum bin Yaqadzah yaitu sebagai berikut: Ammar bin Yasir, diragukan apakah
ikut hijrah ke Habasyah atau tidak, Muattib bin Auf bin Amir dari Khuza'ah.
Dari Bani Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab yaitu sebagai berikut: Utsman bin Madz'un bin Habib
bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah beserta anaknya, As-Saib bin Utsman, Qudamah bin Madz'un,
Abdullah bin Madz'un.
Dari Bani Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab yaitu sebagai berikut: Khunais bin Hudzafah bin Qais
bin Adi, Hisyam bin Al-Ash bin Wail yang tertahan di Makkah sesudah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam hijrah ke Madinah. Dia baru bisa hijrah ke Madinah seusai Perang Badar, Perang Uhud dan
Perang Khandaq.
Dari Bani Adi bin Ka'ab bin Luay yaitu Amir bin Rabi'ah sekutu Bani Sahm beserta istrinya yang
bernama Laita binti Abu Hats- mah bin Ghanim.
Dari Bani Amir bin Luay yaitu sebagai berikut: Abdullah bin Makhramah bin Abdul Uzza bin Abu Qais,
Abdullah bin Suhail bin Amr. Ia ditawan di kota Makkah pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam hijrah ke Madinah. Pada Perang Badar, ia kabur dari orang-orang musyrik dan berpihak kepada
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu ikut Perang Badar bersama beliau, Abu Sabrah bin
Abu Ruhm bin Abdul Uzza beserta istrinya yang bernama Ummu Kaltsum binti Suhail bin Amr dan As-
Sakran bin Amr bin Abdu Syams beserta istrinya, Saudah binti Zam'ah bin Qais. Abu Sabrah bin Abu
Ruhm meninggal di Makkah sebelum Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah.
lalu beliau menikahi Saudah binti Zam'ah.
Dari sekutu Bani Amir bin Luay ada satu orang yaitu Sa'ad bin Khaulah.
Dari Bani Al-Harits bin Fihr yaitu sebagai berikut: Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Nama aslinya ialah Amir
bin Abdullah Al-Jarrah, Amr bin Al-Harts bin Zuhair bin Abu Syadad, Suhail bin Baidha' yang bernama
lengkap Suhail bin Wahb bin Rabi'ah bin Hilal. Amr bin Abu Sarh bin Rabi'ah bin Hilal.
Jumlah seluruh sahabat Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam yang tiba di Makkah dari Habasyah
yaitu tiga puluh tiga orang laki-laki.
Di antara mereka yang masuk ke Makkah dengan perlindungan orang lain ialah Utsman bin Madz'un
bin Habib Al-Jumahi yang masuk ke Makkah dengan perlindungan Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu
Salamah bin Abdul Asad bin Hilal Al-Makhzumi yang masuk ke Makkah dengan perlindungan Abu
Thalib bin Abdul Muthalib yang tidak lain yaitu pamannya sendiri dari jalur ibunya dan ibu Abu
Salamah dan Barrah binti Abdul Muthalib.
Ibnu Ishaq berkata: Adapun Utsman bin Madz'un, maka Shalih bin Ibrahim bin Auf bercerita kepadaku
dari orang yang bercerita padanya dari Utsman yang berkata: jika Utsman bin Madz'un melihat
cobaan yang diderita sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedangkan ia sendiri
selama 24 jam berada dalam jaminan keamanan Al-Walid bin Al-Mughirah, ia berkata: "Demi Allah,
keberadaanku selama 24 jam dalam keadaan aman di bawah perlindungan salah seorang musyrik,
sedang sahabat-sahabatku dan orang-orang yang memiliki keyakinan yang sama denganku
mendapat ujian di jalan Allah yang menimpaku yaitu suatu penyesalan tersendiri dalam diriku."
lalu Utsman bin Madz'un pergi menemui Al-Walid bin Al-Mughirah dan berkata kepadanya:
"Wahai Abu Abdu Syams, engkau telah menepati semua hak perlindungan namun kini aku serahkan
kembali perlindungan itu kepadamu." Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Mengapa demikian wahai
keponakanku? Apakah ada seseorang dari kaumku yang menyakitimu?" Utsman bin Madz'un berkata:
"Sama sekali tidak! Aku hanya merasa tentram dengan perlindungan Allah dan tidak ingin
perlindungan dari selain Dia." Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Kalau begitu, mari kita pergi ke
masjid haram lalu kau kembalikan perlindunganku kepadaku secara di depan umum, sebagaimana aku
melindungimu di depan khalayak ramai." lalu Utsman bin Madz'un dan Al-Walid bin Al-
Mughirah berjalan bersama hingga tiba di masjid. Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "lni Utsman, ia
datang ke tempat ini untuk mengembalikan perlindunganku kepadaku." Utsman bin Madz'un berkata:
"Apa yang dikatakan Al-Walid bin Al-Mughirah itu sungguh benar. Sungguh, dia telah menepati hak
perlindungan dan ia orang yang memberi perlindungan dengan penuh kemuliaan. Namun aku tidak
suka mencari perlindungan dari selain Allah. Sekarang aku kembalikan perlindungannya kepadanya."
Usai mengumumkan hal itu, Utsman bin Madz'un pergi dan jika itu, Labid bin Rabi'ah bin Malik bin
Ja'far bin Kilab duduk mengobrol bersama orang-orang Quraisy. Ia sedang membacakan syair kepada
mereka, lalu Utsman bin Madz'un duduk bersama mereka. Labid berkata:
Ketahuilah, hanya Allah lah yang Haq dan segala sesuatu selain Allah itu batil
Utsman bin Madz'un berkata: "Engkau berkata benar." Labid melanjutkan
Dan setiap nikmat itu pastilah binasa
Utsman bin Madz'un berkata: "Kalau yang ini engkau dusta. Kenikmatan surga tidak akan pernah
binasa." Labid bin Rabi'ah berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah teman ngobrol kalian
belum pernah disakiti. Sejak kapan kejadian seperti ini menimpa kalian?" Salah seorang dari hadirin
berkata: "sebenarnya orang bodoh ini (maksudnya Utsman bin Madz'un) bersama orang-orang
bodoh seperti dia telah keluar dari agama kami. Oleh karena itu, engkau jangan sekali-kali terprovokasi
dengan ucapannya." Utsman bin Madz'un membalas ucapan orang ini hingga sengketa semakin
besar. Orang ini berdiri ke arah Utsman bin Madz'un lalu memukul matanya hingga luka
memar. Al-Walid bin Al-Mughirah yang berada tidak jauh dari tempat kejadian melihat peristiwa itu
dengan jelas apa yang dialami Utsman bin Madz'un, lalu ia berkata: "Demi Allah, wahai
keponakanku, sebenarnya dirimu belum pernah mengalami derita sebagaimana apa yang engkau
alami saat ini, selama engkau berada dalam perlindungan yang kokoh." Utsman bin Madz'un berkata:
"sebenarnya diriku sangat empati dengan apa yang diderita saudaranya yang lain di jalan Allah.
Demi Allah, aku berada dalam perlindungan Dzat yang lebih tangguh dan lebih hebat darimu, wahai
Abu Abdu Syams." Al-Walid bin Al-Mughirah berkata kepada Utsman bin Madz'un: "Kemarilah wahai
keponakanku, jika engkau ingin seperti dulu lagi, maka ambillah kembali perlindunganmu." Utsman
bin Madz'un menjawab: "Tidak!!"
Abu Salamah dalam Perlindungan Abu Thalib
Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku dari Salamah bin Abdullah bin Umar bin
Abu Salamah bahwa ia diberitahu bahwa jika Abu Salamah meminta perlindungan kepada Abu
Thalib, beberapa orang dari Bani Makhzum menemui Abu Thalib dan berkata padanya, "Wahai Abu
Thalib, apa maksud dengan semua ini? Kami relakan, engkau melindungi keponakanmu, Muhammad
dari kami. Lalu apa alasanmu melindungi seorang laki-laki yang bukan keponakanmu? Abu Thalib
berkata: "Abu Salamah termasuk keponakanku juga." Jika aku tidak melindungi Abu Salamah, maka
aku juga tidak akan melindungi Muhammad." Abu Lahab bangkit, dan dengan nada marah lalu
berkata: "Wahai orang Quraisy, demi Allah, kalian tiada henti-hentinya memprotesnya orang tua ini
atas perlindungannya terhadap salah seorang di antara kaumnya. Demi Allah, apa yang kalian lakukan
ini hanyalah kesiasiaan belaka. Mereka berkata: "Lalu kami harus bagaimana wahai Abu Utbah (Abu
Lahab)." Abu Lahab yaitu pendukung dan penolong berat mereka dalam berhadapan dengan
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka tetap berada dalam kondisi seperti itu. Abu Thalib
sendiri terpesona saat dia mendengar ucapan Abu Lahab di atas. Ia sangat berharap Abu Lahab
mengambil sikap seperti dirinya terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Abu Thalib berkata
mendorong Abu Lahab untuk menolong Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam:
sebenarnya salah seorang pamannya ialah Abu Utaibah
Pasti hidup dalam taman indah jika ia tidak dibebani kezaliman
Aku katakan kepadanya namun apa artinya nasihatku untuknya?
Hai Abu Mu'thib, tetap kokohkanlah kepribadianmu!
Janganlah sekali-kali menyerah pada zaman, sepanjang kau ada di jalan lurus
Engkau dihina oleh zaman, atau engkau turun di musim ini
Berpalinglah dari jalan kenestapaan dan orang selainmu
berada di atas jalan nestapa
Karena engkau tidak tercipta dalam keadaan
lemah
Perangilah, karena perang yaitu solusi ter baik
Engkau takan akan melihat pelaku perang diberi kehinaan
Sampai dia diajak damai
Bagaimana tidak, sementara mereka tidak
melakukan dosa besar padamu
Dan tidak membiarkan engkau kalah ataumenang
Semoga Allah memberi pahala pada Abdu
Syams, Naufal, Taim dan Makhzum karenakebaikannya kepada kami
Mereka memecah belah kami sesudah sebelumnya penuh cinta intim adanya
Mereka telah melanggar hal-halyang diharamkan
Demi Baitullah, kalian semua dusta bohong.
Kami tidak merampas Muhammad
Tidakkah kalian lihat suatu hari dia berdiri di Syi'b
Abu Bakar Mendapat Perlindung- an Ibnu Dughunnah dan Mengembalikannya Kembali
Ibnu Ishaq berkata: Kepadaku oleh Muhammad bin Muslim Az-Zuhri bercerita padaku
dari Urwah dari Aisyah Radhiyallahu Anhu- ma, jika Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu
merasa Makkah sudah tidak akrab lagi dengannya dimana ia mendapat gangguan di dalamnya,
dan melihat kekejaman orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan
sahabat-sahabat beliau, maka ia memohon izin kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk
berhijrah dan beliau pun memberikannya. lalu Abu Bakar pun berhijrah dan dalam
perjalanannya, ia bertemu dengan Ibnu Ad-Daghanah, saudara Bani Al-Harits bin Bakr bin Abdu Manat
bin Kinanah. jika itu, Ibnu Ad-Dughunnah yaitu pemimpin orang- orang Ahabisy.
Ibnu Ishaq berkata: Ahabiys yaitu anak-anak dari Harits bin Abdu Manat bin Kinanah dan Hun bin
Mudrikah dan Bani Mushthaliq bin Khuza'ah.
Ibnu Hisyam berkata: Mereka melakukan persekutuan. Maka lalu mereka disebut Ahabisy
karena melakukan perseketuan di sebuah lembah yang bernama Ahbasy di bawah Mekkah.
Ada yang berkata bahwa nama Ibnu Ad-Dughunnah ialah Ibnu Ad-Dughainah.
Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri bercerita kepadaku dari Urwah dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang
berkata: lalu Ibnu Ad-Dughunnah berkata: "Kenapa engkau ingin pergi wahai Abu Bakar?" Abu
Bakar menjawab: "Aku diusir oleh kaumku. Mereka menyakiti serta mempersempit ruang gerakku."
Ibnu Ad-Dughunnah berkata: "Kenapa itu semua bisa terjadi?" Demi Allah, engkau hiasan keluarga,
menolong orang yang berada dalam kesulitan, melakukan banyak kebajikan dan membantu orang
miskin. Jangan pergi karena aku akan melindungimu." lalu Abu Bakar pulang bersama Ibnu Ad-
Dughunnah.
jika Abu Bakar memasuki Mekkah, Ibnu Ad-Dughunnah berdiri lain berkata: "Wahai orang-orang
Quraisy, sebenarnya aku telah melindungi anak Abu Quhafah. Maka siapa pun tidak boleh
menyakitinya sedikitpun."
Aisyah berkata: Orang-orang Quraisy pun mematuhinya. Abu Bakar mempunyai masjid di pintu
rumahnya di Bani Jumah dan biasanya ia melakukan shalat di sana. Abu Bakar berhati lembut. Oleh
karenanya jika membaca Al-Qur'an, pasti ia terharu.
Anak-anak muda, para budak dan para wanita berdiri di tempat Abu Bakar karena kagum dengan
postur tubuhnya. Oleh sebab itulah beberapa orang Quraisy menemui Ibnu Ad-Dughunnah lalu
berkata: "Wahai Ibnu Ad-Dughunnah, engkau melindungi orang ini bukan untuk mengganggu kami
kan? sebenarnya dia manakala shalat dan membaca apa yang dibawa Muhammad, maka lalu
ia menangis dan ditambah ia memiliki postur tubuh yang sungguh menawan. Kami khawatir anak-anak
muda, wanita-wanita dan orang-orang lemah di antara kami terpengaruh olehnya. Oleh sebab itulah,
nasihatilah Abu Bakar agar tidak keluar rumah dan melakukan hal semacam itu."
Ibnu Ad-Dughunnah pergi kepada Abu Bakar dan berkata kepadanya: "Hai Abu Bakar, perlindunganmu
bukanlah dengan maksud agar engkau mengusik kaummu. sebenarnya mereka tidak suka tempat
engkau shalat dan merasa terganggu oleh perbuatanmu. Oleh sebab itu, berdiamlah di dalam
rumahmu, dan berbuatlah apa saja yang engkau suka."
Abu Bakar berkata: "Bagaimana kalau perlindunganmu ku kembalikan kepadamu dan aku lebih ridha
dengan perlindungan Allah?" Ibnu Ad-Dughunnah berkata: "Ya, cabutlah perlindunganku kepadamu!"
Abu Bakar berkata: "Baiklah." Ibnu Ad-Dughunnah berdiri lalu berkata: “Wahai Oran-orang
Quraisy, sebenarnya anak Abu Quhafah telah mengembalikan perlindunganku kepadaku, maka
terserah apa yang akan kalian lakukan pada sahabat kalian ini."
Ibnu Ishaq berkata: Abdurrahman bin Al-Qasim bercerita kepadaku dari ayahnya, Al-Qasim bin
Muhammad ia berkata: Da¬lam perjalanannya menuju Ka'bah, Abu Bakar berjumpa dengan orang
Quraisy yang jahil, orang itu melemparkan tanah ke atas kepala Abu Bakar. lalu Al-Walid bin Al-
Mughirah atau Al-Ash bin Wail berjalan melewati Abu Bakar dan orang jahil berkata: "Engkau sendiri
yang memiliki keadaanmu seperti ini." Abu Bakar berkata: "Ya Tuhan, betapa Penyayangnya Engkau.
Ya Tuhan, betapa Penyantunnya Engkau. Ya Tuhan, betapa Penyantunnya Engkau."
Pembatalan Shahifah (Surat Perjanjian)
Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang Quraisy secara sepihak membatalkan shahifah yang diterapkan
orang-orang Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib. Peristiwa ini di komandoi Hisyam
bin Amr Rabi'ah bin Al-Harits bin Habib bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir bin Luay, karena Hisyam
bin Amr yaitu saudara seibu dengan Nadhlah bin Hasyim bin Abdu Manaf yang memiliki hubungan
kuat dengan Bani Hasyim. Ia sangat dihormati di mata kaumnya. Pada suatu malam ia mendatangi
Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib di Syi'b dengan menunggang unta dan mengangkut makanan di atas
untanya. Pada saat ia telah tiba di gerbang Syi'b, ia turun menggiring untanya, berjalan ke depan dan
masuk menemui mereka. Pada hari yang lain, ia datang dengan membawa unta nya yang mengangkut
gandum dan melakukan seperti biasanya.
Hisyam bin Amr datang menjumpai Zuhair bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar
bin Makhzum. Ibu Zuhair bin Abu Umayyah yaitu Atikah binti Abdul Muthalib. Hisyam bin Amr
berkata kepada Zuhair bin Abu Umayyah, "Hai Zuhair, apakah engkau gembira, jika engkau menikmati
makanan, mengenakan pakaian, nikah dengan wanita-wanita, sedang paman-pamanmu dari jalur
ibumu seperti yang engkau ketahui tidak boleh menjual dan membeli dari manusia, tidak boleh
menikah dan tidak boleh menikahkan putri-putri mereka kepada manusia yang lain? Demi Allah,
andaikata mereka yaitu paman-paman Abu Al-Hakam bin Hisyam lalu engkau ajak mereka
menuruti keinginanmu, maka tidak ada seorang pun dari mereka yang menjawab seruanmu untuk se-
lamanya." Zuhair bin Abu Umayyah berkata: "Lalu apa yang dapat aku lakukan? Demi Allah, jika aku
didukung orang lain, pasti aku batalkan shahifah ini .'" Hisyam bin Amr berkata: "Ada orang orang
lain yang mendukungmu." Zuhair bin Abu Umayyah berkata: "Siapa dia?!" Hisyam bin Amr berkata:
"Aku!" Zuhair bin Abu Umayyah berkata: "Carilah pihak ketiga."
lalu Hisyam bin Amr pergi mene- mui Al-Muth'im bin Adi dan berkata kepadanya: "Wahai Al-
Muth'im, senangkah engkau dua kabilah dari Bani Manaf dan engkau mendukung orang-orang Quraisy
dalam masalah ini? Demi Allah, jika engkau mendukung mereka dalam masalah ini, engkau pasti kena
getahnya." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Lalu apa yang dapat aku lakukan? sementara aku hanyalah
seorang diri?" Hisyam bin Amr berkata: "Ada orang kedua yang sependapat denganmu." Al-Muth'im
bin Adi berkata: "Siapa dia?" Hisyam bin Amr berkata: "Aku." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Carilah
orang lain
lagi!" Hisyam bin Amr berkata: "Telah aku
lakukan lakukan." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Siapa dia?" Hisyam bin Amr berkata: "Zuhair bin Abu
Umayyah." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Carilah lagi orang lain!"
lalu Hisyam bin Amr menemui Abu Al-Bakhtari bin Hisyam dan berkata kepadanya seperti yang
ia katakan kepada Al-Muth'im bin Adi. Abu Al-Bakhtari berkata: "Adakah ada orang yang bisa
membantu masalah ini?" Hisyam bin Amr berkata: "Ya, ada." Abu Al Bakhtari bin Hisyam berkata:
"Siapa dia?" Hisyam bin Amr berkata: "Zuhair bin Abu Umayyah, Al-Muth'im bin Adi dan saya
sependapat denganmu." Abu Al-Bakhtari bin Hisyam berkata: "Carilah orang lain lagi!"
Lalu Hisyam bin Amr menemui Zam'ah bin Al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad dan berbicara
dengannya sambil memuji hubungan keluarga Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib dengannya dan hak
mereka atas dirinya. Zam'ah bin Al-Aswad berkata: "Adakah orang yang sependapat dengan apa yang
kamu lakukan ini?" Hisyam bin Amr berkata: "Ya, ada!" Hisyam bin Amr menyebutkan orang-orang
yang telah mufakat dengannya dalam masalah ini. Lalu mereka sepakat untuk bertemu di samping Al-
Hajun di Makkah Atas.
Ibnu Ishaq berkata: lalu lima orang itu bertemu di samping Al-Hajun. Mereka sepakat dan
berjanji untuk membatalkan shahifah. Zuhair bin Abu Umayyah berkata: "Akulah orang yang pertama
kali akan angkat bicara."
Keesokan harinya, mereka berlima pergi ke ruang rapat mereka. Zuhair bin Abu Umayyah juga pergi
dengan memakai pakaian yang mewah. Lalu ia melakukan thawaf di Baitullah sebanyak tujuh kali,
barulah ia menemui orang-orang Quraisy dan berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Makkah,
pantaskah kita menikmati makanan dan mengenakan pakaian, sedang Bani Hasyim binasa tidak boleh
melakukan jual-beli. Demi Allah, saya tidak akan duduk sampai shahifah yang memutus sitaturahim
dan zalim ini di sobek."
Abu Jahal yang sedang berada di sudut masjid berkata: "Demi Allah, jangan omong kosong di sini.
Shahifah ini tidak boleh di sobek." Zam'ah bin Al-Aswad berkata: "Demi Allah, engkau jauh lebih dusta,
wahai Abu Jahal. Kami tidak rela penulisan shahifah ini sejak awal penulisannya." Abu Al-Bakhtari bin
Hisyam berkata: "Zam'ah berkata benar. Demi Allah, kita tidak puas dengan apa yang ditulis di
dalamnya dan kita mengingkari." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Kalian berdua berkata benar dan
dustalah orang yang memprotes kalian. Kita berlepas tangan kepada Allah dari shahifah ini dan dari
semua yang ditulis di dalamnya." Hisyam bin Amr juga mengatakan hal sama. Abu Jahal berkata: "Apa
yang kalian lakukan telah kalian sepakati di suatu malam dengan musyawarah dan bukan di tempat
ini kalian putuskan. Saat itu, Abu Thalib sedang duduk di sudut masjid. Al-Muth'im bin Adi bangkit dan
berjalan menuju shahifah untuk menyobeknya, namun ia dapatkan rayap-rayap telah
memakannya, kecuali kata (dengan nama-Mu ya Allah).
Penulis shahifah itu yaitu Manshur bin Ikrimah. sesudah menuliskannya tangannya lumpuh,
demikianlah menurut riwayat para ulama.
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian pakar menyebut bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata
kepada Abu Thalib: "Pamanda, sebenarnya Allah telah mengirim rayap-rayap kepada shahifah
orang-orang Quraisy ini. Rayap-rayap itu justru membiarkan nama Allah di shahifah itu dan
menghapus kezaliman, pemutusan hubungan silaturahim dan kebohongan dari shahifah itu." Abu
Thalib bertanya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Apakah Tuhanmu menginformasikan
hal ini kepadamu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Ya benar." Abu Thalib berkata:
"Mana Tuhanmu, kenapa aku tidak melihatnya?" lalu Abu Thalib keluar menemui orang-orang
Quraisy dan berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang orang-orang Quraisy, sebenarnya
keponakanku memberitahuku ini dan itu, oleh sebab itu mari kita buktikan kebenaran ucapannya. Jika
shahifah ini persis seperti yang dikatakan keponanku, maka berhentilah memboikot kami dan
turunkanlah apa saja yang ada di dalamnya. Jika keponakanku berkata dusta, maka dia aku serahkan
kepada kalian." Orang-orang Quraisy berkata: "Baiklah, kami sependapat dengan tawarabnu itu."
Mereka pun sepakat, lalu mereka melihatnya dan ternyata shahifah ini persis seperti yang
dikatakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Saat itulah, beberapa orang Quraisy membatalkan
shahifah yang telah mereka buat.
Usai kembali dari Thaif Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali pergi ke Gua Hira. Rasulullah
mengirim seseorang untuk menjumpai Al-Akhnas bin Syariq untuk memohon perlindungan. Al-Akhnas
bin Syariq berkata: "Aku seorang lawan dan seorang lawan itu tidak boleh memberikan perlindungan
kepada lawannya." lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus seseorang untuk
menjumpai Suhail bin Amr untuk memohon perlindungan padanya. Suhail bin Amr berkata:
"sebenarnya Bani Amir dilarang melindungi seseorang untuk melawan Bani Ka'ab." lalu
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim seseorang untuk menjumpai Al-Muth'im bin Adi guna
memohonkan baginya perlindungannya, dan ia pun siap memberikan perlindungan kepada beliau.
sesudah itu, Al-Muth'im bin Adi beserta keluarganya keluar dari rumah dengan persenjataan lengkap
hingga mereka tiba di masjid, lalu Al-Muth'im bin Adi mengirim seseorang menjumpai
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan membawa pesan: "Silahkan, masuklah ke dalam
masjid!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pun masuk ke dalamnya, lalu thawaf di Baitullah dan
shalat di sampingnya, sesudah itu pulang ke rumah. Inilah yang dimaksudkan oleh Hassan bin Tsabit
dalam untaian syairnya.
Ibnu Ishaq berkata: Hassan bin Tsabit juga memuji Hisyam bin Amr atas jasanya dalam membatalkan
shahifah dalam untaian syairnya:
Adakah Bani Umayyah memenuhi hak perlindungan
Dengan ikatan nan kokoh sebagaimana yang dilakukan oleh Hisyam?
Seperti sekelompok orang yang tidak menzalimi tetangganya
Yaitu Al-Harits bin Hubaib anak Sukham? Jika Bani Hisl melindungi orang yang meminta
perlindungan,
Mereka pasti memenuhinya dan menawarkan ketentraman
Ibnu Hisyam berkata: Hisyam yaitu saudara Suham. Namun ada pula yang mengatakan bahwa nama
Suham yaitu Sukham.
Thufail bin Amr Ad-Dausi Masuk Islam
Ibnu Ishaq berkata: Walaupun memperoleh perlakuan hina dari kaumnya, Rasulullah tetap
menyampaikan nasihat dan menyeru mereka kepada keselamatan dari apa yang sedang mereka alami
saat itu. Adapun orang-orang Quraisy, mereka malah melarang manusia dan siapa saja dari orang Arab
yang datang pada mereka.
Thufail bin Amr yaitu seorang yang terhormat, penyair dan seorang sangat cerdas. Orang-orang
Quraisy berkata kepada Thufail bin Amr, "Wahai Thufail, engkau telah tiba di negeri kami dan orang
ini (Nabi Muhammad) yang ada di tengah-tengah kita telah membuat kami semua porak-poranda. Ia
telah memecah belah persatuan dan kesatuan kita. Ucapannya laksana sihir yang mampu
memutuskan hubungan seorang anak dengan ayahnya, saudara dengan saudaranya dan suami
dengan istrinya. Kami sangat khawatir jika apa yang telah terjadi pada kami itu lambat laun akan
menimpamu dan kaummu. Karena itu, janganlah engkau sedikitpun mengobrol dengannya jangan
pula mendengar sesuatu pun darinya!"
Thufail bin Amr bercerita: "Demi Allah, mereka tak pernah henti mengatakan itu padaku hingga aku
bertekad untuk tidak akan mendengarkan sesuatu pun dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan
tidak berbicara dengan beliau sampai pada aksi menutup kedua telingaku dengan kapas karena
khawatir perkataan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam masuk ke kedua telingaku sementara aku
tidak ingin mendengar apa pun darinya. Suatu hari, aku pergi ke masjid, tanpa kuduga ternyata
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri shalat di sisi Ka'bah, lalu aku berdiri mendekati
beliau. Ternyata Allah berkehendak agar aku mendengarkan sebagian firman-Nya. Sungguh apa yang
aku dengar yaitu ucapan yang teramat indah, aku bergumam dalam diriku: "Demi Allah, sungguh aku
seorang yang cerdas dan penyair yang cerdas memilah antara yang haq dengan yang batil lalu apa
salahnya kalau aku mendengar apa yang dikatakan lelaki ini. Jika yang dia bawa yaitu kebenaran, aku
akan menerimanya. Jika yang dibawanya yaitu kebatilan, aku akan meninggalkannya."
Aku terpaku bagai patung di tempatku sampai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam beranjak pulang
ke rumahnya. Aku mengikuti beliau dengan diam-diam dari belakang hingga beliau masuk ke dalam
rumahnya. jika telah masuk ke dalam rumahnya, aku ikut masuk ke dalamnya. Aku berkata: "Hai
Muhammad, kaummu mengatakan ini dan itu padaku. Demi Allah, mereka terus-menerus
mengintimadasi aku terhadap permasalahanmu, hingga aku menutup kedua telingaku ini dengan
kapas agar tidak bisa mendengar ucapanmu. Namun ternyata Allah memberiku hidayah hingga bisa
mendengarkan ucapanmu yang teramat indah. Tolong terangkan kepadaku persoalanmu!"
Thufail bin Amr berkata: "lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menerangkan tentang
Islam kepadaku dan membacakan Al-Qur'an. Demi Allah, aku belum pernah mendengar perkataan
seindah Al- Qur'an dan sesuatu yang lebih adil dibandingkan Islam. Maka akupun segera memeluk Islam
dengan menyaksikan dua kalimat syahadat. Aku berkata: "Wahai Nabi Allah, sebenarnya aku orang
yang ditaati di tengah-tengah kaumku. Aku akan pulang dan mengajak mereka kepada Islam. Oleh
karena itu, berdoalah kepada Allah agar Dia memberiku satu tanda yang bisa membantuku dalam
menyeru mereka." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Ya Allah, berilah dia sebuah
tanda."
Lanjut Thufail: "Maka aku pun pulang kepada kaumku. jika aku berada di Tsaniyyah, celah antara
dua gunung, yang dari sini aku bisa melihat rumah-rumah kaumku, tiba-tiba di kedua mataku ada
cahaya seperti lentera. Aku berkata: "Ya Allah, janganlah dia ada di wajahku. Aku khawatir kaumku
mengira bahwa cahaya ini yaitu tanda bahwa aku keluar dari agama mereka." lalu
ca¬haya ini pindah ke ujung cambukku dan orang-orang bisa melihat sinar di cambukku
bagaikan lentera, sementara aku turun ke tem: pat mereka dari Tsaniyyah hingga akhirnya tiba di
tempat mereka keesokan harinya.
Thufail bin Amr berkata: "Tatkala aku tiba di rumah, ayahku yang sudah berusia lanjut memanggilku.
Aku berkata: "Ayahanda kini aku tidak lagi termasuk golonganmu dan engkau tidak lagi termasuk
golonganku." Ayahku berkata: "Apa maksudmu bicara begitu wahai anakku?" Aku berkata: "Aku telah
masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam." Ayahku berkata:
"Anakku, agama kamu agamaku juga." Aku berkata: "Mandilah dan cucilah pakaian Ayah! sesudah itu,
datanglah kepadaku kembali agar aku mengajari Ayah apa yang telah diajarkan kepadaku." Ayah pun
pergi, mandi dan mencuci pakaiannya. sesudah itu, ia datang kepadaku, lalu aku terangkan
kepadanya perihal Islam dan ia pun memeluk Islam.
Lalu datanglah istriku mendekati aku. Aku berkata kepadanya: "Kini aku bukan termasuk golonganmu
lagi dan engkau tidak lagi termasuk dari golonganku." Istriku berkata: "Apa maksudmu?!" Aku berkata:
"Islam telah memisahkanku darimu, aku telah mengikuti agama Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sal-
lam." Istriku berkata: "Agamamu, agamaku jua." Aku berkata: "Pergilah ke Hina Dzi Asy- Syara."
Ibnu Hisyam berkata: Thufail bin Amr berkata: "Pergilah ke Dzi Asy-Syara, lalu mandilah di sana!" Dzi
Asy-Syara merupakan berhala kabilah Daus. Kabilah Daud melindungi tempat berhala ini di sana
ada air terjun yang turun dari gunung. Istriku berkata: "Istriku bergegas pergi untuk mandi. sesudah
selesai ia kembali menemuiku, maka aku terangkan Islam kepadanya dan ia pun memeluk Islam.
lalu aku menyeru kabilah Daus kepada Islam, namun sayang mereka agak lamban merespon
seruanku. lalu aku datang kembali kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Makkah.
Aku berkata kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, sebenarnya perzinahan telah mendominasi di
kabilah Daus, maka berdoalah kepada Allah untuk mereka." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
berkata: "Ya Allah, tunjukilah kabilah Daus. Kembalilah engkau kepada kaummu, lalu serulah mereka
dan bersikap santunlah terhadap mereka." Aku pulang kembali di tengah kabilah Daus untuk menyeru
mereka kepada Islam hingga Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah sampai
terjadinya Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq. Aku pergi menemui Rasulullah Shallalahu
alaihi wa Sallam dengan membawa orang-orang dari kaumku yang telah masuk Islam. Saat itu
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang berada di Khaybar. Aku sampai di Madinah dengan
membawa sekitar tujuh puluh atau delapan puluh keluarga yang telah masuk Islam, dan kami
menyusul Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Khaybar dan beliau memberi bagian rampasan
perang sebagaimana kaum Muslimin yang lain.
Hingga Allah menaklukkan Makkah untuk beliau. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, kirimlah aku kepada
berhala Dzu Al-Kafain -berhala milik Amr bin Humamah- untuk aku bakar."
Ibnu Ishaq berkata: Thufail bin Amr lalu berangkat menuju berhala Dzu Al-Kafaini, lalu ia
membakar ini sambil berkata:
Wahai Dzu Al-Kafain, aku bukan lagi budak-budakmu
Kami lahir lebih awal dari pada mu Kirii aku selipkan api di dalam hatimu
Ibnu Ishaq berkata: Usai melakukan itu, Thufail bin Amr kembali menghadap Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam. Ia hidup menyertai Nabi di Madinah hingga Allah Taala memanggilnya pulang ke
haribaan-Nya. Di zaman Abu Bakar, jika orang-orang Arab murtad, Thufail bin Amr berangkat
bersama kaum Muslimin hingga berhasil menaklukkan Thulaihah dan seluruh Negeri Najed. sesudah
itu, Thufail bin Amr berangkat bersama kaum Muslimin menuju Yamamah bersama dengan anaknya
yang bernama Amr bin Thufail. Dalam perjalanannya menuju Yamamah Thufail bin Amr. Ia berkata
kepada sahabat-sahabatnya: "sebenarnya aku baru saja bermimpi, tolong terangkanlah kepadaku
arti mimpiku itu. Aku bermimpi kepalaku dicukur, seekor burung keluar dari mulutku, aku berpapasan
dengan seorang wanita lalu wanita memasukkan aku ke dalam kemaluannya. Anakku men- cariku
dengan sangat gelisah, lalu aku lihat anakku dijauhkan dariku." Mereka berkata: "Itu suatu
pertanda yang baik!!" Thufail bin Amr berkata: "Demi Allah, aku memiliki penafsiran sendiri dari mimpi
itu!" Mereka berkata: “Bagaimana takwilnya?” Thufail bin Amr berkata: "Kepalaku dicukur artinya ia
letakkan di bumi. Sedangkan burung yang keluar dari mulutku yaitu nyawaku. Wanita yang
memasukkan aku ke dalam kemaluannya artinya tanah yang digali untukku lalu aku dimasukkan ke
dalamnya. Anakku mencariku artinya lalu ia dijauhkan dariku artinya bahwa ia ingin sekali
menggapai sebagaimana yang aku gapai." Thufail bin Amr Rahimahullah gugur sebagai salah seorang
syahid pada Perang Yamamah. Sedangkan anaknya menderita luka parah lalu sembuh dan akhirnya
dia gugur sebagai syahid di medan Perang Yarmuk pada masa kekhilafahan Umar bin Khaththab
Radhiyallahu Anhu.
Tentang A'sya Bani Qais bin Tsa'labah
Ibnu Hisyam berkata: Khalid bin Qurrah bin Khalid As-Sadusi dan yang lainnya berkata kepadaku dari
tokoh-tokoh sepuh berilmu seperti Bakr bin Wail bahwa A'sya Bani Qais bin Tsa'labah bin Ukabah bin
Sha'b bin Ali bin Bakr bin Wail pergi menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk masuk
Islam.
jika A'sya bin Qais sampai atau dekat di Makkah, ia dihalau oleh sebagian orang Quraisy. Mereka
menanyakan apa tujuan kedatangannya ke Makkah. A'sya bin Qais nyatakan bahwa maksud
kedatangannya ke Makkah karena ingin berjumpa dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan
memeluk Islam. Salah seorang Quraisy berkata kepada A'sya bin Qais: "Hai Abu Bashir, sesungguh-
nya dia mengharamkan zina." A'sya bin Qais berkata: "Demi Allah, aku tidak gila dengan zina." Orang
Quraisy ini berkata: "Hai Abu Bashir, sebenarnya dia mengharamkan minuman keras." A'sya
bin Qais berkata:
jjemi Allah, adapun yang mi, maka dalam jiwa ini masih suka kepadanya. Aku akan meminumnya tahun
ini, sesudah itu aku akan datang kepada beliau untuk masuk Islam." sesudah itu, A'sya bin Qais pulang.
Ia meninggal dunia pada tahun itu juga dan berhasil bertemu dengan Rasululla/i Shallalahu 'alaihi wa
Sallam.
Ibnu Ishaq berkata: Walapun musuh Allah, Abu Jahal demikian berat memusuhi Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam, dan sangat besar volume kebenciannya kepada beliau dan bersikap keras terhadap
beliau, namun Allah merendahkannya di hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika ia
melihatnya.
Al-Irasyi yang Menjual Untanya Kepada Abu Jahal
Ibnu Ishaq berkata: Abdul Malik bin Abdullah bin Abu Sufyan Ats-Tsaqafi berkata kepadaku, seseorang
dari Arasy, tiba di Makkah dengan mengendarai untanya. Unta itu lalu dibeli Abu Jahal, dengan
menghutanginya. lalu orang Irasy ini berjalan menuju tempat berkumpulnya orang-orang
Quraisy, sedang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang duduk di sudut masjid. Orang Irasy
ini berkata: "Hai orang-orang Quraisy, siapakah di antara kalian yang bisa membantuku
menyelesaikan persoalanku dengan Abu Al-Hakam bin Hisyam karena aku orang asing dan musafir.
Sungguh, dia belum membayar untaku." Salah seorang dari hadirin di tempat pertemuan ini
berkata: "Apakah engkau melihat orang yang sedang sendiri itu?" Orang yang dia maksud yaitu
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka memanfaatkan Rasulullah, karena mereka tahu
permusuhan sengit antara beliau dengan Abu Jahal. Pergilah kepadanya, karena ia pasti bisa
membantumu menyelesaikan persoalanmu dengan Abu Jahal."
Maka orang Arasy ini berjalan menuju tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan
berkata kepada beliau: "Wahai hamba Allah, sebenarnya Abu Al-Hakam bin Hisyam telah
mengambil hakku. Aku di sini hanya orang asing dan musafir. Aku telah bertanya kepada orang-orang
tentang siapa yang bisa membantuku mengambil hakku dari Abu Jahal, lalu mereka
menyuruhku datang kepadamu. Oleh karena itu, tolong ambilkan hakku dibandingkan nya semoga Allah
merahmatimu!" Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam bersabda: "Mari kita pergi kepada Abu Jahal!"
Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam berdiri bersamanya. jika orang-orang Quraisy melihat beliau
berjalan bersama orang Irasy ini , mereka berkata kepada salah seorang dari mereka: "Ikuti dan
lihatlah apa yang akan dia lakukan!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan hingga tiba di
rumah Abu Jahal, lalu beliau mengetuk pintu rumahnya. Abu Jahal berkata: "Siapa itu?"
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Muhammad. Keluarlah engkau temuilah aku!" Abu
Jahal pun keluar membukakan pintu. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Berikan liak
orang ini!" Abu Jahal berkata: "Ya, tunggu sebentar, aku akan segera memberikan hak orang ini."
Selesai mengatakan itu Abu Jahal segera bergegas masuk ke dalam rumahnya lalu keluar membawa
uang untuk melunasi hutangnya kepada orang Irasy ini . sesudah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam pergi sambil berkata kepada orang Irasyi ini : "Sekarang urusanmu telah tuntas!"
Orang Irasyi ini berjalan hingga tiba di tempat berkumpulnya orang-orang Quraisy di masjid,
lalu ia berkata: Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Sungguh, demi Allah, ia telah
menolongku mendapat kembali hakku." Orang Quraisy yang diperintahkan membuntuti Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan orang Irasyi datang ke tempat pertemuan orang-orang Quraisy.
Mereka bertanya: "Apa yang engkau lihat?" Orang Quraisy ini menjawab: "Sungguh sebuah
peristiwa ajaib yang luar biasa. Demi Allah, dia hanya mengetuk pintu rumah Abu Jahal, lalu Abu
Jahal keluar menemuinya bagai seorang pecundang. Muhammad berkata: "Lunasilah hutangmu
terhadap orang ini!" Abu Jahal menjawab: "Ya. tunggu sebentar aku ambil uang dulu!" Selesai
mengatakkan itu, Abu Jahal segera bergegas masuk ke dalam rumahnya, lalu keluar lagi
membawa uang untuk membayar hutangnya kepadanya." Tak lama berselang, Abu Jahal datang ke
tempat pertemuan orang-orang Quraisy. Mereka berkata: "Celaka engkau wahai Abu Jahal, ada apa
denganmu? Demi Allah, kami belum pernah melihat seperti apa yang baru saja engkau lakukan!" Abu
Jahal berkata: "Demi Allah, dia datang mengetuk pintu rumahku. Saat aku mendengar suaranya, diriku
dihinggapi rasa takut yang luar biasa. lalu aku keluar menemuinya, sedang di kepalanya
terdapat unta. Aku tidak pernah melihat unta yang memiliki kepala, pangkal ekor dan taring seperti
unta ini . Demi Allah, jika aku tidak memenuhi permintaannya pastilah unta itu menerkam!"
Rukanah Al-Mathlabi Berduel Melawan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku bahwa Rukanah bin Abdun bin Yazid bin
Hasyim bin Al-Muthaib bin Abdu Manaf yaitu orang Quraisy yang paling hebat bertarungnya. Suatu
hari, ia berjumpa Ucngan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di salah satu syi'b (gang di bukit)
Makkah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata kepadanya: "Hai Rukanah, kenapa engkau
tidak takut kepada Allah dan tidak menerima seruanku?"41 Rukanah berkata: "sebenarnya jika aku
tahu bahwa apa yang engkau katakan yaitu benar pasti aku mengikutimu." Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam berkata: "Begini saja, bagaimana jika aku berhasil mengalahkanmu dalam duel,
apakah dengan begitu engkau mengetahui bahwa apa yang aku katakan yaitu benar?" Rukanah
berkata: "Ya!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Kalau begitu, bersiaplah." Rukanah
mendekati Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu mulai berduel melawan beliau. jika
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyerangnya, beliau berhasil membantingnya dan diapun
tidak berkutik. Rukanah berkata: "Ronde kedua wahai Muhammad!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam pun mengulangi dan kembali berhasil merobohkan Rukanah. Rukanah berkata: "Hai
Muhammad, demi Allah, sulit dipercaya. Engkau berhasil mengalahkanku." Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam berkata: "Jika engkau mau, aku akan perlihatkan padamu sesuatu yang lebih sulit
dipercaya dari peristiwa tadi, jika engkau bertakwa kepada Allah dan mengikuti agamaku." Rukanah
berkata: "Apa itu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Aku akan panggil pohon yang
engkau lihat ini, lalu ia datang kepadaku." Rukanah berkata: "Silahkan panggil pohon ini .
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pun memanggil pohon itu, lalu pohon
ini datang hingga berdiri tepat di hadap- an Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan beliau
berujar kepadanya: "Kembalilah ke tempatmu semula." Pohon itu pun kembali ke tempatnya semula.
sesudah itu, Rukanah menemui kaumnya dan berkata: "Hai Bani Abdu Manaf, silahkan adu semua
penyihir di dunia dengan sahabat kalian, niscaya dia mampu mempecundangi mereka semua. Demi
Allah, aku belum pernah menjumpai ahli sihir yang lebih sakti darinya." lalu Rukanah
menceritakan apa yang ia saksikan dan apa yang telah diperbuat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam.
Utusan Kristen yang Masuk Islam
Ibnu Ishaq berkata: Suatu hari, datanglah dua puluh atau hampir dua puluh orang utusan Kristen
kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika beliau sedang berada di Makkah. Mereka
mendengar kabar kenabian beliau dari orang-orang Habasyah. Mereka menemukan Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Masjidil Haram, lalu mereka duduk bersamanya, berbincang dan
bertanya jawab dengannya, di tengah-tengah orang-orang Quraisy yang berada di tempat
berkumpulnya mereka di sekitar Ka'bah. sesudah berdialog dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam, Rasulullah mengajak mereka ke jalan Allah dan membacakan Al-Qur'an kepada mereka. Pada
saat mendengar Al-Qur'an, mata mereka mengucurkan airmata. Mereka menerima dakwah beliau,
beriman kepada beliau, membenarkan dan mengenali beliau persis seperti sifat yang dijelaskan dalam
kitab mereka. sesudah itu, mereka pamit kepada Ra- sulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Sialnya
mereka ditemui Abu Jahal bin Hisyam bersama sejumlah orang Quraisy. Mereka berkata kepada
utusan Kristen Habasyah yang telah masuk Islam, "Semoga Allah menggagalkan usaha kalian.
Bukankah kalian dikirim oleh rahib-rahib kalian agar kembali kepada mereka dengan membawa berita
tentang orang ini. Malah yang kalian lakukan yaitu yang sebaliknya, meninggalkan agama kalian dan
membenarkan ucapannya. Kami belum pernah mendapat utusan yang lebih bodoh dibandingkan
kalian."
Utusan Kristen Habasyah yang telah masuk Islam itu berkata kepada orang-orang Quraisy: "Salam
sejahtera atas kalian, kami tidak akan membalas ucapan kalian, karena tidak ada yang melarang kami
mengerjakan apa saja yang kami inginkan dan tidak ada yang melarang kalian mengerjakan apa saja
yang kalian inginkan. Kami tidak akan pernah mengabaikan kebaikan ada bagi diri kami." Ada yang
menyebutkan, bahwa delegasi Kristen ini datang dari Najran. Hanya Allah yang Mahatahu
darimana sebenarnya utusan itu berasal. Ada juga yang mengatakan bahwa ayat-ayat berikut turun
tentang mereka:
Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Quran, mereka beriman
(pula) dengan Al Quran itu. Dan jika dibacakan (Al Qur'an itu) kepada mereka, mereka berkata:
"Kami beriman kepadanya; sebenarnya ; Al Qur'an itu yaitu suatu kebenaran dari Tuhan Kami,
sebenarnya Kami sebelumnya yaitu orang-orang yang membenarkan (nya). Mereka itu diberi
pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan
sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan. Dan jika mereka
mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling dibandingkan nya dan mereka berkata:
"Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin
bergaul dengan orang-orang jahil." (QS. al-Qashash: 52-55).
Ibnu Ishaq berkata: Aku pernah tentang ayat-ayat di atas kepada siapa diturunkan? Ibnu Syihab Az-
Zuhri berkata kepadaku, "Aku mendengar dari ulama-ulama kita bahwa ayat-ayat di atas diturunkan
kepada Najasyi dan sahabat-sahabatnya dan juga ayat-ayat yang ada di surat Al-Maidah"
Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orangNasrani) terdapat pendeta-
pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sebenarnya mereka tidak menyombongkan diri. Dan jika
mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka
mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab
mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama
orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur'an dan kenabian Muhammad saw.)" (QS. al-
Maidah: 82-83),
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam senantiasa berkumpul di Masjidil Haram
dengan sahabat-sahabat yang lemah, seperti: Khabbab, Ammar, Abu Fukaihah Yasar, mantan budak
Shafwan bin Umayyah, Shuhaib dan orang-orang seperti mereka dari kaum Muslimin. Orang-orang
Quraisy melecehkan sahabat-sahabat Rasulullah Shaliallahu Alaihi wa Sallam yang lemah itu. Sebagian
mereka berkata kepada yang lain: "Mereka yaitu sahabat-sahabat Muhammad, apakah mungkin
Allah akan memberikan mereka petunjuk dan kebenaran dan bukan memberikannya kepada kita?
Andai yang dibawa Muhammad itu sesuatu yang baik, pasti kita akan mendahului mereka menuju
Muhammad dan Allah tidak mengkhususkan mereka atasnya dibandingkan kita." lalu Allah
menurunkan ayat tentang mereka:
Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari,
sedang mereka menghendaki keridaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun
terhadap perbuatan mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap
perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-
orang yang zalim. Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya)
dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata:
"Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Allah
berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?"
jika orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah:
"Salaamun-alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya
barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, lalu ia berto bat
sesudah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sebenarnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. (QS. al- An'am: 52-54).
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana berita yang sampai pada saya, seringkali duduk-
duduk di Marwa, yaitu di warung dagang seorang anak muda Kristen yang bernama Jabr. Ia budak
Ibnu Al-Hadhrami. Orang-orang Quraisy berkata: "Demi Allah, Muhammad itu ternyata diajari banyak
hal oleh Jabr, budak Ibnu Al-Hadhrami." lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapan
mereka ini :
Dan sebenarnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "sebenarnya Al Qur'an itu diajarkan
oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)." Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan
(bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa Ajam, sedangAl Qur'an yaitu dalam bahasa Arab
yang terang. (QS. an-Nahl: 103).
Ibnu Hisyam berkata: Firman Allah yulhiduuna ilaihi artinya mereka cenderung kepadanya. Ilhad
artinya menghindar dari kebenaran. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata:
Jika Adh-Dzahhak diikuti, maka setiap orang akan menghindar dari kebenaran
Maksudnya Adh-Dhahhak Al-Khariji. Bait syair di atas ialah cuplikan ringkas dari syair-syair Ru'bah bin
Al-Ajjaj.
Ucapan Al-Ash dan Sebab Turunnya Surat Al-Kautsar
Ibnu Ishaq berkata: Jika Al-Ash bin Wail As-Sahmi mendengar nama Rasulullah disebut dihadapannya,
sebagaimana berita yang sampai padaku, maka ia akan berkata: "Jangan hiraukan si Muhammad itu,
sebenarnya dia orang yang sulit memiliki anak laki-laki. Jika ia meninggal, namanya akan terputus
dan kalian akan bebas darinya." lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapannya ini :
sebenarnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena
Tuhanmu dan berkorbanlah. sebenarnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus.
(QS. al-Kautsar: 1-3).
Yakni, Kami telah menganugerahkan kepadamu nikmat yang lebih baik dibandingkan dunia dan seisinya.
Al-Kautsar ialah sesuatu yang agung.
Ibnu Ishaq berkata bahwa Labid bin Rabi'ah Al-Kilabi berkata:
Kami merasa sedih saat kematian pemilik Mahlub
Dan di Rida' ada rumah agung yang lain
Ibnu Hisyam berkata: Bait syair di atas ialah cuplikan dari syair-syair Labid bin Rabi'ah Al-Kilabi.
Ibnu Hisyam berkata: Pemilik Malhub ialah Auf bin Al-Ahwash bin Ja'far bin Kilab. Ia meninggal di
Mahlub. Maksud ucapan Labid bin Rabi'ah Al-Kilabi: Di Ar-Rida' terdapat rumah lain yang agung ialah
Syuraih bin Al- Akhwash bin Ja'far bin Kilab. Ia meninggal dunia di Ar-Rida. Makna kata kautsar yang
ia maksud ialah sesuatu yang banyak. Kata kautsar ialah dari kata katsir yang artinya banyak.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Kumait bin Zaid berkata dalam syairnya memuji Hisyam bin Abdul Malik bin
Marwan:
Engkau banyak (katsir), wahai anak Marwan yang baik
Sedang ayahmu, Ibnu Al-Aqail yaitu kaustar (lebih agung)
Bait syair di atas yaitu penggalan dari syair-syairnya.
Ibnu Ishaq berkata bahwa Ja'far bin Amr, Ibnu Hisyam berkata: Dia yaitu Ja'far bin Amr bin Ja'far bin
Amr bin Umayyah Adh-Dhamri berkata padaku dari Abdullah bin Muslim, saudara Muhammad bin
Muslim bin Syihab Az-Zuhri dari Anas bin Malik yang berkata bahwa saya mendengar Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda dan sebelumnya beliau ditanya,
"Wahai Rasulullah, apakah maksud Al-Kautsar yang dianugrahkan kepadamu itu? Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Al-Kautsar ialah sungai yang luasnya antara Shan'a ke Ailah.
Tempat-tempat airnya tak terhitung banyaknya dan ia didatangi burung-burung yang memiliki leher
laksana leher unta." Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Rasulullah, sebenarnya burung ini
pasti merasakan kenikmatan?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Orang yang
menyantap burung ini lebih memiliki nikmat yang lebih besar dibandingkan kenikmatan burung
ini ."42
Ibnu Ishaq berkata: Kami mendengar hadits di atas dan hadits-hadits lainnya bahwa Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda,
Barangsiapa meminum air sungai Al-Kautsar, maka ia tidak akan pernah haus untuk selama-
lamanya,43
Turunnya Ayat Mengapa Malaikat Tidak Diturunkan kepadanya (Al- An'aam: 8)
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tanpa henti terus menyeru kaumnya
kepada Islam, berdialog, berdiskusi dan berdebat dengan mereka. lalu Zam'ah bin Al-Aswad,
An-Nadhr bin Al- Harits, Al-Aswad bin Abdu Yaghuts, Ubay bin Khalaf dan Al-Ash bin Wail berkata
kepada beliau: "Andai saja Allah mengutus kepada kami malaikat yang berbicara tentang dirimu dan
bisa dilihat bersama dirimu?'"lalu Allah menurunkan ayat tentang ucapan mereka ini :
Dan mereka berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?" dan
kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, lalu mereka
tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kamijadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami
jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), Kami pun akan jadikan mereka
tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu." (Al-An'am: 8-9).
Turunnya Ayat, "Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu" (Al-
Anbiya': 41)
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam —sebagaimana berita yang saya terima—
suatu saat berjalan melewati Al-Walid bin Al-Mughirah, Umayyah bin Khalaf dan Abu Jahal. Mereka
mencemooh dan mengolok-olok beliau, hingga membuat beliau naik darah karenanya, lalu Allah
Ta'ala menurunkan ayat tentang mereka ini :
Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu maka turunlah kepada
orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu adzab yang selalu mereka perolok-olokkan. (Al-Anbiya': 41).
Perisiwa Isra' dan Mi'raj
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam diisra'kan (diperjalanan pada malam
hari) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yaitu Baitul Maqdis di Ilia. Saat itu Islam telah menyebar
di Makkah dan di seluruh kabilah-kabilah.
Ibnu Ishaq berkata: Hadits tentang isra'nya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana yang
saya terima, berasal dari Abdullah bin Mas'ud, Abu Said Al-Khudri, Aisyah istri Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam, Muawiyah bin Abu Sufyan, Al-Hasan bin Al-Hasan, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Qatadah
dan ulama-ulama lainnya, serta Ummu Hani' binti Abdul Muthalib. Mereka sama-sama meriwayatkan
dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Peristiwa isra' ini di dalamnya terdapat ujian, seleksi, dan
merupakan salah satu bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. Selain itu, terdapat juga pelajaran bagi
orang-orang berakal, petunjuk, rahmat dan penguat keimanan bagi orang yang beriman kepada Allah
dan membenarkannya. Allah mengisrakan Rasulullah sebagaimana yang dikehendaki-Nya untuk
memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya seperti yang Dia inginkan, hingga beliau bisa
menyaksikan bukti-bukti kekuasaan-Nya terutama dalam mengerjakan apa saja yang dihendaki-Nya.
Ibnu Ishaq berkata: Seperti beritakankan kepadaku, Abdullah bin Mas'ud berkata bahwa Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam menaiki Buraq, yaitu hewan yang membawa para nabi sebelum beliau.
lalu beliau mengendarainya untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di antara
langit dan bumi, hingga perjalanan beliau terhenti di Baitul Maqdis. Di sana, telah ada Ibrahim, Musa
dan Isa dalam dan beberapa nabi yang sengaja telah dikumpulkan untuk bertemu beliau, lalu
beliau shalat mengimami mereka. Usai shalat, tiga bejana; satu bejana berisi susu, satu bejana berisi
minuman keras dan satu bejana berisi air didatangkan kepada beliau. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "jika itu ada yang berkata: jika dia mengambil air, ia tenggelam demikian pula
dengan umatnya. Jika ia mengambil minuman keras, ia mabuk demikian pula dengan umatnya. Jika ia
mengambil susu, ia mendapat petunjuk demikian pula dengan ummatnya.' Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam bersabda: "lalu aku mengambil bejana yang berisi susu dan meminumnya."
Jibril berkata kepadaku: "Engkau telah mendapat petunjuk, demikian pula dengan ummatmu,
wahai Muhammad."
Ibnu Ishaq berkata: Aku diberi tahu dari Al-Hasan bahwa ia bercerita bahwa Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam bersabda: "jika aku sedang tidur di Hijr Aswad, Malaikat Jibril mendatangiku
lalu membangunkanku dengan kakinya. Akupun bangun namun tidak melihat apa-apa. Aku
tidur lagi dan ternyata Malaikat Jibril datang kepadaku untuk kedua kalinya. Ia membangunkanku
hingga aku tersadar, namun aku tidak melihat apa-apa. Aku kembali tidur lagi dan ternyata Malaikat
Jibril datang kepadaku untuk ketiga kalinya, lalu menggerak-gerakkan badanku hingga aku
bangun. Ia lalu mengajakku pergi menuju pintu masjid dan ternyata di sana ada seekor hewan putih
yang besarnya antara kuda dan keledai. Hewan ini rupanya memiliki sayap, ia mendorong kedua
kakinya dengan kedua sayapnya dan memindahkan tangannya dalam setiap langkahnya di batas akhir
pandangan matanya. Malaikat Jibril menaikiku di atas hewan ini , lalu ia keluar bersamaku. Ia
tidak berpisah denganku dan aku tidak berpisah dengannya."44
Ibnu Ishaq berkata: Aku mendapat riwayat dari Qatadah yang berkata bahwa ia diberitahu bahwa
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"jika aku mendekati hewan ini untuk menaikinya, hewan ini menunjukkan sikap tidak
suka, lalu Malaikat Jibril menegurnya dan berkata: "Kenapa engkau tidak malu atas apa yang
engkau perbuat, wahai Buraq? Demi Allah, engkau memang pernah dinaiki hamba Allah sebelum
Muhammad namun tak satupun dari mereka yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan Muhammad."
Buraqpun merasa malu hingga keringatnya bercucuran. sesudah itu, ia bersikap jinak lalu aku
menaikinya.45
Al-Hasan bercerita: lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam terbang bersama Malaikat Jibril
hingga beliau tiba di Baitul Maqdis. Di sana, telah ada Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa dalam
kumpulan para nabi. lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengimami mereka shalat.
sesudah itu, dua bejana; salah satu dari bejana ini berisi minuman keras, sedang bejana satunya
berisi susu didatangkan kepada beliau. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengambil bejana yang
berisi susu, lalu meminumnya dan meninggalkan bejana berisi khamr minuman keras. Malaikat
Jibril berkata kepada beliau: "Engkau dikaruniai petunjuk kepada fitrah demikian pula dengan
ummatmu, wahai Muhammad, dan minuman keras diharamkan kepada kalian."
sesudah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pulang ke Makkah. Keesokan harinya, beliau
menceritakan apa yang beliau alami kepada orang-orang Quraisy. Sebagian besar dari mereka berkata:
"Demi Allah, ini yaitu sesuatu yang sangat konyol. Betapa tidak?! Rombongan musafir yang jalannya
cepat saja membutuhkan jarak tempuh selama sebulan untuk pergi dari Makkah ke Syam, apakah
mungkin Muhammad pergi ke sana lalu pulang ke Makkah hanya dalam waktu semalam?"
Banyak orang yang tadinya telah masuk Islam menjadi murtad gara-gara peristiwa ini. Orang-orang
Quraisy pergi kepada Abu Bakar, lalu berkata kepadanya: "Coba tengok sahabatmu, wahai Abu
Bakar? Ia mengaku pada malam ini pergi ke Baitul Maqdis dan shalat di sana, lalu pagi ini ia
pulang ke Makkah!" Abu Bakar berkata kepada mereka: "Apakah kalian mendustakan apa yang
dikatakan?" Mereka menjawab: "Ya, benar!
Dia kini sedang berada di masjid sedang bercerita kepada manusia tentang apa yang baru dialaminya."
Abu Bakar berkata: "Demi Allah, jika itu yang ia katakan, pasti ia berkata benar. Apa ada yang aneh
bagi kalian? Demi Allah, sebenarnya ia berkata kepadaku bahwa ia berpindah dari langit ke bumi
hanya dalam waktu sesaat pada waktu malam atau sesaat pada waktu siang dan aku mempercayainya.
Jadi inilah puncak keheranan kalian?" Usai mengatakan itu, Abu Bakar berjalan hingga tiba di tempat
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berada. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam: "Wahai Nabi Allah, benarkah engkau telah bercerita kepada manusia, bahwa pada malam
ini engkau pergi ke Baitul Maqdis?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Ya, benar."
Abu Bakar berkata: "Kalau begitu, tolong, ceritakan kepadaku ciri-ciri Baitul Maqdis, karena
sebelumnya aku pernah pergi ke sana!"
Lanjut Al-Hasan: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu menjelaskan ciri-ciri Baitiul Maqdis kepada
Abu Bakar. sesudah mendapat penjelasan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Abu Bakar
berkata: "Engkau berkata benar. Aku bersaksi bahwa engkau yaitu utusan Allah." Setiap kali
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjelaskan ciri-ciri Baitul Maqdis, Abu Bakar berkata: "Engkau
berkata benar. Aku bersaksi bahwa engkau yaitu utusan Allah." usai bercerita. Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam berkata kepada Abu Bakar: "Engkau wahai Abu Bakar yaitu Ash-Shiddiq (orang yang
membenarkan)." Sejak peristiwa itulah, Abu Bakar dijuluki Ash-Shiddiq.
Allah lalu menurunkan ayat mengenai orang-orang Islam yang murtad karena peristiwa isra':
Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian
bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti
mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (QS. al-Isra': 60).
Inilah hadits riwayat Al-Hasan mengenai peristiwa isra Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang
lebih komplit dari hadits riwayat Qatadah.
Ibnu Ishaq berkata: Beberapa keluarga Abu Bakar bercerita kepadaku bahwa Aisyah berkata:
"Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak pergi dengan badannya, namun dengan ruhnya."46
Ibnu Ishaq berkata: Yaqub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas bercerita kepadaku, Muawiyah
bin Abu Sufyan berkata: "Sungguh mimpi-mimpi dari Allah Ta'ala yaitu benar."
Ucapan Aisyah dan Muawiyah bin Abu Sufyan ini tidak kontradiksi dengan hadits riwayat Al-Hasan,
berdasarkan ayat berikut:
Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian
bagi manusia (QS. Al-Isra': 60).
Juga berdasarkan firman Allah Taala yang menceritakan perihal Nabi Ibrahim bahwa ia berkata kepada
anaknya:
"Hai anakku, sebenarnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." (QS. ash- Shaffat:
102).
Dari sini jelaslah, bahwa wahyu dari Allah datang kepada para nabi, terkadang dalam keadaan mereka
terjaga dan terkadang pula alam keadaan tidur.
Ibnu lshaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana berita yang sampai padaku,
bersabda: "Mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur"
Wallahu a'lam dalam kondisi apa beliau datang ke Baitul Maqdis dan menyaksikan apa yang dia saksian
dari kebesaran Allah. Bagimana yang dia alami dalam keadaan tidur atau tidak tidur, yang jelas
semuanya haq dan benar.
Ibnu lshaq berkata: Az-Zuhri bercerita dari Sa'id bin Al-Musaiyyib bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam menjelaskan tentang ciri-ciri fisik Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa yang beliau lihat
pada malam isra'- Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Nabi Ibrahim ia begitu mirip
denganku. Sementara Nabi Musa, dia berkulit sawo matang, tinggi, ceking, rambutnya lebat,
hidungnya mancung dan dia seperti orang dari kabilah Syanu'ah (kabilah Azad). Sedang Nabi Isa, beliau
berkulit merah,











