Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 4. Tampilkan semua postingan

Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 4

 


negeri-negeri lain, mereka senantiasa membawa salah satu batu dari batu-batu tanah suci 

Mekkah sebagai bentuk penghormatan mereka terhadap Mekkah. Jika berhenti di sebuah 

tempat, mereka meletakkan batu ini , lalu  thawaf di sekelilingnya persis sama pada 

saat mereka thawaf di sekeliling Kabah. Demikianlah yang terjadi, hingga akhirnya terjadi 

perubahan sikap dan paradigma pada mereka. Mereka menyembah batu yang mereka menurut 

pikiran mereka baik dan menarik perhatian. Generasi terus berganti hingga akhirnya lupa 

penyikapan yang benar terdahulu terhadap batu ini  sehingga akhirnya mereka mengubah 

agama Ibrahim dan Ismail dengan agama lain. Mereka memuja-muja berhala-berhala dan 

tersesat seperti seperti tersesatnya bangsa-bangsa yang mendahului mereka. Namun demikian, 

di antara mereka masih ada sisa-sisa pengikut Nabi Ibrahim yang berpegang kokoh kuat dengan 

agama Ibrahim. Mereka tetap mengagungkan Ka'bah, thawaf di sekelilingnya, melakukan 

ibadah haji, umrah, wukuf di Arafah dan Muzdalifah, menyembelih hewan qurban, membaca 

talbiyah saat menunaikan haji dan umrah, namun sudah disertai dengan memasukkan ajaran 

baru (bid'ah) ke dalamnya. Jika orang-orang Kinanah Quraisy melakukan talbiyah mereka 

berkata: 

 

"Labbaik allahumma labbaik,. labbaikan laa syariika laka illaa syariikun huwa laka. Tamli- 

kuhi wa maa malaka (Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu. Aku 

sambut panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu ini  menjadi milik-Mu. 

Engkau memilikinya dan tiada seorangpun yang memiliknya). "Mereka mentauhidkan Allah 

dalam seruan talbiyah mereka, tapi pada saat yang sama memasukkan berhala-berhala mereka 

bersama Allah dan menjadikan berhala-berhala ini  di Tangan-Nya (sekutu-Nya). 

 

Allah berfirman kepada Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam: 

 

 

Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan 

mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain) (QS. Yusuf: 106). 

 

Maksudnya ialah mereka tidak mentauhidkan Aku karena paham mengenai hak-Ku, kecuali 

mereka jadikan dari makhluk-Ku sekutu buat-Ku. 

 

Umat Nabi Nuh memiliki berhala-berhala, tempat dimana mereka beribadah kepadanya. Allah 

Tabaraka wa Ta'ala menceritakan berhala-berhala ini  kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam dalam firman- Nya: 

 

 

Dan mereka berkata: "jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan 

kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula 

suwaa \ yaghuts, ya'uq dan nasr." Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan 

(manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain 

kesesatan. " (QS. Nuh: 23-24). 

 

Mereka yang membikin patung-patung dari keturunan Ismail dan selain keturunan dia, dan 

menamai berhala-berhala dengan nama-nama mereka sendiri saat meninggalkan agama Ismail 

ialah Kabilah Hudzail bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar. Mereka menjadikan Suwa' sebagai 

berhala, mereka memilikinya di Burhat, sebuah tempat di dekat Yanbu'. Selain kabilah Hudzail 

ialah Kabilah Kalb bin Wabrah dari Qudha'ah. Mereka menjadikan Wadd sebagai berhala di 

Dumatul Jandal. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Ka'ab bin Malik Al- Anshari berkata: 

 

Kami tlah lupakan AI-Lata, Al-Uzza, dan Wadd 

Kami mengambil ikatan dan pengikat hidung-Nya 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bait-bait di atas yaitu  penggalan dari syair-syair Ka'ab bin Malik, nanti 

akan saya sebutkan pada tempatnya secara lengkap, Insya Allah. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Kalb ialah putera dari Wabrah bin Taghlab bin Hulwan bin Imran bin 

Ilhaf bin Qudha'ah. 

 

Ibnu Ishaq berkata: An'um dari Thayyi' dan penduduk Jurasy dari Madzhaj menjadikan 

Yaghuts berhala sesembahan mereka di Jurasy. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkankan An'am (bukan An'um). Thayyi' yaitu  putera 

Adad bin Malik dan Malik ialah Madzhaj bin Udad. Ada pula yang menyebutkan bahwa 

Thayyi' yaitu  anak Adad bin Zaid bin Kahlan bin Saba'. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Khaiwan, yang merupakan salah satu kabilah utama dari Hamdzan 

menjadikan Ya'uq sebagai berhala di daerah Hamdzan di kawasan Yaman. 

Ibnu Hisyam berkata bahwa Malik bin Namath Al-Hamdani berkata: 

 

Allah kuasa mendatangkan manfaat dan mudharat di dunia 

Sedang Ya'uq tidak bisa mendatangkan mamfaat dan mudharat apa apa 

 

Bait syair di atas yaitu  penggalan dari syair-syair Malik bin Namath Al-Hamdani. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Nama Hamdan yaitu  Ausalah bin Malik bin Zaid bin Rabi'ah bin 

Ausalah bin Khiyar bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba'. Ada yang mengatakan Hamdan 

yaitu  anak Ausalah Zaid bin Ausalah bin Al-Khiyar. Ada pula yang menyatakan namanya 

yaitu  Hamdan bin Ausalah bin bin Rabi'ah bin Malik bin Al-Khiyar bin Malik bin Zaid bin 

Kahlan bin Saba'. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Dzu Al-Kula' dari Himyar menjadikan Nasr sebagai berhala di kawasan 

Himyar. 

 

Sementara itu Khaulan mempunyai berhala yang bernama Umyanis di daerah Khaulan. Mereka 

mengurbankan hewan dan hasil panen mereka padanya di samping kepada Allah. Hak Allah 

yang masuk menjadi bagian berhala Umyanis mereka biarkan untuk berhala Umyanis, dan hak 

Allah yang menjadi hak berhala Umyanis, mereka ambil kemu- dian mereka berikan kepada 

berhala Umyanis. Mereka yaitu  kabilah Khaulan yang bernama Al-Adim. Mengenai mereka, 

Allah Tabaraka wa Ta'ala menurunkan firman-Nya: 

 

 

 

 

Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah 

diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah 

dan ini untuk berhala-berhala kami." Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala- 

berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah, 

maka sajian itu sampai kepada berhala-ber- hala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka 

itu. (QS. al-An'am: 136). 

 

Ibnu Hisyam berkata: Khaulan yaitu  anak Amr bin Ilhaf bin Qadha'ah. Ada yang 

menyebutkan dia yaitu  Khaulan anak Amr bin Murrah bin Udad bin Zaid bin Mihsa' bin Amr 

bin Arib bin Zaid bin Kahlan bin Saba'. Ada yang menyebutkan Khaulan yaitu  anak Amr bin 

Sa'ad Al-Asyirah bin Madzhij. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Anak-anak keturunan Milkan bin Kinanah bin Khuzaiman bin Mudrikah 

bin Hyas bin Mudhar memiliki berhala yang bernama Sa'ad. Berhala ini yaitu  batu di tanah 

lapang di daerah mereka. Salah seorang Bani Milkan dengan unta-untanya pergi pada berhala 

tadi dan bermaksud mendudukkannya di atas berhala ini  dengan harapan mendapat  

keberkahannya, sesu- ai dengan prasangka mereka. jika  melihat batu berhala disiram dengan 

darah di atasnya, unta-unta ini  lari kocar kacir. Pemilik unta dari Milkan ini  pun 

marah, lalu dia pun mengambil batu dan melemparkannya ke arah berhala ini , seraya 

berkata: "Semoga Allah tidak memberkahimu. Engkau telah membikin untaku melarikan diri 

dariku." sesudah  itu, segera ia mencari unta-untanya hingga akhirnya berhasil 

mengumpulkannya. jika  unta-untanya telah terkumpul, ia menyenandungkan sebuah syair: 

 

Kami datangpada Sa'ad 'tuk menghimpun perpecahan kami 

Namurt Sa'ad malah mengkocar-kacirkannya, kini kami tak ada hubungan apapun dengan 

Saad 

Bukankah Sa'ad hanyalah batu di tanah tandus 

Tidaklah dia bisa mengajak pada kesesatan dan petunjuk 

Sedangkan di Daus terdapat berhala kepu- nyaan Amr bin Humamah Ad-Dausi. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Saya akan paparkan masalah ini pada tempatnya, Insya Allah. 

 

Daus yaitu  anak 'Udtsan bin Abdullah bin Zahran bin Ka'ab Al-Harts bin Ka'ab bin Abdullah 

bin Malik bin Nadhr bin Al-Asd bin Al-Ghauts. Ada yang mengatakan, bahwa Daus yaitu  

anak Abdullah bin Zahran bin Al-Asd bin Al-Ghauts. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy membuat berhala di sumur dekat Ka'bah dan mereka 

menamakannya dengan nama Hubal. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Akan saya paparkan pembahasan tentang Hubal pada tempat-nya, Insya 

Allah. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Mereka membikin berhala Isaf dan Nailah di sumur Zamzam dan 

menyembelih hewan qurban di samping keduanya. Isaf yaitu  lelaki dan Nailah yaitu  

perempuan dari Jurhum. Isaf yaitu  anak Baghyi, sementara Nailah yaitu  putri Diki. Isaf 

berhubungan badan dengan Nailah di dekat Ka'bah, lalu  Allah mengganti bentuk mereka 

berdua menjadi batu. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm berkata 

kepadaku dari Amrah binti Abdurrahman bin Sa'ad bin Zurarah ia berkata bahwa aku 

mendengar Aisyah Radhiyallahu Anha berkata: Kita selalu mendengar bahwa Isaf dan Nailah 

yaitu  laki-laki dan perempuan asal Jurhum yang melakukan hubungan tak senonoh di Ka bah, 

lalu Allah ubah keduanya menjadi batu, wallahu a'lam. " 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Thalib berujar: 

 

Orang-orang Asy'ari menderumkan unta mereka 

Di tempat aliran air Isaf dan Nailah 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bait syair di atas yaitu  potongan dari syair-syair Abu Thalib yang akan 

saya paparkan pada tempatnya, Insya Allah. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Setiap penduduk negeri membikin berhala dan mereka sembah di negeri 

masing-masing. Jika ada salah seorang dari mereka mau bepergian, ia mengusap-usap 

berhalanya saat hendak berangkat. Itulah aktivitas terakhir yang ia lakukan jika  ia hendak 

bepergian. Setibanya dari bepergian, ia mengusap-usap berhala ini . Itulah yang pertama 

kali ia lakukan sebelum bersua dengan keluarganya. 

 

jika  Allah mengutus Rasul-Nya, Mu-hammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan 

ajaran tauhid, orang-orang Quraisy berkata (sebagaimana diabadikan Quran): 

 

 

Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tu- han Yang satu saja? sebenarnya  ini benar- 

benar suatu hal yang sangat mengherankan (QS. Shaad: 5). Orang-orang Arab membuat 

thaghut-thaghut di samping Ka'bah. Thaghut-thaghut itu yaitu  rumah-rumah yang mereka 

agung-agungkan laksana mereka mengagungkan Ka'bah. Thaghut-thaghut ini  memiliki 

penjaga dan pelayan, diberi sesajian seperti Ka'bah, mereka thawaf di sekelilingnya, 

menyembelih hewan qurban di sampingnya, dan mereka sangat mengerti keutamaan Ka'bah 

atas thaghut-thaghut ini , mereka tahu bahwa Ka'bah merupakan rumah Ibrahim Al-Khalil 

dan masjidnya. 

 

Orang-orang Quraisy dan Bani Kinanah memiliki berhala Al-Uzza yang berada di Nakhlah. 

Penjaga dan pelayan berhala ini  yaitu  Bani Syaiban dari Sulaim, sekutu Bani Hasyim. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Sulaim yaitu  sekutu Bani Abu Thalib. Sulaim yang dimaksud di sini 

yaitu  Sulaim bin Manshur bin Ikri- mah bin Khashafah bin Qais bin Ailan. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Salah seorang penyair Arab berkata: 

 

Sungguh Asma' telah dinikahkan dengan kepala lembu 

Dan Al-Udmi yang dihadiahkan oleh Bani Ghanam 

Ia bisa melihat sesuatu yang kecil walaupun jauh 

Dan saat digiring ke tempat penyembelihan Al- Uzza ia bagi rata bagian 

 

Jika memotong hewan qurban, mereka membagikannya kepada orang-orang yang ikut hadir di 

tempat ini . Mereka menyebutnya di tengah-tengah orang yang hadir dengan ghab'ghab, 

manhar, mihraq dima'. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bait-bait syair di atas yaitu  karya Abu Khiras Al-Hudzali. Ia bernama 

lengkap Khuwailid bin Murrah. 

 

Sadanah yaitu  orang-orang yang meng-urus urusan Ka'bah. 

 

Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata: 

 

Tidak, demi Tuhan tempat-tempat aman yang didiami 

Di tempat hewan-hewan qurban disimpan dan rumah yang dijaga 

 

Bait syair di atas yaitu  potongan dari syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj dan akan saya paparkan 

di tempatnya, Insya Allah. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Berhala Al-Lata yaitu  milik Kabilah Tsaqif di Thaif. Para pen jaga dan 

pelayannya yaitu  Bani Mu'attab dari kabilah Tsaqif. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Pembahasan tentang Al-Lata akan saya paparkan pada tempatnya 

tersendiri, Insya Allah. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Berhala Manat yaitu  milik Kabilah Al-Aus, Al-Khazraj, dan orang-orang 

Yatsrib yang seagama dengan mereka di pesisir laut dari arah Al-Musyallal persisnya di daerah 

di Qudaid. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Al-Kumait bin Zaid, salah seorang dari Bani Usdi bin Khuzaimah bin 

Mudrikah berkata dalam sebuah syair: 

 

Kabilah-kabilah telah bersumpah 

Tidak akan memalingkan punggungnya dari Manat 

 

Bait-bait syair di atas yaitu  potongan dari syair-syair Al-Kumait. " 

 

Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus Abu Sufyan kepada 

berhala Manat dan memerintahkannya untuk menghancurkannya. Ada yang menyebutkan 

bahwa sahabat yang diutus untuk menghancurkan berhala Manat ialah Ali bin Abu Thalib 

Radhiyallahu Anhu. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Berhala Dzu Al-Khalshah yaitu  milik Daus, Khats'am, Bajilah, dan orang-

orang Arab yang berada di daerah mereka di Tabalah. " 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Dzu Al-Khulushah. Salah seorang penyair Arab 

berkata: 

 

Wahai Dzu Al-Khalash, andai kau menjadi teman dekatku yang terbunuh seperti aku 

Sedangkan ayahmu telah meninggal dunia Niscaya engkau tak mampu melarang pembunuhan 

 

Kata Ibnu Hisyam lebih lanjut: Ayah penyair ini  terbunuh, sedangkan dia ingin membalas 

dendam atas kematian ayahnya. lalu  ia datang kepada Dzu Al-Khalashah, dan 

mengeluarkan dadu-dadu untuk dijadikan undian. sesudah  undian dilaksanakan, ternyata yang 

keluar ialah dadu yang mencegahnya balas dendam. Oleh sebab itulah, ia melontarkan syair-

syair di atas. Sebagian orang menisbatkan syair-syair di atas kepada Umru'u Al-Qais bin Hujr 

Al-Kindi. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim Jarir bin Abdullah untuk 

menghancurkan berhala Dzu Al-Khalshah. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Berhala Fals yaitu  milik Thayyi', dan penduduk yang tinggal di dua 

Gunung Salma dan Aja'. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Sebagian orang berilmu berkata kepadaku, bahwa Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam mengutus Ali bin Abu Thalib untuk menghancurkan berhala Fals. jika  Ali 

bin Abu Thalib sedang merobohkannya, ia menemukan dua pedang yang bernama Ar-Rasub 

dan Al-Mikhdzam. Ali bin Abu Thalib membawa kedua pedang itu kepada Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan beliau menghadiahkannya padanya. Itulah pedang itulah milik 

Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Himyar dan penduduk Yaman mempunyai rumah berhala di 

Shan'a yang diberi nama Ri'am. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Pembahasan hal ini telah saya paparkan sebelum ini. 

Ibnu Ishaq berkata: Rudha' yaitu  sebuah rumah berhala milik Bani Rabi'ah bin Ka'ab bin Sa'ad 

bin Zaid bin Manat bin Tamim. Tentang Rudha' ini, Al-Mustaughir bin Rabi'ah bin Ka'ab bin 

Sa'ad berkata jika  ia menghancurkannya pada masa Islam: 

 

Sungguh, ku telah menarik Rudha' dengan hentakan yang kuat 

Ku biarkan dia sebagai reruntuhan hitam di tanah yang cekung 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ucapan, aku biarkan dia sebagai reruntuhan hitam di tanah yang cekung 

berasal dari seseorang dari Bani Sa'ad. 

 

Diriwayatkan bahwa Al-Mustaughir berumur tiga ratus tiga puluh tahun. Ia orang Mudhar yang 

berumur paling panjang. Ia pernah berkata: 

 

Ku bosan hidup karena terlalu lama 

Dalam jumlah ratusan tahun 

Seratus dan dua ratus berlalu 

Ditambah beberapa bulan 

Yang tersisa tak ubahnya seperti apa yang telah tiada 

Siang dan malam terus bergerak melangkahi kita 

 

Sebagian orang mengatakan syair-syair di atas yaitu  milik Zuhair bin Janab Al-Kalbi. 

Ibnu Ishaq berkata: Dzu Al-Ka'abaat yaitu  berhala milik Bakr, Taghlab anak keturunan Wail, 

dan Iyad. Berhala ini  terletak di Sindad. A'sya, salah seorang dari Bani Qais bin Tsa'labah 

berkata tentang berhala ini , 

 

Di antara Istana AI-Khawarnaq, Sadir dan Bariq 

Dan rumah Dzu Al-Ka 'abaat di Sandad 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bait syair di atas ialah milik Al-Aswad bin Ya'fur An-Nahsyali. Nahsyal 

yaitu  putera Darim bin Malik bin Handzalah bin Malik bin Zaid bin Manat bin Tamim. Abu 

Muhriz Khalf Al-Ahmar membacakan sebuah syair kepadaku, 

 

Penghuni istana Al-Khawarnaq, As-Sadirdan Bariq 

Dan rumah Dzu Al-Syurafaat di Sindad 

 

 

Al-Bahirah, As-Saibah, Al-Washi- lah dan Al-Hami 

 

Ibnu Ishaq berkata: Al-Bahirah yaitu  anak betina As-Saibah. Sedangkan As-Saibah ialah unta 

yang melahirkan sebanyak sepuluh kali, dan seluruh anaknya betina tanpa diselingi anak 

jantan. sesudah  itu As-Saibah harus dilepas bebas, tidak boleh ditunggangi, bulunya tidak boleh 

dicukur, dan susunya tidak boleh diminum kecuali untuk jamuan tamu. 

 

Jika ternyata sesudah  itu, unta As-Saibah melahirkan anak betina lagi, maka anak betina ini  

dipotong telinganya lalu  dilepas seperti induknya; tidak boleh ditunggangi, bulunya tidak 

juga dipotong, dan susunya tidak diminum kecuali untuk tamu seperti halnya yang dilakukan 

atas induknya. Anak unta betina yang demikian disebut Al-Bahirah. 

 

Adapun al-Washilah yaitu  jika seekor kambing betina melahirkan sepuluh anak kambing 

betina secara berurutan selama lima kali masa kehamilan, tanpa sela anak jantan. Kala itukah 

orang-orang akan berkata: Kambing ini kini sudah washalat (sampai batas). 'Jika ternyata 

kambing ini  masih melahirkan anak lagi, maka ia diberikan khusus untuk laki-laki di 

antara mereka dan tidak diberikan pada kalangan wanitanya, kecuali jika seekor dari anak 

kambing ini  ada yang mati. Jika hal ini terjadi maka baik perempuan maupun kalangan 

laki-laki boleh makan bersama-sama. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Diriwayatkan jika ternyata sesudah itu kambing ini  masih juga 

melahirkan, maka anak kambing ini  hanya diperuntukkan bagi anak lelaki di kalangan 

mereka, dan tidak diperuntukkan buat anak-anak perempuan mereka. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Sedangkan Al-Hami yaitu  unta betina yang melahirkan sepuluh anak 

betina secara berurutan tanpa ada sela anak jantan. Punggung unta betina ini sengaja dilindungi; 

tidak ditunggangi, bulunya tidak dipotong, dibiarkan bebas berkeliaran di tengah unta lainnya, 

dan tidak digunakan untuk kepentingan lainnya. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Apa yang dikatakan oleh Ibnu Ishaq tadi tidak selaras dengan apa yang 

biasa disebutkan oleh orang-orang Arab. Penjelasan Ibnu Ishaq tentang Al-Hami sajalah yang 

selaras dengan ungkapan mereka. Sebab dalam pandangan mereka Al-Bahirah yaitu  unta 

betina yang telinganya dipotong, lalu unta tadi tidak ditunggangi punggungnya, tidak boleh 

dipotong bulunya, susunya tidak ada yang minum kecuali para tamu ataupun disedekahkan, 

dan unta ini  dipersembahkan buat tuhan-tuhan mereka. 

 

Sedangkan As-Saibah yaitu  seekor unta betina yang dinazarkan oleh seseorang akan 

dibebaskan jika ia sembuh dari penyakitnya atau berhasil menggapai sesuatu yang selama ini 

diinginkannya. Jika hal ini semua tercapai, maka ia melepaskan untanya untuk tuhan-tuhan 

mereka. Lalu unta itu digembalakan dengan bebas dan tidak boleh digunakan untuk 

kepentingan apapun. 

 

Adapun Al-Washilah ialah unta betina yang melahirkan dua anak sekaligus dalam setiap kali 

dia hamil. Pemiliknya menghadiahkan anak betina buat tuhan-tuhan mereka, sedangkan anak 

unta jantan dia peruntukkan buat dirinya sendiri. Anak betina dan jantan dilahirkan dalam satu 

kehamilan oleh induknya. Manakala itu terjadi, mereka berkata: Anak betina itu telah datang 

dan bergabung dengan saudaranya. Lalu anak jantan ini  dibiarkan bebas bersama 

saudaranya dan tidak boleh digunakan untuk kepentingan apapun. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Hal ini dikatakan kepadaku oleh Yunus bin Habib An-Nahwi, seekor 

pakar gramatika Arab, dan para pakar lainnya. Sebagian perawi meriwayatkan apa yang tidak 

diriwayatkan sebagian perawi lainnya. 

 

Ibnu Ishaq berkata bahwa jika  Allah mengutus, Muhammad Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam,Rasul-Nya Dia menurunkan firman-Nya kepadanya: 

 

 

Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam. 

Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan 

mereka tidak mengerti. (QS. al-Ma'idah: 103). 

 

Allah juga menurunkan firman-Nya: 

 

 

 

Dan mereka mengatakan: "Apa yang dalam perut binatang ternak ini yaitu  khusus untuk pria 

kami dan diharamkan atas wanita kami," dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka 

pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap 

ketetapan mereka. sebenarnya  Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. al-

Anam: 139) 

 

Allah juga menurunkan firman-Nya pada ayat lain, 

 

 

 

Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu 

kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal." Katakanlah: "Apakah Allah telah 

memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?" 

(QS. Yunus: 59). 

 

Allah juga menurunkan firman-Nya yang lain, 

 

 

 

(yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang dari domba dan sepasang dari kambing. 

Katakanlah: "Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang 

ada dalam kandungan dua betinanya?" Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan jika 

kamu memang orang-orang yang benar, dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu. 

Katakanlah: "Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada 

dalam kandungan dua betinanya. Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetap- kan ini 

bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim dibandingkan  orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap 

Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?" sebenarnya  Allah tidak memberi petunjuk 

kepada orang- orang yang zalim. (QS. al-An'am: 144). 

 

Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang penyair berujar dalam syairnya: 

 

Sekitar washilah di Syuraif ada unta berusia tiga tahun 

Yang punggungnya dilindungi, tidak ditung- gangi dan dibiarkan bebas 

 

Tamim bin Ubay bin Muqbil salah seorang Bani Amir bin Sha'shaah berkata: 

 

Di dalamnya ada keledai liar yang digembala saat musim semi dan seekor unta muda Di negeri Syam 

di tengah gerombolann unta dengan telinga terpotong 

 

Ini yaitu  syair miliknya. Adapun kata plural dari Al-Qahirah ialah Al-Baha'ir dan Al- Buhur. Sedangkan 

kata plural dari Al- Washilah ialah Al-Washa'il dan Al-Wushul. Plural As- Saibah iaiah As-Sawaib dan 

As- Suyyab. Plural Al-Haam ialah Al-Huwwaam. 

 

 

Lanjutan Bahasan Tentang Nasab 

 

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Khuza'ah berkata: Kami anak-anak cucu Amr bin Amir dari Yaman. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Orang-orang Khuza'ah berkata: Kami yaitu  anak cucu Amr bin Rabi'ah bin 

Haritsah bin Amr bin Amir bin Haritsah bin Umru'u Al-Qais bin Tsa'labah bin Mazin bin Al-Asdi bin Al-

Ghauts, dan ibu kami yaitu  Khindaf. Hal ini sebagaimana dinyatakan padaku oleh Abu Ubaidah dan 

para pakar geneologis lainnya. Ada pula yang menyebutkan bahwa orang-orang Khuza'ah berkata: 

Khuza'ah yaitu  anak-anak cucu keturunan Haritsah bin Amr bin Amir. Ia dinamakan Khuza'ah, karena 

mereka terpisah dari anak Amr bin Amir jika  mereka migrasi dari Yaman ke Syam. Mereka mampir 

di Marr Dhahran dan tinggal menetap di tempat itu. Auf bin Ayyub Al-Anshari, salah seorang 

keturunan Amr bin Sawwad bin Ghanm bin Ka'ab bin Salamah bin Al-Khazraj berujar saat dirinya 

memeluk agama Islam: 

 

jika  kami mampir pada kabilah Murr, terpisahlah 

Khuza 'ah di tengah-tengah rombongan kuda nan banyak 

Melindungi seluruh lembah Tihamah  

Dengan tombak kokoh juga pedang nan tajam 

 

Dua bait ini yaitu  miliknya. 

 

Abu Al-Muthahhar Ismail bin Rafi' Al- Anshari, salah seorang Bani Haritsah bin Al- Harts bin Al-Khazraj 

bin Amr bin Malik bin Al-Aus berkata dalam sebuah syairnya: 

 

Kala kami mampir di pusat kota Mekkah Khuza 'ah dapatkan hunian para tiran yang melampaui batas 

Mereka berdiam di tengah kelompok manusia dan menebar potongan kuda  

Di seluruh kampung antara bebukitan Najed dan tanah rendah 

Mereka usir Jurhum dari dataran rendah Mek¬kah dan mereka merayap  

Akibat kekuasaan Khuza'ah yang demikian hebat 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bait-bait syair di atas yaitu  penggalan syair-syair Abu Al- Muthahhar Ismail bin 

Rafi' Al-Anshari, yang Insya Allah, akan saya paparkan secara lengkap pada tempatnya, pada bahasan 

tentang pengusiran orang-orang Jurhum dari kota Mekkah. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Mudrikah bin Ilyas memiliki dua anak. Yang pertama Khuzaimah bin Mudrikah dan 

yang kedua Hudzail bin Mudrikah. Ibu mereka berasal dari Qudha'ah. 

 

Khuzaimah bin Mudrikah memiliki empat anak, yakni Kinanah bin Khuzaimah, Asad bin Khuzaimah, 

Asadah bin Khuzaimah, dan Alhun bin Khuzaimah. Ibu mereka bernama Uwanah binti Sa'ad bin Qais 

bin Ailan bin Mudhar. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Dikatakan bahwa namanya yaitu  Al-Hawn bin Khuzaimah. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Kinanah bin Khu-zaimah memiliki empat anak, yakni An-Nadhr bin Kinanah, Malik 

bin Kinanah, Abdu Manat bin Kinanah, dan Milkan bin Kinanah. Ibu An-Nadhr yaitu  Barrah binti Murr 

bin Udd bin Thabikhah bin Ilyas bin Mudhar. Sedangkan anak-anaknya yang lain berasal dari istrinya 

yang lain. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ibu An-Nadhr, Malik, dan Milkan yaitu  Barrah binti Murr. Adapun ibu Abdu 

Manat yaitu  Halah binti Suwaid bin Al-Ghithrif dari Azdi Syanu'ah. Syanu'ah ialah Abdullah bin Ka'ab 

bin Ab-dullah bin Malik bin Nadhr bin Al-Asd bin Al-Ghauts. Dinamakan Syanu'ah, karena permusuhan 

sengit yang terjadi di antara mereka. Syana'an berarti permusuhan(saling benci) sengit. 

 

Ibnu Hisyam berkata: An-Nadhr tak lain yaitu  Quraisy. Anak cucunya yang berasal darinya dinamakan 

orang-orang Quraisy, sedangkan yang bukan dari keturunannya tidak dinamakan orang-orang Quraisy 

Jarir bin Athiyyah salah seorang Bani Kulaib bin Yarbu' bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin 

Tamim memuji Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan dalam sebuah syair: 

 

Ibu yang melahirkan Quraisy 

Bukanlah wanita bernasab buruk bukan pula wanita mandul 

Tidak ada satu kaumpun yang lebih terhormat dibandingkan  ayah kalian 

Tidak pula ada paman dari ibu yang lebih terpuji dibandingkan  Tamim 

 

Yang dimaksud dengan ibu pada syair di atas yaitu  Barrah binti Murr, saudara lelaki Tamim bin Murr 

ibu dari An-Nadhr. Bait-bait syair di atas yaitu  merupakan penggalan syair-syair Jarir bin Athiyyah. 

Ada yang menyebutkan Fihr bin Malik yaitu  Quraisy, anak keturunannya disebut Quraisy, sedangkan 

yang bukan dari anak keturunannya tidak dinamakan Quraisy. 

 

Quraisy dinamakan Quraisy karena taqarrusy. Arti taqarrusy yaitu  bisnis dan kerja mencari harta. 

Ru'bah bin Al-Ajjaj berujar: 

 

Lemak gemuk dan susu murni membuat mereka 

Tak lagi butuhkan gandum dan kerja dan jatuhan buah 

 

Mereka yaitu  saudara-saudara yang memi- kulkan dosa-dosa ke pundak kami Di usia yang baru lewat 

dan masa lalu yang jauh 

Bait-bait syair di atas merupakan peng-galan syair-syair Abu Jildah Al- Yasykuri. 

Ibnu Ishaq berkata: Ada yang menye-butkan bahwa Quraisy dinamakan Quraisy, karena mereka 

bersatu padu sesudah  sebelum itu mereka berpecah-belah. Kadang kala kata tajammu' disinonimkan 

dengan kata taqar-rusy. 

An-Nadhr memiliki dua anak, yakni Ma-lik bin An-Nadhr dan Yakhlud bin An-Nadhr. Ibu Malik ialah 

Atikah binti Adwan bin Amr bin Qais bin Ailan. Namun saya saya tidak tahu pasti, apakah ibu Yakhlud 

Atikah juga atau bukan. 

Ibnu Hisyam berkata: Selain dua anak di atas, An-Nadhr juga mempunyai anak yang bernama Ash-

Shalt bin An-Nadhr sebagaima- na dikatakan kepada saya oleh Abu Amr Al- Madani. Ibu mereka yaitu  

putri Sa'ad bin Zharib Al-Adwani. Adapun Adwan yaitu  anak Amr bin Qais bin Ailan. 

Kutsair bin Abdurrahman yaitu  Kuts- tsair Azzah, salah seorang Bani Mulaih bin Amr dari Khuza'ah 

berujar dalam syairnya: 

 

Bukankah ayahku yaitu  Ash-Shalt? 

Tidakkah saudara-saudaraku orang-orang terhomat dan kesohor di kalangan Bani An-Nadhr? 

Kau bisa lihat pakaian dari Yaman ada merekadan pada kami 

juga sandal Hadnrami yang sempit dengan model yang sama 

Jika kalian bukan dari Bani Nadhir, maka tinggalkanlah 

Pohon arak (siwak) nan hijau di ujung lembah-lembah itu 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bait-bait syair tadi merupakan penggalan syair-syair Kutstsair bin Abdurrahman. 

Orang-orang Khuza'ah dari Bani Mulih bin Amir yang dinisbatkan kepada Ash-Shalt bin An-Nadhr 

yaitu  kaum Kutsair Azzah. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Malik bin An-Nadhr memiliki seorang anak bernama Fihr bin Malik, dan ibunya 

yaitu  Jandalah binti Al-Harts bin Mudhadh Al-Jurhumi. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Al-Harits bukan anak sulung Mudhadh. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Fihr bin Malik memiliki empat orang anak, yakni Ghalib bin Fihr, Muharib bin Fihr, 

Al-Harits bin Fihr, dan Asad bin Fihr. Ibu mereka bernama Laila binti Sa'ad bin Hudzail bin Mudrikah. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Fihr bin Malik juga memiliki seorang anak perempuan bernama landalah binti 

Fihr. Jandalah yaitu  ibu Yarbu bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim. Ibu Jandalah ialah 

Laila binti Sa'ad. Jarir bin Athiyyah bin Al-Khathafi yang bernama asli Al-Khathafi Hudzaifah bin Badr 

bin Salamah bin Auf bin Kulaib bin Yarbu' bin Hanzhalah berkata: 

 

Tatkala ku marah, anak-anak Jatidal Melindungikuku melempar dengan sebaik-baik batu 

 

Bait-bait ini  yaitu  penggalan dari syair-syair Jarir. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Ghalib bin Fihr memiliki dua anak yang bernama Luay bin Ghalib dan 

Taim bin Ghalib. Ibu mereka berdua yaitu  Salma binti Amr Al-Khuza'i. Taim bin Ghalib 

dinamakan Bani Al-Adram. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ghalib bin Fihr juga memiliki anak bernama Qais bin Ghalib dengan ibu 

bernama Salma binti Ka'ab bin Amr Al-Khuza'i yang juga ibu dari Luay dan Taim, dua anak 

Ghalib lainnya. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Luay bin Ghalib memiliki empat anak, yakni Ka'ab bin Luay, Amir bin 

Luay, Samah bin Luay, dan Auf bin Luay. Ibu Ka'ab, Amir dan Samah bernama Mawiyyah 

binti Ka'ab bin Al-Qain bin Jasr dari Qudha'ah. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ada pula yang mengatakan bahwa Luay bin Ghalib memiliki anak yang 

lain bernama Al-Harts bin Luay. Jarir berujar dalam sebuah syairnya: 

 

Wahai anak-anak Jusyam, kalian bukan berasal dari Hizzan 

Kalian berasal dari garis keturunan mulia: Luay bin Ghalib 

Janganlah kalian nikahkan puteri-puteri kalian dengan orang-orang Dhaur 

Jangan pula dengan kabilah Syukais sebab itu tempat terburuk bagi wanita 

 

Demikian pula dengan Sa'ad bin Luay mereka yaitu  Bunanah, anak-anak dari Syaiban bin 

Tsa'labah bin Ukabah bin Sha'b bin Ali bin Abi Bakr bin Wail dari Rabi'ah. 

 

Adapun Bunanah dia seorang wanita perawat untuk mereka yang berasal dari Bani al-Qain bin 

Jisr bin Syaiullah. Ada juga yang menyebutkan Sai'ullah bin Al-Asad bin Wabrah bin Hulwan 

bin Imran bin al-Haaf bin Qudha'ah. 

 

Disebutkan juga bahwa dia yaitu  Bintu Namr bin Qasith bin Rabi'ah. 

 

Disebutkan pula bahwa dialah Bintu Jurm bin Rayyan bin Hulwan bin Imran bin al-Haf bin 

Qudha'ah. 

 

Dan Khuzaimah bin Luay bin Ghalib. Mereka yaitu  Aidah di antara Syaiban bin Tsa'labah. 

Adapun Aidah dia yaitu  seorang wanita asal Yaman, dan ibu dari Ubaid bin Khuzaimah bin 

Luay. 

 

Adapun ibu dari semua anak-anak Luay kecuali Amir bin Luay yaitu  Mawiyyah binti Ka'ab 

bin Al-Qain bin Jasr. Sedangkan ibu dari Amir bin Luay yaitu  yaitu  Makhsyiyyah binti 

Syaiban bin Muharib bin Fihr. Ada yang mengatakan ibu Amir bin Luay yaitu  Laila binti 

Syaiban bin Muharib bin Fihr. 

 

 

Tentang Samah bin Luay 

 

Ibnu lshaq berkata: Adapun Samah bin Luay, ia pergi menuju Oman dan tinggal di sana. Ada 

yang mengatakan ia diusir oleh Amir bin Luay, karena cekcok yang terjadi antara mereka 

berdua. Samah mencungkil mata Amir, dan diapun mendapat ancaman keras Amir sehingga 

membuatnya memutuskan pergi menuju Oman. Banyak yang beranggapan bahwa jika  

Samah berada di atas untanya, dan untanya sedang makan rumput, tiba-tiba seekor ular 

mematuk bibir untanya hingga pecah. Sejika  itu juga unta ini  ambruk tersungkur. Ular 

itu lalu  ular mematuk Samah dan hingga menewaskannya. Ada pula yang mengatakan 

jika  Samah merasa kematiannya menjelang, sebagaimana yang mereka sangka, ia berkata: 

 

Wahai mata, menangislah untuk Samah bin Luay 

Karena petaka ular tergantung di betis Samah 

Tak pernah ku lihat orang seperti Samah bin Luay 

Di hari mereka menempatkannya sebagai korban karena untanya  

Sampaikan kepada Amir; dan Ka'ab Bahwa aku amat merindukan keduanya  

Walaupun rumahku ada di Oman  

Aku anak keturunan Ghalib yang pergi bukan karena miskin  

Mungkin air telah engkau tum- pahkan, wahai anak Luay  

Karena khawatir akan kematian, yang tidak mampu kau menumpahkannya  

Engkau ingin menepis menolak kematian, wahai anak Luay 

Tidak ada yang kuasa tuk menepis kematian  

Banyak unta terdiam dalam perjalananannya meninggalkanmu sambil tertunduk  

sesudah  berupaya keras menolongmu 

 

Ibnu Hisyam: Disampaikan kepadaku bahwa sebagian dari keturunan Samah datang menemui 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan mengaku memiliki sambungan nasab dengan 

Samah bin Luay. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apakah Samah bin Luay 

sang penyair itu?" Salah seorang dari sahabat Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam berkata: 

"Wahai Rasulullah, sepertinya engkau menginginkan ucapan Samah bin Luay berikut: 

 

'Engkau ingin menepis menolak kematian, wahai anak Luay 

Tidak ada yang kuasa tuk menepis kematian” 

 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya, betul." 

 

 

Auf bin Luay dan Migrasinya 

 

Ibnu Ishaq berkata: Sedangkan Auf bin Luay, dalam pandanga mereka, ia keluar bersama 

rombongan musafir Quraisy. Sesampainya di daerah Ghathafan bin Sa'ad bin Qais bin Ailan, 

ia beristirahat, sedang kaumnya melanjutkan perjalanan mereka. Auf bin Luay didatangi 

Tsa'labah, saudara senasab dengan Auf di Bani Dzubyan. Tsa'labah adaiah anak Sa'ad bin 

Dzubyan bin Baghidh bin Raits bin Ghathafan. Sedang Auf adaiah anak Sa'ad bin Dzubyan bin 

Baghidh bin Raits bin Ghathafan. Tsa'labah menahan Auf, lalu  menikahkannya, 

menyatukan nasabnya dengannya, dan menganggapnya sebagai saudara, sehingga 

genelogisnya dikenal demikian luas di tengah Bani Ghathafan. Dikisahkan bahwa Tsa'labah 

berkata kepada Auf, jika  Auf menahan perjalanannya hingga ditinggal pergi oleh kaumnya: 

 

Hai anak Luai, tambatkan untamu di tempat ku 

Kau telah ditinggal kaummu sementara tidak ada tempat tinggal buatmu 

 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ja'far bin Zubair atau Muhammad bin Abdurrahman bin 

Abdullah bin Hushain berkata kepadaku bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu 

berkata: "Andai aku boleh mengaku bernasabkan kepada salah satu kabilah Arab, atau 

memasukkan mereka kepada kami, pasti aku mengaku memilih bernasabkan kepada Bani 

Murrah bin Auf. sebenarnya  kami mengetahui persamaan pada mereka dengan kami, kami 

juga mengetahui posisi orang itu. Yakni, Auf bin Luay." 

 

Ibnu Ishaq berkata: Menurut geneologis Ghathafan, Murrah adaiah anak Auf bin Sa'ad bin 

Dzubyan bin Baghidh bin Raits bin Ghathafan. Jika garis nasab ini  dinisbatkan kepada 

mereka, mereka berkata: Kami tidak menolaknya dan tidak mengingkarinya, karena ia adaiah 

nasab keturunan yang paling kami suka. 

 

Al-Harits bin Zalim bin Judzaimah bin Yarbu, menurut Ibnu Hisyam, salah seorang anak 

keturunan Murrah bin Auf, berkata jika  ia melarikan diri dari An-Nu'man bin Al-Mundzir 

dan bergabung dengan orang-orang Quraisy: 

 

Kaumku bukan kaum Tsa'labah bin Sa'ad Bukan pula dari Fazarah yang berambut panjang 

Jika kau bertanya tentang kaumku, ia yaitu  BaniLuay 

Di Mekkah yang mengajar perang kepada Mudhar 

Alangkah bodohnya kami saat mengikuti Bani Baghidh 

Dengan meninggalkan garis nasab yang dekat dengan kami sendiri 

Sebuah kebodohan pencari air menumpahkan air lalu mengikuti fatamorgana  

Andai aku disuruh taat, sungguh aku kan berada di tengah mereka 

Aku tak suka untuk meminta turunnya hujan Rawahah dari Qurasy memperbaiki kudaku di 

satu sisi 

Tanpa meminta upah atas bantuannya 

 

Ibnu Hisyam berkata: Syair itulah yang diutarakan oleh Abu Ubaydah kepadaku. 

 

Ibnu Ishaq berkata: AI-Husnain Din AI- Humam Al-Murri salah seorang dari Bani Sahm bin 

Murrah membantah Al-Harits bin Zalim, dan mengklaim diri bernasabkan kepada Ghathafan, 

berkata dalam sebuah syair: 

 

Ketahuilah, kalian bukan dari kami dan kamipun bukan dari kalian  

Kami berlepas diri dari kalian Bani Luay bin Ghalib 

Kami berada dalam keagungan Hijaz  

Sedangkan kalian berada di tempat licin di antara dua gunung Mekkah 

 

Yakni Quraisy. Usai mengatakan itu, Al-Hushain menyesal atas apa yang diucapkannya dan 

menyadari akan kebenaran ucapan Al-Harits bin Zalim. Lalu ia kembali berna-sabkan kepada 

Quraisy dan mencela dirinya sambil berkata: 

 

Aku menyesal atas ucapan yang aku lontarkan 

Kini jelas bagtku bahwa ucapan itu ucapan dusta 

Wahai, andai lidahku terbelah dua 

Salah satunya bisu, dan satunya memujimu bintangmu 

Nenek moyang kami ialah Kinanah yang di kubur di kota Mekkah 

Di saluran air Batha' di antara dua gunung-gunung Mekkah 

Kami punya seperempat warisan terhadap rumah suci 

Dan seperempat saluran air yang ada di rumah Ibnu Hathib 

 

Maksudnya, anak-anak Luay yaitu  empat orang, yaitu Ka'ab, Amir, Samah, Auf. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Seseorang yang tidak diragukan kejujurannya berkata kepadaku bahwa 

Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata kepada beberapa orang dari Bani Murrah: 

"Jika kalian mau kembali kepada nasab kalian, maka lakukanlah." 

 

Ibnu Ishaq berkata: Bani Murrah bin Auf yaitu  orang-orang mulia di kalangan Ghathafan dan 

merupakan pemimpin- pemimpin mereka. Di antara tokoh pemimpin ini  yaitu  Harim 

bin Sinan bin Abu Haritsah, Kharijah bin Sinan bin Abu Haritsah, Al-Harits bin Auf, Al-

Hushain bin Al-Humam, dan Hasyim bin Harmalah sebagaimana dikatakan oleh salah seorang 

penvair, 

 

Hasyim bin Harmalah menghidupkan kembali ayahnya 

Di Hari Al-Haba'ah dan Hari Al-Ya'malah 

Kau lihat para raja merasa hina raja di sisinya 

la bunuh orang berdosa ataupun tidak berdosa 

 

Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa bait-bait syair di atas yaitu  milik 

Amir Al-Khashafi. Khashafah yaitu  anak Qais bin Ailan. Amir Al-Khashafi berkata: 

 

Hasyim bin Harmalah menghidupkan kembali ayahnya 

Pada Hari Al-Haba'ah dan Hari Al-Ya'malah  

Kau lihat para raja di sampingnya menjadi hina 

la bunuh orang berdosa atapun tidak berdosa  

Tombaknya membuat para ibu khawatirkan akan anaknya 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan kepadaku bahwa Hasyim berkata kepada Amir: 

Katakan tentang diriku sebuah bait syair nan indah, pasti aku beri engkau hadiah. lalu  

Amir mengucapkan bait syair pertama, namun bait syair ini  tidak membuatnya kagum. 

Maka iapun mengucapkan bait syair kedua, namun bait syair kedua juga tidak membuatnya 

puas. Amir mengucapkan bait syair ketiga, tetap saja tidak membuatnya kagum. jika  Amir 

mengucapkan bait syair keempat: 

 

la membunuh orang berdosa ataupun tidak berdosa. Bait syair ini  membuat Hasyim 

terkagum-kagum, lalu iapun memberikan hadiah kepada Amir. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Itulah yang dimaksudkan Al-Kumait bin Zaid dalam untaian syairnya: 

 

Hasyim Murrah yang menghancurkan para raja 

Tanpa dosa padanya dan para pendosa 

 

Bait syair di atas yaitu  bagian syair-syairnya. Ucapan Amir: Pada Hari Al-Haba'ah, bukan 

berasal dari Abu Ubaidah. 

 

Ibnu lshaq berkata: Bani Murrah bin Auf demikian terkenal di kalangan Bani Ghathafan dan 

Qais. Mereka menasabkan garis keturun- annya pada Bani Murrah, dan di tengah mereka ini 

ada Basl. 

 

 

Tentang Basal 

 

Dalam pandangan mereka, Basl yaitu  delapan bulan yang diharamkan kepada mereka dalam 

setahun di antara orang-orang Arab. Orang-orang Arab mengetahui bahwa mereka mempunyai 

Basl ini , mereka tidak mengingkarinya tidak pula menentangnya. Selama delapan bulan-

bulan ini , mereka bebas pergi ke wilayah-wilayah Arab manapun tanpa ada perasaan takut 

terhadap sesuatu apa pun. 

 

Zuhair bin Abu Sulma nama aslinya yaitu  Bani Murrah berkata: Zuhair yaitu  salah seorang 

dari Bani Muzainah bin Ud bin Thabikhah bin Ilyas bin Mudhar. Ada yang mengatakan Zuhair 

ialah anak Abu Sulma dari Ghathafan. Ada juga yang mengatakan ia yaitu  sekutu orang-orang 

Ghathafan. 

 

Pikirkanjika mereka bukan al-Marurat dimana mereka tinggal 

Jika mereka pasti berada di Nakhl Negeri dimana aku pernah akrab dengan mereka 

Jika tidak pada keduanya maka mereka akan bebas di Basl 

 

Ia berkata: Mereka berjalan di tanah haram mereka. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Dua bait di atas yaitu  syair miliknya. 

 

Ibnu lshaq berkata: Asya Bani Qais juga berkata: 

 

Apakah tetamu wanita kalian diharamkan atas kami? 

Sedang wanita-wanita kami dan suaminya halal bagi kalian? 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bait syair di atas yaitu  bagian syair-syair A'sya. 

 

Ibnu lshaq berkata: Ka'ab bin Luay memiliki tiga anak, yaitu Murrah bin Ka'ab, Adi bin Ka'ab, 

dan Hushaish bih Ka'ab. Ibu mereka bernama Wahsyiyah binti Syaiban bin Muharib bin Fihr 

bin Malik bin An-Nadhr. 

 

Murrah bin Ka'ab memiliki tiga anak, yaitu Kilab bin Murrah, Taim bin Murrah, dan Yaqadzah 

bin Murrah. 

 

Ada pun ibu Kilab yaitu  Hindun binti Surair bin Tsa'labah bin Al-Harits bin Fihr bin Malik 

bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah. Ibu Yaqadzah yaitu  Al-Bariyah, wanita asal 

Bariq, dari Al-Asd dari Yaman. Ada yang menyebutkan dia yaitu  Ummu Taim juga. 

Sedangkan yang lain mengatakan Taim yaitu  anak Hindun binti Surair, ibu Kilab. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bariq yaitu  keturunan Adi bin Haritsah bin Amr bin Amir bin Haritsah 

bin Umru Al-Qais bin Tsa'labah bin Mazin bin Al-Asd bin Al-Ghauts. Mere- ka berdiam di 

Syanu'ah. AI-Kumait bin Zaid berkata: 

 

Azd Syanu'ah keluar menyerang kami  

Dengan domba tak bertanduk yang mereka sangka bertanduk 

Tak pernah kami ucapkan pada Bariq "kalian telah berbuat salah" 

Tidak pula kami ucapkan padanxa, berilah kami kepuasan 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bait syair di atas yaitu  sebagian dari syair-syair Al-Kumait bin Zaid. 

Mereka dinamakan Bariq, karena berjalan mencari kilat. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Kilab bin Murrah memiliki dua anak, yaitu Qushay bin Kilab, 

dan Zuhrah bin Kilab. Ibu mereka berdua yaitu  Fathimah binti Sa'ad bin Sayal, salah seorang 

dari Bani Al-Jadarah dari Ju'tsumah Al-Azdi yang berasal dari Yaman, sekutu Bani Ad-Dail 

bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan, Ju'tsumah Al-Asdi dan Ju'tsumah Al-Azdi. Ia 

yaitu  Ju'tsumah bin Yasykur bin Mubasysyir bin Sha'b bin Duhman bin Nashr bin Zahran bin 

Al-Harits bin Ka'ab bin Abdullah bin Malik bin Nashr bin Al-Asd bin Al-Ghauts. Ada pula 

yang menyebutkan bahwa Ju'tsumah yaitu  anak Yasykur bin Mubasysyir bin Sha'b bin Nashr 

bin Zahran bin Al- Asd bin Al-Ghauts. 

 

Dinamakan Al-Jadarah, karena Amir bin Amr bin Ju'tsumah nikah dengan putri Al- Harits bin 

Mudhadh Al-Jurhumi. Saat orang-orang Jurhum menjadi penguasa Ka'bah. Amir membangun 

dinding untuk Ka'bah. Karena itulah, Amir dinamakan Al Jadir(pembuat tembok), dan anak 

cucunya dinamakan Al- Jadarah. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Salah seorang penyair berkata tentang Sa'ad bin Sayal. 

 

Tak pernah kami lihat di antara banyak manusia 

Dari yang kami tahu laksana Sa 'ad bin Sayal  

Penunggang kuda nan kuat menerobos kesulitan 

Bila berpapasan dengan musuh, ia turun untuk bertempur 

Seorang penunggang kuda yang membuntuti kuda 

Laksana seekor burung elang memburu ayam hutan 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ucapan Sa'ad bin Sayal 'sebagaimana seekor burung elang memburu 

ayam hutan' berasal dari ucapan seorang pakar syair. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Nu'm binti Kilab yaitu  ibu dari As'ad, dan Su'aid anak Sahm bin Amr 

bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay. Ibu Nu'm bernama Fathimah binti Sa'ad bin Sayal. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Qushay bin Kilab memiliki empat anak laki-laki, dan dua perempuan. 

Keempat anak laki-lakinya yaitu  Abdu Manaf bin Qushay, Abduddaar bin Qushay, Abdul 

Uzza bin Qushay, dan Abdu Qushay bin Qushay. Sedang dua anak perempuannya yaitu  

Takhmur binti Qushay, dan Barrah binti Qushay. Ibu mereka yaitu  Hubayya binti Hulail bin 

Habasyiyah bin Salul bin Ka'ab bin Amr Al-Khuzai. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan Hubsyiyah bin Salul. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abdu Manaf yang bernama asli Al-Mughirah bin Qushay mem- punyai 

empat anak laki-laki, yaitu Hasyim bin Abdu Manaf, Abdu Syams bin Abdu Manaf, dan Al-

Muthallib bin Abdu Manaf. Ibu mereka yaitu  Atikah binti Burrah bin Hilal bin Falij bin 

Dzakwan bin Tsa'labah bin Buh'ah bin Su- laim bin Manshur bin Ikrimah. Anaknya yang lain 

bernama Naufal bin Abdu Manaf. Ibunya bernama Waqidah binti Amr Al-Maziniyah. Mazin 

yaitu  anak Manshur bin Ikrimah. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Dengan uraian nasab seperti disebutkan di atas, mereka berbeda nasab 

dengan Utbah bin Ghazwan bin Jabir bin Wahb bin Nusaib bin Malik bin Al Harits bin Mazin 

bin Manshur bin Ikrimah. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Abu Amr, Tuma- dhir, Qilabah, Hayyah, Raithah, Ummu Al- Akhtsam, 

dan Ummu Sufyan yaitu  anak- anak dari Abdu Manaf. 

 

Ada pun ibu Abu Amr yaitu  Raithah yaitu  wanita dari Tsaqif. Ibu anak-anak wanitanya 

yaitu  Atikah binti Murrah bin Hilal Ummu Hasyim bin Abdu Manaf. Ibu Atikah yaitu  

Shafiyyah binti Hauzah binti Amr bin Salul bin Sha'sha'ah bin Muawiyah bin Bakr bin 

Hawazin. Ibu Shafiyyah yaitu  putri Ai-dzullah bin Sa'ad Al-Asyirah bin Madzhij. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Hasyim bin Abdu Manaf memiliki empat anak laki-laki, dan lima anak 

perempuan. Anak laki-lakinya yaitu  Abdul Muthalib bin Hasyim, Asad bin Hasyim, Abu 

Shaifi bin Hasyim, dan Nadhlah bin Hasyim. Sedangkan anak wanitanya yaitu  Asy-Syifa', 

Khalidah, Dhaifah, Ruqaiyyah, dan Hayyah. Ibu Abdul Muthalib dan Ruqayyah yaitu  Salma 

binti Amr bin Zaid bin Labid bin Haram bin Khidasy bin Amir bin Ghunm bin Adi bin An-

Najjar. Nama An-Najjar yaitu  Taimullah bin Tsa'labah bin Amr bin Al- Khazraj bin Haritsah 

bin Tsa'labah bin Amr bin Amir. 

 

Ibu Salma yaitu  Amirah binti Shakhr bin Al-Harits bin Tsa'labah bin Mazin bin An-Najjar. 

 

Ibu Amirah yaitu  Salma binti Abdu Al- Asyhal An-Najjariyah. Ibu Asad yaitu  Qailah binti 

Amir bin Malik Al-Khuza'i. 

 

Ibu Abu Shaifi dan Hayyah yaitu  Hindun binti Amr bin Tsa'labah Al-Khazrajiyyah. 

 

Ibu Nadhlah dan Asy-Syifa' yaitu  se-orang wanita berasal dari Qudhaah. 

 

Ibu Khalidah dan Dhaifah yaitu  Waqi-dah binti Abu Adi At-Maaziniyah. 

 

 

Anak-Anak Abdul Mutthalib bin Hasyim 

 

Ibnu Hisyam berkata: Abdul Muthalib bin Hasyim memiliki sepuluh anak laki-laki dan enam 

anak wanita. Anak laki-lakinya yaitu  Al-Abbas, Hamzah, Abdullah, Abu Thalib yang 

bernama asli Abdu Manaf, Zubair, Al-Harits, Hajl, Al-Muqawwim, Dhirar, dan Abu Lahab 

yang bernama asli Abdul Uzza. Sedang keenam anak wanitanya yaitu  Shafiyyah, Ummu 

Hakim Al-Baidha', Atikah, Umaimah, Arwa, dan Barrah. 

 

Ibu Al-Abbas dan Dhirar yaitu  Nutailah binti Janab bin Kulaib bin Malik bin Amr bin Amir 

bin Zaid bin Manat bin Amir bin Sa'ad bin Al-Khazraj bin Taim Al-Lata bin An-Namir bin 

Qasith bin Hinbun bin Afsha bin Jadilah bin Asad bin Rabi'ah bin Nizar. Ada yang 

menyebutkan Afsha yaitu  anak Du'miyyu bin Jadilah. 

 

Ibu Hamzah, Al-Muqawwim dan Hajl —yang digelari dengan Al-Ghaidaq karena kebaikannya 

yang demikian banyak, dan hartanya yang melimpah—, dan Shafiyyah yaitu  Halah binti 

Wuhaib bin Abdu Manat bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay. 

 

Ibu Abdullah, Abu Thalib, Zubair dan semua anak perempuannya selain Shafiyyah yaitu  

Fathimah binti Amr bin Aidz bin Imran bin Makhzum bin Yaqadhah bin Murrah bin Ka'ab bin 

Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nahdr. 

 

Ibu Fathimah yaitu  Shakhrah binti Abdun bin Imran bin Makhzum bn Yaqadhah bin Murrah 

bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib binFihr bin Malik bin An-Nadhr. 

 

Ibu Shakhrah yaitu  Takhmur binti Abd bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay 

bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr. 

 

Ibu Al-Harits bin Abdul Muthalib yaitu  Samra' binti Jundub bin Juhair bin Ri'ab bin Habib 

bin Suwa'ah bin Amir bin Sha'sha'ah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin 

Ikrimah. 

 

Ibu Abu Lahab yaitu  Lubna binti Hajar bin Abdu Manaf bin Dhathir bin Hubsyiyyah bin Salul 

bin Ka'ab bin Amr Al-Khuza'i. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Abdullah bin Abdul Muthalib memiliki seorang anak yakni Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam, seorang anak cucu Adam yang terbaik, yang bernama Muhammad 

bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Semoga shalawat Allah, salam-Nya, rahmat-Nya, dan 

keberkahan-Nya terlimpah- kan kepada beliau, dan buat seluruh keluarganya. 

 

Ibu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sal¬lam yaitu  Aminah binti Wahb bin Abdu Manaf bin 

Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr 

bin Kinanah. 

 

Ibu Aminah ialah Barrah binti Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddaar bin Qushay bin Kilab 

bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr. 

 

Ibu Barrah ialah Ummu Habib binti Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah 

bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr. 

 

Ibu Ummu Habib ialah Barrah binti Auf bin Ubayd bin Uwaij bin Adi bin Ka'ab bin Luay bin 

Ghalib bin Fihr bin Malik bin An- Nadhr. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Artinya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yaitu  anak cucu 

Adam yang paling mulia keturunan dan na- sabnya baik dari garis ayah dan ibunya. 

 

 

Isyarat Penggalian Sumur Zamzam 

 

Muhammad bin Ishaq al-Muththalabi berkata: jika  Abdul Muthalib sedang tidur di Hijr di 

sisi Ka'bah, ia bermimpi didatangi seseorang yang menyuruhnya menggali Sumur Zamzam 

yang kala itu tertimbun di antara dua berhala orang-orang Quraisy, Isaf dan Nailah di samping 

tempat penyembelihan hewan kurban orang-orang Quraisy. Orang-orang Jurhum menimbun 

Sumur Zamzam itu saat mereka meninggalkan Mekkah. Sumur Zamzam yaitu  sumur Nabi 

Ismail bin Ibrahim yang diberikan Allah jika  ia kehausan pada masa kecilnya. Ibunya 

mencarikan air minum buatnya, namun ia tidak berhasil mendapat nya. Ibu Ismail berdiri di 

Shafa sambil berdoa kepada Allah dan meminta pertolongan-Nya buat anaknya Ismail. Lalu 

dia pergi ke Marwa dan melakukan apa yang dia kerjakan di Shafa. Allah mengutus Malaikat 

Jibril 'Alaihis salam lalu berbisik pada Ismail agar menggerak-gerakkan tumitnya ke tanah 

maka keluarlah air. Pada saat yang sama, ibu Ismail mendengar suara binatang buas yang 

membuatnya khawatir akan keselamatan anaknya. lapun cepat kembali ke tempat anaknya 

dengan perasaan was-was dan khawatir, namun dia dapatkan anaknya sedang berusaha 

mengusap air yang ada di bawah pipinya untuk diminumnya. sesudah  itu, ibu Ismail menggali 

lubang kecil. 

 

 

Orang-orang Jurhum dan Penimbunan Sumur Zamzam  

 

Ibnu Hisyam berkata: Bahasan tentang orang- orang Jurhum, tindakan penimbunan Sumur 

Zamzam oleh mereka, kepergian mereka dari Mekkah, dan pihak yang menguasai Mekkah 

sepeninggal mereka hingga Abdul Muthalib menggali Sumur Zamzam yaitu  seperti yang 

dikatakan kepada kami oleh Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai dari Muhammad bin Ishaq yang 

mengtaakan bahwa tatkala Ismail bin Ibrahim wafat maka Baitullah diurus oleh anaknya yang 

bemama Nabit bin Ismail dalam batas waktu tertentu, lalu  pengelolaan Baitullah 

dilanjutkan oleh Mudhadh bin Amr Al-Jurhumi. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menga- takan, Midhadh bin Amr Al-Jurhumi. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Anak-anak Ismail, anak-anak Nabit bersama kakek mereka, Mudhadh bin 

Amr, paman-paman mereka dari garis ibu dari Jurhum, Jurhum, dan Qathura' yaitu  penduduk 

Mekkah pada masa itu. Jurhum dan Qathura' yaitu  saudara sepupunya yang datang dari 

Yaman. 

 

Mereka berdua ikut bersama rombongan musafir. Orang-orang Jurhum di bawah pimpinan 

Mudhadh bin Amr, dan orang-orang Qathura' dipimpin oleh As-Samaida', salah seorang dari 

mereka. Salah satu kebiasaan orang-orang Yaman jika keluar dari Yaman, mereka tidak keluar 

kecuali raja orang yang mengatur urusan mereka. Setibanya di Mekkah, Jurhum dan Qathura' 

melihat kawasan yang kaya air dan pohon dan keduanya terpikat pada kawasan ini  dan 

berhenti di sana. Mudhadh bin Amr dan orang-orang Jurhum yang ikut bersamanya diam di 

Mekkah Atas, tepatnya di Qu'aiqi'an dan tidak bergerak lebih jauh lagi. Sedangkan As-

Samaida' diam di Mekkah Bawah, tepatnya di Jiyad dan tidak melampaui batas itu. Mudhadh 

menarik pungutan bagi orang yang masuk Mekkah dari Mekkah Atas. As-Samaida juga 

menarik pungutan bagi siapa saja yang memasuki Mekkah dari Mekkah Bawah. Masing-

masing dari keduanya berada di kaumnya masing-masing dan tidak masuk kawasan yang lain. 

Seiring berjalannya waktu JuThum dan Qathura' menyerang dan bersaing karena 

memperebutkan posisi sebagai raja. Saat itu, Mudhadh mendapat dukungan dari anak 

keturunan Ismail dan Nabit. Mudhadh memiliki hak pengelolaan Baitullah dan yang tidak 

dimiliki As-Samaida. Masing-masing pasu kan bergerak menuju pasukan yang lain. Mudhadh 

bin Amr beranjak dari Qu'aiqi'an ber- sama pasukannya dengan target As-Samaida'. Pasukan-

nya bersenjatakan tombak, perisai, pedang, dan tempat anak panah yang menimbulkan suara 

gemerincing. Qu'aiqi'an dinamakan Qu'aiqi'an karena kejadian adanya suara gemerincing ini. 

As-Samaida' juga bergerak dari Ajyad dengan membawa serta kuda dan pasukannya, Ajyad 

dinamakan Ajyad karena keluarnya kuda-kuda bersama As-Samaida' dari Ajyad. Kedua 

pasukan bertemu di Fadhih lalu mereka terlibat dalam sebuah pertem- puran dan perang yang 

demikian sengit. As-Samaida' tewas dalam perang itu dan orang- orang Qathura' dipermalukan. 

Fadhih tidak dinamakan Fadhih kecuali karena mereka dipermalukan pada perang ini . 

 

sesudah  itu, mereka berinisiatif untuk berdamai. Mereka bergerak hingga tiba di Al-Mathabikh, 

jalan di antara dua bukit di Mekkah Atas. Merekapun sepakat berdamai di sana dan 

menyerahkan semua urusan kepada Mudhadh. saat pengelolaan urusan Mekkah diserahkan 

kepada Mudhadh sebagai raja di Mekkah, ia menyembelih hewan untuk manusia, memberi 

makan buat mereka, menyuruh manusia masak, dan makan. Dengan alasan ini Al-Mathabikh 

dinamakan Al-Mathabikh karena peristiwa ini . Sebagian pakar me- nyatakan, bahwa Al-

Mathabikh dinamakan Al-Mathabikh, karena orang-orang Tubba' menyembelih hewan, 

memberi makan warganya, dan tempat ini  yaitu  tempat mereka berdiam. Menurut 

pendapat sebagian besar pakar peristiwa yang terjadi antara Mudhadh dengan As-Samaida' 

yaitu  pelanggaran pertama di kota Mekkah. 

 

Lalu Allah menebarkan anak cucu Ismail di Mekkah, dan paman-paman mereka yang berasal 

dari Jurhum sebagai pengelola Baitullah dan penguasa di Mekkah tanpa ada perlawanan dari 

anak cucu Ismail, karena orang-orang Jurhum tak lain yaitu  paman dan kerabat mereka sendiri 

dan demi menjaga kehormatan Mekkah agar tidak terjadi pelanggaran dan perang di dalamnya. 

Saat Mekkah terasa semakin sempit buat anak cucu Ismail, merekapun menyebar ke berbagai 

negeri. Dan setiap kali mereka berperang melawan musuh, Allah senantiasa menolong mereka 

karena agama mereka hingga mereka berhasil mengalahkan musuh-musuhnya dan mampu 

menguasai negeri mereka. 

 

 

Orang Kinanah dan Khuza'ah Menguasai Baitullah dan Terusirnya Orang Jurhum 

 

sesudah  waktu berlalu lama orang-orang Jurhum mulai berlaku zalim di Mekkah, meng- 

halalkan kehormatan di tanah suci, berbuat zalim terhadap orang-orang selain warga Mekkah 

yang memasuki Mekkah, dan memakan kekayaan Ka'bah yang dihadiahkannya. Akibatnya, 

urusan mereka menjadi kacau balau berantakan. jika  semua itu terlihat oleh Bani Bakr bin 

Abdu Manaf bin Kinanah, dan Ghubsyan dari Khuza'ah, mereka sepakat untuk memerangi 

orang-orang Jurhum dan mengusir mereka dari Mekkah. lalu  mereka mendeklarasikan 

perang terbuka melawan orang-orang Jurhum. Kedua pasukan bertempur hingga akhirnya Bani 

Bakr dan Ghubsyan mampu melumpuhkan orang- orang Jurhum, dan mengusir mereka dari 

Mekkah. Pada masa jahiliyah, kezaliman dan pelanggaran harus tidak terjadi di Mekkah, serta 

siapa pun yang melakukan pelanggaran di dalamnya harus diusir dari sana. Mekkah sebelum 

itu dinamakan An-Nassah dan jika seorang raja ingin menghalalkan keharamannya di 

dalamnya, niscaya ia binasa. Ada yang menyebutkan bahwa Mekkah disebut Bakkah, karena 

ia menghancurkan (bakka) leher para tiran saat mereka melakukan pelanggaran hukum di 

dalamnya. 

 

Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa Bakkah yaitu  nama satu lembah 

di Mekkah, disebut demikian karena mereka saling berdesakan di dalamnya. Abu Ubaidah 

membacakan syair kepadaku: 

 

Jika pengambil air untuk memberi minum unta terserang panas 

Lepaslah dia hingga berdesak-desakan di Bakkah 

 

Yakni biarkanlah dia hingga untanya menuju air berdesakan di dalamnya. Bakkah yaitu  

tempat Baitullah dan Masjidil Haram dan dua bait syair di atas ialah milik Aman bin Ka'ab bin 

Amr bin Sa'ad bin Zaid Manat bin Tamim. 

 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  Amr bin Al-Harits bin Mudhadh Al-Jurhumi berangkat dengan 

membawa dua patung kijang emas Ka'bah, dua batu tiang, lalu  menanamnya di Sumur 

Zamzam. Baru sesudah  itu orang-orang Jurhum kembali pujang ke negeri Yaman. Mereka 

demikian terpukul, karena kehilangan peluang untuk mengelola Ka'bah dan kepemimpinan di 

dalamnya. Mengenai hal ini, Amr bin Al-Harits bin Amr bin Mudhadh berkata ia bukan 

Mudhadh si anak sulung:   

 

Ia berkata sambil bersimbah airmata  

Banyak wanita menangis dengan pedih  

Seakan antara Al-Hajun dan Safa tidak ada teman 

Dan di Mekkah tak ada orangyang begadang malam 

Aku katakan kepadanya, sementara hatiku gagap 

Laksana burung di antara dua sayapnya yang terbang 

Sungguh, kami dulu yaitu  penguasa Mekkah 

Namun perputaran malam mengubah segalanya 

Kami yaitu  pengelola Baitullah sesudah Na- bit 

Kami thawaf di Baitullah dan kebaikannya demikian jelas 

Kami pengelola Baitullah sesudah Nabit dengan mulia 

Tak ada orangyang berani mengganggu kami  

Kami yaitu  penguasa nan terhormat, dan kerajaan kami begitu kuat  

Tidak ada seorangpun serupa dengan kami  

Tidakkah kalian telah menikahkan dengan orang terbaik yang aku kenal? 

Anak-anaknya yaitu  milik kami dan kami yaitu  besannya 

Jika dunia meninggalkan kami dengan segala kondisinya 

sebenarnya  ia mempunyai satu kondisi dengan segala permusuhan  

lalu  kami diusir oleh Sang Maha Kuasa 

Demikianlan wanai manusia, takdir itu berlaku 

Aku katakan jika orang bahagia bisa tidur, sedang aku tidak bisa tidur  

Wahai Pemilik Arasy: Suhail dan Amir tidak jauh dari sini 

Kami diganti di Mekkah dengan orang yang tidak kami suka 

Yaitu kabilah-kabilah di antaranya dari Himyar dan Yuhabir 

Kini kami menjadi bahan bicara, sebelum ini semua orang iri kepada kami  

Demikianlah apa yang dilakukan waktu yang lewat pada kami 

lalu  airmata mengalir karena menangisi suatu negeri suci 

Di dalamnya terdapat keamanan dan di di- dalamnya terdapat  

Masya'ir Ia menangisi rumah yang burung daranya tidak boleh diganggu 

Ia bernaung di bawahnya dengan aman dan di dalamnya terdapat burung pipit  

Di dalamnya ada binatang-binatang buas yang tidak menyerang binatang merpati jinak  

Jika binatang jinak keluar dibandingkan nya la tidak lagi diserang 

 

Ibnu Hisyam berkata: Ucapan Amir, anak-anaknya milik kami, bukan berasal dari Ibnu Ishaq. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Selain itu, Amr bin Al-Harits juga berkata karena ingat Bakr, Ghubsyan, 

dan penduduk Mekkah yang mereka tinggalkan di dalamnya: 

 

Hai manusia, berjalanlah, karena akhir nasib kalian 

Suatu hari tidak lagi bisa berjalan  

Persegerakanlah binatang kalian dan longgarkanlah kekangnya 

Sebelum meninggal dan lakukan apa yang harus kalian lakukan 

Dulu kami manusia-manusia seperti kalian lalu nasib mengubah kami  

Maka kalian seperti kami dahulu dan akan menjadi seperti kami kini 

 

Ibnu Hisyam berkata: Inilah syair yang benar yang diucapkan bin Al-Harits. 

 

Ibnu Hisyam berkata bahwa seorang pakar syair berkata padaku, bait-bait syair di atas yaitu  

syair pertama yang dilontarkan tentang orang-orang Arab, syair-syair ini  ditulis pada 

sebuah batu di Yaman, sayang sekali dia tidak menyebutkan penulisnya padaku. 

 

 

Tindakan Kejam Orang-Orang Khuza'ah Saat Mengurusi Baitullah 

 

Ibnu Ishaq berkata: sesudah  itu Ghubsyan yang berasal dari Khuza'ah ditunjuk untuk mengelola 

Baitullah dan dan tidak diberikan pada Bani Bakr bin Abdu Manat. Orang yang ditunjuk untuk 

menjalankan tugas ini  di antara mereka ialah Amr bin Al-Harits Al- Ghubsyani. Orang-

orang Quraisy saat itu terdiri kelompok-kelompok, dengan rumah-rumah dan tenda-tenda yang 

terpencar-pencar di kaum mereka, Bani Kinanah. Orang-orang Khuza'ah mengelola Baitullah 

secara turun temurun. Orang Khuza'ah yang terakhir kali mengelola Baitullah ialah Hulail bin 

Habasyiyah bin Salul b