negeri-negeri lain, mereka senantiasa membawa salah satu batu dari batu-batu tanah suci
Mekkah sebagai bentuk penghormatan mereka terhadap Mekkah. Jika berhenti di sebuah
tempat, mereka meletakkan batu ini , lalu thawaf di sekelilingnya persis sama pada
saat mereka thawaf di sekeliling Kabah. Demikianlah yang terjadi, hingga akhirnya terjadi
perubahan sikap dan paradigma pada mereka. Mereka menyembah batu yang mereka menurut
pikiran mereka baik dan menarik perhatian. Generasi terus berganti hingga akhirnya lupa
penyikapan yang benar terdahulu terhadap batu ini sehingga akhirnya mereka mengubah
agama Ibrahim dan Ismail dengan agama lain. Mereka memuja-muja berhala-berhala dan
tersesat seperti seperti tersesatnya bangsa-bangsa yang mendahului mereka. Namun demikian,
di antara mereka masih ada sisa-sisa pengikut Nabi Ibrahim yang berpegang kokoh kuat dengan
agama Ibrahim. Mereka tetap mengagungkan Ka'bah, thawaf di sekelilingnya, melakukan
ibadah haji, umrah, wukuf di Arafah dan Muzdalifah, menyembelih hewan qurban, membaca
talbiyah saat menunaikan haji dan umrah, namun sudah disertai dengan memasukkan ajaran
baru (bid'ah) ke dalamnya. Jika orang-orang Kinanah Quraisy melakukan talbiyah mereka
berkata:
"Labbaik allahumma labbaik,. labbaikan laa syariika laka illaa syariikun huwa laka. Tamli-
kuhi wa maa malaka (Aku sambut panggilan-Mu ya Allah, aku sambut panggilan-Mu. Aku
sambut panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu kecuali sekutu ini menjadi milik-Mu.
Engkau memilikinya dan tiada seorangpun yang memiliknya). "Mereka mentauhidkan Allah
dalam seruan talbiyah mereka, tapi pada saat yang sama memasukkan berhala-berhala mereka
bersama Allah dan menjadikan berhala-berhala ini di Tangan-Nya (sekutu-Nya).
Allah berfirman kepada Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam:
Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan
mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain) (QS. Yusuf: 106).
Maksudnya ialah mereka tidak mentauhidkan Aku karena paham mengenai hak-Ku, kecuali
mereka jadikan dari makhluk-Ku sekutu buat-Ku.
Umat Nabi Nuh memiliki berhala-berhala, tempat dimana mereka beribadah kepadanya. Allah
Tabaraka wa Ta'ala menceritakan berhala-berhala ini kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam dalam firman- Nya:
Dan mereka berkata: "jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan
kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula
suwaa \ yaghuts, ya'uq dan nasr." Dan sesudahnya mereka telah menyesatkan kebanyakan
(manusia); dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain
kesesatan. " (QS. Nuh: 23-24).
Mereka yang membikin patung-patung dari keturunan Ismail dan selain keturunan dia, dan
menamai berhala-berhala dengan nama-nama mereka sendiri saat meninggalkan agama Ismail
ialah Kabilah Hudzail bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar. Mereka menjadikan Suwa' sebagai
berhala, mereka memilikinya di Burhat, sebuah tempat di dekat Yanbu'. Selain kabilah Hudzail
ialah Kabilah Kalb bin Wabrah dari Qudha'ah. Mereka menjadikan Wadd sebagai berhala di
Dumatul Jandal.
Ibnu Ishaq berkata: Ka'ab bin Malik Al- Anshari berkata:
Kami tlah lupakan AI-Lata, Al-Uzza, dan Wadd
Kami mengambil ikatan dan pengikat hidung-Nya
Ibnu Hisyam berkata: Bait-bait di atas yaitu penggalan dari syair-syair Ka'ab bin Malik, nanti
akan saya sebutkan pada tempatnya secara lengkap, Insya Allah.
Ibnu Hisyam berkata: Kalb ialah putera dari Wabrah bin Taghlab bin Hulwan bin Imran bin
Ilhaf bin Qudha'ah.
Ibnu Ishaq berkata: An'um dari Thayyi' dan penduduk Jurasy dari Madzhaj menjadikan
Yaghuts berhala sesembahan mereka di Jurasy.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkankan An'am (bukan An'um). Thayyi' yaitu putera
Adad bin Malik dan Malik ialah Madzhaj bin Udad. Ada pula yang menyebutkan bahwa
Thayyi' yaitu anak Adad bin Zaid bin Kahlan bin Saba'.
Ibnu Ishaq berkata: Khaiwan, yang merupakan salah satu kabilah utama dari Hamdzan
menjadikan Ya'uq sebagai berhala di daerah Hamdzan di kawasan Yaman.
Ibnu Hisyam berkata bahwa Malik bin Namath Al-Hamdani berkata:
Allah kuasa mendatangkan manfaat dan mudharat di dunia
Sedang Ya'uq tidak bisa mendatangkan mamfaat dan mudharat apa apa
Bait syair di atas yaitu penggalan dari syair-syair Malik bin Namath Al-Hamdani.
Ibnu Hisyam berkata: Nama Hamdan yaitu Ausalah bin Malik bin Zaid bin Rabi'ah bin
Ausalah bin Khiyar bin Malik bin Zaid bin Kahlan bin Saba'. Ada yang mengatakan Hamdan
yaitu anak Ausalah Zaid bin Ausalah bin Al-Khiyar. Ada pula yang menyatakan namanya
yaitu Hamdan bin Ausalah bin bin Rabi'ah bin Malik bin Al-Khiyar bin Malik bin Zaid bin
Kahlan bin Saba'.
Ibnu Ishaq berkata: Dzu Al-Kula' dari Himyar menjadikan Nasr sebagai berhala di kawasan
Himyar.
Sementara itu Khaulan mempunyai berhala yang bernama Umyanis di daerah Khaulan. Mereka
mengurbankan hewan dan hasil panen mereka padanya di samping kepada Allah. Hak Allah
yang masuk menjadi bagian berhala Umyanis mereka biarkan untuk berhala Umyanis, dan hak
Allah yang menjadi hak berhala Umyanis, mereka ambil kemu- dian mereka berikan kepada
berhala Umyanis. Mereka yaitu kabilah Khaulan yang bernama Al-Adim. Mengenai mereka,
Allah Tabaraka wa Ta'ala menurunkan firman-Nya:
Dan mereka memperuntukkan bagi Allah satu bahagian dari tanaman dan ternak yang telah
diciptakan Allah, lalu mereka berkata sesuai dengan persangkaan mereka: "Ini untuk Allah
dan ini untuk berhala-berhala kami." Maka saji-sajian yang diperuntukkan bagi berhala-
berhala mereka tidak sampai kepada Allah; dan saji-sajian yang diperuntukkan bagi Allah,
maka sajian itu sampai kepada berhala-ber- hala mereka. Amat buruklah ketetapan mereka
itu. (QS. al-An'am: 136).
Ibnu Hisyam berkata: Khaulan yaitu anak Amr bin Ilhaf bin Qadha'ah. Ada yang
menyebutkan dia yaitu Khaulan anak Amr bin Murrah bin Udad bin Zaid bin Mihsa' bin Amr
bin Arib bin Zaid bin Kahlan bin Saba'. Ada yang menyebutkan Khaulan yaitu anak Amr bin
Sa'ad Al-Asyirah bin Madzhij.
Ibnu Ishaq berkata: Anak-anak keturunan Milkan bin Kinanah bin Khuzaiman bin Mudrikah
bin Hyas bin Mudhar memiliki berhala yang bernama Sa'ad. Berhala ini yaitu batu di tanah
lapang di daerah mereka. Salah seorang Bani Milkan dengan unta-untanya pergi pada berhala
tadi dan bermaksud mendudukkannya di atas berhala ini dengan harapan mendapat
keberkahannya, sesu- ai dengan prasangka mereka. jika melihat batu berhala disiram dengan
darah di atasnya, unta-unta ini lari kocar kacir. Pemilik unta dari Milkan ini pun
marah, lalu dia pun mengambil batu dan melemparkannya ke arah berhala ini , seraya
berkata: "Semoga Allah tidak memberkahimu. Engkau telah membikin untaku melarikan diri
dariku." sesudah itu, segera ia mencari unta-untanya hingga akhirnya berhasil
mengumpulkannya. jika unta-untanya telah terkumpul, ia menyenandungkan sebuah syair:
Kami datangpada Sa'ad 'tuk menghimpun perpecahan kami
Namurt Sa'ad malah mengkocar-kacirkannya, kini kami tak ada hubungan apapun dengan
Saad
Bukankah Sa'ad hanyalah batu di tanah tandus
Tidaklah dia bisa mengajak pada kesesatan dan petunjuk
Sedangkan di Daus terdapat berhala kepu- nyaan Amr bin Humamah Ad-Dausi.
Ibnu Hisyam berkata: Saya akan paparkan masalah ini pada tempatnya, Insya Allah.
Daus yaitu anak 'Udtsan bin Abdullah bin Zahran bin Ka'ab Al-Harts bin Ka'ab bin Abdullah
bin Malik bin Nadhr bin Al-Asd bin Al-Ghauts. Ada yang mengatakan, bahwa Daus yaitu
anak Abdullah bin Zahran bin Al-Asd bin Al-Ghauts.
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy membuat berhala di sumur dekat Ka'bah dan mereka
menamakannya dengan nama Hubal.
Ibnu Hisyam berkata: Akan saya paparkan pembahasan tentang Hubal pada tempat-nya, Insya
Allah.
Ibnu Ishaq berkata: Mereka membikin berhala Isaf dan Nailah di sumur Zamzam dan
menyembelih hewan qurban di samping keduanya. Isaf yaitu lelaki dan Nailah yaitu
perempuan dari Jurhum. Isaf yaitu anak Baghyi, sementara Nailah yaitu putri Diki. Isaf
berhubungan badan dengan Nailah di dekat Ka'bah, lalu Allah mengganti bentuk mereka
berdua menjadi batu.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm berkata
kepadaku dari Amrah binti Abdurrahman bin Sa'ad bin Zurarah ia berkata bahwa aku
mendengar Aisyah Radhiyallahu Anha berkata: Kita selalu mendengar bahwa Isaf dan Nailah
yaitu laki-laki dan perempuan asal Jurhum yang melakukan hubungan tak senonoh di Ka bah,
lalu Allah ubah keduanya menjadi batu, wallahu a'lam. "
Ibnu Ishaq berkata: Abu Thalib berujar:
Orang-orang Asy'ari menderumkan unta mereka
Di tempat aliran air Isaf dan Nailah
Ibnu Hisyam berkata: Bait syair di atas yaitu potongan dari syair-syair Abu Thalib yang akan
saya paparkan pada tempatnya, Insya Allah.
Ibnu Ishaq berkata: Setiap penduduk negeri membikin berhala dan mereka sembah di negeri
masing-masing. Jika ada salah seorang dari mereka mau bepergian, ia mengusap-usap
berhalanya saat hendak berangkat. Itulah aktivitas terakhir yang ia lakukan jika ia hendak
bepergian. Setibanya dari bepergian, ia mengusap-usap berhala ini . Itulah yang pertama
kali ia lakukan sebelum bersua dengan keluarganya.
jika Allah mengutus Rasul-Nya, Mu-hammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan
ajaran tauhid, orang-orang Quraisy berkata (sebagaimana diabadikan Quran):
Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tu- han Yang satu saja? sebenarnya ini benar-
benar suatu hal yang sangat mengherankan (QS. Shaad: 5). Orang-orang Arab membuat
thaghut-thaghut di samping Ka'bah. Thaghut-thaghut itu yaitu rumah-rumah yang mereka
agung-agungkan laksana mereka mengagungkan Ka'bah. Thaghut-thaghut ini memiliki
penjaga dan pelayan, diberi sesajian seperti Ka'bah, mereka thawaf di sekelilingnya,
menyembelih hewan qurban di sampingnya, dan mereka sangat mengerti keutamaan Ka'bah
atas thaghut-thaghut ini , mereka tahu bahwa Ka'bah merupakan rumah Ibrahim Al-Khalil
dan masjidnya.
Orang-orang Quraisy dan Bani Kinanah memiliki berhala Al-Uzza yang berada di Nakhlah.
Penjaga dan pelayan berhala ini yaitu Bani Syaiban dari Sulaim, sekutu Bani Hasyim.
Ibnu Hisyam berkata: Sulaim yaitu sekutu Bani Abu Thalib. Sulaim yang dimaksud di sini
yaitu Sulaim bin Manshur bin Ikri- mah bin Khashafah bin Qais bin Ailan.
Ibnu Ishaq berkata: Salah seorang penyair Arab berkata:
Sungguh Asma' telah dinikahkan dengan kepala lembu
Dan Al-Udmi yang dihadiahkan oleh Bani Ghanam
Ia bisa melihat sesuatu yang kecil walaupun jauh
Dan saat digiring ke tempat penyembelihan Al- Uzza ia bagi rata bagian
Jika memotong hewan qurban, mereka membagikannya kepada orang-orang yang ikut hadir di
tempat ini . Mereka menyebutnya di tengah-tengah orang yang hadir dengan ghab'ghab,
manhar, mihraq dima'.
Ibnu Hisyam berkata: Bait-bait syair di atas yaitu karya Abu Khiras Al-Hudzali. Ia bernama
lengkap Khuwailid bin Murrah.
Sadanah yaitu orang-orang yang meng-urus urusan Ka'bah.
Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata:
Tidak, demi Tuhan tempat-tempat aman yang didiami
Di tempat hewan-hewan qurban disimpan dan rumah yang dijaga
Bait syair di atas yaitu potongan dari syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj dan akan saya paparkan
di tempatnya, Insya Allah.
Ibnu Ishaq berkata: Berhala Al-Lata yaitu milik Kabilah Tsaqif di Thaif. Para pen jaga dan
pelayannya yaitu Bani Mu'attab dari kabilah Tsaqif.
Ibnu Hisyam berkata: Pembahasan tentang Al-Lata akan saya paparkan pada tempatnya
tersendiri, Insya Allah.
Ibnu Ishaq berkata: Berhala Manat yaitu milik Kabilah Al-Aus, Al-Khazraj, dan orang-orang
Yatsrib yang seagama dengan mereka di pesisir laut dari arah Al-Musyallal persisnya di daerah
di Qudaid.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Kumait bin Zaid, salah seorang dari Bani Usdi bin Khuzaimah bin
Mudrikah berkata dalam sebuah syair:
Kabilah-kabilah telah bersumpah
Tidak akan memalingkan punggungnya dari Manat
Bait-bait syair di atas yaitu potongan dari syair-syair Al-Kumait. "
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus Abu Sufyan kepada
berhala Manat dan memerintahkannya untuk menghancurkannya. Ada yang menyebutkan
bahwa sahabat yang diutus untuk menghancurkan berhala Manat ialah Ali bin Abu Thalib
Radhiyallahu Anhu.
Ibnu Ishaq berkata: Berhala Dzu Al-Khalshah yaitu milik Daus, Khats'am, Bajilah, dan orang-
orang Arab yang berada di daerah mereka di Tabalah. "
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Dzu Al-Khulushah. Salah seorang penyair Arab
berkata:
Wahai Dzu Al-Khalash, andai kau menjadi teman dekatku yang terbunuh seperti aku
Sedangkan ayahmu telah meninggal dunia Niscaya engkau tak mampu melarang pembunuhan
Kata Ibnu Hisyam lebih lanjut: Ayah penyair ini terbunuh, sedangkan dia ingin membalas
dendam atas kematian ayahnya. lalu ia datang kepada Dzu Al-Khalashah, dan
mengeluarkan dadu-dadu untuk dijadikan undian. sesudah undian dilaksanakan, ternyata yang
keluar ialah dadu yang mencegahnya balas dendam. Oleh sebab itulah, ia melontarkan syair-
syair di atas. Sebagian orang menisbatkan syair-syair di atas kepada Umru'u Al-Qais bin Hujr
Al-Kindi. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim Jarir bin Abdullah untuk
menghancurkan berhala Dzu Al-Khalshah.
Ibnu Ishaq berkata: Berhala Fals yaitu milik Thayyi', dan penduduk yang tinggal di dua
Gunung Salma dan Aja'.
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian orang berilmu berkata kepadaku, bahwa Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam mengutus Ali bin Abu Thalib untuk menghancurkan berhala Fals. jika Ali
bin Abu Thalib sedang merobohkannya, ia menemukan dua pedang yang bernama Ar-Rasub
dan Al-Mikhdzam. Ali bin Abu Thalib membawa kedua pedang itu kepada Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan beliau menghadiahkannya padanya. Itulah pedang itulah milik
Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu.
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Himyar dan penduduk Yaman mempunyai rumah berhala di
Shan'a yang diberi nama Ri'am.
Ibnu Hisyam berkata: Pembahasan hal ini telah saya paparkan sebelum ini.
Ibnu Ishaq berkata: Rudha' yaitu sebuah rumah berhala milik Bani Rabi'ah bin Ka'ab bin Sa'ad
bin Zaid bin Manat bin Tamim. Tentang Rudha' ini, Al-Mustaughir bin Rabi'ah bin Ka'ab bin
Sa'ad berkata jika ia menghancurkannya pada masa Islam:
Sungguh, ku telah menarik Rudha' dengan hentakan yang kuat
Ku biarkan dia sebagai reruntuhan hitam di tanah yang cekung
Ibnu Hisyam berkata: Ucapan, aku biarkan dia sebagai reruntuhan hitam di tanah yang cekung
berasal dari seseorang dari Bani Sa'ad.
Diriwayatkan bahwa Al-Mustaughir berumur tiga ratus tiga puluh tahun. Ia orang Mudhar yang
berumur paling panjang. Ia pernah berkata:
Ku bosan hidup karena terlalu lama
Dalam jumlah ratusan tahun
Seratus dan dua ratus berlalu
Ditambah beberapa bulan
Yang tersisa tak ubahnya seperti apa yang telah tiada
Siang dan malam terus bergerak melangkahi kita
Sebagian orang mengatakan syair-syair di atas yaitu milik Zuhair bin Janab Al-Kalbi.
Ibnu Ishaq berkata: Dzu Al-Ka'abaat yaitu berhala milik Bakr, Taghlab anak keturunan Wail,
dan Iyad. Berhala ini terletak di Sindad. A'sya, salah seorang dari Bani Qais bin Tsa'labah
berkata tentang berhala ini ,
Di antara Istana AI-Khawarnaq, Sadir dan Bariq
Dan rumah Dzu Al-Ka 'abaat di Sandad
Ibnu Hisyam berkata: Bait syair di atas ialah milik Al-Aswad bin Ya'fur An-Nahsyali. Nahsyal
yaitu putera Darim bin Malik bin Handzalah bin Malik bin Zaid bin Manat bin Tamim. Abu
Muhriz Khalf Al-Ahmar membacakan sebuah syair kepadaku,
Penghuni istana Al-Khawarnaq, As-Sadirdan Bariq
Dan rumah Dzu Al-Syurafaat di Sindad
Al-Bahirah, As-Saibah, Al-Washi- lah dan Al-Hami
Ibnu Ishaq berkata: Al-Bahirah yaitu anak betina As-Saibah. Sedangkan As-Saibah ialah unta
yang melahirkan sebanyak sepuluh kali, dan seluruh anaknya betina tanpa diselingi anak
jantan. sesudah itu As-Saibah harus dilepas bebas, tidak boleh ditunggangi, bulunya tidak boleh
dicukur, dan susunya tidak boleh diminum kecuali untuk jamuan tamu.
Jika ternyata sesudah itu, unta As-Saibah melahirkan anak betina lagi, maka anak betina ini
dipotong telinganya lalu dilepas seperti induknya; tidak boleh ditunggangi, bulunya tidak
juga dipotong, dan susunya tidak diminum kecuali untuk tamu seperti halnya yang dilakukan
atas induknya. Anak unta betina yang demikian disebut Al-Bahirah.
Adapun al-Washilah yaitu jika seekor kambing betina melahirkan sepuluh anak kambing
betina secara berurutan selama lima kali masa kehamilan, tanpa sela anak jantan. Kala itukah
orang-orang akan berkata: Kambing ini kini sudah washalat (sampai batas). 'Jika ternyata
kambing ini masih melahirkan anak lagi, maka ia diberikan khusus untuk laki-laki di
antara mereka dan tidak diberikan pada kalangan wanitanya, kecuali jika seekor dari anak
kambing ini ada yang mati. Jika hal ini terjadi maka baik perempuan maupun kalangan
laki-laki boleh makan bersama-sama.
Ibnu Hisyam berkata: Diriwayatkan jika ternyata sesudah itu kambing ini masih juga
melahirkan, maka anak kambing ini hanya diperuntukkan bagi anak lelaki di kalangan
mereka, dan tidak diperuntukkan buat anak-anak perempuan mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Sedangkan Al-Hami yaitu unta betina yang melahirkan sepuluh anak
betina secara berurutan tanpa ada sela anak jantan. Punggung unta betina ini sengaja dilindungi;
tidak ditunggangi, bulunya tidak dipotong, dibiarkan bebas berkeliaran di tengah unta lainnya,
dan tidak digunakan untuk kepentingan lainnya.
Ibnu Hisyam berkata: Apa yang dikatakan oleh Ibnu Ishaq tadi tidak selaras dengan apa yang
biasa disebutkan oleh orang-orang Arab. Penjelasan Ibnu Ishaq tentang Al-Hami sajalah yang
selaras dengan ungkapan mereka. Sebab dalam pandangan mereka Al-Bahirah yaitu unta
betina yang telinganya dipotong, lalu unta tadi tidak ditunggangi punggungnya, tidak boleh
dipotong bulunya, susunya tidak ada yang minum kecuali para tamu ataupun disedekahkan,
dan unta ini dipersembahkan buat tuhan-tuhan mereka.
Sedangkan As-Saibah yaitu seekor unta betina yang dinazarkan oleh seseorang akan
dibebaskan jika ia sembuh dari penyakitnya atau berhasil menggapai sesuatu yang selama ini
diinginkannya. Jika hal ini semua tercapai, maka ia melepaskan untanya untuk tuhan-tuhan
mereka. Lalu unta itu digembalakan dengan bebas dan tidak boleh digunakan untuk
kepentingan apapun.
Adapun Al-Washilah ialah unta betina yang melahirkan dua anak sekaligus dalam setiap kali
dia hamil. Pemiliknya menghadiahkan anak betina buat tuhan-tuhan mereka, sedangkan anak
unta jantan dia peruntukkan buat dirinya sendiri. Anak betina dan jantan dilahirkan dalam satu
kehamilan oleh induknya. Manakala itu terjadi, mereka berkata: Anak betina itu telah datang
dan bergabung dengan saudaranya. Lalu anak jantan ini dibiarkan bebas bersama
saudaranya dan tidak boleh digunakan untuk kepentingan apapun.
Ibnu Hisyam berkata: Hal ini dikatakan kepadaku oleh Yunus bin Habib An-Nahwi, seekor
pakar gramatika Arab, dan para pakar lainnya. Sebagian perawi meriwayatkan apa yang tidak
diriwayatkan sebagian perawi lainnya.
Ibnu Ishaq berkata bahwa jika Allah mengutus, Muhammad Shallalahu 'alaihi wa
Sallam,Rasul-Nya Dia menurunkan firman-Nya kepadanya:
Allah sekali-kali tidak pernah mensyariatkan adanya bahiirah, saaibah, washiilah dan haam.
Akan tetapi orang-orang kafir membuat-buat kedustaan terhadap Allah, dan kebanyakan
mereka tidak mengerti. (QS. al-Ma'idah: 103).
Allah juga menurunkan firman-Nya:
Dan mereka mengatakan: "Apa yang dalam perut binatang ternak ini yaitu khusus untuk pria
kami dan diharamkan atas wanita kami," dan jika yang dalam perut itu dilahirkan mati, maka
pria dan wanita sama-sama boleh memakannya. Kelak Allah akan membalas mereka terhadap
ketetapan mereka. sebenarnya Allah Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui." (QS. al-
Anam: 139)
Allah juga menurunkan firman-Nya pada ayat lain,
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku tentang rezeki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu
kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal." Katakanlah: "Apakah Allah telah
memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?"
(QS. Yunus: 59).
Allah juga menurunkan firman-Nya yang lain,
(yaitu) delapan binatang yang berpasangan, sepasang dari domba dan sepasang dari kambing.
Katakanlah: "Apakah dua yang jantan yang diharamkan Allah ataukah dua yang betina, ataukah yang
ada dalam kandungan dua betinanya?" Terangkanlah kepadaku dengan berdasar pengetahuan jika
kamu memang orang-orang yang benar, dan sepasang dari unta dan sepasang dari lembu.
Katakanlah: "Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah dua yang betina, ataukah yang ada
dalam kandungan dua betinanya. Apakah kamu menyaksikan di waktu Allah menetap- kan ini
bagimu? Maka siapakah yang lebih zalim dibandingkan orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap
Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?" sebenarnya Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang- orang yang zalim. (QS. al-An'am: 144).
Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang penyair berujar dalam syairnya:
Sekitar washilah di Syuraif ada unta berusia tiga tahun
Yang punggungnya dilindungi, tidak ditung- gangi dan dibiarkan bebas
Tamim bin Ubay bin Muqbil salah seorang Bani Amir bin Sha'shaah berkata:
Di dalamnya ada keledai liar yang digembala saat musim semi dan seekor unta muda Di negeri Syam
di tengah gerombolann unta dengan telinga terpotong
Ini yaitu syair miliknya. Adapun kata plural dari Al-Qahirah ialah Al-Baha'ir dan Al- Buhur. Sedangkan
kata plural dari Al- Washilah ialah Al-Washa'il dan Al-Wushul. Plural As- Saibah iaiah As-Sawaib dan
As- Suyyab. Plural Al-Haam ialah Al-Huwwaam.
Lanjutan Bahasan Tentang Nasab
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Khuza'ah berkata: Kami anak-anak cucu Amr bin Amir dari Yaman.
Ibnu Hisyam berkata: Orang-orang Khuza'ah berkata: Kami yaitu anak cucu Amr bin Rabi'ah bin
Haritsah bin Amr bin Amir bin Haritsah bin Umru'u Al-Qais bin Tsa'labah bin Mazin bin Al-Asdi bin Al-
Ghauts, dan ibu kami yaitu Khindaf. Hal ini sebagaimana dinyatakan padaku oleh Abu Ubaidah dan
para pakar geneologis lainnya. Ada pula yang menyebutkan bahwa orang-orang Khuza'ah berkata:
Khuza'ah yaitu anak-anak cucu keturunan Haritsah bin Amr bin Amir. Ia dinamakan Khuza'ah, karena
mereka terpisah dari anak Amr bin Amir jika mereka migrasi dari Yaman ke Syam. Mereka mampir
di Marr Dhahran dan tinggal menetap di tempat itu. Auf bin Ayyub Al-Anshari, salah seorang
keturunan Amr bin Sawwad bin Ghanm bin Ka'ab bin Salamah bin Al-Khazraj berujar saat dirinya
memeluk agama Islam:
jika kami mampir pada kabilah Murr, terpisahlah
Khuza 'ah di tengah-tengah rombongan kuda nan banyak
Melindungi seluruh lembah Tihamah
Dengan tombak kokoh juga pedang nan tajam
Dua bait ini yaitu miliknya.
Abu Al-Muthahhar Ismail bin Rafi' Al- Anshari, salah seorang Bani Haritsah bin Al- Harts bin Al-Khazraj
bin Amr bin Malik bin Al-Aus berkata dalam sebuah syairnya:
Kala kami mampir di pusat kota Mekkah Khuza 'ah dapatkan hunian para tiran yang melampaui batas
Mereka berdiam di tengah kelompok manusia dan menebar potongan kuda
Di seluruh kampung antara bebukitan Najed dan tanah rendah
Mereka usir Jurhum dari dataran rendah Mek¬kah dan mereka merayap
Akibat kekuasaan Khuza'ah yang demikian hebat
Ibnu Hisyam berkata: Bait-bait syair di atas yaitu penggalan syair-syair Abu Al- Muthahhar Ismail bin
Rafi' Al-Anshari, yang Insya Allah, akan saya paparkan secara lengkap pada tempatnya, pada bahasan
tentang pengusiran orang-orang Jurhum dari kota Mekkah.
Ibnu Ishaq berkata: Mudrikah bin Ilyas memiliki dua anak. Yang pertama Khuzaimah bin Mudrikah dan
yang kedua Hudzail bin Mudrikah. Ibu mereka berasal dari Qudha'ah.
Khuzaimah bin Mudrikah memiliki empat anak, yakni Kinanah bin Khuzaimah, Asad bin Khuzaimah,
Asadah bin Khuzaimah, dan Alhun bin Khuzaimah. Ibu mereka bernama Uwanah binti Sa'ad bin Qais
bin Ailan bin Mudhar.
Ibnu Hisyam berkata: Dikatakan bahwa namanya yaitu Al-Hawn bin Khuzaimah.
Ibnu Ishaq berkata: Kinanah bin Khu-zaimah memiliki empat anak, yakni An-Nadhr bin Kinanah, Malik
bin Kinanah, Abdu Manat bin Kinanah, dan Milkan bin Kinanah. Ibu An-Nadhr yaitu Barrah binti Murr
bin Udd bin Thabikhah bin Ilyas bin Mudhar. Sedangkan anak-anaknya yang lain berasal dari istrinya
yang lain.
Ibnu Hisyam berkata: Ibu An-Nadhr, Malik, dan Milkan yaitu Barrah binti Murr. Adapun ibu Abdu
Manat yaitu Halah binti Suwaid bin Al-Ghithrif dari Azdi Syanu'ah. Syanu'ah ialah Abdullah bin Ka'ab
bin Ab-dullah bin Malik bin Nadhr bin Al-Asd bin Al-Ghauts. Dinamakan Syanu'ah, karena permusuhan
sengit yang terjadi di antara mereka. Syana'an berarti permusuhan(saling benci) sengit.
Ibnu Hisyam berkata: An-Nadhr tak lain yaitu Quraisy. Anak cucunya yang berasal darinya dinamakan
orang-orang Quraisy, sedangkan yang bukan dari keturunannya tidak dinamakan orang-orang Quraisy
Jarir bin Athiyyah salah seorang Bani Kulaib bin Yarbu' bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin
Tamim memuji Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan dalam sebuah syair:
Ibu yang melahirkan Quraisy
Bukanlah wanita bernasab buruk bukan pula wanita mandul
Tidak ada satu kaumpun yang lebih terhormat dibandingkan ayah kalian
Tidak pula ada paman dari ibu yang lebih terpuji dibandingkan Tamim
Yang dimaksud dengan ibu pada syair di atas yaitu Barrah binti Murr, saudara lelaki Tamim bin Murr
ibu dari An-Nadhr. Bait-bait syair di atas yaitu merupakan penggalan syair-syair Jarir bin Athiyyah.
Ada yang menyebutkan Fihr bin Malik yaitu Quraisy, anak keturunannya disebut Quraisy, sedangkan
yang bukan dari anak keturunannya tidak dinamakan Quraisy.
Quraisy dinamakan Quraisy karena taqarrusy. Arti taqarrusy yaitu bisnis dan kerja mencari harta.
Ru'bah bin Al-Ajjaj berujar:
Lemak gemuk dan susu murni membuat mereka
Tak lagi butuhkan gandum dan kerja dan jatuhan buah
Mereka yaitu saudara-saudara yang memi- kulkan dosa-dosa ke pundak kami Di usia yang baru lewat
dan masa lalu yang jauh
Bait-bait syair di atas merupakan peng-galan syair-syair Abu Jildah Al- Yasykuri.
Ibnu Ishaq berkata: Ada yang menye-butkan bahwa Quraisy dinamakan Quraisy, karena mereka
bersatu padu sesudah sebelum itu mereka berpecah-belah. Kadang kala kata tajammu' disinonimkan
dengan kata taqar-rusy.
An-Nadhr memiliki dua anak, yakni Ma-lik bin An-Nadhr dan Yakhlud bin An-Nadhr. Ibu Malik ialah
Atikah binti Adwan bin Amr bin Qais bin Ailan. Namun saya saya tidak tahu pasti, apakah ibu Yakhlud
Atikah juga atau bukan.
Ibnu Hisyam berkata: Selain dua anak di atas, An-Nadhr juga mempunyai anak yang bernama Ash-
Shalt bin An-Nadhr sebagaima- na dikatakan kepada saya oleh Abu Amr Al- Madani. Ibu mereka yaitu
putri Sa'ad bin Zharib Al-Adwani. Adapun Adwan yaitu anak Amr bin Qais bin Ailan.
Kutsair bin Abdurrahman yaitu Kuts- tsair Azzah, salah seorang Bani Mulaih bin Amr dari Khuza'ah
berujar dalam syairnya:
Bukankah ayahku yaitu Ash-Shalt?
Tidakkah saudara-saudaraku orang-orang terhomat dan kesohor di kalangan Bani An-Nadhr?
Kau bisa lihat pakaian dari Yaman ada merekadan pada kami
juga sandal Hadnrami yang sempit dengan model yang sama
Jika kalian bukan dari Bani Nadhir, maka tinggalkanlah
Pohon arak (siwak) nan hijau di ujung lembah-lembah itu
Ibnu Hisyam berkata: Bait-bait syair tadi merupakan penggalan syair-syair Kutstsair bin Abdurrahman.
Orang-orang Khuza'ah dari Bani Mulih bin Amir yang dinisbatkan kepada Ash-Shalt bin An-Nadhr
yaitu kaum Kutsair Azzah.
Ibnu Ishaq berkata: Malik bin An-Nadhr memiliki seorang anak bernama Fihr bin Malik, dan ibunya
yaitu Jandalah binti Al-Harts bin Mudhadh Al-Jurhumi.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Harits bukan anak sulung Mudhadh.
Ibnu Ishaq berkata: Fihr bin Malik memiliki empat orang anak, yakni Ghalib bin Fihr, Muharib bin Fihr,
Al-Harits bin Fihr, dan Asad bin Fihr. Ibu mereka bernama Laila binti Sa'ad bin Hudzail bin Mudrikah.
Ibnu Hisyam berkata: Fihr bin Malik juga memiliki seorang anak perempuan bernama landalah binti
Fihr. Jandalah yaitu ibu Yarbu bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim. Ibu Jandalah ialah
Laila binti Sa'ad. Jarir bin Athiyyah bin Al-Khathafi yang bernama asli Al-Khathafi Hudzaifah bin Badr
bin Salamah bin Auf bin Kulaib bin Yarbu' bin Hanzhalah berkata:
Tatkala ku marah, anak-anak Jatidal Melindungikuku melempar dengan sebaik-baik batu
Bait-bait ini yaitu penggalan dari syair-syair Jarir.
Ibnu Ishaq berkata: Ghalib bin Fihr memiliki dua anak yang bernama Luay bin Ghalib dan
Taim bin Ghalib. Ibu mereka berdua yaitu Salma binti Amr Al-Khuza'i. Taim bin Ghalib
dinamakan Bani Al-Adram.
Ibnu Hisyam berkata: Ghalib bin Fihr juga memiliki anak bernama Qais bin Ghalib dengan ibu
bernama Salma binti Ka'ab bin Amr Al-Khuza'i yang juga ibu dari Luay dan Taim, dua anak
Ghalib lainnya.
Ibnu Ishaq berkata: Luay bin Ghalib memiliki empat anak, yakni Ka'ab bin Luay, Amir bin
Luay, Samah bin Luay, dan Auf bin Luay. Ibu Ka'ab, Amir dan Samah bernama Mawiyyah
binti Ka'ab bin Al-Qain bin Jasr dari Qudha'ah.
Ibnu Hisyam berkata: Ada pula yang mengatakan bahwa Luay bin Ghalib memiliki anak yang
lain bernama Al-Harts bin Luay. Jarir berujar dalam sebuah syairnya:
Wahai anak-anak Jusyam, kalian bukan berasal dari Hizzan
Kalian berasal dari garis keturunan mulia: Luay bin Ghalib
Janganlah kalian nikahkan puteri-puteri kalian dengan orang-orang Dhaur
Jangan pula dengan kabilah Syukais sebab itu tempat terburuk bagi wanita
Demikian pula dengan Sa'ad bin Luay mereka yaitu Bunanah, anak-anak dari Syaiban bin
Tsa'labah bin Ukabah bin Sha'b bin Ali bin Abi Bakr bin Wail dari Rabi'ah.
Adapun Bunanah dia seorang wanita perawat untuk mereka yang berasal dari Bani al-Qain bin
Jisr bin Syaiullah. Ada juga yang menyebutkan Sai'ullah bin Al-Asad bin Wabrah bin Hulwan
bin Imran bin al-Haaf bin Qudha'ah.
Disebutkan juga bahwa dia yaitu Bintu Namr bin Qasith bin Rabi'ah.
Disebutkan pula bahwa dialah Bintu Jurm bin Rayyan bin Hulwan bin Imran bin al-Haf bin
Qudha'ah.
Dan Khuzaimah bin Luay bin Ghalib. Mereka yaitu Aidah di antara Syaiban bin Tsa'labah.
Adapun Aidah dia yaitu seorang wanita asal Yaman, dan ibu dari Ubaid bin Khuzaimah bin
Luay.
Adapun ibu dari semua anak-anak Luay kecuali Amir bin Luay yaitu Mawiyyah binti Ka'ab
bin Al-Qain bin Jasr. Sedangkan ibu dari Amir bin Luay yaitu yaitu Makhsyiyyah binti
Syaiban bin Muharib bin Fihr. Ada yang mengatakan ibu Amir bin Luay yaitu Laila binti
Syaiban bin Muharib bin Fihr.
Tentang Samah bin Luay
Ibnu lshaq berkata: Adapun Samah bin Luay, ia pergi menuju Oman dan tinggal di sana. Ada
yang mengatakan ia diusir oleh Amir bin Luay, karena cekcok yang terjadi antara mereka
berdua. Samah mencungkil mata Amir, dan diapun mendapat ancaman keras Amir sehingga
membuatnya memutuskan pergi menuju Oman. Banyak yang beranggapan bahwa jika
Samah berada di atas untanya, dan untanya sedang makan rumput, tiba-tiba seekor ular
mematuk bibir untanya hingga pecah. Sejika itu juga unta ini ambruk tersungkur. Ular
itu lalu ular mematuk Samah dan hingga menewaskannya. Ada pula yang mengatakan
jika Samah merasa kematiannya menjelang, sebagaimana yang mereka sangka, ia berkata:
Wahai mata, menangislah untuk Samah bin Luay
Karena petaka ular tergantung di betis Samah
Tak pernah ku lihat orang seperti Samah bin Luay
Di hari mereka menempatkannya sebagai korban karena untanya
Sampaikan kepada Amir; dan Ka'ab Bahwa aku amat merindukan keduanya
Walaupun rumahku ada di Oman
Aku anak keturunan Ghalib yang pergi bukan karena miskin
Mungkin air telah engkau tum- pahkan, wahai anak Luay
Karena khawatir akan kematian, yang tidak mampu kau menumpahkannya
Engkau ingin menepis menolak kematian, wahai anak Luay
Tidak ada yang kuasa tuk menepis kematian
Banyak unta terdiam dalam perjalananannya meninggalkanmu sambil tertunduk
sesudah berupaya keras menolongmu
Ibnu Hisyam: Disampaikan kepadaku bahwa sebagian dari keturunan Samah datang menemui
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan mengaku memiliki sambungan nasab dengan
Samah bin Luay. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apakah Samah bin Luay
sang penyair itu?" Salah seorang dari sahabat Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam berkata:
"Wahai Rasulullah, sepertinya engkau menginginkan ucapan Samah bin Luay berikut:
'Engkau ingin menepis menolak kematian, wahai anak Luay
Tidak ada yang kuasa tuk menepis kematian”
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya, betul."
Auf bin Luay dan Migrasinya
Ibnu Ishaq berkata: Sedangkan Auf bin Luay, dalam pandanga mereka, ia keluar bersama
rombongan musafir Quraisy. Sesampainya di daerah Ghathafan bin Sa'ad bin Qais bin Ailan,
ia beristirahat, sedang kaumnya melanjutkan perjalanan mereka. Auf bin Luay didatangi
Tsa'labah, saudara senasab dengan Auf di Bani Dzubyan. Tsa'labah adaiah anak Sa'ad bin
Dzubyan bin Baghidh bin Raits bin Ghathafan. Sedang Auf adaiah anak Sa'ad bin Dzubyan bin
Baghidh bin Raits bin Ghathafan. Tsa'labah menahan Auf, lalu menikahkannya,
menyatukan nasabnya dengannya, dan menganggapnya sebagai saudara, sehingga
genelogisnya dikenal demikian luas di tengah Bani Ghathafan. Dikisahkan bahwa Tsa'labah
berkata kepada Auf, jika Auf menahan perjalanannya hingga ditinggal pergi oleh kaumnya:
Hai anak Luai, tambatkan untamu di tempat ku
Kau telah ditinggal kaummu sementara tidak ada tempat tinggal buatmu
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ja'far bin Zubair atau Muhammad bin Abdurrahman bin
Abdullah bin Hushain berkata kepadaku bahwa Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu
berkata: "Andai aku boleh mengaku bernasabkan kepada salah satu kabilah Arab, atau
memasukkan mereka kepada kami, pasti aku mengaku memilih bernasabkan kepada Bani
Murrah bin Auf. sebenarnya kami mengetahui persamaan pada mereka dengan kami, kami
juga mengetahui posisi orang itu. Yakni, Auf bin Luay."
Ibnu Ishaq berkata: Menurut geneologis Ghathafan, Murrah adaiah anak Auf bin Sa'ad bin
Dzubyan bin Baghidh bin Raits bin Ghathafan. Jika garis nasab ini dinisbatkan kepada
mereka, mereka berkata: Kami tidak menolaknya dan tidak mengingkarinya, karena ia adaiah
nasab keturunan yang paling kami suka.
Al-Harits bin Zalim bin Judzaimah bin Yarbu, menurut Ibnu Hisyam, salah seorang anak
keturunan Murrah bin Auf, berkata jika ia melarikan diri dari An-Nu'man bin Al-Mundzir
dan bergabung dengan orang-orang Quraisy:
Kaumku bukan kaum Tsa'labah bin Sa'ad Bukan pula dari Fazarah yang berambut panjang
Jika kau bertanya tentang kaumku, ia yaitu BaniLuay
Di Mekkah yang mengajar perang kepada Mudhar
Alangkah bodohnya kami saat mengikuti Bani Baghidh
Dengan meninggalkan garis nasab yang dekat dengan kami sendiri
Sebuah kebodohan pencari air menumpahkan air lalu mengikuti fatamorgana
Andai aku disuruh taat, sungguh aku kan berada di tengah mereka
Aku tak suka untuk meminta turunnya hujan Rawahah dari Qurasy memperbaiki kudaku di
satu sisi
Tanpa meminta upah atas bantuannya
Ibnu Hisyam berkata: Syair itulah yang diutarakan oleh Abu Ubaydah kepadaku.
Ibnu Ishaq berkata: AI-Husnain Din AI- Humam Al-Murri salah seorang dari Bani Sahm bin
Murrah membantah Al-Harits bin Zalim, dan mengklaim diri bernasabkan kepada Ghathafan,
berkata dalam sebuah syair:
Ketahuilah, kalian bukan dari kami dan kamipun bukan dari kalian
Kami berlepas diri dari kalian Bani Luay bin Ghalib
Kami berada dalam keagungan Hijaz
Sedangkan kalian berada di tempat licin di antara dua gunung Mekkah
Yakni Quraisy. Usai mengatakan itu, Al-Hushain menyesal atas apa yang diucapkannya dan
menyadari akan kebenaran ucapan Al-Harits bin Zalim. Lalu ia kembali berna-sabkan kepada
Quraisy dan mencela dirinya sambil berkata:
Aku menyesal atas ucapan yang aku lontarkan
Kini jelas bagtku bahwa ucapan itu ucapan dusta
Wahai, andai lidahku terbelah dua
Salah satunya bisu, dan satunya memujimu bintangmu
Nenek moyang kami ialah Kinanah yang di kubur di kota Mekkah
Di saluran air Batha' di antara dua gunung-gunung Mekkah
Kami punya seperempat warisan terhadap rumah suci
Dan seperempat saluran air yang ada di rumah Ibnu Hathib
Maksudnya, anak-anak Luay yaitu empat orang, yaitu Ka'ab, Amir, Samah, Auf.
Ibnu Ishaq berkata: Seseorang yang tidak diragukan kejujurannya berkata kepadaku bahwa
Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu berkata kepada beberapa orang dari Bani Murrah:
"Jika kalian mau kembali kepada nasab kalian, maka lakukanlah."
Ibnu Ishaq berkata: Bani Murrah bin Auf yaitu orang-orang mulia di kalangan Ghathafan dan
merupakan pemimpin- pemimpin mereka. Di antara tokoh pemimpin ini yaitu Harim
bin Sinan bin Abu Haritsah, Kharijah bin Sinan bin Abu Haritsah, Al-Harits bin Auf, Al-
Hushain bin Al-Humam, dan Hasyim bin Harmalah sebagaimana dikatakan oleh salah seorang
penvair,
Hasyim bin Harmalah menghidupkan kembali ayahnya
Di Hari Al-Haba'ah dan Hari Al-Ya'malah
Kau lihat para raja merasa hina raja di sisinya
la bunuh orang berdosa ataupun tidak berdosa
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa bait-bait syair di atas yaitu milik
Amir Al-Khashafi. Khashafah yaitu anak Qais bin Ailan. Amir Al-Khashafi berkata:
Hasyim bin Harmalah menghidupkan kembali ayahnya
Pada Hari Al-Haba'ah dan Hari Al-Ya'malah
Kau lihat para raja di sampingnya menjadi hina
la bunuh orang berdosa atapun tidak berdosa
Tombaknya membuat para ibu khawatirkan akan anaknya
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan kepadaku bahwa Hasyim berkata kepada Amir:
Katakan tentang diriku sebuah bait syair nan indah, pasti aku beri engkau hadiah. lalu
Amir mengucapkan bait syair pertama, namun bait syair ini tidak membuatnya kagum.
Maka iapun mengucapkan bait syair kedua, namun bait syair kedua juga tidak membuatnya
puas. Amir mengucapkan bait syair ketiga, tetap saja tidak membuatnya kagum. jika Amir
mengucapkan bait syair keempat:
la membunuh orang berdosa ataupun tidak berdosa. Bait syair ini membuat Hasyim
terkagum-kagum, lalu iapun memberikan hadiah kepada Amir.
Ibnu Hisyam berkata: Itulah yang dimaksudkan Al-Kumait bin Zaid dalam untaian syairnya:
Hasyim Murrah yang menghancurkan para raja
Tanpa dosa padanya dan para pendosa
Bait syair di atas yaitu bagian syair-syairnya. Ucapan Amir: Pada Hari Al-Haba'ah, bukan
berasal dari Abu Ubaidah.
Ibnu lshaq berkata: Bani Murrah bin Auf demikian terkenal di kalangan Bani Ghathafan dan
Qais. Mereka menasabkan garis keturun- annya pada Bani Murrah, dan di tengah mereka ini
ada Basl.
Tentang Basal
Dalam pandangan mereka, Basl yaitu delapan bulan yang diharamkan kepada mereka dalam
setahun di antara orang-orang Arab. Orang-orang Arab mengetahui bahwa mereka mempunyai
Basl ini , mereka tidak mengingkarinya tidak pula menentangnya. Selama delapan bulan-
bulan ini , mereka bebas pergi ke wilayah-wilayah Arab manapun tanpa ada perasaan takut
terhadap sesuatu apa pun.
Zuhair bin Abu Sulma nama aslinya yaitu Bani Murrah berkata: Zuhair yaitu salah seorang
dari Bani Muzainah bin Ud bin Thabikhah bin Ilyas bin Mudhar. Ada yang mengatakan Zuhair
ialah anak Abu Sulma dari Ghathafan. Ada juga yang mengatakan ia yaitu sekutu orang-orang
Ghathafan.
Pikirkanjika mereka bukan al-Marurat dimana mereka tinggal
Jika mereka pasti berada di Nakhl Negeri dimana aku pernah akrab dengan mereka
Jika tidak pada keduanya maka mereka akan bebas di Basl
Ia berkata: Mereka berjalan di tanah haram mereka.
Ibnu Hisyam berkata: Dua bait di atas yaitu syair miliknya.
Ibnu lshaq berkata: Asya Bani Qais juga berkata:
Apakah tetamu wanita kalian diharamkan atas kami?
Sedang wanita-wanita kami dan suaminya halal bagi kalian?
Ibnu Hisyam berkata: Bait syair di atas yaitu bagian syair-syair A'sya.
Ibnu lshaq berkata: Ka'ab bin Luay memiliki tiga anak, yaitu Murrah bin Ka'ab, Adi bin Ka'ab,
dan Hushaish bih Ka'ab. Ibu mereka bernama Wahsyiyah binti Syaiban bin Muharib bin Fihr
bin Malik bin An-Nadhr.
Murrah bin Ka'ab memiliki tiga anak, yaitu Kilab bin Murrah, Taim bin Murrah, dan Yaqadzah
bin Murrah.
Ada pun ibu Kilab yaitu Hindun binti Surair bin Tsa'labah bin Al-Harits bin Fihr bin Malik
bin An-Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah. Ibu Yaqadzah yaitu Al-Bariyah, wanita asal
Bariq, dari Al-Asd dari Yaman. Ada yang menyebutkan dia yaitu Ummu Taim juga.
Sedangkan yang lain mengatakan Taim yaitu anak Hindun binti Surair, ibu Kilab.
Ibnu Hisyam berkata: Bariq yaitu keturunan Adi bin Haritsah bin Amr bin Amir bin Haritsah
bin Umru Al-Qais bin Tsa'labah bin Mazin bin Al-Asd bin Al-Ghauts. Mere- ka berdiam di
Syanu'ah. AI-Kumait bin Zaid berkata:
Azd Syanu'ah keluar menyerang kami
Dengan domba tak bertanduk yang mereka sangka bertanduk
Tak pernah kami ucapkan pada Bariq "kalian telah berbuat salah"
Tidak pula kami ucapkan padanxa, berilah kami kepuasan
Ibnu Hisyam berkata: Bait syair di atas yaitu sebagian dari syair-syair Al-Kumait bin Zaid.
Mereka dinamakan Bariq, karena berjalan mencari kilat.
Ibnu Ishaq berkata: Kilab bin Murrah memiliki dua anak, yaitu Qushay bin Kilab,
dan Zuhrah bin Kilab. Ibu mereka berdua yaitu Fathimah binti Sa'ad bin Sayal, salah seorang
dari Bani Al-Jadarah dari Ju'tsumah Al-Azdi yang berasal dari Yaman, sekutu Bani Ad-Dail
bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan, Ju'tsumah Al-Asdi dan Ju'tsumah Al-Azdi. Ia
yaitu Ju'tsumah bin Yasykur bin Mubasysyir bin Sha'b bin Duhman bin Nashr bin Zahran bin
Al-Harits bin Ka'ab bin Abdullah bin Malik bin Nashr bin Al-Asd bin Al-Ghauts. Ada pula
yang menyebutkan bahwa Ju'tsumah yaitu anak Yasykur bin Mubasysyir bin Sha'b bin Nashr
bin Zahran bin Al- Asd bin Al-Ghauts.
Dinamakan Al-Jadarah, karena Amir bin Amr bin Ju'tsumah nikah dengan putri Al- Harits bin
Mudhadh Al-Jurhumi. Saat orang-orang Jurhum menjadi penguasa Ka'bah. Amir membangun
dinding untuk Ka'bah. Karena itulah, Amir dinamakan Al Jadir(pembuat tembok), dan anak
cucunya dinamakan Al- Jadarah.
Ibnu Ishaq berkata: Salah seorang penyair berkata tentang Sa'ad bin Sayal.
Tak pernah kami lihat di antara banyak manusia
Dari yang kami tahu laksana Sa 'ad bin Sayal
Penunggang kuda nan kuat menerobos kesulitan
Bila berpapasan dengan musuh, ia turun untuk bertempur
Seorang penunggang kuda yang membuntuti kuda
Laksana seekor burung elang memburu ayam hutan
Ibnu Hisyam berkata: Ucapan Sa'ad bin Sayal 'sebagaimana seekor burung elang memburu
ayam hutan' berasal dari ucapan seorang pakar syair.
Ibnu Hisyam berkata: Nu'm binti Kilab yaitu ibu dari As'ad, dan Su'aid anak Sahm bin Amr
bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay. Ibu Nu'm bernama Fathimah binti Sa'ad bin Sayal.
Ibnu Ishaq berkata: Qushay bin Kilab memiliki empat anak laki-laki, dan dua perempuan.
Keempat anak laki-lakinya yaitu Abdu Manaf bin Qushay, Abduddaar bin Qushay, Abdul
Uzza bin Qushay, dan Abdu Qushay bin Qushay. Sedang dua anak perempuannya yaitu
Takhmur binti Qushay, dan Barrah binti Qushay. Ibu mereka yaitu Hubayya binti Hulail bin
Habasyiyah bin Salul bin Ka'ab bin Amr Al-Khuzai.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan Hubsyiyah bin Salul.
Ibnu Ishaq berkata: Abdu Manaf yang bernama asli Al-Mughirah bin Qushay mem- punyai
empat anak laki-laki, yaitu Hasyim bin Abdu Manaf, Abdu Syams bin Abdu Manaf, dan Al-
Muthallib bin Abdu Manaf. Ibu mereka yaitu Atikah binti Burrah bin Hilal bin Falij bin
Dzakwan bin Tsa'labah bin Buh'ah bin Su- laim bin Manshur bin Ikrimah. Anaknya yang lain
bernama Naufal bin Abdu Manaf. Ibunya bernama Waqidah binti Amr Al-Maziniyah. Mazin
yaitu anak Manshur bin Ikrimah.
Ibnu Hisyam berkata: Dengan uraian nasab seperti disebutkan di atas, mereka berbeda nasab
dengan Utbah bin Ghazwan bin Jabir bin Wahb bin Nusaib bin Malik bin Al Harits bin Mazin
bin Manshur bin Ikrimah.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Amr, Tuma- dhir, Qilabah, Hayyah, Raithah, Ummu Al- Akhtsam,
dan Ummu Sufyan yaitu anak- anak dari Abdu Manaf.
Ada pun ibu Abu Amr yaitu Raithah yaitu wanita dari Tsaqif. Ibu anak-anak wanitanya
yaitu Atikah binti Murrah bin Hilal Ummu Hasyim bin Abdu Manaf. Ibu Atikah yaitu
Shafiyyah binti Hauzah binti Amr bin Salul bin Sha'sha'ah bin Muawiyah bin Bakr bin
Hawazin. Ibu Shafiyyah yaitu putri Ai-dzullah bin Sa'ad Al-Asyirah bin Madzhij.
Ibnu Hisyam berkata: Hasyim bin Abdu Manaf memiliki empat anak laki-laki, dan lima anak
perempuan. Anak laki-lakinya yaitu Abdul Muthalib bin Hasyim, Asad bin Hasyim, Abu
Shaifi bin Hasyim, dan Nadhlah bin Hasyim. Sedangkan anak wanitanya yaitu Asy-Syifa',
Khalidah, Dhaifah, Ruqaiyyah, dan Hayyah. Ibu Abdul Muthalib dan Ruqayyah yaitu Salma
binti Amr bin Zaid bin Labid bin Haram bin Khidasy bin Amir bin Ghunm bin Adi bin An-
Najjar. Nama An-Najjar yaitu Taimullah bin Tsa'labah bin Amr bin Al- Khazraj bin Haritsah
bin Tsa'labah bin Amr bin Amir.
Ibu Salma yaitu Amirah binti Shakhr bin Al-Harits bin Tsa'labah bin Mazin bin An-Najjar.
Ibu Amirah yaitu Salma binti Abdu Al- Asyhal An-Najjariyah. Ibu Asad yaitu Qailah binti
Amir bin Malik Al-Khuza'i.
Ibu Abu Shaifi dan Hayyah yaitu Hindun binti Amr bin Tsa'labah Al-Khazrajiyyah.
Ibu Nadhlah dan Asy-Syifa' yaitu se-orang wanita berasal dari Qudhaah.
Ibu Khalidah dan Dhaifah yaitu Waqi-dah binti Abu Adi At-Maaziniyah.
Anak-Anak Abdul Mutthalib bin Hasyim
Ibnu Hisyam berkata: Abdul Muthalib bin Hasyim memiliki sepuluh anak laki-laki dan enam
anak wanita. Anak laki-lakinya yaitu Al-Abbas, Hamzah, Abdullah, Abu Thalib yang
bernama asli Abdu Manaf, Zubair, Al-Harits, Hajl, Al-Muqawwim, Dhirar, dan Abu Lahab
yang bernama asli Abdul Uzza. Sedang keenam anak wanitanya yaitu Shafiyyah, Ummu
Hakim Al-Baidha', Atikah, Umaimah, Arwa, dan Barrah.
Ibu Al-Abbas dan Dhirar yaitu Nutailah binti Janab bin Kulaib bin Malik bin Amr bin Amir
bin Zaid bin Manat bin Amir bin Sa'ad bin Al-Khazraj bin Taim Al-Lata bin An-Namir bin
Qasith bin Hinbun bin Afsha bin Jadilah bin Asad bin Rabi'ah bin Nizar. Ada yang
menyebutkan Afsha yaitu anak Du'miyyu bin Jadilah.
Ibu Hamzah, Al-Muqawwim dan Hajl —yang digelari dengan Al-Ghaidaq karena kebaikannya
yang demikian banyak, dan hartanya yang melimpah—, dan Shafiyyah yaitu Halah binti
Wuhaib bin Abdu Manat bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay.
Ibu Abdullah, Abu Thalib, Zubair dan semua anak perempuannya selain Shafiyyah yaitu
Fathimah binti Amr bin Aidz bin Imran bin Makhzum bin Yaqadhah bin Murrah bin Ka'ab bin
Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nahdr.
Ibu Fathimah yaitu Shakhrah binti Abdun bin Imran bin Makhzum bn Yaqadhah bin Murrah
bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib binFihr bin Malik bin An-Nadhr.
Ibu Shakhrah yaitu Takhmur binti Abd bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay
bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr.
Ibu Al-Harits bin Abdul Muthalib yaitu Samra' binti Jundub bin Juhair bin Ri'ab bin Habib
bin Suwa'ah bin Amir bin Sha'sha'ah bin Muawiyah bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin
Ikrimah.
Ibu Abu Lahab yaitu Lubna binti Hajar bin Abdu Manaf bin Dhathir bin Hubsyiyyah bin Salul
bin Ka'ab bin Amr Al-Khuza'i.
Ibnu Hisyam berkata: Abdullah bin Abdul Muthalib memiliki seorang anak yakni Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam, seorang anak cucu Adam yang terbaik, yang bernama Muhammad
bin Abdullah bin Abdul Muthalib. Semoga shalawat Allah, salam-Nya, rahmat-Nya, dan
keberkahan-Nya terlimpah- kan kepada beliau, dan buat seluruh keluarganya.
Ibu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sal¬lam yaitu Aminah binti Wahb bin Abdu Manaf bin
Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr
bin Kinanah.
Ibu Aminah ialah Barrah binti Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddaar bin Qushay bin Kilab
bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr.
Ibu Barrah ialah Ummu Habib binti Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah
bin Ka'ab bin Luai bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin An-Nadhr.
Ibu Ummu Habib ialah Barrah binti Auf bin Ubayd bin Uwaij bin Adi bin Ka'ab bin Luay bin
Ghalib bin Fihr bin Malik bin An- Nadhr.
Ibnu Hisyam berkata: Artinya Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam yaitu anak cucu
Adam yang paling mulia keturunan dan na- sabnya baik dari garis ayah dan ibunya.
Isyarat Penggalian Sumur Zamzam
Muhammad bin Ishaq al-Muththalabi berkata: jika Abdul Muthalib sedang tidur di Hijr di
sisi Ka'bah, ia bermimpi didatangi seseorang yang menyuruhnya menggali Sumur Zamzam
yang kala itu tertimbun di antara dua berhala orang-orang Quraisy, Isaf dan Nailah di samping
tempat penyembelihan hewan kurban orang-orang Quraisy. Orang-orang Jurhum menimbun
Sumur Zamzam itu saat mereka meninggalkan Mekkah. Sumur Zamzam yaitu sumur Nabi
Ismail bin Ibrahim yang diberikan Allah jika ia kehausan pada masa kecilnya. Ibunya
mencarikan air minum buatnya, namun ia tidak berhasil mendapat nya. Ibu Ismail berdiri di
Shafa sambil berdoa kepada Allah dan meminta pertolongan-Nya buat anaknya Ismail. Lalu
dia pergi ke Marwa dan melakukan apa yang dia kerjakan di Shafa. Allah mengutus Malaikat
Jibril 'Alaihis salam lalu berbisik pada Ismail agar menggerak-gerakkan tumitnya ke tanah
maka keluarlah air. Pada saat yang sama, ibu Ismail mendengar suara binatang buas yang
membuatnya khawatir akan keselamatan anaknya. lapun cepat kembali ke tempat anaknya
dengan perasaan was-was dan khawatir, namun dia dapatkan anaknya sedang berusaha
mengusap air yang ada di bawah pipinya untuk diminumnya. sesudah itu, ibu Ismail menggali
lubang kecil.
Orang-orang Jurhum dan Penimbunan Sumur Zamzam
Ibnu Hisyam berkata: Bahasan tentang orang- orang Jurhum, tindakan penimbunan Sumur
Zamzam oleh mereka, kepergian mereka dari Mekkah, dan pihak yang menguasai Mekkah
sepeninggal mereka hingga Abdul Muthalib menggali Sumur Zamzam yaitu seperti yang
dikatakan kepada kami oleh Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai dari Muhammad bin Ishaq yang
mengtaakan bahwa tatkala Ismail bin Ibrahim wafat maka Baitullah diurus oleh anaknya yang
bemama Nabit bin Ismail dalam batas waktu tertentu, lalu pengelolaan Baitullah
dilanjutkan oleh Mudhadh bin Amr Al-Jurhumi.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menga- takan, Midhadh bin Amr Al-Jurhumi.
Ibnu Ishaq berkata: Anak-anak Ismail, anak-anak Nabit bersama kakek mereka, Mudhadh bin
Amr, paman-paman mereka dari garis ibu dari Jurhum, Jurhum, dan Qathura' yaitu penduduk
Mekkah pada masa itu. Jurhum dan Qathura' yaitu saudara sepupunya yang datang dari
Yaman.
Mereka berdua ikut bersama rombongan musafir. Orang-orang Jurhum di bawah pimpinan
Mudhadh bin Amr, dan orang-orang Qathura' dipimpin oleh As-Samaida', salah seorang dari
mereka. Salah satu kebiasaan orang-orang Yaman jika keluar dari Yaman, mereka tidak keluar
kecuali raja orang yang mengatur urusan mereka. Setibanya di Mekkah, Jurhum dan Qathura'
melihat kawasan yang kaya air dan pohon dan keduanya terpikat pada kawasan ini dan
berhenti di sana. Mudhadh bin Amr dan orang-orang Jurhum yang ikut bersamanya diam di
Mekkah Atas, tepatnya di Qu'aiqi'an dan tidak bergerak lebih jauh lagi. Sedangkan As-
Samaida' diam di Mekkah Bawah, tepatnya di Jiyad dan tidak melampaui batas itu. Mudhadh
menarik pungutan bagi orang yang masuk Mekkah dari Mekkah Atas. As-Samaida juga
menarik pungutan bagi siapa saja yang memasuki Mekkah dari Mekkah Bawah. Masing-
masing dari keduanya berada di kaumnya masing-masing dan tidak masuk kawasan yang lain.
Seiring berjalannya waktu JuThum dan Qathura' menyerang dan bersaing karena
memperebutkan posisi sebagai raja. Saat itu, Mudhadh mendapat dukungan dari anak
keturunan Ismail dan Nabit. Mudhadh memiliki hak pengelolaan Baitullah dan yang tidak
dimiliki As-Samaida. Masing-masing pasu kan bergerak menuju pasukan yang lain. Mudhadh
bin Amr beranjak dari Qu'aiqi'an ber- sama pasukannya dengan target As-Samaida'. Pasukan-
nya bersenjatakan tombak, perisai, pedang, dan tempat anak panah yang menimbulkan suara
gemerincing. Qu'aiqi'an dinamakan Qu'aiqi'an karena kejadian adanya suara gemerincing ini.
As-Samaida' juga bergerak dari Ajyad dengan membawa serta kuda dan pasukannya, Ajyad
dinamakan Ajyad karena keluarnya kuda-kuda bersama As-Samaida' dari Ajyad. Kedua
pasukan bertemu di Fadhih lalu mereka terlibat dalam sebuah pertem- puran dan perang yang
demikian sengit. As-Samaida' tewas dalam perang itu dan orang- orang Qathura' dipermalukan.
Fadhih tidak dinamakan Fadhih kecuali karena mereka dipermalukan pada perang ini .
sesudah itu, mereka berinisiatif untuk berdamai. Mereka bergerak hingga tiba di Al-Mathabikh,
jalan di antara dua bukit di Mekkah Atas. Merekapun sepakat berdamai di sana dan
menyerahkan semua urusan kepada Mudhadh. saat pengelolaan urusan Mekkah diserahkan
kepada Mudhadh sebagai raja di Mekkah, ia menyembelih hewan untuk manusia, memberi
makan buat mereka, menyuruh manusia masak, dan makan. Dengan alasan ini Al-Mathabikh
dinamakan Al-Mathabikh karena peristiwa ini . Sebagian pakar me- nyatakan, bahwa Al-
Mathabikh dinamakan Al-Mathabikh, karena orang-orang Tubba' menyembelih hewan,
memberi makan warganya, dan tempat ini yaitu tempat mereka berdiam. Menurut
pendapat sebagian besar pakar peristiwa yang terjadi antara Mudhadh dengan As-Samaida'
yaitu pelanggaran pertama di kota Mekkah.
Lalu Allah menebarkan anak cucu Ismail di Mekkah, dan paman-paman mereka yang berasal
dari Jurhum sebagai pengelola Baitullah dan penguasa di Mekkah tanpa ada perlawanan dari
anak cucu Ismail, karena orang-orang Jurhum tak lain yaitu paman dan kerabat mereka sendiri
dan demi menjaga kehormatan Mekkah agar tidak terjadi pelanggaran dan perang di dalamnya.
Saat Mekkah terasa semakin sempit buat anak cucu Ismail, merekapun menyebar ke berbagai
negeri. Dan setiap kali mereka berperang melawan musuh, Allah senantiasa menolong mereka
karena agama mereka hingga mereka berhasil mengalahkan musuh-musuhnya dan mampu
menguasai negeri mereka.
Orang Kinanah dan Khuza'ah Menguasai Baitullah dan Terusirnya Orang Jurhum
sesudah waktu berlalu lama orang-orang Jurhum mulai berlaku zalim di Mekkah, meng-
halalkan kehormatan di tanah suci, berbuat zalim terhadap orang-orang selain warga Mekkah
yang memasuki Mekkah, dan memakan kekayaan Ka'bah yang dihadiahkannya. Akibatnya,
urusan mereka menjadi kacau balau berantakan. jika semua itu terlihat oleh Bani Bakr bin
Abdu Manaf bin Kinanah, dan Ghubsyan dari Khuza'ah, mereka sepakat untuk memerangi
orang-orang Jurhum dan mengusir mereka dari Mekkah. lalu mereka mendeklarasikan
perang terbuka melawan orang-orang Jurhum. Kedua pasukan bertempur hingga akhirnya Bani
Bakr dan Ghubsyan mampu melumpuhkan orang- orang Jurhum, dan mengusir mereka dari
Mekkah. Pada masa jahiliyah, kezaliman dan pelanggaran harus tidak terjadi di Mekkah, serta
siapa pun yang melakukan pelanggaran di dalamnya harus diusir dari sana. Mekkah sebelum
itu dinamakan An-Nassah dan jika seorang raja ingin menghalalkan keharamannya di
dalamnya, niscaya ia binasa. Ada yang menyebutkan bahwa Mekkah disebut Bakkah, karena
ia menghancurkan (bakka) leher para tiran saat mereka melakukan pelanggaran hukum di
dalamnya.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa Bakkah yaitu nama satu lembah
di Mekkah, disebut demikian karena mereka saling berdesakan di dalamnya. Abu Ubaidah
membacakan syair kepadaku:
Jika pengambil air untuk memberi minum unta terserang panas
Lepaslah dia hingga berdesak-desakan di Bakkah
Yakni biarkanlah dia hingga untanya menuju air berdesakan di dalamnya. Bakkah yaitu
tempat Baitullah dan Masjidil Haram dan dua bait syair di atas ialah milik Aman bin Ka'ab bin
Amr bin Sa'ad bin Zaid Manat bin Tamim.
Ibnu Ishaq berkata: lalu Amr bin Al-Harits bin Mudhadh Al-Jurhumi berangkat dengan
membawa dua patung kijang emas Ka'bah, dua batu tiang, lalu menanamnya di Sumur
Zamzam. Baru sesudah itu orang-orang Jurhum kembali pujang ke negeri Yaman. Mereka
demikian terpukul, karena kehilangan peluang untuk mengelola Ka'bah dan kepemimpinan di
dalamnya. Mengenai hal ini, Amr bin Al-Harits bin Amr bin Mudhadh berkata ia bukan
Mudhadh si anak sulung:
Ia berkata sambil bersimbah airmata
Banyak wanita menangis dengan pedih
Seakan antara Al-Hajun dan Safa tidak ada teman
Dan di Mekkah tak ada orangyang begadang malam
Aku katakan kepadanya, sementara hatiku gagap
Laksana burung di antara dua sayapnya yang terbang
Sungguh, kami dulu yaitu penguasa Mekkah
Namun perputaran malam mengubah segalanya
Kami yaitu pengelola Baitullah sesudah Na- bit
Kami thawaf di Baitullah dan kebaikannya demikian jelas
Kami pengelola Baitullah sesudah Nabit dengan mulia
Tak ada orangyang berani mengganggu kami
Kami yaitu penguasa nan terhormat, dan kerajaan kami begitu kuat
Tidak ada seorangpun serupa dengan kami
Tidakkah kalian telah menikahkan dengan orang terbaik yang aku kenal?
Anak-anaknya yaitu milik kami dan kami yaitu besannya
Jika dunia meninggalkan kami dengan segala kondisinya
sebenarnya ia mempunyai satu kondisi dengan segala permusuhan
lalu kami diusir oleh Sang Maha Kuasa
Demikianlan wanai manusia, takdir itu berlaku
Aku katakan jika orang bahagia bisa tidur, sedang aku tidak bisa tidur
Wahai Pemilik Arasy: Suhail dan Amir tidak jauh dari sini
Kami diganti di Mekkah dengan orang yang tidak kami suka
Yaitu kabilah-kabilah di antaranya dari Himyar dan Yuhabir
Kini kami menjadi bahan bicara, sebelum ini semua orang iri kepada kami
Demikianlah apa yang dilakukan waktu yang lewat pada kami
lalu airmata mengalir karena menangisi suatu negeri suci
Di dalamnya terdapat keamanan dan di di- dalamnya terdapat
Masya'ir Ia menangisi rumah yang burung daranya tidak boleh diganggu
Ia bernaung di bawahnya dengan aman dan di dalamnya terdapat burung pipit
Di dalamnya ada binatang-binatang buas yang tidak menyerang binatang merpati jinak
Jika binatang jinak keluar dibandingkan nya la tidak lagi diserang
Ibnu Hisyam berkata: Ucapan Amir, anak-anaknya milik kami, bukan berasal dari Ibnu Ishaq.
Ibnu Ishaq berkata: Selain itu, Amr bin Al-Harits juga berkata karena ingat Bakr, Ghubsyan,
dan penduduk Mekkah yang mereka tinggalkan di dalamnya:
Hai manusia, berjalanlah, karena akhir nasib kalian
Suatu hari tidak lagi bisa berjalan
Persegerakanlah binatang kalian dan longgarkanlah kekangnya
Sebelum meninggal dan lakukan apa yang harus kalian lakukan
Dulu kami manusia-manusia seperti kalian lalu nasib mengubah kami
Maka kalian seperti kami dahulu dan akan menjadi seperti kami kini
Ibnu Hisyam berkata: Inilah syair yang benar yang diucapkan bin Al-Harits.
Ibnu Hisyam berkata bahwa seorang pakar syair berkata padaku, bait-bait syair di atas yaitu
syair pertama yang dilontarkan tentang orang-orang Arab, syair-syair ini ditulis pada
sebuah batu di Yaman, sayang sekali dia tidak menyebutkan penulisnya padaku.
Tindakan Kejam Orang-Orang Khuza'ah Saat Mengurusi Baitullah
Ibnu Ishaq berkata: sesudah itu Ghubsyan yang berasal dari Khuza'ah ditunjuk untuk mengelola
Baitullah dan dan tidak diberikan pada Bani Bakr bin Abdu Manat. Orang yang ditunjuk untuk
menjalankan tugas ini di antara mereka ialah Amr bin Al-Harits Al- Ghubsyani. Orang-
orang Quraisy saat itu terdiri kelompok-kelompok, dengan rumah-rumah dan tenda-tenda yang
terpencar-pencar di kaum mereka, Bani Kinanah. Orang-orang Khuza'ah mengelola Baitullah
secara turun temurun. Orang Khuza'ah yang terakhir kali mengelola Baitullah ialah Hulail bin
Habasyiyah bin Salul b











