i mentaatinya dan tidak menggantinya dengan orang lain
Ia yaitu cahaya dan penunjuk kami di gelapnya malam
Perang Daumatul Jandal Bulan Rabiul Awwal Tahun Kelima Hijriyah
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali pulang ke Madinah dan tinggal
di sana beberapa bulan hingga bulan Dzulhijjah usai. Ini merupakan tahun keempat semenjak
kedatangan
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Madinah. lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
berangkat untuk memerangi Daumatul Jandal.
Ibnu Hisyam berkata: Itu terjadi pada bulan Rabi'ul Awwal dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
mengangkat Siba' bin Urfuthah Al-Ghifari untuk sementara sebagai imam di Madinah.
Lalu beliau pulang ke Madinah sebelum tiba di Daumatul Jandal karena tidak adanya perlawanan.
Beliau menetap di Madinah di sisa-sisa hari tahun itu.
Perang Khandaq Bulan Syawwal Tahun Kelima Hijriyah
Ibnu Hisyam berkata: Ziyad bin Abdullah bin Al-Bakkai berkata kepadaku dari Muhammad bin Ishaq
Al-Muthalibi yang berkata bahwa sesudah itu meletuslah Perang Khandaq yang terjadi pada bulan
Syawwal tahun kelima Hijriyah.
Ibnu ishaq berkata: Yazid bin Ruman eks budak keluarga Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin
Zubair dan dari orang yang tidak aku ragukan integritasnya dari Abdullah bin Ka'ab bin Malik dan
Muhammad bin Ka'ab Al-Quradhi. Az-Zuhri, Ashim bin Umar bin Qatadah, Abdullah bin Abu Bakr dan
ulama-ulama lainnya dimana penuturan mereka tentang Perang Khandaq tidak berbeda namun ada
sebagian dari mereka yang menambahkan ceritanya.
Dikisahkan bahwa sebab meletusnya perang Khandaq karena beberapa orang Yahudi di antaranya
Sallam bin Abu Al-Huqaiq An-Nadhri, Huyay bin Akhthab An-Nadhri, Kinanah bin Ar-Rabi bin Abu Al-
Huqaiq An-Nadhri, Haudzah bin Qais Al-Waili, dan Abu Ammar Al-Waili -dalam kelompok orang- orang
dari Bani An-Nadhir dan Bani Wail yang membentuk pasukan sekutu untuk melawan Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar dari Madinah dan tiba di tempat orang-orang Quraisy di Makkah.
Mereka menghasut orang-orang Quraisy menyerang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka
berkata: "Kami senantiasa akan bersama kalian dalam menghadapi dia hingga kita berhasil
membabatnya habis." Orang-orang Quraisy berkata kepada orang-orang Yahudi: "Wahai orang-orang
Yahudi, sebenarnya kalian yaitu ahli Kitab yang pertama mempunyai pengetahuan tentang
perselisihan kami dengan Muhammad; Apakah agama kami yang lebih baik atau agama Muhammad?"
Orang-orang Yahudi menjawab: "Agama kalian lebih baik dibandingkan agama Muhammad dan kalian lebih
pantas untuk mendapat kebenaran dibandingkan dia."
Tentang orang-orang Yahudi itulah, Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya berikut:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al Kitab? Mereka percaya
kepada jibt dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Mekah), bahwa mereka
itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman. Mereka itulah orang yang dikutuki Allah.
Barang siapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.
(An Nisa: 51-52) hingga firman-Nya "ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran
karunia yang Allah telah berikan kepadanya? sebenarnya Kami telah memberikan Kitab dan hikmah
kepada keluarga Ibrahim, dan Kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. Maka di
antara mereka (orang-orang yang dengki itu), ada orang-orang yang beriman kepadanya, dan di
antara mereka ada orang-orang yang menghalangi (manusia) beriman kepadanya. Dan cukuplah
(bagi mereka) Jahanam yang menyala-nyala apinya. (QS. an- Nisa': 54-55). Yang dimaksud dengan
karunia (fadhlihi) pada ayat di atas ialah nubuwwat.
Pada saat orang-orang Yahudi berkata seperti itu kepada orang-orang Quraisy, mereka sangat gembira
dan segera menyambut ajakan orang-orang Yahudi untuk memerangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam. lalu dua kekuatan ini bersatu lalu mereka bersiap-siap.
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Yahudi lalu meninggalkan Makkah menuju Ghathafan untuk menyeru
mereka untuk memerangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka provokasi orang-orang
Ghathafan agar mengikuti kehendak mereka dan mereka jelaskan bahwa orang-orang Quraisy telah
mendukung ide ini. Orang-orang Ghathafan pun bersatu dengan orang-orang Yahudi.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu, berangkatlah orang-orang Quraisy di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb,
sedangkan orang-orang Ghathafan berada di bawah komando Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin
Badr bersama orang-orang Bani Fazarah, Al-Harits bin Auf bin Abu Haritsah Al-Muri bersama orang-
orang Bani Murrah, Mis'ar bin Rukhailah bin Nuwairah bin Tharif bin Suhmah bin Abdullah bin Hilal
bin Khulawah bin Asyja' bin Raits bin Ghathafan bersama orang-orang yang ikut dengannya dari Bani
Asyja'.
Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar rencana orang-orang musyrikin ini ,
beliau membuat parit di sekitar Madinah. Beliau terlibat langsung dalam pembuatannya untuk
memberi semangat pada kaum Muslimin dalam berburu pahala. Beliau demikian bersemangat dalam
menggali parit itu demikian pula dengan para sahabatnya. Hanya beberapa orang-orang munafik
sajalah yang kerjanya bermalas-malasan. Orang-orang munafik kerja sedikit lalu pulang secara
diam-diam ke rumah mereka tanpa sepengetahuan beliau apalagi meminta izinnya. Pada saat yang
sama, jika salah seorang dari kaum Muslimin mempunyai kebutuhan mendesak yang tidak bisa
ditinggalkan, ia memberitahukan dan meminta izin kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
lalu beliau mengizinkannya pulang ke rumah untuk menyelesaikan urusan keluarganya. jika
selesai, ia kembali kerja membuat parit karena ingin mendapat kebaikan dan pahala dari Allah.
Allah menurunkan wahyu tentang kaum Mukminin ini :
sebenarnya orang-orang mukmin yang sebenarnya ialah orang-orang yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya dan jika mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang
memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya.
sebenarnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang
yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka jika mereka meminta izin kepadamu karena
sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan
mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. sebenarnya Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. (QS. an-Nuur: 62)
Wahyu di atas turun kepada kaum Muslimin yang mengharapkan kebaikan di sisi Allah, taat kepada-
Nya dan kepada Rasul-Nya. sesudah itu Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang orang-orang munafik
yang malas-malasan bekerja dan pulang ke rumah tanpa meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu
Ala wa Sallam:
Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada
sebagian (yang lain). sebenarnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi
di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi
perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yangpedih. (QS. an-Nuur: 63).
Ibnu Hisyam berkata: Al-Liwadz bermakna bertutup sesuatu saat melarikan diri. Hassan bin Tsabit
berkata:
Orang-orang Quraisy lari dari kami dengan menutup diri
Mereka tidak tenangdiam dengan pikiran yang tidak stabil
Bait syair ini telah saya paparkan pada saat membahas tentang perang Uhud.
lalu Allah berfirman:
Ketahuilah sebenarnya kepunyaan Allah lah apa yangdi langit dan di bumi. sebenarnya Dia
mengetahui keadaan yang kamu berada di dalamnya (sekarang). (QS. an-Nuur: 64). Maksudnya, Allah
tahu siapa yang jujur dan yang dusta.
lalu Allah berfirman:
Dan (mengetahui pula) hari (manusia) dikembalikan kepada-Nya, lalu diterangkan-Nya kepada
mereka apa yang telah mereka kerjakan. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. an-Nuur:
64).
Ibnu Ishaq berkata: Kaum Muslimin bersungguh-sungguh dalam pembuatan parit hingga berhasil
menyelesaikannya.
Ibnu Ishaq berkata: Ada banyak sekali peristiwa yang mengandung ibrah tentang kebenaran Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam dalam penggalian parit, kenabiannya yang langsung dilihat langsung oleh
kaum Muslimin. Salah satu peristiwa yang sampai kepadaku ialah hadits yang diriwayatkan dari
Jabir bin Abdullah yang berkata: Kaum Muslimin sempat kesulitan menggali sebagian tanah berbatu,
maka mereka mengutarakan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Beliau meminta
disediakan air lalu meludah ke dalamnya, lalu berdoa kepada Allah dan menuangkan air
ini ke atas tanah ini . Para sahabat yang hadir jika itu berkata: Demi Dzat yang
mengutusnya sebagai nabi dengan membawa kebenaran, tanah berbatu ini hancur lebur hingga
menjadi seperti pasir padahal tadinya tidak mempan dipukul dengan kapak cangkul.129
Ibnu Ishaq berkata: Aku mendapat berita yang berasal dari Salman Al-Farisi yang berkata: "Saat aku
sedang menggali aku temukan ada batu yang keras sehingga tidak mampu aku pecahkan, sementara
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berada di dekatku. jika beliau melihatku kesulitan memecah-
kan batu ini beliau turun lalu mengambil alih cangkul dari tanganku. Beliau menghantam
batu ini sehingga memercikkan cahaya terang berkemilau. Beliau terus menghantam batu
ini hingga tiga kali sehingga memercikkan cahaya terang di bawah kapak. Aku berkata, "Wahai
Rasulullah, cahaya apakah yang aku lihat: jika engkau menghantam batu ini ?" Beliau
bersabda: "Wahai Salman apakah engkau melihatnya?" Aku menjawab, "Ya, tentu saja." Beliau
bersabda: "Adapun cahaya pertama, itu yaitu tanda bahwa Allah akan menaklukkan Yaman untukku.
Sedangkan cahaya kedua. yaitu tanda aku akan menaklukkan Syam dan negeri-negeri Barat
(Maghribi) untukku. Sedang cahaya ketiga, yaitu tanda aku akan menaklukkan negeri-negeri
timur."130
lbnu lshaq berkata: Tatkala seiesai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menggali parit, datanglah
orang-orang Quraisy yang lalu berhenti di Dumah. Mereka datang ketempat ini dengan
membawa sepuluh ribu orang dari orang-orang Ahabisy (non Arab), Bani Kinanah, dan Bani Tihamah.
Orang-orang dari Ghathafan bersama orang-orang Najed juga datang lalu berhenti di Dzanab
Naqma di samping Uhud. Sementara, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersama tiga ribu kaum
muslimin keluar ke Gunung Sil'un. Di sanalah beliau membuat markas, sedang parit membatasi
mereka dengan musuh.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menganugerahi Ibnu Ummi Maktum
menjadi imam sementara di Madinah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengamankan anak-
anak dan wanita-wanita di balik benteng.
Ibnu lshaq berkata: Musuh Allah, Huyay bin Akthab An-Nadhri, keluar menemui Ka'ab bin Sa'ad Al-
Quradhi, wakil Bani Quraizhah yang masih terikat perjanjian dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam. Sayangnya, Ka'ab termakan provokasi Huyai sehingga ia membatalkan perjanjian ini .
jika berita pembatalan perjanjian di atas terdengar oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan
kaum Muslimin, beliau kecewa sekali kepada mereka.
Kaum Muslimin mengalami krisis kepercayaan diri karena hal ini , sebab musuh datang dari atas
dan bawah mereka hingga kedok orang munafik pun terbuka dengan sendirinya. Seperti Mu'attib bin
Qusyair dari Bani Amr bin Auf yang berkata: "Muhammad pernah menjanjikan kepada kita bahwa kita
akan menguasai kekayaan Kisra dan Kaisar, padahal pada hari ini salah seorang dari kita untuk buang
air saja tidak merasa aman."
Ibnu Hisyam berkata: Ulama yang aku percaya berkata kepadaku bahwa Mu'attib bin Qusyair tidak
masuk barisan orang-orang munafik. Dengan alasan bahwa Muattib bin Qusyair ikut hadir terjun pada
Perang Badar.
Hampir sebulan, perang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan orang-orang musyrikin hanya
saling lempar panah.
Ibnu lshaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersama kaum Muslimin masih bertahan di
dalam kota Madinah, sedang musuh mengepung mereka, tapi perang tetap tidak berkobar di antara
mereka. Beberapa tentara berkuda Quraisy di antaranya Amr bin Abdu Wudd bin Abu Qais dari Bani
Amir bin Luay. Ibnu Hisyam berkata: "Ada yang mengatakan bahwa Amr yaitu anak Abd bin Abu Qais,
Ikrimah bin Abu Jahal dari Bani Makhzum, Hubairah bin Abu Wahb dari Bani Makhzum, dan Dhirar bin
Khaththab bin Mirdas dari Bani Muharits bin Fihr mengambil ancang-ancang berjalan melintasi
kampung-kampung Bani Kinanah, mereka berkata: "Wahai Bani Kinanah, bangkitlah kalian untuk
perang, karena pada hari ini kalian akan tahu siapa sebenarnya pasukan berkuda itu." sesudah
mengatakan itu, orang-orang Quraisy ini melecut kencang kuda-kuda mereka hingga tiba di
parit. Tatkala melihat parit ini , mereka ber-kata: "Demi Allah, jebakan ini tidak pernah dilakukan
oleh orang-orang Arab."
Ibnu Hisyam berkata: Salman Al-Farisi yaitu sahabat yang mengusulkan ide kepada Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam agar membuat parit ini .
Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang pakar bercerita kepadaku bahwa pada perang Khandaq kaum
Muhajirin berkata: "Salman termasuk kelompok kami." Orang-orang dari kaum Anshar berkata:
"Salman bagian dari kami." lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Salman
bagian dari keluarga (ahlul Bait) Nabi."
Ibnu lshaq berkata: lalu orang-orang Quraisy ini mencari celah agar bisa melewati parit-
parit ini lalu kuda-kuda mereka pun akhirnya masuk ke tempat ini , lalu mereka
menerobos celah yang ada di antara parit dan Sala'. Pada saat yang bersamaan, Ali bin Abu Thalib
Radhiyallahu Anhu bersama beberapa orang dari kaum Muslimin memblokade jalan masuknya orang-
orang Quraisy. Penungang-penunggang kuda Quraisy berjalan cepat dengan kuda-kuda mereka ke
tempat Ali bin Abu Thalib dan sahabat-sahabatnya. Amr bin Abdu Wudd ikut hadir di Perang Badar
hingga terluka berat sehingga absen di Perang Uhud. Pada Perang Khandaq, ia keluar dengan
mengenakan tanda pengenal supaya mudah dikenali. jika kudanya berhenti, ia berteriak
menantang: "Siapa yang siap duel berhadapan denganku?" Ali bin Abu Thalib tampil lalu
berkata: "Wahai Amr, sungguh engkau telah berjanji kepada Allah bahwa bila ada seorang Quraisy
mengajakmu kepada dua hal maka engkau akan menyambutnya." Amr bin Abdu Wudd menjawab:
"Benar!" Ali bin Abu Thalib berujar melanjutkan: "Sekarang aku mengajakmu kepada Allah, Rasul-Nya,
dan Islam." Amr bin Abdu Wudd menjawab: "Aku tidak butuh itu semua!!" Ali bin Abu Thalib berkata:
"Jika demikian maka aku ajak engkau berperang." Amr bin Abdu Wudd berkata: "Mengapa demikian?"
Demi Allah, aku tidak berniat menghabisimu." Ali bin Abu Thalib berkata: "Namun demi Allah, aku
bergairah sekali untuk membunuhmu." Amr bin Abdu Wudd bangkit marahnya mendengar tantangan
Ali bin Abu Thalib. Ia turun dari atas kuda, lalu menyembelihnya, memukul wajah kudanya, dan
maju ke hadapan Ali bin Abu Thalib. Keduanya bertempur sangat sengit hingga akhirnya Ali bin Abu
Thalib berhasil menghabisi Amr bin Abdu Wudd, sedang kuda-kuda Quraisy lari kocar-kacir tak
menentu.
Ibnu lshaq berkata: Saat itu, Ikrimah bin Abu Jahal lari menyelamatkan diri meninggalkan Amr bin
Abdu Wudd.
Ibnu lshaq berkata: Tentang kaburnya Ikrimah bin Abu Jahal, Hassan bin Tsabit berkata:
Ia melarikan diri dan membiarkan tombaknya untuk kami
Sesuatu yang tidak kau yang tidak pernah engkau lakukan sebelum ini
Kau kabur bagaikan burung unta jika berpaling dari jalan
Engkau tidak membiarkan punggungmu berjalan dengan jinak
Punggungmu laksana dagu biawak kecil
Ibnu Hisyam berkata: Sandi perang sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Perang
Khandaq dan Perang Bani Quraizhah yaitu , Haamm miim, laa yun sharuun.
Ibnu lshaq berkata: Abu Laila Abdullah bin Sahl bin Abdurrahman bin Sahl Anshari dari Bani Haritsah
bercerita kepadaku bahwa pada Perang Khandaq Ummul Mukminin, Aisyah, berada di benteng Bani
Haritsah, bentang terkuat di Madinah.
Ibnu lshaq berkata: Yahya bin Abbad bin Abdullah bin Zubair bercerita kepadaku dari ayahnya, Abbad
yang berkata bahwa Shafiyyah binti Abdul Muththalib Radhiyallahu Anha berada di benteng tinggi
kepunyaan Hassan bin Tsabit. Shafiyyah binti Abdul Muthalib berkata bahwa Hassan bin Tsabit berada
di benteng ini bersama para wanita dan anak-anak.
Ibnu Ishaq berkata: Rasullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya dilanda ketakutan
dan kegundahan yang luar biasa, karena persekutuan musuh untuk menghadapi mereka dan musuh-
musuh itu datang dari segala arah.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Nu'aim bin Mas'ud bin Amir bin Unaif bin Tsa'labah bin Qunfudz bin Hilal bin
Khalawah bin Asyja' bin Raits bin Ghathafan datang ke tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
dan berkata: "Wahai Rasulullah, aku telah masuk Islam sementara kaumku belum ada yang tahu
keislamanku. Oleh karena itu aku siap dengan tugas darimu." Rasulullah bersabda: "sebenarnya
engkau salah seorang dari kami. Karena itulah, kacaukanlah persatuan mereka jika engkau
mampu, karena perang yaitu tipu daya."131
Nu'aim bin Mas'ud pergi menemui Bani Quraizhah dan ia yaitu sahabat mereka pada masa jahiliyah.
lalu Nu'aim bin Mas'ud pergi ke tempat orang-orang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan bin
Harb.
lalu Nu'aim bin Mas'ud pergi ke tempat-orang orang Ghathafan. Nu'aim berhasil mengadu
domba di antara mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar berita tentang sengketa dan
konflik yang terjadi di antara mereka, lalu beliau memanggil Hudzaifah bin Al-Yaman lalu
mengutusnya pergi kepada mereka untuk mencan tanu apa yang akan mereka kerjakan pada malam
hari.
Ternyata mereka semua telah menarik pasukan mereka dan pulang kembali ke daerah asal mereka
masing-masing.
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala pagi menjelang Rasulullah pulang dari Khandaq ke Madinah bersama
dengan kaum muslimin dan meletakkan senjata.
Perang Bani Quraizhah Tahun Kelima Hijriyah
Ibnu Ishaq berkata: Berkata padaku Az-Zuhri pada waktu Zhuhur Malaikat Jibril Alaihis salam
mendatangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia lalu bertanya: "Apakah engkau
melakukan gencatan senjata?' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab, "Ya." Malaikat Jibril
berkata: "Para malaikat tidak melakukan gencatan senjata. Kini mereka sedang mengejar kaum
ini . Hai Muhammad sebenarnya Allah menyuruhmu berangkat ke Bani Quraizhah aku juga
akan berangkat ke sana untuk memerangi mereka."
sesudah itu, Rasjilullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan seseorang untuk menyeru Kaum
Musilmin: "Barangsiapa mendengar dan taat, maka janganlah ia menunaikan shalat Ashar kecuali ia
sudah sampai di Bani Quraizhah."132
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk sementara Ibnu Ummi Maktum
sebagai Imam di Madinah.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk Ali bin Abu Thalib sebagai
komandan pasukan dengan membawa panji perang dalam perjalanan menuju Bani Quraizhah
sedangkan kaum Muslimin berjalan di belakangnya. Rasulullah berjalan melewati beberapa sahabat
di As-Shaurain sebelum sampai di Bani Al-Quraizhah, lalu beliau bertanya kepada mereka: "Apakah
ada seseorang melewati kalian sebelum aku?" Mereka menjawab: "Ya ia yaitu Dihyah bin Khalifah
Al-Kalbi." Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Bukan! Dia itu Jibril yang di kirim kepada
Bani Quraizhah guna menghancurkan benteng-benteng dan menghunjamkan rasa takut ke hati
mereka."
Tatkala Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa sallam tiba di Bani Quraizhah, beliau istirahat di salah satu
sumur Bani Quraizhah di sisi kebun mereka yang bernama sumur Una. Ibnu Hisyam berkata ada pula
yang mengatakan sumur Anna.
Ibnu Ishaq berkata: sesudah itu, kaum Muslimin tiba berombongan. Namun, ada beberapa orang di
antara mereka yang tiba sesudah Isya' akhir dan belum mengerjakan shalat ashar karena berpedoman
kepada sabda Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, "Janganlah seorangpun di antara kalian
mengerjakan shalat ashar kecuali sudah tiba di Bani Quraizhah."133 lalu mereka mengerjakan
shalat Ashar di Bani Quraizhah sesudah shalat Isya. Allah tidak mencela mereka dalam Kitab Sucinya
atas peristiwa tadi dan Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga tidak marah pada mereka. Hadits
ini di sampaikan kepadaku oleh Abu Ishaq bin Yasar dari Ka'ab bin Ka'ab bin Malik Al-Anshari.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengepung Bani Quraizhah selama dua
puluh lima malam hingga mereka menderita karena pengepungan ini dan Allah rnerasukkan rasa takut
luar biasa ke dalam hati mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Bani Quraizhah meyakini sepenuhnya bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi
Wasallam tidak akan berbalik meninggalkan mereka sampai mengalahkan mereka.
Maka mereka mengirim utusan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan membawa
pesan: "Datangkanlah kepada kami Abu Lubabah bin Abdul Mundzir dari Bani Amr bin Auf dan sekutu
orang-orang Aus agar kita bisa berkonsultasi dengannya dalam masalah kami ini." Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim Abu Lubabah kepada Bani Quraizhah. jika mereka melihat
Abu Lubabah maka orang laki-laki, wanita-wanita, dan anak-anak berdatangan kepadanya lalu
menangis di hadapannya hingga Abu Lubabah merasa kasihan kepada mereka. Orang-orang Yahudi
Bani Quraizhah berkata kepada Abu Lubabah: "Wahai Abu Lubabah, bagaimana pendapatmu jika
kita menyerah kepada hukum Muhammad?" Abu Lubabah berkata: "Ya!" Sambil berisyarat dengan
tangan pada tenggorokannya, itu artinya dipenggal." Abu Lubabah berkata: "Demi Allah, apa yang
kulakukan? Aku telah mengkhianati Allah dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam!" lalu , Abu
Lubabah pergi. jika sampai di tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, ia langsung mengikat
diri pada salah satu tiang masjid. Abu Lubabah berkata: "Aku akan terus begini di sini hingga Allah
menerima taubatku atas apa yang telah aku perbuat. Aku berjanji kepada Allah untuk tidak memasuki
benteng Bani Quraizhah untuk selama-lamanya namun hal itu malah kulakukan."
Ibnu Hisyam berkata: Allah lalu menurunkan ayat tentang Abu Lubabah seperti diceritakan Sufyan bin
Uyainah dari Ismail bin Abu Khalid bin Abdullah bin Abu Qatadah:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan
(juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu
mengetahui. (QS. al-Anfaal: 27)
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Abdullah bin Qusaith bercerita kepadaku bahwa berita taubatnya Abu
Lubabah diterima Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjelang shubuh pada saat beliau sedang
berada di rumah Ummu Salamah. Ummu Salamah berkata: Saat menjelang shubuh, aku mendengar
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tertawa. Aku berkata: "Apa yang membuatmu tertawa wahai
Rasulullah?" Beliau bersabda: "Allah telah menerima taubat Abu Lubabah." Aku berkata: "Bolehkah
aku kabarkan kabar gembira ini kepadanya?" Beliau bersabda: "Silahkan sampaikan saja." Ummu
Salamah berdiri di depan pintu kamarnya, peristiwa ini terjadi sebelum diwajibkannya hijab- lalu
berkata: "Wahai Abu Lubabah sambutlah kebahagianmu karena Allah telah menerima taubatmu."
Para sahabat lalu mengerumuninya untuk melepaskan ikatannya. Namun ia berkata: "Tidak, demi
Allah, aku tidak suka kalian lakukan hal ini, hingga Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sendiri yang
melepaskan ikatanku dengan kedua tangannya." Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
keluar untuk melaksanakan shalat Shubuh, beliau berjalan melewati Abu Lubabah dan melepaskan
ikatannya.
Ibnu Hisyam berkata: Selama enam hari Abu Lubabah terus mengikat dirinya. Sepanjang waktu
ini , istrinya senantiasa datang setiap waktu shalat untuk melepaskan ikatan agar ia bisa
melaksanakan shalat. Sesuai shalat kembali ia mengikat diri lagi. Demikianlah yang terjadi,
sebagaimana dikatakan oleh sebagian ulama kepadaku.
Ibnu Ishaq berkata: Keesokan harinya, Bani Quraizhah tunduk kepada hukum Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam.
Sebelum mengepung Bani Quraizhah, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam telah mengepung Bani
Qainuqa sekutu Al-Khazraj lalu mereka tunduk kepada hukum beliau.
Sebelumnya, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menempatkan Sa'ad bin Muadz di sebuah kemah
milik seorang wanita dari Aslam, yang bernama Rufaidah. Kemah itu berada di mesjid Rasulullah,
sedangkan Rufaidah mengobati orang-orang yang terluka dan mewakafkan diri untuk melayani siapa
saja di antara kaum Muslimin yang terluka. jika Sa'ad bin Muadz terkena anak panah di Perang
Khandaq, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada kaumnya: "Rawatlah Sa'ad bin
Muadz di kemah milik Rufaidah agar aku dapat mengunjunginya dari dekat.134
jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk Sa'ad bin Muadz sebagai mediator bagi Bani
Quraizhah, kaum Sa'ad bin Muadz datang kepada Sa'ad bin Muadz lalu mereka menaikkannya
di atas keledai. Mereka pergi bersama Sa'ad bin Muadz kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Mereka berkata: "Wahai Abu Amr, berbuat baiklah kepada sekutumu, karena Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam menunjukmu sebagai hakim agar engkau berbuat baik kepada mereka." jika
mereka banyak bicara kepada Sa'ad bin Muadz, Sa'ad bin Muadz berkata: "Kini telah tiba saatnya bagi
Sa'ad bin Muadz untuk bangkit menghadapi orang yang mengecamnya di jalan Allah." sesudah itu,
beberapa orang dari kaum Sa'ad bin Muadz yang tadinya menemani Sa'ad bin Muadz pulang ke
perkampungan Abdul Asyhal dan menceritakan apa yang dikatakan Sa'ad bin Muadz kepada beberapa
orang dari Bani Quraizhah sebelum Sa'ad bin Muadz sampai di tempat mereka. Pada saat Sa'ad bin
Muadz dan kaumnya tiba di tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, beliau bersabda:
"Berdirilah untuk menyambut pemimpin kalian!"135
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian orang yang tidak aku ragukan integritasnya berkata kepadaku bahwa
Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu berteriak keras pada saat kaum Muslimin mengepung Bani
Quraizhah. sesudah itu, orang-orang laki-laki Yahudi Bani Quraizhah disuruh turun, lalu
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan orang-orang Yahudi Bani Quraizhah dibawa ke
parit yang telah digali dipasar Madinah dan menghabisi mereka di dalamnya. Termasuk di dalamnya
musuh Allah Huyay bin Akhthab, Kaab bin Asad tokoh Bani Quraizhah bersama dengan enam ratus
atau tujuh ratus orang-orang Bani Quraizhah.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hanya memerintahkan membunuh orang-
orang Bani Quraizhah yang telah dewasa.
Ibnu Ishaq berkata: Syu'bah bin Al-Hajjaj berkata kepadaku dari Abdul Malik bin Umair dari Athiyyah
Al-Qurazhi yang berkata: "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan menghabisi orang-
orang Bani Quraizhah yang telah dewasa. Kala itu, aku masih anak-anak, makanya mereka
membebaskanku.136
Pembagian Fa'i Bani Quraizhah
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membagi-bagikan harta kekayaan, wanita-
wanita, dan anak-anak Bani Quraizhah kepada kaum Muslimin. Disaat yang sama, beliau juga
mewartakan jumlah bagian yang didapat pasukan berkuda, dan tentara pejalan kaki, dan
mengeluarkan seperlima dari seluruh rampasan perang itu. Tentara berkuda mendapat tiga jatah; dua
jatah untuk kuda dan satu jatah untuk penunggangnya. Adapun tentara pejalan kaki mereka
mendapat satu jatah. Jumlah kuda Bani Quraizhah saat itu ada tiga puluh enam ekor. Itulah fa'i
yang pertama kali dibagi sesuai dengan jatahnya, seperlima dibandingkan nya dikeluarkan, dan merupakan
sunnah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dalam pembagian fa'i di medan perang. sesudah itu,
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus Sa'ad Zaid Al-Anshari saudara Bani Abdul Asyhal
membawa tawanan-tawanan wanita Bani Quraizhah ke Najed dan menukar mereka dengan kuda-
kuda dan peralatan perang.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memilih salah seorang wanita Bani
Quraizhah yang bernama Raihanah binti Amr bin Junafah untuk diri beliau sendiri. Ia berasal Bani Amr
bin Quraizhah dan tetap dalam kepemilikan beliau pada saat beliau wafat. Saat Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam menawan Raihanah binti Amr, ia tetap memilih menjadi seorang wanita Yahudi.
Rasulullah sedih karena sikapnya itu lalu melepaskannya. jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam sedang bersama para sahabat, tiba-tiba Tsa'labah bin Sa'yah datang dan ia berkata: "Wahai
Rasulullah, Raihanah telah memeluk Islam." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sangat gembira
dengan berita ini .
Ibnu Ishaq berkata: Tentang Perang Khandaq dan Bani Quraizhah, Allah Ta'ala menurunkan surat Al-
Ahzab. Dalam surat ini , Allah Ta'ala mengisahkan musibah yang menimpa kaum Muslimin,
nikmat-Nya kepada mereka, perlindungan-Nya, dan bagaimana Allah mencabut musibah ini dari
mereka karena ucapan orang-orang munafik. Allah berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) kepadamu
jika datang kepadamu tentara-tentara (orang-orang Quraisy, Ghathafan, Bani Quraizah), lalu Kami
kirimkan kepada mereka angin topan dan tentara (angin dan para malaikat) yang tidak dapat kamu
melihatnya. Dan yaitu Allah Maha Melihat akan apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Ahzab: 9)
(Yaitu) jika mereka datang kepadamu dari atas dan dari bawahmu, dan jika tidak tetap lagi
penglihatan (mu) dan hatimu naik menyesak sampai ke tenggorokan dan kamu menyangka terhadap
Allah dengan bermacam-macam purbasangka. (QS. al-Ahzab:10)
Orang-orang yang mengepung kaum muslimin dari atas mereka yaitu orang-orang Bani Quraizhah,
sedangkan yang mengepung dari bawah mereka yaitu orang-orang Quraisy dan Ghathafan.
lalu Allah Ta'ala berfirman:
Di situlah diuji orang-orang mukmin dan digoncangkan (hatinya) dengan goncangan yang sangat. Dan
(ingatlah) jika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:
"Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya." (QS. al-Ahzab: 11-12)
Orang yang mengatakan perkataan seperti diatas yaitu Mu'attib bin Qusyair, lalu Allah Ta'ala
berfirman:
Dan (ingatlah) jika segolongan di antara mereka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak
ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi
(untuk kembali pulang) dengan berkata: "sebenarnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada
penjaga)." Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. (QS.
al-Ahzab: 13).
Disebabkan perkataan Aus bin Qaidhi dan orang-orang dari kaumnya yang seirama dengannya.
lalu Allah Ta'ala berfirman:
Kalau (Yatsrib) diserang dari segala penjuru, lalu diminta kepada mereka supaya murtad,
niscaya mereka mengerjakannya; dan mereka tiada akan menunda untuk murtad itu melainkan dalam
waktu yang singkat. (QS. al- Ahzab: 14). Maksud kata "fitnah" pada ayat di atas ialah kembali kepada
kesyirikan, lalu Allah berfirman:
Dan sebenarnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah: "Mereka tidak akan berbalik ke
belakang (mundur)" Dan yaitu perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabnya. (QS.
al-Ahzab: 15)
Mereka yaitu Bani Haritsah yang ingin mundur di Perang Uhud bersama Bani Salimah, lalu
berjanji kepada Allah tidak akan mengulanginya lagi untuk selama-lamanya. Allah menyebutkan
kepada mereka apa yang pernah mereka janjikan. lalu Allah Ta'ala berfirman:
Katakanlah: "Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau
pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan
kecuali sebentar saja." Katakanlah: "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia
menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?" Dan orang-orang munafik
itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. (QS. al-Ahzab: 16-17)
Selanjutnya Allah berfirman: sebenarnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang-halangi
di antara kamu (Al Ahzab: 18), yakni orang munafik.
lalu Allah Ta'ala berfirman:
Dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: "Marilah kepada kami.” Dan mereka
tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. (QS. al-Ahzab: 18)
Yakni sekedar berlindung diri dan sebagai alasan, lalu Allah Ta'ala berfirman:
Dan jika ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka
bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala)
amalnya. Dan yang demikian itu yaitu mudah bagi Allah. (QS. al-Ahzab: 19), mereka meledek
sekalian dengan ungkapan yang tidak kalian senangi. Sebab mereka tidak pernah sedikitpun
mengharapkan akhirat, tidak menabung pahala di sisi Allah, dan mereka sangat takut mati.
Ibnu Hisyam berkata: Salaquukum yakni berlebihan dalam celaan kepada kalian. Maka mereka
membakar dan menyakiti kalian. Seperti dikatakan orang Arab: Khathibun Sallaq dan Khathibun
Musliq dan Mislaq, artinya khatib yang membikin sakit hati pendengarnya.
A'sya Bani Qais bin Tsa'labah berkata:
Pada mereka ada kemulian tolerasani dan pertolongan
Di tengah mereka ada para khatib yang melukai jiwa
lalu Allah Ta'ala berfirman:
Mereka mengira (bahwa) golongan-golongan yang bersekutu itu belum pergi; yakni orang-orang
Quraisy dan Ghathfan (QS. al-Ahzab: 20), yakni yaitu orang-orang Quraisy dan Ghathafan.
lalu Allah Ta'ala berfirman:
dan jika golongan-golongan yang bersekutu itu datang kembali, niscaya mereka ingin berada di
dusun-dusun bersama-sama orang Arab Badwi, sambil menanya-nanyakan tentang berita-beritamu.
Dan sekiranya mereka berada bersama kamu, mereka tidak akan berperang, melainkan sebentar saja.
(QS. al-Ahzab: 20)
lalu Allah mengarahkan firman kepada kaum mukmin dalam firman-Nya:
sebenarnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang
yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS.
al-Ahzab: 21) dengan tujuan agar orang-orang beriman tidak lebih mencintai diri mereka dibandingkan diri
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan kedudukan beliau. sesudah itu, Allah Ta'ala menemui kaum
Mukminin, yang tahan cobaan. Allah Ta'ala berfirman:
Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata:
"Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita." Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang
demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan. (QS. al-Ahzab: 22).
Semua ini menguatkan kesabaran mereka atas musibah yang terjadi, kepasrahan kepada takdir, dan
pembenaran terhadap yang dijanjikan.
Allah Ta'ala berfirman:
Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan
kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur (QS. Al-Ahzab: 23), di antara mereka ada yang
telah menuntaskan tugasnya dan telah pulang menuju dalam keadaan gugur sebagai syuhada pada
perang Badar dan Perang Uhud.
Ibnu Hisyam berkata: qadha nahbahu artinya meninggal dunia. Adapun makna an-nahb yaitu jiwa,
sebagaimana dikatakan oleh Abu Ubaidah kepadaku dan jamaknya yaitu nuhub.
Dzu Rummah berkata:
Di senja hari orang-orang Harits melarikan diri
sesudah Hawbar kehilangan jiwa di pertempuran kuda
Hawbar termasuk Bani Harits bin Ka'ab. Yang dimaksud di sini yaitu Yazid bin Hawbar. Nahbu juga
bermakna nazar sebagaimana dikatakan oleh Jarir bin al-Khathfai dalam syairnya.
Ibnu Ishaq berkata mengomentari firman Allah: Di antara mereka ada yang menanti, yakni menanti
janji Allah, yaitu kemenangan atau syahadah sebagaimana dicapai oleh sahabat-sahabatnya
terdahulu.
lalu Allah berfirman:
Dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya), (QS. al-Ahzab: 23), mereka tidak ragu-ragu
sedikitpun terhadap agama mereka, dan tidak menukar agamanya dengan agama lain.
lalu Allah berfirman:
Supaya Allah memberikan balasan kepada orang-orang yang benar itu karena kebenarannya, dan
menyiksa orang munafik jika dikehendaki-Nya, atau menerima tobat mereka. sebenarnya Allah
yaitu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu
yang dalam keadaan penuh kejelekan (QS. al-Ahzab: 24), yakni, orang-orang Quraisy dan Ghathfan.
(lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin
dari peperangan. Dan yaitu Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Dan Dia menurunkan orang-orang
Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng
mereka, (QS. al-Ahzab: 25- 26), Ahli Kitab pada ayat diatas yaitu orang-orang Bani Quraizhah.
dan Dia memasukkan rasa takut dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian
yang lain kamu tawan. (Al Ah- zab: 26), yakni pembunuhan orang laki-laki, penawanan anak-anak dan
wanita-wanita.
lalu Allah berfirman:
Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu
pula) tanah yang belum kamu injak. Dan yaitu Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. (QS. al-
Ahzab: 27)
Ibnu Ishaq berkata: Muadz bin Rif'ah Az Zuraqa berkata kepadaku bahwa orang-orang dari kaumku
berkata kepadaku: 'Tak berapa lama sesudah syahid Sa'ad bin Mu'adz, Malaikat Jibril Alaihis salam
datang kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan mengenakan sorban dari sutra pada
pertengahan malam, lalu berkata: "Wahai Muhammad, siapakah jenazah yang membuat pintu-
pintu langit dibuka dan Arasy bergetar dibuatnya?"
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri mencari Sa'ad bin Muadz ternyata ia telah meninggal
dunia.
Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan integritasnya berkata kepadaku dari Al Hasan Al-
Bashri yang berkata: Sa'ad bin Muadz yaitu seorang yang bertubuh gemuk. Anehnya pada saat
orang-orang mengusung jenazahnya, mereka merasakan ringan." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam, bersabda: "Sesunguhnya Sa'ad bin Muadz dipikul oleh para pemikul selain kalian. Demi Allah
para malaikat sangat gembira dengan ruh Sa'ad bin Muadz sampai-sampai Arasy bergetar dibuatnya."
Ibnu Ishaq berkata: Muadz bin Rifa'ah bercerita kepadaku dari Mahmud bin Abdurrahman bin Amr bin
Al-Jamuh dari Jabir bin Abdullah yang berkata: Pada saat Sa'ad bin Muadz dikubur, kami menemani
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu beliau bertasbih, diikuti bertakbir dan para sahabat
pun ikut melakukannya. Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, kenapa engkau bertasbih?"' Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sungguh kuburan ini menyempit untuk hamba yang shalih ini
namun Allah melonggarkannya."137
Ibnu Hisyam berkata: Hadits yang senada yaitu ucapan Aisyah yang bercerita bahwa Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "sebenarnya kuburan menjepit dan jika ada orang yang
selamat dibandingkan nya tentu ia yaitu Sa'ad bin Muadz."138
Syuhada Kaum Muslimin Yang Gugur di Perang Khandaq
Ibnu Ishaq berkata: Ada enam orang yang syahid dari kaum muslimin pada Perang Khandaq.
Syuhada' dari Bani Abdul Asyhal yaitu sebagai berikut: Sa'ad bin Muadz, Anas bin Aus bin Atik bin
Amr, Abdullah bin Sahi. Jumlah seluruhnya tiga orang.
Syuhada dari Bani Jusyam bin Al-Khazraj lalu dari Bani Salimah yaitu sebagai berikut: Ath-
Thufail bin An-Nu'man, Tsa'labah bin Ghanamah. Jumlah seluruhnya hanya dua orang.
Syuhada' dari Bani An-Najjar lalu dari Bani Dinar yaitu Ka'ab bin Zaid. la terkena anak panah
misterius yang tidak diketahui siapa yang melemparkannya hingga lalu membuatnya gugur
sebagai syahid.
Korban Tewas Kaum Musyrikin di Perang Khandaq
Ibnu Ishaq berkata: Korban dari kaum musyrikin hanya tiga orang. Yaitu, korban dari Bani Abduddar
bin Qushai yaitu Munabbih bin Utsman bin Ubaid bin As-Sabbaq bin Abduddar. Ia terpanah dan
lalu meninggal dunia karenanya di Makkah. Ibnu Hisyam berkata: Utsman yang dimaksud ialah
Utsman anak Umaiyyah bin Munabbih bin Ubaid bin As-Sabbaq.
Korban dari Bani Makhzum bin Yaqadzah yaitu Naufal bin Abdu bin Abdullah bin Al- Mughirah.
Orang-orang Quraisy mendesak Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam agar beliau menjual jasad
Naufal bin Abdullah kepada mereka. Pada saat Perang Khandaq, ia menerobos parit dan ia terjebak di
dalamnya lalu dia tewas. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Kami tidak butuh jasad
dan harganya." Rasulullah pun membiarkan jasad Naufal bin Abdullah diambil oleh orang-orang
Quraisy.
Ibnu Hisyam berkata: Orang-orang Quraisy memberi uang sebanyak sepuluh ribu dirham kepada
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk tebusan jasad Naufal bin Abdullah sebagaimana
dituturkan Az-Zuhri kepadaku.
Korban dari Bani Amir bin Luay lalu dari Bani Malik bin Hisl yaitu Amr bin
Abdu Wudd. Ia tewas dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu.
Ibnu Hisyam berkata: Orang yang aku yakini integritasnya berkata kepadaku bahwa ia diberitahu oleh
Az-Zuhri: Pada Perang Khandaq, Ali bin Abu Thalib membunuh Amr bin Abdu Wudd dan juga putranya
yaitu Hisl bin Amr.
Ibnu Hisyam berkata: Ada pendapat yang menyebutkan namanya yaitu Amr bin Abdu Wudd, namun
ada juga pendapat yang menyebutnya Amr bin Abdin.
Syuhada Kaum Muslimin Yang Gugur di Perang Bani Quraizhah
Ibnu Ishaq berkata: Syuhada kaum Muslimin yang gugur di Perang Bani Quraizhah dari Bani Al Harits
bin Al-Khazraj yaitu Khallad bin Suwaid bin Tsa'labah bin Amr. Ia terkena lemparan batu penggiling
sampai tengkorak kepalanya hancur. Ada riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam bersabda: "sebenarnya Khallad bin Suwaid mendapat pahala dua orang
syahid".
Abu Sinan bin Mihshan bin Hurtsan saudara Bani Asad bin Khuzaimah, ia gugur pada saat Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengepung Bani Quraizhah. Jenazah Abu Sinan bin Mihshan dikebumikan
di pemakaman Bani Quraizhah.
Tatkala para sahabat kembali dari khandaq Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "sesudah
tahun ini, orang-orang Quraisy tidak akan menyerang kalian, tapi kalianlah yang akan menyerang
mereka."
Sejak tahun itu, orang-orang Quraisy tidak menyerang kaum Muslimin, sebaliknya Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang menyerang mereka hingga Allah menaklukkan kota Makkah untuk
kemengan rasul-Nya.
Sallam bin Abu al-Huqaiq pun Tewas
Ibnu Ishaq berkata: sesudah Perang Khandaq usai dan penanganan terhadap Bani Quraizhah selesai,
maka orang-orang Khazraj meminta izin kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk
membunuh Sallam bin Abu Al-Huqaiq yang jika itu berada di Khaibar dan beliau memberi izin
kepada mereka untuk membunuhnya. Sallam bin Abu Al-Huqaiq alias Abu Rafi' terlibat dalam
pembentukan pasukan sekutu untuk memerangi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan orang-
orang Aus membunuh Ka'ab bin Al-Asyraf sebelum Perang Uhud karena permusuhannya kepada
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan provokasinya.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim bin Syihab Az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari Abdullah
bin Ka'ab bin Malik yang berkata: Di antara kebaikan yang berikan oleh Allah untuk Rasul-Nya yaitu
bahwa dua pemukiman kaum Anshar; Aus dan Khazraj, selalu bersaing untuk memberikan kebaikan
kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, laksana persaingan dua ekor kuda dalam pacuan.
jika para sahabat dari Aus mengerjakan sesuatu kebaikan untuk Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam, para sahabat dari Khazraj berkata kepada mereka: "Demi Allah, kalian tidak boleh melenggang
dengan kebaikan ini dan tidak boleh lebih baik dibandingkan kami di sisi Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam." Para sahabat Khazraj pun tidak berhenti berbuat hingga bisa mengejar ketertinggalan
mereka dari para sahabat dari Aus. Sebaliknya, jika para sahabat Al-Khazraj mengerjakan suatu
kebaikan para sahabat dari Aus juga mengatakan hal yang sama.
Tatkala para sahabat dari Aus berhasil membunuh Ka'ab bin Al-Asyraf karena permusuhannya kepada
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, maka para sahabat dari kalangan Khazraj berkata: "Demi Allah,
kalian tidak boleh melenggang dengan prestasi ini dan menjadi lebih baik dibandingkan kami untuk
selamanya." Para sahabat dari Khazraj membuat daftar siapa saat ini yang memusuhi Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebagaimana Ka'ab bin Al-Asyraf. lalu mereka mengingat nama
Sallam bin Abu Al-Huqaiq yang jika itu berada di Khaibar. Lantas mereka pun minta izin kepada
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk membunuhnya dan beliaupun mengizinkannya.
Maka berangkatlah lima orang dari Bani Salimah ke tempat Sallam bin Al-Huqaiq. Kelima sahabat
ini yaitu sebagai berikut:
Abdullah bin Atik, Mas'ud bin Sinan, Abdullah bin Unais, Abu Qatadah Al-Harits bin Rib'i, Khuza'ah bin
Aswad sekutu mereka dari Aslam.
Mereka berangkat dan Abdullah bin Atik ditunjuk oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebagai
pemimpin rombongan, beliau pun melarang mereka untuk membunuh anak-anak dan para wanita.
Tatkala tiba di Khaibar, mereka mendatangi rumah Sallam bin Abu Al-Huqaiq pada malam hari.
Rombongan para sahabat ini menyuruh semua orang di kampung itu untuk menutup pintu
rumah mereka. Untuk menaiki ke lantai dua rumah milik Sallam bin Abu AI-Huqaiq terdapat sebuah
tangga terbuat dari batang kurma. Mereka naik ke kamar Sallam bin Abu Al-Huqaiq yang terdapat di
atas melalui tangga ini hingga mereka pun berdiri depan pintu kamarnya, lalu meminta izin
untuk masuk, namun mereka ditemui istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq. Istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq
bertanya: "Siapa kalian?!" Para sahabat menjawab: "Kami orang-orang Arab yang sedang mencari
makanan." Istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq berkata: "Itu dia sahabat kalian, silahkan masuk!" sesudah
mereka berhasil masuk ke tempat Sallam bin Abu Al- Huqaiq, mereka menutup pintu rumah dan pintu
kamarnya karena khawatir ada jalan yang memungkinkan seseorang masuk lalu mengagalkan
misi mereka membunuh Sallam bin Abu Al-Huqaiq. lalu mereka pergi dengan pedang terhunus
ke tempat Sallam bin Abu Huqaiq yang pada saat itu berada di atas ranjangnya. Demi Allah, tidak ada
yang menunjukkan mereka kepadanya di tengah malam yang gelap itu melainkan kulitnya yang amat
putih laksana kain dari Mesir yang digelar terbuka. Isteri Sallam bin Abu Al-Huqaiq berteriak, pada saat
istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq berteriak, salah seorang dari mereka mengayunkan pedang untuk
membunuhnya, namun dia mengurungkan niatnya sebab ingat akan larangan Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam. Andai saja mereka tidak mengingat larangan itu, pasti kami membunuhnya pada
malam itu. jika mereka telah memukul Sallam bin Abu Al-Huqaiq dengan pedang-pedang mereka,
Abdullah bin Unais menusukkan pedang ke perut Sallam bin Abu Al-Huqaiq hingga tembus. Saat itulah,
Sallam bin Abu Al-Huqaiq berkata: "Cukup! Cukup!"
lalu kelima sahabat ini keluar. Karena Abdullah bin Atik kurang baik penglihatannya, ia
jatuh dari tangga hingga tangannya mengalami luka memar.
Ibnu Hisyam berkata: Ada pendapat yang mengatakan bahwa yang mengalami luka memar yaitu
kakinya. Mereka menggotong Abdullah bin Atik hingga tiba di tempat masuknya aliran air ke benteng
lalu kami masuk ke dalamnya.
Ibnu Ishaq berkata: Penduduk setempat segera menyalakan lampu dan berkeliling kampung berusaha
mencari kelima sahabat itu ke segala penjuru kampung. jika mereka putus asa tidak berhasil
menemukan, mereka pergi ke tempat Sallam bin Abu Al-Huqaiq dan memeluknya. Sallam bin Abu AI-
Huqaiq meninggal dunia di hadapan mereka.
Salah seorang dari kelima sahabat berkata: "Bagaimana caranya agar kita mengetahui dengan pasti
bahwa musuh Allah ini telah benar-benar mati?" Salah seorang dari mereka berkata: "Aku akan
pergi ke sana untuk melihat keadaannya sekarang." Sahabat ini berangkat hingga berhasil
menyelinap ke tengah kerumunan manusia. Ia berkata: "Aku melihat istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq
memegang lampu melihat wajah Sallam bin Abu Al-Huqaiq bersama orang-orang Yahudi. Istri Sallam
bin Abu Al-Huqaiq berkata kepada orang-orang Yahudi: "Demi Allah, tadi aku mendengar suara
Abdullah bin Atik, namun aku tidak mempercayainya, mana ada Abdullah bin Atik di negeri kita ini?"
sesudah itu. istri Sallam bin Abu Al-Huqaiq mendekat kepada Sallam bin Abu Al-Huqaiq lalu berkata.
"Demi Tuhan orang-orang Yahudi, Ia telah tewas." Sahabat ini berkata, Aku tidak pernah
mendengar ungkapan yang lebih enak didengar dibandingkan apa yang dikatakan istn Sallam bin Abu Al-
Huqaiq ini . Setelak itu, sahabat tadi datang ke tempat persembunyian para sahabat lainnya dan
menceritakan peristiwa tadi.
lalu mereka menggotong Abdullah bin Atik yang tangannya luka memar menemui Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Tatkala tiba di kediaman Rasulullah, mereka melaporkan tentang
tewasnya musuh Allah ini . Masing-masing dari mereka mengaku dirinyalah yang telah
membunuh Sallam bin Abu Al-Huqaiq. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Bawalah ke
hadapanku seluruh pedang kalian!" Mereka pun datang lagi kepada Rasululla Shallalahu 'alaihi wa
Sallam dengan pedang masing-masing. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengamati pedang-
pedang ini lalu bersabda tentang pedang Abdullah bin Unais: "Pedang inilah yang telah
membunuhnya. Aku melihat bekas makanan padanya."
Amr bin Ash dan Khalid bin Walid Masuk Islam
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Abu Habib meriwayatkan kepadaku dari Rasyid mantan budak Habib bin
Abu Aus At-Tsaqafi dari Habib bin Abu Aus Ats-Tsaqafi, ia berkata kepadaku beberapa orang Quraisy
yang bisa diajak bermusyawarah dan mendengarkan pendapatku. Aku berkata kepada mereka: "Demi
Allah, kalian semua telah mengetahui, aku berpandangan bahwa persoalan Muhammad telah
memuncak dan sangat sulit untuk bisa ditandingi. Aku memiliki suatu pandangan, bagaimana menurut
kalian?" Mereka bertanya: Apa pendapatmu itu?" aku menjawab: "Menurut pandanganku, sebaiknya
kita pergi ke tempat Najasyi dan menetap di sana bersamanya. jika Muhammad berhasil
mengalahkan kaum kita, maka kita menetap di negeri Najasyi, karena kita lebih suka dikuasai Najasyi
ketimbang dikuasai oleh Muhammad. Namun jika kaum kita berhasil mengalahkan Muhammad,
kita orang yang telah dikenal di kalangan mereka, maka hanya kebaikan yang akan kembali kepada
kita." Mereka berkata: "Ini pendapat yang pas." Aku berkata: "Jika demikian, kumpulkanlah hadiah
untuk kita berikan kepada raja An-Najasy."
Amr bin Ash berkata: Barang istimewa yang selalu menjadi oleh-oleh khas dan istimewa dari daerah
kami, dan paling kami sukai untuk dijadikan hadiah bagi Najasyi yaitu kulit. Sebab itu, kami
mengumpulkan kulit sebanyak-banyaknya, lalu kami pun pergi ke sana. Demi Allah, jika kami
berada di tempat Najasyi, tiba-tiba Amr bin Umaiyyah Adh-Dhamri datang ke sana yang sengaja
dikirim oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk menanyakan tentang Ja'far dan sahabat-
sahabatnya. Amr bin Umaiyyah Adh-Dhamri masuk ke tempat Najasyi, tak lama lalu diapun
keluar. Aku berkata kepada sahabat-sahabatku: "Inilah Amr bin Umaiyyah Adh-Dhamri, jika kepalanya.
Jika hal itu berhasil aku lakukan, orang-orang Quraisy akan tahu bahwa aku telah mewakilinya
membunuh utusan Muhammad." Aku pun segera masuk ke ruangan Najasyi dan sujud kepadanya
sebagaimana biasa aku lakukan. Najasyi berkata: "Selamat datang sahabatku. Hadiah apa yang engkau
bawa dari negerimu?" aku menjawab: "Ya, wahai raja aku hadiahkan untukmu kulit yang sangat
banyak." lalu aku dekatkan kulit ini kepadanya, dan ia pun mengaguminya dan terlihat
senang dengannya. Aku berkata: "Wahai raja, sungguh baru saja kulihat seseorang keluar dari
tempatmu yang tak lain yaitu utusan musuh kami. Serahkanlah dia padaku untuk kami bunuh, karena
ia telah membunuh tokoh-tokoh dan orang-orang pilihan di antara kami."
Amr bin Al-Ash berkata: Najasyi marah besar. Ia mengangkat tangan dan memukulkannya ke
hidungku, aku mengira pukulan ini membuat hidungku pecah. jika bumi terbelah untukku
saat itu, aku pasti masuk ke dalamnya karena takut akan kemarahannya. Aku berkata: "Wahai raja,
demi Allah, jika aku tahu bahwa baginda raja tidak menyukai permintaanku, pastilah aku tidak akan
mengajukannya kepadamu." Najasyi bertanya: "Pantaskah engkau meminta padaku untuk
memberikan padamu utusan orang yang didatangi Malaikat Jibril yang pernah datang kepada Nabi
Musa, untuk lalu engkau bunuh utusan itu?" Aku berkata: "Wahai raja, betulkah yang engkau
katakan itu?" Najasyi berkata: "Celakalah engkau wahai Amr, taatilah aku dan ikutilah Muhammad.
Demi Allah, ia berada di atas kebenaran dan Allah pasti memenangkannya atas siapa saja yang
menentangnya, sebagaimana Allah memberikan kemenangan kepada Musa atas Fir'aun dan bala
tentaranya." Aku bertanya: "Maukah engkau membaiatku masuk Islam mewakilinya?" Najasyi
menjawab: ya, lalu Najasyi mengulurkan tangannya, lalu aku berbaiat kepadanya untuk masuk
Islam. sesudah itu, aku menemui teman-temanku dengan pendapat yang berbeda dari sebelumnya.
Akupun merahasiakan keislamanku.
Amr bin Al-Ash berkata: lalu aku sengaja pergi ke tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
untuk memeluk Islam. Di tengah perjalanan aku bertemu dengan Khalid bin Walid. Peristiwa ini terjadi
menjelang penaklukan Makkah dan saat itu Khalid bin Walid datang dari Makkah. Aku berkata: "Wahai
Abu Sulaiman, hendak pergi ke mana engkau?" Khalid bin Walid menjawab: "Demi Allah, sungguh kini
segala sesuatu telah menjadi jelas bahwa lelaki ini (Muhammad) benar-benar seorang nabi. Aku akan
pergi menemuinya untuk masuk Islam. Lalu engkau sendiri sampai kapan akan terus memusuhinya?"
Aku menjawab: "Demi Allah, tidaklah aku datang ke tempat ini kecuali untuk masuk Islam." Kami
berdua tiba di Madinah, di tempat kediaman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Khalid bin Walid
maju ke depan lalu masuk Islam dan berbaiat. lalu aku mendekat kepada Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan berkata kepada beliau: " Wahai Rasulullah, aku akan berbaiat
kepadamu dengan syarat dosa-dosa masa laluku diampuni." Aku tidak menyebutkan dosa-dosaku
pada masa mendatang. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Wahai Amr, berbaiatlah,
karena Islam dan hijrah itu menghapuskan dosa-dosa masa lalu."139 Aku pun berbaiat kepada
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu segera mohon diri untuk pulang.
Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan integritasnya berkata kepadaku bahwa Utsman bin
Thalhah bin Abu Thalhah juga masuk Islam bersamaan dengan Amr bin Al-Ash dan Khalid bin Walid.
Penaklukan Bani Quraizhah terjadi pada bulan Dzulqa'dah dan awal bulan Dzulhijjah. Saat itu, masih
orang-orang musyrik Makkah yang menangani urusan para jamaah haji.
Perang Bani Lahyan
Ibnu Hisyam berkata: Ziyad bin Abdullah Al- Bakkai berkata kepadaku dari Muhammad bin Ishaq Al-
Muththallabi yang berkata: sesudah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menetap di Madinah
selama bulan Dzulhijjah, Muharram, Shafar, Rabi'ul Awwal, dan Rabi'ul Akhir. Pada bulan Jumadil Ula,
enam bulan sesudah penaklukan Bani Quraizhah, beliau keluar dari Madinah menuju Bani Lahyan untuk
mencari para sahabat yang dikirim ke Ar-Raji' yaitu Khubaib bin Adi dan yang lainnya. Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam terlihat seperti hendak pergi ke Syam agar bisa menyerang Bani Lahyan
dengan tanpa diduga sebelumnya.
Ibnu Hisyam berkata: Beliau menunjuk Ibnu Ummi Maktum untuk sementara sebagai imam di
Madinah.
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan melintasi Ghurab, gunung di
Madinah, dengan tujuan Syam, melintasi Makhidh, Al-Batra', belok kiri ke Dzatu Al-Masar, lalu keluar
di Bain, lalu melintasi Shukhairatul Yamam, berjalan lurus menuju Al-Mahajjah dari jalur
Makkah, lalu meningkatkan ritme perjalanan hingga turun di Ghuran, lembah tempat tinggal
Bani Lahyan. Ghuran yaitu lembah yang berada di antara Amaj dengan Usfan, yang mengarah ke
daerah yang bernama Sayah. Di sana Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendapati orang-orang
Bani Lahyan dalam keadaan siap siaga dengan berlindung di puncak gunung.
Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam turun di Sayah dan berencana menyerang Bani
Lahyan dengan tanpa diduga, beliau mengalami kegagalan, lalu beliau bersabda: "Seandainya kita
turun ke Usfan, orang-orang Makkah pasti melihat kita dan akan mengira kita hendak mendatangi
mereka." sesudah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melanjutkan perjalanan bersama dengan
dua ratus pejalan kaki dari para sahabatnya hingga turun di Usfan. Beliau mengutus dua penunggang
kuda dari para sahabat hingga keduanya tiba di Kural Ghamim dan Kura. Sedangkan Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam sendiri memilih pulang ke Madinah.
Jabir bin Abdullah berkata: Tatkala Rasulullah hendak pulang ke Madinah, aku mendengar Rasulullah
bersabda: "Mereka yaitu orang-orang yang kembali, dan orang-orang yang bertaubat insya Allah
mereka juga merupakan orang-orang yang selalu memuji Tuhan. Aku berlindung diri dari kesulitan
perjalanan, sedihnya kepulangan, penglihatan buruk terhadap keluarga dan harta."140
Hadits tentang Perang Bani Lahyan yaitu berasal dari Ashim bin Umar bin Saadah dan Abdullah bin
Abu Bakr dari Abdullah bin Ka'ab bin Malik.
Perang Dzu Qarad
Ibnu Ishaq berkata: lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali pulang ke Madinah dan
hanya menetap beberapa malam di sana. Karena tak lama sesudah itu, Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah
bin Badr Al-Fazari bersama pasukan berkuda yang berasal dari Ghathafan menyerang unta-unta hamil
milik rasulullah di Al-Ghabah. Di Al Ghabah itu ada seseorang lelaki dari Bani Ghifar dan seorang
istrinya. Uyainah bin Hishn membunuh lelaki ini dan membawa istrinya dengan meletakkannya
di unta hamil ini .
Ujian Bin al-Akwa’ di Perang Ini
lbnu ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah dan Abdullah bin Abu Bakr serta orang yang tidak
aku ragukan integritasnya menceritakan kepadaku dari Abdullah bin Ka'ab bin Malik. Mereka semua
hanya menceritakan sebagian Perang Dzu Qarad. Mereka berkata: "Orang yang pertama kali melihat
kedatangan Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr Al-Fazari beserta pasukannya yaitu Salamah
bin Amr bin Al Akwa' As-Sulami. Ia pergi ke Al-Ghabah pada waktu pagi dengan membawa busur
lengkap dengan anak panahnya, dia ditemani seorang budak milik Thalhah bin Ubaidillah yang
menuntun kudanya. jika Salamah bin Amr berada di atas Tsaniyyatul Wada', ia melihat sebagian
kuda-kuda Uyainah bin Hishn, kemdudian dia mendaki Sal'u untuk mengintainya lalu dia berteriak:
"Hai orang-orang yang terjaga di pagi hari!" lalu Salamah bin Amr bergerak menelusuri jejak
Uyainah bin Hishn. Dalam kondisi seperti itu Salamah bin Amr laksana binatang buas. ia terus mengejar
hingga berhasil mendekati mereka, lalu menyerang mereka dengan anak panah. Setiap kali ia
memanah, ia berkata: "Rasakanlah anak panah ini, aku anak Al-Akwa! Hari ini hari kematian orang
jahat."
Jika pasukan berkuda Uyainah bin Hishn berlari ke arahnya, ia melarikan diri dan menjauhi mereka.
Jika terbuka kesempatan untuk memanah, ia memanah mereka sambil berkata: "Rasakanlah anak
panah ini, aku yaitu anak Al-Akwa! Hari ini hari kematian orang jahat."
Demikianlah yang terjadi hingga salah seorang dari anak buah Uyainah bin Hishn berkata: "Alangkah
buruknya nasib kita sejak berseru di Madinah: Bergeslah! Bergegaslah!. Para sahabat penunggang
kuda memacu kudanya menuju Rasulullah. Penunggang kuda yang pertama kali tiba di tempat beliau
yaitu Al-Miqdad bin Amr.











