Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 25. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 25. Tampilkan semua postingan

Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 25

 


alah!" Quzman berkata: "Kabar gembira apa 

yang ucapkan untukku? Demi Allah, aku berperang hanya untuk membela kehormatan kaumku. Kalau 

bukan karena itu aku tidak akan berperang." Saat lukanya bertambah parah, maka ia mengambil anak 

panah dari tempat perlengkapan perangnya, lalu iapun bunuh diri dengannya.116 

Ibnu Ishaq berkata: Di antara orang yang terbunuh pada Perang Uhud ialah Mukhairiq. Ia salah seorang 

warga Bani Tsa'labah bin Al-Fithyaun. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, sebagaimana 

dituturkan kepadaku: "Mukhairiq yaitu  orang Yahudi terbaik."117 

 

Ibnu Ishaq berkata: Al-Harits bin Suwaid bin Shamid seorang munafiq, pada Perang Uhud, ia ikut 

bersama kaum muslimin. jika  kaum muslimin telah bertemu dengan kaum musyrikin, Al-Harits bin 

Suwaid bin Shamid menghabisi Al-Mujadzdir bin Dziyad Al-Balawi dan Qais bin Zaid, warga Bani 

Dhuba'iah. sesudah  membunuh keduanya, Al-Harits bin Suwaid bin Shamid pergi ke Makkah bergabung 

dengan orang-orang kafir Quraisy. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana dituturkan 

para ulama, memerintahkan Umar bin Khaththab membunuhnya jika  dia berhasil menangkapnya. 

Namun Umar bin Khaththab tidak berhasil mengejarnya karena ia berada di Makkah. lalu  

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus saudara Al-Harits bin Suwaid yang bernama Al-Julas 

bin Suwaid untuk menemui Al-Harits bin Suwaid dan memintanya bertaubat agar ia bisa kembali 

kepada kaumnya. 

Ibnu Ishaq berkata: Maka Allah, sebagaimana dituturkan kepadaku dari Ibnu Abbas, menurunkan ayat 

tentang Al-Harits bin Suwaid bin Shamid dalam firman-Nya: 

 

Bagaimana Allah akan menunjukisuatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah 

mengakui bahwa Rasul itu (Mu¬hammad) benar-benar rasul, dan keterangan- keterangan pun telah 

datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim (QS. Ali Imran: 86), hingga 

akhir kisah. 

Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berada bersama beberapa orang sahabatnya, tiba-tiba 

Al-Harits bin Suwaid keluar dari salah satu kebun Madinah, dia memakai pakaian rangkap dua 

berwarna merah darah. Rasulullah memerintahkan Utsman bin Affan untuk menghabisinya dan 

Utsman bin Affan pun menebas kepalanya. Ada yang mengatakan bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam menyuruh salah seorang dari kaum Anshar untuk menghabisi Al-Harits bin Suwaid bin 

Shamit. 

Ibnu Ishaq berkata: Suwaid bin Shamit dibunuh Muadz bin Afra' dengan cara tipu daya dan bukan 

dihabisi di medan perang. Muadz bin Afra' melempar Suwaid bin Shamit dengan anak panah dan 

menewaskannya sebelum meletusnya Perang Bu'ats. 

Ibnu Ishaq berkata: Hindun binti Utbah dan wanita-wanita Quraisy yang bersamanya memutilasi 

korban dari sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebagaimana hal ini dikatakan 

kepadaku oleh Shalih bin Kaisan dan mengiris telinga-telinga dan hidung-hidung mereka. Bahkan lebih 

jahat dari itu, Hindun binti Utbah menjadikan telinga-telinga dan hidung-hidung korban dari para 

sahabat sebagai gelang kaki dan kalung. Sedangkan gelang kaki dan kalung serta cincin yang dia pakai 

diberikan kepada Wahsyi budak Jubair bin Muth'im. Tidak hanya sampai batas itu, Hindun binti Utbah 

membelah hati Hamzah bin Abdul Muthalib, mengunyah, dan ingin menelannya namun ia tidak 

mampu maka iapun memuntahkannya. 

Ibnu lshaq berkata: Al-Hulais bin Zabban dari Bani Al-Harits bin Abdu Manat saat itu yaitu  pemimpin 

orang non Arab (Ubaiys). Ia berjalan melewati Abu Sufyan bin Harb yang sedang memukul tulang 

rahang bagian bawah Hamzah bin Abdul Muthalib dengan besi tombak sambil berkata: "Rasakanlah 

ini, wahai makhluk durhaka." Al-Hulais berkata: "Wahai orang-orang Bani Kinanah, apakah demikian 

perilaku pemuka Quraisy terhadap anak pamannya sendiri yang telah menjadi mayat?" Abu Sufyan 

bin Harb berkata: "Celakalah engkau, rahasiakan hal ini, ini hanyalah sebuah kesalahan kecil." sesudah  

itu, Abu Sufyan bin Harb berteriak: "Di antara korban-korban kalian ada yang dicincang. Demi Allah, 

aku tidak rela, tidak marah, tidak melarang dan tidak pula menyuruh mereka melakukan itu." jika  

Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya hendak pulang ke Makkah, Abu Sufyan bin Harb berseru, 

"sebenarnya  kita akan bertemu kembali kalian di Badar tahun depan." Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam bersabda kepada salah seorang sahabatnya: "Katakan padanya ya. Kita mempunyai janji 

itu!" 

Ibnu lshaq berkata: lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus Ali bin Abu Thalib 

Radhiyallahu Anhu dan bersabda kepadanya: "Ikutilah jejak-jejak perjalanan orang-orang Quraisy itu!" 

Ali bin Abu Thalib berkata: "Aku berjalan menelusuri jejak-jejak perjalanan orang-orang Quraisy 

karena ingin melihat apa yang mereka lakukan. Ternyata mereka menggiring kuda-kuda mereka di 

sebelah selatan mereka dan menaiki unta-unta mereka dan beranjak pulang ke Makkah.118 

 

sesudah  itu, kaum Muslimin mengurusi korban mereka. 

Ibnu lshaq berkata: Sesudah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar mencari Hamzah bin 

Abdul Muthalib, sebagaimana dituturkan kepadaku, dan menemukannya di dasar lembah dengan 

perut robek dan hatinya dicincang-cincang, hidung dan kedua telinganya dipotong-potong. 

jika  kaum Muslimin menyaksikan duka lara Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan murkanya 

atas perbuatan orang kafir Quraisy terhadap pamannya, mereka berkata: "Jika suatu saat nanti Allah 

memenangkan kita atas mereka, kita habisi mereka dengan cara yang belum pernah lakukan oleh 

orang Arab manapun." 

Ibnu Hisyam berkata: jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri di hadapan jenazah Hamzah 

bin Abdul Muthalib, beliau bersabda: "Aku tidak akan pernah akan mendapat musibah selama-

lamanya seperti musibah kematianmu ini. Aku tidak pernah berdiri dalam keadaan marah 

sebagaimana kemarahanku ini." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lebih lanjut bersabda: Jibril 

baru saja datang menemuiku dan menjelaskan kepadaku bahwa Hamzah bin Abdul Muthalib tertulis 

di penghuni tujuh langit: "Hamzah singa Allah dan Rasul-Nya."119 

 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Hamzah bin Abdul Muthalib, dan Abu Salamah bin Abdul Asad 

tiga saudara sesusuan. Mereka disusui oleh mantan budak perempuan Abu Lahab. 

Ibnu Ishaq berkata: Buraidah bin Sufyan bin Farwah Al-Aslami berkata kepadaku dari Muhammad bin 

Ka'ab Al-Quradhi dan seseorang yang tidak aku ragukan integritasnya yang berkata kepadaku dari Ibnu 

Abbas bahwa Allah Yang Mahamulia menurunkan ayat berikut tentang ucapan Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya: 

 

 

Dan jika kalian memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang 

ditimpakan kepada kalian. Akan tetapijika kalian bersabar, sebenarnya  itulah yang lebih baik bagi 

orang-orang yang sabar. (QS. an-Nahl: 126-127). 

Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memberi maaf pada orang-orang yang mencincang 

Hamzah bin Abdul Muthalib, bersabar dan melarang pencincangan. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Humaid Ath-Thawil berkata kepadaku dari Al-Hasan dari Samurah bin Jundub yang 

berkata: "Tidaklah pernah sekalipun Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika  berdiri di satu 

tempat dan sebelum meninggalkannya beliau selalu memerintahkan kami bersedekah dan melarang 

kita mencincang.120 

 

Ibnu Ishaq berkata: Orang yang sama sekali tidak aku ragukan kredibilitasnya berkata kepadaku dari 

Misqam mantan budak Abdullah bin AI-Harits dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma dimana dia 

berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib 

ditutup dengan kain burdah kemu- dian dishalati. Beliau bertakbir sebanyak tujuh takbir. sesudah  itu, 

jenazah-jenazah lainnya didatangkan dan diletakkan di dekat jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib 

lalu  dishalati sedang jenazah Hamzah bin Abdul Muthalib bersama mereka hingga akhirnya 

Hamzah bin Abdul Muthalib dishalati sebanyak tujuh puluh dua kali. 

 

Abdullah bin Jahsy juga dicincang-cincang sebagaimana Hamzah bin Abdul Muthalib hanya saja 

perutnya tidak dibelah untuk diambil hatinya. lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

memerintahkan Abdullah bin Jahsy dimakamkan satu tempat dengan kuburan Hamzah bin Abdul 

Muthalib. Hal ini hanya aku dengar dari keluarga Abdullah bin Jahsy. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Awalnya beberapa orang dari kaum Muslimin ingin membawa korban perang 

Uhud ke Madinah dan dikuburkan di sana, namun Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melarang 

seraya bersabda: "Kuburkanlah mereka di tempat mereka gugur." 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim Az-Zuhri dari Abdullah bin Tsa'labah bin Shu'air Al-Udzri 

sekutu Bani Zuhrah, berkata bahwa tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri di depan 

korban Perang Uhud, beliau bersabda, "Aku menjadi saksi bagi mereka bahwa setiap orang yang 

terluka di jalan Allah, maka Allah akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan lukanya 

berdarah; warnanya warna darah dengan aroma wangi kasturi. Lihatlah mana di antara mereka yang 

paling banyak hapalan Al-Qur'annya lalu  letakkan dia di depan sahabat-sahabatnya di 

kuburan."121 Para sahabat memakamkan dua atau tiga orang dalam satu liang lahat. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pamanku, Musa bin Yasar, berkata kepadaku bahwa ia mendengar Abu Hurairah 

Radhiyallahu Anhu berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa yang 

terluka di Jalan Allah, maka Allah akan membangkitkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan lukanya 

berdarah; warnanya warna darah dengan wangi kasturi."122 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku dari tetua Bani Salimah bahwa Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda pada saat memerintahkan pemakaman para korban Perang 

Uhud: "Lihatlah Amr Al-Jamuh dan Abdullah bin Amr bin Haram, sebenarnya  keduanya bersahabat 

karib di dunia, oleh karena itu, letakkan keduanya di satu liang lahat." 

Ibnu Ishaq berkata: Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pulang ke Madinah dan berpapasan 

dengan Hamnah binti Jahsy, sebagaimana disampaikan kepadaku. jika  Hamnah binti Jahsy bertemu 

para sahabat dan diberi kabar tentang saudaranya yang syahid, Abdullah bin Jahsy, maka ia 

mengucapkan innalillaahi wa inna ilaihi raaji'un dan memintakan ampunan kepada Allah untuknya. 

sesudah  itu, ia diberi kabar tentang pamannya dari jalur ibunya, Hamzah bin Abdul Muthalib, yang juga 

syahid lalu  ia mengucapkan inna lillaahi wa inna ilaihi raaji'un dan memintakan ampunan 

kepada Allah untuknya. Lalu ia diberi kabar tentang suaminya, Mush'ab bin Umair yang juga syahid. 

Iapun menjerit dan menangis kencang sambil mengucapkan kata-kata sesal berat. Melihat hal ini 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "sebenarnya  seorang suami itu memiliki tempat 

tersendiri dalam relung hati istrinya." Rasullah bersabda seperti itu, saat melihat Hamnah binti Jahsy 

tegar saat mendengar syahidnya saudara dan pamannya dari jalur ibunya, namun berteriak keras 

histeris atas syahidnya suaminya tercinta. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam berjalan melewati pemukiman-pemukiman 

kaum Anshar yaitu pemukiman Bani Abdul Asyhal dan pemukiman Zhafar, dan mendengar ratap tangis 

atas korban-korban mereka. Kedua mata Rasulullah mengucurkan air mata, seraya bersabda: "Namun 

kenapa tidak ada seorang wanitapun yang menangisi Hamzah!" 

Pada saat Sa'ad bin Muadz dan Usaid bin Hudhair pulang ke tempat Bani Abdul Asyhal, keduanya 

memerintahkan wanita-wanita Bani Abdul Asyhal menggunakan ikat pinggang lalu pergi untuk 

menangisi Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Ibnu Ishaq berkata: Hakim bin Hakim bin Abbad bin Hunaif berkata dari seseorang dari Bani Abdul 

Asyhal yang berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar jerit tangis wanita-

wanita ini  atas Hamzah bin Abdul Muthalib, beliau keluar menemui mereka yang berada di pintu 

masjid lalu  bersabda: "Pulanglah, semoga Allah merahmati kalian. Sungguh kalian telah 

mensejajarkan Hamzah dengan korban-korban kalian." 

Ibnu Hisyam berkata: Sejak waktu itulah, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melarang ratapan 

histeris terhadap jenazah. 

Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam mendengar jerit tangis wanita-wanita Anshar, beliau bersabda kepada mereka: "Semoga Allah 

merahmati orang-orang Anshar, sebenarnya  tenggang rasa yaitu  sikap mereka sejak lama. 

Perintahkan mereka pulang ke rumahnya masing- masing." 

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di rumah, beliau 

menyerahkan pedangnya kepada putrinya, kesayangannya Fathimah, sambil bersabda: "Bersihkanlah 

darah dari pedang ini wahai puteriku. Demi Allah, pedang ini  telah berlaku jujur kepadaku di hari 

ini." Ali bin Abu Thalib juga menyerahkan pedangnya kepada Fathimah sambil berkata: "Tolong 

pedang ini juga dibersihkan darahnya, karena sebenarnya  ia telah berlaku jujur kepadaku di hari 

ini!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika engkau berperang dengan jujur, 

sesunguhnya Sahl bin Hunaif dan Abu Dujanah telah juga berperang dengan jujur bersamamu dirimu." 

Ibnu Hisyam berkata: Pedang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dinamakan Dzul Faqar. 

Ibnu Hisyam berkata bahwa sebagian ulama berkata kepadanya bahwa Ibnu Abu Najih berkata: 

Seorang penyeru berseru di Perang Uhud: 

Tidak ada pedang kecuali pedang Dzul Faqar Dan tidak ada pemuda kecuali Ali 

Ibnu Hisyam berkata: Sebagian Ulama berkata kepadaku bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

bersabda kepada Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu: "Orang-orang musyrikin tidak akan pernah lagi 

mengalahkan kita sesudahnya (yakni Perang Uhud) sampai Allah memenangkan kita." 

Ibnu Ishaq berkata: Perang Uhud terjadi pada hari Sabtu pertengahan bulan Syawwal. 

 

 

Perang Hamra' al-Asad 

 

Keesokan harinya, yakni pada Ahad tanggal 16 Syawwal, penyeru Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam mengumumkan kepada kaum Muslimin dengan intruksi agar mereka mengejar musuh dan agar 

tidak ada seorang pun yang melakukan pengejaran bersama kami kecuali mereka yang ikut serta pada 

Perang Uhud kemarin. Beliau bersama para sahabatnya mengejar musuh untuk menakut-nakuti 

mereka agar saat mereka mendengar beliau melakukan pengejaran mereka berkesimpulan bahwa 

beliau jauh lebih kuat, dan bahwa apa yang menimpa para sahabatnya itu sama sekali tidak 

melemahkan semangat juang mereka. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan hingga tiba di Hamraul Asad yang 

berjarak delapan sekitar mil dari kota Madinah. 

Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk Ibnu Ummi Maktum sebagai 

imam untuk sementara di Madinah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menetap di Hamraul Asad 

hari Selasa, Rabu, dan Kamis, lalu  pulang kembali ke Madinah. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr berkata kepadaku bahwa Ma'bad bin Abu Ma'bad dari 

Khuza'ah berjalan melewati Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Orang Muslim dan orang kafir 

Khuza'ah yaitu  kepercayaan Rasululiah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dalam hal-hal yang bersifat 

rahasia di Tihamah. Beliau mempunyai kesepakatan dengan mereka bahwa mereka tidak boleh 

menyembunyikan apa saja yang terjadi di Khuza'ah. Saat itu, Ma'bad bin Abu Ma'bad yaitu  seorang 

musyrik. Ia berkata: "Wahai Muhammad, demi Allah, sungguh kami demikian berduka atas apa yang 

menimpa sahabat-sahabatmu dan kami berharap Allah menyelamatkanmu di tengah-tengah 

mereka." Usai mengatakan itu, Ma'bad bin Abu Ma'bad pergi sedang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam tetap di Hamraaul Asad dan bertemu dengan Abu Sufyan bin Harb beserta anak buahnya di Ar-

Rauha yang telah sepakat untuk kembali menghadapi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan para 

sahabatnya. Mereka berkata: "Kita telah berhasil mengalahkan kekuatan sahabat-sahabat 

Muhammad, tokoh-tokoh, dan pemimpin-pemimpin mereka, apakah lalu  kita pulang sebelum 

berhasil membasmi mereka hingga habis. Kini kita akan kembali balik untuk menghabisi sisa-sisa 

mereka." jika  

Abu Sufyan bin Harb melihat Ma'bad bin Abu Ma'bad, ia berkata: "Kabar apa yang engkau bawa, wahai 

Ma'bad?" Ma'bad menjawab: "Muhammad sedang melakukan dengan sahabat-sahabatnya sedang 

melakukan pengejaran terhadap kalian yang belum pernah aku lihat sebelumnya, karena mereka 

marah kepada kalian. Sahabat-sahabatnya yang tidak ikut bersamanya pada Perang Uhud kini 

semuanya bergabung dengannya dan menyesal karena tidak ikut perang. Mereka demikian marah 

kepada kalian, satu hal yang belum aku lihat sebelumnya." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Celakalah 

engkau, lalu apa pandanganmu?" Ma'bad bin Abu Ma'bad berkata: "Demi Allah, aku berpendapat 

hendaknya engkau pergi hingga lihat ubun-ubun kuda." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Demi Allah, 

sebenarnya  kami telah sepakat untuk balik kembali ke tempat mereka dan menghabisi sisa-sisa 

mereka." Ma'bad bin Abu Ma'bad berkata: Aku cegah engkau untuk melakukan tindakan seperti itu. 

Demi Allah, sungguh apa yang aku lihat membuatku mendendangkan syai-syair tentang mereka." Abu 

Sufyan bin Harb berkata: 'Syair-syair seperti apa yang engkau lantunkan tentang mereka?' Ma'bad bin 

Abu Ma'bad berkata: "Aku berkata: 

Hewan kendaraanku nyaris tersungkur karena suara-suara 

jika  bumi mengalir dengan kuda-kuda dalam berkelompok-kelompok Kuda-kuda itu lari dengan 

singa-singa mulia yang tidak pendek di saat perang  

Tiada bersenjata dan tiada mampu bertahan di atas pelana kuda 

Aku terus berlari karena menduga bumi telah menjadi miring 

Kala mereka menyerangkami denganpemimpin nan pantang mundur 

Aku katakan: Celakalah anak Harb bila berjumpa dengan kalian” 

Jika bumi berguncang dengan sekumpulan manusia  

Aku ingatkan penduduk tanah suci yang menyembah berhala secara terbuka  

Bagi setiap orang yang masih berakal  

Dari pasukan Ahmad yang di dalamnya tidak ada tandingan 

Apa yang aku katakan ini tidak bisa diurai lewat ungkapan kata 

 

Syair-syair di atas mengurungkan keinginan Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya untuk pergi ke 

Madinah. 

Kafilah musafir dari Bani Abdul Qais melewati Ma'bad bin Abu Ma'bad, lalu  Ma'bad bin Abu 

Ma'bad berkata kepada mereka: "Mau ke mana kalian?" Mereka menjawab: "Ke Madinah?" Ma'bad 

bin Abu Ma'bad berkata: "Apa keperluan kalian pergi ke Madinah?" Mereka menjawab,: "Kami hendak 

pergi ke Al-Mirah." Ma'bad bin Abu Ma'bad berkata: "Maukah kalian membawakan suratku kepada 

Muhammad? jika  kalian bersedia, aku akan membawakan anggur ini pada kalian di Pasar Ukadz 

esok pagi?" Mereka menjawab: "Ya." Ma'bad bin Abu Ma'bad berkata: "Jika kalian bersedia, katakan 

pada Muhammad bahwa kami telah sepakat kembali balik kepadanya dan sahabat-sahabatnya untuk 

menghabisi seluruh sisa-sisa mereka." Rombongan musafir ini  pun berjalan melewati Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Hamra al-Asad dan mereka menceritakan kepada beliau apa yang 

dikatakan Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 

"Cukuplah Allah bagi kita dan Dia sebaik-baik Pelindung." 

Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah berkata kepada kami bahwa jika  Abu Sufyan bin Harb dan anak 

buahnya pulang dari Perang Uhud lalu ia berencana kembali balik ke Madinah untuk menghabisi 

seluruh sisa-sisa sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana yang mereka 

rencanakan, Shafwan bin Umaiyyah bin Khalaf berkata kepada mereka: "Janganlah kalian kerjakan itu, 

karena mereka sedang dilanda marah besar. Kita khawatir mereka memiliki semangat tempur yang 

tidak sebelumnya tidak mereka miliki, maka kembalilah kalian ke Makkah." Abu Sufyan bin Harb dan 

anak buahnya pun pulang ke Makkah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang saat itu berada di 

Hamra al-Asad dan mendengar orang-orang Quraisy bertekad untuk balik menyerangnya bersabda: 

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, batu telah ditandai buat mereka. Seandainya mereka 

diserang dengannya, pasti mereka akan mengalami seperti yang kemarin mereka alami." 

Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah berkata kepadaku bahwa sebelum pulang ke Madinah, Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam menangkap Muawiyah bin Al-Mughirah bin Abu Al-Ash bin Umaiyyah bin 

Abdu Syams, kakek dari Abdul Malik bin Marwan karena ia ayah dari ibunya yang bernama Aisyah binti 

Muawiyah dan juga menangkap Abu Azzah Al-Jumahi. Rasulullah pernah menawannya Shallalahu 

'alaihi wa Sallam menawan Abu Azzah Al-Jumahi di Perang Badar, lalu membebaskannya. Abu Azzah 

Al-Jumahi berkata: "Wahai Rasulullah, bebaskanlah aku!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

bersabda AKU KataKan: "Tidak, demi Allah, engkau tidak lagi bisa membasuh kedua sisi badanmu di 

Makkah lalu kau katakan: Aku telah menipu Muhammad dua kali.' Habisi ia, wahai Zubair." Zubair pun 

menghabisinya. 

Ibnu Hisyam berkata: Aku mendengar dari Sa'id bin Al-Musayyib yang berkata bahwa Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Abu Azzah Al-Jumahi: "sebenarnya  orang Mukmin 

tidak mungkin disengat dari lubang yang sama hingga dua kali. Habisi, hai Ashim bin Tsabit." Ashim 

bin-Tsabit pun menghabisi Abu Azzah Al- Jumahi. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Ubay bin Salul, sebagaimana dituturkan dikatakan kepadaku oleh 

Ibnu Syihab Az-Zuhri, mempunyai tempat berpidato di setiap hari Jum'at dan tidak ada yang 

melarangnya karena kemuliaan pada diri dan pada kaumnya. Ia orang terhormat di tengah-tengah 

kaumnya. jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam duduk dari khutbah Jum'at, Abdullah bin Ubai 

bin Salul berdiri dan berkata: "Wahai manusia, inilah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di tengah-

tengah kalian. Dengannya, Allah memuliakan dan memenangkan kalian. Oleh karena itu, tolonglah 

dan bantulah dia, dengar dan taatilah." Usai mengatakan itu Abdullah bin Ubai bin Salul duduk. sesudah  

melakukan tindakan tidak sepatutnya pada Perang Uhud dan kaum Muslimin pulang dari Perang 

Uhud, ia tetap melakukan seperti apa yang dia lakukan sebelumnya. Namun kaum Muslimin 

memegang bajunya dari seluruh sisinya dan berkata kepadanya: "Duduklah engkau, hai musuh Allah, 

demi Allah, tidaklah pantas bagimu melakukan seperti dulu lagi. Engkau telah berbuat tidak pantas 

sebelum ini." Abdullah bin Ubay bin Salul keluar berjalan di tengah-tengah manusia dengan 

melangkahi bahu-bahu mereka sambil berkata: "Demi Allah, aku berkata tentang sesuatu yang besar 

jika  berdiri memperkuat urusannya (Rasulullah). ' Salah seorang dari kaum Anshar yang berpapasan 

dengan Abdullah bin Ubay bin 

Salul di pintu masjid berkata: "Celakalah engkau, apa yang terjadi pada dirimu?" Abdullah bin Ubay 

bin Salul menjawab: "Aku berdiri mendukungnya namun salah seorang sahabatnya melompat ke 

arahku, menarikku dan menjelek-jelekkanku, seakan-akan aku akan mengatakan suatu yang 

menakutkan padahal itu untuk mendukungnya." Sahabat dari kaum Anshar ini  berkata: "Bodoh 

sekali kau ini, kembalilah menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan mohonlah padanya 

untuk memintakan ampunan dari Allah untuk dirimu!" Abdullah bin Ubay bin Salul berkata: "Demi 

Allah, aku tidak membutuhkannya untuk memintakan ampunan kepada Allah buat diriku." 

Ibnu Ishaq berkata: Perang Uhud yaitu  ujian, pembersihan dan seleksi. Dengan perang ini, Allah Ta 

'ala menguji kaum Mukminin dan membongkar topeng orang-orang munafik yang menampakkan 

iman dengan lisan namun menyembunyikan kekafiran dalam hatinya. Di samping itu Perang Uhud 

yaitu  hari di mana di dalamnya Allah Ta'ala memuliakan wali-wali-Nya yang hendak Dia muliakan 

dengan gugur sebagai para syuhada' di jalan-Nya. 

 

 

Ayat-ayat Al-Quran yang Turun tentang Perang Uhud  

 

Ibnu Hisyam berkata: Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai berkata kepadaku dari Muhammad bin Ishaq Al-

Muththallibi yang berkata: "Di antara ayat-ayat yang diturunkan Allah Subhanahu wa Ta'ala tentang 

Perang Uhud ialah enam puluh ayat yang ada pada surat Ali Imran. Pada ayat-ayat ini  terdapat 

penjelasan tentang apa yang terjadi pada kaum muslimin di Perang Uhud dan celaan Allah kepada 

orang yang Dia cela di antara mereka. 

Allah berfirman kepada Nabi-Nya: 

 

Dan (ingatlah), jika  kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan 

para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha 

Mengetahui (QS. Ali Imran: 121). 

Ibnu Hisyam berkata: tubawwiu al-mu'minin maksudnya yaitu  kau membuat tempat duduk dan 

tempat tinggal buat mereka. Al-Kumaitu bin Zaid berkata: 

Andaikata aku ada sebelum dia Telah aku siapkan tempat berbaringnya 

Bait syair ini yaitu  miliknya. Sami'un maksudnya Allah mendengar apa yang mereka katakan. Alim 

maksudnya Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan. 

lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

 

jika  dua golongan dari padamu ingin (mundur) karena takut, padahal Allah yaitu  Penolong bagi 

kedua golongan itu. Karena itu hendaklah karena Allah saja orang-orang mukmin bertawakal (QS. Ali 

Imran: 122). Tafsyalaa maksudnya saling berkhianat. Kedua golongan yang disebutkan pada ayat di 

atas ialah Bani Salimah bin Jusyam bin Khazraj dan Bani Haritsah bin An-Nabit dari Aus. 

Wallahu waliyyuhuma maksudnya Allah menyingkirkan niat tidak ingin menolong dari kedua 

kelompok ini . Awalnya, kedua golongan ini  berniat tidak memberikan pertolongan kepada 

Rasulullah Shallalahu Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Ibnu Ishaq berkata: Allah Ta'ala berfirman: 

karena itu, hendaklah karena Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal (QS. Ali Imran: 122), 

maksudnya bila ada di antara kaum Mukminin merasa tak berdaya, hendaklah ia bertawakkal dan 

meminta pertolongan kepada Allah, niscaya Allah menolong urusannya dan melindunginya hingga Aku 

sampai dengannya, melindunginya, dan memperkuat niatnya. lalu  Allah Ta'ala berfirman: 

 

Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu yaitu  orang-orang 

yang lemah (jika  itu). Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya. (QS. Ali 

Imran: 123). 

Yakni, bertakwalah kalian kepada-Ku karena takwa yaitu  refleksi syukur atas nikmat-Ku. Sungguh 

Allah telah menolong kalian di Perang Badar. Dimana saat itu kalian berjumlah sedikit dan kekuatan 

kalian sangatlah lemah. 

 

(Ingatlah), jika  kamu mengatakan kepada orang mukmin: "Apakah tidak cukup bagi kamu Allah 

membantu kamu dengan tiga ribu malaikatyang diturunkan (dari langit)?" ya (cukup), jika kamu 

bersabar dan bertakwa dan mereka datang menyerang kamu dengan sejika  itujuga, niscaya Allah 

menolongkamu dengan lima ribu Malaikat yang memakai tanda (QS. Ali Imran: 124-125). 

Yakni jika  kalian bersabar terhadap musuh-Ku, menataati perintah-Ku, lalu mereka datang dari 

depan kalian, Aku akan menolong kalian dengan lima ribu malaikat yang kesemuanya memakai tanda. 

Ibnu Hisyam berkata: Musawwimin artinya memakai tanda. Telah dituturkan kepada kami dari Al-

Hasan bin Abu Al-Hasan Al-Bashri yang berkata: Para malaikat membuat tanda pada ekor dan ubun-

ubun kuda mereka dengan kain wol putih. Sedang Ibnu Ishaq berkata bahwa tanda para malaikat di 

Perang Badar ialah dengan memakain sorban-sorban putih dan hal ini telah aku uraikan pada 

pembahasan Perang Badar. 

Sima' artinya: tanda. Sebagaimana disebutkan dalam Al-Quran: 

 

 

Tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud (QS. al-Fath: 29), yakni tanda-tanda 

mereka. 

Pada ayat lain Allah berfirman: 

 

Dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi yang diberi tanda 

oleh Tuhanmu (QS. Huud: 82- 83), musawwamah: yang ditandai. 

Telah sampai kepada saya dari Al-Hasan bin Abil Hasan al-Bashri bahwa sebenarnya  dia berkata: Di 

atasnya ada tanda dan bahwa sebenarnya  batu itu bukan dari bebatuan dunia, batu itu yaitu  batu 

adzab. 

Ru'bah bin al-Ajjaj berkata: 

Kini mereka mendapat ujian di atas kuda saat bertemu aku 

Mereka tidak bisa menghentikan walaupun memakai tanda 

Mata mereka kuyu dan sayu karena terlalu cepat berlari 

 

Ajdzamu (dengan huruf dzal) maknanya bersegera sedangkan jika menggunakan huruf (dal) maka 

maknanya yaitu  menyerah. Bait ini terdapat dalam syair rajaz-nya. Musawwamah juga bermakna 

pilihan (peliharaan/ gembalaan). Sebagaimana disebutkan dalam ayat Al-Quran: 

 

Kuda pilihan (QS. Ali Imran: 14), 

 

Yang pada (tempat tumbuhnya) kamu menggembalakan ternakmu (QS. an-Nahl: 10). Orang-orang 

Arab berkata: Sawwama khailahu wa ibilahu wa asamahaa: artinya yaitu  menggembalakannya. Al-

Kumaitu bin Zaid berkata: 

Dia penggembala kambingyang baik, kini kita kehilangan dia 

Sedangkan kehilangan penggembala itu sama dengan kehilangan gembalaan  

 

Ibnu Hisyam berkata: musjiya artinya seorang penggembala yang cakap dan baik pada binatang 

gembalaannya. Bait ini yaitu  miliknya. Allah berfirman: 

 

Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai kabar gembira bagi 

(kemenangan)mu, dan agar tenteram hatimu karenanya. Dan kemenanganmu itu hanyalah dari Allah 

Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (QS. Ali Imran: 126). 

Yakni, pasukan dari malaikat-malaikat Allah yang Allah sebutkan tidak lain yaitu  kabar gembira bagi 

kalian dan agar hati kalian menjadi tenang karenanya, karena Allah mengetahui ketidak berdayaan 

kalian dan kemenangan itu berasal dari kekuasaan dan kemampuan Allah. Itu karena keperkasaan dan 

kebijaksanaan itu milik Allah dan bukan milik seorang pun dari makhluk Allah. 

Lalu, Allah berfirman: 

 

(Allah menolong kamu dalam perang Badar dan memberi bala bantuan itu) untuk membinasakan 

segolongan orang-orangyang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali dengan 

tiada memperoleh apa-apa. (QS. Ali Imran: 127). 

Yakni, agar Allah menghancurkan orang-orang musyrik dengan pembunuhan sebagai pembalasan 

Allah terhadap mereka atau mengalahkan mereka dalam keadaan mengenaskan. Artinya, orang yang 

masih hidup di antara mereka pulang dalam keadaan gagal tanpa mendapat  apa yang selama ini 

mereka inginkan. 

Ibnu Hisyam berkata: Yakbitahum, yakni menjadikan mereka sedih sesedih sedihnya dan mencegah 

mereka untuk mendapat  apa yang mereka inginkan. 

Dzu Rummah berkata: 

Kala aku lupakan derita masa laluku.  

Aku tidak akan lupa kebingungan kami  

Antara gembira dan kecewa 

 

Yakbitahum juga berarti: melempar mereka dan menjadikan mereka terjembab dengan mukanya. 

Ibnu Ishaq berkata: Lalu, Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam: 

 

Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima tobat mereka, 

atau mengadzab mereka, karena sebenarnya  mereka itu orang-orang yang zalim (QS. Ali Imran: 

128). Yakni engkau tidak memiliki otoritas untuk menentukan apapun atas hamba-hamba Allah. 

Kecuali apa yang Allah perintahkan kepadamu mengenai mereka, atau Allah beri ampunan kepada 

mereka dengan rahmat Allah. Jika Allah mau maka Allah lakukan. Atau Allah siksa mereka dengan 

dosa-dosa mereka sesuai dengan hak-Nya karena sebenarnya  mereka itu yaitu  orang-orang yang 

zalim. Apa yang mereka lakukan sebenarnya telah layak bagi mereka untuk disiksa karena maksiat 

mereka kepada-Nya. Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yakni mengampuni dosa dan me 

nyayangi hamba-hamba-Nya terhadap apa yang mereka lakukan. 

lalu  Allah Ta 'ala berfirman: 

 

Hai orang-orangyang beriman, janganlah kalian memakan riba dengan berlipatganda (QS. Ali Imran: 

130). 

Yakni, janganlah kalian memakan riba saat kalian telah masuk dalam Islam, karena dengannya Allah 

memberi petunjuk kalian kepada hal-hal haram yang akan kalian makan jika kalian berada di luar Islam. 

lalu  Allah berfirman: 

 

Dan bertakwalah kalian kepada Allah supaya kalian beruntung (QS. Ali Imran: 130). 

Yakni, taatilah Allah, semoga kalian selamat dari siksa yang telah diperingatkan Allah kepada kalian 

dan kalian mendapat  pahala dimana Allah membuat kalian senang kepadanya. sesudah  itu, Allah 

berfirman: 

 

Dan peliharalah diri kalian dari api neraka yang disediakan untuk orang-orang yang kafir (QS. Ali 

Imran: 131), yakni, neraka yang dijadikan sebagai tempat tinggal bagi orang yang kafir terhadap-Ku. 

Sesudah itu, Allah berfirman: 

 

Dan taatilah Allah dan Rasul supaya kalian dirahmati (QS. Ali Imran: 132). Ayat ini sebagai suatu celaan 

dan kecaman bagi para sahabat yang tidak taat kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika  

beliau memerintahkan suatu perkara kepada mereka pada Perang Uhud dan pada peristiwa-peristiwa 

lainnya. 

Sesudah itu, Allah berfirman: 

 

Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit 

dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa (QS. Ali Imran: 133) maksudnya, surga 

ini  menjadi tempat tinggal bagi siapa saja yang taat kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku. 

Sesudah itu, Allah berfirman: 

 

(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) baik di waktu lapai maupun sempit dan orang-

orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang 

yang berbuat kebaikkan. (QS. Ali Imran: 134) yakni, itu semua kebajikan(ihsan) dan Aku mencintai 

siapa saja yang melakukannya. 

Sesudah itu, Allah Ta'ala berfirman: 

 

Dan (juga) orang-orangyang jika  mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, 

mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat 

mengampuni dosa selain dibandingkan  Allah? Dan mereka tidak menerus- kan perbuatan kejinya itu, 

sedang mereka mengetahui. (QS. Ali Imran: 135), yakni, jika mereka melakukan perbuatan keji "atau 

menzalimi diri mereka sendiri" (QS. Ali Imran: 135) dengan bermaksiat kepada Allah, maka mereka 

ingat larangan Allah dari perbuatan ini  dan apa saja yang diharamkan-Nya kepada mereka, lalu 

mereka meminta ampun kepada-Nya atas segala dosa mereka dan mereka mengetahui bahwa tidak 

ada seorangpun yang bisa mengampuni dosa-dosa kecuali Allah. 

Wa lam yushirruu 'ala maa fa'aluu wa hum ya'lamuun, artinya mereka tidak terus menerus melakukan 

maksiat kepada-Ku seperti perbuatan orang yang melampaui batas dalam kekafiran mereka "padahal 

mereka mengetahui" (QS. Ali Imran: 135) apa yang Aku haramkan atas mereka dalam hal ibadah 

kepada selain Aku. 

Sesudah itu Allah berfirman: 

 

Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir 

sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang 

beramal (QS. Ali Imran: 136) yakni pahala orang-orang yang taat. 

sesudah  menyebutkan musibah yang menimpa kaum Muslimin dan ujian yang terjadi pada mereka, 

saringan terhadap apa yang ada pada mereka penunjukan beberapa orang dari mereka menjadi 

syuhada', Allah berfirman menghibur mereka, menjelaskan apa yang mereka kerjakan, dan apa yang 

Allah lakukan pada mereka: 

 

sebenarnya  telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; karena itu berjalanlah kamu di muka 

bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. Ali 

Imran: 137). 

Yakni, sebelum ini telah terjadi peristiwa-peristiwa hukuman dari Allah kepada orang-orang yang 

mendustakan rasul-Nya dan menyekutukan-Nya, seperti kaum Ad, Tsamud, Luth, dan penduduk 

Madyan. Sehingga mereka bisa melihat contoh-contoh hukuman yang Allah timpakan pada mereka 

dan kepada orang-orang yang sejalan dengan mereka. Allah memberi jangka waktu agar mereka tidak 

mengira bahwa hukuman-Nya telah terputus dari musuh kalian dan musuh-Nya. Karena pergantian 

yang Allah putar kepada kalian ditujukan agar dengan cara itu Allah mengetes kalian dan mengetahui 

apa yang ada pada kalian. 

lalu  Allah berfirman: 

 

(Al Quran) ini yaitu  penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-

orang yang bertakwa. (QS. Ali Imran: 138), yakni, Al-Qur'an ini sebagai penjelasan bagi manusia jika 

mereka mau menerima hidayah. Ia yaitu  petunjuk dan pelajaran serta adab bagi orang-orang 

bertakwa yaitu orang yang taat kepada-Ku dan tahu perintah-Ku. 

Selanjutnya Allah Ta'ala berfirman: 

 

Janganlah kalian bersikap lemah dan jangan lah (pula) kalian bersedih hati (QS. Ali Imran: 139), yakni, 

janganlah kalian merasa lemah dan putus harapan karena musibah yang menimpa kalian. lalu  

Allah berfirman: 

 

Padahal kalianlah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya). (QS. Ali Imran: 139), artinya 

kemenangan dan hasil akhir yang indah itu yaitu  milik kalian. 

Lalu Allah berfirman: 

 

Jika kalian orang-orang yang beriman (QS. Ali Imran: 139), artinya jika kalian membenarkan nabi-Nya 

serta semua apa yang dia bawa dari-Nya. 

sesudah nya Allah berfirman: 

 

Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sebenarnya  kaum (kafir) itu pun (pada perang 

Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di 

antara manusia (QS. Ali Imran: 140), artinya, Aku putar hari-hari baik dan buruk di antara manusia 

untuk proses ujian dan penyaringan. 

Pada ayat selanjutnya Allah berfirman: 

 

Dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya 

sebagian kalian dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada, dan Allah tidak menyukai orang-orang yang 

zalim (QS. Ali Imran: 140), yakni, agar Allah membedakan antara orang-orang mukmin dengan orang-

orang munafik dan memuliakan orang-orang mukmin dengan menjadikannya sebagai syuhada'. Dan 

Allah tidak menyukai orang-orang Zalim (QS. Ali Imran: 140), yakni orang-orang munafik yang 

mengumbar ketaatan dengan mulut berbusa sedangkan hati mereka terus-menerus berkubang 

dengan dosa. 

Allah berfirman: 

 

Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman (QS. Ali Imran: 41), artinya Allah mengetes 

orang-orang beriman karena ingin menyaring mereka dengan ujian yang ditimpakan pada mereka, 

melalui kesabaran dan keyakinan mereka.  

sesudah nya, Allah Ta’ala berfirman: 

 

Dan membinasakan orang-orang yang kafir. (QS. Ali Imran: 141). artinya, membatalkan perkataan 

orang-orang munafik dengan mulut mereka yang tidak berasal dari hati mereka sehingga terlihat jelas 

kekafiran yang selama ini mereka sembunyikan. 

Selanjutnya Allah berfirman: 

 

Apakah kalian kira bahwa kalian akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang 

berjihad di antara kalian dan belum nyata orang-orangyang sabar (QS. Ali Imran:142). Artinya, apakah 

kalian menyangka akan masuk surga dan mendapat  balasan kemuliaan dari Allah, padahal Allah 

belum menguji kalian dengan penderitaan dan hal-hal yang tidak mengenakkan sehingga dengan cara 

itu Allah menangkap kejujuran kalian dengan beriman kepada-Nya dan bersabar atas apa pun yang 

menimpa kalian di jalan-Nya. Kalian pernah mengharapkan mati syahid karena kebenaran yang ada 

pada diri kalian sebelum kalian bertemu dengan musuh kalian. Yang dimaksud dengan kalian pada 

ayat ini yaitu  para sahabat yang meminta Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk keluar 

bersama mereka menghadapi musuh karena mereka sebelumnya tidak ikut pada Perang Badar. 

Mereka berharap dengan keluar menghadapi musuh, mereka bisa mati syahid yang sebelumnya tidka 

mereka dapatkan. Selanjutnya Allah berfirman: 

 

sebenarnya  kalian mengharapkan mati sebelum kalian menghadapinya (QS. Ali Imran: 143) 

Allah selanjutnya berfirman: 

 

(Sekarang) sungguh kalian telah melihatnya dan kalian menyaksikannya (QS. Ali Imran: 143), artinya, 

kalian sekarang saksikan kematian di pedang-pedang lawan kalian, Allah membuat jarak antara kalian 

dengan musuh kalian sedang saat itu kalian melihat mereka lalu  Allah mencegah mereka dari 

kalian. 

Selanjutnya Allah berfirman: 

 

Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya bebe- rapa orang 

rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa yang 

berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun; dan Allah 

akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali Imran: 144), yakni apakah karena 

adanya perkataan manusia: Muhammad meninggal dunia atau terbunuh, kalian akan keluar dari 

agama Islam, menjadi kafir seperti sebelumnya, meninggalkan jihad melawan musuh, meninggalkan 

Kitab Allah, dan meninggalkan agama-Nya yang ditinggalkan nabi kalian? Padahal Muhammad telah 

menerangkan kepada kalian dalam apa yang ia bawa dari Allah bahwa ia akan meninggal dan 

meninggalkan kalian! 

"Wa man yanqalib 'ala aqibaihi" (Barang siapa yang berbalik ke belakang) maksudnya murtad dari 

agamanya. 

"Falan yazhurrahullaha syai'an" (maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit 

pun), yakni bahwa keluarnya seseorang dari agama Islam sama sekali tidak akan mengurangi 

keperkasaan Allah, kerajaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan kemampuan-Nya. 

"Wa sayazjillahusy syakirin" (dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur) 

yakni, Allah akan memberi balasan orang-orang yang taat dan melaksanakan perintah-Nya. 

Selanjutnya Allah Ta 'ala berfirman: Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin 

Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. (QS. Ali Imran: 145), yakni sebenarnya  

Muhammad Shallalahu alaihi wa Sallam memiliki ajal ajal yang ia akan sampai pada ajal itu. Jika Allah 

Ta'ala telah mengizinkannya pada ajalnya, maka dia akan menjemputnya. 

Selanjutnya Allah berfirman: 

 

Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah 

ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya 

pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya 

pahala akhirat. Dan Kami akan memberi balasan kepada orang- orang yang bersyukur. (QS. Ali Imran: 

145), artinya, jika  ada di antara kalian menginginkan dunia dan tidak menginginkan akhirat, maka 

Allah berikan rizki yang ditentukan baginya, tidak lebih dari itu, dan ia tidak meraih apapun di akhirat 

kelak. Sebaliknya barang siapa mengharapkan pahala akhirat, maka apa yang dijanjikan akan diberikan 

kepadanya termasuk rizki di dunia dan itulah balasan bagi orang-orang yang bersyukur, yaitu orang-

orang yang bertakwa. 

Selanjutnya Allah berfirman: 

Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) 

yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, 

dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. 

(QS. Ali Imran: 146). Artinya, berapa banyak nabi yang terbunuh, namun pengikut para nabi ini  

tidak menjadi lemah karena kematian Nabi mereka, tidak juga lemah dalam menghadapi musuh dan 

tidak menyerah karena musibah di medan jihad karena membela Allah dan agama-Nya. Demikian 

kesabaran itu dan Allah menyayangi orang-orang yang bersabar. 

Selanjutnya, Allah Ta 'ala berfirman: 

 

Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-

tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan 

tolonglah kami terhadap kaum yang kafir (QS. Ali Imran: 147). 

Ibnu Hisyam berkata: Kata tunggal dari ribbiyun yaitu  ribby. Sedangkan perkataan mereka rubab 

diperuntukkan untuk anak-anak Abdu Manat bin Add bin Thaihah bin Ilyas dan Dhabbah karena 

mereka berkumpul dan bersekutu. Dari sisi ini maksudnya yaitu  kelompok-kelompok. Sedangkan 

kata tunggal dari rubab yaitu  ribbah dan ribah. Yakni kumpulan tongkat dan anak panah dan 

sejenisnya. Maka mereka menyerupakan dengannya. 

Abu Dzu’aib al-Hudzali berkata: 

Mereka laksana kain pembungkus anak panah 

Yang mengalir di atas busur dan merekah 

 

Inilah yaitu  bait-bait yang dia karang. Sementara itu Umayyah bin Abi Shalt berkata: 

Di sekeliling begundal-begundal mereka ada kerumunan dalam jumlah besar  

Yang berbungkus baju-baju besi pelindung berpaku 

 

Ini yaitu  bait-bait yang dia tulis. 

Ibnu Hisyam berkata: Ar-Ribabah juga bermakna potongan kain yang dengannya anak panah 

dibungkus. 

Ibnu Hisyam berkata: as-sanur yaitu  baju besi, ad-dusur yaitu  paku-paku yang ada pada lingkaran. 

Allah berfirman: 

 

Dan Kami angkut Nuh ke atas (bahtera) yang terbuat dari papan dan paku (QS. al-Qamar: 13). 

Seorang penyair yang bernama Abul Akhzar al-Himmani dari Tamim mengatakan dalam sebuah 

syairnya: 

Dia memaku di ujung tangkal tombak yang tajam 

Ibnu Ishaq berkata: Yakni, katakanlah sebagaimana yang mereka katakan. Dan ketahuilah bahwa 

semua itu terjadi akibat dari dosa-dosa kalian. Mohonlah ampun sebagaimana halnya mereka 

meminta ampun. Lakukan agama kalian sebagaimana yang mereka lakukan. Janganlah kalian murtad 

dari agama kalian dengan berbalik arah. Mintalah sebagaimana mereka meminta-Nya untuk 

mengokohkan kaki-kaki kalian. Mintalah pertolongan-Nya sebagaimana mereka meminta pertolongan 

pada-Nya uniuK memenangkan atas orang-orang kafir. Apa yang mereka katakan telah terjadi, nabi 

mereka telah dibunuh namun mereka tidak melakukan sebagaimana yang kalian perbuat. Karena itu 

Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia berupa kemenangan atas musuh-musuh mereka, 

dan pahala yang baik di akhirat, dari apa yang Allah janjikan di dalamnya. Dan Allah menyukai orang-

orang yang berbuat kebaikan. 

 

Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menaati orang-orang yang kafir itu, niscaya mereka 

mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalujadilah kamu orang-orang yang rugi (QS. 

Ali Imran: 149). 

Yakni, dunia dan akhirat kalian menjadi sirna. sesudah nya, Allah berfirman: 

 

Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong. (QS. Ali Imran: 150) 

yakni, jika apa yang kalian ucapkan dengan mulut kalian itu benar-benar berasal dari hati kalian, maka 

berpegang teguhlah kepadanya, janganlah pernah meminta pertolongan kepada selain Allah, dan 

jangan murtad dari agama kalian. 

Selanjutnya Allah berfirman:  

 

akan Kami masukkan ke dalam hati orang kafir rasa takut (QS. Ali Imran: 151). Yakni Allah tolong 

kalian atas musuh-musuh kalian karena mereka menyekutukan-Nya dan Allah tidak memberikan 

hujjah buat mereka. Karenanya, janganlah kalian menyangka bahwa kemenangan itu milik mereka dan 

bukan milik kalian selagi kalian berpegang teguh kepada-Nya dan mengikuti perintah-Nya. Janganlah 

kalian mengira seperti itu karena musibah yang kalian derita dari musuh-musuh kalian karena dosa-

dosa kalian yaitu melanggar perintah-Nya dan tidak mematuhi Nabi-Nya. 

Selanjutnya Allah berfirman: 

 

Dan sebenarnya  Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, jika  kamu membunuh mereka 

dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai 

perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada 

orangyang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. lalu  

Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu; dan sebenarnya  Allah telah 

memaafkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang-orang yangberiman. 

(QS. Ali Imran: 152) Allah telah menepati janji-Nya kepada kalian dengan memberi kemenangan atas 

musuh-musuh kalian pada saat kalian membunuh mereka dengan pedang-pedang kalian dengan izin-

Nya, penguasaan-Nya kepada tangan-tangan kalian terhadap mereka, dan menghalangi tangan 

mereka terhadap kalian. 

Lalu, Allah mencela kaum muslimin karena lari dari Nabi mereka dan mereka diseru olehnya namun 

tidak mendengar seruannya   

 

"(Ingatlah) jika  kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di 

antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu 

kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dibandingkan  kamu 

dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali 

Imran: 153). 

Yakni, musibah demi musibah yang beruntun dalam bentuk terbunuhnya saudara-saudara kalian, 

menangnya musuh atas kalian, dan pengaruh provokasi seseorang kepada kalian bahwa nabi kalian 

telah terbunuh. Itulah di antara kesedihan demi kesedihan beruntun yang ditimpakan kepada kalian 

"supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dibandingkan  kamu" dengan tidak tercapainya 

kemenangan atas musuh sesudah  kalian melihat kemenangan ini  dengan mata kepala kalian "dan 

terhadap apa yang menimpa kamu" dari pembunuhan terhadap saudara-saudara kalian itu menimpa 

kalian hingga Aku hilangkan musibah dan kesedihan serta kegundahan dari kalian. lalu  Allah 

cegah dari mereka kedustaan setan bahwa Nabi mereka telah dibunuh. Maka tatkala mereka melihat 

Rasulullah masih hidup di antara mereka, terasa ringanlah apa yang menimpa mereka walaupun 

mereka menang sebelumnya. Terasa ringan pula musibah yang menimpa saudara-saudara mereka 

dengan kehadiran Sang Nabi Mulia 

Selanjutnya Allah berfirman: 

 

lalu  sesudah  kamu berduka-cita Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) 

kantukyang meliputi segolongan dibandingkan  kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri 

mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. 

Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) aaiam urusan imr 

Katakanlah: "Sesungguh-nya urusan itu seluruhnya di tangan Allah." Mereka menyembunyikan dalam 

hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita 

barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) 

di sini." Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan 

akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat mereka terbunuh." Dan Allah (berbuat demikian) 

untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. 

Allah Maha mengetahui isi hati. (QS. Ali Imran: 154). 

Yakni, Allah menurunkan kantuk sebagai bentuk rasa aman kepada orang-orang beriman dan mereka 

pun tidur nyenyak tanpa rasa takut sedikitpun. Sementara orang-orang munafik dibikin gelisah oleh 

diri mereka sendiri. Semua itu terjadi karena mereka tidak mengharapkan kemenangan. Oleh sebab 

itulah, Allah menyebutkan celaan dan kerugian mereka. sesudah nya, Allah berfirman kepada Nabi-Nya: 

Katakanlah: "Sekiranya kalian berada di rumah kalian." (QS. Ali Imran: 154). 

Yakni, jika  kalian tidak menghadiri perang yang mana di dalamnya Allah membuka rahasia-rahasia 

kalian, "niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu ke luar (juga) ke tempat 

mereka terbunuh" yaitu tempat lain selain tempat ini dimana mereka terbunuh di dalamnya sehingga 

dengan cara itu Allah menguji dan membersihkan apa yang ada di dalam dada dan hati kalian yang 

selama ini kalian sembunyikan. 

"Wallahu a'liimun bidzaatish shuduri" (Allah Mahamengetahui isi hati) yakni, semua yang mereka 

rahasiakan terhadap kalian itu semuanya diketahui Allah. 

Selanjutnya Allah berfirman: 

 

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir (orang-orang munafik) itu, 

yang mengatakan kepada saudara-saudara mereka jika  mereka mengadakan perjalanan di muka 

bumi atau mereka berperang: "Kalau mereka tetap bersama-sama kita tentulah mereka tidak mati 

dan tidak dibunuh." Akibat (dari perkataan dan keyakinan mereka) yang demikian itu, Allah 

menimbulkan rasa penyesalan yangsangat di dalam hati mereka. Allah menghidupkan dan 

mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran: 156). 

Yakni, janganlah kalian menjadi laksana orang-orang munafik yang menahan saudara-saudara mereka 

untuk berjihad di jalan Allah dan berjalan di muka bumi-Nya untuk patuh pada-Nya dan Rasul-Nya. 

jika  saudara-saudara mereka terbunuh, orang-orang munafiq berkata: "Andai kata mereka 

mematuhi kami, pastilah mereka tidak tidak terbunuh." 

Firman Allah, "Allah menimbulkan rasa penyesalan yang sangat di dalam hati mereka," maksudnya, 

karena tipisnya keyakinan mereka kepada Tuhan mereka. "Wallahu yuhyii wa yumiitu" (Allah 

menghidupkan dan mematikan) artinya, Allah mempercepat dan menunda ajal sesuai kehendak-Nya. 

Selanjutnya Allah berfirman: 

 

Sungguh kalau kamu gugur di jalan Allah atau meninggal, tentulah ampunan Allah dan rahmat-Nya 

lebih baik (bagimu) dari harta rampasan yang mereka kumpulkan. (QS. Ali Imran: 157) 

Yakni, kematian itu tidak mungkin bisa di hindari dan akan tetap terjadi. Maka meninggal di jalan Allah 

atau di bunuh di jalan-Nya itu lebih baik jika  mereka mengetahui dan meyakininya. Itu lebih baik 

dibandingkan  dunia sebab dunia itulah yang menyebabkan mereka tidak berangkat jihad karena takut mati 

dan terbunuh 

Selanjutnya Allah berfirman: 

 

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah-lembut terhadap mereka. Sekiranya 

kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu 

maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka 

dalam urusan itu. lalu  jika  kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada 

Allah. sebenarnya  Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali Imran: 159). 

Allah menyebutkan kepada Nabi-nya tentang sifat lembutnya kepada mereka, kesabarannya bergaul 

dengan mereka karena kelemahan mereka. Dan minimnya kesabaran mereka atas kekerasan dan 

tekanan jika  itu dia lakukan kepada mereka terhadap hal-hal dimana mereka selalu menentangnya 

atas apa yang diwajibkan atas mereka untuk mentaati Nabi-Nya. 

Ampunilah dosa-dosa orang yang melakukan dosa-dosa dari kalangan orang-orang beriman. Dan 

bermusyawarahlah, dengan tujuan agar kamu memperlihatkan pada mereka bahwa kamu mendengar 

pandangan mereka, dan meminta bantuan mereka walaupun sebenarnya bisa saja kamu tidak 

membutuhkan mereka. Ini sebagai usaha pendekatan komunikatif pada agama mereka. lalu  

jika  kamu telah membulatkan tekad atas satu perkara yang datang padamu dari-Ku dan perkara 

dalam agamamu dalam hal berjihad melawan musuhmu dan tidak ada pilihan lagi bagimu dan bagi 

mereka maka laksanakan selaras dengan apa yang diperintahkan kepadamu dan janganlah engkau 

mengikuti siapa saja yang berbeda pendapat denganmu dan hendaknya kamu berjalan dengan siapa 

yang sepakat denganmu. Dan bertawakallah kepada Allah, yakni ridhalah dengan-Nya. sebenarnya  

Allah senang terhadap orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. 

 

"Jika Allah menolong kamu, maka tak yaitu  orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah 

membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong 

kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin 

bertawakal. (QS. Ali Imran: 160). Yakni agar kalian tidak menyerahkan urusan Allah kepada manusia, 

sebaliknya serahkan urusan manusia kepada Allah. Dan hendaknya hanya kepada Allah dan bukan 

kepada manusia orang-orang mukmin bertawakkal. 

lalu  Allah berfirman: 

 

Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barang siapa yang 

berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa 

yang dikhianatkannya itu; lalu  tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia 

kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya. (QS. Ali Imran: 161). 

Yakni, tidak mungkin bagi seorang Nabi menyembunyikan apa yang dia emban dari Allah karena ada 

perasaan takut atau cinta pada manusia, karena pada Hari Kiamat nanti ia dibalas sesuai dengan apa 

yang telah diperbuatnya di dunia, tanpa ada kezaliman dan melampaui batas. 

 

Apakah orang yang mengikuti keridaan Allah sama dengan orang yang kembali membawa kemurkaan 

(yang besar) dari Allah dan tempatnya yaitu  Jahanam? Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. 

(QS. Ali Imran: 162). 

Yakni apakah orang yang taat kepada Allah yang berbalas surga dan keridhaan dari-Nya, sama dengan 

orang yang kembali dengan mendapat kemurkaan dari Allah, dan memang pantas untuk tertimpa 

kemurkaan-Nya yang tempat tinggalnya yaitu  neraka dan ia yaitu  Jahannam dua tempat terburuk, 

maka ketahuilah: 

 

(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka 

kerjakan. (QS. Ali Imran: 163), setiap orang memiliki derajat di surga atau neraka sesuai dengan apa 

yang mereka perbuat: yakni tidak ada yang tersembunyi bagi-Nya orang-orang yang taat kepada-Nya 

dan orang-orang yang bermaksiat kepada-Nya. 

lalu  Allah berfirman: 

 

Sungguh Allah telah memberi karuuia kepada orang-orang yang beriman jika  Allah mengutus di 

antara mereka seorang rasul darigolongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-

ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. 

Dan sebenarnya  sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka yaitu  benar-benar dalam kesesatan yang 

nyata. (QS. Ali Imran: 164) 

Yakni sungguh Allah telah menganugerahi karunia kalian dengan keutamaan wahai orang-orang 

beriman, tatkala Dia mengutus seorang Rasul dari kalangan kalian sendiri yang membacakan kepada 

kalian ayat-ayat-Nya yang kalian bicarakan dan yang kalian kerjakan. Lalu dia menerangkan kebaikan 

dan keburukan kepada kalian agar kalian mengenal kebaikan ini  lalu  melaksanakan dan 

mengenal keburukan ini  lalu menjaga diri darinya. Rasul itu juga menerangkan kepada kalian 

tentang keridhaan Allah kepada kalian jika  kalian mentaati-Nya lalu kalian memperbanyak 

ketaatan kepada-Nya dan menjauhi maksiat yang Dia murkai sehingga dengan demikian, kalian 

terlepas dari hukuman-Nya dan memperoleh pahala berupa surga. Padahal sebelumnya kalian buta 

dan tidak tahu tentang kebaikan, tidak meminta ampunan atas kejahatan yang dilakukan; tuli atas 

kebaikan, bisu atas kebenaran, dan buta dengan pengarahan yang baik. 

lalu  Allah memaparkan musibah yang menimpa kaum muslimin dengan firman-Nya: 

 

Dan mengapa ketikd kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah 

menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu 

berkata: "Dari mana datangnya (kekalahan) ini?" Katakanlah: "Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri." 

sebenarnya  Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali Imran: 165). 

Yakni, jika  kalian ditimpa musibah dengan tewasnya sahabat-sahabat kalian karena dosa-dosa 

kalian, karena sebelum itu kalian telah menimpakan musibah berlipat terhadap musuh kalian: 

pembunuhan dan penawanan di Perang Badar. Kalian lupa akan pelanggaran kalian terhadap apa yang 

diperintahkan Rasul kepada kalian, karena kalian lebih suka mengikuti kehendak diri kalian sendiri. 

Dan sebenarnya  Allah MahaKuasa atas semua yang Dia kehendaki untuk menimpakan hukuman 

atau mengampuni hamba-hamba-Nya. 

 

Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu yaitu  

dengan izin (takdir) Allah, dan agar Allah mengetahui siapa orang-orangyang beriman. (QS. Ali Imran: 

166). 

Yakni, kekalahan yang kalian alami saat berperangan dengan musuh itu yaitu  atas izin Allah. 

Kekalahan itu terjadi karena kalian tidak mentaati perintah Rasul sesudah pertolongan Allah 

mendatangi kalian dan sesudah  Allah tepati janji-Nya. Ini semua Allah lakukan untuk membedakan 

mana orang-orang beriman dan mana orang-orang munafik. sesudah  itu Allah berfirman: 

 

Dan supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafiq (QS. Ali Imran: 167), agar Allah 

tampakkan apa yang ada pada diri orang-orang yang munafik itu. 

lalu  Allah berfirman: 

 

Kepada mereka dikatakan: "Marilah ber- perang di jalan Allah atau pertahankanlah (dirimu)." Mereka 

berkata: "Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kamu." (QS. 

Ali Imran: 167). Orang-orang munafik yang dimaksud dalam ayat itu ini yaitu  Abdullah bin Ubay bin 

Salul dan kroni-kroninya yang berbalik pulang meninggalkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

jika  beliau keluar untuk menghadapi musuh-musuhnya kaum musyrikin pada perang Uhud. Orang-

orang munafik itu berkata: "Andaikata kami tahu bahwa kalian akan diperangi pasti kami akan 

berangkat bersama kalian dan kami membela kalian, namun kami