tidak memprediksi perang bakal
terjadi." Lalu Allah tampakkan apa yang selama ini mereka sembunyikan dalam diri mereka dalam
firman-Nya berikut:
Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran dibandingkan keimanan. Mereka mengatakan dengan
mulutnya apa yang tidak terkandung dalam hatinya. Dan Allah lebih mengetahui apa yang mereka
sembunyikan. (QS. Ali Imran: 167).
Yakni, orang-orang munafik berpura-pura beriman di tengah kalian padahal sebenarnya keimanan
yang mereka perlihatkan itu sama sekali tidak ada di hati mereka.
sesudah itu, Allah Ta'ala berfirman:
Orang-orang yang mengatakan kepada saudara-saudaranya (QS. Ali Imran: 168).
Yang dimaksud dengan saudara-saudaranya dalam ayat tadi yaitu keluarga orang munafik dan kaum
mereka yang mendapat musibah bersama kalian.
Sekiranya mereka mengikuti kita, tentulah mereka tidak terbunuh." Katakanlah: "Tolaklah kematian
itu dari dirimu, jika kamu orang-orang yang benar. " (QS. Ali Imran: 168).
Kematian itu pastilah terjadi. Maka jika kalian mampu menyingkirkan mereka, lakukanlah karena
mereka bersikap munafik dan tidak suka berjihad di jalan Allah karena menginginkan keabadian di
dunia dan menghindar dari maut.
lalu Allah berfiman kepada Nabi-Nya Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk menyeru orang-orang
beriman berjihad dan menganggap enteng terbunuh di medan laga.
Allah berfirman:
Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu
hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezki, mereka dalam keadaan gembira disebabkan karunia
Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang
masih tinggal di belakangyang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS. Ali Imran: 169-170), janganlah kalian menyangka
bahwa orang-orang yang terbunuh di jalan Allah itu mati. Mereka Allah hidupkan dan diberi rizki di
sisi-Nya di surga yang elok dan mempesona. Mereka riang gembira dengan karunia yang dilimpahkan
kepada mereka karena jihad mereka di jalan-Nya dan memberi kabar gembira kepada orang-orang
yang masih hidup. Artinya, mereka senang karena saudara-saudara mereka yang berjihad seperti
mereka itu bisa menyusul mereka sehingga bisa bersama-sama dapat memperoleh pahala Allah yang
diberikan kepada mereka. Allah mengikis ketakutan dan kesedihan dari diri mereka.
Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak
menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman (QS. Ali Imran: 171). Tatkala mereka menyaksikan
janji yang ditepati dan agungnya pahala.
Ibnu Ishaq berkata: Ismail bin Umaiyyah berkata kepadaku dari Abu Zubair dari Ibnu Abbas yang
berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Tatkala saudara-saudara kalian
syahid di Perang Uhud, Allah meletakkan ruh mereka di rongga burung yang berwarna hijau. Burung
ini terbang ke sungai-sungai surga, memakan buah-buahannva, dan bersarang di lampu-lampu
dari emas di bawah naungan Arasy. Tatkala mereka merasakan lezatnya minuman, makanan, dan
tempat tinggal maka mereka berkata: 'Andaikata saudara-saudaraku mengetahui apa yang diperbuat
Allah terhadap kami, pastilah mereka tidak meninggalkan jihad dan tidak berpaling mundur di kala
perang.' Allah Taala berfirman: Aku akan sampaikan hal ini kepada mereka atas nama kalian.'
lalu , Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya ayat 169 surat Ali Imran."123
Ibnu Ishaq berkata: Al-Harits bin Al- Fudhail berkata dari Mahmud bin Labid Al-Anshari dari Ibnu Abbas
yang berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salllam bersabda: "Para syuhada' berada di atas
sungai yang berkilap di pintu surga pada sebuah kubah hijau. Rizki mereka dari surga datang pada
kepada mereka setiap pagi dan senja hari.124
Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan kredibiltasnya berkata kepadaku dari Abdullah bin
Mas'ud yang pernah ditanya tentang ayat-ayat berikut: "Janganlah kalian kira bahwa orang-orang
yang gugur di jalan Allah itu mati, bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rizki."
(QS. al-Baqarah: 169).
Abdullah bin Mas'ud menjawab: Akupun pernah menanyakan pertanyaan ini lalu diberi jawaban
demikian: bahwa tatkala saudara-saudara kalian terbunuh di Perang Uhud, Allah meletakkan ruh
mereka di rongga burung berwarna hijau. Burung ini datang ke sungai-sungai surga, memakan
buah-buahannya, dan bersarang di lampu-lampu dari emas di bawah naungan Arasy. lalu Allah
Azza wa Jalla menampakkan diri kepada mereka sesaat dan berfirman,
"Wahai hamba-hamba-Ku, apa yang ingin kalian ada keinginan lain lagi untuk Aku kabulkan kepada
kalian?' Mereka menjawab, "Wahai Tuhan kami, tidak ada lagi yang lebih baik bagi kami dibandingkan
surga yang telah Engkau karuniakan kepada kami. Kami menikmati apa saja yang kami sukai di
dalamnya.' Allah menampakkan diri kepada mereka dan berfirman, 'Wahai hamba-hamba-Ku, apa
ada lagi permintaan lain yang ingin kalian minta dari-Ku?' Mereka menjawab: 'Wahai Tuhan kami,
bagi kami tidak ada lagi yang lebih baik dibandingkan surga yang telah Engkau karuniakan kepada kami.
Kami menikmati apa saja yang kami sukai di dalamnya.' lalu Allah menampakkan diri kembali
kepada mereka dan berfirman, 'Wahai hamba-hamba-Ku, apa lagi yang ingin kalian minta dari-Ku?'
Mereka menjawab: 'Wahai Tuhan kami, bagi kami tidak ada lagi yang lebih baik dibandingkan surga yang
telah Engkau karuniakan kepada kami. Kami menikmati apa saja yang kami sukai di dalamnya. Hanya
satu keinginan kami agar ruh kami dikembalikan pada jasad-jasad kami di dunia agar kami bisa sekali
lagi berjuang di jalan-Mu dan mati syahid di jalan-Mu.'125
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian sahabat- sahabatku berkata kepadaku dari Abdullah bin Muhammad bin
Aqil yang berkata: Aku mendengar Jabir Abdullah berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersabda, "Apa kau ingin mendengar kabar gembira wahai Jabir?' Aku menjawab, "Tentu saja
aku mau wahai Rasulullah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "sebenarnya ayahmu
yang gugur di Uhud dihidupkan Allah Azza wa Jalla lalu Dia berfirman kepadanya: "Hai Abdullah
bin Amr, apa yang engkau inginkan untuk Aku lakukan untuk mu?" Ayahmu menjawab, "Tuhanku, aku
ingin kembali lagi ke dunia agar bisa berjuang di jalan-Mu lalu terbunuh sekali lagi.”126
Ibnu Ishaq mengatakan, bahwa Amr bin Ubaid berkata dari Al-Hasan yang berkata bahwa Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, setiap Mukmin yang meninggal dunia lalu ingin
kembali ke dunia sesaat saja lalu diberikan padanya dunia serta isinya hanyalah orangyang mati
syahid. Ia ingin dikembalikan ke dunia untuk berperang di jalan Allah dan mati syahid sekali lagi."127
Ibnu lshaq berkata: lalu Allah berfirman:
(Yaitu) orang-orang yang menaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka. (QS.
Ali Imran: 172).
Yang dimaksud dengan yaitu orang-orang beriman pada ayat di atas yaitu mereka yang keluar
bersama Rasulullah Shallallahu Alaih wai Sallam ke Hamraul Asad sehari sesudah Perang Uhud
walaupun mereka sedang dalam sakit karena luka yang mereka derita. lalu Allah berfirman:
orangyang berbuat kebaikan di ahtara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar. (Yaitu)
orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan:
"sebenarnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah
kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab:
"Cukuplah Allah menjadi Penolongkami dan Allah yaitu sebaik-baik Pelindung. " (QS. Ali Imran: 172-
173).
Orang-orang yang mengatakan perkataan di atas kepada kaum Muslimin yaitu beberapa orang dari
kabilah Abdul Qais yang pernah mendengar Abu Sufyan bin Harb mendiskusikan sesuatu kepada
mereka. lalu mereka berkata: "sebenarnya Abu Sufyan bin Harb dan anak buahnya akan
kembali lagi kepada kalian." lalu Allah berfirman:
"Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat
bencana apa-apa, mereka mengikuti keridaan Allah. Dan Allah mempunyai karunia yang besar (QS.
Ali Imran: 174) Allah mempunyai karunia yang besar jika menjadikan kaum muslimin tidak
berpapasan dengan musuh mereka.
sesudah itu, Allah berfirman:
sebenarnya mereka itu tidak lain hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-
kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi
takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 175).
Selanjutnya Allah Ta'ala berfirman:
Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir (QS. Ali Imran: 176).
Maksud dari orang-orang yang sebentar lagi akan menjadi kafir pada ayat di atas yaitu orang-orang
munafik.
Selanjutnya Allah Ta'ala berfirman:
sebenarnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun. Allah
berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan
bagi mereka adzab yang besar. sebenarnya orang-orang yang menukar iman dengan kekafiran,
sekali-kali mereka tidak akan dapat memberi mudharat kepada Allah sedikit pun; dan bagi mereka
adzab yang pedih. Dan janganlah sekali-kali orang-orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh
Kami kepada mereka yaitu lebih baik bagi mereka. sebenarnya Kami memberi tangguh kepada
mereka hanyalah supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka adzab yang
menghinakan. Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan
kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik (mukmin). Dan
Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kamu hal-hal yang gaib, yakni apa yang Allah
akan ujikan kepada kalian agar kalian senantiasa siaga terhadap apa yang akan masuk pada kalian,
akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya. Yakni
memberitahukan tentanghal itu, karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya; dan jika
kamu beriman dan bertakwa, yakni kembali kepada Allah dan bertobat, maka bagimu pahala yang
besar. (QS. Ali Imran: 176-179).
Kalangan Muhajirin dan Anshar yang Menjadi Syuhada
Ibnu Ishaq berkata: Syuhada' Perang Uhud dari kalangan Muhajirin Quraisy dan Bani Hasyim bin Abdu
Manaf ialah Hamzah bin Abdul Muthalib bi Hasyim Radhiyallahu Anhu yang syahid dibunuh Wahsyi,
budak Jubair bin Muth'im.
Dari Bani Umaiyyah bin Abdu Syams ialah Abdullah bin Jahsy. Ia sekutu Bani Umaiyyah bin Abdu Syams
dari Bani Asad bin Khuzaimah.
Dari Bani Abduddar bin Qushay ialah Mush'ab bin Umair. Ia dibunuh oleh Ibnu Qami'ah Al-Laitsi.
Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah ialah Syammas bin Utsman.
Jumlah syuhada' Perang Uhud dari kalangan Muhajirin yaitu empat orang
Sedangkan Syuhada' Perang Uhud dari kaum Anshar yang dari Bani Abdul Ayshal yaitu : Amr bin
Muadz bin Ah-Nu'man, Al-Harits bin Anas bin Rafi'. Umarah bin Ziyad bin As-Sakan.
Ibnu Hisyam berkata: As-Sakan yaitu anak Rafi' bin Umru'ul Qais. Ada pula yang mengatakan As-
Sakn(tanpa fathah).
Ibnu Ishaq berkata: lalu Salamah bin Tsabit bin Waqasy, Amr bin Tsabit bin Waqasy, dua orang.
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah bercerita kepadaku bahwa ayah Salamah bin Tsabit
bin Waqasy dan Amr binTsabit bin Waqasy yang bernama Tsabit juga mati syahid pada Perang Uhud,
Rifa'ah bin Waqasy, Husail bin Jabir yang tidak lain yaitu Al-Yaman ayah dari Abu Hudzaifah. Ia (tanpa
sengaja) dibunuh kaum Muslimin sendiri karena mereka tidak tahu bahwa dia yaitu Husail lalu
Hudzaifah bin Al-Yaman bersedekah dengan diyatnya kepada kaum Muslimin yang membunuh
ayahnya, Shaifi bin Qaidzi, Habab bin Qaidhi, Abbad bin Sahl, Al-Harits bin Aus bin Muadz.
Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Abdul Asyhal yaitu dua belas orang.
Sementara itu jumlah syuhada' dari kalangan Ratij yaitu sebagai berikut: Iyas bin Aus bin Atik bin
Amr bin Abdul A'lam bin Zaura bin Jusyam Abdul Asyhal, Abid bin At-Tayyahan. Ibnu Hisyam berkata:
Ada yang berpendapat dia yaitu Atik bin At-Tayyahan, lalu yang terakhir yaitu Habib bin Yazid bin
Taim.
Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Ratij yaitu tiga orang.
Dari Bani Dzafar hanya satu orang, yaitu Yazid bin Hathib bin Umaiyyah bin Rafi'.
Dari Bani Amr bin Auf, yakni dari Bani Dzubai'ah bin Zaid yaitu : Abu Sufyan bin Al-Harits bin Qais bin
Zaid, Hanzhalah bin Abu Amir bin Shaifi bin Nu'man bin Malik bin Amah. Ia dimandikan para malaikat
dan dihabisi oleh Syaddad bin Al-Aswad bin Syaub Al-Laitsi.
Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Amr bin Auf, lebih tepatnya dari Dzubai'ah bin Zaid yaitu
dua orang.
Bani Abid bin Zaid hanya satu orang, Unais bin Qatadah.
Bani Tsa'labah bin Amr bin Auf yaitu sebagai berikut: Abu Habbah, saudara seibu Sa'ad bin
Khaitsamah. Ibnu Hisyam berkata: Abu Habbah yaitu Ibnu Amr bin Tsabit, Abdullah bin Jubair bin
An-Nu'man. Dialah komandan pasukan pemanah.
Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Tsa'labah bin Amr bin Auf yaitu dua orang.
Dari Bani As-Salm bin Umru'ul Qais bin bin Al-Aus hanya satu orang, yaitu Khaitsamah Abu Sa'ad bin
Khaitsamah
Dari sekutu-sekutu Bani As-Salm dari Bani Al-Ajlan hanya satu orang, yaitu Abdullah bin Salimah.
Dari Bani Muawiyah bin Malik hanya satu orang, yaitu Subay'i bin Hathib bin Al-Harits bin Qais bin
Haisyah. Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan ia bernama Suwaibiq bin Al-Harits bin Hathib
bin Haisyah.
Dari Bani An-Najjar tepatnya dari Bani Sawad Malik bin Ghanm yaitu : Amr bin Qais. Ibnu Hisyam
berkata: Amr yaitu anak Qais bin Zaid bin Sawad, dan anaknya Qais bin Amr, Tsabit bin Amr bin Zaid,
Amir bin Makhlad.
Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani An-Najjar tepatnya dari Bani Sawad bin Malik bin Ghanm
yaitu empat orang.
Dari Bani Mabdzul yaitu : Abu Habirah bin Al-Harits bin Alqamah bin Amr bin Tsaqf bin Malik bin
Mabdzul, Amr bin Mutharrif bin Alqamah bin Amr.
Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Mabdzul yaitu dua orang.
Dari Bani Amr bin Malik hanya satu orang, yaitu Aus bin Tsabit bin Al-Mundzir Ibnu Hisyam berkata:
Aus bin Tsabit yaitu saudara Hassan bin Tsabit.
Dari Bani Adi bin An-Najjar hanya satu orang, Anas bin An-Nadhr bin Dhamdham bin Zaid bin Haram
bin Jundab bin Amr bin Ghanm bin Adi bin An-Najjar. Ibnu Hisyam berkata: Anas bin An-Nadhr yaitu
paman Anas bin Malik, pembantu Rasulullah Shal- lallahu 'Alaihi Sallam.
Dari Bani Mazin bin An'Najjar yaitu : Qais bin Mukhallad, Kabsan budak Bani Mazin bin An-Najjar.
Jadi syuhada' Perang Uhud dari Bani Mazin bin An-Najjar ada dua orang.
Dari Bani Dinar bin An-Najjar yaitu : Sulaim bin Al-Harits, Nu'man bin Abdu Amr.
Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Dinar bin An-Najjr yaitu dua orang
Dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj yaitu : Kharijah bin Zaid bin Abu Zuhair,. Sa'ad bin Ar-Rabi' bin Amr
bin Abu Zuhair. Kharijah bin Zaid dan Sa'ad bin Ar-Rabi' dimakamkan di satu kuburan, Aus bin Al-Arqam
bin Zaid bin Qais bin Nu'man bin Malik bin Tsa'labah bin Ka'ab.
Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Al-Harits bin Al-Khazraj ada tiga orang.
Dari Bani Al-Abjur yang merupakan anak- anak keturunan Khudrah yaitu : Malik bin Sinan bin Ubaid
bin Tsa'labah bin Ubaid bin Al-Abjur. Malik bin Sinan tidak lain yaitu Abu Sa'id Al-Khudri. Ibnu Hisyam
berkata: Nama Abu Sa'id Al-Khudri yaitu Sinan. Ada juga yang mengatakan Sa'ad, Sa'id bin Suwaid
bin Qais bin Amir bin Abbad bin Al-Abjur, Utbah bin Rabi' bin Rafi' bin Muawiyah bin Ubaid bin
Tsa'labah bin Ubaid bin Al-Abjur.
Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Al-Abjur yaitu tiga orang.
Dari Bani Saidah bin Ka'ab bin Al-Khaz- raj yaitu : Tsa'labah bin Sa'ad bin Malik bin Khalid bin Tsa'labah
bin Haritsah bi Amr bin Al-Khazraj bin Saidah, Saqf bin Farwah bin Al-Badi.
Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Saidah bin Ka'ab bin Al-Kharaj yaitu dua orang.
Dari Bani Auf bin Al-Khazraj lalu dari Bani Salim lalu dari Bani Malik bin Al-Ajlan bin Zaid
bin Ghanm bin Salim yaitu :
Naufal bin Abdullah, Abbas bin Ubadah bin Nadhlah bin Malik bin Al-Ajlan, An-Nu'man bin Tsa'labah
bin Fihr bin Ghanm bin Salim, Al-Mujadzdzir bin Dziyad sekutu mereka dari Baly, Ubadah bin Al-Hashas.
An-Nu'man bin Malik, Al-Mujadzdzir, dan Ubadah dimakamkan di satu liang lahat.
Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Malik bin Al-Ajlan bin Zaid bin Ghanm bin Salim yaitu lima
orang.
Dari Bani Al-Hubla hanya satu orang, yaitu Rifa'ah bin Amr.
Dari Bani Salimah lalu dari Bani Haram yaitu : Abdullah bin Amr bin Haram bin Tsa'labah bin
Haram, Amr bin Al-Jamuh bin Zaid bin Haram. Abdullah bin Amr dan Amr bin Al-Jamuh dimakamkan
di satu lang lahat, Khallad bin Amr bin Al-Jamuh bin Zaid bin Haram, Abu Aiman mantan budak Amr
bin Al-Jamuh.
Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Haram yaitu empat orang.
Syuhada' Perang Uhud dari Bani Sawad bin Ghanm yaitu : Sulaim bin Amr bin Hadidah. Mantan budak
Sulaim bin Amr bin Hadidah yang bernama Antarah, Sahl bin Qais bin Abu Ka'ab bin Alqain.
Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Sawad bin Ghanm yaitu tiga orang.
Syuhada' Perang Uhud dari Bani Zuraiq bin Amir yaitu : Dzakwan bin Abdu Qais, Ubaid bin Al-Mualla
bin Laudzan. Ibnu Hisyam berkata:Ubaid yaitu anak Al-Mualla dari Bani Habib.
Jumlah syuhada' Perang Uhud dari Bani Zuraiq bin Amir yaitu dua orang.
Ibnu Ishaq berkata: Jumlah sahabat yang syahid di Perang Uhud dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar
yaitu enam puluh lima orang.
Sementara itu Ibnu Hisyam berkata: Di antara tujuh puluh syuhada yang tidak dise- butkan Ibnu Ishaq
dan kami sebutkan dari kalangan Aus lalu dari Bani Muawiyah bin Malik yaitu Malik bin
Tumailah sekutu mereka dari Muzainah.
Dari Bani Khatmah -nama Khatmah ialah Abdullah bin Jusyam bin Malik bin Al-Aus, yaitu Al-Harits
bin Adi bin Kharasyah bin Umaiyyah bin Amir bin Khathamah.
Dari Khazraj lalu dari Bani Sawad bin Malik yaitu Malik bin Iyas.
Dari Bani Amr bin Malik bin An-Najjar yaitu Ilyas bin Adi.
Dari Bani Salim bin Auf yaitu Amr bin Iyas.
Korban Tewas Kaum Musyrikin di Perang Uhud
Ibnu Ishaq berkata: Korban tewas kaum musyrikin di Perang Uhud dari Quraisy lalu dari Bani
Abduddar bin Qushay dari para pemegang panji perang yaitu sebagai berikut: Thalhah bin Abu
Thalhah. Abu Thalhah bernama asli Abdullah bin Abdul Uzza bin Utsman bin Abduddar. Ia tewas di
tangan Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu, Abu Sa'ad bin Abu Thalhah. Ia tewas di tangan Sa'ad bin
Abu Waqqash. Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan bahwa ia tewas di tangan Ali bin Abu
Thalib.
Ibnu Ishaq berkata: Juga Utsman bin Abu Thalhah. Ia tewas di tangan Hamzah bin Abdul Muthalib
Radhiyallahu Anhu, Musafi: bin Thalhah, Al-Julas bin Thalhah. MusafT dan Al-Julas dibunuh Ashim bin
Tsabit bin Abu Al-Aqlah Radhiyallahu Anhu, Kilab bin Thalhah, Al-Harits bin Thalhah. Kilab dan Thalhah
tewas di tangan Quzman sekutu Bani Dzafar. Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan bahwa
Kilab tewas di tangan Abdurrahman bin Auf.
Ibnu Ishaq berkata: Artha'ah bin Abdu Syurahbil bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar tewas di
tangan Hamzah bin Abdul Muthalib Radhiyallahu Anhu, Abu Yazid bin Umair bin Hasyim bin Abdu
Manaf bin Abduddar tewas di tangan Quzman,Shu'ab bu- daknya yang berasal dari Habasyah. Ia tewas
di tangan Quzman.
Ibnu Hisyam berkkata: Ada yang menyebutkan bahwa Shu'ab tewas di tangan Hamzah bin Abdul
Muthalib. Ada juga yang mengatakan bahwa ia tewas di tangan Sa'ad bin Abu Waqqash. Ada lagi yang
mengatakan bahwa ia tewas di tangan Abu Dujanah.
Ibnu Ishaq berkata: Al-Qasith bin Syuraih bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar tewas di tangan
Quzman.
Dengan demikian korban kaum musyrikin di Perang Uhud dari Bani Abduddar bin Qushai berjumlah
sebelas orang.
Dari Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushai hanya seorang, yaitu Abdullah bin Hamid bin Zuhair bin AI-
Harits bin Asad. Ia tewas di tangan Ali bin Abu Thalib.
Dari Bani Zuhrah bin Kilab yaitu sebagai berikut: Abu Al-Hakam bin Al-Akhnas bin Syariq bin Amr bin
Wahb Ats-Tsaqafi sekutu mereka. Ia tewas dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib, lalu Siba' bin Abdul
Uzza. Abdul Uzza bernama asli Amr bin Nadhlah bin Ghubsyan bin Sulaim bin Malkan bin Afsha. Siba'
yaitu sekutu mereka dari Khuza'ah. Ia tewas di tangan Hamzah bin Abdul Muthalib.
Korban tewas kaum musyrikin pada Perang Uhud dari Bani Zuhrah bin Kilab berjumlah dua orang.
Korban tewas kaum musyrikin di Perang Uhud dari Bani Makhzum bin Yaqadzah yaitu sebagai
berikut: Hisyam bin Abu Umaiyyah bin Al-Mughirah. Ia tewas di tangan Quzman, Al-Walid bin Al-Ash
bin Hisyam bin Al-Mughirah juga tewas di tangan Quzman, Abu Umaiyyah bin Abu Hudzaifah bin Al-
Mughirah. Tewas di tangan Ali bin Abu Thalib, Khalid bin Al-Alam sekutu mereka. Ia tewas di tangan
Quzman.
Korban tewas kaum musyrikin di Perang Uhud dari Bani Makhzum bin Yaqadzah berjumlah empat
orang.
Korban tewas kaum musyrikin pada Perang Uhud dari Bani Jumah bin Amr yaitu sebagai berikut:
Amr bin Abdullah bin Umair bin Wahab bin Hudzafah bin Jumah. Dialah Abu Azzah dan tewas di tangan
Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Salam dalam keadaan terikat, Ubay bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah
bin Jumah. Ia tewas di tangan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Korban tewas kaum musyrikin di Perang Uhud dari Bani Jumah bin Amr berjumlah dua orang.
Ibnu Ishaq berkata: Korban tewas orang- orang musyrikin yang dibunuh Allah Tabaraka wa Ta'ala pada
Perang Uhud berjumlah dua puluh dua orang.
Tragedi Ar-Raji' Tahun Ketiga Hijriyah
Telah menuturkan kepada kami Abdul Malik bin Hisyam dia berkata: Telah menuturkan kepada kami
Ziyad bin Abdullah al-Bakkai dari Muhammad bin Ishaq al-Muththalabi dia berkata: telah mengatakan
pada saya Ashim bin Umar bin Qatadah berkata: Seusai Perang Uhud, utusan dari Adhal dan Al-Qarah
da tang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ibnu Hisyam berkata: Adhal dan Al-Qarah
berasal dari anak keturunan Al-Haun bin Khuzaimah bin Mudrikah. Mereka berkata kepada Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Rasulullah, sebenarnya di kalangan kami ada orang-orang yang
telah masuk Islam, oleh sebab itu, sudi kiranya Anda mengirimkan beberapa orang sahabatmu yang
akan mengajarkan agama, membaca Al-Qur'an, dan mengajarkan syariat Islam kepada kami."
Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim enam orang sahabat yang menyertai
kepulangan utusan Adhal dan Al-Qarah. Keenam sahabat ini yaitu sebagai berikut:
Martsad bin Abu Martsad Al-Ghanawi sekutu Hamzah bin Abu Muthalib. Khalid bin Al-Bukair Al-Laitsi
sekutu Bani Adi bin Ka'ab, Ashim bin Tsabit bin Abu Al-Aqlah saudara Bani Amr bin Auf bin Malik bin
Al-Aus, Khubaib bin Adi saudara Bani Jahjahi bin Kulfah bin Amr bin Auf, Zaid bin Ad-Datsinah bin
Muawiyah saudara Bani Bayadhah bin Amr bin Zuraiq bin Abdu Haritsah bin Malik bin Ghadzbu bin
Jusyam bin Al Khazraj, Abdullah bin Thariq sekutu Bani Dzafar bin Al-Khazraj bin Amr bin Malik bin Al-
Aus.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunjuk Martsad bin Abu Martsad sebagai pemimpin
rombongan keenam orang sahabatnya tadi.
Maka keenam sahabat Nabi itu berangkat menyertai utusan Adhal dan Al-Qarah. jika sampai di Ar-
Raji', sebuah nama mata air Hudzail dari arah Hijaz, di depan Al-Had'ah, tiba-tiba utusan Adhal dan Al-
Qarah mengkhianati keenam sahabat tadi dan berteriak meminta bantuan kepada orang-orang
Hudzail. Utusan Adhal dan Al-Qarah berkata
kepada keenam sahabat ini : "Demi Allah, kami tidak hendak membunuh kalian, kami hanya ingin
mendapat sesuatu dari orang-orang Quraisy dengan menahan kalian. Kalian berhak atas janji Allah
bahwa kami tidak akan membunuh kalian. Martsad bin Abu Martsad, Khalid bin Al-Bukair, dan Ashim
bin Tsabit berkata: "Demi Allah, kami tidak menerima janji atau kesepakatan dari orang musyrik untuk
selama-lamanya."
Ibnu lshaq berkata: Julukan Ashim bin Tsabit yaitu Abu Sulaiman. Ia melawan orang-orang Hudzail
hingga terbunuh beserta dua orang sahabat setianya. jika Ashim bin Tsabit terbunuh, orang-orang
Hudzail hendak mengambil kepalanya untuk dijual kepada Sulafah binti Sa'ad bin Syahid. Sebelumnya,
Sulafah binti Sa'ad bin Syahid bernazar sesudah kedua anaknya tewas di Perang Uhud, bahwa jika
bisa memungut kepala Ashim bin Tsabit ia pasti menyiramkan minuman keras ke tulang tengkoraknya.
Namun keinginannya ini dihalau lebah-lebah yang berkerumun. Lebah-lebah itu menghalau orang-
orang Hudzail hingga tidak mampu mendekat kepada Ashim bin Tsabit. Mereka berkata: "Biarkan
lebah-lebah ini hingga petang hari. Kalau mereka sudah pergi, kita ambil jenazahnya." Namun
Allah Ta'ala mengirim banjir besar yang lalu membawa pergi jenazah Ashim. Sebelumnya Ashim
bin Tsabit bersumpah kepada Allah bahwa ia tidak akan pernah mau disentuh oleh tangan orang
musyrik dan ia tidak menyentuhnya selama-lamanya karena orang musyrik najis.
Adapun Zaid bin Ad-Datsinah, Khubaib bin Adi dan Abdullah bin Thariq, mereka putus asa dan
menyerahkan diri lalu dijadikan tawanan oleh orang-orang HudzaiL sesudah itu, orang-orang
Hudzail membawi ketiganya ke Makkah dan menjualnya di sana. Kala mereka tiba di Dahran, tiba-tiba
Abdullah bin Thariq berontak lalu mengambil pedang. Orang-orang Hudzail tak tinggal diam
mereka menghantamnya dengan batu hingga ia meninggal dunia. Dengan demikian kuburan Abdullah
bin Thariq kini berada di Dahran. Sedang Khubaib bin Adi dan Zaid bin At-Datsinah, tetap dibawa oleh
Hudzail ke kota Makkah.
Ibnu Hisyam berkata: Orang-orang Hudzail menawarkan Khubaib bin Adi dan Zaid bin Ad-Datsinah
kepada orang-orang Quraisy agar ditukar dengan dua tawanan orang-orang Hudzail di Makkah.
Ibnu Ishaq berkata: Khubaib bin Adi di beli Abu Ihab At Tamimi sekutu Bani Naufal dari Utbah bin Al-
Harits bin Amir bin Naufal. Abu Ihab yaitu saudara seibu dari Al-Harits bin Amir. Ia sengaja membeli
Khubaib bin Adi untuk dibunuh sebagai balas dendam atas kematian ayahnya.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Harits bin Amir yaitu paman Abu Ihab (saudara ibunya) dan Abu Ihab berasal
dari Bani Usaid bin Amr bin Tamim. Ada yang menyebutkan bahwa Abu Ihab berasal dari Bani Udas
bin Zaid bin Abdullah bin Darim dari Bani Tamim.
Ibnu Ishaq berkata: Zaid bin Ad-Datsinah dibeli Shafwan bin Umayyah untuk dihabisi sebagai balas
dendam atas kematian ayahnya, Umayyah bin Khalaf.
Shafwan bin Umayyah mengutus budaknya. Nisthas, membawa Zaid bin Ad-Datsinah ke At-Tan'im
bersama dengan orang-orang Quraisy. Zaid Ad-Datsinah dibunuh oleh Nisthas.
Sementara Khubaib bin Adi Radhiyallahu Anhu, Abdullah bin Abu Najih berkata kepadaku bahwa ia
diberitahu Mawiyyah mantan budak wanita Hujair bin Abu Lahab yang saat itu telah masuk Islam dan
berkisah:
Khubaib bin Adi ditawan di rumahku. buatu hari, aku mengintip dan mendapatinya ia sedang
memegang setandan anggur dan memakannya sebagiannya, padahal sepanjang yang aku tahu di
tempat ini tidak ada anggur yang bisa dimakan (pada saat itu)."
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata: Orang-orang Quraisy menyeret Khubaib bin
Adi ke luar Makkah hingga tatkala mereka tiba di At-Tan'im dan bermaksud menyalibnya, ia berkata
kepada mereka: "Bisakah aku shalat dua raka'at ter- lebih dahulu sebelum menghabisiku?" Mereka
berkata: "Silahkan." Khubaib bin Adi menger- jakan shalat dua raka'at dengan sempurna dan baik.
sesudah itu, ia menemui mereka dan berkata: "Demi Allah andaikata kalian tidak akan mengira aku
takut mati dengan mengulur waktu shalatku, niscaya aku mengulurnya."
Ashim bin Umar bin Qatadah berkata: Khubaib bin Adi yaitu muslim pertama kali yang melakukan
shalat sunnah dua raka'at bagi kaum Muslimin jika hendak dibunuh.
Ashim bin Umar bin Qatadah berkata lebih lanjut: Maka orang-orang Quraisy mengangkat Khubaib bin
Adi ke atas kayu. jika mereka telah mengikatnya, ia berkata: "Ya Allah, sebenarnya risalah Nabi-
Mu telah kami sampaikan, maka sampaikan pada beliau apa yang mereka perbuat terhadapku esok
hari. Ya Allah, pastikan jumlah mereka, musnahkanlah mereka secara terpisah, dan jangan biarkan
satu orang pun dari mereka lolos."
Ibnu Ishaq berkata: Wahyu-wahyu yang turun tentang peristiwa Ar Raji seperti dikatakan kepadaku
oleh eks budak keluarga Zaid bin bin Tsabit dari Ikrimah eks budak Ibnu Abbas atau dari Sa'id bin Jubair
dari Ibnu Abbas yang berkata: jika utusan menuju Ar-Raji' yang di dalamnya ada Martsad dan Ashim
ditimpa musibah, orang-orang munafik bergumam: "Alangkah celakanya orang-orang yang ter- bunuh
itu. Andaikata mereka berdiam diri di tengah keluarganya." lalu turunlah ayat tentang ucapan
orang-orang munafik ini dan kebaikan yang diperoleh sahabat-sahabat Rasulullah atas semua
musibah yang mereka alami. Allah Ta'ala berfirman:
Dan di antara manusia ada orangyang ucapannya tentang kehidupan dunia mearik hatimu. (QS. al-
Baqarah: 204), yakni orang-orang yang secara lisan menyatakan keislamannya.
Dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya (QS. al-Baqarah: 204) yang
bertentangan dengan apa yang mereka ucapkan.
Padahal ia yaitu penantang yang paling keras (QS. al-Baqarah: 204).
Yakni, ia selalu mendebat jika mengkritikmu saat berbicara denganmu.
Ibnu Hisyam berkata: Al-aladdu artinya yaitu kebencian yang memuncak. Sedangkan jamaknya
yaitu ludd. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:
Dan agar kamu memberi peringatan dengannya kepada kaum yang membangkang (QS. Maryam: 97).
Al-Muhalhal bin Rabi'ah al-Taghlibi yang bernama asli yaitu Imruul Qais ada pula yang menyebutkan
namanya yaitu Adi bin Rabi'ah:
sebenarnya di bawah batu-batu itu ada yang keras dan yang lunak
Ada pembantah yang lebih keras yang tiada sanggup berbicara pada musuhnya
Ibnu Hisyam berkata: Ini yaitu syair miliknya.
Al-Thirimmmah bin Hakim Al-Thai berkata menyifati bunglon:
Dia melihat di atas pokok akar dengan angkuh
Laksana seorang yang mampu mengalahkan musuh dalam debatnya
Ini yaitu syair miliknya.
Ibnu Ishaq berkata: Allah berfirman:
Dan jika ia berpaling (dari kamu) (QS. al-Baqarah: 205). Yakni keluar dari sisimu dia berjalan di
muka bumi
'Untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak dan Allah
tidak menyukai kebinasaan (QS. al-Baqarah: 205), Yakni, Allah tidak menyukai dan tidak meridhai amal
perbuatannya.
Selanjutnya Allah berfirman,
Dan jika dikatakan kepadanya, "Bertakwalah kepada Allah," bangkitlah kesombongannya yang
menyebabkannya berbuat dosa, maka cukuplah (balasannya) neraka Jahannam dan sungguh neraka
Jabannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya. Dan di antara manusia ada orang yang
mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-
hamba-Nya (QS. al-Baqarah: 206-207). Maknanya yaitu mereka menjual nyawa mereka kepada
Allah dengan berjihad di jalan-Nya hingga mereka tewas terbunuh. Mereka yaitu utusan Rasulullah
ke Ar-Raji'
Ibnu Hisyam berkata: Yasyri nafsahu yakni menjual dirinya, syaraw maknanya yaitu menjual (ba'uu).
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy yang berkumpul dan berteriak-teriak membuat keributan di
dekat Khubaib bin Adi sesudah meninggal dunia ialah Ikrimah bin Abu Jahal, Said bin Abdullah bin Abu
Qais bin Abdu Wudd, AI-Akhnas bin Syariq Ats-Tsaqafi sekutu Bani Zuhrah, Ubaidah bin Hakim bin
Haritsah bin Al-Auqash As Sulami sekutu Bani Umaiyyah bin Abdu Syams, Umaiyyah bin Abu Utbah,
dan Bani Al-Hadhrami.
Ibnu Ishaq berkata: Hassan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu juga mencemooh orang-orang Hudzail atas
tindakan mereka terhadap Khubaib bin Adi Radhiyallahu Anhu.
Ibnu Hisyam berkata: Zuhair bin Al-Aghar dan Jami' yaitu dua orang dari kabi- lah Hudzail yang
menjual Khubaib bin Adi Radhiyallahu Anhu.
Tragedi Bi'ru Ma'unah Bulan Shafar Tahun Keempat Hijriyah
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tinggal di Madinah dan tidak keluar selama
sisa hari bulan Syawal, Dzulqadah dan Dzulhijjah dan Muharram.
Pada saat itu urusan haji di Makkah diurusi oleh kaum musyrikin. sesudah itu beliau mengirim para
sahabat pelaku tragedi Bi'ru Maunah di bulan Shafar tepatnya di awal empat bulan pasca Perang
Uhud.
Ibnu Ishaq berkata: Tentang tragedi Bi'ru Maunah sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Abu Ishaq
bin Yasar dari Al-Mughirah bin Abdurrahman bin Al-Harits bin Hisyam dan Abdullah bin Abu Bakr bin
Muhammad Bin amr bin Hazm dan ulama-ulama lainnya dimana semuanya mengatakan bahwa Abu
Bara' bin Amir bin Malik bin Ja'far seorang ahli tombak datang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam di Madinah. Nabi menawarkan Islam kepadanya dan mendakwahinya tapi ia menolak
masuk Islam namun ia tetap mendukung Islam. Abu Bara' berkata: "Wahai Muhammad, tidak
mengapa bila engkau mengirim beberapa orang sahabatmu kepada penduduk Najed, untuk
berdakwah sebab aku berharap bisa mereka memenuhi seruanmu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Aku khawatir kalau sewaktu-waktu penduduk Najed melakukan tindakan jahat
pada sahabat-sahabatku." Abu Bara' berkata: "Aku akan menjadi orang yang memberi perlindungan
buat mereka. Maka utuslah mereka menyampaikan risalahmu kepada orang-orang di sana."
Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim Al-Mundzir bin Amr saudara Bani Saidah,
seorang yang bersegera menjemput syahidnya (Al-Mu'niq Liyamut) bersama empat puluh orang
sahabat-sahabatnya yang merupakan orang-orang pilihan dan terbaik dari kaum Muslimin. Di antara
mereka yaitu Al-Harits bin Ash-Shimmah, Haram bin Milhan saudara Bani Adi bin An-Najjar, Urwah
bin Asma' bin Ash-Shalt As-Sulami, Nafi' bin Budail bin Warqa' AI-Khuzai, Amir bin Fuhairah mantan
budak Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan sahabat-sahabat terpilih lainnya.
Para utusan ini berjalan hingga tiba di Bi'ru Maunah yang terletak berada di antara tanah hitam
berbatu Bani Amir dengan tanah hitam berbatu Bani Sulaim. Kedua lokasi ini hampir
berhimpitan, namun Bi'ru Maunah lebih dekat dengan lokasi tanah Bani Sulaim.
Tatkala utusasn Rasulullah tiba di Bi'ru Maunah, mereka mengutus Haram bin Milhan mengantarkan
surat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada musuh Allah, Amir bin Ath-Thufail. jika Hararn
bin Milhan tiba, Amir bin Ath-Thufail tidak membuka surat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam,
sebaliknya ia malah membunuhnya. Amir bin Ath-Thufail memprovokasi kaumnya, menyerang para
utusan ini , namun mereka menolak seruannya. Mereka berkata: "Kami tidak akan pernah
menghinati perjanjian Abu Bara'. "Sebelum itu Abu Bara' telah membuat perjanjian untuk melindungi
utusan Rasulullah. Namun Amir bin Ath-Thufail tidak menyerah, lalu ia terus memprovokasi
kabilah-kabilah Bani Sulaim seperti Ushaiyyah, Ri'l, dan Dzakawan untuk menyerang para utusan
ini dan ternyata merekapun menyambutnya lalu terjadilah perang antara mereka hingga
mereka semua terbunuh kecuali Ka'ab bin Zaid saudara Bani Dinar bin An-Najjar, karena kabilah-
kabilah ini membiarkannya dalam keadaan antara hidup dan mati. Ka'ab bin Zaid mengalami
luka berat hingga berada di antara hidup dan mati di antara para korban. Dia pun hidup selamat dan
baru gugur sebagai syahid pada Perang Khandaq. Semoga Allah merahmatinya.
Di tengah kaum itu ada Amr bin Umaiyyah Adh-Dhamri dan salah seorang dari kaum Anshar dari Bani
Amr bin Auf.
Ibnu Hisyam berkata: Orang dari kaum Anshar ini yaitu Al-Mundzir bin Muhammad bin Uqbah
bin Uhaihah bin Al-Julah.
Tidak ada yang memberi tahu keduanya tentang tragedi yang menimpa sahabat-sahabatnya kecuali
burung yang terbang di atas barak. Kedua sahabat Rasulullah itu berkata: "Demi Allah, burung ini pasti
membawa berita penting." Keduanya berjalan menuju lokasi untuk melihat apa sebenarnya yang
sedang terjadi. jika mereka melihat delegasi qari' bersimbah darah sementara kuda mereka berdiri,
maka sahabat dari kaum Anshar berkata kepada Amr bin Umaiyyah: "Bagaimana pandanganmu?" Amr
bin Umaiyyah berkata: "Aku memandang sebaiknya kita segera menghadap Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam dan kita jelaskan apa yang sebenarnya terjadi." Sahabat Anshar berkata: "Sedangkan
aku sangat gembira dengan tempat tewasnya Al-Mundzir bin Amr dan apa yang menimpaku diriku
nanti pasti akan diberitahukan orang-orang. "sesudah berkata demikian, sahabat Anshar berperang
melawan kabilah-kabilah di atas hingga terbunuh dan mereka menawan Amr bin Umaiyyah. jika
Amr bin Umaiyyah mengatakan kepada mereka bahwa dirinya berasal dari Mudhar, Amir bin Ath-
Thufail melepaskannya dan mencukur rambut di ubun-ubunnya, dan membebaskannya dengan
membayar budak wanita yang diklaimnya milik ibunya.
Lalu, Amr bin Umaiyyah berjalan. Saat dia tiba di Al-Qarqarah di depan Qunat, datanglah dua orang
dari Bani Amir.
Ibnu Hisyam berkata: lalu dari Bani Kilab. Abu Amr Al-Madani menyebutkan bahwa keduanya
berasal dari Bani Sulaim.
Kedua orang ini mampir di tempat Amr bin Umaiyyah dan berteduh di bawah sebuah pohon.
Orang-orang Bani Amir terikat perjanjian kesepakatan bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
yang tidak diketahui Amr bin Umaiyyah. jika keduanya berhenti di tempat bernaungnya Amr bin
Umaiyyah, maka Amr bin Umaiyyah bertanya kepada keduanya: "Dari mana asal kalian berdua?"
Keduanya menjawab: "Kami berasal dari Bani Amir.' Amr bin Umaiyyah menunggu beberapa waktu
dan jika keduanya telah tertidur, ia menghabisi mereka berdua. Ia beranggapan bahwa dengan cara
ini, ia telah membalas dendam atas orang- orang Bani Amir karena mereka sebelum ini membantai
sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Tatkala Amr bin Umaiyyah tiba di tempat
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan menjelaskan apa yang dialaminya, beliau bersabda:
"Sungguh engkau telah membunuh dua orang dan aku akan memberi diyat(tebusan) kepada keluarga
mereka berdua." Beliau bersabda lagi: "Ini semua terjadi gara-gara Abu Bara' dimana itu semua tidak
aku sukai dan aku khawatirkan sebelumnya."
Saat sabda Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ini sampai ke telinga Abu Bara' ia marah besar
kepada Amir bin Ath-Thufail atas tindakan brutalnya karena meremehkan perjanjiannya dengan
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan tragedi memilukan yang dialami sahabat-sahabat
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam itu terjadi karena ulah dan perlindunganya. Di antara yang
terbunuh pada tragedi tragis ini yaitu Amir bin Fuhairah.
Ibrnu Ishaq berkata: Lalu Rabi'ah bin Amir bin Malik mencari Amir bin Ath-Thufail dan menikamnya
dengan tombak di pahanya. Dia tidak berhasil membunuhnya namun dia terpelanting dari kudanya.
Amir bin Ath-Thufail berkata: "Ini semua karena ulah Abu Bara'. Jika aku mati, darahku milik pamanku
dan Abu Bara' tidak boleh diikuti. Namun jika aku masih hidup, akan aku tampakkan sikapku terhadap
perlakuan yang dilakukan terhadapku."
Ibnu Ishaq berkata: Anas bin Abbas As-Sulami, paman Thu'aimah bin Adi bin Naufal dari jalur ibunya,
yang Pada Tragedi Bi'ru Maunah, Thu'aimah bin Adi bin Naufal membunuh Nafi' bin Budail bin Warqa
Al-Khuzai. Tentang kematian Nafi' bin Budail bin Warqa' Al-Khuzai, Anas bin Abbas As-Sulami berkata:
Kubiarkan anak Warqa Al-Khuzai tergeletak tewas
Di perang di sebuah jalan sempit yang dimana angin menghamburkan badai berdebu Ku teringat Abu
Ar-Rayyan saat kulihat dia Aku yakin dendamku telah lunas terbayar
Abu Ar-Rayyan yaitu Thu'aimah bin Adi.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu berkata menangisi Nafi' bin Budail bin
Warqa':
Semoga Allah melimpahkan rahmatnya pada Nafi' bin Budail
Dengan rahmat pencari pahala orang berjihad
la soosk yang sabar, jujur, dan memenuhi janji
Tatkala manusia mengepungnya, ia berucap dengan ucapan yang benar
Ibnu Ishaq berkata: Hassan bin Tsabit Radhiyallahu Anhu berkata menangisi para korban Bi'ru
Maunah, terutama Al-Mundzir bin Amr Rahimahullah:
Ingatlah korban-korban Maunah, hendaklah kalian semua menangis
Dengan air mata yang tercurah tiada henti
Ingatlah pasukan berkuda Rasul di pagi hari
Yang bertemu dan ditemui kematian dengan takdir mereka
Mereka ditimpa kematian karena kesepakatan suatu kaum
Yang lalu tali perjanjian itu dikhianati dengan pengkhianatan
Alangkah sedihnya aku atas kematian
Al-Mundzir jika ia berjalan berpaling
Dan berlari kepada kematian dengan sabar Ia dibunuh di suatu pagi
Seorang bangsawan terhormat dan mulia keturunan Amr
Pengepungan dan Pengusiran Bani An-Nadhir Tahun Keempat Hijriyah
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam keluar menuju Bani An-Nadhir untuk
meminta bantuan diyat bagi dua korban dari Bani Amir yang dihabisi Amr bin Umaiyyah Adh-Dhamri
karena jaminan perlindungan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada keduanya seperti
dikatakan kepadaku oleh Yazid bin Ruman. Bani An-Nadhir dan Bani Amir terdapat persekutuan dan
perjanjian. Kala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai di tempat Bani An-Nadhir, mereka
berkata: "Wahai Abu Al-Qasim kami akan berusaha membantumu."
Ibnu Ishaq berkata: Lalu orang-orang Bani An-Nadhir berkumpul.
Tiba-tiba Amr bin Jahasy naik ke atas rumah untuk menjatuhkan batu ke atas kepala Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam. jika itu Rasulullah ditemani Abu Bakar, Umar bin Khaththab, dan Ali bin
Abu Thalib. Namun saat itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menerima wahyu dari langit tentang
apa yang akan dilakukan orang-orang Bani An-Nadhir. Oleh karenanya, Rasulullah segera beranjak dan
pulang ke Madinah. Rasulullah menjelaskan kepada para sahabat rencana makar orang-orang Yahudi
untuk membunuh dirinya pada mereka. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu memerintahkan
para sahabat untuk bersiap-siap untuk memerangi orang-orang An-Nadhir.
Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengamanahi Ibnu Ummi Maktum
sebagai imam sementara di Madinah selama Rasulullah berada di Bani An-Nadhir. Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam pergi bersama sahabat dan beristirahat bersama mereka. Peristiwa terjadi
pada bulan Rabiul Awwal. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengepung orang-orang Bani An-
Nadhir selama enam hari saat itulah turunlah ayat pengharaman khamar.
Kala pasukan Rasulullah menyerang maka orang-orang Bani An-Nadhir melindungi diri mereka di
kastil-kastil mereka. Allah lalu menurunkan rasa takut ke dalam hati orang-orang Bani An-Nadhir,
lalu mereka meminta Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melindungi darah mereka jika
mereka akan keluar dari kastil mereka dengan syarat mereka berhak atas harta mereka yang bisa
diangkut oleh unta mereka kecuali seluruh peralatan perang. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
memenuhi permintaan mereka. sesudah mengambil harta kekayaan mereka masing-masing yang bisa
diangkut unta. Mereka pergi ke Khaybar ada pula di antaranya yang pergi ke kawasan Syam. Pemimpin
mereka yang pergi ke Khaybar yaitu Sallam bin Abu Al-Huqaiq, Kinanah bin Ar-Rabi bin Abu al Huqaiq,
dan Huyay bin Akhthab. jika mereka tiba di Khaybar, penduduknya berpihak kepada mereka.
Ibnu Ishaq berkata: tidak ada yang masuk Islam dari Bani An-Nadhir kecuali dua orang, yaitu Yamin
bin Umar Abu Ka'ab bin Amr bin Jahasy dan Abu Sa'ad bin Wahb. Keduanya masuk Islam karena sayang
pada hartanya.
Tentang Bani An-Nadhir ini, turunlah surat Al-Hasyr secara keseluruhan. Di dalamnya disebutkan
hukuman yang ditimpakan Allah kepada mereka, kemenangan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
atas mereka, dan apa yang diperbuat Sang Nabi terhadap mereka. Allah Ta'ala berfirman:
Dia-lah yang mengeluarkan orang-orang kafir di antara ahli Kitab dari kampung-kampung mereka
pada saat pengusiran kali yang pertama. Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan
mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari
(siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka
sangka-sangka. Dan Allah mencampakkan ketakutan ke dalam hati mereka; mereka memusnahkan
rumah-rumah mereka dengan tangan mereka sendiri dan tangan orang-orang yang beriman. Maka
ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan. (QS.
al-Hasyr: 2)
itu karena mereka merusak rumah mereka dari depan pintu rumah jika hendak mengangkut
barang-barangnya. Allah berfirman,
Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, hai orang-orang yang mempunyai pandangan.
Dan jika tidaklah karena Allah telah menetapkan pengusiran terhadap mereka benar-benar Allah
mengadzab mereka di dunia. Dan bagi mereka di akhirat adzab neraka. (QS. al-Hasyr: 2-3)
Mereka pantas dan berhak mendapat hukuman dari Allah. lalu Allah berfirman:
Benar-benar Allah mengadzab mereka di du nia. Dengan pedang. Dan bagi mereka di akhirat adzab
neraka. (QS. al-Hasyr: 3). Namun demikian Allah Ta'ala berfirman:
Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan
(tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) yaitu dengan izin Allah; dan karena Dia hendak
memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. (QS. al-Hasyr: 5)
lalu Allah Ta'ala berfirman: Maka (semua itu) yaitu dengan izin Allah; dan karena Dia hendak
memberikan kehinaan kepada orang-orang fasik. (QS. al-Hasyr: 5).
Yakni, dengan perintah Allah engkau tebang pohon kurma itu. Jadi penebangan pohon kurma itu tidak
merusak, namun hukuman dari Allah kepada mereka.
Ibnu Hisyam berkata: Liinah dari alwan bukan dari barniyah bukan pula kurma al-'ajwah sebagaimana
dituturkan oleh Abu Ubaidah. Dzu Rammah berkata:
Seakan pelana kuda di atasnya ada sarang burung
Di atas kurma yang pokoknya kuat dan ujung-ujungnya bergerak
Bait syair ini yaitu miliknya.
Lalu Allah Ta'ala berfirman:
Dan apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya (dari harta benda) mereka
(QS. al-Hasyr: 6) Ibnu Ishaq berkata bahwa yang dimaksud mereka pada ayat ini yaitu Bani an-
Nadhir. lalu Allah Ta'ala berfirman:
Maka untuk mendapat itu kamu tidak mengerahkan seekor kuda pun dan (tidak pula) seekor unta
pun, tetapi Allah yang memberikan kekuasaan kepada Rasul-Nya terhadap siapa yang dikehendaki-
Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Hasyr: 6).
Ibnu Hisyam berkata: Awjaftum menggerakkanmu dan melelahkanmu dalam perjalanan. Tamim bin
Ubay bin Muqbil salah seorang Bani Amir bin Sha'sha'ah berkata:
Pelindungpedangyang baru gagangnya sering
membuat pejalan kaki
merasa keberatan untuk membawanya
Ini yaitu syair miliknya, yakni wajif (lari).
Abu Zaid al-Thai yang namanya yaitu Harmalah mengatakan dalam syairnya:
Tali pinggangnya terikat kuat laksana tombak India
Karena panjangan perjalanan yang yang di tempuh para gembala
lalu Allah Ta'ala berfirman:
Apa saja harta rampasan (fai-i) yang diberikan Allah kepada Rasul-Nya yang berasal dari penduduk
kota-kota maka yaitu untuk Allah, Rasul (QS. al-Hasyr: 7)
Ibnu Ishaq berkata: Maksud ayat ini ialah bahwa apa yang dikuasai kaum Muslimin dengan kuda,
kendaraan, dan perang, semua itu yaitu milik Allah dan Rasul-Nya. lalu Allah Ta'ala berfirman:
Itu semua milik Allah dan Rasul-Nya, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-
orang yang dalam perjalanan, supaya harta itujangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja
di antara kamu. Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya
bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. sebenarnya Allah sangat keras
hukuman-Nya. (QS. al-Hasyr: 7)
Pembagian ini yaitu pembagian bentuk lain bagi kaum muslimin dari apa yang di dapatkan dengan
perang sesuai dengan apa yang Allah tentukan.
lalu Allah berfirman:
Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang munafik (QS. al-Hasyr: 11), yang di maksud dengan
orang-orang munafiq pada ayat ini yaitu Abdullah bin Ubay bin salul dan orang-orang yang seirama
dengannya.
lalu Allah berfirman:
Yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di antara ahli Kitab (QS. al-Hasyr: 11). Yang
dimaksud dengan ahli Kitab di atas ialah Bani an-Nadhir.
lalu Allah berfirman:
(Mereka yaitu ) seperti orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat
buruk dari perbuatan mereka dan bagi mereka adzab yang pedih(QS. al-Hasyr: 15)
Yang dimaksud yaitu Bani Qainuqa'. lalu kisah tentang pengusiran Bani An-Nadhir di dalam Al-
Qur'an ditutup dengan ayat:
(Bujukan orang-orang munafik itu yaitu ) seperti (bujukan) setan jika dia berkata kepada manusia:
"Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah kafir ia berkata: "sebenarnya aku berlepas diri dari
kamu karena sebenarnya aku takut kepada Allah Tuhan semesta alam." Maka yaitu kesudahan
keduanya, bahwa sebenarnya keduanya (masuk) ke dalam neraka, mereka kekal di dalamnya.
Demikianlah balasan orang-orang yangzalim (QS. al-Hasyr: 16-17)
Perang Dzatu ar-Riqa' Tahun Ke empat Hijriyah
Ibnu Ishaq berkata: Usai Perang Bani An-Nadhir, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tinggal di
Madinah selama bulan Rabiul Akhir dan sebagian Jumadil Ula. sesudah itu, beliau berangkat ke Najed
untuk berperang menghadapi Bani Muharib dan Bani Tsa'labah dari Ghathafan. Rasulullah
mengamanahi Abu Dzar Al-Ghifari menjadi imam untuk sementara waktu di Madinah
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menceritakan bahwa Rasulullah mengamanahi Utsman bin Affan
menjadi imam sementara waktu di Madinah.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan hingga tiba di Nakhl dan di tempat inilah Perang Dzatu
Ar-Riqa' terjadi.
Ibnu Hisyam berkata: Perang ini disebut Perang Dzatu Ar-Riqa', karena kaum Muslimin menjahit dan
memperbaiki panji-panji perangnya di sana. Ada pula yang menyebutkan bahwa ia disebut Perang
Dzatu Ar-Riqa, karena Dzatu Ar-Riqa' yaitu nama pohon di kawasan ini .
Di Dzatu Ar-Riqa', Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menghadapi pasukan Ghathafan dalam
jumlah yang sangat besar. Namun perang tidak berkobar di antara mereka, karena masing-masing
pihak sama-sama khawatir kepada pihak lain hingga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam
mengerjakan Shalat Khauf bersama para sahabat.
Ibnu Hisyam berkata: Abdul Warits bin Said At-Tannuri, yang nama aslinya Abu Ubaidah berkata
kepadaku bahwa Yunus bin Ubaid berkata padaku dari Al-Hasan bin Abu Al-Hasan dari Jabir bin
Abdullah yang berkata tentang Shalat Khauf: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melaksanakan
Shalat Khauf dua raka'at bersama dua kelompok dengan cara bergiliran. Pertama beliau shalat dengan
kelompok pertama lalu salam lalu kelompok yang tadinya menghadap musuh datang lalu
Rasulullah mengimamai lagi shalat dua raka'at yang lain bersama mereka lalu salam.128
Ibnu Hisyam berkata: Abdul Warits bin Sa'id At-Tannuri berkata kepadku bahwa Ayyub berkata
kepadanya dari Nafi' dari Ibnu Umar yang berkata: Imam melangsungkan shalat bersama shaf pertama
yang berdiri bersamanya sedang shaf kedua menghadap musuh, lalu imam ruku' dan sujud di
ikuti shaf pertama, lalu mereka ber- gerak mundur ke belakang dan mengganti shaf yang tadi
menghadap musuh, lalu shaf kedua maju ke depan, lalu imam ruku' bersama mereka satu
raka'at dan sujud bersama mereka, lalu masing-masing shaf shalat satu raka'at sendiri-sendiri.
Jadi masing-masing shaf shalat satu raka'at bersama imam dan mereka shalat satu raka'at secara
sendirian.
Ibnu Ishaq berkata: Amr bin Ubaid berkata kepadaku dari Al-Hasan dari Jabir bin Abdullah bahwa salah
seorang dari Bani Muharib yang bernama Ghaurats berkata kepada kaumnya yaitu Ghathafan dan
Muharib: Apa kalian mau Muhammad aku bunuh demi kalian?' Kaumnya menjawab: "Ya, namun
bagaimana engkau bisa membunuhnya?" Ghaurats berkata: "Aku akan menjebaknya." lalu
Ghaurats pergi menghadap Rasulullah yang jika itu duduk, sedangkan pedang beliau berada di
pangkuannya. Ghaurats berkata: "Wahai Muhammad, boleh aku lihat pedangmu ini." Rasulullah
menjawab, "Ya, silahkan saja." Pedang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ini berhiaskan
perak, sebagaimana disebutkan Ibnu Hisyam. Ghaurats lalu menghunusnya dari sarungnya. lalu
ia memain-mainkannya dan bermaksud membunuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam namun
Allah menggagalkan usahanya. Ia berkata: "Wahai Muhammad, apa kau takut padaku?" Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tentu saja sama sekali tidak, apa yang harus aku takutkan
darimu?"
Ghaurats berkata: "Apakah engkau tidak takut padaku padahal di tanganku ada sebilah pedang?"
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku tidak takut, karena Allah selalu melindungiku."
Ghauratspun berjalan dan mengembalikan pedang itu kepada Sang Nabi. Maka sesudah itu Allah
menurunkan ayat berikut:
Hai orang-orang yang beriman, ingatlah kamu akan nikmat Allah (yang diberikan-Nya) kepadamu, di
waktu seseorang bermaksud hendak menggerakkan tangannya kepadamu (untuk berbuat jahat),
maka Allah menahan tangannya dari kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, dan hanya kepada Allah
sajalah orang- orang mukmin itu harus bertawakal. (QS. al-Maidah: 11)
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ruman berkata kepadaku bahwa ayat di atas diturunkan perihal Amr bin
Jahasy dari Bani An-Nadhir dan yang ia rencanakan. Wallahu a 'lam mana yang lebih benar di antara
kedua riwayat itu.
Ibnu Ishaq berkata: Wahb bin Kisan berkata kepadaku dari Jabir bin Abdullah yang berkata: "Aku keluar
bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ke Perang Dzatu Ar-Riqa' di Nakhl dengan menaiki
unta yang lemah. jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pulang dari Perang Dzatu Ar-Riqa',
rombongan pasukan berjalan tanpa hambatan, sementara aku tersisih di belakang Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyusulku. Beliau bersabda: "Apa yang terjadi, wahai Jabir? Aku
menjawab: "Wahai Rasulullah, untaku berjalan sangat pelan." Beliau bersabda: "Perintahkan dia
membungkuk." Aku membungkukkan untaku sedangkan beliau juga mendudukkan untanya. sesudah
itu, Rasulullah bersabda: "Berikan tongkatmu itu kepadaku." Atau beliau bersabda: "Ambilkan buatku
tongkat dari sebatang pohon!" Maka akupun melaksanakan permintaan Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam dan beliaupun mengambil tongkat yang dimintanya. Rasulullah memukul lambung untaku
beberapa kali lalu bersabda kepadaku: "Naikilah untamu!" Aku segera menaikinya. Demi Dzat
yang mengutus beliau dengan membawa kebenaran, untaku mampu mendahului unta Rasulullah. Aku
berbincang dengannya, lalu beliau berkata: "Wahai Jabir apakah boleh aku membeli untamu
ini?'"Aku menjawab: "Tidak wahai Rasulullah, tapi aku bermaksud memberikannya kepadamu sebagai
hibah." Beliau bersabda: "Juallah untamu ini kepadaku!" Aku berkata: "Wahai Rasulullah tetapkanlah
harga untuk untaku ini!" Beliau bersabda: "Cukup satu dirham." Aku berkata: "Tidak Rasulullah,
dengan harga seperti itu, engkau merugikanku." Beliau bersabda: "Bagaimana kalau begitu dua
dirham!" Aku berkata: "Aku tidak mau dengan itu, wahai Rasulullah." Beliau terus menaikkan
penawaran harga unta hingga mencapai satu uqiyah. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, jika demikian,
maka kini untaku ini menjadi milikmu." Beliau bersabda: "Kalau demikian, aku ambil untamu." sesudah
itu Rasulullah bersabda: "Wahai Jabir, apakah engkau sudah menikah?" Aku menjawab: "Sudah, wahai
Rasulullah." Beliau bersabda: "Dengan seorang janda atau seorang gadis?" Aku menjawab: "Dengan
janda." Beliau bersabda: "Mengapa engkau tidak menikah dengan seorang gadis sehingga engkau bisa
bergurau ria dengannya dan ia bergurau ria denganmu?" Aku menjawab: "Wahai Rasulullah,
sebenarnya ayahku gugur di Perang Uhud dan meninggalkan tujuh anak perempuan, karenanya aku
menikahi seorang wanita sempurna yang bisa meneduhi kepala ketujuh anak perempuan ini dan
mengasuh mereka." Beliau bersabda: "Engkau benar, insya Allah." Tatkala kita sudah tiba di Shirar aku
perintahkan orang-orang untuk menyiapkan unta untuk disembelih lalu kita adakan jamuan
daging unta pada hari ini hingga istrimu mendengarnya lalu ia melepaskan bantal
kecilnya?" Aku berkata: "Wahai Rasulullah, kami tidak memiliki bantal kecil." Beliau bersabda: "Dia
akan ada bersamamu. Oleh karenanya, jika engkau telah sampai di sana, lakukanlah sebuah
perbuatan yang pintar.
Tatkala sampai di Shirar, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menginstruksikan orang-orang untuk
segera menyembelih unta dan kita pun mengadakan pesta makan di hari itu. Pada sore harinya, beliau
masuk ke rumah dan kamipun masuk ke rumahku. Maka aku pun menceritakan peristiwa kepada
isteriku ini dan apa yang dikatakan kepadaku oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kepada
istriku. Istriku berkata: "Ya, karena aku mendengar dan taat kepada Rasulullah." Esok paginya, aku
pegang kepala unta, menuntun dan mendudukkannya di pintu masjid Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam lalu aku duduk di dekat masjid. jika beliau ke luar dan melihat unta itu, beliau
bersabda: "Apa ini?" Para Sahabat menjawab: "Unta ini, Jabir yang datang membawanya." Beliau
bertanya: "Lalu kemana Jabir sekarang?" Aku pun dipanggi untuk menghadap Rasulullah, lalu
beliau bersabda: "Wahai anak saudaraku, peganglah kepala untamu karena itu menjadi milikmu!"
Beliau memanggil Bilal dan bersabda kepadanya: "Pergilah bersama Jabir dan berikan uang satu
uqiyah kepadanya!" Akupun pergi bersama Bilal lalu ia memberiku uang satu uqiyah dan
memberi sedikit tambahan. Demi Allah, pemberian itu terus bertambah dan bertambah hingga aku
mendapat musibah di Perang Al-Harrah belum lama ini.
Ibnu Ishaq berkata: Sepulangnya dari Perang Dzatu Ar-Riqa', Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
menetap di Madinah pada sisa bulan Jumadil Ula dan Jumadil Akhir, serta bulan Sya'ban.
Perang Badar Terakhir Bulan Sya'ban Tahun Keempat Hijriyah
Ibnu Ishaq berkata: Saat bulan Sya'ban, Rasulullah Shallallahu Alaih wa Sallam meninggalkan Madinah
untuk memenuhi janji dengan Abu Sufyan bin Harb hingga tiba di Badar.
Rasulullah Shallallahu Alaih wa Sallam menunggu Abu Sufyan bin Harb di Badar selama delapan
malam. Sedangkan Abu Sufyan bin Harb sendiri keluar meninggalkan Makkah ditemani orang-orang
Makkah hingga tiba di Majinnah dari arah Zhahran. Sebagian ulama lainnya menceritakan bahwa Abu
Sufyan bin Harb dan anak buahnya berjalan hingga ke Usfan, lalu mereka berniat memilih
pulang kembali ke Makkah.
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berada di Badar menunggu Abu
Sufyan bin Harb, beliau disapa oleh Makhsyi bin Amr Adh-Dhamri. perwakilan Bani Dhamrah, yang
telah berdamai dengan beliau di Perang Waddan.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tetap berada di Badar menunggu kedatangan Abu Sufyan bin
Harb. Suatu jika , Ma'bad bin Abu Ma'bad A1 Khuzai berjalan melewati beliau. Tatkala dia jika
melihat tempat dan unta beliau yang berjalan cepat ke sana, ia berkata:
Sungguh, untanya lari dari sahabat-sahabat Muhammad
Dan dari kurma Ajwah Yatsrib laksana anggw kering
Ia berjalan cepat di atas agama ayahnya dahulu
Ia menjadikan Mata Air Qudaid sebagai tempat tempat perjanjianku
Sumber air Dajnan besok akanjadi miliknya
Ibnu Hisyam berkata: Abu Zaid Al-Anshari berkata kepadaku bahwa syair di atas yaitu syair Ka'ab bin
Malik.
Abdullah bin Rawahah Radhiyallahu Anhu berkata tentang Perang Badar Terakhir yang gagal ini :
Kami berjanji pada Abu Sufyan untuk kembali bertemu di Badar
Tapi kami dapatkan dia tidak jujur dan iapun tak menepati janji
Aku bersumpah, andai engkau tepati janji perjumpaan dengan kami
Niscaya engkau pulang dirundung hina dan kehilangan para kerabat
Di sana, kami biarkan tubuh Utbah dan anak-nya
Demikian pula Amr dan Abu Jahal terbunuh tewas
Kalian membangkang Rasulullah, celakalah agama kalian
Dan urusan buruk kalian yang sesat itu
Walaupun kalian bersikap keras padaku
Aku tetap katakan keluarga dan hartaku menjadi tebusan bagi Rasulullah
Kam











