Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 16. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 16. Tampilkan semua postingan

Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 16

 


ahu 'alaihi wa Sallam dipersaudarakan dengan Abu Ruwaihah Abdullah bin Abdurrahman Al-

Khats'ami, salah seorang Faza' yang sangat terkenal. 

Demikianlah di antara nama-nama yang dipersaudarakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

jika  Umar bin Khaththab membuat departemen-departemen di Syam Bilal berangkat ke sana dan 

menetap di sana sebagai seorang mujahid, Umar bin Khaththab berkata kepada Bilal: "Hai Bilal, 

engkau dengan siapa ditulis dalam surat persaudaraan itu?" Bilal menjawab: "Dengan Abu Ruwaihah. 

Aku akan selalu bersama dengannya selama-lamanya, karena persaudaraan yang telah ditetapkan 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam antara aku dengan dia." Umar bin Khaththab pun 

menggabungkan Bilal kepada Abu Ruwaihah dan menggabungkan departemen orang-orang Habasyah 

ke dalam departemen orang-orang Khatsam, karena kedudukan Bilal di tengah-tengah mereka. 

 

 

Abu Umamah, Kematiannya dan Apa yang Dikatakan Orang-orang Yahudi 

 

Ibnu Ishaq berkata: Di bulan itu juga, Abu Umamah, As'ad bin Zurarah berpulang ke pangkuan Ilahi 

pada saat masjid tengah dibangun. Ia meninggal dunia karena menderita sakit tenggorokan (dipteria) 

atau batuk. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm ber¬kata kepadaku dari 

Yahya bin Abdullah bin Abdurrahman bin As'ad bin Zurarah bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam bersabda: "Sungguh alangkah tidak beruntungnya mayit Abu Umamah." Orang-orang Yahudi 

dan orang-orang munafik Arab berkata: "Jika ia (Rasulullah) benar-benar seorang Nabi, sahabatnya 

pasti tidak akan mati." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda lebih lanjut, "Aku tidak 

memiliki kekuatan dari Allah untuk diriku dan sahabatku (untuk me- nepis kematian)." 

Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah Al-Anshar berkata kepadaku bahwa pada saat Abu 

Umamah As'ad bin Zurarah meninggal dunia, orang-orang dari Bani An-Najjar menghadap Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam -Abu Umamah yaitu  naqib (pemimpin) mereka. Mereka berkata kepada 

beliau: "Wahai Rasulullah, sebenarnya  orang Abu Umamah As'ad bin Zurarah ini memiliki 

kedudukan di kalangan kami seperti telah engkau ketahui. Oleh karena itu, carilah orang lain yang bisa 

menggantikan kedudukannya dan mengatur urusan kami sebagaimana Abu Umamah As'ad bin Zura-

rah mengatur urusan kami." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka: "Kalian 

yaitu  paman-pamanku dan aku yaitu  naqib bagi kalian. Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam 

enggan menyerahkan jabatan naqib kepada salah seorang dari mereka. Di antara kelebihan Bani An-

Najjar yang mereka banggakan kepada kaumnya, bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yaitu  

naqib mereka. 

 

 

Adzan 

 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam merasa betah tinggal di Madinah, 

saudara-saudara beliau dari kaum Muhajirin berdatangan kepada beliau dan persatuan kaum Anshar 

telah tercapai, Islam pun mulai mengakar; shalat ditegakkan, zakat dan puasa diwajibkan, hudud 

(hukum pidana) ditegakkan, hal-hal yang halal dan haram diwajibkan dan Islam mendapat kedudukan 

terhormat di tengah-tengah mereka. Perkampungan Anshar selalu yang menyediakan tempat bagi 

kaum Muhajirin dan beriman. Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah, kaum 

Muslimin berkumpul untuk menegakkan shalat karena waktunya telah tiba tanpa seruan suara. Pada 

walnya, beliau ingin menggunakan suara terompet seperti orang-orang Yahudi pada saat mengajak 

salat, namun beliau tidak menyukainya. Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan 

penggunaan lonceng untuk memanggil kaum Muslimin sebagai pertanda waktu shalat.  

Ibnu Ishaq berkata: Pada saat kaum Muslimin berada dalam keadaan seperti di atas, tiba-tiba Abdullah 

bin Zaid bin Tsa'labah bin Abdu Rabbihi saudara Bani Al-Harits bin Al-Khazraj bermimpi melihat seruan 

shalat. Ia menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan berkata: "Wahai Rasulullah, tadi 

malam aku bermimpi melihat seseorang memakai pakaian hijau berjalan melewatiku dengan 

membawa lonceng. Aku bertanya kepadanya, "Hai hamba Allah, bolehkah loncengmu itu kubeli?" 

Orang ini  menjawab: "Apa yang kau inginkan darinya?" Aku menjawab: "Aku akan gunakan 

untuk memanggil orang untuk shalat. Orang ini  berkata: "Maukah engkau aku tunjukkan yang 

lebih baik dibandingkan  lonceng ini?" Aku berkata: "Apa itu?" Orang ini  berkata: "Hendaknya engkau 

berkata: "Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Asyhadu an laa Ilaaha Ilia Allah. 

Asyhadu an laa Ilaaha Ilia Allah. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Asyhadu anna 

Muhammadar Rasulullah. Hayya aala ash- shalah. Hayya 'alas ash-shalah. Hayya alal falah. Hayya 

alalfalah. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Laa ilaaha ilia Allah!'71 

Usai Abdullah bin Zaid mengisahkan mimpinya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, beliau 

bersabda: "Mimpi itu benar, insya Allah. Cepat engkau temui Bilal, lalu  ajarkan lafadz ini  

kepada Bilal agar ia menyeru dengan seruan ini , karena suara Bilal lebih keras dari suaramu." 

Tatkala Bilal sedang mengumandangkan adzan ini , Umar bin Khaththab mendengarnya. Ia 

segera pergi menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengenakan selendangnya. Ia berkata: 

"Wahai Nabi Allah, demi Allah! Aku juga melihat dalam mimpiku seperti yang dilihat Abdullah bin Zaid 

dalam mimpinya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Segala puji bagi Allah atas semua 

ini."72 

 

Ibnu Ishaq berkata: Peristiwa di atas disampaikan kepadaku oleh Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits 

dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid bin Tsa'labah bin Abdu Rabbihi dari ayahnya. 

Ibnu Ishaq bercerita: Muhammad bin Ja'far bin Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari 

seorang wanita Bani An-Najjar yang berkata: "Tidak ada rumah yang paling tinggi di sekitar masjid 

kecuali rumahku dan Bilal biasa menyerukan suara adzan shubuh di atasnya pada setiap pagi. Jika 

waktu shubuh telah tiba, ia berdoa: "Ya Allah, sebenarnya  aku memuji-Mu dan memohon 

pertolongan-Mu agar orang-orang Quraisy mengokohkan agama-Mu. sesudah  itu, Bilal menyerukan 

suara adzan. Demi Allah, aku lihat Bilal selalu mendawami doanya ini ." 

 

 

Abu Qais bin Abi Anas 

 

Ibnu Ishaq berkata: Saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam merasa nyaman tinggal di rumahnya, 

Allah memenangkan agama-Nya di Madinah, dan membuat beliau bahagia dengan bersatunya antara 

kaum Muhajirin dan kaum Anshar kepada beliau, maka Abu Qais Shirmah bin Abu Anas saudara Bani 

Adi bin An-Najjar melantunkan bait-bait syairnya yang menawan. 

Ibnu Hisyam berkata: Abu Qais yaitu  Shirmah bin Abu Anas bin Shirmah bin Malik bin Adi bin Amir 

bin Ghanim bin Adi bin An-Najjar. Ibnu Ishaq berkata: Abu Qais yaitu  seorang pemikir yang bersahaja 

pada masa Jahiliyah. Ia tidak menyembah berhala, mandi junub, menyuruh wanita yang haid untuk 

bersuci, dia ingin memeluk agama Kristen, namun mengurungkannya. lalu  ia menjadikan 

rumahnya sebagai tempat ibadah yang tidak boleh dimasuki orang yang kotor atau orang yang junub. 

Ia berkata: Aku hanya menyembah Tuhan Ibrahim saat ia meninggalkan berhala-berhala dan 

membencinya." Fada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah, ia masuk Islam 

dengan baik sekali. Saat itu usianya telah lanjut. Ia selalu berbicara yang benar, mengagungkan Allah 

Yang Maha agung pada masa jahihyahnya. 

 

 

Orang-orang Yahudi dan Sebab Permusuhan Mereka 

 

Ibnu Ishaq berkata: jika  Islam berjaya di Madinah, para rabi Yahudi yang didukung orang-orang Al-

Aus dan Al-Khazraj yang tetap bertahan pada kejahiliyahannya, merasa resah gelisah. Orang-orang Al-

Aus dan Al-Khazraj ini  yaitu  orang-orang musyrik yang munafik. Mereka bersandiwara dengan 

identitas "Muslim" agar bisa selamat dari pembunuhan, namun sebenarnya dalam hati mereka ada 

kemunafikan. Hati nurani mereka bersatu dengan orang-orang Yahudi karena kekafiran mereka 

kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan keengganan mereka untuk menerima Islam dan 

masuk di dalamnya. 

Di antara rabi-rabi Yahudi ini  yaitu : Huyay bin Akhthab. Saudara Huyay bin Akhthab yang 

bernama Abu Yasir bin Akhthab, saudara Huyay bin Akhthab yang lain, yaitu Judai bin Akhthab, Salam 

bin Misykam, Kinanah bin Ar-Rabi' bin Abu Al-Haqiq, Salam bin Abu Al-Haqiq, saudara Salam bin Al-

Ha-qiq yang bernama Salam bin Ar-Rabi'. Salam bin Ar-Rabi' yaitu  anak Rafi' Al-A'war yang di eksekusi 

sahabat-sahabat Rasulullah Shal-lalahu 'alaihi wa Sallam di Khaybar, Ar-Rabi bin Ar-Rabi' bin Abu Al-

Haqiq, Amr bin Juhasy, Ka'ab bin Al-Asyraf. Ka'ab bin Al-Asyraf berasal dari Thayyi', lalu  dari 

salah satu Bani Nabhan. Ibunya berasal dari Bani An- Nadhir, Al-Hajjaj bin Amr sekutu Ka'ab bin Al-

Asyraf, Kardum bin Qais sekutu Ka'ab bin Al-Asyraf. Mereka semua berasal dari Bani An-Nadhir. 

Para rahib dari Bani Tsa'labah bin Al- Fathiyyun yaitu : Abdullah bin Shuri Al- A'war. Pada zamannya, 

di Hijaz tidak ada seorang pun yang lebih paham tentang Kitab Taurat (Perjanjian Lama) dari Abdullah 

bin Shuri. Ibnu Shaluba, Mukhairiq. Ia rahib orang Yahudi, namun lalu  ia masuk Islam. 

Dari Bani Qainuqa' yaitu : Zaid bin Al-Lashait. Ada yang mengatakan Ibnu Al-Lushait seperti dikatakan 

Ibnu Hisyam. Sa'ad bin Hanif, Mahmud bin Saihan, Uzair bin Abu Uzair, Abdullah bin Shaif. 

Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Ibnu Dhaif. 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  Suwaid bin Al-Harits.. Rifa'ah bin Qais. Finhashh, Asyi', Nu'man bin 

Adha, Bahri bin Amr, Syas bin Adi, Syas bin Qais, Zaid bin Al-Harts, Nu'man bin Amr, Sukain bin Abu 

Sukain, Adi bin Zaid, Nu'man bin Abu Aufa Abu Anas, Mahmud bin Dahiyyah, Malik bin Ash-Shaif. Ada 

pula yang mengatakan Ibnu Adh-Dhaif. 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  Ka'ab bin Rasyid, Azir, Rafi' bin Abu Rafi', Khalid, Izar bin Abu Izar. 

Ibnu Hisyam berkata: Ada pula yang mengatakan Azir bin Abu Azir.  

Ibnu Ishaq berkata: lalu  Rafi' bin Haritsah, Rafi' bin Huraimalah, Rafi' bin Kharijah, Malik bin Auf, 

Rifa'ah bin Zaid bin At-Tabut, Abdullah bin Salam bin Al-Harits. Ia ulama mereka, seorang rahib yang 

paling cerdas. Ia bernama asli Al-Hushain. jika  ia masuk Islam, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

mengganti namanya dengan nama Abdullah. Mereka ini berasal dari Bani Qainuqa'. 

Bani Quraizhah yaitu  sebagai berikut: Az-Zubayr bin Batha bin Wahb, Azzal bin Samuel, Ka'ab bin 

Asad. Ia terikat perjanjian dengan Bani Quraizhah lalu  membatalkannya pada Perang Ahzab. 

Samuel bin Zaid, Jabal bin Amr bin Sakinah, An-Nahham bin Zaid, Fardam bin Ka'ab, Wahb bin Zaid, 

Nafi' bin AbuNafi, Abu Nafi', Adi bin Zaid, Al-Harts bin Auf, Kardam bin Zaid, Usamah bin Habib, Rafi' 

bin Rumailah, Jabal bin Abu Qusyair, Wahb bin Yahuda. Mereka ini berasal dari Bani Quraizhah. 

Dari Bani Zuraiq ialah Labid bin A'sham. Dialah orang yang menyihir Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam hingga tidak bisa mendatangi istri-istrinya. 

Dari Bani Haritsah: Kinanah bin Shuriya. 

Dari Bani Amr bin Auf ialah Fardam bin Amr. 

Dari Bani An-Najjar ialah Silsilah bin Barham. 

Mereka semua rabi-rabi Yahudi, orang- orang jahat, orang-orang yang melawan Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, orang-orang yang banyak bertanya tanpa aplikasi apapun, 

dan memusuhi Islam karena ingin memadamkannya, kecuali Abdullah bin Salam dan Mukhairiq. 

 

 

Abdullah bin Salam Masuk Islam 

 

Ibnu Ishaq berkata: Di antara kisah Abdullah bin Salam, sebagaimana dikatakan oleh sebagian 

keluarganya kepadaku dan tentang masuk Islamnya. Dia rabi dan ulama. Abdullah bin Salam berkata: 

Tatkala aku mendengar kemunculan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, aku pun mengetahui 

tanda-tanda beliau dan namanya. Aku sembunyikan hal ini dan tidak mendiskusikannya dengan 

siapapun hingga beliau tiba di Madinah. Saat itu, aku bekerja di atas pohon kurma, dan bibiku, 

Khalidah binti Al-Harits duduk di bawahku, jika  Rasulullah singgah di Quba' di Bani Amr bin Auf, 

seseorang datang memberi tahu kedatangan beliau, aku segera bertakbir. jika  bibiku mendengar 

pekikan takbirku, ia berkata kepadaku: "Usahamu akan sia-sia! Demi Allah, jika engkau mendengar 

kedatangan Musa bin Imran, engkau pasti akan kecewa dengan Nabi baru ini !" Aku katakan 

kepada bibiku: "Bibi, demi Allah, beliau (Rasulullah) yaitu  saudara Musa bin Imran, seagama 

dengannya, dan diutus dengan membawa ajaran yang sama dengan Musa bin Imran." Bibiku berkata: 

"Hai keponakanku, apakah dia nabi yang di janjikan kepada kita bahwa dia akan diutus pada era 

sekarang ini?" Aku menjawab: "Ya." Bibiku berkata: "Kalau begitu, pasti dialah nabi itu." sesudah  itu 

aku menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan menyatakan diri masuk Islam di hadapan 

beliau. sesudah  masuk Islam, aku pulang ke rumah dan menyeru keluargaku masuk Islam, mereka pun 

masuk Islam. 

Dia berkata: Aku sembunyikan keislamanku dari orang-orang Yahudi. Aku menemui Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan lagi berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, sebenarnya  orang-

orang Yahudi yaitu  kaum yang pandai membuat dusta dan bersilat lidah. Aku ingin engkau 

menyembunyikanku di sebagian rumahmu dan merahasiakanku dari mereka. Sesudah itu, engkau 

berdiskusi dengan mereka tentang diriku hingga mereka menjelaskan kepadamu bagaimana 

kedudukanku di mata mereka sebelum mereka mengetahui keislamanku. Jika mereka mengetahui 

keislamanku, mereka pasti mendustakanku dan mencelaku. "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

menyembunyikanku di salah satu rumah beliau dan pada saat yang sama orang-orang Yahudi masuk 

menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka berdiskusi dengan beliau dan bertanya 

kepada beliau. sesudah  itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada mereka, 

"Bagaimana kedudukan Al-Hushaini bin Salam di tengah kalian?" Orang-orang Yahudi menjawab, "la 

pemimpin kami dan anak pemimpin kami. Ia seorang rabi dan ulama kami. "Usai mereka bersaksi 

dihadapan Rasulullah, aku langsung keluar menemui mereka, dan aku berkata kepada mereka, "Hai 

kaumku, bertakwalah kalian kepada Allah, dan terimalah apa yang telah datang kepada kalian. Demi 

Allah, kalian telah mengetahui bahwa beliau utusan Allah. Kalian mendapat  beliau tertulis di dalam 

Kitab Taurat lengkap dengan nama, dan sifat- sifat beliau. sebenarnya  aku bersaksi bahwa beliau 

yaitu  utusan Allah, mengimaminya, membenarkannya, dan mengenalnya." Mereka berkata: "Engkau 

sedang mengigau." Lalu mereka pun mencaci-makiku. Aku berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam, "Wahai Rasulullah, sekarang engkau lihat sendiri bagaimana watak asli mereka yang suka 

mengingkari kedatangan Nabi?' Aku tetap terbuka dengan keislamanku dan keislaman keluargaku. 

Bibiku, Khalidah binti Al-Harits juga masuk islam dengan keislaman yang baik. 

 

 

Kesaksian Shafiyyah tentang Kebandelan Orang-orang Yahudi 

 

Ibnu Ishaq menuturkan: Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazir berkata kepadaku, 

ia berkata aku diberi tahu dari Shafiyyah binti Huyay bin Akhthab bahwa Shafiyyah berkata: "Aku 

merupakan anak yang paling dicintai oleh ayah dan pamanku Abu Yasir. jika  aku betemu dengan 

mereka yang sedang membawa anak-anak mereka pasti keduanya membawaku bersama anak-anak 

mereka. jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah, dan singgah di Quba' di Bani 

Amr bin Auf, ayahku Huyay bin Akhthab, dan pamanku, Abu Yasir bin Akhthab menghampiri beliau 

saat menjelang Shubuh dan mereka berdua tidak pulang ke rumah hingga matahari terbenam. sesudah  

matahari terbenam, keduanya tiba dengan kondisi malas dan lemas, bingung dan berjalan lunglai. Aku 

berusaha menyenangkan keduanya sebagaimana biasa aku lakukan. Demi Allah, tak seorang pun dari 

keduanya menoleh kepadaku, ada perasaan gelisah pada diri mereka berdua. Aku mendengar 

pamanku, Abu Yasir berkata kepada ayahku, Huyay bin Akhthab: "Apakah memang dia (Rasulullah)?" 

Ayahku menjawab: "Ya betul, demi Allah." Pamanku, Abu Yasir bertanya kepada ayahku: "Apakah 

engkau mengetahuinya dan bisa memastikannya?" Ayahku menjawab: "Ya. '" Pamanku, Abu Yasir 

bertanya kepada ayahku: "Bagaimana perasaanmu terhadapnya?" Ayahku menjawab: "Demi Allah, 

aku senantiasa memusuhinya selama aku hidup." 

 

 

Orang-orang Munafik yang Bersekongkol dengan Yahudi dari Munafik Anshar 

 

Ibnu Ishaq berkata: Inilah nama deretan orang-orang munafik dari Al-Aus dan Al-Khazraj yang 

bergabung dengan orang-orang Yahudi. Wallahu a lam. 

Dari Al-Aus, lalu  dari Bani Amr bin Auf bin Malik bin Al-Aus, lalu  dari Bani Lawdzan bin 

Amr bin Auf ialah Zuwai bin Al-Harits. 

Dari Bani Habib bin Amr bin Auf yaitu  sebagai berikut: 

Julas bin Suwaid bin Ash-Shamit. Dialah yang berkata — ia termasuk orang yang tidak ikut serta 

berangkat ke Perang Tabuk bersama Rasulullah: "Jika orang ini (Rasulullah) memang benar, kita pasti 

lebih buruk dibandingkan  keledai." Ucapannya ini disampaikan Umair bin Sa'ad kepada Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam. jika  itu, Umair bin Sa'ad berada dalam asuhan Julas. Julas mengasuh 

Umair bin Sa'ad menggantikan ibunya sesudah  sebelumnya Umair bin Sa'ad diasuh ayahnya. Umair bin 

Sa'ad berkata kepada Julas: "Wahai Julas, demi Allah, engkau orang yang paling aku cintai, orang yang 

paling baik dan dermawan bagiku, dan aku berharap tidak terjadi sesuatu yang tidak baik terhadapmu. 

Sungguh engkau telah berucap; jika aku membeberkannya, engkau akan dijelek-jelekkan. Namun bila 

aku menyembunyikannya, maka itu akan merusak agamaku. Salah satu dari kedua pilihan itu mudah 

bagiku dari yang lainnya. sesudah  itu, Umair bin Sa'ad pergi menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam dan melaporkan apa yang dikatakan Julas. Julas bersumpah pun dengan nama Allah di 

hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  berkata: "Sungguh Umair berkata dusta, 

dan aku tidak mengatakan apa yang dilaporkan 

Umair bin Sa'ad." lalu  Allah Subhanahu wa Taala menurunkan ayat tentang Julas ini: 

 

 

Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan 

(sesuatu yang menyakitimu). sebenarnya  mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan 

telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan 

mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan 

karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu yaitu  lebih baik bagi mereka, dan jika 

mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan di 

akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi. 

" (QS. at-Taubah: 74). 

Ibnu Hisyam berkata: Firman Allah: 'Al-Alim artinya sangat pedih dan menyakitkan. 

Ibnu Ishaq berkata: Para ulama menyatakan, bahwa Julas bertobat dan tobat serta keislamannya baik. 

Lainnya yaitu  saudara Julas, Al-Harits bin Suwaid yang membunuh Al-Mujadzdzar bin Dziyad Al-

Balawi dan Qais bin Zaid salah seorang Bani Dhabi'ah di Perang Uhud. Al-Harits yaitu  orang munafik. 

Pada saat kaum Muslimin dan orang-orang Quraisy bertemu di medan Uhud, Al-Harits menyerang Al-

Mujadzdzar bin Dziyad dan Qais bin Zaid. sesudah  ia berhasil menghabisi nyawa keduanya keduanya, 

ia pun lalu  bergabung dengan pasukan Quraisy. 

Ibnu Hisyam berkata: "Al-Mujadzdzar bin Dziyad sebelumnya membunuh Suwaid bin Shamit pada 

sebuah perang yang terjadi antara Al-Aus melawan Al-Khazraj. Pada Perang Uhud, Al-Harits bin Suwaid 

mencari kelengahan Al-Mujadzdzar bin Dziyad untuk dibunuh sebagai bentuk balas dendam atas 

kematian ayahnya, dan ia pun membunuhnya. Pendapat ini dikatakan tidak hanya oleh seorang ulama. 

Bukti bahwa Al-Harits bin Suwaid tidak membunuh Qais bin Zaid ialah bahwa Ibnu Ishaq tidak 

memasukkan Qais bin Zaid dalam daftar orang yang terbunuh di Perang Uhud. 

Ibnu Ishaq berkata: Suwaid bin Shamit membunuh Muadz bin Afra' jika  ia lengah dan bukan di 

medan perang. Suwaid bin Shamit memanah Muadz bin Afra' dan membuatnya meninggal dunia 

sebelum Perang Buats. 

Ibnu Ishaq berkata: Menurut penuturan para pakar, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

memerintah Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu untuk membunuh Al-Harits bin Suwaid bila 

bertemu dengannya, namun dia tidak bertemu dengannya. Al-Harits bin Suwaid tinggal di Makkah. Ia 

kirim surat kepada saudaranya, Julas bin Suwaid. Dalam surat ini , Al-Harits bin Suwaid 

mengatakan ingin bertobat dan kembali kepada kaumnya, lalu  Allah Subhanahu wa Taala 

menurunkan ayat tentang Al-Harits bin Suwaid seperti dikatakan kepadaku dari Ibnu Abbas: 

   

Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah 

mengakui bahwa RasuV itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keterangan pun telah 

datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orangyangzalim (QS. Ali Imran: 86), hingga akhir 

kisah. 

Dari Bani Dhubai'ah bin Zaid bin Malik bin Auf bin Amr bin Auf ialah Bajad bin Utsman bin Amir. 

Dari Bani Laudzan bin Amr bin Auf ialah Nabtal bin Al-Harits. Orang ini  yaitu  yang dikatakan 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam -seperti berita yang disampaikan kepadaku: "Barangsiapa ingin 

melihat setan, hendaklah ia melihat Nabtal bin Al-Harits." Ia memiliki postur yang tubuh besar, 

bibirnya melorot ke bawah, rambutnya berantakan, kedua matanya merah, dengan kedua pipinya 

merah kehitaman. Ia pernah berjumpa dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, berdialog dan 

mendengar ucapan beliau, lalu  ia ceritakan ucapan beliau kepada orang-orang munafik, sambil 

berkata kepada mereka: "sebenarnya  Muhammad mendengarkan perkataan orang yang berbicara 

dengannya, lalu ia membenarkannya." Allah Yang Mahatinggi menurunkan ayat tentang Nabtal bin Al-

Harits sebagai berikut: 

 

Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: "Nabi 

mempercayai semua apa yang didengarnya." Katakanlah: "Ia mempercayai semua yang baik bagi 

kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-

orang yang beriman di antara kamu." Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka 

adzab yang pedih." (QS. at-Taubah: 61). 

Ibnu Ishaq berkata: Sebagian orang Al-Ajlan berkata kepadaku: Malaikat Jibril 'Alaihis salam datang 

kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan berkata: "Telah datang kepadamu orang yang 

bibirnya melorot ke bawah, rambutnya acak-acakan. Kedua pipinya merah kehitaman, kedua matanya 

merah seperti dua periuk dari kuningan, hatinya lebih keras dibandingkan  hati keledai, ia menceritakan 

apa yang engkau ucapkan kepada orang-orang munafik. Oleh karenanya, berhati-hatilah 

terhadapnya." Itulah sifat-sifat Nabtal bin Al-Harits yang disebut oleh mereka. 

Dari Bani Dzabi'ah yaitu  sebagai berikut: Abu Habibah bin Al-Az'ar. Dia yaitu  di antara orang yang 

membangun Masjid Dhirar. Tsa'labah bin Hathib, Mu'attib bin Qusyair. Tsa'labah bin Hathib, dan 

Mu'attib bin Qasyir itulah yang berjanji kepada Allah bahwa jika Allah memberi kami rezeki, akan 

bersedekah dan menjadi orang-orang shalih. Mu'attib inilah yang berkata pada saat Perang Uhud: 

"Seandainya kami pada posisi lain dalam hal ini, kami pasti tidak terbunuh di tempat ini." Allah 

menurunkan ayat tentang Mu'attib bin Qusyair: 

 

 

Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak 

benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang 

sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?" Katakanlah: "sebenarnya  urusan itu seluruhnya di 

tangan Allah." Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan 

kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam 

urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." (QS. Ali Imran: 154), hingga akhir kisah. 

Mu'attib ini pula yang berkata di Perang Ahzab, 'Muhammad telah berjanji kepada kita, bahwa kita 

akan memiliki simpanan-simpanan Kisra dan Kaisar, sementara untuk buang air saja kita tidak merasa 

aman. Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapan Mu'attib ini : 

 

Dan (ingatlah) jika  orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata: 

"Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya (QS. al-Ahzab: 12). Juga al-

Harits bin Hathib. 

Ibnu Hisyam berkata: Muattib bin Qusyair, Tsa'labah bin Hathib, dan Al-Harits bin Hathib berasal dari 

Bani Umayyah bin Zaid. Mereka ikut dalam Perang Badar dan tidak tergolong orang-orang munafik -

seperti dikatakan kepadaku oleh ulama yang lebih di percaya. Ibnu Ishaq memasukkan Tsa'labah dan 

Al-Harits ke dalam deretan nama orang-orang Bani Umayyah di antara para peserta Perang Badar. 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  Abbad bin Hunaif saudara Sahl bin Hunaif dan Bahzaj, mereka terlibat 

dalam pembangunan Masjid Dhirar. Amr bin Khidzam dan Abdullah bin Nabtal. 

Dari Bani' Tsa 'labah bin Amr bin Auf yaitu  sebagai benkut: 

Jariyah bin Amir bin Al-Aththaf dan kedua anaknya yakni Zaid bin Jariyah, Mu-jammi' bin Jariyah. 

Mereka bertiga termasuk orang-orang yang membangun Masjid Dhirar. Mujammi' yaitu  anak muda 

yang hafal sebagian besar Al-Qur'an dan shalat bersama orang-orang munafik di Masjid Dhirar. jika  

Masjid Dhirar telah dirubuhkan, dan orang-orang dari Bani Amr bin Auf pergi, orang- orang munafik 

itu shalat di Bani Auf bin Amr di masjid mereka. Pada masa kakhalifah Umar bin Khaththab 

Radhiyallahu Anhu pernah ada yang menyarankan kepadanya agar Mujammi' bisa ikut shalat bersama 

kaum Muslimin. Umar bin Khaththab menjawab: Tidak mung- kin, bukankah dia imam orang-orang 

munafik di Masjid Dhirar?' Mujammi' berkata kepada Umar bin Khaththab, 'Wahai Amirul Mukmi- nin, 

demi Allah yang tidak ada Tuhan yang pantas disembah kecuali Dia, aku tidak tahu sedikit pun tentang 

persoalan mereka. Pada masa itu, aku masih kecil, dan biasa membaca serta menghafal Al-Qur'an. 

Tidak ada seorang pun diantara mereka yang mempunyai 

hafalan Al-Qur'an, lalu mereka memintakn mengimami mereka dan aku tidak diberi tahu sama sekali 

tentang persoalan mereka kecuali hal-hal yang baik saja. Ada yang menyebutkan bahwa Umar bin 

Khaththab mengizinkar. Mujammi' shalat bersama kaumnya. 

Dari Bani Umayyah bin Zaid bin Malik ialah Wadi'ah bin Tsabit. Dia termasuk orang yang ikut 

membangun Masjid Dhirar. Dialah orang yang berkata: 'sebenarnya  kami hanya bergurau dan 

bermain-main.' Allah Taba- raka wa Ta'ala menurunkan ayat tentang dia dan orang-orang munafik 

seperti dirinya: 

 

Danjika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan 

menjawab: "sebenarnya  kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: 

"Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" (QS. at-Taubah: 65). 

Hingga akhir kisah. 

Dari Bani Ubaid bin Zaid bin Malik ialah Khidzam bin Khalid. Dari rumahnyalah masjid Dhirar. Bisyr, 

dan Rafi' keduanya yaitu  anak Zaid. 

Dari Bani An-Nabit, Ibnu Hisyam berkata: ialah Amr bin Malik bin Al-Aus. 

Dari Bani Haritsah bin Al-Harts bin Al-Khazraj bin Amr bin Malik bin Al-Aus ialah Mirba bin Qaidzi. 

Dialah orang yang berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika  beliau berjalan 

melewati kebunnya dalam perjalanannya menuju medan Perang Uhud, "Hai Muhammad, jika engkau 

yaitu  seorang nabi, aku tidak menghalalkanmu ber jalan melewati, kebunku ini." lalu  Mirba' 

bin Qaizhi mengambil segenggam tanah, dan berkata: "Demi Allah, jika aku tahu bahwa tanah ini tidak 

mengenai orang lain selain dirimu, aku akan melemparmu dengannya." Spontan kaum muslimin ingin 

membunuhnya, namun Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka, "Biarkanlah 

dia. Orang ini buta hati dan matanya." Lalu dia dipukul oleh Sa'ad bin Zaid dan saudaranya Aus bin 

Qaidzi, mereka saudara Bani Abdul Asyhal hingga ia terluka. Dialah yang berkata kepada Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam pada Perang Khandaq: "sebenarnya  rumah-rumah kami yaitu  terbuka 

tidak ada penjagaya. Oleh karena itu, izinkan kami pulang ke rumah." Allah Tabaraka Ta'ala 

menurunkan ayat tentang ucapan Aus bin Qaidzi ini :  

 

Dan (ingatlah) jika  segolongan di antara mereka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak 

ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi 

(untuk kembali pulang) dengan berkata: "sebenarnya  rumah-rumah kami terbuka (tidak ada 

penjaga)." Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. (QS. 

al-Ahzab: 13). 

Ibnu Hisyam berkata: kata 'aurat" dalam ayat ini artinya yaitu  terbuka untuk musuh dan bisa habis. 

Aurat juga bermakna kehormatannya atau kemaluannya. 

Dari Bani Zhafar, nama aslinya ialah Ka'ab bin Al-Harits bin Al-Khazraj yaitu  seba gai berikut: Hathib 

bin Umayyah bin Rafi'. Ia orang tua yang berbadan besar, dan tetap bertahan pada kejahiliyahannya. 

Ia memiliki seorang anak yang termasuk seorang muslimin pilihan bernama Yazid bin Hathib. Yazid bin 

Hathib ikut Perang Uhud hingga terdapat banyak luka di tubuhnya, lalu  ia dibawa ke pemukiman 

Bani Zhafar. 

Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa telah ber- kumpul seluruh 

kaum Muslimin baik laki- laki maupun wanita yang berasal dari Bani Zhafar di rumah Yazid bin Hathib 

pada saat dia dalam kondisi sakaratul maut. lalu  mereka berkata: 'Bergembiralah engkau wahai 

Yazid dengan surga.' Demikianlah sehingga tampak jelas kemunafikan Hathib bin Umayyah. Hathib bin 

Umayyah berkata: 'Ya betul surga dari tumbuh-tumbuhan Harmal! Demi Allah, kalian telah menipu 

orang yang lemah 

 

Ibnu Ishaq berkata: Busyair bin Ubairiq, dia yaitu  Abu Thu'mah. Dialah orang yang mencuri dua baju 

besi dan Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang dirinya: 

 

Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orangyang mengkhianati dirinya. 

sebenarnya  Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa (QS. 

an-Nisa: 107). 

Quzman, sekutu mereka. Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku, 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sungguh Quzman yaitu  diantara manusia yang 

akan menghuni neraka."73 

Pada saat Perang Uhud, Quzman bertempur dengan gigih bahkan dia berhasil membunuh banyak 

orang dari kaum musyrikin, dan dia pun mengalami banyak luka. lalu  dia dibawa ke 

perkampungan Bani Zhafar. Salah seorang dari kaum Muslimin berkata kepadanya: "Bergembiralah 

engkau wahai Quzman, sungguh pada hari ini engkau mendapat  keuntungan besar, dan 

mendapat  ujian di jalan Allah seperti yang engkau rasakan." Quzman bertanya: "Dengan apa aku 

harus bergembira. Demi Allah, aku tidak bertempur kecuali demi membela kaumku." Saat luka-

lukanya bertambah parah, dan membuatnya merasa semakin kesakitan, Quzman mengambil anak 

panah dari busurnya, lalu  ia memotong urat nadi tangannya dengan anak panah ini . Ia 

pun mati bunuh diri. 

Ibnu Ishaq berkata: Tidak diketahui ada orang taki-laki dan wanita munafik di Bani Abdul Asyhal, 

namun Adh-Dhahhak bin Tsabit, salah seorang dari Bani Ka'ab satu kabilah Sa'ad bin Zaid dicurigai 

sebagai orang munafik dan dekat dengan orang Yahudi. 

Ibnu Ishaq berkata: Julas bin Suwaid bin Shamit sebelum taubatnya -seperti disampaikan kepadaku-, 

Mu'attib bin Qusyair, Rafi' bin Zaid, dan Bisyr mengaku bahwa mereka masuk Islam. Mereka pernah 

berselisih dengan sebagian kaum Muslimin, lalu  pihak kaum Muslimin meminta perkaranya 

dibawa dan diadukan kepada Rasulullah Shal- lalahu 'alaihi wa Sallam, sementara mereka meminta 

perkara itu dibawa ke tukang ramal, hakim orang-orang Jahiliyah. Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat 

tentang mereka: 

 

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa 

yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak 

berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan 

bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. an-Nisa': 60). 

Dari Al-Khazraj, lalu  dari Bani An-Najjar yaitu  sebagai berikut: Rafi' bin Wadi'ah, Zaid bin Amr, 

Amr bin Qais, Qais bin Amr bin Sahl. 

Dari Bani Jusyam bin Al-Khazrad, lalu  dari Bani Salimah ialah Al Jadd bin Qais. Dialah yang 

berkata: "Hai Muhammad, izinkan aku tidak mengikuti perang dan janganlah engkau 

menjerumuskanku ke dalam fitnah.' Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang dirinya, 

 

Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan 

janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah." Ketahuilah, bahwa mereka telah 

terjerumus ke dalam fitnah. Dan sebenarnya  Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orangyang 

kafir. (QS. at-Taubah:49). 

Dari Bani Auf bin Al-Khazraj ialah Abdullah bin Ubay bin Salul. Dialah gembong orang-orang munafik 

dan orang-orang munafik senantiasa datang berduyun kepadanya. Dialah yang berkata di Perang Bani 

Al-Musthalaq, 'Jika kami tiba di Madinah, orang yang paling mulia akan mengusir orang yang paling 

hina darinya.' Allah Ta'ala menurunkan surat Al-Munafiqun secara sekaligus yang mengabadikan 

ucapannya ini , dirinya, Wadi'ah salah seorang dari Bani Auf, Malik bin Abu Qauqal, Suwaid, dan 

Da'is. Mereka orang-orang terdekat Abdullah bin Ubay bin Salul. 

Abdullah bin Ubay bin Salul bersama me reka menyusup ke Bani An-Nadhir jika  mereka di kepung 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka berkata kepada orang-orang Bani An-Nadhir, 

'Hendaklah kalian tetap bertahan. Demi Allah, jika kalian diusir, kami akan keluar bersama kalian. Kami 

tidak akan patuh kepada seorang pun untuk menyusahkan kalian. Jika kalian diperangi, kami pasti 

menolong kalian-' Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya tentang Abdullah bin Salul dan teman-

temannya dari kaum munafik ini  dalam ayat berikut: 

 

Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara 

mereka yang kafir di antara ahli Kitab: "sebenarnya  jika kamu di usir niscaya kami pun akan keluar 

bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan) 

kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu." Dan Allah menyaksikan, bahwa 

sebenarnya  mereka benar-benar pendusta. sebenarnya  jika mereka diusir, orang-orang munafik 

itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sebenarnya  jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada 

akan menolongnya; sebenarnya  jika mereka menolongnya niscaya mereka akan berpaling lari ke 

belakang, lalu  mereka tiada akan mendapat pertolongan. sebenarnya  kamu dalam hati 

mereka lebih ditakuti dibandingkan  Allah. Yang demikian itu karena mereka yaitu  kaum yang tiada 

mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam 

kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka 

yaitu  sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedanghati mereka berpecah belah. Yang 

demikian itu karena sebenarnya  mereka yaitu  kaum yang tiada mengerti. (Mereka yaitu ) seperti 

orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan 

mereka dan bagi mereka adzab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu yaitu ) seperti 

(bujukan) setan jika  dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah 

kafir ia berkata: "sebenarnya  aku berlepas diri dari kamu karena sebenarnya  aku takut kepada 

Allah Tuhan semesta alam." (QS. al Hasyr:11-16) 

 

 

Di antara Rahib-rahib Yahudi yang Pura-pura Masuk Islam 

 

Ibnu Ishaq berkata: berikut ini yaitu  di antara orang-orang yang berlindung diri dengan agama Islam, 

masuk Islam bersama kaum Muslimin, serta menampakkan keislamannya, padahal mereka orang-

orang munafik, dari golongan rahib-rahib Yahudi. 

Dari Bani Qainuqa' yaitu  sebagai berikut: Sa'ad bin Hunaif, Zaid bin Al-Lushait, Nu'man bin Awfa bin 

Amr, dan Utsman. Zaid bin Al-Kushait pernah bertengkar dengan Umar bin Khaththab Radhiyallahu 

Anhu di pasar Bani Qainuqa'. jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kehilangan untanya dia 

Zaid bin Al-Kushait: "Muhammad mengaku mendapat wahyu dari langit, mengapa sampai dia tidak 

tahu di mana untanya ber- ada?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda -sesudah  

mendapat  wahyu- dari Allah tentang ucapan musuh Allah ini  tentang lokasi unta beliau 

berada: "sebenarnya  orang yang mengatakan bahwa Muhammad mengaku mendapat wahyu, 

kenap* tidak tahu di mana untanya berada, maka sebenarnya  aku tidak tahu apa-apa kecual apa 

yang diberitahukan oleh Allah kepadaku- dan sungguh Allah telah menunjukkan kepadaku lokasi unta 

itu, ia berada di syi'b. Unta ini  tertahan oleh pohon dengan tab kekangnya." lalu  beberapa 

orang dar. kaum Muslimin pergi kesana dan mendapat unta ini  seperti yang disabdakan oleh 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Rafi' bin Huraimalah. Pada saat dia mat:. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ber sabda tentang 

dirinya: "Pada hari ini, salah seorang pembesar orang-orang munafik telah meninggal dunia." 

Rifa'ah bin Zaid bin At-Tabut. Dalam perjalanan pulang sesudah  perang melawan Ban: Al-Mushthalaq, 

angin bertiup kencang menerpa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hingga kaum Muslimin merasa 

kewalahan, lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada kaum Muslimin: 

"Janganlah kalian takut. sebenarnya  angin ini bertiup kencang karena kematian salah satu 

pemimpin orang-orang kafir." Dan terbukti jika  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di 

Madinah, beliau mendapati Rifa'ah bin Zaid bin At-Tabut meninggal dunia tepat pada hari angin 

bertiup kencang. 

Silsilah bin Burham serta Kinanah bir. Shuriya. 

 

 

Pengusiran Orang-orang Munafik dari Mesjid Rasulullah 

 

Ibnu Ishaq berkata: Suatu hari beberapa orang munafik berada di masjid Nabi. Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam melihat mereka sedang berbincang di antara mereka dengan suara lirih sambil 

mendekat pada yang lain. Lalu Rasulullah menyuruh sahabatnya untuk menggusir mereka dengan 

tegas dari masjid. 

Abu Ayyub Khalid bin Zaid bin Kutaib beranjak berdiri dari tempat dimana dia duduk lalu berjalan ke 

tempat Amr bin Qais saudara Bani Ghanm bin Malik bin An-Najjar. Amr bin Qais yaitu  pemilik patung-

patung sesembahan mereka di zaman jahiliyah. Lalu ia memegang kuat kaki Amr bin Qais dan 

menariknya hingga ia keluar dari masjid. Amr bin Qais berkata kepada Abu Ayyub: "Wahai Abu Ayyub, 

pantaskan engkau mengusir diriku dari tempat pengeringan kurma ( masjid Nabi) Bani Tsa'labah?" 

Lalu Abu Ayyub bergerak menuju tempat Rafi' bin Wadi'ah, salah seorang Bani An-Najjar. Ia pegang 

kuat leher baju Rafi' bin Wadi'ah lalu menariknya dengan kencang. Ia tampar wajahnya, mengusirnya 

dari masjid seraya berkata: "Celakalah engkau wahai orang munafik yang menjijikkan. Wahai munafik 

kotor, keluarlah dari masjid Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam." 

Imarah bin Hazm bangki ke tempat Zaid bin Amr. Zaid adaiah seorang lelaki berjenggot panjang. Ia 

pegang jenggotnya, dan menariknya dengan kencang sampai ia dipaksa keluar masjid. lalu  

Imarah bin Hazm mengepalkan kedua tangannya dan memukul wajah Zaid bin Amr sehingga membuat 

Zaid bin Amr tersungkur jatuh. Zaid bin Amr berkata: "Wahai Imarah, engkau telah mencideraiku!" 

Imarah bin Hazm berkata: "Wahai munafik kotor, mudah-mudahan Allah mencelakakanmu. Apa yang 

Allah persiapkan bagimu nanti jauh lebih mengerikan dibandingkan  tamparanku. Janganlah sekali-kali 

engkau mendekati masjid Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam." 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Muhammad yang berasal dari Bani An-Najjar -pemilik nama lengkap Mas'ud 

bin Aus bin Zaid bin Ashram bin Zaid bin Tsa'labah bin Ghanm bin Malik bin An-Najjar- beranjak ke 

tempat dimana Qais bin Amr bin Sahl berada. Ia seorang pemuda satu-satunya di tengah orang-orang 

munafik saat itu, lalu ia mendorong tengkuk kepalanyanya sampai ia keluar dari masjid Nabi. 

Seseorang dari Khadirah-bin Al-Khazraj yang bernama Abdullah bin Al-Harits orang yang berasal dari 

kabilah yang sama dengan Sa'id Al-Khudri berjalan ke tempat Al-Harits bin Amr yang memiliki rambut 

sangat tebal, lalu  ia menarik rambutnya serta menyeretnya dengan kuat sampai dia tertarik 

keluar dari masjid. Si munafik kotor Al-Harits bin Amr berkata kepada Abdullah bin Al-Harits: "Wahai 

anak Al-Harits, engkau telah ber- laku di luar batas pada diriku." Abdullah bin Al-Harits menjawab: 

"Engkau sangat pantas menerimanya, wahai musuh Allah, karena Allah telah menurunkan firman-Nya 

tentang dirimu. Maka janganlah engaku pernah lagi mendekati masjid Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam karena sebenarnya  dirimu itu najis." 

Seseorang dari Bani Amr bin Auf bangkit ke tempat saudaranya yang bernama Zuwai bin Al-Harits lalu 

mengusirnya keluar dari masjid. Zuwai bin Al-Harits tidak menerima perlakuan seperti itu dari 

saudaranya. Maka ia berkata: "Setan telah menguasai dirimu dan kau berada dalam cengkeraman 

perintahnya." 

Si munafik-munafik inilah yang berada di masjid dimana Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

memerintahkan agar mereka diusir dari masjid. 

 

 

Ayat-ayat dalam Surat Al-Baqarah Yang Turun tentang orang-orang Munafik dan Yahudi 

 

Mengenai pendeta-pendeta Yahudi dan orang munafik dari Aus dan Khazraj, Allah menurunkan 

permulaan surat Al-Baqarah sampai ayat seratus. Allah berfirman: 

 

Alif Laam Miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa 

(QS. al-Baqarah: 1-2), yakni tidak ada kesamaran dan keraguan di dalamnya. 

petunjuk bagi mereka yang bertakwa (QS. al-Baqarah: 2) Orang-orang bertakwa yang dimaksud yaitu  

mereka yang takut mendapat  siksa Allah akibat dari meninggalkan petunjuk yang telah mereka 

ketahui. Dan mereka senantiasa berharap rahmat Allah dengan senantiasa membenarkan apapun 

yang datang dari Allah kepada mereka. 

 

(yaitu) mereka yang beriman kepada yanggaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian 

rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS. al-Baqarah: 3). Yakni, mereka mendirikan shalat 

dan menaikan zakat dengan harapan memperoleh ridha Allah. 

 

dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab 

yang telah diturunkan sebelummu, (QS. al-Baqarah: 4). Yakni, percaya sepenuhnya dengan apa yang 

engkau bawa dari Tuhanmu dan percaya sepenuhnya dengan apa yang dibawa para Rasul yang datang 

sebelummu dengan tidak membeda-bedakan antari rasul serta tidak membangkang terhadap ajaran 

yang mereka bawa dari Tuhan mereka. 

 

serta mereka yakin akan adanya (kehidupan akhirat (QS. al-Baqarah: 4). Yakni, mereka yakin 

sepenuhnya akan adanya Hari Berbangkit, Hari Kiamat, surga, dan neraka, Hari Hisab dan neraca amal 

perbuatan. Mereka yakir. sepenuhnya akan apa yang dibawa para rasuj sebelummu, dan apa yang 

diturunkan tuhan kepadamu. 

 

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka (QS. al-Baqarah: 5) Yakni, mereka 

mendapat cahaya petunjuk dari tuhan dan senantiasa berpegang teguh dengan ajaran yang 

diturunkan kepada mereka. 

 

dan merekalah orang-orang yang beruntung (QS. al-Baqarah: 5). Yakni orang-orang yang memperoleh 

apa yang selama ini mereka can. dan selamat dari kejahatan yang mereka lari dari padanya. 

 

sebenarnya  orang-orang kafir (QS. al-Baqarah: 6),Yakni, orang-orang yang mengingkari terhadap 

apa yang diturunkan Allah kepadamu walaupun mereka berucap bahwa kami beriman kepada apa 

yang diturunkan kepada para rasul sebelummu. 

 

Sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan 

beriman (QS. al-Baqarah: 6). Yakni, mereka mengingkari kitab milik mereka sendiri yang memuat 

tentang kenabian dirimu di dalamnya, dan mengkhianati perjanjian yang diambil dari mereka untuk 

dirimu. Mereka mengingkari apa yang datang padamu dan apa yang ada pada mereka sendiri yang 

telah Allah turunkan kepada orang selain engkau. Lalu bagaimana mungkin mereka suka menyimak 

ancaman dan peringatanmu, sedangkan mereka telah kafir terhadap kitab mereka sendiri yang di 

dalamnya tercantum pengetahuan tentang diri dan kenabianmu. 

 

Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup (QS. al-

Baqarah: 7). Yakni, penglihatan mereka ditutup dari kebenaran, dan membuat mereka tidak kuasa 

mendapat nya untuk selama-lamanya. 

 

Dan bagi mereka (QS. al-Baqarah: 7). Yakni, akibat dari tindakan penentangan mereka terhadapmu. 

 

Siksa yang amat berat (QS. al-Baqarah: 7). Yakni, siksa ini  ditujukan untuk pendeta-pendeta 

Yahudi sebab mereka telah mendustakan kebenaran, padahal sebelumnya mereka telah 

mengetahuinya. 

 

Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari lalu ", padahal 

mereka itu sebenarnya  bukan orang-orang yang beriman (QS. al-Baqarah: 8). Yakni orang-orang 

munafik dari Aus dan Khazraj dan orang-orang yang semisal mereka. 

 

Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya 

sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. al-Baqarah: 9). 

 

Dalam hati mereka ada penyakit (QS. al- Baqarah: 10). Yakni, penyakit keraguan dan syakwasangka. 

 

lalu ditambah Allah penyakitnya (QS. al-Baqarah: 10). Yakni, Allah melipatkan gandakan keraguannya. 

 

dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan jika  dikatakan kepada 

mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "sebenarnya  kami 

orang-orang yang mengadakan perbaikan (QS. al-Baqarah: 10-11). Yakni, sebenarnya kami 

bermaksud mendamaikan dua pihak kaum Mukminin dengan Ahli Kitab. Allah Ta'ala berfirman: 

 

 

 

 

 

Ingatlah, sebenarnya  mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak 

sadar. jika  dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah 

beriman", mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu 

telah beriman?" Ingatlah, sebenarnya  merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak 

tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami 

telah beriman. " Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, (QS. al-Baqarah: 12-14), Setan-

setan ini  yaitu  orang-orang Yahudi yang menyuruh mereka mendustakan kebenaran, dan 

membangkang terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka 

mengatakan: 

 

"sebenarnya  kami sependirian dengan kamu, (QS. al-Baqarah: 14). Yakni, kami hanyalah berolok-

olok dan bermain-main dengan mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman: 

 

Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam 

kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, (QS. al-Baqarah: 

15-16). Yakni, mereka menukar kekafiran dengan keimanan. 

 

Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (QS. al-

Baqarah: 16). 

 

Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah membuai perumpamaan tentang mereka. Allah Yang Mahaagung 

berfirman: 

 

 

Perumpamaan mereka yaitu  seperti orang yang menyalakan api, maka sesudah  api itu menerangi 

sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam 

kegelapan, tidak dapat melihat (QS. al-Baqarah: 17). 

Yakni, mereka tidak kuasa melihat kebenaran dan tidak kuasa pula untuk mengutarakannya. jika  

mereka keluar dengan kebenaran dari kegelapan kekafiran, mereka memadamkannya kembali 

dengan kekafiran dan kemunafikan mereka, lalu Allah membiarkan mereka dalam gelap kekafiran 

sehingga mereka tidak mampu melihat petunjuk dan tidak pula mampu bertahan berada dalam 

kebenaran. 

 

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). (QS. al-Baqarah: 

18). Yakni, mereka tidak kuasa untuk kembali pada petunjuk. Mereka tuli, bisu, dan buta akan 

kebenaran. Mereka tidak akan kuasa untuk kembali kepada kebaikan, dan tidak akan memperoleh 

keselamatan sepanjang mereka tetap berada dalam posisi mereka. 

 

atau seperti (orang-orangyang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat; 

mereka menyumbat telinganya dengan anakjarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut 

akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. (QS. al-Baqarah: 19) 

Ibnu Ishaq berkata: Mereka berada dalam gulita kekafiran, mereka menghindari kematian, dari orang-

orang yang berbeda dengan mereka dan khawatir akan mereka. Sebagaimana disifatkan laksana 

tatkala mereka berada di gelapnya hujan. Mereka menjadikan jari jemarinya di kedua telinganya 

karena suatu guruh karena takut mati. Dia berkata: Allah menurunkan itu semua pada mereka sebagai 

siksa atas kedurhakaan mereka. Yakni Allah meliputi orang-orang kafir. 

 

Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. (QS. al-Baqarah:20). Karena kuatnya sinar 

kilatan itu. 

 

Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa 

mereka, mereka berhenti. (QS. al-Baqarah: 20). Yakni, mereka mengetahui kebenaran dan 

membicarakannya. Jika mereka kebali dari kebenaran kepada kekafiran, mereka menjadi orang-orang 

linglung kebingungan 

 

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. (QS. al-

Baqarah: 20). Yakni akibat apa yang mereka tinggalkan dari kebenaran sesudah  mengetahuinya. 

 

sebenarnya  Allah berkuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Baqarah: 20). 

lalu  Allah berfirman: 

 

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu (QS. al-Baqarah: 21). Perintah tadi diarahkan kepada dua kelompok 

di atas yaitu orang-orang kafir dan munafik. Maksudnya, kalian harus meng-Esakan Tuhan kalian. 

 

Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. Dialah 

Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air 

(hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki 

untukmu; karena itujanganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu 

mengetahui (QS. al-Baqarah: 21-22). 

Ibnu Hisyam berkata: al-andad artinya "al-amtsal" kata singularnya yaitu  "nidd" Labid bin Rabi'ah 

berkata: 

Aku memuji Allah karena dia tidak punya nidd(sekutu) 

Di tangan-Nya segala kebaikan apa yang Dia kehendaki 

 

Ini yaitu  penggalan syairnya. 

Ibnu Ishaq berkata: Yakni janganlah kalian menyekutukan Allah dengan selain-Nya beruapa tandingan-

tandingan yang tidak memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya. Kalian tahu bahwa tidak 

ada Tuhan yang kuasa memberi rezeki pada kalian selain Dia. Kalian tahu pula bahwa tauhid yang 

Rasul serukan kepada kalian yaitu  benar dan tiada sedikitpun keraguan padanya. 

 

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami 

(Muhammad) (QS. al-Baqarah: 23). Yakni, jika  kalian merasa ragu terhadap apa yang dibawa oleh 

rasul untuk kalian,  

 

buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah 

(QS. al-Baqarah: 23). Yaitu pihak- pihak yang mampu membantu kalian. 

 

"Jika kamu orang-orang yang benar. 'Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu 

tidak akan dapat membuat (nya)... (QS. al-Baqarah: 23-24). Karena kebenarir telah tampak jelas bagi 

kalian. 

 

peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediaksn bagi orang-

orang kafir (QS. al-Baqarah: 24) Yakni, neraka itu disediakan buat orang-orang kafir yang semisal 

dengan kalian. 

lalu  Allah memberikan kabar gembira dan peringatan terhadap mereka akibat dari melanggar 

perjanjian yang telah diam bil atas mereka untuk Nabi-Nya Shallalakt 'alaihi wa Sallam jika  ia 

datang pada mereka dan menerangkan mengenai asal-muasal penciptaan mereka tatkala Allah 

menciptaki: mereka, dan memaparkan kepada mereka tentang para leluhur mereka, Adam dengan 

segala kondisinya. Apa yang telah Allah lakukar padanya saat Adam tidak taat kepada-Nya lalu  

Allah berfirman: 

 

Hai Bani Israel (QS. al-Baqarah: 40). Seruan itu diarahkan untuk pendeta-pendeta Yahudi. 

 

ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu (QS. al-Baqarah: 40). Yakni, nikmat-

Ku atas kalian secara khusus juga atas leluhur-leluhur kalian, dimana dengan nikmat itu Allah 

menyelamatkan mereka dari kejahatan Fir'aun dan kaumnya, 

 

dan penuhilah janjimu Kepaaa-Ku (al- Baqarah: 40). Yakni, janji yang dibebankan di pundak kalian 

untuk Nabi Ahmad (Muhammad), jika  ia datang kepada kalian, 

 

niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu (QS. al-Baqarah: 40), Yakni, pasti Aku tepati apa yang Aku 

pernah janjikan untuk kalian, jika  kalian membenarkan Nabi ini  dan mengikutinya. Yakni 

dengan melepaskan semua belenggu yang ada pada pundak kalian akibat dosa-dosa kalian, 

 

dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk) (QS. al-Baqarah: 40). Yakni, Aku turunkan 

siksaan-siksaan yang pernah Aku turunkan kepada leluhur kalian dan kalian telah mengetahui bentuk 

siksaan-siksaan itu. 

 

Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan apa yang 

ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orangyangpertama kafir kepadanya, (QS. al-

Baqarah: 41). Yakni, janganlah kalian menjadi orang yang pertama kali kafir kepada Nabi itu, sebab 

kalian memiliki ilmu mengenai dirinya, satu hal yang tidak dimiliki orang-orang selain kalian, 

 

dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada AKulah 

Kamu harus bertakwa. Dan jangan-lah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan 

janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.' (QS. al-Baqarah: 41-42). Yakni, 

janganlah kalian menyembunyikan ilmu akan Rasul-Ku yang ada pada kalian serta apa yang dibawanya 

yang kalian temukan dalam kitab-kitab suci kalian. 

 

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) 

mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?' (QS. al-

Baqarah: 44). Yakni, mengapa kalian melarang manusia kafir terhadap kenabian, dan janji yang ada 

dalam kitab Taurat, sementara kalian lupa terhadap diri kalian sendiri. Artinya, kalian ingkar terhadap 

janji-Ku buat kalian untuk menyataka kebenaran Rasul-Ku, kalian melanggar janji-Ku serta menolak 

Kitab-Ku yang sudah kalian ketahui. lalu  Allah menerangkan kepada mereka semua perbuatan 

mereka. Allah paparkan kisah sapi betina pada mereka, tindakan mereka terhadapnya, tobat mereka 

yang Allah kabulkan, pengusiran mereka, dan perkataan bodoh mereka: 

 

Perlihatkan Allah kepada kami secara terang-terangan (QS. an-Nisaa': 153). 

Ibnu Hisyam berkata: Jahrah artinya, yakni tampak jelas kepada kami dan tidak tertutup sesuatupun 

dari kami. 

Ibnu Ishaq berkata: Mereka dihantam petir karena keteledoran mereka, lalu Allah menghidupkanya 

kembali, menaungi mereka dengan awan dan menurunkan kepada mereka Manna dan Salwa. Lalu 

Allah berfirman kepada mereka: 

 

dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: "Bebaskatilah kami dari dosa" (QS. 

al-Baqarah: 58). Yakni, ucapkanlah apa yang Kami perintahkan pasti Aku akan menghapus dosa-dosa 

kalian. Allah menjelaskan bahwa mereka mengubah firman di atas sebagai bahan pelecehan terhadap 

perintah-Nya. 

Ibnu Hisyam berkata: Al-Mann yaitu  sesuatu yang turun pada saat waktu sahur pada pepohonan 

yang mereka miliki lalu mereka mengambilnya dalam keadaan manis bagaikan manisnya madu serta 

meminum dan memakannya. Sedangkan As-Salwa yaitu  salah satu jenis burung. Ada pula yang 

mengatakan bahwa maksud As-Salwa ialah burung puyuh. Madu kadang kala juga dinamakan dengan 

As-Salwa. 

Firman Allah,'Hiththatun, artinya hapuslah dosa-dosa kami!" 

Ibnu Ishaq berkata: Di antara perbuatan mereka mengubah perintah Allah yaitu  sebagaimana 

dituturkan kepadaku oleh Shalih bin Kaisan dari Shalih, mantan budak At-Taumah binti Umayyah bin 

Khalaf dari Abu Hurairah dan dari orang yang tidak aku ragukan integritasnya dari Ibnu Abbas dari 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang bersabda: "Mereka masuk dari pintu tempat mereka 

diperintahkan masuk darinya dalam keadaan sujud, tapi mereka memasukinya dengan cara 

merangkak sambil mengatakan, 'Hinthunfi syair (Hinthun yaitu  salah satu jenis gandum)." 

Ibnu Ishaq berkata: Ayat ini  lalu  dilanjutkan dengan kisah mengenai permohonan air oleh 

Musa bagi kaumnya, perintah Allah kepada Musa agar Musa menggunakar. tongkatnya untuk 

memukul batu, lalu memancarlah dua belas mata air untuk mereka dar. setiap kabilah memiliki mata 

airnya sendiri dan mengetahui mata air mereka masing-masing, serta kisah mengenai perkataan 

mereka kepada Musa Alaihis-Salam: 

 

"Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah 

untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi, 

yaitu: sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas dari bawang merahnya." Musa berkata: 

"Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebaga: pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu 

ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta" (QS. al-Baqarah: 61). 

Ibnu Hisyam berkata: Firman Allah, 'Al-Fumu berarti biji gandum 

Ibnu Ishaq berkata: Mereka tidak melakukan perintah Musa. Ayat itu lalu  dilanjutkan dengan 

kisah diangkatnya Gunung Ath-Thur di atas mereka, perubahan fisik mereka dimana Allah 

mengubahnya menjadi kera akibat tindakan dan tingkah buruk mereka. Kisah berlanjut tentang sapi 

betina yang mengandung pelajaran dalam kasus pembunuhan yang mereka persengketakan. Lalu 

Allah menerangkan kejadian ini  mereka sesudah  mereka bertanya secara berulang-ulang kepada 

Musa tentang ciri-ciri sapi betina yang dimaksud. Kisah berlanjut tentang mengerasnya hati mereka 

sesudah  peristiwa itu hingga seperti batu atau bahkan jauh lebih keras lagi. lalu  Allah berfirman 

kepada mereka: 

 

 

lalu  sesudah  itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara 

batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dibandingkan nya dan di antaranya sungguh ada 

yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur 

jatuh, karena takut kepada Allah. (QS. al-Baqarah: 74). Yakni, di antara jenis batu itu terdapat batu 

yang jauh lebih lembut dari pada hati kalian yang keras terhadap kebenaran yang diserukan kepada 

kalian. Allah melanjutkan firman-Nya: 

 

Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Baqarah: 74). 

lalu  Allah menunjukkan firman-Nya kepada Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan kaum 

Mukminin, sahabat beliau: 

 

Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari 

mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya sesudah  mereka memahaminya, sedang 

mereka mengetahui? (QS. al-Baqarah: 75). 

Maksud firman Allah bahwa mereka mendengar Taurat, itu tidak berarti bahwa semua mereka 

mendengarkannya. Bahkan beberapa ulama berpendapat bahwa hanya kalangan tertentu saja yang 

mendengarkan Taurat. Bani Israel berkata kepada Musa: "Wahai Musa, sebenarnya  kami terhijab 

tidak mampu melihat Allah secara nyata, maka perdengarkan kepada kami suara Allah agar Dia 

berkomunikasi langsung denganmu." Maka Musa memohonkan permintaan itu kepada Tuhannya. 

Allah berfirman kepada Musa: Wahai Musa, perintahkan mereka untuk membersihkan diri dengan 

mencuci pakaian mereka, dan berpuasa." Mereka melak- sanakan perintah Altah ini , lalu Musa 

pergi membawa serta mereka sampai tiba di bukit Ath-Thur. Tatkala mereka tertutup ka- but tebal, 

Musa memerintahkan mereka untuk bersujud. Saat mereka bersujud itulah, Allah berbicara dengan 

Musa sementara mereka mendengarkan firman Allah yang memerintahkan dan melarang mereka 

hingga mereka mampu memahami apa yang baru saja mereka dengar. Lalu Musa kembali pulang 

membawa mereka kepada Bani Israel. Sesampainya di sana, sebagian mereka mengganti apa yang 

baru saja Allah perintahkan kepada mereka. jika  Musa berkata kepada Bani Israel: "sebenarnya  

Allah memerintahkan ini d