kan namun Tuan telah membunuh mereka di
lembah Badar. Sekarang persoalan ini bergantung antara Tuan dan mereka’.
Sebagai figur yang berkarakter keras dan serius, mendengar perkataan-perkataan
Hindun ini Umar ternyata tidak sanggup menahan tawa. Pada saat Rasulullah
saw. melarang menfitnah, Hindun juga berkata, “Wallahi, menfitnah yaitu
perbuatan keji. Tuan memerintahkan kepada kami tentang kesusilaan (moralitas)’.
Dan saat Rasulullah melarang memberontak, Hindun berjanji, ‘Sekali-kali kami
tidak masuk ke majelis yang mulia ini dengan niat memberontak.’ Pada mulanya
mereka hendak membunuh Hindun. Akan namun Nabi saw. mengampuninya. Lalu dia
masuk Islam dan menjadi seorang muslimat sejati. Dia pulang ke rumah dan
menghancurkan patung serta gambar yang ada di dalamnya, sambil berkata, ‘Betapa
tolol kami yang telah menyembah kamu.’ Rasulullah saw. mendoakan semua
wanita yang turut hadir dalam pertemuan di bukit Shafa ini . Mereka yang
hendak lari menyelamatkan diri mengurungkan niatnya sesudah melihat Hindun
memperoleh ampunan dari Rasulullah. Beliau mengampuni mereka sesuai dengan
permintaan mereka. Betapa bahagianya Hindun. Dia telah menyelamatkan banyak
orang dari kematian. Dia juga telah menjadikan mereka beriman. Selanjutnya kitab
Qishas al-Anbiya menjelaskan, “Abu Sufyan dan putra-putranya menjadi orang
Islam yang taat. Rasulullah saw. memanfaatkan mereka sebagai sekretaris beliau.”
Orang-orang Hurufi mengumpat Mu'awiyah, seorang yang sangat berjasa
terhadap Islam dan dipuji melalui hadits-hadits Nabi saw. Mereka juga mengungkit
kehidupan masa lalu dirinya dan keluarganya, mengutuk serta mencaci makinya.
Meskipun mereka dapat menfitnahnya, namun mereka tidak akan sanggup
menurunkan martabat ayahnya sampai ke derajat orang kafir seperti halnya Abu
Lahab! Utbah, anak Abu Lahab, yaitu musuh bebuyutan Rasulullah saw. sehingga
di dalam sebuah ayat Al Qur’an namanya disebut. Dahulu dia sangat memusuhi
Rasulullah saw. Tidak hanya itu : Dia menceraikan putri Rasulullah saw. dengan
tujuan menelantarkan kehidupan rumah tangga beliau. Di dalam Qishas al-Anbiya
dijelaskan : “Utbah lalu menjadi seorang mukmin dan meminta ampunan
kepada Rasulullah pada hari penaklukan kota Mekkah. Beliau mengampuninya dan
mendoakannya. Bahkan pada saat-saat genting dalam Perang Suci Hunain, Utbah
tidak beranjak mengawal diri Rasulullah saw.” Orang-orang Hurufi tidak lagi
mengecam Abu Lahab. Mereka juga tidak mencela Utbah sebab menjadi anak si
kafir Abu Lahab. Juga bukan sebab Utbah pernah menjadi musuh bebuyutan
Rasulullah saw. Utbah yaitu salah seorang yang berpendapat bahwa yang berhak
menjadi khalifah pertama yaitu Sayidina Ali ra. Dia mengungkapkan pendapatnya
ini melalui puisi.
Keterangan di atas menunjukkan bahwa kriteria yang dipakai oleh
penulis majalah ini (tentang pernyataan-pernyataannya yang bernada fitnah
sebagaimana tampak di dalam majalah ini ) tidak didasarkan pada persoalan-
persoalan esensial seperti persoalan tentang Islam, syirik, Rasulullah saw., atau
penganiayaan yang pernah dialami beliau. Pendapat-pendapatnya hanya didasarkan
pada persoalan pemilihan Ali, -sebagai dampak politis dan tidak berkaitan langsung
dengan Islam itu sendiri. Atau hanya merupakan upaya penulis untuk menciptakan
image yang salah mengenai sosok para shahabat sebagai manusia kotor yang
ambisius.
Penjelasan di atas yang kami nukil dari beberapa halaman kitab Qishas
al- Anbiya dengan jelas menunjukkan bahwa fitnah yang mewarnai majalah Musim
Gugur ini yaitu palsu. Di dalam kitab Kamus al-‘Alam disebutkan bahwa
“Hindun binti Utbah bin Rabi’ah bin Abdi Syam yaitu seorang bangsawan
Quraisy. Dia yaitu istri Abu Sufyan. Sebelum dengan Abu Sufyan, dia menjadi istri
Faqih bin Mughirah. Dia tetap menjadi seorang muslimah dan menunjukkan perilaku
sebagai seorang muslimah yang baik. Dia yaitu seorang yang bijak dan
berpandangan luas. Dia dan suaminya, Abu Sufyan, ikut terlibat dalam Perang Suci
Yarmuk dan mengobarkan semangat kaum muslimin melakukan jihad melawan
Byzantium.”
Banyak kitab menulis tentang keteguhan iman Hindun radliyallah ‘anha.
dan kemuliaannya. Sebelum Islam, Hindun menjalani pernikahan dan kehidupan
keluarganya di negeri Arab. Penulis majalah Musim Gugur ini membandingkan
kehidupan keluarga Hindun dengan kehidupannya berkaitan dengan nikah mut’ah.
Dia katakan orang lain sebagai pezina. Di dalam kitab Ma’arij al-Nubuwwah
dijelaskan, “sesudah Hindun ra. menjadi seorang muslimah dan menghancurkan
semua patung yang ada di dalam rumahnya, dia mengirimkan dua ekor domba
kepada Rasulullah saw. sebagai hadiah. Rasulullah saw. menerima hadiah ini
dan mendoakannya dengan memintakan rahmat untuknya. Allah swt. memberkati
domba itu sehingga jumlahnya berkembang sangat banyak. Hindun senantiasa
menyadari bahwa domba sebanyak itu yaitu anugerah yang datang melalui Nabi
saw.” Abdul Ghani Nablusi menjelaskan di halaman keseratus dua puluh enam dari
kitab Hadiqah, “Setiap orang yang beriman kepada Rasulullah tentu sangat
memahami keagungan beliau sehingga sangat mencintai beliau. Meskipun derajat
pemahaman dan kecintaan ini berbeda-beda. sebab cinta ini mengalir
dari hati. Diriwayatkan, bahwa istri Abu Sufyan, Hindun, pernah berkata kepada
Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah! Dahulu aku sangat membenci wajah Anda. Tapi
sekarang, keindahan wajah Anda lebih aku cintai dari pada yang lainnya.”
Penulis majalah ini mengatakan bahwa Mu'awiyah melakukan
kezailman terhadap rakyat. Padahal fakta sejarah mencatat bahwa Mu'awiyah
berhasil menciptakan perdamaian, ketertiban dan ketenangan bagi rakyat dan negara
serta berhasil mengakhiri pertikaian di kalangan rakyat. Beliau mengobarkan
semangat jihad. Mu’awiyah yaitu sosok khalifah yang adil dan penyantun. artikel -
artikel sejarah memberikan keterangan secara rinci mengenai fakta-fakta ini .
“Benih-benih mentalitas takhayul pemerintah telah merubah Islam
sebagai agama menjadi sebuah sistem fanatisme. Mentalitas ini juga
menghinggapi pikiran dan hati rakyat serta sebagaian penguasa Utsmani. Hal
ini sesungghunya yang dikehendaki oleh orang-orang Syi'ah. Mereka
mengusulkan rekonsiliasi yang berangkat dari prinsip persatuan antara Muhammad-
Ali. Mereka ingin Ahlul Bayt tidak dikecam dan dicaci. Akan namun , saat
masyarakat telah menunjukkan sikap respek terhadap Ahul Bayt, orang-orang Syi'ah
justru bersikap menentang. Mereka berdalih, bukankah Ali ra. yaitu khalifah
pertama yang dipilih secara legitimate?” katanya.
Allah swt. menyebut Kaum Muslimin dengan sebutan ‘Ummat Rasul-
Ku’. Nabi Muhammad saw. menyebut Kaum Muslimin sebagai ‘Ummat-ku’. Di
antaranya beliau bersabda, “Saya akan memintakan (syafa’at) untuk orang-orang
yang banyak berbuat dosa dari ummat-ku,” dan “Para ulama dari ummatku yaitu
laksana para nabi dari Bani Israi.l” Beliau memakai ungkapan ‘Ummat-ku’
dalam banyak hadits lainnya. Sementara itu, sebaliknya penulis majalah Musim
Gugur ini mengecam para khalifah kaum muslimin. Dia mengatakan bahwa
para Sultan Utsmani telah merubah Islam sebagai agama menjadi sebuah sistem
keummatan yang fanatis. Dia menolak sistem keummatan ini dan
memandangnya sebagai sebuah sistem tiruan. Pendapat penulis ini sangat
bertentangan dengan Islam. Pada saat yang bersamaan, sesungguhnya dia mencoba
membela doktrin-doktrin Hurufi. Trik-trik yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam
berangkat dari sikap ofensif mereka terhadap Islam. Sebagaimana kita lihat dari
gagasan mereka tentang konsep persatuan Muhammad-Ali. Hal ini tidak jauh
berbeda dengan seorang tukang jagal yang berkata , “Saya sangat kasihan kepadamu,
saya tidak akan melukaimu,” kepada seekor domba yang hendak disembelinya.
Penulis ini mencoba menutupi identitas dirinya sebagai seorang pengikut sekte
Hurufi yang mengikuti jejak langkah dan strategi Abdullah bin Saba’, -provokator
ulung yang telah memicu sesama saudara muslim saling berperang dan
membunuh. artikel -artikel sejarah mengulas panjang lebar mengenai pembunuhan
massal yang pernah dilakukan oleh Hassan Sabbah, seorang pengikut Ibnu Saba’,
terhadap ribuan kaum muslimin.
Di dalam halaman delapan ratus delapan puluh tujuh dari kitab Qishas al-
Anbiya dijelaskan bahwa : Hassan Sabbah yaitu seorang mulhid pembuat bid’ah
yang mengikuti jejak Ibn Saba’. Dia mengharamkan yang ‘halal’. Dia telah
menyesatkan banyak orang. Dia menjadikan Benteng Elemut (Alamut) dan
sekitarnya sebagai basis bagi para pengikut setianya. Sebagian besar dari mereka
terdiri dari para pemberontak dan penyamun. Mereka menyebut golongan Ahlu as-
Sunnah wal Jamaah dengan sebutan ‘Yazidis’ (para pengikut Yazid, pent.). Mereka
berpendapat, bahwa membunuh seorang Yazidi lebih besar pahalanya dari pada
membunuh sepuluh orang kafir. Mereka juga membunuh para haji, hakim, ulama
dan tentara secara keji. Mereka termasuk pengikut sekte Batiniyyah atau Ismailiyyah.
Mereka yaitu manusia yang tidak memiliki tuhan dan biadab. Selama tiga puluh
lima tahun Hassan Sabbah melakukan pembunuhan-pembunuhan dan menyesatkan
manusia. Dia meninggal dunia pada tahun 518 H/1124 M. Di antara penggantinya,
ada seorang cucunya bernama Ahund Hassan yang menjadi pemimpin sekte
ini pada tahun 557 H. Bahkan dia lebih zindiq dibandingkan lainnya. Dia-lah
yang pertama kali oleh para pengikut setianya disebut Alawi untuk mengecoh kaum
muslimin. Pada tahun 559 hijriah tanggal tujuh belas Ramadhan bertepatan dengan
syahidnya Imam Ali ra., dia berpidato di atas mimbar dengan mengatakan bahwa,”
Saya telah diutus oleh Imam Ali sebagai Imam bagi seluruh ummat Islam. Islam
tidak memiliki fondasi (rukun). Segala sesuatu tergantung pada hati. Jika hati
seseorang bersih, niat untuk berbuat dosa tidak akan berdampak mudlarat bagi
dirinya. Saya telah menghalalkan segala sesuatu. Jalanilah hidup ini menurut
kehendakmu!” Pada hari itu, mereka baik laki-laki maupun wanita minum
bersama-sama. Hari itu dijadikan sebagai tahun baru bagi mereka. Dia dibunuh oleh
saudara laki-laki istrinya pada tahun 561 H. Cucunya yang bernama Jalaluddin
Hassan memberantas kemungkaran yang diajarkan oleh Ahund Hassan. Kepada
khalifah yang memerintah pada saat itu, dia menegaskan bahwa dirinya yaitu
pengikut faham Ahlus Sunnah wal Jamaah. Dia mengumpulkan artikel -artikel yang
memuat ajaran sesat yang ditulis oleh Hassan Sabbah dan membakarnya. Dia
meninggal dunia pada tahun 618 H. Dia digantikan oleh anaknya yang bernama
Ahund Alauddin Muhammad. Dia yaitu pemimpin ketujuh dari sekte Ismailiyyah.
Namun, Ahund Alauddin memilih jalan sesat yang ditempuh oleh nenek moyangnya.
Dia menghalalkan yang haram. Anaknya yang bernama Ahund Ruqnaddin
membunuhnya di tempat tidur pada tahun 652 H. Dia mengangkat seorang ulama
Syi'ah bernama Nasiruddin Tusi yang telah dipenjara ayahnya sebagai pembantunya.
Akan namun , dia dieksekusi mati oleh saudara laki-laki Hulaghu di Transoxiana pada
tahun 654 H. Hulaghu membasmi habis orang-orang Ismaili, dan mengganti dengan
orang-orang Islam lainnya. Sehingga pepatah, “Lepas dari kawan tak bertuhan untuk
kawan jahat yang tidak beriman,” terulang lagi.
artikel ensiklopedik Kamus al-‘Alam mendefinisikan pengertian
Ismailiyyah sebagai berikut : “Salah satu di antara kelompok sesat yang menyusup
ke dalam kelompok Syi'ah. Mereka dinamakan demikian sebab mereka mengakui
Ismail, -putra tertua dari Imam Ja’far Shadiq-, yang telah meninggal sebagai Imam
agung terakhir mereka. Menurut keyainan mereka masih hidup. Dalam hal ini
mereka mengikuti konsep Ibn Saba’. Mereka mempercayai adanya reinkarnasi.
Mereka menghalalkan yang haram. Mereka senantiasa melakukan berbagai macam
pelanggaran moral tanpa malu sedikit pun. Sekte Qaramitah yang banyak melakukan
pembunuhan terhadap kaum muslimin, Hassan Sabbah dan sekte Fatimiyah yang
berupaya menghancurkan Islam di Mesir, mereka semua termasuk sekte Ismailiyyah.
Di antara mereka ada kelompok yang sangat ekstrim yaitu orang-orang Druz dan
Hurufi. Mereka pada dasarnya merupakan kelanjutan dari sekte Ismailiyyah.” Di
dalam artikel berjudul al-Munjid mereka menyebut diri mereka sebagai kaum Alawi
(Alevi).
Sekte Hurufi menganggap bahwa mereka yaitu bagian dari persatuan
Muhammad-Ali. Konsep persatuan ini pada dasarnya tidak mempengaruhi
kedudukan para shahabat Nabi saw. dalam pandangan Al Qur'an al-Karim maupun al
hadits. Ketiga khalifah Nabi yang telah diberi kabar gembira dengan surga dan para
mujahidin yang telah mendakwahkan Islam ke tiga benua tidak termasuk dalam
pengertian konsep persatuan ini . Akan namun , si penulis ini mengingkari
dan mengkhianati kemunafikan dirinya dengan meggunakan istilah ini . Dia
menyerang Sayidina Ali ra. yang sangat mencintai ketiga khalifah Rasul saw.
Bahkan sebagaimana kita ketahui, Ali mencinta semua shahabat Nabi saw. tanpa
pengecualian. Di dalam khutbah-khutbah dan percakapan-percakapan yang beliau
sampaikan, beliau mengakui, memuji dan menyanjung mereka sebagai mukmin-
mukmin sejati. Seseorang yang terhormat yang menyebut dirinya sebagai pengikut
Alawi seharusnya melakukan apa yang pernah dilakukan oleh Imam Ali ra. Mereka
mengatakan bahwa mereka yaitu pengikut Ahlul Bayt. Mereka memakai nama
Alawi yang agung itu yang dicintai baik oleh golongan Sunni maupun Alawi sendiri
di negeri kita Turki, pent.), sebagai kedok untuk menutupi identitas diri mereka
sendiri. Akan namun , semua tulisan dan prilaku mereka menunjukkan bahwa mereka
bukanlah golongan Alawi yang sebenarnya. Kitab Tuhfah, -ditulis pada saat itu-,
memberikan informasi yang membuka tujuan-tujuan terselubung mereka :
1. Di bawah pra-naskah mengenai konsep persatuan Muhammad-Ali,
orang-orang Hurufi berpendapat bahwa Rasulullah saw. sama dengan Ali ra.
2. Mereka berpendapat, “Barang siapa mencintai Sayidina Ali ra., dia
akan masuk surga meskipun dirinya seorang Yahudi, Kristen atau politeis. Dan
sebaliknya, barang siapa mencintai para shahabat Nabi, dia akan masuk neraka
meskipun dia termasuk ahli ibadah dan pengikut Ahlul Bayt.”
3. Mereka berpendapat, “Barang siapa mencintai Imam Ali ra., maka
perbuatan dosa yang dilakukannya tidak akan membahayakan dirinya.”
4. Mereka menyebut golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah dengan
sebutan Ummat al-Mal’unah (yang dikutuk Allah swt.), bukan Ummat al-Marhamah
(Ummat yang disayangi Allah swt.).
5. Mereka mengingkari banyak ayat Al Qur'an. Menurut mereka
Sayidina Utsman ra. telah merubah Al Qur’an.
6. Menurut mereka, mengutuk Sayidina Umar ra. lebih utama
pahalanya dari pada berdzikir atau membaca Al Qur'an al-Karim.
7. Menurut mereka mengutuk para shahabat Nabi dan istri-istri beliau
termasuk ibadah. Mereka berpendapat, “Wajib hukumnya mengutuk mereka setiap
hari.”
8. Mereka berpendapat, “Mengutuk Sayidina Abu Bakar atau Umar
sekali, sama dengan ibadah tujuh puluh kali.”
9. Menurut pendapat mereka bahwa Sayidah Ruqayyah dan Ummu
Kultsum bukanlah putri-putri Nabi saw. sebab mereka telah dinikahi oleh Sayidina
Utsman ra.
10. Mereka berpendapat bahwa Sayidina Abu Bakar, Umar dan
Utsman “yaitu orang-orang munafik”. Oleh sebab itu, mereka mengingkari hadits
yang memuji ketiga khalifah Nabi ini . Hadits-hadits ini ditulis disertai
argumentasi yang mereka ajukan ini di dalam kitab Izalat al-Hafa yang ditulis
oleh Waliyullah Dahlawi.
Orang ini telah merubah perintah Allah swt. dan termasuk kafir. Demikian juga,
penulis majalah di atas yang hanya mengutip bagian permulaan ayat dengan
menyembunyikan fakta bahwa baik Sayidina Mu'awiyah maupun Amr Ibni ‘Ash
termasuk golongan dari orang-orang yang akan masuk surga.
Selanjutnya dia mengatakan bahwa, “Abu Sufyan, -suami Hindun dan
ayah Mu'awiyah-, yaitu pemimpin orang-orang kafir.” Di sini nampaknya dia lupa
bahwa pada saat itu Abbas, -paman Rasulullah saw. dari pihak ayah-, juga termasuk
orang yang belum beriman. Bahkan Abbas yaitu salah seorang komandan tentara
yang ikut memerangi Rasulullah saw. pada Perang Suci Badar. saat ditawan, dia
menyombongkan diri di hadapan Sayidina Ali ra. bahwa mereka yaitu orang-orang
yang telah memperbaiki Masjid al-Haram, membuat kain penutup Ka’bah dan
menyediakan air untuk jamaah haji. Atas kejadian ini , Allah swt. menurunkan
ayat yang artinya, “Orang-orang kafir yang memperbaiki masjid tidak akan diterima
amalnya. Kami akan membinasakan amal yang mereka banggakan dan (Kami) akan
memasukkan mereka ke neraka.” Itulah jawaban yang diterima oleh Abbas pada saat
itu. Namun, selanjutnya Allah swt. menurunkan ayat yang artinya, “Mereka yang
beriman, melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah dan melaksanakan jihad sebab
Allah, bagi mereka derajat yang amat tinggi. Aku akan menyampaikan berita
gembira berupa rahmat-Ku, ridlaku-Ku dan taman-taman surga-Ku dan mereka
akan memperoleh kenikmatan abadi di surga.” lalu Abbas dan Abu Sufyan
masuk Islam. Mereka melakukan hijrah dari Mekkah ke Madinah pada saat
penaklukan kota Mekkah (Fath Makkah). Dalam Perang Suci Thaif, Abu Sufyan
kehilangan matanya yang sebelah. Rasulullah saw. menyampaikan kabar gembira
kepadanya bahwa dia akan masuk surga. Di dalam Perang Suci Yarmuk yang terjadi
pada masa kekhalifahan Abu Bakar ra., dia kehilangan matanya yang sebelah lagi.
Tidak lama lalu Abu Sufyan menemui ajalnya sebagai seorang syahid.
“Di dalam Perang Shiffin, ada tujuh puluh ribu orang dari masing-
masing pihak yang terbunuh. Dua puluh lima ribu di antaranya yaitu mereka yang
mendukung Ali al-Murtadla. Siapakah sesungguhnya yang menjadi pemicu dari
perang dahsyat ini ,” tanya dia (penulis majalah ini , pent.).
Kami telah menerangkan secara rinci pada bagian ke enam belas dalam
bentuk terjemahan yang dikutip dari salah satu bagian (bab) artikel Tuhfah. Di dalam
bagian ini dijelaskan bahwa pemicu perang ini yaitu provokasi yang
dilancarkan oleh Abdullah bin Saba’ dan sekelompok orang zindiq. Sebagaimana
telah disebutkan di atas, mereka disebut golongan Saba’iyyah. Meskipun demikian,
golongan Saba’iyyah ini tetap mengklaim bahwa yang bersalah yaitu Ibnu
Saba’. Menurut mereka, dia-lah yang telah melakukan tindakan makar terhadap
Mu'awiyah sehingga ummat Islam terpecah ke dalam kelompok-kelompok.
“Thalhah dan Zubeir yaitu dua orang shahabat Nabi yang berpihak
kepada Aisyah Shiddiqah dalam Perang Unta. Mereka berdua menarik kembali
ijtihadnya yang dipandangnya keliru. Mereka berdua mundur dari medan
pertempuran,” kata dia.
Thalhah dan Zubeir yaitu dua orang shahabat Nabi yang telah diberi
kabar gembira akan masuk surga. Mereka tidak pernah berijtihad memerangi
Sayidina Ali ra. Musuh-musuh Islam telah menghina dua shahabat Nabi ini
yang sangat dicintai beliau. Seperti dilaporkan dalam sejarah, bahwa pada saat
perang sedang berlangsung, Sayidina Ali ra. menemui mereka. Beliau
memberitahukan kepada keduanya bahwa dirinya sekali-kali tidak akan memerangi
kaum muslimin. Lalu mereka sadar bahwa mereka telah dihasut oleh orang-orang
Yahudi. Mereka menarik diri dari medan peperangan.
“Menjelang ajalnya, Thalhah mengaku bahwa dirinya yaitu pengikut
Ali al-Murtadla. Dia berkata kepada Ali ra., ‘Ulurkan tangan Anda! Saya akan
membaiat Anda,” kata dia.
Sayidah Aisyah dan para pengikutnya yang berada di Bashrah tidak
bermaksud memerangi Sayidina Ali ra. Mereka datang ke sana untuk membuat
perjanjian dengan beliau dan menyampaikan baiat kepadanya serta berupaya
mengakhiri kesalahpahaman di antara mereka. Di dalam artikel Qishas al-Anbiya
halaman empat ratus delapan belas dijelaskan : “Sepeninggal Rasulullah saw.
berkembang wacana tentang pengganti beliau sebagai khalifah. Pada saat itu, Zubeir
bin Awwan mengancam akan memerangi siapa saja yang menolak membaiat Ali ra.
sebagai khalifah. Padahal sebagaimana kita ketahui, bahwa Zubeir, -salah satu di
antara sepuluh shahabat Nabi yang telah diberi kabar gembira akan masuk surga-,
pada saat itu juga menjadi pendukung Sayidah Aisyah Shiddiqah menentang Ali ra.”
Kutipan dari Qishas al-Anbiya ini menegaskan bahwa para shahabat Nabi saw.
yang ijtihadnya berbeda dengan ijtihad yang dilakukan oleh Ali ra. menyadari bahwa
Ali ra. yaitu figur yang dipandang paling layak memegang jabatan khalifah
dibandingkan mereka sendiri. Kami telah menjelaskan di paragraf enam belas
mengenai sebab musabab terjadinya Perang Jamal ini . Yaitu intrik dan
provokasi yang dilakukan oleh orang Yahudi. Seorang mujtahid tidak akan dianggap
berdosa disebabkan oleh kekeliruan ijtihadnya. Jika demikian, mengapa ijtihad yang
telah diputuskan harus mereka ubah sendiri?
“Al Qur'an menyarankan, ‘Tetaplah tinggal di rumah kalian dan jangan
kalian keluar. Janganlah kalian terlibat di dalam perang.’ sesudah mengetahui ayat
ini Sayidah Aisyah baru menyadari akan kesalahannya,” kata dia.
Jika ayat ini menjadi dasar hukum larangan keluar (rumah), tentu
Rasulullah saw. tidak akan membawa para istri beliau menunaikan ibadah haji,
umrah atau perang suci sesudah ayat ini diturunkan. Beliau juga akan melarang
istri-istri beliau mengunjungi orang tua mereka, orang-orang sakit lainnya atau
keluarga yang ditimpa musibah. Kenyataan-kenyataan ini jelas sekali sangat
bertentangan dengan penafsiran ayat yang dilakukan oleh si penulis majalah ini .
Ayat Al Qur'an (yang dimaksud) memerintahkan kepada kaum wanita untuk
tidak keluar rumah tanpa menutupi diri mereka. Ayat ini sekali-kali tidak
melarang mereka pergi keluar rumah sebab adanya alasan-alasan yang dapat
dibenarkan oleh agama, dengan syarat mereka wajib menutupi diri. Kita mengetahui,
bahwa Sayidah Aisyah yaitu salah seorang shahabat yang paling mulia di antara
shahabat-shahabat Nabi. Suatu saat , para shahabat menyampaiakan saran kepada
beliau agar pergi menuntut balas atas kematian Sayidina Utsman ra. sebagai khalifah
yang sah. berdasar keterangan yang ada di dalam artikel -artikel yang ditulis
oleh orang-orang Syi'ah, bahwa pada masa kekhalifahan Abu Bakar ra., Sayidina Ali
ra. pernah menyuruh Sayidah Fatimah menaiki seekor binatang dalam sebuah
perjalanan menuju Madinah. Pada masa pemerintahan khalifah kedua, -Umar bin
Khaththab-, para shahabat menyertakan para istri Rasulullah saw. (zawjat al-
thahirah) dalam perjalanan menunaikan ibadah haji.
“Rasulullah saw. pernah mengusap wajah Ammar bin Yasar sambil
berkata, ‘Kamu akan dibunuh oleh sekelompok pemberontak.’ Riwayat ini
menegaskan bahwa Mu'awiyah dan para pengikutnya yaitu para pemberontak
sebagaimana yang dimaksud oleh hadits ini . saat Ammar terbunuh (syahid),
mereka yang mengetahui riwayat ini meninggalkan Mu'awiyah dan bergabung
dengan Ali al-Murtadla. Pemberontak, pembangkang termasuk dalam kategori
baghi,” kata dia. Selanjutnya dia menambahkan bahwa keterangan di atas dikutip
dari kitab Qishas al-Anbiya.
Kami telah mempelajari seluruh materi di dalam kitab Qishas al-Anbiya.
Kitab ini tidak menerangkan, mereka yang mengetahui kematian Ammar
lalu bergabung dengan Ali ra. Kitab ini hanya menjelaskan, suasana
perang semakin memanas. Sementara itu, di dalam tubuh pasukan Ali ra. mulai
timbul perselisihan. berdasar keterangan kitab Qishas al-Anbiya, hadits yang
dikutip oleh penulis justru menegaskan bahwa Sayidina Mu'awiyah dan para
shahabat Nabi lainnya seperti Amr Ibni Ash bukanlah orang-orang kafir. Mereka
bersama Rasulullah saw. melakukan jihad dalam rangka memerangi orang-orang
kafir.
Di dalam Qishas al-Anbiya dijelaskan : Pada saat penaklukan Kota
Mekkah, Rasulullah saw. mengirimkan sepucuk surat yang dikirimkan lewat Amr
Ibni Ash untuk Ja’far, -Penguasa Amman.
saat warga Thaif masuk Islam, Rasulullah saw. mengutus Abu
Sufyan bin Harb ke sana untuk menghancurkan berhala Lat. Abu Sufyan dan putra-
putra beliau, -yaitu Yazid dan Mu'awiyah-, menjadi sekretaris-sekretaris Rasulullah
saw. Khalid Ibn Zaid Aba Ayyub al-Anshari dan juga Amr Ibn Ash juga menjadi
sekretaris Rasulullah saw. Amr Ibn Ash diangkat oleh Rasulullah sebagai komandan
beliau. Beliau juga mengangkat Abu Sufyan menjadi gubernur Najran dan
mengangkat putra beliau, -Yazid-, menjadi hakim di Taimah.
saat Rasulullah saw. wafat, Amr Ibn Ash sedang berada di Aman.
Pada saat beliau tiba di Madinah, para shahabat menemui beliau. Mereka meminta
beliau menceritakan pengalaman selama dalam perjalanan. Beliau berkata, “Saya
menyaksikan orang-orang Arab yang tinggal di Aman hingga Madinah banyak yang
murtad dan mereka akan memerangi kita.” sesudah mendengar informasi dari beliau,
Sayidina Abu Bakar ra. mengutus beberapa shahabat menemui mereka yang murtad.
Beliau juga mengirimkan pasukan di bawah komando Amr Ibn Ash untuk
memerangi warga Huda’ah yang murtad.
Pada masa pemerintahan Bani Sa’adah, Sayidina Amr Ibn Ash pernah
ditugaskan mengumpulkan zakat dari suku Sa’ad, Huzaifah dan Uzrah. lalu
beliau diangkat menjadi hakim di Aman. Beliau dijanjikan bahwa sepulang dari
Madinah akan ditempatkan kembali pada kedudukan semula sebagai hakim. Akan
namun , tatkala beliau pulang dari Aman, Khalifah mengutus beliau mengumpulkan
zakat sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya. Pada saat jumlah orang yang
murtad semakin banyak, Khalifah hendak mengangkat beliau menjadi Amir.
Khalifah mengirim surat kepada beliau, “Saya akan menyerahkan tugasmu yang dulu
yang pernah diucapkan oleh Rasulullah saw. Sekarang saya akan menugaskan Anda
yang lebih bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat.” Amr Ibn Ash menjawab
surat Khalifah ini , “Saya yaitu laksana salah satu dari panah Islam. Maka
sesudah Allah, Tuan-lah yang berkewajiban melemparkan dan mengumpulkan
kembali panah-panah ini . Lemparkan panah yang lebih kuat dan lebih tepat
mengenai sasaran.” lalu Khalifah mengangkat beliau menjadi Amir. Khalifah
mengirim beliau ke Palestina melalui Eyla. Sementara itu, putra Abu Sufyan, -yiatu
Yazid-, juga diangkat menjadi Amir. Yazid dikirim ke suatu daerah di sekitar
Damaskus melalui jalur Balkah. sedang putra Abu Sufyan lainnya, -Mu'awiyah-,
diangkat menjadi Amir untuk masyarakat lain yang berada di bawah kekuasaan
saudara beliau.
Kaisar Heraklius pernah mengirimkan seratus ribu serdadu dan saudara
sang Kaisar sendiri untuk menghadapi pasukan Amr Ibn Ash. Kaisar juga
mengirimkan pasukan khusus di bawah komando seorang jendral bernama Yorghi
untuk menghadapi pasukan Yazid. Kaisar sendiri tetap berada di kota Hums. Pada
saat itu, Khalifah menginstruksikan agar pasukan Islam dikonsentrasikan di Yarmuk.
Pasukan Bizantium telah bersiap-siap untuk menghadapi pasukan Islam. Sambil
menunggu bantuan pasukan dari Khalifah, pasukan Islam mengambil posisi bertahan.
lalu Khalifah mengirim Khalid, -The Sword of Allah (Pedang Allah). Beliau
meninggalkan Irak bersama sepuluh ribu pasukan untuk memperkuat barisan
pasukan di bawah komando Amr Ibn Ash. Beliau sendiri yang memimpin pasukan
dari Irak ini . sesudah pertempuran dahsyat berkecamuk di Ajnadin, pasukan
Bizantium mengalami kekalahan total. Di Yarmuk pertempuran sengit lain juga
berlangsung antara dua ratus ribu pasukan dari Bizantium berhadapan dengan empat
puluh enam ribu pasukan dari Islam dan seribu orang di antara mereka yaitu
shahabat Nabi. Dan di antara seribu ini ada seratus pahlawan Perang Suci
Badar. Sayidina Khalid diangkat sebagai wakil komandan perang. Amr Ibni Ash dan
Syurahbil bertindak sebagai komandan sektor kanan. Sementara itu, Yazid bin Abi
Sufyan dan Qa’qa bertindak sebagai komandan sektor kiri. Abu Sufyan bin Harb
sendiri bertugas memberikan motivasi kepada para tentara. Perang ini memakan
korban begitu banyak. Seratus ribu orang pasukan Bizantium termasuk saudara
Kaisar sendiri tewas. Sementara itu, Abu Sufyan kehilangan sebelah matanya sebab
tertembus oleh anak panah. Dia menjadi buta.
Di Yordan, Kekaisaran Bizantium mengerahkan delapan ribu pasukan.
Dalam rangka menghadapi mereka, Khalid mengatur strategi dengan mengambil
posisi di tengah. sedang Amr bin Ash dan Abu Ubaidah mengambil posisi di dua
sektor. Pasukan Bizantium berhasil dipaksa mundur. Sangat sedikit di antara mereka
yang berhasil menyelamatkan diri.
Pada masa kekhalifahan Umar al-Faruq, pasukan Islam berhasil
mengepung Damaskus. Salah satu pintu gerbang kota ini berhasil diduduki oleh
Khalid bin Walid. Sementara itu, pintu gerbang yang lainnya berhasil dikuasai oleh
Amr Ibn Ash, dan pintu gerbang yang lainnya lagi berhasil direbut oleh Yazid bin
Abi Sufyan. Lalu Yazid mengangkat saudaranya sebagai komandan. Beliau berhasil
menguasai kota Saidah (Sidon) dan Beirut. Sementara itu, Amr Ibn Ash berhasil
menaklukkan Palestina. Sebagaimana sejarah mencatat, beliau yaitu komandan
pasukan di Palestina. Amirul Mukminin Umar al-Faruq secara berkala mengirimkan
bantuan pasukan kepada Amr Ibn Ash. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Amr Ibn
Ash sangat terkenal sebagai seorang administrator yang ulung dan jenius. Beliau
mengirimkan pasukannya menuju ke Yerusalem dan Ramlah. Semetara itu,
Mu'awiyah berhasil mengepung Qaisariyah. Kota ini dijaga ketat oleh pasukan
lawan yang jumlahnya besar sekali. Mereka mulai menyerang pasukan di bawah
komando Mu’awiyah yang mengepung kota ini . Mu’awiyah berhasil
mematahkan serangan mereka. Pada saat itu, Amr Ibni ‘Ash sedang bertempur
menghadapi pasukan di bawah komando Wakil Komandan Pasukan Bizantum.
Beliau berhasil mengusir mereka. Beliau juga berhasil menaklukkan kota Ghazza dan
Nablus. Dan pada saat yang sama, Khalifah Umar al-Faruq berangkat menuju
Yerusalem. Untuk sementara waktu, beliau menyerahkan jabatan kekhalifahan
kepada Sayidina Ali ra. Di Yerusalem, Khalifah Umar disambut oleh Khalid, Amr
Ibn Ash dan Syurahbil. Mereka saling berpelukan. Pasukan Bizantium menyerahkan
Yerusalem kepada Khalifah Umar. Sementara itu, harta rampasan perang yang
diperoleh dari Iran diangkut ke Madinah oleh Ziyad bin Abih. Dia melaporkan
kepada Khalifah pertempuran-pertempuran yang terjadi di Iran.
Khalifah Umar mengangkat Yazid menjadi gubernur di Damaskus.
Gubernur Damaskus itu meninggal dunia akibat serangan penyakit. lalu
Khalifah mengangkat saudara Yazid, -Mu'awiyah bin Abi Sufyan-, menjadi gubernur
Damaskus menggantikan posisi beliau. Demikian pula, Abu Ubaidah, -Komandan di
Siria-, meninggal dunia akibat serangan penyakit. Posisi beliau digantikan oleh
Mu’adz bin Jabal. saat Amr Ibn Ash menjabat sebagai Wakil Komandan, beliau
memerintahkan kepada seluruh rakyat mengungsi ke gunung untuk menghindari
wabah penyakit ini . Amr Ibn Ash pernah menjadi Komandan dalam sebuah
ekspedisi militer ke Mesir. Beliau berhasil menghancurkan pasukan Bizantium
sesudah bertempur selama satu bulan. Pasukan Islam ini berhasil memasuki
Mesir. Pada saat itu, Kaisar Heraklius telah menyiapkan pasukan dalam jumlah
sangat besar. Mereka bergerak mendekati pasukan di bawah komando Amr Ibn Ash.
Namu, di dalam perjalanan ajal menjemput sang Kaisar. Amr Ibn Ash berhasil
menaklukkan Alexandria sesudah melalui pertempuran yang berlangsung selama tiga
bulan. lalu beliau bergerak menuju Trablus (Tripoli). Di sana beliau berhasil
menaklukkan daerah ini sesudah melalui peperangan selama satu bulan.
Sejarah mencatat bahwa, saat Umar al-Faruq meninggal dunia, putra
beliau, -Ubaidullah-, membunuh Hurmuzan, -seorang bekas Raja Persia. Ubaidullah
mengira bahwa dia yaitu pembunuh bapaknya. Dalam kasus ini , Ali bin Abi
Thalib ra. berpendapat, bahwa Ubaidullah harus dibunuh. saat itu, Amr Ibn Ash,
-Gubernur Mesir-, yang sedang menjalani masa cuti menolak pendapat Ali ra.
ini . Beliau berpendapat, “Apakah dipandang adil membunuh anak sesudah
bapaknya dibunuh dalam jangka waktu yang begitu pendek?” Pada saat itu yang
menjadi khalifah yaitu Utsman bin Affan ra. Sebagai Khalifah, beliau sepakat
dengan pendapat yang disampaikan oleh Amr Ibn Ash. Oleh sebab itu, beliau
memperingan hukuman Ubaidullah menjadi hukuman denda (diyat, pent.), yaitu
membayar denda yang diambil dari harta kekayaannya, sebagai ganti hukuman
bunuh (qishas, pent.). Meskipun hal ini memang menyalahi kesepakatan ijtihad.
saat menjadi gubernur Damaskus, Mu’awiyah melancarkan
serangkaian perang suci di Asia Kecil sampai ke kota Amuriyyah. Pada saat itu,
Khalifah Utsman bin Affan memecat Amr Ibn Ash dari jabatan gubernur Mesir.
Khalifah merencanakan melakukan infasi ke Istanbul melalui jalur Andalusia
(Spanyol). Beliau mendaratkan pasukan di Andalusia. Mu'awiyah, -Komandan
Pasukan di Damaskus-, mengirimkan kapal-kapal yang mengangkut pasukan menuju
Cyprus. Pasukan ini , -yang diperkuat oleh pasukan yang dikirim dari Mesir
sebagai pasukan cadangan-, berhasil menaklukkan pulau ini sesudah melalui
pertempuran yang memakan waktu cukup lama.
Sebagaimana kita ketahui, Konstantin III, -Kaisar Bizantium di Istanbul-,
naik tahta pada tahun 47 H/668 M. Beliau meninggal dunia pada tahun 66 H/685 M.
Sebelum wafat, sang Kaisar pernah melakukan ekspedisi laut ke Mediterania dengan
mengorganisir armada dalam jumlah besar. Sementara itu, Mu'awiyah dan Abdullah,
-Gubernur Mesir yang menggantikan Amr Ibn Ash-, juga melakukan persiapan
armada laut dalam rangka menyambut pasukan Kaisar ini . Pertempuran laut
yang hebat ini berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Islam. Pada
tahun 33 hijriah, Mu'awiyah,-Gubernur Damaskus saat itu-, melakukan ekspedisi
melalui teritorial Bizantium hingga tiba di Bhosporus. Beliau, sebagaimana kita
ketahui, yaitu seorang shahabat agung yang menjadi sekretaris Nabi saw.
Sejarah Islam menulis, bahwa Ali bin Abi Thalib yaitu seorang mujahid
pilih tanding yang bergelar singa Allah (asad Allah). Beliau mempertaruhkan
hidupnya dalam memerangi musuh-musuh Allah dan Rasul-Nya demi menegakkan
Islam. Sejarah juga mencatat, bahwa Mu'awiyah yaitu pahlawan Islam yang gagah
berani mengobarkan jihad demi kejayaan Islam. Beliau bertempur dan
menghancurkan pasukan Bizantium sehingga Islam memancarkan cahaya gemilang
baik di Barat maupun di Timur.
Akan namun , sejarah Islam juga merekam adanya seorang manusia
Yahudi yang telah merubah namanya menjadi Abdullah bin Saba’. Dia telah
menyesatkan warga Mesir. Dia telah memprovokasi rakyat agar melakukan
pemberontakan. Ibnu Saba’ juga menciptakan ajaran sesat dengan mengatakan
bahwa kekhalifahan pada hakikatnya yaitu hak Imam Ali ra. Seandainya Amr Ibn
Ash pada saat itu masih menjadi gubernur Mesir, tentu beliau sekali-kali tidak akan
membiarkan fitnah yang disebarkan oleh Ibnu Saba’ ini berkembang.
Sebagaimana kita maklumi, bahwa beberapa orang Kufah menyerang gubernur
mereka dengan mencari-cari berbagai alasan. Mereka mulai memfitnah Khalifah
Utsman bin Affan. Sehingga beliau mengasingkan orang-orang ini ke
Damaskus dan memerintahkan kepada Mu'awiyah selaku gubernur di sana untuk
“memperingatkan mereka.” Mu'awiyah memuji suku Quraisy di hadapan orang-
orang Kufah ini . Beliau berkata, “Rasulullah saw. telah mengangkat saya
menjadi sekertaris beliau. lalu , ketiga Khalifah beliau telah mengangkat saya
menjadi gubernur. Mereka mencintai saya.” Berbeda dengan Amr Ibn Ash. Beliau
berkata, “Wahai Khalifah! Tuan dan Bani Umayyah telah dipercaya oleh rakyat.
Tuan sangat mencintai mereka. Janganlah Tuan memakai kekuasaan untuk
menindas maupun menekan rakyat!”
Sementara itu, Ibni Saba’ yang berada di Mesir melakukan kontak
terselubung dengan para pengikutnya yang berada di propinsi-propinsi lain. Mereka
memprovokasi rakyat dengan mengatakan, “Gubernur akan menindas rakyat.”
Akibat provokasi ini , fitnah merebak di mana-mana. Khalifah menerima
keluhan-keluhan tentang para gubernur yang berada di berbagai propinsi. Sehingga
sang Khalifah pun mengundang mereka dan meminta penjelasan sebab-musabab
munculnya keluhan-keluhan rakyat ini . Pada kesempatan ini , Mu'awiyah
berkata, “Tuan mengangkat saya menjadi gubernur. Saya juga mengangkat banyak
pegawai yang berasal dari rakyat saya. Tuan akan memperoleh keuntungan dan
manfaat dari (kerja sama) mereka. Mereka bekerja keras menciptakan negeri ini lebih
baik.” Sa’id juga turut berbicara, “Semua desas-desus itu yaitu fitnah. Rumor itu
sengaja disebarluaskan secara sembunyi-sembunyi. Akan namun , celakanya rakyat
terlanjur mempercayainya. Orang-orang yang melakukan perbuatan ini harus kita
cari lalu kita bunuh mereka.” Amr Ibn Ash berkata, “Tuan telah bertindak terlalu
lunak. Tuan seharusnya bertindak lebih tegas, dan jika memang diperlukan Tuan
harus bertindak lebih keras.”
sesudah mendengar laporan dari para gubernur ini , Khalifah
berangkat menuju Madinah bersama mereka. Beliau menemui Ali, Thalhah dan
Zubeir. (saat mereka bertemu), Mu'awiyah memulai berbicara, “Kalian yaitu
golongan shahabat Rasulullah saw. yang paling agung. Dan kalian telah memilih
Utsman bin Affan ra. menjadi Khalifah. Beliau sekarang telah berusia lanjut. Oleh
sebab nya, kalian jangan terlalu jauh melangkah (terburu-buru).” Dengan perasaan
sedih mendengar kalimat-kalimat ini , Sayidina Ali ra. berkata, “Bersabarlah dan
tenanglah.” Mereka mengakhiri pertemuan itu tanpa hasil sesuai yang diharapkan.
lalu , Mu'awiyah mengundang Khalifah ke Damaskus. Namun, beliau
menolaknya. Mu'awiyah mengajukan permohonan kepada Khalifah, “Ijinkan saya
mengirimkan satu detasemen pasukan untuk melindungi Tuan.” Khalifah menjawab,
“Sekali-kali saya tidak berniat menindas para tetangga Rasulullah saw.” Mendengar
jawaban ini , akhirnya Mu’awiyah mengingatkan Khalifah, “Saya
mengkhawatirkan keselamatan Tuan, jangan-jangan mereka merencanakan
membunuh Tuan.” Khalifah menjawab, “Segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh
Allah pasti akan terjadi.” Mendengar jawaban ini , Mu'awiyah pun pulang. Akan
namun , beliau sempat menemui Ali, Thalhah, Zubeir dan shahabat-shahabat lainnya.
Beliau menyerahkan keselamatan Khalifah kepada mereka. Beliau segera berpamitan
untuk kembali ke Damaskus. saat hendak berangkat, beliau berkata, “Sayidina
Abu Bakar sama sekali tidak menginginkan dunia. Sehingga dunia pun tidak hendak
mencoba mendekati beliau. Namun, dunia mencoba mendekati Sayidina Umar.
Beliau menolaknya. Dan Sayidina Utsman bin Affan mau menerima sedikit dari
bagian dunia itu. Sementara kita ; kita telah tenggelam di dalam dunia.”
Para pengikut Ibnu Saba di Mesir dan di Kufah telah bersiap-siap menuju
ke Madinah. Mereka berdalih akan menunaikan ibadah haji. sesudah tiba di Madinah,
mereka mendengar berita bahwa Khalifah Utsman ra. telah meninggal dunia sebab
dibunuh. Pasukan pengawal yang dikirim dari Damaskus dan Kufah datang
terlambat.
Kutipan keterangan di atas kami ambil dari edisi berjudul Perang Dunia
Pertama dari artikel Qishas al-Anbiya. Kita dapat melihat berdasar keterangan di
atas bagaimana kadar keimanan dan keislaman yang dimiliki oleh Mu'awiyah dan
Amr Ibn Ash. Kita juga bisa mengetahui tingkat kedudukan mereka berdua di antara
para shahabat Nabi saw. Betapa besar pengabdian yang telah mereka sumbangkan
untuk Islam. Keberanian dan keperkasaan mereka di dalam menumpas orang-orang
kafir sama sekali tidak disangsikan lagi. Meskipun kita tidak dapat menutup mata,
bahwa artikel Qishas al-Anbiya ini tidak bebas dari pengaruh kisah-kisah fiktif
sejarah yang ditulis oleh ahli-ahli sejarah dari Bani Abbasiyah yang diwarnai oleh
sikap prejudice dan sangat tendensius menjelekkan Bani Umayyah dan menjilat
pemerintah mereka sendiri. Akan namun , artikel ini menegaskan sebuah
kebenaran informasi yang telah kami jelaskan di atas. Di dalam menjelaskan Perang
Unta dan Shiffin, artikel itu juga memberikan keterangan tambahan berbagai fitnah di
dalam sejarah Bani Abbasiyah yang kontradiktif dengan kemuliaan Mu’awiyah dan
Amr Ibn Ash serta Abu Sufyan. Namun, keterangan selektif yang telah kami kutip di
atas sangat memadai bagi mereka yang hendak melakukan analisa secara obyektif
dalam menilai kemuliaan dan keagungan para shahabat Nabi saw. sehingga
menyadari bahwa tuduhan-tuduhan yang ada di dalam artikel Qishas al-Anbiya
yang bernada merendahkan martabat mereka hanyalah fitnah dan palsu belaka.
“Mu'awiyah bin Hadidz yaitu seorang shahabat Nabi saw. Dia menjadi
salah seorang komandan yang dikirim oleh Mu'awiyah ke Mesir bersama Amr Ibn
Ash. Dia telah membunuh Muhammad bin Abi Bakar salah seorang utusan Ali al-
Murtadla. Dia melemparkan mayatnya ke bangkai sekeor keledai lalu membakarnya.
Tidak seorang pun sanggup mengampuni perbuatan biadab ini ,” kata dia. Lagi-
lagi dia menambahkan, bahwa informasi ini dikutip dari kitab Raudlat al-
Abrar.
Berkaitan dengan keterangan di atas kitab Qishas al-Anbiya memberi
penjelasan sebagai berikut : Muhammad bin Abi Bakar, -seorang gubenur Mesir
yang diangkat oleh Khalifah Ali ra.-, yaitu seorang gubernur yang telah menindas
rakyat. Oleh sebab itu, rakyat memberontaknya. sedang Mu’awiyah bin Hadidz,
-salah seorang shahabat Nabi-, sebagaimana kita ketahui, saat peristiwa ini
terjadi, beliau sedang berada di Mesir. Beliau sedang menuntut balas atas kematian
Sayidina Utsman bin Affan ra. Bersama rakyat beliau berhasil menghimpun kekuatan
melawan Muhammad bin Abi Bakar. Dalam rangka meredam pemberontakan yang
terjadi di sana, Mu'awiyah mengirim Amr Ibni Ash. Namun, Muhammad bin Abi
Bakar justru melakukan perlawanan. lalu , Mu'awiyah mengirim Mu’awiyah
bin Hadidz untuk memperkuat pasukan yang berada di bawah komando Amr Ibn
Ash. Huru-hara di Mesir dapat dipadamkan. Sementara Muhammad bin Abi Bakar
berhasil melarikan diri. Akan namun , Mu'awiyah bin Hadidz berhasil menangkapnya
lalu membunuhnya. Beliau melemparkan mayatnya ke bangkai seekor keledai dan
membakarnya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa Muhammad bin Abi Bakar pernah
melakukan konspirasi dengan para pemberontak dari Mesir menuju ke Madinah dan
memprovokasi rakyat agar melawan Khalifah Utsman bin Affan di Medinah. Dia
termasuk salah seorang pemberontak yang mengepung rumah Khalifah Utsman bin
Affan ra. Dia juga yang melukai Hasan bin Ali, -salah seoarng di antara orang yang
turut menjaga rumah Khalifah pada saat pengepungan itu terjadi-, dengan anak
panah. sesudah mengetahui tubuh Hasan berlumuran darah akibat luka panahnya
ini , dia panik. Dia berkata kepada kawan-kawannya, “Seandainya Bani Hasyim
mengetahui hal ini, mereka pasti akan menyerang kita, suasana akan semakin kacau.
Oleh sebab itu, kita harus menempuh jalan pintas.” Bersama dua pemberontak
lainnya, mereka memanjat tembok pembatas rumah Khalifah dan berhasil masuk ke
kamar beliau. Bahkan dia yaitu orang pertama yang memasuki kamar Khalifah.
lalu dia menarik janggut Khalifah sambil berkata, ‘Mu'awiyah tidak dapat
menyelamatkan Anda.’ Pada saat itu, Khalifah sedang membaca Al Qur'an. Beliau
menatap wajah Muhammad bin Abi Bakar sambil berkata, ‘Seandainya ayahmu
mengetahui perbuatanmu ini, betapa malunya dia’. Mendengar ucapan beliau, nyalii
dia menjadi kecil dan pergi meninggalkan kamar ini . Namun, kawan-kawan dia
lainnya tetap merangsek kamar Khalifah dan membunuh beliau.” Sesungguhnya
hukuman yang diterima oleh Muhammad bin Abi Bakar disebabkan dia menjadi
penyebab dari kematian Khalifah. Penulis di atas menyesalkan pembakaran atas diri
Muhammad bin Abi Bakar dan mengaitkan peristiwa ini dengan tindakan yang
dilakukan oleh ‘anak-anak muda’ (Mu'awiyah bin Hadidz dan Amr Ibn Ash, pent.).
Akan namun , apakah penulis itu juga bersikap fair dan obyektif dalam memaparkan
fakta sejarah? Betapa banyak Khalifah Bani Umayyah yang dibakar oleh orang-
orang Abbasiyah. Dan betapa banyak orang Hurufi telah membakar ulama-ulama
Ahlus Sunnah wal Jamaah, -seperti Syirwansyah dan Gubernur Bagdad Baqir Pasya-,
keduanya dibakar hidup-hidup. Betapa mereka telah menggali tulang-tulang mayat
Sayidina Baedlawi lalu membakarnya. Fakta-fakta sejarah ini akan lebih
memudahkan menilai siapa sesungguhnya yang lebih biadab dan zalim?
Sejarah mencatat, bahwa dalam rangka memulihkan situasi dan kondisi
di Mesir, Mu'awiyah mengangkat Amr Ibn Ash menjadi gubernur di provinsi
ini . Sebelumnya, Amr Ibn Ash pernah memegang jabatan ini selama
empat tahun pada masa Khalifah Umar bin Khaththab. lalu empat tahun
berikutnya pada masa Khalifah Utsman bin Affan. saat Amr Ibn Ash meninggal
dunia pada tahun empat puluh tiga hijriah, Mu'awiyah mengangkat putra beliau
bernama Abdullah menjadi gubernur menggantikan ayahnya. Dua tahun lalu ,
Mu'awiyah memberhentikan beliau dan mengangkat Mu'awiyah bin Hadidz sebagai
gubernur di Mesir. Pada tahun lima puluh hijriah, Mu’awiyah juga memberhentikan
Mu'awiyah bin Hadidz dan mengangkat Maslamah, -salah seorang staff beliau dan
juga seorang shahabat Nabi-, menjadi gubernur Mesir dan Afrika. Mu'awiyah bin
Hadidz wafat pada tahun tujuh puluh tiga hijriah.
“Mu'awiyah mengirimkan pasukan di bawah komando Busr bin Artad ke
Haramain (Kota Suci Mekkah-Madinah dan daerah di sekitarnya). Beliau
memerintahkan agar kaum wanita dan anak-anak turut membantu perang. Dalam
hal ini, cucu-cucu Sayidina Abbas yaitu Abdurrahman (5 tahun) dan Qusam (6
tahun) ikut terbunuh. Mereka berdua dibunuh di depan mata ibundanya, -Aisyah.
Pembunuhan yang dilakukan secara biadab ini menjadikan Aisyah gila. Dia
berjalan keluyuran tak tentu arah dan tujuan tanpa mengenakan tutup kepala dan alas
kaki sampai akhir hayatnya,” kata penulis itu. Lagi-lagi dia menambahkan, bahwa
keterangannya ini dikutip dari kitab Al-Kamil dan Al-Bayan wa al-Tabyin.
Dia selalu merujuk kepada kitab-kitab tertentu dengan tujuan untuk
memperkuat pendapatnya sendiri. Akan namun , tindakannya ini pada hakikatnya
justru menyingkap aib dirinya. Sebagaimana kita ketahui, bahwa kitab Al-Bayan wa
al-Tabyin ditulis oleh seorang Mu’tazilah yang sangat antipati terhadap Ahlus
Sunnah wal Jamaah.
Berkaitan dengan penjelasan penulis di atas, Mukhtashar Tadzkir al-
Qurtubi memberikan keterangan pada halaman seratus tiga puluh satu sebagai
berikut : “sesudah Mu'awiyah dipilih menjadi khalifah secara bulat oleh para juru
runding, beliau mengirimkan Busr bin Artad Amiri bersama tiga ribu pasukan ke
Hijaz untuk mengetahui respon masyarakat di sana. Tempat yang didatangi oleh Busr
yaitu Madinah. saat itu, gubernur Madinah yaitu Khalid Abi Ayub al-Anshari
yang diangkat oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib. Dia secara diam-diam pergi ke
Kufah. Kepergiannya ke Kufah bertujuan untuk membicarakan kedudukannya
sebagai gubernur dengan Sayidina Ali ra. Sementara itu, Busr menyampaikan pidato
di atas mimbar, ‘Apa yang telah kalian lakukan terhadap Khalifah Utsman bin Affan
pada saat saya melakukan bai’at di tempat ini? saat itu, saya hendak memerangi
kalian, andaikata Mu'awiyah tidak menghalangi saya.’ lalu warga Madinah
yang dipimpin Jabir melakukan bai’at kepada Mu'awiyah. Selanjutnya Busr
berangkat ke Mekkah untuk memastikan kesetiaan warga Mekkah. Busr
menegaskan, bahwa dirinya diutus Mu'awiyah untuk tidak membunuh siapa pun di
antara warga Mekkah maupun Madinah. lalu dia pergi ke Yaman. Pada
waktu itu, gubernur Yaman yaitu Ubaidullah bin Abbas. Dia melarikan diri ke
tempat di Kufah menemui Ali ra. Menurut keterangan para ahliu sejarah, sesudah
Ubaidullah meninggalkan Yaman, Busr membunuh kedua putra beliau. Ali bin Abi
Thalib mengirimkan dua ribu pasukan di bawah komando Haritsah bin Quddama ke
Yaman untuk menghadapi Busr. [Menurut informasi sejarah, bahwa Busr bukanlah
seorang shahabat Rasulullah saw.] Haritsah menjadi gubernur di Yaman hingga Ali
bin Abi Thalib wafat. Dia banyak membunuh rakyat. Pada saat Haritsah
mengunjungi Madinah, Imam Abu Hurairah, -yang menjadi Amir Madinah-,
menentangnya. Haritsah berkata, “Aku tidak segan membunuh si Bapak Kucing
(julukan bagi Imam Abu Hurairah, pent.) jika aku menemukan dia.” Komandan yang
diangkat oleh Ali ra. ini berniat hendak membunuh shahabat yang sangat
dicintai dan dimuliakan oleh Baginda Rasulullah saw. Beliau saw. telah memberi
nama julukan (samaran) kepadanya dengan ‘Bapak Kucing’. Akan namun , sangatlah
tidak adil dan obyektif jika mencaci Ali bin Abi Thalib ra. dan Mu'awiyah dengan
mendasarkan pada perbuatan-perbuatan keji yang dilakukan oleh para gubenur yang
diangkat oleh mereka dan mendramatisir segala peristiwa yang terjadi dengan cerita-
cerita bohong.
“Mu'awiyah menginstruksikan (melalui surat) kepada para gubenur
supaya mengutuk Ali al-Murtadla dan putra-putranya dalam khutbah-khutbah.
Perbuatan tidak terpuji ini dilarang oleh Umar bin Abdul Aziz. Kita mengetahui
bahwa Hajir bin Adi, -salah seorang shahabat Nabi saw.-, dan salah seorang di antara
tujuh shahabat Nabi yang gugur sebagai syuhada’ disebabkan dia menolak perbuatan
tidak terpuji ini ,” kata dia. Dia juga merujuk kepada artikel Aghani dan dua artikel
syarah-nya yaitu Nahj al-Balaghah dan Aqd al-Farid yang ditulis oleh Abdulhadid
sebagai sumber tulisannya..
artikel -artikel yang digunakan oleh penulis majalah ini sebagai sumber
referensi yaitu artikel -artikel yang ditulis orang-orang Hurufi sebagaimana telah kami
jelaskan sebelumnya di dalam terjemahan kitab Tuhfah. berdasar informasi dari
kitab Asma al-Muallifin disebutkan, bahwa penulis kitab Aghani yaitu Abul Faraj
Ali bin Husein Isfahani termasuk seorang ahli bid’ah. Bahkan dia menyerang para
shahabat Rasulullah saw. dan memaki mereka dengan kata-kata kotor di dalam
artikel nya yang berjudul Muqatil Ali bin Abi Thalib. Kami telah menjelaskan di
dalam paragraf kesepuluh, bahwa Ibni Abdulhadid yaitu seorang Mu’tazili ekstrim
yang fanatik. Memang patut disesalkan, bahwa kebohongan dan fitnah seperti itu
telah mengotori kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama Sunni. Imam Muhammad
Ma’tsum al-Faruqi, -seorang ulama besar Sunni dan pemuka para wali-, membantah
fitnah-fitnah yang dilancarkan oleh mereka melalui argumentasi-argumentasi yang
akurat dan sahih. Kami persilakan Anda membaca terjemahan bantahan beliau
ini di dalam artikel kami bagian kedua.
Barang siapa berpendapat, bahwa Mu'awiyah telah mencaci Ali ra.
berarti dia telah menfitnah Mu'awiyah. Dan mencela Mu'awiyah yaitu perbuatan
yang dilarang. Memang kita tidak bisa mengingkari fakta sejarah, bahwa ada
beberapa khalifah dari Bani Umayyah yang memerintahkan mencaci Ali bin Thalib.
Namun, Mu'awiyah tidak dapat dipandang salah sebab dirinya menjadi salah
seorang khalifah dari Bani Umayyah. Orang-orang Hurufi mencaci ketiga khalifah
Nabi saw., Mu'awiyah dan para pengikut Mu'awiyah. Mereka berpendapat, bahwa
semua shahabat Nabi saw. yaitu murtad. Mereka wajib dikutuk. Berbeda dengan
orang Hurufi, golongan Ahlus Sunnah wal Jamaah mewajibkan memuliakan para
shahabat Nabi saw.
Dalam sebuah kesempatan, Ali bin abi Thalib pernah membicarakan
perihal Mu'awiyah dan para pengikutnya. Beliau berkata, “Saudara-saudara kita
berbeda pendapat dengan kita. Namun demikian, mereka bukanlah orang kafir atau
ahli maksiyat. Dan mereka telah menjalankan ijtihad mereka sendiri.” Pernyataan Ali
bin Abi Thalib ini membebaskan mereka dari sifat kekufuran dan kemaksiatan.
Yang pasti, Islam tidak memerintahkan seseorang untuk mencaci orang lain. Bahkan
Islam melarang mencaci perbuataan yang paling keji sekali pun yang dilakukan oleh
orang-orang kafir. Mungkinkah shahabat Rasulullah saw. memakai lidah
mereka untuk mengutuki orang lain dari pada untuk berdoa yang dipanjatkan pada
setiap akhir shalat lima waktu? Siapakah yang mempercayai kebohongan seperti itu?
Seandainya mengutuk orang lain dianggap sebagai perbuatan baik dan
termasuk amal ibadah, maka sesungguhnya Islam memerintahkan mengutuk setan,
Abu Jahal, Abu Lahab dan orang-orang kafir Quraisy lainnya yang keras kepala yang
telah melukai, menyiksa, dan bahkan menganiaya Rasulullah saw., menghalangi-
halangi dan mengingkari kebenaran Islam yang didakwahkannya. Jika mengutuk
orang-orang yang menjadi musuh agama tidak dibenarkan, lalu apakah mengutuk
sesama saudara muslim dipandang ibadah yang berpahala? Berkaitan dengan
masalah ini, kita dapat mempelajari lebih rinci di dalam kitab Sa’adat al-Abadiyyah
(bahasa Turki) pada pasal kedua puluh dua bagian ke dua.
“Mu'awiyah memerintahkan membunuh Hasan ra. Pembunuhan itu
dilakukan dengan jalan membujuk istrinya supaya dia meracun suaminya. Dia
dijanjikan dengan imbalan intan permata,” kata dia.
Di dalam paragraf kesepuluh, kami telah menyinggung masalah fitnah-
fitnah berkaitan dengan Mu’awiyah sebagaimana ditulis di dalam artikel Sejarah al-
Tabari. Sebagaimana kita ketahui, Sejarah al-Tabari merupakan artikel sejarah yang
sangat penting. artikel ini ditulis oleh seorang ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah
bernama Muhammad bin Jarir Thabari ra. yang wafat pada tahun 310 H. Kita tidak
perlu terkecoh dengan seorang Hurufi yang memiliki kesamaan nama yang muncul
lalu . Thabari Hurufi menulis sebuah ikhtisar dari kitab Sejarah al-Tabari
dengan judul Tarikh al-Tabari (Sejarah Tabari). Adapun versi Sejarah Tabari yang
ditulis dalam bahasa Turki yang ada sekarang merupakan terjemahan dari ikhtisar
ini . Versi asli dari artikel ini jauh lebih tebal.
Sebagaimana telah kami jelaskan di paragraf yang kami terjemahkan dari
kitab Tuhfah pada paragraf kesepuluh, bahwa Muruj al-Dzahab merupakan artikel
sejarah yang diwarnai oleh kepalsuan. Yang pasti artikel ini tidak diperlukan
ummat Islam disebabkan content artikel ini mengotori ajaran Islam melalui
kebohongan keji yang sangat kontradiktif dengan keutamaan Mu'awiyah ra.
Di dalam salah satu ayat Al Qur’an surat al-Fath ditegaskan, “Shahabat-
shahabatmu saling menyayangi di antara mereka, bersikap keras terhadap orang-
orang kafir.” Musuh-musuh Islam justru menyatakan, bahwa para shahabat Nabi
saw. saling bermusuhan di antara mereka, dan saling mencelakakan. Sebagai orang
Islam, kita wajib mengimani firman Allah swt. Oleh sebab itu, kami yakin bahwa
para shahabat Nabi saw. saling mencintai di antara sesama mereka. Sejarah
menuturkan, bahwa berkaitan dengan pembunuhan Utsman bin Affan, mereka telah
berijtihad untuk menentukan apakah diperlukan hukuman balasan terhadap para
pembunuh Utsman ra. Meskipun hal ini menjadi bagian dari persoalan agama.
Dan ternyata mereka berbeda pendapat. Perbedaan ijtihad di kalangan ummat Islam
tidak terjadi sekali itu saja. Perbedaan seperti itu juga pernah terjadi pada masa
Rasulullah saw. Bahkan ijtihad para shahabat kadang-kadang tidak sejalan dengan
ijtihad yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Perbedaan ijtihad seperti itu tidak
memicu si pelaku ijtihad ini dipandang berdosa. Sebaliknya, mereka akan
memperoleh pahala. Beberapa kali ayat Al Qur'an











