seruan-Mu dengan
sepenuh jiwa sebagai ibadah dan kerendahan untuk-Mu. Aku berlindung dengan apa yang Ibrahim
berlindung diri dengannya."
Ya Allah, hidungku ini kuserahkan untuk-Mu Walau kau membeniku tetap tak ada keluh dariku
Kebaikanlah yang kucari bukannya seseorang Tidaklah sama yang keluar di terik siang dengan yang
tidur di siang bolong
Al-Khaththab menganiaya Zaid bin Amr, membuangnya ke Mekkah Atas, turun ke Gua Hira
menghadap Mekkah, lalu menyerahkannya kepada salah seorang pemuda Quraisy, dan
beberapa orang-orang yang bodoh yang ada di tengah-tengah mereka. Al- Khaththab berkata kepada
mereka: "Janganlah kalian biarkan dia memasuki Mekkah!" Zaid bin Amr tidak memasuki masuk
Mekkah kecuali dengan cara sembunyi-sembunyi. jika orang-orang Ouraisy mengetahui Zaid bin
Amr memasuki Mekkah, mereka melaporkannya kepada Al-Khaththab, lalu mereka mengusir
Zaid bin Amr dan mengeroyoknya karena dikhawatirkan mengacak-acak agama mereka, dan
tindakannya meninggalkan agama kaumnya bisa diikuti orang lain. Zaid bin Amr berkata lantang
sambil membanggakan kehormatan dirinya atas kaumnya yang telah merusaknya.
Usai kejadian itu, Zaid bin Amr pergi menelusuri agama Ibrahim dan bertanya kepada para pendeta
Yahudi dan pendeta Kristen hingga ia melintasi Al-Maushil dan jazirah Arab. Ia tak kenal lelah berjalan
menyusuri seluruh wilayah Syam hingga bertemu dengan seorang pendeta di bukit di wilayah Al-
Balqa'. Seorang pendeta yang menjadi rujukan para pemeluk agama Kristen karena ilmunya. Zaid bin
Amr bertanya kepada pendeta ini tentang agama Ibrahim. Pendeta ini berkata: "Engkau
mencari agama yang belum muncul di zaman ini. Tapi ketahuilah telah dekat zaman kemunculan Nabi
yang berasal dari negerimu. Ia diutus dengan membawa agama Ibrahim. Kembalilah engkau ke
negerimu, karena Nabi itu telah diutus, dan sekarang masa kemunculannya." Sebelumnya Zaid bin
Amr menyelami agama Yahudi dan Kristen, namun ia tidak tertarik kepada keduanya. sesudah
mendengar perkataan pendeta itu Zaid bin Amr segera bergegas pulang ke Mekkah. jika Zaid bin
Amr tiba di pertengahan negeri-negeri Lakhm, penduduk setempat menzaliminya lalu
membunuhnya.
jika Waraqah bin Naufal mendengar berita kematiannya, ia menangis lalu berkata:
Wahai anak Amr kau telah dapatkan mahligai petunjuk dan nikmat
Engkau jauh dari bara api neraka dan terlindung darinya
Karena kau bersujud pada Tuhan yang tiada Tuhan lain selain Dia
Karena engkau tinggalkan patung-patung thaghut yang tidak bisa berbuat apa-apa
Kau telah dapatkan agama yang engkau selama ini kau cari
Engkau tidak pernah lalai mengesakan Tuhanmu
Kini kau berada di negeri akhirat yang mulia
Di dalamnya kau bersuka cita dengan kenikmatan
Engkau berjumpa dengan kekasih Allah Ibrahim
Tidaklah kau termasuk manusia sombong penghuni neraka
Kadang kala rahmat Allah itu mengalir pada manusia
Walapun ta telah berada tujuh puluh lembah di bawah bumi
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan bahwa dua bait pertama dan terakhir pada syair di atas
yaitu ucapan Umayyah bin Abu Ash-Shalt. Adapun ucapan Waraqah bin Naufal, 'Patung-patung
thaghut,' bukan dari Ibnu shaq.
Sifat Rasulullah Shallahahu 'Alaihi wa Sallam dalam Kitab Injil
Ibnu Ishaq berkata: Aku diberitahu bahwa salah satu yang dikabarkan Isa bin Maryam dalam Injil untuk
orang-orang Kristen tentang sifat Rasulullah Shallahahu 'Alaihi wa Sallam yang ia terima dari Allah,
ialah apa yang ditegaskan Yohanes Al-Hawari kepada orang-orang Kristen ia jika menulis Injil untuk
mereka dari zaman Isa bin Maryam Alaihis Salam. Di dalamnya dijelaskan tentang kedatangan
Rasulullah Shallahahu 'Alaihi wa Sallam kepada mereka. Yohanes Al-Hawari mengabarkan bahwa Isa
bin Maryam bersabda: Barang siapa yang membuatku marah, sama saja membuat marah Tuhan.
Andai aku tidak melakukan di depan mereka tindakan-tindakan yang belum pernah dilakukan oleh
seorang pun sebelum aku, pastilah mereka tidak memiliki dosa. Namun sejak kini mereka sombong
dan mengaku mengagungkan aku Tuhan. Namun kalimat yang tertera dalam Namus (sebutan bagi
Jibril oleh orang Kristen Arab) itu harus terealisir. Mereka telah membuatku marah tanpa mendapat
apa-apa. Andai saja Al-Munhammana telah datang kepadaku, dia yang diutus kepada kalian dari sisi
Tuhan dan Ruhul Qudus, dan dia yang berasal dari Tuhan telah keluar, ia menjadi saksi atas aku juga
atas kalian. Karena sejak dulu kalian senantisa bersamaku dalam hal ini maka aku kabarkan ini kepada
kalian, agar kalian tidak berkeluh kesah."
Dalam bahasa Ibrani Al-Munhamana berarti Muhammad, dan Muhammad dalam bahasa Romawi
ialah Paraclet. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah Shallahahu 'Alaihi wa Sallam.
Bab 4
Rahmatan Lil Alamin: Diutusnya Muhammad Sebagai Nabi dan Rasul
serta Turunnya Al-Qur'an secara Bertahap-Tahap Mengiringi Peristiwa
Kehidupannya sebagai Utusan Allah
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Muhammad, Rasulullah Shallahahu 'Alaihi wa Sallam berumur empat
puluh tahun, Allah Yang Maha tinggi mengutusnya sebagai rahmat bagi alam semesta, dan pembawa
kabar gembira bagi seluruh umat manusia. Sebelum beliau di utus, Allah telah mengambil perjanjian
kepada seluruh nabi supaya mereka beriman kepadanya, membenarkannya, dan menolongnya
menghadapi orang-orang yang memusuhinya. Allah juga mengambil perjanjian dari mereka supaya
mereka mengabarkan hal ini kepada orang-orang beriman dan membenarkan mereka sehingga
kebenaran dapat ditegakkan. Allah Ta'ala berfirman kepada Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam:
Dan (ingatlah), jika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yangAku berikan
kepadamu berupa kitab dan hikmah, lalu datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan
apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya."
Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?"
Mereka menjawab: "Kami mengakui." Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan
Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu." (QS. Ali Imran: 81).
Allah mengambil perjanjian dari semua nabi supaya mereka membenarkan Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam, menyertainya dalam menghadapi orang-orang yang memusuhinya, dan
menyampaikan perjanjian kepada orang-orang yang beriman kepada mereka, dan membenarkan
mereka di antara pengikut, dua kitab suci ini, Taurat dan Injil.
Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri telah menyebutkan dari Urwah bin Zubair dari Aisyah Radhiyallahu Anha
bahwa Aisyah berkata kepada Urwah: "sebenarnya wahyu yang pertama kali yang diterima
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika Allah berkehendak memuliakannya dan memberi rahmat
kepada hamba-hamba-Nya dengannya ialah mimpi yang benar. Dan tidaklah beliau bermimpi da- lam
tidurnya, kecuali pasti beliau melihatnya laksana rekahan sinar pagi."
Aisyah berkata: "Mulai saat itu, Allah menjadikan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam suka
menyendiri dan tidak ada pekerjaan yang lebih disukainya lebih dari menyendiri (khalwat)."
Ibnu Ishaq berkata: Abdul Malik bin Ubaidillah bin Abu Suf bin Al-Ala' bin Jariyah Ats-Tsaqafi berkata
kepadaku dan ia mendengar dari beberapa orang-orang yang berilmu: "sebenarnya Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam, jika Allah berkehendak memuliakannya dan menganugrahkan kena-
bian padanya, dan beliau ingin keluar untuk buang hajat, beliau pergi ke tempat yang jauh dari rumah-
rumah penduduk hingga berhenti di Syi'ab Mekkah, dan lembah-lembahnya. Dan tidaklah sekali-kali
Rasulullah melewati sebongkah batu dan sebatang pohon kecuali keduanya pasti berkata: "As-
Salaamu Alaika ya Rasulullah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menoleh ke sekitarnya; kanan,
kiri, dan belakang namun tidak melihat apapun kecuali pohon dan batu. Kondisi keadaan ini terus-
menerus terjadi bermimpi dan mendengar salam hingga Jibril datang kepada beliau dengan membawa
kemuliaan dari Allah jika beliau berada di Gua Hira pada bulan Ramadhan yang mulia.
Ibnu Ishaq berkata: Wahb bin Kaisan, mantan budak keluarga Zubair berkata kepadaku bahwa aku
mendengar Abdullah bin Zubair berkata kepada Ubaid bin Umair bin Qatadah Al-Laitsi: "Hai Ubaid,
tuturkanlah kepada kami, bagaimana keadaan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam saat pertama
kali menerima wahyu jika Malaikat Jibril datang padanya!" Wahb bin Kaisan berkata: lalu
Ubayd berkata jika itu aku hadir berbicara dengan Abdullah bin Zubair dan orang-orang yang ada di
sekitar Abdullah bin Zubair. "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyendiri di Gua Hira' selama
sebulan setiap tahunnya. Seperti itulah bentuk tahannuts yang dilakukan oleh orang-orang Quraisy
pada zaman jahiliyah. Arti tahannuts yaitu pembersihan diri (tabarrur).
Ibnu Ishaq berkata bahwa Abu Thalib berkata:
Demi Tsaur dan Yang menggangtikan Tsabir pada di tempatnya
Serta demi orang yang naik ke gunung Hira dan menuruninya
Ibnu Hisyam berkata bahwa Abu Ubaidah berkata bahwa orang-orang Arab berkata: At-Tahannuts dan
At-Tahannuf maksudnya ialah Al-Hanafiyyah. Mereka mengganti huruf ‘a pada kata At-Tahannuf
dengan huruf tsa’ maka jadilah ia At-Tahannuts. Ini sama seperti saat mereka mengatakan Jadaf dan
jadats, dimana arti keduanya yaitu sama yaitu kuburan. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata dalam syairnya:
Seandainya batu-batuku bersama ajdaaf, maksudnya al-ajdaats.
Bait syair di atas dapat dijumpai pada kumpulan syair Ru'bah bin Al-Ajjaj, sedang bait Abu Thalib di
atas ada pada kumpulan syairnya yang, Insya Allah, akan saya paparkan pada tempatnya.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Ubaidah bertutur kepadaku, bahwa orang-orang Arab berkata: "Fumma
sebagai ganti kata Tsumma." Mereka mengganti huruf fa' dengan huruf tsa.
Ibnu Ishaq berkata: Wahb bin Kaisan ber- cerita kepadaku, bahwa Ubaid berkata: Pada bulan itu,
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiam diri di Gua Hira sebagaimana biasa dilakukannya setiap
tahun. Beliau senantiasa menyuguhkan makanan kepada orang-orang miskin yang datang kepada
beliau. Usai melakukan hal itu, beliau pergi ke Ka'bah untuk melakukan thawaf (mengitari Ka'bah)
sebanyak tujuh kali atau lebih, baru lalu beliau pulang ke rumah. Begitulah yang terus terjadi
hingga Allah mengutusnya sebagai seorang Nabi pada bulan Ramadhan. Saat itu, beliau berangkat ke
Gua Hira dengan disertai istrinya. Malam itu, Allah memuliakan beliau dengan menganugerahkan
kerasulan dan merahmati hamba-hamba-Nya dengan rahmat itu. Malaikat Jibril datang dengan
membawa perintah Allah Ta'ala. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, "Jibril mendatangiku
saat aku tidur dengan membawa secarik kain sutera yang di dalamnya terdapat tulisan." Malaikat Jibril
berkata: "Ba- calah!" Aku berkata: "Aku tidak bisa membaca." Malaikat Jibril mendekapku dengan kain
sutera ini hingga aku merasa seolah-olah sudah mati lalu ia melepasku dan berkata:
"Bacalah!" Aku menjawab: "Apa yang mesti aku baca?" Malaikat Jibril mendekapku dengan kain sutera
itu hingga aku merasa seolah-olah sudah mati, lalu ia melepasku kembali dan berkata:
"Bacalah!" Aku berkata: "Apa yang mesti aku baca?" Jibril kembali mendekap kembali diri dengan
sangat kencang dengan kain sutera ini hingga aku merasa seolah-olah sudah mati, lalu ia
melepasku, dan berkata: "Bacalah!" Aku berkata: "Apa yang mesti aku baca?" Aku katakan itu dengan
harapan ia melepasku sebagaimana yang sebelumnya ia lakukan terhadap diriku. Lalu ia berkata:
'Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan mulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar dengan
perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS. al-Alaq: 1-
5).
Aku pun apa yang ia baca lalu sesudah selesai Jibril pergi meninggalkanku dan aku bangun dari
tidurku dan kurasakan jida sesuatu yang tertulis dalam hatiku. Lalu aku keluar dari Gua Hira. jika
aku berada di tengah-tengah gunung, tiba-tiba kudengar sebuah suara dari langit: "Wahai
Muhammad, engkau yaitu utusan Allah sedangkan aku yaitu Jibril." Aku dongakkan kepalaku ke
langit, saat itu kulihat Jibril dalam sosok seorang laki-laki yang membentangkan kedua kakinya ke ufuk
langit. Jibril berkata lagi: "Wahai Muhammad, engkau yaitu utusan Allah sedangkan aku yaitu
Jibril." Aku berdiri melihatnya di tempat bagaikan patung. Aku arahkan pandanganku pada di ufuk
langit yang lain, tidaklah aku mengarahkan pandanganku ke arah mana pun kecuali aku lihat dia
berada di sana. Aku berdiri diam terpana bagaikan patung hingga akhirnya istriku Khadijah mengirim
pelayan-pelayannya untuk mencariku. Mereka tiba di Mekkah atas dan kembali pada Khadijah,
sementara aku tetap berada di tempatku semula. Lalu diapun menghilang dariku.
Aku pulang menemui istriku Khadijah, aku berbaring di pahanya bersandar merapat padanya. Khadijah
berkata: "Wahai suamiku, semalam kau kemana saja? Aku telah mengirim orang-orangku untuk
mencarimu hingga mereka tiba di Mekkah Atas, lalu pulang dengan tangan hampa." Maka aku
ceritakan kepada Khadijah peristiwa yang baru saja aku alami. Khadijah berkata: "Suamiku,
bergembiralah, dan kokohlah. Demi Dzat yang jiwa Khadijah berada di Tangan-Nya, ku harap engkau
diangkat menjadi Nabi untuk umat ini."
Khadijah bangkit lalu membereskan pakaiannya lalu pergi ke kediaman Waraqah bin Naufal bin
Asad bin Abdul Uzza bin Qushay, saudara sepupunya. Waraqah yaitu seorang penganut agama
Kristen yang mengkaji kitab-kitab agama ini dan banyak belajar dari orang-orang Yahudi dan Kristen.
Khadijah memerintahkan kepada Waraqah persis seperti yang dituturkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam, bahwa beliau melihat dan mendengar sesuatu. Waraqah bin Naufal berkata: "Quddus,
Quddus (Maha Tuhan) Allah, Demi Dzat yang jiwa Waraqah ada di Tangan-Nya, jika semua yang
engkau tuturkan benar, wahai Khadijah, sungguh dia telah didatangi Jibril (Namus) yang dahulu pernah
datang kepada Musa. Dia yaitu Nabi untuk umat ini. Katakanlah padanya hendaknya ia bersabar."
Lalu Khadijah pulang menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan menceritakan apa yang
dikatakan oleh Waraqah bin Naufal kepada Rasulullah. Usai melakukan khalwat di Gua Hira',
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam beraktivitas seperti biasanya. Beliau pergi ke Ka'bah lalu thawaf.
Saat sedang thawaf itulah, beliau bertemu dengan Waraqah bin Naufal. Waraqah bin Naufal berkata:
"Wahai sepupuku, tuturkanlah kepadaku apa yang engkau lihat dan dengar!" Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam menuturkan apa yang beliau lihat dan dengar kepada Waraqah bin Naufal. Waraqah
bin Naufal berkata: "Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh engkau yaitu Nabi untuk
umat ini. Sungguh Jibril yang dahulu pernah datang kepada Musa kini telah datang kembali padamu.
Engkau pasti akan didustakan, disakiti, diusir, dan diperangi. Seandainya aku masih hidup pada hari
itu, pasti aku menolong Allah dengan pertolongan yang diketahui-Nya." lalu Waraqah bin Naufal
mencium ubun- ubun beliau. sesudah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali ke
rumahnya.19
19 HR. Thabrani (1/535) dalam Tarikhnya, Baihaqi dalam al-Dalail pada hadits no. 451 dari Abu Ishaq Ubaid bin Umair: Disebutkan oleh Imam Bukhari bahwa
Nabi bermimpi dan disebutkan oleh Imam Muslim tentang orang yang iahir di zamannya, bahwa Rasulullah tidak bermimpi. Dia termasuk salah seorang tabiin.
Dengan demikian haditsnya yaitu mursal. Ini disebutkan oleh penulis buku al-Tahshil fi Ahkam al-Marasil (1/234)
Ibnu Ishaq berkata: Ismail bin Abu Hakim, mantan budak keluarga Zubair berkata kepadaku bahwa ia
diberitahu dari Khadijah Rhadhiyallahu Anha, "Khadijah berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam: "Wahai suami, bisakah engkau bertutur padaku tentang sahabatmu (maksudnya Jibril)
tatkala datang kepadamu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Ya." Khadijah berkata:
"jika ia datang lagi kepadamu, tolong beritahu aku!" Tak lama lalu Jibril datang kepada
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam seperti yang biasa dia lakukan. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam berkata kepada Khadijah: "Wahai istriku, ini Jibril, ia datang kepadaku." Khadijah berkata:
"Suamiku, berdirilah dan berbaringlah di atas paha kiriku!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
berdiri lalu berbaring di atas paha kiri Khadijah. Khadijah berkata: "Apakah engkau melihatnya?"
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Ya." Khadijah berkata: "Ubahlah posisi dudukmu,
berbaringlah di paha kananku!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengubah posisi duduknya
dengan cara duduk di atas paha kanan Khadijah. Khadijah berkata: "Masihkan engkau melihatnya?"
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Ya." Khadijah berkata: "Ganti posisimu dan
berbaring di atas pangkuanku!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengganti posisinya dengan
berbaring di atas pangkuan Khadijah. Khadijah berkata: "Masihkah engkau melihatnya?" Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Ya." lalu Khadijah melepas pakainnya serta
menanggalkan kerudungnya, sedang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam masih tetap berbaring di
atas pangkuannya. Khadijah berkata: "Masihkah engkau melihatnya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam menjawab: "Tidak." Khadijah berkata: "Wahai sepupuku, tabahlah dan bergembiralah. Demi
Allah, dia yaitu malaikat dan bukan setan."20
20 HR. Thabrani (1/533) dalam Tarikh-nya dan Baihaqi dalam al-Dalail pada hadits no. 453 dari Ibnu Ishaq dengan sanad mursal
Ibnu Ishaq berkata: Aku pernah mewa- wancarai Abdullah bin Hasan tentang peristiwa di atas.
Abdullah bin Hasan berkata: Aku pernah mendengar ibuku, Fathimah binti Husain menceritakan
peristiwa ini dari Khadijah hanya saja aku pernah mendengar ibuku berkata: Khadijah
memasukkan Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam ke dalam daster miliknya, pada saat itulah Jibril
meng- hilang dari hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Khadijah berkata Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "sebenarnya ini pasti malaikat, bukan setan."
Awal Turunnya Al-Quran
Ibnu Ishaq berkata: Kali pertama Al-Qur'an turun kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam yaitu
pada bulan Ramadhan. Allah Azza wa Jalla berfirman:
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk
itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS. al-Baqarah: 185).
Allah berfirman:
sebenarnya Kami telah menurunkannya (Al- Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu
apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun
malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam
itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. al- Qadr: 1-5).
Allah berfirman:
Haa Miim. Demi Kitab (Al-Qur'an) yang menjelaskan. sebenarnya Kami menurunkannya pada suatu
malam yang diberkahi dan sebenarnya Kamilah yang memberi peringatan. Pada malam itu
dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (Yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. sebenarnya
Kami yaitu yang mengutus rasul-rasul. (QS. ad- Dukhkhan: 1-5).
Allah berfirman:
Jika kalian beriman kepada Allah dan kepada apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami
(Muhammad) di Hari Furgaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. (QS. al-Anfal: 41).
Yaitu bertemunya Rasulullah Shalla- lahu 'alaihi wa Sallam dengan orang-orang musyrikin di Perang
Badar.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Ja'far bin Muhammad bin Ali bin Husain berkata kepadaku:
Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam berperang melawan orang-orang musyrikin di Badar pada hari
Jum'at dini hari, tanggal 17 Ramadhan.
Ibnu Ishaq berkata: wahyu lalu turun kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertahap-
tahap dan beliau beriman kepada Allah dan membenarkan sepenuhnya apa yang datang kepada
beliau, menerimanya dengan sepenuh jiwa, bersabar terhadapnya menanggung semua resikonya baik
mendapat keridhaan atau kemarahan manusia. Kenabian yaitu beban berat yang hanya mampu
diemban oleh orang yang kuat dan memiliki tekad baja seperti para rasul karena pertolongan Allah
Ta'ala dan taufik-Nya, dalam menghadapi gangguan oleh manusia, dan penolakan kaumnya terhadap
apa yang mereka bawa dari Allah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melangkah kokoh dan tegar
dalam menunaikan perintah Allah walaupun mendapat tantangan dan gangguan dari ummatnya.
Khadijah Masuk Islam
Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwailid mengimani Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan
membenarkan seluruh yang beliau bawa dari Allah serta memberikan dukungan sepenuhnya dalam
melaksanakan perintah Allah. Khadijah binti Khuwailid yaitu wanita pertama yang beriman kepada
Allah dan Rasul-Nya, serta membenarkan apa yang beliau bawa dari Allah. Dengan masuk Islamnya
Khadijah binti Khuwailid, beban Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam semakin ringan. Jika Rasulullah
mendengar umpatan dan caci maki terhadap beliau yang membuatnya sedih, Allah menghilangkan
kesedihan itu melalui Khadijah binti Khuwailid saat beliau kembali padanya. Khadijah Khuwailid
memotivasi beliau, meringankan bebannya, membenarkannya, dan menganggap remeh reaksi negatif
manusia terhadap beliau. Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada Khadijah binti Khuwailid.
Ibnu Ishaq berkata: Hisyam bin Urwah berkata kepadaku dari ayahnya, Urwah bin Zubair dari Abdullah
bin Ja'far bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu yang berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
bersabda: Aku membawa kabar gembira kepada Khadijah berupa rumah dari qashab (mutiara yang
berlubang) yang di dalamnya tidak ada suara riuh dan kelelahan.21
Ibnu Hisyam berkata: Qashab ialah mutiara yang berlubang.
21 Hadits shahih diriwayatkan Imam Ahmad pada hadits no. 1758 dan al-Hakim pada hadits no. 4849. Hadits ini dinyatakan shahih dan dikokohkan oleh Adz-
Dzahabi. Hadits memiliki syawahid (penguat) dalam Shahihain dari hadits Aisyah dan Abu Hurairah serta Ibnu Abi Afwa.
Jibril Menyampaikan Salam Allah kepada Khadijah Radhiyallahu Anha
Ibnu Hisyam berkata: Seorang ahli terpercaya berkata kepadaku: Jibril berkata kepada Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Sampaikan kepada Khadijah salam dari Tuhannya." Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam bersabda: "Wahai Khadijah, ini dia Jibril menyampaikan salam dari Tuhanmu."
Khadijah berkata: "Allah yaitu kesejahteraan (Salam), dari-Nya kesejahteraan(salam), dan
kesejahteraan(salam) juga atas Malaikat Jibril."22
22 HR. Al-Thabrani dalam dl-Kdbiirpada hadits 18979 dan Al-Haitsami dalam al-Majma' pada hadits 15273. Juga diriwayatkan oleh Imam al-Thabrani dan dalam
sanadnya ada Muhammad bin al-Hasan bin Zabalah, dia dikenal sebagai perawi yang lemah.
Ibnu Ishaq berkata: lalu wahyu terputus dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sehingga
rasa sedih melanda Rasulullah. sesudah itu Jibril mengunjungi Rasulullah dengan membawa surat Adh-
Dhuha. Di dalamnya Allah bersumpah dengannya Allah yang memuliakannya dengannya bersumpah
kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkannya dan
tidak membencinya. Allah Ta'ala berfirman:
Demi waktu matahanri sepenggalahan naik. Dan demi malam jika telah sunyi. Tuhanmu tidak
meninggalkan kamu dan tiada benci kepadamu (QS. adh-Dhuha: 1-3).
Yakni Tuhanmu tidak membiarkanmu, tidak pula meninggalkanmu, tidak membencimu sejak Dia
mencintaimu. Allah Ta'ala berfirman:
Dan sebenarnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. (QS. adh-Dhuha: 4).
Yakni, sebenarnya kembalimu kepada-Ku itu jauh lebih baik dibandingkan kenikmatan yang Aku berikan
kepadamu di dunia.
Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu kamu menjadi puas. (QS. adh-
Dhuha: 5).
Yakni, engkau puas dengan keberuntung- an di dunia dan ganjaran di akhirat.
Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. Dan Dia mendapatimu
sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang
yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. (QS. adh-Dhuha: 6-8).
Melalui ayat-ayat di atas Allah mengabarkan kemulian yang Dia karuniakan kepada Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam di dunia, juga karunia-Nya pada saat beliau yatim, miskin, tersesat, dan
Allah menyelamatkan semua itu dengan rahmat-Nya.
Ibnu Hisyam berkata: Sajaa artinya senyap. Umayyah bin Abu Ash-Shalt Ats-Tsaqafi berkata:
Tatkala dia datang di malam hari sahabatku telah tidur pulas
Dan malam telah terliput senyap dengan gelap gulita
Bait syair ini yaitu penggalan dari syair-syair Umayyah bin Ash-Shalt Ats-Tsa- qafi. Kau bisa
katakan bahwa jika mata kelopaknya diam ia disebut sajiyah. Jarir bin al-Khathafa berkata:
Dia telah memanahmu laksana memejamkan mata
Membunuhmu di antara celah belahan tirai
Bait ini penggalan syair miliknya. Sedangkan Al-'Ailu dalam ayat tadi artinya fakir. Abu Khiras Al-Hudzali
berkata:
Orang miskin berlindung dalam rumahnya kala musim dingin tiba
Dan yang sesat serta berpakaian lusuh fakir datang berteriak bak anjing
Jamaknya Aalah atau Uyyal. Bait syair di atas yaitu penggalan dari syair-syair Abu Khiras AI-Hudzali
dan secara lengkap, Insya Allah, akan saya paparkan nanti. Al-Aailu juga berarti orang yang
menanggung beban, dan orang yang penakut. Disebutkan dalam Al- Qur'an:
Yang demikian itu yaitu lebih dekat kepada tidak berbuat zalim. ' (QS. an-Nisa': 3).
Abu Thalib berkata:
Dengan neraca keadilan tanpa mengurangi sebutir gandum pun
Ada saksi dari dirinya yang tiada berbuat zalim
Bait di atas yaitu penggalan dari syair- syair Abu Thalib dan secara lengkap, insyaal- lah, akan saya
sebutkan di tempatnya.
Al-Aailu berarti pula sesuatu yang memberatkan dan melelahkan. Seseorang berkata: "Qad 'aalani
hadza al-amru" Artinya perkara ini memberatkan dan membuat lelah. Al-Farazdaq berkata:
Kau lihat tokoh utama orang Quraisy
Bila tampil perkara baru maka ia memberatkannya
Bait ini di atas yaitu penggalan syair-syair Al-Farazdaq.
Firman Allah:
Adapun terhadap anakyatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang
yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya. (QS. Ad-Dhuha: 9-10).
Yakni, janganlah engkau menyombongkan diri, keji dan berucap kasar kepada hamba Allah yang
lemah.
Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hen- daklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).
(QS. Adh-Dhuha: 11).
Yakni, nikmat Allah dan kemuliaan dalam berupa kenabian yang Allah karuniakan kepadamu
hendaklah engkau jelaskan dan engkau ajak orang lain kepadanya.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjelaskan nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya dan
kepada hamba-hamba Allah yang lain secara diam-diam termasuk keluarganya yang dia merasa aman
dan percaya.
Permulaan Diwajibkannya Shalat
Shalat pun diwajibkan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan beliau menunaikannya.
Semoga salam, rahmat dan berkah-Nya terlimpah padanya.
Ibnu Ishaq berkarta: Shalih bin Kaisan berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari Aisyah
Radhiyallahu Anha yang berkata: Kali pertama, shalat diwajibkan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam yaitu dua rakaat setiap kali shalat, lalu Allah menyempurnakannya dengan
menjadikan shalat itu empat rakaat bagi orang muqim dan menetapkannya dua rakaat seperti sejak
awalnya bagi seorang musafir.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian pakar berkata kepadaku: Saat pertama kali shalat diwajibkan kepada
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, malaikat Jibril mendatangi beliau di atas gunung Makkah.
Malaikat Jibril mengisyaratkan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan tumitnya di
lembah dan dari lembah itulah memancarlah mata air. lalu Malaikat Jibril berwudhu sementara
itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melihatnya untuk mengajari Rasulullah bagaimana cara
bersuci untuk shalat, lalu beliau berwudhu sebagaimana yang dilakukan Malaikat Jibril.
lalu Malaikat Jibril berdiri dan shalat, dan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam shalat
sebagaimana shalatnya Jibril. lalu Malaikat Jibril pergi meninggalkan Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam.
sesudah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali menemui Khadijah lalu berwudhu' untuk
mengajarkan kepadanya cara bersuci untuk shalat sebagaimana di ajarkan Malaikat Jibril kepadanya.
Khadijahpun berwudhu sebagaimana Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berwudhu'. Selanjutnya
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam shalat seperti Malaikat Jibril shaiat mengimami beliau, dan
Khadljah shaiat seperti shaiat Rasulullah.
Ibnu lshaq berkata: Utbah bin Muslim, mantan budak Bani Taim bercerita kepadaku dari Nafi' bin
Jubair bin Muth'im, sedangkan Nafi' meriwayatkan banyak sekali hadits, dari Ibnu Abbas ia berkata:
"jika shaiat ditetapkan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Rasulullah didatangi Malaikat
Jibril, lalu dia shaiat mengimami beliau jika ma- tahari mulai condong ke barat, lalu Malaikat
Jibril mendirikan shaiat Ashar bersamanya saat bayangan suatu benda sama persis sama dengan
bendanya, lalu Malaikat Jibril mendirikan shaiat Maghrib jika matahari telah terbenam, lalu
Malaikat Jibril mendirikan shaiat Isya' jika sinar merah sesudah terbenamnya matahari telah hilang,
lalu Malaikat Jibril mendirikan shaiat Shubuh jika fajar menyingsing. Keesokan harinya Malaikat
Jibril kembali mendatangi Rasulullah lalu mendirikan shaiat Zhuhur mengimami beliau jika
bayangan sebuah benda persis sama seperti dirinya, lalu ia mendirikan shaiat Ashar bersama
beliau jika bayangan seseorang dua kali lebih panjang, lalu Malaikat Jibril mendirikan shaiat
Maghrib jika matahari telah terbenam sama sebagaimana yang dia lakukan kemarin, lalu
Malaikat Jibril mendirikan shaiat Isya' bersama beliau sesudah sepertiga malam pertama berlalu,
lalu Malaikat Jibril mendirikan shaiat Shubuh mengimami beliau jika sedikit terang namun
mentari belum menyingsing. sesudah itu, Malaikat Jibril berkata: "Wahai Muhammad, waktu shaiat
yaitu pertengahan antara shalatmu hari ini dan shalatmu yang kemarin."
Ali bin Abi Thalib Lelaki Pertama yang Masuk Islam
Ibnu lshaq berkata: Laki-laki pertama yang mengimami Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, shaiat
bersama beliau, dan membenarkan risalahnya ialah Ali bin Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim.
Semoga Allah meridhainya. Saat itu ia baru berumur sepuluh tahun.
Di antara nikmat yang di karuniakan Allah kepada Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu yaitu hidup
langsung di bawah didikan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebelum Islam.
Ibnu lshaq berkata: Abdullah bin Abu Najih bercerita kepadaku dari Mujahid bin Jabr Abu Al-Hajjaj
yang berkata: Di antara nikmat Allah yang dikaruniakan pada Ali bin Abu Thalib, dan kebaikan yang
Allah anugrahkan untuknya, yaitu saat orang-orang Quraisy ditimpa krisis berkepanjangan sedang
Abu Thalib mempunyai tanggungan menghidupi anak-anaknya yang banyak. Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam berkata kepada pamannya Al-Abbas, orang Bani Hasyim yang paling kaya jika itu:
"Wahai Abbas, sebenarnya saudaramu, Abu Thalib mempunyai banyak tanggungan, sedangkan
orang-orang di saat sekarang sedang ditimpa krisis seperti yang engkau saksikan. Marilah kita pergi
bersama-sama untuk menemuinya lalu kita ringankan bebannya. Aku membesarkan satu orang
anaknya dan engkau juga membesarkan satu orang anaknya dibandingkan nya. Jadi, kita minta dua orang
anaknya." Al-Abbas berkata: "Baiklah." lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Al-Abbas
pergi ke rumah Abu Thalib. Sesampainya di rumah Abu Thalib, keduanya berkata: "Kami berdua ingin
meringankan bebanmu sampai krisis yang melanda penduduk Quraisy berakhir." Abu Thalib berkata:
"jika kalian berdua membiarkan Aqil tetap bersamaku maka lakukanlah apa yang kalian berdua
inginkan."
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang menyebutkan bahwa Abu Thalib meminta agar Aqil dan Thalib
dibiarkan bersama dirinya.
Ibnu Ishaq berkata:Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengambil Ali dan membawanya ke rumah
beliau, sedang Al-Abbas memungut Ja'far dan membawanya ke rumah- nya. Ali tinggal bersama
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai beliau diutus Allah sebagai utusan-Nya. Ali Radhiyallahu
Anhu mengikuti beliau, beriman kepada beliau, dan membenarkan beliau. Sementara Ja'far tetap
tinggal bersama Al-Abbas hingga ia masuk Islam dan bisa berdikari.23
23. Diriwayatkan oleh At-Thabari dalam Tarikh-nya (1/538) dan Baihaqi dalam al-Dalail pada hadits no. 465 dari Ibnu Ishaq dengan sanad mursal.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian pakar menuturkan bahwa jika waktu shalat tiba, Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam berangkat menuju Syi'b ditemani Ali bin Abu Thalib dengan rahasia dan
tidak diketahui oleh ayah Ali, yaitu Abu Thalib, paman-pamannya, dan kaumnya. lalu Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Ali bin Abu Thalib mendirikan shalat lima waktu di tempat ini .
Sore harinya mereka pulang ke rumah. Itulah yang mereka berdua lakukan dalam jangka waktu
tertentu hingga akhirnya Abu Thalib memergoki keduanya sedang dalam keadaan shalat. Abu Thalib
berkata ber tanya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai anak keponakanku, agama apa yang
engkau peluk yang kulihat tadi?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Wahai pamanku
ini yaitu agama Allah, agama malaikat-Nya, agama para Rasul-Nya dan agama bapak kita Ibrahim,
atau sebagaimana Rasulullah sabdakan, "Allah telah mengutus aku sebagai Rasul kepada seluruh
hamba-Nya. Sedangkan engkau, wahai pamanku yaitu orang yang paling berhak aku nasihati dan
aku ajak kepada hidayah ini. Engkaulah sosok yang paling layak menerima dakwahku dan
mendukungku di dalamnya." Atau sebagaimana yang beliau sabdakan. Abu Thalib berkata: "Wahai
keponakanku, sungguh tidak mungkin bagiku bisa meninggalkan agama leluhurku dan tradisi yang
biasa mereka lakukan. Meski begitu, demi Allah, takkan kubiarkan ada seorang pun yang berbuat jahat
kepadamu, selagi aku masih ada." Banyakyang mengatakan bahwa Abu Thalib berkata kepada Ali bin
Abi Thalib: "Anakku, agama apakah yang engkau peluk?" Ali bin Abu Thalib menjawab: "Ayah anda,
aku telah beriman kepada Allah, dan Rasul-Nya. Aku membenarkan risalahnya, shalat bersamanya,
dan mengikuti beliau." Ada yang mengatakan bahwa Abu Thalib berkata kepada Ali, anaknya: "Jika ia
menyerumu pada kebaikan, maka ikutilah dia!"24
24. Diriwayatkan oleh At-Thabari dalam Tarikh-nya (1/538) dengan sanad mursal.
Zaid bin Haritsah Lelaki Kedua yang Masuk Islam
Ibnu Ishaq berkata: sesudah Ali bin Abi Thalib masuk Islam, lalu Zaid bin Haritsah bin Syurahbil
bin Ka'ab bin Abdul Uzza bin Umru Al-Qais Al-Kalbi, mantan budak Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam menyusulnya menganut agama Islam. Dialah kalangan laki- laki yang pertama kali masuk Islam
dan ikut shalat sesudah Ali bin Abu Thalib.
Ibnu Hisyam berkata: Zaid yaitu anak Haritsah bin Syurahbil bin Ka'ab bin Abdul Uzza bin Umru'u Al-
Qais bin Amir bin An- Nu'man bin Amir bin Abdu Wudd bin Auf bin Kinanah bin Bakr bin Auf bin Udzrah
bin Zaidullah bin Rufaidah bin Tsaur bin Kalb bin Wabarah. Diceritakan bahwa Hakim bin Hizam bin
Khuwalid pulang dari Syam dengan membawa budak-budak yang di antaranya yaitu Zaid bin Haritsah
dan seorang anak muda lainnya. lalu Khadijah binti Khu- wailid, bibi Hakim, istri Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam datang ke rumahnya. Hakim berkata kepada Khadijah: "Wahai bibiku,
ambillah di antara anak-anak muda ini yang engkau suka, dan ia menjadi milikmu." Khadijah
mengambil Zaid lalu membawanya. Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam melihat Zaid ada bersama
Khadijah, lalu Rasululah meminta Khadijah menghibahkannya kepadanya. Khadijah pun
menghibahkan Zaid kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu beliau memerdekakan
Zaid dan mengangkatnya sebagai anak. Ini semua terjadi sebelum wahyu turun kepada beliau.
Ayah Zaid, Haritsah, sangat berduka dan menangis sedu sedan tatkala kehilangan Zaid. Ia berkata:
Ku menangis karena Zaid, dan aku tidak tahu bagaimana keadaannya kini
Masihkah dia hidup hingga masih bisa diharapkan atau dia telah temui ajal
Demi Allah aku tak tahu namun ku pasti kan mencarinya
Apakah sepeninggalku, dataran rendah atau- kah gunungyang membinasakamnu?
Wahai, andai zaman, mempunyai angin yang bolak-balik
Betapa senang hatiku bila engkau kembali kepadaku
Kala mentari terbit, ia mengingatkanku pa danya
Dan kala terbenam ia menghadirkan ingatanku padanya
Bila angin bertiup, ia menggerakkan ingatanku padanya
Wahai alangkah lamanya dukaku karenanya Ku kan duduk di punggung unta pilihan berkelana ke
bumi sungguh-sungguh Ku tak bosan mengembara hingga unta itu bosan
Wahai kehidupan, ataukah telah tiba padaku kematian
Semua orang akan mati, walaupun ia tertipu angan
Haritsah datang menjemput Zaid di ru- mah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Beliau bersabda
kepada Zaid: "Jika engkau suka, engkau tetap boleh tinggal bersamaku. Namun jika suka, engkau
boleh pulang kembali kepada ayahmu!" Zaid menjawab, "Aku lebih suka tinggal bersamamu." sesudah
itu, Zaid tinggal bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hingga beliau diangkat sebagai Rasul,
lalu ia membenarkannya, lalu masuk Islam, dan shalat bersamanya. Pada saat Allah menurunkan
firman-Nya, "Panggillah mereka dengan menggunakan nama ayah-ayah mereka." (QS. Al-Ahzab: 5).
Zaid berkata: "Sekarang aku Zaid bin Haritsah."
Abu Bakar Radhiyallahu Anhu Masuk Islam
Ibnu Ishaq berkata: sesudah Zaid, menyusullah Abu Bakar bin Abu Quhafah masuk Islam. Nama asli
Abu Bakar yaitu Atiq, adapun nama aslinya Abu Quhafah yaitu Utsman bin Amir bin Amr bin Ka'ab
bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr.
Ibnu Hisyam berkata: Nama asli Abu Bakar yaitu Abdullah, dan Atiq yaitu ju¬lukannya, karena
wajahnya yang ganteng dan rupawan dan pembebasan budak yang sering ia lakukan.
Ibnu Ishaq berkata: jika Abu Bakar Radhiyallahu Anhu masuk Islam ia tampakkan keislamannya, dan
berdakwah untuk Allah dan Rasulnya.
Abu Bakar yaitu orang yang sangat dihormati kaumnya, dicintai dan mudah bergaul dengan siapa
saja. Dia orang Quraisy yang paling ahli tentang nasab Quraisy, yang paling ahli tentang kondisi dan
situasa Quraisy yang paling tahu banyak kebaikan dan keburukannya. Selain itu ia seorang pebisnis
yang berakhlak dan dikenal luas. Tokoh-tokoh kaumnya sering mendatanginya mengadukan beragam
masalah dan karena ilmunya, perniagaannya, dan respon positifnya. Ia ajak kepada agama Allah dan
Islam orang-orang yang ia percayai di antara orang-orang yang sering datang kepadanya dan
berinteraksi dengannya.
Sahabat-Sahabat yang Masuk Islam Berkat Dakwah Abu Bakar Radhiyallahu Anhu
Ibnu Ishaq berkata: Maka berkat dakwah Abu Bakar ini , sebagaimana disampaikan kepadaku,
masuk Islamlah Utsman bin Affan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin
Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Fihr. lalu Az-Zubayr bin Awwam bin
Khuwailid bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luai masuk Islam.
Lalu disusul Abdurrahman bin Auf bin Abdu Auf bin Abd bin Al-Harts bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah
bin Ka'ab bin Luay. Sa'ad bin Abu Waqqash bernama nama asli Malik bin
Uhaib bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay. Demikian juga Thalhah bin
Ubaydillah bin Utsman bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taim bin Murrah bin Ka'ab bin Luay.
sesudah mereka berlima merespon dengan positif dakwahnya, Abu Bakar membawa mereka kepada
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu mereka masuk Islam dan mendirikan shalat
berjamaah bersama.
Ibnu Ishaq berkata: Sebagaimana disampaikan kepadaku bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Setiap aku mengajak seseorang kepada Islam biasanya ia tidak langsung
memberikan jawaban, kecuali Abu Bakar bin Abu Quhafah. Ia tidak lambat merespon dan tidak ragu-
ragu jika aku mengajaknya kepada Islam."
Ibnu Ishaq berkata: Kedelapan orang itulah yang mendirikan manusia masuk Islam. Lalu mereka
melakukan shalat dan membenarkan apa yang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam beliau bawa dari
Allah.
sesudah Abu Ubaidah itu menyusul masuk Islam. Nama asli Abu Ubaidah yaitu Amir bin Abdullah bin
Al-Jarrah bin Hilal bin Uhaib bin Dhabbab bin Al-Harts bin Fihr. lalu disusul Abu Salamah yang
nama aslinya ialah Abdullah bin Abdu Al-Asad bin Hilal bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin
Yaqadzah bin Murrah bin Ka'ab bin Luay. Lalu disusul Al-Arqam bin Abu Al-Arqam. Nama asli Abu Al-
Arqam yaitu Abdu Manaf bin Asad (Abu Jundab) bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqadzah
bin Murrah bin Ka'ab bin Luay. lalu diikuti Utsman bin Madz'un bin Habib bin Wahb bin
Hudzafah bin Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay, beserta dua saudara laki-lakinya,
Qudamah dan Abdullah. lalu diikuti Ubaidah bin Al- Harits bin Al-Muthalib bin Abdu Manaf bin
Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay.
Lalu disusul Sa'id bin Zaid bin Amr bin Nufail bin Abdul Uzza bin Abdullah bin Qurth bin Riyah bin Rizah
bin Adi bin Ka'ab bin Luay beserta istrinya, Fathimah binti Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza bin
Abdullah bin Qurth bin Riyah bin Rizah bin Abdi bin Ka'ab bin Luay. Fathimah yaitu adik kandung
Umar bin Khaththab.
lalu diikuti Asma' binti Abu Bakar, dan Aisyah binti Abu Bakar yang jika itu masih anak-anak.
Lalu disusul Khabbab bin Al-Arat, sekutu Bani Zuhrah.
Ibnu Hisyam berkata: Khabbab bin Al- Arat berasal dari Bani Tamim. Ada juga yang mengatakan bahwa
ia berasal dari Khuza'ah.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul Umair bin Abu Waqqash, saudara Sa'ad bin Abu Waqqash, Abdullah
bin Mas'ud bin Al-Harits bin Syamkhu bin Makhzum bin Shahilah bin Al-Harts bin Tamim bin Sa'ad bin
Hudzail yang merupakan sekutu Bani Zuhrah, Mas'ud Al-Qari yang bernama lengkap Mas'ud bin
Rabi'ah bin Amr bin Sa'ad bin Al-Uzza bin Hamalah bin Ghalib bin Muhallim bin Aidzah bin Sabi' bin
Alhun bin Khuzaimah dari Al- Qarah.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Qarah yaitu julukan buat mereka. Tentang Al-Qarah dikatakan:
Sungguh adil terhadap Al-Qarah orangyang memanahnya.
Mereka yaitu kaum yang pandai memanah
Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul Salith bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin
Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr beserta saudaranya yang bernama Hathib
bin Amr, Ayyasy bin Abu Rabi'ah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqadzah
bin Murrah bin Ka'ab bin Luay beserta istrinya yang bernama Asma' binti Salamah bin Mukharribah
At-Tamimiyyah, Khunais bin Hudzafah bin Qais bin Adi bin Su'aid bin Sahm bin Amr bin Hushaish bin
Ka'ab bin Luay.
Amir bin Rabi'ah dari Anz bin Wail dan sekutu keluarga besar Khaththab bin Nufail bin Abdul Uzza.
Ibnu Hisyam berkata: Anz yaitu anak Wail. Ia yaitu saudara Bakr bin Wail dari Rabi'ah bin Nizar.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul Abdullah bin Jahsy bin Ri'ab bin Ya'mur bin Shabirah bin Murrah bin
Kabir bin Ghanm bin Dudan bin Asad bin Khuzaimah beserta saudaranya yang bernama Abu Ahmad
bin Jahsy, sekutu Bani Umayyah bin Abdu Syams. lalu diikuti Ja'far bin Abdul Muthalib beserta
istrinya, Asma binti Umais bin An-Nu'man bin Ka'ab bin Malik bin Quhafah dari Khats'am. lalu
diikuti Hathib bin Al-Harits bin Ma'mar bin Habib bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah bin Amr bin
Hushaish bin Ka'ab bin Luay beserta istrinya yang bernama Fathimah binti Al-Mujallal bin Abdullah bin
Abu Qais bin Abdu Wudd bin Nahsr bin Malik bin Hisl bin Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr, beserta
saudaranya Haththab bin Al-Harits dan istrinya yang bernama Fukaihah binti Yasar. lalu diikuti
Ma'mar bin Al-Harits bin Ma'mar bin Habib bin Walr bin Hudzafah bin Jumah bin Amr bin Hushaish bin
Ka'ab bin Luay.
Lalu disusul As-Saib bin Utsman bin Madz'un bin Habib bin Wahb. lalu di ikuti Al-Muthalib bin
Azhar bin Abdu Manaf bin Abdu bin Al-Harts bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay beserta
istrinya yang bernama Ramlah binti Abu Auf bin Shubairah bin Su'aid bin Sa'ad bin Sahm bin Amr bin
Hushaish bin Ka'ab bin Luay, dan An Nahham yang nama aslinya ialah Nu'aim bin Abdullah bin Asid,
saudara Bani Adi bin Ka'ab bin Luay.
Ibnu Hisyam berkata: An-Nahham ada-lah Nu'aim bin Abdullah bin Asid bin Abdullah bin Auf bin Ubayd
bin Uwaij bin Adi bin Ka'ab bin Luay. Ia dinamakan An-Nahham, karena Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam bersabda, "Sungguh aku mendengar nahmnya (suara) Nua'im di surga".25
25 Diriwayatkan oleh Ibnu Sa'ad dalam al-Thabaqaat dengan sanad mursal (4/138). Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan dalam Fath al-Bari (5/166) dari riwayat al-
Waqidi dan dia lemah.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul oleh Amir bin Fuhairah, mantan budak Abu Bakar Radhiyallahu Anhu.
Ibnu Hisyam berkata: Amir bin Fuhairah dilahirkan di Al-Asdi. Ia berkulit hitam, Abu Bakar membelinya
dari mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul Khalid bin Sa'id bin Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu
Manaf bin Oushai bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab tan Luay beserta istrinya, Umainah binti Khalaf bin
As'ad bin Amir bin Bayadhah bin Yutsa'iq bin Ji'tsimah bin Sa'ad bin Mulaih bin Ainr dari Khuza'ah. Ibnu
Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Humainah binti Khalaf.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul oleh Hathib bin Amr bin Abdu Syams bin Abdu Wudd bin Nashr bin
Malik bin Hisl bin Amir bin Luay bin Ghalib bin Fihr.
Abu Hudzaifah bin Rabi'ah yang nama aslinya yaitu Muhasysyam -sebagaimana disebutkan Ibnu
Hisyam- bin Utbah bin Rabi'ah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin
Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay.
Ibnu Ishaq berkata: lalu diikuti Waqid bin Abdullah bin Abdu Manaf bin Arin bin Tsa'labah bin
Yarbu' bin Hanzhalah bin Malik bin Zaid Manat bin Tamim, sekutu Bani Adi bin Ka'ab.
Ibnu Hisyam berkata: Semula Waqid dibawa Bahilah lalu Bahilah menjual-nya kepada Khaththab
bin Nufail yang kemu-dian mengangkatnya sebagai anak.
jika Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya: Panggilah mereka dengan menggunakan nama ayah-
ayah mereka. (QS. Al-Ahzaab: 5), Waqid berkata: "Aku yaitu Waqid bin Abdullah", demikianlah
seperti yang disebutkan kepadaku oleh Abu Amr Al-Madani.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul Khalid, Amir, Aqil, dan Iyas, dari Bani Al-Bukair bin Abdu Yalail bin
Nasyib bin Ghirah dari Bani Sa'ad bin Laits bin Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah, sekutu Bani Adi bin
Ka'ab.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu disusul Ammar, sekutu Bani Makhzum bin Yaqadzah.
Ibnu Hisyam berkata:Ammar bin Yasir yaitu Anak dari Madzhij.
Ibnu Ishaq berkata: Disusul lalu oleh Shuhaib bin Sinan, salah seorang dari An-Namr bin Qasith,
dari sekutu Bani Taim bin Murrah.
Ibnu Hisyam berkata: An-Namr yaitu anak Qasith bin Hinb bin Afsha bin Jadilah bin Asad bin Rabi'ah
bin Nizar. Ada juga yang mengatakan Afsha yaitu anak Du'mi bin Jadilah bin Asad. Ada pula yang
mengatakan bahwa Shuhaib yaitu mantan budak Abdullah bin Jud'an bin Amr bin Ka'ab bin Sa'ad bin
Taim. Ada lagi yang berpendapat bahwa Shuhaib berasal dari negeri Romawi. Yang mengatakan bahwa
Shuhaib berasal dari Bani An-Namr bin Qasith berpendapat bahwa awalnya Shuhaib menjadi tawanan
perang di wilayah Romawi, lalu ia dibeli dari mereka. Disebutkan dalam hadits, Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam bersabda tentang Shuhaib: Shuhaib yaitu orang Romawi yang terdepan (yang
memeluk Islam).26
26. Lemah. Diriwayatkan oleh ai-Hakim pada hadits no. 5243 dan Al-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir pada hadits no. 7526 dan dinyatakan lemah oleh Albani
dalam Shahih al-Jami' pada hadits no. 1315.
Awal-Mula Dakwah Rasulullah di Tengah Kaumnya dengan Terang-terangan dan Reaksi Mereka
Ibnu Ishaq berkata: sesudah orang-orang masuk Islam, baik laki-laki maupun perempuan secara
bertahap-tahap, hingga wacana tentang Islam menyebar di Makkah, dan Islam menjadi bahan diskusi.
lalu Allah memerintahkan Rasul-Nya menyampaikan risalah yang beliau bawa dari-Nya secara
terbuka, memberitahukan perintah Allah kepada manusia serta mengajak mereka kepada-Nya.
Rentang waktu antara Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam merahasiakan perintah-Nya hingga Allah
Ta'ala memerintahkannya mengampakkan perintah-Nya yaitu tiga tahun seperti berita yang sampai
kepadaku.
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah berfirman kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam:
Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan
berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. (QS. al-Hijr: 94).
Allah Ta’ala berfirman kepada Rasulullah:
Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat, dan rendahkanlah dirimu terhadap
orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman. (QS. asy-Syu'araa': 214-215).
Allah berfirman:
Dan katakanlah: "sebenarnya aku yaitu pemberi peringatan yang menjelaskan." (QS. al-Hijr: 89).
Ibnu Hisyam berkata: Arti fashda' ialah menyeleksi antara kebenaran dengan kebatilan. Abu Dzuaib
Al-Hudzali yang nama aslinya yaitu Khuwailid bin Khalid berkata menyifati keledai betina liar dan
pejantannya:
Keledai-keledai laksana pembungkus dadu
Sedangkan pejantannya laksana orang yang memilah kotak dadu dan memisahkannya
Artinya ia memisahkan dadu-dadu dan menerangkan bagiannya masing-masing. Bait syair di atas
yaitu potongan dari syair-syair Abu Dzuaib Al-Hudzali.
Sedangkan Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata:
Engkau orang yang santun dan komandan perang sang pembalas dendam
Engkau tampakkan kebenaran dan kau usir orang yang melampaui batas
Bait syair di atas yaitu potongan dari syair-syair Ru'bah bin Al-Ajjaj.
Ibnu Ishaq berkata: Pada waktu itu jika para sahabat Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam ingin
melakukan shalat, mereka menuju ke Syi'b guna menjauhkan diri dari pandangan orang-orang
Quraisy. jika Saad bin Abu Waqqash bersama beberapa orang dari sahabat Rasulullah Shallalllahu
'Alaihi wa Sallam sedang shalat di Syi'b, tiba-tiba di duga sebelumnya beberapa orang dari kaum
musyrikin datang ke tempat mereka. Orang-orang Quraisy itu mengumpat apa yang dilakukan kaum
Muslimin, menghina apa yang mereka perbuat, hingga terjadilah duel hebat di antara mereka. Dalam
duel ini , Sa'ad bin Abu Waqqash memukul salah seorang dari orang musyrikin dengan tulang
rahang unta hingga terluka. Inilah darah pertama yang tumpah dalam Islam.
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam menampakkan Islam secara
terbuka kepada kaumnya, dan menyampaikan perintah Allah secara terang-terangan, orang-orang
Quraisy belum mengutuk beliau dan belum memberikan reaksi, seperti diberitakan kepadaku, hingga
suatu jika Rasulullah menyebut sesembahan mereka dan menjelaskan kebatilan meng-
agungkannya. Saat itulah serta merta mereka menganggap hal ini masalah besar, mengingkarinya dan
sepakat untuk menentangnya kecuali orang-orang yang dijaga Allah di antara mereka dengan Islam.
Hanya saja jumlah mereka tidaklah banyak dan mereka masih sembunyi-sembunyi. Paman Rasulullah
Shal-lalllahu 'Alaihi wa Sallam, Abu Thalib sangat empati sekali kepada Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi
wa Sallam, berdiri melindungi beliau. Sementara itu Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam tetap
kokoh tegar menyampaikan perintah Allah dan memperlihatkan perintah- Nya tanpa bisa dicegah oleh
apa pun.
Melihat bahwa Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam tidak peduli dengan manuver mereka kepada
beliau, dan dia terus melecehkan Tuhan mereka, dan melihat pamannya Abu Thalib sangat empati
kepada beliau, melindungi beliau, dan tidak akan menyerahkan beliau kepada mereka, maka beberapa
tokoh Quraisy di antaranya Utbah, Syaibah, mereka berdua yaitu Rabi'ah bin Abdu Syams bin Abdu
Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib, Abu Sufyan bin Harb bin
Umayyah bin Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin
Ghalib bin Fihr datang menemui Abu Thalib.
Ibnu Hisyam berkata bahwa nama asli Abu Sufyan yaitu Shakhr.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Al-Bakhtari nama aslinya yaitu Al-Ash bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad bin
Abdul Uzza bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Al-Bakhtari ialah Al-Ash bin Hasyim.
Ibnu Ishaq berkata: Al-Aswad bin Al- Muthalib bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah
bin Ka'ab bin Luay. Abu Jahl yang bernama asli Amr, dia diberi julukan Abu Al-Hakam bin Hisyam bin
Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah bin Ka'ab bin Luay.
Al-Walid bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum bin Yaqadzah bin Murrah bin Ka'ab bin
Luay. Nabih dan Munabbih, mereka berdua yaitu anak Al-Hajjaj bin Amir bin Hudzaifah bin Saad bin
Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab bin Luay, dan Al-Ash bin Wail.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Ash yaitu anak Wail bin Hasyim bin Sa'ad bin Sahm bin Amr bin Hushaish
bin Ka'ab bin Luay.
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy lainnya menemui Abu Thalib. Mereka berkata: "Hai Abu
Thalib, coba lihat keponakanmu! Ia telah berani menghina tuhan-tuhan kita, mencaci maki agama kita,
menganggap batil mimpi-mimpi kita, dan menyesatkan leluhur kita. Engkau cegah ia untuk
meneruskan tindakannya terhadap kami atau engkau biarkan kami mengurus persoalan kami
dengannya. Sungguh kami tahu bahwa engkau juga menentangnya seperti kami. Jadi kami merasa kau
bisa mengendalikannya." Abu Thalib menjawab dengan perkataan yang santun dan bijak. Lalu
merekapun pulang dengan kecewa.
Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam melanjutkan dakwahnya sebagaimana biasanya. Beliau
mempopulerkan agama Allah dan mendakwahi orang-orang kepadanya, hingga konflik meletus antara
beliau dengan orang-orang Quraisy. Kondisi ini mendorong orang mengirim utusan Quraisy menemui
Abu Thalib untuk kedua kalinya. Mereka berkata kepada Abu Thalib: "Wahai Abu Thalib, sebenarnya
engkau yaitu sepuh kami, kau memiliki kehormatan dan kemuliaan di tengah-tengah kami. Kami
telah memintamu untuk melarang keponakanmu, tapi engkau tidak melakukannya. Demi Allah, kita
tidak bisa menahan diri atas penghinaan terhadap para leluhur kita, menganggap batil mimpi-mimpi
kita, dan penistaan agama kita. Kini silahkan kau pilih; kau menghentikan semua sepak terjang
keponakanmu itu atau kami terjun berhadapan dengannya hingga salah satu dari dua pihak ada yang
hancur, hingga hingga
mencegahnya, -atau sebagaimana yang mereka katakan." Usai mengatakan itu demikian mereka
berbalik pulang dari hadapan Abu Thalib. Abu Thalib merasa keberatan untuk berbeda pendapat dan
bermusuhan dengan kaumnya. Namun demikian ia tidak sudi menyerahkan Rasulullah Shallalllahu
'Alaihi wa Sallam kepada mereka, atau mentelantarkannya sia-sia.
Ibnu Ishaq berkata: Ya'qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas bercerita kepadaku bahwa ia
diberitahu: jika orang-orang Quraisy berkata seperti di atas kepada Abu Thalib, ia bergegas
menemui Rasulullah Shallalllahu Alaihi wa Sallam dan berkata kepadanya: "Wahai keponakanku,
sebenarnya kaummu baru saja datang menemuiku dan mengatakan ini dan itu kepadaku. Oleh
sebab itulah, janganlah kau jauh dariku tetaplah engkau berada bersamaku, jagalah dirimu, dan jangan
ikutkan aku ke dalam masalah yang tidak sanggup aku hadapi!" Rasulullah Shallalllahu Alaihi wa Sallam
menyangka bahwa pamannya telah berubah padanya, tidak lagi mau melindunginya dan akan
menyerahkan dirinya pada orang Quraisy, dan tidak lagi mampu membela serta tidak berpihak lagi
kepadanya. Rasulullah Shallalllahu Alaihi wa Sallam bersabda: "Wahai paman, demi Allah, seandainya
mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku agar aku berhenti dari
dakwah ini hingga Allah memenangkan dakwah ini atau aku mati karenanya, niscaya aku tidak
meninggalkan dakwah ini." Rasulullah Shallalllahu Alaihi wa Sallam mengucurkan air mata karena
sedih lalu , berdiri lalu pergi dari hadapan Abu Thalib. jika hendak meninggalkannya, Abu
Thalib memanggilnya: "Wahai keponakanku kembalilah!" Rasulullah Shallalllahu Alaihi wa Sallam
datang kembali. Abu Thalib berkata: "Wahai keponakanku, silahkan katakan apa saja yang engkau
mau, karena hingga titik darah penghabisan aku tidak akan menyerahkanmu kepada siapa pun."27
27 Hadits lemah diriwayatkan oleh Ath-Thabrani (1/545) dalam Tarikh-nya dan al-Baihaqi dalam al-Dalail di hadits no. 495 dari Ibnu Ishaq dengan sanad mursal.
Ibnu Ishaq berkata: jika orang-orang Quraisy dengar bahwa Abu Thalib justru malah mendukung
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, tidak mau menyerahkan ponakanya kepada mereka, maka
mereka datang kembali kepada Abu Thalib bersama Ima- rah bin Al-Walid. Mereka berkata kepadanya,
sebagaimana dikabarkan kepadaku: "Wahai Abu Thalib, inilah Imarah bin Al-Walid. Ia pemuda Quraisy
yang paling kuat dan paling tampan. Lindungilah dia. Jadikanlah dia sebagai anakmu. Dan sebagai
gantinya serahkanlah keponakanmu itu kepada kami yang menentang agamamu dan agama nenek
moyang kita, memecah-belah persatuan kaummu, dan menganggap batil mimpi-mimpi kita lalu
akan kami bunuh dia. Satu orang dengan satu orang pula." Abu Thalib menjawab: "Demi Allah,
sungguh jahat sekali ucapan kalian kepadaku. Kalian memberiku anak kalian yang akan aku beri makan
dan aku berikan anakku kepada kalian lalu kalian akan membunuhnya? Demi Allah, sampai
kapanpun hal semalam itu tidak akan mungkin pernah terjadi."
Ibnu Ishaq berkata: Al-Muth'im bin Adi bin Naufal bin Abdu Manaf bin Qushay berkata: "Demi Allah,
wahai Abu Thalib, kaummu telah berbuat adil kepadamu, dan mereka berusaha keras untuk bisa
keluar dari konflik yang mendera mereka selama ini, namun aku lihat engkau tidak merespon apa pun
dari mereka." Abu Thalib berkata kepada Al-Muth'im: "Demi Allah, justru mereka yang tidak berbuat
adil kepadaku. Mereka malah sepakat meninggalkanku, dan mendukung orang-orang untuk
melawanku." Atau sebagaimana yang ia katakan.
Ibnu Ishaq berkata: Kini konfliknya semakin kompleks. Perang semakin berkecamuk. Orang-orang
mulai memusuhi sebagian yang lain. Oleh karena itu, Abu Thalib berkata dalam syairnya sambil
menyindir Al-Muth'im bin Adi, menyamakan Bani Abdu Manaf yang meninggalkannya dengan kabilah-
kabilah Quraisy yang memusuhinya, menyinggung persoalan mereka padanya, dan persoalan mereka
yang semakin keruh.
Ibnu Ishaq berkata: lalu orang- orang Quraisy mengancam kabilah-kabilah mereka yang di
dalamnya ada sahabat-sahabat Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam yang masuk Islam
bersamanya. Setiap kabilah menangkap orang-orang Islam yang ada di tengah-tengah mereka lalu
menyiksa dan menganiayanya disebabkan agama yang dianutnya. Adapun Rasulullah Shallalllahu
'Alaihi wa Sallam, Allah melindunginya melalui pamannya Abu Thalib. Tatkala Abu Thalib melihat teror
dan penyiksaan orang-orang Quraisy seperti itu, ia menemui Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib guna
mengajak mereka mengayomi Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam. Mereka bersedia memihak
Abu Thalib, dan memenuhi ajakannya kecuali Abu Lahab, musuh Allah yang terkutuk.
Abu Thalib begitu terharu melihat keberpihakan dan empati mereka kepadanya, ia memuji mereka,
mengingatkan keutamaan Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam di tengah-tengah mereka. Itu
semua dilakukan Abu Thalib agar pendapat mereka semakin kuat dan bersama dirinya berpihak
kepada Rasulullah Shallalllahu 'Alaihi wa Sallam.
Kebingungan Al-Walid tentang Apa yang Digambarkan Al-Quran
Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang Quraisy mendatangi Al-Walid bin Al-Mughirah pada saat musim
haji telah tiba. Al-Walid bin Al-Mughirah yaitu tokoh senio











