Bahasan ini. lalu dilanjutkan dengan menyebutkan sirah (biografi)
Rasulullah Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Alihi wa Sallam dengan meninggalkan sebagian
apa yang telah disebutkan oleh Ibnu Ishaq di mana Rasulullah tidak pernah mengatakannya
dan tidak pula diturunkan dalam Al-Quran, juga tidak relevansinya dengan buku ini, tidak juga
ada penafsiran tentangnya, tidak pula kesaksian penguat dalam masalah ini, karenanya saya
sebutkan dengan ringkas. Saya meninggalkan syair-syair yang dia sebutkan yang tidak pernah
-menurutku- ada dari kalangan orang-orang berilmu yang mengetahuinya dan sebagian lainnya
berisikan prasangka buruk pada sebagian manusia. Sebagian lainnya tidak diriwayatkan oleh
al-Bakkai kepada kami melalui riwayatnya. Insya Allah saya akan mengutarakan secara
lengkap hal-hal lain yang dapat dipercaya darinya dan diketahui.
Ibnu Ishaq berkata: Ziyad bin Abdullah al-Bikkai berkata: meriwayatkan kepada kami dari
Muhammad bin Ishaq al-Muththalabi dia berkata: Ismail bin Ibrahim 'Alaihis salam memiliki
A
dua belas anak lelaki: Nabata, yaitu anak sulungnya, Qaydzar, Adzbul, Mubisy, Misma,
Masyi, Dimma, Adzar, Thaima, Yathur, Nabisya, Qaydzuma. Ibu mereka yaitu Ra'lah binti
Mudhadh bin Amr al-Jurhumi. Ibnu Ishaq berkata: Jurhum yaitu anak dari Yaqthan bin 'Aybar
bin Syalakh. Yaqthan yaitu Qahthan bin Aybar bin Syalakh. Ibnu Ishaq berkata: Umur Ismail
—sebagaimana disebutkan di tengah mereka yaitu seratus tiga puluh tahun—. Dia meninggal
di usia ini, lalu dimakamkan. Semoga rahmat Allah dan berkahnya senantiasa berlimpah
padanya. Dia dimakamkan di Hijr bersama dengan ibunda tercintanya Hajar. Semoga Allah
senantiasa mencurahkan rahmat-Nya atas mereka.
Ibnu Hisyam berkata: Orang-orang berkata Hajar dan Aajar, mereka mengganti huruf haa
dengan alif sebagaimana mereka mengatakan: Haraaqu al-maai menjadi araaqu al-maai
sedangkan Hajar sendiri berasal dari Mesir.
Ibnu Hisyam berkata bahwa Abdullah bin Wahhab telah meriwayatkan kepada kami dari
Abdullah bin Lahi'ah dari Umar mantan budak Ghufrah bahwa Rasulullah Muhammad
Shallalahu 'alaihi wa Alihi wa Sallam bersabda:
"Takutlah kalian kepada Allah tampakkan kebaikan kalian pada ahli dzimmah, orang- orang
yang yang berada sebuah negeri, hitam, berambut keriting karena mereka memiliki nenek
moyang terhormat dan ikatan pernikahan (dengan kita)."1
(1. Diriwayatkan oleh Zubair bin Bakkar dalam “Al-Muntakhab di Azwaj An-Naby” dengan Sand mural dan dalam sanadnya
ada Umar mantan budak Ghufrah, sedangkan dia yaitu dhaif/lemah)
Umar mantan budak Ghufrah berkata nasab mereka yaitu bahwa Ibu Ismail yaitu ibu orang-
orang Arab (Hajar), berasal dari sebuah desa yang ada di depan Farama di Mesir. Sedangkan
ibu Ibrahim. Mariyah isteri Nabi Shallalahu alaihi wa Alihi w a Sallam yang merupakan hadiah
dari Muqawqis ber-asal dari Hafn di kaawasan Ashita.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab al-Zuhri mengatakan
bahwa Abdur Rahman bin Abdullah bin Ka'ab bin Malik al-Anshari, lalu menjadi As-
Sulami telah meriwayatkan kepa-danya bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Alihi wa
Sallam bersabda:
"Jika kalian menaklukkan Mesir maka berlaku baiklah pada penduduknya karena mereka
memiliki perlindungan dari kita dan mereka memiliki hubungan kekerabatan."2
(2. HR. Riwayat Muslim dengan Sand tersambung pada hadis no. 2543 hadits Abu Dzar)
Maka aku katakan kepada Muhammad bin Muslim al-Zuhri: Apa maksud rahm (ke-kerabatan)
bagi mereka yang disebutkan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Alihi wa Sallam? Maka diapun
berkata: Hajar ibunda Ismail berasal dari mereka.
Ibnu Hisyam berkata: Dengan demikian orang-orang Arab secara keseluruhan yaitu anak-
anak Ismail dan Qahthan. Sebagian orang Yaman mengatakan bahwa Qahthan yaitu anak
keturunan Ismail dan mereka mengatakan bahwa Ismail yaitu Bapak seluruh orang Arab.
Ibnu Ishaq berkata: Aad bin Aush bin Iram bin Sam bin Nuh dan Tsamud dan Judais dua anak
Abir bin Iram bin Sam bin Nuh, Thasm, Imlaq, Umaim yaitu anak keturunan Laawidz bin
Sam bin Nuh keseluruhannya
yaitu orang-orang Arab.
Nabit bin Ismail mempunyai anak ber-nama Yasyjub bin Nabit, Yasyjub mempu-nyai anak
Ya'rab bin Yaysjub, Ya'rab memi-liki anak Tabrah bin Ya'rab, Tabrah memiliki anak Nahura
bin Tabrah, Nahura punya anak Muqawwim bin Nahura, Muqawwim punya anak Adad bin
Muqawwim, dari Adad lahir Adnan bin Udad.
Ibnu Hisyam berkata: Disebutkan pula bahwa ayah Adnan yaitu Udd. Dari Adnan inilah
berpecahlah keturunannya ke dalam berbagai kabilah dari anak-anak keturunan Ismail bin
Ibrahm 'Alaihis salam. Adnan memiliki dua anak yang bernama Ma'ad bin Adnan dan Akk bin
Adnan.
Ibnu Hisyam menyebutkan: Akk menetap di negeri Yaman karena dia beristerikan seorang
wanita dari Bani Asy'ariyun. Dia tinggal di sana maka jadilah dia sebuah negeri dengan satu
bahasa. Asy'ariyyun yaitu keturunan Asy'ar bin Nabt bin Udad bin Zayd bin Humaisi' bin
Amr bin Arib bin Yasyjub bin Zayd bin Kahlan bin Saba' bin Yasyjub bin Ya rub bin Qahthan.
Ada juga yang menyebutkan bahwa Asy'ar yaitu Nabt bin Udad. Ada juga yang menyebutkan
bahwa Asy'ar yaitu anak dari Malik sementara Malik yaitu Malik Madhij bin Udad bin Zayd
bin Humaisi'. Disebutkan pula bahwa Asy'ar yaitu anak dari Saba bin Yasyjub.
Abu Muhriz Khalaf al-Ahmar dan Abu Ubaidah mengutip sebuah sajak milik Abbas bin Mirdas
salah seorang keturunan Bani Sulaim bin Manshur bin Ikrimah bin Hafshah bin Qays bin Aylan
bin Mudhar bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan menyanjung Akk:
“Akk bin Adnan yang bergelarkan Ghassan Hingga mereka diusir dengan sempurna”
Syair di atas yaitu kutipan dari syairnya yang panjang.
Ghassan yaitu nama bendungan air di Ma'rib di Yaman yang merupakan tempat minum bagi
anak-anak Mazin bin al-Asad bin al-Ghawts, maka mereka dinamakan dengan nama ini. Ada
pula disebutkan bahwa dia yaitu sumber air yang berada dekat Juhfah di mana mereka minum
dari air itu yang lalu kabilah-kabilah dari anak Mazin bin al-Asad al-Ghawts bin Nabt
bin Malik bin Zayd bin Kahlan bin Saba' bin Yasyjub bin Ya'rub bin Qahthan dinamakan
dengan nama ini.
Hassan bin Tsabit al-Anshar: Dan orang- orang Anshar yaitu Bani Aus dan Khazraj yang
merupakan anak Haritsah bin Tsa'labah bin 'Amr bin Amir bin Haritsah bin Imruul Qays bin
Tsa'labah bin Mazin bin al-Asad bin al-Ghawts:
“Jika kau bertanya maka sebenarnya kami keturunan orang terhormat
Al-Asad nasab kami dan Ghassan mata airnya”
Ini yaitu bait syair Hassan bin Tsabit. Orang-orang Yaman berkata: Sebagian Akk, yakni
mereka yang tinggal di Khurasan di antaranya yaitu Akk bin Adnan bin Abdul-lah bin al-
Asad bin al-Ghawts. Disebutkan juga bahwa Adnan bernama Udtsan bin Abdullah bin al-Asad
bin al-Ghawts.
Ibnu Ishaq berkata: Ma'ad bin Adnan mempunyai empat orang anak: Nizar bin Ma'ad,
Qudha'ah bin Ma'ad, dia yaitu yaitu anak sulungnya yang dengannya Ma'ad dipanggil (Abu
Qudha'ah) sebagaimana yang mereka perkirakan, lalu Qunush bin Ma'ad dan Iyad bin
Ma'ad. Adapun Qudha'ah dia pergi ke Yaman pada Himyar bin Saba'. Nama Saba' sendiri
yaitu Abdus Syams. Dia disebut dengan Saba' karena dia yaitu orang Arab pertama yang
menawan musuh. Saba' yaitu anak dari Yasyjub bin Ya'rub bin Qahthan.
Ibnu Hisyam berkata: Orang-orang Ya-man berkata bahwa Qudha'ah yaitu anak Malik bin
Himyar. Amr bin Murrah al-Juhani-Juhainah yaitu anak laki-laki Zayd bin Layts bin Saud
bin Aslam bin al-Haaf bin Qudha'ah berkata:
“Kami yaitu anak-anak pemuka yang dihormati
Qudha'ah bin Malik bin Himyar
Nasab yang sangat dikenal tak mungkin diingkari
Terukir di batu prasasti di bawah mimbar”
Ibnu Ishaq berkata: Menurut genealogis Ma'ad, tidak ada dari keturunan Ma'ad yang tersisa di
antara mereka ada al-Nu'man bin al-Mundzir raja Himyar.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Muslim bin Abdullah bin Syihad al-Zuhri mengatakan
pada saya bahwa al-Nu'man bin al-Mundzir yaitu salah seorang keturunan Qunush bin Ma'ad.
Ibnu Hisyam berkata: Disebutkan namanya yaitu Qanash.
Ibnu Ishaq berkata: Ya'qub bin Utbah bin al-Mughirah bin al-Akhnas meriwayatkan kepada
saya dari Syaikh kalangan Anshar dari Bani Zuraiq bahwa sebenarnya dia berkata padanya:
sebenarnya Umar bin Khattab tatkala diberikan padanya pedang al-Nu'man bin al-Mundzir;
dia memanggil Jubair bin Muth'im bin Ady bin Naufal bin Abdi Manaf bin Qushay—Jubair
yaitu salah seorang ge-neologist Quraiys bahkan masa orang Arab secara keseluruhan. Dia
pernah mengatakan: sebenarnya saya mempelajari nasab dari Abu ash-Shiddiq dan Abu
Bakar ash-Shiddiq yaitu orang yang paling ahli tentang nasab orang-orang Arab. Umar
memberikan pedang ini pada Jubair serta berkata: Dari keturunan siapakah al-Nu'man bin
al-Mundzir? Maka dia berkata: Dia yaitu salah seorang yang tersisa dari kabilah Qunush bin
Ma'ad.
Ibnu Ishaq berkata: Adapun seluruh orang Arab mereka beranggapan bahwa dia yaitu seorang
yang berasal dari Lakhm keturunan Rabi'ah bin Nashr. Wallahu a'lam.
Ibnu Hisyam berkata: Lakhm bin Ady bin al-Harits bin Murrah bin Udad bin Zayd bin
Humaysi' bin Amr bin 'Arib bin Yasyjub bin Zayd bin Kuhlan bin Saba'. Ada juga yang
menyebutkan dia yaitu Lakhm bin Ady bin Amr bin Saba'. Juga disebutkan dia yaitu Rabi'ah
bin Nashr bin Abi Haritsah bin Amr bin Amir. Dia tetap tinggal di Yaman sesudah migrasinya
Amr bin Amir dari Yaman.
BAB 2
Rangkaian Peristiwa yang Terjadi Sebelum Lahirnya Nabi Muhammad
Shallallahu 'Alaihi wa Sallam; Awal Terbentangnya Kenabian di Tanah
Arab
ejarah besar ini kami awali dengan migrasinya 'Amr bin Amir keluar dari negeri Yaman.
Sebagaimana yang dituturkan Abu Yazid Al-Anshari kepada saya yaitu bahwa dia
melihat tikus besar membuat lubang di bendungan Ma'rib di mana mereka biasanya
menyimpan air lalu mereka alirkan sesuai dengan apa yang mereka kehendaki dari tanah yang
mereka miliki. Dia pun sangat memahami bahwa bendungan tidak akan lestari dalam kondisi
ini . Sehingga dia bertekad untuk segera pergi dari Yaman. Maka dia pun bergerak cepat
mengecoh kaumnya. lalu sesudah itu ia menasihati pada anak bungsunya agar jika dia
berlaku keras padanya dan menamparnya maka hendaknya dia melawannya dan menampar
balik dirinya. Maka anaknya itu melakukan apa yang dia perintahkan. Maka 'Amr berkata di
tengah-tengah kaumnya: "Aku tidak akan diam di sebuah negeri di mana anak bungsuku telah
menampar wajahku." lalu Amr menawarkan harta yang dimilikinya untuk dijual. Maka
orang-orang terhormat dan kaya orang Yaman berkata: "Gunakan ke- sempatan marahnya
Amr!" Maka mereka pun membeli harta milik Amr.
Bersama dengan anak dan cucunya dia pindah. Maka orang-orang Azd berkata: Kami tidak
akan diam di sini tanpa Amr! Dan mereka pun menjual barang-barangnya dan pergi keluar
bersamanya hingga akhirnya dia singgah di negeri Akk sesudah melintas beberapa tempat
dengan tujuan untuk mendapat tempat tinggal.
Namun kabilah Akk memerangi mereka dan terjadilah kalah menang antara keduanya dalam
peperangan yang berlangsung. Dalam hal inilah Abbas bin Mirdas mengatakannya -dalam
syair- yang telah kami tulis sebelum ini.
lalu Amir dan rombongannya pergi meninggalkan kabilah Akk dengan terpencar- pencar
di berbagai negeri. Keluarga Jafnah bin Amr bin Amr menetap di Syam, Al-Aws dan Khazraj
menetap di Yatsrib (Madinah), Khuza'ah menetap Marra, Azd menetap di As-Sarah, sementara
Azd Amman menetap di Oman.
sesudah itu Allah mengirimkan banjir bandang ke bendungan itu dan menghancurkannya.
Dalam hal ini Allah Yang Maha tinggi telah mengabarkan pada Nabi-Nya dalam Al- Quran:
S
sebenarnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu
dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan):
"Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu
kepada-Nya. (Negerimu) yaitu negeri yang baik dan Tuhanmu yaitu Tuhan Yang Maha
Pengampun." Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang
besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon- pohon)
yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. (QS. Saba': 15-16)
Yang dimaksud dengan kata al-'arimi da- lam ayat di atas yaitu bendungan, kata tung- galnya
yaitu 'arimah, sebagaimana yang di- tuturkan oleh Abu Ubaidah kepada saya. Dia berkata Al-
A'sya yaitu anak keturunan Qays bin Tsa'labah bin 'Ukabah bin Sha'b bin Ali bin Bakr bin
Wail bin Hinbi bin Aqsha bin Afdha bin Jadilah bin Asad bin Rabi'ah bin Nizar bin Ma'ad.
Ibnu Hisyam berkata: Disebutkan bahwa Afsha bin Du'mi bin Jadilah. Sedangkan Asya yaitu
Maimun bin Qays bin Jandal bin Syarahbil bin Auf bin Sa'ad bin Dhubai'ah bin Qays bin
Tsa'labah menulis bait syair berikut:
Pada yang demikian ada teladan bagi yang mau meneladani
Banjir bandang telah menghancurkan Ma'rib Yang dibangun orang-orang Himyar Agar kokoh
saat banjir datang menerjang
Yang menyiangi tanaman dan anggur-anggurnya
Di tempat luas tatkala mereka membagi hasilnya
Kini mereka mereka tak berdaya
Tuk hanya memberikan minum pada anak-
anak yang baru disapih
Ini yaitu bait syair yang pernah dia tulis kan.
Sementara itu Umayyah bin Abi Shalt al-Tsaqafi —nama Tsaqif yaitu Qasy bin Munabbih
bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin Ikrimah bin Khashfah bin Qais bin Aylan bin Mudhar
bin Nizar bin Ma'ad bin Adnan— dia menulis:
Dari Saba' orang-orang tinggal di Ma'rib
Mereka membangun bendungan untuk mela- wan banjir yang ganas
Ini yaitu syair Umayyah bin Shalt. Na-mun ada pula yang mengatakan bahwa syair di atas
yaitu karya milik An-Nabighah al-Ja'di yang namanya yaitu Qays bin Abdul-lah salah
seorang anak keturunan Ja'dah bin Ka’ab bin ‘Amir bin Sha’sha’ah bin Mu'awiyah bin Bakr
bin Hawazin. Masalah ini yaitu masalah yang panjang yang saya cukupkan sampai di sini saja
untuk memper- singkat bahasan sesuai dengan alasan yang saya pernah kemukakan.
Rabi'ah bin Nashr Raja Yaman dan Kisah Syiq dan Sathih Si Dukun
Ibnu Ishaq berkata: Rabi'ah bin Nashr bin Malik merupakan salah seorang di antara raja-raja
Tubba' (Tababi'ah). Suatu saat dia bermimpi sesuatu yang sangat menakutkan dan mengganggu
pikirannya. Maka segera dia memang gil semua dukun, tukang sihir, peramal nasib ahli nujum
yang ada di wilayah kerajaannya untuk datang ke istananya. sesudah mereka berkumpul maka
dia pun berkata: "Aku bermimpi satu hal yang sangat menakutkan dan membuatku gundah.
Maka beritahukanlah padaku apa takwil mimpi itu!" Mereka berkata.- "Kisahkanlah kepada
kami maka kami akan memberitahukan padamu takwilnya!" Maka Rabi'ah berkata: "Jika aku
beritahukan pada kalian, maka aku tidak akan puas dengan takwil kalian. Karena sebenarnya
ada yang tahu takwilnya kecuali orang yang tahu tentang takwil itu sebelum aku beritahukan
mimpi itu padanya."
Maka salah seorang di antara mereka berkata: Jika raja mengingin hal itu maka hendaknya raja
mengutus seseorang untuk memanggil Sathih dan Syiq karena sebenarnya tidak seorang pun
yang lebih mumpuni ilmunya dibandingkan keduanya. Keduanya akan memberitahukan padamu
tentang apa yang engkau tanyakan.
Adapun nama Sathih yaitu Rabi' bin Rabi'ah bin Mas'ud bin Mazin bin Dzi'b bin 'Adi bin
Mazin Ghassan. Sementara Syiq yaitu anak dari Sha’b bin Yasykuri bin Ruhm bin Afraka bin
Qasr, bin ‘Abqara, bin Anmar bin Nizar, Anmar yaitu bapak dari Bajilah dan Khasy’am.
Maka dia pun mengutus utusannya untuk menghadap padanya. Sathih datang lebih awal
dibandingkan Syiq. Maka Rabi'ah berkata padanya: "sebenarnya aku bermimpi sesuatu yang
sangat mengguncang jiwaku dan menggundahkan pikiranku. Maka beritahukanlah padaku,
karena sebenarnya jika benar maka takwilnya juga akan benar!" Sathih berkata: "Aku akan
lakukan! Kau bermimpi melihat api, yang muncul dari laut nan gulita, lalu singgah di tanah
datar dan memakan semua yang yang ada di sana."
Raja berkata: "Apa yang kau katakan tidak ada yang salah sedikit pun, wahai Sathih! Lalu
bagaimana takwilnya?"
Sathih berkata: "Aku bersumpah dengan ular di antara dua tanah datar. Orang-orang Habasya
(Ethiopia) akan menginjak kaki- nya di tanah kalian. Mereka akan menguasai antara Abyan
hingga Jurasy."
Maka sang raja berkata: "Demi ayahmu wahai Sathih! sebenarnya hal ini yaitu sesuatu
yang sangat kami benci dan sangat menyakitkan. Apakah itu akan terjadi di zamanku atau masa
sesudah ku?"
Sathih menjawab: "Tidak! Dia akan terjadi sesudah masa kekuasaanmu, lebih dari enam puluh
atau tujuh puluh tahun berlalu."
"Apakah kerajaan mereka akan berlangsung terus menerus atau putus?"
Sathih berkata: "Tidak! dia akan terputus selama tujuh puluh tahun lebih, lalu mereka
dibunuh dan mereka diusir darinya sambil melarikan diri."
Raja berkata: "Siapa yang berhasil membunuh dan mengusir keluar mereka?"
Bathih berkata: Urang yang melakukannya yaitu Iram bin Dzi Yazan yang keluar menyerang
mereka dari Aden dan mereka tidak membiarkan satu orang Habasyipun tersisa di Yaman."
Raja menyambung: "Apakah kekuasaan mereka juga akan berlangsung tanpa terputus?"
Sathih menjawab: "Terputus!"
Raja berkata: "Siapa yang memutusnya?"
Sathih menjawab: "Seorang Nabi Suci yang menerima wahyu dari Dzat Yang Mahatinggi."
Raja bertanya: "Dari keturunan siapakah Nabi itu?"
Sathih berkata: "Seorang lelaki dari keturunan Ghalib bin Fihr bin Malik bin al-Nadhr
kekuasaannya akan berada pada kaumnya hingga akhir zaman."
Sathih menjawab: "Apakah zaman itu ada akhirnya?"
Sathih menjawab: "Ya. Di hari di mana orang-orang terdahulu dan yang belakangan
dikumpulkan. Di mana orang-orang yang berbuat baik akan bahagia dan orang-orang yang
berbuat jahat akan sengsara!"
Raja berkata: "Apakah yang engkau katakan itu benar adanya?"
Sathih berkata: "Ya. Demi Syafaq (cahaya merah di waktu senja), dan demi malam yang gelap
gulita dan demi fajar saat merekah. Se- sungguhnya apa yang aku beritahukan kepadamu itu
benar adanya."
sesudah itu datanglah Syiq. Rajapun mengatakan sebagaimana yang dia katakan kepada Sathih
dan dia rahasiakan apa yang telah dikatakan oleh Sathih untuk melihat apakah yang dia katakan
mirip dengan apa yang dikatakan Sathih atau malah bertentangan.
Maka Syiq pun menjawab: "Benar. Anda bermimpi melihat api, yang muncul dari laut nan
gulita, lalu jatuh di antara taman dan dia menelannya semua yang ada di sana."
Tatkala dia mengatakan itu dan dia sadar bahwa apa yang dikatakan keduanya sama dan ucapan
mereka sama hanya saja Sathih mengatakan jatuh di tanah datar dan memakan semua yang ada
dan Syiq mengatakan jatuh di taman dan memakan semua yang ada, maka raja itu berkata
padanya: "Kau sama sekali tidak salah wahai Syiq! Lalu apa tafsirnya menurutmu?"
Syiq berkata: "Aku bersama dengan manusia yang ada di antara dua tanah datar! Orang- orang
hitam akan menginjakkan kaki mereka di tanah kalian, dan mereka akan melepaskan anak-anak
dari perhatian kalian. Mereka akan berkuasa dari Abyan hingga Najran."
Raja berkata: "Demi ayahmu wahai Syiq. sebenarnya kabar ini membuat kami marah dan
sungguh sangat menyakitkan! Kapan itu akan terjadi? Apakah itu akan terjadi di zaman saya
atau sesudah zaman saya?"
Syiq menjawab: "Tidak. Bukan pada zamanmu. Ini akan terjadi beberapa tahun sesudah
zamanmu. Lalu akan datang seseorang yang agung akan menyelamatkan kalian dan memberi
pelajaran keras atas mereka."
Raja bertanya: "Siapa yang kau maksud dengan orang yang agung itu?"
Syiq menjawab: "Seorang lelaki yang tidak hina, tidak pula menghinakan. Dia ke-luar pada
mereka dari rumah Dzi Bazan dan dia tidak membiarkan seorangpun dari antara mereka di
Yaman."
Raja berkata: "Apakah kekuasaannya akan abadi?"
Dia menjawab: Tidak, dia akan terputus dengan datangnya seorang nabi yang diutus yang
datang dengan keadilan dan kebenaran di antara orang-orang beragama dan orang- orang yang
memiliki keutamaan. Kerajaan akan berada di tangan kaumnya hingga hari pembalasan
(kiamat)?"
Raja menukas: "Apakah hari pembalasan itu?"
Syiq menjawab: "Hari di mana para pemimpin mendapat balasan dan dipanggil dengan
panggilan-panggilan dari langit yang didengar oleh makhluk hidup dan yang telah mati.
Manusia saat itu dikumpulkan di satu tempat yang telah ditetapkan di mana orang-orang yang
bertakwa akan mendapat ke- menangan dan kebaikan."
Rabi'ah berkata: "Apakah yang engkau katakan itu benar adanya?"
Syiq menjawab: "Ya, demi Tuhan langit dan bumi dan pengangkatan dan perendahan yang ada
di antara keduanya. sebenarnya apa yang katakan ada benar adanya dan tidak ada keraguan
di dalamnya."
Ibnu Hisyam berkata: Amdh dalam bahasa Himyar berarti syak ragu. Abu Amr berkata: amdh
artinya batil.
Apa yang dikatakan oleh dua orang ini begitu membekas di hati Rabi'ah bin Nashr. Maka
dia segera mempersiapkan anak- anaknya dan kaum kerabatnya untuk berangkat ke Irak demi
kemaslahatan mereka dengan mengirim surat kepada raja Persia yang bernama Sabur bin
Khurrazadz, dan mereka ditempatkan di Hirah.
Di antara anak-anak Rabi’ah bin Nashr yang tersisa yaitu Nu'man bin Mundzir, dia bernasab
Yaman. Nasab mereka yaitu sebagai berikut: Nu'man bin Mundzir bin Nu'man bin Mundzir
bin Amr bin Adi bin Rabi'ah bin Nashr, sang raja tadi.
Ibnu Hisyam berkata: Nu'man yaitu anak dari Mundzir bin Mundzir, sebagaimana berita yang
sampai pada saya dari Khalaf al- Ahmar.
Penguasaan Abu Karib Tubban As'ad Atas Kerajaan Yaman dan Ekspedisinya ke
Madinah
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rabi'ah bin Nashr meninggal dunia seluruh kerajaan Yaman
kembali ke pangkuan Hassan bin Tubban As'ad Abu Karib. Tubban yaitu raja terakhir dari
Tubba'. Dia yaitu . Dia yaitu Hassan bin Tubban bin As'ad, bin Abi Karib bin Kuly bin Zaid
—Zaid yaitu Tubba pertama—bin Amr Dzul Adz'ar bin Abrahah Dzil Manar bin al-Risy.
Ibnu Hisyam berkata bahwa namanya yaitu Ar-Raisy.
Ibnu Ishaq berkata: Bin Ady bin Shaify bin Saba' al-Ashghar bin Ka'ab —Kahf al- Zhulm—
bin Zayd bin Sahl bin Amr bin Qais bin Mu'awiyah bin Jusyam bin Wail bin al- Ghawts bin
Qathan bin Arib bin Zuhair bin Ayman bin al-Humaysi' al-Aranjaj—Himyar bin Saba' al-Akbar
bin Ya'rub bin Yasyjub bin Qahthan.
Ibnu Hisyam berkata: Yasyjub bin Ya'rub bin Qahthan.
Ibnu Ishaq berkata: Tubban bin As'ad Abu Karib inilah orang yang datang ke Madinah dan
membawa lari dua orang rabbi Yahudi ke Yaman. Dia pulalah yang memakmurkan Inilah yang
disebutkan dalam sebuah syair tentang dirinya:
Andai ku memiliki keberuntungan nasib lak- sana Abu Karib
Kebaikannya menutup kejehatannya
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala dia datang dari Timur melintasi Madinah dia tidak melakukan
kekerasan pada penduduknya di awal perjalanannya. Namun demikian dia meninggalkan salah
seorang anaknya di sana yang ternyata lalu dibunuh oleh penduduk Madinah dengan keji.
Maka datang kembali dengan tujuan utama untuk memporak-porandakan Madinah dan
membasmi habis penduduknya, menebang pohon-pohon kurma. Maka kabilah al-Anshar pun
berkumpul di bawah kepemimpinan 'Amr bin Thalia saudara dari Bani Najjar dan salah seorang
dari Bani Amr bin Mabdzul. Nama asli Mabdzul yaitu Amir bin Malik bin Najjar. Sedangkan
nama asli Najjar yaitu Taymullah bin Tsa'kabah bin Amr bin Khazraj bin Haritsah bin
Tsa'labah bin Amr bin Amir.
Ibnu Hisyam berkata: 'Amr bin Thallah ialah 'Amr bin bin Mu'awiyah bin Amr bin Malik bin
bin Najjar, sedangkan Thallah yaitu ibunya. Thallah ada anak perempuan 'Amir bin Zuraiq
bin Abdi Harits bin Malik bin Ghadhb bin Jusyam bin Khazraj.
Ibnu Ishaq berkata: Ada seorang lelaki dari Bani Adi yang bernama Ahmar melakukan tindakan
melampaui batas kepada seorang lelaki dari sahabat-sahabat Tubba tatkala mereka berdiam di
tempat itu. Dia pun dibunuh. Sebabnya yaitu karena dia didapatkan pada tandan kurma dan
memotongnya, Anhar menusuknya dengan sabitnya dan membuatnya meninggal sejika itu
juga. Dan dia berkata: "sebenarnya kurma itu milik orang yang mengolahnya." Peristiwa
ini semakin membuat Tubba semakin geram pada mereka sehingga lalu menimbulkan
peperangan. Orang-orang Anshar menekankan bahwa mereka akan bertempur melawan Tubba'
di siang hari namun di malam hari merreka tetap dijadikan sebagai tamu terhormat. Sikap yang
demikian membuat Tubba' mengagumi mereka seraya berkata: "sebenarnya bangsa kami
yaitu bangsa yang terhormat."
Tatkala Tubba sibuk berperang melawan mereka tiba-tiba datanglah dua orang pendeta (rahib)
Yahudi Bani Quraizhah menemuinya. Quraizhah dan An-Nadhir dan An-Najjam dan Amr tak
lain yaitu Hadal yang merupakan anak keturunan Khazraj bin Sharih bin Tauamani bin Sabt
bin Al-Yasa' bin Sa'ad bin Lawi bin Khair bin Najjam bin Tanhuma bin Azar bin 'Uzra bin
Harun bin Imran bin Yashar bin Qahits bin Lawai bin Ya'qub. Ya'qub yaitu Israel bin Ishaq
bin Ibrahim Khalilur Rahman, Shallalahu "Alaihim. Dua orang pendeta itu yaitu seorang yang
sangat mumpuni dalam keilmuannya. Tatkala keduanya mendengar Tubba' akan
menghancurkan Madinah dan penduduknya maka keduanya berkata: "Wahai raja! Janganlah
engkau lakukan itu. Karena sebenarnya jika engkau tidak menyukainya dan tetap
memaksakan kecuali apa yang engkau kehendaki maka pasti ada yang memberikan
perlindungan padanya dan kami khawatir siksaan segera datang menimpamu!"
Mendengar ucapan kedua pendeta Yahudi itu Tubba berkata: "Kenapa demikian?"
Keduanya berkata: "Karena Madinah ini akan menjadi tempat hijrah seorang Nabi yang muncul
dari tanah haram dari kalangan Quraisy di akhir zaman. Dia akan menjadi negeri tempat
tinggalnya."
Mendengar ucapan kedua pendeta ini Tubba' membatalkan rencananya. Dan dia berpendapat
bahwa keduanya memiliki ilmu yang luas. Dia sangat kagum terhadap apa yang didengarnya
dari keduanya. Maka dia¬pun segera meninggalkan Madinah dan dia¬pun memeluk agama
kedua pendeta Yahudi itu.
Khalid bin Abdul Uzza bin Ghaziyah bin Amr bin Abdu Auf bin Gunm bin Malik bin Najjar
dengan berucap membanggakan ‘Amr bin Thalhah dalam sebuah syair berikut:
Apakah dia telah bangkit atau dia telah menahan kemaluannya
Atau dia telah melepas gairah kenikmatan bio logisnya
Atau ingatkah kau akan masa mudamu Lalu kenangan apakah yang masih melekat dari masa
muda dan masa itu sebenarnya dia yaitu perang yang berkobar
Yang memberikan pengalaman baginya Maka tanyakanlah pada Imran dan Asad Jika dia
datang menyongsong musuh bersama dengan tibanya pagi Abu Karib dengan pasukan yang
besar
Memakai pakaian dengan bau yang tajam
Mereka berkata: Siapakah yang kita serbu Bani 'Auf ataukah Najjar
Target sasaran kita yaitu Bani Najjar, mereka membunuh tentara kita maka kita wajib
membalas dendam
Mereka pun berperang dengan menghunus pedang mereka, kilatan mereka laksana awan yang
mencurahkan hujan
Di tengah mereka ada Amr bin Thallah, semoga Tuhan memanjangkan umurnya di tengah
kaumnya
Peminpin yang mengungguli raja-raja barang siapa yang membidik Amr dia tidak akan punya
daya
Orang-orang suku Anshar yang berada di kawasan itu berkeyakinan bahwa kegeraman Tubba'
yaitu untuk menyerang desa di mana orang-orang Yahudi berada di di antara mereka. Dia
hanya menginginkan menghancurkan mereka lalu mereka cegah melakukan pembantaian
hingga akhirnya dia pulang. Oleh sebab itulah dia berkata dalam syairnya:
Kegeraman atas dua kabilah yang tinggal di Yatsrib lebih pantas bagi mereka dapatkan siksa
hari yang merusak
Ibnu Hisyam berkata: Syair yang ada di bait ini yaitu syair yang dibikin-bikin. Karena
melarang untuk mengakui keabsahannya.
Ibnu Ishaq berkata: Tubba' dan kaumnya yaitu para penyembah berhala, maka dia segera
menuju ke Mekkah saat perjalanan pulang menuju Yaman. Tatkala dia berada di antara 'Usfan
dan Amaj datanglah sekelompok orang dari keturunan Hudzail bin Mudrikah bin Ilyas bin
Mudhar bin Nizar bin Ma'ad.
Mereka berkata padanya: "Wahai raja! Maukah tuan kami tunjukkan pada sebuah baitul maal
(kas Negara) yang ditinggalkan raja-raja sebelum ini? Di dalamnya ada ada mutiara, topaz,
ruby, emas dan perak?"
Tubba menjawab: "Tentu saja!"
Mereka berkata: "Sebuah rumah di Mekkah yang disembah oleh penduduknya dan mereka
melakukan shalat di tempat itu."
Orang-orang Hudzail melakukan ini semua untuk membinasakannya karena mereka tahu
bahwa siapa pun yang bermaksud jahat dari raja-raja maka dia pasti celaka. Tatkala dia yakin
atas apa yang dikatakan oleh mereka dia mengutus utusannya untuk menemui dua orang
pendeta Yahudi dan dia pun menanyakan tentang masalah ini kepada keduanya. Kedua pendeta
itu berkata: "Orang-orang itu tidak menginginkan apapun kecuali kehancuran tuan dan pasukan
tuan. Saya tidak tahu ada satu rumah pun di dunia yang Allah jadikan untuk diri-Nya selain
rumah itu (Baitul- lah). Jika tuan lakukan apa yang mereka katakan tuan dan orang-orang yang
bersama tuan akan binasa!"
Tubba' berkata: "Lalu apa yang mesti saya perbuat saat saya datang ke tempat itu?"
Pendeta itu menjawab: "Lakukan apa di- lakukan oleh orang-orang setempat. Tuan melakukan
thawaf, mengagungkannya dan menghormatinya. Cukurlah rambut tuan, rendahkan diri hingga
tuan keluar darinya."
Tubba berkata: "Kenapa engkau berdua tidak juga mengunjunginya?"
Mereka berkata: "Ketahuilah, demi Allah, sebenarnya dia yaitu rumah leluhur kami
Ibrahim, dan sebenarnya dia yaitu sebagaimana yang telah kami beritahukan padamu.
Namun ada penghalang antara dia karena mereka memancangkan berhala- berhala di
sekitarnya dan aliran darah yang mereka tumpahkan di sana. Mereka yaitu najis dan ahli
syirik!" Atau sebagaimana keduanya katakan padanya. Maka dia pun mengerti nasehatnya dan
kejujuran ucapannya. Dia pun mendekati suku Hudzail lalu memotong tangan dan kaki
mereka, lalu dia beranjak menuju Mekkah. Setibanya di sana dia melakukan thawaf,
menyembelih kurban, mencukur rambut, dan tinggal di Mekkah selama enam hari,
sebagaimana disebutkan. Dia berkurban binatang untuk manusia memberikan makan
penduduknya, memberi mereka minuman dari madu. Dalam tidurnya dia bermimpi
menyelubungkan kiswah (kain penutup) Baitul Haram. Maka dia pun menyelubunginya
dengan cabang- cabang kurma yang dirangkai. lalu dia diperlihatkan mimpi dalam
tidurnya untuk menyelubungi Ka'bah itu dengan selubung yang lebih baik, maka dia pun
menyelubunginya dengan kain ma'afir (jenis kain asal Yaman), pada mimpinya yang jika dia
melihat dia diperintahkan untuk menutupinya dengan yang lebih bagus lagi. Maka dia pun
menyelubunginya dengan mola' dan washail (kain terbaik berasal dari Yaman). Dengan
demikian, menurut anggapan mereka, Tubba' yaitu orang pertama yang menutupi Ka'bah
dengan kain dan mewasiatkan pada gubernurnya untuk melakukan hal yang sama. Dan
mewaniti-wanti mereka agar tidak ada darah, tidak pula bangkai, tidak pula ada darah haidh di
sana. lalu dia membikin pintu dan kunci Ka'bah.
Subai'ah binti Al-Ahabb bin Zabinah bin Jadzimah bin 'Auf bin Nashr bin Mu'awiyah bin Bakr
bin Hawazin bin Manshur bin Ikri- mah bin Khafashah bin Qais bin Ghaylan. Dia berada di
bawah pemeliharaan Abdu Manaf bin Ka'ab bin Sa'ad bin Taym bin Murrah bin bin Ka'ab bin
Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin bin Kinanah mengatakan sebuah syair
kepada anaknya yang bernama Khalid yang menggambarkan agungnya kehormatan Mekkah
dan dia melarang anaknya untuk melakukan tindakan-tindakan yang di luar batas, tentang
kerendahan hati di hadapannya dan apa yang seharusnya dilakukan untuk anaknya. Syair
berbunyi sebagai berikut:
Wahai anakku janganlah engkau menganiaya anak kecil dan orang tua di Mekkah Jagalah
kehormatannya anakku, jangan tipuan memperdayakanmu
Barang siapa yang berlaku aniaya di Mekkah,dia akan menelan keburukan
Wahai anakku, dia akan dipukul mukanya dan kedua tulang pipinya dibakar
Wahai anakku aku telah mengalaminya maka aku dapatkan orang zalim selalu binasa
Allah menjadikannya aman walaupun tidak ada istana dibangun di pelatarannya
Allah jaga burung-burungnya dan kambing liarpun aman di gunung Tsabir
Tubba' telah datang tuk menyerangnya, tapi malah dia hiasi bangunannya dengan kain dan
indah
Tuhanku telah menghinakan kerajaannya se- hingga diapun memenuhi nazarnya Dia berjalan
ke sana dengan kaki telanjang dengan membawa dua ribu unta Dia juga menghormatinya
penghuninya de¬ngan suguhan daging mahr (unta) Dia suguhkan pada mereka madu nan
jernih dan gandum kwalitas tinggi Pasukan gajah mereka dihancurkan dengan kerikil-kerikil
yang diturunkan Tuhan telah hancurkan kerajaan mereka nan jauh di sana
Baik yang di Persia ataupun di Khazar Maka dengarkanlah jika ia dituturkan pada kalian dan
pahamilah Bagaimana akhir dari semua yang terjadi
Ibnu Hisyam berkata: Kata-kata dihentikan pada qafiyahnya. (sajak) dan tidak di'irab
(dijelaskan tata bahasanya; subjek, predikat, objek).
lalu dia keluar dari kota Mekkah menuju Yaman bersama dengan pasukannya dan dua
pendeta Yahudi. Tatkala dia memasuki Yaman maka dia menyeru kaumnya untuk masuk
agama baru yang dia telah memasukinya hingga masalahnya bisa diselesaikan dengan
menjadikan api yang ada di Ya-man sebagai hakim.
Ibnu Ishaq berkata: Telah menceritakan pada saya Abu Malik bin Tsa'labah bin Abu Malik Al-
Qurazhi, dia berkata saya mende- ngar Ibrahim bin Muhammad bin Thalhah bin Ubaidillah
berkata:
Tatkala Tubba' telah dekat ke negeri Yaman untuk memasukinya maka dia dihadang oleh
orang-orang Himyar. Mereka berkata: "Janganlah engkau memasukinya karena engkau telah
meninggalkan agama kami." Maka dia pun menyeru mereka untuk memeluk agamanya dengan
mengatakan: "sebenarnya agamaku itu lebih baik dari agama kalian." Maka mereka pun
berkata: "Maka marilah kita selesaikan di depan api!" Dia pun berkata: "Ya!"
Ibnu Ishaq menambahkan: Dalam ke- percayaan orang-orang Yaman, di Yaman terdapat api
di mana mereka menyelesaikan perkara yang sedang mereka perselisihkan. Api akan
membinasakan orang yang zalim dan membiarkan orang yang dizalimi. Maka kaumnya keluar
dengan membawa berhala- berhala mereka dan benda-benda yang biasa mereka jadikan
sebagai sesajen. Sedangkan pendeta Yahudi membawa dua mushaf yang digantung di leher
mereka. Hingga mereka pun duduk di depan tempat keluarnya api. Maka api pun menyergap
mereka. Tatkala api menyerang mereka orang-orang Yaman pun ngeri dan ketakutan. Namun
orang-orang yang hadir menyemangatinya dan menyuruh mereka sabar atas serangannya.
Mereka pun bersabar hingga api itu pun mengepung mereka dan memakan berhala-berhala itu
dan segala benda-benda yang mereka jadikan sebagai sarana ibadah beserta orang-orang yang
membawa benda-benda itu dari kaum lelaki Himyar. Sementara itu dua pendeta Yahudi itu
keluar dengan membawa mushaf yang te- tap tergantung di lehernya dan dengan dahi
mengucurkan keringat. Sejak saat itu orang- orang Himyar menerima agama raja mereka. Maka
sejak saat itu pula agama Yahudi mulai memasuki Yaman.
Ibnu Ishaq berkata: Seorang informan lain menuturkan kepada saya bahwa kedua pendeta itu
dan orang-orang yang keluar dari penduduk Himyar mengikuti api dan bermaksud untuk
menolaknya. Dan mereka berkata: Barang siapa yang menolaknya maka orang itulah yang
paling benar. Maka mendekatlah pada api itu beberapa orang lelaki Himyar dengan membawa
berhala-berhala mereka untuk menolak api itu, namun api itu malah mendekati mereka
sehingga membuat mereka gentar ketakutan dan mereka tidak berhasil menolaknya. sesudah itu
kedua pendeta itupun mendekati keduanya seraya membaca Taurat, api itu pun mundur dari
keduanya hingga me-reka berdua berhasil mendorongnya ke tempat awal api itu keluar. Maka
sesudah itu orang- orang Himyar memeluk agama kedua pendeta ini . Wallahu a'lam mana
yang benar dari kedua kisah di atas.
Ibnu Ishaq berkata: Riam yaitu sebuah rumah yang sangat mereka agungkan dan mereka
menyembelih hewan korban di sana dan mereka berbicara sesuai dengan petunjuk yang mereka
dapatkan di tempat itu. Kedua pendeta itu berkata kepada Tubba: "sebenarnya itu yaitu
setan yang sedang mempermainkan mereka. Maka biarkanlah kami melakukan sesuatu pada
rumah ini!"
Tubba berkata: "Terserah kalian berdua mau diapakan rumah Riam itu!"
Maka keduanya mengeluarkan dari rumah ini —sebagaimana banyak dikatakan orang-orang
Yaman— satu anjing hitam lalu mereka sembelih lalu mereka berdua menghancurkan
rumah itu. Maka sampai saat ini sisa-sisanya -sebagaimana dikatakan kepada saya—yaitu
bercak-bercak bekas darah yang tumpah di atasnya.
Pemerintahan Hassan bin Tubban dan Pembunuhan Saudaranya Amr Atasnya
Tatkala anaknya yang bernama Hassan bin Tubban As'ad Abi Karib berkuasa, dia berangkat
bersama dengan penduduk Yaman dengan maksud untuk menguasai tanah Arab dan Persia.
Tatkala mereka berada di sebagian negeri Irak Ibrahim bin Hisyam berkata: Tempatnya di
Bahrain sebagaimana dikatakan kepada saya oleh sebagian ahli ilmu—orang-orang Himyar itu
tidak suka untuk melanjutkan perjalanan bersamanya dan mereka mengingatkan untuk kembali
lagi ke negeri Yaman dan menemui penduduknya kembali. Maka merekapun berkata kepada
saudara Hassan yang bernama 'Amr yang saat itu bersama dengannya. Mereka berkata:
"Bunuhlah saudaramu Hassan dan akan mengangkatmu sebagai raja kami dan kau kembali ke
negeri kami!" Amr pun merespon ajakan mereka. Lalu mereka sepakat untuk melakukan
rencana ini kecuali seorang yang bernama Dzu Ru'ain al-Himyari dimana dia melarang
Amr untuk melakukan rencana jahat ini . Namun Amr tidak menerima nasehatnya. Maka
berkatalah Dzu Ru'ain al-Himyari:
Ketahuilah wahai orang yang membeli begadang malam dengan tidur
Bahagialah orang yang senantiasa bermalam dengan mata tenang
Adapun orang-orang Himyar mereka ingkar dan khianat
Semoga Tuhan mengampuni Dzu Ru'ain
lalu dia menuliskannya dia atas secarik kertas dan memberikan stempel lalu dia
memberikannya kepada Amr seraya berkata: Simpanlah surat ini dari ku bersamamu! Maka
Amr pun melakukan apa yang dia katakan. lalu dia membunuh saudaranya Hassan lalu
dia pun pulang kembali ke Yaman bersama dengan orang-orang yang bersamanya. Maka
berkatalah salah seorang Himyar:
Tak tegalah mata yang melihat orang seperti Hassan terbunuh di negeri-generasi yang lalu
Seorangputra makhota membunuhnya karena takut dipenjara
Esok harinya mereka berkata: Labab, labab (tidak apa-apa)
Orang yang mati di antara kalian yaitu yang terbaik di antara kita
Dan orang yang hidup di antara kita yaitu pimpinan kita
Dan kalian semua peminpin kami
Ibnu Ishaq berkata: Ucapannya labab labab dalam bahasa Himyar berarti laa ba'sa (tidak apa-
apa). Sedangkan Ibnu Hisyam menyebutkan: Diriwayatkan bahwa bacaannya yaitu libab
bukan labab.
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Amr bin Tubban memasuki Yaman maka dia menderita insomania
sehingga dia tidak bisa memicingkan matanya sedikitpun. Tatkala penyakit itu demikian
memberatkannya maka dia menanyakan pada para dokter, dukun dan tukang ramal apa yang
sebenarnya menimpa dirinya. Maka berkatalah seseorang di antara mereka: "Demi Allah
sebenarnya tidaklah ada seseorang yang membunuh saudaranya atau keluarga dekatnya
karena benci sebagaimana yang engkau telah lakukan terhadap saudaramu, kecuali dia akan
menderita penyakit tidak bisa tidur dan dia akan ditimpa penyakit insomania!"
Tatkala ungkapan itu dikatakan padanya, maka dia pun membunuh semua orang yang
menyuruhnya untuk membunuh saudaranya Hassan. Mereka terdiri dari para pemuka dan
pembesar Yaman. Hingga suatu saat tiba waktunya giliran Dzu Ru'ain.
Maka berkatalah Dzu Ru'ain padanya: "Sa- ya punya alasan yang meringankan saya!"
'Amr berkata: "Apa itu?"
Dzu Ru'ain menjawab: "Surat yang dulu aku berikan padamu!" Maka dia pun mengeluarkan
surat itu ternyata dia dapatkan dua bait syair. Dan dia pun meninggalkan Dzu Ru'ain pergi dan
dia berpendapat bahwa orang itu telah memberinya nasehat.
sesudah Amr meninggal kerajaan Yaman menjadi kacau balau dan mereka terpecah menjadi
sekian banyak kelompok.
Lakhni'ah Dzi Syanatir Mencaplok Kerajan Yaman
Seorang dari Himyar yang tidak memiliki hubungan dengan keluarga kerajaan, yang bernama
Lakhni'ah Yanuf Dzu Syanatir mencaplok tahta kerajaan Yaman dan membunuh para
pembesarnya dan membuat keluarga ke-rajaan nelangsa. Maka seorang Himyar berkata kepada
Lakhni'ah dalam sebuah syair:
Himyar telah bunuh anak-anak dan mengusir putri-putrinya
Melakukan pekerjaan yang melakukan dengan tangan mereka sendiri
Menghancurkan dunianya dengan kekejian mimpi-mimpinya
Sedangkan yang lenyap dari dunia yaitu lebih banyak
Demikianlah kurun-kurun itu telah berlaku kezaliman dan kekejian
Sehingga kejahatan bertumpuk dan dikumpulkan
Lakhni'ah yaitu seorang lelaki fasik yang gemar melakukan perbuatan homoseksual. Dia
sering kali meminta anak-anak muda keturunan raja untuk datang ke istananya lalu dia
melakukan hubungan homoseksual dengannya di sebuah kamar yang sengaja dia bangun untuk
tujuan ini agar mereka tidak menjadi penguasa sesudah nya. sesudah itu dari atas kamar dia
melihat pada para pengawalnya dan pasukannya yang hadir di sana dan dia mengambil siwak
yang dia letakkan di mulutnya untuk memberi tanda pada mereka bahwa dia telah selesai
melampiaskan hasratnya.
Hingga pada suatu waktu dia mengirimkan seseorang untuk memanggil Zur'ah Dzu Nuwas bin
Tubban As'ad saudara Hasaan. Saat Hassan dibunuh dia masih anak-anak. lalu dia
tumbuh menjadi seorang remaja yang ganteng gagah cerdas dan berkarakter budiman. Tatkala
utusan itu datang menemuinya dia pun menyadari apa yang bakal terjadi, maka dia pun
mengambil sebilah pisau tajam kecil yang dia simpan di antara kedua kaki dan sandalnya.
lalu dia mendatanginya dan berdua dengannya. Saat itulah dia melompat dan
menikamnya lalu dia menekuk dan membunuhnya. Lalu dia penggal lalu dia letakkan kepala
itu di di jendela yang menjadi tempat dia melihat pada orang-orangnya di bawah. Dzu Nuwas
meletakkan siwak di mulut orang Lakhni'ah lalu dia keluar ke tengah manusia. Maka
mereka pun berkata padanya: Wahai Dzu Nuwas basah ataukah kering? Maka dia pun
menjawab: Tanyakanlah pada kepala itu. Maka mereka pun melihat ke jendela dan mereka pun
melihat kepala Lakhni'ah telah terputus. Maka mereka pun bergegas menyusul Dzu Nuwas
hingga akhirnya terkejar. Mereka pun berkata: Tidak selayaknya ada orang yang menjadi raja
atas kami karena engkau telah membebaskan kami dari orang yang sangat bejat ini.
Kekuasaan Dzu Nuwas
Orang-orang Himyar pun mengangkat Dzu Nuwas menjadi raja mereka. Himyar kabilah-
kabilah Yaman bersatu di bawah kekuasaannya. Dia yaitu raja terakhir yang berasal dari
Himyar, dia yaitu Shahibul Ukhdud dan dia menyebut dirinya Yusuf. Dia menjadi raja dalam
kurun waktu sekian lama.
Sementara itu di Najran ada sisa-sisa pemeluk agama Nabi Isa 'Alaihisalam yang berpegang
teguh dengan kitab Injil. Mereka yaitu orang-orang terhormat dan istiqamah dengan agama
mereka. Mereka punya seorang pemimpin yang bernama Abdullah bin Tsamir. Agama Kristen
itu berasal dari Najran sebuah kawasan yang berada di tengah-tengah tanah dan penduduk Arab
di zaman itu. Sedangkan penduduk Arab kala itu yaitu para penyembah berhala secara
keseluruhan. Penyebab masuknya agama ini ke Najran yaitu adanya sisa seorang penganut
Kristen yang bernama Faymiyun yang berada di tengah-tengah mereka lalu dia berhasil
menjadikan pemeluknya pindah agama dari paganism (penyembah berhala) menjadi pemeluk
Kristen.
Awal Kemunculan Agama Kristen di Najran
Ibnu Ishaq berkata: Mughirah bin Abi Labid mantan budak Akhnas meriwayatkan dari Wahab
bin Munabbih al-Yamani bahwa sebenarnya telah mengatakan pada mereka: Awal
kemunculan agama Kristen di Najran yaitu bahwa seorang sisa pengikut Nabi Isa bin Maryam
yang bernama Faymiyun, seorang yang sangat saleh seorang mujtahid yang gigih dan seorang
zahid dari dunia, seorang yang doanya mustajab sedang melakukan pengembaraan dan dia
singgah di berbagai kota dan desa. Dan tidaklah dia mengenal sebuah desa kecuali dia akan
keluar menuju ke desa lain yang dia tidak ketahui. Dia tidak pernah makan apapun kecuali dari
hasil tangannya sendiri. Dia seorang ahli bangunan yang berkubang dengan tanah dan sangat
menghormati hari Ahad. Jika hari Ahad tiba maka dia tidak melakukan pekerjaan apa- pun.
Dia akan keluar ke sebuah tanah lapang lalu melaksanakan salat hingga menjelang malam.
Dia berkata: Dia berada di salah satu desa di Syam dan melakukan pekerjaannya itu secara
sembunyi-sembunyi. Ternyata ada seseorang yang menangkap dengan cermat perilaku
baiknya, orang itu bernama Shaleh. Shaleh sangat mencintainya satu hal yang belum pernah
dia rasakan pada siapa pun sebelum ini. Shaleh pun mengikutinya ke mana pun dia pergi.
Faymiyun tidak menyadari apa yang dilakukan oleh Shaleh itu. Hingga suatu hari Ahad dia
keluar ke tanah lapang sebagaimana biasa dia lakukan sebelum ini. Shaleh pun mengikutinya,
sementara Faymiyun tidak tahu. Maka Shaleh melihat dengan sembunyi-sembunyi apa yang
dia lakukan di sana karena dia tidak ingin diketahui tempatnya berada.
Faymiyun berdiri untuk melakukan shalat. Tatkala dia sedang melakukan shalat, tiba-tiba ada
seekor ular berkepala tujuh mendekatinya. Tatkala Faymiyun melihat, maka dia berdoa agar
diselamatkan dari ular itu. Sejika itu juga ular berbahaya itu mati. Peristiwa itu di- saksikan
oleh Shaleh namun dia tidak menyadari apa yang menimpa ular ganas berkepala tujuh itu. Dia
mengkhawatirkan ada sesuatu yang terjadi atas dirinya sehingga dia tidak mampu
mengendalikan diri, lalu berteriak: Wahai Faymiyun ular besar sedang mendekatimu, namun
dia tidak menoleh dan melanjutkan salatnya hingga selesai. Saat malam menjelang dia pun
pulang.
Faymiyun kini menyadari bahwa dirinya telah dikenal dan Shaleh telah mengenal posisinya.
Maka Shalehpun berkata: "Wahai Faymiyun, Demi Allah, ketahuilah bahwa aku tidak pernah
mencintai sesuatupun sebagaimana aku mencintaimu. Aku ingin senantiasa menemanimu dan
ingin bersamamu kemanapun engkau berada."
Faymiyun berkata: "Terserah, engkau tahu sendiri bagaimana kondisiku, jika kau merasa kuat
untuk menjalaninya, maka ikutilah aku!" Maka Shaleh pun menemaninya di mana pun dia
berada.
Hampir saja orang-orang desa itu mengalami sebuah guncangan menyaksikan beberapa hal
aneh yang muncul darinya. Di mana jika ada seseorang yang dia dapatkan sedang sakit maka
dia pun berdoa dan orang itu pun sembuh. Tapi jika dia dipanggil untuk untuk mendatangi
orang yang sakit dia tidak da- tang. Suatu waktu ada seseorang yang memiliki anak yang buta
dan dia pun menanyakan tentang Faymiyun dan dikatakan kepadanya bahwa dia tidak akan
datang jika dia panggil oleh seseorang, namun dia yaitu seorang pekerja bangunan yang
mendapat upah.
Lelaki itu pun datang menemui anaknya dan meletakkannya di sebuah kamar lalu lalu dia
menutupinya dengan kain. lalu lelaki menemuinya dan dia pun berkata: "Wahai
Faymiyun sebenarnya aku menginginkan sesuatu untuk dikerjakan di rumahku. Maka
berangkatlah bersamaku hingga engkau melihat kondisinya dan aku pun akan memberimu
bayaran atas pekerjaanmu ini ."
Maka dia pun berangkat bersama lelaki itu hingga dia memiliki kamar tempat anaknya
diletakkan. Lalu Faymiyun berkata: Apa yang hendak engkau kerjakan di rumahmu ini? Lelaki
tadi menjawab: "Ini dan ini." Lalu lelaki itu menyingkapkan kain yang menutup sang anak
seraya berkata: "Wahai Faymiyun anakku yaitu salah seorang hamba dari hamba- hamba
Allah dan dia telah ditimpa penyakit sebagaimana yang engkau saksikan. Maka doakanlah agar
dia sembuh!"
Faymiyun pun mendoakan anak itu, maka bangkitlah anak itu seperti seorang yang tidak
menderita mengalami sakit apapun. Tahulah Faymiyun bahwa dirinya kini telah diketahui oleh
banyak orang untuk itulah dia segera ke- luar meninggalkan desa ini yang ditemani oleh
Shaleh. Tatkala dia sedang berjalan di sebagian negeri Syam dia melewati sebuah pohon yang
sangat besar, tiba-tiba seseorang memanggilnya dari arah pohon itu: "Wahai Faymiyun!"
Faymiyun menjawab: "Ya! Aku masih menunggumu dan aku senantiasa berkata kapan dia
akan datang? Hingga aku kini mendengar suaramu maka tahulah bahwa engkau yaitu dia.
Janganlah engkau pergi sebelum mendoakan aku di atas kuburku karena sebenarnya aku
akan sekarang!" Dia berkata: Maka lelaki itu pun meninggal dan dia pun berdiri sambil berdoa
hingga orang- orang di sekitarnya menguburkannya. Lalu dia pun pergi dan tetap diikuti oleh
Shaleh hingga akhirnya datang ke sebagian negeri Arab dan penduduknya melakukan tindakan
yang keji pada keduanya.
Mereka lalu dibawa oleh sebagian pelancong orang Arab lalu keduanya oleh mereka dan
dijual di Najran. Orang-orang Najran waktu itu menganut agama orang-orang Arab dengan
menyembah sebuah pohon kurma yang sangat tinggi yang berada di tengah- tengah mereka
dan mereka memiliki perayaan hari raya tahunan. Jika hari raya tahunan itu datang maka
mereka menggantungkan setiap baju yang indah dan perhiasan wanita yang mereka dapatkan
lalu keluar ke pohon ini lalu mereka tinggal seharian di sana. Salah seorang yang
sangat terkenal di antara mereka membeli Faymiyun sedangkan yang lain membeli Shaleh.
Faymiyun senantiasa melakukan qiyamullail di tempat orang yang membelinya itu. Dan setiap
kali melakukan shalat malam itu rumah itu menjadi benderang tanpa ada lampu di dalamnya.
Tuannya melihat peristiwa ini dan dia sangat kagum dan takjub. Maka dia pun
menanyakan tentang agamanya dan dia pun memberitahukannya.
Faymiyun berkata padanya: "sebenarnya kalian berada dalam kebatilan sebenarnya
pohon kurma ini tidak akan pernah mendatangkan bahaya dan tidak juga bisa mendatangkan
manfaat dan jika aku berdoa kepada Tuhan yang aku sembah untuk membinasakannya pasti
Dia akan menghancurkannya. Dia yaitu Allah yang tidak ada sekutu apapun bagi-Nya."
Maka berkatalah tuannya: "Kerjakanlah karena sebenarnya jika engkau mampu melakukan
itu kami akan masuk agamamu dan kami akan meninggalkan agama yang selama ini kami
anut."
Faymiyun bangkit lalu bersuci dan melakukan shalat dua rakaat lalu dia berdoa
kepada Allah untuk membinasakan pohon kurma besar itu. Allah mengirimkan angin kencang
yang membuat pohon itu tercerabut ke akar-akarnya dan lalu tumbang. Maka orang-
orang Najran pun masuk dan memeluk agama yang dia peluk dan Faymiyun membawa mereka
pada syariah Isa bin Maryam "Alaihissalam. sesudah itu terjadilah peristiwa-peristiwa
penyimpangan yang menimpa atas pemeluk agama mereka di berbagai negeri. Maka sejak saat
itulah mun- cul agama Kristen di negeri Najran di negeri Arab.
Ibnu Ishaq berkata: Inilah yang diceritakan oleh Wahb bin Munabbih tentang orang- orang
Najran.
Abdullah bin Tsamir dan Peristiwa Ashabul Ukhdud
Ibnu Ishaq berkata: Telah meriwayatkan ke- padaku Yazid bin Ziyad dari Muhammad bin
Ka'ab al-Qurazhi sebagaimana hal ini juga di- tuturkan oleh penduduk Najran kepada saya
tentang penduduknya: sebenarnya penduduk Najran mereka yaitu orang-orang yang
menyembah berhala. Di sebuah desa yang berdekatan dengan Najran —Najran artinya desa
besar di mana penduduk berpusat di sana— ada seorang ahli sihir yang mengajari sihir pemuda-
pemuda Najran. Tatkala Faymiyun datang ke sana—dia tidak menyebutkan namanya kepada
saya sebagaimana yang dikatakan oleh Wahb bin Munabbih. Mereka berkata: Ada seorang
lelaki singgah di sana dan membangun sebuah kemah antara Najran dan desa dimana seorang
ahli sihir berasal. Orang- orang Najran mengirimkan anak-anak mereka kepada ahli sihir ini
untuk belajar sihir pada mereka. Tsamir mengirimkan anaknya yang bernama Abdullah bin
Tsamir, demikian pula halnya dengan penduduk lainnya. Setiap kali Abdullah melewati orang
yang berada di dalam kemah itu dia sangat kagum terhadap salat dan ibadahnya sehingga
membuatnya mampir di sana dan mendengar nasehat-nasehatnya hingga akhirnya dia masuk
Islam dan mengesakan Allah dan menyembah-Nya. lalu dia menanyakan padanya
tentang syariah-syariah Islam sehingga tatkala dia sudah demikian paham tentang syariah itu
maka dia kini mulai bertanya al-ism al-a'zham (Dzat Maha Agung).
Walaupun dia mengerti akan hal ini dia sengaja merahasiakannya padanya. Dia berkata:
"Wahai sepupuku, kau tidak akan mampu menanggungnya, saya khawatir kau tidak cukup kuat
untuk memikul beban ini."
Sementara Tsamir ayah Abdullah tidak mengira anaknya telah melakukan itu, dia hanya
menyangka bahwa anaknya telah melakukan sesuatu yang lain dia hanya berpikir bahwa
anaknya pergi tukang sihir itu sebagaimana dilakukan oleh anak-anak lainnya. Tatkala
Abdullah menyadari bahwa sahabatnya itu (penghuni kemah) merahasiakan ilmu dan dia
khawatir dirinya tidak sanggup memikul bebannya, maka dia segera mengumpulkan beberapa
tongkat kecil. Lalu dia menuliskan semua nama-nama Allah yang dia ketahui hingga tidak
tersisa satu nama pun. Untuk setiap satu tongkat dia tuliskan satu nama Allah tatkala dia telah
sempurna dia menyalakan api lalu dia mulai melempar tongkat-tongkat itu satu persatu. Hingga
tatkala dia sampai pada Nama Teragung (ismul azham) dia melemparkannya ke dalam api.
Tongkat itupun melayang hingga dia keluar dari api itu tapi bekas apapun. Maka dia pun
mengambil tongkat itu lalu dia datang menemui sahabatnya dan memberitahukan bahwa dia
telah tahu tentang ism al-a'zham yang selama ini dia rahasiakan. Faymiyun berkata: "Apa itu?"
Dia berkata: "Dia yaitu demikian, demikian! Bagaimana cara engkau mengetahuinya?" Maka
diapun memberitahukan tentang apa yang dia lakukan. Faymiyun berkata: "Wahai saudaraku
kau telah mendapat nya, maka jagalah dia atas dirimu saja, walaupun saya pikir engkau
tidak akan melakukan itu."
Maka setiap kali Abdullah bin Tsamir memasuki Najran dan dia bertemu dengan seseorang
yang sedang sakit, maka dia akan berkata: “wahai hamba Allah, maukah engkau mentauhidkan
Allah dan memasuki agama saya dan aku akan berdoa kepada Allah agar menyembuhkan
penyakit yang engkau derita?"
Orang itu akan menjawab: "Ya!"
Maka dia pun mengesakan Allah dan masuk Islam, lalu dia mendoakan dan sembuh. Sampai-
sampai tidak ada seorang pun yang sakit di Najran kecuali dengan mendatanginya dan sering
menelusurinya dan mendoakannya dan orang itu pun sembuh. Hingga akhirnya peristiwa itu
dilaporkan kepada raja Najran dan dia pun dipanggil. Raja itu pun berkata: "Kau telah merusak
keadaan penduduk negeri ini dan kau telah melakukan perbuatan yang berseberangan dengan
agamaku dan agama nenek moyangku, maka aku akan cincang engkau!"
Abdullah bin Tsamir berkata: "Kau tidak akan pernah melakukan hal itu!!"
Ibnu Ishaq berkata: Maka dia pun memerintahkan orang-orangnya untuk membawanya ke
sebuah gunung yang panjang lalu dia dilempar dengan kepala di bawah dan dia pun jatuh
ke bumi tapi tidak mengalami luka apapun. lalu dia dibawa ke perairan Najran. Sebuah
lautan di mana tidak ada sesuatu pun yang jatuh ke dalamnya kecuali akan binasa. Maka dia
pun dilempar ke dalamnya. Namun kembali dia keluar dari laut itu dengan selamat.
Tatkala dia berhasil menang atas raja itu, Abdullah bin Tsamir berkata: "Demi Allah
sebenarnya engkau tidak akan pernah sanggup untuk membunuhku hingga engkau
mentauhidkan Allah, hendaknya engkau ber- iman dengan apa yang aku imani karena
sebenarnya jika engkau melakukan itu maka engkau akan diberi kemampuan untuk
membunuhku."
Ibnu Ishaq berkata: Maka raja itu pun mentauhidkan Allah dan melakukan syahadat
sebgaaimana syahadat Abdullah bin Tsamir. lalu raja itu memukulnya dengan sebuah
tongkat yang ada di tangannya yang lalu membuatnya terluka dengan luka kecil, dan dia
pun terbunuh, lalu raja itupun meninggal dunia. Peristiwa ini telah membuat penduduk
Najran memeluk agama Abdullah bin Tsamir sesuai dengan ajaran Isa bin Maryam yang ada
di dalam Injil dan hukumnya. lalu terjadi penyimpangan- penyimpangan sebagaimana
penyimpangan sebelumnya. Dari sinilah sebenarnya asal usul agama Kristen di Najran.
Wallahu a'lam.
Ibnu Ishaq berkata: Inilah apa yang dikatakan oleh Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi dan
sebagian dari penduduk Najran tentang Abdullah bin Tsamir. Wallahu a'lam di mana yang
paling benar adanya.
Maka berangkatlah Dzu Nuwas dengan pasukannya dan mengajak mereka untuk memeluk
agama Yahudi dengan memberi dua pilihan pada mereka masuk Yahudi atau di- bunuh.
Mereka pun memilih untuk dibunuh. Maka mereka pun dimasukkan ke dalam parit dan
dibakarlah orang yang dibakar di antara mereka dengan api, ada pula yang dibunuh dengan
pedang lalu mereka dicincang. Hingga jumlah orang yang dibunuh mencapai sekitar dua puluh
ribu. Mengenai Dzu Nuwas dan tentaranya Allah menurunkan firman-Nya kepada Rasul-Nya,
junjungan kita semua Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Alihi wa Sallam:
Telah dibinasakan orang-orang yang membuat parit,yang berapi (dinyalakan dengan) kayu
bakar, jika mereka duduk di sekitarnya,sedang mereka menyaksikan apa yang mereka
perbuat terhadap orang-orang yang beriman. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang
mukmin itu melainkan karena orang-orang mukmin itu beriman kepada Allah Yang Maha
Perkasa lagi Maha Terpuji (QS. al-Buruj: 4- 8).
Ibnu Hisyam berkata: Al-Ukhdud yaitu lubang yang memanjang di bumi seperti parit atau
anak sungai dan yang serupa dengannya. Sedangkan plural dari kata ukhdud yaitu akhadid.
Dzu Rummah berkata yang namanya yaitu Ghaylan bin 'Uqbah salah seorang Bani Adi bin
Manaf bin Udd bin Thanijah bin Ilyas bin Mudhar.
Dari tanah Irak yang melintang antara po- hon kurma dan padang gersang ada sebuah air
ukhdud.
Arti ukhdud dalam bait di atas diartikan sebagai bekas pedang, atau bekas pisau di kulit atau
bekas cambuk dan jama'nya yaitu akhadid.
Ibnu Ishaq berkata: Dikatakan bahwa di antara orang dibunuh Dzu Nuwas yaitu Abdullah bin
Tsamir, pemimpin dan imam mereka.
Ibnu Ishaq berkata: Telah berkata kepada saya Abdullah bin Abi Bakar bin Muhammad bin
Amr bin Hazm bahwa sebenarnya dia telah mendapat kabar bahwa seseorang dari penduduk
Najran hidup zaman Umar bin Khattab menggali bekas reruntuhan bangunan-bangunan di
Najran untuk sebuah keperluannya. Maka mereka pun mendapat Abdullah bin Tsamir
berada di bawah reruntuhan itu dalam keadaan sedang duduk sedang meletakkan tangannya
pada bekas pukulan di kepalanya, dia sedang kepalanya itu. Dan manakala tangan yang
memegangnya itu ditarik maka mengalirlah darah darinya dan tatkala dilepas maka tangan itu
kembali pada posisinya semula dan menahan aliran darahnya. Sementara di tangannya tertulis:
"Rabbi Allah (Tuhanku yaitu Allah)." Maka ditulislah surat kepada Umar mengabarkan
tentang peristiwa ini . Umar membalas surat mereka dan memerintahkan agar dibiarkan
dalam posisi semula. Mereka pun menguburkannya dan mengembalikan dalam posisi semula.
Daus Dzu Tsa'laban dan Awal Pemerintahan Habasyah serta Hayat yang Menguasai
Yaman
Ibnu Ishaq berkata: Ada seorang di antara mereka yang berhasil selamat dari pembunuhan
massal itu. Dia bernama Daus Dzu Tsa'laban. Saat melarikan diri dia menunggang kudanya
dan dia melalui tanah berpasir sehingga mereka tidak mampu untuk mengejarnya. Dia terus
melakukan pelariannya dengan cara ini hingga akhirnya dia menemui Kaisar Romawi. Dia
meminta bantuan Kaisar untuk mengalahkan Dzu Nuwas dan pasukannya dan dia memberi
tahukan apa yang menimpa orang-orang yang dibunuh massal itu.
Kaisar berkata: "Negerimu terlalu dari tempat kami, namun demikian aku akan menuliskan
surat kepada raja Habasyah (kini Ethiopia), karena sebenarnya dia beragama sebagaimana
agama kita dan dia lebih dekat ke negerimu." Dia lalu menulis surat pada raja Habasyah
dan memintanya untuk membantunya serta membalas dendam atas perlakukan Dzu Nuwas.
Daus datang menemu











