Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 33. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 33. Tampilkan semua postingan

Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 33

 


r bin Wahb bin Al-Aswad, ia mengatakan: jika  Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengetahui tewasnya Utsman bin Abdullah, beliau bersabda: "Semoga 

Allah melaknatnya, karena dulu ia membenci orang-orang Quraisy." 

Ibnu Ishaq berkata: Ya'qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas meriwayatkan kepadaku bahwa 

koraban yang lainnya yang tewas terbunuh selain Utsman bin Abdullah ialah budak Kristennya. 

Al-Mughirah bin Syu'bah berkata: Tatkala salah seorang dari kaum Anshar mengambil salab (harta 

rampasan) dari para korban Tsaqif, ia mendapati budak ini  tidak dikhitan. lalu  ia berteriak: 

"Wahai orang-orang Arab, Allah mengetahui bahwa orang-orang Tsaqif tidak dikhitan." Aku pegang 

tangan orang Anshar ini , karena aku khawatir ia bercerita tentang kami kepada orang-orang 

Arab. Aku berkata padanya: "janganlah engkau berkata seperti itu. sebenarnya  orang ini  

yaitu  budak kami yang beragama Kristen." Lalu aku memperlihatkan korban lain kepada orang 

Anshar ini  dan aku berkata: "Tidak engkau melihat mereka dikhitan?" 

Ibnu Ishaq berkata: Panji perang Al-Ahlaf ada pada Qarib bin Al-Aswad. jika  orang-orang kabilah 

Hawazin kalah, ia sandarkan panji perangnya pada sebuah pohon, lalu ia bersama anak-anak paman 

dan kaumnya dari Al-Ahlaf melarikan diri. Dengan demikian, yang terbunuh dari orang-orang Al-Ahlaf 

hanyalah dua orang; seorang dari Bani Ghiyarah bernama Wahb dan yang lain berasal dari Bani Kabbah 

bernama Al-Julah. 

jika  Rasulullah mendengar kabar tewasnya Al-Julah, beliau bersabda: "Hari ini, pemuda terbaik 

Tsaqif telah terbunuh, kecuali apa yang terjadi pada Ibnu Hunaidah." -Yang dimaksud dengan Ibnu 

Hunaidah ialah Al- Harits bin Uwais-. 

 

Terbunuhnya Duraid bin Ash-Shimah 

Ibnu Ishaq berkata: Saat kaum musyrik kalah di Perang Hunain, mereka pergi ke Thaif bersama Malik 

bin Auf An-Nashri, sebagian dari mereka berkemah di Lembah Authas dan sebagian lainnya pergi ke 

Nakhlah, dan hanya Bani Ghiyarah dari Tsaqif saja yang pergi ke Nakhlah. Pasukan berkuda Rasulullah 

membuntuti orang-orang yang melintasi Nakhlah namun tidak membuntuti orang-orang yang 

melewati perbatasan. 

Rabi'ah bin Rufay'i bin Uhban bin Tsa'labah bin Rabi'ah bin Yarbu' bin Sammal bin Auf bin Umru'ul Qais 

-Rabi'ah yang dikenal dengan panggilan Ibnu Ad-Dughunah dan Ad-Dughunah yaitu  ibunya. Ia lebih 

dikenal dengan sebutan ini. Pendapat lain mengatakan Ibnu Ladz'ah, ia menemukan Duraid bin Ash-

Shimmah, lalu  Rabi'ah bin Rufay'i memegang untanya karena Rabi'ah bin Rufay'i mengira bahwa 

Duraid bin Ash-Shimmah seroang wanita, sebab saat itu Duraid bin Ash-Shimmah berada di dalam 

sekedup, tapi ternyata Duraid bin Ash-Shimmah yaitu  seorang lelaki. Rabi'ah bin Rufay'i 

mendudukkan unta Duraid bin Ash-Shimmah, dan didapatinya ia telah tua, namun Rabi'ah bin Rufay'i 

tidak mengenalnya. 

Duraid bin Ash-Shimmah berkata kepada Rabi'ah bin Rufay'i: "Apa yang engkau inginkan dariku?" 

Rabi'ah bin Rufay'i menjawab: "Aku ingin membunuhmu." Duraid bin Ash-Shimmah berkata: 

"Siapakah dirimu?" Rabi'ah bin Rufay'i menjawab: "Aku yaitu  Rabi'ah bin Rufay'i As-Sulami." 

lalu  Rabi'ah bin Rufay'i menebas Duraid bin Ash-Shimmah dengan pedangnya, namun tebasan 

pedang- nya tidak menyebabkan pengaruh apapun. Duraid bin Ash-Shimmah berkata: "Alangkah 

jeleknya senjata yang diberikan ibumu. Ambillah pedangku di belakang pelana yang terletak di 

sekedup, lalu  tebaslah aku dengan pedang ini  seperti itulah dahulu aku biasa menyerang 

orang. sesudah  itu, temui ibumu dan katakan padanya bahwa engkau telah berhasil membunuh Duraid 

bin Ash-Shimmah. Demi Allah, aku banyak menyelamatkan wanita-wanitamu." Orang-orang Bani 

Sulaim meriwayatkan bahwa Rabi'ah bin Rufay'i berkata: "jika  aku memukul Duraid bin Ash-

Shimmah dengan pedangnya, ia terjatuh dan pakaiannya tersingkap, ternyata pantat dan pahanya 

bagaikan kertas karena ia sering mengendarai kuda tanpa mengenakan pelana." jika  Rabi'ah bin 

Rufay'i pulang menemui ibunya dan bercerita tentang pembunuhannya terhadap Duraid bin Ash-

Shimmah di tangannya, ibunya berkata: "Demi Allah, ia telah memerdekakan tiga orang ibu dari 

keluargamu." 

Ibnu Hisyam berkata: pendapat lain mengatakan bahwa orang yang membunuh Duraid bin Ash-

Shimmah yaitu  Abdullah bin Qunay'i bin Ahban bin Tsa'labah bin Rabi'ah. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah memerintahkan Abu Amir Al-Asy'ri untuk menelusuri jejak-jejak kaum 

musyrikin yang pergi ke arah Lembah Authas. Abu Amir Al-Asy'ari menemukan sebagian orang 

musyrikin yang kalah, lalu  perang terjadi di antara ke dua belah pihak. Pada perang ini , 

Abu Amir Al-Asy'ari terkena panah hingga gugur, lalu  panji perang diambil alih oleh Abu Musa 

Al-Asy'ari yang merupakan anak paman Abu Amir Al-Asy'ari. Abu Musa Al-Asy'ari bertempur melawan 

orang-orang musyrikin, hingga akhirnya Allah memberikan kemenangan. 

Para ulama berkata bahwa Salamah bin Duraid bin Ash-Shimmah yaitu  orang yang melempar Abu 

Amir Al-Asy'ari dengan panah yang mengenai lututnya dan menyebabkannya gugur. 

Samadir yaitu  ibu Salamah bin Duraid bin Ash-Shimmah. 

Korban tewas terbanyak yaitu  dari Bani Nashr tepatnya dari Bani Riab. Para ulama meriwayatkan 

bahwa Abdullah bin Qais yang terkenal dengan panggilan Ibnu Al-Aura' yang juga merupakan salah 

seorang anak keturunan Wahb bin Riab berkata: "Wahai Rasulullah, banyak orang yang meninggal 

dunia dari Bani Riab." Mereka mengatakan bahwa Rasulullah berdoa: "Ya Allah, berilah ganti atas 

musibah mereka." 

Saat orang-orang kabilah Hawazin menderita kekalahan, Malik bin Auf An-Nashri pergi lalu berhenti 

di tengah-tengah pasukan berkuda kaumnya di jalan sempit di sebuah gunung. Ia berkata kepada para 

pengikutnya: "Berhentilah hingga orang-orang lemah dari kalian dapat berjalan di depan dan teman- 

teman kalian di belakang dapat menyusul." 

Di sana, Malik bin Aur An-Nashri dan para pengikutnya berhenti hingga orang-orang musyrikin yang 

kalah bisa menyusul mereka. 

Ibnu Hisyam berkata: Sebuah riwayat sampai padaku bahwa pasukan berkuda muncul saat Malik bin 

Auf An-Nashri berada di jalan sempit. Malik bin Auf An-Nashri berkata kepada pasukannya: "Apa yang 

kalian saksikan?" Pasukannya menjawab: "Kami melihat sebuah kaum yang meletakkan tombak-

tombak di antara telinga kuda mereka dan bagian dalam paha mereka." Malik bin Auf An-Nashri 

berkata: "Mereka Bani Sulaim, kalian tidak perlu khawatir bertemu dengan mereka." jika  pasukan 

berkuda ini  semakin dekat, mereka berjalan melintasi bagian bawah lembah. Tiba-tiba pasukan 

berkuda lain datang. Malik bin Auf An-Nashri berkata kepada pasukannnya: "Apa yang kalian 

saksikan?" Anak buahnya menjawab: "Kami melihat kaum yang mengangkat tombak-tombak dalam 

kondisi lalai di atas kuda-kuda mereka." Malik bin Auf An-Nashri berkata: "Mereka yaitu  orang-orang 

dari Aus dan Khazraj. Kalian tidak perlu khawatir dari mereka." jika  pasukan berkuda ini  tiba 

di jalan itu, mereka berjalan melintasi jalan Bani Sulaim. Namun tak lama lalu , muncullah 

penunggang kuda, lalu  Malik bin Auf An-Nashri berkata kepada pasukannya: "Apa yang kalian 

saksikan?" pasukannya menjawab: "Kami melihat seorang penunggang kuda yang pahanya panjang, 

meletakkan tombak di atas pundaknya, dan mengikat kepalanya dengan kain berwarna merah." Malik 

bin Auf An-Nashri berkata: "Dia yaitu  Zubair bin Awwam. Aku bersumpah dengan Al-Lata, ia pasti 

akan menghancurkan barisan kalian, maka hendaklah kalian tetap tegar saat menghadapinya." 

jika  Zubair bin Awwam tiba di ujung jalan itu, ia memperhatikan Malik bin Auf An-Nashri dan 

pasukannya, lalu  berjalan menuju mereka dan ia terus mengganggu mereka hingga berhasil 

mengusir mereka. 

Ibnu Ishaq berkata: Salamah bin Duraid bin Ash-Shimmah bersenandung sambil menuntun istrinya 

hingga membuat semangat orang-orang musyrikin lemah: 

Engkau melupakanku, padahal engkau tidak terluka 

Walaupun kau tahu di hari itu di kaki Al-Adhrub 

Bahwa aku telah melindungimu, sementara para tentara melarikan diri  

Aku berjalan di belakangmu laksana jalannya orang yang miring salah satu pundaknya  

Kala orang-orang terlatih dengan kepala tertutup melarikan diri 

Dari ibunya dan tak akan pernah lagi kembali pada temannya 

 

Ibnu Hisyam berkata: Seorang ulama pakar syair yang tidak aku ragukan integritasnya menuturkan 

kepadaku bahwa Abu Amir Al-Asy'ari bertemu dengan sepuluh bersaudara dari kaum musyrikin di 

perang Authas. Salah seorang dari kesepuluh bersaudara ini  menyerang Abu Amir Al-Asy'ari dan 

beliau menghadapinya dengan mengajaknya masuk Islam, ia kepadanya: "Ya Allah, saksikanlah." 

lalu  orang ini  dibunuh oleh Abu Amir Al-Asy'ari. lalu satu demi satu dari kesepuluh 

bersaudara ini  menyerang Abu Amir Al-Asy'ari dan Abu Amir Al-Asy'ari menghadapinya sambil 

mengajaknya masuk Islam seraya berkata: "Ya Allah, saksikanlah dia." lalu  orang ini  

dibunuh oleh Abu Amir Al-Asy'ari. Kejadian seperti itu terus terulang hingga tersisa satu orang dari 

mereka. Orang terakhir dari sepuluh bersaudara ini  menyerang Abu Amir Al-Asy'ari, lalu Abu 

Amir Al-Asy'ari menghadapinya dengan berkata kepadanya: "Ya Allah, saksikanlah dia." Orang 

ini  berkata: "Ya Allah, janganlah Engkau bersaksi terhadapku." Abu Amir Al-Asy'ari menahan 

dirinya, lalu  orang itu melarikan diri. sesudah  itu, orang ini  masuk Islam dan keislamannya 

baik. Setiap kali Rasulullah melihat orang itu, beliau bersabda: "Orang ini yaitu  orang yang lari dari 

Abu Amir." sesudah  itu, Abu Amir diserang oleh dua orang; Al-Ala' dan Aufa, keduanya merupakan anak 

Al-Harits dari Bani Jusyam bin Muawiyah. Serangan salah seorang dari keduanya mengenai ulu hati 

Abu Amir Al-Asy'ari sedang serangan yang lainnya mengenai lutut. lalu  Abu Amir Al-Asy'ari 

meninggal akibat serangan kedua orang ini . 

sesudah  itu, komando kaum Muslimin diambil alih oleh Abu Musa Al-Asy'ari yang lalu  menyerang 

kedua orang yang telah membunuh Abu Amir Al-Asy'ari dan beliau berhasil membunuh mereka 

berdua 

Ibnu Ishaq berkata: Beberapa ulama meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah berjalan melintasi 

wanita yang dibunuh oleh Khalid bin Walid yang sedang dikerumuni oleh banyak orang. Beliau 

bertanya: "Ada apa ini?" Orang-orang menjawab: "Ada mayat wanita yang dibunuh Khalid bin Walid." 

Rasulullah bersabda kepada seorang sahabat yang jika  itu bersama beliau: "Carilah Khalid dan 

katakan kepadanya bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melarangmu membunuh anak-

anak, wanita dan budak sewaan." 

 

Bijad dan Syaima' Saudari Sesusuan Rasulullah 

Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang dari Bani Sa'ad bin Bakr meriwayatkan kepadaku bahwa pada saat 

itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "jika  kalian berhasil menangkap Bijad, 

seorang berasal dari Bani Sa'ad bin Bakr, maka jangan biarkan dia lepas dari kalian." Sebelumnya, Bijad 

membuat ulah. Pada saat kaum Muslimin berhasil menangkapnya, mereka menggiring Bijad bersama 

keluarganya, termasuk Syaima' binti Al-Harits bin Abdul Uzza yang merupakan saudari sesusuan 

Rasulullah. Saat itu kaum Muslimin berprilaku kasar terhadap Syaima' binti Al-Harits. Karenanya 

Syaima' binti Al-Harits berkata kepada mereka: "Ketahuilah, aku yaitu  saudari sesusuan sahabat 

(Nabi) kalian." Kaum Muslimin tidak mempercayai pengakuan Syaima' itu hingga mereka 

membawanya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. 

Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ubaid As-Sa'adi meriwayatkan kepadaku bahwa pada saat kaum 

Muslimin datang kepada Rasulullah dengan membawa Syaima', Syaima' binti Al-Harits berkata kepada 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Rasulullah, aku yaitu  saudari sesusuanmu." 

Rasulullah bertanya: "Apa buktinya?" Syaima' binti Al-Harits menjawab: "Bekas gigitan. Engkau pernah 

menggigit punggungku saat aku menggendongmu." Rasulullah pun mengenali bukti ini , 

lalu  beliau menggelar burdahnya untuk Syaima' binti Al-Harits lalu menyuruhnya duduk di atas 

kain burdah ini , serta mengajukan beberapa tawaran baginya. Rasulullah bersabda kepada 

Syaima' binti Al-Harits: "jika  engkau mau tinggal bersamaku, maka sebenarnya  engkau akan 

dicintai dan dimuliakan. Namun jika engkau menginginkanku memberimu sesuatu dan kembali kepada 

kaummu, itu juga akan aku penuhi." Syaima' binti Al-Harits berkata: "Aku menginginkanmu memberi 

sesuatu kepadaku dan memulangkan aku kepada kaumku." Ke mudian Rasulullah memberikan 

sesuatu kepada Syaima binti Al-Harits dan memulangkannya kepada kaumnya. Bani Sa'ad mengatakan 

bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memberi seorang budak laki-laki yang bernama Makhul 

dan seorang budak wanita Syaima binti Al-Harits. lalu  kedua budak itu menikah satu sama 

lainnya dan anak keturunannya masih ada hingga saat ini. 

Ibnu Hisyam berkata: Allah menurunkan firman-Nya tentang perang Hunain: 

 

 

 

sebenarnya  Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di tnedan peperangan yang banyak, 

dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya 

jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan 

bumiyangluas itu telah terasa sempit olehmu, lalu  kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai. 

lalu  Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang yang beriman, 

dan Allah menurunkan bala tentara yang kamu tiada melihatnya, dan Allah menimpakan bencana 

kepada orang-orang yang kafir, dan demikianlah pembalasan kepada orang-orang yang kafir. (QS. at-

Taubah: 25-26). 

Ibnu Ishaq berkata: Berikut ini yaitu  daftar nama para syuhada' kaum Muslimin pada Perang Hunain: 

Dari Quraisy lalu  lebih pasnya dari Bani Hasyam ialah Aiman bin Ubaid.  

Dari Bani Asad bin Abdul Uzza, Yazid bin Zam'ah bin Al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad. Ia gugur 

karena kudanya yang bernama Al-Janah enggan berlari. 

Dari kaum Anshar ialah Suraqah bin Al-Harits bin Adi. 

Dari Bani Al-Ajlan dari orang-orang Al- Asy'ari ialah Abu Amir Al-Asy'ari- 

Seluruh tawanan dan harta rampasan dari Perang Hunain diserahkan kepada Rasulullah. Harta 

rampasan itu lalu  dijaga oleh Mas'ud bin Amr Al-Ghifari. Rasulullah memerintahkan para 

tawanan dan harta rampasan agar dibawa ke Al-Ji'ranah dan disimpan di sana. 

 

Perang Thaif sesudah  Perang Hunain Tahun Kedelapan Hijriyah 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala orang-orang Tsaqif yang kalah perang tiba di Thaif, mereka menutup 

seluruh pintu gerbang dan membuat sejumlah persiapan untuk kembali melancarkan perang. Urwah 

bin Mas'ud dan Ghailan bin Salamah tidak ikut serta pada Perang Hunain dan pengepungan Thaif, 

sebab jika  itu keduanya sedang berada di Jurasy tengah mempelajari pembuatan dabbabah 

(testudo, tank kayu), manjaniq (ketapel besar berfungsi laksana meriam) dan dhabur (kulit pelapis 

kayu). 

Ibnu Ishaq berkata: sesudah  Perang Hunain usai, Rasulullah berangkat ke Thaif. 

 

Perjalanan Menuju Thaif 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah berangkat melalui jalur Nakhlah Al-Yamaniyah, Qarn, Al-Mulaih, dan 

Bahrah Ar-Rugha' dari Liyyah. Di sana, Rasulullah membangun sebuah masjid dan mendirikan shalat. 

Ibnu Ishaq berkata: Amr bin Syua'ib meri- wayatkan kepadaku, pada saat Rasulullah singgah di Bahrah 

Ar-Rugha beliau melaksanakan hukuman qishas atas kasus pembunuhan dan itulah qishas 

pembunuhan pertama kali terjadi dalam Islam. Ini terjadi karena seorang warga Bani Laits membunuh 

seorang warga Hudzail. Maka orang Bani Laits itu dibunuh sebagai qishas atasnya. 

Rasulullah memerintahkan penghancuran benteng Malik bin Auf di Liyyah, maka benteng ini  

pun dihancurkan. 

sesudah  itu Rasulullah melanjutkan perjalanan melalui jalan yang disebut Adh-Dhayqah. Saat 

Rasulullah berjalan menuju jalan ini , beliau bertanya tentang namanya: "Apakah nama jalan 

ini?" Para sahabat menjawab: "Jalan ini bernama Adh-Dhayqah." Rasulullah bersabda: "Gantilah 

namanya menjadi Al-Yusra." sesudah  itu, Rasulullah keluar dari jalan Adh-Dhayqah (AI-Yusra) melintasi 

Nakhab dan berhenti di bawah sebuah pohon bidara bernama Ash-Shadirah yang terletak di dekat 

kebun milik salah seorang dari Tsaqif. 

Rasulullah pergi menemui pemilik kebun ini  lalu berkata kepadanya: "Engkau harus pergi dari 

sini. Jika tidak, kami akan merusak kebun milikmu." Orang dari Tsaqif ini  menolak untuk pergi, 

lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan agar kebun orang Tsaqif itu dirusak. 

lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam meneruskan perjalanan hingga tiba di daerah dekat 

Thaif dan di sana beliau berkemah. Namun di tempat ini  beberapa sahabat Rasulullah terkena 

lemparan anak panah, karena markas beliau berdekatan dengan benteng Thaif. Sehingga tidak aneh 

bila ada anak panah mengenai kaum Muslimin. Mereka tidak dapat menembus benteng orang-orang 

Thaif lantaran mereka menutup gerbangnya. Tatkala beberapa sahabat terkena serangan anak panah, 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memindahkan kemahnya ke sebuah tempat yang saat ini 

tempat ini  menjadi masjid rasulullah yang ada di Thaif. lalu  melakukan pengepungan 

terhadap orang-orang Thaif selama dua puluh malam lebih. 

Ibnu Hisyam berkata: pendapat lain mengatakan bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

mengepung orang-orang Thaif selama tujuh belas malam. 

Ibnu Ishaq berkata: Saat itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ditemani dua orang istrinya, 

diantaranya ialah Ummu Salamah binti Abu Umayyah. Karena itulah, dua tenda untuk keduanya 

dipasang dan Rasulullah mendirikan shalat di antara kedua kemah ini . Pada saat orang-orang 

Tsaqif masuk Islam, Amr bin Umayyah bin Wahb bin Muattib bin Malik membangun masjid di tempat 

yang dipakai shalat oleh Rasulullah ini . Di masjid ini  terdapat pilar, jika  terkena sinar 

matahari, maka akan terdengar jeritan dari pilar ini . Rasulullah mengepung orang-orang Thaif, 

lalu memerangi mereka dan terjadilah saling lempar anak panah antara kedua belah pihak. 

Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melempar orang-orang Thaif dengan 

senjata manjaniq. Orang yang aku percayai meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah merupakan 

orang yang pertama kali melempar dengan senjata manjaniq dalam sejarah Islam, yaitu pada saat 

beliau melempar orang-orang Thaif. 

Ibnu Ishaq berkata: Hingga pada pertempuran Syadkhah di samping tembok Thaif, beberapa sahabat 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam masuk ke bawah dabbabah (tank kayu), lalu  dengan 

dabbabah ini , mereka mendekat ke benteng Thaif agar melubanginya. Pada saat itulah orang-

orang Tsaqif melepaskan besi panas ke arah kaum Muslimin. Dan kaum muslimin menyelamatkan diri 

darinya. Pada saat yang sama, mereka juga menghujani kaum Muslimin dengan anak panah, sehingga 

kaum muslimin banyak yang gugur. 

Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kaum Muslimin memotong pohon-pohon 

anggur milik orang-orang Tsaqif dan kaum Muslimin pun segera melaksanakan perintah rasulnya. 

 

Perundingan Bersama Orang- orang Tsaqif 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Sufyan bin Harb dan Al-Mughirah bin Syu'bah berjalan mendekat ke Thaif lalu 

keduanya memanggil orang-orang Thaif: "Berilah jaminan keamanan kepada kami agar kami bisa 

berunding dengan kalian." Orang-orang Thaif pun memberikan jaminan keamanan kepada kedua 

sahabat ini . 

Lalu keduanya memanggil wanita-wanita Quraisy dan wanita-wanita Bani Kinanah agar mereka keluar 

menemui keduanya sebab keduanya khawatir jika wanita-wanita ini  menjadi tawanan perang, 

namun para wanita itu menolak memenuhi panggilan mereka berdua. Di antara para wanita yang 

menolak panggilan keduanya ialah Aminah binti Abu 

Sufyan yang diperistri Urwah bin Mas'ud dan dari keduanya lahir Daud bin Urwah. 

Ibnu Hisyam berkata: Pendapat lain mengatakan bahwa ibu Daud ialah Maimunah binti Abu Sufyan 

yang diperistri oleh Abu Murrah bin Urwah bin Mas'ud, dari pernikahannya lahirlah Daud bin Abu 

Murrah. Al-Firasiyyah binti Suwaid bin Amr bin Tsa'labah, ia memiliki anak bernama Abdurrahman bin 

Qarib, dan Al-Fuqaimiyyah binti An-Nasi' bin Qala. 

Saat para wanita ini menolak memenuhi panggilan Abu Sufyan bin Harb dan Al-Mughirah bin Syu'bah, 

maka Ibnu Al-Aswad bin Mas'ud berkata kepada keduanya: "Wahai Abu Sufyan dan Al-Mughirah, 

maukah engkau berdua aku tunjukkan pada sesuatu yang lebih baik dibandingkan  apa yang kalian 

inginkan? sebenarnya  kalian telah mengetahui kebun Bani Al-Aswad bin Mas'ud. Saat itu Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam singgah di lembah benama Al-Aqiq dan di Thaif tidak terdapat harta yang 

lebih panjang talinya, lebih dibutuhkan, dan lebih luas bangunannya dibandingkan  kebun milik Bani Al- 

Aswad bin Mas'ud. Dan jika Muhammad telah menebangnya, maka kebun itu tidak akan ditanami 

kembali untuk selama-lamanya. Oleh sebab itu, maka sampaikanlah kepada beliau, agar beliau 

mengambil kebun itu untuk beliau sendiri atau membiarkannya untuk Allah dan sanak kerabatnya. 

Karena seperti diketahui banyak orang bahwa kami memiliki hubungan kekerabatan dengan beliau." 

Para ulama berpendapat mengenai kebun ini  apakah Rasulullah membiarkan kebun ini  

untuk Bani Al-Aswad bin Mas'ud. 

Ibnu Ishaq berkata: Diriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah bersabda kepada Abu Bakar saat beliau 

mengepung orang-orang Tsaqif: "Wahai Abu Bakar, aku bermimpi diberi hadiah mangkuk yang berisi 

penuh mentega, lalu  mangkuk itu dipatuk ayam jago hingga isinya pun tertumpah." Abu Bakar 

berkata: "Aku mengira engkau tidak dapat menaklukkan mereka pada hari ini sebagaimana yang 

engkau harapkan." Rasulullah bersabda: "Tapi aku tidak berkesimpulan seperti itu." 

Keberangkatan Kaum Muslimin dan Penyebabnya 

Ibnu Ishaq berkata: Khuwailah binti Hakim bin Umaiyyah bin Haritsah bin Al-Auqash As-Sulami, istri 

Utsman bin Mazh'un berkata: "Wahai Rasulullah, jika  Allah menaklukkan Thaif untukmu, maka 

berikanlah kepadaku perhiasan Badiyah binti Ghailan bin Salamah atau perhiasan Al-Fari'ah binti Aqil." 

Khuwailah mengatakan seperti itu karena keduanya merupakan wanita Tsaqif yang memiliki perhiasan 

paling banyak. Dituturkan kepadaku bahwa jika  itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda 

kepada Khuwailah binti Hakim, "Wahai Khuwailah, bagaimana bila aku tidak diberi izin atas orang-

orang Tsaqif?" Khuwailah binti Hakim pergi dari hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu 

menceritakan ucapan Rasulullah ini  kepada Umar bin Khaththab. lalu  Umar bin Khaththab 

menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah yang telah 

engkau sampaikan kepada Khuwailah? Sebab ia bercerita bahwa engkau mengatakan sesuatu?" 

Rasulullah menjawab: "Ya, aku memang telah mengatakan demikian." Umar bin Khaththab bertanya: 

"Apakah engkau tidak diizinkan atas mereka wahai Rasulullah?" Rasulullah menjawab: "Tidak." Umar 

bin Khaththab berkata: "Bagaimana jika aku mengumumkan kepada orang-orang untuk berangkat?" 

Rasulullah bersabda: "Silahkan." Umar bin Khaththab mengumumkan kepada kaum muslimin agar 

mereka berangkat. 

sesudah  mereka berangkat, Sa'id bin Ubaid bin Usaid bin Abu Amr bin Allaj menyeru: "Ketahuilah, 

sebenarnya  penduduk kampung itu tidak ikut berangkat." Uyainah bin Hishn berkata: "Tentu saja, 

demi Allah, ini merupakan sebuah kemuliaan." Salah seorang dari kaum Muslimin berkata kepada 

Uyainah bin Hishn: "Semoga Allah membunuhmu wahai Uyainah. Layakkah engkau memuji orang- 

orang musyrikin yang telah menghadang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, padahal engkau 

datang ke tempat ini untuk menolongnya?" Uyainah bin Hishn berkata: "Demi Allah, aku datang ke 

tempat ini bukan untuk memerangi orang-orang Tsaqif bersama kalian, namun aku berharap 

Muhammad dapat membuka benteng Thaif, lalu  aku mendapat  salah seorang gadis Tsaqif, 

lalu aku mengawinya dan semoga lahir darinya anak laki-laki untukku, karena orang-orang Tsaqif itu 

jenius." 

Beberapa orang budak di antara orang- orang yang terkepung di Thaif menemui Rasulullah Shallalahu 

alaihi wa Sallam untuk masuk Islam, lalu beliau memerdekakan mereka. 

 

Hamba-hamba Sahaya di Thaif Menemui Kaum Muslimin 

Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan integritasnya meriwayatkan kepadaku dari Abdullah 

bin Mukaddam dari beberapa orang Tsaqif, ia berkata: Pada saat orang-orang Thaif masuk Islam, 

beberapa orang dari mereka berbicara jelek tentang budak-budak ini , lalu  Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Tidak, mereka yaitu  orang-orang yang telah dimerdekakan 

oleh Allah." Di antara orang yang membicarakan tentang budak-budak ini  yaitu  Al-Harits bin 

Kaladah. 

Ibnu Hisyam berkata bahwa Ibnu Ishaq telah menyebutkan nama-nama para budak yang menemui 

Rasulullah. 

Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Tsaqif menangkap keluarga Marwan bin Qais Ad- Dausi. Marwan bin 

Qais Ad-Dausi telah masuk Islam dan membantu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika  

menghadapi orang-orang Tsaqif. Orang-orang Tsaqif yang mengaku berasal dari Qais meyakini bahwa 

Rasulullah bersabda kepada Marwan bin Qais Ad-Dausi: "Wahai Marwan, sebagai ganti keluargamu, 

tangkaplah orang Qais yang pertama kali engkau jumpai." Lalu Marwan bin Qais Ad-Dausi bertemu 

Ubay bin Malik Al-Qusyairi, dan Marwan bin Qais Ad-Dausi pun menangkapnya dengan harapan agar 

orang-orang Tsaqif membebaskan keluarganya. Sebab itulah Adh-Dhahhak bin Sufyan Al-Kilabi berdiri 

lalu berdialog dengan orang-orang Tsaqif yang pada akhirnya bersedia memembebaskan keluarga 

Marwan bin Qais Ad-Dausi, dan sebagai gantinya Marwan bin Qais Ad-Dausi juga membebaskan Ubay 

bin Malik Al-Qusyairi. 

 

Kaum Muslimin Yang Gugur pada Perang Thaif 

Ibnu Ishaq berkata: berikut ini yaitu  nama-nama kaum Muslimin yang gugur sebagai syuhada di 

Perang Thaif: 

Dari Quraisy, lalu  dari Bani Umaiy sementara Ibnu Hisyam berkata: pendapat lain yang 

mengatakan Ibnu Hubab. 

Dari Bani Taym bin Murrah: Abdullah bin Abu Bakar Ash-Shiddiq. la terkena panah dan karenanya ia 

meninggal dunia di Madinah sesudah  Rasulullah wafat. 

Dari Bani Makhzum: Abdullah bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah yang gugur karena terkena lemparan 

panah. 

Dari Bani Adi bin Ka'ab: Abdullah bin Amir bin Rabi'ah, sekutu mereka. 

Dari Bani Sahm bin Amr: As-Saib bin Al-Harits bin Qais bin Adi dan saudaranya bernama Abdullah bin 

Al-Harits. 

Dari Bani Sa'ad bin Laits: Julaihah bin Abdullah. 

Syuhada' kaum Muslimin dari kaum Anshar, lalu  dari Bani Salamah: Tsabit bin Al-Jidz'i. 

Dari Bani Mazin bin An-Najjar: Al-Harits bin Sahl bin Abu Sha'sha'ah. 

Dari Bani Saidah: Al-Mundzir bin Abdullah. 

Dari Al-Aus: Ruqaim bin Tsabit bin Tsa'labah bin Zaid bin Laudzan bin Muawiyah. 

Dengan demikian jumlah sahabat Rasulullah yang gugur sebagai syuhada' Perang Thaif ialah dua belas 

orang. Tujuh diantaranya berasal dari Quraisy sementara empat orang lainnya dari kaum Anshar, dan 

satu orang dari Bani Laits. 

 

Harta Dan Tawanan Hawazin Dan Jatah Para Muallaf Serta Pemberian Rasulullah 

Ibnu Ishaq berkata: Sekembalinya dari Thaif, Rasulullah berjalan melintas di daerah Duhna lalu  

singgah di Ji’ranah bersama para sahabatnya dan membawa tawanan dari kabilah Hawazin dalam 

jumlah besar. Salah seorang sahabat berkata kepada Rasulullah pada saat meninggalkan Tsaqif: 

"Wahai Rasulullah, doakan orang-orang Tsaqif agar mendapat  kebinasaan." Rasulullah bersabda: 

"Ya Allah, berilah petunjuk kepada orang-orang Tsaqif dan bawalah mereka ke dalam Islam." 

Utusan dari kabilah Hawazin datang kepada Rasulullah saat beliau berada di Al-Ji'ranah. Pada saat itu, 

Rasulullah membawa enam ribu orang tawanan kabilah Hawazin, anak-anak dan para wanita, serta 

unta dan kambing yang berjumlah banyak. 

Ibnu Ishaq berkata: Amr bin Syuaib meriwayatkan kepadaku dari ayahnya dari kakeknya, Abdullah bin 

Amr, yang berkata bahwa utusan kabilah Hawazin datang kepada Rasulullah dan mereka telah masuk 

Islam. Mereka berkata: "Wahai Rasulullah, sebenarnya  kita berasal dari satu keturunan dan 

keluarga besar. Kami telah ditimpa petaka sebagaimana engkau ketahui. Oleh karena itu, berilah kami 

pertolongan, semoga Allah memberimu pertolongan." 

Salah seorang utusan kabilah Hawazin dari Bani Sa'ad bin Bakr bernama Zuhair yang biasa dipanggil 

Abu Shurad berdiri seraya berkata: "Wahai Rasulullah, di tempat penampungan para tawanan 

terdapat bibi-bibimu dari jalur ayah, bibi-bibimu dari jalur ibu, dan wanita-wanita yang biasa menyusui 

yang dahulu pernah mengasuhmu. Jika kami (istri-istri atau orang tua kami perempuan) menyusui Al-

Harits bin Abu Syamr atau An-Nu'man bin Al-Mundzir, lalu  kami ditimpa petaka sebagaimana 

yang menimpanya, maka kami mengharapkan belas kasihan dan pertologannya kepada kami. Dan 

kami tahu bahwa engkau merupakan anak asuh yang paling baik." 

Ibnu Hisyam mengatakan: dalam riwayat lain dikatakan, Andaikata kami menyusui Al-Harits bin 

Syamir atau An-Nu'man bin al-Mundzir. 

Ibnu Ishaq berkata: Amr bin Syuaib meriwayatkan kepadaku dari ayahnya dari kakeknya, Abdullah bin 

Amr, ia berkata: lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada utusan kabilah 

Hawazin: "Manakah yang lebih kalian cintai; anak-anak dan para wanita, atau harta benda kalian?" 

Utusan kabliah Hawazin berkata: "Wahai Rasulullah, engkau menyuruh kami memilih antara anak 

keturunan dengan harta kami? Kembalikanlah para wanita dan anak-anak kami, karena mereka lebih 

kami cintai dari pada yang lain." Rasulullah bersabda kepada utusan kabilah Hawazin: "Jatahku dan 

jatah Bani Abdul Muthalib menjadi milik kalian. sesudah  aku mengerjakan shalat Zhuhur ber- sama 

kaum Muslimin, maka berdirilah dan katakan: "Kami meminta pembelaan kepada Rasulullah dalam 

menghadapi kaum Muslimin dan meminta pembelaan kaum Muslimin dalam menghadapi Rasulullah 

dalam urusan wanita dan anak-anak kami.' Niscaya saat itu permintaan kalian akan aku kabulkan dan 

aku akan meminta untuk kalian." 

Seusai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menunaikan shalat Zhuhur bersama kaum Muslimin, 

utusan Hawazin itu berdiri dan berkata sebagaimana yang diperintahkan Rasulullah. Kaum Muhajirin 

berkata: "Jatah kami menjadi milik Rasulullah." Kaum Anshar berkata: "Jatah kami juga menjadi milik 

Rasulullah." Al-Aqra' bin Habis berkata: "Adapun jatahku dan jatah Bani Tamim tidak menjadi milik 

Rasulullah." Uyainah bin Hishn berkata: "Jatahku dan jatah Bani Fazarah juga tidak menjadi milik 

Rasulullah." Abbas bin Mirdas berkata: "Jatahku dan jatah Bani Sulaim tidak menjadi milik Rasulullah.” 

Bani Sulaim berkata: "Oh, tidak demikian, jatah kami menjadi milik Rasulullah." Abbas bin Mirdas 

berkata kepada Bani Sulaim: "Kalian telah melemahkan posisiku." 

Rasulullah bersabda: "jika  salah seorang dari kalian tetap mempertahankan haknya atas tawanan 

ini, maka ia berhak atas enam bagian dari setiap tawanan; mulai dari tawanan yang pertama kali aku 

dapatkan." Orang-orang pun menyerahkan para tawanan anak dan wanita kepada utusan kabilah 

Hawazin. 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Wajzah bin Yazid bin Ubaid As-Sa'di meriwayatkan kepadaku bahwa 

Rasulullah memberi hadiah kepada Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu seorang budak wanita 

bernama Raithah binti Hilal bin Hayyan bin Umairah bin Hilal bin Nashirah bin Qushaiyyah bin Nashr 

bin Sa'ad bin Bakr, dan memberi Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu seorang seorang budak wanita 

bernama Zainab binti Hayyan bin Amr bin Hayyan, serta memberi Umar bin Khaththab Radhiyallahu 

Anhu seorang budak wanita yang lalu  diberikan kepada putranya, Abdullah bin Umar. 

Ibnu Ishaq berkata: Nafi' mantan budak Abdullah bin Umar meriwayatkan kepadaku dari Abdullah bin 

Umar Radhiyallahu Anhuma, ia berkata: Aku pergi membawa budak wanita hadiah ini  kepada 

paman-pamanku dari jalur ibu di Bani Jumah, agar mereka mendandaninya untukku, karena saat itu 

aku hendak melakukan thawaf dan sesudahnya aku kembali kepada mereka. Aku ingin menggauli 

budak wanita itu sesudah  aku melaksanakan thawaf. Seusai thawaf, aku keluar dari Masjidil Haram dan 

orang-orang berlarian. Aku bertanya kepada mereka: “Apa yang terjadi dengan kalian." Mereka 

menjawab: "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengembalikan para wanita dan anak-anak 

kepada kami." Aku berkata: "Salah seorang budak wanita kalian kini berada di Bani Jumah, maka 

pergilah kepada mereka dan ambillah dia." Mereka pun pergi ke Bani Jumah dan mengambil budak 

wanita ini . 

Ibnu Ishaq berkata: Adapun Uyainah bin Hishn, ia mengambil wanita tua dari kabilah Hawazin. Pada 

saat mengambil wanita itu, Uyainah binti Hishn berkata: "Aku menyakiskan wanita ini sudah tua dan 

aku berharap ia memiliki keluarga. Semoga uang tebusannya besar." Pada waktu Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam mengembalikan para tawanan wanita dengan memberi ganti enam bagian kepada 

orang yang berhak mendapat nya, Uyainah bin Hishn menolak mengembalikan wanita tua itu. Lalu 

Zuhair Abu Shurad berkata kepada Uyainah bin Hishn: "Ambillah wanita ini . Demi Allah, 

mulutnya tidak lagi dingin, payudaranya sudah tidak lagi berisi, perutnya tidak lagi bisa mengandung, 

suaminya sudah tidak sedih berpisah dengannya dan air susunya tidak banyak." Uyainah bin Hishn pun 

mengembalikan wanita tua ini  jika  Zuhair Abu Shurad mengatakan itu kepadanya dan 

mendapat ganti enam bagian. 

Para ulama berpendapat bahwa Uyainah bin Hishn bertemu Al-Aqra' bin Habis dan mengadukan 

masalah ini . Lalu Al-Aqra' bin Habis berkata kepada Uyainah bin Hishn: "Demi Allah, mengapa 

engkau tidak mengambil wanita yang putih, muda belia, dan montok?."  

 

Malik bin Auf An-Nashri Masuk Islam 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah bersabda kepada utusan suku Hawazin dan bertanya kepada mereka 

mengenai keberadaan Malik bin Auf An-Nashri? Utusan suku Hawazin menjawab: "Malik bin Auf An-

Nashri sedang berada di Thaif." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sampaikan kepada 

Malik bahwa jika ia masuk Islam, maka keluarga dan hartanya akan aku kembalikan kepadanya, 

bahkan aku hadiahi seratus unta." Berita itu disampaikan kepada Malik bin Auf, lalu  ia keluar 

dari Thaif bermaksud menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Malik bin Auf An-Nashri 

khawatir kalau orang-orang Tsaqif mengetahui tawaran Rasulullah untuknya, sebab jika  diketahui, 

mereka pasti menahannya. Oleh sebab itulah, ia keluar dari Thaif pada malam hari. Ia menaiki kudanya 

lalu memacunya sekencang-kencangnya hingga tiba di tempat untanya yang disiapkan. Lalu ia menaiki 

unta ini  mengejar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan bertemu beliau di Ji'ranah atau 

Makkah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengembalikan keluarga dan hartanya kepadanya, 

serta memberinya seratus unta. Ia memeluk Islam dan keislamannya baik. Malik bin Auf An-Nashri 

berkata tatkala masuk Islam: 

Tak pernah aku mendapati manusia seperti Muhammad di seluruh dunia  

Menepati janji dan ringan memberi jika di minta 

Kapan saja kau minta, ia jelaskan padamu apa yang terjadi di besok hari  

Jika satu pasukan tempur telah memperlihatkan senjata pembunuhnya 

Dengan tombak dan tebasan seluruh pedang India 

Beliau laksana singa terhadap anak-anak singa 

Di tengah debu yang menderu dan bagaikan singa yang sedang mengintai 

 

Rasulullah menunjuk Malik bin Auf An-Nashri sebagai komandan membawahi orang-orang dari 

kaumnya yang telah memeluk Islam. Suku-suku dari kaumnya yang memeluk Islam ialah Tsumalah, 

Salamah, dan Fahm. Bersama suku-suku inilah, Malik bin Auf An-Nashri memerangi orang-orang 

Tsaqif. 

 

Pembagian Fa'i Suku Hawazin 

Ibnu Ishaq berkata: Usai mengembalikan para tawanan Perang Hunain kepada keluarganya, Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam naik kendaraannya dan diikuti kaum muslimin, sambil yang berkata: 

"Wahai Rasulullah, bagikan fa'i unta dan kambing kepada kami. Mereka terus mendesak Rasulullah 

hingga beliau bersabda: "Wahai manusia, demi Allah! Seandainya hewan ternak sebanyak pohon-

pohon di Tihamah itu yaitu  hak kalian, aku pasti membagi-bagikannya, karena aku bukanlah orang 

bakhil, pengecut dan pendusta." Sesaat sesudah  itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri di 

samping unta, mengambil bulunya yang paling halus, dan mengangkatnya seraya bersabda: "Wahai 

manusia, demi Allah, fa'i kalian tidak halal bagiku dan tidak pula atas harta sebesar bulu ini melainkan 

seperlimanya saja dan seperlimanya dibagi-bagikan kepada kalian. Oleh karena itu, kembalikan 

benang dan jarum, karena sebenarnya  ghulul (mengambil sendiri harta rampasan perang sebelum 

dibagi) yaitu  aib, dan noda buruk di Hari Kiamat." 

Seorang laki-laki Anshar datang dengan membawa gulungan benang dari rambut dan berkata: "Wahai 

Rasulullah, aku mengambil gulungan benang dari rambut ini dan memanfaatkannya sebagai alas 

pelana kendaraanku yang telah rusak." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika ini 

bagianku dari rampasan perang maka kau tetap bisa saja menyimpannya bersamamu." Orang dari 

kaum Anshar ini  berkata: "Kalau hanya ini, aku tidak membutuhkannya." Orang ini  pun 

lalu membuangnya. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah membagikan jatah kepada para muallaf, khususnya para tokoh 

terpandang setiap kaum yang diharapkan dapat menaklukkan dan meluluhkan hati kaum mereka. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menganugrahi Abu Sufyan bin Harb seratus unta, Muawiyah 

bin Abu Sufyan bin Harb sebanyak seratus unta, Hakim bin Hizam sebanyak seratus unta. Al-Harits bin 

Al-Harits bin Kaldah saudara Bani Abdduddar seratus unta. 

Ibnu Hisyam berkata: la yaitu  Nushair bin Al-Harits bin Kaladah, Suhail bin Amr seratus unta, 

Huwaithib bin Abdul Uzza bin Abu Qais seratus unta, Al-Ala' bin Jariyah Ats-Tsaqafi sekutu Bani Zuhrah 

seratus unta, Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr seratus unta, Al-Aqra' bin Habis At-Tamimi 

seratus unta, Malik bin Auf An-Nashri seratus unta, dan Shafwan bin Umayyah seratus unta. Semua 

mendapat  seratus unta. 

Selain itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam juga memberi sejumlah orang-orang Quraisy unta di 

bawah jumlah seratus ekor. Mereka yaitu  Makhramah bin Naufal Az-Zuhri, Umair bin Wahb Al-

Jumahi, dan Hisyam bin Amr saudara Bani Amir bin Luay. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menghadiahi Sa'id bin Yarbu' bin Ankatsah bin Amir bin 

Makhzum lima puluh unta, As-Sahmi -Ibnu Hisyam berkata: nama aslinya Adi bin Qais- lima puluh 

unta. Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang ulama yang tidak aku ragukan kejujurannya bercerita 

kepadaku dalam sanadnyz. dari Ibnu Syihab Az-Zuhri dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utbah dari Ibnu 

Abbas Radhiyallahu Anhuma ia berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membaiat orang-

orang Quraisy dan yang lain. lalu  pada Perang Ji'ranah beliau membagi jatah kepada mereka 

dari ghanimah Perang Hunain. 

Dari Bani Umayyah bin Abdu Syams, mereka yaitu : Abu Sufyan bin Harb bin Umaiyah, Thaliq bin 

Sufyan bin Umayyah, Khalid bin Usaid bin Abu Al-Ish bin Umayyah. 

Dari Bani Abduddar bin Qushai mereka yaitu : Syaibah bin Utsman bin Abu Thalhah bin Abdul Uzza 

bin Utsman bin Abduddar, Abu As-Sanabil bin Ba'kak bin Al-Harits bin Umailah bin As-Sabbaq bin 

Abduddar, Ikrimah bin Amir bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar. 

Dari Bani Makhzum bin Yaqadzah, mereka yaitu : Zuhair bin Abu Umaiyah bin Al-Mughirah, Al-Harits 

bin Hisyam bin Al-Mughirah, Khalid bin Hisyam bin Al-Mughirah, Hisyam bin Al-Walid bin Al-Mughirah, 

Sufyan bin Abdul Asad bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, As-Saib bin Abu As-Saib bin Aidz bin 

Abdullah bin Umar bin Makhzum. 

Dari Bani Adi bin Ka'ab, mereka yaitu : Muthi' bin Al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah, Abu Jahm bin 

Hudzaifah bin Ghanim. 

Dari Bani Jumah bin Amr, mereka yaitu : Shafwan bin Umaiyah bin Khalaf, Uhaihah bin Umaiyah bin 

Khalaf, Umair bin Wahb bin Khalaf. 

Dari Bani Sahm ialah Adi bin Qais bin Hudzafah. 

Dari Bani Amir bin Luay, mereka yaitu : Huwaithib bin Abdul Uzza bin Abu Qais bin Abdu Wudd, 

Hisyam bin Amr bin Rabi'ah bin Al-Harits bin Hubaib. 

Orang-orang dari suku selain Quraisy yang memperoleh ghanimah (harta rampasan) Perang Hunain, 

mereka yaitu  sebagai berikut: 

Dari Bani Bakr bin Abdu Manat bin Kinanah ialah Naufal bin Muawiyah bin Urwah bin Shakhr bin Razn 

bin Ya'mar bin Nufatsah bin Adi bin Ad-Dail. 

Dari Bani Qais lalu  dari Bani Amir bin Shasha'ah lalu  dari Bani Kilab bin Rabi'ah bin Amir 

bin Shasha'ah: Alqamah bin Ulatsah bin Auf bin Al-Ahwash bin Ja'far bin Kilab, Labid bin Rabi'ah bin 

Malik bin Ja'far bin Kilab. 

Dari Bani Amir bin Rabi'ah: Khalid bin Haudzah bin Rabi'ah bin Amr bin Amir bin Rabi'ah bin Amir bin 

Shasha'ah, Harmalah bin Haudzah bin Rabi'ah bin Amr. 

Dari Bani Nashr bin Muawiyah yaitu  Malik bin Auf bin Sa'id bin Yarbu'. Dari Bani Sulaim bin Manshur 

yaitu  Abbas bin Mirdas bin Abu Amir, dari Bani Al-Harts bin Buhtsah bin Sulaim. 

Dari Bani Ghathafan lalu dari Bani Fazarah ialah Uyainah bin Hishn bin Hudzaifah bin Badr. 

Dari Bani Tamim lalu Bani Handzalah ialah Al-Aqra' bin Habis bin Iqal dari Bani Mujasyi. 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harts At-Tamimi bercerita kepadaku bahwa 

seseorang laki-laki berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Rasulullah, kenapa 

engkau memberi Uyainah bin Hishn dan Al-Aqra' bin Habis masing-masing seratus unta, Ju'ail bin 

Suraqah Adh-Dhamri tidak diberi sedikitpun?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Demi 

Allah, asal kau tahu saja Juail bin Suraqah itu yaitu  manusia terbaik. Hanya saja aku memberikan 

Uyainah bin Hishn dan Al-Aqra' bin Habis berharap agar hati keduanya luluh sehingga masuk Islam." 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Ubaidah bin Muhammad bin Ammar bin Yasir bercerita kepadaku dari 

Miqsam Abu Al-Qasim mantan budak Abdullah bin Al-Harits bin Naufal, ia bercerita: Aku bersama Talid 

bin Kilab Al-Laitsi bertanya kepada Abdullah bin Amr bin Al-Ash: "Apakah engkau menyaksikan 

langsung saat At-Tamimi mengkritik Rasulullah di Perang Hunain?" Abdullah bin Amr bin Al-Ash 

berkata: "Ya, Dzu Al-Khuwaishirah yang berasal dari Bani Tamim mendatangi Rasulullah saat beliau 

membagi-bagi rampasan perang kepada manusia. Dzu Al-Khuwaishirah berkata: "Wahai Muhammad, 

aku sudah melihat sendiri apa yang engkau perbuat pada hari ini." Rasulullah bersabda: "Lalu 

bagaimana pendapatmu?" Dzu AI-Khuwaishirah berkata: "Menurutku apa yang kau lakukan ini tidak 

adil." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam marah lalu  bersabda: "Parah sekali kau ini, jika aku 

saja dianggap tidak adil lalu siapa lagikah yang bisa berbuat adil?" Umar bin Khaththab berkata: 

"Wahai Rasulullah, izinkan aku menghabisi orang ini." Rasulullah bersabda: "Jangan. Abaikan saja ia 

karena nanti ia akan pengikut yang ahli dalam agama, namun sayangnya mereka keluar dari agama, 

seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Ia terlihat di pedang, namun tak ada apapun di dalamnya. 

Ia terlihat di panah, tidak terdapat apapun di dalamnya. Ia terlihat di belahan ujung anak panah, 

ternyata tetap sama, tak ada apa-apa juga. Kotoran dan darah telah lebih dahulu berlalu."198 

 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ali bin Al-Husain Abu Ja'far bercerita kepadaku seperti cerita Abu 

Ubaidah di atas dan ia menamakan orang yang bersangkutan Dzu Al-Khuwaishirah. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Naji menceritakan kisah yang sama kepadaku dari ayahnya. 

Ibnu Hisyam berkata: Ziyad bin Abdullah bercerita kepadaku, Ibnu Ishaq bercerita kepadaku, Ashim 

bin Umar bin Qatadah bercerita kepadaku dari Mahmud bin Labid dari Abu Sa id Al-Khudri 

Radhiyallahu Anhu yang berkata: Pada saat Rasulullah membagi-bagi rampasan perang kepada orang-

orang Quraisy, suku-suku Arab, dan tidak memberikan sedikit pun kepada kaum Anshar, maka kaum 

Anshar bersedih hati dan merasa tidak diang- gap sama sekali sampai-sampai Sa'ad bin Ubadah 

menemui Rasulullah dan menyampaikan keberatan mereka. Rasulullah lalu menyuruh Sa'ad bin 

Ubadah mengumpulkan kaum Anshar di tempat penginapan unta. Tatkala kaum Anshar telah 

berkumpul, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka: "Wahai seluruh kaum 

Anshar, keluhan kalian telah aku terima? Apa kalian tidak puas dengan yang kulakukan? Bukankah aku 

datang kepada kalian yang dulu tersesat sesudah  itu Allah memberi petunjuk pada kalian, yang dulunya 

miskin sesudah  itu Allah mengkayakan kalian, dan yang dulunya bermusuhan sesudah  itu Allah 

menyatukan hati kalian?" Kaum Anshar menjawab: "Benar. Allah dan Rasul-Nya yang lebih utama." 

Rasulullah melanjutkan sabdanya: "Mengapa kalian diam saja dan tidak menanggapi ucapanku, hai 

kaum Anshar?" Kaum Anshar berkata: "Apa yang harus kami tanggapi, wahai Rasulullah? Karunia dan 

keutamaan hanyalah milik Allah dan Rasul-Nya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda lagi: 

"Demi Allah, jika kalian mau, kalian pasti berbicara, kalian berkata benar, dan dibenarkan. Kalian akan 

mengatakan, begitu pun denganmu, datang kepada kami saat kau didustakan lalu  kami 

membenarkanmu, engkau terlantar lalu  kami menolongmu, engkau terusir lalu  kami 

menyambutmu dan menerimamu di tengah kami, dan engkau miskin lalu  kami 

mengkayakanmu. Hai kaum Anshar, secuil dunia inikah yang kalian persoalkan, padahal itu hanya 

untuk meluluhkan hati mereka agar masuk Islam, sedang aku menyerahkan kalian kepada keislaman 

kalian? Hai kaum Anshar, apa kalian tidak bahagia sekiranya orang-orang itu pulang membawa 

kambing-kambing dan unta-unta, sedang kalian pulang membawa Rasulullah ke tempat kalian? Demi 

Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, kalaulah tidak karena peristiwa hijrah, pastilah aku 

menjadi salah seorang dari kaum Anshar. Jika manusia dan kaum Anshar melewati dua jalan berbeda, 

aku pasti berjalan di jalan yang dilewati kaum Anshar. Ya Allah, sayangilah dan kasihilah kaum Anshar, 

anak-anak kaum Anshar, dan cucu-cucu kaum Anshar." Kaum Anshar pun luluh, air mata mereka 

berderai hingga jenggot mereka basah karenanya. Mereka berkata: "Kami sangat bahagia Rasulullah-

menjadi bagian kami." sesudah  itu, Rasulullah pergi dan kaum Anshar pun berpencar.199 

 

Umrah Rasulullah dari Ji'ranah dan Penunjukan Attab bin Usaid Sebagai Wakilnya di Mekkah 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah meninggalkan Ji'ranah menuju Makkah untuk berumrah dan 

memerintahkan sisa-sisa fa'i untuk disimpan di Majannah, salah satu daerah di Marr Adh-Dhahran. 

Sesudah berumrah, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pulang ke Madinah dan menunjuk Attab 

bin Usaid sebagai wakil beliau di Makkah, dan menunjuk Muadz bin Jabal di Makkah untuk 

mengajarkan perkara-perkara agama dan Al-Qur'an kepada kaum Muslimin. Rasulullah kembali ke 

Madinah dengan membawa sisa-sisa fa'i. 

Ibnu Hisyam berkata: Diberitakan kepadaku dari Zaid bin Aslam bahwa ia berkata: Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengamanahi Attab bin Usaid sebagai pejabat beliau di Makkah, beliau 

mengupahnya satu dirham per hari. Attab bin Usaid berdiri dan berkhutbah kepada manusia: "Hai 

manusia, kenapa kalian mengeluh kelaparan dengan dengan uang satu dirham. Sungguh Rasulullah 

mengupahku satu dirham per hari. Bahkan dengan jumlah ini , aku sudah tidak lagi 

membutuhkan siapa pun." 

Ibnu Ishaq berkata: Umrah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di atas terjadipada bulan 

Dzulqa'dah. Rasulullah kembali pulang ke Madinah pada akhir bulan Dzulqadah atau di awal bulan 

Dzulhijjah. 

Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sampai di Madinah pada tanggal dua 

puluh empat bulan Dzulqa'dah seperti dikatakan Abu Amr Al-Madani. 

Ibnu Ishaq berkata: Pada tahun itu, orang-orang Arab menunaikan ibadah haji sebagaimana biasanya. 

Pada tahun itu juga, Attab bin Usaid menunaikan ibadah haji bersama kaum Muslimin pada tahun 

kedelapan hijriyah. Pada tahun itu juga, orang-orang Thaif masih belum bisa meninggalkan 

kemusyrikan mereka antara bulan Dzulqa'dah sejak Rasulullah pulang ke Madinah hingga bulan 

Ramadhan tahun ke sembilan Hijriyah. 

 

Perang Tabuk Bulan Rajab Tahun Kesembilan Hijriyah 

Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam berkata: Ziyad bin Abdullah Al-Bakkai bercerita kepadaku 

dari Muhammad bin Ishaq Al-Muthalibi yang berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tinggal 

di Madinah antara bulan Dzulhijjah hingga Rajab, dalam rentang waktu ini  beliau menyiapkan 

pasukan perang kaum muslimin untuk menyerbu Romawi. 

Ibnu Hisyam berkata: Az-Zuhri, Yazid bin Ruman, Abdullah bin Abu Bakr, Ashim bin Umar bin Qatadah, 

dan ulama-ulama kami lainnya, semuanya bercerita kepadaku. Mereka berkata: Saat akan terjadinya 

Perang Tabuk kaum Muslimin mengalami masa-masa sulit, cuaca panas membakar, sedang musim 

panas, buah-buahan mulai ranum, orang-orang lebih menyukai berada di buah-buahan mereka dan 

tempat tempat bernaung mereka, serta tidak suka berangkat dalam kondisi seperti itu karena 

perjalanannya sangat jauh dan banyaknya musuh yang ingin beliau tuju. Dan pada saat beliau tengah 

bersiap-siap untuk perang, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Al-Jadd bin Qais, 

salah seorang dari Bani Salamah: "Hai Al-Jadd, apa kau akan ikut memerangi orang-orang berkulit 

pucat (bangsa Romawi)?" Al-Jadd bin Qais berkata: "Wahai Rasulullah, berilah aku izin untuk tidak ikut 

dan janganlah engkau libatkan aku ke dalam fitnah wanita, karena aku yaitu  laki-laki yang lebih 

gampang tertarik kepada perempuan dibandingkan  aku. Oleh karena itu, aku khawatir jika aku melihat 

wanita-wanita berkulit pucat, aku tidak mampu sabar. Rasulullah memalingkan muka dari Al-Jadd bin 

Qais dan bersabda: "Aku memberimu izin." Tentang Al-Jadd bin Qais ini, turunlah wahyu Allah: 

 

Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah 

kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah." Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke 

dalam fitnah. Dan sebenarnya  Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orangyang kafir. (QS. at-

Taubah: 49). Maksudnya yaitu  seandainya saja Al-Jadd bin Qais benar-benar kuatir tergoda wanita- 

wanita Romawi, dan mengharapkan itu tidak akan terjadi padanya. Harusnya fitnah yang ia telah jatuh 

ke dalamnya itu, yaitu tidak ikut berangkat perang bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

dan lebih mencintai dirinya dibandingkan  diri beliau lebih ia khawatirkan lagi karena fitnah itu lebih besar 

dari wanita. Oleh karena itulah, Allah Taala berfirman: sebenarnya  Jahannam benar-benar ada di 

belakangnya. 

 

Orang-orang Munafik 

Orang-orang munafik saling berkata-kata: "Musim panas terik seperti ini sebaiknya kita tetap di sini 

saja dan tidak ikut berangkat." sesudah  itu Allah Tabaraka wa Taala menurunkan ayat tentang mereka: 

 

Orang-orangyang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka 

di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan 

Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini." 

Katakanlah: "Api neraka Jahanam itu lebih sangat panas (nya)",jika mereka mengetahui. Maka 

hendaklah mereka tertawa sedikit dan menangis banyak, sebagai pembalasan dari apa yang selalu 

mereka kerjakan. (QS. at-Taubah: 81-82). 

Ibnu Hisyam berkata: Orang yang aku percaya bercerita kepadaku dari seseorang yang berkata 

kepadanya dari Muhammad bin Thalhah bin Abdurrahman dari Ishaq bin Ibrahim bin Abdullah bin 

Haritsah dari ayahnya dari kakeknya ia berkata: Orang-orang munafik berkumpul di rumah Suwailim 

seorang Yahudi yang terletak di Jasum. Orang-orang munafik mengompori manusia agar mereka tidak 

berangkat bersama Rasulullah di Perang Tabuk. Mengetahui kondisi itu Rasulullah lalu mengutus 

Thalhah bin Ubaidillah beserta sejumlah sahabat dan memerintahkan mereka membakar rumah 

Suwailim. Thalhah bin Ubaidillah dan anak buahnya melaksanakan perintah Rasulullah. Adh-Dhahhak 

bin Khalifah meloncat dari atas rumah Suwailim hingga kakinya patah dan sahabat-sahabatnya 

menyerbu, sementara mereka melarikan diri. 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah tetap bergairah untuk berangkat, memerintahkan manusia bersiap-siap 

dan menyeru orang-orang kaya supaya berinfak dan membiayai jihad di menyumbang dalam jumlah 

yang banyak sekali. 

Ibnu Hisyam berkata: Orang yang aku percayai bercerita kepadaku bahwa Utsman bin Affan 

Radhiyallahu Anhu berinfak sebanyak seribu dinar untuk membantu para tentara yang mengalami 

kesulitan (Jaisy al-'usrah) di Perang Tabuk. Rasulullah bersabda: "Ya Allah, ridhailah Utsman, 

sebagaimana aku ridha padanya." 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah telah menentukan waktu pemberangkatan. Namun di lain pihak, 

beberapa orang dari para sahabat kurang mempersiapkan diri dengan baik hingga mereka tertinggal 

dari beliau bukan karena mereka munafik, di antara mereka yaitu  Ka'ab bin Malik bin Abu Ka'ab 

saudara Bani Salamah, Murarah bin Rabi' saudara Bani Amr bin Auf, Hilal bin Umayyah saudara Bani 

Waqif, dan Abu Khaitsamah saudara Bani Salim bin Auf. Mereka yaitu  orang-orang jujur dan dengan 

keislaman yang meyakinkan. Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berangkat, beliau 

membuat tenda di Tsaniyyatul Wada'. 

Ibnu Hisyam berkata: Rasulullah menunjuk Muhammad bin Maslamah Al-Anshari sebagai wakil beliau 

di Madinah. Abdul Aziz bin Muhammad Ad-Darawardi berkata dari ayahnya dari Rasulullah bahwa 

tatkala beliau berangkat ke Tabuk, beliau menunjuk Siba' bin Urfuthah sebagai wakil sementara beliau 

di Madinah. 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Ubay bin Salul memancangkan tendanya menyendiri di bawah 

Rasulullah menghadap ke Gunung Dzubab. Para ulama berkata bahwa tenda Abdullah bin Ubay bin 

Salul bukan kemah yang kecil. Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam meneruskan perjalanan, 

Abdullah bin Ubay bin Salul bersama orang-orang munafik dan orang-orang yang hati mereka diliputi 

keraguan tidak ikut berangkat bersama Sang Nabi. 

 

Kondisi Ali Pada Perang Tabuk 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah mempercayakan Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu untuk menjaga 

keluarga beliau dan tak disangka hal ini dijadikan isu panas oleh orang-orang munafik. Tak tinggal 

diam, Ali bin Abu Thalib mengambil senjata dan cepat-cepat berangkat hingga berhasil menyusul 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang tatkala itu berhenti di Al-Jurf. Ali bin Abu Thalib berkata: 

"Wahai Nabi Allah, orang-orang munafik menebarkan isu bahwa engkau meninggalkanku di Madinah 

karena aku dianggap memberatkanmu dan agar engkau menjadi ringan tanpa aku." Rasulullah 

bersabda: "Mereka dusta. Aku meninggalkanmu di Madinah untuk menjaga keluargaku, oleh karena 

itu, pulanglah dan jagalah keluargaku dan keluargamu. Wahai Ali, apakah engkau tidak rela jika 

kedudukanmu di sisiku itu bagaikan kedudukan Nabi Harun di sisi Nabi Musa? Namun tidak ada nabi 

sesudah ku."200 Ali bin Abu Thalib pun kembali ke Madinah, sementara Rasulullah melanjutkan 

perjalanan. 

 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Thalhah bin Yazid bin Rukanah bercerita kepadaku dari Ibrahim 

bin Sa'ad bin Abu Waqqash dari ayahnya, Sa'ad bin Abu Waqqash, bahwa ia mendengar Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda demikian sebagaimana disebutkan di atas kepada Ali bin Abu 

Thalib Radhiyallahu Anhu. 

Nabi dan Kaum Muslimin di Hijr 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shal- lalahu 'alaihi wa Sallam berjalan menyusuri Al-Hijr, beliau 

beristirahat di sana dan para sahabat mengambil air dari sumurnya. Para sahabat mentaati perintah 

Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam ini , kecuali dua orang dari Bani Saidah. Salah seorang dari 

mereka berdua keluar untuk buang hajat, sedang yang satu lagi keluar mencari untanya. Orang yang 

keluar untuk buang hajat tercekik di tempat buang hajatnya. Sementara temannya yang mencari 

untanya, terbawa angin hingga terlempar di dua gunung Thayyi'. Peristiwa ini dilaporkan kepada 

Rasulullah lalu  beliau mendoakan orang yang tercekik di tempat buang hajat lalu  ia 

sembuh. Adapun orang satunya terlempar angin di dua gunung Thayyi', orang-orang Thayyi' 

menyerahkannya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tatkala beliau kembali ke Madinah. 

Ibnu Hisyam berkata: Disampaikan kepadaku dari Az-Zuhri yang berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam berjalan menyusuri Al-Hijr sembari bersabda: "Rumah orang-orang yang berbuat 

zalim tidak boleh kalian masuki, kecuali kalian dalam keadaan menangis karena khawatir tertimpa 

musibah seperti yang mereka alami."201 

 

Ibnu Ishaq berkata: Keesokan harinya, kaum Muslimin mencari-cari air namun mereka tidak 

menemukannya, lalu hal ini  dilaporkan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang 

lalu  berdoa. Tak lama berselang, Allah mengirim awan yang menurunkan air hujan hingga kaum 

Muslimin tidak lagi kehausan dan bisa membawa perbekalan air sesuai kebutuhan mereka. 

 

Abu Dzar al-Ghifari 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah lalu melanjutkan perjalanannya. Namun tak disangka salah seorang 

sahabatnya, yaitu Abu Dzar tertinggal karena untanya berjalan lamban. Abu Dzar mencela untanya 

yang berjalan seperti siput. Karena untanya tetap berjalan lamban, Abu Dzar lalu meninggalkannya 

lalu mengejar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Di saat yang sama, Rasulullah berhenti di salah 

satu jalan, tiba-tiba salah seorang dari kaum Muslimin melihat bayangan hitam lalu  ia berkata: 

"Wahai Rasulullah, ada orang berjalan kaki sendirian." Rasulullah bersabda: "Dialah Abu Dzar." Tatkala 

orang-orang melihatnya, mereka berkata: "Wahai Rasulullah, demi Allah, betul sekali dia itu Abu 

Dzar." Rasulullah bersabda: "Semoga Allah merahmati Abu Dzar yang berjalan sendirian, meninggal 

sendirian, dan dibangkitkan di hari kiamat sendirian." 

Ibnu Ishaq berkata: Buraidah bin Sufyan Al-Aslami bercerita kepadaku dari Muhammad bin Ka'ab Al-

Quradhi dari Abdullah bin Mas'ud yang berkata: Tatkala Utsman bin Affan mengisolir Abu Dzar ke Ar-

Rabadzah dan ia menemui takdirnya, ia hanya bersama dengan istri dan budaknya. 

Ibnu Ishaq berkata: Di tengah perjalanan menuju Tabuk Rasulullah dibuntuti beberapa orang munafik, 

seperti Wadi'ah bin Tsabit saudara Bani Amr bin Auf dan salah seorang dari Asyja sekutu Bani Salamah 

yang bernama Mukhasysyin bin Humayyir. Mereka mengeluarkan ucapan yang menakut-nakuti dan 

menggoyahkan sikap kaum Muslimin. Rasulullah mendengar hal ini  dan marah kepada mereka, 

lalu  mereka mendatangi Rasulullah guna meminta maaf kepada beliau. Wadi'ah bin Tsabit 

berkata dengan memegang tali kekang unta Rasulullah yang saat berada di atas unta: "Wahai 

Rasulullah, kami hanya bersenda-gurau dan bermain-main saja." sesudah  itu Allah menurunkan firman-

Nya: 

 

Danjika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan 

menjawab: "sebenarnya  kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah: 

"Apakah dengan Allah, ayat- ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" (QS. at-Taubah: 65) 

Di antara orang yang dimaafkan di ayat tadi ialah Mukhasysyin bin Humayyir yang merubah namanya 

menjadi Abdurrahman. Ia memohon kepada Allah agar dirinya gugur sebagai syahid yang tempat 

syahidnya tidak diketahui manusia. lalu  ia gugur di Perang Yamamah tanpa diketahui tempat 

syahidnya. 

 

Surat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Pada Johannes 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah tiba di Tabuk, beliau didatangi Johannes bin Ru'bah, penguasa 

Aylah, yang lalu  berdamai dengan beliau dan dia bersedia membayar jizyah. Begitupula dengan 

penduduk Jarba' dan Adzruh yang lalu  membayar jizyah pula. Rasulullah menulis surat 

perjanjian untuk mereka dan sampai sekarang surat perjanjian ini  masih berada di tangan 

mereka. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menulis surat perjanjian untuk Johannes bin Ru'bah 

seperti berikut: 

Bismillahirrahmanirrahim. Ini yaitu  jaminan keamanan dari Allah dan Muhammad, Nabi dan 

Rasulullah, untuk Johannes bin Ru'bah dan penduduk Aylah yang mencakup kapal-kapal dan 

kendaraan-kendaraan bisnis mereka di darat dan laut. Mereka berhak mendapat  jaminan Allah 

dan jaminan Muhammad, termasuk penduduk Syam, Yaman, dan Al-Bahr. Barangsiapa di antara 

mereka membangkang dan membuat ulah, harta tidak terlindungi lagi dan menjadi halal bagi siapa 

saja di antara manusia yang menemukannya. Orang-orang selain mereka pun berhak mendatangi 

mata air dan berjalan di salah satu jalan yang mereka inginkan; di daratan maupun di lautan. 

 

Penawanan Ukaidir dan Perdamaian Dengann