ndaraan yang mereka berdua
tunggangi ditusuk lambungnya oleh Al-Huwairits bin Nuqaidz hingga mereka berdua terjatuh ke tanah.
Ibnu Ishaq berkata: Juga Miqyas bin Hubabah. Rasulullah memerintahkan untuk membunuh Miqyas
bin Hubabah, karena ia telah membunuh salah seorang kaum Anshar yang membunuh saudaranya
dengan tidak sengaja, selain itu, ia telah murtad dan pulang ke orang-orang Quraisy dalam keadaan
musyrik.
lalu Sarah mantan budak salah seorang dari Bani Abdul Muthalib, dan Ikrimah bin Abu Jahal.
Sarah termasuk salah seorang yang menyakiti Rasulullah dari kalangan wanita saat di Makkah.
Sedangkan Ikrimah bin Abu Jahal, ia melarikan diri ke Yaman, adapun istrinya, Ummu Hakim binti Al-
Harits bin Hisyam, masuk Islam yang lalu memintakan jaminan keamanan untuknya kepada
Rasulullah dan beliau pun mengabulkan permintaannya. sesudah itu, Ummu Hakim binti Al-Harits pergi
mencari suaminya ke Yaman hingga akhirnya berhasil membawanya kepada Rasulullah dan
Ikrimahpun masuk Islam.
Abdullah bin Khathal dibunuh oleh Sa'id bin Harits Al-Makhzumi dan Abu Barzah Al-Aslami.
Sedangkan Miqyas bin Shubabah dibunuh oleh Numailah bin Abdullah, seorang yang berasal dari
kaumnya sendiri.
Adapun dua penyanyi wanita Abdullah bin Khathal, salah satunya dibunuh, sedang yang lainnya
melarikan diri, lalu ia meminta jaminan keamanan kepada Rasulullah dan beliau mengabulkan
permintaannya.
Sajah juga meminta jaminan keamanan kepada Rasulullah dan beliau mengabulkannya. lalu dia
pun hidup dalam keamanan hingga pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab, ia
diterjang oleh kuda milik seseorang di Al-Abthah sebuah lembah di Makkah, akhirnya ia meninggal
dunia.
Adapun Al-Huwairits bin Nuqaidz dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib.
Ibnu Ishaq berkata: Sa'id bin Abu Hindun meriwayatkan kepadaku dari Abu Murrah mantan budak Aqil
bin Abu Thalib bahwa Ummu Hani' binti Abu Thalib berkata: Saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam ber- henti di bagian atas kota Makkah, dua orang pamanku yang berasal dari Bani Makhzum
lari menghapiriku -Saat itu, Ummu Hani' dinikahi oleh Abu Habuirah bin Abu Wahb Al-Makhzumi.
Adapun saudaraku, Ali bin Abu Thalib, menghampiriku dan berkata: "Demi Allah, aku akan membunuh
dua orang ini." Aku pun segera menutup pintu rumahku demi melindungi mereka berdua, dan akupun
pergi ke tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di bagian atas kota Makkah. Aku melihat beliau
sedang mandi dengan menggunakan bejana yang padanya terdapat bekas adonan roti, dan Fathimah
menutupinya dengan kain. Seusai mandi, beliau mengenakan pakaian lalu melaksanakan shalat Dhuha
sebanyak delapan raka'at. lalu beliau datang menemuiku dan bersabda: "Selamat datang wahai
Ummu Hani, ada apa engkau datang ke sini?" Aku pun menjelaskan kepada beliau perihal dua orang
yang berada di rumahku dan keinginan Ali bin Abu Thalib untuk membunuh keduanya. Lalu beliau
bersabda: "Aku melindungi orang yang engkau lindungi dan memberi keamanan kepada orang yang
engkau beri keamanan. karena itu, jangan sekali-kali Ali bin Abu Thalib membunuh kedua orang
ini ."187
Ibnu Hisyam berkata: Kedua orang ini yaitu Al-Harits bin Hisyam dan Zuhair bin Abu Umaiyyah
bin Al-Mughirah.
Rasulullah Thawaf di Baitullah dan Ucapannya di dalam Ka'bah
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ja'far bin Zubair meriwayatkan kepadaku dari Ubaidillah bin
Abdullah bin Abu Tsaur dari Shafiyyah binti Syaibah, ia berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam masuk ke Makkah dan seluruh manusia telah merasa tenang, beliau pun mendatangi
Baitullah dan melaksanakan thawaf di atas unta sebanyak tujuh kali putaran dan mengusap rukun
dengan tongkat. Selepas melakukan thawaf, beliau mengambil kunci Ka'bah dari Utsman bin Thalhah.
Beliau membuka pintu Ka'bah, memasukinya, mendapati patung burung merpati dari kayu, lalu
beliau memecahkan patung ini dengan tangannya lalu membuangnya.
lalu Rasulullah berdiri di depan Ka'bah, dan orang-orang berkumpul di Masjidil Haram.
Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang ulama meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam berdiri di pintu Ka'bah seraya bersabda: "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah
selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya, dan
menaklukkan pasukan sekutu dengan sendirian. Ketahuilah, seluruh kemuliaan, atau darah, atau
kekayaan yang didakwakan itu berada di bawah kedua kakiku ini, kecuali pelayan Ka'bah dan pemberi
minuman kepada jama'ah haji. Ketahuilah, korban pembunuhan karena ketidak sengajaan itu sama
dengan pembunuhan "mirip sengaja" seperti membunuh dengan cambuk atau tongkat, maka diyatnya
diperberat yaitu berupa seratus unta; empat puluh ekor diantaranya harus dalam keadaan hamil.
Wahai orang-orang Quraisy, sebenarnya Allah telah menghapuskan semangat Jahiliyah dan
mengagung-agungkan nenek moyang, karena semua manusia berasal dari Adam dan Adam berasal
dari tanah." lalu Rasulullah membaca firman Allah:
Hai manusia, sebenarnya Kami mencipta- kan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
dan menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal.
sebenarnya orangyangpaling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa
di antara kamu. sebenarnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. al-Hujurat: 13).
lalu Rasulullah melanjutkan sabdanya: "Wahai orang-orang Quraisy, menurut kalian kira-kita
apa yang akan aku lakukan kepada kalian." Orang-orang Quraisy menjawab: "Kebaikan. Karena engkau
yaitu saudara yang mulia dan anak saudara yang mulia." Rasulullah bersabda: "Pergilah,
sebenarnya kalian bebas."188
lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam duduk di Masjidil Haram, lalu Ali bin Abu Thalib
datang menemui beliau dengan membawa kunci Ka'bah. Ali bin Abu Thalib berkata: "Wahai
Rasulullah, kumpulkan untuk kami penjaga Ka'bah dan pemberi air minum jama'ah haji, semoga Allah
memberi kesejahteraan untukmu." Rasulullah bersabda: "Dimanakah Utsman bin Thalhah?" Utsman
bin Thalhah pun dipanggil, lalu beliau bersabda: "Inilah kuncimu, wahai Utsman. Hari ini hari
kebaikan dan hari penepatan janji."
Ibnu Hisyam berkata: Sufyan bin Uyaynah menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda kepada Ali bin
Abi Thalib: "Aku hanya memberikan pada kalian apa yang hilang dari kalian dan bukan yang akan hilang
dari orang lain."
Ibnu Hisyam berkata: Beberapa orang ulama meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah memasuki
Baitullah pada hari penaklukan Makkah, lalu beliau melihat lukisan-lukisan tentang para malaikat dan
yang lainnya. Beliau juga melihat lukisan Nabi Ibrahim yang digambarkan dengan memegang dadu
undian di tanganya. Maka beliau bersabda: "Semoga Allah membunuh mereka. Mereka
menggambarkan orang tua kita, Nabi Ibrahim, mengundi dengan undian. Apa hubungan Ibrahim
dengan undian, sedang Allah Ta'ah berfirman:
Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia yaitu seorang yang
lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang
musyrik (QS. Ali Imran: 67). lalu , beliau memerintahkan seluruh lukisan itu dihancurkan.189
Ibnu Hisyam berkata: Beberapa orang ulama meriwayatkan kepadaku bahwa saat Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam memasuki Ka'bah ditemani oleh Bilal, lalu beliau keluar sedangkan
Bilal masih berada di dalam Ka'bah. Tak lama lalu , Abdullah bin Umar masuk menemui Bilal dan
bertanya kepadanya: "Di manakah tadi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengerjakan shalat?
Abdullah bin Umar tidak menanyakan bera pa rakaat beliau mengerjakan shalat. Maka setiap kali
Abdullah bin Umar memasuki Baitullah dia berjalan lurus dan menjadikan pintu Ka bah di belakang
punggungnya hingga antara dirinya dan dinding ada tiga hasta, lalu ia shalat, karena
menghendaki tempat shalatnya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebagaimana yang dikatakan
Bilal kepadanya.
Ibnu Hisyam berkata: Beberapa orang ulama meriwayatkan kepadaku bahwa saat Rasulullah
memasuki Ka'bah pada hari penaklukan Makkah, beliau ditemani oleh Bilal, lalu beliau
menyuruh Bilal mengumandangkan adzan, jika itu Abu Sufyan bin Harb, Attab bin Usaid, dan Al-
Harits bin Hisyam duduk di halaman Ka bah. Attab bin Usaid berkata: "Sungguh Allah telah memu-
liakan Usaid, sebab dulu dia tidak mendengar ini, namun kini ia mendengar apa yang dulu dibencinya."
Al-Harits bin Hisyam berkata: "Demi Allah, jika aku tahu ia (Rasulullah) itu benar, maka aku pasti
mengikutinya." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Aku tidak akan mengatakan apa-apa, sebab bila
mengatakan sesuatu, tongkat ini akan berbicara mewakiliku." lalu Nabi menemui ketiga orang
ini lalu bersabda: "Aku mendengar apa yang kalian katakan tadi. Lalu beliau pun menceri- takan
apa yang telah mereka katakan tadi. Al-Harits bin Hisyam dan Attab bin Usaid berkata: "Kami bersaksi
bahwa engkau yaitu utusan Allah. Demi Allah, tidak ada seorang pun yang bersama kami mengetahui
hal ini, sehingga tidak akan ada yang memberitahukannya kepadamu."
Ibnu Ishaq berkata: Sa'id bin Sandar Al- Aslami meriwayatkan kepadaku dari seseorang dari kaumnya,
ia berkata: "Di antara kami terdapat orang kuat dan pemberani bernama Ahmar Ba'san. Dia selalu
mendengkur dengan keras pada saat tidurnya dan karena dengkurannya itu sehingga mudah untuk
diketahui keberadaannya. Ia tidur di tempat yang jauh dari kampungnya. Bila kaumnya tiba-tiba
mendapat serangan di malam hari, mereka berteriak, "Wahai Ahmar." Ia pun akan segera melompat
laksana singa dan tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya. Suatu jika , pasukan dari
Hudzail datang dengan tujuan kampung Ahmar. Tatkala mereka telah mendekati perkampungan
ini , Ibnu Al-Atswa' Al-Hudzali berkata: "Kalian jangan tergesa-gesa hingga aku memeriksa
situasinya. Jika di sana terdapat Ahmar, maka kita tidak akan menemukan jalan untuk pergi ke sana,
sebab Ahmar mempunyai suara deng- kur yang mudah diketahui." Ibnu Al-Atswa' Al-Hudzali mencari-
cari suaranya. jika ia mendengar suara dengkur Ahmar, ia berjalan menuju tempatnya, lalu
menusukkan pedang ke dadanya hingga tewas. Lalu menyerang kampung ini . Penduduk
kampung ini pun berteriak memanggil "Hai Ahmar." Kini mereka tidak lagi memiliki Ahmar
karena telah tewas terbunuh.
Saat penaklukan Makkah, yaitu pada pagi hari sesudah penaklukan, Ibnu Al-Atswa' Al-Hudzali seorang
musyrik datang ke Makkah untuk melihat langsung dan bertanya tentang kondisi orang-orang di sana.
Saat itulah, ia dilihat oleh orang-orang kabilah Khuza'ah yang mengenalinya. lalu mereka
mengepungnya yang pada saat itu berada di salah satu sisi tembok Makkah. Orang-orang kabilah
Khuza'ah berkata: "Apakah benar engkau orang yang membunuh Ahmar?" Ibnu Al-Atswa Al-Hudzali
menjawab: "Ya, benar. Akulah orang yang membunuh Ahmar. "Apakah yang kalian harapkan?"' Tiba-
tiba Khirasy bin Umaiyyah datang dengan menghunus pedang seraya berkata: "Jauhilah orang ini."
Demi Allah, dengan cara seperti itu, Khirasy bin Umaiyyah ingin menjauhkan orang-orang dari Ibnu Al-
Atswa' Al-Hudzali. Betul, keti- ka kami telah menjauh dari ibnu Al-Atswa' Al-Hudzali, ia menyerangnya
dan menikam perutnya dengan pedang. Demi Allah, aku melihat isi perut Ibnu Al-Atswa Al-Hudzali
terurai keluar dan kedua matanya pelan-pelan terpejam seraya berkata: "Mengapa kalian melakukan
ini, wahai orang-orang kabilah Khuzaah?" Demikianlah peristiwanya hingga akhirnya ia jatuh terkulai
tak berdaya dan tewas.
Rasulullah bersabda: "Hai orang-orang kabilah Khuzaah, hentikanlah tangan kalian dari membunuh.
Sungguh, seandainya pembunuhan itu bermanfaat maka ia akan sangat marak. Karena kalian telah
membunuh seseorang maka aku akan membayar diyatnya."190
Ibnu Ishaq berkata: Abdurrahman bin Harmalah Al-Aslami meriwayatkan kepadaku dari Sa'id bin Al-
Musayyib, ia berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar apa yang dilakukan
oleh Khirasy bin Umaiyyah, beliau bersabda: "sebenarnya Khirasy benar-benar seorang
pembunuh." Sabdanya ini merupakan kecaman terhadap Khirasy.
Ibnu Ishaq berkata: Sa'id bin Abu Sa'id Al-Maqburi meriwayatkan kepadaku dari Abu Syuraih Al-Khuzai,
ia berkata: Pada saat Amr bin Zubair tiba di Makkah untuk memerangi saudaranya, Abdullah bin
Zubair, aku menemui Amr bin Zubair dan berkata kepadanya: "Wahai Amr bin Zubair, duhulu saat
pembebasan kota Makkah aku ikut bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Pada hari itu,
orang-orang dari kabilah Khuzaah menyerang seseorang dari Hudzail dan membunuhnya dalam
keadaan musyrik, lalu Rasulullah berdiri dan memberikan khutbah kepada kami: "Wahai
manusia, sebenarnya Allah telah mengharamkan Makkah sejak hari penciptaan langit dan bumi.
Makkah merupakan tanah haram dan akan terus menjadi tanah mulia hingga hari Kiamat. Sebab itu,
tidak dihalalkan bagi siapapun yang beriman kepada Allah dan hari akhirat untuk menumpahkan darah
di dalamnya dan juga tidak diperbolehkan memotong pepohonnya. Makkah tidak dihalalkan bagi siapa
pun sebelumku dan tidak halal bagi siapa pun sesudah aku meninggal. Makkah tidak dihalalkan kecuali
saat ini sebagai bentuk kemurkaan bagi penduduknya. Ketahuilah, sebenarnya keharaman
(kemuliaan) Makkah telah kembali seperti sebelumnya. Hendaklah orang yang hadir di tempat ini
menyampaikan pesan ini kepada yang tidak hadir. Barangsiapa berkata kepada kalian bahwa
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam telah berperang di Makkah, sampaikanlah padanya bahwa Allah
telah menghalalkan perang ini bagi Rasul-Nya namun tidak menghalalkannya bagi kalian. Wahai orang-
orang kabliah Khuzaah, berhentilah kalian dari membunuh, sungguh jika pembunuhan itu bermanfaat
maka ia akan merajalela. Sungguh karena kalian telah membunuh seseorang maka aku akan
membayar diyatnya. Barangsiapa dibunuh sesudah aku berdiri di tempat ini, maka keluarganya berhak
atas dua pilihan; meminta darah pembunuhnya jika mereka mau atau meminta diyat jika mereka
mau.191
sesudah itu Rasulullah membayar diyat untuk Ibnu Al-Atswa' Al-Hudzali yang dibunuh oleh orang-orang
kabilah Khuza'ah. Amr bin Zubair berkata kepada Abu Syuraih: "Pergilah engkau wahai orang tua,
karena aku lebih tahu tentang kemuliaan Makkah dibandingkan mu. sebenarnya keharaman (kemuliaan)
Makkah tidak bisa menahan Pelaku pembunuhan, orang yang tidak taat, dan orang yang tidak
membayar jizyah." Abu Syuraih berkata: "Aku hadir sedangkan engkau tidak hadiri. Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerin- tahkan siapa saja yang hadir pada peristiwa itu untuk
menyampaikannya kepada yang tidak hadir. Aku telah menyampaikan pesan Rasul itu kepadamu,
maka terserah padamu."
Ibnu Hisyam berkata: seseorang meriwayatkan kepadaku bahwa korban yang pertama kali dibayar
diyatnya oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ialah Junaidib bin Al-Akwa yang dibunuh oleh
Bani Kaab. Beliau memberi diyat atas kematiannya dengan seratus unta.
Kekhawatiran Orang-orang Anshar Akan Menetapnya Kembali Rasulullah di Makkah dan Upaya
Rasulullah Menenangkan Mereka
Ibnu Hisyam berkata: Diriwayatkan kepadaku dari Yahya bin Sa'id bahwa pada hari pembebasan
Makkah, Rasulullah berdiri di atas bukit Shafa untuk berdoa kepada Allah dan dikelilingi kaum Anshar.
Orang-orang Anshar berkata satu sama lainnya: "Apakah kalian memiliki pemikiran Jika Allah memberi
kemenangan kepada Rasul-Nya dan berhasil menaklukan negerinya, ia akan menetap di sana?"
sesudah selesai berdoa, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada mereka: "Apa yang
tadi kalian katakan?" Kaum Anshar menjawab: "Kami tidak mengatakan apa-apa, wahai Rasulullah."
Rasulullah tetap bersama orang-orang Anshar hingga mereka menjelaskan kepada beliau apa yang
telah mereka perbincangkan, lalu beliau bersabda: "Aku berilndung kepada Allah. Kehidupanku
yaitu bersama kalian dan kematianku yaitu bersama kalian."
Roboh dan Runtuhnya Berhala-berhala dengan Isyarat Rasulullah
Ibnu Hisyam berkata: Seorang perawi yang sangat aku percayai meriwayatkan kepadaku dalam
sanadnya dari Ibnu Syihab Az-Zuhri dari Ubaidillah bin Abdullah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, ia
berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam masuk ke Makkah pada hari pembebeasan Kota itu
dengan menaiki unta lalu mengelilinginya. Banyak terdapat berhala-berhala yang diikat dengan timah
di sekitar Ka'bah, lalu beliau memberi isyarat pada patung-patung ini dengan potongan
kayu yang beliau pegang seraya membaca ayat:
Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap." sebenarnya yang batil itu
yaitu sesuatu yang pasti lenyap (QS. al-Isra': 81).192
Setiap Rasulullah berisyarat ke wajah sebuah berhala, maka ia pasti terjungkal ke bela kang dan setiap
kali beliau memberi isyarat ke tengkuk suatu berhala maka berhala ini jatuh tersungkur.
Demikianlah hingga semua berhala jatuh. Tentang peristiwa ini, Tamim bin Asad Al-Khuza'i bertutur:
Pada berhala-berhala itu ada pelajaran dan ilmu
Untuk orang yang mengharap pahala atau adzab
Jalan Fadhalah Masuk Islam
Ibnu Hisyam berkata: Diriwayatkan kepadaku bahwa Fadhalah bin Umair bin Al-Mulawwah Al-Laitsi
berniat membunuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam saat beliau melaksanakan thawaf di
Baitullah pada hari pembebasan Makkah. Saat ia telah berdekatan dengan Rasulullah, beliau bersabda
kepadanya: "Apakah betul engkau Fadhalah?" Fadhalah bin Umair menjawab: "Benar, wahai
Rasulullah, akulah Fadhalah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apa yang telah
engkau katakan kepada dirimu?" Fadhalah bin Umair menjawab: "Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku
hanya berdzikir kepada Allah." Rasulullah tertawa lalu bersabda, "Wahai Fadhalah, mohon ampunlah
engkau kepada Allah." Usai bersabda seperti itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam meletakkan
tangannya di dada Fadhalah bin Umair hingga ia merasa tenang." Fadhalah bin Umair berkata: "Demi
Allah, sebelum Rasulullah mengangkat tangannya dari dadaku, tiba-tiba tidak ada orang yang aku lebih
cintai melebihi dirinya." sesudah itu, aku pulang. Dalam perjalanan ke rumah, aku bertemu dengan
wanita. Teman wanitaku berkata: "Marilah kita berbincang sejenak." Aku berkata: "Tidak."
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ja’far meriwayatkan kepadaku dari Urwah bin Zubair, ia berkata:
Shafwan bin Umaiyyah pergi ke Juddah karena ingin pergi ke Yaman. Umair bin Wahb berkata: "Wahai
Rasulullah, sebenarnya Shafwan bin Umaiyyah merupakan pemimpin kaumnya. Saat ini ia
melarikan diri darimu dan hendak melemparkan dirinya ke laut, maka berilah dia jaminan keamanan,
mudah mudahan Allah menganugrahkan shalawat dan salam atasmu." Rasulullah bersabda: "Ia
mendapat jaminan keamanan." Umair bin Wahb berkata: "Wahai Rasulullah, dapatkan engkau
memberiku bukti tentang jaminan keamanan untuknya." Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
memberikan sorban dipakai olehnya saat memasuki Makkah kepada Umair bin Wahb. lalu ,
Umair bin Wahb pergi membawa sorban ini hingga bertemu Shafwan bin Umaiyyah yang saat
itu hendak berlayar. Umair bin Wahb berkata: "Hai Shafwan, ayah-ibuku menjadi tebusanmu, takutlah
engkau kepada Allah dan janganlah engkau bunuh diri. Inilah aku membawakan jaminan keamanan
dari Rasulullah untukmu."
Shafwan bin Umayyah berkata: "Celakalah engkau, pergilah dan jangan bicara denganku." Umair bin
Wahb berkata: "Wahai Shafwan, Rasulullah yaitu manusia paling mulia, paling baik, paling lembut,
dan sekaligus anak pamanmu. Kejayaan beliau yaitu kejayaanmu, kemuliaan beliau yaitu
kemuliaanmu, dan kerajaan beliau juga kerajaanmu." Shafwan bin Umaiyyah berkata: "Namun aku
khawatir atas diriku sendiri." Umair bin Wab berkata: "Beliau lebih lembut dan mulia dari apa yang
engkau khawatirkan." Akhirnya, Umair bin Wahb berhasil membawa pulang Shafwan bin Umayyah
kepada Rasulullah. Sesampainya di tempat Rasulullah, Shafwan bin Umaiyyah berkata kepada
Rasulullah: Umair bin Wahb mengatakan bahwa engkau telah memberi jaminan keamanan untukku."
Rasulullah bersabda: "Benar." Shafwan bin Umayyah berkata: "Beri aku waktu dua bulan untuk
memilih." Rasulullah: " Bahkan aku beri waktu empat bulan untukmu."
Ibnu Hisyam berkata: Seorang ulama dari Quraisy meriwayatkan kepadaku bahwa Shafwan bin
Umayyah berkata kepada Umair bin Wahb: "Celakalah engkau, pergilah dariku dan janganlah
berbicara denganku, karena engkau pandai berdusta." Shafwan bin Umayyah berkata seperti itu
karena sikap Umair bin Wahb kepadanya, dan masalah ini telah aku jelaskan pada bagian akhir dari
pembahasan tentang Perang Badar.
Para Pemuka Makkah Masuk Islam
Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri meriwayatkan kepadaku bahwa Ummu Hakim binti Al-Harits bin Hisyam
dan Fakhitah binti Al-Walid masuk Islam. Fakhitah binti Al-Walid merupakan istri Shafwan bin
Umayyah, sedang Ummu Hakim yaitu istri Ikrimah bin Abu Jahal. Ummu Hakim meminta jaminan
keamanan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk Ikrimah bin Abu Jahal dan beliau
mengabulkannya. lalu Ummu Hakim menyusul Ikrimah bin Abu Jahal ke Yaman dan kembali
dengan membawa Ikrimah bin Abu Jahal. Pada saat Ikrimah bin Abu Jahal dan Shafwan bin Umayyah
masuk Islam, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melegalkan pernikahan keduanya dengan istri
mereka berdua dengan akad nikahnya dahulu sebelum masuk islam.
jika berita tentang keislaman para pemuka Quraisy terdengar oleh Abdullah bin Az-Zaba'ra, ia pun
pergi menghadap Rasulullah dan masuk Islam
Hubairah Tetap Dalam Kekafirannya dan Syair Yang dibuat Olehnya tentang Isterinya Ummu Hani
Yang Masuk Islam
Ibnu Ishaq berkata: Adapun Hubairah bin Wahb Al-Makhzumi, ia menetap di Najran hingga meninggal
dalam keadaan kafir. Istrinya bernama Ummu Hani' binti Abu Thalib yang bernama asli Hindun. jika
Hubairah mendengar Ummu Hani' masuk Islam, ia bertutur:
Adakah engkau rindu kepada Hindun atau kau mendengar dia bertanya tentangmu ?
Begitulah jarak itu, menghasilkan perubahan dari waktu ke waktu
Dia tidak mampu tidur di puncak benteng kokoh di Najran
Khayalannya melayang jauh malam demi malam
Ia pengeritik yang bertiup membangunkanku di malam hari untuk mencelaku
Dia menghinaku sungguh sesat apa yang ia perbuat terhadapku
Ia kira bila aku mentaati margaku, maka aku menjadi hina
Padahal yang membuatku hina yaitu karena aku kehilangan dia dan ia membunuhku
Aku berasal dari kaum yang jika semangat mereka meninggi dalam segala keadannya
Aku melindungiku keluargaku dari belakang mereka
Tatkala mereka bergerak di bawah ujung tombak
Tangan keluargaku memegang pedang-pedang
Laksana pedang yang biasa dimainkan anak-anak yang ada bayangannya
Sungguh aku benci kepada orang-orang yang dengki dan perbuatan mereka
Rezekiku dan rezeki keluargaku berada di Tangan Allah
Perkataan seseorang yang tidakpada tempatnya
yaitu seperti anak panah yang meluncur tanpa pengaruh apa-apa
Jika engkau telah mengikuti agama Muhammad
Dan tali-tali telah menyatukan keluarga
Maka tinggallah engkau di atas dataran tinggi sambil bolak-balik
Yang diliputi debu kering yang lembab.
Jumlah Kaum Muslimin Yang Menghadiri Pembebasan Makkah
Ibnu Ishaq berkata: Jumlah kaum Muslimin yang ikut serta pada pembebasan Makkah yaitu sepuluh
ribu orang; dari Bani Sulaim sebanyak tujuh ratus orang, pendapat lain mengatakan seribu orang, dari
Bani Ghifar sebanyak empat ratus orang, dari Aslam empat ratus orang, dan dari Muzainah sebanyak
seribu tiga orang. Adapun sisanya berasal dari Quraisy, kaum Anshar, sekutu-sekutu mereka, dan
kabilah-kabilah Arab dari Tamim, Qais, dan Asad.
Abbas bin Mirdas menjadi Seorang Muslim
Ibnu Hisyam berkata: Kisah masuk Islamnya Abbas bin Mirdas, -seperti diriwayatkan kepadaku oleh
ulama pakar melalui syairnya- bahwa ayah Abbas, Mirdas, memiliki berhala yang biasa disembah, yaitu
berupa batu bernama Dhimar. Pada saat dia akan meninggal dunia, Mirdas berkata kepada Abbas:
"Wahai anakku, sembahlah Dhimar, karena ia dapat memberi manfaat dan mudharat kepadamu."
Abbas lalu mendatangi berhala Dhimar lalu ia membakar berhala Dhimar ini , lalu
menemui Rasulullah dan masuk Islam.
Keberangkatan Khalid bin Walid Pasca Pembebasan Makkah ke Bani Jadzimah dari Kinanah dan
Perjalanan Ali untuk Mengoreksi Kesalahan Khalid
Ibnu lshaq berkata: Rasulullah mengirim para pasukan perang ke wilayah-wilayah di sekitar Makkah
untuk mengajak manusia ke jalan Allah dan bukan untuk berperang. Di antara sahabat yang beliau
kirim ialah Khalid bin Walid. Beliau menyuruh Khalid bin Walid pergi ke daerah Tihamah bagian bawah
sebagai dai dan bukan sebagai tentara perang. Namun jika Khalid bin Walid tiba di Bani Jadzimah,
dia membunuh salah seorang dari Bani Jadzimah. Mengenai hal ini, Abbas bin Mirdas menuturkan
syair:
Jika engkau mengangkat Khalid sebagai komandan pasukan
Dan mengedepankannya, sungguh ia telah maju dan menjadi komandan pasukan
Mudah-mudahan Allah memberinya petunjuk dan engkau yaitu komandannya
Dengannya, kami menangkan kebenaran atas siapa yang berlaku zalim
Ibnu Hisyam: Bait-bait syair di atas merupakan penggalan dari syair Abbas bin Mirdas di Perang Hunain
dan insya Allah akan aku paparkan pada bahasan yang lain.
Ibnu Ishaq berkata: Hakim bin Hakim bin Abbad bin Hunaif meriwayatkan kepadaku dari Abu Ja'far
Muhammad bin Ali, ia berkata: sesudah selesai pembebasan Makkah, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam meng- utus Khalid bin Walid sebagai dai dan bukan sebagai tentara. Khalid bin Walid berangkat
menunaikan tugasnya ditemani oleh beberapa kabilah Arab; antara lain kabilah Sulaim bin Manshur
dan kabilah Mudlij bin Murrah. Khalid bin Walid tiba di Bani Jadzimah bin Amir bin Abdu Manat bin
Kinanah.pasa saat kabilah Bani Jadzimah melihat kedatangan Khalid bin Walid, mereka mengambil
senjata. Khalid bin Walid berkata: "Turunkanlah senjata kalian, karena orang-orang telah masuk
Islam."
Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang ulama yang berasal dari Bani Jadzimah meriwayatkan kepadaku
bahwa saat Khalid bin Walid meminta kami meletakkan senjata, salah seorang dari kami bernama
Jahdam, berkata: "Wahai Bani Jadzimah celakalah kalian, dia yaitu Khalid. Demi Allah, yang akan
terjadi sesudah peletakan senjata hanyalah penawanan dan pembunuhan. Demi Allah, aku tidak akan
meletakkan senjata selamanya." lalu Jahdam dipegang oleh beberapa orang dari kaumnya dan
mereka berkata padanya: "Wahai Jahdam, apakah engkau hendak menumpahkan darah kami?
sebenarnya orang-orang telah masuk Islam, meletakkan senjata, menghentikan perang, dan telah
merasa aman." Itulah yang terjadi hingga mereka merebut senjata Jahdam dan meletakkannya atas
perintah Khalid bin Walid.
Ibnu lshaq berkata: Hakim bin Hakim meriwayatkan kepadaku dari Abu Ja'far Muhammad bin Ali, ia
berkata bahwa jika orang-orang Bani Jadzimah meletakkan sen-jata, Khalid bin Walid menyuruh
mereka meletakan kedua tangan di atas pundak dan lalu Khalid bin Walid mengacungkan
pedangnya lalu membunuh orang-orang yang memberontak diantara mereka. Saat berita tentang
kejadian ini sampai kepada Rasulullah, beliau mengangkat tangan ke langit, seraya berdo'a: "Ya Allah,
aku berlepas diri kepada-Mu dari perbuatan Khalid bin Walid."193
Ibnu Hisyam berkata: Beberapa ulama meriwayatkan kepadaku dari Ibrahim bin Ja'far Al-Mahmudi, ia
berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku bermimpi makan sepotong roti
haits (kurma yang dicampur mentega) dan merasakan kelezatannya, namun tiba-tiba sebagian
makanan ini berhenti di tenggorokanku, lalu Ali bin Abu Thalib memasukkan tangannya
dan mengeluarkan makanan yang menyumbat ini ." Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu
berkata: "Wahai Rasulullah, salah satu dari pasukan yang engkau kirim mendatangkan kabar yang
menyenangkanmu dan pasukan lainnya mendatangkan hambatan, oleh karena itu, utuslah Ali untuk
menyelesaikan hambatan ini ."
Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang dari Bani Jadzimah melarikan diri lalu menemui Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan melaporkan kejadian itu kepada beliau. Beliau bersabda, "Apakah ada
orang yang menentang tindakan Khalid?" Orang ini menjawab: "Iya ada. Tindakan Khalid bin
Walid ini ditentang orang yang kulitnya putih dan tingginya sedang, namun ia di bentak oleh
Khalid bin Walid lalu orang ini diam. Tindakan Khalid bin Walid juga ditentang orang lain
yang tinggi dan kurus. Kedua orang itu terus menentang sehingga terjadi perselisihan sengit." Umar
bin Khaththab berkata: "Wahai Rasulullah, orang pertama yaitu anakku, Abdullah bin Umar, sedang
orang kedua yaitu Salam mantan budak Abu Hudzaifah."
Ibnu Ishaq berkata: Hakim bin Hakim meriwayatkan kepadaku dari Abu Ja'far bin Muhammad bin Ali,
ia berkata: lalu Rasulullah memanggil Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu lalu bersabda:
"Wahai Ali, berangkatlah ke Bani Jadzimah, lihatlah masalah mereka, dan letakkan urusan jahiliyah di
bawah kedua kakimu." Ali bin Abu Thalib pun berangkat dan tiba di Bani Jadzimah dengan membawa
harta yang dikirim Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ali bin Abu Thalib memberi diyat (ganti rugi)
atas darah mereka dan kekayaan mereka, hingga memberi diyat (ganti rugi) atas tempat minum anjing
milik mereka yang rusak. Seluruh darah dan kekayaan diberi diyat oleh Ali bin Abu Thalib hingga harta
yang dibawanya hanya tersisa sedikit saja. lalu Ali bin Abu Thalib berkata kepada mereka:
"Apakah ada darah dan kekayaan kalian yang lain yang belum diberi diyatV' Mereka menjawab: "Tidak
ada." Ali bin Abu Thalib berkata: "Sisa harta ini aku berikan kepada kalian sebagai wujud kehati-hatian
Rasulullah atas apa yang tidak beliau ketahui dan tidak kalian ketahui." Lalu Ali bin Abu Thalib
menyerahkan sisa harta ini kepada mereka, lalu pulang menghadap Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam dan melaporkan kepadanya atas apa yang ia telah lakukan.
lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Engkau bertindak benar dan baik."
sesudah itu, beliau berdiri menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya hingga tampak ketiaknya,
lalu berkata: "Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang diperbuat Khalid bin Walid."
Rasulullah mengucapkannya sebanyak tiga kali.
lbnu Ishaq berkata: bebagian orang membela Khalid bin Walid dengan berkata bahwa Khalid bin Walid
berkata: Aku memerangi mereka karena disuruh oleh Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi yang berkata
bahwa Rasulullah memerintahkanmu memerangi mereka sebab mereka menolak masuk Islam.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Amr Al-Madani berkata bahwa jika orang-orang Bani Jadzimah didatangi
Khalid bin Walid, mereka berkata: "Kami telah mengganti agama kami, kami telah mengganti agama
kami."
Ibnu Ishaq berkata: Jahdam berkata kepada Bani Jadzimah saat ia melihat mereka menurunkan
senjata dan melihat tindakan Khalid bin Walid terhadap mereka: "Wahai orang-orang Bani Jadzimah.
Apa yang kalian alami saat ini, sebelumnya telah aku peringatkan kepada kalian." Khalid bin Walid
berbicara dengan Abdurrahman bin Auf. Lalu Abdurrahman bin Auf berkata: "Wahai Khalid, engkau
telah melakukan tindakan jahiliyah dalam Islam." Khalid bin Walid berkata: "Aku membalas dendam
atas kematian ayahmu." Abdurrahman bin Auf berkata: "Engkau berdusta. Karena aku telah
membunuh pembunuh ayahku dan engkau hanyalah membalas dendam atas kematian pamanmu, Al-
Fakih bin Al-Mughirah." Demikianlah yang terjadi hingga perbincangan keduanya meruncing. Hal
ini didengar oleh Rasulullah, lalu beliau bersabda: "Pelan-pelan wahai wahai Khalid dan biarkan
sahabat-sahabatku. Demi Allah, andai engkau memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu engkau
menginfakkannya di jalan Allah, niscaya engkau tidak akan mampu menyamai pahala salah seorang
sahabatku di pagi atau di sore hari."
Ibnu Ishaq berkata: Al-Fakih bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, Auf bin Abdu Auf
bin Abdul Harits bin Zuhrah, dan Affan bin Abu Al-Ash bin Umaiyyah bin Abdu Syams pergi untuk
berniaga ke Yaman. Affan membawa putranya, Utsman, dan Auf pun membawa putranya,
Abdurrahman. jika mereka kembali dari Yaman, mereka membawa harta salah seorang dari Bani
Jadzimah yang wafat di Yaman untuk diserahkan kepada ahli warisnya. Harta ini diakui oleh
salah seorang Bani Jadzimah bernama Khalid bin Hisyam dan ia menemui orang-orang Quraisy
ini di sebuah daerah di Bani Jadzimah sebelum mereka tiba di keluarga mayit, akan tetapi
mereka menolak memberikan harta ini kepada Khalid bin Hisyam. lalu Khalid bin Hisyam
bersa- ma beberapa orang dari kaumnya menyerang orang-orang Quraisy ini untuk merebut
harta itu dan kejadian ini menewaskan Auf bin Abdu Auf dan Al-Fakih bin Al-Mughirah, adapun Affan
bin Abu Al-Ash beserta anaknya selamat.
Orang-orang Bani Jadzimah merampas harta Al-Fakih bin Al-Mughirah dan harta Auf bin Abdu Auf lalu
membawanya pergi. lalu Abdurahman bin Auf membunuh Khalid bin Hisyam yang telah
membunuh ayahnya. sesudah itu, orang-orang Quraisy hendak menyerang Bani Jadzimah, namun
orang-orang Bani Jadzimah berkata kepada mereka: "Mereka tidak dibunuh oleh orang-orang kami,
namun mereka dibunuh oleh salah satu kaum karena mereka tidak tahu. lalu mereka
membunuhnya tanpa sepengetahuan kami. Kami akan membayar diyat (ganti rugi) darah dan harta
kalian." Akhirnya, orang-orang Quraisy pun menerima tawaran ini dari Bani Jadzimah dan
mengurungkan niat perangnya.
Ibnu Ishaq berkata: Ya'qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas meriwayatkan kepadaku dari Az-
Zuhri dari Ibnu Abu Hadrad Al-Aslami, ia berkata: Waktu itu aku ikut bersama pasukan berkuda Khalid
bin Walid. Salah seorang pemuda dari Bani Jadzimah yang seusia denganku berkata kepadaku -jika
itu kedua tangannya diikat ke tengkuk dengan tali dan wanita-wanita berkumpul tidak jauh darinya:
"Wahai anak muda." "Ya, ada apa?" jawabku. Ia berkata: "Sudikah engkau mengambil tali dari leherku
lalu menuntunku kepada wanita-wanita itu untuk memenuhi kebutuhanku lalu engkau
mengembalikanku ke tempat semula dan engkau dapat melakukan apa saja kepadaku?" Aku berkata:
"Ya! demi Allah, betapa remeh permintaanmu itu." lalu , aku mengambil talinya lalu menuntun
dan membawanya kepada para wanita itu. Ia berkata: "Tenanglah wahai Hubaisy walau kehidupan
akan berakhir."
Ibnu Hisyam berkata: Sebagian besar pakar syair berpendapat bahwa dua bait syair terakhir bukan
milik orang ini .
Ibnu Ishaq berkata: Ya'qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas meriwayatkan kepadaku dari Az-
Zuhri dari Ibnu Abu Hadrad Al-Aslami, ia berkata: Wanita ini bertutur: "Dan engkau semoga
mendapat tambahan umur tujuh belas ganjil atau delapan belas genap." lalu aku pergi bersama
pemuda ini lalu lehernya dipancung.
Ibnu Ishaq berkata: Abu Firas bin Abu Sunbulah Al-Aslami meriwayatkan kepadaku dari orang-orang
tua mereka dari orang-orang yang menyaksikan peristiwa di atas, ia berkata: jika kepala pemuda
tadi dipenggal, wanita itu mendekat dan menindihnya. Ia terus menerus mencium pemuda ini
hingga wanita itu pun meninggal di sisinya.
Perjalanan Khalid bin Walid untuk Menghancurkan Berhala Al-Uzza
Ibnu Ishaq berkata: sesudah itu, Rasulullah mengirim Khalid bin Walid ke lokasi berhala Al-Uzza yang
terletak di daerah Nakhlah. Al-Uzza yaitu rumah yang di agung-agungkan oleh warga setempat, yaitu
orang-orang Quraisy, Kinanah, dan Mudhar. Kuncen Al-Uzza yaitu Bani Syaiban dari Bani Sulaim
sekutu Bani Hasyim. jika pemilik Al-Uzza dari Bani Sulaim mengetahui keberangkatan Khalid bin
Walid ke Al-Uzza, ia menggantungkan pedangnya ke atas Al-Uzza dan ia naik ke puncak gunung dimana
Al-Uzza berada. jika Khalid bin Walid tiba di sana, ia menghancurkan berhala Al-Uzza, lalu beliau
kembali ke menghadap Rasulullah.
Ibnu Ishaq berkata: Ibnu Syihab Az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari Ubaidillah bin Abdullah bin
Utbah bin Mas'ud, ia berkata: sesudah pembebasan Makkah, Rasulullah menetap di Makkah selama
lima belas malam. Dan selama masa itu, beliau mengqashar shalat.194
Ibnu Ishaq berkata: Pembebasan Makkah terjadi pada tanggal 20 Ramadhan tahun ke delapan
Hijriyah.
Perang Hunain Tahun Kedelapan Hijriyah Pasca Pembebasan Kota Makkah
Ibnu Ishaq berkata: jika kabilah Hawazin mendengar berita tentang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam dan pembebasan Makkah yang dianugerahkan Allah kepada beliau, mereka segera disatukan
Malik bin Auf An-Nashri. Selain Kabilah Hawazin bergabung pula seluruh penduduk kabilah Tsaqif
dengannya. Demikian pula seluruh penduduk kabilah Nashr, kabilah Jusyam, Sa'ad bin Bakr, dan
beberapa orang dari Bani Hilal walaupun dalam jumlah yang sangat kecil. Dari Qais Ailan tidak ada
yang ikut serta pada Perang Hunain kecuali orang-orang tadi. Orang-orang kabilah Hawazin yang tidak
ikut serta pada perang Hunain ialah kabilah Ka'ab dan Kilab serta tak seorang pun dari mereka yang
namanya diketahui ikut serta di perang ini. Dari Bani Jusyam terdapat Duraid bin Ash-Shimmah, Ia
seorang yang sudah tua namun pendapatnya brilian, ahli perang, dan sangat berpengalaman. Dari
kabilah Tsaqif terdapat dua tokoh mereka. Dari Ahlaf ialah Qarib bin Al-Aswad bin Mas'ud bin Muattib.
Dari Bani Malik terdapat Dzu Al-Khimar yang tidak lain yaitu Subay'i bin Al-Harits bin Malik dan
saudaranya bernama Ahmar bin Al-Harits. Pusat komando ada pada Malik bin Auf An-Nashri. jika
Malik bin Auf An-Nashri telah bertekad bulat untuk menyerang Rasulullah, ia berangkat bersama
pasukannya lengkap dengan harta, istri, dan anak-anak mereka.
Pada saat ia tiba di Lembah Authas, orang-orang berkumpul di tempat Malik bin Auf An-Nashri,
termasuk Duraid bin Ash-Shimmah yang berangkat dalam sekedup khusus. Saat Duraid bin Ash-
Shimmah turun dari sekedupnya, ia bertanya: "Di lembah manakah kalian berhenti?" Orang-orang
menjawab: "Di Lembah Authas." Duraid bin Ash-Shimmah berkata: "Tempat ini merupakan tempat
terbaik untuk kuda. Tidak terlalu berbatu dan tidak pula terlalu banyak debu. Namun mengapa aku
mendengar suara erang an unta, ringkik keledai, tangisan anak kecil, dan kambing mengembik?"
Mereka menjawab: "Malik bin Auf An-Nashri berangkat bersama orang-orang dengan membawa serta
seluruh harta, istri, dan anak mereka." Duraid bin Ash-Shimmah bertanya: "Dimanakah Malik?" Malik
bin Auf An-Nashri pun dipanggil. Duraid bin Ash-Shimmah berkata: "Wahai Malik, kini engkau telah
menjadi pemimpin kaummu dan sebenarnya hari perang itu akan terjadi dan tidak akan terjadi lagi
sesudah nya. Namun mengapa mengapa aku mendengar suara unta, ringkik keledai, tangisan anak kecil,
dan kambing mengembik?" Malik bin Auf An-Nashri menjawab, "Aku membawa orang-orang dengan
mengikut sertakan seluruh harta, istri-istri, dan anak-anak mereka." Duraid bin Ash-Shimmah
bertanya: "Mengapa?" Malik bin Auf An-Nashri menjawab: "Aku ingin menempatkan istri dan harta di
belakang setiap orang, agar ia berperang membela mereka." Duraid bin Ash-Shimmah menghardik
keras Malik bin Auf An-Nashri, lalu Duraid bin Ash-Shimmah berkata: "Demi Allah, strategi ini
laksana penggembala kambing. Adakah sesuatu yang dapat menahan mundurnya seseorang yang lari
dari medan laga? Jika engkau memperoleh kemenangan maka sebenarnya yang bermanfaat
bagimu hanyalah seseorang dengan pedang dan tombaknya. Jika kamu mengalami kekalahan, maka
keluargamu akan mendapat malu pada keluarga dan hartamu." Duraid bin Ash-Shimmah bertanya
lagi: "Apa yang dilakukan kabilah Ka'ab dan kabilah Kilab?" Orang- orang menjawab: "Tak seorangpun
di antara mereka yang ikut serta." Duraid bin Ash-Shimmah berkata: "Kekuatan dan keberanian telah
sirna. Bila yang akan terjadi yaitu kejayaan, pasti tidak ada seorangpun yang tidak ikut serta dari
kabilah Ka'ab dan kabilah Kilab.
Sungguh aku menginginkan kalian berbuat seperti apa yang dilakukan oleh kabilah Ka'ab dan Kilab.
Lalu siapa saja yang ikut serta di antara kalian?" Orang-orang menjawab: "Amr bin Amir dan Auf bin
Amir." Duraid bin Ash-Shimmah berkata: "Dua orang itu anak muda yang tidak memiliki strategi
perang yang tidak memberi manfaat dan bahaya. Wahai Malik, engkau sedikit pun tidak mendekatkan
para pemuka Hawazin ke leher kuda. Tempatkan mereka dan harta di tempat yang sulit dijangkau dan
mudah dipertahankan di tanah mereka, lalu hadapilah orang-orang yang keluar dari agama nenek
moyang itu (ummat Islam) di atas punggung kuda. Jika kemenangan berpihak padamu, maka orang-
orang yang ada di belakangmu pasti menyusulmu. jika engkau menderita kekalahan, aku bisa
menemuimu di tempat itu, sungguh engkau telah melindungi keluarga dan hartamu."
Malik bin Auf An-Nashri berkata: "Itu semua takkan aku lakukan. Wahai Duraid bin Ash-Shimah,
engkau seorang yang sepuh dan akalmu juga telah menua. Demi Allah, kalian harus taat kepadaku
wahai orang-orang Hawazin. Jika tidak, aku akan bersandar di atas pedang ini hingga menembus keluar
dari punggungku." Malik bin Auf An-Nashri tidak ingin Duraid bin Ash-Shimah mempunyai kontribusi
atau ide dalam persoalan ini. Orang-orang kabilah Hawazin pun berkata: "Kami akan menta'atimu."
Duraid bin Ash-Shimmah betutur: "Inilah hari yang tidak akan aku saksikan dan tidak akan aku biarkan,
lalu ia melantunkan syair:
Andai saja pada perang ini aku seorang pemuda
Yang berjalan menyelinap dan berjalan di dalamnya
Aku tuntun kuda yang berambutpanjang menjulur di kakinya
Laksana kijang muda yang berlari cepat
Ibnu Hisyam berkata: Tidak sedikit orang yang meriwayatkan bait syair: Andai saja pada perang ini aku
seorang pemuda.
Ibnu Ishaq berkata: "sesudah itu, Malik bin Auf An-Nashri berkata kepada pasukannya: "jika kalian
melihat mereka, patahkan sarung pedang kalian, lalu seranglah mereka ibarat serangan satu orang."
Ibnu Ishaq berkata: Umaiyyah bin Abdullah bin Amr bin Utsman meriwayatkan kepadaku ia diberitahu
bahwa Malik bin Auf An-Nashri mengirim beberapa orang dari pasukannya untuk menjadi mata-mata.
Tak lama lalu , mereka menemui Malik bin Auf An-Nashri dalam keadaan ketakutan. Malik bin
An-Nashri berkata kepada mereka: "Celaka kalian, apa yang terjadi ?" Mata-mata ini berkata:
"Kami melihat orang-orang putih mengendarai kuda belang. Demi Allah, tiba-tiba kami diguncang
ketakutan luar biasa seperti yang kini engkau lihat." Demi Allah, kejadian itu tidak menyurutkan tekad
Malik bin Auf An-Nashri merealisasikan niatnya.
Ibnu Ishaq berkata: jika Rasulullah mendapat berita tentang Malik bin Auf An- Nashri dan
pasukannya, beliau mengutus Abdullah bin Abu Hadrad Al-Aslami dan menyuruhnya untuk
menyelinap ke tempat mereka untuk mengetahui kondisi mereka. lalu kembali kepada beliau
dengan membawa informasi. Abdullah bin Abu Hadrad pun berangkat, menyelinap ke tempat mereka.
Ia berada di sana hingga mengetahui bahwa orang-orang kabilah Hawazin telah bersatu dengan Malik
bin Auf An-Nashri untuk memerangi beliau. Ia juga mendengar perbincangan Malik bin Auf An-Nashri
dan kondisi terakhir orang-orang kabilah Hawazin. sesudah mendapat semua informasi itu,
Abdullah bin Abu Hadrad segera pulang menemui Rasulullah. Ia melaporkan hasil temuannya. sesudah
itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memanggil Umar bin Khaththab dan menyampaikan tentang
berita itu kepadanya. Umar bin Khaththab berkata: "Abdullah bin Abu Hadrad berkata dusta."
Abdullah bin Abu Hadrad berkata: "jika engkau tidak mempercayaiku, mungkin engkau tidak
mempercayai kebenaran wahai Umar. Sungguh engkau tidak mempercayai orang yang lebih baik
dariku." Rasulullah bersabda: "Wahai Umar, sesungguh engkau dahulu dalam keadaan tersesat, lalu
Allah memberimu petunjuk."
Rasulullah Shallallahu Alaih wa Sallam Meminjam Baju Besi Milik Shafwan bin Umayyah dan
Senjatanya
Ibnu Ishaq berkata: Saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memutuskan untuk pergi ke tempat
orang-orang Hawazin untuk menghadapi mereka, beliau mendapat kabar bahwa Shafwan bin
Umayyah memiliki baju besi dan senjata. Sebab itu, beliau pergi menemui Shafwan bin Umayyah yang
pada saat itu masih dalam keadaan musyrik lalu bersabda: "Hai Abu Umayyah, pinjamkanlah kepada
kami senjatamu untuk menghadapi musuh kami esok pagi." Shafwan bin Umaiyah bertanya: "Apakah
ini merupakan perampasan, wahai Muhammad?" Rasulullah menjawab: "Tidak, ini yaitu pinjaman
yang diberi jaminan dan akan aku serahkan kembali kepadamu." Shafwan bin Umayyah berkata: "Bila
demikian adanya, maka tidak apa-apa." Shafwan bin Umayyah pun memberikan seratus baju besi yang
cukup sebagai senjata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Pendapat lain mengatakan
bahwa Rasulullah meminta Shafwan bin Umayyah membantu kaum Muslimin dengan membawa baju
besi ini dan ia pun menyepakatinya.
lalu Rasulullah berangkat bersama dua ribu warga Makkah dan sepuluh ribu sahabat yang ikut
berangkat bersama beliau dalam pembebasan Makkah. Jadi jumlah keseluruhan pasukan Islam pada
perang kali ini yaitu dua belas ribu tentara.
Rasulullah memilih Attab bin Usaid bin Abu Al-Ish bin Umayyah bin Abdu Syams sebagai pemimpin
Makkah bagi orang-orang yang tidak bisa berangkat perang bersama beliau.
lalu Rasulullah berangkat untuk menghadapi orang-orang kabilah Hawazin.
Pohon Dzatu Anwath
Ibnu Ishaq berkata: Ibnu Syihab Az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari Sinan bin Abu Sinan Ad-Duali
dari Abu Waqid Al-Laitsi bahwa Al-Harits bin Malik berkata: Kami berangkat ke Hunain bersama
Rasulullah, jika itu kami baru saja lepas dari telikungan jahiliyah. Orang-orang kafir Quraisy dan
orang-orang Arab memiliki pohon besar yang rindang nan hijau di sekitar mereka bernama Dzatu
Anwath. Mereka rutin datang ke pohon ini setiap tahun lalu menggantungkan senjata
padanya, menyembelih hewan di sekitarnya, dan tinggal di bawahnya selama sehari. jika kami
berjalan bersama Rasulullah, kami melihat pohon hijau dan besar ini . Kami saling berseru dari
samping jalan: "Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami pohon Dzatu Anwath seperti yang mereka
miliki." Rasulullah bersabda: "Allahu Akbar, demi Dzat dimana jiwa Muhammad berada di tangan-Nya,
sungguh kalian telah berkata seperti yang pernah dikatakan kaum Nabi Musa kepada Nabinya: Hai
Musa, buatkanlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa
tuhan (berhala)." Musa menjawab: "sebenarnya kalian ini yaitu kaum yang bodoh." (Al-A'raaf:
138). sebenarnya ini merupakan salah satu tradisi dan sungguh kalian akan mengerjakan tradisi-
tradisi orang-orang sebelum kalian.” 195
Ketegaran Rasulullah dan para Sahabatnya
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah meriwayatkan kepadaku dari Abdurrahman bin Jabir
dari ayahnya, Jabir bin Abdullah, ia berkata: jika kami berjalan menuju Hunain, kami turun di salah
satu lembah Tihamah yang luas, saat itu seharusnya kami singgah dengan santai, namun kami singgah
dengan tergesa-gesa. Ini terjadi pada tengah malam yang gelap gulita. Sementara itu kabilah Hawazin
telah tiba lebih awal mendahului kami di lembah ini . lalu mereka bersembunyi dari
penglihatan kami di salah satu jalan. Mereka telah bertekad bulat dan siap tempur. Demi Allah, tidak
ada yang membuat kami saat kami singgah, selain pasukan mereka yang menyerang kami dengan
serentak ibarat serangan satu orang. Kami lari kocar-kacir sehingga tak seorang pun yang
memperdulikan orang lain.
Rasulullah bergeser ke sebelah kanan, lalu berseru lantang: "Wahai manusia mendekatlah
kepadaku, aku yaitu Rasu lullah. Aku Muhammad bin Abdullah." Namun tidak ada respon, sebagian
unta pergi meninggalkan unta lain dan seluruh orang berlarian. Hanya beberapa orang dari kaum
Muhajirin, kaum Anshar, dan ahlul bait yang tetap bertahan bersama Rasulullah. Di antara para
sahabat yang tetap setia bertahan bersama beliau dari kalangan kaum Mujahirin ialah Abu Bakar dan
Umar bin Khathathab. Adapun yang tetap bertahan bersama beliau dari ahlul bait ialah Ali bin Abu
Thalib, Al-Abbas bin Abdul Muthalib, Abu Sufyan bin Al-Harits beserta putranya, Al-Fadhl bin Al-Abbas,
Rabi'ah bin Al-Harits, Usamah bin Zaid, dan Aiman bin Ummu Aiman bin Ubaid yang jika itu gugur
sebagai syahid.
Ibnu Hisyam berkata: Nama putra Abu Sufyan bin Al-Harits ialah Ja'far dan nama Abu Sufyan sendiri
ialah Al-Mughirah. Sebagian ulama memasukkan nama Qutsam bin Al-Abbas ke dalam daftar orang-
orang yang tetap bertahan bersama Rasulullah dan tidak mencantumkan nama Abu Sufyan bin Al-
Harits.
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah meriwayatkan kepadaku dari Abdurrahman bin Jabir
dari ayahnya, Jabir bin Abdullah, ia berkata: Seseorang dari kabilah Hawazin mengendarai unta merah
dengan memegang panji perang berwama hitam di ujung tombaknya yang panjang, ia berjalan di
depan orang-orang Hawazin, sementara itu orang-orang Hawazin berjalan di belakangnya. Jika ia
melihat sesuatu, ia menghunjamkan tombaknya ke tanah. Dan tatkala ia tidak melihat apa-apa, ia
mengangkat tombak dan mengarahkannya kepada orang-orang yang ada di belakangnya, lalu
mereka ber-jalan mengikutinya.
Ibnu Ishaq berkata: jika orang-orang kalah dan lari dari medan Perang Hunain dan salah seorang
yang bersama Rasulullah melihat kekalahan ini , berkatalah beberapa orang dari mereka yang
menyimpan dendam di dalam hatinya. Abu Sufyan bin Harb berkata: "Pelarian mereka tidak akan
berakhir hingga mereka sampai di laut. Panah undian pasti berada di busur panahnya."
Jabalah bin AI-Hanbal, (Ibnu Hisyam mengatakan Kaladah bin Al-Hanbal) dan saudaranya Shafwan bin
Umayyah -seorang yang masih musyrik dalam kurun waktu yang telah ditentukan oleh Rasulullah-
berteriak kencang: "Ketahuilah, pada hari ini sihir telah kalah." Shafwan bin Umayyah berkata kepada
Jabalah atau Kaladah bin Al-Hanbal: "Diamlah kamu, semoga Allah memecahkan gigimu. Demi Allah,
jika aku dipimpin seseorang dari Quraisy, itu lebih aku sukai ketimbang dipimpin seseorang yang
berasal dari kabilah Hawazin."
Ibnu Hisyam berkata: Hassan bin Tsabit mencibir Kaladah atau Jabalah bin Al-Hanbal:
Kulihat orang hitam dari jauh dan aku pun takut olehnya
Abu Hanbal menggauli Ummu Hanbal Orang yang berada di atas perut Ummu Hanbal
Bagaikan lengan-lengan unta muda hasil perbuatan Ibnu 'Izhil
Bait-bait syair ini dibacakan kepadaku oleh Abu Zaid. Selain itu, dikatakan kepadaku bahwa
Hassan bin Tsabit menujukan bait-bait syair tadi kepada Shafwan bin Umayyah yang merupakan
saudara seibu Kaladah (atau Jabalah).
Kegagalan Rencana Syaibah bin Utsman Membunuh Rasulullah
Ibnu Ishaq berkata: Syaibah bin Utsman bin Abu Thalhah dari Bani Abduddar berkata: "Pada hari ini,
aku bisa melampiaskan dendamku -karena ayahnya terbunuh di Perang Uhud-. Hari ini, aku akan
membunuh Muhammad. Aku mengitarinya untuk membunuhnya, namun tiba-tiba ada sesuatu
datang menutup hatiku yang membuat aku sama sekali tidak berdaya. Akhirnya aku sadar bahwa
beliau terlindungi dariku."
Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang warga Makkah meriwayat kepadaku bahwa Rasulullah bersabda
-pada saat berangkat dari Makkah menuju Hunain dan melihat terdapat banyak tentara-tentara Allah
yang ikut serta bersamanya-: "Pada hari ini, kita tidak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit."
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian ulama mengingatkan bahwa ucapan di atas merupakan ucapan
seseorang yang berasal dari kabilah Bani Bakr.
Ibnu Ishaq berkata: Ibnu Syihab Az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari Katsir bin Al-Abbas dari
ayahnya, Al-Abbas bin Abdul Muthalib, ia berkata: "Aku bersama Rasulullah memegang tali kekang
bighal (binatang hasil perkawinan antara kuda dan keledai) beliau yang berwarna putih. Aku letakkan
tali kekang bighal ini di antara dagunya. Aku yaitu orang dengan perawakan besar dan memiliki
suara keras. jika melihat orang-orang lari dari medan perang Rasulullah bersabda: "Pada pergi
kemana orang-orang?" Aku tidak melihat orang-orang menoleh kepada sesuatu apa pun. Karena itu,
Rasulullah bersabda: "Wahai Abbas, katakanlah dengan lantang: "Wahai sekalian orang-orang Anshar,
wahai seluruh orang-orang pemilik samurah." Mereka menjawab: "Labbaika, labbaika (kami
memenuhi panggilanmu)." lalu ada seseorang yang berusaha untuk membelokkan untanya,
namun ia tidak kuasa. lalu ia memakai baju besinya dan melemparkan dirinyaa dari atas unta.
Lalu ia mengambil pedang dan tameng, lalu berjalan tanpa mengendarai untanya menuju
suaraku hingga ia tiba di sisi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallatn.
jika seratus orang telah berkumpul di tempat Rasulullah, mereka maju menghadapi musuh dan
bertempur melawan mereka. Panggilan pertama dikumandangkan kepada orang anshar: "Hai orang-
orang Anshar!" lalu ditujukan kepada orang Al-Khajraj: "Wahai orang-orang Al-Khazraj." Orang-
orang Al-Khazraj dari kalangan Anshar merupakan orang-orang yang paling sabar dalam peperangan.
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melihat medan perang dari atas hewan kendaraannya jika
kedua belah pihak saling bertempur, lalu bersabda: "Saat ini perang telah berkecamuk."196
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah meriwayatkan kepadaku dari Abdurrahman bin Jabir
dari ayahnya, Jabir bin Abdullah, ia berkata: Pada saat kabilah Hawazin pemegang panji perang tengah
berada di atas unta melakukan apa yang biasa dilakukan, tiba-tiba Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu
Anhu dan seseorang dari Anshar menghampirinya. Ali bin Abu Thalib datang kepada pemegang panji
perang kabilah Hawazin ini dari arah belakang lalu memukul dua urat tumit untanya
dengan pedang hingga ia pun jatuh tersungkur. Pada saat yang bersamaan, sahabat dari kaum Anshar
melompat ke arah pemegang panji kabilah Hawazin ini , lalu memukulinya dengan pedang
hingga kakinya terputus. Pemegang panji perang kabilah Hawazin ini pun tersungkur. Kedua
belah pihak terus bertempur. Demi Allah, para sahabat yang semula lari dari perangan, kini mereka
melihat para tawanan dalam keadaan terikat berada di samping Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam.
Rasulullah melirik ke arah Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muthalib ia termasuk salah seorang yang
bersabar bersama beliau di perang ini , Saat ia masuk Islam, keislamannya baik. Dia yaitu orang
yang memegang tali belakang pelana bighal Rasulullah. Beliau bertanya: "Siapakah orang ini?'"Abu
Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muthalib menjawab: "Aku anak pamanmu, wahai Rasulullah."
Tentang Ummu Sulaim
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah menoleh dan
melihat Ummu Sulaim binti Milhan yang pada saat itu ikut terjun ke medan perang bersama suaminya,
Abu Thalhah. Ummu Sulaim mengikat pinggangnya dengan kain burdah karena sedang mengandung
Abdullah bin Abu Thalhah, dan menaiki unta milik suaminya, ia khawatir terlempar dari untanya. Oleh
sebab itu ia mendekatkan kepala unta kepadanya dan menggulungkan tali kendali unta ini di
tangannya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Ummu Sulaim: "Apakah engkau
Ummu Sulaim?" Ummu Sulaim menjawab: "Benar! wahai Rasulullah. Bagaimana kalau engkau
membunuh mereka yang melarikan diri darimu sebagaimana engkau membunuh orang-orang yang
memerangimu, karena mereka layak diperlakukan demikian." Rasulullah bersabda: "Cukuplah Allah
bagiku, wahai Ummu Sulaim?" Pada saat itu, Ummu Sulaim membawa pisau. Abu Thalhah bertanya
kepada Ummu Sulaim: "Mengapa engkau membawa pisau, wahai Ummu Sulaim?" Ummu Sulaim
menjawab: "Pisau ini sengaja aku bawa. Dan jika ada salah seorang dari kaum musyrikin mendekat
padaku, aku akan menikamnya dengan pisau ini." Abu Thalhah berkata: "Wahai Rasulullah, tidakkah
engkau mendengar apa yang dikatakan oleh Ummu Sulaim Ar-Rumaisha?"
Ibnu Ishaq berkata: "jika Rasulullah berangkat menuju Hunain, Bani Salim bersatu dengan Adh-
Dhahhak bin Sufyan Al- Kilabi. Pada saat orang-orang melarikan diri, Malik bin Auf An-Nashri bertutur
kepada kudanya:
Majulah hai Muhaj, mereka yaitu peminpin perang yang baik
Janganlah engkau tertipu bahwa musuh sudah berlalu
Ibnu Hisyam berkata: Kedua bait di atas bukanlah syair Malik bin Auf An-Nashri dan dilantunkan bukan
pada Perang Hunain.
Abu Qatadah dan Hasil Rampasannya
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku bahwa ia diberitahu dari Abu
Qatadah Al-Anshari. Aku juga diberitahu orang yang tidak aku ragukan integritasnya dari Nafi' mantan
budak Bani Ghifar Abu Muhammad dari Abu Qatadah, ia berkata: "Pada Perang Hunain, aku melihat
dua orang; muslim dan kafir sedang bertempur. Tiba-tiba salah seorang dari kaum musyrikin ingin
membantu temannya untuk menghadapi lawannya yang muslim. Aku hampiri orang itu dan aku tebas
tangannya hingga terputus. Lalu ia merangkulku dengan tangan kirinya. Demi Allah, ia tidak
membiarkanku hingga aku mencium aroma darah. Menurut Ibnu Hisyam, aroma kematian, dan
hampir saja ia membunuhku andai ia tidak kehabisan darah. Lalu ia terjatuh, lalu aku
menyerangnya kembali hingga ia pun tewas. Perang membuatku menjauh dari orang ini , tiba-
tiba seseorang dari warga Makkah melewati orang tadi lalu mengambil barang yang ada pada
tubuhnya. sesudah perang berakhir dan kami berhasil mengalahkan musuh, Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa membunuh salah seorang korban, ia berhak atas salab (harta
kekayaan) korban itu." Aku berkata: "Wahai Rasulullah, demi Allah, aku telah membunuh salah
seorang musuh yang mempunyai salab (kekayaan) lalu kecamuk perang memisahkanku dari
orang ini sehingga aku tidak tahu siapa yang mengambilnya." Seseorang dari warga Makkah
berkata: "Ia (Abu Qatadah) berkata benar, wahai Rasulullah. Harta orang yang ia bunuh kini ada
padaku." Mintakanlah untukku agar ia (Abu Qatadah) merelakannya untuk aku miliki." Abu Bakar Ash-
Shiddiq Radhiyallahu Anhu berkata kepada orang Makkah ini : "Tidak, Allah tidak meridhai hal
ini. Engkau sengaja mendekat kepada salah seorang singa Allah yang berperang karena Allah karena
maksud agar dapat berbagi rampasan dengannya. Kembalikanlah barang itu kepada pemiliknya."
Rasulullah bersabda kepada orang Makkah ini : "Abu Bakar berkata benar, kembalikanlah salab
itu kepada pemiliknya." Aku pun segera mengambil salab dari orang itu lalu menjualnya.
Uang dari hasil penjualannya, aku gunakan untuk membeli sebuah kebun kurma dan itulah kekayaan
pertama yang aku miliki.197
Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan integritasnya meriwayatkan kepadaku dari Abu
Salamah dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah dari Anas bin Malik, ia berkata: Abu Qatadah sendiri
berhasil mendapat rampasan (salab) dari dua puluh orang di Perang Hunain.
Kekalahan Orang-orang Khawazin dan Kehadiran Malaikat di Medan Perang
Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar meriwayatkan kepadaku dari Jubair bin Muth'im, ia berkata:
Sebelum kekalahan musuh dan saat kedua belah pihak bertempur, aku melihat seperti gumpalan
hitam turun dari langit di tempat antara kami dan musuh. Aku perhatikan, ternyata gumpalan hitam
itu yaitu semut yang berserakan dan memenuhi lembah. Aku yakin bahwa itu yaitu para malaikat,
karena yang terjadi sesudah itu yaitu kekalahan musuh.
Ibnu Ishaq berkata: Saat Allah Ta'ala mengalahkan orang-orang musyrikin pada Perang Hunain dan
memberikan kemenangan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, seorang wanita dari kaum
Muslimin melantunkan syair:
Kuda Allah telah mengalahkan kuda Al-Lata
Dan Allah lebih Perkasa
Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang pakar syair membacakan kepadaku syair berikut:
Sungguh kuda Allah telah mengalahkan kuda Al-Lata
Dan kuda-Nya itu lebih perkasa
Ibnu Ishaq berkata: jika orang-orang kabilah Hawazin menyerah, terdapat banyak korban di pihak
Tsaqif Bani Malik; tujuh puluh orang dari mereka terbunuh, termasuk di dalamnya Utsman bin
Abdullah bin Rabi'ah bin Al-Harits bin Habib. Pada awalnya panji perang mereka dipegang oleh Dzu Al-
Khimar. sesudah Dzu Al-Khimar tewas, panji perang itu diambil-alih oleh Utsman bin Abdullah yang
lalu bertempur dengan panji itu hingga tewas.
Ibnu Ishaq berkata: Aku diberitahu Ami











