Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 32. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 32. Tampilkan semua postingan

Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 32

 


ndaraan yang mereka berdua 

tunggangi ditusuk lambungnya oleh Al-Huwairits bin Nuqaidz hingga mereka berdua terjatuh ke tanah. 

Ibnu Ishaq berkata: Juga Miqyas bin Hubabah. Rasulullah memerintahkan untuk membunuh Miqyas 

bin Hubabah, karena ia telah membunuh salah seorang kaum Anshar yang membunuh saudaranya 

dengan tidak sengaja, selain itu, ia telah murtad dan pulang ke orang-orang Quraisy dalam keadaan 

musyrik. 

lalu  Sarah mantan budak salah seorang dari Bani Abdul Muthalib, dan Ikrimah bin Abu Jahal. 

Sarah termasuk salah seorang yang menyakiti Rasulullah dari kalangan wanita saat di Makkah. 

Sedangkan Ikrimah bin Abu Jahal, ia melarikan diri ke Yaman, adapun istrinya, Ummu Hakim binti Al-

Harits bin Hisyam, masuk Islam yang lalu  memintakan jaminan keamanan untuknya kepada 

Rasulullah dan beliau pun mengabulkan permintaannya. sesudah  itu, Ummu Hakim binti Al-Harits pergi 

mencari suaminya ke Yaman hingga akhirnya berhasil membawanya kepada Rasulullah dan 

Ikrimahpun masuk Islam. 

Abdullah bin Khathal dibunuh oleh Sa'id bin Harits Al-Makhzumi dan Abu Barzah Al-Aslami. 

Sedangkan Miqyas bin Shubabah dibunuh oleh Numailah bin Abdullah, seorang yang berasal dari 

kaumnya sendiri. 

Adapun dua penyanyi wanita Abdullah bin Khathal, salah satunya dibunuh, sedang yang lainnya 

melarikan diri, lalu  ia meminta jaminan keamanan kepada Rasulullah dan beliau mengabulkan 

permintaannya. 

Sajah juga meminta jaminan keamanan kepada Rasulullah dan beliau mengabulkannya. lalu  dia 

pun hidup dalam keamanan hingga pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khaththab, ia 

diterjang oleh kuda milik seseorang di Al-Abthah sebuah lembah di Makkah, akhirnya ia meninggal 

dunia. 

Adapun Al-Huwairits bin Nuqaidz dibunuh oleh Ali bin Abu Thalib. 

Ibnu Ishaq berkata: Sa'id bin Abu Hindun meriwayatkan kepadaku dari Abu Murrah mantan budak Aqil 

bin Abu Thalib bahwa Ummu Hani' binti Abu Thalib berkata: Saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam ber- henti di bagian atas kota Makkah, dua orang pamanku yang berasal dari Bani Makhzum 

lari menghapiriku -Saat itu, Ummu Hani' dinikahi oleh Abu Habuirah bin Abu Wahb Al-Makhzumi. 

Adapun saudaraku, Ali bin Abu Thalib, menghampiriku dan berkata: "Demi Allah, aku akan membunuh 

dua orang ini." Aku pun segera menutup pintu rumahku demi melindungi mereka berdua, dan akupun 

pergi ke tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di bagian atas kota Makkah. Aku melihat beliau 

sedang mandi dengan menggunakan bejana yang padanya terdapat bekas adonan roti, dan Fathimah 

menutupinya dengan kain. Seusai mandi, beliau mengenakan pakaian lalu melaksanakan shalat Dhuha 

sebanyak delapan raka'at. lalu  beliau datang menemuiku dan bersabda: "Selamat datang wahai 

Ummu Hani, ada apa engkau datang ke sini?" Aku pun menjelaskan kepada beliau perihal dua orang 

yang berada di rumahku dan keinginan Ali bin Abu Thalib untuk membunuh keduanya. Lalu beliau 

bersabda: "Aku melindungi orang yang engkau lindungi dan memberi keamanan kepada orang yang 

engkau beri keamanan. karena itu, jangan sekali-kali Ali bin Abu Thalib membunuh kedua orang 

ini ."187 

 

Ibnu Hisyam berkata: Kedua orang ini  yaitu  Al-Harits bin Hisyam dan Zuhair bin Abu Umaiyyah 

bin Al-Mughirah. 

 

Rasulullah Thawaf di Baitullah dan Ucapannya di dalam Ka'bah 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ja'far bin Zubair meriwayatkan kepadaku dari Ubaidillah bin 

Abdullah bin Abu Tsaur dari Shafiyyah binti Syaibah, ia berkata: Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam masuk ke Makkah dan seluruh manusia telah merasa tenang, beliau pun mendatangi 

Baitullah dan melaksanakan thawaf di atas unta sebanyak tujuh kali putaran dan mengusap rukun 

dengan tongkat. Selepas melakukan thawaf, beliau mengambil kunci Ka'bah dari Utsman bin Thalhah. 

Beliau membuka pintu Ka'bah, memasukinya, mendapati patung burung merpati dari kayu, lalu  

beliau memecahkan patung ini  dengan tangannya lalu membuangnya. 

lalu  Rasulullah berdiri di depan Ka'bah, dan orang-orang berkumpul di Masjidil Haram. 

Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang ulama meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam berdiri di pintu Ka'bah seraya bersabda: "Tidak ada Tuhan yang berhak disembah 

selain Allah, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dia telah menepati janji-Nya, memenangkan hamba-Nya, dan 

menaklukkan pasukan sekutu dengan sendirian. Ketahuilah, seluruh kemuliaan, atau darah, atau 

kekayaan yang didakwakan itu berada di bawah kedua kakiku ini, kecuali pelayan Ka'bah dan pemberi 

minuman kepada jama'ah haji. Ketahuilah, korban pembunuhan karena ketidak sengajaan itu sama 

dengan pembunuhan "mirip sengaja" seperti membunuh dengan cambuk atau tongkat, maka diyatnya 

diperberat yaitu berupa seratus unta; empat puluh ekor diantaranya harus dalam keadaan hamil. 

Wahai orang-orang Quraisy, sebenarnya  Allah telah menghapuskan semangat Jahiliyah dan 

mengagung-agungkan nenek moyang, karena semua manusia berasal dari Adam dan Adam berasal 

dari tanah." lalu  Rasulullah membaca firman Allah: 

 

Hai manusia, sebenarnya  Kami mencipta- kan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan 

dan menjadikan kamu berbangsa- bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. 

sebenarnya  orangyangpaling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa 

di antara kamu. sebenarnya  Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. al-Hujurat: 13). 

lalu  Rasulullah melanjutkan sabdanya: "Wahai orang-orang Quraisy, menurut kalian kira-kita 

apa yang akan aku lakukan kepada kalian." Orang-orang Quraisy menjawab: "Kebaikan. Karena engkau 

yaitu  saudara yang mulia dan anak saudara yang mulia." Rasulullah bersabda: "Pergilah, 

sebenarnya  kalian bebas."188 

 

lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam duduk di Masjidil Haram, lalu Ali bin Abu Thalib 

datang menemui beliau dengan membawa kunci Ka'bah. Ali bin Abu Thalib berkata: "Wahai 

Rasulullah, kumpulkan untuk kami penjaga Ka'bah dan pemberi air minum jama'ah haji, semoga Allah 

memberi kesejahteraan untukmu." Rasulullah bersabda: "Dimanakah Utsman bin Thalhah?" Utsman 

bin Thalhah pun dipanggil, lalu  beliau bersabda: "Inilah kuncimu, wahai Utsman. Hari ini hari 

kebaikan dan hari penepatan janji." 

Ibnu Hisyam berkata: Sufyan bin Uyaynah menyebutkan bahwa Rasulullah bersabda kepada Ali bin 

Abi Thalib: "Aku hanya memberikan pada kalian apa yang hilang dari kalian dan bukan yang akan hilang 

dari orang lain." 

Ibnu Hisyam berkata: Beberapa orang ulama meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah memasuki 

Baitullah pada hari penaklukan Makkah, lalu beliau melihat lukisan-lukisan tentang para malaikat dan 

yang lainnya. Beliau juga melihat lukisan Nabi Ibrahim yang digambarkan dengan memegang dadu 

undian di tanganya. Maka beliau bersabda: "Semoga Allah membunuh mereka. Mereka 

menggambarkan orang tua kita, Nabi Ibrahim, mengundi dengan undian. Apa hubungan Ibrahim 

dengan undian, sedang Allah Ta'ah berfirman: 

Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia yaitu  seorang yang 

lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang 

musyrik (QS. Ali Imran: 67). lalu , beliau memerintahkan seluruh lukisan itu dihancurkan.189 

 

Ibnu Hisyam berkata: Beberapa orang ulama meriwayatkan kepadaku bahwa saat Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam memasuki Ka'bah ditemani oleh Bilal, lalu  beliau keluar sedangkan 

Bilal masih berada di dalam Ka'bah. Tak lama lalu , Abdullah bin Umar masuk menemui Bilal dan 

bertanya kepadanya: "Di manakah tadi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengerjakan shalat? 

Abdullah bin Umar tidak menanyakan bera pa rakaat beliau mengerjakan shalat. Maka setiap kali 

Abdullah bin Umar memasuki Baitullah dia berjalan lurus dan menjadikan pintu Ka bah di belakang 

punggungnya hingga antara dirinya dan dinding ada tiga hasta, lalu  ia shalat, karena 

menghendaki tempat shalatnya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebagaimana yang dikatakan 

Bilal kepadanya. 

Ibnu Hisyam berkata: Beberapa orang ulama meriwayatkan kepadaku bahwa saat Rasulullah 

memasuki Ka'bah pada hari penaklukan Makkah, beliau ditemani oleh Bilal, lalu  beliau 

menyuruh Bilal mengumandangkan adzan, jika  itu Abu Sufyan bin Harb, Attab bin Usaid, dan Al-

Harits bin Hisyam duduk di halaman Ka bah. Attab bin Usaid berkata: "Sungguh Allah telah memu- 

liakan Usaid, sebab dulu dia tidak mendengar ini, namun kini ia mendengar apa yang dulu dibencinya." 

Al-Harits bin Hisyam berkata: "Demi Allah, jika aku tahu ia (Rasulullah) itu benar, maka aku pasti 

mengikutinya." Abu Sufyan bin Harb berkata: "Aku tidak akan mengatakan apa-apa, sebab bila 

mengatakan sesuatu, tongkat ini akan berbicara mewakiliku." lalu  Nabi menemui ketiga orang 

ini  lalu bersabda: "Aku mendengar apa yang kalian katakan tadi. Lalu beliau pun menceri- takan 

apa yang telah mereka katakan tadi. Al-Harits bin Hisyam dan Attab bin Usaid berkata: "Kami bersaksi 

bahwa engkau yaitu  utusan Allah. Demi Allah, tidak ada seorang pun yang bersama kami mengetahui 

hal ini, sehingga tidak akan ada yang memberitahukannya kepadamu." 

Ibnu Ishaq berkata: Sa'id bin Sandar Al- Aslami meriwayatkan kepadaku dari seseorang dari kaumnya, 

ia berkata: "Di antara kami terdapat orang kuat dan pemberani bernama Ahmar Ba'san. Dia selalu 

mendengkur dengan keras pada saat tidurnya dan karena dengkurannya itu sehingga mudah untuk 

diketahui keberadaannya. Ia tidur di tempat yang jauh dari kampungnya. Bila kaumnya tiba-tiba 

mendapat serangan di malam hari, mereka berteriak, "Wahai Ahmar." Ia pun akan segera melompat 

laksana singa dan tidak ada seorang pun yang dapat menghalanginya. Suatu jika , pasukan dari 

Hudzail datang dengan tujuan kampung Ahmar. Tatkala mereka telah mendekati perkampungan 

ini , Ibnu Al-Atswa' Al-Hudzali berkata: "Kalian jangan tergesa-gesa hingga aku memeriksa 

situasinya. Jika di sana terdapat Ahmar, maka kita tidak akan menemukan jalan untuk pergi ke sana, 

sebab Ahmar mempunyai suara deng- kur yang mudah diketahui." Ibnu Al-Atswa' Al-Hudzali mencari-

cari suaranya. jika  ia mendengar suara dengkur Ahmar, ia berjalan menuju tempatnya, lalu  

menusukkan pedang ke dadanya hingga tewas. Lalu menyerang kampung ini . Penduduk 

kampung ini  pun berteriak memanggil "Hai Ahmar." Kini mereka tidak lagi memiliki Ahmar 

karena telah tewas terbunuh. 

Saat penaklukan Makkah, yaitu pada pagi hari sesudah  penaklukan, Ibnu Al-Atswa' Al-Hudzali seorang 

musyrik datang ke Makkah untuk melihat langsung dan bertanya tentang kondisi orang-orang di sana. 

Saat itulah, ia dilihat oleh orang-orang kabilah Khuza'ah yang mengenalinya. lalu  mereka 

mengepungnya yang pada saat itu berada di salah satu sisi tembok Makkah. Orang-orang kabilah 

Khuza'ah berkata: "Apakah benar engkau orang yang membunuh Ahmar?" Ibnu Al-Atswa Al-Hudzali 

menjawab: "Ya, benar. Akulah orang yang membunuh Ahmar. "Apakah yang kalian harapkan?"' Tiba-

tiba Khirasy bin Umaiyyah datang dengan menghunus pedang seraya berkata: "Jauhilah orang ini." 

Demi Allah, dengan cara seperti itu, Khirasy bin Umaiyyah ingin menjauhkan orang-orang dari Ibnu Al-

Atswa' Al-Hudzali. Betul, keti- ka kami telah menjauh dari ibnu Al-Atswa' Al-Hudzali, ia menyerangnya 

dan menikam perutnya dengan pedang. Demi Allah, aku melihat isi perut Ibnu Al-Atswa Al-Hudzali 

terurai keluar dan kedua matanya pelan-pelan terpejam seraya berkata: "Mengapa kalian melakukan 

ini, wahai orang-orang kabilah Khuzaah?" Demikianlah peristiwanya hingga akhirnya ia jatuh terkulai 

tak berdaya dan tewas. 

Rasulullah bersabda: "Hai orang-orang kabilah Khuzaah, hentikanlah tangan kalian dari membunuh. 

Sungguh, seandainya pembunuhan itu bermanfaat maka ia akan sangat marak. Karena kalian telah 

membunuh seseorang maka aku akan membayar diyatnya."190 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abdurrahman bin Harmalah Al-Aslami meriwayatkan kepadaku dari Sa'id bin Al-

Musayyib, ia berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar apa yang dilakukan 

oleh Khirasy bin Umaiyyah, beliau bersabda: "sebenarnya  Khirasy benar-benar seorang 

pembunuh." Sabdanya ini  merupakan kecaman terhadap Khirasy. 

Ibnu Ishaq berkata: Sa'id bin Abu Sa'id Al-Maqburi meriwayatkan kepadaku dari Abu Syuraih Al-Khuzai, 

ia berkata: Pada saat Amr bin Zubair tiba di Makkah untuk memerangi saudaranya, Abdullah bin 

Zubair, aku menemui Amr bin Zubair dan berkata kepadanya: "Wahai Amr bin Zubair, duhulu saat 

pembebasan kota Makkah aku ikut bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Pada hari itu, 

orang-orang dari kabilah Khuzaah menyerang seseorang dari Hudzail dan membunuhnya dalam 

keadaan musyrik, lalu  Rasulullah berdiri dan memberikan khutbah kepada kami: "Wahai 

manusia, sebenarnya  Allah telah mengharamkan Makkah sejak hari penciptaan langit dan bumi. 

Makkah merupakan tanah haram dan akan terus menjadi tanah mulia hingga hari Kiamat. Sebab itu, 

tidak dihalalkan bagi siapapun yang beriman kepada Allah dan hari akhirat untuk menumpahkan darah 

di dalamnya dan juga tidak diperbolehkan memotong pepohonnya. Makkah tidak dihalalkan bagi siapa 

pun sebelumku dan tidak halal bagi siapa pun sesudah  aku meninggal. Makkah tidak dihalalkan kecuali 

saat ini sebagai bentuk kemurkaan bagi penduduknya. Ketahuilah, sebenarnya  keharaman 

(kemuliaan) Makkah telah kembali seperti sebelumnya. Hendaklah orang yang hadir di tempat ini 

menyampaikan pesan ini kepada yang tidak hadir. Barangsiapa berkata kepada kalian bahwa 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam telah berperang di Makkah, sampaikanlah padanya bahwa Allah 

telah menghalalkan perang ini bagi Rasul-Nya namun tidak menghalalkannya bagi kalian. Wahai orang-

orang kabliah Khuzaah, berhentilah kalian dari membunuh, sungguh jika pembunuhan itu bermanfaat 

maka ia akan merajalela. Sungguh karena kalian telah membunuh seseorang maka aku akan 

membayar diyatnya. Barangsiapa dibunuh sesudah  aku berdiri di tempat ini, maka keluarganya berhak 

atas dua pilihan; meminta darah pembunuhnya jika mereka mau atau meminta diyat jika mereka 

mau.191 

 

sesudah  itu Rasulullah membayar diyat untuk Ibnu Al-Atswa' Al-Hudzali yang dibunuh oleh orang-orang 

kabilah Khuza'ah. Amr bin Zubair berkata kepada Abu Syuraih: "Pergilah engkau wahai orang tua, 

karena aku lebih tahu tentang kemuliaan Makkah dibandingkan mu. sebenarnya  keharaman (kemuliaan) 

Makkah tidak bisa menahan Pelaku pembunuhan, orang yang tidak taat, dan orang yang tidak 

membayar jizyah." Abu Syuraih berkata: "Aku hadir sedangkan engkau tidak hadiri. Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerin- tahkan siapa saja yang hadir pada peristiwa itu untuk 

menyampaikannya kepada yang tidak hadir. Aku telah menyampaikan pesan Rasul itu kepadamu, 

maka terserah padamu." 

Ibnu Hisyam berkata: seseorang meriwayatkan kepadaku bahwa korban yang pertama kali dibayar 

diyatnya oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ialah Junaidib bin Al-Akwa yang dibunuh oleh 

Bani Kaab. Beliau memberi diyat atas kematiannya dengan seratus unta. 

 

Kekhawatiran Orang-orang Anshar Akan Menetapnya Kembali Rasulullah di Makkah dan Upaya 

Rasulullah Menenangkan Mereka 

Ibnu Hisyam berkata: Diriwayatkan kepadaku dari Yahya bin Sa'id bahwa pada hari pembebasan 

Makkah, Rasulullah berdiri di atas bukit Shafa untuk berdoa kepada Allah dan dikelilingi kaum Anshar. 

Orang-orang Anshar berkata satu sama lainnya: "Apakah kalian memiliki pemikiran Jika Allah memberi 

kemenangan kepada Rasul-Nya dan berhasil menaklukan negerinya, ia akan menetap di sana?" 

sesudah  selesai berdoa, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada mereka: "Apa yang 

tadi kalian katakan?" Kaum Anshar menjawab: "Kami tidak mengatakan apa-apa, wahai Rasulullah." 

Rasulullah tetap bersama orang-orang Anshar hingga mereka menjelaskan kepada beliau apa yang 

telah mereka perbincangkan, lalu  beliau bersabda: "Aku berilndung kepada Allah. Kehidupanku 

yaitu  bersama kalian dan kematianku yaitu  bersama kalian." 

 

Roboh dan Runtuhnya Berhala-berhala dengan Isyarat Rasulullah  

Ibnu Hisyam berkata: Seorang perawi yang sangat aku percayai meriwayatkan kepadaku dalam 

sanadnya dari Ibnu Syihab Az-Zuhri dari Ubaidillah bin Abdullah dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, ia 

berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam masuk ke Makkah pada hari pembebeasan Kota itu 

dengan menaiki unta lalu mengelilinginya. Banyak terdapat berhala-berhala yang diikat dengan timah 

di sekitar Ka'bah, lalu  beliau memberi isyarat pada patung-patung ini  dengan potongan 

kayu yang beliau pegang seraya membaca ayat: 

 

Dan katakanlah: "Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap." sebenarnya  yang batil itu 

yaitu  sesuatu yang pasti lenyap (QS. al-Isra': 81).192 

 

Setiap Rasulullah berisyarat ke wajah sebuah berhala, maka ia pasti terjungkal ke bela kang dan setiap 

kali beliau memberi isyarat ke tengkuk suatu berhala maka berhala ini  jatuh tersungkur. 

Demikianlah hingga semua berhala jatuh. Tentang peristiwa ini, Tamim bin Asad Al-Khuza'i bertutur: 

Pada berhala-berhala itu ada pelajaran dan ilmu 

Untuk orang yang mengharap pahala atau adzab 

 

 

Jalan Fadhalah Masuk Islam 

Ibnu Hisyam berkata: Diriwayatkan kepadaku bahwa Fadhalah bin Umair bin Al-Mulawwah Al-Laitsi 

berniat membunuh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam saat beliau melaksanakan thawaf di 

Baitullah pada hari pembebasan Makkah. Saat ia telah berdekatan dengan Rasulullah, beliau bersabda 

kepadanya: "Apakah betul engkau Fadhalah?" Fadhalah bin Umair menjawab: "Benar, wahai 

Rasulullah, akulah Fadhalah." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apa yang telah 

engkau katakan kepada dirimu?" Fadhalah bin Umair menjawab: "Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku 

hanya berdzikir kepada Allah." Rasulullah tertawa lalu bersabda, "Wahai Fadhalah, mohon ampunlah 

engkau kepada Allah." Usai bersabda seperti itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam meletakkan 

tangannya di dada Fadhalah bin Umair hingga ia merasa tenang." Fadhalah bin Umair berkata: "Demi 

Allah, sebelum Rasulullah mengangkat tangannya dari dadaku, tiba-tiba tidak ada orang yang aku lebih 

cintai melebihi dirinya." sesudah  itu, aku pulang. Dalam perjalanan ke rumah, aku bertemu dengan 

wanita. Teman wanitaku berkata: "Marilah kita berbincang sejenak." Aku berkata: "Tidak." 

Ibnu Ishaq berkata: Muhammad bin Ja’far meriwayatkan kepadaku dari Urwah bin Zubair, ia berkata: 

Shafwan bin Umaiyyah pergi ke Juddah karena ingin pergi ke Yaman. Umair bin Wahb berkata: "Wahai 

Rasulullah, sebenarnya  Shafwan bin Umaiyyah merupakan pemimpin kaumnya. Saat ini ia 

melarikan diri darimu dan hendak melemparkan dirinya ke laut, maka berilah dia jaminan keamanan, 

mudah mudahan Allah menganugrahkan shalawat dan salam atasmu." Rasulullah bersabda: "Ia 

mendapat jaminan keamanan." Umair bin Wahb berkata: "Wahai Rasulullah, dapatkan engkau 

memberiku bukti tentang jaminan keamanan untuknya." Maka Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

memberikan sorban dipakai olehnya saat memasuki Makkah kepada Umair bin Wahb. lalu , 

Umair bin Wahb pergi membawa sorban ini  hingga bertemu Shafwan bin Umaiyyah yang saat 

itu hendak berlayar. Umair bin Wahb berkata: "Hai Shafwan, ayah-ibuku menjadi tebusanmu, takutlah 

engkau kepada Allah dan janganlah engkau bunuh diri. Inilah aku membawakan jaminan keamanan 

dari Rasulullah untukmu." 

Shafwan bin Umayyah berkata: "Celakalah engkau, pergilah dan jangan bicara denganku." Umair bin 

Wahb berkata: "Wahai Shafwan, Rasulullah yaitu  manusia paling mulia, paling baik, paling lembut, 

dan sekaligus anak pamanmu. Kejayaan beliau yaitu  kejayaanmu, kemuliaan beliau yaitu  

kemuliaanmu, dan kerajaan beliau juga kerajaanmu." Shafwan bin Umaiyyah berkata: "Namun aku 

khawatir atas diriku sendiri." Umair bin Wab berkata: "Beliau lebih lembut dan mulia dari apa yang 

engkau khawatirkan." Akhirnya, Umair bin Wahb berhasil membawa pulang Shafwan bin Umayyah 

kepada Rasulullah. Sesampainya di tempat Rasulullah, Shafwan bin Umaiyyah berkata kepada 

Rasulullah: Umair bin Wahb mengatakan bahwa engkau telah memberi jaminan keamanan untukku." 

Rasulullah bersabda: "Benar." Shafwan bin Umayyah berkata: "Beri aku waktu dua bulan untuk 

memilih." Rasulullah: " Bahkan aku beri waktu empat bulan untukmu." 

Ibnu Hisyam berkata: Seorang ulama dari Quraisy meriwayatkan kepadaku bahwa Shafwan bin 

Umayyah berkata kepada Umair bin Wahb: "Celakalah engkau, pergilah dariku dan janganlah 

berbicara denganku, karena engkau pandai berdusta." Shafwan bin Umayyah berkata seperti itu 

karena sikap Umair bin Wahb kepadanya, dan masalah ini telah aku jelaskan pada bagian akhir dari 

pembahasan tentang Perang Badar. 

 

Para Pemuka Makkah Masuk Islam 

Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri meriwayatkan kepadaku bahwa Ummu Hakim binti Al-Harits bin Hisyam 

dan Fakhitah binti Al-Walid masuk Islam. Fakhitah binti Al-Walid merupakan istri Shafwan bin 

Umayyah, sedang Ummu Hakim yaitu  istri Ikrimah bin Abu Jahal. Ummu Hakim meminta jaminan 

keamanan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk Ikrimah bin Abu Jahal dan beliau 

mengabulkannya. lalu  Ummu Hakim menyusul Ikrimah bin Abu Jahal ke Yaman dan kembali 

dengan membawa Ikrimah bin Abu Jahal. Pada saat Ikrimah bin Abu Jahal dan Shafwan bin Umayyah 

masuk Islam, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melegalkan pernikahan keduanya dengan istri 

mereka berdua dengan akad nikahnya dahulu sebelum masuk islam. 

jika  berita tentang keislaman para pemuka Quraisy terdengar oleh Abdullah bin Az-Zaba'ra, ia pun 

pergi menghadap Rasulullah dan masuk Islam 

 

Hubairah Tetap Dalam Kekafirannya dan Syair Yang dibuat Olehnya tentang Isterinya Ummu Hani 

Yang Masuk Islam 

Ibnu Ishaq berkata: Adapun Hubairah bin Wahb Al-Makhzumi, ia menetap di Najran hingga meninggal 

dalam keadaan kafir. Istrinya bernama Ummu Hani' binti Abu Thalib yang bernama asli Hindun. jika  

Hubairah mendengar Ummu Hani' masuk Islam, ia bertutur: 

Adakah engkau rindu kepada Hindun atau kau mendengar dia bertanya tentangmu ?  

Begitulah jarak itu, menghasilkan perubahan dari waktu ke waktu 

Dia tidak mampu tidur di puncak benteng kokoh di Najran 

Khayalannya melayang jauh malam demi malam 

Ia pengeritik yang bertiup membangunkanku di malam hari untuk mencelaku  

Dia menghinaku sungguh sesat apa yang ia perbuat terhadapku 

Ia kira bila aku mentaati margaku, maka aku menjadi hina 

Padahal yang membuatku hina yaitu  karena aku kehilangan dia dan ia membunuhku  

Aku berasal dari kaum yang jika semangat mereka meninggi dalam segala keadannya  

Aku melindungiku keluargaku dari belakang mereka 

Tatkala mereka bergerak di bawah ujung tombak 

Tangan keluargaku memegang pedang-pedang 

Laksana pedang yang biasa dimainkan anak-anak yang ada bayangannya 

Sungguh aku benci kepada orang-orang yang dengki dan perbuatan mereka 

Rezekiku dan rezeki keluargaku berada di Tangan Allah 

Perkataan seseorang yang tidakpada tempatnya 

yaitu  seperti anak panah yang meluncur tanpa pengaruh apa-apa  

Jika engkau telah mengikuti agama Muhammad 

Dan tali-tali telah menyatukan keluarga  

Maka tinggallah engkau di atas dataran tinggi sambil bolak-balik 

Yang diliputi debu kering yang lembab. 

 

Jumlah Kaum Muslimin Yang Menghadiri Pembebasan Makkah 

Ibnu Ishaq berkata: Jumlah kaum Muslimin yang ikut serta pada pembebasan Makkah yaitu  sepuluh 

ribu orang; dari Bani Sulaim sebanyak tujuh ratus orang, pendapat lain mengatakan seribu orang, dari 

Bani Ghifar sebanyak empat ratus orang, dari Aslam empat ratus orang, dan dari Muzainah sebanyak 

seribu tiga orang. Adapun sisanya berasal dari Quraisy, kaum Anshar, sekutu-sekutu mereka, dan 

kabilah-kabilah Arab dari Tamim, Qais, dan Asad. 

Abbas bin Mirdas menjadi Seorang Muslim 

Ibnu Hisyam berkata: Kisah masuk Islamnya Abbas bin Mirdas, -seperti diriwayatkan kepadaku oleh 

ulama pakar melalui syairnya- bahwa ayah Abbas, Mirdas, memiliki berhala yang biasa disembah, yaitu 

berupa batu bernama Dhimar. Pada saat dia akan meninggal dunia, Mirdas berkata kepada Abbas: 

"Wahai anakku, sembahlah Dhimar, karena ia dapat memberi manfaat dan mudharat kepadamu." 

Abbas lalu mendatangi berhala Dhimar lalu  ia membakar berhala Dhimar ini , lalu 

menemui Rasulullah dan masuk Islam. 

 

Keberangkatan Khalid bin Walid Pasca Pembebasan Makkah ke Bani Jadzimah dari Kinanah dan 

Perjalanan Ali untuk Mengoreksi Kesalahan Khalid 

Ibnu lshaq berkata: Rasulullah mengirim para pasukan perang ke wilayah-wilayah di sekitar Makkah 

untuk mengajak manusia ke jalan Allah dan bukan untuk berperang. Di antara sahabat yang beliau 

kirim ialah Khalid bin Walid. Beliau menyuruh Khalid bin Walid pergi ke daerah Tihamah bagian bawah 

sebagai dai dan bukan sebagai tentara perang. Namun jika  Khalid bin Walid tiba di Bani Jadzimah, 

dia membunuh salah seorang dari Bani Jadzimah. Mengenai hal ini, Abbas bin Mirdas menuturkan 

syair: 

Jika engkau mengangkat Khalid sebagai komandan pasukan 

Dan mengedepankannya, sungguh ia telah maju dan menjadi komandan pasukan  

Mudah-mudahan Allah memberinya petunjuk dan engkau yaitu  komandannya  

Dengannya, kami menangkan kebenaran atas siapa yang berlaku zalim 

 

Ibnu Hisyam: Bait-bait syair di atas merupakan penggalan dari syair Abbas bin Mirdas di Perang Hunain 

dan insya Allah akan aku paparkan pada bahasan yang lain. 

Ibnu Ishaq berkata: Hakim bin Hakim bin Abbad bin Hunaif meriwayatkan kepadaku dari Abu Ja'far 

Muhammad bin Ali, ia berkata: sesudah  selesai pembebasan Makkah, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam meng- utus Khalid bin Walid sebagai dai dan bukan sebagai tentara. Khalid bin Walid berangkat 

menunaikan tugasnya ditemani oleh beberapa kabilah Arab; antara lain kabilah Sulaim bin Manshur 

dan kabilah Mudlij bin Murrah. Khalid bin Walid tiba di Bani Jadzimah bin Amir bin Abdu Manat bin 

Kinanah.pasa saat kabilah Bani Jadzimah melihat kedatangan Khalid bin Walid, mereka mengambil 

senjata. Khalid bin Walid berkata: "Turunkanlah senjata kalian, karena orang-orang telah masuk 

Islam." 

Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang ulama yang berasal dari Bani Jadzimah meriwayatkan kepadaku 

bahwa saat Khalid bin Walid meminta kami meletakkan senjata, salah seorang dari kami bernama 

Jahdam, berkata: "Wahai Bani Jadzimah celakalah kalian, dia yaitu  Khalid. Demi Allah, yang akan 

terjadi sesudah  peletakan senjata hanyalah penawanan dan pembunuhan. Demi Allah, aku tidak akan 

meletakkan senjata selamanya." lalu  Jahdam dipegang oleh beberapa orang dari kaumnya dan 

mereka berkata padanya: "Wahai Jahdam, apakah engkau hendak menumpahkan darah kami? 

sebenarnya  orang-orang telah masuk Islam, meletakkan senjata, menghentikan perang, dan telah 

merasa aman." Itulah yang terjadi hingga mereka merebut senjata Jahdam dan meletakkannya atas 

perintah Khalid bin Walid. 

Ibnu lshaq berkata: Hakim bin Hakim meriwayatkan kepadaku dari Abu Ja'far Muhammad bin Ali, ia 

berkata bahwa jika  orang-orang Bani Jadzimah meletakkan sen-jata, Khalid bin Walid menyuruh 

mereka meletakan kedua tangan di atas pundak dan lalu  Khalid bin Walid mengacungkan 

pedangnya lalu membunuh orang-orang yang memberontak diantara mereka. Saat berita tentang 

kejadian ini sampai kepada Rasulullah, beliau mengangkat tangan ke langit, seraya berdo'a: "Ya Allah, 

aku berlepas diri kepada-Mu dari perbuatan Khalid bin Walid."193 

 

Ibnu Hisyam berkata: Beberapa ulama meriwayatkan kepadaku dari Ibrahim bin Ja'far Al-Mahmudi, ia 

berkata bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Aku bermimpi makan sepotong roti 

haits (kurma yang dicampur mentega) dan merasakan kelezatannya, namun tiba-tiba sebagian 

makanan ini  berhenti di tenggorokanku, lalu  Ali bin Abu Thalib memasukkan tangannya 

dan mengeluarkan makanan yang menyumbat ini ." Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu 

berkata: "Wahai Rasulullah, salah satu dari pasukan yang engkau kirim mendatangkan kabar yang 

menyenangkanmu dan pasukan lainnya mendatangkan hambatan, oleh karena itu, utuslah Ali untuk 

menyelesaikan hambatan ini ." 

Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang dari Bani Jadzimah melarikan diri lalu  menemui Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan melaporkan kejadian itu kepada beliau. Beliau bersabda, "Apakah ada 

orang yang menentang tindakan Khalid?" Orang ini  menjawab: "Iya ada. Tindakan Khalid bin 

Walid ini  ditentang orang yang kulitnya putih dan tingginya sedang, namun ia di bentak oleh 

Khalid bin Walid lalu  orang ini  diam. Tindakan Khalid bin Walid juga ditentang orang lain 

yang tinggi dan kurus. Kedua orang itu terus menentang sehingga terjadi perselisihan sengit." Umar 

bin Khaththab berkata: "Wahai Rasulullah, orang pertama yaitu  anakku, Abdullah bin Umar, sedang 

orang kedua yaitu  Salam mantan budak Abu Hudzaifah." 

Ibnu Ishaq berkata: Hakim bin Hakim meriwayatkan kepadaku dari Abu Ja'far bin Muhammad bin Ali, 

ia berkata: lalu  Rasulullah memanggil Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu Anhu lalu bersabda: 

"Wahai Ali, berangkatlah ke Bani Jadzimah, lihatlah masalah mereka, dan letakkan urusan jahiliyah di 

bawah kedua kakimu." Ali bin Abu Thalib pun berangkat dan tiba di Bani Jadzimah dengan membawa 

harta yang dikirim Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ali bin Abu Thalib memberi diyat (ganti rugi) 

atas darah mereka dan kekayaan mereka, hingga memberi diyat (ganti rugi) atas tempat minum anjing 

milik mereka yang rusak. Seluruh darah dan kekayaan diberi diyat oleh Ali bin Abu Thalib hingga harta 

yang dibawanya hanya tersisa sedikit saja. lalu  Ali bin Abu Thalib berkata kepada mereka: 

"Apakah ada darah dan kekayaan kalian yang lain yang belum diberi diyatV' Mereka menjawab: "Tidak 

ada." Ali bin Abu Thalib berkata: "Sisa harta ini aku berikan kepada kalian sebagai wujud kehati-hatian 

Rasulullah atas apa yang tidak beliau ketahui dan tidak kalian ketahui." Lalu Ali bin Abu Thalib 

menyerahkan sisa harta ini  kepada mereka, lalu  pulang menghadap Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam dan melaporkan kepadanya atas apa yang ia telah lakukan. 

lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Engkau bertindak benar dan baik." 

sesudah  itu, beliau berdiri menghadap kiblat, mengangkat kedua tangannya hingga tampak ketiaknya, 

lalu berkata: "Ya Allah, aku berlepas diri kepada-Mu dari apa yang diperbuat Khalid bin Walid." 

Rasulullah mengucapkannya sebanyak tiga kali. 

lbnu Ishaq berkata: bebagian orang membela Khalid bin Walid dengan berkata bahwa Khalid bin Walid 

berkata: Aku memerangi mereka karena disuruh oleh Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi yang berkata 

bahwa Rasulullah memerintahkanmu memerangi mereka sebab mereka menolak masuk Islam. 

Ibnu Hisyam berkata: Abu Amr Al-Madani berkata bahwa jika  orang-orang Bani Jadzimah didatangi 

Khalid bin Walid, mereka berkata: "Kami telah mengganti agama kami, kami telah mengganti agama 

kami." 

Ibnu Ishaq berkata: Jahdam berkata kepada Bani Jadzimah saat ia melihat mereka menurunkan 

senjata dan melihat tindakan Khalid bin Walid terhadap mereka: "Wahai orang-orang Bani Jadzimah. 

Apa yang kalian alami saat ini, sebelumnya telah aku peringatkan kepada kalian." Khalid bin Walid 

berbicara dengan Abdurrahman bin Auf. Lalu Abdurrahman bin Auf berkata: "Wahai Khalid, engkau 

telah melakukan tindakan jahiliyah dalam Islam." Khalid bin Walid berkata: "Aku membalas dendam 

atas kematian ayahmu." Abdurrahman bin Auf berkata: "Engkau berdusta. Karena aku telah 

membunuh pembunuh ayahku dan engkau hanyalah membalas dendam atas kematian pamanmu, Al-

Fakih bin Al-Mughirah." Demikianlah yang terjadi hingga perbincangan keduanya meruncing. Hal 

ini  didengar oleh Rasulullah, lalu beliau bersabda: "Pelan-pelan wahai wahai Khalid dan biarkan 

sahabat-sahabatku. Demi Allah, andai engkau memiliki emas sebesar gunung Uhud, lalu engkau 

menginfakkannya di jalan Allah, niscaya engkau tidak akan mampu menyamai pahala salah seorang 

sahabatku di pagi atau di sore hari." 

Ibnu Ishaq berkata: Al-Fakih bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar bin Makhzum, Auf bin Abdu Auf 

bin Abdul Harits bin Zuhrah, dan Affan bin Abu Al-Ash bin Umaiyyah bin Abdu Syams pergi untuk 

berniaga ke Yaman. Affan membawa putranya, Utsman, dan Auf pun membawa putranya, 

Abdurrahman. jika  mereka kembali dari Yaman, mereka membawa harta salah seorang dari Bani 

Jadzimah yang wafat di Yaman untuk diserahkan kepada ahli warisnya. Harta ini  diakui oleh 

salah seorang Bani Jadzimah bernama Khalid bin Hisyam dan ia menemui orang-orang Quraisy 

ini  di sebuah daerah di Bani Jadzimah sebelum mereka tiba di keluarga mayit, akan tetapi 

mereka menolak memberikan harta ini  kepada Khalid bin Hisyam. lalu  Khalid bin Hisyam 

bersa- ma beberapa orang dari kaumnya menyerang orang-orang Quraisy ini  untuk merebut 

harta itu dan kejadian ini menewaskan Auf bin Abdu Auf dan Al-Fakih bin Al-Mughirah, adapun Affan 

bin Abu Al-Ash beserta anaknya selamat. 

Orang-orang Bani Jadzimah merampas harta Al-Fakih bin Al-Mughirah dan harta Auf bin Abdu Auf lalu 

membawanya pergi. lalu  Abdurahman bin Auf membunuh Khalid bin Hisyam yang telah 

membunuh ayahnya. sesudah  itu, orang-orang Quraisy hendak menyerang Bani Jadzimah, namun 

orang-orang Bani Jadzimah berkata kepada mereka: "Mereka tidak dibunuh oleh orang-orang kami, 

namun mereka dibunuh oleh salah satu kaum karena mereka tidak tahu. lalu  mereka 

membunuhnya tanpa sepengetahuan kami. Kami akan membayar diyat (ganti rugi) darah dan harta 

kalian." Akhirnya, orang-orang Quraisy pun menerima tawaran ini  dari Bani Jadzimah dan 

mengurungkan niat perangnya. 

Ibnu Ishaq berkata: Ya'qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas meriwayatkan kepadaku dari Az-

Zuhri dari Ibnu Abu Hadrad Al-Aslami, ia berkata: Waktu itu aku ikut bersama pasukan berkuda Khalid 

bin Walid. Salah seorang pemuda dari Bani Jadzimah yang seusia denganku berkata kepadaku -jika  

itu kedua tangannya diikat ke tengkuk dengan tali dan wanita-wanita berkumpul tidak jauh darinya: 

"Wahai anak muda." "Ya, ada apa?" jawabku. Ia berkata: "Sudikah engkau mengambil tali dari leherku 

lalu  menuntunku kepada wanita-wanita itu untuk memenuhi kebutuhanku lalu  engkau 

mengembalikanku ke tempat semula dan engkau dapat melakukan apa saja kepadaku?" Aku berkata: 

"Ya! demi Allah, betapa remeh permintaanmu itu." lalu , aku mengambil talinya lalu menuntun 

dan membawanya kepada para wanita itu. Ia berkata: "Tenanglah wahai Hubaisy walau kehidupan 

akan berakhir." 

Ibnu Hisyam berkata: Sebagian besar pakar syair berpendapat bahwa dua bait syair terakhir bukan 

milik orang ini . 

Ibnu Ishaq berkata: Ya'qub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas meriwayatkan kepadaku dari Az-

Zuhri dari Ibnu Abu Hadrad Al-Aslami, ia berkata: Wanita ini  bertutur: "Dan engkau semoga 

mendapat tambahan umur tujuh belas ganjil atau delapan belas genap." lalu  aku pergi bersama 

pemuda ini  lalu lehernya dipancung. 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Firas bin Abu Sunbulah Al-Aslami meriwayatkan kepadaku dari orang-orang 

tua mereka dari orang-orang yang menyaksikan peristiwa di atas, ia berkata: jika  kepala pemuda 

tadi dipenggal, wanita itu mendekat dan menindihnya. Ia terus menerus mencium pemuda ini  

hingga wanita itu pun meninggal di sisinya.  

 

Perjalanan Khalid bin Walid untuk Menghancurkan Berhala Al-Uzza 

Ibnu Ishaq berkata: sesudah  itu, Rasulullah mengirim Khalid bin Walid ke lokasi berhala Al-Uzza yang 

terletak di daerah Nakhlah. Al-Uzza yaitu  rumah yang di agung-agungkan oleh warga setempat, yaitu 

orang-orang Quraisy, Kinanah, dan Mudhar. Kuncen Al-Uzza yaitu  Bani Syaiban dari Bani Sulaim 

sekutu Bani Hasyim. jika  pemilik Al-Uzza dari Bani Sulaim mengetahui keberangkatan Khalid bin 

Walid ke Al-Uzza, ia menggantungkan pedangnya ke atas Al-Uzza dan ia naik ke puncak gunung dimana 

Al-Uzza berada. jika  Khalid bin Walid tiba di sana, ia menghancurkan berhala Al-Uzza, lalu beliau 

kembali ke menghadap Rasulullah. 

Ibnu Ishaq berkata: Ibnu Syihab Az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari Ubaidillah bin Abdullah bin 

Utbah bin Mas'ud, ia berkata: sesudah  pembebasan Makkah, Rasulullah menetap di Makkah selama 

lima belas malam. Dan selama masa itu, beliau mengqashar shalat.194 

 

Ibnu Ishaq berkata: Pembebasan Makkah terjadi pada tanggal 20 Ramadhan tahun ke delapan 

Hijriyah. 

 

Perang Hunain Tahun Kedelapan Hijriyah Pasca Pembebasan Kota Makkah 

Ibnu Ishaq berkata: jika  kabilah Hawazin mendengar berita tentang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam dan pembebasan Makkah yang dianugerahkan Allah kepada beliau, mereka segera disatukan 

Malik bin Auf An-Nashri. Selain Kabilah Hawazin bergabung pula seluruh penduduk kabilah Tsaqif 

dengannya. Demikian pula seluruh penduduk kabilah Nashr, kabilah Jusyam, Sa'ad bin Bakr, dan 

beberapa orang dari Bani Hilal walaupun dalam jumlah yang sangat kecil. Dari Qais Ailan tidak ada 

yang ikut serta pada Perang Hunain kecuali orang-orang tadi. Orang-orang kabilah Hawazin yang tidak 

ikut serta pada perang Hunain ialah kabilah Ka'ab dan Kilab serta tak seorang pun dari mereka yang 

namanya diketahui ikut serta di perang ini. Dari Bani Jusyam terdapat Duraid bin Ash-Shimmah, Ia 

seorang yang sudah tua namun pendapatnya brilian, ahli perang, dan sangat berpengalaman. Dari 

kabilah Tsaqif terdapat dua tokoh mereka. Dari Ahlaf ialah Qarib bin Al-Aswad bin Mas'ud bin Muattib. 

Dari Bani Malik terdapat Dzu Al-Khimar yang tidak lain yaitu  Subay'i bin Al-Harits bin Malik dan 

saudaranya bernama Ahmar bin Al-Harits. Pusat komando ada pada Malik bin Auf An-Nashri. jika  

Malik bin Auf An-Nashri telah bertekad bulat untuk menyerang Rasulullah, ia berangkat bersama 

pasukannya lengkap dengan harta, istri, dan anak-anak mereka. 

Pada saat ia tiba di Lembah Authas, orang-orang berkumpul di tempat Malik bin Auf An-Nashri, 

termasuk Duraid bin Ash-Shimmah yang berangkat dalam sekedup khusus. Saat Duraid bin Ash-

Shimmah turun dari sekedupnya, ia bertanya: "Di lembah manakah kalian berhenti?" Orang-orang 

menjawab: "Di Lembah Authas." Duraid bin Ash-Shimmah berkata: "Tempat ini merupakan tempat 

terbaik untuk kuda. Tidak terlalu berbatu dan tidak pula terlalu banyak debu. Namun mengapa aku 

mendengar suara erang an unta, ringkik keledai, tangisan anak kecil, dan kambing mengembik?" 

Mereka menjawab: "Malik bin Auf An-Nashri berangkat bersama orang-orang dengan membawa serta 

seluruh harta, istri, dan anak mereka." Duraid bin Ash-Shimmah bertanya: "Dimanakah Malik?" Malik 

bin Auf An-Nashri pun dipanggil. Duraid bin Ash-Shimmah berkata: "Wahai Malik, kini engkau telah 

menjadi pemimpin kaummu dan sebenarnya  hari perang itu akan terjadi dan tidak akan terjadi lagi 

sesudah nya. Namun mengapa mengapa aku mendengar suara unta, ringkik keledai, tangisan anak kecil, 

dan kambing mengembik?" Malik bin Auf An-Nashri menjawab, "Aku membawa orang-orang dengan 

mengikut sertakan seluruh harta, istri-istri, dan anak-anak mereka." Duraid bin Ash-Shimmah 

bertanya: "Mengapa?" Malik bin Auf An-Nashri menjawab: "Aku ingin menempatkan istri dan harta di 

belakang setiap orang, agar ia berperang membela mereka." Duraid bin Ash-Shimmah menghardik 

keras Malik bin Auf An-Nashri, lalu  Duraid bin Ash-Shimmah berkata: "Demi Allah, strategi ini 

laksana penggembala kambing. Adakah sesuatu yang dapat menahan mundurnya seseorang yang lari 

dari medan laga? Jika engkau memperoleh kemenangan maka sebenarnya  yang bermanfaat 

bagimu hanyalah seseorang dengan pedang dan tombaknya. Jika kamu mengalami kekalahan, maka 

keluargamu akan mendapat malu pada keluarga dan hartamu." Duraid bin Ash-Shimmah bertanya 

lagi: "Apa yang dilakukan kabilah Ka'ab dan kabilah Kilab?" Orang- orang menjawab: "Tak seorangpun 

di antara mereka yang ikut serta." Duraid bin Ash-Shimmah berkata: "Kekuatan dan keberanian telah 

sirna. Bila yang akan terjadi yaitu  kejayaan, pasti tidak ada seorangpun yang tidak ikut serta dari 

kabilah Ka'ab dan kabilah Kilab. 

Sungguh aku menginginkan kalian berbuat seperti apa yang dilakukan oleh kabilah Ka'ab dan Kilab. 

Lalu siapa saja yang ikut serta di antara kalian?" Orang-orang menjawab: "Amr bin Amir dan Auf bin 

Amir." Duraid bin Ash-Shimmah berkata: "Dua orang itu anak muda yang tidak memiliki strategi 

perang yang tidak memberi manfaat dan bahaya. Wahai Malik, engkau sedikit pun tidak mendekatkan 

para pemuka Hawazin ke leher kuda. Tempatkan mereka dan harta di tempat yang sulit dijangkau dan 

mudah dipertahankan di tanah mereka, lalu hadapilah orang-orang yang keluar dari agama nenek 

moyang itu (ummat Islam) di atas punggung kuda. Jika kemenangan berpihak padamu, maka orang-

orang yang ada di belakangmu pasti menyusulmu. jika  engkau menderita kekalahan, aku bisa 

menemuimu di tempat itu, sungguh engkau telah melindungi keluarga dan hartamu." 

Malik bin Auf An-Nashri berkata: "Itu semua takkan aku lakukan. Wahai Duraid bin Ash-Shimah, 

engkau seorang yang sepuh dan akalmu juga telah menua. Demi Allah, kalian harus taat kepadaku 

wahai orang-orang Hawazin. Jika tidak, aku akan bersandar di atas pedang ini hingga menembus keluar 

dari punggungku." Malik bin Auf An-Nashri tidak ingin Duraid bin Ash-Shimah mempunyai kontribusi 

atau ide dalam persoalan ini. Orang-orang kabilah Hawazin pun berkata: "Kami akan menta'atimu." 

Duraid bin Ash-Shimmah betutur: "Inilah hari yang tidak akan aku saksikan dan tidak akan aku biarkan, 

lalu ia melantunkan syair: 

Andai saja pada perang ini aku seorang pemuda 

Yang berjalan menyelinap dan berjalan di dalamnya 

Aku tuntun kuda yang berambutpanjang menjulur di kakinya 

Laksana kijang muda yang berlari cepat 

 

 

Ibnu Hisyam berkata: Tidak sedikit orang yang meriwayatkan bait syair: Andai saja pada perang ini aku 

seorang pemuda. 

Ibnu Ishaq berkata: "sesudah  itu, Malik bin Auf An-Nashri berkata kepada pasukannya: "jika  kalian 

melihat mereka, patahkan sarung pedang kalian, lalu seranglah mereka ibarat serangan satu orang." 

Ibnu Ishaq berkata: Umaiyyah bin Abdullah bin Amr bin Utsman meriwayatkan kepadaku ia diberitahu 

bahwa Malik bin Auf An-Nashri mengirim beberapa orang dari pasukannya untuk menjadi mata-mata. 

Tak lama lalu , mereka menemui Malik bin Auf An-Nashri dalam keadaan ketakutan. Malik bin 

An-Nashri berkata kepada mereka: "Celaka kalian, apa yang terjadi ?" Mata-mata ini  berkata: 

"Kami melihat orang-orang putih mengendarai kuda belang. Demi Allah, tiba-tiba kami diguncang 

ketakutan luar biasa seperti yang kini engkau lihat." Demi Allah, kejadian itu tidak menyurutkan tekad 

Malik bin Auf An-Nashri merealisasikan niatnya. 

Ibnu Ishaq berkata: jika  Rasulullah mendapat berita tentang Malik bin Auf An- Nashri dan 

pasukannya, beliau mengutus Abdullah bin Abu Hadrad Al-Aslami dan menyuruhnya untuk 

menyelinap ke tempat mereka untuk mengetahui kondisi mereka. lalu  kembali kepada beliau 

dengan membawa informasi. Abdullah bin Abu Hadrad pun berangkat, menyelinap ke tempat mereka. 

Ia berada di sana hingga mengetahui bahwa orang-orang kabilah Hawazin telah bersatu dengan Malik 

bin Auf An-Nashri untuk memerangi beliau. Ia juga mendengar perbincangan Malik bin Auf An-Nashri 

dan kondisi terakhir orang-orang kabilah Hawazin. sesudah  mendapat  semua informasi itu, 

Abdullah bin Abu Hadrad segera pulang menemui Rasulullah. Ia melaporkan hasil temuannya. sesudah  

itu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memanggil Umar bin Khaththab dan menyampaikan tentang 

berita itu kepadanya. Umar bin Khaththab berkata: "Abdullah bin Abu Hadrad berkata dusta." 

Abdullah bin Abu Hadrad berkata: "jika  engkau tidak mempercayaiku, mungkin engkau tidak 

mempercayai kebenaran wahai Umar. Sungguh engkau tidak mempercayai orang yang lebih baik 

dariku." Rasulullah bersabda: "Wahai Umar, sesungguh engkau dahulu dalam keadaan tersesat, lalu 

Allah memberimu petunjuk." 

 

Rasulullah Shallallahu Alaih wa Sallam Meminjam Baju Besi Milik Shafwan bin Umayyah dan 

Senjatanya 

Ibnu Ishaq berkata: Saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memutuskan untuk pergi ke tempat 

orang-orang Hawazin untuk menghadapi mereka, beliau mendapat kabar bahwa Shafwan bin 

Umayyah memiliki baju besi dan senjata. Sebab itu, beliau pergi menemui Shafwan bin Umayyah yang 

pada saat itu masih dalam keadaan musyrik lalu bersabda: "Hai Abu Umayyah, pinjamkanlah kepada 

kami senjatamu untuk menghadapi musuh kami esok pagi." Shafwan bin Umaiyah bertanya: "Apakah 

ini merupakan perampasan, wahai Muhammad?" Rasulullah menjawab: "Tidak, ini yaitu  pinjaman 

yang diberi jaminan dan akan aku serahkan kembali kepadamu." Shafwan bin Umayyah berkata: "Bila 

demikian adanya, maka tidak apa-apa." Shafwan bin Umayyah pun memberikan seratus baju besi yang 

cukup sebagai senjata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Pendapat lain mengatakan 

bahwa Rasulullah meminta Shafwan bin Umayyah membantu kaum Muslimin dengan membawa baju 

besi ini  dan ia pun menyepakatinya. 

lalu  Rasulullah berangkat bersama dua ribu warga Makkah dan sepuluh ribu sahabat yang ikut 

berangkat bersama beliau dalam pembebasan Makkah. Jadi jumlah keseluruhan pasukan Islam pada 

perang kali ini yaitu  dua belas ribu tentara. 

Rasulullah memilih Attab bin Usaid bin Abu Al-Ish bin Umayyah bin Abdu Syams sebagai pemimpin 

Makkah bagi orang-orang yang tidak bisa berangkat perang bersama beliau. 

lalu  Rasulullah berangkat untuk menghadapi orang-orang kabilah Hawazin. 

Pohon Dzatu Anwath 

Ibnu Ishaq berkata: Ibnu Syihab Az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari Sinan bin Abu Sinan Ad-Duali 

dari Abu Waqid Al-Laitsi bahwa Al-Harits bin Malik berkata: Kami berangkat ke Hunain bersama 

Rasulullah, jika  itu kami baru saja lepas dari telikungan jahiliyah. Orang-orang kafir Quraisy dan 

orang-orang Arab memiliki pohon besar yang rindang nan hijau di sekitar mereka bernama Dzatu 

Anwath. Mereka rutin datang ke pohon ini  setiap tahun lalu  menggantungkan senjata 

padanya, menyembelih hewan di sekitarnya, dan tinggal di bawahnya selama sehari. jika  kami 

berjalan bersama Rasulullah, kami melihat pohon hijau dan besar ini . Kami saling berseru dari 

samping jalan: "Wahai Rasulullah, buatkanlah untuk kami pohon Dzatu Anwath seperti yang mereka 

miliki." Rasulullah bersabda: "Allahu Akbar, demi Dzat dimana jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, 

sungguh kalian telah berkata seperti yang pernah dikatakan kaum Nabi Musa kepada Nabinya: Hai 

Musa, buatkanlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa 

tuhan (berhala)." Musa menjawab: "sebenarnya  kalian ini yaitu  kaum yang bodoh." (Al-A'raaf: 

138). sebenarnya  ini merupakan salah satu tradisi dan sungguh kalian akan mengerjakan tradisi-

tradisi orang-orang sebelum kalian.” 195 

 

Ketegaran Rasulullah dan para Sahabatnya 

Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah meriwayatkan kepadaku dari Abdurrahman bin Jabir 

dari ayahnya, Jabir bin Abdullah, ia berkata: jika  kami berjalan menuju Hunain, kami turun di salah 

satu lembah Tihamah yang luas, saat itu seharusnya kami singgah dengan santai, namun kami singgah 

dengan tergesa-gesa. Ini terjadi pada tengah malam yang gelap gulita. Sementara itu kabilah Hawazin 

telah tiba lebih awal mendahului kami di lembah ini . lalu  mereka bersembunyi dari 

penglihatan kami di salah satu jalan. Mereka telah bertekad bulat dan siap tempur. Demi Allah, tidak 

ada yang membuat kami saat kami singgah, selain pasukan mereka yang menyerang kami dengan 

serentak ibarat serangan satu orang. Kami lari kocar-kacir sehingga tak seorang pun yang 

memperdulikan orang lain. 

Rasulullah bergeser ke sebelah kanan, lalu  berseru lantang: "Wahai manusia mendekatlah 

kepadaku, aku yaitu  Rasu lullah. Aku Muhammad bin Abdullah." Namun tidak ada respon, sebagian 

unta pergi meninggalkan unta lain dan seluruh orang berlarian. Hanya beberapa orang dari kaum 

Muhajirin, kaum Anshar, dan ahlul bait yang tetap bertahan bersama Rasulullah. Di antara para 

sahabat yang tetap setia bertahan bersama beliau dari kalangan kaum Mujahirin ialah Abu Bakar dan 

Umar bin Khathathab. Adapun yang tetap bertahan bersama beliau dari ahlul bait ialah Ali bin Abu 

Thalib, Al-Abbas bin Abdul Muthalib, Abu Sufyan bin Al-Harits beserta putranya, Al-Fadhl bin Al-Abbas, 

Rabi'ah bin Al-Harits, Usamah bin Zaid, dan Aiman bin Ummu Aiman bin Ubaid yang jika  itu gugur 

sebagai syahid. 

Ibnu Hisyam berkata: Nama putra Abu Sufyan bin Al-Harits ialah Ja'far dan nama Abu Sufyan sendiri 

ialah Al-Mughirah. Sebagian ulama memasukkan nama Qutsam bin Al-Abbas ke dalam daftar orang-

orang yang tetap bertahan bersama Rasulullah dan tidak mencantumkan nama Abu Sufyan bin Al-

Harits. 

Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah meriwayatkan kepadaku dari Abdurrahman bin Jabir 

dari ayahnya, Jabir bin Abdullah, ia berkata: Seseorang dari kabilah Hawazin mengendarai unta merah 

dengan memegang panji perang berwama hitam di ujung tombaknya yang panjang, ia berjalan di 

depan orang-orang Hawazin, sementara itu orang-orang Hawazin berjalan di belakangnya. Jika ia 

melihat sesuatu, ia menghunjamkan tombaknya ke tanah. Dan tatkala ia tidak melihat apa-apa, ia 

mengangkat tombak dan mengarahkannya kepada orang-orang yang ada di belakangnya, lalu  

mereka ber-jalan mengikutinya. 

Ibnu Ishaq berkata: jika  orang-orang kalah dan lari dari medan Perang Hunain dan salah seorang 

yang bersama Rasulullah melihat kekalahan ini , berkatalah beberapa orang dari mereka yang 

menyimpan dendam di dalam hatinya. Abu Sufyan bin Harb berkata: "Pelarian mereka tidak akan 

berakhir hingga mereka sampai di laut. Panah undian pasti berada di busur panahnya." 

Jabalah bin AI-Hanbal, (Ibnu Hisyam mengatakan Kaladah bin Al-Hanbal) dan saudaranya Shafwan bin 

Umayyah -seorang yang masih musyrik dalam kurun waktu yang telah ditentukan oleh Rasulullah- 

berteriak kencang: "Ketahuilah, pada hari ini sihir telah kalah." Shafwan bin Umayyah berkata kepada 

Jabalah atau Kaladah bin Al-Hanbal: "Diamlah kamu, semoga Allah memecahkan gigimu. Demi Allah, 

jika aku dipimpin seseorang dari Quraisy, itu lebih aku sukai ketimbang dipimpin seseorang yang 

berasal dari kabilah Hawazin." 

Ibnu Hisyam berkata: Hassan bin Tsabit mencibir Kaladah atau Jabalah bin Al-Hanbal: 

Kulihat orang hitam dari jauh dan aku pun takut olehnya 

Abu Hanbal menggauli Ummu Hanbal Orang yang berada di atas perut Ummu Hanbal 

Bagaikan lengan-lengan unta muda hasil perbuatan Ibnu 'Izhil 

 

Bait-bait syair ini  dibacakan kepadaku oleh Abu Zaid. Selain itu, dikatakan kepadaku bahwa 

Hassan bin Tsabit menujukan bait-bait syair tadi kepada Shafwan bin Umayyah yang merupakan 

saudara seibu Kaladah (atau Jabalah). 

 

Kegagalan Rencana Syaibah bin Utsman Membunuh Rasulullah 

Ibnu Ishaq berkata: Syaibah bin Utsman bin Abu Thalhah dari Bani Abduddar berkata: "Pada hari ini, 

aku bisa melampiaskan dendamku -karena ayahnya terbunuh di Perang Uhud-. Hari ini, aku akan 

membunuh Muhammad. Aku mengitarinya untuk membunuhnya, namun tiba-tiba ada sesuatu 

datang menutup hatiku yang membuat aku sama sekali tidak berdaya. Akhirnya aku sadar bahwa 

beliau terlindungi dariku." 

Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang warga Makkah meriwayat kepadaku bahwa Rasulullah bersabda 

-pada saat berangkat dari Makkah menuju Hunain dan melihat terdapat banyak tentara-tentara Allah 

yang ikut serta bersamanya-: "Pada hari ini, kita tidak akan dikalahkan karena jumlah yang sedikit." 

Ibnu Ishaq berkata: Sebagian ulama mengingatkan bahwa ucapan di atas merupakan ucapan 

seseorang yang berasal dari kabilah Bani Bakr. 

Ibnu Ishaq berkata: Ibnu Syihab Az-Zuhri meriwayatkan kepadaku dari Katsir bin Al-Abbas dari 

ayahnya, Al-Abbas bin Abdul Muthalib, ia berkata: "Aku bersama Rasulullah memegang tali kekang 

bighal (binatang hasil perkawinan antara kuda dan keledai) beliau yang berwarna putih. Aku letakkan 

tali kekang bighal ini  di antara dagunya. Aku yaitu  orang dengan perawakan besar dan memiliki 

suara keras. jika  melihat orang-orang lari dari medan perang Rasulullah bersabda: "Pada pergi 

kemana orang-orang?" Aku tidak melihat orang-orang menoleh kepada sesuatu apa pun. Karena itu, 

Rasulullah bersabda: "Wahai Abbas, katakanlah dengan lantang: "Wahai sekalian orang-orang Anshar, 

wahai seluruh orang-orang pemilik samurah." Mereka menjawab: "Labbaika, labbaika (kami 

memenuhi panggilanmu)." lalu  ada seseorang yang berusaha untuk membelokkan untanya, 

namun ia tidak kuasa. lalu  ia memakai baju besinya dan melemparkan dirinyaa dari atas unta. 

Lalu ia mengambil pedang dan tameng, lalu  berjalan tanpa mengendarai untanya menuju 

suaraku hingga ia tiba di sisi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallatn. 

jika  seratus orang telah berkumpul di tempat Rasulullah, mereka maju menghadapi musuh dan 

bertempur melawan mereka. Panggilan pertama dikumandangkan kepada orang anshar: "Hai orang-

orang Anshar!" lalu  ditujukan kepada orang Al-Khajraj: "Wahai orang-orang Al-Khazraj." Orang- 

orang Al-Khazraj dari kalangan Anshar merupakan orang-orang yang paling sabar dalam peperangan. 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam melihat medan perang dari atas hewan kendaraannya jika  

kedua belah pihak saling bertempur, lalu  bersabda: "Saat ini perang telah berkecamuk."196 

 

Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah meriwayatkan kepadaku dari Abdurrahman bin Jabir 

dari ayahnya, Jabir bin Abdullah, ia berkata: Pada saat kabilah Hawazin pemegang panji perang tengah 

berada di atas unta melakukan apa yang biasa dilakukan, tiba-tiba Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu 

Anhu dan seseorang dari Anshar menghampirinya. Ali bin Abu Thalib datang kepada pemegang panji 

perang kabilah Hawazin ini  dari arah belakang lalu  memukul dua urat tumit untanya 

dengan pedang hingga ia pun jatuh tersungkur. Pada saat yang bersamaan, sahabat dari kaum Anshar 

melompat ke arah pemegang panji kabilah Hawazin ini , lalu memukulinya dengan pedang 

hingga kakinya terputus. Pemegang panji perang kabilah Hawazin ini  pun tersungkur. Kedua 

belah pihak terus bertempur. Demi Allah, para sahabat yang semula lari dari perangan, kini mereka 

melihat para tawanan dalam keadaan terikat berada di samping Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam. 

Rasulullah melirik ke arah Abu Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muthalib ia termasuk salah seorang yang 

bersabar bersama beliau di perang ini , Saat ia masuk Islam, keislamannya baik. Dia yaitu  orang 

yang memegang tali belakang pelana bighal Rasulullah. Beliau bertanya: "Siapakah orang ini?'"Abu 

Sufyan bin Al-Harits bin Abdul Muthalib menjawab: "Aku anak pamanmu, wahai Rasulullah." 

 

Tentang Ummu Sulaim 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku bahwa Rasulullah menoleh dan 

melihat Ummu Sulaim binti Milhan yang pada saat itu ikut terjun ke medan perang bersama suaminya, 

Abu Thalhah. Ummu Sulaim mengikat pinggangnya dengan kain burdah karena sedang mengandung 

Abdullah bin Abu Thalhah, dan menaiki unta milik suaminya, ia khawatir terlempar dari untanya. Oleh 

sebab itu ia mendekatkan kepala unta kepadanya dan menggulungkan tali kendali unta ini  di 

tangannya. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada Ummu Sulaim: "Apakah engkau 

Ummu Sulaim?" Ummu Sulaim menjawab: "Benar! wahai Rasulullah. Bagaimana kalau engkau 

membunuh mereka yang melarikan diri darimu sebagaimana engkau membunuh orang-orang yang 

memerangimu, karena mereka layak diperlakukan demikian." Rasulullah bersabda: "Cukuplah Allah 

bagiku, wahai Ummu Sulaim?" Pada saat itu, Ummu Sulaim membawa pisau. Abu Thalhah bertanya 

kepada Ummu Sulaim: "Mengapa engkau membawa pisau, wahai Ummu Sulaim?" Ummu Sulaim 

menjawab: "Pisau ini sengaja aku bawa. Dan jika  ada salah seorang dari kaum musyrikin mendekat 

padaku, aku akan menikamnya dengan pisau ini." Abu Thalhah berkata: "Wahai Rasulullah, tidakkah 

engkau mendengar apa yang dikatakan oleh Ummu Sulaim Ar-Rumaisha?" 

Ibnu Ishaq berkata: "jika  Rasulullah berangkat menuju Hunain, Bani Salim bersatu dengan Adh-

Dhahhak bin Sufyan Al- Kilabi. Pada saat orang-orang melarikan diri, Malik bin Auf An-Nashri bertutur 

kepada kudanya: 

Majulah hai Muhaj, mereka yaitu  peminpin perang yang baik 

Janganlah engkau tertipu bahwa musuh sudah berlalu 

 

Ibnu Hisyam berkata: Kedua bait di atas bukanlah syair Malik bin Auf An-Nashri dan dilantunkan bukan 

pada Perang Hunain. 

 

Abu Qatadah dan Hasil Rampasannya 

Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr meriwayatkan kepadaku bahwa ia diberitahu dari Abu 

Qatadah Al-Anshari. Aku juga diberitahu orang yang tidak aku ragukan integritasnya dari Nafi' mantan 

budak Bani Ghifar Abu Muhammad dari Abu Qatadah, ia berkata: "Pada Perang Hunain, aku melihat 

dua orang; muslim dan kafir sedang bertempur. Tiba-tiba salah seorang dari kaum musyrikin ingin 

membantu temannya untuk menghadapi lawannya yang muslim. Aku hampiri orang itu dan aku tebas 

tangannya hingga terputus. Lalu ia merangkulku dengan tangan kirinya. Demi Allah, ia tidak 

membiarkanku hingga aku mencium aroma darah. Menurut Ibnu Hisyam, aroma kematian, dan 

hampir saja ia membunuhku andai ia tidak kehabisan darah. Lalu ia terjatuh, lalu  aku 

menyerangnya kembali hingga ia pun tewas. Perang membuatku menjauh dari orang ini , tiba-

tiba seseorang dari warga Makkah melewati orang tadi lalu  mengambil barang yang ada pada 

tubuhnya. sesudah  perang berakhir dan kami berhasil mengalahkan musuh, Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa membunuh salah seorang korban, ia berhak atas salab (harta 

kekayaan) korban itu." Aku berkata: "Wahai Rasulullah, demi Allah, aku telah membunuh salah 

seorang musuh yang mempunyai salab (kekayaan) lalu  kecamuk perang memisahkanku dari 

orang ini  sehingga aku tidak tahu siapa yang mengambilnya." Seseorang dari warga Makkah 

berkata: "Ia (Abu Qatadah) berkata benar, wahai Rasulullah. Harta orang yang ia bunuh kini ada 

padaku." Mintakanlah untukku agar ia (Abu Qatadah) merelakannya untuk aku miliki." Abu Bakar Ash-

Shiddiq Radhiyallahu Anhu berkata kepada orang Makkah ini : "Tidak, Allah tidak meridhai hal 

ini. Engkau sengaja mendekat kepada salah seorang singa Allah yang berperang karena Allah karena 

maksud agar dapat berbagi rampasan dengannya. Kembalikanlah barang itu kepada pemiliknya." 

Rasulullah bersabda kepada orang Makkah ini : "Abu Bakar berkata benar, kembalikanlah salab 

itu kepada pemiliknya." Aku pun segera mengambil salab dari orang itu lalu  menjualnya. 

Uang dari hasil penjualannya, aku gunakan untuk membeli sebuah kebun kurma dan itulah kekayaan 

pertama yang aku miliki.197 

 

Ibnu Ishaq berkata: Orang yang tidak aku ragukan integritasnya meriwayatkan kepadaku dari Abu 

Salamah dari Ishaq bin Abdullah bin Abu Thalhah dari Anas bin Malik, ia berkata: Abu Qatadah sendiri 

berhasil mendapat  rampasan (salab) dari dua puluh orang di Perang Hunain. 

 

Kekalahan Orang-orang Khawazin dan Kehadiran Malaikat di Medan Perang 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar meriwayatkan kepadaku dari Jubair bin Muth'im, ia berkata: 

Sebelum kekalahan musuh dan saat kedua belah pihak bertempur, aku melihat seperti gumpalan 

hitam turun dari langit di tempat antara kami dan musuh. Aku perhatikan, ternyata gumpalan hitam 

itu yaitu  semut yang berserakan dan memenuhi lembah. Aku yakin bahwa itu yaitu  para malaikat, 

karena yang terjadi sesudah  itu yaitu  kekalahan musuh. 

Ibnu Ishaq berkata: Saat Allah Ta'ala mengalahkan orang-orang musyrikin pada Perang Hunain dan 

memberikan kemenangan kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, seorang wanita dari kaum 

Muslimin melantunkan syair: 

Kuda Allah telah mengalahkan kuda Al-Lata  

Dan Allah lebih Perkasa 

 

Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang pakar syair membacakan kepadaku syair berikut: 

Sungguh kuda Allah telah mengalahkan kuda Al-Lata 

Dan kuda-Nya itu lebih perkasa 

 

Ibnu Ishaq berkata: jika  orang-orang kabilah Hawazin menyerah, terdapat banyak korban di pihak 

Tsaqif Bani Malik; tujuh puluh orang dari mereka terbunuh, termasuk di dalamnya Utsman bin 

Abdullah bin Rabi'ah bin Al-Harits bin Habib. Pada awalnya panji perang mereka dipegang oleh Dzu Al-

Khimar. sesudah  Dzu Al-Khimar tewas, panji perang itu diambil-alih oleh Utsman bin Abdullah yang 

lalu  bertempur dengan panji itu hingga tewas. 

Ibnu Ishaq berkata: Aku diberitahu Ami