mereka mempunyai kaum
kerabat walaupun mereka berseberangan dengan kita." Amr bin Al-Ash berkata: "Demi Allah, aku akan
jelaskan kepada Najasyi, bahwa sahabat-sahabat Muhammad meyakini Isa bin Maryam hanyalah
seorang manusia biasa."
Esok harinya, Amr bin Al-Ash kembali menghadap Najasyi untuk kedua kalinya dan berkata kepadanya:
"Wahai tuan raja, mereka meyakini sesuatu yang di luar batas tentang Isa bin Maryam. Oleh karena
itu, kirimlah seseorang untuk menghadirkan mereka ke sini agar engkau bisa menanyakan tentang
pendapat mereka terhadap Isa bin Maryam!" Najasyi mengirim utusan untuk menanyakan pendapat
kaum Muslimin terhadap Nabi Isa bin Maryam.
Ummu Salamah berkata: Kami belum pernah berhadapan dengan persoalan rumit seperti ini
sebelumnya. Pada saat yang bersamaan, kaum Muslimin mengadakan diskusi. Sebagian di antara
mereka bertanya kepada sebagian yang lain: "Apa yang akan kalian katakan tentang Isa bin Mar yam
jika raja Najasyi menanyakan hal itu kepada kalian?" Sebagian lain menjawab: "Demi Allah,akan kita
katakan seperti yang difirmankan Allah, dan dibawa Nabi kita. Itulah yang akan kita katakan."
jika kaum Muslimin masuk ke tempat Najasyi, Najasyi bertanya kepada mereka: "Apa keyakinan
kalian tentang Isa bin Maryam?" Jafar menjawab: "Dalam pandangan kami, Isa bin Maryam ialah
seperti dikatakan Nabi kami bahwa Isa yaitu hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya, dan Kalimat-Nya yang
ditiupkan ke dalam rahim Maryam sang perawan." Najasyi memukul tanah dengan tangannya lalu dia
mengambil sebuah tongkat, lalu berkata: "Demi Allah, apa yang dikatakan Isa bin Maryam
mengenai tongkat ini tidak jauh berbeda dengan apa yang engkau yakini."
Para uskup yang ada di sekeliling Najasyi mendengus geram jika mendengar apa yang dikatakan
Najasyi. Najasyi berkata: "Ada apa dengan kalian!" Kepada kaum Muslimin, Najasyi berkata: "Kalian
tetap aman di negeriku. Barangsiapa melecehkan kalian, ia pasti merugi. Barangsiapa merendahkan
kalian, ia pasti merugi. Barangsiapa menghina kalian, ia merugi. Memiliki gunung dari emas, jika aku
harus menyakiti salah seorang dari kalian maka hal itu sangat kubenci. Kembalikan hadiah-hadiah ini
kepada dua orang utusan Quraisy. Demi Allah, Dia tidak pernah menyuapku untuk mendapat
kekuasaan dariku, apakah pantas jika lalu aku mengambil suap di dalamnya. Allah jadikan
manusia tidak taat padaku lalu haruskah aku jadikan taat mereka padaku." lalu kedua utusan
Quraisy keluar dari hadapan Najasyi dalam keadaan kecewa sekali. Sementara kami tetap tinggal di
negeri Najasyi dengan nyaman dan perlakukan yang baik.
Ummu Salamah berkata: Demi Allan, selama di sana kami hidup bahagia hingga muncul seorang dari
Habasyah yang berusaha menggeser Najasyi dari kursi kerajaan. Demi Allah, kami belum pernah
bersedih seperti saat itu. Kami khawatir orang ini berhasil menjatuhkan Najasyi, sehingga
muncullah orang yang tidak mengetahui kondisi kami, sebagaimana Najasyi mengetahui kondisi kami.
Najasyi lalu berangkat menemui lawannya di tepian Sungai Nil. Sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam berkata: "Siapa yang berani menyaksikan berke- camuknya peperangan dua pasukan
ini lalu datang ke sini lagi dengan membawa berita?"
Zubair bin Awwam berkata: "Aku siap!" Mereka berkata: "Bagus?" Zubair yaitu orang yang termuda
di antara kami. Sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengisi tempat air untuk
Zubair bin Awwam dan menggantungkannya di dadanya. lalu Zubair keluar menuju tepian
Sungai Nil, di mana dua pasukan bertemu. Kami semua ber- doa kepada agar Allah memenangkan
Najasyi atas musuhnya, dan memberikan kekokohan di negerinya. Demi Allah, di saat kami sedang
berharap seperti itu, tiba-tiba Zubair berlari-lari sambil memberi isyarat dengan bajunya, ia berkata:
"Bergembiralah, Najasyi telah menang. Allah memenangkannya, dan memberikan ketentaraman di
negaranya. "Demi Allah, kami bahagia sekali saat itu. sesudah itu, Najasyi pulang. Allah memberikan
keamanan di negaranya. Habasyah pun semakin kokoh di bawah kepemimpinan Najasyi. Kami tinggal
di sana dengan tentram hingga pulang ke Makkah bertemu kembali dengan Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam. "
Kisah Penguasaan Najasyi Atas Habasyah
Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri bercerita, aku pernah berdiskusi dengan Urwah bin Zubair tentang hadits
Abu Bakr bin Abdurrahman dari Ummu Salamah, istri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Urwah
bin Zubair berkata: "sebenarnya Ummul Mukminin, Aisyah berkata kepadaku bahwa ayah Najasyi
yaitu seorang raja. Ia hanya mempunyai satu anak, yaitu Najasyi. Ayahnya mempunyai seorang
saudara yang memiliki anak dua belas orang. Mereka yaitu keluarga istana Habasyah. Orang-orang
Habasyah berkata: "Bagaimana kalau kita habisi saja ayah Najasyi lalu kita gantikan ia dengan
saudaranya sebagai raja yang baru, karena ayah Najasyi hanya mempunyai satu anak saja, sedang
saudara ayahnya mempunyai dua belas anak lalu mereka mewarisi kerajaan sepeninggal
kematian ayahnya. Orang-orang ini lalu menyiksa ayah Najasyi dan menghabisinya.
Sepeninggalnya, mereka mengangkat saudara ayah Najasyi sebagai raja baru. Najasyipun hidup
bersama pamannya. Najasyi anak yang brilian dan penuh kemauan hingga lebih populer ketimbang
pamannya, dan menurunkan pamor pamannya itu. jika orang-orang Habasyah memahami posisi
Najasyi dibandingkan pamannya, mereka berkata: "Demi Allah, anak muda ternyata lebih populer
dibanding pamannya. Kami khawatir jika ia diangkat sebagai raja, pasti ia akan menghabisi kami
semua, karena lambat laun ia pasti tahu bahwa kami telah membunuh ayahandanya."
Lalu mereka berangkat menuju tempat paman Najasyi dan berkata: "Bunuhlah anak muda ini, karena
kami khawatir ia mengancam keselamatan diri kami." Pamannya berkata: "Sialan kalian, aku telah
membunuh ayahnya kemarin, apakah aku harus membunuh anaknya juga pada hari ini? Namun aku
akan keluarkan dia dari negeri kalian!"
Orang-orang ini menyeret Najasyi ke pasar, lalu menjualnya kepada seorang pedagang
dengan harga enam ratus dirham. Pedagang ini membaa Najasyi ikut serta ke dalam
pelayarannya. Pada petang hari itu juga, awan musim gugur bertiup. Paman Najasyi keluar rumah,
namun tiba-tiba ia disambar petir hingga tewas.
Orang-orang Habasyah mencari anak raja yang meninggal itu, namun ternyata mereka hanya
mendapat seorang yang bodoh tidak memiliki kebaikan. Persoalan orang-orang Habasyah pun
semakin berantakan. Karena kondisi sulit yang mereka hadapi, sebagian dari mereka berkata kepada
yang lain: "Demi Allah, sekarang kalian baru sadar, karena sebenarnya raja kalian yang mampu
menyelesaikan persoalan yaitu raja yang telah kalian jual pagi tadi. Jika kalian masih ingin hidup
sentosa di Habasyah, kejarlah dia saat ini juga!" Mereka mengejar Najasyi dan mencari pedagang yang
membelinya. jika mereka berhasil menemukannya, mereka mengambilnya dari pedagang ini .
lalu mereka membawa Najasyi pulang ke Habasyah, lalu mengangkatnya sebagai raja."
Tak lama lalu , pedagang yang mem- beli Najasyi menemui orang-orang Habasyah. Ia berkata:
"Kalian harus mengembalikan uangku, atau mengizinkan aku berbicara dengan Najasyi." Mereka
berkata: "Kami tidak akan memberi uang sepeserpun kepadamu." Orang ini berkata: "Kalau
begitu, izinkan aku berbicara dengan Najasyi." Mereka berkata: "Silahkan saja engkau bicara
dengannya."
Orang ini menemui Najasyi dan berkata: "Wahai tuan raja, aku pernah membeli seorang budak
di pasar dengan harga enam ratus dirham. jika aku pulang membawa budak itu, mereka
mengejarku, lalu mengambilnya dariku tanpa mengganti rugi uang yang telah aku bayarkan
kepada mereka."
Najasyi berkata kepada orang-orang Habasyah: "Kalian harus mengembalikan uang dirhamnya atau
budak ini menyerahkan dirinya kepada orang itu, dan ia pulang membawanya." Orang-orang
Habasyah berkata: "Jangan! Kami akan kembalikan uang dirhamnya kepadanya."
Aisyah melanjutkan: "Itulah berita pertama tentang kekokohan agama Najasyi, dan keputusannya
yang sangat adil. "
Ibnu Ishaq berkata: Yazid bin Ruman berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari Aisyah yang berkata:
jika Najasyi meninggal dunia, kuburannya cahaya.
Orang-Orang Habasyah Menentang Najasyi
Ibnu Ishaq berkata: Ja'far bin Muhammad berkata kepadaku dari ayahnya yang berkata: Orang-orang
Habasyah berkata kepada Najasyi, "sebenarnya engkau telah meninggalkan agama yang kita anut
dan mutlat mengikuti agama mereka." Najasyi mengirim seseorang untuk menemui Ja'far dan
sahabat-sahabatnya untuk menyiapkan perahu-perahu bagi kaum Muhajirin. Najasyi berkata:
"Amankalah diri kalian ke dalam perahu-perahu. Jika ternyata nanti aku kalah, pergilah kalian ke mana
saja kalian suka. Jika aku menang, kumohon tetaplah kalian di sini."
Najasyi lalu menulis surat yang di dalam suratnya ia bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang pantas
disembah dengan benar kecuali Allah dan bahwa Muhammad yaitu hamba Allah dan utusan-Nya. Ia
juga bersaksi bahwa Isa bin Maryam yaitu hamba Allah, Rasul-Nya, Ruh-Nya, dan Kalimat-Nya yang
Dia tiupkan kepada Maryam. lalu ia menemui orang-orang Habasyah yang sedang berbaris
untuknya. Najasyi berkata: "Wahai orang-orang Habasyah, bukankah aku orang yang paling berkuasa
atas kalian?"
Mereka menjawab: "Ya, benar!"
Najasyi berkata: "Menurut kalian aku ini bagaimana?"
Mereka menjawab: "Engkau yaitu manusia yang paling baik."
Najasyi berkata: "Jika demikian, lalu apa yang terjadi pada kalian?"
Mereka menjawab: "Engkau telah keluar dari agama kami dan meyakini bahwa Isa yaitu seorang
hamba Allah."
Najasyi bertanya: "Lalu apa pendapat kalian tentang Isa?"
Mereka menjawab: "Isa yaitu anak Allah."
Najasyi berkata sambil meletakkan tangannya di dadanya-, bahwa ia bersaksi Isa yaitu anak Maryam
dan tidak lebih dari itu seperti yang tertulis dalam surat yang telah ia tulis. Orang-orang Habasyah pun
rela, lalu mereka berbalik dari hadapannya.
Hal di atas didengar Nabi Shallalahu 'alaihi wa Sallam. jika Najasyi meninggal dunia, beliau
menshalatinya dan memohonkan ampunan kepada Allah untuknya.
Kisah Masuk Islamnya Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abu Rabi'ah bertemu dengan orang-orang
Quraisy dalam keadaan gagal menarik pulang sahabat-sahabat Rasululah Shallalahu 'alaihi wa Sallam,
dan Najasyi tidak memperkenankan permintaan mereka, pada saat itulah Umar bin Khaththab
memeluk Is lam. la sosok yang mempunyai harga diri yang tinggi dan anti penghinaan. Sahabat-
sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam terlindungi dengan masuk Islamnya Umar bin
Khaththab dan Hamzah bin Abdul Muthalib hingga membuat orang-orang Quraisy tidak lagi berani
menyiksa mereka. Abdullah bin Mas'ud berkata: "Dulunya kami tidak berani shalat di samping Ka'bah
sebelum Umar bin Khaththab masuk Islam. jika Umar bin Khaththab masuk Islam, ia memenangi
duel melawan orang-orang Quraisy hingga ia bisa shalat di samping Ka'bah dan kami pun ikut shalat
bersamanya." Masuk Islamnya Umar bin Khaththab terjadi sesudah beberapa sahabat Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhijrah ke Habasyah.
Al-Bakkai berkata: Mis'ar bin Kidam berkata kepadaku dari Sa'ad bin Ibrahim yang bercerita bahwa
Abdullah bin Mas'ud berkata: sebenarnya masuk Islamnya Umar bin Khaththab yaitu sebuah
pembuka kemenangan. Hijrahnya memberikan kemenangan. Dan pemerintahannya yaitu karunia.
Awal- nya kami tidak berani shalat di sisi Ka'bah sampai Umar bin Khaththab masuk Islam. jika
masuk Islam, ia memenangi duel melawan orang-orang Quraisy hingga ia berhasil shalat di samping
Ka'bah dan kami ikut shalat berjamaah bersamanya.
Ibnu Ishaq berkata: Telah berkata kepadaku Abdurrahman bin Al-Harits bin Abdullah bin Ayyasy bin
Abu Rabi'ah dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Amr bin Rabi'ah dari ibunya, yaitu Ummu Abdullah binti
Abu Hatsmah yang berkata: "Demi Allah, saat bersiap- siap akan pergi ke negeri Habasyah. Suamiku
Amir pergi memenuhi sebagian kebutuhannya. Namun tiba-tiba Umar bin Khaththab yang jika itu
masih musyrik sudah berdiri di hadapanku."
Ummu Abdullah berkata: "Sebelumnya, kami selalu diganggu dan disiksa olehnya." Umar bin
Khaththab berkata: "Kelihatannya engkau mau berangkat, wahai Ummu Abdullah?" Aku berkata: "Ya
betul, kami akan pergi ke negeri Allah, karena kalian telah menyiksa dan menganiaya kami, hingga
Allah memberikan jalan keluar bagi kami." Umar bin Khaththab berkata: "Semoga Allah bersama
kalian!" Ummu Abdullah berkata: "Saat itu, kulihat kelembutan pada diri Umar bin Khaththab yang
tidak pernah kulihat sebelum ini. lalu ia pergi dan menurut perasaanku ia demikian sedih atas
kepergian kami."
Ummu Abdullah berkata: Sejurus lalu , Amir datang dan berkata kepadanya: "Wahai Abu
Abdullah, andaikata engkau tadi melihat kelembutan dan duka cita Umar bin Khaththab atas
kepergian kita?" Amir berkata: "Apakah dia sudah masuk Islam?" Ummu Abdullah berkata: "Aku
berkata: "Entahlah!" Amir berkata: "Umar tidak akan mungkin masuk masuk Islam hingga keledainya
masuk Islam." Ummu Abdullah berkata: "Dia mengatakan hal itu karena merasa putus asa melihat
sikap keras Umar bin Khaththab dan kebenciannya sangat keras kepada Islam."
Ibnu Ishaq berkata: Mengenai sebab masuk Islamnya Umar bin Khaththab seperti disampaikan
kepadaku bahwa saudara perem- puannya Fathimah binti Khaththab yang bersuamikan Sa'id bin Zaid
bin Amr bin Nufail telah sama-sama masuk Islam tanpa sepengetahuan Umar bin Khaththab. Nu'aim
bin Abdullah An-Nahham, salah seorang dari kaumnya yaitu Bani Adi bin Ka'ab juga telah masuk Islam
dan merahasiakan keislamannya karena khawatir kepada kaumnya. Khabbab bin Al-Arat sering bolak
balik pulang pergi ke rumah Fathimah binti Khaththab guna membacakan Al-Qur'an kepadanya. Pada
suatu jika , Umar bin Khaththab keluar berniat berduel dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sal-
lam dan beberapa sahabat beliau, yang sedang berkumpul di salah satu rumah di bukit Shafa. Mereka
berjumlah sekitar empat puluh orang; laki-laki dan perempuan. jika itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam berkumpul bersama Hamzah bin Abdul Muthalib, Abu Bakar bin Abu Quhafah Ash Shiddiq,
dan Ali bin Abu Thalib. Sahabat-sahabat yang hadir di rumah ini yaitu sahabat-sahabat yang
tetap tinggal bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Makkah dan tidak ikut hijrah ke
Habasyah. Di tengah jalan, Umar bin Khaththab bertemu dengan Nu'aim bin Abdullah. " Nu'aim bin
Abdullah bertanya kepada Umar bin Khaththab: "Mau pergi ke mana, wahai Umar?" Umar bin
Khaththab menjawab: "Aku hendak pergi mencari Muhammad, orang yang keluar dari agama kita,
yang memecah belah persatuan orang-orang Quraisy, mendungu-dungukan mimpi-mimpi kita,
melecehkan, dan menghina agama kita, untuk aku bunuh dia." Nu'aim bin Abdullah berkata kepada
Umar bin Khaththab: "Demi Allah, engkau bodoh sekali bila bertindak demikian, wahai Umar. Apakah
Bani Abdu Manaf akan membiarkanmu hidup sesudah engkau membunuh Muhammad? Kenapa
engkau tidak pulang kepada keluargamu dan meluruskan persoalan mereka?" Umar bin Khaththab
berkata: "Keluargaku yang mana?" Nu'aim bin Abdullah berkata: Ya, saudara iparmu yang juga saudara
misanmu Sa'id bin Zaid bin Amr, dan Fathimah bin Khaththab, demi Allah, keduanya telah masuk Islam,
dan menganut agama Muhammad, perhatikan dulu keduanya." Umar bin Khaththab segera bergegas
berbalik arah menuju rumah saudarinya dan saudara iparnya. jika itu di rumah mereka berdua ada
Khabbab bin Al-Arat yang sedang membacakan surat Thaha. jika mereka bertiga mendengar suara
Umar bin Khaththab, Khabbab bin Al-Arat bersembunyi di rumah kecil persembunyian atau di salah
satu bagian rumah, sedang Fathimah binti Khaththab bergegas mengambil lembaran surat Thaha dan
menyembunyikannya. Saat mendekati rumah ini Umar bin Khaththab telah mendengar bacaan
surat Thaha oleh Khabbab. Tatkala Umar bin Khaththab telah masuk rumah, ia berkata: "Suara apa
yang aku dengar tadi?" Sa'id bin Zaid dan Fathimah menjawab: "Aku tidak mendengar suara apa-apa."
Umar bin Khaththab berkata: "Demi Allah, sungguh aku telah menerima kabar bahwa kalian berdua
telah memeluk agama Muhammad." lalu Umar bin Khaththab menghajar saudara iparnya, Sa'id
bin Zaid, dan Fathimah pun bangkit melindunginya dari pukulan Umar bin Khaththab. Umar bin
Khaththab tanpa sengaja menghajar Fathimah hingga terluka. Karena Umar bin Khaththab bersikap
seperti itu, Fathimah dan suaminya berkata: "Benar, kami berdua telah memeluk agama Islam,
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Silahkan lakukan apa saja yang engkau mau terhadap kami."
jika Umar bin Khaththab melihat darah yang menetes di tubuh adik perempuannya ia menyesal
atas tindakannya. Sadar akan kesalahan yang dilakukannya ia berkata kepada adik perempuannya:
"Bolehkah aku melihat lembaran yang aku dengar tadi agar aku melihat apa sebenarnya yang dibawa
Muhammad." Umar bin Khaththab yaitu seorang yang pandai menulis. Mendengar Umar bin Khath-
thab berkata seperti itu, adik perempuannya berkata: "Sungguh, kami khawatir engkau merobek-
robek lembaran ini ." Umar bin Khaththab berkata: "Engkau tidak perlu khawatir!!. Umar bin
Khaththab bersumpah kepada adikperempuannva dengan menyebut nama Tuhannya, bahwa ia pasti
mengembalikan lembaran ini kepadanva jika telah selesai membacanya. Ia berkata kepada
Umar bin Khaththab: "Wahai saudaraku, sebenarnya engkau najis, karena engkau seorang yang
musyrik. Lembaran ini tidak boleh disentuh kecuali oleh orang rang suci." lalu Umar bin
Khaththab berdiri, lalu mandi. Usai mandi, Fathimah memberikan lembaran ini kepadanva. Di
lembaran ini tertulis: 'Thaaha.' Umar bin Khaththab membacanya. jika ia membaca
permulaan surat ini , ia berkata: "Betapa indahnya dan mulianya perkataan ini!" jika Khabbab
bin Al-Arat mendengar ucapan Umar bin Khaththab ini , ia keluar dari persembunyiannya dan
menemui Umar bin Khaththab. Khabbab bin Al-Arat berkata kepada Umar bin Khaththab: "Wahai
Umar, demi Allah, aku berharap kiranya Allah menjadikanmu sebagai orang yang didoakan Nabi-Nya,
karena kemarin aku mendengar beliau bersabda: 'Ya Allah, kuatkanlah Islam ini dengan Abu Al-Hakam
bin Hisyam atau dengan Umar bin Khaththab.'37 Maka bersegeralah wahai Umar." Umar bin Khaththab
berkata: "Wahai Khabbab, ada di mana Muhammad kini berada agar aku bisa menemuinya lalu aku
masuk Islam." Khabbab bin Al-Arat berkata kepadanya: "Beliau berada di Shafa di sebuah rumah
bersama beberapa orang sahabatnya."
Umar bin Khaththab mengambil pedangnya, dengan terhunus sambil berjalan menuju tempat
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya. Ia mendobrak pintu rumah tempat
berkumpulnya para sahabat. jika mereka mendengar suara Umar bin Khattab,salah seorang
sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengintip dari celah- celah pintu dan melihat Umar
bin Khaththab sedang menghunus pedang. Sahabat ini kembaii kepada Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sdlam dalam keadaan sangat ketakutan. Ia berkata: "Wahai Rasulullah, Umar bin Khaththab
sedang menghunus pedangnya." Hamzah bin Abdul Muthalib berkata: "Jangan pedulikan dia. Jika ia
menginginkan kebaikan, kita benkan padanya kebaikan. Jika keburukan vang dia inginkan, kita akan
habisi dia dengan pedangnya sendiri." Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam bersabda: "Biarkanlah
saja dia masuk." Salah seorang sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membukakan pintu dan
mempersilahkan Umar bin Khaththab masuk, lalu Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam
menyambut kedatangannya dan menemuinya di dalam kamar. Beliau mengambil tempat ikatan
celana atau ikatan selendangnya, lalu menarik Umar bin Khaththab dengannya dengan tarikan
yang sangat keras, sambil bersabda kepadanya: "Apa yang membuatmu datang ke sini, wahai anak
Khaththab? Demi Allah jika engkau tidak menghentikan tindakanmu selama ini, Allah akan
menurunkan siksa kepadamu." Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Rasulullah, aku datang
menemuimu untuk beriman kepada Allah, Rasul-Nya, dan apa saja yang engkau bawa dari Allah."
Mendengar jawaban Umar bin Khaththab, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertakbir dengan
keras. Dengan takbir itulah sahabat-sahabat di rumah ini paham bahwa Umar bin Khaththab
telah masuk Islam.
Sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam begitu senang dengan keislaman Umar bin
Khaththab dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Mereka sadar sepenuhnya
bahwa keduanya akan membentengi Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan dengan keduanya
mereka menghadapi musuh-musuh Islam. Itulah kisah para perawi'Madinah tentang keislaman Umar
bin Khaththab.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Najih Al-Makki berkata kepadaku dari sahabat-sahabatnya dari
Atha' dan Mujahid, atau dari orang yang meriwayatkannya bahwa keislaman Umar bin Khaththab,
sebagaimana mereka katakan, bahwa Umar bin Khaththab pernah berkata: "Aku awalnya demikian
jauh dari Islam. Aku hobi meneguk minuman keras. Aku sangat menyukainya dan meminumnya. Dulu
kami mempunyai auditorium tempat orang-orang Quraisy biasa bertemu. Auditorium ini
terletak di bukit kecil di pemukiman keluarga Umar bin Abd bin Imran Al-Makhzumi. Pada suatu
malam, aku keluar rumah untuk mencari teman-temanku di auditorium itu. Aku mendatangi tempat
mereka, namun tidak menemukan seorang pun. Aku berkata: "dibandingkan menganggur sebaiknya aku
berangkat menemui Si Fulan penjual minuman keras, di Makkah dan minum di sana. Lalu aku pergi ke
tempat Si Fulan ini , sayang aku tidak berhasil berjumpa dengannya dengannya."
Aku berkata: Ah, lebih baik aku pergi thawaf mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh atau tujuh puluh kali.
Maka akupun datang ke Masjidil Haram untuk thawaf di Ka'bah, tanpa sepengetahuanku Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang berdiri shalat. Jika shalat, beliau menghadap Syam, dan
menjadikan Ka'bah di antara beliau dengan Syam. Tempat shalat beliau di antara dua rukun, rukun
Aswad dan rukun Yamani. jika aku melihat beliau, aku berkata dalam hati. "Demi Allah, alangkah
baiknya jika aku mendekat kepada Muhammad pada malam ini agar aku bisa mendengar apa yang
dia katakan." Aku juga berkata: "Andai aku mendekat padanya dan mendengarkan apa yang dia
katakan, pasti aku membuatnya kaget." Maka aku datang ketempat beliau dari arah Hijr dan aku
masuk dari bawah kainnya. Aku berjalan pelan-pelan, sedang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
berdiri shalat dengan membaca Al-Qur'an hingga aku berdiri persis di depannya. jika aku
mendengar Al-Qur'an, tak bisa kupungkiri hatiku tertarik padanya. Aku menangis, dan Al-Qur'an
membuatku mengambil keputusan untuk memeluk Islam. Aku terpana di tempatku hingga Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam menuntaskan shalatnya. sesudah shalat beliau pergi. jika pulang, beliau
berjalan hingga muncul di rumah Ibnu Abu Husain. Itulah jalan yang biasa beliau lewati, hingga beliau
memotong jalan, lalu berjalan di antara rumah Abbas bin Abdul Muthalib dan rumah Ibnu Azhar
bin Abdu Auf Az-Zuhri, lalu berjalan ke di rumah Al-Akhnas bin Syariq hingga beliau masuk
rumahnya. Tempat kediaman beliau yaitu sebuah rumah yang berwarna warni yang berada di tangan
Muawiyah bin Abu Sufyan. Aku ikuti beliau hingga masuk di antara rumah Abbas dan rumah Ibnu
Azhar, dan aku berhasil menemukan beliau. jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendengar
suara langkah kakiku, beliau mengenaliku. Beliau mengira aku mengikutinya untuk menyiksanya.
Beliau membentakku, lalu bersabda: "Apa yang mendorongmu datang ke tempat ini pada jam
seperti ini, wahai anak Khaththab?" Aku menjawab: "Aku datang untuk beriman kepada Allah, dan
Rasul-Nya, serta kepada apa saja yang dibawa Rasul-Nya dari Allah!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam memuji Allah lalu bersabda: "Allah telah memberi hidayah kepadamu, wahai Umar."38
sesudah itu, beliau memegang dadaku dan berdoa semoga aku tegar dalam agama ini. Lalu aku pergi
dari Rasulullah Shalialahu alaihi wa Sallam.
Ibnu Ishaq berkata: Wallahu alam tentang mana riwayat yang benar.
Ibnu Ishaq berkata: Naff eks budak Abdullah bin Umar berkata kepadaku dari Ibnu Umar Radhiyallahu
Anhuma ia berkata: "Tatkala ayahku masuk Islam, ia berkata: 'Siapakah di antara orang-orang Quraisy
yang paling pintar dalam menyebarkan gosip?" Maka Umar bin Khaththab diberi tahu bahwa untuk
urusan itu yaitu Jamil bin Ma'mar Al-Jumahi orangnya. lalu Umar bin Khaththab pergi ke
rumah Jamil bin Ma'mar Al-Jumahi. Aku membuntutinya dan aku lihat apa yang akan dia lakukan. Saat
itu aku masih kanak- kanak namun telah bisa menangkap apa yang aku lihat. Setibanya di rumahnya,
Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Jamil, apa kau sudah tahu bahwa aku memeluk Islam dan
memeluk agama Muhammad?" Ibnu Umar berkata: "Demi Allah, Jamil bin Ma'mar tidak merespon
perkataan Umar bin Khaththab. Ia berdiri dengan menarik kainnya. Ia dibuntuti Umar bin Khaththab
dan aku mengikuti ayahku. jika Jamil bin Ma'mar berdiri di pintu masjid, ia berteriak dengan suara
terkerasnya: "Wahai orang-orang Quraisy -saat itu mereka sedang berkumpul di sekitar pintu Ka'bah
ketahuilah bahwa Umar bin Khaththab telah kafir dari agama nenek-moyang kalian!"
Ibnu Umar berkata: Umar bin Khaththab menyeru dari belakangnya: "Dia berdusta, sebenarnya aku
telah masuk Islam, dan bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan
Muham¬mad yaitu hamba Allah dan Rasul-Nya." lalu orang-orang Quraisy menyerang Umar
bin Khaththab dan Umar bin Khaththab membalas menyerang hingga mereka hampir mati. Ibnu Umar
berkata: "Umar bin Khaththab kelelahan, lalu ia duduk, sedang orang-orang Quraisy
mengepungnya. Umar bin Khaththab berkata: "Kerjakan apa saja yang kalian mau. Aku bersumpah
dengan nama Allah, andai saja jumlah kami telah mencapai tiga ratus orang, pasti kami duel kita
berjalan seimbang." Ibnu Umar berkata: "jika mereka dalam posisi seperti itu, tiba-tiba muncullah
orang tua dari Quraisy yang mengenakan pakaian asal Yaman, dan baju gamis. Ia berdiri di depan
mereka dan berkata: "Apa yang terjadi dengan kalian?" Mereka berkata: "Umar bin Khaththab telah
murtad." Orang ini berkata: "Lalu apa kalian sewot? Ia telah memilih sesuatu untuk dirinya, lalu
apa yang kalian inginkan darinya? Apakah kalian pikir Bani Adi bin Ka'ab akan menyerahkan saudara
mereka kepada kalian? Biarkanlah orang ini!" Ibnu Umar berkata: "Demi Allah, mereka seperti baju
yang ditanggalkan dari Umar bin Khaththab."
Ibnu Umar berkata: Aku bertanya kepada ayahku, usai ia Hijrah ke Madinah: Ayah, siapakah laki-laki
tua yang melindungimu dari orang-orang Quraisy pada hari engkau masuk Islam dan mereka
mengeroyokmu?" Umar menjawab: "Ananda, dialah Al-Ash bin Wail As-Sahmi."
Ibnu Hisyam berkata: Salah seorang dari orang berilmu berkata kepadaku bahwa Ibnu Umar berkata:
"Ayahanda, siapakah orang yang melindungimu dari orang-orang Quraisy pada saat engkau masuk
Islam dan mereka menyerangmu, mudah-mudahan Allah mem Balasannya dengan kebaikan?” Umar
bin Khaththab berkata: "Wahai Ananda, dialah Al-Ash bin Wail, semoga Allah tidak membalasnya
dengan kebaikan."
Ibnu Ishaq berkata: Abdurrahman bin Al-Harits bercerita kepadaku dari sebagian keluarga Umar bin
Khaththab yang berkata bahwa Umar bin Khaththab berkata: Pada saat aku masuk Islam pada malam
itu, aku teringat siapa saja yang paling kejam permusuhannya terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam, lalu aku datang kepadanya untuk mengatakan, bahwa aku telah masuk Islam. Aku
berkata: "Dialah Abu Jahal." jika itu, Umar bin Khaththab beristrikan Hantamah binti Hisyam bin Al-
Mughirah. Esok paginya, aku pergi ke rumah Abu Jahal dan mengetuk pintu rumahnya.
Ibnu Umar berkata: Abu Jahal pun keluar menyambutku sambil berkata: "Selamat datang wahai anak
saudara perempuanku. Apa yang membawa datang kemari?" Aku berkata kepadanya: "Aku datang
kemari untuk memberitahukan padamu bahwa aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya,
Muhammad, serta membenarkan apa yang dibawanya." Abu Jahal langsung menutup pintu
rumahnya, sambil berkata: "Semoga Allah memburuk- kanmu, dan memburukkan apa yang engkau
bawa."
Perihal Shahifah (Surat Perjanjian)
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala orang-orang Quraisy mengetahui sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam berada di Habasyah dan memperoleh kedamaian dan kenyamanan di dalamnya dan
bahwa Najasyi melindungi siapa saja yang meminta per- lindungan kepadanya, saat itulah Umar bin
Khaththab memeluk Islam. Umar bin Khaththab bersama Hamzah bin Abdul Muthalib berada di kubu
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, serta Islam menyebar luas di kabilah-
kabilah Quraisy, maka mereka segera berkumpul untuk mengadakan rapat. Dalam rapat itu, mereka
merencanakan konspirasi dengan cara membuat perjanjian yang mereka tujukan kepada Bani Hasyim
dan Bani Abdul Muthalib. Isi perjan¬jian ini yaitu sebagai berikut: 1. Mereka tidak boleh
menikahi wanita-wanita dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. 2. Mereka tidak boleh menikahkan
putri-putri mereka dengan orang-orang dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. 3. Mereka tidak
boleh menjual apa pun kepada Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib. 4. Mereka tidak boleh membeli
apa pun dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib.
jika sudah mufakat dengan seluruh isi perjanjian ini , mereka menulisnya di shahifah (surat
perjanjian), lalu mereka bersumpah untuk senantiasa komitmen dengan isi perjanjian ini .
sesudah itu, mereka menempelkan shahifah (surat perjanjian) di tengah-tengah Ka'bah sebagai tanda
bukti sikap mereka. Penulis shahifah (surat perjanjian) itu yaitu Manshur bin Ikrimah bin Amir bin
Hasyim bin Abdu Manaf bin Abduddar bin Qushay. Ibnu Hisyam berkata: Ada juga yang mengatakan
bahwa penulisnya yaitu An-Nadhr bin Al-Harits. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mendoakan
kehancuran atasnya, maka lumpuhlah sebagian jari Manshur bin Ikrimah.
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat orang-orang Quraisy melakukan hal itu, Bani Hasyim dan Bani Abdul
Muthalib berpihak kepada Abu Thalib bin Abdul Muthalib, dan bergabung bersamanya. Dari kalangan
Bani Hasyim yang keluar dan bergaung dengan orang-orang Quraisy dan mendukung sikap mereka
ialah Abu Lahab, Abdul Uzza bin Abdul Muthalib.
Ibnu Ishaq berkata: Husain bin Abdullah bercerita kepadaku, Abu Lahab bertemu dengan Hindun binti
Utbah bin Rabi'ah. sesudah ia keluar dari kaumnya dan berpihak kepada orang-orang Quraisy dalam
menghadapi kaumnya sendiri, lalu ia berkata: "Hai anak perempuan Utbah, dengan sikap yang
kuambil ini, apakah aku telah menolong Al- Lata dan Al-Uzza? Apakah aku telah berpaling dari orang-
orang yang telah meninggalkan AI-Lata dan Al-Uzza? Apakah aku telah membela Al-Lata dan Al-Uzza?"
Hindun binti Utbah berkata: "Ya, semoga Allah membalas dengan ganjaran yang baik kepadamu,
wahai Abu Utbah."
Ibnu Ishaq berkata: Aku diberitahu selain berkata seperti di atas, Abu Jahal juga berkata: "Muhammad
mengintimidasi aku dengan sesuatu yang belum pernah aku lihat. Ia berkata bahwa akan ada
kehidupan sesudah kematian ini. Celakalah engkau berdua. Aku tidak melihat padamu berdua sesuatu
yang dikatakan Muhammad." lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang Abu Lahab:
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sebenarnya dia akan binasa. Tidaklah berfaedah
kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang
bergejolak Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya terdapat tali dari sabut.
(QS. al-Masad: 1-5).
Ibnu Hisyam menjelaskan: Tabbat artinya merugi dan at-tabab artinya kerugian.
Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib menjalani pemboikotan orang-orang Quraisy selama dua atau
tiga tahun, hingga mereka menjalani kesulitan yang sangat luar biasa. Tidak ada makanan atau
minuman yang bisa sampai pada mereka kecuali dengan cara sembunyi-sembunyi dan siapa pun dari
orang-orang Quraisy tidak bisa berinterakkasi dengan mereka kecuali dengan cara sembunyi-
sembunyi pula.
Abu Jahal berjumpa dengan Hakim bin Hizam bin Khuwailid bin Asad yang sedang berjalan bersama
budak laki-lakinya yang membawa tepung untuk diantarkan kepada bibinya, Khadijah, istri Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang sedang berada bersama beliau di Syi'b. Abu Jahal bin Hisyam
mendekat pada Hakim bin Hizam, lalu berkata kepadanya: "Akankah kau membawa makanan
ini kepada Bani Hasyim? Demi Allah, engkau tidak bisa membawa makananmu itu hingga aku
mengata-ngataimu di kota Makkah. Saat itu, Abu Al-Bakhtari bin Hisyam bin Al-Harits bin Asad datang
menemui Abu Jahal bin Hisyam, lalu berkata kepadanya: "Apa masalahmu dengannya?" Abu
Jahal menjawab: "Dia mau mengantar makanan kepada Bani Hasyim." Abu Al-Bakhtari berkata:
"Makanan ini awalnya milik bibinya. Bibinya mengirimkannya kepadanya, lalu mengapa engkau
melarangnya membawa kembali makanan itu kepada bibinya? Biarkanlah dia pergi!!"
Namun Abu Jahal bin Hisyam tidak menerima saran Abu Al-Bakhtari, lalu terjadilah duel seru
antara Abu Jahal bin Hisyam melawan Abu Al-Bakhtari. Abu Al-Bakhtari mengambil tulang rahang
unta, lalu dia pukulkan dengannya kepala Abu Jahal bin Hisyam hingga luka dan meneteskan darah
lalu dia menginjaknya keras-keras. Hamzah bin Abdul Muthalib yang berada di dekat tempat
kejadian menyaksikan langsung perkelahian itu. Orang-orang Quraisy tidak mau duel ini
didengar Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya. Sebab jika Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya mendengar duel ini , beliau dan para
sahabatnya pasti akan menertawakannya. Walaupun mendapat boikot dari orang-orang Quraisy,
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tetap saja terus berdakwah tanpa henti kepada kaumnya siang
malam baik secara diam-diam maupun terang-terangan. Beliau tetap menyerukan perintah Allah
Ta'ala tanpa takut kepada siapa pun juga.
Sebagian Gangguan yang DiaJami Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari Kaumnya
Ibnu Ishaq berkata: Kala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dilindungi pamannya dan didukung
kaumnya dari Bani Hasyim dan Bani Abdul Muthalib, sontak hal itu membuat orang-orang Quraisy
gagal menghentikan tindakan-tindakan beliau, maka mulailah mereka mengejek, mencibir dan
menantangnya berduel. Wahyu pun turun mengisahkan dengan lengkap tentang perilaku orang
Quraisy dan orang-orang yang menabuh genderang permusuhan kepadanya. Ada yang namanya
disebutkan dengan jelas oleh Al-Qur'an kepada kita ada pulan di antara mereka yang namanya disebut
Allah secara umum sebagai orang-orang kafir saja. Di antara orang-orang Quraisy yang kisah
disebutkan Al-Qur'an dengan jelas untuk kita ialah paman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Abu
Lahab bin Abdul Muthalib dan istrinya, Ummu Jamil binti Harb bin Umayyah. Allah menamainya
dengan "sangpembawa kayu bakar," karena ia seperti yang disampaikan kepadaku membawa onak
dan meletakkannya di jalan yang selalu dilalui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Tentang kedua
orang ini, Allah Ta'ala menurunkan ayat berikut:
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sebenarnya dia akan binasa. Tidaklah berfaidah kepadanya
harta bendanya dan apa yang ia usahakan. Kelak dia akan masuk ke dalam api yangbergejolak. Dan
(begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Yang di lehernya ada tali dari sabut. (QS. Al-Masad: 1-5).
Ibnu Hisyam berkata: Kata al-jiid dalam ayat di atas artinya yaitu leher dan kata jamaknya ajyaadu.
Sedangkan al-masad artinya pohon yang telah dihaluskan sebagaimana pohon rami dihaluskan
lalu dibikin tali. Kata tunggalnya masadah.
Ibnu Ishaq berkata: jika Ummu Jamil sang pembawa kayu bakar mendengar ayat Al-Qur'an yang
diturunkan tentang perihal diri dan suaminya, ia segera datang kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam yang waktu itu sedang duduk di masjid di sisi Ka'bah ditemani Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ummu
Jamil datang dengan membawa batu besar segenggam tangannya. jika berdiri di depan Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan Abu Bakar, Allah memalingkan pandangannya dari Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam sehingga dia hanya melijhat Abu Bakar. Ia berkata: "Wahai Abu Bakar,
mana sahabatmu? Aku dengar sahabatmu mencibir kelakuanku. Demi Allah, jika aku berjumpa
dengannya, pasti aku sumpal mulutnya dengan batu ini. Demi Allah, aku seorang penyair." lalu
ia berkata:
Mudzammam (lawan dari Muhammad) kami tantang dirinya
Kami bangkang semua perintahnya Dan agamanya membuat kami marah
Selesai mengatakan itu, Ummu Jamil pergi. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam: "Wahai Rasulullah, apakah Ummu Jamil tidak melihatmu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Ia tidak mampu melihatku, karena Allah cabut penglihatannya dariku."39
Ibnu Hisyam berkata: Ucapan Ummu Jamil, "Dan agamanya membuat kami marah" bukan berasal dari
Ibnu Ishaq.
Ibnu Ishaq berkata: Orang-orang Quraisy menamakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
Mudzammam, lalu mereka mencela habis-habisan nama Mudzammam ini . Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ketahuilah, tidakkah kalian merasa takjub bagaimana Allah
melindungiku dari gangguan orang-orang Quraisy? Mereka mencela dan mengolok-olok nama
Mudzammam, sedangkan aku yaitu Muhammad."40
Umayyah bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah jika melihat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam, ia melaknat dan mengeluarkan kata-kata kotor untuk beliau, lalu Allah Ta'ala
menurunkan ayat tentang orang ini:
Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, yang mengumpulkan harta dan menghitung-
hitungnya, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, sekali-kali tidak! sebenarnya
dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. Dan tahukah kamu apa Huthamah itu? (yaitu)
api (yang disediakan) Allah yang dinyalakan, yang (membakar) sampai ke hati. sebenarnya api itu
ditutup rapat atas mereka, (sedang mereka itu) diikatpada tiang-tiangyangpanjang. (QS. al-Humazah:
1-9).
Ibnu Hisyam berkata: Al-Humazah ialah orang yang suka melaknat orang lain di depan umum dengan
mengarahkan mata padanya serta mencelanya. Jamaknya humazaat. Sedang al-lumazah ialah orang
yang mengumpat orang lain dan menyakitinya secara diam-diam. Kata jamaknya lamazaat.
Hasan bin Tsabit berkata:
Umpatanmu demikian hina karena hinanya jiwa
Dengan qafiyah yang membakar karena golakan api
Ini yaitu penggalan syair miliknya.
Sebagaimana disebutkan dalam ungkapan Ru'yah al-Ajjaj:
Di bawah naungan zamanku kebatilan dan umpatanku
Ini yaitu penggalan syair miliknya
lbnu ishaq berkata: Juga Al-Ash bin Wail As-Sahmi. Khabbab bin Al-Arat, salah seorang sahabat
Rasulullah Shallallahu Alashi wa Sallam yaitu tukang besi pembuat pedang di Makkah. Ia telah
menjual banyak sekali pedang kepada Al-Ash bin Wail. Pedang-pedang itu ia buat secara khusus
untuknya. jika uangnya sudah berjumlah banyak pada Al-Ash bin Wail, ia datang kepadanya untuk
menagih hutangnya. Al-Ash bin Wail berkata kepada Khabbab bin Al-Arat: "Wahai Khabbab, bukankah
sahabatmu, Muhammad yang engkau imani itu mengatakan bahwa di surga, penghuninya
mengenakan emas, perak, atau pakaian dan mempunyai pembantu?" Khabbab bin Al-Arat menjawab:
"Benar." Al-Ash bin Wail berkata: "Jika demikian beri aku perpanjangan waktu hingga Hari Kiamat,
agar aku bisa kembali pada hari ini lalu aku beriman dengan kalian. Demi Allah, engkau dan
sahabat-sahabatmu tidak lebih baik dariku di sisi Allah dan tidak lebih beruntung di sisi-Nya."
lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang Al-Ash bin Wail:
Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: "Pasti
aku akan diberi harta dan anak." Adakah ia melihat yang gaib atau ia telah membuat perjanjian di sisi
Tuhan Yang Maha Pemurah?, sekali-kali tidak, Kami akan menulis apa yang ia katakan, dan benar-
benar Kami akan memperpanjang adzab untuknya,
dan Kami akan mewarisi apa yang ia katakan itu, dan ia akan datang kepada Kami dengan seorang
diri. " (QS. Maryam: 77-80).
Abu Jahal bin Hisyam, berjumpa dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, lalu ia berkata kepada
beliau: "Wahai Muhammad, hendaknya engkau berhenti mencemooh tuhan-tuhan kami! Jika tidak,
maka kami akan menghina Tuhan yang engkau sembah." Lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang
Abu Jahal:
Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka
nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. "(QS. al-An'am: 108).
Sejak saat itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berhenti dari memaki sesembahan mereka dan
sebagai gantinya beliau mengajak mereka kepada Allah.
An-Nadhr bin Al-Harits bin Kaladah bin Alqamah bin Abdu Manaf bin Abduddar bin Qushay, jika
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyeru manusia kepada Allah Ta'ala, membaca Al-Qur'an dan
memperingatkan orang-orang Quraisy tentang siksa yang me nimpa umat-umat terdahulu, maka An-
Nadhr bin Al-Harits akan melaksanakan hal yang sama, lalu bercerita kepada manusia tentang
Rustum As-Sindid, tentang Isfandiyar dan raja-raja Persia. sesudah itu, ia berkata: "Demi Allah, ceramah
Muhammad tidaklah lebih baik dibandingkan ceramahku. Ucapan Muhammad hanyalah dongeng-dongeng
orang-orang dulu. Aku mampu menuliskan dongeng-dongeng sebagaimana ia menuliskan dongeng-
dongeng ini ." lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang dirinya:
Dan mereka berkata: "Dongengan-dongengan orang-orang dahulu, dimintanya supaya ditu- liskan,
maka dibacakanlah dongengan itu kepadanya setiap pagi dan petang." Katakanlah: "Al Quran itu
diturunkan oleh (Allah) yang mengetahui rahasia di langit dan di bumi. sebenarnya Dia yaitu
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. al-Furqan: 5-6).
Allah Ta'ala juga menurunkan ayat berikut perihal An-Nadhr bin Al-Harits,
jika dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: "(Ini yaitu ) dongeng-dongengan orang-
orang dahulu kala." (QS. al-Qalam: 15).
Allah juga menurunkan ayat berikut perihal An-Nadhr bin Al-Harits:
Kecelakaan yang besarlah bagi tiap-tiap orang yang banyak berdusta lagi banyak berdosa, dia
mendengar ayat-ayat Allah dibacakan kepadanya lalu dia tetap menyombongkan diri seakan-
akan dia tidak mendengarnya. Maka beri kabar gembiralah dia dengan adzab yangpedih. (QS. al-
Jatsiyah: 7-8).
Ibnu Hisyam berkata: Firman Allah al- affak artinya para pendusta. Tentang kata ini , disebutkan
dalam Al-Qur'an:
Ketahuilah bahwa sebenarnya mereka dengan kebohongannya benar-benar mengatakan: "Allah
beranak." Dan sebenarnya mereka benar-benar orang yang berdusta. (QS. ash- Shaffat: 151-152).
Ru'yah bin Al-Ajjaj berkata:
Tidaklah seseorang berdusta dengan kata penuh dusta
Ini yaitu penggalan syairnya.
Ibnu Ishaq berkata: Suatu hari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana berita yang
disampaikan kepadaku, sedang duduk-duduk dengan Al-Walid bin Al-Mughirah di masjid, tiba-tiba
tanpa disadari datanglah An-Nadhr bin Al-Harits lalu dia duduk bersama mereka berdua. Saat
itu ada beberapa orang Quraisy yang berada di masjid. lalu Rasulullah Shallallahu Alihi wa
Sallam berbicara kepada mereka, namun pembicaraan beliau diganggu oleh An Nadhr bin Al Harits.
lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menegurnya hingga membuat ia diam. Baru sesudah
itu, beliau membacakan ayat berikut kepadanya dan kepada orang-orang Quraisy lainnya:
sebenarnya kamu dan apayangkamu sembah selain Allah, yaitu umpan Jahanam, kamu pasti
masuk ke dalamnya. Andaikata berhala-berhala itu tuhan, tentulah mereka tidak masuk neraka. Dan
semuanya akan kekal di dalamnya. Mereka merintih di dalam api dan mereka di dalamnya tidak bisa
mendengar. (QS. al-Anbiya': 98-100).
Ibnu Hisyam berkata: Hashabu Jahannam artinya segala sesuatu yang membuat Jahanam menyala.
Abu Dzu'ab al-Hudzali yang bernama asli Khuwailid bin Khalid berkata:
Padamkan dan jangan kau nyalakan
Janganlah jadi kayu penyulut api yang sangat dahsyat
Bait ini yaitu penggalan dari bait-baitnya. Diriwayatkan "janganlah kamu menjadi kayu penyulut.
Seorang penyair berkata:
Kunyalakan api untuknya hingga dia melihat sinarnya
Dan barang siapa yang mendapat sinar api dia dapat petunjuk
Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallallahu Alihi wa Sallam lalu berdiri, pada saat yang bersamaan
datanglah Abdullah bin Az-Zaba'ra As-Sahmi lalu ia duduk. Al-Walid bin Al-Mughirah berkata
kepada Abdullah bin Az-Zaba'ra, "Demi Allah, tadi An-Nadhr bin Al-Harits seperti patung yang tak bisa
bergerak akibat perkataan anak Abdul Muththatib. Muhammad mengatakan bahwa
kita dan tuhan-tuhan sesembahan kita ini akan menjadi bahan bakar Jahannam." Abdullah bin Az-
Zaba'ra berkata: "Demi Allah, jika berjumpa dengan Muhammad, aku pasti berdebat dengannya.
Tanyailah Muhammad, apakah semua tuhan yang disembah selain Allah itu berada di dalam neraka
Jahannam beserta penyembahnya? Kita menyembah para malaikat, sedang orang-orang Yahudi
menyembah Uzair dan orang-orang Kristen menyembah Isa bin Maryam." Al-Walid bin Al-Mughirah
dan orang-orang yang berada di 'perkumpulan ini merasa tercengang dengan ucapan Abdullah
bin Az-Zaba'ra. Mereka yakin, bahwa Abdullah bin Az-Zaba'ra mampu beradu argumentasi dengan
lihai. Ucapan Abdullah bin Az-Zaba'ra ini disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu Alihi wa
Sallam lalu beliau bersabda: "Barangsiapa ingin menyembah sesuatu selain Allah, maka orang
yang menyembahnya akan bersama dengan sesembahannya. Sesungguh-nya mereka itu menyembah
setan-setan dan apa saja yang dibisiku setan untuk disembah. Lalu Allah Ta'ala menurunkan wahyu
berikut tentang peristiwa di atas:
Bahwasanya orang-orang yang telah ada untuk mereka ketetapan yang baik dari Kami, mereka itu
dijauhkan dari neraka, mereka tidak men¬dengar sedikit pun suara api neraka, dan mere¬ka kekal
dalam menikmati apa yang diingini oleh mereka. (QS. al-Anbiya': 101-102).
Mereka yang dimaksud ayat di atas ialah Isa bin Maryam, Uzair, para rahib dan para pendeta yang taat
kepada Allah, yang dijadikan tuhan-tuhan selain Allah oleh orang- orang yang menyembahnya dari
kalangan orang-orang yang menyimpang.
Al-Qur'an juga merekam ucapan mereka bahwa mereka menyembah para malaikat dan bahwa para
malaikat yaitu anak-anak perempuan Allah,
Dan mereka berkata: "Tuhan Yang Maha Pemurah telah mengambil (mempunyai) anak", Maha Suci
Allah. Sebenarnya (malaikat-malaikat itu), yaitu hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak
mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya. Allah
mengetahui segala sesuatu yang di hadapan mereka (malaikat) dan yang di belakang mereka, dan
mereka tiada memberi syafaat melainkan kepada orangyang diridai Allah, dan mereka itu selalu
berhati-hati karena takut kepada-Nya. Dan barang siapa di antara mereka mengatakan:
"sebenarnya aku yaitu tuhan selain dibandingkan Allah", maka orang itu Kami beri balasan dengan
Jahanam, demikian Kami memberikan pembalasan kepada orang-orang zalim. (QS. al-Anbiya': 26-
29).
Al-Qur'an juga mengisahkan ayat tentang Isa bin Maryam yang dijadikan tuhan selain Allah dan
kekaguman Al-Walid bin Al- Mughirah dan orang-orang yang hadir pada pertemuan ini kepada
ungkapan Abdullah bin Zaba ra:
Dan tatkala putra Maryam (Isa) dijadikan perumpamaan tiba-tiba kaummu (Quraisy) bersorak
karenanya. (QS. az-Zukhruf: 57), yakni mereka menghamba urusanmu dengan ucapan mereka.
lalu Al Quran menyebutkan tentang Isa bin Maryam:
Isa tidak lain hanyalah seorang hamba yang Kami berikan kepadanya nikmat (kenabian) dan Kami
jadikan dia sebagai tanda bukti (kekuasaan Allah) untuk Bani Israel. Dan kalau Kami kehendaki benar-
benar Kami jadikan sebagai gantimu di muka bumi malaikat-malaikat yang turun temurun. Dan
sebenarnya Isa itu benar-benar memberikan pengetahuan tentang hari kiamat. Karena itu
janganlah kamu ragu-ragu tentang kiamat itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus. (QS. az-
Zukhruf: 59-61)
Maksudnya ialah bahwa tanda-tanda kebesaran yang Allah berikan kepada Isa bin Maryam
membangunkan kembali orang yang telah mati dan menyembuhkan orang yang sakit suduh cukup
baginya sebagai bukti ten¬tang pengetahuannya tentang hari kiamat.
Ibnu Ishaq berkata: Al Akhnas bin Syariq bin Wahb Ats Tsaqafi, sekutu Bani Zuhrah. Ia termasuk salah
seorang tokoh yang disegani di kaumnya. Ia menyakiti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan
menentang beliau, lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat mengenai dirinya:
Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang
kian ke mari menyebarkan fitnah, yang sangat enggan berbuat baik, yang melampaui batas lagi
banyak dosa, yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya, (QS. al-Qalam 10-13)
Allah berfirman zaniim, dan tidak mengatakan zaniim karena adanya sesuatu yang hina dalam
nasabnya. Karena Allah tidak pernah mencela seseorang karena nasabnya. Namun Allah memastikan
sifatnya agar diketahui. Zanim itu artinya, yang keras, kaku dan jahat pada kaumnya.
Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: Mengapa wahyu diturunkan kepada Muhammad dan tidak
diturunkan kepadaku, padahal akulah tokoh senior Quraisy dan pemimpinnya? Serta mengapa tidak
diturunkan kepada Abu Mas'ud Amr bin Umair Ats-Tsaqafi, pemimpin Tsaqif? Padahal kami berdua
pemimpin besar tengah kaum kami?' Lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat berikut:
Dan mereka berkata: "Mengapa Al Qur'an ini tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu
dua negeri (Mekah dan Thaif) ini? Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat , Tuhanmu? Kami telah
menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah
meninggikan sebahagian mereka atas sebahagian yang lain beberapa derajat, agar sebahagian
mereka dapat memper- gunakan sebahagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang
mereka kumpulkan. (QS. az-Zukhruf: 31-32).
Ubay bin Khalaf bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah bin Uqbah bin Abu Mu'aith yaitu dua sahabat
dekat. Suatu waktu Uqbah bin Abu Muaith pernah duduk bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam dan mendengar sesuatu dari beliau. Hal ini didengar Ubay bin Khalaf, lalu ia mendatangi
Uqbah bin Abu Mu'aith dan berkata kepadanya, "Benarkah engkau telah duduk bersama Muhamnad
dan mendengar sesuatu darinya? Demi Tuhan, aku tidak akan mau berbicara denganmu!! "Ubay bin
Khalaf bersumpah dengan sangat keras. "Benarkah engkau pernah duduk bersamannya dan
mendengar sesuatu darinya? Lalu kenapa engkau tidak datang kepadanya dan meludahi wajahnya?"
Uqbah bin Abu Muaith pun melakukan permintaan Ubay bin Khalaf, lalu Allah Ta'ala
menurunkan ayat tentang keduanya:
Dan (ingatlah) hari (jika itu) orang yang zalim menggigit dua tangannya, seraya berkata: "Aduhai
kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-satna Rusul. Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku
(dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab (ku). sebenarnya dia telah menyesatkan aku dari
Al Qur'an jika Al Qur'an itu telah datang kepadaku. Dan yaitu setan itu tidak mau menolong
manusia" (QS. al-Furqan: 27-29).
Ubay bin Khalaf menghampiri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sambil membawa tulang rusak
yang sudah berbau busuk, lalu ia berkata: "Wahai Muhammad, engkau pernah mengatakan
bahwa Allah akan mem- bangkitkan hewan ini sesudah rusak seperti ini." Usai mengatakan itu, Ubay
bin Khalaf memukul hancur tulang rusak tadi dengan tangannya, lalu meniupkannnya ke arah
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Benar, aku
mengatakan itu. Allah akan membangkitkannya juga membangkitkanmu sesudah kalian menjadi tulang
belulang, lalu Allah menenggeiamkanmu ke dalam neraka." Lalu Allah menurunkan ayat tentang Ubay
bin Khalaf:
Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: "Siapakah
yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?" Katakanlah: "la akan
dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Maha Mengetahui tentang
segala makhluk, yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu
nyalakan (api) dari kayu itu. (QS. Yaasiin: 78-80).
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam, sedang melakukan thawaf di
Ka'bah, beliau di datangi Al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad bin Abdul Uzza, Al Walid bin Mughirah,
Umayyah bin Khalaf dan Al-Ash bin Wail. Mereka yaitu orang-orang terpandang di kaumnya masing-
masing. Mereka berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'Alaihi wa Sallam, "Wahai Muhammad,
bagaimana andai kami menyembah apa yang kau sembah dan kau menyembah apa yang kami
sembah. Kita saling bekerja sama dalam hal ini. Jika apa yang engkau sembah lebih baik dibandingkan apa
yang kami sembah, maka kami akan mengikutimu. Jika apa yang kami sembah lebih baik, maka engkau
mengikuti kami." lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang mereka,
Katakanlah: "Hai orang-orangyang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan
kamu bukan penyembah Tuhanyang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang
kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah.
Untukmulah agamamu dan untukkulah agamaku." (QS. Al-Kafirun: 1-6).
Tatkala Allah menyebutkan tentang pohon zaqqum dan menakut-nakuti mereka dengan pohon
ini , Abu Jahal bin Hisyam berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, apakah kalian tahu pohon
zaqqum yang di bicarakan Muhammad mengancam kalian dengannya?" Mereka menjawab: "Kami
tidak tahu!!" Abu Jahal berkata: "Pohon zaqqum yaitu kurma Yatsrib yang bercampur mentega. Demi
Allah, jika kami mendapat nya, kami pasti mencabutnya dengan keras." lalu Allah Ta'ala
menurunkan ayat Al-Qur'an tentang ucapan Abu Jahal ini :
sebenarnya pohon zaqqum itu, makanan orang yang banyak berdosa. (Ia) sebagai kotoran minyak
yang mendidih di dalam perut, seperti mendidihnya air yang sangat panas. (QS. ad-Dukhan: 43-46).
Ibnu Hisyam berkata: Al Muhlu artinya benda-benda yang bisa meleleh misalnya tembaga, timah atau
apapun yang serupa dengannya, sebagaimana dikatakan kepadaku oleh Abu Ubaidah.
Aku diberitahu dari Al-Hasan bin Abu Al- Hasan ia berkata bahwa Abdullah bin Mas'ud yaitu petugas
Baitul Mai di Kufah di masa
Umar bin Khaththab. Suatu hari, Abdullah bin Mas'ud memerintahkannya melelehkan perak, lalu
lelehan perak ini membentuk banyak warna. Abdullah bin Mas'ud berkata: "Adakah orang di
balik pintu?" Orang-orang menjawab: "Ya, ada." Abdullah bin Mas'ud berkata: "Perintahkan mereka
agar masuk." Mereka pun masuk, lalu Abdullah bin Mas'ud berkata: "sebenarnya sesuatu yang
kalian lihat yang paling mirip dengan al-muhlu yaitu lelehan ini." Salah seorang penyair berkata:
Tuhanku meminumkannya air panas lelehan perak
Yang menghanguskan wajahnya Larut dalam perutnya
Disebutkan bahwa makna muhlu yaitu nanah yang ada di dalam tubuh.
Telah pula sampai berita kepadaku bahwa jika Abu Bakar akan meninggal dunia, ia mewasiatkan
dimandikan dengan dua baju yang biasa dikenakannya dan dikafani dengannya. Aisyah berkata kepada
Abu Bakar, "Ayah, sungguh Allah telah membuatmu tidak lagi membutuhkan pada keduanya.
Ayahanda belilah baju yang lain!" Abu Bakar berkata: "sebenarnya waktu itu hanya sedetik, ke-
mudian berubah menjadi al-muhlu"
Ibnu Ishaq berkata: "lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang Abu Jahal bin Hisyam:
Dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti mereka, tetapi
yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (QS. al-Isra': 60).
Al-Walid bin Al-Mughirah dihampiri Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Beliau berbicara
kepadanya, karena beliau meng- inginkan sekali Al Walid bin Al Mughirah bisa masuk Islam. Saat
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang berbicara dengan Al Walid bin Al Mughirah, le.watlah
Ibnu Ummi Maktum yang buta. Ia merigajak bicara Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan me-
mintanya mengajarkan Al Quran untuknya. Merasa diganggu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
lalu membentaknya, karena beliau sedang fokus dengan urusan Al Walid bin Al Mugirah dan
obsesi beliau agar dia masuk Islam. jika Ibnu Ummi Maktum terus menerus mengeyel meminta
dibaca- kan Al Quran, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berpaling darinya dengan muka masam,
maka Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang beliau:
Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya.
Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa). atau dia (ingin) mendapat
pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya
serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau dia tidak
membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk
mendapat pengajaran), sedang ia takut kepada (Allah), maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali
jangan (demikian)! sebenarnya ajaran-ajaran Tuhan itu yaitu suatu peringatan, maka barang
siapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya, di dalam kitab-kitab yang dimuliakan, yang
ditinggikan lagi disucikan, (QS. Abasa: 1-14).
Ibnu Hisyam berkata: Ibnu Ummi Maktum yaitu pemuda yang berasal Bani Amir bin Luay. Ia bernama
asli Abdullah. Ada pula yang mengatakan namanya yaitu Amr.
Kepulangan Orang-orang Muhajirin di Habasyah Tatkala Sampai Kabar tentang Masuk Islamnya
Penduduk Mekkah
Ibnu Ishaq berkata: Sampailah berita kepada sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
yang hijrah tentang masuk Islamnya warga Makkah, lalu mereka pun bermaksud pulang ke
Makkah. Namun tatkala mendekati Makkah, mereka mendapat berita bahwa semua itu yaitu dusta
belaka. Karenanya tidak ada seorang pun dari mereka yang memasuki Makkah kecuali dengan
perlindungan orang lain atau dengan sembunyi-sembunyi. Di antara mereka ada yang tiba di Makkah,
lalu menetap di dalamnya lalu hijrah ke Madinah dan terjun di Perang Badar bersama Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Ada yang tetap tinggal di Makkah, hingga tidak bisa ikut Perang Badar dan
perang-perang lainnya. Ada juga yang wafat di Makkah.
Kaum Muhajirin yang pulang ke Makkah dari Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay ada dua
orang, yaitu: Utsman bin Affan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdu Syams beserta istrinya, Ruqayyah
binti Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, Abu Hudzaifah bin Utbah bin Rabi'ah bin Abdu Syams
beserta istrinya Sahlah binti Suhail.
Sedangkan dari sekutu Bani Abdu Syams bin Abdu Manaf bin Qushay ada satu orang, yaitu Abdullah
bin Jahsy bin Riab.
Bani Naufal bin Abdu Manaf ada satu orang, yaitu Utbah bin Ghazwan, sekutu Bani Abdu Syams dari
Qais Ailan.
Bani Asad bin Abdul Uzza bin Qushay ada satu orang, yaitu Zubair bin Awwam bin Khuwailid bin Asad.
Dari Bani Abduddar bin Qushay ada dua orang, yaitu: Mush'ab bin Umair bin Hasyim bin Abdu Manaf,
Suwaibith bin Sa'ad bin Harmalah.
Dari Bani Abd bin Qushay ada satu orang yaitu Thulaib bin Umair bin Wahb bin Abu Kabir bin Abd.
Dari Bani Zuhrah bin Kilab yaitu tiga orang, yaitu: Abdurrahman bin Auf bin Abdu Auf bin Abd bin Al-
Harits bin Zuhrah, Al- Miqdaq bin Amr, sekutu Bani Zuhrah bin Kilab. Abdullah bin Mas'ud, sekutu Bani
Zuhrah bin Kilab.
Dari Bani Makhzum bin Yaqazhah yaitu sebagai berikut: Abu Salamah bin Abdul Asad bin Hilal bin
Abdullah bin Umar bin Makhzum beserta istrinya, Ummu Salamah binti Umayyah bin Al-Mughirah,
Syammasy bin Utsman bin Asy-Syarid bin Suwaid bin Harmi bin Amir bin Makhzum, Salamah bin
Hisyam bin Al-Mughirah yang lalu dikekang pamannya di Makkah dia tidak bisa bebas kecuali
sesudah Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq. Ayyasy bin Abu Rabi'ah bin Al-Mughirah






