Sirah Nbawiyah Ibn Hisyam 12

 


yang hijrah ke Madinah dengan diikuti dua saudara seibunya, yaitu Abu Jahal bin Hisyam dan Al-Harits 

bin Hisyam, lalu  Abu Jahal bin Hisyam dan 

Al-Harits bin Hisyam membawa Ayyasy bin Abu Rabi'ah pulang ke Makkah dan mengekangnya di 

Makkah hingga Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq usai. 

Dari sekutu Bani Makhzum bin Yaqadzah yaitu  sebagai berikut: Ammar bin Yasir, diragukan apakah 

ikut hijrah ke Habasyah atau tidak, Muattib bin Auf bin Amir dari Khuza'ah. 

Dari Bani Jumah bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab yaitu  sebagai berikut: Utsman bin Madz'un bin Habib 

bin Wahb bin Hudzafah bin Jumah beserta anaknya, As-Saib bin Utsman, Qudamah bin Madz'un, 

Abdullah bin Madz'un. 

Dari Bani Sahm bin Amr bin Hushaish bin Ka'ab yaitu  sebagai berikut: Khunais bin Hudzafah bin Qais 

bin Adi, Hisyam bin Al-Ash bin Wail yang tertahan di Makkah sesudah  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam hijrah ke Madinah. Dia baru bisa hijrah ke Madinah seusai Perang Badar, Perang Uhud dan 

Perang Khandaq. 

Dari Bani Adi bin Ka'ab bin Luay yaitu  Amir bin Rabi'ah sekutu Bani Sahm beserta istrinya yang 

bernama Laita binti Abu Hats- mah bin Ghanim. 

Dari Bani Amir bin Luay yaitu  sebagai berikut: Abdullah bin Makhramah bin Abdul Uzza bin Abu Qais, 

Abdullah bin Suhail bin Amr. Ia ditawan di kota Makkah pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam hijrah ke Madinah. Pada Perang Badar, ia kabur dari orang-orang musyrik dan berpihak kepada 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  ikut Perang Badar bersama beliau, Abu Sabrah bin 

Abu Ruhm bin Abdul Uzza beserta istrinya yang bernama Ummu Kaltsum binti Suhail bin Amr dan As-

Sakran bin Amr bin Abdu Syams beserta istrinya, Saudah binti Zam'ah bin Qais. Abu Sabrah bin Abu 

Ruhm meninggal di Makkah sebelum Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah. 

lalu  beliau menikahi Saudah binti Zam'ah. 

Dari sekutu Bani Amir bin Luay ada satu orang yaitu Sa'ad bin Khaulah. 

Dari Bani Al-Harits bin Fihr yaitu  sebagai berikut: Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Nama aslinya ialah Amir 

bin Abdullah Al-Jarrah, Amr bin Al-Harts bin Zuhair bin Abu Syadad, Suhail bin Baidha' yang bernama 

lengkap Suhail bin Wahb bin Rabi'ah bin Hilal. Amr bin Abu Sarh bin Rabi'ah bin Hilal. 

Jumlah seluruh sahabat Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam yang tiba di Makkah dari Habasyah 

yaitu  tiga puluh tiga orang laki-laki. 

Di antara mereka yang masuk ke Makkah dengan perlindungan orang lain ialah Utsman bin Madz'un 

bin Habib Al-Jumahi yang masuk ke Makkah dengan perlindungan Al-Walid bin Al-Mughirah, Abu 

Salamah bin Abdul Asad bin Hilal Al-Makhzumi yang masuk ke Makkah dengan perlindungan Abu 

Thalib bin Abdul Muthalib yang tidak lain yaitu  pamannya sendiri dari jalur ibunya dan ibu Abu 

Salamah dan Barrah binti Abdul Muthalib. 

Ibnu Ishaq berkata: Adapun Utsman bin Madz'un, maka Shalih bin Ibrahim bin Auf bercerita kepadaku 

dari orang yang bercerita padanya dari Utsman yang berkata: jika  Utsman bin Madz'un melihat 

cobaan yang diderita sahabat-sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedangkan ia sendiri 

selama 24 jam berada dalam jaminan keamanan Al-Walid bin Al-Mughirah, ia berkata: "Demi Allah, 

keberadaanku selama 24 jam dalam keadaan aman di bawah perlindungan salah seorang musyrik, 

sedang sahabat-sahabatku dan orang-orang yang memiliki keyakinan yang sama denganku 

mendapat  ujian di jalan Allah yang menimpaku yaitu  suatu penyesalan tersendiri dalam diriku." 

lalu  Utsman bin Madz'un pergi menemui Al-Walid bin Al-Mughirah dan berkata kepadanya: 

"Wahai Abu Abdu Syams, engkau telah menepati semua hak perlindungan namun kini aku serahkan 

kembali perlindungan itu kepadamu." Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Mengapa demikian wahai 

keponakanku? Apakah ada seseorang dari kaumku yang menyakitimu?" Utsman bin Madz'un berkata: 

"Sama sekali tidak! Aku hanya merasa tentram dengan perlindungan Allah dan tidak ingin 

perlindungan dari selain Dia." Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Kalau begitu, mari kita pergi ke 

masjid haram lalu kau kembalikan perlindunganku kepadaku secara di depan umum, sebagaimana aku 

melindungimu di depan khalayak ramai." lalu  Utsman bin Madz'un dan Al-Walid bin Al-

Mughirah berjalan bersama hingga tiba di masjid. Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "lni Utsman, ia 

datang ke tempat ini untuk mengembalikan perlindunganku kepadaku." Utsman bin Madz'un berkata: 

"Apa yang dikatakan Al-Walid bin Al-Mughirah itu sungguh benar. Sungguh, dia telah menepati hak 

perlindungan dan ia orang yang memberi perlindungan dengan penuh kemuliaan. Namun aku tidak 

suka mencari perlindungan dari selain Allah. Sekarang aku kembalikan perlindungannya kepadanya." 

Usai mengumumkan hal itu, Utsman bin Madz'un pergi dan jika  itu, Labid bin Rabi'ah bin Malik bin 

Ja'far bin Kilab duduk mengobrol bersama orang-orang Quraisy. Ia sedang membacakan syair kepada 

mereka, lalu  Utsman bin Madz'un duduk bersama mereka. Labid berkata: 

Ketahuilah, hanya Allah lah yang Haq dan segala sesuatu selain Allah itu batil 

Utsman bin Madz'un berkata: "Engkau berkata benar." Labid melanjutkan 

Dan setiap nikmat itu pastilah binasa 

Utsman bin Madz'un berkata: "Kalau yang ini engkau dusta. Kenikmatan surga tidak akan pernah 

binasa." Labid bin Rabi'ah berkata: "Wahai orang-orang Quraisy, demi Allah teman ngobrol kalian 

belum pernah disakiti. Sejak kapan kejadian seperti ini menimpa kalian?" Salah seorang dari hadirin 

berkata: "sebenarnya  orang bodoh ini (maksudnya Utsman bin Madz'un) bersama orang-orang 

bodoh seperti dia telah keluar dari agama kami. Oleh karena itu, engkau jangan sekali-kali terprovokasi 

dengan ucapannya." Utsman bin Madz'un membalas ucapan orang ini  hingga sengketa semakin 

besar. Orang ini  berdiri ke arah Utsman bin Madz'un lalu  memukul matanya hingga luka 

memar. Al-Walid bin Al-Mughirah yang berada tidak jauh dari tempat kejadian melihat peristiwa itu 

dengan jelas apa yang dialami Utsman bin Madz'un, lalu  ia berkata: "Demi Allah, wahai 

keponakanku, sebenarnya  dirimu belum pernah mengalami derita sebagaimana apa yang engkau 

alami saat ini, selama engkau berada dalam perlindungan yang kokoh." Utsman bin Madz'un berkata: 

"sebenarnya  diriku sangat empati dengan apa yang diderita saudaranya yang lain di jalan Allah. 

Demi Allah, aku berada dalam perlindungan Dzat yang lebih tangguh dan lebih hebat darimu, wahai 

Abu Abdu Syams." Al-Walid bin Al-Mughirah berkata kepada Utsman bin Madz'un: "Kemarilah wahai 

keponakanku, jika engkau ingin seperti dulu lagi, maka ambillah kembali perlindunganmu." Utsman 

bin Madz'un menjawab: "Tidak!!" 

 

 

Abu Salamah dalam Perlindungan Abu Thalib 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku dari Salamah bin Abdullah bin Umar bin 

Abu Salamah bahwa ia diberitahu bahwa jika  Abu Salamah meminta perlindungan kepada Abu 

Thalib, beberapa orang dari Bani Makhzum menemui Abu Thalib dan berkata padanya, "Wahai Abu 

Thalib, apa maksud dengan semua ini? Kami relakan, engkau melindungi keponakanmu, Muhammad 

dari kami. Lalu apa alasanmu melindungi seorang laki-laki yang bukan keponakanmu? Abu Thalib 

berkata: "Abu Salamah termasuk keponakanku juga." Jika aku tidak melindungi Abu Salamah, maka 

aku juga tidak akan melindungi Muhammad." Abu Lahab bangkit, dan dengan nada marah lalu  

berkata: "Wahai orang Quraisy, demi Allah, kalian tiada henti-hentinya memprotesnya orang tua ini 

atas perlindungannya terhadap salah seorang di antara kaumnya. Demi Allah, apa yang kalian lakukan 

ini hanyalah kesiasiaan belaka. Mereka berkata: "Lalu kami harus bagaimana wahai Abu Utbah (Abu 

Lahab)." Abu Lahab yaitu  pendukung dan penolong berat mereka dalam berhadapan dengan 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka tetap berada dalam kondisi seperti itu. Abu Thalib 

sendiri terpesona saat dia mendengar ucapan Abu Lahab di atas. Ia sangat berharap Abu Lahab 

mengambil sikap seperti dirinya terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Abu Thalib berkata 

mendorong Abu Lahab untuk menolong Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: 

sebenarnya  salah seorang pamannya ialah Abu Utaibah 

Pasti hidup dalam taman indah jika ia tidak dibebani kezaliman 

Aku katakan kepadanya namun apa artinya nasihatku untuknya? 

Hai Abu Mu'thib, tetap kokohkanlah kepribadianmu! 

Janganlah sekali-kali menyerah pada zaman, sepanjang kau ada di jalan lurus  

Engkau dihina oleh zaman, atau engkau turun di musim ini 

Berpalinglah dari jalan kenestapaan dan orang selainmu 

berada di atas jalan nestapa 

Karena engkau tidak tercipta dalam keadaan 

lemah 

Perangilah, karena perang yaitu  solusi ter baik 

Engkau takan akan melihat pelaku perang diberi kehinaan 

Sampai dia diajak damai 

Bagaimana tidak, sementara mereka tidak 

melakukan dosa besar padamu 

Dan tidak membiarkan engkau kalah ataumenang 

Semoga Allah memberi pahala pada Abdu 

Syams, Naufal, Taim dan Makhzum karenakebaikannya kepada kami 

Mereka memecah belah kami sesudah  sebelumnya penuh cinta intim adanya 

Mereka telah melanggar hal-halyang diharamkan 

Demi Baitullah, kalian semua dusta bohong.  

Kami tidak merampas Muhammad  

Tidakkah kalian lihat suatu hari dia berdiri di Syi'b 

 

 

Abu Bakar Mendapat Perlindung- an Ibnu Dughunnah dan Mengembalikannya Kembali 

 

Ibnu Ishaq berkata: Kepadaku oleh Muhammad bin Muslim Az-Zuhri bercerita padaku 

dari Urwah dari Aisyah Radhiyallahu Anhu- ma, jika  Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu 

merasa Makkah sudah tidak akrab lagi dengannya dimana ia mendapat  gangguan di dalamnya, 

dan melihat kekejaman orang-orang Quraisy terhadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan 

sahabat-sahabat beliau, maka ia memohon izin kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk 

berhijrah dan beliau pun memberikannya. lalu  Abu Bakar pun berhijrah dan dalam 

perjalanannya, ia bertemu dengan Ibnu Ad-Daghanah, saudara Bani Al-Harits bin Bakr bin Abdu Manat 

bin Kinanah. jika  itu, Ibnu Ad-Dughunnah yaitu  pemimpin orang- orang Ahabisy. 

Ibnu Ishaq berkata: Ahabiys yaitu  anak-anak dari Harits bin Abdu Manat bin Kinanah dan Hun bin 

Mudrikah dan Bani Mushthaliq bin Khuza'ah. 

Ibnu Hisyam berkata: Mereka melakukan persekutuan. Maka lalu  mereka disebut Ahabisy 

karena melakukan perseketuan di sebuah lembah yang bernama Ahbasy di bawah Mekkah. 

Ada yang berkata bahwa nama Ibnu Ad-Dughunnah ialah Ibnu Ad-Dughainah. 

Ibnu Ishaq berkata: Az-Zuhri bercerita kepadaku dari Urwah dari Aisyah Radhiyallahu Anha yang 

berkata: lalu  Ibnu Ad-Dughunnah berkata: "Kenapa engkau ingin pergi wahai Abu Bakar?" Abu 

Bakar menjawab: "Aku diusir oleh kaumku. Mereka menyakiti serta mempersempit ruang gerakku." 

Ibnu Ad-Dughunnah berkata: "Kenapa itu semua bisa terjadi?" Demi Allah, engkau hiasan keluarga, 

menolong orang yang berada dalam kesulitan, melakukan banyak kebajikan dan membantu orang 

miskin. Jangan pergi karena aku akan melindungimu." lalu  Abu Bakar pulang bersama Ibnu Ad-

Dughunnah. 

jika  Abu Bakar memasuki Mekkah, Ibnu Ad-Dughunnah berdiri lain berkata: "Wahai orang-orang 

Quraisy, sebenarnya  aku telah melindungi anak Abu Quhafah. Maka siapa pun tidak boleh 

menyakitinya sedikitpun." 

Aisyah berkata: Orang-orang Quraisy pun mematuhinya. Abu Bakar mempunyai masjid di pintu 

rumahnya di Bani Jumah dan biasanya ia melakukan shalat di sana. Abu Bakar berhati lembut. Oleh 

karenanya jika  membaca Al-Qur'an, pasti ia terharu. 

Anak-anak muda, para budak dan para wanita berdiri di tempat Abu Bakar karena kagum dengan 

postur tubuhnya. Oleh sebab itulah beberapa orang Quraisy menemui Ibnu Ad-Dughunnah lalu  

berkata: "Wahai Ibnu Ad-Dughunnah, engkau melindungi orang ini bukan untuk mengganggu kami 

kan? sebenarnya  dia manakala shalat dan membaca apa yang dibawa Muhammad, maka lalu  

ia menangis dan ditambah ia memiliki postur tubuh yang sungguh menawan. Kami khawatir anak-anak 

muda, wanita-wanita dan orang-orang lemah di antara kami terpengaruh olehnya. Oleh sebab itulah, 

nasihatilah Abu Bakar agar tidak keluar rumah dan melakukan hal semacam itu." 

Ibnu Ad-Dughunnah pergi kepada Abu Bakar dan berkata kepadanya: "Hai Abu Bakar, perlindunganmu 

bukanlah dengan maksud agar engkau mengusik kaummu. sebenarnya  mereka tidak suka tempat 

engkau shalat dan merasa terganggu oleh perbuatanmu. Oleh sebab itu, berdiamlah di dalam 

rumahmu, dan berbuatlah apa saja yang engkau suka." 

Abu Bakar berkata: "Bagaimana kalau perlindunganmu ku kembalikan kepadamu dan aku lebih ridha 

dengan perlindungan Allah?" Ibnu Ad-Dughunnah berkata: "Ya, cabutlah perlindunganku kepadamu!" 

Abu Bakar berkata: "Baiklah." Ibnu Ad-Dughunnah berdiri lalu  berkata: “Wahai Oran-orang 

Quraisy, sebenarnya  anak Abu Quhafah telah mengembalikan perlindunganku kepadaku, maka 

terserah apa yang akan kalian lakukan pada sahabat kalian ini." 

Ibnu Ishaq berkata: Abdurrahman bin Al-Qasim bercerita kepadaku dari ayahnya, Al-Qasim bin 

Muhammad ia berkata: Da¬lam perjalanannya menuju Ka'bah, Abu Bakar berjumpa dengan orang 

Quraisy yang jahil, orang itu melemparkan tanah ke atas kepala Abu Bakar. lalu  Al-Walid bin Al-

Mughirah atau Al-Ash bin Wail berjalan melewati Abu Bakar dan orang jahil berkata: "Engkau sendiri 

yang memiliki keadaanmu seperti ini." Abu Bakar berkata: "Ya Tuhan, betapa Penyayangnya Engkau. 

Ya Tuhan, betapa Penyantunnya Engkau. Ya Tuhan, betapa Penyantunnya Engkau." 

 

 

Pembatalan Shahifah (Surat Perjanjian) 

 

Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang Quraisy secara sepihak membatalkan shahifah yang diterapkan 

orang-orang Quraisy terhadap Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib. Peristiwa ini di komandoi Hisyam 

bin Amr Rabi'ah bin Al-Harits bin Habib bin Nashr bin Malik bin Hisl bin Amir bin Luay, karena Hisyam 

bin Amr yaitu  saudara seibu dengan Nadhlah bin Hasyim bin Abdu Manaf yang memiliki hubungan 

kuat dengan Bani Hasyim. Ia sangat dihormati di mata kaumnya. Pada suatu malam ia mendatangi 

Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib di Syi'b dengan menunggang unta dan mengangkut makanan di atas 

untanya. Pada saat ia telah tiba di gerbang Syi'b, ia turun menggiring untanya, berjalan ke depan dan 

masuk menemui mereka. Pada hari yang lain, ia datang dengan membawa unta nya yang mengangkut 

gandum dan melakukan seperti biasanya. 

Hisyam bin Amr datang menjumpai Zuhair bin Abu Umayyah bin Al-Mughirah bin Abdullah bin Umar 

bin Makhzum. Ibu Zuhair bin Abu Umayyah yaitu  Atikah binti Abdul Muthalib. Hisyam bin Amr 

berkata kepada Zuhair bin Abu Umayyah, "Hai Zuhair, apakah engkau gembira, jika engkau menikmati 

makanan, mengenakan pakaian, nikah dengan wanita-wanita, sedang paman-pamanmu dari jalur 

ibumu seperti yang engkau ketahui tidak boleh menjual dan membeli dari manusia, tidak boleh 

menikah dan tidak boleh menikahkan putri-putri mereka kepada manusia yang lain? Demi Allah, 

andaikata mereka yaitu  paman-paman Abu Al-Hakam bin Hisyam lalu  engkau ajak mereka 

menuruti keinginanmu, maka tidak ada seorang pun dari mereka yang menjawab seruanmu untuk se- 

lamanya." Zuhair bin Abu Umayyah berkata: "Lalu apa yang dapat aku lakukan? Demi Allah, jika aku 

didukung orang lain, pasti aku batalkan shahifah ini .'" Hisyam bin Amr berkata: "Ada orang orang 

lain yang mendukungmu." Zuhair bin Abu Umayyah berkata: "Siapa dia?!" Hisyam bin Amr berkata: 

"Aku!" Zuhair bin Abu Umayyah berkata: "Carilah pihak ketiga." 

lalu  Hisyam bin Amr pergi mene- mui Al-Muth'im bin Adi dan berkata kepadanya: "Wahai Al-

Muth'im, senangkah engkau dua kabilah dari Bani Manaf dan engkau mendukung orang-orang Quraisy 

dalam masalah ini? Demi Allah, jika engkau mendukung mereka dalam masalah ini, engkau pasti kena 

getahnya." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Lalu apa yang dapat aku lakukan? sementara aku hanyalah 

seorang diri?" Hisyam bin Amr berkata: "Ada orang kedua yang sependapat denganmu." Al-Muth'im 

bin Adi berkata: "Siapa dia?" Hisyam bin Amr berkata: "Aku." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Carilah 

orang lain 

lagi!" Hisyam bin Amr berkata: "Telah aku 

lakukan lakukan." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Siapa dia?" Hisyam bin Amr berkata: "Zuhair bin Abu 

Umayyah." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Carilah lagi orang lain!" 

lalu  Hisyam bin Amr menemui Abu Al-Bakhtari bin Hisyam dan berkata kepadanya seperti yang 

ia katakan kepada Al-Muth'im bin Adi. Abu Al-Bakhtari berkata: "Adakah ada orang yang bisa 

membantu masalah ini?" Hisyam bin Amr berkata: "Ya, ada." Abu Al Bakhtari bin Hisyam berkata: 

"Siapa dia?" Hisyam bin Amr berkata: "Zuhair bin Abu Umayyah, Al-Muth'im bin Adi dan saya 

sependapat denganmu." Abu Al-Bakhtari bin Hisyam berkata: "Carilah orang lain lagi!" 

Lalu Hisyam bin Amr menemui Zam'ah bin Al-Aswad bin Al-Muthalib bin Asad dan berbicara 

dengannya sambil memuji hubungan keluarga Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib dengannya dan hak 

mereka atas dirinya. Zam'ah bin Al-Aswad berkata: "Adakah orang yang sependapat dengan apa yang 

kamu lakukan ini?" Hisyam bin Amr berkata: "Ya, ada!" Hisyam bin Amr menyebutkan orang-orang 

yang telah mufakat dengannya dalam masalah ini. Lalu mereka sepakat untuk bertemu di samping Al-

Hajun di Makkah Atas. 

Ibnu Ishaq berkata: lalu  lima orang itu bertemu di samping Al-Hajun. Mereka sepakat dan 

berjanji untuk membatalkan shahifah. Zuhair bin Abu Umayyah berkata: "Akulah orang yang pertama 

kali akan angkat bicara." 

Keesokan harinya, mereka berlima pergi ke ruang rapat mereka. Zuhair bin Abu Umayyah juga pergi 

dengan memakai pakaian yang mewah. Lalu ia melakukan thawaf di Baitullah sebanyak tujuh kali, 

barulah ia menemui orang-orang Quraisy dan berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Makkah, 

pantaskah kita menikmati makanan dan mengenakan pakaian, sedang Bani Hasyim binasa tidak boleh 

melakukan jual-beli. Demi Allah, saya tidak akan duduk sampai shahifah yang memutus sitaturahim 

dan zalim ini di sobek." 

Abu Jahal yang sedang berada di sudut masjid berkata: "Demi Allah, jangan omong kosong di sini. 

Shahifah ini tidak boleh di sobek." Zam'ah bin Al-Aswad berkata: "Demi Allah, engkau jauh lebih dusta, 

wahai Abu Jahal. Kami tidak rela penulisan shahifah ini sejak awal penulisannya." Abu Al-Bakhtari bin 

Hisyam berkata: "Zam'ah berkata benar. Demi Allah, kita tidak puas dengan apa yang ditulis di 

dalamnya dan kita mengingkari." Al-Muth'im bin Adi berkata: "Kalian berdua berkata benar dan 

dustalah orang yang memprotes kalian. Kita berlepas tangan kepada Allah dari shahifah ini dan dari 

semua yang ditulis di dalamnya." Hisyam bin Amr juga mengatakan hal sama. Abu Jahal berkata: "Apa 

yang kalian lakukan telah kalian sepakati di suatu malam dengan musyawarah dan bukan di tempat 

ini kalian putuskan. Saat itu, Abu Thalib sedang duduk di sudut masjid. Al-Muth'im bin Adi bangkit dan 

berjalan menuju shahifah untuk menyobeknya, namun ia dapatkan rayap-rayap telah 

memakannya, kecuali kata  (dengan nama-Mu ya Allah). 

Penulis shahifah itu yaitu  Manshur bin Ikrimah. sesudah  menuliskannya tangannya lumpuh, 

demikianlah menurut riwayat para ulama. 

Ibnu Hisyam berkata: Sebagian pakar menyebut bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata 

kepada Abu Thalib: "Pamanda, sebenarnya  Allah telah mengirim rayap-rayap kepada shahifah 

orang-orang Quraisy ini. Rayap-rayap itu justru membiarkan nama Allah di shahifah itu dan 

menghapus kezaliman, pemutusan hubungan silaturahim dan kebohongan dari shahifah itu." Abu 

Thalib bertanya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Apakah Tuhanmu menginformasikan 

hal ini kepadamu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Ya benar." Abu Thalib berkata: 

"Mana Tuhanmu, kenapa aku tidak melihatnya?" lalu  Abu Thalib keluar menemui orang-orang 

Quraisy dan berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang orang-orang Quraisy, sebenarnya  

keponakanku memberitahuku ini dan itu, oleh sebab itu mari kita buktikan kebenaran ucapannya. Jika 

shahifah ini  persis seperti yang dikatakan keponanku, maka berhentilah memboikot kami dan 

turunkanlah apa saja yang ada di dalamnya. Jika keponakanku berkata dusta, maka dia aku serahkan 

kepada kalian." Orang-orang Quraisy berkata: "Baiklah, kami sependapat dengan tawarabnu itu." 

Mereka pun sepakat, lalu mereka melihatnya dan ternyata shahifah ini  persis seperti yang 

dikatakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Saat itulah, beberapa orang Quraisy membatalkan 

shahifah yang telah mereka buat. 

Usai kembali dari Thaif Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kembali pergi ke Gua Hira. Rasulullah 

mengirim seseorang untuk menjumpai Al-Akhnas bin Syariq untuk memohon perlindungan. Al-Akhnas 

bin Syariq berkata: "Aku seorang lawan dan seorang lawan itu tidak boleh memberikan perlindungan 

kepada lawannya." lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengutus seseorang untuk 

menjumpai Suhail bin Amr untuk memohon perlindungan padanya. Suhail bin Amr berkata: 

"sebenarnya  Bani Amir dilarang melindungi seseorang untuk melawan Bani Ka'ab." lalu  

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengirim seseorang untuk menjumpai Al-Muth'im bin Adi guna 

memohonkan baginya perlindungannya, dan ia pun siap memberikan perlindungan kepada beliau. 

sesudah  itu, Al-Muth'im bin Adi beserta keluarganya keluar dari rumah dengan persenjataan lengkap 

hingga mereka tiba di masjid, lalu  Al-Muth'im bin Adi mengirim seseorang menjumpai 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan membawa pesan: "Silahkan, masuklah ke dalam 

masjid!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pun masuk ke dalamnya, lalu thawaf di Baitullah dan 

shalat di sampingnya, sesudah  itu pulang ke rumah. Inilah yang dimaksudkan oleh Hassan bin Tsabit 

dalam untaian syairnya. 

Ibnu Ishaq berkata: Hassan bin Tsabit juga memuji Hisyam bin Amr atas jasanya dalam membatalkan 

shahifah dalam untaian syairnya: 

Adakah Bani Umayyah memenuhi hak perlindungan 

Dengan ikatan nan kokoh sebagaimana yang dilakukan oleh Hisyam? 

Seperti sekelompok orang yang tidak menzalimi tetangganya 

Yaitu Al-Harits bin Hubaib anak Sukham? Jika Bani Hisl melindungi orang yang meminta 

perlindungan, 

Mereka pasti memenuhinya dan menawarkan ketentraman 

Ibnu Hisyam berkata: Hisyam yaitu  saudara Suham. Namun ada pula yang mengatakan bahwa nama 

Suham yaitu  Sukham. 

 

 

Thufail bin Amr Ad-Dausi Masuk Islam 

 

Ibnu Ishaq berkata: Walaupun memperoleh perlakuan hina dari kaumnya, Rasulullah tetap 

menyampaikan nasihat dan menyeru mereka kepada keselamatan dari apa yang sedang mereka alami 

saat itu. Adapun orang-orang Quraisy, mereka malah melarang manusia dan siapa saja dari orang Arab 

yang datang pada mereka. 

Thufail bin Amr yaitu  seorang yang terhormat, penyair dan seorang sangat cerdas. Orang-orang 

Quraisy berkata kepada Thufail bin Amr, "Wahai Thufail, engkau telah tiba di negeri kami dan orang 

ini (Nabi Muhammad) yang ada di tengah-tengah kita telah membuat kami semua porak-poranda. Ia 

telah memecah belah persatuan dan kesatuan kita. Ucapannya laksana sihir yang mampu 

memutuskan hubungan seorang anak dengan ayahnya, saudara dengan saudaranya dan suami 

dengan istrinya. Kami sangat khawatir jika apa yang telah terjadi pada kami itu lambat laun akan 

menimpamu dan kaummu. Karena itu, janganlah engkau sedikitpun mengobrol dengannya jangan 

pula mendengar sesuatu pun darinya!" 

Thufail bin Amr bercerita: "Demi Allah, mereka tak pernah henti mengatakan itu padaku hingga aku 

bertekad untuk tidak akan mendengarkan sesuatu pun dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan 

tidak berbicara dengan beliau sampai pada aksi menutup kedua telingaku dengan kapas karena 

khawatir perkataan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam masuk ke kedua telingaku sementara aku 

tidak ingin mendengar apa pun darinya. Suatu hari, aku pergi ke masjid, tanpa kuduga ternyata 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berdiri shalat di sisi Ka'bah, lalu  aku berdiri mendekati 

beliau. Ternyata Allah berkehendak agar aku mendengarkan sebagian firman-Nya. Sungguh apa yang 

aku dengar yaitu  ucapan yang teramat indah, aku bergumam dalam diriku: "Demi Allah, sungguh aku 

seorang yang cerdas dan penyair yang cerdas memilah antara yang haq dengan yang batil lalu apa 

salahnya kalau aku mendengar apa yang dikatakan lelaki ini. Jika yang dia bawa yaitu  kebenaran, aku 

akan menerimanya. Jika yang dibawanya yaitu  kebatilan, aku akan meninggalkannya." 

Aku terpaku bagai patung di tempatku sampai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam beranjak pulang 

ke rumahnya. Aku mengikuti beliau dengan diam-diam dari belakang hingga beliau masuk ke dalam 

rumahnya. jika  telah masuk ke dalam rumahnya, aku ikut masuk ke dalamnya. Aku berkata: "Hai 

Muhammad, kaummu mengatakan ini dan itu padaku. Demi Allah, mereka terus-menerus 

mengintimadasi aku terhadap permasalahanmu, hingga aku menutup kedua telingaku ini dengan 

kapas agar tidak bisa mendengar ucapanmu. Namun ternyata Allah memberiku hidayah hingga bisa 

mendengarkan ucapanmu yang teramat indah. Tolong terangkan kepadaku persoalanmu!" 

Thufail bin Amr berkata: "lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menerangkan tentang 

Islam kepadaku dan membacakan Al-Qur'an. Demi Allah, aku belum pernah mendengar perkataan 

seindah Al- Qur'an dan sesuatu yang lebih adil dibandingkan  Islam. Maka akupun segera memeluk Islam 

dengan menyaksikan dua kalimat syahadat. Aku berkata: "Wahai Nabi Allah, sebenarnya  aku orang 

yang ditaati di tengah-tengah kaumku. Aku akan pulang dan mengajak mereka kepada Islam. Oleh 

karena itu, berdoalah kepada Allah agar Dia memberiku satu tanda yang bisa membantuku dalam 

menyeru mereka." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Ya Allah, berilah dia sebuah 

tanda." 

Lanjut Thufail: "Maka aku pun pulang kepada kaumku. jika  aku berada di Tsaniyyah, celah antara 

dua gunung, yang dari sini aku bisa melihat rumah-rumah kaumku, tiba-tiba di kedua mataku ada 

cahaya seperti lentera. Aku berkata: "Ya Allah, janganlah dia ada di wajahku. Aku khawatir kaumku 

mengira bahwa cahaya ini  yaitu  tanda bahwa aku keluar dari agama mereka." lalu  

ca¬haya ini  pindah ke ujung cambukku dan orang-orang bisa melihat sinar di cambukku 

bagaikan lentera, sementara aku turun ke tem: pat mereka dari Tsaniyyah hingga akhirnya tiba di 

tempat mereka keesokan harinya. 

Thufail bin Amr berkata: "Tatkala aku tiba di rumah, ayahku yang sudah berusia lanjut memanggilku. 

Aku berkata: "Ayahanda kini aku tidak lagi termasuk golonganmu dan engkau tidak lagi termasuk 

golonganku." Ayahku berkata: "Apa maksudmu bicara begitu wahai anakku?" Aku berkata: "Aku telah 

masuk Islam dan mengikuti agama Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam." Ayahku berkata: 

"Anakku, agama kamu agamaku juga." Aku berkata: "Mandilah dan cucilah pakaian Ayah! sesudah  itu, 

datanglah kepadaku kembali agar aku mengajari Ayah apa yang telah diajarkan kepadaku." Ayah pun 

pergi, mandi dan mencuci pakaiannya. sesudah  itu, ia datang kepadaku, lalu  aku terangkan 

kepadanya perihal Islam dan ia pun memeluk Islam. 

Lalu datanglah istriku mendekati aku. Aku berkata kepadanya: "Kini aku bukan termasuk golonganmu 

lagi dan engkau tidak lagi termasuk dari golonganku." Istriku berkata: "Apa maksudmu?!" Aku berkata: 

"Islam telah memisahkanku darimu, aku telah mengikuti agama Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sal- 

lam." Istriku berkata: "Agamamu, agamaku jua." Aku berkata: "Pergilah ke Hina Dzi Asy- Syara." 

Ibnu Hisyam berkata: Thufail bin Amr berkata: "Pergilah ke Dzi Asy-Syara, lalu mandilah di sana!" Dzi 

Asy-Syara merupakan berhala kabilah Daus. Kabilah Daud melindungi tempat berhala ini  di sana 

ada air terjun yang turun dari gunung. Istriku berkata: "Istriku bergegas pergi untuk mandi. sesudah  

selesai ia kembali menemuiku, maka aku terangkan Islam kepadanya dan ia pun memeluk Islam. 

lalu  aku menyeru kabilah Daus kepada Islam, namun sayang mereka agak lamban merespon 

seruanku. lalu  aku datang kembali kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Makkah. 

Aku berkata kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, sebenarnya  perzinahan telah mendominasi di 

kabilah Daus, maka berdoalah kepada Allah untuk mereka." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

berkata: "Ya Allah, tunjukilah kabilah Daus. Kembalilah engkau kepada kaummu, lalu serulah mereka 

dan bersikap santunlah terhadap mereka." Aku pulang kembali di tengah kabilah Daus untuk menyeru 

mereka kepada Islam hingga Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah sampai 

terjadinya Perang Badar, Perang Uhud dan Perang Khandaq. Aku pergi menemui Rasulullah Shallalahu 

alaihi wa Sallam dengan membawa orang-orang dari kaumku yang telah masuk Islam. Saat itu 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang berada di Khaybar. Aku sampai di Madinah dengan 

membawa sekitar tujuh puluh atau delapan puluh keluarga yang telah masuk Islam, dan kami 

menyusul Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Khaybar dan beliau memberi bagian rampasan 

perang sebagaimana kaum Muslimin yang lain. 

Hingga Allah menaklukkan Makkah untuk beliau. Aku berkata: "Wahai Rasulullah, kirimlah aku kepada 

berhala Dzu Al-Kafain -berhala milik Amr bin Humamah- untuk aku bakar." 

Ibnu Ishaq berkata: Thufail bin Amr lalu berangkat menuju berhala Dzu Al-Kafaini, lalu  ia 

membakar ini  sambil berkata: 

Wahai Dzu Al-Kafain, aku bukan lagi budak-budakmu 

Kami lahir lebih awal dari pada mu Kirii aku selipkan api di dalam hatimu 

 

Ibnu Ishaq berkata: Usai melakukan itu, Thufail bin Amr kembali menghadap Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam. Ia hidup menyertai Nabi di Madinah hingga Allah Taala memanggilnya pulang ke 

haribaan-Nya. Di zaman Abu Bakar, jika  orang-orang Arab murtad, Thufail bin Amr berangkat 

bersama kaum Muslimin hingga berhasil menaklukkan Thulaihah dan seluruh Negeri Najed. sesudah  

itu, Thufail bin Amr berangkat bersama kaum Muslimin menuju Yamamah bersama dengan anaknya 

yang bernama Amr bin Thufail. Dalam perjalanannya menuju Yamamah Thufail bin Amr. Ia berkata 

kepada sahabat-sahabatnya: "sebenarnya  aku baru saja bermimpi, tolong terangkanlah kepadaku 

arti mimpiku itu. Aku bermimpi kepalaku dicukur, seekor burung keluar dari mulutku, aku berpapasan 

dengan seorang wanita lalu wanita memasukkan aku ke dalam kemaluannya. Anakku men- cariku 

dengan sangat gelisah, lalu  aku lihat anakku dijauhkan dariku." Mereka berkata: "Itu suatu 

pertanda yang baik!!" Thufail bin Amr berkata: "Demi Allah, aku memiliki penafsiran sendiri dari mimpi 

itu!" Mereka berkata: “Bagaimana takwilnya?” Thufail bin Amr berkata: "Kepalaku dicukur artinya ia 

letakkan di bumi. Sedangkan burung yang keluar dari mulutku yaitu  nyawaku. Wanita yang 

memasukkan aku ke dalam kemaluannya artinya tanah yang digali untukku lalu aku dimasukkan ke 

dalamnya. Anakku mencariku artinya lalu  ia dijauhkan dariku artinya bahwa ia ingin sekali 

menggapai sebagaimana yang aku gapai." Thufail bin Amr Rahimahullah gugur sebagai salah seorang 

syahid pada Perang Yamamah. Sedangkan anaknya menderita luka parah lalu sembuh dan akhirnya 

dia gugur sebagai syahid di medan Perang Yarmuk pada masa kekhilafahan Umar bin Khaththab 

Radhiyallahu Anhu. 

 

 

Tentang A'sya Bani Qais bin Tsa'labah 

 

Ibnu Hisyam berkata: Khalid bin Qurrah bin Khalid As-Sadusi dan yang lainnya berkata kepadaku dari 

tokoh-tokoh sepuh berilmu seperti Bakr bin Wail bahwa A'sya Bani Qais bin Tsa'labah bin Ukabah bin 

Sha'b bin Ali bin Bakr bin Wail pergi menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk masuk 

Islam. 

jika  A'sya bin Qais sampai atau dekat di Makkah, ia dihalau oleh sebagian orang Quraisy. Mereka 

menanyakan apa tujuan kedatangannya ke Makkah. A'sya bin Qais nyatakan bahwa maksud 

kedatangannya ke Makkah karena ingin berjumpa dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan 

memeluk Islam. Salah seorang Quraisy berkata kepada A'sya bin Qais: "Hai Abu Bashir, sesungguh- 

nya dia mengharamkan zina." A'sya bin Qais berkata: "Demi Allah, aku tidak gila dengan zina." Orang 

Quraisy ini  berkata: "Hai Abu Bashir, sebenarnya  dia mengharamkan minuman keras." A'sya 

bin Qais berkata: 

jjemi Allah, adapun yang mi, maka dalam jiwa ini masih suka kepadanya. Aku akan meminumnya tahun 

ini, sesudah  itu aku akan datang kepada beliau untuk masuk Islam." sesudah  itu, A'sya bin Qais pulang. 

Ia meninggal dunia pada tahun itu juga dan berhasil bertemu dengan Rasululla/i Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam. 

Ibnu Ishaq berkata: Walapun musuh Allah, Abu Jahal demikian berat memusuhi Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam, dan sangat besar volume kebenciannya kepada beliau dan bersikap keras terhadap 

beliau, namun Allah merendahkannya di hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika  ia 

melihatnya. 

 

 

Al-Irasyi yang Menjual Untanya Kepada Abu Jahal 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abdul Malik bin Abdullah bin Abu Sufyan Ats-Tsaqafi berkata kepadaku, seseorang 

dari Arasy, tiba di Makkah dengan mengendarai untanya. Unta itu lalu  dibeli Abu Jahal, dengan 

menghutanginya. lalu  orang Irasy ini  berjalan menuju tempat berkumpulnya orang-orang 

Quraisy, sedang Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sedang duduk di sudut masjid. Orang Irasy 

ini  berkata: "Hai orang-orang Quraisy, siapakah di antara kalian yang bisa membantuku 

menyelesaikan persoalanku dengan Abu Al-Hakam bin Hisyam karena aku orang asing dan musafir. 

Sungguh, dia belum membayar untaku." Salah seorang dari hadirin di tempat pertemuan ini  

berkata: "Apakah engkau melihat orang yang sedang sendiri itu?" Orang yang dia maksud yaitu  

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka memanfaatkan Rasulullah, karena mereka tahu 

permusuhan sengit antara beliau dengan Abu Jahal. Pergilah kepadanya, karena ia pasti bisa 

membantumu menyelesaikan persoalanmu dengan Abu Jahal." 

Maka orang Arasy ini  berjalan menuju tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan 

berkata kepada beliau: "Wahai hamba Allah, sebenarnya  Abu Al-Hakam bin Hisyam telah 

mengambil hakku. Aku di sini hanya orang asing dan musafir. Aku telah bertanya kepada orang-orang 

tentang siapa yang bisa membantuku mengambil hakku dari Abu Jahal, lalu  mereka 

menyuruhku datang kepadamu. Oleh karena itu, tolong ambilkan hakku dibandingkan nya semoga Allah 

merahmatimu!" Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam bersabda: "Mari kita pergi kepada Abu Jahal!" 

Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam berdiri bersamanya. jika  orang-orang Quraisy melihat beliau 

berjalan bersama orang Irasy ini , mereka berkata kepada salah seorang dari mereka: "Ikuti dan 

lihatlah apa yang akan dia lakukan!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berjalan hingga tiba di 

rumah Abu Jahal, lalu  beliau mengetuk pintu rumahnya. Abu Jahal berkata: "Siapa itu?" 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Muhammad. Keluarlah engkau temuilah aku!" Abu 

Jahal pun keluar membukakan pintu. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Berikan liak 

orang ini!" Abu Jahal berkata: "Ya, tunggu sebentar, aku akan segera memberikan hak orang ini." 

Selesai mengatakan itu Abu Jahal segera bergegas masuk ke dalam rumahnya lalu keluar membawa 

uang untuk melunasi hutangnya kepada orang Irasy ini . sesudah  itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam pergi sambil berkata kepada orang Irasyi ini : "Sekarang urusanmu telah tuntas!" 

Orang Irasyi ini  berjalan hingga tiba di tempat berkumpulnya orang-orang Quraisy di masjid, 

lalu  ia berkata: Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan. Sungguh, demi Allah, ia telah 

menolongku mendapat  kembali hakku." Orang Quraisy yang diperintahkan membuntuti Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan orang Irasyi datang ke tempat pertemuan orang-orang Quraisy. 

Mereka bertanya: "Apa yang engkau lihat?" Orang Quraisy ini  menjawab: "Sungguh sebuah 

peristiwa ajaib yang luar biasa. Demi Allah, dia hanya mengetuk pintu rumah Abu Jahal, lalu  Abu 

Jahal keluar menemuinya bagai seorang pecundang. Muhammad berkata: "Lunasilah hutangmu 

terhadap orang ini!" Abu Jahal menjawab: "Ya. tunggu sebentar aku ambil uang dulu!" Selesai 

mengatakkan itu, Abu Jahal segera bergegas masuk ke dalam rumahnya, lalu  keluar lagi 

membawa uang untuk membayar hutangnya kepadanya." Tak lama berselang, Abu Jahal datang ke 

tempat pertemuan orang-orang Quraisy. Mereka berkata: "Celaka engkau wahai Abu Jahal, ada apa 

denganmu? Demi Allah, kami belum pernah melihat seperti apa yang baru saja engkau lakukan!" Abu 

Jahal berkata: "Demi Allah, dia datang mengetuk pintu rumahku. Saat aku mendengar suaranya, diriku 

dihinggapi rasa takut yang luar biasa. lalu  aku keluar menemuinya, sedang di kepalanya 

terdapat unta. Aku tidak pernah melihat unta yang memiliki kepala, pangkal ekor dan taring seperti 

unta ini . Demi Allah, jika aku tidak memenuhi permintaannya pastilah unta itu menerkam!" 

 

 

Rukanah Al-Mathlabi Berduel Melawan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam 

 

Ibnu Ishaq berkata: Abu Ishaq bin Yasar berkata kepadaku bahwa Rukanah bin Abdun bin Yazid bin 

Hasyim bin Al-Muthaib bin Abdu Manaf yaitu  orang Quraisy yang paling hebat bertarungnya. Suatu 

hari, ia berjumpa Ucngan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam di salah satu syi'b (gang di bukit) 

Makkah. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata kepadanya: "Hai Rukanah, kenapa engkau 

tidak takut kepada Allah dan tidak menerima seruanku?"41 Rukanah berkata: "sebenarnya  jika aku 

tahu bahwa apa yang engkau katakan yaitu  benar pasti aku mengikutimu." Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam berkata: "Begini saja, bagaimana jika aku berhasil mengalahkanmu dalam duel, 

apakah dengan begitu engkau mengetahui bahwa apa yang aku katakan yaitu  benar?" Rukanah 

berkata: "Ya!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Kalau begitu, bersiaplah." Rukanah 

mendekati Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu  mulai berduel melawan beliau. jika  

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyerangnya, beliau berhasil membantingnya dan diapun 

tidak berkutik. Rukanah berkata: "Ronde kedua wahai Muhammad!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam pun mengulangi dan kembali berhasil merobohkan Rukanah. Rukanah berkata: "Hai 

Muhammad, demi Allah, sulit dipercaya. Engkau berhasil mengalahkanku." Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam berkata: "Jika engkau mau, aku akan perlihatkan padamu sesuatu yang lebih sulit 

dipercaya dari peristiwa tadi, jika engkau bertakwa kepada Allah dan mengikuti agamaku." Rukanah 

berkata: "Apa itu?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berkata: "Aku akan panggil pohon yang 

engkau lihat ini, lalu ia datang kepadaku." Rukanah berkata: "Silahkan panggil pohon ini . 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pun memanggil pohon itu, lalu  pohon 

 

ini  datang hingga berdiri tepat di hadap- an Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan beliau 

berujar kepadanya: "Kembalilah ke tempatmu semula." Pohon itu pun kembali ke tempatnya semula. 

sesudah  itu, Rukanah menemui kaumnya dan berkata: "Hai Bani Abdu Manaf, silahkan adu semua 

penyihir di dunia dengan sahabat kalian, niscaya dia mampu mempecundangi mereka semua. Demi 

Allah, aku belum pernah menjumpai ahli sihir yang lebih sakti darinya." lalu  Rukanah 

menceritakan apa yang ia saksikan dan apa yang telah diperbuat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam. 

 

 

Utusan Kristen yang Masuk Islam 

 

Ibnu Ishaq berkata: Suatu hari, datanglah dua puluh atau hampir dua puluh orang utusan Kristen 

kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika  beliau sedang berada di Makkah. Mereka 

mendengar kabar kenabian beliau dari orang-orang Habasyah. Mereka menemukan Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam di Masjidil Haram, lalu mereka duduk bersamanya, berbincang dan 

bertanya jawab dengannya, di tengah-tengah orang-orang Quraisy yang berada di tempat 

berkumpulnya mereka di sekitar Ka'bah. sesudah  berdialog dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam, Rasulullah mengajak mereka ke jalan Allah dan membacakan Al-Qur'an kepada mereka. Pada 

saat mendengar Al-Qur'an, mata mereka mengucurkan airmata. Mereka menerima dakwah beliau, 

beriman kepada beliau, membenarkan dan mengenali beliau persis seperti sifat yang dijelaskan dalam 

kitab mereka. sesudah  itu, mereka pamit kepada Ra- sulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Sialnya 

mereka ditemui Abu Jahal bin Hisyam bersama sejumlah orang Quraisy. Mereka berkata kepada 

utusan Kristen Habasyah yang telah masuk Islam, "Semoga Allah menggagalkan usaha kalian. 

Bukankah kalian dikirim oleh rahib-rahib kalian agar kembali kepada mereka dengan membawa berita 

tentang orang ini. Malah yang kalian lakukan yaitu  yang sebaliknya, meninggalkan agama kalian dan 

membenarkan ucapannya. Kami belum pernah mendapat  utusan yang lebih bodoh dibandingkan  

kalian." 

Utusan Kristen Habasyah yang telah masuk Islam itu berkata kepada orang-orang Quraisy: "Salam 

sejahtera atas kalian, kami tidak akan membalas ucapan kalian, karena tidak ada yang melarang kami 

mengerjakan apa saja yang kami inginkan dan tidak ada yang melarang kalian mengerjakan apa saja 

yang kalian inginkan. Kami tidak akan pernah mengabaikan kebaikan ada bagi diri kami." Ada yang 

menyebutkan, bahwa delegasi Kristen ini  datang dari Najran. Hanya Allah yang Mahatahu 

darimana sebenarnya utusan itu berasal. Ada juga yang mengatakan bahwa ayat-ayat berikut turun 

tentang mereka:  

 

Orang-orang yang telah Kami datangkan kepada mereka Al Kitab sebelum Al Quran, mereka beriman 

(pula) dengan Al Quran itu. Dan jika  dibacakan (Al Qur'an itu) kepada mereka, mereka berkata: 

"Kami beriman kepadanya; sebenarnya ; Al Qur'an itu yaitu  suatu kebenaran dari Tuhan Kami, 

sebenarnya  Kami sebelumnya yaitu  orang-orang yang membenarkan (nya). Mereka itu diberi 

pahala dua kali disebabkan kesabaran mereka, dan mereka menolak kejahatan dengan kebaikan, dan 

sebagian dari apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka, mereka nafkahkan. Dan jika  mereka 

mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling dibandingkan nya dan mereka berkata: 

"Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin 

bergaul dengan orang-orang jahil." (QS. al-Qashash: 52-55). 

Ibnu Ishaq berkata: Aku pernah tentang ayat-ayat di atas kepada siapa diturunkan? Ibnu Syihab Az-

Zuhri berkata kepadaku, "Aku mendengar dari ulama-ulama kita bahwa ayat-ayat di atas diturunkan 

kepada Najasyi dan sahabat-sahabatnya dan juga ayat-ayat yang ada di surat Al-Maidah" 

 

Yang demikian itu disebabkan karena di antara mereka itu (orang-orangNasrani) terdapat pendeta-

pendeta dan rahib-rahib, (juga) karena sebenarnya  mereka tidak menyombongkan diri. Dan jika  

mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka 

mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Quran) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab 

mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama 

orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur'an dan kenabian Muhammad saw.)" (QS. al-

Maidah: 82-83), 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam senantiasa berkumpul di Masjidil Haram 

dengan sahabat-sahabat yang lemah, seperti: Khabbab, Ammar, Abu Fukaihah Yasar, mantan budak 

Shafwan bin Umayyah, Shuhaib dan orang-orang seperti mereka dari kaum Muslimin. Orang-orang 

Quraisy melecehkan sahabat-sahabat Rasulullah Shaliallahu Alaihi wa Sallam yang lemah itu. Sebagian 

mereka berkata kepada yang lain: "Mereka yaitu  sahabat-sahabat Muhammad, apakah mungkin 

Allah akan memberikan mereka petunjuk dan kebenaran dan bukan memberikannya kepada kita? 

Andai yang dibawa Muhammad itu sesuatu yang baik, pasti kita akan mendahului mereka menuju 

Muhammad dan Allah tidak mengkhususkan mereka atasnya dibandingkan  kita." lalu  Allah 

menurunkan ayat tentang mereka: 

 

 

Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi hari dan di petang hari, 

sedang mereka menghendaki keridaan-Nya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikit pun 

terhadap perbuatan mereka dan mereka pun tidak memikul tanggung jawab sedikit pun terhadap 

perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, sehingga kamu termasuk orang-

orang yang zalim. Dan demikianlah telah Kami uji sebahagian mereka (orang-orang yang kaya) 

dengan sebahagian mereka (orang-orang miskin), supaya (orang-orang yang kaya itu) berkata: 

"Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah kepada mereka?" (Allah 

berfirman): "Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang orang-orang yang bersyukur (kepada-Nya)?" 

jika  orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: 

"Salaamun-alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya 

barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, lalu  ia berto bat 

sesudah  mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sebenarnya  Allah Maha Pengampun 

lagi Maha Penyayang. (QS. al- An'am: 52-54). 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana berita yang sampai pada saya, seringkali duduk-

duduk di Marwa, yaitu di warung dagang seorang anak muda Kristen yang bernama Jabr. Ia budak 

Ibnu Al-Hadhrami. Orang-orang Quraisy berkata: "Demi Allah, Muhammad itu ternyata diajari banyak 

hal oleh Jabr, budak Ibnu Al-Hadhrami." lalu  Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapan 

mereka ini : 

 

Dan sebenarnya  Kami mengetahui bahwa mereka berkata: "sebenarnya  Al Qur'an itu diajarkan 

oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)." Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan 

(bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa Ajam, sedangAl Qur'an yaitu  dalam bahasa Arab 

yang terang. (QS. an-Nahl: 103). 

Ibnu Hisyam berkata: Firman Allah yulhiduuna ilaihi artinya mereka cenderung kepadanya. Ilhad 

artinya menghindar dari kebenaran. Ru'bah bin Al-Ajjaj berkata: 

Jika Adh-Dzahhak diikuti, maka setiap orang akan menghindar dari kebenaran 

Maksudnya Adh-Dhahhak Al-Khariji. Bait syair di atas ialah cuplikan ringkas dari syair-syair Ru'bah bin 

Al-Ajjaj. 

 

 

Ucapan Al-Ash dan Sebab Turunnya Surat Al-Kautsar 

 

Ibnu Ishaq berkata: Jika Al-Ash bin Wail As-Sahmi mendengar nama Rasulullah disebut dihadapannya, 

sebagaimana berita yang sampai padaku, maka ia akan berkata: "Jangan hiraukan si Muhammad itu, 

sebenarnya  dia orang yang sulit memiliki anak laki-laki. Jika ia meninggal, namanya akan terputus 

dan kalian akan bebas darinya." lalu  Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapannya ini : 

 

sebenarnya  Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena 

Tuhanmu dan berkorbanlah. sebenarnya  orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. 

(QS. al-Kautsar: 1-3). 

Yakni, Kami telah menganugerahkan kepadamu nikmat yang lebih baik dibandingkan  dunia dan seisinya. 

Al-Kautsar ialah sesuatu yang agung. 

Ibnu Ishaq berkata bahwa Labid bin Rabi'ah Al-Kilabi berkata: 

Kami merasa sedih saat kematian pemilik Mahlub 

Dan di Rida' ada rumah agung yang lain 

 

Ibnu Hisyam berkata: Bait syair di atas ialah cuplikan dari syair-syair Labid bin Rabi'ah Al-Kilabi. 

Ibnu Hisyam berkata: Pemilik Malhub ialah Auf bin Al-Ahwash bin Ja'far bin Kilab. Ia meninggal di 

Mahlub. Maksud ucapan Labid bin Rabi'ah Al-Kilabi: Di Ar-Rida' terdapat rumah lain yang agung ialah 

Syuraih bin Al- Akhwash bin Ja'far bin Kilab. Ia meninggal dunia di Ar-Rida. Makna kata kautsar yang 

ia maksud ialah sesuatu yang banyak. Kata kautsar ialah dari kata katsir yang artinya banyak. 

Ibnu Hisyam berkata: Al-Kumait bin Zaid berkata dalam syairnya memuji Hisyam bin Abdul Malik bin 

Marwan: 

Engkau banyak (katsir), wahai anak Marwan yang baik 

Sedang ayahmu, Ibnu Al-Aqail yaitu  kaustar (lebih agung) 

 

Bait syair di atas yaitu  penggalan dari syair-syairnya. 

Ibnu Ishaq berkata bahwa Ja'far bin Amr, Ibnu Hisyam berkata: Dia yaitu  Ja'far bin Amr bin Ja'far bin 

Amr bin Umayyah Adh-Dhamri berkata padaku dari Abdullah bin Muslim, saudara Muhammad bin 

Muslim bin Syihab Az-Zuhri dari Anas bin Malik yang berkata bahwa saya mendengar Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda dan sebelumnya beliau ditanya, 

"Wahai Rasulullah, apakah maksud Al-Kautsar yang dianugrahkan kepadamu itu? Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Al-Kautsar ialah sungai yang luasnya antara Shan'a ke Ailah. 

Tempat-tempat airnya tak terhitung banyaknya dan ia didatangi burung-burung yang memiliki leher 

laksana leher unta." Umar bin Khaththab berkata: "Wahai Rasulullah, sebenarnya  burung ini  

pasti merasakan kenikmatan?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Orang yang 

menyantap burung ini  lebih memiliki nikmat yang lebih besar dibandingkan  kenikmatan burung 

ini ."42 

Ibnu Ishaq berkata: Kami mendengar hadits di atas dan hadits-hadits lainnya bahwa Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda, 

Barangsiapa meminum air sungai Al-Kautsar, maka ia tidak akan pernah haus untuk selama- 

lamanya,43 

 

 

Turunnya Ayat Mengapa Malaikat Tidak Diturunkan kepadanya (Al- An'aam: 8) 

 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tanpa henti terus menyeru kaumnya 

kepada Islam, berdialog, berdiskusi dan berdebat dengan mereka. lalu  Zam'ah bin Al-Aswad, 

An-Nadhr bin Al- Harits, Al-Aswad bin Abdu Yaghuts, Ubay bin Khalaf dan Al-Ash bin Wail berkata 

kepada beliau: "Andai saja Allah mengutus kepada kami malaikat yang berbicara tentang dirimu dan 

bisa dilihat bersama dirimu?'"lalu  Allah menurunkan ayat tentang ucapan mereka ini : 

Dan mereka berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) seorang malaikat?" dan 

kalau Kami turunkan (kepadanya) seorang malaikat, tentu selesailah urusan itu, lalu  mereka 

tidak diberi tangguh (sedikit pun). Dan kalau Kamijadikan rasul itu (dari) malaikat, tentulah Kami 

jadikan dia berupa laki-laki dan (jika Kami jadikan dia berupa laki-laki), Kami pun akan jadikan mereka 

tetap ragu sebagaimana kini mereka ragu." (Al-An'am: 8-9). 

 

 

Turunnya Ayat, "Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu" (Al-

Anbiya': 41) 

 

Ibnu Ishaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam —sebagaimana berita yang saya terima— 

suatu saat berjalan melewati Al-Walid bin Al-Mughirah, Umayyah bin Khalaf dan Abu Jahal. Mereka 

mencemooh dan mengolok-olok beliau, hingga membuat beliau naik darah karenanya, lalu Allah 

Ta'ala menurunkan ayat tentang mereka ini : 

Dan sungguh telah diperolok-olokkan beberapa orang rasul sebelum kamu maka turunlah kepada 

orang yang mencemoohkan rasul-rasul itu adzab yang selalu mereka perolok-olokkan. (Al-Anbiya': 41). 

 

 

Perisiwa Isra' dan Mi'raj 

 

Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam diisra'kan (diperjalanan pada malam 

hari) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, yaitu Baitul Maqdis di Ilia. Saat itu Islam telah menyebar 

di Makkah dan di seluruh kabilah-kabilah. 

Ibnu Ishaq berkata: Hadits tentang isra'nya Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana yang 

saya terima, berasal dari Abdullah bin Mas'ud, Abu Said Al-Khudri, Aisyah istri Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam, Muawiyah bin Abu Sufyan, Al-Hasan bin Al-Hasan, Ibnu Syihab Az-Zuhri, Qatadah 

dan ulama-ulama lainnya, serta Ummu Hani' binti Abdul Muthalib. Mereka sama-sama meriwayatkan 

dari Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Peristiwa isra' ini di dalamnya terdapat ujian, seleksi, dan 

merupakan salah satu bukti kekuasaan dan kebesaran Allah. Selain itu, terdapat juga pelajaran bagi 

orang-orang berakal, petunjuk, rahmat dan penguat keimanan bagi orang yang beriman kepada Allah 

dan membenarkannya. Allah mengisrakan Rasulullah sebagaimana yang dikehendaki-Nya untuk 

memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya seperti yang Dia inginkan, hingga beliau bisa 

menyaksikan bukti-bukti kekuasaan-Nya terutama dalam mengerjakan apa saja yang dihendaki-Nya. 

Ibnu Ishaq berkata: Seperti beritakankan kepadaku, Abdullah bin Mas'ud berkata bahwa Rasulullah 

Shallalahu 'alaihi wa Sallam menaiki Buraq, yaitu hewan yang membawa para nabi sebelum beliau. 

lalu  beliau mengendarainya untuk melihat tanda-tanda kebesaran Allah yang ada di antara 

langit dan bumi, hingga perjalanan beliau terhenti di Baitul Maqdis. Di sana, telah ada Ibrahim, Musa 

dan Isa dalam dan beberapa nabi yang sengaja telah dikumpulkan untuk bertemu beliau, lalu  

beliau shalat mengimami mereka. Usai shalat, tiga bejana; satu bejana berisi susu, satu bejana berisi 

minuman keras dan satu bejana berisi air didatangkan kepada beliau. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa 

Sallam bersabda: "jika  itu ada yang berkata: jika  dia mengambil air, ia tenggelam demikian pula 

dengan umatnya. Jika ia mengambil minuman keras, ia mabuk demikian pula dengan umatnya. Jika ia 

mengambil susu, ia mendapat  petunjuk demikian pula dengan ummatnya.' Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam bersabda: "lalu  aku mengambil bejana yang berisi susu dan meminumnya." 

Jibril berkata kepadaku: "Engkau telah mendapat  petunjuk, demikian pula dengan ummatmu, 

wahai Muhammad." 

Ibnu Ishaq berkata: Aku diberi tahu dari Al-Hasan bahwa ia bercerita bahwa Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam bersabda: "jika  aku sedang tidur di Hijr Aswad, Malaikat Jibril mendatangiku 

lalu  membangunkanku dengan kakinya. Akupun bangun namun tidak melihat apa-apa. Aku 

tidur lagi dan ternyata Malaikat Jibril datang kepadaku untuk kedua kalinya. Ia membangunkanku 

hingga aku tersadar, namun aku tidak melihat apa-apa. Aku kembali tidur lagi dan ternyata Malaikat 

Jibril datang kepadaku untuk ketiga kalinya, lalu  menggerak-gerakkan badanku hingga aku 

bangun. Ia lalu mengajakku pergi menuju pintu masjid dan ternyata di sana ada seekor hewan putih 

yang besarnya antara kuda dan keledai. Hewan ini  rupanya memiliki sayap, ia mendorong kedua 

kakinya dengan kedua sayapnya dan memindahkan tangannya dalam setiap langkahnya di batas akhir 

pandangan matanya. Malaikat Jibril menaikiku di atas hewan ini , lalu ia keluar bersamaku. Ia 

tidak berpisah denganku dan aku tidak berpisah dengannya."44 

Ibnu Ishaq berkata: Aku mendapat  riwayat dari Qatadah yang berkata bahwa ia diberitahu bahwa 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: 

"jika  aku mendekati hewan ini  untuk menaikinya, hewan ini  menunjukkan sikap tidak 

suka, lalu  Malaikat Jibril menegurnya dan berkata: "Kenapa engkau tidak malu atas apa yang 

engkau perbuat, wahai Buraq? Demi Allah, engkau memang pernah dinaiki hamba Allah sebelum 

Muhammad namun tak satupun dari mereka yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan  Muhammad." 

Buraqpun merasa malu hingga keringatnya bercucuran. sesudah  itu, ia bersikap jinak lalu  aku 

menaikinya.45 

 

Al-Hasan bercerita: lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam terbang bersama Malaikat Jibril 

hingga beliau tiba di Baitul Maqdis. Di sana, telah ada Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa dalam 

kumpulan para nabi. lalu  Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengimami mereka shalat. 

sesudah  itu, dua bejana; salah satu dari bejana ini  berisi minuman keras, sedang bejana satunya 

berisi susu didatangkan kepada beliau. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengambil bejana yang 

berisi susu, lalu  meminumnya dan meninggalkan bejana berisi khamr minuman keras. Malaikat 

Jibril berkata kepada beliau: "Engkau dikaruniai petunjuk kepada fitrah demikian pula dengan 

ummatmu, wahai Muhammad, dan minuman keras diharamkan kepada kalian." 

sesudah  itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam pulang ke Makkah. Keesokan harinya, beliau 

menceritakan apa yang beliau alami kepada orang-orang Quraisy. Sebagian besar dari mereka berkata: 

"Demi Allah, ini yaitu  sesuatu yang sangat konyol. Betapa tidak?! Rombongan musafir yang jalannya 

cepat saja membutuhkan jarak tempuh selama sebulan untuk pergi dari Makkah ke Syam, apakah 

mungkin Muhammad pergi ke sana lalu pulang ke Makkah hanya dalam waktu semalam?" 

Banyak orang yang tadinya telah masuk Islam menjadi murtad gara-gara peristiwa ini. Orang-orang 

Quraisy pergi kepada Abu Bakar, lalu  berkata kepadanya: "Coba tengok sahabatmu, wahai Abu 

Bakar? Ia mengaku pada malam ini pergi ke Baitul Maqdis dan shalat di sana, lalu  pagi ini ia 

pulang ke Makkah!" Abu Bakar berkata kepada mereka: "Apakah kalian mendustakan apa yang 

dikatakan?" Mereka menjawab: "Ya, benar!  

Dia kini sedang berada di masjid sedang bercerita kepada manusia tentang apa yang baru dialaminya." 

Abu Bakar berkata: "Demi Allah, jika itu yang ia katakan, pasti ia berkata benar. Apa ada yang aneh 

bagi kalian? Demi Allah, sebenarnya  ia berkata kepadaku bahwa ia berpindah dari langit ke bumi 

hanya dalam waktu sesaat pada waktu malam atau sesaat pada waktu siang dan aku mempercayainya. 

Jadi inilah puncak keheranan kalian?" Usai mengatakan itu, Abu Bakar berjalan hingga tiba di tempat 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam berada. Abu Bakar berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam: "Wahai Nabi Allah, benarkah engkau telah bercerita kepada manusia, bahwa pada malam 

ini engkau pergi ke Baitul Maqdis?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Ya, benar." 

Abu Bakar berkata: "Kalau begitu, tolong, ceritakan kepadaku ciri-ciri Baitul Maqdis, karena 

sebelumnya aku pernah pergi ke sana!" 

Lanjut Al-Hasan: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu menjelaskan ciri-ciri Baitiul Maqdis kepada 

Abu Bakar. sesudah  mendapat  penjelasan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Abu Bakar 

berkata: "Engkau berkata benar. Aku bersaksi bahwa engkau yaitu  utusan Allah." Setiap kali 

Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjelaskan ciri-ciri Baitul Maqdis, Abu Bakar berkata: "Engkau 

berkata benar. Aku bersaksi bahwa engkau yaitu  utusan Allah." usai bercerita. Rasulullah Shallalahu 

'alaihi wa Sallam berkata kepada Abu Bakar: "Engkau wahai Abu Bakar yaitu  Ash-Shiddiq (orang yang 

membenarkan)." Sejak peristiwa itulah, Abu Bakar dijuluki Ash-Shiddiq. 

Allah lalu menurunkan ayat mengenai orang-orang Islam yang murtad karena peristiwa isra': 

 

Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian 

bagi manusia dan (begitu pula) pohon kayu yang terkutuk dalam Al Quran. Dan Kami menakut-nakuti 

mereka, tetapi yang demikian itu hanyalah menambah besar kedurhakaan mereka. (QS. al-Isra': 60). 

Inilah hadits riwayat Al-Hasan mengenai peristiwa isra Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang 

lebih komplit dari hadits riwayat Qatadah. 

Ibnu Ishaq berkata: Beberapa keluarga Abu Bakar bercerita kepadaku bahwa Aisyah berkata: 

"Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tidak pergi dengan badannya, namun dengan ruhnya."46 

 

Ibnu Ishaq berkata: Yaqub bin Utbah bin Al-Mughirah bin Al-Akhnas bercerita kepadaku, Muawiyah 

bin Abu Sufyan berkata: "Sungguh mimpi-mimpi dari Allah Ta'ala yaitu  benar." 

Ucapan Aisyah dan Muawiyah bin Abu Sufyan ini tidak kontradiksi dengan hadits riwayat Al-Hasan, 

berdasarkan ayat berikut: 

Dan Kami tidak menjadikan mimpi yang telah Kami perlihatkan kepadamu, melainkan sebagai ujian 

bagi manusia (QS. Al-Isra': 60). 

Juga berdasarkan firman Allah Taala yang menceritakan perihal Nabi Ibrahim bahwa ia berkata kepada 

anaknya: 

 

"Hai anakku, sebenarnya  aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu." (QS. ash- Shaffat: 

102). 

Dari sini jelaslah, bahwa wahyu dari Allah datang kepada para nabi, terkadang dalam keadaan mereka 

terjaga dan terkadang pula alam keadaan tidur. 

Ibnu lshaq berkata: Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sebagaimana berita yang sampai padaku, 

bersabda: "Mataku tidur, namun hatiku tidaklah tidur" 

Wallahu a'lam dalam kondisi apa beliau datang ke Baitul Maqdis dan menyaksikan apa yang dia saksian 

dari kebesaran Allah. Bagimana yang dia alami dalam keadaan tidur atau tidak tidur, yang jelas 

semuanya haq dan benar. 

Ibnu lshaq berkata: Az-Zuhri bercerita dari Sa'id bin Al-Musaiyyib bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi 

wa Sallam menjelaskan tentang ciri-ciri fisik Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa yang beliau lihat 

pada malam isra'- Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: Nabi Ibrahim ia begitu mirip 

denganku. Sementara Nabi Musa, dia berkulit sawo matang, tinggi, ceking, rambutnya lebat, 

hidungnya mancung dan dia seperti orang dari kabilah Syanu'ah (kabilah Azad). Sedang Nabi Isa, beliau 

berkulit merah,