ahu 'alaihi wa Sallam dipersaudarakan dengan Abu Ruwaihah Abdullah bin Abdurrahman Al-
Khats'ami, salah seorang Faza' yang sangat terkenal.
Demikianlah di antara nama-nama yang dipersaudarakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
jika Umar bin Khaththab membuat departemen-departemen di Syam Bilal berangkat ke sana dan
menetap di sana sebagai seorang mujahid, Umar bin Khaththab berkata kepada Bilal: "Hai Bilal,
engkau dengan siapa ditulis dalam surat persaudaraan itu?" Bilal menjawab: "Dengan Abu Ruwaihah.
Aku akan selalu bersama dengannya selama-lamanya, karena persaudaraan yang telah ditetapkan
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam antara aku dengan dia." Umar bin Khaththab pun
menggabungkan Bilal kepada Abu Ruwaihah dan menggabungkan departemen orang-orang Habasyah
ke dalam departemen orang-orang Khatsam, karena kedudukan Bilal di tengah-tengah mereka.
Abu Umamah, Kematiannya dan Apa yang Dikatakan Orang-orang Yahudi
Ibnu Ishaq berkata: Di bulan itu juga, Abu Umamah, As'ad bin Zurarah berpulang ke pangkuan Ilahi
pada saat masjid tengah dibangun. Ia meninggal dunia karena menderita sakit tenggorokan (dipteria)
atau batuk.
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Abu Bakr bin Muhammad bin Amr bin Hazm ber¬kata kepadaku dari
Yahya bin Abdullah bin Abdurrahman bin As'ad bin Zurarah bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Sungguh alangkah tidak beruntungnya mayit Abu Umamah." Orang-orang Yahudi
dan orang-orang munafik Arab berkata: "Jika ia (Rasulullah) benar-benar seorang Nabi, sahabatnya
pasti tidak akan mati." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda lebih lanjut, "Aku tidak
memiliki kekuatan dari Allah untuk diriku dan sahabatku (untuk me- nepis kematian)."
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah Al-Anshar berkata kepadaku bahwa pada saat Abu
Umamah As'ad bin Zurarah meninggal dunia, orang-orang dari Bani An-Najjar menghadap Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam -Abu Umamah yaitu naqib (pemimpin) mereka. Mereka berkata kepada
beliau: "Wahai Rasulullah, sebenarnya orang Abu Umamah As'ad bin Zurarah ini memiliki
kedudukan di kalangan kami seperti telah engkau ketahui. Oleh karena itu, carilah orang lain yang bisa
menggantikan kedudukannya dan mengatur urusan kami sebagaimana Abu Umamah As'ad bin Zura-
rah mengatur urusan kami." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka: "Kalian
yaitu paman-pamanku dan aku yaitu naqib bagi kalian. Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam
enggan menyerahkan jabatan naqib kepada salah seorang dari mereka. Di antara kelebihan Bani An-
Najjar yang mereka banggakan kepada kaumnya, bahwa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yaitu
naqib mereka.
Adzan
Ibnu Ishaq berkata: Tatkala Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam merasa betah tinggal di Madinah,
saudara-saudara beliau dari kaum Muhajirin berdatangan kepada beliau dan persatuan kaum Anshar
telah tercapai, Islam pun mulai mengakar; shalat ditegakkan, zakat dan puasa diwajibkan, hudud
(hukum pidana) ditegakkan, hal-hal yang halal dan haram diwajibkan dan Islam mendapat kedudukan
terhormat di tengah-tengah mereka. Perkampungan Anshar selalu yang menyediakan tempat bagi
kaum Muhajirin dan beriman. Pada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah, kaum
Muslimin berkumpul untuk menegakkan shalat karena waktunya telah tiba tanpa seruan suara. Pada
walnya, beliau ingin menggunakan suara terompet seperti orang-orang Yahudi pada saat mengajak
salat, namun beliau tidak menyukainya. Lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan
penggunaan lonceng untuk memanggil kaum Muslimin sebagai pertanda waktu shalat.
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat kaum Muslimin berada dalam keadaan seperti di atas, tiba-tiba Abdullah
bin Zaid bin Tsa'labah bin Abdu Rabbihi saudara Bani Al-Harits bin Al-Khazraj bermimpi melihat seruan
shalat. Ia menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan berkata: "Wahai Rasulullah, tadi
malam aku bermimpi melihat seseorang memakai pakaian hijau berjalan melewatiku dengan
membawa lonceng. Aku bertanya kepadanya, "Hai hamba Allah, bolehkah loncengmu itu kubeli?"
Orang ini menjawab: "Apa yang kau inginkan darinya?" Aku menjawab: "Aku akan gunakan
untuk memanggil orang untuk shalat. Orang ini berkata: "Maukah engkau aku tunjukkan yang
lebih baik dibandingkan lonceng ini?" Aku berkata: "Apa itu?" Orang ini berkata: "Hendaknya engkau
berkata: "Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Asyhadu an laa Ilaaha Ilia Allah.
Asyhadu an laa Ilaaha Ilia Allah. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah. Asyhadu anna
Muhammadar Rasulullah. Hayya aala ash- shalah. Hayya 'alas ash-shalah. Hayya alal falah. Hayya
alalfalah. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Laa ilaaha ilia Allah!'71
Usai Abdullah bin Zaid mengisahkan mimpinya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, beliau
bersabda: "Mimpi itu benar, insya Allah. Cepat engkau temui Bilal, lalu ajarkan lafadz ini
kepada Bilal agar ia menyeru dengan seruan ini , karena suara Bilal lebih keras dari suaramu."
Tatkala Bilal sedang mengumandangkan adzan ini , Umar bin Khaththab mendengarnya. Ia
segera pergi menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengenakan selendangnya. Ia berkata:
"Wahai Nabi Allah, demi Allah! Aku juga melihat dalam mimpiku seperti yang dilihat Abdullah bin Zaid
dalam mimpinya." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Segala puji bagi Allah atas semua
ini."72
Ibnu Ishaq berkata: Peristiwa di atas disampaikan kepadaku oleh Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits
dari Muhammad bin Abdullah bin Zaid bin Tsa'labah bin Abdu Rabbihi dari ayahnya.
Ibnu Ishaq bercerita: Muhammad bin Ja'far bin Zubair berkata kepadaku dari Urwah bin Zubair dari
seorang wanita Bani An-Najjar yang berkata: "Tidak ada rumah yang paling tinggi di sekitar masjid
kecuali rumahku dan Bilal biasa menyerukan suara adzan shubuh di atasnya pada setiap pagi. Jika
waktu shubuh telah tiba, ia berdoa: "Ya Allah, sebenarnya aku memuji-Mu dan memohon
pertolongan-Mu agar orang-orang Quraisy mengokohkan agama-Mu. sesudah itu, Bilal menyerukan
suara adzan. Demi Allah, aku lihat Bilal selalu mendawami doanya ini ."
Abu Qais bin Abi Anas
Ibnu Ishaq berkata: Saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam merasa nyaman tinggal di rumahnya,
Allah memenangkan agama-Nya di Madinah, dan membuat beliau bahagia dengan bersatunya antara
kaum Muhajirin dan kaum Anshar kepada beliau, maka Abu Qais Shirmah bin Abu Anas saudara Bani
Adi bin An-Najjar melantunkan bait-bait syairnya yang menawan.
Ibnu Hisyam berkata: Abu Qais yaitu Shirmah bin Abu Anas bin Shirmah bin Malik bin Adi bin Amir
bin Ghanim bin Adi bin An-Najjar. Ibnu Ishaq berkata: Abu Qais yaitu seorang pemikir yang bersahaja
pada masa Jahiliyah. Ia tidak menyembah berhala, mandi junub, menyuruh wanita yang haid untuk
bersuci, dia ingin memeluk agama Kristen, namun mengurungkannya. lalu ia menjadikan
rumahnya sebagai tempat ibadah yang tidak boleh dimasuki orang yang kotor atau orang yang junub.
Ia berkata: Aku hanya menyembah Tuhan Ibrahim saat ia meninggalkan berhala-berhala dan
membencinya." Fada saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah, ia masuk Islam
dengan baik sekali. Saat itu usianya telah lanjut. Ia selalu berbicara yang benar, mengagungkan Allah
Yang Maha agung pada masa jahihyahnya.
Orang-orang Yahudi dan Sebab Permusuhan Mereka
Ibnu Ishaq berkata: jika Islam berjaya di Madinah, para rabi Yahudi yang didukung orang-orang Al-
Aus dan Al-Khazraj yang tetap bertahan pada kejahiliyahannya, merasa resah gelisah. Orang-orang Al-
Aus dan Al-Khazraj ini yaitu orang-orang musyrik yang munafik. Mereka bersandiwara dengan
identitas "Muslim" agar bisa selamat dari pembunuhan, namun sebenarnya dalam hati mereka ada
kemunafikan. Hati nurani mereka bersatu dengan orang-orang Yahudi karena kekafiran mereka
kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan keengganan mereka untuk menerima Islam dan
masuk di dalamnya.
Di antara rabi-rabi Yahudi ini yaitu : Huyay bin Akhthab. Saudara Huyay bin Akhthab yang
bernama Abu Yasir bin Akhthab, saudara Huyay bin Akhthab yang lain, yaitu Judai bin Akhthab, Salam
bin Misykam, Kinanah bin Ar-Rabi' bin Abu Al-Haqiq, Salam bin Abu Al-Haqiq, saudara Salam bin Al-
Ha-qiq yang bernama Salam bin Ar-Rabi'. Salam bin Ar-Rabi' yaitu anak Rafi' Al-A'war yang di eksekusi
sahabat-sahabat Rasulullah Shal-lalahu 'alaihi wa Sallam di Khaybar, Ar-Rabi bin Ar-Rabi' bin Abu Al-
Haqiq, Amr bin Juhasy, Ka'ab bin Al-Asyraf. Ka'ab bin Al-Asyraf berasal dari Thayyi', lalu dari
salah satu Bani Nabhan. Ibunya berasal dari Bani An- Nadhir, Al-Hajjaj bin Amr sekutu Ka'ab bin Al-
Asyraf, Kardum bin Qais sekutu Ka'ab bin Al-Asyraf. Mereka semua berasal dari Bani An-Nadhir.
Para rahib dari Bani Tsa'labah bin Al- Fathiyyun yaitu : Abdullah bin Shuri Al- A'war. Pada zamannya,
di Hijaz tidak ada seorang pun yang lebih paham tentang Kitab Taurat (Perjanjian Lama) dari Abdullah
bin Shuri. Ibnu Shaluba, Mukhairiq. Ia rahib orang Yahudi, namun lalu ia masuk Islam.
Dari Bani Qainuqa' yaitu : Zaid bin Al-Lashait. Ada yang mengatakan Ibnu Al-Lushait seperti dikatakan
Ibnu Hisyam. Sa'ad bin Hanif, Mahmud bin Saihan, Uzair bin Abu Uzair, Abdullah bin Shaif.
Ibnu Hisyam berkata: Ada yang mengatakan Ibnu Dhaif.
Ibnu Ishaq berkata: lalu Suwaid bin Al-Harits.. Rifa'ah bin Qais. Finhashh, Asyi', Nu'man bin
Adha, Bahri bin Amr, Syas bin Adi, Syas bin Qais, Zaid bin Al-Harts, Nu'man bin Amr, Sukain bin Abu
Sukain, Adi bin Zaid, Nu'man bin Abu Aufa Abu Anas, Mahmud bin Dahiyyah, Malik bin Ash-Shaif. Ada
pula yang mengatakan Ibnu Adh-Dhaif.
Ibnu Ishaq berkata: lalu Ka'ab bin Rasyid, Azir, Rafi' bin Abu Rafi', Khalid, Izar bin Abu Izar.
Ibnu Hisyam berkata: Ada pula yang mengatakan Azir bin Abu Azir.
Ibnu Ishaq berkata: lalu Rafi' bin Haritsah, Rafi' bin Huraimalah, Rafi' bin Kharijah, Malik bin Auf,
Rifa'ah bin Zaid bin At-Tabut, Abdullah bin Salam bin Al-Harits. Ia ulama mereka, seorang rahib yang
paling cerdas. Ia bernama asli Al-Hushain. jika ia masuk Islam, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
mengganti namanya dengan nama Abdullah. Mereka ini berasal dari Bani Qainuqa'.
Bani Quraizhah yaitu sebagai berikut: Az-Zubayr bin Batha bin Wahb, Azzal bin Samuel, Ka'ab bin
Asad. Ia terikat perjanjian dengan Bani Quraizhah lalu membatalkannya pada Perang Ahzab.
Samuel bin Zaid, Jabal bin Amr bin Sakinah, An-Nahham bin Zaid, Fardam bin Ka'ab, Wahb bin Zaid,
Nafi' bin AbuNafi, Abu Nafi', Adi bin Zaid, Al-Harts bin Auf, Kardam bin Zaid, Usamah bin Habib, Rafi'
bin Rumailah, Jabal bin Abu Qusyair, Wahb bin Yahuda. Mereka ini berasal dari Bani Quraizhah.
Dari Bani Zuraiq ialah Labid bin A'sham. Dialah orang yang menyihir Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam hingga tidak bisa mendatangi istri-istrinya.
Dari Bani Haritsah: Kinanah bin Shuriya.
Dari Bani Amr bin Auf ialah Fardam bin Amr.
Dari Bani An-Najjar ialah Silsilah bin Barham.
Mereka semua rabi-rabi Yahudi, orang- orang jahat, orang-orang yang melawan Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam dan sahabat-sahabatnya, orang-orang yang banyak bertanya tanpa aplikasi apapun,
dan memusuhi Islam karena ingin memadamkannya, kecuali Abdullah bin Salam dan Mukhairiq.
Abdullah bin Salam Masuk Islam
Ibnu Ishaq berkata: Di antara kisah Abdullah bin Salam, sebagaimana dikatakan oleh sebagian
keluarganya kepadaku dan tentang masuk Islamnya. Dia rabi dan ulama. Abdullah bin Salam berkata:
Tatkala aku mendengar kemunculan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, aku pun mengetahui
tanda-tanda beliau dan namanya. Aku sembunyikan hal ini dan tidak mendiskusikannya dengan
siapapun hingga beliau tiba di Madinah. Saat itu, aku bekerja di atas pohon kurma, dan bibiku,
Khalidah binti Al-Harits duduk di bawahku, jika Rasulullah singgah di Quba' di Bani Amr bin Auf,
seseorang datang memberi tahu kedatangan beliau, aku segera bertakbir. jika bibiku mendengar
pekikan takbirku, ia berkata kepadaku: "Usahamu akan sia-sia! Demi Allah, jika engkau mendengar
kedatangan Musa bin Imran, engkau pasti akan kecewa dengan Nabi baru ini !" Aku katakan
kepada bibiku: "Bibi, demi Allah, beliau (Rasulullah) yaitu saudara Musa bin Imran, seagama
dengannya, dan diutus dengan membawa ajaran yang sama dengan Musa bin Imran." Bibiku berkata:
"Hai keponakanku, apakah dia nabi yang di janjikan kepada kita bahwa dia akan diutus pada era
sekarang ini?" Aku menjawab: "Ya." Bibiku berkata: "Kalau begitu, pasti dialah nabi itu." sesudah itu
aku menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan menyatakan diri masuk Islam di hadapan
beliau. sesudah masuk Islam, aku pulang ke rumah dan menyeru keluargaku masuk Islam, mereka pun
masuk Islam.
Dia berkata: Aku sembunyikan keislamanku dari orang-orang Yahudi. Aku menemui Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan lagi berkata kepada beliau, "Wahai Rasulullah, sebenarnya orang-
orang Yahudi yaitu kaum yang pandai membuat dusta dan bersilat lidah. Aku ingin engkau
menyembunyikanku di sebagian rumahmu dan merahasiakanku dari mereka. Sesudah itu, engkau
berdiskusi dengan mereka tentang diriku hingga mereka menjelaskan kepadamu bagaimana
kedudukanku di mata mereka sebelum mereka mengetahui keislamanku. Jika mereka mengetahui
keislamanku, mereka pasti mendustakanku dan mencelaku. "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
menyembunyikanku di salah satu rumah beliau dan pada saat yang sama orang-orang Yahudi masuk
menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka berdiskusi dengan beliau dan bertanya
kepada beliau. sesudah itu, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada mereka,
"Bagaimana kedudukan Al-Hushaini bin Salam di tengah kalian?" Orang-orang Yahudi menjawab, "la
pemimpin kami dan anak pemimpin kami. Ia seorang rabi dan ulama kami. "Usai mereka bersaksi
dihadapan Rasulullah, aku langsung keluar menemui mereka, dan aku berkata kepada mereka, "Hai
kaumku, bertakwalah kalian kepada Allah, dan terimalah apa yang telah datang kepada kalian. Demi
Allah, kalian telah mengetahui bahwa beliau utusan Allah. Kalian mendapat beliau tertulis di dalam
Kitab Taurat lengkap dengan nama, dan sifat- sifat beliau. sebenarnya aku bersaksi bahwa beliau
yaitu utusan Allah, mengimaminya, membenarkannya, dan mengenalnya." Mereka berkata: "Engkau
sedang mengigau." Lalu mereka pun mencaci-makiku. Aku berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam, "Wahai Rasulullah, sekarang engkau lihat sendiri bagaimana watak asli mereka yang suka
mengingkari kedatangan Nabi?' Aku tetap terbuka dengan keislamanku dan keislaman keluargaku.
Bibiku, Khalidah binti Al-Harits juga masuk islam dengan keislaman yang baik.
Kesaksian Shafiyyah tentang Kebandelan Orang-orang Yahudi
Ibnu Ishaq menuturkan: Abdullah bin Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazir berkata kepadaku,
ia berkata aku diberi tahu dari Shafiyyah binti Huyay bin Akhthab bahwa Shafiyyah berkata: "Aku
merupakan anak yang paling dicintai oleh ayah dan pamanku Abu Yasir. jika aku betemu dengan
mereka yang sedang membawa anak-anak mereka pasti keduanya membawaku bersama anak-anak
mereka. jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah, dan singgah di Quba' di Bani
Amr bin Auf, ayahku Huyay bin Akhthab, dan pamanku, Abu Yasir bin Akhthab menghampiri beliau
saat menjelang Shubuh dan mereka berdua tidak pulang ke rumah hingga matahari terbenam. sesudah
matahari terbenam, keduanya tiba dengan kondisi malas dan lemas, bingung dan berjalan lunglai. Aku
berusaha menyenangkan keduanya sebagaimana biasa aku lakukan. Demi Allah, tak seorang pun dari
keduanya menoleh kepadaku, ada perasaan gelisah pada diri mereka berdua. Aku mendengar
pamanku, Abu Yasir berkata kepada ayahku, Huyay bin Akhthab: "Apakah memang dia (Rasulullah)?"
Ayahku menjawab: "Ya betul, demi Allah." Pamanku, Abu Yasir bertanya kepada ayahku: "Apakah
engkau mengetahuinya dan bisa memastikannya?" Ayahku menjawab: "Ya. '" Pamanku, Abu Yasir
bertanya kepada ayahku: "Bagaimana perasaanmu terhadapnya?" Ayahku menjawab: "Demi Allah,
aku senantiasa memusuhinya selama aku hidup."
Orang-orang Munafik yang Bersekongkol dengan Yahudi dari Munafik Anshar
Ibnu Ishaq berkata: Inilah nama deretan orang-orang munafik dari Al-Aus dan Al-Khazraj yang
bergabung dengan orang-orang Yahudi. Wallahu a lam.
Dari Al-Aus, lalu dari Bani Amr bin Auf bin Malik bin Al-Aus, lalu dari Bani Lawdzan bin
Amr bin Auf ialah Zuwai bin Al-Harits.
Dari Bani Habib bin Amr bin Auf yaitu sebagai berikut:
Julas bin Suwaid bin Ash-Shamit. Dialah yang berkata — ia termasuk orang yang tidak ikut serta
berangkat ke Perang Tabuk bersama Rasulullah: "Jika orang ini (Rasulullah) memang benar, kita pasti
lebih buruk dibandingkan keledai." Ucapannya ini disampaikan Umair bin Sa'ad kepada Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam. jika itu, Umair bin Sa'ad berada dalam asuhan Julas. Julas mengasuh
Umair bin Sa'ad menggantikan ibunya sesudah sebelumnya Umair bin Sa'ad diasuh ayahnya. Umair bin
Sa'ad berkata kepada Julas: "Wahai Julas, demi Allah, engkau orang yang paling aku cintai, orang yang
paling baik dan dermawan bagiku, dan aku berharap tidak terjadi sesuatu yang tidak baik terhadapmu.
Sungguh engkau telah berucap; jika aku membeberkannya, engkau akan dijelek-jelekkan. Namun bila
aku menyembunyikannya, maka itu akan merusak agamaku. Salah satu dari kedua pilihan itu mudah
bagiku dari yang lainnya. sesudah itu, Umair bin Sa'ad pergi menghadap Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam dan melaporkan apa yang dikatakan Julas. Julas bersumpah pun dengan nama Allah di
hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu berkata: "Sungguh Umair berkata dusta,
dan aku tidak mengatakan apa yang dilaporkan
Umair bin Sa'ad." lalu Allah Subhanahu wa Taala menurunkan ayat tentang Julas ini:
Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah, bahwa mereka tidak mengatakan
(sesuatu yang menyakitimu). sebenarnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan
telah menjadi kafir sesudah Islam, dan mengingini apa yang mereka tidak dapat mencapainya; dan
mereka tidak mencela (Allah dan Rasul-Nya), kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan
karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertobat, itu yaitu lebih baik bagi mereka, dan jika
mereka berpaling, niscaya Allah akan mengadzab mereka dengan adzab yang pedih di dunia dan di
akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.
" (QS. at-Taubah: 74).
Ibnu Hisyam berkata: Firman Allah: 'Al-Alim artinya sangat pedih dan menyakitkan.
Ibnu Ishaq berkata: Para ulama menyatakan, bahwa Julas bertobat dan tobat serta keislamannya baik.
Lainnya yaitu saudara Julas, Al-Harits bin Suwaid yang membunuh Al-Mujadzdzar bin Dziyad Al-
Balawi dan Qais bin Zaid salah seorang Bani Dhabi'ah di Perang Uhud. Al-Harits yaitu orang munafik.
Pada saat kaum Muslimin dan orang-orang Quraisy bertemu di medan Uhud, Al-Harits menyerang Al-
Mujadzdzar bin Dziyad dan Qais bin Zaid. sesudah ia berhasil menghabisi nyawa keduanya keduanya,
ia pun lalu bergabung dengan pasukan Quraisy.
Ibnu Hisyam berkata: "Al-Mujadzdzar bin Dziyad sebelumnya membunuh Suwaid bin Shamit pada
sebuah perang yang terjadi antara Al-Aus melawan Al-Khazraj. Pada Perang Uhud, Al-Harits bin Suwaid
mencari kelengahan Al-Mujadzdzar bin Dziyad untuk dibunuh sebagai bentuk balas dendam atas
kematian ayahnya, dan ia pun membunuhnya. Pendapat ini dikatakan tidak hanya oleh seorang ulama.
Bukti bahwa Al-Harits bin Suwaid tidak membunuh Qais bin Zaid ialah bahwa Ibnu Ishaq tidak
memasukkan Qais bin Zaid dalam daftar orang yang terbunuh di Perang Uhud.
Ibnu Ishaq berkata: Suwaid bin Shamit membunuh Muadz bin Afra' jika ia lengah dan bukan di
medan perang. Suwaid bin Shamit memanah Muadz bin Afra' dan membuatnya meninggal dunia
sebelum Perang Buats.
Ibnu Ishaq berkata: Menurut penuturan para pakar, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
memerintah Umar bin Khaththab Radhiyallahu Anhu untuk membunuh Al-Harits bin Suwaid bila
bertemu dengannya, namun dia tidak bertemu dengannya. Al-Harits bin Suwaid tinggal di Makkah. Ia
kirim surat kepada saudaranya, Julas bin Suwaid. Dalam surat ini , Al-Harits bin Suwaid
mengatakan ingin bertobat dan kembali kepada kaumnya, lalu Allah Subhanahu wa Taala
menurunkan ayat tentang Al-Harits bin Suwaid seperti dikatakan kepadaku dari Ibnu Abbas:
Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah
mengakui bahwa RasuV itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keterangan pun telah
datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orangyangzalim (QS. Ali Imran: 86), hingga akhir
kisah.
Dari Bani Dhubai'ah bin Zaid bin Malik bin Auf bin Amr bin Auf ialah Bajad bin Utsman bin Amir.
Dari Bani Laudzan bin Amr bin Auf ialah Nabtal bin Al-Harits. Orang ini yaitu yang dikatakan
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam -seperti berita yang disampaikan kepadaku: "Barangsiapa ingin
melihat setan, hendaklah ia melihat Nabtal bin Al-Harits." Ia memiliki postur yang tubuh besar,
bibirnya melorot ke bawah, rambutnya berantakan, kedua matanya merah, dengan kedua pipinya
merah kehitaman. Ia pernah berjumpa dengan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, berdialog dan
mendengar ucapan beliau, lalu ia ceritakan ucapan beliau kepada orang-orang munafik, sambil
berkata kepada mereka: "sebenarnya Muhammad mendengarkan perkataan orang yang berbicara
dengannya, lalu ia membenarkannya." Allah Yang Mahatinggi menurunkan ayat tentang Nabtal bin Al-
Harits sebagai berikut:
Di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang menyakiti Nabi dan mengatakan: "Nabi
mempercayai semua apa yang didengarnya." Katakanlah: "Ia mempercayai semua yang baik bagi
kamu, ia beriman kepada Allah, mempercayai orang-orang mukmin, dan menjadi rahmat bagi orang-
orang yang beriman di antara kamu." Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah itu, bagi mereka
adzab yang pedih." (QS. at-Taubah: 61).
Ibnu Ishaq berkata: Sebagian orang Al-Ajlan berkata kepadaku: Malaikat Jibril 'Alaihis salam datang
kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan berkata: "Telah datang kepadamu orang yang
bibirnya melorot ke bawah, rambutnya acak-acakan. Kedua pipinya merah kehitaman, kedua matanya
merah seperti dua periuk dari kuningan, hatinya lebih keras dibandingkan hati keledai, ia menceritakan
apa yang engkau ucapkan kepada orang-orang munafik. Oleh karenanya, berhati-hatilah
terhadapnya." Itulah sifat-sifat Nabtal bin Al-Harits yang disebut oleh mereka.
Dari Bani Dzabi'ah yaitu sebagai berikut: Abu Habibah bin Al-Az'ar. Dia yaitu di antara orang yang
membangun Masjid Dhirar. Tsa'labah bin Hathib, Mu'attib bin Qusyair. Tsa'labah bin Hathib, dan
Mu'attib bin Qasyir itulah yang berjanji kepada Allah bahwa jika Allah memberi kami rezeki, akan
bersedekah dan menjadi orang-orang shalih. Mu'attib inilah yang berkata pada saat Perang Uhud:
"Seandainya kami pada posisi lain dalam hal ini, kami pasti tidak terbunuh di tempat ini." Allah
menurunkan ayat tentang Mu'attib bin Qusyair:
Sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri; mereka menyangka yang tidak
benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang
sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?" Katakanlah: "sebenarnya urusan itu seluruhnya di
tangan Allah." Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan
kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam
urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini." (QS. Ali Imran: 154), hingga akhir kisah.
Mu'attib ini pula yang berkata di Perang Ahzab, 'Muhammad telah berjanji kepada kita, bahwa kita
akan memiliki simpanan-simpanan Kisra dan Kaisar, sementara untuk buang air saja kita tidak merasa
aman. Allah Subhanahu wa Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapan Mu'attib ini :
Dan (ingatlah) jika orang-orang munafik dan orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya berkata:
"Allah dan Rasul-Nya tidak menjanjikan kepada kami melainkan tipu daya (QS. al-Ahzab: 12). Juga al-
Harits bin Hathib.
Ibnu Hisyam berkata: Muattib bin Qusyair, Tsa'labah bin Hathib, dan Al-Harits bin Hathib berasal dari
Bani Umayyah bin Zaid. Mereka ikut dalam Perang Badar dan tidak tergolong orang-orang munafik -
seperti dikatakan kepadaku oleh ulama yang lebih di percaya. Ibnu Ishaq memasukkan Tsa'labah dan
Al-Harits ke dalam deretan nama orang-orang Bani Umayyah di antara para peserta Perang Badar.
Ibnu Ishaq berkata: lalu Abbad bin Hunaif saudara Sahl bin Hunaif dan Bahzaj, mereka terlibat
dalam pembangunan Masjid Dhirar. Amr bin Khidzam dan Abdullah bin Nabtal.
Dari Bani' Tsa 'labah bin Amr bin Auf yaitu sebagai benkut:
Jariyah bin Amir bin Al-Aththaf dan kedua anaknya yakni Zaid bin Jariyah, Mu-jammi' bin Jariyah.
Mereka bertiga termasuk orang-orang yang membangun Masjid Dhirar. Mujammi' yaitu anak muda
yang hafal sebagian besar Al-Qur'an dan shalat bersama orang-orang munafik di Masjid Dhirar. jika
Masjid Dhirar telah dirubuhkan, dan orang-orang dari Bani Amr bin Auf pergi, orang- orang munafik
itu shalat di Bani Auf bin Amr di masjid mereka. Pada masa kakhalifah Umar bin Khaththab
Radhiyallahu Anhu pernah ada yang menyarankan kepadanya agar Mujammi' bisa ikut shalat bersama
kaum Muslimin. Umar bin Khaththab menjawab: Tidak mung- kin, bukankah dia imam orang-orang
munafik di Masjid Dhirar?' Mujammi' berkata kepada Umar bin Khaththab, 'Wahai Amirul Mukmi- nin,
demi Allah yang tidak ada Tuhan yang pantas disembah kecuali Dia, aku tidak tahu sedikit pun tentang
persoalan mereka. Pada masa itu, aku masih kecil, dan biasa membaca serta menghafal Al-Qur'an.
Tidak ada seorang pun diantara mereka yang mempunyai
hafalan Al-Qur'an, lalu mereka memintakn mengimami mereka dan aku tidak diberi tahu sama sekali
tentang persoalan mereka kecuali hal-hal yang baik saja. Ada yang menyebutkan bahwa Umar bin
Khaththab mengizinkar. Mujammi' shalat bersama kaumnya.
Dari Bani Umayyah bin Zaid bin Malik ialah Wadi'ah bin Tsabit. Dia termasuk orang yang ikut
membangun Masjid Dhirar. Dialah orang yang berkata: 'sebenarnya kami hanya bergurau dan
bermain-main.' Allah Taba- raka wa Ta'ala menurunkan ayat tentang dia dan orang-orang munafik
seperti dirinya:
Danjika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan
menjawab: "sebenarnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah:
"Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" (QS. at-Taubah: 65).
Hingga akhir kisah.
Dari Bani Ubaid bin Zaid bin Malik ialah Khidzam bin Khalid. Dari rumahnyalah masjid Dhirar. Bisyr,
dan Rafi' keduanya yaitu anak Zaid.
Dari Bani An-Nabit, Ibnu Hisyam berkata: ialah Amr bin Malik bin Al-Aus.
Dari Bani Haritsah bin Al-Harts bin Al-Khazraj bin Amr bin Malik bin Al-Aus ialah Mirba bin Qaidzi.
Dialah orang yang berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam jika beliau berjalan
melewati kebunnya dalam perjalanannya menuju medan Perang Uhud, "Hai Muhammad, jika engkau
yaitu seorang nabi, aku tidak menghalalkanmu ber jalan melewati, kebunku ini." lalu Mirba'
bin Qaizhi mengambil segenggam tanah, dan berkata: "Demi Allah, jika aku tahu bahwa tanah ini tidak
mengenai orang lain selain dirimu, aku akan melemparmu dengannya." Spontan kaum muslimin ingin
membunuhnya, namun Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada mereka, "Biarkanlah
dia. Orang ini buta hati dan matanya." Lalu dia dipukul oleh Sa'ad bin Zaid dan saudaranya Aus bin
Qaidzi, mereka saudara Bani Abdul Asyhal hingga ia terluka. Dialah yang berkata kepada Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam pada Perang Khandaq: "sebenarnya rumah-rumah kami yaitu terbuka
tidak ada penjagaya. Oleh karena itu, izinkan kami pulang ke rumah." Allah Tabaraka Ta'ala
menurunkan ayat tentang ucapan Aus bin Qaidzi ini :
Dan (ingatlah) jika segolongan di antara mereka berkata: "Hai penduduk Yatsrib (Madinah), tidak
ada tempat bagimu, maka kembalilah kamu." Dan sebahagian dari mereka minta izin kepada Nabi
(untuk kembali pulang) dengan berkata: "sebenarnya rumah-rumah kami terbuka (tidak ada
penjaga)." Dan rumah-rumah itu sekali-kali tidak terbuka, mereka tidak lain hanyalah hendak lari. (QS.
al-Ahzab: 13).
Ibnu Hisyam berkata: kata 'aurat" dalam ayat ini artinya yaitu terbuka untuk musuh dan bisa habis.
Aurat juga bermakna kehormatannya atau kemaluannya.
Dari Bani Zhafar, nama aslinya ialah Ka'ab bin Al-Harits bin Al-Khazraj yaitu seba gai berikut: Hathib
bin Umayyah bin Rafi'. Ia orang tua yang berbadan besar, dan tetap bertahan pada kejahiliyahannya.
Ia memiliki seorang anak yang termasuk seorang muslimin pilihan bernama Yazid bin Hathib. Yazid bin
Hathib ikut Perang Uhud hingga terdapat banyak luka di tubuhnya, lalu ia dibawa ke pemukiman
Bani Zhafar.
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku bahwa telah ber- kumpul seluruh
kaum Muslimin baik laki- laki maupun wanita yang berasal dari Bani Zhafar di rumah Yazid bin Hathib
pada saat dia dalam kondisi sakaratul maut. lalu mereka berkata: 'Bergembiralah engkau wahai
Yazid dengan surga.' Demikianlah sehingga tampak jelas kemunafikan Hathib bin Umayyah. Hathib bin
Umayyah berkata: 'Ya betul surga dari tumbuh-tumbuhan Harmal! Demi Allah, kalian telah menipu
orang yang lemah
Ibnu Ishaq berkata: Busyair bin Ubairiq, dia yaitu Abu Thu'mah. Dialah orang yang mencuri dua baju
besi dan Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang dirinya:
Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orangyang mengkhianati dirinya.
sebenarnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa (QS.
an-Nisa: 107).
Quzman, sekutu mereka. Ibnu Ishaq berkata bahwa Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku,
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Sungguh Quzman yaitu diantara manusia yang
akan menghuni neraka."73
Pada saat Perang Uhud, Quzman bertempur dengan gigih bahkan dia berhasil membunuh banyak
orang dari kaum musyrikin, dan dia pun mengalami banyak luka. lalu dia dibawa ke
perkampungan Bani Zhafar. Salah seorang dari kaum Muslimin berkata kepadanya: "Bergembiralah
engkau wahai Quzman, sungguh pada hari ini engkau mendapat keuntungan besar, dan
mendapat ujian di jalan Allah seperti yang engkau rasakan." Quzman bertanya: "Dengan apa aku
harus bergembira. Demi Allah, aku tidak bertempur kecuali demi membela kaumku." Saat luka-
lukanya bertambah parah, dan membuatnya merasa semakin kesakitan, Quzman mengambil anak
panah dari busurnya, lalu ia memotong urat nadi tangannya dengan anak panah ini . Ia
pun mati bunuh diri.
Ibnu Ishaq berkata: Tidak diketahui ada orang taki-laki dan wanita munafik di Bani Abdul Asyhal,
namun Adh-Dhahhak bin Tsabit, salah seorang dari Bani Ka'ab satu kabilah Sa'ad bin Zaid dicurigai
sebagai orang munafik dan dekat dengan orang Yahudi.
Ibnu Ishaq berkata: Julas bin Suwaid bin Shamit sebelum taubatnya -seperti disampaikan kepadaku-,
Mu'attib bin Qusyair, Rafi' bin Zaid, dan Bisyr mengaku bahwa mereka masuk Islam. Mereka pernah
berselisih dengan sebagian kaum Muslimin, lalu pihak kaum Muslimin meminta perkaranya
dibawa dan diadukan kepada Rasulullah Shal- lalahu 'alaihi wa Sallam, sementara mereka meminta
perkara itu dibawa ke tukang ramal, hakim orang-orang Jahiliyah. Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat
tentang mereka:
Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa
yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak
berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan
bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya. (QS. an-Nisa': 60).
Dari Al-Khazraj, lalu dari Bani An-Najjar yaitu sebagai berikut: Rafi' bin Wadi'ah, Zaid bin Amr,
Amr bin Qais, Qais bin Amr bin Sahl.
Dari Bani Jusyam bin Al-Khazrad, lalu dari Bani Salimah ialah Al Jadd bin Qais. Dialah yang
berkata: "Hai Muhammad, izinkan aku tidak mengikuti perang dan janganlah engkau
menjerumuskanku ke dalam fitnah.' Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang dirinya,
Di antara mereka ada orang yang berkata: "Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan
janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah." Ketahuilah, bahwa mereka telah
terjerumus ke dalam fitnah. Dan sebenarnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orangyang
kafir. (QS. at-Taubah:49).
Dari Bani Auf bin Al-Khazraj ialah Abdullah bin Ubay bin Salul. Dialah gembong orang-orang munafik
dan orang-orang munafik senantiasa datang berduyun kepadanya. Dialah yang berkata di Perang Bani
Al-Musthalaq, 'Jika kami tiba di Madinah, orang yang paling mulia akan mengusir orang yang paling
hina darinya.' Allah Ta'ala menurunkan surat Al-Munafiqun secara sekaligus yang mengabadikan
ucapannya ini , dirinya, Wadi'ah salah seorang dari Bani Auf, Malik bin Abu Qauqal, Suwaid, dan
Da'is. Mereka orang-orang terdekat Abdullah bin Ubay bin Salul.
Abdullah bin Ubay bin Salul bersama me reka menyusup ke Bani An-Nadhir jika mereka di kepung
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka berkata kepada orang-orang Bani An-Nadhir,
'Hendaklah kalian tetap bertahan. Demi Allah, jika kalian diusir, kami akan keluar bersama kalian. Kami
tidak akan patuh kepada seorang pun untuk menyusahkan kalian. Jika kalian diperangi, kami pasti
menolong kalian-' Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya tentang Abdullah bin Salul dan teman-
temannya dari kaum munafik ini dalam ayat berikut:
Apakah kamu tiada memperhatikan orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara
mereka yang kafir di antara ahli Kitab: "sebenarnya jika kamu di usir niscaya kami pun akan keluar
bersama kamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapa pun untuk (menyusahkan)
kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu kamu." Dan Allah menyaksikan, bahwa
sebenarnya mereka benar-benar pendusta. sebenarnya jika mereka diusir, orang-orang munafik
itu tiada akan keluar bersama mereka, dan sebenarnya jika mereka diperangi; niscaya mereka tiada
akan menolongnya; sebenarnya jika mereka menolongnya niscaya mereka akan berpaling lari ke
belakang, lalu mereka tiada akan mendapat pertolongan. sebenarnya kamu dalam hati
mereka lebih ditakuti dibandingkan Allah. Yang demikian itu karena mereka yaitu kaum yang tiada
mengerti. Mereka tiada akan memerangi kamu dalam keadaan bersatu padu, kecuali dalam
kampung-kampung yang berbenteng atau di balik tembok. Permusuhan antara sesama mereka
yaitu sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu sedanghati mereka berpecah belah. Yang
demikian itu karena sebenarnya mereka yaitu kaum yang tiada mengerti. (Mereka yaitu ) seperti
orang-orang Yahudi yang belum lama sebelum mereka telah merasai akibat buruk dari perbuatan
mereka dan bagi mereka adzab yang pedih. (Bujukan orang-orang munafik itu yaitu ) seperti
(bujukan) setan jika dia berkata kepada manusia: "Kafirlah kamu", maka tatkala manusia itu telah
kafir ia berkata: "sebenarnya aku berlepas diri dari kamu karena sebenarnya aku takut kepada
Allah Tuhan semesta alam." (QS. al Hasyr:11-16)
Di antara Rahib-rahib Yahudi yang Pura-pura Masuk Islam
Ibnu Ishaq berkata: berikut ini yaitu di antara orang-orang yang berlindung diri dengan agama Islam,
masuk Islam bersama kaum Muslimin, serta menampakkan keislamannya, padahal mereka orang-
orang munafik, dari golongan rahib-rahib Yahudi.
Dari Bani Qainuqa' yaitu sebagai berikut: Sa'ad bin Hunaif, Zaid bin Al-Lushait, Nu'man bin Awfa bin
Amr, dan Utsman. Zaid bin Al-Kushait pernah bertengkar dengan Umar bin Khaththab Radhiyallahu
Anhu di pasar Bani Qainuqa'. jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam kehilangan untanya dia
Zaid bin Al-Kushait: "Muhammad mengaku mendapat wahyu dari langit, mengapa sampai dia tidak
tahu di mana untanya ber- ada?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda -sesudah
mendapat wahyu- dari Allah tentang ucapan musuh Allah ini tentang lokasi unta beliau
berada: "sebenarnya orang yang mengatakan bahwa Muhammad mengaku mendapat wahyu,
kenap* tidak tahu di mana untanya berada, maka sebenarnya aku tidak tahu apa-apa kecual apa
yang diberitahukan oleh Allah kepadaku- dan sungguh Allah telah menunjukkan kepadaku lokasi unta
itu, ia berada di syi'b. Unta ini tertahan oleh pohon dengan tab kekangnya." lalu beberapa
orang dar. kaum Muslimin pergi kesana dan mendapat unta ini seperti yang disabdakan oleh
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
Rafi' bin Huraimalah. Pada saat dia mat:. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam ber sabda tentang
dirinya: "Pada hari ini, salah seorang pembesar orang-orang munafik telah meninggal dunia."
Rifa'ah bin Zaid bin At-Tabut. Dalam perjalanan pulang sesudah perang melawan Ban: Al-Mushthalaq,
angin bertiup kencang menerpa Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam hingga kaum Muslimin merasa
kewalahan, lalu Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda kepada kaum Muslimin:
"Janganlah kalian takut. sebenarnya angin ini bertiup kencang karena kematian salah satu
pemimpin orang-orang kafir." Dan terbukti jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di
Madinah, beliau mendapati Rifa'ah bin Zaid bin At-Tabut meninggal dunia tepat pada hari angin
bertiup kencang.
Silsilah bin Burham serta Kinanah bir. Shuriya.
Pengusiran Orang-orang Munafik dari Mesjid Rasulullah
Ibnu Ishaq berkata: Suatu hari beberapa orang munafik berada di masjid Nabi. Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam melihat mereka sedang berbincang di antara mereka dengan suara lirih sambil
mendekat pada yang lain. Lalu Rasulullah menyuruh sahabatnya untuk menggusir mereka dengan
tegas dari masjid.
Abu Ayyub Khalid bin Zaid bin Kutaib beranjak berdiri dari tempat dimana dia duduk lalu berjalan ke
tempat Amr bin Qais saudara Bani Ghanm bin Malik bin An-Najjar. Amr bin Qais yaitu pemilik patung-
patung sesembahan mereka di zaman jahiliyah. Lalu ia memegang kuat kaki Amr bin Qais dan
menariknya hingga ia keluar dari masjid. Amr bin Qais berkata kepada Abu Ayyub: "Wahai Abu Ayyub,
pantaskan engkau mengusir diriku dari tempat pengeringan kurma ( masjid Nabi) Bani Tsa'labah?"
Lalu Abu Ayyub bergerak menuju tempat Rafi' bin Wadi'ah, salah seorang Bani An-Najjar. Ia pegang
kuat leher baju Rafi' bin Wadi'ah lalu menariknya dengan kencang. Ia tampar wajahnya, mengusirnya
dari masjid seraya berkata: "Celakalah engkau wahai orang munafik yang menjijikkan. Wahai munafik
kotor, keluarlah dari masjid Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam."
Imarah bin Hazm bangki ke tempat Zaid bin Amr. Zaid adaiah seorang lelaki berjenggot panjang. Ia
pegang jenggotnya, dan menariknya dengan kencang sampai ia dipaksa keluar masjid. lalu
Imarah bin Hazm mengepalkan kedua tangannya dan memukul wajah Zaid bin Amr sehingga membuat
Zaid bin Amr tersungkur jatuh. Zaid bin Amr berkata: "Wahai Imarah, engkau telah mencideraiku!"
Imarah bin Hazm berkata: "Wahai munafik kotor, mudah-mudahan Allah mencelakakanmu. Apa yang
Allah persiapkan bagimu nanti jauh lebih mengerikan dibandingkan tamparanku. Janganlah sekali-kali
engkau mendekati masjid Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam."
Ibnu Ishaq berkata: Abu Muhammad yang berasal dari Bani An-Najjar -pemilik nama lengkap Mas'ud
bin Aus bin Zaid bin Ashram bin Zaid bin Tsa'labah bin Ghanm bin Malik bin An-Najjar- beranjak ke
tempat dimana Qais bin Amr bin Sahl berada. Ia seorang pemuda satu-satunya di tengah orang-orang
munafik saat itu, lalu ia mendorong tengkuk kepalanyanya sampai ia keluar dari masjid Nabi.
Seseorang dari Khadirah-bin Al-Khazraj yang bernama Abdullah bin Al-Harits orang yang berasal dari
kabilah yang sama dengan Sa'id Al-Khudri berjalan ke tempat Al-Harits bin Amr yang memiliki rambut
sangat tebal, lalu ia menarik rambutnya serta menyeretnya dengan kuat sampai dia tertarik
keluar dari masjid. Si munafik kotor Al-Harits bin Amr berkata kepada Abdullah bin Al-Harits: "Wahai
anak Al-Harits, engkau telah ber- laku di luar batas pada diriku." Abdullah bin Al-Harits menjawab:
"Engkau sangat pantas menerimanya, wahai musuh Allah, karena Allah telah menurunkan firman-Nya
tentang dirimu. Maka janganlah engaku pernah lagi mendekati masjid Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam karena sebenarnya dirimu itu najis."
Seseorang dari Bani Amr bin Auf bangkit ke tempat saudaranya yang bernama Zuwai bin Al-Harits lalu
mengusirnya keluar dari masjid. Zuwai bin Al-Harits tidak menerima perlakuan seperti itu dari
saudaranya. Maka ia berkata: "Setan telah menguasai dirimu dan kau berada dalam cengkeraman
perintahnya."
Si munafik-munafik inilah yang berada di masjid dimana Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
memerintahkan agar mereka diusir dari masjid.
Ayat-ayat dalam Surat Al-Baqarah Yang Turun tentang orang-orang Munafik dan Yahudi
Mengenai pendeta-pendeta Yahudi dan orang munafik dari Aus dan Khazraj, Allah menurunkan
permulaan surat Al-Baqarah sampai ayat seratus. Allah berfirman:
Alif Laam Miim. Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya, petunjuk bagi mereka yang bertakwa
(QS. al-Baqarah: 1-2), yakni tidak ada kesamaran dan keraguan di dalamnya.
petunjuk bagi mereka yang bertakwa (QS. al-Baqarah: 2) Orang-orang bertakwa yang dimaksud yaitu
mereka yang takut mendapat siksa Allah akibat dari meninggalkan petunjuk yang telah mereka
ketahui. Dan mereka senantiasa berharap rahmat Allah dengan senantiasa membenarkan apapun
yang datang dari Allah kepada mereka.
(yaitu) mereka yang beriman kepada yanggaib, yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian
rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka (QS. al-Baqarah: 3). Yakni, mereka mendirikan shalat
dan menaikan zakat dengan harapan memperoleh ridha Allah.
dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab
yang telah diturunkan sebelummu, (QS. al-Baqarah: 4). Yakni, percaya sepenuhnya dengan apa yang
engkau bawa dari Tuhanmu dan percaya sepenuhnya dengan apa yang dibawa para Rasul yang datang
sebelummu dengan tidak membeda-bedakan antari rasul serta tidak membangkang terhadap ajaran
yang mereka bawa dari Tuhan mereka.
serta mereka yakin akan adanya (kehidupan akhirat (QS. al-Baqarah: 4). Yakni, mereka yakin
sepenuhnya akan adanya Hari Berbangkit, Hari Kiamat, surga, dan neraka, Hari Hisab dan neraca amal
perbuatan. Mereka yakir. sepenuhnya akan apa yang dibawa para rasuj sebelummu, dan apa yang
diturunkan tuhan kepadamu.
Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka (QS. al-Baqarah: 5) Yakni, mereka
mendapat cahaya petunjuk dari tuhan dan senantiasa berpegang teguh dengan ajaran yang
diturunkan kepada mereka.
dan merekalah orang-orang yang beruntung (QS. al-Baqarah: 5). Yakni orang-orang yang memperoleh
apa yang selama ini mereka can. dan selamat dari kejahatan yang mereka lari dari padanya.
sebenarnya orang-orang kafir (QS. al-Baqarah: 6),Yakni, orang-orang yang mengingkari terhadap
apa yang diturunkan Allah kepadamu walaupun mereka berucap bahwa kami beriman kepada apa
yang diturunkan kepada para rasul sebelummu.
Sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan
beriman (QS. al-Baqarah: 6). Yakni, mereka mengingkari kitab milik mereka sendiri yang memuat
tentang kenabian dirimu di dalamnya, dan mengkhianati perjanjian yang diambil dari mereka untuk
dirimu. Mereka mengingkari apa yang datang padamu dan apa yang ada pada mereka sendiri yang
telah Allah turunkan kepada orang selain engkau. Lalu bagaimana mungkin mereka suka menyimak
ancaman dan peringatanmu, sedangkan mereka telah kafir terhadap kitab mereka sendiri yang di
dalamnya tercantum pengetahuan tentang diri dan kenabianmu.
Allah telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup (QS. al-
Baqarah: 7). Yakni, penglihatan mereka ditutup dari kebenaran, dan membuat mereka tidak kuasa
mendapat nya untuk selama-lamanya.
Dan bagi mereka (QS. al-Baqarah: 7). Yakni, akibat dari tindakan penentangan mereka terhadapmu.
Siksa yang amat berat (QS. al-Baqarah: 7). Yakni, siksa ini ditujukan untuk pendeta-pendeta
Yahudi sebab mereka telah mendustakan kebenaran, padahal sebelumnya mereka telah
mengetahuinya.
Di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari lalu ", padahal
mereka itu sebenarnya bukan orang-orang yang beriman (QS. al-Baqarah: 8). Yakni orang-orang
munafik dari Aus dan Khazraj dan orang-orang yang semisal mereka.
Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya
sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. al-Baqarah: 9).
Dalam hati mereka ada penyakit (QS. al- Baqarah: 10). Yakni, penyakit keraguan dan syakwasangka.
lalu ditambah Allah penyakitnya (QS. al-Baqarah: 10). Yakni, Allah melipatkan gandakan keraguannya.
dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. Dan jika dikatakan kepada
mereka: Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, mereka menjawab: "sebenarnya kami
orang-orang yang mengadakan perbaikan (QS. al-Baqarah: 10-11). Yakni, sebenarnya kami
bermaksud mendamaikan dua pihak kaum Mukminin dengan Ahli Kitab. Allah Ta'ala berfirman:
Ingatlah, sebenarnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak
sadar. jika dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah
beriman", mereka menjawab: "Akan berimankah kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu
telah beriman?" Ingatlah, sebenarnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak
tahu. Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan: "Kami
telah beriman. " Dan bila mereka kembali kepada setan-setan mereka, (QS. al-Baqarah: 12-14), Setan-
setan ini yaitu orang-orang Yahudi yang menyuruh mereka mendustakan kebenaran, dan
membangkang terhadap apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka
mengatakan:
"sebenarnya kami sependirian dengan kamu, (QS. al-Baqarah: 14). Yakni, kami hanyalah berolok-
olok dan bermain-main dengan mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman:
Allah akan (membalas) olok-olokan mereka dan membiarkan mereka terombang-ambing dalam
kesesatan mereka. Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, (QS. al-Baqarah:
15-16). Yakni, mereka menukar kekafiran dengan keimanan.
Maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (QS. al-
Baqarah: 16).
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah membuai perumpamaan tentang mereka. Allah Yang Mahaagung
berfirman:
Perumpamaan mereka yaitu seperti orang yang menyalakan api, maka sesudah api itu menerangi
sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam
kegelapan, tidak dapat melihat (QS. al-Baqarah: 17).
Yakni, mereka tidak kuasa melihat kebenaran dan tidak kuasa pula untuk mengutarakannya. jika
mereka keluar dengan kebenaran dari kegelapan kekafiran, mereka memadamkannya kembali
dengan kekafiran dan kemunafikan mereka, lalu Allah membiarkan mereka dalam gelap kekafiran
sehingga mereka tidak mampu melihat petunjuk dan tidak pula mampu bertahan berada dalam
kebenaran.
Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar). (QS. al-Baqarah:
18). Yakni, mereka tidak kuasa untuk kembali pada petunjuk. Mereka tuli, bisu, dan buta akan
kebenaran. Mereka tidak akan kuasa untuk kembali kepada kebaikan, dan tidak akan memperoleh
keselamatan sepanjang mereka tetap berada dalam posisi mereka.
atau seperti (orang-orangyang ditimpa) hujan lebat dari langit disertai gelap gulita, guruh dan kilat;
mereka menyumbat telinganya dengan anakjarinya, karena (mendengar suara) petir, sebab takut
akan mati. Dan Allah meliputi orang-orang yang kafir. (QS. al-Baqarah: 19)
Ibnu Ishaq berkata: Mereka berada dalam gulita kekafiran, mereka menghindari kematian, dari orang-
orang yang berbeda dengan mereka dan khawatir akan mereka. Sebagaimana disifatkan laksana
tatkala mereka berada di gelapnya hujan. Mereka menjadikan jari jemarinya di kedua telinganya
karena suatu guruh karena takut mati. Dia berkata: Allah menurunkan itu semua pada mereka sebagai
siksa atas kedurhakaan mereka. Yakni Allah meliputi orang-orang kafir.
Hampir-hampir kilat itu menyambar penglihatan mereka. (QS. al-Baqarah:20). Karena kuatnya sinar
kilatan itu.
Setiap kali kilat itu menyinari mereka, mereka berjalan di bawah sinar itu, dan bila gelap menimpa
mereka, mereka berhenti. (QS. al-Baqarah: 20). Yakni, mereka mengetahui kebenaran dan
membicarakannya. Jika mereka kebali dari kebenaran kepada kekafiran, mereka menjadi orang-orang
linglung kebingungan
Jika Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. (QS. al-
Baqarah: 20). Yakni akibat apa yang mereka tinggalkan dari kebenaran sesudah mengetahuinya.
sebenarnya Allah berkuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Baqarah: 20).
lalu Allah berfirman:
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu (QS. al-Baqarah: 21). Perintah tadi diarahkan kepada dua kelompok
di atas yaitu orang-orang kafir dan munafik. Maksudnya, kalian harus meng-Esakan Tuhan kalian.
Yang telah menciptakan kalian dan orang-orang yang sebelum kalian, agar kalian bertakwa. Dialah
Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air
(hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki
untukmu; karena itujanganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu
mengetahui (QS. al-Baqarah: 21-22).
Ibnu Hisyam berkata: al-andad artinya "al-amtsal" kata singularnya yaitu "nidd" Labid bin Rabi'ah
berkata:
Aku memuji Allah karena dia tidak punya nidd(sekutu)
Di tangan-Nya segala kebaikan apa yang Dia kehendaki
Ini yaitu penggalan syairnya.
Ibnu Ishaq berkata: Yakni janganlah kalian menyekutukan Allah dengan selain-Nya beruapa tandingan-
tandingan yang tidak memberi manfaat dan tidak pula mendatangkan bahaya. Kalian tahu bahwa tidak
ada Tuhan yang kuasa memberi rezeki pada kalian selain Dia. Kalian tahu pula bahwa tauhid yang
Rasul serukan kepada kalian yaitu benar dan tiada sedikitpun keraguan padanya.
Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al-Qur'an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami
(Muhammad) (QS. al-Baqarah: 23). Yakni, jika kalian merasa ragu terhadap apa yang dibawa oleh
rasul untuk kalian,
buatlah satu surat (saja) yang semisal Al-Qur'an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah
(QS. al-Baqarah: 23). Yaitu pihak- pihak yang mampu membantu kalian.
"Jika kamu orang-orang yang benar. 'Maka jika kamu tidak dapat membuat (nya) dan pasti kamu
tidak akan dapat membuat (nya)... (QS. al-Baqarah: 23-24). Karena kebenarir telah tampak jelas bagi
kalian.
peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediaksn bagi orang-
orang kafir (QS. al-Baqarah: 24) Yakni, neraka itu disediakan buat orang-orang kafir yang semisal
dengan kalian.
lalu Allah memberikan kabar gembira dan peringatan terhadap mereka akibat dari melanggar
perjanjian yang telah diam bil atas mereka untuk Nabi-Nya Shallalakt 'alaihi wa Sallam jika ia
datang pada mereka dan menerangkan mengenai asal-muasal penciptaan mereka tatkala Allah
menciptaki: mereka, dan memaparkan kepada mereka tentang para leluhur mereka, Adam dengan
segala kondisinya. Apa yang telah Allah lakukar padanya saat Adam tidak taat kepada-Nya lalu
Allah berfirman:
Hai Bani Israel (QS. al-Baqarah: 40). Seruan itu diarahkan untuk pendeta-pendeta Yahudi.
ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepadamu (QS. al-Baqarah: 40). Yakni, nikmat-
Ku atas kalian secara khusus juga atas leluhur-leluhur kalian, dimana dengan nikmat itu Allah
menyelamatkan mereka dari kejahatan Fir'aun dan kaumnya,
dan penuhilah janjimu Kepaaa-Ku (al- Baqarah: 40). Yakni, janji yang dibebankan di pundak kalian
untuk Nabi Ahmad (Muhammad), jika ia datang kepada kalian,
niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu (QS. al-Baqarah: 40), Yakni, pasti Aku tepati apa yang Aku
pernah janjikan untuk kalian, jika kalian membenarkan Nabi ini dan mengikutinya. Yakni
dengan melepaskan semua belenggu yang ada pada pundak kalian akibat dosa-dosa kalian,
dan hanya kepada-Ku-lah kamu harus takut (tunduk) (QS. al-Baqarah: 40). Yakni, Aku turunkan
siksaan-siksaan yang pernah Aku turunkan kepada leluhur kalian dan kalian telah mengetahui bentuk
siksaan-siksaan itu.
Dan berimanlah kamu kepada apa yang telah Aku turunkan (Al Qur'an) yang membenarkan apa yang
ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orangyangpertama kafir kepadanya, (QS. al-
Baqarah: 41). Yakni, janganlah kalian menjadi orang yang pertama kali kafir kepada Nabi itu, sebab
kalian memiliki ilmu mengenai dirinya, satu hal yang tidak dimiliki orang-orang selain kalian,
dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan hanya kepada AKulah
Kamu harus bertakwa. Dan jangan-lah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan
janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.' (QS. al-Baqarah: 41-42). Yakni,
janganlah kalian menyembunyikan ilmu akan Rasul-Ku yang ada pada kalian serta apa yang dibawanya
yang kalian temukan dalam kitab-kitab suci kalian.
Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)
mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?' (QS. al-
Baqarah: 44). Yakni, mengapa kalian melarang manusia kafir terhadap kenabian, dan janji yang ada
dalam kitab Taurat, sementara kalian lupa terhadap diri kalian sendiri. Artinya, kalian ingkar terhadap
janji-Ku buat kalian untuk menyataka kebenaran Rasul-Ku, kalian melanggar janji-Ku serta menolak
Kitab-Ku yang sudah kalian ketahui. lalu Allah menerangkan kepada mereka semua perbuatan
mereka. Allah paparkan kisah sapi betina pada mereka, tindakan mereka terhadapnya, tobat mereka
yang Allah kabulkan, pengusiran mereka, dan perkataan bodoh mereka:
Perlihatkan Allah kepada kami secara terang-terangan (QS. an-Nisaa': 153).
Ibnu Hisyam berkata: Jahrah artinya, yakni tampak jelas kepada kami dan tidak tertutup sesuatupun
dari kami.
Ibnu Ishaq berkata: Mereka dihantam petir karena keteledoran mereka, lalu Allah menghidupkanya
kembali, menaungi mereka dengan awan dan menurunkan kepada mereka Manna dan Salwa. Lalu
Allah berfirman kepada mereka:
dan masukilah pintu gerbangnya sambil bersujud, dan katakanlah: "Bebaskatilah kami dari dosa" (QS.
al-Baqarah: 58). Yakni, ucapkanlah apa yang Kami perintahkan pasti Aku akan menghapus dosa-dosa
kalian. Allah menjelaskan bahwa mereka mengubah firman di atas sebagai bahan pelecehan terhadap
perintah-Nya.
Ibnu Hisyam berkata: Al-Mann yaitu sesuatu yang turun pada saat waktu sahur pada pepohonan
yang mereka miliki lalu mereka mengambilnya dalam keadaan manis bagaikan manisnya madu serta
meminum dan memakannya. Sedangkan As-Salwa yaitu salah satu jenis burung. Ada pula yang
mengatakan bahwa maksud As-Salwa ialah burung puyuh. Madu kadang kala juga dinamakan dengan
As-Salwa.
Firman Allah,'Hiththatun, artinya hapuslah dosa-dosa kami!"
Ibnu Ishaq berkata: Di antara perbuatan mereka mengubah perintah Allah yaitu sebagaimana
dituturkan kepadaku oleh Shalih bin Kaisan dari Shalih, mantan budak At-Taumah binti Umayyah bin
Khalaf dari Abu Hurairah dan dari orang yang tidak aku ragukan integritasnya dari Ibnu Abbas dari
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam yang bersabda: "Mereka masuk dari pintu tempat mereka
diperintahkan masuk darinya dalam keadaan sujud, tapi mereka memasukinya dengan cara
merangkak sambil mengatakan, 'Hinthunfi syair (Hinthun yaitu salah satu jenis gandum)."
Ibnu Ishaq berkata: Ayat ini lalu dilanjutkan dengan kisah mengenai permohonan air oleh
Musa bagi kaumnya, perintah Allah kepada Musa agar Musa menggunakar. tongkatnya untuk
memukul batu, lalu memancarlah dua belas mata air untuk mereka dar. setiap kabilah memiliki mata
airnya sendiri dan mengetahui mata air mereka masing-masing, serta kisah mengenai perkataan
mereka kepada Musa Alaihis-Salam:
"Hai Musa, kami tidak bisa sabar (tahan dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah
untuk kami kepada Tuhanmu agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi,
yaitu: sayur-mayur, ketimun, bawang putih, kacang adas dari bawang merahnya." Musa berkata:
"Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebaga: pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu
ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta" (QS. al-Baqarah: 61).
Ibnu Hisyam berkata: Firman Allah, 'Al-Fumu berarti biji gandum
Ibnu Ishaq berkata: Mereka tidak melakukan perintah Musa. Ayat itu lalu dilanjutkan dengan
kisah diangkatnya Gunung Ath-Thur di atas mereka, perubahan fisik mereka dimana Allah
mengubahnya menjadi kera akibat tindakan dan tingkah buruk mereka. Kisah berlanjut tentang sapi
betina yang mengandung pelajaran dalam kasus pembunuhan yang mereka persengketakan. Lalu
Allah menerangkan kejadian ini mereka sesudah mereka bertanya secara berulang-ulang kepada
Musa tentang ciri-ciri sapi betina yang dimaksud. Kisah berlanjut tentang mengerasnya hati mereka
sesudah peristiwa itu hingga seperti batu atau bahkan jauh lebih keras lagi. lalu Allah berfirman
kepada mereka:
lalu sesudah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal di antara
batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dibandingkan nya dan di antaranya sungguh ada
yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur
jatuh, karena takut kepada Allah. (QS. al-Baqarah: 74). Yakni, di antara jenis batu itu terdapat batu
yang jauh lebih lembut dari pada hati kalian yang keras terhadap kebenaran yang diserukan kepada
kalian. Allah melanjutkan firman-Nya:
Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Baqarah: 74).
lalu Allah menunjukkan firman-Nya kepada Muhammad Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan kaum
Mukminin, sahabat beliau:
Apakah kamu masih mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, padahal segolongan dari
mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya sesudah mereka memahaminya, sedang
mereka mengetahui? (QS. al-Baqarah: 75).
Maksud firman Allah bahwa mereka mendengar Taurat, itu tidak berarti bahwa semua mereka
mendengarkannya. Bahkan beberapa ulama berpendapat bahwa hanya kalangan tertentu saja yang
mendengarkan Taurat. Bani Israel berkata kepada Musa: "Wahai Musa, sebenarnya kami terhijab
tidak mampu melihat Allah secara nyata, maka perdengarkan kepada kami suara Allah agar Dia
berkomunikasi langsung denganmu." Maka Musa memohonkan permintaan itu kepada Tuhannya.
Allah berfirman kepada Musa: Wahai Musa, perintahkan mereka untuk membersihkan diri dengan
mencuci pakaian mereka, dan berpuasa." Mereka melak- sanakan perintah Altah ini , lalu Musa
pergi membawa serta mereka sampai tiba di bukit Ath-Thur. Tatkala mereka tertutup ka- but tebal,
Musa memerintahkan mereka untuk bersujud. Saat mereka bersujud itulah, Allah berbicara dengan
Musa sementara mereka mendengarkan firman Allah yang memerintahkan dan melarang mereka
hingga mereka mampu memahami apa yang baru saja mereka dengar. Lalu Musa kembali pulang
membawa mereka kepada Bani Israel. Sesampainya di sana, sebagian mereka mengganti apa yang
baru saja Allah perintahkan kepada mereka. jika Musa berkata kepada Bani Israel: "sebenarnya
Allah memerintahkan ini d






