an itu atas kalian." Namun mereka mengatakan sebaliknya dari apa yang
Allah firmankan kepada mereka. Mereka itulah yang Allah terangkan kepada Rasul-Nya, Muhammad
Shallalahu 'alaihi wa Sallam.
lalu Allah berfirman:
Dan jika mereka berjumpa dengan orang-orangyang beriman, mereka berkata: "Kami pun telah
beriman," (QS. al-Baqarah; 76). Yakni, kami pun beriman dengan sahabat kalian yaitu Rasulullah
Shallahahu 'Alaihi wa Sallam, namun ia hanya diutus secara khusus kepada kalian. Tapi, mana kala
mereka berada bersama kelompoknya mereka berkata: "Janganlah kalian memceritakan ini kepada
orang-orang Arab, sebab dulu kalian pernah meminta kemenangan atas mereka dengan selalu
menyebut nama Muhammad, ternyata kini Muhammad berada di pihak mereka." Allah menurunkan
firman-Nya perihal mereka,
Dan jika mereka berjumpa dengan orang- orang yang beriman, mereka berkata: "Kami pun telah
beriman," tetapi jika mereka berada sesama mereka saja, lalu mereka berkata: "Apakah kamu
menceritakan kepada mereka (orang-orang mukmin) apa yang telah diterangkan Allah kepadamu,
supaya dengan demikian mereka dapat mengalahkan hujjahmu di hadapan Tuhanmu; tidakkah kamu
mengerti?" (QS. al-Baqarah: 76). Yakni, apakah kalian mengakui Muhammad sebagai Nabi, padahal
kalian mengetahui bahwa kalian telah dimintai perjanjian untuk mengikutinya. Dia telah menerangkan
dengan gamblang bahwa Muhammad yaitu seorang Nabi yang sejak lama kita tunggu-tunggu, dan
kita dapati namanya dalam Kitab suci kita. Maka ingkarilah. dan jangan pernah engkau mengakuinya.
Allah berfirman:
Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala
yang mereka nyatakan? Dan di antara mereka ada yang buta huruf, tidak mengetahui Al Kitab
(Taurat), kecuali dongengan bohong belaka dan mereka hanya menduga-duga. (QS. al-Baqarah: 77-
78). Yakni, merekii tidak mengetahui Al-Kitab, tidak memaham: isinya, serta tidak mengakui
kenabianmu melainkan hanya berdasar pada prasangka saja Allah berfirman:
Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidan akan disentuh oleh api neraka, kecuali selamu beberapa
hari saja." Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan
memungkiri janji-Nya ataukak kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu
ketahui?" (QS. al-Baqarah: 80).
Ibnu Ishaq berkata: Mantan budak Zaid bin Tsabit berkata kepadaku dari Ikrimah atau dari Sa'id bin
Jubair dari Ibnu Abbas, ia berkata: "jika Rasulullah Shallalahu 'alaihi hm Sallam tiba di Madinah,
orang-orang Yahudi berkata: "Usia dunia ini ialah tujuh ribu tahun. Allah menyiksa manusia di neraka
dalam setiap seribu tahun hitungan hari-hari dunia dengan hanya satu hari dari hitungan hari-hari
akhirat di neraka. Dengan demikian mereka hanya menjalani tujuh hari siksa di dalam neraka,
lalu siksa terhenti.' Allah Ta 'ala menurunkan ayat tentang ucapan mereka ini :
Dan mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan disentuh oleh api neraka, kecuali selama beberapa
hari saja. " Katakanlah: "Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan
memungkiri janji-Nya ataukah kamu hanya mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu
ketahui?." (Bukan demikian), yang benar, barang siapa berbuat dosa dan ia telah diliputi oleh dosanya,
mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.' (QS. al-Baqarah: 80-81), Yakni,
barangsiapa mengerjakan tindakan sebagaimana tindakan kalian, dan berlaku ingkar sebagaimana
kekafiran kalian, maka kekafiran akan menghapus kebaikan dirinya di sisi Allah.
Dan orang-orang yang beriman serta beramal shaleh, mereka itu penghuni surga; mereka kekal di
dalamnya. (QS. al-Baqarah: 82). Yakni, barangsiapa beriman kepada apa yang mereka ingkari, dan
melakukan apa yang kalian tinggalkan dari agama-Nya, bagi mereka surga dan mereka kekal di
dalamnya. Allah menjelaskan kepada mereka bahwa balasan kebaikan dan keburukan itu diberikan
secara terus menerus kepada pelakunya tanpa terhenti.
Ibnu Ishaq berkata: Allah mencela mereka dengan firman-Nya:
Dan (ingatlah), jika Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu): Janganlah kamu menyembah
selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang
miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah
zakat. lalu kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil dibandingkan kamu, dan kamu
selalu berpaling. (QS. al-Baqarah: 83). Yakni, kalian meninggalkan semua itu, dan tidak menetapi
perjanjian, bukan karena kurang pengetahuan.
Allah melanjutkan firman-Nya:
Dan (ingatlah), jika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan
darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari
kampung halamanmu, lalu kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu
mempersaksikannya (QS. al-Baqarah: 84). Yakni, bahwa ini yaitu hak dari perjanjian-Ku atas kalian.
Allah melanjutkan firman-Nya:
lalu kamu (Bani Israel) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan
dibandingkan kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan
membuat dosa dan permusuhan (QS. al-Baqarah: 85). Yang dimaksud dengan mereka pada ayat di ini
yaitu orang-orang musyrik. Kalian menumpahkan darah dan mengusir mereka dari negeri mereka.
tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir
mereka itu (juga) terlarang bagimu. (QS. al-Baqarah: 85).
Yakni, padahal kalian mengetahui bahwa itu telah ditetapkan dalam agama dan dalam kitab kalian
yaitu haram hukumnya bagi kalian untuk mengusir mereka.
Allah Ta'ala berfirman:
Apakah kamu beriman kepada sebahagiar. Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang
lain? (QS. al-Baqarah: 85), yakni, apakak kalian menebus mereka dalam keadaan kahir
mempercayainya, dan kalian mengusir mereka dalam keadaan mengingkarinya.
Allah berfirman:
Tiyaitu balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam
kehidupan dunia, dan pada hari kiamat: mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah
tidak lengah dari apa yang kamu perbuat (QS. al-Baqarah: 85).
Allah memurkai mereka disebabkan perbuatan buruk mereka. Padahal Allah telar mengharamkan
mereka di dalam Taurat untuk membunuh orang lain, dan mewajibkan ataf mereka untuk menebus
tawanan perang.
Pendeta-pendeta Yahudi terbagi dua: Pertama, Bani Qainuqa' dan orang-orang yang selaras dengan
mereka, mereka yaitu sekutu Khazraj. Kedua, An-Nadhir, Quraizhah, dan orang-orang yang selaras
dengan mereka, sekutu Aus. jika terjadi perang antara Khazraj melawan Aus, Bani Qainuqa' beraci
di pihak Khazraj, sementara An-Nadhir dar Quraizhah berada di pihak Aus. Setiap kubu membantu
sekutunya untuk menghadapi lawannya yang pada akhrinya mereka menum pahkan darah. Padahal
memiliki Taurat yang darinya mereka mengerti hak dan kewajiban mereka. Aus dan Khazraj yaitu
orang-orang musyrik yang tidak mengetahui surga tidak pula neraka, Hari kebangkitan, Hari Kiamat,
Kitab, Suci atau hal-hal yang halal dan yang haram.
jika perang telah usai, mereka menebus tawanan perangnya karena yakin apa yang tertera di
dalam Taurat. Bani Qainuqa' menebus tawanan mereka di Aus. Nadhir dan Quraizhah menebus
tawanan mereka di Khazraj. Dan dalam waktu yang sama mereka menyatakan bahwa darah mereka
yang tertumpah yaitu halal, dan korban mereka yang terbunuh sebagai realisasi dukungan mereka
terhadap orang-orang musyrik. Allah Ta'ala berfirman mencela tindakan buruk yang mereka lakukan:
Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?
(QS. al-Baqarah: 85). Yakni, apakah kalian menebus tawanan perang berdasarkan hukum yang tertera
dalam Taurat lalu kalian membunuh manusia padahal pembunuhan yaitu merupakan sesuatu yang
diharamkan dalam Taurat? Apakah kalian mengusirnya dari negerinya dan mendukung orang-orang
yang menyekutukan Allah dan menyembah patung-patung karena mengharapkan kehidupan yang
sekejap?
Demikianlah yang diperbuat orang-orang Yahudi terhadap Khazraj dan Aus. Inilah latar belakang sebab
dilansirnya kisah ini oleh Allah.
Lalu Allah berfirman:
Dan sebenarnya Kami telah mendatangkan Al-Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah
menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami berikan bukti-bukti
kebenaran (mukjizat) kepada Is a putra Maryam dan Kami memperkuatnya dengan Ruhul-Qudus. (QS.
al-Baqarah: 87). Di antara mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Isa ialah menghidupkan orang
yang telah mati, ia meniup tanah yang dibentuk burung lalu tanah ini menjadi burung
yang hidup dengan izin Allah, menyembuhkan orang sakit, dan memberi tahu apa yang tersimpan di
rumah-rumah mereka. Allah menyebutkan bantahan atas mereka yang ada di dalam Taurat dan Injil
yang dibuat untuk mereka. Allah memaparkan kekafiran mereka terhadap semua itu:
Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai
dengan keinginanmu lalu kamu angkuh; maka beberapa orang (di antara mereka) kamu dustakan dan
beberapa orang (yang lain) kamu bunuh? (QS. al-Baqarah: 87).
Allah berfirman:
Dan mereka berkata: "Hati kami tertutup." Allah berfirman: Tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk
mereka karena keingkaran mereka; maka sedikit sekali mereka yang beriman. (QS. al-Baqarah: 88).
Allah Ta’ala befirman:
Dan sesudah datang kepada mereka Al-Qur'an dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada
mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat
kemenangan atas orang-orang kafir, maka sesudah datang kepada mereka apa yang telah mereka
ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu. (QS.
al-Baqarah: 89).
Ibnu Ishaq berkata: Ashim bin Umar bin Qatadah berkata kepadaku dari sesepuh kalangan Ansar yang
mengatakan: Ayat di atas diturunkan karena perbuatan kami dan orang-orang Yahudi. Kami
mengalahkan orang-orang Yahudi pada masa jahiliyah, saat itu kami masih berstatus sebagai ahli
syirik, sedangkan mereka para Ahli Kitab. Dahulu pendeta-pendeta Yahudi berkata kepada kami:
"Kemunculan nabi yang akan diutus telah dekat. jika ia telah muncul kami akan menumpas kalian
sebagaimana penumpasan terhadap kaum Ad dan Iram." Pada saat Allah mengutus Rasul-Nya dari
suku Quraisy, kami mengimaninya sementara mereka mengingkarinya." Allah berfirman:
Maka sesudah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya.
Maka laknat Allah-lah atas orang- orang yang ingkar itu. Alangkah buruknya (perbuatan) mereka yang
menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki
bahwa Allah menurunkan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-
Nya. Karena itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang
kafir siksaan yang menghinakan. (QS. al-Baqarah: 89-90).
Allah murka karena mereka menyia-nyiakan Taurat dan ingkar kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam yang diutus oleh Allah kepada mereka.
lalu Allah memurkai mereka dengan mengangkat Gunung Ath-Thur ke atas mereka, dan mereka
menjadikan anak sapi betina sebagai Tuhan selain Allah. Allah berfirman kepada Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam:
Katakanlah: Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi
Allah, bukan untuk orang lain, maka inginilah kematian (mu), jika kamu memang benar. (QS. al-
Baqarah: 94), yakni, doakan kematian atas salah satu dari dua kelompok yang paling berdusta di sisi
Allah, namun mereka tidak mau melakukannya. Allah Ta'ala melanjutkan firman-Nya:
Dan sekali-kali mereka tidak akan mengingini kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-
kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri). Dan Allah Maha Mengetahui siapa
orang-orang yang aniaya. (QS. al- Baqarah: 95), mereka tidak mengharapkan kematian, karena
mereka memiliki pengetahuan tentang dirimu, hanya saja mereka mengingkarinya. Ada yang
mengatakan andai saja orang-orang Yahudi mengharapkan kematian pada hari itu, maka tidak ada
seorang Yahudi pun yang akan tersisa di atas muka bumi.
lalu Allah memaparkan tabiat orang-orang Yahudi yaitu menginginkan kehidupan kekal di dunia
dan umur yang panjang:
Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia),
bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur
seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha
Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. al-Baqarah: 96). Yakni, usia panjang tidak akan pernah
bisa menyelamatkan mereka dari adzab, hal ini disebabkan karena orang kafir tidak
mengharapkan kebangkitan sesudah kematian, ia memilih untuk hidup kekal di dunia, karena
mengetahui kehinaan yang akan menimpa mereka di akhirat akibat menyia-nyiakan pengetahuan
tentang nabi yang dimilikinya. lalu Allah berfirman:
Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur'an)
ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi
petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman (QS. al-Baqarah: 97).
Pertanyaan Orang-orang Yahudi dan Jawaban Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Pada Mereka
Ibnu lshaq berkata: Abdullah bin Abdur-rahman bin Abu Husain Al-Makki bertutur kepadaku dari Syahr
bin Hausyab Al-Asy'ari yang berkata bahwa beberapa pendeta Yahudi datang menemui Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka berkata: "Wahai Muhammad, jawablah pertanyaan-pertanyaan
yang kami ajukan kepadamu. jika engkau mampu memberikan jawaban, maka kami akan
mengikuti, membenarkan dan beriman kepadamu. "Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Kalian mempunyai perjanjian dengan Allah, bahwa jika aku mampu menjawab pertanyaan-
pertanyaan yang kalian ajukan, kalian pasti membenarkanku?" Mereka berkata: Ya. Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Katakanlah apa yang kalian hendak tanyakan." Mereka
bertanya: "Terangkanlah kepada kami kenapa seorang bayi itu menyerupai ibunya, padahal sperma
itu berasal dari bapaknya!” Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menjawab: "Aku bersumpah
dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israel, tahukah kalian bahwa sperma laki-laki itu
berwarna putih kental, dan ovum wanita berwarna kuning dan encer; maka mana di antara keduanya
yang lebih dominan, keserupaan akan terjadi padanya." Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Benar!"
Kini terangkanlah kepada kami, bagaimana cara tidurmu!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
menjawab: "Aku bersumpah dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israel, aku seperti yang
kalian perkirakan dimana mataku tidur namun hatiku tidaklah tidur." Pendeta-pendeta Yahudi
berkata: "Benar." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Begitu juga tidurku, mataku tidur,
namun hatiku tetap terjaga." Pendeta-pendeta Yahudi itu lalu bertanya kembali: "Terangkan
kepada kami apa saja yang diharamkan orang-orang Israel atas diri mereka!" Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam menjawab: "Aku bersumpah dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israel,
tahukah kalian bahwa mulanya makanan dan minuman yang paling disukai Israel yaitu daging unta
dan susunya? lalu jika ia sakit, maka Allah menyembuhkannya dengannya, lalu ia
mengharamkan atas dirinya makanan dan minuman yang paling disukainya itu sebagai refleksi
syukurnya kepada Allah. Dia mengharamkan atas dirinya daging dan susu unta." Pendeta-pendeta
Yahudi berkata: "Benar." Kini terangkanlah kepada kami tentang ruh!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Aku bersumpah dengan Allah dan dengan hari-hari-Nya di Bani Israel, apakah kalian
tahu bahwa yang datang kepadaku yaitu Jibril?" Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Betul!" Tapi
wahai Muhammad, dia yaitu musuh Kami. Ia malaikat, tapi dia datang dengan kasar dan
menumpahkan darah. Jika bukan karena itu, pastilah kami mengikutimu." lalu Allah
menurunkan firman-Nya tentang ucapan mereka ini :
Katakanlah: Barangsiapa yang menjadi musuh Jibril, maka Jibril itu telah menurunkannya (Al-Qur'an)
ke dalam hatimu dengan seizin Allah; membenarkan apa (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjadi
petunjuk serta berita gembira bagi orang-orang yang beriman. Barang siapa yang menjadi musuh
Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sebenarnya Allah yaitu
musuh orang-orang kafir. Dan sebenarnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas;
dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik. Patutkah (mereka ingkar
kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya?
Bahkan sebahagian besar dari mereka tidak beriman. Dan sesudah datang kepada mereka seorang
Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-
orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung) nya seolah-olah
mereka tidak mengetahui (bahwa itu yaitu Kitab Allah). Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh
setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu
mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah
yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan
kepada dua orang malaikat di negeri Babilyaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak
mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun sebelum mengatakan: "sebenarnya kami hanya
cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir." Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu
apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan istrinya. Dan
mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudarat dengan sihirnya kepada seorang pun kecuali dengan izin
Allah. Dan mereka mempelajari sesuatu yang memberi mudarat kepadanya dan tidak memberi
manfaat. Demi, sebenarnya mereka telah meyakini bahwa barang siapa yang menukarnya (kitab
Allah) dengan sihir itu, tiyaitu baginya keuntungan di akhirat dan amat jahatlah perbuatan mereka
menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui. (QS. al-Baqarah: 97-102)
Ibnu Ishaq berkata: -sebagaimana berita yang sampai kepadaku—bahwa jika Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam menyebutkan Nabi Sulaiman bin Daud termasuk bagian dari para rasul, sebagian
pendeta Yahudi berkata: Apakah kalian tidak merasa heran dengan Muhammad? Ia beranggapan
bahwa Sulaiman bin Daud itu seorang nabi. Demi Allah, Sulaiman bin Daud itu tidak lebih dari seorang
penyihir." lalu Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang mereka:
Padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya setan-setan itulah yang kafir
(mengerjakan sihir). (QS. al-Baqarah: 102).
Yakni, setan-setan itu kafir disebabkan mereka mengikuti sihir dan mengamalkannya, Dan apa yang
diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak
mengajarkan (sesuatu) kepada seorang pun (QS. al-Baqarah: 102)
Ibnu Ishaq berkata: seorangyang aku percaya pada kejujurannya berkata kepadaku dari Ikrimah dari
Ibnu Abbas ia berkata: Yang diharamkam Israel terhadap dirinya ialah bagian yang menonjol dari hati,
ginjal dan lemak kecuali lemak yang ada pada tulang punggung sebab lemak pada tulang punggung
biasanya disediakan untuk sesajen yang lalu ditelan api.
Surat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Kepada Orang-orang Yahudi Khaybar
Ibnu Ishaq berkata:-sebagaimana dituturkan kepadaku oleh mantan budak keluarga Zaid bin Tsabit
dari Ikrimah atau Sa'id bin Jubair dari Ibnu Abbas yang berkata-- Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam
menulis surat kepada orang-orang Yahudi Khaybar yang berbunyi sebagai berikut: Bismillahirrah-
manirrahim. Dari Muhammad, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, sahabat dan saudara Musa, dan
orang yang membenarkan apa telah berfirman kepada kalian wahai orang- orang yang diberi Kitab
Taurat dan kalian telah temukan ini dalam kitab kalian:
Muhammad itu yaitu utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia yaitu keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka, kamu lihat mereka rukuk dan
sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari
bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu
seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu
menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-
penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-
orang mukmin). Allah men- janjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang
shaleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. al-Fath: 29).
Aku bersumpah dengan nama Allah, dan dengan apa yang diturunkan kepada kalian, aku bersumpah
dengan Dzat yang memberi kalian makan beruapa Al-Manna dan As-Salwa yang diberikan kepada
orang-orang yang datang sebelum kalian, aku bersumpah dengan Allah yang mengeringkan laut untuk
para leluhur kalian lalu Allah menyelamatkan kalian dari Fir'aun dan tindakannya. Tidakkah
kalian mau memberitahukan kepadaku apakah kalian temukan dalam Kitab yang diturunkan kepada
kalian bahwa kalian wajib percaya kepada Muhammad? jika kalian tidak menemukannya maka
tidak ada paksaan bagi kalian, karena Allah telah menjelaskan,
"Sungguh petunjuk dan kesesatan itu telah jelas. " (QS. al-Baqarah: 256). Aku seru kalian kepada Allah
dan Nabi-Nya.
Ayat Al-Qur'an yang Turun tentang Abu Yasir dan Saudaranya
Ibnu lshaq berkata: sebenarnya di antara pendeta-pendeta Yahudi dan orang-orang kafir Yahudi
yang kisahnya disebutkan dalam Al-Qur'an —sebagaimana dituturkan kepadaku dari Abdullah bin
Abbas dan Jabir bin Abdullah bin Ri'ab— yang bertanya kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sal-
lam, dan membuat kerancuan bagi beliau untuk mencampuradukkan antara kebenaran dengan
kebatilan yaitu Yasir bin Akhthab dan saudaranya. Suatu jika Abu Yasir bin Akhthab berjalan
melintasi di hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan saat itu beliau sedang membaca surat
Al-Baqarah, 'Alif' laam mim. Kitab itu tiada keraguan di dalamnya (QS. al-Baqarah: 1-2). lalu Yasir
bin Akhthab menjumpai saudaranya, Huyay bin Akhthab yang tengah berkumpul bersama orang-
orang Yahudi. Abu Yasir bin Akhthab berkata: "Demi Allah, ketahuilah, baru saja aku mendengar
Muhammad membaca apa yang diturunkan padanya 'Alif' laam mim. Kitab itu tiada keraguan di
dalamnya (QS. al-Baqarah: 1-2) Orang-orang Yahudi berkata: "Apakah engkau benar-benar men-
dengarnya?' Yasir bin Akhthab menjawab: "Benar." Huyay bin Akhthab bersama orang-orang Yahudi
segera beranjak dan berangkat untuk menjumpai Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka
berkata: "Wahai Muhammad, telah dikbarkan kepada kami bahwa engkau membaca apa yang
diturunkan kepadamu? "Alif' laam mim. Kitab itu tiada keraguan di dalamnya (QS. al-Baqarah: 1-2),
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya, benar." Orang-orang Yahudi berkata: "Apakah
ayat Al-Qur'an itu dibawa Jibril dari sisi Allah?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya,
benar." Orang-orang Yahudi berkata: "Sungguh Allah telah mengutus beberapa nabi sebelum engkau.
Kami tidak mengetahui Allah menjelaskan kepada salah seorang nabi itu tentang masa kekuasaannya,
dan masa kekuasaan umatnya selain pada dirimu."
Huyay bin Akhtab berkata sambil menghadap pada orang-orang yang datang bersamanya: "Alif satu,
laam tiga puluh, dan miim empat puluh. Jadi jumlah keseluruhannya tujuh puluh satu tahun. Apakah
kalian akan menganut agama yang masa kekuasaannya hanyalah tujuh puluh satu tahun saja?."
lalu Huyay bin Akhthab menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, dan berkata: "Hai
Muhammad, apakah engkau mempunyai ayat lain selain ayat tadi?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersabda, Ya!.' Huyai bin Akhthab berkata: "Bagaimana bunyinya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam membaca ayat, 'Alif laam miim shaad (QS. al-A'raaf: 1) Huyai bin Akhthab berkata: "Demi
Allah, ayat ini jauh lebih berat dan lebih panjang. Alif satu, laam a tiga puluh, miim empat puluh dan
shaad yaitu sembilan puluh. Jadi jumlah keseluruhannya yaitu seratus enam puluh satu tahun.
Apakah engkau mempunyai ayat yang lain, wahai Muhammad?' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
bersabda: "Ya." Huyay bin Akhthab berkata: "Bagaimana bunyinya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam membaca ayat, 'Alif laam raa' (QS. Yunus: 1) Huyay bin Akhthab berkata: "Demi Allah, ini jauh
lebih berat dan lebih panjang. Alif satu, laam tiga puluh dan raa' dua ratus. Jadi jumlah keseluruhannya
yaitu dua ratus tiga puluh satu tahun. Apakah engkau masih memiliki ayat yang lain, wahai
Muhammad?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Ya." Huyay bin Akhthab berkata:
"Bagaimana bunyinya?" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam membaca ayat: Alif laam mim raa (QS.
ar-Ra'd: 1). Huyay bin Akhthab berkata: "Ini lebih jauh berat dan lebih panjang. Alif satu, laam tiga
puluh, miim empat puluh, dan raa' dua ratus. Jadi jumlah keseluruhannya dua ratus tujuh puluh satu
tahun." Huyay bin Akhthab berkata: "Wahai Muhammad, masalahnya menjadi sangat kompleks bagi
kami, hingga kami tidak mengerti apakah engkau diberi banyak atau sedikit?" lalu orang-orang
Yahudi itu pergi. Abu Yasir bin Akhthab berkata kepada saudaranya, Huyay bin Akhthab dan pendeta-
pendeta Yahudi yang ikut bersamanya: "Tahukah kalian barangkali jumlah tadi diberikan kepada
Muhammad, yaitu tujuh puluh satu, seratus enam puluh satu, dua ratus tiga puluh satu, dan dua ratus
tujuh puluh satu. Jadi jika dijumlah keseluruhannya maka menjadi tujuh ratus tiga puluh empat tahun.
Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Persoalannya menjadi sangat kompleks bagi kami." Para ulama
meyakini bahwa ayat di bawah ini Allah turunkan karena ulah mereka:
Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab (Al- Qur'an) kepada kamu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang
muhkamaat itulah pokok-pokok isi Al-Qur'an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. (QS. Ali
Imran: 7).
Ibnu Ishaq berkata: Aku mendengar dari ulama kredibel yang tidak aku ragukan integritasnya berkata
bahwa ayat di atas diturunkan atas warga Najran yaitu pada saat mereka bertemu dengan Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam untuk bertanya tentang Isa bin Maryam ' Alaihis-Salam.
Ibnu Ishaq berkata: Muhammad Abu Umamah bin Sahl bin Hunaif berkata kepadaku bahwa ia
mendengar ayat di atas diturunkan untuk beberapa orang Yahudi namun dia tidak memberikan
rinciannya lebih lanjut kepadaku. Wallahu a'lam mana yang lebih benar.
Kekafiran Orang-orang Yahudi terhadap Rasulullah sesudah Mereka Menanti-nanti Kedatangannya
dan Ayat Al-Qur'an yang Diturunkan Allah dalam Hal ini
Ibnu Ishaq berkata: Aku mendengar dari Ikrimah mantan budak Ibnu Abbas atau dari Sa'id bin Jubair
dari Ibnu Abbas ia berkata: Orang-orang Yahudi berharap mengungguli orang-orang Aus dan Khazraj
dengan wasilah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam sebelum diutusnya. Namun saat Allah
mengutusnya dan ternyata beliau berasal dari orang- orang Arab, mereka kafir dan membantah apa
saja yang dikatakan beliau. lalu Muadz bin Jabal, dan Bisyr bin Al-Barra' bin Ma'rur, saudara Bani
Salimah berkata kepada mereka: "Wahai orang-orang Yahudi, bertakwalah kepada Allah, dan
masuklah ke dalam Islam, karena kalian pernah mengharapkan kemenangan atas kami dengan
perantara Muhammad, sedangkan kami pada saat itu masih dalam keadaan musyrik. Kalian pernah
sampaikan kepada kami bahwa beliau telah diutus, dan kalian telah terangkan kepada kami tentang
sifat-sifat beliau." Salam bin Misykam, salah seorang dari Bani Nadhir berkata: " Namun ia sama sekali
tidak membawa apa pun yang kami ketahui, dan tidak membawa sesuatu yang pernah kami
sampaikan kepada kalian.' Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapan mereka dalam firman-Nya
berikut:
Dan sesudah datang kepada mereka Al-Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada
mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat
kemenangan atas orang-orang kafir, maka sesudah datang kepada mereka apa yang telah mereka
ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu (QS.
al-Baqarah: 89).
Ibnu Ishaq berkata: Saat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam diangat menjadi rasul, dan
memaparkan tentang perjanjian yang telah Allah ambil dari mereka, Malik bin Ash-Shaif berkata:
"Demi Allah, kami tidak pernah diberi perjanjian agar percaya kepada Muhammad, tidak pernah pula
dimintai perjanjian tentang dirinya." Allah Ta'ala menurunkan ayat Al-Qur'an tentang Malik bin Ash-
Shaif:
Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan
mereka melemparkannya? Bahkan sebahagian besar dari mereka tidak beriman. (QS. al-Baqarah:
100).
Ibnu Ishaq berkata: Ibnu Shaluba al-Fithyuni berkata kepada Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam:
"Wahai Muhammad, engkau tidak datang kepada kami dengan membawa sesuatu yang pernah kami
ketahui, dan Allah tidak menurunkan kepadamu ayat nyata yang mengharuskan kami beriman dan
mengikutimu." Allah Ta'ala menurunkan ayat tentang ucapan Ibnu Shaluba ini :
Dan sebenarnya Kami telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar
kepadanya, melainkan orang- orang yang fasik. (QS. al-Baqarah: 99).
Ibnu Ishaq berkata: Rafi' bin Huraimalah dan Wahb bin Zaid berkata kepada Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam: "Wahai Muhammad, datangkanlah pada kami kitab yang engkau turunkan dari langit
hingga kami bisa membacanya, lalu pancarkanlah air sungai untuk kami, pasti kami akan beriman,
mengikuti dan membenarkanmu." Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya mengenai perkataan Rafi' bin
Huraimalah dan Wahb bin Zaid ini :
Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israel meminta kepada
Musapada zaman dahulu? Dan barang siapa yang menukar iman dengan kekafiran, maka sungguh
orang itu telah sesat dari jalan yanglurus. (QS. al-Baqarah: 108).
Ibnu Ishaq berkata: Huyay bin Akhthab dan saudaranya, Abu Yasir bin Akhthab yaitu sosok orang
Yahudi yang memendam dendam kesumat yang amat dalam kepada orang-orang Arab, karena Allah
memberikan karunia kepada mereka berupa seorang Rasul-Nya Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Mereka
berdua berupaya sekuat tenaga untuk menjauhkan manusia dari agama Islam dengan segala kapasitas
yang mereka miliki. Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya tentang mereka berdua:
Sebahagian besar Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada
kekafiran sesudah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, sesudah nyata
bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan
perintah-Nya. sebenarnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Baqarah: 109).
Konflik Antara Orang-orang Yahudi dan Kristen di Hadapan Rasulullah
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat delegasi Kristen Najran sampai di tempat Rasulullah Shallalahu 'alaihi
wa Sallam, maka pendeta-pendeta Yahudi itu datang menemui mereka, dan lang- sung terlibat cekcok
dengan mereka di hadapan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Rafi' bin Huraimalah berkata:
"Kalian tidak
mempunyai pegangan." Rafi' bin Huraimalah kafir kepada Isa bin Maryam dan Injil. Seorang delegasi
Kristen Najran angkat bicara kepada orang-orang Yahudi: "Kalian tidak memiliki pegangan." Dia juga
mengingkari kenabian Musa dan kafir kepada Taurat. Allah Ta'ala menurunkan firman-Nya tentang
ucapan mereka berdua ini :
Dan orang-orang Yahudi berkata: "Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan", dan
orang-orang Nasrani berkata: "Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,"padahal
mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui,
mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari
kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (QS. al-Baqarah: 113).
Yakni, setiap pihak membaca dalam kitabnya apa yang membenarkan sesuatu yang mereka ingkari
sendiri. Orang-orang Yahudi kafir kepada Isa bin Maryam, padahal mereka mempunyai kitab Taurat
yang di dalamnya Allah mengambil janji kepada mereka melalui mulut Musa 'Alaihis-Salam untuk
membenarkan Isa bin Maryam 'Alaihis Salam. Demikian pula dengan Injil yang diturunkan kepada Isa
bin Maryam terdapat ayat yang membenarkan Musa 'Alaihis salam dan Taurat yang dia bawa dari
Allah. Namun ternyata masing-masing pihak mengingkari apa yang ada di tangan lawannya.
Ibnu Ishaq berkata: Rafi' bin Huraimalah berkata kepada Rasulullah Shallalahu alaihi wa Sallam:
"Wahai Muhammad, jika engkau benar-benar seorang Rasul yang diutus oleh Allah sebagaimana
yang engkau katakan, maka mintalah kepada Allah agar Dia berbicara kepada kami hingga kami bisa
mendengar firman-Nya." Allah Taala menurunkan firman-Nya tentang ucapan Rafi' bin Huraimalah
ini :
Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: "Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan
kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?" Demikian pula orang-orangyang
sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. sebenarnya
Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yangyakin. (QS. al-Baqarah: 118).
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Shuriya Al-A'war (si Mata Juling) Al-Fithyuni berkata kepada
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam: "Wahai Muhammad, petunjuk itu, hanyalah petunjuk yang
kami miliki. Oleh sebab itu, ikutilah kami, pastilah engkau mendapat petunjuk." Orang-orang
Kristen mengatakan hal serupa. lalu Allah menurunkan firman-Nya tentang ucapan Abdullah
bin Shuriya dan tentang ucapan orang Kristen ini :
Dan mereka berkata: "Hendaklah kamu menjadipenganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu
mendapat petunjuk." Katakanlah: "Tidak, bahkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. Dan
bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik. Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami
beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada kami, dan apa yang diturunkan kepada
Ibrahim, Ismail, Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta
apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorang pun di
antara mereka dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya." Maka jika mereka beriman kepada apa
yang kamu telah beriman kepadanya, sungguh mereka telah mendapat petunjuk; dan jika mereka
berpaling, sebenarnya mereka berada dalam permusuhan (dengan kamu). Maka Allah akan
memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Shibghah
Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dibandingkan Allah? Dan hanya kepada-Nya lah kami
menyembah. Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia
yaitu Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, bagi kamu amalan kamu dan hanya
kepada-Nya kami mengikhlaskan hati, ataukah kamu (hai orang-orang Yahudi dan Nasrani)
mengatakan bahwa Ibrahim, Ismail, Ishak, Yakqub dan anak cucunya, yaitu penganut agama Yahudi
atau Nasrani? Katakanlah: "Apakah kamu yang lebih mengetahui ataukah Allah, dan siapakah yang
lebih zalim dibandingkan orang yang menyembunyikan syahadah dari Allah yang ada padanya?" Dan Allah
sekali-kali tiada lengah dari apa yang kamu kerjakan. Itu yaitu umat yang telah lalu; baginya apa
yang diusahakannya dan bagimu apa yang kamu usahakan; dan kamu tidak akan diminta
pertanggungan jawab tentang apa yang telah mereka kerjakan. (QS. al-Baqarah: 135-141)
Komentar Orang Yahudi tentang Pemindahan Kiblat ke Ka'bah
Ibnu Ishaq berkata: jika arah kiblat dipindahkan dari Syam ke Ka'bah yang terjadi pada bulan Rajab
genap tujuh puluh bulan sesudah Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam tiba di Madinah, maka Rifa'ah
bin Qais, Fardam bin Amr, Ka'ab bin Al-Asyraf, Rafi' bin Abu Raff Al-Hajjaj bin Amr sekutu Ka'ab bin Al-
Asyraf, Ar-Rabi' bin Ar-Rabi' bin Abu Al-Huqaiq, dan Kinanah bin Ar-Rabi' bin Abu Al-Huqaiq datang
menemui Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, lalu berkata: "Wahai Muhammad, mengapa engkau
beralih dari kiblatmu yang semula, padahal engkau menyatakan bahwa dirimu sebagai penganut
agama Ibrahim? Kembalilah kepada kiblatmu yang pertama, niscaya kami mengikuti dan
membenarkanmu." Ucapan ini memiliki maksud untuk mengeluarkan Rasulullah Shallalahu
'alaihi wa Sallam dari agamanya. lalu Allah menurunkan firman-Nya:
Orang-orang yang kurang akalnya di antara manusia akan berkata: "Apakah yang memalingkan
mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitulmakdis) yang dahulu mereka telah berkiblat kepadanya?"
Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya ke jalan yanglurus. Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam),
umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul
(Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblatyang menjadi
kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan
siapa yang membelot. Sebagai ujian dan cobaan, Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat
berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; yakni berupa keyakinan dan
yang Allah kokohkan dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Yakni keimanan kalian dengan
kiblat dan pembenaran kalian akan Nabi kalian, dan ikutnya kalian pada kiblat terakhir, dan ketaatan
kalian pada nabi kalian, agar Allah berikan pahala keduanya secara keseluruhan. sebenarnya Allah
Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia. (QS. al-Baqarah: 142-143)
lalu Allah Ta'ala berfirman:
Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan
memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil haram. Dan di
mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. (QS. al-Baqarah: 144).
Ibnu Hisyam berkata: syathrahu artinya nahwahu (ke arahnya).
Dan sebenarnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang
mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidilharam itu yaitu benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali
tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan. Dan sebenarnya jika kamu mendatangkan kepada
orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan),
mereka tidak akan mengikuti kiblatmu, dan kamu pun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan
sebahagian mereka pun tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sebenarnya jika
kamu mengikuti keinginan mereka sesudah datang ilmu kepadamu, sebenarnya kamu kalau begitu
termasukgolongan orang-orang yang zalim. Orang-orang (Yahudidan Nasrani) yang telah Kami beri
Al-Kitab (Taurat dan Injil) mengenal Muhammad seperti mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Dan
sebenarnya sebahagian di antara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka
mengetahui. Kebenaran itu yaitu dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-
orang yang ragu. (QS. al- Baqarah: 144-147).
Orang-orang Yahudi Merahasiakan Isi Kebenaran yang Terkandungan dalam Kitab Taurat
Ibnu Ishaq berkata: Muadz bin Jabal saudara Bani Salimah, Sa'ad bin Muadz saudara Bani Abdul Asyhal,
dan Kharijah bin Zaid saudara Bani Balharits bin Al-Khazraj bertanya kepada beberapa pendeta Yahudi
mengenai sebagian kandungan Taurat. Hanya saja mereka merahasiakannya serta menolak dengan
keras untuk memberikan penjelasan. lalu Allah menurunkan ayat tentang sikap orang-orang
Yahudi ini :
sebenarnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa
keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, sesudah Kami menerangkannya kepada manusia
dalam Al-Kitab, mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat
melaknati, (QS. al-Baqarah: 159).
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam menyeru orang-orang Yahudi untuk masuk Islam dan
memperingatkan mereka akan siksa Allah. Raff bin Kharijah dan Malik bin Auf berkata: "Wahai
Muhammad, kami hanya akan mengikuti apa yang kami peroleh dari pan leluhur kami, karena mereka
lebih mengen. dan lebih bijak dibandingkan kami." Lalu Allat menurunkan firman-Nya tentang ucapan
mereka berdua:
Dan jika dikatakan kepada mereka: "Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab:
"(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang
kami. "(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui
suatu apa pun, dan tidak mendapat petunjuk?" (QS. al- Baqarah: 170).
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Mengumpulkan Orang-orang Yahudi di Pasar Bani Qainuqa'
Ibnu Ishaq berkata: sesudah Allah menjatuhkan kekalahan kepada orang-orang Quraisy di Perang
Badar, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam mengumpulkan orang-orang Yahudi di Pasar Bani
Qainuqa' setibanya beliau di Ma- dinah. Beliau berkata kepada mereka: "Waha: orang-orang Yahudi,
masuklah kalian ke dalam Islam sebelum Allah menjatuhkan kekalahan pada kalian sebagaimana yang
menimpa orang-orang Quraisy." Orang-orang Yahud; berkata: "Wahai Muhammad, janganlah engkau
terpedaya oleh dirimu sendiri. Engkau hanya berhasil membunuh beberapa orang Quraisy yang miskin
pengalaman dan tidak paham tata cara perang. Demi Allah, jika engkau memerangi kami, engkau
pasti akan tahu, bahwa kami benar-benar manusia, dan engkau tidak pernah menjumpai orang-orang
sehebat kami." Maka Allah Yang Mahamulia menurunkan firman-Nya :
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: "Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan
digiring ke dalam neraka Jahanam. Dan itulah tempat yang seburuk-buruknya." sebenarnya telah
ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di
jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-
orang muslimin dua kalijumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang
dikehendaki-Nya. sebenarnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang
mempunyai mata hati. (QS. Ali imran: 12-13).
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam Masuk ke Baitul Midras
Ibnu Ishaq berkata: Pada suatu hari, Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam memasuki Baitul Midras
(tempat belajar Taurat orang Yahudi) yang pada saat itu dihadiri beberapa orang Yahudi untuk
menyeru mereka kembali ke jalan Allah. An-Nu'man bin Amr dan Al-Harits bin Zaid berkata kepada
Rasulullah: "Wahai Muhammad, agama apakah yang engkau anut?' Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa
Sallam bersabda: "Aku menganut agama Ibrahim." An-Nu'man bin Amr dan Al-Harits bin Zaid berkata:
"sebenarnya Ibrahim itu orang Yahudi." Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Jika
demikian, marilah kita kembali kepada Taurat sebagai jalan keluar dari masalah yang ada di antara
kita." Namun mereka berdua menampik ajakan Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam. Lalu Allah
menurunkan ayat Al-Qur'an tentang keduanya:
Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu Al-Kitab (Taurat),
mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; lalu
sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran). Hal itu yaitu
karena mereka mengaku: "Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat
dihitung." Mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan. (QS.
Ali Imran: 23-24).
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat pendeta-pendeta Yahudi dan delegasi Kristen berkumpul di kediaman
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, mereka terlibat adu mulut.
Pendeta-pendeta Yahudi berkata: "Ibrahim itu yaitu seorang Yahudi." Delegasi Kristen berkata:
"Ibrahim yaitu seorang Kristen." Lalu Allah Ta 'ala menurunkan ayat tentang perselisihan mereka itu:
Hai Ahli Kitab, mengapa kamu bantah-membantah tentang hai Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak
diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. Apakah kamu tidak berpikir? Beginilah kamu, kamu ini
(sewajarnya) bantah membantah tentang hai yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-
membantah tentang hai yang tidak kamu ketahui?; Allah mengetahui sedangkamu tidak mengetahui.
Ibrahim bukan seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani, akan tetapi dia yaitu seorang yang
lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk golongan orang-orang
musyrik. " sebenarnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang
mengikutinya dan Nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman (kepada Muhammad), dan
Allah yaitu Pelindung semua orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imrm 65-68).
Ibnu Ishaq berkata: Abdullah bin Shaif. Adi bin Zaid, dan Al-Harits bin Auf berkata kepada sebagian
orang Yahudi: "Marilah kita mempercayai apa yang diturunkan kepada Muhammad dan sahabat-
sahabatnya di pagi hari, lalu kita berbondong-bondong mengingkarinya pada sore hari, agar kita bisa
mengacak-acak agama mereka. Mudar-mudahan mereka melakukan sebagaimana yang kita lakukan
lalu mereka berpaling dari agamanya." Maka Allah menurunkan firman Nya :
Hai Ahli Kitab, mengapa kamu mencampw adukkan yang hak dengan yang bathil, dan
menyembunyikan kebenaran, padahal kami mengetahui? Segolongan (lain) dari Ahli Kitab berkata
(kepada sesamanya): "Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apt yang diturunkan
kepada orang-orang ber iman (sahabat-sahabat Rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada
akhirnya supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran). Dan Janganlah kamu
percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu. Katakanlah: "sebenarnya petunjuk
(yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada
seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan
mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu." Katakanlah: "sebenarnya karunia itu di tangan Allah,
Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas (karunia-
Nya) lagi Maha Mengetahui. " (QS. Ali Imran: 71-73).
Abu Rafi' al-Qurazhi berkata kepada pendeta-pendeta Yahudi dan delegasi Kristen Najran saat mereka
berkumpul di kediaman Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dan beliau mengajak mereka kepada
Islam: "Wahai Muhammad, apakah engkau bermaksud agar kami menyembahmu sebagaimana orang-
orang Kristen menyembah Isa bin Maryam?' Salah seorang dari delegasi Kristen Najran bemama Ar-
Ribbiyusu berkata: "Wahai Muhammad, apakah itu yang engkau kehendaki dari kami, dan engkau
menyeru kami kepadanya?" Atau sebagaimana yang ia katakan. Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
bersabda: "Aku berlindung kepada Allah dari menyembah selain Allah, atau menyuruh orang lain
beribadah kepada selain Allah. Allah tidak mengutusku demikian, dan tidak menyuruhku pada perkara
seperti ini." Lalu Allah menurunkan ayat:
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian,
lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan
penyembah Allah. " Akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena
kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. Dan (tidak wajar pula
baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) dia
menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?" (QS. Ali Imran 79-
80).
Ibnu Hisyam berkata: Rabbaniyyun yaitu para ulama dan fuqaha' terkemuka. Kata tunggalnya
"rabbany" dan derivasi dari kata "rabb" yang berarti sayyid (pemimpin).
Akan memberi minum tuannya dengan khamar (QS. Yusuf: 41), yakni rabb (tuan)
Ibnu Ishaq berkata: Lalu Allah Yang Maha mulia menyebutkan tentang perjanjian yang telah Dia ambil
dari mereka dan dari nabi-nabi mereka untuk mengimani Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam,
jika dia telah diutus di tengah mereka:
Dan (ingatlah), jika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: "Sungguh, apa saja yan gAku berikan
kepadamu berupa kitab dan hikmah, lalu datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan
apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya."
Allah berfirman: "Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?"
Mereka menjawab: "Kami mengakui." Allah berfirman: "Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan
Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu." (QS. Ali lmran: 81).
Orang-orang Yahudi Berusaha Membuat Fitnah Antara Kaum Anshar
Ibnu Ishaq berkata: Syas bin Qais seorang yang sudah tua bangka dengan kekafiran yang luar biasa
dan memendam kedengkian yang hebat kepada kaum Muslimin, berjalan melewati beberapa sahabat
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dari Aus dan Khazraj dalam sebuah majlis yang menyatukan
mereka dan mereka berbincang-bincang satu sama salinnya. Melihat keakraban mereka muncullah
kedengkian dan kejengkelan Syas bin Qais. Dia merasa muak saat menyaksikan persatuan dan
kebaikan hati mereka dengan Islam sesudah sebelumnya pada masa jahiliyah mereka saling
bermusuhan. Syas bin Qais berkata: "Tokoh-tokoh Bani Qailah telah berkumpul di negeri ini. Tidak,
demi Allah, rasanya tidak sepatutnya bagi kita ikut bersama-sama dengan mereka jika tokoh-tokoh
mereka bertemu di dalamnya secara damai." Maka Syas bin Qais memerintahkan seorang pemuda
Yahudi dengan mengatakan padanya: "Pergilah ke tempat mereka kini beradi lalu duduklah bersama
mereka! sesudah itu usik ingatan mereka akan Perang Bu'ats dar perang-perang sebelumnya serta
lantunkan kepada mereka syair-syair yang dulu pernah mereka lontarkan."
Sekilas tentang Perang Bu'ats
Perang Bu'ats yaitu perang yang terjadi antara Al-Aus melawan Al-Khazraj. Perang ini
dimenangkan oleh Al-Aus atas Al-Khazraj. Saat itu, Al-Aus dipimpin Hudhair bin Simak Al-Asyhali, Abu
Usaid bin Hudhair, sedang pemimpin Al-Khazraj pada saa: itu yaitu Amr bin An-Nu'man Al-Bayadhi
Pada perang ini kedua pemimpin ini tewas terbunuh.
Perang Bu'ats sangat panjang untuk diurai secara keseluruhan dan saya tidak terpikat untuk
memamparkannya mengungkapnya secara utuh, karena khawatir memutus pemaparan sirah hidup
Rasulullah.
Ibnu Ishaq berkata: Pemuda Yahudi melaksanakan apa yang diperintahkan padanya yang lalu
kaum muslimin terlibat pembicaraan yang panas antar mereka pada pertemuan ini , saling adu
mulut hingga mereka bertengkar, dan saling membanggakan dirinya atas orang lain. Bahkan dua orang
dari Aus dan Khazraj meloncat ke atas hewan kendaraannya. Mereka yaitu Aus bin Qaidhi salah
seorang dari Haritsah bin Al-Harits dari Aus dan seorang lagi Jabbar bin Shakr dari Bani Salimah dari
Khazraj. Keduanya beradu kata secara bergantian, "Bila kalian mau kami akan melakukan hal yang
sama sebagaimana kita lakukan dahulu!' Kedua belah pihak tersulut emosi. Mereka berkata: "Boleh
kita lakukan itu dan mari kita bertemu lagi di siang hari. Senjata beradu senjata!" Pada hari yang telah
ditentukan, mereka pergi ke tempat yang telah disepakati sebelumnya. Peristiwa ini terdengar oleh
Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam, lalu beliau berangkat menemui mereka dengan ditemani
beberapa sahabat dari kaum Muhajirin. Sesampainya di sana Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam
bersabda: "Wahai kaum Muslimin, ingatlah Allah. Mengapa kalian mengikuti propaganda jahiliyah,
padahal aku masih ada di tengah-tengah kalian. Allah telah memberi petunjuk kalian kepada Islam dan
menjadikan kalian orang yang mulia dengannya, memutus segala kejahiliyahan dari kalian,
menyelamatkan kalian dari kekufuran serta menyatukan hati kalian!" Kaum Muslimin dari Aus dan
Khazraj segera menyadari bahwa propaganda jahiliyah yaitu tipudaya setan, dan merupakan
konspirasi musuh-musuh mereka. Tangisan mereka meledak, mereka saling merangkul, antara Al-Uas
dan Al-Khazraj. sesudah itu, mereka pulang bersama Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam dengan
patuh dan taat. Allah telah memadamkan dari mereka salah satu konspirasi jahat musuh Allah, Syas
bin Qais. Lalu Allah menurunkan ayat tentang Syas bin Qais dan perilaku buruknya itu:
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu ingkari ayat-ayat Allah, padahal Allah Maha menyaksikan
apa yang kamu kerjakan?" Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan
Allah orang-orang yang telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu
menyaksikan?" Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran: 98-99)
Sedangkan tentang Aus bin Qaidhi, Jabbar bin Shakr dan pengikutnya masing-masing serta perbuatan
mereka yang terjebak propaganda kejahiliyahan yang ditebarkan Syas bin Qais kepada mereka, Allah
menurunkan firman-Nya:
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al-
Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.
Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan
Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama)
Allah maka sebenarnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Hai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu
mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali
(agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu jika
kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah
kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang
neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dibandingkan nya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya
kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang
menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makrufdan mencegah dari yang munkar;
merekalah orang-orang yang beruntung. Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang
bercerai-berai dan berselisih sesudah datang keterangan yangjelas kepada mereka. Mereka itulah
orang-orang yang mendapat siksa yang berat, (QS. Ali Imran: 100-105)
Ibnu Ishaq berkata: Pada saat Abdullah bin Salam, Tsa'labah bin Sa'yah, Usaid bin Sa'yah, Asad bin
Ubaid, dan orang-orang Yahudi lainnya masuk Islam, beriman, membenarkan serta tertarik
kepadanya, dan sesudah keislaman mereka kokoh kuat, pendeta-pendeta Yahudi yang masih saja kafir
berkata: "Tidaklah akan menganut agama Muhammad kecuali orang-orang terjelek di antara Jika
mereka orang-orang terbaik kami, niscaya mereka tidak akan meninggalkan agama leluhur, dan tidak
mungkin beralih pada agama lain." Maka Allah menurunkan firman-Nya:
Mereka itu tidak sama; di antara Ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus, mereka membaca
ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujus (shalat). (QS. Ali
Imran: 113).
Ibnu Hisyam berkata: Makna dari Anaa' al-Lail yaitu jam-jam malam. Kata tunggalnya yaitu yaitu
inyun
Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan mereka menyuruh kepada yang makruf, dan
mencegah dari yang mungkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu
termasuk orang-orang yang shaleh (QS. Ali Imran: 114)
Ibnu Ishaq berkata: Beberapa orang dari kaum Muslimin memiliki hubungan dekat dengan beberapa
orang Yahudi, karena ikatan jaminan keamanan dan persekutuan pada masa jahiliyah. sesudah itu Allah
Yang Maha tinggi menurunkan ayat yang melarang mereka menjadikan orang-orang Yahudi sebagai
teman akrab:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang
yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudaratan bagimu.
Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa
yang disembunyikan oleh hati mereka lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-
ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, padahal mereka
tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada kitab-kitab semuanya. (QS. Ali lmran: 118-119),
hingga akhir kisah. Yakni, kalian beriman kepada kitab mereka dan kepada kitab yang telah lalu
sementara mereka kafir dengan kitab kalian. Jadi kalian lebih berhak untuk menyukai mereka dari-
pada mereka benci kepada kalian.
Ta'ala melanjutkan firman-Nya,
jika mereka menjumpai kamu, mereka berkata: "Kami beriman"; dan jika mereka menyendiri,
mereka menggigit ujungjari lantaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada
mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu." sebenarnya Allah mengetahui segala isi hati.
" (QS. Ali lmran: 119)
Ibnu Ishaq berkata: Pada suatu hari, Abu Bakar memasuki Baitul Midras dan melihat orang-orang
Yahudi sedang berkumpul di kediaman salah seorang dari mereka yang benama Finhash, salah seorang
ulama dan pendeta mereka. Finhash ditemani seorang pendeta Yahudi lainnya yang bernama Asya'.
Abu Bakar berkata kepada Finhash: "Celaka engkau wahai Finhash, bertakwalah kepada Allah dan
peluklah agama Islam! Demi Allah, engkau telah mengetahui bahwa Muhammad yaitu utusan Allah.
Dia datang dengan membawa kebenaran dari sisi Allah, dan kalian menemukan namanya tertulis di
dalam Taurat dan Injil. "'Finhash berkata: "Demi Allah, wahai Abu Bakar, kami tidak butuh Allah,
sebaliknya Allah-lah yang butuh pada kami. Kami tidak merendahkan diri kepada-Nya sebagaimana
Dia merendahkan diri kepada kami. Kami tidak butuh Dia, Dia-lah yang butuh kepada kami. jika
Allah lebih kaya dibandingkan kami, pastilah Dia tidak meminjam kekayaan kami seperti dikatakan sahabat
kalian. Allah melarang kalian dari riba, dan Dia memberi riba kepada kami. Jika Allah lebih kaya dari
pada kami, Dia tidak memberi kami riba." Abu Bakar meluap ama- rahnya mendengar ucapan Finhash
ini , lalu ia memukul wajah Finhash dengan pukulan keras, sambil berkata: "Demi Dzat
yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika tidak ada perjanjian di antara kita, akan ku tampar wajahmu wahai
musuh Allah." Mendapat perlakuan seperti itu dari Abu Bakar, Finhash pergi menghadap Rasulullah
Shallalahu 'alaihi wa Sallam lalu berkata kepada beliau: "Wahai Muhammad, perhatikanlah
tindakan sahabatmu itu terhadap diriku!" Rasulullah Shallalahu 'alaihi wa Sallam bertanya kepada Abu
Bakar: "Apa yang membuatmu melakukan itu semua, wahai Abu Bakar?" Abu Bakar berkata: "Wahai
Rasulullah, sebenarnya musuh Allah ini telah melontarkan sebuah perkataan yang sungguh
melampaui batas. Ia berkata bahwa Allah membutuhkan mereka, dan mereka lebih kaya dibandingkan
Allah. jika ia mengatakan itu, meluaplah amarahku karena Allah atas perkataannya tadi, lalu aku
pukul wajahnya." Finhash membantah bahwa dia mengatakan seperti itu. Ia berkata: "Aku tidak
pernah mengatakan semua itu." lalu Allah menurunkan ayat tentang ucapan Finhash dan
membenarkan Abu Bakar,
sebenarnya Allah telah mendengar perkataan orang-orang yang mengatakan: "sebenarnya
Allah miskin dan kami kaya." Kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka
membunuh nabi-nabi






